وَجَاءَ عَبِيدُ أَبِيمَالِكَ وَأَرَادُوا أَنْ يَغْتَصِبُوا الْبِئْرَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ وَقَوْمِهِ ، وَكَادَتْ أَنْ تَنْشَبَ حَرْبٌ بَيْنَ أَتْبَاعِ إِبْرَاهِيمَ وَعَبِيدِ الْمَلِكِ لَوْلَا أَنْ تَحَلَّمَ إِبْرَاهِيمُ الْحَلِيمُ وَخَلَّى بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْبِئْرِ . وَرَأَى أَبِيمَالِكُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ أَصْبَحَ فِي مَنَعَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنَّهُ لَوْ أَرَادَ أَنْ يَثِبَ عَلَى الْحُكْمِ لَا تَنَزَّعَهُ مِنْهُ ، فَقَرَّرَ أَنْ يَعْقِدَ مَعَهُ حِلْفًا لِيَصُونَ عَرْشَهُ الَّذِي أَصْبَحَ فِي مَهَبِّ الرِّيحِ .
Datanglah budak-budak Abimelekh dan mereka ingin merampas sumur dari Ibrahim dan kaumnya, dan hampir saja pecah perang antara pengikut Ibrahim dan budak raja seandainya Ibrahim yang penyantun tidak bersikap sabar dan membiarkan mereka menguasai sumur tersebut. Abimelekh melihat bahwa Ibrahim telah memiliki perlindungan dan kekuatan, dan bahwa jika dia ingin merebut kekuasaan, dia bisa saja mengambilnya darinya, maka dia memutuskan untuk mengadakan perjanjian dengannya demi menjaga takhtanya yang telah berada di ujung tanduk.
وَخَرَجَ أَبِيمَالِكُ وَفِيكُولُ إِلَى حَيْثُ نَزَلَ إِبْرَاهِيمُ فَاسْتَقْبَلَهُمَا بِالتَّرْحَابِ وَضَيَّفَهُمَا وَأَكْرَمَهُمَا غَايَةَ الْإِكْرَامِ ، وَقَالَ الْمَلِكُ :
Abimelekh dan Fikul keluar menuju tempat Ibrahim singgah, lalu Ibrahim menyambut mereka dengan ramah, menjamu, dan memuliakan mereka dengan sebaik-baik pemuliaan, dan raja berkata:
— إِنَّ اللَّهَ مَعَكَ يَا إِبْرَاهِيمُ وَهُوَ يُبَارِكُ كُلَّ مَا تَفْعَلُ ، وَقَدْ جِئْتُكَ لِتَحْلِفَ لِي بِاللَّهِ أَلَّا تَغْدِرَ بِي وَلَا بِذُرِّيَّتِي مِنْ بَعْدِي . إِنِّي رَحِبْتُ بِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ فِي بِلَادِي وَوَسَّعْتُكَ فِي أَرْضِي فَنَزَلْتَ فِيهَا مِنَ الْمُعَزَّزِينَ الْمُكَرَّمِينَ . أُقْسِمُ لَكَ .. فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ .
— "Sesungguhnya Allah bersamamu wahai Ibrahim dan Dia memberkahi segala yang engkau perbuat. Aku datang kepadamu agar engkau bersumpah kepadaku demi Allah untuk tidak berkhianat kepadaku dan tidak pula kepada keturunanku setelahku. Sungguh, aku telah menyambutmu wahai Ibrahim di negeriku dan meluaskan tempat untukmu di tanahku, maka engkau tinggal di dalamnya sebagai orang yang mulia dan terhormat. Aku bersumpah kepadamu.. maka barangsiapa melanggar sumpah, maka sesungguhnya dia melanggar terhadap dirinya sendiri."
وَتَهَلَّلَ الْمَلِكُ وَقَائِدُ جَيْشِهِ بِالْفَرَحِ فَقَدْ عَاهَدَهُمْ إِبْرَاهِيمُ عَلَى حُسْنِ الْجِوَارِ وَعَلَى أَلَّا يَغْدِرَ بِهِمْ وَلَا بِذُرِّيَّتِهِمْ ، وَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَمِنَ الصَّادِقِينَ . وَالْتَفَتَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى الْمَلِكِ وَقَالَ :
Raja dan panglima pasukannya berseri-seri karena gembira, sebab Ibrahim telah berjanji kepada mereka untuk hidup bertetangga dengan baik dan tidak akan berkhianat kepada mereka maupun keturunan mereka, dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk orang yang jujur. Ibrahim menoleh kepada raja dan berkata:
— اغْتَصَبَ عَبِيدُكَ الْبِئْرَ الَّتِي حَفَرْتُهَا .
— "Budak-budakmu merampas sumur yang telah kugali."
— أَسَمِعْتَ شَيْئًا عَنْ هَذَا مِنْ قَبْلُ ؟
— "Pernahkah engkau mendengar tentang ini sebelumnya?"
— لَا يَا مَوْلَايَ .
— "Tidak, wahai tuanku."
— وَاللَّهِ مَا سَمِعْتُ بِهَذَا مِنْ قَبْلِ الْيَوْمِ فَلِمَاذَا لَمْ تَقُلْ لِي ؟
— "Demi Allah, aku belum pernah mendengar tentang hal ini sebelum hari ini, mengapa engkau tidak memberitahuku?"
كَانَ الْمَلِكُ ضَئِيلًا أَمَامَ الشَّيْخِ الْمَهِيبِ ، جَاءَ مِنْ قَصْرِهِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِيَخْطُبَ وُدَّهُ وَيَلْتَمِسَ مِنْهُ أَنْ يُعَاهِدَهُ عَلَى صِيَانَةِ عَرْشِهِ ، ذَلَكَ جَبَّارُ الْأَرْضِ لِرَسُولِ جَبَّارِ السَّمَاءِ . وَأَهْدَى إِبْرَاهِيمُ لِلْمَلِكِ بَعْضَ الْأَنْعَامِ وَالْأَغْنَامِ فَقَبِلَهَا شَاكِرًا إِلَّا أَنَّ أَبِيمَالِكَ لَاحَظَ أَنَّ سَبْعَ نِعَاجٍ مِنَ الْغَنَمِ وَقَفَتْ وَحْدَهَا بَعِيدَةً عَنِ الْقَطِيعِ . فَالْتَفَتَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَقَالَ :
Sang raja tampak kecil di hadapan syekh yang berwibawa itu. Ia datang dari istananya menuju padang gurun untuk meminang persahabatannya dan memohon kepadanya agar berjanji menjaga takhtanya. Begitulah sang penguasa bumi terhadap utusan Penguasa langit. Ibrahim menghadiahkan sebagian ternak dan domba kepada raja, ia menerimanya dengan penuh rasa syukur, namun Abimelekh memperhatikan bahwa tujuh ekor domba betina berdiri sendiri jauh dari kawanan. Ia menoleh kepada Ibrahim dan berkata:
— مَا أَمْرُ النِّعَاجِ السَّبْعِ ؟
— "Ada apa dengan ketujuh domba betina itu?"
— هَذِهِ هَدِيَّةٌ أُهْدِيهَا لَكَ .
— "Ini adalah hadiah yang aku persembahkan untukmu."
ثُمَّ أَشَارَ إِلَى النِّعَاجِ السَّبْعِ وَقَالَ :
Kemudian ia memberi isyarat kepada ketujuh domba betina itu dan berkata:
— أَمَّا هَذِهِ فَإِنِّي أُعْطِيكَهَا لِتَكُونَ شَهَادَةً لِي بِأَنِّي حَفَرْتُ هَذِهِ الْبِئْرَ .
— "Adapun yang ini, sesungguhnya aku memberikannya kepadamu agar menjadi kesaksian bagiku bahwa akulah yang menggali sumur ini."
— الْبِئْرُ لَكَ .
— "Sumur itu milikmu."
وَعَادَ أَبِيمَالِكُ وَرَئِيسُ جَيْشِهِ سَعِيدَيْنِ بِالْمِيثَاقِ الَّذِي أَبْرَمَاهُ مَعَ إِبْرَاهِيمَ رَسُولِ اللَّهِ ، الرَّجُلِ الَّذِي يُؤَيِّدُهُ رَبُّهُ فِي كُلِّ مَا يَفْعَلُ ، وَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى بِئْرِ سَبْعٍ وَهُوَ يَشْكُرُ اللَّهَ فَقَدْ عَادَتْ إِلَيْهِ الْبِئْرُ دُونَ أَنْ يَشُنَّ حَرْبًا أَوْ يُهْرِيقَ دَمًا .
Abimelekh dan panglima pasukannya kembali dalam keadaan bahagia dengan perjanjian yang mereka buat bersama Ibrahim, utusan Allah, pria yang didukung oleh Tuhannya dalam segala hal yang dilakukannya. Ibrahim berangkat menuju sumur Bersyeba seraya bersyukur kepada Allah, karena sumur itu telah kembali kepadanya tanpa ia harus mengobarkan perang atau menumpahkan darah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar