سِيَرُ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ
Artinya: Siyar A'lamin Nubala
تَصْنِيفُ
Artinya: Tashnifu
الْإِمَامِ شَمْسِ الدِّينِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عُثْمَانَ الذَّهَبِيِّ RH
Artinya: Al-Imami Syamsid Dini Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabiy RH
الْمُتَوَفَّى
Artinya: Al-Mutawaffa
٧٤٨هـ - ١٣٧٤م
Artinya: 748 H - 1374 M
مُؤَسَّسَةُ الرِّسَالَةِ
Artinya: Mu'assasatur Risalah
جَمِيعُ الْحُقُوقِ مَحْفُوظَةٌ
Artinya: Jami'ul Huquqi Mahfuzhah
وَلَا يَحِقُّ لِأَيِّ جِهَةٍ أَنْ تَطْبَعَ أَوْ تَنْقُلَ حَقَّ الطَّبْعِ لِأَحَدٍ، سَوَاءً كَانَ مُؤَسَّسَةً رَسْمِيَّةً أَوْ أَفْرَادًا.
Artinya: Wa laa yahiqqu li-ayyi jihatin an tathba'a aw tanqula haqqath thab'i li-ahadin, sawaa-an kaana mu'assasatan rasmiyyatan aw afraadan.
الطَّبْعَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ
Artinya: Ath-Thab'atul Haadiyatu 'Asyrah
١٤١٧هـ / ١٩٩٦م
Artinya: 1417 H / 1996 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Artinya: Bismillahirrahmanirrahim
HALAMAN 00007 - 00011الذَّهَبِيُّ وَكِتَابُهُ
Artinya: Adz-Dzahabiy wa Kitaabuhu
سِيَرُ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ
Artinya: Siyar A'lamin Nubala
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْعَرَبِيِّ الْأُمِّيِّ ﷺ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ نُجُومِ الْهُدَى فِي كُلِّ حِينٍ، وَبَعْدُ: فَهَذَا مُخْتَصَرٌ نَافِعٌ إِنْ شَاءَ اللهُ فِي سِيرَةِ مُؤَرِّخِ الْإِسْلَامِ الْإِمَامِ الثِّقَةِ التُّقَنِ النَّاقِدِ الْبَارِعِ شَمْسِ الدِّينِ الذَّهَبِيِّ RH، وَفِي كِتَابِهِ النَّفِيسِ «سِيَرُ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» وَمَنْزِلَتِهِ بَيْنَ الْكُتُبِ الَّتِي مِنْ بَابَتِهِ، جَعَلْتُهُ فِي فَصْلَيْنِ: الْأَوَّلُ فِي سِيرَةِ الذَّهَبِيِّ وَالثَّانِي فِي كِتَابِهِ «السِّيرَةِ».
Artinya: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Muhammad, Nabi yang ummi berkebangsaan Arab ﷺ, serta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang baik, bintang-bintang petunjuk di setiap waktu. Adapun setelah itu: Ini adalah ringkasan yang bermanfaat, insya Allah, mengenai biografi sejarawan Islam, imam yang terpercaya, teliti, lagi kritikus yang mahir, Syamsuddin Adz-Dzahabiy RH, serta kitabnya yang berharga "Siyar A'lamin Nubala" dan kedudukannya di antara kitab-kitab sejenisnya. Saya menjadikannya dalam dua bab: pertama mengenai biografi Adz-Dzahabiy dan kedua mengenai kitabnya "As-Siyar".
تَنَاوَلَ الْفَصْلُ الْأَوَّلُ الْبِيئَةَ الدِّمَشْقِيَّةَ الَّتِي نَشَأَ بِهَا الذَّهَبِيُّ RH بِكُلِّ مَا كَانَ فِيهَا مِنْ نَهْضَةٍ عِلْمِيَّةٍ وَاسِعَةٍ، وَمَا اعْتَرَاهَا مِنْ صِرَاعَاتٍ عَقَائِدِيَّةٍ، وَانْتِشَارِ الْجَهْلِ، وَالِاعْتِقَادِ بِالْمُغَيَّبَاتِ بَيْنَ الْعَوَامِ. وَحَاوَلْتُ أَنْ أُقَدِّمَ صُورَةً لِبِيئَتِهِ الْعَائِلِيَّةِ الْمُتَدَيِّنَةِ الْمَعْنِيَّةِ بِالْعِلْمِ الَّتِي رَبَّتْهُ عَلَى حُبِّ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ مُنْذُ نُعُومَةِ أَظْفَارِهِ مِمَّا هَيَّأَهُ لِمُسْتَقْبَلٍ عِلْمِيٍّ مَرْسُومٍ، فَرَأَيْنَاهُ عِنْدَ اكْتِمَالِ شَخْصِيَّتِهِ يُعْنَى بِطَلَبِ الْعِلْمِ مِنَ قِرَاءَاتٍ وَحَدِيثٍ؛ ثُمَّ تَتَبَّعْتُ رِحْلَاتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، وَاسْتَطَعْتُ أَنْ أُحَدِّدَهَا بِالْبِلَادِ الشَّامِيَّةِ وَالْمِصْرِيَّةِ وَالْحِجَازِيَّةِ، وَبَيَّنْتُ نَتِيجَةَ تَتَبُّعِي لِنَشَاطِهِ أَنَّ رِحْلَتَهُ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ كَانَتْ بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ، وَذِي الْقَعْدَةِ مِنْ سَنَةِ ٦٩٥ هـ، فَصَحَّحْتُ بِذَلِكَ آرَاءَ بَعْضِ الْمُؤَرِّخِينَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ. وَأَوْضَحْتُ طَبِيعَةَ دِرَاسَاتِهِ، وَذَكَرْتُ أَنَّهَا كَانَتْ مُتَنَوِّعَةً لَمْ تَقْتَصِرْ عَلَى جَانِبٍ وَاحِدٍ، لَكِنَّهَا فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ لَمْ تَخْرُجْ عَنْ دَائِرَةِ الْعُلُومِ الدِّينِيَّةِ عُمُوماً وَالْعُلُومِ الْمُسَاعِدَةِ لَهَا مِنْ تَارِيخٍ وَنَحْوٍ وَلُغَةٍ وَأَدَبٍ.
Artinya: Bab pertama membahas lingkungan Damaskus tempat Adz-Dzahabiy RH dibesarkan, dengan segala kebangkitan ilmiah yang luas di dalamnya, serta pertikaian akidah yang melanda, penyebaran kebodohan, dan kepercayaan terhadap hal-hal ghaib di kalangan masyarakat awam. Saya mencoba menyajikan gambaran tentang lingkungan keluarganya yang religius dan peduli pada ilmu, yang mendidiknya untuk mencintai ilmu dan ulama sejak kecil, yang mempersiapkannya untuk masa depan ilmiah yang terencana. Kita melihatnya saat kepribadiannya matang, giat menuntut ilmu qira'at dan hadis; kemudian saya melacak perjalanannya dalam menuntut ilmu, dan saya mampu menentukannya di negeri Syam, Mesir, dan Hijaz. Saya menjelaskan hasil penelusuran saya terhadap aktivitasnya bahwa perjalanannya ke negeri Mesir terjadi antara bulan Rajab dan Dzulqa'dah tahun 695 H, sehingga saya mengoreksi pendapat beberapa sejarawan dalam masalah ini. Saya menjelaskan sifat studinya, dan menyebutkan bahwa itu beragam, tidak terbatas pada satu aspek, tetapi pada saat yang sama tidak keluar dari lingkaran ilmu-ilmu agama secara umum dan ilmu-ilmu pendukungnya seperti sejarah, nahwu, bahasa, dan sastra.
وَتَنَاوَلَ الْفَصْلُ صِلَاتِ الذَّهَبِيِّ RH الشَّخْصِيَّةَ بِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَالْمِزِّيِّ وَالْبِرْزَالِيِّ وَأَثَرَهَا فِي تَبَلْوُرِ فِكْرِهِ السَّلَفِيِّ الْمُتَمَثِّلِ بِمَيْلِهِ إِلَى آرَاءِ الْحَنَابِلَةِ وَدِفَاعِهِ عَنْ مَذْهَبِهِمْ فِي الْعَقَائِدِ، وَارْتِبَاطِهِ الشَّدِيدِ بِالْحَدِيثِ وَالْمُحَدِّثِينَ، وَنَظْرَتِهِ إِلَى الْعُلُومِ وَالْعُلَمَاءِ وَفَلْسَفَتِهِمْ تُجَاهَ الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ، مِمَّا أَثَّرَ فِي مَنْهَجِهِ التَّارِيخِيِّ تَأْثِيراً وَاضِحاً، فَظَهَرَ فِي اهْتِمَامِهِ الْكَبِيرِ بِالتَّرَاجِمِ الَّتِي صَارَتْ تُكَوِّنُ أُسُسَ كُتُبِهِ، وَمِحْوَرِ تَفْكِيرِهِ التَّارِيخِيِّ، وَفِي نَظْرَتِهِ إِلَى الْأَحْدَاثِ التَّارِيخِيَّةِ وَأُسُسِ انْتِقَائِهَا، ثُمَّ فِيمَا وُجِّهَ إِلَى كِتَابَاتِهِ مِنْ نَقْدٍ أَثَارَ نِقَاشاً بَيْنَ عُلَمَاءِ عَصْرِهِ، وَعِنْدَ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ جَاؤُوا بَعْدَهُ.
Artinya: Bab ini membahas hubungan pribadi Adz-Dzahabiy RH dengan Ibnu Taimiyyah, Al-Mizzi, dan Al-Birzali, serta pengaruhnya dalam kristalisasi pemikiran salafinya yang tercermin dalam kecenderungannya pada pendapat Hanabilah dan pembelaannya terhadap mazhab mereka dalam hal akidah, keterikatan kuatnya dengan hadis dan ahli hadis, serta pandangannya terhadap ilmu pengetahuan, para ulama, dan filsafat mereka terhadap ilmu-ilmu rasional, yang sangat memengaruhi metode sejarahnya secara jelas. Hal ini tampak dalam perhatian besarnya terhadap biografi (tarajim) yang menjadi fondasi kitab-kitabnya dan poros pemikiran sejarahnya, dalam pandangannya terhadap peristiwa-peristiwa sejarah dan dasar-dasar pemilihannya, serta kritik yang diarahkan pada tulisannya yang memicu diskusi di antara ulama pada masanya dan ulama yang datang setelahnya.
أَمَّا نَشَاطُهُ الْعِلْمِيُّ، فَقَدْ بَيَّنْتُ أَنَّهُ اتَّخَذَ وِجْهَتَيْنِ رَئِيسَتَيْنِ: أُولَاهُمَا كِتَابَاتُهُ الْكَثِيرَةُ، وَثَانِيَتُهُمَا تَدْرِيسُهُ الْحَدِيثَ فِي أُمَّهَاتِ دُورِ الْحَدِيثِ بِدِمَشْقَ بِحَيْثُ اسْتَطَعْنَا التَّعَرُّفَ عَلَى خَمْسِ دُورٍ لِلْحَدِيثِ كَانَ يَتَوَلَّى مَشْيَخَتَهَا فِي آنٍ وَاحِدٍ قُبَيْلَ وَفَاتِهِ.
Artinya: Adapun aktivitas ilmiahnya, saya jelaskan bahwa beliau mengambil dua arah utama: pertama, karya tulisnya yang banyak, dan kedua, pengajaran hadis di lembaga-lembaga hadis utama di Damaskus, di mana kami dapat mengidentifikasi lima lembaga hadis yang beliau pimpin pada saat yang sama menjelang wafatnya.
وَأَبَنْتُ مَنْزِلَةَ الذَّهَبِيِّ RH الْعِلْمِيَّةَ اسْتِنَاداً إِلَى دِرَاسَةٍ مُسْهَبَةٍ لِآثَارِهِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي خَلَّفَهَا. وَقَدْ أَظْهَرَتِ الدِّرَاسَةُ أَنَّ مَنْزِلَتَهُ الْعِلْمِيَّةَ وَبَرَاعَتَهُ ظَهَرَتَا فِي أَحْسَنِ الْوُجُوهِ إِشْرَافاً وَأَكْثَرِهَا تَأَلُّقاً عِنْدَ دِرَاسَتِي لَهُ مُحَدِّثاً وَمُؤَرِّخاً وَنَاقِداً. وَعَلَى الرَّغْمِ مِنْ أَنَّهُ عَاشَ فِي بِيئَةٍ غَلَبَ عَلَيْهَا الْجُمُودُ وَالنَّقْلُ وَالتَّلْخِيصُ، فَإِنَّهُ تَخَلَّصَ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ ذَلِكَ بِفَضْلِ سَعَةِ دِرَاسَاتِهِ وَفِطْنَتِهِ، وَكَانَ مَفْهُومُ التَّارِيخِ عِنْدَ الذَّهَبِيِّ RH يَتَّصِلُ اتِّصَالاً وَثِيقاً بِالْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيفِ وَعُلُومِهِ، وَقَدْ ظَهَرَ ذَلِكَ فِي عِنَايَتِهِ التَّامَّةِ بِكُتُبِ التَّرَاجِمِ الَّتِي قَامَتْ عَلَيْهَا شُهْرَتُهُ الْوَاسِعَةُ بِاعْتِبَارِهِ مُؤَرِّخاً. وَقَدْ جَعَلَتْ مِنْهُ مَعْرِفَتُهُ الرِّجَالِيَّةُ الْوَاسِعَةُ نَاقِداً مَاهِراً، ظَهَرَ ذَلِكَ فِي مُؤَلَّفَاتِهِ الْمَعْنِيَّةِ بِالنَّقْدِ وَفِي الْتِفَاتَاتِهِ الْبَارِعَةِ فِي أُصُولِ النَّقْدِ، وَرَدِّهِ لِكَثِيرٍ مِنَ الرِّوَايَاتِ، وَتَخَطَّتْهُ لِكِبَارِ النُّقَّادِ، وَقُدْرَتِهِ الْفَائِقَةِ عَلَى الْبَحْثِ وَالِاسْتِدْلَالِ.
Artinya: Saya menjelaskan kedudukan ilmiah Adz-Dzahabiy RH berdasarkan studi mendalam terhadap karya-karya besarnya yang ia tinggalkan. Studi ini menunjukkan bahwa kedudukan ilmiah dan kecerdasannya muncul dalam bentuk yang paling baik, bersinar, dan cemerlang ketika saya mempelajarinya sebagai seorang ahli hadis, sejarawan, dan kritikus. Meskipun ia hidup di lingkungan yang didominasi oleh kejumudan, sekadar menukil, dan meringkas, ia terlepas dari banyak hal itu berkat keluasan studi dan kecerdasannya. Konsep sejarah menurut Adz-Dzahabiy RH terhubung erat dengan hadis Nabi yang mulia dan ilmu-ilmunya, dan hal itu terlihat dari perhatian totalnya terhadap kitab-kitab biografi yang menjadi dasar ketenaran luasnya sebagai sejarawan. Pengetahuannya yang luas tentang tokoh-tokoh (rijal) menjadikannya kritikus yang mahir, yang muncul dalam karya-karyanya yang berkaitan dengan kritik dan dalam perhatian cemerlangnya terhadap prinsip-prinsip kritik, penolakannya terhadap banyak riwayat yang melampaui para kritikus besar, serta kemampuannya yang luar biasa dalam penelitian dan argumentasi.
وَخَتَمْتُ الْفَصْلَ بِتَذْكِرَةٍ مُخْتَصَرَةٍ فِي تَأْلِيفِهِ وَاخْتِصَارَاتِهِ وَتَخْرِيجَاتِهِ مُرَتَّبَةٍ حَسَبَ مَوْضُوعَاتِهَا، وَأَشَرْتُ إِلَى مَا طُبِعَ مِنْهَا وَمَا هُوَ مَخْطُوطٌ مَعَ بَيَانِ مَكَانِ النُّسْخَةِ الْخَطِّيَّةِ عَلَى سَبِيلِ الِاخْتِصَارِ. وَقَدْ تَمَكَّنْتُ أَنْ أَعُدَّ لَهُ مِئَتَيْنِ وَخَمْسَةَ عَشَرَ مُؤَلَّفاً وَمُخْتَصَراً وَتَخْرِيجاً.
Artinya: Saya menutup bab dengan catatan singkat mengenai karya tulis, ringkasan, dan takhrij beliau yang disusun berdasarkan temanya, dan saya tunjukkan mana yang sudah dicetak dan mana yang masih berupa manuskrip, dengan menyatakan lokasi naskah aslinya secara singkat. Saya berhasil menghitung sebanyak dua ratus lima belas karya, ringkasan, dan takhrij miliknya.
أَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي الَّذِي خَصَصْتُهُ لِمَنْهَجِ «السِّيرِ» وَأَهَمِّيَّتِهِ، فَقَدْ بَدَأْتُهُ بِالْكَلَامِ عَلَى عُنْوَانِ الْكِتَابِ وَتَأْلِيفِهِ، وَتَمَكَّنْتُ فِيهِ أَنْ أُحَدِّدَ تَارِيخَ تَأْلِيفِ الْكِتَابِ بِسَنَةِ ٧٣٢ هـ - خِلَافاً لِمَا هُوَ شَائِعٌ عِنْدَ النَّاسِ. ثُمَّ عَرَّجْتُ عَلَى نِطَاقِ الْكِتَابِ وَعَدَدِ مُجَلَّدَاتِهِ وَتَوَصَّلْتُ إِلَى أَنَّ الذَّهَبِيَّ لَمْ يَكْتُبِ الْمُجَلَّدَيْنِ الْأَوَّلَ وَالثَّانِيَ مِنْهُ إِنَّمَا طَالِبُ النُّسَّاخِ بِاسْتِلَالِهِمَا مِنْ تَارِيخِهِ الْكَبِيرِ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»، وَأَنَّ الْمُجَلَّدَيْنِ لَمْ يُفْقَدَا كَمَا نَصَّتْ وَقْفِيَّةُ الْكِتَابِ عَلَى الْمَدْرَسَةِ الْمَحْمُودِيَّةِ، ثُمَّ أَثْبَتُّ - بِمَا لَا يَقْبَلُ الشَّكَّ - أَنَّ الْمُجَلَّدَ الثَّالِثَ عَشَرَ الَّذِي وَصَلَ إِلَيْنَا لَيْسَ هُوَ آخِرَ الْكِتَابِ، كَمَا ادَّعَى الدُّكْتُورُ الْفَاضِلُ صَلَاحُ الدِّينِ الْمُنَجِّدُ، وَتَابَعَهُ النَّاسُ عَلَيْهِ، بَلْ إِنَّ هُنَاكَ مُجَلَّداً آخَرَ يُتَمِّمُ الْكِتَابَ هُوَ الْمُجَلَّدُ الرَّابِعَ عَشَرَ وَمِنْهُ رَجَّحْتُ أَنْ يَكُونَ الذَّهَبِيُّ قَدْ رَتَّبَ كِتَابَهُ عَلَى أَرْبَعِينَ طَبَقَةً تَقْرِيباً وَلَيْسَ عَلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ كَمَا هُوَ شَائِعٌ.
Artinya: Adapun bab kedua yang saya khususkan untuk metode "As-Siyar" dan kepentingannya, saya memulainya dengan pembahasan mengenai judul kitab dan penulisannya, dan saya berhasil menentukan tahun penulisan kitab tersebut pada tahun 732 H - bertentangan dengan apa yang umum di kalangan orang-orang. Kemudian saya beralih pada cakupan kitab dan jumlah jilidnya dan menyimpulkan bahwa Adz-Dzahabiy tidak menulis jilid pertama dan kedua darinya, melainkan permintaan penyalin untuk mengambilnya dari tarikh besarnya "Tarikh Al-Islam", dan bahwa kedua jilid itu tidak hilang sebagaimana dinyatakan dalam wakaf kitab di Madrasah Al-Mahmudiyah. Kemudian saya membuktikan - tanpa diragukan lagi - bahwa jilid ketiga belas yang sampai kepada kita bukanlah akhir dari kitab, sebagaimana diklaim oleh doktor yang mulia Shalahuddin Al-Munajjid, dan diikuti oleh orang-orang, melainkan ada jilid lain yang menyempurnakan kitab yaitu jilid keempat belas, dan dari situ saya menyimpulkan bahwa Adz-Dzahabiy telah menyusun kitabnya menjadi sekitar empat puluh tingkatan (thabaqat), bukan tiga puluh lima seperti yang umum diketahui.
وَتَنَاوَلْتُ فِي هَذَا الْفَصْلِ أَيْضاً تَرْتِيبَ الْكِتَابِ عَلَى الطَّبَقَاتِ فَرَأَيْتُ أَنَّ مُسْتَلْزَمَاتِ الْبَحْثِ تَفْتَضِي اسْتِعْرَاضاً لِظُهُورِ هَذَا التَّرْتِيبِ فِي تَارِيخِ الْحَرَكَةِ التَّأْلِيفِيَّةِ عِنْدَ الْمُسْلِمِينَ، وَمُحَاوَلَةً لِتَحْدِيدِ هَذَا الْمَفْهُومِ التَّنْظِيمِيِّ عِنْدَ الذَّهَبِيِّ عَنْ طَرِيقِ دِرَاسَةِ مُؤَلَّفَاتِهِ التَّرَاجِمِيَّةِ الْمُرَتَّبَةِ عَلَى الطَّبَقَاتِ، وَمِنْهَا كِتَابُهُ «السِّيرِ». وَقَدْ تَمَكَّنْتُ فِيمَا أَعْتَقِدُ - مِن تَفْسِيرِ التَّنَاقُضِ الظَّاهِرِيِّ النَّاتِجِ عَنِ اخْتِلَافِ عَدَدِ الطَّبَقَاتِ فِي مُؤَلَّفَاتِهِ ضِمْنَ وَحْدَةٍ زَمَنِيَّةٍ مُحَدَّدَةٍ مَعْلُومَةٍ، بِاخْتِلَافِ نَوْعِيَّةِ الْمُتَرْجَمِينَ بَيْنَ كِتَابٍ وَآخَرَ. وَأَوْضَحْتُ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ فَائِدَةَ التَّرْتِيبِ عَلَى الطَّبَقَاتِ إِنَّمَا تَظْهَرُ فِي الْعُصُورِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْأُولَى، لِذَلِكَ صِرْنَا لَا نَشْعُرُ بِوُجُودِ «الطَّبَقَةِ» فِي كِتَابِ «السِّيرِ» كُلَّمَا مَضَى الزَّمَنُ بِالْكِتَابِ، وَضَرَبْتُ لِكُلِّ ذَلِكَ أَمْثِلَةً مِنَ الْكِتَابِ تُعَزِّزُ هَذِهِ الْآرَاءَ وَتُقَوِّيهَا.
Artinya: Dalam bab ini saya juga membahas penyusunan kitab berdasarkan tingkatan (thabaqat), saya berpendapat bahwa kebutuhan penelitian menuntut tinjauan terhadap kemunculan susunan ini dalam sejarah gerakan penulisan di kalangan umat Islam, dan upaya untuk menentukan konsep organisasi ini pada Adz-Dzahabiy melalui studi terhadap karya-karya biografinya yang disusun berdasarkan thabaqat, termasuk kitabnya "As-Siyar". Saya yakin berhasil menjelaskan kontradiksi lahiriah yang timbul dari perbedaan jumlah thabaqat dalam karya-karyanya dalam satu unit waktu tertentu yang diketahui, dengan perbedaan jenis tokoh yang diterjemahkan antara satu kitab dengan kitab lainnya. Saya kemudian menjelaskan bahwa manfaat penyusunan berdasarkan thabaqat hanya terlihat pada era Islam awal, sehingga kita tidak lagi merasakan keberadaan "thabaqat" dalam kitab "As-Siyar" semakin berjalannya waktu dalam kitab tersebut. Saya memberikan contoh-contoh dari kitab tersebut untuk setiap hal itu guna memperkuat dan mendukung pendapat-pendapat ini.
وَكَانَ لَا بُدَّ لِي، وَأَنَا أَبْحَثُ فِي مَنْهَجِ الْكِتَابِ، أَنْ أَتَنَاوَلَ طَبِيعَةَ التَّرَاجِمِ الْمَذْكُورَةِ فِيهِ، وَالْأُسُسَ الَّتِي اسْتَنَدَ عَلَيْهَا الذَّهَبِيُّ RH فِي ذِكْرِ تَرْجَمَةٍ وَإِسْقَاطِ أُخْرَى، فَبَيَّنْتُ أَنَّهُ ذَكَرَ «الْأَعْلَامَ» وَأَسْقَطَ الْمَشْهُورِينَ وَالْمَغْمُورِينَ، وَحَاوَلَ أَنْ يُوجِدَ مُوَازَنَةً بَيْنَ الْأَعْلَامِ فِي النَّوْعِيَّةِ وَالْأَزْمَانِ وَالْأَمْكِنَةِ، وَاجْتَهَدَ أَنْ يُقَدِّمَ تَرْجَمَةً كَامِلَةً، وَمُخْتَصَرَةً فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ لَا تُؤَثِّرُ فِيهَا كَمِّيَّةُ الْمَعْلُومَاتِ الَّتِي تَتَوَافَرُ عِنْدَهُ.
Artinya: Sangat penting bagi saya, saat meneliti metode kitab ini, untuk membahas sifat biografi yang tercantum di dalamnya, serta dasar-dasar yang diandalkan Adz-Dzahabiy RH dalam menyebutkan satu biografi dan menggugurkan yang lain. Saya menjelaskan bahwa beliau menyebutkan "tokoh-tokoh terkemuka" (al-a'lam) dan mengesampingkan yang masyhur maupun yang tidak dikenal, serta berusaha menciptakan keseimbangan antara tokoh-tokoh tersebut dalam hal kualitas, zaman, dan tempat. Beliau bersungguh-sungguh menyajikan biografi yang lengkap, namun singkat pada saat yang sama, di mana kuantitas informasi yang tersedia padanya tidak memengaruhi hal tersebut.
وَلَمَّا كَانَ الذَّهَبِيُّ RH فَنَّاناً تَرَاجُمِياً مُتَمَيِّزَ الْأُسْلُوبِ فِي صِيَاغَةِ التَّرْجَمَةِ وَأَسَالِيبِ عَرْضِهَا، فَقَدْ حَاوَلْتُ اسْتِشْفَافَ مَنْهَجِهِ الَّذِي انْتَهَجَهُ فِي «السِّيرِ» فِي هَذَا الْمَجَالِ.
Artinya: Karena Adz-Dzahabiy RH adalah seorang seniman biografi yang memiliki gaya istimewa dalam menyusun biografi dan metode penyampaiannya, saya mencoba menggali metode yang beliau tempuh dalam "As-Siyar" di bidang ini.
ثُمَّ تَنَاوَلْتُ بِالدِّرَاسَةِ مَنْهَجَهُ النَّقْدِيَّ، فَوَجَدْتُهُ مَعْنِيّاً بِكُلِّ أَنْوَاعِهِ، لَمْ يَقْتَصِرْ فِيهِ عَلَى مَجَالٍ وَاحِدٍ مِنْ مَجَالَاتِهِ، فَقَدْ عُنِيَ بِنَقْدِ الْمُتَرْجَمِينَ وَتِبْيَانِ أَحْوَالِهِمْ، وَأَصْدَرَ أَحْكَاماً وَتَقْوِيمَاتٍ تَارِيخِيَّةً، وَانْتَقَدَ الْمَوَارِدَ الَّتِي نَقَلَ مِنْهَا، وَنَبَّهَ إِلَى أَوْهَامِ مُؤَلِّفِيهَا، وَبَرَعَ فِي إِصْدَارِ الْأَحْكَامِ عَلَى الْأَحَادِيثِ إِسْنَاداً وَمَتْناً، وَسَحَبَ ذَلِكَ عَلَى الرِّوَايَاتِ التَّارِيخِيَّةِ. وَحَاوَلْتُ بَعْدَ ذَلِكَ أَنْ أَسْتَبِينَ مَدَى تَعَصُّبِهِ، أَوْ إِنْصَافِهِ فِي النَّقْدِ، فَتَبَيَّنَ لِي، بَعْدَ دِرَاسَةٍ لِجُمْلَةٍ مِنْ كِتَابَاتِهِ، أَنَّ الرَّجُلَ قَدْ وُفِّقَ إِلَى حَدٍّ كَبِيرٍ أَنْ يَكُونَ مُنْصِفاً، وَنَبَّهْتُ إِلَى وُجُوبِ التَّفْرِيقِ بَيْنَ التَّعَصُّبِ وَبَيْنَ الْإِيمَانِ بِالشَّيْءِ، وَالدِّفَاعِ عَنْهُ بِكُلِّ مُمْكِنٍ.
Artinya: Kemudian saya mengkaji metode kritiknya, dan saya menemukannya fokus pada semua jenisnya. Beliau tidak membatasi diri pada satu bidang saja; beliau peduli pada kritik terhadap tokoh-tokoh yang ditulis biografinya dan menjelaskan keadaan mereka, mengeluarkan hukum-hukum dan penilaian sejarah, mengkritik sumber-sumber yang beliau kutip, serta memperingatkan kesalahan penulisnya. Beliau juga mahir dalam mengeluarkan hukum atas hadis-hadis, baik dari segi sanad maupun matan, dan menerapkan hal itu pada riwayat-riwayat sejarah. Setelah itu, saya mencoba untuk memahami sejauh mana fanatisme atau keadilan beliau dalam memberikan kritik. Maka jelas bagi saya, setelah mempelajari sejumlah tulisannya, bahwa beliau sangat berhasil dalam bersikap adil, dan saya menekankan perlunya membedakan antara fanatisme dengan keyakinan terhadap sesuatu dan membelanya dengan segala cara yang memungkinkan.
أَمَّا أَهَمِّيَّةُ كِتَابِ «السِّيرِ» فَقَدِ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَسْتَشْرِفَهَا مِنْ دِرَاسَةِ عَلَاقَتِهِ بِكِتَابِ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» إِذْ كَانَ قَدْ شَاعَ بَيْنَ أَوْسَاطِ الدَّارِسِينَ أَنَّ «السِّيرَ» مُخْتَصَرٌ مِنْ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»، وَقَدْ أَبَانَتْ دِرَاسَتِي لِلْكِتَابَيْنِ بُطْلَانَ هَذِهِ الدَّعْوَى، ثُمَّ تَكَلَّمْتُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الْكِتَابِ فِي دِرَاسَةِ الْحَرَكَةِ الْفِكْرِيَّةِ الْعَرَبِيَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ، وَأَهَمِّيَّتِهِ فِي دِرَاسَةِ الْمُجْتَمَعِ الْإِسْلَامِيِّ.
Artinya: Adapun pentingnya kitab "As-Siyar", saya berusaha menggambarkannya dari studi hubungan kitab tersebut dengan kitab "Tarikh Al-Islam", karena telah tersebar di kalangan para peneliti bahwa "As-Siyar" adalah ringkasan dari "Tarikh Al-Islam". Studi saya terhadap kedua kitab tersebut menunjukkan kebatilan klaim ini. Kemudian saya berbicara mengenai pentingnya kitab tersebut dalam studi gerakan intelektual Arab-Islam, dan pentingnya dalam studi masyarakat Islam.
وَحَاوَلْتُ بَعْدَ ذَلِكَ تَوْضِيحَ الْعَوَامِلِ الَّتِي يَسَّرَتْ ظُهُورَ هَذَا الْكِتَابِ مُحَقَّقاً بِهَذِهِ الْهَيْئَةِ الْعِلْمِيَّةِ الرَّائِعَةِ، وَالصِّفَةِ الْبَارِعَةِ النَّافِعَةِ الَّتِي تَسُرُّ كُلَّ مُحِبٍّ لِلتُّرَاثِ، حَرِيصٍ عَلَيْهِ.
Artinya: Setelah itu, saya mencoba menjelaskan faktor-faktor yang mempermudah munculnya kitab ini dalam bentuk tahqiq ilmiah yang luar biasa ini, serta sifat cemerlang dan bermanfaat yang menyenangkan setiap pecinta warisan (turats) yang antusias terhadapnya.
HALAMAN 00012-00015الْفَصْلُ الْأَوَّلُ
Artinya: Bab Pertama
حَيَاةُ الذَّهَبِيِّ RH وَمَنْزِلَتُهُ الْعِلْمِيَّةُ
Artinya: Kehidupan Adz-Dzahabi RH dan Kedudukan Ilmiahnya
أَوَّلاً - بِيئَةُ الذَّهَبِيِّ وَنَشْأَتُهُ:
Artinya: Pertama - Lingkungan dan Pertumbuhan Adz-Dzahabi:
قَامَتْ دَوْلَةُ الْمَمَالِيكِ الْبَحْرِيَّةِ عَلَى أَنْقَاضِ الدَّوْلَةِ الْأَيُّوبِيَّةِ بِمِصْرَ وَالشَّامِ، وَتَمَكَّنَ الْمَمَالِيكُ أَنْ يُكَوِّنُوا دَوْلَةً قَوِيَّةً كَانَ لَهَا أَثَرٌ فِي إِيقَافِ التَّقَدُّمِ الْمَغُولِيِّ، وَتَصْفِيَةِ الْإِمَارَاتِ الصَّلِيبِيَّةِ فِي بِلَادِ الشَّامِ (١).
Artinya: Pertama - Lingkungan dan Pertumbuhan Adz-Dzahabi: Daulah Mamalik Bahriyah berdiri di atas reruntuhan Daulah Ayyubiyah di Mesir dan Syam. Kaum Mamluk berhasil membentuk negara yang kuat yang memiliki pengaruh dalam menghentikan kemajuan Mongol dan melenyapkan emir-emir Salibis di negeri Syam (1).
وَكَانَتْ دِمَشْقُ فِي نِهَايَةِ الْقَرْنِ السَّابِعِ الْهِجْرِيِّ وَمَطْلَعِ الْقَرْنِ الثَّامِنِ قَدْ أَصْبَحَتْ مَرْكَزاً كَبِيراً مِنْ مَرَاكِزِ الْحَيَاةِ الْفِكْرِيَّةِ، فِيهَا مِنَ الْمَدَارِسِ الْعَامِرَةِ وَدُورِ الْحَدِيثِ وَالْقُرْآنِ الْعَدَدُ الْكَثِيرُ، عَمِلَ عَلَى تَعْمِيرِهَا حُكَّامُهَا وَبَعْضُ الْمَيَاسِيرِ مِنْ أَهْلِهَا لَا سِيَّمَا عَهْدَ نُورِ الدِّينِ زَنْكِي (٢). وَكَانَتِ الْعِنَايَةُ بِالدِّرَاسَاتِ الدِّينِيَّةِ، مِن تَفْسِيرٍ وَحَدِيثٍ وَفِقْهٍ وَعَقَائِدَ، هِيَ السِّمَةُ الْبَارِزَةُ لِهَذَا الْعَصْرِ، وَلَمْ يَعُدْ هُنَاكَ اهْتِمَامٌ كَثِيرٌ بِدِرَاسَةِ الْعُلُومِ الصِّرْفَةِ الَّتِي كَانَتْ قَدْ أَصْبَحَتْ مِنَ «الصَّنَائِعِ الْمُظْلِمَةِ» (٣) وَ«الْهَذَيَانِ» (٤).
Artinya: Damaskus pada akhir abad ketujuh Hijriyah dan awal abad kedelapan telah menjadi pusat besar kehidupan intelektual. Di dalamnya terdapat banyak sekolah-sekolah makmur, rumah-rumah hadits, dan al-Qur'an. Para penguasa dan sebagian orang kaya penduduknya bekerja untuk memakmurkannya, khususnya pada masa Nuruddin Zanki (2). Perhatian terhadap studi keagamaan, seperti tafsir, hadits, fikih, dan akidah, adalah ciri menonjol zaman ini. Tidak ada lagi banyak perhatian terhadap studi ilmu-ilmu murni yang telah dianggap sebagai "pekerjaan yang gelap" (3) dan "igauan" (4).
ثُمَّ لَاحَظْنَا تَبَايُناً شَدِيداً فِي قِيمَةِ الْإِنْتَاجِ الْفِكْرِيِّ لِهَذِهِ الْفَتْرَةِ وَأَصَالَتِهِ، فَوَجَدْنَا الْكَثِيرَ مِنَ الْمُؤَلَّفَاتِ الْهَزِيلَةِ الَّتِي لَمْ تَكُنْ غَيْرَ تَكْرَارٍ لِمَا هُوَ مَوْجُودٌ فِي بُطُونِ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ، وَوَجَدْنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمُؤَلَّفَاتِ الَّتِي امْتَازَتْ بِالْأَصَالَةِ وَالْإِبْدَاعِ وَالْمَنَاهِجِ الْعِلْمِيَّةِ الْمُتَمَيِّزَةِ. وَقَدْ زَادَ مِن صُعُوبَةِ الْإِبْدَاعِ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَ الْعُلَمَاءِ كَانَ يَجِدُ أَمَامَهُ تُرَاثاً ضَخْماً فِي الْمَوْضُوعِ الَّذِي يَرُومُ التَّأْلِيفَ فِيهِ، وَهُوَ فِي وَضْعِهِ هَذَا يَخْتَلِفُ عَنِ الْمُؤَلِّفِينَ الْأَوَّلِينَ الَّذِينَ لَمْ يُجَابِهُوا مِثْلَ هَذَا التُّرَاثِ.
Artinya: Kemudian kami mengamati perbedaan yang tajam dalam nilai dan keaslian produksi intelektual periode ini. Kami menemukan banyak karya lemah yang tidak lain hanyalah pengulangan dari apa yang ada di dalam perut kitab-kitab terdahulu, dan kami menemukan sedikit karya yang unggul dengan orisinalitas, kreativitas, dan metodologi ilmiah yang istimewa. Kesulitan dalam berkreasi bertambah karena seorang ulama mendapati di depannya warisan besar dalam topik yang ia kehendaki untuk dikarang. Dalam posisinya ini, ia berbeda dengan para penulis awal yang tidak menghadapi warisan seperti ini.
وَشَهِدَتْ دِمَشْقُ فِي هَذَا الْعَصْرِ نِزَاعاً مَذْهَبِيّاً وَعَقَائِدِيّاً حَادّاً، كَانَ الْحُكَّامُ الْمَمَالِيكُ يَتَدَخَّلُونَ فِيهِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ، فَيُنَاصِرُونَ فِئَةً عَلَى أُخْرَى (٥). وَكَانَ الْأَيُّوبِيُّونَ قَبْلَ ذَلِكَ قَدْ عُنُوا عِنَايَةً كَبِيرَةً بِنَشْرِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ، فَأَسَّسُوا الْمَدَارِسَ الْخَاصَّةَ بِهِ، وَأَوْقَفُوا عَلَيْهَا الْوُقُوفَ (٦). وَعَنَوْا فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِنَشْرِ عَقِيدَةِ الْأَشْعَرِيِّ، وَاعْتَبَرُوهَا السُّنَّةَ الَّتِي يَجِبُ اتِّبَاعُهَا (٧). لِذَلِكَ أَصْبَحَتْ لِلْأَشَاعِرَةِ قُوَّةٌ عَظِيمَةٌ فِي مِصْرَ وَالشَّامِ. وَقَدْ أَثَّرَ ذَلِكَ عَلَى الْمَذَاهِبِ الْأُخْرَى، فَأَصَابَهَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ عَدَا الْحَنَابِلَةَ الَّذِينَ ظَلُّوا عَلَى جَانِبٍ كَبِيرٍ مِنَ الْقُوَّةِ، وَكَانَتْ لَهُمْ فِي دِمَشْقَ مَجْمُوعَةٌ مِن دُورِ الْحَدِيثِ وَالْمَدَارِسِ (٨).
Artinya: Damaskus di zaman ini menyaksikan perselisihan madzhab dan akidah yang tajam, di mana para penguasa Mamluk sering melakukan intervensi, mendukung satu kelompok atas kelompok lainnya (5). Sebelumnya, kaum Ayyubiyah memberikan perhatian besar dalam menyebarkan madzhab Imam Syafi'i, mereka mendirikan sekolah-sekolah khusus untuknya dan mewakafkan wakaf untuknya (6). Pada saat yang sama, mereka peduli dalam menyebarkan akidah al-Asy'ari, dan menganggapnya sebagai Sunnah yang wajib diikuti (7). Oleh karena itu, kaum Asya'irah memiliki kekuatan besar di Mesir dan Syam. Hal ini mempengaruhi madzhab-madzhab lain, sehingga mereka terkena kelemahan, kecuali kaum Hanabilah yang tetap memiliki kekuatan besar, dan mereka memiliki sekumpulan rumah hadits dan sekolah-sekolah di Damaskus (8).
وَكَانَ النِّزَاعُ الْعَقَائِدِيُّ بَيْنَ الْحَنَابِلَةِ وَالْأَشَاعِرَةِ مُضْطَرِماً، زَادَهُ اعْتِمَادُ الْحَنَابِلَةِ عَلَى النُّصُوصِ فِي دِرَاسَةِ الْعَقَائِدِ، وَاعْتِمَادُ الْأَشَاعِرَةِ عَلَى الِاسْتِدْلَالِ الْعَقْلِيِّ وَالْبُرْهَانِ الْمَنْطِقِيِّ فِي دِرَاسَتِهَا (٩). وَبِقَدْرِ مَا وُلِدَ هَذَا التَّعَصُّبُ مِن تَمَزُّقٍ فِي الْمُجْتَمَعِ، فَإِنَّهُ وُلِدَ فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ نَشَاطاً عِلْمِيّاً وَاضِحاً فِي هَذَا الْمِضْمَارِ، تَمَثَّلَ فِي الْكُتُبِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي أُلِّفَتْ فِيهِ. كَمَا ظَهَرَ تَحَيُّزٌ وَاضِحٌ فِي كَثِيرٍ مِن كِتَابَاتِ الْعَصْرِ.
Artinya: Perselisihan akidah antara kaum Hanabilah dan kaum Asya'irah membara, ditambah dengan ketergantungan kaum Hanabilah pada nash dalam mempelajari akidah, dan ketergantungan kaum Asya'irah pada dalil akal dan bukti logika dalam mempelajarinya (9). Sejauh fanatisme ini melahirkan perpecahan di masyarakat, pada saat yang sama ia melahirkan aktivitas ilmiah yang jelas di bidang ini, yang tercermin dalam banyak kitab yang dikarang di dalamnya. Tampak pula keberpihakan yang jelas dalam banyak tulisan di zaman tersebut.
وَكَانَ الْجَهْلُ وَالِاعْتِقَادُ بِالْخُرَافَاتِ وَالْمُغَيَّبَاتِ سَائِداً بَيْنَ الْعَوَامِ فِي الْمُجْتَمَعِ الدِّمَشْقِيِّ. وَكَانَ التَّصَوُّفُ مُنْتَشِراً فِي أَرْجَاءِ الْبِلَادِ انْتِشَاراً وَاسِعاً، وَظَهَرَ بَيْنَهُمْ كَثِيرٌ مِنَ الْمَشْعُوذِينَ الَّذِينَ أَثَّرُوا عَلَى الْعَوَامِ أَيَّمَا تَأْثِيرٍ. بَلْ عَمِلَ الْحُكَّامُ الْمَمَالِيكُ عَلَى الِاهْتِمَامِ بِهِمْ، وَكَانَ لَهُمُ اعْتِقَادٌ فِيهِمْ، فَكَانَ لِلْمَلِكِ الظَّاهِرِ بَيْبَرُسَ الْبُنْدُقْدَارِيِّ RH تـ ٦٧٦ هـ شَيْخٌ اسْمُهُ الْخَضِرُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُوسَى الْعَدَوِيِّ، كَانَ «صَاحِبَ حَالٍ، وَنَفْسٍ مُؤَثِّرَةٍ، وَهِمَّةٍ إِبْلِيسِيَّةٍ، وَحَالٍ كَاهِنِيٍّ»، وَكَانَ الظَّاهِرُ يُعَظِّمُهُ، وَيَزُورُهُ أَكْثَرَ مِن مَرَّةٍ فِي الْأُسْبُوعِ، وَيُطْلِعُهُ عَلَى أَسْرَارِهِ، وَيَسْتَصْحِبُهُ فِي أَسْفَارِهِ لِاعْتِقَادِهِ التَّامِّ بِهِ (١٠). وَانْتَشَرَ تَقْدِيسُ الْأَشْيَاخِ، وَالِاعْتِقَادُ فِيهِمْ، وَطَلَبُ النُّذُورِ عِنْدَ قُبُورِهِمْ، بَلْ كَانُوا يَسْجُدُونَ لِبَعْضِ تِلْكَ الْقُبُورِ، وَيَطْلُبُونَ الْمَغْفِرَةَ مِن أَصْحَابِهَا (١١).
Artinya: Kebodohan dan kepercayaan pada takhayul dan hal-hal ghaib merajalela di kalangan orang awam di masyarakat Damaskus. Tasawuf tersebar luas di seluruh negeri, dan muncul di antara mereka banyak penyihir yang sangat mempengaruhi orang awam. Bahkan para penguasa Mamluk berusaha memperhatikan mereka dan memiliki kepercayaan pada mereka. Raja al-Zhahir Baibars al-Bunduqdari RH (w. 676 H) memiliki seorang syekh bernama al-Khadhir bin Abu Bakar bin Musa al-Adawi, ia adalah "orang yang memiliki keadaan (hal), jiwa yang berpengaruh, ambisi iblis, dan keadaan dukun". Al-Zhahir mengagungkannya, mengunjunginya lebih dari sekali dalam seminggu, memberitahukan rahasianya, dan membawanya dalam perjalanannya karena keyakinan penuhnya kepadanya (10). Penyucian terhadap para syekh tersebar, demikian pula kepercayaan pada mereka dan permintaan nadzar di kuburan mereka. Bahkan mereka sujud pada sebagian kuburan tersebut dan meminta pengampunan dari penghuninya (11).
فِي هَذِهِ الْبِيئَةِ الْفِكْرِيَّةِ وَالْعَقَائِدِيَّةِ الْمُضْطَرِبَةِ، وُلِدَ مُؤَرِّخُ الْإِسْلَامِ شَمْسُ الدِّينِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ قَايْمَازَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الذَّهَبِيُّ RH فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْآخَرِ سَنَةَ ٦٧٣ هـ (١٢). وَكَانَ مِن أُسْرَةٍ تُرْكُمَانِيَّةِ الْأَصْلِ، تَنْتَهِي بِالْوَلَاءِ إِلَى بَنِي تَمِيمٍ (١٣)، سَكَنَتْ مَدِينَةَ مَيَّافَارِقِينَ مِن أَشْهَرِ مُدُنِ دِيَارِ بَكْرٍ (١٤). وَيَبْدُو أَنَّ جَدَّ أَبِيهِ قَايْمَازَ قَضَى حَيَاتَهُ فِيهَا (١٥)، وَتُوُفِّيَ سَنَةَ ٦٦١ هـ وَقَدْ جَاوَزَ الْمِئَةَ، قَالَ الذَّهَبِيُّ RH: «قَايْمَازُ ابْنُ الشَّيْخِ عَبْدِ اللَّهِ التُّرْكُمَانِيِّ الْفَارِقِيِّ جَدُّ أَبِي. قَالَ لِي ابْنُ عَمٍّ وَالِدِي عَلِيُّ بْنُ فَارِسٍ النَّجَّارُ: تُوُفِّيَ جَدُّنَا عَن مِئَةٍ وَتِسْعِ سِنِينَ. قُلْتُ: عُمِّرَ، وَأَضُرَّ بِأُخْرَى، وَتُوُفِّيَ سَنَةَ إِحْدَى وَسِتِّينَ وَسِتِّ مِئَةٍ (١٦)، وَكَانَ قَدْ حَجَّ (١٧).
Artinya: Di lingkungan intelektual dan akidah yang bergejolak ini, lahirlah sejarawan Islam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi RH pada bulan Rabi'ul Akhir tahun 673 H (12). Ia berasal dari keluarga keturunan Turkmen yang nasabnya berakhir pada loyalitas kepada Bani Tamim (13). Keluarganya mendiami kota Mayyafarigin, salah satu kota paling terkenal di Diyar Bakr (14). Tampaknya kakek ayahnya, Qaimaz, menghabiskan hidupnya di sana (15), dan wafat pada tahun 661 H setelah melampaui usia seratus tahun. Adz-Dzahabi RH berkata: "Qaimaz bin Syekh Abdullah at-Turkumani al-Fariqi adalah kakek ayahku. Sepupu ayahku, Ali bin Faris an-Najjar, berkata kepadaku: Kakek kami wafat pada usia 109 tahun. Aku berkata: Ia berumur panjang, dan menjadi pikun di masa tuanya, serta wafat pada tahun 661 H (16), dan ia pernah berhaji (17)."
وَكَانَ جَدُّهُ فَخْرُ الدِّينِ أَبُو أَحْمَدَ عُثْمَانُ أُمِّيّاً لَمْ يَكُنْ لَهُ حَظٌّ مِن عِلْمٍ، قَدِ اتَّخَذَ مِنَ النِّجَارَةِ صَنْعَةً لَهُ، لَكِنَّهُ كَانَ «حَسَنَ الْيَقِينِ بِاللَّهِ» (١٨). وَيَبْدُو أَنَّهُ هُوَ الَّذِي قَدِمَ إِلَى دِمَشْقَ، وَاتَّخَذَهَا سَكَناً لَهُ، وَتُوُفِّيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِهَا سَنَةَ ٦٨٣ هـ وَهُوَ فِي عَشْرِ السَّبْعِينَ (١٩).
Artinya: Kakeknya, Fakhruddin Abu Ahmad Utsman, adalah seorang yang ummi (tidak bisa baca tulis) dan tidak memiliki bagian dari ilmu pengetahuan. Ia mengambil pekerjaan sebagai tukang kayu, namun ia memiliki "keyakinan yang baik kepada Allah" (18). Tampaknya dialah yang datang ke Damaskus, menjadikannya tempat tinggalnya, dan wafat di sana setelah itu pada tahun 683 H dalam usia tujuh puluhan (19).
أَمَّا وَالِدُهُ شِهَابُ الدِّينِ أَحْمَدُ، فَقَدْ وُلِدَ سَنَةَ ٦٤١ هـ تَقْرِيباً، وَعَدَلَ عَنْ صَنْعَةِ أَبِيهِ إِلَى صَنْعَةِ الذَّهَبِ الْمَدْقُوقِ، فَبَرَعَ بِهَا، وَتَمَيَّزَ، وَعُرِفَ بِالذَّهَبِيِّ، وَطَلَبُ الْعِلْمَ، فَسَمِعَ «صَحِيحَ الْبُخَارِيِّ» سَنَةَ ٦٦٦ هـ، مِنَ الْمِقْدَادِ الْقَيْسِيِّ، وَحَجَّ فِي أَوَاخِرِ عُمُرِهِ، وَكَانَ دَيِّناً يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ (٢٠). وَقَدْ يُسِّرَتْ لَهُ صَنْعَتُهُ رَخَاءً وَغِنَى، فَأَعْتَقَ مِن مَالِهِ خَمْسَ رِقَابٍ (٢١)، وَتَزَوَّجَ مِن ابْنَةِ رَجُلٍ مَوْصِلِيِّ الْأَصْلِ هُوَ عَمُّ الدِّينِ أَبُوبَكْرِ سَنْجَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عُرِفَ بِغَنَاهُ، وَكَانَ «خَيِّراً عَاقِلًا مُدِيراً لِلْمَنَاشِيرِ بِدِيوَانِ الْجَيْشِ ... وَخَلَّفَ خَمْسَةَ عَشَرَ أَلْفاً (٢٢) مِنَ الدَّنَانِيرِ، وَأَحَلَّهُ عِلْمُهُ وَغِنَاهُ وَمُرُوءَتُهُ مَكَاناً جَعَلَتْ خَلَفاً مِن أَهْلِ دِمَشْقَ يُشَيِّعُونَهُ يَوْمَ وَفَاتِهِ فِي آخِرِ جُمَادَى الْأُولَى سَنَةَ ٦٩٧ هـ، يَؤُمُّهُم قَاضِي الْقُضَاةِ يَوْمَئِذٍ عِزُّ الدِّينِ ابْنُ جَمَاعَةَ الْكِنَانِيُّ (٢٣).
Artinya: Adapun ayahnya, Syihabuddin Ahmad, lahir sekitar tahun 641 H. Ia berpaling dari pekerjaan ayahnya ke pekerjaan emas yang ditumbuk, lalu ia mahir di dalamnya, menonjol, dan dikenal sebagai Adz-Dzahabi. Ia menuntut ilmu, mendengar "Shahih al-Bukhari" pada tahun 666 H dari al-Miqdad al-Qaisi, berhaji di akhir usianya, dan ia adalah orang yang taat beragama serta rajin shalat malam (20). Pekerjaannya memudahkan baginya kemakmuran dan kekayaan, maka ia memerdekakan lima hamba sahaya dari hartanya (21). Ia menikahi putri seorang pria asal Mosul, yaitu 'Ammuddin Abu Bakar Sanjar bin Abdullah yang dikenal karena kekayaannya. Ia adalah seorang yang "baik, berakal, pengatur dokumen di dewan militer... dan meninggalkan lima belas ribu dinar (22), dan ilmu, kekayaan, serta keberaniannya menempatkannya di tempat yang membuat para penduduk Damaskus mengantarnya di hari wafatnya pada akhir Jumadal Ula tahun 697 H, diimami oleh Qadhi al-Qudhat saat itu, 'Izzuddin bin Jama'ah al-Kinani (23)."
وَعُرِفَ مُحَمَّدٌ بِابْنِ الذَّهَبِيِّ، نِسْبَةً إِلَى صَنْعَةِ أَبِيهِ، وَكَانَ هُوَ يُقَيِّدُ اسْمَهُ «ابْنَ الذَّهَبِيِّ» (٢٤). وَيَبْدُو أَنَّهُ اتَّخَذَ صَنْعَةَ أَبِيهِ مِهْنَةً لَهُ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ، لِذَلِكَ عُرِفَ عِندَ بَعْضِ مُعَاصِرِيهِ بِـ«الذَّهَبِيِّ» مِثْلَ الصَّلَاحِ الصَّفَدِيِّ (٢٥)، وَتَاجِ الدِّينِ السُّبْكِيِّ (٢٦)، وَالْحُسَيْنِيِّ (٢٧)، وَعِمَادِ الدِّينِ ابْنُ كَثِيرٍ (٢٨)، وَغَيْرِهِمْ.
Artinya: Muhammad dikenal dengan nama Ibnu Adz-Dzahabi, dinisbatkan pada pekerjaan ayahnya, dan ia menulis namanya sebagai "Ibnu Adz-Dzahabi" (24). Tampaknya ia mengambil pekerjaan ayahnya sebagai profesinya di awal urusannya, itulah sebabnya ia dikenal oleh sebagian orang sezamannya dengan nama "Adz-Dzahabi", seperti ash-Shalah ash-Shafadi (25), Tajuddin as-Subki (26), al-Husaini (27), 'Imaduddin bin Katsir (28), dan selain mereka.
وَعَاشَ طُفُولَتَهُ بَيْنَ أَكْنَافِ عَائِلَةٍ عِلْمِيَّةٍ مُتَدَيِّنَةٍ، فَكَانَتْ مُرْضِعَتُهُ وَعَمَّتُهُ سِتُّ الْأَهْلِ بِنْتُ عُثْمَانَ، الْحَاجَّةُ أُمُّ مُحَمَّدٍ، قَدْ حَصَلَتْ عَلَى الْإِجَازَةِ مِن ابْنِ أَبِي الْيُسْرِ، وَجَمَالِ الدِّينِ بْنِ مَالِكٍ، وَزُهَيْرِ بْنِ عُمَرَ الزُّرَعِيِّ، وَجَمَاعَةٍ آخَرِينَ، وَسَمِعَتْ مِن عُمَرَ ابْنِ الْقَوَّاسِ وَغَيْرِهِ، وَرَوَى الذَّهَبِيُّ عَنْهَا (٢٩). وَكَانَ خَالُهُ عَلِيُّ قَدْ طَلَبَ الْعِلْمَ، وَرَوَى عَنْهُ الذَّهَبِيُّ فِي «مُعْجَمِ شُيُوخِهِ»، وَقَالَ: «عَلِيُّ بْنُ سَنْجَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَوْصِلِيُّ، ثُمَّ الدِّمَشْقِيُّ الذَّهَبِيُّ الْحَاجُّ الْمُبَارَكُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ خَالِي. مَوْلِدُهُ فِي سَنَةِ ثَمَانٍ وَخَمْسِينَ وَسِتِّ مِئَةٍ. وَسَمِعَ بِإِفَادَةِ مُؤَدِّبِهِ ابْنِ الْخَبَّازِ مِن أَبِي بَكْرِ ابْنِ الْأَنْمَاطِيِّ، وَبَهَاءِ الدِّينِ أَيُّوبَ الْحَنَفِيِّ، وَسِتِّ الْعَرَبِ الْكِنْدِيَّةِ. وَسَمِعَ مَعِي بِيَعْلَبَكَ مِنَ التَّاجِ عَبْدِ الْخَالِقِ وَجَمَاعَةٍ. وَكَانَ ذَا مُرُوءَةٍ وَكَدٍّ عَلَى عِيَالِهِ وَخَوْفٍ مِنَ اللَّهِ. تُوُفِّيَ فِي الثَّالِثِ وَالْعِشْرِينَ مِن رَمَضَانَ سَنَةَ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَسَبْعِ مِئَةٍ» (٣٠). وَكَانَ زَوْجُ خَالَتِهِ فَاطِمَةَ، أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْغَنِيِّ بْنِ عَبْدِ الْكَافِي الْأَنْصَارِيُّ الذَّهَبِيُّ، الْمَعْرُوفُ بِابْنِ الْحَرَسْتَانِيِّ، قَد سَمِعَ الْحَدِيثَ، وَرَوَاهُ، وَكَانَ حَافِظاً لِلْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، كَثِيرَ التِّلَاوَةِ لَهُ، وَتُوُفِّيَ بِمِصْرَ سَنَةَ ٧٠٠ هـ (٣١).
Artinya: Ia menjalani masa kecilnya di bawah naungan keluarga ilmiah yang religius. Ibu susunya sekaligus bibinya, Sittul-Ahl binti Utsman, al-Hajjah Ummu Muhammad, telah mendapatkan ijazah dari Ibnu Abil-Yusr, Jamaluddin bin Malik, Zuhair bin Umar az-Zur'i, dan sekelompok orang lain. Ia mendengar dari Umar Ibnu al-Qawwas dan selainnya, dan Adz-Dzahabi meriwayatkan darinya (29). Pamannya, Ali, menuntut ilmu, dan Adz-Dzahabi meriwayatkan darinya dalam "Mu'jam Syuyukhihi", dan berkata: "Ali bin Sanjar bin Abdullah al-Maushili, kemudian ad-Dimasyqi adz-Dzahabi al-Haj al-Mubarak Abu Ismail, pamanku. Kelahirannya pada tahun 658 H. Ia mendengar berkat bantuan gurunya, Ibnu al-Khabbaz, dari Abu Bakar Ibnu al-Anmathi, Baha'uddin Ayyub al-Hanafi, dan Sittul-'Arab al-Kindiyah. Ia mendengar bersamaku di Ba'labak dari at-Taj Abdul Khaliq dan sekelompok orang. Ia adalah orang yang memiliki keberanian, bekerja keras untuk keluarganya, dan takut kepada Allah. Ia wafat pada tanggal 23 Ramadhan tahun 736 H (30)." Suami bibinya, Fathimah, yaitu Ahmad bin Abdul Ghani bin Abdul Kafi al-Anshari adz-Dzahabi, yang dikenal dengan Ibnu al-Harastani, telah mendengar hadits dan meriwayatkannya. Ia adalah seorang penghafal al-Qur'an al-Karim, banyak membacanya, dan wafat di Mesir tahun 700 H (31).
وَطَبِيعِيٌّ أَنْ تَعْتَنِيَ مِثْلُ هَذِهِ الْعَائِلَةِ الْمُتَدَيِّنَةِ الَّتِي كَانَ لَهَا حَظٌّ مِنَ الْعِلْمِ بِأَبْنَائِهَا، لِذَلِكَ وَجَدْنَا أَخَاهُ مِنَ الرَّضَاعَةِ عَلَاءَ الدِّينِ أَبَا الْحَسَنِ عَلِيَّ بْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ دَاوُدَ بْنِ الْعَطَّارِ الشَّافِعِيِّ: «٦٥٤ - ٧٢٤ هـ» (٣٢) يُسْرِعُ، وَيَسْتَجِيزُ لِلذَّهَبِيِّ جُمْلَةً مِن مَشَايِخِ عَصْرِهِ فِي سَنَةِ مَوْلِدِهِ (٣٣) مِنْهُمْ: أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْقَادِرِ، أَبُو الْعَبَّاسِ الْعَامِرِيُّ «٦٠٩ - ٦٧٣ هـ» (٣٤)، وَابْنُ الصَّابُونِيِّ «٦٠٤ - ٦٨٠ هـ» (٣٥)، وَأَمِينُ الدِّينِ ابْنُ عَسَاكِرَ «٦١٤ - ٦٨٦ هـ» (٣٦)، وَجَمَالُ الدِّينِ ابْنُ الصَّيْرَفِيِّ «٥٨٣ - ٦٧٨ هـ» (٣٧).
Artinya: Adalah wajar jika keluarga religius yang memiliki bagian dari ilmu pengetahuan seperti ini memperhatikan anak-anak mereka. Oleh karena itu, kami mendapati saudara sepersusuannya, 'Alauddin Abul Hasan Ali bin Ibrahim bin Dawud bin al-'Aththar asy-Syafi'i (654-724 H) (32), bergegas dan meminta ijazah bagi Adz-Dzahabi dari sekumpulan syekh di zamannya pada tahun kelahirannya (33), di antaranya: Ahmad bin Abdul Qadir Abu al-'Abbas al-'Amiri (609-673 H) (34), Ibnu ash-Shabuni (604-680 H) (35), Aminuddin Ibnu 'Asakir (614-686 H) (36), dan Jamaluddin Ibnu ash-Shairafi (583-678 H) (37).
وَمِن حَلَبَ: أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ ابْنُ النَّصِيبِيِّ «٦٠٩ - ٦٩٢ هـ» (٣٨)، وَمِن مَكَّةَ: الْإِمَامُ مُحِبُّ الدِّينِ الطَّبَرِيُّ مُحَدِّثُ الْحَرَمِ وَمُفْتِيهِ «٦١٥ - ٦٩٤ هـ» (٣٩)، وَغَيْرُهُ (٤٠). وَمِنَ الْمَدِينَةِ: كَافُورُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الطَّوَاشِيُّ (٤١). وَيَبْدُو أَنَّ عَلَاءَ الدِّينِ ابْنَ الْعَطَّارِ قَدْ حَجَّ فِي تِلْكَ السَّنَةِ (٤٢) فَحَصَّلَ بَعْضَ الْإِجَازَاتِ مِن مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ. وَذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ أَنَّ الَّذِينَ أَجَازُوهُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ «جَمَعَ جَمٌّ» (٤٣) وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ ابْنِ الْعَطَّارِ: «وَهُوَ الَّذِي اسْتَجَازَ لِلذَّهَبِيِّ سَنَةَ مَوْلِدِهِ، فَانْتَفَعَ الذَّهَبِيُّ بَعْدَ ذَلِكَ بِهَذِهِ الْإِجَازَةِ انْتِفَاعاً شَدِيداً» (٤٤).
Artinya: Dan dari Aleppo: Ahmad bin Muhammad Ibnu an-Nashibi (609-692 H) (38), dan dari Makkah: Imam Muhibbuddin ath-Thabari, ahli hadits al-Haram dan muftinya (615-694 H) (39), dan selainnya (40). Dan dari Madinah: Kafur bin Abdullah ath-Thawasyi (41). Tampaknya 'Alauddin Ibnu al-'Aththar telah berhaji pada tahun tersebut (42) sehingga ia mendapatkan beberapa ijazah dari Makkah dan Madinah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa mereka yang memberinya ijazah pada tahun ini "berjumlah banyak" (43), dan ia berkata dalam biografi Ibnu al-'Aththar: "Dialah yang meminta ijazah untuk Adz-Dzahabi pada tahun kelahirannya, maka Adz-Dzahabi mendapat manfaat yang sangat besar setelah itu dari ijazah ini (44)."
وَيَمْضِي الطِّفْلُ إِلَى أَحَدِ الْمُؤَدِّبِينَ هُوَ عَلَاءُ الدِّينِ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَلَبِيِّ الْمَعْرُوفِ بِالْبَصِيصِ، وَكَانَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خَطّاً، وَأَخْبَرَهُمْ بِتَعْلِيمِ الصِّبْيَانِ، فَيُقِيمُ فِي مَكْتَبِهِ أَرْبَعَةَ أَعْوَامٍ (٤٥)، وَفِي أَثْنَاءِ ذَلِكَ كَانَ جَدُّهُ عُثْمَانُ يُدْمِنُهُ عَلَى النُّطْقِ بِالرَّاءِ يُقَوِّمُ بِذَلِكَ لِسَانَهُ (٤٦).
Artinya: Dan si anak kecil bergegas menuju salah seorang pendidik, yaitu Alauddin Ali bin Muhammad Al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Al-Bashish, dan dia adalah orang yang paling baik tulisannya, dan paling berpengalaman dalam mendidik anak-anak, maka dia menetap di tempat belajarnya (maktab) selama empat tahun (45), dan di sela-sela itu kakeknya, Utsman, membiasakannya mengucapkan huruf ra untuk memperbaiki lidahnya (46).
وَلَا نَعْرِفُ فِي أَيَّةِ سَنَةٍ تَرَكَ الْمَكْتَبَ، وَلَكِنَّهُ كَانَ فِي سَنَةِ ٦٨٢ هـ، لَمْ يَزَلْ عِنْدَهُ حَيْثُ أَنْشَدَهُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ شِعْراً لِأَبِي مُحَمَّدِ الْقَاسِمِ الْحَرِيرِيِّ (٤٧). وَقَدْ اتَّجَهَ الذَّهَبِيُّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى شَيْخِهِ مَسْعُودِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الصَّالِحِيِّ، فَلَقَّنَهُ جَمِيعَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ قَرَأَ عَلَيْهِ نَحْواً مِنْ أَرْبَعِينَ خَتْمَةً، وَكَانَ الشَّيْخُ مَسْعُودٌ إِمَامَ مَسْجِدِ بِالشَّاغُورِ، وَكَانَ خَيِّراً مُتَوَاضِعاً بَرَّاً بِصِبْيَانِهِ، لَقَّنَ خَلَفاً. وَتُوُفِّيَ سَنَةَ ٧٢٠ هـ (٤٨).
Artinya: Dan kami tidak mengetahui pada tahun berapa dia meninggalkan maktab, akan tetapi itu terjadi pada tahun 682 H, dia masih bersamanya karena dia membacakan syair baginya di tahun ini dari Abu Muhammad Al-Qasim Al-Hariri (47). Dan Adz-Dzahabi setelah itu beralih ke gurunya Mas’ud bin Abdullah Ash-Shalihi, lalu diajarkannya seluruh Al-Qur'an, kemudian dia membaca di hadapannya sekitar empat puluh kali khatam, dan Syaikh Mas’ud adalah imam masjid di Asy-Syaghur, dan dia adalah orang baik yang rendah hati, berbakti kepada anak-anak didiknya, mengajarkan khalaf. Dan wafat pada tahun 720 H (48).
وَيَدَأُ الصَّبِيُّ بِالْحُضُورِ إِلَى مَجَالِسِ الشُّيُوخِ لِيَسْمَعَ كَلَامَ بَعْضِهِمْ (٤٩). وَلَمَّا قَدِمَ عِزُّ الدِّينِ الْفَارُوثِيُّ، عَالِمُ الْعِرَاقِ، إِلَى دِمَشْقَ سَنَةَ ٦٩٠ هـ، ذَهَبَ الْفَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَحَدَّثَهُ (٥٠)، مِمَّا يُدَلِّلُ عَلَى حُبِّهِ لِلِلْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ مُنْذُ الصِّغَرِ.
Artinya: Dan mulailah anak kecil tersebut menghadiri majelis para syaikh untuk mendengar perkataan sebagian mereka (49). Dan ketika Izzuddin Al-Faruthi, ulama Irak, datang ke Damaskus pada tahun 690 H, pemuda itu pergi dan memberi salam kepadanya, dan dia membacakan hadis untuknya (50), yang menunjukkan kecintaannya pada ilmu dan para ulama sejak kecil.
=================BATAS CATATAN KAKI===================
----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) رَاجِعْ عَنْ عَصْرِ الْمَمَالِيكِ: الدُّكْتُورُ عَلِيّ إِبْرَاهِيم حَسَن: «دِرَاسَات فِي تَارِيخِ الْمَمَالِيكِ الْبَحْرِيَّةِ»، ط ٢ (الْقَاهِرَة ١٩٤٨) وَالدُّكْتُور سَعِيد عَاشُور: «الْعَصْرُ الْمَمَالِيكِيّ فِي مِصْرَ وَالشَّامِ»، وَغَيْرَهُمَا. وَالْكِتَابُ الْأَخِيرُ أَحْسَنُ مَا كُتِبَ فِي الْمَوْضُوعِ.
(1) Rujuk tentang era Mamluk: Dr. Ali Ibrahim Hasan: "Dirasat fi Tarikh al-Mamalik al-Bahriyyah", cet. 2 (Kairo 1948) dan Dr. Sa'id Asyur: "Al-'Ashr al-Mamaliki fi Mishr wasy-Syam", dan lainnya. Buku yang terakhir adalah yang terbaik yang ditulis dalam topik ini.(٢) يَتَّضِحُ ذَلِكَ مِنَ الْعَدَدِ الَّذِي ذَكَرَهُ النُّعَيْمِيّ فِي كِتَابِهِ «تَنْبِيهِ الدَّارِسِ».
(2) Hal itu jelas terlihat dari jumlah yang disebutkan oleh An-Nu'aimi dalam kitabnya "Tanbih ad-Daris".(٣) الذَّهَبِيُّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٦٣ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٨).
(3) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 263 (Aya Sofia 3008).(٤) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢، الْوَرَقَة ٤.
(4) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2, lembar 4.(٥) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ»، ١٤ / ٢٨، ٣٨، ٤٩، وَابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ١ / ٦١ وَغَيْرُهُمَا.
(5) Ibnu Katsir: "Al-Bidayah", 14/28, 38, 49, dan Ibnu Hajar: "Ad-Durar", 1/61 dan selainnya.(٦) انْظُرِ التَّفَاصِيلَ فِي كِتَابِنَا: الْمُنْذِرِيّ وَكِتَابِهِ «التَّكْمِلَةُ»، ص ٣٨ فَمَا بَعْدُ.
(6) Lihat detailnya di kitab kami: Al-Mundziri dan kitabnya "At-Takmilah", hal. 38 dan seterusnya.(٧) وَكَانَ صَلَاحُ الدِّينِ أَشْعَرِيًّا مُتَعَصِّبًا كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ سِيرَتِهِ.
(7) Dan Salahuddin adalah seorang Asy'ari yang fanatik sebagaimana diketahui dari sirahnya.(٨) انْظُرِ النُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ»، ٢ / ٢٩ - ١٢٦.
(8) Lihat An-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris", 2/29-126.(٩) أَبُو زُهْرَة: ابْنُ تَيْمِيَّة، ص ٢٥.
(9) Abu Zahrah: "Ibnu Taimiyyah", hal. 25.(١٠) الذَّهَبِيُّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَة ٣٩ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(10) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 39 (Aya Sofia 3014).(١١) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، الْوَرَقَة ٧٥ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٧).
(11) Sumber yang sama, lembar 75 (Aya Sofia 3007).(١٢) انْظُرْ مَثَلًا: الذَّهَبِيُّ: «طَبَقَاتُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٤٩، الصَّفَدِيُّ: «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٤، وَ«نُكَتُ الْهِمْيَانِ»، ص ٢٤٢، وَذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ أَنَّ مَوْلِدَهُ فِي الثَّالِثِ مِنَ الشَّهْرِ الْمَذْكُورِ («الدُّرَرُ»، ٣ / ٤٢٦).
(12) Lihat misalnya: Adz-Dzahabi: "Thabaqat al-Qurra'", hal. 549, Ash-Shafadi: "Al-Wafi", 2/164, dan "Nukt al-Himyān", hal. 242, dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kelahirannya pada tanggal tiga dari bulan yang disebutkan ("Ad-Durar", 3/426).(١٣) كَتَبَ الذَّهَبِيُّ بِخَطِّهِ عَلَى طُرَّةِ الْمُجَلَّدِ التَّاسِعَ عَشَرَ مِنْ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» (نُسْخَةُ أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٢) تَأْلِيفُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ قَايْمَازَ مَوْلَى بَنِي تَمِيمٍ.
(13) Adz-Dzahabi menulis dengan tulisan tangannya pada sampul jilid kesembilan belas dari "Tarikh al-Islam" (naskah Aya Sofia 3012): Karya Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz maula Bani Tamim.(١٤) يَاُقُوت: مُعْجَمُ الْبُلْدَانِ، ٤ / ٧٠٣، فَمَا بَعْدُ.
(14) Yaqut: "Mu'jam al-Buldan", 4/703, dan seterusnya.(١٥) لَمْ يَذْكُرِ الذَّهَبِيُّ فِي نِسْبَتِهِ أَنَّهُ دِمَشْقِيٌّ، بَلْ قَالَ: «الْفَارِقِيُّ»، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَنْتَقِلْ إِلَى دِمَشْقَ. وَذَكَرَ الدُّكْتُورُ صَلَاحُ الدِّينِ الْمُنَجَّدُ فِي مُقَدِّمَةِ الْجُزْءِ الَّذِي طَبَعَهُ مِنْ «سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» أَنَّ قَايْمَازَ هُوَ الَّذِي قَدِمَ دِمَشْقَ، وَأَشَارَ إِلَى مُعْجَمِ الشُّيُوخِ، وَلَمْ نَجِدْ لِذَلِكَ دَلِيلًا فِي مَصْدَرِهِ ١ / ١٥ وَانْظُرْ مُعْجَمَ الشُّيُوخِ (م ١ الْوَرَقَة ٨٩).
(15) Adz-Dzahabi tidak menyebutkan dalam nasabnya bahwa ia orang Damaskus, bahkan ia berkata: "Al-Fariqi", yang menunjukkan bahwa ia tidak pindah ke Damaskus. Dr. Salahuddin Al-Munajjid menyebutkan dalam mukaddimah juz yang ia cetak dari "Siyar A'lam an-Nubala'" bahwa Qaymaz adalah orang yang datang ke Damaskus, dan ia merujuk ke Mu'jam asy-Syuyukh, namun kami tidak menemukan bukti untuk itu di sumbernya 1/15 dan lihat Mu'jam asy-Syuyukh (juz 1 lembar 89).(١٦) الذَّهَبِيُّ: أَهْلُ الْمِئَةِ فَصَاعِدًا، ص ١٣٧، وَمُعْجَمُ الشُّيُوخِ، م ١ وَرَقَة ٨٩.
(16) Adz-Dzahabi: "Ahl al-Mi'ah fashai'adan", hal. 137, dan "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 89.(١٧) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ٨٩.
(17) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 89.(١٨) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ٨٩.
(18) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 89.(١٩) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ.
(19) Sumber yang sama.(٢٠) الذَّهَبِيُّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ» (وَفَيَاتُ ٦٩٧) نُسْخَةُ أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤، وَ«مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ١٣، وَالصَّفَدِيُّ: «الْوَافِي»، م ٧ وَرَقَة ٨٦.
(20) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam" (wafat 697) naskah Aya Sofia 3014, dan "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 13, dan Ash-Shafadi: "Al-Wafi", juz 7 lembar 86.(٢١) كَانَ مِنْ بَيْنِهِمْ فَكُّ أَسْرِ امْرَأَتَيْنِ مِنْ أَسْرِ الْفِرِنْجَةِ مِنْ عَكَّا (انْظُرِ الْمَصَادِرَ فِي الْهَامِشِ السَّابِقِ).
(21) Di antara mereka adalah membebaskan dua wanita dari tawanan orang-orang Frangia (Salibis) dari Akko (lihat sumber-sumber pada catatan kaki sebelumnya).(٢٢) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ٥٥ وَتُوُفِّيَ سَنَة ٦٨٦.
(22) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 55 dan beliau wafat tahun 686.(٢٣) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَة ١٣.
(23) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 13.(٢٤) وَنِسْبَتُهُ بِـ «ابْنِ الذَّهَبِيِّ» مُقَيَّدَةٌ بِخَطِّهِ فِي مُعْظَمِ الْكُتُبِ وَالطِّبَاقِ الَّتِي بِخَطِّهِ مِثْلِ طَبَقَةِ سَمَاعِ كِتَابِ أَهْلِ الْمِئَةِ فَصَاعِدًا (ص ١١١ بِتَحْقِيقِنَا)، وَطُرَّزِ الْمُجَلَّدَاتِ الَّتِي وَصَلَتْ بِخَطِّهِ مِنْ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» (نُسْخَةُ أَيَا صُوفْيَا) وَطَبَقَةِ سَمَاعٍ لِكِتَابِ «الْكَاشِفِ» لَهُ (نُسْخَةُ التِّيمُورِيَّةِ رَقْم ١٩٣٦) وَجَاءَ فِي أَوَّلِ «مُعْجَمِ شُيُوخِهِ»: «أَمَّا بَعْدُ، فَهَذَا مُعْجَمُ الْعَبْدِ الْمِسْكِينِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ ... ابْنِ الذَّهَبِيِّ».
(24) Dan penisbatan beliau dengan "Ibnu adz-Dzahabi" tertulis dengan tulisan tangan beliau di sebagian besar kitab dan catatan pendengaran (thabaqat) yang ditulis langsung oleh tangan beliau, seperti thabaqat sama' kitab Ahl al-Mi'ah fashai'adan (hal. 111 dalam tahqiq kami), dan hiasan jilid yang sampai kepada kami dengan tulisan tangan beliau dari "Tarikh al-Islam" (naskah Aya Sofia) dan thabaqat sama' untuk kitab "Al-Kasyif" miliknya (naskah at-Taimuriyyah nomor 1936), dan disebutkan pada awal "Mu'jam Syuyukhihi": "Amma ba'du, ini adalah Mu'jam hamba yang miskin Muhammad bin Ahmad... Ibnu adz-Dzahabi".(٢٥) «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٣ وَ«نُكَتُ الْهِمْيَانِ»، ص ٢٤١.
(25) "Al-Wafi", 2/163 dan "Nukt al-Himyān", hal. 241.(٢٦) «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ الْكُبْرَى»، ٩ / ١٠٠.
(26) "Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra", 9/100.(٢٧) «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ»، ص ٣٤.
(27) "Dzail Tadzkirah al-Huffaz", hal. 34.(٢٨) «الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ»، ١٤ / ٢٢٥.
(28) "Al-Bidayah wan Nihayah", 14/225.(٢٩) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ٥٧، وُلِدَتْ سِتُّ الْأَهْلِ سَنَة ٦٥٣ هـ وَتُوُفِّيَتْ سَنَة ٧٢٩ هـ.
(29) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 57, Sitt al-Ahl lahir tahun 653 H dan wafat tahun 729 H.(٣٠) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ وَرَقَة ٦.
(30) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 6.(٣١) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ١ وَرَقَة ١٢.
(31) Sumber sebelumnya, juz 1 lembar 12.(٣٢) الذَّهَبِيُّ: «ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ١٣٦، وَ«مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ وَرَقَة ١، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ»، ١٤ / ١١٧، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣ / ٧٣-٧٤، النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ»، ١ / ٦٨-٧٠، ١١٢.
(32) Adz-Dzahabi: "Dzail al-'Ibar", hal. 136, dan "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 1, Ibnu Katsir: "Al-Bidayah", 14/117, Ibnu Hajar: "Ad-Durar", 3/73-74, An-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris", 1/68-70, 112.(٣٣) وَرَأَيْنَا لِأَبِي الْحَسَنِ ابْنِ الْعَطَّارِ هَذَا رِسَالَةً فِي السَّمَاعِ فِي خِزَانَةِ كُتُبِ جَسْتِرِيتِي بِدَبْلِنَ ضِمْنَ مَجْمُوعٍ بِرَقْم ٣٢٩٦.
(33) Dan kami melihat untuk Abu al-Hasan Ibnu al-'Aththar ini risalah tentang as-Sama' di khazanah kitab-kitab Chester Beatty di Dublin dalam satu majmu' bernomor 3296.(٣٤) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣ / ٤٢٦.
(34) Ibnu Hajar: "Ad-Durar", 3/426.(٣٥) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَة ١٢.
(35) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 12.(٣٦) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ وَرَقَة ٥٥.
(36) Sumber sebelumnya, juz 2 lembar 55.(٣٧) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ١ وَرَقَة ٨٠.
(37) Sumber sebelumnya, juz 1 lembar 80.(٣٨) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ وَرَقَة ٨٧.
(38) Sumber sebelumnya, juz 2 lembar 87.(٣٩) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ١ وَرَقَة ١٨.
(39) Sumber sebelumnya, juz 1 lembar 18.(٤٠) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م وَرَقَة ٨.
(40) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz lembar 8.(٤١) انْظُرْ مَثَلًا: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ وَرَقَة ٩٠، ٣١، ٦، ٥٩-٦٠، ٨٨، وَابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣ / ٤٣٦.
(41) Lihat misalnya: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 90, 31, 6, 59-60, 88, dan Ibnu Hajar: "Ad-Durar", 3/436.(٤٢) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ وَرَقَة ٢٦.
(42) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 26.(٤٣) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ وَرَقَة ٥٩-٦٠.
(43) Sumber sebelumnya, juz 2 lembar 59-60.(٤٤) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣ / ٤٢٦.
(44) Ibnu Hajar: "Ad-Durar", 3/426.(٤٥) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ١١.
(45) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 11.(٤٦) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ١ الْوَرَقَةُ ٨٩.
(46) Sumber sebelumnya, jilid 1 lembar 89.(٤٧) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ١١ وَمَاتَ مُؤَدِّبُهُ فِي حُدُودِ سَنَةِ ٦٩٠هـ.
(47) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 11 dan gurunya wafat sekitar tahun 690 H.(٤٨) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ٧٨.
(48) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 78.(٤٩) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٥٨.
(49) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 58.(٥٠) الذَّهَبِيُّ: «مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٤٤. وَتُوُفِّيَ الْفَارُونِيُّ سَنَةَ ٦٩٤هـ.
(50) Adz-Dzahabi: "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 544. Dan al-Faruni wafat tahun 694 H.ثَانِياً - بَدْءُ عِنَايَتِهِ بِطَلَبِ الْعِلْمِ:
Artinya: Kedua - Mulainya perhatiannya dalam menuntut ilmu:
بَدَأَ الذَّهَبِيُّ يَعْتَنِي بِطَلَبِ الْعِلْمِ حِينَمَا بَلَغَ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهِ، وَتَوَجَّهَتْ عِنَايَتُهُ إِلَى نَاحِيَتَيْنِ رَئِيسَتَيْنِ هُمَا: الْقِرَاءَاتُ، وَالْحَدِيثُ الشَّرِيفُ.
Artinya: Adz-Dzahabi mulai perhatian menuntut ilmu ketika dia mencapai usia delapan belas tahun, dan perhatiannya tertuju pada dua bidang utama, yaitu: Al-Qira'at, dan Hadits Asy-Syarif.
أ - الْقِرَاءَاتُ:
Artinya: A - Al-Qira'at:
اهْتَمَّ الذَّهَبِيُّ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَالْعِنَايَةِ بِدِرَاسَةِ عِلْمِ الْقِرَاءَاتِ، فَتَوَجَّهَ سَنَةَ ٦٩١ هـ هُوَ وَرِفْقَةٌ لَهُ؛ إِلَى شَيْخِ الْقُرَّاءِ جَمَالِ الدِّينِ أَبِي إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ دَاوُدَ الْعَسْقَلَانِيِّ، ثُمَّ الدِّمَشْقِيِّ، الْمَعْرُوفِ بِالْفَاضِلِيِّ، فَشَرَعَ عَلَيْهِ بِالْجَمْعِ الْكَبِيرِ (١)، وَكَانَ الْفَاضِلِيُّ قَدْ صَحِبَ الشَّيْخَ عَلَمَ الدِّينِ السُّخَاوِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣ هـ، وَهُوَ الَّذِي انْتَهَتْ إِلَيْهِ رِيَاسَةُ الْإِقْرَاءِ فِي زَمَانِهِ (٢)، وَجَمَعَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَاتِ السَّبْعَ، وَتَصَدَّرَ لِلْإِقْرَاءِ بِتُرْبَةِ أُمِّ الصَّالِحِ، وَلَكِنَّهُ أُصِيبَ بِطَرَفٍ مِنَ الْفَالِجِ، فَكَانَ يُقْرِئُ فِي بَيْتِهِ وَيَنْتَهِي الذَّهَبِيُّ عَلَيْهِ إِلَى أَوَاخِرِ سُورَةِ الْقَصَصِ، وَيَزْدَادُ الْفَالِجُ عَلَى الشَّيْخِ، فَيَمْنَعُ الطَّلَبَةَ مِنَ الدُّخُولِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَمُوتُ سَنَةَ ٦٩٢ هـ، وَتَظَلُّ قِرَاءَةُ الذَّهَبِيِّ عَلَى الْفَاضِلِيِّ نَاقِصَةً (٣).
Artinya: Adz-Dzahabi tertarik membaca Al-Qur'an Al-Karim, dan perhatiannya pada studi ilmu Qira'at, maka dia pergi pada tahun 691 H bersama teman-temannya kepada syaikh para ahli qira'at Jamaluddin Abu Ishaq Ibrahim bin Dawud Al-Asqalani, kemudian Ad-Dimasyqi, yang dikenal dengan sebutan Al-Fadhili, lalu dia memulai kepadanya dengan Al-Jam’ul Kabir (1), dan Al-Fadhili telah mendampingi Syaikh Alamuddin As-Sakhawi yang wafat tahun 643 H, dan dia adalah orang yang kepadanya berakhir kepemimpinan dalam pengajaran Al-Qur'an di zamannya (2), dan dia mengumpulkan tujuh qira'at kepadanya, dan dia mulai mengajar di makam Ummu Ash-Shalih, akan tetapi dia tertimpa sebagian penyakit lumpuh, maka dia mengajar di rumahnya dan Adz-Dzahabi menyelesaikannya di hadapannya sampai akhir surat Al-Qashash, dan penyakit lumpuhnya bertambah pada Syaikh, sehingga dia melarang para pelajar masuk kepadanya, kemudian dia meninggal tahun 692 H, dan bacaan Adz-Dzahabi kepada Al-Fadhili tetap tidak lengkap (3).
وَلَكِنَّهُ كَانَ فِي أَثْنَاءِ شُرُوعِهِ بِالْجَمْعِ الْكَبِيرِ عَلَى الْفَاضِلِيِّ، قَدْ شَرَعَ فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَقْرَأُ بِالْجَمْعِ الْكَبِيرِ عَلَى الشَّيْخِ جَمَالِ الدِّينِ أَبِي إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ غَالِي الْمُقْرِئِ، الدِّمَشْقِيِّ ت ٧٠٨ هـ (٤). وَقَرَأَ خَتْمَةً جَامِعَةً لِمَذَاهِبِ الْقُرَّاءِ السَّبْعَةِ بِمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ كِتَابُ «التَّيْسِيرِ» لِلدَّانِي، وَكِتَابُ «حِرْزِ الْأَمَانِي» لِلشَّاطِبِيِّ عَلَى ابْنِ جِبْرِيلَ الْمِصْرِيِّ نَزِيلِ دِمَشْقَ (٥).
Artinya: Akan tetapi ketika sedang memulai Al-Jam’ul Kabir kepada Al-Fadhili, dia telah memulai pada saat yang sama membaca Al-Jam’ul Kabir kepada Syaikh Jamaluddin Abu Ishaq Ibrahim bin Ghali Al-Muqri, Ad-Dimasyqi w. 708 H (4). Dan dia membaca satu kali khatam yang menghimpun madzhab-madzhab tujuh ahli qira'at dengan apa yang tercakup dalam kitab "At-Taisir" karya Ad-Dani, dan kitab "Hirzul Amani" karya Asy-Syathibi kepada Ibnu Jibril Al-Mishri yang menetap di Damaskus (5).
وَمَا لَبِثَ الذَّهَبِيُّ أَنْ أَصْبَحَ عَلَى مَعْرِفَةٍ جَيِّدَةٍ بِالْقِرَاءَاتِ، وَأُصُولِهَا وَمَسَائِلِهَا، وَهُوَ لَمَّا يَزَلْ فَتًى لَمْ يَتَعَدَّ الْعِشْرِينَ مِنْ عُمْرِهِ، قَالَ فِي تَرْجَمَةِ قَاضِي الْقُضَاةِ شِهَابِ الدِّينِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ خَلِيلٍ الْخُويِّيِ ثُمَّ الدِّمَشْقِيِّ الشَّافِعِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٣ هـ: «جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَسَأَلَنِي عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ مِنَ الْقِرَاءَاتِ، فَمَنَّ اللهُ وَأَجَبْتُهُ وَشَهِدَ فِي إِجَازَتِي مِنَ الْحَاضِرِينَ، وَأَجَازَ لِي مرويانه (٦)». عَلَى أَنَّهُ اسْتَمَرَّ فِي تَحْصِيلِ هَذَا الْفَنِّ، فَكَتَبَ فِي سَنَةِ ٦٩١ هـ «الْمُقَدِّمَةِ فِي التَّجْوِيدِ» عَنْ مُؤَلِّفِهَا الْمُقْرِئِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ جَوْهَرٍ التَّلَعْفَرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٦ هـ (٧)، وَتَلَا خَتْمَةً لِلسَّبْعَةِ عَلَى مَجْدِ الدِّينِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْمَرْسِيِّ نَزِيلِ دِمَشْقَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٨ هـ (٨) هـ وَجَمَعَ الْخَتْمَةَ عَلَى شَيْخِ الْقُرَّاءِ بِبَعْلَبَكَ مُوَفَّقِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٥ هـ (٩) هـ، وَقَرَأَ بِالسَّبْعِ أَيْضاً عَلَى الْمُقْرِئِ شَمْسِ الدِّينِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ مَنْصُورٍ الْحَلَبِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٠ هـ، وَكَانَ الْحَلَبِيُّ هَذَا مِنَ الْمُتَصَدِّرِينَ بِالْعَادِلِيَّةِ وَبِالْجَامِعِ الْأُمَوِيِّ (١٠). وَقَرَأَ كِتَابَ «الْمُبْهِجِ فِي الْقِرَاءَاتِ السَّبْعِ» (١١) لِسِبْطِ الشَّيْخِ أَبِي مَنْصُورٍ الْخَيَّاطِ الْبَغْدَادِيِّ، وَ «السَّبْعَةِ» لِابْنِ مُجَاهِدٍ، وَغَيْرِهِمَا عَلَى شَيْخِهِ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ ابْنِ الْقَوَّاسِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٨ هـ، وَسَمِعَ «الشَّاطِبِيَّةَ» مِنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الْقُرَّاءِ (١٢).
Artinya: Tidak lama kemudian Adz-Dzahabi menjadi memiliki pengetahuan yang baik tentang Qira'at, dasar-dasarnya dan permasalahan-permasalahannya, sedangkan dia masih seorang pemuda yang belum mencapai dua puluh tahun, dia berkata dalam biografi Qadhi Al-Qudhah Syihabuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Khalil Al-Khuwiyi kemudian Ad-Dimasyqi Asy-Syafi'i yang wafat tahun 693 H: "Saya duduk di hadapannya, dan dia bertanya kepadaku tentang beberapa permasalahan Qira'at, maka Allah memberikan karunia dan saya menjawabnya, dan orang-orang yang hadir menyaksikan ijazahku, dan dia mengijazahkanku riwayat-riwayatnya (6)". Namun dia terus mempelajari bidang ini, maka dia menulis pada tahun 691 H "Al-Muqaddimah fi At-Tajwid" dari penulisnya, Al-Muqri Abu Abdullah Muhammad bin Jauhar At-Tala'fari yang wafat tahun 696 H (7), dan dia membaca satu khatam untuk tujuh qira'at kepada Majduddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Mursi yang menetap di Damaskus yang wafat tahun 718 H (8), dan mengumpulkan khatam kepada syaikh para ahli qira'at di Ba'labak Muwaffaquddin yang wafat tahun 695 H (9), dan membaca tujuh qira'at juga kepada Al-Muqri Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Manshur Al-Halabi yang wafat tahun 700 H, dan Al-Halabi ini termasuk orang yang mengajar di Al-Adiliyyah dan di Masjid Umayyah (10). Dan dia membaca kitab "Al-Mubhaj fi Al-Qira'at As-Sab'" (11) karya Sibth Syaikh Abu Manshur Al-Khayyath Al-Baghdadi, dan "As-Sab'ah" karya Ibnu Mujahid, dan selain keduanya kepada gurunya Abu Hafsh Umar bin Al-Qawwas yang wafat tahun 698 H, dan mendengar "Asy-Syathibiyyah" dari lebih dari satu ahli qira'at (12).
وَتَمَيَّزَ الشَّابُّ فِي دِرَاسَةِ الْقِرَاءَاتِ، وَبَرَعَ فِيهَا بَرَاعَةً جَعَلَتْ شَيْخَهُ شَمْسَ الدِّينِ أَبَا عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ الدِّمْيَاطِيَّ ثُمَّ الدِّمَشْقِيَّ الشَّافِعِيَّ، وَهُوَ مِنَ الْمُقْرِئِينَ الْمُجَوِّدِينَ، يَتَنَازَلُ لَهُ عَنْ حَلْقَتِهِ بِالْجَامِعِ الْأُمَوِيِّ فِي أَوَاخِرِ سَنَةِ ٦٩٢ هـ، أَوْ أَوَائِلِ سَنَةِ ٦٩٣ هـ، حِينَمَا أَصَابَهُ الْمَرَضُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، وَكَانَ الذَّهَبِيُّ قَدْ أَكْمَلَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَاتِ قَبْلَ ذَلِكَ (١٣)، فَكَانَ هَذَا أَوَّلَ مَنْصَبٍ عِلْمِيٍّ يَتَلَاهُ الذَّهَبِيُّ فِيمَا نَعْلَمُ، وَإِنْ لَمْ يَدُمْ فِيهِ أَكْثَرَ مِنْ سَنَةٍ وَاحِدَةٍ (١٤).
Artinya: Dan pemuda itu unggul dalam studi Qira'at, dan ahli di dalamnya dengan keahlian yang membuat gurunya Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Aziz Ad-Dimyathi kemudian Ad-Dimasyqi Asy-Syafi'i, dan dia termasuk ahli qira'at yang mahir, menyerahkan kepadanya halaqahnya di Masjid Umayyah pada akhir tahun 692 H, atau awal tahun 693 H, ketika dia tertimpa penyakit yang menyebabkan kematiannya, dan Adz-Dzahabi telah menyelesaikan qira'at kepadanya sebelum itu (13), maka ini adalah jabatan ilmiah pertama yang Adz-Dzahabi kerjakan sejauh yang kami ketahui, meskipun dia tidak bertahan di dalamnya lebih dari satu tahun (14).
ب - الْحَدِيثُ:
Artinya: B - Al-Hadits:
وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ كَانَ الذَّهَبِيُّ، وَهُوَ فِي الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهِ، قَدْ مَالَ إِلَى سَمَاعِ الْحَدِيثِ، وَاعْتَنَى بِهِ عِنَايَةً فَائِقَةً (١٥). وَانْطَلَقَ فِي هَذَا الْعِلْمِ حَتَّى طَغَى عَلَى كُلِّ تَفْكِيرِهِ، وَاسْتَغْرَقَ كُلَّ حَيَاتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ، فَسَمِعَ مَا لَا يُحْصَى كَثْرَةً مِنَ الْكُتُبِ وَالْأَجْزَاءِ، وَلَقِيَ كَثِيراً مِنَ الشُّيُوخِ وَالشَّيْخَاتِ، وَأُصِيبَ بِالشَّرَهِ فِي سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَقِرَاءَتِهِ، وَرَافَقَهُ ذَلِكَ طِيلَةَ حَيَاتِهِ، حَتَّى كَانَ يَسْمَعُ مِنْ أُنَاسٍ قَدْ لَا يَرْضَى عَنْهُمْ، قَالَ فِي تَرْجَمَةِ عَلَاءِ الدِّينِ أَبِي الْحَسَنِ عَلِيِّ بْنِ مُظَفَّرٍ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ، ثُمَّ الدِّمَشْقِيِّ، شَيْخِ دَارِ الْحَدِيثِ النَّفِيسِيَّةِ، الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٦ هـ: «وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ضَوْءٌ فِي دِينِهِ، حَمَلَنِي الشَّرَهُ عَلَى السَّمَاعِ مِنْ مِثْلِهِ، وَاللهُ يُسَامِحُهُ كَانَ يُخِلُّ بِالصَّلَوَاتِ، وَيُرْمَى بِعَظَائِمِ الْأُمُورِ (١٦)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ شِهَابِ الدِّينِ غَازِي بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٩ هـ: «وَكَانَ ذَا سِيرَةٍ غَيْرِ مَحْمُودَةٍ، فَاللهُ يَعْفُو عَنْهُ، كَتَبَ عَنْهُ خَلْقٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْبَلَدِ (١٧)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٦ هـ: «فَقِيرٌ مِسْكِينٌ ... وَرَأَيْتُهُمْ يَذْمُونَهُ ... رَوَى لَنَا عَنْ خَطِيبِ مَرْدَا جُزْءَ الْبِطَاقَةِ (١٨)»، وَذَكَرَ عَنْ شَيْخِهِ مَحْمُودِ بْنِ يَحْيَى التَّمِيمِيِّ الدِّمَشْقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٣ هـ أَنَّهُ كَانَ «سَيِّءَ الْحَالِ، سَفِيهاً (١٩)»، وَقَالَ عَنْ أَحَدِ شُيُوخِهِ: «لَا يَنْبَغِي الرِّوَايَةُ عَنْهُ، حَكَوْا لِي عَنْهُ مَصَائِبَ (٢٠)»، وَقَالَ عَنْ آخَرَ: «إِنَّهُ كَانَ مِنْ عَوَامِّ الطَّلَبَةِ (٢١)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ مُحَمَّدِ بْنِ النَّصِيرِ الْمُؤَذِّنِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٥ هـ: «شُوَيْخٌ عَامِّيٌّ سَمِعْنَا مِنْهُ، وَلَمْ يَكُنْ بِذَاكَ (٢٢)»، بَلْ إِنَّهُ لَيَذْهَبُ لِلْحَدِيثِ إِلَى الْقُرَّاءِ عَلَى الصُّمِّ، فَقَدْ ذَكَرَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ مَحْمُودِ بْنِ مُحَمَّدِ الْخَرَائِطِيِّ الصَّالِحِيِّ الْأَصَمِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٦ هـ: «فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ بِأَقْوَى صَوْتِي فِي أُذُنِهِ (٢٣)».
Artinya: Dan pada saat yang sama Adz-Dzahabi, ketika berusia delapan belas tahun, telah cenderung kepada mendengar hadits, dan dia sangat perhatian kepadanya dengan perhatian yang luar biasa (15). Dan dia meluncur dalam ilmu ini sehingga mendominasi seluruh pikirannya, dan menghabiskan seluruh hidupnya setelah itu, maka dia mendengar hal yang tak terhitung banyaknya dari kitab-kitab dan bagian-bagian (ajza'), dan dia menemui banyak syaikh laki-laki dan perempuan, dan dia tertimpa ketamakan dalam mendengar hadits dan membacanya, dan hal itu menyertainya sepanjang hidupnya, sampai-sampai dia mendengar dari orang-orang yang mungkin dia tidak ridha terhadap mereka, dia berkata dalam biografi Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Mudhaffar Al-Iskandarani, kemudian Ad-Dimasyqi, syaikh Darul Hadits An-Nafisiyyah, yang wafat tahun 716 H: "Dan tidak ada cahaya agama padanya, ketamakan mendorongku untuk mendengar dari orang yang seperti dia, dan semoga Allah memaafkannya, dia melalaikan shalat, dan dituduh melakukan perkara-perkara besar (16)", dan dia berkata dalam biografi gurunya Syihabuddin Ghazi bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi yang wafat tahun 709 H: "Dan dia memiliki perilaku yang tidak terpuji, maka semoga Allah memaafkannya, orang banyak dari penduduk kota menulis darinya (17)", dan dia berkata dalam biografi gurunya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Maqdisi yang wafat tahun 706 H: "Faqir miskin... dan saya melihat mereka mencelanya... dia meriwayatkan kepada kami dari Khatib Marda Juz'ul Bithaqah (18)", dan dia menyebutkan tentang gurunya Mahmud bin Yahya At-Tamimi Ad-Dimasyqi yang wafat tahun 733 H bahwa dia adalah "buruk keadaannya, bodoh (19)", dan berkata tentang salah seorang gurunya: "Tidak sepantasnya meriwayatkan darinya, mereka menceritakan kepadaku tentangnya musibah-musibah (20)", dan berkata tentang yang lain: "Sesungguhnya dia termasuk orang awam dari kalangan pelajar (21)", dan berkata dalam biografi gurunya Muhammad bin An-Nashir Al-Mu'adzin yang wafat tahun 715 H: "Syaikh kecil orang awam yang kami mendengar darinya, dan dia tidak seperti itu (22)", bahkan dia pergi untuk mendengar hadits kepada para pembaca hadits kepada orang tuli, maka dia menyebutkan dalam biografi gurunya Mahmud bin Muhammad Al-Kharaithi Ash-Shalihi Al-Asham (si tuli) yang wafat tahun 716 H: "Maka saya membacakan kepadanya dengan suara terkuat saya di telinganya (23)".
=================BATAS CATATAN KAKI===================
----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةُ ٢٧، وَ«مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٦٢ - ٥٦٣. ابْنُ الْجَزَرِيِّ: «غَايَةُ»، ٢ / ٧١.
(1) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 1 lembar 27, dan "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 562-563. Ibn al-Jazari: "Ghayah", 2/71.
(٢) سِبْطُ ابْنِ الْجَوْزِيِّ: «مِرْآةُ»، ٨ / ٧٥٨، الْقَنْطَرِيُّ: «إِنْبَاءُ»، ٣١١/٢، الْحُسَيْنِيُّ: «صِلَةُ التَّكْمِلَةِ»، (وَفَيَاتُ ٦٤٣)، الذَّهَبِيُّ: «الْعِبَرُ»، ٥ / ١٧٨، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ»، ١٣ / ١٧، ابْنُ الْجَزَرِيِّ: «غَايَةُ»، ١ / ٥٦٨.
(2) Sibth Ibn al-Jauzi: "Mir'ah", 8/758, al-Qanthari: "Inba'", 311/2, al-Husaini: "Shilat at-Takmilah", (wafat 643), Adz-Dzahabi: "al-'Ibar", 5/178, Ibn Katsir: "al-Bidayah", 13/17, Ibn al-Jazari: "Ghayah", 1/568.
(٣) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةُ ٢٧، وَ«مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٦٢ - ٥٦٣، ٥٧٦، ٥٩٢.
(3) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 1 lembar 27, dan "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 562-563, 576, 592.
(٤) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةُ ٣٠، وَ«مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٧٦.
(4) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 1 lembar 30, dan "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 576.
(٥) الْحُسَيْنِيُّ: «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ»، ص ٣٦.
(5) al-Husaini: "Dzail Tadzkirat al-Huffaz", hal. 36.
(٦) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ٣١.
(6) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 31.
(٧) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٣٩.
(7) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 39.
(٨) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٣٩.
(8) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 39.
(٩) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٧٤.
(9) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 74.
(١٠) الْمَصْدَرُ السَّابِقُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٦٥ - ٦٦.
(10) Sumber sebelumnya, jilid 2 lembar 65-66.
(١١) عِنْدِي مِنْهُ نُسْخَةٌ مُصَوَّرَةٌ عَنْ نُسْخَةِ مَعْهَدِ «إِحْيَاءِ الْمَخْطُوطَاتِ (رَقْمُ ٧٥ قِرَاءَاتٍ وَتَجْوِيدٍ) وَهُوَ كِتَابٌ نَفِيسٌ لِلْغَايَةِ.
(11) Saya memiliki salinannya dalam bentuk fotokopi dari salinan Institut "Ihya' al-Makhtutat (No. 75 Qira'at wa Tajwid) dan ia adalah buku yang sangat berharga.
(١٢) انْظُرْ مَثَلًا الذَّهَبِيَّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ٣٥، ٦٩.
(12) Lihat misalnya Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 35, 69.
(١٣) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ٤٨، تُوُفِّيَ شَيْخُهُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي صَفَرٍ مِنْ سَنَةِ ٦٩٣ هـ.
(13) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 48, gurunya wafat setelah itu pada bulan Shafar tahun 693 H.
(١٤) قَالَ الذَّهَبِيُّ فِي تَرْجَمَةِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ شَمْسِ الدِّينِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الرَّضِيِّ الْحَنَفِيِّ مِنْ مَعْرِفَةِ الْقُرَّاءِ: «وَلَمَّا سَافَرْتُ إِلَى بَعْلَبَكَّ، سَنَةَ ثَلَاثٍ وَتِسْعِينَ، وَتَعَوَّدْتُ بِالْقِرَاءَةِ عَلَى الْمُوَفَّقِ، وَثَبَ عَلَى حَلْقَتِي، فَأَخَذَهَا لِكَوْنِي لَمْ أَسْتَأْذِنِ الْحَاكِمَ فِي الْغَيْبَةِ، وَهُوَ الْآنَ يُقْرِئُ بِالْجَامِعِ» ص ٦٠٠.
(14) Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Muhammad bin Ahmad bin Ali Syamsuddin Abu Abdillah ar-Radhi al-Hanafi dari Ma'rifat al-Qurra': "Ketika aku bepergian ke Ba'labak, tahun 93, dan aku terbiasa membaca di hadapan al-Muwaffaq, ia melompat ke majelisku, lalu mengambilnya karena aku tidak meminta izin kepada al-Hakim untuk tidak hadir, dan ia sekarang mengajar di al-Jami'" hal. 600.
(١٥) السُّبْكِيُّ: «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ الْكُبْرَى»، ٩ / ١٠٢، وَالسُّيُوطِيُّ: «طَبَقَاتُ الْحُفَّاظِ»، الْوَرَقَةُ ٨٤.
(15) as-Subki: "Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra", 9/102, dan as-Suyuthi: "Thabaqat al-Huffaz", lembar 84.
(١٦) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةُ ١٢.
(16) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", jilid 2 lembar 12.
(١٧) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٢١.
(17) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 21.
(١٨) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٣٠.
(18) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 30.
(١٩) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٧٧.
(19) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 77.
(٢٠) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ١ الْوَرَقَةُ ٧٢.
(20) Sumber yang sama, jilid 1 lembar 72.
(٢١) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٥٥.
(21) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 55.
(٢٢) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٦٧.
(22) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 67.
(٢٣) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةُ ٧٦.
(23) Sumber yang sama, jilid 2 lembar 76.
ثَالِثاً - رِحْلَاتُهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ
Artinya: Ketiga - Perjalanan-perjalanan Beliau dalam Menuntut Ilmu
كَانَ الذَّهَبِيُّ RH يَتَحَسَّرُ عَلَى الرِّحْلَةِ إِلَى الْبُلْدَانِ الْأُخْرَى، لِمَا لِذَلِكَ مِن أَهَمِيَّةٍ بَالِغَةٍ فِي تَحْصِيلِ عُلُوِّ الْإِسْنَادِ، وَقَدْمِ السَّمَاعِ، وَلِقَاءِ الْحُفَّاظِ، وَالْمُذَاكَرَةِ لَهُمْ، وَالِاسْتِفَادَةِ عَنْهُمْ (١). إِلَّا أَنَّ وَالِدَهُ لَمْ يُشَجِّعْهُ عَلَى الرِّحْلَةِ، بَلْ مَنَعَهُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ، قَالَ فِي تَرْجَمَةِ أَبِي الْفَرَجِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّطِيفِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ وَرِيدَةَ الْبَغْدَادِيِّ الْحَنْبَلِيِّ شَيْخِ الْمُسْتَنْصِرِيَّةِ ٥٩٩ - ٦٩٧ هـ (٣): «وَقَدْ هَمَمْتُ بِالرِّحْلَةِ إِلَيْهِ، ثُمَّ تَرَكْتُهُ لِمَكَانِ الْوَالِدِ (٢)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَتِهِ مِن «مَعْرِفَةِ الْقُرَّاءِ الْكِبَارِ»: «وَانْفَرَدَ عَنْ أَقْرَانِهِ، وَكُنْتُ أَتَحَسَّرُ عَلَى الرِّحْلَةِ إِلَيْهِ، وَمَا أَتَجَسَّرُ خَوْفاً مِنَ الْوَالِدِ، فَإِنَّهُ كَانَ يَمْنَعُنِي (٤)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ الْمَكِينِ الْأَسْمَرِ الْمُقْرِىءِ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٢ هـ: «وَلَمَّا مَاتَ شَيْخُنَا الْفَاضِلِي، فَازْدَدْتُ تَلَهُّفاً وَتَحَسُّراً عَلَى لَقِيِهِ، وَلَمْ يَكُنِ الْوَالِدُ يُمَكِّنُنِي مِنَ السَّفَرِ (٥)». وَلَمْ يَكُنِ الذَّهَبِيُّ RH ابناً عَاقّاً يُخَالِفُ إِرَادَةَ وَالِدِهِ، لَا سِيَّمَا أَنَّ آدَابَ طَلَبِ الْعِلْمِ تَقْتَضِي اسْتِئْذَانَ الْأَبَوَيْنِ فِي الرِّحْلَةِ (٦)، وَوُجُوبَ طَاعَتِهِمَا وَبِرِّهِمَا، وَتَرْكِ الرِّحْلَةِ مَعَ كَرَاهَتِهِمَا وَسُخْطِهِمَا (٧). وَيَبْدُو لَنَا أَنَّ الذَّهَبِيَّ RH كَانَ وَحِيدَ أَبِيهِ، أَوْ كَانَ هُوَ الْبَارِزَ بَيْنَ أَبْنَائِهِ فِي الْأَقَلِّ (٨)؛ بِحَيْثُ كَانَ يَخَافُ عَلَيْهِ هَذَا الْخَوْفَ كُلَّهُ.
Artinya: Adz-Dzahabi RH merasa menyesal karena tidak dapat melakukan perjalanan (rihlah) ke negeri lain, karena hal itu memiliki kepentingan yang sangat besar dalam memperoleh ketinggian sanad, mendengarkan hadis, bertemu dengan para penghafal hadis (huffaz), melakukan diskusi dengan mereka, dan mengambil manfaat dari mereka (1). Namun ayahnya tidak mendukungnya untuk melakukan perjalanan, bahkan terkadang melarangnya. Beliau berkata dalam biografi Abu al-Faraj Abdurrahman bin Abdullatif bin Muhammad bin Waridah al-Baghdadi al-Hanbali, Syaikh al-Mustanshiriyah (599-697 H) (2): "Aku telah bertekad untuk melakukan perjalanan kepadanya, kemudian aku meninggalkannya karena posisi ayah" (3). Beliau juga berkata dalam biografinya di kitab "Ma'rifah al-Qurra' al-Kibar": "Ia menyendiri dari rekan-rekannya, dan aku merasa menyesal karena tidak bisa melakukan perjalanan kepadanya, dan aku tidak berani karena takut kepada ayah, karena beliau melarangku" (4). Beliau juga berkata dalam biografi al-Makin al-Asmar al-Muqri' al-Iskandarani yang wafat tahun 692 H: "Ketika syaikh kami al-Fadhili wafat, aku semakin merasa sedih dan menyesal karena tidak dapat menemuinya, dan ayah tidak mengizinkanku untuk bepergian" (5). Adz-Dzahabi RH bukanlah seorang anak yang durhaka yang menentang keinginan orang tuanya, terutama karena adab dalam menuntut ilmu menuntut izin kepada kedua orang tua dalam melakukan perjalanan (6), serta wajibnya menaati dan berbakti kepada mereka, dan meninggalkan perjalanan jika mereka tidak suka dan murka (7). Tampaknya bagi kami bahwa Adz-Dzahabi RH adalah anak satu-satunya dari ayahnya, atau setidaknya ia yang paling menonjol di antara anak-anaknya (8), sehingga ayahnya merasa khawatir kepadanya secara berlebihan.
وَيَظْهَرُ أَنَّ وَالِدَهُ قَدْ سَمَحَ لَهُ بِالرِّحْلَةِ حِينَمَا بَلَغَ الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ، وَذَلِكَ سَنَةَ ٦٩٣ هـ (٩). عَلَى أَنَّهُ سَمَحَ لَهُ بِرِحْلَاتٍ قَصِيرَةٍ لَا يُقِيمُ فِي كُلٍّ مِنْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ (١٠) فِي الْأَغْلَبِ، وَيُرَافِقُهُ فِيهَا بَعْضُ مَنْ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِم (١١).
Artinya: Tampaknya ayahnya mengizinkannya untuk melakukan perjalanan ketika ia mencapai usia dua puluh tahun, yaitu pada tahun 693 H (9). Namun, ayahnya hanya mengizinkannya melakukan perjalanan singkat yang tidak lebih dari empat bulan lamanya (10) pada umumnya, dan didampingi oleh beberapa orang yang bisa dipercaya (11).
أ - رِحْلَاتُهُ دَاخِلَ الْبِلَادِ الشَّامِيَّةِ
Artinya: A - Perjalanan-perjalanan Beliau di Dalam Negeri Syam
تُشِيرُ الْمَصَادِرُ إِلَى رِحْلَاتِ الذَّهَبِيِّ RH عَرَضاً، وَلَكِنَّهَا لَا تُقَدِّمُ لَنَا عَنْهَا الْكَثِيرَ. عَلَى أَنَّنَا اسْتَطَعْنَا أَنْ نَتَبَيَّنَ أَنَّ أَوَّلَ رِحْلَةٍ لَهُ رُبَّمَا كَانَتْ إِلَى بَعْلَبَكَ سَنَةَ ٦٩٣ هـ (١٢) حَيْثُ قَرَأَ فِيهَا الْقُرْآنَ عَلَى الْمُوَفَّقِ النَّصِيبِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٥ هـ (١٣)، وَأَكْثَرَ عَنِ الْمُحَدِّثِ الْأَدِيبِ الْإِمَامِ تَاجِ الدِّينِ أَبِي مُحَمَّدٍ الْمَغْرِبِيِّ، ثُمَّ الْبَعْلَبَكِّيِّ، الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٦ هـ (١٤). وَسَوْفَ نَجِدُهُ مَرَّةً أُخْرَى فِي بَعْلَبَكَ سَنَةَ ٧٠٧ هـ (١٥)، وَقَدْ سَمِعَ فِي هَاتَيْنِ الرِّحْلَتَيْنِ عَلَى كَثِيرٍ مِنْ شُيُوخِ الْبَلَدِ (١٦). وَرَحَلَ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى حَلَبَ، وَأَكْثَرَ فِيهَا عَنْ عَلَاءِ الدِّينِ أَبِي سَعِيدٍ سَنْقَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَرْمَنِيِّ، ثُمَّ الْحَلَبِيِّ، قَالَ: «رَحَلْتُ إِلَيْهِ، وَأَكْثَرْتُ عَنْهُ، وَنِعْمَ الشَّيْخُ كَانَ دِيناً وَمُرُوءَةً وَعَقْلًا وَتَعَفُّفاً (١٧)»، وَسَمِعَ مِنْ جُمْلَةٍ مِنْ شُيُوخِهَا (١٨). وَتُشِيرُ الْمَصَادِرُ إِلَى أَنَّهُ قَدْ سَمِعَ بِبِلْدَانٍ عَدِيدَةٍ مِنْهَا: حِمْصَ (١٩)، وَحَمَاةَ (٢٠)، وَطَرَابُلُسَ (٢١)، وَالْكَرَكِ (٢٢)، وَالْمَعَرَّةِ (٢٣)، وَبُصْرَى (٢٤)، وَنَابُلُسَ (٢٥)، وَالرَّمْلَةِ (٢٦)، وَالْقُدْسِ (٢٧)، وَتَبُوكَ (٢٨).
Artinya: Sumber-sumber merujuk pada perjalanan Adz-Dzahabi RH secara sekilas, namun tidak memberikan keterangan banyak mengenai hal tersebut. Namun, kami dapat mengetahui bahwa perjalanan pertamanya mungkin ke Ba'labak pada tahun 693 H (12), di mana ia membaca al-Qur'an di sana kepada al-Muwaffaq an-Nashibi yang wafat tahun 695 H (13), dan banyak mengambil ilmu dari ahli hadis, sastrawan, imam Tajuddin Abu Muhammad al-Maghribi, kemudian al-Ba'labakki yang wafat tahun 696 H (14). Kita akan menemukannya lagi di Ba'labak pada tahun 707 H (15), dan ia telah mendengar hadis dalam kedua perjalanan tersebut dari banyak syaikh di negeri itu (16). Setelah itu ia pergi ke Aleppo (Halab), dan banyak belajar dari 'Alauddin Abu Sa'id Sanqar bin Abdullah al-Armani, kemudian al-Halabi. Beliau berkata: "Aku melakukan perjalanan kepadanya, dan banyak mengambil ilmu darinya, ia adalah sebaik-baik syaikh dalam hal agama, muru'ah, akal, dan sikap menjaga diri (ta'affuf)" (17), dan ia mendengar dari sejumlah syaikh di sana (18). Sumber-sumber menunjukkan bahwa ia telah mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: Homs (19), Hama (20), Tripoli (21), Karak (22), Ma'arra (23), Bushra (24), Nablus (25), Ramlah (26), Al-Quds (27), dan Tabuk (28).
ب - رِحْلَتُهُ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ
Artinya: B - Perjalanan Beliau ke Negeri Mesir
عَلَى أَنَّ رِحْلَةَ الذَّهَبِيِّ RH إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ كَانَتْ مِنْ أَبْرَزِ رِحْلَاتِهِ الْمُبَكِّرَةِ، وَيَقُولُ الدُّكْتُورُ صَلَاحُ الدِّينِ الْمُنَجِّدُ: إِنَّهُ لَا يُعْرَفُ مَتَى سَافَرَ الذَّهَبِيُّ RH إِلَى مِصْرَ، ثُمَّ يَقُولُ: «وَلَعَلَّ سَفَرَهُ إِلَى مِصْرَ كَانَ بُعَيْدَ وَفَاةِ أَبِيهِ سَنَةَ ٦٩٧ هـ، وَقَدْ عَادَ سَنَةَ ٦٩٩ هـ (٢٩)». وَاسْتَنَدَ فِي ذَلِكَ عَلَى مَا نَقَلَهُ ابْنُ حَجَرٍ عَنْ مَشِيخَةِ بَدْرِ الدِّينِ النَّابُلُسِيِّ الَّذِي قَالَ: «وَأَوَّلُ مَا وَلِيَ تَصْدِيرَ حَلْقَةِ إِقْرَاءِ بِجَامِعِ دِمَشْقَ فِي أَوَّلِ رِوَاقِ زَكَرِيَّا عِوَضاً عَنْ شَمْسِ الدِّينِ الْعِرَاقِيِّ الضَّرِيرِ الْمُقْرِىءِ، فِي الْمُحَرَّمِ سَنَةَ ٦٩٩ هـ بَعْدَ رُجُوعِهِ مِن مِصْرَ بِقَلِيلٍ (٣٠)».
Artinya: Akan tetapi, perjalanan Adz-Dzahabi RH ke negeri Mesir merupakan salah satu perjalanan awalnya yang paling menonjol. Dr. Salahuddin al-Munajjid berkata: "Tidak diketahui kapan Adz-Dzahabi RH pergi ke Mesir." Kemudian ia berkata: "Kemungkinan perjalanannya ke Mesir dilakukan tidak lama setelah wafatnya ayahnya pada tahun 697 H, dan ia kembali pada tahun 699 H (29)." Ia mendasarkan hal tersebut pada apa yang dikutip oleh Ibnu Hajar dari Masyikhat Badruddin an-Nabulusi yang mengatakan: "Awal ia menjabat sebagai pengajar lingkaran bacaan (tashdir halqat iqra') di Masjid Damaskus di serambi pertama Zakaria, menggantikan Syamsuddin al-Iraqi ad-Dharir al-Muqri', adalah pada bulan Muharram tahun 699 H, tidak lama setelah kembalinya dari Mesir (30)."
وَقَدِ اسْتَطَعْنَا، نَتِيجَةَ تَتَبُّعِنَا لِنَشَاطِ الذَّهَبِيِّ RH أَنْ نُحَدِّدَ رِحْلَتَهُ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ، وَأَنَّهَا كَانَتْ بَيْنَ رَجَبٍ وَذِي الْقِعْدَةِ مِن سَنَةَ ٦٩٥ هـ، فَقَدْ تَبَيَّنَ أَنَّهُ ابْتَدَأَ سَفْرَتَهُ فِي رَجَبٍ سَنَةَ ٦٩٥ هـ مُتَوَجِّهاً إِلَى فَلَسْطِينَ، قَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخَتِهِ أُمِّ مُحَمَّدٍ سِيدَةَ بِنْتِ عُثْمَانَ الْمَارَانِيَّةِ الْمِصْرِيَّةِ الْمُتَوَفَّاةِ سَنَةَ ٦٩٥ هـ: «وَقَدْ رَحَلْتُ إِلَى لَقِيِّهَا، فَمَاتَتْ وَأَنَا بِفَلَسْطِينَ، فِي رَجَبٍ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ وَسِتِّمِائَةٍ (٣١)» وَقَالَ فِي تَرْجَمَتِهَا مِن «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»: «كُنْتُ أَتَلَهَّفُ عَلَى لَقِيِّهَا، وَرَحَلْتُ إِلَى مِصْرَ، وَعَلِمِي أَنَّهَا بَاقِيَةٌ، فَدَخَلْتُ فَوَجَدْتُهَا قَدْ مَاتَتْ مِن عَشْرَةِ أَيَّامٍ . . . تُوُفِّيَتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَادِسَ رَجَبٍ وَأَنَا بِوَادِي فَحْمَةَ (٣٢)»، وَبِذَلِكَ نَسْتَنْتِجُ أَنَّهُ وَصَلَ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ فِي السَّادِسَ عَشَرَ مِن رَجَبٍ سَنَةَ ٦٩٥ هـ.
Artinya: Hasil penelusuran kami terhadap aktivitas Adz-Dzahabi RH, kami dapat menentukan bahwa perjalanannya ke Mesir terjadi antara bulan Rajab dan Dzulqa'dah tahun 695 H. Diketahui bahwa ia memulai perjalanannya pada bulan Rajab tahun 695 H menuju Palestina. Beliau berkata dalam biografi gurunya, Ummu Muhammad Saidah binti Utsman al-Maraniyah al-Mishriyah yang wafat tahun 695 H: "Aku melakukan perjalanan untuk menemuinya, namun ia wafat saat aku berada di Palestina, pada bulan Rajab tahun 695 H (31)." Beliau juga berkata dalam biografinya di kitab "Tarikh al-Islam": "Aku sangat mendambakan untuk menemuinya, dan aku melakukan perjalanan ke Mesir, sementara aku mengira ia masih hidup. Maka aku masuk (ke Mesir) dan mendapatinya telah wafat sepuluh hari sebelumnya... Ia wafat pada hari Jumat, tanggal 6 Rajab, saat aku berada di Wadi Fahmah (32)." Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa ia sampai ke Mesir pada tanggal 16 Rajab tahun 695 H.
وَأَوَّلُ مَا افْتَتَحَ سَمَاعَهُ بِمِصْرَ عَلَى شَيْخِهِ جَمَالِ الدِّينِ أَبِي الْعَبَّاسِ أَحْمَدَ ابْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْحَلَبِيِّ الْمَعْرُوفِ بِابْنِ الظَّاهِرِيِّ (٣٣) ٦٢٦ - ٦٩٦ هـ.
Artinya: Dan awal mula ia membuka pendengarannya (hadits) di Mesir adalah dari gurunya, Jamaluddin Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Halabi yang dikenal dengan Ibnu az-Zhahiri (w. 696 H) (33).
قَالَ فِي «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»: «وَبِهِ افْتَتَحْتُ السَّمَاعَ فِي الدِّيَارِ الْمِصْرِيَّةِ، وَبِهِ اخْتَتَمْتُ، وَعِنْدَهُ نَزَلْتُ، وَعَلَى أَجْزَائِهِ اتَّكَأْتُ. وَقَدْ سَمِعَ مِنْهُ عَلَمُ الدِّينِ (يَعْنِي الْبِرْزَالِيَّ) أَكْثَرَ مِنْ مِئَتَيْ جُزْءٍ (٣٤)»، وَقَالَ فِي تَرْجَمَتِهِ مِن «مُعْجَمِ شُيُوخِهِ»: «وَدَّعْتُهُ فِي ذِي الْقِعْدَةِ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ وَتِسْعِينَ، فَقَالَ لِي: قُلْ لِلْجَمَاعَةِ يَجْعَلُونِي فِي حِلٍّ . . . (٣٥)». وَطَبِيعِيٌّ أَنْ يَرْجِعَ الْإِمَامُ الذَّهَبِيُّ RH فِي ذِي الْقِعْدَةِ مِنَ السَّنَةِ لِأَنَّهُ كَانَ قَدْ وَعَدَ أَبَاهُ، وَحَلَفَ لَهُ أَنَّهُ لَا يُقِيمُ فِي الرِّحْلَةِ أَكْثَرَ مِن أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَخَافَ أَنْ يُعِفَّهُ إِذَا تَأَخَّرَ (٣٦). وَقَدْ تُوُفِّيَ ابْنُ الظَّاهِرِيِّ بَعْدَ ذَلِكَ فِي رَبِيعٍ سَنَةَ ٦٩٦ هـ (٣٧). وَقَدْ ذَكَرَ مُتَرْجِمُو الذَّهَبِيِّ RH أَنَّهُ سَمِعَ مِنَ الْحَافِظِ ابْنُ الظَّاهِرِيِّ (٣٨) فَكَيْفَ يَصِحُّ الْقَوْلُ عِنْدَئِذٍ أَنَّهُ سَافَرَ بُعَيْدَ ٦٩٧ هـ!؟ وَسَمِعَ بِمِصْرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِن جَمَاعَةٍ كَبِيرَةٍ، مِن أَشْهَرِهِم: مُسْنِدُ الْوَقْتِ أَبُو الْمَعَالِي أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَبْرَقُوهِيِّ (٣٩) الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠١ هـ (٤٠)، وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ الْمُجْتَهِدُ قَاضِي الْقُضَاةِ تَقِيُّ الدِّينِ أَبُو الْفَتْحِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْرُوفُ بِابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ الْقُشَيْرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٢ هـ (٤١) وَالْعَلَّامَةُ شَرَفُ الدِّينِ عَبْدُ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَلَفٍ الدِّمْيَاطِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٥ هـ (٤٢)، وَغَيْرِهِم (٤٣).
Artinya: Ia berkata dalam "Tarikh al-Islam": "Dengan beliaulah saya membuka pendengaran (hadits) di negeri Mesir, dan dengannya pula saya mengakhirinya, dan dengannya saya menetap, dan pada jilid-jilidnya saya bersandar. Dan telah mendengar darinya Alamuddin (yakni al-Birzali) lebih dari dua ratus jilid (34)," dan ia berkata dalam biografi beliau di "Mu'jam Syuyukhihi": "Saya mengucapkan selamat tinggal kepadanya pada bulan Dzulqa'dah tahun 695 H, maka ia berkata kepadaku: Katakan kepada jamaah agar menghalalkan saya (memaafkan kesalahan saya)... (35)." Dan adalah hal yang wajar jika al-Imam adz-Dzahabi RH kembali pada bulan Dzulqa'dah tahun tersebut karena ia telah berjanji kepada ayahnya, dan bersumpah kepadanya bahwa ia tidak akan tinggal dalam perjalanan (rihlah) lebih dari empat bulan, karena ia takut akan dicela jika terlambat (36). Dan Ibnu az-Zhahiri wafat setelah itu pada bulan Rabi' tahun 696 H (37). Para penulis biografi adz-Dzahabi RH telah menyebutkan bahwa beliau mendengar dari al-Hafizh Ibnu az-Zhahiri (38), maka bagaimana bisa dikatakan bahwa ia pergi setelah tahun 697 H!? Dan ia mendengar di Mesir setelah itu dari sekelompok besar ulama, di antaranya yang paling terkenal adalah: Musnid al-Waqt Abu al-Ma'ali Ahmad bin Ishaq bin Muhammad al-Abraquhi (39) yang wafat tahun 701 H (40), Syaikhul Islam al-Mujtahid Qadhi al-Qudhat Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali yang dikenal dengan Ibnu Daqiq al-'Id al-Qusyairi yang wafat tahun 702 H (41), al-'Allamah Syarafuddin Abdul Mukmin bin Khalaf ad-Dimyathi yang wafat tahun 705 H (42), dan selain mereka (43).
وَفِي أَثْنَاءِ وُجُودِهِ بِالْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ رَحَلَ إِلَى الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ، وَكَانَ بِهَا فِي شَوَّالٍ مِنَ السَّنَةِ، قَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ أَبِي الْحَجَّاجِ يُوسُفَ بْنِ الْحَسَنِ التَّمِيمِيِّ ثُمَّ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ: «وَكُنْتُ فِي شَوَّالٍ هَذِهِ السَّنَةَ فِي الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ وَهُوَ حَيٌّ، وَسَمِعْتُ مِنْهُ التَّجْرِيدَ (٤٤)». وَيَظْهَرُ أَنَّهُ سَافَرَ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ لِأَنَّهُ قَرَأَ عَلَى صَدْرِ الدِّينِ سَحْنُونٍ خَتْمَةً لِوَرْشٍ وَحَفْصٍ، وَتُوُفِّيَ شَيْخُهُ فِي الرَّابِعِ مِن شَوَّالٍ سَنَةَ ٦٩٥ هـ (٤٥). وَفِي ثَغْرِ الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ مَضَى الذَّهَبِيُّ RH إِلَى أَسَدِ أَهْلِهَا فِي الْقِرَاءَاتِ، الْإِمَامِ شَرَفِ الدِّينِ أَبِي الْحُسَيْنِ يَحْيَى بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ ابْنِ الصَّوَّافِ الْجُذَامِيِّ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ الْمُقْرِىءِ الْمَشْهُورِ ٦٠٩ - ٧٠٥ هـ (٤٦)، فَأُدْخِلَ عَلَيْهِ، فَوَجَدَهُ قَدْ أَضَرَّ وَأَصَمَّ، وَهُوَ فِي سَبْعٍ وَثَمَانِينَ سَنَةً، فَقَرَأَ عَلَيْهِ جُزْءاً، وَرَفَعَ صَوْتَهُ، فَسَمَعَ، ثُمَّ كَلَّمَهُ فِي أَنْ يَجْمَعَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَاتِ السَّبْعَ، فَوَافَقَ، وَبَدَأَ الذَّهَبِيُّ RH بِالْقِرَاءَةِ، فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْفَاتِحَةَ وَآيَاتٍ مِنَ الْبَقَرَةِ وَالشَّيْخُ يَرُدُّ الْخِلَافَ، وَيَرُدُّ رِوَايَةَ يَعْقُوبَ وَغَيْرِهِ، وَلَمَّا ذَكَرَ لَهُ الذَّهَبِيُّ RH أَنَّ قَصْدَهُ الْقِرَاءَةَ بِالسَّبْعِ حَسْبُ، تَخَيَّلَ الشَّيْخُ مِنْهُ نَقْصَ الْمَعْرِفَةِ، وَطَلَبَ مِنْهُ أَن يَذْهَبَ إِلَى أَحَدِ تَلَامِذَتِهِ، قَالَ الذَّهَبِيُّ RH: «وَزَهَّدَنِي فِيهِ أَنَّنِي كُنْتُ لَا أَدْخُلُ عَلَيْهِ إِلَّا بِبَمَشَقَّةٍ، وَيُؤْذَنُ لِي مَرَّةً، وَأَيْضاً فَكُنْتُ لَا أَقْرَأُ رُبْعَ حِزْبٍ جَمْعاً، حَتَّى يَنْقَطِعَ صَوْتِي لِمَكَانِ صَمَمِهِ، فَخَافَ الذَّهَبِيُّ RH ضَيَاعَ الْوَقْتِ الْقَصِيرِ، فَتَرَكَهُ (٤٧)».
Artinya: Di sela-sela keberadaannya di negeri Mesir, ia melakukan perjalanan ke Iskandariyah, dan ia berada di sana pada bulan Syawal tahun tersebut. Ia berkata dalam biografi gurunya Abu al-Hajjaj Yusuf bin al-Hasan at-Tamimi kemudian al-Iskandarani: "Dan saya berada pada bulan Syawal tahun ini di Iskandariyah dan ia masih hidup, dan saya mendengar darinya kitab at-Tajrid (44)." Tampaknya ia pergi ke sana pada bulan Ramadhan karena ia membaca di hadapan Shadruddin Sahnun khataman untuk Warsy dan Hafsh, dan gurunya tersebut wafat pada tanggal empat bulan Syawal tahun 695 H (45). Dan di pelabuhan Iskandariyah, adz-Dzahabi RH pergi menemui pakar ahli qiraat di sana, al-Imam Syarafuddin Abu al-Husain Yahya bin Ahmad bin Abdul Aziz Ibnu ash-Shawwaf al-Judzami al-Iskandarani al-Muqri' yang masyhur (609-705 H) (46), maka ia dimasukkan menemuinya, dan ia mendapatinya telah buta dan tuli, sedang ia berusia delapan puluh tujuh tahun, maka ia membaca di hadapannya satu juz, dan meninggikan suaranya, maka ia pun mendengar, kemudian ia berbicara kepadanya agar ia (Syaikh tersebut) mengumpulkan tujuh qiraat kepadanya, maka ia setuju, dan adz-Dzahabi RH memulai bacaan, maka ia membaca di hadapannya al-Fatihah dan ayat-ayat dari al-Baqarah sedangkan Syaikh tersebut merespons khilaf (perbedaan bacaan), dan merespons riwayat Ya'qub dan selainnya, dan ketika adz-Dzahabi RH menyebutkan kepadanya bahwa tujuannya hanyalah membaca tujuh qiraat saja, Syaikh tersebut menganggapnya kurang pengetahuan, dan memintanya agar pergi kepada salah satu muridnya. Adz-Dzahabi RH berkata: "Dan yang membuat saya tidak tertarik kepadanya adalah saya tidak bisa masuk menemuinya kecuali dengan susah payah, dan diizinkan sekali saja, dan juga saya tidak bisa membaca seperempat hizb secara jama' (mengumpulkan qiraat), hingga suara saya terputus karena tempat ketuliannya," maka adz-Dzahabi RH takut waktunya yang singkat terbuang, maka ia meninggalkannya (47).
ذَهَبَ إِلَى الْإِمَامِ الْمُقْرِىءِ صَدْرِ الدِّينِ أَبِي الْقَاسِمِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْحَلِيمِ بْنِ عِمْرَانَ الدِّكَالِيِّ الْمَعْرُوفِ بِسَحْنُونٍ ٦١٠ - ٦٩٥ هـ (٤٨)، وَكَانَ قَدْ ضَعُفَ وَأَضَرَّ، فَخَتَمَ عَلَيْهِ بِقِرَاءَتَيْ وَرْشٍ وَحَفْصٍ، فِي مُدَّةِ أَحَدَ عَشَرَ يَوْماً مَعَ جَمَاعَةٍ مِن رِفَاقِهِ (٤٩). وَسَمِعَ بِالْإِسْكَنْدَرِيَّةِ مِن جُمْلَةٍ مِن عُلَمَائِهَا الْمُتَمَيِّزِينَ (٥٠)، مِن أَبْرَزِهِم: تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الْمُحْسِنِ الْهَاشِمِيِّ الْحُسَيْنِيِّ الْوَاسِطِيِّ ثُمَّ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ ٦٢٨ - ٧٠٤ هـ ، شَيْخُ دَارِ الْحَدِيثِ النَّبِيهَةِ بِالْإِسْكَنْدَرِيَّةِ (٥١). كَمَا رَحَلَ إِلَى بَلْبِيسَ، وَسَمِعَ بِهَا (٥٢). لَقَدْ كَانَتْ هَذِهِ الرِّحْلَةُ قَصِيرَةً، وَكَانَ الذَّهَبِيُّ RH يُجْهِدُ نَفْسَهُ فِي قِرَاءَةِ أَكْبَرِ كَمِيَّةٍ مُمْكِنَةٍ عَلَى شُيُوخِ تِلْكَ الْبِلَادِ؛ فَقَدْ ذَكَرَ مَثَلًا أَنَّهُ قَرَأَ جَمِيعَ سِيرَةِ ابْنِ هِشَامٍ عَلَى شَيْخِهِ أَبِي الْمَعَالِي الْأَبْرَقُوهِيِّ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ فَقَطْ (٥٣).
Artinya: Ia pergi kepada al-Imam al-Muqri' Shadruddin Abu al-Qasim Abdurrahman bin Abdul Halim bin Imran ad-Dikali yang dikenal dengan Sahnun (610-695 H) (48), dan ia telah melemah dan buta, maka ia mengkhatamkan bacaan kepadanya dengan dua qiraat yakni Warsy dan Hafsh, dalam waktu sebelas hari bersama sekelompok teman-temannya (49). Dan ia mendengar di Iskandariyah dari sejumlah ulama yang menonjol di sana (50), di antaranya yang paling utama adalah: Tajuddin Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdul Muhsin al-Hasyimi al-Husaini al-Wasithi kemudian al-Iskandarani (628-704 H), Syaikh Dar al-Hadits an-Nabihah di Iskandariyah (51). Demikian pula ia melakukan perjalanan ke Balbis, dan mendengar (hadits) di sana (52). Sungguh perjalanan ini singkat, dan adz-Dzahabi RH bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuannya untuk membaca sebanyak mungkin kepada para syaikh di negeri tersebut; ia menyebutkan contoh bahwa ia membaca seluruh "Sirah Ibnu Hisyam" kepada gurunya Abu al-Ma'ali al-Abraquhi hanya dalam waktu enam hari (53).
ج - رِحْلَتُهُ لِلْحَجِّ وَسَمَاعُهُ هُنَاكَ
وَفِي سَنَةَ ٦٩٨ هـ، أَي بُعَيْدَ وَفَاةِ وَالِدِهِ رَحَلَ الذَّهَبِيُّ RH لِلْحَجِّ، قَالَ فِي حَوَادِثِ السَّنَةِ مِن «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»: «وَحَجَّ بِنَا الْأَمِيرُ شَمْسُ الدِّينِ الْعَيْتَابِيُّ (٥٤)، وَكَانَ يُرَافِقُهُ فِي حَجِّهِ جَمَاعَةٌ مِن أَصْحَابِهِ وَشُيُوخِهِ (٥٥)، مِنْهُم شَيْخُ دَارِ الْحَدِيثِ بِالْمَدْرَسَةِ الْمُسْتَنْصِرِيَّةِ (٥٦) الْعَالِمُ الْمُسْنِدُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ ابْنُ عَبْدِ الْمُحْسِنِ الْمَعْرُوفُ بِابْنِ الْخَرَّاطِ الْحَنْبَلِيِّ ٦٣٨ - ٧٢٨ هـ ، وَكَانَ ابْنُ الْخَرَّاطِ قَدْ قَدِمَ دِمَشْقَ فِي تِلْكَ السَّنَةِ، وَجَلَسَ لِلْوَعْظِ بِدِمَشْقَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ (٥٧)، قَالَ الذَّهَبِيُّ RH: «وَرَافَقَنَا فِي الْحَجِّ، فَسَمِعْتُ مِنْهُ بِالْعُلَى وَمَعَانَ كِتَابَ "الْفَرَجِ بَعْدَ الشِّدَّةِ" (٥٨)». وَقَدْ سَمِعَ بِمَكَّةَ (٥٩)، وَعَرَفَةَ (٦٠)، وَمِنًى (٦١)، وَالْمَدِينَةِ (٦٢) مِن مَجْمُوعَةٍ مِنَ الشُّيُوخِ.
Artinya: J - Perjalanannya untuk Haji dan Mendengar (Hadits) di Sana. Dan pada tahun 698 H, yaitu tidak lama setelah wafatnya ayahnya, adz-Dzahabi RH pergi menunaikan haji. Ia berkata dalam peristiwa-peristiwa tahun tersebut dalam "Tarikh al-Islam": "Dan menunaikan haji bersama kami al-Amir Syamsuddin al-Aitabi (54), dan menemaninya dalam hajinya sekelompok dari sahabat-sahabatnya dan syaikh-syaikhnya (55), di antaranya adalah Syaikh Dar al-Hadits di al-Madrasah al-Mustanshiriyah (56) sang alim al-Musnid Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Muhsin yang dikenal dengan Ibnu al-Kharrath al-Hanbali (638-728 H) (57), dan Ibnu al-Kharrath telah datang ke Damaskus pada tahun tersebut, dan duduk untuk memberikan nasihat (wa'zh) di Damaskus pada bulan Ramadhan (58). adz-Dzahabi RH berkata: "Dan ia menemani kami dalam haji, maka saya mendengar darinya di al-'Ula dan Ma'an kitab "al-Faraj ba'd asy-Syiddah" (59)." Dan ia telah mendengar di Makkah (60), Arafah (61), Mina (62), dan Madinah (63) dari sekumpulan para syaikh.
----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) رَاجِعْ عَنْ أَهَمِّيَّةِ الرِّحْلَةِ: الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيّ: «الْجَامِعُ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِي وَآدَابِ السَّامِعِ»، بَابُ الرِّحْلَةِ فِي الْحَدِيثِ إِلَى الْبِلَادِ النَّائِيَةِ لِلِقَاءِ الْحُفَّاظِ وَتَحْصِيلِ الْأَسَانِيدِ الْعَالِيَةِ، الْوَرَقَةِ ١٦٨ - ١٦٩ (نُسْخَةُ مَكْتَبَةِ الْبَلَدِيَّةِ بِالْإِسْكَنْدَرِيَّةِ ٣٧١١ ج ١).
(1) Rujuk mengenai pentingnya rihlah: Al-Khathib al-Baghdadi: "Al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami'", bab rihlah dalam hadits ke negeri yang jauh untuk menemui para huffaz dan mendapatkan sanad yang tinggi, lembar 168-169 (naskah Perpustakaan Baladiyah Iskandariyah 3711 juz 1).(٢) الدُّكْتُورُ نَاجِي مَعْرُوف: «تَارِيخُ عُلَمَاءِ الْمُسْتَنْصِرِيَّةِ»، ١ / ٣٤٢ - ٣٤٥.
(2) Doktor Naji Ma'ruf: "Tarikh 'Ulama al-Mustanshiriyyah", 1 / 342-345.(٣) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧٤.
(3) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 74.(٤) الذَّهَبِيّ: «مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٥٦ وَقَالَ فِي «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ»: «وَكُنْتُ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَتِسْعِينَ وَسَنَةِ خَمْسٍ أَتَلَهَّفُ عَلَى لُقِيِّهِ، وَأَتَحَسَّرُ، وَمَا يُمْكِنُنِي الرِّحْلَةُ إِلَيْهِ لِمَكَانِ الْوَالِدِ ثُمَّ الْوَالِدَةِ» الْوَرَقَةِ ٢٦٨ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(4) Adz-Dzahabi: "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 556 dan ia berkata dalam "Tarikh al-Islam": "Dan aku pada tahun 94 dan 95 sangat ingin menemuinya, dan aku menyesal, namun tidak memungkinkan bagiku untuk rihlah kepadanya dikarenakan keberadaan ayah, kemudian ibu", lembar 268 (Aya Sofia 3014).(٥) الْمَصْدَرُ نَفْسِهِ، ص ٥٥١ وَانْظُرْ أَمْثِلَةً أُخْرَى فِي «مُعْجَمِ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥.
(5) Sumber yang sama, hal. 551 dan lihat contoh-contoh lain dalam "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 5.(٦) الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيّ: «الْجَامِعُ لِأَخْلَاقِ الرَّاوِي»، الْوَرَقَةِ ١٧٠.
(6) Al-Khathib al-Baghdadi: "Al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi", lembar 170.(٧) الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيّ: «الْجَامِعُ»، الْوَرَقَةِ ١٧١ - ١٧٥.
(7) Al-Khathib al-Baghdadi: "Al-Jami'", lembar 171-175.(٨) لَمْ نَقِفْ عَلَى أَخٍ لِمُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الذَّهَبِيّ فِي جَمِيعِ الْكُتُبِ الْمَطْبُوعَةِ وَالْمَخْطُوطَةِ الَّتِي اطَّلَعْنَا عَلَيْهَا، مَعَ أَنَّ الذَّهَبِيّ كَثِيرُ الْعِنَايَةِ بِذِكْرِ أَقْرِبَائِهِ.
(8) Kami tidak menemukan saudara laki-laki bagi Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi dalam semua buku cetak maupun manuskrip yang kami telaah, padahal adz-Dzahabi sangat perhatian dalam menyebutkan kerabat-kerabatnya.(٩) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٦٥.
(9) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 65.(١٠) قَالَ الذَّهَبِيّ فِي تَرْجَمَةِ شَرَفِ الدِّينِ أَبِي الْحُسَيْنِ يَحْيَى بْنِ أَحْمَدَ الْجُذَامِيّ الْإِسْكَنْدَرَانِيّ - وَكَانَ قَدْ بَلَغَ السَّابِعَةَ وَالثَّمَانِينَ مِنْ عُمُرِهِ، وَوَجَدَ الذَّهَبِيّ بَعْضَ صُعُوبَاتٍ وَتَأْخِيرٍ فِي قِرَاءَةِ الْقِرَاءَاتِ عَلَيْهِ، فَخَافَ أَنْ يَذْهَبَ وَقْتُهُ سُدًى -: «وَكُنْتُ قَدْ وَعَدْتُ أَبِي، وَحَلَفْتُ لَهُ أَنِّي لَا أُقِيمُ فِي الرِّحْلَةِ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَخَفْتُ أَعْقُدَ» «مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٥٨.
(10) Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Syarafuddin Abu al-Husain Yahya bin Ahmad al-Judzami al-Iskandarani - dan beliau telah mencapai usia 87 tahun, dan adz-Dzahabi menemukan beberapa kesulitan dan keterlambatan dalam membaca qira'at kepadanya, sehingga ia khawatir waktunya akan sia-sia -: "Dan aku telah berjanji kepada ayahku, dan bersumpah kepadanya bahwa aku tidak akan menetap dalam rihlah lebih dari 4 bulan, maka aku khawatir untuk berakad" "Ma'rifat al-Qurra'", hal. 558.(١١) كَانَ وَالِدُهُ يُرَافِقُهُ فِي رِحْلَتِهِ إِلَى حَلَبَ سَنَةَ ٦٩٣ هـ وَقَدْ سَمِعَ مَعَهُ فِيهَا، وَكَانَ رَفِيقَهُ فِي رِحْلَتِهِ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ سَنَةَ ٦٩٥ ابْنُ أُمِّهِ فِي الرَّضَاعِ دَاوُد بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ دَاوُد ابْنِ الْعَطَّارِ الْفَقِيهِ الشَّافِعِيِّ، وَهُوَ أَكْبَرُ مِنَ الذَّهَبِيّ بِثَمَانِيَةِ أَعْوَامٍ «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٤٧.
(11) Ayahnya menemaninya dalam rihlahnya ke Aleppo tahun 693 H dan ia (ayahnya) mendengar (hadits) bersamanya di sana, dan yang menjadi temannya dalam rihlahnya ke negeri Mesir tahun 695 adalah saudara sepersusuannya, Dawud bin Ibrahim bin Dawud ibnu al-'Aththar al-Faqih asy-Syafi'i, dan ia lebih tua dari adz-Dzahabi delapan tahun "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 47.(١٢) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، ١ / الْوَرَقَةِ ٦٥.
(12) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", 1 / lembar 65.(١٣) ابْنُ الْجَزَرِيّ: «غَايَةُ»، ٢ / ٧١، الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٧٤.
(13) Ibnu al-Jazari: "Ghayah", 2 / 71, Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 74.(١٤) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧١، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ»، ٩ / ١٠٢.
(14) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 71, as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102.(١٥) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥٢.
(15) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 52.(١٦) انْظُرْ مَثَلًا الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٢٤، ٨٣، ٨٨، م ٢ الْوَرَقَةِ ٩، ٧٢، ٧٤، ٨١.
(16) Lihat contohnya Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 24, 83, 88, juz 2 lembar 9, 72, 74, 81.(١٧) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥٥، وَذَيْلُ الْعِبَرِ، ص ٣٦، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ»، ٩ / ١٠٢، الطَّبَّاخُ: «أَعْلَامُ النُّبَلَاءِ»، ٤ / ٥٤٠.
(17) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 55, dan Dzail al-'Ibar, hal. 36, as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102, ath-Thabbakh: "A'lam an-Nubala'", 4 / 540.(١٨) انْظُرْ مَثَلًا الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٢٧، ٣٤، ٣٩، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ»، ٩ / ١٠٢.
(18) Lihat contohnya Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 27, 34, 39, as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102.(١٩) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٦٣، وَالصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٥.
(19) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 63, dan ash-Shafadi: "al-Wafi", 2 / 165.(٢٠) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٢، م ٢ الْوَرَقَةِ ٦٨، ٨٢.
(20) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 82, juz 2 lembar 68, 82.(٢١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧، ٢٢، ٢٩، م ٢ الْوَرَقَةِ ٦، ٩ وَذُكِرَ أَنَّهُ نَزَلَ فِي مَدْرَسَةِ الْقَاضِي شَمْسِ الدِّينِ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي بَكْرٍ بْنِ مَنْصُورٍ الْإِسْكَنْدَرَانِيِّ الْفَقِيهِ قَاضِي طَرَابُلْسَ «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٢٢.
(21) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 7, 22, 29, juz 2 lembar 6, 9 dan disebutkan bahwa ia turun (menginap) di madrasah al-Qadhi Syamsuddin Ahmad bin Abi Bakr bin Manshur al-Iskandarani al-Faqih, Qadhi Tripoli "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 22.(٢٢) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٦١، م ٢ الْوَرَقَةِ ١٦، ٤٢ - ٤٣ وَقَدْ سَمِعَ بِحَمَاةَ ٦٩٨ مِنْ قَاضِي الْقُضَاةِ عِزِّ الدِّينِ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْحَلَبِيِّ.
(22) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 61, juz 2 lembar 16, 42-43 dan ia mendengar (hadits) di Hama tahun 698 dari Qadhi al-Qudhat Izzuddin Muhammad bin Sulaiman al-Halabi.(٢٣) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٩.
(23) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 89.(٢٤) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٣.
(24) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 83.(٢٥) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧٦، م ٢ الْوَرَقَةِ ٧.
(25) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 76, juz 2 lembar 7.(٢٦) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٤٧، وَالصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٥.
(26) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 47, dan ash-Shafadi: "al-Wafi", 2 / 165.(٢٧) الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٥.
(27) Ash-Shafadi: "al-Wafi", 2 / 165.(٢٨) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٦٥.
(28) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 65.(٢٩) انْظُرْ مُقَدِّمَتَهُ لِلْجُزْءِ الَّذِي طَبَعَهُ مِنْ سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ، ١ / ١٨.
(29) Lihat mukadimahnya untuk juz yang dicetaknya dari Siyar A'lam an-Nubala', 1 / 18.(٣٠) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣ / ٤٢٧.
(30) Ibnu Hajar: "ad-Durar", 3 / 427.(٣١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥٩.
(31) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 59.(٣٢) الْوَرَقَةِ ٢٤٦ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤) وَلَمْ يَذْكُرْ يَاقُوتٌ وَادِيَ فَحْمَةَ هَذَا.
(32) Lembar 246 (Aya Sofia 3014) dan Yaqut tidak menyebutkan Wadi Fahmah ini.(٣٣) كَانَ وَالِدُهُ مُحَمَّدٌ مَوْلَى الْمَلِكِ الظَّاهِرِ صَاحِبِ حَلَبَ، فَنُسِبَ إِلَيْهِ.
(33) Ayahnya, Muhammad, adalah budak (maula) al-Malik az-Zhahir, penguasa Aleppo, maka ia dinisbatkan kepadanya.(٣٤) الْوَرَقَةِ ٢٥٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(34) Lembar 257 (Aya Sofia 3014).(٣٥) م ١ الْوَرَقَةِ ١٨.
(35) Juz 1 lembar 18.(٣٦) الذَّهَبِيّ: «مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٥٨.
(36) Adz-Dzahabi: "Ma'rifah al-Qurra'", hal. 558.(٣٧) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٥٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤)، وَمُعْجَمُ الشُّيُوخِ، م ١ الْوَرَقَةِ ١٨، ابْنُ الْجَزَرِيّ: «تَارِيخُ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٦٠ (بَارِيس ٦٧٣٩).
(37) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 257 (Aya Sofia 3014), dan Mu'jam asy-Syuyukh, juz 1 lembar 18, Ibnu al-Jazari: "Tarikh", juz 2 lembar 60 (Paris 6739).(٣٨) انْظُرْ مَثَلًا: السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتٌ»، ٩ / ١٠٢، وَسِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ: «رَوْنَقُ الْأَلْفَاظِ»، الْوَرَقَةِ ١٨٠.
(38) Lihat misalnya: as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102, dan Sibth Ibnu Hajar: "Rau-naq al-Alfadz", lembar 180.(٣٩) نِسْبَةً إِلَى (أَبْرَقُوهُ) بَلَدٍ قُرْبَ يَزْدَ يَا قُوتُ: «مُعْجَمُ الْبُلْدَانِ»، ١ / ٨٥ وَقَدْ وُلِدَ بِهَا حِينَمَا كَانَ أَبُوهُ قَاضِيًا عَلَيْهَا؛ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥.
(39) Dinisbatkan kepada (Abraquh), sebuah negeri dekat Yazd; Yaqut: "Mu'jam al-Buldan", 1 / 85, dan ia dilahirkan di sana ketika ayahnya menjadi hakim di sana; Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 5.(٤٠) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٥ وَ«ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ١٨، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتٌ»، ٩ / ١٠٢، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ١ / ١١٠، ٣ / ٤٢٦، سِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ: «رَوْنَقُ الْأَلْفَاظِ» (نُسْخَةُ الْخَالِدِيَّةِ)، الْقَاسِي: «الْعِقْدُ الثَّمِينُ»، ٣ / ١٥، ابْنُ تَغْرِي بَرْدِي: «النُّجُومُ»، ٨ / ١٩٨ وَ«الْمَنْهَلُ الصَّافِي»، ١ / ٢١٨ وَغَيْرُهَا.
(40) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 5 dan "Dzail al-'Ibar", hal. 18, as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102, Ibnu Hajar: "ad-Durar", 1 / 110, 3 / 426, Sibth Ibnu Hajar: "Rau-naq al-Alfadz" (Nuskhat al-Khalidiyyah), al-Qasi: "al-'Iqd ats-Tsamin", 3 / 15, Ibnu Taghri Bardi: "an-Nujum", 8 / 198 dan "al-Manhal ash-Shafi", 1 / 218 dan selainnya.(٤١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ وَرَقَةِ ٥٥، وَ«ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ٢١، وَ«تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ»، ٤ / ١٤٨١ - ١٤٨٤، ابْنُ سَيِّدِ النَّاسِ: «أَجْوِبَةٌ»، الْوَرَقَةِ ٦٥ (الْإِسْكُورِيَالِ ١١٦٠)، الْأَدْفَوِيّ: «الطَّالِعُ السَّعِيدُ»، ص ٣١٧ - ٣٣٨، الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، ٤ / ص ١٩٣، ابْنُ حَجَرٍ: «رَفْعُ الْإِصْرِ»، الْوَرَقَةِ ١١٢ وَغَيْرُهَا.
(41) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 55, dan "Dzail al-'Ibar", hal. 21, dan "Tadzkirah al-Huffazh", 4 / 1481 - 1484, Ibnu Sayyid an-Nas: "Ajwibah", lembar 65 (Escorial 1160), al-Adfawi: "ath-Thali' as-Sa'id", hal. 317 - 338, ash-Shafadi: "al-Wafi", 4 / hal. 193, Ibnu Hajar: "Raf' al-Ishri", lembar 112 dan selainnya.(٤٢) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٧، وَ«تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ»، ٤ / ١٤٧٧ - ١٤٧٩، ابْنُ شَاكِرٍ: «فَوَاتٌ»، ٢ / ١٧، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ»، ١٤ / ٤٠، ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «مُنْتَقَى الْمُعْجَمِ الْمُخْتَصِّ»، الْوَرَقَةِ ١٦٢ (أَوْقَافٌ)، الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، م ١٧ وَرَقَةِ ٢٣٦، وَ«مُعْجَمُ شُيُوخِهِ» لِخَصِّهِ وَتَرْجَمَهُ إِلَى الْفَرَنْسِيَّةِ الْأُسْتَاذُ جُورْج فَايدَا وَطُبِعَ بِبَارِيسَ سَنَةَ ١٩٦٢ م. وَفِي خِزَانَةِ كُتُبِي الْجُزْءُ الثَّالِثُ مِنْ إِحْدَى نُسَخِهِ الْخَطِّيَّةِ.
(42) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 87, dan "Tadzkirah al-Huffazh", 4 / 1477 - 1479, Ibnu Syakir: "Fawat", 2 / 17, Ibnu Katsir: "al-Bidayah", 14 / 40, Ibnu Qadhi Syuhbah: "Muntaqa al-Mu'jam al-Mukhtash", lembar 162 (Awqaf), ash-Shafadi: "al-Wafi", juz 17 lembar 236, dan "Mu'jam Syuyukhihi" untuk kekhususannya dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Ustadz George Vajda dan dicetak di Paris tahun 1962 M. Dan di perpustakaan bukuku terdapat juz ketiga dari salah satu naskah manuskripnya.(٤٣) انْظُرْ مَثَلًا: الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٢١، ٤٢، ٦٤، ٩٦.
(43) Lihat misalnya: Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 21, 42, 64, 96.(٤٤) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٢٥.
(44) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 25.(٤٥) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٤٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(45) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 247 (Aya Sofia 3014).(٤٦) الذَّهَبِيّ: «ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ٣٢، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٥ / ١٨٥ - ١٨٦، الْجَزَرِيّ: «غَايَةُ»، ٢ / ٣٦٦، الْمَقْرِيزِيّ: «السُّلُوكُ»، ٢ / قِسْمِ ١ ص ٢١.
(46) Adz-Dzahabi: "Dzail al-'Ibar", hal. 32, Ibnu Hajar: "ad-Durar", 5 / 185 - 186, al-Jazari: "Ghayah", 2 / 366, al-Maqrizi: "as-Suluk", 2 / bagian 1 hal. 21.(٤٧) الذَّهَبِيّ: «طَبَقَاتُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٥٨، وَ«مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٨٤.
(47) Adz-Dzahabi: "Thabaqat al-Qurra'", hal. 558, dan "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 84.(٤٨) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧٣.
(48) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 73.(٤٩) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٤٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤) وَ«مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ»، ص ٥٥٥.
(49) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 247 (Aya Sofia 3014) dan "Ma'rifah al-Qurra'", hal. 555.(٥٠) انْظُرْ مَثَلًا: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٢١، ٢٢، ٧٥، ٨٦، م ٢ الْوَرَقَةِ ١٧، ٦٠، ٧٤، ٨٣، ٨٥.
(50) Lihat misalnya: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 21, 22, 75, 86, juz 2 lembar 17, 60, 74, 83, 85.(٥١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٢ - ٣، وَ«ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ٢٨ - ٣٢، الْحُسَيْنِيّ: «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ»، ص ٩٤، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ج ٣ ص ٨٥ - ٨٦، الْمَقْرِيزِيّ: «السُّلُوكُ»، ٢ / ص ١٣، وَانْظُرْ أَيْضًا: السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ»، ٩ / ١٠٢.
(51) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 2 - 3, dan "Dzail al-'Ibar", hal. 28 - 32, al-Husaini: "Dzail Tadzkirah al-Huffazh", hal. 94, Ibnu Hajar: "ad-Durar", jilid 3 hal. 85 - 86, al-Maqrizi: "as-Suluk", 2 / hal. 13, dan lihat juga: as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102.(٥٢) الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي»، ٢ / ١٦٤.
(52) ash-Shafadi: "al-Wafi", 2 / 164.(٥٣) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ١٣٥ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٧).
(53) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 135 (Aya Sofia 3007).(٥٤) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٣٣٣ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(54) Adz-Dzahabi: "Tarikh al-Islam", lembar 333 (Aya Sofia 3014).(٥٥) انْظُرْ مَثَلًا: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٧٢، م ٢ الْوَرَقَةِ ١٦.
(55) Lihat misalnya: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 72, juz 2 lembar 16.(٥٦) الدُّكْتُور نَاجِي مَعْرُوف: «تَارِيخُ عُلَمَاءِ الْمُسْتَنْصِرِيَّةِ»، ١ / ٣٥٤ - ٣٦٠.
(56) Doktor Naji Ma'ruf: "Tarikh 'Ulama al-Mustanshiriyyah", 1 / 354 - 360.(٥٧) ذَكَرَ ذَلِكَ عَلَمُ الدِّينِ الْبِرْزَالِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٩ هـ، ابْنُ رَجَبٍ: «الذَّيْلُ»، ٢ / ٣٨٥ وَالذَّهَبِيّ فِي «مُعْجَمِ شُيُوخِهِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٥٠.
(57) Hal itu disebutkan oleh 'Alam ad-Din al-Birzali yang wafat tahun 639 H, Ibnu Rajab: "adz-Dzail", 2 / 385 dan Adz-Dzahabi dalam "Mu'jam asy-Syuyukhihi", juz 2 lembar 50.(٥٨) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٥٠ وَالْكِتَابُ الْمَذْكُورُ لِلتُّنُوخِيِّ كَمَا هُوَ مَعْرُوف.
(58) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 50 dan kitab tersebut adalah milik at-Tanukhi sebagaimana yang sudah diketahui.(٥٩) السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتٌ»، ٩ / ١٠٢.
(59) as-Subki: "Thabaqat", 9 / 102.(٦٠) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٠.
(60) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 80.(٦١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٣، ٨٤.
(61) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 83, 84.(٦٢) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٥٠.
(62) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 50.(١) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ٢ الْوَرَقَةِ ٧٤.
(1) Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 2 lembar 74.(٢) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، م ٢ الْوَرَقَةِ ٣٠، وَ«تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٨٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤).
(2) Sumber yang sama, juz 2 lembar 30, dan "Tarikh al-Islam", lembar 287 (Aya Sofia 3014).(٣) انْظُرْ مَثَلًا «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، ٣ / ٦٥ (مَطْبُوعَة) وَالْوَرَقَةِ ١١٧ (أَحَدُ الثَّالِثِ ٢٩١٧ / ٩) وَالْوَرَقَةِ ١٥٧ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٨) وَالْوَرَقَةِ ٤٩ (أَحَدُ الثَّالِثِ ١٠/٢٩١٧) وَ«مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ الْوَرَقَةِ ٥٠.
(3) Lihat misalnya "Tarikh al-Islam", 3 / 65 (cetakan) dan lembar 117 (Ahad asy-Tsalits 2917 / 9) dan lembar 157 (Aya Sofia 3008) dan lembar 49 (Ahad asy-Tsalits 10/2917) dan "Mu'jam asy-Syuyukh" juz 2 lembar 50.(٤) انْظُرْ مَثَلًا «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، ٦ / ١٣٣ (مَطْبُوعَة).
(4) Lihat misalnya "Tarikh al-Islam", 6 / 133 (cetakan).(٥) انْظُرْ مَثَلًا «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ١٣٥ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٧).
(5) Lihat misalnya "Tarikh al-Islam", lembar 135 (Aya Sofia 3007).(٦) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، مَثَلًا الْوَرَقَةِ ١٩٨ (حَلَب).
(6) Sumber yang sama, misalnya lembar 198 (Halab).(٧) انْظُرْ مَثَلًا «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ الْوَرَقَةِ ٩، ١٥، ٢٢، ٢٦، ٢٨، ٣٣، ٤٢، ٤٦، ٥٥، ٨٠ الْوَرَقَةِ ٥٠، ١٠٠، ٧١، «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٩٦ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٨) وَالْوَرَقَةِ ٢٢ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٩) وَالْوَرَقَةِ ٤ (أَحَدُ الثَّالِثِ ١٠/٢٩١٧) وَالْوَرَقَةِ ١٨٥ (أَحَدُ الثَّالِثِ ١١/٢٩١٧).
(7) Lihat misalnya "Mu'jam asy-Syuyukh" juz 1 lembar 9, 15, 22, 26, 28, 33, 42, 46, 55, 80 lembar 50, 100, 71, "Tarikh al-Islam", lembar 96 (Aya Sofia 3008) dan lembar 22 (Aya Sofia 3009) dan lembar 4 (Ahad asy-Tsalits 10/2917) dan lembar 185 (Ahad asy-Tsalits 11/2917).(٨) مَثَلًا «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٦٨، ٧٩ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠٠٢) وَغَيْرُهَا.
(8) Misalnya "Tarikh al-Islam", lembar 68, 79 (Aya Sofia 3002) dan selainnya. =================(٩) انْظُرْ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٩، ١٦، ١٧، ٣٣، ٣٦، ٣٨، ٤٩، ٥٣، ٦٤، ٧٢، ٧٩، ٨٠، ٨١، ٨٦، م ٢ وَرَقَةِ ٨، ١١، ١٣، ٢٤، ٣١، ٣٢، ٣٧، ٣٩، ٤٤، ٤٥، ٤٦، ٥٩، ٧٧، ٧٩، ٨٢، ٨٥، ٨٦، ٨٨، ٩٨، ١٠٠.
(9) Lihat Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 9, 16, 17, 33, 36, 38, 49, 53, 64, 72, 79, 80, 81, 86, juz 2 lembar 8, 11, 13, 24, 31, 32, 37, 39, 44, 45, 46, 59, 77, 79, 82, 85, 86, 88, 98, 100.(١٠) مِنْهُ نُسْخَةُ بِدَارِ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ، رَقَمُ ٢٥٥٥١ ب.
(10) Darinya salinan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah, nomor 25551 B.(١١) انْظُرْ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٣٨، ٥٠، ٦٦، ٧٢، ٧٥، م ٢ وَرَقَةِ ٢٠، ٣٢، ٣٥، ٣٧، ٥١، ٦٥.
(11) Lihat Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 38, 50, 66, 72, 75, juz 2 lembar 20, 32, 35, 37, 51, 65.(١٢) مِنْهُ نُسْخَةُ بِدَارِ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ بِرَقَمِ ٢٥٥٦٨ ب.
(12) Darinya salinan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah dengan nomor 25568 B.(١٣) انْظُرْ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٦، ٢٠، ٧٢، ٧٤، م ٢ وَرَقَةِ ٣١، ٣٧، ٥٣.
(13) Lihat Adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh", juz 1 lembar 6, 20, 72, 74, juz 2 lembar 31, 37, 53. =================(١٤) ابْنُ حَجَر: «الْمُعْجَمُ الْمُفَهْرَس»، (دَارُ الْكُتُبِ ٨٢ مُصْطَلَحُ الْحَدِيث).
(14) Ibnu Hajar: "Al-Mu'jam al-Mufahras", (Dar al-Kutub 82 Mushthalah al-Hadits).(١٥) نُسْخَتِي الْمُصَوَّرَة (عَنْ دَارِ الْكُتُبِ ٧٥ مُصْطَلَحُ الْحَدِيث).
(15) Salinan saya yang difoto (dari Dar al-Kutub 75 Mushthalah al-Hadits).----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) رَاجِعْ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م٢ الْوَرَقَة ٩٠، وَ«تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ»، ٢/١٤٩٨، الْحُسَيْنِيّ: «الذَّيْلُ عَلَى ذَيْلِ الْعِبَرِ»، ص ٢٢٩، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتِ»، ٦/٢٥١ (الْقَاهِرَة ١٣٢٤هـ)، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةِ»، ١٤/١٩١ - ١٩٢، ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ»، ص ١٢٨، وَ«التِّبْيَانُ» الْوَرَقَة ١٦٦، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٥/٢٣٣ - ٢٣٧، ابْنُ تَغْرِي بَرْدِيّ: «النُّجُومُ»، ١٠/٧٦، ابْنُ طُولُونَ: «الْمُعِزَّةُ»، ص ١٠، ابْنُ الْعِمَادِ: «شَذَرَاتِ»، ٦/١٣٩، الْكَتَّانِيّ: «فَهْرِسُ»، ١/١٠٧. وَرَاجِعْ مَا كَتَبْنَاهُ فِي سِيرَتِهِ فِي مُقَدِّمَةِ الْمُجَلَّدِ الْأَوَّلِ مِنْ تَهْذِيبِ الْكَمَالِ.
(1) Rujuk adz-Dzahabi: "Mu'jamus Syuyukh", jilid 2 lembar 90, dan "Tadzkiratul Huffaz", 2/1498, al-Husaini: "adz-Dzail 'ala Dzailil 'Ibar", hal 229, as-Subki: "Thabaqat", 6/251 (Kairo 1324H), Ibnu Katsir: "al-Bidayah", 14/191-192, Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddul Wafir", hal 128, dan "at-Tibyan" lembar 166, Ibnu Hajar: "ad-Durar", 5/233-237, Ibnu Taghri Bardi: "an-Nujum", 10/76, Ibnu Thulun: "al-Mu'izzah", hal 10, Ibnu al-'Imad: "Syadzarat", 6/139, al-Kattani: "Fahras", 1/107. Dan rujuk apa yang kami tulis dalam biografinya di mukadimah jilid pertama dari Tahdzibul Kamal.
(٢) تَرْجَمَةُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ تَنَاوَلَهَا مُعْظَمُ الْمُؤَرِّخِينَ الَّذِينَ تَنَاوَلُوا عَصْرَهُ وَمِنْهُمُ الذَّهَبِيّ. وَمِنَ الَّذِينَ كَتَبُوا عَنْهُ مُفْرَدًا ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ فِي «الرَّدِّ الْوَافِرِ» (بَيْرُوت ١٣٩٣هـ) وَابْنُ قُدَامَةَ: «الْعُقُودُ الدُّرِّيَّةُ فِي مَنَاقِبِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ». وَمِنَ الْمُحَدِّثِينَ: مُحَمَّد كُرْد عَلِي فِي «تَرْجَمَةِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ» (لَمْ يُذْكَر مَكَانُ الطَّبْعِ وَلَا تَارِيخُهُ) وَمُحَمَّد بْن بَهْجَة الْبَيْطَار فِي «حَيَاةِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ» (دِمَشْق ١٩٦١) وَمُحَمَّد أَبُو زَهْرَة: «ابْنِ تَيْمِيَةَ، حَيَاتُهُ وَعَصْرُهُ، آرَاؤُهُ وَفِقْهُهُ» (الْقَاهِرَة ١٩٥٢).
(2) Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah dibahas oleh sebagian besar sejarawan yang membahas zamannya, di antaranya adz-Dzahabi. Di antara mereka yang menulis tentangnya secara khusus adalah Ibnu Nashiruddin dalam "ar-Raddul Wafir" (Beirut 1393H) dan Ibnu Qudamah: "al-'Uqud ad-Durriyyah fi Manaqibi Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah". Dari kalangan ahli hadis: Muhammad Kurd 'Ali dalam "Tarjamatu Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah" (tidak disebutkan tempat cetak dan tahunnya) dan Muhammad bin Bahjah al-Baithar dalam "Hayatu Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah" (Damaskus 1961) serta Muhammad Abu Zahrah: "Ibnu Taimiyah, Hayatuhu wa 'Ashruhu, Ara'uhu wa Fiqhuhu" (Kairo 1952).
(٣) انْظُرِ الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م٢ الْوَرَقَة ٢٥، «ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ٢٠٩، الْحُسَيْنِيّ: «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ»، ص ١٨ - ٢١، السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتِ»، ٦/٢٤٦ (الْقَاهِرَة ١٣٢٤هـ)، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةِ»، ١٤/١٨٥، ابْنُ شَاكِرٍ: «فَوَاتِ»، ص ١١٩، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ»، ٣/٣٢١ - ٣٢٣، ابْنُ تَغْرِي بَرْدِيّ: «النُّجُومُ»، ٩/٣١٩، ابْنُ الْعِمَادِ: «شَذَرَاتِ»، ٦/١٢٤.
(3) Lihat adz-Dzahabi: "Mu'jamus Syuyukh", jilid 2 lembar 25, "Dzailul 'Ibar", hal 209, al-Husaini: "Dzailu Tadzkiratil Huffaz", hal 18-21, as-Subki: "Thabaqat", 6/246 (Kairo 1324H), Ibnu Katsir: "al-Bidayah", 14/185, Ibnu Syakir: "Fawat", hal 119, Ibnu Hajar: "ad-Durar", 3/321-323, Ibnu Taghri Bardi: "an-Nujum", 9/319, Ibnu al-'Imad: "Syadzarat", 6/124.
=================(٤) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ الْوَرَقَةِ ٢٥.
(4) Adz-Dzahabi: "Mu'jamus Syuyukh" juz 2 halaman 25.(٥) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٣٢٢/٣.
(5) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/322.(٦) نَظْمُ الذَّهَبِيّ فِي هَذَا الْمُعْجَمِ بَيْتَيْنِ مِنَ الشِّعْرِ، قَالَ:
إِنْ رُمْتَ تَفْتِيشَ الْخَزَائِنِ كُلِّهَا وَطَهُورِ أَجْزَاءِ حَوَتْ وَعَوَالِي
وَنُعُوتِ أَشْيَاخِ الْوُجُودِ وَمَا رَأَوْا طَالِعْ أَوِ اسْمَعْ مُعْجَمَ الْبُرْزَالِيّ
(٧) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٣٢٢/٣، ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ»، ص ١٢٠، الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ الْوَرَقَةِ ٢٥، وَ«ذَيْلُ الْعِبَرِ»، ص ٢٠٨.
(7) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/322, Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir", hal. 120, Adz-Dzahabi: "Mu'jamus Syuyukh" juz 2 halaman 25, dan "Dzailul 'Ibar", hal. 208.(٨) «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ الْوَرَقَةِ ٧٠، وَانْظُرْ «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ٤/ ١٤٩٨ - ١٤٩٩.
(8) "Mu'jamus Syuyukh" juz 2 halaman 70, dan lihat "Tadzkirotul Huffaz" 4/1498-1499.(٩) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٥/ ٢٣٥ - ٢٣٦.
(9) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 5/235-236. ==========================(١٠) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٣٣٢ (أَيَا صُوفِيَا ٣٠١٤)، الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي» ٢٢/٥، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/١٤، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١/١٥٥.
(10) Adz-Dzahabi: "Tarikhul Islam", lembar 332 (Aya Sofia 3014), Ash-Shafadi: "al-Wafi" 5/22, Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/14, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/155.(١١) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/١٩.
(11) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/19.(١٢) الصَّفَدِيّ: «الْوَافِي» ١٨/٥٠، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/٣٣، وَانْظُرْ فَتَاوَى فِي «الصُّوفِيَّةِ وَالْفُقَرَاءِ» (نَشَرَهَا رَشِيدُ رِضَا بِالْقَاهِرَةِ ١٣٤٨ ط٢).
(12) Ash-Shafadi: "al-Wafi" 50/18, Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/33, dan lihat fatwa dalam "ash-Shufiyyah wal Fuqara'" (diterbitkan Rasyid Ridha di Kairo, cetakan ke-2, 1348).(١٣) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/٣٤.
(13) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/34.(١٤) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ ١٤/١١.
(14) Sumber yang sama 14/11.(١٥) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ ١٤/١٢.
(15) Sumber yang sama 14/12.(١٦) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١/١٥٦.
(16) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/156.(١٧) السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ» ٦/٢٥١ (الْقَاهِرَةِ ١٣٢٤)، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/٣٧، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٥/٢٣٤.
(17) As-Subki: "Thabaqat asy-Syafi'iyyah" 6/251 (Kairo 1324), Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/37, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 5/234.(١٨) الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٣٣٤ فَمَا بَعْدُ (أَيَا صُوفِيَا ٣٠١٤)، الصَّفَدِيّ: «أَعْيَانُ الْعَصْرِ» الْوَرَقَةِ ١ - ٧ (أَيَا صُوفِيَا ٢٩٦٨)، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤/٩ فَمَا بَعْدُ.
(18) Adz-Dzahabi: "Tarikhul Islam", lembar 334 dst (Aya Sofia 3014), Ash-Shafadi: "A'yanul 'Ashr" lembar 1-7 (Aya Sofia 2968), Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/9 dst.(١٩) ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ»، ص ٣٥، وَقَارِنِ ابْنَ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١/ ١٦٨ - ١٦٩.
(19) Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir", hal. 35, bandingkan Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/168-169. ===================(٢٠) ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «بَدِيعَةُ الزَّمَانِ»، الْوَرَقَةِ ١٦٥، وَ«الرَّدُّ الْوَافِرُ»، ص ٣٥ - ٣٦.
(20) Ibnu Nashiruddin: "Badi'atuz Zaman", lembar 165, dan "ar-Raddu al-Wafir", hal. 35-36.(٢١) ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ»، ص ٣٥، وَقَارِنِ ابْنَ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١/ ص ١٦٠. وَقَالَ الصَّفَدِيّ: «وَمَنْ الَّذِي يَأْتِي عَلَى مَجْمُوعِهَا!»، وَذَكَرَ مِنْهَا جُمْلَةً كَبِيرَةً «الْوَافِي» ٥ / ٢٣ - ٣٠.
(21) Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir", hal. 35, bandingkan Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/hal. 160. Ash-Shafadi berkata: "Dan siapa yang bisa mengungguli kumpulan itu!", dan ia menyebutkan sebagian besar darinya dalam "al-Wafi" 5/23-30.(٢٢) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٦١/١. وَعَاتَبَ الذَّهَبِيّ تِلْمِيذَهُ تَاجَ الدِّينِ السُّبْكِيّ بِسَبَبِ كَلَامِ وَقَعَ مِنْهُ فِي ابْنِ تَيْمِيَّةَ، فَاعْتَذَرَ مِنْهُ السُّبْكِيّ بِرِسَالَةٍ أَرْسَلَهَا إِلَيْهِ. ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١٦٩/١.
(22) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/61. Adz-Dzahabi menegur muridnya Tajuddin as-Subki karena ucapan yang ia lontarkan mengenai Ibnu Taimiyyah, maka as-Subki meminta maaf kepadanya melalui surat yang ia kirimkan. Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/169.(٢٣) انْظُرْ أَقْوَالَ الْمِزِّيّ فِي ابْنِ تَيْمِيَّةَ فِي كِتَابِ «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ١٢٨ - ١٣٠ وَأَقْوَالَ الْبُرْزَالِيّ فِي الْكِتَابِ نَفْسِهِ ص ١١٩ - ١٢٣. وَكَانَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ شَدِيدَ الْإِعْجَابِ بِالْمِزِّيّ، فَلَمَّا بَاشَرَ دَارَ الْحَدِيثِ الْأَشْرَفِيَّةَ بَعْدَ الشَّرِيشِيّ، قَالَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ: «لَمْ يَلِهَا مِنْ حِينِ بُنِيَتْ إِلَى الْآنَ أَحَقُّ بِشَرْطِ الْوَاقِفِ مِنْهُ». انْظُرْ: «الْبِدَايَةُ» ٨٩/١٤، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٢٣٤/٥، النُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهٌ» ٣٥/١.
(23) Lihat pendapat al-Mizzi tentang Ibnu Taimiyyah dalam kitab "ar-Raddu al-Wafir", hal. 128-130 dan pendapat al-Burzali dalam kitab yang sama hal. 119-123. Ibnu Taimiyyah sangat mengagumi al-Mizzi, ketika ia menjabat di Darul Hadits al-Asyrafiyyah setelah asy-Syirisyi, Ibnu Taimiyyah berkata: "Tidak ada seorang pun sejak dibangun sampai saat ini yang lebih berhak sesuai syarat pewakif selain dirinya". Lihat: "al-Bidayah" 14/89, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 5/234, an-Nu'aimi: "Tanbih" 1/35.(٢٤) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ١٦٦/١.
(24) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 1/166.(٢٥) الذَّهَبِيّ: «النَّصِيحَةُ الذَّهَبِيَّةُ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ» (دِمَشْقَ ١٣٤٧هـ).
(25) Adz-Dzahabi: "an-Nashihah adz-Dzahabiyyah li Ibni Taimiyyah" (Damaskus 1347 H).(٢٦) السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ» ٢٥٤/٦ (الْقَاهِرَةِ ١٣٢٤هـ).
(26) As-Subki: "Thabaqat asy-Syafi'iyyah" 6/254 (Kairo 1324 H). ===========================(٢٧) مِنْ ذَلِكَ مَا حَدَثَ سَنَةَ ٧٠٥هـ حِينَهَا وَقَعَتِ الْمُنَاظَرَةُ بَيْنَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ وَالشَّافِعِيَّةِ، فَقَرَأَ الشَّيْخُ جَمَالُ الدِّينِ الْمِزِّيّ فَصْلًا بِالرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ مِنْ كِتَابِ «خَلْقِ أَفْعَالِ الْعِبَادِ» لِلْبُخَارِيِّ تَحْتَ قُبَّةِ النَّسْرِ بَعْدَ قِرَاءَةِ مِيعَادِ الْبُخَارِيِّ، فَغَضِبَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ الْحَاضِرِينَ، وَشَكَاهُ إِلَى الْقَاضِي الشَّافِعِيِّ ابْنِ صَصْرَى، وَكَانَ مِنْ أَعْدَاءِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ، فَأَمَرَ بِسَجْنِ الْمِزِّيّ، وَلَمَّا بَلَغَ ابْنَ تَيْمِيَّةَ ذَلِكَ، تَأَلَّمَ كَثِيرًا، وَذَهَبَ إِلَى السِّجْنِ، فَأَخْرَجَهُ مِنْهُ بِنَفْسِهِ، فَغَضِبَ نَائِبُ دِمَشْقَ فَأَصْعَدَ الْمِزِّيّ، ثُمَّ أَفْرَجَ عَنْهُ. ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ٣٧/١٤، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٢٣٤/٥.
(27) Di antaranya apa yang terjadi pada tahun 705 H, saat itu terjadi debat antara Ibnu Taimiyyah dan Syafi'iyyah. Syaikh Jamaluddin al-Mizzi membacakan satu pasal bantahan terhadap Jahmiyyah dari kitab "Khalqu Af'alil 'Ibad" karya al-Bukhari di bawah Qubbah an-Nashr setelah pembacaan jadwal al-Bukhari. Sebagian fuqaha yang hadir marah, lalu mengadukannya kepada hakim Syafi'iyyah Ibnu Shashra yang merupakan salah satu musuh Ibnu Taimiyyah. Ia memerintahkan memenjarakan al-Mizzi. Ketika berita itu sampai kepada Ibnu Taimiyyah, beliau sangat sakit hati, lalu pergi ke penjara dan mengeluarkan al-Mizzi sendiri. Wakil Damaskus marah lalu memanggil al-Mizzi, kemudian membebaskannya. Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/37, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 5/234.(٢٨) مَنْسُوبَةٌ إِلَى الْمَلِكِ الْأَشْرَفِ وَمُظَفَّرِ الدِّينِ مُوسَى ابْنِ الْعَادِلِ الْأَيُّوبِيِّ، ابْتَدَأَ عِمَارَتَهَا سَنَةَ ٦٢٨هـ، وَافْتُتِحَتْ سَنَةَ ٦٣٠هـ، وَأَوَّلُ مَنْ وَلِيَهَا مُحَدِّثُ عَصْرِهِ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ ابْنُ الصَّلَاحِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣هـ. انْظُرِ الذَّهَبِيّ: «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ»، الْوَرَقَةِ ٢٤٣ (أَيَا صُوفِيَا ٣٠١٢)، وَالنُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ» ١/١٩ فَمَا بَعْدُ.
(28) Dinisbatkan kepada al-Malik al-Asyraf dan Mudhaffaruddin Musa bin al-'Adil al-Ayyubi, memulai pembangunannya tahun 628 H, dan dibuka tahun 630 H. Orang pertama yang menjabatnya adalah ahli hadits di masanya, Syaikh Taqiyuddin Ibnu ash-Shalah yang wafat tahun 643 H. Lihat adz-Dzahabi: "Tarikhul Islam", lembar 243 (Aya Sofia 3012), dan an-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris" 1/19 dst.(٢٩) السُّبْكِيّ: «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ» ٦/١٧٠ - ١٧١ (الْقَاهِرَةِ ١٣٢٤)، ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ»، الْوَرَقَةِ ١٠٥ (أَحَدُ الثَّالِثِ ٢٨٣٦).
(29) As-Subki: "Thabaqat asy-Syafi'iyyah" 6/170-171 (Kairo 1324), Ibnu Qadhi Syuhbah: "Thabaqat asy-Syafi'iyyah", lembar 105 (Ahad at-Tsalits 2836).(٣٠) مِنْ ذَلِكَ مَثَلًا «الْمُنْتَقَى» مِنْ مِنْهَاجِ الِاعْتِدَالِ لِشَيْخِهِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (وَانْظُرِ الْقِسْمَ الْخَاصَّ بِكُتُبِهِ).
(30) Di antaranya sebagai contoh "al-Muntaqa" dari Minhajul I'tidal karya gurunya Ibnu Taimiyyah (dan lihat bagian khusus buku-bukunya).(٣١) مِنْ ذَلِكَ مَثَلًا كِتَابُ «الْعُلُوِّ» (وَانْظُرِ الْقِسْمَ الْخَاصَّ بِكُتُبِهِ).
(31) Di antaranya sebagai contoh kitab "al-'Uluw" (dan lihat bagian khusus buku-bukunya).(٣٢) الذَّهَبِيّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ وَرَقَة ٤.
(32) Adz-Dzahabi: "Mu'jamus Syuyukh" juz 1 lembar 4.(٣٣) قَالَ فِي تَرْجَمَةِ شَيْخِهِ بَهَاءِ الدِّينِ أَبِي الْمَحَاسِنِ عَبْدِ الْمُحْسِنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْمَعْرُوفِ بِابْنِ الْعَدِيمِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٤هـ: «وَكَانَ يَدْخُلُ فِي تُرَّهَاتِ الصُّوفِيَّةِ» «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ»، م ١ الْوَرَقَةِ ٨٥.
(33) Beliau berkata dalam biografi gurunya Bahauddin Abu al-Mahasin Abdul Muhsin bin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu al-'Adim yang wafat tahun 704 H: "Dan beliau masuk ke dalam kebohongan/omong kosong kaum Sufi" "Mu'jamus Syuyukh", juz 1 lembar 85.(٣٤) قَالَ فِي تَرْجَمَةِ ثَعْلَبِ بْنِ جَامِعٍ الصَّعِيدِيِّ الْأَحَدِيِّ الْبَازِدَارِ لِلتَّوَفَّى سَنَةَ ٧٢٥هـ: «كَانَ مِنْ كِبَارِ الْأَحْمَدِيَّةِ، وَلَهُ أَتْبَاعٌ، ثُمَّ أَنَّهُ تَابَ وَتَرَكَ تِلْكَ الرُّعُونَاتِ» «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ الْوَرَقَةِ ٤٠.
(34) Beliau berkata dalam biografi Tsa'lab bin Jami' ash-Sha'idi al-Ahadi al-Bazdar yang wafat tahun 725 H: "Beliau termasuk pembesar Ahmadiyyah, dan beliau memiliki pengikut, kemudian beliau bertaubat dan meninggalkan kesombongan-kesombongan tersebut" "Mu'jamus Syuyukh" juz 1 lembar 40. =================(٣٥) الذَّهَبِيّ: «بَيَانُ زَغَلِ الْعِلْمِ»، ص ٢٤ وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ أَحَدِ شُيُوخِهِ: «ثُمَّ دَخَلَ فِي الْمَنْطِقِ، فَاللَّهِ يَسْلَمُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى شَأْنِهِ» «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ وَرَقَة ٦٦ - ٦٧.
(35) Adz-Dzahabi: "Bayanu Zaghalil 'Ilm", hal. 24, dan beliau berkata dalam biografi salah satu gurunya: "Kemudian dia masuk ke dalam ilmu logika, semoga Allah selamatkan, kemudian dia kembali pada urusannya" "Mu'jamus Syuyukh", juz 1 lembar 66-67.(٣٦) الذَّهَبِيّ: «بَيَانُ زَغَلِ الْعِلْمِ»، ص ٢٥ - ٢٦ وَانْظُرْ «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ وَرَقَة ٤٩.
(36) Adz-Dzahabi: "Bayanu Zaghalil 'Ilm", hal. 25-26 dan lihat "Mu'jamus Syuyukh" juz 2 lembar 49.(٣٧) السُّبْكِيّ: «مُعِيدُ النِّعَمِ»، ص ٧٤، وَ«الطَّبَقَاتُ» ٢/ ١٣ - ١٥، ٢٢ - ٢٥، ٩/ ١٠٣.
(37) As-Subki: "Mu'idun Ni'am", hal. 74, dan "ath-Thabaqat" 2/13-15, 22-25, 9/103.(٣٨) السَّخَاوِيّ: «الْإِعْلَانُ»، ص ٤٩٩ فَمَا بَعْدُ، وَابْنُ عَبْدِ الْهَادِي: «مُعْجَمُ الشَّافِعِيَّةِ» الْوَرَقَةِ ٤٧ - ٤٨.
(38) As-Sakhawi: "al-I'lan", hal. 499 dst, dan Ibnu 'Abdul Hadi: "Mu'jamus Syafi'iyyah" lembar 47-48.(٣٩) انْظُرِ الْفَصْلَ الثَّانِي.
(39) Lihat bab kedua. ======================== MULAI HALAMAN 36----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) انْظُرِ الْوَرَقَةَ الْأَخِيرَةَ مِنْ نُسْخَةِ أَيَا صُوفِيَا ٣٠١٤.
(1) Lihat lembar terakhir dari naskah Aya Sofia 3014.(٢) الْحُسَيْنِيّ: «ذَيْلُ الْعِبَرِ» ص ٢٦٩، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ٢٨.
(2) Al-Husaini: "Dzailul 'Ibar" hal. 269, Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/28.(٣) مُحَمَّدٌ كُرْدُ عَلِيٍّ: «خُطَطُ دِمَشْقَ» ص ٢٤.
(3) Muhammad Kurd Ali: "Khuthathu Dimasyq" hal. 24.(٤) الذَّهَبِيّ: «ذَيْلُ الْعِبَرِ» ص ٩٩، ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ٩١، النُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ» ١ / ٣٣ - ٣٤.
(4) Adz-Dzahabi: "Dzailul 'Ibar" hal. 99, Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/91, an-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris" 1/33-34.(٥) النُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهُ» ١ / ٣١٦، وَوَاقِفُهَا هُوَ الصَّالِحُ إِسْمَاعِيلُ ابْنُ الْمَلِكِ الْعَادِلِ سَيْفِ الدِّينِ أَبِي بَكْرٍ.
(5) An-Nu'aimi: "Tanbih" 1/316, dan yang mewakafkannya adalah ash-Shalih Isma'il bin al-Malik al-'Adil Saifuddin Abu Bakar.(٦) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ٨٨، ٩١، النُّعَيْمِيّ: «تَنْبِيهُ» ١ / ٣٤.
(6) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/88, 91, an-Nu'aimi: "Tanbih" 1/34. =====================(٧) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ٨٨.
(7) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/88.(٨) أَسَّسَهَا الْمَلِكُ الظَّاهِرُ بَيْبَرْسُ الْبُنْدُقْدَارِيُّ سَنَةَ ٦٧٦هـ، هِيَ وَالْمَدْرَسَةُ الظَّاهِرِيَّةُ وَهِيَ الْيَوْمَ مَقَرُّ دَارِ الْكُتُبِ الظَّاهِرِيَّةِ الْوَاقِعَةِ قِبَالَةَ الْمَجْمَعِ الْعِلْمِيِّ بِدِمَشْقَ، انْظُرْ عَنْهَا: النُّعَيْمِيُّ: «الدَّارِسُ» ١ / ٣٤٨.
(8) Didirikan oleh al-Malik az-Zhahir Baibars al-Bunduqdari pada tahun 676 H, yaitu Madrasah az-Zhahiriyyah dan saat ini menjadi kantor Darul Kutub az-Zhahiriyyah yang terletak di depan Majma' al-'Ilmi di Damaskus, lihat tentangnya: an-Nu'aimi: "ad-Daris" 1/348.(٩) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ١٤٣.
(9) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/143.(١٠) الصَّفَدِيُّ: «الْوَافِي» ٢ / ١٦٦ وَتَجِدُ نَصَّ التَّوْقِيعِ فِي كِتَابِهِ.
(10) Ash-Shafadi: "al-Wafi" 2/166 dan temukan teks penandatanganannya di dalam kitabnya.(١١) مَنْسُوبَةٌ إِلَى الْأَمِيرِ تَنْكِزَ نَائِبِ الشَّامِ، وَلِيَهَا سَنَةَ ٧١٢هـ وَمَاتَ مُعْتَقَلًا بِالْإِسْكَنْدَرِيَّةِ فِي أَوَائِلِ سَنَةَ ٧٤١هـ (الْحُسَيْنِيُّ: «ذَيْلُ الْعِبَرِ» ص ٢١٩ - ٢٢٠، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٢ / ٥٥ / ٦٢) قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي حَوَادِثِ سَنَةَ ٧٣٩هـ: «وَمِمَّا حَدَثَ فِي هَذِهِ السَّنَةِ إِكْمَالُ دَارِ الْحَدِيثِ السُّكَّرِيَّةِ (كَذَا وَالصَّحِيحُ: التَّنْكِزِيَّةُ) وَبَاشَرَ مَشِيخَةَ الْحَدِيثِ بِهَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْحَافِظُ مُؤَرِّخُ الْإِسْلَامِ شَمْسُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الذَّهَبِيُّ، وَقَرَّرَ فِيهَا ثَلَاثُونَ مُحَدِّثًا لِكُلِّ مِنْهُمْ جَرَايةٌ وَجَامِكَةٌ كُلَّ شَهْرٍ سَبْعَةَ دَرَاهِمَ وَنِصْفَ رِطْلِ خُبْزٍ، وَقَرَّرَ لِلشَّيْخِ ثَلَاثُونَ رِطْلَ خُبْزٍ، وَقَرَّرَ فِيهَا ثَلَاثُونَ نَفَرًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لِكُلِّ عَشَرَةٍ شَيْخٌ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْقُرَّاءِ نَظِيرُ مَا لِلْمُحَدِّثِينَ، وَرَتَّبَ لَهَا إِمَامًا، وَقَارِئَ حَدِيثٍ، وَنُوَّابًا، وَالْقَارِئُ الْحَدِيثُ عِشْرُونَ دِرْهَمًا وَثَمَانِي أَرْوَافِ خُبْزٍ وَجَاءَتْ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ...» ١٤ / ١٨٤.
(11) Dinisbatkan kepada Amir Tankiz Naib Syam, beliau menjabatnya pada tahun 712 H dan meninggal dalam keadaan ditahan di Iskandariyyah pada awal tahun 741 H (al-Husaini: "Dzailul 'Ibar" hal. 219-220, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 2/55/62) Ibnu Katsir berkata dalam peristiwa tahun 739 H: "Di antara yang terjadi pada tahun ini adalah selesainya Darul Hadits as-Sukkariyyah (demikian tertulis, yang benar: at-Tankiziyyah) dan Syekh Imam al-Hafizh sejarawan Islam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi memimpin syeikhul hadits di sana, dan beliau menetapkan di sana tiga puluh muhaddits yang masing-masing mendapatkan jatah dan gaji bulanan tujuh dirham dan setengah rathl roti, dan menetapkan untuk syekh tiga puluh rathl roti, dan menetapkan di sana tiga puluh orang yang membaca Al-Qur'an untuk setiap sepuluh orang satu syekh, dan untuk setiap satu dari pembaca Al-Qur'an (qurra') mendapatkan yang setara dengan apa yang didapatkan muhadditsin, dan beliau mengatur untuknya seorang imam, pembaca hadits, para wakil, dan pembaca hadits dua puluh dirham dan delapan roti, dan itu datang dalam kebaikan yang sempurna..." 14/184.(١٢) ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ١٨٤، النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ» ١ / ١٢٣.
(12) Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/184, an-Nu'aimi: "Tanbih" 1/123. =======================----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١٣) تَنْبِيهُ الدَّارِسِ ١ / ٧٧ - ٧٨.
(13) Tanbih ad-Daris 1/77-78.(١٤) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ ١ / ٧٨ - ٧٩.
(14) Sumber yang sama 1/78-79.(١٥) عِلْمًا بِأَنَّهَا مُحَرَّفَةٌ فِي النُّسْخَةِ الْمَطْبُوعَةِ مِنَ الْبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ (١٤ / ١٨٤) وَهَذِهِ النُّسْخَةُ كَثِيرَةُ الْأَغْلَاطِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ.
(15) Diketahui bahwa tulisan tersebut mengalami tahrif (perubahan) pada naskah cetakan al-Bidayah wan Nihayah (14/184) dan naskah ini banyak kesalahan sebagaimana yang telah diketahui.(١٦) زِيَادَةٌ مِنِّي يَقْتَضِيهَا السِّيَاقُ.
(16) Tambahan dari saya yang dituntut oleh konteks.(١٧) هَكَذَا فِي الْأَصْلِ. وَفِي «ذَيْلُ الْعِبَرِ» (ص ٢٧٦) وَ «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» (ص ١١٩): عَبْدُ الْحَكِيمِ. وَهُوَ الصَّحِيحُ.
(17) Demikian tertulis di naskah asli. Dan dalam "Dzailul 'Ibar" (hal. 276) dan "Dzail Tadzkiratil Huffaz" (hal. 119): Abdul Hakim. Dan itulah yang benar.(١٨) النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ» ١ / ٧٧ - ٨٠.
(18) An-Nu'aimi: "Tanbih" 1/77-80.(١٩) زِيَادَةٌ مِنْ عِنْدِي يَقْتَضِيهَا السِّيَاقُ.
(19) Tambahan dari saya yang dituntut oleh konteks.(٢٠) النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ» ١ / ١٢٧.
(20) An-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris" 1/127.(٢١) الْحُسَيْنِيُّ: «ذَيْلُ ذَيْلِ الْعِبَرِ» ص ٢٧٦.
(21) Al-Husaini: "Dzail Dzailil 'Ibar" hal. 276.(٢٢) مُقَدِّمَةُ الْجُزْءِ الَّذِي طَبَعَهُ مِنْ «سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» ١ / ٢٢ وَالطَّرِيفُ أَنَّ ابْنَ تَيْمِيَةَ لَمْ يَكُنْ مُتَوَلِّيًا لِهَذِهِ الْمَدْرَسَةِ سَنَةَ ٧٢٨ فَقَدِ اعْتُقِلَ فِي ١٦ شَعْبَانَ سَنَةَ ٧٢٦ وَظَلَّ مُعْتَقَلًا بِالْقَلْعَةِ إِلَى حِينِ وَفَاتِهِ فِي لَيْلَةِ الْعِشْرِينَ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ سَنَةَ ٧٢٨ (ابْنُ كَثِيرٍ: «الْبِدَايَةُ» ١٤ / ١٢٣، ١٣٥).
(22) Pendahuluan juz yang dicetak dari "Siyar A'lamin Nubala" 1/22, dan yang unik adalah bahwa Ibnu Taimiyyah tidaklah memimpin madrasah ini pada tahun 728 H, karena beliau ditangkap pada 16 Sya'ban tahun 726 H dan tetap ditahan di benteng (al-qal'ah) hingga waktu wafatnya pada malam kedua puluh bulan Dzulqa'dah tahun 728 H (Ibnu Katsir: "al-Bidayah" 14/123, 135).(٢٣) النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ» ١ / ٩٤.
(23) An-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris" 1/94.(٢٤) ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «الْإِعْلَامُ» الْوَرَقَةُ ٨٦ وَهِيَ مَنْسُوبَةٌ إِلَى شَرَفِ الدِّينِ مُحَمَّدِ بْنِ عُرْوَةَ الْمَوْصِلِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٢٠هـ (النُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ الدَّارِسِ» ١ / ٨٢).
(24) Ibnu Qadhi Syuhbah: "al-I'lam" lembar 86 dan ia dinisbatkan kepada Syarafuddin Muhammad bin 'Urwah al-Maushili yang wafat tahun 620 H (an-Nu'aimi: "Tanbih ad-Daris" 1/82).(٢٥) ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «الْإِعْلَامُ» الْوَرَقَةُ ٨٦.
(25) Ibnu Qadhi Syuhbah: "al-I'lam" lembar 86.(٢٦) وَانْظُرْ أَيْضًا ابْنَ قَاضِي شُهْبَةَ: «الْإِعْلَامُ» الْوَرَقَةُ ٨٦.
(26) Dan lihat juga Ibnu Qadhi Syuhbah: "al-I'lam" lembar 86.(٢٧) ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «الْإِعْلَامُ» الْوَرَقَةُ ٨٦، وَالنُّعَيْمِيُّ: «تَنْبِيهُ» ١ / ٩٤.
(27) Ibnu Qadhi Syuhbah: "al-I'lam" lembar 86, dan an-Nu'aimi: "Tanbih" 1/94.(٢٨) قَالَ فِي كِتَابِهِ «الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ» فِي حَوَادِثِ سَنَةَ ٧٤٨هـ: «وَفِي يَوْمِ الْأَحَدِ سَادِسَ عَشَرَ ذِي الْقَعْدَةِ حَضَرَتْ تُرْبَةَ أُمِّ الصَّالِحِ - رَحِمَهَا اللهُ وَاقِفُهَا - عِوَضًا عَنِ الشَّيْخِ شَمْسِ الدِّينِ الذَّهَبِيِّ، وَحَضَرَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَعْيَانِ الْفُقَهَاءِ وَبَعْضِ الْقُضَاةِ، وَكَانَ دَرْسًا مَشْهُودًا وَلِلَّهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ...» ١٤ / ٢٢٥.
(28) Beliau berkata dalam kitabnya "al-Bidayah wan Nihayah" pada peristiwa tahun 748 H: "Dan pada hari Ahad tanggal enam belas Dzulqa'dah, ia menghadiri turbah (makam/bangunan makam) Ummush Shalih - semoga Allah merahmati yang mewakafkannya - sebagai pengganti Syaikh Syamsuddin adz-Dzahabi, dan dihadiri oleh sekelompok dari para tokoh fuqaha dan sebagian hakim, dan itu adalah pelajaran yang disaksikan, dan segala puji serta karunia hanya milik Allah..." 14/225.----------------------------------------
Catatan Kaki:
(١) انْظُرْ أَدْنَاهُ قَائِمَةَ الْمُخْتَصَرَاتِ فِي مُؤَلَّفَاتِ الذَّهَبِيِّ وَمَا كَتَبْنَاهُ عَنْهُ فِي كِتَابِنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» ٢١٧ - ٢١٨.
(1) Lihat di bawah daftar ringkasan dalam karya-karya adz-Dzahabi dan apa yang kami tulis tentangnya dalam buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu" 217-218.(٢) «رَوْنَقُ الْأَلْفَاظِ» الْوَرَقَةُ ١٨٠.
(2) "Raunaq al-Alfaz", lembar 180.(٣) «طَبَقَاتُ الشَّافِعِيَّةِ» ٩ / ١٠٤.
(3) "Thabaqat asy-Syafi'iyyah" 9/104.(٤) انْظُرْ مَا كَتَبْنَاهُ عَنْ «مُخْتَصَرِ الْمُسْتَدْرَكِ» فِي كَلَامِنَا عَلَى مُؤَلَّفَاتِ الذَّهَبِيِّ مِنْ كِتَابِنَا: ٢٤٨ - ٢٤٩.
(4) Lihat apa yang kami tulis tentang "Mukhtashar al-Mustadrak" dalam pembahasan kami mengenai karya-karya adz-Dzahabi dalam buku kami: 248-249.(٥) الذَّهَبِيُّ: «تَلْخِيصُ الْعِلَلِ» وَرَقَةُ ٨٥ (نُسْخَةُ الْأَزْهَرِ رَقْمُ ٢٩٠ حَدِيثٍ).
(5) Adz-Dzahabi: "Talkhish al-'Ilal", lembar 85 (Naskah al-Azhar nomor 290 Hadits).(٦) انْظُرْ «الْمُخْتَصَرُ الْمُحْتَاجُ» مَثَلًا ١ / ١٨، ٢٠، ٢١، ٢٥، ٢٦، ٢٧، ٢٨، ٣٥، ٤٠، ٤٢، ٤٤، ٤٧، ١٠١، ١١٦، ١١٧، ١١٩، ١٤٨، ١٧٩، ١٩٩... إِلَخ.
(6) Lihat "al-Mukhtashar al-Muhtaj", sebagai contoh 1/18, 20, 21, 25, 26, 27, 28, 35, 40, 42, 44, 47, 101, 116, 117, 119, 148, 179, 199... dst.(٧) انْظُرْ «الْمُخْتَصَرُ الْمُحْتَاجُ» مَثَلًا ١ / ٢١، ٤٩، ٥١، ٦٩، ٧٢، ٧٧، ٨٠، ١٠١، ١٣٦، ١٤٩، ١٥٠، ١٥٨، ١٦٩، ١٧٠، ١٧٢، ١٧٥، ١٧٨، ١٨١، ١٨٣، ١٨٤، ١٨٨، ٢٠٠، ٢٠١، ٢١١، ٢١٢، ٢١٥، ٢١٦، ٢٢٠، ٢٢٣، ٢٢٧، ٢٢٨... إِلَخ.
(7) Lihat "al-Mukhtashar al-Muhtaj", sebagai contoh 1/21, 49, 51, 69, 72, 77, 80, 101, 136, 149, 150, 158, 169, 170, 172, 175, 178, 181, 183, 184, 188, 200, 201, 211, 212, 215, 216, 220, 223, 227, 228... dst.(٨) «الْمَصْدَرُ السَّابِقُ» مَثَلًا ١ / ١٧٥.
(8) "Sumber sebelumnya", sebagai contoh 1/175.(٩) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» ١ / ١٥٨.
(9) "Sumber yang sama" 1/158.(١٠) «الْمُخْتَصَرُ» ١ / ٢٢٥.
(10) "al-Mukhtashar" 1/225.(١١) «الْمُخْتَصَرُ» مَثَلًا ٢ / ٦٢.
(11) "al-Mukhtashar", sebagai contoh 2/62.(١٢) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» مَثَلًا ٢ / ٦٣.
(12) "Sumber yang sama", sebagai contoh 2/63.(١٣) «الْمُخْتَصَرُ» مَثَلًا ٢ / ٣٦.
(13) "al-Mukhtashar", sebagai contoh 2/36.(١٤) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» مَثَلًا ٢ / ٦٢.
(14) "Sumber yang sama", sebagai contoh 2/62.(١٥) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» مَثَلًا ١ / ٦٥.
(15) "Sumber yang sama", sebagai contoh 1/65.(١٦) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» ١ / ٢١.
(16) "Sumber yang sama" 1/21.(١٧) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» ١ / ٢٣.
(17) "Sumber yang sama" 1/23.(١٨) انْظُرْ مَزِيدًا مِنَ الْأَمْثِلَةِ، «الْمُخْتَصَرُ» مَثَلًا ١ / ٧٦، ١٣٠، ١٣٦، ١٤٠، ١٥٢، ٢٢٦، ٢٣١.
(18) Lihat lebih banyak contoh, "al-Mukhtashar", sebagai contoh 1/76, 130, 136, 140, 152, 226, 231.(١٩) انْظُرْ كِتَابَنَا: «تَارِيخُ بَغْدَادَ لِابْنِ الدُّبَيْثِيِّ، مَنْهَجُهُ، مَوَارِدُهُ، أَهَمِّيَّتُهُ» ص ٤ (بَغْدَادَ ١٩٧٤).
(19) Lihat buku kami: "Tarikh Baghdad li Ibni ad-Dubaytsi, Manhajuhu, Mawariduhu, Ahammiyatuhu" hal 4 (Baghdad 1974).(٢٠) انْظُرْ «الْمُخْتَصَرُ الْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ» مَثَلًا ١ / ٧٦، ٨٦، ١٠٦، ١٣٣، ١٥١، ١٥٢... إِلَخ. وَنَجِدُ أَيْضًا ذِكْرًا لِوَفَيَاتٍ مَنْ يَرِدُ اسْمُهُ عَرَضًا فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ ١ / ١٠٣.
(20) Lihat "al-Mukhtashar al-Muhtaj ilayhi", sebagai contoh 1/76, 86, 106, 133, 151, 152... dst. Kami juga menemukan penyebutan wafatnya orang yang namanya disebut secara sepintas dalam beberapa waktu 1/103.(٢١) «الْمُخْتَصَرُ الْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ» ١ / ٤٩، ٦٥.
(21) "al-Mukhtashar al-Muhtaj ilayhi" 1/49, 65.(٢٢) انْظُرْ مُقَدِّمَةَ نُسْخَةِ فَيْضِ اللهِ رَقْمُ ١٥٣١ مِنَ الْكِتَابِ.
(22) Lihat pengantar naskah Fayd Allah nomor 1531 dari buku tersebut.(٢٣) انْظُرْ كَلَامَنَا عَلَى كِتَابِ «تَهْذِيبِ الْكَمَالِ» فِي كِتَابِنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» ٢٣٠.
(23) Lihat pembahasan kami mengenai buku "Tahdzib al-Kamal" dalam buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu" 230.(٢٤) ابْنُ الْجَزَرِيِّ: «غَايَةُ» ٢ / ٧١.
(24) Ibnu al-Jazari: "Ghayah" 2/71.(٢٥) «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ٣١.
(25) "ar-Radd al-Wafir" hal 31.(٢٦) ابْنُ الْجَزَرِيِّ: «غَايَةُ» ٧١/٢، قَالَ: «وَلَمْ أَعْلَمْ أَحَدًا قَرَأَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَاتِ كَامِلًا، بَلْ شَيْخُنَا الشَّهَابُ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمِنْهَجِيِّ الطَّحَّانِ قَرَأَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ جَمِيعَهُ بِقِرَاءَةِ أَبِي عَمْرٍو وَالْبَقَرَةِ جَمْعًا. وَرَوَى عَنْهُ الْحُرُوفَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَحْمَدَ الشَّامِيِّ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ ابْنِ اللَّبَّانِ وَجَمَاعَةٌ. وَسَمِعَ مِنْهُ الشَّاطِبِيَّةَ يَحْيَى بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْبُونِيِّ وَحَدَّثَ بِهَا عَنْهُ فِي الْيَمَنِ».
(26) Ibnu al-Jazari: "Ghayah" 2/71, ia berkata: "Saya tidak mengetahui seorang pun yang membaca qiraat kepadanya secara lengkap, akan tetapi guru kami asy-Syihab Ahmad bin Ibrahim al-Minhaji ath-Thahhan membaca kepadanya al-Quran seluruhnya dengan qiraat Abu 'Amr dan al-Baqarah secara jama'. Ia meriwayatkan darinya huruf-huruf (qiraat) yaitu Ibrahim bin Ahmad asy-Syami, Muhammad bin Ahmad Ibnu al-Labban, dan sekelompok orang. Dan darinya mendengar (membaca) asy-Syathibiyyah yaitu Yahya bin Abi Bakar al-Bunni dan ia meriwayatkannya darinya di Yaman."(٢٧) انْظُرْ أَدْنَاهُ كَلَامَنَا عَلَى آثَارِ الذَّهَبِيِّ (الْقِرَاءَاتُ).
(27) Lihat di bawah pembahasan kami mengenai karya-karya adz-Dzahabi (al-Qiraat). HALAMAN 52-56----------------------------------------
Catatan Kaki:
(٢٨) «غَايَةُ» ٢ / ٧١.
(28) "Ghayah" 2/71.(٢٩) «الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ» ١ / ٣.
(29) "Sumber yang sama" 1/3.(٣٠) «الْإِعْلَانُ» ص ٥٦٤.
(30) "al-I'lan" hal 564.(٣١) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٣ / ٤٢٦.
(31) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/426.(٣٢) كِتَابُنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» ١٣٩ فَمَا بَعْدُ.
(32) Buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu" 139 dan seterusnya.(٣٣) الْكُودَنَةُ: «الْبِلَادَةُ».
(33) al-Kudanah: "al-Biladah".(٣٤) «الْوَافِي» ٢ / ١٦٣.
(34) "al-Wafi" 2/163.(٣٥) الْحُسَيْنِيُّ: «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» ص ٣٥.
(35) al-Husaini: "Dzail Tadzkirah al-Huffaz" hal 35.(٣٦) «الطَّبَقَاتُ الْوُسْطَى» (تَرْجَمَةُ الذَّهَبِيِّ مِنْ نُسْخَةِ دَارِ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ رَقْمُ ٥٥٤).
(36) "ath-Thabaqat al-Wustha" (biografi adz-Dzahabi dari naskah Dar al-Kutub al-Mishriyyah nomor 554).(٣٧) السُّبْكِيُّ: «الطَّبَقَاتُ» ١٠٠/٩، الْعَيْنِيُّ: «عَقْدُ الْجُمَانِ» وَرَقَةُ ٣٧ (أَحْمَدُ الثَّالِثُ رَقْمُ ٢٩١١).
(37) as-Subki: "ath-Thabaqat" 9/100, al-'Aini: "'Aqd al-Juman" lembar 37 (Ahmad al-Tsalits nomor 2911).(٣٨) اسْتِنَاداً إِلَى حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ» وَقَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ تِلْمِيذُهُ السَّخَاوِيُّ فِي «الْإِعْلَانُ» (ص ٤٧٢). وَقَدِيماً شَرِبَ ابْنُ خُزَيْمَةَ سَنَةَ ٣١١ هـ مَاءَ زَمْزَمَ وَطَلَبَ عِلْماً نَافِعاً (الذَّهَبِيُّ: تَذْكِرَةُ، ٢ / ٧٢١). وَقَالَ الْحَاكِمُ النَّيْسَابُورِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٠٥: «شَرِبْتُ مَاءَ زَمْزَمَ وَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنِي حُسْنَ التَّصْنِيفِ» (الذَّهَبِيُّ: تَذْكِرَةُ، ٣/ ١٠٤٤). وَأَلَّفَ شَمْسُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ طُولُونِ الدِّمَشْقِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٩٥٣ هـ رِسَالَةً فِي «الْتِزَامِ مَا يَلْزَمُ فِيمَا وَرَدَ فِي مَاءِ زَمْزَمَ» مِنْهَا نُسْخَةٌ فِي خِزَانَةِ كُتُبِ جَسْرِي فِي دَبْلَنَ ضِمْنَ مَجْمُوعٍ بِرَقْمِ ٣٣١٧.
(38) Berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ: "Air zamzam tergantung untuk apa ia diminum", dan hal itu disebutkan oleh muridnya asy-Sakhawi dalam "al-I'lan" (hal 472). Dahulu Ibnu Khuzaimah meminum air zamzam pada tahun 311 H dan meminta ilmu yang bermanfaat (adz-Dzahabi: Tadzkirah, 2/721). al-Hakim an-Naisaburi yang wafat tahun 405 berkata: "Aku meminum air zamzam dan memohon kepada Allah agar memberiku kemampuan menulis yang baik" (adz-Dzahabi: Tadzkirah, 3/1044). Syamsuddin Muhammad bin Thulun ad-Dimasyqi yang wafat tahun 953 H menulis risalah tentang "Iltizam ma Yalzam fima Warada fi Ma'i Zamzam", yang salah satu naskahnya ada di perpustakaan kitab Jasri di Dublin dalam kumpulan nomor 3317.(٣٩) انْظُرْ كِتَابَنَا: «أَثَرُ الْحَدِيثِ فِي نَشْأَةِ التَّارِيخِ عِنْدَ الْمُسْلِمِينَ»، بَغْدَادَ، مَطْبَعَةُ الْحُكُومَةِ ١٩٦٦م، وَبَحْثَنَا: «مَظَاهِرُ تَأْثِيرِ عِلْمِ الْحَدِيثِ فِي عِلْمِ التَّارِيخِ عِنْدَ الْمُسْلِمِينَ» الْمَنْشُورِ فِي مَجَلَّةِ الْأَقْلَامِ الْبَغْدَادِيَّةِ، السَّنَةُ الْأُولَى، الْعَدَدُ الثَّالِثُ ١٩٦٥م.
(39) Lihat buku kami: "Atsar al-Hadits fi Nasy'ah at-Tarikh 'inda al-Muslimin", Baghdad, Mathba'ah al-Hukumah 1966 M, dan riset kami: "Mazhahir Ta'tsir 'Ilm al-Hadits fi 'Ilm at-Tarikh 'inda al-Muslimin" yang diterbitkan di Majalah al-Aqlam al-Baghdadiyyah, tahun pertama, edisi ketiga 1965 M.(٤٠) حِينَمَا شَعَرَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٥٢ هـ أَنَّ مِنْ بَيْنِ مُسْتَدْرَكَاتِهِ عَلَى الذَّهَبِيِّ فِي كِتَابِ «الْمُشْتَبِهِ» أَسْمَاءَ لِشُعَرَاءَ وَفُرْسَانٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَا أَشْبَهَ مِمَّنْ لَيْسَتْ لَهُمْ رِوَايَةٌ حَدِيثِيَّةٌ، اعْتَذَرَ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: «فَإِنَّ غَالِبَ مَنْ ذَكَرْتُ يَأْتِي ذِكْرُهُ فِي كُتُبِ الْمَغَازِي وَالسِّيَرِ وَالْمَبْدَأِ وَالْأَنْسَابِ وَالتَّوَارِيخِ وَالْأَخْبَارِ وَلَا يَسْتَغْنِي طَالِبُ الْحَدِيثِ عَنْ ضَبْطِ مَا يَرِدُ فِي ذَلِكَ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ رِوَايَةٌ» «تَبْصِيرُ الْمُنْتَبِهِ» ٤ / ١٥١٣.
(40) Ketika al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani yang wafat tahun 852 H merasa bahwa di antara tambahannya terhadap adz-Dzahabi dalam kitab "al-Musytabah" terdapat nama-nama penyair dan ksatria zaman Jahiliyyah dan sejenisnya yang tidak memiliki riwayat hadits, ia meminta maaf dengan berkata: "Karena kebanyakan yang kusebutkan namanya muncul dalam kitab-kitab Maghazi, Siyar, Mabda', Ansab, Tarikh, dan Akhbar, dan penuntut ilmu hadits tidak mungkin tidak memerlukan penguasaan nama-nama yang disebutkan di dalamnya meskipun mereka tidak memiliki riwayat hadits" "Tabshir al-Muntabih" 4/1513.(٤١) انْظُرْ كَلَامَنَا عَلَى «الْمُخْتَصَرَاتِ» مِنْ كِتَابِنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» ٢١٥ - ٢٦٤.
(41) Lihat pembahasan kami tentang "al-Mukhtasharat" dalam buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu" 215-264.(٤٢) ابْنُ الْوَرْدِيِّ: «تَتِمَّةُ الْمُخْتَصَرِ» ٢ / ٣٤٩.
(42) Ibnu al-Wardi: "Tatimmh al-Mukhtashar" 2/349.(٤٣) انْظُرِ الْفَصْلَ الثَّانِيَ مِنْ هَذَا الْبَحْثِ عِنْدَ كَلَامِنَا عَلَى مَنْهَجِ الذَّهَبِيِّ فِي السِّيَرِ وَمَا كَتَبْنَاهُ عَنْ مَنْهَجِهِ فِي كِتَابِهِ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» فِي كِتَابِنَا الْمَذْكُورِ عَنْهُ.
(43) Lihat bab kedua dari riset ini saat pembahasan kami mengenai manhaj adz-Dzahabi dalam bidang Siyar dan apa yang kami tulis tentang manhajnya dalam kitabnya "Tarikh al-Islam" dalam buku kami yang telah disebutkan.(٤٤) انْظُرْ أَدْنَاهُ «السِّيَرُ» مِنْ آثَارِ الذَّهَبِيِّ.
(44) Lihat di bawah "as-Siyar" dari karya-karya adz-Dzahabi.(٤٥) السُّبْكِيُّ: «طَبَقَاتُ» ٩ / ١٠١.
(45) as-Subki: "ath-Thabaqat" 9/101.(٤٦) السَّخَاوِيُّ: «الْإِعْلَانُ» ص ٦٠٤.
(46) asy-Sakhawi: "al-I'lan" hal 604.----------------------------------------
(٤٧) السُّيُوطِيُّ: «طَبَقَاتُ الْحُفَّاظِ» وَرَقَةُ ٨٥ فَمَا بَعْدُ (نُسْخَةُ الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ).
(47) as-Suyuthi: "Thabaqat al-Huffaz" lembar 85 dan seterusnya (naskah Iskandariyyah).(٤٨) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، وَرَقَةُ ٨٦.
(48) Sumber yang sama, lembar 86.(٤٩) انْظُرْ كَلَامَنَا عَلَى نَهْجِ الذَّهَبِيِّ فِي الْمَوَارِدِ، مِنْ كِتَابِنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» : ٢٨٤ فَمَا بَعْدُ.
(49) Lihat pembahasan kami tentang manhaj adz-Dzahabi dalam al-Mawarid, dari buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu": 284 dan seterusnya.(٥٠) انْظُرْ مَثَلًا الذَّهَبِيَّ: «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ١ / ٧٠، ١٥٨ - ١٦٠، ٢٤٤، ٣٢٨ / ٢ / ٥٣٠، ٦٢٧ - ٦٢٨، ١٢٦٦ / ٤، ١٤٨٥.
(50) Lihat contohnya adz-Dzahabi: "Tadzkirah al-Huffaz" 1/70, 158-160, 244, 328 / 2/530, 627-628, 4/1266, 1485.(٥١) السُّبْكِيُّ: «طَبَقَاتُ» ٩ / ١٠٤، الْحُسَيْنِيُّ: «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» ص ٣٥.
(51) as-Subki: "Thabaqat" 9/104, al-Husaini: "Dzail Tadzkirah al-Huffaz" hal 35.(٥٢) ابْنُ حَجَرٍ: «لِسَانُ الْمِيزَانِ» ١ / ٤.
(52) Ibnu Hajar: "Lisan al-Mizan" 1/4.(٥٣) «الْإِعْلَانُ» ص ٥٨٧ وَانْظُرْ كَلَامَنَا عَلَى الْمِيزَانِ فِي كِتَابِنَا: «الذَّهَبِيُّ وَمَنْهَجُهُ» : ١٩٣ - ٢٠١.
(53) "al-I'lan" hal 587 dan lihat pembahasan kami tentang al-Mizan dalam buku kami: "adz-Dzahabi wa Manhajuhu": 193-201.(٥٤) نُسْخَةُ آيَا صُوفْيَا رَقْمُ ٢٩٥٣.
(54) Naskah Aya Sophia nomor 2953.(٥٥) «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ» ١ / ٣ - ٤.
(55) "Mizan al-I'tidal" 1/3-4.(٥٦) «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ» ١ / ٥ - ٦ وَانْظُرْ أَمْثِلَةً أُخْرَى فِي «مُعْجَمِ الشُّيُوخِ» م ١ الْوَرَقَةُ ٢٥٦، م ٢ الْوَرَقَةُ ٧٢، وَ«تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» الْوَرَقَةُ ٩٣ (أَحْمَدُ الثَّالِثُ ٢٩١٧ / ٩).
(56) "Mizan al-I'tidal" 1/5-6 dan lihat contoh lainnya dalam "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 1 lembar 256, Jilid 2 lembar 72, dan "Tarikh al-Islam" lembar 93 (Ahmad al-Tsalits 2917/9).(٥٧) نَفْسُهُ، ج ١ ص ١١١ وَانْظُرْ «تَارِيخَ الْإِسْلَامِ» الْوَرَقَةُ ٣٣٤ (آيَا صُوفْيَا ٣٠٠٨).
(57) Sumber yang sama, Jilid 1 hal 111 dan lihat "Tarikh al-Islam" lembar 334 (Aya Sophia 3008).(٥٨) الذَّهَبِيُّ: «تَذْكِرَةُ» ١ / ٦٧.
(58) adz-Dzahabi: "Tadzkirah" 1/67.(٥٩) الذَّهَبِيُّ: «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ» ٢ / ١٠٧ وَانْظُرْ: «تَارِيخَ الْإِسْلَامِ» الْوَرَقَةُ ٤٨٥ (آيَا صُوفْيَا ٣٠٠٩).
(59) adz-Dzahabi: "Mizan al-I'tidal" 2/107 dan lihat: "Tarikh al-Islam" lembar 485 (Aya Sophia 3009).(٦٠) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ١ / ١٦. وَقَدْ تَكَلَّمَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ابْنُ حَجَرٍ فِي «اللِّسَانِ» فَرَاجِعْهُ هُنَاكَ عِنْدَ فَائِدَةٍ.
(60) Sumber yang sama, 1/16. Dan Ibnu Hajar telah berbicara tentang masalah ini dalam "al-Lisan", maka rujuklah ke sana untuk mendapatkan faedah.(٦١) «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ» ١ / ٥٥٦.
(61) "Mizan al-I'tidal" 1/556.(٦٢) «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ» ٣ / ١٣٨ - ١٤٠.
(62) "Mizan al-I'tidal" 3/138-140.(٦٣) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ١ / ٢.
(63) Sumber yang sama, 1/2.(٦٤) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ١ / ٢.
(64) Sumber yang sama, 1/2.(٦٥) «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ٣ / ٩٩٣ - ٩٩٤.
(65) "Tadzkirah al-Huffaz" 3/993-994.(٦٦) الذَّهَبِيُّ: «الرَّدُّ عَلَى ابْنِ الْقَطَّانِ» (نُسْخَةُ الظَّاهِرِيَّةِ، مَجْمُوعُ رَقْمُ ٧٠).
(66) adz-Dzahabi: "ar-Raddu 'ala Ibni al-Qaththan" (naskah az-Zhahiriyyah, majmu' nomor 70).(٦٧) ٩ / ١٠١.
(67) 9/101.(٦٨) «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ٣١.
(68) "ar-Raddu al-Wafir" hal 31.(٦٩) «الْإِعْلَانُ» ص ٧٢٢.
(69) "al-I'lan" hal 722.(٧٠) انْظُرْ مَثَلًا كِتَابَهُ: «لِسَانُ الْمِيزَانِ».
(70) Lihat contohnya kitabnya: "Lisan al-Mizan".(٧١) الذَّهَبِيُّ: «تَذْكِرَةُ» ٣ / ٩٢١ - ٩٢٢ وَرَاجِعْ «تَارِيخَ الْإِسْلَامِ» وَرَقَةُ ١٦ - ١٧ (أَحْمَدُ الثَّالِثُ ٢٩١٧ / ١٠ / ١٧) وَانْظُرْ أَيْضًا «مِيزَانَ الِاعْتِدَالِ» ج ٣ / ٥٠٧ - ٥٠٨ فَفِيهِ تَفْصِيلٌ أَكْثَرُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ.
(71) adz-Dzahabi: "Tadzkirah" 3/921-922 dan rujuklah "Tarikh al-Islam" lembar 16-17 (Ahmad al-Tsalits 2917/10/17) dan lihat juga "Mizan al-I'tidal" jilid 3/507-508, karena di sana terdapat penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini.(٧٢) الذَّهَبِيُّ: «تَذْكِرَةُ» ٣ / ١١٨١ - ١١٨٢. وَالْآيَةُ الْكَرِيمَةُ مِنْ سُورَةِ الْجُمُعَةِ.
(72) adz-Dzahabi: "Tadzkirah" 3/1181-1182. Dan ayat yang mulia tersebut berasal dari surah al-Jumu'ah.(٧٣) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ٢ / ٧٤٢.
(73) Sumber yang sama, 2/742.(٧٤) «تَذْكِرَةُ» ٢ / ٦٠٠، ٤ / ١٤٩٩.
(74) "Tadzkirah" 2/600, 4/1499.(٧٥) انْظُرْ مَثَلًا: «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ٣ / ١١٢٢.
(75) Lihat contohnya: "Tadzkirah al-Huffaz" 3/1122.(٧٦) «أَهْلُ اللَّهِ فَصَاعِدًا» ص ١١٥.
(76) "Ahlu Allah fashai'dan" hal 115.(٧٧) «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ٢ / ٦٢٧ - ٦٢٨.
(77) "Tadzkirah al-Huffaz" 2/627-628.(٧٨) انْظُرْ مِنْهُ: «تَذْكِرَةُ» ١ / ٤٧٦، ٤٧٧، ٥٦١، ٥٨٩ / ٢ / ٧٣٠، ٧٣٣، ٧٤٧...
(78) Lihat darinya: "Tadzkirah" 1/476, 477, 561, 589 / 2/730, 733, 747...(٧٩) انْظُرْ أَدْنَاهُ كَلَامَنَا عَلَى آثَارِ الذَّهَبِيِّ.
(79) Lihat di bawah pembahasan kami mengenai atsar adz-Dzahabi.(٨٠) «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ»، ٣٤٨ هَامِش ٢.
(80) "Dzail Tadzkirah al-Huffaz", 348 catatan kaki 2.(٨١) انْظُرْ أَعْلَاهُ كَلَامَنَا عَلَى سِيرَتِهِ وَ«رَوْنَقِ الْأَلْفَاظِ» لِسِبْطِ ابْنِ حَجَرٍ، وَرَقَةُ ١٨٠.
(81) Lihat di atas pembahasan kami mengenai sirahnya dan "Raunaq al-Alfadz" karya Sibth Ibnu Hajar, lembar 180.(٨٢) وَهُوَ كِتَابُ «الْمُسْتَحَلِّ فِي اخْتِصَارِ الْمُحَلَّى»، وَانْظُرْ أَدْنَاهُ كَلَامَنَا عَلَى آثَارِ الذَّهَبِيِّ.
(82) Dan ia adalah kitab "al-Mustahall fi Ikhtishar al-Muhalla", dan lihat di bawah pembahasan kami mengenai atsar adz-Dzahabi.(٨٣) الذَّهَبِيُّ: «تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ» ٢ / ٧١٣ - ٧١٥.
(83) adz-Dzahabi: "Tadzkirah al-Huffaz" 2/713-715.(٨٤) ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ٣١. الصَّفَدِيُّ: «الْوَافِي» ٢ / ١٦٦.
(84) Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir" hal 31. ash-Shafadi: "al-Wafi" 2/166.(٨٥) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ.
(85) Sumber yang sama.(٨٦) انْظُرْ مَثَلًا «مُعْجَمَ الشُّيُوخِ» م ١ وَرَقَةُ ٣، ٧، ١٥، ٢٠، ٢٤، ٢٩، ٣٤، ٣٥، ٤٥، ٤٨، ٥٢، ٥٥، ٦١، ٦٢، ٦٣، ٦٥، ٦٦، ٦٩، ٧٥، ٧٧، ٨١، ٨٣، ٨٩. م ٢ وَرَقَةُ ١ - ٦، ١١، ١٢، ٣٠، ٣٣، ٣٦، ٤٠، ٥٢، ٥٦، ٥٩، ٦٠، ٦٦، ٧٤، ٨٥، ٨٦، ٨٨، ٩٦ - ٩٩.
(86) Lihat contohnya "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 1 lembar 3, 7, 15, 20, 24, 29, 34, 35, 45, 48, 52, 55, 61, 62, 63, 65, 66, 69, 75, 77, 81, 83, 89. Jilid 2 lembar 1-6, 11, 12, 30, 33, 36, 40, 52, 56, 59, 60, 66, 74, 85, 86, 88, 96-99.(٨٧) مِنْ بَيْنِ الَّذِينَ مَدَحَهُمُ الذَّهَبِيُّ وَوَصَلَ إِلَيْنَا شِعْرُهُ فِيهِمْ: إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْأَسَدِيُّ الْحَلَبِيُّ الْحَنَفِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٠هـ (مُعْجَمُ الشُّيُوخِ، م ١ وَرَقَةُ ٣٤) وَتَقِيُّ الدِّينِ السُّبْكِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٥٦هـ وَوَلَدُهُ التَّاجُ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧١هـ (طَبَقَاتُ السُّبْكِيِّ، ج ٩ ص ١٠٦، وَالسُّيُوطِيُّ: طَبَقَاتُ الْحُفَّاظِ، وَرَقَةُ ٨٦) وَالْبِرْزَالِيُّ (ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: الرَّدُّ الْوَافِرُ، ص ١٢٠).
(87) Di antara orang-orang yang dipuji adz-Dzahabi dan puisinya sampai kepada kita tentang mereka: Ishaq bin Abi Bakr bin Ibrahim al-Asadi al-Halabi al-Hanafi wafat tahun 710 H (Mu'jam asy-Syuyukh, Jilid 1 lembar 34) dan Taqiyyuddin as-Subki wafat tahun 756 H serta putranya at-Taj wafat tahun 771 H (Thabaqat as-Subki, Jilid 9 hal 106, dan as-Suyuthi: Thabaqat al-Huffaz, lembar 86) dan al-Birzali (Ibnu Nashiruddin: ar-Raddu al-Wafir, hal 120).(٨٨) مِنْ ذَلِكَ قَصِيدَتُهُ فِي رِثَاءِ رَفِيقِهِ وَشَيْخِهِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٢٨هـ (ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ٣٥ - ٣٦ وَ«التِّبْيَانُ» وَرَقَةُ ١٦٥).
(88) Di antaranya puisinya dalam meratapi sahabat dan gurunya Ibnu Taimiyyah yang wafat tahun 728 H (Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir" hal 35-36 dan "at-Tibyan" lembar 165).(٨٩) ٤ / ١٠٧ - ١٠٩.
(89) 4/107-109.(٩٠) «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ» وَرَقَةُ ١٧٩ (أَحْمَدُ الثَّالِثُ ٢٩١٧ / ١١).
(90) "Tarikh al-Islam" lembar 179 (Ahmad al-Tsalits 2917/11).(٩١) السَّخَاوِيُّ: «الْإِعْلَانُ» ص ٥٤٧.
(91) as-Sakhawi: "al-I'lan" hal 547.(٩٢) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ الْوَرَقَةُ ٢٥، ابْنُ حَجَرٍ: «الدرر» ٣ / ٣٢٣.
(92) adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 2 lembar 25, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/323.(٩٣) سِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ: «رَوْنَقُ الْأَلْفَاظِ» الْوَرَقَةُ ١٨٠.
(93) Sibth Ibnu Hajar: "Raunaq al-Alfadz" lembar 180.(٩٤) «عُقُودُ الْجُمَانِ» (نُسْخَةُ مَكْتَبَةِ فَاتِحٍ رَقْمُ ٤٤٣٥).
(94) "Uqud al-Juman" (naskah perpustakaan Fatih nomor 4435).(٩٥) ابْنُ حَجَرٍ: «الدرر» ٣ / ٤٢٧.
(95) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/427.(٩٦) «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» ص ٣٦.
(96) "Dzail Tadzkirah al-Huffaz" hal 36.(٩٧) «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» ص ٣٦.
(97) "Dzail Tadzkirah al-Huffaz" hal 36.(٩٨) «الْإِعْلَامُ» م ١ وَرَقَةُ ٩٠ (نُسْخَةُ بَارِيسَ ١٣٩٨).
(98) "al-I'lam" Jilid 1 lembar 90 (naskah Paris 1398).(٩٩) سِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ: «رَوْنَقُ الْأَلْفَاظِ» الْوَرَقَةُ ١٨٠.
(99) Sibth Ibnu Hajar: "Raunaq al-Alfadz" lembar 180.(١٠٠) «الْوَافِي» ٢ / ١٦٣.
(100) "al-Wafi" 2/163.(١٠١) «الطَّبَقَاتُ» ٩ / ١٠٠ - ١٠١.
(101) "ath-Thabaqat" 9/100-101.(١٠٢) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ٩ / ١٠٣.
(102) Sumber yang sama, 9/103.(١٠٣) «ذَيْلُ تَذْكِرَةِ الْحُفَّاظِ» ص ٣٤.
(103) "Dzail Tadzkirah al-Huffaz" hal 34.(١٠٤) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ص ٣٦.
(104) Sumber yang sama, hal 36.(١٠٥) «الْبِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ» ١٤ / ٢٢٥.
(105) "al-Bidayah wa an-Nihayah" 14/225.(١٠٦) تُوُفِّيَ سَنَةَ ٧٧٤هـ. وَقَدْ تَرْجَمَهُ ابْنُ حَجَرٍ فِي «الدُّرَرِ» ٤ / ٣٠٦ - ٣٠٧.
(106) Wafat tahun 774 H. Dan Ibnu Hajar telah menerjemahkannya dalam "ad-Durar" 4/306-307.(١٠٧) ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ: «الرَّدُّ الْوَافِرُ» ص ٢١ - ٢٢.
(107) Ibnu Nashiruddin: "ar-Raddu al-Wafir" hal 21-22.(١٠٨) الْمَصْدَرُ نَفْسُهُ، ص ٣١.
(108) Sumber yang sama, hal 31.(١٠٩) «الدُّرَرُ» ٣ / ٤٢٧.
(109) "ad-Durar" 3/427.(١١٠) «عُقُودُ الْجُمَانِ» وَرَقَةُ ٣٧ (نُسْخَةُ أَحْمَدَ الثَّالِثِ ٢٩١١).
(110) "Uqud al-Juman" lembar 37 (naskah Ahmad al-Tsalits 2911).(١١١) الْوَرَقَةُ ١٨٠.
(111) Lembar 180.(١) الصَّفَدِيُّ: «نَكْتُ الْهِمْيَانِ» ص ٢٤٢، ابْنُ دَقْمَاقٍ: «تَرْجِمَانُ الزَّمَانِ» الْوَرَقَةُ ٩٩.
(1) ash-Shafadi: "Naktu al-Himyan" hal 242, Ibnu Daqmaq: "Tarjuman az-Zaman" lembar 99.(٢) السُّبْكِيُّ: «طَبَقَاتٌ» ٩ / ١٠٥ - ١٠٦ وَقَدْ زَارَهُ وَالِدُهُ تَقِيُّ الدِّينِ السُّبْكِيُّ قَبْلَ الْمَغْرِبِ وَسَأَلَهُ عَنْ حَالِهِ. الصَّفَدِيُّ: «الْوَافِي» ٢ / ١٥٦، وَنَكْتُ الْهِمْيَانِ ص ٢٤٢، ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٣ / ٤٢٧ وَغَيْرُهُمْ، مِمَّنْ تَرْجَمَ لَهُ.
(2) as-Subki: "Thabaqat" 9/105-106 dan ayahnya Taqiyyuddin as-Subki mengunjunginya sebelum maghrib dan bertanya tentang keadaannya. ash-Shafadi: "al-Wafi" 2/156, dan Naktu al-Himyan hal 242, Ibnu Hajar: "ad-Durar" 3/427 dan selain mereka, dari kalangan yang menerjemahkannya.(٣) «الْوَافِي» ٢ / ١٦٥
(3) "al-Wafi" 2/165(٤) «طَبَقَاتٌ» ٩ / ١٠٩ - ١١١ وَهِيَ طَوِيلَةٌ أَوْرَدَ بَعْضَهَا، وَابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ: «دُسْتُورُ الْإِعْلَامِ» م ١ وَرَقَةُ ٩٠
(4) "Thabaqat" 9/109-111 dan itu panjang yang sebagiannya telah disebutkan, dan Ibnu Qadhi Syuhbah: "Dustur al-I'lam" Jilid 1 lembar 90(٥) الذَّهَبِيُّ: «مُنْتَقَى الْمُعْجَمِ الْمُخْتَصِّ» الْوَرَقَةُ ٣٩ (بَارِيسُ ٢٠٧٦) وَ«مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ٢ وَرَقَةُ ٤٦، وَانْظُرْ أَيْضًا ١٣ وَرَقَةُ ٧٨
(5) adz-Dzahabi: "Muntaqa al-Mu'jam al-Mukhtash" lembar 39 (Paris 2076) dan "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 2 lembar 46, dan lihat juga 13 lembar 78(٦) الذَّهَبِيُّ: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ الْوَرَقَةُ ١٧
(6) adz-Dzahabi: "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 1 lembar 17(٧) رَاجِعْ طُرَّةَ الْمُجَلَّدِ الْحَادِيَ وَالْعِشْرِينَ مِنْ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» الَّذِي بِخَطِّ الذَّهَبِيِّ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤)
(7) Rujuk tepi jilid kedua puluh satu dari "Tarikh al-Islam" yang dengan tulisan tangan adz-Dzahabi (Aya Sofia 3014)(٨) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٢ / ٣٩٢
(8) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 2/392(٩) انْظُرْ مَثَلًا: «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ وَرَقَةُ ٣٨، ٦٩ - ٧٠، ٧٤ - ٧٥، ٧٨، ٨٥، م ٢ الْوَرَقَةُ ٤٤، ٤٥، ٥٣
(9) Lihat contohnya: "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 1 lembar 38, 69-70, 74-75, 78, 85, Jilid 2 lembar 44, 45, 53(١٠) ابْنُ حَجَرٍ: «الدُّرَرُ» ٢ / ٤٤٩، وَالتُّونُسِيُّ: «دُسْتُورُ الْإِعْلَامِ بِمَعَارِفِ الْأَعْلَامِ» الْوَرَقَةُ ١١٦ (نُسْخَةُ وَلِيِّ الدِّينِ جَارِ اللهِ ١٦٠٥ - ٦٩٧)
(10) Ibnu Hajar: "ad-Durar" 2/449, dan at-Tunisi: "Dustur al-I'lam bi Ma'arif al-A'lam" lembar 116 (naskah Waliyuddin Jarullah 1605-697)(١١) «مُعْجَمُ الشُّيُوخِ» م ١ وَرَقَةُ ٤٤
(11) "Mu'jam asy-Syuyukh" Jilid 1 lembar 44(١٢) انْظُرْ طُرَّةَ الْمُجَلَّدِ الْحَادِيَ وَالْعِشْرِينَ (أَيَا صُوفْيَا ٣٠١٤)
(12) Lihat tepi jilid kedua puluh satu (Aya Sofia 3014)(١٣) الْقَاهِرَةُ : ١٩٧٦ م ص: ١٣٩ - ٢٧٦
(13) Kairo : 1976 M hal: 139 - 276(١٤) ظَنَّهُ الْأَلْبَانِيُّ أَصْلَ الْكِتَابِ (انْظُرِ الْفَهْرَسَ: ٢٨٢) وَهُوَ وَهَمٌ
(14) Syaikh al-Albani mengiranya sebagai asal kitab (lihat indeks: 282), padahal itu adalah kekeliruan.(١٥) نَشَرَ الْأُسْتَاذُ الْأَفْغَانِيُّ تَرْجَمَتَهَا مِنْ سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ (دِمَشْقَ: ١٩٤٥)
(15) Ustadz al-Afghani menerbitkan terjemahannya dari Siyar A'lam an-Nubala (Damaskus: 1945).(١٦) نَشَرَ الْمَرْحُومُ الشَّيْخُ أَحْمَدُ شَاكِرٍ تَرْجَمَةَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ مِنْ تَارِيخِ الْإِسْلَامِ
(16) Almarhum Syaikh Ahmad Syakir menerbitkan terjemahan Imam Ahmad dari Tarikh al-Islam.(١٧) أَبُو طَاهِرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَصْبَهَانِيُّ الْمُحَدِّثُ الْمَشْهُورُ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٧٦هـ
(17) Abu Thahir Ahmad bin Muhammad al-Ashbahani, seorang muhaddits masyhur yang wafat tahun 576 H.(١٨) أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ صَاحِبُ التَّصَانِيفِ الْمَشْهُورَةِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٢٠هـ
(18) Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, pemilik karya-karya masyhur yang wafat tahun 620 H.(١٩) وَجَاءَ عُنْوَانُهُ فِي نُسْخَةِ بَرْلِينٍ (٥٥٧٠) : «رِسَالَةٌ فِيمَا يَلُمُّ وَيُعَابُ فِي كُلِّ طَائِفَةٍ»
(19) Judulnya dalam naskah Berlin (5570) tertulis: "Risalah fimaa yalummu wa yu'abu fi kulli thaifah".(٢٠) رَتَنُ هَذَا هِنْدِيٌّ دَجَّالٌ ظَهَرَ سَنَةَ سِتِّ مِائَةٍ وَادَّعَى التَّعْمِيرَ وَصُحْبَةَ النَّبِيِّ ﷺ
(20) Ratan ini adalah seorang pendusta (dajjal) dari India yang muncul pada tahun enam ratus dan mengklaim umur panjang serta pernah bersahabat dengan Nabi ﷺ.(٢١) كِتَابُ «الْأَبَاطِيلُ» لِأَبِي عَبْدِ اللهِ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحُسَيْنِ الْجُورَقَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٤٣هـ، وَقَدْ نَسَبَهُ الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ لِأَبِي إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ يَعْقُوبَ الْجُوزَجَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٢٥٩هـ، وَتَابَعَهُ سَزْكِين، وَهُوَ وَهَمٌ
(21) Kitab "al-Abathil" karya Abu Abdullah al-Husain bin Ibrahim bin al-Husain al-Juraqani yang wafat tahun 543 H. Syaikh al-Albani menisbatkannya kepada Abu Ishaq Ibrahim bin Ya'qub al-Juzjani yang wafat tahun 259 H, dan diikuti oleh Sezgin, padahal itu adalah kekeliruan.(٢٢) تَارِيخُ الْبِرْزَالِيِّ هُوَ الْمُقْتَفَى لِتَارِيخِ أَبِي شَامَةَ، عِنْدِي مِنْهُ نُسْخَةٌ
(22) Tarikh al-Birzali adalah al-Muqtafa untuk Tarikh Abu Syamah, saya memiliki salinannya.(٢٣) أَبُو الْفَضْلِ مُحَمَّدُ بْنُ طَاهِرٍ الْمَقْدِسِيُّ، ابْنُ الْقَيْسَرَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٠٧ هـ وَكِتَابُهُ الَّذِي رَدَّ عَلَيْهِ ابْنُ الْمَجْدِ فِي السَّمَاعِ
(23) Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, Ibn al-Qaisarani yang wafat tahun 507 H dan kitabnya yang dibantah oleh Ibn al-Majd dalam as-Sama'.(٢٤) سَيْفُ الدِّينِ أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ ابْنُ الْمَجْدِ عِيسَى الْمَقْدِسِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣ هـ
(24) Saifuddin Abu al-Abbas Ahmad Ibn al-Majd 'Isa al-Maqdisi yang wafat tahun 643 H.(٢٥) أَبُو الْفَتْحِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَلِيٍّ الْمِصْرِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٥ هـ
(25) Abu al-Fath Muhammad bin Muhammad bin Muhammad 'Ali al-Mishri yang wafat tahun 745 H.(٢٦) تُوُفِّيَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ سَنَةَ ٧٣٩ وَهُوَ غَيْرُ ابْنِ الْجَزَرِيِّ صَاحِبِ «غَايَةِ النِّهَايَةِ فِي طَبَقَاتِ الْقُرَّاءِ» وَتَارِيخُهُ هَذَا يُعْرَفُ بِاسْمِ «حَوَادِثِ الزَّمَانِ وَأَنْبَائِهِ وَوَفَيَاتِ الْأَكَابِرِ وَالْأَعْيَانِ» مِنْ أَبْنَائِهِ عِنْدِي قِطَعٌ مِنْهُ، وَهُوَ مِنَ التَّوَارِيخِ الْمَسْتَوْعِبَةِ
(26) Ibn al-Jazari wafat tahun 739 H, beliau bukanlah Ibn al-Jazari penulis "Ghayah an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra'". Tarikh ini dikenal dengan nama "Hawadits az-Zaman wa Anba'ihi wa Wafayat al-Akabir wa al-A'yan". Saya memiliki potongan dari kitab ini, dan ia termasuk kitab sejarah yang komprehensif.رَابِـعًـا - طَبِـيـعَـةُ دِرَاسَـاتِـهِ: لَمْ يَـنْـقَـطِـعِ الـذَّهَـبِـيُّ طِـيـلَةَ حَـيَـاتِـهِ عَـنِ الـدِّرَاسَـةِ وَالـسَّـمَـاعِ لَا يَـشْـغَـلُـهُ عَـنْـهَـا شَـاغِـلٌ، تَـدُلُّ عَـلَى ذَلِـكَ مُـعْـجَـمَاتُ شُـيُـوخِـهِ لَا سِـيَّـمَا «الْـمُـعْـجَـمُ الْـكَـبِـيـرُ». وَكَـانَتْ دِرَاسَـتُـهُ وَسَـمَـاعَاتُـهُ مُـتَـنَـوِّعَـةً لَـمْ تَـقْـتَـصِـرْ عَـلَى الْـقِـرَاءَاتِ وَالْـحَـدِيـثِ.
Artinya: Keempat - Sifat studi-studinya: Adz-Dzahabi RH tidak pernah berhenti sepanjang hayatnya dari studi dan mendengar (riwayat), tidak ada kesibukan yang menghalanginya. Hal itu ditunjukkan oleh kamus-kamus (biografi) guru-gurunya, terutama "Al-Mu'jam Al-Kabir". Studi dan pendengarannya pun beragam, tidak terbatas pada qiraat dan hadits.
وَقَـدْ عُـنِـيَ بِـدِرَاسَـةِ الـنَّـحْـوِ، فَـسَـمِـعَ «الْـحَـاجِـبِـيَّـةَ» فِي الـنَّـحْـوِ عَـلَى شَـيْـخِـهِ مُـوَفَّـقِ الـدِّيـنِ أَبِـي عَـبْـدِ الـلَّـهِ مُـحَـمَّـدِ بْـنِ أَبِـي الْـعَـلَاءِ الـنَّـصِـيـبِـيِّ الْـبَـعْـلَبَـكِّـيِّ الْـمُـتَـوَفَّـى سَـنَـةَ ٦٩٥ هـ (١). وَدَرَسَ عَـلَى شَـيْـخِ الْـعَـرَبِـيَّـةِ، وَإِمَـامِ أَهْـلِ الْأَدَبِ فِي مِـصْـرَ آنَـذَاكَ الـشَّـيْـخِ بِـهَـاءِ الـدِّيـنِ مُـحَـمَّـدِ بْـنِ إِبْـرَاهِـيـمَ الْـمَـعْـرُوفِ بِـابْـنِ الـنَّـحَّـاسِ الْـمُـتَـوَفَّـى سَـنَـةَ ٦٩٨ هـ (٢). إِضَـافَـةً إِلَى سَـمَـاعِـهِ لِـعَـدَدٍ كَـبِـيـرٍ مِـنْ مَـجَـامِـيـعِ الـشِّـعْـرِ وَالـلُّـغَـةِ وَالْآدَابِ (٣).
Artinya: Beliau serius mempelajari nahwu, lalu mendengar (mempelajari) "Al-Hajibiyah" dalam bidang nahwu kepada gurunya, Muwaffiquddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Al-'Ala An-Nashibi Al-Ba'labakki yang wafat pada tahun 695 H (1). Beliau juga belajar kepada guru bahasa Arab dan imam ahli sastra di Mesir saat itu, Syaikh Bahauddin Muhammad bin Ibrahim yang dikenal dengan Ibnun Nahhas yang wafat pada tahun 698 H (2). Ditambah dengan pendengarannya atas sejumlah besar kumpulan syair, bahasa, dan sastra (3).
وَاهْـتَـمَّ بِالْـكُـتُـبِ الـتَّـارِيـخِـيَّـةِ، فَـسَـمِـعَ عَـدَدًا كَـبِـيـرًا مِـنْـهَـا عَـلَى شُـيُـوخِـهِ، فِي الْـمَـغَـازِي (٤)، وَالـسِّـيـرَةِ (٥)، وَالـتَّـارِيـخِ الْـعَـامِّ (٦)، وَمُـعْـجَـمَاتِ الشُّـيُـوخِ وَالْـمَـشِـيـخَاتِ (٧)، وَكُـتُـبِ الـتَّـرَاجِـمِ الْأُخْـرَى (٨).
Artinya: Beliau juga menaruh perhatian pada kitab-kitab sejarah, lalu mendengar sejumlah besar kitab tersebut dari guru-gurunya, baik dalam bidang Al-Maghazi (4), As-Sirah (5), sejarah umum (6), mu'jam (kamus biografi) para syaikh dan masyakhat (7), serta kitab-kitab biografi lainnya (8).
إِلَّا أَنَّ عَـنَـايَـتَـهُ الـرَّئِـيـسَـةَ كَـانَتْ مُـنْـصَـبَّـةً عَـلَى الْـحَـدِيـثِ؛ فَـقَـدْ سَـمِـعَ الـذَّهَـبِـيُّ مِـائَاتِ الْـكُـتُـبِ وَالْأَجْـزَاءِ الْـحَـدِيـثِـيَّـةِ طُـولَ حَـيَـاتِـهِ فِي طَـلَـبِ الْـعِـلْمِ، يَـعْـرِفُ ذَلِـكَ مَـنْ يَـقْـرَأُ مُـعْـجَـمَاتِ شُـيُـوخِـهِ وَكُـتُـبَـهُ بِـرَوِيَّـةٍ وَإِمْـعَانٍ، فَـضْـلًا عَـنْ أَنَّ هَـذِهِ الْـكُـتُـبَ وَالْأَجْـزَاءَ هِـيَ لَـيْـسَتْ كُـلَّ مَـا قَـرَأَ الـذَّهَـبِـيُّ عَـلَى شُـيُـوخِـهِ، فَـهُـنَاكَ الْـعَـدَدُ الْـهَـائِـلُ مِـنَ الْأَحَـادِيـثِ الـنَّـبَـوِيَّـةِ الـشَّـرِيـفَـةِ لَـمْ يُـوَرِّدْ فِي مُـعْـجَـمَاتِ شُـيُـوخِـهِ مِـنْـهَـا إِلَّا أَمْـثِـلَـةً حَـسْـبُ. يُـضَـافُ إِلَى ذَلِـكَ أَنَّـهُ كَـانَ رُبَّـمَا سَـمِـعَ الْـكِـتَابَ أَوِ الْـجُـزْءَ عَـلَى أَكْـثَـرَ مِـنْ شَـيْـخٍ، حَـتَّى يَـبْـلُـغَ فِي بَـعْـضِـهَـا عَـشَـرَاتِ الْـمَـرَّاتِ أَوْ عَـدَدًا كَـبِـيـرًا مِـنْـهَـا، وَلِـنَـضْـرِبْ لِـذَلِـكَ بَـعْـضَ الْأَمْـثِـلَـةِ؛ فَـقَـدْ سَـمِـعَ «جُـزْءَ الْـحَـسَـنِ بْـنِ عَـرَفَـةَ» وَهُـوَ مِـنَ الْأَجْـزَاءِ الْـحَـدِيـثِـيَّـةِ الْـمَـشْـهُـورَةِ أَكْـثَـرَ مِـنْ أَرْبَـعِـيـنَ مَـرَّ ةً عَـلَى أَكْـثَـرَ مِـنْ أَرْبَـعِـيـنَ شَـيْـخًا (١)، وَسَـمِـعَ «نُـسْـخَـةَ أَبِـي مُـسْـهِـرٍ» عَـبْـدِ الْأَعْـلَى بْـنِ مُـسْـهِـرٍ الْـمُـتَـوَفَّـى سَـنَـةَ ٢١٨ (٢) أَكْـثَـرَ مِـنِ اثْـنَـتَـيْ عَـشْـرَةَ مَـرَّ ةً (٣)، وَسَـمِـعَ «جُـزْءَ ابْـنِ قُـبَـلٍ (٤)» لِـأَبِـي طَـاهِـرٍ الْـحَـسَـنِ بْـنِ أَحْـمَـدَ بْـنِ قَـيْـلٍ الْـبَالِـسِـيِّ عَـلَى أَكْـثَـرَ مِـنْ عَـشَـرَةٍ مِـنَ الـشُّـيُـوخِ (٥).
Artinya: Akan tetapi, perhatian utamanya tercurah pada hadits. Adz-Dzahabi RH mendengar ratusan kitab dan bagian hadits sepanjang hayatnya dalam menuntut ilmu. Hal itu diketahui oleh siapa saja yang membaca kamus-kamus biografi guru-gurunya dan kitab-kitabnya dengan seksama dan mendalam. Selain itu, kitab-kitab dan bagian tersebut bukanlah keseluruhan apa yang dibaca Adz-Dzahabi RH di hadapan guru-gurunya. Masih ada jumlah yang sangat besar dari hadits-hadits Nabi yang mulia yang tidak beliau cantumkan dalam kamus biografi guru-gurunya kecuali sebagai contoh saja. Ditambah lagi, beliau terkadang mendengar satu kitab atau bagian kitab dari lebih dari satu syaikh, hingga mencapai puluhan kali atau jumlah yang besar dalam sebagian kitab tersebut. Kita ambil contoh untuk itu; beliau mendengar "Juz Al-Hasan bin 'Arafah" yang merupakan bagian hadits yang masyhur lebih dari empat puluh kali dari lebih dari empat puluh syaikh (1), dan mendengar "Nuskhat Abi Mushir" Abdul A'la bin Mushir yang wafat pada tahun 218 H (2) lebih dari dua belas kali (3), dan mendengar "Juz Ibnu Qibal" (4) karya Abu Thahir Al-Hasan bin Ahmad bin Qil Al-Balisi dari lebih dari sepuluh orang syaikh (5).
وَأَرَى مِـنَ الْـوَاجِـبِ أَنْ أُشِـيـرَ إِلَى أَنَّ الـذَّهَـبِـيَّ لَـمْ يُـعْـنَ بِـذِكْـرِ مَـسْـمُـوعَاتِـهِ بِـصُـورَةٍ مُـفَـصَّـلَـةٍ فِي مُـعْـجَـمِ شُـيُـوخِـهِ كَـمَا فَـعَـلَ ابْـنُ حَـجَـرٍ مَـثَـلًا فِي «الْـمُـعْـجَـمِ الْـمُـفَـهْـرَسِ» الـذَّي رَتَّـبَـهُ أَسَـاسًا عَـلَى الْـكُـتُـبِ (١)، وَفِي «الْـمُـجْـمَـعِ الْـمُـؤَسَّـسِ» الـذَّي رَتَّـبَـهُ عَـلَى الـشُّـيُـوخِ وَلَـكِـنْ ذَكَـرَ فِيـهِ الْـمَـرْوِيَّـاتِ أَيْـضًا (٢). وَمَـعَ ذَلِـكَ فَـإِنَّ الْـمَـرْوِيَّـاتِ لَا تَـمُـثِّـلُ أَصْـلًا دِرَاسَاتِ الطَّـالِـبِ أَوِ الْـعَـالِـمِ؛ لِـأَنَّ الْـكُـتُـبَ الْـمَـرْوِيَّـةَ مَـحْـدُودَةٌ عَـمُـومًا، بَـيْـنَـمَا يَـسْـتَـطِـيـعُ الطَّـالِـبُ أَنْ يَـقْـرَأَ مَـا يَـشَـاءُ مِـنْ الْـكُـتُـبِ الْـفِـقْـهِـيَّـةِ وَالـتَّـارِيـخِـيَّـةِ وَالْأَدَبِـيَّـةِ وَدَوَاوِيـنِ الـشُّـعَـرَاءِ وَنَـحْـوِهَا وَطَـائِـفَـةٌ كَـبِـيـرَةٌ مِـنْـهَـا لَا تُـرْوَى.
Artinya: Saya memandang perlu untuk menunjukkan bahwa Adz-Dzahabi RH tidak perhatian dalam menyebutkan apa yang beliau dengar secara rinci dalam kamus biografi gurunya seperti yang dilakukan Ibnu Hajar misalnya dalam "Al-Mu'jam Al-Mufahras" yang disusunnya pada dasarnya berdasarkan kitab-kitab (1), dan dalam "Al-Majma' Al-Mu'assis" yang disusunnya berdasarkan para syaikh namun ia juga menyebutkan riwayat-riwayat di dalamnya (2). Meskipun demikian, riwayat-riwayat tersebut tidak mewakili secara utuh studi seorang pelajar atau ulama; karena kitab-kitab yang diriwayatkan umumnya terbatas, sedangkan seorang pelajar dapat membaca apa saja yang ia kehendaki dari kitab-kitab fiqih, sejarah, sastra, kumpulan syair para penyair, dan sejenisnya, di mana sebagian besar dari hal tersebut tidak diriwayatkan.
عَـلَى أَنَّـنَا نَـسْـتَـطِـيـعُ الْـقَـوْلَ مِـنْ دِرَاسَـتِـنَا لِـكُـتُـبِ الـذَّهَـبِـيِّ وَاهْـتِـمَامَاتِـهِ، أَنَّـهُ عَـنِـيَ بِالْـعُـلُـومِ الـدِّيـنِـيَّـةِ عَـمُـومًا، وَالْـعُـلُـومِ الْـمُـسَـاعِـدَةِ لَـهَا كَـالنَّـحْـوِ وَالـلُّـغَـةِ وَالْأَدَبِ وَالـشِّـعْـرِ. كَـمَا أَنَّـهُ اطَّـلَـعَ عَـلَى بَـعْـضِ الْـكُـتُـبِ الْـفَـلْـسَـفِـيَّـةِ. وَنَـشُـكُّ أَنَّـهُ دَرَسَ كُـتُـبًا فِي الْـعُـلُـومِ الـصِّـرْفَـةِ لِـعَـدَمِ اعْـتِـقَادِهِ بِـجَـدْوَاهَا.
Artinya: Meskipun demikian, kita dapat mengatakan dari studi kita terhadap kitab-kitab Adz-Dzahabi RH dan perhatian-perhatiannya, bahwa beliau serius dalam ilmu-ilmu agama secara umum, dan ilmu-ilmu pendukung baginya seperti nahwu, bahasa, sastra, dan syair. Beliau juga menelaah sebagian kitab-kitab filsafat. Namun kami meragukan bahwa beliau mempelajari kitab-kitab dalam ilmu-ilmu murni (ilmu eksakta) karena beliau tidak meyakini kegunaannya.
========================== HALAMAN 35-38خَـامِـسًـا - صِـلَـتُـهُ الـشَّـخْـصِـيَّـةُ وَأَثَـرُهَـا فِي تَـكْـوِيـنِـهِ الْـفِـكْـرِيِّ: اِتَّـصَـلَ الـذَّهَـبِـيُّ اتِّـصَـالًا وَثِـيـقًـا بِـثَـلَاثَـةٍ مِنْ شُـيُـوخِ ذَلِـكَ الْـعَـصْـرِ وَهُمْ جَـمَالُ الـدِّيـنِ أَبُـو الْـحَـجَّـاجِ يُـوسُـفُ (١) بْـنُ عَـبْـدِ الـرَّحْـمَـنِ الْـمِـزِّيُّ الـشَّـافِـعِـيُّ ٦٥٤ - ٧٤٢ هـ، وَتَـقِـيُّ الـدِّيـنِ أَبُـو الْـعَـبَّـاسِ أَحْـمَـدُ (٢) بْـنُ عَـبْـدِ الْـحَـلِـيـمِ الْـمَعْـرُوفِ بِـابْـنِ تَـيْـمِـيَّـةَ الْـحَـرَّانِـيِّ ٦٦١ - ٧٢٨ هـ، وَعَـلَـمُ الـدِّيـنِ أَبُـو مُـحَـمَّـدٍ الْـقَـاسِـمُ (٣) بْـنُ مُـحَـمَّـدٍ الْـبِـرْزَالِـيُّ ٦٦٥ - ٧٣٩ هـ، وَتَـرَافَـقَ مَـعَـهُـمْ طِـيـلَةَ حَـيَـاتِـهِـمْ. وَكَانَ الـذَّهَـبِـيُّ أَصْـغَـرَ رِفَـاقِـهِ سِـنًّـا، وَكَـانَ أَبُـو الْـحَـجَّـاجِ الْـمِـزِّيُّ أَكْـبَـرَهُـمْ. وَكَانَ بَـعْـضُـهُـمْ يَـقْـرَأُ عَـلَى بَـعْـضٍ؛ فَـهُـمْ شُـيُـوخٌ وَأَقْـرَانٌ فِي الْـوَقْـتِ نَـفْـسِـهِ.
Artinya: Kelima - Hubungan pribadinya dan pengaruhnya dalam pembentukan pemikirannya: Adz-Dzahabi RH memiliki hubungan yang erat dengan tiga guru pada zaman tersebut, yaitu Jamaluddin Abu Al-Hajjaj Yusuf (1) bin Abdurrahman Al-Mizzi Asy-Syafi'i (654-742 H), Taqiyyuddin Abu Al-'Abbas Ahmad (2) bin Abdul Halim yang dikenal dengan Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (661-728 H), dan 'Alamuddin Abu Muhammad Al-Qasim (3) bin Muhammad Al-Birzali (665-739 H), dan beliau menemani mereka sepanjang hidup mereka. Adz-Dzahabi RH adalah yang paling muda di antara rekan-rekannya, sedangkan Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi adalah yang tertua. Sebagian mereka saling membaca di hadapan yang lain; mereka adalah guru sekaligus teman sejawat di waktu yang sama.
وَقَـدْ سَـاعَـدَ مَنْ شَـدَّ أَوَاصِـرَ هَـذِهِ الـرِّفْـقَـةِ اتِّـجَـاهُـهُـمْ نَـحْـوَ طَـلَـبِ الْـحَـدِيـثِ مُـنْـذُ فَـتْـرَةٍ مُـبَـكِّـرَةٍ، وَمَـيْـلُـهُـمْ إِلَى آرَاءِ الْـحَـنَابِـلَـةِ وَدِفَـاعِـهُـمْ عَـنْ مَـذْهَـبِـهِـمْ، مَـعَ أَنَّ الْـمِـزِّيَّ وَالْـبِـرْزَالِـيَّ وَالـذَّهَـبِـيَّ كَانُوا مِنَ الـشَّـافِـعِـيَّـةِ. وَكَانَ كُـلُّ وَاحِـدٍ مِنْـهُـمْ مُـحِـبَّـاً لِـلْآخَـرِ ذَاكِـرًا فَـضْـلَهُ. وَيَـذْكُـرُ الـذَّهَـبِـيُّ جَـيِّـدًا أَنَّ عَـلَـمَ الـدِّيـنِ الْـبِـرْزَالِـيَّ هُـوَ الـذَّي حَـبَّـبَ إِلَـيْـهِ الْـعِـنَـايَـةَ بِـالْـحَـدِيـثِ الـنَّـبَـوِيِّ الـشَّـرِيـفِ؛ فَـقَـالَ فِي «مُـعْـجَـمِ شُـيُـوخِـهِ الْـكَبِـيـرِ»: «الْإِمَـامُ الْـحَـافِـظُ الْـمُـتْـقِـنُ الـصَّـادِقُ الْـحُـجَّـةُ مُـفِـيـدُنَا وَمُـعَـلِّـمُنَا وَرَفِـيـقُنَا مُـحَـدِّثُ الـشَّـامِ مُـؤَرِّخُ الْـعَـصْـرِ (٤)»، وَقَـالَ فِي مَـوْضِـعٍ آخَـرَ: «وَهُـوَ الـذَّي حَـيَّـبَ إِلَـيَّ طَـلَبَ الْـحَـدِيـثِ، فَـإِنَّـهُ رَأَى خَـطِّـي، فَـقَـالَ: خَـطُّـكَ يُـشْـبِـهُ خَـطَّ الْـمُـحَـدِّثِـيـنَ! فَـأَثَّـرَ قَـوْلُـهُ فِيَّ، وَسَـمِـعْـتُ مِنْـهُ، وَتَـخَـرَّجْـتُ بِـهِ فِي أَشْـيَـاءَ (٥)»، وَكَانَ عَـلَى غَـايَـةٍ مِنَ الْإِعْـجَابِ بِـعِـلْمِـهِ، وَلَا سِـيَّـمَا «مُـعْـجَـمِ شُـيُـوخِـهِ» (٦) الـذَّي خَـرَّجَـهُ لِـنَـفْـسِـهِ، وَفِـيـهِ ثَـلَاثَـةُ آلَافِ شَـيْـخٍ، مِنْـهُـمُ الْأَلْـفَانِ بِـالـسَّـمَـاعِ وَالْأَلْـفُ بِـالْإِجَـازَةِ (٧). وَكَـتَبَ الـذَّهَـبِـيُّ عَـنْ شَـيْـخِـهِ وَرَفِـيـقِـهِ الْـمِـزِّيِّ بِـأَنَّـهُ: «الْـعَلَّامَـةُ الْـحَـافِـظُ الْـبَـارِعُ أُسْـتَاذُ الْـجَـمَـاعَـةِ... مُـحَـدِّثُ الْإِسْلَامِ (٨)» وَأَنَّـهُ كَانَ «خَاتِـمَـةَ الْـحُـفَّـاظِ وَنَـاقِـذَ الْأَسَانِـيـدِ وَالْأَلْـفَاظِ وَهُـوَ صَـاحِـبُ مُـعْـضِلَاتِنَا وَمُـوَضِّـحُ مُـشْـكِلَاتِنَا (٩)».
Artinya: Yang membantu mempererat hubungan pertemanan ini adalah kecenderungan mereka terhadap menuntut ilmu hadits sejak masa awal, dan kecenderungan mereka terhadap pendapat-pendapat Hanabilah serta pembelaan mereka terhadap mazhab tersebut, walaupun Al-Mizzi, Al-Birzali, dan Adz-Dzahabi RH adalah dari mazhab Syafi'iyah. Setiap orang dari mereka saling mencintai rekannya dan mengakui keutamaannya. Adz-Dzahabi RH ingat betul bahwa 'Alamuddin Al-Birzali-lah yang membuat beliau mencintai perhatian terhadap hadits Nabi yang mulia. Beliau berkata dalam "Mu'jam Syuyukhihi Al-Kabir": "Imam Al-Hafizh, yang teliti, jujur, hujjah, pemberi manfaat bagi kami, guru kami, teman kami, ahli hadits Syam, sejarawan masa itu (4)." Beliau berkata di tempat lain: "Dia adalah orang yang membuat saya mencintai menuntut hadits, karena dia melihat tulisan saya, lalu berkata: 'Tulisanmu mirip tulisan ahli hadits!' Ucapan itu membekas pada diri saya, saya mendengar darinya, dan saya belajar darinya dalam banyak hal (5)." Beliau sangat kagum dengan ilmunya, terutama "Mu'jam Syuyukhihi" (6) yang disusunnya untuk dirinya sendiri, di dalamnya terdapat tiga ribu guru, dua ribu di antaranya dengan cara mendengar langsung dan seribu dengan ijazah (7). Adz-Dzahabi RH menulis tentang guru dan rekannya Al-Mizzi bahwa dia: "Al-'Allamah, Al-Hafizh yang mahir, guru bagi kelompoknya... ahli hadits Islam (8)" dan bahwa dia adalah "penutup para penghafal (hadits), pengkritik sanad dan matan, dia adalah pemilik solusi atas masalah-masalah kami dan penjelas kerumitan-kerumitan kami (9)."
أَمَّا ابْـنُ تَـيْـمِـيَّـةَ، فَـكَـانَتْ شَـخْـصِـيَّـتُـهُ قَـدِ اكْـتَـمَـلَتْ مُـنْـذُ أَنْ كَانَ الـذَّهَـبِـيُّ شَـابًّـا فِي أَوَّلِ طَـلَبِ الْـعِـلْمِ، وَكَانَ قَدْ أَصْـبَحَ مُـجْـتَـهِـدًا، لَـهُ آرَاؤُهُ الْـخَـاصَّـةُ الـتَّـي تَـقُـومُ فِي أَصْـلِـهَـا عَـلَى اتِّـبَـاعِ آثَـارِ الـسَّـلَـفِ، وَابْـتَـدَأَ مُـنْـذُ سَـنَـةِ ٦٩٨ هـ يَـدْخُـلُ فِي خُـصُـومَاتٍ عَـقَـائِـدِيَّـةٍ حَـادَّةٍ مَـعَ عُـلَـمَاءِ عَـصْـرِهِ مِنَ الْـمُـخَالِـفِـيـنَ لَـهُ (١٠)، وَيُـقِـيـمُ الْـحُـدُودَ بِـنَـفْـسِـهِ، وَيَـحْـلِـقُ رُؤُوسَ الـصِّـبْـيَانِ (١١)، وَيُـحَـارِبُ الْـمُـشَـعْـوِذِيـنَ مِنْ أَدِعِـيَاءِ الـتَّـصَـوُّفِ (١٢)، وَيَـمْـنَـعُ مِنْ تَـقْـدِيـمِ الـنُّـذُورِ (١٣)، وَيَـدُورُ هُـوَ وَأَصْـحَابُـهُ عَلَى الْـخَـمَّـارَاتِ وَالْـخَانَاتِ، وَيُـرِيـقُ الْـخُـمُـورَ (١٤)، وَيُـقَاتِلُ بَـعْـضَ مَنْ يَـعْـتَـقِـدُ فَـسَـادَ عَـقِـيـدَتِـهِ (١٥)، وَيَـشْـتَـطُّ عَلَى الْـقُـضَاةِ (١٦)، بَـلْ بَـلَـغَ الْأَمْـرُ بِـهِ فِي إِحْـدَى الْـمَـرَّاتِ أَنْ دَخَلَ الـسِّـجْـنَ، وَأَخْـرَجَ رَفِـيـقَـهُ الْـمِـزِّيَّ مِنْـهُ بِـنَـفْـسِـهِ (١٧). وَظَـهَرَتْ شَـخْـصِـيَّـتُـهُ الـسِّـيَـاسِـيَّـةُ فِي الْـحَـرْبِ الْـغَـازَانِـيَّـةِ سَـنَـةَ ٦٩٩ هـ وَمَا بَـعْـدَهَا، لَا سِـيَّـمَا سَـنَـةَ ٧٠٢ هـ فَـقَـدْ كَانَ لَـهُ الـدَّوْرُ الْـبَارِزُ فِي انْـتِـصَارِ الْـمَـمَالِـيـكِ عَلَى الْـمُـغُـولِ فِي وَقْـعَـةِ شَـقْـحَبٍ (١٨).
Artinya: Adapun Ibnu Taimiyyah, kepribadiannya telah matang sejak Adz-Dzahabi RH masih muda di awal menuntut ilmu, dan beliau telah menjadi seorang mujtahid, memiliki pendapat-pendapat khusus yang pada dasarnya berlandaskan pada mengikuti jejak para salaf, dan mulai sejak tahun 698 H masuk ke dalam perselisihan akidah yang tajam dengan para ulama zamannya dari orang-orang yang menentangnya (10), menegakkan hudud (hukuman) sendiri, mencukur kepala anak-anak (11), memerangi para penyihir dari kalangan orang-orang yang mengaku ahli tasawuf (12), melarang pemberian nazar (13), berkeliling bersama rekan-rekannya ke kedai-kedai minuman keras dan penginapan, menumpahkan minuman keras (14), memerangi sebagian orang yang diyakini rusak akidahnya (15), dan bersikap keras terhadap para hakim (16), bahkan urusannya sampai pada salah satu kesempatan beliau masuk penjara, dan mengeluarkan rekannya Al-Mizzi darinya sendiri (17). Kepribadian politiknya muncul dalam perang Al-Ghazaniyah tahun 699 H dan setelahnya, terutama tahun 702 H, di mana beliau memiliki peran yang menonjol dalam kemenangan Mamluk atas Mongol dalam pertempuran Syaqhab (18).
وَقَدْ أَحَـبَّ الـذَّهَـبِـيُّ شَـيْـخَـهُ وَرَفِـيـقَـهُ، وَأُعْـجِـبَ بِـهِ، فَـقَـالَ بَـعْـدَ أَنْ مَدَحَـهُ مَدْحًـا عَـظِـيـمًا: «وَهُـوَ أَكْـبَـرُ مِنْ أَنْ يُـنَـبِّـهَ مِـثْـلِي عَلَى نُـعُـوتِـهِ، فَـلَوْ حَـلَـفْتُ بَـيْـنَ الـرُّكْـنِ وَالْـمَـقَامِ لَـحَلَـفْتُ؛ أَنِّـي مَا رَأَيْـتُ بِـعَـيْـنِي مِـثْـلَـهُ، وَلَا وَاللَّـهِ مَا رَأَى هُـوَ مِـثْـلَ نَـفْـسِـهِ فِي الْـعِـلْمِ (١٩)». وَلَمَّا مَاتَ رَثَاهُ بِـقَـصِـيـدَةٍ (٢٠)، وَذَكَـرَ أَنَّ مُـصَـنَّـفَـاتِـهِ قَـدْ جَـاوَزَتِ الْأَلْـفَ (٢١)، وَبَالَغَ فِي ذِكْـرِ مَـسَاوِئِ مَنْ حَـطَّ عَـلَـيْـهِ مِـثْـلَ الْأَمِـيـرِ سَـيْـفِ الـدِّيـنِ تَـنْـكَـز (٢٢) نَـائِـبِ الـشَّـامِ. وَلَـمْ تَـكُـنْ مَـحَـبَّـةُ رَفِـيـقَـيْـهِ وَإِعْـجَابُـهُـمَا بِـابْـنِ تَـيْـمِـيَّـةَ بِـأَقَـلَّ مِنْ مَـحَـبَّـةِ الـذَّهَـبِـيِّ لَـهُ، بَـلْ رُبَّـمَا كَانَ الْـمِـزِّيُّ أَكْـثَـرَهُـمْ إِعْـجَابًـا وَمَـحَـبَّـةً لَـهُ مَـعَ أَنَّـهُ أَكْـبَـرُ مِنْـهُ سِـنًّـا (٢٣).
Artinya: Adz-Dzahabi RH mencintai guru dan rekannya, dan kagum padanya, lalu setelah memujinya dengan pujian yang agung, beliau berkata: "Dia lebih besar dari sekadar orang seperti saya mengingatkannya akan sifat-sifatnya, seandainya saya bersumpah di antara Rukun dan Maqam, niscaya saya akan bersumpah; bahwa saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya orang yang seperti dia, dan demi Allah, dia pun tidak pernah melihat orang yang seperti dirinya sendiri dalam hal ilmu (19)." Ketika dia meninggal, beliau meratapinya dengan sebuah qasidah (20), dan menyebutkan bahwa karya-karyanya telah melampaui seribu (21), dan beliau bersikap keras dalam menyebutkan keburukan orang-orang yang merendahkannya, seperti Amir Saifuddin Tankiz (22), wakil (penguasa) Syam. Kecintaan dan kekaguman kedua rekannya terhadap Ibnu Taimiyyah tidaklah kurang dari kecintaan Adz-Dzahabi RH kepadanya, bahkan mungkin Al-Mizzi adalah yang paling kagum dan mencintainya meskipun dia lebih tua darinya (23).
وَمَـعَ أَنَّ الـذَّهَـبِـيَّ قَـدْ خَـالَـفَ رَفِـيـقَـهُ وَشَـيْـخَـهُ فِي مَسَائِلَ أَصْـلِـيَّـةٍ وَفَـرْعِـيَّـةٍ (٢٤) وَأَرْسَلَ إِلَـيْـهِ نَصِيحَتَـهُ الـذَّهَـبِـيَّـة (٢٥) الـتَّـي يَـلُومُـهُ، وَيَـنْـتَـقِـدُ بَـعْـضَ آرَائِـهِ وَآرَاءِ أَصْـحَابِـهِ بِـهَـا، إِلَّا أَنَّـهُ بِلَا رَيْبٍ قَدْ تَـأَثَّـرَ بِـهِ تَـأَثُّرًا عَـظِـيـمًا، بِـحَـيْـثُ قَالَ تَاجُ الـدِّيـنِ الـسُّـبْـكِـيُّ الـمُـتَـوَفَّـى سَـنَـةَ ٧٧١ هـ: «إِنَّ هَـذِهِ الـرِّفْـقَـةَ الْـمِـزِّيَّ وَالـذَّهَـبِـيَّ وَالْـبِـرْزَالِـيَّ أَضَـرَّ بِـهَا أَبُـو الْـعَـبَّـاسِ ابْـنُ تَـيْـمِـيَّـةَ إِضْـرَارًا بِـيِّـنًا وَحَـمَـلَهَا مِـنْ عَـظَائِمِ الْأُمُـورِ أَمْـرًا لَـيْـسَ هَـيِّـنًا، وَجَـرَّهُـمْ إِلَى مَا كَانَ الـتَّـبَـاعُـدُ عَـنْـهُ أَوْلَى بِـهِـمْ (٢٦)».
Artinya: Dan meskipun Adz-Dzahabi RH telah berbeda pendapat dengan rekan dan gurunya dalam masalah-masalah pokok dan cabang (24) dan mengirimkan kepadanya nasihat emasnya (25) yang isinya mencela dan mengkritik sebagian pendapatnya dan pendapat para sahabatnya, namun beliau tanpa ragu sangat terpengaruh olehnya secara besar, sehingga Tajuddin As-Subki yang wafat tahun 771 H berkata: "Sesungguhnya pertemanan Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, dan Al-Birzali ini telah dirugikan oleh Abu Al-'Abbas Ibnu Taimiyyah dengan kerugian yang nyata, dan dia telah membebani mereka dengan perkara besar yang tidak ringan, dan menyeret mereka kepada sesuatu yang menjauhinya adalah lebih utama bagi mereka (26)."
HALAMAN 38-40إِنَّ هٰذِهِ الصِّلَةَ بَيْنَ الرُّفْقَةِ، وَمَا اخْتَطُّوهُ لِأَنْفُسِهِمْ فِيمَا ارْتَضَوْهُ، وَمَالُوا إِلَيْهِ مِنْ آراءِ الْحَنَابِلَةِ، قَدْ أَدَّتْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ إِلَى إِيذَائِهِمْ وَالتَّحَامُلِ عَلَيْهِمْ بِمَا لَيْسَ فِيهِمْ.
Artinya: Sesungguhnya hubungan ini di antara rekan sejawat, dan apa yang mereka gariskan bagi diri mereka sendiri dalam apa yang mereka ridhai, serta mereka cenderung kepadanya dari pendapat-pendapat kaum Hanabilah, telah menyebabkan dalam banyak kesempatan pada penyakitan mereka dan sikap berprasangka buruk terhadap mereka dengan apa yang tidak ada pada mereka.
وَقَدْ أُوذِيَ الْمِزِّيُّ بِسَبَبِ ذَلِكَ (٢٧)، وَحُرِّمَ الذَّهَبِيُّ بِسَبَبِ آرَائِهِ مِنْ تَوَلِّي أَكْبَرِ دَارٍ لِلْحَدِيثِ بِدِمَشْقَ، هِيَ دَارُ الْحَدِيثِ الْأَشْرَفِيَّةِ (٢٨) الَّتِي شَغَرَتْ مَشْيَخَتُهَا بَعْدَ وَفَاةِ رَفِيقِهِ الْمِزِّيِّ سَنَةَ ٧٤٢هـ، فَأَشَارَ قَاضِي الْقُضَاةِ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْكَافِي السُّبْكِيُّ أَنْ يُعَيَّنَ الذَّهَبِيُّ لَهَا، فَتَكَلَّمَ الشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّ الذَّهَبِيَّ لَيْسَ بِأَشْعَرِيٍّ، وَأَنَّ الْخُزِّيَّ مَا وَلِيَهَا إِلَّا بَعْدَ أَنْ كَتَبَ بِخَطِّهِ، وَأَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ بِأَنَّهُ أَشْعَرِيٌّ، وَاتَّسَعَ النِّقَاشُ بَيْنَهُمْ، وَرَفَضَ الشَّافِعِيَّةُ أَنْ يَتَوَلَّاهَا الذَّهَبِيُّ بَعْدَ أَنْ جَمَعَهُمْ نَائِبُ الشَّامِ أَلْطُنْبَغَا بِالرَّغْمِ مِنْ إِلْحَاحِ السُّبْكِيِّ، وَلَمْ يُحْسَمِ الْأَمْرُ إِلَّا بِتَوْلِيَةِ السُّبْكِيِّ نَفْسِهِ (٢٩).
Artinya: Al-Mizzi telah disakiti karena hal tersebut (27), dan Adz-Dzahabi dihalangi karena pendapat-pendapatnya untuk memegang jabatan di lembaga hadits terbesar di Damaskus, yaitu Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (28) yang jabatan syekhnya kosong setelah wafatnya rekannya, Al-Mizzi, pada tahun 742 H. Maka Qadhi Al-Qudhat Ali bin Abdul Kafi As-Subki mengusulkan agar Adz-Dzahabi ditunjuk untuk jabatan tersebut, namun ulama Syafi'iyah berkomentar bahwa Adz-Dzahabi bukan seorang Asy'ari, dan bahwasanya Al-Khuzzi tidak memegang jabatan tersebut kecuali setelah ia menulis dengan tulisan tangannya dan bersaksi atas dirinya sendiri bahwa ia seorang Asy'ari. Diskusi di antara mereka pun meluas, dan ulama Syafi'iyah menolak Adz-Dzahabi memegang jabatan itu setelah dikumpulkan oleh Naib Syam Altunbugha meskipun ada desakan dari As-Subki, dan perkara tersebut tidak diputuskan kecuali dengan penunjukan As-Subki sendiri (29).
ثُمَّ أثَرَتْ صِلَةُ الذَّهَبِيِّ بِابْنِ تَيْمِيَّةَ فِيمَا اخْتَصَرَ (٣٠) أَوْ أَلَّفَ (٣١) مِنْ كُتُبٍ، وَفِي بَلْوَرَةِ بَعْضِ آرَائِهِ، وَحُبِّهِ لِلْحَنَابِلَةِ (٣٢)، وَمَوْقِفِهِ مِنْ بَعْضِ الْمُتَصَوِّفَةِ (٣٣) وَلَا سِيَّمَا طَائِفَةِ الْأَحْمَدِيَّةِ، أَتْبَاعِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ الرِّفَاعِيِّ (٣٤). وَهُوَ يَذْكُرُ أَنَّ عِلْمَ الْمَنْطِقِ «نَفْعُهُ قَلِيلٌ وَضَرَرُهُ وَبِيلٌ وَمَا هُوَ مِنْ عُلُومِ الْإِسْلَامِ» (٣٥)، وَيَقُولُ عَنِ الْفَلْسَفَةِ: «وَالْفَلْسَفَةُ الْإِلَهِيَّةُ مَا يُنْظَرُ فِيهَا مَنْ يُرْجَى فَلاحُهُ، وَلَا يَرْكُنُ إِلَى اعْتِقَادِهَا مَنْ يَلُوحُ نَجَاحُهُ؛ فَإِنَّ هَذَا الْعِلْمَ فِي شَقٍّ، وَمَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ فِي شَقٍّ، وَلَكِنَّ ضَلَالَ مَنْ لَمْ يَدْرِ مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ كَمَا يَنْبَغِي بِالْحِكْمَةِ أَشَرُّ مِمَّنْ يَدْرِي، وَاغْوثَاهُ بِاللَّهِ إِذَا كَانَ الَّذِينَ انْتَدَبُوا لِلرَّدِّ عَلَى الْفَلَاسِفَةِ قَدْ حَارُوا، وَلَحِقَتْهُمْ كَسْفَةٌ، فَمَا الظَّنُّ بِالْمَرْدُودِ عَلَيْهِمْ؟!» (٣٦).
Artinya: Kemudian hubungan Adz-Dzahabi dengan Ibnu Taimiyah memberikan pengaruh dalam apa yang ia ringkas (30) atau tulis (31) dari kitab-kitab, dan dalam mematangkan sebagian pendapatnya, kecintaannya kepada kaum Hanabilah (32), serta sikapnya terhadap sebagian kelompok sufi (33) dan terutama kelompok Ahmadiyah, pengikut Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i (34). Dan ia menyebutkan bahwa ilmu mantiq (logika) itu "manfaatnya sedikit dan bahayanya besar, dan ia bukan termasuk ilmu-ilmu Islam" (35). Ia juga berkata tentang filsafat: "Filsafat ketuhanan, tidaklah dilihat di dalamnya orang yang diharapkan keberhasilannya, dan tidaklah condong kepada keyakinannya orang yang tampak kesuksesannya; karena ilmu ini berada di satu sisi, dan apa yang dibawa oleh para rasul berada di sisi lain. Namun, kesesatan orang yang tidak mengetahui apa yang dibawa oleh rasul sebagaimana mestinya dengan hikmah itu lebih buruk daripada orang yang mengetahui. Sungguh kita memohon pertolongan kepada Allah apabila orang-orang yang memberanikan diri untuk membantah para filsuf justru bingung, dan menimpa mereka kegelapan, maka bagaimana dugaan terhadap orang-orang yang dibantah?!" (36).
ثُمَّ كَانَ هَذِهِ الرُّفْقَةُ، أَعْنِي رُفْقَةَ ابْنِ تَيْمِيَّةَ، أَنْ جَعَلَتْ بَعْضَ النَّاسِ يَجِدُونَ فِيهَا سَبَبَاً لِطَعْنِهِمْ فِي كِتَابَاتِهِ بِسَبَبِ اعْتِقَادِهِمْ بِنَحْيِزِهَا (٣٧). وَقَدْ أَثَارَتْ هَذِهِ الْمَطَاعِنُ نِقَاشاً بَيْنَ عُلَمَاءِ عَصْرِهِ، وَعِنْدَ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ جَاؤُوا بَعْدَهُ (٣٨) وَهُوَ مَا سَوْفَ نَبْحَثُهُ عِنْدَ كَلَامِنَا عَلَى مَنْهَجِهِ فِي «سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» (٣٩).
Artinya: Kemudian hubungan ini, maksudnya hubungan dengan Ibnu Taimiyah, menjadikan sebagian orang menemukan di dalamnya alasan untuk menyerang tulisan-tulisannya karena keyakinan mereka terhadap keberpihakannya (37). Serangan-serangan ini telah memicu diskusi di antara ulama sezamannya, dan pada ulama yang datang setelahnya (38), yang mana hal itu akan kami bahas saat pembicaraan kami mengenai manhajnya dalam "Siyar A'lamin Nubala" (39).
وَمَعَ أَنَّ كَثِيراً مِنَ الِانْتِقَادَاتِ الَّتِي وُجِّهَتْ إِلَى الذَّهَبِيِّ بِسَبَبِ الْعَقَائِدِ كَانَ يَغْلِبُ عَلَيْهَا طَابِعُ التَّحَامُلِ وَالتَّعَصُّبِ، إِلَّا أَنَّنَا فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَجِبُ أَنْ نَعْتَرِفَ بِأَنَّ تَكَوُّنَهُ الْفِكْرِيَّ الْعَامَّ قَدِ ارْتَبَطَ ارْتِبَاطاً شَدِيداً بِالْحَدِيثِ وَالْمُحَدِّثِينَ وَنَظَرَتِهِمْ إِلَى الْعُلُومِ وَالْعُلَمَاءِ وَفَلْسَفَتِهِمْ تُجَاهَ الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ، وَقَدْ أَثَّرَ ذَلِكَ، كَمَا سَتَرَى، فِي مَنْهَجِهِ التَّارِيخِيِّ تَأْثِيراً وَاضِحاً حِينَما رَبَطَهُ بِالْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيفِ وَعُلُومِهِ، فَاهْتَمَّ اهْتِمَاماً كَبِيراً بِالتَّرَاجِمِ حَتَّى صَارَتْ أَسَاسَ كَثِيرٍ مِنْ كُتُبِهِ، وَجَوْهَرَ تَفْكِيرِهِ.
Artinya: Dan meskipun banyak kritik yang ditujukan kepada Adz-Dzahabi karena masalah akidah didominasi oleh sifat prasangka dan fanatisme, namun pada saat yang sama kita harus mengakui bahwa pembentukan intelektualnya secara umum telah terikat erat dengan hadits dan ahli hadits, serta pandangan mereka terhadap ilmu dan ulama, dan filsafat mereka terhadap ilmu-ilmu aqliyah (rasional). Hal itu telah memengaruhi, sebagaimana akan Anda lihat, dalam manhaj sejarahnya secara jelas ketika ia mengaitkannya dengan hadits Nabi yang mulia dan ilmu-ilmunya, sehingga ia memberikan perhatian yang sangat besar pada biografi (tarajum) hingga menjadi dasar bagi banyak kitab-kitabnya, dan inti dari pemikirannya.
HALAMAN 41-45سَادِساً - نَشَاطُهُ الْعِلْمِيُّ وَمَنَاصِبُهُ التَّدْرِيسِيَّةُ: بَدَأَتْ حَيَاةُ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةُ فِي الْإِنْتَاجِ فِي مَطْلَعِ الْقَرْنِ الثَّامِنِ الْهِجْرِيِّ كَمَا يَبْدُو، فَبَدَأَ بِاخْتِصَارِ عَدَدٍ كَبِيرٍ مِنْ أُمَّهَاتِ الْكُتُبِ فِي شَتَّى الْعُلُومِ الَّتِي مَارَسَهَا، وَمِنْ أَهَمِّهَا التَّارِيخُ وَالْحَدِيثُ. ثُمَّ تَوَجَّهَ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى تَأْلِيفِ كِتَابِهِ الْعَظِيمِ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» الَّذِي انْتَهَى مِنْ إِخْرَاجِهِ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ سَنَةَ ٧١٤ هـ (١).
Artinya: Keenam - Aktivitas Ilmiah dan Jabatan Mengajarnya: Kehidupan ilmiah Adz-Dzahabi dalam berkarya dimulai pada awal abad kedelapan Hijriyah sebagaimana terlihat, ia mulai dengan meringkas sejumlah besar kitab-kitab induk dalam berbagai disiplin ilmu yang ia pelajari, di antaranya yang paling penting adalah sejarah dan hadits. Kemudian setelah itu, ia beralih untuk menyusun kitabnya yang agung "Tarikh Al-Islam" yang selesai ia susun untuk pertama kalinya pada tahun 714 H (1).
وَقَدْ تَوَلَّى الذَّهَبِيُّ فِي سَنَةَ ٧٠٣ هـ الْخِطَابَةَ بِمَسْجِدِ كَفْرِ بَطْنَا (٢)، وَهِيَ قَرْيَةٌ بِغُوطَةِ دِمَشْقَ (٣)، وَظَلَّ مُقِيماً بِهَا إِلَى سَنَةَ ٧١٨ هـ. وَفِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ الْهَادِئَةِ أَلَّفَ الذَّهَبِيُّ خِيرَةَ كُتُبِهِ، وَقَدْ سَاعَدَهُ عَلَى ذَلِكَ كَمَا يَبْدُو تَفَرُّغُهُ التَّامُّ لِلتَّأْلِيفِ.
Artinya: Adz-Dzahabi menjabat sebagai khatib di masjid Kafr Batna pada tahun 703 H (2), yaitu sebuah desa di Ghautah, Damaskus (3), dan ia terus tinggal di sana hingga tahun 718 H. Di desa yang tenang inilah Adz-Dzahabi menyusun karya-karya terbaiknya, dan hal tersebut terbantu sebagaimana terlihat oleh waktu luangnya yang penuh untuk menulis.
وَفِي شَوَّالٍ سَنَةَ ٧١٨ هـ تُوُفِّيَ الشَّيْخُ كَمَالُ الدِّينِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ ابْنِ الشَّرِيشِيِّ الْوَائِلِيِّ، وَكِيلُ بَيْتِ الْمَالِ، وَشَيْخُ دَارِ الْحَدِيثِ بِتُرْبَةِ أُمِّ الصَّالِحِ وَغَيْرِهَا (٤)، وَكَانَتْ هَذِهِ الدَّارُ مِنْ كُبْرَيَاتِ دُورِ الْحَدِيثِ بِدِمَشْقَ آنَذَاكَ (٥)، تَوَلَّاهَا كَمَالُ الدِّينِ ابْنُ الشَّرِيشِيِّ مُدَّةَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً ابْتِدَاءً مِنْ سَنَةَ ٦٨٥ هـ وَإِلَى حِينَ وَفَاتِهِ وَكَانَ وَالِدُهُ قَدْ تَوَلَّاهَا قَبْلَهُ (٦).
Artinya: Pada bulan Syawal tahun 718 H wafatlah Syeikh Kamaluddin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Asy-Syarishi Al-Wa'ili, pengurus Baitul Mal, dan Syeikh Darul Hadits di Turbah Ummu Shalih dan lainnya (4). Darul Hadits ini termasuk yang terbesar di Damaskus pada waktu itu (5), yang dipegang oleh Kamaluddin bin Asy-Syarishi selama tiga puluh tiga tahun dimulai sejak tahun 685 H hingga saat wafatnya, dan ayahnya telah memegang jabatan itu sebelumnya (6).
قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي حَوَادِثِ سَنَةَ ٧١٨ هـ: «وَفِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ الْعِشْرِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ بَاشَرَ الشَّيْخُ شَمْسُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الذَّهَبِيُّ الْمُحَدِّثُ الْحَافِظُ بِتُرْبَةِ أُمِّ الصَّالِحِ عِوَضاً عَنْ كَمَالُ الدِّينِ ابْنِ الشَّرِيشِيِّ . . . وَحَضَرَ عِنْدَ الذَّهَبِيِّ جَمَاعَةٌ مِنَ الْقُضَاةِ» (٧). وَقَدِ اتَّخَذَهَا الذَّهَبِيُّ مَسْكَناً لَهُ وَبَقِيَ فِيهَا إِلَى حِينِ وَفَاتِهِ.
Artinya: Ibnu Katsir berkata dalam peristiwa tahun 718 H: "Dan pada hari Senin tanggal dua puluh dua bulan Dzulhijjah, Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Utsman Adz-Dzahabi, sang Muhaddits Al-Hafizh, mulai bertugas di Turbah Ummu Shalih menggantikan Kamaluddin bin Asy-Syarishi . . . dan hadir di tempat Adz-Dzahabi sekelompok hakim" (7). Adz-Dzahabi menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggalnya dan tetap di sana hingga saat wafatnya.
وَفِي يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ السَّابِعِ عَشَرَ مِنْ جُمَادَى الْآخِرَةِ سَنَةَ ٧٢٩ هـ وَلِيَ شَمْسُ الدِّينِ الذَّهَبِيُّ دَارَ الْحَدِيثِ الظَّاهِرِيَّةَ (٨) بَعْدَ الشَّيْخِ شِهَابِ الدِّينِ أَحْمَدَ بْنِ جَهْبَلٍ وَنَزَلَ عَنْ خِطَابَةِ كَفْرِ بَطْنَا (٩).
Artinya: Dan pada hari Rabu tanggal tujuh belas bulan Jumadil Akhir tahun 729 H, Syamsuddin Adz-Dzahabi menjabat di Darul Hadits Azh-Zhahiriyyah (8) setelah Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Jahbal dan turun dari jabatan khatib di Kafr Batna (9).
وَلَمَّا تُوُفِّيَ الشَّيْخُ عَلَمُ الدِّينِ الْبِرْزَالِيُّ، شَيْخُ الذَّهَبِيِّ وَرَفِيقُهُ، سَنَةَ ٧٣٩ هـ، تَوَلَّى الذَّهَبِيُّ تَدْرِيسَ الْحَدِيثِ بِالْمَدْرَسَةِ النَّفِيسِيَّةِ وَإِمَامَتَهَا عِوَضاً عَنْهُ، وَكَتَبَ لَهُ تِلْمِيذُهُ صَلَاحُ الدِّينِ الصَّفَدِيُّ تَوْقِيعاً بِذَلِكَ (١٠). وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ أَيْضاً، أَعْنِي سَنَةَ ٧٣٩ هـ، كَمُلَ تَعْمِيرُ دَارِ الْحَدِيثِ وَالْقُرْآنِ التَّنْكِزِيَّةِ (١١)، وَبَاشَرَ الذَّهَبِيُّ مَشْيَخَةَ الْحَدِيثِ بِهَا (١٢). وَقَدْ أَخْطَأَ مُحْيِي الدِّينِ عَبْدُ الْقَادِرِ النُّعَيْمِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٩٢٧ هـ حِينَمَا جَعَلَ الذَّهَبِيُّ يَخْلُفُ تَقِيَّ الدِّينِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ فِي دَارِ الْحَدِيثِ السُّكَّرِيَّةِ (١٣)، فَتَرَجَّمَهُ فِيهَا (١٤)، وَكَرَّرَ ذَلِكَ، مَعَ أَنَّ الذَّهَبِيَّ لَمْ يَتَوَلَّ هَذِهِ الدَّارَ كَمَا يَبْدُو. وَيَظْهَرُ أَنَّ «التَّنْكِزِيَّةَ» تَحَرَّفَتْ إِلَى «السُّكَّرِيَّةِ» (١٥)، فَظَنَّ الرَّجُلُ أَنَّهُ تَوَلَّاهَا، مَعَ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّ الذَّهَبِيَّ تَوَلَّى دَارَ الْحَدِيثِ التَّنْكِزِيَّةِ وَنَقَلَ النُّصُوصَ الدَّالَّةَ نَفْسَهَا، قَالَ فِي دَارِ الْحَدِيثِ السُّكَّرِيَّةِ بَعْدَ أَنْ تَرْجَمَ لِشَيْخِهَا تَقِيِّ الدِّينِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٢٨ هـ: «ثُمَّ وَلِيَهَا بَعْدَهُ الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ . . . ثُمَّ وَلِيَ مَشْيَخَةَ السُّكَّرِيَّةِ هَذِهِ بَعْدَهُ الصَّدْرُ الْمَالِكِيُّ».
Artinya: Dan ketika wafat Syeikh 'Alamuddin Al-Birzali, syeikh Adz-Dzahabi dan rekannya, pada tahun 739 H, Adz-Dzahabi menjabat pengajar hadits di Madrasah An-Nafisiyyah dan imam di sana menggantikannya, dan muridnya, Shalahuddin Ash-Shafadi, menuliskan pengesahan untuk itu (10). Pada tahun ini pula, yakni tahun 739 H, rampung renovasi Darul Hadits wa Al-Qur'an At-Tankiziyyah (11), dan Adz-Dzahabi mulai bertugas sebagai Syeikh Al-Hadits di sana (12). Dan keliru Muhyiddin Abdul Qadir An-Nu'aimi yang wafat tahun 927 H ketika ia menjadikan Adz-Dzahabi menggantikan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah di Darul Hadits As-Sukkariyyah (13), lalu ia menulis biografinya di sana (14), dan mengulangi hal itu, padahal Adz-Dzahabi tidak menjabat di lembaga ini sebagaimana terlihat. Tampak bahwa "At-Tankiziyyah" berubah menjadi "As-Sukkariyyah" (15), maka orang itu mengira ia menjabat di sana, padahal ia menyebutkan bahwa Adz-Dzahabi menjabat di Darul Hadits At-Tankiziyyah dan menukil teks-teks yang menunjukkan hal yang sama, ia berkata dalam Darul Hadits As-Sukkariyyah setelah menulis biografi syeikhnya Taqiyuddin Ibnu Taimiyah yang wafat tahun 728 H: "Kemudian menjabat setelahnya Al-Hafizh Adz-Dzahabi dan dia adalah Muhammad . . . kemudian menjabat sebagai Syeikh As-Sukkariyyah ini setelahnya Ash-Shadr Al-Maliki".
قَالَ الشَّيْخُ شَمْسُ الدِّينِ السُّيِّدُ فِي «ذَيْلِ الْعِبَرِ» (١٦) سَنَةَ تِسْعٍ وَأَرْبَعِينَ وَسَبْعِ مِئَةٍ: «وَالْإِمَامُ صَدْرُ الدِّينِ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ (١٧) الْمَالِكِيُّ مُدَرِّسُ الشَّرَابِيشِيَّةِ وَشَيْخُ السُّكَّرِيَّةِ بَعْدَ الذَّهَبِيِّ». انْتَهَى. وَقَالَ الصَّلَاحُ الصَّفَدِيُّ فِي «تَارِيخِهِ» فِي حَرْفِ السِّينِ: «سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ . . . إِلَخْ» (١٨) ثُمَّ قَالَ فِي «دَارِ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ التَّنْكِزِيَّةِ» مِنْ كِتَابِهِ بَعْدَ ذِكْرِ عِمَارَتِهَا وَوُقُوفِهَا: «قَالَ السَّيِّدُ الْحُسَيْنِيُّ فِي «ذَيْلِ الْعِبَرِ» سَنَةَ تِسْعٍ وَأَرْبَعِينَ وَسَبْعِ مِئَةٍ (١٩): وَالْإِمَامُ صَدْرُ الدِّينِ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْمَالِكِيُّ شَيْخُهُمْ وَمُدَرِّسُ الشَّرَابِيشِيَّةِ وَشَيْخُ التَّنْكِزِيَّةِ بَعْدَ الذَّهَبِيِّ». انْتَهَى. وَقَدْ تَقَدَّمَتْ تَرْجَمَةُ الذَّهَبِيِّ فِي دَارِ الْحَدِيثِ السُّكَّرِيَّةِ. وَقَالَ الصَّلَاحُ الصَّفَدِيُّ فِي «تَارِيخِهِ» فِي حَرْفِ السِّينِ: «سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ . . . إِلَخْ» (٢٠). وَهَذَا النَّصُّ الْأَخِيرُ هُوَ الصَّحِيحُ وَهُوَ الَّذِي أَوْرَدَهُ الْحُسَيْنِيُّ فِي «ذَيْلِ الْعِبَرِ» (٢١).
Artinya: Syeikh Syamsuddin As-Sayyid berkata dalam "Dzail Al-'Ibar" (16) pada tahun 749 H: "Dan Imam Shadruddin Sulaiman bin Abdul Hakam (17) Al-Maliki, pengajar Asy-Syarabishiyyah dan Syeikh As-Sukkariyyah setelah Adz-Dzahabi". Selesai. Ash-Shalah Ash-Shafadi berkata dalam "Tarikh"-nya pada huruf Sin: "Sulaiman bin Abdul Hakam . . . dst" (18) kemudian ia berkata dalam "Darul Qur'an wa Al-Hadits At-Tankiziyyah" dari kitabnya setelah menyebutkan renovasi dan wakafnya: "As-Sayyid Al-Husaini berkata dalam "Dzail Al-'Ibar" pada tahun 749 H (19): Dan Imam Shadruddin Sulaiman bin Abdul Hakam Al-Maliki, syeikh mereka, pengajar Asy-Syarabishiyyah, dan Syeikh At-Tankiziyyah setelah Adz-Dzahabi". Selesai. Dan telah lewat biografi Adz-Dzahabi di Darul Hadits As-Sukkariyyah. Ash-Shalah Ash-Shafadi berkata dalam "Tarikh"-nya pada huruf Sin: "Sulaiman bin Abdul Hakam . . . dst" (20). Dan teks terakhir ini adalah yang benar, dan itulah yang dibawakan oleh Al-Husaini dalam "Dzail Al-'Ibar" (21).
إِنَّ هَذَا الِاخْتِلَاطَ وَالتَّحْرِيفَ بِالنُّصُوصِ جَعَلَ الدُّكْتُورَ صَلَاحَ الدِّينِ الْمُنَجَّدَ يَذْهَبُ إِلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ الذَّهَبِيَّ خَلَّفَ ابْنَ تَيْمِيَّةَ سَنَةَ ٧٢٨ هـ فِي دَارِ الْحَدِيثِ السُّكَّرِيَّةِ وَهُوَ وَهْمٌ لَا أَسَاسَ لَهُ (٢٢).
Artinya: Sesungguhnya kekacauan dan pengubahan teks ini membuat Dr. Shalahuddin Al-Munajjid berpendapat bahwa Adz-Dzahabi menggantikan Ibnu Taimiyah pada tahun 728 H di Darul Hadits As-Sukkariyyah, dan itu adalah prasangka yang tidak ada dasarnya (22).
وَمِنْ دُورِ الْحَدِيثِ الَّتِي تَوَلَّاهَا الذَّهَبِيُّ دَارُ الْحَدِيثِ الْفَاضِلِيَّةِ (٢٣)، الَّتِي أَسَّسَهَا الْقَاضِي الْفَاضِلُ وَزِيرُ صَلَاحِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٩٦ هـ.
Artinya: Dan di antara Darul Hadits yang dipimpin oleh Adz-Dzahabi adalah Darul Hadits Al-Fadhiliyyah (23), yang didirikan oleh Al-Qadhi Al-Fadhil, menteri Shalahuddin, yang wafat tahun 596 H.
وَهَكَذَا تَوَلَّى الذَّهَبِيُّ كُبْرَيَاتِ دُورِ الْحَدِيثِ بِدِمَشْقَ فِي أَيَّامِهِ، لِمَا وَصَلَ إِلَيْهِ مِنَ الْمَعْرِفَةِ الْوَاسِعَةِ فِي هَذَا الْفَنِّ. وَحِينَمَا تُوُفِّيَ سَنَةَ ٧٤٨ هـ كَانَ يَتَوَلَّى مَشْيَخَةَ الْحَدِيثِ فِي خَمْسَةِ أَمَاكِنَ هِيَ: ١ - مَشْهَدُ عُرْوَةَ، أَوْ دَارِ الْحَدِيثِ الْعُرْوِيَّةِ، وَدَرَّسَ فِيهَا بَعْدَهُ شَرَفُ الدِّينِ ابْنُ الْوَانِي الْحَنَفِيُّ، نَزَلَ الذَّهَبِيُّ لَهَا عَنْهَا فِي مَرَضِ مَوْتِهِ (٢٤). ٢ - دَارُ الْحَدِيثِ النَّفِيسِيَّةِ، وَقَدْ نَزَلَ الذَّهَبِيُّ عَنْهَا إِلَى الشَّيْخِ شَرَفِ الدِّينِ ابْنِ الْوَانِي الْحَنَفِيِّ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ أَيْضاً فَدَرَّسَ فِيهَا أَيْضاً فِي ذِي الْقَعْدَةِ (٢٥). ٣ - دَارُ الْحَدِيثِ التَّنْكِزِيَّةِ، وَدَرَّسَ فِيهَا بَعْدَهُ الْإِمَامُ صَدْرُ الدِّينِ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ الْحَكِيمِ الْمَالِكِيُّ كَمَا مُرَّ بِنَا قَبْلَ قَلِيلٍ (٢٦). ٤ - دَارُ الْحَدِيثِ الْفَاضِلِيَّةِ بِالْكَلَّاسَةِ، وَدَرَّسَ فِيهَا بَعْدَهُ تِلْمِيذُهُ تَقِيُّ الدِّينِ أَبُو الْمَعَالِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعِ بْنِ هِجْرِسٍ السَّلَّامِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧٤ هـ (٢٧). ٥ - تُرْبَةُ أُمِّ الصَّالِحِ، دَرَّسَ فِيهَا بَعْدَهُ تِلْمِيذُهُ الْحَافِظُ أَبُو الْفِدَاءِ عِمَادُ الدِّينِ ابْنُ كَثِيرٍ الدِّمَشْقِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧٤ هـ (٢٨).
Artinya: Demikianlah Adz-Dzahabi menjabat di Darul Hadits terbesar di Damaskus pada masanya, karena pengetahuan luas yang ia capai dalam bidang ini. Dan ketika wafat tahun 748 H, ia menjabat sebagai Syeikh Al-Hadits di lima tempat yaitu: 1 - Masyhad 'Urwah, atau Darul Hadits Al-'Urwiyyah, dan mengajar di sana setelahnya Sarafuddin bin Al-Wani Al-Hanafi, Adz-Dzahabi menyerahkan jabatan itu kepadanya saat sakit menjelang wafatnya (24). 2 - Darul Hadits An-Nafisiyyah, dan Adz-Dzahabi menyerahkan jabatan itu kepada Syeikh Sarafuddin bin Al-Wani Al-Hanafi saat sakit menjelang wafatnya juga, ia mengajar di sana pula pada bulan Dzulqa'dah (25). 3 - Darul Hadits At-Tankiziyyah, dan mengajar di sana setelahnya Imam Shadruddin Sulaiman bin Abdul Hakim Al-Maliki sebagaimana telah lewat pembahasannya sedikit tadi (26). 4 - Darul Hadits Al-Fadhiliyyah di Al-Kallassah, dan mengajar di sana setelahnya muridnya Taqiyuddin Abu Al-Ma'ali Muhammad bin Rafi' bin Hijris As-Sallami yang wafat tahun 774 H (27). 5 - Turbah Ummu Shalih, mengajar di sana setelahnya muridnya Al-Hafizh Abu Al-Fida' 'Imaduddin Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi yang wafat tahun 774 H (28).
========================= HALAMAN 46-50سَابِعاً - مَنْزِلَةُ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةِ: لَعَلَّ خَيْرَ مَا يُصَوِّرُ مَنْزِلَةَ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةِ وَاتِّجَاهَاتِهِ الْفِكْرِيَّةَ هُوَ دِرَاسَةُ آثَارِهِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي خَلَّفَهَا، وَتَبْيَانُ قِيمَتِهَا مُقَارَنَةً بِمَثِيلَاتِهَا، وَمَدَى اهْتِمَامِ الْعُلَمَاءِ وَالدَّارِسِينَ بِهَا فِي الْعُصُورِ التَّالِيَةِ، وَالْمُسَاهَمَةِ الْفِعْلِيَّةِ الَّتِي قَدَّمَتْهَا لِلْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ. وَسِيرَةُ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةُ، اسْتِنَاداً إِلَى آثَارِهِ، ذَاتُ وُجُوهٍ مُتَعَدِّدَةٍ يَسْتَبِينُهَا الْبَاحِثُ الْفَاحِصُ مِنْ نَوْعِيَّةِ تِلْكَ الْآثَارِ.
Artinya: Ketujuh - Kedudukan Ilmiah Adz-Dzahabi: Mungkin hal terbaik yang menggambarkan kedudukan ilmiah Adz-Dzahabi dan arah pemikirannya adalah dengan mempelajari karya-karyanya yang banyak, menjelaskan nilainya dibandingkan dengan karya serupa, sejauh mana perhatian para ulama dan peneliti terhadap karya tersebut di masa setelahnya, serta kontribusi nyata yang diberikannya bagi peradaban Islam. Sirah ilmiah Adz-Dzahabi, berdasarkan karya-karyanya, memiliki banyak sisi yang bisa dipahami oleh peneliti yang teliti dari kualitas karya-karya tersebut.
وَأَوَّلُ مَا يُلَاحِظُ الدَّارِسُ هَذَا الْعَدَدَ الضَّخْمَ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِي اخْتَصَرَهَا وَالَّتِي تُرْبِي عَلَى خَمْسِينَ كِتَاباً، مُعْظَمُهَا مِنَ الْكُتُبِ الْكَبِيرَةِ الَّتِي اكْتَسَبَتْ أَهَمِّيَّةً عَظِيْمَةً عِنْدَ الدَّارِسِينَ، وَالَّتِي تُعَدُّ مِنْ بَيْنِ أَحْسَنِ الْكُتُبِ الَّتِي وُضِعَتْ فِي عَصْرِهَا وَأَكْثَرِهَا أَصَالَةً، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى اسْتِيعَابِ الذَّهَبِيِّ لِمُؤَلَّفَاتِ السَّابِقِينَ، وَمَعْرِفَتِهِ بِالْجَيِّدِ الْأَصِيلِ مِنْهَا، وَتَمَتُّعِهِ بِقُدْرَةٍ مُمْتَازَةٍ عَلَى الِانْتِقَاءِ.
Artinya: Hal pertama yang diperhatiin sama peneliti adalah jumlah buku yang dia ringkas yang jumlahnya lebih dari 50 buku. Kebanyakan itu buku-buku besar yang punya nilai penting bagi para pengkaji, dan dianggap sebagai salah satu buku terbaik di zamannya serta paling orisinal. Ini nunjukin kalo Adz-Dzahabi nguasain karya-karya pendahulunya, ngerti mana yang bagus dan orisinal, serta punya kemampuan luar biasa dalam milih (seleksi).
وَمِمَّا يُثِيرُ الِانْتِبَاهَ أَنَّ مُخْتَصَرَاتِ الذَّهَبِيِّ لَمْ تَكُنِ اخْتِصَارَاتٍ عَادِيَّةً يَغْلِبُ عَلَيْهَا الْجُمُودُ وَالنَّقْلُ، بَلْ إِنَّ الْمُطَّلِعَ عَلَيْهَا الدَّارِسَ لَهَا بِرُؤْيَةٍ وَإِمْعَانٍ يَجِدُ فِيهَا إِضَافَاتٍ كَثِيرَةً، وَتَعْلِيقَاتٍ نَفِيسَةً، وَاسْتِدْرَاكَاتٍ بَارِعَةً، وَتَصْحِيحَاتٍ وَتَصْوِيبَاتٍ لِمُؤَلِّفِ الْأَصْلِ إِذَا شَعَرَ بِوَهْمِهِ أَوْ غَلَطِهِ، وَمُقَارَنَاتٍ تَدُلُّ عَلَى مَعْرِفَتِهِ وَتَبَحُّرِهِ فِي فَنِّ الْكِتَابِ الْمُخْتَصَرِ؛ فَهُوَ اخْتِصَارٌ مَعَ سَدِّ نَقْصٍ وَتَحْقِيقٍ وَنَقْدٍ وَتَعْلِيقٍ وَتَدْقِيقٍ، وَهُوَ أَمْرٌ لَا يَتَأَتَّى إِلَّا لِلْبَاحِثِينَ الْبَارِعِينَ الَّذِينَ أُوتُوا بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَمَعْرِفَةً بِفُنُونِهِ.
Artinya: Yang menarik perhatian, ringkasan Adz-Dzahabi itu bukan ringkasan biasa yang kaku atau sekadar nukil. Siapa pun yang baca dengan teliti bakal nemuin banyak tambahan, komentar berharga, istidrak yang brilian, koreksi bagi penulis asli kalau dia ngerasa ada kekeliruan, serta perbandingan yang nunjukin luasnya ilmu dia di bidang ini. Itu ringkasan yang dibarengi ama usaha nutup kekurangan, tahqiq, kritik, komentar, dan ketelitian. Hal kayak gini cuma bisa dilakuin ama peneliti hebat yang dikasih keluasan ilmu.
وَالذَّهَبِيُّ حِينَ يُضِيفُ إِلَى الْكِتَابِ الْمُخْتَصَرِ يَشْعُرُ بِضَرُورَةِ ذَلِكَ لِسَدِّ نَقْصٍ يَعْتَرِي ذَلِكَ الْكِتَابَ. فَحِينَمَا اخْتَصَرَ - مَثَلاً - كِتَابَ «أَسَدِ الْغَابَةِ فِي مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ» لِعِزِّ الدِّينِ ابْنِ الْأَثِيرِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٠ هـ زَادَهُ مِنْ عِدَّةِ تَوَارِيخَ مِنْهَا: «تَارِيخِ الصَّحَابَةِ الَّذِينَ نَزَلُوا حِمْصَ» لِأَبِي الْقَاسِمِ عَبْدِ الصَّمَدِ ابْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٢٤ هـ، و«مُسْنَدِ» الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٢٤١ هـ، و«مُسْنَدِ» بَقِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٢٧٦ هـ، و«طَبَقَاتِ» ابْنِ سَعْدٍ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٢٣٠ هـ، و«تَارِيخِ دِمَشْقَ» لِابْنِ عَسَاكِرَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٧١ هـ، وَمِنْ كِتَابَاتِ ابْنِ سَيِّدِ النَّاسِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٤ هـ (١). وَقَالَ سِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ عِنْدَ كَلَامِهِ عَلَى اخْتِصَارِ الذَّهَبِيِّ «لِلْمُعْجَمِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى ذِكْرِ شُيُوخِ الْأَئِمَّةِ النُّبَلَاءِ» لِابْنِ عَسَاكِرَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٧١ هـ: «زَادَهُ فَوَائِدَ وَمَحَاسِنَ» (٢).
Artinya: Adz-Dzahabi nambahin isi kitab ringkasannya karena ngerasa perlu buat nutup kekurangan. Contohnya pas dia meringkas kitab «Asad al-Ghâbah fî Ma‘rifah ash-Shahâbah» karya Izzuddin Ibnu al-Atsir (w. 630 H), dia nambahin dari berbagai tarikh: «Tarîkh ash-Shahâbah alladzîna nazalû Himsh» karya al-Himshi (w. 324 H), «Musnad» Imam Ahmad (w. 241 H), «Musnad» Baqi bin Makhlad (w. 276 H), «Thabaqât» Ibnu Sa‘ad (w. 230 H), «Tarîkh Dimasyq» karya Ibnu ‘Asakir (w. 571 H), dan tulisan Ibnu Sayyidin Nâs (w. 734 H) (1). Sibt Ibnu Hajar pas bahas ringkasan Adz-Dzahabi atas kitab «al-Mu‘jam al-Musytamil ‘alâ Dzikri Syuyûkh al-A’immah an-Nubalâ’» karya Ibnu ‘Asakir bilang: «Dia (Adz-Dzahabi) nambahin faedah dan kebaikan ke dalamnya» (2).
وَيَجِدُ الْبَاحِثُ فِي مُخْتَصَرَاتِ الذَّهَبِيِّ تَعْلِيقَاتٍ نَفِيسَةً، وَمِنْ ذَلِكَ - مَثَلاً - مَا عَمِلَهُ فِي كِتَابِ «الْكَاشِفِ» الَّذِي اخْتَصَرَهُ مِنْ «تَهْذِيبِ الْكَمَالِ» لِأَبِي الْحَجَّاجِ الْمِزِّيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٢ هـ، فَعَلَى الرَّغْمِ مِنْ مُحَافَظَةِ الذَّهَبِيِّ عَلَى رُوحِ النَّصِّ الْأَصْلِيِّ، فَقَدْ بَثَّ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَنَشَرَ فِيهِ مِنْ عِلْمِهِ مَا جَعَلَهُ يَكَادُ يَكُونُ مُؤَلَّفاً مِنْ تَأْلِيفِهِ مُخَالِفاً لِلْأَصْلِ الْمُخْتَصَرِ مِنْهُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُمُورِ.
Artinya: Peneliti bakal nemuin komentar berharga dalam ringkasan Adz-Dzahabi, kayak yang dia lakuin di kitab «al-Kâsyif» yang diringkas dari «Tahdzîb al-Kamâl» karya al-Mizzi (w. 742 H). Meski Adz-Dzahabi tetep jaga ruh teks aslinya, dia masukin ruh dan ilmunya sendiri di sana, sampe kitab itu jadi hampir kayak karya asli dia sendiri, yang beda ama sumber aslinya dalam banyak hal.
وَآيَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ عَلَّقَ عَلَى آرَاءِ بَعْضِ أَئِمَّةِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ فِيهِ تَعْدِيلاً أَوْ إِبْطَالاً، كَمَا حَقَّقَ كَثِيراً مِنَ التَّرَاجِمِ وَزَادَهَا تَدْقِيقاً لَا نَجِدُهُ فِي الْأَصْلِ، فَضْلاً عَنْ بَيَانِ رَأْيِهِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الرُّوَاةِ عَلَى أُسُسٍ مِنْ دِرَاسَاتِهِ الْوَاسِعَةِ، وَخِبْرَتِهِ الْعَمِيقَةِ بِعِلْمِ الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيفِ مِمَّا حَدَا بِتَاجِ الدِّينِ السُّبْكِيِّ أَنْ يَصِفَ هَذَا الْمُخْتَصَرَ بِأَنَّهُ «كِتَابٌ نَفِيسٌ» (٣).
Artinya: Tandanya adalah dia ngasih komentar atas pendapat beberapa imam Jarh wa Ta‘dil, baik penyesuaian atau pembatalan. Dia juga neliti banyak biografi dan nambahin ketelitian yang nggak kita temuin di aslinya, di samping jelasin pendapat dia soal para perawi berdasarkan studinya yang luas dan pengalaman mendalam di bidang ilmu Hadits. Ini yang bikin Tajuddin as-Subki nyifatin ringkasan itu sebagai «Kitâb Nafîs» (kitab yang berharga) (3).
وَتَظْهَرُ بَرَاعَةُ الذَّهَبِيِّ فِي النَّقْدِ وَالتَّحْقِيقِ فِي كَثِيرٍ مِنْ هَذِهِ الْمُخْتَصَرَاتِ، فِيمَا ذَلِكَ - مَثَلاً - مَا ظَهَرَ فِي مُخْتَصَرِهِ لِكِتَابِ «الْمُسْتَدْرَكِ عَلَى الصَّحِيحَيْنِ» لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَاكِمِ النَّيْسَابُورِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٠٥ هـ الَّذِي قَصَدَ فِيهِ مُؤَلِّفُهُ أَنْ يُورِدَ أَحَادِيثَ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ مِمَّا لَمْ يَذْكُرَاهُ فِي صَحِيحَيْهِمَا، حَيْثُ يَتَبَيَّنُ لَنَا مِنْ مُطَالَعَةِ الْمُخْتَصَرِ وَتَعْلِيقَاتِ الذَّهَبِيِّ عَلَيْهِ وَتَخْرِيجَاتِهِ وَنَقْدِهِ أَنَّهُ لَمْ يُصَحِّحْ مِنْ أَحَادِيثِ الْكِتَابِ سِوَى النِّصْفِ، وَبَيَّنَ أَنَّ نِصْفَ النِّصْفِ الْآخَرَ يَصِحُّ سَنَدُهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ عِلَّةٌ، أَمَّا الرُّبْعُ الْأَخِيرُ فَهُوَ أَحَادِيثُ مَنَاكِيرُ وَوَاهِيَاتٌ لَا تَصِحُّ، بَلْ إِنَّ فِي بَعْضِهَا أَحَادِيثَ مَوْضُوعَةً (٤).
Artinya: Ketangkasan Adz-Dzahabi dalam kritik dan penelitian juga muncul dalam ringkasan «al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhain» karya al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H). Dari telaah ringkasan dan kritikan Adz-Dzahabi, jelas kalo dia cuma menshahihkan setengah dari hadits kitab itu. Setengah dari sisa sisanya dia bilang sanadnya shahih meski ada 'illah, dan seperempat terakhir adalah hadits munkar/lemah yang nggak shahih, bahkan ada yang maudhu' (4).
وَهَذَا يَعْنِي أَنَّ الذَّهَبِيَّ قَدْ أَعَادَ دِرَاسَةَ جَمِيعِ أَحَادِيثِ الْمُسْتَدْرَكِ مُجَدَّداً وَنَقَدَهَا، فَخَرَجَ بِهَذِهِ النَّتِيجَةِ. وَغَالِباً مَا يَقُومُ الذَّهَبِيُّ بِتَخْرِيجِ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي الْكُتُبِ الَّتِي يَقُومُ بِاخْتِصَارِهَا، فَغَالِبُ التَّخْرِيجِ فِي كِتَابِ «تَلْخِيصِ الْعِلَلِ الْمُتَنَاهِيَةِ فِي الْأَحَادِيثِ الْوَاهِيَةِ»، الَّذِي لَخَّصَهُ مِنْ كِتَابِ «الْعِلَلِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٩٧ هـ هُوَ مِنْ كَلَامِ الذَّهَبِيِّ (٥).
Artinya: Ini berarti Adz-Dzahabi ngulang lagi studi semua hadits di al-Mustadrak dan ngkritiknya. Adz-Dzahabi juga sering lakuin takhrij hadits dalam kitab yang dia ringkas. Contohnya, mayoritas takhrij dalam kitab «Talkhîsh al-‘Ilal al-Mutanâhiyah» yang dia ringkas dari karya Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) adalah dari perkataan Adz-Dzahabi sendiri (5).
وَلَمَّا اخْتَصَرَ الذَّهَبِيُّ كِتَابَ «السُّنَنِ الْكُبْرَى» لِلْبَيْهَقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٥٨هـ. تَكَلَّمَ عَلَى أَسَانِيدِ الْكِتَابِ بِنَفَائِسَ تَدُلُّ عَلَى تَبَحُّرِهِ بِهَذَا الْفَنِّ، وَوَضَعَ رُمُوزاً عَلَى الْحَدِيثِ لِمَنْ خَرَّجَهُ مِنْ أَصْحَابِ الصَّحِيحَيْنِ وَالسُّنَنِ الْأَرْبَعِ، وَخَرَّجَ الْأَحَادِيثَ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي هَذِهِ السِّتَّةِ. وَكَثِيراً مَا كَانَ الذَّهَبِيُّ يُخَرِّجُ تَرَاجِمَ الْكُتُبِ الَّتِي يَخْتَصِرُهَا فِي عِلْمِ الرِّجَالِ.
Artinya: Pas dia meringkas «as-Sunan al-Kubrâ» karya al-Baihaqi (w. 458 H), dia bahas sanad-sanadnya dengan mutiara ilmu yang nunjukin kedalamannya. Dia ngasih simbol pada hadits yang udah ditakhrij sama penulis kitab shahihain dan sunan empat, serta mentakhrij hadits yang nggak ada di enam kitab itu. Sering juga Adz-Dzahabi mentakhrij biografi dalam kitab-kitab rijal yang dia ringkas.
مِنْ ذَلِكَ - مَثَلاً - مَا عَمِلَهُ فِي اخْتِصَارِهِ لِتَارِيخِ ابْنِ الدُّبَيْثِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٧ هـ حَيْثُ زَادَ فِي كَثِيرٍ مِنْ تَرَاجِمِهِ وَلَا سِيَّمَا الرِّجَالِ الَّذِينَ أَخَذُوا عَنْ صَاحِبِ التَّرْجَمَةِ، وَهُوَ مَا أَغْفَلَهُ ابْنُ الدُّبَيْثِيِّ فِي «تَارِيخِهِ» (٦). كَمَا تَظْهَرُ مُقَارَنَاتٌ دَقِيقَةٌ بِالْكُتُبِ وَالتَّوَارِيخِ الَّتِي مِنْ بَابَتِهِ كَتَارِيخِ مُحِبِّ الدِّينِ ابْنِ النَّجَّارِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣ هـ الَّذِي ذَيَّلَ بِهِ عَلَى تَارِيخِ الْخَطِيبِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٦٣ هـ (٧)، و«وَفَيَاتِ الْأَعْيَانِ»، لِابْنِ خَلِّكَانَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٨١ هـ (٨)، و«التَّكْمِلَةِ لِوَفَيَاتِ النَّقَلَةِ» لِزَكِيِّ الدِّينِ الْمُنْذِرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٥٦ هـ (٩) وَغَيْرِهَا. أَوْ مِنْ كُتُبِ الشِّعْرِ كَكِتَابِ «الْخَرِيدَةِ» لِلْعِمَادِ الْأَصْبَهَانِيِّ الْقُرَشِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٩٦ هـ (١٠).
Artinya: Contohnya apa yang dia lakuin dalam ringkasan «Tarîkh» Ibnu ad-Dubaitsi (w. 637 H), dia nambahin banyak biografi, terutama para perawi yang ngambil ilmu dari tokoh yang dibahas, hal yang kelewat ama Ibnu ad-Dubaitsi (6). Terlihat juga perbandingan teliti ama kitab sejarah sejenis kayak «Tarîkh» Ibnu an-Najjar (w. 643 H) (7), «Wafayât al-A‘yân» karya Ibnu Khallikan (w. 681 H) (8), «at-Takmilah» karya al-Mundziri (w. 656 H) (9), atau kitab syair «al-Kharîdah» karya al-Ashbahani (w. 596 H) (10).
أَوْ مِنْ كِتَابَاتِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ أَخَذُوا عَنِ الْمُتَرْجَمِ لَهُ، مِثْلَ زَكِيِّ الدِّينِ الْبِرْزَالِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٦ هـ (١١)، وَفَخْرِ الدِّينِ ابْنِ الْبُخَارِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٠ هـ صَاحِبِ «الْمَشِيخَةِ» الْمَشْهُورَةِ (١٢)، وَشِهَابِ الدِّينِ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَبَرْقُوهِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠١ هـ (١٣)، وَضِيَاءِ الدِّينِ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣ هـ (١٤) وَغَيْرِهِمْ كَثِيرٍ.
Artinya: Atau dari tulisan ulama besar yang ngambil ilmu dari tokoh yang dibahas, kayak Zakiuddin al-Birzali (w. 636 H) (11), Fakhruddin Ibnu al-Bukhari (w. 690 H) pemilik «al-Masyîkhah» yang masyhur (12), Syihabuddin Ahmad bin Ishaq al-Abarquhi (w. 701 H) (13), Dhiyauddin al-Maqdisi (w. 643 H) (14), dan lainnya.
أَوْ مِنْ خُطُوطِ الْعُلَمَاءِ نَحْوَ قَوْلِهِ: «قَرَأْتُ بِخَطِّ ابْنِ قُدَامَةَ» (١٥). فَضْلاً عَمَّا أَضَافَ هُوَ مِنَ الْأَسَانِيدِ الَّتِي قَرَأَهَا عَلَى شُيُوخِهِ مِمَّا يَتَّصِلُ بِتِلْكَ التَّرَاجِمِ، وَهِيَ إِضَافَةٌ أَصِيلَةٌ لِلتَّرْجَمَةِ، فَهُوَ حِينَمَا يَقُولُ: «وَرَوَى لَنَا عَنْهُ بِمِصْرَ أَبُو الْمَعَالِي الْأَبَرْقُوهِيِّ» (١٦) أَوْ «رَوَى لَنَا عَنْهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنِ الظَّاهِرِيِّ وَأَبُو الْحُسَيْنِ الْيُونِينِيُّ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الدَّائِمِ وَمُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْإِرْبِلِيِّ . . . إِلَخْ» (١٧) فَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ هَؤُلَاءِ الشُّيُوخَ قَدْ أَخَذُوا عَنْ صَاحِبِ التَّرْجَمَةِ (١٨).
Artinya: Atau dari tulisan tangan ulama kayak perkataan dia: «Ane baca dengan tulisan tangan Ibnu Qudamah» (15). Belum lagi tambahan sanad yang dia baca di depan gurunya yang nyambung ama biografi itu, itu tambahan yang orisinal. Pas dia bilang: «Diriwayatkan buat kami darinya di Mesir, Abu al-Ma‘ali al-Abarquhi» (16) atau «Diriwayatkan buat kami darinya Abu al-‘Abbas Ibnu azh-Zhâhiri dan Abu al-Husain al-Yûnînî dan ‘Ali bin ‘Abdid Dâ’im dan Muhammad bin Yûsuf al-Irbili...» (17), artinya para guru ini emang ngambil ilmu dari tokoh yang dibahas (18).
وَمِنْ إِضَافَاتِهِ إِلَى تِلْكَ الْمُخْتَصَرَاتِ أَيْضاً تَوَارِيخُ وَفَيَاتِ الْمُتَرْجَمِينَ الَّذِينَ لَمْ يَذْكُرْ صَاحِبُ الْكِتَابِ الْأَصْلِيِّ وَفَيَاتِهِمْ. فَنَحْنُ نَعْلَمُ - مَثَلاً - أَنَّ ابْنَ الدُّبَيْثِيِّ لَمْ يَذْكُرْ وَفَاةَ أَحَدٍ مِمَّنْ ذَكَرَهُمْ فِي تَارِيخِهِ مِمَّنْ تَأَخَّرَتْ وَفَاتُهُ عَنْ سَنَةَ ٦٢١ هـ وَهِيَ السَّنَةُ الَّتِي حَدَّثَ ابْنُ الدُّبَيْثِيُّ فِيهَا بِتَارِيخِهِ وَالَّتِي تُمَثِّلُ آخِرَ إِخْرَاجٍ لَهُ (١٩)، فِي حِينِ أَنَّ وَفَيَاتِ بَعْضِهِمْ قَدْ تَأَخَّرَتْ إِلَى النِّصْفِ الثَّانِي مِنَ الْقَرْنِ السَّابِعِ الْهِجْرِيِّ، فَاستَخْرَجَ الذَّهَبِيُّ وَفَيَاتِهِمْ وَذَكَرَهَا لِيَكُونَ اخْتِصَارُهُ أَكْمَلَ وَلِتَكُونَ مَعْلُومَاتُ الْكِتَابِ أَتَمَّ (٢٠). يُضَافُ إِلَى ذَلِكَ أَنَّهُ يَرْوِي بَعْضَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةَ فِي هَذِهِ الْمُخْتَصَرَاتِ بِسَنَدِهِ إِذَا وَجَدَ مَجَالاً لِذَلِكَ (٢١).
Artinya: Termasuk tambahannya adalah tanggal wafat yang nggak disebutin sama penulis asli. Kita tahu Ibnu ad-Dubaitsi nggak nyebutin wafat tokoh setelah tahun 621 H (19), padahal sebagian ada yang wafat di paruh kedua abad ketujuh. Adz-Dzahabi nyari data wafatnya biar ringkasannya lebih lengkap (20). Ditambah lagi, dia sering meriwayatin hadits yang ada di ringkasan itu pake sanad dia sendiri kalau ada kesempatan (21).
==================== HALAMAN 51-55وَأَعَادَ الذَّهَبِيُّ تَنْظِيمَ بَعْضِ الْكُتُبِ الَّتِي اخْتَصَرَهَا، فَحِينَمَا اخْتَصَرَ كِتَابَ «الْكُنَى» لِأَبِي أَحْمَدَ الْحَاكِمِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٧٨ هـ أَعَادَ تَرْتِيبَهُ عَلَى حُرُوفِ الْمُعْجَمِ بَعْدَ أَنْ أَضَافَ إِلَيْهِ أَشْيَاءَ أُخْرَى مِمَّا لَيْسَ فِيهِ (٢٢).
Artinya: Adz-Dzahabi menata ulang sebagian kitab yang ia ringkas. Ketika ia meringkas kitab «Al-Kunâ» karya Abu Ahmad al-Hâkim yang wafat pada tahun 378 H, ia menata ulang susunannya berdasarkan huruf mu'jam, setelah ia menambahkan hal-hal lain ke dalamnya yang sebelumnya kagak ada di situ (22).
كَمَا رَتَّبَ «الْمُجَرَّدَ مِن تَهْذِيبِ الْكَمَالِ» عَلَى عَشْرِ طَبَقَاتٍ وَرَتَّبَ كُلَّ طَبَقَةٍ عَلَى حُرُوفِ الْمُعْجَمِ، فِي حِينِ كَانَ كِتَابُ «تَهْذِيبِ الْكَمَالِ» لِلْمِزِّيِّ مُرَتَّباً عَلَى حُرُوفِ الْمُعْجَمِ (٢٣).
Artinya: Begitu pula ia menyusun «Al-Mujarrad min Tahdzîb al-Kamâl» menjadi sepuluh thabaqat, dan ia menyusun tiap thabaqat berdasarkan huruf mu'jam, padahal kitab «Tahdzîb al-Kamâl» karya al-Mizzî sendiri sudah disusun berdasarkan huruf mu'jam (23).
وَقَدْ حَفِظْنَا مِن سِيَرَةِ الذَّهَبِيِّ أَنَّهُ عُنِيَ بِالْقِرَاءَاتِ وَدَرَسَهَا عَلَى كِبَارِ شُيُوخِ عَصْرِهِ مِنَ الْمُقْرِئِينَ الْمَشْهُورِينَ حَتَّى أَصْبَحَ «الْأُسْتَاذَ الثِّقَةَ الْكَبِيرَ» (٢٤) فِيهَا. وَذَكَرَ ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٤٢ هـ أَنَّهُ كَانَ «إِمَاماً فِي الْقِرَاءَاتِ» (٢٥).
Artinya: Ane dapet catetan dari riwayat hidup Adz-Dzahabi bahwasanya dia itu konsen banget ma Qira'at dan mempelajarinya dari para guru besar di zamannya dari kalangan ahli qira'at yang terkenal, sampe-sampe dia jadi «Al-Ustâdz as-Tsiqah al-Kabîr» (24) di bidang itu. Ibnu Nashiruddin yang wafat pada tahun 842 H nyebutin bahwa dia itu «Imâm di dalam Qira'at» (25).
لَكِنَّنَا نُلَاحِظُ فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ أَنَّهُ لَمْ يَتَخَرَّجْ عَلَيْهِ فِي الْقِرَاءَاتِ سِوَى عَدَدٍ قَلِيلٍ جِدّاً (٢٦) وَلَعَلَّ السَّبَبَ فِي ذَلِكَ يَعُودُ إِلَى أَنَّهُ عُنِيَ بِهَذِهِ النَّاحِيَةِ فِي مَطْلَعِ حَيَاتِهِ الْعِلْمِيَّةِ، ثُمَّ اتَّجَهَ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْحَدِيثِ وَالتَّارِيخِ وَغَيْرِهِمَا. وَلَمْ نَعْرِفْ مِنْ آثَارِهِ فِي هَذَا الْفَنِّ غَيْرَ كِتَابِ «التَّلْوِيحَاتِ فِي عِلْمِ الْقِرَاءَاتِ» (٢٧) وَكِتَابِ «مَعْرِفَةِ الْقُرَّاءِ الْكِبَارِ عَلَى الطَّبَقَاتِ وَالْأَعْصَارِ» الَّذِي هُوَ إِلَى كُتُبِ التَّرَاجِمِ أَقْرَبُ مِنْهُ إِلَى الْقِرَاءَاتِ وَإِنْ كَانَتْ مُحْتَوَيَاتُهُ غَالِباً مَا تَتَعَلَّقُ بِمَوْضُوعِ الْقِرَاءَاتِ.
Artinya: Namun, kita perhatiin di waktu yang sama, kagak banyak yang lulus darinya (murid) di bidang Qira'at selain jumlah yang sedikit banget (26). Mungkin alasannya karena dia konsen di bidang ini pas awal masa keilmuannya saja, terus setelah itu dia beralih ke Hadits, Sejarah, dan yang lainnya. Ane kagak nemu karya dia di bidang ini selain kitab «At-Talwîhât fî ‘Ilm al-Qirâ’ât» (27) dan kitab «Ma‘rifah al-Qurrâ’ al-Kibâr ‘alâ ath-Thabaqât wa al-A‘shâr» yang mana kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab biografi (tarâjim) daripada ke Qira'at, meskipun isinya kebanyakan berkaitan dengan bahasan Qira'at.
وَقَدْ شَهِدَ لَهُ ابْنُ الْجَزَرِيِّ بِالْإِحْسَانِ فِيهِ (٢٨)، لِذَلِكَ سَلَّخَهُ بِأَجْمَعِهِ فِي كِتَابِهِ «غَايَةِ النِّهَايَةِ» كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ فِي الْمُقَدِّمَةِ (٢٩)، وَوَصَفَهُ شَمْسُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ بِأَنَّهُ «كِتَابٌ حَافِلٌ» (٣٠). وَمَعَ كُلِّ ذَلِكَ فَإِنَّ هَذَا الْوَجْهَ مِنْ حَيَاةِ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةِ هُوَ أَضْعَفُ الْوُجُوهِ وَأَقَلُّهَا آثَاراً.
Artinya: Adz-Dzahabi dipuji oleh Ibnu al-Jazari atas kebaikannya dalam kitab tersebut (28), oleh karena itu ia menuangkannya secara keseluruhan ke dalam kitabnya «Ghâyah an-Nihâyah» sebagaimana ditegaskan dalam muqaddimah (29), dan Syamsuddin as-Sakhawi menyifatinya sebagai «Kitâb Hâfil» (kitab yang padat/berisi) (30). Bersama dengan semua itu, sisi kehidupan Adz-Dzahabi yang satu ini merupakan sisi yang paling lemah dan paling sedikit peninggalan karyanya.
عَلَى أَنَّ مَكَانَةَ الذَّهَبِيِّ الْعِلْمِيَّةَ وَبَرَاعَتَهُ تَظْهَرَانِ فِي أَحْسَنِ الْوُجُوهِ إِشْرَافاً وَأَكْثَرِهَا تَأَلُّقاً عِنْدَ دِرَاسَتِنَا لَهُ مُحَدِّثاً يُعْنَى بِهَذَا الْفَنِّ، فَقَدْ مَهَرَ الذَّهَبِيُّ فِي عِلْمِ الْحَدِيثِ وَجَمَعَ فِيهِ الْكُتُبَ الْكَثِيرَةَ «حَتَّى كَانَ أَكْثَرَ أَهْلِ عَصْرِهِ تَصْنِيفاً» (٣١).
Artinya: Akan tetapi, kedudukan Adz-Dzahabi yang ilmiah dan kepakarannya tampak pada sisi-sisi yang paling baik dan paling cemerlang saat kita mempelajarinya sebagai seorang Muhaddits yang konsen pada bidang ini. Adz-Dzahabi sangat ahli dalam ilmu Hadits dan mengumpulkan banyak kitab di dalamnya «sampai ia menjadi orang yang paling banyak karyanya di zamannya» (31).
وَقَدْ رَأَيْنَا إِقْبَالَهُ الْعَظِيمَ عَلَيْهِ وَشَرَهَهُ لِسَمَاعِهِ، وَذَاكَ الْعَدَدَ الضَّخْمَ مِنَ الشُّيُوخِ الَّذِينَ حَوَتْهُمْ مُعْجَمَاتُ شُيُوخِهِ الثَّلَاثَةِ، وَالْكُتُبِ، وَالْأَجْزَاءِ، وَالْمَجَامِيعِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي قَرَأَهَا عَلَى الشُّيُوخِ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ. وَقَدْ فَتَحَتْ لَهُ هَذِهِ الْمَعْرِفَةُ الْوَاسِعَةُ آفَاقاً عَظِيمَةً فِي هَذَا الْفَنِّ فَاخْتَصَرَ عَدَداً كَبِيراً مِنَ الْكُتُبِ، وَأَلَّفَ عَدَداً أَكْبَرَ يَسْتَبِينُهُ الْبَاحِثُ عِنْدَ إِلْقَائِهِ نَظْرَةً عَلَى قَائِمَةِ مُؤَلَّفَاتِهِ فِي هَذَا الْمَجَالِ.
Artinya: Kami melihat antusiasmenya yang luar biasa terhadap hadits dan hasratnya untuk mendengarkannya, serta jumlah besar para Syekh yang tercakup dalam tiga kitab Mu'jam Syuyukh miliknya, kitab-kitab, bagian-bagian (ajza'), dan kumpulan-kumpulan yang ia baca kepada para Syekh lebih dari satu kali. Pengetahuan yang luas ini membukakan baginya cakrawala yang besar di bidang ini, sehingga ia meringkas banyak sekali kitab, dan menulis kitab-kitab yang lebih banyak lagi, yang bisa dilihat oleh peneliti saat melirik daftar karya-karyanya di bidang ini.
كَمَا أَلَّفَ فِي مُصْطَلَحِ الْحَدِيثِ كُتُباً، وَخَرَّجَ التَّخَارِيجَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْأَرْبَعِينَاتِ، وَالثَّلَاثِينَاتِ، وَالْعَوَالِي، وَالْأَجْزَاءِ، وَمُعْجَمَاتِ الشُّيُوخِ، وَالْمَشِيخَاتِ، وَغَيْرَهَا مِمَّا فَصَّلْنَا الْقَوْلَ فِيهِ عِنْدَ كَلَامِنَا عَلَى آثَارِهِ (٣٢). وَمَعَ أَنَّ الذَّهَبِيَّ قَدْ عَاشَ فِي عَصْرٍ غَلَبَ عَلَيْهِ الْجُمُودُ وَالتَّلْخِيصُ فَإِنَّهُ قَدْ تَخَلَّصَ مِنْ ذَلِكَ بِفَضْلِ سَعَةِ دِرَاسَاتِهِ وَفِطْنَتِهِ.
Artinya: Ia juga menulis kitab-kitab dalam ilmu Mushthalah Hadits, dan mengeluarkan banyak takhrij dari kitab-kitab Arbainat, Tsalatsinat, 'Awali, Ajza', Mu'jam Syuyukh, Masyikhat, dan lainnya sebagaimana telah kami jelaskan secara rinci saat membicarakan karya-karyanya (32). Meskipun Adz-Dzahabi hidup di zaman yang didominasi oleh kejumudan dan sekadar meringkas, ia berhasil melepaskan diri dari hal itu berkat keluasan ilmu dan kecerdasannya.
قَالَ تِلْمِيذُهُ صَلَاحُ الدِّينِ الصَّفَدِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٦٤ هـ: «لَمْ أَجِدْ عِنْدَهُ جُمُودَ الْمُحَدِّثِينَ وَلَا كَوْدَنَةَ (٣٣) النَّقَلَةِ بَلْ هُوَ فَقِيهُ النَّظَرِ، لَهُ دُرْبَةٌ بِأَقْوَالِ النَّاسِ وَمَذَاهِبِ الْأَئِمَّةِ مِنَ السَّلَفِ وَأَرْبَابِ الْمَقَالَاتِ. وَأَعْجَبَنِي مِنْهُ مَا يُعَانِيهِ فِي تَصَانِيفِهِ مِنْ أَنَّهُ لَا يَتَعَدَّى حَدِيثاً يُورِدُهُ حَتَّى يُبَيِّنَ مَا فِيهِ مِنْ ضَعْفِ مَتْنٍ، أَوْ ظَلَامِ إِسْنَادٍ، أَوْ طَعْنٍ فِي رُوَاتِهِ، وَهَذَا لَمْ أَرَ غَيْرَهُ يُرَاعِي هَذِهِ الْفَائِدَةَ فِيمَا يُورِدُهُ» (٣٤).
Artinya: Muridnya, Shalahuddin ash-Shafadi yang wafat pada tahun 764 H berkata: «Ane kagak nemuin pada diri dia kejumudan para ahli hadits dan tidak pula kekakuan (33) orang-orang yang hanya memindahkan (naqalah), melainkan dia adalah orang yang fakih dalam berpikir, ia memiliki keahlian dalam memahami pendapat orang-orang, mazhab para imam dari kalangan Salaf, dan ahli pemikiran (maqalat). Ane takjub padanya dalam apa yang ia upayakan dalam karya-karyanya, ia tidak melewati satu hadits pun yang ia sebutkan melainkan ia jelaskan apa yang terkandung di dalamnya berupa kelemahan matan, kegelapan sanad, atau celaan pada perawinya, dan ane kagak ngeliat orang lain yang memperhatikan faedah ini dalam apa yang ia sebutkan» (34).
إِنَّ هَذِهِ الْبَرَاعَةَ فِي عِلْمِ الْحَدِيثِ، وَالتَّمَكُّنَ مِنْهُ ذَاكَ التَّمَكُّنَ، جَعَلَتِ الذَّهَبِيَّ يَنْطَلِقُ بَعْدَ ذَلِكَ يَجْرَحُ، وَيُعَدِّلُ، وَيُفَرِّعُ، وَيُصَحِّحُ، وَيُعَلِّلُ، وَيَسْتَدْرِكُ عَلَى كِبَارِ الْعُلَمَاءِ (٣٥)، «فَدَخَلَ فِي كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِهِ» عَلَى حَدِّ تَعْبِيرِ تِلْمِيذِهِ تَاجِ الدِّينِ السُّبْكِيِّ (٣٦)، حَتَّى أَطْلَقَ عَلَيْهِ مُعَاصِرُوهُ «مُحَدِّثَ الْعَصْرِ» (٣٧). وَبَلَغَ اعْتِرَافُ حَافِظِ عَصْرِهِ الْإِمَامِ ابْنِ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٥٢ هـ بِفَضْلِ الذَّهَبِيِّ وَبَرَاعَتِهِ إِلَى دَرَجَةِ أَنَّهُ شَرِبَ مَاءَ زَمْزَمَ سَائِلاً اللَّهَ أَنْ يَصِلَ إِلَى مَرْتَبَةِ الذَّهَبِيِّ فِي الْحِفْظِ وَفِطْنَتِهِ (٣٨).
Artinya: Kepakaran dalam ilmu Hadits ini, dan penguasaan yang sedemikian rupa, membuat Adz-Dzahabi setelah itu leluasa untuk men-jarh, men-ta'dil, men-tatri', men-tashih, men-ta'lil, dan mengoreksi para ulama besar (35), «ia masuk ke dalam setiap pintu dari pintu-pintu hadits» sesuai ungkapan muridnya, Tajuddin as-Subki (36), sampai-sampai orang-orang sezamannya menjulukinya «Muhadditsul 'Ashr» (37). Pengakuan hafizh di zamannya, Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani yang wafat pada tahun 852 H, terhadap keutamaan dan kepakaran Adz-Dzahabi sampai pada tingkatan bahwa ia meminum air zamzam seraya memohon kepada Allah agar bisa mencapai tingkatan Adz-Dzahabi dalam hafalan dan kecerdasannya (38).
وَمَفْهُومُ التَّارِيخِ عِنْدَ الذَّهَبِيِّ يَتَّصِلُ اتِّصَالاً وَثِيقاً بِالْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ وَعُلُومِهِ، وَيَظْهَرُ ذَلِكَ مِن كُتُبِ الرِّجَالِ الَّتِي يُطْلِقُ الذَّهَبِيُّ عَلَيْهَا اسْمَ «التَّارِيخِ». وَقَدْ أَصْبَحَ وَاضِحاً أَنَّ الْغَايَةَ الرَّئِيسَةَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِالرِّجَالِ أَتَى لِضَبْطِ الرُّوَاةِ أَوَّلاً (٣٩)، وَهُوَ مَا يَظْهَرُ فِي مُعْظَمِ مُقَدِّمَاتِ كُتُبِهِ فِي هَذَا الْفَنِّ، وَهُوَ مَفْهُومٌ سَادَ عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ الْمُؤَرِّخِينَ لَا سِيَّمَا فِي ذَلِكَ الْعَصْرِ (٤٠).
Artinya: Konsep sejarah menurut Adz-Dzahabi berkaitan erat dengan Hadits Nabawi dan ilmu-ilmunya, hal ini tampak dari kitab-kitab rijal yang oleh Adz-Dzahabi diberi nama «At-Târîkh». Telah menjadi jelas bahwa tujuan utama dari perhatian terhadap rijal adalah untuk meneliti para perawi terlebih dahulu (39), dan ini terlihat dalam sebagian besar muqaddimah kitab-kitabnya di bidang ini, sebuah konsep yang umum di kalangan muhadditsin ahli sejarah, terutama pada zaman itu (40).
وَعَلَى عِلْمِ الرِّجَالِ، وَعَلَى آثَارِ الذَّهَبِيِّ فِيهِ، قَامَتْ شُهْرَتُهُ الْوَاسِعَةُ بِاعْتِبَارِهِ مُؤَرِّخاً، كَمَا نَرَى. وَقَدْ خَلَّفَ الذَّهَبِيُّ فِي هَذَا الْفَنِّ عَدَداً ضَخْماً مِنَ الْآثَارِ ابْتَدَأَهَا بِاخْتِصَارِ أُمَّهَاتِ الْكُتُبِ الْمُؤَلَّفَةِ فِيهِ، كَالتَّوَارِيخِ الْمَحَلِّيَّةِ مِثْلَ «تَارِيخِ بَغْدَادَ» لِلْخَطِيبِ الْبَغْدَادِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٦٣ هـ، وَالذُّيُولِ عَلَيْهِ: لِابْنِ السَّمْعَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٦٢ هـ، وَابْنِ الدُّبَيْثِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٧ هـ وَابْنِ النَّجَّارِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٣ هـ. وَمِنْهَا أَيْضاً «تَارِيخُ دِمَشْقَ» لِابْنِ عَسَاكِرَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٧١ هـ، وَ«تَارِيخُ مِصْرَ» لِابْنِ يُونُسَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٤٧ هـ، وَ«تَارِيخُ نَيْسَابُورَ» لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ النَّيْسَابُورِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٠٥ هـ، وَ«تَارِيخُ خَوَارِزْمَ» لِابْنِ أَرْسَلَانَ الْخَوَارِزْمِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٦٨ هـ. وَمِن كُتُبِ الْوَفَيَاتِ: «التَّكْمِلَةُ لِوَفَيَاتِ النَّقَلَةِ» لِزَكِيِّ الدِّينِ الْمُنْذِرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٥٦ هـ وَصِلَتُهُ لِلْحُسَيْنِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٥ هـ.
Artinya: Berdasarkan ilmu Rijal dan karya-karya Adz-Dzahabi di dalamnya, ketenarannya yang luas sebagai sejarawan pun terbangun, sebagaimana yang kita lihat. Adz-Dzahabi meninggalkan karya yang sangat besar di bidang ini, ia memulainya dengan meringkas kitab-kitab induk yang ditulis di dalamnya, seperti tarikh lokal seperti «Tarikh Baghdad» karya al-Khatib al-Baghdadi yang wafat pada tahun 463 H, dan tambahan (dzuyul) atasnya: karya Ibnu as-Sam'ani yang wafat pada tahun 562 H, Ibnu ad-Dubaitsi yang wafat pada tahun 637 H, dan Ibnu an-Najjar yang wafat pada tahun 643 H. Di antaranya juga «Tarikh Dimasyq» karya Ibnu 'Asakir yang wafat pada tahun 571 H, «Tarikh Mishr» karya Ibnu Yunus yang wafat pada tahun 347 H, «Tarikh Naisabur» karya Abu Abdillah an-Naisaburi yang wafat pada tahun 405 H, dan «Tarikh Khawarizm» karya Ibnu Arsalan al-Khawarizmi yang wafat pada tahun 568 H. Dari kitab-kitab Wafayat: «At-Takmilah li Wafayât an-Naqalah» karya Zakiuddin al-Mundziri yang wafat pada tahun 656 H dan sambungannya karya al-Husaini yang wafat pada tahun 695 H.
وَمِن كُتُبِ الْأَنْسَابِ: كِتَابُ «الْأَنْسَابِ» لِأَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٦٢ هـ. وَمِن كُتُبِ الصَّحَابَةِ كِتَابُ «أُسْدِ الْغَابَةِ» لِابْنِ الْأَثِيرِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٠ هـ. وَمِن كُتُبِ رِجَالِ الصِّحَاحِ وَالسُّنَنِ مِثْلَ كِتَابِ «تَهْذِيبِ الْكَمَالِ فِي مَعْرِفَةِ الرِّجَالِ» لِأَبِي الْحَجَّاجِ الْمِزِّيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٢ هـ، وَالْمُعْجَمِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى أَسْمَاءِ شُيُوخِ الْأَئِمَّةِ النُّبَلِ، لِابْنِ عَسَاكِرَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٧١ هـ وَغَيْرَهَا (٤١). فَكَانَتْ هَذِهِ الْمُخْتَصَرَاتُ الْمَادَّةَ الرَّئِيسَةَ الَّتِي كَوَّنَتْ شَخْصِيَّتَهُ الْعِلْمِيَّةَ وَمَعْرِفَتَهُ بِالْعُصُورِ السَّابِقَةِ.
Artinya: Dari kitab-kitab Ansab: kitab «Al-Ansâb» karya Abu Sa'ad as-Sam'ani yang wafat pada tahun 562 H. Dari kitab-kitab tentang Sahabat kitab «Usd al-Ghâbah» karya Ibnu al-Atsir yang wafat pada tahun 630 H. Dari kitab-kitab Rijal Shahih dan Sunan seperti kitab «Tahdzîb al-Kamâl fî Ma'rifah ar-Rijâl» karya Abu al-Hajjaj al-Mizzi yang wafat pada tahun 742 H, dan «Al-Mu'jam» yang mencakup nama-nama Syekh para Imam yang mulia, karya Ibnu 'Asakir yang wafat pada tahun 571 H dan lain-lainnya (41). Maka ringkasan-ringkasan ini menjadi materi utama yang membentuk kepribadian ilmiahnya dan pengetahuannya tentang masa-masa sebelumnya.
أَمَّا تَرَاجِمُ الْمُعَاصِرِينَ فَيُعَدُّ الذَّهَبِيُّ مِن بَيْنِ أَحْسَنِ الَّذِينَ كَتَبُوا فِيهِمْ، وَقَدْ أَدْرَكَ أَهَمِّيَّةَ هَذَا الْأَمْرِ فَكَانَ كِتَابُهُ «الْمُعْجَمُ الْمُخْتَصُّ بِمُحَدِّثِي الْعَصْرِ» خَيْرَ دَلِيلٍ عَلَى ذَلِكَ. وَلَا عِبْرَةَ بَعْدَ ذَلِكَ بِمَنِ انْتَقَدَهُ لِتَنَاوُلِهِ التَّارِيخَ الْمُعَاصِرَ كَابْنِ الْوَرْدِيِّ (٤٢)، لِأَنَّ هَذَا هُوَ التَّارِيخُ الْأَكْثَرُ أَهَمِّيَّةً وَخَطَراً، وَهُوَ الَّذِي يُعْطِي الْمُؤَرِّخَ أَهَمِّيَّتَهُ الْبَالِغَةَ بَيْنَ الْمُؤَرِّخِينَ وَيُمَيِّزُهُ عَن غَيْرِهِ، وَهُوَ مِمَّا لَمْ يُدْرِكْهُ كَثِيرٌ مِنَ الْمَعْنِيِّينَ بِالتَّارِيخِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْوَرْدِيِّ.
Artinya: Adapun biografi orang-orang sezamannya, Adz-Dzahabi dianggap sebagai salah satu yang terbaik yang menulis tentang mereka, dan ia menyadari pentingnya hal ini sehingga kitabnya «Al-Mu'jam al-Mukhtash bi Muhadditsî al-'Ashr» menjadi bukti terbaik untuk hal tersebut. Tidak ada gunanya setelah itu kritikan orang yang mengkritiknya karena ia membahas sejarah kontemporer seperti Ibnu al-Wardi (42), karena inilah sejarah yang paling penting dan berisiko, dan hal inilah yang memberikan nilai penting bagi sejarawan di antara sejarawan lainnya dan membedakannya dari yang lain, hal yang tidak disadari oleh banyak orang yang berkecimpung di bidang sejarah, termasuk Ibnu al-Wardi.
لَقَدْ أَنْتَجَتْ هَذِهِ الْمَعْرِفَةُ الرَّجَالِيَّةُ الْوَاسِعَةُ مُؤَلَّفَاتٍ كَثِيرَةً لَعَلَّ مِنْ أَهَمِّهَا كِتَابَهُ الْعَظِيمَ «تَارِيخَ الْإِسْلَامِ وَوَفَيَاتِ الْمَشَاهِيرِ وَالْأَعْلَامِ» الَّذِي هُوَ إِلَى كُتُبِ التَّرَاجِمِ أَقْرَبُ مِنْهُ إِلَى التَّارِيخِ بِمَفْهُومِهِ الْحَدِيثِ، وَكِتَابَهُ النَّفِيسَ «سِيَرَ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» الَّذِي لَمْ يَتَضَمَّنْ غَيْرَ التَّرَاجِمِ، ثُمَّ ذَلِكَ الْعَدَدَ الضَّخْمَ مِنَ الْمُؤَلَّفَاتِ الَّتِي عَرَفْنَاهَا لَهُ.
Artinya: Pengetahuan rijal yang luas ini telah menghasilkan banyak karya yang mungkin salah satu yang terpenting adalah kitabnya yang agung «Tarikh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A'lâm» yang lebih dekat ke kitab-kitab tarajim (biografi) daripada sejarah dalam pengertian modern, dan kitabnya yang berharga «Siyar A'lâm an-Nubalâ'» yang tidak memuat selain tarajim, kemudian sejumlah besar karya-karya lain yang telah kita ketahui darinya.
=============== HALAMAN 56-61وَلَعَلَّ مِمَّا يُـمَيِّزُ الذَّهَبِيَّ عَن غَيْرِهِ مِن بَعْضِ مُؤَلِّفِي كُتُبِ الرِّجَالِ وَالتَّرَاجِمِ أَنَّهُ لَمْ يَقْتَصِرْ فِي تَأْلِيفِهِ عَلَى عَصْرٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ فِئَةٍ مُعَيَّنَةٍ، أَوْ تَنْظِيمٍ مُعَيَّنٍ، بَلْ تَنَاوَلَتْ مُؤَلَّفَاتُهُ رِجَالَ الْإِسْلَامِ مِن أَوَّلِ ظُهُورِهِ حَتَّى عَصْرِهِ، بَلْ لَهُ الْمُعَاصِرِينَ لَهُ.
Artinya: Barangkali hal yang ngebedain Adz-Dzahabi dari sebagian pengarang kitab-kitab Rijal dan Tarajim lainnya adalah beliau kagak membatasi karyanya pada zaman tertentu, atau golongan tertentu, atau organisasi tertentu. Malahan, karya-karya beliau ngebahas tokoh-tokoh Islam dari awal munculnya sampai zamannya, bahkan mencakup orang-orang yang semasa dengannya.
وَهُوَ فِي كِتَابَتِهِ لِلتَّرْجَمَةِ فَنَّانٌ مَلِيءٌ بِفَنِّ التَّرَاجِمِ يَجِدُ الْبَاحِثُ فِيهَا دِقَّةً مُتَنَاهِيَةً فِي التَّعْبِيرِ، وَحَبْكاً لِلتَّرْجَمَةِ تَشُدُّ الْقَارِئَ إِلَيْهَا مَعَ تَعَدُّدِ الْمَوَارِدِ وَانْتِقَاءِ لِأَفْضَلِهَا وَإِبْدَاءِ لِآرَائِهِ الشَّخْصِيَّةِ فِيهَا (٤٣).
Artinya: Dalam menulis tarjamah, beliau itu seniman yang jago banget soal seni tarajim. Peneliti bakal nemuin di dalamnya ketelitian yang pol banget dalam ngungkapin kalimat, dan susunan tarjamah yang bikin pembaca kepincut, padahal sumbernya banyak banget, beliau milih yang paling bagus, dan ngasih pendapat pribadi beliau di dalamnya (43).
وَقَدْ عَانَى الذَّهَبِيُّ كِتَابَةَ «السِّيرَةِ» وَهُوَ فَنٌّ خَاصٌّ لَهُ مُمَيِّزَاتُهُ الَّتِي تَجْعَلُهُ يَخْتَلِفُ عَن كِتَابَةِ «التَّرْجَمَةِ» الْمُجَرَّدَةِ، فَكَتَبَ فِي سِيَرِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَأَئِمَّةِ الْفِقْهِ، وَالْحَدِيثِ، وَغَيْرِهِم (٤٤).
Artinya: Adz-Dzahabi juga ngerjain penulisan "As-Sirah", sebuah seni penulisan khusus yang punya karakteristik yang ngebedain dari penulisan "Tarjamah" biasa. Beliau nulis sejarah Khulafaur Rasyidin, para imam fikih, hadits, dan selainnya (44).
وَمَعْرِفَةُ الذَّهَبِيِّ الْوَاسِعَةُ فِي الرِّجَالِ دَفَعَتْ تَاجَ الدِّينِ السُّبْكِيَّ الَّذِي انْتَقَدَهُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ إِلَى الْقَوْلِ: «إِنَّهُ كَانَ شَيْخَ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ وَرَجُلَ الرِّجَالِ، وَكَأَنَّمَا جُمِعَتِ الْأُمَّةُ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَنَظَرَهَا ثُمَّ أَخَذَ يُعَبِّرُ عَنْهَا إِخْبَارَ مَن حَضَرَهَا» (٤٥).
Artinya: Pengetahuan Adz-Dzahabi yang luas soal Rijal bikin Tajuddin As-Subki, yang walau pernah ngritik beliau di beberapa tempat, ngucap: "Beliau adalah syekhnya ilmu Jarh wa Ta'dil dan pakarnya para perawi. Seakan-akan umat dikumpulin di satu tempat, terus beliau ngeliatin mereka, lalu beliau ceritain kayak orang yang hadir langsung di sana" (45).
وَقَدِ ازْدَادَ شَأْنُهُ بَعْدَ عَصْرِهِ بِحَيْثُ اعْتُبِرَ هُوَ وَالْمِزِّيُّ مُؤَرِّخَيِ الْقَرْنِ الثَّامِنِ اللَّذَيْنِ لَا يُنَافِسُهُمَا أَحَدٌ (٤٦)، وَعَدَّهُ الْإِمَامُ السُّيُوطِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٩١١ هـ رَأْسَ طَبَقَةٍ ذَكَرَ فِيهَا الْقُطْبَ الْحَلَبِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٥ هـ وَابْنَ سَيِّدِ النَّاسِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٤ هـ وَشَمْسَ الدِّينِ الْمَقْدِسِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٤ هـ وَتَقِيَّ الدِّينِ السُّبْكِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٥٦ هـ وَعَلَمَ الدِّينِ الْبِرْزَالِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٩ هـ وَشِهَابَ الدِّينِ النَّابُلْسِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٥٨ هـ (٤٧)، وَهُم مَن أَعْلَامِ الْحُفَّاظِ الْمُؤَرِّخِينَ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمُحَدِّثِينَ فِي عَصْرِهِ عِيَالٌ فِي الرِّجَالِ وَغَيْرِهَا مِن فُنُونِ الْحَدِيثِ عَلَى أَرْبَعَةٍ أَحَدُهُمُ الذَّهَبِيُّ (٤٨).
Artinya: Kedudukan beliau makin tinggi setelah zamannya, sampai beliau dan Al-Mizzi dianggap sebagai dua sejarawan abad ke-8 yang kagak ada tandingannya (46). Imam As-Suyuthi (wafat 911 H) masukin beliau dalam satu thabaqah yang nyebutin Al-Quthb Al-Halabi (735 H), Ibnu Sayyidinnas (734 H), Syamsuddin Al-Maqdisi (744 H), Taqiyuddin As-Subki (756 H), Alamuddin Al-Birzali (739 H), dan Syihabuddin An-Nabulsi (758 H) (47). Mereka itu tokoh-tokoh Hafizh sejarawan. Beliau nyebutin bahwa ahli hadits di zaman itu dalam ilmu Rijal dan fan hadits lainnya "bergantung" pada empat orang, salah satunya Adz-Dzahabi (48).
وَمَعَ أَنَّ بَرَاعَةَ الذَّهَبِيِّ التَّارِيخِيَّةَ أَكْثَرَ مَا ظَهَرَتْ فِي الرِّجَالِ فَإِنَّهُ قَدْ دَرَّسَ التَّارِيخَ السِّيَاسِيَّ، وَاخْتَصَرَ عَدَداً مِنَ الْمُؤَلَّفَاتِ الرَّئِيسِيَّةِ فِيهِ مِثْلَ تَارِيخِ أَبِي شَامَةَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٦٥ هـ وَتَارِيخِ أَبِي الْفِدَاءِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٢ هـ وَغَيْرِهِمَا، وَأَفَادَ مِن مُعْظَمِ التَّوَارِيخِ الْمَعْرُوفَةِ فِي عَصْرِهِ وَدَرَسَهَا كَسِيرَةِ ابْنِ إِسْحَاقَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ١٥١ هـ وَتَوَارِيخِ: الطَّبَرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣١٠ هـ وَابْنِ الْأَثِيرِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٠ هـ وَابْنِ الْجَوْزِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٩٧ هـ وَغَيْرِهَا مِمَّا يَطُولُ تَعْدَادُهُ (٤٩).
Artinya: Walaupun kepiawaian sejarah Adz-Dzahabi paling nampak di bidang Rijal, beliau juga ngaji sejarah politik dan meringkas sejumlah karya utama, seperti sejarah Abu Syamah (wafat 665 H), sejarah Abu Al-Fida (732 H), dan selainnya. Beliau ngambil manfaat dari kebanyakan kitab sejarah yang dikenal di masanya dan mempelajarinya, seperti Sirah Ibnu Ishaq (151 H), dan tarikh-tarikh karya Ath-Thabari (310 H), Ibnu Al-Atsir (630 H), Ibnu Al-Jauzi (597 H), dan selainnya yang kalo disebutin bakal panjang banget (49).
وَقَدْ ظَهَرَتْ هَذِهِ الْكِتَابَاتُ فِي تَوَارِيخِهِ الْمُرَتَّبَةِ عَلَى الْحَوَادِثِ وَالْوَفَيَاتِ مِثْلَ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» وَ«الْعِبَرِ» وَ«دُوَلِ الْإِسْلَامِ» وَغَيْرِهَا، وَنَسْتَبِينُ مِن نِطَاقِ كِتَابَاتِهِ هَذِهِ أَنَّهُ كَانَ مُؤَرِّخاً جَوَّالَ الذِّهْنِيَّةِ اسْتَطَاعَ اسْتِيعَابَ عُصُورِ التَّارِيخِ الْإِسْلَامِيِّ مِن أَوَّلِ ظُهُورِهِ حَتَّى زَمَانِهِ الَّذِي كَتَبَ فِيهِ مُؤَلَّفَاتِهِ، وَهِيَ فَتْرَةٌ تَزِيدُ عَلَى السَّبْعَةِ قُرُونٍ، فَأَلَّفَ فِي كُلِّ هَذِهِ الْعُصُورِ بَعْدَ أَن دَرَسَهَا دِرَاسَةً عَمِيقَةً قَامَتْ عَلَى دِعَامَتَيْنِ رَئِيسِيَّتَيْنِ هُمَا: الرِّوَايَةُ الشَّفَوِيَّةُ وَالْكُتُبُ وَهَذَا أَمْرٌ لَمْ يَتَأَتَّ لِكَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ سَبَقُوهُ أَوْ عَاصَرُوهُ.
Artinya: Tulisan-tulisan ini muncul dalam kitab sejarah beliau yang disusun berdasarkan urutan peristiwa dan wafatnya tokoh, seperti "Tarikhul Islam", "Al-'Ibar", "Duwalul Islam", dan selainnya. Kita bisa liat dari lingkup tulisan beliau ini bahwa beliau adalah sejarawan yang pola pikirnya luas, mampu mencakup zaman sejarah Islam dari awal munculnya sampai zamannya beliau nulis karya-karyanya, yaitu masa yang lebih dari tujuh abad. Beliau nulis di setiap zaman ini setelah mempelajarinya dengan kajian mendalam yang berdiri di atas dua pilar utama: riwayat lisan dan kitab-kitab, dan ini perkara yang kagak bisa didapetin banyak ulama yang nyusul atau sezaman dengan beliau.
وَحِينَمَا كَتَبَ الذَّهَبِيُّ كِتَابَهُ «تَذْكِرَةَ الْحُفَّاظِ» وَرَتَّبَهُ عَلَى الطَّبَقَاتِ تَكَلَّمَ فِي نِهَايَةِ أَكْثَرِهَا عَلَى الْأَوْضَاعِ السِّيَاسِيَّةِ وَالثَّقَافِيَّةِ وَالِاقْتِصَادِيَّةِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تَنَاوَلَتْهُ فَأَجْمَلَ الْأَوْضَاعَ الْعَامَّةَ بِفِقَرَاتٍ قَلِيلَةٍ دَلَّتْ عَلَى سَعَةِ أَفْقِهِ التَّارِيخِيِّ وَقُدْرَتِهِ الْفَائِقَةِ عَلَى تَصْوِيرِ حِقْبَةٍ كَامِلَةٍ مِنَ الزَّمَنِ وَعَلَى امْتِدَادِ الْعَالَمِ الْإِسْلَامِيِّ الْمِتَرَامِي الْأَطْرَافِ بِعِبَارَةٍ وَجِيزَةٍ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَتَأَتَّى إِلَّا لِمَنِ اسْتَوْعَبَ الْعَصْرَ وَدَرَسَهُ دِرَاسَةً عَمِيقَةً بِحَيْثُ حَصَلَ لَهُ مِثْلُ هَذَا التَّصَوُّرِ وَالْفَهْمِ الْعَامِّ (٥٠).
Artinya: Ketika Adz-Dzahabi nulis kitab "Tadzkiratul Huffaz" dan menyusunnya berdasarkan thabaqat, beliau ngebahas di akhir kebanyakan thabaqat tersebut tentang kondisi politik, budaya, dan ekonomi di waktu yang dibahas. Beliau meringkas kondisi umum dalam beberapa paragraf yang nunjukin luasnya cakrawala sejarah beliau dan kemampuan hebatnya dalam nggambarin satu masa penuh dari zaman dan sepanjang dunia Islam yang luas dengan kalimat yang singkat. Ini perkara yang kagak bisa dilakuin kecuali bagi orang yang memahami zaman tersebut dan mempelajarinya dengan kajian mendalam sehingga bisa dapetin gambaran dan pemahaman umum seperti ini (50).
ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ الْمَعْرِفَةَ الرِّجَالِيَّةَ الْوَاسِعَةَ مَعَ مَا أُوتِيَ مِن ذَكَاءٍ وَإِدْرَاكٍ وَاسِعَيْنِ جَعَلَتْ مِنْهُ نَاقِداً رِجَالِيَّاً مَاهِراً، تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ مُؤَلَّفَاتُهُ فِي النَّقْدِ وَأُصُولِهِ وَالَّتِي مِن أَبْرَزِهَا كِتَابُهُ «مِيزَانُ الِاعْتِدَالِ فِي نَقْدِ الرِّجَالِ» الَّذِي اعْتَبَرَهُ مُعَاصِرُوهُ (٥١) وَمَن جَاءَ بَعْدَهُمْ (٥٢) مِن أَحْسَنِ كُتُبِهِ وَأَجَلِّهَا، وَقَدْ تَنَاوَلَ فِيهِ عَدَدَ كَبِيرٍ مِنَ الْحُفَّاظِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْمَعْنِيِّينَ بِالنَّقْدِ اسْتِدْرَاكاً وَتَعْقِيباً وَتَلْخِيصاً بِحَيْثُ قَالَ شَمْسُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ: «وَعُوِّلَ عَلَيْهِ مَن جَاءَ بَعْدَهُ» (٥٣).
Artinya: Kemudian, pengetahuan Rijal yang luas ini, disertai kecerdasan dan pemahaman yang luas yang dikaruniain ke beliau, ngejadikan beliau seorang kritikus perawi yang ahli. Hal itu dibuktiin sama karya-karya beliau dalam ilmu Naqd (kritik) dan ushulnya, yang paling menonjol adalah kitab "Mizanul I'tidal fi Naqdir Rijal", yang dianggap oleh orang-orang sezamannya (51) dan orang-orang setelahnya (52) sebagai kitab beliau yang paling bagus dan agung. Beliau ngebahas di dalamnya sejumlah besar Hafizh, ulama, dan orang-orang yang konsen di ilmu kritik, baik itu sebagai tambahan, tanggapan, maupun ringkasan, sampe-sampe Syamsuddin As-Sakhawi bilang: "Dan orang-orang setelah beliau mengandalkan kitab ini" (53).
وَلِلذَّهَبِيِّ الْتِفَاتَاتٌ بَارِعَةٌ فِي أُصُولِ النَّقْدِ؛ فَقَدْ أَلَّفَ رِسَالَةً فِي «ذِكْرِ مَن يُؤْتَمَنُ قَوْلُهُ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ» تَكَلَّمَ فِيهَا عَلَى أُصُولِ النَّقْدِ وَطَبَقَاتِ النُّقَّادِ وَكَيْفِيَّةِ أَخْذِ أَقْوَالِهِم (٥٤). وَأَوْرَدَ فِي مُقَدِّمَةِ «الْمِيزَانِ» عِبَارَاتِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ مِن أَعْلَى مَرَاتِبِهَا إِلَى أَدْنَاهَا وَبَيَّنَ مَدْلُولَاتِهَا فِي النَّقْدِ (٥٥)، وَهُوَ فِي كُتُبِهِ يَشْرَحُ بَعْضَ هَذِهِ الْأُصُولِ.
Artinya: Adz-Dzahabi punya perhatian yang cemerlang dalam ushul ilmu kritik. Beliau nulis risalah berjudul "Dzikru Man Yu'tamanu Qawluhu fil Jarhi wat Ta'dil", beliau ngebahas di dalamnya tentang ushul kritik, thabaqat para kritikus, dan cara ngambil ucapan-ucapan mereka (54). Beliau juga nyantumin di mukadimah "Al-Mizan" ungkapan-ungkapan Jarh wa Ta'dil dari tingkatan tertinggi sampe terendah dan ngejelasin maksudnya dalam ilmu kritik (55), dan beliau ngejelasin sebagian dari ushul ini dalam kitab-kitab beliau.
مِن ذَلِكَ مَثَلًا مَا ذَكَرَهُ فِي تَرْجَمَةِ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ الْكُوفِيِّ، قَالَ: «شِيعِيٌّ جَلْدٌ، وَلَكِنَّهُ صَدُوقٌ فَلَنَا صِدْقُهُ، وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ». وَقَدْ وَثَّقَهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَابْنُ مَعِينٍ، وَأَبُو حَاتِمٍ، وَأَوْرَدَهُ ابْنُ عَدِيٍّ، وَقَالَ: كَانَ غَالِياً فِي التَّشَيُّعِ. وَقَالَ السَّعْدِيُّ: زَائِغٌ مُجَاهِرٌ. فَلْقَائِلِ أَن يَقُولَ: كَيْفَ سَاغَ تَوْثِيقُ مُبْتَدِعٍ، وَحَدُّ الثِّقَةِ الْعَدَالَةُ وَالْإِتْقَانُ؟ فَكَيْفَ يَكُونُ عَدْلًا مَن هُوَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ؟ وَجَوَابُهُ أَنَّ الْبِدْعَةَ عَلَى ضَرْبَيْنِ: فَبِدْعَةٌ صُغْرَى كَغُلُوِّ التَّشَيُّعِ، أَو كَالتَّشَيُّعِ بِلَا غُلُوٍّ وَلَا تَحَرُّفٍ، فَهَذَا كَثِيرٌ فِي التَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِم مَعَ الدِّينِ وَالْوَرَعِ وَالصِّدْقِ، فَلَوْ رُدَّ حَدِيثُ هَؤُلَاءِ لَذَهَبَ جُمْلَةٌ مِنَ الْآثَارِ النَّبَوِيَّةِ، وَهَذِهِ مَفْسَدَةٌ بَيِّنَةٌ. ثُمَّ بِدْعَةٌ كُبْرَى كَالرَّفْضِ الْكَامِلِ وَالْغُلُوِّ فِيهِ، وَالْحَطِّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَالدُّعَاءِ إِلَى ذَلِكَ، فَهَذَا النَّوْعُ لَا يُحْتَجُّ بِهِم وَلَا كَرَامَةَ . . . وَلَمْ يَكُنْ أَبَانُ بْنُ تَغْلِبَ يَعْرِضُ لِلشَّيْخَيْنِ أَصْلًا، بَلْ قَدْ يَعْتَقِدُ عَلِيَّاً أَفْضَلَ مِنْهُمَا (٥٦).
Artinya: Di antara contohnya adalah apa yang beliau sebutin dalam biografi Aban bin Taghlib Al-Kufi, beliau berkata: "Seorang Syiah yang tangguh, akan tetapi dia jujur, maka bagi kita kejujurannya, dan bagi dia bid'ahnya." Beliau (Aban) telah dinyatakan tsiqah oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma'in, dan Abu Hatim. Ibnu 'Adi menyatakannya dan berkata: "Dia itu ghuluw (berlebihan) dalam Syiahnya." As-Sa'di berkata: "Dia itu menyimpang dan terang-terangan." Maka bagi yang bertanya: "Bagaimana bisa melegalkan men-tsiqahkan seorang mubtadi' (ahli bid'ah), padahal definisi tsiqah itu adalah adil dan itqan (teliti)? Bagaimana mungkin seorang yang ahli bid'ah itu dianggap adil?" Jawabannya bahwa bid'ah itu ada dua macam: Pertama, bid'ah sughra (kecil) seperti ghuluw dalam Syiah, atau Syiah tanpa ghuluw dan tanpa penyimpangan. Ini banyak terjadi pada kalangan Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in yang punya agama, wara', dan jujur. Jika hadits mereka ditolak, maka hilanglah banyak sekali atsar (riwayat) Nabawiyah, dan ini adalah kerusakan yang nyata. Kedua, bid'ah kubra (besar) seperti Rafidhah yang sempurna dan ghuluw di dalamnya, merendahkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, serta mengajak orang lain kepada hal itu, maka jenis ini tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak ada kehormatan bagi mereka... Dan Aban bin Taghlib sama sekali tidak pernah mencela dua Syekh (Abu Bakar dan Umar), bahkan dia mungkin meyakini Ali lebih utama dari keduanya (56).
وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ أَبِي نُعَيْمٍ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَصْبَهَانِيِّ: «أَحَدُ الْأَعْلَامِ صَدُوقٌ، تَكَلَّمَ فِيهِ بِلَا حُجَّةٍ، وَلَكِنَّ هَذِهِ عُقُوبَةٌ مِنَ اللَّهِ لِكَلَامِهِ فِي ابْنِ مَنْدَهْ بِهَوًى»، قَالَ الْخَطِيبُ: «رَأَيْتُ لِأَبِي نُعَيْمٍ أَشْيَاءَ يَتَسَاهَلُ فِيهَا، مِنْهَا أَنَّهُ يُطْلِقُ فِي الْإِجَازَةِ أَخْبَرَنَا وَلَا يُبَيِّنُ». وَقُلْتُ (يَعْنِي الذَّهَبِيَّ): «هَذَا مَذْهَبٌ رَآهُ أَبُو نُعَيْمٍ وَغَيْرُهُ، وَهُوَ ضَرْبٌ مِنَ التَّدْلِيسِ». وَكَلَامُ ابْنِ مَنْدَهْ فِي أَبِي نُعَيْمٍ فَظِيعٌ، لَا أُحِبُّ حِكَايَتَهُ، وَلَا أَقْبَلُ قَوْلَ كُلٍّ مِنْهُمَا فِي الْآخَرِ، لَا أَعْلَمُ لَهُمَا ذَنْباً أَكْثَرَ مِن رِوَايَتِهِمَا الْمَوْضُوعَاتِ سَاكِتَيْنِ عَنْهَا . . . قُلْتُ: كَلَامُ الْأَقْرَانِ بَعْضِهِم فِي بَعْضٍ لَا يُعْبَأُ بِهِ، لَاسِيَّمَا إِذَا لَاحَ لَكَ لِعَدَاوَةٍ أَوْ لِمَذْهَبٍ أَوْ لِحَسَدٍ، مَا يَنْجُو مِنْهُ إِلَّا مَن عَصَمَ اللَّهُ، وَمَا عَلِمْتُ أَنَّ عَصْراً سَلِمَ أَهْلُهُ مِن ذَلِكَ، سِوَى الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيقِينَ، وَلَوْ شِئْتُ لَسَرَدْتُ مِن ذَلِكَ كَرَارِيسَ، اللَّهُمَّ فَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ» (٥٧).
Artinya: Beliau (Adz-Dzahabi) berkata dalam biografi Abu Nu'aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani: "Salah satu tokoh, jujur, namun dikritik tanpa hujjah. Akan tetapi ini adalah hukuman dari Allah atas ucapannya terhadap Ibnu Mandah karena hawa nafsu." Al-Khatib berkata: "Aku melihat Abu Nu'aim melakukan hal-hal yang tasahul (meremehkan), di antaranya dia mutlak menyebutkan 'telah mengabarkan kepada kami' dalam ijazah tanpa menjelaskan." Aku (Adz-Dzahabi) katakan: "Ini adalah madzhab yang dipegang Abu Nu'aim dan selainnya, dan itu adalah salah satu bentuk tadlis." Ucapan Ibnu Mandah terhadap Abu Nu'aim itu keji, aku tidak suka menceritakannya, dan aku tidak menerima perkataan keduanya terhadap satu sama lain. Aku tidak mengetahui dosa bagi mereka berdua yang lebih besar daripada meriwayatkan hadits-hadits maudhu' (palsu) dengan diam saja... Aku katakan: Perkataan teman sejawat terhadap satu sama lain tidak perlu digubris, terutama jika terlihat karena permusuhan, perbedaan madzhab, atau hasad. Tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali orang yang dijaga oleh Allah, dan aku tidak mengetahui satu zaman pun yang penduduknya selamat dari hal itu, selain para Nabi dan Shiddiqin. Kalau aku mau, aku bisa menceritakan berlembar-lembar catatan tentang itu. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (57).
وَلَمْ يَكُنِ الذَّهَبِيُّ لِيَصْدُرَ اتِّبَاعاً لِآرَاءِ الْآخَرِينَ فِي النَّقْدِ فَهْوَ يُخَالِفُهُمْ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ حِينَ لَا يَجِدُ لِآرَائِهِم مِن سَنَدٍ قَوِيٍّ يُؤَيِّدُهَا؛ فَمِن ذَلِكَ - مَثَلًا - مَا جَاءَ فِي تَرْجَمَةِ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ الْجُهَنِيِّ، أَحَدِ التَّابِعِينَ، وَهُوَ الَّذِي تَكَلَّمَ فِيهِ أَبُو يَعْقُوبَ الْفَسَوِيُّ فِي «تَارِيخِهِ» وَذَكَرَ أَنَّ فِي حَدِيثِهِ خَلَلًا كَبِيرًا، فَقَالَ: «وَلَا عِبْرَةَ بِكَلَامِ الْفَسَوِيِّ» (٥٨)، وَأَوْرَدَ فِي «مِيزَانِ الِاعْتِدَالِ» مَآخِذَ الْفَسَوِيِّ عَلَيْهِ وَرَدَّ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: «فَهَذَا الَّذِي اسْتَنْكَرَهُ الْفَسَوِيُّ مِن حَدِيثِهِ مَا سُبِقَ إِلَيْهِ، وَلَوْ فَتَحْنَا هَذِهِ الْوَسَاوِسَ عَلَيْنَا لَرَدَدْنَا كَثِيراً مِنَ السُّنَنِ الثَّابِتَةِ بِالْوَهْمِ الْفَاسِدِ» (٥٩)، وَالْمِيزَانُ مَلِيءٌ بِمِثْلِ هَذِهِ النَّقَدَاتِ لَا مَجَالَ لِتَكْثِيرِ الْأَمْثِلَةِ مِنْهَا. بَلْ وَجَدْنَاهُ يُؤَلِّفُ كِتَابَيْنِ، يَرُدُّ فِيهِمَا عَلَى جُمْلَةٍ مِن عُلَمَاءِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ هُمَا: «رِسَالَةٌ فِي الرُّوَاةِ الثِّقَاتِ الْمُتَكَلَّمِ فِيهِم بِمَا لَا يُوجِبُ رَدَّهُمْ»، وَكِتَابُ «مَن تَكَلَّمَ فِيهِ وَهُوَ مُوَثَّقٌ».
Artinya: Adz-Dzahabi bukanlah orang yang asal mengikuti pendapat orang lain dalam ilmu kritik, beliau terkadang berbeda pendapat dengan mereka jika tidak menemukan sandaran kuat yang mendukung pendapat mereka. Contohnya apa yang termaktub dalam biografi Zaid bin Wahb Al-Juhani, salah satu Tabi'in, yang dikritik oleh Abu Ya'qub Al-Fasawi dalam "Tarikh"-nya dan disebutkan ada kerusakan besar dalam haditsnya, maka beliau (Adz-Dzahabi) berkata: "Tidak ada pelajaran dari perkataan Al-Fasawi" (58). Beliau juga mencantumkan di "Mizanul I'tidal" kritikan Al-Fasawi kepadanya dan membantahnya, kemudian berkata: "Ini yang diingkari oleh Al-Fasawi dari haditsnya, tidak ada yang mendahuluinya dalam hal itu, dan seandainya kita membuka pintu was-was ini, niscaya kita akan menolak banyak sunnah yang tsabit (valid) karena persangkaan yang rusak" (59). Kitab Al-Mizan penuh dengan kritikan seperti ini, tidak ada ruang untuk memperbanyak contohnya. Bahkan kami mendapati beliau mengarang dua kitab yang di dalamnya beliau membantah sebagian ulama Jarh wa Ta'dil, yaitu: "Risalah fir Ruwatits Tsiqatil Mutakallami fihim bima la yujibu raddahum" dan kitab "Man Tukullima fihi wa Huwa Muwats-tsaq".
وَلَمْ يَقْتَصِرْ نَقْدُ الذَّهَبِيِّ عَلَى الرِّجَالِ حَسْبُ، بَلْ تَعَدَّى ذَلِكَ إِلَى نَقْدِ الْمَوَارِدِ الَّتِي يُطَالِعُهَا أَوْ يَخْتَصِرُهَا أَوْ يَأْخُذُ مِنْهَا، وَهُوَ مَا يُعْرَفُ الْيَوْمَ بِنَقْدِ الْمَصَادِرِ؛ مِن ذَلِكَ مَثَلًا نَقْدُهُ لِكِتَابِ «الضُّعَفَاءِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٩٧ هـ الَّذِي اخْتَصَرَهُ وَذَيَّلَ عَلَيْهِ، فَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ أَبَانَ بْنِ يَزِيدَ الْعَطَّارِ: «قَدْ أَوْرَدَهُ أَيْضاً الْعَلَّامَةُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي «الضُّعَفَاءِ» وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ أَقْوَالَ مَن وَثَّقَهُ. وَهَذَا مِن عُيُوبِ كِتَابِهِ يَسْرُدُ الْجَرْحَ وَيَسْكُتُ عَنِ التَّوْثِيقِ» (٦٠). وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ حَفْصِ ابْنِ غِيَاثٍ مِنَ الْمِيزَانِ: «وَقَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ: لَا يُعْرَفُ لَهُ حَالٌ وَلَا يُعْرَفُ. قُلْتُ: لَمْ أَذْكُرْ هَذَا النَّوْعَ فِي كِتَابِي هَذَا؛ فَإِنَّ ابْنَ الْقَطَّانِ يَتَكَلَّمُ فِي كُلِّ مَن لَمْ يَقُلْ فِيهِ إِمَامٌ عَاصَرَ ذَاكَ الرَّجُلَ أَوْ أَخَذَ عَمَّن عَاصَرَهُ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى عَدَالَتِهِ. وَهَذَا شَيْءٌ كَثِيرٌ، فَفِي الصَّحِيحَيْنِ مِن هَذَا النَّمَطِ خَلْقٌ كَثِيرٌ مَسْتُورُونَ، مَا ضَعَّفَهُمْ أَحَدٌ وَلَا هُم بِمَجَاهِيلَ» (٦١). وَانْتَقَدَ الذَّهَبِيُّ كِتَابَ «الضُّعَفَاءِ» لِأَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْعُقَيْلِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٢٢ هـ لِإِيرَادِهِ بَعْضَ الثِّقَاتِ وَمِنْهُمْ حَافِظُ عَصْرِهِ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٢٣٤ هـ فَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ ابْنِ الْمَدِينِيِّ مِنَ الْمِيزَانِ: «ذَكَرَهُ الْعُقَيْلِيُّ فِي كِتَابِ الضُّعَفَاءِ، فَبِئْسَ مَا صَنَعَ» وَرَدَّ عَلَيْهِ حِينَمَا نَقَلَ قَوْلَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: «كَانَ أَبِي حَدَّثَنَا عَنْهُ، ثُمَّ أَمْسَكَ عَنِ اسْمِهِ . . . ثُمَّ تَرَكَ حَدِيثَهُ»، بِقَوْلِهِ: «بَلْ حَدِيثُهُ عَنْهُ فِي مُسْنَدِهِ» وَهَذَا رَدٌّ مُفْحِمٌ مِنَ الذَّهَبِيِّ بَلْ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ: «وَهَذَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْبُخَارِيُّ - وَنَاهِيكَ بِهِ - قَدْ شَحَنَ صَحِيحَهُ بِحَدِيثِ ابْنِ الْمَدِينِيِّ» (٦٢).
Artinya: Kritikan Adz-Dzahabi tidak terbatas pada perawi saja, melainkan berlanjut hingga mengkritik sumber-sumber yang beliau baca, ringkas, atau ambil darinya, dan inilah yang dikenal hari ini sebagai kritik sumber (sumber kritik). Contohnya adalah kritikan beliau terhadap kitab "Adh-Dhu'afa" karya Ibnu Al-Jauzi (wafat 597 H) yang beliau ringkas dan beri catatan kaki, beliau berkata dalam biografi Aban bin Yazid Al-'Aththar: "Seorang 'allamah Ibnu Al-Jauzi juga menyebutkannya dalam 'Adh-Dhu'afa' dan tidak menyebutkan ucapan orang yang men-tsiqahkannya. Ini termasuk aib dalam kitabnya, dia memaparkan jarh (kritikan) dan diam terhadap ta'dil (pujian/tsiqah)" (60). Beliau juga berkata dalam biografi Hafsh bin Ghiyats dalam kitab Al-Mizan: "Ibnu Al-Qaththan berkata: Tidak diketahui keadaannya. Aku katakan: Aku tidak menyebutkan jenis ini dalam kitabku ini; karena Ibnu Al-Qaththan berbicara tentang setiap orang yang tidak disebutkan oleh imam yang sezaman dengan pria itu atau mengambil dari orang yang sezamannya yang menunjukkan keadilannya. Ini adalah hal yang banyak, dalam Ash-Shahihain banyak sekali orang dari kelompok ini yang mastur (tidak dikenal keadaan pribadinya), tidak ada yang men-dha'ifkan mereka dan mereka bukan orang yang majhul (tidak dikenal)" (61). Adz-Dzahabi juga mengkritik kitab "Adh-Dhu'afa" karya Abu Ja'far Muhammad bin 'Amr Al-'Uqaili (wafat 322 H) karena memasukkan sebagian perawi tsiqah, di antaranya adalah Hafizh di zamannya, Ali bin Al-Madini (wafat 234 H), maka beliau berkata dalam biografi Ibnu Al-Madini dalam Al-Mizan: "Al-'Uqaili menyebutkannya dalam kitab Adh-Dhu'afa, alangkah buruk apa yang dia lakukan" dan membantahnya ketika dia mengutip ucapan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal: "Ayahku biasa menyampaikan hadits kepada kami darinya, kemudian dia menahan diri menyebut namanya... kemudian dia meninggalkan haditsnya", dengan berkata: "Bahkan haditsnya darinya ada dalam Musnad-nya", dan ini adalah bantahan telak dari Adz-Dzahabi. Bahkan beliau berkata setelah itu: "Dan ini Abu Abdullah Al-Bukhari -cukuplah bagimu dia- telah memenuhi kitab Shahih-nya dengan hadits Ibnu Al-Madini" (62).
وَلَا يَقْتَصِرُ الذَّهَبِيُّ عِنْدَ نَقْدِ الْكُتُبِ عَلَى إِيرَادِ مَسَاوِئِهَا، بَلْ كَثِيراً مَا يَذْكُرُ مَحَاسِنَهَا وَمُمَيِّزَاتِهَا؛ فَقَدْ سَبَقَ أَن قَالَ إِنَّ كِتَابَ الْعُقَيْلِيِّ مُفِيدٌ (٦٣)، وَقَالَ عَن كِتَابِ «الْكَامِلِ» لِابْنِ عَدِيٍّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٦٥ هـ: «إِنَّهُ أَكْمَلُ الْكُتُبِ وَأَجَلُّهَا فِي ذَلِكَ» (٦٤)، وَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ الدَّارَقُطْنِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٨٥ هـ: «وَإِذَا شِئْتَ أَن تَتَبَيَّنَ بَرَاعَةَ هَذَا الْإِمَامِ الْفَرْدِ فَطَالِعِ الْعِلَلَ لَهُ فَإِنَّكَ تَنْدَهَشُ وَيَطُولُ تَعَجُّبُكَ» (٦٥).
Artinya: Adz-Dzahabi tidak membatasi diri saat mengkritik kitab-kitab dengan hanya menyebutkan keburukan-keburukannya, bahkan seringkali beliau menyebutkan kebaikan dan keistimewaannya; sebelumnya telah disebutkan bahwa beliau berkata kitab Al-'Uqaili itu bermanfaat (63), dan beliau berkata tentang kitab "Al-Kamil" karya Ibnu 'Adi (wafat 365 H): "Sesungguhnya itu adalah kitab yang paling lengkap dan paling agung dalam bidang tersebut" (64), dan beliau berkata dalam biografi Ad-Daraquthni (wafat 385 H): "Dan jika engkau ingin mengetahui kepiawaian imam yang tiada banding ini, maka bacalah kitab 'Al-'Ilal' karyanya, niscaya engkau akan kagum dan kekagumanmu akan menjadi panjang" (65).
================== HALAMAN 62-72وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَيْضاً أَنَّ الذَّهَبِيَّ قَدْ عَانَى النَّقْدَ فِي تَأْلِيفٍ خَاصَّةً رَدَّ بِهَا عَلَى كُتُبٍ مُعَيَّنَةٍ، فَقَدْ أَلَّفَ كِتَاباً فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ الْقَطَّانِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٢٨ هـ (٦٦). كَمَا أَلَّفَ كِتَابَ «مَن تَكَلَّمَ فِيهِ وَهُوَ مُوَثَّقٌ» رَدَّ بِهِ عَلَى جُمْلَةٍ مِن كُتُبِ الضُّعَفَاءِ كَمَا بَيَّنَّا.
Artinya: Kami juga mengetahui bahwa Adz-Dzahabi sangat serius dalam melakukan kritik secara tertulis, khususnya bantahan yang beliau tulis terhadap kitab-kitab tertentu. Beliau menulis kitab sebagai bantahan terhadap Ibnu Al-Qaththan (wafat 628 H) (66). Beliau juga menulis kitab "Man Tukullima fihi wa Huwa Muwats-tsaq" sebagai bantahan terhadap sekumpulan kitab-kitab Adh-Dhu'afa sebagaimana yang telah kami jelaskan.
وَبِسَبَبِ هَذَا الَّذِي قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ مِن بَرَاعَةِ الذَّهَبِيِّ فِي النَّقْدِ وَالتَّمَكُّنِ مِنْهُ، فَقَدْ أَصْبَحَ «شَيْخَ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ» كَمَا ذَكَرَ تَاجُ الدِّينِ السُّبْكِيُّ (٦٧). وَقَالَ ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٤٢ هـ: «نَاقِدُ الْمُحَدِّثِينَ وَإِمَامُ الْمُعَدِّلِينَ وَالْمُجَرِّحِينَ . . . وَكَانَ آيَةً فِي نَقْدِ الرِّجَالِ، عُمْدَةً فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ» (٦٨)، وَقَالَ شَمْسُ الدِّينِ السَّخَاوِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٩٠٢ هـ: «وَهُوَ مِن أَهْلِ الِاسْتِقْرَاءِ التَّامِّ فِي نَقْدِ الرِّجَالِ» (٦٩)، فَأَصْبَحَتْ أَقْوَالُ الذَّهَبِيِّ فِيمَن يُتَرْجَمُ لَهُمْ تُعْتَبَرُ عِنْدَ النُّقَّادِ وَالْمُؤَرِّخِينَ الَّذِينَ جَاءُوا بَعْدَهُ أَقْصَى حُدُودِ الِاعْتِبَارِ، وَظَهَرَتْ بِصُورَةٍ جَلِيَّةٍ فِي الْمُؤَلَّفَاتِ الَّتِي كُتِبَتْ بَعْدَ عَصْرِهِ، وَلَا سِيَّمَا فِي مُؤَلَّفَاتِ مُؤَرِّخِ الْقَرْنِ التَّاسِعِ وَحَافِظِهِ ابْنِ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٥٢ هـ (٧٠).
Artinya: Disebabkan oleh kepiawaian Adz-Dzahabi dalam kritik yang telah kami sebutkan di depan serta penguasaannya dalam bidang tersebut, beliau menjadi "Syaikhul Jarh wat Ta'dil" sebagaimana disebutkan oleh Tajuddin As-Subki (67). Ibnu Nashiruddin (wafat 842 H) berkata: "Kritikus para ahli hadits dan imam para ahli ta'dil dan jarh... beliau adalah mukjizat dalam kritik perawi, rujukan dalam jarh wa ta'dil" (68). Syamsuddin As-Sakhawi (wafat 902 H) berkata: "Beliau termasuk ahli istiqra' yang sempurna dalam kritik perawi" (69). Maka perkataan Adz-Dzahabi mengenai para perawi yang diterjemahkan menjadi rujukan tertinggi bagi para kritikus dan sejarawan yang datang setelahnya, dan hal itu terlihat jelas dalam karya-karya yang ditulis setelah zaman beliau, terutama dalam karya-karya sejarawan abad kesembilan dan hafidznya, Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) (70).
وَتُطَالِعُنَا عِنْدَ قِرَاءَةِ كُتُبِ الذَّهَبِيِّ الْعَدِيدُ مِنَ الْأَمْثِلَةِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى قُوَّتِهِ فِي الْبَحْثِ وَالِاسْتِدْلَالِ، وَمُنَاقَشَةِ آرَاءِ الْغَيْرِ بِرُوحٍ عِلْمِيٍّ يَعْتَمِدُ الدَّلِيلَ وَالْإِقْنَاعِ، مِن ذَلِكَ - مَثَلًا - مُنَاقَشَةُ لِمَن اتَّهَمَ الْحَافِظَ أَبَا حَاتِمٍ مُحَمَّدَ بْنَ حِبَّانَ الْبُسْتِيَّ التَّمِيمِيَّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٥٤ هـ بِالزَّنْدَقَةِ لِقَوْلِهِ: «إِنَّ النُّبُوَّةَ هِيَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ»، وَمَا تَبِعَ ذَلِكَ مِن كِتَابَةِ الْخَلِيفَةِ أَمْراً بِقَتْلِهِ لِهَذَا السَّبَبِ، قَالَ الذَّهَبِيُّ: «وَهَذَا أَيْضاً لَهُ مَحْمَلٌ حَسَنٌ وَلَمْ يَرِدْ حَصْرَ الْمُبْتَدَأِ بِالْخَبَرِ، وَمَثَلُهُ: الْحَجُّ عَرَفَةُ. فَمَعْلُومٌ أَنَّ الرَّجُلَ لَا يَصِيرُ حَاجّاً بِمُجَرَّدِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ، وَإِنَّمَا ذُكِرَ مُهِمُّ الْحَجِّ، وَمُهِمُّ النُّبُوَّةِ؛ إِذْ أَكْمَلُ صِفَاتِ النَّبِيِّ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ نَبِيّاً إِلَّا أَنْ يَكُونَ عَالِماً عَامِلًا. نَعَمْ، النُّبُوَّةُ مَوْهِبَةٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِمَن اصْطَفَاهُ مِن أُولِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ لَا حِيلَةَ لِلْبَشَرِ فِي اكْتِسَابِهَا أَبَداً، وَبِهَا يَتَوَلَّدُ الْعِلْمُ النَّافِعُ الصَّالِحُ، وَلَا رَيْبَ أَنَّ إِطْلَاقَ مَا نُقِلَ عَن أَبِي حَاتِمٍ لَا يَسُوغُ، وَذَلِكَ نَفَسٌ فَلْسَفِيٌّ» (٧١). وَمِنَ الْأَمْثِلَةِ الطَّرِيفَةِ أَيْضاً مُنَاقَشَةُ لِمَسْأَلَةِ مَعْرِفَةِ النَّبِيِّ ﷺ الْكِتَابَةَ، فَقَالَ فِي تَرْجَمَةِ الْحَافِظِ الْعَلَّامَةِ أَبِي الْوَلِيدِ سُلَيْمَانَ بْنِ خَلَفٍ الْبَاجِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٧٤ هـ: «وَلَمَّا تَكَلَّمَ أَبُو الْوَلِيدِ فِي حَدِيثِ الْكِتَابَةِ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ الَّذِي فِي الْبُخَارِيِّ قَالَ بِظَاهِرِ لَفْظِهِ، فَأَنْكَرَ عَلَيْهِ الْفَقِيهُ أَبُو بَكْرِ ابْنِ الصَّائِغِ وَكَفَّرَهُ بِإِجَازَةِ الْكَتْبِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ - النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَأَنَّهُ تَكْذِيبٌ بِالْقُرْآنِ، فَتَكَلَّمَ فِي ذَلِكَ مَن لَمْ يَفْهَمِ الْكَلَامَ حَتَّى أَطْلَقُوا عَلَيْهِ الْفِتْنَةَ وَقَبَّحُوا عِنْدَ الْعَامَّةِ مَا أَتَى بِهِ خُطَبَاؤُهُم فِي الْجُمْعِ وَقَالَ شَاعِرُهُمْ: بِرِئْتُ مِمَّن شَرَى دُنْيَا بِآخِرَةٍ وَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَد كَتَبَا. وَصَنَّفَ أَبُو الْوَلِيدِ رِسَالَةً بَيَّنَ فِيهَا أَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ قَادِحٍ فِي الْمُعْجِزَةِ فَرَجَعَ بِهَا جَمَاعَةٌ».
Artinya: Saat membaca kitab-kitab Adz-Dzahabi, kita menemukan banyak contoh yang menunjukkan kekuatannya dalam meneliti dan berdalil, serta diskusi pendapat orang lain dengan semangat ilmiah yang mengandalkan bukti dan argumentasi. Contohnya, diskusi mengenai tuduhan terhadap Al-Hafizh Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti At-Tamimi (wafat 354 H) dengan tuduhan zindiq karena perkataannya: "Sesungguhnya kenabian itu adalah ilmu dan amal", dan apa yang menyusul dari tindakan Khalifah yang memerintahkan pembunuhannya karena alasan tersebut. Adz-Dzahabi berkata: "Ini juga memiliki penafsiran yang baik dan tidak bermaksud membatasi mubtada' dengan khabar, contohnya: Haji itu Arafah. Maka diketahui bahwa seseorang tidak menjadi haji hanya dengan wukuf di Arafah, namun yang disebutkan adalah inti dari haji, dan inti dari kenabian; karena sifat Nabi yang paling sempurna adalah ilmu dan amal, dan tidaklah seseorang menjadi Nabi kecuali ia adalah orang yang berilmu dan beramal. Ya, kenabian adalah pemberian dari Allah Ta'ala bagi siapa saja yang dipilih-Nya dari kalangan yang memiliki ilmu dan amal, tidak ada daya bagi manusia untuk memperolehnya selamanya, dan dengannya lahirlah ilmu yang bermanfaat lagi shalih, dan tidak diragukan bahwa ungkapan yang dinukil dari Abu Hatim tidak dibenarkan, dan itu adalah gaya pemikiran filosofis" (71). Di antara contoh yang menarik juga adalah diskusi mengenai masalah pengetahuan Nabi ﷺ tentang menulis, beliau berkata dalam biografi Al-Hafizh Al-'Allamah Abu Walid Sulaiman bin Khalaf Al-Baji (wafat 474 H): "Ketika Abu Walid berbicara tentang hadits penulisan pada hari Hudaibiyah yang ada dalam Bukhari, dia berkata sesuai dhohir lafadznya, maka diingkari oleh Al-Faqih Abu Bakar Ibnu Ash-Sha'igh dan dia mengkafirkannya karena memperbolehkan penulisan atas Rasulullah ﷺ - Nabi yang Ummi dan itu adalah pendustaan terhadap Al-Qur'an, maka orang yang tidak memahami pembicaraan itu ikut berbicara hingga mereka menyalakan fitnah dan menjelekkan di hadapan orang awam apa yang disampaikan oleh khatib mereka di hari Jum'at dan penyair mereka berkata: Aku berlepas diri dari orang yang membeli dunia dengan akhirat dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah telah menulis. Maka Abu Walid menyusun risalah yang di dalamnya menjelaskan bahwa hal itu tidaklah menciderai mukjizat, maka sekelompok orang pun rujuk (kembali) karenanya."
قُلْتُ: «مَا كُلُّ مَن عَرَفَ أَن يَكْتُبَ اسْمَهُ فَقَطْ يَخَارِجُ عَن كَوْنِهِ أُمِّياً لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى كَاتِباً. وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْمُلُوكِ قَدْ أَدْمَنُوا فِي كِتَابَةِ الْعَلَّامَةِ وَهُم أُمِّيُّونَ، وَالْحُكْمُ لِلْغَلَبَةِ لَا لِلصُّورَةِ النَّادِرَةِ، فَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ» أَيْ أَكْثَرُهُمْ كَذَلِكَ لِدَوْرِ الْكِتَابَةِ فِي الصَّحَابَةِ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ﴾ (٧٢). وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مُعَقِّباً عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَيْضاً: «قُلْتُ: وَمَا الْمَانِعُ مِن جَوَازِ تَعَلُّمِ النَّبِيِّ ﷺ - يَسِيرَ الْكِتَابَةِ بَعْدَ أَن كَانَ أُمِّياً لَا يَدْرِي مَا الْكِتَابَةُ، فَلَعَلَّهُ لِكَثْرَةِ مَا أَمْلَى عَلَى كُتَّابِ الْوَحْيِ وَكُتَّابِ السُّنَنِ وَالْكُتُبِ إِلَى الْمُلُوكِ عَرَفَ مِن الْخَطِّ وَفَهِمَهُ وَكَتَبَ الْكَلِمَةَ وَالْكَلِمَتَيْنِ كَمَا كَتَبَ اسْمَهُ الشَّرِيفَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، وَلَيْسَتْ كِتَابَتُهُ لِهَذَا الْقَدْرِ الْيَسِيرِ مَا يُخْرِجُهُ مِن كَوْنِهِ أُمِّياً كَثِيرُ مِنَ الْمُلُوكِ أُمِّيُّونَ وَيَكْتُبُونَ الْعَلَامَةَ» (٧٣). وَمِثْلُ هَذَا كَثِيرٌ فِي كُتُبِ الذَّهَبِيِّ.
Artinya: Aku katakan: "Tidaklah setiap orang yang tahu menulis namanya saja lantas keluar dari statusnya sebagai orang ummi, karena dia tidak disebut sebagai penulis (katib). Sekelompok raja terbiasa menulis tanda (tanda tangan) padahal mereka ummi, dan hukum itu diambil berdasarkan keumuman, bukan berdasarkan kasus yang jarang terjadi. Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi', artinya kebanyakan mereka demikian karena peran menulis di kalangan sahabat, dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka'" (72). Beliau berkata di tempat lain mengomentari masalah ini juga: "Aku katakan: Dan apa penghalangnya dari kemungkinan Nabi ﷺ mempelajari sedikit penulisan setelah beliau tadinya ummi, tidak tahu apa itu tulisan. Mungkin karena banyaknya beliau mendiktekan kepada para penulis wahyu, penulis sunnah, dan surat-surat kepada para raja, beliau mengenali tulisan dan memahaminya, serta menulis satu atau dua kata sebagaimana beliau menulis nama mulianya pada hari Hudaibiyah 'Muhammad bin Abdullah'. Penulisan beliau untuk kadar yang sedikit ini tidaklah mengeluarkannya dari status sebagai orang ummi, banyak raja yang ummi namun mereka bisa menuliskan tanda" (73). Contoh seperti ini banyak terdapat dalam kitab-kitab Adz-Dzahabi.
وَقَدْ حَفِظْنَا مِن سِيرَةِ الذَّهَبِيِّ أَنَّهُ كَانَ سَلَفِيَّ الْعَقِيدَةِ قَدْ أَثَّرَتْ فِيهِ الْبِيئَةُ الدِّمَشْقِيَّةُ وَصُحْبَتُهُ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَةَ. وَمَعَ أَنَّ الذَّهَبِيَّ لَمْ يَكُنْ مُتَحَمِّساً لِلْخَوْضِ فِي مَضَايِقِ الْعَقَائِدِ وَيُعْتَبَرُ السُّكُوتَ فِيهَا أَوْلَى وَأَسْلَمَ (٧٤)، لَكِنَّهُ فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ أَبْدَى آرَاءَهُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَوَاضِعِ، وَأَلَّفَ فِيهَا. وَقَدِ اعْتَبَرَ «الِاعْتِزَالَ بِدْعَةً» (٧٥) وَهَاجَمَ الْفَلَاسِفَةَ الْيُونَانِيِّينَ هُجُوماً عَنِيفاً (٧٦). وَكَانَ عَلَى غَايَةٍ مِنَ الْإِعْجَابِ بِأَعْمَالِ السُّلَّفِ وَإِنْجَازَاتِهِم (٧٧)، وَاهْتَمَّ اهْتِمَاماً كَبِيراً بِذِكْرِ أَخْبَارِ الْعُلَمَاءِ فِي الْمِحْنَةِ الَّتِي أُصِيبُوا بِهَا حِينَمَا أَعْلَنَ الْمَأْمُونُ النَّاسَ الْقَوْلَ بِخَلْقِ الْقُرْآنِ، وَبَيَّنَ مَوَاقِفَهُمُ الْجَرِيئَةَ مِن هَذَا الْأَمْرِ (٧٨).
Artinya: Kami telah mengetahui dari biografi Adz-Dzahabi bahwa beliau berakidah Salafiyyah yang dipengaruhi oleh lingkungan Damaskus dan persahabatannya dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meskipun Adz-Dzahabi tidak terlalu antusias untuk masuk ke dalam kerumitan aqidah dan menganggap diam di dalamnya adalah yang lebih utama dan lebih selamat (74), namun pada saat yang sama beliau mengutarakan pendapatnya dalam banyak tempat, dan menulis tentangnya. Beliau menganggap "Mu'tazilah itu bid'ah" (75) dan menyerang para filsuf Yunani dengan serangan yang keras (76). Beliau sangat mengagumi karya-karya Salaf dan pencapaian mereka (77), serta memberikan perhatian besar dalam menyebutkan kabar para ulama di masa Mihnah yang menimpa mereka ketika Al-Ma'mun memaksa manusia untuk menyatakan Al-Qur'an itu makhluk, dan beliau menjelaskan keberanian sikap mereka terhadap perkara ini (78).
لَقَدِ اخْتَصَرَ الذَّهَبِيُّ عَدَداً مِنَ الْكُتُبِ الْمُهِمَّةِ فِي الْعَقَائِدِ مِنْهَا - مَثَلًا - كِتَابُ «الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ» وَكِتَابُ «الْقَدَرِ» اللَّذَانِ لِلْبَيْهَقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٥٨ هـ، وَكِتَابُ «الْفَارُوقِ فِي الصِّفَاتِ» لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ الْأَنْصَارِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٨١ هـ، وَكِتَابُ «مِنْهَاجِ الِاعْتِدَالِ فِي نَقْضِ كَلَامِ أَهْلِ الرَّفْضِ وَالِاعْتِزَالِ» لِرَفِيقِهِ وَشَيْخِهِ تَقِيِّ الدِّينِ ابْنِ تَيْمِيَةَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٢٨ هـ.
Artinya: Adz-Dzahabi telah meringkas sejumlah kitab penting dalam masalah aqidah, di antaranya sebagai contoh: kitab "Al-Ba'ts wan Nusyur" dan kitab "Al-Qadar" karya Al-Baihaqi (wafat 458 H), kitab "Al-Faruq fis Shifat" karya Syaikhul Islam Al-Anshari (wafat 481 H), serta kitab "Minhajul I'tidal fi Naqdhi Kalam Ahlir Rafdhi wal I'tizal" karya rekan sekaligus gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah (wafat 728 H).
وَخَلَّفَ الذَّهَبِيُّ عَدَداً مِنَ الْآثَارِ فِي هَذَا الْعِلْمِ مِنْهَا كِتَابُ «الْكَبَائِرِ وَبَيَانِ الْمَحَارِمِ» وَكِتَابُ «الْأَرْبَعِينَ فِي صِفَاتِ رَبِّ الْعَالَمِينَ» وَكِتَابُ «الْعَرْشِ» وَكِتَابُ مَسْأَلَةِ الْوَعِيدِ، وَغَيْرَهَا. وَلَعَلَّ مِن أَشْهَرِهَا كِتَابَهُ الْمَعْرُوفَ «الْعُلُوِّ لِلْعَلِيِّ الْغَفَّارِ» الَّذِي يُعَدُّ أَوْسَعَ هَذِهِ الْكُتُبِ وَأَكْثَرَهَا شُهْرَةً (٧٩). بَحَثَ الذَّهَبِيُّ الْعَقَائِدَ عَلَى طَرِيقَةِ السَّلَفِ مِن أَهْلِ الْحَدِيثِ، فَكَانَتِ الْمَادَّةُ الرَّئِيسَةُ الَّتِي تُكَوِّنُ هَذِهِ الْكُتُبَ وَالْأَدِلَّةَ الْمُسْتَعْمَلَةَ فِيهَا مِنَ الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ الشَّرِيفَةِ (٨٠).
Artinya: Adz-Dzahabi juga meninggalkan sejumlah karya dalam ilmu ini, di antaranya kitab "Al-Kaba'ir wa Bayanil Mahariim", kitab "Al-Arba'in fi Shifati Rabbil 'Alamin", kitab "Al-'Arsy", kitab mengenai masalah Al-Wa'id, dan lain-lain. Mungkin yang paling masyhur di antaranya adalah kitab beliau yang dikenal dengan "Al-'Uluw lil 'Aliyyil Ghaffar" yang dianggap sebagai kitab beliau yang paling luas dan paling terkenal (79). Adz-Dzahabi membahas aqidah dengan metode Salaf dari kalangan ahli hadits, sehingga materi utama yang menyusun kitab-kitab tersebut serta dalil-dalil yang digunakan di dalamnya berasal dari hadits-hadits Nabawi yang mulia (80).
وَقَدِ انْتُقِدَ الذَّهَبِيُّ مِن قِبَلِ مُخَالِفِيهِ عَلَى تَأْلِيفِهِ لِبَعْضِ هَذِهِ الْكُتُبِ وَاعْتِقَادِهِ مِثْلَ هَذِهِ الْعَقَائِدِ، فَقَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ زَاهِدُ الْكَوْثَرِيُّ عَن كِتَابِ «الْعُلُوِّ»: «وَلَوْ لَمْ يُؤَلِّفْهُ لَكَانَ أَحْسَنَ لَهُ فِي دِينِهِ وَسُمْعَتِهِ لِأَنَّ فِيهِ مَأْخَذَ كَثِيرَةٍ»، وَقَدْ شُهِرَ عَنِ الذَّهَبِيِّ أَنَّهُ كَانَ شَافِعِيَّ الْفُرُوعِ حَنْبَلِيَّ الْمُعْتَقَدِ (٨١).
Artinya: Adz-Dzahabi dikritik oleh pihak-pihak yang berbeda pendapat dengannya atas penulisan sebagian kitab-kitab tersebut dan aqidah yang diyakininya. Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari berkata tentang kitab "Al-'Uluw": "Seandainya beliau tidak menulisnya, tentu itu lebih baik bagi agama dan reputasinya karena di dalamnya terdapat banyak kritikan". Telah masyhur tentang Adz-Dzahabi bahwa beliau adalah penganut mazhab Syafi'i dalam cabang (fiqih) dan Hambali dalam aqidah (81).
وَلَمْ يُشْتَهَرِ الذَّهَبِيُّ بِوَصْفِهِ فَقِيهاً أَوْ عَالِماً بِالْفِقْهِ مَعَ أَنَّهُ دَرَسَهُ عَلَى أَعْلَامِ الْعَصْرِ آنَذَاكَ مِثْلَ الشَّيْخِ كَمَالِ الدِّينِ ابْنِ الزَّمْلَكَانِيِّ، وَبِرْهَانِ الدِّينِ الْفَزَارِيِّ، وَكَمَالِ الدِّينِ ابْنِ قَاضِي شُهْبَةَ، وَغَيْرِهِم (٨٢). وَقَدْ أَلَّفَ فِي أُصُولِهِ، وَعُنِيَ بِاخْتِصَارِ كِتَابِ «الْمُحَلَّى» لِابْنِ حَزْمٍ (٨٣)، وَأَلَّفَ عَدَداً مِنَ الْكُتُبِ وَالْأَجْزَاءِ الَّتِي تَنَاوَلَتْ مَوْضُوعَاتٍ فِقْهِيَّةً، وَكَانَتِ لَهُ خَوَاطِرُ وَآرَاءُ وَنِقَادَاتٌ جَاءَتْ فِي ثَنَايَا كُتُبِهِ، مِن ذَلِكَ مَثَلًا كَلَامُهُ فِي مَسْأَلَةِ الطَّلَاقِ وَمُنَاقَشَتُهُ لِابْنِ تَيْمِيَةَ (٨٤). وَهُوَ كَغَيْرِهِ مِن عُلَمَاءِ الْحَنَابِلَةِ يَعْتَبِرُ الْقُرْآنَ وَالْحَدِيثَ هُمَا أَسَاسَ الْفِقْهِ، وَيَظْهَرُ مَفْهُومُ الْفِقْهِ عِنْدَ الذَّهَبِيِّ وَاضِحاً فِي بَيْتَيْنِ مِنَ الشِّعْرِ لَهُ ذَكَرَهُمَا غَيْرُ وَاحِدٍ مِمَّن تَرْجَمَ لَهُ وَهُمَا:
Artinya: Adz-Dzahabi tidaklah masyhur sebagai seorang ahli fiqih atau 'alim dalam bidang fiqih, meskipun beliau telah mempelajarinya dari tokoh-tokoh besar masa itu seperti Syaikh Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani, Burhanuddin Al-Fazari, Kamaluddin Ibnu Qadhi Syuhbah, dan lain-lain (82). Beliau menyusun karya dalam bidang ushul fiqih, perhatian terhadap peringkasan kitab "Al-Muhalla" karya Ibnu Hazm (83), serta menyusun sejumlah kitab dan juz' yang membahas masalah-masalah fiqih. Beliau juga memiliki pemikiran, pendapat, dan kritik yang tersebar dalam karya-karyanya, di antaranya sebagai contoh adalah perkataan beliau mengenai masalah talak dan diskusinya dengan Ibnu Taimiyah (84). Sebagaimana ulama Hanabilah lainnya, beliau menganggap Al-Qur'an dan Hadits sebagai dasar fiqih, dan pemahaman fiqih menurut Adz-Dzahabi nampak jelas dalam dua bait syair beliau yang disebutkan oleh banyak orang yang menulis biografi beliau:
الْفِقْهُ قَالَ اللَّهُ قَالَ رَسُولُهُ ... إِنْ صَحَّ وَالْإِجْمَاعُ فَاجْهَدْ فِيهِ
وَحَذَارِ مِن نَصْبِ الْخِلَافِ جَهَالَةً ... بَيْنَ النَّبِيِّ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيهِ(٨٥)
Artinya: Fiqih itu adalah firman Allah, sabda Rasul-Nya ... jika haditsnya shahih, dan ijma', maka bersungguh-sungguhlah di dalamnya.
Dan waspadalah dari membuat perselisihan karena kebodohan ... antara Nabi dan pendapat seorang ahli fiqih.(85)
وَهَذَا الَّذِي قَدَّمْنَاهُ لَا يَعْنِي أَنَّ الذَّهَبِيَّ لَمْ يَكُنْ عَارِفاً بِالْفِقْهِ، لَكِنَّهُ كَانَ عَزُوفاً عَنْهُ لِانْشِغَالِهِ بِالْحَدِيثِ وَرِوَايَتِهِ الَّذِي هُوَ الْأَصْلُ الثَّانِي لِلْفِقْهِ بَعْدَ الْكِتَابِ الْعَزِيزِ، قَالَ ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٤٢ هـ: «لَهُ دُرِّيَّةٌ بِمَذَاهِبِ الْأَئِمَّةِ وَأَرْبَابِ الْمَقَالَاتِ قَائِماً بَيْنَ الْخَلْفِ يَنْشُرُ السُّنَّةَ وَمَذْهَبَ السَّلَفِ» (٨٦).
Artinya: Hal yang telah kami paparkan ini tidak berarti bahwa Adz-Dzahabi tidak mengetahui fiqih, namun beliau cenderung meninggalkannya karena kesibukannya dengan hadits dan periwayatannya, yang merupakan dasar kedua bagi fiqih setelah Kitabullah yang mulia. Ibnu Nashiruddin (wafat 842 H) berkata: "Beliau memiliki pemahaman yang dalam tentang mazhab-mazhab para imam dan para pengikut pemikiran, berdiri di tengah orang-orang yang datang belakangan untuk menyebarkan Sunnah dan mazhab Salaf" (86).
وَلُغَةُ الذَّهَبِيِّ فِي كُتُبِهِ لُغَةٌ جَيِّدَةٌ قِيَاسِيَّةٌ بِالْعَصْرِ الَّذِي عَاشَ فِيهِ، وَيَكْفِي أَنَّنَا قَلَّمَا وَجَدْنَا لَهُ لَحْناً فِي كُتُبِهِ. وَهُوَ بِاعْتِبَارِهِ مُحَدِّثاً كَبِيراً وَنَاقِداً مَاهِراً دَقِيقٌ فِي تَعَابِيرِهِ، لِمَا لِذَلِكَ مِن أَهَمِّيَّةٍ فِي وَضْعِ الْكَلِمَةِ الْمُنَاسِبَةِ أَوِ الْعِبَارَةِ فِي مَوْضِعِهَا الْمُلَائِمِ لَا سِيَّمَا فِي تَحْبِيرِ التَّرَاجِمِ، فَضْلاً عَن أُسْلُوبِهِ السَّلِسِ الْمُمْتِعِ لِمَن أَدْمَنَ قِرَاءَةَ مِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ.
Artinya: Bahasa Adz-Dzahabi dalam kitab-kitabnya adalah bahasa yang baik dan sesuai dengan standar zaman beliau hidup, cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa jarang sekali kita menemukan kesalahan tata bahasa (lahn) dalam kitab-kitab beliau. Sebagai seorang muhaddits besar dan kritikus yang mahir, beliau sangat teliti dalam ungkapan-ungkapannya, karena hal itu sangat penting dalam menempatkan kata yang tepat atau kalimat pada posisi yang sesuai, terutama dalam menulis biografi, apalagi dengan gaya bahasanya yang halus dan menyenangkan bagi siapa saja yang terbiasa membaca kitab-kitab seperti ini.
وَقَدْ عُنِيَ الذَّهَبِيُّ فِي مَطْلَعِ حَيَاتِهِ الْعِلْمِيَّةِ بِرِوَايَةِ الشِّعْرِ وَأَوْرَدَ طَائِفَةً مِنَ الْأَشْعَارِ عَن شُيُوخِهِ (٨٧). وَذَكَرَتْ لَنَا مَصَادِرُ تَرْجَمَتِهِ بَعْضاً مِن نَظْمِهِ فِي الْمَدْحِ (٨٨)، وَالرِّثَاءِ (٨٩). وَلَهُ شِعْرٌ تَعْلِيمِيٌّ، فَقَدْ عُلِّمْنَا أَنَّهُ نَظَمَ أَسْمَاءَ الْمُدَلِّسِينَ بِقَصِيدَةٍ أَوْرَدَهَا السُّبْكِيُّ فِي طَبَقَاتِهِ (٩٠)، كَمَا نَظَمَ أَسْمَاءَ الْخُلَفَاءِ بِقَصِيدَةٍ أُخْرَى (٩١). وَكَانَ كَثِيرَ الِاعْتِنَاءِ بِالشُّعَرَاءِ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ تَرَاجِمُهُمُ الْوَاسِعَةُ فِي كِتَابَيْهِ «تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» وَ«سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ» وَالنَّمَاذِجُ الشِّعْرِيَّةُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي أَوْرَدَهَا وَعِنَايَتُهُ الْفَائِقَةُ بِتَتَبُّعِ دَوَاوِينِ الشُّعَرَاءِ بِحَيْثُ قَالَ فِي تَرْجَمَةِ أَبِي الْحَسَنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُظَفَّرِ الْبَغْدَادِيِّ الْخِرَقِيِّ فِي وَفَيَاتِ سَنَةِ ٤٥٥ هـ: «وَلَا يَكَادُ يُوجَدُ دِيوَانُهُ» (٩٢).
Artinya: Adz-Dzahabi pada awal perjalanan ilmiahnya perhatian terhadap riwayat syair dan beliau membawakan sekumpulan syair dari guru-guru beliau (87). Sumber biografi beliau menyebutkan kepada kita sebagian syairnya dalam pujian (88), dan ratapan (ritsa') (89). Beliau juga memiliki syair edukatif, di antaranya beliau menyusun nama-nama para mudallis dalam sebuah qashidah yang dicantumkan oleh As-Subki dalam kitab Thabaqat-nya (90), sebagaimana beliau juga menyusun nama-nama para Khalifah dalam qashidah lainnya (91). Beliau sangat perhatian terhadap para penyair, hal ini ditunjukkan oleh biografi mereka yang luas dalam dua kitab beliau "Tarikh Al-Islam" dan "Siyar A'lam An-Nubala'", serta banyak contoh syair yang beliau bawakan, dan perhatian beliau yang sangat besar dalam menelusuri diwan-diwan para penyair, hingga beliau berkata dalam biografi Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Mudhzaffar Al-Baghdadi Al-Khiraqi yang wafat pada tahun 455 H: "Dan diwan beliau hampir tidak ditemukan" (92).
وَكَانَ لِلذَّهَبِيِّ خَطٌّ مُتْقَنٌ قَدْ أُعْجِبَ بِهِ عَلَمُ الدِّينِ الْبِرْزَالِيُّ مُنْذُ أَن بَدَأَ الذَّهَبِيُّ يَطْلُبُ الْعِلْمَ (٩٣). وَقَدْ وَصَلَ إِلَيْنَا الْكَثِيرُ مِن كُتُبِهِ وَكُتُبِ غَيْرِهِ مَكْتُوباً بِخَطِّهِ، وَهُوَ وَإِن لَمْ يَكُنْ جَمِيلاً مُرَاعِياً لِأُصُولِ الْخَطَّاطِينَ وَالْكُتَّابِ، لَكِنَّهُ يَمْتَازُ بِالدِّقَّةِ وَالْإِتْقَانِ لَا سِيَّمَا لِلَّذِي يُدْمِنُ عَلَيْهِ.
Artinya: Adz-Dzahabi memiliki tulisan tangan yang rapi yang membuat 'Alamuddin Al-Birzali kagum sejak Adz-Dzahabi mulai menuntut ilmu (93). Banyak dari kitab beliau dan kitab orang lain yang sampai kepada kita ditulis dengan tangan beliau, dan meskipun tidak indah dengan memperhatikan kaidah-kaidah para khatthath (ahli kaligrafi) dan penulis, namun tulisan tersebut memiliki kelebihan dalam hal ketelitian dan kerapian, terutama bagi siapa saja yang terbiasa membacanya.
وَعُرِفَ الذَّهَبِيُّ بِزُهْدِهِ وَوَرَعِهِ وَدِيَانَتِهِ الْمَتِينَةِ، وَقَدْ رَأَيْنَا عِندَ دِرَاسَتِنَا لِمُجْمَلِ سِيرَتِهِ أَنَّهُ كَانَ يَأْنَسُ إِلَى الِاجْتِمَاعِ بِمَشَاهِيرِ الْفُقَرَاءِ وَالصُّوفِيَّةِ مِن ذَوِي الدِّيَانَةِ وَالتَّمَسُّكِ بِالْآثَارِ.
Artinya: Adz-Dzahabi dikenal dengan kezuhudan, kewara'an, dan agamanya yang kokoh. Kami melihat saat mempelajari keseluruhan riwayat hidup beliau bahwa beliau senang berkumpul dengan para tokoh faqir (shufi) dan ahli tasawwuf yang memiliki agama dan berpegang teguh pada Atsar.
قَالَ تِلْمِيذُهُ تَقِيُّ الدِّينِ ابْنُ رَافِعٍ السَّلَّامِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧٤ هـ: «كَانَ خَيِّراً صَالِحاً مُتَوَاضِعاً حَسَنَ الْخُلُقِ حُلْوَ الْمُحَاضَرَةِ، غَالِبُ أَوْقَاتِهِ فِي الْجَمْعِ وَالِاخْتِصَارِ وَالِاشْتِغَالِ بِالْعِبَادَةِ، لَهُ وِرْدٌ بِاللَّيْلِ، وَعِندَهُ مُرُوءَةٌ وَعَصَبِيَّةٌ وَكَرَمٌ» (٩٤). وَقَالَ الزَّرْكَشِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٩٤ هـ: «مَعَ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الزُّهْدِ التَّامِّ وَالْإِيثَارِ الْعَامِّ وَالسَّبْقِ إِلَى الْخَيْرَاتِ وَالرَّغْبَةِ بِمَا هُوَ آتٍ» (٩٥)، وَيَكْفِي الذَّهَبِيَّ أَنَّهُ أَفْنَى حَيَاتَهُ فِي دِرَاسَةِ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَتَدْرِيسِهِ.
Artinya: Murid beliau, Taqiyuddin Ibnu Rafi' As-Salami (wafat 774 H) berkata: "Beliau adalah seorang yang baik, shalih, tawadhu', berakhlak mulia, tutur katanya manis saat mengajar, sebagian besar waktunya digunakan untuk mengumpulkan (hadits) dan meringkas (kitab), serta sibuk beribadah. Beliau memiliki wirid di malam hari, memiliki muru'ah (harga diri), ketegasan dalam kebenaran, dan kedermawanan" (94). Az-Zarkasyi (wafat 794 H) berkata: "Bersama dengan kezuhudan yang sempurna yang ada pada dirinya, sifat mendahulukan orang lain (itsar) yang umum, bersegera dalam kebaikan, dan keinginan terhadap apa yang akan datang (akhirat)" (95). Cukuplah bagi Adz-Dzahabi bahwa beliau menghabiskan seluruh hidupnya dalam mempelajari hadits Rasulullah ﷺ dan mengajarkannya.
لَقَدْ أَصْبَحَتْ كُتُبُ الذَّهَبِيِّ مُتَدَاوَلَةً فِي عَصْرِهِ وَالْعُصُورِ التَّالِيَةِ لَهُ، وَاعْتُبِرَتْ مِن أَعْظَمِ الْمَوَارِدِ الَّتِي اسْتَقَى مِنْهَا الْكُتَّابُ الَّذِينَ جَاءُوا بَعْدَهُ. قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: «وَرَغِبَ النَّاسُ فِي تَوَالِيفِهِ وَرَحَلُوا إِلَيْهِ بِسَبَبِهَا وَتَدَاوَلُوهَا قِرَاءَةً، وَنَسْخاً، وَسَمَاعاً» (٩٦). وَقَالَ تِلْمِيذُهُ الْحُسَيْنِيُّ: «وَقَدْ سَارَ بِجُمْلَةٍ مِنْهَا الرُّكْبَانُ فِي أَقْطَارِ الْبُلْدَانِ» (٩٧). وَحَسْبُنَا أَن نُلْقِيَ نَظْرَةً عَجْلَى عَلَى الْمُسْتَدْرَكَاتِ وَالتَّلْخِيصَاتِ وَالذُّيُولِ الَّتِي عُمِلَتْ عَلَى كُتُبِهِ لِنُدْرِكَ أَهَمِّيَّتَهَا الْبَالِغَةَ.
Artinya: Kitab-kitab Adz-Dzahabi menjadi sangat dikenal pada zaman beliau dan zaman-zaman setelahnya, dan dianggap sebagai salah satu sumber terbesar yang diambil oleh para penulis yang datang setelahnya. Ibnu Hajar berkata: "Orang-orang tertarik dengan karya-karya beliau, mereka melakukan perjalanan kepada beliau karenanya, dan mereka mempelajari karya tersebut dengan membaca, menyalin, dan mendengar" (96). Murid beliau, Al-Husaini berkata: "Sebagian dari kitab-kitab tersebut telah tersebar luas dibawa oleh para musafir ke seluruh penjuru negeri" (97). Cukuplah bagi kita dengan sekilas pandang terhadap kitab-kitab tambahan (mustadrakat), ringkasan-ringkasan (talkhishat), dan suplemen (dzuyul) yang disusun atas kitab-kitab beliau untuk memahami betapa pentingnya karya-karya tersebut.
وَكَانَ الذَّهَبِيُّ مَدْرَسَةً قَائِمَةً بِذَاتِهَا خَرَّجَتِ الْعَدِيدَ مِنَ الْحُفَّاظِ وَالْعُلَمَاءِ. وَقَدْ أَتَاحَتْ لَهُ مَعْرِفَتُهُ الْعَظِيمَةُ الْوَاسِعَةُ بِالْحَدِيثِ وَالتَّارِيخِ وَفُنُونِهِ مَكَانَةً مَرْمُوقَةً بَيْنَ أَسَاتِيدِ الْعَصْرِ، فَأَمَّهُ طَلَبَةُ الْعِلْمِ مِن كُلِّ حَدَبٍ وَصَوْبٍ.
Artinya: Adz-Dzahabi adalah madrasah (lembaga pendidikan) mandiri yang telah mencetak banyak sekali para penghafal (Huffadz) dan ulama. Pengetahuan beliau yang agung dan luas mengenai hadits, sejarah, dan cabang-cabang ilmunya telah memberikan posisi terhormat bagi beliau di antara para guru besar pada masa itu, sehingga para penuntut ilmu mendatangi beliau dari segala penjuru.
وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الذَّهَبِيَّ تَوَلَّى مَنَاصِبَ تَدْرِيسِيَّةً كَثِيرَةً، نَعْرِفُ مِنْهَا مَشِيخَةَ الْحَدِيثِ فِي تُرْبَةِ أُمِّ صَالِحٍ، وَدَارَ الْحَدِيثِ الظَّاهِرِيَّةِ، وَالْمَدْرَسَةَ النَّفِيسِيَّةَ، وَدَارَ الْحَدِيثِ التَّنْكِزِيَّةِ، وَدَارَ الْحَدِيثِ الْفَاضِلِيَّةِ، وَدَارَ الْحَدِيثِ الْعُرْوِيَّةِ. وَقَدْ أَتَاحَتْ لَهُ هَذِهِ الْمَنَاصِبُ أَن يَدْرُسَ عَلَيْهِ عَدَدٌ كَبِيرٌ مِنَ الطَّلَبَةِ يَفُوقُ الْحَصْرَ، قَالَ تِلْمِيذُهُ الْحُسَيْنِيُّ: «وَحَمَلَ عَنْهُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ خَلَائِقُ» (٩٨) وَقَالَ ابْنُ قَاضِي شُهْبَةَ الْأَسَدِيُّ: «سَمِعَ مِنْهُ السُّبْكِيُّ وَالْبِرْزَالِيُّ وَالْعَلَائِيُّ وَابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ رَافِعٍ وَابْنُ رَجَبٍ وَخَلَائِقُ مِن مَشَايِخِهِ وَنُظَرَائِهِ... وَتَخَرَّجَ بِهِ حُفَّاظٌ» (٩٩). وَإِنَّ كُتُبَ الْقَرْنِ الثَّامِنِ لَتَزْخَرُ بِبَنَاتِ تَلَامِيذِ الذَّهَبِيِّ النُّجُبِ لَم نَجِدْ فِي إِيرَادِهِمْ كَثِيرَ فَائِدَةٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْبَحْثِ.
Artinya: Kita mengetahui bahwa Adz-Dzahabi memegang banyak posisi mengajar, di antaranya jabatan Syaikhul Hadits di Turbah Ummu Shalih, Darul Hadits Azh-Zhahiriyah, Madrasah An-Nafisiyah, Darul Hadits At-Tankiziyah, Darul Hadits Al-Fadhiliyah, dan Darul Hadits Al-'Urwiyah. Posisi-posisi ini memungkinkan sejumlah besar penuntut ilmu untuk belajar kepada beliau yang jumlahnya tak terhitung. Murid beliau, Al-Husaini, berkata: "Banyak sekali orang yang mengambil ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah darinya" (98). Ibnu Qadhi Syuhbah Al-Asadi berkata: "As-Subki, Al-Birzali, Al-'Ala'i, Ibnu Katsir, Ibnu Rafi', Ibnu Rajab, dan banyak lagi dari kalangan guru dan teman sejawatnya mendengar hadits darinya... dan banyak penghafal (huffadz) yang mencetak keberhasilan di tangannya" (99). Sesungguhnya kitab-kitab abad kedelapan dipenuhi oleh karya-karya murid-murid Adz-Dzahabi yang cerdas, yang tidak kami temukan banyak faedahnya jika dicantumkan dalam penelitian seperti ini.
وَنَرَى مِنَ الْمُفِيدِ أَن نَقْتَطِفَ فِي نِهَايَةِ هَذَا الْفَصْلِ آرَاءَ الْعُلَمَاءِ فِيهِ لِمَا لِذَلِكَ مِن أَهَمِّيَّةٍ فِي تَقْوِيمِهِ، وَكُنَّا نَنْقُلُ فِي أَثْنَاءِ هَذَا الْبَحْثِ بَعْضاً مِنْهَا، فَقَدْ وَصَفَهُ رَفِيقُهُ وَشَيْخُهُ عَلَمُ الدِّينِ الْبِرْزَالِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٩ هـ فِي «مُعْجَمِ شُيُوخِهِ» - وَالذَّهَبِيُّ مَا زَالَ فِي مَطْلَعِ حَيَاتِهِ الْعِلْمِيَّةِ - بِقَوْلِهِ: «رَجُلٌ فَاضِلٌ، صَحِيحُ الدِّهْنِ، اشْتَغَلَ وَرَحَلَ، وَكَتَبَ الْكَثِيرَ، وَلَهُ تَصَانِيفُ وَاخْتِصَارَاتٌ مُفِيدَةٌ، وَلَهُ مَعْرِفَةٌ بِشُيُوخِ الْقِرَاءَاتِ» (١٠٠). وَقَالَ تِلْمِيذُهُ صَلَاحُ الدِّينِ الصَّفَدِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٦٤ هـ: «الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَلَّامَةُ الْحَافِظُ شَمْسُ الدِّينِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الذَّهَبِيُّ، حَافِظٌ لَا يُجَارَى وَلَا يُبَارَى، أَتْقَنَ الْحَدِيثَ وَرِجَالَهُ، وَنَظَرَ عِلَلَهُ وَأَحْوَالَهُ، وَعَرَّفَ تَرَاجِمَ النَّاسِ، وَأَزَالَ الْإِبْهَامَ فِي تَوَارِيخِهِمْ وَالْإِلْبَاسَ، ذِهْنٌ يَتُوقُ ذَكَاؤُهُ، وَيَصِحُّ إِلَى الذَّهَبِ نِسْبَتُهُ وَانْتِمَاؤُهُ، جَمَعَ الْكَثِيرَ، وَنَفَعَ الْجَمَّ الْغَفِيرَ، وَأَكْثَرَ مِنَ التَّصْنِيفِ، وَوَفَّرَ بِالِاخْتِصَارِ مَؤُونَةَ التَّطْوِيلِ فِي التَّأْلِيفِ، اجْتَمَعْتُ بِهِ وَأَخَذْتُ عَنْهُ وَقَرَأْتُ عَلَيْهِ كَثِيراً مِن تَصَانِيفِهِ وَلَمْ أَجِدْ عِنْدَهُ جُمُودَ الْمُحَدِّثِينَ وَلَا كَذَنَةَ النَّقَلَةِ» (١٠١).
Artinya: Kami memandang perlu untuk memetik pendapat para ulama tentang beliau di akhir bab ini karena pentingnya hal tersebut dalam penilaian terhadap beliau. Kami telah mengutip sebagian darinya di tengah pembahasan ini. Rekan sekaligus guru beliau, 'Alamuddin Al-Birzali (wafat 739 H) dalam "Mu'jam Syuyukhihi" - saat Adz-Dzahabi masih di awal perjalanan ilmiahnya - melukiskannya dengan berkata: "Seorang lelaki yang utama, cerdas, tekun belajar dan melakukan rihlah, banyak menulis, memiliki karya tulis dan ringkasan-ringkasan yang berfaedah, serta memiliki pengetahuan tentang para Syaikh Qira'at" (100). Murid beliau, Shalahuddin Ash-Shafadi (wafat 764 H) berkata: "Syaikh, Imam, 'Allamah, Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Adz-Dzahabi, seorang penghafal yang tidak tertandingi, menguasai hadits dan perawinya, memahami 'illat-illat serta keadaannya, mengetahui biografi orang-orang, menghilangkan kesamaran dan kerancuan dalam sejarah mereka, memiliki akal yang cemerlang, yang nasab dan nisbahnya pantas disandarkan kepada emas (adz-dzahab), mengumpulkan banyak ilmu, memberi manfaat kepada khalayak ramai, banyak berkarya, dan dengan meringkas kitab, beliau menghemat beban kepanjangan dalam penulisan. Ane bertemu dengannya, mengambil ilmu darinya, dan membaca banyak karya tulisnya di hadapannya, dan Ane tidak menemukan padanya kejumudan (kaku) para ahli hadits dan tidak pula sifat malas para penukil (riwayat)" (101).
وَعَلَى الرَّغْمِ مِن مُخَالَفَةِ تَاجِ الدِّينِ السُّبْكِيِّ لِشَيْخِهِ الذَّهَبِيِّ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ وَرَدِّهِ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ قَالَ فِي حَقِّهِ: «شَيْخُنَا وَأُسْتَاذُنَا، الْإِمَامُ الْحَافِظُ... مُحَدِّثُ الْعَصْرِ، اشْتَمَلَ عَصْرُنَا عَلَى أَرْبَعَةٍ مِنَ الْحُفَّاظِ، بَيْنَهُمْ عُمُومٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصٌ: الْمِزِّيُّ وَالْبِرْزَالِيُّ وَالشَّيْخُ الْإِمَامُ الْوَالِدُ، لَا خَامِسَ لَهَؤُلَاءِ فِي عَصْرِهِمْ... وَأَمَّا أُسْتَاذُنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ فَبَصَرٌ لَا نَظِيرَ لَهُ، وَكَنْزٌ هُوَ الْمَلْجَأُ إِذَا نَزَلَتِ الْمُعْضِلَةُ، إِمَامُ الْوُجُودِ حِفْظاً، وَذَهَبُ الْعَصْرِ مَعْنًى وَلَفْظاً، وَشَيْخُ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، وَرَجُلُ الرِّجَالِ فِي كُلِّ سَبِيلٍ... وَهُوَ الَّذِي خَرَّجَنَا فِي هَذِهِ الصِّنَاعَةِ، وَأَدْخَلَنَا فِي عِدَادِ الْجَمَاعَةِ» (١٠٢)، وَقَالَ أَيْضاً: «وَسَمِعَ مِنْهُ الْجَمْعُ الْكَثِيرُ، وَمَا زَالَ يَخْدُمُ هَذَا الْفَنَّ إِلَى أَن رَسَخَتْ فِيهِ قَدَمُهُ، وَتَعِبَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَمَا تَعِبَ لِسَانُهُ وَقَلَمُهُ، وَضُرِبَتْ بِاسْمِهِ الْأَمْثَالُ، وَسَارَ اسْمُهُ مَسِيرَ الشَّمْسِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَتَقَلَّصُ إِذَا نَزَلَ الْمَطَرُ، وَلَا يُدْبِرُ إِذَا أَقْبَلَتِ اللَّيَالِي. وَأَقَامَ بِدِمَشْقَ يُرْحَلُ إِلَيْهِ مِن سَائِرِ الْبِلَادِ، وَتُنَادِيهِ السُّؤَالَاتُ مِن كُلِّ نَادٍ» (١٠٣). وَوَصَفَهُ تِلْمِيذُهُ الْحُسَيْنِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٦٥ هـ بِأَنَّهُ «الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَلَّامَةُ شَيْخُ الْمُحَدِّثِينَ قُدْوَةُ الْحُفَّاظِ وَالْقُرَّاءِ مُحَدِّثُ الشَّامِ وَمُؤَرِّخُهُ وَمُفِيدُهُ» (١٠٤) وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ: «وَكَانَ أَحَدَ الْأَذْكِيَاءِ الْمَعْدُودِينَ وَالْحُفَّاظِ الْمَبْرِزِينَ» (١٠٥).
Artinya: Meskipun Tajuddin As-Subki berbeda pendapat dengan gurunya, Adz-Dzahabi, dalam beberapa masalah dan mengkritiknya, namun beliau berkata tentangnya: "Guru dan Ustadz kami, Al-Imam Al-Hafizh... Muhaddits di masa ini. Zaman kita memiliki empat orang penghafal (huffadz), yang satu mencakup lainnya: Al-Mizzi, Al-Birzali, dan Syaikh Imam Ayahanda kami, tidak ada yang kelima bagi mereka di zamannya... Adapun ustadz kami Abu Abdillah adalah sosok yang tiada bandingannya, perbendaharaan ilmu yang menjadi tempat rujukan saat perkara sulit datang, imam di masa ini dalam hafalan, 'emas' di masa ini baik makna maupun lafadznya, syaikh dalam ilmu Jarh wa Ta'dil, sosok pria rujukan dalam segala jalan... Dialah yang mendidik kami dalam bidang (ilmu hadits) ini, dan memasukkan kami ke dalam golongan kelompok (ahli hadits)" (102). Beliau juga berkata: "Banyak sekali orang yang mendengar ilmu darinya. Beliau terus mengabdi pada bidang ilmu ini hingga langkahnya kokoh, lelah di waktu siang dan malam, namun lisan dan penanya tak pernah lelah. Perumpamaan (kebaikan) dibuat atas namanya, namanya tersebar luas layaknya matahari, hanya saja ia tidak meredup saat hujan turun, dan tidak berpaling saat malam tiba. Beliau tinggal di Damaskus, orang-orang melakukan perjalanan kepadanya dari seluruh negeri, dan pertanyaan-pertanyaan memanggilnya dari segala penjuru" (103). Murid beliau, Al-Husaini (wafat 765 H) melukiskannya sebagai "Syaikh, Imam, 'Allamah, Syaikhul Muhadditsin, teladan bagi para penghafal dan ahli qira'at, muhaddits Syam, sejarawannya, dan orang yang memberi faedah" (104). Beliau juga berkata di tempat lain: "Dan beliau adalah salah satu dari orang cerdas yang terhitung, dan penghafal yang menonjol" (105).
وَقَالَ تِلْمِيذُهُ عِمَادُ الدِّينِ ابْنُ كَثِيرٍ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧٤ هـ: «الشَّيْخُ الْحَافِظُ الْكَبِيرُ مُؤَرِّخُ الْإِسْلَامِ وَشَيْخُ الْمُحَدِّثِينَ... وَقَدْ خُتِمَ بِهِ شُيُوخُ الْحَدِيثِ وَحُفَّاظُهُ» (١٠٦). وَحِينَمَا قَدِمَ الْعَلَّامَةُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْمَوْصِلِيُّ الْأَصْلِ الْأَطْرَابُلُسِيُّ (١٠٧) إِلَى دِمَشْقَ سَنَةَ ٧٣٤ هـ وَدَرَّسَ عَلَى الذَّهَبِيِّ فِي تِلْكَ السَّنَةِ قَالَ فِيهِ:
Artinya: Murid beliau, Imaduddin Ibnu Katsir (wafat 774 H) berkata: "Syaikh, Al-Hafizh yang besar, sejarawan Islam, dan Syaikhul Muhadditsin... dan dengannya berakhir para Syaikh hadits dan penghafalnya" (106). Tatkala 'Allamah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim Al-Mushili, yang asalnya dari Ath-Tharablus (107), datang ke Damaskus tahun 734 H dan belajar kepada Adz-Dzahabi pada tahun tersebut, beliau berkata tentangnya:
مَا زِلْتُ بِالسَّمْعِ أَهْوَاكُمْ وَمَا ذُكِرَتْ ... أَخْبَارُكُمْ قَطُّ إِلَّا مُلْتُ مِن طَرَبِ
وَلَيْسَ مِن عَجَبٍ أَن مِلْتُ نَحْوَكُمُ ... فَالنَّاسُ بِالطَّبْعِ قَد مَالُوا إِلَى الذَّهَبِ(١٠٨)
Artinya: Aku senantiasa mencintai kalian melalui pendengaran, dan tidaklah kabar tentang kalian disebutkan ... sama sekali melainkan aku condong (cinta) karena rasa gembira.
Dan bukanlah suatu keajaiban bila aku condong kepada kalian ... karena manusia secara tabiat memang condong kepada emas (adz-dzahab).(108)
وَوَصَفَهُ الْحَافِظُ ابْنُ نَاصِرِ الدِّينِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٤٢ هـ بِأَنَّهُ «الْحَافِظُ الْهُمَامُ مُفِيدُ الشَّامِ، وَمُؤَرِّخُ الْإِسْلَامِ» (١٠٩). وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٥٢ هـ فَرَأْتُ بِخَطِّ الْبَدْرِ النَّابُلُسِيِّ فِي مَشِيخَتِهِ: «كَانَ عَلَّامَةَ زَمَانِهِ فِي الرِّجَالَ وَأَحْوَالِهِمْ حَدِيدَ الْفَهْمِ ثَاقِبَ الذَّهَبِ وَشُهْرَتُهُ تُغْنِي عَنِ الْإِطْنَابِ فِيهِ» (١١٠). وَقَالَ بَدْرُ الدِّينِ الْعَيْنِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٥٥ هـ: «الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَلَّامَةُ الْحَافِظُ الْمُؤَرِّخُ شَيْخُ الْمُحَدِّثِينَ» (١١١). وَذَكَرَهُ سِبْطُ ابْنِ حَجَرٍ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٨٩٩ هـ فِي «رَوْنَقِ الْأَلْفَاظِ» وَيُبَالِغُ فِي الْإِطْنَابِ فِيهِ، وَقَالَ: «الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَلَّامَةُ الْحَافِظُ حَافِظُ الْوَقْتِ الَّذِي صَارَ هَذَا اللَّقَبُ عَلَماً عَلَيْهِ.. فَلِلَّهِ دَرُّهُ مِن إِمَامِ مُحَدِّثٍ... فَكَم دَخَلَ فِي جَمِيعِ الْفُنُونِ وَخَرَّجَ وَصَحَّحَ، وَعَدَّلَ وَجَرَحَ، وَأَتْقَنَ هَذِهِ الصِّنَاعَةِ... فَهُوَ الْإِمَامُ سَيِّدُ الْحُفَّاظِ إِمَامُ الْمُحَدِّثِينَ قُدْوَةُ النَّاقِدِينَ». وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ آخَرٍ: «وَكَتَبَ بِخَطِّهِ كَثِيراً مِنَ الْأَجْزَاءِ وَالْكُتُبِ وَحَصَّلَ الْأُصُولَ وَانْتَقَى عَلَى جَمَاعَةٍ مِن شُيُوخِهِ... وَعُنِيَ بِهَذَا الْفَنِّ أَعْظَمَ عِنَايَةٍ، وَيُسْرِعُ فِيهِ وَخِدْمَتُهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ» (١١٢).
Artinya: Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin (wafat 842 H) melukiskannya sebagai "Al-Hafizh yang bersemangat tinggi, pemberi faedah bagi negeri Syam, dan sejarawan Islam" (109). Ibnu Hajar Al-'Asqalani (wafat 852 H) berkata: "Ane melihat tulisan tangan Al-Badr An-Nabulusi dalam Masyikhat-nya: 'Beliau adalah 'Allamah di zamannya dalam bidang (ilmu) perawi dan keadaan mereka, tajam pemahamannya, jeli (tsaqib) pemikirannya, dan kemasyhurannya membuat kita tidak perlu lagi berpanjang lebar membicarakannya'" (110). Badruddin Al-'Aini (wafat 855 H) berkata: "Syaikh, Imam, 'Allamah, Al-Hafizh, sejarawan, Syaikhul Muhadditsin" (111). Sibt Ibnu Hajar (wafat 899 H) menyebutnya dalam "Rauwaqul Alfazh" dan sangat berlebihan dalam memujinya, beliau berkata: "Syaikh, Imam, 'Allamah, Al-Hafizh, Al-Hafizh pada zamannya yang gelar ini menjadi identitas bagi dirinya.. Sungguh mengagumkan beliau sebagai seorang imam muhaddits... Betapa banyak beliau masuk ke dalam seluruh cabang ilmu, mengeluarkan (takhrij), mengoreksi (tashhih), melakukan ta'dil dan jarh, serta menguasai bidang ilmu ini... Beliau adalah imam, pemimpin para penghafal (huffadz), imam para muhaddits, dan teladan bagi para kritikus". Beliau juga berkata di tempat lain: "Beliau menulis banyak juz dan kitab dengan tangannya sendiri, mendapatkan naskah-naskah asli (ushul), melakukan intiqo' (seleksi) di hadapan segolongan gurunya... Beliau memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang ilmu ini, bersegera padanya, dan mengabdi di dalamnya sepanjang siang dan malam" (112).
====================== HALAMAN 73-74ثامناً: وفاته وأولاده
أَضَرَّ الذَّهَبِيُّ فِي أُخْرَيَاتِ سِنِي حَيَاتِهِ، قَبْلَ مَوْتِهِ بِأَرْبَعِ سِنِينَ أَوْ أَكْثَرَ، بِمَاءٍ نَزَلَ فِي عَيْنَيْهِ، فَكَانَ يَتَأَذَّى وَيَغْضَبُ إِذَا قِيلَ لَهُ: لَوْ قُدِّحَتْ هَذَا لَرَجَعَ إِلَيْكَ بَصَرُكَ، وَيَقُولُ: لَيْسَ هَذَا بِمَاءٍ، وَأَنَا أَعْرِفُ بِنَفْسِي، لِأَنَّنِي مَا زَالَ بَصَرِي يَنْقُصُ قَلِيلاً قَلِيلاً إِلَى أَن تَكَامَلَ عَدَمُهُ (١).
Artinya: Adz-Dzahabi mengalami kebutaan di akhir masa hidupnya, sekitar empat tahun atau lebih sebelum kematiannya, akibat air yang turun di kedua matanya. Beliau merasa terganggu dan marah apabila dikatakan kepadanya: "Seandainya mata ini dioperasi, niscaya penglihatanmu akan kembali." Beliau menjawab: "Ini bukanlah air (katarak), dan Ane lebih tahu tentang diri Ane sendiri, karena sesungguhnya penglihatan Ane terus berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar hilang sepenuhnya." (1)
وَتُوُفِّيَ بِتُرْبَةِ أُمِّ الصَّالِحِ لَيْلَةَ الْاِثْنَيْنِ ثَالِثَ ذِي الْقِعْدَةِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ سَنَةَ ٧٤٨ هـ وَدُفِنَ بِمَقَابِرِ بَابِ الصَّغِيرِ، وَحَضَرَ الصَّلَاةَ عَلَيْهِ جُمْلَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ كَانَ مِن بَيْنِهِمْ تَاجُ الدِّينِ السُّبْكِيُّ (٢) وَقَدْ رَثَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِن تَلَامِذَتِهِ مِنْهُمُ الصَّلَاحُ الصَّفَدِيُّ (٣) وَالتَّاجُ السُّبْكِيُّ (٤).
Artinya: Beliau wafat di Turbah Ummu Shalih pada malam Senin, tanggal 3 Dzulqa'dah sebelum tengah malam tahun 748 H, dan dimakamkan di pemakaman Bab Ash-Shaghir. Sejumlah ulama menghadiri shalat jenazahnya, di antaranya Tajuddin As-Subki (2). Beberapa murid beliau meratapi kepergiannya (membuat bait syair belasungkawa), di antaranya Ash-Shalah Ash-Shafadi (3) dan At-Taj As-Subki (4).
وَتَرَكَ الذَّهَبِيُّ ثَلَاثَةً مِن أَوْلَادِهِ عُرِفُوا بِالْعِلْمِ هُم:
١ - ابْنَتُهُ أَمُّ الْعَزِيزِ، وَقَدْ أَجَازَ لَهَا غَيْرُ وَاحِدٍ بِاسْتِدْعَاءِ وَالِدِهَا مِنْهُم: شَيْخُ الْمُسْتَنْصِرِيَّةِ رَشِيدُ الدِّينِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَغْدَادِيُّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٧ هـ (٥)، وَيَظْهَرُ أَنَّهَا تَزَوَّجَتْ فِي حَيَاةِ وَالِدِهَا وَخَلَّفَتْ وَلَداً اسْمُهُ عَبْدُ الْقَادِرِ سَمِعَ مَعَ جَدِّهِ مِن أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٧ هـ (٦)، وَأَجَازَ لَهُ جَدُّهُ رِوَايَةَ كِتَابِهِ «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ» (٧).
Artinya: 1. Putrinya, Ummu Al-'Aziz. Beliau mendapatkan ijazah dari beberapa orang ulama melalui permohonan ayahnya, di antaranya: Syaikh Al-Mustanshiriyah, Rasyiduddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Baghdadi (wafat 707 H) (5). Tampaknya beliau menikah semasa hidup ayahnya dan memiliki seorang putra bernama Abdul Qadir yang mendengar (hadits) bersama kakeknya dari Ahmad bin Muhammad Al-Maqdisi (wafat 737 H) (6), dan kakeknya (Adz-Dzahabi) memberikan ijazah kepadanya untuk meriwayatkan kitab beliau, "Tarikhul Islam" (7).
٢ - ابْنُهُ أَبُو الدَّرْدَاءِ عَبْدُ اللَّهِ، وُلِدَ سَنَةَ ٧٠٨ هـ وَأَسْمَعَهُ أَبُوهُ مِن خَلْقٍ كَثِيرٍ، وَحَدَّثَ وَمَاتَ فِي ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ ٧٥٤ هـ (٨).
Artinya: 2. Putranya, Abu Darda' Abdullah. Lahir pada tahun 708 H. Ayahnya memperdengarkan hadits kepadanya dari banyak sekali orang. Beliau meriwayatkan hadits dan wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 754 H (8).
٣ - ابْنُهُ شِهَابُ الدِّينِ أَبُو هُرَيْرَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، وُلِدَ سَنَةَ ٧١٥ هـ وَسَمِعَ مَعَ وَالِدِهِ أَجْزَاءً حَدِيثِيَّةً كَثِيرَةً (٩)، وَسَمِعَ مِن عِيسَى الْمُطْعِمِ الدَّلَّالِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٩ هـ، وَخَرَّجَ لَهُ أَبُوهُ أَرْبَعِينَ حَدِيثاً عَن نَحْوِ مِائَةِ نَفْسٍ، وَحَدَّثَ مُنْذُ سَنَةَ ٧٤٠ هـ وَتَأَخَّرَتْ وَفَاتُهُ إِلَى رَبِيعٍ الْآخَرِ سَنَةَ ٧٩٩ هـ (١٠) وَخَلَّفَ وَلَداً اسْمُهُ مُحَمَّدٌ، سَمِعَ مَعَ جَدِّهِ (١١)، وَأَجَازَ لَهُ جَدُّهُ رِوَايَةَ كِتَابِهِ «تَارِيخُ الْإِسْلَامِ» (١٢).
Artinya: 3. Putranya, Syihabuddin Abu Hurairah Abdurrahman. Lahir pada tahun 715 H dan mendengar bersama ayahnya banyak sekali juz-juz hadits (9), mendengar dari 'Isa Al-Muth'im Ad-Dallal (wafat 719 H). Ayahnya mentakhrijkan untuknya empat puluh hadits dari sekitar seratus orang, beliau meriwayatkan hadits sejak tahun 740 H dan wafatnya tertunda hingga Rabi'ul Akhir tahun 799 H (10). Beliau meninggalkan seorang putra bernama Muhammad, yang mendengar (hadits) bersama kakeknya (11), dan kakeknya (Adz-Dzahabi) memberikan ijazah kepadanya untuk meriwayatkan kitab beliau, "Tarikhul Islam" (12).
================ HALAMAN 74-تَاسِعاً: آثَارُ الذَّهَبِيِّ: وَهَذِهِ تَذْكِرَةٌ فِي آثَارِ مُؤَرِّخِ الْإِسْلَامِ الذَّهَبِيِّ عَنَيْتُ فِيهَا بِذِكْرِ مَا أَلَّفَ وَاخْتَصَرَ، وَخَرَجَ عَلَى أَخْصَرِ مَا يُمْكِنُ، إِذْ تَفَاصِيلُهَا مَبْسُوطَةٌ فِي كِتَابَي «الذَّهَبِيِّ وَمَنْهَجُهُ فِي كِتَابِهِ تَارِيخِ الْإِسْلَامِ» (١)، وَاقْتَفَيْتُ فِيهَا الْمَنْهَجَ الْآتِيَ:
Artinya: Kesembilan: Karya-karya Adz-Dzahabi: Ini adalah catatan mengenai karya-karya sejarawan Islam, Adz-Dzahabi. Saya berupaya di dalamnya untuk menyebutkan apa yang beliau tulis dan ringkas, serta saya keluarkan (takhrij) seingkas mungkin, karena perinciannya telah dibentangkan secara luas dalam kitab saya "Adz-Dzahabi dan Metodologinya dalam Kitab Tarikh Al-Islam" (1), dan saya mengikuti di dalamnya manhaj (metode) berikut ini:
١ - قَسَمْتُ الْمُؤَلَّفَاتِ حَسَبَ مَوْضُوعَاتِهَا، وَرَتَّبْتُ الْكُتُبَ الْوَارِدَةَ فِي كُلِّ مَوْضُوعٍ عَلَى حُرُوفِ الْمُعْجَمِ. أَمَّا الْمُخْتَصَرَاتُ، وَالْمُنْتَقَيَاتُ، وَالتَّخَارِيجُ، فَاكْتَفَيْتُ بِسَرْدِهَا وَفْقَ ذَلِكَ التَّرْتِيبِ مِن غَيْرِ تَقْسِيمٍ لَهَا.
Artinya: 1. Saya membagi karya-karya tersebut sesuai dengan tema-temanya, dan saya menyusun kitab-kitab yang disebutkan dalam setiap tema berdasarkan urutan huruf abjad (mu'jam). Adapun untuk kitab-kitab ringkasan (mukhtasharat), kitab-kitab pilihan (muntaqayat), dan kitab-kitab takhrij, saya cukup mencantumkannya sesuai urutan tersebut tanpa membaginya lagi.
٢ - نَبَّهْتُ فِيمَا إِذَا كَانَ الْكِتَابُ مَوْجُوداً: مَخْطُوطاً أَوْ مَطْبُوعاً، وَأَشَرْتُ إِلَى إِحْدَى طَبَعَاتِهِ أَوْ نُسَخِهِ بَيْنَ قَوْسَيْنِ، وَتَرَكْتُ الَّذِي لَمْ أَعْثُرْ لَهُ عَلَى نُسْخَةٍ غُفْلًا مِن ذَلِكَ.
Artinya: 2. Saya memberikan keterangan jika kitab tersebut ditemukan: baik berupa manuskrip (makhtut) maupun cetakan (mathbu'), dan saya memberi isyarat kepada salah satu cetakan atau naskahnya di dalam kurung, sedangkan kitab yang tidak saya temukan naskahnya, saya biarkan tanpa keterangan apa pun.
أَوَّلًا: الْقِرَاءَاتُ:
Artinya: Pertama: Qiraat:
١ - التَّلْوِيحَاتُ فِي عِلْمِ الْقِرَاءَاتِ (بْرُوكَلْمَان: الْمُلْحَق ٢ / ٤٧).
Artinya: 1 - Isyarat-Isyarat dalam Ilmu Qiraat (Brockelmann: Lampiran 2/47) .
ثَانِياً: الْحَدِيثُ:
Artinya: Kedua: Hadits:
٢ - الْأَرْبَعُونَ الْبُلْدَانِيَّةُ.
Artinya: 2 - Empat Puluh Hadits Buldaniyyah.
٣ - الثَّلَاثُونَ الْبُلْدَانِيَّةُ.
Artinya: 3 - Tiga Puluh Hadits Buldaniyyah.
٤ - طُرُقُ حَدِيثِ «مَن كُنتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ».
Artinya: 4 - Jalur-jalur Periwayatan Hadits "Siapa yang menjadikan aku pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya".
٥ - الْكَلَامُ عَلَى حَدِيثِ الطَّيْرِ.
Artinya: 5 - Pembahasan mengenai Hadits Burung (Ath-Thair).
٦ - الْمُسْتَدْرَكُ عَلَى مُسْتَدْرَكِ الْحَاكِمِ (الظَّاهِرِيَّةُ: ٦٢ مَجَامِيعُ).
Artinya: 6 - Al-Mustadrak atas Mustadrak Al-Hakim (Azh-Zhahiriyyah: 62 Kumpulan Naskah).
ثَالِثاً: مُصْطَلَحُ الْحَدِيثِ وَآدَابُهُ:
Artinya: Ketiga: Musthalah Hadits (Ilmu Hadits) dan Adab-adabnya:
٧ - كِتَابُ الزِّيَادَةِ الْمُضْطَرِبَةِ.
Artinya: 7 - Kitab Az-Ziyadah Al-Mudtharibah (Tambahan yang Tidak Konsisten).
٨ - طُرُقُ أَحَادِيثِ النُّزُولِ.
Artinya: 8 - Jalur-jalur Periwayatan Hadits An-Nuzul (Turunnya Allah).
٩ - الْعَذْبُ السَّلْسَلُ فِي الْحَدِيثِ الْمُسَلْسَلِ.
Artinya: 9 - Al-'Adzbu As-Salsal (Air yang Jernih dan Segar) tentang Hadits Musalsal.
١٠ - مُنْيَةُ الطَّالِبِ لِأَعَزِّ الْمَطَالِبِ.
Artinya: 10 - Munyatuth Thalib (Cita-cita Penuntut Ilmu) untuk Mencapai Tujuan yang Paling Mulia.
١١ - الْمُوقِظَةُ فِي عِلْمِ مُصْطَلَحِ الْحَدِيثِ (بَارِيس: ٤٥٧٧).
Artinya: 11 - Al-Muuqizhah (Pembangun Kesadaran) dalam Ilmu Musthalah Hadits (Paris: 4577) .
رَابِعاً: الْعَقَائِدُ:
Artinya: Keempat: Akidah:
١٢ - أَحَادِيثُ الصِّفَاتِ.
Artinya: 12 - Hadits-hadits tentang Sifat-sifat Allah.
١٣ - الْأَرْبَعُونَ فِي صِفَاتِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (مِنْهَا جُزْءٌ فِي الظَّاهِرِيَّةِ، وَانْظُرِ الْأَلْبَانِيَّ: ٢٨٠).
Artinya: 13 - Empat Puluh Hadits tentang Sifat-sifat Tuhan Semesta Alam (sebagiannya ada juz di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah, dan lihat referensi Al-Albani: 280).
١٤ - جُزْءٌ فِي الشَّفَاعَةِ.
Artinya: 14 - Juz (bagian/kitab kecil) tentang Syafaat.
١٥ - جُزْآنِ فِي صِفَةِ النَّارِ.
Artinya: 15 - Dua Bagian/Juz tentang Sifat Neraka.
١٦ - الرِّسَالَةُ الذَّهَبِيَّةُ إِلَى ابْنِ تَيْمِيَةَ (طُبِعَتْ بِدِمَشْقَ: ١٣٤٧ هـ).
Artinya: 16 - Ar-Risalah Adz-Dzahabiyyah (Surat Emas) kepada Ibnu Taimiyyah (dicetak di Damaskus: 1347 H).
١٧ - الرَّوْعُ وَالْأَوْجَالُ فِي نَبَأِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.
Artinya: 17 - Rasa Takut dan Cemas dalam Berita tentang Al-Masih Ad-Dajjal.
١٨ - رُؤْيَةُ الْبَارِي.
Artinya: 18 - Melihat Sang Pencipta (Ru'yatul Bari).
١٩ - الْعَرْشُ (انْظُرْ بْرُوكَلْمَان: الْمُلْحَق ٤٧/١).
Artinya: 19 - Al-'Arsy (lihat Brockelmann: Lampiran 1/47).
٢٠ - الْعُلُوُّ لِلْعَلِيِّ الْغَفَّارِ (طُبِعَ غَيْرَ مَرَّةٍ بِمِصْرَ: ١٣٣٢ هـ).
Artinya: 20 - Al-'Uluw (Ketinggian Allah) bagi Al-'Aliy Al-Ghaffar (dicetak lebih dari satu kali di Mesir: 1332 H).
٢١ - الْكَبَائِرُ (مَطْبُوعٌ، الْقَاهِرَةُ: ١٣٥٦ هـ).
Artinya: 21 - Al-Kaba'ir (Dosa-dosa Besar) (telah dicetak, Kairo: 1356 H).
٢٢ - مَا بَعْدَ الْمَوْتِ.
Artinya: 22 - Kehidupan Setelah Kematian.
٢٣ - مَسْأَلَةُ دَوَامِ النَّارِ.
Artinya: 23 - Masalah Kekekalan Neraka.
٢٤ - مَسْأَلَةُ الْغَيْبَةِ.
Artinya: 24 - Masalah Ghibah.
٢٥ - مَسْأَلَةُ الْوَعِيدِ.
Artinya: 25 - Masalah Ancaman (Wa'id).
خَامِساً: أُصُولُ الْفِقْهِ:
Artinya: Kelima: Ushul Fiqh:
٢٦ - مَسْأَلَةُ الِاجْتِهَادِ.
Artinya: 26 - Masalah Ijtihad.
٢٧ - مَسْأَلَةُ خَبَرِ الْوَاحِدِ.
Artinya: 27 - Masalah Khabar Wahid.
سَادِساً: الْفِقْهُ:
Artinya: Keenam: Fiqh:
٢٨ - تَحْرِيمُ أَدْبَارِ النِّسَاءِ.
Artinya: 28 - Keharaman melakukan hubungan pada dubur wanita.
٢٩ - تَشْبِيهُ الْخَسِيسِ بِأَهْلِ الْخَمِيسِ (دَارِ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ).
Artinya: 29 - Tasybih Al-Khasis bi Ahlil Khamis (Darul Kutub Al-Mishriyyah).
٣٠ - جُزْءٌ فِي الْخِضَابِ.
Artinya: 30 - Juz tentang Khidhab (Pewarna Rambut/Inai).
٣١ - جُزْءٌ مِنْ صَلَاةِ التَّسْبِيحِ.
Artinya: 31 - Juz tentang Shalat Tasbih.
٣٢ - جُزْءٌ فِي الْقَهْقَهَةِ.
Artinya: 32 - Juz tentang Tertawa Terbahak-bahak (Qahqahah).
٣٣ - حُقُوقُ الْجَارِ (كُوبِرْلِي: ١٥٨٤ / ٣).
Artinya: 33 - Hak-hak Tetangga (Köprülü: 1584/3).
٣٤ - فَضَائِلُ الْحَجِّ وَأَفْعَالُهُ.
Artinya: 34 - Keutamaan-keutamaan Haji dan Amalannya.
٣٥ - اللِّبَاسُ.
Artinya: 35 - Pakaian.
٣٦ - مَسْأَلَةُ السَّمَاعِ.
Artinya: 36 - Masalah Mendengarkan (Sama').
٣٧ - الْوَتْرُ.
Artinya: 37 - Shalat Witir.
سَابِعاً: الرَّقَائِقُ:
Artinya: Ketujuh: Ar-Raqaiq (Pelembut Hati):
٣٨ - جُزْءٌ فِي مَحَبَّةِ الصَّالِحِينَ.
Artinya: 38 - Juz tentang Mencintai Orang-orang Shalih.
٣٩ - دُعَاءُ الْمَكْرُوبِ.
Artinya: 39 - Doa Orang yang Sedang Kesusahan.
٤٠ - ذِكْرُ الْوِلْدَانِ.
Artinya: 40 - Penyebutan/Zikir tentang Anak-anak (Wildan).
٤١ - التَّعْزِيَةُ الْحَسَنَةُ بِالْأَعِزَّةِ.
Artinya: 41 - Tadziyah (Ucapan Belasungkawa) yang Baik untuk Orang-orang Tercinta.
٤٢ - كَشْفُ الْكُرْبَةِ عِنْدَ فَقْدِ الْأَحِبَّةِ.
Artinya: 42 - Menghilangkan Kesusahan saat Kehilangan Orang-orang Tercinta.
ثَامِناً: التَّارِيخُ وَالتَّرَاجِمُ:
Artinya: Kedelapan: Sejarah dan Biografi:
٤٣ - أَخْبَارُ السُّدِّ.
Artinya: 43 - Berita-berita tentang Bendungan (As-Sudd).
٤٤ - أَخْبَارُ قُضَاةِ دِمَشْقَ.
Artinya: 44 - Berita-berita tentang Para Hakim Damaskus.
٤٥ - أَسْمَاءُ مَنْ عَاشَ ثَمَانِينَ سَنَةً بَعْدَ شَيْخٍ أَوْ بَعْدَ تَارِيخِ سَمَاعٍ (آيَا صُوفْيَا: ٢٩٥٣).
Artinya: 45 - Nama-nama orang yang hidup delapan puluh tahun setelah gurunya atau setelah tanggal mendengar (hadits) (Aya Sophia: 2953).
٤٦ - الْإِشَارَةُ إِلَى وَفَيَاتِ الْأَعْيَانِ وَالْمُنْتَقَى مِنْ تَارِيخِ الْإِسْلَامِ (الْأَحْمَدِيَّةُ بِحَلَبَ: ٣٢٨).
Artinya: 46 - Al-Isyarat (Petunjuk) terhadap Wafayatul A'yan dan ringkasan dari Tarikh Islam (Al-Ahmadiyyah di Aleppo: 328).
٤٧ - الْإِعْلَامُ بِوَفَيَاتِ الْأَعْلَامِ (نُسْخَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا بِالظَّاهِرِيَّةِ: مَجْمُوعُ ١١٧).
Artinya: 47 - Al-I'lam (Pemberitahuan) wafatnya para tokoh (Banyak naskahnya di Azh-Zhahiriyyah: Majmu' 117).
٤٨ - الْأَمْصَارُ ذَوَاتُ الْآثَارِ (مِنْهُ نُسْخَةٌ فِي اسْتَانْبُولَ وَأُخْرَى بِالْمَدِينَةِ).
Artinya: 48 - Kota-kota yang Bersejarah (Terdapat naskahnya di Istanbul dan lainnya di Madinah).
٤٩ - أَهْلُ الْمِئَةِ فَصَاعِداً (مَطْبُوعٌ، بَغْدَادَ: ١٩٧٣).
Artinya: 49 - Orang-orang yang berusia seratus tahun ke atas (Telah dicetak, Baghdad: 1973).
٥٠ - الْبَيَانُ عَنْ اسْمِ ابْنِ فُلَانٍ.
Artinya: 50 - Penjelasan tentang nama "Ibnu Fulan".
٥١ - تَارِيخُ الْإِسْلَامِ وَوَفَيَاتُ الْمَشَاهِيرِ وَالْأَعْلَامِ (طُبِعَ الْيَسِيرُ مِنْهُ، وَنُسْخَتُهُ مُشَتَّتَةٌ فِي خَزَائِنِ الْكُتُبِ، وَعِنْدِي نُسْخَةٌ كَامِلَةٌ مُصَوَّرَةٌ).
Artinya: 51 - Tarikh Islam dan Wafayat Masyahir wa A'lam (Sebagian kecil telah dicetak, naskahnya tersebar di perpustakaan-perpustakaan, dan saya memiliki salinan lengkap yang difoto).
٥٢ - التَّارِيخُ الْمُمْتِعُ.
Artinya: 52 - At-Tarikh Al-Mumti' (Sejarah yang Mengasyikkan).
٥٣ - تَذْكِرَةُ الْحُفَّاظِ (مَطْبُوعٌ، حَيْدَرُ آبَادَ ١٩٥٥ - ١٩٥٨ وَهِيَ أَحْسَنُ الطَّبَعَاتِ).
Artinya: 53 - Tadzkiratul Huffazh (Telah dicetak, Hyderabad 1955-1958 dan ini adalah cetakan terbaik).
٥٤ - تَرَاجِمُ رِجَالٍ رَوَى عَنْهُمْ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ (مَطْبُوعٌ، لَنْدَنَ: ١٨٩٠).
Artinya: 54 - Biografi orang-orang yang diriwayatkan haditsnya oleh Muhammad bin Ishaq (Telah dicetak, London: 1890).
٥٥ - تَسْمِيَةُ رِجَالِ صَحِيحِ مُسْلِمٍ الَّذِينَ انْفَرَدَ بِهِمْ عَنِ الْبُخَارِيِّ (لَا لَهُ لِي بَاسْتَانْبُولَ: ٢٠٨٩).
Artinya: 55 - Penyebutan perawi Shahih Muslim yang tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Laleli, Istanbul: 2089).
٥٦ - تَقْيِيدُ الْمُهْمَلِ.
Artinya: 56 - Taqyiidul Muhmal (Memberikan penjelasan pada nama perawi yang samar/tidak jelas).
٥٧ - التَّلْوِيحُ بِمَنْ سَبَقَ وَلَحِقَ.
Artinya: 57 - At-Talwih (Isyarat) tentang siapa yang mendahului dan yang menyusul (dalam periwayatan).
٥٨ - جُزْءُ أَرْبَعَةٍ تَعَاصَرُوا.
Artinya: 58 - Juz tentang empat orang yang hidup di zaman yang sama.
٥٩ - دُوَلُ الْإِسْلَامِ (مَطْبُوعٌ، حَيْدَرُ آبَادَ: ١٣٣٧ هـ).
Artinya: 59 - Duwalul Islam (Negara-negara Islam) (Telah dicetak, Hyderabad: 1337 H).
٦٠ - دِيوَانُ الضُّعَفَاءِ وَالْمَتْرُوكِينَ (مَطْبُوعٌ).
Artinya: 60 - Diwan Adz-Dhu'afa wal Matrukin (Kumpulan Perawi yang Lemah dan Ditinggalkan Haditsnya). (Telah dicetak).
٦١ - ذِكْرُ مَنِ اشْتَهَرَ بِكُنْيَتِهِ مِنَ الْأَعْيَانِ (جَسْتَرِبْتِي بِدِيلَنْ: مَجْمُوعُ ٣٤٥٨).
Artinya: 61 - Dzikru Manisytahara bi Kunyatihi minal A'yan (Penyebutan tokoh-tokoh terkemuka yang lebih dikenal dengan kunyahnya). (Chester Beatty Dublin: Majmu' 3458).
٦٢ - ذِكْرُ مَنْ يُؤْتَمَنُ قَوْلُهُ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ (آيَا صُوفْيَا: ٢٩٥٣).
Artinya: 62 - Dzikru Man Yu'tamanu Qawluhu fil Jarhi wat Ta'dil (Penyebutan orang yang ucapannya dapat dipercaya dalam bidang Jarh wa Ta'dil/kritik perawi). (Aya Sophia: 2953).
٦٣ - ذَيْلُ الْإِشَارَةِ إِلَى وَفَيَاتِ الْأَعْيَانِ.
Artinya: 63 - Dzail Al-Isyarah ila Wafayatil A'yan (Suplemen/Tambahan kitab Penunjuk Wafatnya Tokoh-tokoh Terkemuka).
٦٤ - ذَيْلُ دُوَلِ الْإِسْلَامِ (مَطْبُوعٌ، حَيْدَرُ آبَادَ: ١٣٣٧).
Artinya: 64 - Dzail Duwalil Islam (Suplemen kitab Negara-negara Islam). (Telah dicetak, Hyderabad: 1337).
٦٥ - ذَيْلُ سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ.
Artinya: 65 - Dzail Siyar A'lam An-Nubala (Suplemen kitab Biografi Tokoh-tokoh Mulia).
٦٦ - ذَيْلُ دِيوَانِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَتْرُوكِينَ (الظَّاهِرِيَّةُ: مَجْمُوعُ ٣٦٩ حَدِيثٍ).
Artinya: 66 - Dzail Diwan Adz-Dhu'afa wal Matrukin (Suplemen kitab Kumpulan Perawi Lemah dan Ditinggalkan). (Azh-Zhahiriyyah: Majmu' 369 Hadits).
٦٧ - ذَيْلُ كِتَابِ الضُّعَفَاءِ لِابْنِ الْجَوْزِيِّ.
Artinya: 67 - Dzail Kitab Adz-Dhu'afa (Suplemen kitab Perawi-perawi Lemah) karya Ibnu Al-Jauzi.
٦٨ - الذَّيْلُ عَلَى ذَيْلِ كِتَابِ الضُّعَفَاءِ لِابْنِ الْجَوْزِيِّ.
Artinya: 68 - Adz-Dzail 'ala Dzail Kitab Adz-Dhu'afa (Suplemen di atas suplemen kitab Perawi-perawi Lemah) karya Ibnu Al-Jauzi.
٦٩ - ذَيْلُ الْعِبَرِ فِي خَبَرِ مَنْ عَبَرَ (مَطْبُوعٌ، الْكُوَيْتِ: بِدُونِ تَارِيخٍ).
Artinya: 69 - Dzail Al-'Ibar fi Khabari Man 'Abar (Suplemen kitab Pelajaran dalam Sejarah Tokoh yang telah Berlalu). (Telah dicetak, Kuwait: Tanpa tahun).
٧٠ - الرَّدُّ عَلَى ابْنِ الْقَطَّانِ (مُخْتَصَرٌ(١) مِنْهُ فِي الظَّاهِرِيَّةِ: مَجْمُوعُ ٧٠).
Artinya: 70 - Ar-Raddu 'ala Ibnu Al-Qaththan (Bantahan terhadap Ibnu Al-Qaththan). (Ringkasan (1) darinya ada di Azh-Zhahiriyyah: Majmu' 70).
٧١ - الزَّلَازِلُ.
Artinya: 71 - Az-Zalazil (Kitab tentang Gempa Bumi).
٧٢ - سِيَرُ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ (وَهُوَ هَذَا الْكِتَابُ).
Artinya: 72 - Siyar A'lam An-Nubala (Biografi Tokoh-tokoh Mulia). (Dan kitab ini adalah kitab tersebut).
٧٣ - طَبَقَاتُ الشُّيُوخِ.
Artinya: 73 - Thabaqatus Syuyukh (Tingkatan/Biografi para Guru).
٧٤ - الْعُبَابُ فِي التَّارِيخِ.
Artinya: 74 - Al-'Ubab fi At-Tarikh (Samudra Sejarah).
٧٥ - الْعِبَرُ فِي خَبَرِ مَنْ عَبَرَ (مَطْبُوعٌ بِالْكُوَيْتِ وَفِيهِ نَقْصٌ).
Artinya: 75 - Al-'Ibar fi Khabari Man 'Abar (Pelajaran Sejarah Tokoh yang Telah Berlalu). (Telah dicetak di Kuwait dan terdapat kekurangan di dalamnya).
٧٦ - عُنْوَانُ السِّيَرِ فِي ذِكْرِ الصَّحَابَةِ.
Artinya: 76 - 'Unwan As-Siyar fi Dzikri Ash-Shahabah (Judul Biografi dalam menyebutkan para Sahabat).
٧٧ - الْقَبَّانُ (فِي أَصْحَابِ التَّقِيِّ ابْنِ تَيْمِيَّةَ).
Artinya: 77 - Al-Qabban (Kitab tentang para sahabat Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah).
٧٨ - الْمُجَرَّدُ فِي أَسْمَاءِ رِجَالِ كُتُبِ سُنَنِ الْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللهِ بْنِ مَاجَةَ سِوَى مَنْ أَخْرَجَ لَهُ مِنْهُمْ فِي أَحَدِ الصَّحِيحَيْنِ (الظَّاهِرِيَّةُ: ٥٣١ حَدِيثٍ).
Artinya: 78 - Al-Mujarrad fi Asma' Rijal Kutub Sunan Al-Imam Abi Abdillah bin Majah (Kitab ringkasan nama-nama perawi kitab Sunan Ibnu Majah selain yang haditsnya diriwayatkan dalam salah satu dari dua kitab Shahih). (Azh-Zhahiriyyah: 531 Hadits).
٦٩ - الْمُرْتَجِلُ فِي الْكُنَى (بْرُوكَلْمَانَ: ٥٩/٢).
Artinya: 69 - Al-Murtajal fi Al-Kuna (Kitab tentang nama-nama kunyah secara ringkas). (Brockelmann: 2/59).
٨٠ - الْمُشْتَبِهُ فِي الرِّجَالِ: أَسْمَائُهُمْ وَأَنْسَابُهُمْ (مَطْبُوعٌ، وَأُعِيدَ طَبْعُهُ بِالْقَاهِرَةِ ١٩٦٢).
Artinya: 80 - Al-Musytabih fi Ar-Rijal: Asma'uhum wa Ansabuhum (Kitab tentang nama-nama perawi yang serupa: Nama dan nasab mereka). (Telah dicetak, dan dicetak ulang di Kairo 1962).
٨١ - مُعْجَمُ الشُّيُوخِ الْكَبِيرِ (دَارُ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ: ٦٥ حَدِيثٍ).
Artinya: 81 - Mu'jam Asy-Syuyukh Al-Kabir (Kamus Besar Biografi para Guru). (Darul Kutub Al-Mishriyyah: 65 Hadits).
٨٢ - مُعْجَمُ الشُّيُوخِ الْأَوْسَطِ.
Artinya: 82 - Mu'jam Asy-Syuyukh Al-Awsath (Kamus Sedang Biografi para Guru).
٨٣ - الْمُعْجَمُ الصَّغِيرِ (اللَّطِيفُ) (الظَّاهِرِيَّةُ: مَجْمُوعُ: ١٢).
Artinya: 83 - Al-Mu'jam Ash-Shaghir (Al-Lathif) (Kamus Kecil/Ringkas Biografi para Guru). (Azh-Zhahiriyyah: Majmu': 12).
٨٤ - الْمُعْجَمُ الْمُخْتَصِّ بِمُحَدِّثِي الْعَصْرِ (مِنْهُ انْتِقَاءٌ لِابْنِ قَاضِي شُهْبَةَ بِبَارِيسَ: ٢٠٧٦ عَرَبِيَّاتٍ، وَالْأَوْقَافِ الْعِرَاقِيَّةِ: مَجْمُوعٌ رَقَمُ: ٢٨٤١).
Artinya: 84 - Al-Mu'jam Al-Mukhtash bi Muhadditsi Al-'Ashr (Kamus Khusus Biografi Ahli Hadits pada masa itu). (Darinya ada pilihan karya Ibnu Qadhi Syuhbah di Paris: 2076 Arabiyat, dan Al-Awqaf Al-Iraqiyyah: Majmu' nomor: 2841).
٨٥ - مَعْرِفَةُ آلِ مَنْدَةَ.
Artinya: 85 - Ma'rifatu Ali Mandah (Mengenal Keluarga Mandah).
٨٦ - مَعْرِفَةُ الْقُرَّاءِ الْكِبَارِ عَلَى الطَّبَقَاتِ وَالْأَعْصَارِ (مَطْبُوعٌ، الْقَاهِرَةُ: ١٩٦٩).
Artinya: 86 - Ma'rifatul Qurra' Al-Kibar 'ala Ath-Thabaqat wal A'shar (Mengenal Para Qari/Ahli Bacaan Al-Qur'an terkemuka berdasarkan tingkatan dan masa). (Telah dicetak, Kairo: 1969).
٨٧ - الْمُعِينُ فِي طَبَقَاتِ الْمُحَدِّثِينَ (فَيْضُ اللهِ بِاسْتَانْبُولَ: ١٥٢٨).
Artinya: 87 - Al-Mu'in fi Thabaqat Al-Muhadditsin (Kitab Penolong dalam mengetahui tingkatan para Ahli Hadits). (Faidullah di Istanbul: 1528).
٨٨ - الْمُغْنِي فِي الضُّعَفَاءِ (مَطْبُوعٌ بِحَلَبَ: ١٩٧١).
Artinya: 88 - Al-Mughni fi Adz-Dhu'afa (Kitab yang mencukupi/memadai mengenai perawi-perawi lemah). (Telah dicetak di Aleppo: 1971).
٨٩ - الْمُقَدِّمَةُ ذَاتُ النِّقَاطِ فِي الْأَلْقَابِ (دَارُ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ: ٤٤٢٣ج).
Artinya: 89 - Al-Muqaddimah Dzatun Niqath fil Alqab (Kitab Pendahuluan yang memiliki titik-titik dalam gelar/julukan). (Darul Kutub Al-Mishriyyah: 4423j).
٩٠ - مَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ وَهُوَ مُوَثَّقٌ (عِنْدِي مِنْهُ نُسْخَةٌ) وَهُوَ غَيْرُ.
Artinya: 90 - Man Tukullima fihi wa huwa Muwatstaq (Kitab tentang perawi yang dikritik namun ia adalah perawi tepercaya). (Saya memiliki salinannya) dan ini bukan (yang dimaksud).
٩١ - الرُّوَاةُ الثِّقَاتُ الْمُتَكَلَّمُ فِيهِمْ بِمَا لَا يُوجِبُ رَدَّهُمْ (الْمَطْبُوعُ بِالْقَاهِرَةِ: ١٩٠٦).
Artinya: 91 - Ar-Ruwat Ats-Tsiqat Al-Mutakallamu fihim bima la yujibu raddahum (Perawi-perawi tepercaya yang dikritik namun tidak sampai mengharuskan penolakan riwayat mereka). (Telah dicetak di Kairo: 1906).
٩٢ - مِيزَانُ الْاعْتِدَالِ فِي نَقْدِ الرِّجَالِ مَطْبُوعٌ مَشْهُورٌ، مِنْهَا طَبْعَةُ الْقَاهِرَةِ ١٩٦٣).
Artinya: 92 - Mizanul I'tidal fi Naqdir Rijal (Neraca Moderasi dalam Kritik Perawi), kitab cetak yang masyhur, di antaranya cetakan Kairo 1963.
٩٣ - هَالَةُ الْبَدْرِ فِي عَدَدِ أَهْلِ بَدْرٍ (لَعَلَّهُ هُوَ الَّذِي فِي الظَّاهِرِيَّةِ ضِمْنَ مَجْمُوعِ: ٤٧).
Artinya: 93 - Halatul Badr fi 'Adadi Ahli Badr (Lingkaran Rembulan dalam menyebutkan jumlah Ahli Badar). (Kemungkinan besar itulah yang ada di Azh-Zhahiriyyah dalam Majmu': 47).
تَاسِعاً: السِّيَرُ وَالتَّرَاجِمُ الْمُفْرَدَةُ:
Artinya: Kesembilan: Sirah dan Biografi Tokoh Secara Terpisah (Mufradah):
٩٤ - أَخْبَارُ أَبِي مُسْلِمٍ الْخُرَاسَانِيِّ.
Artinya: 94 - Akhbar Abi Muslim Al-Khurasani (Berita-berita Abu Muslim Al-Khurasani).
٩٥ - أَخْبَارُ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ(٣).
Artinya: 95 - Akhbar Ummul Mukminin 'Aisyah (3) (Berita-berita tentang Ummul Mukminin 'Aisyah).
٩٦ - التِّبْيَانُ فِي مَنَاقِبِ عُثْمَانَ.
Artinya: 96 - At-Tibyan fi Manaqibi 'Utsman (Penjelasan dalam Keutamaan Utsman).
٩٧ - تَرْجَمَةُ ابْنِ عُقْدَةَ الْكُوفِيِّ.
Artinya: 97 - Tarjamah Ibnu 'Uqdah Al-Kufi (Biografi Ibnu 'Uqdah Al-Kufi).
٩٨ - تَرْجَمَةُ أَبِي حَنِيفَةَ (مَطْبُوعٌ بِالْقَاهِرَةِ - بِدُونِ تَارِيخٍ).
Artinya: 98 - Tarjamah Abi Hanifah (Biografi Abu Hanifah). (Telah dicetak di Kairo - Tanpa tahun).
٩٩ - تَرْجَمَةُ أَبِي يُوسُفَ الْقَاضِي (مَطْبُوعٌ بِالْقَاهِرَةِ - بِدُونِ تَارِيخٍ).
Artinya: 99 - Tarjamah Abi Yusuf Al-Qadhi (Biografi Abu Yusuf Al-Qadhi). (Telah dicetak di Kairo - Tanpa tahun).
١٠٠ - تَرْجَمَةُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ(٤).
Artinya: 100 - Tarjamah Ahmad bin Hanbal (4) (Biografi Ahmad bin Hanbal).
١٠١ - تَرْجَمَةُ الْخَضِرِ.
Artinya: 101 - Tarjamah Al-Khadhir (Biografi Nabi Khadhir AS).
١٠٢ - تَرْجَمَةُ السِّلَفِيِّ(٥).
Artinya: 102 - Tarjamah As-Silafi (5) (Biografi As-Silafi).
١٠٣ - تَرْجَمَةُ الشَّافِعِيِّ.
Artinya: 103 - Tarjamah Asy-Syafi'i (Biografi Imam Asy-Syafi'i).
١٠٤ - تَرْجَمَةُ الشَّيْخِ الْمُوَفَّقِ(٦).
Artinya: 104 - Tarjamah Asy-Syaikh Al-Muwaffaq (6) (Biografi Asy-Syaikh Al-Muwaffaq).
١٠٥ - تَرْجَمَةُ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ.
Artinya: 105 - Tarjamah Malik bin Anas (Biografi Imam Malik bin Anas).
١٠٦ - تَرْجَمَةُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الشَّيْبَانِيِّ (مَطْبُوعٌ بِالْقَاهِرَةِ - بِدُونِ تَارِيخٍ).
Artinya: 106 - Tarjamah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani (Biografi Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani). (Telah dicetak di Kairo - Tanpa tahun).
١٠٧ - تَوْقِيفُ أَهْلِ التَّوْفِيقِ عَلَى مَنَاقِبِ الصِّدِّيقِ.
Artinya: 107 - Tawqifu Ahlit Tawfiq 'ala Manaqibish Shiddiq (Pemberitahuan kepada Ahli Taufik tentang Keutamaan As-Shiddiq/Abu Bakar RA).
١٠٨ - الدُّرَّةُ الْيَتِيمَةُ فِي سِيرَةِ التَّيْمِيَّةِ.
Artinya: 108 - Ad-Durratul Yatimah fi Siratit Taimiyyah (Mutiara yang tiada banding dalam Sirah Ibnu Taimiyyah).
١٠٩ - الزُّخْرُفُ الْقَصْرِيُّ (هِيَ تَرْجَمَةُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ).
Artinya: 109 - Az-Zukhruful Qashri (Perhiasan Istana). (Merupakan biografi Al-Hasan Al-Bashri).
١١٠ - سِيرَةُ الْحَلَّاجِ.
Artinya: 110 - Sirah Al-Hallaj (Biografi Al-Hallaj).
١١١ - سِيرَةُ أَبِي الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيِّ.
Artinya: 111 - Sirah Abil Qasim Ath-Thabrani (Biografi Abu Al-Qasim Ath-Thabrani).
١١٢ - سِيرَةُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ.
Artinya: 112 - Sirah Sa'id bin Al-Musayyib (Biografi Sa'id bin Al-Musayyib).
١١٣ - سِيرَةُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ.
Artinya: 113 - Sirah Umar bin 'Abdul 'Aziz (Biografi Umar bin Abdul Aziz).
١١٤ - السِّيرَةُ النَّبَوِيَّةُ (وَهِيَ فِي تَارِيخِ الْإِسْلَامِ).
Artinya: 114 - As-Sirah An-Nabawiyyah (Sirah Nabi Muhammad SAW). (Merupakan bagian dari Tarikh Al-Islam).
١١٥ - فَتْحُ الْمَطَالِبِ فِي مَنَاقِبِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ.
Artinya: 115 - Fathul Mathalib fi Manaqibi 'Ali bin Abi Thalib (Terbukanya berbagai tuntutan dalam keutamaan Ali bin Abi Thalib).
١١٦ - قَضِّ نَهَارَكَ بِأَخْبَارِ ابْنِ الْمُبَارَكِ.
Artinya: 116 - Qadhdhi Naharaka bi Akhbari Ibni Al-Mubarak (Habiskan harimu dengan berita-berita Ibnu Al-Mubarak).
١١٧ - مَنَاقِبُ الْبُخَارِيِّ (دَارُ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ - طَلْعَت، مَجْمُوعُ: ٩٦٥).
Artinya: 117 - Manaqib Al-Bukhari (Keutamaan Imam Al-Bukhari). (Darul Kutub Al-Mishriyyah - Thal'at, Majmu': 965).
١١٨ - نِعْمَ السَّمَرُ فِي سِيرَةِ عُمَرَ.
Artinya: 118 - Ni'mas Samar fi Sirati 'Umar (Sebaik-baik percakapan malam adalah tentang sirah Umar bin Khattab).
١١٩ - نَفْضُ الْجُعْبَةِ فِي أَخْبَارِ شُعْبَةَ.
Artinya: 119 - Nafdhul Ju'bah fi Akhbari Syu'bah (Mengosongkan tempat anak panah dalam berita tentang Syu'bah bin Al-Hajjaj).
١٢٠ - سِيرَةُ لِنَفْسِهِ.
Artinya: 120 - Sirah li Nafsihi (Biografi dirinya sendiri).
عَاشِراً: الْمُنَوَّعَاتُ:
Artinya: Kesepuluh: Aneka Ragam (Al-Munawwa'at):
١٢١ - بَيَانُ زَغَلِ الْعِلْمِ وَالطَّلَبِ(٧). (مَطْبُوعٌ، دِمَشْقَ: ١٣٤٧).
Artinya: 121 - Penjelasan tentang Tipu Daya dalam Ilmu dan Menuntut Ilmu (7). (Telah dicetak, Damaskus: 1347).
١٢٢ - التَّمَسُّكُ بِالسُّنَنِ.
Artinya: 122 - Berpegang Teguh pada Sunnah-sunnah Nabi.
١٢٣ - جُزْءٌ فِي فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ.
Artinya: 123 - Risalah mengenai Keutamaan Ayat Kursi.
١٢٤ - الطِّبُّ النَّبَوِيُّ (طُبِعَ غَيْرَ مَرَّةٍ، وَيُنْسَبُ لِغَيْرِهِ أَيْضاً).
Artinya: 124 - Kedokteran ala Nabi SAW (Dicetak lebih dari sekali, dan dinisbatkan juga kepada selainnya).
١٢٥ - كَسْرُ وَثَنِ رَتَنٍ(٨).
Artinya: 125 - Menghancurkan Berhala Ratan (8).
أَحَدَ عَشَرَ: الْمُخْتَصَرَاتُ وَالْمُنْتَقَيَاتُ:
Artinya: Kesebelas: Kitab-kitab Ringkasan dan Pilihan (Al-Mukhtasharat wal Muntaqayat):
١٢٦ - أَحَادِيثُ مُخْتَارَةٌ مِنَ الْمَوْضُوعَاتِ مِنَ «الْأَبَاطِيلِ» لِلْجَوْرَقَانِيِّ(٩). (الْمَكْتَبَةُ الْأَزْهَرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٢٩٠ حَدِيثٍ).
Artinya: 126 - Hadits-hadits Pilihan dari Kitab Al-Mawdhu'at yang bersumber dari kitab Al-Abathil karya Al-Jawraqani (9). (Al-Maktabah Al-Azhariyyah, Majmu': 290 Hadits).
١٢٧ - بُلْبُلُ الرَّوْضِ.
Artinya: 127 - Bulbul Ar-Raudh (Bulbul dari kitab Ar-Raudh).
اِخْتَصَرَهُ مِنْ «الرَّوْضِ الْأُنْفِ» لِلسُّهَيْلِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٥٨١ هـ.
Artinya: Diringkas dari kitab "Ar-Raudhul Unuf" karya As-Suhaili yang wafat pada tahun 581 H.
١٢٨ - تَجْرِيدُ أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ. (مَطْبُوعٌ، حَيْدَرَ آبَادَ: ١٣١٥ هـ).
Artinya: 128 - Tajrid Asma'ish Shahabah (Penyucian/Ringkasan Nama-nama Sahabat). (Telah dicetak, Haidarabad: 1315 H).
اِخْتَصَرَهُ مِنْ «أُسْدِ الْغَابَةِ» لِابْنِ الْأَثِيرِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٣٠ هـ.
Artinya: Diringkas dari kitab "Usdul Ghabah" karya Ibnu Al-Atsir yang wafat pada tahun 630 H.
١٢٩ - تَهْذِيبُ تَهْذِيبِ الْكَمَالِ فِي أَسْمَاءِ الرِّجَالِ (أَحْمَدُ الثَّالِثُ: ٢٩٤٩ / ١ - ٤).
Artinya: 129 - Tahdzibu Tahdzibil Kamal fi Asma'ir Rijal (Penyempurnaan Tahdzibul Kamal dalam nama-nama perawi). (Ahmad Ats-Tsalits: 2949 / 1 - 4).
١٣٠ - تَرْتِيبُ «الْمَوْضُوعَاتِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ. (الْمَكْتَبَةُ الْأَزْهَرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٢٩٠ حَدِيثٍ).
Artinya: 130 - Penyusunan ulang kitab "Al-Mawdhu'at" karya Ibnu Al-Jauzi. (Al-Maktabah Al-Azhariyyah, Majmu': 290 hadits).
١٣١ - تَلْخِيصُ «الْعِلَلِ الْمُتَنَاهِيَةِ فِي الْأَحَادِيثِ الْوَاهِيَةِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ (الْمَكْتَبَةُ الْأَزْهَرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٢٩٠ حَدِيثٍ).
Artinya: 131 - Ringkasan kitab "Al-'Ilal Al-Mutanahiyah fil Ahaditsil Wahiyah" karya Ibnu Al-Jauzi (Al-Maktabah Al-Azhariyyah, Majmu': 290 hadits).
١٣٢ - تَنْقِيحُ كِتَابِ «التَّحْقِيقِ فِي أَحَادِيثِ التَّعْلِيقِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ. (فَيْضُ الله: ٢٩٦).
Artinya: 132 - Revisi kitab "At-Tahqiq fi Ahaditsit Ta'liq" karya Ibnu Al-Jauzi. (Faidullah: 296).
١٣٣ - تَهْذِيبُ تَارِيخِ(١٠) عَلَمِ الدِّينِ الْبِرْزَالِيِّ.
Artinya: 133 - Penyempurnaan Sejarah (10) karya 'Alamuddin Al-Birzali.
١٣٤ - ذِكْرُ الْجَهْرِ بِالْبَسْمَلَةِ مُخْتَصَراً. (الظَّاهِرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٥٥).
Artinya: 134 - Ringkasan menyebutkan menjaharkan Basmalah. (Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 55).
اِخْتَصَرَهُ مِنْ تَصْنِيفٍ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ لِلْخَطِيبِ الْبَغْدَادِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٦٣ هـ.
Artinya: Diringkas dari sebuah karya tulis mengenai topik ini oleh Al-Khathib Al-Baghdadi yang wafat pada tahun 463 H.
١٣٥ - الرُّخْصَةُ فِي الْغِنَاءِ وَالطَّرَبِ بِشَرْطِهِ. (الظَّاهِرِيَّةُ: ٧١٥٩).
Artinya: 135 - Keringanan dalam bernyanyi dan bersuka ria dengan syaratnya. (Azh-Zhahiriyyah: 7159).
اِخْتَصَرَهُ مِنْ كِتَابِ «السَّمَاعِ» لِلْأَدْفَوِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٨ هـ.
Artinya: Diringkas dari kitab "As-Sama'" karya Al-Adfawi yang wafat pada tahun 748 H.
١٣٦ - الْكَاشِفُ فِي مَعْرِفَةِ مَنْ لَهُ رِوَايَةٌ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ. (مَطْبُوعٌ، الْقَاهِرَةُ: ١٩٧٢).
Artinya: 136 - Al-Kasyif dalam mengetahui perawi yang memiliki riwayat dalam Kutubus Sittah. (Telah dicetak, Kairo: 1972).
١٣٨ - مُخْتَصَرُ «إِنْبَاهِ الرُّوَاةِ عَلَى أَنْبَاهِ النُّحَاةِ» لِابْنِ الْقِفْطِيِّ.
Artinya: 138 - Ringkasan "Pemberitahuan kepada Para Perawi tentang Informasi Para Ahli Nahwu" karya Ibnu Al-Qifthi.
١٣٩ - مُخْتَصَرُ «الْأَنْسَابِ» لِأَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيِّ.
Artinya: 139 - Ringkasan "Silsilah Nasab" karya Abu Sa'ad As-Sam'ani.
١٤٠ - مُخْتَصَرُ «الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ» لِلْبَيْهَقِيِّ.
Artinya: 140 - Ringkasan "Kebangkitan dan Penyebaran (Hari Kiamat)" karya Al-Baihaqi.
١٤١ - مُخْتَصَرُ «تَارِيخِ بَغْدَادَ» لِلْخَطِيبِ الْبَغْدَادِيِّ.
Artinya: 141 - Ringkasan "Sejarah Kota Baghdad" karya Al-Khathib Al-Baghdadi.
١٤٢ - مُخْتَصَرُ «تَارِيخِ دِمَشْقَ» لِابْنِ عَسَاكِرَ.
Artinya: 142 - Ringkasan "Sejarah Kota Damaskus" karya Ibnu 'Asakir.
١٤٣ - مُخْتَصَرُ «تَارِيخِ مِصْرَ» لِابْنِ يُونُسَ.
Artinya: 143 - Ringkasan "Sejarah Mesir" karya Ibnu Yunus.
١٤٤ - مُخْتَصَرُ «تَارِيخِ نَيْسَابُورَ» لِأَبِي عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمِ.
Artinya: 144 - Ringkasan "Sejarah Naisabur" karya Abu 'Abdillah Al-Hakim.
١٤٥ - مُخْتَصَرُ «تُحْفَةِ الْأَشْرَافِ بِمَعْرِفَةِ الْأَطْرَافِ» لِلْمِزِّيِّ.
Artinya: 145 - Ringkasan "Kado Kehormatan dalam Mengenal Atraf (Hadits)" karya Al-Mizzi.
١٤٦ - مُخْتَصَرُ «تَقْوِيمِ الْبُلْدَانِ» لِأَبِي الْفِدَاءِ.
Artinya: 146 - Ringkasan "Evaluasi Geografi Negeri-negeri" karya Abu Al-Fida.
١٤٧ - مُخْتَصَرُ «التَّكْمِلَةِ لِكِتَابِ الصِّلَةِ» لِابْنِ الْأَبَّارِ.
Artinya: 147 - Ringkasan "Pelengkap Kitab Ash-Shilah (Sambungan Biografi Tokoh)" karya Ibnu Al-Abbar.
١٤٨ - مُخْتَصَرُ «التَّكْمِلَةِ لِوَفَيَاتِ النَّقَلَةِ» لِلْمُنْذِرِيِّ.
Artinya: 148 - Ringkasan "Pelengkap Wafatnya Para Periwayat Hadits" karya Al-Mundziri.
١٤٩ - مُخْتَصَرُ «جَامِعِ بَيَانِ الْعِلْمِ وَفَضْلِهِ» لِابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ.
Artinya: 149 - Ringkasan "Himpunan Penjelasan tentang Ilmu dan Keutamaannya" karya Ibnu 'Abdil Barr.
١٥٠ - مُخْتَصَرُ «الْجِهَادِ» لِبَهَاءِ الدِّينِ ابْنِ عَسَاكِرَ.
Artinya: 150 - Ringkasan "Jihad" karya Baha'uddin Ibnu 'Asakir.
١٥١ - مُخْتَصَرُ «ذَيْلِ تَارِيخِ بَغْدَادَ» لِأَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيِّ.
Artinya: 151 - Ringkasan "Lampiran Sejarah Baghdad" karya Abu Sa'ad As-Sam'ani.
١٥٢ - مُخْتَصَرُ «الرَّدِّ عَلَى ابْنِ طَاهِرٍ(١١)» لِابْنِ الْمَجْدِ(١٢).
Artinya: 152 - Ringkasan "Sanggahan terhadap Ibnu Thahir(11)" karya Ibnu Al-Majd(12).
١٥٣ - مُخْتَصَرُ «الرَّوْضَتَيْنِ فِي أَخْبَارِ الدَّوْلَتَيْنِ» وَذَيْلِهِ لِأَبِي شَامَةَ.
Artinya: 153 - Ringkasan "Dua Taman dalam Berita Dua Negara (Nuruddin dan Shalahuddin)" beserta lampirannya karya Abu Syamah.
١٥٤ - مُخْتَصَرُ «الزُّهْدِ» لِلْبَيْهَقِيِّ. (عَارِفُ حِكْمَت بِالْمَدِينَةِ الْمُنَوَّرَةِ).
Artinya: 154 - Ringkasan "Az-Zuhd" karya Al-Baihaqi. ('Arif Hikmat, Madinah Al-Munawwarah).
١٥٥ - مُخْتَصَرُ «سِلَاحِ الْمُؤْمِنِ فِي الْأَدْعِيَةِ الْمَأْثُورَةِ» لِابْنِ الْإِمَامِ(١٣).
Artinya: 155 - Ringkasan "Senjata Orang Beriman dalam Doa-doa yang Ma'tsur" karya Ibnu Al-Imam (13).
١٥٦ - مُخْتَصَرُ «صِلَةِ التَّكْمِلَةِ لِوَفَيَاتِ النَّقَلَةِ» لِعِزِّ الدِّينِ الْحُسَيْنِيِّ.
Artinya: 156 - Ringkasan "Sambungan Pelengkap bagi Wafatnya Para Periwayat Hadits" karya 'Izzuddin Al-Husaini.
١٥٧ - مُخْتَصَرُ «الضُّعَفَاءِ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ.
Artinya: 157 - Ringkasan "Adh-Dhu'afa'" karya Ibnu Al-Jauzi.
١٥٨ - مُخْتَصَرُ «الْفَارُوقِ فِي الصِّفَاتِ» لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ الْأَنْصَارِيِّ.
Artinya: 158 - Ringkasan "Al-Faruq dalam Sifat-sifat" karya Syaikhul Islam Al-Anshari.
١٥٩ - مُخْتَصَرُ «الْقَدْرِ» لِلْبَيْهَقِيِّ.
Artinya: 159 - Ringkasan "Qadar" karya Al-Baihaqi.
١٦٠ - الْمُخْتَصَرُ الْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ تَارِيخِ الْحَافِظِ أَبِي عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ مُحَمَّدِ ابْنِ الدُّبَيْثِيِّ. (طُبِعَ بِبَغْدَادَ: ١٩٥١ - ١٩٧٦).
Artinya: 160 - Ringkasan yang Dibutuhkan dari Sejarah karya Al-Hafizh Abu 'Abdillah Muhammad bin Sa'id bin Muhammad Ibnu Ad-Dubaitsi. (Dicetak di Baghdad: 1951 - 1976).
١٦١ - مُخْتَصَرُ «الْمَدْخَلِ إِلَى كِتَابِ السُّنَنِ» لِلْبَيْهَقِيِّ.
Artinya: 161 - Ringkasan "Pengantar Kitab As-Sunan" karya Al-Baihaqi.
١٦٢ - مُخْتَصَرُ «الْمُسْتَدْرَكِ عَلَى الصَّحِيحَيْنِ» لِأَبِي عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمِ (طُبِعَ بِهَامِشِ الْمُسْتَدْرَكِ).
Artinya: 162 - Ringkasan "Al-Mustadrak 'ala Ash-Shahihain" karya Abu 'Abdillah Al-Hakim (Dicetak di pinggiran kitab Al-Mustadrak).
١٦٣ - مُخْتَصَرُ «الْمُعْجِبِ فِي تَلْخِيصِ أَخْبَارِ الْمَغْرِبِ» لِلْمَرَّاكُشِيِّ.
Artinya: 163 - Ringkasan "Al-Mu'jib dalam Meringkas Berita Negeri Maghrib" karya Al-Marrakusyi.
١٦٤ - مُخْتَصَرُ «مَنَاقِبِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ» لِابْنِ الْجَوْزِيِّ.
Artinya: 164 - Ringkasan "Keutamaan Sufyan Ats-Tsauri" karya Ibnu Al-Jauzi.
١٦٥ - مُخْتَصَرُ «وَفَيَاتِ الْأَعْيَانِ» لِابْنِ خَلِّكَانَ.
Artinya: 165 - Ringkasan "Wafatnya Tokoh-tokoh Terkemuka" karya Ibnu Khallikan.
١٦٦ - مُخْتَصَرُ «الْوَهَمِ وَالْإِيهَامِ الْوَاقِعَيْنِ فِي كِتَابِ الْأَحْكَامِ» لِابْنِ الْقَطَّانِ. (الظَّاهِرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٧٠).
Artinya: 166 - Ringkasan "Kekeliruan dan Prasangka yang Terjadi dalam Kitab Al-Ahkam" karya Ibnu Al-Qaththan. (Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 70).
١٦٧ - الْمُسْتَحْلَى فِي اخْتِصَارِ «الْمُحَلَّى» لِابْنِ حَزْمٍ.
Artinya: 167 - Ringkasan "Al-Mustahla" dari kitab "Al-Muhalla" karya Ibnu Hazm.
١٦٨ - مَعْرِفَةُ التَّابِعِينَ مِنَ «الثِّقَاتِ» لِابْنِ حِبَّانَ. (الْإِسْكُورِيَالُ: ١٦٨٩).
Artinya: 168 - "Mengenal Para Tabi'in dari kitab Ats-Tsiqat" karya Ibnu Hibban. (Al-Iskuriyal: 1689).
١٦٩ - الْمُقْتَضَبُ مِنْ «تَهْذِيبِ الْكَمَالِ» لِلْمِزِّيِّ.
Artinya: 169 - Ringkasan dari "Penyempurnaan Kesempurnaan" karya Al-Mizzi.
١٧٠ - الْمُقْتَنَى فِي سَرْدِ الْكُنَى. (الْأَحْمَدِيَّةُ بِحَلَبَ: ٣٢٨). اخْتَصَرَهُ مِنْ كِتَابِ «الْكُنَى» لِأَبِي أَحْمَدَ الْحَاكِمِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٣٧٨.
Artinya: 170 - "Yang Terpilih dalam Menyebutkan Julukan (Kunyah)". (Al-Ahmadiyyah di Aleppo: 328). Diringkas dari kitab "Julukan" karya Abu Ahmad Al-Hakim yang wafat pada tahun 378 H.
١٧١ - الْمُنْتَخَبُ مِنَ «التَّارِيخِ الْمُجَدَّدِ لِمَدِينَةِ السَّلَامِ» لِابْنِ النَّجَّارِ الْبَغْدَادِيِّ.
Artinya: 171 - Pilihan dari "Sejarah Kota Perdamaian yang Diperbarui" karya Ibnu An-Najjar Al-Baghdadi.
١٧٢ - مُنْتَقَى «الِاسْتِيعَابِ فِي مَعْرِفَةِ الْأَصْحَابِ» لِابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ.
Artinya: 172 - Pilihan dari "Penyeluruh dalam Mengenal Para Sahabat" karya Ibnu 'Abdil Barr.
١٧٣ - الْمُنْتَقَى مِنْ تَارِيخِ أَبِي الْفِدَاءِ.
Artinya: 173 - Pilihan dari "Sejarah" karya Abu Al-Fida'.
١٧٤ - الْمُنْتَقَى مِنْ «تَارِيخِ خَوَارِزْمَ» لِابْنِ أَرْسَلَانَ الْخُوَارِزْمِيِّ.
Artinya: 174 - Pilihan dari "Sejarah Khawarizm" karya Ibnu Arsalan Al-Khawarizmi.
١٧٥ - الْمُنْتَقَى مِنْ «مُسْنَدِ» أَبِي عَوَانَةَ.
Artinya: 175 - Pilihan dari "Kumpulan Hadits Bersanad" karya Abu 'Awanah.
١٧٦ - الْمُنْتَقَى مِنْ «مُسْنَدِ» عَبْدِ بْنِ حُمَيْدٍ.
Artinya: 176 - Pilihan dari "Kumpulan Hadits Bersanad" karya 'Abdu bin Humaid.
١٧٧ - الْمُنْتَقَى مِنْ «مُعْجَمِ شُيُوخِ» يُوسُفَ بْنِ خَلِيلٍ الدِّمَشْقِيِّ.
Artinya: 177 - Pilihan dari "Kamus Guru-guru" karya Yusuf bin Khalil Ad-Dimasyqi.
١٧٨ - الْمُنْتَقَى مِنْ مُعْجَمَيِ الطَّبَرَانِيِّ الْأَوْسَطِ وَالْكَبِيرِ وَمِنْ مُسْنَدِ الْمُقِلِّينَ لِلدَّعْلَجِ. (مِنْهُ قِطْعَةٌ فِي الظَّاهِرِيَّةِ، مَجْمُوعُ: ٧١).
Artinya: 178 - Pilihan dari dua Kamus Ath-Thabrani (Tengah dan Besar) serta dari "Kumpulan Hadits Bersanad bagi Periwayat Sedikit" karya Ad-Da'laj. (Di dalamnya terdapat potongan di Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 71).
١٧٩ - الْمُنْتَقَى مِنْ «مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ» لِابْنِ مَنْدَةَ.
Artinya: 179 - Pilihan dari "Mengenal Para Sahabat" karya Ibnu Mandah.
١٨٠ - الْمُنْتَقَى مِنْ «مِنْهَاجِ الِاعْتِدَالِ فِي نَقْضِ كَلَامِ أَهْلِ الرَّفْضِ وَالِاعْتِزَالِ» لِابْنِ تَيْمِيَّةَ. (طُبِعَ بِمِصْرَ: ١٣٧٤ هـ).
Artinya: 180 - Pilihan dari "Jalan Kesederhanaan dalam Membantah Perkataan Penganut Syiah dan Mu'tazilah" karya Ibnu Taimiyyah. (Dicetak di Mesir: 1374 H).
١٨١ - مُهَذَّبُ «السُّنَنِ الْكُبْرَى» لِلْبَيْهَقِيِّ. (مَكْتَبَةُ مَدَنِيَّةَ بِاسْتَانْبُولَ ٢٥٨، ٢٥٩، ٢٦٠ وَطُبِعَ بِالْقَاهِرَةِ بِاسْمِ «الْمُهَذَّبِ فِي اخْتِصَارِ السُّنَنِ الْكَبِيرَةِ» وَهُوَ عُنْوَانٌ غَيْرُ صَحِيحٍ).
Artinya: 181 - "Penyuntingan Sunan Besar" karya Al-Baihaqi. (Perpustakaan Madaniyyah di Istanbul: 258, 259, 260. Dicetak di Kairo dengan judul "Penyuntingan dalam Meringkas Sunan Besar", dan judul itu tidak tepat).
١٨٢ - نُبْذَةٌ مِنْ فَوَائِدِ تَارِيخِ ابْنِ الْجَزَرِيِّ(١٤). (كُويَرْلِي: ١١٤٧).
Artinya: 182 - Potongan dari faedah sejarah karya Ibnu Al-Jazari (14). (Kuyarli: 1147).
١٨٣ - النُّبَلَاءُ فِي شُيُوخِ السَّنَةِ. اخْتَصَرَهُ مِنْ كِتَابِ «الْمُعْجَمِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى أَسْمَاءِ شُيُوخِ الْأَئِمَّةِ النُّبَلِ» لِابْنِ عَسَاكِرَ.
Artinya: 183 - Para tokoh mulia dalam guru-guru tahun. Diringkas dari kitab "Kamus yang Memuat Nama-nama Guru Para Imam yang Mulia" karya Ibnu 'Asakir.
اثنا عشر : التخاريج
Artinya: Dua belas: At-Takharij (Pengeluaran/Pengutipan Hadits)
Adz-Dzahabi telah melakukan takhrij terhadap sejumlah besar kamus guru dan kumpulan guru (masyikhat), bagian-bagian hadits yang besar maupun kecil, di antaranya:
أ - معجمات الشيوخ
Artinya: A - Kamus-kamus Guru
١٨٤ - مُعْجَمُ شُيُوخِ ابْنِ الْبَالِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١١ هـ.
Artinya: 184 - Kamus guru Ibnu Al-Balisi yang wafat pada tahun 711 H.
١٨٥ - مُعْجَمُ شُيُوخِ ابْنِ حَبِيبٍ الدِّمَشْقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٧٩ هـ.
Artinya: 185 - Kamus guru Ibnu Habib Ad-Dimasyqi yang wafat pada tahun 779 H.
١٨٦ - مُعْجَمُ شُيُوخِ عَلَاءِ الدِّينِ ابْنِ الْعَطَّارِ الدِّمَشْقِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٢٤ هـ.
Artinya: 186 - Kamus guru 'Ala'uddin Ibnu Al-'Aththar Ad-Dimasyqi yang wafat pada tahun 724 H.
١٨٧ - الْمُعْجَمُ الْعَلِيُّ لِلْقَاضِي الْحَنْبَلِيِّ (أَبِي الْفَضْلِ سُلَيْمَانَ بْنِ حَمْزَةَ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٥ هـ).
Artinya: 187 - "Kamus Tinggi" karya Hakim Al-Hanbali (Abu Al-Fadhl Sulaiman bin Hamzah Al-Maqdisi yang wafat pada tahun 715 H).
ب - المشيخات
Artinya: B - Kumpulan Guru (Masyikhat)
١٨٨ - مَشِيخَةُ التَّلِّيِّ (مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الصَّالِحِيِّ الْخَيَّاطِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤١ هـ).
Artinya: 188 - Kumpulan guru At-Talliy (Muhammad bin Ahmad Ash-Shalihi Al-Khayyath yang wafat pada tahun 741 H).
١٨٩ - مَشِيخَةُ الْجَعْبَرِيِّ الْمُتَوَفِّى سَنَةَ ٧٠٦ هـ.
Artinya: 189 - Kumpulan guru Al-Ja'bari yang wafat pada tahun 706 H.
١٩٠ - مَشِيخَةُ ابْنِ الزَّرَّادِ الْحَرِيرِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٢٦ هـ.
Artinya: 190 - Kumpulan guru Ibnu Az-Zarrad Al-Hariri yang wafat pada tahun 726 H.
١٩١ - مَشِيخَةُ عِزِّ الدِّينِ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٠ هـ.
Artinya: 191 - Kumpulan guru 'Izzuddin Al-Maqdisi yang wafat pada tahun 700 H.
١٩٢ - مَشِيخَةُ ابْنِ الْقَوَّاسِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٨ هـ.
Artinya: 192 - Kumpulan guru Ibnu Al-Qawwas yang wafat pada tahun 698 H.
١٩٣ - مَشِيخَةُ زَيْنِ الدِّينِ الْكَحَّالِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٠ هـ.
Artinya: 193 - Kumpulan guru Zainuddin Al-Kahhal yang wafat pada tahun 730 H.
ج - الأربعينات
Artinya: C - Kitab-kitab Arba'in (Empat Puluhan Hadits)
١٩٤ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا بُلْدَانِيَّةً مِنَ «الْمُعْجَمِ الصَّغِيرِ» لِلطَّبَرَانِيِّ. (التَّيْمُورِيَّةُ بِمِصْرَ: ٤٣٨ حَدِيثًا).
Artinya: 194 - Empat puluh hadits yang berkaitan dengan tempat dari "Al-Mu'jam Ash-Shaghir" karya Ath-Thabrani. (At-Taimuriyyah di Mesir: 438 hadits).
١٩٥ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا بُلْدَانِيَّةً مِنَ «مُعْجَمِ» ابْنِ جُمَيْعٍ الصَّيْدَاوِيِّ.
Artinya: 195 - Empat puluh hadits yang berkaitan dengan tempat dari "Mu'jam" karya Ibnu Jumai' Ash-Shaidawi.
١٩٦ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا بُلْدَانِيَّةً مِنَ «مُعْجَمِ شُيُوخِ» أَبِي بَكْرٍ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٨ هـ.
Artinya: 196 - Empat puluh hadits yang berkaitan dengan tempat dari "Mu'jam Syuyukh" karya Abu Bakr Al-Maqdisi yang wafat pada tahun 718 H.
١٩٧ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا بُلْدَانِيَّةً مِنَ «مُعْجَمِ شُيُوخِ» ابْنِ زَاذَانَ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٤٨١ هـ.
Artinya: 197 - Empat puluh hadits yang berkaitan dengan tempat dari "Mu'jam Syuyukh" karya Ibnu Zadz-dzan yang wafat pada tahun 481 H.
١٩٨ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا لِأَبِي الْمَعَالِي الْأَبَرْقُوهِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠١ هـ.
Artinya: 198 - Empat puluh hadits karya Abu Al-Ma'ali Al-Abarquhi yang wafat pada tahun 701 H.
١٩٩ - أَرْبَعُونَ حَدِيثًا لِابْنِهِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٩٩ هـ.
Artinya: 199 - Empat puluh hadits karya putranya, Abu Hurairah 'Abdurrahman yang wafat pada tahun 799 H.
د - الثلاثينات
Artinya: D - Kitab-kitab Tsalatsin (Tiga Puluhan Hadits)
٢٠٠ - ثَلَاثُونَ حَدِيثًا مِنَ «الْمُعْجَمِ الصَّغِيرِ» لِلطَّبَرَانِيِّ.
Artinya: 200 - Tiga puluh hadits dari "Al-Mu'jam Ash-Shaghir" karya Ath-Thabrani.
هـ - العوالي
Artinya: E - Kitab-kitab Al-'Awali (Hadits dengan Sanad Tinggi/Pendek)
٢٠١ - عَوَالِي الشَّمْسِ ابْنِ الْوَاسِطِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٩٩ هـ.
Artinya: 201 - Hadits-hadits 'Awali karya Syams Ibnu Al-Wasithi yang wafat pada tahun 699 H.
٢٠٢ - عَوَالِي الطَّاوُوسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٤ هـ.
Artinya: 202 - Hadits-hadits 'Awali karya Ath-Thawusi yang wafat pada tahun 704 H.
٢٠٣ - عَوَالِي أَبِي عَبْدِ اللهِ ابْنِ الْيُونِينِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٤٧ هـ.
Artinya: 203 - Hadits-hadits 'Awali karya Abu 'Abdillah Ibnu Al-Yunini yang wafat pada tahun 747 H.
٢٠٤ - الْعَوَالِي مِنْ حَدِيثِ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ.
Artinya: 204 - Hadits-hadits 'Awali dari hadits Malik bin Anas.
٢٠٥ - الْعَوَالِي الْمُنْتَقَاةُ مِنْ حَدِيثِ الذَّهَبِيِّ. (الظَّاهِرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٤٥١٢ عَام).
Artinya: 205 - Hadits-hadits 'Awali pilihan dari hadits Adz-Dzahabi. (Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 4512 umum).
و - الأجزاء
Artinya: F - Kitab-kitab Al-Ajza' (Bagian Hadits)
٢٠٦ - الْجُزْءُ الْمُلَقَّبُ بِالدِّينَارِ مِنْ حَدِيثِ الْمَشَايِخِ الْكِبَارِ (دَارُ الْكُتُبِ الْمِصْرِيَّةِ: ١٥٠٨ حَدِيث).
Artinya: 206 - Bagian yang dijuluki "Dinar" dari hadits para guru besar (Darul Kutub Al-Mishriyyah: 1508 hadits).
٢٠٧ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ الْقَزْوِينِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٠٤ هـ.
Artinya: 207 - Bagian dari hadits Al-Qazwini yang wafat pada tahun 704 H.
٢٠٨ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الْمَرْسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧١٨ هـ.
Artinya: 208 - Bagian dari hadits Abu Bakr Al-Mursi yang wafat pada tahun 718 H.
٢٠٩ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ الْمُحِبِّ الْمَقْدِسِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٠ هـ.
Artinya: 209 - Bagian dari hadits Ibnu Al-Muhib Al-Maqdisi yang wafat pada tahun 730 H.
٢١٠ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ الْكُوَيْكِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٤ هـ.
Artinya: 210 - Bagian dari hadits Ibnu Al-Kuwaik yang wafat pada tahun 734 H.
٢١١ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ أَمِينِ الدِّينِ الْوَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٥ هـ.
Artinya: 211 - Bagian dari hadits Aminuddin Al-Wani yang wafat pada tahun 735 H.
٢١٢ - جُزْءٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ جَمَاعَةَ الْكِنَانِيِّ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٦٧ هـ.
Artinya: 212 - Bagian dari hadits Ibnu Jama'ah Al-Kinani yang wafat pada tahun 767 H.
٢١٣ - أَحَادِيثُ «مُخْتَصَرِ» ابْنِ الْحَاجِبِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٦٤٦ هـ. (وَمُخْتَصَرُ ابْنِ الْحَاجِبِ مِنْ كُتُبِ أُصُولِ الْفِقْهِ الْمَشْهُورَةِ وَهُوَ «مُنْتَهَى السُّؤَالِ وَالْأَمَلِ فِي عِلْمَيِ الْأُصُولِ وَالْجَدَلِ» وَقَدْ طُبِعَ).
Artinya: 213 - Hadits-hadits "Ringkasan" karya Ibnu Al-Hajib yang wafat pada tahun 646 H. (Ringkasan Ibnu Al-Hajib adalah kitab-kitab ushul fiqih yang terkenal, yaitu "Puncak Pertanyaan dan Cita-cita dalam Dua Ilmu: Ushul dan Perdebatan", dan telah dicetak).
٢١٤ - ثُلَاثِيَّاتُ ابْنِ مَاجَهْ. (الظَّاهِرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٥٩).
Artinya: 214 - Hadits-hadits Tsulatsiyyat (bersanad tiga) Ibnu Majah. (Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 59).
٢١٥ - الْمُنْتَقَى مِنْ حَدِيثِ تَقِيِّ الدِّينِ ابْنِ الشَّيْخِ شَمْسِ الدِّينِ ابْنِ الْمَجْدِ الْبَعْلِيِّ. (الظَّاهِرِيَّةُ، مَجْمُوعُ: ٢٥).
Artinya: 215 - Pilihan dari hadits Taqiyyuddin Ibnu Asy-Syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Majd Al-Ba'li. (Azh-Zhahiriyyah, Majmu': 25).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar