BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al 'Adnaniyyuun - Episode 5

AL-'ADNANIYYUN
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Firasat di Balik Jejak: Hikmah Wasiat Nizar dan Kecerdasan Bani Adnan

Episode ini mengisahkan detik-detik terakhir Nizar bin Ma'ad yang meninggalkan teka-teki warisan, yang kemudian dipecahkan oleh putra-putranya melalui firasat tajam. Sebuah bukti bahwa kecerdasan yang diasah dengan kesabaran adalah warisan yang lebih berharga daripada emas.

سَجَى نِزَارُ بْنُ مَعَدٍّ فِي فِرَاشِهِ وَجَلَسَتْ عِنْدَ رَأْسِهِ زَوْجَتَاهُ سَوْدَةُ بِنْتُ عُكٍّ وَالْجَدْلَةُ بِنْتُ جَوْشَنَ بْنِ جَلْهَمَةَ بْنِ جُرْهُمٍ . وَرَأَتْ الزَّوْجَتَانِ أَنَّ قَدْ حَضَرَتْ نِزَارًا الْوَفَاةُ ، فَبَعَثَتْ سَوْدَةُ تَطْلُبُ وَلَدَيْهَا مُضَرَ وَإِيَادَ ، وَأَرْسَلَتْ الْجَدْلَةُ إِلَى وَلَدَيْهَا رَبِيعَةَ وَأَنْمَارَ أَنْ أَقْبِلَا فَأَبُوهُمَا يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ . وَجَاءَ مُضَرُ وَرَبِيعَةُ وَإِيَادُ وَأَنْمَارُ وَالْتَفُّوا بِأَبِيهِمْ حَفِيدِ عَدْنَانَ ، وَأَلْقَوْا إِلَيْهِ السَّمْعَ فَقَالَ نِزَارٌ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ :
Nizar bin Ma'ad terbaring di tempat tidurnya dan duduk di samping kepalanya kedua istrinya, Saudah binti 'Akk dan al-Jadlah binti Jausyan bin Jalhamah bin Jurhum. Kedua istrinya melihat bahwa kematian telah mendatangi Nizar, maka Saudah mengirim (utusan) untuk memanggil kedua putranya, Mudhar dan Iyad, dan al-Jadlah mengirim (utusan) kepada kedua putranya, Rabi'ah dan Anmar, agar mereka datang karena ayah mereka sedang menghembuskan nafas terakhirnya. Datanglah Mudhar, Rabi'ah, Iyad, dan Anmar, lalu mereka berkumpul mengelilingi ayah mereka, cucu Adnan, dan mereka mendengarkan dengan seksama, maka Nizar berkata dengan suara lirih:
— وِلَايَةُ الْكَعْبَةِ لِإِيَادَ .. أَخْرِجُوا جُرْهُمَ مِنْ الْبَيْتِ فَقَدْ كَثُرَتْ مَظَالِمُهُمْ .
— Perwalian Ka'bah untuk Iyad.. Keluarkanlah Jurhum dari Baitullah karena kezhaliman mereka telah banyak.
وَصَمَتَ لِيَلْتَقِطَ أَنْفَاسَهُ ، ثُمَّ قَالَ فِي جَهْدٍ وَهُوَ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ فِي بَنِيهِ :
Dia terdiam untuk mengatur nafasnya, kemudian berkata dengan susah payah seraya mengarahkan wajahnya kepada anak-anaknya:
— أَيُّ بَنِيَّ ، هَذِهِ الْقُبَّةُ الْحَمْرَاءُ وَهِيَ مِنْ أَدَمٍ وَمَا أَشْبَهَهَا مِنْ الْمَالِ فَلِمُضَرَ ، وَهَذِهِ الْبَدْرَةُ وَالْمَجْلِسُ فَلِأَنْمَارَ ، وَهَذَا الْفَرَسُ الْأَدْهَمُ وَالْخِبَاءُ الْأَسْوَدُ وَمَا أَشْبَهَهَا مِنْ مَالٍ فَلِرَبِيعَةَ .
— Wahai anak-anakku, kubah merah ini yang terbuat dari kulit dan apa yang menyerupainya dari harta adalah untuk Mudhar, dan kantung uang serta majelis ini untuk Anmar, dan kuda hitam legam serta kemah hitam dan apa yang menyerupainya dari harta adalah untuk Rabi'ah.
وَالْتَفَتَ إِلَى خَادِمٍ شَمْطَاءَ كَانَتْ تَرْقُبُهُ فِي حُزْنٍ وَقَالَ :
Dia menoleh kepada seorang pelayan tua yang sedang mengamatinya dengan sedih dan berkata:
— وَهَذِهِ الْخَادِمُ وَمَا أَشْبَهَهَا مِنْ مَالِي فَلِإِيَادَ . وَإِنْ أَشْكَلَ عَلَيْكُمْ كَيْفَ تَقْتَسِمُونَ فَأْتُوا الْأَفْعَى الْجُرْهُمِيَّ وَمَنْزِلُهُ بِنَجْرَانَ ، وَإِنْ أَمِنْتُمْ رَضِيتُمْ .
— Dan pelayan ini serta apa yang menyerupainya dari hartaku adalah untuk Iyad. Dan jika kalian bingung bagaimana cara membaginya, maka temuilah al-Af'a al-Jurhumi yang tempat tinggalnya di Najran, dan jika kalian merasa aman, maka kalian ridha.
وَخَفَتَ صَوْتُهُ وَانْبَهَرَتْ أَنْفَاسُهُ ، ثُمَّ سَكَنَتْ حَرَكَتُهُ إِلَى الْأَبَدِ ، فَقَامُوا مِنْ عِنْدِهِ وُجُوهُهُمْ بَاسِرَةٌ يَتَلَفَّتُونَ فِي حَيْرَةٍ ، فَقَدْ مَاتَ نِزَارٌ مِنْ مَلَأَ مَكَّةَ تُقًى وَعَدْلًا قَبْلَ أَنْ يَتِمَّ وَصِيَّتَهُ . وَاخْتَلَفَ بَنُو نِزَارٍ وَتَشَاجَرُوا فِي مِيرَاثِهِ وَلَمْ يَهْتَدُوا إِلَى الْقَسَمِ ، فَتَوَجَّهُوا إِلَى الْأَفْعَى يُرِيدُونَهُ فِي نَجْرَانَ ، وَفِيمَا هُمْ فِي الطَّرِيقِ إِذْ رَأَى مُضَرُ أَثَرَ بَعِيرٍ كَانَ يَرْعَى فَقَالَ :
Suaranya mengecil dan nafasnya tersengal, lalu gerakannya berhenti untuk selamanya. Mereka bangkit dari sisinya dengan wajah yang masam, menoleh ke sana kemari dalam kebingungan, karena Nizar, orang yang paling bertaqwa dan paling adil di Mekah, telah wafat sebelum menyelesaikan wasiatnya. Bani Nizar berselisih dan bertengkar mengenai warisannya dan tidak mendapat petunjuk untuk pembagiannya, maka mereka menuju kepada al-Af'a mencarinya di Najran. Di tengah perjalanan, Mudhar melihat jejak unta yang sedang merumput, lalu ia berkata:
— إِنَّ الَّذِي رَعَى هَذَا الْمَوْضِعَ لَبَعِيرٌ أَعْوَرُ .
— Sesungguhnya unta yang merumput di tempat ini adalah unta yang buta sebelah.
فَقَالَ رَبِيعَةُ : — إِنَّهُ لَأَزْوَرُ .
Rabi'ah berkata: — Sesungguhnya dia jalannya miring.
فَقَالَ إِيَادُ : — إِنَّهُ لَأَبْتَرُ .
Iyad berkata: — Sesungguhnya dia buntung.
فَقَالَ أَنْمَارُ : — إِنَّهُ لَشَرُودٌ .
Anmar berkata: — Sesungguhnya dia liar (sulit dikendalikan).
فَسَارُوا قَلِيلًا فَإِذَا بِرَجُلٍ يَسْأَلُهُمْ :
Mereka berjalan sedikit, tiba-tiba ada seorang lelaki bertanya kepada mereka:
— أَلَمْ تَرَوْا بِعِيرًا لِي قَدْ ضَلَّ ؟
— Tidakkah kalian melihat unta milikku yang hilang?
فَقَالَ مُضَرُ : — أَهْوَ أَعْوَرُ ؟
Mudhar berkata: — Apakah dia buta sebelah?
— نَعَمْ .
— Iya.
وَقَالَ رَبِيعَةُ : — أَهْوَ أَزْوَرُ ؟
Rabi'ah berkata: — Apakah dia jalannya miring?
— نَعَمْ .
— Iya.
وَقَالَ إِيَادُ : — أَهْوَ أَبْتَرُ ؟
Iyad berkata: — Apakah dia buntung?
— نَعَمْ .
— Iya.
وَقَالَ أَنْمَارُ : — أَهْوَ شَرُودٌ ؟
Anmar berkata: — Apakah dia liar?
فَتَهَلَّلَ الرَّجُلُ بِالْفَرَحِ وَقَالَ : — نَعَمْ هَذِهِ صِفَةُ بَعِيرِي . أَيْنَ هُوَ ؟
Lelaki itu berseri-seri gembira dan berkata: — Ya, ini ciri-ciri untaku. Di mana dia?
فَقَالُوا جَمِيعًا : — إِنَّا لَمْ نَرَهُ .
Mereka semua berkata: — Kami tidak melihatnya.
وَنَظَرَ إِلَيْهِمْ الرَّجُلُ فِي رِيبَةٍ وَقَالَ : — كَيْفَ لَمْ تَرَوْهُ ، وَقَدْ وَصَفْتُمْ لِي صِفَتَهُ ؟
Lelaki itu memandang mereka dengan curiga dan berkata: — Bagaimana kalian tidak melihatnya, padahal kalian telah mendeskripsikan ciri-cirinya kepadaku?
— قُلْنَا لَمْ نَرَهُ .
— Kami katakan kami tidak melihatnya.
وَانْطَلَقُوا إِلَى الْأَفْعَى الْجُرْهُمِيِّ وَالرَّجُلِ فِي أَثَرِهِمْ يَطْلُبُ بَعِيرَهُ ، حَتَّى إِذَا دَخَلُوا نَجْرَانَ وَبَلَغُوا الْأَفْعَى ، وَكَانَ حَكَمَ الْعَرَبِ وَقَاضِيَهُمْ ، هَرَعَ إِلَيْهِ الرَّجُلُ يَشْكُو إِلَيْهِ هَؤُلَاءِ الرِّجَالَ الَّذِينَ وَصَفُوا لَهُ بَعِيرَهُ ثُمَّ يَنْكِرُونَ أَنْ أَعْيُنَهُمْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ ، قَالَ صَاحِبُ الْبَعِيرِ :
Mereka beranjak menuju al-Af'a al-Jurhumi, sementara lelaki itu mengikuti mereka menuntut untanya, hingga ketika mereka memasuki Najran dan sampai kepada al-Af'a, yang merupakan hakim dan juru adil orang-orang Arab, lelaki itu bergegas mengadu kepadanya perihal orang-orang yang telah mendeskripsikan untanya kepadanya, kemudian mereka mengingkari bahwa mata mereka telah melihatnya. Pemilik unta berkata:
— هَؤُلَاءِ أَصَابُوا بَعِيرِي ، وَصَفُوا لِي صِفَتَهُ وَقَالُوا لَمْ نَرَهُ .
— Mereka ini menemukan untaku, mendeskripsikan ciri-cirinya kepadaku dan berkata kami tidak melihatnya.
وَحَلَفَ مُضَرُ أَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْهُ ، فَنَظَرَ الْأَفْعَى فِي عَيْنَيْ مُضَرَ وَقَالَ :
Mudhar bersumpah bahwa mereka tidak melihatnya, maka al-Af'a menatap kedua mata Mudhar dan berkata:
— وَكَيْفَ عَرَفْتَ أَنَّهُ أَعْوَرُ ؟
— Dan bagaimana engkau tahu bahwa dia buta sebelah?
— إِنَّهُ رَعَى جَانِبًا وَتَرَكَ جَانِبًا فَعَرَفْتُ أَنَّهُ أَعْوَرُ .
— Sesungguhnya dia merumput di satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya, maka aku tahu dia buta sebelah.
وَالْتَفَتَ الْأَفْعَى إِلَى رَبِيعَةَ وَقَالَ :
Al-Af'a menoleh kepada Rabi'ah dan berkata:
— وَكَيْفَ عَرَفْتَ أَنَّهُ أَزْوَرُ ؟
— Dan bagaimana engkau tahu bahwa dia jalannya miring?
— رَأَيْتُ إِحْدَى يَدَيْهِ ثَابِتَةَ الْأَثَرِ وَالْأُخْرَى فَاسِدَةَ الْأَثَرِ ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ أَفْسَدَهَا بِشِدَّةِ وَطْئِهِ .
— Aku melihat salah satu kakinya jejaknya stabil dan yang lainnya jejaknya rusak, maka aku tahu dia merusaknya karena kerasnya langkahnya.
وَقَالَ لِإِيَادَ :
Dan dia berkata kepada Iyad:
— كَيْفَ عَرَفْتَ أَنَّهُ أَبْتَرُ ؟
— Bagaimana engkau tahu bahwa dia buntung?
— بِاجْتِمَاعِ بَعْرِهِ ، وَلَوْ كَانَ ذِيَالًا لَمُصِيعَ بِهِ .
— Dengan berkumpulnya kotorannya, seandainya dia memiliki ekor panjang maka dia akan mengibaskannya.
فَقَالَ لِأَنْمَارَ :
Maka dia berkata kepada Anmar:
— وَكَيْفَ عَرَفْتَ أَنَّهُ شَرُودٌ ؟
— Dan bagaimana engkau tahu bahwa dia liar?
— إِنَّهُ رَعَى فِي الْمَكَانِ الْمَكْلِيِّ وَلَمْ يَجُزْهُ إِلَى مَكَانٍ أَغْزَرَ مِنْهُ نَبْتًا .
— Sesungguhnya dia merumput di tempat yang telah habis rumputnya dan tidak beralih ke tempat yang lebih subur tanamannya.
فَالْتَفَتَ الْأَفْعَى إِلَى صَاحِبِ الْبَعِيرِ وَقَالَ لَهُ :
Al-Af'a menoleh kepada pemilik unta dan berkata kepadanya:
— لَيْسُوا بِأَصْحَابِ بَعِيرِكَ فَاطْلُبْهُ .
— Mereka bukanlah pemilik untamu, maka carilah ia (di tempat lain).
وَخَرَجَ الرَّجُلُ وَهُوَ فِي حَيْرَةٍ مِنْ هَؤُلَاءِ الرِّجَالِ الَّذِينَ وَصَفُوا لَهُ بَعِيرَهُ دُونَ أَنْ يَرَوْهُ ! وَالْتَفَتَ الْأَفْعَى الْجُرْهُمِيُّ إِلَى الرِّجَالِ وَقَالَ :
Lelaki itu keluar dalam keadaan bingung dengan orang-orang yang telah mendeskripsikan untanya kepadanya tanpa pernah melihatnya! Al-Af'a al-Jurhumi menoleh kepada mereka dan berkata:
— مَنْ أَنْتُمْ ؟
— Siapa kalian?
— نَحْنُ أَبْنَاءُ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ .
— Kami adalah anak-anak Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
فَقَالَ الْكَاهِنُ فِي تَرْحِيبٍ : — أَهْلًا وَمَرْحَبًا . وَمَا جَاءَ بِكُمْ إِلَيْنَا ؟
Sang dukun (hakim) berkata dengan menyambut: — Selamat datang. Apa yang membawa kalian kepada kami?
— قَالَ لَنَا أَبُونَا وَهُوَ يَمُوتُ : إِنْ أَشْكَلَ عَلَيْكُمْ كَيْفَ تَقْتَسِمُونَ فَأْتُوا الْأَفْعَى الْجُرْهُمِيَّ ، وَقَدْ اخْتَلَفْنَا فِي الْمِيرَاثِ فَأَتَيْنَاكَ لِتَحْكُمَ بَيْنَنَا .
— Ayah kami berkata kepada kami saat menjelang ajal: "Jika kalian bingung bagaimana cara membagi harta, maka temuilah al-Af'a al-Jurhumi." Kami berselisih mengenai warisan, maka kami datang kepadamu agar engkau memutuskan di antara kami.
فَأَطْرَقَ الْأَفْعَى وَهُوَ يَقُولُ فِي إِنْكَارٍ :
Al-Af'a menunduk seraya berkata dengan heran:
— تَحْتَاجُونَ إِلَيَّ وَأَنْتُمْ كَمَا قَدْ أَرَى ؟
— Kalian membutuhkan aku padahal kalian seperti yang aku lihat (pintar)?
وَقَامَ الْأَفْعَى يَذْبَحُ لَهُمْ وَيَسْتَحِثُّ خَازِنَهُ لَهُ الطَّعَامَ ، ثُمَّ وَضَعَ الطَّعَامَ وَأَكَلُوا وَشَرِبُوا ، وَتَنَحَّى عَنْهُمْ الْأَفْعَى حَيْثُ لَا يَرَى وَهُوَ يَسْمَعُ كَلَامَهُمْ ، فَقَالَ رَبِيعَةُ :
Al-Af'a bangkit menyembelih (hewan) untuk mereka dan mendesak bendaharanya untuk menyajikan makanan, lalu makanan dihidangkan dan mereka makan serta minum. Al-Af'a menyingkir dari mereka ke tempat yang tidak terlihat namun bisa mendengar perkataan mereka, maka Rabi'ah berkata:
— لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ لَحْمًا أَطْيَبَ مِنْهُ ؛ لَوْلَا أَنَّ شَاتَهُ غُذِّيَتْ بِلَبَنِ كَلْبَةٍ .
— Aku belum pernah melihat daging selezat hari ini; andai saja kambingnya tidak diberi makan dengan susu anjing.
فَقَالَ مُضَرُ : — لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ خَمْرًا ، لَوْلَا أَنَّ حَبَلَتَهُ نَبَتَتْ عَلَى قَبْرٍ .
Mudhar berkata: — Aku belum pernah melihat khamr selezat hari ini, andai saja pohon anggurnya tidak tumbuh di atas kuburan.
فَهَمَسَ الْأَفْعَى :
Maka al-Af'a berbisik:
— مَا هَؤُلَاءِ إِلَّا شَيَاطِينَ !
— Mereka ini tidak lain adalah syaitan (cerdik)!
وَذَهَبَ إِلَى الْقَهْرَمَانَةِ وَقَالَ :
Dia pergi kepada bendahara dan berkata:
— خَبِّرِينِي خَبَرَ هَذِهِ الْكَرْمَةِ .
— Kabarkan padaku tentang pohon anggur ini.
— إِنَّ حَبَلَتَهُ غَرَسْتَهَا عَلَى قَبْرِ أَبِيكَ .
— Sesungguhnya pohon anggurnya engkau tanam di atas kuburan ayahmu.
وَانْطَلَقَ إِلَى الرَّاعِي وَسَأَلَهُ عَنْ الْعَنَاقِ الَّذِي ذَبَحَهُ وَقَدَّمَهُ طَعَامًا لِبَنِي نِزَارِ بْنِ مَعَدٍّ ، فَقَالَ الرَّاعِي :
Dia beranjak kepada penggembala dan bertanya tentang anak kambing yang ia sembelih dan hidangkan sebagai makanan bagi anak-anak Nizar bin Ma'ad, maka penggembala berkata:
— هِيَ عَنَاقٌ أَرْضَعَتْهَا بِلَبَنِ كَلْبَةٍ ، وَلَمْ يَكُنْ وَلَدٌ فِي الْغَنَمِ غَيْرَهَا وَمَاتَتْ أُمُّهَا .
— Dia adalah anak kambing yang aku susui dengan susu anjing, dan tidak ada anak kambing lain di antara kambing-kambing itu selain dia, dan induknya telah mati.
وَرَجَعَ الْأَفْعَى إِلَيْهِمْ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى رَبِيعَةَ وَقَالَ :
Al-Af'a kembali kepada mereka kemudian menoleh kepada Rabi'ah dan berkata:
— مِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ اللَّحْمَ ؟
— Dari mana engkau tahu (asal-usul) dagingnya?
— لِأَنَّ لَحْمَ الْكَلْبِ يَعْلُو شَحْمَهُ ، بِخِلَافِ لَحْمِ الشَّاةِ فَإِنَّ شَحْمَهَا يَعْلُو لَحْمَهَا .
— Karena daging anjing itu lemaknya berada di atas dagingnya, berbeda dengan daging kambing yang lemaknya berada di atas dagingnya (maksudnya: pada kambing lemak menyelimuti daging, sedang pada anjing terpisah/lemak di luar).
وَقَالَ لِمُضَرَ :
Dan dia berkata kepada Mudhar:
— مِنْ أَيْنَ عَرَفْتَ الْخَمْرَ ؟
— Dari mana engkau tahu (asal-usul) khamr-nya?
— الْكَرْمُ إِذَا نَبَتَتْ عَلَى قَبْرٍ يَكُونُ انْفِعَالُ خَمْرِهَا أَقَلَّ انْفِعَالًا .
— Pohon anggur jika tumbuh di atas kuburan maka efek khamr-nya menjadi kurang bereaksi.
وَاعْتَدَلَ الْأَفْعَى الْجُرْهُمِيُّ ثُمَّ قَالَ :
Al-Af'a al-Jurhumi duduk tegak kemudian berkata:
— قُصُّوا عَلَيَّ قِصَّتَكُمْ .
— Ceritakan kepadaku kisah kalian.
فَقَصُّوا عَلَيْهِ مَا قَالَ نِزَارٌ قَبْلَ أَنْ يَلْفِظَ النَّفْسَ الْأَخِيرَ ، فَقَالَ الْأَفْعَى :
Mereka menceritakan kepadanya apa yang dikatakan Nizar sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, maka al-Af'a berkata:
— مَا أَشْبَهَ الْقُبَّةَ الْحَمْرَاءَ مِنْ مَالِ فَلِمُضَرَ ، وَأَمَّا صَاحِبُ الْخِبَاءِ الْأَسْوَدِ فَلَهُ كُلُّ أَسْوَدَ ، وَأَمَّا الدَّرَاهِمُ وَالْأَرْضُ فَلِأَنْمَارَ .
— (Kubah merah) yang menyerupai kubah merah dari harta adalah untuk Mudhar, adapun pemilik kemah hitam maka baginya segala yang hitam, dan adapun dirham dan tanah adalah untuk Anmar.
وَقَفَلَ بَنُو نِزَارِ بْنِ مَعَدٍّ رَاجِعِينَ إِلَى مَكَّةَ ، وَذَهَبَ مُضَرُ بِالدَّنَانِيرِ وَالْإِبِلِ فَسُمِّيَتْ قَبِيلَةُ مُضَرَ « مُضَرَ الْحَمْرَاءِ » ، وَأَخَذَ رَبِيعَةُ الْفَرَسِ وَمَا أَشْبَهَهُ فَسُمِّيَتْ « رَبِيعَةُ الْفَرَسِ » ، وَأَخَذَ أَنْمَارُ الْغَنَمِ فَسُمِّيَتْ « أَنْمَارُ الشَّاةِ » ، وَأَخَذَ إِيَادُ الْغَنَمَ الْبَرْقَاءَ وَالْخُيُولَ الْبُلْقَ ، فَسُمِّيَتْ « أَيَادُ الْبَرْقَاءِ » .
Bani Nizar bin Ma'ad kembali ke Mekah. Mudhar membawa dinar dan unta, maka kabilah Mudhar dinamai "Mudhar al-Hamra" (Mudhar si Merah), Rabi'ah mengambil kuda dan apa yang menyerupainya maka dinamai "Rabi'ah al-Faras" (Rabi'ah si Kuda), Anmar mengambil kambing maka dinamai "Anmar asy-Syah" (Anmar si Kambing), dan Iyad mengambil kambing-kambing yang belang dan kuda-kuda yang berbercak putih, maka dinamai "Iyad al-Barqa'" (Iyad si Belang).
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi