BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al-Yatim - Episode 1

AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Langkah Sunyi di Lembah Suci: Saat Kebenaran Menemukan Pemiliknya

Di tengah hiruk-pikuk Makkah yang terperangkap dalam kelamnya penyembahan berhala, dua pencari kebenaran menapaki lembah sunyi demi menjemput sang pelita zaman yang sempat hilang dalam kerumunan.

سَجَى اللَّيْلُ ، وَرَاحَتِ الشُّهُبُ صَغِيرُهَا وَكَبِيرُهَا تَتَزَاحَمُ فِي رُقْعَةِ السَّمَاءِ وَتَتَنَافَسُ فِي التَّأَلُّقِ وَاللَّمَعَانِ ، فَبَدَتْ كَبِسَاطٍ زُمُرُّدٍ نُثِرَتْ عَلَيْهِ دَنَانِيرُ تُخَالِطُهَا دَرَاهِمُ ، وَأَحْدَقَتْ نُجُومُ الثُّرَيَّا بِالْهِلَالِ كَأَنَّهَا تُرِيدُ أَنْ تَسْبِقَهُ ، وَبَاتَ الْهِلَالُ فِي مِعْصَمِ الظَّلَامِ سِوَارًا وَعَلَى مَفْرِقِ الدُّجَى إِكْلِيلًا ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ جَالِسٌ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فِي أَعَالِي مَكَّةَ يَرْنُو إِلَى السَّمَاءِ وَفِي ذِهْنِهِ انْبِهَارٌ ، وَفِي نَفْسِهِ عَجَبٌ وَإِعْجَابٌ ، وَفِي وِجْدَانِهِ إِشْرَاقٌ ، يَسْتَشْعِرُ كَأَنَّهُ ذَابَ فِي الْوُجُودِ ، أَوْ كَأَنَّ الْوُجُودَ كُلَّهُ قَدِ انْسَكَبَ فِي فُؤَادِهِ .
Malam pun meredup, bintang-bintang yang kecil maupun besar berdesakan di bentangan langit dan saling berlomba dalam kemilau dan cahaya, tampak seperti hamparan zamrud yang ditaburi kepingan emas bercampur perak. Gugusan bintang Pleiades mengelilingi bulan sabit seolah ingin mendahuluinya, dan bulan sabit itu tampak menjadi gelang di pergelangan tangan kegelapan serta mahkota di ubun-ubun malam. Muhammad bin Abdullah duduk di bawah pohon di dataran tinggi Makkah, menatap ke langit dengan kekaguman dalam benaknya, rasa heran dan takjub dalam jiwanya, serta pencerahan dalam sanubarinya; ia merasa seolah dirinya melebur ke dalam wujud, atau seolah segenap wujud telah tertuang ke dalam hatinya.
كَانَ يَسِيرُ مَعَ أُمِّهِ حَلِيمَةَ وَأَبِيهِ الْحَارِثِ فِي طَرِيقِهِ إِلَى مَكَّةَ ، لِتُعِيدَهُ حَلِيمَةُ إِلَى أُمِّهِ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ بَعْدَ أَنْ شَبَّ وَمَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَرْبَعُ سَنَوَاتٍ ، وَقَدْ سَقَطَ عَلَيْهِمُ اللَّيْلُ فِي أَعَالِي مَكَّةَ ، وَتَدَفَّقَ سَيْلُ الْحَجِيجِ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ الْعَتِيقِ ، وَجَرَفَ الرَّكْبَ الصَّغِيرَ فَإِذَا بِهِ يَجِدُ نَفْسَهُ فِي بَحْرٍ مِنَ النَّاسِ ، فَرَاحَ يَتَلَفَّتُ فَلَمْ يَجِدْ حَلِيمَةَ وَلَا الْحَارِثَ وَضَلَّ الطَّرِيقَ ، فَلَمْ يَفْزَعْ وَلَمْ يَنْخَلِعْ قَلْبُهُ رُعْبًا ، بَلْ رَاحَ يَشُقُّ طَرِيقَهُ فِي الْجُمُوعِ ، حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَ شَجَرَةً جَلَسَ تَحْتَهَا هَادِئَ النَّفْسِ يَنْتَظِرُ أَوْبَةَ حَلِيمَةَ ، أَوْ مَجِيءَ مَنْ يَحْمِلُهُ إِلَى أَهْلِهِ عِنْدَ الْحَرَمِ .
Dia sedang berjalan bersama ibu susunya, Halimah, dan ayah susunya, Al-Harith, dalam perjalanan menuju Makkah, agar Halimah mengembalikannya kepada ibu kandungnya, Aminah binti Wahb, setelah ia tumbuh besar dan usianya telah mencapai empat tahun. Malam turun menyelimuti mereka di dataran tinggi Makkah, sementara aliran jamaah haji berbondong-bondong menuju Baitullah yang mulia, menyeret rombongan kecil itu sehingga ia mendapati dirinya berada di tengah lautan manusia. Ia mulai menoleh ke sana kemari namun tidak menemukan Halimah maupun Al-Harith dan kehilangan arah. Namun, ia tidak panik, hatinya tidak tercerabut oleh rasa takut, justru ia terus menerobos jalannya di tengah kerumunan, hingga ketika ia mencapai sebuah pohon, ia duduk di bawahnya dengan jiwa yang tenang, menantikan kembalinya Halimah, atau kedatangan seseorang yang akan membawanya kepada keluarganya di dekat Al-Haram.
وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي الْكَوْنِ وَهُوَ مَسْرُورٌ ، كَأَنَّمَا كَانَتْ رُوحُهُ الْفَتِيَّةُ تَمْتَصُّ حِكْمَةَ الْوُجُودِ . وَأَرْهَفَ سَمْعَهُ ، وَأَصَاخَ لِلْأَصْوَاتِ الْمُنْبَعِثَةِ مِنْ وَقْعِ أَقْدَامِ النَّاسِ وَارْتِطَامِ حَوَافِرِ الدَّوَابِّ بِالْأَرْضِ وَحَنِينِ الْإِبِلِ وَوَسْوَسَةِ النَّسِيمِ فِي أَوْرَاقِ الشَّجَرِ ، فَانْشَرَحَ صَدْرُهُ وَتَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ قَلْبُهُ ، لَكَأَنَّمَا كَانَ يَصْغَى إِلَى تَرَانِيمَ وَتَسْبِيحَاتٍ .
Muhammad mulai memalingkan wajahnya ke arah alam semesta dengan perasaan bahagia, seolah-olah jiwa mudanya sedang menyerap hikmah kehidupan. Ia menajamkan pendengarannya, mendengarkan suara-suara yang muncul dari derap langkah kaki manusia, benturan kuku hewan ternak ke tanah, rintihan unta, dan bisikan angin pada dedaunan pohon. Dadanya pun menjadi lapang dan hatinya berseri-seri karena sukacita, seolah-olah ia sedang mendengarkan kidung-kidung dan tasbih.
لَمْ يَعْرِفِ الْوُجُودَ الْغَمَضَ وَلَمْ تَغْمُضْ عَيْنَا الصَّبِيِّ وَلَمْ يَقِفْ ذِهْنُهُ وَلَمْ يَنَمْ قَلْبُهُ ، بَلْ رَاحَ يَتَذَكَّرُ أَيَّامَهُ فِي بَنِي سَعْدٍ ، تِلْكَ الْأَيَّامَ السَّعِيدَةَ الَّتِي أَمْضَاهَا فِي دَارِ حَلِيمَةَ مَعَ إِخْوَتِهِ عَبْدِ اللَّهِ وَأُنَيْسَةَ وَالشَّيْمَاءِ ، وَقَفَزَتْ إِلَى ذِهْنِهِ لُعْبَتُهُ الْمُفَضَّلَةُ ، لُعْبَةُ الْعَظَمَةِ الْبَيْضَاءِ الَّتِي كَانَ يَلْعَبُهَا مَعَ أُنَيْسَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ ، وَقَدْ كَانُوا يَأْتُونَ بِعَظْمَةٍ نَاصِعَةِ الْبَيَاضِ ، وَفِي اللَّيَالِي الْمُظْلِمَةِ يَلْقَوْنَ بِهَا إِلَى أَقْصَى مَا تَسْتَطِيعُ يَدُ أَحَدِهِمْ ، فَمَنْ يَبْصُرُ بِهَا عَلَى بَعْدِهَا يُصْبِحْ رَئِيسَ الْجَمَاعَةِ . وَرَفَتْ عَلَى شَفَتَيْهِ بَسْمَةٌ هَادِئَةٌ فَقَدْ رَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ زَعِيمُ أُنَيْسَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ .
Kehidupan tidak mengenal keterpejaman, dan mata sang anak tidak terpejam, akalnya tidak berhenti, dan hatinya tidak tidur, melainkan ia mulai mengenang hari-harinya di Bani Sa'ad, hari-hari bahagia yang ia habiskan di rumah Halimah bersama saudara-saudaranya Abdullah, Unaisah, dan Asy-Syaima'. Terbayang di benaknya permainan kesukaannya, permainan tulang putih yang biasa ia mainkan bersama Unaisah dan Abdullah. Mereka biasa membawa tulang yang putih bersih, dan di malam yang gelap mereka melemparkannya sejauh yang tangan mereka mampu, siapa yang bisa melihatnya di kejauhan maka ia menjadi pemimpin kelompok. Tersungging senyum tenang di bibirnya, karena ia teringat dirinya saat menjadi pemimpin bagi Unaisah dan Abdullah.
وَتَذَكَّرَ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي كَانَتْ تَحْمِلُهُ فِيهِ الشَّيْمَاءُ عَلَى ظَهْرِهَا تُلَاعِبُهُ وَتُدَاعِبُهُ ، وَقَدْ أَسْرَفَتْ فِي مُلَاعَبَتِهِ فَمَالَ بِرَأْسِهِ وَعَضَّهَا عَضَّةً قَوِيَّةً فِي ظَهْرِهَا ، فَنَدَّتْ مِنْهَا صَرْخَةٌ أَفْزَعَتْهُ ، فَغَامَتْ صَفْحَةُ وَجْهِهِ الْجَمِيلِ بِالْأَسَى وَهُوَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ ، فَمَا كَانَ يَحْسَبُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ أَنَّ عَضَّتَهُ تِلْكَ تُسَبِّبُ لِأُخْتِهِ مِثْلَ ذَلِكَ الْأَلَمِ ، وَقَدْ ظَلَّ كُلَّمَا رَأَى أَثَرَ عَضَّتِهِ فِي ظَهْرِهَا يَأْلَمُ وَتَتَرَقْرَقُ الدُّمُوعُ فِي عَيْنَيْهِ .
Ia teringat hari ketika Asy-Syaima' menggendongnya di punggungnya, bermain bersamanya dan menggodanya. Asy-Syaima' berlebihan dalam mengajaknya bermain, lalu ia memiringkan kepalanya dan menggigit punggungnya dengan gigitan yang kuat. Terdengar darinya teriakan yang mengejutkannya, maka mendunglah wajahnya yang tampan dengan kesedihan saat ia berada di bawah pohon itu. Ia tidak mengira pada hari itu bahwa gigitannya tersebut menyebabkan saudarinya merasakan sakit seperti itu, dan ia terus merasa sakit setiap kali melihat bekas gigitannya di punggung saudarinya dan air mata menggenang di matanya.
وَبَاتَ مُحَمَّدٌ فِي شُرُودِهِ وَأَحْلَامِهِ وَتَعَاطُفِهِ مَعَ الْوُجُودِ وَتَنَاسُقِهِ مَعَ كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، بَيْنَا كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَوَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ وَزَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ وَأَبُو الْحَكَمِ بْنُ هِشَامٍ ( أَبُو جَهْلٍ ) وَمُتَعَقِّبُو الْأَثَرِ مُنْتَشِرِينَ فِي أَعَالِي مَكَّةَ يَنْقُبُونَ عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، الَّذِي أَضَلَّتْهُ مُرْضِعَتُهُ حَلِيمَةُ فِي لَيْلَةٍ شَدِيدَةِ الزِّحَامِ .
Muhammad larut dalam lamunan, mimpi, dan empatinya terhadap alam semesta serta keselarasan dengan segala hal di sekitarnya. Sementara itu, Abdul Muthalib, Waraqah bin Naufal, Zaid bin Amr bin Nufail, Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), dan para pelacak jejak sedang menyebar di dataran tinggi Makkah, mencari putra Abdullah yang hilang dari pandangan ibu susunya, Halimah, pada malam yang sangat ramai.
كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَلَى صَهْوَةِ فَرَسِهِ يَنْطَلِقُ إِلَى وَادِي تِهَامَةَ ، وَهُوَ يَتَلَفَّتُ وَقَدِ انْقَبَضَ صَدْرُهُ وَرَبَا خَوْفُهُ خَشْيَةَ أَنْ يَكُونَ مُحَمَّدٌ قَدِ انْجَرَفَ مَعَ تَيَّارِ الْحَجِيجِ ، أَوْ أَنْ يَكُونَ حَاجٌّ غَرِيبٌ عَنِ الدِّيَارِ قَدِ الْتَقَطَهُ ، وَزَادَ مِنْ قَلَقِ شَيْخِ قُرَيْشٍ لَمَّا وَجَدَ نَفْسَهُ ضَالًّا فِي بَحْرٍ مِنَ النَّاسِ لَا يَعْرِفُ أَيْنَ مُنْطَلَقُهُ ، فَفَرَسُهُ تَدُورُ مَعَ الْجُمُوعِ لَيْسَ لَهَا عَلَيْهَا سُلْطَانٌ .
Abdul Muthalib berada di atas punggung kudanya, memacu menuju lembah Tihamah sambil menoleh ke sana kemari. Dadanya terasa sesak dan ketakutannya membuncah karena khawatir Muhammad terseret arus jamaah haji, atau seorang haji asing dari luar daerah telah membawanya. Kecemasan syekh Quraisy itu bertambah ketika ia mendapati dirinya tersesat di tengah lautan manusia, tidak tahu ke mana arahnya, kudanya berputar-putar mengikuti kerumunan tanpa kendali.
وَأَحَسَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَجْزَهُ فَرَفَعَ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَرَاحَ يَبْتَهِلُ فِي حَرَارَةٍ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَرُدَّ وَلَدَهُ مُحَمَّدًا ، وَانْسَابَتْ مِنْ فُؤَادِهِ مَشَاعِرُ رَقِيقَةٌ مَلَأَتْ جَوَانِحَهُ فَسَالَتْ عَلَى خَدَّيْهِ الْعَبَرَاتُ .
Abdul Muthalib merasakan ketidakberdayaannya, maka ia mengangkat kedua matanya ke langit dan mulai bermunajat dengan penuh khidmat kepada Tuhannya agar mengembalikan cucunya, Muhammad. Perasaan lembut mengalir dari sanubarinya memenuhi relung jiwanya, lalu air mata pun mengalir di kedua pipinya.
وَسَارَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ وَزَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ عَلَى رَاحِلَتَيْهِمَا يَتَلَفَّتَانِ فِي الظَّلَامِ يَنْقَبَانِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، الصَّبِيِّ الْقُرَشِيِّ الَّذِي جَاءَتْ مُرْضِعَتُهُ تَقُولُ إِنَّهَا أَضَلَّتْهُ فِي أَعَالِي مَكَّةَ ، وَقَدِ انْطَلَقَ وَرَقَةُ وَزَيْدٌ مَعًا فَقَدْ كَانَا صَدِيقَيْنِ لَا يَفْتَرِقَانِ أَبَدًا إِلَّا فِي أَمْرٍ مَا يَعْتَنِقَانِ مِنْ دِينٍ ، اتَّفَقَا عَلَى تَسْفِيهِ دِينِ الْآبَاءِ وَأَعْرَضَا عَنْ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ وَسَاحَا فِي الْأَرْضِ بَحْثًا عَنْ دِينِ الْحَنِيفِيَّةِ دِينِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ ، فَقَالَ لَهُمَا أَحْبَارُ الْيَهُودِ وَكُهَّانُ النَّصَارَى الَّذِينَ يَعْرِفُونَ ذَلِكَ الدِّينَ قَدْ ذَهَبُوا ، وَأَنَّ نَبِيًّا سَيُعِيدُ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ قَدْ أَظَلَّهُمْ زَمَانُهُ ، وَأَنَّهُ سَيُبْعَثُ فِي الْبَلَدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَاءَا مِنْهُ ، فَرَأَى وَرَقَةُ أَنْ يَتَنَصَّرَ إِلَى أَنْ يُبْعَثَ ذَلِكَ النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ ، وَآثَرَ زَيْدٌ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يَجْتَهِدَ فِيهِ يُنَقِّيهِ مِنَ الشَّوَائِبِ وَالْأَسَاطِيرِ الَّتِي لَحِقَتْ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ ، لَعَلَّهُ يَصِلُ بِبَصِيرَتِهِ إِلَى مِلَّةِ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ .
Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr bin Nufail berjalan di atas tunggangan mereka, menoleh ke sana kemari di tengah kegelapan, mencari Muhammad bin Abdullah, anak Quraisy yang ibu susunya datang memberitahu bahwa ia telah kehilangannya di dataran tinggi Makkah. Waraqah dan Zaid berangkat bersama karena mereka adalah sahabat yang tak pernah terpisahkan, kecuali dalam urusan keyakinan agama. Mereka sepakat untuk menganggap bodoh agama nenek moyang dan berpaling dari penyembahan berhala, serta berkelana di muka bumi mencari agama Hanifiyah, agama ayah mereka, Ibrahim Al-Khalil. Para pendeta Yahudi dan Nasrani yang mengetahui agama itu mengatakan kepada mereka bahwa (para penganut agama itu) telah tiada, dan bahwa seorang nabi yang akan mengembalikan ajaran Ibrahim masanya telah mendekat, dan bahwa ia akan diutus di tanah haram tempat mereka berasal. Waraqah berpendapat untuk memeluk Nasrani sampai nabi yang ummi itu diutus, sementara Zaid lebih memilih untuk tetap pada keyakinannya dan bersungguh-sungguh di dalamnya, membersihkannya dari noda dan mitos yang melekat pada agama Hanifiyah yang lurus, semoga ia dapat mencapai dengan mata batinnya ajaran ayah mereka, Ibrahim.
وَانْسَابَ أَبُو الْحَكَمِ بْنُ هِشَامٍ عَلَى بَعِيرِهِ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي الْجُمُوعِ الْمُتَدَفِّقَةِ مِنْ أَعَالِي مَكَّةَ إِلَى الْحَرَمِ ، فَإِذَا بِرَأْسِهِ يَدُورُ وَقَدْ زَاغَ بَصَرُهُ ؛ كَانَتْ جَحَافِلُ النَّاسِ تَنْدَفِعُ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَقَدْ ضَجَّتْ بِالتَّلْبِيَةِ لِرَبِّ الْبَيْتِ وَشُرَكَائِهِ الَّذِينَ يَقْرَبُونَهُمْ إِلَيْهِ ، وَقَدْ ثَارَ النَّقْعُ وَانْتَشَرَ الْغُبَارُ كَأَنَّمَا سَحَابَةٌ قَدْ مَلَأَتْ بَيْنَ السَّمَاءِ الْأَرْضِ ، فَلَمْ يَمْلِكْ أَبُو الْحَكَمِ إِلَّا أَنْ يَتَلَثَّمَ حَتَّى يَسْتَطِيعَ أَنْ يَتَنَفَّسَ ، ثُمَّ رَاحَ يُجَاهِدُ لِيَنْأَى بِنَفْسِهِ عَنِ الْكُتَلِ الْبَشَرِيَّةِ الَّتِي تَشْتَدُّ فِي سَيْرِهَا لِتَبْلُغَ غَايَتَهَا وَتَسْتَكِينُ نُفُوسُهَا إِلَى الْأَمْنِ وَالسَّلَامِ وَالرَّاحَةِ .
Abu al-Hakam bin Hisyam meluncur di atas untanya, memalingkan wajahnya di tengah kerumunan yang mengalir dari dataran tinggi Makkah menuju Al-Haram, hingga kepalanya berputar dan pandangannya nanar. Pasukan manusia berdesakan menuju Baitullah yang mulia, menggema dengan talbiyah bagi Tuhan Baitullah dan sekutu-sekutu yang mereka sembah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Debu berhamburan dan menyebar seolah awan telah memenuhi ruang antara langit dan bumi, maka Abu al-Hakam tak punya pilihan selain menutup wajahnya (dengan kain) agar ia bisa bernapas, kemudian ia berjuang untuk menjauhkan diri dari massa manusia yang bergerak cepat untuk mencapai tujuannya, agar jiwa mereka tenteram dalam keamanan, kedamaian, dan kenyamanan.
وَانْتَشَرَ مُنَقِّبُو الْأَثَرِ فِي الْوَادِي الْمُقَدَّسِ يَنْقُبُونَ عَنْ آثَارِ أَقْدَامِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَيَشُمُّونَ رِيحَهُ ، وَلَمْ يَكُنِ الْأَمْرُ سَهْلًا فَالْحَجِيجُ يَأْتُونَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَمْحُونَ كُلَّ أَثَرٍ وَيَذْهَبُونَ بِكُلِّ رِيحٍ . وَرَاحَ الَّذِينَ خَرَجُوا يَلْتَمِسُونَ الصَّبِيَّ الْقُرَشِيَّ يَضْرِبُونَ فِي أَرْجَاءِ الْوَادِي ، وَمَا دَارَ بِخَلَدِ أَحَدِهِمْ أَنَّ ذَلِكَ الصَّبِيَّ الَّذِي يَبْحَثُونَ عَنْهُ هُوَ دَعْوَةُ إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى الَّذِي تَنْتَظِرُ الْأُمَمُ رِسَالَتَهُ .
Para pelacak jejak menyebar di lembah suci, mencari jejak kaki Muhammad bin Abdullah dan mencium aromanya, namun hal itu tidak mudah karena jamaah haji datang dari segala penjuru yang jauh, menghapus setiap jejak dan terbawa oleh setiap hembusan angin. Mereka yang keluar mencari anak Quraisy itu terus menyusuri pelosok lembah, dan tidak terlintas dalam benak salah seorang dari mereka bahwa anak yang mereka cari itu adalah doa Ibrahim dan kabar gembira dari Isa, yang risalahnya dinanti-nantikan oleh umat manusia.
وَوَقَفَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ وَزَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ عِنْدَ الشَّجَرَةِ الْيُمْنَى بِوَادِي تِهَامَةَ ، فَإِذَا بِصَبِيٍّ قَائِمٍ تَحْتَهَا يَجْذِبُ غُصْنًا مِنْ أَغْصَانِهَا ، وَإِذَا بِنُورِ الْكَوَاكِبِ يَنْعَكِسُ عَلَى وَجْهِهِ الْجَمِيلِ فَيَزِيدُ الصَّبِيَّ سِحْرًا ، فَرَاحَ وَرَقَةُ وَزَيْدٌ يَرْمُقَانِ الصَّبِيَّ بُرْهَةً ثُمَّ قَالَ زَيْدٌ :
Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr bin Nufail berdiri di pohon sebelah kanan lembah Tihamah. Tiba-tiba tampak seorang anak kecil berdiri di bawahnya, sedang menarik salah satu dahan pohon, dan cahaya bintang-bintang terpantul di wajahnya yang tampan sehingga menambah pesona sang anak. Waraqah dan Zaid terus memandangi anak itu sejenak, lalu Zaid berkata:
— مَنْ أَنْتَ يَا غُلَامُ ؟
— Siapa kamu wahai anak muda?
— أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
— Aku Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
فَمَالَ زَيْدٌ وَاحْتَمَلَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَوَضَعَهُ أَمَامَهُ عَلَى رَاحِلَتِهِ ، وَسَارَ بِهِ وَوَرَقَةُ إِلَى جِوَارِهِ وَانْطَلَقَا لِيَعُودَا إِلَى مَكَّةَ . وَغَارَتْ صِغَارُ النُّجُومِ وَبَقِيَ أَحْسَنُهَا وَأَضْوَؤُهَا وَأَكْبَرُهَا ، وَلَمْ تَبْقَ نَابِتَةٌ إِلَّا فَاحَتْ رَوَائِحُهَا وَضَحِكَتِ السَّمَاءُ مِنْ جَوَانِبِهَا ، وَلَمْ يَبْقَ طَائِرٌ إِلَّا غَرَّدَ . وَبَلَغَ الرَّكْبُ الصَّغِيرُ الْحَرَمَ فَأَنَاخَ زَيْدٌ رَاحِلَتَهُ وَنَزَلَ وَاحْتَمَلَ مُحَمَّدًا بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ وَضَعَهُ عَلَى الْأَرْضِ ، وَهَبَطَ وَرَقَةُ عَنْ رَاحِلَتِهِ ، ثُمَّ انْطَلَقَا قَاصِدَيْنِ شَيْخَ بَنِي هَاشِمٍ .
Zaid mencondongkan tubuh, mengangkatnya ke dalam pelukannya, dan mendudukkannya di depannya di atas tunggangannya. Ia berjalan membawanya dengan Waraqah di sampingnya, lalu mereka berangkat untuk kembali ke Makkah. Bintang-bintang kecil meredup dan tersisa bintang yang paling indah, paling terang, dan paling besar. Tidak ada tanaman yang tersisa kecuali menebarkan aromanya, langit tertawa dari berbagai sisinya, dan tidak ada burung yang tersisa kecuali berkicau. Rombongan kecil itu mencapai Al-Haram, maka Zaid menambatkan tunggangannya, turun, menggendong Muhammad di pelukannya, lalu meletakkannya di tanah. Waraqah turun dari tunggangannya, kemudian mereka berdua berangkat menuju syekh Bani Hasyim.
كَانَ بَعْضُ النِّسْوَةِ وَاقِفَاتٍ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ وَقَدِ ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُنَّ يَلْتَمِسْنَ ثِيَابًا طَاهِرَةً يَطُفْنَ بِهَا ، وَرَاحَتْ كُلُّ مِنْهُنَّ تَقُولُ :
Beberapa wanita berdiri di pintu masjid, suara mereka meninggi meminta pakaian suci untuk melakukan tawaf, dan masing-masing dari mereka mulai berkata:
— مَنْ يُعِيرُنَا مَصُونًا ؟
— Siapa yang bisa meminjamkan kita pakaian yang terjaga?
— مَنْ يُعِيرُ ثَوْبًا ؟
— Siapa yang bisa meminjamkan pakaian?
— مَنْ يُعِيرُنِي تِطْوَافًا ؟
— Siapa yang bisa meminjamkan aku pakaian untuk tawaf?
وَكَانَ رِجَالٌ يَرْتَدُونَ ثِيَابًا طَاهِرَةً اكْتَرَوْهَا مِنَ الْحُمْسِ فِي طَرِيقِهِمْ إِلَى الْكَعْبَةِ ، بَيْنَا كَانَ رِجَالٌ آخَرُونَ قَدْ خَلَعُوا ثِيَابَهُمْ وَرَاحُوا يَطُوفُونَ حَوْلَ الْحَرَمِ عَرَايَا ، اعْتِقَادًا مِنْهُمْ بِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُمْ عِبَادَةُ اللَّهِ فِي ثِيَابٍ أَذْنَبُوا فِيهَا . وَرَاحَ رِجَالٌ يَسُوقُونَ الْهَدْيَ أَمَامَهُمْ لِيَذْبَحُوهُ عِنْدَ إِسَافٍ وَنَائِلَةَ قُرْبَانًا لِلْآلِهَةِ ، وَرَاحَ آخَرُونَ يُقَدِّمُونَ الْفَرَعَ لِلذَّبْحِ وَقَدْ زَيَّنُوهُ وَأَلْبَسُوهُ ، وَالْفَرَعُ أَوَّلُ نِتَاجِ الْإِبِلِ وَالْغَنَمِ ، وَكَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ نَصِيبُ الْآلِهَةِ . وَرَاحَ الصَّبِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَنْظُرُ فِي انْبِهَارٍ إِلَى تِلْكَ الْحُشُودِ الْهَائِلَةِ الَّتِي تَكَسَّدَتْ فِي بَيْتِ اللَّهِ ، وَمَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى الْأَصْنَامِ الَّتِي وُضِعَتْ خَارِجَ الْكَعْبَةِ ، فَرَأَى تِمْثَالَ أَسَدٍ وَلَمْ تَكُنْ هَذِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ يَرَاهُ فَقَدْ رَآهُ فِي أَرْضِ هَوَازِنَ ، فَهُوَ إِلَهَهُمْ يَغُوثُ الَّذِي يَعْبُدُونَهُ فِيمَا يَعْبُدُونَ مِنْ أَصْنَامٍ ، وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى تِمْثَالِ نَسْرٍ رَمْزِ الْإِلَهِ نَسْرٍ ، وَعَلَى فَرَسٍ رَمْزِ الْإِلَهِ يَعُوقَ ، وَعَلَى تِمْثَالِ رَجُلٍ رَمْزِ الْإِلَهِ وَدٍّ ، وَعَلَى صُورَةِ امْرَأَةٍ رَمْزِ الْإِلَهَةِ سُوَاعٍ ، وَاسْتَمَرَّ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي أَصْنَامِ قَبَائِلِ الْعَرَبِ فَقَدْ صَارَتِ الْكَعْبَةُ بَيْتًا لِلْأَصْنَامِ .
Para pria mengenakan pakaian suci yang mereka sewa dari kaum Hums dalam perjalanan mereka menuju Ka'bah, sementara pria-pria lain menanggalkan pakaian mereka dan mulai tawaf mengelilingi Al-Haram dalam keadaan telanjang, meyakini bahwa tidak boleh bagi mereka beribadah kepada Allah dengan pakaian yang pernah mereka gunakan untuk berbuat dosa. Orang-orang mulai menggiring hewan hadyu di depan mereka untuk disembelih di dekat Isaf dan Na'ilah sebagai kurban bagi berhala-berhala, dan orang lain mulai membawa hewan Fara' untuk disembelih, setelah mereka menghias dan memakaikannya pakaian; Fara' adalah hasil kelahiran pertama dari unta dan kambing, dan mereka meyakini itu adalah jatah untuk berhala-berhala. Anak kecil Muhammad bin Abdullah mulai menatap dengan takjub ke arah kerumunan besar yang bertumpuk di Baitullah, dan matanya tertuju pada berhala-berhala yang diletakkan di luar Ka'bah. Ia melihat patung singa dan ini bukan kali pertama ia melihatnya, karena ia pernah melihatnya di tanah Hawazin, ia adalah tuhan mereka Yaghuts yang mereka sembah di antara berhala-berhala yang mereka sembah. Matanya tertuju pada patung elang, lambang tuhan Nasr, pada kuda lambang tuhan Ya'uq, pada patung laki-laki lambang tuhan Wadd, dan pada gambar wanita lambang dewi Suwa'. Ia terus mengedarkan pandangannya ke berhala-berhala kabilah Arab, karena Ka'bah telah menjadi rumah bagi berhala-berhala.
وَرَاحَ وَرَقَةُ وَزَيْدُ بْنُ نَوْفَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ ، وَلَمْ يَجِدْ وَرَقَةُ الَّذِي تَرَكَ دِينَ الْآبَاءِ وَاعْتَنَقَ الْمَسِيحِيَّةَ حَرَجًا مِنَ الطَّوَافِ ، فَالْمَسْجِدُ الْحَرَامُ أَوَّلُ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ ، وَقَدْ عُرِفَ الطَّوَافُ فِي كُلِّ الدِّيَانَاتِ ، وَإِنَّهُ لَيَذْكُرُ قَوْلَ دَاوُدَ فِي مَزَامِيرِهِ : « أَغْسِلُ يَدَىَّ فِي النَّقَاوَةِ فَأَطُوفُ بِمَذْبَحِكَ يَا رَبِّ » .
Waraqah, Zaid bin Naufal, dan Muhammad bin Abdullah mulai melakukan tawaf di Baitullah. Waraqah yang telah meninggalkan agama nenek moyang dan memeluk Nasrani tidak merasa keberatan untuk melakukan tawaf, karena Masjidil Haram adalah rumah pertama yang diletakkan bagi manusia, dan tawaf telah dikenal di semua agama. Ia teringat ucapan Daud dalam mazmurnya: "Aku mencuci tanganku dalam kesucian, lalu aku mengelilingi mezbah-Mu ya Tuhan."
وَطَافُوا سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ ثُمَّ دَخَلُوا فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ يَبْحَثُونَ عَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَلَمْ تَكُنْ هَذِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ يَدْخُلُ فِيهَا مُحَمَّدٌ الْكَعْبَةَ فَقَدْ دَخَلَهَا يَوْمَ أَنْ عَادَتْ بِهِ حَلِيمَةُ إِلَى أُمِّهِ عَقِبَ أَنْ فَطَمَتْهُ وَكَانَ عُمْرُهُ آنَذَاكَ سَنَتَيْنِ ، وَلَمْ يَدُمِ النَّظَرُ طَوِيلًا إِلَى تِمْثَالِ هُبَلَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ ، أَمَّا هَذِهِ الْمَرَّةَ فَقَدْ رَاحَ يَتَفَرَّسُ فِيهِ . إِنَّهُ تِمْثَالٌ مِنْ عَقِيقٍ أَحْمَرَ عَلَى صُورَةِ إِنْسَانٍ مَكْسُورِ الْيَدِ الْيُمْنَى أَدْرَكَتْهُ قُرَيْشٌ فَجَعَلَتْ لَهُ يَدًا مِنْ ذَهَبٍ ، أَمَامَهُ سَبْعَةُ أَقْدَاحٍ لِاسْتِشَارَتِهِ فِي أَمْرِ السَّفَرِ وَالزَّوَاجِ وَالثَّأْرِ وَنِسْبَةِ الْمَوَالِيدِ إِلَى أَهْلِهِمْ وَفِي كُلِّ مَا يَحْتَاجُ إِلَى رَأْيِ الْإِلَهِ فِي شُئُونِ الدُّنْيَا ، وَقَدْ تَكَسَّدَتْ حَوْلَهُ تَمَاثِيلُ كَثِيرَةٌ كَأَنَّ كُلَّ مَنْ خَرَجَ مِنَ الْعَرَبِ إِلَى مِصْرَ مِنَ الْأَمْصَارِ جَلَبَ مِنْهَا تِمْثَالًا ، وَأَلْقَاهُ بَيْنَ أَيْدِي آلِهَتِهِ فِي الْبَيْتِ الْعَتِيقِ .
Mereka melakukan tujuh putaran tawaf kemudian masuk ke dalam Ka'bah mencari Abdul Muthalib. Ini bukan kali pertama Muhammad masuk ke dalam Ka'bah, ia pernah memasukinya hari ketika Halimah mengembalikannya kepada ibunya setelah ia menyapihnya dan usianya saat itu dua tahun. Ia tidak lama memandang patung Hubal pada waktu itu, namun kali ini ia mulai mengamatinya. Ia adalah patung dari akik merah berbentuk manusia dengan tangan kanan yang patah. Kaum Quraisy menyadarinya maka mereka membuatkan tangan dari emas untuknya. Di depannya terdapat tujuh anak panah untuk berkonsultasi mengenai urusan perjalanan, pernikahan, pembalasan dendam, nasab anak kepada keluarganya, dan dalam setiap hal yang membutuhkan pendapat tuhan mengenai urusan duniawi. Di sekelilingnya bertumpuk banyak patung, seolah-olah setiap orang Arab yang pergi ke Mesir dari berbagai negeri membawa patung darinya, dan meletakkannya di hadapan tuhan-tuhannya di Baitullah yang mulia.
كَانَتِ التَّمَاثِيلُ مَصْنُوعَةً مِنَ الْمَعْدِنِ وَمِنَ الْخَزَفِ وَمِنَ الْحِجَارَةِ وَمِنَ الْخَشَبِ ، وَكَانَتْ عِنْدَ أَقْدَامِ هُبَلَ بِئْرٌ تُعْرَفُ بِالْغَبْغَبِ تُرْمَى فِيهَا الْعَطَايَا وَالنُّذُورُ ، وَقَدْ رَاحَ النَّاسُ يَلْقُونَ فِيهَا الدَّرَاهِمَ وَالدَّنَانِيرَ وَبَعْضُ طَرَفٍ جَاءُوا بِهَا مِنَ الْحِيرَةِ وَبَصْرَى وَمَنْفَ وَصَنْعَاءَ وَكُلِّ سُوقٍ مِنَ الْأَسْوَاقِ الَّتِي نَزَلُوا بِهَا فِي فَارِسَ وَالشَّامِ وَمِصْرَ وَجَزِيرَةِ الْعَرَبِ .
Patung-patung itu terbuat dari logam, tembikar, batu, dan kayu. Di dekat kaki Hubal terdapat sebuah sumur yang dikenal dengan nama Al-Ghabghab, tempat di mana berbagai pemberian dan nazar dilemparkan ke dalamnya. Orang-orang pun melemparkan dirham, dinar, dan beberapa barang unik yang mereka datangkan dari Hirah, Bashrah, Memphis, Shan'a, serta dari setiap pasar yang mereka singgahi di Persia, Syam, Mesir, dan Jazirah Arab.
وَخَرَجَ وَرَقَةُ وَزَيْدٌ وَالصَّبِيُّ مِنْ جَوْفِ الْكَعْبَةِ ، وَمَا أَنْ أَلْقَى مُحَمَّدٌ بَصَرَهُ إِلَى إِسَافٍ وَنَائِلَةَ حَيْثُ يَذْبَحُ النَّاسُ الْقَرَابِينَ حَتَّى رَأَى الْأَعْرَابَ يَطُوفُونَ حَوْلَ الذَّبَائِحِ ، وَرَأَى أَحْوَاضَ الْأَدَمِ الَّتِي وُضِعَتْ عِنْدَ زَمْزَمَ وَقَدْ مُلِئَتْ بِالْمَاءِ وَبَثَّ فِيهَا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ التَّمْرَ وَالزَّبِيبَ ، وَازْدَحَمَ النَّاسُ حَوْلَهَا وَرَاحُوا يَنْهَلُونَ مِنْهَا وَقَدْ لَاحَ عَلَى وُجُوهِهِمُ السُّرُورُ .
Waraqah, Zaid, dan sang bocah keluar dari dalam Ka'bah. Begitu pandangan Muhammad tertuju pada Isaf dan Na'ilah, tempat orang-orang menyembelih hewan kurban, ia melihat orang-orang Arab bertawaf di sekeliling hewan sembelihan. Ia juga melihat wadah-wadah kulit yang diletakkan di dekat Zamzam yang telah diisi air, di mana Abdul Muthalib menebarkan kurma dan kismis ke dalamnya. Orang-orang pun berdesak-desakan di sekelilingnya dan mulai minum darinya, dengan wajah yang memancarkan kegembiraan.
وَسَارَ الثَّلَاثَةُ فِي الْحَرَمِ يَبْحَثُونَ عَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَجَذَبَ بَصَرَ مُحَمَّدٍ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ غُلَامٌ صَغِيرٌ يَرْتَدِي صُوفًا أَبْيَضَ فِي الْحَرِّ الشَّدِيدِ وَقَدْ تُرِكَ بِالْقُرْبِ مِنَ الْكَعْبَةِ وَحْدَهُ ، وَلَمْ يَدْرِ مُحَمَّدٌ حِكْمَةَ ذَلِكَ وَلَمْ يَعْرِفْ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ أَنَّ ذَلِكَ الْغُلَامَ قَدْ وَهَبَهُ ذَوُوهُ لِلْكَعْبَةِ وَأَنَّهُ رَبِيطٌ ، وَأَنَّهُ إِذَا شَبَّ عَنِ الطَّوْقِ أَصْبَحَ مِنْ طَبَقَةِ الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ .
Ketiganya berjalan di dalam area Haram mencari Abdul Muthalib. Pandangan Muhammad berulang kali tertuju pada seorang anak kecil yang mengenakan kain wol putih di tengah panas yang menyengat, dibiarkan sendirian di dekat Ka'bah. Muhammad tidak mengerti hikmah di balik itu, dan pada saat itu ia belum tahu bahwa anak itu telah dihibahkan oleh keluarganya untuk Ka'bah, bahwa ia adalah seorang *rabith* (penjaga), dan jika ia telah beranjak dewasa, ia akan menjadi bagian dari golongan sufi yang bertugas melayani Baitul Atiq (Ka'bah).
وَلَمَحَ وَرَقَةُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ قَادِمًا يَشُقُّ طَرِيقَهُ فِي الزِّحَامِ فَهَتَفَ فِي فَرَحٍ :
Waraqah melihat Abdul Muthalib datang menerobos kerumunan, lalu ia berseru dengan gembira:
— عَبْدُ الْمُطَّلِبِ !
— Abdul Muthalib!
وَمَدَّ زَيْدٌ بَصَرَهُ إِلَى حَيْثُ كَانَ وَرَقَةُ يَنْظُرُ فَأَلْفَى عَبْدَ الْمُطَّلِبِ يَتَلَفَّتُ وَفِي وَجْهِهِ أَسًى عَمِيقٌ ، فَقَدْ عَادَ مِنْ بَحْثِهِ دُونَ أَنْ يَعْثُرَ عَلَى حَفِيدِهِ أَوْ يَجِدَ لَهُ أَثَرًا . وَأَحَسَّ زَيْدٌ شَفَقَةً نَحْوَ الشَّيْخِ الْجَلِيلِ فَوَسَّعَ مِنْ خَطْوِهِ وَرَاحَ يَجِدُّ فِي السَّيْرِ ، وَلَوْلَا ذَلِكَ الزِّحَامُ الَّذِي يَسُدُّ الطَّرِيقَ لَهَرُولَ إِلَى شَيْخِ بَنِي هَاشِمٍ لِيُفْضِيَ إِلَيْهِ بِنَبَأِ عُثُورِهِمْ عَلَى الصَّبِيِّ حَتَّى يَسْتَرِيحَ قَلْبُ الشَّيْخِ الْوَالِهِ الْحَزِينِ .
Zaid mengarahkan pandangannya ke arah yang ditatap Waraqah, ia mendapati Abdul Muthalib sedang menoleh ke sana kemari dengan raut wajah yang penuh duka mendalam; ia kembali dari pencariannya tanpa berhasil menemukan cucunya atau pun jejaknya. Zaid merasa iba kepada sang Syekh yang mulia itu, ia pun memperlebar langkah kakinya dan bergegas. Seandainya bukan karena kerumunan orang yang menghalangi jalan, niscaya ia akan berlari menuju Syekh Bani Hasyim untuk menyampaikan kabar bahwa mereka telah menemukan bocah tersebut, agar hati sang Syekh yang sedang gundah dan sedih itu dapat merasa tenang.
وَدَنَا زَيْدٌ مِنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَالَ وَرَقَةُ فِي رِقَّةٍ :
Zaid mendekat ke arah Abdul Muthalib, dan Waraqah berkata dengan lembut:
— وَجَدْنَاهُ .
— Kami telah menemukannya.
وَمَا إِنْ مَسَّ الصَّوْتُ أُذُنَيْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ حَتَّى طَفَرَتْ مِنْ عَيْنَيْهِ الدُّمُوعُ وَقَالَ فِي لَهْفَةٍ :
Begitu suara itu menyentuh telinga Abdul Muthalib, air mata pun mengalir dari kedua matanya, dan ia berkata dengan penuh rasa rindu:
— وَأَيْنَ مُحَمَّدٌ الْآنَ ؟
— Dan di mana Muhammad sekarang?
وَمَا انْتَهَى مِنْ قَوْلِهِ حَتَّى كَانَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ وَفِي يَدِهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَمَامَهُ ، فَمَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَاحْتَمَلَ مُحَمَّدًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَضَمَّهُ إِلَى صَدْرِهِ وَرَاحَ يُقَبِّلُهُ فِي حُبٍّ شَدِيدٍ ، وَقَدْ سَالَتْ عَبَرَاتُهُ حَتَّى بَلَّتْ لِحْيَتَهُ .
Belum selesai ia berucap, Waraqah bin Naufal sudah berada di depannya dengan menggandeng Muhammad bin Abdullah. Abdul Muthalib pun condong, mengangkat Muhammad ke tangannya, memeluknya ke dadanya, dan mulai menciuminya dengan penuh kasih sayang yang mendalam, sementara air matanya mengalir hingga membasahi janggutnya.
وَجَاءَتْ حَلِيمَةُ وَزَوْجُهَا الْحَارِثُ ، وَمَا كَادَتْ عَيْنَاهَا تَقَعَانِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ فِي أَحْضَانِ جَدِّهِ حَتَّى خَنَقَتْهَا عَبَرَاتُهَا وَهَتَفَتْ فِي وَجْدٍ :
Halimah dan suaminya, Al-Harits, datang. Begitu matanya tertuju pada Muhammad yang berada dalam pelukan kakeknya, ia tersedak tangis dan berseru dengan penuh kerinduan:
— وَلَدِي ! وَلَدَيَ الْحَبِيبُ !
— Anakku! Anakku tersayang!
وَتَنَاوَلَتْ مُحَمَّدًا مِنْ جَدِّهِ وَرَاحَتْ تُمْطِرُهُ بِقُبُلَاتِهَا ، ثُمَّ سَارَتْ بِهِ وَالْحَارِثُ إِلَى جِوَارِهَا إِلَى دَارِ آمِنَةَ بِنْتِ وَهَبٍ لِتَرُدَّ إِلَيْهَا ابْنَهَا وَتُؤَدِّيَهُ إِلَيْهَا .
Ia mengambil Muhammad dari kakeknya dan mulai menghujaninya dengan ciuman, lalu ia bersama Al-Harits yang berada di sampingnya berjalan menuju rumah Aminah binti Wahb untuk mengembalikan putranya kepadanya dan menyerahkannya kembali.
وَبَيْنَا هُمْ سَائِرُونَ أَخَذَ مُحَمَّدٌ يَنْظُرُ إِلَى الْحُشُودِ الَّتِي فَرَغَتْ مِنَ السَّعْيِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَاتَّخَذَتْ طَرِيقَهَا إِلَى الْكَعْبَةِ ، وَإِلَى قِبَابِ الْجُلُودِ وَقَدْ جَلَسَ فِي ظِلِّهَا الْخُمُسُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ ، فَمَا كَانَ الْخُمُسُ يَسْتَخْدِمُونَ فِي مَوْسِمِ الْحَجِّ خِيَامَ الشَّعْرِ وَالْوَبَرِ .
Saat mereka berjalan, Muhammad memperhatikan orang-orang yang telah selesai melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah dan sedang mengambil jalan menuju Ka'bah, serta memperhatikan tenda-tenda kulit di mana penduduk Mekkah dari golongan Al-Khumus duduk di bawah naungannya. Sebab, golongan Al-Khumus tidak menggunakan tenda dari bulu dan rambut hewan pada musim haji.
كَانَ مُحَمَّدٌ يَنْظُرُ إِلَى مَا يَجْرِي حَوْلَهُ بِعَيْنَيْنِ مَفْتُوحَتَيْنِ وَذِهْنٍ صَاحٍ ، فَمَا يَرَاهُ السَّاعَةَ دُنْيَا جَدِيدَةٌ تَخْتَلِفُ كُلَّ الِاخْتِلَافِ عَنْ دُنْيَاهُ الَّتِي عَاشَهَا فِي صَحْرَاءِ بَنِي سَعْدٍ ؛ كَانَ يَعِيشُ هُنَاكَ بَيْنَ أَحْضَانِ طَبِيعَةٍ خَلَّابَةٍ ، يَسْتَنْشِقُ الْحُرِّيَّةَ وَيَذُوبُ فِي الْوُجُودِ بَيْنَا يَشُقُّ هُنَا الْجُمُوعُ الْمُتَدَفِّقَةُ كَالسَّيْلِ لِيَصِلَ إِلَى دَارِهِ عِنْدَ الصَّفَا ، جُمُوعًا جَاءَتْ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ مِنْ بِلَادِ الْعَرَبِ لِتَحُجَّ الْبَيْتَ ، وَتُقَدِّمَ خُضُوعَهَا وَوَلَاءَهَا وَعُبُودِيَّتَهَا لِرَبِّ الْبَيْتِ .
Muhammad memandang apa yang terjadi di sekitarnya dengan mata terbuka dan pikiran yang terjaga. Apa yang ia lihat saat ini adalah dunia baru yang sangat berbeda dengan dunianya yang ia jalani di gurun Bani Sa'd. Dahulu ia hidup di sana di tengah dekapan alam yang mempesona, menghirup kebebasan dan melebur dalam keberadaan, sementara di sini ia melihat kerumunan orang yang mengalir deras seperti banjir untuk sampai ke rumahnya di dekat Shafa; kerumunan yang datang dari setiap penjuru yang jauh dari negeri Arab untuk menunaikan haji ke Baitullah, serta mempersembahkan ketundukan, loyalitas, dan penghambaan mereka kepada Tuhan pemilik Baitullah tersebut.
وَوَقَعَتْ عَيْنَا مُحَمَّدٍ عَلَى دَارِ أُمِّهِ فَعَرَفَهَا وَرَاحَ يَعْدُو إِلَيْهَا فِي لَهْفَةٍ وَفَرَحٍ وَقَدْ فَاضَ قَلْبُهُ بِحَنَانٍ وَشَوْقٍ إِلَى أُمِّهِ الْعَزِيزَةِ ، وَرَاحَ الْحَارِثُ وَحَلِيمَةُ يُسْرِعَانِ الْخُطَا لِيَلْحَقَا بِهِ .
Mata Muhammad tertuju pada rumah ibunya, ia pun mengenalinya dan mulai berlari ke arahnya dengan penuh rasa rindu dan gembira, hatinya meluap dengan kasih sayang dan kerinduan kepada ibunya tercinta, sementara Al-Harits dan Halimah mempercepat langkah untuk menyusulnya.
وَدَقَّ الْبَابَ فِي لَهْفَةٍ ، وَمَا سُرْعَانَ مَا فَتَحَتْ بَرَكَةُ الْبَابَ وَمَا أَنْ رَآهَا حَتَّى لَفَّ ذِرَاعَيْهِ حَوْلَ سَاقَيْهَا فِي حُبٍّ . وَفَطِنَتْ بَرَكَةُ إِلَيْهِ فَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُهَا بِالْفَرَحِ ، وَمَالَتْ عَلَيْهِ تُقَبِّلُهُ هُنَا وَهُنَاكَ وَقَلْبُهَا يَخْفِقُ بِالرَّحْمَةِ وَالْحَنَانِ .
Ia mengetuk pintu dengan penuh kerinduan, dan tak lama kemudian Barakah membuka pintu. Begitu Muhammad melihatnya, ia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling kakinya dengan penuh cinta. Barakah menyadari kehadirannya, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan, dan ia pun condong ke arahnya sambil menciuminya di sana sini, sementara hatinya berdegup penuh kasih sayang dan kelembutan.
وَانْفَلَتَ مُحَمَّدٌ مِنْ بَيْنِ أَحْضَانِ بَرَكَةَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي وَصَلَ فِيهِ الْحَارِثُ وَحَلِيمَةُ إِلَى الدَّارِ ، وَانْطَلَقَ يَجْرِي إِلَى حَيْثُ كَانَتْ أُمُّهُ وَهُوَ يُنَادِي فِي لَهْفَةٍ وَشَوْقٍ وَحَنَانٍ :
Muhammad melepaskan diri dari pelukan Barakah di saat Al-Harits dan Halimah sampai di rumah, lalu ia lari menuju tempat ibunya berada sambil berseru dengan penuh kerinduan, rasa rindu, dan kelembutan:
— أُمَّاهْ ... أُمَّاهْ .
— Ibu... Ibu.
وَانْسَكَبَ صَوْتُ مُحَمَّدٌ فِي أُذُنَيْ آمِنَةَ عَذْبًا لَكَأَنَّهُ رَحِيقُ الْوُجُودِ أَوْ مُوسِيقَى السَّمَاءِ ، فَتَدَفَّقَتْ مِنْ كَنْزِ فُؤَادِهَا مَشَاعِرُ رَقِيقَةٌ حَانِيَةٌ ، وَسَرَتْ فِي كِيَانِهَا رَجْفَةٌ مِنْ أَثَرِ النَّشْوَةِ الْعَارِمَةِ الْمُفَاجِئَةِ ، فَمَا خَطَرَ لَهَا عَلَى قَلْبٍ أَنْ يَأْتِيَ مُحَمَّدُ الْحَبِيبُ السَّاعَةَ لِيَمْلَأَ فَرَاغَ حَيَاتِهَا بِبَهْجَةٍ ، وَظَلَامَ نَهَارِهَا نُورًا وَإِشْرَاقًا .
Suara Muhammad mengalir ke telinga Aminah dengan merdu seakan-akan ia adalah sari pati kehidupan atau musik surgawi. Dari perbendaharaan hatinya mengalirlah perasaan lembut yang penuh kasih sayang, dan getaran akibat kegembiraan yang meluap dan tiba-tiba merambat di sekujur tubuhnya. Tidak pernah terlintas dalam hatinya bahwa Muhammad tercinta akan datang saat ini untuk mengisi kekosongan hidupnya dengan keceriaan, dan mengubah kegelapan harinya menjadi cahaya dan pancaran terang.
وَهَرَعَتْ آمِنَةُ إِلَيْهِ وَقَدْ بَسَطَتْ لَهُ ذِرَاعَيْهَا فَارْتَمَى فِي أَحْضَانِهَا وَهُوَ سَعِيدُ غَايَةَ السَّعَادَةِ ، وَرَاحَتْ تَلْثُمُهُ فِي حُبٍّ وَفَاضَ تَأَثُّرُهَا فَطَفَرَتِ الدُّمُوعُ لِتَتَنَفَّسَ عَنِ الْمَشَاعِرِ الرَّقِيقَةِ الْمُوَارَةِ الَّتِي ضَاقَ بِهَا صَدْرُهَا .
Aminah bergegas menghampirinya sambil membentangkan kedua lengannya, lalu Muhammad pun melompat ke dalam pelukannya dengan perasaan yang sangat bahagia. Aminah mulai menciuminya dengan penuh cinta, dan luapan perasaannya menyebabkannya meneteskan air mata, sebagai cara untuk melegakan perasaan lembut yang terpendam yang membuat dadanya terasa sesak.
وَاسْتَمَرَّتْ آمِنَةُ وَابْنُهَا الْحَبِيبُ مُتَعَانِقَيْنِ مُدَّةً اسْتَشْعَرَا فِيهَا أَنَّهُمَا الْوُجُودُ كُلَّهُ ، بِكُلِّ مَا فِيهِ مِنْ مَشَاعِرَ حُلْوَةٍ وَنَبَضَاتٍ فَرِحَةٍ مَرِحَةٍ . وَأَفَاقَا مِنْ نَشْوَةِ اللِّقَاءِ عَلَى صَوْتِ أَقْدَامِ بَرَكَةَ وَحَلِيمَةَ ، فَذَهَبَتْ آمِنَةُ تَسْتَقْبِلُ مُرْضِعَتَهُ الَّتِي كَانَتْ حَرِيصَةً كُلَّ الْحِرْصِ عَلَى أَنْ يَمْكُثَ مُحَمَّدٌ مَعَهَا ، وَإِذَا بِهَا تُعِيدُهُ قَبْلَ أَنْ يَنْقَضِيَ الْأَجَلُ .
Aminah dan putranya tercinta terus berpelukan selama beberapa saat, di mana mereka merasa bahwa mereka adalah seluruh eksistensi itu sendiri, dengan segala perasaan manis dan detak kegembiraan yang riang di dalamnya. Mereka tersadar dari kebahagiaan pertemuan itu oleh suara langkah kaki Barakah dan Halimah. Aminah kemudian pergi untuk menyambut wanita yang menyusui putranya itu, yang sebelumnya sangat ingin agar Muhammad tetap bersamanya, namun ternyata ia malah mengembalikannya sebelum waktunya berakhir.
وَرَحَّبَتْ آمِنَةُ بِحَلِيمَةَ ثُمَّ قَالَتْ لَهَا :
Aminah menyambut Halimah lalu berkata kepadanya:
— مَا أَقْدَمَكِ بِهِ يَا ظِئْرُ (مُرْضِعَةَ) ؟ وَلَقَدْ كُنْتِ حَرِيصَةً عَلَيْهِ وَعَلَى مَكْثِهِ عِنْدَكِ ؟
— Apa yang membuatmu membawanya kembali, wahai ibu susuan? Padahal dulu engkau sangat antusias terhadapnya dan ingin ia tetap tinggal bersamamu?
فَأَطْرَقَتْ حَلِيمَةُ وَقَالَتْ :
Halimah menunduk lalu berkata:
— قَدْ بَلَغَ وَاللَّهِ وَقَضَيْتُ الَّذِي عَلَيَّ ، وَتَخَوَّفْتُ عَلَيْهِ الْأَحْدَاثَ فَأَدَّيْتُهُ إِلَيْكِ كَمَا تُحِبِّينَ .
— Demi Allah, ia telah tumbuh besar dan aku telah menunaikan kewajibanku, aku khawatir akan terjadi sesuatu yang menimpanya, maka aku mengembalikannya kepadamu sebagaimana yang engkau inginkan.
— مَا هَذَا شَأْنُكِ فَأَصْدِقِينِي خَبَرَكِ .
— Bukan begitu urusannya, jujurlah kepadaku mengenai apa yang terjadi.
فَرَاحَتْ حَلِيمَةُ تَقُصُّ عَلَيْهَا قِصَّةَ مَيْلِهِ إِلَى الْوَحْدَةِ وَصُعُودِهِ لِمُرَاقَبَةِ السَّمَاءِ ، وَخَشْيَتِهَا مِنْ أَنْ يَتَرَدَّى فِي الْجَبَلِ أَوْ تُؤْذِيَهُ الشَّيَاطِينُ ، فَقَالَتْ آمِنَةُ وَهِيَ تَبْتَسِمُ :
Halimah mulai menceritakan kepadanya kisah kegemaran Muhammad menyendiri dan mendaki bukit untuk mengamati langit, serta kekhawatirannya jika ia terjatuh di gunung atau disakiti oleh setan. Aminah kemudian berkata sambil tersenyum:
— أَفَتَخَوَّفْتِ عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ ؟
— Apakah engkau takut setan akan mencelakainya?
— نَعَمْ .
— Ya.
— كَلَّا وَاللَّهِ مَا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ ، وَإِنَّ لِابْنِي شَأْنًا .
— Sekali-kali tidak, demi Allah, setan tidak memiliki jalan untuk mengganggunya, karena putraku ini memiliki kedudukan yang agung.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi