AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Di Balik Asap Babil: Api yang Mendingin dan Fajar Keyakinan yang Ditolak
Api neraka yang disiapkan penguasa Babil justru menjadi taman keselamatan bagi Ibrahim, namun hati para penduduk kota dan Haran telah membatu, tertutup kabut keangkuhan.
بَدَتْ جِبَالُ مَكَّةَ وَالْوَادِي الْمُقَدَّسُ كَأَنَّهَا قِطَعٌ مِنْ لُجَيْنٍ ، فَقَدْ كَانَ الْقَمَرُ فِي لَيْلَةِ تَمَامِهِ يُرِيقُ أَشِعَّتَهُ الْفِضِّيَّةَ عَلَى الْكَوْنِ فَيُضْفِي عَلَى الْوُجُودِ سِحْرًا وَيَمْلَأُ الصُّدُورَ انْشِرَاحًا وَيُطْلِقُ الْأَخْيِلَةَ لِلرُّؤَى الْمُجَنَّحَةِ الَّتِي تَهِيمُ فِي دُنْيَا الْأَحْلَامِ وَالْأَمَانِي وَالْآمالِ .
Pegunungan Makkah dan lembah suci tampak seolah-olah potongan perak, karena bulan pada malam purnama mencurahkan sinar peraknya ke alam semesta, memberikan sihir pada eksistensi, memenuhi dada dengan kelegaan, dan melepaskan imajinasi untuk visi bersayap yang mengembara di dunia mimpi, harapan, dan angan-angan.
وَانْعَقَدَتْ حَلَقَاتُ السَّمَرِ فِي الدُّورِ وَعَلَى رَوَابِي الْجِبَالِ وَفِي دَارِ النَّدْوَةِ وَفِي الْحَرَمِ ، وَرَاحَ الْمَكِّيُّونَ يَتَحَاوَرُونَ وَيَرْوُونَ أَسَاطِيرَ الْأَوَّلِينَ تَارَةً وَيَقُصُّونَ قَصَصَ كَلِيلَةَ وَدِمْنَةَ الَّتِي انْتَشَرَتْ فِي فَارِسَ وَفِي الْحِيرَةِ وَفِي كُلِّ الْقَبَائِلِ الْعَرَبِيَّةِ الَّتِي كَانَتْ عَلَى صِلَةٍ بِفَارِسَ وَالْحِيرَةِ انْتِشَارَ الرِّيحِ تَارَةً أُخْرَى ، وَيَتَدَارَسُونَ دِيَانَاتِهِمْ وَكَرَامَاتِ آلِهَتِهِمْ وَقَدْ نَسُوا دِينَ أَبِيهِمْ إِبْرَاهِيمَ بَعْدَ أَنْ مَضَتْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ قُرُونٌ فَتَطَاوَلَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ وَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ، أَوْ يُلْقُونَ سَمْعَهُمْ إِلَى شُعَرَائِهِمْ فَالشُّعَرَاءُ هُمْ قُطْبُ الرَّحَى فِي كُلِّ سَامِرٍ وَفِي كُلِّ نَادٍ ، وَمَا زَالَ الْقَوْمُ فِي سَمَرِهِمْ حَتَّى ظَهَرَتْ تَبَاشِيرُ الصَّبَاحِ .
Lingkaran-lingkaran perbincangan malam terbentuk di rumah-rumah, di bukit-bukit, di Dar al-Nadwah, dan di Haram. Orang-orang Makkah mulai berdialog dan menceritakan legenda orang-orang terdahulu, terkadang mereka menceritakan kisah Kalila dan Dimna yang tersebar di Persia, al-Hirah, dan di semua kabilah Arab yang memiliki hubungan dengan Persia dan al-Hirah seperti penyebaran angin di lain waktu. Mereka mendiskusikan agama-agama dan karamah tuhan-tuhan mereka, padahal mereka telah melupakan agama bapak mereka, Ibrahim, setelah berabad-abad berlalu di antara mereka dan masanya, sehingga usia mereka memanjang dan hati mereka mengeras. Atau mereka mendengarkan para penyair mereka, karena penyair adalah poros utama dalam setiap pertemuan malam dan di setiap majelis, dan kaum tersebut terus dalam perbincangan malam mereka sampai tanda-tanda pagi muncul.
وَجَاءَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ يَطُوفُ بِالْحَرَمِ قَبْلَ أَنْ يَنْطَلِقَ لِيَرْعَى غَنَمَ أَهْلِهِ ، فَأَلْفَى بَيْتَ اللهِ كَأَنَّمَا دُثِّرَ بِمَخْمَلٍ نَسْجِ بِأَسْلَاكٍ مِنْ فِضَّةٍ وَقَدْ شَعَّ مِنْهُ ضِيَاءٌ لَطِيفٌ أَنَارَ رُوحَهُ بِفَيْضٍ مِنْ نُورٍ انْشَرَحَ لَهُ كُلُّ وِجْدَانِهِ ، إِنَّهُ حَرَمٌ آمِنٌ يَجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ ، رِزْقًا مِنْ لَدُنْ إِلَهِ كَرِيمٍ .
Muhammad bin Abdullah datang berthawaf di Haram sebelum berangkat untuk menggembala kambing keluarganya. Ia mendapati Baitullah seolah-olah diselimuti beludru yang ditenun dengan benang-benang perak, dan darinya memancar cahaya lembut yang menerangi jiwanya dengan limpahan cahaya yang membuat seluruh nuraninya terbuka. Itu adalah tanah suci yang aman yang didatangkan kepadanya buah-buahan dari segala sesuatu, sebagai rezeki dari sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.
وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْأَصْنَامِ الَّتِي نُصِبَتْ حَوْلَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ فَإِذَا الصُّورَةُ الرَّائِعَةُ الَّتِي رَآهَا بِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ تَهْتَزُّ ، وَإِذَا بِالِانْشِرَاحِ الَّذِي مَلَأَ جَوَانِحَهُ يَنْحَسِرُ أَمَامَ الِانْقِبَاضِ الَّذِي زَحَفَ لِيَنْزِلَ بِصَدْرِهِ . وَإِذَا بِالْحُبِّ الْعَمِيقِ الَّذِي أَحَسَّهُ لِلْبَيْتِ يَنْقَلِبُ فِي غَمْضَةِ عَيْنٍ إِلَى كَرَاهِيَةٍ لِتِلْكَ الْحِجَارَةِ الَّتِي لَا تَرَى وَلَا تَسْمَعُ وَلَا تَمْلِكُ لِنَفْسِهَا نَفْعًا أَوْ ضَرًّا .
Matanya tertuju pada berhala-berhala yang didirikan di sekitar Baitul Atiq (Ka'bah), lalu gambar indah yang dilihatnya dengan mata batinnya terguncang, dan kelegaan yang memenuhi batinnya menyusut di hadapan rasa sesak yang menjalar ke dadanya. Rasa cinta mendalam yang ia rasakan terhadap Baitullah berubah dalam sekejap mata menjadi kebencian terhadap batu-batu yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, dan tidak bisa memberikan manfaat atau mudarat bagi diri mereka sendiri.
وَسَمِعَ مَا يَدُورُ بَيْنَ الْجَالِسِينَ فِي الْحَرَمِ مِنْ لَغْوٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ وَرَاحَ يَبْتَعِدُ عَنْ أَحَبِّ مَكَانٍ إِلَى قَلْبِهِ ، فَالْأَصْنَامُ قَدْ دَنَّسَتْهُ ، وَهِيَ كُلَّمَا مَدَّ بَصَرَهُ إِلَيْهَا تَهِيضُ جَنَاحَ رُوحِهِ الَّتِي اسْتَمَرَّتِ السُّمُوَّ إِلَى مَا وَرَاءِ الْوُجُودِ ، وَذَلِكَ اللَّغْوُ الَّذِي يَتَرَدَّدُ فِي الْوَادِي الْمُقَدَّسِ يُؤْذِيهِ بَلْ يُرْهِقُهُ إِرْهَافًا . إِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَلْقَى بِنَفْسِهِ فِي أَحْضَانِ الطَّبِيعَةِ قَبْلَ أَنْ تَمْتَدَّ إِلَيْهَا يَدُ الْإِنْسَانِ الْعَابِثِ . فَمَا أَجْمَلَ الطَّبِيعَةَ قَبْلَ أَنْ تُشَوِّهَ وَجْهَهَا أَيْدِي الْبَشَرِ ! وَمَا أَرْوَعَ مَا تُوحِي بِهِ ! إِنَّهَا تَرْفَعُ الرَّاغِبَ فِي الْوِصَالِ إِلَى مَا وَرَاءَهَا لِيَتَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ وَيَنْعَمَ بِالتَّجَلِّي .
Ia mendengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang yang duduk di Haram berupa kesia-siaan, maka ia berpaling darinya dan pergi menjauh dari tempat yang paling dicintai oleh hatinya, karena berhala-berhala itu telah mencemarinya. Setiap kali ia mengarahkan pandangannya ke sana, itu mematahkan sayap jiwanya yang terus berusaha naik ke tempat di luar eksistensi, dan kesia-siaan yang bergema di lembah suci itu menyakitinya, bahkan sangat melelahkannya. Ia ingin melemparkan dirinya ke dalam pelukan alam sebelum tangan manusia yang tidak bertanggung jawab menjangkaunya. Betapa indahnya alam sebelum tangan manusia merusak wajahnya! Dan betapa hebatnya apa yang diwahyukan olehnya! Ia mengangkat orang yang berkeinginan untuk sampai ke apa yang ada di baliknya agar berseri-seri dengan kebahagiaan dan menikmati penampakan (tajalli).
وَجَعَلَ الْكَعْبَةَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَامٍ وَلَغْوٍ دُبُرَ أُذُنِهِ ، وَذَهَبَ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ غَنَمُ قَوْمِهِ فَخَرَجَ بِهَا قَاصِدًا الْمَرْعَى ، وَقَدْ أَتَتْ مِنْ بَعِيدٍ أَصْوَاتُ الْقِيَانِ فَقَدْ كَانَ هُنَاكَ عُرْسٌ فِي مَكَّةَ .
Ia menjadikan Ka'bah dengan segala berhala dan kesia-siaan di dalamnya di belakang telinganya, dan ia pergi ke tempat di mana kambing kaumnya berada, lalu ia keluar membawanya menuju padang rumput, sementara dari jauh terdengar suara para penyanyi wanita, karena ada pesta pernikahan di Makkah.
كَانَ يُحِبُّ الْغَنَمَ وَيَغْمُرُهَا بِعَطْفِهِ ، وَكَانَ إِذَا مَا رَأَى سَخْلَةً - وَهِيَ وَلَدُ الشَّاةِ حِينَ تَضَعُهُ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى - كَانَ يَحْمِلُهَا وَيُمَرِّرُ يَدَهُ عَلَيْهَا فِي شَفَقَةٍ وَيَضُمُّهَا إِلَيْهِ فِي حَنَانٍ وَقَدِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ رَحْمَةً . وَكَانَتْ إِذَا شَرَدَتْ شَارِدَةٌ يُعِيدُهَا إِلَى الْقَطِيعِ فِي رِفْقٍ ، وَإِذَا قَفَزَ حَمَلٌ أَوْ عَنْزَةٌ فِي الْفَضَاءِ فِي مَرَحٍ ، تَرِفُّ ابْتِسَامَةُ رِضًا عَلَى شَفَتَيْهِ ، وَمَا كَانَ يُجْهِدُ غَنَمَهُ فِي السَّيْرِ بَلْ كَانَ يَتَرَفَّقُ بِهَا ، فَهُوَ بِرِعَايَتِهِ لِلْغَنَمِ يَتَدَرَّبُ عَلَى رِعَايَةِ النَّاسِ .
Ia mencintai kambing-kambing dan mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka. Jika ia melihat anak kambing - yaitu anak domba ketika dilahirkan, baik jantan maupun betina - ia akan menggendongnya, mengusapkan tangannya dengan penuh rasa kasihan, dan memeluknya dengan penuh kasih sayang sementara hatinya penuh dengan rasa belas kasih. Jika ada yang tersesat, ia akan mengembalikannya ke kawanan dengan lembut. Jika ada anak domba atau kambing yang melompat-lompat di ruang terbuka dengan riang, senyum kepuasan akan muncul di bibirnya. Ia tidak pernah memaksa kambing-kambingnya dalam berjalan, melainkan ia bersikap lembut kepada mereka, karena dengan menggembala kambing, ia berlatih untuk menggembala manusia.
وَأَلْقَى نَفْسَهُ فِي الْفَضَاءِ ، إِنَّهُ أَمَامَ الْوُجُودِ وَجْهًا لِوَجْهٍ ، فَرَاحَ يَتَلَفَّتُ فِي ابْتِهَاجٍ وَقَدْ أَحَسَّ فِي أَعْمَاقِ ذَاتِهِ أَنَّ ذَلِكَ الْعَالَمَ الَّذِي يَرَاهُ عَالَمٌ نَاقِصٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْهَضَ عَلَى قَدَمَيْهِ دُونَ الْمَوْجُودِ الْأَسْمَى ، الْحَقِيقَةِ الْمُقَدَّسَةِ ، ذَاتِ الذَّوَاتِ وَرُوحِ الْأَرْوَاحِ وَحَقِيقَةِ الْحَقِيقَةِ .
Ia melemparkan dirinya ke ruang terbuka, ia berada di depan eksistensi tatap muka, lalu ia mulai menoleh dengan sukacita, dan ia merasakan di kedalaman dirinya bahwa dunia yang ia lihat adalah dunia yang kurang yang tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa Wujud Yang Paling Tinggi, Kebenaran Yang Suci, Dzat dari segala Dzat, Ruh dari segala Ruh, dan Kebenaran dari segala Kebenaran.
كَانَ الْقَمَرُ يَغْمُرُ الْكَوْنَ بِالضِّيَاءِ ، وَكَانَتِ الْغَنَمُ تَرْعَى الْكَلَأَ ، فَرَاحَ يَتَأَمَّلُ وَيُفَكِّرُ وَيَتَدَبَّرُ فَيَحُسُّ كَأَنَّ حِكْمَةً مِنْ فَوْقِ السَّمَوَاتِ تَتَدَفَّقُ إِلَى قَلْبِهِ ؛ لَوْ أَنَّ رُوحَ الْكَوْنِ جَعَلَ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى الْأَبَدِ مَنْ إِلَهُ غَيْرُهُ يَأْتِي بِالضِّيَاءِ ؟ وَإِنْ جَعَلَ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى الْأَبَدِ مَنْ إِلَهُ غَيْرُهُ يَأْتِي بِلَيْلٍ يَسْكُنُ النَّاسُ فِيهِ ؟
Bulan membanjiri alam semesta dengan cahaya, dan kambing-kambing sedang merumput. Ia mulai merenung, berpikir, dan merenungkan, lalu ia merasa seolah-olah hikmah dari atas langit mengalir ke dalam hatinya; jika Ruh Alam Semesta menjadikan malam abadi selamanya, tuhan selain-Nya siapakah yang akan mendatangkan cahaya? Dan jika Ia menjadikan siang abadi selamanya, tuhan selain-Nya siapakah yang akan mendatangkan malam agar manusia bisa beristirahat di dalamnya?
وَمَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى الْمَرْعَى وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِي الْإِلَهِ الَّذِي يُنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ، أَهْبَلُ الَّذِي يَسُوقُ الرِّيَاحَ ؟ آلَاتٌ وَالْعُزَّى وَمَنَاةُ اللَّاتِي يَمْلِكْنَ لِلنَّاسِ رِزْقًا ؟ إِنَّ هُبَلَ عَاجِزٌ وَكُلَّ الْأَصْنَامِ الَّتِي تَكَدَّسَتْ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ وَمَنْ حَوْلَهَا لَيْسَ لَهَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ ، إِنَّ إِلَهَ هَذَا الْكَوْنِ هُوَ صَانِعُ مَا فِيهِ مِنْ آيَاتٍ وَصَاحِبُ مَا فِي الْوُجُودِ مِنْ أَسْرَارٍ وَعِنْدَهُ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ .
Ia mengarahkan pandangannya ke padang rumput dan mulai berpikir tentang Tuhan yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan bumi dengannya setelah matinya. Apakah Hubal yang menggerakkan angin? Apakah Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat yang memiliki rezeki untuk manusia? Hubal lemah, dan semua berhala yang menumpuk di dalam Ka'bah dan di sekitarnya tidak memiliki kuasa apa pun atas urusan ini. Sesungguhnya Tuhan alam semesta ini adalah Pencipta tanda-tanda yang ada di dalamnya, Pemilik rahasia-rahasia yang ada dalam eksistensi, dan di sisi-Nya kunci-kunci kegaiban.
هَذَا الْقَمَرُ الْمُتَأَلِّقُ فِي السَّمَاءِ شَاهِدٌ بِوُجُودِهِ ، وَهَذَا الْفَضَاءُ الْوَاسِعُ الْعَرِيضُ شَاهِدٌ بِوُجُودِهِ ، وَهَذِهِ الْغَنَمُ وَهَذَا الْكَلَأُ وَزَفِيفُ النَّسِيمِ وَخَفَقَانُ قَلْبِ الْكَوْنِ وَتَعَاقُبُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ شَاهِدٌ بِوُجُودِهِ ، وَإِنَّهُ بِكُلِّ كِيَانِهِ مِنْحَةٌ مِنَ الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةِ ، مِنَ الْحَقِيقَةِ الْمُتَعَالِيَةِ .
Bulan yang bersinar di langit ini menjadi saksi atas keberadaan-Nya, ruang luas yang membentang ini menjadi saksi atas keberadaan-Nya, dan kambing-kambing ini, padang rumput ini, desiran angin, detak jantung alam semesta, serta pergantian malam dan siang menjadi saksi atas keberadaan-Nya. Sesungguhnya dengan segala wujudnya, ia adalah anugerah dari Kekuatan Ilahi, dari Kebenaran Yang Maha Tinggi.
وَأَحَسَّ رَغْبَةً فِي التَّزَوُّعِ إِلَى الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ ، أَنْ يَرْتَفِعَ إِلَى مَا وَرَاءَ عَالَمِ التَّجْرِبَةِ الْبَشَرِيَّةِ النَّاقِصَةِ أَنْ يَتَّصِلَ بِالْخَيْرِ الْأَسْمَى وَأَنْ يَقِفَ مِنْهُ مَوْقِفَ الْعَبْدِ مِنَ الْمَعْبُودِ . وَلَمْ يَدْرِ بِخَلَدِهِ مَا يَدُورُ بِخُلْدِ الْكَهَنَةِ وَالسَّحَرَةِ مِنْ أَنْ يَتَّخِذُوا مِنَ هَذِهِ الْقُوَّةِ الْمُتَعَالِيَةِ قُوَّةً سِحْرِيَّةً يَسْتَغِلُّونَهَا لِمَصْلَحَتِهِمْ ، بَلْ إِنَّهُ أَرَادَ أَنْ يُسَلِّمَ اللهَ وَجْهَهُ وَأَنْ يَسْتَعِينَ بِهِ وَأَنْ يَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ .
Ia merasakan keinginan untuk beralih ke Kebenaran yang kekal, untuk naik ke luar dunia pengalaman manusia yang tidak sempurna, untuk terhubung dengan Kebaikan Tertinggi, dan untuk berdiri di hadapan-Nya sebagai posisi seorang hamba di hadapan Sang Sembahan. Ia tidak mengetahui dalam pikirannya apa yang beredar dalam pikiran para imam dan penyihir untuk menjadikan kekuatan yang maha tinggi ini sebagai kekuatan sihir yang mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Bahkan, ia ingin menyerahkan wajahnya kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
أَيَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْفُذَ إِلَى جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ ؟ أَمْ يَكْفِيهِ ذَلِكَ الْإِشْرَاقُ الَّذِي أَمْسَى يَحُسُّهُ فِي صَمِيمِ ذَاتِهِ ؟ وَأَنْ يَكُفَّ عَقْلَهُ عَنِ الْجَرْيِ وَرَاءَ اسْتِجْلَاءِ الْحَقِيقَةِ الْمُسْتَغْلِقَةِ ؟
Apakah ia mampu menembus esensi kebenaran? Ataukah cukup baginya kilauan yang mulai ia rasakan di kedalaman dirinya? Dan apakah ia harus menahan akalnya dari berlari mengejar penyingkapan kebenaran yang tertutup?
إِنَّهُ يَسْتَشْعِرُ الْجَوْهَرَ الْأَسْمَى فِي كُلِّ مَا يَمُدُّ إِلَيْهِ عَيْنَيْهِ ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ صَوْتَهُ فِي كُلِّ صَوْتٍ يَتَجَاوَبُ فِي أَرْجَاءِ الْوُجُودِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَمَامِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ وَمِنْ فَوْقِهِ وَحَيْثُمَا يُوَجِّهُ الْبَصَرَ ، بَلْ إِنَّهُ فِي قَلْبِ قَلْبِهِ وَفِي نُورِ عَيْنَيْهِ وَفِي كُلِّ جَارِحَةٍ مِنْ جَوَارِحِهِ وَفِي أَعْمَاقِ أَعْمَاقِهِ . وَهُوَ رُوحُ الرُّوحِ .
Ia merasakan esensi tertinggi dalam segala sesuatu yang ia arahkan pandangannya kepadanya, dan ia mendengar suara-Nya dalam setiap suara yang bergema di seluruh penjuru eksistensi. Itu ada di depannya, di belakangnya, di atasnya, dan ke mana pun ia mengarahkan pandangan. Bahkan, itu ada di dalam lubuk hatinya, dalam cahaya matanya, dalam setiap anggota tubuhnya, dan di kedalaman jiwanya. Dialah Ruh dari ruh.
إِنَّهُ يَحُسُّ نَشْوَةً تَنْبَعِثُ مِنْ صَمِيمِ إِحْسَاسِهِ بِمَنْ لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهَى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمَى ، وَأُنْسًا وَبَهْجَةً وَانْبِهَارًا كُلَّمَا شَاهَدَ عَجَائِبَ مَلَكُوتِهِ وَآثَارَ قُدْرَتِهِ ، وَإِنَّهُ لَيَخِرُّ سَاجِدًا وَقَدْ تَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ لِعَظَمَتِهِ وَإِنْ كَانَتْ رُوحُهُ فِي سُجُودٍ دَائِمٍ لَا تَعْرِفُ قِيَامًا ، فَقَدْ مَلَأَهُ السُّرُورُ أَنَّ قَدْ عَرَفَ الْخَيْرَ الْمُطْلَقَ وَالْعَدَالَةَ الْمُطْلَقَةَ وَالْحَقَّ الْمُطْلَقَ .
Ia merasakan ekstasi yang terpancar dari kedalaman perasaannya terhadap Dzat yang tidak ada ujung di bawah-Nya dan tidak ada tujuan di balik-Nya. Ia merasakan kenyamanan, kegembiraan, dan kekaguman setiap kali ia menyaksikan keajaiban kerajaan-Nya dan jejak-jejak kekuasaan-Nya. Ia bersujud dan berseri-seri dengan kebahagiaan atas keagungan-Nya, meskipun jiwanya berada dalam sujud abadi yang tidak mengenal berdiri, karena kegembiraan telah memenuhinya karena ia telah mengenal Kebaikan Mutlak, Keadilan Mutlak, dan Kebenaran Mutlak.
إِنَّ شَجَرَةَ الْإِيمَانِ تَتَرَعْرَعُ فِي ضَمِيرِهِ ، وَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَرْعَاهَا بِالْمُجَاهَدَةِ وَأَنْ يَسْقِيَهَا بِالتَّأَمُّلِ وَالتَّدَبُّرِ وَالتَّفْكِيرِ وَإِلْقَاءِ السَّمْعِ إِلَى مَنْ لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهَى . وَأَنْ يَرْقَى ذَاتَهُ بِالصَّبْرِ الطَّوِيلِ وَتَحَمُّلِ أَلَمِ الْوَحْدَةِ وَالْحُزْنِ الْعَمِيقِ حَتَّى يَنْعَمَ بِفَيْضٍ مِنَ السَّعَادَةِ ، وَحَتَّى يُشْرِقَ اللهُ قَلْبَهُ بِأَنْوَارِ الْيَقِينِ .
Pohon keimanan tumbuh di dalam hati nuraninya, dan ia harus merawatnya dengan perjuangan dan menyiraminya dengan perenungan, pemikiran, dan mendengarkan kepada Dzat yang tidak ada ujung di bawah-Nya. Ia harus mengangkat dirinya dengan kesabaran yang panjang dan menanggung rasa sakit kesepian serta kesedihan yang mendalam hingga ia menikmati limpahan kebahagiaan, dan hingga Allah menerangi hatinya dengan cahaya keyakinan.
إِنَّ الْوُجُودَ شَيْءٌ أَكْثَرُ مِمَّا نَرَاهُ وَنَحُسُّهُ وَنَلْمِسُهُ وَنَشَمُّهُ وَنَتَذَوَّقُهُ أَوْ يَتَخَيَّلُهُ الْعَقْلُ ، إِنَّهُ الطَّبِيعَةُ وَمَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ ، إِنَّهُ الْكَوْنُ وَرُوحُ الْكَوْنِ ، إِنَّهُ الْعَالَمُ وَاللهُ ، وَإِنَّ قَلْبَ الْحَقِيقَةِ إِرَادَةُ اللهِ ، وَإِنَّ مُحَمَّدًا لَيَحُسُّ أَنَّ اللهَ يَهَبُهُ قَلْبًا جَدِيدًا نَاصِعًا كُلَّمَا هَامَ فِي مَلَكُوتِهِ وَفَكَّرَ فِيهِ .
Eksistensi adalah sesuatu yang lebih dari apa yang kita lihat, kita rasakan, kita sentuh, kita cium, kita kecap, atau yang dibayangkan oleh akal. Itu adalah alam dan apa yang ada di balik alam. Itu adalah alam semesta dan ruh alam semesta. Itu adalah dunia dan Allah. Sesungguhnya inti kebenaran adalah kehendak Allah, dan Muhammad merasakan bahwa Allah memberinya hati baru yang putih bersih setiap kali ia terpesona dalam kerajaan-Nya dan memikirkannya.
وَجَاءَ فَتًى مِنْ فِتْيَانِ قُرَيْشٍ فِي غَنَمٍ لِأَهْلِهِ يَرْعَاهَا ، فَلَمَّا رَأَى مُحَمَّدًا رَاحَ يُجَاذِبُهُ أَطْرَافَ الْحَدِيثِ ، وَفِيمَا هُمَا يَتَحَاوَرَانِ تَذَكَّرَ مُحَمَّدٌ أَصْوَاتَ الْقِيَانِ الَّتِي مَسَّتْ أُذُنَيْهِ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ بِالْغَنَمِ إِلَى أَعْلَى مَكَّةَ ، فَخَطَرَ لَهُ خَاطِرٌ : لِمَ لَا يَسْمُرُ اللَّيْلَةَ كَمَا يَسْمُرُ الْفِتْيَانُ وَإِنَّهُ لَسَمَرٌ بَرِيءٌ لَا شَيْءَ بَعْدَهُ ، وَاسْتَرَاحَ لِذَلِكَ الْوَسْوَاسِ فَالْتَفَتَ إِلَى الْفَتَى وَقَالَ :
Seorang pemuda dari pemuda Quraisy datang dengan kambing keluarganya untuk digembalakan. Ketika ia melihat Muhammad, ia mulai mengajaknya berbincang-bincang. Saat mereka berdialog, Muhammad teringat suara-suara para penyanyi wanita yang menyentuh telinganya ketika ia sedang berangkat membawa kambing ke atas Makkah. Maka terlintas di pikirannya sebuah pemikiran: Mengapa ia tidak begadang malam ini seperti para pemuda lainnya? Dan itu adalah begadang yang polos, tidak ada apa-apa setelahnya. Ia merasa nyaman dengan bisikan itu, lalu ia menoleh kepada pemuda itu dan berkata:
— انْظُرْ إِلَى غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ كَمَا يَسْمُرُ الْفِتْيَانُ .
— Perhatikanlah kambing-kambingku sampai aku ikut begadang malam ini di Makkah seperti para pemuda.
قَالَ الْفَتَى : - نَعَمْ .
Pemuda itu berkata: - Ya.
وَتَرَكَ مُحَمَّدٌ غَنَمَهُ فِي رِعَايَةِ ذَلِكَ الْفَتَى ثُمَّ سَارَ يَتَكَفَّأُ مَسْرُورًا ، فَهُوَ مُقْدِمٌ عَلَى تَجْرِبَةٍ جَدِيدَةٍ لَمْ يُمَارِسْهَا مِنْ قَبْلُ ، فَلَمَّا جَاءَ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمَعَ غِنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَمَزَامِيرَ فَقَالَ :
Muhammad meninggalkan kambing-kambingnya dalam perawatan pemuda itu, lalu ia berjalan terhuyung-huyung dengan gembira, karena ia akan menghadapi pengalaman baru yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ketika ia sampai di rumah terdekat dari rumah-rumah di Makkah, ia mendengar nyanyian dan suara rebana serta seruling, lalu ia berkata:
— مَا هَذَا ؟
— Apa ini?
— فُلَانٌ قَدْ تَزَوَّجَ مِنْ فُلَانَةَ .
— Si Fulan telah menikah dengan si Fulanah.
فَجَلَسَ وَتَأَهَّبَ لِيَسْمَعَ ، وَلَكِنَّ اللهَ ضَرَبَ عَلَى أُذُنِهِ فَرَاحَ فِي سُبَاتٍ وَلَمْ يَرَ شَيْئًا وَلَمْ يَسْمَعْ شَيْئًا ، فَالْسَّمَاءُ تَعُدُّهُ لِرِسَالَةٍ لَيْسَ سَبِيلُهَا السَّمَرَ وَإِلْقَاءَ السَّمْعِ إِلَى الْغِنَاءِ وَأَصْوَاتِ الدُّفُوفِ وَالْأَلْحَانِ .
Ia duduk dan bersiap untuk mendengarkan, tetapi Allah membuat telinganya tertidur, sehingga ia masuk ke dalam tidur nyenyak dan tidak melihat apa pun serta tidak mendengar apa pun. Karena langit sedang mempersiapkannya untuk sebuah misi yang jalannya bukanlah begadang dan mendengarkan nyanyian serta suara rebana dan lagu-lagu.
وَانْقَضَى اللَّيْلُ وَهُوَ غَارِقٌ فِي نَوْمِهِ ، وَانْفَضَّ السَّامِرُ وَأَشْرَقَتِ الشَّمْسُ فَلَمَّا أَحَسَّ حَرَّهَا اسْتَيْقَظَ وَرَاحَ يَتَلَفَّتُ فِي عَجَبٍ ، فَهُوَ لَا يَدْرِي كَيْفَ غَلَبَهُ النَّوْمُ وَمَا كَانَ فِي عَيْنَيْهِ نُعَاسٌ ، بَلْ كَانَ نَشِيطًا يَمْنَى النَّفْسَ بِلَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي السَّمَرِ الَّتِي يَسْعَدُ بِهَا فِتْيَانُ مَكَّةَ . وَرَجَعَ إِلَى صَاحِبِهِ فَهَرَعَ إِلَيْهِ الْفَتَى وَقَالَ :
Malam pun berakhir sementara ia tenggelam dalam tidurnya, pertemuan malam bubar, dan matahari terbit. Ketika ia merasakan panasnya, ia terbangun dan mulai menoleh dengan heran, karena ia tidak tahu bagaimana tidur bisa menguasainya padahal tidak ada rasa kantuk di matanya. Bahkan, ia sedang bersemangat, memanjakan dirinya dengan malam begadang yang dinikmati oleh para pemuda Makkah. Ia kembali kepada temannya, lalu pemuda itu bergegas menghampirinya dan berkata:
— مَا فَعَلْتَ ؟
— Apa yang kau lakukan?
وَتَرَقَّبَ الْفَتَى أَنْ يَسْمَعَ وَصْفًا مُسْهِبًا لِتِلْكَ اللَّيْلَةِ مِنْ مُحَمَّدٍ الَّذِي اشْتَهَرَ بِفَصَاحَتِهِ ، وَلَمْ يَكُنِ النَّفْسُ بِأَنْ تَهْزَّ اللَّيْلَةَ مُحَمَّدًا فَيَصُوغَ شِعْرًا فَقَدْ عَرَفَ مُحَمَّدًا يَكْرَهُ أَوْزَانَ الشِّعْرِ وَلَا يَتَّبِعُ الشُّعَرَاءَ الَّذِينَ يَهِيمُونَ فِي وِدْيَانِ مَكَّةَ وَشِعَابِهَا . وَقَالَ مُحَمَّدٌ فِي اقْتِضَابٍ :
Pemuda itu menunggu untuk mendengar deskripsi panjang lebar tentang malam itu dari Muhammad yang terkenal dengan kefasihannya. Dan bukanlah jiwa yang mengguncang malam Muhammad sehingga ia menyusun syair, karena ia tahu Muhammad membenci irama syair dan tidak mengikuti para penyair yang mengembara di lembah-lembah Makkah dan celah-celahnya. Muhammad berkata dengan singkat:
— خَرَجْتُ فَلَمَّا جِئْتُ أَدْنَى دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ سَمِعْتُ غِنَاءً وَصَوْتَ دُفُوفٍ وَمَزَامِيرَ ، فَلَهَوْتُ بِذَلِكَ الصَّوْتِ حَتَّى غَلَبَتْنِي عَيْنَايَ فَنِمْتُ فَمَا أَيْقَظَنِي إِلَّا مَسُّ الشَّمْسِ .
— Aku keluar, ketika sampai di rumah terdekat dari rumah-rumah di Makkah, aku mendengar nyanyian dan suara rebana serta seruling. Aku terbuai dengan suara itu sampai mataku tertutup, lalu aku tertidur, dan tidak ada yang membangunkanku kecuali sengatan matahari.
وَعَادَ مُحَمَّدٌ بِغَنَمِهِ وَهُوَ يُفَكِّرُ فِيمَا كَانَ فِي أَمْسِهِ ، فَإِنْ كَانَ النَّوْمُ قَدْ غَلَبَهُ فَسَيَنَامُ النَّهَارَ حَتَّى يَقْوَى عَلَى أَنْ يَسْهَرَ اللَّيْلَ كَمَا يَسْمُرُ الْفِتْيَانُ ، فَهُوَ مُذْ تَفَتَّحَتْ عَيْنَاهُ عَلَى نُورِ الدُّنْيَا لَمْ يَعْرِفِ اللَّهْوَ وَلَا السَّمَرَ ، وَإِنَّ كُلَّ مَا يَذْكُرُهُ تِلْكَ الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِيَ الَّتِي قَضَاهَا فِي بَنِي سَعْدٍ فِي أَحْضَانِ حَلِيمَةَ ، يُشَارِكُ إِخْوَتَهُ الشَّيْمَاءَ وَعَبْدَ اللهِ وَأُنَيْسَةَ لَعِبَهُمْ ، وَكَانَتْ لُعْبَتُهُ الْمُفَضَّلَةُ « الْعَظْمَةَ الْبَيْضَاءَ » وَكَانَ كُلَّمَا لَعِبَهَا مَعَ أُنَيْسَةَ وَعَبْدِ اللهِ يَفُوزُ عَلَيْهِمَا فَهُوَ يَطُوحُهَا أَبْعَدَ مِنْ أَخَوَيْهِ ، وَكَانَ يَرَاهَا فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ قَبْلَ أَنْ تَقَعَ أَعْيُنُهُمَا عَلَيْهَا .
Muhammad kembali dengan kambing-kambingnya sambil memikirkan apa yang terjadi kemarin. Jika tidur telah mengalahkannya, ia akan tidur di siang hari agar kuat untuk begadang di malam hari seperti para pemuda. Sejak matanya terbuka pada cahaya dunia, ia tidak mengenal permainan dan begadang. Semua yang diingatnya adalah hari-hari dan malam-malam yang dihabiskannya di Bani Sa'ad di pelukan Halimah, ikut serta bermain dengan saudara-saudaranya, Asy-Syayma, Abdullah, dan Anisah. Permainan favoritnya adalah "Al-Azhmah al-Baydha" (tulang putih). Setiap kali ia bermain dengan Anisah dan Abdullah, ia memenangkan permainan itu karena ia melemparkannya lebih jauh daripada kedua saudaranya, dan ia bisa melihatnya di kegelapan malam sebelum mata mereka melihatnya.
وَإِنَّهُ لَيَذْكُرُ تِلْكَ الْأَيَّامَ الَّتِي قَضَاهَا فِي يَثْرِبَ عِنْدَ أَخْوَالِ جَدِّهِ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ ، كَانَتْ أَيَّامًا مُتْرَعَةً بِالْمُتْعَةِ ، خَرَجَ فِيهَا مَعَ صِبْيَانِ أَخْوَالِهِ يَجُوسُ خِلَالَ آطَامِ الْيَهُودِ وَأَسْوَاقِهِمْ ، وَيَقِفُ عَلَى الْعَدَاوَةِ النَّاشِبَةِ بَيْنَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ ، وَقَدْ تَعَلَّمَ الْعَوْمَ هُنَاكَ كَاشِفًا عَنْ حُبِّهِ لِلْمُخَاطَرَةِ وَالتَّرَقِّي وَالسُّمُوِّ عَلَى بِيئَتِهِ الْمَكِّيَّةِ الَّتِي مَا كَانَتْ تَعْرِفُ الْعَوْمَ أَوْ تَفْكُرَ فِيهِ .
Ia teringat hari-hari yang dihabiskannya di Yathrib bersama paman kakeknya dari Bani Najjar. Itu adalah hari-hari yang penuh dengan kesenangan, di mana ia keluar bersama anak-anak pamannya menjelajahi benteng-benteng Yahudi dan pasar-pasar mereka, serta menyaksikan permusuhan yang berkecamuk antara Aus dan Khazraj. Ia belajar berenang di sana, mengungkapkan kecintaannya pada tantangan, kemajuan, dan ketinggian di atas lingkungan Makkah-nya yang tidak mengenal atau memikirkan tentang berenang.
وَإِنَّهُ لَيَذْكُرُ أُنَيْسَةَ تِلْكَ الْجَارِيَةَ مِنَ بَنِي النَّجَّارِ الَّتِي كَانَتْ تَلْعَبُ مَعَهُ عَلَى أُطَمٍ مِنْ آطَامِ عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ ، وَكَانَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ فِي السَّابِعَةِ مِنْ عُمْرِهِ ، وَمَضَى عَلَى ذَلِكَ سِتُّ سَنَوَاتٍ لَمْ يَعْرِفْ فِيهَا اللَّعِبَ بَلْ عَرَفَ التَّأَمُّلَ وَالتَّدَبُّرَ فِي ذَلِكَ الْكَوْنِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَحُسُّ تَوَافُقًا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ ، وَالَّذِي يَرْفَعُهُ فِي رِفْقٍ إِلَى مَا وَرَاءَهُ لِيَتَّصِلَ بِمَنْ لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهَى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمَى .
Ia teringat Anisah, gadis kecil dari Bani Najjar yang biasa bermain dengannya di salah satu benteng Adi bin Najjar. Saat itu ia berusia tujuh tahun, dan enam tahun telah berlalu sejak saat itu di mana ia tidak mengenal permainan, melainkan mengenal perenungan dan pemikiran tentang alam semesta yang penuh rahmat ini, yang ia rasakan keselarasan antara dirinya dengannya, yang mengangkatnya dengan lembut ke tempat di balik itu untuk terhubung dengan Dzat yang tidak ada ujung di bawah-Nya dan tidak ada tujuan di balik-Nya.
كَانَ ذَلِكَ كُلَّ مَا عَرَفَهُ مِنْ لَعِبٍ ، وَمَا كَانَ فِيهِ شَيْءٌ قَبِيحٌ مِمَّا كَانَ مُتَفَشِيًا فِي أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ . وَقَدْ هَفَتْ نَفْسُهُ إِلَى أَنْ يَسْمُرَ ذَلِكَ السَّمَرَ الْبَرِيءَ الَّذِي يَسْعَدُ بِهِ كُلُّ فِتْيَانِ مَكَّةَ دُونَ حَرَجٍ أَوْ تَثْرِيبٍ ، وَلَكِنَّ اللهَ عَصَمَهُ فِي اللَّيْلَةِ الْأُولَى ، وَهُوَ عَازِمٌ عَلَى أَنْ يَتَأَهَّبَ لِلسَّمَرِ فِي اللَّيْلَةِ التَّالِيَةِ لِيُعَوِّضَ مَا فَاتَهُ .
Itulah semua permainan yang ia kenal, dan tidak ada sesuatu yang buruk di dalamnya dari apa yang tersebar di kalangan masyarakat Jahiliyah. Jiwanya merindukan untuk begadang dengan cara yang polos itu yang dinikmati oleh semua pemuda Makkah tanpa rasa malu atau celaan. Namun Allah melindunginya pada malam pertama, dan ia bertekad untuk bersiap begadang di malam berikutnya untuk mengganti apa yang telah terlewatkan.
وَانْصَرَمَ النَّهَارُ وَجَاءَ اللَّيْلُ وَارْتَفَعَ الْقَمَرُ يَبْعَثُ أَشِعَّتَهُ لِتَكْسُوَ الْأَرْضَ بِسَاطًا مِنْ فِضَّةٍ ، وَسَرَى مُحَمَّدٌ يَرْعَى غَنَمَهُ فِي أَعَالِي مَكَّةَ وَصَوْتُ الْقِيَانِ وَالدُّفُوفِ وَالْمَزَامِيرِ يَهْمِسُ فِي الْوُجُودِ هَمْسًا كُلُّهُ إِغْرَاءٌ وَفِتْنَةٌ كَوْسْوَسَةِ الشَّيَاطِينِ فِي صُدُورِ الضَّالِّينَ .
Siang berakhir dan malam tiba, bulan meninggi memancarkan sinarnya untuk menutupi bumi dengan permadani perak. Muhammad berjalan menggembala kambingnya di dataran tinggi Makkah, sementara suara penyanyi wanita, rebana, dan seruling berbisik dalam eksistensi, bisikan yang penuh rayuan dan fitnah seperti bisikan setan di dada orang-orang yang tersesat.
وَالْتَفَتَ مُحَمَّدٌ إِلَى صَاحِبِهِ وَقَالَ :
Muhammad menoleh kepada temannya dan berkata:
— أَبْصِرْ لِي غَنَمِي حَتَّى أَسْمُرَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمَكَّةَ .
— Awasi kambing-kambingku untukku sampai aku begadang malam ini di Makkah.
— نَعَمْ .
— Ya.
وَانْطَلَقَ مُحَمَّدٌ نَشِيطًا حَتَّى جَاءَ دَارًا مِنْ دُورِ السَّادَاتِ الَّذِينَ يَمْضُونَ اللَّيْلَ فِي سَمَرٍ وَحُبُورٍ يَصِيخُونَ السَّمْعَ لِلْغِنَاءِ وَصَوْتِ الدُّفُوفِ وَالْمَزَامِيرِ ، فَجَلَسَ وَتَأَهَّبَ لِيَشْنِفَ أُذُنَيْهِ بِالْأَصْوَاتِ الْعَذْبَةِ ، بَعْدَ أَنْ نَامَ النَّهَارَ لِيَسْهَرَ اللَّيْلَ كُلَّهُ مَعَ السَّاهِرِينَ . وَلَكِنْ مَا كَادَ يَسْتَقِرُّ فِي مَكَانِهِ حَتَّى غَلَبَهُ النَّوْمُ قَبْلَ أَنْ يَرَى شَيْئًا أَوْ يَسْمَعَ شَيْئًا ، وَانْقَضَى اللَّيْلُ وَهُوَ غَارِقٌ فِي النَّوْمِ وَمَا أَيْقَظَهُ إِلَّا حَرُّ الشَّمْسِ ، فَقَامَ وَهُوَ يَتَلَفَّتُ فِي دَهْشٍ ، وَسُرْعَانَ مَا أَحَسَّ رَهْبَةً وَكَأَنَّمَا قَدْ أَضَاءَ ذِهْنُهُ فَجْأَةً بِحَقِيقَةٍ كَانَتْ غَائِبَةً عَنْهُ أَوْ غَابَتْ عَنْ ضَمِيرِهِ فِي اللَّيْلَتَيْنِ اللَّتَيْنِ فَكَّرَ فِيهِمَا أَنْ يَسْمُرَ كَمَا يَسْمُرُ الْفِتْيَانُ .
Muhammad pergi dengan bersemangat sampai ia sampai di salah satu rumah para pemimpin yang menghabiskan malam dalam begadang dan kegembiraan, mendengarkan nyanyian dan suara rebana serta seruling. Ia duduk dan bersiap untuk memanjakan telinganya dengan suara-suara yang merdu, setelah tidur di siang hari agar bisa terjaga sepanjang malam bersama orang-orang yang begadang. Namun, baru saja ia menetap di tempatnya, tidur telah mengalahkannya sebelum ia melihat apa pun atau mendengar apa pun. Malam pun berakhir sementara ia tenggelam dalam tidur, dan tidak ada yang membangunkannya kecuali panasnya matahari. Ia berdiri sambil menoleh dengan takjub, dan segera ia merasakan rasa takut, seolah-olah pikirannya tiba-tiba diterangi oleh kebenaran yang tidak ada padanya atau yang hilang dari hatinya dalam dua malam yang ia pikirkan untuk begadang seperti para pemuda.
إِنَّهُ سَائِرٌ فِي طَرِيقِ التَّأَمُّلِ وَالتَّدَبُّرِ وَالِاتِّصَالِ بِرُوحِ الْوُجُودِ ، وَإِنَّهُ لَيَسْتَشْعِرُ أَنَّ ذَاتَ الذَّوَاتِ تَدْنُو مِنْهُ كُلَّمَا دَنَا مِنْهَا ، بَلْ إِنَّهُ لَيَسْتَشْعِرُ أَنَّهَا صَارَتْ قَرِيبَةً مِنْهُ أَقْرَبَ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ، فَمَا الَّذِي جَعَلَهُ يَعْرُجُ إِلَى طَرِيقِ اللَّهْوِ وَالسَّمَرِ ؟! إِنَّهُ آسِفٌ لِأَنَّهُ هَمَّ بِقَبِيحٍ مِمَّا هُمْ بِهِ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَإِنَّهُ لَسَعِيدٌ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ لِأَنَّهُ اكْتَشَفَ أَنَّ الْحَقِيقَةَ الْخَيِّرَةَ تَرْعَاهُ وَتَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَنْ يَنْغَمِسَ فِي حَيَاةٍ يَتَنَكَّبُ بِهَا الطَّرِيقَ الْقَوِيمَ الَّذِي يَقُودُهُ إِلَى غَايَةِ الْغَايَاتِ . إِنَّهُ يُجَاهِدُ وَيَجْتَهِدُ وَيَتَحَمَّلُ الْأَلَمَ وَالْعَذَابَ وَالْحِرْمَانَ لِيَبْلُغَ مَا تَصْبُو إِلَيْهِ نَفْسُهُ مِنَ الْوِصَالِ ، وَإِنَّ اللَّطِيفَ قَدْ لَطَفَ بِهِ وَعَصَمَهُ عَنْ أَنْ يَدْخُلَ مِنْ بَابِ اللَّهْوِ الَّذِي يَقُودُهُ إِلَى الضَّلَالَةِ ، فَعَزَمَ عَلَى أَلَّا يَعُودَ لِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ بَعْدَ أَنْ رَأَى بِبَصِيرَتِهِ بُرْهَانَ رَبِّهِ .
Ia sedang berjalan di jalan perenungan, pemikiran, dan hubungan dengan ruh alam semesta. Ia merasakan bahwa Dzat dari segala Dzat semakin dekat dengannya setiap kali ia mendekat kepada-Nya. Bahkan, ia merasa bahwa itu telah menjadi sangat dekat dengannya, lebih dekat daripada urat nadi. Maka apa yang membuatnya beralih ke jalan kesia-siaan dan begadang?! Ia menyesal karena ia berniat melakukan sesuatu yang buruk seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Dan pada saat yang sama, ia bahagia karena ia menemukan bahwa Kebenaran Yang Baik merawatnya dan menghalanginya untuk tenggelam dalam kehidupan yang menyimpang dari jalan yang lurus yang menuntunnya ke tujuan dari segala tujuan. Ia berjuang, berusaha, dan menanggung rasa sakit, penderitaan, dan kesengsaraan untuk mencapai apa yang diinginkan jiwanya dari hubungan (wushul). Sesungguhnya Yang Maha Lembut telah bersikap lembut kepadanya dan melindunginya dari masuk melalui pintu kesia-siaan yang menuntunnya ke kesesatan. Maka ia bertekad untuk tidak kembali melakukan hal itu setelah ia melihat dengan mata batinnya bukti dari Tuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar