BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al-Yatim - Episode 19

AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Fatamorgana di Tanah Haram: Ketika Cahaya di Atas Cahaya Memandu Sang Yatim

Di tengah kepungan keyakinan yang bercabang—dari penyembah api hingga penganut reinkarnasi—Muhammad bin Abdullah melangkah dengan tenang. Hatinya adalah wadah hikmah yang tercurah langsung dari langit, membimbingnya melampaui mimpi-mimpi rendah para pembesar Quraisy.

دَبَّتِ الْحَيَاةُ فِي بَيْتِ أَبِي طَالِبٍ ، وَقَامَتْ فَاطِمَةُ تُجَهِّزُ الطَّعَامَ لِزَوْجِهَا وَأَبْنَائِهَا . وَلِلْفَتَى مُحَمَّدٍ الَّذِي كَانَ أَوَّلَ مَنْ غَادَرَ فِرَاشَهُ وَذَهَبَ إِلَى النَّافِذَةِ يَرْقُبُ الْأُفُقَ الشَّرْقِيَّ فِي الْفَجْرِ ، لِتَبْتَهِجَ نَفْسُهُ بِتَأَمُّلِ مَوْلِدِ النَّهَارِ .
Kehidupan mulai menggeliat di rumah Abu Thalib, dan Fatimah pun bersiap menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Sementara bagi pemuda Muhammad yang merupakan orang pertama meninggalkan tempat tidurnya dan pergi ke jendela, mengamati ufuk timur di waktu fajar, agar jiwanya bersuka cita merenungi kelahiran hari.
كَانَ فِي تَطَوُّرٍ رُوحِيٍّ مُسْتَمِرٍّ ، وَكَانَ الْكَوْنُ النَّابِضُ بِرُوحِ اللَّهِ هُوَ الْمَنْهَلُ الْعَذْبُ الَّذِي تَرِدُهُ رُوحُهُ لِتَعَبَ مِنْهُ فِي نَهَمٍ وَاشْتِيَاقٍ . وَإِنَّهُ يَحِسُّ عَطَشًا إِلَى الْمَعْرِفَةِ عَلَى الدَّوَامِ ، فَكَانَتِ الْأَوَاصِرُ تَشْتَدُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْوُجُودِ وَرُوحِ الْوُجُودِ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ ، وَكَانَ الْبُعْدُ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْخَيْرِ الْأَسْمَى يُطْوَى مَعَ الزَّمَنِ ، فَهُوَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ وَيَدْنُو مِنَ الْإِشْرَاقِ . إِنَّهُ يَرَى أَنَّ غَايَتَهُ وَرَاءَ هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَفَوْقَ الْكَوْنِ : فَهَذَا الْوُجُودُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مُبْدِعَ نَفْسِهِ وَمُنَظِّمَ نَفْسِهِ .
Ia berada dalam perkembangan spiritual yang berkelanjutan, dan alam semesta yang berdenyut dengan ruh Allah adalah sumber air segar yang didatangi oleh ruhnya untuk diminum dengan rasa haus dan rindu. Ia merasakan dahaga akan pengetahuan sepanjang waktu, ikatan-ikatan antara dirinya dengan wujud dan ruh wujud semakin kuat seiring berlalunya hari, dan jarak antara dirinya dengan kebaikan tertinggi terlipat seiring waktu, karena ia berjalan di jalan kebenaran yang abadi dan mendekati pencerahan. Ia melihat bahwa tujuannya berada di balik alam ini dan di atas jagat raya: wujud ini tidak mungkin menjadi pencipta dirinya sendiri dan pengatur dirinya sendiri.
وَالْأَصْنَامُ الَّتِي فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ وَمَنْ حَوْلَهَا إِنْ هِيَ إِلَّا حِجَارَةٌ نَحَتَتْهَا يَدُ الْبَشَرِ فَكَيْفَ يَسْجُدُ لَهَا إِنْسَانٌ ؟ إِنَّ الْأَمْرَ لَيْسَ فِيهِ الْتِبَاسٌ وَلَا اشْتِبَاهٌ وَلَا غُمُوضٌ وَلَا شَكٌّ : بَلْ يَقِينٌ مَا بَعْدَهُ يَقِينٌ ، وَتَوَازُنٌ وَانْسِجَامٌ وَتَوَافُقٌ مَعَ مُبْدِعِ الْكَوْنِ وَمُنَظِّمِ الْحَيَاةِ ، مَعَ الْحَقِيقَةِ الْأَزَلِيَّةِ الْأَبَدِيَّةِ ، مَعَ الْإِرَادَةِ الْخَيِّرَةِ الْمُتَعَالِيَةِ الَّتِي أَصْبَحَ يَحَسُّهَا فِي أَعْمَاقِ وُجُودِهِ : مَعَ اللَّهِ .
Dan berhala-berhala yang ada di dalam Ka'bah dan di sekitarnya hanyalah batu yang dipahat oleh tangan manusia, maka bagaimana mungkin manusia bersujud kepadanya? Perkara ini tidak memiliki kerancuan, keraguan, ketidakjelasan, atau kebimbangan: melainkan keyakinan yang tiada tandingannya, keseimbangan, keselarasan, dan kecocokan dengan Sang Pencipta alam semesta dan Pengatur kehidupan, dengan kebenaran yang azali lagi abadi, dengan kehendak baik yang maha tinggi yang mulai ia rasakan di kedalaman wujudnya: bersama Allah.
وَوُضِعَ الطَّعَامُ فَخَفَّ إِلَيْهِ بَنُو أَبِي طَالِبٍ يَنْتَهُبُونَ . بَيْنَا ذَهَبَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى مُحَمَّدٍ يُقَدِّمُ إِلَيْهِ طَعَامَهُ فَقَدِ اهْتَدَى أَبُو طَالِبٍ إِلَى أَنَّ مُحَمَّدًا إِذَا مَا جَلَسَ مَعَ أَبْنَاءِ عَمِّهِ عَلَى طَعَامٍ لَا يَنْتَهُبُ كَمَا يَنْتَهُبُونَ ، وَيَمْنَعُهُ حَيَاؤُهُ وَرِقَّتُهُ بَلْ وَرَحْمَتُهُ مِنْ أَنْ يَمُدَّ يَدَهُ إِلَى مَا تَمْتَدُّ إِلَيْهِ أَيْدٍ قَلَّمَا تَشْبَعُ مِنْ طَعَامٍ ، فَكَانَ أَبُو طَالِبٍ يَفْرِدُ لَهُ طَعَامًا وَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ يَأْتِي عَلَيْهِ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ قِلَّتِهِ ، فَامْتِلَاءُ الْمَعِدَةِ يَبِيضُ جَنَاحَ رُوحِهِ بَيْنَا كَانَتْ سَعَادَتُهُ فِي أَنْ تُحَلِّقَ رُوحُهُ إِلَى مَا فَوْقَ السَّمَوَاتِ ، لِتَقْتَبِسَ نُورَ الْهِدَايَةِ مِنْ نُورِ النُّورِ .
Makanan pun diletakkan, maka anak-anak Abu Thalib bergegas kepadanya untuk berebut. Sementara Abu Thalib mendatangi Muhammad untuk menyajikan makanannya, karena Abu Thalib telah memahami bahwa jika Muhammad duduk bersama anak-anak pamannya saat makan, ia tidak berebut sebagaimana mereka berebut, dan rasa malu, kelembutan, serta kasih sayangnya mencegahnya untuk mengulurkan tangan pada apa yang juga diulurkan tangan-tangan yang jarang kenyang dari makanan. Maka Abu Thalib memisahkan makanan untuknya dan Muhammad pun tidak menghabiskannya meskipun jumlahnya sedikit, karena kenyangnya perut memutihkan sayap ruhnya, sementara kebahagiaannya terletak pada ruhnya yang terbang ke atas langit, untuk mengambil cahaya petunjuk dari Cahaya di atas cahaya.
كَانَ أَبُو طَالِبٍ كَثِيرَ الْعِيَالِ وَكَانَتْ دُكَانُ الْعَطَّارَةِ لَا تَسُدُّ حَاجَاتِ الْأُسْرَةِ الَّتِي يَزِيدُ عَدَدُهَا عَلَى مَرِّ السِّنِينَ ، وَكَانَتْ رِفَادَةُ حُجَّاجِ بَيْتِ اللَّهِ وَسِقَايَتُهُمْ عِبْئًا ثَقِيلًا يَنُوءُ بِهِ الرَّجُلُ الَّذِي وَرِثَ ذَلِكَ الشَّرَفَ عَنْ أَبِيهِ ، وَإِنَّ الْأَرْبَاحَ الَّتِي جَنَاهَا مِنْ رِحْلَةِ الشَّامِ قَدْ ذَابَتْ جَمِيعَهَا فِي مَوْسِمِ الْحَجِّ بَلْ لَقَدِ اقْتَرَضَ مِنْ أَخِيهِ الْعَبَّاسِ مَبْلَغًا لَيْسَ بِالْيَسِيرِ لِيُنْفِقَ مِنْهُ عَلَى إِطْعَامِ فُقَرَاءِ الْحُجَّاجِ وَسِقَايَتِهِمْ ، فَالرِّفَادَةُ وَالسِّقَايَةُ شَرَفٌ يَهُونُ فِي سَبِيلِهِ كُلُّ مَالٍ .
Abu Thalib memiliki banyak tanggungan keluarga dan toko wewangiannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga yang jumlahnya terus bertambah seiring berjalannya tahun, dan pemberian makan (Rifadah) serta pemberian minum (Siqayah) jamaah haji Baitullah adalah beban berat yang dipikul oleh pria yang mewarisi kehormatan tersebut dari ayahnya. Keuntungan yang ia peroleh dari perjalanan ke Syam semuanya telah habis di musim haji, bahkan ia telah meminjam dari saudaranya, al-Abbas, jumlah yang tidak sedikit untuk membelanjakannya demi memberi makan dan minum fakir miskin jamaah haji, karena Rifadah dan Siqayah adalah kehormatan yang membuat semua harta menjadi ringan demi mencapainya.
بَعَثَ الْعَبَّاسُ بِضَاعَتَهُ الْمُتَوَاضِعَةَ مَعَ أَخِيهِ إِلَى الشَّامِ وَقَدْ حَقَّقَتْ لَهُ أَرْبَاحًا مَكَّنَتْهُ مِنْ أَنْ يَزِيدَ فِي تِجَارَتِهِ الَّتِي بَعَثَ بِهَا إِلَى سُوقِ عُكَاظَ وَسُوقِ مَجَنَّةَ وَذِي مَجَازٍ . وَلَمَّا لَمْ يَكُنِ الْعَبَّاسُ رَبَّ أُسْرَةٍ كَبِيرَةٍ كَأَخِيهِ أَبِي طَالِبٍ فَقَدْ رَبَا لَهُ مَالُهُ وَاسْتَطَاعَ أَنْ يُقْرِضَ أَخَاهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَنْ يَسْتَطِيعَ أَنْ يَرُدَّ مَا اقْتَرَضَ فَهُوَ يَطْمَحُ فِي أَنْ تَتَوَلَّى إِلَيْهِ السِّقَايَةُ وَالرِّفَادَةُ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَحْدَثِ أَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سِنًّا ، فَذَلِكَ الشَّرَفُ يَسْتَأْهِلُ أَنْ يَتْرُكَ لِأَخِيهِ كُلَّ مَا اقْتَرَضَهُ وَكُلَّ مَا سَيَقْتَرِضُهُ مِنَ الْأَمْوَالِ ، فَإِنَّهَا أُمْنِيَةٌ عَزِيزَةٌ وَشَرَفٌ مَا بَعْدَهُ شَرَفٌ أَنْ يَتَنَازَلَ لَهُ أَخُوهُ الْمُعْسِرُ عَنِ الرِّفَادَةِ وَالسِّقَايَةِ لِقَاءَ أَنْ يَتَنَازَلَ لَهُ عَنْ دَيْنِهِ .
Al-Abbas mengirimkan barang dagangannya yang sederhana bersama saudaranya ke Syam dan itu telah menghasilkan keuntungan baginya yang memungkinkannya menambah modal dagangannya yang ia kirimkan ke pasar 'Ukaz, pasar Majannah, dan Dzi Majaz. Karena al-Abbas bukan kepala keluarga besar seperti saudaranya Abu Thalib, hartanya pun berkembang dan ia mampu meminjamkan hartanya kepada saudaranya, meskipun ia yakin bahwa Abu Thalib tidak akan mampu mengembalikan apa yang dipinjamnya, karena ia berambisi agar Siqayah dan Rifadah berpindah kepadanya, meskipun ia adalah yang termuda di antara putra-putra 'Abdul Muththalib, karena kehormatan itu pantas untuk membuatnya meninggalkan semua yang dipinjamkan kepada saudaranya dan semua yang akan dipinjamkan berupa harta, karena itu adalah cita-cita yang mulia dan kehormatan tiada tara jika saudaranya yang kesulitan mau menyerahkan Rifadah dan Siqayah kepadanya sebagai imbalan penyerahan hutangnya.
وَكَانَ مُحَمَّدٌ يَحِسُّ إِمْلَاقَ أَبِي طَالِبٍ فَكَانَ يَرْعَى غَنَمَ أَهْلِهِ بِقَرَارِيطَ وَكَانَ يَنْطَلِقُ إِلَى الْأَسْوَاقِ فِي الْمَوَاسِمِ لِيَكْسِبَ قُوتَهُ بِجُهْدِهِ ، فَمَا كَانَ يَرْضَى أَنْ يَكُونَ عَالَةً عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَعْمَامِهِ ، فَكُلُّ مَا وَرِثَهُ عَنْ أَبِيهِ جَارِيَتُهُ الْحَبَشِيَّةُ وَبَعْضُ غَنَمَاتٍ لَا تُغْنِي وَلَا تُسْمِنُ مِنْ جُوعٍ .
Dan Muhammad merasakan kemiskinan Abu Thalib, maka ia menggembala kambing milik keluarganya dengan upah beberapa qirath dan ia pergi ke pasar-pasar di musim tertentu untuk mencari penghidupan dengan usahanya sendiri, karena ia tidak rela menjadi beban bagi salah seorang paman-pamannya, karena segala yang ia warisi dari ayahnya hanyalah budak perempuannya yang berasal dari Habasyah dan beberapa ekor kambing yang tidak mencukupi dan tidak menghilangkan rasa lapar.
كَانَتْ دُورُ بَنِي هَاشِمٍ مُتَقَارِبَةً ، فَدَارُ الزُّبَيْرِ عَمِّهِ قَرِيبَةٌ مِنْ دَارِ أَبِي طَالِبٍ ، وَبَيْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْكَبِيرِ الَّذِي يَنْزِلُ فِيهِ أَعْمَامُهُ حَمْزَةُ وَالْمُقَدَّمُ وَضِرَارٌ ، وَدَارُ أَبِي لَهَبٍ إِلَى جِوَارِ دُورِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَلَمْ تَكُنْ دُورُ عَمَّاتِهِ بَعِيدَةً عَنِ الْحَيِّ فَدَارُ صَفِيَّةَ زَوْجَةِ الْعَوَّامِ بْنِ خُوَيْلِدٍ ، وَدَارُ أُمِّ حَكِيمٍ الْبَيْضَاءِ تَوْأَمِ أَبِيهِ عَبْدِ اللَّهِ ، وَدَارُ ابْنَتِهَا أَرْوَى بِنْتِ كَرِيزٍ الَّتِي تَزَوَّجَتْ عَفَّانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ أُمَيَّةَ وَوَلَدَتْ لَهُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ ، وَدَارُ عَاتِكَةَ وَأَرْوَى وَأُمَيْمَةَ وَبَرَّةَ كُلُّهَا دُورٌ تُطِلُّ عَلَى الْحَرَمِ ، وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَدُورَ عَلَيْهَا لَوْ شَاءَ لِيَجِدَ التَّرْحِيبَ بِهِ وَالْمُبَالَغَةَ فِي تَكْرِيمِهِ ، وَلَكِنَّهُ كَانَ يُؤْثِرُ أَنْ يَفِرَّ بِنَفْسِهِ مِنْ أَسْرِ أُسْرَتِهِ لِيَنْطَلِقَ حُرًّا طَلِيقًا فِي الْوُجُودِ الَّذِي أَصْبَحَ يَسْتَرِيحُ كُلَّمَا ارْتَمَى فِي أَحْضَانِهِ ، وَأَضْحَى يَنْشَرِحُ لَهُ صَدْرُهُ كُلَّمَا أَحَسَّ بِتَوَافُقٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ ، وَأَمْسَى يَبْتَهِجُ لِمَا تَهِيمُ ذَاتُهُ لِتَتَّصِلَ بِذَاتِ الذَّوَاتِ ، وَبَاتَ يَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ لِمَا يَحِسُّ كَأَنَّمَا الْحِكْمَةُ تَنْسَكِبُ مِنْ فَوْقِ السَّمَوَاتِ فِي صَمِيمِ وُجُودِهِ وَعَيْنِ ذَاتِهِ وَأَعْمَاقِ أَعْمَاقِهِ .
Rumah-rumah Bani Hasyim berdekatan, rumah Zubair pamannya dekat dengan rumah Abu Thalib, begitu juga rumah besar 'Abdul Muththalib tempat para pamannya Hamzah, al-Muqaddam, dan Dhirar tinggal, rumah Abu Lahab berada di dekat rumah-rumah Bani 'Abdul Muththalib, dan rumah bibi-bibinya tidak jauh dari lingkungan tersebut, seperti rumah Shafiyah istri al-'Awwam bin Khuwailid, rumah Ummu Hakim al-Baidha' kembaran ayahnya 'Abdullah, rumah putrinya Arwa binti Kariz yang menikah dengan 'Affan bin Abi al-'Ash bin Umayyah dan melahirkan 'Utsman bin 'Affan, serta rumah 'Atikah, Arwa, Umaimah, dan Barrah semuanya menghadap ke Haram (Ka'bah), dan ia mampu mengunjunginya jika ia mau untuk menemukan sambutan hangat dan penghormatan yang berlebihan, namun ia lebih memilih melarikan diri dari kungkungan keluarganya agar ia bisa bebas merdeka dalam wujud yang mulai ia rasakan ketenangan setiap kali ia berada dalam pelukannya, dadanya menjadi lapang setiap kali ia merasakan kesesuaian antara dirinya dengan alam, jiwanya menjadi ceria saat ia hanyut untuk terhubung dengan Dzat segala dzat, dan ia bersuka cita saat ia merasakan seolah hikmah tercurah dari atas langit ke dalam inti wujudnya, mata batinnya, dan kedalaman terdalamnya.
كَانَ فِي بَنِي هَاشِمٍ كَثِيرُونَ فِي مِثْلِ سِنِّهِ ، وَكَانَ فِي قُرَيْشٍ فِتْيَانٌ ظُرَفَاءُ مِمَّنْ يُحِبُّ مَنْ كَانَ وَحِيدًا مِثْلَهُ أَنْ يَأْلَفَهُمْ وَيَأْلَفُونَهُ ، لِيَفِرَّ مِنْ وَحْدَتِهِ وَيَقْضِيَ عَلَى أَلَمِ الِانْطِوَاءِ فِي قَوْقَعَةِ ذَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَسْتَرِيحُ لِصُحْبَتِهِمْ فَهُمْ يَطْلُبُونَ اللَّهْوَ وَمَا كَانَ طَالِبُ لَهُ ، وَهُمْ يَسْجُدُونَ لِلْأَصْنَامِ دُونَ تَفْكِيرٍ لِأَنَّهُمْ وَجَدُوا آبَاءَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَهُوَ تَأْبَى عَلَيْهِ كَرَامَتُهُ الْإِنْسَانِيَّةُ أَنْ يَخِرَّ سَاجِدًا لِحَجَرٍ ، وَهُمْ يَمْضُونَ النَّهَارَ وَطَرَفًا مِنَ اللَّيْلِ فِي اللَّغْوِ وَهُوَ يَمُرُّ بِاللَّغْوِ مُرَّ الْكِرَامِ ، وَهُمْ يَرَوْنَ فِي آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ كُلَّ آمَالِهِمْ وَهُوَ يَنْعَطِفُ إِلَى الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهًى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمًى وَيَسْتَشْعِرُ بِكُلِّ وُجُودِهِ أَنَّ رُوحَ الْأَرْوَاحِ تَحْنُو عَلَيْهِ وَتَرْعَاهُ وَتُؤْتِيهِ الْحِكْمَةَ وَتُعَلِّمُهُ مَا لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ، وَأَنَّهُ مُفْعَمٌ بِرُوحِ اللَّهِ .
Banyak orang di Bani Hasyim yang sebaya dengannya, dan di Quraisy terdapat pemuda-pemuda cerdas yang disukai oleh seseorang yang kesepian seperti dirinya untuk bersahabat, agar ia bisa lari dari kesendiriannya dan menghilangkan rasa sakit karena mengurung diri dalam tempurung jati dirinya, namun ia tidak merasa nyaman dengan pertemanan mereka karena mereka mencari kesenangan sedangkan ia bukan pencari kesenangan, mereka bersujud kepada berhala tanpa berpikir karena mereka mendapati nenek moyang mereka melakukan hal tersebut sementara harga diri kemanusiaannya menolak untuk bersujud kepada batu, mereka menghabiskan siang dan sebagian malam dalam kesia-siaan sementara ia melewati kesia-siaan itu layaknya orang mulia, mereka melihat harapan mereka pada ayah dan ibu mereka sementara ia beralih kepada Dzat yang tiada batasan di bawah-Nya dan tiada tujuan di balik-Nya, ia merasakan dengan seluruh wujudnya bahwa Ruh segala ruh menyayanginya, merawatnya, menganugerahinya hikmah, mengajarinya apa yang tidak ia ketahui, dan bahwa ia dipenuhi dengan ruh Allah.
كَانَ يُحِبُّ بَرَكَةَ جَارِيَتَهُ الْحَبَشِيَّةَ وَكَانَ يُنَادِيهَا يَا أَمَّاهُ ، وَكَانَ لَا يَنْسَى أَنَّ ثُوَيْبَةَ جَارِيَةَ عَمِّهِ أَبِي لَهَبٍ قَدْ أَرْضَعَتْهُ فَكَانَ يَعْطِفُ عَلَيْهَا وَيَتَرَفَّقُ بِهَا ، وَكَانَ كُلَّمَا رَآهَا تَذَكَّرَ حَلِيمَةَ السَّعْدِيَّةَ وَإِخْوَتَهُ الشَّيْمَاءَ وَأُنَيْسَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ الَّذِينَ أَوَّلَ مَا تَفَتَّحَتْ عَيْنَاهُ تَفَتَّحَتْ عَلَيْهِمْ وَخَفَقَ قَلْبُهُ الْكَبِيرُ بِحُبِّهِمْ ، وَكَانَ يُحِبُّ عَمَّهُ الزُّبَيْرَ فَهُوَ لَا يَنْسَى مَا قَالَتْهُ لَهُ بَرَكَةُ مِنْ أَنَّ عَمَّهُ الزُّبَيْرَ كَانَ يَرْقُصُهُ وَهُوَ طِفْلٌ وَيَقُولُ :
Ia mencintai Barakah, budak perempuannya yang berasal dari Habasyah dan memanggilnya dengan sebutan "Ibu", dan ia tidak lupa bahwa Tsuwaibah, budak pamannya Abu Lahab, pernah menyusuinya, maka ia menaruh kasih sayang dan bersikap lembut kepadanya, dan setiap kali melihatnya ia teringat Halimah as-Sa'diyyah dan saudara-saudaranya asy-Syaima', Anaisah, dan 'Abdullah, yang kepada merekalah matanya pertama kali terbuka dan hatinya yang besar berdegup mencintai mereka. Ia pun mencintai pamannya Zubair karena ia tidak lupa apa yang dikatakan Barakah kepadanya bahwa pamannya Zubair biasa menimang-nimangnya saat ia masih kecil seraya berkata:

مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ مٍ            عِشْتَ بِعَيْشٍ أَنْعَمِ

[Shadr] Wahai Muhammad bin 'Abd,
[Ajuz] Semoga engkau hidup dalam kehidupan yang paling nikmat.

فِي دَوْلَةٍ وَمُغْنَمٍ            دَامَ سَجِيسَ [1] الْأَزْلَمِ [2]

[Shadr] Dalam kekuasaan dan harta rampasan,
[Ajuz] yang kekal selamanya.

(١) السَّجِيسُ: بِمَعْنَى أَبَدًا يُرِيدُ دَامَ لَهُ الْعَيْشُ الْكَرِيمُ .
(٢) الْأَزْلَمُ: الْكَرِيمُ مِنَ الْإِبِلِ .

(1) As-Sajis: bermakna selamanya, maksudnya semoga kehidupan yang mulia tetap untuknya.
(2) Al-Azlam: hewan unta yang mulia.

وَكَانَ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ فِي سُوَيْدَاءِ قَلْبِهِ ، أَمَّا زَوْجَةُ عَمِّهِ فَاطِمَةُ فَلَا يَدْرِي كَيْفَ يُجَازِيهَا عَنْ عَطْفِهَا السَّابِغِ الَّذِي غَمَرَتْهُ بِهِ مُذْ مَاتَتْ آمِنَةُ وَعَوَّضَتْهُ بِحَنَانِهَا عَنْ حَنَانِ الْأُمِّ الرَّاحِلَةِ . وَكَانَ عَمُّهُ حَمْزَةُ رَفِيقَ طُفُولَتِهِ وَصِبَاهُ وَلِدًا مَعًا وَتَرَعْرَعَا مَعًا ، وَكَانَ أَلَمُهُمَا مُشْتَرَكًا لَمَّا مَاتَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ، فَقَدْ ذَاقَ حَمْزَةُ مَرَارَةَ أَوَّلِ يُتْمٍ ، أَمَّا هُوَ فَقَدْ تَجَرَّعَ فِي صَمْتٍ مَرَارَةَ الْأَلَمِ لِلْمَرَّةِ الثَّانِيَةِ ، فَيُتْمُهُ بَعْدَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ كَانَ أَقْسَى مِنْ يُتْمِهِ بَعْدَ آمِنَةَ ، وَقَدْ جَمَعَ الْيُتْمُ بَيْنَ قَلْبَيْهِمَا ؛ إِنَّهُ يُحِبُّ حَمْزَةَ حُبَّ الشَّقِيقِ لِلشَّقِيقِ بَلْ حُبَّ النَّفْسِ لِذَاتِهَا .
Dan pamannya Abu Thalib berada di lubuk hatinya yang terdalam, sedangkan istri pamannya, Fatimah, ia tidak tahu bagaimana membalas kasih sayangnya yang melimpah yang telah ia rasakan sejak Aminah wafat dan ia menggantikan kasih sayang ibu yang telah tiada dengan kasih sayangnya. Pamannya Hamzah adalah teman masa kecil dan remajanya, mereka lahir dan tumbuh bersama, dan rasa sakit mereka sama ketika 'Abdul Muththalib wafat, karena Hamzah merasakan kepahitan yatim pertama, sedangkan ia menelan kepahitan rasa sakit untuk kedua kalinya dalam diam, karena yatimnya setelah 'Abdul Muththalib lebih berat daripada yatimnya setelah Aminah, dan rasa yatim telah menyatukan hati keduanya; ia mencintai Hamzah dengan cinta saudara kandung, bahkan cinta jiwa kepada dirinya sendiri.
وَكَانَ عَمُّهُ حَجَلٌ يَغْدِقُ عَلَيْهِ مِنْ مَالِهِ وَعَطْفِهِ كُلَّمَا رَآهُ ، فَقَدِ اشْتَهَرَ حَجَلٌ بِكَرَمِهِ حَتَّى سُمِّيَ الْغَيْدَاقَ لِإِغْدَاقِهِ عَلَى قَوْمِهِ ، وَهُوَ يُحِبُّ عَمَّهُ وَعَمَّاتِهِ وَكُلَّ مَنِ اتَّصَلَ بِهِمْ مِنْ قُرَشِيِّينَ وَمَكِّيِّينَ وَعَبِيدٍ وَإِمَاءٍ ، وَلَكِنَّ حُبَّهُ لِلذَّاتِ الْعَلِيَّةِ الَّتِي صَارَ يَسْتَشْعِرُهَا فِي صَمِيمِ وِجْدَانِهِ يَفُوقُ كُلَّ حُبٍّ أَحَسَّ بِهِ لِأَهْلِ الْأَرْضِ . إِنَّهُ لَوْ شَاءَ أَنْ يَحْيَا حَيَاةً نَاعِمَةً رَاضِيَةً لَوَجَدَ ذَلِكَ مَيْسُورًا ، فَتِيَانُ قُرَيْشٍ مِنْ هَاشِمِيِّينَ وَأُمَوِيِّينَ وَمَخْزُومِيِّينَ وَتَيْمِيِّينَ وَأَسَدِيِّينَ يَمْضُونَ نَهَارَهُمْ يَتَسَكَّعُونَ فِي الْحَرَمِ يَتَمَسَّحُونَ بِالْأَصْنَامِ وَيَطُوفُونَ بِالْكَعْبَةِ ، أَوْ يُسَارِعُونَ إِلَى حَيْثُ كَانَ هُبَلُ يَرْقُبُونَ الَّذِينَ يَسْتَقْسِمُونَ بِالْأَزْلَامِ ، أَوْ يُسَارِعُونَ إِلَى جِفَانِ الْكِرَامِ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ الْأَمْوَالَ لِيَذْهَبَ صِيتُهُمْ فِي الْقَبَائِلِ ، أَوْ يُهْرَعُونَ إِلَى حَلَقَاتِ الْمُنَاقَشَاتِ الدِّينِيَّةِ الَّتِي كَانَتْ تَدُورُ بَيْنَ هُوَاةِ التَّسَكُّعِ الذِّهْنِيِّ مِنْ حُنَفَاءَ وَمَجُوسٍ وَوَثَنِيِّينَ وَيَهُودٍ وَنَصَارَى ، فَإِذَا مَا جَنَّ اللَّيْلُ انْسَلُّوا إِلَى السُّمَّارِ يُمَتِّعُونَ الْعُيُونَ بِرَقْصِ الْإِمَاءِ ، وَيَشْتَفُّونَ الْآذَانَ بِغِنَاءِ الْقِيَانِ وَشِعْرِ الشُّعَرَاءِ .
Dan pamannya Hajal senantiasa melimpahkan harta dan kasih sayangnya setiap kali melihatnya, karena Hajal terkenal dengan kedermawanannya hingga ia dijuluki al-Ghaidaq karena kelimpahannya kepada kaumnya, dan ia mencintai paman, bibi, dan setiap orang yang terhubung dengan mereka dari kalangan Quraisy, penduduk Makkah, budak laki-laki, dan budak perempuan, namun cintanya kepada Dzat Yang Maha Tinggi yang mulai ia rasakan di kedalaman jiwanya melampaui setiap cinta yang ia rasakan kepada penduduk bumi. Jika saja ia ingin hidup dalam kenyamanan dan kepuasan, ia akan mendapatkannya dengan mudah, pemuda Quraisy dari Bani Hasyim, Umayyah, Makhzum, Taim, dan Asad menghabiskan hari-hari mereka berkeliaran di Haram, mengusap berhala-berhala, dan melakukan thawaf di Ka'bah, atau bergegas ke tempat Hubal mengamati mereka yang mengundi nasib dengan anak panah (al-Azlam), atau berlomba ke piring-piring para dermawan yang menginfakkan harta agar nama mereka dikenal di kalangan kabilah, atau bergegas ke lingkaran diskusi agama yang berlangsung di antara para pecinta pengembaraan intelektual dari kalangan Hunafa, Majusi, penyembah berhala, Yahudi, dan Nasrani, dan ketika malam tiba, mereka menyelinap ke tempat perjamuan malam untuk memanjakan mata dengan tarian para budak perempuan, dan memanjakan telinga dengan nyanyian para penyanyi perempuan serta syair para penyair.
كَانَ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ شَاعِرًا مِنْ فُحُولِ شُعَرَاءِ قُرَيْشٍ ، وَكَانَ عَمُّهُ الزُّبَيْرُ شَاعِرًا مُفْلِقًا شَدِيدَ الْعَارِضَةِ قَذِعَ الْهَجَاءِ ، وَكَانَتْ دَارُ أَبِي طَالِبٍ مَوْئِلَ الشُّعَرَاءِ فِي اللَّيْلِ ، فَلَوْ شَاءَ أَنْ يَسْمُرَ فَمَا أَيْسَرَ أَنْ يَسْمُرَ فِي نَادِي قَوْمِهِ ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يَلْهُوَ لَذَهَبَ مَعَ أَبِي لَهَبٍ وَأَبِي سُفْيَانَ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يُخْلَقْ لِلسَّمَرِ أَوِ اللَّهْوِ أَوِ الْعَبَثِ بَلْ خُلِقَ لِيَكُونَ نُورًا يَقْتَبِسُ نُورَهُ مِنْ نُورِ النُّورِ لِيُشِعَّهُ عَلَى الْعَالَمِينَ .
Pamannya Abu Thalib adalah seorang penyair dari kalangan penyair Quraisy yang unggul, dan pamannya Zubair adalah penyair yang mahir, sangat fasih, dan tajam dalam mencela, dan rumah Abu Thalib adalah tempat berkumpulnya para penyair di malam hari. Jika saja ia ingin begadang, sangat mudah baginya untuk begadang di klub kaumnya, dan jika ia ingin bermain-main, ia bisa pergi bersama Abu Lahab dan Abu Sufyan, namun ia tidak diciptakan untuk bercengkrama, bermain-main, atau bersenda gurau, melainkan ia diciptakan untuk menjadi cahaya yang mengambil cahayanya dari Cahaya di atas cahaya untuk memancarkannya kepada alam semesta.
وَغَادَرَ مُحَمَّدٌ دَارَ أَبِي طَالِبٍ وَانْحَدَرَ إِلَى الْحَرَمِ ، فَإِذَا بِسَادَاتِ قُرَيْشٍ قَدْ أَتَوْا بِأَبْنَائِهِمْ لِيَطُوفُوا بِالْبَيْتِ ثُمَّ يَنْطَلِقُ مَنْ يَنْطَلِقُ إِلَى دَارِ النَّدْوَةِ ، وَيَذْهَبُ مَنْ يَذْهَبُ إِلَى الْأَسْوَاقِ ، وَيَجْلِسُ مَنْ شَاءَ أَنْ يَجْلِسَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ يَرُمُ الْعُقُودَ وَيَعْقِدُ الصَّفْقَاتِ التِّجَارِيَّةَ . كَانَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِفْقَةِ أَبِيهِ أَبِي قُحَافَةَ ، وَكَانَ خَالِدٌ فِي رِفْقَةِ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، وَعُثْمَانُ مَعَ أَبِيهِ عَفَّانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ ، وَعَمْرُو مَعَ الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ ، وَصِبْيَانُ قُرَيْشٍ وَفِتْيَانُهَا مَعَ الْآبَاءِ أَوِ الْعَبِيدِ أَوِ الْأَصْدِقَاءِ ، وَمَا طَمَعُ أَحَدِهِمْ فِي أَكْثَرَ مِنْ حَيَاةٍ مُتْرَعَةٍ بِالْمُتْعَةِ ، وَمَا خَطَرَ لَهُمْ عَلَى قَلْبٍ أَنْ يَتَجَاوَزَ صِيتُهُمْ حُدُودَ مَكَّةَ ، وَكَانَتْ أَقْصَى أَمَانِيهِمْ أَنْ يَأْتِيَ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي يَسْتَقْبِلُهُمْ فِيهِ الْبَلَاطُ الْفَارِسِيُّ أَوِ الْبَلَاطُ الرُّومَانِيُّ فِي الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ أَوْ قَصْرُ الْخَوْرَنَقِ بِالْحِيرَةِ ، وَلَمْ يَطُفْ بِأَذْهَانِهِمْ أَنَّ أَسْمَاءَهُمْ سَتُخَلَّدُ فِي التَّارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ بِفَضْلِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ الَّذِي يَسِيرُ فِي الْحَرَمِ هَوْنًا مُتَوَاضِعًا لِتِلْكَ الْقُوَّةِ الْعَلِيَّةِ الَّتِي صَارَ يُوقِرُهَا كُلَّ التَّوْقِيرِ ، فَقَدْ كَانَ ذَلِكَ بَعِيدًا عَنْ كُلِّ تَصَوُّرٍ ، وَمَا كَانَتْ تَتَطَالُ إِلَيْهِ الْأَحْلَامُ .
Muhammad meninggalkan rumah Abu Thalib dan turun ke Haram (Ka'bah), tiba-tiba para pemimpin Quraisy telah datang bersama anak-anak mereka untuk melakukan thawaf di Baitullah, kemudian mereka yang pergi berangkat ke Darun Nadwah, mereka yang pergi menuju pasar-pasar, dan mereka yang ingin duduk di bawah naungan Ka'bah duduk untuk membenahi ikatan perjanjian dan melakukan transaksi dagang. Abu Bakar bersama ayahnya Abu Quhafah, Khalid bersama al-Walid bin al-Mughirah, 'Utsman bersama ayahnya 'Affan bin Abi al-'Ash, 'Amru bersama al-'Ash bin Wa'il, dan para anak-anak serta pemuda Quraisy bersama para ayah, budak, atau teman-teman, dan tidak ada ambisi salah seorang pun dari mereka lebih dari kehidupan yang penuh kesenangan, dan tidak terlintas dalam benak mereka bahwa nama mereka akan melampaui batas Makkah, dan cita-cita tertinggi mereka adalah datangnya hari di mana istana Persia atau istana Romawi di Konstantinopel atau istana Khawarnaq di al-Hirah akan menyambut mereka, dan tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa nama mereka akan diabadikan dalam sejarah manusia berkat putra 'Abdullah yang berjalan di Haram dengan tenang merendahkan diri bagi kekuatan tinggi yang mulai ia muliakan dengan sepenuh penghormatan, karena itu jauh dari setiap imajinasi, dan apa yang tidak mampu dicapai oleh mimpi.
كَانَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِأَوَّلِ بَيْتٍ لِلنَّاسِ وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا عَلَى مِلَّةٍ وَاحِدَةٍ وَلَا عَلَى قَلْبٍ وَاحِدٍ ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَنْكَرُوا الْخَالِقَ وَالْبَعْثَ وَقَالُوا : مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَقَرُّوا بِالْخَالِقِ وَابْتِدَاءِ الْخَلْقِ وَأَنْكَرُوا الْبَعْثَ ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَقَرُّوا بِالْخَالِقِ وَابْتِدَاءِ الْخَلْقِ وَنَوْعٍ مِنَ الْإِعَادَةِ وَأَنْكَرُوا الرُّسُلَ وَعَبَدُوا الْأَصْنَامَ وَزَعَمُوا أَنَّهُمْ شُفَعَاؤُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ وَحَجُّوا إِلَيْهَا وَنَحَرُوا لَهَا الْهَدَايَا وَقَرَّبُوا الْقَرَابِينَ وَتَقَرَّبُوا إِلَيْهَا بِالْمَنَاسِكِ وَالْمَشَاعِرِ وَأَحَلُّوا وَحَرَّمُوا ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْتَقِدُونَ التَّنَاسُخَ فَيَقُولُونَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ أَوْ قُتِلَ اجْتَمَعَ دَمُ الدِّمَاغِ وَأَجْزَاءِ بِنِيَتِهِ فَانْتَصَبَ طَيْرًا هَامَةً فَيَرْجِعُ إِلَى رَأْسِ الْقَبْرِ كُلَّ مِائَةِ سَنَةٍ .
Orang-orang melakukan tawaf di rumah ibadah pertama untuk manusia, namun mereka tidak berada di atas satu agama dan tidak di atas satu hati. Di antara mereka ada yang mengingkari Sang Pencipta dan hari kebangkitan, dan mereka berkata: "Kehidupan ini hanyalah kehidupan dunia kita saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Di antara mereka ada yang mengakui Sang Pencipta dan permulaan penciptaan, namun mengingkari hari kebangkitan. Di antara mereka ada yang mengakui Sang Pencipta, permulaan penciptaan, dan jenis dari pengembalian (hari akhir), namun mereka mengingkari para rasul dan menyembah berhala-berhala, serta menganggap bahwa berhala-berhala itu adalah pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah pada hari akhirat. Mereka pergi haji ke sana, menyembelih hadiah (kurban) untuk berhala-berhala tersebut, mempersembahkan persembahan, mendekatkan diri kepada berhala-berhala itu dengan manasik dan syiar, serta menghalalkan dan mengharamkan. Di antara mereka ada yang meyakini reinkarnasi, maka mereka berkata jika manusia mati atau dibunuh, maka darah otak dan bagian-bagian tubuhnya berkumpul lalu berdiri menjadi burung hantu yang terbang, maka ia kembali ke atas kuburan setiap seratus tahun.
وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَنْتَظِرُ النُّبُوَّةَ ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ النَّارَ وَيَحْسَبُ أَنَّهُ عَلَى دِينِ زَرَادُشْتَ ، وَمِنْهُمْ مَنِ اعْتَنَقَ الْيَهُودِيَّةَ ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ عَلَى دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ ، وَقَدْ قَالَتِ امْرَأَةٌ تَنْهَى ابْنَهَا عَنِ الظُّلْمِ فِي الْحَرَمِ :
Di antara mereka ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta menanti kenabian. Di antara mereka ada yang menyembah api dan mengira bahwa ia berada di atas agama Zarathustra. Di antara mereka ada yang memeluk agama Yahudi, dan di antara mereka ada yang berada di atas agama Nasrani. Dan seorang wanita pernah berkata kepada anaknya untuk melarangnya dari kezaliman di tanah haram:

أَبُنَيَّ لَا تَظْلِمْ بِمَكَّةَ لَا الصَّغِيرَ وَلَا الْكَبِيرَ

Wahai anakku, janganlah engkau berbuat zalim di Mekah, baik kepada yang kecil maupun yang besar.

أَبُنَيَّ مَنْ يَظْلِمْ بِمَكَّةَ يَلْقَ أَطْرَافَ الشُّرُورِ

Wahai anakku, barangsiapa yang berbuat zalim di Mekah, ia akan menemui puncak-puncak keburukan.

أَبُنَيَّ قَدْ جَرَّبْتَهَا فَوَجَدْتَ ظَالِمَهَا يَبُورُ

Wahai anakku, aku telah mencobanya, dan aku mendapati pelakunya (orang zalim di sana) binasa.

أَبُنَيَّ ! أَمَّنْ طَيْرَهَا وَالْوَحْشُ يَأْمَنُ فِي ثَبِيرِ

Wahai anakku! Amanlah burung-burungnya, dan binatang buas pun merasa aman di (gunung) Tsabir.

وَمَا دَرَوْا أَنَّهُمْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Padahal mereka tidak sadar bahwa sejatinya mereka sedang menzalimi diri mereka sendiri.

وَطَافَ مُحَمَّدٌ بِالْبَيْتِ وَإِنْ كَانَتْ فِي نَفْسِهِ كَرَاهِيَةٌ لِلْأَصْنَامِ الَّتِي حَوْلَهَا ، وَمَا أَتَمَّ طَوَافَهُ حَتَّى غَادَرَ الْمَسْجِدَ إِلَى أَعَالِي مَكَّةَ ، إِلَى الصَّحْرَاءِ الْمُتَرَامِيَةِ ، حَيْثُ الْحُرِّيَّةُ الرَّاشِدَةُ وَالْحَيَاةُ الرُّوحِيَّةُ الْحَقَّةُ الَّتِي تَنْتَصِرُ فِيهَا الرُّوحُ عَلَى الْجَسَدِ ، وَتَنْدَمِجُ فِي الْخَيْرِ الْأَسْمَى ، فِي الْقُوَّةِ الْإِلَهِيَّةِ نَفْسِهَا . إِنَّهُ يَتَعَاطَفُ مَعَ الْوُجُودِ وَالْمَوْجُودِ ، وَيَنْجَذِبُ إِلَى الْكَوْنِ وَرَبِّ الْكَوْنِ ، وَيُحِبُّ الْعَالَمِينَ وَرَبَّ الْعَالَمِينَ ، مُفَضِّلًا الْعُزْلَةَ عَلَى الْإِنْدِمَاجِ فِي مُجْتَمَعِهِ ، لَا لِأَنَّ الْجَحِيمَ هُوَ الْغَيْرُ وَلَا لِيَنْفَصِلَ انْفِصَالًا مُطْلَقًا عَنْ دُنْيَا النَّاسِ طَلَبًا لِلسَّلَامَةِ وَرَاحَةِ الْبَالِ ، بَلْ لِيَسْتَمِدَّ مِنَ الْحَقِّ أَفْكَارًا جَدِيدَةً وَعَوَاطِفَ خَيِّرَةً وَمُعْتَقَدَاتٍ سَلِيمَةً وَمَبَادِئَ رَشِيدَةً تُخْرِجُ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ، وَتَرْتَفِعُ بِالْبَشَرِيَّةِ إِلَى ذُرْوَةِ الْعِزَّةِ وَالْكَرَامَةِ وَالْإِنْسَانِيَّةِ .
Muhammad tawaf di Baitullah meskipun di dalam dirinya terdapat kebencian terhadap berhala-berhala yang ada di sekitarnya. Belum selesai tawafnya, beliau meninggalkan Masjid menuju dataran tinggi Mekah, menuju padang pasir yang luas, di mana terdapat kebebasan yang lurus dan kehidupan spiritual sejati yang di dalamnya ruh menang atas jasad, dan melebur dalam kebaikan tertinggi, yaitu kekuatan Ilahi itu sendiri. Beliau berempati dengan eksistensi dan makhluk, tertarik kepada alam semesta dan Tuhan semesta alam, mencintai alam semesta dan Tuhan semesta alam, lebih memilih kesendirian daripada melebur ke dalam masyarakatnya. Bukan karena neraka adalah orang lain, dan bukan untuk memisahkan diri secara mutlak dari dunia manusia demi mencari keselamatan dan ketenangan pikiran, melainkan untuk mengambil dari Al-Haq (Kebenaran) pemikiran-pemikiran baru, perasaan-perasaan yang baik, keyakinan-keyakinan yang sehat, dan prinsip-prinsip yang lurus yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, serta mengangkat kemanusiaan menuju puncak kemuliaan, kehormatan, dan kemanusiaan.
إِنَّهُ يَفِرُّ مِنَ الْمُجْتَمَعِ لِخَيْرِ الْمُجْتَمَعِ ، وَإِنَّهُ إِنْ ذَهَبَ إِلَى الْبَيْدَاءِ لِيَتَأَمَّلَ وَيُفَكِّرَ وَيَتَدَبَّرَ بَعِيدًا عَنِ الْجَمَاعَةِ فَهُوَ فِي قَلْبِ الْجَمَاعَةِ ، فَمَا لَاذَ بِالْقُوَّةِ الْعَلِيَّةِ مُلْتَمِسًا الْخَيْرَ لِنَفْسِهِ وَحْدَهُ ، بَلْ طَلَبًا لِلْحِكْمَةِ الَّتِي سَيُبَلِّغُهَا عَلَى قَوْمِهِ وَعَلَى الْعَالَمِ أَجْمَعَ ، وَمَنْ أُوتِيَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا . كَانَ الْإِخْلَاصُ فِي النِّيَّةِ يَمْلَأُ قَلْبَهُ ، وَالتَّجَرُّدُ مِنَ الْغَرَضِ الدُّنْيَوِيِّ سِمَتَهُ ، لَا يَرْغَبُ إِلَّا فِي الْخَيْرِ وَلَا يَطْمَحُ إِلَّا إِلَيْهِ ، فَسَمَتْ رُوحُهُ وَارْتَفَعَتْ وَاتَّصَلَتْ بِرُوحِ الْوُجُودِ ، فَلَمْ يَعُدِ اللَّهُ عَالَمًا غَامِضًا بَلْ حَقِيقَةً حَيَّةً تَعِيشُ فِي ضَمِيرِهِ وَيَرَاهَا بِبَصِيرَتِهِ ، وَتَدْنُو مِنْهُ وَتَغْمُرُهُ بِالْبَرَكَاتِ كُلَّمَا خَرَّ سَاجِدًا وَبَاكِيًا .
Beliau lari dari masyarakat demi kebaikan masyarakat, dan jika beliau pergi ke padang pasir untuk bertafakur, berpikir, dan merenung jauh dari kelompok, maka beliau sejatinya berada di jantung kelompok. Beliau tidak berlindung kepada kekuatan Yang Maha Tinggi hanya untuk mencari kebaikan bagi dirinya sendiri, melainkan demi mencari hikmah yang akan beliau sampaikan kepada kaumnya dan kepada seluruh alam. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak. Keikhlasan dalam niat memenuhi hatinya, dan melepaskan diri dari tujuan duniawi menjadi cirinya. Beliau tidak menginginkan selain kebaikan dan tidak berambisi kecuali kepadanya. Maka ruh beliau menjulang tinggi, naik, dan terhubung dengan ruh eksistensi. Allah tidak lagi menjadi dunia yang samar, melainkan menjadi hakikat hidup yang hidup dalam hati nuraninya, beliau melihat-Nya dengan mata hatinya, dan (Allah) mendekat kepadanya serta melimpahinya dengan keberkahan setiap kali beliau bersujud dan menangis.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi