BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Banu Ismail - Episode 1

BANU ISMA'IL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Bawah Naungan Baitullah: Nabit dan Warisan Hati yang Terpaut

Di tengah desakan ambisi kabilah yang haus kekuasaan, Nabit bin Ismail menemukan kedamaian dalam munajat. Ia menyadari bahwa Baitullah memiliki Tuhan yang menjaganya, sebuah amanah agung yang harus ia jaga melampaui batas ambisi duniawi.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
﴿ قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ * أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴾
Katakanlah (Muhammad), "Mengapa kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dialah Tuhan kami dan Tuhan kamu? Bagi kami amal kami, dan bagi kamu amal kamu; dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan diri." Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, "Kamukah yang lebih tahu atau Allah?" Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.
( قُرْآن كَرِيم سُورَة الْبَقَرَة : ۱۳۹ ، ۱۴۰ )
(Al-Qur'anul Karim, Surah Al-Baqarah: 139-140)
وَهَذِهِ مَوَالِيدُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ، الَّذِي وَلَدَتْهُ هَاجَرُ الْمِصْرِيَّةُ جَارِيَةُ سَارَةَ لِإِبْرَاهِيمَ ، وَهَذِهِ أَسْمَاءُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ بِأَسْمَائِهِمْ حَسَبَ مَوَالِيدِهِمْ : بِنَايُوت ( نَابِت ) بَكْرُ إِسْمَاعِيلَ وَقَيْدَار ، وَإِذْبِئِيل ، وَمِيسَام ، وَمِشْمَاع ، وَدُومَة ، وَمَسَا ، وَحَدَار ، وَتِيمَا ، وَبَطُور ، وَنَافِيش ، وَقِدْمَة . هَؤُلَاءِ هُمْ بَنُو إِسْمَاعِيلَ ، وَهَذِهِ أَسْمَاؤُهُمْ بِدِيَارِهِمْ وَحُصُونِهِمْ .
Dan inilah keturunan Ismail bin Ibrahim, yang dilahirkan untuk Ibrahim oleh Hajar, wanita Mesir budak Sarah. Dan inilah nama-nama anak Ismail berdasarkan urutan kelahiran mereka: Nabayot (Nabit) anak sulung Ismail, Qedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, dan Qedma. Mereka itulah anak-anak Ismail, dan inilah nama-nama mereka di wilayah dan benteng mereka.
( التَّوْرَاة ــ تَكْوِين ۳۵ ، ۳ )
(At-Taurat - Kejadian 35:3)
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ :
Ibnu Abbas berkata:
— نَحْنُ مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ مِنَ النَّبَطِ .
— Kami golongan Quraisy berasal dari kaum Nabat.
EPISODE 1:
أَنْفَاسُ الدِّينِ تَتَرَدَّدُ فِي جَنَبَاتِ مَكَّةَ ، وَقَلْبُ الْإِيمَانِ يَخْفِقُ فِي أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ ، وَالْفَيْضُ الرُّوحِيُّ يَوْمِضُ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ فَيَرْفَعُ أَحْلَامَهُمْ إِلَى مَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ ، إِلَى هَدَفٍ عُلْوِيٍّ تَشْتَاقُ الْأَفْئِدَةُ إِلَيْهِ وَتَقْصُرُ عَنْ أَنْ تَبْلُغَ مَدَاهُ وَإِنْ جَدَّتْ فِي الطَّلَبِ ، وَإِنِ اجْتَهَدَتْ فِي الْعَمَلِ .
Napas agama berhembus di penjuru Makkah, dan jantung keimanan berdegup di rumah pertama yang diletakkan bagi manusia. Limpahan spiritual berpijar di hati orang-orang beriman, mengangkat impian mereka ke alam metafisika, ke tujuan tinggi yang dirindukan kalbu namun tak terjangkau meski telah bersungguh-sungguh dalam pencarian dan upaya.
قِيثَارَةُ الْإِيمَانِ تَعْزِفُ أَلْحَانًا تَسْمُو بِالْمُؤْمِنِينَ إِلَى رِحَابِ السَّمَاءِ فَتَبُثُّ فِي نُفُوسِهِمْ قُوَّةً تَدْفَعُهُمْ إِلَى الْعَمَلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَتَجْعَلُهُمْ يَسِيرُونَ فِي تَنَاسُقٍ فِي اتِّجَاهٍ وَاحِدٍ ، فَالِهُمْ وَاحِدٌ وَقِبْلَتُهُمْ وَاحِدَةٌ وَغَايَتُهُمْ وَاحِدَةٌ هِيَ إِعَادَةُ كَلِمَةِ اللَّهِ .
Kecapi keimanan mendendangkan nada-nada yang mengangkat orang beriman ke cakrawala langit, menanamkan dalam jiwa mereka kekuatan yang mendorong untuk bekerja di jalan Allah. Hal itu membuat mereka berjalan harmonis dalam satu arah; karena Tuhan mereka satu, kiblat mereka satu, dan tujuan mereka satu, yaitu meninggikan kalimat Allah.
كَانُوا يَعِيشُونَ لِلَّهِ وَفِي اللَّهِ ، اشْتَعَلَتِ الشُّعْلَةُ الْمُقَدَّسَةُ فِيهِمْ وَأَنَارَ النُّورُ ــ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ ــ طَرِيقَهُمْ ، فَإِذَا بِالْمُجْتَمَعِ الصَّغِيرِ الَّذِي تَكُونَ حَوْلَ بِئْرِ زَمْزَمَ قَدِ انْصَهَرَ فِي مُجْتَمَعٍ وَاحِدٍ مُتَنَاسِقٍ ، أَفْكَارُهُ وَاحِدَةٌ وَعَقِيدَتُهُ وَاحِدَةٌ ، اتَّحَدَتْ كَلِمَتُهُ وَاتَّفَقَتْ نَظْرَتُهُ وَاطْمَأَنَّ إِلَى أَنَّ الْمُجْتَمَعَ لِلَّهِ وَالْأَرْضَ لِلَّهِ ، ﴿ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾ .
Mereka hidup untuk Allah dan dalam Allah. Obor suci berkobar di dalam diri mereka dan cahaya yang diturunkan Allah dari langit menerangi jalan mereka. Masyarakat kecil yang terbentuk di sekitar sumur Zamzam melebur menjadi satu masyarakat yang harmonis; pemikiran dan akidahnya satu. Kalimat mereka bersatu, pandangan mereka sepakat, dan mereka yakin bahwa masyarakat milik Allah dan bumi milik Allah. "Katakanlah: 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'"
وَانْحَدَرَتِ الشَّمْسُ لِتَغْرُبَ خَلْفَ جِبَالِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُ النَّاسُ مِنْ خِيَامِهِمُ الَّتِي انْتَشَرَتْ عَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ ، وَرَاحُوا يَهْبِطُونَ إِلَى الْوَادِي الْمُقَدَّسِ لِيَطُوفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ .
Matahari terbenam di balik pegunungan Makkah, orang-orang keluar dari kemah-kemah mereka yang tersebar di lereng gunung, dan mereka bergegas turun ke lembah suci untuk bertawaf di Baitul 'Atiq (Ka'bah).
وَخَرَجَ نَابِتُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ مِنْ خَيْمَتِهِ وَكَانَ شَيْخًا جَلِيلًا ، وَلِيَ أَمْرَ الْبَيْتِ بَعْدَ أَبِيهِ ؛ إِنَّهُ مِنَ الصَّفْوَةِ خُلَاصَةِ حَضَارَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ ، حَضَارَةِ بَابِلَ وَمِصْرَ ، فَقَدْ كَانَ جَدُّهُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ مِنْ أُورَ وَجَدَّتُهُ هَاجَرُ مِنْ مِصْرَ ، وَكَانَ أَوَّلَ وَرِيثٍ لِلنَّفْحَةِ الرُّوحِيَّةِ الَّتِي بَثَّهَا فِي مَكَّةَ جَدُّهُ وَأَبُوهُ .
Nabit bin Ismail keluar dari kemahnya. Ia adalah seorang syaikh yang agung yang memimpin urusan Baitullah setelah ayahnya. Ia adalah bagian dari kaum pilihan, intisari dari dua peradaban besar: Babilonia dan Mesir. Kakeknya adalah Khalilurrahman dari Ur dan neneknya Hajar dari Mesir. Ia adalah pewaris pertama hembusan spiritual yang disebarkan di Makkah oleh kakek dan ayahnya.
تَعَلَّمَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَعِيشُ بِالْخُبْزِ وَحْدَهُ ، فَكَانَ يُبَارِكُ قَوَافِلَ التِّجَارَةِ الْغَادِيَةَ إِلَى مَكَّةَ وَالْخَارِجَةَ مِنْهَا ، وَفِي نَفْسِ الْوَقْتِ يُغَذِّي الْوِجْدَانَ الرُّوحِيَّ النَّابِضَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ ، وَيُقِيمُ حَضَارَةَ الْمُجْتَمَعِ الْجَدِيدِ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَأَسَاسٍ مِنَ الدِّينِ .
Ia belajar bahwa manusia tidak hidup dengan roti saja. Maka ia memberkati kafilah dagang yang datang ke Makkah dan pergi darinya, dan pada saat yang sama ia memelihara nurani spiritual yang berdenyut di hati orang-orang beriman, serta membangun peradaban masyarakat baru di atas ketakwaan kepada Allah dan fondasi agama.
جَابَ إِبْرَاهِيمُ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ فِي بَابِلَ وَسُورِيَةَ وَفِلَسْطِينَ وَمِصْرَ وَبِلَادِ الْحِجَازِ ، وَخَرَجَ إِسْمَاعِيلُ لِدَعْوَةِ الْيَمَنِ إِلَى اللَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ ، كَانَتْ دَعْوَةً إِلَى أُخُوَّةٍ عَالَمِيَّةٍ وَإِلَى إِقَامَةِ نِظَامٍ عَالَمِيٍّ تَسُودُهُ شَرِيعَةُ اللَّهِ .
Ibrahim menjelajahi timur dan barat bumi mengajak manusia beribadah kepada Allah di Babilonia, Suriah, Palestina, Mesir, dan negeri Hijaz. Ismail pun keluar untuk mengajak Yaman kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Itu adalah seruan persaudaraan universal dan pendirian tatanan dunia yang dipimpin oleh syariat Allah.
فَوَرِثَ نَابِتُ الْفِكْرَةَ وَلَمْ يَتَعَصَّبْ لِلْقَوْمِيَّةِ الْجَدِيدَةِ الَّتِي كَانَتْ تَتَبَلْوَرُ حَوْلَ زَمْزَمَ وَالْبَيْتِ الْحَرَامِ ، بَلْ كَانَ يَجُوبُ الْآفَاقَ وَيَبْعَثُ قَوَافِلَ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى الْأَرَضِينَ دُونَ أَنْ يَعْتَرِفَ بِحَوَاجِزَ وَلَا حُدُودٍ ، فَالْأَرْضُ كُلُّهَا لِلَّهِ .
Nabit mewarisi pemikiran tersebut dan tidak fanatik terhadap nasionalisme baru yang mengkristal di sekitar Zamzam dan Baitul Haram. Sebaliknya, ia menjelajahi cakrawala dan mengirim kafilah orang beriman ke berbagai penjuru bumi tanpa mengakui sekat maupun batasan, karena seluruh bumi adalah milik Allah.
كَانَ نَابِتُ مِنَ الطَّبَقَةِ الْمُمْتَازَةِ الْقَادِرَةِ عَلَى حَمْلِ الرِّفَاقِ إِلَى طَرِيقِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ ، إِلَى عِزِّ الْحَيَاةِ وَنَعِيمِ الْآخِرَةِ ، وَكَانَ صَوْتُهُ يَفْعَلُ فِي الْجَمَاهِيرِ فِعْلَ السِّحْرِ ، كَانَ يُوقِظُ الْهِمَمَ وَيَبْعَثُ الْأَمَلَ ، فَهُوَ مُنْذُ أَنْ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مَعْقِدُ الرَّجَاءِ ، وَقَدْ نَزَلَ فِي سُوَيْدَاءِ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ .
Nabit termasuk kelompok istimewa yang mampu membimbing sahabat ke jalan dunia dan agama, menuju kemuliaan hidup dan kenikmatan akhirat. Suaranya mempesona massa seperti sihir; ia membangkitkan semangat dan harapan. Sejak dilahirkan ibunya, ia adalah harapan yang menetap di lubuk hati terdalam orang-orang beriman.
وَنَظَرَ نَابِتُ حَوْلَهُ فَرَأَى غَنَمَهُ وَغَنَمَ قَوْمِهِ قَدْ غَطَّتْ سُفُوحَ الْجِبَالِ ، فَلَمْ تَتَهَلَّلْ بِالْفَرَحِ نَفْسُهُ ، وَلَمْ يَسِلْ لُعَابُ طَمَعِهِ ؛ فَقَدْ تَحَرَّرَ مِنْ عَصَبِيَّةِ الْقَوْمِيَّةِ الِاقْتِصَادِيَّةِ يَوْمَ غَرَسَ فِي نَفْسِهِ أَنَّ الْمَالَ مَالُ اللَّهِ ، وَالْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ .
Nabit memandang sekelilingnya dan melihat ternaknya serta ternak kaumnya menutupi lereng pegunungan. Hatinya tidak larut dalam kegembiraan, dan ia tidak pula tamak. Ia telah bebas dari fanatisme nasionalisme ekonomi sejak ia menanamkan dalam dirinya bahwa harta adalah milik Allah dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang bertakwa.
رَأَى الْكَعْبَةَ غَارِقَةً فِي النُّورِ وَإِنْ كَانَتِ الشَّمْسُ قَدْ غَابَتْ أَوْ أَوْشَكَتْ أَنْ تَغِيبَ . كَانَ الْكَوْنُ كُلُّهُ خَاشِعًا فِي مَحْرَابِ اللَّهِ ، وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ ، وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ يَشْكُرُونَهُ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . وَالْجِبَالُ تَؤُوبُ مَعَ السَّاجِدِينَ ، وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ .
Ia melihat Ka'bah tenggelam dalam cahaya meskipun matahari telah terbenam atau hampir terbenam. Seluruh alam semesta khusyuk di mihrab Allah; tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih memuji-Nya. Hamba-hamba Yang Maha Pengasih bersyukur kepada-Nya dan bertawakal kepada Tuhan mereka. Gunung-gunung ikut bertasbih bersama orang-orang yang bersujud, dan burung-burung yang mengembangkan sayapnya, masing-masing telah mengetahui cara salat dan tasbihnya.
وَأَحَسَّ نَابِتُ رَحَابَةً فِي نَفْسِهِ وَرِقَّةً فِي وِجْدَانِهِ وَأَنَّ رُوحَهُ قَدْ هَامَتْ لِتَتَّصِلَ بِرُوحِ الْوُجُودِ ، وَأَنَّهَا سَبَحَتْ فِي بَحُورِ النَّشْوَةِ الَّتِي غَمَرَتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ، وَأَنَّ مَشَاعِرَهُ كُلَّهَا قَدْ خَرَّتْ سَاجِدَةً لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
Nabit merasakan keluasan dalam jiwanya dan kelembutan dalam nuraninya, bahwa ruhnya telah melayang untuk terhubung dengan ruh wujud, berenang di lautan kenikmatan yang membanjiri langit dan bumi, dan bahwa seluruh perasaannya bersujud kepada Allah, Tuhan semesta alam.
وَأَلْقَى بِصَرِهِ إِلَى بِئْرِ زَمْزَمَ فَإِذَا بِالنَّاسِ قَدِ ازْدَحَمُوا عِنْدَهَا : الرُّعَاةُ قَدْ وَرَدُوهَا لِيَسْقُوا غَنَمَهُمْ وَإِبِلَهُمْ وَمَاشِيَتَهُمْ ، وَالنِّسْوَةُ يَنْتَظِرْنَ لِيَمْلَأْنَ جِرَارَهُنَّ ، وَإِذَا بِهِ يَشْرُدُ وَيَتَذَكَّرُ هَاجَرَ جَدَّتَهُ مَنْ كَانَتْ تَمْلِكُ الْبِئْرَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي بَدَأَتْ تَتَكَوَّنُ حَوْلَهَا أُمَّةٌ مُؤْمِنَةٌ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهَا وَعَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ .
Ia melayangkan pandangannya ke sumur Zamzam dan melihat orang-orang berdesakan di sana; para penggembala datang untuk memberi minum ternak kambing, unta, dan hewan mereka, sementara para wanita menunggu untuk mengisi tempayan mereka. Tiba-tiba ia termenung dan teringat Hajar, neneknya, yang memiliki sumur berkah yang di sekitarnya mulai terbentuk umat beriman di atas cahaya dari Tuhannya dan di atas jalan yang lurus.
نَبْضُ الْوَادِي الْقَفْرِ بِالْحَيَاةِ ، وَخَفَقَتْ فِي رُبُوعِهِ أَرْوَاحُ نُفُوسٍ مُؤْمِنَةٍ عَرَفَتْ طَرِيقَ اللَّهِ ، وَقَامَ فِي وَسَطِهِ بَيْتٌ مُطَهَّرٌ تَهْفُو إِلَيْهِ قُلُوبُ الْمُسْلِمِينَ لِيَكُونَ مَنَارَةً لِلْعَالَمِينَ ، فَإِنْ كَانَ اللَّهُ قَدْ أَمَرَ خَلِيلَهُ أَنْ يَحْمِلَ هَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ إِلَى هَذَا الْوَادِي فَقَدْ كَانَ ذَلِكَ لِنَبَأٍ عَظِيمٍ ، لِأَمْرٍ جَلِيلٍ . وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ .
Lembah yang gersang itu berdenyut dengan kehidupan, dan di wilayahnya bergetar jiwa-jiwa beriman yang mengenal jalan Allah. Di tengahnya berdiri rumah suci yang dirindukan hati kaum muslimin agar menjadi mercusuar bagi semesta alam. Jika Allah memerintahkan kekasih-Nya untuk membawa Hajar dan Ismail ke lembah ini, maka itu adalah untuk berita besar, untuk urusan yang agung. Dan Allah tidak menghendaki kezaliman bagi hamba-hamba-Nya.
وَانْحَدَرَ نَابِتُ إِلَى الْوَادِي وَهُوَ يَتَبَهَّلُ إِلَى اللَّهِ :
Nabit turun ke lembah seraya bermunajat kepada Allah:
— رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ .
— Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
وَحَانَتْ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ إِلَى شَمَالِ مَكَّةَ فَأَلْفَى خِيَامَ جَرْهَمٍ قَدْ غَطَّتْ سُفُوحَ الْجِبَالِ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ خِيَامَهَا قَلِيلَةً مُتَنَاثِرَةً عَلَى عَهْدِ هَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ . أَصْبَحَتْ جَرْهَمُ قَبِيلَةً قَوِيَّةً وَكَانَ سَيِّدَهَا مَضَاضُ بْنُ عَمْرٍو الْجُرْهَمِيُّ رَجُلًا قَوِيَّ الشَّكِيمَةِ لَهُ مَكَانَتُهُ فِي قَوْمِهِ لَا يَعْصُونَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ .
Ia menoleh ke utara Makkah dan mendapati kemah-kemah kabilah Jurhum telah menutupi lereng pegunungan, setelah sebelumnya hanya sedikit dan tersebar pada masa Hajar dan Ismail. Jurhum telah menjadi kabilah yang kuat, dan pemimpinnya, Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi, adalah pria yang berpendirian kuat yang memiliki kedudukan di kaumnya; mereka tidak membangkang apa yang diperintahkannya dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
وَالْتَفَتَ إِلَى الْجَنُوبِ فَإِذَا بِخِيَامٍ قَطُورَاءَ انْتَشَرَتْ كَقِطَعِ اللَّيْلِ تُغَطِّي الْأَرْضَ ، كَانَتْ قَطُورَاءُ قَبِيلَةً مِنَ الْعَمَالِيقِ ، وَكَانَ سَيِّدُهَا السَّمَيْدَعُ قَدِ اسْتَأْذَنَ هَاجَرَ أَنْ تَنْزِلَ قَبِيلَتُهُ حَيْثُ نَزَلَتْ فَأَذِنَتْ لَهُ ، عَلَى أَنْ تُقِرَّ بِأَنَّ زَمْزَمَ لَهَا وَلِأَبْنَائِهَا مِنْ بَعْدِهَا .
Ia menoleh ke selatan dan mendapati kemah-kemah Qathura tersebar seperti potongan malam menutupi bumi. Qathura adalah kabilah dari kaum 'Amaliq, dan pemimpinnya, As-Sumaida', telah meminta izin kepada Hajar agar kabilahnya turun (bermukim) di tempat ia menetap, maka ia pun mengizinkannya dengan syarat mengakui bahwa Zamzam adalah milik Hajar dan anak cucunya setelahnya.
كَانَتِ الْبِئْرُ لِهَاجَرَ وَلَكِنَّهَا لَمْ تَكُنْ مِلْكِيَّةً خَاصَّةً ، فَقَدْ سَمَتْ عَنْ أَنْ تَكُونَ مِلْكِيَّةً خَاصَّةً ، إِنَّهَا لِلْجَمِيعِ يَرِدُهَا مَنْ يَشَاءُ لَا يَصُدُّ عَنْهَا إِنْسَانٌ . كُلُّ مَا كَانَ لِهَاجَرَ وَلِأَبْنَائِهَا مِنْ بَعْدِهَا أَنْ يَصُونُوا حُرِّيَّةَ الشَّارِبِينَ وَأَنْ يَكُونَ لَهُمْ شَرَفُ سِقَايَةِ حَجِيجِ بَيْتِ اللَّهِ .
Sumur itu milik Hajar, namun bukanlah milik pribadi, karena telah melampaui derajat sekadar milik pribadi. Sumur itu untuk semua orang; siapa pun yang mau boleh datang, tidak ada seorang pun yang menghalangi. Semua yang dimiliki Hajar dan anak cucunya setelahnya adalah menjaga kebebasan bagi para peminum dan mendapatkan kehormatan melayani penyediaan air bagi para jemaah haji Baitullah.
وَرَاحَ نَابِتُ يَهْبِطُ فِي الْجَبَلِ وَقَدْ وَلَّى وَجْهَهُ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَانْطَلَقَ ابْنُهُ يَشْجُبُ فِي أَثَرِهِ وَأَطْبَقَ شَفَتَيْهِ احْتِرَامًا لِصَمْتِ الشَّيْخِ الْجَلِيلِ وَمَا يَدُورُ فِي رَأْسِهِ مِنْ أَفْكَارٍ .
Nabit mulai menuruni gunung dengan wajah menghadap Masjidil Haram. Anaknya, Yashjub, pergi mengikutinya dan mengatupkan bibirnya demi menghormati kebisuan syaikh yang agung itu serta pemikiran yang berputar di kepalanya.
كَانَ نَابِتُ مَشْغُولَ الْبَالِ بِمَضَاضِ بْنِ عَمْرٍو وَبِالسَّمَيْدَعِ وَبِأَطْمَاعِهِمَا الَّتِي تَطُلُّ بِرَأْسِهَا بَيْنَ الْحِينِ وَالْحِينِ ، إِنَّهُ يَطْمَعُ فِي أَنْ يُؤَلِّفَ بَيْنَ قُلُوبِ الْجَرَاهِمَةِ وَقُلُوبِ قَطُورَاءَ ، بَلْ يَطْمَعُ فِي أُخُوَّةِ الْجِنْسِ الْبَشَرِيِّ بَيْنَمَا كَانَتْ أَطْمَاعُ الْآخَرِينَ أَنْ تَنْصِبَ كُلُّ قَبِيلَةٍ نَفْسَهَا سَيِّدَةً عَلَى الْقَبَائِلِ الْأُخْرَى .
Nabit disibukkan oleh pikiran tentang Mudhadh bin Amr dan As-Sumaida' beserta ambisi mereka yang sesekali muncul. Ia berharap dapat menyatukan hati kaum Jurhum dan kaum Qathura, bahkan ia mendambakan persaudaraan umat manusia, sementara ambisi orang lain adalah agar setiap kabilah mengangkat dirinya menjadi tuan atas kabilah yang lain.
إِنَّهُ يَخَافُ عَلَى قَوْمِهِ شَرَّ الِانْقِسَامَاتِ الدَّاخِلِيَّةِ لِأَنَّهُ عَلَى ثِقَةٍ أَنَّ الشِّقَاقَ هُوَ السُّوسُ الَّذِي يَنْخَرُ فِي عِظَامِ قَوْمِهِ ، وَمَا كَانَ يَخَافُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَغْزُوَهُمْ قَوْمٌ آخَرُونَ بَلْ كَانَ يَخْشَى أَنْ يَكُونَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدًا .
Ia mengkhawatirkan kaumnya dari keburukan perpecahan internal, karena ia yakin bahwa perpecahan adalah rayap yang menggerogoti tulang kaumnya. Ia tidak khawatir mereka diserang oleh kaum lain, melainkan takut jika permusuhan terjadi di antara mereka sendiri.
فَإِذَا كَانَ الْيَوْمَ سَيِّدَ قَوْمِهِ ، لَهُ وِلَايَةُ الْبَيْتِ وَسِقَايَةُ الْحَجِيجِ ، يَدِينُ لَهُ بِالزَّعَامَةِ وَالْوَلَاءِ قَطُورَاءُ ، تَرَى أَيَدِينُ عَمْرٌو وَالسَّمَيْدَعُ بِالْوَلَاءِ لِإِخْوَانِهِ وَأَبْنَائِهِ مِنْ بَعْدِهِ ؟
Jika hari ini ia adalah pemimpin kaumnya, memiliki hak atas Baitullah dan penyediaan air bagi jemaah haji, serta Qathura mengakui kepemimpinan dan loyalitas kepadanya, apakah Amr dan As-Sumaida' akan tetap setia kepada saudara dan anak cucunya setelahnya?
إِنَّ عَمْرًا صَاحِبُ أَطْمَاعٍ ، وَيَزِيدُ مِنْ خَطَرِهِ أَنَّ إِسْمَاعِيلَ وَبَنِيهِ تَزَوَّجُوا نِسَاءً مِنْ جُرْهُمٍ ، فَأَصْبَحَ عَمْرٌو وَقَبِيلَتُهُ أَخْوَالَ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَهَذَا شَرَفٌ يُطَالُ بِهِ عَلَى قَطُورَاءَ وَالْعَمَالِيقِ ، وَلَكِنَّ السَّمَيْدَعَ رَجُلُ حَرْبٍ بَأْسُهُ شَدِيدٌ وَسُلْطَانُهُ مُبِينٌ ، بَعْدَ أَنْ دَانَتْ لِلْعَمَالِيقِ الشَّامُ وَمِصْرُ .
Amr adalah orang yang penuh ambisi, dan bahayanya bertambah karena Ismail dan anak-anaknya menikahi wanita-wanita dari Jurhum. Amr dan kabilahnya menjadi paman dari pihak ibu bagi anak-anak Ismail, dan ini adalah kehormatan yang ia gunakan untuk menyombongkan diri atas Qathura dan 'Amaliq. Namun As-Sumaida' adalah pria perang yang kekuatannya dahsyat dan kekuasaannya nyata, setelah 'Amaliq menaklukkan Syam dan Mesir.
إِنَّ دَعْوَةَ إِبْرَاهِيمَ لَا يَزَالُ وَهَجُهَا شَدِيدًا فِي قُلُوبِ مَنْ نَزَلُوا حَوْلَ زَمْزَمَ ، أَيَسْتَطِيعُ نُورُ الْإِيمَانِ أَنْ يَبْهَرَ وَسَاوِسَ الشَّيْطَانِ فِي نَفْسِ عَمْرٍو وَفِي نَفْسِ السَّمَيْدَعِ ، أَمْ تَنْتَصِرُ شَهَوَاتُ الدُّنْيَا وَتَقُومُ بَيْنَهُمَا حَرْبٌ ؟
Seruan Ibrahim masih membara di hati orang-orang yang bermukim di sekitar Zamzam. Mampukah cahaya keimanan mengalahkan bisikan setan dalam jiwa Amr dan As-Sumaida', ataukah syahwat dunia yang menang dan perang meletus di antara mereka?
وَأَفْزَعَ ذَلِكَ الْخَاطِرُ الشَّيْخَ وَزَلْزَلَ كِيَانَهُ ، أَيَكُونُ فِي الْحَرَمِ ــ الَّذِي يَلُوذُ بِهِ الْخَائِفُ وَيَأْمَنُ فِيهِ الطَّيْرُ ــ قِتَالٌ ؟ أَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي الْبَيْتِ الَّذِي أُقِيمَ لِيَكُونَ مَنَارَةً لِلسَّلَامِ ؟ أَتُنْتَهَكُ حُرْمَةُ الْبَيْتِ وَفِيهِ أَحْفَادُ الْخَلِيلِ ؟
Pemikiran itu membuat sang syaikh ketakutan dan mengguncang eksistensinya. Akankah ada pertumpahan darah di Al-Haram, tempat orang yang takut berlindung dan burung merasa aman? Akankah darah tertumpah di rumah yang didirikan sebagai mercusuar perdamaian? Akankah kehormatan rumah ini dinodai sementara di dalamnya ada cucu-cucu Al-Khalil (Ibrahim)?
جَزِعَ لِذَلِكَ الْوَسْوَاسِ فَرَاحَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .
Ia gelisah dengan bisikan itu, maka ia bergegas memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
وَالْتَفَتَ الشَّيْخُ خَلْفَهُ ــ وَقَدْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنْهُ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا ــ فَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى ابْنِهِ يَشْجُبَ ، فَمَدَّ إِلَيْهِ يَدَهُ وَجَذَبَهُ فِي رِفْقٍ وَضَمَّهُ إِلَيْهِ فِي حَنَانٍ لِيَقْضِيَ عَلَى الْقَلَقِ الْمُوَارِ فِي جَوْفِهِ ، وَعَلَى الْخَوْفِ مِنْ ذَلِكَ الْمَجْهُولِ الَّذِي اسْتَبَدَّ بِهِ .
Sang syaikh menoleh ke belakang—di saat tulang-tulangnya melemah dan kepalanya memutih—matanya tertuju pada putranya, Yashjub. Ia mengulurkan tangannya, menariknya dengan lembut, dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang untuk memadamkan kegelisahan yang membara di dalam dirinya serta rasa takut terhadap masa depan yang tidak diketahui yang telah merasukinya.
وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مَنَازِلِ إِخْوَتِهِ أَسْبَاطِ إِسْمَاعِيلَ الصَّابِرِ الْأَمِينِ . إِنَّهُمْ أَحَدَ عَشَرَ زَعِيمًا ذَوُو قُوَّةٍ وَمَنَعَةٍ ، تَعَلَّقَتْ قُلُوبُهُمْ بِالْبَيْتِ الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا كَمَا تَعَلَّقَ بِهِ فُؤَادُهُ ، فَإِنْ كَانَتْ أَيَّامُهُ عَلَى الْأَرْضِ قَدْ دَنَتْ فَسَيَصُونُ إِخْوَتُهُ وَبَنُوهُ حُرْمَةَ الْبَيْتِ وَسَيُظِلُّ مُشْرِفًا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ .
Matanya tertuju pada tempat tinggal saudara-saudaranya, keturunan Ismail yang sabar dan terpercaya. Mereka adalah sebelas pemimpin yang memiliki kekuatan dan perlindungan; hati mereka terpaut pada rumah yang Allah jadikan tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, sebagaimana hatinya terpaut padanya. Jika hari-harinya di bumi telah dekat (untuk berakhir), maka saudara-saudara dan anak-anaknya akan menjaga kehormatan Baitullah, dan ia akan tetap berdiri megah selama langit dan bumi masih ada.
وَاسْتَلَمَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ ، وَرَاحَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ، وَيَتَبَهَّلُ إِلَى اللَّهِ وَيَدْعُو مِنْ أَعْمَاقِهِ أَنْ يَصُونَ بَيْتَهُ. وَتَرَقْرَقَتِ الْعَبَرَاتُ فِي مَآقِيهِ ، وَكَانَ كُلَّمَا طَافَ بِحَجْرِ هَاجَرَ وَقَبْرِ أَبِيهِ ، يَشْرَقُ بِالدُّمُوعِ إِذْ كَانَ مُشْفِقًا مِنْ فِتْنَةٍ تَكُونُ بَعْدَهُ .
Ia mengusap Hajar Aswad dan mulai bertawaf mengelilingi Baitullah tujuh kali, bermunajat kepada Allah dan berdoa dari lubuk hatinya agar menjaga rumah-Nya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Setiap kali ia melewati Hijir Ismail dan makam ayahnya, ia tersedak air mata karena ia khawatir akan fitnah yang akan terjadi setelahnya.
```html
وَأَتَمَّ طَوَافَهُ وَإِذَا بِصَوْتٍ يَدْوِي فِي أَعْمَاقِهِ : إِنَّ لِلْبَيْتِ رَبًّا يَحْمِيهِ ، فَاسْتَشْعَرَ كَأَنَّ حَمْلًا ثَقِيلًا انْزَاحَ عَنْ صَدْرِهِ وَعَادَ لِنَفْسِهِ صَفَاؤُهَا وَرَحَابَتُهَا ، فَذَهَبَ يُصَلِّي فِي مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ وَبَابِ الْكَعْبَةِ أَمَامَهُ وَزَمْزَمُ خَلْفَهُ ، وَقَدْ عَبَقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ بِأَرِيجٍ أَطْيَبَ مِنَ الْمِسْكِ لَمْ يَمْتَلِئْ بِهِ أَنْفُهُ بَلِ انْتَشَتْ بِهِ رُوحُهُ . وَزَادَ فِي طُمَأْنِينَةِ فُؤَادِهِ أَنْ أَحَسَّ كَأَنَّ نُورًا انْسَكَبَ فِي وِجْدَانِهِ أَنَارَ بَصِيرَتَهُ ، فَقَدْ كَانَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِ .
Dan dia menyempurnakan tawafnya, dan tiba-tiba sebuah suara bergema di kedalaman dirinya: Sesungguhnya Baitullah itu memiliki Tuhan yang melindunginya, maka dia merasa seolah-olah beban berat telah terangkat dari dadanya dan kemurnian serta kelapangan jiwanya kembali, maka dia pergi shalat di Maqam Ibrahim dengan pintu Ka'bah di depannya dan zamzam di belakangnya, dan telah harum apa yang ada di antara langit dan bumi dengan aroma yang lebih baik dari kesturi, bukan hidungnya yang memenuhinya, melainkan jiwanya yang terbius dengannya. Dan ketenangan hatinya bertambah karena dia merasa seolah-olah cahaya telah tercurah ke dalam nuraninya yang menerangi mata batinnya, karena dia berada di atas petunjuk dari Tuhannya.
جَلَسَ نَابِتٌ فِي الْحَرَمِ وَقَدْ تَهَلَّلَ وَجْهُهُ بِالرِّضَا ، وَجَلَسَ يَشْجُبُ إِلَى جِوَارِهِ ، وَمَا إِنْ رَأَى مِضْبَاضَ بْنَ عَمْرٍو الْجُرْهُمِيَّ الشَّيْخَ الْوَقُورَ حَتَّى خَفَّ إِلَيْهِ وَجَلَسَ عِنْدَهُ يَلْقَى السَّمْعَ إِلَى عَذْبِ حَدِيثِهِ . وَسُرْعَانَ مَا هَرَعَ إِلَيْهِ السَّمِيدَعُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ .
Nabit duduk di Al-Haram dan wajahnya berseri-seri dengan kepuasan, dan Yashjub duduk di sampingnya, dan begitu dia melihat Midbad bin 'Amr Al-Jurhumi, sang syekh yang berwibawa, dia segera menghampirinya dan duduk di dekatnya mendengarkan penuturannya yang manis. Dan segera As-Samayda' bergegas kepadanya dengan hati yang tulus.
وَجَاءَ مَنْ كَانَ فِي الْحَرَمِ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ إِلَى حَيْثُ جَلَسَ أَمِيرُ الْقَوْمِ وَشَيْخُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ وَسَلَّمُوا عَلَيْهِ فِي تَوْقِيرٍ ، ثُمَّ جَلَسُوا جَمِيعًا يَصْغَوْنَ ، وَإِذَا بِصَوْتِ الزَّعِيمِ يُحَلِّقُ بِالْمُرِيدِينَ فِي فَيْضٍ مِنَ الرُّوحِ وَيَسْمُو بِهِمْ إِلَى هَدَفٍ بَعِيدٍ ، فَنَامَتِ الْأَحْقَادُ وَدَالَتِ الدُّنْيَا إِلَى حِينٍ .
Dan datanglah mereka yang berada di Al-Haram dari bani Ismail ke tempat di mana pemimpin kaum dan syekh kaum Ismail duduk dan mereka memberi salam kepadanya dengan penuh hormat, kemudian mereka semua duduk mendengarkan, dan tiba-tiba suara sang pemimpin melambungkan para pengikut dalam limpahan ruh dan meninggikan mereka menuju tujuan yang jauh, maka dendam tertidur dan dunia berlalu untuk sementara waktu.
وَدَارَ الْحَدِيثُ عَنِ الْقَافِلَةِ الَّتِي تَجَهَّزَتْ وَتَنْتَظِرُ أَنْ يَأْذَنَ لَهَا لِتَنْطَلِقَ إِلَى مِصْرَ فَإِذَا بِأَشْوَاقِهِ تَتَحَرَّكُ ، فَقَدْ أَقْعَدَتْهُ السِّنُّ عَنْ أَنْ يَخْرُجَ مَعَ الْخَارِجِينَ . إِنَّهُ ضَرَبَ فِي الشِّمَالِ وَالْجَنُوبِ وَالشَّرْقِ وَالْغَرْبِ وَهَبَطَ إِلَى مِصْرَ ، فَإِذَا كَانَ قَدِ اسْتَقَرَّ بِجِوَارِ الْبَيْتِ فَقَدْ كَانَتِ الْأَرْضُ كُلَّهَا وَطَنَهُ وَقَدْ مَكَّنَهُ دِينُهُ مِنْ أَنْ يَقْضِيَ عَلَى الْعَصَبِيَّةِ الْقَوْمِيَّةِ السِّيَاسِيَّةِ ؛ فَلَمْ يَعُدْ يُفَضِّلُ أَرْضًا عَلَى أَرْضٍ أَوْ شَعْبًا عَلَى شَعْبٍ .
Dan pembicaraan berkisar tentang kafilah yang telah bersiap dan menunggu izin untuk berangkat ke Mesir, maka kerinduannya pun bergerak, karena usia telah membuatnya tidak mampu untuk keluar bersama mereka yang berangkat. Dia telah berkelana ke utara, selatan, timur, dan barat serta turun ke Mesir, maka jika dia telah menetap di dekat Baitullah, maka seluruh bumi adalah tanah airnya dan agamanya telah memungkinkannya untuk menghapus fanatisme nasional politik; sehingga dia tidak lagi mengutamakan satu tanah atas tanah lainnya atau satu kaum atas kaum lainnya.
وَحَانَتْ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ فَرَأَى أَخَاهُ قَيْدَارَ وَابْنَهُ نَابِتَ يَتَحَدَّثَانِ مَعَ كُتَّابٍ جَلَسُوا عِنْدَ الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَبَابِ الْكَعْبَةِ ، يَكْتُبُونَ الْكُتُبَ وَيَرْمُونَ الْعُقُودَ وَيُوَثِّقُونَ الْمَوَاثِيقَ وَيَشْهَدُونَ رَبَّ الْبَيْتِ عَلَى مَا اشْتَرَطُوا مِنْ شُرُوطٍ وَيَسْأَلُونَهُ أَنْ يُنْزِلَ غَضَبَهُ عَلَى مَنْ خَانَ أَوْ ظَلَمَ ، فَرَاحَ يَنْظُرُ إِلَى أَخِيهِ وَابْنِ أَخِيهِ بِرَهَةً وَشَعَّ مِنْ عَيْنِهِ الْحُبُّ الْعَمِيقُ ، ثُمَّ عَادَ لِيَخُوضَ مَعَ مَنِ الْتَفُّوا حَوْلَهُ فِيمَا كَانَ بَيْنَهُمْ مِنَ الْحَدِيثِ .
Dan dia sempat menoleh, lalu dia melihat saudaranya Qaidar dan putranya Nabit sedang berbincang dengan para penulis yang duduk di Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, mereka menulis surat-surat dan merumuskan perjanjian-perjanjian, serta menguatkan ikatan-ikatan, dan menjadikan Tuhan Baitullah sebagai saksi atas syarat-syarat yang mereka tetapkan, dan mereka memohon kepada-Nya agar menurunkan murka-Nya kepada siapa saja yang berkhianat atau berbuat zalim, maka dia terus memandang kepada saudaranya dan putra saudaranya sejenak dan terpancar dari matanya cinta yang mendalam, kemudian dia kembali berbincang dengan orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya mengenai apa yang sedang mereka perbincangkan.
وَأَقْبَلَ قَيْدَارُ عَلَى الْمَلَإِ مَهِيبًا فَخْمًا جَلَالٍ لَكَأَنَّمَا بُعِثَ إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ مِنْ جَدِيدٍ ، كَانَ أَقْرَبَ آلِ إِبْرَاهِيمَ شَبَهًا بِجَدِّهِ الْعَظِيمِ ، فَإِنْ كَانَتْ وِلَايَةُ الْبَيْتِ لِقَابِتَ بَكْرِ إِسْمَاعِيلَ فَمَا كَانَ سَبِيلُ الضِّيفَانِ لِيَنْقَطِعَ عَنْ خِيَامِ قَيْدَارَ السُّودِ .
Dan Qaidar datang menghadap khalayak dengan kewibawaan dan keagungan seolah-olah Ibrahim Khalilurrahman telah diutus kembali, dia adalah keluarga Ibrahim yang paling mirip dengan kakeknya yang agung, maka jika perwalian Baitullah adalah milik Nabit putra sulung Ismail, maka jalan bagi para tamu tidak akan pernah terputus dari kemah-kemah Qaidar yang hitam.
كَانَ قَيْدَارُ ثَانِيَ أَبْنَاءِ إِسْمَاعِيلَ وَكَانَ قَرِيبًا مِنْ قُلُوبِ إِخْوَتِهِ وَقُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِوَرَعِهِ وَتَقْوَاهُ ، وَمَا كَانَ ابْنُهُ يَشْجُبُ يُفَارِقُهُ فَقَدْ كَانَ يَنْهَلُ مِنْ بَحْرِ عِلْمِهِ ، وَفَسَحَ الْحَاضِرُونَ مَكَانًا لِلْقَادِمِ الْكَرِيمِ لِيَجْلِسَ إِلَى جِوَارِ أَخِيهِ ، فَانْسَلَّ النَّبِتُ لِيَجْلِسَ إِلَى جِوَارِ يَشْجُبَ ابْنِ عَمِّهِ .
Qaidar adalah putra kedua Ismail dan dia dekat dengan hati saudara-saudaranya dan hati orang-orang beriman karena kewara'an dan ketakwaannya, dan putranya Yashjub tidak pernah berpisah darinya karena dia terus menimba dari samudera ilmunya, dan orang-orang yang hadir memberi tempat bagi pendatang yang mulia itu untuk duduk di samping saudaranya, maka Nabit pun menyelinap untuk duduk di samping Yashjub putra pamannya.
وَدَارَ الْحَدِيثُ وَكَانَ نَابِتٌ بَيْنَ لَحْظَةٍ وَأُخْرَى يَلْتَفِتُ إِلَى قَيْدَارَ فَيَجِدُهُ مَشْغُولًا عَنْ عَذْبِ الْكَلَامِ بِأَفْكَارِهِ ، فَمَالَ عَلَيْهِ وَقَالَ فِي رِفْقٍ :
Dan percakapan terus berlangsung sementara Nabit dari waktu ke waktu menoleh kepada Qaidar dan mendapatinya sibuk dari pembicaraan yang manis karena pikirannya, maka dia pun mencondongkan diri padanya dan berkata dengan lembut:
— مَا الَّذِي يَشْغَلُ بِالَكَ يَا أَخِي ؟
— Apa yang mengganggu pikiranmu wahai saudaraku?
فَانْتَبَهَ قَيْدَارُ مِنْ شُرُودِهِ وَقَالَ :
Qaidar tersadar dari lamunannya dan berkata:
— الْكِتَابَةُ الْعَرَبِيَّةُ .. إِنَّهَا صَعْبَةٌ .. إِنَّ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ يَوْمَ وَضَعَهَا وَضَعَهَا مَوْصُولَةً عَلَى لَفْظِهَا وَمَنْطِقِهَا .
— Tulisan Arab.. ini sulit.. Sesungguhnya ayahku, semoga Allah merahmatinya, di hari ia meletakkannya, ia meletakkannya bersambung sesuai dengan lafal dan cara pengucapannya.
— وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَفْعَلَ بِهَا ؟
— Dan apa yang ingin kamu lakukan dengannya?
— أُرِيدُ أَنْ أَفْرِقَ بَيْنَ أَلْفَاظِهَا .
— Aku ingin memisahkan antara lafal-lafalnya.
— افْعَلْ بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ .
— Lakukanlah, semoga Allah memberkahimu.
تَعَلَّمَتْ هَاجَرُ - أَيَّامَ أَنْ كَانَتْ أَمِيرَةً فِي مِصْرَ - الْكِتَابَةَ الْهِيرُوغْلِيفِيَّةَ عَلَى أَيْدِي كَهَنَةِ مَنْفَ ، وَقَدْ عَلَّمَتْ إِسْمَاعِيلَ صَبِيًّا تِلْكَ الْكِتَابَةَ عَدَ بِئْرِ زَمْزَمَ بَعْدَ أَنْ أَسْكَنَهَا إِبْرَاهِيمُ بِوَادِي مَكَّةَ ، فَلَمَّا شَبَّ إِسْمَاعِيلُ طَوَّرَ تِلْكَ الْكِتَابَةَ وَوَضَعَ الْقَلَمَ الْعَرَبِيَّ مَوْصُولًا عَلَى لَفْظِهِ وَمَنْطِقِهِ ، وَقَدْ عَزَمَ قَيْدَارُ عَلَى أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الْأَلْفَاظِ تَيْسِيرًا لِلْكِتَابَةِ لِيَخْطُوَ الْقَلَمُ الْعَرَبِيُّ خُطْوَةً فِي سَبِيلِ تَطَوُّرِهِ .
Hajar telah mempelajari - di masa ketika ia menjadi putri di Mesir - tulisan hieroglif di tangan para pendeta Memphis, dan ia telah mengajarkan kepada Ismail saat masih bocah tulisan tersebut di dekat sumur Zamzam setelah Ibrahim menempatkannya di lembah Mekkah, maka ketika Ismail beranjak dewasa, ia mengembangkan tulisan itu dan meletakkan pena Arab yang bersambung sesuai dengan lafal dan pengucapannya, dan Qaidar bertekad untuk memisahkan antara lafal-lafal demi memudahkan penulisan agar pena Arab melangkah selangkah di jalan perkembangannya.
وَقَامَ نَابِتٌ وَقَيْدَارُ فَقَامَ عَمْرُو بْنُ مِضْبَاضٍ وَالسَّمِيدَعُ وَمَنْ كَانَ حَاضِرًا مِنْ جُرْهُمٍ وَبَنِي إِسْمَاعِيلَ ، وَانْطَلَقُوا إِلَى حَيْثُ كَانَتِ الْقَافِلَةُ قَدْ تَجَهَّزَتْ لِلرَّحِيلِ . كَانَتِ الْقَافِلَةُ تَحْمِلُ الْبَخُورَ وَالطِّيبَ وَالْفِضَّةَ ، وَشَبَابُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ يَتَأَهَّبُونَ لِلِانْطِلَاقِ إِلَى وَادِي النِّيلِ ، فَدَنَا نَابِتٌ مِنَ شَيْخِ الْقَافِلَةِ وَكَانَ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَقَالَ لَهُ :
Nabit dan Qaidar berdiri, lalu berdirilah 'Amr bin Midbad dan As-Samayda' serta mereka yang hadir dari Jurhum dan Bani Ismail, dan mereka berangkat ke tempat di mana kafilah telah bersiap untuk pergi. Kafilah tersebut membawa kemenyan, wewangian, dan perak, dan para pemuda Bani Ismail bersiap untuk berangkat ke Lembah Nil, maka Nabit mendekati syekh kafilah dan dia adalah dari Bani Ismail dan berkata kepadanya:
— هَلْ جَاءَتِ الْهَدَايَا الَّتِي سَتَحْمِلُهَا إِلَى أَبْنَاءِ عَمِّنَا ؟
— Apakah hadiah-hadiah yang akan kamu bawa kepada putra-putra paman kita telah datang?
— نَعَمْ .
— Ya.
— وَهَدَايَا أُخْتِنَا ؟
— Dan hadiah-hadiah untuk saudara perempuan kita?
— إِنَّهَا فِي رَاحِلَتِي .
— Semuanya ada di kendaraanku.
كَانَ الْمِدْيَنِيُّونَ أَبْنَاءَ ابْنِ عَمِّهِ مَدْيَنَ ، وَكَانَ الْأَدُومِيُّونَ أَبْنَاءَ أُخْتِهِمْ مَحْلَةَ ، وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ مِنِ ابْنِ عَمِّهِ الْعِيصِ ، وَسُمِّيَ الْعِيصُ آدَمَ لِأُدْمَتِهِ فَصَارَ بَنُوهُ الْأَدُومِيِّينَ . كَانَ نَابِتٌ عَلَى صِلَةٍ طَيِّبَةٍ بِأَبْنَاءِ أَعْمَامِهِ جَمِيعًا ، وَكَانَ يَرَى فِيهِمْ وَرَثَةَ النَّفْحَةِ الرُّوحِيَّةِ الَّذِينَ سَيَنْتَشِلُونَ الْبَشَرِيَّةَ مِنَ الْمَادِيَّةِ الطَّاغِيَةِ لِيَبْنُوا حَضَارَةً مُتَأَلِّقَةً عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ . فَإِنْ كَانُوا الْيَوْمَ جَمَاعَاتٍ مُتَفَرِّقَةً إِلَّا أَنَّهُمْ مُتَنَاسِقُونَ لَا بُدَّ أَنْ يَنْدَمِجُوا يَوْمًا فِي مُجْتَمَعٍ وَاحِدٍ قَوِيٍّ مَا دَامَ إِلَهُهُمْ وَاحِدًا وَغَايَتُهُمْ وَاحِدَةً ، وَسَيَأْتِي الْيَوْمُ الَّذِي يَسُودُونَ فِيهِ بِدِينِهِمْ عَلَى كُلِّ الشُّعُوبِ وَيَجْعَلُونَ الْعَالَمَ أُمَّةً وَاحِدَةً مُؤْمِنَةً بِرَبِّ الْعَالَمِينَ .
Kaum Midian adalah anak-anak dari putra pamannya, Madyan, dan kaum Edom adalah anak-anak dari saudara perempuan mereka, Mahlah, dan dia melahirkan mereka dari putra pamannya, Al-'Ish, dan Al-'Ish dinamai Adam karena warna kulitnya yang gelap, maka anak-anaknya menjadi kaum Edom. Nabit memiliki hubungan baik dengan semua putra paman-pamannya, dan dia melihat dalam diri mereka pewaris embusan spiritual yang akan menyelamatkan umat manusia dari materialisme yang dominan untuk membangun peradaban yang cemerlang berdasarkan ketakwaan kepada Allah. Maka jika hari ini mereka adalah kelompok-kelompok yang terpisah, sesungguhnya mereka harmonis dan pasti suatu hari nanti akan bergabung dalam satu masyarakat yang kuat selama Tuhan mereka satu dan tujuan mereka satu, dan akan datang hari di mana mereka akan berkuasa dengan agama mereka atas segala bangsa dan menjadikan dunia sebagai satu umat yang beriman kepada Tuhan semesta alam.
يَا طَالَمَا زَارَ عَمَّهُ مَدْيَنَ وَأُخْتَهُ مَحْلَةَ بِنْتَ إِسْمَاعِيلَ ، وَخَرَجَ إِلَى حَبْرُونَ لِيَعْزَى فِي مَوْتِ عَمِّهِ إِسْحَاقَ ، وَزَارَ قَبْرَ الْخَلِيلِ ، وَاجْتَمَعَ بِابْنِ عَمِّهِ يَعْقُوبَ وَبَنِيهِ بَعْدَ أَنْ عَادَ مِنْ حَارَانَ يَحْمِلُ أَهْلَ بَيْتِهِ ، وَيَا طَالَمَا حَاوَلَ أَنْ يَشُدَّ الْأَوَاصِرَ بَيْنَ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَبَنِي إِسْحَاقَ ، فَإِنْ لَمْ يَنْجَحْ فِي أَنْ يُحَقِّقَ حُلْمَهُ الْجَمِيلَ فِي رُوحِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ فَقَدْ كَانَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ ذَلِكَ الْأَمَلَ سَيَتَحَقَّقُ فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ . كَانَ قَلْبُهُ عَامِرًا بِطَاقَةٍ رُوحِيَّةٍ رَفَعَتْهُ فَوْقَ شَهَوَاتِ النَّفْسِ وَعَرَضِ الدُّنْيَا وَزِينَةِ الْحَيَاةِ ، فَحَسْبُ أَنْ قُلُوبَ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَبَنِي إِسْحَاقَ تَطَهَّرَتْ مِنْ حُبِّ الْمَادَّةِ مَا دَامُوا قَدْ وَرِثُوا دِينَ إِبْرَاهِيمَ ، وَأَنَّهُمْ سَائِرُونَ عَلَى الطَّرِيقِ . وَتَلَفَّتَ حَوْلَهُ فَإِذَا بِهِ مُحَاطٌ بِبَنِي إِسْمَاعِيلَ وَأَخْوَالِهِمْ مِنْ جُرْهُمٍ وَبِرِجَالٍ مِنْ قَطُورَاءَ ، رَآهُمْ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ كَأَنَّهُمْ عَلَى قَلْبٍ وَاحِدٍ فَأَشْرَقَ وَجْهُهُ بِالرِّضَا وَأَشَارَ لِلْقَافِلَةِ أَنْ تَنْطَلِقَ وَهُوَ يَقُولُ :
Betapa sering ia mengunjungi pamannya Madyan dan saudara perempuannya Mahlah binti Ismail, dan pergi ke Hebron untuk bertakziah atas kematian pamannya Ishak, dan mengunjungi makam sang Khalil (Ibrahim), serta bertemu dengan putra pamannya Ya'qub dan anak-anaknya setelah kembali dari Haran dengan membawa keluarganya. Betapa sering ia berusaha mempererat ikatan antara Bani Ismail dan Bani Ishak, jika ia belum berhasil mewujudkan mimpinya yang indah dalam ruh agama Ibrahim, ia tetap yakin bahwa harapan itu akan terwujud suatu hari nanti. Hatinya penuh dengan energi spiritual yang mengangkatnya di atas nafsu dan dunia serta perhiasan kehidupan, cukuplah hati Bani Ismail dan Bani Ishak telah suci dari cinta materi selama mereka mewarisi agama Ibrahim, dan mereka sedang berjalan di jalan yang benar. Ia menoleh ke sekelilingnya dan ternyata ia dikelilingi oleh Bani Ismail dan paman-paman mereka dari Jurhum serta pria-pria dari Qathura, ia melihat mereka pada saat itu seolah-olah mereka memiliki satu hati, maka wajahnya berseri-seri dengan kepuasan dan ia memberi isyarat kepada kafilah untuk berangkat seraya berkata:
— سِيرُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَعَلَى بَرَكَةِ اللَّهِ .
— Berjalanlah dengan nama Allah dan atas keberkahan Allah.
وَفَصَلَتِ الْعِيرُ وَانْسَابَتْ قَافِلَةُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ فِي مِحْرَابِ الْكَوْنِ فِي رِعَايَةِ اللَّهِ بَعْدَ أَنْ أَلْقَوْا نَظْرَةَ وَدَاعٍ عَلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ ، وَوَقَفَ نَابِتٌ يَرْقُبُ الْقَافِلَةَ وَقَدْ رَاوَدَتْهُ أَشْوَاقُهُ وَحَمَلَتْهُ إِلَى حَبْرُونَ ، وَإِذَا بِهَمْسٍ يَسْرَى فِي وِجْدَانِهِ : يَعْقُوبُ ! إِنَّكَ مُبَارَكٌ ، إِنَّكَ مِنَ الصَّالِحِينَ . تَرَى كَيْفَ حَالُكَ يَا يَعْقُوبُ ؟ .
Dan kafilah pun bergerak dan meluncurlah kafilah Bani Ismail di mihrab alam semesta dalam lindungan Allah setelah mereka melemparkan pandangan perpisahan ke Baitul Haram, dan Nabit berdiri mengawasi kafilah tersebut sementara kerinduannya merasukinya dan membawanya ke Hebron, dan tiba-tiba bisikan mengalir di nuraninya: Ya'qub! Sesungguhnya engkau diberkati, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang saleh. Entah bagaimana kabarmu wahai Ya'qub?
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi