كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسَجًّى فِي خَيْمَتِهِ وَالْتَفَّ حَوْلَهُ إِسْحَاقُ وَيَعْقُوبُ وَالْيَعَازَرُ الدِّمَشْقِيُّ وَرِفْقَةُ وَكِبَارُ رِجَالِ الْقَبِيلَةِ يَنْعَكِسُ الْأَسَى عَلَى وُجُوهِهِمْ ، وَكَانُوا كُلَّمَا سَمِعُوا صَوْتًا الْتَفَتُوا إِلَى بَابِ الْخَيْمَةِ فِي لَهْفَةٍ وَرَجَاءٍ كَأَنَّهُمَا يَنْتَظِرُونَ وُفُودَ عَزِيزٍ .
Ibrahim terbaring di dalam tendanya, dan di sekelilingnya berkumpul Ishaq, Yaqub, Eliezer orang Damaskus, Rifqah, dan para tetua suku. Kesedihan terpancar di wajah mereka. Setiap kali mereka mendengar suara, mereka menoleh ke pintu tenda dengan rasa rindu dan penuh harap, seolah-olah sedang menunggu kedatangan tamu yang sangat berharga.
وَخَرَجَ الْيَعَازَرُ وَوَقَفَ عَلَى بَابِ الْخَيْمَةِ وَأَلْقَى بِصَرِهِ إِلَى الْأُفُقِ الْجَنُوبِيِّ يَرْقُبُ الطَّرِيقَ مُدَّةً حَتَّى إِذَا مَشَى الْيَأْسُ إِلَى قَلْبِهِ عَادَ مُطْرِقًا إِلَى حَيْثُ كَانَ إِبْرَاهِيمُ ، وَأَحَسَّ الْيَعَازَرُ عُيُونَ الْقَوْمِ تَسْأَلُهُ فَرَفَعَ رَأْسَهُ وَهَزَّهُ فِي حُزْنٍ فَغَاضَ الْأَمَلُ فِي نُفُوسِهِمْ وَنَكَسُوا رُءُوسَهُمْ .
Eliezer keluar dan berdiri di pintu tenda, melempar pandangannya ke ufuk selatan, mengawasi jalan untuk beberapa lama. Hingga ketika keputusasaan merayap ke dalam hatinya, ia kembali dengan menunduk ke tempat Ibrahim berada. Eliezer merasakan mata orang-orang menanyakannya, lalu ia mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya dalam kesedihan, sehingga harapan meredup di jiwa mereka dan mereka menundukkan kepala mereka.
وَرَاحَ الرِّجَالُ يَرْصُدُونَ وَجْهَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ وَكَانَ وَاهِنًا يَلْتَقِطُ أَنْفَاسَهُ فِي جَهْدٍ ، وَأَسْبَلَ عَيْنَيْهِ فَرَاحَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَقَدْ غَشِيَهُمْ وَجُومٌ يَرْجُونَ رَحْمَةَ الرَّحْمَنِ بِخَلِيلِهِ ، وَلَمْ يُطِقْ إِسْحَاقُ صَبْرًا فَخَرَجَ مَهْرُولًا يَرْقُبُ الطَّرِيقَ .
Para lelaki terus memperhatikan wajah Khalillur Rahman, dan dia tampak lemah, berjuang mengambil napas dengan susah payah. Dia memejamkan matanya, lalu mereka mulai saling memandang, diselimuti oleh keheningan, mengharapkan rahmat Ar-Rahman kepada kekasih-Nya. Ishaq tidak bisa menahan sabar, lalu ia bergegas keluar, mengawasi jalan.
وَمَدَّ إِسْحَاقُ بَصَرَهُ إِلَى بَعِيدٍ فَلَمْ يَرَ أَحَدًا قَادِمًا . وَلَمْ يَكُنْ حَوْلَهُ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ تَعَلَّقَتْ قُلُوبُهُمْ بِإِبْرَاهِيمَ فَلَمَّا سَمِعُوا أَنَّهُ يَمُوتُ جَاءُوا مَفْزُوعِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ وَهُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا سَمِعُوا ، فَقَدْ أَبَتْ نُفُوسُهُمْ أَنْ تُصَدِّقَ أَنَّ خَلِيلَ اللَّهِ يَمُوتُ !
Ishaq memandang jauh ke depan, namun tidak melihat seorang pun datang. Tidak ada di sekelilingnya selain orang-orang mukmin yang hatinya terikat kepada Ibrahim. Ketika mereka mendengar bahwa dia akan wafat, mereka datang dengan ketakutan dari segala penjuru yang jauh, sementara mereka ragu dengan apa yang mereka dengar, karena jiwa mereka menolak untuk percaya bahwa kekasih Allah akan wafat!
وَرَاحَ إِسْحَاقُ يَشْرُبُ بَعْنَقِهِ وَيَنْظُرُ وَقَدْ خَنَقَ الْقَلَقُ الرَّجَاءَ فِي صَدْرِهِ ، إِنَّ اللَّهَ أَرْأَفُ بِخَلِيلِهِ مِنْ أَنْ يَقْبِضَ رُوحَهُ دُونَ أَنْ يُحَقِّقَ لَهُ رَجَاءَهُ الْأَخِيرَ ، فَمَا أَكْثَرَ مَا وَعَدَهُ اللَّهُ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّهِ حَقًّا . وَمَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ رَبَّهُ دُعَاءً إِلَّا وَاسْتَجَابَ لَهُ ، أَوْ يَمُوتُ إِبْرَاهِيمُ دُونَ أَنْ تَمْتَلِئَ عَيْنَاهُ بِرُؤْيَةِ الْحَبِيبِ ؟!
Ishaq terus menjulurkan lehernya dan melihat, rasa cemas telah mencekik harapan di dadanya. Sesungguhnya Allah lebih kasih kepada kekasih-Nya daripada mengambil ruhnya sebelum mengabulkan harapan terakhirnya. Betapa banyak janji Allah kepadanya, dan janji Tuhannya adalah benar. Tidaklah Ibrahim berdoa kepada Tuhannya melainkan Dia mengabulkannya, atau apakah Ibrahim akan wafat tanpa kedua matanya dipuaskan dengan melihat sang kekasih?!
وَظَلَّ إِسْحَاقُ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي قَلَقٍ ثُمَّ عَادَ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُوهُ فَتَعَلَّقَتْ بِهِ الْأَعْيُنُ فَهَزَّ رَأْسَهُ نَفْيًا وَقَلْبُهُ يَتَمَزَّقُ مِنَ الْحُزْنِ .
Ishaq terus berjalan mondar-mandir dalam kecemasan, kemudian ia kembali ke tempat ayahnya berada. Mata-mata tertuju kepadanya, lalu ia menggelengkan kepalanya tanda tidak ada, sementara hatinya hancur karena kesedihan.
— أَلَمْ يَأْتِ إِسْمَاعِيلُ ؟
— Belumkah Ismail datang?
فَغَصَّتِ الْحَنَاجِرُ وَطَفَرَتِ الدُّمُوعُ مِنَ الْعُيُونِ ، وَمَالَ إِسْحَاقُ عَلَى أَبِيهِ وَقَالَ :
Tenggorokan menjadi sesak dan air mata bercucuran dari mata. Ishaq mencondongkan tubuh kepada ayahnya dan berkata:
— إِنَّهُ فِي الطَّرِيقِ ، إِنَّهُ قَادِمٌ .
— Dia sedang di jalan, dia akan datang.
وَلَمْ يُطِقْ إِسْحَاقُ أَنْ يَبْقَى عَلَى تَجَلُّدِهِ فَكَادَ يَجْهَشُ بِالْبُكَاءِ وَلَكِنَّهُ كَتَمَ أَنْفَاسَهُ بِكَفِّهِ وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ ، ثُمَّ فَرَّ مِنَ الْمَكَانِ لِيَبْكِيَ بَعِيدًا خَشْيَةَ أَنْ يَسْمَعَهُ أَبُوهُ .
Ishaq tidak mampu tetap tabah, dia hampir menangis tersedu-sedu, namun dia menahan napasnya dengan telapak tangannya dan memalingkan wajahnya, lalu ia lari dari tempat itu untuk menangis jauh-jauh karena khawatir ayahnya akan mendengarnya.
وَأَسْبَلَ إِبْرَاهِيمُ جَفْنَيْهِ وَرَاحَتِ الذِّكْرَيَاتُ تَتَوَالَى عَلَى ذِهْنِهِ : رَأَى هَاجَرَ يَوْمَ وَضَعَتْ إِسْمَاعِيلَ وَإِلَى جِوَارِهَا سَارَةَ تَكَادُ تَطِيرُ فَرَحًا بِالْوَلِيدِ ، وَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ رَأَى هَاجَرَ وَابْنَهَا الرَّضِيعَ فِي الصَّحْرَاءِ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي أَسْكَنَهَا عِنْدَ الْبَيْتِ الْمُحَرَّمِ ، أَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْكُنَهَا هُنَاكَ قَبْلَ أَنْ تُبَشِّرَ مَلَائِكَةُ اللَّهِ سَارَةَ بِإِسْحَاقَ . ثُمَّ رَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يُقِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلَ ، وَرَنَّ فِي أُذُنِهِ ذَلِكَ الدُّعَاءُ الْحَارُّ الَّذِي انْبَعَثَ مِنْ قَلْبِهِ وَقَلْبِ إِسْمَاعِيلَ الْحَبِيبِ .
Ibrahim memejamkan kelopak matanya dan kenangan-kenangan mulai mengalir di benaknya: Ia melihat Hajar pada hari ia melahirkan Ismail dan di sisinya ada Sarah yang hampir terbang karena kegirangan menyambut sang bayi. Tidak lama kemudian ia melihat Hajar dan putranya yang masih bayi di padang pasir, pada hari itu saat ia menempatkan mereka di dekat Baitul Haram, diperintahkan Allah untuk menempatkan mereka di sana sebelum malaikat Allah memberi kabar gembira kepada Sarah tentang Ishaq. Kemudian ia melihat dirinya saat sedang mendirikan fondasi Baitullah bersama Ismail, dan terngiang di telinganya doa hangat yang terpancar dari hatinya dan hati Ismail yang tercinta.
وَتَمْتَمَ بِصَوْتٍ خَافِتٍ : ﴿ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴾ .
Dan ia bergumam dengan suara lirih: "Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
وَزَفَرَ إِبْرَاهِيمُ زَفْرَةً قَوِيَّةً وَشَاعَ فِي وَجْهِهِ نُورٌ وَسَلَامٌ ، كَانَ يَرَى نَفْسَهُ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ مَعَ الطَّائِفِينَ وَيَسْعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ كَمَا سَعَتْ هَاجَرُ يَوْمَ نَفَدَ الْمَاءُ مِنْهَا وَهَرَعَتْ تَسْتَعْجِلُ وَعْدَ اللَّهِ . وَلَقَدْ وَعَدَهَا اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ ابْنَهَا الرَّضِيعَ أُمَّةً عَظِيمَةً وَأَنْ يَلِدَ اثْنَيْ عَشَرَ رَئِيسًا فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَتْرُكَهُ يَمُوتُ عَطَشًا بَعْدَ ذَلِكَ الْوَعْدِ الصَّرِيحِ .
Ibrahim mengembuskan napas yang kuat, dan cahaya serta kedamaian terpancar di wajahnya. Ia melihat dirinya sedang bertawaf di Baitul Atiq bersama orang-orang yang bertawaf, dan bersai antara Shafa dan Marwah sebagaimana Hajar bersai pada hari air kehabisan darinya dan ia bergegas menyegerakan janji Allah. Sungguh Allah telah menjanjikan kepadanya untuk menjadikan putranya yang masih bayi sebagai umat yang agung dan akan melahirkan dua belas pemimpin, maka Allah tidak akan membiarkannya mati kehausan setelah janji yang tegas itu.
وَطَافَتْ سَحَابَةُ أَسًى بِوَجْهِ إِبْرَاهِيمَ فَهُوَ يَرَى نَفْسَهُ وَفِي يَدِهِ الْحَبْلُ وَالْمُدْيَةُ وَسَارَ خَلْفَهُ إِسْمَاعِيلُ وَهُمَا فِي طَرِيقِهِمَا إِلَى ثَبِيرٍ . وَرَنَّ فِي أُذُنَيْهِ صَوْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ :
Awan kesedihan menyelimuti wajah Ibrahim, ia melihat dirinya sendiri memegang tali dan pisau, dan Ismail berjalan di belakangnya saat mereka dalam perjalanan menuju Tsabir. Dan terngiang di telinganya suaranya saat berkata:
﴿ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ .. يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ ﴾ .
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.. wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu."
— أَلَمْ يَأْتِ إِسْمَاعِيلُ بَعْدُ ؟
— Belumkah Ismail datang juga?
فَقَالَ مَنْ كَانُوا عِنْدَهُ :
Maka orang-orang yang ada di sisinya berkata:
— إِنَّهُ قَادِمٌ . سَيَكُونُ هُنَا عَمَّا قَلِيلٍ .
— Dia sedang datang. Sebentar lagi dia akan sampai di sini.
وَأَسْبَلَ إِبْرَاهِيمُ جَفْنَيْهِ وَعَادَ إِلَى مَا كَانَ فِيهِ فَسَمِعَ صَوْتَ إِسْمَاعِيلَ يَقُولُ فِي وُضُوحٍ :
Ibrahim memejamkan matanya dan kembali ke keadaan sebelumnya, lalu ia mendengar suara Ismail berkata dengan jelas:
« يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ مِنَ الصَّابِرِينَ » .
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
وَأَحَسَّ إِبْرَاهِيمُ لَهْفَةً لِيَضُمَّ ابْنَهُ الْحَبِيبَ إِلَى صَدْرِهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ ، فَقَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ رَسُولًا لِيَعُودَ بِهِ وَلَكِنَّ الْأَيَّامَ مَرَّتْ وَلَمَّا يَعُدْ بِإِسْمَاعِيلَ بِكْرِهِ وَأَحَبِّ أَبْنَائِهِ إِلَى قَلْبِهِ ، بِكْرِهِ الَّذِي فَدَاهُ اللَّهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَكَرَّمَهُ بِأَنْ جَعَلَهُ رَاعِيًا لِبَيْتِهِ الْحَرَمِ . كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَتُوقُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ بَيْتٌ أَعْظَمُ مِنْ بُيُوتِ الْأَصْنَامِ الْمُنْتَشِرَةِ فِي مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا . وَقَدْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ لِإِسْمَاعِيلَ دُونَ بَنِيهِ كُلِّهِمْ شَرَفُ إِقَامَةِ الْقَوَاعِدِ مِنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، وَأَنْ يَمْضِيَ عُمُرَهُ آمِنًا فِي ظِلِّهِ يَسْقِي الْحَجِيجَ وَيُكْرِمُ وِفَادَتَهُمْ . وَرَأَى إِبْرَاهِيمُ نَفْسَهُ وَهُوَ يَقِفُ عَلَى مَقَامِهِ يُؤَذِّنُ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ ، فَإِذَا بِأَصْوَاتٍ تَدَوِي فِي جَوْفِهِ : ﴿ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ . لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ ﴾ . وَانْفَعَلَ إِبْرَاهِيمُ بِالتَّلْبِيَةِ الْمَدْوِيَّةِ فِي أَعْمَاقِهِ فَهَتَفَ :
Ibrahim merasakan kerinduan untuk mendekap putra tercintanya ke dadanya sebelum ia wafat. Ia telah mengutus seorang utusan untuk memanggilnya kembali, namun hari-hari berlalu dan Ismail, anak sulungnya dan anak yang paling ia cintai, belum juga kembali. Anak sulungnya yang Allah tebus dengan sembelihan yang agung dan dimuliakan dengan menjadikannya penjaga rumah-Nya yang suci. Ibrahim mendambakan agar Allah memiliki rumah yang lebih agung daripada rumah-rumah berhala yang tersebar di timur dan barat bumi. Dan Allah menghendaki bagi Ismail, di antara semua putranya, kemuliaan untuk mendirikan fondasi Baitul Atiq, dan menghabiskan umurnya dalam keadaan aman di bawah naungannya, memberi minum jamaah haji dan memuliakan kedatangan mereka. Ibrahim melihat dirinya berdiri di maqamnya menyerukan manusia untuk berhaji, dan tiba-tiba suara-suara bergema di dalam dirinya: "Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik laa syariika laka Labbaik." Ibrahim terpengaruh oleh talbiyah yang menggelegar di kedalaman jiwanya, lalu ia berseru:
— لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ .
— Labbaik Allahumma Labbaik.
وَحَسِبَ إِسْحَاقُ أَنَّ أَبَاهُ لَبَّى نِدَاءَ رَبِّهِ فَارْتَمَى عَلَيْهِ مَفْزُوعًا وَقَالَ فِي هَلَعٍ :
Ishaq mengira ayahnya telah memenuhi panggilan Tuhannya, lalu ia menerjang ayahnya dengan ketakutan dan berkata dengan panik:
— أَبَتَاهُ ! أَبَتَاهُ !
— Wahai Ayahku! Wahai Ayahku!
وَفَتَحَ إِبْرَاهِيمُ عَيْنَيْهِ وَقَالَ :
Ibrahim membuka matanya dan berkata:
— أَجَاءَ إِسْمَاعِيلُ ؟
— Sudahkah Ismail datang?
وَسُمِعَتْ حَرَكَةٌ عِنْدَ بَابِ الْخَيْمَةِ وَامْتَدَّتِ الْأَبْصَارُ وَحُبِسَتِ الْأَنْفَاسُ وَكَادَتِ الْقُلُوبُ أَنْ تَكُفَّ عَنِ الْوَجِيبِ ، وَدَخَلَ الْقَادِمُ وَهَتَفَتِ الْأَصْوَاتُ :
Terdengar gerakan di pintu tenda, pandangan mata tertuju ke sana, napas tertahan dan hati hampir berhenti berdetak. Orang yang datang masuk, dan suara-suara berteriak:
وَهَرَعَ مَدِينُ إِلَى أَبِيهِ وَفَاضَتْ عَوَاطِفُهُ وَرَكَعَ إِلَى جِوَارِهِ وَنَادَى بِصَوْتٍ خَنَقَتْهُ الْعَبَرَاتُ :
Madin bergegas menuju ayahnya, perasaan emosinya meluap, ia berlutut di sisinya dan memanggil dengan suara yang tercekat oleh tangisan:
— أَبِي .. أَبِي .
— Ayah.. Ayah.
فَرَفَعَ إِبْرَاهِيمُ ذِرَاعَهُ وَرَاحَ يُمَرِّرُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ ابْنِهِ فِي حُبٍّ عَمِيقٍ ، وَمَا لَبِثَ أَنْ عَادَ ذِهْنُهُ إِلَى إِسْمَاعِيلَ ، إِلَى مَنْ فَدَاهُ اللَّهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ، فَرَآهُ يَجْلِسُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ يُعَلِّمُ أَبْنَاءَهُ وَأَبْنَاءَ مَنْ نَزَلُوا مَعَهُ حَوْلَ الْبِئْرِ الْكِتَابَةَ ، وَيَرَى لَهُمُ الْأَقْلَامَ ثُمَّ يَرَى لِنَفْسِهِ السِّهَامَ . إِنَّ إِسْمَاعِيلَ أَبْرَعُ مَنْ رَمَى . وَمَلَأَتْ صَفْحَةَ ذِهْنِهِ صُورَةُ إِسْمَاعِيلَ عَلَى صَهْوَةِ جَوَادِهِ ، لَقَدْ كَانَتِ الْخَيْلُ وُحُوشًا قَبْلَ أَنْ يَسْتَأْنِسَهَا إِسْمَاعِيلُ فَرُوضَهَا وَجَعَلَهَا ذَلُولًا لِقَوْمِهِ فَاشْتَدَّ بِهَا بَأْسُهُمْ وَصَارُوا هُمُ الْأَعْلَوْنَ تَدِينُ لَهُمُ بِالْوَلَاءِ الشُّعُوبُ . وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ النَّاسِ فِي الْخَارِجِ يُرَحِّبُونَ بِمَقْدَمِ شَخْصٍ عَزِيزٍ ، وَهَرَعَ إِسْحَاقُ وَمَدِينُ وَالْيَعَازَرُ وَرِفْقَةُ يَنْظُرُونَ وَإِذَا بِأَصْوَاتٍ تَهْتِفُ فِي رَاحَةٍ :
Ibrahim mengangkat lengannya dan mengusapkan tangannya ke kepala putranya dengan cinta yang dalam. Tak lama kemudian pikirannya kembali kepada Ismail, kepada orang yang Allah tebus dengan sembelihan yang agung. Ia melihatnya duduk di dekat sumur Zamzam, mengajari anak-anaknya dan anak-anak orang yang turun bersamanya di sekitar sumur tentang menulis, ia mengasah pena untuk mereka, lalu ia menyiapkan panah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Ismail adalah pemanah yang paling mahir. Gambaran Ismail di atas pelana kudanya memenuhi benaknya. Kuda-kuda itu dulunya adalah binatang buas sebelum Ismail menjinakkannya, melatihnya, dan menjadikannya tunggangan yang patuh bagi kaumnya, sehingga kekuatan mereka semakin hebat dan mereka menjadi golongan yang tinggi, di mana bangsa-bangsa tunduk kepada mereka dengan loyalitas. Suara orang-orang di luar meninggi, menyambut kedatangan seseorang yang berharga. Ishaq, Madin, Eliezer, dan Rifqah bergegas melihat, dan ternyata terdengar suara-suara berteriak dengan lega:
— إِسْمَاعِيلُ .. إِسْمَاعِيلُ .
— Ismail.. Ismail.
وَتَرَجَّلَ إِسْمَاعِيلُ عَنْ حِصَانِهِ وَخَفَّ إِلَى أَهْلِهِ وَهُوَ وَالِهِ حَزِينٌ وَحَيَاهُمْ فِي اقْتِضَابٍ ، ثُمَّ رَاحَ يَهْرُولُ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُوهُ فَلَمَّا رَآهُ مُسَجًّى وَقَدْ ذَبُلَ وَغَاضَ لَوْنُهُ خَفَقَ قَلْبُهُ حُزْنًا وَقَالَ وَهُوَ يُشْرِقُ بِدُمُوعِهِ :
Ismail turun dari kudanya dan bergegas menuju keluarganya dalam keadaan sedih dan pilu, ia menyapa mereka dengan singkat, kemudian ia berlari menuju tempat ayahnya berada. Ketika ia melihat ayahnya terbaring, telah layu, dan wajahnya pucat, hatinya bergetar karena sedih, dan ia berkata sambil berlinang air mata:
— أَبَتَاهُ ! كَيْفَ أَنْتَ يَا أَبَتَاهُ !
— Wahai Ayahku! Bagaimana keadaanmu wahai Ayahku!
— إِسْمَاعِيلُ ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي قَدَّرَ لِي أَنْ أَرَاكَ قَبْلَ أَنْ أَمُوتَ .
— Ismail? Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan bagiku untuk melihatmu sebelum aku wafat.
— كَيْفَ أَنْتَ يَا أَبَتَاهُ ؟
— Bagaimana keadaanmu wahai Ayahku?
فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ فِي رَاحَةٍ وَقَدْ رَفَتْ عَلَى شَفَتَيْهِ بَسْمَةٌ ذَابِلَةٌ :
Ibrahim berkata dengan tenang, dan senyum yang layu tersungging di bibirnya:
— أَصْبَحْتُ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا يَا بُنَيَّ .
— Aku menjadi sembuh dengan memuji Allah, wahai putraku.
ذَهَبَتْ أَوْصَابُ نَفْسِهِ لَمَّا رَأَى ابْنَهُ الْحَبِيبَ وَمَلَأَ أَنْفَهُ عَبِيرَهُ ، إِنَّهُ يُحِسُّ أَنَّ صَدْرَهُ انْشَرَحَ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ أَنَّهُ كَانَ يَلْتَقِطُ أَنْفَاسَهُ فِي جَهْدٍ جَهِيدٍ . إِنَّهُ لَفْظُ النَّفَسِ الْأَخِيرِ يَمُوتُ قَرِيرَ الْعَيْنِ فِي يَدِ إِسْمَاعِيلَ وَمَنْ حَوْلَهُ إِسْحَاقُ وَيَعْقُوبُ وَمَدِينُ وَالصَّالِحُونَ ، وَسَتَصْعَدُ رُوحُهُ إِلَى الرَّحْمَنِ الَّذِي اتَّخَذَهُ خَلِيلًا .
Rasa sakit jiwanya hilang ketika melihat putra tercintanya dan menghirup aroma wanginya. Ia merasa dadanya menjadi lapang meskipun ia sedang berjuang mengambil napas dengan susah payah. Ini adalah embusan napas terakhir, ia wafat dengan mata yang tenang di tangan Ismail, dan di sekelilingnya ada Ishaq, Yaqub, Madin, dan orang-orang saleh, dan ruhnya akan naik menuju Ar-Rahman yang telah menjadikannya kekasih.
وَرَاحَتْ تَمُرُّ بِذِهْنِهِ أَيَّامُ أُورٍ فَرَأَى جَدَّهُ نَاحُورَ وَأَبَاهُ آزرَ وَأُمَّهُ إِيتَالِي . وَرَأَى نَفْسَهُ فِي مَعْبَدِ نَانَا وَالْقَوْمُ يَعْبُدُونَ مَرْدُوخَ وَيَرْمُزُونَ لَهُ بِكَوْكَبِ الْمُشْتَرَى ، فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ . وَرَأَى النَّاسَ يَعْبُدُونَ الْقَمَرَ ، يَعْبُدُونَ سِين وَنَانَا ، فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي ، فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ . وَرَأَى النَّاسَ يَعْبُدُونَ شَمَاشَ إِلَهَ الشَّمْسِ ، فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ ، فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ . إِنَّهُ اهْتَدَى إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يُبْعَثَ ، آتَاهُ اللَّهُ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكَانَ بِهِ عَالِمًا .
Hari-hari di Ur berlalu dalam benaknya. Ia melihat kakeknya Nahor, ayahnya Azar, dan ibunya Itali. Ia melihat dirinya di kuil Nana, di mana kaumnya menyembah Marduk dan melambangkannya dengan planet Jupiter. Ketika malam tiba, ia melihat sebuah bintang, ia berkata: "Ini Tuhanku," namun ketika bintang itu terbenam, ia berkata: "Aku tidak suka kepada yang terbenam." Ia melihat manusia menyembah bulan, menyembah Sin dan Nana. Ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata: "Ini Tuhanku," namun ketika bulan itu terbenam, ia berkata: "Jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat." Ia melihat manusia menyembah Shamash, dewa matahari. Ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata: "Ini Tuhanku, ini lebih besar," namun ketika matahari itu terbenam, ia berkata: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." Sesungguhnya ia telah mendapat petunjuk kepada Allah sebelum ia diutus, Allah memberinya petunjuk sejak dahulu dan Allah Maha Mengetahui tentangnya.
وَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ فَتًى يُحَطِّمُ تَمَاثِيلَ سِينِ وَشَمَاشَ وَعَشْتَارَ وَالْأَصْنَامَ ثُمَّ يُعَلِّقُ الْفَأْسَ بِأُذُنَيْ مَرْدُوخَ كَبِيرِ الْآلِهَةِ وَرَبِّ الْأَرْبَابِ ! وَرَأَى قَوْمَهُ وَهُمْ يُلْقُونَ بِهِ فِي النَّارِ ، وَمَسَّ أُذُنَيْهِ ذَلِكَ الصَّوْتُ الَّذِي سَمِعَهُ وَهُوَ بَيْنَ بَرَائِنِ اللَّهَبِ : ﴿ يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴾ . وَطَافَتْ بِذِهْنِهِ فِي لَحَظَاتٍ أَيَّامُ دِمَشْقَ وَذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي أُسِرَ فِيهِ الْيَعَازَرُ الدِّمَشْقِيُّ ، وَأَيَّامُ مِصْرَ وَخُرُوجُهُ مِنْهَا وَفِي قَبِيلَتِهِ هَاجَرَ وَلَمْ يُحِسَّ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ الْكُبْرَى النِّعْمَةَ الْكُبْرَى الَّتِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ وَهَبَ مَلِكُ مِصْرَ لِسَارَةَ أَمِيرَةَ مَنْفٍ ، هَاجَرَ الَّتِي ادَّخَرَهَا اللَّهُ لَهُ لِتَلِدَ لَهُ ابْنَهُ الْبِكْرَ الْحَبِيبَ .
Ia melihat dirinya saat masih muda menghancurkan patung-patung Sin, Shamash, Ashtart, dan berhala-berhala, lalu menggantungkan kapak di telinga Marduk, dewa besar dan tuhan dari segala tuhan! Ia melihat kaumnya melemparkannya ke dalam api, dan telinganya menyentuh suara yang ia dengar saat berada di antara kobaran api: "Wahai api, jadilah dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim." Kenangan melintas di benaknya dalam sekejap tentang hari-hari di Damaskus, hari di mana Eliezer orang Damaskus ditawan, hari-hari di Mesir dan keluarnya ia dari sana bersama Hajar di sukunya. Ia tidak merasakan pada saat yang agung itu rahmat yang besar yang Allah anugerahkan kepadanya, pada hari raja Mesir menghibahkan kepada Sarah, putri dari Memphis, Hajar, yang Allah persiapkan baginya untuk melahirkan putra sulungnya yang tercinta.
إِنَّهُ يُحِسُّ وَهُوَ يُفَارِقُ الدُّنْيَا أَنَّ لَيْلَةَ بِنَائِهِ بِهَاجَرَ كَانَتْ بِدَايَةَ النَّصْرِ الْعَظِيمِ ، جَاءَتْ لَهُ بِإِسْمَاعِيلَ وَأَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْكُنَهَا هِيَ وَرَضِيعَهَا بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِهِ الْحَرَمِ لِيَتَوَّجَ جِهَادَهُ بِشَرَفِ إِقَامَةِ الْقَوَاعِدِ مِنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، لِيَأْمُرَهُ بِأَنْ يُؤَذِّنَ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ لِيُحَقِّقَ لَهُ دَعْوَتَهُ الَّتِي دَعَاهَا يَوْمَ أَنْ قَالَ : ﴿ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ﴾ .
Ia merasakan saat ia meninggalkan dunia bahwa malam ia membangun keluarga dengan Hajar adalah awal dari kemenangan yang agung. Ia dikaruniai Ismail, dan Allah memerintahkannya untuk menempatkan Hajar dan bayinya di lembah yang tidak ada tanamannya dekat Bait-Nya yang haram, untuk memahkotai perjuangannya dengan kehormatan mendirikan fondasi Baitul Atiq, untuk memerintahkannya menyerukan manusia untuk berhaji, guna mengabulkan doanya yang ia panjatkan pada hari ia berkata: "Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
وَجَاءَ إِسْمَاعِيلُ وَمِنْ بَعْدِ إِسْمَاعِيلَ جَاءَتْهُ الْبُشْرَى بِإِسْحَاقَ ، وَرَأَى الضَّيْفَ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ . قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ . قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ؟ قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ . قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ .
Ismail lahir, dan setelah Ismail, datanglah kabar gembira kepadanya tentang Ishaq. Ia melihat tamu-tamu masuk menemuinya, mereka mengucapkan salam, ia berkata: "Sesungguhnya kami merasa takut kepada kalian." Mereka berkata: "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang berilmu." Ia berkata: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan apa kamu memberi kabar gembira?" Mereka berkata: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kebenaran, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." Ia berkata: "Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat."
وَتَذَكَّرَ سَارَةَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إِذْ عَرَفَتْ أَنَّ الضَّيْفَ رُسُلُ اللَّهِ فَضَحِكَتْ مِنْ خَوْفِهِ فَبَشَّرُوهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ . ﴿ قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ . قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ﴾ .
Ia teringat Sarah pada hari itu ketika ia tahu bahwa para tamu itu adalah utusan Allah, lalu ia tertawa karena ketakutannya, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya tentang Ishaq, dan setelah Ishaq ada Yaqub. "Dia berkata: 'Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan padahal aku adalah seorang wanita tua, dan ini suamiku adalah seorang kakek? Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang benar-benar ajaib.' Mereka berkata: 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan kepadamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Pemurah'."
وَأَحَسَّ إِبْرَاهِيمُ الْفَنَاءَ يَسْرِي فِي أَطْرَافِهِ وَكَانَ يُوصِي بَنِيهِ بِالتَّقْوَى طَوَالَ حَيَاتِهِ ، وَرَأَى وَهُوَ يُغَادِرُ الدُّنْيَا لِيُقْبِلَ عَلَى الْآخِرَةِ أَنْ يُوصِيَهُمْ وَصِيَّتَهُ الَّتِي فِيهَا خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَطَلَبَ مِنْ بَنِيهِ أَنْ يَدْنُوا مِنْهُ وَيَعْقُوبَ وَقَالَ :
Ibrahim merasakan kefanaan menjalar di sekujur tubuhnya, ia yang selama hidupnya selalu mewasiatkan takwa kepada anak-anaknya. Ia merasa, saat ia akan meninggalkan dunia untuk menghadapi akhirat, ia harus memberi mereka wasiat yang di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Ia meminta anak-anaknya dan Yaqub untuk mendekat kepadanya dan berkata:
— ﴿ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ .
— "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
وَفَاضَتْ رُوحُ مَنِ ابْتَلَاهُ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ، رُوحُ مَنِ اتَّخَذَهُ اللَّهُ خَلِيلًا ، رُوحُ مَنْ قَالَ لِجَبَّارِ الْأَرْضِ فِي إِيمَانٍ عَمِيقٍ : رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ، وَرُوحُ مَنْ كَانَ أُمَّةً حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، رُوحُ إِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى .
Maka wafatlah ruh seseorang yang diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia menyempurnakannya; ruh orang yang Allah jadikan kekasih; ruh orang yang berkata kepada penguasa bumi dengan iman yang mendalam: "Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan"; ruh orang yang merupakan umat yang hanif dan bukan termasuk orang musyrik; ruh Ibrahim yang menepati janji.
وَأَهَّتْ رِفْقَةُ آهَةً فِيهَا ذَوْبُ نَفْسِهَا ، كَانَتْ تُحِسُّ نَارَ الْحُزْنِ تَتَلَظَّى فِي أَحْشَائِهَا ، وَبَكَى إِسْحَاقُ وَيَعْقُوبُ ، وَانْهَمَرَتِ الْعَبَرَاتُ غَزِيرَةً مِنْ عَيْنَيِ إِسْمَاعِيلَ ، وَأَجْهَشَ الرَّجُلُ الْخَشِنُ الْمَتَأَبِّدُ بِالْبُكَاءِ وَغَصَّ بِالدُّمُوعِ ، كَانَ أَبُوهُ الْعَيْنَ الَّتَي يَرَى وَأُذُنَيْهِ اللَّتَيْنِ بِهِمَا يَسْمَعُ وَرُوحَهُ الَّتِي تَخْفِقُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ ، كَانَ حُبَّهُ الْكَبِيرَ .
Rifqah menghela napas yang di dalamnya terdapat kelelahan jiwanya, ia merasakan api kesedihan berkobar di dalam dirinya. Ishaq dan Yaqub menangis, dan air mata bercucuran deras dari mata Ismail. Pria yang tangguh dan terbiasa keras itu menangis tersedu-sedu dan terisak oleh air mata. Ayahnya adalah mata yang ia gunakan untuk melihat, telinga yang ia gunakan untuk mendengar, dan ruh yang berdetak di antara rusuknya. Ayahnya adalah cinta terbesarnya.
وَالْتَقَتْ عَيْنَا إِسْمَاعِيلَ بِعَيْنَيْ إِسْحَاقَ فَفَاضَتْ مَشَاعِرُهُمَا حَتَّى إِنَّ إِسْمَاعِيلَ اعْتَنَقَ أَخَاهُ وَامْتَزَجَتْ دُمُوعُهُ بِدُمُوعِهِ فَضَجَّ مَنْ فِي الْخَيْمَةِ بِالْبُكَاءِ وَالْعَوِيلِ . وَلَمْ يَسْتَطِعِ الْيَعَازَرُ الدِّمَشْقِيُّ أَنْ يَرَى سَيِّدَهُ الْحَلِيمَ الْأَوَّاهَ الْمُنِيبَ جُثَّةً هَامِدَةً فَغَادَرَ الْخَيْمَةَ وَهُوَ وَالِهٌ حَزِينٌ لَا يَرْقَأُ لَهُ دَمْعٌ وَفِي حَلْقِهِ وَقْدَةُ نَارٍ وَبَيْنَ جَنْبَيْهِ سَعِيرٌ .
Mata Ismail bertemu dengan mata Ishaq, perasaan mereka meluap hingga Ismail memeluk saudaranya dan air mata mereka bercampur, membuat orang-orang di dalam tenda berteriak menangis dan meratap. Eliezer orang Damaskus tidak sanggup melihat tuannya yang lembut, penuh kasih, dan gemar bertaubat terbujur kaku tak bernyawa, lalu ia meninggalkan tenda dalam keadaan bingung dan sedih, air matanya tak kunjung henti, di tenggorokannya ada bara api dan di dadanya ada kobaran api.
وَرَأَى النَّاسُ الْيَعَازَرُ فَاشْتَدَّ نَحِيبُهُمْ وَرَاحُوا يَمُوجُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ ذَاهِلِينَ ، كَانُوا حَيَارَى لَا يَدْرُونَ كَيْفَ تُصْبِحُ حَبْرُونَ دُونَ أَنْ تَتَرَدَّدَ فِي أَرْجَائِهَا أَنْفَاسُ الْخَلِيلِ .
Orang-orang melihat Eliezer dan ratapan mereka semakin menjadi-jadi, mereka saling berdesakan dalam keadaan linglung. Mereka bingung, tidak tahu bagaimana jadinya Hebron tanpa napas Al-Khalil menggema di segenap penjurunya.
وَحَمَلَ إِسْمَاعِيلُ وَإِسْحَاقُ وَمَدِينُ وَيَعْقُوبُ الْجُثَّةَ الطَّاهِرَةَ وَانْطَلَقُوا بِهَا إِلَى مَغَارَةِ الْمَكْفِيلَةِ لِيَقْبِرُوا جُثَّةَ رَجُلِ الْإِيمَانِ إِلَى جِوَارِ جُثَّةِ سَارَةَ ، فَقَدْ رَجَعَتِ النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ إِلَى رَبِّهَا رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . وَعَبَقَ الْجَوُّ بِأَرِيجِ عِطْرٍ وَأَفْعَمَ الْكَوْنَ بِالتَّسْبِيحِ وَغَشَى الْكَوْنَ خُشُوعٌ ، ﴿ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَ لِلَّهِ مَلِكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ ﴾ . وَدَلَّوْهُ فِي حُفْرَتِهِ ثُمَّ أَهَالُوا عَلَيْهِ التُّرَابَ وَنَزَلَ بِقُلُوبِهِمْ حُزْنٌ ثَقِيلٌ ، وَعَادُوا مُطَأْطِئِي الرُّءُوسِ تَنِزُّ أَفْئِدَتُهُمْ أَسًى وَلَوْعَةً . لَقَدْ صَبَغَ إِبْرَاهِيمُ حَبْرُونَ صِبْغَةً تَنِمُّ عَنْهُ ، إِنَّهُ فِي كُلِّ أَرْجَائِهَا سَوَاءٌ أَحَيًّا كَانَ أَمْ مَيِّتًا ، إِنَّ كُلَّ مَا فِي حَبْرُونَ يَذْكُرُ النَّاسَ بِهِ ، إِنَّهَا مَدِينَتُهُ وَسَتَظَلُّ إِلَى الْأَبَدِ مَدِينَتَهُ ، إِنَّهَا الْخَلِيلُ .
Ismail, Ishaq, Madin, dan Yaqub membawa jenazah suci itu dan membawanya ke gua Makpela untuk memakamkan jenazah sang lelaki beriman di sisi jenazah Sarah. Sungguh, jiwa yang tenang telah kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha lagi diridhai. Suasana harum oleh aroma wangi dan alam dipenuhi dengan tasbih, dan kekhusyukan menyelimuti alam semesta, "Siapa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, raja langit dan bumi, dan kepada-Nyalah tempat kembali." Mereka menurunkannya ke liang lahatnya kemudian menimbunnya dengan tanah, dan kesedihan yang berat menimpa hati mereka. Mereka kembali dengan menundukkan kepala, hati mereka meneteskan kesedihan dan kepiluan. Ibrahim telah memberi warna pada Hebron yang mencerminkan dirinya. Ia ada di setiap penjurunya, baik saat ia masih hidup maupun setelah ia wafat. Segala sesuatu di Hebron mengingatkan manusia kepadanya, itulah kotanya dan akan selamanya menjadi kotanya, itulah Al-Khalil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar