KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Tabib dari Persia dan Sang Utusan Langit: Duel Pandangan Dunia di Tanah Makkah
Kisah tentang bagaimana Al-Harith bin Kaladah memukau penguasa Kisra dengan pengetahuan medisnya, sementara anak sepupunya, Muhammad ﷺ, memilih jalan sunyi untuk membangun rumah tangga yang kelak akan mengubah wajah sejarah dunia.
كَانَ الْحَارِثُ بْنُ كَلَدَةَ الثَّقَفِيُّ قَدْ تَزَوَّجَ أُخْتَ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ فَرَبَطَ بَيْنَ بَنِي ثَقِيفٍ وَبَنِي زُهْرَةَ ، وَقَدْ كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ ثَمَرَةَ زَوَاجِ عَبْدِ اللهِ بِآمِنَةَ ، وَكَانَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ ثَمَرَةَ زَوَاجِ الْحَارِثِ بِأُخْتِ آمِنَةَ ، فَكَانَ مُحَمَّدٌ وَالنَّضْرُ ابْنَيْ خَالَةٍ كَمَا كَانَ الْمَسِيحُ بْنُ مَرْيَمَ وَيَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا ، وَلَكِنْ شَتَّانَ مَا كَانَ بَيْنَ مُحَمَّدٍ وَالنَّضْرِ وَمَا كَانَ بَيْنَ الْمَسِيحِ وَيَحْيَى ، فَقَدْ كَانَ مُحَمَّدٌ رَبِيبَ السَّمَاءِ ، وَكَانَ النَّضْرُ رَبِيبَ الْأَرْضِ قَدْ كَرَّسَ حَيَاتَهُ لِلطِّبِّ وَالْفَلْسَفَةِ ، بَيْنَا كَانَ الْمَسِيحُ وَابْنُ الْخَالَةِ يَحْيَى يَسِيرَانِ فِي طَرِيقٍ وَاحِدٍ ، طَرِيقِ النُّورِ يُبَشِّرَانِ بِاقْتِرَابِ مَلَكُوتِ السَّمَاءِ .
Al-Harith bin Kaladah ath-Thaqafi telah menikahi saudara perempuan Aminah binti Wahb, sehingga menjalin ikatan antara Bani Thaqif dan Bani Zuhrah. Muhammad bin Abdullah adalah buah dari pernikahan Abdullah dengan Aminah, sedangkan an-Nadr bin al-Harith adalah buah dari pernikahan al-Harith dengan saudara perempuan Aminah. Maka Muhammad dan an-Nadr adalah dua orang anak sepupu (dari jalur ibu), sebagaimana halnya Al-Masih bin Maryam dan Yahya bin Zakariya. Namun alangkah jauh berbeda antara apa yang ada pada Muhammad dan an-Nadr dengan apa yang ada pada Al-Masih dan Yahya. Muhammad adalah didikan langit, sementara an-Nadr adalah didikan bumi yang telah mencurahkan hidupnya untuk ilmu kedokteran dan filsafat, sedangkan Al-Masih dan saudara sepupunya, Yahya, keduanya berjalan di satu jalan yang sama, yaitu jalan cahaya, seraya menyebarkan kabar gembira tentang dekatnya Kerajaan Langit.
سَافَرَ الْحَارِثُ إِلَى فَارِسَ وَإِلَى الْيَمَنِ وَسَاحَ فِي الْبِلَادِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي طَوَى الْقَبْرُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَتَعَلَّمَ الطِّبَّ وَعَرَفَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَالضَّرْبَ بِالْعُودِ ، وَقَدْ وَفَدَ عَلَى كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ أَنُوشِرْوَانُ فِي الْغَابِرِينَ ، وَمَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ كِسْرَى قَدْ تَنَاقَلَهُ الرُّوَاةُ كَمَا يَتَنَاقَلُونَ الشِّعْرَ ، فَذَاعَ فِي الْقَبَائِلِ وَصَارَ دُسْتُورَ الْعَرَبِ فِي الطِّبِّ ، وَكَانَ السُّمَّارُ فِي ثَقِيفٍ يَقُولُونَ وَيُعِيدُونَ عَلَى مَرِّ اللَّيَالِي مَا كَانَ بَيْنَ طَبِيبِهِمْ وَعَاهِلِ الْفُرْسِ .
Al-Harith melakukan perjalanan ke Persia dan Yaman serta menjelajahi berbagai negeri pada waktu ketika kubur telah mendekap Abdullah bin Abdul Mutthalib. Ia mempelajari ilmu kedokteran, mengenali penyakit beserta obatnya, serta mahir memainkan alat musik kecapi (al-'ud). Ia pun pernah menghadap Kisra Anusyirwan sebelum Anusyirwan pergi mendahului bersama orang-orang masa lalu. Kisah apa yang terjadi antara dirinya dan Kisra telah diriwayatkan oleh para perawi sebagaimana mereka menularkan bait-bait syair, hingga tersebar luas di antara kabilah-kabilah dan menjadi rujukan utama (konstitusi) bangsa Arab dalam bidang kedokteran. Orang-orang yang berkumpul begadang di kalangan Bani Thaqif selalu menceritakan dan mengulang-ulang dari malam ke malam kisah interaksi yang terjadi antara tabib mereka dengan penguasa Persia tersebut.
وَفَدَ الْحَارِثُ عَلَى كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ فَأَذِنَ لَهُ بِالدُّخُولِ عَلَيْهِ ، فَلَمَّا وَقَفَ بَيْنَ يَدَيْهِ مُنْتَصِبًا قَالَ لَهُ :
Al-Harith datang menghadap Kisra Anusyirwan, lalu Kisra mengizinkannya untuk masuk menemuinya. Ketika ia berdiri tegak di hadapannya, Kisra berkata kepadanya:
— مَنْ أَنْتَ ؟
— "Siapa kamu?"
قَالَ :
Ia (Al-Harith) menjawab:
— أَنَا الْحَارِثُ بْنُ كَلَدَةَ الثَّقَفِيُّ .
— "Aku al-Harith bin Kaladah ath-Thaqafi."
— فَمَا صِنَاعَتُكَ ؟
— "Apa keahlian/pekerjaanmu?"
— الطِّبُّ .
— "Kedokteran."
— أَعْرَابِيٌّ أَنْتَ ؟
— "Apakah kamu seorang Arab Badui?"
— نَعَمْ مِنْ صَمِيمِهَا وَبُحْبُوحَةِ دَارِهَا .
— "Ya, dari kalangan murni dan dari jantung wilayah negerinya."
— فَمَا تَصْنَعُ الْعَرَبُ بِطَبِيبٍ مَعَ جَهْلِهَا وَضَعْفِ عُقُولِهَا وَسُوءِ أَغْذِيَتِهَا ؟
— "Lalu apa yang bisa diperbuat bangsa Arab dengan seorang tabib, sementara mereka berada dalam kebodohan, kelemahan akal, dan buruknya asupan makanan mereka?"
— أَيُّهَا الْمَلِكُ ، إِذَا كَانَتْ هَذِهِ صِفَتُهَا كَانَتْ أَحْوَجَ إِلَى مَنْ يُصْلِحُ جَهْلَهَا وَيُقِيمُ عِوَجَهَا وَيَسُوسُ أَبْدَانَهَا وَيُعَدِّلُ أَمْشَاجَهَا ، فَإِنَّ الْعَاقِلَ يَعْرِفُ ذَلِكَ مِنْ نَفْسِهِ .
— "Wahai Baginda Raja, jika demikian keadaannya, maka mereka justru jauh lebih membutuhkan orang yang dapat memperbaiki kebodohan mereka, meluruskan kebengkokan mereka, mengatur tubuh mereka, serta menyeimbangkan unsur-unsur campuran cairan tubuh mereka, karena sesungguhnya orang yang berakal mengetahui hal tersebut dari dirinya sendiri."
— فَكَيْفَ تَعْرِفُ مَا تُورِدُهُ عَلَيْهَا ، وَلَوْ عَرَفْتَ الْحِلْمَ لَمْ تَنْتَسِبْ إِلَى الْجَهْلِ ؟
— "Lalu bagaimana kamu bisa mengetahui apa yang kamu suguhkan kepada mereka? Kalau sekiranya kamu mengerti tentang kebijaksanaan, tentu kamu tidak akan menisbatkan diri kepada kebodohan (bangsa Arab)."
— الطِّفْلُ يُنَاغَى فَيُدَاوَى ، وَالْحَيَّةُ تُرْقَى فَتُحَاوَى . أَيُّهَا الْمَلِكُ ، الْعَقْلُ مِنْ قِسَمِ اللهِ تَعَالَى قَسَمَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ كَقِسْمَةِ الرِّزْقِ فِيهِمْ ، فَكُلٌّ مِنْ قِسْمَتِهِ أَصَابَ وَخُصَّ بِهَا قَوْمٌ وَزَادَ ، فَمِنْهُمْ مُثْرٍ وَمُعْدِمٌ وَجَاهِلٌ وَعَالِمٌ وَعَاجِزٌ وَحَازِمٌ وَذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ .
— "Anak kecil didekati dengan suara lembut (ditimang) lalu diobati, dan ular dijampi-jampi lalu ditaklukkan. Wahai Baginda Raja, akal adalah bagian dari pemberian Allah Ta'ala yang dibagikan di antara hamba-hamba-Nya sebagaimana pembagian rezeki di antara mereka. Maka setiap orang mendapatkan bagiannya, dan suatu kaum dikhususkan dengan kelebihan bagian tersebut. Di antara mereka ada yang kaya raya, ada yang papa, ada yang bodoh, ada yang alim, ada yang lemah, dan ada yang teguh, dan yang demikian itu merupakan ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
فَأُعْجِبَ كِسْرَى مِنْ كَلَامِهِ ثُمَّ قَالَ :
Maka Kisra merasa kagum dengan perkataannya, kemudian ia bertanya lagi:
— فَمَا الَّذِي تَحْمَدُهُ مِنْ أَخْلَاقِهَا وَيُعْجِبُكَ مِنْ مَذَاهِبِهَا وَسَجَايَاهَا ؟
— "Lalu apa yang kamu puji dari akhlak mereka, dan apa yang membuatmu kagum dari prinsip hidup serta tabiat mereka?"
— أَيُّهَا الْمَلِكُ ، لَهَا أَنْفُسٌ سَخِيَّةٌ ، وَقُلُوبٌ جَرِيئَةٌ ، وَلُغَةٌ فَصِيحَةٌ ، وَأَلْسُنٌ بَلِيغَةٌ ، وَأَنْسَابٌ صَحِيحَةٌ ، وَأَحْسَابٌ شَرِيفَةٌ ، يَمْرُقُ الْكَلَامُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ مُرُوقَ السِّهَامِ مِنْ نَبْعَةٍ ، رِمَايَتُهُمْ أَعْذَبُ مِنْ هَوَاءِ الرَّبِيعِ ، وَأَلْيَنُ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْمَعِينِ ، مُطْعِمُو الطَّعَامِ فِي الْجَدْبِ ، وَضَارِبُو الْهَامِ فِي الْحَرْبِ ، لَا يُرَامُ عِزُّهُمْ ، وَلَا يُضَامُ جَارُهُمْ ، وَلَا يُسْتَبَاحُ حَرِيمُهُمْ ، وَلَا يُذَلُّ كَرِيمُهُمْ ، وَلَا يُقَرُّونَ بِفَضْلٍ لِلْأَنَامِ ، إِلَّا لِلْمَلِكِ الْهُمَامِ ، الَّذِي لَا يُقَاسُ بِهِ أَحَدٌ ، وَلَا يُوَازِيهِ سُوقَةٌ وَلَا مَلِكٌ !
— "Wahai Baginda Raja, mereka memiliki jiwa yang dermawan, hati yang berani, bahasa yang fasih, lisan yang puitis-baligh, silsilah keturunan yang murni, serta kehormatan keluarga yang mulia. Ucapan meluncur dari mulut mereka secepat anak panah melesat dari busur pohon nab'ah. Tutur kata mereka lebih segar daripada angin musim semi dan lebih lembut daripada air jernih yang mengalir. Mereka adalah pemberi makan di musim paceklik, penebas kepala musuh di medan perang. Kejayaan mereka tidak dapat diganggu gugat, tetangga mereka tidak boleh dizalimi, kehormatan wanita mereka tidak boleh dilanggar, orang mulia di antara mereka tidak boleh dihinakan, dan mereka tidak pernah tunduk mengakui keutamaan makhluk mana pun, kecuali kepada Baginda Raja yang agung, yang tidak sebanding dengan siapa pun, serta tidak dapat disamai oleh rakyat jelata maupun raja lainnya!"
فَاسْتَوَى كِسْرَى جَالِسًا ، وَجَرَى مَاءُ رِيَاضَةِ الْحِلْمِ فِي وَجْهِهِ لِمَا سَمِعَ مِنْ مُحْكَمِ كَلَامِهِ ، وَقَالَ لِجُلَسَائِهِ : إِنِّي وَجَدْتُهُ رَاجِحًا ، وَلِقَوْمِهِ مَادِحًا ، وَبِفَضِيلَتِهِمْ نَاطِقًا ، وَبِمَا يُورِدُهُ مِنْ لَفْظِهِ صَادِقًا ، وَكَذَا الْعَاقِلُ مَنْ أَحْكَمَتْهُ التَّجَارِبُ ! ثُمَّ أَمَرَهُ بِالْجُلُوسِ فَجَلَسَ ، فَقَالَ :
Maka Kisra pun langsung membetulkan posisi duduknya menjadi tegak, dan pancaran kepuasan atas kesantunan budi tampak jelas di wajahnya karena mendengar perkataan yang tertata rapi tersebut. Ia lalu berkata kepada para pengiringnya: "Sesungguhnya aku mendapati orang ini sangat cerdas otaknya, pandai memuji kaumnya, lantang menyuarakan keutamaan mereka, serta jujur dalam setiap untaian kata yang disampaikannya. Demikianlah sejatinya orang berakal, yaitu orang yang telah dimatangkan oleh pengalaman!" Kemudian Kisra memerintahkannya untuk duduk, maka ia pun duduk, lalu Kisra bertanya:
— كَيْفَ بَصَرُكَ بِالطِّبِّ ؟
— "Bagaimana sejauh mana pandangan (keahlian) mu dalam kedokteran?"
— نَاهِيكَ !
— "Cukup bagimu (keahlianku ini sudah tidak perlu diragukan lagi)!"
— فَمَا أَصْلُ الطِّبِّ ؟
— "Lalu apa pokok (dasar utama) dari kedokteran?"
— الْأَزْمُ ( الْحِمْيَةُ ) .
— "Al-Azmu (menahan diri dari makan berlebihan / diet menjaga pola makan)."
— فَمَا الْأَزْمُ ؟
— "Apakah yang dimaksud dengan al-azmu itu?"
— ضَبْطُ الشَّفَتَيْنِ وَالرِّفْقُ بِالْيَدَيْنِ .
— "Menjaga kedua belah bibir (mengontrol makanan yang masuk) dan bersikap bijak dengan kedua tangan (tidak asal mengambil makanan)."
— أَصَبْتَ ، فَمَا الدَّاءُ الدَّوِيُّ ؟
— "Kamu benar, lalu apakah penyakit yang paling parah (mematikan) itu?"
— إِدْخَالُ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ هُوَ الَّذِي يُفْنِي الْبَرِيَّةَ ، وَيُهْلِكُ السِّبَاعَ فِي جَوْفِ الْبَرِّيَّةِ .
— "Memasukkan makanan baru ke atas makanan lama yang belum dicerna (makan terus-menerus), itulah yang membinasakan manusia dan menghancurkan binatang buas di tengah belantara."
— فَمَا الْجَمْرَةُ الَّتِي تَصْطَلِمُ مِنْهَا الْأَدْوَاءُ ؟
— "Maka apakah bara api sumber gejolak timbulnya berbagai macam penyakit?"
— هِيَ التُّخَمَةُ ، وَإِنْ بَقِيَتْ فِي الْجَوْفِ قَتَلَتْ وَإِنْ تَحَلَّلَتْ أَسْقَمَتْ .
— "Ia adalah at-tukhamah (kekenyangan yang berlebih/gangguan pencernaan akibat makan berlebih). Jika ia tetap mengendap di dalam perut bisa mematikan, dan jika terurai pun membuat tubuh menjadi sakit-sakitan."
— صَدَقْتَ ، فَمَا تَقُولُ فِي الْحِجَامَةِ ؟
— "Kamu benar, lalu apa pendapatmu tentang bekam (al-hijamah)?"
— فِي نُقْصَانِ الْهِلَالِ ، فِي يَوْمِ صَحْوٍ لَا غَيْمَ فِيهِ ، وَالنَّفْسُ طَيِّبَةٌ وَالْعُرُوقُ سَاكِنَةٌ ، لِسُرُورٍ يُفَاجِئُكَ وَهَمٍّ يُبَاعِدُكَ .
— "Dilakukan pada saat bulan berangsur menyusut (setelah purnama), di hari yang cerah tanpa awan, sewaktu kondisi jiwa sedang tenang dan urat-urat darah tidak bergejolak, demi mendatangkan kesegaran yang mengejutkan tubuh dan menjauhkan rasa penat."
— فَمَا تَقُولُ فِي دُخُولِ الْحَمَّامِ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai masuk ke tempat pemandian air panas (al-hammam)?"
— لَا تَدْخُلْهُ شَبْعَانَ ، وَلَا تَغْشَ أَهْلَكَ سَكْرَانَ ، وَلَا تَقُمْ بِاللَّيْلِ عُرْيَانَ ، وَلَا تَقْعُدْ عَلَى الطَّعَامِ غَضْبَانَ ، وَارْفَقْ بِنَفْسِكَ يَكُنْ أَرْخَى لِبَالِكَ ، وَقَلِّلْ مِنْ طَعَامِكَ يَكُنْ أَهْنَأَ لِنَوْمِكَ .
— "Jangan memasukinya dalam kondisi kenyang, jangan menggauli istrimu dalam keadaan mabuk, jangan berdiri di waktu malam dalam kondisi telanjang bulat, jangan duduk menghadap makanan dalam keadaan marah, bersikap lembutlah pada dirimu niscaya pikiranmu akan lebih rileks, dan kurangkanlah porsi makananmu niscaya tidurmu akan terasa lebih nyenyak."
— فَمَا تَقُولُ فِي الدَّوَاءِ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai obat?"
— مَا لَزِمَتْكَ الصِّحَّةُ فَاجْتَنِبْهُ ، فَإِنَّ هَاجَ دَاءٌ فَاحْسِمْهُ بِمَا يَرْدَعُهُ قَبْلَ اسْتِحْكَامِهِ ، فَإِنَّ الْبَدَنَ بِمَنْزِلَةِ الْأَرْضِ إِنْ أَصْلَحْتَهَا عَمَرَتْ ، وَأَنْ تَرَكْتَهَا خَرِبَتْ .
— "Selama tubuhmu masih sehat, maka jauhilah ia (obat). Namun apabila penyakit mulai bergejolak, maka tumpaslah dengan sesuatu yang dapat menangkalnya sebelum penyakit itu kokoh mencengkeram. Karena sesungguhnya tubuh itu laksana sebidang tanah; jika kamu mengelolanya dengan baik ia akan makmur berkembang, dan jika kamu telantarkan ia akan hancur gersang."
— فَمَا تَقُولُ فِي الشَّرَابِ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai minuman?"
— أَطْيَبُهُ أَهْنَأُهُ ، وَأَرَقُّهُ أَمْرَأُهُ ، وَأَعْذَبُهُ أَشْهَاهُ ، لَا تَشْرَبْهُ صَرْفًا فَيُورِثَ صُدَاعًا ، وَيُثِيرَ عَلَيْكَ مِنَ الْأَدْوَاءِ أَنْوَاعًا .
— "Minuman yang paling baik adalah yang paling menyegarkan, yang paling bening/ringan adalah yang paling mudah dicerna, dan yang paling tawar/bersih adalah yang paling menggugah selera. Jangan meminumnya sekaligus secara berlebihan (atau murni tanpa campuran jika berupa minuman keras) karena ia dapat mewariskan sakit kepala serta memicu timbulnya berbagai macam jenis penyakit pada dirimu."
— فَأَيُّ اللُّحْمَانِ أَفْضَلُ ؟
— "Maka daging apakah yang paling utama?"
— الضَّأْنُ الْفَتِيُّ ، وَالْقَدِيدُ الْمَالِحُ مُهْلِكٌ لِلْآكِلِ ، وَاجْتَنِبْ لَحْمَ الْجَزُورِ وَالْبَقَرِ .
— "Daging domba yang muda. Sedangkan daging dendeng yang asin sangat merusak bagi yang memakannya, dan jauhilah olehmu daging unta tua serta daging sapi."
— فَمَا تَقُولُ فِي الْفَوَاكِهِ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai buah-buahan?"
— كُلْهَا فِي إِقْبَالِهَا وَحِينَ أَوَانِهَا ، وَاتْرُكْهَا إِذَا أَدْبَرَتْ وَانْقَضَى زَمَانُهَا ، وَأَفْضَلُ الْفَوَاكِهِ الرُّمَّانُ وَالْأُتْرُجُّ ، وَأَفْضَلُ الرَّيَاحِينِ الْوَرْدُ وَالْبَنَفْسَجُ ، وَأَفْضَلُ الْبُقُولِ الْهِنْدِبَاءُ وَالْخَسُّ .
— "Makanlah buah-buahan saat awal musimnya dan ketika telah tiba masa matangnya, dan tinggalkanlah ia jika musimnya telah berlalu serta habis masanya. Buah yang paling utama adalah delima dan jeruk sitrun (utrujj), wewangian yang paling utama adalah mawar dan violet (banafsaj), serta sayur-sayuran yang paling utama adalah jombang (hindiba') dan selada (khass)."
— فَمَا تَقُولُ فِي شُرْبِ الْمَاءِ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai meminum air?"
— هُوَ حَيَاةُ الْبَدَنِ وَبِهِ قِوَامُهُ ، يَنْفَعُ مَا شُرِبَ مِنْهُ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ ، وَشُرْبُهُ بَعْدَ النَّوْمِ ضَرَرٌ ، وَأَفْضَلُهُ أَمْرَأُهُ ، وَأَرَقُّهُ أَصْفَاهُ .
— "Air adalah kehidupan bagi tubuh dan dengannya tubuh menjadi tegak kokoh. Air mendatangkan manfaat jika diminum sesuai kadar kebutuhan, namun meminumnya langsung sesaat setelah bangun tidur adalah mudarat. Air yang paling baik adalah yang paling mudah dicerna, dan yang paling ringan adalah yang paling jernih murni."
— فَمَا طَعْمُهُ ؟
— "Lalu apakah rasa asli dari air itu?"
— لَا يُوهَمُ لَهُ طَعْمٌ إِلَّا أَنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ الْحَيَاةِ .
— "Tidak dapat digambarkan adanya suatu rasa baginya, melainkan bahwasanya rasanya itu diambil (diabstraksikan) dari esensi kehidupan."
— فَمَا لَوْنُهُ ؟
— "Lalu apakah warna asli air?"
— اشْتَبَهَ عَنِ الْأَبْصَارِ لَوْنُهُ ، لِأَنَّهُ يُحَاكِي لَوْنَ كُلِّ شَيْءٍ يَكُونُ فِيهِ .
— "Warnanya samar tersembunyi dari pandangan mata, hal itu karena air senantiasa meniru warna dari segala sesuatu tempat ia berada."
— أَخْبِرْنِي عَنْ أَصْلِ الْإِنْسَانِ مَا هُوَ ؟
— "Kabarkan kepadaku mengenai asal mula fisik manusia, dari apakah ia?"
— أَصْلُهُ مِنْ حَيْثُ شُرْبِ الْمَاءِ .
— "Asal mulanya terbentuk dari saripati air yang diminum."
— فَمَا هَذَا النُّورُ الَّذِي فِي الْعَيْنَيْنِ ؟
— "Lalu apakah cahaya yang terdapat di dalam kedua belah mata ini?"
— مُرَكَّبٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ : فَالْبَيَاضُ شَحْمٌ ، وَالسَّوَادُ مَاءٌ ، وَالنَّاظِرُ رِيحٌ .
— "Ia tersusun dari tiga unsur: bagian yang putih adalah gumpalan lemak, bagian yang hitam adalah cairan, dan bagian manik mata yang melihat digerakkan oleh unsur angin (energi syaraf)."
— فَعَلَى أَيِّ جُبِلَ وَطُبِعَ هَذَا الْبَدَنُ ؟
— "Maka atas dasar karakter bawaan apa tubuh manusia ini dibentuk dan dicetak?"
— عَلَى أَرْبَعِ طَبَائِعَ : الْمِرَّةُ السَّوْدَاءُ وَهِيَ بَارِدَةٌ يَابِسَةٌ ، وَالْمِرَّةُ الصَّفْرَاءُ وَهِيَ حَارَّةٌ يَابِسَةٌ ، وَالدَّمُ وَهُوَ حَارٌّ رَطْبٌ ، وَالْبَلْغَمُ وَهُوَ بَارِدٌ رَطْبٌ .
— "Berdasarkan atas empat cairan tubuh (humorisme): cairan empedu hitam (black bile) yang berkarakter dingin lagi kering, cairan empedu kuning (yellow bile) yang berkarakter panas lagi kering, darah (blood) yang berkarakter panas lagi lembap/basah, serta lendir (phlegm) yang berkarakter dingin lagi lembap/basah."
— فَلِمَ لَمْ يَكُنْ مِنْ طَبْعٍ وَاحِدٍ ؟
— "Mengapa tubuh tidak diciptakan dari satu unsur cairan saja?"
— لَوْ خُلِقَ مِنْ طَبْعٍ وَاحِدٍ لَمْ يَأْكُلْ وَلَمْ يَشْرَبْ وَلَمْ يَمْرَضْ وَلَمْ يَهْلِكْ !
— "Seandainya tubuh diciptakan dari satu cairan saja, tentu ia tidak butuh makan, tidak butuh minum, tidak akan pernah sakit, serta tidak akan bisa binasa (mati)!"
— فَمِنْ طَبِيعَتَيْنِ لَوْ كَانَ اقْتَصَرَ عَلَيْهِمَا ؟
— "Lalu bagaimana jika seandainya tubuh dicukupkan dari dua unsur saja?"
— لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُمَا ضِدَّانِ يَقْتَتِلَانِ !
— "Itu pun tidak boleh, karena keduanya pasti merupakan dua hal berlawanan yang akan saling menghancurkan (berperang)!"
— فَنَحْنُ ثَلَاثٌ ؟
— "Lalu bagaimana kalau tiga unsur?"
— لَمْ يَصْلُحْ مُوَافِقَانِ وَمُخَالِفٌ ! فَالْأَرْبَعُ هُوَ الِاعْتِدَالُ وَالْقِيَامُ .
— "Tidak akan selaras jika ada dua unsur yang sejalan sedangkan yang satu berbeda sendiri! Maka jumlah empat unsur itulah bentuk keseimbangan ideal dan tegaknya fungsi tubuh."
— فَأَجْمِلْ لِي الْحَارَّ وَالْبَارِدَ فِي أَحْرُفٍ جَامِعَةٍ .
— "Maka rangkumkanlah untukku perihal unsur panas dan dingin ini dalam kalimat-kalimat yang padat menyeluruh."
— كُلُّ حُلْوٍ حَارٌّ ، وَكُلُّ حَامِضٍ بَارِدٌ ، وَكُلُّ حَرِيفٍ حَارٌّ ، وَكُلُّ مُرٍّ مُعْتَدِلٌ ، وَفِي الْمُرِّ حَارٌّ وَبَارِدٌ .
— "Setiap yang manis bersifat panas, setiap yang asam bersifat dingin, setiap yang pedas/menyengat bersifat panas, setiap yang pahit bersifat moderat, dan di dalam rasa pahit terkandung unsur panas sekaligus dingin."
— فَأَفْضَلُ مَا عُولِجَ بِهِ الْمِرَّةُ الصَّفْرَاءُ ؟
— "Maka obat apakah yang paling utama untuk menanggulangi cairan empedu kuning (al-mirrah as-shafra')?"
— كُلُّ بَارِدٍ لَيِّنٍ .
— "Segala sesuatu yang berkarakter dingin lagi lembut."
— فَالْمِرَّةُ السَّوْدَاءُ ؟
— "Kalau untuk cairan empedu hitam (al-mirrah as-sauda')?"
— كُلُّ حَارٍّ لَيِّنٍ .
— "Segala sesuatu yang berkarakter panas lagi lembut."
— فَالْبَلْغَمُ ؟
— "Kalau untuk penyakit lendir (al-balgham)?"
— كُلُّ حَارٍّ يَابِسٍ .
— "Segala sesuatu yang berkarakter panas lagi kering."
— فَالدَّمُ ؟
— "Kalau untuk masalah darah (ad-dam)?"
— إِخْرَاجُهُ إِذَا زَادَ ، وَتَطْفِئَتُهُ إِذَا سَخَنَ بِالْأَشْيَاءِ الْبَارِدَةِ الْيَابِسَةِ .
— "Mengeluarkan darah tersebut (mengurangi volumenya lewat bekam/fashdu) jika jumlahnya berlebih, dan meredam gejolaknya jika ia memanas dengan menggunakan hal-hal yang bersifat dingin lagi kering."
— فَالرِّيَاحُ ؟
— "Kalau untuk penyakit angin (masuk angin/gas perut)?"
— بِالْحُقَنِ اللَّيِّنَةِ ، وَالْأَدْهَانِ الْحَارَّةِ اللَّيِّنَةِ .
— "Ditangani dengan enema (al-huqan) yang lembut, serta minyak-minyak gosok berkarakter panas lagi lembut."
— أَفَتَأْمُرُ بِالْحُقْنَةِ ؟
— "Apakah kamu merekomendasikan penggunaan enema (al-huqnah)?"
— نَعَمْ ، قَرَأْتُ فِي بَعْضِ كُتُبِ الْحُكَمَاءِ أَنَّ الْحُقْنَةَ تُنَقِّي الْجَوْفَ وَتَكْسَحُ الْأَدْوَاءَ عَنْهُ ، وَالْعَجَبُ لِمَنِ احْتَقَنَ كَيْفَ يَهْرَمُ أَوْ يَعْدَمُ الْوَلَدَ ؟ وَأَنَّ الْجَهْلَ كُلَّ الْجَهْلِ مَنْ أَكَلَ مَا قَدْ عَرَفَ مَضَرَّتَهُ ، وَيُؤْثِرُ شَهْوَتَهُ عَلَى رَاحَةِ بَدَنِهِ .
— "Ya, aku membaca di sebagian kitab para ahli hikmah (dokter kuno) bahwasanya enema itu membersihkan rongga perut dan menyapu bersih berbagai penyakit darinya. Maka sungguh mengherankan bagi orang yang rutin melakukan enema bagaimana mungkin ia cepat menua atau sampai tidak punya anak? Dan ketahuilah bahwa puncak dari segala kebodohan adalah orang yang sengaja memakan apa yang telah ia ketahui bahayanya, serta lebih memprioritaskan pemuasan nafsu syahwat makannya di atas kenyamanan dan kesehatan tubuhnya sendiri."
— فَمَا الْحِمْيَةُ ؟
— "Lalu apakah hakikat menjaga pola makan (al-himyah/diet) itu?"
— الِاقْتِصَادُ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِنَّ الْأَكْلَ فَوْقَ الْمِقْدَارِ يَضِيقُ عَلَى الرُّوحِ سَاحَتَهَا وَيَسُدُّ مَسَامَّهَا .
— "Sikap proporsional (tidak berlebihan) dalam segala hal, karena sesungguhnya makan yang melampaui batas ukuran akan mempersempit ruang gerak bagi ruh/energi kehidupan serta menyumbat pori-pori jalurnya."
— فَمَا تَقُولُ فِي النِّسَاءِ وَإِتْيَانِهِنَّ ؟
— "Lalu apa pendapatmu mengenai wanita dan menggauli mereka?"
— كَثْرَةُ غِشْيَانِهِنَّ رَدِيءٌ ، وَإِيَّاكَ وَإِتْيَانَ الْمَرْأَةِ الْمُسِنَّةِ فَإِنَّهَا كَالشَّنِّ الْبَالِي تَجْذِبُ قُوَّتَكَ وَتُسْقِمُ بَدَنَكَ ، مَاؤُهَا سُمٌّ قَاتِلٌ وَنَفَسُهَا مَوْتٌ عَاجِلٌ ، تَأْخُذُ مِنْكَ الْكُلَّ وَلَا تُعْطِيكَ الْبَعْضَ ، وَالشَّابَّةُ مَاؤُهَا عَذْبٌ زُلَالٌ وَعِنَاقُهَا غُنْجٌ وَدَلَالٌ ، فُوهَا بَارِدٌ وَرِيقُهَا عَذْبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَهُنَاةٌ ضَيِّقٌ تَزِيدُكَ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكَ وَنَشَاطًا إِلَى نَشَاطِكَ .
— "Terlalu sering menggauli mereka berakibat buruk bagi kesehatan. Dan waspadalah kamu dari menggauli wanita yang sudah tua bangka, karena ia laksana wadah air dari kulit yang sudah usang gersang; ia menyedot kekuatanmu dan membuat fisikmu sakit-sakitan, cairannya laksana racun yang mematikan dan hembusan nafasnya membawa kematian mendadak, ia mengambil segala hal darimu tanpa memberimu umpan balik sedikit pun. Sebaliknya, wanita yang belia jiwanya cairannya segar murni, dekapannya penuh dengan kehangatan kemanjaan, mulutnya sejuk, air liurnya manis, aromanya harum semerbak, serta organ intimnya rapat mendatangkan tambahan kekuatan pada kekuatanmu sekaligus gairah baru pada gairahmu."
— فَأَيُّهُنَّ الْقَلْبُ إِلَيْهَا أَمْيَلُ ، وَالْعَيْنُ بِرُؤْيَتِهَا أَسَرُّ ؟
— "Maka wanita dengan kriteria seperti apakah yang membuat hati paling terpikat serta mata paling bahagia memandangnya?"
— إِذَا أَصَبْتَهَا الْمَدِيدَةَ الْقَامَةِ ، الْعَظِيمَةَ الْهَامَةِ ، وَاسِعَةَ الْجَبِينِ ، قَنَوَاءَ الْعِرْنِينِ ( الْأَنْفِ ) ، كَحْلَاءَ لَعْسَاءَ ( فِي شَفَتِهَا سَوَادٌ ) ، صَافِيَةَ الْخَدِّ ، عَرِيضَةَ الصَّدْرِ ، مَلِيحَةَ النَّحْرِ ، فِي خَدِّهَا رِقَّةٌ ، وَفِي شَفَتِهَا لَعَسٌ ، مَقْرُونَةَ الْحَاجِبَيْنِ ، نَاهِدَةَ الثَّدْيَيْنِ ، لَطِيفَةَ الْخَصْرِ وَالْقَدَمَيْنِ ، بَيْضَاءَ فَرْعَاءَ ، جَعْدَةً غَضَّةً بَضَّةً ، تَخَالُهَا فِي الظُّلْمَةِ بَدْرًا زَاهِرًا ، تَبْتَسِمُ عَنْ أُقْحُوَانٍ ، وَعَنْ مَبْسَمٍ كَالْأُرْجُوَانِ ، كَأَنَّهَا بَيْضَةٌ مَكْنُونَةٌ ، أَلْيَنُ مِنَ الزَّبَدِ ، وَأَحْلَى مِنَ الشَّهْدِ ، وَأَنْزَهُ مِنَ الْفِرْدَوْسِ وَالْخُلْدِ ، وَأَزْكَى كَرِيحٍ مِنَ الْيَاسَمِينِ وَالْوَرْدِ تَفْرَحُ بِقُرْبِهَا ، وَتَسُرُّكَ الْخَلْوَةُ مَعَهَا .
— "Yaitu jika kamu mendapati wanita yang berperawakan tinggi semampai, proporsional kepalanya, luas dahinya, mancung tulang hidungnya, bermata hitam pekat alami dengan binar menawan, jernih pipinya, bidang dadanya, indah jenjang lehernya, lembut kulit pipinya, memiliki rona gelap manis di bibirnya, seimbang kedua alisnya (berdekatan), kencang payudaranya, ramping pinggangnya serta mungil kedua belah kakinya, putih bersih kulitnya, berambut lebat menawan, bertubuh padat berisi lagi segar ranum. Kamu akan melihatnya di dalam kegelapan laksana bulan purnama yang bersinar terang, senyumnya merekah memperlihatkan deretan gigi seputih bunga krisan dengan bibir merah ranum seindah warna koral purpura, seolah-olah ia adalah mutiara yang tersimpan rapat, fisiknya lebih lembut daripada mentega, tutur katanya lebih manis daripada madu murni, penampilannya lebih menenteramkan daripada surga Firdaus dan kekekalan, aromanya lebih harum semerbak daripada perpaduan melati dan mawar; kamu akan sangat bahagia berada di dekatnya, dan merasa sangat tentram saat berdua saja bersamanya."
فَاسْتَضْحَكَ كِسْرَى حَتَّى اخْتَلَجَتْ كَتِفَاهُ وَقَالَ :
Maka Kisra pun tertawa lebar hingga kedua bahunya berguncang, lalu ia bertanya:
— فَفِي أَيِّ الْأَوْقَاتِ إِتْيَانُهَا أَفْضَلُ ؟
— "Maka di waktu kapankah yang paling utama untuk menggaulinya?"
— عِنْدَ إِدْبَارِ اللَّيْلِ يَكُونُ الْجَوْفُ أَخْلَى ، وَالنَّفْسُ أَهْدَأَ ، وَالْقَلْبُ أَشْهَى ، وَالرَّحِمُ أَدْفَأَ ، فَإِنْ أَرَدْتَ الِاسْتِمْتَاعَ بِهَا نَهَارًا تَسْرَحُ عَيْنَيْكَ فِي جَمَالِ وَجْهِهَا ، وَيَجْتَنِي فُوكَ مِنْ ثَمَرَاتِ حُسْنِهَا ، وَيَعِي سَمْعُكَ مِنْ حَلَاوَةِ لَفْظِهَا ، وَتَسْكُنُ الْجَوَارِحُ كُلُّهَا إِلَيْهَا .
— "Pada saat akhir malam berlalu, karena saat itu lambung dalam kondisi paling kosong, jiwa paling tenang, hati paling berselera, dan rahim berada dalam kondisi paling hangat. Adapun jika kamu ingin bersenang-senang dengannya di siang hari, maka cukup dengan memanjakan pandangan matamu pada keindahan paras wajahnya, membiarkan lisanmu memetik buah-buah kecantikannya, membiarkan pendengaranmu meresapi manisnya tutur katanya, sehingga seluruh anggota tubuhmu pun menjadi tenteram damai bersamanya."
قَالَ : لِلَّهِ دَرْكَ مِنْ أَعْرَابِيٍّ ! أُعْطِيتَ عِلْمًا ، وَخُصِّصْتَ فَطْنَةً وَفَهْمًا ! وَأَحْسَنَ صِلَتَهُ وَأَمَرَ بِتَدْوِينِ مَا نَطَقَ بِهِ .
Kisra berkata: "Luar biasa hebatnya dirimu sebagai seorang Arab Badui! Kamu benar-benar dianugerahi ilmu, serta dikhususkan dengan kecerdasan serta pemahaman yang mendalam!" Kisra pun memberikan hadiah ganjaran yang sangat baik kepadanya, serta memerintahkan untuk membubuhkan catatan/membukukan apa yang telah ia ucapkan tersebut.
كَانَ هَذَا هُوَ حَدِيثُ الطِّبِّ فِي ثَقِيفٍ وَفِي مَكَّةَ وَفِي الْقَبَائِلِ ، وَكَانَ الرُّوَاةُ يُضِيفُونَ إِلَيْهِ تَجَارِبَهُمْ عَلَى مَرِّ السِّنِينَ . وَكَانَ حَدِيثُ الْجِنْسِ يَسْتَهْوِي النَّاسَ فَأَضَافَ الرُّوَاةُ مَا شَاؤُوا وَشَاءَ السَّامِعُونَ وَاسْتَهْوَاهُمْ ، وَكَانَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ وَأَمْثَالُهَا هِيَ الْحِكْمَةَ الَّتِي أُوتُوهَا ، وَقَدْ شَبَّ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ ابْنُ خَالَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي هَذِهِ الْبِيئَةِ ، وَسَافَرَ كَأَبِيهِ فِي الْبِلَادِ ، وَاجْتَمَعَ مَعَ الْأَفَاضِلِ وَالْعُلَمَاءِ بِمَكَّةَ ، وَعَاشَرَ الْأَحْبَارَ وَالْكَهَنَةَ ، وَاشْتَغَلَ وَحَصَّلَ مِنَ الْعُلُومِ الْقَدِيمَةِ مَا وَصَلَ إِلَى عِلْمِهِ ، وَاطَّلَعَ عَلَى عُلُومِ الْفَلَاسِفَةِ وَأَجْزَاءِ الْحِكْمَةِ ، وَتَعَلَّمَ مِنْ أَبِيهِ مَا كَانَ يَعْلَمُهُ مِنَ الطِّبِّ ؛ فَامْتَلَأَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ كَلَدَةَ الثَّقَفِيُّ غُرُورًا ، حَتَّى ظَنَّ أَنَّهُ أَفْضَلُ أَهْلِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ ، بَلْ أَفْضَلُ شَبَابِ الْعَرَبِ أَجْمَعِينَ . وَمَا كَانَ يَرْضَى لِنَفْسِهِ أَنْ يُقَارِنَهَا بِابْنِ خَالَتِهِ الَّذِي عُرِفَ فِي قَوْمِهِ بِالْأَمِينِ ، وَالَّذِي ذَاعَ فِي الْقَبَائِلِ نَبَأُ زَوَاجِهِ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ ، مَنْ رَفَضَتْ كُلَّ سَادَاتِ قَوْمِهَا الَّذِينَ تَقَدَّمُوا لِخِطْبَتِهَا .
Inilah narasi perbincangan dunia kedokteran yang berkembang luas di kalangan kabilah Thaqif, di kota Makkah, serta di tengah kabilah-kabilah Arab lainnya, di mana para perawi terus menambahkan pengalaman-pengalaman baru mereka seiring berjalannya tahun. Topik perbincangan mengenai hubungan suami-istri (seksualitas) pun senantiasa memikat hati manusia, sehingga para perawi menambahkan apa saja yang mereka kehendaki dan disukai pendengarnya. Pembicaraan-pembicaraan semacam inilah bentuk hikmah pengetahuan duniawi yang mereka miliki saat itu. Di lingkungan inilah tumbuh besar an-Nadr bin al-Harith, anak bibi (sepupu) dari Muhammad bin Abdullah. Ia menempuh perjalanan menjelajahi berbagai negeri persis seperti jejak ayahnya, berkumpul dengan tokoh-tokoh utama dan cendekiawan di Makkah, bergaul erat dengan para pendeta Yahudi (al-ahbar) serta para dukun (al-kahanah). Ia tekun mengumpulkan rekam jejak ilmu-ilmu kuno sejauh yang dapat dijangkaunya, mendalami pemikiran para filosof beserta cabang-cabang ilmu hikmah, sekaligus menyerap warisan ilmu kedokteran dari ayahnya. Alhasil, jiwa an-Nadr bin al-Harith bin Kaladah ath-Thaqafi pun dipenuhi dengan rasa ego kesombongan yang luar biasa, hingga ia merasa dirinya adalah pemuda paling hebat dari garis keturunan ayah-ibunya, bahkan pemuda paling jenius di seantero bangsa Arab. Ia sama sekali tidak sudi jika dirinya disejajarkan dengan sepupunya (Muhammad) yang hanya dikenal di kalangan kaumnya dengan julukan Al-Amin, pemuda yang berita pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwaylid sempat menggemparkan kabilah-kabilah, wanita terhormat yang telah menolak lamaran seluruh pemuka-pemuka Quraisy yang datang meminangnya.
إِنَّهُ وَإِنْ كَانَ فِي دَهَشٍ لِذَلِكَ الزَّوَاجِ إِلَّا أَنَّهُ أَرْجَعَهُ إِلَى جَمَالِ ابْنِ خَالَتِهِ ، فَمَا وَجَدَ سَبَبًا آخَرَ يَجْذِبُ أَيِّمَ قُرَيْشٍ الشَّرِيفَةَ الْغَنِيَّةَ الْعَفِيفَةَ نَحْوَ يَتِيمِ قُرَيْشٍ الَّذِي لَا مَالَ عِنْدَهُ وَلَا أَمَلَ فِي سُؤْدَدٍ أَوْ سُلْطَانٍ ، فَقَدْ كَانَ يَقِيسُ الرِّجَالَ بِمِقْيَاسٍ مَادِّيٍّ وَمَا كَانَ صَاحِبَ نَفْسٍ شَفَّافَةٍ لِيَعْرِفَ حَقِيقَةَ الْأَرْوَاحِ .
Meskipun ia dibuat terheran-heran oleh pernikahan tersebut, ia menyimpulkan bahwa hal itu semata-mata karena faktor ketampanan fisik sepupunya semata. Ia tidak menemukan alasan lain yang logis bagi dirinya yang dapat memikat janda Quraisy yang terhormat, kaya raya, lagi suci menjaga kehormatan tersebut untuk memilih condong kepada sang yatim Quraisy yang tidak memiliki harta kekayaan dan tidak punya ambisi mengejar kedudukan maupun kekuasaan politik. Hal ini terjadi karena an-Nadr selalu mengukur bobot kepantasan seorang pria murni dengan tolok ukur materi semata, ia bukanlah tipe orang yang memiliki kebersihan jiwa spiritual yang mampu mengenali kemuliaan hakikat kesucian ruhani.
كَانَ مُحَمَّدٌ وَابْنُ خَالَتِهِ النَّضْرُ يَجْتَمِعَانِ فِي الْمَوَاسِمِ وَفِي الْمُنَاسَبَاتِ الَّتِي تَجْمَعُ بَيْنَ أَفْرَادِ الْأُسْرَةِ الْوَاحِدَةِ ، وَكَانَ مُحَمَّدٌ مُنْطَوِيًا عَلَى نَفْسِهِ يَلُوذُ بِالصَّمْتِ إِعْرَاضًا عَنِ اللَّغْوِ ، يَغْلِبُهُ حَيَاؤُهُ بَيْنَا كَانَ النَّضْرُ مَزْهُوًّا بِنَفْسِهِ وَبِعِلْمِهِ الْأَرْضِيِّ الَّذِي حَصَّلَهُ فِي رِحْلَاتِهِ وَحِكْمَتِهِ الَّتِي كَسَبَهَا مِنْ قِرَاءَةِ كُتُبِ حُكَمَاءِ الْفُرْسِ وَفَلَاسِفةِ الْيُونَانِ ، فَكَانَ يَتِيهُ بِعِلْمِهِ عَلَى قَوْمِهِ ، وَكَانَ غَايَةُ مَا يَنْتَظِرُهُ لِمِثْلِ مُحَمَّدٍ ابْنِ خَالَتِهِ أَنْ يَصِيرَ تَاجِرًا صَادِقًا بَعْدَ أَنْ اشْتَهَرَ بِأَمَانَتِهِ ، وَمَا كَانَ يَتَصَوَّرُ أَنَّ ذَلِكَ الرَّجُلَ الَّذِي يَعِيشُ فِي قَوْقَعَةِ ذَاتِهِ يُمْكِنُ أَنْ يُصْبِحَ ذَاتَ يَوْمٍ سَيِّدًا مِنْ سَادَاتِ دَارِ النَّدْوَةِ كَحَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ أَوْ أَبِي الْحَكَمِ بْنِ هِشَامٍ أَوْ أَبِي سُفْيَانَ بْنِ حَرْبٍ ، وَلَوْ دَارَ بِخَلَدِهِ أَنَّ السَّمَاءَ تَدَّخِرُ ابْنَ خَالَتِهِ لِأَجَلِّ رِسَالَةٍ عَرَفَتْهَا الْبَشَرِيَّةُ لَمَاتَ كَمَدًا ، وَلَكَفَرَ بِخَالِقِ الْكَوْنِ ، وَلَتَمَنَّى مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ أَنْ تَخِرَّ السَّمَاءُ عَلَى الْأَرْضِ . فَأَيْنَ عِلْمُ ابْنِ عَبْدِ اللهِ مِنْ عِلْمِهِ ؟ فَمَا خَطَرَ لَهُ عَلَى قَلْبٍ أَنَّ هُنَاكَ مَنْ يَتَلَقَّى الْحِكْمَةَ مِنَ اللهِ ، فَقَدْ كَانَ رَبِيبَ الْوُجُودِ ، وَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَسْمُوَ يَوْمًا فَوْقَ وَاقِعِهِ ، وَاللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ .
Muhammad dan sepupunya, an-Nadr, kerap kali bertemu dalam perayaan musiman maupun acara keluarga yang menyatukan anggota rumpun keluarga besar mereka. Dalam pertemuan-pertemuan itu, Muhammad selalu tampil sebagai sosok yang tenang, menjaga diri dalam kesunyian malam kontemplasi serta menarik diri dari obrolan kosong yang sia-sia, dibimbing oleh sifat pemalu bawaannya yang begitu kuat. Sebaliknya, an-Nadr selalu tampil dengan sikap pongah, membanggakan dirinya serta kapasitas ilmu bumi (pengetahuan sekuler-duniawi) yang berhasil ia kumpulkan sepanjang rute perjalanannya, berikut teori hikmah yang ia klaim didapat dari hasil membaca lembaran kitab-kitab para hukama Persia kuno dan para filosof Yunani. Ia gemar bersikap tinggi hati memamerkan wawasannya di hadapan kaumnya. Batas ekspektasi tertinggi yang ia bayangkan untuk masa depan sepupunya seperti Muhammad hanyalah mentok menjadi seorang pedagang lokal yang jujur seiring reputasi al-Amin yang melekat padanya. Ia sama sekali tidak pernah terbayang sedikit pun bahwa pria yang ia nilai hidup menutup diri dalam tempurung dunianya itu suatu saat kelak bisa bertransformasi menjadi salah satu tokoh besar penentu kebijakan di Darun Nadwah bersanding sejajar dengan tokoh sekaliber Hakim bin Hizam, Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), atau Abu Sufyan bin Harb. Sekiranya sempat terlintas di dalam benaknya bahwa tirai langit sedang mempersiapkan sepupunya tersebut untuk mengemban sebuah risalah paling agung dan suci yang pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat manusia, niscaya an-Nadr akan mati seketika meledak karena didera rasa dengki yang teramat sangat, ia akan mengutuk Sang Pencipta alam semesta, dan berharap dengan sepenuh hatinya agar langit runtuh berkeping-keping menghantam bumi. Karena di mana letak perbandingan level ilmu anak Abdullah jika diadu dengan luasnya ilmu miliknya? Tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benaknya yang materialistis bahwa ada manusia yang mampu menerima limpahan ilmu hikmah langsung lewat jalur wahyu dari Allah. Hal ini karena an-Nadr sejatinya hanyalah seorang anak didikan alam materi belaka, yang tidak akan pernah sanggup untuk terbang melambung melampaui batas realitas dunianya. Dan Allah tentu Maha Mengetahui di mana dan kepada siapa Dia meletakkan risalah nubuwwah-Nya.
Catatan Kaki (Footnotes) & Keterangan Istilah Khusus:
(1) التَّحْوِيَة : الْغَيْض / التَّحَوِّي : جَمْعُ الْحَيَّةِ وَتَطَوُّقُهَا
Keterangan teks manuskrip: Istilah "Al-Tahwiyah" di dalam konteks dialog pawang ular bermakna menaklukkan, mengumpulkan, atau menjinakkan ular yang melingkar.
(2) هَذَا الْحِوَارُ يَدُلُّ عَلَى أَثَرِ الْوَضْعِ ، فَكُلُّ مَا فِيهِ مِنْ وَحْيِ الْإِسْلَامِ وَمَا كَانَ الْإِسْلَامُ قَدْ جَاءَ زَمَنَ أَنُوشِرْوَان .
Catatan Kritis Sejarah: Redaksi dialog medis ini menunjukkan adanya indikasi pengaruh sisipan narasi fiktif (al-wad'u) di kemudian hari oleh para perawi Muslim. Hal ini karena diksi kata yang digunakan (seperti pembagian takdir rezeki, akal, dan kutipan konsep filosofis) sangat kental dengan nuansa ajaran nafas Islam, padahal Islam belum lahir pada masa kehidupan Raja Kisra Anusyirwan.
(3) النَّبْع : شَجَرٌ تَّتَّخِذُ مِنْهُ الْقِسِيُّ وَتَتَّخِذُ مِنْ أَغْصَانِهِ السِّهَامُ الْوَاحِدَةُ : نَبْعَةٌ .
Keterangan Istilah: "An-Nab'u" (bentuk tunggalnya Nab'ah) adalah jenis pohon kayu keras pegunungan yang sangat masyhur di kalangan bangsa Arab kuno sebagai bahan baku terbaik untuk membuat busur dan anak panah yang kuat melesat cepat.
(1) التَّحْوِيَة : الْغَيْض / التَّحَوِّي : جَمْعُ الْحَيَّةِ وَتَطَوُّقُهَا
Keterangan teks manuskrip: Istilah "Al-Tahwiyah" di dalam konteks dialog pawang ular bermakna menaklukkan, mengumpulkan, atau menjinakkan ular yang melingkar.
(2) هَذَا الْحِوَارُ يَدُلُّ عَلَى أَثَرِ الْوَضْعِ ، فَكُلُّ مَا فِيهِ مِنْ وَحْيِ الْإِسْلَامِ وَمَا كَانَ الْإِسْلَامُ قَدْ جَاءَ زَمَنَ أَنُوشِرْوَان .
Catatan Kritis Sejarah: Redaksi dialog medis ini menunjukkan adanya indikasi pengaruh sisipan narasi fiktif (al-wad'u) di kemudian hari oleh para perawi Muslim. Hal ini karena diksi kata yang digunakan (seperti pembagian takdir rezeki, akal, dan kutipan konsep filosofis) sangat kental dengan nuansa ajaran nafas Islam, padahal Islam belum lahir pada masa kehidupan Raja Kisra Anusyirwan.
(3) النَّبْع : شَجَرٌ تَّتَّخِذُ مِنْهُ الْقِسِيُّ وَتَتَّخِذُ مِنْ أَغْصَانِهِ السِّهَامُ الْوَاحِدَةُ : نَبْعَةٌ .
Keterangan Istilah: "An-Nab'u" (bentuk tunggalnya Nab'ah) adalah jenis pohon kayu keras pegunungan yang sangat masyhur di kalangan bangsa Arab kuno sebagai bahan baku terbaik untuk membuat busur dan anak panah yang kuat melesat cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar