KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Detak Jantung di Ujung Malam: Saat Ruh Rasulullah ﷺ Menyapa Langit
Dalam keheningan yang mencekam, Rasulullah ﷺ menemukan kedamaian yang melampaui kelezatan panca indra. Beliau tidak lagi melihat dunia, melainkan melihat kemuliaan Allah dalam setiap hembusan napasnya.
وَفِي سُكُونِ اللَّيْلِ طَافَ مُحَمَّدٌ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَقَدْ قَطَعَ الْعَلَائِقَ كُلَّهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا بِالْفِرَارِ عَنِ الْأَهْلِ وَالْجَاهِ وَالرُّفَقَاءِ وَالْأَصْدِقَاءِ إِلَى اللَّهِ . هَجَرَ زَوْجَهُ الْحَبِيبَةَ وَجَاهَهَا الْعَرِيضَ وَالرَّاحَةَ الَّتِي يَسَّرَتْهَا لَهُ ، وَفَارَقَ آلَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْأَعِزَّاءَ ، وَأَبَا بَكْرٍ الصَّدِيقَ الَّذِي قَلَّمَا أَنْ يَفْتَرِقَ عَنْهُ وَابْنَيْ عَمِّهِ الْحَبِيبَيْنِ جَعْفَرَ ابْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأَبَا سُفْيَانَ بْنَ الْحَارِثِ ، وَكُلَّ الرُّفَقَاءِ وَالْأَصْدِقَاءِ فِي سَبِيلِ وَجْهِ اللَّهِ .
Dalam keheningan malam, Muhammad thawaf di Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran, sungguh ia telah memutuskan segala ikatan lahir maupun batin dengan berlari (berserah diri) dari keluarga, kedudukan, teman-teman, dan sahabat-sahabat menuju Allah. Ia meninggalkan istri tercintanya, kedudukannya yang luas, serta kenyamanan yang telah disediakan untuknya. Ia pun berpisah dengan keluarga Abdul Muthalib yang mulia, Abu Bakar ash-Shiddiq yang hampir tak pernah berpisah darinya, kedua sepupu tercintanya yaitu Ja'far bin Abi Thalib dan Abu Sufyan bin al-Harits, serta seluruh teman dan sahabat, demi mengharap keridaan Allah.
وَمَا أَتَمَّ طَوَافَهُ حَتَّى انْطَلَقَ فِي الظَّلَامِ إِلَى غَارِ حِرَاءَ مَعَ الْحُنَفَاءِ مِنِ قُرَيْشٍ الَّذِينَ اعْتَادُوا أَنْ يَتَحَنَّثُوا فِيهِ طَوَالَ شَهْرِ رَمَضَانَ ، وَلَمْ يَكُنْ يَفْكُرْ مِثْلَهُمْ فِي وَعُورَةِ الْمُرْتَقَى ، فَقَدْ غَابَ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهُ إِلَّا رَبَّهُ بَعْدَ أَنْ بَذَرَتْ فِي وِجْدَانِهِ مِنْ طُولِ سَهَرِهِ مَعَ اللَّهِ بُذُورُ الْإِرَادَةِ وَالْإِخْلَاصِ ، فَكَانَ وَحْدَهُ عُرْضَةً لِمَهَابِ نَسَائِمِ الرَّحْمَةِ وَهُوَ يَشْتَدُّ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ .
Belum lama ia menyelesaikan thawafnya, ia segera bergegas dalam kegelapan malam menuju Gua Hira bersama orang-orang yang lurus (al-Hunafa) dari kaum Quraisy yang telah terbiasa menyendiri (tahannuts) di sana sepanjang bulan Ramadan. Ia tidaklah memikirkan jalannya yang terjal untuk didaki seperti yang mereka pikirkan, karena ia telah sirna dari segala sesuatu di sekitarnya kecuali Tuhannya, setelah tertanam kuat di dalam lubuk hatinya—akibat malam-malam panjang yang dilaluinya bersama Allah—benih-benih kehendak kuat dan keikhlasan. Maka tinggallah ia seorang diri, bersiap menyongsong embusan angin rahmat yang penuh kewibawaan, seraya berpegang teguh di atas jalan yang lurus.
وَبَلَغَ مَدْخَلَ الْغَارِ فَأَلْقَى نَظْرَةً عَلَى مَكَّةَ فَبَدَتْ فِي عَيْنَيْهِ كَأَنَّهَا ذَرَّةٌ فِي مُلْكِ اللَّهِ ، وَقَلَّبَ وَجْهَهُ فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ فَامْتَلَأَتْ جَوَانِبُهُ خَشْيَةً امْتَزَجَتْ بِفَرَحٍ وَاسْتِبْشَارٍ ، وَسَرْعَانَ مَا أَحَسَّ أَنَّ عَالَمَهُ أَوْسَعُ مِنَ الْعَالَمِ الْأَرْضِيِّ ، أَنَّهُ مَلَكُوتُ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ ، أَنَّهُ دُنْيَا الْمَحْسُوسَاتِ وَدُنْيَا الْغَيْبِ وَالرُّوحِ ، وَأَنَّ خَفْقَةً وَاحِدَةً مِنْ رُوحِهِ فِي دُنْيَا اللَّهِ أَلَذُّ مِنْ كُلِّ لَذَّاتِ الْحَوَاسِّ .
Ketika sampai di pintu masuk gua, ia melemparkan pandangannya ke arah Makkah, maka kota itu tampak di matanya bagaikan sebutir debu kecil di dalam kerajaan Allah. Ia membalikkan wajahnya menatap bumi dan langit, lalu penuhlah seluruh relung hatinya dengan rasa takut (khasiyah) yang bercampur dengan rasa gembira dan suka cita. Dan dengan cepat ia merasakan bahwa alamnya jauh lebih luas daripada alam bumi ini; sesungguhnya itulah malakut bumi dan langit, dunia yang tampak dan dunia gaib serta ruh, dan bahwasanya satu kepakan dari ruhnya di alam ciptaan Allah jauh lebih nikmat daripada seluruh kelezatan pancaindra.
كَانَ قَدْ تَعَلَّمَ مِنْ أُنْسِهِ بِاللَّهِ بِأَنَّهَا نَفْسُهُ إِنْ لَمْ يَشْغَلْهَا شَغَلَتْهُ ، فَلَمْ يَدَعْ قَلْبَهُ فَرَاغًا لَحْظَةً مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ ، فَهُوَ مَشْغُولٌ بِاللَّهِ وَهُوَ يَقْظَانُ وَلَا يَغْفُلُ قَلْبُهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ إِذَا نَامَ ، فَهُوَ يَعِيشُ بِاللَّهِ وَفِي اللَّهِ ، فَهُوَ أَنْفَاسُهُ الَّتِي تَتَرَدَّدُ فِيهِ وَهُوَ خَفَقَاتُ قَلْبِهِ وَرَفْرَفَاتُ رُوحِهِ قَدْ سَرَى فِي ضَمِيرِهِ مَسْرَى الدَّمِ .
Ia telah mempelajari dari rasa intimnya (unsihi) bersama Allah bahwasanya jiwanya itu jika tidak disibukkan (dengan kebaikan) maka akan menyibukkannya (dengan keburukan). Oleh karena itu, ia tidak membiarkan hatinya kosong sekejap pun, baik di waktu malam maupun siang; ia selalu sibuk bersama Allah ketika terjaga, dan hatinya tidak pernah lalai dari mengingat Allah ketika tidur. Ia hidup dengan Allah dan di dalam Allah, Dialah hembusan napas yang turun naik di dalam dirinya, Dialah detak jantungnya, dan Dialah kepakan ruhnya yang telah mengalir di dalam batinnya laksana aliran darah.
وَدَخَلَ الْغَارَ وَقَدْ رَانَ عَلَيْهِ ظَلَامٌ ثَقِيلٌ وَضَرَبَتِ الْوَحْشَةُ فِي جَنَبَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَحْفَلْ بِالظَّلَامِ فَقَدْ بَاتَ يَرَى بِنُورِ اللَّهِ ، وَلَمْ يَعُدْ يَسْتَشْعِرُ وَحْشَةً بَعْدَ أَنْ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْأُنْسِ بِاللَّهِ . آثَرَ الْعُزْلَةَ وَجَلَسَ لِلْمُرَاقَبَةِ وَالذِّكْرِ وَالْفِكْرِ وَرَاحَ يَنْظُرُ إِلَى اللَّهِ وَالنَّظَرُ يُحَرِّكُ الْقَلْبَ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ . فَصَفَتْ نَفْسُهُ وَانْبَعَثَ الِابْتِهَالُ وَرُوحُ السُّجُودِ مِنْ كُلِّ جَوَارِحِهِ ، فَاخْتَلَجَتْ خَوَاطِرُهُ بِالذِّكْرِ وَفَاضَتْ عَيْنَاهُ بِالدَّمْعِ ، فَانْقَطَعَتْ عَنْ قَلْبِهِ جَوَاذِبُ الدُّنْيَا لِيَنْجَذِبَ إِلَى السَّمَاءِ .
Ia pun memasuki gua tersebut ketika kegelapan yang pekat telah menyelimutinya dan rasa sepi mencekam di setiap sudutnya. Namun, ia tidak peduli dengan kegelapan itu karena ia bermalam dengan melihat melalui cahaya Allah, dan ia tidak lagi merasakan kesepian setelah mencicipi manisnya kedekatan bersama Allah. Ia memilih bersunyi diri (uzlah) lalu duduk untuk muraqabah, berzikir, dan bertafakur, serta mulai memandang keagungan Allah, di mana pandangan itu menggerakkan hati untuk mengingat Allah. Maka suci bersihlah jiwanya, lalu memancarlah doa yang khusyuk serta ruh sujud dari seluruh anggota badannya; digetarkanlah bisikan hatinya dengan zikir dan berlinanglah kedua matanya dengan air mata, maka terputuslah segala daya tarik dunia dari hatinya agar ia dapat tertarik menuju langit.
وَفِي لَحْظَةٍ مِنْ كَرَمِ اللَّهِ وَفَيْضِهِ انْكَشَفَ فِي قَلْبِهِ مِنْ أَسْرَارِ اللَّهِ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَا لَا يَنْكَشِفُ لِعَابِدٍ صَادِقٍ فِي سَنَوَاتٍ طِوَالٍ ، فَقَدِ اسْتَطَاعَ بِمُحَسَّنِ نِيَّتِهِ أَنْ يَسْتَدِرَّ أَمْطَارَ الْمُكَاشَفَاتِ وَلَطَائِفَ الْمَعَارِفِ مِنْ خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ . وَأَنْ يَسْتَقْبِلَ نَفَحَاتِ رَبِّهِ الْمُبَارَكَةَ أَحْسَنَ اسْتِقْبَالٍ وَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ كَمَا يَنْزِلُ الرِّزْقُ عَلَى الْعِبَادِ . وَامْتَلَأَ حِكْمَةً مِنْ رَبِّهِ فَأَشْرَقَتْ أَنْوَارُ الْمَعَارِفِ مِنْ بَاطِنِ قَلْبِهِ ، فَهُوَ يَذْكُرُ اللَّهَ فَيَذْكُرُهُ اللَّهُ وَيَفِيضُ عَلَيْهِ مِنْ كَرَمِهِ ، وَكَانَ لِسَانُهُ الذَّاكِرُ وَقَلْبُهُ الشَّاكِرُ وَصَبْرُهُ فِي اللَّهِ وَمُصَابَرَتُهُ بِاللَّهِ وَرِبَاطُهُ مَعَ اللَّهِ مَفَاتِيحَ السَّعَادَةِ الَّتِي أُنْزِلَتِ الرَّحْمَةُ عَلَى فُؤَادِهِ .
Dan dalam sekejap dari kemurahan Allah dan kelimpahan-Nya, tersingkaplah di dalam hatinya sebagian dari rahasia-rahasia Allah pada malakut langit dan bumi, sesuatu yang tidak tersingkap bagi seorang ahli ibadah yang jujur selama bertahun-tahun yang panjang. Sungguh ia telah mampu, dengan kebaikan niatnya, mengundang turunnya hujan mukasyafah (ketersingkapan gaib) dan kelembutan makrifat dari perbendaharaan malakut, serta menyambut embusan karunia Tuhannya yang diberkahi dengan sambutan terbaik, yang diturunkan kepadanya dari langit sebagaimana rezeki diturunkan kepada para hamba. Ia pun dipenuhi hikmah dari Tuhannya, sehingga memancarlah cahaya makrifat dari dalam lubuk hatinya; ia mengingat Allah maka Allah pun mengingatnya dan melimpahkan karunia-Nya kepadanya. Adalah lisannya yang berzikir, hatinya yang bersyukur, kesabarannya di jalan Allah, keteguhannya bersama Allah, dan ikatan teguhnya dengan Allah menjadi kunci-kunci kebahagiaan yang dengannya rahmat diturunkan ke dalam hatinya.
إِنَّ الصَّبْرَ لِلَّهِ غِنَاءٌ ، وَالصَّبْرَ بِاللَّهِ بَقَاءٌ ، وَالصَّبْرَ مَعَ اللَّهِ وَفَاءٌ ، وَالصَّبْرَ عَنِ اللَّهِ جَفَاءٌ ، وَهِجْرَانَ الْخَلْقِ فِي حُبِّ الْحَقِّ شَدِيدٌ ، وَالسَّيْرَ مَعَ النَّفْسِ إِلَى اللَّهِ صَعْبٌ شَدِيدٌ ، وَالصَّبْرَ مَعَ اللَّهِ أَشَدُّ . وَلَمَا كَانَ يَطْلُبُ بَقَاءً لَا فَنَاءَ فِيهِ ، وَعِزًّا لَا ذُلَّ فِيهِ ، وَأَمْنًا لَا خَوْفَ فِيهِ ، وَغِنًى لَا فَقْرَ فِيهِ ، وَكَمَالًا لَا نُقْصَانَ فِيهِ ، وَمَلَكًا لَا تَضِيقُ بِهِ أَرْجَاءُ الْأَرْضِ ، فَقَدْ صَبَرَ عَلَى طُولِ الْمُوَاظَبَةِ حَتَّى صَارَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى الرِّضَا ، ثُمَّ انْقَلَبَ الصَّبْرُ وَالرِّضَا إِلَى حُبٍّ شَدِيدٍ حَتَّى أَصْبَحَ لَا يَحْتَمِلُ الْعَيْشَ بَعِيدًا عَنِ اللَّهِ ، فَصَارَ اللَّهُ هُوَ نُورَ عَيْنَيْهِ وَفُؤَادِهِ وَبَصِيرَتِهِ ، وَالْهَوَاءَ الَّذِي يَمْلَأُ فَرَاغَ قَلْبِهِ ، وَحَدِيثَ النَّفْسِ فِي الْعُزْلَةِ وَاخْتِلَاجَ الْخَوَاطِرِ فِي النَّوْمِ وَالْيَقْظَةِ ، وَجَيَشَانَ الْعَوَاطِفِ وَنُورَ الْيَقِينِ .
Sesungguhnya sabar karena Allah adalah kekayaan, sabar dengan pertolongan Allah adalah keabadian, sabar bersama Allah adalah kesetiaan, dan sabar (menjauh) dari Allah adalah kegersangan jiwa. Meninggalkan makhluk demi mencintai Sang Kebenaran (Al-Haqq) amatlah berat, berjalan mengendalikan nafsu menuju Allah itu sulit lagi sukar, dan sabar bersama Allah jauh lebih berat lagi. Dan tatkala ia mencari keabadian yang tiada kefanaan di dalamnya, kemuliaan yang tiada kehinaan padanya, keamanan yang tiada ketakutan di dalamnya, kekayaan yang tiada kefakiran padanya, kesempurnaan yang tiada kekurangan padanya, serta kerajaan yang tidak menjadi sempit karena luasnya hamparan bumi; maka ia pun bersabar atas ketekunan yang panjang hingga ia menyembah Allah di atas landasan rida. Kemudian kesabaran dan keridaan itu berubah menjadi rasa cinta yang sangat mendalam, sampai-sampai ia tidak sanggup lagi menjalani hidup jauh dari Allah. Maka jadilah Allah sebagai cahaya kedua matanya, hatinya, dan mata batinnya, serta laksana udara yang memenuhi kekosongan jiwanya, menjadi teman bicara bagi jiwanya dalam kesendirian, menjadi getaran bisikan hati baik dalam tidur maupun terjaga, menjadi pergolakan perasaan, dan cahaya keyakinan.
مَاتَتْ أُمُّهُ وَهُوَ صَغِيرٌ فَعَرَفَ الْأَلَمَ وَلَكِنَّهُ صَبَرَ ، وَمَاتَ جَدُّهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَفَاضَ دَمْعُهُ بَيْدَ أَنَّهُ امْتَثَلَ لِأَمْرِ اللَّهِ لَمْ يَجْزَعْ وَلَمْ يَشُقَّ الْجُيُوبَ بَلْ طَوَى نَفْسَهُ عَلَى أَلَمٍ . وَسَارَ فِي الطَّرِيقِ وَشَبَّ مُوفُورَ الصِّحَّةِ جَمِيلَ الْخِلْقَةِ عَذْبَ الْحَدِيثِ : تَتَلَهَّفُ الْمَجَالِسُ عَلَى صُحْبَتِهِ ، وَتَزْدَانُ بِهِ لَيَالِي السَّمَرِ ، كَثِيرَ الْعَشِيرَةِ مِنْ أَكْرَمِ أُسْرَةٍ فِي قُرَيْشٍ ، إِلَّا أَنَّهُ ضَبَطَ نَفْسَهُ عَنِ الِاسْتِرْسَالِ وَرَاءَ بَوَاعِثِ الْهَوَى وَالرُّكُودِ إِلَى مُوفُورِ الصِّحَّةِ وَالِانْهِمَاكِ فِي مَلَاذِّ قَوْمِهِ حَتَّى الْمُبَاحَةِ مِنْهَا ، فَقَدْ كَانَ عَلَى يَقِينٍ أَنَّ ذَلِكَ يُخْرِجُهُ إِلَى الْبَطَرِ وَالطُّغْيَانِ وَتَنَكُّبِ الطَّرِيقِ .
Ibunya wafat ketika ia masih kecil, maka ia telah mengenal rasa sakit namun ia bersabar. Kakeknya, Abdul Muthalib, pun wafat hingga air matanya berlinang, akan tetapi ia berserah diri pada ketetapan Allah; ia tidak berkeluh kesah, tidak merobek kantong baju, melainkan menyimpan rasa sakit itu dalam keheningan jiwanya. Ia terus melangkah di jalan kehidupan dan tumbuh dewasa dengan kesehatan yang prima, rupa yang tampan, serta tutur kata yang manis: majelis-majelis pertemuan mendambakan kehadirannya, malam-malam keakraban menjadi indah dengannya, ia memiliki kerabat yang banyak dari keluarga paling mulia di suku Quraisy. Meskipun demikian, ia mampu menahan dirinya dari melangkah jauh mengikuti dorongan hawa nafsu, tidak terlena dengan kesehatan yang melimpah, dan tidak tenggelam dalam kesenangan kaumnya bahkan yang mubah sekalipun, karena ia yakin bahwa hal tersebut dapat menjerumuskannya ke dalam keangkuhan, melampaui batas, dan menyimpang dari jalan yang lurus.
وَمَا أَيْسَرَ الصَّبْرَ عَلَى الْبَلَاءِ وَمَا أَصْعَبَ الصَّبْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ ، إِنَّهُ تَزَوَّجَ خَدِيجَةَ الْغَنِيَّةَ الشَّرِيفَةَ الَّتِي أَحَبَّتْهُ مِنْ كُلِّ قَلْبِهَا وَوَفَّرَتْ لَهُ أَسْبَابَ الرَّاحَةِ وَالدَّعَةِ ، فَلَمْ تَفْتِنْهُ أَمْوَالُ خَدِيجَةَ وَلَمْ يُبْطِرْ جَمَالُهَا عَلَى قَلْبِهِ وَهُوَ الرَّجُلُ الْقَوِيُّ الَّذِي لَمْ يَتَجَاوَزِ الْخَامِسَةَ وَالْعِشْرِينَ ، فَلَمْ يَنْهَمِكْ فِي التَّنَعُّمِ وَاللَّذَّةِ وَاللَّعِبِ ، وَلَمْ يَرْكُنْ لِلدَّعَةِ بَلْ هَجَرَ كُلَّ مَبَاهِجِ الدُّنْيَا فِي سَبِيلِ وَجْهِ اللَّهِ ، فَصَبَرَ عَلَى فِتْنَةِ الضَّرَّاءِ وَفِتْنَةِ السَّرَّاءِ عَلَى السَّوَاءِ ، وَلَمْ تُلْهِهِ آلَامُ الدُّنْيَا وَمَبَاهِجُ الْمَحْسُوسَاتِ عَنْ ذِكْرِ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ .
Alangkah mudahnya bersabar atas cobaan (kesulitan) dan alangkah sulitnya bersabar atas kemakmuran (kesehatan). Sesungguhnya ia telah menikah dengan Khadijah, seorang wanita kaya lagi terhormat yang mencintainya dengan segenap hatinya dan menyediakan baginya segala sarana kenyamanan serta ketenangan. Namun, harta Khadijah tidak membuatnya terlena, dan kecantikannya tidak membuat hatinya menjadi angker, padahal ia adalah seorang laki-laki yang kuat dan belum melewati usia dua puluh lima tahun. Ia tidak tenggelam dalam kemewahan, kelezatan, maupun kesia-siaan, dan tidak pula bersandar pada kemalasan, melainkan ia meninggalkan segala kemegahan dunia demi mengharap wajah Allah. Ia bersabar menghadapi fitnah kesengsaraan dan fitnah kesenangan secara seimbang, dan tidaklah penderitaan dunia maupun kemegahan hal-hal yang tampak melalaikannya dari mengingat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.
إِنَّهُ صَبَرَ ثُمَّ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ ثُمَّ رَاحَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى الرِّضَا ، ثُمَّ هَامَ فِي الْمَحَبَّةِ مُتَعَرِّضًا لِنَفَحَاتِ رَبِّهِ وَجَذَبَاتِهِ فَأَلْهَمَهُ حُسْنَ التَّوَكُّلِ فِيمَا لَمْ يَنَلْ وَحُسْنَ الرِّضَا فِيمَا قَدْ نَالَ ، وَحُسْنَ الصَّبْرِ فِيمَا قَدْ فَاتَ ، وَأَنَّ خَيْرَ لِبَاسٍ هُوَ لِبَاسُ الْإِيمَانِ يَرْجُو اللَّهَ أَلَّا يَنْزِعَهُ عَنْهُ أَبَدًا .
Sesungguhnya ia telah bersabar, kemudian beramal saleh, lalu mulai menyembah Allah di atas landasan rida, kemudian ia tenggelam dalam rasa cinta yang mendalam seraya menyongsong embusan rahmat Tuhannya dan daya tarik-Nya. Maka Allah mengilhaminya ketawakalan yang baik pada apa yang belum ia raih, keridaan yang baik pada apa yang telah ia dapatkan, dan kesabaran yang baik atas apa yang telah luput, serta menyadari bahwasanya sebaik-baik pakaian adalah pakaian keimanan, seraya memohon kepada Allah agar pakaian itu tidak pernah dicabut darinya selama-lamanya.
عَرَفَ أَنَّ النِّعْمَةَ مِنَ الْمُنْعِمِ وَأَنَّ النِّعَمَ كُلَّهَا مِنَ اللَّهِ الْمُقَدَّسِ الَّذِي لَا مُقَدَّسَ غَيْرُهُ ، فَكَانَ يَفْرَحُ بِالْمُنْعِمِ لَا بِالنِّعْمَةِ ، وَكَانَ أَكْثَرُ فَرَحِهِ بِمَا يَرِدُ مِنَ اللَّهِ إِلَى قَلْبِهِ فَلِذَلِكَ يُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ ، وَغَايَتُهُ التَّوَصُّلُ إِلَى الْقُرْبِ مِنْهُ وَالنُّزُولِ فِي جِوَارِهِ وَالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ عَلَى الدَّوَامِ ، وَكَانَ يَعْمَلُ بِمُوجَبِ ذَلِكَ الْفَرَحِ الْحَاصِلِ مِنْ مَعْرِفَةِ الْمُنْعِمِ ، فَكَانَ يُضْمِرُ الْخَيْرَ لِكُلِّ خَلْقِ اللَّهِ فِي قَلْبِهِ ، وَكَانَ لِسَانُهُ لَا يَكُفُّ عَنْ أَنْ يَلْهَجَ بِشُكْرِ اللَّهِ ، وَكَانَتْ جَوَارِحُهُ تَنْأَى عَنْ كُلِّ مَا يُغْضِبُ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ ، حَتَّى إِنَّ عَيْنَيْهِ كَانَتَا تَسْتُرَانِ كُلَّ عَيْبٍ تَرَيَانِهِ ، وَأُذُنَيْهِ تَسْتُرَانِ كُلَّ عَيْبٍ تَسْمَعَانِهِ ، وَكَانَ يَشْكُرُ اللَّهَ بِلِسَانِهِ وَجَوَارِحِهِ وَأَفْعَالِهِ ، حَتَّى يَفْنَى نَفْسَهُ وَلَا يَرَى غَيْرَ اللَّهِ .
Ia mengetahui bahwa nikmat itu datangnya dari Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im) dan bahwasanya segala nikmat seluruhnya bersumber dari Allah Yang Mahasuci, yang tiada kesucian selain Dia. Maka ia senantiasa bergembira karena Sang Pemberi Nikmat, bukan karena nikmat itu sendiri, dan kegembiraannya yang paling besar adalah atas apa yang dihantarkan dari Allah ke dalam hatinya yang dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Tujuan utamanya adalah meraih kedekatan dengan-Nya, bernaung di sisi-Nya, dan memandang wajah-Nya secara terus-menerus. Ia pun beramal sesuai dengan konsekuensi rasa gembira yang lahir dari makrifat kepada Sang Pemberi Nikmat, sehingga ia selalu menyimpan niat baik untuk seluruh makhluk Allah di dalam hatinya, lisannya tidak pernah berhenti basah bersyukur kepada Allah, dan anggota badannya selalu menjauh dari segala hal yang merusak kemuliaan akhlak. Sampai-sampai kedua matanya selalu menutupi setiap aib yang mereka lihat, kedua telinganya menutupi setiap keburukan yang mereka dengar, dan ia senantiasa bersyukur kepada Allah dengan lisan, anggota badan, serta perbuatannya, hingga ia meleburkan jiwanya (fana) dan tidak melihat satu pun keberadaan melainkan Allah semata.
لَمْ تَصْبَحِ النِّعْمَةُ عِنْدَهُ كُلَّ خَيْرٍ وَلَذَّةٍ وَسَعَادَةٍ ، بَلْ كُلَّ سَبَبٍ يُوصِلُهُ إِلَى اللَّهِ ، فَالْعِلْمُ وَحُسْنُ الْخَلْقِ وَقَمْعُ الشَّهَوَاتِ وَإِنْفَاقُ الْمَالِ حُبًّا لِلَّهِ ، وَلَذَّةُ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ ، وَلَذَّةُ الْعَقْلِ ، وَكُلُّ مَا يَزِيدُ بِالْإِنْفَاقِ ، نِعْمَةٌ تَسْتَوْجِبُ الشُّكْرَ ، حَتَّى يَرْزُقَهُ اللَّهُ تَمَامَ النِّعْمَةِ .
Nikmat di pandangannya bukanlah sekadar segala kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan duniawi, melainkan segala sebab yang dapat menghantarkannya kepada Allah. Maka ilmu, keluhuran akhlak, penundukan hawa nafsu, menginfakkan harta karena cinta kepada Allah, kelezatan memandang wajah Allah, kelezatan akal, serta segala sesuatu yang bertambah nilainya dengan diinfakkan, adalah nikmat yang wajib disyukuri, hingga Allah mengaruniakan kepadanya kesempurnaan nikmat.
وَرَاحَ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ يَتَطَلَّعُ مِنْ وَرَاءِ حُجُبِ الْغَيْبِ إِلَى مُنْتَهَى الْجَمَالِ ، فَانْبَعَثَ الْقَلْبُ إِلَى الطَّلَبِ ، وَتَأَجَّجَتْ فِي وِجْدَانِهِ أَنْوَارُ الْأَشْوَاقِ وَالْإِشْرَاقِ ، وَامْتَلَأَ بِفَرَحٍ فَيَاضٍ وَاسْتِبْشَارٍ بِالْأُنْسِ بِاللَّهِ ، فَعَظُمَ نَعِيمُهُ وَلَذَّتُهُ وَأَحَسَّ بِكُلِّ كِيَانِهِ أَنَّ ذَاتَ الذَّوَاتِ يَرْعَاهُ ، فَلَمْ تَعُدْ شَهْوَتُهُ إِلَّا الِانْفِرَادَ بِرُوحِ الْوُجُودِ وَالْخَلْوَةِ بِهِ .
Dan ia mulai di waktu-waktu malam dan siang hari memandang dari balik tirai gaib menuju puncak keindahan, maka tergeraklah hatinya untuk mencari, dan berkobarlah di dalam lubuk jiwanya cahaya kerinduan dan pencerahan (isyrāq). Ia pun dipenuhi rasa gembira yang meluap-luap dan suka cita atas keintiman bersama Allah, maka agunglah kenikmatan serta kelezatannya, dan ia merasakan dengan seluruh eksistensinya bahwasanya Inti dari segala intisari (Zāt az-Zavāt) senantiasa menjaganya, sehingga tiada lagi keinginan baginya melainkan menyendiri bersama Ruh wujud dan berkhalwat dengan-Nya.
وَتَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَهُوَ مُسْتَأْنِسٌ بِالْعَظِيمِ الْمُتَعَالِ ، قَدْ صَفَا الْوُدُّ وَاسْتَغْرَقَ فِي عُذُوبَةِ الذِّكْرِ ، وَانْجَلَتْ لِبَصِيرَتِهِ حَقِيقَةُ الْأَمْرِ ، فَبَاشَرَ رُوحَ الْيَقِينِ ، وَاسْتَلَانَ مَا اسْتَوْعَرَهُ الْمُتْرَفُونَ ، وَصَحِبَ الدُّنْيَا بِبَدَنٍ رُوحُهُ مُعَلَّقَةٌ بِالْمَحَلِّ الْأَعْلَى ، فَصَارَ جَمَالُ الْمُدْرَكَاتِ بِالْبَصَائِرِ أَكْمَلَ مِنْ جَمَالِ الْمُبْصِرَاتِ ، وَلَذَّةُ مَعْرِفَتِهَا أَغْلَبَ عَلَى فُؤَادِهِ .
Malam dan siang silih berganti sementara ia tetap merasa intim bersama Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi; sungguh rasa cinta telah suci bersih dan ia tenggelam dalam kemanisan zikir. Telah tersingkap jelas bagi mata batinnya hakikat dari segala perkara, maka ia merasakan langsung ruh keyakinan, menganggap lembut apa yang dianggap keras oleh orang-orang yang hidup mewah, dan ia menyertai dunia ini dengan tubuh yang ruhnya terpaut pada kedudukan tertinggi. Maka jadilah keindahan hal-hal yang ditangkap oleh mata batin jauh lebih sempurna daripada keindahan hal-hal yang ditangkap oleh mata kepala, dan kelezatan makrifatnya menguasai seluruh hatinya.
إِنَّهُ هَتَكَ حُجُبَ الْوُجُودِ بِالصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالشَّوْقِ وَالشُّكْرِ وَالْأُنْسِ ، وَتَغَلْغَلَ فِي الْغَيْبِ حَتَّى دَنَا مِنَ اللُّبِّ ، وَعَرَفَ الْجَوْهَرَ الْأَسْمَى بَعْدَ أَنْ طَابَتْ سَرِيرَتُهُ وَأَضَاءَتْ بَصِيرَتُهُ بِنُورِ الْيَقِينِ ، وَلَا غَرْوَ فَهُوَ رَبِيبُ اللَّهِ يَصْنَعُهُ عَلَى عَيْنِهِ لِيَكُونَ رَسُولَهُ الْكَرِيمَ إِلَى النَّاسِ أَجْمَعِينَ .
Sesungguhnya ia telah mengoyak tirai-tirai wujud dengan kesabaran, keridaan, kerinduan, rasa syukur, dan keintiman, serta menyusup jauh ke dalam alam gaib hingga mendekati inti sarinya. Ia pun mengenali substansi yang paling tinggi (al-jauhar al-asmā) setelah jiwanya menjadi suci bersih dan mata batinnya disinari oleh cahaya keyakinan. Dan tidaklah mengherankan, karena ia adalah asuhan Allah yang dibentuk di bawah pengawasan-Nya langsung, agar kelak menjadi Rasul-Nya yang mulia bagi seluruh umat manusia.
وَانْقَضَى شَهْرُ رَمَضَانَ وَقَدْ نَسِيَ مُحَمَّدٌ دُنْيَاهُ بِالذِّكْرِ وَالشُّكْرِ وَالِابْتِهَالِ وَالسُّجُودِ ، فَأَحَسَّ أَنَّهُ قَدْ تَرَقَّى فِي مَعَارِجِ الْقُرْبِ دَرَجَاتٍ وَأَنَّهُ دَنَا فَاقْتَرَبَ مِنْ رُوحِ الرُّوحِ ، وَاسْتَشْعَرَ أَنَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّ الْعَالَمِينَ قَدْ تَجَلَّى عَلَيْهِ بِالْبَرَكَاتِ فَسَكَبَ الْحِكْمَةَ فِي قَلْبِهِ ، فَأَشْرَقَ ضَمِيرُهُ بِنُورٍ يَبْهَرُ أَنْوَارَ الشُّمُوسِ ، إِنَّهُ فَرِحَ بِمَا آتَاهُ اللَّهُ ، مُسْتَبْشِرٌ بِفَضْلِهِ ، فَقَدْ بَاتَ يَسْتَشْعِرُ أَنَّ نَفْسَهُ قَدِ ازْدَادَتْ قُوَّةً بَعْدَ ذَلِكَ الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ الَّذِي سَعِدَ فِيهِ بِالْأُنْسِ بِرَبِّهِ ، وَأَنَّ دَعَائِمَهَا قَدْ قَامَتْ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ .
Dan berlalulah bulan Ramadan, sementara Muhammad telah melupakan dunianya dengan berzikir, bersyukur, berdoa dengan khusyuk, dan bersujud. Maka ia merasakan bahwasanya ia telah naik beberapa derajat di tangga kedekatan, dan bahwasanya ia telah dekat lalu semakin mendekat kepada Ruh dari segala ruh. Ia pun merasakan bahwa Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan semesta alam, telah menampakkan karunia-Nya (tajalli) kepadanya dengan keberkahan, lalu menuangkan hikmah ke dalam hatinya, sehingga batinnya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan melampaui terangnya cahaya matahari. Sesungguhnya ia bergembira atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, seraya bersuka cita atas karunia-Nya, karena ia mulai merasakan jiwanya bertambah kuat setelah bulan yang penuh berkah itu, bulan yang di dalamnya ia berbahagia dengan keintiman bersama Tuhannya, dan bahwasanya pilar-pilar jiwanya telah tegak berdiri di atas landasan takwa kepada Allah dan keridaan-Nya.
وَانْقَلَبَ الَّذِينَ كَانُوا يَتَحَنَّثُونَ فِي غَارِ حِرَاءَ إِلَى أَهْلِيهِمْ لِتَشْغَلَهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَأَهْلُوهُمْ عَنْ نُورِ النُّورِ ، بَيْنَا مُحَمَّدٌ يَنْحَدِرُ فِي الْجَبَلِ وَهُوَ مُتَهَلِّلٌ بِالْفَرَحِ قَدْ تَعَلَّقَ كُلُّ كِيَانِهِ بِرَبِّهِ ، وَانْجَذَبَ إِلَى Сَّمَاءِ لَا تُلْهِيهِ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ، وَيَهْدِيهِ رَبُّهُ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا .
Dan kembalilah orang-orang yang tadinya melakukan tahannuts di Gua Hira kepada keluarga mereka, agar harta dan keluarga mereka kembali menyibukkan mereka dari Cahaya segala cahaya. Sementara itu, Muhammad turun dari gunung dengan wajah yang berseri-seri penuh kegembiraan, seluruh eksistensinya telah terpaut kepada Tuhannya, dan ia tertarik ke arah langit, di mana tiada perniagaan maupun jual beli yang dapat melalaikannya dari mengingat Allah, dan Tuhannya senantiasa menunjukinya ke jalan yang lurus.
وَانْطَلَقَ إِلَى مَكَّةَ تَخْفِقُ فِي جَنَبَاتِهِ مَحَبَّةٌ وَعِشْقٌ لِلذَّوَاتِ الْعَلِيَّةِ ، تَهِيمُ رُوحُهُ لِتَعْرُجَ إِلَى الْكَمَالِ الْأَسْمَى ، حَتَّى ذَهَلَ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، وَشُغِلَ بِذَلِكَ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ وَالْإِشْرَاقِ الَّذِي وَمَضَ فِي وِجْدَانِهِ فَأَنَارَ اخْتِلَاجَ خَوَاطِرِهِ وَسُوَيْدَاءَ قَلْبِهِ وَكُلِّ كِيَانِهِ .
Ia pun berjalan menuju Makkah, sementara di dalam dadanya bergejolak rasa cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Dzat Yang Maha Tinggi, ruhnya mengawang rindu untuk naik menuju kesempurnaan yang paling luhur, hingga ia melupakan dirinya sendiri dan segala hal di sekitarnya. Ia disibukkan oleh rasa gembira, suka cita, dan pencerahan yang berkilau di dalam lubuk jiwanya, menerangi setiap getaran bisikan batinnya, titik terdalam hatinya, serta seluruh eksistensinya.
وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْحَرَمِ وَالنَّاسُ تَطُوفُ بِهِ ، وَحَمَامُ الْحِمَى يُرَفْرِفُ مِنْ حَوْلِهِ مَعَ الطَّائِفِينَ ، وَالشَّمْسُ تَرْتَفِعُ إِلَى السَّمَاءِ تَبْعَثُ أَشِعَّتَهَا الْحَارَّةَ اللَّافِحَةَ تَشْوِي الْجُلُودَ ، وَتَقْصِدُ الْعَرَقَ مِنَ الْأَبْدَانِ تَكَادُ تَزْهَقُ الْأَرْوَاحُ ، فَرَاحَ يُوسِعُ مِنْ خُطْوَتِهِ تَضْطَرِبُ رُوحُهُ بِنَشْوَةٍ صَافِيَةٍ وَقَدْ هَفَتْ إِلَى أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ ، وَبَدَا كُلُّ شَيْءٍ جَدِيدًا لِعَيْنِ بَصِيرَتِهِ كَأَنَّمَا يَرَاهُ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ ، فَالْبَيْتُ غَارِقٌ فِي أَنْوَارٍ سَمَاوِيَّةٍ تُغَذِّي الْوِجْدَانَ وَتُضْفِي عَلَى النَّفْسِ رَحْمَةً وَأَمْنًا وَسَلَامًا ، وَالْكَوْنُ مِنْ حَوْلِهِ يُسَبِّحُ لِمَلِكِ النَّاسِ تَسْبِيحًا يَسْتَشْعِرُهُ فِي أَعْمَاقِ قَلْبِهِ وَإِنْ لَمْ تَلْتَقِطْ ذَبْذَبَاتِهِ أُذُنَاهُ ، وَلَا عَجَبَ فَقَدْ صَارَ يَرَى بِاللَّهِ وَيَسْمَعُ بِاللَّهِ وَيُفَكِّرُ بِنُورِ اللَّهِ .
Dan pandangan matanya tertuju pada tanah Haram sementara manusia sedang thawaf di sekelilingnya, dan burung-burung merpati tanah suci beterbangan di sekitarnya bersama orang-orang yang thawaf. Matahari mulai naik ke langit, memancarkan sinarnya yang panas menyengat membakar kulit, dan memeras keringat dari tubuh hingga jiwa-jiwa seakan hendak melayang. Maka ia mulai memperlebar langkah kakinya, jiwanya bergetar dengan kesenangan yang murni tatkala merindukan Rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Segala sesuatu tampak baru bagi mata batinnya seolah-olah ia melihatnya untuk pertama kali; Baitullah tampak tenggelam dalam cahaya samawi yang memberi makan lubuk jiwa serta melimpahkan rahmat, keamanan, dan kedamaian pada diri. Alam semesta di sekitarnya bertasbih menyucikan Raja manusia, suatu tasbih yang ia rasakan di kedalaman hatinya meskipun kedua telinganya tidak menangkap getarannya. Dan tidaklah aneh, karena kini ia telah melihat dengan jalan Allah, mendengar dengan jalan Allah, dan bertafakur dengan cahaya Allah.
طَافَ سَبْعًا مَعَ الطَّائِفِينَ وَقَدْ أَشْرَقَتْ سَرِيرَتُهُ بِإِحْسَاسَاتٍ صَافِيَةٍ انْبَعَثَتْ مِنْ كُنُوزِ مَعَارِفَهُ الَّتِي اسْتَمَدَّهَا مِنْ خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ ، وَرَبَتْ بِطُولِ السَّهَرِ مَعَ اللَّهِ وَالْأُنْسِ بِهِ وَفَاضَتْ بِالْبَرَكَاتِ ، وَرَبَتْ بِطُولِ السَّهَرِ مَعَ اللَّهِ وَالْأُنْسِ بِهِ وَفَاضَتْ بِالْبَرَكَاتِ فَجَعَلَتْهُ يَسْمُو إِلَى الْكَمَالِ الْمُطْلَقِ ، وَيَنْشَرِحُ صَدْرُهُ لِلنُّورِ الْمُتَدَفِّقِ فِي فُؤَادِهِ مِنْ فَوْقِ الطَّبِيعَةِ مِنْ وَرَاءِ حُجُبِ الْغَيْبِ ، وَكَانَ سُرُورُهُ فَيَّاضًا حَتَّى إِنَّهُ لَمْ يَحُسَّ حَرَّ الشَّمْسِ فَقَدِ اسْتَظَلَّ بِظِلِّ اللَّهِ .
Ia melakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran bersama orang-orang yang thawaf, sementara batinnya telah disinari oleh perasaan-perasaan murni yang memancar dari khazanah makrifatnya yang ia timba dari perbendaharaan malakut. Perasaan itu tumbuh subur berkat malam-malam panjang yang dilaluinya bersama Allah serta keintiman dengan-Nya dan meluap membawa keberkahan, menjadikannya melesat naik menuju kesempurnaan mutlak, dan melapangkan dadanya untuk menerima cahaya yang mengalir deras ke dalam hatinya dari alam supranatural di balik tirai gaib. Rasa gembiranya begitu meluap-luap hingga ia tidak merasakan teriknya panas matahari, karena ia telah bernaung di bawah naungan Allah.
وَخَرَجَ مِنَ الْحَرَمِ بَعْدَ أَنِ اسْتَمْتَعَ بِلَذَّةِ مَعْرِفَةِ اللَّهِ ، وَهِيَ لَذَّةٌ سَرْمَدِيَّةٌ تَزْكُو عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ وَتَزْدَادُ تَأَلُّقًا وَاشْتِعَالًا ، إِنَّهُ عَرَفَ كَمَالَ الْحُبِّ فَصَارَ اللَّهُ مَحْبُوبَ قَلْبِهِ وَمَعْبُودَ فُؤَادِهِ وَمَقْصُودَ رُوحِهِ ، فَإِذَا طَرِبَ لِطَيِّبِ أَصْوَاتِ الطُّيُورِ ، وَإِذَا سَعِدَ بِرَوْحِ نَسِيمِ الْأَسْحَارِ ، فَهُوَ مُتَفَرِّجٌ بِمَجَالِ خَلْقِ اللَّهِ ، فَقَدْ صَارَ قِبْلَتَهُ وَصَارَتْ لَذَّتُهُ إِدَامَةَ النَّظَرِ فِي وَجْهِهِ وَكَانَ ذَلِكَ فَوْزًا عَظِيمًا .
Ia pun keluar dari tanah Haram setelah mereguk kenikmatan lezatnya makrifat kepada Allah, suatu kelezatan abadi yang semakin suci seiring berjalannya hari serta bertambah kemilau dan berkobar. Sesungguhnya ia telah mengenali kesempurnaan cinta, sehingga Allah menjadi kekasih hatinya, sesembahan jiwanya, dan tujuan utama ruhnya. Jika ia merasa terhibur oleh merdunya suara burung-burung, dan jika ia merasa bahagia oleh sejuknya embusan angin di waktu sahur, maka itu karena ia sedang menikmati hamparan ciptaan Allah. Sungguh Allah telah menjadi kiblatnya dan kelezatannya adalah terus-menerus memandang wajah-Nya, dan yang demikian itu merupakan keberuntungan yang sangat besar.
وَوَقَفَ أَمَامَ دَارِ خَدِيجَةَ وَطَرَقَ الْبَابَ ، وَسَرْعَانَ مَا انْفَتَحَ عَنْ جَارِيَةٍ مِنْ جَوَارِي الطَّاهِرَةِ وَسَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ، وَمَا أَنْ وَقَعَتْ عَيْنَاهَا عَلَيْهِ حَتَّى صَاحَتْ فِي فَرَحٍ مُعْلِنَةً قُدُومَ سَيِّدِهَا الْكَرِيمِ . وَتَرَدَّدَ صَوْتُهَا فِي جَنَبَاتِ الدَّارِ كَأَجْمَلِ بُشْرَى ، فَهَرَعَ زَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَهِنْدُ بْنُ هِنْدٍ وَأُمُّهُ خَدِيجَةُ وَبَرَكَةُ الْحَبَشِيَّةُ لِاسْتِقْبَالِ مُحَمَّدٍ الْحَبِيبِ ، وَفَاضَتِ الْأَشْوَاقُ فَانْهَمَرَتْ دُمُوعُ الْفَرَحِ مِنَ الْعُيُونِ فَقَدْ عَادَ إِلَى الدَّارِ رُوحُهَا وَنُورُهَا .
Ia pun berdiri di depan rumah Khadijah lalu mengetuk pintu, dan dengan cepat pintu terbuka oleh seorang sahaya perempuan milik wanita yang suci, sang penghulu wanita Quraisy. Begitu kedua mata pelayan itu memandangnya, ia langsung berseru gembira memaklumkan kedatangan tuannya yang mulia. Suaranya menggema di setiap sudut rumah bagaikan kabar gembira yang paling indah, maka bergegaslah Zaid bin Muhammad, Hindun bin Hindun, ibunya (Khadijah), serta Barakah wanita Habasyah (Ummu Aiman) untuk menyambut Muhammad tercinta. Kerinduan pun meluap hingga air mata kebahagiaan berlinang dari kelopak mata, karena ruh dan cahaya rumah itu telah kembali pulang.
وَأَطَالَتْ خَدِيجَةُ النَّظَرَ إِلَى الْأَمِينِ فَرَأَتْ وَجْهَهُ يَتَأَلَّقُ بِنُورٍ انْبَهَرَ لَهُ فُؤَادُهَا قَبْلَ بَصَرِهَا ، فَذَكَرَهَا ذَلِكَ الضِّيَاءُ بِحُلْمِهَا الَّذِي رَأَتْ فِيهِ الشَّمْسَ تَنْحَدِرُ مِنَ السَّمَاءِ لِتَسْتَقِرَّ فِي سَمَاءِ دَارِهَا . إِنَّهُ لَمْ يَرْتَبْ قَلْبُهَا لَحْظَةً فِي أَنَّهُ تَأْوِيلُ رُؤْيَاهَا ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ عَلَى يَقِينٍ وَهِيَ مُسْتَبْشِرَةٌ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ يَرْتَقِبُ ابْنُ عَمِّهَا وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ ظُهُورَهُ ، وَأَنَّهُ مَنْ بَشَّرَ بِهِ كُهَّانُ الْعَرَبِ وَرُهْبَانُ النَّصَارَى وَأَحْبَارُ الْيَهُودِ .
Khadijah memandangi al-Amin dalam-dalam, dan ia melihat wajahnya memancarkan cahaya yang membuat hatinya terpesona sebelum pandangan matanya. Cahaya terang itu mengingatkannya pada mimpinya dahulu, di mana ia melihat matahari turun dari langit untuk bersemayam di langit rumahnya. Tiada keraguan sedikit pun di dalam hatinya bahwa inilah takwil dari mimpinya, bahkan ia merasa sangat yakin seraya bersuka cita memandangnya, bahwasanya dialah orang yang sedang dinanti-nantikan kemunculannya oleh sepupunya, Waraqah bin Naufal, dan dialah sosok yang telah dikabarkan gembira tentangnya oleh para peramal Arab, para pendeta Nasrani, serta para rabi Yahudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar