رَاحَ أَبُو سُفْيَانَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الطَّائِفِ ، فَبَنُو أُمَيَّةَ وَبَنُو ثَقِيفٍ حَلِيفَانِ بَيْنَهُمَا مَوَدَّةٌ ، وَكَانَتِ الزِّيَارَاتُ مُسْتَمِرَّةً بَيْنَ سَادَاتِ الْأُمَوِيِّينَ وَالثَّقَفِيِّينَ ، وَمِمَّا زَادَ الصِّلَاتِ الطَّيِّبَةَ بَيْنَ الْحَيَّيْنِ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيَّ صَارَ عَظِيمَ ثَقِيفٍ وَكَانَتْ أُمُّهُ مِنْ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ .
Abu Sufyan pergi melakukan tawaf di Baitullah sebelum berangkat ke Thaif. Bani Umayyah dan Bani Tsaqif adalah dua sekutu yang saling menaruh kasih sayang, dan kunjungan terus berlangsung di antara para pemuka kaum Umawi dan Tsaqafi. Di antara hal yang mempererat hubungan baik antara kedua kabilah tersebut adalah bahwa Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi telah menjadi orang agung di Tsaqif, sedangkan ibunya berasal dari Bani Abdi Syams.
وَكَانَتِ الزِّيجَاتُ الْمُتَبَادَلَةُ بَيْنَ قُرَيْشٍ وَبَيْنَ الثَّقَفِيِّينَ تَشُدُّ الْأَوَاصِرَ بَيْنَ الْقَرْيَتَيْنِ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ ، فَالْحَارِثُ بْنُ كَلَدَةَ طَبِيبُ الْعَرَبِ تَزَوَّجَ أُخْتَ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ ، وَقَدْ أَنْجَبَ النَّضْرَ الطَّبِيبَ وَالْفَيْلَسُوفَ الَّذِي سَاحَ فِي الْأَرْضِ وَرَاحَ يَرْوِي ظَمَأَهُ إِلَى الْمَعْرِفَةِ مِنْ فَلَاسِفَةِ الْفُرْسِ وَالرُّومَانِ وَالْيُونَانِ ، فَرَاحَ يَتِيهُ بِعِلْمِهِ الْمُسْتَوْرَدِ عَلَى الْجَمِيعِ ، وَمَا كَانَ يَخْطُرُ لَهُ عَلَى قَلْبٍ ابْنِ خَالَتِهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ، فَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ يَعْرِفُ الْقِرَاءَةَ وَلَا الْكِتَابَةَ ، فَمِنْ أَيْن لِمَنْ كَانَ مِثْلَهُ الْعِلْمُ الَّذِي يَجْعَلُهُ نِدًّا لِفَيْلَسُوفِ ثَقِيفٍ !
Pernikahan yang saling silang antara Quraisy dan kaum Tsaqif turut memperkuat ikatan antara dua kota, Makkah dan Thaif. Al-Harits bin Kaladah, sang tabib bangsa Arab, menikahi saudara perempuan Aminah binti Wahb, dan ia dikaruniai anak bernama an-Nadhr, seorang tabib sekaligus filosof yang menjelajahi bumi demi memuaskan dahaganya akan ilmu dari para filosof Persia, Romawi, dan Yunani. Ia pun mulai menyombongkan ilmu impornya di hadapan semua orang, dan sama sekali tidak terdetak di dalam hatinya perihal sepupunya, Muhammad bin Abdullah; karena Muhammad tidak mengenal baca-tulis, maka dari mana orang seperti dia bisa mendapatkan ilmu yang mampu menjadikannya tandingan bagi sang filosof Tsaqif!
وَتَزَوَّجَ مَسْعُودٌ الثَّقَفِيُّ مِنْ بَنَاتِ عَبْدِ شَمْسٍ وَأَنْجَبَ عُرْوَةَ ، فَشَبَّ ابْنُهُ سَيِّدًا مُطَاعًا فِي قَوْمِهِ حَتَّى صَارَ سَيِّدَ ثَقِيفٍ ، فَاشْتَدَّ هَوَى الثَّقَفِيِّينَ إِلَى بَنِي أُمَيَّةَ فَحَالَفُوهُمْ دُونَ بَنِي هَاشِمٍ ، وَمِمَّا زَيَّنَ ذَلِكَ الْحِلْفَ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ كَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ قُرَيْشٍ كُلِّهَا فَلَا تُشَنُّ حَرْبٌ إِلَّا بِأَمْرِهِ ، فَهُوَ مَرْكَزُ الْقُوَّةِ فِي قُرَيْشٍ بَيْنَمَا كَانَ لِلْهَاشِمِيِّينَ رِفَادَةُ الْحَجِيجِ وَسِقَايَتُهُمْ ، وَفِي ذَلِكَ مَغْرَمٌ لَا مَغْنَمَ فِيهِ إِلَّا الشَّرَفُ وَحُسْنُ الْأُحْدُوثَةِ .
Mas'ud ats-Tsaqafi pun menikahi salah seorang putri dari Abdi Syams dan dikaruniai anak bernama Urwah, lalu putrunya itu tumbuh menjadi pemimpin yang ditaati di kalangan kaumnya hingga menjadi pemuka Tsaqif. Hal ini membuat kecondongan kaum Tsaqif kepada Bani Umayyah semakin kuat, sehingga mereka menjalin sekutu dengan mereka, bukan dengan Bani Hasyim. Dan yang memperindah persekutuan tersebut adalah fakta bahwa Abu Sufyan bin Harb merupakan pemegang panji seluruh Quraisy, sehingga tidak ada perang yang dikobarkan kecuali atas perintahnya; dialah pusat kekuatan di Quraisy, sementara kaum Hasyimi hanya memegang urusan rifadah (penyediaan makanan) dan siqayah (penyediaan minuman) bagi para jamaah haji, yang di dalamnya terdapat beban biaya tanpa keuntungan materi, kecuali kehormatan dan nama baik yang disebut-sebut.
وَرَاحَ أَبُو سُفْيَانَ يَتَمَسَّحُ بِأَصْنَامِ مَكَّةَ ، فَهُوَ يَتَقَرَّبُ إِلَيْهَا لِتُوفِيَهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَلِأَنَّ أَبَاهُ حَرْبَ بْنَ أُمَيَّةَ كَانَ يَعْبُدُهَا ، وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَصَوَّرَ أَنْ أَبَاهُ حَرْبًا كَانَ عَلَى ضَلَالٍ ، إِنَّهُ يَعِيشُ فِي الدُّنْيَا دُونَ أَنْ يَجِدَ الْحَيَاةَ لُغْزًا أَوْ سِرًّا ، فَهُوَ لَا يُجْهِدُ نَفْسَهُ فِي الْبَحْثِ عَنْ سِرِّ الْحَيَاةِ وَلَا يُفَكِّرُ فِي أَنْ يُغَيِّرَ الدُّنْيَا ، فَهُوَ يَسْعَدُ بِأَيَّامِهِ فَقَدْ كَانَ كُلُّ مَا يَبْغِيهِ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِاللَّذَّاتِ الْحِسِّيَّةِ ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ بِالْمَادِّيَّةِ الْأَرْضِيَّةِ وَنَزْعَةِ إِشْبَاعِ اللَّذَّةِ .
Abu Sufyan pun mulai mengusap berhala-berhala Makkah, ia mendekatkan diri kepada mereka agar mereka memenuhi upahnya di dunia, dan juga karena ayahnya, Harb bin Umayyah, dahulu menyembahnya; ia tidak sanggup membayangkan bahwa ayahnya, Harb, berada dalam kesesatan. Ia menjalani hidup di dunia tanpa menganggap kehidupan sebagai teka-teki atau misteri, ia tidak melelahkan dirinya untuk mencari rahasia kehidupan dan tidak pula berpikir untuk mengubah dunia. Ia merasa bahagia dengan hari-harinya, sebab segala yang ia inginkan hanyalah menikmati kelezatan-kelezatan inderawi, karena ia adalah seorang yang percaya pada kebendaan bumi dan kecenderungan untuk memuaskan syahwat.
كَانَ لَا يَأْبَهُ بِالْخُلُقِ وَلَا مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، فَهُوَ يُرِيدُ مَالًا مَمْدُودًا يَحْسَبُ أَنْ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ، لَا يُقْلِقُهُ مِنْ أَيْن جَاءَ ، وَيُرِيدُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِالنِّسَاءِ وَمَا جَالَ بِخَاطِرِهِ أَبَدًا تَنْظِيمُ الْحَيَاةِ الْجِنْسِيَّةِ ، بَلْ كَانَ يُشْبِعُهَا أَيْنَمَا حَلَّ فِي مَكَّةَ أَوْ ثَقِيفٍ أَوْ يَثْرِبَ أَوْ دُومَةِ الْجَنْدَلِ أَوْ فِي الْحِيرَةِ أَوِ الشَّامِ ، وَمَا طَمَعَ فِي سِيَادَةِ قَوْمِهِ إِلَّا لِيُشْبِعَ نَهَمَهُ إِلَى الْقُوَّةِ وَالسُّلْطَانِ .
Ia tidak peduli dengan moralitas maupun kemuliaan akhlak; ia menginginkan harta yang melimpah dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, tidak ambil pusing dari mana harta itu datang. Ia ingin bersenang-senang dengan wanita dan tidak pernah terlintas di benaknya untuk mengatur kehidupan seksual, melainkan ia memuaskannya di mana pun ia singgah, baik di Makkah, Tsaqif, Yatsrib, Daumatul Jandal, al-Hirah, maupun Syam. Dan tidaklah ia berambisi atas kepemimpinan kaumnya melainkan demi memuaskan ketamakannya akan kekuatan dan kekuasaan.
كَانَتِ الْمَادِّيَّةُ تُسْدِلُ سَتَائِرَهَا السُّودَ عَلَى أُفُقِ الْحَيَاةِ فِي مَكَّةَ ، قَدِ اضْطَرَبَ فِيهَا التَّوَازُنُ الِاجْتِمَاعِيُّ ، فَالْعَبِيدُ يَكْدَحُونَ وَيُنْفِقُونَ الْجُهْدَ وَالْعَرَقَ فِي سَبِيلِ إِغْنَاءِ السَّادَةِ وَمَا أَقَلَّ مَا كَانَ يَعُودُ عَلَيْهِمْ مِنْ ثَمَارِ كِفَاحِهِمْ ، إِنَّهُمْ يَئِنُّونَ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأَشْرَافِ ، وَلَكِنَّ أَبَا سُفْيَانَ كَانَ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرٌ فَمَا كَانَ يَسْمَعُ الْأَنِينَ ، وَلَا يُحِسُّ مَأْسَاةَ الْعَبِيدِ ، وَلَا يَرَى اسْتِشْهَادَ الْإِنْسَانِيَّةِ الَّذِي يَقَعُ تَحْتَ بَصَرِهِ وَسَمْعِهِ .
Kebendaan (materialisme) tengah menurunkan tirai-tirai hitamnya di ufuk kehidupan Makkah, yang mana keseimbangan sosial di dalamnya telah guncang; para budak bekerja keras memeras tenaga dan keringat demi memperkaya para majikan, dan betapa sedikitnya buah dari perjuangan yang kembali kepada diri mereka. Mereka merintih di bawah kaki kaum bangsawan, namun di kedua telinga Abu Sufyan terdapat sumbatan sehingga ia tidak mendengar rintihan tersebut, tidak merasakan tragedi para budak, dan tidak melihat gugurnya rasa kemanusiaan yang terjadi langsung di bawah pengamatan dan pendengarannya.
وَكَانَتِ الثَّرْوَةُ مُكَدَّسَةً فِي أَيْدِي نَفَرٍ قَلِيلٍ مِنْ قَوْمِهِ بَيْنَمَا كَانَ كُلُّ النَّاسِ يُقَاسُونَ الْحِرْمَانَ ، فَلَمْ تَحْنُ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ إِلَى سُوءِ تَوْزِيعِ الثَّرْوَةِ فِي قَوْمِهِ ، وَكَانَ كُلُّ مَا يَفْعَلُهُ أَنْ يُطْعِمَ الْفُقَرَاءَ حَتَّى لَا يَذْهَبَ بَنُو هَاشِمٍ بِالشَّرَفِ وَحْدَهُمْ . وَكَانَ الرِّبَا الْفَاحِشُ يَنْقُضُ ظَهْرَ الْمُجْتَمَعِ الْمَكِّيِّ ، فَلَمْ يَخْطُرْ لَهُ عَلَى قَلْبٍ ، وَهُوَ سَيِّدُ قَوْمِهِ أَنْ يَسْتَنْكِرَ ذَلِكَ الِاسْتِغْلَالَ الْبَشِعَ بَلْ كَانَ يَرَاهُ أَمْرًا مَشْرُوعًا يَنْبَغِي حِمَايَتُهُ ، وَكَانَتِ الثَّارَاتُ تُزْهِقُ أَرْوَاحًا بَرِيئَةً وَالْحُرُوبُ بَيْنَ الْقَبَائِلِ تُشَنُّ لِأَتْفَهِ الْأَسْبَابِ فَانْعَدَمَ الِاسْتِقْرَارُ فِي أَحْيَاءِ الْعَرَبِ وَسَادَ قَانُونُ الْغَابِ ، فَلَمْ
Kekayaan menumpuk di tangan segelintir kecil dari kaumnya, sementara seluruh manusia menderita kekurangan, namun tidak ada sedikit pun perhatian darinya terhadap buruknya distribusi kekayaan di kalangan kaumnya; segala yang ia lakukan berupa memberi makan orang miskin hanyalah agar Bani Hasyim tidak memonopoli kehormatan itu sendirian. Riba yang keji pun tengah mematahkan punggung masyarakat Makkah, namun sama sekali tidak terdetak di dalam hatinya—padahal ia adalah pemimpin kaumnya—untuk mengingkari eksploitasi yang menjijikkan tersebut, bahkan ia melihatnya sebagai perkara legal yang wajib dilindungi. Balas dendam darah (tsarat) pun merenggut nyawa-nyawa yang tak berdosa, dan peperangan antar kabilah berkobar karena sebab-sebab yang paling sepele, sehingga lenyaplah stabilitas di perkampungan Arab dan berlakulah hukum rimba, maka tidaklah...
يَتَحَرَّكْ لِحَقْنِ الدِّمَاءِ وَلَمْ يَرَ أَنَّ قَافِلَةَ الْحَضَارَةِ الْمَكِّيَّةِ الَّتِي يَقُودُهَا مُنْطَلِقَةٌ إِلَى الْهَاوِيَةِ ، فَقَدْ أَسْدَلَتِ الْمَادِّيَّةُ حِجَابًا عَلَى بَصَرِهِ وَبَصِيرَتِهِ فَعَاشَ بِنَفْسِهِ وَلِنَفْسِهِ ، وَلْيَضْرِبِ الْآخَرُونَ فِي تِيهِ الْحَيَاةِ أَوْ لِيَنْزِلُوا فِي أَعْمَاقِ الْقُبُورِ .
...ia bergerak untuk mencegah pertumpahan darah, dan ia tidak melihat bahwa kafilah peradaban Makkah yang dipimpinnya sedang meluncur menuju jurang kehancuran; karena kebendaan (materialisme) telah menutup mata kepala dan mata hatinya, sehingga ia hidup bersama dirinya dan hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan orang lain biarlah tersesat di dalam labirin kehidupan atau turun ke dasar kubur.
إِنَّهُ مُرْتَبِطٌ بِالْأَغْنِيَاءِ ، وَكَانَتِ الْحُكُومَةُ فِي مَكَّةَ حُكُومَةَ الْأَغْنِيَاءِ يَحْكُمُونَهَا مِنْ دَارِ النَّدْوَةِ وَمَا كَانَ يَدْخُلُ تِلْكَ الدَّارَ فَقِيرٌ ، فَكَانَتْ رَابِطَةُ الْمَالِ وَحْدَهَا هِيَ رَابِطَةُ الْإِنْسَانِ بِالْإِنْسَانِ ، فَكَانَتْ عُقْدَةُ الْمَالِ هِيَ الْحَاكِمَةَ لِلْفَوْضَى الَّتِي نُظِّمَتْ حَيْثُمَا اتَّفَقَ ، فَلَمْ يَلْتَفِتْ أَبُو سُفْيَانَ لِظُلْمِ الْفُقَرَاءِ . وَلَمْ يَرَ فِي الْعُدْوَانِ عَلَيْهِمْ عُدْوَانًا عَلَى الْإِنْسَانِيَّةِ جَمْعَاءَ .
Sesungguhnya ia terikat dengan orang-orang kaya, dan pemerintahan di Makkah adalah pemerintahan orang-orang kaya yang mengendalikannya dari Darun Nadwah, serta tidak pernah ada orang miskin yang memasuki gedung tersebut; maka ikatan harta semata ialah yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya, dan simpul harta adalah penguasa atas kekacauan yang diatur sedemikian rupa secara asal. Karenanya, Abu Sufyan tidak memedulikan kezaliman terhadap orang-orang miskin, dan ia tidak melihat tindakan sewenang-wenang atas mereka sebagai bentuk permusuhan terhadap kemanusiaan universal.
كَانَتِ السَّعَادَةُ الْمَادِّيَّةُ هَدَفَ الْحَيَاةِ وَغَايَتَهَا ، فَانْفَصَمَتْ عُرَى الرَّوَابِطِ الْإِنْسَانِيَّةِ وَانْقَلَبَ النَّاسُ جَمِيعًا الَّذِينَ لَا يَتَطَلَّعُونَ إِلَى مَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ إِلَى عَبِيدٍ لِلْمَالِ ، فَانْعَدَمَ انْسِجَامُ الْجَمَاعَةِ وَانْطَلَقُوا فَوْقَ قُبُورِ الْأَخْلَاقِ وَالْقِيَمِ الْإِنْسَانِيَّةِ الْخَالِدَةِ إِلَى سَرَابِ الْحَيَاةِ ، لَا يَعْرِفُونَ الْتِقَاءَ السَّمَاءِ بِالْأَرْضِ وَلَا الْخَيْرَ الْأَسْمَى وَلَا السَّعَادَةَ الْحَقَّةَ .
Kebahagiaan jasmani merupakan tujuan hidup dan muaranya, akibatnya putuslah tali-tali hubungan kemanusiaan, dan seluruh manusia yang tidak memandang ke arah transendental (metafisika) berbalik menjadi hamba-hamba harta; harmoni kelompok pun sirna dan mereka melesat di atas kuburan akhlak serta nilai kemanusiaan yang abadi menuju fatamorgana kehidupan, mereka tidak mengenal pertemuan antara langit dan bumi, tidak pula kebaikan tertinggi maupun kebahagiaan yang sejati.
وخَرَجَ أَبُو سُفْيَانَ مِنَ الْحَرَمِ وَهُوَ يُحِسُّ حُرِّيَّةَ مَالِكِ الْعَبِيدِ ، إِنَّهُ إِذَا أَمَرَ صَدَعَ الْمَكِّيُّونَ لِأَمْرِهِ ، وَإِذَا أَشَارَ لَبَّوْا إِشَارَتَهُ ، فَهُوَ سَيِّدٌ مُطَاعٌ فِي قَوْمِهِ ، وَلَكِنَّهُ كَانَ فِي أَعْمَاقِهِ يَرْتَجِفُ مِنَ الْحُرِّيَّةِ الْحَقَّةِ ، فَهُوَ عَبْدٌ لِدِينِ آبَائِهِ ، أَسِيرٌ لِتَقَالِيدِ أَجْدَادِهِ ، أَعْمَى لَا يَقْوَى عَلَى أَنْ يَرَى مَا فَوْقَ رَأْسِهِ ، فَبَصَرُهُ مَشْدُودٌ إِلَى الْأَرْضِ بِسَلَاسِلَ الْمَادِّيَّةِ الَّتِي تَعْلَمُ أَنْ تَكُونَ غَايَتُهُ الَّتِي لَيْسَ وَرَاءَهَا مَرْمَىً .
Abu Sufyan keluar dari tanah haram seraya merasakan kebebasan seorang pemilik budak; jika ia memerintah, kaum Makkah tunduk pada perintahnya, dan jika ia memberi isyarat, mereka memenuhi isyaratnya, karena ia adalah pemimpin yang ditaati di kalangan kaumnya. Akan tetapi, di lubuk hatinya ia gemetar dari kebebasan yang hakiki; ia sejatinya hamba bagi agama nenek moyangnya, tawanan bagi tradisi leluhurnya, seorang buta yang tidak kuasa melihat apa yang ada di atas kepalanya, sebab pandangan matanya terikat erat ke bumi oleh rantai-rantai materialisme yang ia ketahui sebagai batas tujuannya yang tidak ada lagi sasaran di baliknya.
وَكَانَ كُلُّ عِلْمِهِ يَقُودُهُ إِلَى الْجَهْلِ فَهُوَ يَعْرِفُ الْقِرَاءَةَ وَالْكِتَابَةَ ، فَأَبُوهُ حَرْبُ بْنُ أُمَيَّةَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ بِبِشْرِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ أَخِي أُكَيْدِرِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ صَاحِبِ دُومَةِ الْجَنْدَلِ فَقَدْ كَانَ يَتَاجِرُ عِنْدَهُمْ ، فَتَعَلَّمَ حَرْبٌ مِنْهُ الْكِتَابَةَ ، فَمَنِ
Dan seluruh pengetahuannya justru menuntunnya pada kebodohan; ia mengetahui baca dan tulis, karena ayahnya, Harb bin Umayyah, dahulu memiliki hubungan persahabatan dengan Bisyr bin Abdul Malik, saudara lelaki Ukaidir bin Abdul Malik penguasa Daumatul Jandal, yang mana ia biasa berdagang di tempat mereka, lalu Harb belajar menulis darinya, maka dari...
الْبَتْرَاءِ عَاصِمَةِ النَّبَطِيِّينَ انْتَقَلَتِ الْكِتَابَةُ إِلَى كُلِّ بِلَادِ الْعَرَبِ الشَّمَالِيَّةِ ، ثُمَّ سَافَرَ مَعَهُ بِشْرٌ إِلَى مَكَّةَ فَتَزَوَّجَ الصَّهْبَاءَ بِنْتَ حَرْبٍ فَتَعَلَّمَ مِنْهُ أَبُو سُفْيَانَ وَكَثِيرٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ فَكَثُرَ لِذَلِكَ الْكِتَابُ فِيهِمْ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يَسْتَخْدِمْ ذَلِكَ الْعِلْمَ إِلَّا فِي حِسَابِ الرِّبَا وَأَرْبَاحِ التِّجَارَةِ وَمُكَاتَبَةِ الْعَبِيدِ ، وَلَمْ يَفْتَحْ لَهُ سَبِيلَ الْحُرِّيَّةِ الْمُطْلَقَةِ وَلَمْ يَقُدْهُ إِلَى طَرِيقِ اللَّهِ بَلْ قَادَهُ فِي الطَّرِيقِ الْمُنْحَدِرِ إِلَى الْهَاوِيَةِ ، إِلَى الظَّلَامِ الثَّقِيلِ .
...Petra, ibu kota bangsa Nabath, tulisan tersebut berpindah ke seluruh negeri Arab Utara. Kemudian Bisyr melakukan perjalanan bersamanya ke Makkah, lalu menikahi ash-Shahba' binti Harb, sehingga Abu Sufyan dan banyak dari kalangan Bani Umayyah belajar darinya, dan karena itulah jumlah orang yang bisa menulis menjadi banyak di kalangan mereka. Akan tetapi, ia tidak menggunakan ilmu tersebut melainkan dalam perhitungan riba, keuntungan dagang, dan surat perjanjian kemerdekaan budak (mukatabah); ilmu itu tidak membukakan baginya jalan kebebasan mutlak dan tidak menuntunnya ke jalan Allah, melainkan membawanya di jalan yang merosot menuju jurang, menuju kegelapan yang pekat.
وَكَانَ كُلُّ مَا يَعْرِفُهُ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ أَنَّ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ بَنَاتُ اللَّهِ يَشْفَعْنَ إِلَيْهِ ، وَمَا كَانَ يَلْتَمِسُ مِنَ الْآلِهَةِ إِلَّا أَنْ تَرْزُقَهُ بِالْأَمْوَالِ وَبِمَا يُشْبِعُ نَهَمَهُ إِلَى الشَّهَوَاتِ ، أَمَّا الْمَوْتُ فَمَا كَانَ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ يُقَرِّبُهُ مِنَ اللَّهِ فَهُوَ يُؤْمِنُ أَنْ لَا حَيَاةَ بَعْدَ حَيَاتِهِ الدُّنْيَا ، فَكَانَ حَلِيفَ اللَّذَّاتِ الْجَسَدِيَّةِ وَمَا ذَاقَ أَبَدًا طَعْمَ أَيِّ لَذَّةٍ رُوحِيَّةٍ ، فَهُوَ غَارِقٌ فِي الْجَهْلِ وَالْفَسَادِ قَدْ كَتَمَ فِي وِجْدَانِهِ أَنْفَاسَ بَصِيصِ النُّورِ الْإِلَهِيِّ الَّذِي يُولَدُ مَعَ الْإِنْسَانِ .
Dan segala yang ia ketahui tentang perkara agama hanyalah bahwa al-Lata, al-Uzza, dan Manat adalah putri-putri Allah yang memberikan syafaat di sisi-Nya, dan tidaklah ia memohon kepada berhala-berhala itu melainkan agar dikaruniai harta kekayaan serta apa yang dapat memuaskan ketamakannya akan syahwat. Adapun kematian, ia tidak meyakini bahwa hal itu dapat mendekatkannya kepada Allah, karena ia percaya tidak ada kehidupan setelah kehidupan dunianya; ia adalah sekutu kelezatan ragawi dan tidak pernah mencicipi rasa kelezatan rohani sedikit pun, ia tenggelam dalam kebodohan dan kerusakan, serta telah membekap di dalam jiwanya hembusan secercah cahaya ilahi yang lahir bersama manusia.
وَوَصَلَ إِلَى الطَّائِفِ وَرَاحَ يَسْرَحُ الطَّرْفَ فِي بَسَاتِينِهَا وَعُيُونِهَا وَفَوَاكِهِهَا الْمُخْتَلِفَةِ الْأَلْوَانِ ، وَفِي الْجَدَاوِلِ الْمُنْحَدِرَةِ مِنَ الْجِبَالِ فَأَحَسَّ نَشْوَةً عَابِرَةً ، فَقَدْ كَانَ يَرَى الْجَمَالَ بِنُورِ عَيْنَيْهِ ، فَلَوْ أَنَّهُ دَرَبَ بَصِيرَتَهُ عَلَى النَّظَرِ وَرَاءَ الْحُجُبِ لَرَأَى جَمَالَ الْجَمَالِ ، وَلَا سْتَشْعَرَ بِجَلَالِ الْجَلَالِ ، وَلَنَعِمَ بِنَشْوَةٍ يَسْعَدُ بِهَا الْفُؤَادُ عَلَى الدَّوَامِ ، وَلَبُذِرَتْ فِيهِ بُذُورُ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ ، وَلَعَرَفَ الْفَنَاءَ عَنِ النَّفْسِ وَحَلَاوَةَ الْوِصَالِ .
Ia pun sampai di Thaif dan mulai melayangkan pandangan ke kebun-kebunnya, mata airnya, buah-buahannya yang beraneka warna, serta aliran sungai kecil yang turun dari gunung, sehingga ia merasakan gairah kesenangan yang semu; ia melihat keindahan hanya dengan cahaya kedua matanya, andai saja ia melatih mata hatinya untuk memandang ke balik tabir, niscaya ia akan melihat keindahan dari segala keindahan, merasakan keagungan dari segala keagungan, menikmati kesenangan yang membuat hati bahagia selamanya, menaburkan benih kegembiraan dan kabar suka di dalam dirinya, serta niscaya ia akan mengenal fana' dari ego diri dan manisnya hubungan (wushul).
وَذَهَبَ إِلَى مَعْبَدِ اللَّاتِ وَطَافَ بِالصَّنَمِ طَوَافَهُ بِالْحَرَمِ ، وَقَدَّمَ الْقَرَابِينَ وَوَضَعَ فِي الْغَبْغَبِ خِزَانَةِ الصَّنَمِ شَيْئًا يَسِيرًا ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَنْتَصِرَ عَلَى بُخْلِهِ حَتَّى وَهُوَ بَيْنَ أَكْبَرِ بَنَاتِ رَبِّهِ .
Ia pergi ke kuil al-Lata dan mengelilingi berhala tersebut sebagaimana ia melakukan tawaf di tanah haram, lalu mempersembahkan kurban-kurban dan menaruh sesuatu yang sedikit di dalam ghabghab (kotak penyimpanan harta berhala); ia tidak mampu mengalahkan sifat kikirnya bahkan ketika ia berada di antara putri terbesar dari tuhannya.
وَانْتَهَى مِنَ الدُّعَاءِ وَالِابْتِهَالِ ثُمَّ انْطَلَقَ إِلَى دَارِ عُرْوَةَ بْنِ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيِّ سَيِّدِ
Selesai dari doa dan berserah diri, ia kemudian bergegas menuju rumah Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi, pemimpin...
بَنِي ثَقِيفٍ ، فَرَحَّبَ الرَّجُلُ بِسَيِّدِ بَنِي أُمَيَّةَ أَجْمَلَ تَرْحِيبٍ وَقَدَّمَ إِلَيْهِ الشَّرَابَ فِي أَوَانِي مِنَ الذَّهَبِ ، وَقَامَتِ الْقِيَانُ بِالرَّقْصِ وَالْغِنَاءِ ، فَقَدْ كَانَ عُرْوَةُ يَجْتَهِدُ فِي أَنْ تَكُونَ لَيَالِيهِ أَرْوَعَ مِنْ لَيَالِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ .
...kaum Tsaqif. Lelaki itu menyambut pemimpin Bani Umayyah tersebut dengan penyambutan yang paling indah, menyuguhkan minuman kepadanya dalam bejana-bejana emas, dan para budak wanita penyanyi (qiyan) pun mulai menari dan bernyanyi; sebab Urwah selalu berusaha keras agar malam-malamnya menjadi lebih megah daripada malam-malam Abdullah bin Jud'an.
وَمَرَّتْ لَيَالٍ مُتْرَعَةٌ بِاللَّذَّةِ وَلَكِنَّهَا لَمْ تَكُنْ مِثْلَ اللَّيَالِي الَّتِي أَمْضَاهَا فِي ضِيَافَةِ الْحَارِثِ بْنِ كَلَدَةَ طَبِيبِ الْعَرَبِ ، فَقَدْ كَانَ الْحَارِثُ يُقْعِدُ مَوْلَاتَهُ سُمَيَّةَ لِلْبِغَاءِ ، وَكَانَتْ فَتَاةً حُلْوَةً ظَرِيفَةً وَقَدْ مَالَ قَلْبُ أَبِي سُفْيَانَ إِلَيْهَا فَكَانَ يُكْثِرُ الدُّخُولَ بِهَا وَالتَّرَدُّدَ عَلَيْهَا ، فَحَمَلَتْ وَوَضَعَتْ مَا فِي بَطْنِهَا ثُمَّ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي سُفْيَانَ وَقَالَتْ :
Malam-malam yang penuh dengan kelezatan pun berlalu, namun semua itu tidak seperti malam-malam yang ia habiskan dalam jamuan al-Harits bin Kaladah, sang tabib Arab; dahulu al-Harits mempekerjakan budak wanitanya, Sumayyah, untuk melayani prostitusi, dan ia adalah seorang gadis yang manis lagi rupawan. Hati Abu Sufyan telah condong kepadanya sehingga ia sering kali menggaulinya dan berulang kali mendatanginya, sampai akhirnya Sumayyah hamil dan melahirkan apa yang ada di dalam kandungannya, kemudian ia mengirim pesan kepada Abu Sufyan dan berkata:
— هَذَا وَلَدُكَ .
— Ini anakmu.
فَأَنْكَرَهُ أَبُو سُفْيَانَ وَلَمْ يَقْبَلْ أَنْ يُلْحِقَهُ بِهِ كَمَا فَعَلَ الْعَاصِ ابْنُ وَائِلٍ يَوْمَ أَنْ وَضَعَتِ النَّابِغَةُ عَمْرًا وَقَبِلَ الْعَاصِ عَنْ رِضًا بُنُوَّةَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، وَأَقْسَمَتْ سُمَيَّةُ :
Namun Abu Sufyan mengingkarinya dan tidak mau mengakuinya sebagai anaknya, tidak seperti yang dilakukan oleh al-Ash bin Wa'il pada hari ketika an-Nabighah melahirkan Amr, di mana al-Ash menerima dengan rela pengakuan anak atas Amr bin al-Ash. Sumayyah pun bersumpah:
— وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى إِنَّهُ ابْنُكَ يَا أَبَا سُفْيَانَ .
— Demi al-Lata dan al-Uzza, sesungguhnya dia adalah anakmu, wahai Abu Sufyan!
وَأَبَى أَبُو سُفْيَانَ أَنْ يُلْحِقَ زِيَادَ بْنَ سُمَيَّةَ بِنَسَبِهِ ، وَجَاءَ عُلَمَاءُ قِيَافَةِ الْبَشَرِ مَنِ يَسْتَدِلُّونَ بِهَيْئَةِ الْإِنْسَانِ وَشَكْلِهِ عَلَى نَسَبِهِ وَأَكَّدُوا أَنَّ زِيَادًا ابْنُ أَبِيهِ أَبِي سُفْيَانَ ؛ وَلَكِنَّهُ لَجَّ فِي الْخِصَامِ وَأَصَرَّ عَلَى إِنْكَارِ ذَلِكَ النَّسَبِ .
Namun Abu Sufyan tetap menolak untuk menasabkan Ziyad bin Sumayyah ke dalam garis keturunannya. Para ahli qiafah (fisiognomi)—yaitu orang-orang yang melacak nasab berdasarkan perawakan dan bentuk tubuh manusia—datang dan menegaskan bahwa Ziyad adalah putra dari ayahnya, Abu Sufyan; akan tetapi ia terus bersikeras dalam penolakannya dan tetap mengingkari nasab tersebut.
كَانَ مَوْقِفُهُ مَشِينًا ، إِنَّهُ وَهُوَ السَّيِّدُ الْعَظِيمُ لَمْ يَصِلْ فِي شَجَاعَتِهِ الْأَدَبِيَّةِ إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ عَبْدٌ مِنْ عَبِيدِ الْحَارِثِ بْنِ كَلَدَةَ ، فَقَدْ دَخَلَ الْأَزْرَقُ مَوْلَى الْحَارِثِ بِسُمَيَّةَ فَلَمَّا أَنْجَبَتْ مِنْهُ سَلَمَةَ لَمْ يُحَاوِلِ الْأَزْرَقُ أَنْ يَفِرَّ مِنْ فِعْلَتِهِ فِرَارَ الْجُبَنَاءِ كَمَا فَعَلَ سَيِّدُ بَنِي أُمَيَّةَ ، بَلْ أَقَرَّ بِسَلَمَةَ وَعُرِفَ مُنْذُ وِلَادَتِهِ بِسَلَمَةَ بْنِ الْأَزْرَقِ .
Sikapnya sungguh memalukan; dia, sang pemimpin yang agung, tidak mencapai tingkat keberanian moral yang dimiliki oleh seorang budak dari budak-budak al-Harits bin Kaladah. Al-Azraq, budak al-Harits, pernah menggauli Sumayyah, dan ketika Sumayyah melahirkan Salamah darinya, al-Azraq tidak mencoba lari dari perbuatannya seperti larinya para pengecut sebagaimana yang dilakukan oleh pemimpin Bani Umayyah, melainkan ia mengakui Salamah, dan anak itu dikenal sejak kelahirannya dengan nama Salamah bin al-Azraq.
كَانَ أَشْرَافُ مَكَّةَ وَأَشْرَافُ الطَّائِفِ يُكْرِهُونَ فَتَيَاتِهِمْ عَلَى الْبِغَاءِ لِيَجْلِبْنَ لَهُمُ الْأَمْوَالَ مِنَ الدَّعَارَةِ وَمَا كَانَ ذَلِكَ يَخْدِشُ شَرَفَ السَّادَةِ . وَكَانَ كَثِيرٌ مِنْ هَذِهِ الْعُهَارِ يَرُوغُونَ مِنْ ثَمَرَةِ مُتْعَتِهِمْ ، وَكَانَ أَبُو سُفْيَانَ عَاهِرًا وَمَا كَانَتْ مِثْلُ هَذِهِ الْمُرَاوَغَاتِ تُسِيءُ إِلَى الْعَلَاقَاتِ بَيْنَ مَوْلَى الْبِغَاءِ وَطَالِبِ اللَّذَّةِ ، فَقَدْ ظَلَّتِ الصِّلَةُ وَطِيدَةً بَيْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَبَيْنَ الْحَارِثِ بْنُ كَلَدَةَ حَتَّى بَعْدَ أَنْ أَنْكَرَ بُنُوَّتَهُ
Para bangsawan Makkah dan bangsawan Thaif biasa memaksa budak-budak perempuan mereka untuk melakukan pelacuran demi mendatangkan harta bagi mereka dari hasil kebejatan tersebut, dan hal itu sama sekali tidak mencederai kehormatan para majikan. Banyak dari para pezina ini mengelak dari buah kesenangan mereka, dan Abu Sufyan adalah seorang pezina, serta trik mengelak seperti ini tidak merusak hubungan antara pemilik tempat pelacuran dan pemburu kelezatan; terbukti hubungan tetap kokoh antara Abu Sufyan dan al-Harits bin Kaladah bahkan setelah ia mengingkari pengakuan anak...
لِزِيَادٍ ابْنِ جَارِيَتِهِمْ سُمَيَّةَ .
...atas Ziyad, putra dari budak perempuan mereka, Sumayyah.
وَجَاءَ أَبُو سُفْيَانَ إِلَى دَارِ الْحَارِثِ فَاسْتُقْبِلَ بِالتَّرْحِيبِ وَحَرَصَ عَلَى أَلَّا يَرَى سُمَيَّةَ وَلَا ابْنَهَا ، وَدَخَلَ عَلَى النَّضْرِ بْنِ الْحَارِثِ فَأَلْفَاهُ غَارِقًا فِي كُتُبِ الْفَلْسَفَةِ وَالطِّبِّ ؛ كَانَ عَاكِفًا عَلَى كِتَابٍ يَفْرِقُ بَيْنَ الصِّحَّةِ الرُّوحِيَّةِ وَالصِّحَّةِ الْجِسْمَانِيَّةِ وَيَتَحَدَّثُ عَنْ أَطِبَّاءَ يُمَارِسُونَ عِلَاجَ الرُّوحِ وَآخَرِينَ صِنَاعَتُهُمْ عِلَاجَ الْجَسَدِ ، فَالْعِنَايَةُ بِالنَّاحِيَةِ الرُّوحِيَّةِ كَانَتْ تَدْخُلُ فِي مُمَارَسَةِ الطِّبِّ .
Abu Sufyan datang ke rumah al-Harits lalu disambut dengan hangat, dan ia pun berusaha keras agar tidak melihat Sumayyah maupun putranya. Ia masuk menemui an-Nadhr bin al-Harits dan menjumpainya sedang tenggelam di antara kitab-kitab filsafat dan kedokteran; ia tengah tekun meneliti sebuah kitab yang membedakan antara kesehatan ruhani dan kesehatan jasmani, serta berbicara tentang para tabib yang mempraktikkan pengobatan jiwa dan yang lainnya yang keahliannya adalah pengobatan raga, karena perhatian pada sisi ruhani termasuk bagian dari praktik kedokteran.
كَانَ الْحَارِثُ يَقْرَأُ : هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لِلْعِلَاجِ ، فَمَا لَا تَنْجَعُ فِيهِ الْأَدْوِيَةُ يُشْفَى بِالْحَدِيدِ ( الْجِرَاحَةِ ) ، وَمَا لَا يَنْجَعُ فِيهِ الْحَدِيدُ يُشْفَى بِالْكَيِّ ، وَأَمَّا الْمَرَضُ الَّذِي لَا يُمْكِنُ عِلَاجُهُ بِالْكَيِّ فَإِنَّهُ مُسْتَعْصٍ لَا عِلَاجَ لَهُ ، وَقَبْلَ أَنْ يَنْتَهِيَ مِنْ قِرَاءَتِهِ مَسَّ أُذُنَيْهِ صَوْتُ أَبِي سُفْيَانَ يَقُولُ :
Al-Harits (an-Nadhr) sedang membaca: "Ada tiga jalan pengobatan; apa yang tidak mempan dengan obat-obatan, maka disembuhkan dengan besi (bedah/operasi), dan apa yang tidak mempan dengan besi, maka disembuhkan dengan kai (pembakaran/besi panas), adapun penyakit yang tidak mungkin disembuhkan dengan kai, maka ia adalah penyakit kronis yang tidak ada obatnya." Dan sebelum ia menyelesaikan bacaannya, telinganya menangkap suara Abu Sufyan yang berkata:
— عِمْ مَسَاءً .
— Selamat sore/malam.
فَرَفَعَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ ابْنُ خَالَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَأْسَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَبَا سُفْيَانَ نَحَّى الْكِتَابَ جَانِبًا وَقَامَ إِلَيْهِ يُعَانِقُهُ ، وَجَلَسَ الرَّجُلَانِ يَتَسَامَرَانِ وَمَا حَدَّثَ النَّضْرُ ضَيْفَهُ حَدِيثَ الْفَلْسَفَةِ ، فَأَبُو سُفْيَانَ يَرَاهَا صَعْلَكَةً فِكْرِيَّةً وَشَعْوَذَةً ذِهْنِيَّةً ، فَهُوَ لَا يُؤْمِنُ إِلَّا بِالْمَالِ الَّذِي يَزِيدُ بِهِ مَالُهُ ، وَبِالْجَسَدِ الَّذِي يَضُمُّهُ إِلَى جَسَدِهِ ، وَبِأَصْحَابِ النُّفُوذِ الَّذِينَ يَدْعَمُونَ سُلْطَانَهُ ، فَهُوَ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ يَرَى أَنَّ الْفَجْرَ دَهَاءٌ مَا دَامَ يَصِلُ بِهِ إِلَى غَايَتِهِ .
Maka an-Nadhr bin al-Harits—sepupu dari Muhammad bin Abdullah—mengangkat kepalanya. Ketika melihat Abu Sufyan, ia menyisihkan kitabnya ke samping lalu berdiri memeluknya. Kedua lelaki itu duduk mengobrol santai, dan an-Nadhr tidak mengajak tamunya bicara soal filsafat; sebab Abu Sufyan menganggap filsafat sebagai gelandangan pemikiran dan sihir mental belaka. Ia tidak percaya melainkan pada harta yang dengannya hartanya bertambah, pada raga yang ia dekap ke raganya, dan pada orang-orang yang memiliki pengaruh yang mendukung kekuasaannya; di lubuk hatinya ia berpandangan bahwa keculasan/kejahatan adalah kecerdikan, selama hal itu dapat mengantarkannya pada tujuannya.
وَانْتَهَتْ زِيَارَةُ أَبِي سُفْيَانَ لِدَارِ أَشْهَرِ أَطِبَّاءِ الْعَرَبِ فَانْطَلَقَ إِلَى دَارِ صَدِيقِهِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ أَقْرَبِ الثَّقَفِيِّينَ إِلَى قَلْبِهِ ، فَهُوَ نَدِيمُهُ وَرَفِيقُهُ فِي تِجَارَتِهِ ، فَمَا انْطَلَقَ إِلَى الشَّامِ أَوْ إِلَى الْيَمَنِ فِي تِجَارَةٍ إِلَّا كَانَ أُمَيَّةُ رَفِيقَ رِحْلَتِهِ .
Kunjungan Abu Sufyan ke rumah tabib paling tersohor di bangsa Arab itu pun usai, lalu ia bertolak menuju rumah sahabatnya, Umayyah bin Abi ash-Shalt, orang Tsaqif yang paling dekat di hatinya; dialah teman minum sekaligus rekan dalam perdagangan, tidaklah ia berangkat ke Syam atau ke Yaman untuk berdagang melainkan Umayyah selalu menjadi teman perjalanannya.
كَانَ أُمَيَّةُ قَدْ قَرَأَ فِي الْكُتُبِ أَنَّ نَبِيًّا يُبْعَثُ فِي الْحِجَازِ مِنَ الْعَرَبِ ، وَكَانَ يَرْجُو أَنْ يَكُونَ هُوَ فَلَمَّا رَأَى فِيهِ بَعْضُ أَحْبَارِ الْيَهُودِ وَرُهْبَانِ النَّصَارَى بَعْضَ صِفَاتِ
Umayyah telah membaca di dalam kitab-kitab lawas bahwa sesorang nabi akan diutus di wilayah Hijaz dari bangsa Arab, dan ia sangat berharap bahwa dialah orangnya, terutama ketika beberapa pendeta Yahudi dan rahib Nasrani melihat pada dirinya sebagian sifat-sifat...
ذَلِكَ النَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ ، هَجَرَ شُرْبَ الْخَمْرِ وَمَجَالِسَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ وَلَبِسَ الْمُسُوحَ تَعَبُّدًا وَتَجَنَّبَ الْأَوْثَانَ وَصَامَ وَالْتَمَسَ الدِّينَ طَمَعًا فِي النُّبُوَّةِ .
...nabi yang dinanti-nantikan tersebut; ia pun meninggalkan minum khamr serta majelis-majelis Abdullah bin Jud'an, mengenakan pakaian kain wol kasar (musuh) untuk beribadah, menjauhi berhala-berhala, berpuasa, dan mencari esensi agama demi mengejar ambisi kenabian.
كَانَ يَلْتَمِسُ النُّورَ مِنَ الْكُتُبِ وَلَمْ يُطَهِّرْ قَلْبَهُ مِنَ الدُّنْيَا ، بَلْ كَانَ يَجْلِسُ إِلَى نِسَاءِ ثَقِيفٍ يُحَدِّثُهُنَّ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنَّهُ النَّبِيُّ الْمَوْعُودُ ، وَلَمْ يَكُنْ فِكْرُهُ صَافِيًا وَلَا ذِكْرُهُ دَائِمًا ، وَلَمْ يَعْرِفْ لَذَّةَ النَّظَرِ الْمُسْتَمِرِّ فِي اللَّهِ وَفِي مَلَكُوتِ سَمَاوَاتِهِ ، وَلَمْ يَعْرِفْ رَبَّهُ بِرَبِّهِ بَلْ عَرَفَهُ مِنْ خِلَالِ الْكُتُبِ .
Ia mencari cahaya dari lembaran kitab namun belum menyucikan hatinya dari dunia, bahkan ia sering duduk bersama para wanita Tsaqif menceritakan tentang dirinya bahwa dialah nabi yang dijanjikan; pikirannya tidak jernih dan zikirnya tidak berkesinambungan, ia tidak mengenal kelezatan memandang secara konstan kepada Allah dan pada kerajaan langit-langit-Nya, serta ia tidak mengenal Tuhannya melalui petunjuk Tuhan-Nya, melainkan mengetahuinya lewat perantara kitab-kitab belaka.
إِنَّهُ يُفَكِّرُ كَثِيرًا فِي تِجَارَتِهِ فَهِيَ شُغْلُ قَلْبِهِ وَحَظُّ نَفْسِهِ وَمَدَارُ تَفْكِيرِهِ ، فَإِنْ فَكَرَ فِي اللَّهِ سَاعَةً فَهُوَ يُفَكِّرُ فِي شَهَوَاتِ الدُّنْيَا سَاعَاتٍ ، فَقَعَدَ عَنْ أَنْ يَسْمُوَ إِلَى آفَاقِ الِاتِّصَالِ بِذَاتِ الذَّوَاتِ ، فَلَمْ يُشْرِقْ نُورُ الْيَقِينِ فِي قَلْبِهِ وَإِنْ دَاعَبَ فِكْرَهُ كَمَا تُدَاعِبُهُ عَرَائِسُ الشِّعْرِ وَشَيْطَانُ الْقَرِيضِ .
Sesungguhnya ia terlalu banyak berpikir tentang perdagangannya, karena itulah yang menyibukkan hatinya, bagian dari egonya, dan poros pemikirannya; jika ia memikirkan Allah sesaat, ia memikirkan syahwat dunia berjam-jam. Maka ia tertahan untuk membubung tinggi ke ufuk hubungan dengan Zat dari segala zat, sehingga cahaya keyakinan tidak menyinari hatinya, meskipun gagasan itu menari-nari di pikirannya laksana bait-bait syair dan bisikan setan penyair menggoda daya ciptanya.
إِنَّهُ كَالْفَرَاشِ يَتَهَافَتُ عَلَى ضَوْءِ السِّرَاجِ وَهُوَ يَحْسَبُ أَنَّهُ يَطْلُبُ النُّورَ ، فَهُوَ لَا يُحِبُّ اللَّهَ لِذَاتِهِ بَلْ طَمَعًا فِي النُّبُوَّةِ الَّتِي تَهْفُو إِلَيْهَا نَفْسُهُ ؛ فَأَنْ يَكُونَ نَبِيًّا أَعْظَمُ مِنْ أَنْ يَكُونَ شَاعِرًا مَجِيدًا ، فَالنُّبُوَّةُ أَخْلَدُ عَلَى الزَّمَنِ مِنْ كُلِّ شِعْرِ الْفَطَاحِلِ وَالْفُحُولِ ، وَإِنَّ ذَلِكَ الْجَهْلَ سَيُلْقِي بِهِ فِي نَارِ شَهْوَةِ الرِّئَاسَةِ وَالسُّلْطَانِ وَخُلُودِ الذِّكْرِ لِيَخْسَرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ .
Ia laksana kupu-kupu malam yang menjatuhkan diri pada cahaya lampu minyak seraya menyangka ia sedang mencari cahaya; ia tidak mencintai Allah karena Zat-Nya, melainkan demi ambisi kenabian yang sangat dirindukan oleh egonya; sebab menjadi seorang nabi jauh lebih agung daripada menjadi penyair terpandang. Kenabian itu lebih kekal melintasi zaman mengalahkan seluruh syair para penyair ulung dan maestro, dan sesungguhnya kebodohan itu kelak akan melemparkannya ke dalam api syahwat kepemimpinan, kekuasaan, dan keabadian sebutan nama, hingga akhirnya ia merugi di dunia dan akhirat.
وَمَا إِنْ رَأَى صَدِيقَهُ أَبَا سُفْيَانَ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَيْهِ مُسْتَبْشِرًا وَقَدْ طَوَى الْكُتُبَ السَّمَاوِيَّةَ وَنَسِيَ اللَّهَ وَرَاحَ يُحَدِّثُ صَدِيقَهُ وَشَرِيكَهُ حَدِيثَ التِّجَارَةِ وَقَدْ أَلْهَتْهُ التِّجَارَةُ وَالْبَيْعُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ، وَفِي اللَّيْلِ اجْتَمَعَ السُّمَّارُ فَقَامَ ابْنُ أَبِي الصَّلْتِ يَنْشُدُ شِعْرَهُ وَقَدِ انْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ غُرُورًا .
Dan tatkala ia melihat sahabatnya, Abu Sufyan, ia langsung menyambutnya dengan penuh sukacita, melipat kitab-kitab samawi, melupakan Allah, dan mulai memperbincangkan urusan perdagangan dengan sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu; perdagangan dan jual-beli telah melalaikannya dari mengingat Allah. Di malam hari, ketika para teman ronda malam berkumpul, Ibnu Abi ash-Shalt berdiri melantunkan syairnya dengan urat leher yang mengembang penuh kesombongan.
وَقَبْلَ أَنْ تَنْتَهِيَ زِيَارَةُ أَبِي سُفْيَانَ لِلطَّائِفِ اتَّفَقَ مَعَ صَدِيقِهِ الَّذِي يَنْتَظِرُ النُّبُوَّةَ أَنْ يَنْطَلِقَا إِلَى الْحِيرَةِ لِيُوَطِّدَا الصَّدَاقَةَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ مَلِكِ الْحِيرَةِ ، فَالنُّعْمَانُ حَاكِمٌ قَوِيٌّ يَكْسِبُهُمَا تَأْيِيدُهُ قُوَّةً وَعِزَّةً وَيَزِيدُ فِي هَيْبَتِهِمَا ، وَمَا فِكْرُ ابْنِ أَبِي الصَّلْتِ
Dan sebelum kunjungan Abu Sufyan di Thaif berakhir, ia bersepakat dengan sahabatnya yang tengah menanti kenabian itu untuk bertolak menuju al-Hirah demi memperkokoh persahabatan antara mereka dan raja al-Hirah; sebab An-Nu'man adalah penguasa yang kuat, yang mana dukungan darinya akan mendatangkan kekuatan serta kemuliaan bagi mereka berdua dan menambah wibawa mereka. Dan tidaklah pemikiran Ibnu Abi ash-Shalt...
الَّذِي تَهْفُو نَفْسُهُ إِلَى أَنْ يَكُونَ رَسُولَ اللَّهِ فِي أَنْ يَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَأَنْ يَعْتَمِدَ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ عَلَى شَدِيدِ الْقُوَى .
...—yang jiwanya sangat merindukan untuk menjadi utusan Allah—terarah untuk bertawakal kepada Allah dan bersandar dalam urusan agama serta dunianya kepada Zat Yang Maha Perkasa (Syadidul Quwa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar