KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Matahari yang Singgah di Rumah Khadijah: Fajar Kenabian yang Memanggil Jiwa
Mimpi tentang matahari yang turun dari langit Makkah ke rumah Khadijah bukanlah sekadar bunga tidur, melainkan isyarat agung akan terpancarnya cahaya kenabian yang akan segera mengubah sejarah semesta.
أَطْبَقَ ظَلَامُ اللَّيْلِ عَلَى مَكَّةَ وَلَكِنْ لَمْ يَنْقَطِعِ الطَّوَافُ حَوْلَ الْكَعْبَةِ ، فَسَيِّدَاتُ الْأُسَرِ الْعَرِيقَةِ كُنَّ فِي الْحَرَمِ يَلُذْنَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ مُتَسَرْبِلَاتٍ بِالظَّلَامِ ، وَقَدْ رَاحَتْ إِمَاؤُهُنَّ يَسِرْنَ فِي أَعْقَابِهِنَّ يُلَبِّينَ أَيَّةَ إِشَارَةٍ .
Kegelapan malam telah menyelimuti Makkah, namun tawaf di sekeliling Ka'bah tidak pernah terputus. Wanita-wanita dari keluarga terpandang berada di Masjidil Haram, berlindung di Baitul Atiq dengan berselimutkan kegelapan, sementara para budak wanita mereka berjalan di belakang mereka, siap mematuhi isyarat apa pun.
وَكَانَتْ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ تَطُوفُ مَعَ الطَّائِفَاتِ وَتَبْتَهِلُ إِلَى رَبِّ الْبَيْتِ أَنْ يُبَارِكَ لَهَا فِي تِجَارَتِهَا . وَكَانَتْ رَاضِيَةَ النَّفْسِ بِمَا حَقَّقَتْهُ مِنْ نَجَاحٍ فَقَدْ صَارَتْ قَافِلَتُهَا إِلَى الشَّامِ تَعْدِلُ قَوَافِلَ قُرَيْشٍ ، وَكَانَتْ سَعِيدَةً بِمَا بَلَغَتْهُ مِنْ رِفْعَةٍ فِي دُنْيَا التِّجَارَةِ ، بَيْدَ أَنَّ سَعَادَتَهَا فِي حَيَاتِهَا الزَّوْجِيَّةِ قَدْ تَعَثَّرَتْ وَلَمْ تَعْرِفْ طَرِيقَهَا إِلَى قَلْبِهَا الْكَبِيرِ الَّذِي كَانَ يَرْنُو إِلَى حَيَاةٍ زَوْجِيَّةٍ رَفِيعَةٍ ، فِيهَا سُمُوٌّ وَبَذْلٌ وَتَضْحِيَةٌ وَكِفَاحٌ فِي سَبِيلِ تَحْقِيقِ غَايَةٍ سَامِيَةٍ ، وَقَدْ قَصُرَ الزَّوْجَانِ اللَّذَانِ كُتِبَ عَلَيْهَا أَنْ تَتَزَوَّجَهُمَا أَنْ تَطْمَحَ آمَالُهُمَا إِلَى التَّحْلِيقِ لِبُلُوغِ مَا تَرْجُوهُ مِنْ أَمْجَادٍ .
Khadijah binti Khuwailid turut bertawaf bersama para wanita lainnya dan memohon dengan khusyuk kepada Tuhan Pemilik Baitullah agar memberkahi usahanya. Hatinya merasa puas dengan kesuksesan yang telah dicapainya, karena kafilah dagangnya yang menuju Syam kini telah setara dengan seluruh kafilah Quraisy. Ia merasa bahagia atas kedudukan tinggi yang diraihnya dalam dunia perniagaan. Namun demikian, kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangganya sempat tersandung; kebahagiaan itu belum menemukan jalan menuju hatinya yang besar, yang mendambakan kehidupan pernikahan yang luhur, yang penuh dengan keluhuran, pengorbanan, kemurahan hati, dan perjuangan demi mewujudkan tujuan yang mulia. Dua suami yang telah ditakdirkan menikahinya terdahulu gagal menyamai cita-citanya yang menjulang tinggi untuk meraih kemuliaan yang ia harapkan.
كَانَتْ عَالِيَةَ الْهِمَّةِ جَيَّاشَةَ الْعَوَاطِفِ مَطْبُوعَةً عَلَى التَّدَيُّنِ ، تَتَهَلَّلُ نَفْسُهَا بِالْفَرَحِ كُلَّمَا أَلْقَتْ سَمْعَهَا إِلَى حَدِيثِ ابْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنِ الْأَنْبِيَاءِ وَالدِّينِ ، وَكَثِيرًا مَا كَانَتْ أَحْلَامُهَا الْمُجَنَّحَةُ تُرَفْرِفُ فِي سَمَوَاتٍ عَالِيَةٍ مِنَ الْفَضِيلَةِ لَمْ تَصِلْ إِلَيْهَا أَمَانِي أَهْلِ عَصْرِهَا مِنْ رِجَالٍ وَنِسَاءٍ ، وَكَانَتْ تَتَمَنَّى أَنْ تَكُونَ حَاضِنَةً لِأَحْدَاثٍ كِبَارٍ فِي حَيَاةِ زَوْجِهَا ، فَلَمَّا تَزَوَّجَتْ عَتِيقَ بْنَ عَابِدٍ الْمَخْزُومِيِّ وَلَمَّا تَبْلُغِ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ مِنْ عُمْرِهَا ، رَاحَتْ تُجَاهِدُ لِيَكُونَ زَوْجُهَا سَيِّدًا بَيْنَ الرِّجَالِ ، إِلَّا أَنَّ الْمَوْتَ اخْتَطَفَهُ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ شَيْئًا مَذْكُورًا .
Ia adalah seorang wanita yang bertekad kuat, berperasaan halus, dan memiliki kecenderungan alami yang mendalam terhadap agama. Jiwanya dipenuhi kegembiraan setiap kali ia mendengarkan ucapan sepupunya, Waraqah bin Naufal, mengenai para nabi dan tuntunan agama. Sering kali impian-impiannya terbang tinggi mengepakkan sayap di langit kebajikan yang luhur, yang tidak pernah terjangkau oleh angan-angan kaum pria maupun wanita di zamannya. Ia sangat berharap dapat menjadi pendamping bagi peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan suaminya. Ketika ia menikah dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi sebelum usianya genap lima belas tahun, ia berupaya keras agar suaminya menjadi seorang pemimpin terpandang di antara kaum pria, namun kematian merenggut suaminya sebelum ia sempat menjadi tokoh yang diperhitungkan.
وَتَزَوَّجَتْ ــ بَعْدَ مَوْتِ زَوْجِهَا الْأَوَّلِ ــ هِنْدَ بْنَ زُرَارَةَ وَأَنْجَبَتْ مِنْهُ هَالَةَ
Dan dia menikah — setelah kematian suami pertamanya — dengan Hind bin Zurarah dan melahirkan Hala darinya
ثُمَّ هِنْدٍ ، وَعُرِفَ بِأَبِي هَالَةَ ، وَلَمْ يَدُمْ ذَلِكَ الزَّوَاجُ طَوِيلًا فَمَا اسْتَطَاعَتْ هِمَّتُهُ أَنْ تَرْتَفِعَ إِلَى هِمَّتِهَا ، وَأَصْبَحَتِ الطَّاهِرَةُ وَسَيِّدَةُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ بِلَا زَوَاجٍ قَبْلَ أَنْ تَبْلُغَ مِنْ عُمْرِهَا الْخَامِسَةَ وَالْعِشْرِينَ .
kemudian Hind, dan suaminya itu dikenal dengan sebutan Abu Hala. Pernikahan itu pun tidak bertahan lama, karena cita-cita sang suami tidak mampu mengimbangi keluhuran cita-citanya. Maka wanita yang dijuluki At-Thahirah (Wanita yang Suci) sekaligus pemuka wanita Quraisy itu kembali hidup tanpa suami sebelum usianya mencapai dua puluh lima tahun.
وَأَتَمَّتْ طَوَافَهَا ثُمَّ اتَّخَذَتْ سَبِيلَهَا إِلَى دَارِهَا وَإِمَاؤُهَا مِنْ حَوْلِهَا . حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْبَيْتَ سَمِعَتْ أَصْوَاتَ السُّمَّارِ تَنْبَعِثُ مِنْ دَارِ أَبِي لَهَبٍ وَدَارِ عَدِيِّ بْنِ حَمْرَاءَ الثَّقَفِيِّ ، فَلَمْ تُخَفِّفْ مِنْ خَطْوِهَا لِتَسْمَعَ مَا يَدُورُ فِي بُيُوتِ جِيرَانِهَا ، بَلْ أَسْرَعَتْ وَهَبَطَتْ بِضْعَ دَرَجَاتٍ فِي دَارِهَا ، فَقَدِ ارْتَفَعَ عَنْهَا الطَّرِيقُ .
Setelah menyelesaikan tawafnya, ia berjalan menuju rumahnya dengan dikelilingi oleh para budak wanitanya. Ketika sampai di dekat rumah, ia mendengar lamat-lamat suara orang-orang yang sedang bercengkrama di malam hari berbincang dari rumah Abu Lahab dan rumah Adi bin Hamra' at-Thaqafi. Ia tidak memperlambat langkahnya sama sekali untuk menguping apa yang sedang diperbincangkan di rumah para tetangganya itu, melainkan justru mempercepat langkahnya lalu menuruni beberapa anak tangga memasuki rumahnya, karena posisi jalan raya memang lebih tinggi dari lantai rumahnya.
وَسَارَتْ فِي مَمَرٍّ عَنْ يَسَارِهَا حَجَرٌ يَرْتَفِعُ عَنِ الْأَرْضِ بِنَحْوِ قَدَمٍ ، وَطُولُهُ يَزِيدُ قَلِيلًا عَلَى عَشْرِ أَذْرُعٍ ، أَمَّا عَرْضُهُ فَأَرْبَعٌ . وَانْطَلَقَ خَلْفَهَا إِمَاؤُهَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ بَابًا صَغِيرًا عَنْ يَمِينِهَا دَخَلَتْ مِنْهُ ، ثُمَّ صَعِدَتْ دَرَجَتَيْنِ ، ثُمَّ سَارَتْ فِي مَمَرٍّ طَوِيلٍ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَبْوَابٍ أَوْلُهَا عَنِ الْيَسَارِ يُؤَدِّي إِلَى غُرْفَةٍ صَغِيرَةٍ ، وَثَانِيهَا عَنِ الْيَمِينِ يُؤَدِّي إِلَى غُرْفَةٍ مُسْتَطِيلَةٍ ، وَثَالِثُهَا فِي الْوَجْهِ وَقَدِ اتَّجَهَتْ إِلَيْهِ وَفَتَحَتْهُ ، وَقَبْلَ أَنْ تَدْخُلَ الْتَفَتَتْ إِلَى إِمَائِهَا وَأَمَرَتْهُنَّ فِي رِقَّةٍ أَنْ يَذْهَبْن can لِلنَّوْمِ .
Ia berjalan menyusuri sebuah koridor yang di sebelah kirinya terdapat lantai batu yang tingginya sekitar satu kaki dari tanah, dengan panjang sedikit lebih dari sepuluh hasta dan lebar empat hasta. Para budak wanitanya terus berjalan di belakangnya hingga ketika ia sampai di sebuah pintu kecil di sebelah kanannya, ia pun masuk melaluinya, lalu menaiki dua anak tangga, kemudian berjalan di koridor panjang yang memiliki tiga buah pintu; pintu pertama di sebelah kiri menuju ke sebuah kamar kecil, pintu kedua di sebelah kanan menuju ke sebuah kamar persegi panjang, dan pintu ketiga berada tepat di depannya. Ia menuju ke pintu ketiga itu lalu membukanya, dan sebelum masuk, ia menoleh kepada para budak wanitanya dan memerintahkan mereka dengan lembut untuk pergi beristirahat tidur.
وَدَلَفَتْ خَدِيجَةُ إِلَى مَخْدَعِهَا ؛ إِنَّهُ بَهْوٌ مُتَّسِعٌ طُولُهُ سِتَّةُ أَمْتَارٍ وَعَرْضُهُ أَرْبَعَةٌ ، ثُمَّ أَلْقَتْ نَظْرَةً كُلُّهَا حُبٌّ وَعَطْفٌ وَحَنَانٌ عَلَى أَبْنَائِهَا الَّذِينَ كَانُوا يَغِطُّونَ فِي النَّوْمِ ، وَذَهَبَتْ إِلَى سَرِيرِهَا ، وَمَا أَسْلَمَتْ جَنْبَهَا لِلرُّقَادِ حَتَّى رَاحَتْ فِي سُبَاتٍ .
Khadijah melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya; sebuah ruangan luas yang memiliki panjang enam meter dan lebar empat meter. Ia lalu melayangkan pandangan yang dipenuhi rasa cinta, kelembutan, dan kasih sayang kepada anak-anaknya yang tengah tertidur lelap, kemudian ia berjalan menuju ranjangnya. Begitu ia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, ia pun langsung terlelap dengan sangat nyenyak.
وَرَأَتْ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ شَمْسًا عَظِيمَةً تَهْبِطُ مِنْ سَمَاءِ مَكَّةَ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا وَتَمْلأَ جَوَانِبَ الدَّارِ نُورًا ، وَيَفِيضَ ذَلِكَ النُّورُ مِنْ دَارِهَا لِيَغْمُرَ كُلَّ مَا حَوْلَهَا بِضِيَاءٍ يَبْهَرُ النُّفُوسَ قَبْلَ أَنْ يَبْهَرَ الْأَبْصَارَ !
Di dalam tidurnya, ia bermimpi melihat seulas matahari yang amat besar turun dari langit Makkah lalu menetap di dalam rumahnya, memancarkan cahaya yang memenuhi seluruh sudut rumah. Cahaya tersebut kemudian meluap dari dalam rumahnya hingga menggenapi dan meliputi segala sesuatu di sekelilingnya dengan seberkas sinar terang benderang yang memukau jiwa sebelum memukau pandangan mata!
وَهَبَّتْ مِنْ نَوْمِهَا خَائِفَةً يَخْفِقُ قَلْبُهَا بَيْنَ ضُلُوعِهَا كَجَنَاحِ حَمَامَةٍ ، وَرَاحَتْ تُدِيرُ عَيْنَيْهَا فِي الْمَكَانِ فِي دَهَشٍ فَإِذَا بِالظَّلَامِ يَجْثُمُ عَلَى الْوُجُودِ ، وَلَكِنْ ذَلِكَ
Ia pun tersentak bangun dari tidurnya dengan rasa takut, jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya laksana kepakan sayap burung merpati. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan dengan penuh keheranan, dan mendapati kegelapan malam masih pekat menyelimuti semesta. Namun, kilauan
النُّورَ الَّذِي بَهَرَهَا فِي الْمَنَامِ لَا يَزَالُ مُشْرِقًا فِي وِجْدَانِهَا . وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ حَتَّى إِذَا مَا سَكَنَ رَوْعُهَا تَمَدَّدَتْ لِتُعَاوِدَ رُقَادَهَا وَلَكِنَّ الْوَسَنَ لَمْ يَطُفْ بِعَيْنَيْهَا ، بَلْ صَحَا ذِهْنُهَا وَرَاحَتْ تَسْتَعِيدُ الرُّؤْيَا وَهِيَ مُوَزَّعَةُ النَّفْسِ بَيْنَ الرَّهْبَةِ وَالْأَمَلِ .
cahaya yang memukau dirinya di dalam mimpi tadi seolah-olah masih tetap bersinar terang di dalam lubuk jiwanya. Beberapa saat berlalu hingga ketika rasa takutnya mulai mereda, ia kembali merebahkan diri untuk mencoba tidur lagi, namun rasa kantuk tidak jua kunjung menghampiri kedua matanya. Sebaliknya, pikirannya justru menjadi semakin benderang dan ia terus teringat membayangkan kembali mimpi tersebut dengan jiwa yang terombang-ambing di antara rasa cemas dan harapan.
وَغَادَرَتْ فِرَاشَهَا وَرَاحَتْ تَغْدُو وَتَرُوحُ فِي مَخْدَعِهَا ، وَتِلْكَ الشَّمْسُ الَّتِي هَبَطَتْ مِنَ السَّمَاءِ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا تَتَخَايَلُ لِعَيْنِ بَصِيرَتِهَا تَكَادُ أَنْ تُحِيلَ اللَّيْلَ السَّرْمَدَ إِلَى نَهَارٍ ، وَلَمْ تَسْتَطِعْ صَبْرًا عَلَى الرُّؤْيَا الْجَيَّاشَةِ فِي رَأْسِهَا وَالْمَشَاعِرِ الْمَوَّارَةِ فِي صَدْرِهَا فَخَرَجَتْ مِنْ مَخْدَعِهَا وَسَارَتْ فِي الْمَمَرِّ الطَّوِيلِ وَهَبَطَتْ بِضْعَ دَرَجَاتٍ ثُمَّ عَرَجَتْ إِلَى الْبَابِ الَّذِي يُفْضِي إِلَى الْفِنَاءِ الْوَاسِعِ الَّذِي ارْتَفَعَ عَنِ الْأَرْضِ بِمِقْدَارِ ذِرَاعٍ ، وَالَّذِي تَكَدَّسَتْ بَيْنَ جَنْبَاتِهِ مَا كَانَتْ تَتَّجِرُ فِيهِ مِنْ سِلَعٍ ، وَرَاحَتْ تُلْقِي نَظْرَةً عَلَى الْحَرِيرِ الْآتِي مِنَ الْهِنْدِ وَالطُّرَفِ الْمَجْلُوبَةِ مِنْ مَنْفَ وَالتَّوَابِلِ وَالطِّيبِ وَالْبُخُورِ ، لَعَلَّهَا تَشْغَلُ بِبِضَاعَتِهَا عَنْ حُلْمِهَا الَّذِي اسْتَوْلَى عَلَى كُلِّ تَفْكِيرِهَا ، وَلَكِنْ هَيْهَاتَ فَهِيَ تُؤْمِنُ بِالْأَحْلَامِ ، وَلَا تَعْرِفُ نَفْسُهَا الدَّعَةَ قَبْلَ أَنْ تَنْطَلِقَ إِلَى مَنْ يُؤَوِّلُ لَهَا مَا تَرَى فِي الْمَنَامِ .
Ia pun meninggalkan tempat tidurnya lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Mentari yang turun dari langit lalu bersemayam di rumahnya itu terus terbayang-bayang di mata batinnya, seakan-akan hampir mengubah malam yang pekat gulita menjadi siang yang benderang. Ia tidak sanggup lagi menahan gejolak mimpi yang berkecamuk di kepalanya serta perasaan yang meluap-luap di dalam dadanya. Maka ia keluar dari kamarnya, berjalan menyusuri koridor panjang, menuruni beberapa anak tangga, lalu menuju ke pintu yang bermuara pada sebuah pelataran luas yang posisinya lebih tinggi satu hasta dari tanah, tempat di mana barang-barang dagangannya bertumpuk rapi. Ia mencoba melayangkan pandangan pada kain sutra yang didatangkan dari India, barang-barang unik yang dibawa dari Memfis, serta rempah-rempah, wewangian, dan kemenyan, dengan harapan kesibukan mengurus barang dagangan itu dapat mengalihkan perhatian dari impian yang telah menyita seluruh pikirannya. Namun semua itu sia-sia, sebab ia adalah orang yang percaya pada isyarat mimpi, dan jiwanya tidak akan pernah merasa tenang sebelum ia pergi menemui orang yang dapat menakwilkan apa yang telah dilihatnya dalam tidur.
وَمَا أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ حَتَّى كَانَتْ خَدِيجَةُ فِي طَرِيقِهَا إِلَى دَارِ ابْنِ عَمِّهَا الشَّيْخِ وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ ، فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ أَلْفَتْهُ عَاكِفًا عَلَى قِرَاءَةِ كِتَابٍ مِنَ الْكُتُبِ السَّمَاوِيَّةِ الَّتِي شُغِفَ بِهَا فَأَلْقَتْ عَلَيْهِ تَحِيَّةَ الصَّبَاحِ ، وَمَا أَنْ مَسَّ صَوْتُهَا أُذُنَيْهِ حَتَّى رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ فِي دَهَشٍ :
Begitu matahari terbit menyingsing, Khadijah langsung bergegas menuju kediaman sepupunya, sang syekh Waraqah bin Naufal. Ketika masuk menemuinya, ia mendapati Waraqah sedang tekun membaca salah satu kitab samawi yang sangat digemarinya. Khadijah pun mengucapkan salam selamat pagi kepadanya, dan begitu suaranya menyentuh rungu Waraqah, sang sepupu segera mengangkat kepalanya lalu berkata dengan penuh rasa heran:
— اَلطَّاهِرَةُ ؟ مَا جَاءَ بِكِ السَّاعَةَ ؟
— At-Thahirah? Apa yang membawamu datang kemari pada jam sepagi ini?
وَرَاحَتْ تَقُصُّ عَلَيْهِ مَا رَأَتْ فِي مَنَامِهَا وَوَرَقَةُ يَصْغِي إِلَيْهَا فِي اهْتِمَامٍ ، فَلَمَّا انْتَهَتْ مِنْ حَدِيثِهَا تَهَلَّلَ وَجْهُهُ بِالْبِشْرِ وَقَالَ :
Maka Khadijah mulai menceritakan secara terperinci apa yang telah dilihatnya dalam mimpi, sementara Waraqah mendengarkannya dengan penuh perhatian. Begitu Khadijah selesai bercerita, wajah Waraqah langsung berseri-seri gembira penuh suka cita dan berkata:
— أَبْشِرِي يَا بِنْتَ الْعَمِّ ، لَوْ صَدَقَ اللهُ رُؤْيَاكِ لَيَدْخُلَنَّ نُورُ النُّبُوَّةِ دَارَكِ ، وَلَيَفِيضَنَّ مِنْهَا نُورُ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ .
— Gembiralah wahai sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu ini, niscaya cahaya kenabian benar-benar akan memasuki rumahmu, dan sungguh dari rumahmu itu akan memancar meluap cahaya penutup para nabi.
وَسَرَتْ فِي بَدَنِ خَدِيجَةَ قُشَعْرِيرَةٌ وَجَاشَتْ فِي صَدْرِهَا عَوَاطِفُ مَشُوبَةٌ زَاخِرَةٌ بِالْأَمَلِ وَالرَّحْمَةِ وَالرَّجَاءِ ، وَلَمْ تَشَأْ أَنْ تُوصَدَ ذَلِكَ الْبَابَ الَّذِي انْفَتَحَ عَنْ أَعْظَمِ نَبَإٍ فَرَاحَتْ تَسْأَلُ عَنْ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَعَنْ صِفَتِهِ وَوَرَقَةُ يُجِيبُ .
Seketika bulu kuduk Khadijah meremang dan di dalam dadanya bergejolak perasaan mendalam yang dipenuhi oleh harapan besar, kedamaian, dan permohonan. Ia tidak ingin menutup pintu yang baru saja tersingkap membentangkan kabar paling agung itu, maka ia pun terus bertanya mengenai nabi penutup tersebut beserta sifat-sifatnya, dan Waraqah pun terus menjawabnya.
وَعَاشَتْ خَدِيجَةُ عَلَى أَمَلٍ أَنْ يَتَحَقَّقَ مَا رَأَتْ فِي حُلْمِهَا فَكَانَتْ إِذَا تَقَدَّمَ إِلَيْهَا سَيِّدٌ مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهَا لِخِطْبَتِهَا تَقِيسُهُ بِمِقْيَاسِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلنُّبُوَّةِ ، وَلَمْ تَنْطَبِقْ صِفَاتُ النَّبِيِّ الَّتِي سَمِعَتْهَا مِنِ ابْنِ عَمِّهَا الشَّيْخِ الْجَلِيلِ عَلَى أَيِّ مِمَّنْ تَهَافَتُوا عَلَى خِطْبَتِهَا مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهَا ، وَبَاتَتْ تَنْتَظِرُ وَعْدَ السَّمَاءِ .
Khadijah pun hidup dengan terus memelihara harapan agar apa yang ia saksikan dalam mimpinya dapat terwujud. Karena itu, setiap kali ada pemuka terpandang dari kaumnya yang datang melamarnya, ia selalu menimbangnya dengan ukuran kelayakan bagi sifat kenabian. Dan ternyata, tidak ada satu pun dari para pemuka kaumnya yang berbondong-bondong melamarnya itu yang memenuhi kriteria sifat nabi yang pernah didengarnya dari sepupunya, sang syekh yang agung itu. Ia pun tetap teguh menanti datangnya janji dari langit.
وَكَانَ لِنِسَاءِ قُرَيْشٍ عِيدٌ يَجْتَمِعْنَ فِيهِ فِي الْحَرَمِ ، فَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الدُّورِ وَتَدَفَّقَتِ النِّسْوَةُ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، وَخَرَجَتْ خَدِيجَةُ وَمِنْ حَوْلِهَا إِمَاؤُهَا إِلَى الْكَعْبَةِ تَرْفُلُ فِي ثِيَابٍ مِنْ حَرِيرٍ يَتَأَلَّقُ وَجْهُهَا بِالنُّورِ ، وَدَخَلَتْ مِنْ بَابِ إِبْرَاهِيمَ تَحُسُّ إِحْسَاسًا غَامِضًا أَنَّ الْقَدَرَ يُخَبِّئُ لَهَا شَيْئًا رَائِعًا لَا تَدْرِي مَا هُوَ وَلَكِنَّهَا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ فِيهِ تَحْقِيقَ الْآمَالِ الْعَرِيضَةِ الَّتِي بَاتَتْ تَتَخَايَلُ لَهَا فِي يَقْظَتِهَا وَمَنَامِهَا .
Suatu ketika, kaum wanita Quraisy mengadakan hari perayaan di mana mereka berkumpul bersama di Masjidil Haram. Pintu-pintu rumah pun dibuka lebar dan kaum wanita mengalir berbondong-bondong menuju Baitullah yang tua itu. Khadijah pun keluar menuju Ka'bah dengan dikelilingi budak-budak wanitanya, ia melangkah anggun dalam balutan pakaian sutra dengan wajah yang memancarkan cahaya benderang. Ia masuk melalui pintu Ibrahim seraya merasakan firasat samar bahwa takdir tengah menyembunyikan sesuatu yang mengagumkan untuknya, sebuah hal yang ia belum ketahui pasti, namun ia dapat merasakan bahwa di dalam hal itu terdapat perwujudan dari harapan-harapan besarnya yang selalu membayangi baik di kala terjaga maupun dalam tidurnya.
وَطَافَتْ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ثُمَّ وَقَفَتْ عِنْدَ الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَالْكَعْبَةِ وَرَاحَتْ تَدْعُو اللهَ وَتَبْتَهِلُ إِلَيْهِ . إِنَّهَا لَمْ تَسْأَلْهُ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ أَنْ يُبَارِكَ لَهَا فِي تِجَارَتِهَا بَلْ كَانَتْ تَسْأَلُهُ فِي حَرَارَةٍ وَصِدْقٍ أَنْ يُحَقِّقَ لَهَا أَحْلَامَهَا .
Ia mengitari Baitullah sebanyak tujuh kali putaran tawaf, kemudian ia berdiri diam di Multazam, yakni area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, lalu ia mulai memanjatkan doa serta berserah diri dengan khusyuk kepada Allah. Untuk pertama kalinya, ia tidak meminta agar diberkahi dalam urusan perniagaannya, melainkan memohon dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati agar Allah berkenan mewujudkan impian-impiannya.
وَبَيْنَ إِسَافٍ وَنَائِلَةَ نُحِرَتِ الْقَرَابِينُ وَوُزِّعَتْ لُحُومُهَا عَلَى الْفُقَرَاءِ ، وَارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ فِي كَبِدِ السَّمَاءِ وَرَاحَتْ تَمِيلُ نَحْوَ الْغَرْبِ ، وَالْتَفَّ النِّسْوَةُ حَلَقَاتٍ حَوْلَ الْمَوَائِدِ الَّتِي مُدَّتْ وَرُحْنَ يَتَنَاوَلْنَ غَدَاءَهُنَّ .
Di antara berhala Isaf dan Naila, hewan-hewan kurban pun disembelih lalu dagingnya dibagikan kepada orang-orang fakir miskin. Matahari terus meninggi hingga ke puncak langit dan mulai condong bergerak ke arah barat. Kaum wanita kemudian duduk berkumpul membentuk lingkaran mengelilingi meja-meja hidangan yang telah dibentangkan, lalu mereka mulai menyantap makan siang mereka bersama-sama.
وَجَاءَ يَهُودِيٌّ وَقَالَ :
Tiba-tiba datanglah seorang lelaki Yahudi dan berseru:
— يَا مَعْشَرَ نِسَاءِ قُرَيْشٍ !
— Wahai sekalian wanita kaum Quraisy!
وَرَنَّ الصَّوْتُ فِي جَنَبَاتِ الْحَرَمِ فَالْتَفَتَتِ النِّسْوَةُ إِلَيْهِ وَقَدْ أَصْخَيْنَ السَّمْعَ إِلَيْهِ ، فَقَالَ :
Suara teriakan itu menggema nyaring di sudut-sudut Masjidil Haram, membuat kaum wanita segera menoleh ke arahnya dan memasang telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan. Maka lelaki itu kembali berkata:
— يَا مَعْشَرَ نِسَاءِ قُرَيْشٍ إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ يُبْعَثَ نَبِيٌّ فِي قَوْمِكُنَّ فَمَنْ حَضَرَ لَهَا أَنْ تَكُونَ فِرَاشًا لَهُ فَلْتَفْعَلْ .
— Wahai sekalian wanita Quraisy, sesungguhnya telah dekat masanya akan diutus seorang nabi di tengah-tengah kaum kalian. Maka barangsiapa di antara kalian yang berkesempatan untuk menjadi pendampingnya (istrinya), hendaklah ia melaksanakannya!
وَثَارَ النِّسْوَةُ فَرَمَاهُ بَعْضُهُنَّ بِالْحَصْبَاءِ ، وَأَلْقَى عَلَيْهِ أُخْرَيَاتٌ سَيْلًا مِنَ الشَّتَائِمِ وَالسِّبَابِ وَقَبَّحْنَهُ لَهُ ، بَيْنَمَا خَفَقَ قَلْبُ خَدِيجَةَ فِي شِدَّةٍ فَذَلِكَ الْحَدِيثُ أَهَاجَ ذِكْرَيَاتِهَا ، إِنَّهُ أَعَادَ إِلَى ذِهْنِهَا حُلْمَهَا الَّذِي رَأَتْهُ وَذَلِكَ الْحَدِيثَ الشَّجِيَّ الْعَذْبَ الَّذِي دَارَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ ابْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ حَوْلَ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ .
Sontak saja kaum wanita menjadi marah; sebagian dari mereka melempari lelaki Yahudi itu dengan kerikil, sementara sebagian lainnya melontarkan berondongan makian serta umpatan seraya mencelanya dengan keras. Di balik kegemparan itu, jantung Khadijah justru berdegup dengan sangat kencang karena ucapan tersebut seketika mengusik kembali kenangan di benaknya. Ucapan itu mengingatkan kembali pikirannya pada mimpi yang pernah ia saksikan, serta percakapan yang begitu menyentuh jiwa dan indah yang pernah terjadi antara dirinya dengan sepupunya, Waraqah bin Naufal, mengenai nabi penutup zaman.
أَعْلَنَ الْيَهُودِيُّ عَلَى الْمَلَأِ أَنَّ نَبِيًّا قَرُبَ وُجُودُهُ وَهُوَ يَدْعُو مَنِ اسْتَطَاعَتْ مِنْ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَنْ تَكُونَ فِرَاشًا لَهُ أَنْ تَفْعَلَ ، وَهِيَ قَدْ رَأَتْ فِي مَنَامِهَا أَنَّ الشَّمْسَ هَبَطَتْ مِنْ سَمَاءِ مَكَّةَ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا ، وَقَدْ فَسَّرَ لَهَا وَرَقَةُ ذَلِكَ الْحُلْمَ بِأَنَّ نُورَ النُّبُوَّةِ سَيَشِعُّ مِنْ دَارِهَا ، إِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ لَيْسَ عَبَثًا ، إِنَّهَا تَحُسُّ فِي أَغْوَارِ نَفْسِهَا أَنَّ رُؤْيَاهَا حَقٌّ . وَأَنَّ نُبُوءَةَ الْيَهُودِيِّ صِدْقٌ ، وَأَنَّ مَا قَصَّهُ عَلَيْهَا وَرَقَةُ مِنْ بِشَارَاتٍ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ بِالنَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ، إِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ حَقِيقَةٌ سَاطِعَةٌ ؛ تُرَى مَتَى يَتَحَقَّقُ الْحُلْمُ الْجَمِيلُ !
Lelaki Yahudi itu telah mengumumkan di hadapan khalayak ramai bahwa kehadiran seorang nabi sudah sangat dekat, dan ia menyerukan kepada siapa saja dari wanita Quraisy yang mampu untuk menjadi pendampingnya agar melakukannya. Sementara itu, Khadijah sendiri telah melihat di dalam tidurnya bahwa matahari turun dari langit Makkah dan bersemayam di dalam rumahnya, dan Waraqah pun telah menakwilkan mimpi tersebut bahwa cahaya kenabian kelak akan memancar bersinar dari rumahnya. Sungguh, semua rangkaian kejadian ini sama sekali bukanlah suatu kebetulan yang sia-sia semata. Ia dapat merasakan di dalam relung jiwanya yang paling dalam bahwa mimpinya adalah sebuah kebenaran nyata, bahwa kabar dari lelaki Yahudi itu adalah sebuah kejujuran, dan bahwa apa yang telah diceritakan oleh Waraqah kepadanya mengenai kabar gembira dalam kitab Taurat dan Injil tentang nabi yang dinanti-nantikan itu adalah sebuah kepastian yang tidak dihinggapi kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Semua hal tersebut merupakan hakikat kebenaran yang bersinar benderang; duhai, kapankah kiranya impian yang sangat indah itu akan menjadi kenyataan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar