KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Skenario di Balik Takdir: Mengapa Langit Menunda Muhammad untuk Khadijah
Allah tidak sekadar menunda pernikahan Sang Nabi ﷺ, melainkan tengah menyiapkan seorang wanita istimewa yang memiliki kematangan akal dan kekayaan jiwa untuk menjadi tempat bernaung sang pembawa risalah.
تَزَوَّجَ الْعَبَّاسُ ، وَتَزَوَّجَ حَمْزَةُ وَصَارَ أَبَا عُمَارَةَ ، وَتَزَوَّجَ أَبُو بَكْرٍ وَأَنْجَبَ أَسْمَاءَ ، وَلَمْ يَتَزَوَّجْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ وَقَدْ تَجَاوَزَ الْعِشْرِينَ مِنْ عُمُرِهِ ، وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مَأْلُوفًا فِي الْعَرَبِ فَمَا الَّذِي مَنَعَهُ مِنْ أَنْ يَتَزَوَّجَ ؟ أَوْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ مَا يَتَزَوَّجُ بِهِ ؟ إِنَّ سَادَاتِ بَنِي هَاشِمٍ كَانُوا يَفْعَمُونَ بِالْفَرَحِ لَوْ أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ تَقَدَّمَ لِيَخْطُبَ إِحْدَى عَقِيلَاتِهِمْ ، وَفَتَيَاتُ بَنِي هَاشِمٍ كُنَّ يَحْلَمْنَ بِالْأَمِينِ الَّذِي انْتَشَرَ أَرِيجُ طَهَارَتِهِ فِي قَبَائِلِ قُرَيْشٍ ، وَلَوْ أَنَّهُ تَقَدَّمَ لِبَنِي أُمَيَّةَ يَطْلُبُ إِحْدَى بَنَاتِهِمْ لَرَحَّبُوا بِهِ كَمَا رَحَّبُوا بِعَمِّهِ أَبِي لَهَبٍ مِنْ قَبْلُ ، فَقَدْ تَزَوَّجَ أَبُو لَهَبٍ أُمَّ جَمِيلٍ ابْنَةَ حَرْبِ بْنِ أُمَيَّةَ وَأُخْتَ أَبِي سُفْيَانَ بْنِ حَرْبٍ ، فَأَشْرَافُ أُمَيَّةَ تَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُمْ زَهْوًا كُلَّمَا صَاهَرُوا بَنِي هَاشِمٍ ، فَقَدْ كَانَ الشَّرَفُ حَلِيفَ ذَلِكَ الْحَيِّ وَإِنْ حَاوَلَ بَنُو أُمَيَّةَ أَنْ يَنْتَزِعُوهُ مِنْهُمْ .
Al-Abbas telah menikah, Hamzah pun telah menikah dan menjadi ayah dari Umarah, Abu Bakar juga telah menikah dan dikaruniai Asma, namun Muhammad bin Abdullah belum juga menikah padahal usianya telah melewati dua puluh tahun. Hal demikian tidaklah lazim di kalangan bangsa Arab, lalu apa yang menghalanginya untuk menikah? Ataukah beliau tidak memiliki apa yang bisa digunakan untuk menikah? Sesungguhnya para pemuka Bani Hasyim akan dipenuhi dengan kegembiraan andai putra Abdullah itu maju untuk meminang salah satu wanita mulia mereka, dan gadis-gadis Bani Hasyim senantiasa memimpikan sang Al-Amin (orang yang terpercaya) yang keharuman kesuciannya telah tersebar di antara kabilah-kabilah Quraisy. Bahkan sekiranya beliau datang kepada Bani Umayyah untuk meminang salah satu putri mereka, niscaya mereka akan menyambutnya dengan tangan terbuka sebagaimana mereka menyambut pamannya, Abu Lahab, sebelumnya; di mana Abu Lahab telah menikahi Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah, saudara perempuan Abu Sufyan bin Harb. Maka para bangsawan Umayyah akan membusungkan dada mereka dengan penuh kebanggaan setiap kali mereka menjalin hubungan kekerabatan melalui pernikahan dengan Bani Hasyim, karena kemuliaan adalah sekutu bagi lingkungan tersebut, meskipun Bani Umayyah mencoba untuk merebutnya dari mereka.
وَلَوْ تَقَدَّمَ إِلَى بَنِي أَسَدٍ لِيَتَزَوَّجَ لَزَوَّجُوهُ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ ، فَالْعَوَّامُ بْنُ خُوَيْلِدٍ قَدْ تَزَوَّجَ عَمَّتَهُ لِشَرَفِهَا فِي قَوْمِهَا ، وَكَانَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ يُزَكِّيهِ فَهُوَ مُعْجَبٌ بِهِ وَبِمَا اشْتَهَرَ عَنْهُ مِنْ عُزُوفِهِ عَنْ دِينِ قَوْمِهِ وَإِعْرَاضِهِ عَنْ لَهْوِهِمْ وَعَبَثِهِمْ وَحُبِّهِ لِلْعُزْلَةِ وَالتَّأَمُّلِ وَالتَّدَبُّرِ وَتَقْلِيبِ وَجْهِهِ فِي السَّمَاءِ .
Dan jika beliau datang kepada Bani Asad untuk menikah, niscaya mereka akan menikahkannya dengan senang hati, sebab Al-Awwam bin Khuwailid telah menikahi bibi beliau karena kemuliaannya di kalangan kaumnya, dan Waraqah bin Naufal pun senantiasa memujinya, karena ia kagum kepada beliau dan atas apa yang masyhur tentangnya berupa keengganannya terhadap agama kaumnya, berpalingnya beliau dari kelalaian serta kesia-siaan mereka, serta kecintaannya pada kesendirian, kontemplasi, tadabur, dan membolak-balikkan wajahnya ke arah langit.
وَلَوْ تَقَدَّمَ إِلَى بَنِي تَيْمٍ يَلْتَمِسُ زَوْجَةً لَطَارَ أَبُو بَكْرٍ فَرَحًا ، فَهُوَ صَدِيقُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ وَالَّذِي يَزْدَادُ حُبُّهُ لَهُ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ ، إِنَّهُ مُعْجَبٌ بِقُدْرَتِهِ عَلَى كَبْحِ جِمَاحِ عَوَاطِفِهِ وَبِصِدْقِهِ وَأَمَانَتِهِ وَشَجَاعَتِهِ فِي إِبْدَاءِ رَأْيِهِ ، فَهُوَ إِذَا مَا طُلِبَ إِلَيْهِ أَنْ يَحْلِفَ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى فِي الْحَرَمِ أَوْ فِي الْأَسْوَاقِ يَقُولُ دُونَ أَنْ تَخْتَلِجَ عَيْنَاهُ :
Dan jika beliau datang kepada Bani Taim untuk mencari seorang istri, niscaya Abu Bakar akan terbang karena gembira, sebab ia adalah sahabat karibnya yang tidak pernah berpisah darinya dan yang cintanya kepada beliau kian bertambah seiring berjalannya hari. Sesungguhnya ia sangat kagum atas kemampuan beliau dalam mengendalikan gejolak emosinya, serta atas kejujuran, amanah, dan keberanian beliau dalam mengutarakan pandangannya. Maka apabila beliau diminta untuk bersumpah demi Lata dan Uzza di tanah suci atau di pasar-pasar, beliau akan berkata tanpa ragu sedikit pun di matanya:
— إِنِّي لَمْ أَحْلِفْ بِهِمَا قَطُّ .
— Sesungguhnya aku tidak pernah bersumpah demi keduanya sama sekali.
إِنَّهُ صَادِقٌ فِي تِجَارَتِهِ ، صَادِقٌ فِي صَدَاقَتِهِ ، صَادِقٌ فِي قَوْلِهِ ، صَادِقٌ فِي جِيرَتِهِ ، صَادِقٌ فِي عُزْلَتِهِ ، صَادِقٌ فِي عَلَاقَتِهِ بِقَوْمِهِ ، صَادِقٌ مَعَ نَفْسِهِ ، فَالْأَمَانَةُ تُجَلِّلُهُ ، فَلَا جَرَمَ أَنْ عُرِفَ فِي قَوْمِهِ بِالْأَمِينِ ، وَلَا جَرَمَ أَنْ أُعْجِبَ أَبُو بَكْرٍ بِهِ ، وَاتَّخَذَهُ قُدْوَةً يَحْذُو حَذْوَهُ .
Sesungguhnya beliau jujur dalam perdagangannya, jujur dalam persahabatannya, jujur dalam perkataannya, jujur dalam bertetangga, jujur dalam kesendiriannya, jujur dalam hubungannya dengan kaumnya, dan jujur terhadap dirinya sendiri. Maka sifat amanah senantiasa menyelimuti beliau, maka tidak heran jika beliau dikenal di kalangan kaumnya sebagai Al-Amin, dan tidak heran pula jika Abu Bakar sangat mengaguminya, serta menjadikannya sebagai teladan yang diikuti langkahnya.
وَلَوْ تَقَدَّمَ إِلَى بَنِي مَخْزُومٍ لِيَتَّخِذَ لَهُ سَكَنًا لَفَتَحَ لَهُ بَنُو الْمُغِيرَةِ أَبْوَابَهُمْ عَلَى مَصَارِيعِهَا يَخْتَارُ مِنْ بَنَاتِهِمْ مَنْ يَشَاءُ ، وَلَسَكَنَتِ الْغِبْطَةُ قَلْبَ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ وَأَفْئِدَةَ أَبْنَاءِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ ، وَلَعَرَفَ السُّرُورُ طَرِيقَهُ إِلَى صَدْرِ الْفَرْعِ الْعَدَوِيِّ : الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْلٍ وَزَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ عَلَى الرَّغْمِ مِمَّا بَيْنَهُمَا مِنْ عَدَاوَةٍ ، فَمُصَاهَرَةُ بَنِي هَاشِمٍ تَرْفَعُ مِنْ قَدْرِ بَنِي مَخْزُومٍ وَتُدْنِيهِمْ مِنَ الْحَيَّيْنِ الْمُتَنَافِسَيْنِ عَلَى زَعَامَةِ مَكَّةَ ، بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ .
Dan jika beliau datang kepada Bani Makhzum untuk mencari tempat ketenteraman (istri), niscaya Bani Al-Mughirah akan membuka pintu-pintu mereka lebar-lebar bagi beliau untuk memilih siapa saja yang beliau kehendaki dari putri-putri mereka, dan niscaya kegembiraan akan menetap di dalam hati Al-Walid bin Al-Mughirah serta sanubari putra-putra Abdullah bin Abi Rabi'ah, dan niscaya kebahagiaan akan menemukan jalannya ke dalam dada cabang keturunan Adawi: Al-Khattab bin Nufail dan Zaid bin Amr bin Nufail meskipun di antara keduanya terdapat permusuhan. Sebab jalinan pernikahan dengan Bani Hasyim akan mengangkat kedudukan Bani Makhzum dan mendekatkan mereka kepada dua kubu yang saling bersaing memperebutkan kepemimpinan Makkah, yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah.
لَمْ يَكُنْ فِي قُرَيْشٍ كُلِّهَا بَيْتٌ لَا يُرَحِّبُ بِأَنْ يَكُونَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ زَوْجًا لِأَشْرَفِ بَنَاتِهِ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ فَقْرِهِ فِي الْمَالِ ، فَقَدْ كَانَ غَنِيًّا بِنَسَبِهِ ، غَنِيًّا بِشَرَفِهِ ، غَنِيًّا بِمَكَارِمِ أَخْلَاقِهِ ، وَلَكِنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ لَمْ يَتَقَدَّمْ إِلَى الزَّوَاجِ لِأَنَّهُ أَصْبَحَ يُحِسُّ أَنَّ سَجْدَةً فِي مِحْرَابِ الْكَوْنِ أَفْضَلُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا .
Tidak ada satu rumah pun di seluruh Quraisy yang tidak akan menyambut baik Muhammad bin Abdullah untuk menjadi suami bagi putri-putri mereka yang paling mulia, meskipun beliau miskin dalam hal harta; karena beliau kaya dengan nasabnya, kaya dengan kemuliaannya, dan kaya dengan keluhuran akhlaknya. Akan tetapi, putra Abdullah belum melangkah menuju pernikahan karena beliau mulai merasakan bahwa satu sujud di mihrab alam semesta ini jauh lebih utama daripada dunia beserta segala isinya.
إِنَّهُ بَاتَ يُؤْمِنُ أَنَّ رَبَّ الْكَوْنِ هُوَ خَالِقُ أَفْكَارِهِ وَلَذَّاتِهِ وَآلَامِهِ ، فَهُوَ لَا يَطْرِفُ طَرْفَةً وَلَا يَتَنَفَّسُ نَفَسًا وَلَا يَأْتِي بِحَرَكَةٍ إِلَّا بِقُدْرَتِهِ ، وَأَنَّهُ بِوِصَالِهِ قَدْ تَحَرَّرَ مِنْ كُلِّ عُبُودِيَّةٍ إِلَّا عُبُودِيَّتِهِ ، إِنَّهُ حُرٌّ عَنْ غَيْرِهِ ، عَبْدٌ فِي حَقِيقَةِ الْحَقِيقَةِ ، هَائِمٌ فِي سَعَادَةِ السَّعَادَةِ ، غَائِبٌ عَنْ وُجُودِهِ بِمُحَاوَلَةِ الِانْدِمَاجِ فِي الْخَيْرِ الْمُطْلَقِ .
Beliau telah meyakini bahwa Tuhan alam semesta adalah pencipta pikiran, kesenangan, dan rasa sakitnya. Maka beliau tidak berkedip sekejap pun, tidak menghela napas, dan tidak melakukan suatu gerakan melainkan dengan kuasa-Nya. Dan bahwasanya dengan keterikatan hubungan-Nya, beliau telah merdeka dari segala bentuk penghambaan kecuali penghambaan kepada-Nya. Beliau bebas dari selain-Nya, seorang hamba dalam hakikat kebenaran yang sejati, tenggelam dalam kebahagiaan yang paling hakiki, dan sirna dari kediriannya demi menyatu dalam kebaikan yang mutlak.
إِنَّهُ فِي تَوَافُقٍ مَعَ ضَمِيرِهِ وَتَنَاسُقٍ مَعَ ذَاتِهِ وَصُلْحٍ مَعَ إِرَادَتِهِ ، قَدْ أَغْلَقَ كُلَّ نَوَافِذِ نَفْسِهِ الَّتِي تُطِلُّ عَلَى مَبَاذِلِ قَوْمِهِ وَشُرُورِهِمْ وَتَوَجَّهَ بِكُلِّ كِيَانِهِ إِلَى الْقُوَّةِ الْعَلِيَّةِ ، فَلَمْ يَشْقَ بِتَوْزِيعِ ذِهْنِهِ ، بَلِ انْصَرَفَ عَنْ زَلَّاتِ قَوْمِهِ لِيَفْنَى فِي الْكُلِّ الطَّاهِرِ ، لِيَفُوزَ بِسَعَادَةِ النَّفْسِ وَرَاحَةِ الضَّمِيرِ وَالْغِبْطَةِ الرُّوحِيَّةِ الَّتِي تُنْسِيهِ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ لَذَّاتٍ ، وَكُلَّ مَا تَهْفُو إِلَيْهِ الْأَجْسَادُ .
Beliau berada dalam keselarasan dengan hati nuraninya, keharmonisan dengan dirinya, dan kedamaian dengan kehendaknya. Beliau telah menutup rapat seluruh jendela jiwanya yang menghadap kepada kehinaan dan keburukan kaumnya, serta menghadapkan seluruh eksistensinya kepada Kekuatan Yang Maha Tinggi. Maka beliau tidak menderita karena keterpecahan pikiran, melainkan berpaling dari kesalahan-kesalahan kaumnya untuk melebur dalam Kesucian yang Menyeluruh, demi meraih kebahagiaan jiwa, ketenteraman hati nurani, dan kegembiraan spiritual yang membuatnya lupa akan segala kelezatan yang ada di bumi serta segala hal yang didambakan oleh jasmani.
إِنَّهُ يَنْزِعُ نَحْوَ السُّمُوِّ إِلَى مَا فَوْقَ السَّمَوَاتِ ، وَإِنَّ ذَلِكَ السُّمُوَّ جِهَادٌ وَمُعَانَاةٌ وَتَحَمُّلُ آلَامِ الْحِرْمَانِ مِنْ كُلِّ مَا فِي الدُّنْيَا مِنْ مَبَاهِجَ أَرْضِيَّةٍ وَلَذَّاتٍ حِسِّيَّةٍ وَفِطَامِ النَّفْسِ عَنِ الشَّهَوَاتِ . إِنَّهُ سَائِرٌ فِي طَرِيقِهِ إِلَى اللهِ وَهُوَ طَرِيقٌ شَاقٌّ كُلُّهُ مُجَاهَدَةٌ وَإِرْهَاقٌ ، إِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ وَالِارْتِقَاءُ أَصْعَبُ مِنَ الْهُبُوطِ ، إِنَّهُ يُرِيدُ الْفَضِيلَةَ وَمَا أَيْسَرَ التَّرَدِّيَ فِي الرَّذِيلَةِ ، إِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَسِيرَ فِي مُوَاجَهَةِ قَوْمِهِ الْمُنْدَفِقِينَ فِي سُبُلِ الْخَطِيئَةِ لِيَصِلَ إِلَى الْآفَاقِ الْعُلْيَا ، فَهُوَ يَتَسَلَّحُ بِأَسْلِحَةِ الْمُقَاوَمَةِ وَالصُّمُودِ وَالشَّجَاعَةِ الَّتِي تُؤَهِّلُهُ لِأَنْ يُقَاوِمَ التَّيَّارَ .
Beliau cenderung bergerak menuju keluhuran yang melampaui langit, dan sesungguhnya keluhuran itu adalah perjuangan, penderitaan, dan kesiapan menahan kepedihan akibat menolak segala kesenangan bumi dan kelezatan indrawi yang ada di dunia, serta menyapih jiwa dari hawa nafsu. Beliau sedang berjalan di atas jalurnya menuju Allah, suatu jalan yang sukar, penuh dengan kesungguhan dan keletihan. Beliau ingin mendaki, dan naik itu jauh lebih sulit daripada turun; beliau menghendaki keutamaan, padahal betapa mudahnya terperosok ke dalam kehinaan. Beliau ingin berjalan melawan arus kaumnya yang hanyut dalam jalan-jalan dosa demi menggapai ufuk-ufuk tertinggi, maka beliau mempersenjatai diri dengan senjata perlawanan, keteguhan, dan keberanian yang menjadikannya mampu untuk melawan arus tersebut.
إِنَّهُ قَدْ عَرَفَ طَرِيقَهُ ، فَهُوَ يُفَكِّرُ فِي رَبِّ الْكَوْنِ وَلَا شَيْءَ غَيْرَ رُوحِ الْوُجُودِ ؛ وَلَا عَرْبَدَةَ فِكْرِيَّةَ وَلَا تَسْكَعَ ذِهْنِيًّا ، بَلْ صَارَتِ الْحَقِيقَةُ غَايَةً ، فَلَا يُحَلِّقُ فِي ضَبَابِ الْعَدَمِ الْكَثِيفِ بَلْ يَهِيمُ فِي دُنْيَا الْخُلُودِ وَيَسْتَشْعِرُ الْأَبَدِيَّةَ فِي أَعْمَاقِ أَعْمَاقِهِ ، فَحَسَاسِيَّتُهُ الْمُرْهَفَةُ الْعَمِيقَةُ قَادِرَةٌ عَلَى تَذَوُّقِ الْآلَامِ وَاللَّذَّاتِ مَعًا ، قَادِرَةٌ عَلَى أَنْ تُحَوِّلَ أَلَمَ الْجِهَادِ إِلَى لَذَّةٍ صَافِيَةٍ خَالِصَةٍ .
Beliau telah mengenali jalannya, maka beliau senantiasa memikirkan Tuhan alam semesta dan tidak ada yang lain selain ruh eksistensi; tidak ada kekacauan berpikir ataupun kebingungan mental, melainkan kebenaran telah menjadi tujuan utama. Beliau tidak terbang di dalam kabut ketiadaan yang pekat, melainkan mengembara di dunia keabadian dan merasakan kekekalan di lubuk sanubarinya yang paling dalam. Kepekaan perasaannya yang halus dan mendalam mampu mengecap rasa sakit dan kelezatan sekaligus, serta mampu mengubah kepedihan perjuangan menjadi kelezatan yang murni dan bersih.
إِنَّهُ قَدْ فَطِنَ إِلَى أَنَّ الضَّمِيرَ هُوَ نَبْعُ الْأَلَمِ وَاللَّذَّةِ ، مَصْدَرُ الشَّقَاءِ وَالْغِبْطَةِ ، وَأَنَّ الشَّرَّ يَنْحَصِرُ فِي الْخَطِيئَةِ ، وَأَنَّ أَوَّلَ مَرَاتِبِ الْخَطِيئَةِ إِصَاخَةُ السَّمْعِ إِلَى وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ ، فَرَاحَ يُجَاهِدُ لِيُنَقِّيَ ضَمِيرَهُ حَتَّى يَسْعَدَ بِالْفَيْضِ الرُّوحِيِّ الَّذِي يَغْمُرُهُ بِسُرُورٍ دَائِمٍ يَفُوقُ كُلَّ سُرُورٍ زَائِلٍ مَبْعَثُهُ الْحِسُّ وَالْجَسَدُ ، وَجَعَلَ يَصُمُّ أُذُنَيْهِ عَنْ هَمَزَاتِ الشَّيْطَانِ حَتَّى لَا يَتَسَلَّلَ الشَّرُّ إِلَى بَاطِنِ ضَمِيرِهِ فَيَخْسَرَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاءَ مَعًا .
Beliau telah menyadari bahwa hati nurani adalah mata air bagi rasa sakit dan kenikmatan, sumber bagi kesengsaraan dan kebahagiaan, dan bahwa keburukan itu berakar pada dosa, serta tingkatan awal dari dosa adalah mendengarkan bisikan syaitan. Maka beliau mulai berjuang membersihkan nuraninya agar dapat bahagia dengan limpahan spiritual yang menggenanginya dengan kegembiraan abadi yang mengungguli segala kebahagiaan fana yang bersumber dari indra dan jasad. Beliau pun menutup rapat kedua telinganya dari bisikan-bisikan syaitan agar keburukan tidak menyusup ke dalam batin nuraninya, sehingga beliau tidak kehilangan dunia dan langit sekaligus.
إِنَّ قَوْمَهُ فِي تَنَافُرٍ وَتَشَاحُنٍ وَاضْطِرَابٍ وَنِزَاعٍ وَخِصَامٍ وَقِتَالٍ ، إِنَّهُمْ هَائِمُونَ فِي صَحَارِي الضَّيَاعِ يَعُبُّونَ كُؤُوسَ الرَّذِيلَةِ مُتْرَعَةً بِالْآثَامِ . إِنَّهُمْ غَارِقُونَ فِي الْخَطِيئَةِ حَتَّى الْآذَانِ قَدْ مَلَأَتْ جَوَانِحَهُمْ بِالشُّرُورِ . مَأْسَاةُ حَيَاتِهِمْ أَنَّهُمْ لَا يَجِدُونَ السَّبِيلَ إِلَى الْخَيْرِ الْأَسْمَى ، فَلَوْ اسْتَطَاعَ إِنْسَانٌ أَنْ يَفْتَحَ أَعْيُنَهُمْ عَلَى الْخَيْرِ وَأَنْ يَقُودَهُمْ إِلَى الرَّشَادِ لَأُغْلِقَتْ نَوَافِذُ الشَّرِّ فِي ضَمَائِرِهِمْ ، وَأُسْدِلَتِ الْأَسْجَافُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْخَطَايَا ، وَتَحَوَّلَتِ الطَّاقَاتُ الشِّرِّيرَةُ الْمُدَمِّرَةُ الَّتِي تَتَفَجَّرُ فِي صَمِيمِ وُجُودِهِمْ إِلَى طَاقَاتٍ خَيِّرَةٍ بَنَّاءَةٍ ، تَسْمُو بِالْبَشَرِيَّةِ إِلَى السَّمَاءِ لِتَنْهَلَ مِنْ نَبْعِ السُّرُورِ وَتَسْعَدَ بِاللَّذَّةِ الصَّافِيَةِ .
Sesungguhnya kaumnya berada dalam kerenggangan, saling benci, kemelut, perselisihan, pertikaian, dan peperangan; mereka terlunta-lunta di padang pasir kesesatan sembari mereguk cawan-cawan kenistaan yang penuh dengan dosa. Mereka tenggelam dalam kesalahan hingga ke telinga mereka, di mana keburukan telah memenuhi rongga dada mereka. Tragedi kehidupan mereka adalah ketidakmampuan mereka menemukan jalan menuju kebaikan yang tertinggi; maka andaikata ada seseorang yang sanggup membuka mata mereka menuju kebaikan dan menuntun mereka ke arah petunjuk, niscaya jendela-jendela keburukan di dalam hati sanubari mereka akan tertutup, tirai-tirai penghalang antara mereka dan dosa akan diturunkan, dan energi jahat yang merusak yang meledak-ledak di dalam inti eksistensi mereka akan berubah menjadi energi kebaikan yang membangun, yang mengangkat kemanusiaan menuju langit agar dapat meneguk dari mata air kebahagiaan dan bersenang-senang dengan kelezatan yang murni.
إِنَّ الْإِنْسَانَ يَرَى الْوُجُودَ بِعَيْنِ ضَمِيرِهِ ، فَإِذَا كَانَتْ نَفْسُهُ تَمُورُ بِالشَّرِّ وَالْفَوْضَى وَالِاضْطِرَابِ فَإِنَّهُ يَرَى الْعَالَمَ مُضْطَرِبًا حَافِلًا بِكُلِّ الشُّرُورِ وَالْآلَامِ ، أَمَّا إِذَا كَانَتْ نَفْسُهُ رَاضِيَةً مُطْمَئِنَّةً تَفِيضُ بِالْخَيْرِ فَإِنَّهُ يَرَى مَا فِي الْكَوْنِ مِنْ جَمَالٍ ، وَأَنَّ الْجَمَالَ يَقُودُ إِلَى الْحَقِّ ، وَلَنْ تَعْرِفَ نَفْسٌ الرَّاحَةَ وَالِانْسِجَامَ إِلَّا إِذَا أَسْلَمَتْ وَجْهَهَا لِذَاتِ الذَّوَاتِ وَرَبَطَتِ الْأَسْبَابَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ السَّمَاءِ .
Sesungguhnya manusia melihat eksistensi ini dengan mata hatinya; maka jikalau jiwanya bergejolak dengan keburukan, kekacauan, dan kegelisahan, ia akan memandang dunia ini kacau dan penuh dengan segala kejahatan serta kepedihan. Sebaliknya, apabila jiwanya rida, tenang, dan melimpah dengan kebaikan, ia akan mampu melihat keindahan yang ada di alam semesta, dan bahwa keindahan itu menuntun menuju kebenaran. Jiwa tidak akan pernah mengenal ketenteraman dan keharmonisan kecuali jika ia memasrahkan dirinya kepada Dzat dari segala dzat dan menghubungkan tali sebab antara dirinya dan langit.
إِنَّ صَدْرَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ يَجِيشُ بِآمَالٍ عَرِيضَةٍ مُشْرِقَةٍ ، فَهُوَ يَسْتَشْعِرُ فِي أَعْمَاقِهِ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُذْكِيَ نُفُوسَ قَوْمِهِ ، وَقَدْ فَطِنَ إِلَى أَنَّ عَدُوَّهُمُ الْأَكْبَرَ قَابِعٌ فِي أَغْوَارِ نُفُوسِهِمْ يُلْهِمُهُمُ الْكَذِبَ وَيُزَيِّنُ لَهُمُ الْفُسُوقَ وَيُمَزِّقُ كُلَّ حِجَابٍ عَنِ الْإِغْرَاءِ ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يُوقِظَ فِيهِمْ إِرَادَتَهُمُ الْخَيْرَةَ فَإِنَّهُ يَكْتُمُ أَنْفَاسَ الرَّذِيلَةِ الَّتِي تَعْرَبِدُ بَيْنَ ضُلُوعِهِمْ وَيُحَقِّقُ الِانْتِصَارَ لِبَشَرِيَّتِهِمُ السَّامِيَةِ ، وَلَكِنْ مِنْ أَيْنَ يَبْدَأُ ؟ إِنَّهُ لَا يَدْرِي ، وَكَيْفَ يُقْنِعُ أَقْوَامًا جُبِلُوا عَلَى إِطْلَاقِ الْحُرِّيَّةِ لِعَوَاطِفِهِمُ الْمَشْبُوهَةِ أَنْ يَفْطِمُوا جَوَارِحَهُمْ عَنِ الشَّهَوَاتِ ؟ إِنَّهُ يَسْتَشْعِرُ فِي أَعْمَاقِ ضَمِيرِهِ أَنَّ ذَلِكَ لَنْ يَكُونَ إِلَّا بِعَوْنِ اللهِ وَنُورٍ مِنْ نُورِ اللهِ يُبَدِّدُ الظَّلَامَ الَّذِي رَانَ بِكُهُوفِ الصُّدُورِ .
Sesungguhnya dada Muhammad bin Abdullah bergejolak dengan harapan-harapan yang luas dan gemilang, beliau merasakan di dalam lubuk hatinya bahwa beliau sanggup menyalakan kembali jiwa kaumnya. Beliau menyadari bahwa musuh terbesar mereka mendekam di kedalaman jiwa mereka sendiri, membisikkan kedustaan, menghiasi kefasikan, dan merobek setiap tabir penangkal godaan. Maka sekiranya beliau berhasil membangkitkan kehendak baik di dalam diri mereka, niscaya beliau dapat meredam napas kenistaan yang merajalela di antara tulang rusuk mereka serta mewujudkan kemenangan bagi kemanusiaan mereka yang luhur. Namun, dari mana beliau harus memulai? Beliau belum mengetahuinya. Dan bagaimana cara meyakinkan kaum yang telah tabiatnya membebaskan perasaan-perasaan mereka yang meragukan, agar menyapih anggota tubuh mereka dari hawa nafsu? Beliau merasakan di kedalaman nuraninya bahwa hal tersebut tidak akan terlaksana melainkan dengan pertolongan Allah dan seberkas cahaya dari cahaya Allah yang akan mengusir kegelapan yang telah menyelimuti gua-gua di dalam dada.
إِنَّهُ يُفَكِّرُ فِي مَا هُوَ كَائِنٌ وَفِي مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ ، فِي مَا عَلَيْهِ قَوْمُهُ وَفِي مَا يَرْجُو أَنْ يَكُونُوا عَلَيْهِ ، وَإِنَّهُ يُعَانِي مِنْ مِثْلِ هَذَا التَّفْكِيرِ مُعَانَاةً شَدِيدَةً ، وَهَذَا الْأَلَمُ يُحَقِّقُ تَطَوُّرَهُ الرُّوحِيَّ وَيُنْمِي حَيَاتَهُ الْبَاطِنِيَّةَ وَيَقُودُهُ إِلَى الْغَايَةِ الَّتِي صَارَتْ هَدَفَهُ أَنْ يَسْمُو بِمَشَاعِرِ الْبَشَرِيَّةِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْإِنْسَانَ يَسْتَشْعِرُ سُرُورًا أَعْمَقَ مِنْ كُلِّ سُرُورٍ مَبْعَثُهُ الْجَسَدُ وَأَظْهَرَ مِنْ مَبَاهِجِ الدُّنْيَا .
Beliau senantiasa memikirkan tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang semestinya terjadi, tentang keadaan kaumnya saat ini dan keadaan yang beliau harapkan bagi mereka. Sesungguhnya beliau mengalami penderitaan yang hebat akibat pemikiran semacam ini, namun penderitaan inilah yang mewujudkan perkembangan spiritualnya, menumbuhkan kehidupan batinnya, serta menuntunnya menuju tujuan akhir yang telah menjadi cita-citanya, yaitu meluhurkan perasaan umat manusia dan menjadikan manusia merasakan kebahagiaan yang jauh lebih mendalam daripada segala kebahagiaan yang bersumber dari jasad serta lebih nyata daripada gemerlapnya dunia.
إِنَّهُ يُخْضِعُ حَيَاتَهُ الْحِسِّيَّةَ لِنَشَاطٍ رُوحِيٍّ يَتَزَايَدُ سُمُوًّا عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ ، وَإِنَّهُ يَتَذَوَّقُ لَذَّةَ إِشْرَاقٍ وَوِجْدَانِهِ بِنُورِ الْيَقِينِ ، وَإِنَّهُ يَغْذُو رُوحَهُ بِغِذَاءِ الْمَعْرِفَةِ وَهُوَ أَشْهَى مِنْ كُلِّ غِذَاءٍ عَرَفَ طَرِيقَهُ إِلَى جَوْفِهِ ، وَيَلُوذُ بِبَصَرِهِ الرُّوحِيِّ كُلَّمَا مَدَّهُ إِلَى الْخَيْرِ الْأَسْمَى وَهَذِهِ اللَّذَّةُ تَفُوقُ كُلَّ لَذَّةٍ اسْتَشْعَرَهَا مِنَ النَّظَرِ إِلَى جَمَالِ الْكَوْنِ وَرَوْعَةِ الْوُجُودِ . وَإِنَّهُ لَا يَكْتَفِي بِأَنْ وَصَلَ وَحْدَهُ إِلَى الطَّهَارَةِ الْقَلْبِيَّةِ الْحَقَّةِ وَلَكِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ بِيَدِ أَهْلِهِ الَّذِينَ يُحِبُّهُمْ إِلَى يَنْبُوعِ السَّعَادَةِ الرُّوحِيَّةِ الْعَمِيقَةِ ، فَمَا خَلَقَهُ اللهُ لِيَعِيشَ لِنَفْسِهِ بَلْ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ .
Beliau menundukkan kehidupan indrawinya demi aktivitas spiritual yang kian bertambah luhur seiring berjalannya waktu. Beliau mengecap kelezatan iluminasi (cahaya batin) dan getaran jiwanya oleh cahaya keyakinan, serta memberi makan ruhnya dengan hidangan makrifat (pengetahuan hakiki) yang jauh lebih lezat daripada segala makanan yang pernah masuk ke dalam perutnya. Beliau berlindung pada pandangan spiritualnya setiap kali mengarahkannya pada kebaikan yang tertinggi, dan kelezatan ini melampaui segala kelezatan yang pernah beliau rasakan dari memandang keindahan semesta dan keagungan eksistensi. Beliau tidak merasa puas hanya dengan mencapai kesucian hati yang sejati bagi dirinya sendiri, melainkan beliau ingin menggandeng tangan kaum keluarga yang dicintainya menuju mata air kebahagiaan spiritual yang mendalam, karena Allah tidak menciptakannya untuk hidup bagi dirinya sendiri, melainkan menjadikannya sebagai rahmat bagi semesta alam.
إِنَّهُ يَعِيشُ فِي عُزْلَةٍ رُوحِيَّةٍ وَيَحْيَى حَيَاةً بَاطِنِيَّةً عَمِيقَةً ، بَاحِثًا عَنِ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهَى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمَى ، الْبَاطِنِ تَقَدُّمًا لَا عَدَمًا ، خَالِقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ بِالْحَقِّ الَّذِي سَخَّرَ لِلنَّاسِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ ، مَنْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ .
Beliau hidup dalam kesendirian spiritual dan menjalani kehidupan batin yang mendalam, mencari Dzat yang tiada batas akhir sebelum-Nya dan tiada tujuan akhir setelah-Nya, Yang Maha Batin dalam keberadaan-Nya bukan karena ketiadaan, Pencipta langit dan bumi dengan kebenaran, yang telah menundukkan malam, siang, matahari, bulan, dan bintang-bintang untuk manusia, Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan.
كَانَ مُحَمَّدٌ فِي شُغُلٍ بِتَأَمُّلَاتِهِ وَتَفْكِيرِهِ وَتَقْلِيبِ وَجْهِهِ فِي السَّمَاءِ عَنْ دُنْيَا النَّاسِ ، يَحْيَى فِي جَوٍّ رُوحِيٍّ يَسْمُو بِهِ عَنْ حَاجَةِ الْبَدَنِ وَضَرُورَةِ الْجَسَدِ ، فَلَمْ يُفَكِّرْ فِي الزَّوَاجِ وَإِنْ كَانَ قِبْلَةَ أَنْظَارِ زَهَرَاتِ قُرَيْشٍ الْمُتَرَقِّبَاتِ لِلْأَزْوَاجِ .
Muhammad senantiasa sibuk dengan kontemplasi, pemikiran, dan membolak-balikkan wajahnya ke arah langit, menjauh dari dunia manusia. Beliau hidup dalam atmosfer spiritual yang mengangkat dirinya melampaui kebutuhan badan dan tuntutan jasmani, sehingga beliau tidak berpikir tentang pernikahan, meskipun beliau menjadi pusat perhatian dari bunga-bunga Quraisy yang tengah menanti jodoh.
لَوْ أَنَّ مُحَمَّدًا تَزَوَّجَ قَبْلَ الْعِشْرِينَ كَمَا أُلِفَ عادَةَ قَوْمِهِ فَمَنْ يَدْرِي لَعَلَّهُ كَانَ يَتَزَوَّجُ فَتَاةً وَضَّاءَةً غَرِيرَةً بِلَا إِيمَانٍ وَلَا تَجَارِبَ ، فَإِذَا مَا جَاءَتْ فَتْرَةُ الْوَحْيِ وَإِبْلَاغِ الرِّسَالَةِ كَانَتْ تَقْعُدُ عَنِ الْجِهَادِ الْتِمَاسًا لِلسَّلَامِ وَالْعَافِيَةِ أَوْ كَانَتْ تَقِفُ عَقَبَةً فِي سَبِيلِهِ عِوَضًا عَنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ عَوْنًا . لَكِنَّ السَّمَاءَ كَانَتْ بِهِ رَحِيمَةً . فَقَدْ كَانَتْ تَدَّخِرُ لَهُ زَوْجَةً ذَاتَ فَطَنَةٍ وَرَجَاحَةٍ ، مَفْطُورَةً عَلَى التَّدَيُّنِ ، مُتَلَهِّفَةً عَلَى ظُهُورِ الرِّسَالَةِ ، صَبَاحَةَ الْوَجْهِ غَنِيَّةَ الْيَدِ غَنِيَّةَ النَّفْسِ ، ذَاتَ حِنْكَةٍ وَحَنَانٍ ، تَعْرِفُ أَمَانَةَ الْحَقِّ وَالْفَضِيلَةِ ، تُهَيِّئُ لِزَوْجِهَا أَصَحَّ جَوٍّ وَأَطْيَبَهُ لِيُؤَدِّيَ رِسَالَتَهُ ، تَبْذُلُ لَهُ الْعَطْفَ وَالْحَنَانَ وَالْمَالَ وَالتَّأْيِيدَ لِيَبْلُغَ أَوَامِرَ رَبِّهِ ، وَقَدْ تَوَفَّرَتْ كُلُّ هَذِهِ الصِّفَاتِ الْحَمِيدَةِ فِي الطَّاهِرَةِ ، سَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ الَّتِي احْتَضَنَتْ بَشَائِرَ النُّبُوَّةِ فِي حُبٍّ وَعَطْفٍ وَحَنَانٍ يَفُوقُ كُلَّ حُبٍّ وَعَطْفٍ وَحَنَانٍ جَاشَتْ بِهِ صُدُورُ الْأُمَّهَاتِ لِفَلَذَاتِ أَكْبَادِهِنَّ .
Andai Muhammad menikah sebelum usia dua puluh tahun sebagaimana kebiasaan yang lazim pada kaumnya, maka siapa yang tahu, barangkali beliau akan menikahi seorang gadis belia yang cantik jelita namun lugu tanpa keyakinan dan pengalaman. Sehingga apabila datang masa turunnya wahyu dan penyampaian risalah, ia mungkin akan menahan beliau dari perjuangan demi mencari keselamatan dan kenyamanan, atau ia justru menjadi batu sandungan di jalan beliau, alih-alih menjadi penolong bagi beliau. Akan tetapi, langit (Allah) teramat menyayangi beliau. Langit telah mempersiapkan untuk beliau seorang istri yang memiliki kecerdasan dan kematangan berpikir, yang memiliki pembawaan kuat dalam beragama, yang sangat mendambakan kemunculan risalah, berwajah cerah, murah tangan (dermawan), lagi kaya jiwanya. Seorang wanita yang berpengalaman luas dan penuh kasih sayang, yang memahami amanah kebenaran dan keutamaan, yang mampu menyediakan lingkungan yang paling sehat dan paling baik bagi suaminya untuk menunaikan risalahnya, serta mencurahkan simpati, kasih sayang, harta, dan dukungan penuh agar beliau dapat menyampaikan perintah-perintah Tuhannya. Dan seluruh sifat terpuji ini telah berhimpun di dalam diri wanita yang suci (At-Thahirah), pemimpin wanita Quraisy, yang mendekap tanda-tanda awal kenabian dengan cinta, kelembutan, dan kasih sayang yang mengungguli segala cinta, kelembutan, dan kasih sayang yang pernah bergejolak di dalam dada para ibu untuk belahan jiwa mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar