هَطَلَتِ الْأَمْطَارُ عَلَى نَجْدٍ فَكَسَتْ صَحْرَاءَهَا وُرُودًا نَاعِمَةً صَفْرَاءَ طَيِّبَةَ الْأَرِيجِ ، فَتَضَوَّعَتِ الرِّيَاحُ بِالنَّسِيمِ الطَّيِّبِ وَهَبَّتِ النَّفَحَاتُ فِي رِيَاضِهَا وَأَيْنَعَتْ ثِمَارُهَا ، فَطَابَ الْعَيْشُ وَرَاحَ النَّاسُ يَجْتَمِعُونَ فِي رَوْنَقِ الضُّحَى وَفِي فَحْمَةِ اللَّيْلِ يَتَجَاذَبُونَ أَطْرَافَ الْحَدِيثِ ، فَقَدْ أَقْبَلَ الرَّبِيعُ وَتَفَتَّحَتِ النُّفُوسُ تَفَتُّحَ الزُّهُورِ .
Hujan turun dengan lebatnya di wilayah Najd, menyelimuti padang pasirnya dengan bunga-bunga kuning yang lembut dan harum semerbak. Angin pun menebarkan aroma yang sedap, hembusan wewangian bertiup di taman-tamannya, dan buah-buahannya pun ranum. Kehidupan terasa begitu indah, dan orang-orang mulai berkumpul di keindahan waktu duha maupun di kegelapan malam yang pekat untuk bercengkerama, karena musim semi telah tiba dan jiwa-jiwa pun merekah laksana mekarnya bunga-bunga.
وَارْتَدَى جَبَلُ الشَّذَى ثَوْبًا أَخْضَرَ يَسُرُّ النَّاظِرِينَ ، وَعَلَى سَفْحِهِ وَعِنْدَ أَقْدَامِهِ امْتَدَّتْ دِيَارُ طَيِّءٍ ، وَفِي لَيْلَةٍ اكْتَمَلَ فِيهَا الْقَمَرُ بَدْرًا اجْتَمَعَ فِي دَارٍ مِنْ هَذِهِ الدُّورِ حَارِثَةُ بْنُ شَرَاحِيلَ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ امْرِئِ الْقَيْسِ الْقُضَاعِيُّ وَإِخْوَتُهُ وَبَعْضُ رِجَالِ الْقَبِيلَةِ يَتَحَاوَرُونَ وَيُنْشِدُونَ أَشْعَارَ شُعَرَائِهِمْ وَشُعَرَاءِ عَبْسٍ وَذُبْيَانَ وَقَيْسِ عَيْلَانَ ، فَقَدْ كَانَتْ تِلْكَ الْقَبَائِلُ جِيرَانَهُمْ تَقَعُ مِثْلُهُمْ فِي السَّافِلَةِ ، وَهِيَ مَا وَلِيَ الْعِرَاقَ مِنْ نَجْدٍ .
Gunung Asy-Syadza pun mengenakan jubah hijau yang memikat mata memandangnya. Di lereng dan kaki gunung tersebut membentang perkampungan kabilah Thayyi'. Pada suatu malam ketika bulan purnama bersinar sempurna, berkumpullah di salah satu rumah tersebut Haritsah bin Syarahil bin Abdil Uzza bin Imri'il Qais Al-Qudha'i bersama saudara-saudaranya dan beberapa lelaki kabilah. Mereka saling berbincang dan melantunkan bait-bait syair dari penyair mereka sendiri, serta syair-syair dari kabilah Abs, Dzubyan, dan Qais 'Ailan. Kabilah-kabilah tersebut adalah tetangga mereka yang sama-sama menetap di wilayah As-Safilah, yaitu daerah Najd yang berbatasan dengan Irak.
وَفِي مَكَانٍ مُنْزَوٍ مِنَ الدَّارِ جَلَسَتْ سُعْدَى بِنْتُ ثَعْلَبَةَ زَوْجَةُ حَارِثَةَ تَصْغَى إِلَى حَدِيثِ الرِّجَالِ ، وَكَانَ إِلَى جِوَارِهَا ابْنُهَا زَيْدٌ وَكَانَ غُلَامًا يَفَعَةً قَدْ بَلَغَ الْعَاشِرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ، وَكَانَ شَدِيدَ الْأُدْمَةِ أَفْطَسَ الْأَنْفِ وَلَكِنَّ النُّفُوسَ تَهْوَى إِلَيْهِ ، فَقَدْ كَانَ أَبُوهُ يَكُنُّ لَهُ حُبًّا يَزِيدُ عَلَى حُبِّهِ لِابْنِهِ الْأَكْبَرِ جَبَلَةَ ، وَكَانَتْ أُمُّهُ تُحِبُّهُ حُبًّا يَفُوقُ حُبَّهَا لِابْنِهَا يَزِيدَ بْنِ كَعْبٍ ، فَقَدْ كَانَتْ سُعْدَى عِنْدَ كَعْبِ بْنِ شَرَاحِيلَ قَبْلَ أَنْ تَتَزَوَّجَ حَارِثَةَ .
Di sudut ruangan yang agak terpisah di rumah itu, duduklah Su'da binti Tsa'labah, istri dari Haritsah, sambil mendengarkan pembicaraan para lelaki. Di sisinya ada putranya, Zaid, seorang anak laki-laki yang beranjak remaja and telah menginjak usia sepuluh tahun. Kulitnya sangat gelap dan hidungnya pesek, namun setiap jiwa terpikat kepadanya. Ayahnya menyimpan rasa cinta yang mendalam kepadanya melebihi cintanya kepada putranya yang paling tua, Jabalah. Begitu pula ibunya yang mencintainya dengan cinta yang melebihi kasih sayangnya kepada putranya yang bernama Yazid bin Ka'b, karena dahulu Su'da merupakan istri dari Ka'b bin Syarahil sebelum akhirnya menikah dengan Haritsah.
كَانَ حَاتِمٌ الطَّائِيُّ قَدْ صَارَ أُنْشُودَةً يَشْدُو بِهَا الرُwَاةُ فِي رُبُوعِ نَجْدٍ ، فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ :
Kisah Hatim Ath-Tha'i telah menjadi senandung yang senantiasa dilantunkan oleh para perawi di seantero wilayah Najd, maka salah seorang dari mereka berkata:
— إِنَّ حَاتِمًا جَوَادٌ يُشْبِهِ جُودُهُ شِعْرَهُ ، وَهُوَ مُظَفَّرٌ إِذَا قَاتَلَ غَلَبَ ، وَإِذَا غَنِمَ أَنْهَبَ ، وَإِنْ ضَرَبَ بِالْقِدَاحِ فَازَ ، وَإِذَا أُسِرَ أَطْلَقَ ، لَقَدْ صَارَ بِجُودِهِ سَيِّدًا مِنْ أَشْرَفِ سَادَاتِنَا .
— Sesungguhnya Hatim adalah orang yang luar biasa dermawan, di mana kedermawanannya seindah bait-bait syairnya. Ia adalah seorang yang selalu jaya; jika berperang ia pasti menang, jika meraup harta rampasan perang ia membagikannya, jika mengundi nasib ia selalu beruntung, dan jika menawan musuh ia melepaskannya. Sungguh, berkat kedermawanannya, ia telah menjadi pemimpin di antara pemimpin kita yang paling mulia.
فَقَالَ آخَرُ :
Maka yang lain menyahut:
— أَتَذْكُرُ شِعْرَهُ الَّذِي يُخَاطِبُ بِهِ امْرَأَتَهُ مَاوِيَّةَ بِنْتَ عَبْدِ اللهِ الَّذِي يَقُولُ فِيهِ : أَيَا بِنْتَ عَبْدِ اللهِ وَابْنَةَ مَالِكٍ ... وَيَا بِنْتَ ذِي الْبُرْدَيْنِ وَالْفَرَسِ الْوَرْدِ .
— Apakah kamu ingat syairnya yang ia tujukan kepada istrinya, Mawiyah binti Abdullah, yang di dalamnya ia berkata: Wahai putri Abdullah dan putri Malik... dan wahai putri pemilik dua jubah serta kuda yang pirang kemerahan.
— أَذْكُرُهُ وَقَدْ رَوَيْتُهُ بِالْأَمْسِ لَمَّا كُنَّا نَسْمُرُ عِنْدَ زَيْدِ الْخَيْلِ .
— Aku mengingatnya, dan sungguh aku telah meriwayatkannya kemarin malam ketika kami sedang berbincang-bincang santai di kediaman Zaidul Khail.
وَشَرَدَ بِبَصَرِهِ قَلِيلًا ثُمَّ رَاحَ يَنْشُدُ :
Pandangannya menerawang sejenak, kemudian ia mulai melantunkan bait-bait syair:
أَيَا بِنْتَ عَبْدِ اللهِ وَابْنَةَ مَالِكٍ وَيَا بِنْتَ ذِي الْبُرْدَيْنِ وَالْفَرَسِ الْوَرْدِ(١)
[Shadr] Wahai putri Abdullah dan putri Malik,
[Ajuz] dan wahai putri pemilik dua jubah serta kuda yang pirang kemerahan.
إِذَا مَا صَنَعْتِ الزَّادَ فَالْتَمِسِي لَهُ أَكِيلًا فَإِنِّي لَسْتُ آكُلُهُ وَحْدِي
[Shadr] Apabila engkau menyiapkan makanan, maka carilah
[Ajuz] teman untuk menyantapnya, karena sesungguhnya aku tidak akan memakannya sendirian.
أَخًا طَارِقًا أَوْ جَارَ بَيْتٍ فَإِنَّنِي أَخَافُ مَذَاعَاتِ الْأَحَادِيثِ مِنْ بَعْدِي
[Shadr] Baik ia seorang saudara yang bertamu di malam hari atau tetangga rumah, karena sesungguhnya
[Ajuz] aku takut akan desas-desus pembicaraan buruk yang tersebar sepeninggalanku.
وَإِنِّي لَعَبْدُ الضَّيْفِ مَا دَامَ ثَاوِيًا وَمَا فِيَّ إِلَّا تِلْكَ مِنْ شِيمَةِ الْعَبْدِ
[Shadr] Dan sesungguhnya aku benar-benar menjadi pelayan bagi tamu selama ia singgah menetap,
[Ajuz] dan tidak ada pada diriku sifat seorang budak pelayan melainkan hanya perangai tersebut.
— وَمَنْ يَقْصِدُ بِذِي الْبُرْدَيْنِ ؟
— Dan siapakah yang dimaksud dengan "Pemilik Dua Jubah" (Dzul Burdain) itu?
— عَامِرُ بْنُ أُحَيْمِرَ بْنِ بَهْدَلَةَ جَدُّ مَاوِيَّةَ ، وَكَانَ مِنْ حَدِيثِ الْبُرْدَيْنِ حِينَ لُقِّبَ بِهِ أَنَّ الْوُفُودَ اجْتَمَعَتْ بِالْحِيرَةِ عِنْدَ الْمُنْذِرِ أَبِي النُّعْمَانِ ، وَأَخْرَجَ الْمُنْذِرُ بُرْدَيْنِ يَوْمًا يَلُو الْوُفُودَ وَقَالَ : لِيَقُمْ أَعَزُّ الْعَرَبِ قَبِيلَةً فَلْيَأْخُذْهُمَا . فَقَامَ عَامِرُ بْنُ أُحَيْمِرَ فَأَخَذَهُمَا وَائْتَزَرَ بِأَحَدِهِمَا وَارْتَدَى بِالْآخَرِ فَقَالَ لَهُ الْمُنْذِرُ : آلْأَنْتَ أَعَزُّ الْعَرَبِ قَبِيلَةً ؟ قَالَ : الْعِزُّ وَالْعَدَدُ فِي مَعَدٍّ ثُمَّ فِي نِزَارٍ ثُمَّ فِي مُضَرَ ثُمَّ فِي خِنْدِفَ ثُمَّ فِي تَمِيمٍ ثُمَّ فِي سَعْدٍ ثُمَّ فِي كَعْبٍ ثُمَّ فِي عَوْفٍ ثُمَّ فِي بَهْدَلَةَ ، فَمَنْ أَنْكَرَ هَذَا فَلْيُنَافِرْنِي . فَسَكَتَ النَّاسُ ، فَقَالَ الْمُنْذِرُ : هَذِهِ عَشِيرَتُكَ كَمَا تَزْعُمُ فَكَيْفَ أَنْتَ فِي أَهْلِ بَيْتِكَ وَفِي نَفْسِكَ ؟ فَقَالَ : أَنَا أَبُو عَشَرَةٍ وَأَخُو عَشَرَةٍ وَخَالُ عَشَرَةٍ وَعَمُّ عَشَرَةٍ ، وَأَمَّا أَنَا فِي نَفْسِي فَشَاهِدُ الْعِزِّ شَاهِدِي . ثُمَّ وَضَعَ قَدَمَهُ عَلَى الْأَرْضِ فَقَالَ : مَنْ أَزَالَهَا عَنْ مَكَانِهَا فَلَهُ مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ . فَلَمْ يَقُمْ إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ الْحَاضِرِينَ فَفَازَ بِالْبُرْدَيْنِ .
— Dia adalah 'Amir bin Uhaimir bin Bahdalah, kakek dari Mawiyah. Kisah mengenai dua jubah tersebut hingga ia dijuluki dengannya bermula ketika para delegasi Arab berkumpul di Al-Hirah di hadapan Raja Al-Mundzir, ayah dari An-Nu'man. Suatu hari Al-Mundzir mengeluarkan dua helai jubah di depan para delegasi lalu berseru: "Hendaklah orang yang kabilahnya paling mulia di antara seluruh bangsa Arab berdiri dan mengambil kedua jubah ini!" Maka berdirilah 'Amir bin Uhaimir lalu mengambil keduanya; ia menjadikan sehelai sebagai sarung dan sehelai lagi sebagai selendang jubah. Al-Mundzir bertanya kepadanya: "Apakah benar engkau orang yang kabilahnya paling mulia?" Ia menjawab: "Kemuliaan dan jumlah yang besar itu ada pada Ma'ad, kemudian Nizar, kemudian Mudhar, kemudian Khandaf, kemudian Tamim, kemudian Sa'd, kemudian Ka'b, kemudian 'Auf, lalu pada Bahdalah. Siapa saja yang mengingkari hal ini, maka hendaklah ia maju bertaruh menentangku!" Maka semua orang terdiam. Al-Mundzir berkata: "Itu adalah kabilah besarmu sebagaimana yang engkau klaim, lalu bagaimana kedudukanmu di tengah keluarga dekatmu dan pada dirimu sendiri?" Ia menjawab: "Aku adalah ayah dari sepuluh orang ksatria, saudara dari sepuluh orang, paman dari jalur ibu sepuluh orang, dan paman dari jalur ayah sepuluh orang. Adapun mengenai diriku sendiri, maka kedudukan kemuliaanku telah menjadi saksi nyata bagiku." Kemudian ia menghentakkan kakinya ke bumi dan berkata: "Siapa yang mampu menggeser kakiku ini dari tempatnya, maka baginya seratus ekor unta!" Namun tidak ada seorang pun dari hadirin yang berani maju menghadapinya, sehingga ia pun berhasil membawa pulang kedua jubah tersebut.
— سَمِعْتُ مَاوِيَّةَ تُحَدِّثُ أَنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ سَنَةٌ فَأَذْهَبَتِ الْخُفَّ وَالظِّلْفَ ، قَالَتْ : فَبِتْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ بِأَشَدِّ الْجُوعِ ، فَأَخَذَ حَاتِمٌ عَدِيًّا وَأَخَذْتُ سَفَّانَةَ فَعَلَّلْنَاهُمَا حَتَّى نَامَا ، ثُمَّ أَخَذَ يُعَلِّلُنِي بِالْحَدِيثِ لِأَنَامَ ، فَرَفِقْتُ لِمَا بِهِ مِنَ الْجُهْدِ فَأَمْسَكْتُ عَنْ كَلَامِهِ لِيَنَامَ وَيَظُنَّ أَنِّي نَائِمَةٌ ، فَقَالَ لِي : أَنِمْتِ ؟ مِرَارًا فَلَمْ أُجِبْهُ ، فَسَكَتَ وَنَظَرَ مِنْ وَرَاءِ الْخِبَاءِ فَإِذَا شَيْءٌ قَدْ أَقْبَلَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَقُولُ : يَا أَبَا سَفَّانَةَ قَدْ أَتَيْتُكَ مِنْ عِنْدِ صِبْيَةٍ جِيَاعٍ . فَقَالَ : أَحْضِرِي صِبْيَانَكِ فَوَاللهِ لَأُشْبِعَنَّهُمْ . فَقُمْتُ سَرِيعًا فَقُلْتُ : بِمَاذَا يَا حَاتِمُ فَوَاللهِ مَا نَامَ صِبْيَانُكَ مِنَ الْجُوعِ إِلَّا بِالتَّعْلِيلِ ؟ فَقَامَ إِلَى فَرَسِهِ فَذَبَحَهُ ، ثُمَّ أَجَّجَ نَارًا وَرَفَعَ إِلَيْهَا شُفْرَهُ وَقَالَ : اِشْتَوِي وَكُلِي وَأَطْعِمِي وَلَدَكِ . وَقَالَ لِي : أَيْقِظِي صِبْيَانَكِ . فَأَيْقَظْتُهُمَا ثُمَّ قَالَ : وَاللهِ إِنَّ هَذَا لَلُؤْمٌ أَنْ تَأْكُلُوا وَأَهْلُ الصِّرْمِ حَالُهُمْ كَحَالِكُمْ . فَجَعَلَ يَأْتِي الصِّرْمَ بَيْتًا بَيْتًا وَيَقُولُ : عَلَيْكُمُ النَّارَ . فَاجْتَمَعُوا وَأَكَلُوا ، وَتَقَنَّعَ بِكِسَائِهِ وَقَعَدَ نَاحِيَةً حَتَّى لَمْ يُوجَدْ مِنَ الْفَرَسِ عَلَى الْأَرْضِ قَلِيلٌ وَلَا كَثِيرٌ وَلَمْ يَذُقْ مِنْهُ شَيْئًا .
— Aku pernah mendengar Mawiyah menceritakan bahwa orang-orang ditimpa musim paceklik yang parah hingga membinasakan hewan ternak berkuku belah maupun utuh. Ia menuturkan: "Pada suatu malam kami melewati malam dalam kondisi kelaparan yang teramat sangat. Hatim lalu mendekap Adi dan aku mendekap Saffanah, kami menimang-nimang keduanya hingga akhirnya mereka tertidur. Kemudian Hatim mulai menghiburku dengan mengajakku mengobrol agar aku tertidur. Aku merasa iba melihat kepayahan yang ia rasakan, maka aku menahan diri dari menyahuti ucapannya agar ia ikut tidur dan menyangka bahwa aku telah terlelap. Ia bertanya kepadaku beberapa kali: 'Apakah engkau sudah tidur?' namun aku tidak menjawabnya. Ia pun diam lalu mengintip dari balik kemah, tiba-tiba ada sesuatu yang mendekat. Ketika ia mendongakkan kepalanya, ternyata ada seorang wanita yang berseru: 'Wahai Abu Saffanah, sungguh aku datang kepadamu dari sisi anak-anak kecil yang kelaparan.' Hatim menjawab: 'Bawalah anak-anakmu kemari, demi Allah aku pasti akan mengenyangkan mereka!' Aku pun bergegas bangkit dan berkata: 'Dengan apa engkau hendak memberi makan, wahai Hatim? Demi Allah, anak-anakmu sendiri tidak bisa tidur karena lapar melainkan setelah ditenangkan dengan susah payah!' Namun Hatim malah bergegas menuju ke arah kudanya lalu menyembelihnya. Kemudian ia menyalakan api yang berkobar, menyerahkan pisau besarnya kepada wanita itu dan berkata: 'Pangganglah, makanlah, dan suapkanlah kepada anak-anakmu.' Ia juga berkata kepadaku: 'Bangunkan kedua anakmu.' Maka aku membangunkan keduanya. Lalu Hatim berkata: 'Demi Allah, sungguh ini merupakan suatu kejiwaan yang hina jika kalian makan sementara penduduk perkampungan kumuh ini mengalami kondisi yang sama merananya seperti kalian.' Maka ia mulai mendatangi perkampungan itu rumah demi rumah sambil berseru: 'Kemarilah mendekat ke api!' Mereka pun berkumpul dan makan bersama, sementara Hatim menutupi kepalanya dengan kain jubahnya dan duduk menyendiri di sudut, hingga daging kuda tersebut tidak tersisa sedikit pun di atas tanah, baik kecil maupun besar, dan ia sendiri tidak mencicipinya barang sedikit pun."
فَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ :
Maka salah seorang dari mereka berkata:
— وَاللهِ إِنَّ أَمْرَ مَاوِيَّةَ لَغَرِيبٌ ، تَلُومُهُ عَلَى كَرَمِهِ مَرَّةً وَتَفْتَخِرُ بِذَلِكَ الْكَرَمِ مَرَّاتٍ .
— Demi Allah, sikap Mawiyah ini sungguh mengherankan; adakalanya ia mencela Hatim karena kedermawanannya, namun di lain waktu ia berkali-kali membanggakan kedermawanan tersebut.
— إِنَّهُ يَرُومُ الذِّكْرَ وَهِيَ تَرُومُ الْحَيَاةَ ، وَهُوَ يَعْرِفُ ذَلِكَ حَقَّ الْمَعْرِفَةِ فَهُوَ يَقُولُ لَهَا : وَعَاذِلَةٍ قَامَتْ عَلَيَّ تَلُومُنِي ... كَأَنِّي إِذَا أَعْطَيْتُ مَالِي أُضِيمُهَا .
— Sesungguhnya Hatim mendambakan nama baik yang abadi, sedangkan Mawiyah mendambakan kelangsungan hidup keluarganya. Hatim mengetahui hal itu dengan sebenar-benarnya, maka ia berkata kepadanya dalam bait syairnya: Banyak wanita pencela berdiri di hadapanku seraya menyalahkanku... seolah-olah ketika aku mendermakan hartaku, aku sedang menzalimi dirinya.
وَعَاذِلَةٍ قَامَتْ عَلَيَّ تَلُومُنِي كَأَنِّي إِذَا أَعْطَيْتُ مَالِي أُضِيمُهَا
[Shadr] Dan banyak wanita pencela yang berdiri di hadapanku seraya menyalahkanku,
[Ajuz] seolah-olah ketika aku mendermakan hartaku, aku sedang berbuat zalim kepadanya.
أَعَاذِلُ إِنَّ الْجُودَ لَيْسَ بِمُهْلِكِي وَلَا مُخْلِدُ النَّفْسِ الشَّحِيحَةِ لَوْمُهَا
[Shadr] Wahai para wanita pencela, sesungguhnya kedermawanan tidak akan membinasakanku,
[Ajuz] dan tidak pula celaan itu bisa mengekalkan jiwa yang bakhil kikir.
وَتُذْكَرُ أَخْلَاقُ الْفَتَى وَعِظَامُهُ مُغَيَّبَةٌ فِي اللَّحْدِ بَادٍ رَمِيمُهَا
[Shadr] Kelak kemuliaan akhlak seorang pemuda akan selalu dikenang, sementara tulang-belulangnya
[Ajuz] telah gaib terpendam di dalam liang lahad dan hancur lebur menjadi tanah.
وَمَنْ يَبْتَدِعْ مَا لَيْسَ مِنْ خِيمِ(٢) نَفْسِهِ يَدَعْهُ وَيَغْلِبْهُ عَلَى النَّفْسِ خِيمُهَا
[Shadr] Dan barangsiapa memaksakan diri membuat-buat tabiat yang bukan merupakan karakter aslinya,
[Ajuz] maka suatu saat ia pasti akan meninggalkannya, dan karakter asli itu akan kembali menguasai jiwanya.
وَالْتَفَتَ الْحَارِثَةُ بْنُ شَرَاحِيلَ إِلَى أَخِيهِ وَقَالَ :
Haritsah bin Syarahil menoleh ke arah saudaranya dan berkata:
— قُلْتَ إِنَّكَ كُنْتَ تَسْمُرُ بِالْأَمْسِ عِنْدَ زَيْدِ الْخَيْلِ ، فَمَا أَخْبَارُ زَيْدٍ ؟
— Kamu tadi mengatakan bahwa kemarin malam kamu berbincang santai di kediaman Zaidul Khail, lalu bagaimana kabar mengenai Zaid?
— كَانَ مَزْيَدٌ ، وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي أَسَدٍ ، يَتَمَنَّى أَنْ يَلْقِيَ زَيْدًا .
— Dahulu Mazyad, yaitu seorang lelaki dari kabilah Bani Asad, sangat mendambakan untuk bisa bertarung tanding menghadapi Zaid.
— وَمَاذَا فَعَلَ بِهِ زَيْدُ الْخَيْلِ ؟
— Dan apa yang diperbuat oleh Zaidul Khail kepadanya?
— مَا فَعَلَهُ بِجَابِرٍ الْغَطَفَانِيِّ ، فَقَدْ كَانَ جَابِرٌ يَتَمَنَّى أَنْ يَلْقَى زَيْدًا حَتَّى صَبَّحَهُ زَيْدٌ . فَقَالَتْ لَهُ نُوَيْرَةُ امْرَأَتُهُ : كُنْتَ تَتَمَنَّى زَيْدًا فَعِنْدَكَ . فَالْتَقَيَا فَاخْتَلَفَا طَعْنَتَيْنِ وَهُمَا دَارِعَانِ ، فَانْدَقَّ رُمْحُ جَابِرٍ وَلَمْ يُغْنِ شَيْئًا ، وَطَعَنَهُ زَيْدٌ بِرُمْحٍ لَهُ وَكَانَ عَلَى كَعْبٍ مِنْ كِعَابِهِ ضَبَّةٌ مِنْ حَدِيدٍ ، فَانْقَلَبَ ظَهْرًا لِبَطْنٍ وَانْكَسَرَ ظَهْرُهُ ، فَقَالَتِ امْرَأَتُهُ وَهِيَ تَرْفَعُهُ مُنْكَسِرًا ظَهْرُهُ : كُنْتَ تَتَمَنَّى زَيْدًا فَلَاقَيْتَ أَخَا ثِقَةٍ . وَقَالَ زَيْدٌ : تَمَنَّى مَزْيَدٌ زَيْدًا فَلَاقَى ... أَخَا ثِقَةٍ إِذَا اخْتَلَفَ الْعَوَالِي . كَمُنْيَةِ جَابِرٍ إِذْ قَالَ : لَيْتِي ... أُصَادِفُهُ وَأُتْلِفُ بَعْضَ مَالِي . تَلَاقَيْنَا فَمَا كُنَّا سَوَاءً ... وَلَكِنْ خَرَّ عَنْ حَالٍ لِحَالِ . وَلَوْلَا قَوْلُهُ يَا زَيْدُ قَدْنِي ... لَقَدْ قَامَتْ نُوَيْرَةُ بِالْمَالِي . شَكَكْتُ ثِيَابَهُ لَمَّا الْتَقَيْنَا ... بِمُطَّرِدِ الْمَهَزَّةِ كَالْخِلَالِ .
— Zaid melakukan hal yang sama seperti yang ia timpakan kepada Jabir Al-Ghathafani. Dahulu Jabir juga sangat mendambakan bertarung melawan Zaid hingga suatu pagi Zaid menyerangnya secara mendadak. Nuwairah, istri Jabir, berkata kepadanya: "Dulu kamu mendambakan bertarung melawan Zaid, sekarang ia ada di hadapanmu!" Keduanya pun berhadapan dan saling meluncurkan tikaman tombak dalam kondisi sama-sama memakai baju besi. Tombak Jabir patah berkeping-keping tanpa membuahkan hasil apa pun, sedangkan Zaid menikamnya dengan tombak miliknya yang pada bagian ujungnya diperkuat dengan ring besi penahan. Tikaman itu membuat Jabir terpelanting jungkir balik hingga tulang punggungnya patah. Istrinya berkata seraya merawat tubuh suaminya yang patah tulang belakang itu: "Dulu kamu mendambakan Zaid, kini kamu telah merasakan hantaman seorang ksatria sejati yang tangguh." Dan Zaid pun bersenandung: Mazyad mengharapkan bertarung melawan Zaid, maka ia menemui... seorang ksatria sejati kala tombak-tombak saling beradu. Sama seperti dambaan Jabir ketika ia berkata: "Aduhai kiranya... aku bisa menjumpainya meski aku harus mengorbankan sebagian hartaku." Kami pun bertarung tanding dan kami tidaklah sebanding... melainkan ia langsung tersungkur jatuh terkapar dari satu kondisi mengenaskan ke kondisi lainnya. Kalaulah bukan karena ucapannya: "Wahai Zaid, cukupkanlah tikamanmu bagiku!"... niscaya Nuwairah sudah berdiri meratapi kematiannya di atas tumpukan kain kafan. Aku merobek baju besinya ketika kami beradu tanding... dengan tombak yang lurus bergoyang laksana sebilah jarum besar penyemat.
فَقَالَ حَارِثَةُ وَهُوَ يَبْتَسِمُ :
Maka Haritsah berkata seraya tersenyum:
— أَيْنَ صَنَادِيدُ أَسَدٍ وَذُبْيَانَ مِنْ فَارِسِ طَيِّءٍ ؟ إِنَّ زَيْدَ الْخَيْلِ يَرْكَبُ الْفَرَسَ الْعَظِيمَ الطَّوِيلَ فَتَخُطُّ رِجْلَاهُ فِي الْأَرْضِ كَأَنَّهُ رَاكِبٌ حِمَارًا .
— Di manakah kedudukan para pembesar kabilah Asad dan Dzubyan jika dibandingkan dengan ksatria penunggang kuda dari kabilah Thayyi' ini? Sesungguhnya Zaidul Khail itu menunggangi seekor kuda yang teramat besar dan tinggi, namun saking raksasanya postur tubuh Zaid, kedua kakinya sampai menjuntai menggores tanah seolah-olah ia hanya sedang mengendarai seekor keledai kecil.
كَانَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ إِلَى جِوَارِ أُمِّهِ سُعْدَى يَصْغَى إِلَى حَدِيثِ الرِّجَالِ ، فَلَمَّا تَحَدَّثَ أَبُوهُ عَنْ زَيْدِ الْخَيْلِ ثَارَ فِي رَأْسِهِ سُؤَالٌ ، فَقَامَ إِلَى حَيْثُ كَانَ حَارِثَةُ ، فَلَمَّا رَآهُ بَشَّ لَهُ وَأَفْسَحَ لَهُ مَكَانًا إِلَى جِوَارِهِ ، وَقَبْلَ أَنْ يَسْتَقِرَّ زَيْدٌ فِي مَجْلِسِهِ قَالَ :
Zaid bin Haritsah yang berada di sisi ibunya, Su'da, terus mendengarkan pembicaraan para lelaki tersebut. Ketika ayahnya berbicara mengenai kehebatan Zaidul Khail, timbullah suatu pertanyaan di dalam benaknya. Ia pun bangkit menuju tempat Haritsah berada. Begitu melihat anaknya datang, Haritsah tersenyum ceria menyambutnya dan meluangkan tempat duduk di sisinya. Sebelum Zaid sempat duduk mapan di tempatnya, ia bertanya:
— لِمَاذَا يَا أَبَتِ سُمِّيَ زَيْدٌ بِزَيْدِ الْخَيْلِ ؟
— Mengapa wahai ayahku, Zaid itu dinamakan dengan sebutan Zaidul Khail (Zaid sang Pemilik Kuda)?
— لِأَنَّ لَهُ خَمْسَةَ أَفْرَاسٍ لَا يُشَقُّ لَهَا غُبَارٌ ، إِنَّهُ تُكْنَى أَبَا مَكْنَفٍ وَلَكِنَّ زَيْدَ الْخَيْلِ غَلَبَتْ عَلَيْهِ .
— Karena ia memiliki lima ekor kuda pacu tangguh yang kecepatan larinya luar biasa hingga tidak mampu terkejar debunya oleh kuda lain. Sebenarnya ia memiliki nama kunyah Abu Maknaf, akan tetapi julukan Zaidul Khail jauh lebih masyhur melekat pada dirinya.
— وَلِمَاذَا لَمْ يَكُنْ أَبَا الْحَارِثِ ؟
— Dan mengapa julukannya bukan Abu Al-Harits?
— لِأَنَّ مَكْنَفًا أَكْبَرُ مِنَ الْحَارِثِ .
— Karena Maknaf adalah putra yang usianya lebih tua daripada Al-Harits.
وَفَهِمَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ لِمَاذَا يُكْنَى حَارِثَةُ بْنُ شَرَاحِيلَ أَبَا جَبَلَةَ وَلَا يُكْنَى أَبَا زَيْدٍ ، فَجَبَلَةُ أَكْبَرُ مِنْهُ ، وَالرَّجُلُ يُكْنَى بِأَكْبَرِ أَوْلَادِهِ . وَشَرَدَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ يُفَكِّرُ بِمَاذَا سَيُكْنَى ، كَانَتْ أَحْلَامُهُ مُجَنَّحَةً فَكَانَ يَتَخَيَّلُ نَفْسَهُ مَرَّةً جَوَادًا مِثْلَ حَاتِمٍ الطَّائِيِّ يُكْنَى مِثْلَهُ « أَبَا سَفَّانَةَ » وَيَطِيرُ اسْمُهُ فِي الْقَبَائِلِ كَمَا طَارَ اسْمُ حَاتِمٍ ، وَكَانَ يَتَمَنَّى مَرَّةً أُخْرَى أَنْ يَكُونَ فَارِسًا كَزَيْدِ الْخَيْلِ يَرْوِي الرُّوَاةُ مُغَامَرَاتِهِ فِي إِكْبَارٍ ، وَلَكِنَّ ذَلِكَ الْحُلْمَ قَدْ تَبَخَّرَ فَقَدْ كَانَ زَيْدُ الْخَيْلِ شَاعِرًا مُحْسِنًا خَطِيبًا لَسِنًا شُجَاعًا كَرِيمًا طَوِيلًا جَسِيمًا حَسَنَ الْقَامَةِ مَهِيبًا ، بَيْنَمَا هُوَ أَسْمَرُ أَفْطَسُ الْأَنْفِ . وَلَمْ يَدْرِ بِخَلَدِ زَيْدٍ أَنَّ الْقَدَرَ يُخَبِّئُ لَهُ مَجْدًا يَفُوقُ أَمْجَادَ حَاتِمٍ وَزَيْدِ الْخَيْلِ وَالنَّابِغَةِ الذُّبْيَانِيِّ وَعَنْتَرَةَ الْعَبْسِيِّ وَفُرْسَانِ نَجْدٍ وَأَجْوَادِهَا . بَلْ وَفُرْسَانِ الْعَرَبِ وَأَجْوَادِهِمْ وَكُلِّ مَنْ طَارَ لَهُ مِنْهُمْ ذِكْرٌ .
Zaid bin Haritsah pun kini memahami mengapa ayahnya, Haritsah bin Syarahil, dijuluki Abu Jabalah dan tidak dijuluki Abu Zaid; hal itu lantaran Jabalah berusia lebih tua darinya, dan seorang lelaki Arab biasa dijuluki kunyah berdasarkan nama anak sulungnya. Zaid bin Haritsah lantas termenung memikirkan dengan nama apa kelak ia akan dijuluki. Cita-citanya melambung tinggi; adakalanya ia membayangkan dirinya menjadi seorang yang luar biasa dermawan laksana Hatim Ath-Tha'i sehingga dijuluki "Abu Saffanah" sepertinya, dan namanya terbang tersiar di seantero kabilah sebagaimana harumnya nama Hatim. Di lain waktu, ia mendambakan menjadi seorang ksatria tangguh seperti Zaidul Khail yang petualangan-petualangannya diceritakan oleh para perawi dengan penuh rasa takjub. Namun impian masa kecil itu seketika sirna di benaknya, sebab Zaidul Khail adalah seorang penyair ulung, orator yang fasih berbicara, pemberani, dermawan, berpostur tinggi kekar, rupawan, lagi berwibawa, sedangkan dirinya hanyalah seorang anak berkulit sangat gelap dan berhidung pesek. Zaid sama sekali tidak menyadari bahwa takdir sedang menyimpan untuknya sebuah kemuliaan agung yang jauh melampaui kejayaan Hatim, Zaidul Khail, An-Nabighah Adz-Dzubyani, Antarah Al-Absi, serta seluruh ksatria dan orang dermawan di wilayah Najd. Bahkan, kemuliaannya kelak melampaui seluruh ksatria dan tokoh dermawan bangsa Arab, serta setiap orang yang namanya pernah terbang membubung tinggi dalam sejarah.
تُرَى لَوْ قِيلَ لِهَؤُلَاءِ الَّذِينَ اجْتَمَعُوا فِي دَارِ حَارِثَةَ بْنِ شَرَاحِيلَ يَرْوُونَ أَمْجَادَ بَنِي طَيِّءٍ أَنَّ اسْمَ زَيْدٍ ، ذَلِكَ الْغُلَامِ الْيَفَعَةِ الَّذِي يَقِفُ عَلَى أَعْتَابِ الْعَاشِرَةِ مِنْ عُمْرِهِ ، سَيَنْزِلُ بِهِ الْوَحْيُ مِنْ فَوْقِ سَمَوَاتٍ سَبْعٍ ، وَأَنَّ اسْمَهُ سَيُخَلَّدُ مَا بَقِيَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ ، كَانَ فِيهِمْ مَنْ يُصَدِّقُ مِثْلَ ذَلِكَ الْقَوْلِ ؟
Aduhai, sekiranya dikatakan kepada orang-orang yang tengah berkumpul di rumah Haritsah bin Syarahil yang sedang meriwayatkan kejayaan Bani Thayyi' itu, bahwa nama Zaid—anak laki-laki yang baru menginjak usia sepuluh tahun itu—akan dibawa turun oleh wahyu ilahi dari atas langit yang tujuh, dan namanya akan diabadikan secara kekal selama langit dan bumi masih tegak berdiri, akankah ada di antara mereka yang mempercayai ucapan seperti itu?
وَانْفَضَّ السَّامِرُ وَدَخَلَ أَهْلُ الْبَيْتِ وَأَسْلَمُوا جُنُوبَهُمْ لِلرُّقَادِ ، وَمَا أَصْبَحَ الصَّبَاحُ حَتَّى خَرَجَ حَارِثَةُ بْنُ شَرَاحِيلَ يَسْعَى فِي الْأَرْضِ ، فَأَلْفَى بَعْضَ الطَّيْرِ عَلَى أَفْنَانِ الشَّجَرِ فَزَجَرَهَا لِيَرَى أَتَنْطَلِقُ يَمِينًا أَوْ يَسَارًا لِيَسْتَطْلِعَ حَظَّهُ فِي يَوْمِهِ ، وَكَانَ الْعَرَبُ تَخْتَلِفُ فِي التَّيَمُwِ بِالسَّانِحِ وَالتَّشَاؤُمِ بِالْبَارِحِ ، وَكَانَ أَهْلُ نَجْدٍ يَتَيَمَّنُونَ بِالسَّانِحِ ، فَلَمَّا أَخَذَ الطَّيْرُ طَرِيقَهُ تَمَثَّلَ حَارِثَةُ بِقَوْلِ النَّابِغَةِ وَهُوَ مِثْلُهُ مِنْ نَجْدٍ : زَعَمَ الْبَوَارِحُ أَنَّ رِحْلَتَنَا غَدًا ... وَبِذَاكَ تَنْعَابُ الْغُرَابِ الْأَسْوَدِ .
Obrolan malam itu pun usai, penghuni rumah segera masuk dan merebahkan tubuh mereka untuk tidur. Begitu fajar menyingsing, Haritsah bin Syarahil keluar untuk bekerja mencari nafkah di bumi. Ia mendapati beberapa ekor burung hinggap di dahan pepohonan, lalu ia menghalaunya untuk melihat apakah burung-burung itu akan terbang ke arah kanan atau ke kiri guna meramal keberuntungannya hari itu. Bangsa Arab memang berbeda-beda sikap; ada yang mengambil berkah dari burung yang terbang ke kanan (As-Sanih) dan merasa sial dengan burung yang terbang ke kiri (Al-Barih). Penduduk Najd sendiri terbiasa mengambil kesukaan dari burung yang terbang ke arah kanan. Maka ketika burung itu terbang menempuh jalurnya, Haritsah teringat dan menggubah bait syair milik An-Nabighah yang sama-sama berasal dari Najd: Burung-burung yang terbang ke kiri mengklaim bahwa kepergian kita adalah esok hari... dan pertanda sial itu dipertegas oleh lengkingan suara gagak yang hitam pekat.
زَعَمَ الْبَوَارِحُ أَنَّ رِحْلَتَنَا غَدًا وَبِذَاكَ تَنْعَابُ الْغُرَابِ الْأَسْوَدِ
[Shadr] Burung-burung yang terbang ke kiri mengklaim bahwa keberangkatan kita adalah esok hari,
[Ajuz] dan pertanda nasib buruk tersebut diperkuat oleh lengkingan suara burung gagak yang hitam pekat.
وَخَرَجَتْ سُعْدَى وَابْنُهَا زَيْدٌ لِتَزُورَ قَوْمَهَا مِنْ بَنِي مَعْنٍ مِنْ طَيِّءٍ ، وَمَا كَادَتْ تَسْتَقِرُّ فِي دَارِ أَهْلِهَا حَتَّى أَغَارَتْ خَيْلٌ لِبَنِي الْقَيْنِ بْنِ جَسْرٍ عَلَى أَبْيَاتِ بَنِي مَعْنٍ ، فَدَبَّ الرُّعْبُ فِي الدُّورِ وَوَلْوَلَتِ النِّسَاءُ وَرُحْنَ يَهْرُلْنَ هُنَا وَهُنَاكَ ، وَحَاوَلَتْ سُعْدَى أَنْ تَهْرُبَ بِابْنِهَا وَلَكِنَّ أَيْنَ الْمَفَرُّ ؟ إِنَّهَا انْزَوَتْ بَعِيدًا عَنِ الْعُيُونِ وَرَاحَ زَيْدٌ يَعْدُو لِيَلْحَقَ بِهَا ، وَلَكِنَّ رِجَالَ بَنِي الْقَيْنِ أَبْصَرُوهُ فَاحْتَمَلُوهُ فِيمَنْ حَمَلُوا مِنْ نِسَاءٍ وَغِلْمَانٍ .
Su'da dan putranya, Zaid, kemudian berangkat bepergian untuk mengunjungi kaum kerabatnya dari kabilah Bani Ma'n yang merupakan bagian dari kabilah besar Thayyi'. Namun baru saja ia melepas lelah dan singgah di rumah keluarganya, tiba-tiba pasukan berkuda dari kabilah Bani Al-Qain bin Jasr melancarkan serangan mendadak terhadap kemah-kemah hunian Bani Ma'n. Rasa ketakutan yang mencekam seketika merambah ke dalam rumah-rumah, kaum wanita menjerit-jerit histeris dan mereka berlarian kian kemari dengan panik. Su'da berusaha keras untuk membawa lari putranya demi menyelamatkannya, namun ke manakah tempat untuk meloloskan diri? Ia terdesak menyendiri menjauh dari pandangan musuh, dan Zaid pun berlari kencang berusaha menyusul ibunya. Malangnya, para penunggang kuda Bani Al-Qain telanjur melihat bocah itu, mereka langsung menyergap dan mengangkutnya paksa bersama dengan para wanita serta anak-anak lelaki lain yang mereka tawan.
وَسَادَ أَبْيَاتِ بَنِي مَعْنٍ حُزْنٌ وَوُجُومٌ بَعْدَ أَنْ ذَهَبَ بَنُو الْقَيْنِ بِالْأَحِبَّةِ وَفِلَذَاتِ الْأَكْبَادِ ، وَرَاحَتْ سُعْدَى تَعْدُو هُنَا وَهُنَاكَ وَهِيَ تُنَادِي فِي وَلَهٍ وَانْزِعَاجٍ :
Suasana duka yang mendalam dan keterpukuan yang sunyi seketika menguasai perkemahan Bani Ma'n setelah pasukan Bani Al-Qain pergi membawa lari orang-orang tercinta serta belahan jiwa mereka. Su'da berlarian kian kemari dengan histeris seraya berseru dalam kepedihan yang luar biasa dan kepanikan yang teramat sangat:
— زَيْدٌ .. زَيْدٌ .
— Zaid... Zaid!
وَمَا مِنْ مُجِيبٍ . فَأَحَسَّتْ كَأَنَّ كَبِدَهَا تَكَادُ أَنْ تَتَصَدَّعَ أَسًى ، وَأَنَّ الدُwُوعَ قَدْ تَحَجَّرَتْ فِي عَيْنَيْهَا ، وَأَنَّ حَسَكَ الْأَرْضِ قَدْ سَدَّ حُلْقُومَهَا ، فَلَمَّا دَبَّ الْيَأْسُ فِي فُؤَادِهَا عَادَتْ إِلَى دِيَارِ زَوْجِهَا وَهِيَ تَجُرُّ نَفْسَهَا جَرًّا ، وَهِيَ تَكَادُ تَغِيبُ عَنِ الْوُجُودِ . وَهَرَعَتِ النِّسْوَةُ إِلَيْهَا يَسْأَلْنَهَا فِي لَهْفَةٍ :
Namun sama sekali tidak ada sahutan. Ia merasa seolah-olah jantung hatinya hampir terbelah luluh lantak karena duka nestapa, air matanya terasa membeku mengering di pelupuk matanya, dan seakan duri-duri tajam di bumi menyumbat tenggorokannya hingga sesak napas. Ketika keputusasaan yang kelam mulai merayap menguasai sanubarinya, ia melangkah pulang kembali ke kampung halaman suaminya dengan menyeret langkah kakinya yang lunglai, dalam kondisi batin yang nyaris kehilangan kesadaran diri. Kaum wanita di kampungnya pun bergegas berlarian menyambut kedatangannya seraya bertanya dengan penuh kecemasan:
— أَيْنَ زَيْدٌ ؟
— Di manakah Zaid?
فَرَاحَتْ تَقُصُّ قِصَّتَهَا وَعَبَرَاتُهَا تَغْسِلُ وَجْهَهَا الْحَزِينَ ، وَعَادَ حَارِثَةُ وَسَمِعَ بِالنَّبَإِ الْفَاجِعِ فَلَمْ يَقْوَ عَلَى ضَبْطِ عَوَاطِفِهِ وَطَفَرَتْ مِنْ مَآقِيهِ الدُwُوعُ ، وَلَمْ يَقُلْ كَمَا قَالَ يَعْقُوبُ : « فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ » ، فَمَا كَانَ مِنَ أُولِي الْعَزْمِ الْمُؤْمِنِينَ ، وَمَا كَانَ النُّورُ قَدْ أَشْرَقَ بَعْدُ فِي صَدْرِهِ بَلْ قَالَ : بَكَيْتُ عَلَى زَيْدٍ وَلَمْ أَدْرِ مَا فَعَلْ ... أَحَيٌّ يُرَجَّى أَمْ أَتَى دُونَهُ الْأَجَلْ . فَوَاللهِ مَا أَدْرِي وَإِنْ كُنْتُ سَائِلًا ... أَغَالَتْكَ سَهْلُ الْأَرْضِ أَمْ غَالِكَ الْجَبَلْ . فَيَالَيْتَ شِعْرِي هَلْ لَكَ الدَّهْرَ رَجْعَةٌ ... فَحَسْبِي مِنَ الدُّنْيَا رُجُوعُكَ لِي بَجَلْ . تَذَكَّرَنِيهِ الشَّمْسُ عِنْدَ طُلُوعِهَا ... وَتَعْرِضُ ذِكْرَاهُ إِذَا غَرْبُهَا أَفَلْ . وَإِنْ هَبَّتِ الْأَرْوَاحُ هَيَّجْنَ ذِكْرَهُ ... فَيَا طُولَ مَا حُزْنِي عَلَيْهِ وَمَا وَجَلْ . سَأُعْمِلُ نَصَّ الْعِيسِ فِي الْأَرْضِ جَاهِدًا ... وَلَا أَسْأَمُ التَّطْوَافَ أَوْ تَسْأَمُ الْإِبِلْ . حَيَاتِي أَوْ تَأْتِي عَلَيَّ مَنِيَّتِي ... وَكُلُّ امْرِئٍ فَانٍ وَإِنْ غَرَّهُ الْأَمَلْ . وَأُوصِي بِهِ عَمْرًا وَقَيْسًا كِلَيْهِمَا ... وَأُوصِي يَزِيدًا ثُمَّ مِنْ بَعْدِمَا جَبَلْ .
Maka ia pun mulai menceritakan petaka yang menimpanya sembari derai air mata membasahi wajahnya yang duka nestapa. Haritsah yang baru pulang bekerja seketika mendengar kabar yang memilukan hati ini; ia tidak kuasa membendung letupan emosinya gundah gulana hingga air matanya meleleh deras keluar dari kedua sudut matanya. Ia tidak mengucapkan kalimat kepasrahan agung sebagaimana yang dahulu diucapkan oleh Nabi Ya'qub: "Maka kesabaran yang indah itulah prinsipku, dan Allah sajalah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan," sebab Haritsah belumlah termasuk ke dalam golongan nabi Ulul Azmi yang kokoh imannya, dan cahaya hidayah ilahi pun belum menyinari relung dadanya saat itu. Sebaliknya, ia meluapkan duka larasnya dalam untaian bait syair ratapan:
بَكَيْتُ عَلَى زَيْدٍ وَلَمْ أَدْرِ مَا فَعَلْ أَحَيٌّ يُرَجَّى أَمْ أَتَى دُونَهُ الْأَجَلْ
[Shadr] Aku menangisi kepergian Zaid dan aku tidak tahu apa yang menimpanya,
[Ajuz] apakah ia masih hidup dan bisa diharapkan kepulangannya, ataukah ajal maut telah merenggut nyawanya.
فَوَاللهِ مَا أَدْرِي وَإِنْ كُنْتُ سَائِلًا أَغَالَتْكَ سَهْلُ الْأَرْضِ أَمْ غَالِكَ الْجَبَلْ
[Shadr] Demi Allah, aku benar-benar tidak tahu meskipun aku terus-menerus bertanya,
[Ajuz] apakah engkau celaka tertelan hamparan tanah yang datar ataukah gunung tinggi yang membinasakanmu.
فَيَالَيْتَ شِعْرِي هَلْ لَكَ الدَّهْرَ رَجْعَةٌ فَحَسْبِي مِنَ الدُّنْيَا رُجُوعُكَ لِي بَجَلْ(٥)
[Shadr] Aduhai, akankah seiring berjalannya waktu engkau dapat kembali pulang,
[Ajuz] maka cukuplah bagiku kebahagiaan dunia ini dengan kembalinya engkau kepadaku sebagai perkara yang teramat agung.
تَذَكَّرَنِيهِ الشَّمْسُ عِنْدَ طُلُوعِهَا وَتَعْرِضُ ذِكْرَاهُ إِذَا غَرْبُهَا أَفَلْ
[Shadr] Sapuan sinar matahari selalu mengingatkanku kepadanya setiap kali ia terbit,
[Ajuz] dan kenangan tentangnya terus membayang di pelupuk mata setiap kali ia terbenam di ufuk barat.
وَإِنْ هَبَّتِ الْأَرْوَاحُ هَيَّجْنَ ذِكْرَهُ فَيَا طُولَ مَا حُزْنِي عَلَيْهِ وَمَا وَجَلْ
[Shadr] Dan jika angin bertiup menerpa, ia membangkitkan kembali memori tentang dirinya,
[Ajuz] aduhai, alangkah panjangnya kepedihan mendalam dan ketakutan yang kurasakan atas nasibnya.
سَأُعْمِلُ نَصَّ(٦) الْعِيسِ فِي الْأَرْضِ جَاهِدًا وَلَا أَسْأَمُ التَّطْوَافَ أَوْ تَسْأَمُ الْإِبِلْ
[Shadr] Aku akan memacu unta-unta putihku dengan mengerahkan segala kemampuan menjelajahi bumi,
[Ajuz] dan aku tidak akan pernah merasa bosan berkelana mencari atau sampai unta-unta itu sendiri yang kelelahan.
حَيَاتِي أَوْ تَأْتِي عَلَيَّ مَنِيَّتِي وَكُلُّ امْرِئٍ فَانٍ وَإِنْ غَرَّهُ الْأَمَلْ
[Shadr] Begitulah sepanjang sisa hidupku atau sampai maut menjemputku,
[Ajuz] karena setiap manusia pasti akan fana binasa meskipun ia terlena oleh angan-angan yang semu.
وَأُوصِي بِهِ عَمْرًا وَقَيْسًا كِلَيْهِمَا وَأُوصِي يَزِيدًا ثُمَّ مِنْ بَعْدِمَا جَبَلْ
[Shadr] Dan aku wasiatkan pencarian dirinya kepada 'Amr dan Qais, kedua-duanya,
[Ajuz] serta aku wasiatkan kepada Yazid dan setelahnya kepada Jabalah.
[ CATATAN KAKI / FOOTNOTES NASKAH ]
(١) الْوَرْدُ مِنَ الْخَيْلِ: بَيْنَ الْكُمَيْتِ وَالْأَشْقَرِ .
(1) Al-Wardu minal khail: Warna bulu kuda yang berada di antara warna cokelat merah tua (al-kumait) dan warna merah terang keemasan (al-asyqar).
(٢) الْخِيمُ: الطَّبِيعَةُ وَالْخُلُقُ .
(2) Al-Khiimu: Tabiat, karakter asli, lambang kepribadian, atau perangai bawaan sejak lahir.
(٣) قَدْنِي: كَفَانِي .
(3) Qadnii: Cukuplah bagiku, hentikanlah tikamanmu (ungkapan meminta ampun/menyerah dalam duel).
(٤) الْمَآلِي: جَمْعُ مِثْلَاةٍ ، وَهِيَ الْخِرْقَةُ الَّتِي تَكُونُ مَعَ النَّائِحَةِ تَأْخُذُ بِهَا الدَّمْعَ .
(4) Al-Ma'aali: Bentuk jamak dari kata "mitslah", yaitu selembar kain perca/sapu tangan yang dibawa oleh wanita peratap kematian untuk menyeka atau menampung air matanya.
(٥) بَجَلْ: بِأَمْرٍ عَظِيمٍ .
(5) Bajal: Suatu perkara atau urusan yang teramat besar, mulia, penting, dan bernilai tinggi.
(٦) النَّصُّ: أَرْفَعُ السَّيْرِ .
(6) An-Nassu: Tingkatan cara berjalan atau memacu unta yang paling cepat, keras, dan maksimal mengerahkan tenaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar