BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 33

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Tergadainya Harga Diri: Saat Kebebasan Al-Ash Hancur di Tangan Abu Lahab

Episode ini menyoroti puncak kejatuhan Al-Ash bin Hisyam yang mempertaruhkan kebebasan pribadinya dalam permainan judi yang gelap. Ia yang dulunya terpandang, kini harus menanggung kehinaan karena kelalaiannya dalam mengendalikan hawa nafsu.

دَخَلَ بَنُو مَخْزُومٍ الْحَرَمَ وَمَنْ خَلْفِهِمُ الْحَبَشُ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ يَحْمِلُونَ كِسْوَةَ الْبَيْتِ ، فَلَمَّا رَأَى النَّاسُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ هَمَسُوا قَائِلِينَ :
Bani Makhzum memasuki Al-Haram, dan di belakang mereka ada Al-Habash (orang-orang Habasyah), Ubaidullah bin Abi Rabiah, membawa kiswah (penutup) Baitullah. Tatkala orang-orang melihat Ubaidullah bin Abi Rabiah, mereka berbisik seraya berkata:
— الْعَدْلُ .
— Sang Adil.
فَقَدْ كَانَتْ قُرَيْشٌ بِأَجْمَعِهَا تَكْسُو الْكَعْبَةَ مِنْ أَمْوَالِهَا سَنَةً وَيَكْسُوهَا هُوَ مِنْ مَالِهِ سَنَةً ، وَاشْرَأَبَّتِ الْأَعْنَاقُ وَامْتَدَّتِ الْعُيُونُ إِلَى عَبْدِ اللهِ تَنْظُرُ إِلَيْهِ فِي إِعْجَابٍ ، وَتَحَرَّكَتِ الْأَلْسِنَةُ تَرْوِي مَا تُعْرَفُ عَنْهُ فَقَالَ قَائِلٌ :
Dahulu, seluruh suku Quraisy menutupi Ka'bah dengan harta mereka setahun sekali, dan dia (Ubaidullah) menutupinya dengan hartanya sendiri setahun sekali. Leher-leher terulur dan mata tertuju kepada Ubaidullah memandangnya dengan kagum, dan lisan-lisan bergerak menceritakan apa yang diketahui tentang dirinya, lalu seseorang berkata:
— ابْنُ ذِي الرُّمْحَيْنِ .
— Putra sang pemilik dua tombak.
فَقَدْ قِيلَ إِنَّ أَبَاهُ قَاتَلَ بِرُمْحَيْنِ يَوْمَ عُكَاظَ ، وَرَاحَ النَّاسُ يَرْوُونَ أَنَّ رِيطَةَ هِيَ أُمُّ بَنِي الْمُغِيرَةِ وَلَدَتْ مِنَ الْمُغِيرَةِ هِشَامًا وَهَاشِمًا وَأَبَا رَبِيعَةَ وَالْفَاكِهَةَ ، وَأَنَّ أُمَّ عَبْدِ اللهِ أَسْمَاءَ بِنْتَ مَخْرَمَةَ عَطَّارَةٌ يَأْتِيهَا الْعِطْرُ مِنَ الْيَمَنِ ، وَقَدْ تَزَوَّجَهَا هِشَامُ بْنُ الْمُغِيرَةِ فَوَلَدَتْ لَهُ عَمْرَو بْنَ هِشَامٍ ( أَبَا جَهْلٍ ) .
Dikatakan bahwa ayahnya bertempur dengan dua tombak pada hari Ukaz. Orang-orang terus menceritakan bahwa Rithah, ibu dari Bani Makhzum, melahirkan dari Al-Mughirah: Hisyam, Hasyim, Abu Rabiah, dan Al-Fakihah; dan bahwa ibu Abdullah, Asma binti Makhramah, adalah seorang penjual parfum yang parfumnya didatangkan dari Yaman, dan dia dinikahi oleh Hisyam bin Al-Mughirah, lalu melahirkan baginya Amr bin Hisyam (Abu Jahal).
وَهَتَفَ هَاتِفٌ وَهُوَ يُشِيرُ بِأَصْبُعِهِ :
Dan seseorang berseru sambil menunjuk dengan jarinya:
— هَذَا الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ وَابْنُهُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ .
— Ini adalah Al-Walid bin Al-Mughirah dan putranya Khalid bin Al-Walid.
فَقَالَ آخَرُ :
Lalu yang lain berkata:
— صَارَتْ إِلَى خَالِدٍ الْقُبَّةُ وَالْأَعِنَّةُ ، وَأَصْبَحَ فَارِسَ قُرَيْشٍ .
— Telah berpindah kepada Khalid al-qubbah (tenda kepemimpinan) dan al-a'innah (kendali pasukan), dan dia menjadi ksatria Quraisy.
فَأَمَّا الْقُبَّةُ فَإِنَّهُمْ كَانُوا يَضْرِبُونَهَا ثُمَّ يَجْمَعُونَ إِلَيْهَا مَا يُجَهِّزُونَ بِهِ الْجَيْشَ ، وَأَمَّا الْأَعِنَّةُ فَإِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَى خَيْلِ قُرَيْشٍ إِذَا مَا خَرَجَتْ لِلْقِتَالِ .
Adapun al-qubbah, mereka biasa memasangnya kemudian mengumpulkan padanya apa yang mereka siapkan untuk perlengkapan pasukan. Adapun al-a'innah, ia akan berada di atas kuda-kuda Quraisy jika mereka keluar untuk berperang.
وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتٌ تَقُولُ وَمَوْكِبُ بَنِي الْمُغِيرَةِ يَتَقَدَّمُ صَوْبَ الْحَرَمِ :
Dan meninggi suara-suara berkata sementara iring-iringan Bani Mughirah maju menuju Al-Haram:
— أَبُو حُذَيْفَةَ بْنُ الْمُغِيرَةِ .
— Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah.
كَانَ أَبُو حُذَيْفَةَ هُوَ الْقَائِلَ يَوْمَ أَنْ أَعَادَتْ قُرَيْشٌ بِنَاءَ الْكَعْبَةِ : « ارْفَعُوا بَابَ الْكَعْبَةِ حَتَّى لَا يَدْخُلَ إِلَّا بِسُلَّمٍ ، فَإِنَّهُ لَا يَدْخُلُهَا حِينَئِذٍ إِلَّا مَنْ أَرَدْتُمْ ، فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ مِمَّنْ تَكْرَهُونَ رَمَيْتُمْ بِهِ فَيَسْقُطُ فَكَانَ نَكَالًا لِمَنْ رَآهُ » .
Abu Hudzaifah adalah orang yang berkata pada hari Quraisy membangun kembali Ka'bah: "Tinggikanlah pintu Ka'bah agar tidak ada yang masuk kecuali dengan tangga, sehingga tidak ada yang masuk ke dalamnya saat itu kecuali orang yang kalian inginkan. Jika datang seseorang dari mereka yang kalian benci, kalian lemparkan dia sehingga dia terjatuh, maka itu menjadi pelajaran bagi siapa saja yang melihatnya."
كَانَ الْمَوْكِبُ فَاخِرًا يَمُوجُ بِسَادَاتِ بَنِي الْمُغِيرَةِ ، وَكَانَ عَبِيدُ « عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ » الْحَبَشُ يَحْمِلُونَ أَسْتَارًا مِنْ أَجْوَدِ الْأَقْمِشَةِ ، وَلَمْ يَثُرْ نُكَارَةَ الْحَبَشِ دَهْشَةَ النَّاسِ فَقَدْ كَانُوا يَعْرِفُونَ أَنَّ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ عَبِيدًا مِنَ الْحَبَشَةِ يَتَصَرَّفُونَ فِي جَمِيعِ الْمِهَنِ ، وَكَانَ لَهُ جَيْشٌ مِنَ الْحَبَشِ .
Iring-iringan itu mewah, dipenuhi oleh para pemuka Bani Mughirah. Budak-budak Habasyah milik Ubaidullah bin Abi Rabiah membawa tirai-tirai dari kain kualitas terbaik. Keberadaan budak-budak Habasyah tidak membuat orang-orang heran, karena mereka tahu bahwa Ubaidullah bin Abi Rabiah memiliki budak-budak dari Habasyah yang bekerja di semua bidang, dan dia memiliki pasukan dari Habasyah.
كَانَ الْمَوْكِبُ مُثِيرًا فَبَنُو الْمُغِيرَةِ يَرْفُلُونَ فِي ثِيَابٍ غَالِيَةٍ وَالْعَبِيدُ فِي حُلَلٍ قَشِيبَةٍ وَعَلَى جَانِبَيِ الرَّكْبِ جُنْدٌ بِلَا أَسْلِحَةٍ وَكُلُّ شَيْءٍ يَنُمُّ عَنِ الثَّرَاءِ ، فَلَا غَرْوَ أَنْ ضُرِبَ بِعِزِّهِمُ الْمَثَلُ .
Iring-iringan itu sangat memukau, Bani Mughirah berjalan mengenakan pakaian mahal, para budak dalam busana baru yang indah, dan di kedua sisi iring-iringan terdapat tentara tanpa senjata, dan segala sesuatu menunjukkan kekayaan, maka tidaklah mengherankan jika kemuliaan mereka dijadikan perumpamaan.
وَرَأَى بَعْضُ الْجَانِ الْعَاصِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَرَاحُوا يَتَغَامَزُونَ عَلَيْهِ ، فَهُوَ مَاجِنٌ عَاهِرٌ ارْتَكَبَ مِنَ الْحَمَاقَاتِ مَا ضَاقَتْ بِهِ بَنُو الْمُغِيرَةِ حَتَّى هَدَّدُوهُ بِأَنْ يَخْلَعُوهُ وَيَبْرَءُوا مِنْهُ وَمِنْ أَفْعَالِهِ .
Beberapa orang melihat Al-Ash bin Hasyim bin Al-Mughirah, lalu mereka mulai saling berbisik tentangnya. Dia adalah orang yang bejat dan fasik, yang melakukan kebodohan-kebodohan yang membuat Bani Mughirah merasa sempit hatinya, hingga mereka mengancam akan memecatnya dan berlepas diri dari dia dan perbuatannya.
وَرَاحُوا يَرْوُونَ مُغَامَرَاتِهِ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَالنِّسَاءِ وَمَا أَنْزَلَ بِأَهْلِهِ مِنْ مَغَارِمَ ، وَكَيْفَ أَنَّ أَبْوَابَ دُورِ أَبِيهِ وَأَعْمَامِهِ وَجَدَتْهُ قَدْ أُغْلِقَتْ فِي وُجُوهِ دَائِنِيهِ ، وَكَيْفَ أَعْلَنَ أَبُوهُ هَاشِمٌ أَنَّهُ لَنْ يَسُدَّ أَيَّ دَيْنٍ يَخْسَرُهُ ابْنُهُ فِي الْمَيْسِرِ .
Mereka terus menceritakan petualangannya dalam khamr, perjudian, wanita, dan kerugian yang ditimpakannya kepada keluarganya, serta bagaimana pintu-pintu rumah ayah dan paman-pamannya menutup bagi para penagih hutangnya, dan bagaimana ayahnya, Hasyim, mengumumkan bahwa dia tidak akan melunasi hutang apa pun yang hilang oleh putranya dalam judi.
وَتَذَكَّرَ بَعْضُ مَنْ كَانُوا فِي الْحَرَمِ أَبَا أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ أَحَدُهُمْ فِي أَسًى :
Sebagian orang yang berada di Al-Haram teringat Abu Umayyah bin Al-Mughirah, maka salah seorang dari mereka berkata dengan sedih:
— مَاتَ زَادُ الرَّكْبِ وَغَابَ عَنْ مَوْكِبِ قَوْمِهِ .
— Matilah "Zad ar-Rakb" (bekal kafilah) dan dia absen dari iring-iringan kaumnya.
كَانَ أَبُو أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ زَوْجَ عَاتِكَةَ بِنْتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَكَانَ قَدْ خَرَجَ تَاجِرًا إِلَى الشَّامِ فَمَاتَ بِسَرُّ سُحَيْمٍ ، فَلَمَّا بَلَغَ أَبَا طَالِبٍ مَوْتُ زَوْجِ أُخْتِهِ رَثَاهُ بِقَوْلِهِ :
Abu Umayyah bin Al-Mughirah adalah suami Atikah binti Abdul Muthalib, dia pergi berdagang ke Syam lalu meninggal di Sarru Suhaim. Tatkala sampai berita kematian suami saudara perempuannya itu kepada Abu Thalib, dia meratapinya dengan berkata:

أَلَا إِنَّ زَادَ الرَّكْبِ غَيْرُ مُدَافَعٍ             بِسَرِّ سُحَيْمٍ غُيِّبَتْهُ الْمَقَابِرُ

Ketahuilah bahwa Zad ar-Rakb bukanlah orang yang bisa ditolak (kedermawanannya), di Sarru Suhaim kuburan telah menyembunyikannya.

بِسَرِّ سُحَيْمٍ عَارِفٍ وَمَنَاكِرٍ             وَفَارِسِ غَارَاتٍ خَطِيبٍ وَيَاسِرٍ

Di Sarru Suhaim bersemayam orang yang ahli (dalam kebaikan) dan perkara-perkara besar, ksatria penyerbuan, seorang orator, dan pemain judi (yang dermawan).

تَنَادَوْا بِأَنْ لَا سَيِّدَ الْحَيِّ فِيهِمُ             وَقَدْ فُجِعَ الْحَيَّانِ كَعْبٌ وَعَامِرُ

Mereka saling berseru bahwa pemuka kabilah tidak lagi ada di antara mereka, dan sungguh dua kabilah, Ka'ab dan Amir, telah dirundung duka.

فَكَانَ إِذَا يَأْتِي مِنَ الشَّامِ قَافِلًا             بِمَقْدَمِهِ تَسْعَى إِلَيْنَا الْبَشَائِرُ

Dahulu, jika dia datang kembali dari Syam, dengan kedatangannya kabar gembira bergegas menghampiri kami.

فَيُصْبِحُ أَهْلُ اللهِ بِيضًا كَأَنَّمَا             كَسَتْهُمْ حَبِيرًا رَبْدَةً وَمَعَافِرُ

Maka orang-orang di tanah haram (Quraisy) menjadi berseri-seri, seolah-olah dia telah memakaikan mereka kain bergaris halus, kain tebal, dan kain jenis Ma'afir.

تَرَى دَارَهُ لَا يَبْرَحُ الدَّهْرَ أَمْدَهَا             مِجَعْجِعَةُ كَوْمٍ سِمَانٍ وَبَاقِرُ

Engkau melihat rumahnya sepanjang zaman tidak pernah sepi dari keriuhan unta-unta yang gemuk dan sapi-sapi besar.

إِذَا أُكِلَتْ يَوْمًا أَتَى الدَّهْرُ مِثْلَهَا             زَوَاهِقُ زَهْمٍ أَوْ مَخَاضٌ بَهَازِرُ

Jika (ternak) itu dimakan pada suatu hari, maka (akan ada lagi) di masa depan yang serupa, unta-unta besar yang gemuk atau unta-unta bunting yang besar.

ضَرُوبٌ بِنَصْلِ السَّيْفِ سُوقٌ سِمَانَهَا             إِذَا عُدِمُوا زَادًا فَإِنَّكَ عَاقِرُ

Dia tangkas memotong dengan mata pedang betis-betis (ternak) yang gemuk, jika mereka kehilangan bekal, maka sesungguhnya engkau (wahai pembantai) adalah orang yang menyembelih (untuk memberi makan).

وَإِلَّا يَكُنْ لَحْمٌ غَرِيضٌ فَإِنَّهُ             تُكَبُّ عَلَى أَفْوَاهِهِنَّ الْغَرَائِرُ

Dan jika tidak ada daging segar, maka sesungguhnya karung-karung (penuh gandum) akan ditumpahkan ke depan mulut-mulut mereka.

فَيَالُكَ مِنْ نَاعٍ حَبِيتَ بِآلَةٍ             شَرَاعِيَةٍ تَصْفَرُّ مِنْهَا الْأَظَافِرُ

Sungguh malang dirimu wahai pembawa kabar duka, engkau terperosok dalam nasib yang memilukan hingga kuku-kuku (gemetar) menguning karenanya.

Catatan kaki:

(1) Al-La'ib biqidah al-maisir: Ia termasuk hal yang mereka banggakan karena pemenangnya akan membagikan daging unta kepada orang-orang miskin.

(2) Ismun jam'u "Baqarah": Nama jamak dari sapi.

(3) An-Nuq al-azhimah: Unta-unta yang besar.

وَرَاحَ الْأَشْرَافُ يَغْسِلُونَ الْكَعْبَةَ بِمَاءِ زَمْزَمَ حَتَّى إِذَا مَا انْتَهَوْا مِنْهَا تَقَدَّمَ سَادَاتُ بَنِي الْمُغِيرَةِ يَكْسُونَهَا ثُمَّ يَطِيبُونَهَا وَيَبْخُرُونَهَا بِأَجْوَدِ أَنْوَاعِ الْمَنْدَلِ وَالْعُودِ ، وَكَانَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ مَخْرَمَةَ تَخْتَارُ أَفْخَرَ أَصْنَافِ الطِّيبِ بِمَا لَدَيْهَا مِنْ خِبْرَةٍ فِي الْعِطَارَةِ .
Para pemuka terus mencuci Ka'bah dengan air zamzam, hingga tatkala mereka selesai, para pemuka Bani Mughirah maju untuk menyelimutinya, kemudian mengharumkannya dan mengasapinya dengan jenis kayu gaharu (Mandal dan 'Ud) terbaik. Asma binti Makhramah memilihkan jenis parfum paling mewah berbekal keahlian yang dimilikinya dalam bidang wewangian.
وَطَافَ سَادَاتُ بَنِي مَخْزُومٍ وَسَادَاتُ قُرَيْشٍ بِالْحَرَمِ ثُمَّ انْسَلُّوا إِلَى دُورِهِمْ . وَجَاءَ اللَّيْلُ وَانْطَلَقَ السُّمَّارُ إِلَى مَسَامِرِهِمْ ، فَخَرَجَ الْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ وَأَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِلَى حَيْثُ يَمْضِي سَادَاتُ قُرَيْشٍ لَيْلَهُمْ فِي لَعِبِ الْمَيْسِرِ عِنْدَ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ صَاحِبِ الْأَزْلَامِ ، فَقَدْ كَانَتِ الْأَزْلَامُ فِي بَنِي جُمَحٍ .
Para pemuka Bani Makhzum dan pemuka Quraisy melakukan tawaf di Al-Haram kemudian menyelinap pergi ke rumah-rumah mereka. Malam pun tiba dan orang-orang yang gemar begadang pun pergi ke tempat pertemuan mereka, maka Al-Ash bin Hisyam dan Abu Lahab bin Abdul Muthalib keluar menuju tempat para pemuka Quraisy menghabiskan malam mereka bermain judi di tempat Shafwan bin Umayyah, pemilik anak panah undian (Al-Azlam), karena Al-Azlam ada di Bani Jumah.
وَاتَّفَقَ أَبُو لَهَبٍ وَالْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ عَلَى أَنْ يَقَامِرَا بِعَشْرٍ مِنَ الْإِبِلِ فَدَعَوَا الْقَدَّارَ وَأَمَرَاهُ أَنْ يَنْحَرَهَا وَيَجْعَلَهَا عَشَرَةَ أَجْزَاءٍ ، الْكَتِفَيْنِ جُزْأَيْنِ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا جُزْءًا ، وَالصَّدْرَ جُزْءًا ، وَالْعَضُدَيْنِ جُزْأَيْنِ ، وَالْكَاهِلَ جُزْءًا ، وَالْمِلْحَاءَ وَهُوَ مَا بَيْنَ السَّنَامِ إِلَى الْعَجُزِ جُزْءًا ، وَالْفَخْذَيْنِ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا جُزْءًا . ثُمَّ يُقْسَمُ عَلَى الْأَجْزَاءِ الْعَشَرَةِ مَا فَضَلَ مِنَ الْجَنْبَيْنِ وَالسَّنَامِ وَالْكَبِدِ .
Abu Lahab dan Al-Ash bin Hisyam sepakat untuk berjudi dengan sepuluh ekor unta, lalu mereka memanggil sang penjagal (Al-Qaddar) dan menyuruhnya menyembelihnya dan membaginya menjadi sepuluh bagian; dua bahu menjadi dua bagian (tiap bahu satu bagian), dada satu bagian, dua lengan atas dua bagian, tengkuk satu bagian, Al-Milha' (bagian antara punuk dan pinggul) satu bagian, dan dua paha (tiap paha satu bagian). Kemudian dibagikan pada sepuluh bagian itu sisa daging dari dua sisi tubuh, punuk, dan hati.
وَأَخَذَ أَبُو لَهَبٍ قِدْحَهُ وَأَخَذَ الْعَاصِ قِدْحَهُ ، وَجَلَسَ الْحُرْضَةُ وَهُوَ الَّذِي يَضْرِبُ لِلَاعِبِي الْمَيْسِرِ بِالْقِدَاحِ ، وَهُوَ لَمْ يَأْكُلْ لَحْمًا قَطُّ بِثَمَنٍ إِنَّمَا يَأْكُلُهُ عِنْدَ غَيْرِهِ أَوْ يُهْدَى لَهُ الْأَيْسَارُ ، وَأَخَذَ يَلُفُّ كَفَّهُ بِقِطْعَةٍ مِنْ جِرَابٍ لِئَلَّا يَجِدَ مَسَّ قِدْحٍ يَكُونُ لَهُ مَعَ صَاحِبِهِ مُحَابَاةً ، وَقَدْ جَلَسَ خَلْفَهُ الرَّقِيبُ لِيَتَنَاوَلَ مِنْهُ السَّهْمَ الَّذِي يَخْرُجُ فَيُخْبِرَ الْمُتَقَامِرَيْنِ بِهِ .
Abu Lahab mengambil anak panah undiannya (qidhu-nya) dan Al-Ash mengambil qidhu-nya, lalu duduklah Al-Hurdhah, yaitu orang yang mengocok anak panah untuk para pemain judi. Dia tidak pernah memakan daging yang dibeli dengan harganya, melainkan dia memakannya di tempat orang lain atau para pemain (Al-Aisar) memberikannya kepadanya. Dia membungkus telapak tangannya dengan potongan kantong kulit agar tidak merasakan sentuhan anak panah yang mungkin membuatnya bersikap memihak kepada salah satu rekannya. Di belakangnya duduk Ar-Raqib untuk mengambil anak panah yang keluar lalu memberitahukannya kepada kedua penjudi tersebut.
وَقَالَ الْعَاصِ :
— الْمُجَوَّلُ .
Al-Ash berkata:
— Al-Mujawwal (anak panah yang digunakan untuk mengundi giliran atau metode undian).
فَأَتَوْا بِالْمُجَوَّلِ وَهُوَ ثَوْبٌ شَدِيدُ الْبَيَاضِ وَجَعَلُوهُ عَلَى يَدِ الْحُرْضَةِ لِيَغْشَى بَصَرَهُ فَلَا يَعْرِفُ قِدْحَ أَبِي لَهَبٍ مِنْ قِدْحِ الْعَاصِ .
Maka mereka pun mendatangkan Al-Mujawwal, yaitu kain yang sangat putih, dan mereka meletakkannya di atas tangan Al-Hurdhah agar menutup penglihatannya sehingga dia tidak bisa membedakan anak panah Abu Lahab dari anak panah Al-Ash.
وَأَرَادَ الْعَاصِ أَنْ يَطْمَئِنَّ إِلَى حِيَادِ الْحُرْضَةِ فَقَالَ :
— عَلَى بِالرَّبَابَةِ .
Al-Ash ingin memastikan ketidakberpihakan Al-Hurdhah, maka dia berkata:
— Demi Ar-Rababah (tempat menaruh anak panah).
فَجِيءَ بِكِيسٍ فَوُضِعَ بِهِ الْعَاصِ سَهْمَهُ وَوَضَعَ أَبُو لَهَبٍ سَهْمَهُ فَاسْتَلَّ الْحُرْضَةُ سَهْمًا ثُمَّ نَاوَلَهُ الرَّقِيبَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ ، فَنَظَرَ الرَّقِيبُ فِيهِ وَقَالَ :
— سَهْمُ أَبِي لَهَبٍ .
Maka didatangkanlah sebuah kantong, lalu Al-Ash memasukkan anak panahnya ke dalamnya dan Abu Lahab memasukkan anak panahnya. Al-Hurdhah mengeluarkan satu anak panah lalu memberikannya kepada Ar-Raqib tanpa melihatnya. Ar-Raqib melihatnya dan berkata:
— Anak panah Abu Lahab.
وَفَازَ أَبُو لَهَبٍ فَأَرْسَلَ اللُّحُومَ إِلَى الْفُقَرَاءِ وَدَفَعَ الْعَاصِ ثَمَنَهَا ، وَقَدْ ضَاقَ صَدْرُهُ بِمَا مُنِيَ بِهِ مِنْ هَزِيمَةٍ وَأَرَادَ أَنْ يُعَوِّضَ مَا فَاتَهُ فَطَلَبَ مِنْ أَبِي لَهَبٍ أَنْ يَقَامِرَهُ عَلَى عُشْرٍ ثَانِيَةً مِنَ الْإِبِلِ .
Abu Lahab menang, lalu dia mengirimkan daging-daging itu kepada orang-orang miskin dan Al-Ash membayar harganya. Al-Ash merasa sesak dadanya karena kekalahan yang dideritanya dan dia ingin menebus apa yang terlewatkan, maka dia meminta Abu Lahab untuk berjudi dengannya lagi untuk sepuluh ekor unta yang kedua.
وَجِيءَ بِالْإِبِلِ وَنَحَرَهَا الْجَزَّارُ ، وَدَفَعَ الْعَاصِ لِلْحُرْضَةِ سَهْمَهُ وَدَفَعَ إِلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ سَهْمَهُ وَوُضِعَ السَّهْمَانِ فِي الرَّبَابَةِ ، وَمَدَّ الْحُرْضَةُ يَدَهُ وَأَخْرَجَ سَهْمًا نَاوَلَهُ إِلَى الرَّقِيبِ ، وَمَا إِنْ نَظَرَ فِيهِ حَتَّى صَاحَ :
— فَازَ أَبُو لَهَبٍ .
Didatangkanlah unta-unta dan sang penjagal menyembelihnya, Al-Ash memberikan anak panahnya kepada Al-Hurdhah, Abu Lahab juga memberikan anak panahnya kepadanya, dan kedua anak panah itu ditaruh di Ar-Rababah. Al-Hurdhah mengulurkan tangannya dan mengeluarkan satu anak panah lalu memberikannya kepada Ar-Raqib. Begitu Ar-Raqib melihatnya, dia berseru:
— Abu Lahab menang.
وَحُمِلَتِ اللُّحُومُ إِلَى دُورِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالرِّجَالِ يَتَغَنَّوْنَ بِأَبِي لَهَبٍ ، يَقُولُونَ :
Daging-daging itu dibawa ke rumah-rumah orang miskin dan fakir, sementara orang-orang melantunkan pujian untuk Abu Lahab, mereka berkata:

إِذَا شَهِدَ الْأَيْسَارُ أَوْ غَابَ بَعْضُهُمْ             كَفَى الْحَيَّ وَضَّاحَ الْجَبِينِ أَرِيبُ

Baik ketika para pemain judi hadir atau sebagian mereka absen, (keberadaan) pria berdahi cemerlang yang cerdik ini sudah mencukupi bagi kabilah.

وَزَاغَتْ نَظَرَاتُ الْعَاصِ وَانْبَهَرَتْ أَنْفَاسُهُ وَتَحَرَّكَ جَشَعُهُ وَحَزَّ فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ دَفَعَ ثَمَنَ عِشْرِينَ مِنَ الْإِبِلِ ، وَرَأَى أَنْ يَسْتَمِرَّ فِي اللَّعِبِ لِيَخْسَرَ أَبُو لَهَبٍ مِثْلَمَا خَسِرَ ، فَطَلَبَ مِنْ أَبِي لَهَبٍ أَنْ يَقَامِرَهُ عَلَى عَشَرَةٍ ثَالِثَةٍ مِنَ الْإِبِلِ .
Pandangan mata Al-Ash menyimpang, nafasnya memburu, keserakahannya bergerak, dan dia merasa sangat sakit hati karena telah membayar harga untuk dua puluh ekor unta. Dia merasa harus terus bermain agar Abu Lahab kalah seperti dirinya kalah, maka dia meminta Abu Lahab untuk berjudi dengannya untuk sepuluh ekor unta yang ketiga.
وَجِيءَ بِالْإِبِلِ وَنُحِرَتْ وَدَفَعَ الْعَاصِ بِسَهْمِهِ إِلَى الْحُرْضَةِ وَهُوَ يَسُبُّهُ وَيَلْعَنُ شُؤْمَهُ ، وَقَدِمَ إِلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ سَهْمَهُ وَهُوَ يَمْتَدِحُهُ وَيَتَمَدَّحُ خَيْرَهُ ، وَوُضِعَ السَّهْمَانِ فِي الرَّبَابَةِ وَتَنَاوَلَ الْحُرْضَةُ سَهْمًا وَدَفَعَ بِهِ إِلَى الرَّقِيبِ وَالْعَاصِ يَرْقُبُ شَفَتَيْهِ فِي اهْتِمَامٍ ، حَتَّى إِذَا مَا قَالَ :
— سَهْمُ أَبِي لَهَبٍ .
Didatangkanlah unta-unta dan disembelih, Al-Ash memberikan anak panahnya kepada Al-Hurdhah sambil mencaci dan melaknat kesialannya, sementara Abu Lahab memberikan anak panahnya kepadanya sambil memujinya dan memuji kebaikannya. Kedua anak panah ditaruh di Ar-Rababah, Al-Hurdhah mengambil satu anak panah dan memberikannya kepada Ar-Raqib, sementara Al-Ash memperhatikan bibirnya dengan penuh perhatian, hingga ketika dia berkata:
— Anak panah Abu Lahab.
أَحَسَّ كَأَنَّ خَنْجَرًا يَغُوصُ فِي قَلْبِهِ ، وَاسْتَبَدَّتْ بِهِ نَزْوَةُ الْمُقَامَرَةِ فَظَلَّ يُقَامِرُ حَتَّى خَلَعَهُ أَبُو لَهَبٍ مِنْ مَالِهِ فَلَمْ يَبْقَ لَهُ شَيْءٌ ، وَلَمْ يَحْتَمِلْ قَسْوَةَ الْهَزِيمَةِ فَقَالَ لِأَبِي لَهَبٍ :
— إِنِّي أَرَى الْقِدَاحَ قَدْ حَالَفَتْكَ يَا بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَهَلُمَّ أُقَامِرُكَ فَأَيُّنَا قَمَرَ عَبْدًا لِصَاحِبِهِ .
Dia merasa seolah-olah belati menancap di jantungnya, dan hasrat berjudi telah menguasainya, maka dia terus berjudi hingga Abu Lahab melucuti hartanya dan tidak menyisakan apa pun baginya. Dia tidak sanggup menanggung kejamnya kekalahan, lalu berkata kepada Abu Lahab:
— Aku melihat anak panah undian telah berpihak kepadamu wahai putra Abdul Muthalib, mari kita berjudi, siapakah di antara kita yang memenangkan pihak lain untuk menjadi budak bagi pemenangnya.
وَحُبِسَتِ الْأَنْفَاسُ وَاتَّسَعَتِ الْعُيُونُ ، لَقَدْ بَلَغَتِ الْمُقَامَرَةُ ذِرْوَتَهَا ، إِنَّ أُنَاسًا قَدْ قَامَرُوا مِنْ قَبْلُ عَلَى نِسَائِهِمْ ، أَمَّا أَنْ يُخَاطِرَ رَجُلٌ بِحُرِّيَّتِهِ فَذَلِكَ شَيْءٌ مُثِيرٌ ، وَصُوِّبَتِ الْأَنْظَارُ إِلَى أَبِي لَهَبٍ وَكَانَتْ رُوحُ الْمُقَامَرَةِ قَدِ اسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ فَقَالَ :
— أَفْعَلُ .
Nafas tertahan dan mata terbelalak, perjudian telah mencapai puncaknya. Memang orang-orang pernah berjudi mempertaruhkan wanita mereka sebelumnya, tetapi mempertaruhkan kebebasan sendiri adalah sesuatu yang menggemparkan. Pandangan mata tertuju kepada Abu Lahab, dan jiwa perjudian telah menguasainya, maka dia berkata:
— Aku bersedia.
وَتَجَاوَبَ الْمَكَانُ صِيحَاتُ تَرْحِيبٍ وَصِيحَاتُ إِنْكَارٍ ، وَدَنَا صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ صَاحِبُ الْأَزْلَامِ مِنَ الْحَلْقَةِ الَّتِي ضُرِبَتْ حَوْلَ الْحُرْضَةِ يَرْصُدُ هَذِهِ الْمُقَامَرَةَ الْمَجْنُونَةَ فِي حِرْصٍ شَدِيدٍ ، فَمَا كَانَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَصَوَّرَ أَنْ يُصْبِحَ أَبُو لَهَبٍ عَبْدًا لِلْعَاصِ بْنِ هِشَامٍ أَوْ يُصْبِحَ الْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ عَبْدًا لِأَبِي لَهَبٍ . لَقَدْ بَاتَتْ حُرِّيَّةُ أَحَدِ الرَّجُلَيْنِ مُعَلَّقَةً بِخُرُوجِ سَهْمٍ يُحَرِّكُهُ الْقَدَرُ !
Tempat itu bergemuruh dengan sorakan antusias dan teriakan penolakan. Shafwan bin Umayyah, pemilik Al-Azlam, mendekati lingkaran yang dibuat di sekitar Al-Hurdhah, mengamati perjudian gila ini dengan penuh perhatian. Dia tidak bisa membayangkan Abu Lahab menjadi budak bagi Al-Ash bin Hisyam atau Al-Ash bin Hisyam menjadi budak bagi Abu Lahab. Kebebasan salah satu dari kedua pria itu kini bergantung pada keluarnya anak panah yang digerakkan oleh takdir!
وَنَاوَلَ الْعَاصِ سَهْمَهُ لِلْحُرْضَةِ وَهُوَ يَرْتَجِفُ مِنَ الرَّأْسِ إِلَى الْقَدَمِ ، وَقَدَّمَ إِلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ سَهْمَهُ وَقَدْ مَشَتْ فِي بَدَنِهِ قَشْعَرِيرَةٌ ، فَإِنَّهُ لِأَمْرٍ مُخِيفٍ أَنْ يَفْقِدَ الْمَرْءُ حُرِّيَّتَهُ وَيَصِيرَ عَبْدًا مِلْكَ يَمِينِ غَرِيمِهِ يُحْيِيهِ إِنْ شَاءَ وَيَقْتُلُهُ إِنْ شَاءَ وَيُذِلَّهُ إِنْ شَاءَ وَيُكَلِّفَهُ بِمَا يَشَاءُ مِنْ أَعْمَالٍ وَضِيعَةٍ .
Al-Ash memberikan anak panahnya kepada Al-Hurdhah sambil gemetar dari kepala hingga kaki, Abu Lahab juga memberikan anak panahnya sambil merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Sungguh hal yang mengerikan bagi seseorang kehilangan kebebasannya dan menjadi budak milik musuhnya, musuh itu bisa menghidupkannya jika dia mau, membunuhnya jika dia mau, menghinakannya jika dia mau, dan membebaninya dengan pekerjaan hina apa pun yang dia kehendaki.
وَرَاحَتِ الْعُيُونُ تَتَبَّعُ حَرَكَاتِ يَدِ الْحُرْضَةِ وَقَدْ رَانَ عَلَى الْمَكَانِ تَرَقُّبٌ وَرَهْبَةٌ وَقَلَقٌ ، وَمَرَّتِ اللَّحَظَاتُ بَطِيئَةً بَطِيئَةً كَأَنَّهَا كَانَتْ دَهْرًا ، وَظَهَرَ فِي يَدِ الْحُرْضَةِ سَهْمٌ مِنَ السَّهْمَيْنِ فَشَحَبَ لَوْنُ الْعَاصِ ، فَهُوَ يَخْشَى أَنْ تَسْتَمِرَّ مُخَالَفَةُ الْقِدَاحِ لِابْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَاحَ قَلْبُهُ يَقْفِزُ فِي صَدْرِهِ وَيَخْفِقُ خَفَقَاتٍ وَجَلٍ شَدِيدٍ ، وَارْتَجَفَتْ شَفَتَا أَبِي لَهَبٍ وَاضْطَرَبَتْ يَدُهُ وَلَمْ تَسْتَقِرَّ عَيْنَاهُ فَقَدْ رَاحَ يَنْظُرُ إِلَى لَا شَيْءٍ .
Mata mengikuti gerakan tangan Al-Hurdhah, sementara rasa waspada, takut, dan cemas menyelimuti tempat itu. Momen-momen berlalu dengan sangat lambat seolah-olah itu adalah satu masa yang panjang. Muncul di tangan Al-Hurdhah satu dari dua anak panah itu, wajah Al-Ash memucat, dia takut anak panah undian akan terus berpihak kepada putra Abdul Muthalib. Jantungnya berdegup kencang di dadanya, berdegup dengan ketakutan yang hebat. Bibir Abu Lahab gemetar, tangannya bergetar, dan matanya tidak bisa diam, dia menatap ke ruang hampa.
وَمَدَّ الْحُرْضَةُ يَدَهُ إِلَى الرَّقِيبِ بِالسَّهْمِ فَتَنَاوَلَهُ الرَّقِيبُ بِيَدٍ مُرْتَجِفَةٍ وَنَظَرَ فِيهِ وَالنَّاسُ جَمِيعًا تَرْصُدُ حَرَكَاتِ شَفَتَيْهِ ، فَقَالَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ مُرْتَجِفٍ :
— خَرَجَ سَهْمُ أَبِي لَهَبٍ .
Al-Hurdhah mengulurkan tangannya kepada Ar-Raqib membawa anak panah itu, Ar-Raqib mengambilnya dengan tangan gemetar dan melihatnya, sementara semua orang mengamati gerakan bibirnya. Dia berkata dengan suara pelan dan gemetar:
— Anak panah Abu Lahab telah keluar.
وَتَنَفَّسَ أَبُو لَهَبٍ الصُّعَدَاءَ كَأَنَّمَا قَامَ مِنْ تَحْتِ صَخْرَةٍ كَانَتْ تَكْتُمُ أَنْفَاسَهُ ، وَتَرَوَّغَ الْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ وَقَدِ انْقَشَعَتْ عَنْ عَيْنِ بَصِيرَتِهِ غَمَامَةُ نَزْوَةِ الْمُقَامِرِ وَانْكَشَفَ لِعَقْلِهِ الْحَقِيقَةُ الْبَشِعَةُ ، إِنَّهُ فَقَدَ حُرِّيَّتَهُ إِلَى الْأَبَدِ اسْتِجَابَةً لِرَغْبَةٍ جَامِحَةٍ لَا عَقْلَ لَهَا ، صَارَ عَبْدًا .. عَبْدًا !
Abu Lahab menghela nafas panjang seolah dia bangkit dari bawah batu yang menekan nafasnya. Al-Ash bin Hisyam terperangah, kabut hasrat penjudi telah tersingkap dari mata batinnya dan terungkaplah realitas buruk bagi akalnya. Dia telah kehilangan kebebasannya selamanya karena menuruti hasrat liar yang tidak berakal. Dia telah menjadi budak.. budak!
وَرَنَّ فِي جَوْفِهِ صَوْتٌ سَاخِرٌ يُرَدِّدُ : « الْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ مَوْلَى أَبِي لَهَبٍ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .. الْعَاصِ مَوْلَى أَبِي لَهَبٍ » ، فَوَدَّ لَوْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكْتُمَ أَنْفَاسَ ذَلِكَ الصُّرَاخِ الْمَرِيرِ الَّذِي يُصِيبُهُ ، أَوْ يَخْنُقَ نَفْسَهُ . وَعَادَتِ السُّخْرِيَّةُ تَدْوِي بَيْنَ جَنْبَيْهِ : « نَفْسَكِ ؟! إِنَّهَا لَمْ تَعُدْ مِلْكِكِ ، إِنَّهَا قَدْ صَارَتْ مُنْذُ اللَّيْلَةِ مِلْكَ أَبِي لَهَبٍ إِنْ يَشَأْ يُزْهِقُهَا وَإِنْ يَشَأْ يُطْلِقُهَا » .
Terdengar di dalam hatinya suara ejekan yang mengulang-ulang: "Al-Ash bin Hisyam adalah budak Abu Lahab bin Abdul Muthalib.. Al-Ash budak Abu Lahab". Dia berharap bisa membungkam jeritan pahit yang melukainya itu, atau mencekik dirinya sendiri. Ejekan itu kembali menggema di dadanya: "Dirimu?! Itu sudah bukan milikmu lagi, sejak malam ini ia telah menjadi milik Abu Lahab, jika dia mau dia bisa mencabut nyawanya dan jika dia mau dia bisa membebaskannya."
وَكَرِهَ أَبُو لَهَبٍ أَنْ يَسْتَرِقَّهُ فَتَغْضَبَ بَنُو مَخْزُومٍ ، فَمَشَى إِلَى أَبِيهِ وَقَالَ لَهُ :
— افْتِدِهِ مِنِّي بِعَشْرٍ مِنَ الْإِبِلِ .
Abu Lahab tidak suka memperbudaknya sehingga Bani Makhzum akan murka, maka dia berjalan menemui ayahnya dan berkata kepadanya:
— Tebuslah dia dariku dengan sepuluh ekor unta.
فَظَهَرَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِ هِشَامٍ وَأَبَى أَنْ يَفْتَدِيَهُ ، فَمَشَى أَبُو لَهَبٍ إِلَى أَعْمَامِهِ وَإِلَى جَدَّتِهِ أَسْمَاءَ بِنْتِ مَخْرَمَةَ وَقَالَ لَهُمْ :
— افْتِدُوهُ مِنِّي بِعَشْرٍ مِنَ الْإِبِلِ .
Maka kemarahan nampak di wajah Hisyam dan dia menolak untuk menebusnya. Abu Lahab berjalan menemui paman-pamannya dan neneknya Asma binti Makhramah dan berkata kepada mereka:
— Tebuslah dia dariku dengan sepuluh ekor unta.
فَقَالُوا :
— لَا وَاللهِ وَلَا بِوَبَرَةٍ .
Mereka berkata:
— Tidak, demi Allah, bahkan (tidak akan kami bayar) sehelai bulu pun.
وَأَبَتْ بَنُو مَخْزُومٍ أَنْ تَفْتَدِيَ ابْنَهَا الْمَاجِنَ الْآبِقَ بِعَشْرٍ مِنَ الْإِبِلِ ، وَلَمَّا كَانَ قَلْبُ أَبِي لَهَبٍ قَدْ قُدَّ مِنْ فُولَاذٍ وَإِنْ كَانَ جَمِيلَ الْخِلْقَةِ ، فَقَدِ اسْتَرَقَّهُ وَأَجْلَسَهُ حَدَّادًا يَعْمَلُ عَلَى الْحَدِيدِ ، وَأَصْبَحَ الْعَاصِ بْنُ هِشَامٍ مَوْلَى أَبِي لَهَبِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
Bani Makhzum menolak untuk menebus putra mereka yang bejat dan melarikan diri itu dengan sepuluh ekor unta. Dan karena hati Abu Lahab terbuat dari baja, meskipun dia berpenampilan rupawan, maka dia memperbudaknya dan mendudukkannya sebagai tukang besi yang bekerja menempa besi, dan jadilah Al-Ash bin Hisyam budak Abu Lahab bin Abdul Muthalib.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi