BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 5

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Antara Harga Diri dan Takdir: Saat Sang Al-Amin Membasuh Mekkah dengan Kejujuran

Ketika kehormatan dipertaruhkan, Muhammad SAW memilih jalan kemuliaan. Sebuah pelajaran bahwa rezeki yang berkah tidak pernah diraih dengan mengorbankan integritas dan martabat diri.

عَادَ مُحَمَّدٌ مِنْ عُزْلَتِهِ إِلَى الْحَرَمِ بَعْدَ أَنْ فَكَّرَ فِي الذَّاتِ الْعُلْيَا فَازْدَادَ النُّورُ الْعَقْلِيُّ فِيهِ تَأَلُّقًا وَسَمَتْ حُرِّيَّةُ عَقْلِهِ وَكَمُلَتْ إِرَادَتُهُ ، بَيْنَا تَقَيَّدَتْ حُرِّيَّةُ جَسَدِهِ فَنَأَى بِذَاتِهِ عَنِ التَّرَدِّي فِي خَطَايَا قَوْمِهِ ، فَالْخَطِيئَةُ جَهْلٌ وَعَدَمُ اكْتِرَاثٍ ، وَقَدْ أَشْرَقَ وَجْهُهُ بِنُورِ الْعِلْمِ وَتَحَلَّى بِإِرَادَةٍ حُرَّةٍ مُبْدِعَةٍ جَعَلَتْهُ يَهْتَمُّ بِالْوُجُودِ وَيَعْتَقِدُ اعْتِقَادًا رَاسِخًا بِإِمْكَانِ النُّهُوضِ بِقَوْمِهِ بَلْ بِالْبَشَرِيَّةِ كُلِّهَا .
Muhammad kembali dari uzlahnya ke Tanah Haram setelah merenungkan tentang Zat Yang Maha Tinggi, maka cahaya intelektual di dalam dirinya semakin bersinar, kebebasan akalnya semakin luhur, dan kehendaknya menjadi sempurna, sementara kebebasan fisiknya terbatasi sehingga dia menjauhkan dirinya dari terperosok ke dalam kesalahan-kesalahan kaumnya. Sebab, kesalahan adalah kebodohan dan ketidakpedulian. Wajahnya telah memancarkan cahaya ilmu dan dihiasi dengan kehendak bebas yang kreatif yang membuatnya peduli terhadap eksistensi serta meyakini dengan keyakinan yang kokoh akan kemungkinan membangkitkan kaumnya, bahkan seluruh umat manusia.
سَلَّحَتْهُ عُزْلَتُهُ وَتَأَمُّلُهُ فِي الْكَوْنِ وَمُحَاوَلَةُ اتِّصَالِ رُوحِهِ بِرُوحِ الْوُجُودِ الدَّائِمَةِ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، فَاشْتُهِرَ بَيْنَ قَوْمِهِ بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ وَالسُّمُوِّ عَنْ مَوَاطِنِ الزَّلَلِ حَتَّى عُرِفَ بِالْأَمِينِ ، فَإِذَا أَقْبَلَ عَلَى قَوْمٍ قَالُوا : جَاءَ الْأَمِينُ . وَإِذَا أَدْبَرَ قَالُوا : ذَهَبَ الْأَمِينُ . وَإِذَا فَعَلَ شَيْئًا قَالُوا : فَعَلَ الْأَمِينُ ، وَكَانَ يُقَابِلُ النَّاسَ بِوَجْهِ مُنْطَلِقٍ فَأَحَبَّ قَوْمُهُ فِيهِ تِلْكَ الْبَشَاشَةَ وَفَتَحُوا لَهُ قُلُوبَهُمْ .
Uzlah dan perenungannya tentang alam semesta serta upaya mendekatkan jiwanya dengan ruh eksistensi yang abadi telah membekalinya dengan kemuliaan akhlak, sehingga dia terkenal di antara kaumnya dengan kejujuran, amanah, dan keluhuran dari tempat-tempat kesalahan hingga dia dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Jika dia datang menemui suatu kaum, mereka berkata: "Telah datang Al-Amin." Jika dia pergi, mereka berkata: "Al-Amin telah pergi." Dan jika dia melakukan sesuatu, mereka berkata: "Al-Amin telah melakukannya." Dia selalu menghadapi manusia dengan wajah yang berseri-seri, sehingga kaumnya mencintai keramahan itu pada dirinya dan mereka membuka hati mereka untuknya.
إِنَّهُ فُطِرَ عَلَى النُّزُوعِ إِلَى الِانْدِمَاجِ فِي اللهِ ، إِلَى رَغْبَةٍ فِي الْخُلُودِ ، فَلَيْسَ أَمَامَهُ إِلَّا سَبِيلٌ وَاحِدَةٌ هِيَ السَّيْرُ فِي الطَّرِيقِ الْمُؤَدِّي إِلَى اللهِ . وَإِنَّ مَا يُشَجِّعُهُ عَلَى تَحَمُّلِ مَا فِي ذَلِكَ الطَّرِيقِ مِنْ مَشَاقَّ وَأَلَمٍ وَحِرْمَانٍ أَنَّهُ أَصْبَحَ يَسْتَشْعِرُ أَنَّ الْعِنَايَةَ الْإِلَهِيَّةَ تَرْعَاهُ ، وَأَنَّهَا تَأْخُذُ بِيَدِهِ إِلَى أَعْتَابِ الْأَسْرَارِ ، وَأَنَّهَا بِلُطْفِهَا سَتَكْشِفُ لَهُ عَنْ جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ وَقُدْرَةِ اللهِ الْمُطْلَقَةِ .
Sesungguhnya dia diciptakan dengan kecenderungan alami untuk menyatu dalam kedekatan kepada Allah, menuju keinginan pada keabadian, maka tidak ada di hadapannya kecuali satu jalan, yaitu berjalan di atas jalan yang mengantarkan kepada Allah. Dan sesungguhnya apa yang mendorongnya untuk menanggung segala kesulitan, rasa sakit, dan kefakiran di jalan tersebut adalah karena dia mulai merasakan bahwa pemeliharaan Ilahi senantiasa menjaganya, menuntun tangannya menuju ambang pintu rahasia-rahasia, dan dengan kelembutan-Nya akan menyingkapkan kepadanya hakikat kebenaran serta kekuasaan Allah yang mutlak.
كَانَتْ أَيَّامُهُ كُلُّهَا صِرَاعًا بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ . جِهَادًا لِسَيْطَرَةِ الْعَقْلِ عَلَى الْمَادَّةِ ، وَفَتْحِ نَوَافِذِ النَّفْسِ لِأَنْوَارِ الْيَقِينِ ، وَقَدْ تَحَقَّقَ لَهُ مَا أَرَادَ لَهُ اللهُ ، فَقَدِ ارْتَفَعَتْ رُوحُهُ عَلَى جَسَدِهِ ، وَفَتَحَتْ نَوَافِذَ نَفْسِهِ لِأَنْوَارِ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ ، وَصَارَتْ هُنَاكَ صِلَةٌ بَاطِنِيَّةٌ عَمِيقَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَنْ يَنْدَمِجَ فِي دُنْيَا النَّاسِ يُمَارِسُ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ وَيَرْصُدُ عَنْ كَثَبٍ مَا فِي الْبَشَرِ مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ وَيَعِدُّ خَيْرَ إِعْدَادٍ لِلنُّهُوضِ بِرِسَالَةِ السَّمَاءِ ، فَجَعَلَ الْحَقَّ يُمَهِّدُ لَهُ الدَّوَاعِيَ وَالْبَوَاعِثَ وَالصَّوَارِفَ لِتَتَحَقَّقَ إِرَادَةُ اللهِ وَمَشِيئَتُهُ .
Hari-harinya seluruhnya merupakan pergulatan antara ruh dan jasad. Sebuah perjuangan demi dominasi akal atas materi, dan membuka jendela-jendela jiwa bagi cahaya keyakinan. Apa yang Allah kehendaki baginya pun telah terwujud; ruhnya telah mengatasi jasadnya, jendela jiwanya telah terbuka bagi cahaya ilmu dan hikmah, serta terjalin hubungan batin yang mendalam antara dirinya dan Tuhannya. Kini tidak ada yang tersisa kecuali membaur di dunia manusia, menjalankan aktivitas jual beli, mengamati dari dekat kebaikan dan keburukan yang ada pada manusia, serta mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengemban risalah langit. Maka Al-Haq (Allah) mulai mempermudah bagi dirinya segala sebab, pendorong, dan pengarah demi terwujudnya iradah dan masyiah Allah.
وَانْتَهَى مِنْ طَوَافِهِ فَغَادَرَ الْكَعْبَةَ قَاصِدًا بَيْتَ عَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ ، فَقَدْ شَبَّ فِي ذَلِكَ الْبَيْتِ الْكَرِيمِ مَعَ أَبْنَاءِ عَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَجَعْفَرٍ وَعَقِيلٍ ، وَكَانَ عَمُّهُ يُفَضِّلُهُ عَلَى بَنِيهِ وَيُحِسُّ فِي أَعْمَاقِهِ أَنْ سَيَكُونُ لِابْنِ أَخِيهِ شَأْنٌ عَظِيمٌ ، وَقَدْ سَمِعَ أَبُو طَالِبٍ مَا بَشَّرَ بِهِ الْكُهَّانُ وَالْعَرَّافُونَ مِنْ نُبُوءَةِ مُحَمَّدٍ ، وَلَكِنَّ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يُؤْمِنُ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّ اللهَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يَبْعَثَ بَشَرًا رَسُولًا ، فَكَانَ يُعْرِضُ عَنْ فِكْرَةِ النُّبُوءَةِ وَيَرَى ابْنَ عَبْدِ اللهِ بِعَيْنِ خَيَالِهِ سَيِّدًا فِي قَوْمِهِ كَجَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَإِذَا مَا شَطَحَ بِهِ الْخَيَالُ يَرَاهُ كَقُصَيٍّ وَقَدْ جَمَعَ فِي يَدِهِ السِّقَايَةَ وَالرِّفَادَةَ وَالْحِجَابَةَ وَالسِّدَانَةَ وَالنَّدْوَةَ وَالْمَشُورَةَ وَاللِّوَاءَ وَالسِّفَارَةَ وَالْأَيْسَارَ ، وَكُلَّ مَا فِي بُيُوتِ قُرَيْشٍ مِنْ شَرَفٍ .
Dia telah menyelesaikan tawafnya lalu meninggalkan Ka'bah menuju rumah pamannya, Abu Thalib. Dia tumbuh besar di dalam rumah yang mulia tersebut bersama sepupu-sepupunya: Ali, Ja'far, dan Aqil. Pamannya selalu mengutamakannya melebihi anak-anaknya sendiri dan merasakan di lubuk hatinya bahwa keponakannya ini kelak akan memiliki kedudukan yang agung. Abu Thalib telah mendengar apa yang dikabarkan gembira oleh para dukun dan peramal mengenai kenabian Muhammad, namun Abu Thalib meyakini dalam hatinya bahwa Allah Maha Agung daripada mengutus seorang manusia sebagai rasul. Karena itu, dia berpaling dari ide kenabian dan melihat putra Abdullah itu dengan mata imajinasinya sebagai seorang pemimpin di kalangan kaumnya seperti kakeknya, Abdul Muthalib. Dan jika imajinasinya melambung tinggi, dia melihatnya seperti Qushay yang telah mengumpulkan di tangannya otoritas siqayah, rifadah, hijabah, sidanah, nadwah, masyurah, liwa', sifarah, dan aysar, serta segala bentuk kemuliaan yang ada di rumah-rumah Quraisy.
وَكَانَتِ ابْتِسَامَةٌ سَاخِرَةٌ تَرِفُّ عَلَى شَفَتَيْهِ كُلَّمَا فَكَّرَ فِي أَنَّ الْأَيْسَارَ قَدْ تُصْبِحُ يَوْمًا فِي يَدِ ابْنِ أَخِيهِ ، فَقَدِ اشْتُهِرَ عَنْ مُحَمَّدٍ إِعْرَاضُهُ عَنِ الْأَزْلَامِ وَالْقِدَاحِ وَكَرَاهِيَتُهُ الشَّدِيدَةُ لِلْمَيْسِرِ ، وَكَانَتْ تِلْكَ الِابْتِسَامَةُ تَزْدَادُ اتِّسَاعًا إِذَا خَطَرَ عَلَى ذِهْنِهِ أَنَّ الْأَمْوَالَ الْمُحْتَجَزَةَ قَدْ تَنْتَقِلُ يَوْمًا إِلَى مُحَمَّدٍ ، فَتِلْكَ الْأَمْوَالُ كَانَتْ لِلْآلِهَةِ يُصْرَفُ بَعْضُهَا فِي شِرَاءِ الْقَرَابِينِ لِلْأَرْبَابِ وَيُنْفَقُ بَعْضُهَا فِي صِيَانَةِ الْأَصْنَامِ أَوْ جَلْبِ أَصْنَامٍ أُخَرَ أَوْ عِمَارَةِ الْبَيْتِ ، وَقَدْ عُرِفَ عَنْ مُحَمَّدٍ مَقْتُهُ لِلْأَصْنَامِ قَوْمِهِ وَبُغْضُهُ الشَّدِيدُ لَهَا .
Sebuah senyuman satir bergetar di kedua bibirnya setiap kali dia berpikir bahwa urusan aysar (perjudian nasib) suatu hari nanti bisa berada di tangan keponakannya, karena Muhammad terkenal akan penolakannya terhadap azlam (anak panah peramal) dan qidah serta kebenciannya yang sangat pada perjudian. Senyuman itu semakin melebar jika terlintas di benaknya bahwa harta-harta yang tersimpan di kuil suatu hari nanti bisa beralih kepada Muhammad. Sebab, harta-harta tersebut adalah milik berhala-berhala, yang sebagian dialokasikan untuk membeli kurban bagi tuhan-tuhan dan sebagian lagi dinafkahkan untuk perawatan berhala, mendatangkan berhala baru, atau memakmurkan Ka'bah, padahal Muhammad dikenal sangat muak dan benci setengah mati terhadap berhala-berhala kaumnya.
وَبَلَغَ مُحَمَّدٌ دَارَ عَمِّهِ فَأَلْفَى أَبَا طَالِبٍ وَأُخْتَهُ عَاتِكَةَ بِنْتَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَتَحَدَّثَانِ ، وَكَانَتْ عَاتِكَةُ قَدْ تَزَوَّجَتْ أَبَا أُمَيَّةَ بْنَ الْمُغِيرَةِ فَرَبَطَتِ الْأَسْبَابَ بَيْنِ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي مَخْزُومٍ ، كَمَا شَدَّتْ أُخْتُهَا صَفِيَّةُ الْأَوَاصِرَ بَيْنَ الْهَاشِمِيِّينَ وَبَنِي أَسَدٍ لَمَّا تَزَوَّجَتِ الْعَوَّامَ بْنَ خُوَيْلِدٍ أَخَا خَدِيجَةَ ، وَكَانَ لِعَاتِكَةَ ابْنَانِ فِي مِثْلِ سِنِّ مُحَمَّدٍ سَمَّتْ أَحَدَهُمَا عَبْدَ اللهِ وَالْآخَرَ زُهَيْرًا ، وَكَانَا يُحِبَّانِ ابْنَ خَالِهِمَا حُبًّا شَدِيدًا ، فَمَا جَاءَ مُحَمَّدٌ بَعْدُ بِمَا يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ الْأَبِ وَالِابْنِ وَالزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ وَمَا يُثِيرُ حَفِيظَةَ مَنْ أَحَبُّوهُ .
Muhammad sampai di rumah pamannya, lalu mendapati Abu Thalib dan saudarinya, Atikah binti Abdul Muthalib, sedang berbincang-bincang. Atikah telah menikah dengan Abu Umayyah bin Al-Mughirah sehingga menjalin hubungan kekerabatan antara Bani Hasyim dan Bani Makhzum, sebagaimana saudarinya, Shafiyyah, mempererat ikatan antara keluarga Hasyimiyah dan Bani Asad ketika menikah dengan Al-Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Khadijah. Atikah memiliki dua orang putra yang seumuran dengan Muhammad, dia menamai salah satunya Abdullah dan yang lainnya Zuhair, dan keduanya sangat mencintai sepupu mereka itu. Pada masa itu, Muhammad belum membawa sesuatu yang dapat memisahkan antara ayah dan anak, atau suami dan istri, serta belum membawa apa yang dapat memicu kemarahan orang-orang yang mencintainya.
وَأَلْقَى مُحَمَّدٌ عَلَى عَمِّهِ وَعَمَّتِهِ تَحِيَّةَ الصَّبَاحِ ، وَمَا كَادَ يَسْتَقِرُّ إِلَى جِوَارِهِمَا حَتَّى الْتَفَتَ إِلَيْهِ أَبُو طَالِبٍ وَقَالَ :
Muhammad mengucapkan salam pagi kepada paman dan bibinya, dan baru saja dia duduk di dekat keduanya, Abu Thalib menoleh kepadanya dan berkata:
— أَنَا رَجُلٌ لَا مَالَ لِي وَقَدِ اشْتَدَّ الزَّمَانُ وَأَلَحَّتْ عَلَيْنَا سِنُونَ مُنْكَرَةٌ وَلَيْسَ لَنَا مَادَّةٌ وَلَا تِجَارَةٌ ، وَهَذِهِ عِيرُ قَوْمِكَ قَدْ حَضَرَ خُرُوجُهَا إِلَى الشَّامِ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ تَبْعَثُ رِجَالًا مِنْ قَوْمِكِ فِي عِيرِهَا فَيَتَّجِرُونَ لَهَا فِي مَالِهَا فَيُصِيبُونَ مَنَافِعَ ، فَلَوْ جِئْتَهَا فَعَرَضْتَ نَفْسَكَ عَلَيْهَا لَأَسْرَعَتْ إِلَيْكَ وَفَضَّلَتْكَ عَلَى غَيْرِكَ لِمَا يَبْلُغُهَا عَنْكَ مِنْ طَهَارَتِكَ .
— Aku adalah seorang lelaki yang tidak memiliki harta, waktu makin sukar, dan tahun-tahun yang sulit telah mendesak kita, sementara kita tidak memiliki bekal modal maupun perdagangan. Ini kafilah dagang kaummu telah tiba saat keberangkatannya menuju Syam, dan Khadijah binti Khuwailid biasanya mengutus beberapa lelaki dari kaummu dalam kafilahnya untuk memperdagangkan hartanya, lalu mereka memperoleh keuntungan. Seandainya kamu mendatangi dan menawarkan dirimu kepadanya, niscaya dia akan segera menerimamu dan mengutamakanku daripada yang lain karena kabar yang sampai kepadanya tentang kesucian dirimu.
فَقَالَ مُحَمَّدٌ فِي اقْتِضَابٍ :
Maka Muhammad menjawab dengan singkat:
— فَلَعَلَّهَا أَنْ تُرْسِلَ إِلَيَّ فِي ذَلِكَ .
— Kemungkinan dialah yang akan mengirim utusan kepadaku untuk urusan itu.
وَفَطِنَتْ عَاتِكَةُ إِلَى أَنَّ مُحَمَّدًا تَأْبَى أَنَفَتُهُ أَنْ يَعْرِضَ نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ حَتَّى لَوْ كَانَتْ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ الَّتِي يَهْرَعُ إِلَيْهَا الرِّجَالُ لِيَكُونَ لَهُمْ شَرَفُ الِاتِّجَارِ لَهَا فِي مَالِهَا ، وَالْتَفَتَتْ إِلَى أَخِيهَا وَقَدْ أَلْقَتْ إِلَيْهِ سَمْعَهَا لِتَنْظُرَ مَا يَقُولُ أَبُو طَالِبٍ :
Atikah memahami bahwa harga diri Muhammad enggan untuk menawarkan dirinya kepada siapa pun, bahkan meskipun itu Khadijah binti Khuwailid, wanita yang mana para lelaki bergegas menemuinya agar mendapatkan kehormatan memperdagangkan hartanya. Atikah pun menoleh kepada saudara laki-lakinya dan memasang telinganya dengan saksama untuk melihat apa yang akan dikatakan oleh Abu Thalib:
— إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَوَلَّى غَيْرَكَ فَتَطْلُبَ أَمْرًا مُدْبِرًا .
— Sesungguhnya aku khawatir dia akan mempekerjakan orang lain selainmu, sehingga kamu nanti mencari peluang yang sudah berlalu.
فَأَطْرَقَ مُحَمَّدٌ وَلَمْ يَنْبِسْ بِكَلِمَةٍ ثُمَّ دَارَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَانْصَرَفَ ، وَعَاتِكَةُ تَرْقُبُهُ فِي إِكْبَارٍ فَقَدْ أَرْضَى كِبْرِيَاءَهَا أَنَّ ابْنَ أَخِيهَا لَا يُرِيقُ مَاءَ وَجْهِهِ فِي الطَّلَبِ ، إِنَّهُ عُرِفَ فِي مَكَّةَ كُلِّهَا بِالْأَمِينِ ، أَتَجِدُ خَدِيجَةُ خَيْرًا مِنْهُ لِتَضَعَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَمْوَالَهَا ؟ وَلَكِنْ مَنْ أَدْرَى خَدِيجَةَ أَنَّ مُحَمَّدًا يَطْلُبُ عَمَلًا ؟ إِنْ كَانَ مُحَمَّدٌ يَجِدُ حَرَجًا فِي أَنْ يُفَاتِحَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ فَأَيُّ حَرَجٍ فِي أَنْ تَذْهَبَ هِيَ إِلَى خَدِيجَةَ وَتَقُصَّ عَلَيْهَا مَا دَارَ بَيْنَ أَبِي طَالِبٍ وَابْنِ أَخِيهِ ؟
Maka Muhammad menundukkan kepala dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, kemudian dia berbalik arah lalu pergi. Atikah memandangnya dengan penuh rasa takjub, karena harga dirinya merasa puas bahwa keponakannya tidak menjatuhkan kehormatan dirinya dalam meminta pekerjaan. Dia telah dikenal di seluruh Mekkah sebagai Al-Amin; akankah Khadijah menemukan orang yang lebih baik darinya untuk diserahi harta kekayaannya? Namun, siapa yang memberi tahu Khadijah bahwa Muhammad sedang mencari pekerjaan? Jika Muhammad merasa sungkan untuk memulai pembicaraan dengan putri Khuwailid dalam urusan ini, maka rintangan apa yang menghalangi dirinya (Atikah) untuk pergi menemui Khadijah dan menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi antara Abu Thalib dan keponakannya?
وَنَهَضَتْ عَاتِكَةُ وَانْصَرَفَتْ مِنْ دَارِ أَبِي طَالِبٍ وَقَدِ اتَّخَذَتْ سَمْتَهَا إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ ، فَلَمَّا جَلَسَتْ إِلَيْهَا رَاحَتْ تَقُصُّ عَلَيْهَا مَا دَارَ بَيْنَ أَبِي طَالِبٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَهِيَ تَرْنُو إِلَيْهَا فِي إِعْجَابٍ ، فَقَدْ رُزِقَتْ خَدِيجَةُ صَبَاحَةَ الْوَجْهِ وَخَلْقًا جَمِيلًا يَأْخُذُ بِالْأَلْبَابِ ، وَمَا انْتَهَتْ عَاتِكَةُ مِنْ حَدِيثِهَا حَتَّى قَالَتْ خَدِيجَةُ فِي صَوْتٍ صَادِقٍ :
Atikah pun bangkit dan pergi dari rumah Abu Thalib, lalu melangkah langsung menuju rumah Khadijah. Ketika dia telah duduk bersamanya, dia mulai menceritakan apa yang terjadi antara Abu Thalib dan Muhammad bin Abdullah sambil memandangnya dengan penuh kekaguman. Khadijah memang dianugerahi wajah yang cerah berseri serta perangai elok yang memikat hati. Belum sempat Atikah menyelesaikan ceritanya, Khadijah berkata dengan suara yang tulus:
— مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُرِيدُ هَذَا .
— Aku tidak tahu kalau dia menginginkan hal ini.
كَانَتْ خَدِيجَةُ تَعْرِفُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقَّ الْمَعْرِفَةِ فَخَمْتُهُ صَفِيَّةُ زَوْجَةُ أَخِيهَا الْعَوَّامِ ، وَقَدْ تَرَامَتْ إِلَيْهَا سِيرَتُهُ الْعَطِرَةُ فَوَدَّتْ لَوْ أَنَّهُ عَمِلَ لَهَا ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ تَعْتَقِدُ أَنَّ فِي تِجَارَةِ بَنِي هَاشِمٍ مُتَّسَعًا لَهُ ، وَمَا دَرَتْ أَنَّ كَثْرَةَ الْعِيَالِ قَدْ ذَهَبَتْ بِتِجَارَةِ أَبِي طَالِبٍ ، وَأَنَّ أَبَا لَهَبٍ قَدْ أَعْرَضَ عَنِ التِّجَارَةِ وَانْغَمَسَ فِي اللَّهْوِ وَالشَّرَابِ ، وَأَنَّ حَمْزَةَ قَدْ شُغِلَ بِالْقَنْصِ عَنِ التِّجَارَةِ ، وَأَنَّ الْعَبَّاسَ يُفَضِّلُ أَنْ يُخْرِجَ فِي تِجَارَتِهِ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ رِجَالًا يَتَّجِرُونَ لَهُ فِي مَالِهِ .
Khadijah mengenal Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pengenalan yang sebenar-benarnya melalui penjelasan Shafiyyah, istri saudara laki-lakinya yang bernama Al-Awwam. Rekam jejaknya yang harum telah sampai kepadanya, sehingga dia sangat berharap andai saja dia sudi bekerja untuknya. Namun, selama ini dia mengira bahwa dalam perdagangan Bani Hasyim terdapat ruang yang cukup luas baginya, dan dia tidak mengetahui bahwa banyaknya tanggungan keluarga telah menghabiskan modal dagang Abu Thalib, sedangkan Abu Lahab telah berpaling dari dagang lalu tenggelam dalam kesenangan dan khamar, sementara Hamzah disibukkan oleh berburu daripada berdagang, dan Al-Abbas lebih suka mengelola sendiri perdagangannya daripada mengutus orang lain untuk memperdagangkan hartanya.
وَأَرْسَلَتْ خَدِيجَةُ إِلَى الْأَمِينِ فَمَشَى إِلَيْهَا يَتَقَلَّعُ كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ ، ذَرِيعَ الْخُطْوَةِ ، سَائِلَ الْأَطْرَافِ ، حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَ دَارَهَا هَبَطَ بِضْعَ دَرَجَاتٍ ثُمَّ سَارَ خَلْفَ إِحْدَى إِمَائِهَا حَتَّى دَخَلَ مَكَانَ الضِّيَافَةِ . كَانَتِ الْغُرْفَةُ مُسْتَطِيلَةً قَدْ وُضِعَتْ فِيهَا أَرَائِكُ غُطِّيَتْ بِطَنَافِسَ فَاخِرَةٍ وَقَدْ زُيِّنَتْ بِطُرَفٍ جُلِبَتْ مِنْ أَسْوَاقِ بُصْرَى وَأَسْوَاقِ مَكَّةَ وَأَسْوَاقِ الْيَمَنِ ، كَانَ الْمَكَانُ يَنُمُّ عَنْ غِنَى صَاحِبَتِهِ وَرَفِيعِ ذَوْقِهَا .
Khadijah pun mengirim utusan kepada Al-Amin, maka dia berjalan menemuinya dengan langkah yang mantap lagi cepat seolah-olah sedang turun dari tempat yang tinggi, langkahnya lebar, fisiknya proporsional, hingga ketika sampai di rumahnya, dia menuruni beberapa anak tangga kemudian berjalan di belakang salah seorang budak wanita Khadijah sampai memasuki ruang penerimaan tamu. Ruangan itu berbentuk persegi panjang, di dalamnya diletakkan sofa-sofa yang dilapisi permadani mewah dan dihiasi barang-barang antik yang didatangkan dari pasar Busra, pasar Mekkah, dan pasar Yaman. Tempat itu menunjukkan kekayaan pemiliknya serta seleranya yang tinggi.
وَسَادَ السُّكُونُ بُرْهَةً ثُمَّ مَزَّقَ غِلَالَتَهُ وَقْعُ أَقْدَامٍ مُتَّئِدَةٍ قَادِمَةٍ ، إِنَّهَا خَدِيجَةُ وَلَا رَيْبَ قَدْ أَقْبَلَتْ عَلَى الرَّجُلِ الْأُمِّيِّ الَّذِي كَرِهَ أَنْ يَعْرِضَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا وَانْتَظَرَ حَتَّى أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ ، وَفُتِحَ الْبَابُ وَمَسَّ أُذُنَيْهِ صَوْتٌ رَقِيقٌ وَهِيَ تُلْقِي عَلَيْهِ التَّحِيَّةَ ، فَرَدَّ عَلَيْهَا التَّحِيَّةَ فِي هُدُوءٍ وَقَدْ غَضَّ الطَّرْفَ .
Keheningan menguasai sesaat, lalu tirainya terkoyak oleh suara ketukan langkah kaki perlahan yang datang mendekat. Dialah Khadijah, tanpa keraguan, telah datang menemui pria ummi yang enggan menawarkan dirinya dan menunggu sampai diutus perwakilan kepadanya. Pintu pun terbuka, dan menyentuh kedua telinganya sebuah suara yang lembut saat dia mengucapkan salam kepadanya, maka dia menjawab salam tersebut dalam ketenangan seraya menundukkan pandangannya.
وَجَلَسَتْ خَدِيجَةُ تُحَادِثُهُ ، كَانَ فَتًى فِي الْخَامِسَةِ وَالْعِشْرِينَ بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ غَزِيرَ الشَّعْرِ تَلْمَسُ جُمَّتَهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ ، شَثْنَ الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ ضَخْمَ الْكَرَادِيسِ — أَيْ مُلْتَقَى الْعِظَامِ — أَدْعَجَ الْعَيْنَيْنِ أَهْدَبَ الْأَشْفَارِ ، وَكَانَتْ خَدِيجَةُ فِي السَّابِعَةِ وَالْعِشْرِينَ وَضَاءَةً يَشِعُّ مِنْ عَيْنَيْهَا بَرِيقُ الْفِطْنَةِ وَالذَّكَاءِ بِبَصِيرَتِهَا النَّافِذَةِ . وَكَانَتْ أَحْكَامُهَا عَلَى النَّاسِ أَقْرَبَ إِلَى الْإِلْهَامِ .
Khadijah pun duduk mengajaknya berbincang. Dia adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, berbahu bidang, berambut lebat yang ujungnya menyentuh cuping telinganya, telapak tangan dan kakinya kuat, persendian tulang-tulangnya besar, matanya hitam pekat dengan bulu mata yang lentik. Sementara Khadijah berusia dua puluh tujuh tahun, anggun memesona, memancarkan binar kecerdasan dan kepintaran dari kedua matanya berkat basirah (pandangan batin) yang tajam. Penilaiannya terhadap orang-orang bahkan mendekati ilham.
وَطَالَ الْحَدِيثُ بَيْنَهُمَا ، إِنَّهُ ضَلِيعُ الْفَمِ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ مُفَسَّرٍ ، إِذَا أَشَارَ أَشَارَ بِكَفِّهِ كُلِّهَا وَإِذَا تَعَجَّبَ قَلَبَهَا وَإِذَا تَحَدَّثَ صَحِبَ كَلَامَهُ بِمَا يُوَافِقُهُ مِنْ حَرَكَتِهَا ، وَإِذَا فَرِحَ غَضَّ طَرْفَهُ ، جَلُّ ضِحْكِهِ التَّبَسُّمُ ، لَيْسَ بِصَخَّابٍ وَلَا يَرْتَفِعُ لَهُ صَوْتٌ ، مَنْطِقُهُ سَلِيمٌ وَخُلُقُهُ قَوِيمٌ .
Percakapan di antara keduanya pun berlangsung lama. Dia adalah seorang yang fasih perkataannya, berbicara dengan ucapan yang jelas, tegas, dan terperinci. Apabila berisyarat, dia berisyarat dengan seluruh telapak tangannya; apabila heran, dia membaliknya; dan apabila berbicara, dia menyertai ucapannya dengan gerakan tubuh yang selaras. Jika gembira, dia menundukkan pandangannya, tawa utamanya adalah tersenyum, bukan seorang yang gaduh dan tidak meninggi suaranya, tutur katanya lurus dan akhlaknya teguh.
كَانَ مُحَمَّدٌ جَمِيلَ الْخِلْقَةِ جَمِيلَ النَّفْسِ فَاسْتَشْعَرَتْ خَدِيجَةُ بِرُوحِهَا تَنْجَذِبُ إِلَيْهِ ، وَأَحَسَّتْ أَنَّهَا تَتَحَدَّثُ إِلَى شَخْصِيَّةٍ فَذَّةٍ تَخْتَلِفُ كُلَّ الِاخْتِلَافِ عَنْ كُلِّ مَنْ عَرَفَتْ مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهَا وَأَشْرَافِهِمْ ، فَهُوَ نَسِيجٌ وَحْدَهُ لَا يَسَعُ الْمَرْءَ إِلَّا أَنْ يُعْجَبَ بِهِ وَتَنْبَهِرَ لِجَلَالِهِ ذَاتُهُ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ . وَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ فِيمَا قَالَتْ :
Muhammad adalah seorang yang tampan rupa fisiknya sekaligus indah jiwanya, maka Khadijah merasakan jiwanya tertarik kepadanya, dan dia merasa sedang berbicara dengan kepribadian luar biasa yang sama sekali berbeda dari semua pemimpin dan bangsawan kaumnya yang pernah dia kenal. Dia tiada bandingnya, membuat seseorang tidak bisa tidak mengaguminya dan terpesona oleh keagungan dirinya sejak pandangan pertama. Khadijah pun berkata kepadanya di antara baris kalimatnya:
— إِنِّي دَعَانِي إِلَى الْبَعْثَةِ إِلَيْكَ مَا بَلَغَنِي مِنْ صِدْقِ حَدِيثِكَ وَعِظَمِ أَمَانَتِكَ وَكَرَمِ أَخْلَاقِكَ ، وَأَنَا أُعْطِيكَ ضِعْفَ مَا أُعْطِي رَجُلًا مِنْ قَوْمِكَ .
— Sesungguhnya yang mendorongku untuk mengirim utusan kepadamu adalah apa yang telah sampai kepadaku mengenai kejujuran ucapanmu, agungnya amanahmu, dan kemuliaan akhlakmu, dan aku akan memberimu upah dua kali lipat dari apa yang biasa aku berikan kepada seorang lelaki dari kaummu.
وَانْصَرَفَ مُحَمَّدٌ وَخَدِيجَةُ مَأْخُوذَةٌ بِقُوَّةِ شَخْصِيَّتِهِ ، يَرِنُّ فِي أُذُنَيْهَا صَوْتُهُ عَذْبًا حَازِمًا فِيهِ سِحْرٌ ، فَحَدِيثُهُ يَنْسَكِبُ مِنَ الْأُذُنِ إِلَى الْقَلْبِ وَيَتَغَلْغَلُ فِي أَغْوَارِ النَّفْسِ وَيُشِيعُ فِيهَا ثِقَةً وَطُمَأْنِينَةً وَسَلَامًا . إِنَّهُ لَمْ يَمْلَأْ عَيْنَيْهِ مِنْهَا ، كَانَ يَطْرُقُ وَهُوَ يُحَدِّثُهَا ، وَكَانَ كَيِّسًا فِي كُلِّ تَصَرُّفَاتِهِ يَسْتَأْذِنُ إِذَا دَخَلَ وَيَسْتَأْذِنُ إِذَا هَمَّ بِالِانْصِرَافِ ، يَتَحَدَّثُ فِي تَوَاضُعِ الْوَاثِقِ دُونَ تَكَلُّفٍ أَوْ حَذْلَقَةٍ بَلْ يُطْلِقُ نَفْسَهُ عَلَى سَجِيَّتِهَا ، وَإِنَّ نَفْسَهُ حُلْوَةٌ تَشْرَحُ الصُّدُورَ وَتَفْتَحُ مَغَالِيقَ الْأَفْئِدَةِ .
Muhammad pun pergi sementara Khadijah terpikat oleh kekuatan kepribadiannya, suaranya yang merdu namun tegas lagi mengandung magnitudo pesona terngiang di kedua telinganya, perkataannya mengalir dari telinga langsung ke dalam hati, meresap ke dalam lubuk jiwa serta menyebarkan rasa percaya, ketenteraman, dan kedamaian di dalamnya. Dia sama sekali tidak mengarahkan pandangan penuh kepadanya, dia selalu menunduk saat berbicara dengannya, dan dia sangat santun dalam setiap perilakunya; meminta izin ketika masuk dan meminta izin pula ketika hendak pergi, berbicara dalam kerendahan hati seorang yang percaya diri tanpa dibuat-buat atau berlagak pintar, melainkan membiarkan dirinya mengalir apa adanya, dan sesungguhnya jiwanya begitu indah, melapangkan dada serta membuka gembok-gembok hati.
وَأَحَسَّتْ خَدِيجَةُ سَعَادَةً غَامِرَةً لِذَلِكَ اللِّقَاءِ . وَلَمْ تَكُنْ سَعَادَةَ فَتَاةٍ غَرِيرَةٍ الْتَقَتْ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ بِفَتَى الْأَحْلَامِ ، بَلْ سَعَادَةَ امْرَأَةٍ مُجَرِّبَةٍ بَذَلَ لَهَا سَادَاتُ قَوْمِهَا الْأَمْوَالَ لِتَقْبَلَ أَنْ تَكُونُ لِأَحَدِهِمْ زَوْجَةً ، وَلَكِنَّهَا عَزَفَتْ عَنْهُمْ جَمِيعًا فَلَمْ تَجِدْ فِي كُلِّ مَنْ تَقَدَّمُوا لِخِطْبَتِهَا مَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُحَقِّقَ آمَالَهَا الْكِبَارَ ، وَلَكِنَّهَا وَجَدَتْ فِي ابْنِ عَبْدِ اللهِ شَيْئًا مُشْرِقًا زَاخِرًا بِكُنُوزٍ نَفِيسَةٍ تَفُوقُ كُلَّ كُنُوزِ قُرَيْشٍ وَأَمْوَالِهَا . إِنَّهَا غَنِيَّةٌ وَمَالُهَا مَمْدُودٌ فَلَمْ تَكُنْ فِي حَاجَةٍ إِلَى ثَرِيٍّ مِنْ أَثْرِيَاءِ مَكَّةَ يَكْدِسُ ذَهَبَهُ وَفِضَّتَهُ إِلَى ذَهَبِهَا وَفِضَّتِهَا ، بَلْ كَانَتْ فِي حَاجَةٍ إِلَى رَجُلٍ يَسْمُو عَلَى أَقْرَانِهِ بِكَرَمِ أَخْلَاقِهِ وَحَمِيدِ صِفَاتِهِ ، وَلَقَدْ بَلَغَهَا عَنْ مُحَمَّدٍ صِدْقُ حَدِيثِهِ وَعِظَمُ أَمَانَتِهِ وَلَكِنَّهَا كَشَفَتْ فِي هَذَا اللِّقَاءِ عَنْ مَعْدِنٍ نَفِيسٍ نَادِرٍ هُوَ جَوْهَرُ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ .
Khadijah merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam atas pertemuan tersebut. Kebahagiaan itu bukanlah kebahagiaan seorang gadis belia yang baru pertama kali bertemu dengan pemuda impiannya, melainkan kebahagiaan seorang wanita berpengalaman yang mana para pemimpin kaumnya telah menawarkan tumpukan harta agar dia bersedia menjadi istri salah satu dari mereka, namun dia menolak mereka semua karena tidak menemukan pada diri setiap orang yang melamarnya sosok yang mampu mewujudkan cita-cita besarnya. Akan tetapi, dia menemukan pada diri putra Abdullah sesuatu yang cemerlang, sarat dengan harta karun berharga yang mengungguli seluruh perbendaharaan dan kekayaan Quraisy. Dia adalah wanita kaya yang hartanya melimpah, sehingga dia tidak butuh kepada orang kaya dari hartawan Mekkah untuk menimbun emas dan peraknya di atas emas dan peraknya, melainkan dia butuh kepada seorang pria yang mengungguli rekan-rekannya dengan kemuliaan akhlak dan sifat-sifatnya yang terpuji. Sungguh telah sampai kepadanya tentang Muhammad mengenai kejujuran ucapan dan agungnya amanahnya, namun dalam pertemuan ini dia berhasil menyingkap sebuah logam mulia yang langka, yang merupakan inti dari kemuliaan akhlak.
إِنَّهُ عَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ ، وَرِثَ الْأَرْيَحِيَّةَ عَنْ بَنِي هَاشِمٍ وَارْتَفَعَ فَوْقَ كُلِّ بَنِي هَاشِمٍ ، فَلَطَالَمَا الْتَقَتْ بِأَبِي طَالِبٍ وَالزُّبَيْرِ وَأَبِي لَهَبٍ وَحَمْزَةَ وَآلِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَجْمَعِينَ وَأَحَسَّتْ نَحْوَهُمْ إِكْبَارًا لِجَمِيلِ شَمَائِلِهِمْ ، إِلَّا أَنَّهَا لَمْ تَحُسَّ مِثْلَ تِلْكَ الرَّوْعَةِ الَّتِي غَمَرَتْهَا فِي أَثْنَاءِ ذَلِكَ الْحِوَارِ الَّذِي دَارَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مُحَمَّدٍ ، تِلْكَ الرَّوْعَةِ الَّتِي لَا تَتَلَاشَى وَتَتَبَخَّرُ بَلْ تَتَغَلْغَلُ فِي سُوَيْدَاءِ الْقَلْبِ تَغْرِسُ بُذُورَ الْأَمَلِ . إِنَّهُ عَلَى خُلُقٍ قَوِيمٍ .
Sesungguhnya dia berada di atas akhlak yang agung, mewarisi kelapangan jiwa dari Bani Hasyim dan kedudukannya menjulang tinggi di atas seluruh Bani Hasyim. Padahal dia sudah sering kali bertemu dengan Abu Thalib, Az-Zubair, Abu Lahab, Hamzah, dan seluruh keluarga Abdul Muthalib, serta merasakan kekaguman terhadap keindahan sifat mereka, hanya saja dia belum pernah merasakan pesona luar biasa seperti yang menyelimutinya selama dialog yang berlangsung antara dirinya dan Muhammad; sebuah pesona yang tidak sirna dan menguap, melainkan meresap ke dalam lubuk hati yang paling dalam, menanamkan benih-benih harapan. Sesungguhnya dia berada di atas akhlak yang kokoh lurus.
وَالْتَقَى مُحَمَّدٌ بِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَقَالَ لَهُ مَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَدِيجَةَ دُونَ أَنْ يَتَهَلَّلَ بِالْفَرَحِ ، فَهُوَ لَا يَفْرَحُ بِمَا آتَاهُ وَلَا يَأْسَى عَلَى مَا فَاتَهُ وَإِنْ كَانَ يَسْتَشْعِرُ فِي أَعْمَاقِهِ شُكْرًا لِذَاتِ الذَّوَاتِ ، فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ فِي انْشِرَاحٍ :
Dan Muhammad pun bertemu dengan pamannya, Abu Thalib, lalu menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi antara dirinya dan Khadijah tanpa wajah yang berseri-seri kegirangan. Sebab, dia tidak berlebihan gembira atas apa yang datang kepadanya dan tidak pula berduka atas apa yang luput darinya, walaupun di lubuk hatinya dia merasakan syukur yang mendalam kepada Zat dari segala zat. Maka Abu Thalib berkata dengan penuh kegembiraan:
— إِنَّ هَذَا لَرِزْقٌ سَاقَهُ اللهُ إِلَيْكَ .
— Sesungguhnya ini adalah rezeki yang telah Allah giring kepadamu.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi