BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 6

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Terpikat Sang Al-Amin: Ketika Akhlak Mulia Menaklukkan Hati Khadijah RAH

Saat ketulusan Muhammad bin Abdullah ﷺ memukau pandangan, Khadijah RAH menyadari bahwa kemuliaan akhlak adalah magnet sejati yang jauh lebih berharga dari sekadar materi duniawi.

كَانَتْ خَدِيجَةُ فِي شُرْفَتِهَا تَرْقُبُ رِجَالَهَا وَهُمْ يَضَعُونَ السِّلَعَ عَلَى ظُهُورِ الْجِمَالِ ، فَكَانَتْ تَرَى مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ وَهُوَ يُعَاوِنُ عَبِيدَهَا وَيَرْبُتُ عَلَى الْإِبِلِ فِي حَنَانٍ دَافِقٍ فَتُحِسُّ كَأَنَّمَا رِقَّتُهُ قَدْ أَهَاجَتْ مَكَامِنَ الرِّقَّةِ فِي نَفْسِهَا ، فَإِذَا بِكُنُوزِ فُؤَادِهَا تَنْتَشِرُ فِي جَنَبَاتِهَا فَتَمْلَؤُهَا حُبًّا لِكُلِّ مَا تَمُدُّ إِلَيْهِ عَيْنَيْهَا ، بَلْ لِكُلِّ مَا تَنْبِضُ بِهِ الْحَيَاةُ .
Khadijah berada di balkonnya mengawasi para pekerjanya saat mereka menaikkan barang-barang dagangan ke atas punggung unta. Dia melihat Muhammad bin Abdullah sedang membantu budak-budaknya dan menepuk-nepuk unta dengan kasih sayang yang meluap, hingga dia merasa seolah-olah kelembutan pria itu telah mengusik tempat-tempat persemayaman rasa senada di dalam jiwanya. Tiba-tiba, perbendaharaan hatinya terpencar ke seluruh penjuru sanubari lalu memenuhinya dengan rasa cinta terhadap segala hal yang tertangkap oleh kedua matanya, bahkan terhadap segala sesuatu yang berdenyut dengan kehidupan.
وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَغْدُو وَيَرُوحُ بَيْنَ رِجَالِ الْقَافِلَةِ ، وَعَيْنَا خَدِيجَةَ لَا تُفَارِقَانِهِ فَيَزْدَادُ إِعْجَابُهَا بِذَلِكَ الْفَتَى الَّذِي يَخْرُجُ فِي تِجَارَتِهَا لِأَوَّلِ مَرَّةٍ وَمَعَ ذَلِكَ تَطْغَى شَخْصِيَّتُهُ عَلَى رِجَالِهَا جَمِيعًا ، حَتَّى غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ يَبْدُو إِلَى جِوَارِهِ قَمِيئًا ،
Muhammad mulai berjalan kian kemari di antara orang-orang di kafilah tersebut, sementara kedua mata Khadijah tidak sedetik pun lepas darinya. Kekagumannya kian bertambah terhadap pemuda yang baru pertama kali pergi mengurus perdagangannya itu, namun meski demikian, kepribadiannya tampak sangat mendominasi atas semua pekerjanya, bahkan budak kepercayaannya, Maysarah, terlihat kerdil jika berada di sampingnya.
فَعَظَمَةُ ابْنِ عَبْدِ اللهِ قَدْ بَهَرَتْ أَنْظَارَ خَدِيجَةَ فَلَمْ تَعُدْ تَرَى فِي الْمَكَانِ إِلَّا ضِيَاءَهُ . كَانَتْ خَدِيجَةُ ذَاتَ بَصِيرَةٍ نَفَّاذَةٍ فَفَطِنَتْ إِلَى أَنَّ مُحَمَّدًا طِرَازٌ وَحْدَهُ مِنَ الرِّجَالِ ، صَاحِبُ شَخْصِيَّةٍ قَوِيَّةٍ فِي رِقَّةٍ ، حَازِمَةٍ فِي غَيْرِ قَسْوَةٍ ، كَيِّسَةٍ فِي غَيْرِ ضَعْفٍ ، فُطِرَتْ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، تَسْتَوْلِي عَلَى مَجَامِعِ الْقُلُوبِ دُونَ تَكَلُّفٍ أَوْ عَنَاءٍ كَأَنَّ اللُّطْفَ الْإِلَهِيَّ قَدِ اخْتَارَهُ لِيَقُودَ النَّاسَ إِلَى مَصِيرٍ أَبَدِيٍّ سَعِيدٍ بَعِيدٍ عَنِ الشَّقَاءِ .
Maka keagungan putra Abdullah benar-benar telah memukau pandangan Khadijah, hingga dia tidak lagi melihat apa pun di tempat itu melainkan pancaran cahayanya. Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki mata batin yang tajam, sehingga dia menyadari bahwa Muhammad merupakan tipe pria yang tiada tandingannya; pemilik kepribadian yang kuat dalam kelembutan, tegas tanpa kekejaman, santun tanpa kelemahan, diciptakan dengan fitrah kemuliaan akhlak, serta mampu menguasai relung-relung hati tanpa perlu dibuat-buat atau bersusah payah, seolah-olah kelembutan Ilahi telah memilihnya untuk memimpin manusia menuju tempat kembali abadi yang penuh kebahagiaan dan jauh dari kesengsaraan.
إِنَّ مُجَرَّدَ رُؤْيَتِهِ مِنْ بَعِيدٍ يَهُزُّ أَوْتَارَ فُؤَادِهَا ، وَإِنَّ صَدَى صَوْتِهِ لَا يَزَالُ يَتَرَدَّدُ فِي عَيْنِ ذَاتِهَا مُذْ ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي جَلَسَتْ فِيهِ إِلَيْهِ تَعْرِضُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْمَلَ لَهَا وَأَنْ تُعْطِيَهُ ضِعْفَ مَا تُعْطِي رَجُلًا مِنْ قَوْمِهَا ، وَإِنَّ إِشْعَاعَاتٍ مِنْ رُوحِهِ الْقَوِيَّةِ تَنْدَسُّ إِلَى رُوحِهَا فَتُفِيضُ جَوَانِبَهَا بِسَعَادَةٍ وَنَشْوَةٍ وَفَرَحٍ وَإِحْسَاسَاتٍ صَافِيَةٍ نَاعِمَةٍ قَدِ انْسَكَبَتْ مِنْ عَالَمٍ عَلَوِيٍّ غَيْرِ عَالَمِهَا الْأَرْضِيِّ فِي وِجْدَانِ مَكْنُونِهَا .
Sesungguhnya sekadar melihatnya dari kejauhan saja telah menggetarkan dawai-dawai hatinya, dan gema suaranya masih terus terngiang dalam benak jiwanya sejak hari itu, hari di mana dia duduk bersamanya menawarkan pekerjaan untuknya serta bersedia memberinya upah dua kali lipat dari apa yang biasa diberikan kepada pria dari kaumnya. Sungguh, pancaran dari ruhnya yang kuat merasuk ke dalam jiwa Khadijah, sehingga membanjiri relung-relungnya dengan kebahagiaan, rasa sukacita, kegembiraan, serta kepekaan perasaan yang murni lagi lembut, yang seakan dituangkan dari alam surgawi yang tinggi—bukan dari alam buminya—ke dalam lubuk batinnya yang terdalam.
وَعَجِبَتْ لِنَفْسِهَا لِأَنَّ التَّطَلُّعَ إِلَى فَتَى بَنِي هَاشِمٍ يُخْرِجُهَا مِنْ مَادِّيَّتِهَا وَيَرْفَعُهَا إِلَى عَالَمٍ مُجَنَّحٍ تَهِيمُ فِيهِ الرُّوحُ طَلِيقَةً حُرَّةً تَنْزِعُ إِلَى غَايَاتٍ سَامِيَةٍ مَا كَانَتْ تَخْطُرُ لَهَا عَلَى قَلْبٍ وَهِيَ تَرْصُدُ رِجَالَهَا وَهُمْ يَقُومُونَ بِتَجْهِيزِ الْقَافِلَةِ . إِنَّهَا كَانَتْ كُلَّمَا خَرَجَتْ لَهَا قَافِلَةٌ لَا تَتَمَنَّى إِلَّا أَنْ يَعُودَ إِلَيْهَا غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ بِمَا حَقَّقَ مِنْ أَرْبَاحٍ وَأَنْ يَشْنَفَ أُذُنَيْهَا بِأَحَادِيثِ التِّجَارَةِ وَالتُّجَّارِ ، أَمَّا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَلَمْ يَخْطُرْ لَهَا عَلَى بَالٍ ؛ كُلُّ مَا كَانَتْ تَرْجُوهُ أَنْ يَعُودَ إِلَيْهَا مَيْسَرَةُ بِأَنْبَاءِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، فَهِيَ تُحِسُّ بِأَنْ سَيَكُونُ لَهُ شَأْنٌ فِي الْعَرَبِ ، فَصَارَ أَمَلُهَا أَنْ يُحَقِّقَ مُحَمَّدٌ مَا يُحِبُّ مِنْ نَجَاحٍ وَأَنْ تَنْفَتِحَ السُّبُلُ أَمَامَ إِرَادَتِهِ الْحُرَّةِ الْمُبْدِعَةِ .
Dan dia merasa heran pada dirinya sendiri, karena memandang pemuda Bani Hasyim itu seakan mengeluarkannya dari keduniawian materialistisnya, lalu mengangkatnya ke alam bersayap tempat ruh mengembara dengan bebas lagi merdeka, condong menuju tujuan-tujuan mulia yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam hatinya ketika mengawasi orang-orangnya menyiapkan kafilah. Biasanya, setiap kali kafilah dagangnya berangkat, dia tidak mengharapkan apa pun kecuali kembalinya Maysarah membawa keuntungan yang diraih, serta memanjakan telinganya dengan obrolan seputar perniagaan dan para pedagang. Adapun pada hari ini, hal itu sama sekali tidak tebersit di benaknya; seluruh perkara yang ia harapkan hanyalah agar Maysarah kembali membawa kabar tentang Muhammad bin Abdullah. Dia merasakan bahwa pemuda itu kelak akan memiliki kedudukan besar di kalangan bangsa Arab, sehingga harapannya kini berubah agar Muhammad meraih kesuksesan yang dicintainya dan agar segala jalan terbuka lebar di hadapan kehendak bebasnya yang kreatif.
وَتَمَّ تَجْهِيزُ الْقَافِلَةِ ، وَقَبْلَ أَنْ تَنْطَلِقَ ذَهَبَ مَيْسَرَةُ إِلَى سَيِّدَتِهِ لِيَتَلَقَّى مِنْهَا آخِرَ أَوَامِرِهَا فَأَلْفَاهَا شَارِدَةً فِي سَعَادَةٍ تَبْدُو عَلَى وَجْهِهَا ، فَقَالَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ أَقْرَبَ إِلَى الْهَمْسِ :
Persiapan kafilah pun telah selesai. Sebelum berangkat, Maysarah pergi menemui majikannya untuk menerima perintah-perintah terakhir darinya, namun dia mendapati Khadijah sedang melamun dengan rona kebahagiaan yang tampak jelas di wajahnya. Maka Maysarah berkata dengan suara pelan yang lebih mirip berbisik:
— مَوْلَاتِي !
— Junjunganku!
فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ خَدِيجَةُ فَقَال :
Maka Khadijah menoleh kepadanya lalu berkata:
— أَوَامِرُ مَوْلَاتِي .
— (Sampaikan) perintah-perintah junjunganku.
وَهَمَّتْ بِأَنْ تُوصِيَهُ بِمُحَمَّدٍ وَلَكِنَّهَا أَمْسَكَتْ لِسَانَهَا وَالْكَلِمَاتُ تَتَرَاقَصُ عَلَى شَفَتَيْهَا ؛ ثُمَّ قَالَتْ فِي اقْتِضَابٍ :
Dia sempat berniat untuk berpesan kepadanya agar menjaga Muhammad, namun dia menahan lidahnya sementara kata-kata sudah menari-nari di kedua bibirnya. Kemudian dia berkata dengan singkat:
— بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ نَسِيرُ ، بَارِكَ لَنَا فِي رِحْلَتِنَا .
— Dengan nama-Mu, ya Allah, kami berjalan. Berkahilah perjalanan kami.
وَعَادَ مَيْسَرَةُ لِيَخْرُجَ بِتِجَارَةِ خَدِيجَةَ إِلَى سُوقِ حُبَاشَةَ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ إِلَى جِوَارِهِ مَرْفُوعَ الرَّأْسِ عَلَيْهِ مَهَابَةٌ وَوَرَعٌ وَجَلَالٌ وَكَأَنَّهُ قَدْ وُلِدَ لِيَكُونَ زَعِيمًا فِي قَوْمِهِ ، وَظَلَّتْ خَدِيجَةُ تَرْقُبُهُ وَهِيَ حَالِمَةٌ حَتَّى غَابَتِ الْقَافِلَةُ عَنْ عَيْنَيْهَا .
Maysarah kembali beranjak keluar membawa kafilah dagang Khadijah menuju Pasar Hubasyah, dengan Muhammad bin Abdullah berada di sampingnya, tegak mendongak dengan wibawa, ketakwaan, serta keagungan, seolah-olah dia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin bagi kaumnya. Khadijah terus memandangnya dengan penuh angan-angan sampai kafilah tersebut lenyap dari pandangan matanya.
وَعَادَتْ خَدِيجَةُ إِلَى مِخْدَعِهَا فَرَاحَتْ تَنْتَالُ عَلَى رَأْسِهَا الْأَفْكَارُ وَكَانَتْ تَدُورُ كُلُّهَا حَوْلَ ابْنِ عَبْدِ اللهِ الَّذِي أَسَرَهَا بِعَذْبِ حَدِيثِهِ وَفَضْلِ مَنْطِقِهِ وَفَصَاحَتِهِ وَرُوحِهِ الْقَوِيَّةِ الَّتِي تَبْهَرُ النُّفُوسَ ، وَلَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا فَخَرَجَتْ إِلَى دَارِ أَخِيهَا حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ .
Khadijah kembali ke kamar pribadinya, lalu pikiran-pikiran mulai bertumpuk membanjiri benaknya, yang mana seluruhnya berputar di sekitar putra Abdullah yang telah menawannya dengan kelembutan ucapan, keutamaan tutur kata, kefasihan, serta kekuatan jiwanya yang memukau setiap jiwa. Dia tidak sanggup berdiam tenang di rumahnya, maka dia pun keluar menuju kediaman saudaranya, Hakim bin Hizam.
كَانَ حَكِيمٌ يَتَأَهَّبُ لِلْخُرُوجِ إِلَى السُّوقِ فَهُوَ رَجُلٌ تَاجِرٌ لَا يَدَعُ سُوقًا بِمَكَّةَ وَلَا تِهَامَةَ إِلَّا حَضَرَهَا ، وَكَانَ إِلَى جِوَارِهِ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ مَوْلَاهُ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ سُوقِ عُكَاظٍ ، وَكَانَ زَيْدٌ غُلَامًا أَفْطَسَ الْأَنْفِ إِلَّا أَنْ رُوحَهُ جَذَّابَةٌ تَفْتَحُ لَهَا الْقُلُوبُ .
Hakim saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke pasar, karena dia adalah seorang saudagar yang tidak pernah melewatkan satu pasar pun di Mekkah maupun di Tihamah melainkan pasti menghadirinya. Di sampingnya ada Zaid bin Haritsah, budak yang dibelinya dari Pasar Ukaz. Zaid adalah seorang anak lelaki berhidung pesek, namun jiwanya sangat memikat sehingga mampu membuka pintu-pintu hati.
وَدَخَلَتْ خَدِيجَةُ وَحَيَّتِ ابْنَ أَخِيهَا فَهَرَعَ حَكِيمٌ إِلَى عَمَّتِهِ يُرَحِّبُ بِهَا ، وَلَمَّا وَقَعَتْ عَيْنَاهَا عَلَى زَيْدٍ سَأَلَتْهُ عَنْهُ فَقَالَ لَهَا :
Khadijah masuk dan memberi salam kepada keponakannya, maka Hakim pun bergegas menyambut tantenya dengan hangat. Ketika sepasang mata Khadijah tertuju pada Zaid, dia bertanya kepadanya mengenai budak tersebut, lalu Hakim berkata kepadanya:
— هَذَا غُلَامٌ ابْتَعْتُهُ مِنْ سُوقِ عُكَاظٍ .
— Ini adalah seorang anak lelaki yang aku beli dari Pasar Ukaz.
وَاسْتَمَرَّا يَتَجَاذَبَانِ أَطْرَافَ الْحَدِيثِ حَتَّى أَعَدَّ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ كُلَّ شَيْءٍ
Dan keduanya terus saling bercakap-cakap hingga Hakim bin Hizam merampungkan segala persiapan kebutuhannya
لِيَخْرُجَ إِلَى سُوقِ حُبَاشَةَ أَعْظَمِ أَسْوَاقِ تِهَامَةَ كُلِّهَا ، فَعَادَتْ خَدِيجَةُ إِلَى دَارِهَا وَفِي رِفْقَتِهَا زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ بَعْدَ أَنْ وَهَبَهُ لَهَا ابْنُ أَخِيهَا .
untuk berangkat menuju Pasar Hubasyah, pasar terbesar di seluruh wilayah Tihamah. Kemudian Khadijah kembali ke rumahnya dengan ditemani oleh Zaid bin Haritsah setelah keponakannya itu menghadiahkannya kepadanya.
وَبَلَغَ حَكِيمٌ السُّوقَ . فَلَمَّا رَأَى عَامِرَ بْنَ ظَرِبٍ الْعَدْوَانِيَّ حَيَّاهُ ، وَإِذَا بِرَجُلٍ مِنْ رِجَالِ قَافِلَتِهِ يَنْشُدُ شِعْرَ ذِي الْأَصْبَعِ الْعَدْوَانِيِّ فِي مَدْحِ قَوْمِهِ :
Hakim pun sampai di pasar. Ketika dia melihat Amir bin Zharib Al-Adwani, dia menyapanya. Tiba-tiba, seorang pria dari rombongan kafilahnya melantunkan syair milik Dzul Ashba' Al-Adwani yang memuji kaumnya:

وَمِنْهُمْ حَكَمٌ يَقْضِي            فَلَا يُنْقَضُ مَا يَقْضِي

[Shadr] Dan di antara mereka terdapat hakim (penentu hukum) yang memutuskan perkara,
[Ajuz] maka tidak dapat digugurkan apa yang telah dia putuskan.

فَالْتَفَتَ حَكِيمٌ إِلَيْهِ وَقَالَ :
Maka Hakim menoleh kepadanya lalu berkata:
— صَدَقَ . إِنَّ عَامِرَ بْنَ ظَرِبٍ لَا يُرَدُّ قَضَاؤُهُ . مَا يَكُونُ بَيْنَ الْعَرَبِ نَائِرَةٌ وَلَا عُضْلَةٌ فِي قَضَاءٍ إِلَّا أَسْنَدُوا ذَلِكَ إِلَيْهِ ثُمَّ رَضُوا بِمَا قَضَى فِيهِ .
— Sungguh benar syair itu. Sesungguhnya Amir bin Zharib tidak pernah ditolak keputusannya. Tidak ada perselisihan yang membara maupun perkara pelik dalam peradilan di antara bangsa Arab, melainkan mereka pasti menyerahkan urusan itu kepadanya, kemudian mereka rida terhadap apa yang diputuskannya.
وَرَاحَ رِجَالُ قَافِلَةِ حَكِيمٍ يَقُصُّونَ الْحَكَمَ الَّذِي كَانَ بِهِ عَامِرٌ وَذَاعَ أَمْرُهُ بَيْنَ قَبَائِلِ الْعَرَبِ ، قَالُوا : اخْتُصِمَ إِلَيْهِ فِي رَجُلٍ خُنْثَى لَهُ مَا لِلرَّجُلِ وَلَهُ مَا لِلْمَرْأَةِ ، فَقَالُوا لَهُ :
Dan orang-orang dari kafilah Hakim mulai menceritakan tentang ketetapan hukum yang diputuskan oleh Amir, yang mana urusan tersebut telah tersiar luas di antara kabilah-kabilah Arab. Mereka berkisah: Suatu ketika dia dimintai putusan hukum perihal seorang khunsa (hermafrodit) yang memiliki organ seperti laki-laki sekaligus organ seperti wanita, lalu mereka bertanya kepadanya:
— أَنَجْعَلُهُ رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً ؟
— Apakah kami musti menjadikannya sebagai laki-laki atau perempuan?
وَلَمْ يَأْتُوهُ بِأَمْرٍ كَانَ أَعْضَلَ مِنْهُ ، فَقَال :
Dan mereka belum pernah mendatangi dirinya membawa perkara yang lebih pelik daripada kasus tersebut. Maka Amir berkata:
— حَتَّى أَنْظُرَ فِي أَمْرِكُمْ ، فَوَاللهِ مَا نَزَلَ بِي مِثْلُ هَذِهِ مِنْكُمْ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ !
— Tangguhkanlah sampai aku merenungkan perkara kalian ini, demi Allah belum pernah kejadian semacam ini menimpaku dari kalian, wahai sekalian bangsa Arab!
فَاسْتَأْخَرُوا عَنْهُ . فَبَاتَ لَيْلَتَهُ سَاهِرًا يُقَلِّبُ أَمْرَهُ وَيَنْظُرُ فِي شَأْنِهِ لَا يَتَوَجَّهُ لَهُ مِنْهُ وَجْهٌ . وَكَانَتْ لَهُ جَارِيَةٌ يُقَالُ لَهَا سُخَيْلَةُ تَرْعَى عَلَيْهِ غَنَمَهُ وَكَانَ يُعَاتِبُهَا إِذَا سَرَحَتْ فَيَقُولُ .
Maka mereka pun mundur memberinya waktu. Dia melewatkan malamnya dengan terjaga begadang, membolak-balik urusan tersebut dan merenungkan jalannya, namun tidak menemukan satu pun jalan keluar. Dia mempunyai seorang budak perempuan bernama Sukhailah yang menggembalakan kambing-kambing miliknya, dan dia biasa menegurnya jika ia terlambat menggembala dengan berkata:
— صَبَّحْتِ وَاللهِ يَا سُخَيْلُ !
— Kamu kesiangan digiringnya, demi Allah, wahai Sukhail!
وَإِذَا أَرَاحَتْ عَلَيْهِ قَالَ :
Dan apabila budak itu memulangkan kambing di sore hari, dia berkata:
— مَسَّيْتِ وَاللهِ يَا Sُخَيْلُ !
— Kamu kemalaman memulangkannya, demi Allah, wahai Sukhail!
وَذَلِكَ أَنَّهَا كَانَتْ تُؤَخِّرُ السَّرْحَ حَتَّى يَسْبِقَهَا بَعْضُ النَّاسِ . وَتُؤَخِّرُ الْإِرَاحَةَ حَتَّى يَسْبِقَهَا بَعْضٌ . فَلَمَّا رَأَتْ سَهَرَهُ وَقِلَّةَ قَرَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ قَالَتْ لَهُ :
Hal itu karena dia kerap menunda mengeluarkan gembalaan sampai didahului oleh orang lain, dan menunda memulangkannya sampai didahului sebagian yang lain pula. Ketika budak wanita itu melihat majikannya begadang terus serta gelisah di atas tempat tidurnya, ia bertanya kepadanya:
— مَالِكَ لَا أَبَا لَكَ ! مَا عَرَاكَ فِي لَيْلَتِكَ هَذِهِ ؟
— Ada apa denganmu, celaka kamu! Apa yang mengusik dirimu di malammu yang ini?
فَقَالَ :
Maka Amir menjawab:
— وَيْلَكِ ! دَعِينِي ، أَمْرٌ لَيْسَ مِنْ شَأْنِكِ .
— Celaka kamu! Tinggalkan aku sendirian, perkara ini sama sekali bukan urusanmu.
وَبَعُدَتْ عَنْهُ جَارِيَتُهُ ، ثُمَّ عَادَتْ إِلَيْهِ وَقَالَتْ :
Budak perempuannya sempat menjauh darinya, kemudian ia kembali lagi mendatangi dirinya dan berkata:
— مَا عَرَاكَ فِي لَيْلَتِكَ هَذِهِ ؟
— Apa gerangan yang mengusikmu di malammu yang ini?
فَقَالَ فِي نَفْسِهِ : « عَسَى أَنْ تَأْتِيَ مِمَّا أَنَا فِيهِ بِفَرَجٍ » فَقَالَ :
Maka Amir berkata di dalam hatinya: "Bisa jadi dia sanggup membawakan jalan keluar dari kemelut yang sedang kuhadapi ini," lalu dia pun berujar:
— وَيْحَكِ ! اخْتُصِمَ إِلَيَّ فِي مِيرَاثِ خُنْثَى ، أَأَجْعَلُهُ رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً ؟ فَوَاللهِ مَا أَدْرِي مَا أَصْنَعُ وَمَا يَتَوَجَّهُ لِي فِيهِ وَجْهٌ .
— Celaka kamu! Aku dimintai keputusan hukum terkait pembagian waris seorang khunsa, apakah aku musti menetapkannya sebagai laki-laki atau perempuan? Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat dan tidak nampak bagiku satu pun solusi hukum di dalamnya.
قَالَتْ :
Budak wanita itu berkata:
— لَا أَبَا لَكَ ! أَتْبِعِ الْقَضَاءَ الْمَبَالَ ، أَقْعِدْهُ فَإِنْ بَالَ مِنْ حَيْثُ يَبُولُ الرَّجُلُ فَهُوَ رَجُلٌ ، وَإِنْ بَالَ مِنْ حَيْثُ تَبُولُ الْمَرْأَةُ . فَهِيَ امْرَأَةٌ .
— Luar biasa kamu! Sandarkanlah keputusan hukum itu pada saluran kencingnya. Dudukkan dia; jika dia kencing dari saluran tempat kencingnya laki-laki maka dia adalah laki-laki, dan jika dia kencing dari saluran tempat kencingnya wanita, maka dia adalah wanita.
فَقَالَ :
Maka Amir berseru:
— مَسَّتْ سُخَيْلُ بَعْدَهَا أَوْ صَبَّحَتْ ، فَرَّجْتِهَا وَاللهِ .
— Terserah setelah ini Sukhail mau memulangkan kambing kemalaman atau kesiangan, kamu telah melapangkan masalahku, demi Allah.
وَحَطَّتْ قَافِلَةُ حَكِيمٍ وَذَهَبَ يَجُوسُ خِلَالَ السُّوقِ فَرَأَى مَيْسَرَةَ غُلَامَ عَمَّتِهِ خَدِيجَةَ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ ، فَذَهَبَ إِلَيْهِمَا فَأَلْفَاهُمَا قَدِ ابْتَاعَا بَزًّا مِنْ بَزِّ لَجْنَدَ وَغَيْرِهِ مِمَّا فِي السُّوقِ مِنَ التِّجَارَةِ ، فَاشْتَرَى مِنْهُمَا بَزًّا وَرَاحَ يُحَادِثُ مَيْسَرَةَ وَابْنَ عَبْدِ اللهِ وَيَرْقُبُهُمَا ، فَمَلَأَ الْإِعْجَابُ بِفَتَى بَنِي هَاشِمٍ جَوَانِحَهُ .
Kafilah Hakim pun berhenti dan dia mulai berjalan menyusuri seluk-beluk pasar, lalu dia melihat Maysarah, pelayan bibinya (Khadijah), bersama dengan Muhammad bin Abdullah. Dia pun menghampiri keduanya dan mendapati bahwa mereka berdua telah membeli kain tenun halus buatan wilayah Lajnad serta barang dagangan pasar lainnya. Hakim lalu membeli sebagian kain tersebut dari mereka dan mulai berbincang dengan Maysarah serta putra Abdullah seraya memperhatikan mereka; seketika kekaguman yang mendalam terhadap pemuda Bani Hasyim itu memenuhi seluruh rongga dadanya.
وَانْقَضَتْ أَيَّامُ السُّوقِ الثَّمَانِيَةُ ، وَقَفَلَ مَيْسَرَةُ عَائِدًا إِلَى مَكَّةَ وَهُوَ مَأْخُوذٌ بِخُلُقِ مُحَمَّدٍ قَدْ مَلَأَتْ نَفْسَهُ إِعْجَابًا بِحُسْنِ تَصَرُّفِهِ ، وَكَانَ فَرَحُهُ بِرِفْقَتِهِ أَشَدَّ مِنْ فَرَحِهِ بِالْأَرْبَاحِ الْحَسَنَةِ الَّتِي تَحَقَّقَتْ فِي هَذِهِ الرِّحْلَةِ .
Delapan hari berjalannya pasar pun telah berlalu, dan Maysarah bertolak pulang menuju Mekkah dalam keadaan sangat terpikat oleh akhlak Muhammad; jiwanya dipenuhi kekaguman atas keelokan perilakunya, dan kegembiraannya atas jalinan persahabatan dengannya jauh lebih besar ketimbang kegembiraannya atas melimpahnya keuntungan materi yang berhasil diraih dalam perjalanan tersebut.
وَدَخَلَ الرِّجَالُ الْحَرَمَ وَطَافُوا بِالْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلُوا دُورَهُمْ ، وَمَا انْتَهَى الطَّوَافُ حَتَّى هَرَعَ مَيْسَرَةُ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ فَلَمَّا رَأَتْهُ خَفَّتْ لِاسْتِقْبَالِهِ وَقَدِ انْتَشَرَ فِي صَدْرِهَا شَيْءٌ مِنَ الْقَلَقِ وَاللَّهْفَةِ ، وَدَهِشَتْ لِذَلِكَ الَّذِي اعْتَرَاهَا فَمَا أَكْثَرَ مَا عَادَ إِلَيْهَا مَيْسَرَةُ بِالْأَرْبَاحِ وَالْأَنْبَاءِ دُونَ أَنْ تَضْطَرِبَ أَوْ تَخْتَلِجَ مِنْهَا خَالِجَةٌ .
Para pria itu memasuki Tanah Haram dan melakukan tawaf di Baitullah sebelum mereka masuk ke rumah masing-masing. Begitu tawaf usai, Maysarah bergegas menuju rumah Khadijah. Ketika Khadijah melihatnya, ia segera bangkit menyambutnya dengan perasaan cemas sekaligus rindu yang menjalar di dada. Dia merasa heran atas gejolak yang menerpa dirinya tersebut; padahal sudah teramat sering Maysarah kembali kepadanya membawa laba keuntungan dan kabar berita tanpa pernah membuat dirinya merasa gelisah atau mengusik ketenangannya sedikit pun.
وَرَاحَ مَيْسَرَةُ يَتَحَدَّثُ عَنِ التِّجَارَةِ وَعَنِ الرِّبْحِ الْحَسَنِ الَّذِي تَحَقَّقَ فِي الرِّحْلَةِ وَخَدِيجَةُ تَتَمَلْمَلُ فِي جِلْسَتِهَا كَأَنَّمَا تَحُثُّهُ أَنْ يَنْتَهِيَ مِنَ ذَلِكَ الْحَدِيثِ وَأَنْ يَخُوضَ فِي حَدِيثِ الْفَتَى الَّذِي خَرَجَ مَعَهُ فِي تِجَارَتِهَا لِأَوَّلِ مَرَّةٍ ، وَكَأَنَّمَا قَدْ قَرَأَ غُلَامُهَا مَا يَدُورُ فِي رَأْسِهَا فَرَاحَ يَقُصُّ عَلَيْهَا فِي إِسْهَابٍ مَا كَانَ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَهِيَ تَصْغِي إِلَيْهِ فِي اهْتِمَامٍ ، يَعْكِسُ وَجْهُهَا الْجَمِيلُ الصَّافِي مَا يَعْتَمِلُ فِي صَدْرِهَا مِنِ انْفِعَالَاتٍ .
Maysarah pun mulai memaparkan seputar perniagaan dan keuntungan melimpah yang didapat selama safar, sementara Khadijah tampak gelisah di tempat duduknya seolah mendesak pelayannya itu agar lekas menyudahi obrolan tersebut dan segera beralih menceritakan perihal pemuda yang pergi menyertainya pertama kali dalam perdagangan itu. Seakan budaknya telah mampu membaca apa yang berputar di kepalanya, Maysarah pun mulai berkisah panjang lebar tentang sepak terjang Muhammad bin Abdullah, sementara Khadijah menyimaknya dengan penuh perhatian, di mana wajahnya yang elok lagi bersih memancarkan ragam keharuan yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
وَرَاحَ يَصِفُ لَهَا خُلُقَهُ ، إِنَّهُ تَاجِرٌ صَادِقٌ لَا يَحْلِفُ أَبَدًا ، لَيْسَ بِصَخَّابٍ وَلَا يَرْتَفِعُ لَهُ صَوْتٌ ، عَزِيزٌ فِي غَيْرِ قَسْوَةٍ ، كَفْءٌ لِأَعْظَمِ الْأَعْبَاءِ وَأَفْدَحِ الْخُطُوبِ ، إِذَا تَكَلَّمَ أَسَرَ الْقُلُوبَ ، وَإِذَا قَالَ فَقَوْلُهُ الْفَصْلُ ، لَا يُدَلِّسُ وَلَا يَغُشُّ ، إِذَا كَانَ فِي الْبِضَاعَةِ عَيْبٌ أَبْرَزَهُ ، إِنَّهُ الْأَمِينُ حَقًّا وَصِدْقًا .
Maysarah mulai menggambarkan keluhuran akhlaknya kepada Khadijah; sesungguhnya dia adalah seorang saudagar yang jujur dan tidak pernah bersumpah palsu, tidak suka berteriak-teriak gaduh dan tidak pula meninggikan suaranya, berwibawa tanpa kekerasan, cakap dalam mengemban beban terberat maupun menghadapi situasi tersulit. Apabila berbicara, ia mampu menawan hati, dan apabila berkata-kata, ucapannya bernilai tegas memutus perkara, tidak pernah menyembunyikan cacat barang dan tidak menipu; jika terdapat aib pada barang dagangan pasti ia tunjukkan. Dia benar-benar Al-Amin (yang terpercaya) dengan sebenar-benarnya kenyataan.
وَاسْتَمَرَّ مَيْسَرَةُ يَتَحَدَّثُ عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ فِي حَمَاسَةٍ وَخَدِيجَةُ تُلْقِي إِلَيْهِ سَمْعَهَا وَقَدِ انْدَاحَتْ فِي جَوَانِبِهَا غِبْطَةٌ وَسَرَتْ فِيهَا نَشْوَةٌ وَطَارَ بِهَا الْخَيَالُ لِتَهِيمَ فِي الرُّؤَى الْعَذْبَةِ الَّتِي أَوْحَى بِهَا الْحَدِيثُ عَنِ الْأَمِينِ : مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ .
Maysarah terus bercerita mengenai putra Abdullah dengan penuh antusiasme, sementara Khadijah memasang telinganya lekat-lekat dalam keadaan rasa suka cita yang mendalam meluap di segenap relungnya serta kebahagiaan menjalar di sanubarinya. Imajinasi membawanya terbang tinggi berkelana dalam visi mimpi-mimpi indah yang diilhamkan oleh untaian kisah tentang sang Al-Amin: Muhammad bin Abdullah.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi