SIRAH SHOHABAT
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Melawan Arus Majusi: Salman Al-Farisi dan Kebebasan Akal yang Mengguncang Iman
Salman bukanlah penganut yang taklid buta. Dengan akal yang merdeka, ia membedah setiap ajaran yang terasa tidak masuk akal, menjadikannya sosok yang gelisah demi mengejar jawaban atas eksistensi Tuhan yang sejati.
كَانَ الْقَصْرُ خَفِيفَ الْبِنَاءِ رَشِيقَهُ ، لَهُ خَمْسُ قِبَابٍ تَحْمِلُهَا أَعْمِدَةٌ فَارِعَةٌ ، فِي وَسَطِهِ مِحْرَابٌ ، عَلَيْهِ الْمَعْبَدُ قَدْ حُمِلَ عَلَى أَعْمِدَةٍ ؛ إِنَّهُ قَصْرُ دِهْقَانِ قَرْيَةِ جِيَّ مِنْ أَصْبَهَانَ .
Istana itu bangunannya ringan dan anggun, memiliki lima kubah yang ditopang oleh tiang-tiang yang tinggi menjulang, di tengahnya terdapat mihrab, di atasnya terdapat kuil yang ditopang oleh tiang-tiang; itulah istana milik seorang Dihqan (kepala desa/tuan tanah) di desa Jiy dari wilayah Ashbahan.
وَفُتِحَ بَابٌ فِي الْقَصْرِ وَخَرَجَ مِنْهُ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ وَانْطَلَقَ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُوهُ الدِّهْقَانُ ، فَمَا أَنْ وَقَعَتْ عَيْنَا أَبِيهِ عَلَيْهِ حَتَّى أَشْرَقَ وَجْهُهُ بِالِابْتِسَامِ وَخَفَقَ فُؤَادُهُ بِالْحُبِّ وَقَالَ فِي رِقَّةٍ :
Sebuah pintu di istana itu terbuka, dan Salman al-Farisi keluar darinya lalu berjalan menuju tempat ayahnya, sang Dihqan, berada. Begitu kedua mata ayahnya tertuju kepadanya, wajah sang ayah langsung berseri-seri dengan senyuman dan hatinya berdegup kencang penuh cinta, lalu dia berkata dengan lembut:
— كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا سَلْمَانُ ؟
— Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, wahai Salman?
وَجَلَسَ سَلْمَانُ إِلَى جِوَارِ أَبِيهِ يَرْشُفُ مِنْ دِنَانِ الْحَنَانِ وَيُصْغِي إِلَى أَعْذَبِ الْكَلَامِ ، فَقَدْ كَانَ مِنْ أَحَبِّ عِبَادِ اللهِ إِلَى أَبِيهِ الشَّيْخِ الَّذِي كَانَ يَرَى فِيهِ وَارِثَ الْأَرْضِ وَوَارِثَ مَجْدِ السَّمَاءِ ، فَقَدِ اجْتَهَدَ سَلْمَانُ فِي الْمَجُوسِيَّةِ حَتَّى كَانَ قَاطِنَ النَّارِ الْمُقَدَّسَةِ الَّتِي يُوقِدُونَهَا وَلَا يَتْرُكُونَهَا تَخْبُو أَبَدًا .
Salman pun duduk di samping ayahnya, mereguk tempayan kasih sayang dan mendengarkan untaian kata yang paling manis. Ia adalah hamba Allah yang paling dicintai oleh ayahnya, seorang tua yang melihat di dalam diri Salman sosok pewaris bumi dan pewaris keagungan langit. Salman telah bersungguh-sungguh dalam mendalami agama Majusi hingga dia menjadi penjaga api suci, yang selalu mereka nyalakan dan tidak pernah mereka biarkan padam sedetik pun.
وَغَادَرَ سَلْمَانُ مَجْلِسَ أَبِيهِ وَذَهَبَ إِلَى بَيْتِ النَّارِ لِيَرْتَلَ الْأَدْعِيَةَ الْمُقَرَّرَةَ لِلْأَوْقَاتِ الْخَمْسَةِ الْمُحَدَّدَةِ فِي النَّهَارِ ، وَلَمَّا انْتَهَى مِنْ دُعَاءِ مَجْدِ النَّارِ أَخَذَ كِتَابَ « الْأَوْسْتَا » كِتَابَ زَرَادِشْتَ الْمُقَدَّسَ الَّذِي فَاضَ بِالْأَسَاطِيرِ وَالْخُرَافَاتِ لِمَا طَالَ عَلَى النَّاسِ الْأَمَدُ ، وَرَاحَ يَقْرَأُ فِيهِ قِصَّةَ بَدْءِ الْخَلِيقَةِ :
Salman kemudian meninggalkan majelis ayahnya dan pergi ke rumah api untuk melantunkan doa-doa yang telah ditetapkan bagi lima waktu yang ditentukan di siang hari. Ketika selesai dari doa keagungan api, dia mengambil kitab "Avesta", kitab suci Zoroaster yang sarat dengan legenda dan takhayul akibat berlalunya waktu yang sangat lama bagi manusia, lalu dia mulai membaca kisah awal mula penciptaan makhluk di dalamnya:
« ظَلَّ زُرْوَانُ الْإِلَهُ الْأَقْدَمُ يُقَدِّمُ الْقَرَابِينَ زُهَاءَ أَلْفِ سَنَةٍ لِكَيْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ يُسَمِّيهِ أَهُورَا مَزْدَا ، وَلَكِنَّهُ فِي آخِرِ الْأَمْرِ أَخَذَ يَشُكُّ فِي فَائِدَةِ مَا قَدَّمَ مِنْ قَرَابِينَ ، وَحِينَئِذٍ ظَهَرَ وَلَدَانِ فِي بَطْنِهِ (١) أَحَدُهُمَا أَهُورَا مَزْدَا لِأَنَّهُ قَدَّمَ الْقَرَابِينَ ، وَالثَّانِي أَهْرِيمَنُ لِأَنَّهُ شَكَّ فِيمَا يَفْعَلُ ، فَوَعَدَ زُرْوَانُ مَنْ يَبْدَأُ بِالْمُثُولِ أَمَامَهُ مِنْهُمَا بِمُلْكِ الدُّنْيَا ، فَشَقَّ أَهْرِيمَنُ بَطْنَ أَبِيهِ وَمَثَلَ لَهُ فَسَأَلَهُ زُرْوَانُ :
"Dewa kuno Zurvan terus mempersembahkan korban selama hampir seribu tahun agar memiliki seorang anak yang akan dia namai Ahura Mazda. Namun, pada akhirnya dia mulai meragukan manfaat dari korban-korban yang telah dipersembahkannya itu. Ketika itulah muncul dua anak di dalam perutnya (1); salah satunya adalah Ahura Mazda karena dia telah mempersembahkan korban, dan yang kedua adalah Ahriman karena dia ragu atas apa yang dilakukannya. Maka Zurvan berjanji bahwa siapa pun di antara keduanya yang pertama kali hadir di hadapannya akan diberikan kekuasaan atas dunia. Lalu Ahriman merobek perut ayahnya dan hadir di hadapannya, maka Zurvan bertanya kepadanya:
— مَنْ أَنْتَ ؟
— Siapa kamu?
فَأَجَابَهُ أَهْرِيمَنُ :
Maka Ahriman menjawabnya:
— أَنَا وَلَدُكَ .
— Aku adalah anakmu.
فَقَالَ زُرْوَانُ :
Maka Zurvan berkata:
— إِنَّ وَلَدِي ذَكِيَّ الرَّائِحَةِ نُورَانِيٌّ ، وَأَمَّا أَنْتَ فَظُلْمَانِيٌّ عَفِنٌ .
— Sesungguhnya anakku itu harum aromanya lagi bercahaya, sedangkan kamu itu gelap lagi busuk.
وَفِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ مَثَلَ أَهُورَا مَزْدَا مُنَوَّرًا ذَكِيَّ الرَّائِحَةِ فَعَرَفَ زُرْوَانُ أَنَّهُ وَلَدُهُ ، وَقَالَ لَهُ :
Dan pada saat itu juga, Ahura Mazda hadir dalam keadaan bercahaya dan harum aromanya, maka Zurvan pun tahu bahwa dialah anaknya, lalu dia berkata kepadanya:
— إِنِّي كُنْتُ أُقَدِّمُ الْقَرَابِينَ حَتَّى الْآنَ مِنْ أَجْلِكَ ، فَمُنْذُ الْيَوْمِ تُقَدَّمُ هَاهُنَا أَنْتَ مِنْ أَجْلِي .
— Sesungguhnya aku mempersembahkan korban sampai saat ini demi dirimu, maka mulai hari ini, engkau di sini dipersembahkan demi diriku.
وَيَتَقَدَّمُ أَهْرِيمَنُ لِيُذَكِّرَ أَبَاهُ بِوَعْدِهِ ، فَيَقُولُ :
Lalu Ahriman maju untuk mengingatkan ayahnya akan janjinya, dia berkata:
— وَعَدْتَ أَنْ تُنَصِّبَ مَنْ يَمْثُلُ أَمَامَكَ قَبْلَ أَخِيهِ عَلَى مُلْكِ الدُّنْيَا .
— Engkau telah berjanji akan mengangkat siapa saja yang hadir di hadapanmu sebelum saudaranya untuk menguasai dunia.
فَقَالَ زُرْوَانُ :
Maka Zurvan berkata:
— سَأَهَبُكَ حُكْمًا مُدَّتُهُ تِسْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ .
— Aku akan memberimu kekuasaan yang lamanya sembilan ribu tahun.
وَظَلَّ الْعَالَمَانِ ، عَالَمُ أَهُورَا مَزْدَا عَالَمُ النُّورِ ، وَعَالَمُ أَهْرِيمَنَ عَالَمُ الظُّلُمَاتِ ، مُتَجَاوِرَيْنِ فِي هُدُوءٍ ، وَالْعَالَمَانِ لَا مُتَنَاهِيَانِ مِنْ جَوَانِبَ ثَلَاثَةٍ ، وَلَكِنَّ كِلَا مِنْهُمَا يَحُدُّ الْآخَرَ فِي الْجَانِبِ الرَّابِعِ ، فَعَالَمُ النُّورِ فِي الْجَانِبِ الْأَعْلَى وَعَالَمُ الظُّلُمَاتِ فِي الْجَانِبِ الْأَسْفَلِ وَبَيْنَهُمَا فَرَاغٌ مَمْلُوءٌ بِالْهَوَاءِ .
Dan jadilah dua dunia itu, dunia Ahura Mazda yaitu dunia cahaya, dan dunia Ahriman yaitu dunia kegelapan, berdampingan dalam ketenangan. Kedua dunia ini tidak terbatas dari tiga sisi, namun masing-masing membatasi yang lain pada sisi yang keempat. Dunia cahaya berada di sisi atas dan dunia kegelapan berada di sisi bawah, dan di antara keduanya terdapat ruang kosong yang dipenuhi oleh udara.
وَيَعِيشُ خَلْقُ أَهُورَا مَزْدَا ثَلَاثَةَ آلَافِ سَنَةٍ بِالْقُوَّةِ ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يَرَى أَهْرِيمَنُ النُّورَ وَيُضْمِرُ إِبَادَتَهُ ، فَيُبَادِرُ أَهُورَا مَزْدَا الَّذِي يَعْلَمُ الْغَيْبَ بِأَنْ يَعْرِضَ عَلَيْهِ حِقْبَةً مِنَ الْحَرْبِ طُولُهَا تِسْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ ، فَيَقْبَلُ أَهْرِيمَنُ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ غَيْرَ الْمَاضِي .
Makhluk ciptaan Ahura Mazda hidup selama tiga ribu tahun dalam kondisi spiritual/potensial, setelah itu Ahriman melihat cahaya dan berniat memusnahkannya. Maka Ahura Mazda yang mengetahui hal gaib segera menawarkan kepadanya masa peperangan sepanjang sembilan ribu tahun, dan Ahriman menerimanya karena dia tidak mengetahui apa pun selain masa lalu.
وَيُنْبِئُهُ أَهُورَا مَزْدَا بِأَنَّ الْمَعْرِكَةَ تَنْتَهِي بِهَزِيمَةِ عَالَمِ الظُّلُمَاتِ ، فَيَفْزَعُ أَهْرِيمَنُ فَيَسْقُطُ فِي الظُّلُمَاتِ وَيَبْقَى مَشْلُولًا ثَلَاثَةَ آلَافِ سَنَةٍ ، فَيَبْدَأُ أَهُورَا مَزْدَا بِخَلْقِ الدُّنْيَا ، فَلَمَّا أَتَمَّهَا خَلَقَ الثَّوْرَ الْأَوَّلَ ، ثُمَّ خَلَقَ الْإِنْسَانَ الْأَوَّلَ — كَيُومَرْدَ — الَّذِي هُوَ أَوَّلُ الْبَشَرِ . وَحِينَئِذٍ أَلْقَى أَهْرِيمَنُ بِقُوَّتِهِ ضِدَّ خَلْقِ أَهُورَا مَزْدَا فَنَجَّسَ الْعَنَاصِرَ وَخَلَقَ طَوَائِفَ مِنَ الزَّوَاحِفِ وَالْحَشَرَاتِ . فَأَقَامَ أَهُورَا مَزْدَا خَنْدَقًا أَمَامَ السَّمَاءِ وَلَكِنَّ أَهْرِيمَنَ يُكَرِّرُ هَجَمَاتِهِ وَيَنْجَحُ أَخِيرًا فِي قَتْلِ الثَّوْرِ » .
"Ahura Mazda mengabarkan kepadanya bahwa pertempuran akan berakhir dengan kekalahan dunia kegelapan. Maka Ahriman ketakutan lalu jatuh tersungkur ke dalam kegelapan dan tetap lumpuh selama tiga ribu tahun. Di saat itulah Ahura Mazda mulai menciptakan dunia materi, dan setelah menyempurnakannya, dia menciptakan lembu pertama, kemudian menciptakan manusia pertama — Gayomard — yang merupakan bapak umat manusia. Pada waktu itu, Ahriman melemparkan kekuatannya untuk melawan ciptaan Ahura Mazda, sehingga dia menajiskan elemen-elemen alam serta menciptakan berbagai golongan binatang melata dan serangga. Ahura Mazda lalu membangun parit di depan langit, namun Ahriman terus mengulangi serangannya dan akhirnya berhasil membunuh lembu tersebut."
« وَكَيُومَرْدَ . وَكَانَتْ بُذُورُ كَيُومَرْدَ مُخَبَّأَةً فِي الْأَرْضِ فَنَتَجَ مِنْهَا عِنْدَ انْقِضَاءِ أَرْبَعِينَ سَنَةً شَجَرَةٌ خَرَجَ مِنْهَا أَوَّلُ زَوْجَيْنِ مِنَ الْبَشَرِ هُمَا « مَشْيِكْ » وَ « مَشْيَانِكْ » ، وَبَدَأَتْ بِذَلِكَ فَتْرَةُ اخْتِلَاطِ الْخَيْرِ بِالشَّرِّ ، النُّورِ بِالطِّينِ .
"Dan Gayomard. Benih-benih Gayomard tersembunyi di dalam tanah, maka setelah berlalunya empat puluh tahun, tumbuhlah darinya sebatang pohon yang melahirkan pasangan manusia pertama, yaitu 'Mashya' dan 'Mashyana'. Dengan demikian dimulailah periode percampuran antara kebaikan dan kejahatan, antara cahaya dan tanah lumpur.
وَأَخَذَ الْبَشَرُ يَلْعَبُونَ دَوْرًا فِي الْحَرْبِ بَيْنَ مَمْلَكَتَيِ النُّورِ وَالظُّلْمَةِ ، وَذَلِكَ بِانْضِمَامِهِمْ حَسَبَ أَعْمَالِهِمْ إِلَى جَانِبِ الْخَيْرِ أَوْ جَانِبِ الشَّرِّ ، فَمَنْ تَبِعَ مِنْهُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ يَمُرُّ سَالِمًا بَعْدَ الْمَوْتِ عَلَى الصِّرَاطِ « جِينْوَتْ » ثُمَّ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ ، وَإِذَا مَرَّ عَلَى الصِّرَاطِ أَحَدُ الْأَشْرَارِ يَدِقُّ الصِّرَاطُ ثُمَّ يَضِيقُ حَتَّى يَصِيرَ كَالسَّيْفِ الْقَاطِعِ فَيَهْوِي الْمُجْرِمُ إِلَى جَهَنَّمَ حَيْثُ يَلْقَى مِنَ الْعَذَابِ مَا يُعَادِلُ سَيِّئَاتِهِ .
Manusia pun mulai memainkan peran dalam peperangan antara kerajaan cahaya dan kegerapan, yaitu dengan bergabungnya mereka — berdasarkan amal perbuatan mereka — ke pihak kebaikan atau pihak kejahatan. Siapa saja di antara mereka yang mengikuti jalan yang lurus, dia akan menyeberang dengan selamat setelah kematiannya di atas jembatan 'Chinvat' lalu masuk surga. Namun jika yang menyeberang di atas jembatan itu adalah orang yang jahat, jembatan itu akan menipis dan menyempit hingga menjadi setajam pedang yang memotong, sehingga pelaku dosa itu jatuh terjerembap ke dalam jahanam, di mana dia akan menerima azab yang setimpal dengan keburukan-keburukannya.
أَمَّا مَنْ تَعَادَلَتْ مَوَازِينُهُ وَكَانَتْ حَسَنَاتُهُ مُسَاوِيَةً لِذُنُوبِهِ ، فَإِنَّهُ يُقِيمُ فِي الْأَعْرَافِ حَيْثُ لَا عِقَابَ وَلَا ثَوَابَ .
Adapun orang yang timbangan amalnya seimbang, di mana kebaikan-kebaikannya sama dengan dosa-dosanya, maka dia akan tinggal di Al-A'raf (tempat pembatas), di mana tidak ada siksaan maupun pahala.
وَبَعْدَ ثَلَاثَةِ آلَافِ سَنَةٍ مِنْ خَلْقِ الْعَالَمِ يَظْهَرُ زَرَادِشْتُ فَيَهْدِي النَّاسَ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ . وَحِينَئِذٍ لَا يَبْقَى لِلْعَالَمِ فِي الْوُجُودِ غَيْرُ ثَلَاثَةِ آلَافِ سَنَةٍ ، فَفِي نِهَايَةِ كُلِّ أَلْفٍ يَظْهَرُ مُخَلِّصٌ « سُوشْيَانِسْ » يُولَدُ مِنْ بُذُورِ زَرَادِشْتَ الْمُخَبَّأَةِ فِي إِحْدَى الْبُحَيْرَاتِ . وَفِي اللَّحْظَةِ الَّتِي يُولَدُ فِيهَا آخِرُ الْمُخَلِّصِينَ الثَّلَاثَةِ ، الْمُخَلِّصُ الْحَقِيقِيُّ ، تَبْدَأُ الْمَعْرِكَةُ الْأَخِيرَةُ فَيُبْعَثُ الْأَبْطَالُ وَالتَّنَانِينُ الشَّيْطَانِيَّةُ لِكَيْ يَتَقَاتَلُوا ، وَأَخِيرًا يُبْعَثُ الْمَوْتَى جَمِيعًا وَيَقَعُ النَّجْمُ الْمُذَنَّبُ عَلَى الْأَرْضِ فَتَشْتَعِلُ وَتُذِيبُ جَمِيعَ الْمَعَادِنِ فَتَنْتَشِرُ عَلَى الْأَرْضِ كَأَنَّهَا سَيْلٌ مُلْتَهِبٌ . وَعَلَى النَّاسِ جَمِيعًا الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ الْمَبْعُوثِينَ أَنْ يَعْبُرُوا هَذَا السَّيْلَ ؛ الَّذِي يَكُونُ لِلْأَتْقِيَاءِ كاللَّبَنِ السَّاخِنِ فَيُطَهِّرُهُمُ الْمُرُورُ بِهِ وَيَمْضُونَ مِنْهُ إِلَى الْجَنَّةِ .
Dan setelah tiga ribu tahun dari penciptaan dunia, Zoroaster akan muncul untuk memberi petunjuk manusia kepada agama yang benar. Ketika itu, umur dunia yang tersisa di alam wujud ini hanya tinggal tiga ribu tahun lagi. Di setiap akhir kelipatan seribu tahun, akan muncul seorang juru selamat, 'Saoshyant', yang lahir dari benih Zoroaster yang tersembunyi di salah satu danau. Pada saat lahirnya juru selamat yang terakhir dari ketiganya, sang juru selamat yang sejati, maka dimulailah pertempuran pamungkas; para pahlawan dan naga-naga setan dibangkitkan untuk saling berperang, dan akhirnya seluruh orang mati dibangkitkan, lalu sebuah bintang berekor (komet) jatuh menghantam bumi sehingga bumi membara dan melelehkan seluruh logam, lalu cairan logam itu menyebar di bumi laksana aliran banjir yang menyala-nyala. Seluruh manusia, baik yang hidup maupun yang mati yang dibangkitkan, wajib melewati aliran banjir ini; yang mana bagi orang-orang bertakwa rasanya seperti susu hangat sehingga mereka suci setelah melewatinya dan bertolak darinya menuju surga.
وَبَعْدَ الْمَعْرِكَةِ الْأَخِيرَةِ بَيْنَ الْآلِهَةِ وَالشَّيَاطِينِ ، تِلْكَ الْمَعْرِكَةُ الَّتِي تَنْتَهِي بِهَزِيمَةِ الشَّيَاطِينِ وَهَلَاكِهِمْ ، يَسْقُطُ الشَّرُّ إِلَى الْأَبَدِ فِي الظُّلُمَاتِ وَتُمَدُّ الْأَرْضُ وَتَبْسُطُ وَتَبْقَى الدُّنْيَا الْمُطَهَّرَةُ إِلَى الْأَبَدِ فِي سُكُونٍ لَا يَعْكُرُ صَفْوَهُ . »
Dan setelah pertempuran terakhir antara dewa-dewa dan setan-setan, yaitu pertempuran yang berakhir dengan kekalahan setan-setan serta kehancuran mereka, maka kejahatan akan jatuh untuk selamanya ke dalam kegelapan, bumi akan diperluas serta dihamparkan, dan dunia yang telah disucikan ini akan kekal selamanya dalam kedamaian yang tidak ternoda."
وَرَاحَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ يَقْرَأُ كَيْفَ وَلَدَتِ الْأَجْرَامُ السَّمَاوِيَّةُ مِنْ زَوَاجِ أَهُورَا مَزْدَا مِنْ أَخَوَاتِهِ ، وَكَيْفَ وَلَدَ الْآلِهَةُ مِيتْرَا ، آلَهُ الْعَقْدِ وَنُورِ الصَّبَاحِ ، وَالشَّمْسُ الَّتِي لَا تَقْهَرُ مِنْ زَوَاجِ أَهُورَا مَزْدَا مِنْ أُمِّهِ نَفْسِهَا : زَوَاجِ زُرْوَانَ ، وَرَاحَ يُفَكِّرُ فِي ذَلِكَ الزَّوَاجِ الْإِلَهِيِّ الَّذِي جَعَلَ الْإِيرَانِيِّينَ يَتَزَوَّجُونَ مِنْ بَنَاتِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ وَأَخَوَاتِهِمْ تَشَبُّهًا بِآلِهَتِهِمْ .
Salman al-Farisi terus membaca bagaimana benda-benda langit lahir dari pernikahan Ahura Mazda dengan saudara-saudara perempuannya, dan bagaimana dewa Mithra dilahirkan — dewa perjanjian dan cahaya pagi, serta matahari yang tak terkalahkan — dari pernikahan Ahura Mazda dengan ibunya sendiri: pernikahan Zurvan. Ia pun mulai merenungkan pernikahan ilahi tersebut, yang menyebabkan orang-orang Iran menikahi anak-anak perempuan, ibu-ibu, dan saudara-saudara perempuan mereka sendiri demi menyerupai dewa-dewa mereka.
كَانَتْ بُذُورُ الشَّكِّ فِي ذَلِكَ الدِّينِ الزَّرَادِشْتِيِّ الَّذِي فَسَدَ بِمَا دَخَلَ عَلَيْهِ مِنْ أَسَاطِيرَ وَخُرَافَاتٍ وَشَهَوَاتٍ قَدْ بُذِرَتْ فِي صَدْرِ سَلْمَانَ ، وَكَانَ يُحَاوِلُ أَنْ يَكْتُمَ أَنْفَاسَ ذَلِكَ الشَّكِّ الَّذِي بَدَأَ يُعَذِّبُهُ ، وَلَكِنَّهُ كَانَ حُرَّ التَّفْكِيرِ لَا يَعْرِفُ التَّعَصُّبَ لِدِينِ الْآبَاءِ بَلْ كَانَ يَبْغِي وَجْهَ الْحَقِيقَةِ ، فَأَطْلَقَ لِعَقْلِهِ الْعِنَانَ وَلَمْ يَضَعِ الْعَرَاقِيلَ فِي وَجْهِ إِرَادَتِهِ الْحُرَّةِ .
Benih-benih keraguan terhadap agama Zoroaster — yang telah rusak akibat masuknya mitos, takhayul, dan hawa nafsu — telah tertanam di dalam dada Salman. Ia berusaha menahan napas keraguan yang mulai menyiksanya itu, namun dia adalah seorang yang berpikiran merdeka, tidak mengenal fanatisme buta terhadap agama nenek moyang, melainkan mendambakan esensi kebenaran. Maka dia melepaskan kendali akalnya dan tidak menaruh rintangan di hadapan kehendak bebasnya.
وَقَامَتْ فِي نَفْسِهِ أَسْئِلَةٌ رَاحَ يَبْحَثُ فِي بُطُونِ الْكُتُبِ الدِّينِيَّةِ عَنْ تَفْسِيرٍ لَهَا يَطْمَئِنُّ إِلَيْهِ ذِهْنُهُ الْمُتَوَهِّجُ الْوَقَّادُ : لِمَنْ كَانَ يُقَدِّمُ الْإِلَهُ زُرْوَانُ الْقَرَابِينَ إِذَا كَانَ هُوَ الزَّمَانُ وَالْمَكَانُ وَالْقَضَاءُ وَالْقَدَرُ وَالْأَوَّلُ الَّذِي لَا أَوَّلَ قَبْلَهُ ؟ وَكَيْفَ لَا يَعْرِفُ زُرْوَانُ وَهُوَ الْعَالِمُ بِكُلِّ شَيْءٍ ابْنَهُ أَهْرِيمَنَ لَمَّا شَقَّ بَطْنَهُ وَخَرَجَ مِنْهُ وَمَثَلَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيَسْأَلُهُ :
Timbullah pertanyaan-pertanyaan di dalam dirinya, dan dia pun mulai mencari di dalam kitab-kitab keagamaan penjelasan yang dapat menenteramkan benaknya yang cerdas lagi kritis: Kepada siapakah dewa Zurvan mempersembahkan korban-korbannya, jika dialah sang waktu, ruang, qadha, qadar, dan sang pemula yang tidak ada pemula sebelum dirinya? Dan bagaimana bisa Zurvan — padahal dialah yang mengetahui segala sesuatu — tidak mengenali anaknya, Ahriman, ketika merobek perutnya lalu keluar darinya dan hadir di hadapannya, sehingga dia justru bertanya kepadanya:
— مَنْ أَنْتَ ؟!
— Siapa kamu?!
وَأَيْنَ كَانَ زُرْوَانُ لَمَّا شَبَّ الْقِتَالُ بَيْنَ تَوْأَمَيْهِ ، وَكَيْفَ حَفَرَ أَهُورَا مَزْدَا خَنْدَقًا فِي السَّمَاءِ لِيَصُدَّ هُجُومَ أَخِيهِ عَلَيْهِ ؟ إِنَّهُ رَأَى الْخَنَادِقَ تُحْفَرُ فِي الْأَرْضِ وَلَكِنَّ عَقْلَهُ قَصُرَ عَنْ تَصَوُّرِ حَفْرِ الْخَنَادِقِ فِي الْهَوَاءِ . أَسْئِلَةٌ كَثِيرَةٌ لَمْ يَجِدْ لَهَا أَجْوِبَةً مُقْنِعَةً فِي بُطُونِ الْكُتُبِ الدِّينِيَّةِ الَّتِي قَرَأَهَا ،
Dan di manakah Zurvan berada ketika berkobar peperangan di antara kedua anak kembarnya? Serta bagaimana bisa Ahura Mazda menggali parit di langit demi menahan serangan saudaranya? Salman tahu betul parit-parit digali di bumi, namun akalnya tidak sanggup membayangkan parit di galian udara. Banyak sekali pertanyaan yang tidak dia temukan jawaban memuaskan di dalam lembaran kitab keagamaan yang dibacanya.
وَقِصَصٌ تَمُوجُ بِهَا كُتُبُ الْمَجُوسِ لَا يُمْكِنُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ مِنْ وَضْعِ الْبَشَرِ ، فَمَوْلِدُ الْآلِهَةِ لَا يَفْتَرِقُ فِي قَلِيلٍ أَوْ كَثِيرٍ عَنْ مَوْلِدِ النَّاسِ ، وَنَظْرَةُ الدِّينِ إِلَى الْمَرْأَةِ هِيَ نَظْرَةُ الرَّجُلِ إِلَيْهَا ، أَحَقًّا عِنْدَمَا أَعْطَى أَهُورَا مَزْدَا الْمُتَّقِينَ النِّسَاءَ هَرَبْنَ وَذَهَبْنَ إِلَى أَهْرِيمَنَ الشَّيْطَانِ . فَلَمَّا مَنَحَ أَهُورَا مَزْدَا الْمُتَّقِينَ الْهُدُوءَ وَالسَّعَادَةَ مَنَحَ الشَّيْطَانُ النِّسَاءَ السَّعَادَةَ أَيْضًا ، وَقَدْ أُذِنَ لَهُنَّ مِنَ الشَّيْطَانِ أَنْ يَطْلُبْنَ مَا يُرِدْنَ ، فَخَشِيَ أَهُورَا مَزْدَا أَنْ يَطْلُبْنَ الِاتِّصَالَ بِالْمُتَّقِينَ فَيَحْمِلُهُمُ الْعَذَابُ ، فَبَحَثَ عَنْ وَسِيلَةٍ لِيُبْعِدَهُنَّ فَخَلَقَ الْإِلَهُ نِرْسَائِي رَسُولَ الْآلِهَةِ ، ثُمَّ وَضَعَهُ عَارِيًا خَلْفَ الشَّيْطَانِ وَذَلِكَ لِتَرَاهُ النِّسَاءُ فَيَشْتَقْنَ إِلَيْهِ وَيَطْلُبْنَهُ ، فَرَفَعَعَ النِّسَاءُ أَيْدِيَهُنَّ إِلَى الشَّيْطَانِ وَقُلْنَ لَهُ : يَا أَبَانَا الشَّيْطَانَ هَبْ لَنَا الْإِلَهَ نِرْسَائِي ؟
Dan kisah-kisah yang bergejolak di dalam kitab-kitab kaum Majusi tidak mungkin tidak, pastilah buatan manusia. Kelahiran dewa-dewa tidak berbeda sedikit atau banyak pun dari kelahiran manusia, dan pandangan agama tersebut terhadap wanita mencerminkan pandangan bias lelaki belaka. Apakah benar ketika Ahura Mazda memberikan kaum wanita kepada orang-orang bertakwa, para wanita itu justru melarikan diri dan pergi kepada setan Ahriman? Kemudian tatkala Ahura Mazda menganugerahkan ketenangan dan kebahagiaan kepada orang-orang bertakwa, setan pun menganugerahkan kebahagiaan pula kepada kaum wanita, dan mereka diizinkan oleh setan untuk meminta apa saja yang mereka inginkan. Maka Ahura Mazda khawatir jika mereka meminta berhubungan dengan orang-orang bertakwa sehingga mendatangkan siksaan, lalu dewa mencari cara untuk menjauhkan mereka, maka diciptakanlah dewa Nairyosangha, utusan para dewa, lalu menempatkannya dalam keadaan telanjang di belakang setan agar kaum wanita melihatnya, sehingga mereka terpikat dan menginginkannya, lalu kaum wanita mengangkat tangan mereka kepada setan dan berkata kepadanya: Wahai bapak kami, setan, berikanlah dewa Nairyosangha kepada kami?
إِنَّ عَقْلَهُ الْحُرَّ لَا يَسِيغُ هَذِهِ الْقِصَّةَ وَلَا الْقِصَصَ الْخُرَافِيَّةَ الْكَثِيرَةَ الَّتِي تَفِيضُ بِهَا الْأَوْسْتَا ، فَهُوَ يَرَى أَثَرَ الْوَضْعِ وَالْفَلْسَفَةِ فِي كُلِّ مَا يَقْرَأُ . وَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَهْضِمَ أَنَّ لِزُرْوَانَ أَقَانِيمَ خَمْسَةً : الْحِلْمَ وَالْعِلْمَ وَالْعَقْلَ وَالْغَيْبَ وَالْفِطْنَةَ ، وَأَنَّ لِإِلَهِ الظُّلُمَاتِ عَوَالِمَ خَمْسَةً : هِيَ الضَّبَابُ وَالْحَرِيقُ وَالسُّمُومُ وَالسَّمُّ وَالظُّلْمَةُ . وَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُوَفِّقَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَقَانِيمِ وَالتَّثْلِيثِ وَالتَّرْبِيعِ فِي دِيَانَتِهِ ، وَاحْتَارَ فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي الْكَثِيرَةِ الَّتِي يَنُوءُ بِهَا الْبَشَرُ ، فَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ لِلشَّمْسِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فِي أَثْنَاءِ النَّهَارِ وَعَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ لِلْقَمَرِ وَلِلنَّارِ وَلِلْمَاءِ ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْتَلَ الْأَدْعِيَةَ قُبَيْلَ النَّوْمِ وَحِينَ يَصْحُو ، وَفِي أَثْنَاءِ الِاسْتِحْمَامِ وَالتَّمَنْطُقِ بِالْحِزَامِ ، وَفِي أَثْنَاءِ الْأَكْلِ وَحِينَ يَذْهَبُ إِلَى الضَّرُورَةِ ، وَإِذَا عَطَسَ ، وَإِذَا حَلَقَ شَعْرَ رَأْسِهِ أَوْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ ، وَحِينَ يُضِيءُ السِّرَاجَ ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَخْبُوَ نَارُ الْبَيْتِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَقَعَ الشَّمْسُ عَلَى النَّارِ ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْتَرِبَ الْمَاءُ وَالنَّارُ ، وَيَنْبَغِي أَلَّا تَصْدَأَ آنِيَةُ الْمَعَادِنِ فَهِيَ مُقَدَّسَةٌ .
Akal merdekanya tidak dapat menerima kisah ini, tidak pula kisah-kisah khurafat lainnya yang melimpah di dalam Avesta, karena dia melihat jejak rekayasa dan filsafat manusia dalam setiap apa yang dibacanya. Ia tidak sanggup mencerna bahwa Zurvan memiliki lima pribadi (hipostasis): santun, ilmu, akal, gaib, dan kecerdasan, serta bahwa dewa kegelapan memiliki lima dunia: kabut, kebakaran, angin samum, racun, dan kegelapan. Ia juga tidak bisa menyelaraskan antara pribadi-pribadi ini dengan konsep trinitas dan kuaternitas dalam agamanya, serta kebingungan menghadapi banyaknya perintah dan larangan yang sangat membebani manusia. Ia diwajibkan menyembah matahari empat kali sehari, menyembah bulan, api, dan air. Ia juga harus melantunkan doa menjelang tidur dan ketika terjaga, saat mandi, saat mengikat ikat pinggang suci (Kusti), saat makan, saat buang hajat, ketika bersin, ketika mencukur rambut kepala atau memotong kuku, dan saat menyalakan lampu. Tidak boleh api rumah padam, tidak boleh matahari menyinari api secara langsung, tidak boleh air dan api saling mendekat, serta logam-logam tidak boleh berkarat karena disucikan.
ضَاقَ صَدْرُ سَلْمَانَ بِكُلِّ هَذِهِ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي ، وَبِالْمَرَاسِمِ الضَّرُورِيَّةِ
Dada Salman terasa sempit dengan segala perintah dan larangan ini, serta ritual-ritual wajib
لِلتَّطْهِيرِ مِنْ لَمْسِ مَيِّتٍ أَوْ امْرَأَةٍ حَائِضٍ أَوْ نُفَسَاءَ وَخَاصَّةً إِذَا وَضَعَتْ طِفْلًا مَيِّتًا ، وَيَتَدَخَّلُ الدِّينُ فِي أَقَلِّ أُمُورِ الْحَيَاةِ الْيَوْمِيَّةِ شَأْنًا وَتَعَرُّضِ النَّاسِ لَيْلًا وَنَهَارًا لِأَنْ يَقَعُوا فِي الْإِثْمِ أَوْ النَّجَاسَةِ لِأَقَلِّ غَفْلَةٍ تَبْدُو مِنْهُمْ . ضَاقَ سَلْمَانُ بِكُلِّ هَذِهِ التَّطَلُّعَاتِ وَهُوَ رَجُلُ الدِّينِ الَّذِي أَصْبَحَ قَاطِنَ النَّارِ الَّتِي تُوقَدُ وَلَا يَتْرُكُونَهَا تَخْبُو أَبَدًا .
untuk bersuci akibat menyentuh mayat, wanita haid, atau nifas, terutama jika melahirkan anak yang mati. Agama tersebut mencampuri urusan kehidupan sehari-hari yang paling remeh sekalipun, membuat manusia terancam siang dan malam terjerumus ke dalam dosa atau kenajisan hanya karena kelalaian terkecil yang mereka lakukan. Salman merasa sesak dengan segala dogma ini, padahal dialah tokoh agama yang telah menjadi penjaga api yang selalu dinyalakan dan tidak pernah dibiarkan padam selamanya.
وَقَرَأَ فِي الْإِضَافَاتِ الَّتِي أَضَافَهَا مَانِي إِلَى الْأَوْسْتَا : « إِنَّ الْحِكْمَةَ وَالْأَعْمَالَ هِيَ الَّتِي لَمْ يَزَلْ رُسُلُ اللهِ يَأْتُونَ بِهَا فِي زَمَنٍ دُونَ زَمَنٍ ، فَكَانَ مَجِيئُهُمْ فِي بَعْضِ الْقُرُونِ عَلَى يَدَيِ الرَّسُولِ الَّذِي هُوَ « الْبُذْ » إِلَى بِلَادِ الْهِنْدِ ، وَفِي بَعْضِهَا عَلَى يَدِ « زَرَادِشْتَ » إِلَى أَرْضِ فَارِسَ ، وَفِي بَعْضِهَا عَلَى يَدَيْ « عِيسَى » إِلَى أَرْضِ الْمَغْرِبِ ، ثُمَّ نَزَلَ هَذَا الْوَحْيُ ، وَجَاءَتْ هَذِهِ النُّبُوَّةُ فِي هَذَا الْقَرْنِ الْأَخِيرِ عَلَى يَدَيَّ أَنَا « مَانِي » رَسُولِ إِلَهِ الْحَقِّ إِلَى أَرْضِ بَابِلَ » .
Ia pun membaca tambahan-tambahan yang dimasukkan oleh Mani ke dalam kitab Avesta: "Sesungguhnya hikmah dan amal perbuatan adalah apa yang senantiasa dibawa oleh para utusan Allah dari zaman ke zaman. Kedatangan mereka pada sebagian abad terjadi melalui perantara rasul yang bernama 'Buddha' ke negeri India, pada sebagian abad lainnya melalui 'Zoroaster' ke tanah Persia, dan pada sebagian abad lainnya melalui 'Isa' ke tanah Barat. Kemudian wahyu ini turun, dan kenabian ini datang di abad terakhir ini melalui kedua tanganku, aku 'Mani', utusan dewa kebenaran ke tanah Babilonia."
وَطَافَتْ بِذِهْنِ سَلْمَانَ الْأُغْنِيَةُ الَّتِي تَقُولُ عَلَى لِسَانِ مَانِي : « إِنِّي جِئْتُ مِنْ بِلَادِ بَابِلَ لِأُبَلِّغَ دَعْوَتِي لِلنَّاسِ كَافَّةً » وَتَذَكَّرَ مَا قَالَهُ مَانِي مِنْ أَنَّهُ « الْفَارَقْلِيطُ » الَّذِي بَشَّرَ بِهِ عِيسَى ، وَكَيْفَ أَنَّ مُنَافِسِيهِ وَأَعْدَاءَهُ كَذَّبُوهُ ، فَوَدَّ سَلْمَانُ لَوْ دَرَسَ دِينَ عِيسَى لِيَكْشِفَ النِّقَابَ عَنْ وَجْهِ الْحَقِيقَةِ .
Terngianglah dalam benak Salman senandung yang diucapkan oleh Mani: "Sesungguhnya aku datang dari negeri Babilonia untuk menyampaikan dakwahku kepada seluruh umat manusia." Ia juga teringat klaim Mani yang menyatakan bahwa dirinya adalah 'Parakleitos' (Penolong/Sang Penghibur) yang dikabarkan gembira oleh Isa, serta bagaimana para pesaing dan musuh-musuhnya mendustakannya. Salman pun sangat berharap andai saja dia dapat mempelajari agama Isa demi menyingkap tabir dari wajah kebenaran sejati.
وَذَاتَ يَوْمٍ أَرْسَلَهُ أَبُوهُ إِلَى ضَيْعَتِهِ ، وَبَيْنَا هُوَ فِي الطَّرِيقِ مَرَّ بِكَنِيسَةٍ لِلنَّصَارَى وَمَسَّ أُذْنَيْهِ صَلَاتُهُمْ مَسًّا رَقِيقًا ، فَسَارَ إِلَيْهَا كَالْمَأْخُوذِ فَمَا طَالَمَا تَمَنَّى أَنْ تُتَاحَ لَهُ فُرْصَةُ مُنَاقَشَةِ هَذَا الدِّينِ .
Pada suatu hari, ayahnya mengutusnya untuk pergi ke ladang miliknya. Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah gereja milik kaum Nasrani, dan lantunan doa mereka menyentuh kedua telinganya dengan lembut. Ia pun berjalan menuju gereja itu laksana orang yang terhipnotis, karena sudah sejak lama dia sangat mendambakan kesempatan untuk mengkaji agama ini.
وَدَخَلَ مِنْ بَابِ الْكَنِيسَةِ وَرَاحَ يَنْظُرُ مَا يَصْنَعُونَ ، فَأَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ صَلَاتِهِمْ وَقَالَ لِنَفْسِهِ :
Ia masuk melalui pintu gereja dan mulai memperhatikan apa yang mereka lakukan. Ibadah mereka membuatnya takjub, lalu dia bergumam dalam hatinya:
— هَذَا خَيْرٌ مِنْ دِينِنَا الَّذِي نَحْنُ فِيهِ .
— Ini lebih baik daripada agama yang kita anut saat ini.
وَاتَّصَلَ بِرِجَالِ الْكَنِيسَةِ وَرَاحَ يُحَاوِرُهُمْ وَيُصْغِي إِلَى مَا يَقُولُونَ وَقَدْ أُفْعِمَ بِنَشْوَةٍ رُوحِيَّةٍ أَنْسَتْهُ الضَّيْعَةَ الَّتِي أَرْسَلَهُ أَبُوهُ إِلَيْهَا ، بَلْ أَنْسَتْهُ كُلَّ مَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا ذَلِكَ الْحَدِيثَ الَّذِي أَخَذَ بِلُبِّهِ وَمَجَامِعِ فُؤَادِهِ .
Ia pun berkomunikasi dengan para pemuka gereja, berdialog dengan mereka, serta menyimak perkataan mereka dengan saksama. Ia dilingkupi oleh luapan ekstasi spiritual yang membuatnya melupakan ladang misi utusan ayahnya, bahkan melupakan segala hal di dunia ini kecuali percakapan yang telah menawan akal dan seluruh relung hatinya tersebut.
وَرَاحَ أَبُوهُ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي قَصْرِهِ فَقَدْ غَابَتِ الشَّمْسُ وَلَمْ يَعُدْ سَلْمَانُ ، وَاسْتَبَدَّ بِهِ الْقَلَقُ فَبَعَثَ فِي أَثَرِهِ مَنْ يَبْحَثُ عَنْهُ وَيَرَى عِلَّةَ ذَلِكَ الْغِيَابِ . وَأَعْجَبَ سَلْمَانَ أَمْرُ ذَلِكَ الدِّينِ الَّذِي جَاءَ بِهِ عِيسَى فَقَالَ :
Sementara itu, ayahnya berjalan mondar-mandir di istananya karena matahari telah terbenam namun Salman belum juga kembali. Rasa cemas menguasai dirinya, maka dia mengirim orang untuk menyusul dan mencari tahu penyebab keterlambatan anaknya. Salman yang terpukau oleh keindahan ajaran agama yang dibawa oleh Isa bertanya:
— أَيْنَ أَصْلُ هَذَا الدِّينِ ؟
— Di manakah asal mula/pusat dari agama ini?
فَأَجَابُوهُ :
Maka mereka menjawabnya:
— الشَّامُ .
— Syam (Suriah/Levant).
وَدَخَلَ الَّذِينَ بَعَثَهُمْ أَبُوهُ فِي أَثَرِهِ الْكَنِيسَةَ بَعْدَ أَنْ أَعْيَاهُمُ الْبَحْثُ عَنْهُ فَأَلْفَوْهُ بَيْنَ يَدَيِ الرُّهْبَانِ وَقَدْ أَلْقَى إِلَيْهِمْ سَمْعَهُ وَلَاحَ فِي وَجْهِهِ الِاهْتِمَامُ ، فَنَادَوْهُ فَأَفَاقَ مِنْ نَشْوَتِهِ وَلَاحَ الضِّيقُ فِي وَجْهِهِ كَأَنَّمَا هَبَطَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ . وَعَادَ مَعَهُمْ إِلَى الْقَصْرِ ، وَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَيْنَا أَبِيهِ عَلَيْهِ حَتَّى قَالَ فِي غَضَبٍ :
Orang-orang yang diutus ayahnya akhirnya masuk ke dalam gereja setelah kelelahan mencari ke sana kemari. Mereka mendapati Salman sedang berada di hadapan para rahib, mendengarkan mereka dengan khidmat dengan raut wajah penuh keseriusan. Mereka memanggilnya, sehingga Salman tersadar dari keasyikannya, lalu tampak raut kekesalan di wajahnya seolah-olah dia baru saja jatuh dari langit ke bumi. Ia pun pulang bersama mereka ke istana, dan begitu kedua mata ayahnya tertuju kepadanya, sang ayah berkata dengan marah:
— أَيْنَ كُنْتَ ؟
— Dari mana saja kamu?
فَقَالَ سَلْمَانُ فِي هُدُوءٍ :
Maka Salman berkata dengan tenang:
— مَرَرْتُ عَلَى قَوْمٍ يُصَلُّونَ فِي كَنِيسَةٍ لَهُمْ فَأَعْجَبَتْنِي صَلَاتُهُمْ وَرَأَيْتُ أَنَّ دِينَهُمْ خَيْرٌ مِنْ دِينِنَا .
— Aku melewati sekelompok orang yang sedang beribadah di gereja mereka, lalu ibadah mereka membuatku takjub, dan aku memandang bahwa agama mereka lebih baik daripada agama kita.
وَثَارَ الدِّهْقَانُ وَقَدْ أَحْنَقَهُ أَنَّ ابْنَهُ الَّذِي اجْتَهَدَ فِي الْمَجُوسِيَّةِ حَتَّى صَارَ قَاطِنَ النَّارِ يَنْطِقُ بِبَسَاطَةٍ بِهَذَا الْقَوْلِ ، فَرَاحَ يُؤَكِّدُ لَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ أَضَلَّهُ وَيَنْصَحُهُ بِأَنْ يَتُوبَ عَنْ فَعْلَتِهِ الشَّنْعَاءِ . وَلَمْ يَسْتَجِبْ سَلْمَانُ لِلنُّصْحِ فَرَاحَ أَبُوهُ يَنْهَرُهُ وَيُهَدِّدُهُ وَيَتَوَعَّدُهُ . وَلَمْ يَنْفَعْ فِي الرَّاغِبِ فِي الْحَقِيقَةِ تَهْدِيدٌ وَلَا وَعِيدٌ ، بَلْ أَصَرَّ سَلْمَانُ عَلَى أَنَّ دِينَ النَّصَارَى خَيْرٌ مِنْ دِينِ قَوْمِهِ ، فَلَمْ يَجِدْ أَبُوهُ إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ فِي رِجْلَيْهِ الْحَدِيدَ وَيَحْبِسَهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَى مِلَّةِ قَوْمِهِ وَيَنْسَى تِلْكَ الْأَفْكَارَ الْمُدَمِّرَةَ الَّتِي اسْتَوْلَتْ عَلَى لُبِّهِ .
Maka meledaklah amarah sang Dihqan. Ia merasa sangat terpukul karena anaknya yang telah bersungguh-sungguh dalam agama Majusi hingga menjadi penjaga api suci, dapat mengucapkan kalimat seperti itu dengan begitu ringannya. Sang ayah bersikeras meyakinkannya bahwa setan telah menyesatkannya, serta menasihatinya agar bertobat dari perbuatan buruknya itu. Namun Salman tidak menggubris nasihat tersebut, sehingga ayahnya mulai membentak, mengancam, dan mengintimidasi dirinya. Segala ancaman dan intimidasi sama sekali tidak mempan bagi seorang pencari kebenaran sejati, justru Salman tetap teguh pada pendiriannya bahwa agama Nasrani lebih baik daripada agama kaumnya. Akhirnya, ayahnya tidak melihat jalan lain kecuali memasangkan belenggu besi di kedua kakinya dan memenjarakannya, agar dia mau kembali ke pelukan agama kaumnya serta melupakan pemikiran-pemikiran merusak yang telah menguasai akalnya itu.
وَلَمْ يَحُسَّ سَلْمَانُ قَسْوَةَ السِّجْنِ وَالْقُيُودِ وَالْأَغْلَالِ فَقَدْ كَانَتْ رُوحُهُ حُرَّةً طَلِيقَةً تَهِيمُ فِي الْوُجُودِ ، كُلُّ مَا كَانَ يُضَايِقُهُ أَنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْطَلِقَ إِلَى الشَّامِ مَهْوَى ذَلِكَ الدِّينِ الَّذِي تَفَتَّحَ لَهُ قَلْبُهُ .
Namun Salman tidak merasakan kejamnya penjara, belenggu, maupun rantai besi, karena jiwanya tetap merdeka bebas melayang menjelajahi semesta alam wujud. Satu-satunya hal yang mengusik hatinya hanyalah fakta bahwa dia tidak bisa beranjak pergi menuju Syam, tempat bernaungnya agama yang telah membuat pintu hatinya terbuka lebar tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar