KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Sumpah Berhala dan Jalan Sunyi Sang Nabi: Pencarian Kebenaran di Tengah Kegelapan
Saat rombongan kafilah sujud pada berhala, Muhammad ﷺ dan Abu Bakar RA memilih berdiri tegak dalam keheningan. Sebuah episode yang memperlihatkan keteguhan iman di tengah arus tradisi yang menyimpang.
اِنْطَلَقَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِ عَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَمَشَى يَتَقَلَّعُ كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ لِيَخْرُجَ فِي عِيرِهَا إِلَى الشَّامِ يَتَّجِرُ لَهَا فِي مَالِهَا. إِنَّهُ خَرَجَ فِي أَوَّلِ رَجَبٍ مَعَ غُلَامِهَا إِلَى سُوقِ حُبَاشَةَ بِأَرْضِ اليَمَنِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَكَّةَ سِتُّ لَيَالٍ فَابْتَاعَا مِنْهُ بَزًّا وَرَجَعَا إِلَى مَكَّةَ فَرَبِحَا رِبْحًا حَسَنًا وَأَنَّهُ أَجَّرَ نَفْسَهُ مِنْ خَدِيجَةَ سَفْرَتَيْنِ بِقَلُوصَيْنِ (الشَّابَّةُ مِنَ الإِبِلِ). وَقَدِ انْتَهَتِ السَّفْرَةُ الأُولَى وَهَا هُوَ ذَا مُقْدِمٌ عَلَى الثَّانِيَةِ هَادِئَ النَّفْسِ مُطْمَئِنَّ البَالِ، فَقَدْ مَارَسَ التِّجَارَةَ مِنْ قَبْلُ وَكَانَ تَاجِرًا صَدُوقًا.
Muhammad bin Abdullah berangkat dari rumah pamannya, Abu Thalib, dan berjalan dengan langkah yang mantap lagi cepat seakan-akan beliau turun dari tempat yang tinggi, menuju rumah Khadijah untuk pergi membawa kafilah dagangnya ke Syam guna memperdagangkan hartanya. Beliau telah berangkat pada awal bulan Rajab bersama pelayan Khadijah menuju pasar Hubasyah di tanah Yaman, yang jaraknya dari Makkah sejauh enam malam perjalanan. Lalu keduanya membeli kain dari sana dan kembali ke Makkah, hingga meraup keuntungan yang sangat baik. Beliau menyewakan jasanya kepada Khadijah untuk dua kali perjalanan dengan imbalan dua ekor unta muda (Qalush: unta yang masih muda). Perjalanan pertama telah selesai, dan kini beliau bersiap menghadapi perjalanan kedua dengan jiwa yang tenang dan pikiran yang tenteram, karena beliau telah berpengalaman dalam berniaga sebelumnya dan dikenal sebagai seorang pedagang yang sangat jujur.
كَانَ شَرِيكًا لِلسَّائِبِ بْنِ أَبِي السَّائِبِ صَيْفِيٍّ، وَكَانَ السَّائِبُ إِذَا مَا يُحَدِّثُ عَنْهُ الشَّرِيكَ لَا يُدَارِي (يُرَائِي) وَلَا يُمَارِي (يُخَاصِمُ صَاحِبَهُ) وَلَا يُشَارِي (١). إِنَّهُ كَانَ مَحْظُوظًا فِي سَفْرَتِهِ الأُولَى وَكَانَ يَأْمُلُ أَنْ يَزِيدَ حَظَّهُ فِي سَفْرَتِهِ هَذِهِ، فَهُوَ مِنْ قُرَيْشٍ وَقُرَيْشٌ تَتَمَادَحُ بِكَسْبِ المَالِ وَالنَّجَاحِ فِي التِّجَارَةِ.
Beliau pernah menjadi rekan kongsi bagi As-Sa'ib bin Abi As-Sa'ib Shaifi. Dan As-Sa'ib, jika menceritakan tentang rekan kongsinya itu, menyatakan bahwa beliau tidak pernah bermuka-dua (pamer/riya), tidak pernah mendebat (memusuhi temannya), dan tidak pula berselisih paham (١). Sesungguhnya beliau sangat beruntung dalam perjalanan pertamanya, dan beliau berharap keberuntungannya bertambah pada perjalanan kali ini, sebab beliau termasuk kaum Quraisy, sedangkan kaum Quraisy saling memuji dalam hal mencari harta dan kesuksesan dalam berniaga.
وَبَلَغَ دَارَ خَدِيجَةَ فَرَاحَ مَعَ غُلَامِهَا مَيْسَرَةَ يُعِدُّ العُدَّةَ لِلرِّحْلَةِ الطَّوِيلَةِ، كَانَ الجَوُّ حَارًّا وَالعَرَقُ يَتَفَصَّدُ مِنَ الأَجْسَادِ لَكِنَّ الرِّجَالَ كَانُوا فِي غُدُوٍّ وَرَوَاحٍ وَقَدْ دَبَّ فِيهِمْ نَشَاطٌ عَجِيبٌ، فَابْتِسَامَةُ مُحَمَّدٍ الرَّقِيقَةُ وَكَلِمَاتُهُ الحُلْوَةُ وَمَعُونَتُهُ الصَّادِقَةُ تُخَفِّفُ عَنْ نُفُوسِهِمْ وَتَمُدُّهَا بِقُوَّةٍ رُوحِيَّةٍ تَقْهَرُ كُلَّ تَعَبٍ وَتَعْلُو عَلَى كُلِّ الصِّعَابِ.
Beliau pun sampai di rumah Khadijah, lalu mulai bersama pelayannya, Maisarah, mempersiapkan segala perbekalan untuk perjalanan jauh tersebut. Cuaca saat itu sangat panas dan keringat bercucuran dari tubuh-tubuh mereka, namun orang-orang itu terus bergerak pergi dan pulang di waktu pagi dan petang. Sebuah semangat yang menakjubkan telah merayap ke dalam diri mereka; senyuman Muhammad yang lembut, tutur katanya yang manis, serta bantuannya yang tulus terbukti mampu meringankan beban jiwa mereka dan menyuplai mereka dengan kekuatan spiritual yang mengalahkan segala rasa lelah dan mengatasi setiap kesulitan.
(١) المُشَارَاةُ فِي الأَمْرِ : المُشَاحَّةُ وَاللِّجَاجُ فِيهِ . / Al-Musyarah dalam suatu perkara artinya: Saling mempersempit (kikir) dan bersikeras berdebat di dalamnya.
وَوَقَفَتْ خَدِيجَةُ فِي عِلِّيَّةٍ لَهَا وَإِلَى جِوَارِهَا نَفِيسَةُ بِنْتُ مُنْيَةَ وَبَعْضُ صُوَيْحِبَاتِهَا وَمِنْ خَلْفِهَا الإِمَاءُ، وَرَاحَتْ تَرْقُبُ رِجَالَهَا وَهُمْ يُجَهِّزُونَ القَافِلَةَ فَإِذَا بِابْنِ عَبْدِ اللهِ يَجْذِبُ إِلَيْهِ بَصَرَهَا وَانْتِبَاهَهَا وَخَيَالَهَا.
Khadijah berdiri di sebuah kamar atas (balkon) miliknya, dan di sampingnya ada Nafisah binti Munyah beserta beberapa teman wanita dekatnya, sementara para hamba sahaya perempuan berada di belakangnya. Dia terus mengawasi para pekerjanya yang sedang mempersiapkan kafilah, lalu tiba-tiba putra Abdullah itu menarik pandangan mata, perhatian, serta seluruh khayalan dirinya.
وَانْتَهَى الرِّجَالُ مِنْ تَجْهِيزِ عِيرَاتِ خَدِيجَةَ، فَذَهَبَ إِلَيْهَا غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ قَبْلَ أَنْ يُؤْذَنَ بِالرَّحِيلِ وَمَثَلَ بَيْنَ يَدَيْهَا يَصْغَى إِلَى أَوَامِرِهَا، فَقَالَتْ لَهُ:
Orang-orang pun selesai mempersiapkan unta-unta muatan milik Khadijah. Maka pelayannya, Maisarah, pergi menemuinya sebelum diumumkannya keberangkatan, dan ia berdiri di hadapannya mendengarkan perintah-perintahnya, lalu Khadijah berkata kepadanya:
— لَا تَعْصِ لِمُحَمَّدٍ أَمْرًا وَلَا تُخَالِفْ لَهُ رَأْيًا.
— Jangan sekali-kali kamu mendurhakai satu pun perintah Muhammad, dan jangan pula kamu menyelisihi pendapatnya.
أَحَبَّ مَيْسَرَةُ مُحَمَّدًا مِنْ قَلْبِهِ لَمَّا خَرَجَ مَعَهُ إِلَى سُوقِ حُبَاشَةَ، وَكَانَ يَسْتَشِيرُهُ فِي أُمُورِهِ كُلِّهَا لِمَا فَطِنَ إِلَى رَجَاحَةِ عَقْلِهِ وَحُسْنِ مَنْطِقِهِ، فَمَا كَانَ فِي حَاجَةٍ إِلَى وَصِيَّةِ سَيِّدَتِهِ بِهِ، بَيْدَ أَنَّ تِلْكَ الوَصِيَّةَ قَدْ كَشَفَتْ عَنْ مَكَانَةِ مُحَمَّدٍ فِي قَلْبِ خَدِيجَةَ، فَقَدِ اسْتَطَاعَ بَعْدَ سَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ أَنْ يَسْتَحْوِذَ عَلَى ثِقَتِهَا، وَلَمْ يَعْجَبْ مَيْسَرَةُ لِذَلِكَ فَابْنُ عَبْدِ اللهِ أَهْلٌ لِكُلِّ ثِقَةٍ، إِذَا تَحَدَّثَ صَدَقَ، وَإِذَا وَعَدَ وَفَى، وَإِذَا اؤْتُمِنَ أَدَّى الأَمَانَةَ، فَهُوَ الصَّادِقُ الأَمِينُ حَقًّا.
Maisarah telah mencintai Muhammad dari lubuk hatinya sejak ia keluar bersamanya ke pasar Hubasyah. Ia selalu meminta saran kepadanya dalam segala urusannya karena ia menyadari ketajaman akal beliau dan keindahan tutur katanya. Maka sebenarnya ia tidak membutuhkan wasiat dari nyonyanya mengenai beliau. Namun demikian, wasiat tersebut telah menyingkap kedudukan Muhammad di dalam hati Khadijah; yang mana beliau mampu meraih kepercayaannya yang penuh hanya setelah satu kali perjalanan. Maisarah tidak merasa heran akan hal itu, sebab putra Abdullah memang sangat layak atas segala kepercayaan; jika berbicara ia jujur, jika berjanji ia menepati, dan jika diberi amanat ia menyampaikannya, maka beliau benar-benar As-Sadiq (Yang Jujur) lagi Al-Amin (Yang Terpercaya).
وَخَرَجَتْ قَافِلَةُ خَدِيجَةَ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ قَوَافِلُ قُرَيْشٍ، وَكَانَتْ قَافِلَتُهَا تَعْدِلُ قَوَافِلَ قُرَيْشٍ كُلِّهَا، وَغَصَّ المَكَانُ بِتِجَارَةِ بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ وَبَنِي المُغِيرَةِ وَبَنِي تَيْمٍ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ فِي قَافِلَةِ قَوْمِهِ وَكَانَ ذَلِكَ مِمَّا سَرَّ لَهُ مُحَمَّدٌ فَمَا كَانَ الصَّدِيقَانِ يَفْتَرِقَانِ وَقَدْ أَحَبَّ كُلٌّ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ حُبًّا كَبِيرًا.
Kafilah Khadijah pun keluar menuju tempat berkumpulnya kafilah-kafilah Quraisy. Kafilah dagangnya setara dengan seluruh kafilah Quraisy digabungkan, dan tempat itu dipenuhi oleh barang dagangan Bani Hasyim, Bani Umayyah, Bani Al-Mughirah, dan Bani Taim. Abu Bakar pun berada di dalam kafilah kaumnya, dan hal itu termasuk perkara yang menggembirakan Muhammad, karena kedua sahabat karib itu tidak pernah berpisah dan masing-masing sangat mencintai sahabatnya dengan cinta yang besar.
وَجَاءَ أَبُو طَالِبٍ وَالزُّبَيْرُ وَأَبُو لَهَبٍ وَالعَبَّاسُ وَحَمْزَةُ وَالغَيْدَاقُ وَرِجَالُ بَنِي هَاشِمٍ لِيُوَدِّعُوا الأَمِينَ، وَجَعَلَ عُمُومَتُهُ يُوصُونَ بِهِ أَهْلَ العِيرِ وَلَوْ أَنْصَفُوا لَأَوْصَوْهُ بِهِمْ، فَقَلْبُهُ الكَبِيرُ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَسْعَهُمْ جَمِيعًا.
Datanglah Abu Thalib, Az-Zubair, Abu Lahab, Al-Abbas, Hamzah, Al-Ghaidaq, serta tokoh-tokoh Bani Hasyim untuk melepas kepergian Al-Amin. Paman-pamannya mulai menitipkan beliau kepada para kru kafilah, padahal jika mereka mau berlaku adil, niscaya merekalah yang harus menitipkan para kru itu kepada beliau, karena hatinya yang besar mampu mengayomi mereka semua.
وَتَعَانَقَ الرِّجَالُ وَخَفَقَتِ القُلُوبُ فِي الصُّدُورِ وَسَالَتِ العَبَرَاتُ عَلَى الخُدُودِ وَالوُجَنَاتِ، وَأُذِنَ بِالرَّحِيلِ فَفَصَلَتِ العِيرُ وَانْطَلَقَتْ فِي طَرِيقِهَا إِلَى الشَّامِ حَتَّى أَطْبَقَ عَلَيْهَا الأُفُقُ البَعِيدُ.
Orang-orang pun saling berpelukan, jantung berdegup kencang di dalam dada, dan air mata berlinang membasahi pipi serta wajah mereka. Ketika izin keberangkatan dikumandangkan, kafilah itu pun berpisah dan melaju meniti jalurnya menuju Syam hingga akhirnya tertutup oleh ufuk yang jauh.
وَانْسَابَتِ Qَافِلَةُ فِي مَلَكُوتِ اللهِ مُحَمَّدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يَسِيرَانِ جَنْبًا إِلَى جَنْبٍ يَرَى كُلٌّ مِنْهُمَا فِي صَاحِبِهِ الصَّدِيقَ الَّذِي يَتَعَاطَفُ مَعَهُ وَيَنْجَذِبُ إِلَيْهِ وَيُبَادِلُهُ حُبًّا بِحُبٍّ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَرَى فِي مُحَمَّدٍ قُدْوَةً تُقْتَدَى وَيُؤْمِنُ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّهُ فِي هَذِهِ القَافِلَةِ بَلْ فِي مَكَّةَ كُلِّهَا أَجْدَرُ النَّاسِ بِالاحْتِرَامِ وَأَوْلَاهَا بِالإِجْلَالِ، وَكَانَ مُحَمَّدٌ يُحِبُّ فِي أَبِي بَكْرٍ دَعَتَهُ وَتَوَاضُعَهُ وَشَجَاعَتَهُ فِي إِبْدَاءِ الرَّأْيِ وَعُزُوفَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ وَبُعْدَهُ عَنِ الدَّنَايَا وَحَمَاسَتَهُ لِلْخَيْرِ وَاسْتِقَامَةَ ضَمِيرِهِ وَنَقَاءَ سَرِيرَتِهِ.
Kafilah pun mengalir membelah alam malakut Allah; Muhammad dan Abu Bakar berjalan beriringan saling berdampingan, yang mana masing-masing melihat pada diri temannya seorang sahabat sejati yang saling berempati, saling tertarik, dan saling bertukar jalinan kasih. Abu Bakar memandang Muhammad sebagai sosok teladan yang harus diikuti, dan ia meyakini di dalam lubuk hatinya bahwa beliau di dalam kafilah ini—bahkan di seluruh kota Makkah—merupakan manusia yang paling berhak dihormati dan paling utama untuk diagungkan. Sebaliknya, Muhammad menyukai sifat Abu Bakar yang tenang, ketawaduan, keberaniannya dalam mengutarakan pendapat, keengganannya terhadap syahwat rendah, kejauhannya dari kehinaan, semangatnya dalam kebajikan, keteguhan nuraninya, serta kesucian batinnya.
وَنَزَلَتِ القَافِلَةُ مَنْزِلًا فَأَخْرَجَ الكَاهِنُ تِمْثَالَ الإِلَهِ فَرَاحَ رِجَالُ القَافِلَةِ يَطُوفُونَ بِهِ طَوَافَهُمْ بِالكَعْبَةِ، وَوَقَفَ مُحَمَّدٌ وَأَبُو بَكْرٍ بَعِيدًا لَا يَتَمَسَّحَانِ بِالصَّنَمِ وَلَا يَطُوفَانِ بِهِ وَلَا يَذْبَحَانِ لَهُ، وَجَعَلَ مَيْسَرَةُ غُلَامُ خَدِيجَةَ يَرْقُبُهُمَا وَلَمْ يَبْدُ فِي وَجْهِهِ الدَّهَشُ، فَقَدْ شَاعَ فِي مَكَّةَ أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ وَابْنَ أَبِي قُحَافَةَ مِمَّنْ يَسْتَخِفُّونَ بِالأَصْنَامِ وَبِأَحْلَامِ عَابِدِيهَا.
Kafilah tersebut singgah di suatu tempat peristirahatan, lalu seorang pendeta mengeluarkan patung berhala tuhan mereka, sehingga orang-orang kafilah mulai mengitarinya seperti halnya mereka melakukan tawaf di Ka'bah. Namun, Muhammad dan Abu Bakar berdiri menjauh; mereka tidak mengusap berhala itu, tidak bertawaf mengelilinginya, dan tidak pula menyembelih kurban untuknya. Maisarah, pelayan Khadijah, terus memperhatikan keduanya tanpa menampakkan rasa heran di wajahnya, karena telah tersiar kabar di Makkah bahwa putra Abdullah dan putra Abu Quhafah termasuk orang-orang yang meremehkan berhala-berhala dan menganggap bodoh angan-angan para penyembahnya.
وَخَطَرَ عَلَى ذِهْنِ أَبِي بَكْرٍ مَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَبِيهِ لَمَّا نَاهَزَ الحُلُمَ، فَقَدْ أَخَذَ أَبُو قُحَافَةَ بِيَدِهِ فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى مَخْدَعٍ فِيهِ الأَصْنَامُ فَقَالَ:
Dan terlintaslah di dalam benak Abu Bakar kenangan apa yang terjadi antara dirinya dan ayahnya ketika ia menjelang usia baligh. Saat itu Abu Quhafah menuntun tangannya lalu membawanya pergi ke sebuah ruangan tersembunyi yang berisi berhala-berhala, kemudian sang ayah berkata:
— هَذِهِ آلِهَتُكَ الشُّمُّ العَوَالِي.
— Ini adalah tuhan-tuhanmu yang agung lagi tinggi kedudukannya.
وَخَلَّاهُ وَذَهَبَ، فَدَنَا مِنَ الصَّنَمِ وَقَالَ:
Lalu sang ayah meninggalkannya sendirian dan pergi. Maka Abu Bakar mendekati berhala tersebut dan berkata:
— إِنِّي جَائِعٌ فَأَطْعِمْنِي !
— Sesungguhnya aku sedang lapar, maka berilah aku makan!
فَلَمْ يُجِبْهُ، فَقَالَ:
Namun berhala itu tidak menjawabnya, lalu ia berkata lagi:
— إِنِّي عَارٍ فَاكْسُنِي !
— Sesungguhnya aku tidak berpakaian, maka berilah aku pakaian!
فَلَم *يُجِبْهُ، فَأَلْقَى عَلَيْهِ صَخْرَةً فَخَرَّ لِوَجْهِهِ. وَاسْتَأْنَفَتِ القَافِلَةُ رِحْلَتَهَا فَانْطَلَقَ مُحَمَّدٌ فِي أَوَّلِ الرَّكْبِ يَقْلِبُ عَيْنَيْهِ فِي الكَوْنِ بِرُوحِ الإِيمَانِ وَالتَّدَيُّنِ فَتَمْتَلِئُ نَفْسُهُ رَوْعَةً وَجَلَالًا وَيَسْتَشْعِرُ فِي أَعْمَاقِهِ أَنَّهُ فِي طَرِيقِ الحَقِيقَةِ وَأَنَّهُ قَدْ وَجَدَ السَّبِيلَ إِلَى إِدْرَاكِ المُطْلَقِ، إِلَى يَنْبُوعِ السَّعَادَةِ الَّذِي لَا يَنْضَبُ أَبَدًا.
Namun berhala itu tetap tidak menjawabnya, maka ia melemparkan batu besar ke arah berhala tersebut hingga tersungkur roboh atas wajahnya. Kafilah pun melanjutkan perjalanannya, dan Muhammad melaju di barisan paling depan rombongan, membolak-balikkan pandangan matanya ke arah alam semesta dengan ruh keimanan dan ketundukan religius, sehingga jiwanya dipenuhi kekaguman serta keagungan, dan beliau merasakan di relung hatinya yang terdalam bahwa beliau berada di atas jalan kebenaran serta telah menemukan jalur untuk merengkuh Dzat Yang Mutlak, menuju mata air kebahagiaan yang tidak akan pernah kering selamanya.
كَانَ يَسْعَدُ وَهُوَ فِي الطَّرِيقِ بِلَذَّةٍ صَافِيَةٍ خَالِصَةٍ، لَذَّةٍ رُوحِيَّةٍ جَعَلَتْهُ يَتَنَاسَقُ مَعَ الوُجُودِ وَيُوَفِّقُ بَيْنَ نَفْسِهِ وَبَدَنِهِ، بَلْ يَسْمُو بِذَاتِهِ فَوْقَ رَغَبَاتِ جَسَدِهِ، فَهُوَ فِي نُزُوعِهِ إِلَى المَوْجُودِ الأَسْمَى، إِلَى الحَقِيقَةِ المُقَدَّسَةِ، يَجْعَلُ كُلَّ المَتَاعِبِ المَادِّيَّةِ دُبُرَ أُذُنِهِ وَيَعْلُو عَلَى وُجُودِهِ بِفَضْلِ تَحْلِيقِهِ إِلَى القُوَّةِ المُتَعَالِيَةِ.
Beliau merasa bahagia di tengah perjalanan dengan kenikmatan yang jernih lagi murni; sebuah kelezatan spiritual yang menjadikannya selaras dengan seluruh eksistensi alam dan menyatukan secara harmonis antara jiwa dan raganya, bahkan mengangkat esensi dirinya jauh di atas keinginan-keinginan biologis tubuhnya. Di dalam kerinduan dan kecenderungannya menuju Dzat Yang Maha Tinggi, menuju Kebenaran Yang Kudus, beliau mencampakkan segala keletihan materi di belakang telinganya dan melambung melampaui keberadaan fisiknya berkat kepakan sayap ruhaninya menuju Kekuatan Yang Maha Tinggi.
وَنَالَ التَّعَبُ وَالِكَلَالُ مِنَ الإِبِلِ وَالرِّجَالِ، وَدَبَّ الإِعْيَاءُ فِي بَعِيرَيْنِ لِخَدِيجَةَ فَتَخَلَّفَا عَنِ الرَّكْبِ وَتَخَلَّفَ مَعَهُمَا مَيْسَرَةُ وَرَاحَ يُحَاوِلُ أَنْ يَحُثَّهُمَا عَلَى السَّيْرِ دُونَ جَدْوَى فَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى البَعِيرَيْنِ فَانْطَلَقَ يَسْعَى إِلَى مُحَمَّدٍ فَأَخْبَرَهُ بِذَلِكَ، فَأَقْبَلَ مُحَمَّدٌ إِلَى البَعِيرَيْنِ وَرَاحَ يَمْسَحُ بِيَدِهِ عَلَيْهِمَا فِي حَنَانٍ دَافِئٍ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى أَخْفَافِهِمَا فَانْطَلَقَا فِي أَوَّلِ الرَّكْبِ وَمَيْسَرَةُ يَرْنُو إِلَى مُحَمَّدٍ وَقَدِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ حُبًّا لَهُ وَإِعْجَابًا بِهِ وَثِقَةً فِيهِ.
Rasa lelah dan letih yang amat sangat mulai melanda unta-unta dan orang-orang. Keletihan yang parah merayap pada dua ekor unta milik Khadijah hingga keduanya tertinggal dari rombongan, dan Maisarah pun ikut tertinggal bersama keduanya. Ia mencoba memacu keduanya agar mau berjalan namun tidak membuahkan hasil, sehingga ia merasa takut atas keselamatan dirinya dan kedua unta tersebut. Maka ia bergegas berlari mengejar Muhammad lalu mengabarkannya tentang hal itu. Muhammad segera menghampiri kedua unta tersebut dan mulai mengusap keduanya dengan tangannya dengan penuh kasih sayang yang hangat, kemudian beliau meletakkan tangannya pada bagian telapak kaki keduanya; seketika itu juga kedua unta itu melesat melaju hingga ke barisan paling depan rombongan, sementara Maisarah terus menatap tajam ke arah Muhammad dengan hati yang dipenuhi rasa cinta, kekaguman, dan kepercayaan yang amat mendalam terhadap beliau.
وَلَاحَتْ بُصْرَى فِي الأُفُقِ البَعِيدِ فَصَاحَ الرِّجَالُ فِي فَرَحٍ:
Dan mulailah tampak kota Bushra di ufuk yang jauh, sehingga orang-orang pun bersorak kegirangan dengan penuh suka cita:
— بُصْرَى ! بُصْرَى !
— Bushra! Bushra!
وَأَغَذَّ الرَّكْبُ السَّيْرَ حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَتِ القَافِلَةُ صَوْمَعَةَ نَسْطُورَا الرَّاهِبِ نَزَلَتْ بِالقُرْبِ مِنْهَا، وَذَهَبَ مُحَمَّدٌ وَصَدِيقُهُ أَبُو بَكْرٍ إِلَى شَجَرَةٍ وَنَزَلَا فِي ظِلِّهَا، ثُمَّ ذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ وَبَقِيَ مُحَمَّدٌ تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَحْدَهُ.
Rombongan itu mempercepat jalannya hingga ketika kafilah tersebut sampai di Biara Nastura sang pendeta, mereka pun singgah di dekatnya. Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar, pergi menuju sebuah pohon dan beralih berteduh di bawah naungannya, kemudian Abu Bakar pergi sejenak untuk suatu keperluan dan tinggallah Muhammad di bawah pohon itu seorang diri.
وَأَطَلَّ الرَّاهِبُ عَلَى قَافِلَةِ قُرَيْشٍ وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فَجَعَلَ يَتَفَرَّسُ فِيهِ، فَرَأَى شَابًّا وَسِيمًا، مُعْرَبَ المَلَامِحِ، أَزْهَرَ اللَّوْنِ، رَبْعَةً فِي الرِّجَالِ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ البَائِنِ وَلَا بِالقَصِيرِ المُتَرَدِّدِ، ضَخْمَ الرَّأْسِ، مَبْسُوطَ الجَبِينِ، مُرْسَلَ الذَّقَنِ، عَالِي العُنُوقِ (العُنُقِ)، عَرِيضَ الصَّدْرِ، غَلِيظَ الكَفَّيْنِ وَالقَدَمَيْنِ، يَتَوَّجُ هَامَتَهُ شَعْرٌ كَثٌّ شَدِيدُ السَّوَادِ، وَتَشِعُّ عَيْنَاهُ الدَّعْجَاوَانِ الوَاسِعَتَانِ جَاذِبِيَّةً وَسِحْرًا تَحْتَ أَهْدَابٍ طُوَالٍ حَوَالِكَ، فَأَحَسَّ كَأَنَّمَا أُلْقِيَ فِي رَوْعِهِ أَنَّ ذَلِكَ النَّازِلَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ هُوَ النَّبِيُّ الأُمِّيُّ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ الأَنْبِيَاءُ.
Sang pendeta menjenguk ke arah kafilah Quraisy dan pandangan matanya tertuju pada Muhammad bin Abdullah, lalu ia mulai mengamati ciri-cirinya dengan cermat. Ia melihat seorang pemuda yang tampan, berwajah Arab tulen, berkulit cerah bersinar, bertubuh ideal di antara orang-orang (tidak terlampau tinggi menjulang dan tidak pula pendek kerdil), berwajah tegas, berdahi lapang, berjanggut lebat natural, berleher jenjang, berdada bidang, memiliki telapak tangan dan kaki yang kokoh, yang mana bagian atas kepalanya dimahkotai oleh rambut yang tebal lagi hitam pekat, serta kedua matanya yang hitam legam dan lebar memancarkan daya tarik dan pesona di bawah bulu mata yang panjang lagi lebat. Pendeta itu merasakan seakan-akan ditiupkan ke dalam sanubarinya bahwa orang yang sedang singgah di bawah pohon tersebut adalah Nabi Ummi yang telah dikabarkan gembira kedatangannya oleh para nabi terdahulu.
وَأَرَادَ أَنْ يَتَحَقَّقَ مِمَّا أُلْمِحَ بِهِ، فَرَاحَ يَتَلَفَّتُ بِعَيْنَيْهِ حَتَّى رَأَى مَيْسَرَةَ، وَكَانَ يَعْرِفُهُ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ وَقَالَ:
Ia pun ingin memastikan apa yang telah diisyaratkan kepadanya itu, maka ia mulai melayangkan pandangan matanya ke sekeliling hingga melihat Maisarah, dan ia telah mengenalnya sebelumnya. Lalu ia keluar menemuinya dan berkata:
— يَا مَيْسَرَةُ . مَنْ هَذَا الَّذِي نَزَلَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ ؟
— Wahai Maisarah, siapa orang yang singgah di bawah pohon itu?
— رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ مِنْ أَهْلِ الحَرَمِ .
— Dia adalah seorang laki-laki dari kaum Quraisy, dari penduduk Tanah Haram.
— أَفِي عَيْنَيْهِ حُمْرَةٌ ؟
— Apakah di kedua matanya ada warna kemerah-merahan (urat merah halus)?
— نَعَمْ لَا تُفَارِقُهُ .
— Iya benar, tanda merah itu tidak pernah berpisah darinya.
وَلَمْ يَتَمَالَكِ الرَّاهِبُ أَنْ انْحَدَرَ إِلَى حَيْثُ كَانَ مُحَمَّدٌ وَقَالَ لَهُ :
Maka sang pendeta tidak dapat menahan dirinya lagi untuk segera turun menghampiri tempat Muhammad berada, lalu ia berkata kepadanya:
— بِاللَّاتِ وَالعُزَّى مَا اسْمُكَ ؟
— Demi Lata dan Uzza, siapa namamu?
وَتَغَيَّرَ وَجْهُ مُحَمَّدٍ وَقَالَ :
Maka berubahlah rona wajah Muhammad (karena tidak suka mendengar nama berhala disebut) lalu beliau bersabda:
— إِلَيْكَ عَنِّي ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ .
— Menjauhlah kamu dariku, celakalah ibumu (ungkapan teguran keras)!
وَرَاحَ نَسْطُورَا يُحَادِثُ مُحَمَّدًا، يَسْأَلُهُ وَمُحَمَّدٌ يُجِيبُ حَتَّى قَالَ نَسْطُورَا :
Nastura pun terus berbincang dengan Muhammad; ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Muhammad menjawabnya, hingga Nastura berkata:
— يَا مُحَمَّدُ، قَدْ عَرَفْتُ فِيكَ العَلَامَاتِ كُلِّهَا خَلَا خَصْلَةً وَاحِدَةً، فَأَوْضِحْ لِي عَنْ كَتِفِكَ .
— Wahai Muhammad, sesungguhnya aku telah mengenali seluruh tanda-tanda kenabian pada dirimu kecuali satu perkara saja, maka perlihatkanlah pundakmu kepadaku.
فَأَوْضَحَ لَهُ، فَإِذَا هُوَ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ يَتَلَأْلَأُ، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ يُقَبِّلُهُ، فَظَنَّ بَعْضُ القَوْمِ أَنَّ الرَّاهِبَ يُرِيدُ بِمُحَمَّدٍ مَكْرًا فَانْتَضَى سَيْفَهُ وَصَاحَ :
Beliau pun memperlihatkannya kepada sang pendeta, dan tiba-tiba tampaklah tanda stempel kenabian (Khatamun Nubuwwah) yang berkilau terang. Serta-merta sang pendeta langsung menghampiri beliau dan menciuminya. Namun sebagian orang mengira bahwa pendeta itu berniat buruk kepada Muhammad, sehingga ia langsung menghunus pedangnya dan berteriak lantang:
— يَا آلَ غَالِبٍ . يَا آلَ غَالِبٍ .
— Wahai keluarga Ghalib! Wahai keluarga Ghalib! (panggilan darurat untuk meminta pertolongan suku).
فَأَقْبَلَ النَّاسُ يَهْرَعُونَ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ نَاحِيَةٍ، وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ يَنْظُرُ مَا يُرِيدُ ذَلِكَ الرَّاهِبُ بِمَحْبُوبِهِ مُحَمَّدٍ، وَقَالُوا :
Orang-orang pun datang berlarian menuju ke arahnya dari segala penjuru, dan Abu Bakar pun tiba untuk melihat apa yang diinginkan oleh pendeta itu terhadap kekasihnya, Muhammad. Dan orang-orang berkata:
— مَا الَّذِي رَاعَكَ ؟
— Apa perkara yang mengejutkanmu?
فَلَمَّا نَظَرَ الرَّاهِبُ إِلَى ذَلِكَ أَقْبَلَ يَسْعَى إِلَى صَوْمَعَتِهِ فَدَخَلَهَا وَأَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَهَا، ثُمَّ أَشْرَفَ عَلَيْهِمْ وَفِي يَدِهِ صَحِيفَةٌ فَقَالَ :
Ketika pendeta melihat situasi tersebut, ia segera berbalik berjalan cepat menuju biaranya, lalu masuk dan mengunci rapat pintu di belakangnya. Kemudian ia menjenguk dari atas ke arah mereka sembari memegang selembar lembaran naskah di tangannya, lalu berseru:
— يَا قَوْمُ، مَا الَّذِي رَاعَكُمْ مِنِّي ؟ فَوَ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ إِنِّي لَأَجِدُ فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ أَنَّ النَّازِلَ تَحْتَ هَذِهِ الشَّجَرَةِ هُوَ رَسُولُ رَبِّ العَالَمِينَ، يَبْعَثُهُ اللهُ بِالسَّيْفِ المَسْلُولِ وَبِالرِّبْحِ الأَكْبَرِ، وَهُوَ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ فَمَنْ أَطَاعَهُ نَجَا وَمَنْ عَصَاهُ غَوَى .
— Wahai kaumku! Apa perkara yang membuat kalian takut kepadaku? Demi Dzat yang telah meninggikan seluruh langit tanpa tiang penyangga, sesungguhnya aku benar-benar menemukan catatan di dalam lembaran naskah ini bahwa orang yang sedang berteduh di bawah pohon ini adalah utusan Tuhan semesta alam! Allah akan mengutusnya dengan membawa pedang yang terhunus dan keberuntungan yang paling besar, dan dia adalah penutup para nabi. Maka barangsiapa yang menaatinya dia akan selamat, dan barangsiapa yang mendurhakainya dia akan tersesat.
وَانْفَضَّ القَوْمُ غَيْرَ مُكْتَرِثِينَ بِقَوْلِ الرَّاهِبِ . بَيْنَا ظَلَّ صَوْتُهُ يَرِنُّ فِي أَعْمَقِ أَعْمَاقِ أَبِي بَكْرٍ وَيَتَرَدَّدُ فِي أُذُنَيْ مَيْسَرَةَ غُلَامِ خَدِيجَةَ .
Maka bubarlah orang-orang itu tanpa terlalu memedulikan perkataan sang pendeta. Sementara itu, suaranya justru terus berdengung di dalam lubuk hati Abu Bakar yang paling dalam serta terngiang-ngiang di kedua telinga Maisarah, pelayan Khadijah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar