كَانَ حَرْبُ بْنُ أُمَيَّةَ هَزِيلاً وَلَكِنَّهُ كَانَ يَسِيرُ مَرْفُوعَ الرَّأْسِ شَاخِ الْأَنْفِ يَخْتَالُ كِبْرًا ، يَسْتَشْعِرُ فِي أَعْمَاقِهِ أَنَّهُ الْكَوْنَ وَأَنَّهُ أَشْرَفُ مِنْ وَلَدَتْهُ امْرَأَةٌ . وَكَانَتْ طَمَأْنِينَةُ نَفْسِهِ أَسْمَى غَايَاتِهِ فَرَاحَ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ يُحَرِّرُ قَلْبَهُ مِنَ الِاضْطِرَابِ بِتْرِ الْخَوْفِ وَالرَّغْبَةِ وَسَدِّ الْمَسَالِكِ الَّتِي يَتَدَفَّقُ مِنْ خِلَالِهَا الْأَلَمُ وَالْقَلَقُ إِلَى وِجْدَانِهِ .
Harb bin Umayyah berperawakan kurus, namun dia berjalan dengan kepala tegak, hidung mancung, dan sombong penuh keangkuhan, merasa dalam lubuk hatinya bahwa dialah alam semesta dan dia adalah orang yang paling mulia yang dilahirkan oleh seorang wanita. Ketenangan jiwanya adalah tujuan tertingginya, maka sepanjang hari dia berupaya membebaskan hatinya dari kegelisahan dengan memutuskan rasa takut dan keinginan, serta menutup jalan-jalan yang melaluinya rasa sakit dan cemas mengalir ke dalam nuraninya.
كَانَ عَلَى عِلْمٍ بِأَنَّ الْحُبَّ وَالشَّفَقَةَ هُمَا الثَّقْبُ الَّذِي يَسْمَحُ بِدُخُولِ مَوْجَةِ الْقَلَقِ وَالْأَلَمِ الطَّاغِيَةِ إِلَى قَلْبِهِ ، فَرَاحَ يُجَاهِدُ لِيَطْرَحَ الشَّفَقَةَ جَانِبًا . فَالشَّفَقَةُ ضَعْفٌ . وَكَانَ يَتَرَفَّعُ عَنْ تَقْبِيلِ أَطْفَالِهِ حَتَّى لَا يَفْتَحَ أَبْوَابَ الْوَهَنِ فِي نَفْسِهِ ، وَيُطْلِقَ لِعَوَاطِفِهِ الْعِنَانَ ، فَنَبَذَ الْحُبَّ لِيَتَحَرَّرَ مِنَ الشُّعُورِ ، وَرَاحَ يُشَاوِرُ رَأْسَهُ وَيَتَجَاهَلُ فُؤَادَهُ ، فَكَانَ بِذَلِكَ يَفْتَتُ مَا جَمَعَهُ اللَّهُ ، فَاسْتَوَى فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ أَنْفَضَّ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِ ، يَهَابُونَ سَطْوَتَهُ وَيَتَأَخَّرُونَ عَنْهُ إِذَا مَا تَقَدَّمَ لَا حُبًّا لَهُ وَاحْتِرَامًا لِمَقَامِهِ فِيهِمْ ، بَلْ خَوْفًا مِنْ شُرُورِهِ وَأَذَاهُ .
Dia mengetahui bahwa cinta dan kasih sayang adalah celah yang memungkinkan gelombang kecemasan dan rasa sakit yang dahsyat masuk ke dalam hatinya, maka dia berjuang untuk membuang kasih sayang ke samping. Karena kasih sayang adalah kelemahan. Dia enggan mencium anak-anaknya agar tidak membuka pintu kelemahan dalam dirinya, dan membiarkan emosinya lepas kendali. Dia menolak cinta untuk terbebas dari perasaan, dan dia lebih mengandalkan akal serta mengabaikan hatinya, sehingga dengan demikian dia memecah apa yang telah Allah satukan. Maka dia menjadi orang yang kasar dan keras hati yang ditinggalkan orang-orang dari sekitarnya, mereka takut akan kekuasaannya dan menjauh darinya jika dia maju, bukan karena cinta dan hormat pada kedudukannya di antara mereka, melainkan karena takut akan kejahatan dan bahayanya.
وَكَانَ يَعْتَزِلُ النَّاسَ تَرَفُعًا فَمَا كَانَ يَجِدُ فِيهِمْ مَنْ هُوَ كَفْءٌ لِمُجَالَسَتِهِ ، وَلَوْ أَنَّ إِنْسَانًا كَانَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَعِيشَ فِي عُزْلَةٍ عَنِ الْعَالَمِ وَحْدَهُ لَا اعْتَزَلَ حَرْبُ النَّاسَ جَمِيعًا ، وَلَكِنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَعِيشَ فَرْدًا بَلْ هُوَ فِي حَاجَةٍ إِلَى أَنِيسٍ كَحَاجَتِهِ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْهَوَاءِ . فَنَادَمَ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ . وَكَانَ يَضِيقُ بِالْمُتَحَدِّثِينَ فِي مَجْلِسِ سَيِّدِ قُرَيْشٍ وَكَثِيرًا مَا كَانَ يَنْهَرُهُمْ وَيَصُدُّهُمْ مِنَ الْحَدِيثِ فِي غِلْظَةٍ وَجَفَاءٍ ، وَكَانَ يَحْبِسُ الْغَيْرَةَ تَنْهَشُ قَلْبَهُ إِذَا مَا مَدَحَ مَادِحُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ
Dia mengasingkan diri dari manusia karena merasa tinggi, karena tidak menemukan di antara mereka orang yang layak untuk duduk bersamanya. Seandainya seorang manusia bisa hidup dalam isolasi dari dunia sendirian, niscaya Harb akan mengasingkan diri dari semua orang. Namun manusia tidak mampu hidup sendirian, melainkan membutuhkan teman layaknya kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Maka dia pun berteman dengan Abdul Muthalib. Dia merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang berbicara di majelis pemimpin Quraisy dan seringkali dia membentak serta mencegah mereka berbicara dengan kekasaran dan kejauhan, dan dia menahan rasa cemburu yang menggerogoti hatinya jika seseorang memuji Abdul Muthalib.
أَوْ خَاطَبَهُ بِخِطَابٍ يَنُمُّ عَنْ أَنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ زَعِيمُ مَكَّةَ ، فَقَدْ كَانَ حَرْبٌ يَعْتَقِدُ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّهُ أَكْرَمُ مِنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَعْلَى مِنْهُ شَرَفًا . وَلَا غَرْوَ فَقَدْ نَافَرَ أَبُوهُ أُمَيَّةَ مِنْ قَبْلِ عَمَّهُ هَاشِمَ أَبَا عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَإِنَّ كَانَ قَدْ نَزَلَ عَلَى حُكْمِ الْحَكَمِ وَغَادَرَ مَكَّةَ إِلَى الشَّامِ عَشْرَ سِنِينَ ، إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَقْبَلْ ذَلِكَ الْحُكْمَ بَلْ لَعَنَ الْحَكَمَ وَالْيَوْمَ الَّذِي صَارَ فِيهِ حَكَمًا يَحْكُمُ فِيهِ بِأَنَّ هُنَاكَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَنْ هُوَ كَفْءٌ لِأُمَيَّةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ .
Atau seseorang menyapanya dengan sebutan yang menunjukkan bahwa Abdul Muthalib adalah pemimpin Mekah, karena Harb meyakini dalam lubuk hatinya bahwa dia lebih mulia dan lebih tinggi kemuliaannya daripada Abdul Muthalib. Tidak mengherankan, karena ayahnya Umayyah sebelumnya pernah menantang paman Abdul Muthalib, Hashim, untuk menentukan siapa yang paling mulia. Meski dia tunduk pada keputusan hakim dan meninggalkan Mekah menuju Syam selama sepuluh tahun, dia tidak menerima keputusan tersebut, bahkan mengutuk hakim dan hari ketika hakim itu menjadi penentu hukum yang menetapkan bahwa di muka bumi ini ada orang yang setara dengan Umayyah bin 'Abdusy Syams bin 'Abdi Manaf.
وَسَارَ حَرْبٌ فِي سُوقٍ مِنَ الْأَسْوَاقِ يَتِيهُ خُيَلَاءَ وَمَنْ حَوْلَهُ رُؤَسَاءُ قُرَيْشٍ حَتَّى بَلَغُوا مَكَانًا ضَيِّقًا لَا يَسْمَحُ إِلَّا بِمُرُورِ إِنْسَانٍ ، فَتَأَخَّرَ أَشْرَافُ قُرَيْشٍ لِيَتَقَدَّمَ حَرْبٌ ، وَإِذَا بِرَجُلٍ مِنَ تَمِيمٍ يُزَاحِمُهُ فِي التَّقَدُّمِ فَالْتَفَتَ حَرْبٌ إِلَى التَّمِيمِيِّ فِي شَزَرٍ وَقَالَ فِي صَوْتٍ غَاضِبٍ نَاهِرٍ :
Harb berjalan di salah satu pasar dengan sombong penuh keangkuhan, diikuti para pembesar Quraisy, hingga mereka mencapai tempat sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Para bangsawan Quraisy mundur agar Harb bisa maju, tiba-tiba seorang pria dari Tamim mendesaknya untuk maju, maka Harb menoleh ke arah pria Tamimi itu dengan marah dan berkata dengan suara geram yang membentak:
— أَنَا حَرْبُ بْنُ أُمَيَّةَ .
— Aku adalah Harb bin Umayyah.
فَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهِ التَّمِيمِيُّ وَمَرَّ قِبَلَهُ ، فَرَمَاهُ حَرْبٌ بِنَظْرَةٍ قَاسِيَةٍ وَقَالَ مُتَوَعِّدًا :
Pria Tamimi itu tidak menoleh sedikitpun dan melintas begitu saja di depannya. Harb menatapnya dengan tatapan tajam dan berkata dengan ancaman:
— وَعْدَكَ مَكَّةَ .
— Tunggu saat kau di Mekah.
وَزَفَرَ حَرْبٌ حِمَمَ غَصَبِهِ وَرَاحَ يُرْسِلُ نَظَرَاتٍ حَانِقَةً خَلْفَ التَّمِيمِيِّ وَهُوَ يَرْغَى وَيَزْبِدُ ، ثُمَّ مَرَّ مِنَ الْمَضِيقِ وَهُوَ يُعَلِّلُ النَّفْسَ بِالِانْتِقَامِ مِنْ ذَلِكَ الْجُرْحِ الَّذِي كَبِرِيَائِهِ يَوْمَ أَنْ يَفِدَ إِلَى مَكَّةَ .
Harb menyemburkan kemarahannya dan terus melayangkan tatapan penuh kebencian di belakang pria Tamimi itu sambil mendengus dan marah-marah. Kemudian dia melewati jalan sempit tersebut sambil menghibur dirinya dengan rencana pembalasan dendam atas luka harga dirinya, saat pria itu datang ke Mekah.
وَبَقِيَ التَّمِيمِيُّ دَهْرًا ، ثُمَّ أَرَادَ دُخُولَ مَكَّةَ فَقَالَ :
Pria Tamimi itu pergi untuk waktu yang lama, kemudian dia ingin memasuki Mekah, lalu dia berkata:
— مَنْ يُجِيرُنِي مِنْ حَرْبِ بْنِ أُمَيَّةَ ؟
— Siapa yang akan melindungiku dari Harb bin Umayyah?
فَقِيلَ لَهُ :
Maka dikatakan kepadanya:
— عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بْنُ هَاشِمٍ .
— Abdul Muthalib bin Hashim.
فَانْطَلَقَ التَّمِيمِيُّ مُسْتَتِرًا بِاللَّيْلِ حَتَّى أَتَى دَارَ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَدَقَّ الْبَابَ وَهُوَ يَتَرَقَّبُ خَشْيَةَ أَنْ يَرَاهُ حَرْبٌ قَبْلَ أَنْ يُجِيرَهُ آلُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
Pria Tamimi itu pergi secara sembunyi-sembunyi pada malam hari hingga sampai di rumah Zubair bin Abdul Muthalib, lalu dia mengetuk pintu dengan waspada karena takut Harb melihatnya sebelum keluarga Abdul Muthalib melindunginya.
وَبَلَغَ الدَّقُّ مَسَامِعَ الزُّبَيْرِ وَأَخِيهِ الْغَيْدَاقِ ، فَقَالَ الزُّبَيْرُ لِأَخِيهِ :
Ketukan itu terdengar oleh Zubair dan saudaranya Al-Ghaidaq, maka Zubair berkata kepada saudaranya:
— قَدْ جَاءَنَا رَجُلٌ إِمَّا مُسْتَجِيرٌ أَوْ طَالِبُ حَاجَةٍ أَوْ طَالِبُ قِرًى ، وَقَدْ أَعْطَيْنَاهُ مَا أَرَادَ .
— Ada seseorang datang kepada kita, bisa jadi dia mencari perlindungan, membutuhkan sesuatu, atau mencari tempat menginap, dan kita telah memberikan apa yang dia inginkan.
فَخَرَجَ الزُّبَيْرُ وَمَا إِنْ رَآهُ التَّمِيمِيُّ حَتَّى أَنْشَدَ :
Zubair keluar, dan begitu pria Tamimi itu melihatnya, dia bersenandung:
لَاقَيْتُ حَرْبًا فِي الثَّنِيَّةِ مُقْبِلًا
وَالصُّبْحُ أَبْلَجُ ضَوْءُهُ لِلْبَارِي
فَدَعَا بِصَوْتٍ وَاكْتَسَى لِيَرُوعَنِي
وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ يُرِيدُ فُخَارِي
فَتَرَكْتُهُ كَالْكَلْبِ يَنْبَحُ وَحْدَهُ
وَأَتَيْتُ أَهْلَ مَعَالِمٍ وَفَخَارِ
لَيْثًا هِزَبْرًا يَسْتَجَارُ بِقُرْبِهِ
رَحْبَ الْمَنَازِلِ مُكْرِمًا لِلْجَارِ
وَلَقَدْ حَلَفْتُ بِمَكَّةَ وَبِزَمْزَمٍ
وَالْبَيْتِ ذِي الْأَحْجَارِ وَالْأَسْتَارِ
إِنَّ الزُّبَيْرَ لَمَانِعِي مِنْ خَوْفِهِ
مَا كَبَّرَ الْحُجَّاجُ فِي الْأَمْصَارِ
Aku bertemu Harb di jalan masuk saat fajar telah menyingsing terang cahayanya. Dia memanggil dengan suara keras dan berdandan untuk menakutiku, dan dia memanggil dengan seruannya demi kesombongannya. Namun aku meninggalkannya bagaikan anjing yang menggonggong sendirian, dan aku datang kepada pemilik kemuliaan dan kebanggaan. Seekor singa yang perkasa yang didekati untuk mencari perlindungan, luas tempat tinggalnya dan pemurah bagi tetangganya. Aku bersumpah demi Mekah, demi Zamzam, dan demi Baitullah yang penuh bebatuan dan tirai-tirai. Sesungguhnya Zubair akan melindungiku dari ketakutannya, selama para jamaah haji bertakbir di berbagai negeri.
فَقَالَ الزُّبَيْرُ لِلتَّمِيمِيِّ :
Zubair berkata kepada pria Tamimi itu:
— تَقَدَّمْ فَإِنَّا لَنَنْتَقِمُ عَلَى مَنْ نُجِيرُهُ .
— Majulah, sesungguhnya kami akan membalas siapa pun yang kami lindungi.
وَأَصْبَحَ الصَّبَاحُ وَخَرَجَ التَّمِيمِيُّ وَالزُّبَيْرُ إِلَى الْحَرَمِ ، وَالتَّمِيمِيُّ يَتَقَدَّمُ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، حَتَّى إِذَا مَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ رَآهُ حَرْبٌ فَقَامَ إِلَيْهِ فَلَطَمَهُ ، فَاسْتَلَّ الزُّبَيْرُ سَيْفَهُ وَهَجَمَ عَلَى حَرْبٍ فَرَاحَ يَعْدُو وَالزُّبَيْرُ فِي أَثَرِهِ وَالسَّيْفُ فِي يَدِهِ ، وَرَأَى أَبْنَاءُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَخَاهُمْ فِي أَثَرِ شَيْخِ بَنِي أُمَيَّةَ فَخَفُّوا إِلَيْهِ لِيَنْصُرُوهُ إِذَا مَا حَاوَلَ بَنُو أُمَيَّةَ نُصْرَةَ سَيِّدِهِمْ .
Pagi pun tiba, pria Tamimi dan Zubair keluar menuju Masjidil Haram. Pria Tamimi berjalan di depan putra Abdul Muthalib itu, hingga saat masuk masjid, Harb melihatnya, lalu dia berdiri menghampirinya dan menamparnya. Maka Zubair menghunus pedangnya dan menyerang Harb, Harb lari dan Zubair mengejarnya dengan pedang di tangan. Putra-putra Abdul Muthalib melihat saudara mereka mengejar sesepuh Bani Umayyah, maka mereka segera membantu untuk menolongnya seandainya Bani Umayyah mencoba membela pemimpin mereka.
وَانْطَلَقَ حَرْبٌ إِلَى دَارِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ مَبْهُورُ النَّفْسِ يَتَلَفَّتُ مِنَ الْفَزَعِ ، ثُمَّ دَخَلَ الدَّارَ وَهُوَ يُدِيرُ فِي الْمَكَانِ عَيْنَيْنِ زَائِغَتَيْنِ وَقَلْبُهُ فِي صَدْرِهِ يَخْفِقُ كَجَنَاحِ حَمَامٍ ، حَتَّى إِذَا مَا رَأَى عَبْدَ الْمُطَّلِبِ قَالَ فِي صَوْتٍ مَرْعُوبٍ :
Harb lari menuju rumah Abdul Muthalib dengan napas terengah-engah dan menoleh ke belakang karena ketakutan. Kemudian dia masuk ke rumah, mengedarkan pandangan matanya dengan liar, dan jantungnya di dada berdegup seperti sayap merpati, hingga saat dia melihat Abdul Muthalib, dia berkata dengan suara ketakutan:
— أَجِرْنِي .
— Lindungilah aku.
— مِمَّنْ ؟
— Dari siapa?
— مِنَ الزُّبَيْرِ .
— Dari Zubair.
فَأَكْفَأَ عَلَيْهِ جَفْنَةً كَانَ أَبُوهُ هَاشِمٌ يُطْعِمُ النَّاسَ فِيهَا ، وَبَقِيَ حَرْبٌ تَحْتَهَا يَرْتَجِفُ فَرَقًا تَنْثَالُ عَلَى رَأْسِهِ أَفْكَارٌ مُفْزِعَةٌ مُرِّغَتْ كِبْرِيَاؤُهُ فِي الرَّغَامِ ، فَقَدْ ثَارَتْ كَرَامَتُهُ مَرَّةً وَحَرَّضَتْهُ عَلَى الْخُرُوجِ لِأَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَلْيَقْتُلْ كَرِيمًا فَثَأَرَ بَنُو أُمَيَّةَ لِمَقْتَلِهِ ، وَسُرْعَانَ مَا غَاضَتْ تِلْكَ الْكَرَامَةُ لِمَا هَاجَسَ فِي صَدْرِهِ لِمَا يُوسْوِسُ لَهُ : وَمَاذَا يُفِيدُكَ سَفْحُ دَمِ كُلِّ بَنِي هَاشِمٍ يَا حَرْبُ لَوْ مُتَّ مَقْتُولًا ؟
Abdul Muthalib menelungkupkan wadah besar tempat ayahnya, Hashim, memberi makan orang-orang, di atas Harb. Harb tetap di bawahnya, gemetar ketakutan, sementara pikiran-pikiran mengerikan menghujani kepalanya bahwa harga dirinya telah digilas di tanah. Harga dirinya sempat bergejolak sekali dan menghasutnya untuk keluar melawan putra-putra Abdul Muthalib dan membiarkan dirinya terbunuh secara mulia agar Bani Umayyah menuntut balas atas kematiannya, namun dengan cepat harga diri itu hilang saat bisikan hatinya membisikkan kepadanya: Dan apa gunanya bagimu menumpahkan darah seluruh Bani Hashim wahai Harb, jika kau mati terbunuh?
وَبَقِيَ تَحْتَ الْجَفْنَةِ وَهُوَ فِي هَلَعٍ قَدْ أَرْهَفَتْ حَوَاسُّهُ ، تَذْهَبُ نَفْسُهُ شُعَاعًا لِزَفِيفِ النَّسِيمِ أَوْ رَفِيفِ ثَوْبٍ أَوْ حَفِيفِ قَدَمٍ تَمْشِي هَوْنًا عَلَى الْأَرْضِ . وَكَادَ يَمُوتُ مِنَ الْخَوْفِ لِمَا سَمِعَ وَقْعَ أَقْدَامٍ قَادِمَةٍ فَقَدْ خُيِّلَ لَهُ وَهَمُّهُ أَنَّ الْجَفْنَةَ سَتُرْفَعُ ثُمَّ يَنْزِلُ سَيْفٌ لِيَقْطَعَ رَأْسَهُ ، وَمَسَّ صَوْتُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أُذُنَيْهِ مَسًّا رَقِيقًا أَعَادَ الطَّمْأَنِينَةَ إِلَى نَفْسِهِ فَقَالَ :
Dia tetap di bawah wadah itu dalam keadaan panik, indranya menjadi sangat peka, jiwanya hampir melayang karena desiran angin, kibaran pakaian, atau langkah kaki yang berjalan pelan di atas tanah. Dia hampir mati ketakutan mendengar langkah kaki yang datang, karena dia membayangkan bahwa wadah itu akan diangkat, kemudian pedang akan turun untuk memenggal kepalanya. Namun suara Abdul Muthalib menyentuh telinganya dengan lembut, mengembalikan ketenangan ke dalam dirinya, dia berkata:
— اخْرُجْ يَا حَرْبُ .
— Keluarlah wahai Harb.
فَقَالَ وَهُوَ يَنْكَمِشُ فِي نَفْسِهِ تَحْتَ الْجَفْنَةِ :
Maka dia berkata sambil meringkuk di bawah wadah:
— كَيْفَ أَخْرُجُ وَسَبْعَةٌ مِنْ وَلَدِكَ قَدِ اجْتَمَعُوا بِسُيُوفِهِمْ عَلَى الْبَابِ ؟
— Bagaimana aku bisa keluar sementara tujuh anakmu telah berkumpul dengan pedang mereka di depan pintu?
— اخْرُجْ وَأَنَا أُجِيرُكَ .
— Keluarlah, dan aku melindungimu.
وَرَفَعَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ الْجَفْنَةَ وَأَلْقَى عَلَى حَرْبٍ رِدَاءَهُ ، فَوَقَفَ حَرْبُ بُرْهَةً يَجْمَعُ شَتَاتَ نَفْسِهِ ، ثُمَّ خَرَجَ عَلَى الزُّبَيْرِ وَإِخْوَتِهِ فَلَمَّا رَأَوْا رِدَاءَ أَبِيهِمْ عَلِمُوا أَنَّهُ أَجَارَهُ فَوَضَعُوا سُيُوفَهُمْ . وَسَارَ حَرْبٌ بَيْنَهُمْ مُطْمَئِنًّا وَمَا لَبِثَ أَنْ شَمَخَ بِأَنْفِهِ وَرَفَعَ رَأْسَهُ وَمَشَى فِي كِبْرٍ وَخَيْلَاءَ .
Abdul Muthalib mengangkat wadah tersebut dan melemparkan selendangnya kepada Harb. Harb berdiri sejenak mengumpulkan keberanian dirinya, kemudian dia keluar menghadap Zubair dan saudara-saudaranya. Ketika mereka melihat selendang ayah mereka pada Harb, mereka tahu bahwa Abdul Muthalib telah melindunginya, maka mereka menurunkan pedang mereka. Harb berjalan di antara mereka dengan tenang, tidak lama kemudian dia kembali menyombongkan diri, mengangkat kepalanya, dan berjalan dengan angkuh dan sombong.
وَذَاتَ يَوْمٍ ذَهَبَ حَرْبٌ إِلَى سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ تِهَامَةَ إِذَا تَقَدَّمَ تَأَخَّرَ النَّاسُ ، وَإِذَا تَكَلَّمَ صَمَتَ النَّاسُ . وَبَيْنَا هُوَ فِي قِمَّةِ غُرُورِهِ جَاءَ الْيَهُودِيُّ الَّذِي كَانَ فِي جِوَارِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَالَّذِي يَمْقُتُهُ حَرْبٌ مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ ، وَلَمْ يَلْقَ سَمْعَهُ إِلَى مَا يَقُولُ حَرْبٌ وَهُوَ صَامِتٌ بَلْ رَاحَ يُجَادِلُهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ ، فَضَاقَ حَرْبٌ بِذَلِكَ الْيَهُودِيِّ الْوَقِحِ وَنَهَرَهُ ، فَأَغْلَظَ الْيَهُودِيُّ الْقَوْلَ عَلَى حَرْبٍ فَأَذْهَبَ غَيْظَ قُلُوبِ النَّاسِ وَشَفَى صُدُورَهُمْ وَإِنْ كَتَمُوا عَوَاطِفَهُمْ خَشْيَةَ بَطْشِ أُمَيَّةَ وَأَهْلِهِ .
Suatu hari Harb pergi ke salah satu pasar di Tihamah, saat dia maju orang-orang mundur, dan saat dia berbicara orang-orang terdiam. Di tengah puncak kesombongannya, datanglah seorang Yahudi yang tinggal di dekat Abdul Muthalib yang sangat dibenci Harb dengan sepenuh hati. Dia tidak memedulikan apa yang dikatakan Harb yang sedang diam, malah dia mendebatnya di hadapan orang banyak. Harb merasa terganggu dengan Yahudi yang kurang ajar itu dan membentaknya, namun sang Yahudi membalas dengan kata-kata kasar yang membuat hati orang-orang merasa lega dan terobati meski mereka menyembunyikan perasaan mereka karena takut akan kekejaman Umayyah dan keluarganya.
وَضَاقَتِ الْأَرْضُ أَمَامَ حَرْبٍ عَلَى رَحَابَتِهَا وَغَشِيَتْهَا ظُلُمَاتٌ ، وَإِنْ كَانَتِ الشَّمْسُ تُرْسِلُ نُورَهَا مُشْرِقًا وَهَاجًا فَقَدْ غَامَتْ نَفْسَهُ بِسُحُبِ الْحَنَقِ وَالْغَضَبِ وَأَعْمَتْهُ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، وَلَمْ يَعُدْ يُحِسُّ إِلَّا الْمَهَانَةَ الَّتِي لَحِقَتْهُ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَحَلِيفِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْيَهُودِيِّ وَإِنْ كَانَ فِي جِوَارِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ !
Dunia terasa sempit bagi Harb meski ia luas dan tertutup kegelapan, meskipun matahari memancarkan cahayanya dengan terang dan menyengat, karena jiwanya tertutup awan kemarahan dan amarah yang membutakannya dari segala sesuatu di sekitarnya. Dia tidak lagi merasakan apa pun kecuali penghinaan yang menimpanya dari putra Abdul Muthalib dan sekutu Abdul Muthalib yang Yahudi, meskipun dia berada di lingkungan Abdul Muthalib!
وَدَعَا حَرْبٌ رَجُلًا مِنْ رِجَالِهِ وَرَاحَ يُوَسْوِسُ لَهُ وَيَنْفُثُ فِي صَدْرِهِ سُمُومَ غَضَبِهِ ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ يَنْقُبُ عَنِ ذَلِكَ الْيَهُودِيِّ الَّذِي أَهَانَ سَيِّدَ بَنِي أُمَيَّةَ حَتَّى عَثَرَ عَلَيْهِ فِي نَاحِيَةٍ مِنَ السُّوقِ قَتِيلًا .
Harb memanggil salah satu pengikutnya dan mulai membisikkan serta meniupkan racun kemarahannya ke dalam dadanya. Pria itu pergi mencari Yahudi yang telah menghina pemimpin Bani Umayyah itu hingga ia menemukannya tewas di sudut pasar.
وَبَلَغَ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ أَنَّ حَرْبًا أَغْرَى عَلَى قَتْلِ الْيَهُودِيِّ الَّذِي كَانَ فِي جِوَارِهِ فَغَضِبَ وَعَزَمَ عَلَى أَنْ يُفَارِقَ حَرْبًا وَعَلَى أَنْ يَتْرُكَ مُنَادَمَتَهُ إِلَى أَنْ يَدْفَعَ دِيَةَ الْقَتِيلِ .
Abdul Muthalib mendengar bahwa Harb menghasut pembunuhan terhadap Yahudi yang berada dalam perlindungannya, maka dia marah dan bertekad untuk memutuskan hubungan dengan Harb dan meninggalkan pertemuannya sampai dia membayar diyat (tebusan) orang yang terbunuh itu.
وَجَاءَ حَرْبٌ يَكَادُ يَنْفَجِرُ مِنَ الْكِبْرِ وَهُمْ أَنْ يَجْلِسَ بِالْقُرْبِ مِنْ فِرَاشِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ :
Harb datang, hampir meledak karena kesombongan, dan hendak duduk di dekat tempat tidur Abdul Muthalib, maka Abdul Muthalib berkata kepadanya:
— لَا تُنَادِمْنَا حَتَّى تَدْفَعَ دِيَةَ الْقَتِيلِ .
— Jangan temani kami sampai kau membayar diyat orang yang terbunuh itu.
— أَيُّ قَتِيلٍ ؟
— Pembunuhan siapa?
— الَّذِي أَغْرَيْتَ عَلَى قَتْلِهِ فِي السُّوقِ ؟
— Orang yang kau hasut untuk dibunuh di pasar?
— الْيَهُودِيُّ ؟!
— Yahudi itu?!
— نَعَمْ . إِنَّهُ كَانَ فِي جِوَارِي .
— Ya. Dia berada dalam perlindunganku.
وَتَغَيَّرَ حَرْبٌ وَارْبَدَّ وَجْهُهُ وَاسْتَشْعَرَ مَهَانَةً لِمَا طَالَبَهُ ابْنُ هَاشِمٍ بِدِيَةِ يَهُودِيٍّ أَغْلَظَ لَهُ الْقَوْلَ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ فَأُغْرِيَ بِهِ مَنْ قَتَلَهُ جَزَاءً عَلَى وَقَاحَتِهِ . وَدَارَ حَرْبٌ عَلَى عَقِبِهِ وَانْطَلَقَ مُغَاضِبًا هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ الَّذِينَ يُحَاوِلُونَ عَلَى الدَّوَامِ أَنْ يَنَالُوا مِنْ كَرَامَتِهِ دُونَ أَنْ يَحْفِلُوا بِمَكَانَتِهِ بَيْنَ أَشْرَافِ مَكَّةَ وَسَادَاتِهَا .
Harb berubah, wajahnya menjadi gelap dan dia merasa terhina karena putra Hashim menuntut diyat seorang Yahudi yang telah kasar kepadanya di hadapan orang banyak, sehingga dia memprovokasi orang untuk membunuhnya sebagai balasan atas kurang ajarnya. Harb berbalik dan pergi dengan marah kepada orang-orang yang terus-menerus mencoba merendahkan harga dirinya tanpa memedulikan kedudukannya di antara para bangsawan dan pemimpin Mekah.
كَانَ الْغَيْظُ يَمْلَأُ جَوَانِحَهُ ، وَرَاحَتِ الْأَفْكَارُ الْمَرِيضَةُ تَزْحَفُ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى اسْتَوْلَى عَلَيْهِ سُؤَالٌ حَائِرٌ : لِمَاذَا يُحَاوِلُ بَنُو هَاشِمٍ أَنْ يَحْقِرُوا بَنِي أُمَيَّةَ كُلَّمَا سَنَحَتْ لَهُمْ سَانِحَةٌ ؟ أَجَارَ الزُّبَيْرُ ذَلِكَ التَّمِيمِيَّ وَهُوَ يَعْلَمُ مَا فَعَلَهُ مِنْ وَقَاحَةٍ ؛ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ يَمُرُّ مِنَ الْمَضِيقِ ، وَهُوَ مَنْ يَتَأَخَّرُ عَنْهُ النَّاسُ احْتِرَامًا وَإِجْلَالًا ؛ وَاحْتَضَنَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ذَلِكَ الْيَهُودِيَّ سَلِيطَ اللِّسَانِ وَأَجَارَهُ فَرَاحَ ذَلِكَ الْيَهُودِيُّ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ يُعَامِلُهُ مُعَامَلَةَ الْأَكْفَاءِ . وَقَدْ شَجَّعَتْهُ حِمَايَةُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَهُ عَلَى أَنْ يَغْلُظَ لَهُ الْقَوْلَ فِي السُّوقِ فَحَقَّ عَلَيْهِ الْقَتْلُ ، فَلَمَّا نَالَ جَزَاءَهُ هَبَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يُنَادِي بِدَفْعِ دِيَتِهِ . لِمَاذَا يُطَالِبُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِدِيَةِ الْيَهُودِيِّ ؟ إِنَّهُمَا مَا فَعَلَا ذَلِكَ إِلَّا تَحْقِيرًا لِشَأْنِهِ ، وَخَوْفًا مِنْ أَنْ يَنْتَزِعَ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ الشَّرَفَ وَالسُّلْطَانَ .
Kemarahan memenuhi hatinya, dan pikiran-pikiran sakit merayap ke dalam akalnya hingga dia dikuasai oleh pertanyaan yang membingungkan: Mengapa Bani Hashim mencoba merendahkan Bani Umayyah setiap ada kesempatan? Zubair melindungi pria Tamimi itu padahal dia tahu apa yang telah dilakukannya berupa kurang ajar; pria itu mendahuluinya di jalan sempit, padahal Harb adalah orang yang dihindari orang-orang karena hormat dan takzim; dan Abdul Muthalib merangkul Yahudi yang bermulut tajam itu dan melindunginya, sehingga Yahudi itu di setiap majelis memperlakukannya setara. Perlindungan Abdul Muthalib mendorongnya untuk bertindak kasar kepadanya di pasar, sehingga pantas ia dibunuh. Ketika dia mendapat balasannya, Abdul Muthalib bangkit menyerukan pembayaran diyatnya. Mengapa Abdul Muthalib menuntut diyat Yahudi itu? Keduanya tidak melakukan itu melainkan untuk menghinanya, dan karena takut dia akan merampas kemuliaan dan kekuasaan dari Bani Hashim.
وَرَنَّ فِي جَوْفِهِ سُؤَالٌ فِيهِ إِنْكَارٌ لِذَلِكَ الْخَاطِرِ : « وَهَلْ بَنُو هَاشِمٍ أَشْرَفُ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ ؟ إِنْ كَانَتْ لَهُمُ السِّقَايَةُ وَالرِّفَادَةُ فَلَنَا دَارُ النَّدْوَةِ وَعَقْدُ لِوَاءِ الْحَرْبِ » وَكَادَ يَسْتَرِيحُ لِذَلِكَ الْقَرَارِ لَوْلَا أَنَّ هَمْسًا فِي جَوْفِهِ هَامِسٌ : « إِنَّهُمْ يُحْيُونَ النَّاسَ بِإِطْعَامِهِمْ وَسِقَايَتِهِمْ بَيْنَا تَسُوقُونَهُمْ إِلَى الْحَرْبِ لِتَسْفِكَ دِمَاؤُهُمْ كَالْأَغْنَامِ » .
Terdengar di dalam hatinya sebuah pertanyaan yang menolak pikiran itu: "Apakah Bani Hashim lebih mulia daripada Bani Umayyah? Jika mereka memiliki as-siqayah dan ar-rifadah (tugas memberi minum dan makan jamaah haji), maka kita memiliki Darun Nadwah dan memegang panji perang." Dia hampir merasa tenang dengan keputusan itu, seandainya tidak ada bisikan di dalam dirinya: "Sesungguhnya mereka menghidupkan orang-orang dengan memberi mereka makan dan minum, sementara kalian menggiring mereka ke dalam perang agar darah mereka tertumpah seperti domba-domba."
وَغَضِبَ مِنْ ذَلِكَ الْخَاطِرِ الَّذِي عَكَّرَ عَلَيْهِ صَفْوَهُ الَّذِي كَادَ أَنْ يَلِفَّهُ وَرَاحَ يَقُولُ بِصَوْتٍ مَسْمُوعٍ لِيَطْغَى عَلَى وَسْوَسَاتِ نَفْسِهِ الَّتِي بَدَأَتْ تَقْلَقُهُ : « إِنَّنَا لَا نَعْقِدُ لِوَاءَ الْحَرْبِ إِلَّا دِفَاعًا عَنْ شَرَفِ قُرَيْشٍ ، إِنَّنَا لَا نُعْلِنُ الْحَرْبَ إِلَّا عَلَى أَعْدَاءِ قُرَيْشٍ ، وَلَوْلَانَا لَذَهَبَ قُرَيْشٌ أَدْرَاجَ الرِّيَاحِ . وَلَوْ أَنْصَفَ الْعَرَبُ لَعَرَفُوا لَنَا ذَلِكَ الْفَضْلَ وَلَرَفَعُوهُ فَوْقَ كُلِّ فَضْلٍ ، وَلَكِنَّ الْعَرَبَ لَا يَرَوْنَ جَلَائِلَ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَا يَبْطِنُهُمْ » .
Dia marah dengan pikiran itu yang mengganggu ketenangannya yang hampir ia capai. Ia mulai berkata dengan suara keras untuk menutupi bisikan hatinya yang mulai mengganggunya: "Sesungguhnya kami tidak menegakkan panji perang kecuali untuk membela kehormatan Quraisy, sesungguhnya kami tidak mengumumkan perang kecuali terhadap musuh-musuh Quraisy, dan seandainya bukan karena kami, Quraisy akan musnah diterpa angin. Seandainya orang-orang Arab adil, niscaya mereka akan mengakui keutamaan itu bagi kami dan mengangkatnya di atas segala keutamaan, namun orang-orang Arab tidak melihat perbuatan-perbuatan besar melainkan apa yang tersembunyi dari mereka."
وَسَاءَهُ أَنْ يَعْتَرِفَ بِفَضْلِ بَنِى هَاشِمٍ فَعَادَ يَقُولُ فِي نَفْسِهِ :
Dan terasa berat baginya untuk mengakui keutamaan Bani Hasyim, maka dia kembali berkata dalam hatinya:
— إِنْ كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ قَدْ أَطْعَمَ الْحَجِيجَ وَسَقَاهُمْ ، وَإِنْ كَانَ بَنُو هَاشِمٍ قَدْ أَوْسَعُوا عَلَى النَّاسِ فِي الْمَوَاسِمِ فَإِنَّ نِيرَانَ الضَّيْفَانِ مُشْتَعِلَةٌ عَلَى دُورِ أُمَيَّةَ ، فَإِنْ كَانُوا قَدْ أَطْعَمْنَا ، إِنَّنَا وَبَنِي هَاشِمٍ فِي الْكَرَمِ كَفَرَسَى رِهَانٍ ، وَلَكِنَّنَا سَبَقْنَاهُمْ بِقِيَادَةِ الْجَيْشِ وَحَمْلِ اللِّوَاءِ.
— "Jika Abdul Muthalib telah memberi makan para jamaah haji dan memberi mereka minum, dan jika Bani Hasyim telah memberikan kelapangan bagi orang-orang pada musim haji, maka api untuk para tamu selalu menyala di rumah-rumah Bani Umayyah. Jika mereka telah memberi makan, sesungguhnya kami dan Bani Hasyim dalam hal kedermawanan ibarat dua kuda pacu, namun kami telah mendahului mereka dengan kepemimpinan pasukan dan membawa panji."
وَتَذَكَّرَ فِي لَحْظَةِ غَضَبِهِ ابْنَهُ أَبَا سُفْيَانَ فَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُهُ ، وَرَاحَ يُقِيمُ الْمُوَازَنَاتِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ :
Dan dia teringat di saat amarahnya kepada putranya, Abu Sufyan, maka wajahnya berseri-seri, dan dia mulai melakukan perbandingan antara dia dan putra-putra Abdul Muthalib:
— أَبُو سُفْيَانَ يُرَجِّحُ الزُّبَيْرَ ، وَهُوَ أَكْفَأُ مِنْ أَبِي طَالِبٍ ، وَأَيْنَ عَبْدُ اللَّهِ مِنْهُ ، إِنَّهُ لَوْ وُزِنَ بِأَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَرَجَّحَهُمْ جَمِيعًا . وَلَيْسَ فِي بَنِي هَاشِمٍ مَنْ هُوَ كُفْءٌ لِأَبِي سُفْيَانَ ، فَعَلَى بَنِي أُمَيَّةَ أَنْ تَتَكَاتَفَ لِتَمْتَدَّ الْأُمُورُ لِيُصْبِحَ أَبُو سُفْيَانَ سَيِّدَ مَكَّةَ بِلَا مُنَازِعٍ.
— "Abu Sufyan lebih unggul daripada Az-Zubair, dan dia lebih cakap daripada Abu Thalib, dan di manakah Abdullah dibandingkan dengannya? Sesungguhnya jika dia ditimbang dengan putra-putra Abdul Muthalib, niscaya dia akan lebih berat daripada mereka semua. Dan tidak ada seorang pun di Bani Hasyim yang setara dengan Abu Sufyan. Maka Bani Umayyah harus bahu-membahu agar urusan meluas sehingga Abu Sufyan menjadi pemimpin Makkah tanpa ada yang menandingi."
وَأَشْرَقَ صَدْرُهُ بِالْأَمَلِ . وَلَكِنْ سُرْعَانَ مَا غَاضَ ذَلِكَ الْبَصِيصُ وَعَادَ الْغِلُّ يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ ، وَرَاحَتْ أَصْوَاتٌ بَغِيضَةٌ تَفِحُّ فِي وِجْدَانِهِ فَحِيحَ الْأَفْعَى :
Dan dadanya dipenuhi harapan. Namun, dengan cepat cahaya itu meredup dan kebencian kembali menguasainya, dan suara-suara menjijikkan mulai mendesis di dalam nuraninya seperti desisan ular:
— أَيُجِيرُ عَلَى الزُّبَيْرِ ؟! أَيُطَالِبُنِي عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِدِيَةِ الْيَهُودِيِّ ؟! لَا كَانَ الزُّبَيْرُ وَلَا كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَلَا كَانَتْ قُرَيْشٌ وَلَا كَانَتْ مَكَّةُ لَوْ أَنَّنِي رَضَخْتُ لِإِرَادَةِ مَنْ يُرِيدُونَ تَحْقِيرِي.
— "Apakah dia melindungi Az-Zubair?! Apakah Abdul Muthalib menuntutku membayar diyat orang Yahudi itu?! Tidak ada Az-Zubair, tidak ada Abdul Muthalib, tidak ada Quraisy, dan tidak ada Makkah jika aku tunduk pada keinginan orang-orang yang hendak merendahkanku."
وَرَأَى أَبَاهُ أُمَيَّةَ بْنَ عَبْدِ شَمْسٍ يَقُودُهُ عَبْدُهُ ذَكْوَانُ فَوَسَّعَ مِنْ خُطْوَتِهِ لِيَلْحَقَ بِهِمَا وَيَفِرَّ مِنْ وَحْدَتِهِ الَّتِي تُفَجِّرُ مَرَاجِلَ الْحِقْدِ وَالْغَضَبِ وَالْغِلِّ فِي نَفْسِهِ ، وَمَا إِنْ سَارَ مَعَهُمَا أَحَسَّ رَاحَةً ، وَلَكِنْ مَا أَسْرَعَ أَنْ ضَاقَ بِتِلْكَ الصُّحْبَةِ فَانْطَلَقَ لَا يَلْوِي عَلَى شَيْءٍ.
Dan dia melihat ayahnya, Umayyah bin 'Abdus Syams, sedang dipimpin oleh budaknya, Dzakwan, maka dia mempercepat langkahnya untuk menyusul mereka berdua dan melarikan diri dari kesendiriannya yang meledakkan bara kebencian, kemarahan, dan kedengkian di dalam dirinya. Begitu dia berjalan bersama mereka, dia merasakan ketenangan, namun betapa cepatnya dia merasa sesak dengan kebersamaan itu, lalu dia pun pergi tanpa menoleh ke arah apa pun.
وَعَزَمَ حَرْبٌ عَلَى أَنْ يَعْتَزِلَ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَمَجْلِسَهُ وَقَدْ حَسِبَ أَنَّ ذَلِكَ يُرِيحُهُ مِنَ الْهَوَانِ الَّذِي يَسْتَشْعِرُهُ إِذَا مَا طَالَبَهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِدِيَةِ الْيَهُودِيِّ ، وَلَكِنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ لَمْ يَدَعْهُ بَلْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ يُطَالِبُهُ بِالدِّيَةِ فَثَارَتْ ثَوْرَتُهُ وَأَعْلَنَ فِي غَضَبٍ أَنَّهُ لَنْ يَدْفَعَ تِلْكَ الدِّيَةَ أَبَدًا.
Harb bertekad untuk menjauhi Abdul Muthalib dan majelisnya, karena dia menyangka bahwa hal itu akan melegakannya dari kehinaan yang ia rasakan jika Abdul Muthalib menagihnya diyat orang Yahudi itu. Namun, Abdul Muthalib tidak membiarkannya, bahkan dia mengutus seseorang kepadanya untuk menuntut diyat tersebut, maka bangkitlah kemarahannya dan dia menyatakan dengan gusar bahwa dia tidak akan pernah membayar diyat tersebut selamanya.
وَمَرَّتْ أَيَّامٌ وَحَرْبُ بْنُ أُمَيَّةَ بَرِمٌ بِوَحْدَتِهِ حَانِقٌ عَلَى ذَلِكَ الصَّوْتِ الْمُنْبَعِثِ مِنْ نَفْسِهِ يُهَدِّدُهُ :
Dan beberapa hari berlalu, sementara Harb bin Umayyah merasa muak dengan kesendiriannya, marah terhadap suara yang muncul dari dalam dirinya sendiri yang mengancamnya:
— الدِّيَةُ أَوِ الثَّأْرُ.
— "Diyat atau pembalasan."
ثَائِرٌ عَلَى ضَعْفِهِ الَّذِي يُزَيِّنُ لَهُ سُلُوكَ طَرِيقِ السَّلَامَةِ وَدَفْعِ الدِّيَةِ وَالْعَوْدَةِ إِلَى مُنَادَمَةِ الصِّحَابِ.
Dia bergejolak melawan kelemahannya sendiri yang membujuknya untuk menempuh jalan keselamatan, membayar diyat, dan kembali bergaul dengan para sahabat.
وَاسْتَكْبَرَ حَرْبٌ وَلَجَّ فِي الْعِنَادِ وَإِنْ كَانَتْ مَعَاوِلُ الْهَزِيمَةِ تَدُكُّ مُقَاوَمَتَهُ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ ، حَتَّى سَاقَ ذَاتَ صَبَاحٍ مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ إِلَى بَيْتِ عَمِّ الْيَهُودِيِّ دِيَةَ الْقَتْلِ ، فَقَدْ عَجَزَ حَرْبٌ عَنِ الِاسْتِمْرَارِ فِي عَدَاوَةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَنِفَ مِنْ مُخَالَطَةِ عَامَّةِ النَّاسِ ، فَمَا كَانَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَعِيشَ فِي عُزْلَةٍ عَنْ قَوْمِهِ وَقَدْ تَاقَتْ نَفْسُهُ الْمُتَكَبِّرَةُ إِلَى مُجَالَسَةِ السَّادَةِ ، فَهَرَعَ بَعْدَ أَنْ أَدَّى الدِّيَةَ وَهُوَ صَاغِرٌ إِلَى مُنَادَمَةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا حُبًّا فِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بَلْ حُبًّا فِي نَفْسِهِ.
Harb bersikap sombong dan bersikeras dalam keangkuhannya, walaupun martil kekalahan terus menghantam pertahanannya seiring berjalannya hari, hingga pada suatu pagi dia menggiring seratus ekor unta ke rumah paman orang Yahudi itu sebagai diyat pembunuhan. Harb tidak sanggup lagi terus memusuhi Abdul Muthalib dan merasa enggan bergaul dengan masyarakat umum, karena dia tidak mampu hidup dalam isolasi dari kaumnya, sementara jiwanya yang sombong mendambakan untuk duduk bersama para pemuka. Maka, setelah dia membayar diyat dalam keadaan hina, dia segera bergegas kembali bergaul dengan Abdul Muthalib, bukan karena cinta kepada Abdul Muthalib, melainkan karena cinta pada dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar