MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Di Bawah Bayang Yatsrib: Firasat Sang Ayah dan Janji Allah yang Menanti
Saat rombongan melewati rumah yang dibangun Tubba' untuk Nabi yang dinanti, Abdullah justru sedang berjuang melawan sakitnya. Episode ini menyandingkan takdir Abdullah yang akan wafat dengan takdir putranya yang akan menjadi pembawa cahaya bagi semesta.
وَرَاحَ الْحَادِي يَغْنِي بِصَوْتٍ يَمُوجُ بِالشَّجَنِ يُصَوِّرُ حَنِينَهُ إِلَى الْوَطَنِ، وَإِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَإِلَى الْحَجُونِ وَإِلَى الصَّفَا وَإِلَى مَا فِي مَكَّةَ مِنْ أَحِبَّةٍ وَصِحَابٍ، فَإِذَا بِأَحَاسِيسَ نَاعِمَةٍ تَدَسَّسُ إِلَى أَفْئِدَةِ الْفِتْيَانِ، وَإِذَا بِالرُّكْبَانِ يُشَارِكُونَ الْحَادِي فِي الْغِنَاءِ، وَإِذَا بِالدُّمُوعِ تَظْفَرُ إِلَى عَيْنَيْ عَبْدِ اللهِ فَقَدْ لاَحَتْ لَهُ آمِنَةُ تَمْلَأُ الْفَضَاءَ بَيْنَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ يَشِعُّ مِنْ جَبِينِهَا ذَلِكَ النُّورُ الَّذِي يَمْلَأُ جَوَانِحَهُ حُبًّا وَرَحْمَةً وَأَمْنًا.
Sang pengembara mulai bernyanyi dengan suara yang bergelombang kesedihan, melukiskan kerinduannya kepada tanah air, kepada Baitul 'Atiq (Ka'bah), kepada Al-Hajun, kepada Shafa, dan kepada kekasih serta sahabat yang ada di Makkah. Tiba-tiba perasaan lembut menyusup ke hati para pemuda, dan para kafilah pun ikut serta bersama pengembara dalam nyanyian, dan air mata menitik ke mata Abdullah, karena telah menampakkan diri kepadanya Aminah yang memenuhi ruang antara bumi dan langit, memancar dari dahinya cahaya yang memenuhi relung jiwanya dengan cinta, kasih sayang, dan kedamaian.
إِنَّهُ مَذُودُ عَنْ آمِنَةَ يُحِسُّ كَأَنَّمَا خَلْفَ قَلْبِهِ هُنَاكَ، فَلَمْ يَنْشَنَّ طَيْفُهَا عَنْهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. إِنَّهَا فِي خَيَالِهِ وَفِي وِجْدَانِهِ وَفِي سُوَيْدَاءِ الْفُؤَادِ، إِنَّهَا أَمَامَهُ وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَحَيْثُمَا يُقَلِّبُ وَجْهَهُ يَمُسُّ حَدِيثَهَا الْعَذْبُ أُذُنَيْهِ مَسًّا رَقِيقًا يُحْيِي فِيهِ أَجْمَلَ الذِّكْرَيَاتِ. وَإِنَّ صَوْتَهَا وَهِيَ تُحَدِّثُهُ عَنِ الرُّؤْيَا الَّتِي رَأَتْهَا وَالَّتِي سَمِعَتْ فِيهَا هَاتِفًا يَهْتِفُ بِهَا: إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَسْرِي فِي ضَمِيرِهِ كَمُوسِيقَى حَالِمَةٍ تُدَغْدِغُ حَوَاسَّهُ، أَوْ كَصَوْتِ مَلَائِكِيٍّ آتٍ مِنَ السَّمَاءِ بِالْبُشْرَى يَحْمِلُهُ عَلَى أَجْنِحَةِ السَّعَادَةِ إِلَى عَوَالِمَ مِنَ الْفَرَحِ وَالْبَهْجَةِ، تَبْدُو لَهُ مِنْ فَرْطِ نَشْوَتِهِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ هَذِهِ الْأَرْضِ.
Sesungguhnya dia merasa seolah-olah Aminah ada di balik hatinya di sana, bayangannya tidak pernah menjauh darinya di waktu malam maupun di siang hari. Dia ada dalam imajinasinya, dalam nuraninya, dan di lubuk hatinya yang terdalam. Dia ada di depannya, di kanan, di kiri, dan ke mana pun dia memalingkan wajah, pembicaraannya yang manis menyentuh telinganya dengan sentuhan lembut yang menghidupkan kenangan terindahnya. Suaranya saat menceritakan tentang mimpi yang dilihatnya dan yang di dalamnya dia mendengar penyeru memanggilnya: "Sesungguhnya engkau telah mengandung pemimpin umat ini", mengalir dalam batinnya seperti musik impian yang menggelitik indranya, atau seperti suara malaikat yang datang dari langit membawa kabar gembira, membawanya di atas sayap-sayap kebahagiaan menuju dunia kegembiraan dan kebahagiaan, yang tampak baginya dari saking mabuk kepayang bahwa itu bukanlah dari bumi ini.
وَرَاحَ يُحَاوِلُ أَنْ يَمِيطَ اللِّثَامَ عَنِ الْغَيْبِ وَأَنْ يَرْسُمَ صُورَةً بِخَيَالِهِ لِابْنِهِ الْحَبِيبِ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ آمِنَةُ، إِلَّا أَنَّ كُلَّ أَحْلَامِهِ قَدْ قَصُرَتْ عَلَى أَنْ تَسْمُوَ إِلَى مَا يَنْتَظِرُ ابْنَهُ مِنْ مَجْدٍ، فَقَدْ كَانَتْ أَمَانِيهِ أَرْضِيَّةً عَجَزَتْ عَنْ أَنْ تَرْتَفِعَ بِابْنِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَإِلَى مَا فَوْقَ السَّمَاءِ، لِتَرْبِطَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّ الْكَوْبِ الْأَسْبَابِ.
Dia mulai mencoba membuka tabir tentang hal yang gaib dan menggambarkan dalam imajinasinya sosok putranya yang terkasih yang dikabarkan oleh Aminah, namun semua impiannya terlalu pendek untuk dapat mencapai kemuliaan yang menanti putranya. Harapannya hanyalah duniawi yang tidak mampu mengangkat putranya ke langit dan ke atas langit, untuk menghubungkan antara dia dan Tuhan segala sebab.
وَمَدَّ رَجُلٌ مِنْ رِجَالِ الْقَافِلَةِ أَنْفَهُ وَزَفَرَ زَفْرَةً طَوِيلَةً ثُمَّ قَالَ:
Seorang pria dari kafilah memanjangkan hidungnya dan mengembuskan napas panjang lalu berkata:
— أَشُمُّ رِيحَ غَزَّةَ.
— Aku mencium bau Gaza.
وَمَسَّ الصَّوْتُ أُذُنَيْ عَبْدِ اللهِ فَإِذَا بِصَوْتٍ حَنُونٍ يَنْبَعِثُ مِنْ أَغْوَارِهِ يَقُولُ فِي وَجْدٍ:
Suara itu menyentuh telinga Abdullah, tiba-tiba ada suara lembut muncul dari kedalaman dirinya berkata dengan penuh rindu:
— أَشُمُّ رِيحَ مَكَّةَ.
— Aku mencium bau Makkah.
وَعَادَ يَعِيشُ بِوِجْدَانِهِ فِي مَكَّةَ وَيَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ وَيُلْقِي نَظَرَاتِ حُبٍّ عَلَى مَجْلِسِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فِي ظِلِّ الْبَيْتِ، وَيَهْرَعُ إِلَى دَارِهِ الْحَبِيبَةِ يُنَاجِي آمِنَةَ، وَيَبْتَسِمُ لِجَارِيَتِهِ الْحَبَشِيَّةِ وَيُوصِيهَا بِسَيِّدَتِهَا خَيْرًا، فَإِنَّهَا قَدْ حَمَلَتْ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ. وَتَدُورُ مُحَاوَرَاتٌ طَوِيلَةٌ مُفْعَمَةٌ بِالنَّشْوَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصِّحَابِ وَإِنْ كَانَ يَطْوِي مَعَ عِيرِ قُرَيْشٍ أَرْضَ اللهِ.
Dia kembali hidup dengan nuraninya di Makkah, bertawaf di Ka'bah, melempar pandangan cinta ke majelis Abdul Muthalib di bawah bayang-bayang Baitul 'Atiq. Dia bergegas ke rumah kesayangannya membisikkan kata-kata kepada Aminah, dan tersenyum kepada budak wanitanya yang dari Habasyah serta menitipkan pesan untuk merawat tuannya dengan baik, karena dia telah mengandung pemimpin umat ini. Dialog-dialog panjang penuh dengan kegembiraan terus bergulir antara dia dan para sahabat meskipun dia sedang melintasi bumi Allah bersama kafilah Quraisy.
وَهَبَّتْ رِيحُ النَّسِيمِ وَبَدَتِ السُّحُبُ فِي رُقْعَةِ السَّمَاءِ كَأَنَّهَا قَطِيعٌ مِنَ بَقَرِ الْوَحْشِ، فَرَاحَ الرِّجَالُ يَحُثُّونَ الْإِبِلَ عَلَى الْإِسْرَاعِ لِتَجِدَ الْقَافِلَةُ لَهَا عَاصِمًا مِنَ الْمَطَرِ فِي غَزَّةَ، فَإِنَّ هِيَ إِلَّا سُوَيْعَاتٍ وَيَنْهَمِرُ الْغَيْثُ. وَمَرَّتْ سَاعَةٌ وَرَاحَتِ السُّحُبُ تَمُرُّ كَأَنَّهَا بَغَالُ دُهْمٍ تَجُرُّ جَلَالَهَا، وَصَارَ لَا هَمَّ لِرِجَالِ الْقَافِلَةِ إِلَّا مُرَاقَبَةَ السَّمَاءِ بَيْنَمَا كَانَ عَبْدُ اللهِ غَائِبًا عَنِ الْوُجُودِ بِالرُّؤَى الْعِذَابِ الَّتِي تَتَرَادَفُ عَلَى رَأْسِهِ فَتُولَدُ فِي نَفْسِهِ آمَالًا مُشْرِقَةً عَرِيضَةً تَعْزِفُ عَلَى قِيثَارَةِ فُؤَادِهِ أَرَقَّ الْأَلْحَانِ.
Angin sepoi-sepoi berhembus dan awan tampak di hamparan langit seolah-olah kawanan sapi liar. Para lelaki mulai memacu unta-unta untuk bergegas agar kafilah menemukan tempat perlindungan dari hujan di Gaza, karena hanya dalam beberapa jam hujan akan turun deras. Satu jam berlalu dan awan terus lewat seolah-olah keledai-keledai hitam menyeret jubah kebesarannya. Para lelaki kafilah tidak memiliki perhatian selain mengawasi langit, sementara Abdullah sedang tidak ada di dunia nyata, tenggelam dalam penglihatan-penglihatan manis yang terus menerus menyapa kepalanya, melahirkan dalam jiwanya harapan-harapan cerah yang luas yang memainkan kecapi hatinya dengan alunan paling lembut.
وَطَافَتْ بِهِ نُبُوءَةُ سُودَةَ عَمَّةِ وَهْبٍ، كَاهِنَةِ قُرَيْشٍ، فَقَدْ تَنَبَّأَتْ لِآمِنَةَ بِأَنَّهَا النَّذِيرَةُ أَوْ تَلِدُ نَذِيرًا. وَقَدْ جَاءَتْ رُؤْيَا آمِنَةَ وَذَلِكَ الْهَاتِفُ الَّذِي هَتَفَ بِهَا بِأَنَّهَا سَتَلِدُ سَيِّدَ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُؤَكِّدَةً نُبُوءَةَ كَاهِنَةِ قُرَيْشٍ. سَتَلِدُ آمِنَةُ ذَلِكَ النَّذِيرَ الَّذِي كَانَتْ نِسَاءُ مَكَّةَ كُلُّهَا يَتَمَنَّيْنَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ بُطُونِهِمْ. وَتَهَلَّلُ عَبْدُ اللهِ بِالْفَرَحِ لِابْنِهِ لِابْنِهِ لِابْنِهِ شَأْنٍ عَظِيمٍ وَإِنْ كَانَ لَا يَدْرِي مَا النَّذِيرُ، فَقَدْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ لَمْ يَبْعَثِ اللهُ فِيهِمْ مِنْ قَبْلُ نَذِيرًا وَلَا رَسُولًا.
Ramalan Saudah, bibi Wahb, dukun perempuan Quraisy, melintas dalam ingatannya. Dia telah meramalkan kepada Aminah bahwa dia akan menjadi pembawa peringatan atau melahirkan seorang pembawa peringatan. Mimpi Aminah dan suara yang memanggilnya bahwa dia akan melahirkan pemimpin umat ini datang menguatkan ramalan dukun perempuan Quraisy tersebut. Aminah akan melahirkan pembawa peringatan yang semua wanita Makkah ingin sekali mengandungnya di dalam rahim mereka. Abdullah berseri-seri penuh kegembiraan karena putranya akan memiliki kedudukan yang agung meskipun dia tidak tahu apa itu pembawa peringatan, karena dia berasal dari kaum yang Allah belum pernah mengutus seorang pembawa peringatan atau pun rasul di antara mereka sebelumnya.
وَدَنَتِ السُّحُبُ مِنَ الْأَرْضِ وَتَدَلَّتْ فَبَدَتْ كَأَنَّمَا بَيْنَ أَعْلَاهَا وَأَسْفَلِهَا أَثْوَابٌ هَيْنَةٌ رَقِيقَةٌ مُنْشَرَةٌ، أَوْ ضَوْءُ مِصْبَاحٍ خَافَتٍ يَكَادُ أَنْ يَلْفِظَ أَنْفَاسَهُ، ثُمَّ أَسْدَلَ عَلَى وَجْهِ السَّمَاءِ نِقَابٌ مِنْ سُحُبٍ دَاكِنَةٍ فَارْتَفَعَ صَوْتُ الْحَادِي بِالْحُدَاءِ يَحُثُّ الْإِبِلَ عَلَى الْإِسْرَاعِ فَقَدْ لاَحَتْ أَرْبَاضُ غَزَّةَ.
Awan mendekat ke bumi dan bergantungan, tampak seolah-olah di antara bagian atas dan bawahnya terdapat kain-kain tipis halus yang terbentang, atau cahaya lampu redup yang hampir mengembuskan napas terakhirnya. Kemudian tirai awan gelap diturunkan menutupi wajah langit, suara pengembara meninggi dengan lantunan nyanyian memacu unta-unta untuk bergegas karena pinggiran kota Gaza sudah tampak.
وَيَبْرُقُ الْبَرْقُ ثُمَّ هَزَمَ الرَّعْدُ وَسُرْعَانَ مَا هَطَلَتِ الْأَمْطَارُ، فَاضْطَرَبَ قِطَارُ الْقَافِلَةِ لَحَظَاتٍ، فَقَدْ خَفَّ الرِّجَالُ لِتَغْطِيَةِ مَا يُخْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْبَلَلِ، وَهَرَعَ الْكَاهِنُ لِيَطْمَئِنَّ إِلَى أَنَّ إِلَهَهُ فِي مَأْمَنٍ مِنَ الْمَاءِ النَّازِلِ مِنَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَقَامَتِ الْعِيرُ وَانْطَلَقَتْ تَغُذُّ السَّيْرَ فِي دُرُوبِ غَزَّةَ.
Kilat menyambar kemudian guntur bergemuruh dan dengan cepat hujan turun, kafilah menjadi kacau selama beberapa saat. Para lelaki bergegas untuk menutupi apa yang dikhawatirkan terkena air, dan sang dukun bergegas untuk memastikan bahwa tuhannya aman dari air yang turun dari langit. Kemudian kafilah kembali tenang dan berangkat melanjutkan perjalanan di jalan-jalan Gaza.
وَجَفَّتْ دُمُوعُ السُّحُبِ وَأَطَلَّتْ زُرْقَةٌ صَافِيَةٌ مِنْ بَيْنِ الْغَمَامِ وَمَا لَبِثَتْ أَنِ انْدَاحَتْ حَتَّى اسْتَوَتْ عَلَى رُقْعَةِ السَّمَاءِ، وَبَدَتِ الْأَرْضُ عَلَى جَانِبَيِ الْقَافِلَةِ كَأَنَّمَا كُسِيَتْ بِسَاطًا مِنْ سُنْدُسٍ أَخْضَرَ وُشِّيَ بِالْيَوَاقِيتِ وَالزَّبَرْجَدِ وَالْمَرْجَانِ، وَبَلَغَتِ الْقَافِلَةُ السُّوقَ فَحَطَّتْ رِحَالَهَا وَرَاحَ الرِّجَالُ يَلْتَقِطُونَ أَنْفَاسَهُمْ.
Air mata awan mengering dan warna biru cerah muncul dari balik awan, tidak lama berselang hingga menyebar merata di hamparan langit. Bumi tampak di kedua sisi kafilah seolah-olah dilapisi permadani sutra hijau yang disulam dengan permata yakut, zabarjad, dan marjan. Kafilah tiba di pasar, meletakkan barang bawaan mereka, dan para lelaki mulai mengatur napas mereka.
وَتَمَدَّدَ عَبْدُ اللهِ فِي خَيْمَتِهِ وَقَدْ أَطْلَقَ لِخَيَالِهِ الْعَنَانَ، فَرَاحَ الْفَتَى يَجْتَرُّ ذِكْرَيَاتِهِ وَهُوَ سَعِيدٌ، فَقَدْ كَانَتِ السَّنَوَاتُ الْقَلِيلَةُ الَّتِي مَرَّتْ عَلَى عُمُرِهِ مُفْعَمَةً بِأَحْدَاثٍ جِسَامٍ وَبِتَجَارِبَ قَدْ لَا يَمُرُّ بِهَا مَنْ بَلَغَ مِنَ الْعُمُرِ عِتِيًّا، فَمَنْ مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهِ أَخَذَهُ أَبُوهُ لِيَذْبَحَهُ قُرْبَانًا لِإِلَهِهِ فَقَدَاهُ اللهُ بِمِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ، وَمَنْ مِنْ زَوْجَاتِ أَشْرَافِ قُرَيْشٍ بُشِّرَتْ بِأَنَّهَا قَدْ حَمَلَتْ بِسَيِّدِ أُمَّتِهِ؟ إِنَّهُ سَعِيدٌ بِحَيَاتِهِ رَاضٍ كُلَّ الرِّضَا عَنْ دُنْيَاهُ.
Abdullah berbaring di tendanya melepaskan imajinasinya sebebas-bebasnya. Pemuda itu mulai mengulang kenangannya dengan bahagia. Tahun-tahun yang sedikit yang telah berlalu dalam hidupnya penuh dengan peristiwa besar dan pengalaman yang mungkin tidak dialami oleh mereka yang sudah mencapai usia tua. Siapa dari pemimpin kaumnya yang ayahnya membawanya untuk disembelih sebagai kurban bagi tuhannya lalu Allah menebusnya dengan seratus unta? Dan siapa dari istri-istri terhormat Quraisy yang diberi kabar gembira bahwa dia telah mengandung pemimpin umatnya? Dia bahagia dengan hidupnya, sangat puas dengan dunianya.
وَتَذَكَّرَ جَدَّهُ هَاشِمَ بْنَ عَبْدِ مَنَافٍ أَوَّلَ مَنْ ثَرَدَ الثَّرِيدَ وَهَشَمَهُ فِي الْجَدْبِ، وَأَوَّلَ مَنْ سَنَّ الرِّحْلَتَيْنِ لِقُرَيْشٍ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ إِلَى الْيَمَنِ وَرِحْلَةَ الصَّيْفِ إِلَى الشَّامِ.
Dia teringat kakeknya, Hasyim bin Abdi Manaf, orang pertama yang membuat tsarid (roti yang dicampur kuah kaldu) dan menghancurkannya di musim paceklik, dan orang pertama yang menetapkan dua perjalanan bagi Quraisy, perjalanan musim dingin ke Yaman dan perjalanan musim panas ke Syam.
وَقَدْ صَارَتْ إِلَيْهِ الرِّفَادَةُ وَالسِّقَايَةُ وَسَادَ قَوْمَهُ وَلَمَّا يَبْلُغِ الْخَامِسَةَ وَالْعِشْرِينَ. إِنَّ هَاشِمًا قَدِ امْتَازَ بِصِفَاتٍ فَاضِلَةٍ لَمْ يُطَاوِلْهُ بِهَا أَحَدٌ مِنْ قَوْمِهِ. تَرَى أَتَمْتَدُّ بِهِ الْأَيَّامُ لِيَبْلُغَ هَاشِمَ مَا بَلَغَهُ مِنْ مَجْدٍ؟ أَيَكُونُ ابْنُهُ الَّذِي بُشِّرَتْ بِهِ آمِنَةُ صِنْوَ هَاشِمٍ؟ وَطَافَتْ بِهِ فِكْرَةُ أَنْ يَنْطَلِقَ لِزِيَارَةِ قَبْرِ هَاشِمٍ فَقَامَ قَبْلَ أَنْ يَأْخُذَ نَصِيبَهُ مِنَ الرَّاحَةِ وَاتَّخَذَ طَرِيقَهُ إِلَى الْقَبْرِ وَهُوَ يَتَمَثَّلُ طَرَفَةَ بْنَ عَبْدٍ الْخَزَاعِيِّ:
Haq (hak) Rifadah dan Siqayah jatuh kepadanya dan dia memimpin kaumnya padahal belum mencapai usia dua puluh lima tahun. Sesungguhnya Hasyim memiliki sifat-sifat mulia yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari kaumnya. Akankah hari-hari memanjang baginya untuk mencapai kemuliaan yang dicapai Hasyim? Apakah putranya yang dikabarkan kepada Aminah akan menjadi seperti Hasyim? Terbersit dalam pikirannya untuk pergi mengunjungi makam Hasyim, maka dia bangkit sebelum mendapatkan bagian istirahatnya dan menempuh jalannya ke makam sambil bersenandung (syair) Tharafah bin Abdi Al-Khaza'i:
وَهَاشِمٌ فِي ضَرِيحٍ وَسْطَ بَلْقَعَةٍ
تَسْفِي الرِّيَاحُ عَلَيْهِ بَيْنَ غَزَاتِ
[Shadr] Dan Hasyim di dalam makam di tengah padang luas. [Ajuz] Angin meniup di atasnya di antara dua Gaza.
وَبَلَغَ قَبْرَ هَاشِمٍ فَوَقَفَ مُطْرِقًا خَاشِعًا أَمَامَ قَبْرِ جَدِّهِ الَّذِي رَبَطَ بِزَوَاجِهِ مِنْ سَلْمَى الْخَزْرَجِيَّةِ بَيْنَ مَكَّةَ وَيَثْرِبَ، وَالَّذِي جَعَلَ لَهُمْ بِذَلِكَ الرِّبَاطِ الْمُقَدَّسِ أَخْوَالًا مِنْ بَنِي النَّجَّارِ، فَهُوَ الْجِسْرُ الَّذِي شَدَّ وَثَاقَ مَكَّةَ بِالْمَدِينَةِ، وَالَّذِي خَلَقَ لِبَنِي هَاشِمٍ عَصَبِيَّةً مِنْ أَهَمَّ مُحَاطٍ فِي طَرِيقِ قَوَافِلِهِمْ.
Dia sampai di makam Hasyim, lalu berdiri dengan menundukkan kepala dengan khusyuk di depan makam kakeknya, yang dengan pernikahannya dengan Salma Al-Khazrajiyah, telah menghubungkan antara Makkah dan Yatsrib. Hal itu membuat mereka, dengan ikatan suci tersebut, memiliki paman dari Bani Najjar. Dialah jembatan yang mengikat kuat Makkah dengan Madinah, dan yang menciptakan bagi Bani Hasyim kekuatan/dukungan yang paling penting di jalur kafilah mereka.
وَشَرَدَ خَيَالُهُ فَتَذَكَّرَ الْمُطَّلِبَ الَّذِي هَلَكَ بِرَدْمَانَ فِي أَرْضِ الْيَمَنِ، وَنَوْفَلًا الَّذِي فَاضَتْ رُوحُهُ بِسَلْمَانَ مِنْ نَاحِيَةِ الْعِرَاقِ، وَطَافَ بِهِ سُؤَالٌ: مَا حِكْمَةُ مَوْتِ سَادَاتِ قُرَيْشٍ غُرَبَاءَ فِي أَرْضِ الْعَرَبِ بَيْنَ قُبُورِهِمْ مَفَاوِزُ وَصَحْرَاوَاتٌ، أَتَكُونُ قُبُورُهُمْ مَعَالِمَ عَلَى طَرِيقِ قَوَافِلِ قُرَيْشٍ؟ أَتَكُونُ رَابِطَةً بَيْنَ مَكَّةَ وَالْعِرَاقِ وَالْيَمَنِ وَالشَّامِ تَجْعَلُ الْأَفْئِدَةَ تَهْفُو إِلَى تِلْكَ الْبِلَادِ مَا دَامَتِ الرَّابِطَةُ السِّيَاسِيَّةُ بَيْنَ تِلْكَ الدُّوَلِ قَدِ انْفَصَمَتْ وَحَلَّتْ بَيْنَهَا الْعَدَاوَاتُ؟ وَلَمْ يَهْتَدِ الْفَتَى الْيَافِعُ إِلَى شَيْءٍ فَدَارَ عَلَى عَقِبِهِ وَهُوَ يُفَكِّرُ فِي الْمَوْتِ، وَيَعْجَبُ مِنَ الْقَائِلِينَ إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا، فَإِنْ كَانَ مَا يَقُولُونَ حَقًّا فَمَا أَتْفَهَهَا مِنْ حَيَاةٍ، أَيَعِيشُ الْمَرْءُ سِنِينَ قَصُرَتْ أَمْ طَالَتْ ثُمَّ يَمُوتُ كَمَا يَمُوتُ الْبَعِيرُ ثُمَّ لَا شَيْءَ؟ لَوْ كَانَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ لَكَانَ الْخَلْقُ بَاطِلًا. إِنَّهُ يُؤْمِنُ بِمَا وَصَلَ إِلَيْهِ أَبُوهُ بِأَنَّ وَرَاءَ هَذِهِ الْحَيَاةِ حَيَاةً أُخْرَى يُحَاسَبُ الْإِنْسَانُ فِيهَا عَلَى مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ.
Imajinasinya melayang, dia teringat Al-Muthalib yang meninggal di Radman di tanah Yaman, dan Naufal yang jiwanya berpulang di Salman dari arah Irak. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya: Apa hikmah di balik kematian para pemimpin Quraisy sebagai orang asing di tanah Arab di antara makam-makam mereka yang dikelilingi padang pasir dan gurun? Apakah makam-makam mereka akan menjadi tanda di jalur kafilah Quraisy? Apakah itu akan menjadi penghubung antara Makkah, Irak, Yaman, dan Syam yang membuat hati rindu ke negeri-negeri tersebut selama ikatan politik antara negara-negara itu telah terputus dan permusuhan terjadi di antara mereka? Pemuda belia itu tidak mendapatkan jawaban, lalu dia berbalik sambil memikirkan tentang kematian, dan heran terhadap mereka yang berkata "Ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja". Jika apa yang mereka katakan itu benar, sungguh betapa remehnya kehidupan itu. Apakah seseorang hidup bertahun-tahun, entah pendek atau panjang, kemudian mati sebagaimana unta mati, lalu tidak ada apa-apa? Jika urusannya seperti itu, niscaya penciptaan adalah sia-sia. Dia beriman dengan apa yang diyakini ayahnya, bahwa di balik kehidupan ini terdapat kehidupan lain di mana manusia akan dihisab atas apa yang telah diperbuat tangannya; jika baik maka baik, jika buruk maka buruk.
وَمَرَّتْ أَيَّامُ السُّوقِ مُفْعَمَةً بِالْعَمَلِ وَالْبَهْجَةِ، فَقَدْ بَاعَ رِجَالُ قُرَيْشٍ كُلَّ مَا مَعَهُمْ مِنْ سِلَعٍ وَحَقَّقُوا أَرْبَاحًا أَثْلَجَتْ صُدُورَهُمْ، وَأَقْبَلُوا عَلَى الشِّرَاءِ بَعْدَ الْبَيْعِ فَكَانَتِ الْخُمُورُ أَكْثَرَ مَا اشْتَرَوْهُ فَمُتْرَفُو مَكَّةَ وَسَادَاتُهَا يَدْفَعُونَ فِي خُمُورِ الشَّامِ كُلَّ مَا يَطْلُبُ مِنْهُمْ مِنْ ثَمَنٍ.
Hari-hari pasar berlalu penuh dengan kesibukan dan kebahagiaan. Para lelaki Quraisy menjual semua barang dagangan yang mereka bawa dan meraih keuntungan yang melegakan hati mereka. Mereka kemudian beralih membeli setelah menjual, dan khamr adalah barang terbanyak yang mereka beli, karena kaum elit Makkah dan para pemimpinnya membayar berapapun harga yang diminta untuk khamr dari Syam.
وَتَقَضَّتْ أَيَّامُ غَزَّةَ وَلَيَالِيهَا النَّابِضَةُ الْحَيَّةُ، فَقَدْ كَانَ السَّمَرُ يَمْتَدُّ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ؛ رِجَالُ قُرَيْشٍ يَتَبَارَوْنَ فِي شِعْرِ الْفُحُولِ مِنْ شُعَرَاءِ الْعَرَبِ، وَالْمُتَأَدِّبُونَ مِنْ أَهْلِ غَزَّةَ يَهْرَعُونَ إِلَى ذَلِكَ النَّادِي يَلْقَوْنَ سَمْعَهُمْ إِلَى الرُّوَاةِ مُنْتَشِيَةً أَرْوَاحُهُمْ مُفْعَمَةً بِالْفَرَحِ أَفْئِدَتُهُمْ، وَكَانَ بَعْضُ رِجَالِ غَزَّةَ يَقُصُّونَ أَنْبَاءَ الْغَسَاسِنَةِ وَيَرْوُونَ أَنْبَاءَ الْحُرُوبِ الَّتِي لَا تَنْقَطِعُ بَيْنَ الْغَرْبِ وَالشَّرْقِ، بَيْنَ الْإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الرُّومَانِيَّةِ وَإِمْبَرَاطُورِيَّةِ فَارْسَ السَّاسَانِيَّةِ.
Hari-hari dan malam-malam Gaza yang hidup dan berdenyut berlalu, karena suasana berkumpul (berbincang) memanjang hingga terbit fajar; para lelaki Quraisy saling berlomba dalam syair-syair hebat dari penyair-penyair Arab, dan para penggemar sastra dari penduduk Gaza bergegas menuju tempat perkumpulan itu, memasang telinga mereka kepada para perawi, jiwa mereka mabuk kepayang dan hati mereka penuh dengan kegembiraan. Beberapa lelaki Gaza menceritakan berita tentang kaum Ghassan dan meriwayatkan berita tentang peperangan yang tidak pernah berhenti antara Barat dan Timur, antara Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia Sasaniyah.
وَتَجَهَّزَتْ عِيرُ قُرَيْشٍ لِلْعَوْدَةِ فَاسْتَوَى الرِّجَالُ عَلَى ظُهُورِ إِبِلِهِمْ، وَأُذِنَ بِالرَّحِيلِ فَانْطَلَقَتِ الْقَافِلَةُ وَقَدِ اسْتَقْبَلَتْ مَكَّةَ، وَرَاحَ الرِّجَالُ يُكْثِرُونَ مِنَ التَّلَفُّتِ فَقَدْ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ كَثْرَةَ التَّلَفُّتِ تُوجِبُ الْعَوْدَةَ وَكَانُوا جَمِيعًا يَتَمَنَّوْنَ الْأَوْبَةَ لِيَسْعَدُوا بِالْخُضْرَةِ وَالْمَاءِ وَالْوَجْهِ الْحَسَنِ، فَقَدْ كَانَ فِي كُلِّ سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ الْأَرْضِ مَنَازِلُ لِلْبَغَايَا صَاحِبَاتِ الرَّايَاتِ الْحُمْرِ.
Kafilah Quraisy bersiap untuk kembali, para lelaki menaiki punggung unta mereka, dan seruan untuk berangkat dikumandangkan. Kafilah pun bergerak menuju Makkah, para lelaki sering menoleh ke belakang, karena mereka percaya bahwa sering menoleh akan menyebabkan kembali lagi, dan mereka semua berharap untuk kembali agar bisa berbahagia dengan kehijauan, air, dan wajah yang cantik, karena di setiap pasar di muka bumi terdapat tempat bagi para pelacur (wanita) yang memasang bendera merah.
وَرَاحَ عَبْدُ اللهِ يُفَكِّرُ فِي يَثْرِبَ وَفِي أَخْوَالِهِ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ، فَأَبُوهُ قَدْ أَرْسَلَهُ مَعَ الْقَافِلَةِ لِيَمْتَارَ تَمْرًا وَيَزُورَ أَخْوَالَهُ، فَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ يُحِبُّ أَنْ تَظَلَّ الْأَسْبَابُ مُتَّصِلَةً بَيْنَ بَنِي هَاشِمٍ وَالْخَزْرَجِ. فَشَيْخُ قُرَيْشٍ لَا يَنْسَى ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي أَرَادَ فِيهِ عَمُّهُ نَوْفَلٌ أَنْ يَسْلُبَهُ حَقَّهُ فَوَجَدَ مَنْ يَنْصُرُهُ مِنْ أَخْوَالِهِ عَلَى عَمِّهِ، وَقَدْ عَرَفَ مَا كَانَ مِنْ نُصْرَةِ رَزَّاحِ بْنِ رَبِيعَةَ لِأَخِيهِ قُصَيٍّ يَوْمَ جَاءَهُ فِي حَجِّ قُضَاعَةَ وَثَبَّتَ سُلْطَانَهُ عَلَى مَكَّةَ، فَكَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ حَرِيصًا عَلَى أَنْ تَظَلَّ الْوَسَائِلُ طَيِّبَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَ بَنِي النَّجَّارِ، فَقَدْ يَفْزَعُ إِلَيْهِمْ يَوْمًا بَعْضُ وَلَدِهِ لِيَلْتَمِسَ مِنْهُمُ النُّصْرَةَ وَالتَّأْيِيدَ.
Abdullah mulai berpikir tentang Yatsrib dan pamannya dari Bani Najjar. Ayahnya telah mengirimnya bersama kafilah untuk membeli kurma dan mengunjungi pamannya, karena Abdul Muthalib senang hubungan antara Bani Hasyim dan Khazraj tetap terjaga. Pemimpin Quraisy tidak melupakan hari di mana pamannya, Naufal, ingin merampas haknya, lalu dia mendapati dukungan dari paman-pamannya untuk melawan pamannya. Dia mengetahui bantuan Razzah bin Rabi'ah kepada saudaranya, Qushai, pada hari saat dia datang kepadanya di musim haji Qudha'ah dan mengokohkan kekuasaannya atas Makkah. Oleh karena itu, Abdul Muthalib bertekad agar hubungan tetap baik antara dirinya dan Bani Najjar, karena suatu saat nanti sebagian anaknya mungkin akan meminta pertolongan dan dukungan kepada mereka.
وَسَرَتِ الْقَافِلَةُ فِي الْكَوْنِ الْعَرِيضِ، وَانْصَرَمَتْ لَيَالٍ وَأَيَّامٌ وَأَحَسَّ عَبْدُ اللهِ وَهَنًا يَدِبُّ فِي جِسْمِهِ فَلَمْ يَحْفَلْ بِهِ كَثِيرًا، فَقَدْ كَانَ يَحْسَبُ أَنَّ التَّعَبَ دَبَّ فِي أَوْصَالِهِ وَأَنَّ ذَلِكَ الْإِرْهَاقَ لَنْ يَلْبَثَ أَنْ يَزُولَ إِذَا أَعْطَى حَقَّهُ مِنَ الرَّاحَةِ. وَدَخَلَ خَيْمَتَهُ، وَمَا إِنْ أَسْلَمَ جَنْبَيْهِ لِلرُّقَادِ حَتَّى رَاحَ فِي سُبَاتٍ عَمِيقٍ وَغَطَّ فِي نَوْمِهِ وَانْبَثَقَ مِنْهُ الْعَرَقُ وَذَبُلَ لَوْنُهُ، حَتَّى إِنَّ الَّذِي دَلَفَ إِلَى خَيْمَتِهِ لِيُوقِظَهُ وَقَفَ يَنْظُرُ فِي وَجْهِهِ الْأَصْفَرَ خَافِقَ الْقَلْبِ وَقَدْ نَزَلَ بِصَدْرِهِ شَيْءٌ مِنَ الْخَوْفِ وَالْقَلَقِ.
Kafilah berjalan di alam yang luas, malam dan hari berlalu, dan Abdullah merasakan kelemahan merayapi tubuhnya namun dia tidak terlalu mempedulikannya, karena dia mengira keletihan merayapi sendi-sendinya dan bahwa kelelahan itu tidak lama akan hilang jika dia memberikan haknya untuk beristirahat. Dia masuk ke tendanya, dan begitu dia membaringkan tubuhnya untuk tidur, dia langsung jatuh dalam tidur yang nyenyak dan mendengkur, keringat memancar darinya dan warna kulitnya layu, hingga orang yang masuk ke tendanya untuk membangunkannya berdiri menatap wajah kuningnya dengan jantung berdebar kencang, dan turunlah ke dadanya rasa takut dan cemas.
وَتَقَدَّمَ الرَّجُلُ وَهَتَفَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ:
Pria itu maju dan berseru dengan suara lirih:
— عَبْدُ اللهِ .. عَبْدُ اللهِ.
— Abdullah.. Abdullah.
وَظَلَّ عَبْدُ اللهِ فِي نَوْمِهِ يَلْتَقِطُ أَنْفَاسًا مُضْطَرِبَةً فِي جُهْدٍ شَدِيدٍ، فَمَدَّ الرَّجُلُ يَدَهُ وَرَاحَ يَهُزُّهُ وَهُوَ يُنَادِيهِ:
Abdullah tetap dalam tidurnya mengambil napas yang terputus-putus dengan usaha yang berat, pria itu mengulurkan tangannya dan mulai mengguncangnya sambil memanggilnya:
— عَبْدُ اللهِ .. عَبْدُ اللهِ.
— Abdullah.. Abdullah.
وَفَتَحَ الْفَتَى عَيْنَيْنِ وَاهْنَتَيْنِ عَجَزَ عَنْ أَنْ تَظَلَّا مَفْتُوحَتَيْنِ، فَسَحَبَ عَلَيْهِمَا جَفْنَيْهِ، وَأَطْرَقَ بِرَأْسِهِ عَلَى صَدْرِهِ وَزَفَرَ زَفْرَةً طَوِيلَةً فِي صَوْتٍ مَسْمُوعٍ، فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ:
Pemuda itu membuka dua matanya yang lemah, ia tak mampu membiarkannya tetap terbuka, lalu menarik kelopak matanya, menundukkan kepalanya ke dadanya, dan menghembuskan napas panjang dengan suara yang terdengar, pria itu berkata kepadanya:
— مَا بِكَ يَا عَبْدَ اللهِ ؟
— Apa yang terjadi padamu wahai Abdullah?
وَأَرَادَ عَبْدُ اللهِ أَنْ يَنْهَضَ وَلَكِنَّهُ عَجَزَ عَنِ النُّهُوضِ فَقَالَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ:
Abdullah ingin bangkit tetapi dia tidak mampu bangkit lalu berkata dengan suara lirih:
— إِنِّي سَقِيمٌ.
— Sesungguhnya aku sakit.
وَامْتَلَأَتْ خَيْمَةُ عَبْدِ اللهِ بِرِجَالِ الْقَافِلَةِ، فَابْنُ شَيْخِ قُرَيْشٍ وَأَحَبُّ وَلَدِهِ إِلَى قَلْبِهِ مَرِيضٌ، وَأَعْطَاهُ كَاهِنُ الْقَافِلَةِ وَطَبِيبُهَا بَعْضَ الْعَقَاقِيرِ، ثُمَّ حَمَلَ عَبْدُ اللهِ وَوُضِعَ فِي هَوْدَجٍ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرٍ، وَرِجَالُ قُرَيْشٍ يَرْجُونَ أَنْ تَزُولَ عَنْهُ الْوَعْكَةُ الَّتِي أَلَمَّتْ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَبْلُغُوا الْمَدِينَةَ.
Tenda Abdullah dipenuhi oleh para lelaki kafilah, karena putra pemimpin Quraisy dan putra yang paling dicintai oleh hatinya sedang sakit. Dukun kafilah dan dokternya memberinya beberapa obat, kemudian Abdullah diangkat dan diletakkan di dalam tandu di atas punggung unta. Para lelaki Quraisy berharap agar penyakit yang menimpanya hilang sebelum mereka mencapai Madinah.
وَانْسَابَتِ الْقَافِلَةُ فِي دُرُوبِ الْمَدِينَةِ تَمْشِي وَهْنَا، وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ التَّرْحِيبِ مِنَ الْمَدَنِيِّينَ:
Kafilah meluncur di jalan-jalan kota Madinah berjalan dengan pelan, dan suara-suara sambutan dari penduduk Madinah meninggi:
— عِيرُ قُرَيْشٍ .. عِيرُ قُرَيْشٍ، مَرْحَبًا بِعِيرِ قُرَيْشٍ.
— Kafilah Quraisy.. Kafilah Quraisy, selamat datang kafilah Quraisy.
وَلَمْ تَتَهَلَّلِ الْوُجُوهُ بِالْفَرَحِ بَلْ كَانَ الْعُبُوسُ عَلَى كُلِّ الْوُجُوهِ، فَعَبْدُ اللهِ لَا يَزَالُ مَرِيضًا وَإِنَّ أَمْرَهُ يَسُوءُ يَوْمًا عَنْ يَوْمٍ، وَقَدْ حَارَ فِيهِ كَاهِنُ الْقَافِلَةِ وَطَبِيبُهَا.
Wajah-wajah tidak berseri-seri dengan kegembiraan, melainkan kekecewaan ada di semua wajah, karena Abdullah masih sakit dan kondisinya memburuk dari hari ke hari, dan dukun serta dokter kafilah pun bingung menangani kondisinya.
وَحَطَّتِ الْقَافِلَةُ رِحَالَهَا فِي السُّوقِ، وَفِي نَفْسِ الْوَقْتِ كَانَ سَادَاتُ قُرَيْشٍ مِمَّنْ كَانُوا فِي الْعِيرِ آخِذِينَ بِخِطَامِ النَّاقَةِ الَّتِي عَلَيْهَا هَوْدَجُ عَبْدِ اللهِ الْمَرِيضِ مُنْطَلِقِينَ إِلَى دُورِ أَخْوَالِهِ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ، وَسَارَ الرَّكْبُ الصَّغِيرُ يَغْمُرُهُ الْأَسَى فِي طُرُقَاتِ الْمَدِينَةِ، وَمَرَّ بِالدَّارِ الَّتِي بَنَاهَا تَبَعُ الْيَمَنِ تِبَانُ أَسْعَدَ لِلنَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ يَوْمَ أَنْ جَاءَ لِيَهْدِمَ يَثْرِبَ وَمَنَعَهُ أَحْبَارُ الْيَهُودِ عَنْ ذَلِكَ قَائِلِينَ: إِنَّهَا مُهَاجَرُ رَسُولٍ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ، وَلَمْ يَحِسَّ الرَّكْبُ خَطَرَ تِلْكَ الدَّارِ فَقَدْ كَانَتْ دَارٌ تُرِيدُ أَنْ تَنْقَضَّ، وَكَانَ الْغَيْبُ وَحْدَهُ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ الْمَرِيضِ الَّذِي فِي الْهَوْدَجِ وَبَيْنَ تِلْكَ الدَّارِ مِنْ وَشَائِجَ وَأَوَاصِرَ وَأَسْبَابٍ.
Kafilah meletakkan barang bawaan mereka di pasar, dan pada saat yang sama para pemimpin Quraisy yang berada dalam kafilah memegang tali kendali unta yang di atasnya terdapat tandu Abdullah yang sakit, berangkat menuju rumah-rumah pamannya dari Bani Najjar. Rombongan kecil itu berjalan diliputi kesedihan di jalan-jalan kota Madinah, dan melewati rumah yang dibangun oleh Tubba' Yaman, Tiban As'ad, untuk Nabi yang dinanti-nanti pada hari dia datang untuk menghancurkan Yatsrib dan para pendeta Yahudi mencegahnya dari hal itu dengan mengatakan: "Sesungguhnya itu adalah tempat hijrah seorang rasul dari Bani Ismail". Rombongan itu tidak merasakan bahaya dari rumah tersebut, karena rumah itu ingin runtuh, dan hanya Yang Ghaib yang tahu apa yang ada antara orang sakit yang berada di tandu dan rumah tersebut dari ikatan, hubungan, dan sebab-sebab.
وَوَقَفَ الْهَوْدَجُ أَمَامَ دُورِ بَنِي النَّجَّارِ، وَمَا إِنْ بَلَغَ مَسَامِعَهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللهِ مَرِيضٌ حَتَّى خَفَّوْا إِلَيْهِ مُهْطِعِينَ وَحَمَلُوهُ فِي رِفْقٍ، وَقَبْلَ أَنْ يَغِيبُوا بِهِ فِي الدَّارِ جَاهَدَ عَبْدُ اللهِ وَفَتَحَ عَيْنَيْهِ وَقَالَ لِرِجَالِ قُرَيْشٍ فِي صَوْتٍ ضَعِيفٍ:
Tandu berhenti di depan rumah-rumah Bani Najjar, dan begitu sampai ke telinga mereka bahwa Abdullah sakit, mereka bergegas menghampirinya dengan cepat dan menggendongnya dengan lembut. Sebelum mereka menghilang bersamanya ke dalam rumah, Abdullah berjuang membuka matanya dan berkata kepada para lelaki Quraisy dengan suara lemah:
— لَا تَنْسَوْا أَنْ تَشْتَرُوا التَّمْرَ الَّذِي طَلَبَ مِنَّا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنْ نَشْتَرِيَهُ.
— Jangan lupa membeli kurma yang diminta Abdul Muthalib untuk kita beli.
ثُمَّ أَغْمَضَ عَيْنَيْهِ وَلَاحَ فِي وَجْهِهِ شَيْءٌ مِنَ الرَّاحَةِ، فَقَدِ اطْمَأَنَّ إِلَى أَنَّ قَافِلَةَ قُرَيْشٍ سَتَعُودُ وَهِيَ تَحْمِلُ مَا طَلَبَهُ أَبُوهُ.
Kemudian dia memejamkan matanya dan tampak di wajahnya secercah kelegaan, karena dia telah tenang bahwa kafilah Quraisy akan kembali dengan membawa apa yang diminta ayahnya.
وَانْصَرَفَ الرِّجَالُ يَتَبَهَّلُونَ إِلَى آلِهَتِهِمْ أَنْ يَشْفِيَ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لِيَعُودَ مَعَهُمْ، فَقَدْ أَصْبَحُوا يَفْزَعُونَ مِنْ مُجَرَّدِ فِكْرَةِ عَوْدَةِ الْقَافِلَةِ إِلَى مَكَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ فِيهَا فَتَى قُرَيْشٍ الذَّبِيحِ.
Para lelaki pergi berdoa dengan khusyuk kepada tuhan-tuhan mereka agar menyembuhkan putra Abdul Muthalib supaya dia bisa kembali bersama mereka, karena mereka menjadi takut hanya dengan membayangkan kafilah kembali ke Makkah tanpa ada pemuda Quraisy yang pernah hampir disembelih (Abdullah) di dalamnya.
وَرَاحَ رِجَالُ قُرَيْشٍ يَمْضُونَ وَقْتَهُمْ فِي السُّوقِ وَفِي عِبَادَةِ اللهِ وَقَدْ أَعْرَضُوا عَنْ مَبَاهِجِ يَثْرِبَ وَلَهْوِهَا، بَاتَتْ نُفُوسُهُمْ قَلِقَةً لَمَّا أَيْقَنُوا أَنَّ أَوْبَةَ عَبْدِ اللهِ مَعَهُمْ لَمْ تَعُدْ أَمْرًا مَيْسُورًا، فَقَدِ اشْتَدَّتْ عَلَيْهِ وَطْأَةُ الْمَرَضِ وَخَشُوا أَنْ يَهْلِكَ مِنْهُمْ فِي الطَّرِيقِ.
Para lelaki Quraisy menghabiskan waktu mereka di pasar dan dalam beribadah kepada Allah, mereka berpaling dari kemegahan Yatsrib dan hiburannya. Jiwa mereka menjadi gelisah ketika mereka yakin bahwa kembalinya Abdullah bersama mereka bukan lagi hal yang mudah, karena penyakitnya semakin parah dan mereka takut dia akan meninggal di antara mereka di jalan.
وَجَاءَ يَوْمُ الرَّحِيلِ فَذَهَبَ الرِّجَالُ إِلَى حَيْثُ رَقَدَ عَبْدُ اللهِ وَرَاحَ الرِّجَالُ وَبَنُو النَّجَّارِ يَتَنَاجَوْنَ، كَانَ بَعْضُ الرِّجَالِ يَرَى أَنْ يَحْمِلَ مَعَهُ عَبْدَ اللهِ، فَدُخُولُ الْقَافِلَةِ مَكَّةَ وَعَبْدُ اللهِ مَعَهَا مَرِيضٌ أَهْوَنُ عَلَى أَهْلِ مَكَّةَ مِنْ عَوْدَةِ الْقَافِلَةِ دُونَ أَنْ يَكُونَ فَتَاهَا بَيْنَ الْعَائِدِينَ. وَلَكِنَّ أَخْوَالَ عَبْدِ اللهِ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ أَبَوْا أَنْ يُغَادِرَ عَبْدُ اللهِ فِرَاشَهُ قَبْلَ أَنْ يَبِلَّ مِنْ مَرَضِهِ، وَانْتَصَرَ الرَّأْيُ الْقَائِلُ بِبَقَاءِ عَبْدِ اللهِ عِنْدَ أَخْوَالِهِ، فَأَلْقَى الرِّجَالُ عَلَى عَبْدِ اللهِ نَظْرَةً طَوِيلَةً ثُمَّ دَارُوا عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْتَكِسِي الرُّؤُوسِ، تَخْفِقُ أَفْئِدَتُهُمْ خَوْفًا وَرَهْبَةً كُلَّمَا تَذَكَّرُوا دُخُولَهُمْ مَكَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ فِيهِمْ فَتَى مَكَّةَ وَابْنُ سَيِّدِهَا الْحَبِيبِ.
Hari keberangkatan tiba, para lelaki pergi ke tempat Abdullah terbaring. Para lelaki dan Bani Najjar mulai berbisik-bisik. Beberapa lelaki berpendapat untuk membawa Abdullah bersama mereka, karena kafilah memasuki Makkah dengan Abdullah yang sakit di dalamnya lebih ringan bagi penduduk Makkah daripada kembalinya kafilah tanpa pemudanya di antara mereka yang kembali. Namun, paman-paman Abdullah dari Bani Najjar menolak membiarkan Abdullah meninggalkan tempat tidurnya sebelum dia sembuh dari penyakitnya. Pendapat yang menyatakan Abdullah harus tinggal bersama paman-pamannya menang. Para lelaki melempar pandangan panjang ke arah Abdullah lalu berbalik pergi dengan kepala tertunduk, hati mereka bergetar karena takut dan ngeri setiap kali mereka teringat akan memasuki Makkah tanpa ada pemuda Makkah dan putra pemimpinnya yang tercinta di antara mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar