دَارُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ الصَّفَا ، الدُّنْيَا لَيْلٌ وَالْقَمَرُ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ بَدْرًا ، وَالْيَوْمُ الِاثْنَيْنِ مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ وَقَدْ مَضَى عَلَى يَوْمِ الْفِيلِ خَمْسُونَ يَوْمًا ، فَقَدْ صَارَ أَهْلُ مَكَّةَ يُؤَرِّخُونَ بِعَامِ الْفِيلِ بَعْدَ أَنْ كَانُوا يُؤَرِّخُونَ بِمَوْتِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ حَكِيمِ قُرَيْشٍ وَسَيِّدِهَا .
Rumah Abdullah bin Abdul Muthalib berada di dekat bukit Shafa. Dunia sedang diselimuti malam dan rembulan hampir menjadi purnama. Hari itu adalah hari Senin di bulan Rabiul Awal, dan telah berlalu lima puluh hari sejak Peristiwa Gajah. Penduduk Makkah kini mulai menggunakan Tahun Gajah sebagai acuan penanggalan, setelah sebelumnya mereka menggunakan tahun kematian Ka'bah bin Lu'ay, sang hakim dan pemimpin Quraisy.
لَمْ يَكُنْ فِي الدَّارِ غَيْرُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ وَجَارِيَةِ عَبْدِ اللهِ الْحَبَشِيَّةِ ، فَقَدْ شُغِلَتْ هَالَةُ بِنْتُ وُهَيْبٍ بِوَلَدِهَا حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَإِنَّ ثُوَيْبَةَ جَارِيَةَ أَبِي لَهَبٍ كَانَتْ تُمْضِي بَعْضَ اللَّيَالِي فِي دَارِ عَبْدِ اللهِ لِتُؤْنِسَ آمِنَةَ وَلَكِنَّهَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُبَارَكَةِ كَانَتْ تَنَامُ وَفِي حِضْنِهَا حَمْزَةُ تُرْضِعُهُ وَتَعْنِي بِهِ .
Tidak ada seorang pun di dalam rumah itu selain Aminah binti Wahb dan budak perempuan Abdullah yang berkebangsaan Habasyah. Sebab, Halah binti Wuhaib sedang sibuk mengasuh putranya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Sementara Thuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, biasanya menghabiskan beberapa malam di rumah Abdullah untuk menemani Aminah, namun pada malam yang penuh berkah ini dia sedang tidur sambil mendekap Hamzah untuk menyusui dan merawatnya.
كَانَتِ اللَّيْلَةُ هَادِئَةً خَاشِعَةً ، وَكَانَ نُورُ الْقَمَرِ يَنْسَكِبُ فِي غُرْفَةِ آمِنَةَ رَائِعًا لِكَأَنَّمَا كَانَ يَدًا حَانِيَةً تَمَسُّ الْكَوْنَ مَسًّا رَقِيقًا فَتُحَرِّكُ مَشَاعِرَ الرِّقَّةِ وَالْحَنَانِ ، وَمَلَأَتْ رُوحَ آمِنَةَ رَوَائِحُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ لَمْ تَدْرِ أَكَانَتْ مُنْبَعِثَةً مِنْ بَخُورٍ حَرَّقَتْهُ جَارِيَتُهَا أَمْ أَنَّهَا آتِيَةٌ مِنْ فَوْقِ السَّمَوَاتِ ، وَسَرَتْ فِي الْغُرْفَةِ نَسَمَاتٌ مِنَ الرَّحْمَةِ كَانَ لَهَا رَفِيفٌ كَأَنَّهُ تَسْبِيحُ الْمَلَائِكَةِ ، وَبَدَا أَنَّ السَّمَاءَ تُوشِكُ أَنْ تَتَجَلَّى عَلَى الْأَرْضِ .
Malam itu begitu tenang dan khusyuk. Cahaya rembulan tercurah ke dalam kamar Aminah dengan begitu indahnya, seolah-olah tangan penuh kasih yang menyentuh alam semesta dengan kelembutan, hingga menggetarkan perasaan halus dan kasih sayang. Jiwa Aminah dipenuhi dengan wewangian yang lebih harum dari minyak kesturi; dia tidak tahu apakah itu berasal dari kemenyan yang dibakar oleh budaknya ataukah datang dari atas langit. Embusan angin rahmat berdesir di dalam kamar, memiliki kepakan halus laksana tasbih para malaikat, dan tampak seolah langit hampir menampakkan keagungannya ke bumi.
وَرَأَتِ الْجَارِيَةُ أَنَّ آمِنَةَ هَادِئَةٌ سَاكِنَةٌ وَإِنْ كَانَتْ تَهُمُّ أَنْ تَضَعَ مَا فِي بَطْنِهَا فَاسْتَشْعَرَتْ رَهْبَةً . إِنَّهَا تَخَافُ أَنْ تَتَلَقَّى وَحْدَهَا ذَلِكَ الَّذِي عَمَّا قَرِيبٍ يَسْتَقْبِلُ الدُّنْيَا بِصُرَاخِهِ ، فَانْسَلَّتْ مِنَ الدَّارِ وَسُرْعَانَ مَا عَادَتْ وَمَعَهَا الشِّفَاءُ أُمُّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ لِيَسْتَقْبِلَا مَعًا ذَلِكَ الْيَتِيمَ الَّذِي سَتَضَعُهُ آمِنَةُ .
Sang budak melihat bahwa Aminah tampak tenang dan diam, meskipun dia sudah bersiap-siap untuk melahirkan apa yang ada di dalam kandungannya, sehingga ia merasakan ketakutan. Dia takut jika harus sendirian menyambut sosok yang sebentar lagi akan menyapa dunia dengan tangisannya. Maka dia menyelinap keluar rumah dan segera kembali bersama Asy-Syifa, ibunda Abdurrahman bin Auf, agar mereka dapat bersama-sama menyambut anak yatim yang akan dilahirkan oleh Aminah.
وَدَنَتِ الشِّفَاءُ مِنَ الشُّبَّاكِ وَنَظَرَتْ إِلَى السَّمَاءِ فَخُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّ الْقَمَرَ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ كَانَ أَكْثَرَ إِشْرَاقًا وَرِقَّةً وَلَكَأَنَّمَا كَانَ يَتَدَلَّى لِيَكُونَ مَعَهَا فِي الْغُرْفَةِ ، وَأَنَّ النُّجُومَ كَانَتْ أَكْثَرَ تَأَلُّقًا وَلَمَعَانًا ، وَأَلْقَتْ بِبَصَرِهَا عَلَى دُورِ بَنِي هَاشِمٍ فَأَلْفَتْهَا خَاشِعَةً لَا يَدْرِي مَنْ فِيهَا أَنَّ ابْنَ عَبْدِ اللهِ الْحَبِيبَ قَدْ حَانَ أَوَانُ إِقْبَالِهِ عَلَى الدُّنْيَا . وَحَانَتْ مِنْهَا الْتِفَاتَةٌ إِلَى الْكَعْبَةِ فَخُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّ الْقَمَرَ قَدْ أَلْبَسَهَا حُلَّةً مِنْ مَخْمَلٍ أَسْوَدَ وَأَسْلَاكٍ مِنْ فِضَّةٍ .
Asy-Syifa mendekati jendela dan memandang ke langit, lalu terbayang olehnya bahwa rembulan pada malam itu tampak lebih benderang dan lembut, seolah-olah turun melandai untuk berada bersamanya di dalam kamar. Bintang-bintang pun terlihat lebih gemerlap dan berkilauan. Dia mengarahkan pandangannya ke rumah-rumah Bani Hasyim dan mendapatinya dalam keadaan senyap khusyuk, di mana orang-orang di dalamnya tidak menyadari bahwa putra Abdullah yang tercinta telah tiba saatnya untuk hadir ke dunia. Dia juga sempat menoleh ke arah Ka'bah, lalu terbayang olehnya seakan-akan rembulan telah memakaikan padanya pakaian dari beludru hitam dengan rajutan benang perak.
وَطَافَ بِآمِنَةَ نُعَاسٌ فَسَمِعَتْ هَاتِفًا يَهْتِفُ بِهَا أَنْ تُسَمِّيَهُ مُحَمَّدًا ، وَأَفَاقَتْ مِنْ نُعَاسِهَا فَأَحَسَّتْ كَأَنَّمَا ذَلِكَ الِاسْمُ قَدْ حُفِرَ فِي فُؤَادِهَا ، وَعَجِبَتْ مِنْ نَفْسِهَا فَمَا كَانَ اسْمُ مُحَمَّدٍ مِنْ أَسْمَاءِ آبَاءِ عَبْدِ اللهِ ، إِنَّهُ اسْمٌ لَمْ يُعْرَفْ مِنْ قَبْلُ فِي بَنِي زُهْرَةَ وَلَا فِي بَنِي هَاشِمٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بَلْ وَلَا فِي مَكَّةَ كُلِّهَا .
Rasa kantuk menghampiri Aminah, lalu dia mendengar suara tanpa rupa (hatif) berseru kepadanya agar menamainya Muhammad. Dia pun terjaga dari kantuknya dan merasakan seolah-olah nama itu telah terukir di dalam hatinya. Dia merasa heran pada dirinya sendiri, sebab nama Muhammad bukanlah bagian dari nama-nama leluhur Abdullah; itu adalah nama yang belum pernah dikenal sebelumnya di kalangan Bani Zuhrah, tidak pula di kalangan Bani Hasyim bin Abdu Manaf, bahkan tidak di seluruh kota Makkah.
وَفُصِلَ الْوَلِيدُ مِنْ آمِنَةَ وَاسْتَقْبَلَتْهُ الشِّفَاءُ عَلَى يَدَيْهَا ، وَرَاحَتْ جَارِيَةُ عَبْدِ اللهِ الْحَبَشِيَّةُ تُعَاوِنُهَا عَلَى غَسْلِهِ وَإِلْبَاسِهِ ثِيَابَهُ وَقَدْ أَشْرَقَ قَلْبَاهُمَا بِالنُّورِ وَالرَّحْمَةِ وَرَاحَا يَرْنُوَانِ إِلَى الْوَلِيدِ فِي حُبٍّ شَدِيدٍ ، فَقَدْ كَانَ هَادِئًا سَاكِنًا لَمْ يَمْلَأِ الدُّنْيَا عُوِيلًا ، وَقَدْ تَأَلَّقَ فِي وَجْهِهِ الصَّغِيرِ نُورٌ تَهْفُو إِلَيْهِ الْأَفْئِدَةُ وَتَنْفَتِحُ لَهُ النَّفْسُ .
Maka bayi itu pun lahir terpisah dari Aminah, dan Asy-Syifa menyambutnya dengan kedua tangannya. Budak perempuan Abdullah yang berkebangsaan Habasyah segera membantunya untuk memandikan dan memakaikan pakaiannya, sementara hati keduanya telah diterangi oleh cahaya dan rahmat. Mereka terus memandangi sang bayi dengan rasa cinta yang amat sangat, sebab dia tampak tenang dan diam, tidak memenuhi dunia dengan tangisan histeris. Di wajah mungilnya terpancar cahaya yang membuat hati rindu mendalam dan membuat jiwa terbuka menyambutnya.
وَحُمِلَ الْوَلِيدُ وَوُضِعَ إِلَى جِوَارِ آمِنَةَ فَنَظَرَتْ إِلَيْهِ بِقَلْبٍ خَافِقٍ يَتَدَفَّقُ مِنْهُ الْحَنَانُ فَخُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّ الْوُجُودَ كُلَّهُ قَدْ أَشْرَقَ بِالنُّورِ ، وَفَاضَتْ مَشَاعِرُ الْحُبِّ فَضَمَّتْهُ إِلَيْهَا فِي رِقَّةٍ وَمَالَتْ عَلَيْهِ وَقَبَّلَتْهُ قُبْلَةً فَأَحَسَّتْ كَأَنَّمَا قَدْ قَبَّلَتِ الدُّنْيَا وَأَنَّهَا قَدِ احْتَوَتْهَا بَيْنَ ذِرَاعَيْهَا ، وَتَرَقْرَقَتْ فِي مَآقِيهَا الدُّمُوعُ وَطَافَ بِذِهْنِهَا طَائِفٌ حَرَّكَ الْأَسَى فِي وِجْدَانِهَا : إِنَّ ابْنَهَا الْحَبِيبَ قَدْ وُلِدَ يَتِيمًا . لَيْتَ عَبْدَ اللهِ كَانَ هُنَا السَّاعَةَ لِيَسْعَدَ بِابْنِهِ الْحَبِيبِ ، وَقَبْلَ أَنْ تَسْتَرْسِلَ فِي حُزْنِهَا حَانَتْ مِنْهَا الْتِفَاتَةٌ إِلَى مُحَمَّدٍ فَإِذَا بِإِشْرَاقَةِ وَجْهِهِ تُبَدِّدُ كُلَّ مَا هَمَّ بِأَنْ يَتَلَبَّدَ فِي جَوْفِهَا مِنْ حُزْنٍ ، وَإِذَا بِهَا تَتَذَكَّرُ ذَلِكَ الْهَاتِفَ الَّذِي هَتَفَ بِهَا يَوْمَ أَنْ حَمَلَتْ بِهِ : حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَإِذَا بِالنُّورِ يَعُودُ لِيَغْمُرَ قَلْبَ آمِنَةَ وَوَجْهَ الْأَرْضِ .
Sang bayi digendong lalu diletakkan di samping Aminah, maka Aminah memandangnya dengan jantung yang berdebar kencang dialiri kasih sayang yang meluap-luap, hingga terbayang olehnya seakan seluruh alam semesta telah benderang oleh cahaya. Perasaan cinta pun membanjiri dirinya, lalu dia mendekapnya dengan lembut, membungkuk ke arahnya, dan menciumnya dengan satu ciuman yang membuatnya merasa seolah-olah telah mencium dunia dan telah mendekap dunia dalam kedua lengannya. Air mata berlinang di sudut-sudut matanya, dan sekelebat pikiran melintas hingga menggerakkan rasa sedih di dalam sanubarinya: bahwa putra tercintanya telah lahir sebagai seorang yatim. Duhai, seandainya Abdullah ada di sini saat ini tentu dia akan berbahagia dengan putra tercintanya. Namun sebelum dia larut dalam kesedihannya, dia sempat menoleh ke arah Muhammad, tiba-tiba pancaran cahaya wajahnya melenyapkan segala kesedihan yang baru saja hendak menggumpal di dalam dadanya, dan tiba-tiba saja dia teringat akan suara tanpa rupa (hatif) yang berseru kepadanya pada hari saat dia mengandungnya: "Engkau telah mengandung pemimpin umat ini," seketika itu pula cahaya kembali datang untuk memenuhi hati Aminah dan permukaan bumi.
وَتَنَفَّسَ الصُّبْحُ وَلَمْ تَسْتَطِعْ جَارِيَةُ عَبْدِ اللهِ صَبْرًا فَانْسَلَّتْ مِنَ الدَّارِ لِتَطُوفَ عَلَى دُورِ بَنِي هَاشِمٍ تَحْمِلُ نَبَأَ وِلَادَةِ آمِنَةَ لِوَلِيدٍ كَأَنَّهُ الْقَمَرُ ، لَمْ تَرَ مِثْلَهُ فِي مَوَالِيدِ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ وَإِنِ اشْتَهَرُوا بِالْحُسْنِ وَالْجَمَالِ .
Fajar pun menyingsing, dan budak perempuan Abdullah tidak dapat lagi menahan kesabarannya, maka dia menyelinap keluar rumah untuk berkeliling ke rumah-rumah Bani Hasyim membawa kabar tentang kelahiran bayi Aminah yang laksana rembulan, yang belum pernah ia lihat tandingannya di antara bayi-bayi Bani Abdu Manaf, walaupun mereka terkenal dengan ketampanan dan keindahannya.
وَاتَّجَهَتْ إِلَى دَارِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَطَرَقَتِ الْبَابَ ، وَبَعْدَ لَحْظَةٍ انْفَرَجَ عَنْ ثُوَيْبَةَ جَارِيَةِ أَبِي لَهَبٍ كَانَتْ هُنَاكَ لِتُرْضِعَ حَمْزَةَ ، وَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَيْنَا جَارِيَةِ عَبْدِ اللهِ الْحَبَشِيَّةِ عَلَيْهَا حَتَّى قَالَتْ :
Dia menuju ke rumah Abdul Muthalib lalu mengetuk pintu, dan sesaat kemudian pintu terbuka menampakkan Thuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, yang sedang berada di sana untuk menyusui Hamzah. Begitu mata budak Habasyah milik Abdullah melihatnya, dia langsung berkata:
— وُلِدَ لِعَبْدِ اللهِ وَلَدٌ . كَأَنَّهُ النُّورُ .
— Telah lahir bagi Abdullah seorang anak laki-laki. Dia laksana cahaya.
وَذَهَبَتِ الْجَارِيَةُ إِلَى حَيْثُ كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ، وَرَاحَتْ ثُوَيْبَةُ تُهَرْوِلُ إِلَى دَارِ أَبِي لَهَبٍ ، فَقَدْ أَرَادَتْ أَنْ تَكُونَ أَوَّلَ مَنْ يَحْمِلُ الْبُشْرَى السَّعِيدَةَ إِلَى سَيِّدِهَا فَهِيَ تَعْلَمُ كَمْ كَانَ أَبُو لَهَبٍ يُحِبُّ عَبْدَ اللهِ فَتَى قُرَيْشٍ وَذَبِيحَهَا .
Budak itu pergi ke tempat Abdul Muthalib berada, sedangkan Thuwaibah bergegas lari menuju rumah Abu Lahab, karena dia ingin menjadi orang pertama yang membawa kabar gembira yang membahagiakan itu kepada tuannya; dia tahu betul betapa Abu Lahab sangat mencintai Abdullah, sang pemuda andalan Quraisy yang dahulu hampir dikurbankan.
وَدَخَلَتْ جَارِيَةُ عَبْدِ اللهِ عَلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَقَالَتْ فِي نَبَرَاتٍ تَنْبِضُ بِالْفَرَحِ :
Budak perempuan Abdullah masuk menemui Abdul Muthalib dan berkata dengan nada suara yang bergetar penuh kegembiraan:
— قَدْ وُلِدَ لَكَ غُلَامٌ فَانْظُرْ إِلَيْهِ .
— Telah lahir bagimu seorang cucu laki-laki, maka pergilah melihatnya.
وَخَرَجَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَسْعَى إِلَى دَارِ آمِنَةَ ، وَدَخَلَتْ ثُوَيْبَةُ عَلَى أَبِي لَهَبٍ وَقَالَتْ :
Maka Abdul Muthalib segera melangkah menuju rumah Aminah, sementara Thuwaibah masuk menemui Abu Lahab dan berkata:
— وُلِدَ لِعَبْدِ اللهِ غُلَامٌ لَمْ يُرَ فِي قُرَيْشٍ مِثْلُهُ .
— Telah lahir bagi Abdullah seorang anak laki-laki yang belum pernah terlihat tandingannya di kalangan Quraisy.
وَفَرِحَ أَبُو لَهَبٍ فَإِنْ كَانَ أَخُوهُ قَدْ ذَهَبَ وَلَنْ يَئُوبَ فَقَدْ جَاءَ لَهُ ابْنٌ سَيَحْفَظُ اسْمَهُ وَيَبْقَى عَقِبُهُ ، وَرَبَّتَ فَرَحُ أَبِي لَهَبٍ حَتَّى قَالَ لِثُوَيْبَةَ :
Abu Lahab pun sangat bergembira, karena jika saudaranya (Abdullah) telah tiada dan tidak akan kembali, kini telah hadir seorang putra yang akan menjaga namanya dan melanjutkan keturunannya. Kegembiraan Abu Lahab memuncak hingga dia berkata kepada Thuwaibah:
— اذْهَبِي فَأَنْتِ حُرَّةٌ .
— Pergilah, karena kini engkau merdeka!
وَتَجَلَّتْ أَوَّلُ بَرَكَةٍ لِلْوَلِيدِ وَلَمَّا يَمْضِ عَلَى مَوْلِدِهِ غَيْرُ سَاعَاتٍ . دَخَلَتْ ثُوَيْبَةُ دَارَ أَبِي لَهَبٍ وَهِيَ جَارِيَةٌ وَخَرَجَتْ مِنْهُ وَقَدْ أُصْبِحَتْ حُرَّةً لِكَأَنَّمَا كَانَ ذَلِكَ إِيجَازًا بِبَدْءِ تَحْرِيرِ الْإِنْسَانِ مِنِ اسْتِعْبَادِ أَخِيهِ الْإِنْسَانِ .
Maka berkah pertama dari sang bayi langsung mewujud nyata, padahal belum berlalu melainkan beberapa jam saja dari kelahirannya. Thuwaibah memasuki rumah Abu Lahab sebagai seorang budak, dan keluar dari sana dalam keadaan telah merdeka, seakan-akan peristiwa itu merupakan pertanda awal dimulainya pembebasan manusia dari perbudakan sesama manusia.
وَدَخَلَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَلَى آمِنَةَ وَالْفَرَحُ يَبْدُو فِي وَجْهِهِ ، وَمَا أَنْ أَلْقَى عَلَيْهَا تَحِيَّةَ الصَّبَاحِ وَهَنَّأَهَا بِالْمَوْلُودِ حَتَّى حَمَلَتْهُ وَقَدَّمَتْهُ إِلَى جَدِّهِ ، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَيْهِ خَفَقَ قَلْبُهُ فِي رِقَّةٍ وَحَنَانٍ ، وَسُرْعَانَ مَا احْتَلَّتْ صَفْحَةَ ذِهْنِهِ صُورَةُ عَبْدِ اللهِ فَرَاحَتْ كُنُوزُ عَوَاطِفِهِ تَتَدَفَّقُ إِلَى صَدْرِهِ ، وَفِي لَمْحِ الْبَصَرِ طَافَتْ بِرَأْسِهِ ذِكْرَيَاتٌ حَبِيبَةٌ لَا تُنْسَى ، رَأَى عَبْدَ اللهِ وَهُوَ يَضْرِبُ عَلَيْهِ بِالْقِدَاحِ عِنْدَ هُبَلَ وَرَآهُ وَهُوَ يَسِيرُ مَعَهُ إِلَى دَارِ بَنِي زُهْرَةَ لِيُزَوِّجَهُ مِنْ آمِنَةَ ، وَرَآهُ يَوْمَ أَنْ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ يَمْتَارُ تَمْرًا ، وَرَأَى الزُّبَيْرَ يَعُودُ مِنَ يَثْرِبَ لِيَنْعَى إِلَيْهِ ابْنَهُ الْحَبِيبَ ، وَفَطَنَ إِلَى أَنَّ اللهَ قَدْ أَبْقَى عَبْدَ اللهِ يَوْمَ أَنْ هَمَّ بِأَنْ يَذْبَحَهُ لِيَأْتِيَ بِذَلِكَ الْمَوْلُودِ ثُمَّ يَذْهَبُ دُونَ أَنْ يَئُوبَ .
Abdul Muthalib masuk menemui Aminah dengan kegembiraan yang terpancar jelas di wajahnya. Begitu dia mengucapkan salam selamat pagi dan menyampaikan selamat atas kelahiran sang bayi, Aminah segera menggendong dan menyerahkan bayi itu kepada kakeknya. Ketika Abdul Muthalib memandangnya, jantungnya bergetar penuh kelembutan dan kasih sayang. Seketika itu pula, bayangan wajah Abdullah langsung memenuhi benaknya, membuat gelombang emosi kasih sayang meluap ke dadanya. Dalam sekejap mata, kenangan-kenangan indah yang tak terlupakan berputar di kepalanya; dia melihat kembali kenangan saat mengundi Abdullah dengan anak panah di dekat berhala Hubal, melihatnya saat berjalan bersamanya menuju rumah Bani Zuhrah untuk menikahkannya dengan Aminah, melihatnya pada hari keberangkatannya ke Syam untuk berniaga kurma, serta melihat Az-Zubair datang kembali dari Yathrib membawa kabar duka tentang kematian putra tercintanya itu. Dia pun menyadari bahwa Allah dahulu menyelamatkan Abdullah pada hari ketika dia hendak menyembelihnya, semata-mata agar Abdullah dapat menurunkan bayi ini, kemudian dia pergi untuk selamanya tanpa pernah kembali.
إِنَّ الْمِيلَادَ يَذْكُرُ بِالْمَوْتِ فَهُمَا طَرَفَا حَيَاةٍ : بِدَايَةٌ وَنِهَايَةٌ ، فَلَمَّا عَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَنْظُرُ إِلَى حَفِيدِهِ تَذَكَّرَ ابْنَهُ قُثَمَ ، إِنَّهُ مَاتَ فِي التَّاسِعَةِ مِنْ عُمْرِهِ فَلِمَاذَا لَا يُطْلِقُ اسْمَهُ عَلَى ابْنِ عَبْدِ اللهِ تَخْلِيدًا لِذِكْرَاهُ ؟ وَاسْتَرَاحَ لِلْفِكْرَةِ فَالْتَفَتَ إِلَى آمِنَةَ وَقَالَ :
Sesungguhnya kelahiran itu mengingatkan kepada kematian, karena keduanya adalah dua ujung kehidupan: awal dan akhir. Ketika Abdul Muthalib kembali memandangi cucunya, dia teringat putranya sendiri yang bernama Qutsam, yang telah meninggal dunia pada usia sembilan tahun. Mengapa tidak ia sematkan saja nama itu kepada putra Abdullah ini untuk mengabadikan kenangannya? Dia merasa cocok dengan ide tersebut, lalu dia menoleh kepada Aminah dan berkata:
— نُسَمِّيهِ قُثَمًا !
— Kita namai dia Qutsam!
فَقَالَتْ آمِنَةُ وَقَدْ تَأَلَّقَتْ عَيْنَاهَا بِالْفَرَحِ :
Maka Aminah berkata sementara kedua matanya berbinar penuh kebahagiaan:
— إِنِّي عِنْدَمَا حَمَلْتُ بِهِ سَمِعْتُ هَاتِفًا يَهْتِفُ بِي : إِنَّكِ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ . وَبَيْنَمَا كُنْتُ أَضَعُهُ سَمِعْتُ هَاتِفًا يَهْتِفُ بِي : فَإِذَا وَقَعَ إِلَى الْأَرْضِ فَسَمِّيهِ مُحَمَّدًا .
— Sesungguhnya ketika aku sedang mengandungnya, aku mendengar suara tanpa rupa (hatif) berseru kepadaku: "Sesungguhnya engkau sedang mengandung pemimpin umat ini." Dan di saat aku melahirkannya, aku mendengar suara tanpa rupa berseru lagi kepadaku: "Maka jika dia telah lahir ke bumi, namailah dia Muhammad."
لَمْ تَكُنْ آمِنَةُ أَوَّلَ مَنْ سَمِعَتْ هَاتِفًا يَهْتِفُ بِهَا يُبَشِّرُهَا بِسُؤْدُدِ ابْنِهَا وَسُلْطَانِهِ فَقَدْ أَتَى « عُتْبَةَ بْنَ عَفِيفٍ » هَاتِفٌ حِينَ حَمَلَتْ بِابْنِهَا « حَاتِمٍ الطَّائِيِّ » فَقَالَ لَهَا : « أَغُلَامٌ سَمْحٌ يُقَالُ لَهُ حَاتِمٌ أَحَبُّ إِلَيْكِ أَمْ عَشَرَةٌ غِلْمَةٌ كَالنَّاسِ ؟ » فَأَجَابَتْ : « بَلْ حَاتِمٌ » . وَإِنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ قَدْ سَمِعَ عَنِ الْهَوَاتِفِ الَّتِي تَأْتِي
Aminah bukanlah wanita pertama yang mendengar suara tanpa rupa (hatif) berseru mengabarkan tentang kemuliaan dan kekuasaan putranya. Dahulu, Utbah binti Afif juga pernah didatangi suara gaib ketika mengandung putranya, Hatim ath-Tha'i, yang berkata kepadanya: "Apakah seorang anak laki-laki yang dermawan yang dipanggil Hatim lebih engkau sukai, ataukah sepuluh anak laki-laki seperti manusia biasa?" Maka dia menjawab: "Tentu saja Hatim." Dan sesungguhnya Abdul Muthalib pun telah sering mendengar tentang suara-suara gaib yang mendatangi...
لِلنِّسْوَةِ وَهُنَّ فِي أَشْهُرِ حَمْلِهِنَّ يُبَشِّرُهُنَّ بِالْمَجْدِ الْمُنْتَظَرِ لِلْأَجِنَّةِ فِي أَرْحَامِهِنَّ ، فَقَبِلَ مَا قَالَتْهُ آمِنَةُ عَنْ رِضًى وَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا غَرِيبًا فِي أَنْ يَسُودَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَوْمَهُ ، فَلَوْ لَمْ يَخْتَطِفِ الْمَوْتُ عَبْدَ اللهِ لَسَادَ قَوْمَهُ كَمَا سَادَهُمْ أَبُوهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَجَدُّهُ هَاشِمٌ مِنْ قَبْلُ . تُرَى أَيَبْلُغُ مُحَمَّدٌ فِي قَوْمِهِ مَا بَلَغَ كَعْبُ بْنُ لُؤَيٍّ فِي قُرَيْشٍ ؟
...para wanita saat mereka berada dalam bulan-bulan kehamilannya, guna memberikan kabar gembira mengenai kemuliaan yang dinantikan bagi janin di dalam rahim mereka. Maka Abdul Muthalib menerima apa yang dikatakan oleh Aminah dengan penuh kerelaan, dan dia tidak merasa asing jika kelak Muhammad bin Abdullah akan memimpin kaumnya. Sebab, sekiranya maut tidak merenggut Abdullah, niscaya dia pun akan memimpin kaumnya sebagaimana dia dipimpin oleh ayahnya, Abdul Muthalib, dan kakeknya, Hasyim, sebelumnya. Apakah kiranya Muhammad akan mencapai kedudukan di tengah kaumnya seperti kedudukan yang dicapai oleh Ka'bah bin Lu'ay di kalangan Quraisy?
وَتَذَكَّرَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ مَا بَشَّرَهُ بِهِ كَاهِنُ الْيَمَنِ . وَمَا قَالَتْهُ سَوْدَةُ بِنْتُ زَهْرَةَ كَاهِنَةُ قُرَيْشٍ لِآمِنَةَ ، فَأَحَسَّ إِحْسَاسًا غَامِضًا أَنْ سَيَكُونُ لِحَفِيدِهِ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ شَأْنٌ لَمْ يَبْلُغْهُ حَتَّى كَعْبُ بْنُ لُؤَيٍّ .
Abdul Muthalib pun teringat akan kabar gembira yang pernah disampaikan kepadanya oleh ahli nujum (kahin) dari Yaman, serta apa yang pernah dikatakan oleh Sawdah binti Zuhrah, kahinah Quraisy, kepada Aminah. Maka dia merasakan sebuah firasat kuat yang samar bahwa cucu yang berada di hadapannya ini kelak akan memiliki kedudukan agung yang bahkan belum pernah dicapai oleh Ka'bah bin Lu'ay sekalipun.
وَأَخَذَهُ أَبُوهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَانْطَلَقَ إِلَى الْكَعْبَةِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى هُبَلَ ، فَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو وَيَشْكُرُ اللهَ وَيَقُولُ :
Lalu sang kakek, Abdul Muthalib, mengambil bayi itu dan membawanya pergi ke Ka'bah, kemudian membawanya masuk ke hadapan berhala Hubal. Maka Abdul Muthalib berdiri memanjatkan doa serta bersyukur kepada Allah sembari melantunkan syair:
الْحَمْـــدُ للهِ الَّذِي أَعْطَــــانِي هَذَا الْغُلَامَ الطَّيِّبَ الْأَرْدَانِ
[Shadr]Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku,
[Ajuz] anak lelaki yang suci dan harum pakaiannya ini.
قَدْ سَادَ فِي الْمَهْدِ عَلَى الْغِلْمَانِ أُعِيْذُهُ بِالْبَيْتِ ذِي الْأَرْكَانِ
[Shadr]Dia telah mengungguli anak-anak lain sejak di dalam buaian,
[Ajuz] aku melindungkannya kepada Rumah (Baitullah) yang memiliki rukun-rukun yang kokoh.
حَتَّى يَكُونَ بَلْغَةَ الْفِتْيَــــانِ حَتَّى أَرَاهُ بَالِغَ الْبُنْيَــــانِ
[Shadr]Hingga kelak dia menjadi tumpuan harapan para pemuda,
[Ajuz] sampai aku melihatnya mencapai kedewasaan tubuh yang sempurna.
أُعِيْذُهُ مِنْ كُلِّ ذِي شَنَآنِ مِنْ حَاسِدٍ مُضْطَرِبِ الْعِنَانِ
[Shadr]Aku melindungkannya dari setiap orang yang menyimpan kebencian,
[Ajuz] serta dari orang dengki yang tidak terkendali hawa nafsunya.
وَسَمِعَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ مُنَادِيًا يُنَادِي :
Tiba-tiba Abdul Muthalib mendengar suara penyeru berteriak lantang:
— يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ .. يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ .
— Wahai sekalian kaum Quraisy.. wahai sekalian kaum Quraisy!
فَخَرَجَ مِنْ جَوْفِ الْكَعْبَةِ يَنْظُرُ فَإِذَا بِيُوسُفَ الْيَهُودِيِّ يُنَادِي :
Maka dia keluar dari dalam bangunan Ka'bah untuk melihat, ternyata tampak Yusuf orang Yahudi itu sedang berseru:
— يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ .. قَدْ وُلِدَ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِحَرَّتِكُمْ ( نَاحِيَتِكُمْ ) .
— Wahai sekalian kaum Quraisy.. telah lahir nabi umat ini pada malam hari ini di wilayah berbatu hitam kalian (daerah kalian)!
وَعَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ إِلَى دَارِ آمِنَةَ وَهُوَ يَضُمُّ الْوَلِيدَ إِلَى صَدْرِهِ كَأَنَّمَا يَمْنَعُ عَنْهُ أَذَى النَّاسِ وَوَضَعَهُ فِي حِضْنِ أُمِّهِ ، وَسُرْعَانَ مَا مَلَأَتِ الدَّارَ بِنِسَاءِ بَنِي زُهْرَةَ
Abdul Muthalib pun kembali ke rumah Aminah sambil mendekap erat sang bayi ke dadanya, seolah-olah ingin melindunginya dari marabahaya manusia, lalu meletakkannya kembali dalam pangkuan ibundanya. Dan tak lama kemudian rumah itu pun dipenuhi oleh para wanita dari Bani Zuhrah...
وَبَنِي هَاشِمٍ لِلِاحْتِفَالِ بِالْمَوْلُودِ . وَجَاءَ الزُّبَيْرُ وَأَبُو طَالِبٍ وَإِخْوَةُ عَبْدِ اللهِ تَتَهَلَّلُ أَفْئِدَتُهُمْ بِالْفَرَحِ لِمَوْلِدِ ابْنِ أَخِيهِمُ الرَّاحِلِ الْحَبِيبِ .
...dan Bani Hasyim untuk merayakan kelahiran sang bayi. Datang pula Az-Zubair, Abu Thalib, serta saudara-saudara lelaki Abdullah yang lainnya dengan hati yang berseri-seri penuh kegembiraan atas kelahiran putra dari saudara kandung tercinta mereka yang telah wafat.
وَجَلَسَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَلَى فِرَاشِهِ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ ، وَجَاءَ يُوسُفُ الْيَهُودِيُّ يَسْعَى وَجَعَلَ يَطُوفُ فِي أَنْدِيَةِ قُرَيْشٍ يَسْأَلُ عَنْ مَوْلُودٍ وُلِدَ اللَّيْلَةَ فَلَا يَجِدُ خَبَرًا ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَجْلِسِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَسَأَلَ :
Abdul Muthalib kemudian duduk di atas dipannya di bawah naungan Ka'bah. Datanglah Yusuf si orang Yahudi dengan tergesa-gesa, ia mulai berkeliling ke tempat-tempat berkumpulnya kaum Quraisy menanyakan perihal bayi yang lahir pada malam ini, namun tidak mendapatkan jawaban, hingga akhirnya dia sampai di majelis Abdul Muthalib lalu bertanya:
— هَلْ وُلِدَ فِيكُمْ مَوْلُودٌ اللَّيْلَةَ ؟
— Apakah ada seorang bayi yang lahir di kalangan kalian malam ini?
فَقَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ :
Maka Abdul Muthalib menjawab:
— وُلِدَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ غُلَامٌ .
— Telah lahir bagi Abdullah bin Abdul Muthalib seorang anak laki-laki.
فَقَالَ الْيَهُودِيُّ :
Maka si orang Yahudi menyahut:
— هُوَ نَبِيٌّ وَالتَّوْرَاةِ .
— Demi Taurat, dia adalah sang Nabi!
وَفِي مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ قُرَيْشٍ قَالَ يَهُودِيٌّ مِمَّنْ كَانُوا يَتَّجِرُونَ فِي مَكَّةَ :
Dan di salah satu majelis Quraisy yang lain, seorang Yahudi di antara mereka yang biasa berdagang di Makkah berkata:
— يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ هَلْ وُلِدَ فِيكُمْ اللَّيْلَةَ مَوْلُودٌ ؟
— Wahai sekalian kaum Quraisy, apakah ada seorang bayi yang lahir di kalangan kalian malam ini?
قَالُوا :
Orang-orang Quraisy menjawab:
— وَاللهِ مَا نَعْلَمُهُ .
— Demi Allah, kami tidak mengetahuinya.
فَقَالَ الْيَهُودِيُّ :
Maka si orang Yahudi berkata:
— أَمَّا إِذَا أَخْطَأَكُمْ فَلَا بَأْسَ فَانْظُرُوا وَاحْفَظُوا مَا أَقُولُ لَكُمْ : وُلِدَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْأَخِيرَةِ ، بَيْنَ كَتِفَيْهِ عَلَامَةٌ فِيهَا شُعَيْرَاتٌ مُتَوَاتِرَاتٌ كَأَنَّهُنَّ عُرْفُ فَرَسٍ ، لَا يَرْضَعُ لَيْلَتَيْنِ .
— Adapun jika kabar ini terlewat dari kalian maka tidak mengapa, perhatikanlah baik-baik dan jagalah apa yang aku katakan kepada kalian: Telah lahir pada malam ini nabi umat yang terakhir. Di antara kedua pundaknya terdapat tanda yang padanya terdapat rambut-rambut halus yang lebat beriringan seakan-akan surai kuda, dia tidak akan menyusu selama dua malam.
فَتَصَدَّعَ الْقَوْمُ مِنْ مَجْلِسِهِمْ وَهُمْ يَعْجَبُونَ مِنْ قَوْلِهِ ، فَلَمَّا صَارُوا إِلَى مَنَازِلِهِمْ أَخْبَرَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ أَهْلَهُ فَقَالُوا :
Maka orang-orang bubar dari majelis mereka dalam keadaan heran dengan perkataannya. Ketika mereka telah sampai di rumah masing-masing, setiap orang dari mereka menceritakan hal itu kepada keluarganya, lalu keluarga mereka berkata:
— قَدْ وَاللهِ وُلِدَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ غُلَامٌ .
— Demi Allah, sungguh telah lahir bagi Abdullah bin Abdul Muthalib seorang anak laki-laki.
فَالْتَقَى الْقَوْمُ فَقَالُوا :
Maka orang-orang itu pun saling bertemu kembali lalu berkata:
— هَلْ سَمِعْتُمْ حَدِيثَ الْيَهُودِيِّ وَهَلْ بَلَغَكُمْ مَوْلِدُ هَذَا الْغُلَامِ ؟
— Apakah kalian sudah mendengar perkataan orang Yahudi itu, dan apakah telah sampai kepada kalian kabar kelahiran anak laki-laki ini?
فَانْطَلَقُوا حَتَّى جَاءُوا الْيَهُودِيَّ وَقَالُوا : وَلِدَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ غُلَامٌ . فَقَالَ الْيَهُودِيُّ :
Maka mereka berangkat hingga mendatangi orang Yahudi tersebut dan berkata: "Telah lahir bagi Abdullah bin Abdul Muthalib seorang anak laki-laki." Lalu orang Yahudi itu berkata:
— فَاذْهَبُوا مَعِي حَتَّى أَنْظُرَ إِلَيْهِ .
— Maka pergilah bersamaku hingga aku dapat melihatnya.
فَخَرَجُوا بِهِ حَتَّى أَدْخَلُوهُ عَلَى آمِنَةَ فَقَالُوا :
Maka mereka pergi bersamanya hingga membawanya masuk menemui Aminah, lalu mereka berkata:
— أَخْرِجِي إِلَيْنَا ابْنَكِ .
— Keluarkanlah (bawa keluar) putramu kepada kami.
فَأَخْرَجَتْهُ وَكَشَفُوا لَهُ ظَهْرَهُ فَرَأَى تِلْكَ الشَّامَةَ فَوَقَعَ الْيَهُودِيُّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ ، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالُوا لَهُ :
Maka Aminah membawanya keluar, lalu mereka membuka bagian punggung sang bayi untuknya. Begitu melihat tanda tersebut, si orang Yahudi langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Ketika dia sudah siuman kembali, mereka bertanya kepadanya:
— مَالُكَ وَيْلَكَ ؟
— Ada apa denganmu? Celaka kamu!
فَقَالَ :
Maka dia berkata:
— قَدْ ذَهَبَتْ وَاللهِ النُّبُوَّةُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَرِحْتُمْ بِهَا يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ ، وَاللهِ لَيَسْطُوَنَّ بِكُمْ سَطْوَةً يَخْرُجُ خَبَرُهَا مِنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ .
— Demi Allah, sungguh kenabian telah hilang dari Bani Israil! Kalian kini bergembira dengannya, wahai sekalian kaum Quraisy. Demi Allah, dia benar-benar akan memegang kekuasaan yang sangat kuat atas kalian, yang kabarnya akan tersebar luas dari ufuk timur hingga ufuk barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar