BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 18

Sekarang ente bungkus pake format ini Gem...
MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Balik Asap Babil: Api yang Mendingin dan Fajar Keyakinan yang Ditolak

Api neraka yang disiapkan penguasa Babil justru menjadi taman keselamatan bagi Ibrahim, namun hati para penduduk kota dan Haran telah membatu, tertutup kabut keangkuhan.

Sikat Gem...!!
كَانَتْ يَثْرِبُ تَمُوجُ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ فَمَا كَانَ يَوْمٌ يَمُرُّ دُونَ أَنْ تَقُومَ مُشَادَّةٌ بَيْنَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ أَوْ تَنْشَبَ مُنَاظَرَةٌ حَامِيَةٌ بَيْنَ رَجُلٍ مِنَ الْعَرَبِ وَرَجُلٍ مِنَ الْيَهُودِ ، وَيَا طَالَمَا نَشَبَتِ الْحُرُوبُ بَيْنَ الْحَيَّيْنِ مِنَ الْعَرَبِ لِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ التَّافِهَةِ ، وَمَا أَكْثَرَ مَا ثَارَتِ الْمُنَازَعَاتُ بَيْنَ الْعَرَبِ وَالْيَهُودِ !
Yatsrib kala itu bergejolak satu sama lain, hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa terjadinya perselisihan antara suku Aus dan Khazraj, atau pecahnya perdebatan sengit antara seorang pria Arab dengan seorang pria Yahudi. Betapa sering peperangan berkobar di antara dua kabilah Arab tersebut hanya karena alasan-alasan yang sepele, dan betapa sering pula pertikaian menyala di antara bangsa Arab dan kaum Yahudi!
وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ حَتَّى طَافَتْ بِالدُّورِ ، فَخَرَجَ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ وَكَانَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ وَفِي أَثَرِهِ أُخْتُهُ فَارِعَةُ بِنْتُ ثَابِتٍ وَكَانَتْ طِفْلَةً صَغِيرَةً لِيَرَيَا ذَلِكَ النِّضَالَ النَّاشِبَ بَيْنَ النَّاسِ .
Suara-suara riuh meninggi hingga terdengar di sekitar rumah-rumah. Maka keluarlah Hassan bin Tsabit yang kala itu berusia tujuh tahun, diikuti oleh saudarinya, Fari'ah binti Tsabit, yang masih kecil, untuk melihat pertikaian yang sedang berkobar di antara orang-orang.
كَانَ الْعَرَبُ وَالْيَهُودُ يَتَشَابَكُونَ بِالْأَيْدِي وَيَتَبَادَلُونَ السِّبَابَ . فَقَدْ بَلَغَ الْعَرَبَ أَنَّ الْيَهُودَ أَهَانُوا امْرَأَةً عَرَبِيَّةً فِي السُّوقِ ، فَاتَّفَقَتْ كَلِمَةُ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ وَاجْتَمَعَتِ الْقُلُوبُ الْمُتَنَافِرَةُ وَنَسِيَتْ مَا كَانَ بَيْنَهُمَا مِنْ عَدَاوَةٍ ، وَهَبُّوا لِقِتَالِ الْيَهُودِ غَيْرَةً عَلَى كَرَامَةِ امْرَأَةٍ عَرَبِيَّةٍ أُهِينَتْ فِي الطَّرِيقِ .
Orang-orang Arab dan Yahudi saling hantam dengan tangan dan saling melontarkan makian. Kabar telah sampai kepada bangsa Arab bahwa kaum Yahudi melecehkan seorang wanita Arab di pasar. Seketika itu pula bersatulah suara suku Aus dan Khazraj, hati yang semula saling menjauh kini bertaut kembali dan melupakan permusuhan di antara mereka. Mereka bangkit serentak untuk memerangi kaum Yahudi demi membela kehormatan seorang wanita Arab yang dinodai di jalanan.
وَكَادَتِ الْمُشَادَّةُ أَنْ تَنْقَلِبَ إِلَى حَرْبٍ مُدَمِّرَةٍ لَوْلَا أَنْ مَشَى بَعْضُ أَشْرَافِ الْقَوْمِ فِي إِصْلَاحِ مَا بَيْنَ الْمَتَشَابِكِينَ بِالْأَيْدِي ، وَالَّذِينَ كَانَ السِّبَابُ يَنْطَلِقُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا تَفْكِيرٍ .
Perselisihan itu nyaris berubah menjadi perang yang menghancurkan, andai saja sebagian pemuka kaum tidak bertindak untuk mendamaikan pihak-pihak yang saling baku hantam dan mereka yang mulutnya tak henti memuntahkan cacian tanpa perhitungan maupun pemikiran.
وَأَحَسَّ الْيَهُودُ أَنَّهُمْ بَاتُوا فِي الْمَدِينَةِ أَذِلَّةً فَقَالُوا لِلْعَرَبِ :
Kaum Yahudi merasa bahwa mereka mulai terhina di kota tersebut, lalu mereka berkata kepada bangsa Arab:
— إِنَّ نَبِيًّا مَبْعُوثًا قَدْ أَظَلَّ زَمَانُهُ نَتَّبِعُهُ ، نَقْتُلُكُمْ مَعَهُ قَتْلَ عَادٍ وَإِرَمَ .
— Sesungguhnya seorang nabi yang diutus telah dekat zamannya, kami akan mengikutinya dan membinasakan kalian bersamanya seperti binasanya kaum 'Ad dan Iram.
كَانَ الْيَهُودُ يَنْتَظِرُونَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ الَّذِي بَشَّرَهُمْ بِهِ مُوسَى ، فَكَانُوا يَرْصُدُونَ النُّجُومَ وَيَعْكِفُونَ عَلَى أَسْفَارِهِمْ يَقْرَؤُونَ مَا بَيْنَ السُّطُورِ ، وَكَانُوا فِي لَهْفَةٍ عَلَى...
Kaum Yahudi sejatinya menanti-nanti kelahiran nabi yang telah dikabarkan gembira kepada mereka oleh Musa. Mereka mengamati bintang-bintang dan tekun menelaah kitab-kitab mereka, membaca apa yang tersurat di antara baris-barisnya, dan mereka sangat mendambakan...
...مَوْلِدِ ذَلِكَ النَّبِيِّ لِيُصَدِّقُوهُ فَقَدْ كَانُوا أَذِلَّةً فِي الْأَرْضِ وَكَانُوا يَطْمَعُونَ فِي أَنْ يُعِيدَ ذَلِكَ النَّبِيُّ مَجْدَهُمْ وَمَجْدَ الدِّينِ .
...kelahiran nabi tersebut untuk mempercayainya, sebab mereka hidup terhina di bumi dan berharap nabi itu kelak mengembalikan kejayaan mereka serta kejayaan agama.
وَكَانَ الرُّهْبَانُ فِي صَوَامِعِهِمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللهَ سَيَبْعَثُ « الْفَارَقْلِيطَ » الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْمَسِيحُ ، وَكَانُوا يُفْصِحُونَ عَنْ ذَلِكَ الْعِلْمِ كُلَّمَا الْتَقَوْا بِسَادَاتِ الْعَرَبِ وَأَشْرَافِهِمْ ، فَقَدْ نَزَلَ أَرْبَعَةٌ مِنْ تَمِيمٍ يُرِيدُونَ الشَّامَ عِنْدَ غَدِيرٍ عِنْدَ دَيْرٍ ، فَأَشْرَفَ الدَّيْرَانِيُّ وَأَلْقَى سَمْعَهُ إِلَى حَدِيثِهِمْ ثُمَّ قَالَ :
Para rahib di dalam biara mereka pun mengetahui bahwa Allah akan mengutus "Al-Faraqlith" (Paraklit) yang dikabarkan gembira oleh Al-Masih. Mereka mengungkap pengetahuan itu setiap kali bertemu para pemimpin dan bangsawan Arab. Pernah ada empat orang dari Bani Tamim yang hendak menuju Syam singgah di sebuah telaga dekat biara, lalu sang rahib penjaga biara menjenguk dan mendengarkan pembicaraan mereka kemudian berkata:
— إِنَّ هَذِهِ لُغَةُ قَوْمٍ مَا هِيَ أَهْلُ هَذَا الْبَلَدِ .
— Sesungguhnya ini adalah bahasa suatu kaum yang bukan penduduk negeri ini.
— نَحْنُ قَوْمٌ مِنْ مُضَرَ .
— Kami adalah orang-orang dari suku Mudhar.
— مِنْ أَيِّ الْمَضَائِرِ ؟
— Dari cabang Mudhar yang mana?
— خِنْدِفَ .
— Khindif.
— إِنَّ اللهَ سَيَبْعَثُ فِيكُمْ نَبِيًّا وَشِيكًا فَسَارِعُوا إِلَيْهِ وَخُذُوا حَظَّكُمْ تَرْشُدُوا ، فَإِنَّهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ .
— Sesungguhnya Allah akan segera mengutus seorang nabi di tengah kalian, maka bersegeralah menyambutnya dan ambillah bagian keberuntungan kalian agar kalian mendapat petunjuk, karena sesungguhnya dia adalah penutup para nabi.
— مَا اسْمُهُ ؟
— Siapa namanya?
— مُحَمَّدٌ .
— Muhammad.
ثُمَّ دَخَلَ دَيْرَهُ فَمَا أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَّا زَرَعَ قَوْلَهُ فِي قَلْبِهِ ، فَأَضْمَرَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ إِنْ رَزَقَهُ اللهُ غُلَامًا سَمَّاهُ مُحَمَّدًا .
Kemudian rahib itu masuk kembali ke biaranya, dan tidak ada seorang pun dari mereka melainkan perkataan rahib itu telah tertanam di dalam hatinya. Masing-masing dari mereka berniat di dalam hati, jika kelak Allah menganugerahinya seorang anak laki-laki, ia akan menamainya Muhammad.
نَامَتِ الْفِتْنَةُ الَّتِي كَادَتْ تَنْشَبُ بَيْنَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ وَالْيَهُودِ وَعَادَ النَّاسُ إِلَى دُورِهِمْ ، لَمْ يَحْفِلُوا بِذَلِكَ التَّهْدِيدِ الَّذِي لَا يَفْتَأُ الْيَهُودُ يُرَدِّدُونَهُ كُلَّمَا شَجَرَ خِلَافٌ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْعَرَبِ ، وَعَادَ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ إِلَى دَارِهِ فَأَلْفَى وَلَدَيْهِ حَسَّانَ وَفَارِعَةَ قَدْ خَرَجَا يَنْظُرَانِ وَقَدْ وَقَفَا أَمَامَ بَابِ الدَّارِ ، فَحَمَلَ فَارِعَةَ وَأَخَذَ حَسَّانَ مِنْ يَدِهِ ثُمَّ دَلَفَ إِلَى الْبَيْتِ .
Redamlah fitnah yang nyaris berkobar antara Aus, Khazraj, dan Yahudi, dan orang-orang pun kembali ke rumah mereka. Mereka tidak mengacuhkan ancaman yang selalu diulang-ulang oleh kaum Yahudi setiap kali terjadi perselisihan antara mereka dengan bangsa Arab. Tsabit bin Al-Mundzir kembali ke rumahnya dan mendapati kedua anaknya, Hassan dan Fari'ah, telah keluar melihat situasi dan berdiri di depan pintu rumah. Ia lalu menggendong Fari'ah dan menggandeng tangan Hassan, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
كَانَ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحَكَمَ الَّذِي لَجَأَتْ إِلَيْهِ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ يَوْمَ أَنْ قَامَتْ...
Tsabit bin Al-Mundzir adalah sosok juru penengah (hakim) tempat suku Aus dan Khazraj meminta keputusan pada hari ketika meletusnya...
...حَرْبُ سُمَيْرٍ ، وَكَانَ ثَابِتٌ لَا يَنْفَكُّ يَرْوِي أَحْدَاثَ تِلْكَ الْحُرُوبِ وَيَرْوِي الْأَشْعَارَ الَّتِي قِيلَتْ فِيهَا فَقَدْ كَانَ يَحْفَظُهَا عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ ، وَكَانَ يَجِدُ لَذَّةً فِي إِعَادَةِ تِلْكَ الْقِصَّةِ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَقَبُولُ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ أَنْ يَكُونَ حَكَمًا بَيْنَهُمَا شَرَفٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي أَنْ تَتِيهَ بِهِ الْأُسْرَةُ وَتَفْخَرَ .
...Perang Sumair. Tsabit tak henti-hentinya menceritakan peristiwa peperangan tersebut serta melantunkan syair-syair yang digubah di dalamnya, karena ia menghafalnya di luar kepala. Ia merasakan kenikmatan tersendiri saat mengulang kisah itu di depan anggota keluarganya, sebab kesediaan suku Aus dan Khazraj menjadikannya sebagai penengah di antara mereka merupakan kehormatan agung yang patut membuat keluarga itu merasa bangga dan mulia.
وَجَلَسَ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ الْفَتَى الَّذِي لَمْ يَتَجَاوَزِ السَّابِعَةَ يُصْغِي إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ يَقُولُ :
Dan duduklah Hassan bin Tsabit, bocah yang belum melewati usia tujuh tahun itu, mendengarkan ayahnya dengan seksama yang berkisah menceritakan kronologi peristiwanya:
— قُتِلَ رَجُلٌ فِي السُّوقِ كَانَ جَارًا لِمَالِكِ بْنِ الْعَجْلَانِ ، فَقِيلَ لِمَالِكٍ قَدْ قَتَلَهُ سُمَيْرٌ ، فَأَرْسَلَ إِلَى بَنِي عَوْفِ بْنِ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ مِنَ الْأَوْسِ : « إِنَّكُمْ قَتَلْتُمْ مِنَّا قَتِيلًا فَأَرْسِلُوا إِلَيْنَا بِقَاتِلِهِ » . فَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولُ مَالِكٍ تَرَامَوْا بِهِ فَقَالَتْ بَنُو زَيْدٍ : « إِنَّمَا قَتَلَتْهُ بَنُو جَحْجَبَى » . وَقَالَتْ بَنُو جَحْجَبَى : « إِنَّمَا قَتَلَتْهُ بَنُو زَيْدٍ » . ثُمَّ أَرْسَلُوا إِلَى مَالِكٍ :
— Seseorang yang merupakan tetangga pelindung bagi Malik bin Al-Ajlan terbunuh di pasar, lalu dikatakan kepada Malik bahwa Sumair-lah yang membunuhnya. Maka Malik mengirim pesan kepada Bani Auf bin Amr bin Malik dari suku Aus: "Sesungguhnya kalian telah membunuh seseorang dari pihak kami, maka serahkanlah pembunuhnya kepada kami." Ketika utusan Malik datang kepada mereka, mereka saling melempar tuduhan; Bani Zaid berkata: "Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Bani Jahjaba," sedangkan Bani Jahjaba berkata: "Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Bani Zaid." Kemudian mereka mengirim balasan kepada Malik:
— إِنَّهُ كَانَ فِي السُّوقِ الَّتِي قُتِلَ فِيهَا صَاحِبُكُمْ أُنَاسٌ كَثِيرٌ وَلَا يُدْرَى أَيُّهُمْ قَتَلَهُ .
— Sesungguhnya di pasar tempat terbunuhnya sahabatmu itu terdapat orang yang banyak, dan tidak diketahui pasti siapa di antara mereka yang telah membunuhnya.
وَأَمَرَ مَالِكٌ أَهْلَ تِلْكَ السُّوقِ أَنْ يَتَفَرَّقُوا فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا غَيْرُ سُمَيْرٍ وَالْقَتِيلِ ، فَأَرْسَلَ مَالِكٌ إِلَى بَنِي عَوْفِ بْنِ عَوْفٍ بِالَّذِي بَلَغَهُ مِنْ ذَلِكَ وَقَالَ : « إِنَّمَا قَتَلَهُ سُمَيْرٌ فَأَرْسَلُوا بِهِ إِلَيَّ أَقْتُلْهُ » . فَأَرْسَلُوا إِلَيْهِ : « إِنَّهُ لَيْسَ لَكَ أَنْ تَقْتُلَ سُمَيْرًا بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ » . وَكَثُرَتِ الرُّسُلُ بَيْنَهُمْ فِي ذَلِكَ يَسْأَلُهُمْ مَالِكٌ أَنْ يُعْطُوهُ سُمَيْرًا وَيَأْبَوْنَ أَنْ يُعْطُوهُ إِيَّاهُ . ثُمَّ إِنَّ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ كَرِهُوا أَنْ يُنْشِبُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَالِكٍ حَرْبًا ، فَأَرْسَلُوا إِلَيْهِ يَعْرِضُونَ عَلَيْهِ الدِّيَةَ فَقَبِلَهَا ، فَأَرْسَلُوا إِلَيْهِ : « أَرْسَلُوا إِلَيْهِ أَنَّ صَاحِبَكُمْ حَلِيفٌ وَلَيْسَ لَكُمْ فِيهِ إِلَّا نِصْفُ الدِّيَةِ » .
Malik lalu menginterogasi orang-orang di pasar tersebut agar memisahkan diri hingga tidak tersisa di sana kecuali Sumair dan si korban. Maka Malik mengirim utusan lagi kepada Bani Auf bin Auf mengabarkan bukti yang didapatnya dan berkata: "Sesungguhnya yang membunuhnya pasti Sumair, maka serahkan dia kepadaku agar aku menghukum matinya." Namun mereka membalas: "Tidak ada hak bagimu untuk membunuh Sumair tanpa adanya bukti saksi mata yang jelas." Utusan pun saling bergantian di antara mereka; Malik terus mendesak agar Sumair diserahkan, sementara mereka tetap kokoh menolak. Hingga kemudian, Bani Amr bin Auf merasa enggan jika harus menyalakan perang antara mereka dengan Malik, maka mereka pun mengirim tawaran untuk membayar tebusan (diat) dan Malik pun bersedia menerimanya. Namun mereka kemudian menyampaikan syarat: "Ketahuilah bahwa korban kalian adalah seorang sekutu (halif), maka tidak ada hak bagi kalian melainkan setengah nilai diat saja."
فَغَضِبَ مَالِكٌ وَأَبَى أَنْ يَأْخُذَ فِيهِ إِلَّا الدِّيَةَ كَامِلَةً أَوْ يُقْتَلَ سُمَيْرٌ ، فَأَبَتْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ أَنْ يُعْطُوهُ إِلَّا دِيَةَ الْحَلِيفِ وَهِيَ نِصْفُ الدِّيَةِ ، ثُمَّ دَعَوْهُ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ عَمْرُو بْنُ امْرِئِ الْقَيْسِ أَحَدُ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ فَفَعَلَ ،
Maka marahlah Malik dan ia menolak keras menerima kecuali diat secara penuh atau Sumair harus dieksekusi mati. Sebaliknya, Bani Amr bin Auf bersikeras tidak mau membayar kecuali diat seorang sekutu (setengah diat). Kemudian mereka mengajaknya untuk bertahkim (meminta keputusan hukum) kepada Amr bin Imri'il Qais, salah seorang dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, dan Malik pun menyetujuinya.
فَانْطَلَقُوا حَتَّى جَاءُوهُ فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ ، فَقَضَى مَالِكُ بْنُ الْعَجْلَانِ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ فِي حَلِيفِهِ إِلَّا دِيَةُ الْحَلِيفِ ، وَأَبَى مَالِكٌ أَنْ يَرْضَى بِذَلِكَ وَآذَنَ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ بِالْحَرْبِ وَاسْتَنْصَرَ قَبَائِلَ الْخَزْرَجِ ، فَأَبَتْ بَنُو الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ أَنْ تَنْصُرَهُ غَضَبًا حِينَ رَدَّ قَضَاءَ عَمْرِو بْنِ امْرِئِ الْقَيْسِ ، فَقَالَ مَالِكُ بْنُ الْعَجْلَانِ يَذْكُرُ خِذْلَانَ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ لَهُ وَحَدَبَ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ عَلَى سُمَيْرٍ وَيُحَرِّضُ بَنِي النَّجَّارِ عَلَى نُصْرَتِهِ :
Maka mereka berangkat bersama-sama menemuinya di kediaman Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Namun penengah justru memutuskan perkara melawan Malik bin Al-Ajlan bahwa ia tidak berhak atas sekutunya melainkan diat sekutu semata. Malik pun menolak rida terhadap keputusan tersebut dan mengumumkan perang kepada Bani Amr bin Auf serta meminta bantuan militer kepada kabilah-kabilah Khazraj. Namun Bani Al-Harits bin Al-Khazraj menolak membantunya karena marah atas tindakan Malik yang menolak mentah-mentah keputusan Amr bin Imri'il Qais. Maka Malik bin Al-Ajlan menggubah syair menyebutkan pengkhianatan Bani Al-Harits bin Al-Khazraj terhadap dirinya dan pembelaan Bani Amr bin Auf terhadap Sumair, sekaligus memprovokasi Bani An-Najjar untuk bangkit menolongnya:

إِنَّ سُــمَـيْـرًا أَرَى عَــشِـيْـرَتَــهُ            قَـدْ حَـدِبُـوا دُونَــهُ وَقَــدْ أَلِـفُـوا

[Shadr] Sesungguhnya Sumair, aku melihat kaum kerabatnya
[Ajuz] telah bersatu membelanya dan saling bersepakat kuat.

إِنْ يَكُنِ الظَّنُّ صَادِقًا بِبَنِي النَّـ            جَّارِ لَا يُطْعِمُوا الَّذِي عُلِفُوا

[Shadr] Jika persangkaanku benar terhadap Bani An-Najjar,
[Ajuz] niscaya mereka tidak akan sudi menelan penghinaan yang disodorkan.

لَا يُسْلِمُونَا لِمَعْسْكَرٍ أَبَدًا            مَا دَامَ مِنَّا يَبْطُنُهَا شَرَفُ

[Shadr] Mereka tidak akan menyerahkan kami kepada musuh selamanya,
[Ajuz] selama kemuliaan masih bersemayam di dalam dada kami.

لَكِنْ مَوَالِيَّ قَدْ بَدَا لَهُمُ            رَأْيٌ سِوَى مَا لَدَيَّ أَوْ ضَعُفُوا

[Shadr] Namun para sekutu kerabatku, sungguh telah tampak bagi mereka
[Ajuz] pandangan yang berbeda dari prinsipku, atau mereka memang telah menjadi lemah.

وَأَرْهَفَ الْفَتَى حَسَّانُ أُذُنَيْهِ فَهُوَ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ يُحِبُّ الشِّعْرَ وَيُسَرُّ بِهِ ، وَرَاحَ أَبُوهُ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ يَقُولُ :
Dan si bocah Hassan menajamkan pendengarannya; meskipun usianya masih sangat belia, ia sangat mencintai syair dan merasa gembira dengannya. Serta ayahnya, Tsabit bin Al-Mundzir, terus melanjutkan kisahnya melantunkan balasan bait dari kubu lawan:

بَنُو بَنِي جَحْجَبَى وَبَيْنُ بَنِي            زَيْدٍ فَأَبْكِي لِجَارِي التَّلَفُ

[Shadr] Di antara anak cucu Jahjaba dan di antara Bani
[Ajuz] Zaid, maka aku menangisi kehancuran yang menimpa tetangga pelindungku.

يَمْشُونَ فِي الْبِيْضِ وَالدُّرُوعِ كَمَا            تَمْشِي جِمَالٌ مَصَاعِبٌ قُطُفُ

[Shadr] Mereka berjalan mengenakan pelindung kepala baja dan baju besi, bagaikan
[Ajuz] ringkik jalannya unta jantan yang gagah berani dan tangkas perkasa.

كَمَا تَمْشِي الْأُسُودُ فِي وَهَجِ الصَّيْـ            فِ مَوْتٌ إِلَيْهِ وَكُلُّهُمْ كَهْفُ

[Shadr] Laksana singa-singa yang berjalan menerjang terik musim panas,
[Ajuz] menjemput kematian demi membela, dan mereka semua adalah tempat berlindung yang kokoh.

وَقَالَ دِرْهَمُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ ضُبَيْعَةَ أَخُو سُمَيْرٍ :
Dan berkatalah Dirham bin Yazid bin Dhubi'ah, saudara kandung Sumair:

يَا قَوْمِ لَا تَقْتُلُوا سُمَيْرًا فَإِ            نَّ الْقَتْلَ فِيهِ الْبَوَارُ وَالْأَسَفُ

[Shadr] Wahai kaumku, janganlah kalian membunuh Sumair, karena sesungguhnya
[Ajuz] pembunuhan terhadapnya hanya akan mendatangkan kehancuran dan penyesalan.

إِنْ تَقْتُلُوهُ تُرِنَّ نِسْوَتُكُمْ            عَلَى كَرِيمٍ وَيَفْزَعِ السَّلَفُ

[Shadr] Jika kalian nekat membunuhnya, niscaya wanita-wanita kalian akan meratap menangis
[Ajuz] atas tewasnya para lelaki mulia, dan para sesepuh akan terperanjat ketakutan.

إِنِّي لَعَمْرُ الَّذِي يَحِجُّ لَهُ النِّـ            سَاكَ وَمَنْ دُونَ بَيْتِهِ سَرَفُ

[Shadr] Demi umur Dzat yang para ahli ibadah berhaji kepada-Nya,
[Ajuz] dan demi tempat yang di sekitar rumah-Nya penuh dengan kemuliaan.

يَمِينٌ بَـــــــــــــــارٌّ بِاللهِ مُجْتَهِدٌ            يَحْلِفُ إِنْ كَانَ يَنْفَعُ الْحَلِفُ

[Shadr] Sebuah sumpah yang benar demi Allah secara sungguh-sungguh,
[Ajuz] ia bersumpah jika memang sebuah sumpah itu mendatangkan manfaat.

لَا تَرْفَعُ الْعَبْدَ فَوْقَ سُنَّتِهِ            مَا دَامَ مِنَّا يَبْطُنُهَا شَرَفُ

[Shadr] Janganlah engkau mengangkat kedudukan seorang hamba sahaya melebihi batasannya,
[Ajuz] selama kemuliaan itu masih bersemayam erat di dalam diri kami.

إِنَّكَ لَاقٍ غَدًا غُوَاةَ بَنِي            عَمْرٍو فَانْظُرْ مَا أَنْتَ مُزْدَهِفُ

[Shadr] Sesungguhnya engkau esok hari akan berhadapan dengan para jawara perang Bani
[Ajuz] Amr, maka lihatlah apa yang hendak engkau hadapi dan lakukan.

فَأُسْدُ سِيمَاكَ يَعْرِفُونَكَ كَمَا            يُسَدِّدُونَ سِهَامَهُمْ فَتَنْعَرِفُ

[Shadr] Maka singa-singa pertahananmu akan mengenalimu, sebagaimana
[Ajuz] mereka membidikkan anak panah mereka kepadamu hingga engkau terkapar kalah.

وَرَاحَ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ يَرْوِي الْأَشْعَارَ الَّتِي قَالَتْهَا الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ فِي النِّزَاعِ الَّذِي نَشَبَ بَيْنَهُمَا بِسَبَبِ قَتْلِ سُمَيْرٍ حَلِيفِ مَالِكٍ ، وَحَسَّانُ يُصْغِي وَقَدْ أُعْجِبَ بِالشِّعْرِ وَتَمَنَّى لَوْ يُصْبِحُ شَاعِرًا كَهَؤُلَاءِ الْفُحُولِ الَّذِي يُسْعَدُ بِشِعْرِهِمْ .
Dan Tsabit bin Al-Mundzir terus meriwayatkan bait-bait syair yang digubah oleh suku Aus dan Khazraj dalam pertikaian yang berkobar di antara keduanya lantaran terbunuhnya Sumair, sekutu Malik. Hassan terus mendengarkan dengan penuh kekaguman terhadap dunia syair, seraya berharap di dalam hatinya agar kelak ia tumbuh menjadi seorang penyair besar seperti para begawan sastra tersebut yang ia rasa sangat bahagia mendengarkan karya mereka.
وَقَالَ ثَابِتٌ لِابْنِهِ :
Dan Tsabit berkata memberikan wejangan kepada putranya:
— ثُمَّ أَرْسَلَ مَالِكُ بْنُ الْعَجْلَانِ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ يُؤْذِنُهُمْ بِالْحَرْبِ وَيُعِدُّهُمْ يَوْمًا يَلْتَقُونَ فِيهِ ، وَأَمَرَ قَوْمَهُ فَتَهَيَّؤُوا لِلْحَرْبِ ، وَتَحَاشَدَ الْحَيَّانِ وَجَمَعَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ، وَكَانَتْ يَهُودُ قَدْ حَالَفَتْ قَبَائِلَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ إِلَّا بَنِي قُرَيْظَةَ وَبَنِي النَّضِيرِ فَإِنَّهُمْ لَمْ يُحَالِفُوا أَحَدًا مِنْهُمْ حَتَّى كَانَ هَذَا الْجَمْعُ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِمُ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ كُلٌّ يَدْعُوهُمْ لِنَفْسِهِ ، فَأَجَابُوا الْأَوْسَ وَحَالَفُوهُمْ وَالَّتِي حَالَفَتْ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرَ مِنَ الْأَوْسِ أَوْسُ اللهِ وَهِيَ خَطْمَةُ وَوَاقِفٌ وَأُمَيَّةُ وَوَائِلٌ ، فَهَذِهِ قَبَائِلُ أَوْسِ اللهِ .
— Kemudian Malik bin Al-Ajlan mengirim utusan kepada Bani Amr bin Auf untuk menyatakan maklumat perang dan menetapkan hari pertemuan bertempur bagi mereka. Ia memerintahkan kaumnya agar bersiap siaga menghadapi peperangan. Kedua kabilah pun memobilisasi massa dan saling menggalang kekuatan pertahanan. Kaum Yahudi kala itu sejatinya telah bersekutu dengan kabilah-kabilah Aus dan Khazraj, kecuali Bani Quraizhah dan Bani An-Nadhir yang semula memilih netral tidak bersekutu dengan siapa pun. Namun, ketika persiapan perang besar ini pecah, suku Aus dan Khazraj mengirim utusan kepada mereka, masing-masing mengajak bergabung ke kubunya. Pada akhirnya mereka memilih memenuhi ajakan suku Aus dan menjalin pakta pertahanan sekutu dengan mereka. Yang bersekutu langsung dengan Quraizhah dan An-Nadhir dari cabang suku Aus adalah kelompok 'Ausullah', yaitu Bani Khatmah, Waqif, Umayyah, dan Wa'il. Inilah faksi kabilah dari Ausullah.
ثُمَّ زَحَفَ مَالِكٌ بِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْخَزْرَجِ ، وَزَحَفَتِ الْأَوْسُ بِمَنْ مَعَهَا مِنْ حُلَفَائِهَا مِنْ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرِ ، فَالْتَقَوْا بِفَضَاءٍ كَانَ بَيْنَ بِئْرِ سَالِمٍ وَقُبَاءٍ وَكَانَ أَوَّلَ يَوْمٍ الْتَقَوْا فِيهِ فَاقْتَتَلُوا قِتَالًا شَدِيدًا ، ثُمَّ انْصَرَفُوا وَهُمْ مُنْتَصِفُونَ جَمِيعًا ، ثُمَّ الْتَقَوْا مَرَّةً أُخْرَى عِنْدَ أُطُمِ بَنِي قَيْنُقَاعَ فَاقْتَتَلُوا حَتَّى حَجَزَ اللَّيْلُ بَيْنَهُمْ ، وَكَانَ الظَّفَرُ يَوْمَئِذٍ لِلْأَوْسِ عَلَى الْخَزْرَجِ ، فَقَالَ أَبُو قَيْسِ بْنُ الْأَسْلَتِ فِي ذَلِكَ :
Kemudian Malik bergerak maju mengerahkan pasukan Khazraj yang bersamanya, sementara suku Aus juga bergerak maju bersama para sekutunya dari kalangan Bani Quraizhah dan Bani An-Nadhir. Kedua kubu bertemu di sebuah padang terbuka yang terletak di antara Sumur Salim dan wilayah Quba. Itu adalah hari pertama mereka berhadapan dan langsung meletus pertempuran sengit yang mengerikan. Kemudian mereka menarik diri dengan kekuatan yang berimbang (sama kuat). Tak berselang lama mereka bertempur kembali di dekat benteng (uthum) Bani Qainuqa'; mereka saling serang hingga kegelapan malam memisahkan kedua belah pihak. Kemenangan pada pertempuran hari itu berada di pihak suku Aus atas Khazraj, maka Abu Qais bin Al-Aslat menggubah syair mengabadikan momentum tersebut:

لَقَدْ رَأَيْتُ بَنِي عَمْرٍو فَمَا وَهَنُوا            عِنْدَ اللِّقَاءِ وَمَا هَمُّوا بِتَكْذِيبِ

[Shadr] Sungguh aku telah melihat langsung Bani Amr, mereka tidaklah menjadi lemah
[Ajuz] ketika kancah pertempuran bergolak, dan mereka tidak berpaling dari janji setia kombatannya.

أَلَا فِدًى لَهُمُ أُمِّي وَمَا وَلَدَتْ            غَدَاةَ يَمْشُونَ إِرْقَالَ الْمَصَاعِيبِ

[Shadr] Ketahuilah, jiwaku dan ibuku beserta seluruh anaknya menjadi tebusan bagi mereka,
[Ajuz] pada pagi hari di saat mereka melangkah berderap cepat laksana larinya unta jantan yang perkasa.

بِكُلِّ سَلْهَبَةٍ كَالْأَيِّمِ مَاضِيَةٍ            وَكُلِّ أَبْيَضَ مَاضِي الْحَدِّ مَحْسُوبِ

[Shadr] Dengan menunggangi kuda-kuda yang tinggi tegap melesat cepat bagai ular berbisa,
[Ajuz] serta bersenjatakan setiap pedang putih berkilau yang tajam bilahnya lagi terpilih.

فَلَبِثَتِ الْأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ مُتَحَارِبِينَ عِشْرِينَ سَنَةً فِي أَمْرِ سُمَيْرٍ يَتَعَاوَدُونَ...
Maka tinggalah suku Aus dan Khazraj dalam kondisi saling berperang selama dua puluh tahun lamanya perkara urusan kasus Sumair, mereka terus-menerus mengulang...
...الْقِتَالَ فِي تِلْكَ السِّنِينَ ، فَلَمَّا رَأَتِ الْأَوْسُ طُولَ الشَّرِّ وَأَنَّ مَالِكًا لَا يَنْزِعُ قَالَ لَهُمْ سُوَيْدُ بْنُ صَامِتٍ الْأَوْسِيُّ وَكَانَ يُقَالُ لَهُ الْكَامِلُ ، فَقَدْ كَانَ شَاعِرًا شُجَاعًا كَاتِبًا سَابِحًا رَامِيًا : « يَا قَوْمِ ارْضُوا هَذَا الرَّجُلَ مِنْ حَلِيفِهِ ، وَلَا تُقِيمُوا عَلَى حَرْبِ إِخْوَتِكُمْ فَيَقْتُلَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَيَطْمَعَ فِيكُمْ غَيْرُكُمْ ، وَإِنْ حَمَلْتُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ بَعْضَ الْحَمْلِ » .
...peperangan selama bertahun-tahun tersebut. Ketika suku Aus melihat betapa berlarut-larutnya dampak buruk peperangan ini sementara Malik tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, berkatalah Suwaid bin Shamit Al-Ausi kepada mereka—yang mana ia dijuluki sebagai 'Al-Kamil' (Lelaki Sempurna) karena keahliannya sebagai penyair, pejuang pemberani, juru tulis, pandai berenang, sekaligus pemanah ulung: "Wahai kaumku, penuhilah tuntutan ganti rugi pria ini (Malik) atas sekutunya. Janganlah kalian terus mengobarkan perang melawan saudara-saudara kalian sendiri, yang hanya menyebabkan kalian saling membunuh satu sama lain dan membuat pihak asing (musuh luar) bernafsu menguasai kalian, walaupun kalian harus memikul beban berat tebusan itu di atas pundak kalian sendiri."
فَأَرْسَلَتِ الْأَوْسُ إِلَى مَالِكِ بْنِ الْعَجْلَانِ يَدْعُونَهُ إِلَى أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ بْنِ حَرَامٍ .
Maka kaum Aus mengirim utusan kepada Malik bin al-Ajlan, mengajak dia agar Thabit bin al-Mundhir bin Haram menjadi penengah (hakim) di antara mereka.
وَصَمَتَ ثَابِتٌ بُرْهَةً وَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُ حَسَّانَ بِالْفَرَحِ ، ثُمَّ قَالَ ثَابِتٌ :
Thabit terdiam sejenak, sementara wajah Hassan berseri-seri karena gembira, kemudian Thabit berkata:
— فَخَرَجُوا حَتَّى أَتَوْنِي فَقَالُوا : إِنَّا قَدْ حَكَّمْنَاكَ بَيْنَنَا ، فَقُلْتُ : لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ .
— Lalu mereka keluar hingga mendatangiku dan berkata: "Sesungguhnya kami telah menjadikanmu hakim di antara kami," maka aku berkata: "Aku tidak ada keperluan dalam hal itu."
فَقَالَ الْفَتَى حَسَّانُ :
Maka pemuda bernama Hassan itu bertanya:
— وَلِمَ ؟
— Dan mengapa begitu?
فَابْتَسَمَ ثَابِتٌ وَقَالَ :
Maka Thabit tersenyum lalu berkata:
— قُلْتُ لَهُمْ : أَخَافُ أَنْ تَرُدُّوا حُكْمِي كَمَا رَدَدْتُمْ حُكْمَ عَمْرِو بْنِ امْرِئِ الْقَيْسِ . قَالُوا : فَإِنَّا لَا نَرُدُّ حُكْمَكَ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا . قُلْتُ لَا أَحْكُمُ بَيْنَكُمْ حَتَّى تُعْطُونِي مَوْثِقًا وَعَهْدًا لَتَرْضَوْنَ بِحُكْمِي وَمَا قَضَيْتُ بِهِ وَلَتُسَلِّمُنَّ لَهُ . فَأَعْطَوْنِي عَلَى ذَلِكَ عُهُودَهُمْ وَمَوَاثِيقَهُمْ .
— Aku katakan kepada mereka: "Aku khawatir kalian akan menolak keputusanku sebagaimana kalian menolak keputusan Amr bin Imru' al-Qais." Mereka berkata: "Sesungguhnya kami tidak akan menolak keputusanmu, maka berilah keputusan di antara kami." Aku berkata: "Aku tidak akan memberi keputusan di antara kalian sampai kalian memberiku janji setia dan ikrar bahwa kalian benar-benar ridha dengan keputusanku dan apa yang aku tetapkan, serta kalian benar-benar tunduk kepadanya." Maka mereka memberikan janji-janji setia dan ikrar mereka kepadaku atas hal itu.
— وَبِمَاذَا حَكَمْتَ يَا أَبَتَاهُ ؟
— Dan dengan apa engkau memutuskan perkara, wahai ayahku?
— حَكَمْتُ بِأَنْ يُؤَدَّى حَلِيفُ مَالِكٍ دِيَةَ الصَّرِيحِ ، ثُمَّ تَكُونُ السُّنَّةُ فِيهِمْ بَعْدَهُ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ : الصَّرِيحُ عَلَى دِيَتِهِ وَالْحَلِيفُ عَلَى دِيَتِهِ ، وَأَنْ تُعَدَّ الْقَتْلَى الَّذِينَ أَصَابَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ فِي حَرْبِهِمْ ثُمَّ يَكُونَ بَعْضٌ بِبَعْضٍ ثُمَّ يُعْطُوا الدِّيَةَ لِمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ فِي الْقَتْلَى مِنَ الْفَرِيقَيْنِ . فَرَضِيَ بِذَلِكَ مَالِكٌ وَسَلَّمَتِ الْأَوْسُ .
— Aku memutuskan agar sekutu Malik membayar tebusan darah (diat) yang setara dengan orang asli (As-Sarih), kemudian setelah itu aturan yang berlaku di antara mereka dikembalikan seperti semula: orang asli dengan nilai diatnya sendiri dan sekutu dengan nilai diatnya sendiri, serta dihitung jumlah korban tewas yang diderita masing-masing pihak dalam perang mereka, kemudian saling digugurkan satu sama lain, lalu diat diberikan kepada pihak yang memiliki kelebihan jumlah korban tewas di antara kedua belah pihak. Maka Malik pun ridha dengan hal itu dan kaum Aus menerimanya.
وَتَفَرَّقُوا عَلَى أَنَّ عَلَى بَنِي النَّجَّارِ نِصْفَ دِيَةِ جَارِ مَالِكٍ مَعُونَةً لِإِخْوَتِهِمْ ، وَعَلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ نِصْفَهَا ، فَرَأَتْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُمْ لَمْ يُخْرِجُوا إِلَّا الَّذِي كَانَ عَلَيْهِمْ ، وَرَأَى مَالِكٌ أَنَّهُ قَدْ أَدْرَكَ مَا كَانَ يَطْلُبُ وَوُدِيَ جَارُهُ دِيَةَ الصَّرِيحِ .
Dan mereka pun berpisah dengan kesepakatan bahwa Bani an-Najjar menanggung setengah diat tetangga Malik sebagai bantuan bagi saudara-saudara mereka, dan Bani Amr bin Auf menanggung setengahnya lagi. Maka Bani Amr bin Auf memandang bahwa mereka tidak mengeluarkan kecuali apa yang memang menjadi kewajiban mereka, sementara Malik memandang bahwa dia telah mendapatkan apa yang dia tuntut dan tetangganya telah dibayar diatnya setara dengan diat orang asli.
وَانْقَضَى النَّهَارُ وَحَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ يُرَدِّدُ الْأَشْعَارَ الَّتِي سَمِعَهَا مِنْ أَبِيهِ ، وَجَاءَ اللَّيْلُ وَتَلَأْلَأَتْ نُجُومُ السَّمَاءِ وَإِذَا بِصَوْتٍ جَهْوَرِيٍّ يُنَادِي فَيَتَرَدَّدُ نِدَاؤُهُ فِي جَنَبَاتِ يَثْرِبَ :
Hari pun berlalu dan Hassan bin Thabit terus mengulang-ulang syair-syair yang didengarnya dari ayahnya. Malam pun tiba dan bintang-bintang di langit berkilauan, ketika tiba-tiba terdengar suara yang lantang memanggil, seruannya bergema di segenap penjuru Yathrib:
— يَا مَعْشَرَ يَهُودَ .. يَا مَعْشَرَ يَهُودَ .
— Wahai sekalian kaum Yahudi.. wahai sekalian kaum Yahudi!
وَفُتِحَتِ الدُّورُ وَخَرَجَ الْيَهُودُ وَالْعَرَبُ إِلَى حَيْثُ الصَّوْتُ ، وَخَرَجَ ثَابِتُ بْنُ الْمُنْذِرِ وَفِي يَدِهِ ابْنُهُ حَسَّانُ وَرَاحُوا يُهَرْوِلُونَ مَعَ الْمُهَرْوِلِينَ ، فَإِذَا بِيَهُودِيٍّ يَصْرُخُ بِأَعْلَى صَوْتِهِ عَلَى أُطُمَةٍ :
Pintu-pintu rumah pun dibuka, orang-orang Yahudi dan Arab keluar menuju arah datangnya suara. Thabit bin al-Mundhir juga keluar menggandeng tangan anaknya, Hassan, dan mereka ikut berlari kecil bersama orang-orang yang berlarian. Ternyata tampak seorang pria Yahudi sedang berteriak sekuat suaranya di atas sebuah benteng (Utum):
— يَا مَعْشَرَ يَهُودَ !
— Wahai sekalian kaum Yahudi!
وَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ وَقَالُوا لَهُ :
Maka mereka berkumpul mengelilinginya dan berkata kepadanya:
— وَيْكَ ! مَالُكَ ؟
— Celaka kamu! Ada apa denganmu?
— طَلَعَ اللَّيْلَةَ نَجْمُ أَحْمَدَ الَّذِي وُلِدَ بِهِ .
— Malam ini telah terbit bintang Ahmad (Muhammad) yang bersamanya dia dilahirkan!
وَنَظَرَ حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ وَلَمْ يَفْقَهْ شَيْئًا ، وَمَا دَارَ بِخَلَدِهِ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ أَنَّهُ سَيُصْبِحُ شَاعِرَ ذَلِكَ الَّذِي طَلَعَ اللَّيْلَةَ نَجْمُهُ . وَعَادَ إِلَى الدَّارِ وَصَوْتُ الْيَهُودِيِّ يَرِنُّ فِي وِجْدَانِهِ :
Hassan bin Thabit melihat kejadian itu namun belum memahami apa pun, dan tidak terlintas sama sekali di benaknya pada saat itu bahwa kelak dia akan menjadi penyair bagi orang yang malam ini bintangnya telah terbit. Dia pun kembali ke rumah sementara suara orang Yahudi tersebut masih terngiang-ngiang di dalam sanubarinya:
— طَلَعَ اللَّيْلَةَ نَجْمُ أَحْمَدَ .
— Malam ini telah terbit bintang Ahmad.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi