MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Runtuhnya Takhta Tirani: Panah Wahriz dan Fajar Baru di Bumi Himyar
Keangkuhan Masruq bin Abrahah yang merasa dirinya tak tergoyahkan akhirnya menemui ajalnya di ujung panah Wahriz, menjadi saksi bisu bagaimana Allah menghancurkan kesombongan para penindas.
رَاحَ جَيْشُ أَبْرَهَةَ يَتَقَهْقَرُ وَقَدْ حَمَلَتْ فُلُولُ الْجَيْشِ مَلِكَهُمُ الَّذِي هَدَّهُ الْمَرَضُ، وَكَانَتْ أَنَامِلُهُ تَسْقُطُ أُنْمُلَةً أُنْمُلَةً حَتَّى قَدِمُوا بِهِ صَنْعَاءَ وَهُوَ مِثْلُ فَرْخِ الطَّائِرِ، انْصَدَعَ صَدْرُهُ عَنْ قَلْبِهِ وَزَهَقَتْ رُوحُهُ لِيَمْلِكَ عَلَى الْيَمَنِ مِنْ بَعْدِهِ ابْنُهُ يَكْسُومُ.
Pasukan Abrahah mulai mundur dan sisa-sisa pasukan tersebut menggotong raja mereka yang telah dihancurkan oleh penyakit. Jari-jemarinya berjatuhan satu demi satu hingga mereka membawanya tiba di San'a dalam keadaan seperti anak burung. Dadanya terbelah dari jantungnya dan nyawanya pun melayang, untuk kemudian Yaman dikuasai setelahnya oleh putranya, Yaksum.
أَبَى اللهُ أَنْ يَنْصُرَ أَبْرَهَةَ حَتَّى لَا يَجْرِيَ السَّبْيُ عَلَى رَسُولِهِ حَمْلًا وَوَلِيدًا، فَلَوْ ظَفِرَ أَبْرَهَةُ بِمَكَّةَ لِهُدِمَ الْبَيْتُ وَقُتِلَ الرِّجَالُ وَسُبِيَ النِّسَاءُ، وَلَسَاقَ آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ إِلَى صَنْعَاءَ فِيمَنْ سَيُسُوقُ مِنَ النِّسَاءِ، أَوْ بَعَثَ بِهَا إِلَى سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ الرَّقِيقِ لِتُبَاعَ بِبِضَاعَةٍ هِيَ وَذَلِكَ الَّذِي حَمَلَتْهُ وَبُشِّرَتْ بِهِ يَوْمَ أَنْ حَمَلَتْهُ بِأَنَّهَا قَدْ حَمَلَتْ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَلَكِنَّ لِمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَبًّا مَنَعَهُ مِنَ الرِّقِّ لِيُؤَدِّيَ مَا أُعِدَّ لَهُ مِنْ رِسَالَةٍ.
Allah enggan memenangkan Abrahah agar penawanan tidak menimpa Rasul-Nya, baik saat masih berupa janin maupun setelah dilahirkan. Sebab, andai Abrahah berhasil menguasai Makkah, niscaya Baitullah akan dihancurkan, kaum lelaki dibunuh, dan kaum wanita ditawan. Dia juga pasti akan menggiring Aminah binti Wahb ke San'a bersama wanita-wanita lain yang digiring, atau mengirimnya ke salah satu pasar budak untuk dijual sebagai barang dagangan, beserta janin yang dikandungnya, yang telah dikabarkan gembira kepadanya pada hari dia mengandungnya bahwa dia sedang mengandung pemimpin umat ini. Akan tetapi, Muhammad bin Abdullah memiliki Tuhan yang melindunginya dari perbudakan agar dia dapat menunaikan risalah yang telah dipersiapkan untuknya.
وَسَارَ يَكْسُومُ فِي الْيَمَنِ سِيرًا سَيِّئًا. كَانَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ يَهْوَى سَفْكَ الدِّمَاءِ وَيَرْتَاحُ لِلظُّلْمِ الَّذِي يُوقِعُهُ بِرَعِيَّتِهِ، فَقَدْ ضَاقَ الْيَمَنِيُّونَ بِحُكْمِهِ حَتَّى إِنَّ مَوْتَهُ لَمْ يُخَفِّفْ عَنْهُمْ، فَقَدْ كَرِهُوا أَنْ يَظَلُّوا تَحْتَ حُكْمِ الْأَحْبَاشِ تُسْلَبُ مِنْهُمْ خَيْرَاتُهُمْ وَيُرْسَلُ بِهَا إِلَى الْحَبَشَةِ.
Dan Yaksum menjalankan pemerintahan di Yaman dengan cara yang sangat buruk. Dia adalah seorang yang kasar dan berhati keras, gemar menumpahkan darah, serta merasa senang dengan kezaliman yang ditimpakannya kepada rakyatnya. Sungguh, orang-orang Yaman merasa sangat menderita dengan pemerintahannya, bahkan kematiannya pun tidak meringankan penderitaan mereka, karena mereka benci untuk terus berada di bawah kekuasaan bangsa Habasyah (Etiopia) yang merampas kekayaan mereka lalu mengirimkannya ke Habasyah.
وَتَوَلَّى مَسْرُوقُ بْنُ أَبْرَهَةَ مِنْ زَوْجَتِهِ الْعَرَبِيَّةِ الْحُكْمَ بَعْدَ مَوْتِ أَخِيهِ، وَكَانَ يَحْسَبُ أَنَّ الْيَمَنِيِّينَ سَيَفْرَحُونَ بِتَوَلِّيهِ الْمُلْكَ فَأُمُّهُ مِنْهُمْ وَهُوَ يَتَكَلَّمُ الْعَرَبِيَّةَ بِلِسَانِهِمْ، وَنَسِيَ مَسْرُوقٌ أَنَّ الْيَمَنِيِّينَ لَمْ يَنْسَوْا أَنَّ أَبَاهُ قَدِ اغْتَصَبَ أُمَّهُ مِنْ زَوْجِهَا الْعَرَبِيِّ، فَهُوَ ابْنُ الْغَصْبِ وَالْمَقْتِ وَثَمَرَةُ الْقَهْرِ وَالْخِسَّةِ وَالدَّنَاءَةِ.
Kemudian Masruq bin Abrahah (dari istrinya yang berkebangsaan Arab) memegang tampuk pemerintahan setelah kematian saudaranya. Dia mengira bahwa orang-orang Yaman akan gembira dengan naik takhtanya sebagai raja karena ibunya berasal dari kalangan mereka dan dia berbicara bahasa Arab dengan lisan mereka. Namun Masruq lupa bahwa orang-orang Yaman tidak pernah lupa bahwa ayahnya dahulu telah merampas ibunya dari suaminya yang berbangsa Arab, sehingga dia dipandang sebagai anak dari hasil perampasan dan kebencian, serta buah dari pemaksaan, kehinaan, dan kenistaan.
وَضَاقَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ بِالذُّلِّ الَّذِي يَعِيشُ فِيهِ الْحِمْيَرِيُّونَ فَعَزَمَ عَلَى أَنْ يُخَلِّصَ بِلَادَهُ مِنْ حُكْمِ الْأَحْبَاشِ، وَلَكِنْ أَيْنَ الْقُوَّةُ الَّتِي يَقُودُهَا لِحَرْبِ مَسْرُوقٍ وَجُنُودِهِ وَإِرْغَامِهِمْ عَلَى الْجَلَاءِ عَنِ الْبِلَادِ، وَفَكَّرَ ابْنُ ذِي يَزَنَ وَدَبَّرَ فَلَمْ يَجِدْ إِلَّا أَنْ يَلْجَأَ إِلَى قَيْصَرَ الرُّومِ يَلْتَمِسُ مِنْهُ أَنْ يُمِدَّهُ بِالْجُنُودِ لِطَرْدِ الْأَحْبَاشِ مِنْ أَرْضِ حِمْيَرَ.
Saif bin Dzi Yazan merasa sesak dada oleh kehinaan yang dialami oleh kaum Himyar, maka dia bertekad bulat untuk membebaskan negerinya dari penjajahan bangsa Habasyah. Akan tetapi, di manakah kekuatan pasukan yang bisa dia pimpin untuk memerangi Masruq beserta tentaranya dan memaksa mereka hengkang dari negeri itu? Ibnu Dzi Yazan berpikir keras dan menyusun strategi, namun dia tidak menemukan jalan lain kecuali meminta bantuan kepada Kaisar Romawi, memohon agar sang kaisar bersedia menyokongnya dengan pasukan tentara guna mengusir bangsa Habasyah dari tanah Himyar.
وَرَاحَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ يَطْوِي الْأَرْضَ قَاصِدًا الْقُسْطَنْطِينِيَّةَ وَهُوَ يُفَكِّرُ فِي إِمْبَرَاطُورِ الرُّومِ. إِنَّهُ لَيْسَ أَوَّلَ عَرَبِيٍّ يَفْزَعُ إِلَى الْبِلَاطِ الْإِمْبَرَاطُورِيِّ، فَمُلُوكُ الْغَسَاسِنَةِ عَرَفُوا ذَلِكَ الطَّرِيقَ، وَإِنَّ امْرَأَ الْقَيْسِ قَدْ ذَهَبَ إِلَى يُوسْطِينِيانُوسَ وَنَادَمَهُ، وَتَوَطَّدَتِ الصَّدَاقَةُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قَيْصَرَ حَتَّى إِنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَهُ الْحَمَّامَ، وَلَوْلَا الْوِشَايَةُ الَّتِي مَشَى بِهَا الْوُشَاةُ بَيْنَ امْرِئِ الْقَيْسِ وَيُوسْطِينِيانُوسَ لَكَانَ امْرُؤُ الْقَيْسِ قَدْ عَادَ إِلَى عَرْشِ آبَائِهِ.
Maka mulailah Saif bin Dzi Yazan menempuh perjalanan jauh melintasi bumi menuju Konstantinopel sembari memikirkan tentang Kaisar Romawi. Dia bukanlah orang Arab pertama yang meminta pertolongan ke istana kekaisaran, sebab raja-raja Ghassan telah mengenal jalan tersebut, dan sesungguhnya Imru' al-Qais dahulu pernah pergi menemui Justinianus dan menjadi teman minumnya. Persahabatan antara dirinya dan kaisar terjalin begitu erat hingga dia biasa masuk ke pemandian bersama kaisar. Jikalau bukan karena hasutan yang disebarkan oleh para pengadu domba di antara Imru' al-Qais dan Justinianus, niscaya Imru' al-Qais telah kembali ke takhta leluhurnya.
وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ سَيْفِ بْنِ ذِي يَزَنَ أَنَّ حَمْلَةَ أَبْرَهَةَ كَانَتْ بِتَدْبِيرِ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ، وَأَنَّهَا هِيَ الَّتِي وَضَعَتْ خُطَطَهَا وَبَارَكَتْهَا لِيَتَّصِلَ نَصَارَى الْجَنُوبِ بِنَصَارَى الشَّمَالِ لِتَحْقِيقِ أَغْرَاضِ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ السِّيَاسِيَّةِ.
Dan sama sekali tidak terlintas dalam benak Saif bin Dzi Yazan bahwa serangan Abrahah dahulunya merupakan hasil rancangan Konstantinopel, dan bahwa kota itulah yang menyusun rencana-rencananya serta memberkatinya agar kaum Nasrani di selatan dapat terhubung dengan kaum Nasrani di utara demi mewujudkan tujuan-tujuan politik Konstantinopel.
وَبَلَغَ ابْنُ ذِي يَزَنَ الْبِلَاطَ الْبِيزَنْطِيَّ وَطَلَبَ الْمُثُولَ بَيْنَ يَدَيْ قَيْصَرَ لِيَبُثَّ فِي أُمُورِ الدَّوْلَةِ وَحْدَهُ.
Ibnu Dzi Yazan pun sampai di istana Bizantium dan mengajukan permohonan untuk menghadap kaisar secara langsung guna membicarakan urusan kenegaraan berdua saja.
وَرَاحَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ يَشْكُو إِلَى قَيْصَرَ مَلِكِ الرُّومِ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ ذُلٍّ وَاضْطِهَادٍ، وَسَأَلَهُ أَنْ يَبْعَثَ مَعَهُ الْجُيُوشَ لِطَرْدِ الْأَحْبَاشِ، وَيَلِيَ الْيَمَنَ الْإِمْبَرَاطُورُ الْعَظِيمُ وَيَبْعَثَ إِلَيْهِمْ مَنْ يَشَاءُ مِنَ الرُّومِ فَيَكُونَ لَهُ مُلْكُ الْيَمَنِ.
Maka mulailah Saif bin Dzi Yazan mengadukan kepada Kaisar Romawi perihal kehinaan dan penindasan yang mereka alami, lalu dia memintanya untuk mengirimkan pasukan tentara bersamanya guna mengusir bangsa Habasyah, dengan imbalan kekaisaran agung yang akan menguasai Yaman dan kaisar dapat mengutus siapa pun dari bangsa Romawi yang dikehendakinya, sehingga kerajaan Yaman menjadi milik kaisar.
وَلَمْ يَلْقَ قَيْصَرُ إِلَيْهِ سَمْعَهُ فَقَدْ كَانَ فِي ضِيقٍ لِإِخْفَاقِ حَمْلَةِ أَبْرَهَةَ، وَكَانَ فِي دَهْشَةٍ مِنْ أَنَّ الْقَدَرَ كَانَ فِي خِدْمَةِ وَثَنِيِّينَ يَعْبُدُونَ الْحِجَارَةَ وَقَدْ نَصَرَهُمْ عَلَى جَيْشٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَمَسِيحِهِ وَيَحْمِلُ الصَّلِيبَ!
Namun kaisar tidak mengacuhkannya, karena dia sendiri sedang dalam keadaan masygul akibat kegagalan ekspedisi militer Abrahah, dan dia merasa heran bagaimana takdir justru berpihak melayani kaum pagan penyembah batu serta memenangkan mereka atas pasukan yang beriman kepada Allah dan Al-Masih-Nya serta memegang simbol salib!
وَكَانَتْ صُوفْيَا تَصْغِي إِلَى التَّرْجُمَانِ وَهِيَ ضَيِّقَةُ الصَّدْرِ بِالْعَرَبِ، فَانْكِسَارُ أَبْرَهَةَ قَدْ قَلَبَ كُلَّ خُطَطِهِمْ رَأْسًا عَلَى عَقِبٍ وَغَيَّرَ تَارِيخَ الْمِنْطَقَةِ، فَقَدْ كَانَتْ صُوفْيَا وَاثِقَةً مِنَ النَّصْرِ وَكَانَتْ عَلَى يَقِينٍ مِنْ أَنَّ عَلَمَ النَّصْرَانِيَّةِ سَيَخْفِقُ عَلَى جِبَالِ مَكَّةَ وَوَاحَاتِ الْعَرَبِ فِي طُولِ الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَعَرْضِهَا.
Sementara itu, Sophia mendengarkan penuturan juru bahasa dengan dada yang sesak penuh kejengkelan terhadap orang Arab. Sebab, hancurnya Abrahah telah membalikkan seluruh rencana mereka secara total dan mengubah sejarah kawasan tersebut. Padahal sebelumnya Sophia sangat meyakini kemenangan dan merasa pasti bahwa bendera Nasrani akan berkibar di atas gunung-gunung Makkah serta oasis-oasis Arab di sepanjang dan seantero Jazirah Arab.
وَلَمْ يَسْتَطِعْ قَيْصَرُ وَلَا صُوفْيَا أَنْ يَكْتُمَا مَا يَعْتَمِلُ فِي صَدْرَيْهِمَا مِنْ ضِيقٍ، فَقَالَا لِسَيْفِ بْنِ ذِي يَزَنَ إِنَّ بِلَادَهُ بَعِيدَةٌ وَلَا رَغْبَةَ لَهُمَا فِي الْمِنْطَقَةِ!
Kaisar maupun Sophia tidak mampu lagi menyembunyikan kejengkelan yang berkecamuk di dalam dada mereka berdua. Maka mereka berdua berkata kepada Saif bin Dzi Yazan bahwa negerinya sangat jauh dan mereka berdua tidak memiliki ketertarikan terhadap kawasan tersebut!
وَخَرَجَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ مِنَ الْبِلَاطِ الْبِيزَنْطِيِّ وَهُوَ آسِفٌ حَزِينٌ، وَرَاحَ يُفَكِّرُ وَيُدَبِّرُ فَهَدَاهُ تَفْكِيرُهُ إِلَى أَنْ يَهْرَعَ إِلَى كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ فِي الْمَدَائِنِ يَسْأَلُهُ أَنْ يَبْعَثَ مَعَهُ الْجُيُوشَ لِطَرْدِ الْأَحْبَاشِ أَوْلِيَاءِ الرُّومِ مِنْ أَرْضِ حِمْيَرَ، وَكَانَ يَأْمُلُ أَنْ يَسْتَجِيبَ كِسْرَى لِنِدَائِهِ فَالْأَحْبَاشُ حُلَفَاءُ الرُّومِ أَعْدَائِهِ وَأَعْدَاءِ دِينِهِ، وَإِنْ حَاوَلَ كِسْرَى أَنْ يَبْدُوَ عَلَى الدَّوَامِ مُتَسَامِحًا.
Maka keluarlah Saif bin Dzi Yazan dari istana Bizantium dalam keadaan kecewa lagi bersedih hati. Dia mulai berpikir dan mengatur rencana, hingga pikirannya menuntunnya untuk bergegas menemui Kisra Anusyirwan di Al-Madain guna memintanya mengirimkan pasukan tentara bersamanya untuk mengusir bangsa Habasyah (yang merupakan kaki tangan Romawi) dari tanah Himyar. Dia berharap Kisra akan mengabulkan seruannya, karena bangsa Habasyah adalah sekutu Romawi yang merupakan musuh Kisra sekaligus musuh agamanya, meskipun Kisra selalu berusaha untuk tampak toleran.
وَخَرَجَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ حَتَّى أَتَى النُّعْمَانَ بْنَ الْمُنْذِرِ فِي قَصْرِ الْخَوَرْنَقِ . فَشَكَا إِلَيْهِ أَمْرَ الْحَبَشَةِ فَقَالَ لَهُ النُّعْمَانُ :
Saif bin Dzi Yazan pun pergi mengembara hingga mendatangi An-Nu'man bin al-Mundzir di Istana Al-Khawarnaq. Dia mengadukan urusan penjajahan Habasyah kepadanya, lalu An-Nu'man berkata kepadanya:
— إِنَّ لِي عَلَى كِسْرَى وَفَادَةً فِي كُلِّ عَامٍ ، فَأَقِمْ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ .
— Sesungguhnya aku memiliki jadwal kunjungan resmi menghadap Kisra pada setiap tahun, maka tinggallah di sini hingga saat itu tiba.
وَحَانَ أَوَانُ انْطِلَاقِ النُّعْمَانِ إِلَى الْمَدَائِنِ فَذَهَبَ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ مَعَهُ فَأَدْخَلَهُ عَلَى كِسْرَى . وَكَانَ كِسْرَى يَجْلِسُ فِي إِيوَانِ مَجْلِسِهِ الَّذِي فِيهِ تَاجُهُ ، وَكَانَ تَاجُهُ مِثْلَ الْمِكْيَالِ الْعَظِيمِ يُضْرَبُ فِيهِ بِالْيَاقُوتِ وَاللُّؤْلُؤِ وَالزَّبَرْجَدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، مُعَلَّقًا بِسِلْسِلَةٍ مِنْ ذَهَبٍ فِي رَأْسِ طَاقَةٍ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ ، وَكَانَتْ عُنُقُهُ لَا تَحْمِلُ تَاجًا وَإِنَّمَا يُسْتَرُ بِالثِّيَابِ حَتَّى يَجْلِسَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ ، ثُمَّ يُدْخِلُ رَأْسَهُ فِي تَاجِهِ فَإِذَا اسْتَوَى فِي مَجْلِسِهِ كُشِفَتْ عَنْهُ الثِّيَابُ ، فَأَحَسَّ سَيْفٌ هَيْبَةً لَهُ .
Ketika telah tiba waktu keberangkatan An-Nu'man menuju Al-Madain, Saif bin Dzi Yazan pergi bersamanya lalu An-Nu'man membawanya masuk menghadap Kisra. Saat itu Kisra sedang duduk di balairung singgasananya yang di sana terdapat mahkotanya. Mahkotanya berbentuk menyerupai tempayan besar yang bertahtakan batu yakut, mutiara, krisolit, emas, serta perak, yang tergantung dengan rantai emas di langit-langit kubah ruang pertemuannya tersebut. Lehernya tidak menyangga mahkota itu, melainkan mahkota tersebut ditutupi dengan kain sampai dia duduk di kursi singgasananya, barulah kemudian dia memasukkan kepalanya ke dalam mahkota tersebut. Apabila dia telah mapan bertakhta di kursinya, kain penutup itu pun disingkap, maka Saif merasakan kewibawaan yang sangat besar darinya.
دَخَلَ سَيْفٌ مِنْ بَابٍ عَالٍ مُطَأْطِئَ الرَّأْسِ ، فَقَالَ كِسْرَى . . :
Saif masuk melalui pintu yang tinggi dalam keadaan menundukkan kepalanya, lalu Kisra berkata...:
— إِنَّ هَذَا الْأَحْمَقَ يَدْخُلُ عَلَيَّ مِنْ هَذَا الْبَابِ الطَّوِيلِ ثُمَّ يُطَأْطِئُ رَأْسَهُ .
— Sesungguhnya orang bodoh ini masuk menemuiku lewat pintu yang tinggi ini, namun dia malah menundukkan kepalanya.
فَقِيلَ ذَلِكَ لِسَيْفٍ فَقَالَ :
Maka perkataan itu disampaikan kepada Saif, lalu dia menjawab:
— إِنَّمَا فَعَلْتُ ذَلِكَ لِهَمِّي لِأَنَّهُ يَضِيقُ عَنْهُ كُلُّ شَيْءٍ .
— Hanyasanya aku melakukan hal itu karena beban kesedihanku, sebab segala sesuatu terasa sempit karenanya.
وَسَمَحَ كِسْرَى لِابْنِ ذِي يَزَنَ بِالْكَلَامِ ، فَقَالَ :
Dan Kisra pun mengizinkan Ibnu Dzi Yazan untuk berbicara, maka dia berkata:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ غَلَبَتْنَا عَلَى بِلَادِنَا الْأَحْبَاشُ ، فِجِئْتُكَ لِتَنْصُرَنِي وَيَكُونَ مُلْكُ بِلَادِي لَكَ .
— Wahai Baginda Raja, bangsa Habasyah telah menguasai negeri kami, maka aku datang kepadamu agar engkau sudi menolongku dan kelak kekuasaan atas negeriku menjadi milikmu.
سَمِعَ كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ وَلَا رَيْبَ بِتَحَرُّكِ جُيُوشِ أَبْرَهَةَ لِتَسْتَوْلِيَ عَلَى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلِيَتَّصِلَ نَصَارَى الْحَبَشَةِ بِنَصَارَى غَسَّانَ وَالرُّومِ ، وَفَطِنَ إِلَى أَنَّ تِلْكَ الْحَرَكَةَ لَمْ يَكُنْ مَقْصُودًا بِهَا غَيْرَهُ ، وَبَلَغَتْهُ أَنْبَاءُ إِخْفَاقِ حَمْلَةِ الْفِيلِ فَلَمْ يَعُدْ يَخْشَى وُقُوعَ الْحِجَازِ فِي قَبْضَةِ الْأَحْبَاشِ ، وَلَمْ تَعُدْ هُنَاكَ ضَرُورَةٌ لِلْمُغَامَرَةِ فَقَالَ :
Kisra Anusyirwan tentu saja telah mendengar perihal pergerakan pasukan Abrahah yang bermaksud menguasai Jazirah Arab agar kaum Nasrani Habasyah dapat tersambung dengan kaum Nasrani Ghassan dan Romawi. Dia menyadari betul bahwa gerakan tersebut tidak lain ditujukan untuk mengincar dirinya. Namun, kabar mengenai kegagalan pasukan bergajah telah sampai kepadanya, sehingga dia tidak lagi mengkhawatirkan jatuhnya wilayah Hijaz ke dalam genggaman bangsa Habasyah, dan tidak ada lagi urgensi untuk melakukan spekulasi militer. Maka dia berkata:
— بَعُدَتْ بِلَادُكَ مَعَ قِلَّةِ خَيْرِهَا فَلَمْ أَكُنْ لِأُوَرِّطَ جَيْشًا مِنْ فَارِسَ بِأَرْضِ الْعَرَبِ ، لَا حَاجَةَ لِي بِذَلِكَ .
— Negerimu terlampau jauh ditambah lagi dengan sedikitnya sumber daya alamnya, maka aku tidak akan menjerumuskan sepasukan tentara Persia ke tanah Arab. Aku tidak butuh akan hal itu.
ثُمَّ أَجَازَهُ بِعَشَرَةِ آلَافِ دِرْهَمٍ وَافٍ وَكَسَاهُ كِسْوَةً حَسَنَةً ، فَلَمَّا قَبَضَ ذَلِكَ مِنْهُ سَيْفٌ خَرَجَ وَجَعَلَ يَنْثُرُ ذَلِكَ الْوَرِقَ لِلنَّاسِ ، فَبَلَغَ ذَلِكَ الْمَلِكَ فَقَالَ :
Kemudian raja memberinya hadiah sebanyak sepuluh ribu dirham tunai dan menganugerahinya sepasang pakaian yang bagus. Ketika Saif menerima pemberian itu, dia keluar lalu mulai menghambur-hamburkan uang perak tersebut kepada orang-orang. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada raja, maka sang raja berkata:
— إِنَّ لِهَذَا لَشَأْنًا .
— Sesungguhnya hal ini pasti memiliki suatu alasan yang besar.
ثُمَّ بَعَثَ إِلَيْهِ فَقَالَ :
Lalu raja mengutus orang untuk memanggilnya kembali dan bertanya:
— عَمَدْتَ إِلَى حِبَاءِ الْمَلِكِ تَنْثُرُهُ لِلنَّاسِ .
— Kamu sengaja mengambil pemberian berharga dari raja lalu menghamburkannya begitu saja kepada orang-orang?
فَقَالَ سَيْفٌ :
Maka Saif menjawab:
— مَا جِبَالُ أَرْضِي الَّتِي جِئْتُ مِنْهَا إِلَّا ذَهَبٌ وَفِضَّةٌ .
— Apalah artinya itu, padahal gunung-gunung di tanah airku, tempat asal aku datang, tidak lain adalah tumpukan emas dan perak.
كَانَ كِسْرَى عَلَى عِلْمٍ بِالْيَمَنِ كَمَا كَانَ الرُّومُ عَلَى عِلْمٍ بِهَا ، فَجَوَاسِيسُ الْفُرْسِ وَالرُّومِ يَذْرَعُونَهَا طُولًا وَعَرْضًا ، وَهِيَ مَيْدَانٌ مِنَ الْمَيَادِينِ الْهَامَّةِ الَّتِي يَتَصَارَعُ فِيهَا النَّسَاطِرَةُ وَالْيَعَاقِبَةُ أَصْحَابُ مَذْهَبِ وَحْدَةِ الْمَسِيحِ وَأَصْحَابُ مَذْهَبِ نَاسُوتِ الْمَسِيحِ وَلَاهُوتِهِ ، نَصَارَى الشَّرْقِ وَنَصَارَى الْغَرْبِ ، النَّصَارَى الَّذِينَ تُؤَيِّدُهُمْ فَارِسُ نِكَايَةً فِي عَدُوِّهَا وَالنَّصَارَى الَّذِينَ يَعْتَنِقُونَ مَذْهَبَ الْإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الرُّومَانِيَّةِ ، فَلَمْ يَتَحَرَّكْ طَمَعُ كِسْرَى لَمَّا سَمِعَ أَنَّ جِبَالَ الْيَمَنِ مِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ ، بَلْ رَأَى أَنْ يُنَاوِئَ الرُّومَ فِي الْيَمَنِ وَأَنْ يُقْلِقَ مَضَاجِعَهُمْ وَأَنْ يَنْزِلَ بِهِمُ الْهَزِيمَةَ بِطَرْدِ حُلَفَائِهِمْ مِنَ الْأَرْضِ الْعَرَبِيَّةِ كَمَا أَنْزَلَ بِهِمُ الْهَزِيمَةَ فِي كُلِّ مَكَانٍ .
Sebenarnya Kisra telah mengetahui seluk-beluk tentang Yaman sebagaimana Romawi pun mengetahuinya, karena mata-mata Persia dan Romawi telah menjelajahinya dari ujung ke ujung. Yaman merupakan salah satu arena penting tempat bertarungnya sekte Nestorian dan Yakobit; antara penganut paham Monofisit (kesatuan sifat Al-Masih) dan penganut paham Diafisit (kemanusiaan dan keilahian Al-Masih), yaitu antara kaum Nasrani Timur dan Nasrani Barat. Kaum Nasrani yang didukung oleh Persia semata-mata untuk merugikan musuhnya, melawan kaum Nasrani yang memeluk mazhab resmi Kekaisaran Romawi. Oleh sebab itu, ketamakan Kisra tidak terusik sedikit pun ketika mendengar bahwa gunung-gunung Yaman terbuat dari emas dan perak, melainkan dia melihat peluang untuk mengimbangi Romawi di Yaman, mengganggu ketenteraman mereka, serta menimpakan kekalahan atas mereka dengan cara mengusir sekutu-sekutu mereka dari tanah Arab, sebagaimana dia telah menimpakan kekalahan kepada mereka di berbagai tempat.
جَمَعَ كِسْرَى مَرَازِبَتَهُ فَقَالَ لَهُمْ :
Maka Kisra mengumpulkan para menteri dan penasihat militernya, lalu berkata kepada mereka:
— مَاذَا تَرَوْنَ فِي أَمْرِ هَذَا الرَّجُلِ وَمَا جَاءَ لَهُ ؟
— Bagaimana pandangan kalian mengenai urusan lelaki ini dan tujuan kedatangannya?
فَقَالَ قَائِلٌ :
Maka salah seorang dari mereka angkat bicara:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ إِنَّ فِي سُجُونِكَ رِجَالًا قَدْ حَبَسْتَهُمْ لِلْقَتْلِ ، فَلَوْ أَنَّكَ بَعَثْتَهُمْ مَعَهُ فَإِنْ هَلَكُوا كَانَ ذَلِكَ الَّذِي أَرَدْتَ بِهِمْ ، وَإِنْ ظَفِرُوا مُلْكًا ازْدَدْتَهُ .
— Wahai Baginda Raja, sesungguhnya di dalam penjara-penjaramu terdapat para tahanan yang telah engkau kurung untuk dihukum mati. Jikalau engkau mengirimkan mereka bersamanya, maka sekiranya mereka tewas, hal itu memang perkara yang engkau kehendaki atas mereka, namun jika mereka menang, maka engkau mendapatkan tambahan wilayah kekuasaan baru.
فَبَعَثَ مَعَهُ كِسْرَى مَنْ كَانَ فِي سُجُونِهِ وَكَانُوا ثَمَانَمِائَةِ رَجُلٍ ، وَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ وَهْرِزُ وَكَانَ ذَا سِنٍّ فِيهِمْ وَأَفْضَلَهُمْ حَسَبًا وَبَيْتًا ، فَخَرَجُوا فِي ثَمَانِ سَفَائِنَ قَاصِدِينَ عَدَنَ ، فَغَرِقَتْ سَفِينَتَانِ وَوَصَلَ إِلَى عَدَنَ سِتُّ سَفَائِنَ ، فَرَاحَ سَيْفٌ يَجْمَعُ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْ قَوْمِهِ ، ثُمَّ عَادَ إِلَى وَهْرِزَ يَلْوُتُ أَبَوْا أَنْ يَعِيشُوا فِي الْيَمَنِ فِي ذُلٍّ وَعَزَمُوا عَلَى أَنْ يُحَرِّرُوا بِلَادَهُمْ مِنَ الْأَحْبَاشِ الَّذِينَ جَاءُوا بِاسْمِ نُصْرَةِ إِخْوَانِهِمْ فِي الدِّينِ ، ثُمَّ أَنَاخُوا عَلَى الْبِلَادِ يَمْتَصُّونَ دِمَاءَهَا .
Maka Kisra mengirimkan bersamanya orang-orang yang berada di dalam penjaranya, yang jumlahnya sebanyak delapan ratus orang lelaki. Dia mengangkat sebagai pemimpin mereka salah seorang dari mereka sendiri yang bernama Wahriz, yang merupakan orang paling berumur di antara mereka serta memiliki garis keturunan dan kedudukan keluarga yang paling utama. Mereka pun berangkat dengan menggunakan delapan buah kapal menuju Aden. Dalam perjalanan, dua kapal tenggelam dan yang berhasil mencapai Aden hanya enam buah kapal. Saif kemudian segera mengumpulkan siapa saja yang sanggup dia himpun dari kaumnya, lalu dia kembali menghadap Wahriz bersama orang-orang yang menolak hidup dalam kehinaan di Yaman, serta telah bertekad kuat untuk membebaskan negeri mereka dari bangsa Habasyah yang dahulu datang atas nama menolong saudara seiman mereka, namun kemudian menetap di negeri tersebut seraya mengisap darah kekayaannya.
وَقَالُ سَيْفٌ لِوَهْرِزَ :
Dan Saif berkata kepada Wahriz:
— رِجْلِي مَعَ رِجْلِكَ حَتَّى نَمُوتَ جَمِيعًا أَوْ نَظْفَرَ جَمِيعًا .
— Langkah kakiku akan selalu bersama langkah kakimu, hingga kita mati bersama atau kita menang bersama.
فَقَالَ وَهْرِزُ :
Maka Wahriz menyahut:
— أَنْصَفْتَ .
— Kamu telah berkata dengan adil.
وَسَمِعَ مَسْرُوقُ بْنُ أَبْرَهَةَ بِنُزُولِ جُنُودِ الْفُرْسِ بِعَدَنَ ، فَجَهَّزَ جَيْشًا ثُمَّ انْطَلَقَ لِيُدَافِعَ عَنْ عَرْشِهِ الَّذِي تَأَلَّبَ عَلَيْهِ سَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ وَاسْتَعَانَ بِجُيُوشٍ فَارِسِيَّةٍ جَاءَتْ لِنُصْرَتِهِ ، لَا تَأْيِيدًا لِقَضِيَّتِهِ بَلْ بِسَطًا لِنُفُوذِ فَارِسَ عَلَى الْمِنْطَقَةِ .
Dan Masruq bin Abrahah pun mendengar perihal mendaratnya pasukan tentara Persia di Aden, maka dia segera mempersiapkan sepasukan tentara lalu berangkat untuk mempertahankan takhtanya yang sedang digoyang oleh Saif bin Dzi Yazan melalui bantuan pasukan tentara Persia yang datang untuk menolongnya; yang kedatangan mereka sejatinya bukan demi mendukung perjuangannya, melainkan demi menancapkan pengaruh kekuasaan Persia di kawasan tersebut.
وَدَعَا وَهْرِزُ ابْنَهُ نَوْزَادَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَخْرُجَ لِقِتَالِ مَسْرُوقٍ وَالَّذِينَ مَعَهُ ، وَلَمْ يَخْرُجْ وَهْرِزُ وَلَا سَيْفٌ مَعَ الْخَارِجِينَ فَقَدْ أَرَادَ الشَّيْخُ أَنْ يَخْتَبِرَ قِتَالَهُمْ قَبْلَ أَنْ يَضَعَ خُطَطَهُ لِلْقَضَاءِ عَلَى مَسْرُوقٍ وَجُنُودِهِ .
Wahriz memanggil putranya, Nawzad, dan memerintahkannya untuk keluar memerangi Masruq beserta orang-orang yang bersamanya. Wahriz maupun Saif tidak ikut keluar bersama orang-orang yang pergi bertempur itu, karena sang syekh (Wahriz) ingin menguji kemampuan tempur mereka sebelum ia menyusun rencana-rencananya untuk menumpas Masruq dan pasukannya.
وَانْطَلَقَ نَوْزَادُ وَمَنِ انْتَدَبَهُمْ أَبُوهُ مَعَهُ لِقِتَالِ الْأَحْبَاشِ عَلَى أَرْضِ الْيَمَنِ ، فَالْتَقَى مَسْرُوقٌ وَهُوَ عَلَى رَأْسِ فِيلِهِ بِطَلَائِعِ الْجَيْشِ الْغَرِيبِ الَّذِي جَاءَ يَتَلَمَّسُ طَرِيقَهُ ، وَبَدَأَتِ الْمَعْرَكَةُ بِالتَّرَاشُقِ بِالسِّهَامِ ، ثُمَّ مَشَى الرِّجَالُ إِلَى الرِّجَالِ يَهُزُّونَ الرِّمَاحَ ثُمَّ يُطْلِقُونَهَا إِلَى الْأَهْدَافِ الْبَشَرِيَّةِ الَّتِي كَانَتْ تَتَهَاوَى كَأَوْرَاقِ الشَّجَرِ فِي فَصْلِ الْخَرِيفِ ، وَغَطَّتِ الْجُثَثُ الْأَرْضَ ، ثُمَّ رَاحَ فِيلُ مَسْرُوقٍ يُوقِعُ الِاضْطِرَابَ فِي صُفُوفِ الْعَرَبِ وَالْفُرْسِ ، ثُمَّ صَاحَ صَائِحٌ :
Nawzad berangkat bersama orang-orang yang ditugaskan oleh ayahnya untuk memerangi orang-orang Habasyah di tanah Yaman. Maka Masruq yang berada di atas gajahnya bertemu dengan pasukan pelopor dari tentara asing yang datang mencari jalannya. Pertempuran pun dimulai dengan saling melepaskan anak panah, kemudian para prajurit saling mendekati satu sama lain sambil mengacungkan tombak lalu melontarkannya ke sasaran-sasaran manusia yang bertumbangan layaknya dedaunan pohon di musim gugur. Mayat-mayat menyelimuti tanah, kemudian gajah Masruq mulai menimbulkan kekacauan di barisan bangsa Arab dan Persia, lalu seseorang berteriak keras:
— إِنَّ نَوْزَادَ بْنَ وَهْرِزَ قَدْ قُتِلَ .
— Sesungguhnya Nawzad bin Wahriz telah gugur.
وَبَلَغَ وَهْرِزَ مَقْتَلُ ابْنِهِ فَزَادَهُ ذَلِكَ حَنَقًا عَلَى الْأَحْبَاشِ ، فَلَمْ تَعُدِ الْمَعْرَكَةُ مَعْرَكَةَ الْأَحْبَاشِ مَعَ الْيَمَنِ تَوْطِيدًا لِسُلْطَانِ كِسْرَى وَمَدًّا لِنُفُوذِهِ بَلْ أَمْسَتِ انْتِقَامًا لِابْنِهِ الَّذِي قُتِلَ بِسُيُوفِ الْأَحْبَاشِ عَلَى أَرْضِ الْعَرَبِ .
Kabar kematian putranya sampai kepada Wahriz, hal itu membuatnya semakin murka terhadap orang-orang Habasyah. Pertempuran itu bukan lagi sekadar peperangan orang Habasyah melawan Yaman demi memperkokoh kekuasaan Kisra dan memperluas pengaruhnya, melainkan telah berubah menjadi ajang balas dendam demi putranya yang terbunuh oleh pedang orang-orang Habasyah di tanah Arab.
وَخَرَجَ وَهْرِزُ وَسَيْفُ بْنُ ذِي يَزَنَ فِي جُمُوعِ الْفُرْسِ وَالْعَرَبِ وَانْطَلَقُوا حَتَّى تَوَاقَفَ النَّاسُ عَلَى مَصَافِّهِمْ ، وَعَزَمَ وَهْرِزُ عَلَى أَنْ يَقْتُلَ مَلِكَ الْيَمَنِ فَلَنْ يَشْفِيَ غَلِيلَهُ قَتْلُ جَيْشِ مَسْرُوقٍ كُلِّهِ إِذَا مَا فَرَّ مَسْرُوقٌ مِنْ يَدِهِ .
Wahriz dan Saif bin Dzi Yazan pun keluar memimpin barisan gabungan Persia dan Arab. Mereka bergerak maju hingga kedua belah pihak berdiri berhadapan di garis posisinya masing-masing. Wahriz telah bertekad bulat untuk membunuh raja Yaman (penguasa Habasyah), sebab kematian seluruh pasukan Masruq pun tidak akan dapat mengobati rasa dongkol di hatinya jika sampai Masruq lolos dari tangannya.
وَقَالَ وَهْرِزُ لِمَنْ حَوْلَهُ :
Wahriz berkata kepada orang-orang di sekitarnya:
— أَرُونِي مَلِكَهُمْ .
— Tunjukkan kepadaku raja mereka.
— أَتَرَى رَجُلًا عَلَى الْفِيلِ عاقِدًا تَاجَهُ عَلَى رَأْسِهِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ يَاقُوتَةٌ حَمْرَاءُ ؟
— Apakah engkau melihat seorang pria di atas gajah yang mengenakan mahkota di kepalanya, dan di antara kedua matanya terdapat batu yakut merah?
— نَعَمْ .
— Ya.
— ذَاكَ مَلِكُهُمْ .
— Itulah raja mereka.
— اتْرُكُوهُ .
— Biarkan dia (jangan diusik dulu).
فَوَقَفُوا طَوِيلًا يَتَرَاشَقُونَ بِالسِّهَامِ ، ثُمَّ الْتَفَتَ وَهْرِزُ إِلَى مَنْ حَوْلَهُ وَقَالَ يَسْأَلُ عَنْ مَسْرُوقٍ :
Maka mereka berdiri lama saling melontarkan anak panah, kemudian Wahriz menoleh kepada orang-orang di sekelilingnya dan bertanya tentang kondisi Masruq:
— عَلَامَ هُوَ ؟
— Di atas apa dia berada sekarang?
— قَدْ تَحَوَّلَ عَلَى الْفَرَسِ .
— Dia telah berpindah ke atas kuda.
— اتْرُكُوهُ .
— Biarkan dia.
وَاسْتَمَرَّ تَرَاشُقُ السِّهَامِ طَوِيلًا وَالسِّهَامُ تَطِيشُ أَوْ تَسْتَقِرُّ فِي الْأَفْئِدَةِ وَالصُّدُورِ وَالنُّحُورِ ، وَالْجُثَثُ تَتَهَاوَى وَأَنَّاتُ الْجَرْحَى تَتَرَدَّدُ فِي جَنَبَاتِ الْمَعْرَكَةِ وَقَدْ صَمَّ عَنْهَا الْمُقَاتِلُونَ آذَانَهُمْ ، فَقَدْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمْ مَشْغُولًا بِنَفْسِهِ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهُ ، ذَاهِلًا عَنِ الْوُجُودِ بِالْمَشَاعِرِ الثَّائِرَةِ الَّتِي تَسْتَوْلِي عَلَى وِجْدَانِهِ .
Aksi saling melepaskan anak panah terus berlanjut dalam waktu lama; anak-anak panah itu ada yang meleset dan ada pula yang menancap di hati, dada, serta leher. Mayat-mayat berjatuhan, sementara rintihan kaum yang terluka menggema di segenap penjuru medan pertempuran, namun para pejuang telah menulikan telinga mereka darinya, sebab masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri dari segala hal di sekitarnya, tidak menyadari keberadaan dunia karena luapan emosi yang membara menguasai jiwa mereka.
وَالْتَفَتَ وَهْرِزُ إِلَى مَنْ حَوْلَهُ وَقَالَ :
Wahriz menoleh kembali kepada orang-orang di sekitarnya dan berkata:
— عَلَامَ هُوَ ؟
— Di atas apa dia sekarang?
— قَدْ تَحَوَّلَ عَلَى الْبَغْلَةِ .
— Dia telah berpindah ke atas bagal (keledai persilangan).
— بِنْتُ الْحِمَارِ ! ذَلَّ وَذَلَّ مُلْكُهُ ، إِنِّي سَأَرْمِيهِ ، فَإِنْ رَأَيْتُمْ أَصْحَابَهُ لَمْ يَتَحَرَّكُوا . فَاثْبُتُوا حَتَّى آذَنَكُمْ فَإِنِّي قَدْ أَخْطَأْتُ الرَّجُلَ . وَإِنْ رَأَيْتُمُ الْقَوْمَ قَدِ اسْتَدَارُوا وَاجْتَمَعُوا حَوْلَهُ فَقَدْ أَصَبْتُ الرَّجُلَ ، فَاحْمِلُوا عَلَيْهِمْ .
— Anak keledai! Sungguh dia telah hina dan benderanglah kehinaan kerajaannya. Aku akan memanahnya sekarang. Jika kalian melihat para pengikutnya diam tidak bergerak, maka tetaplah tegak di tempat kalian hingga aku izinkan, karena itu tandanya bidikanku meleset dari orang itu. Namun, jika kalian melihat orang-orang itu berputar dan berkumpul mengerumuninya, berarti aku telah mengenainya, maka serbulah mereka!
ثُمَّ وَتَرَ قَوْسَهُ ثُمَّ رَمَاهُ فَصَكَّ الْيَاقُوتَةَ الَّتِي بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، فَتَغَلْغَلَتِ النُّشَّابَةُ فِي رَأْسِهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ قَفَاهُ وَنُكِّسَ عَنْ دَابَّتِهِ ، وَاسْتَدَارَتِ الْحَبَشَةُ وَالْتَفَتَتْ حَوْلَهُ ، وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ التَّهْلِيلِ مِنَ الْجَيْشِ الْعَرَبِيِّ الْفَارِسِيِّ فَقَدْ أَصَابَ وَهْرِزُ مَسْرُوقًا إِصَابَةً قَاتِلَةً .
Kemudian ia menarik tali busurnya lalu memanah Masruq; anak panah itu tepat menghantam batu yakut yang berada di antara kedua matanya, lalu menembus ke dalam kepalanya hingga keluar dari tengkuknya, membuat Masruq terjungkal jatuh dari tunggangannya. Orang-orang Habasyah segera berputar dan berkumpul mengelilinginya. Seketika itu pula suara gema tahlil membubung tinggi dari pasukan gabungan Arab-Persia, karena bidikan Wahriz telah mengenai Masruq dengan telak dan mematikan.
وَدَبَّ الرُّعْبُ فِي صُفُوفِ الْحَبَشَةِ فَقَدْ قُتِلَ قَائِدُهُمْ وَمَلِكُهُمْ فَدَبَّ الْيَأْسُ فِي قُلُوبِهِمْ ، وَقَبْلَ أَنْ يَفِيقُوا مِنْ هَوْلِ الصَّدْمَةِ حَمَلَ الْعَرَبُ وَالْفُرْسُ عَلَيْهِمْ حَمْلَةَ رَجُلٍ وَاحِدٍ ، وَأَعْمَلُوا السُّيُوفَ فِي رِقَابِهِمْ ، فَسَقَطَ مَنْ سَقَطَ قَتِيلًا وَفَرَّ مَنْ فَرَّ .
Rasa ngeri mulai merayap di barisan pasukan Habasyah lantaran panglima sekaligus raja mereka telah tewas, sehingga keputusasaan mencengkeram hati mereka. Sebelum mereka sempat siuman dari kedahsyatan guncangan tersebut, bangsa Arab dan Persia menyerbu mereka dengan satu gerakan serentak bagaikan satu orang, lalu menghujamkan pedang-pedang ke leher mereka; maka bertumbanganlah orang yang ditakdirkan tewas, dan larilah orang-orang yang melarikan diri.
لَا يَلْوِي عَلَى شَيْءٍ ، وَكُتِبَتِ الْهَزِيمَةُ عَلَى الْأَحْبَاشِ وَرَاحَتْ جُيُوشُ الْفُرْسِ وَسَيْفِ بْنِ ذِي يَزَنَ تَتَقَدَّمُ إِلَى صَنْعَاءَ مَزْهُوَّةً بِنَصْرِهَا .
Tanpa memedulikan apa pun lagi, kekalahan mutlak pun digariskan atas orang-orang Habasyah. Pasukan Persia dan Saif bin Dzi Yazan terus bergerak maju menuju Sana'a dengan penuh kebanggaan atas kemenangan mereka.
وَشَرَدَ ذِهْنُ سَيْفٍ وَهُوَ فِي طَرِيقِهِ إِلَى الْعَاصِمَةِ ، لَمْ يُفَكِّرْ فِي قَصْرِ مَسْرُوقٍ الَّذِي سَيُصْبِحُ مَقَرَّ مُلْكِهِ بَلْ عَادَ بِهِ الْقَهْقَرَى إِلَى ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي خَرَجَ فِيهِ أَبُوهُ ذُو يَزَنَ إِلَى كِسْرَى وَوَقَفَ بِبَابِهِ يَسْأَلُهُ النَّصْرَةَ ، وَقَدْ أَبَى كِسْرَى أَنْ يَسْتَجِيبَ لَهُ حَتَّى مَاتَ ذُو يَزَنَ بِبَابِهِ . لَيْتَ رُوحَ أَبِيهِ تُرَفْرِفُ عَلَيْهِ السَّاعَةَ لِتَرَى أَنَّ أَمَلَهُ قَدْ تَحَقَّقَ .
Pikiran Saif menerawang jauh di tengah perjalanannya menuju ibu kota. Ia tidak sedang memikirkan istana Masruq yang kelak akan menjadi pusat kerajaannya, melainkan ingatannya berputar ke belakang, mengenang hari di mana ayahnya, Dzu Yazan, pergi menghadap Kisra dan berdiri di depan pintunya untuk meminta bantuan pasukan. Kala itu Kisra menolak mengabulkan permintaannya hingga Dzu Yazan wafat di ambang pintunya. Duhai, andai saja ruh ayahnya dapat mengepakkan sayap menaunginya saat ini, niscaya ia akan melihat bahwa cita-citanya kini telah terwujud nyata.
وَرَنَّ فِي أُذُنَيْهِ الْحَدِيثُ الَّذِي دَارَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ كِسْرَى :
Dan terngianglah kembali di kedua telinganya dialog yang pernah terjadi antara dirinya dengan Kisra:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ إِنَّ لِي عِنْدَكَ مِيرَاثًا .
— Wahai Baginda Raja, sesungguhnya aku memiliki hak waris di sisimu.
أَنَا ابْنُ الشَّيْخِ الْيَمَانِيِّ ذِي يَزَنَ الَّذِي وَعَدْتَهُ أَنْ تَنْصُرَهُ فَمَاتَ بِبَابِكَ ، وَحَضَرْتُكَ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ حَقٌّ لِي وَمِيرَاثٌ يَجِبُ عَلَيْكَ الْخُرُوجُ لِي مِنْهُ . وَرَأَى كِسْرَى يَأْمُرُ لَهُ بِمَالٍ ، ثُمَّ أَفَاقَ مِنْ شُرُودِهِ وَوَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى بَابِ صَنْعَاءَ فَلَمْ تُرَفْ عَلَى شَفَتَيْهِ بَسْمَةٌ بَلْ سَالَتِ الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ .
Aku adalah putra dari syekh asal Yaman, Dzu Yazan, yang telah engkau janjikan untuk membantunya namun ia wafat di ambang pintumu. Kini aku datang menghadapmu, maka janji itu adalah hak bagiku dan warisan yang wajib engkau tunaikan untukku. (Dalam bayangannya) ia melihat Kisra memerintahkan pemberian harta untuknya, kemudian ia pun tersadar dari lamunannya tatkala pandangan matanya tertumpu pada gerbang kota Sana'a. Tiada senyuman yang merekah di bibirnya, melainkan air mata yang justru mengalir membasahi kedua pipinya.
وَأَقْبَلَ وَهْرِزُ لِيَدْخُلَ صَنْعَاءَ وَقَدْ رُفِعَتْ رَايَةُ الْجَيْشِ تُخْفِقُ بِالنَّصْرِ ، فَلَمْ تَمُرِّ الرَّايَةُ مِنْ بَابِ صَنْعَاءَ وَهَمَّ حَامِلُ الرَّايَةِ بِأَنْ يَنْكِسَهَا ، وَرَأَى وَهْرِزُ ذَلِكَ فَغَضِبَ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ وَقَالَ :
Wahriz datang mendekat hendak memasuki Sana'a, sementara panji pasukan telah dikibarkan tinggi melambangkan kemenangan. Namun, panji itu tidak muat melewati gerbang Sana'a karena terlalu tinggi, sehingga pembawa panji bermaksud untuk mencondongkannya (menurunkannya sedikit). Melihat hal tersebut, Wahriz meradang hingga raut wajahnya berubah, lalu berseru:
— لَا تَدْخُلُ رَايَتِي مُنَكَّسَةً أَبَدًا . اهْدِمُوا الْبَابَ .
— Panjiku tidak boleh dimasukkan dalam keadaan tertunduk sedikit pun selama-lamanya! Hancurkan gerbang itu!
وَوَعَمِلَتِ الْمَعَاوِلُ فِي بَابِ صَنْعَاءَ لِيَدْخُلَ وَهْرِزُ وَجُنُودُهُ وَجُنُودُ ابْنِ ذِي يَزَنَ وَالرَّايَةُ عَالِيَةٌ خَافِقَةٌ مَرْفُوعَةٌ .
Maka beliung-beliung dihantamkan menghancurkan gerbang Sana'a agar Wahriz beserta pasukannya serta pasukan Ibnu Dzi Yazan dapat masuk dengan panji yang tetap tegak tinggi, berkibar, dan terhormat.
وَانْطَلَقَ وَهْرِزُ وَسَيْفٌ وَأَشْرَافُ الْقَوْمِ إِلَى الْقَصْرِ ، وَجَاءَتِ الْوُفُودُ لِتُهَنِّئَ وَهْرِزَ وَسَيْفَ بْنَ ذِي يَزَنَ عَلَى النَّصْرِ الْمُؤَزَّرِ عَلَى الْحَبَشَةِ ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَهْرِزُ إِلَى كِسْرَى وَمَلَّكَ سَيْفًا عَلَى الْيَمَنِ . وَتَهَلَّلَ سَيْفٌ بِالْفَرَحِ وَلَمْ يُفَكِّرْ فِي أَنَّهُ اسْتَبْدَلَ الْحَبَشَةَ بِالْفُرْسِ وَأَنَّهُ لَمْ يُحَرِّرْ بِلَادَهُ مِنْ سَيْطَرَةِ الدُّوَلِ الْأَجْنَبِيَّةِ ، فَقَدْ أَصْبَحَ غَايَةَ
Wahriz, Saif, dan para pemuka kaum bergegas menuju istana. Delegasi-delegasi pun berdatangan guna menyampaikan ucapan selamat kepada Wahriz dan Saif bin Dzi Yazan atas kemenangan gemilang yang diraih atas Habasyah. Setelah itu, Wahriz bertolak kembali menghadap Kisra dan mengangkat Saif sebagai raja atas Yaman. Wajah Saif berseri-seri penuh kegembiraan; ia sama sekali tidak berpikir bahwa dirinya sebatas mengganti penjajahan Habasyah dengan Persia, dan bahwa ia sejatinya belum memerdekakan negerinya dari cengkeraman kuasa asing. Sebab, baginya puncak...
أَيْ مَلِكٍ عَرَبِيٍّ فِي الشَّرْقِ الْأَوْسَطِ أَنْ يَرْضَى عَنْهُ كِسْرَى أَوْ قَيْصَرُ ، وَأَنْ يُؤَيِّدَ مُلْكَهُ قُوَّةٌ مِنَ الْقُوَّتَيْنِ الْعَظِيمَتَيْنِ الْمُسَيْطِرَتَيْنِ عَلَى الْعَالَمِ الْمُتَنَازِعَتَيْنِ لِيَخْلُوَ لِإِحْدَاهُمَا وَجْهُ الْأَرْضِ ، وَقَدِ انْضَمَّ بَعْضُ مُلُوكِ الْعَرَبِ لِلشَّرْقِ وَانْضَمَّ بَعْضُهُمُ الْآخَرُ لِلْغَرْبِ ، وَوَضَعَ كُلُّ حَاكِمٍ مِنْهُمْ مَوَارِدَ بِلَادِهِ فِي خِدْمَةِ سَيِّدِهِ الَّذِي يُؤَيِّدُهُ ، وَلَمْ يَدُرْ بِخَلَدِ حَاكِمٍ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَنَّ فِي مَقْدُورِ رَجُلٍ مِنَ الْعَرَبِ أَنْ يَجْمَعَ كَلِمَةَ الْعَرَبِ الْمُتَنَافِرَةِ وَأَنْ يُؤَلِّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ، وَأَنْ يَحْمِلَهُمْ لِلْقَضَاءِ عَلَى الْإِمْبَرَاطُورِيَّتَيْنِ الْعَاتِيَتَيْنِ إِمْبَرَاطُورِيَّةِ الْفُرْسِ وَإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الرُّومِ ، إِمْبَرَاطُورِيَّةِ الشَّرْقِ وَإِمْبَرَاطُورِيَّةِ الْغَرْبِ ، فَقَدْ كَانَ ذَلِكَ يَسْتَعْصِي حَتَّى عَلَى الْأَحْلَامِ .
...harapan setiap raja Arab di Timur Tengah kala itu hanyalah keridaan dari Kisra atau Kaisar demi menyokong kekuasaannya melalui salah satu dari dua kekuatan adidaya dunia yang sedang bertikai memperebutkan bumi. Sebagian raja Arab berpihak ke Timur (Persia) dan sebagian lainnya bersekutu dengan Barat (Romawi). Setiap penguasa menyerahkan sumber daya negerinya demi melayani majikan yang melindunginya. Tiada terlintas sedikit pun di benak seorang penguasa pun dari mereka, bahwa kelak ada seorang lelaki dari bangsa Arab yang mampu menyatukan suara Arab yang tercerai-berai, menautkan hati mereka, serta memimpin mereka untuk menumbangkan dua imperium raksasa yang perkasa: Imperium Persia dan Imperium Romawi, imperium Timur dan imperium Barat, karena hal semacam itu dipandang mustahil terjadi walau dalam mimpi sekalipun.
وَفِي دَارٍ مِنْ دُورِ بَنِي هَاشِمٍ فِي مَكَّةَ ، بَلْ فِي دَارِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بِالذَّاتِ ، فِي دَارِ الذَّبِيحِ الَّذِي فَدَاهُ رَبُّهُ بِمِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ لِيَتَزَوَّجَ فَتَاةَ بَنِي زَهْرَةَ لِتَحْمِلَ مِنْهُ بِسَيِّدِ الْبَشَرِ . كَانَتْ آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ تَضَعُ الْغُلَامَ الَّذِي دَعَا إِبْرَاهِيمُ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّهُمَا وَهُمَا يُقِيمَانِ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ أَنْ يَبْعَثَ فِي ذُرِّيَّتِهِمَا رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ، وَالَّذِي بَشَّرَ بِهِ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ ، الْغُلَامَ الَّذِي سَيَرْفَعُ الْعَرَبَ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ، لِيُصْبِحُوا مُعَلِّمِينَ لِلْبَشَرِيَّةِ بَعْدَ أَنْ كَانُوا فِي الْجَهَالَةِ يَعْمَهُونَ ، الْغُلَامَ الَّذِي سَيُرْسِلُهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ .
Namun di salah satu rumah milik Bani Hasyim di Mekah, tepatnya di rumah Abdullah bin Abdul Muthalib—sang lelaki yang hendak disembelih (adz-Dzabih) lalu ditebus oleh Tuhannya dengan seratus ekor unta agar ia dapat menikahi gadis Bani Zahrah hingga mengandung sang Penghulu Manusia—Aminah binti Wahb tengah melahirkan seorang bayi laki-laki. Sosok anak yang dahulunya dimohonkan oleh Ibrahim dan Ismail kepada Tuhan mereka saat menegakkan fondasi Baitullah, agar diutus di tengah keturunan mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan Al-Kitab beserta hikmah, serta menyucikan mereka. Dialah yang dikabarkan kelahirannya oleh Musa, Isa, dan para Nabi terdahulu; seorang anak yang kelak akan mengangkat derajat bangsa Arab, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya benderang guna menjadi guru-guru bagi umat manusia setelah sekian lama terombang-ambing di dalam kejahilan, seorang anak laki-laki yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi semesta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar