كَانَ كِسْرَى أَنُوشِرْوَانَ فِي إِيوَانِهِ يُفَكِّرُ فِي مَكَّةَ فَخَطَرَتِ الْحِيرَةُ عَلَى ذِهْنِهِ فَلَمْ يَعُدْ عَلَيْهَا أَحَدٌ مِنْ آلِ الْمُنْذِرِ ، فَقَدْ مَلَّكَ كِسْرَى بْنُ قَبِيصَةَ الطَّائِيَّ عَلَيْهَا إِلَى أَنْ يَرَى رَأْيَهُ فَمَكَثَ مُمَلَّكًا عَلَيْهَا أَشْهُرًا ، وَلَمْ يَجِدْ كِسْرَى أَحَدًا يَرْضَاهُ فَقَالَ :
Kisra Anusyirwan berada di istananya sedang memikirkan tentang Makkah, lalu terlintaslah Al-Hirah dalam benaknya karena tidak ada lagi seorang pun dari keluarga Al-Mundzir yang memimpinnya, sebab Kisra telah mengangkat Ibnu Qabishah Ath-Tha'i sebagai penguasa atasnya hingga ia menentukan keputusannya. Ia menetap sebagai penguasa selama beberapa bulan, dan Kisra belum menemukan seorang pun yang ia ridai, lalu ia berkata:
— لَأَبْعَثَنَّ إِلَى الْحِيرَةِ اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفًا مِنَ الْأَسَاوِرَةِ ، وَلَأُمَلِّكَنَّ عَلَيْهِمْ REجُلًا مِنَ الْفُرْسِ ، وَلَآ مُرَنَّهُمْ أَنْ يَنْزِلُوا عَلَى الْعَرَبِ فِي دُورِهِمْ وَيَمْلِكُوا عَلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ .
— Aku benar-benar akan mengirim dua belas ribu pasukan berkuda ke Al-Hirah, dan aku akan mengangkat seorang laki-laki dari Persia sebagai penguasa atas mereka, dan aku akan memerintahkan mereka untuk menduduki rumah-rumah orang Arab serta menguasai harta benda dan wanita-wanita mereka.
وَكَانَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ وَاقِفًا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ وَقَالَ :
Dan Adi bin Zaid sedang berdiri di hadapannya, lalu ia menghadap kepadanya and berkata:
— وَيْحَكَ يَا عَدِيُّ ! مَنْ بَقِيَ مِنْ آلِ الْمُنْذِرِ ؟ وَهَلْ فِيهِمْ أَحَدٌ فِيهِ خَيْرٌ ؟
— Celaka kamu wahai Adi! Siapa yang tersisa dari keluarga Al-Mundzir? Dan apakah di antara mereka ada seseorang yang memiliki kebaikan?
— نَعَمْ أَيُّهَا الْمَلِكُ السَّعِيدُ إِنَّ فِي وَلَدِ الْمُنْذِرِ لَبَقِيَّةً ، وَفِيهِمْ كُلِّهِمْ خَيْرٌ .
— Ya, wahai raja yang bahagia, sesungguhnya pada anak-anak Al-Mundzir masih ada yang tersisa, dan pada mereka semua terdapat kebaikan.
— ابْعَثْ إِلَيْهِمْ فَأَحْضِرْهُمْ .
— Utuslah seseorang kepada mereka dan hadirkanlah mereka!
فَبَعَثَ عَدِيٌّ إِلَيْهِمْ فَأَحْضَرَهُمْ وَأَنْزَلَهُمْ جَمِيعًا عِنْدَهُ ، ثُمَّ بَعَثَ إِلَى النُّعْمَانِ وَكَانَ قَدْ تَزَوَّجَ هِنْدًا ابْنَتَهُ وَقَالَ لَهُ :
Maka Adi mengirim utusan kepada mereka lalu menghadirkan mereka dan menempatkan mereka semua di kediamannya, kemudian ia mengirim utusan kepada An-Nu'man yang telah menikahi Hindun, putrinya, dan ia berkata kepadanya:
— لَسْتُ أُمَلِّكُ غَيْرَكَ فَلَا يُوحِشَنَّكَ مَا أَفْضُلُ بِهِ إِخْوَتَكَ عَلَيْكَ مِنَ الْكَرَامَةِ ، فَإِنِّي إِنَّمَا أَغْتَرُّهُمْ بِذَلِكَ .
— Aku tidak akan menjadikan orang lain sebagai raja selain dirimu, maka janganlah membuatmu berkecil hati atas kemuliaan yang aku lebihkan kepada saudara-saudaramu atas dirimu, karena sesungguhnya aku hanyalah memperdaya mereka dengan hal itu.
وَرَاحَ يُفَضِّلُ إِخْوَتَهُ جَمِيعًا عَلَيْهِ فِي النُّزُلِ وَالْإِكْرَامِ وَالْمُلَازَمَةِ وَيُرِيهِمْ تَنَقُّصًا لِلنُّعْمَانِ ، وَأَنَّهُ غَيْرُ طَامِعٍ فِي تَمَامِ أَمْرٍ عَلَى يَدِهِ ، وَجَعَلَ يَخْلُو بِهِمْ رَجُلًا رَجُلًا فَيَقُولُ :
Dan ia mulai melebihkan semua saudaranya atas dirinya dalam hal tempat tinggal, penghormatan, dan kedekatan, serta memperlihatkan kepada mereka sikap merendahkan terhadap An-Nu'man, dan seolah-olah ia tidak berharap urusan ini akan selesai di tangannya. Ia pun mulai menyendiri dengan mereka satu per satu lalu berkata:
— إِذَا أَدْخَلْتُكُمْ عَلَى الْمَلِكِ فَالْبَسُوا أَفْخَرَ ثِيَابِكُمْ وَأَجْمَلَهَا ، وَإِذَا دَعَا لَكُم بِالطَّعَامِ لِتَأْكُلُوا فَتَبَاطَئُوا فِي الْأَكْلِ وَصَغِّرُوا اللُّقَمَ وَنَزِرُوا مَا تَأْكُلُونَ ، فَإِذَا قَالَ لَكُمْ : أَتَكْفُونَنِي الْعَرَبَ ؟ فَقُولُوا : نَعَمْ . فَإِذَا قَالَ لَكُمْ : فَإِنْ شَذَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ عَنِ الطَّاعَةِ وَأَفْسَدَ أَتَكْفُونَنِيهِ ؟ فَقُولُوا : لَا . إِنَّ بَعْضَنَا لَا يَقْدِرُ عَلَى بَعْضٍ ، لِيَهَابَكُمْ وَلَا يَطْمَعَ فِي تَفَرُّقِكُمْ ، وَيَعْلَمَ أَنَّ لِلْعَرَبِ مَنَعَةً وَبَأْسًا .
— Jika aku memasukkan kalian ke hadapan raja, maka pakailah pakaian kalian yang paling mewah dan paling indah. Dan jika ia menghidangkan makanan untuk kalian makan, maka perlambatlah dalam makan, perkecillah suapan, dan sedikitkanlah apa yang kalian makan. Lalu jika ia bertanya kepada kalian: "Apakah kalian bisa mengatasi orang Arab untukku?" Maka katakanlah: "Ya." Dan jika ia bertanya kepada kalian: "Jika salah seorang dari kalian keluar dari ketaatan dan berbuat kerusakan, apakah kalian bisa mengatasinya untukku?" Maka katakanlah: "Tidak, sesungguhnya sebagian dari kami tidak mampu menguasai sebagian yang lain," agar ia segan kepada kalian dan tidak memanfaatkan perpecahan kalian, serta mengetahui bahwa orang Arab memiliki pertahanan dan kekuatan.
فَقَبِلُوا مِنْهُ ، وَخَلَا بِالنُّعْمَانِ فَقَالَ لَهُ :
Maka mereka menerima nasihat itu darinya. Kemudian ia menyendiri dengan An-Nu'man lalu berkata kepadanya:
— الْبَسْ ثِيَابَ السَّفَرِ وَادْخُلْ مُتَقَلِّدًا سَيْفَكَ ، وَإِذَا جَلَسْتَ لِلْأَكْلِ فَعَظِّمِ اللُّقَمَ وَأَسْرِعِ الْمَضْغَ وَالْبَلْعَ وَزِدْ فِي الْأَكْلِ وَتَجَوَّعْ قَبْلَ ذَلِكَ ، فَإِنَّ كِسْرَى يُعْجِبُهُ كَثْرَةُ الْأَكْلِ مِنَ الْعَرَبِ خَاصَّةً ، وَيَرَى أَنْ لَا خَيْرَ فِي الْعَرَبِيِّ إِذَا لَمْ يَكُنْ أَكُولًا شَرِهًا وَلَا سِيَّمَا إِذَا رَأَى غَيْرَ طَعَامِهِ وَمَا لَا عَهْدَ لَهُ بِمِثْلِهِ ، وَإِذَا سَأَلَكَ هَلْ تَكْفِينِي الْعَرَبَ ؟ فَقَلْ : نَعَمْ . فَإِذَا قَالَ لَكَ : فَمَن لِي بِإِخْوَتِكَ ؟ فَقُلْ لَهُ : إِنْ عَجَزْتُ عَنْهُمْ فَإِنِّي عَنْ غَيْرِهِمْ لَأَعْجَزُ .
— Pakailah pakaian perjalanan dan masuklah dengan menyandang pedangmu. Jika kamu duduk untuk makan, maka perbesarlah suapan, percepatlah mengunyah dan menelan, serta perbanyaklah makan dan buatlah dirimu lapar sebelum itu, karena Kisra menyukai banyaknya makan khususnya dari orang Arab, dan ia berpendapat tidak ada kebaikan pada orang Arab jika ia tidak kuat makan dengan lahap, terlebih lagi jika melihat makanan selain makanannya dan apa yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Dan jika ia bertanya kepadamu: "Apakah kamu bisa mengatasi orang Arab untukku?" Maka katakanlah: "Ya." Lalu jika ia bertanya kepadamu: "Maka siapa yang menjamin saudara-saudaramu untukku?" Katakanlah kepadanya: "Jika aku lemah mengatasi mereka, maka sesungguhnya terhadap selain mereka aku pasti lebih lemah lagi."
وَجَاءَ بَنُو مَرِينَا إِلَى الْأَسْوَدِ بْنِ الْمُنْذِرِ وَكَانُوا قَدْ أَرْضَعُوهُ فِيهِمْ وَرَبَّوهُ ، وَخَلَا بِهِ عَدِيُّ بْنُ مَرِينَا فَسَأَلَهُ عَمَّا أَوْصَاهُ بِهِ عَدِيٌّ فَأَخْبَرَهُ ، فَقَالَ :
Dan datanglah Bani Marina kepada Al-Aswad bin Al-Mundzir, yang mana mereka telah menyusui dan merawatnya di kalangan mereka, lalu Adi bin Marina menyendiri bersamanya dan bertanya tentang apa yang disarankan oleh Adi (bin Zaid) kepadanya, maka ia pun memberitahukannya. Lalu Adi bin Marina berkata:
— غَشَّكَ وَالصَّلِيبِ وَالْمَعْمُودِيَّةِ وَمَا نَصَحَكَ . وَلَئِنْ أَطَعْتَنِي لَتُخَالِفَنَّ كُلَّ مَا أَمَرَكَ بِهِ وَلَتَمْلِكَنَّ ، وَلَئِنْ عَصَيْتَنِي لَيَمْلِكَنَّ النُّعْمَانُ ، وَلَا يَغُرَّنَّكَ مَا أَرَاكَ مِنَ الْإِكْرَامِ وَالتَّفْضِيلِ عَلَى النُّعْمَانِ فَإِنَّ ذَلِكَ دَهَاءٌ فِيهِ وَمَكْرٌ ، وَإِنَّ هَذِهِ الْمَعْدِيَّةَ لَا تَخْلُو مِنْ مَكْرٍ وَحِيلَةٍ .
— Dia telah menipumu, demi salib dan pembaptisan, dan ia tidak menasihatimu dengan tulus. Jika kamu menaatiku, kamu pasti akan menyelisihi semua yang dia perintahkan kepadamu dan kamu akan menjadi raja. Namun jika kamu mendurhakai aku, pastilah An-Nu'man yang akan menjadi raja. Janganlah teperdaya oleh penghormatan dan pengutamaan atas An-Nu'man yang ia perlihatkan kepadamu, karena sesungguhnya hal itu adalah kelicikan dan makar darinya, dan sesungguhnya keluarga keturunan Adi (Al-Ma'diyyah) ini tidak pernah lepas dari makar dan tipu muslihat.
— إِنَّ عَدِيًّا لَمْ يَأْلُنِي نُصْحًا وَهُوَ أَعْلَمُ بِكِسْرَى مِنْكَ ، وَإِنْ خَالَفْتُهُ أَوْحَشْتُهُ وَأَفْسَدْتُ عَلَيَّ ، وَهُوَ جَاءَ بِنَا وَوَصَفَنَا وَإِلَى قَوْلِهِ يَرْجِعُ كِسْرَى .
— Sesungguhnya Adi tidak pernah menahan nasihatnya untukku, dan dia lebih mengetahui tentang Kisra daripada dirimu. Jika aku menyelisihinya, aku akan membuatnya menjauh dan merusak urusanku, padahal dialah yang membawa kami dan memuji kami, dan kepada perkataannyalah Kisra merujuk.
وَرَاحَ الرَّجُلُ يَبْذُلُ لِلْأَسْوَدِ النَّصِيحَةَ وَالْأَسْوَدُ مُعْرِضٌ عَنْهُ ، فَلَمَّا أَيِسَ مِنْ قَبُولِهِ مِنْهُ قَالَ :
Dan lelaki itu (Adi bin Marina) terus mencurahkan nasihatnya kepada Al-Aswad namun Al-Aswad tetap berpaling darinya. Ketika ia telah putus asa dari diterimanya nasihat tersebut, ia berkata:
— سَتَعْلَمُ .
— Kelak kamu akan tahu.
وَدَعَا بِهِمْ كِسْرَى فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ جَمَالُهُمْ وَكَمَالُهُمْ ، وَرَأَى رِجَالًا قَلَّمَا رَأَى مِثْلَهُمْ ، فَدَعَا لَهُمْ بِالطَّعَامِ فَفَعَلُوا مَا أَمَرَهُمْ بِهِ عَدِيٌّ ، فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى النُّعْمَانِ مِنْ بَيْنِهِمْ وَيَتَأَمَّلُ أَكْلَهُ ، فَقَالَ لِعَدِيٍّ بِالْفَارِسِيَّةِ :
Dan Kisra memanggil mereka, maka ketika mereka masuk ke hadapannya, ketampanan dan kesempurnaan perawakan mereka membuatnya kagum, dan ia melihat sosok-sosok lelaki yang jarang ia lihat seumpama mereka. Lalu ia menghidangkan makanan untuk mereka, maka mereka pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Adi kepada mereka. Di antara mereka, Kisra mulai memandang kepada An-Nu'man dan memperhatikan caranya makan, lalu ia berkata kepada Adi dalam bahasa Persia:
— إِنْ يَكُنْ فِي أَحَدِهِمْ خَيْرٌ فَفِي هَذَا .
— Jika ada kebaikan pada salah seorang dari mereka, maka itu ada pada orang ini.
فَلَمَّا غَسَلُوا أَيْدِيَهُمْ رَاحَ يُوعِدُ بِهِمْ رَجُلًا رَجُلًا فَيَقُولُ لَهُ :
Maka ketika mereka telah mencuci tangan mereka, Kisra mulai menawarkan janji setia kepada mereka satu per satu seraya bertanya kepadanya:
— أَتَكْفِينِي الْعَرَبَ ؟
— Apakah kamu bisa mengatasi orang Arab untukku?
— نَعَمْ أَكْفِيكَهَا كُلَّهَا إِلَّا إِخْوَتِي .
— Ya, aku bisa mengatasinya untukmu seluruhnya, kecuali saudara-saudaraku.
وَدَخَلَ النُّعْمَانُ آخِرَ مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي ثِيَابِ السَّفَرِ مُتَقَلِّدًا سَيْفَهُ ، فَرَاحَ كِسْرَى يَرْنو إِلَيْهِ فِي إِعْجَابٍ وَإِنْ كَانَ أَحْمَرَ أَبْرَشَ قَصِيرًا وَلَمْ يَكُنْ فِي مِثْلِ جَمَالِ إِخْوَتِهِ « الْأَشَاهِبِ » ، وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ يَهُودِيَّةً مِنْ أَهْلِ فَدَكَ ، فَمَا كَانَ الْفُرْسُ يَضْطَهِدُونَ الْيَهُودَ كَمَا يَفْعَلُ الرُّومُ ، ثُمَّ قَالَ لَهُ :
Dan masuklah An-Nu'man sebagai orang terakhir yang menemuinya, dalam keadaan mengenakan pakaian perjalanan dan menyandang pedangnya. Maka Kisra mulai memandangnya dengan penuh kekaguman, walaupun ia berkulit kemerahan, berbintik-bintik, pendek, dan tidak memiliki ketampanan seperti saudara-saudaranya yang berkulit putih bersih (Al-Asyahib), dan meskipun ibunya adalah seorang wanita Yahudi dari penduduk Fadak, karena orang Persia tidak menindas kaum Yahudi sebagaimana yang dilakukan oleh orang Romawi. Kemudian Kisra berkata kepadanya:
— أَتَكْفِينِي الْعَرَبَ ؟
— Apakah kamu bisa mengatasi orang Arab untukku?
— فَكَيْفَ لِي بِإِخْوَتِكَ .
— Maka bagaimana jaminanmu atas saudara-saudaramu?
— إِنْ عَجَزْتُ عَنْهُمْ فَأَنَا عَنْ غَيْرِهِمْ أَعْجَزُ .
— Jika aku lemah menghadapi mereka, maka terhadap selain mereka aku pasti lebih lemah lagi.
فَمَلَّكَهُ كِسْرَى عَلَى الْحِيرَةِ وَخَلَعَ عَلَيْهِ وَأَلْبَسَهُ تَاجًا قِيمَتُهُ سِتُّونَ أَلْفَ دِرْهَمٍ فِيهِ اللُّؤْلُؤُ وَالذَّهَبُ . فَلَمَّا خَرَجَ وَقَدْ مُلِّكَ قَالَ عَدِيُّ بْنُ مَرِينَا لِلْأَسْوَدِ :
Maka Kisra mengangkatnya sebagai raja atas Al-Hirah, menganugerahinya pakaian kehormatan, dan memakaikannya mahkota seharga enam puluh ribu dirham yang bertaburkan mutiara dan emas. Maka tatkala ia keluar dalam keadaan telah dinobatkan sebagai raja, Adi bin Marina berkata kepada Al-Aswad:
— دُونَكَ عُقْبَى خِلَافِكَ لِي .
— Terimalah akibat dari penolakanmu terhadapku.
وَخَشِيَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ مَكْرَ عَدِيِّ بْنِ مَرِينَا ، فَصَنَعَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ طَعَامًا وَأَرْسَلَ إِلَى ابْنِ مَرِينَا أَنِ ائْتِنِي بِمَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّ لِي حَاجَةً . فَأَتَى ابْنُ مَرِينَا فِي نَاسٍ فَتَغَدَّوْا ، فَقَالَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ لِابْنِ مَرِينَا :
Dan Adi bin Zaid mengkhawatirkan makar dari Adi bin Marina, maka Adi bin Zaid membuat hidangan makanan dan mengirim utusan kepada Ibnu Marina agar: "Datanglah kepadaku bersama orang yang kamu sukai karena sesungguhnya aku memiliki suatu keperluan." Maka Ibnu Marina datang bersama beberapa orang lalu mereka makan siang, kemudian Adi bin Zaid berkata kepada Ibnu Marina:
— يَا عَدِيُّ إِنَّ أَحَقَّ مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ ثُمَّ لَمْ يَلُمْ عَلَيْهِ مَنْ كَانَ مِثْلُكَ ، وَإِنِّي قَدْ عَرَفْتُ أَنَّ صَاحِبَكَ الْأَسْوَدَ بْنَ الْمُنْذِرِ كَانَ أَحَبَّ إِلَيْكَ أَنْ يُمَلَّكَ مِنْ صَاحِبِي النُّعْمَانِ ، فَلَا تَلُمْنِي عَلَى شَيْءٍ كُنْتُ عَلَى مِثْلِهِ ، وَأَنَا أُحِبُّ أَلَّا تَحْقِدَ عَلَيَّ شَيْئًا لَوْ قَدَرْتَ عَلَيْهِ رَكِبْتَهُ . وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ تُعْطِيَنِي مِنْ نَفْسِكَ مَا أُعْطِيكَ مِنْ نَفْسِي فَإِنَّ نَصِيبِي فِي هَذَا الْأَمْرِ لَيْسَ بِأَوْفَرَ مِنْ نَصِيبِكَ .
— Wahai Adi, sesungguhnya orang yang paling berhak mengetahui kebenaran lalu tidak mencelanya adalah orang sepertimu. Dan sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa sahabatmu, Al-Aswad bin Al-Mundzir, lebih kamu sukai untuk menjadi raja daripada sahabatku, An-Nu'man. Maka janganlah mencelaku atas sesuatu yang mana kamu pun akan melakukan hal yang sama sepertinya, dan aku ingin agar kamu tidak menyimpan dendam kepadaku atas sesuatu yang andaikata kamu mampu niscaya kamu pun akan melakukannya. Dan aku ingin agar kamu memberikan komitmen dari dirimu kepadaku sebagaimana aku memberikan komitmen diriku kepadamu, karena bagianku dalam urusan ini tidaklah lebih banyak daripada bagianmu.
وَقَامَ فَحَلَفَ أَلَّا يَهْجُوَهُ أَبَدًا وَلَا يَبْغِيَهُ غَائِلَةً وَلَا يَزْوَى عَنْهُ خَيْرًا أَبَدًا ، فَلَمَّا فَرَغَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَامَ عَدِيُّ بْنُ مَرِينَا فَحَلَفَ بِمِثْلِ يَمِينِهِ وَإِنْ كَانَ قَلْبُهُ لَمْ يَصْفَحْ أَبَدًا .
وَخَرَجَ النُّعْمَانُ حَتَّى نَزَلَ الْحِيرَةَ وَدَخَلَ قَصْرَ الْخَوَرْنَقِ ، فَقَالَ عَدِيُّ بْنُ مَرِينَا لِعَدِيِّ بْنِ زَيْدٍ :
Dan ia berdiri lalu bersumpah tidak akan mencelanya selama-lamanya, tidak akan mencari-cari kebinasaannya, dan tidak akan menghalanginya dari kebaikan sama sekali. Maka setelah Adi bin Zaid selesai, Adi bin Marina berdiri lalu bersumpah dengan sumpah yang serupa, walaupun hatinya tidak pernah memaafkannya sama sekali.
Dan An-Nu'man pergi hingga singgah di Al-Hirah dan memasuki istana Al-Khawarnaq, lalu Adi bin Marina berkata kepada Adi bin Zaid:
أَلَا بَلِّـــــغْ عَدِيًّـــــا عَنْ عَدِيٍّ فَلَا تَجْزَعْ وَإِنْ رَثَّتْ ( ضَعُفَتْ ) قُوَاكَا
[Shadr] Ketahuilah, sampaikanlah pesan ini kepada Adi (bin Zaid) dari Adi (bin Marina):
[Ajuz] Janganlah engkau berkeluh kesah mendalam meskipun kekuatanmu kini mulai rapuh melemah.
هَيَاكِلُنَا تَبِـــــيرُكَ غَيْرَ فَـــــقْرٍ لِتَحْمَدَ أَوْ يِتِمَّ بِهَا غِنَـــــاكَا
[Shadr] Lembaga-lembaga kekuasaan (harta) kami sengaja membiarkanmu bertahta tanpa menjatuhkanmu dalam kemiskinan,
[Ajuz] Agar engkau memuji syukur atau agar dengannya kesempurnaan kekayaanmu menjadi lengkap merata.
فَإِنْ تَظْفَرْ فَلَمْ تَظْفَرْ حَمِيدًا وَإِنْ تُعْطَبْ فَلَا يَعْدُدْ سِوَاكَا
[Shadr] Maka jikapun engkau berhasil meraih kemenangan, engkau tidak menang dalam keadaan terpuji secara kesatria,
[Ajuz] Dan jikapun engkau binasa hancur, maka janganlah engkau menyalahkan pihak lain selain dirimu sendiri.
نَدِمْتَ نَدَامَةَ الْكَسْـــــعِيِّ لَمَّا رَأَتْ عَيْنَاكَ مَا صَنَعَتْ يَدَاكَا
[Shadr] Engkau pasti akan dirundung penyesalan yang teramat sangat seperti penyesalan al-Kas'i,
[Ajuz] Tatkala kedua belah matamu menyaksikan sendiri kehancuran akibat apa yang telah diperbuat oleh kedua tanganmu.
وَعَادَ عَدِيُّ بْنُ مَرِينَا وَالْأَسْوَدُ إِلَى الْحِيرَةِ فَقَالِ ابْنُ مَرِينَا لِلْأَسْوَدِ :
Dan Adi bin Marina beserta Al-Aswad kembali ke Al-Hirah, lalu Ibnu Marina berkata kepada Al-Aswad:
هامش: (١) الْكُسَعِيُّ نِسْبَةٌ إِلَى كُسْعٍ حَيٌّ مِنْ قَيْسِ عَيْلَانَ وَهُوَ رَجُلٌ رَامٍ رَمَى بَعْدَ مَا أَظْلَمَ اللَّيْلُ عَيْرًا فَأَصَابَهُ وَظَنَّ أَنَّهُ أَخْطَأَهُ فَكَسَرَ قَوْسَهُ ، ثُمَّ نَدِمَ مِنَ الْغَدِ حِينَ نَظَرَ إِلَى الْعَيْرِ مَقْتُولًا وَسَهْمُهُ فِيهِ .
Catatan: (1) Al-Kusa'i adalah nisbah kepada Kus'i, sebuah klan dari Qais 'Ailan. Dia adalah seorang lelaki ahli memanah yang memanah seekor keledai liar setelah malam gelap gulita, lalu anak panahnya mengenainya namun dia menyangka bidikannya meleset, sehingga ia mematahkan busurnya. Kemudian keesokan harinya ia sangat menyesal ketika melihat keledai liar itu mati tergeletak dengan anak panahnya yang masih menancap padanya.
— أَمَّا إِذَا لَمْ تَظْفَرْ فَلَا تَعْجِزَنَّ أَنْ تَطْلُبَ بِثَأْرِكَ مِنْ هَذَا الْمَعْدَى الَّذِي فَعَلَ بِكَ مَا فَعَلَ ، فَقَدْ كُنْتُ أَخْبَرْتُكَ أَنَّ مَعْدًى لَا يَنَامُ كَيْدُهَا وَمَكْرُهَا وَأَمَرْتُكَ أَنْ تَعْصِيَهُ فَخَالَفْتَنِي .
— "Adapun sekarang karena engkau tidak berhasil meraih singgasana, maka janganlah engkau lemah untuk menuntut balas kepada keturunan Ma'ad ini (Adi bin Zaid) yang telah berbuat demikian kepadamu. Sungguh dahulu aku telah mengabarkan kepadamu bahwa keturunan Ma'ad tidak pernah tidur dari tipu daya dan makarnya, dan aku telah memerintahkanmu untuk menyelisihinya namun engkau malah menentangku."
— فَمَا تُرِيدُ ؟
— "Lalu apa yang engkau inginkan?"
— أُرِيدُ أَلَّا تَأْتِيَكَ فَائِدَةٌ مِنْ مَالِكَ وَأَرْضِكَ إِلَّا عَرَضْتَهَا عَلَيَّ .
— "Aku ingin agar tidak ada satu pun keuntungan yang datang dari harta dan tanahmu melainkan engkau harus menyerahkannya (memperlihatkannya) kepadaku untuk dikelola."
كَانَ ابْنُ مَرِينَا كَثِيرَ الْمَالِ وَالضَّيْعَةِ وَقَدْ عَزَمَ أَنْ يَسْتَخْدِمَ مَالَهُ وَمَالَ الْأَسْوَدِ وَبَنِي الْمُنْذِرِ فِي الْقَضَاءِ عَلَى عَدِيِّ بْنِ زَيْدٍ الَّذِي أَطَارَ الْمُلْكَ مِنْ يَدِ مَنْ أَرْضَعُوهُ وَرَبَّوْهُ ، فَلَمْ يَكُنْ فِي الدَّهْرِ يَوْمٌ يَأْتِي إِلَّا عَلَى بَابِ النُّعْمَانِ هَدِيَّةٌ مِنْ ابْنِ مَرِينَا ، فَصَارَ مِنْ أَكْرَمِ النَّاسِ عَلَيْهِ حَتَّى كَانَ لَا يَقْضِي فِي مُلْكِهِ شَيْئًا إِلَّا بِأَمْرِ ابْنِ مَرِينَا .
Adalah Ibnu Marina seorang yang melimpah harta kekayaan dan tanahnya, dan ia telah membulatkan tekad untuk mempergunakan seluruh hartanya beserta harta al-Aswad dan Bani Mundzir guna membinasakan Adi bin Zaid—sosok yang telah melenyapkan singgasana kerajaan dari tangan orang yang mereka (Bani Marina) susui dan besarkan. Maka tidaklah berlalu satu hari pun melainkan di depan pintu istana an-Nu'man selalu datang hadiah mewah dari Ibnu Marina. Akibatnya, Ibnu Marina menjadi orang yang paling mulia dan paling dekat di sisi Raja, hingga Raja an-Nu'man tidak pernah memutuskan suatu perkara pun dalam kerajaannya melainkan atas perintah Ibnu Marina.
وَكَانَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ يَتْرُكُ قَصْرَ كِسْرَى وَيَخْرُجُ مِنَ الْمَدَائِنِ إِلَى الْحِيرَةِ لِلصَّيْدِ مَعَ النُّعْمَانِ . وَفِي ذَاتِ يَوْمٍ خَرَجَ عَدِيٌّ مَعَ النُّعْمَانِ وَخَدَمِهِ وَحَشَمِهِ فَمَرُّوا بِشَجَرَةٍ فَقَالَ لَهُ عَدِيٌّ :
Dan adalah Adi bin Zaid sesekali meninggalkan istana Kisra lalu keluar dari AL-Madain menuju al-Hirah untuk berburu bersama Raja an-Nu'man. Pada suatu hari, Adi keluar bersama an-Nu'man beserta para pelayan dan pengawalnya, lalu mereka melewati sebuah pohon besar, maka Adi berkata kepadanya:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ أَتَدْرِي مَا تَقُولُ هَذِهِ الشَّجَرَةُ ؟
— "Wahai Raja, tahukah engkau apa yang dikatakan oleh pohon ini?"
— تَقُولُ :
— Ia berkata:
رُبَّ رَكْبٍ قَدْ أَنَاخُوا عِنْدَنَا يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ بِالْمَاءِ السُّلَالِ
[Shadr] Betapa banyak rombongan kafilah berkuda yang dahulu telah menderumkan unta-unta mereka di dekat kami,
[Ajuz] Mereka berpesta ria meminum khamr yang dioplos dengan aliran air jernih yang murni.
عَصَفَ الدَّهْرُ بِهِمْ فَانْقَرَضُوا وَكَذَاكَ الدَّهْرُ حَالًا بَعْدَ حَالِ
[Shadr] Lalu hempasan sang waktu (takdir kematian) menerpa mereka hingga mereka pun punah terkubur bumi,
[Ajuz] Dan begitulah sunnatullah perjalanan waktu, senantiasa berputar mengubah keadaan dari satu masa ke masa berikutnya.
ثُمَّ جَاوَزُوا الشَّجَرَةَ فَمَرُّوا بِمَقْبَرَةٍ ، فَقَالَ لَهُ عَدِيٌّ :
Kemudian mereka melewati pohon tersebut lalu melintasi area pekuburan kuno, maka Adi kembali berkata kepadanya:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ أَتَدْرِي مَا تَقُولُ هَذِهِ الْمَقْبَرَةُ ؟
— "Wahai Raja, tahukah engkau apa yang dikatakan oleh pekuburan ini?"
— تَقُولُ :
— Ia berkata:
أَيُّهَا الرَّكْبُ الْمُخِبُّونَ عَلَى الْأَرْضِ الْجُدُودِ فَكَمَا أَنْتُمْ كُنَّا وَكَمَا نَحْنُ تَكُونُونَ
[Shadr] Wahai para penunggang kafilah yang memacu kendaraannya dengan cepat di atas hamparan tanah gersang ini,
[Ajuz] Ketahuilah, sebagaimana keadaan hidup kalian sekarang, dahulu kami pun demikian; dan sebagaimana kondisi kami yang telah hancur jadi tulang belulang sekarang, kelak kalian pun pasti akan menjadi seperti kami.
— . إِنَّ الشَّجَرَةَ وَالْمَقْبَرَةَ لَا يَتَكَلَّمَانِ ، وَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّكَ إِنَّمَا أَرَدْتَ عِظَتِي فَمَا السَّبِيلُ الَّتِي تُدْرَكُ بِهَا النَّجَاةُ ؟
— "Sesungguhnya pohon dan kuburan tidaklah bisa berbicara secara lisan, namun aku tahu bahwa engkau hanyalah bermaksud memberiku nasihat rohani yang mendalam. Maka (tanya an-Nu'man), jalan apakah yang dengannya keselamatan hakiki dapat diraih?"
— تَدَعُ عِبَادَةَ الْأَوْثَانِ وَتَعْبُدُ اللهَ ، وَتَدِينُ بِدِينِ الْمَسِيحِ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ .
— "Engkau tinggalkan penyembahan berhala-berhala, engkau sembah Allah semata, dan engkau memeluk agama Al-Masih Isa putra Maryam."
— أَوَ فِي هَذَا النَّجَاةُ ؟
— "Apakah benar di dalam hal ini terdapat keselamatan?"
وَذَهَبَ النُّعْمَانُ إِلَى الْمَدَائِنِ يَحْمِلُ الْخَرَاجَ لِكِسْرَى ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ وَجَدَ عِنْدَهُ وُفُودَ الرُّومِ وَالْهِنْدِ وَالصِّينِ وَقَدْ أَخَذَ كُلُّ وَفْدٍ يَذْكُرُ فِي فَخْرٍ مُلُوكَهُمْ وَبِلَادَهُمْ ، فَالْتَفَتَ كِسْرَى إِلَى النُّعْمَانِ وَقَدْ أَخَذَتْهُ عِزَّةُ الْمَلِكِ :
Dan pergilah an-Nu'man ke kota Al-Madain dengan membawa upeti tahunan untuk diserahkan kepada Kisra. Maka tatkala ia masuk menghadap, ia mendapati di sisi Kisra telah berkumpul utusan-utusan diplomatik dari Romawi, India, dan China, yang mana setiap utusan mulai menceritakan dengan penuh kebanggaan tentang keagungan raja-raja dan kemakmuran negeri mereka. Maka menolehlah Kisra kepada an-Nu'man dalam keadaan dirinya diliputi keangkuhan singgasana seraya berkata:
— يَا نُعْمَانُ لَقَدْ تَذَكَّرْتُ فِي أَمْرِ الْعَرَبِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْأُمَمِ ، وَنَظَرْتُ فِي حَالِ مَنْ يَقْدَمُ عَلَيَّ مِنْ وُفُودِ الْأُمَمِ فَوَجَدْتُ الرُّومَ لَهَا حَظٌّ فِي اجْتِمَاعِ أُلْفَتِهَا وَعِظَمِ سُلْطَانِهَا وَكَثْرَةِ مَدَائِنِهَا وَوَثِيقِ بِنْيَانِهَا ، وَأَنَّ لَهَا دِينًا يُبَيِّنُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا وَيَرُدُّ سَفِيهَهَا وَيُقِيمُ جَاهِلَهَا ؛ وَرَأَيْتُ الْهِنْدَ نَحْوًا مِنْ ذَلِكَ فِي حِكْمَتِهَا وَطِبِّهَا ، مَعَ كَثْرَةِ أَنْهَارِ بِلَادِهِمْ وَثِمَارِهَا وَعَجِيبِ صِنَاعَاتِهَا وَطِيبِ أَشْجَارِهَا وَدَقِيقِ حِسَابِهَا وَكَثْرَةِ عَدَدِهَا . وَكَذَلِكَ الصِّينُ فِي اجْتِمَاعِهَا وَكَثْرَةِ صِنَاعَاتِ أَيْدِيهَا وَفُرُوسِيَّتِهَا وَهِمَّتِهَا فِي آلَةِ الْحَرْبِ وَصِنَاعَةِ الْحَدِيدِ ، وَأَنَّ لَهَا مَلِكًا يَجْمَعُهَا ؛ وَالتُّرْكُ وَالْخَزَرُ عَلَى مَا بِهِمْ مِنْ سُوءِ الْحَالِ وَقِلَّةِ الرِّيفِ وَالثِّمَارِ وَالْحُصُونِ وَمَا هُوَ رَأْسُ عِمَارَةِ الدُّنْيَا مِنَ الْمَسَاكِنِ وَالْمَلَابِسِ ، لَهُمْ مُلُوكٌ تَضُمُّ قَوَاصِيَهُمْ وَتُدَبِّرُ أَمْرَهُمْ . وَلَمْ أَرَ لِلْعَرَبِ شَيْئًا مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ مِنْ أَمْرِ دِينٍ وَلَا دُنْيَا وَلَا حَزْمٍ وَلَا قُوَّةٍ . وَمَعَ أَنَّ مَا يَدُلُّ عَلَى مَهَانَتِهَا وَذِلِّهَا وَصِغَرِ هِمَّتِهَا الَّتِي هُمْ بِهَا مَعَ الْوُحُوشِ النَّافِرَةِ وَالطَّيْرِ الْجَائِرَةِ ، يَقْتُلُونَ أَوْلَادَهُمْ مِنَ الْفَاقَةِ ، وَيَأْكُلُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا مِنَ الْحَاجَةِ ، قَدْ خَرَجُوا مِنْ مَطَاعِمِ الدُّنْيَا وَمَلَابِسِهَا وَمَشَارِبِهَا وَلُهُوِّهَا وَلَذَّاتِهَا ، فَأَفْضَلُ طَعَامٍ ظَفِرَ بِهِ نَاعِمُهُمْ لُحُومُ الْإِبِلِ الَّتِي يَعَافُهَا كَثِيرٌ مِنَ السِّبَاعِ لِثِقَلِهَا وَسُوءِ طَعْمِهَا وَخَوْفِ دَائِهَا . وَإِنْ قَرَى أَحَدُهُمْ ضَيْفًا عَدَّهَا مَكْرُمَةً ، وَإِنْ أَطْعَمَ أَكْلَةً عَدَّهَا غَنِيمَةً ، تَنْطِقُ بِذَلِكَ أَشْعَارُهُمْ وَتَفْتَخِرُ بِذَلِكَ رِجَالُهُمْ ، مَا خَلَا هَذِهِ التَّنُوخِيَّةَ الَّتِي أَسَّسَ جَدِّي اجْتِمَاعَهَا وَشَدَّ مَمْلَكَتَهَا وَمَنَعَهَا مِنْ عَدُوِّهَا . ثُمَّ لَا أَرَاكُمْ تَسْتَكِينُونَ عَلَى مَا بِكُمْ مِنَ الذِّلَّةِ وَالْقِلَّةِ وَالْفَاقَةِ وَالْبُؤْسِ ، حَتَّى تَفْتَخِرُوا وَتُرِيدُوا أَنْ تَنْزِلُوا فَوْقَ مَرَاتِبِ النَّاسِ .
— "Wahai Nu'man, sungguh aku telah merenungkan tentang urusan bangsa Arab dan umat-umat lainnya. Aku perhatikan keadaan utusan berbagai bangsa yang mendatangi istanaku, maka aku dapati bangsa Romawi memiliki kelebihan dalam persatuan mereka, keagungan kekuasaan, banyaknya kota-kota makmur, kokohnya bangunan, serta memiliki hukum agama yang menjelaskan halal dan haram, mencegah orang bodoh, dan mendidik yang jahil. Aku pun melihat bangsa India seperti itu pula dalam kebijaksanaan filosofis dan kedokterannya, disertai limpahan sungai-sungai negeri mereka, buah-buahan, industri yang menakjubkan, pepohonan yang harum, ilmu hisab yang teliti, serta jumlah penduduk yang besar. Demikian pula China dalam keteraturan sosialnya, banyaknya kerajinan tangan mereka, ketangkasan berkuda, serta tingginya semangat dalam mempersiapkan alat perang dan industri besi, ditambah lagi mereka memiliki raja yang menyatukan mereka. Bahkan bangsa Turki dan Khazar, meski di tengah buruknya kondisi geografis mereka, minimnya tanah subur, buah-buahan, benteng, serta ketiadaan rumah dan pakaian yang layak sebagai pilar peradaban dunia, mereka tetap memiliki raja-raja yang menyatukan wilayah pelosok mereka dan mengatur urusan mereka. Namun, aku sama sekali tidak melihat pada bangsa Arab satu pun dari perangai kebaikan, baik dalam urusan agama, urusan dunia, keteguhan hati, maupun kekuatan fisik! Ditambah lagi, hal yang menunjukkan kehinaan, kerendahan, dan kecilnya cita-cita mereka adalah fakta bahwa mereka hidup layaknya binatang liar yang saling menjauh dan burung-burung pemangsa; mereka tega membunuh anak-anak mereka sendiri karena takut miskin, dan saling makan satu sama lain demi memenuhi kebutuhan hidup. Mereka benar-benar terasing dari kelezatan makanan dunia, pakaian yang layak, minuman segar, sarana hiburan, dan kenikmatan hidup. Makanan paling mewah yang berhasil didapatkan oleh orang paling kaya di antara mereka hanyalah daging unta, yang mana banyak binatang buas sekalipun enggan memakannya karena saking seratnya, buruk rasanya, dan dikhawatirkan membawa penyakit. Jika salah seorang dari mereka menjamu tamu, mereka langsung menganggapnya sebagai kemuliaan yang luar biasa, dan jika mereka bisa memberi makan satu kali suapan saja, mereka menganggapnya sebagai rampasan perang yang agung; hal itulah yang senantiasa diucapkan dalam bait-bait syair mereka dan dibangga-banggakan oleh kaum lelaki mereka. Tidak ada pengecualian melainkan dinasti Tanukh ini (al-Hirah) yang kakekku dahulu telah meletakkan batu pertama persatuannya, memperkokoh kerajaannya, dan membentenginya dari serangan musuh. Kemudian, aku pun tidak melihat kalian sadar diri akan kehinaan, kedikit-pautan jumlah, kemiskinan, dan kesengsaraan yang menimpa kalian, hingga kalian masih saja berani menyombongkan diri dan berambisi ingin menempati kedudukan di atas martabat manusia lainnya!"
وَأَحَسَّ النُّعْمَانُ مَهَانَةً ، وَرَأَى أَنْ يَرُدَّ عَلَى كِسْرَى وَأَنْ يُلْقِمَهُ حَجَرًا وَلْيَكُنْ مَا يَكُونُ ، فَقَالَ :
Maka an-Nu'man merasakan penghinaan yang amat sangat, dan ia bertekad bulat untuk membantah perkataan Kisra serta menyumbat mulutnya dengan bantahan telak yang membungkam, apa pun risiko yang akan terjadi. Maka an-Nu'man berkata:
— أَصْلَحَ اللهُ الْمَلِكَ ، حَقٌّ لِأُمَّةِ الْمَلِكِ مِنْهَا أَنْ يَسْمُوَ فَضْلُهَا وَيَعْظُمَ حَظُّهَا وَتَعْلُو دَرَجَتُهَا ، إِلَّا أَنَّ عِنْدِي جَوَابًا فِي كُلِّ مَا نَطَقَ بِهِ الْمَلِكُ فِي غَيْرِ رَدٍّ عَلَيْهِ وَلَا تَكْذِيبٍ لَهُ ، فَإِنْ أَمَّنَنِي مِنْ غَضَبِهِ نَطَقْتُ بِهِ .
— "Kiranya Allah memperbaiki keadaan Baginda Raja. Sudah sepatutnya bagi umat pilihan Raja untuk meninggi keutamaannya, membesar bagian keberuntungannya, dan menjulang derajatnya. Akan tetapi, sesungguhnya aku memiliki jawaban tuntas atas segala hal yang diucapkan oleh Baginda Raja tanpa bermaksud menentang secara kasar ataupun mendustakan Baginda. Maka jika Baginda Raja berkenan memberikan jaminan keamanan kepadaku dari kemurkaan Baginda, niscaya aku akan menyampaikannya."
— قُلْ فَأَنْتَ آمِنٌ .
— "Katakanlah, karena sesungguhnya engkau berada dalam keamanan."
— أَمَّا أُمَّتُكَ أَيُّهَا الْمَلِكُ فَلَيْسَتْ تُنَازَعُ فِي الْفَضْلِ لِمَوْضِعِهَا الَّذِي هِيَ بِهِ مِنْ عُقُولِهَا وَأَحْلَامِهَا وَبَسْطَةِ مَحَلِّهَا وَبُحْبُوحَةِ عِزِّهَا وَمَا أَكْرَمَهَا اللهُ بِهِ مِنْ وِلَايَةِ آبَائِكَ وَوِلَايَتِكَ . وَأَمَّا الْأُمَمُ الَّتِي ذَكَرْتَ فَأَيُّ أُمَّةٍ نَقْرِنُهَا بِالْعَرَبِ إِلَّا فَضَلَتْهَا . بِمَاذَا ؟ بِعِزِّهَا وَمَنَعَتِهَا وَحُسْنِ وُجُوهِهَا وَبَأْسِهَا وَسَخَائِهَا وَحِكْمَةِ أَلْسِنَتِهَا وَشِدَّةِ عُقُولِهَا وَأَنَفَتِهَا وَوَفَائِهَا . وَأَمَّا عِزُّهَا وَمَنَعَتُهَا فَإِنَّهَا لَمْ تَزَلْ مُجَاوِرَةً لِآبَائِكَ الَّذِينَ دَوَّخُوا الْبِلَادَ وَوَطَّدُوا الْمُلْكَ وَقَادُوا الْجُنُودَ لَمْ يَطْمَعْ فِيهِمْ طَامِعٌ وَلَمْ يَنَلْهُمْ نَائِلٌ ، حُصُونُهُمْ ظُهُورُ خَيْلِهِمْ وَمِهَادُهُمُ الْأَرْضُ وَسُقُوفُهُمُ السَّمَاءُ وَجُنَّتُهُمُ السُّيُوفُ وَعُدَّتُهُمُ الصَّبْرُ ، إِذْ غَيْرُهَا مِنَ الْأُمَمِ إِنَّمَا عِزُّهَا الْحِجَارَةُ وَالطِّينُ وَجَزَائِرُ الْبُحُورِ . وَأَمَّا حُسْنُ وُجُوهِهَا وَأَلْوَانِهَا فَقَدْ يُعْرَفُ فَضْلُهُمْ فِي ذَلِكَ عَلَى غَيْرِهِمْ ، مِنَ الْهِنْدِ الْمُنْحَرِفَةِ وَالصِّينِ الْمُنْخَفِةِ وَالتُّرْكِ الْمُشَوَّهَةِ وَالرُّومِ الْمُقَشَّرَةِ .
— "Adapun mengenai umatmu, wahai Baginda Raja, maka keutamaannya tidak perlu diperdebatkan lagi karena kedudukannya yang tinggi dalam hal kecerdasan akal, kedewasaan berpikir, luasnya hamparan wilayah, puncak kemuliaan, serta apa yang Allah muliakan berupa kepemimpinan ayah-ayahmu dan kepemimpinanmu sendiri. Akan tetapi, mengenai umat-umat lain yang Baginda sebutkan tadi, maka umat manakah yang jika kita bandingkan secara sejajar dengan bangsa Arab melainkan bangsa Arab pasti akan mengunggulinya? Dengan perkara apa? Dengan kemuliaan harga diri mereka, ketahanan pertahanan mereka, ketampanan rupa mereka, keberanian perang, kedermawanan, kebijaksanaan lisan sastra mereka, ketajaman akal, harga diri yang tinggi, serta kesetiaan mereka dalam memegang janji! Adapun mengenai kemuliaan harga diri dan ketahanan pertahanan mereka, sesungguhnya bangsa Arab senantiasa bertetangga langsung dengan nenek moyangmu yang telah menaklukkan berbagai negeri, memperkokoh singgasana kerajaan, dan memimpin jutaan tentara, namun tidak pernah ada satu pun pihak yang rakus mampu menjajah mereka dan tidak ada satu pun penakluk yang sanggup menyentuh mereka. Benteng-benteng pertahanan mereka adalah punggung-punggung kuda mereka, tempat tidur mereka adalah hamparan bumi, atap rumah mereka adalah kubah langit, perisai pelindung mereka adalah bilah-bilah pedang, dan perbekalan utama mereka adalah kesabaran, di saat umat-umat lain selain mereka kemuliaan pertahanannya hanyalah bersandar pada tumpukan batu, cetakan tanah liat, dan pulau-pulau di tengah lautan! Adapun mengenai ketampanan rupa dan ragam warna kulit mereka, maka sungguh telah maklum keunggulan bangsa Arab dalam hal tersebut di atas bangsa-bangsa lainnya, jika dibandingkan dengan bangsa India yang posturnya condong tidak lurus, bangsa China yang bermuka pesek dan datar, bangsa Turki yang berwajah cacat tidak proporsional, serta bangsa Romawi yang berkulit pucat kemerahan mengelupas!"
— وَأَمَّا أَنْسَابُهَا وَأَحْسَابُهَا فَلَيْسَتْ أُمَّةٌ مِنَ الْأُمَمِ إِلَّا وَقَدْ جَهِلَتْ آبَاءَهَا وَأُصُولَهَا وَكَثِيرًا مِنْ أَوَّلِهَا ، حَتَّى أَنَّ أَحَدَهُمْ لَيُسْأَلُ عَمَّنْ وَرَاءَ أَبِيهِ دُنْيَا فَلَا يَنْسِبُهُ وَلَا يَعْرِفُهُ ، وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلَّا يُسَمِّي آبَاءَهُ أَبًا فَأَبًا فَأَمَّا أَحَاطُوا بِذَلِكَ أَحْسَابَهُمْ وَحَفِظُوا بِهِ أَنْسَابَهُمْ ، فَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ فِي غَيْرِ قَوْمِهِ وَلَا يَنْتَسِبُ إِلَى غَيْرِ نَسَبِهِ وَلَا يُدْعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ . وَأَمَّا سَخَاؤُهَا فَإِنَّ أَدْنَاهُمْ رَجُلًا الَّذِي تَكُونُ عِنْدَهُ الْبِكْرَةُ وَالنَّابُ عَلَيْهَا بَلَاغُهُ فِي حُمُولِهِ وَشِبَعِهِ وَرِيِّهِ ، فَيَطْرُقُهُ الطَّارِقُ الَّذِي يَكْتَفِي بِالْفِلْذَةِ وَيَجْتَزِي بِالشَّرْبَةِ ، فَيَعْقِرُهَا لَهُ وَيَرْضَى لَهُ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ دُنْيَاهُ كُلِّهَا فِيمَا يَكْسِبُهُ حُسْنَ الْأُحْدُوثَةِ وَطِيبَ الذِّكْرِ . وَأَمَّا حِكْمَةُ أَلْسِنَتِهِمْ فَإِنَّ اللهَ أَعْطَاهُمْ فِي أَشْعَارِهِمْ وَرَوْنَقِ كَلَامِهِمْ وَحُسْنِ وَزْنِهِ وَقَوَافِيهِ مَعَ مَعْرِفَتِهِمْ بِالْأَشْيَاءِ وَضَرْبِهِمْ لِلْأَمْثَالِ وَإِبْلَاغِهِمْ فِي الصِّفَاتِ مَا لَيْسَ لِشَيْءٍ مِنْ أَلْسِنَةِ الْأَجْنَاسِ . ثُمَّ خَيْلُهُمْ أَفْضَلُ الْخَيْلِ ، وَنِسَاؤُهُمْ أَعَفُّ النِّسَاءِ ، وَلِبَاسُهُمْ أَفْضَلُ اللِّبَاسِ ، وَمَعَادِنُهُمُ الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ ، وَحِجَارَةُ جِبَالِهِمُ الْجَزْعُ ، وَمَطَايَاهُمُ الَّتِي لَا يُبْلَغُ عَلَى مِثْلِهَا سُفُنٌ وَلَا يُقْطَعُ بِمِثْلِهَا بَلَدٌ قَفْرٌ . وَأَمَّا دِينُهَا وَشَرِيعَتُهَا فَإِنَّهُمْ مُتَمَسِّكُونَ بِهِ حَتَّى يَبْلُغَ أَحَدَهُمْ مِنْ تَمَسُّكِهِ بِدِينِهِ أَنْ لَهُمْ أَشْهُرًا حُرُمًا وَبَلَدًا مُحَرَّمًا وَبَيْتًا مَحْجُوجًا يَنْسِكُونَ فِيهِ مَنَاسِكَهُمْ وَيَذْبَحُونَ فِيهِ ذَبَائِحَهُمْ ، فَيَلْقَى الرَّجُلُ قَاتِلَ أَبِيهِ أَوْ أَخِيهِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَخْذِ ثَأْرِهِ وَإِدْرَاكِ رَغْمِهِ مِنْهُ فَيَحْجُزُهُ كَرَمُهُ وَيَمْنَعُهُ دِينُهُ عَنْ تَنَاوُلِهِ بِأَذًى .
— "Adapun mengenai kemurnian silsilah nasab dan kemuliaan kedudukan mereka, maka tidak ada satu pun umat dari umat-umat di dunia ini melainkan mereka telah buta akan silsilah ayah-ayah mereka, asal-usul, dan kebanyakan sejarah generasi terdahulu mereka; sampai-sampai jika salah seorang dari mereka ditanya tentang silsilah di atas kakek kandungnya terdekat saja, niscaya ia tidak mampu menyebutkan nasabnya dan tidak mengetahuinya sama sekali. Sebaliknya, tidak ada seorang pun dari bangsa Arab melainkan mampu menyebutkan nama ayah-ayahnya secara berurutan satu per satu, yang mana dengan kemampuan itulah mereka membentengi kemuliaan sejarah mereka dan menjaga kemurnian silsilah nasab mereka. Maka tidak akan pernah ada seorang lelaki luar yang bisa menyusup masuk mengaku-ngaku sebagai bagian dari kaum yang bukan kaumnya, tidak akan bersandar pada nasab yang bukan nasab kandungnya, dan tidak akan dinisbatkan kepada bapak yang bukan bapak kandungnya! Adapun mengenai kedermawanan mereka, sesungguhnya orang paling miskin di antara bangsa Arab adalah seorang lelaki yang hanya memiliki satu ekor unta muda dan satu ekor unta tua yang menjadi satu-satunya penopang angkutan barang, pemuas rasa lapar, dan pelepas dahaga bagi seluruh keluarganya; lalu tiba-tiba datanglah seorang pengembara malam mengetuk pintunya yang sebetulnya cukup diberi sepotong kecil daging dan seteguk air saja, namun sang pemilik rumah justru langsung menyembelih satu-satunya unta miliknya itu demi menghormati sang tamu, dan ia rida kehilangan seluruh penopang harta dunianya demi meraih keindahan buah tutur masyarakat dan keharuman nama baik seumur hidup! Adapun mengenai kebijaksanaan lisan sastra mereka, sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepada mereka dalam bait-bait syair mereka keindahan untaian kata, ketepatan timbangan rima dan sajak, disertai kematangan makrifat mereka terhadap hakikat segala perkara, kepiawaian membuat tamsil perumpamaan, serta kedalaman tingkat deskripsi karakter yang tidak akan pernah dijumpai pada bahasa mana pun dari bangsa-bangsa non-Arab! Kemudian, kuda-kuda pacuan mereka adalah kuda paling utama di dunia, wanita-wanita mereka adalah wanita paling suci yang menjaga kehormatan, pakaian jubah mereka adalah pakaian yang paling anggun, barang tambang bumi mereka adalah emas dan perak, bebatuan gunung mereka adalah batu mulia Akik Onyx (al-Jaz'), dan hewan kendaraan mereka (unta) adalah laksana bahtera daratan yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh kapal laut mana pun dalam hal daya jangkau dan tidak akan pernah bisa membelah luasnya padang pasir gersang yang mematikan melainkan dengan mengendarainya! Adapun mengenai ketaatan pada tuntunan agama dan syariat adat mereka, sesungguhnya mereka adalah kaum yang sangat teguh memegangnya, hingga tingkat keteguhan beragama salah seorang dari mereka mencapai puncaknya dengan menetapkan adanya bulan-bulan haram yang disucikan, tanah haram yang sakral, dan Baitullah yang diziarahi tempat mereka menjalankan ritual manasik ibadah serta menyembelih hewan-hewan kurban mereka. Bahkan, seorang lelaki Arab bisa saja berpapasan langsung dengan pembunuh ayah kandungnya atau pembunuh saudara kandungnya sendiri dalam keadaan ia sebetulnya sangat mampu untuk menuntut balas detik itu juga dan memuaskan kemarahannya, namun sifat kemuliaan jiwanya langsung membentenginya dan aturan suci agamanya langsung mencegahnya dari menyentuh sang pembunuh dengan gangguan apa pun!"
— وَأَمَّا وَفَاؤُهَا فَإِنَّ أَحَدَهُمْ يَلْحَظُ اللَّحْظَةَ وَيُومِئُ الْإِيمَاءَةَ فَهِيَ وَلْثٌ ( عَهْدٌ ) وَعُقْدَةٌ لَا يَحُلُّهَا إِلَّا خُرُوجُ نَفْسِهِ ، وَإِنَّ أَحَدَهُمْ يَرْفَعُ عُودًا مِنَ الْأَرْضِ فَيَكُونُ رَهْنًا بِدَيْنِهِ فَلَا يُغْلَقُ وَلَا تُخْفَرُ ذِمَّتُهُ ، وَإِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَبْلُغُهُ أَنَّ رَجُلًا اسْتَجَارَ بِهِ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ نَائِيًا عَنْ دَارِهِ فَيُصَابُ حَتَّى تَفْنَى تِلْكَ الْقَبِيلَةُ الَّتِي أَصَابَتْهُ أَوْ تَفْنَى قَبِيلَتُهُ لِمَا أَخْفَرَ ( غَدَرَ ) مَنْ جِوَارِهِ ، وَإِنَّهُ لَيَلْجَأُ إِلَيْهِمُ الْمُجْرِمُ الْمُحْدِثُ مِنْ غَيْرِ مَعْرِفَةٍ وَلَا قَرَابَةٍ فَتَكُونُ أَنْفُسُهُمْ دُونَ نَفْسِهِ وَأَمْوَالُهُمْ دُونَ مَالِهِ . وَأَمَّا قَوْلُكَ : إِنَّ أَفْضَلَ طَعَامِهِمْ لُحُومُ الْإِبِلِ عَلَى مَا وَصَفْتَ مِنْهَا ، فَمَا تَرَكُوا مَا دُونَهَا إِلَّا احْتِقَارًا لَهُ ، فَعَمِدُوا إِلَى أَجَلِّهَا وَأَفْضَلِهَا فَكَانَتْ مَرَاكِبَهُمْ وَطَعَامَهُمْ ، مَعَ أَنَّهَا أَكْثَرُ الْبَهَائِمِ شُحُومًا وَأَطْيَبُهَا لُحُومًا وَأَرَقُّهَا أَلْبَانًا وَأَقَلُّهَا غَائِلَةً وَأَحْلَاهَا مَضْغَةً ، وَإِنَّهُ لَا شَيْءٍ مِنَ اللُّحْمَانِ يُعَالِجُ مَا يُعَالِجُ بِهِ لَحْمُهَا إِلَّا اسْتِبَانَ فَضْلُهَا عَلَيْهِ . وَأَمَّا تِجَارِبُهُمْ وَأَكْلُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا وَتَرْكُهُمُ الْأَنْقِيَادَ لِرَجُلٍ يَسُوسُهُمْ وَيَجْمَعُهُمْ فَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ مَنْ يَفْعَلُهُ مِنَ الْأُمَمِ إِذَا آنَسَتْ مِنْ نَفْسِهَا ضَعْفًا وَتَخَوَّفَتْ نُهُوضَ عَدُوِّهَا إِلَيْهَا بِالزَّحْفِ وَإِنَّمَا يَكُونُ فِي الْمَمْلَكَةِ الْعَظِيمَةِ أَهْلُ بَيْتٍ وَاحِدٍ يُعْرَفُ فَضْلُهُمْ عَلَى سَائِرِ غَيْرِهِمْ فَيُلْقُونَ إِلَيْهِمْ أُمُورَهُمْ وَيَنْقَادُونَ لَهُمْ بِأَزِمَّتِهِمْ ، وَأَمَّا الْعَرَبُ فَإِنَّ ذَلِكَ كَثِيرٌ فِيهِمْ حَتَّى حَاوَلُوا أَنْ يَكُونُوا مُلُوكًا أَجْمَعِينَ ، مَعَ أَنَفَتِهِمْ مِنْ أَدَاءِ الْخَرَاجِ وَالْوَطْفِ ( الْأَخْذِ مِنْهُمْ ) بِالْعَسْفِ .
— "Adapun mengenai kesetiaan janji mereka, sesungguhnya salah seorang dari mereka cukup melempar satu pandangan mata saja atau memberi satu isyarat tangan saja, maka isyarat tersebut langsung menjelma menjadi suatu ikatan janji yang sakral ('Ahdun) dan simpul mati yang tidak akan pernah boleh lepas melainkan dengan lepasnya nyawa dari raga! Dan sesungguhnya salah seorang dari mereka cukup mengangkat sebatang ranting kayu kecil dari atas tanah, lalu ranting itu dijadikan sebagai jaminan atas utang besarnya, maka jaminan itu tidak akan pernah hangus dan kesepakatannya tidak akan pernah dikhianati! Bahkan, jika salah seorang dari mereka mendengar kabar bahwa ada seorang lelaki yang meminta perlindungan keamanan kepadanya—yang mana boleh jadi posisi lelaki itu berada sangat jauh di luar wilayah sukunya—lalu lelaki malang tersebut diganggu oleh musuh, niscaya suku yang mengganggunya itu harus binasa secara total atau suku sang penjamin yang binasa seluruhnya demi membela kehormatan jaminan perlindungan yang telah diberikannya agar tidak terkhianati! Dan sungguh, seorang pelaku kriminal yang dikejar-kejar musuh bisa saja lari meminta perlindungan kepada mereka tanpa adanya hubungan kenalan sebelumnya ataupun ikatan kekerabatan, namun nyawa-nyawa mereka siap dikorbankan demi membela nyawanya dan harta benda mereka siap habis demi mempertahankan hartanya! Adapun mengenai ucapan Baginda Raja: 'Sesungguhnya makanan paling mewah mereka adalah daging unta' dengan segala sifat buruk yang Baginda sebutkan tadi, maka ketahuilah bahwa tidaklah mereka meninggalkan jenis makanan di bawah unta melainkan semata-mata karena memandangnya rendah. Mereka sengaja memilih jenis hewan yang paling agung dan paling utama, sehingga unta-unta itu menjelma menjadi kendaraan tangguh sekaligus sumber pangan mereka. Padahal unta adalah binatang yang paling tebal lemaknya, paling lezat dagingnya, paling segar air susunya, paling aman dari membawa penyakit gila, dan paling manis serat kunyahannya; serta tidak ada satu pun dari jenis daging-dagingan di dunia ini yang dimasak dengan cara apa pun melainkan keunggulan daging unta pasti akan mengalahkannya! Adapun mengenai peperangan di antara mereka, aksi saling serang, serta keengganan mereka untuk tunduk patuh kepada satu orang pemimpin tunggal yang mengatur dan menyatukan mereka, maka sesungguhnya perbuatan tunduk mutlak seperti itu hanyalah dilakukan oleh umat-umat lain di dunia jika mereka merasakan adanya kelemahan akut pada mental mereka dan dirundung ketakutan hebat akan kepungan pasukan musuh yang datang menyerbu. Sistem kerajaan terpusat yang agung seperti itu biasanya hanya menyisakan satu garis keluarga saja yang dianggap memiliki kelebihan di atas seluruh rakyatnya, sehingga rakyat menyerahkan segala urusan mereka dan tunduk ditarik tali kendalinya. Sedangkan pada bangsa Arab, sifat kepemimpinan, kegagahan, dan harga diri yang tinggi itu tersebar merata secara melimpah pada setiap individu mereka, hingga setiap orang dari mereka berambisi kuat untuk menjadi raja-raja yang berdaulat! Disertai dengan tingginya harga diri mereka yang menolak keras untuk membayar upeti tunduk dan enggan diperas harta bendanya dengan cara paksa yang sewenang-wenang!"
وَعَجِبَ كِسْرَى لِمَا أَجَابَهُ النُّعْمَانُ بِهِ وَقَالَ :
Dan Kisra merasa takjub dengan apa yang dijawab oleh An-Nu'man kepadanya, lalu dia berkata:
— إِنَّكَ لَأَهْلٌ لِمَوْضِعِكَ مِنَ الرِّيَاسَةِ فِي أَهْلِ إِقْلِيمِكَ وَلِمَا هُوَ أَفْضَلُ .
— Sesungguhnya kamu benar-benar layak bagi kedudukan kepemimpinanmu atas penduduk wilayahmu, bahkan untuk kedudukan yang lebih utama dari itu.
ثُمَّ كَسَاهُ كِسْوَتَهُ وَسَرَّحَهُ إِلَى مَوْضِعِهِ بِالْحِيرَةِ ، فَلَمَّا قَدِمَ النُّعْمَانُ الْحِيرَةَ وَفِي النَّفْسِ مَا فِيهَا مِمَّا سَمِعَ مِنْ كِسْرَى مِنْ تَنَقُّصِ الْعَرَبِ وَتَهْجِينِ أَمْرِهِمْ ، بَعَثَ أَكْثَمَ بْنَ صَيْفِيٍّ وَحَاجِبَ ابْنَ زُرَارَةَ التَّمِيمِيَّيْنِ ، وَإِلَى الْحَارِثِ بْنِ ظَالِمٍ وَقَيْسِ بْنِ مَسْعُودٍ الْبَكْرِيَّيْنِ ، وَإِلَى خَالِدِ بْنِ جَعْفَرٍ وَعَلْقَمَةَ بْنِ عُلَاثَةَ وَعَامِرِ بْنِ الطُّفَيْلِ ، وَإِلَى عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ السَّلَمِيِّ وَعَمْرِو بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الزُّبَيْدِيِّ ، وَالْحَارِثِ بْنِ ظَالِمٍ الْمُرِّيِّ ، فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَيْهِ فِي الْخَوَرْنَقِ قَالَ لَهُمْ :
Kemudian Kisra memberinya pakaian kehormatan dan melepasnya kembali ke kedudukannya di Al-Hirah. Maka ketika An-Nu'man tiba di Al-Hirah, sedangkan di dalam jiwanya masih tersimpan ganjalan akibat apa yang didengarnya dari Kisra yang merendahkan bangsa Arab dan memburuk-burukkan urusan mereka, ia segera mengutus utusan kepada Aktsam bin Shaifi dan Hajib bin Zurarah dari Bani Tamim; kepada Al-Harits bin Zhalim dan Qais bin Mas'ud dari Bani Bakr; kepada Khalid bin Ja'far, 'Alqamah bin 'Ulatsah, dan 'Amir bin Ath-Thufail; serta kepada 'Amru bin Asy-Syarid As-Sulami, 'Amru bin Ma'di Karib Az-Zubaidi, dan Al-Harits bin Zhalim Al-Murri. Maka ketika mereka telah datang menemuinya di istana Al-Khawarnaq, ia berkata kepada mereka:
— قَدْ عَرَفْتُمْ هَذِهِ الْأَعَاجِمَ وَقُرْبَ جِوَارِ الْعَرَبِ مِنْهَا ، وَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ كِسْرَى مَقَالَاتٍ تَخَوَّفْتُ أَنْ يَكُونَ لَهَا غَوْرٌ وَيَكُونَ إِنَّمَا أَظْهَرَهَا لِأَمْرٍ أَرَادَ أَنْ يَتَّخِذَ بِهِ الْعَرَبَ خَوَلًا كَبَعْضِ طَمَاطِمَتِهِ ( مَنْ فِي لِسَانِهِ عُجْمَةٌ ) فِي تَأْدِيَتِهِمُ الْخَرَاجَ إِلَيْهِ كَمَا يَفْعَلُ بِمُلُوكِ الْأُمَمِ الَّذِينَ حَوْلَهُ .
— Sungguh kalian telah mengetahui orang-orang asing (Ajam) ini dan dekatnya bertetangga bangsa Arab dengan mereka. Aku telah mendengar perkataan-perkataan dari Kisra yang aku khawatirkan memiliki maksud tersembunyi yang dalam, dan bahwasanya dia menampakkannya hanya karena suatu perkara; dia ingin menjadikan bangsa Arab sebagai pelayan/hamba sahaya seperti sebagian orang-orang asing yang gagap bicaranya (yang pada lidahnya terdapat kekakuan) dalam hal penyerahan upeti kepadanya, sebagaimana yang dia lakukan terhadap raja-raja dari bangsa-bangsa di sekitarnya.
فَاقْتَصَّ عَلَيْهِمْ مَقَالَاتِ كِسْرَى وَمَا رَدَّ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا :
Maka An-Nu'man menceritakan secara teperinci kepada mereka perkataan-perkataan Kisra dan apa yang ia sanggahkan kepada mereka, lalu mereka berkata:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ وَفَّقَكَ اللَّهُ ! مَا أَحْسَنَ مَا رَدَدْتَ وَأَبْلَغَ مَا حَجَجْتَهُ بِهِ ، فَمُرْنَا بِأَمْرِكَ وَادْعُنَا إِلَى مَا شِئْتَ .
— Wahai Raja, semoga Allah memberimu taufik! Alangkah indahnya apa yang telah engkau sanggahkan dan alangkah runtuhnya hujah yang engkau lontarkan kepadanya. Maka perintahkanlah kami dengan perintahmu dan serulah kami kepada apa saja yang engkau kehendaki.
— إِنَّمَا أَنَا رَجُلٌ مِنْكُمْ وَإِنَّمَا مَلَكْتُ وَعَزَزْتُ بِمَكَانِكُمْ وَمَا يَتَخَوَّفُ مِنْ نَاحِيَتِكُمْ ، وَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا سَدَّدَ اللَّهُ بِهِ أَمْرَكُمْ وَأَصْلَحَ بِهِ شَأْنَكُمْ وَأَدَامَ بِهِ عِزَّكُمْ ، وَالرَّأْيُ أَنْ تَسِيرُوا بِجَمَاعَتِكُمْ أَيُّهَا الرَّهْطُ وَتَنْطَلِقُوا إِلَى كِسْرَى فَإِذَا دَخَلْتُمْ نَطَقَ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِمَا حَضَرَهُ لِيَعْلَمَ أَنَّ الْعَرَبَ عَلَى غَيْرِ مَا ظَنَّ أَوْ حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ ، وَلَا يَنْطِقُ رَجُلٌ مِنْكُمْ بِمَا يُغْضِبُهُ فَإِنَّهُ مَلِكٌ عَظِيمُ السُّلْطَانِ كَثِيرُ الْأَعْوَانِ مُتْرَفٌ مُعْجَبٌ بِنَفْسِهِ ، وَلَا تَتَخَاذَلُوا لَهُ الْمُخَاذَلَةَ الْخَاضِعَ الذَّلِيلَ ، وَلِيَكُنْ أَمْرٌ بَيْنَ ذَلِكَ تَظْهَرُ بِهِ وَثَاقَةُ حُلُومِكُمْ وَفَضْلُ مَنْزِلَتِكُمْ وَعِظَمُ أَخْطَارِكُمْ . وَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَنْ يَبْدَأُ بِالْكَلَامِ أَكْثَمُ بْنُ صَيْفِيٍّ لِسِنِّهِ حَالِهِ ، ثُمَّ تَتَابَعُوا عَلَى الْأَمْرِ مِنْ مَنَازِلِكُمُ الَّتِي وُضِعْتُمْ بِهَا ، فَإِنَّمَا دَعَانِي إِلَى التَّقْدِمَةِ إِلَيْكُمْ عِلْمِي بِجَمِيلِ كُلِّ رَجُلٍ مِنْكُمْ عَلَى التَّقَدُّمِ قِبَلَ صَاحِبِهِ ، فَلَا يَكُونَنَّ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَيَجِدَ فِي آدَابِكُمْ مَطْعَنًا فَإِنَّهُ مَلِكٌ قَادِرٌ مُسَلَّطٌ .
— Sesungguhnya aku hanyalah seorang lelaki dari kalian, dan hanyalah aku menjadi raja serta menjadi kuat karena kedudukan kalian dan apa yang disegani dari pihak kalian. Tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada apa yang Allah luruskan dengannya urusan kalian, perbaiki dengannya keadaan kalian, dan kekalkan dengannya kemuliaan kalian. Pendapatku adalah hendaknya kalian berangkat bersama rombongan kalian ini, wahai sekalian tokoh, dan pergilah menuju Kisra. Apabila kalian telah masuk menemuinya, hendaklah setiap orang dari kalian berbicara dengan apa yang terlintas di benaknya, agar dia mengetahui bahwa bangsa Arab tidaklah seperti apa yang dia duga atau apa yang dibisikkan oleh jiwanya. Namun, janganlah ada seorang pun dari kalian yang berbicara dengan sesuatu yang membuatnya murka, karena sesungguhnya dia adalah raja yang agung kekuasaannya, banyak pembantunya, hidup bermewah-mewah, lagi kagum terhadap dirinya sendiri. Dan jangan pula kalian menampakkan kelemahan di hadapannya seperti kelemahan orang yang tunduk lagi hina. Hendaklah urusan itu berada di antara hal tersebut, yang dengannya tampak keteguhan akal kalian, keutamaan kedudukan kalian, dan besarnya martabat kalian. Dan hendaklah orang yang pertama kali memulai pembicaraan adalah Aktsam bin Shaifi karena faktor usia dan kedudukannya, kemudian kalian menyusul bergantian atas perkara tersebut berdasarkan kedudukan-kedudukan kalian yang telah ditempatkan bagi kalian. Sesungguhnya hal yang mendorongku untuk mendahulukan urusan ini kepada kalian adalah pengetahuanku tentang keluhuran setiap orang dari kalian untuk maju sebelum kawannya, maka jangan sampai hal itu terjadi dari kalian sehingga dia menemukan celah celaan dalam adab-adab kalian, karena sesungguhnya dia adalah raja yang berkuasa lagi absolut.
ثُمَّ دَعَا لَهُمْ بِمَا فِي خَزَائِنِهِ مِنْ طَرَائِفِ حُلَلِ الْمَلِكِ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ حُلَّةً وَعِمَامَةً وَخَتْمَهُ بِيَاقُوتَةٍ ، وَأَمَرَ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ بِنَجِيبَةٍ مَهْرِيَّةٍ وَفَرَسٍ نَجِيبَةٍ ، وَكَتَبَ مَعَهُمْ كِتَابًا : « أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ الْمَلِكَ أَلْقَى إِلَى مَنْ أَمْرِ الْعَرَبِ مَا قَدْ عَلِمَ ، وَأَجَبْتُهُ بِمَا قَدْ فَهِمَ ، بِمَا أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ عَلَى عِلْمٍ وَلَا يَتَلَجْلَجُ فِي نَفْسِهِ أَنَّ أُمَّةً مِنَ الْأُمَمِ الَّتِي احْتَجَزَتْ دُونَهُ بِمَمْلَكَتِهَا وَحَمَلَتْ مَا يَلِيهَا يَفْضُلُ قُوَّتُهَا تَبْلُغُهَا فِي شَيْءٍ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يَتَعَزَّزُ بِهَا ذَوُو الْحَزْمِ وَالْقُوَّةِ وَالتَّدْبِيرِ وَالْمَكِيدَةِ ، وَقَدْ أَوْفَدْتُ أَيُّهَا الْمَلِكُ رَهْطًا مِنَ الْعَرَبِ لَهُمْ فَضْلٌ فِي أَحْسَابِهِمْ وَأَنْسَابِهِمْ وَعُقُولِهِمْ وَآدَابِهِمْ ، فَلْيَسْمَعِ الْمَلِكُ وَلْيُغَامِضْ عَنْ جَفَاءٍ إِنْ ظَهَرَ مِنْ مَنْطِقِهِمْ ، وَلْيُكْرِمْنِي بِإِكْرَامِهِمْ وَتَعْجِيلِ سَرَاحِهِمْ ، وَقَدْ نَسَبْتُهُمْ فِي أَسْفَلِ كِتَابِي إِلَى عَشَائِرِهِمْ » .
Kemudian An-Nu'man meminta diambilkan untuk mereka apa yang ada di dalam gudang-gudangnya berupa pakaian-pakaian raja yang indah dan langka; setiap orang dari mereka mendapatkan satu setel pakaian pakaian kehormatan, sebilah surban, dan cincin bermata yakut (rubi). Ia juga memerintahkan agar setiap orang dari mereka diberi seekor unta betina pilihan keturunan Mahrah dan seekor kuda pacu yang mulia, lalu ia menulis sebuah surat bersama mereka: "Amma ba'du, sesungguhnya Raja telah melontarkan perihal urusan bangsa Arab dengan apa yang telah diketahui, dan aku telah menjawabnya dengan apa yang telah dipahami, dengan apa yang aku sukai agar dia mengetahuinya dan tidak terombang-ambing di dalam jiwanya bahwasanya ada suatu umat dari umat-umat yang membatasi diri di luar kerajaannya dan menopang wilayah yang berbatasan dengannya, memiliki keunggulan kekuatan yang menyamainya dalam segala perkara yang dengannya orang-orang yang memiliki keteguhan, kekuatan, manajemen, dan siasat menjadi kuat. Dan sungguh aku telah mengutus, wahai Raja, sekelompok tokoh dari bangsa Arab yang memiliki keutamaan dalam kehormatan keturunan mereka, silsilah nasab mereka, akal mereka, dan adab mereka. Maka hendaklah Raja mendengarkan dan hendaklah memaklumi atas kekasaran jika tampak dari ucapan mereka, serta hendaklah memuliakan aku dengan memuliakan mereka dan menyegerakan kepulangan mereka. Dan sungguh aku telah menyebutkan nasab mereka di bagian bawah suratku ini berdasarkan suku-suku mereka."
فَخَرَجَ الْقَوْمُ فِي أُهْبَتِهِمْ حَتَّى وَقَفُوا بِبَابِ كِسْرَى بِالْمَدَائِنِ ، فَدَفَعُوا إِلَيْهِ كِتَابَ النُّعْمَانِ فَقَرَأَهُ وَأَمَرَ بِإِنْزَالِهِمْ ، إِلَى أَنْ يَجْلِسَ لَهُمْ مَجْلِسًا يَسْمَعُ مِنْهُمْ . فَلَمَّا أَنْ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ بِأَيَّامٍ أَمَرَ مَرَازِبَتَهُ وَوُجُوهَ أَهْلِ مَمْلَكَتِهِ فَحَضَرُوا وَجَلَسُوا عَلَى كَرَاسِيَّ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ، ثُمَّ دَعَا بِهِمْ عَلَى الْوَلَاءِ وَالْمَرَاتِبِ الَّتِي وَصَفَهُمُ النُّعْمَانُ بِهَا فِي كِتَابِهِ ، وَأَقَامَ التُّرْجُمَانَ لِيُؤَدِّيَ إِلَيْهِ كَلَامَهُمْ . ثُمَّ أَذِنَ لَهُمْ فِي الْكَلَامِ فَقَامَ أَكْثَمُ بْنُ صَيْفِيٍّ فَقَالَ :
Maka rombongan itu pun berangkat dengan segala perlengkapan mereka hingga mereka berdiri di depan pintu gerbang istana Kisra di istana Al-Madain. Lalu mereka menyerahkan surat An-Nu'man kepadanya, maka Kisra membacanya dan memerintahkan agar mereka ditempatkan di persinggahan, sampai dia menyediakan waktu sidang bagi mereka untuk mendengar dari mereka. Maka setelah berlalu beberapa hari setelah itu, Kisra memerintahkan para panglima militernya (marazibah) dan para pemuka penduduk kerajaannya untuk hadir, lalu mereka pun hadir dan duduk di atas kursi-kursi di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian dia memanggil rombongan Arab tersebut berdasarkan loyalitas dan tingkatan kedudukan yang telah digambarkan oleh An-Nu'man tentang mereka di dalam suratnya, serta menghadirkan seorang juru bahasa (penerjemah) untuk menyampaikan perkataan mereka kepadanya. Kemudian dia mengizinkan mereka untuk berbicara, maka berdirilah Aktsam bin Shaifi lalu berkata:
— إِنَّ أَفْضَلَ الْأَشْيَاءِ أَعَالِيهَا ، وَأَعْلَى الرِّجَالِ مُلُوكُهَا ، وَأَفْضَلَ الْمُلُوكِ أَعَمُّهَا نَفْعًا ، وَخَيْرَ الْأَزْمِنَةِ أَخْصَبُهَا وَأَفْضَلَ الْخُطَبَاءِ أَصْدَقُهَا . الصِّدْقُ مَنْجَاةٌ ، وَالْكَذِبُ مَهْوَاةٌ ، وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ ، وَالْحَزْمُ مَرْكَبٌ صَعْبٌ ، وَالْعَجْزُ مَرْكَبٌ وَطِيءٌ . آفَةُ الرَّأْيِ الْهَوَى ، وَالْعَجْزُ مِفْتَاحُ الْفَقْرِ ، وَخَيْرُ الْأُمُورِ الصَّبْرُ . حُسْنُ الظَّنِّ وَرْطَةٌ ، وَسُوءُ الظَّنِّ عِصْمَةٌ . إِصْلَاحُ فَسَادِ الرَّعِيَّةِ خَيْرٌ مِنْ إِصْلَاحِ فَسَادِ الرَّاعِي . مَنْ فَسَدَتْ بِطَانَتُهُ كَانَ كَالْغَاصِّ بِالْمَاءِ ، شَرُّ الْبِلَادِ بِلَادٌ لَا أَمِيرَ فِيهَا . شَرُّ الْمُلُوكِ مَنْ خَافَهُ الْبَرِيءُ . الْمَرْءُ يَعْجِزُ لَا مَحَالَةَ . أَفْضَلُ الْأَوْلَادِ الْبَرَرَةُ . خَيْرُ الْأَعْوَانِ مَنْ لَمْ يُرَاءِ بِالنَّصِيحَةِ ، أَحَقُّ الْجُنُودِ بِالنَّصْرِ مَنْ حَسُنَتْ سَرِيرَتُهُ . يَكْفِيكَ مِنَ الزَّادِ مَا بَلَّغَكَ الْمَحَلَّ . حَسْبُكَ مِنْ شَرٍّ سَمَاعُهُ . الصَّمْتُ حُكْمٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ . الْبَلَاغَةُ الْإِيجَازُ . مَنْ شَدَّدَ نَفَّرَ ، وَمَنْ تَرَاحَمَ تَآلَفَ .
— Sesungguhnya seutama-utama perkara adalah yang paling tinggi nilainya, dan setinggi-tinggi manusia adalah para rajanya, dan seutama-utama raja adalah yang paling merata manfaatnya, dan sebaik-baik zaman adalah yang paling subur, dan seutama-utama ahli pidato adalah yang paling jujur. Kejujuran adalah keselamatan, dan kedustaan adalah jurang kehancuran, dan keburukan adalah keras kepala, dan keteguhan adalah kendaraan yang sulit ditiadakan, sedangkan kelemahan adalah kendaraan yang empuk. Penyakit bagi akal pikiran adalah hawa nafsu, dan kelemahan adalah kunci kemiskinan, dan sebaik-baik urusan adalah kesabaran. Terlalu berprasangka baik adalah bumerang marabahaya, sedangkan berprasangka buruk (waspada) adalah penjagaan. Memperbaiki kerusakan rakyat lebih baik daripada memperbaiki kerusakan pemimpin. Barang siapa yang rusak orang-orang dekatnya, maka dia bagai orang yang tersedak oleh air. Seburuk-buruk negeri adalah negeri yang tidak ada pemimpin di dalamnya. Seburuk-buruk raja adalah orang yang ditakuti oleh orang yang tidak bersalah. Seseorang pasti akan menemui titik lemah tanpa bisa dielakkan. Seutama-utama anak adalah yang berbakti. Sebaik-baik pembantu adalah yang tidak pamer (riya) dalam memberi nasihat, dan tentara yang paling berhak mendapatkan kemenangan adalah yang baik hati sanubarinya. Cukuplah bagimu dari bekal apa yang menyampgikanmu ke tempat tujuan. Cukuplah bagimu dari keburukan dengan sekadar mendengarnya. Diam itu adalah kebijaksanaan namun sedikit pelakunya. Retorika yang baik itu adalah ringkas padat. Barang siapa yang bersikap keras niscaya membuat orang lari, dan barang siapa yang saling berkasih sayang niscaya akan saling bersatu.
فَتَعَجَّبَ كِسْرَى مِنْ أَكْثَمَ ، ثُمَّ قَالَ :
Maka Kisra merasa kagum terhadap Aktsam, kemudian dia berkata:
— وَيْحَكَ يَا أَكْثَمُ مَا أَحْكَمَكَ وَأَوْثَقَ كَلَامَكَ ، لَوْلَا وَضْعُكَ كَلَامَكَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ .
— Celaka kamu wahai Aktsam, alangkah bijaksananya kamu dan alangkah kuatnya perkataanmu, andai saja kamu tidak menempatkan perkataanmu bukan pada tempatnya.
قَالَ أَكْثَمُ :
Aktsam berkata:
— الصِّدْقُ يَنْبِئُ عَنْكَ لَا الْوَعِيدُ .
— Kejujuran itu yang menerangkan tentang dirimu, bukanlah ancaman.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلْعَرَبِ غَيْرُكَ لَكَفَى .
— Jikalau bangsa Arab tidak memiliki orang lain selain dirimu, niscaya itu sudah sangat cukup.
قَالَ أَكْثَمُ :
Aktsam berkata:
— رُبَّ قَوْلٍ أَنْفَذُ مِنْ صَوْلٍ ( الْوَثْبَة عِنْدَ الْخُصُومَةِ ) .
— Terkadang suatu perkataan itu lebih tajam menembus sasaran daripada suatu serangan fisik (terjangan saat terjadi pertikaian).
ثُمَّ قَامَ حَاجِبُ بْنُ زُرَارَةَ التَّمِيمِيُّ فَقَالَ :
Kemudian berdirilah Hajib bin Zurarah At-Tamimi lalu ia berkata:
— وَرَى زَنْدُكَ وَعَلَتْ يَدُكَ ، وَهَابَ سُلْطَانُكَ . إِنَّ الْعَرَبَ أُمَّةٌ قَدْ غَلُظَتْ أَكْبَادُهَا ، وَاسْتَحْصَدَتْ مِرَّتُهَا ( الْقُوَّةُ ) ، وَمُنِعَتْ دِرَّتُهَا ، وَهِيَ لَكَ وَامِقَةٌ مَا تَأَلَّفْتَهَا ، مُسْتَرْسِلَةٌ مَا لَايَنْتَهَا ، سَامِعَةٌ مَا سَامَحْتَهَا . وَهِيَ الْعَلْقَمُ مَرَارَةً ، وَهِيَ الصَّابُ غَضَاضَةً ، وَالْعَسَلُ حَلَاوَةً ، وَالْمَاءُ الزُّلَالُ سَلَاسَةً . نَحْنُ وَفُودُهَا إِلَيْكَ ، وَأَلْسِنَتُهَا لَدَيْكَ . ذِمَّتُنَا مَحْفُوظَةٌ ، وَأَحْسَابُنَا مَمْنُوعَةٌ ، وَعَشَائِرُنَا فِينَا سَامِعَةٌ مُطِيعَةٌ . إِنْ نُثِبْ لَكَ حَامِدِينَ خَيْرًا فَلَكَ بِذَلِكَ عُمُومُ مَحْمَدَتِنَا ، وَإِنْ تَذُمَّ لَمْ نُخَصَّ بِالذَّمِّ دُونَهَا .
— Semoga kayumu menghasilkan api, tanganmu selalu berada di atas, dan kekuasaanmu selalu disegani. Sesungguhnya bangsa Arab adalah umat yang tebal hatinya (teguh pendiriannya), telah kokoh kekuatannya, dan terlindung air susunya (sumber dayanya). Dan mereka sangat mencintaimu selama engkau merangkul mereka, bersikap ramah selama engkau melembuti mereka, dan mendengar selama engkau berlapang dada kepada mereka. Namun mereka laksana pohon alkam pgit empedunya, mereka adalah pohon shab yang menyesakkan, sekaligus madu kelezatannya, dan air jernih kesegarannya. Kami adalah para utusannya kepadamu, dan lidah-lidahnya di hadapanmu. Hak jaminan perlindungan kami senantiasa terjaga, harga diri kehormatan kami tidak boleh diusik, dan suku-suku kami di tengah-tengah kami selalu mendengar lagi taat. Jika kami kembali kepadamu seraya memuji dengan kebaikan, maka bagimu atas hal itu pujian kami secara menyeluruh. Dan jika engkau mencela, kami tidak akan dikhususkan dengan celaan tersebut tanpa menyertakan mereka.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— يَا حَاجِبُ مَا أَشْبَهَ حَجَرَ التِّلَالِ بِأَلْوَانِ صُخُورِهَا .
— Wahai Hajib, alangkah miripnya batu perbukitan dengan warna-warna batuan besarnya (ucapanmu selaras dengan kaummu).
قَالَ حَاجِبُ :
Hajib berkata:
— بَلْ زَئِيرُ الْأَسَدِ بِصَوْلَتِهَا .
— Bahkan bagai auman singa jantan beserta terkaman serangannya.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— وَذَلِكَ .
— Begitulah adanya.
ثُمَّ قَامَ الْحَارِثُ بْنُ عَبَّارٍ الْبَكْرِيُّ فَقَالَ :
Kemudian berdirilah Al-Harits bin 'Abbar Al-Bakri lalu ia berkata:
— دَامَتِ الْمَمْلَكَةُ بِاسْتِكْمَالِ جَزِيلِ حَظِّهَا ، وَعُلُوِّ سَنَائِهَا . مَنْ طَالَ رِشَاؤُهُ ( حَبْلُهُ ) كَثُرَ مَنْحُهُ ( اسْتِقْصَاؤُهُ ) ، وَمَنْ ذَهَبَ مَالُهُ قَلَّ مَنْحُهُ . تَنَاقُلُ الْأَقَاوِيلِ يُعْرَفُ اللُّبُّ، وَهَذَا مَقَامٌ سَيُوجِفُ ( يَضْطَرِبُ ) بِمَا تَنْطِقُ بِهِ الرَّكْبُ ، وَتَعْرِفُ بِهِ كُنْهَ حَالِنَا الْعَجَمُ وَالْعَرَبُ . وَنَحْنُ جِيرَانُكَ الْأَدْنَوْنَ ، وَأَعْوَانُكَ الْمَعِينُونَ ، خُيُولُنَا جَمَّةٌ ، وَجُيُوشُنَا فَخْمَةٌ . إِنِ اسْتَنْجَدْتَنَا فَغَيْرُ رَيِضٍ ( غَيْرُ مُقَصِّرِينَ ) ، وَإِنِ اسْتَطْرَقْتَنَا فَغَيْرُ جُهَّضٍ . ( غَيْرُ مَانِعِينَ ) ، وَإِنْ طَلَبْتَنَا فَغَيْرُ غُمَّضٍ . لَا نَنْثَنِي لِذُعْرٍ ، وَلَا نَنْتَكِرُ لِدَهْرٍ . رِمَاحُنَا طِوَالٌ ، وَأَعْمَارُنَا قِصَارٌ .
— Semoga kerajaan senantiasa langgeng dengan kesempurnaan bagian keberuntungannya yang besar, serta tingginya kemegahannya. Barang siapa yang panjang tali timbanya, niscaya akan banyak hasil curahan airnya (upaya maksimalnya); dan barang siapa yang sirna hartanya, niscaya akan sedikit pemberiannya. Dari saling berpindah-pindahnya desas-desus perkataan niscaya akan diketahui kadar akal pikiran seseorang, dan ini adalah suatu kedudukan tempat berdirinya rombongan berkuda yang berguncang membawa berita apa yang diucapkan di sini, dan dengannya orang asing maupun Arab mengetahui hakikat keadaan kami. Kami adalah tetangga-tetanggamu yang paling dekat, dan para pembantumu yang siap menolong. Kuda-kuda kami sangat banyak, dan pasukan militer kami sangat megah agung. Jika engkau meminta pertolongan kami, maka kami bukanlah orang-orang yang lamban bersantai (bukan orang-orang yang teledor), dan jika engkau mendatangi kami di malam hari maka kami bukanlah orang yang kaget terkejut (bukan orang yang menghalang-halangi), dan jika engkau mencari kami niscaya kami bukan orang yang memejamkan mata tertidur. Kami tidak akan berbalik mundur karena ketakutan, dan kami tidak akan mengingkari perubahan zaman. Tombak-tombak kami sangat panjang, sedangkan umur-umur kami sangat pendek.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— لَوْ قَصُرَ عُمْرُكَ لَمْ تَسْتَوْلِ عَلَى لِسَانِكَ نَفْسُكَ .
— Jikalau umurmu itu pendek, niscaya jiwamu tidak akan sanggup menguasai sepenuhnya atas lidahmu itu.
قَالَ الْحَارِثُ :
Al-Harits berkata:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ إِنَّ الْفَارِسَ إِذَا حَمَلَ نَفْسَهُ عَلَى الْكَتِيبَةِ مُغْرِرًا بِنَفْسِهِ عَلَى الْمَوْتِ ، فَهِيَ مَنِيَّةٌ اسْتَقْبَلَهَا ، وَجَنَانٌ اسْتَدْبَرَهَا . وَالْعَرَبُ تَعْلَمُ أَنِّي أَبْعَثُ الْعَرَبَ قَدَمًا وَأَحْبِسُهَا وَهِيَ تَصْرِفُ بِهَا ، حَتَّى إِذَا جَاشَتْ نَارُهَا ، وَسَعَرَتْ لَظَاهَا ، وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقِهَا ، جَعَلْتُ مَقَادَهَا رُمْحِي ، وَبَرْقَهَا سَيْفِي ، وَرَعْدَهَا زَئِيرِي ، وَلَمْ أَقْصُرْ عَنْ خَوْفِ ضَحْضَاحِهَا ، حَتَّى أَنْغَمِسَ فِي غَمَرَاتِ لُجَجِهَا ، وَأَكُونَ فَلَكًا لِفُرْسَانِي إِلَى بَحْبُوحَةِ كَبْشِهَا ، فَأَسْتَمْطِرُهَا دَمًا ، وَأَتْرُكَ حُمَاتَهَا جَزَرَ السِّبَاعِ وَكُلَّ نَسْرٍ قَشْعَمٍ ( مُسِنٍّ ) .
— Wahai Raja, sesungguhnya seorang penunggang kuda perang apabila dia menerjangkan dirinya atas sepasukan detasemen militer seraya mempertaruhkan dirinya menjemput kematian, maka itu adalah maut yang dia songong di depannya dan ketakutan yang dia campakkan di belakang punggungnya. Bangsa Arab mengetahui bahwasanya aku mampu menggerakkan bangsa Arab melangkah maju ke depan dan menahannya saat mereka berpaling lari bersamanya. Hingga apabila apinya telah bergolak, gejolak kobarannya telah menyala-nyala, dan perang telah menyingkap betisnya (berkecamuk dahsyat), aku jadikan ujung tombakku sebagai penuntun arahnya, kilatnya adalah sebilah pedangku, petirnya adalah aumanku, dan aku tidak akan tertahan mundur karena takut akan airnya yang dangkal, hingga aku benar-benar menyelam terbenam di dalam dahsyatnya pusaran ombak samudra perang itu, dan aku menjadi bahtera penyelamat bagi para penunggang kudaku menuju jantung pertahanan pemimpin musuhnya, lalu aku menghujaninya dengan cucuran darah, dan aku tinggalkan para penjaga pelindungnya sebagai daging potongan bagi binatang buas dan setiap burung nasar yang sudah tua bangka.
فَالْتَفَتَ كِسْرَى لِمَنْ حَضَرَهُ مِنَ الْعَرَبِ وَقَالَ :
Maka Kisra menoleh kepada orang-orang Arab yang hadir di hadapannya lalu berkata:
— أَكَذَلِكَ هُوَ ؟
— Apakah benar demikian halnya dia itu?
قَالُوا :
Mereka berkata:
— فِعَالُهُ أَنْطَقُ مِنْ لِسَانِهِ .
— Perbuatan-perbuatannya jauh lebih fasih berbicara daripada lidahnya.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ ، وَفْدًا أَحْشَدَ ، وَلَا شُهُودًا أَوْفَدَ .
— Belum pernah aku melihat seperti hari ini, rombongan utusan yang lebih berbobot penuh isi, dan tidak pula para saksi tokoh yang lebih mulia diutus.
ثُمَّ قَامَ عَمْرُو بْنُ الشَّرِيدِ السَّلَمِيُّ فَقَالَ :
Kemudian berdirilah 'Amru bin Asy-Syarid As-Sulami lalu ia berkata:
— أَيُّهَا الْمَلِكُ نَعِمَ بَالُكَ ، وَدَامَ فِي السُّرُورِ حَالُكَ ، إِنَّ عَاقِبَةَ الْكَلَامِ مُتَدَبَّرَةٌ ، وَأَشْكَالَ الْأُمُورِ مُعْتَبَرَةٌ ، وَفِي كَثِيرٍ ثِقْلَةٌ ، وَفِي قَلِيلٍ بُلْغَةٌ ( مَا يَتَبَلَّغُ بِهِ ) . وَفِي الْمُلُوكِ سَوْرَةُ الْعِزِّ . وَهَذَا مَنْطِقٌ لَهُ مَا بَعْدَهُ ، شَرِفَ فِيهِ مَنْ شَرِفَ وَحُمِلَ فِيهِ مَنْ حُمِلَ ، لَمْ نَأْتِ لِضَيْمِكَ ، وَلَمْ نَفِدْ لِسُخْطِكَ ، وَلَمْ نَتَعَرَّضْ لِرِفْدِكَ ( لِعَطَائِكَ ) . إِنَّ فِي أَمْوَالِنَا مُنْتَقَدًا ، وَعَلَى عِزِّنَا مُعْتَمَدًا ، إِنْ أُورِينَا نَارًا أَنْقَدْنَا ، وَإِنْ أُرْوِدَ ( أُرْفِقَ ) دَهْرٌ بِنَا اعْتَدَلْنَا ، إِلَّا أَنَّا مَعَ هَذَا لِجِوَارِكَ حَافِظُونَ ، وَلِمَنْ رَامَكَ كَافِحُونَ ، حَتَّى يُحْمَدَ الصَّدْرُ ، وَيَسْتَطَابَ الْخَبَرُ .
— Wahai Raja, semoga tenang pikiranmu, dan senantiasa berada dalam kegembiraan keadaanmu. Sesungguhnya dampak akhir dari suatu perkataan itu harus diperhitungkan dengan saksama, dan bentuk-bentuk perkara itu harus dijadikan pelajaran. Di dalam banyak hal terkadang terdapat beban yang memberatkan, sedangkan di dalam sedikit hal terkadang sudah mencukupi sebagai penyampai tujuan (apa yang dijadikan bekal sekedarnya). Dan di dalam diri para raja terdapat gejolak kekuatan kemuliaan. Dan ini adalah suatu ucapan yang memiliki dampak setelahnya; yang dengannya menjadi mulia orang yang mulia dan terangkat dengannya orang yang terangkat. Kami tidak datang untuk merugikanmu, dan kami tidak datang sebagai utusan untuk memancing kemurkaanmu, dan kami tidak pula menyodorkan diri demi mengharap pemberian santunanmu. Sesungguhnya di dalam harta-harta kami terdapat kecukupan yang terpilih, dan atas kemuliaan kami terdapat sandaran tempat bergantung. Jika kami dinyalakan dengan api peperangan niscaya kami akan membalas membakarnya, dan jika zaman berlaku lembut (berlaku santun) kepada kami niscaya kami akan bersikap proporsional. Namun kami di samping hal ini, terhadap jalinan bertetangga denganmu senantiasa menjaga dengan baik, dan terhadap siapa saja yang bermaksud buruk menyerangmu niscaya kami akan maju menghadang bertarung, hingga akhir urusan dipuji dengan kebaikan, dan kabar berita dirasa menyenangkan kesudahannya.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra berkata:
— مَا يَقُومُ قَصْدُ مَنْطِقِكَ بِإِفْرَاطِكَ ، وَلَا مَدْحُكَ بِذَمِّكَ .
— Tidaklah seimbang kelurusan ucapanmu akibat sikap berlebih-lebihanmu, dan tidak pula pujianmu jika dibandingkan dengan celaanmu.
قَالَ عَمْرُو :
'Amru berkata:
— كَفَى بِقَلِيلٍ قَصْدِي هَادِيًا ، وَبِأَيْسَرِ إِفْرَاطِي مُخْبِرًا ، وَلَمْ يَلُمْ مَنْ عَزِيَتْ نَفْسُهُ عَمَّا يَعْلَمُ ، وَرَضِيَ مِنَ الْقَصْدِ بِمَا بَلَغَ .
— Cukuplah kelurusan tujuanku yang sedikit ini sebagai penunjuk arah, dan cukuplah kelalaianku yang paling ringan sebagai pemberi kabar. Dan tidaklah tercela orang yang jiwanya merasa mulia menjaga harga diri dari apa yang diketahuinya, dan dia telah rida terhadap tujuan moderat dengan apa yang telah dicapai.
قَالَ كِسْرَى :
Kisra (Kaisar Persia) berkata:
— مَا كُلُّ مَا يَعْرِفُ المَرْءُ يَنْطِقُ بِهِ ، اِجْلِسْ .
— Tidak semua hal yang diketahui oleh seseorang harus diucapkan, duduklah.
ثُمَّ قَامَ خَالِدُ بْنُ جَعْفَرٍ الكِلَابِيُّ فَقَالَ :
Kemudian Khalid bin Ja'far al-Kilabi bangkit berdiri dan berkata:
— أَحْضَرَ اللهُ المَلِكَ إِسْعَادًا ، وَأَرْشَدَهُ إِرْشَادًا . إِنَّ لِكُلِّ مَنْطِقٍ فُرْصَةً ، وَلِكُلِّ حَاجَةٍ غُصَّةً ، وَعِيُّ المُنْطِقِ أَشَدُّ مِنْ عِيِّ السُّكُوتِ ، وَعِثَارُ القَوْلِ أَنْكَىٰ مِنْ عِثَارِ الوَعْثِ ، وَمَا فُرْصَةُ المُنْطِقِ عِنْدَنَا إِلَّا بِمَا نَهْوَىٰ ، وَغُصَّةُ المُنْطِقِ بِمَا لَا نَهْوَىٰ غَيْرُ مُسَاغَةٍ ، وَتَرْكِي مَا أَعْلَمُ مِنْ نَفْسِي وَيَعْلَمُ مَنْ سَمِعِي أَنَّنِي لَهُ مُطِيقٌ ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ تَكَانِي مَا أَتَخَوَّفُ وَيَتَخَوَّفُ مِنِّي .
— Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada Baginda Raja dan memberinya petunjuk yang lurus. Sesungguhnya bagi setiap ucapan ada kesempatannya, dan bagi setiap kebutuhan ada hambatan (kesedihannya). Ketidakmampuan berbicara itu lebih berat daripada ketidakmampuan untuk diam, dan ketergelinciran ucapan itu lebih menyakitkan daripada ketergelinciran di jalan yang sukar. Kesempatan berbicara bagi kami tidak lain adalah demi apa yang kami sukai, sedangkan hambatan ucapan pada apa yang tidak kami sukai tidaklah dapat diterima. Meninggalkan apa yang aku ketahui tentang diriku dan diketahui oleh orang yang mendengarku bahwa aku mampu melakukannya, lebih aku sukai daripada memaksakan diri pada apa yang aku takuti dan apa yang ditakutkan dariku.
وَقَدْ أَوْفَدَنَا إِلَيْكَ مَلِكُنَا النُّعْمَانُ ، وَهُوَ لَكَ مِنْ خَيْرِ الأَعْوَانِ ، وَنِعْمَ حَامِلُ المَعْرُوفِ وَالإِحْسَانِ ، أَنْفُسُنَا بِالطَّاعَةِ لَكَ يَاضِعَةٌ ، وَرِقَابُنَا بِالنَّصِيحَةِ خَاضِعَةٌ ، وَأَيْدِينَا لَكَ بِالوَفَاءِ رَهِينَةٌ .
Dan raja kami, an-Nu'man, telah mengutus kami kepadamu, dan dia adalah sebaik-baik penolong bagimu, serta sebaik-baik pembawa kebaikan dan kebajikan. Jiwa-jiwa kami tunduk dalam ketaatan kepadamu, leher-leher kami patuh dalam kesetiaan, dan tangan-tangan kami tergadai untukmu demi menepati janji.
قَالَ لَهُ كِسْرَىٰ :
Kisra berkata kepadanya:
— نَطَقْتَ بِعَقْلٍ ، وَسَمَوْتَ بِفَضْلٍ ، وَعَلَوْتَ بِنُبْلٍ .
— Kamu telah berbicara dengan akal budi, meninggi dengan keutamaan, dan menjadi luhur dengan kemuliaan.
ثُمَّ قَامَ عَلْقَمَةُ بْنُ عُلَاثَةَ العَامِرِيُّ فَقَالَ :
Kemudian Alqamah bin Ulatsah al-Amiri bangkit berdiri dan berkata:
— نَهَجْتَ لَكَ سُبُلَ الرَّشَادِ ، وَخَضَعَتْ لَكَ رِقَابُ العِبَادِ . إِنَّ لِلْأَقَاوِيلِ مَنَاهِجَ ، وَلِلْآرَاءِ مَدَالِجَ ، وَلِلْعُوَيْصِ مَخَارِجَ . وَخَيْرُ القَوْلِ أَصْدَقُهُ ، وَأَفْضَلُ الطَّلَبِ أَنْجَحُهُ . إِنَّا وَإِنْ كَانَتِ المَحَبَّةُ أَحْضَرَتْنَا ، وَالوِفَادَةُ قَرَّبَتْنَا ، فَلَيْسَ مَنْ حَضَرَكَ مِنَّا بِأَفْضَلَ مِمَّنْ عَزَبَ عَنْكَ ، بَلْ لَوْ قِسْتَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ ، وَعَلِمْتَ مِنْهُمْ مَا عَلِمْنَا ، لَوَجَدْتَ لَهُ فِي آبَائِهِ دُنْيَا أَنْدَادًا وَأَكْفَاءً كُلُّهُمْ إِلَى الفَضْلِ مَنْسُوبٌ ، وَبِالشَّرَفِ وَالسُّؤْدُدِ مَوْصُوفٌ ، وَبِالرَّأْيِ الفَاضِلِ وَالأَدَبِ النَّافِذِ مَعْرُوفٌ ، يَحْمِي حِمَاهُ ، وَيُرْوَىٰ نِدَامَاهُ ، وَيَذُودُ أَعْدَاهُ ، لَا تُخْمَدُ نَارُهُ ، وَلَا يُخْتَرَزُ مِنْهُ جَارُهُ .
— Jalan-jalan petunjuk telah dibentangkan untukmu, dan leher para hamba telah tunduk kepadamu. Sesungguhnya perkataan itu memiliki jalan-jalannya, pendapat-pendapat memiliki tempat berjalannya, dan masalah yang pelik memiliki jalan keluarnya. Sebaik-baik perkataan adalah yang paling benar, dan seutama-utama tuntutan adalah yang paling berhasil. Sesungguhnya kami, meskipun rasa cinta yang menghadirkan kami dan kedutaan ini yang mendekatkan kami, namun tidaklah orang yang hadir di hadapanmu dari kalangan kami ini lebih utama daripada mereka yang jauh darimu. Bahkan, jika engkau menimbang setiap orang dari mereka dan mengetahui tentang mereka apa yang kami ketahui, niscaya engkau akan mendapati bahwa pada nenek moyang mereka terdapat tandingan dan orang-orang yang setara, yang semuanya dinisbatkan pada keutamaan, disifati dengan kemuliaan serta kepemimpinan, dan dikenal dengan pandangan yang utama serta budi pekerti yang mendalam; dia menjaga wilayahnya, memberi minum para sahabatnya, menghalau musuh-musuhnya, apinya tidak pernah padam (selalu menjamu tamu), dan tetangganya tidak perlu merasa terancam darinya.
أَيُّهَا المَلِكُ ، مَنْ يَلِ العَرَبَ يَعْرِفْ فَضْلَهُمْ ، فَاصْطَنِعِ العَرَبَ فَإِنَّهُمُ الجِبَالُ الرَّوَاسِي عِزًّا ، وَالبُحُورُ الزَّوَاخِرُ طَمْيًا ، وَالنُّجُومُ الزَّوَاهِرُ شَرَفًا ، وَالحَصَىٰ عَدَدًا ، فَإِنْ تَعْرِفْ لَهُمْ فَضْلَهُمْ يَعِزُّوكَ ، وَإِنْ تَسْتَنْصِرْهُمْ لَا يَخْذُلُوكَ .
Wahai Baginda Raja, barangsiapa yang memimpin bangsa Arab niscaya akan mengetahui keutamaan mereka. Maka jadikanlah bangsa Arab sebagai karibmu, karena mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh dalam hal kemuliaan, lautan yang penuh bergelombang dalam kedermawanan, bintang-bintang yang terang benderang dalam kehormatan, dan laksana kerikil dalam jumlah banyaknya. Jika engkau mengakui keutamaan mereka, mereka akan memuliakanmu, dan jika engkau meminta pertolongan mereka, mereka tidak akan mengecewakanmu.
قَالَ كِسْرَىٰ وَخَشِيَ أَنْ يَأْتِيَ مِنْهُ كَلَامٌ يَحْمِلُهُ عَلَى السَّخَطِ عَلَيْهِ :
Kisra berkata—sambil merasa khawatir jangan-jangan keluar ucapan dari orang tersebut yang dapat memancing kemarahannya kepada dia:
— حَسْبُكَ ، أَبْلَغْتَ وَأَحْسَنْتَ .
— Cukup bagimu, kamu telah menyampaikan dengan jelas dan telah berbuat baik.
ثُمَّ قَامَ قَيْسُ بْنُ مَسْعُودٍ الشَّيْبَانِيُّ فَقَالَ :
Kemudian Qais bin Mas'ud asy-Syaibani bangkit berdiri dan berkata:
— أَطَابَ اللهُ بِكَ المَرَاشِدَ ، وَجَنَّبَكَ المَصَائِبَ ، وَوَقَاكَ مَكْرُوهَ النَّصَائِبِ ( الشَّدَائِدِ ) . مَا أَحَقَّنَا إِذَا أَتَيْنَاكَ بِإِسْمَاعِكَ مَا لَا يَحْنَقُ صَدْرَكَ ، وَلَا يَزْرَعُ حَقْدًا فِي قَلْبِكَ . لَمْ نَقْدَمْ أَيُّهَا المَلِكُ لِمُسَامَاةٍ ، وَلَمْ نَنْتَسِبْ لِمُعَادَاةٍ ، وَلَكِنْ لِتَعْلَمَ أَنْتَ وَرَعِيَّتُكَ وَمَنْ حَضَرَكَ مِنْ وُفُودِ الأُمَمِ أَنَّا فِي المُنْطِقِ غَيْرُ مُحْجِمِينَ ، وَفِي النَّاسِ غَيْرُ مُقَصِّرِينَ . إِنْ جُورِينَا فَغَيْرُ مَسْبُوقِينَ ، وَإِنْ سُومِينَا فَغَيْرُ مَغْلُوبِينَ .
— Semoga Allah membaguskan urusan-urusan yang lurus melaluimu, menjauhkanmu dari musibah, dan memeliharamu dari bagian-bagian yang dibenci (kesulitan-kesulitan). Alangkah patutnya kami ketika mendatangimu untuk memperdengarkan kepadamu apa yang tidak menyesakkan dadamu dan tidak menanamkan kedengkian di dalam hatimu. Kami tidak datang, wahai Baginda Raja, untuk bersaing, dan kami tidak menghubungkan diri untuk bermusuhan, melainkan agar engkau, rakyatmu, serta utusan-utusan bangsa lain yang hadir di hadapanmu mengetahui bahwa kami tidak gentar dalam berbicara, dan tidak pula kurang di antara manusia. Jika kami diajak berlomba, kami tidak akan tertinggal, dan jika kami ditantang, kami tidak akan terkalahkan.
وَتَذَكَّرَ كِسْرَىٰ أَنَّ قَيْسًا تَرَكَ الوَفَاءَ بِضَمَانِهِ السَّوَادَ ، فَقَالَ :
Dan Kisra teringat bahwa Qais telah mengabaikan kesetiaan dalam jaminan wilayah as-Sawad (daerah subur Irak), lalu dia berkata:
— غَيْرَ أَنَّكُمْ إِذَا عَاهَدْتُمْ فَغَيْرُ وَافِينَ .
— Hanya saja, apabila kalian berjanji, kalian tidak menepatinya.
قَالَ قَيْسٌ :
Qais berkata:
— أَيُّهَا المَلِكُ مَا كُنْتُ فِي ذَاكَ إِلَّا كَوَافٍ غُدِرَ بِهِ ، أَوْ كَخَافِرٍ أُخْفِرَ بِذِمَّتِهِ .
— Wahai Baginda Raja, tidaklah keadaanku dalam hal itu melainkan seperti orang yang menepati janji namun dikhianati, atau seperti seorang pelindung yang dilanggar jaminan perlindungannya.
— مَا يَكُونُ لِضَعِيفٍ ضَمَانٌ ، وَلَا لِذَلِيلٍ خِفَارَةٌ .
— Tidaklah ada jaminan bagi orang yang lemah, dan tidak ada perlindungan bagi orang yang hina.
— أَيُّهَا المَلِكُ مَا أَنَا فِيمَا أُخْفِرَ مِنْ ذِمَّتِي ، أَحَقُّ بِالِإلْزَامِي العَارَ مِنْكَ فِيمَا قُتِلَ مِنْ رَعِيَّتِكَ ، وَانْتُهِكَ مِنْ حُرْمَتِكَ .
— Wahai Baginda Raja, tidaklah aku dalam hal dilanggarnya jaminanku ini, lebih patut untuk ditimpakan aib daripada dirimu atas terbunuhnya rakyatmu dan dilanggarnya kehormatanmu.
— ذٰلِكَ مَنِ ائْتَمَنَ الخَانَةَ وَاسْتَنْجَدَ الأَئِمَّةَ ، نَالَهُ مِنَ الخَطَإِ مَا نَالَنِي . وَلَيْسَ كُلُّ النَّاسِ سَوَاءً . كَيْفَ رَأَيْتَ حَاجِبَ بْنَ زُرَارَةَ لَمْ يُحْكِمْ قَوَاهُ فَيَبْرَمَ ، وَيَعْهَدْ فَيُوفِي ، وَيَعِدْ فَيُنْجِزَ .
— Demikian itu adalah orang yang mempercayai para pengkhianat dan meminta bantuan kepada orang-orang yang zalim, ia akan tertimpa kesalahan sebagaimana yang menimpaku. Dan tidak semua manusia itu sama. Bagaimana pendapatmu tentang Hajib bin Zurarah yang tidak memperkokoh kekuatannya sehingga menjadi kuat, tidak berjanji sehingga menepati, dan tidak berikrar sehingga melaksanakan?
— وَمَا أَحَقَّهُ بِذٰلِكَ وَمَا رَأَيْتُهُ إِلَّا لِي .
— Dan alangkah pantasnya dia dengan hal itu, dan tidaklah aku melihatnya melainkan tunduk kepadaku.
— القَوْلُ بَذْلٌ فَأَفْضَلُهَا أَشَدُّهَا .
— Perkataan itu adalah pemberian, maka yang paling utama adalah yang paling kokoh teguh.
ثُمَّ قَامَ عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ العَامِرِيُّ فَقَالَ :
Kemudian Amir bin ath-Thufail al-Amiri bangkit berdiri dan berkata:
— كَثُرَ فُنُونُ المُنْطِقِ ، وَلَيْسَ القَوْلُ أَعْمَىٰ مِنْ حِنْدِسِ الظَّلْمَاءِ وَإِنَّمَا الفَخْرُ فِي الفِعَالِ . وَالعَجْزُ فِي النَّجْدَةِ ، وَالسُّؤْدُدُ مُطَاوَعَةُ القُدْرَةِ ، وَمَا أَعْلَمُكَ بِقَدْرِنَا ، وَأَبْصَرَكَ بِفَضْلِنَا ، وَبِالأَحْرَىٰ إِنْ أَدَالَتِ الأَيَّامُ ، وَثَابَتِ الأَحْلَامُ ، أَنْ تَحْدُثَ لَنَا أُمُورٌ لَهَا أَعْلَامٌ .
— Ragam seni berbicara telah banyak, namun perkataan itu tidaklah buta dalam pekatnya kegelapan malam, melainkan kebanggaan yang sesungguhnya ada pada perbuatan. Kelemahan ada pada ketidakmampuan menolong, dan kepemimpinan adalah kepatuhan terhadap kemampuan. Betapa engkau mengetahui kadar kami, dan betapa engkau melihat keutamaan kami. Dan sangatlah mungkin jika hari-hari berganti dan akal sehat telah kembali, akan terjadi bagi kami perkara-perkara besar yang memiliki tanda-tanda yang jelas.
قَالَ كِسْرَىٰ :
Kisra bertanya:
— وَمَا تِلْكَ الأَعْلَامُ ؟
— Apakah tanda-tanda itu?
— مُجْتَمَعُ الأَحْيَاءِ مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ ، عَلَىٰ أَمْرٍ يُذْكَرُ .
— Berkumpulnya suku-suku dari kalangan Rabi'ah dan Mudhar, atas suatu urusan yang kelak akan disebut-sebut.
— وَمَا الأَمْرُ الَّذِي يُذْكَرُ ؟
— Dan urusan apakah yang akan disebut-sebut itu?
— مَا لِي عِلْمٌ بِأَكْثَرَ مِمَّا خَبَرَنِي بِهِ مُخْبِرٌ .
— Aku tidak memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada apa yang telah dikabarkan oleh seorang pemberi kabar kepadaku.
كَانَ عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ قَدْ سَمِعَ مِنْ أَحْبَارِ يَهُودَ وَكُهَّانِ النَّصَارَىٰ وَالمُنَجِّمِينَ أَنَّ نَبِيًّا يُوشِكُ أَنْ يُولَدَ فِي العَرَبِ ، يَجْمَعُ مَا تَنَافَرَ مِنْ قَبَائِلِ العَرَبِ ، يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَيَرْفَعُهُمْ فَوْقَ العَالَمِينَ وَقَدْ لَمَحَ إِلَىٰ مَا سَمِعَ فَقَالَ لَهُ كِسْرَىٰ :
Amir bin ath-Thufail sebelumnya telah mendengar dari rabi-rabi Yahudi, pendeta-pendeta Nasrani, dan para ahli nujum bahwa seorang Nabi akan segera lahir di kalangan bangsa Arab, yang akan menyatukan kembali suku-suku Arab yang saling mencerai-berai, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, serta mengangkat derajat mereka di atas seluruh alam. Dan dia telah mengisyaratkan kepada apa yang didengarnya itu. Maka Kisra berkata kepadanya:
— مَتَىٰ تَكَاهَنْتَ يَابْنَ الطُّفَيْلِ ؟
— Sejak kapan kamu menjadi dukun peramal, wahai Ibnu ath-Thufail?
— لَسْتُ بِكَاهِنٍ ، وَلَكِنِّي بِالرُّمْحِ طَاعِنٌ .
— Aku bukan dukun peramal, melainkan aku adalah seorang penikam dengan tombak (kesatria).
— فَإِنْ أَتَاكَ آتٍ مِنْ جِهَةِ عَيْنِكَ العَوْرَاءِ مَا أَنْتَ صَانِعٌ ؟
— Jika datang kepadamu musuh dari arah matamu yang buta sebelah, apa yang akan kamu lakukan?
— مَا هَيْبَتِي فِي قَفَايَ بِدُونِ هَيْبَتِي فِي وَجْهِي ، وَمَا أُذْهِبُ عَيْنِي فِي عَبَثٍ وَلَكِنْ مُطَاوَعَةَ العَبَثِ .
— Kewibawaanku yang tampak dari belakangku tidaklah kurang dari kewibawaanku yang tampak dari wajahku. Dan mataku tidaklah hilang dalam kesia-siaan, melainkan karena melawan kesia-siaan (dalam pertempuran terhormat).
ثُمَّ قَامَ عَمْرُو بْنُ مَعْدِي كَرِبَ الزُّبَيْدِيُّ فَقَالَ :
Kemudian Amru bin Ma'di Karib az-Zubaidi bangkit berdiri dan berkata:
— إِنَّمَا المَرْءُ بِأَصْغَرَيْهِ قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ ، فَبَلَاغُ المُنْطِقِ الصَّوَابُ ، وَمِلَاكُ النَّجْدَةِ الِارْتِيَادُ ، وَعَفْوُ الرَّأْيِ خَيْرٌ مِنِ اسْتِكْرَاهِ الفِكْرَةِ ، وَتَوْقِيفُ الخِبْرَةِ خَيْرٌ مِنِ اعْتِسَافِ الحَيْرَةِ ، فَاجْتَبِذْ ( اِجْتَنِبْ ) طَاعَتَنَا بِلَفْظِكَ ، وَاكْتَظِمْ بَادِرَتَنَا بِحِلْمِكَ ، وَأَلِنْ لَنَا كَنَفَكَ ( جَانِبَكَ ) ، يَسْلَسْ لَكَ قِيَادُنَا ، وَوَقِسْ صَفَاتِنَا قِرَاعُ مَنَافِيرَ مَنْ أَرَادَ لَنَا قَضْمًا ، وَلَكِنْ مَعَنَا حِمَانَا مِنْ كُلِّ رَامٍ لَنَا هَضْمًا .
— Sesungguhnya seseorang dinilai dari dua bagian terkecilnya; hati dan lisannya. Maka penyampaian ucapan yang fasih adalah kebenaran, dan inti dari keberanian adalah penyelidikan. Pendapat yang mengalir spontan lebih baik daripada pemikiran yang dipaksakan, dan ketetapan pengalaman lebih baik daripada menerjang kebingungan secara membabi buta. Maka raihlah ketaatan kami dengan ucapanmu, redamlah kemarahan kami dengan kesantunanmu, dan lunakkanlah sikapmu kepada kami, niscaya kepemimpinanmu atas kami akan berjalan mulus. Dan ketahuilah bahwa menguji keteguhan kami laksana benturan dalam medan pertempuran bagi siapa saja yang ingin menghancurkan kami, namun di sisi kami ada perlindungan kami dari setiap orang yang hendak menzalimi kami.
ثُمَّ قَامَ الحَارِثُ بْنُ ظَالِمٍ المُرِّيُّ فَقَالَ :
Kemudian Al-Harits bin Zhalim al-Murri bangkit berdiri dan berkata:
— إِنَّ مِنْ آفَةِ المُنْطِقِ الكَذِبَ ، وَمِنْ لُؤْمِ الأَخْلَاقِ المَلَقَ ، وَمِنْ خَطَلِ الرَّأْيِ خِفَّةُ المَلِكِ المُسَلَّطِ ، فَإِنْ أَعْلَمْنَاكَ أَنْ مُوَاجَهَتَنَا لَكَ عَنِ ائْتِلَافٍ ، وَإِفَادَتَنَا لَكَ عَنْ تَصَافٍ ، مَا أَنْتَ بِقَبُولِ ذٰلِكَ مِنَّا بِخَلِيقٍ ، وَلَا اعْتِمَادِ عَلَيْهِ بِحَقِيقٍ . وَلَكِنَّ الوَفَاءَ بِالعُهُودِ ، وَإِحْكَامَ وَثِيقِ العُقُودِ ، وَالأَمْرَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مُعْتَدِلٌ ، مَا لَمْ يَأْتِ مِنْ قِبَلِكَ مَيْلٌ أَوْ زَلَلٌ .
— Sesungguhnya di antara bencana perkataan adalah kebohongan, di antara buruknya akhlak adalah menjilat (cari muka), dan di antara rusaknya pandangan adalah ringannya (gampangnya goyah) seorang raja yang berkuasa. Jika kami memberitahumu bahwa kedatangan kami berhadapan denganmu didasari oleh kerukunan dan apa yang kami sampaikan kepadamu lahir dari ketulusan, maka engkau tidaklah patut menerima hal itu dari kami begitu saja, dan tidak pula bersandar kepadanya sebagai suatu kebenaran mutlak. Akan tetapi, sejatinya (yang mengikat) adalah pemenuhan janji-janji, pengokohan ikatan akad yang kuat, dan urusan antara kami denganmu akan tetap seimbang selagi tidak datang dari pihakmu penyimpangan ataupun kekhilafan.
قَالَ كِسْرَىٰ :
Kisra bertanya:
— مَنْ أَنْتَ ؟
— Siapa kamu?
— الحَارِثُ بْنُ ظَالِمٍ .
— Al-Harits bin Zhalim.
— إِنَّ فِي أَسْمَاءِ آبَائِكَ لَدَلِيلًا عَلَىٰ قِلَّةِ وَفَائِكَ ، وَأَنْ تَكُونَ أَوْلَىٰ بِالغَدْرِ وَأَقْرَبَ مِنَ الوِزْرِ .
— Sesungguhnya di dalam nama-nama bapakmu terdapat petunjuk atas sedikitnya kesetiaanmu, dan bahwa kamu lebih patut untuk berkhianat serta lebih dekat kepada dosa (karena nama "Zhalim" berarti orang yang berbuat aniaya).
— إِنَّ فِي الحَقِّ مَغْضَبَةً ، وَالسِّرُّ وَالتَّغَافُلُ ، وَلَنْ يَسْتَوْجِبَ أَحَدٌ الحِلْمَ إِلَّا مَعَ القُدْرَةِ ، فَلْتَشْتَبِهْ أَفْعَالُكَ بِمَجْلِسِكَ .
— Sesungguhnya di dalam kebenaran terdapat hal yang memancing amarah, rahasia, serta pura-pura tidak tahu. Dan tidak ada seorang pun yang berhak disebut santun melainkan ketika ia memiliki kemampuan untuk membalas, maka hendaklah perbuatan-perbuatanmu selaras dengan kewibawaan majelismu ini.
قَالَ كِسْرَىٰ :
Kisra berkata:
— هٰذَا فَتَىٰ القَوْمِ .
— Ini adalah pemuda terbaik dari kaum tersebut.
ثُمَّ قَالَ :
Kemudian dia berkata lagi:
— قَدْ فَهِمْتُ مَا نَطَقَتْ بِهِ خُطَبَاؤُكُمْ وَتَفَنَّنَ فِيهِ مُتَكَلِّمُوكُمْ . وَلَوْلَا أَنِّي أَعْلَمُ أَنَّ الأَدَبَ لَمْ يَثْقَفْ أَوَدَكُمْ ( اِعْوِجَاجَكُمْ ) ، وَلَمْ يُحْكِمْ أَمْرَكُمْ ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مَلِكٌ يَجْمَعُكُمْ فَتَنْطَلِقُونَ عِنْدَهُ مَنْطِقَ الرَّعِيَّةِ الخَاضِعَةِ البَاخِعَةِ ، فَنَطَقْتُمْ بِمَا اسْتَوْلَىٰ عَلَىٰ أَلْسِنَتِكُمْ ، وَغَلَبَ عَلَىٰ طِبَاعِكُمْ ، لَمْ أُجِزْ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا تَكَلَّمْتُمْ بِهِ ، وَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُحِبَّ وُفُودِي أَوْ أَضِيقَ صُدُورَهُمْ ، وَالذِي أُحِبُّ مِنْ إِصْلَاحِ مُدِيرِكُمْ ، وَتَآلُفِ شَوَاذِّكُمْ ، وَالإِعْذَارِ إِلَى اللهِ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ . وَقَدْ قَبِلْتُ فِيمَا كَانَ مِنْ مَنْطِقِكُمْ مِنْ صَوَابٍ ، وَصَفَحْتُ عَمَّا كَانَ فِيهِ مِنْ خَلَلٍ ، فَانْصَرِفُوا إِلَىٰ مُلْكِكُمْ فَأَحْسِنُوا مُؤَازَرَتَهُ ، وَالتَزِمُوا طَاعَتَهُ ، وَادْعُوا سُفَهَاءَكُمْ وَأَقِيمُوا أَوَدَكُمْ ، وَأَحْسِنُوا أَدَبَكُمْ ، فَإِنَّ فِي ذٰلِكَ صَلَاحَ العَامَّةِ .
— Aku telah memahami apa yang diucapkan oleh para orator kalian dan ragam seni yang dibawakan oleh para pembicara kalian. Kalaulah bukan karena aku tahu bahwa budi pekerti belum meluruskan kebengkokan kalian, belum memperkokoh urusan kalian, dan bahwasanya tidak ada seorang raja pun yang menyatukan kalian sehingga kalian bisa berbicara di hadapannya layaknya ucapan rakyat yang tunduk dan patuh sepenuhnya—sehingga kalian berbicara sesuai apa yang menguasai lisan kalian dan mendominasi tabiat kalian—niscaya aku tidak akan menoleransi banyak hal dari apa yang telah kalian ucapkan tadi. Sungguh, aku tidak suka jika aku harus menghukum utusan-utusanku atau membuat dada mereka sesak. Dan yang aku sukai adalah perbaikan bagi pemimpin kalian, penyatuan orang-orang yang memisahkan diri dari kalian, dan penuaian uzur di hadapan Allah dalam perkara antara aku dan kalian. Aku telah menerima kebenaran yang ada pada ucapan kalian, dan memaafkan kekeliruan yang ada di dalamnya. Maka kembalilah kalian kepada raja kalian (an-Nu'man), bantulah dia dengan baik, jagalah ketaatan kepadanya, serulah orang-orang bodoh di antara kalian, luruskanlah kebengkokan kalian, dan perbaguslah budi pekerti kalian, karena sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat kemaslahatan bagi masyarakat luas.
كَانَ كِسْرَىٰ يَتَكَلَّمُ فِي ثِقَةٍ وَغُرُورٍ ، وَلَوْ اِخْتَرَقَتْ أَبْصَارُهُ حُجُبَ الغَيْبِ لَرَأَىٰ مَوْلِدَ النَّبِيِّ الَّذِي لَمَحَ إِلَيْهِ اِبْنُ الطُّفَيْلِ فِي دَارٍ مِنْ دُورِ مَكَّةَ ، وَلَرَأَىٰ هٰؤُلَاءِ العَرَبَ الَّذِينَ كَانَ يُعَيِّرُهُمْ بِأَنْ لَيْسَ لَهُمْ مَلِكٌ يَجْمَعُهُمْ وَلَا أَدَبٌ يُثَقِّفُ اِعْوِجَاجَهُمْ ، وَقَدْ جَمَعَهُمْ ذٰلِكَ النَّبِيُّ وَدَفَعَهُمُ الدِّينُ الَّذِي جَاءَهُمْ بِهِ إِلَىٰ غَزْوِ فَارِسَ وَانْتِزَاعِ سَرِيرِ المُلْكِ مِنْ أَحْفَادِهِ ، حَتَّىٰ تَتَحَقَّقَ نُبُوءَةُ سَاسَانَ وَوَصِيَّةُ زَرَادَشْتَ ، وَلَوْ تَفَرَّسَ فِي الغَيْبِ طَوِيلًا لَرَأَىٰ عَمْرَو بْنَ مَعْدِي كَرِبَ ذٰلِكَ الشَّابَّ الَّذِي قَالَ فَأَوْجَزَ يَجِدُ فِي أَثَرِ فُلُولِ جُيُوشِ الفُرْسِ حَتَّى المَدَائِنِ : « وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ » .
Kisra berbicara dengan penuh rasa percaya diri dan keangkuhan. Seandainya pandangannya mampu menembus tirai gaib, niscaya dia akan melihat kelahiran Sang Nabi yang diisyaratkan oleh Ibnu ath-Thufail di salah satu rumah di kota Mekah. Dan niscaya dia akan melihat bangsa Arab ini—yang dicelanya karena tidak memiliki raja yang menyatukan mereka serta tidak memiliki budi pekerti yang meluruskan kebengkokan mereka—telah disatukan oleh Nabi tersebut, dan digerakkan oleh agama yang dibawanya untuk menaklukkan Persia serta merebut takhta kerajaan dari para anak cucunya, hingga terwujudlah ramalan Sasan dan wasiat Zarathustra. Serta seandainya dia memperhatikan masa depan gaib itu lebih lama lagi, niscaya dia akan melihat Amru bin Ma'di Karib—pemuda yang tadi berbicara dengan ringkas namun padat—sedang berderap maju mengejar sisa-sisa pasukan Persia yang tercerai-berai hingga ke kota al-Madain (ibu kota Persia) sambil menggemakan ayat: "Dan Kami wariskan negeri itu kepada kaum yang lain."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar