BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 26

MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Antara Dua Cinta: Air Mata Halimah dan Pelukan Kerinduan Aminah

Episode ini menyoroti momen perpisahan yang menyesakkan antara Halimah dan Muhammad ﷺ, sebuah pergulatan emosi yang menunjukkan betapa besar rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ bagi siapapun yang pernah merawatnya.

كَانَتِ الشَّمْسُ تَرْتَفِعُ مِنْ خَلْفِ الْجِبَالِ كَأَنَّهَا قُرْصٌ مِنَ الْفِضَّةِ يَتُوهَجُ ، وَقَدْ شَعَّتْ مِنْهُ أَشِعَّةٌ وَاهِنَةٌ ضَرَبَتْ حَوْلَهَا دَائِرَةً مِنْ شَفَقٍ أَحْمَرَ مُزِجَتْ بِأَضْوَاءٍ مِنَ لُجَيْنٍ . وَرَاحَ قُرْصُ الْفِضَّةِ يَرْتَفِعُ وَيَتَأَلَّقُ وَتَنْدَاحُ أَشِعَّتُهُ حَتَّى احْتَلَّتْ مَا بَيْنَ الْجَبَلَيْنِ وَغَمَرَتْ وَادِيَ هَوَازِنَ بِنُورٍ خَافِتٍ مَا لَبِثَ أَنْ اشْتَدَّ وَازْدَادَ تَأَلُّقًا .
Matahari terbit dari balik gunung seolah-olah cakram perak yang bersinar, dan memancarkan sinar lemah yang membentuk lingkaran fajar merah yang bercampur dengan cahaya perak. Cakram perak itu terus naik dan bersinar, sinar-sinarnya meluas hingga menempati celah di antara kedua gunung dan membanjiri lembah Hawazin dengan cahaya redup yang tak lama kemudian menguat dan semakin bersinar.
وَجَلَسَتْ حَلِيمَةُ السَّعْدِيَّةُ أَمَامَ دَارِهَا تُرْضِعُ مُحَمَّدًا وَهِيَ تَرْنُو إِلَيْهِ فِي حُبٍّ شَدِيدٍ ، وَشَرَدَ خَيَالُهَا وَإِذَا بِهَا تَسْتَرْجِعُ ذَلِكَ الْيَوْمَ الْمُبَارَكَ الَّذِي جَاءَتْ فِيهِ إِلَى مَكَّةَ مَعَ نِسْوَةٍ مِنْ قَبِيلَتِهَا يَلْتَمِسْنَ أَطْفَالَ سَادَاتِ قُرَيْشٍ . إِنَّهَا تَرَى عَبْدَ الْمُطَّلِبِ سَيِّدَ قُرَيْشٍ يُقْبِلُ نَحْوَهَا وَيَرِنُ فِي جَوْفِهَا ذَلِكَ الْحِوَارُ الَّذِي دَارَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ :
Halimah as-Sa'diyyah duduk di depan rumahnya menyusui Muhammad sambil menatapnya dengan penuh cinta. Angan-angannya melayang dan ia mengenang hari penuh berkah ketika ia datang ke Makkah bersama para wanita dari sukunya untuk mencari anak-anak para pemimpin Quraisy. Ia melihat Abdul Muthalib, pemimpin Quraisy, mendekatinya, dan terngiang dalam batinnya percakapan yang terjadi di antara mereka pada hari itu:
— مَنْ أَنْتِ ؟
— Siapa kamu?
— أَنَا امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي سَعْدٍ .
— Aku seorang wanita dari Bani Sa'd.
— مَا اسْمُكِ ؟
— Siapa namamu?
— حَلِيمَةُ .
— Halimah.
— بَخٍ بَخٍ سَعْدٌ وَحِلْمٌ خَصْلَتَانِ فِيهِمَا خَيْرُ الدَّهْرِ وَعِزُّ الْأَبَدِ . يَا حَلِيمَةُ إِنَّ عِنْدِي غُلَامًا يَتِيمًا وَقَدْ عَرَضْتُهُ عَلَى نِسَاءِ بَنِي سَعْدٍ فَأَبَيْنَ أَنْ يَقْبَلْنَهُ وَقُلْنَ : مَا عِنْدَ الْيَتِيمِ مِنَ الْخَيْرِ ، إِنَّمَا نَلْتَمِسُ الْكَرَامَةَ مِنَ الْآبَاءِ . فَهَلْ لَكِ أَنْ تُرْضِعِيهِ فَعَسَى أَنْ تُسْعَدِي بِهِ ؟
— Wah, wah! "Sa'd" (kebahagiaan) dan "Hilm" (kesantunan), dua sifat yang di dalamnya terdapat kebaikan zaman dan kemuliaan abadi. Wahai Halimah, sesungguhnya aku memiliki seorang anak laki-laki yatim dan aku telah menawarkannya kepada para wanita Bani Sa'd, tetapi mereka enggan menerimanya dan berkata: "Apa kebaikan yang ada pada anak yatim? Kami hanya mencari kehormatan dari para ayah." Maka, maukah engkau menyusuinya? Semoga engkau berbahagia dengannya.
— أَلَا تَذَرُنِي أُشَاوِرُ صَاحِبِي ؟
— Tidakkah engkau membiarkanku bermusyawarah dengan suamiku?
وَعَادَتْ حَلِيمَةُ تَنْظُرُ إِلَى مُحَمَّدٍ ، مُشْرِقَةَ الْوَجْهِ مُتَفَتِّحَةَ النَّفْسِ فَتَسْتَشْعِرُ غِنًى فِي عَوَاطِفِهَا الَّتِي تَفِيضُ بِالرِّضَا وَالْحُبِّ كُلَّمَا رَنَتْ إِلَى وَجْهِ الطِّفْلِ الْجَمِيلِ الْآسِرِ الَّذِي سَعِدَتْ بِهِ .
Halimah kembali memandang Muhammad, wajahnya berseri-seri dan jiwanya terbuka, maka ia merasakan kekayaan dalam emosinya yang meluap dengan ridha dan cinta setiap kali ia memandang wajah anak kecil yang cantik dan memikat yang membuatnya bahagia.
وَرَأَتْ نَفْسَهَا وَهِيَ تَذْهَبُ إِلَى آمِنَةَ لِتَأْخُذَ مِنْهَا الطِّفْلَ فَإِذَا هُوَ مُدَرَّجٌ فِي ثَوْبٍ أَبْيَضَ وَقَدْ رَاحَ فِي سُبَاتٍ ، فَرَاحَتْ تَتَنَاوَلُهُ فِي رِفْقٍ شَفَقَةً مِنْهَا أَنْ تُوقِظَهُ مِنْ نَوْمِهِ ، وَلَكِنَّهُ فَتَحَ عَيْنَيْهِ فَرَاعَهَا حُسْنُهُ فَمَالَتْ عَلَيْهِ وَقَبَّلَتْهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ فَاسْتَشْعَرَتْ مَشَاعِرَ غَامِضَةً مُثِيرَةً لَمْ تُحِسَّ مِثْلَهَا مِنْ قَبْلُ ، فَيَا طَالَمَا قَبَّلَتِ ابْنَهَا الرَّضِيعَ وَلَكِنَّهَا لَمْ تَنْفَتِحْ لَهُ ذَاتَهَا مِثْلَ ذَلِكَ التَّفَتُّحِ الَّذِي طَرَأَ عَلَى وِجْدَانِهَا . وَظَلَّتْ حَلِيمَةُ فِي دَهْشَةٍ مِنْ أَمْرِهَا فَمَا خَطَرَ لَهَا بِالٍ أَنَّ اللَّهَ أَلْقَى فِي قَلْبِهَا مَحَبَّتَهُ .
Ia melihat dirinya pergi menemui Aminah untuk mengambil anak itu darinya, ternyata ia terbungkus dalam kain putih dan sedang tertidur pulas. Ia pun mengambilnya dengan lembut karena kasihan jika harus membangunkannya dari tidurnya, tetapi ia membuka matanya, maka kecantikannya mengejutkannya, sehingga ia mencondongkan diri padanya dan mencium di antara kedua matanya. Maka ia merasakan perasaan misterius yang menggairahkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Betapa sering ia mencium bayinya sendiri, tetapi batinnya tidak terbuka untuknya seperti keterbukaan yang tiba-tiba muncul pada nuraninya. Halimah tetap dalam keheranan dengan urusannya, karena tidak terlintas dalam benaknya bahwa Allah telah menanamkan kecintaan kepadanya di dalam hatinya.
وَوَضَعَتْ حَلِيمَةُ مُحَمَّدًا وَجَاءَتْ بِابْنِهَا عَبْدِ اللَّهِ لِتُرْضِعَهُ فَإِذَا بِمُحَمَّدٍ يَحْبُو هُنَا وَهُنَاكَ وَيَجِيءُ إِلَى كُلِّ جَانِبٍ .. وَشُغِلَتْ حَلِيمَةُ عَنِ ابْنِهَا بِمُرَاقَبَتِهِ فَهُوَ يَشِبُّ شَبَابًا لَا يُشْبِهُ الْغِلْمَانَ ، فَإِذَا كَانَ ابْنُهَا عَبْدُ اللَّهِ أَسَنَّ مِنْهُ فَهُوَ لَمْ يَحْبُ بَعْدُ . وَجَاءَ الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى زَوْجُ حَلِيمَةَ ، فَلَمَّا رَأَى مُحَمَّدًا انْطَلَقَ إِلَيْهِ وَحَمَلَهُ وَيَضُمُّهُ إِلَى صَدْرِهِ وَحَلِيمَةُ تَنْظُرُ إِلَيْهِمَا وَقَدْ رَفَتْ عَلَى شَفَتَيْهَا بَسْمَةٌ سَعِيدَةٌ ، فَقَدْ رَاحَ الْحُبُّ يَخْفِقُ بِجَنَاحَيْهِ عَلَى الْوَادِي كُلَّهُ يَوْمَ عَادَتْ مِنْ مَكَّةَ بِذَلِكَ الطِّفْلِ الْمُبَارَكِ .
Halimah meletakkan Muhammad dan datang bersama anaknya Abdullah untuk menyusuinya, ternyata Muhammad sedang merangkak ke sana ke mari dan datang ke setiap sudut.. Halimah tersibukkan dari anaknya dengan mengawasinya, karena ia tumbuh berkembang dengan pertumbuhan yang tidak menyerupai anak-anak lain. Jika anaknya, Abdullah, lebih tua darinya, maka ia belum merangkak. Datanglah Al-Harits bin Abdul Uzza, suami Halimah, ketika ia melihat Muhammad, ia bergegas kepadanya, menggendongnya, dan mendekapnya ke dadanya, sementara Halimah memandang keduanya dan senyum bahagia terlukis di bibirnya. Cinta telah mengepakkan sayapnya di atas lembah itu sejak hari ia kembali dari Makkah dengan anak yang penuh berkah itu.
وَأَقْبَلَتْ أُنَيْسَةُ وَالشِّيْمَاءُ وَهَرَعَتْ كُلُّ مِنْهُمَا إِلَى أَبِيهَا تُرِيدُ أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُ مُحَمَّدًا ، وَمَدَّتِ الشِّيْمَاءُ يَدَيْهَا لِتَتَنَاوَلَ الطِّفْلَ فَقَدْ كَانَتْ أَكْبَرَ مِنْ أُنَيْسَةَ ، فَلَمْ تَجِدْ أُنَيْسَةُ مَفَرًّا مِنْ أَنْ تَصِيحَ لَعَلَّهَا تَصِلُ بِصَوْتِهَا إِلَى مَا عَجَزَتْ يَدَاهَا أَنْ تَبْلُغَهُ .
Unaisah dan Asy-Syima datang dan keduanya bergegas menuju ayahnya, masing-masing ingin mengambil Muhammad darinya. Asy-Syima mengulurkan tangannya untuk mengambil anak itu karena ia lebih tua dari Unaisah. Unaisah tidak menemukan jalan lain selain berteriak, barangkali suaranya bisa mencapai apa yang gagal dicapai oleh tangannya.
فَابْتَسَمَ الْحَارِثُ لَهُمَا وَرَاحَ يُحَاوِلُ أَنْ يُقْنِعَ أُنَيْسَةَ أَنَّهَا أَصْغَرُ مِنْ أَنْ تَحْمِلَهُ ، فَرَأَتْ أَنْ تُبْطِلَ حُجَّتَهُ فَجَلَسَتْ عَلَى الْأَرْضِ وَطَلَبَتْ مِنْ أَبِيهَا أَنْ يَضَعَهُ فِي حِجْرِهَا ، فَأَشْرَقَ الْحَارِثُ بِالرِّضَا وَمَالَ بِمُحَمَّدٍ حَتَّى وَضَعَهُ فِي حِجْرِ الصَّغِيرَةِ .
Al-Harits tersenyum kepada keduanya dan mulai mencoba meyakinkan Unaisah bahwa ia terlalu kecil untuk menggendongnya. Ia melihat untuk menggugurkan alasannya, maka ia duduk di tanah dan meminta ayahnya untuk menaruhnya di pangkuannya. Al-Harits pun berseri-seri karena ridha dan memiringkan Muhammad hingga ia meletakkannya di pangkuan si kecil.
وَظَهَرَ فِي وَجْهِ الشِّيْمَاءِ الِاسْتِيَاءِ ، وَفَطِنَتْ حَلِيمَةُ لِذَلِكَ فَدَعَتْهَا لِتَحْمِلَ أَخَاهَا عَبْدَ اللَّهِ ، وَلَكِنَّ الشِّيْمَاءَ أَعْرَضَتْ عَنْهَا وَذَهَبَتْ إِلَى حَيْثُ تَرْعَى غَنَمُ أَبِيهَا .
Raut wajah tidak senang muncul di wajah Asy-Syima, Halimah menyadari hal itu, lalu memintanya untuk menggendong saudaranya, Abdullah, tetapi Asy-Syima berpaling darinya dan pergi ke tempat ternak kambing ayahnya merumput.
وَدَخَلَتْ وَاحِدَةٌ مِنْ غُنَيْمَاتِ حَلِيمَةَ إِلَى حَيْثُ كَانَ مُحَمَّدٌ ، فَلَمَّا رَآهَا رَاحَ يَحْبُو إِلَيْهَا وَيَمُدُّ إِلَيْهَا يَدَهُ ، فَإِذَا بِهَا تَمُدُّ رَأْسَهَا إِلَيْهِ وَتَلْمَسُهُ فِي حَنَانٍ ، فَبَدَا تَعَاطُفٌ مُثِيرٌ بَيْنَهُمَا ، وَسَرَتْ فِي الْمَكَانِ بَرَاءَةٌ نَاصِعَةٌ وَطَهَارَةٌ خَافِقَةٌ وَرَحْمَةٌ دَافِقَةٌ ، وَأَفْعَمَ بِحُبٍّ مَا بَعْدَهُ حُبٌّ ؛ حُبٌّ خَالِصٌ مَبْرَأٌ عَنِ الْهَوَى ، أَنْقَى مِنَ الصَّفَاءِ وَأَرَقُّ مِنْ كُلِّ مَا فِي الْوُجُودِ مِنْ رِقَّةٍ ، وَأَسْمَى مِنْ كُلِّ مَا فِي الدُّنْيَا مِنْ سُمُوِّ رِفْعَةٍ .
Salah satu kambing kecil Halimah masuk ke tempat Muhammad berada, ketika ia melihatnya, ia merangkak ke arahnya dan mengulurkan tangannya kepadanya. Ternyata kambing itu mengulurkan kepalanya kepadanya dan menyentuhnya dengan penuh kasih sayang. Maka tampaklah rasa kasih sayang yang menggetarkan di antara keduanya, dan tersebarlah di tempat itu kepolosan yang murni, kesucian yang berdenyut, dan rahmat yang melimpah. Hati dipenuhi dengan cinta yang tiada tara; cinta murni yang terbebas dari hawa nafsu, lebih jernih dari kejernihan, lebih lembut dari segala kelembutan yang ada di jagat raya, dan lebih tinggi dari segala ketinggian martabat yang ada di dunia.
وَجَاءَ اللَّيْلُ وَنَامَ عَبْدُ اللَّهِ وَبَكَى مُحَمَّدٌ ، فَحَمَلَتْهُ حَلِيمَةُ وَخَرَجَتْ بِهِ مِنْ دَارِهَا إِلَى الْخَلَاءِ . كَانَتِ السَّمَاءُ صَافِيَةً وَالنُّجُومُ تَتَلَأْلَأُ فِي قُبَّتِهَا الزَّرْقَاءِ . وَمَا أَنْ رَأَى مُحَمَّدٌ جَلَالَ مَا حَوْلَهُ حَتَّى كَفَّ عَنِ الْبُكَاءِ ، وَرَاحَ يَرْنُو إِلَى مَصَابِيحِ السَّمَاءِ وَقَدْ رَانَ عَلَى وَجْهِهِ هُدُوءٌ عَجِيبٌ ، وَسُرْعَانَ مَا غَمَرَتْهُ سَعَادَةٌ لَكَأَنَّمَا كَانَتْ رُوحُهُ تَمْتَصُّ رَحِيقَ الْوُجُودِ ، وَلَكَأَنَّمَا قَدِ ارْتَبَطَتِ الْأَسْبَابُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ .
Malam pun tiba, Abdullah tidur, dan Muhammad menangis. Halimah menggendongnya dan membawanya keluar dari rumahnya ke tempat terbuka. Langit cerah dan bintang-bintang gemerlap di kubah birunya. Begitu Muhammad melihat keagungan di sekelilingnya, ia berhenti menangis, dan mulai menatap lentera-lentera langit, sementara ketenangan yang aneh menyelimuti wajahnya. Dengan cepat kebahagiaan membanjirinya, seolah-olah jiwanya sedang menyerap sari pati keberadaan, dan seolah-olah sebab-sebab telah terhubung antara dirinya dan langit.
عَرَفَتْ حَلِيمَةُ فِيهِ لِتَقْلِيبِ وَجْهِهِ فِي الْكَوْنِ فَكَانَتْ تَتْرُكُهُ السَّاعَاتِ فِي النَّهَارِ يُمْعِنُ النَّظَرَ فِي شُرُوقِ الشَّمْسِ مِنْ خَلْفِ جِبَالِ هَوَازِنَ ، وَفِي وَادِيهَا الْجَدِيبِ ، وَفِي أَرْضِهَا إِذَا أَحْيَتْهَا الْأَمْطَارُ بَعْدَ مَوَاتٍ وَمَسَّتْهَا بَعْصَاهَا السِّحْرِيَّةِ فَكَسَتْهَا حُلَّةً سَنْدَسِيَّةً زُيِّنَتْ بِالْيَوَاقِيتِ وَالْمَرْجَانِ وَالزَّبَرْجَدِ وَكُلِّ أَلْوَانِ الثِّمَارِ . وَكَانَتْ تَخْرُجُ بِهِ فِي اللَّيْلِ إِلَى الْفَضَاءِ لِيَرْقُبَ الْقَمَرَ وَيَرْنُو إِلَى الْكَوَاكِبِ وَالنُّجُومِ ، وَيَصِيخُ السَّمْعَ إِلَى زَفَرَاتِ نَسِيمِ الصَّبَا وَزَئِيرِ هُبُوبِ الرِّيَاحِ ، فَقَدْ كَانَ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ صِغَرِ سِنِّهِ يَتَعَاطَفُ مَعَ الْكَوْنِ وَيَتَنَاسَقُ مَعَ مَا حَوْلَهُ وَيَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ كُلَّمَا مَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى الْأَرْضِ الْجَرْدَاءِ وَالْأَرْضِ الْخَضْرَاءِ ، وَإِلَى السَّمَاءِ الصَّافِيَةِ وَالسَّمَاءِ الْمُلْبِدَةِ بِالْغُيُومِ ، وَإِلَى ظَلَامِ اللَّيْلِ ، وَإِلَى النُّجُومِ الزَّاهِرَةِ وَالْكَوَاكِبِ الثَّابِتَةِ وَالْكَوَاكِبِ السَّيَّارَةِ ، وَكَانَ احْتِفَالُهُ بِاللَّيْلِ عَجِيبًا لَكَأَنَّمَا قَدْ خُلِقَ يَرْعَى السَّمَاءَ ؛ غِذَاءً لِرُوحِهِ لِتَقْوَى وَتَشْتَدَّ وَتَسْمُوَ حَتَّى تَقْدِرَ عَلَى أَنْ تَتَّصِلَ بِمَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ ، بِرُوحِ الْوُجُودِ ، بِذَاتِ الذَّوَاتِ .
Halimah mengetahui darinya, dengan membolak-balikkan wajahnya di alam semesta, ia membiarkannya berjam-jam di siang hari menatap tajam matahari terbit dari balik gunung-gunung Hawazin, dan di lembahnya yang gersang, dan di tanahnya ketika hujan menghidupkannya setelah mati dan menyentuhnya dengan tongkat sihirnya, lalu ia menyelimutinya dengan pakaian sutra yang dihiasi dengan permata, karang, zamrud, dan segala warna buah-buahan. Ia keluar bersamanya di malam hari ke ruang terbuka untuk mengamati bulan dan menatap planet-planet dan bintang-bintang, serta mendengarkan desahan angin sepoi-sepoi dan gemuruh tiupan angin. Meskipun usianya masih muda, ia bersimpati dengan alam semesta, selaras dengan apa yang ada di sekitarnya, dan berseri-seri dengan kegembiraan setiap kali ia mengarahkan matanya ke tanah gersang dan tanah hijau, ke langit cerah dan langit yang mendung, ke kegelapan malam, ke bintang-bintang yang cemerlang, planet-planet tetap, dan planet-planet yang bergerak. Perayaannya dengan malam sungguh menakjubkan, seolah-olah ia diciptakan untuk menjaga langit; sebagai makanan bagi jiwanya agar menjadi kuat, kokoh, dan luhur hingga ia mampu terhubung dengan apa yang ada di balik alam, dengan ruh keberadaan, dengan Dzat dari segala Dzat.
وَبَلَغَ مُحَمَّدٌ مِنَ الْعُمْرِ سَنَتَيْنِ فَإِذَا بِهِ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي قَبِيلَةِ هَوَازِنَ وَقَدْ تَفَتَّحَتْ لَهُ الْقُلُوبُ وَبَشَّتْ لَهُ الْوُجُوهُ وَأَلْقَى إِلَيْهِ النَّاسُ أَسْمَاعَهُمْ وَهُمْ فِي عَجَبٍ مِنْ أَمْرِهِ ، فَقَدْ كَانَ يَتَحَدَّثُ حَدِيثًا فَصِيحًا يَأْخُذُ بِمَجَامِعِ الْأَلْبَابِ ، وَيَشِبُّ شَبَابًا لَا يُشْبِهُ الْغِلْمَانَ .
Muhammad mencapai usia dua tahun, ia pun pergi dan datang di suku Hawazin. Hati terbuka untuknya, wajah-wajah tersenyum padanya, dan orang-orang mendengarkannya dengan penuh kekaguman. Ia berbicara dengan tutur kata yang fasih yang memikat hati, dan tumbuh dengan pertumbuhan yang tidak menyerupai anak-anak lainnya.
وَذَاتَ لَيْلَةٍ رَانَ عَلَى دَارِ حَلِيمَةَ حُزْنٌ ثَقِيلٌ فَقَدْ فَصَلَتْ حَلِيمَةُ مُحَمَّدًا وَفِي الْغَدِ سَتَنْطَلِقُ بِهِ مَعَ زَوْجِهَا إِلَى مَكَّةَ لِتُعِيدَهُ إِلَى أُمِّهِ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ ، وَسَادَ الْجَمِيعَ وَجُومٌ فَقَدْ نَزَلَ مُحَمَّدٌ فِي سُوَيْدَاءِ قُلُوبِهِمْ ، صَارَ بِضْعَةً مِنْهُمْ وَقَدْ أَحَبُّوهُ حُبًّا جَمًّا مَلَكَ عَلَيْهِمْ كُلَّ حَوَاسِّهِمْ . وَقَطَعَ السُّكُونَ قَوْلُ الشِّيْمَاءِ لِأُمِّهَا :
Suatu malam, kesedihan yang berat menyelimuti rumah Halimah karena ia telah menyapih Muhammad dan besok ia akan pergi bersamanya bersama suaminya ke Makkah untuk mengembalikannya kepada ibunya, Aminah binti Wahb. Semua orang terdiam karena Muhammad telah menempati lubuk hati mereka, ia telah menjadi bagian dari mereka, dan mereka sangat mencintainya dengan cinta yang menguasai seluruh indra mereka. Kesunyian itu terpotong oleh perkataan Asy-Syima kepada ibunya:
— لِمَاذَا لَا يَمْكُثُ مُحَمَّدٌ فِينَا يَا أُمَّهْ ؟
— Mengapa Muhammad tidak tinggal bersama kita, wahai Ibu?
وَلَزِمَتْ حَلِيمَةُ الصَّمْتَ وَقَالَ الْحَارِثُ :
Halimah tetap diam, dan Al-Harits berkata:
— فَصَلَ مُحَمَّدٌ وَلَمْ يَعُدْ فِي حَاجَةٍ إِلَى مَنْ تُرْضِعُهُ .
— Muhammad sudah disapih dan tidak lagi membutuhkan orang yang menyusuinya.
كَانَتْ أُنَيْسَةُ قَدْ سَعِدَتْ بِسُؤَالِ أُخْتِهَا وَكَانَتْ تَرْجُو أَنْ يَمْكُثَ مُحَمَّدٌ فِيهِمْ ، فَلَمَّا سَمِعَتْ قَوْلَ أَبِيهَا أَحَسَّتْ أَنَّ هَذِهِ آخِرَ لَيْلَةٍ تَجْمَعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الطِّفْلِ الْحَبِيبِ ، فَقَامَتْ إِلَى حَيْثُ كَانَ مُحَمَّدٌ وَقَبَّلَتْهُ وَفِي الْحَلْقِ غُصَّةٌ وَفِي الْعَيْنَيْنِ دُمُوعٌ .
Unaisah merasa senang dengan pertanyaan saudarinya dan berharap agar Muhammad tinggal bersama mereka. Ketika ia mendengar perkataan ayahnya, ia merasakan bahwa ini adalah malam terakhir yang mempertemukan mereka dengan sang anak tercinta. Ia pun bangkit menuju tempat Muhammad dan menciumnya dengan tenggorokan yang tercekat dan air mata di mata.
وَآنَ أَوَانُ الرَّحِيلِ فَرَكِبَتْ حَلِيمَةُ أَتَانَهَا وَحَمَلَتْهُ عَلَيْهَا مَعًا ، فَإِذَا بِالشِّيْمَاءِ تَأْتِي وَتُعَاوِدُ تَقْبِيلَهُ وَعَبَرَاتُهَا تَجْرِي عَلَى خَدَّيْهَا ، وَإِذَا بِأُنَيْسَةَ تَقِفُ حَزِينَةً تَسْتَشْعِرُ إِحْسَاسَ مَنْ فَقَدَ عَزِيزًا وَأَنَّ الْوُجُودَ صَارَ قَفْرًا فَقَدْ سُلِبَتْ مِنْهُ رُوحَهُ الَّتِي كَانَتْ تَخْفِقُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ .
Tiba waktu keberangkatan, Halimah menaiki keledainya dan menggendongnya bersamanya. Ternyata Asy-Syima datang dan kembali menciumnya dengan air mata mengalir di pipinya, dan Unaisah berdiri bersedih merasakan perasaan orang yang kehilangan sosok tercinta, dan bahwa keberadaan menjadi gersang karena telah dirampas ruh yang tadinya berdenyut di dalam dirinya.
وَسَارَتْ حَلِيمَةُ عَلَى أَتَانِهَا وَمُحَمَّدٌ مَعَهَا وَانْطَلَقَ الْحَارِثُ إِلَى جِوَارِهِمَا وَهُوَ مُطْرِقٌ يَتَمَنَّى لَوْ يَعُودُ بِالطِّفْلِ الَّذِي أَحَبَّهُ وَتَعَلَّقَ بِهِ كُلَّ أَهْلِ بَيْتِهِ . وَرَاحَ يَسْأَلُ نَفْسَهُ ، تَرَى أَتَقْبَلُ أُمُّهُ أَنْ تَدَعَهُ فِينَا سَنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ؟
Halimah berjalan dengan keledainya dan Muhammad bersamanya, dan Al-Harits berangkat di samping mereka sambil menunduk, berharap ia bisa membawa kembali anak yang dicintai dan membuat seluruh anggota keluarganya terpaut padanya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah ibunya akan setuju untuk membiarkannya bersama kita dua tahun lagi?
وَبَلَغَ الرَّكْبُ مَكَّةَ ، فَذَهَبَتْ حَلِيمَةُ وَمُحَمَّدٌ فِي يَدِهَا وَالْحَارِثُ إِلَى جِوَارِهِمَا لِتَطُوفَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَتَتَمَسَّحَ بِجُدْرَانِ الْكَعْبَةِ ، وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَطُوفُ بِالْحَرَمِ وَهُوَ مَشْدُوهٌ يَتَفَرَّسُ فِي الْأَصْنَامِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي أُقِيمَتْ حَوْلَ الْكَعْبَةِ ، فَقَدْ كَانَتْ أَوَّلَ مَرَّةٍ يَرَى فِيهَا آلِهَةَ قَوْمِهِ وَمَا يَجْرِي عِنْدَهَا مِنْ مَرَاسِيمَ وَعِبَادَاتٍ .
Rombongan sampai di Makkah, Halimah dan Muhammad dengan tangannya, serta Al-Harits di samping mereka pergi untuk thawaf di Baitul Atiq dan mengusap dinding Ka'bah. Muhammad mulai thawaf di Masjidil Haram dengan penuh keheranan, mengamati berhala-berhala banyak yang didirikan di sekitar Ka'bah, karena itu adalah pertama kalinya ia melihat tuhan-tuhan kaumnya dan apa yang terjadi di dekatnya berupa ritual dan ibadah.
وَدَخَلَ الْحَارِثُ وَحَلِيمَةُ وَمُحَمَّدٌ إِلَى جَوْفِ الْكَعْبَةِ ، حَيْثُ كَانَ تِمْثَالُ هُبَلَ ، وَرَأَى النَّاسَ وَهُمْ يَسْتَقْسِمُونَ بِالْأَزْلَامِ وَيَضْرِبُونَ بِالْقِدَاحِ وَلَمْ يَفْقَهُ مِمَّا يَدُورُ حَوْلَهُ شَيْئًا ، وَلَكِنَّهُ ضَاقَ بِالزِّحَامِ فَجَذَبَ يَدَ حَلِيمَةَ وَخَرَجَ وَالْحَارِثُ فِي أَثَرِهِمَا .
Al-Harits, Halimah, dan Muhammad masuk ke dalam Ka'bah, di mana terdapat patung Hubal. Ia melihat orang-orang sedang melakukan undian dengan anak panah (azlam) dan mengocok anak panah (qidah), namun ia tidak memahami apa pun yang terjadi di sekitarnya. Namun, ia merasa sesak karena kerumunan, sehingga ia menarik tangan Halimah dan keluar, dengan Al-Harits mengikuti mereka.
وَسَارَ الرَّكْبُ الصَّغِيرُ إِلَى الصَّفَا حَيْثُ دُورُ بَنِي هَاشِمٍ ، وَوَقَفَ الْجَمِيعُ أَمَامَ دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَنَزَلَتْ حَلِيمَةُ عَنْ أَتَانِهَا ثُمَّ حَمَلَتْ مُحَمَّدًا وَتَقَدَّمَ الْحَارِثُ يَطْرُقُ بَابَ الدَّارِ ، وَمَا لَبِثَ أَنِ انْفَرَجَ عَنْ بَرَكَةَ الْحَبَشِيَّةِ جَارِيَةِ عَبْدِ اللَّهِ ، فَلَمَّا رَأَتْ مُحَمَّدًا أَشْرَقَ وَجْهُهَا بِالْفَرَحِ وَخَطَفَتْهُ مِنْ حَلِيمَةَ فِي لَهْفَةٍ وَرَاحَتْ تَمْطِرُهُ بِقُبْلَاتِهَا وَهِيَ تَسْتَشْعِرُ كَأَنَّمَا ضَمَّتِ الْوُجُودَ كُلَّهُ إِلَى صَدْرِهَا . وَرَاحَتْ بَرَكَةُ تَهْرُولُ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ سَيِّدَتُهَا وَهِيَ تَحْمِلُ ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْغَالِي وَتَهْتِفُ فِي فَرَحٍ وَانْفِعَالٍ :
Rombongan kecil itu berjalan menuju Ash-Shafa, tempat kediaman Bani Hasyim. Mereka semua berdiri di depan rumah Abdullah bin Abdul Muthalib. Halimah turun dari keledainya, kemudian menggendong Muhammad, dan Al-Harits maju mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka, muncul Barakah al-Habasyiyyah, budak perempuan Abdullah. Ketika ia melihat Muhammad, wajahnya berseri-seri kegirangan dan ia menyambarnya dari Halimah dengan penuh kerinduan, lalu menghujaninya dengan ciuman sambil merasakan seolah-olah ia mendekap seluruh keberadaan ke dadanya. Barakah berlari ke tempat tuannya berada sambil menggendong putra Abdullah yang terkasih, berseru dengan gembira dan penuh emosi:
— مُحَمَّدٌ جَاءَ .. مُحَمَّدٌ جَاءَ .
— Muhammad datang.. Muhammad datang.
وَمَسَّ صَوْتُ بَرَكَةَ أُذُنَيْ آمِنَةَ فَانْتَفَضَتْ مِنَ الرَّأْسِ إِلَى الْقَدَمِ ، وَسَرَتِ الْبُشْرَى فِيهَا تَمْلَؤُهَا بِالنَّشْوَةِ وَالْفَرَحِ . وَلَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَكْبَحَ عَوَاطِفَهَا فَرَاحَتْ تَسْتَبِقُ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ بَرَكَةُ وَمُحَمَّدٌ الْحَبِيبُ قَادِمَيْنِ . وَرَأَتْهُ بِقَلْبِهَا قَبْلَ أَنْ تَرَاهُ بِعَيْنَيْهَا ، وَرَاحَ فُؤَادُهَا يَقْفِزُ بَيْنَ جَنْبَيْهَا يَهْوَى إِلَيْهِ . وَمَا إِنْ مَدَّتْ بَصَرَهَا إِلَيْهِ حَتَّى أَحَسَّتْ أَنَّهَا قَدْ مَلَكَتْ زِينَةَ الدُّنْيَا وَبَهْجَتَهَا وَأَنَّ أَهَارِيجَ النَّشْوَةِ قَدْ مَلَأَتْ كُلَّ الْكَوْنِ .
Suara Barakah menyentuh telinga Aminah, ia pun bergetar dari kepala hingga kaki, dan kabar gembira mengalir di dalam dirinya, memenuhinya dengan ekstasi dan kegembiraan. Ia tidak mampu menahan emosinya, ia bergegas menuju ke tempat Barakah dan Muhammad yang tercinta datang. Ia melihatnya dengan hatinya sebelum melihatnya dengan matanya, dan jantungnya berdegup kencang di antara rusuknya, merindukannya. Begitu ia mengarahkan pandangannya kepadanya, ia merasa telah memiliki perhiasan dunia dan kebahagiaannya, dan bahwa sorak-sorai ekstasi telah memenuhi seluruh alam semesta.
وَأَخَذَتْهُ مِنْ بَرَكَةَ فِي رِفْقٍ وَضَمَّتْهُ إِلَى صَدْرِهَا فِي حَنَانٍ وَرَاحَتْ تُقَبِّلُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَقَدْ تَهَلَّلَتْ بِالْفَرَحِ ، وَاسْتَشْعَرَتْ كَأَنَّ عَبْدَ اللَّهِ الْحَبِيبَ قَدْ بُعِثَ مِنْ جَدِيدٍ وَآبَ إِلَيْهَا بَعْدَ طُولِ غِيَابٍ .
Ia mengambilnya dari Barakah dengan lembut dan mendekapnya ke dadanya dengan penuh kasih sayang, lalu mulai menciumnya di setiap tempat, wajahnya berseri-seri karena bahagia. Ia merasakan seolah-olah Abdullah yang tercinta telah dibangkitkan kembali dan kembali kepadanya setelah lama absen.
وَلَفَّ مُحَمَّدٌ ذِرَاعَهُ حَوْلَ عُنْقِ أُمِّهِ وَهُوَ سَعِيدٌ ، وَاسْتَرَاحَ لِلْعَوَاطِفِ الْفَيَّاضَةِ الَّتِي غَمَرَتْهُ بِهَا آمِنَةُ . لَقَدْ كَانَتْ حَلِيمَةُ تُحِبُّهُ وَيَا طَالَمَا ضَمَّتْهُ إِلَى صَدْرِهَا وَقَبَّلَتْهُ وَفَاضَتْ عَلَيْهِ بِحَنَانِهَا ، وَلَكِنَّ مَا يَحُسُّهُ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ أَحَرُّ مِنَ كُلِّ حُبٍّ فَاضَ عَلَيْهِ فِي أَرْضِ هَوَازِنَ ، فَقَدْ كَانَتْ مَشَاعِرُ آمِنَةَ تَتَدَفَّقُ مِنْ قَلْبٍ عَامِرٍ بِالْحُبِّ عَلَى ابْنِهَا الْوَحِيدِ الَّذِي اخْتَطَفَ الْمَنُونُ أَبَاهُ قَبْلَ أَنْ تَكْتَحِلَ بِرُؤْيَتِهِ عَيْنَاهُ .
Muhammad melingkarkan lengannya di leher ibunya dengan bahagia, dan ia merasa tenang dengan emosi meluap yang dilimpahkan Aminah kepadanya. Memang Halimah mencintainya, betapa sering ia mendekapnya ke dadanya, menciumnya, dan melimpahinya kasih sayangnya. Namun, apa yang ia rasakan pada saat itu lebih hangat dari segala cinta yang tercurah kepadanya di tanah Hawazin, karena perasaan Aminah mengalir dari hati yang dipenuhi cinta kepada anak tunggalnya, yang ayahnya telah direnggut oleh maut sebelum matanya dapat memandangnya.
كَانَتْ آمِنَةُ سَعِيدَةً غَايَةَ السَّعَادَةِ بِأَنَّ مُحَمَّدًا قَدْ عَادَ مِنَ الْبِيدَاءِ لِيُؤْنِسَ وَحْدَتَهَا وَيَمْلَأَ الدَّارَ بَهْجَةً وَأَمَلًا . وَقَدْ رَبَتْ سَعَادَتُهَا لَمَّا خَطَرَ عَلَى بَالِهَا أَنَّ عَمَّهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَدْ آبَ مِنَ الصَّحْرَاءِ ، وَاسْتَقَرَّ فِي حِجْرِ أُمِّهِ هَالَةَ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا سَيَجِدُ رَفِيقًا فِي مِثْلِ سِنِّهِ يُشَارِكُهُ لَعِبَهُ وَلَنْ يُصْبِحَ ابْنُهَا الْحَبِيبُ وَحِيدًا .
Aminah sangat berbahagia karena Muhammad telah kembali dari padang pasir untuk menemani kesendiriannya dan mengisi rumah dengan kegembiraan dan harapan. Kebahagiaannya bertambah ketika terlintas di benaknya bahwa pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, telah kembali dari gurun dan menetap di pangkuan ibunya, Halah, dan bahwa Muhammad akan menemukan teman sebaya yang akan berbagi permainan dengannya, sehingga putra tercintanya tidak akan lagi merasa kesepian.
وَجَاءَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَكَانَ ابْنَ خَمْسِ سِنِينَ يَزُورُ دَارَ آمِنَةَ ، فَقَدْ كَانَ الْعَبَّاسُ يَدُورُ عَلَى دُورِ بَنِي هَاشِمٍ يَلْعَبُ مَعَ صِبْيَانِ الْحَيِّ وَيَمْلَأُ فَرَاغَ يَوْمِهِ ، فَلَمَّا وَقَعَتْ عَيْنَاهُ عَلَى مُحَمَّدٍ بَشَّ لَهُ وَإِنْ كَانَ يَرْنُو إِلَيْهِ فِي إِنْكَارٍ ، فَابْتَسَمَتْ آمِنَةُ فَرَحًا وَقَالَتْ لَهُ :
Al-Abbas bin Abdul Muthalib datang saat berusia lima tahun untuk mengunjungi rumah Aminah. Al-Abbas biasa berkeliling di rumah-rumah Bani Hasyim bermain dengan anak-anak di lingkungannya dan mengisi waktu luangnya. Ketika matanya tertuju pada Muhammad, ia tersenyum padanya meskipun ia memandangnya dengan rasa penasaran, lalu Aminah tersenyum bahagia dan berkata kepadanya:
— قَبِّلْ أَخَاكَ .
— Ciumlah saudaramu.
لَقَدْ قَالَتْ لَهُ نِسْوَةُ بَنِي هَاشِمٍ يَوْمَ أَنْ وَضَعَتْ آمِنَةُ مُحَمَّدًا مِثْلَ ذَلِكَ الْقَوْلِ ، وَلَكِنَّهُ نَسِيَ مَقَالَتَهُنَّ ، وَرَاحَ يَدْنُو مِنَ الطِّفْلِ الْجَمِيلِ وَهُوَ فِي حَيْرَةٍ مِنْ أَمْرِهِ ، حَتَّى قَالَتْ لَهُ آمِنَةُ أَنَّ مُحَمَّدًا هُوَ ابْنُ أَخِيهِ عَبْدِ اللَّهِ وَكَانَ يَسْتَرْضِعُ فِي بَنِي سَعْدٍ وَقَدْ عَادَ لِيَمْكُثَ فِيهِمْ وَلَنْ يَغِيبَ عَنْهُمْ بَعْدَ الْيَوْمِ .
Para wanita Bani Hasyim pernah mengatakan hal yang sama kepadanya pada hari Aminah melahirkan Muhammad, tetapi ia melupakan perkataan mereka. Ia pun mulai mendekati bayi yang cantik itu dalam keadaan bingung, sampai Aminah memberitahunya bahwa Muhammad adalah putra dari saudaranya, Abdullah, yang disusukan di Bani Sa'ad dan telah kembali untuk tinggal bersama mereka dan tidak akan pergi meninggalkan mereka lagi setelah hari ini.
وَذَهَبَتْ آمِنَةُ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ حَلِيمَةُ وَزَوْجُهَا الْحَارِثُ وَرَاحَتْ تُحَدِّثُهُمَا حَدِيثًا لِينًا يَفِيضُ رِقَّةً ، وَشَكَرَتْ لَهُمَا عِنَايَتَهُمَا بِابْنِهَا الْحَبِيبِ ، وَقَدَّمَتْ إِلَى حَلِيمَةَ ثَمَنَ الرِّعَايَةِ فَاغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهَا بِالدُّمُوعِ لِأَنَّهَا كَانَتْ أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى أَنْ يَعُودَ مُحَمَّدٌ مَعَهَا إِلَى دَارِهَا ، فَقَدْ مَلَأَ فُؤَادَهَا وَاسْتَوْلَى عَلَى مَشَاعِرِهَا . وَرَأَتْ حَلِيمَةُ أَنْ تَحْتَالَ لِتَعُودَ بِمُحَمَّدٍ فَقَالَتْ :
Aminah pergi ke tempat Halimah dan suaminya, al-Harits, berada, lalu mulai berbicara dengan mereka dengan tutur kata lembut yang penuh kasih sayang. Ia berterima kasih kepada mereka atas perawatan mereka terhadap putra tercintanya, dan memberikan kepada Halimah imbalan atas pengasuhan tersebut. Halimah berkaca-kaca matanya karena ia sangat berkeinginan agar Muhammad kembali bersamanya ke rumahnya, karena ia telah memenuhi hatinya dan menguasai perasaannya. Halimah berpikir untuk mencari cara agar bisa membawa Muhammad kembali, lalu ia berkata:
— لَوْ تَرَكْتِ بُنَيَّ عِنْدِي حَتَّى يَغْلُظَ .
— Seandainya engkau meninggalkan putraku bersamaku sampai ia tumbuh besar (kuat).
وَاتَّسَعَتْ عَيْنَا آمِنَةَ دَهَشًا وَسَرَى فِيهَا خَوْفٌ فَقَدْ فَاجَأَتْهَا حَلِيمَةُ بِذَلِكَ الْقَوْلِ الَّذِي لَمْ يَخْطُرْ لَهَا بِبَالٍ ، أَتُرِيدُ أَنْ تَعُودَ بِهِ حَلِيمَةُ وَلَمْ يَمْكُثْ مَعَهَا إِلَّا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ؟ وَفِيمَ كَانَتْ أَوْبَتُهُ إِذَا كَانَتْ حَلِيمَةُ تُرِيدُ أَنْ تَعُودَ بِهِ إِلَى هَوَازِنَ ؟ إِنَّهَا سَتَرْفُضُ ذَلِكَ الْعَرْضَ فِي رِفْقٍ وَكَفَى مَا فَاتَ ، فَهُوَ سَيَبِيبُ هُنَا فِي مَكَّةَ ، بَيْنَ أَهْلِهِ وَعَشِيرَتِهِ لِيَأْخُذَ مَكَانَ أَبِيهِ الَّذِي ذَهَبَ فِي عُمْرِ الْوُرُودِ ، وَقَبْلَ أَنْ تَفْتَحَ آمِنَةُ فَاهَا لِتَعْتَذِرَ قَالَتْ حَلِيمَةُ :
Mata Aminah terbelalak karena heran dan rasa takut merayap di dalamnya, karena Halimah mengejutkannya dengan perkataan yang tidak pernah terlintas di benaknya. Apakah Halimah ingin membawanya kembali padahal ia baru tinggal bersamanya hanya sehari atau setengah hari? Dan apa gunanya ia kembali jika Halimah ingin membawanya kembali ke Hawazin? Ia akan menolak tawaran itu dengan lembut, sudah cukup apa yang telah berlalu, karena ia akan tumbuh besar di sini di Makkah, di antara keluarga dan sukunya untuk menggantikan posisi ayahnya yang pergi di usia muda. Dan sebelum Aminah membuka mulutnya untuk meminta maaf, Halimah berkata:
— فَإِنِّي أَخْشَى عَلَيْهِ وَبَاءَ مَكَّةَ .
— Karena aku mengkhawatirkan wabah Makkah terhadapnya.
وَبَاءُ مَكَّةَ ؟ أَجَلْ وَبَاءُ مَكَّةَ . وَخَافَتْ آمِنَةُ عَلَى ابْنِهَا الْحَبِيبِ مِنَ ذَلِكَ الْوَبَاءِ . الْخَيْرُ لَهَا أَنْ تَحْتَمِلَ فِرَاقَهُ سَنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ مِنْ أَنْ يُصَابَ مُحَمَّدٌ بِالْمَرَضِ وَأَنْ يَهْلِكَ كَمَا هَلَكَ أَبُوهُ مِنْ قَبْلُ ، وَانْدَكَّتْ كُلُّ مُقَاوَمَةٍ فِي نَفْسِ آمِنَةَ وَسَرَى بَهَا خَوْفٌ عَلَى ابْنِهَا الْوَحِيدِ فَقَالَتْ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ مُسْتَسْلِمٍ :
Wabah Makkah? Ya, wabah Makkah. Aminah takut akan keselamatan putra tercintanya dari wabah tersebut. Lebih baik baginya menanggung perpisahan selama dua tahun lagi daripada Muhammad tertular penyakit dan binasa sebagaimana ayahnya binasa sebelumnya. Semua perlawanan dalam diri Aminah runtuh, dan rasa takut akan keselamatan putra tunggalnya merayap di dalamnya, lalu ia berkata dengan suara pelan dan pasrah:
— خُذِيهِ .
— Bawalah dia.
وَلَمْ يَكُنْ أَمْرًا سَهْلًا أَنْ يُنْتَزَعَ مُحَمَّدٌ مِنْ أَحْضَانِ أُمِّهِ . إِنَّهُ الْتَصَقَ بِهَا لَا يُرِيدُ أَنْ يَفْصِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا أَحَدٌ وَلَوْ كَانَتْ أُمَّهُ حَلِيمَةَ أَوْ كَانَ أَبُوهُ الْحَارِثُ . فَلَمْ تَزَلْ حَلِيمَةُ تُحَدِّثُهُ عَنْ أَخِيهِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَنْ أُخْتِهِ أُنَيْسَةَ وَأُخْتِهِ الشَّيْمَاءِ وَعَنِ الْغَنَمَاتِ الَّتِي يُحِبُّهَا وَجِبَالِ هَوَازِنَ وَسَمَائِهَا حَتَّى قَبِلَ أَنْ يَعُودَ مَعَهَا ، لِيَتَعَلَّمَ الصَّبْرَ عَلَى فِرَاقِ الْأَحِبَّةِ .
Bukanlah perkara yang mudah untuk memisahkan Muhammad dari pelukan ibunya. Ia melekat padanya dan tidak ingin seorang pun memisahkan antara dirinya dan ibunya, meskipun itu adalah ibu susunya, Halimah, atau ayah susunya, al-Harits. Halimah terus membujuknya dengan bercerita tentang saudaranya Abdullah, saudarinya Anisah, saudarinya asy-Syaima, kambing-kambing yang ia sukai, serta pegunungan dan langit Hawazin, sampai ia mau kembali bersamanya, agar ia belajar bersabar dalam menghadapi perpisahan dengan orang-orang tercinta.
وَسَارَ الْحَارِثُ وَمُحَمَّدٌ وَحَلِيمَةُ حَتَّى خَرَجُوا مِنْ دَارِ آمِنَةَ وَآمِنَةُ تَرْنُو إِلَيْهِمْ خَافِقَةَ الْقَلْبِ دَامِعَةَ الْعَيْنِ ، فَقَدْ جَاءَ مُحَمَّدٌ لِيُهِيجَ الذِّكْرَيَاتِ وَيُحَرِّكَ الْعَوَاطِفَ ثُمَّ يَذْهَبُ مُخَلِّفًا فِي الدَّارِ الَّتِي بَدَأَتْ تَنْبِضُ بِالْحُبِّ وَالْحَيَاةِ فَرَاغًا وَجَفَافًا وَوَحْشَةً . وَكَانَ ذَلِكَ الْفِرَاقُ أَوَّلَ حُزْنٍ أَحَسَّهُ الطِّفْلُ الصَّغِيرُ ، وَمَا أَكْثَرَ الْأَحْزَانَ الَّتِي سَيَتَحَمَّلُهَا صَابِرًا صَاحِبُ الْقَلْبِ الْكَبِيرِ .
Al-Harits, Muhammad, dan Halimah berjalan sampai mereka keluar dari rumah Aminah, sementara Aminah menatap mereka dengan hati yang berdebar dan mata berkaca-kaca. Muhammad datang untuk membangkitkan kenangan dan menggerakkan perasaan, lalu pergi meninggalkan kekosongan, kekeringan, dan kesepian di rumah yang mulai berdenyut dengan cinta dan kehidupan. Perpisahan itu adalah kesedihan pertama yang dirasakan oleh sang anak kecil, dan betapa banyaknya kesedihan yang akan ia tanggung dengan sabar oleh sang pemilik hati yang besar.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi