BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Maulidur Rosul - Episode 5

MAULIDUR ROSUL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Takdir di Ujung Anak Panah: Abdullah, Nazar, dan Fajar Kenabian yang Menanti

Pengundian anak panah menentukan nasib Abdullah. Di tengah kepanikan dan ratapan penduduk Makkah, peristiwa ini menjadi gerbang takdir agung yang menjaga sang ayah dari sang pemberi peringatan akhir zaman.

قَفَلَتْ قَافِلَةُ قُرَيْشٍ بِالرُّجُوعِ إِلَى مَكَّةَ وَقَدْ أَسْرَى بِهِمُ الْحَادِي وَأَمْعَنَ فِي السَّيْرِ ، وَخَاصَمَ الْكَرَى الْعُيُونَ ، يَطْوُونَ الْفَلَاةَ مِنَ الشَّوْقِ لِلِقَاءِ الْأَحِبَّةِ عَلَى جَنَاحِ الْمَحَبَّةِ ، فَأَفْئِدَةُ الرَّكْبِ تَهْوَى إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، وَإِلَى فَلَذَاتِ الْأَكْبَادِ ، وَإِلَى الْأَهْلِ وَالْخُلَّانِ ، وَإِلَى الْأَرْضِ الطَّيِّبَةِ وَالْوَطَنِ الْحَبِيبِ .
Kafilah Quraisy kembali pulang ke Makkah sementara sang penuntun unta mempercepat laju mereka, ia pun bersungguh-sungguh dalam perjalanan, dan rasa kantuk pun menjauhi mata. Mereka melipat padang pasir karena kerinduan untuk bertemu orang-orang tercinta di atas sayap cinta, karena hati para kafilah condong kepada Baitul 'Atiq, kepada buah hati, kepada keluarga dan kawan-kawan, serta kepada tanah yang baik dan tanah air tercinta.
وَكَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ مَشْغُولَ الْقَلْبِ مَشْغُولَ الْبَالِ ، فَقَدْ تَرَكَ فُؤَادَهُ هُنَاكَ حَيْثُ الْأَحِبَّةِ وَالصِّحَابِ ، وَمَلَأَ رَأْسَهُ حَدِيثُ الْحَبْرِ وَنُبُوءَتُهُ فَفِي إِحْدَى يَدَيْهِ مَلِكٌ وَفِي الْأُخْرَى نُبُوَّةٌ ، وَإِنَّ ذَلِكَ فِي بَنِي زُهْرَةَ . تَرَى أَيَجْتَمِعُ الْمُلْكُ وَالنُّبُوَّةُ فِي رَجُلٍ وَاحِدٍ ، أَمْ أَنَّ الْمُلْكَ فِي رَجُلٍ وَالنُّبُوَّةَ فِي آخَرَ ؟
Dan Abdul Muthalib dalam keadaan hati dan pikiran yang sibuk, karena ia meninggalkan hatinya di sana, tempat orang-orang tercinta dan para sahabat. Kepalanya dipenuhi pembicaraan sang pendeta dan ramalannya; di salah satu tangannya ada kekuasaan dan di tangan lainnya ada kenabian, dan itu semua ada pada Bani Zuhrah. Apakah menurutmu kekuasaan dan kenabian bisa berkumpul dalam satu orang, ataukah kekuasaan pada satu orang dan kenabian pada orang lain?
وَاسْتَمَرَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَجْرِي وَرَاءَ أَفْكَارِهِ يَقْلِبُ الْأَمْرَ وَيُدِيءُ وَيُعِيدُ ، وَيَتَذَكَّرُ كُلَّ مَا تَنَبَّأَ بِهِ الْمُتَنَبِّئُونَ ، فَسُودَةُ عَمَّةُ وَهْبٍ كَاهِنَةُ قُرَيْشٍ قَدْ تَنَبَّأَتْ بِأَنْ آمِنَةَ نَذِيرَةٌ أَوْ تَلِدُ نَذِيرًا ، فَإِنْ زَوْجَ عَبْدِ اللَّهِ بِآمِنَةَ فَقَدْ تَتَحَقَّقُ بِشَارَةُ حَبْرِ الْيَمَنِ وَتَأْتِي النُّبُوَّةُ وَهُوَ يَعْرِفُ النُّبُوَّةَ حَقَّ الْمَعْرِفَةِ ، فَيَا طَالَمَا أَصْغَى إِلَى قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ يَرْوِيهَا الْيَهُودُ أَيَّامَ كَانَ غُلَامًا فِي يَثْرِبَ فِي كَنَفِ أُمِّهِ سَلْمَى بِنْتِ عَمْرٍو الْخَزْرَجِيَّةِ ، أَمَّا الْمُلْكُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي كَيْفَ يَقُومُ فِي مَكَّةَ ، وَمَا عَرَفَ الْمُجْتَمَعَ الَّذِي تَكُونُ حَوْلَ زَمْزَمَ الْمَلَكِيَّةَ يَوْمًا ، فَسَادَاتُ مَكَّةَ وَشُيُوخُهَا هُم مَصْدَرُ السُّلُطَاتِ فِيهَا ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ عَزَمَ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَ ابْنَهُ عَبْدَ اللَّهِ فِي بَنِي زُهْرَةَ ؛ أَنْ يُزَوِّجَهُ آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ وَأَنْ يَتَزَوَّجَ هُوَ نَفْسَهُ فِيهِم ، فَمَنْ يَدْرِي فَقَدْ تَتَحَقَّقُ نُبُوءَةُ حَبْرِ الْيَمَنِ وَيَأْتِي الْمُلْكُ وَالنُّبُوَّةُ .
Abdul Muthalib terus larut dalam pikirannya, membolak-balik perkara, memikirkan dan mengulanginya, serta mengingat semua ramalan para peramal. Saudah, bibi Wahb, sang dukun Quraisy, telah meramalkan bahwa Aminah adalah seorang pemberi peringatan atau akan melahirkan seorang pemberi peringatan. Jika ia menikahkan Abdullah dengan Aminah, maka kabar gembira dari pendeta Yaman bisa terwujud dan kenabian akan datang. Ia mengenal kenabian dengan sebenar-benarnya, karena betapa seringnya ia mendengarkan kisah-kisah para nabi yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi saat ia masih kecil di Yatsrib dalam perlindungan ibunya, Salma binti 'Amr al-Khazrajiyah. Adapun kekuasaan, ia tidak tahu bagaimana ia bisa berdiri di Makkah, dan ia tidak pernah mengenal masyarakat yang akan menjadi kerajaan di sekitar Zamzam suatu hari nanti, karena para pemimpin Makkah dan tetua-tetuanya adalah sumber kekuasaan di sana. Namun, ia telah bertekad untuk menikahkan putranya, Abdullah, di Bani Zuhrah; menikahkan Abdullah dengan Aminah binti Wahb dan ia sendiri pun akan menikah di antara mereka. Siapa tahu ramalan pendeta Yaman terwujud dan kekuasaan serta kenabian akan datang.
وَتَرَادَفَتِ الْأَشْوَاقُ وَاضْطَرَمَ الْحَشَا بِالْحَنِينِ وَالْقَافِلَةُ تَسْرَى فِي الْكَوْنِ الْعَرِيضِ ، وَتَتَابَعَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى بَدَتْ مَكَّةُ لِلْعُيُونِ فَإِذَا بِثَرَاهَا كَأَنَّهُ التِّبْرُ ، وَإِذَا بِالْأَرْوَاحِ تَسْتَنْشِقُ أَطْيَبَ عَبِيرٍ ، وَإِذَا بِدُمُوعِ الرِّقَّةِ تَبُلُّ النُّفُوسَ ، وَرَاحَ كُلُّ رَاكِبٍ يَحُثُّ رَاحِلَتَهُ وَلَوْ طَاوَعَ نَفْسَهُ لَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ ، وَانْطَلَقَ يَعْدُو وَهُوَ يَلْثُمُ كُلَّ الْوُجُودِ .
Rasa rindu berdatangan dan sanubari terbakar oleh kerinduan sementara kafilah berjalan di alam yang luas. Malam dan siang berganti hingga Makkah tampak oleh mata, maka tanahnya seolah-olah emas, ruh-ruh menghirup wewangian yang paling harum, dan air mata kelembutan membasahi jiwa. Setiap pengendara bergegas memacu kendaraannya, dan jika ia menuruti keinginannya, niscaya ia akan turun dari kendaraannya, lalu berlari menciumi seluruh keberadaan.
وَبَدَا الْبَيْتُ الْعَتِيقُ وَرَكْنَاهُ فَخَفَقَتِ الْقُلُوبُ وَفَاضَتِ الْأَشْوَاقُ حَتَّى سَالَتِ الدُّمُوعُ مِنْ غَمَامِ الْجُفُونِ ، وَأَنَاخَتِ الْقَافِلَةُ خَارِجَ الْحَرَمِ فَهَرَعَ أَهْلُ مَكَّةَ يَسْتَقْبِلُونَ الْعَائِدِينَ بِالْأَحْضَانِ وَالْقُبَلَاتِ وَالْعَبَرَاتِ وَوَجِيبِ الْأَفْئِدَةِ الْمُتَلَهِّفَةِ إِلَى اللِّقَاءِ وَالْعِنَاقِ ، لِإِطْفَاءِ نَارِ الشَّوْقِ الَّتِي تَتَلَظَّى فِي الْجَوَانِحِ وَالْمُهَجِ وَالنُّفُوسِ .
Baitul 'Atiq dan sudut-sudutnya tampak, maka hati pun berdebar dan rasa rindu meluap hingga air mata mengalir dari awan kelopak mata. Kafilah berhenti di luar Haram, lalu penduduk Makkah bergegas menyambut mereka yang kembali dengan pelukan, ciuman, isak tangis, dan degup hati yang merindukan pertemuan dan berpelukan, untuk memadamkan api kerinduan yang membara di dalam dada, jiwa, dan sanubari.
وَخَفَّ أَبْنَاءُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْعَشَرَةُ كَأَنَّهُمْ ظِبَاءٌ تَتَوَاثَبُ إِلَى أَبِيهِمُ الْجَلِيلِ ، فَرَاحَ يَضُمُّهُمْ إِلَى صَدْرِهِ وَهُوَ دَامِعُ الْعَيْنِ يَكَادُ يَذُوبُ رِقَّةً ، حَتَّى إِذَا مَا تَقَدَّمَ عَبْدُ اللَّهِ وَارْتَمَى بَيْنَ ذِرَاعَيْ أَبِيهِ احْتَوَاهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَسْتَشْعِرُ نَفْسَ الْمَشَاعِرِ الْفَيَّاضَةِ الرَّقِيقَةِ الَّتِي اسْتَشْعَرَهَا يَعْقُوبُ يَوْمَ أَنْ ضَمَّ إِلَى قَلْبِهِ طُولَ غِيَابِ يُوسُفَ الْحَبِيبِ .
Kesepuluh putra Abdul Muthalib bergegas seolah-olah mereka adalah kijang yang melompat menuju ayah mereka yang agung. Ia pun mendekap mereka ke dadanya dengan mata berkaca-kaca, hampir luluh karena kelembutan, hingga ketika Abdullah maju dan menjatuhkan diri di antara kedua lengan ayahnya, Abdul Muthalib mendekapnya seraya merasakan perasaan yang meluap lembut yang dirasakan Ya'qub pada hari ia mendekap ke jantung hatinya setelah sekian lama Yusuf kekasihnya menghilang.
وَلَمْ يَنْسَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فِي غَمْرَةِ اللِّقَاءِ وَفَوْرَةِ الْعَوَاطِفِ ابْنَهُ الْعَبَّاسَ ، فَقَدْ تَرَكَهُ فِي حِجْرِ أُمِّهِ يَوْمَ أَنْ شَدَّ الرِّحَالَ إِلَى الْيَمَنِ وَكَانَ قَدْ أَشْرَفَ عَلَى الثَّانِيَةِ مِنْ عُمْرِهِ . إِنَّهُ لَيَذْكُرُ تِلْكَ اللَّحْظَةَ الَّتِي حَمَلَهُ فِيهَا لِيُقَبِّلَهُ قَبْلَ الرَّحِيلِ ، وَإِنَّهُ لَيُفَكِّرُ كَيْفَ تَعَلَّقَ بِعُنُقِهِ وَأَبَى أَنْ يَعُودَ إِلَى أُمِّهِ وَظَلَّ مُتَشَبِّثًا بِهِ إِلَى أَنْ انْتَزَعَتْهُ مِنْ أَحْضَانِهِ وَهُوَ يَبْكِي ، وَلَمْ يَكُفَّ عَنِ الْعَوِيلِ إِلَّا بَعْدَ أَنْ أَخَذَ يُدَاعِبُهُ وَيَلْثُمُهُ هُنَا وَهُنَاكَ وَيَعِدُهُ بِالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ .
Dalam keharuan pertemuan dan luapan emosi, Abdul Muthalib tidak melupakan putranya, al-'Abbas. Ia meninggalkannya di pangkuan ibunya pada hari ia bersiap menuju Yaman, saat itu ia hampir memasuki usia dua tahun. Ia teringat saat ia menggendongnya untuk menciumnya sebelum kepergian, dan ia berpikir bagaimana putranya itu mengalungkan tangan di lehernya, menolak untuk kembali ke ibunya, dan tetap berpegang erat padanya sampai ibunya merenggutnya dari pelukannya sementara ia menangis. Ia tidak berhenti meraung kecuali setelah ayahnya mulai mengajaknya bercanda, menciumnya di sana-sini, dan menjanjikannya kurma dan kismis.
وَرَاحَ رِجَالُ الْقَافِلَةِ يَطُوفُونَ بِالْكَعْبَةِ طَوَافَ الْقُدُومِ .
Para pria kafilah mulai mengelilingi Ka'bah melakukan thawaf qudum.
كَانَتِ الشَّمْسُ تُرْسِلُ أَشِعَّتَهَا الْحَامِيَةَ فَيَتَفَصَّدُ الْعَرَقُ مِنَ الْوُجُوهِ ، وَلَكِنَّ الطَّائِفِينَ كَانُوا يَحِسُّونَ بِالْجَنَانِ يَطُوفُونَ ، فَقَدْ كَانَتْ نُفُوسُهُمْ مُطْمَئِنَّةً لَا هَمَّ وَلَا قَلَقَ وَلَا خَوْفَ وَلَا ضَيَاعَ فِي الْكَوْنِ الْعَرِيضِ ، بَلْ كَانُوا فِي حَرَمِ اللَّهِ آمِنِينَ . وَلَوْلَا تِلْكَ الْأَصْنَامُ الَّتِي تَكَدَّسَتْ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ وَنُصِبَتْ حَوْلَهَا لَفَتَحَتْ عَلَيْهِم بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَلَمَلَأَتْ جَوَانِحَهُمْ بِالنُّورِ .
Matahari memancarkan sinarnya yang panas hingga keringat bercucuran dari wajah-wajah, namun orang-orang yang thawaf merasa seolah-olah berada di surga. Jiwa mereka tenang, tanpa duka, tanpa cemas, tanpa takut, dan tanpa rasa tersesat di alam yang luas, bahkan mereka berada dalam keamanan di tanah Haram Allah. Seandainya bukan karena berhala-berhala yang menumpuk di dalam Ka'bah dan dipasang di sekelilingnya, niscaya berkah akan tercurah kepada mereka dari langit dan akan memenuhi sanubari mereka dengan cahaya.
وَانْطَلَقَ رِجَالُ الْقَافِلَةِ إِلَى دُورِهِمْ يَحْمِلُ كُلُّ مِنْهُمْ مَا جَاءَ بِهِ لِأَهْلِهِ مِنَ هَدَايَا ، وَانْطَلَقَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ إِلَى دَارِهِ وَحَوْلَهُ أَبْنَاؤُهُ وَعَبِيدُهُ وَرِجَالُهُ يَحْمِلُونَ مِنَ الْخَيْرَاتِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ ، عَرَفَ بَعْضُهَا طَرِيقَهَا إِلَى مَخَازِنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ حَتَّى تُحْمَلَ إِلَى أَصْحَابِهَا ، وَاتَّخَذَ بَعْضُهَا طَرِيقَهُ إِلَى دَارِ زَعِيمِ قُرَيْشٍ لِتُقَسَّمَ بَيْنَ نِسَائِهِ وَأَوْلَادِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ ، وَلِيَتَصَدَّقَ بِبَعْضِهَا عَلَى الْمُحْتَاجِينَ مِنَ الْمَكِّيِّينَ .
Para pria kafilah berangkat ke rumah mereka masing-masing, masing-masing membawa hadiah yang dibawanya untuk keluarganya. Abdul Muthalib berangkat ke rumahnya dikelilingi putra-putra, budak, dan para pegawainya yang membawa banyak sekali kebaikan. Sebagian barang itu tahu jalannya ke gudang-gudang Abdul Muthalib untuk nanti diserahkan kepada pemiliknya, dan sebagian lainnya mengambil jalan menuju rumah pemimpin Quraisy untuk dibagikan di antara istri-istri, anak-anak, hamba sahaya, dan budak-budaknya, serta untuk disedekahkan sebagian darinya kepada orang-orang Makkah yang membutuhkan.
وَمَلَأَ الْحُبُورُ دُورَ قُرَيْشٍ فَقَدْ كَانَتْ رِحْلَةُ الشِّتَاءِ مُوَفَّقَةً ، وَجَاءَ اللَّيْلُ فَانْسَابَ الشَّبَابُ إِلَى مَجَالِسِ اللَّهْوِ وَالسَّمَرِ وَالْمُجُونِ ، وَدَخَلَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ لِيَسْتَرِيحَ وَلَكِنَّهُ لَمْ تَغْمَضْ لَهُ عَيْنٌ فَقَدْ رَاحَ يُفَكِّرُ فِي نُبُوءَةِ الْحَبْرِ الْيَهُودِيِّ ، وَاسْتَوْلَتِ النُّبُوءَةُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَطُفْ بِهِ النَّوْمُ ، فَوَطَّنَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَنْطَلِقَ فِي الصَّبَاحِ إِلَى دُورِ بَنِي زُهْرَةَ ، وَأَنْ يَخْطُبَ آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ لِابْنِهِ عَبْدِ اللَّهِ وَهَالَةَ بِنْتَ وُهَيْبٍ لِنَفْسِهِ .
Kebahagiaan memenuhi rumah-rumah Quraisy karena perjalanan musim dingin telah berhasil. Malam pun tiba, para pemuda hanyut ke majelis-majelis hiburan, perbincangan malam, dan kemaksiatan. Abdul Muthalib masuk untuk beristirahat, namun matanya tidak terpejam karena ia terus memikirkan ramalan pendeta Yahudi. Ramalan itu menguasainya hingga tidur tidak menghampirinya, maka ia memantapkan hati untuk berangkat di pagi hari ke kediaman Bani Zuhrah, untuk melamar Aminah binti Wahb bagi putranya Abdullah, dan Halah binti Wuhaib untuk dirinya sendiri.
وَتَنَفَّسَ الصَّبْحُ وَمَدَّ فِرَاشُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ ، وَجَاءَ بَعْضُ مَنْ كَانَتْ لَهُمْ تِجَارَةٌ فِي الْقَافِلَةِ لِيَسْأَلُوهُ عَنْ أَمْوَالِهِمْ وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَجِدُوهُ ، فَظَلُّوا وَاقِفِينَ لَا يَجْلِسُ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى فِرَاشِهِ احْتِرَامًا لَهُ وَإِجْلَالًا لِقَدْرِهِ . ثُمَّ جَاءَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَمَنْ حَوْلَهُ أَبْنَاؤُهُ الْعَشَرَةُ كَأَنَّهُمْ أُسْدٌ غَابَ فَحَيَّاهُ الْجَمِيعُ فِي تَوْقِيرٍ .
Pagi hari bernapas dan hamparan tempat duduk Abdul Muthalib dibentangkan di bawah bayang-bayang Ka'bah. Datanglah beberapa orang yang memiliki perniagaan dalam kafilah untuk menanyakan harta mereka, namun mereka tidak menemukannya, maka mereka tetap berdiri dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang duduk di tempat duduknya sebagai penghormatan kepadanya dan pemuliaan terhadap derajatnya. Kemudian Abdul Muthalib datang dikelilingi oleh sepuluh putranya seolah-olah mereka adalah singa-singa hutan, maka semua orang menyapanya dengan penuh hormat.
وَجَلَسَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَلَى فِرَاشِهِ وَحْدَهُ وَجَلَسَ أَبْنَاؤُهُ عَلَى مَقْرَبَةٍ مِنْهُ ، وَجَاءَ أَصْحَابُ الْحَاجَاتِ يَسْأَلُونَهُ حَاجَاتِهِمْ فَارَدَّ عَلَى كُلِّ مِنْهُمْ مَالَهُ ، حَتَّى إِذَا مَا انْصَرَفُوا جَمِيعًا حَانَتْ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ إِلَى بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَذَكَّرَ حُلْمَهُ الَّذِي أَقَضَّ مَضْجَعَهُ فِي أَمْسِهِ بَعْدَ أَنْ مَشَى الْوَسْنُ إِلَى عَيْنَيْهِ ، فَقَدْ أُمِرَ فِي النَّوْمِ بِالْوَفَاءِ بِنَذْرِهِ ، قِيلَ لَهُ : « قَرِّبْ أَحَدَ أَوْلَادِكَ الَّذِي نَذَرْتَ » .
Abdul Muthalib duduk di tempat duduknya sendirian dan putra-putranya duduk di dekatnya. Orang-orang yang memiliki keperluan datang menanyakan kebutuhan mereka, maka ia pun memberikan harta mereka kepada masing-masing dari mereka. Hingga ketika mereka semua telah pergi, ia menoleh ke arah sumur Zamzam dan teringat mimpinya yang membuatnya gelisah di malam sebelumnya setelah kantuk menghampiri matanya, karena ia diperintahkan dalam tidurnya untuk menunaikan nazarnya. Dikatakan kepadanya: "Kurbankanlah salah seorang anakmu yang telah engkau nazarkan."
وَرَاحَ يَتَفَرَّسُ فِي وُجُوهِ وَلَدِهِ حَتَّى إِذَا مَا الْتَقَتْ عَيْنَاهُ بِعَيْنَيْ عَبْدِ اللَّهِ خَفَقَ قَلْبُهُ حَنَانًا ، إِنَّهُ كَانَ يَفْكَرُ بِالْأَمْسِ فِي تَزْوِيجِهِ بِآمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ ، النَّذِيرَةِ ، أَوْ الَّتِي سَتَلِدُ النَّذِيرَ .
Ia mulai memperhatikan wajah-wajah anak-anaknya hingga ketika matanya bertemu dengan mata Abdullah, hatinya berdegup penuh kasih sayang. Ia kemarin baru saja berpikir untuk menikahkannya dengan Aminah binti Wahb, sang pemberi peringatan, atau wanita yang akan melahirkan sang pemberi peringatan.
وَهَا هُوَ ذَا الْيَوْمَ لَا يَدْرِي مَاذَا يُخَبِّئُ الْقَدَرُ لِابْنِهِ الْحَبِيبِ ، وَلَمْ يَشَأْ أَنْ يَسْتَرْسِلَ فِي عَوَاطِفِهِ فَقَالَ :
Dan inilah dia hari ini, ia tidak tahu apa yang disembunyikan takdir untuk putra tercintanya, dan ia tidak ingin larut dalam emosinya, maka ia berkata:
— يَا بَنِيَّ ، كُنْتُ نَذَرْتُ نَذْرًا عَلَّمْتُمُوهُ قَبْلَ الْيَوْمِ ، فَمَا تَقُولُونَ ؟
— Wahai putra-putraku, aku pernah bernazar yang sudah kalian ketahui sebelum hari ini, lalu apa pendapat kalian?
وَسَادَ الْقَلَقُ بُرْهَةً ثُمَّ قَالُوا :
Kecemasan pun meliputi sejenak, kemudian mereka berkata:
— الْأَمْرُ لَكَ وَإِلَيْكَ وَنَحْنُ بَيْنَ يَدَيْكَ .
— Perintah adalah milikmu dan bagimu, dan kami ada di tanganmu (patuh kepadamu).
وَأَطْرَقَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بُرْهَةً فَقَالُوا لَهُ :
Abdul Muthalib menunduk sejenak, maka mereka berkata kepadanya:
— كَيْفَ نَصْنَعُ ؟
— Apa yang harus kami lakukan?
— لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ قِدْحًا ثُمَّ يَكْتُبْ فِيهِ اسْمَهُ ، ثُمَّ ائْتُونِي .
— Hendaklah setiap laki-laki di antara kalian mengambil anak panah undian, lalu menuliskan namanya di atasnya, kemudian datanglah kepadaku.
فَانْطَلَقَ أَوْلَادُهُ إِلَى هُبَلَ وَكَانَ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ ، وَرَاحَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَكْتُبُ اسْمَهُ عَلَى سَهْمٍ ثُمَّ عَادُوا إِلَيْهِ وَأَتَوْهُ بِالْقِدَاحِ ، فَأَخَذَهَا وَنَهَضَ وَذَهَبَ إِلَى هُبَلَ وَأَوْلَادُهُ مِنْ حَوْلِهِ .
Anak-anaknya pun pergi menuju Hubal yang berada di dalam Ka'bah, dan masing-masing dari mereka mulai menuliskan namanya di atas anak panah, lalu mereka kembali kepadanya dan membawakan anak-anak panah undian kepadanya. Ia mengambilnya, berdiri, dan pergi menuju Hubal sementara anak-anaknya berada di sekelilingnya.
وَدَعَا بِالْأَمِينِ الَّذِي يَضْرِبُ بِالْقِدَاحِ فَدَفَعَ إِلَيْهِ قِدَاحَهُمْ وَقَالَ :
Ia memanggil sang juru kunci yang biasa melakukan pengundian dengan anak panah, lalu ia menyerahkan anak-anak panah mereka kepadanya dan berkata:
— حَرِّكْ وَلَا تَعْجَلْ .
— Kocoklah dan jangan terburu-buru.
وَوُضِعَتِ السِّهَامُ فِي كِيسٍ وَمَدَّ الْأَمِينُ يَدَهُ لِيُخْرِجَ سَهْمًا ، فَحُبِسَتِ الْأَنْفَاسُ وَخَفَقَتِ الْقُلُوبُ وَزَاغَتِ الْأَبْصَارُ . وَرَاحَ عَبْدُ اللَّهِ وَأَبُو طَالِبٍ وَالزُّبَيْرُ يَتَبَادَلُونَ النَّظَرَاتِ فَقَدْ كَانُوا أَشِقَّاءَ ، وَكَانَتْ أُمُّهُمْ فَاطِمَةَ بِنْتَ عَمْرٍو ابْنِ عَائِدٍ بْنِ عِمْرَانَ بْنِ مَخْزُومِ بْنِ يَقَظَةَ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبٍ .
Anak-anak panah diletakkan di dalam kantong dan sang juru kunci mengulurkan tangannya untuk mengeluarkan satu anak panah. Nafas tertahan, hati berdegup, dan pandangan mata tertuju tajam. Abdullah, Abu Thalib, dan Az-Zubair saling bertukar pandang karena mereka adalah saudara kandung, ibu mereka adalah Fathimah binti 'Amr bin 'Aid bin 'Imran bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka'ab.
وَخَرَجَ سَهْمُ عَبْدِ اللَّهِ فَأَحَسَّ أَبُو طَالِبٍ رَأْسَهُ يَدُورُ ، إِنَّهُ يُحِبُّ عَبْدَ اللَّهِ مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ وَلَا يُطِيقُ أَنْ يَرَى الشَّابَّ الْوَسِيمَ يُذْبَحُ أَمَامَ عَيْنَيْهِ ، وَمَادَتِ الْأَرْضُ تَحْتَ قَدَمَيْهِ إِلَّا أَنَّهُ رَاحَ يَجْمَعُ شَتَاتَ نَفْسِهِ حَتَّى لَا يَنْهَارَ .
Ternyata keluarlah anak panah Abdullah, maka Abu Thalib merasa kepalanya berputar. Ia mencintai Abdullah dengan segenap hatinya dan tidak sanggup melihat pemuda tampan itu disembelih di depan matanya. Bumi terasa berguncang di bawah kakinya, namun ia berusaha mengumpulkan kekuatan jiwanya agar tidak roboh.
وَأَخَذَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ الشَّفْرَةَ ثُمَّ أَقْبَلَ بِعَبْدِ اللَّهِ إِلَى إِسَافَ وَنَائِلَةَ لِيَذْبَحَهُ وَهُوَ وَالِهِ حَزِينٌ ، فَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ أَحَبَّ وَلَدِهِ إِلَيْهِ ، وَكَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَرَى أَنَّ السَّهْمَ لَوْ كَانَ أَخْطَأَهُ فَقَدْ أَبْقَى .
Abdul Muthalib mengambil pisau, lalu ia membawa Abdullah menuju Isaf dan Na'ilah untuk menyembelihnya sementara ia dalam keadaan bingung dan sedih. Abdullah adalah putra yang paling dicintainya, dan Abdul Muthalib berpendapat bahwa seandainya anak panah itu meleset darinya, maka itu adalah keberuntungan.
وَانْتَشَرَ الْخَبَرُ فِي أَرْجَاءِ مَكَّةَ انْتِشَارَ الرِّيحِ ، فَقَامَتْ قُرَيْشٌ مِنْ أَنْدِيَتِهَا تَهْرُولُ إِلَى حَيْثُ انْطَلَقَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَعَبْدُ اللَّهِ ، وَجَاءَ بَنُو مَخْزُومٍ أَخْوَالُ عَبْدِ اللَّهِ وَقَدِ ارْتَسَمَ الْفَزَعُ فِي وُجُوهِهِمْ فَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ حَبِيبًا إِلَى قُلُوبِهِمْ جَمِيعًا .
Kabar itu menyebar ke seluruh penjuru Makkah laksana tiupan angin. Kaum Quraisy bangkit dari tempat-tempat pertemuan mereka, bergegas menuju ke arah perginya Abdul Muthalib dan Abdullah. Bani Makhzum, paman-paman dari pihak ibu Abdullah, datang dengan wajah yang digambari rasa takut, karena Abdullah adalah sosok yang dicintai oleh hati mereka semua.
وَأَتَى بِعَبْدِ اللَّهِ وَأَضْجَعَهُ وَوَضَعَ الشَّفْرَةَ عَلَى عُنُقِهِ لِيَذْبَحَهُ وَعَبْدُ اللَّهِ مُسْتَسْلِمٌ كَمَا اسْتَسْلَمَ إِسْمَاعِيلُ لِأَمْرِ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ . وَهَمَّ بِذَبْحِهِ فَوَثَبَ إِلَيْهِ أَبُو طَالِبٍ وَأَمْسَكَ يَدَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَنْ أَخِيهِ وَقَالَ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ :
Ia membawa Abdullah, membaringkannya, dan meletakkan pisau di lehernya untuk menyembelihnya, sementara Abdullah pasrah sebagaimana Ismail pasrah terhadap perintah Allah sebelumnya. Ketika ia hendak menyembelihnya, Abu Thalib melompat kepadanya, memegang tangan Abdul Muthalib agar tidak menyembelih saudaranya, dan beberapa orang Quraisy berkata:
— مَاذَا تُرِيدُ يَا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ؟
— Apa yang engkau inginkan, wahai Abdul Muthalib?
— أَذْبَحُهُ .
— Aku menyembelihnya.
فَقَالَتْ لَهُ قُرَيْشٌ وَبَنُوهُ :
Maka orang-orang Quraisy dan putra-putranya berkata kepadanya:
— وَاللَّهِ لَا تَذْبَحُهُ أَبَدًا حَتَّى تَعْذُرَ فِيهِ . لَئِنْ فَعَلْتَ هَذَا لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَأْتِي بِابْنِهِ يَذْبَحُهُ ، فَمَا بَقَاءُ النَّاسِ عَلَى هَذَا !
— Demi Allah, jangan sekali-kali engkau menyembelihnya sampai engkau mencari jalan keluar. Jika engkau melakukan ini, orang-orang akan terus membawa anak-anak mereka lalu menyembelihnya, maka bagaimana kelangsungan hidup manusia dengan cara seperti ini!
وَوَثَبَ بَنُو مَخْزُومٍ إِلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالُوا :
Bani Makhzum melompat menuju Abdul Muthalib lalu berkata:
— يَا أَبَا الْحَارِثِ إِنَّا لَا نُسَلِّمُ ابْنَ أُخْتِنَا لِلذَّبْحِ ، فَاذْبَحْ مَنْ شِئْتَ مِنْ وَلَدِكَ غَيْرَهُ .
— Wahai Abu al-Harits, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan putra saudara perempuan kami untuk disembelih, maka sembelihlah siapa saja dari anak-anakmu selainnya yang engkau kehendaki.
— إِنِّي نَذَرْتُ نَذْرًا وَقَدْ خَرَجَ الْقِدْحُ وَلَا بُدَّ مِنْ ذَبْحِهِ .
— Sesungguhnya aku telah bernazar, dan anak panah undian telah keluar, dan tidak ada pilihan lain kecuali menyembelihnya.
فَقَالَ بَنُو مَخْزُومٍ :
Maka Bani Makhzum berkata:
— كَلَّا لَا يَكُونُ ذَلِكَ أَبَدًا وَفِينَا ذُو رُوحٍ .
— Sekali-kali tidak akan terjadi hal itu selamanya selama masih ada nyawa di antara kami.
وَقَالَ الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ مَخْزُومٍ :
Dan al-Mughirah bin Abdullah bin 'Amr bin Makhzum berkata:
— وَاللَّهِ لَا تَذْبَحُهُ أَبَدًا حَتَّى تَعْذُرَ فِيهِ ، فَإِنْ كَانَ فِدَاؤُهُ بِأَمْوَالٍ فَدَيْنَاهُ .
— إِنَّا لَنَفْدِيَهِ بِجَمِيعِ أَمْوَالِنَا مِن طَارِفٍ وَتَالِدٍ .
— وَاللَّهِ مَا أَحْسَنَتْ عَشْرَةَ أُمِّهِ .
— Demi Allah, jangan sekali-kali engkau menyembelihnya sampai engkau mencari jalan keluar, jika tebusannya dengan harta, maka kami akan menebusnya.
— Sesungguhnya kami akan menebusnya dengan seluruh harta kami, baik yang baru maupun yang lama.
— Demi Allah, pergaulannya dengan ibunya sungguh tidak baik.
— يَا أَبَا الْحَارِثِ إِنَّ هَذَا الَّذِي عَزَمْتَ عَلَيْهِ لَعَظِيمٌ ، وَإِنَّكَ إِنْ ذَبَحْتَ ابْنَكَ لَمْ تَتَهَنَّ بِالْعَيْشِ مِنْ بَعْدِهِ . وَلَكِنْ لَا عَلَيْكَ ، أَنْتَ عَلَى رَأْسِ أَمْرِكَ تَثْبُتُ حَتَّى تَصِيرَ مَعَكَ إِلَى كَاهِنَةِ بَنِي سَعْدٍ إِنْ أَمَرَتْكَ بِذَبْحِهِ ذَبَحْتَهُ ، وَإِنْ أَمَرَتْكَ بِأَمْرٍ لَكَ فِيهِ فَرَجٌ قَبِلْتَهُ .
— Wahai Abu al-Harits, sesungguhnya perkara yang engkau tekadkan ini adalah perkara yang besar, dan sesungguhnya jika engkau menyembelih putramu, engkau tidak akan merasakan nikmatnya hidup setelahnya. Namun jangan khawatir, engkau tetap pada keputusanmu sampai engkau pergi bersamaku menemui dukun wanita Bani Sa'd. Jika ia memerintahkanmu untuk menyembelihnya, maka sembelihlah, dan jika ia memerintahkanmu dengan suatu perkara yang bagimu terdapat jalan keluar di dalamnya, maka terimalah.
وَتَعَلَّقَتِ الْعُيُونُ بِشَفَتَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمَّا قَالَ : « لَكُمْ ذَلِكَ » زَفَرَ الْجَمِيعُ فِي رَاحَةٍ ، فَقَدْ كَانَ دُونَ مَا يَبْغَى عَبْدُ الْمُطَّلِبِ خُطُوبٌ تَضْطَرِبُ .
Mata tertuju pada bibir Abdul Muthalib, dan ketika dia berkata: "Kalian boleh melakukan itu," semua orang menghela napas lega, karena di balik apa yang diinginkan Abdul Muthalib terdapat peristiwa-peristiwa yang mengguncang.
وَانْتَشَرَ الْخَبَرُ فِي مَكَّةَ فَأَطَلَّتِ النِّسْوَةُ يَنْظُرْنَ إِلَى الْفَتَى الَّذِي نَذَرَ أَبُوهُ ذَبْحَهُ فِي عَطْفٍ وَإِشْفَاقٍ ، إِنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ ابْنُ زَعِيمِ قُرَيْشٍ وَمَا أَكْثَرَ مَا وَقَعَتْ عُيُونُهُنَّ عَلَيْهِ مِنْ قَبْلُ ، وَلَكِنَّهُ بَدَا فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ مَسْرَبِلًا بِجَلَالٍ وَجَمَالٍ ، بِجَلَالِ اللَّحْظَةِ الرَّهِيبَةِ الَّتِي يَعِيشُهَا وَجَمَالِ الصَّبْرِ عَلَى مَا نَزَلَ بِهِ مِنْ خُطُوبٍ ، فَوَقَعَ فِي قَلْبِ بَعْضِ النِّسْوَةِ مَا وَقَعَ فِي قُلُوبِ النِّسْوَةِ اللَّاتِي دَعَتْهُنَّ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ لِمَا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ وَقُلْنَ :
Berita itu tersebar di Makkah, maka para wanita pun memandang pemuda yang ayahnya bernazar untuk menyembelihnya dengan penuh kasih sayang dan belas kasihan. Dia adalah Abdullah, putra pemimpin Quraisy. Betapa sering mata mereka tertuju padanya sebelum ini, namun pada saat itu dia tampak diselimuti keagungan dan kecantikan, keagungan momen mengerikan yang sedang dihayatinya dan kecantikan kesabaran atas peristiwa yang menimpanya. Maka jatuhlah ke dalam hati sebagian wanita apa yang dirasakan oleh para wanita yang diundang oleh istri Al-Aziz ketika mendengar tipu daya mereka, dan mereka berkata:
— حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ .
— Demi Allah, ini bukanlah manusia, ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.
وَأَطَالَتْ رُقَيْقَةُ بِنْتُ نَوْفَلٍ النَّظَرَ إِلَى وَجْهِ الْفَتَى الْجَمِيلِ ، إِنَّهَا لَتَرَى فِي وَجْهِهِ شَيْئًا لَا تَرَى مِثْلَهُ فِي وَجْهِ شَبَابِ قُرَيْشٍ ، إِنَّهُ جَمِيلٌ وَمَا أَكْثَرَ الْجَمَالَ فِي قُرَيْشٍ ، وَلَكِنَّ جَمَالَهُ نَادِرٌ يَشِفُّ عَنْ جَمَالِ الرُّوحِ . إِنَّ كُلَّ جَارِحَةٍ مِنْ جَوَارِحِهَا تَهْفُو إِلَيْهِ ، وَإِنَّهَا لَتَتَمَنَّى مِنْ كُلِّ قَلْبِهَا أَنْ يَكُونَ لَهَا زَوْجًا فَهِيَ تُحِسُّ فِي أَعْمَاقِهَا أَنَّ سَيَكُونُ لِذَلِكَ الْفَتَى شَأْنٌ أَيُّ شَأْنٍ .
Ruqaiqah binti Naufal memandang lama ke wajah pemuda tampan itu. Dia melihat sesuatu di wajahnya yang tidak dia lihat pada pemuda Quraisy lainnya. Dia tampan, padahal Quraisy penuh dengan ketampanan, namun ketampanannya langka, memancar dari keindahan jiwa. Setiap anggota tubuhnya merindukannya, dan dia berharap dari lubuk hatinya yang terdalam agar bisa menjadi suaminya, karena dia merasakan di kedalaman jiwanya bahwa pemuda itu akan memiliki kedudukan yang sangat agung.
وَشَرَدَتْ رُقَيْقَةُ وَرَنَّ فِي جَوْفِهَا صَوْتُ أَخِيهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ يَقُولُ : « إِنَّ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ نَبِيًّا وَقَدْ دَنَا يَوْمُ مَوْلِدِهِ » فَإِنْ كَانَ مَا يَزْعُمُ وَرَقَةُ حَقًّا فَلَنْ يَكُونَ أَبُوهُ غَيْرَ ذَلِكَ الْفَتَى الَّذِي يَتَأَهَّبُ أَهْلُهُ لِلِانْطِلَاقِ بِهِ إِلَى خَيْبَرَ لِثَرَى كَاهِنَتَهَا رَأْيَهَا فِيهِ ، فَرُقَيْقَةُ صَاحِبَةُ فِرَاسَةٍ وَمَا خَانَتْهَا فِرَاسَتُهَا مِنْ قَبْلُ .
Ruqaiqah melamun dan terngiang di dalam dirinya suara saudaranya, Waraqah bin Naufal, yang mengatakan: "Sesungguhnya umat ini akan memiliki seorang Nabi dan hari kelahirannya telah dekat." Jika apa yang diyakini Waraqah itu benar, maka ayahnya tidak lain adalah pemuda yang keluarganya sedang bersiap untuk membawanya ke Khaibar agar bisa mengetahui pendapat dukun wanita di sana mengenainya. Ruqaiqah adalah seorang yang memiliki firasat, dan firasatnya tidak pernah meleset sebelumnya.
وَتَأَهَّبَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَبَنُوهُ وَبَنُو مَخْزُومٍ أَخْوَالُ عَبْدِ اللَّهِ لِلِانْطِلَاقِ إِلَى الْمَدِينَةِ ، فَقَدْ كَانُوا يَرَوْنَ الْكَهَانَةَ حَقًّا ، ثُمَّ شَدُّوا الرِّحَالَ إِلَى كَاهِنَةِ بَنِي سَعْدٍ وَخَلَّفُوا وَرَاءَهُمْ قُلُوبًا وَاجِفَةً ، وَقَدْ كَانَتْ أَكْثَرُ الْقُلُوبِ اضْطِرَابًا قَلْبُ أُمِّهِ فَاطِمَةَ وَقَلْبُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ . فَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ صَدِيقَ الصِّبَا قَبْلَ أَنْ يَبْلُغَ الرِّجَالَ وَقَبْلَ أَنْ يَضْرِبَ عَلَى آمِنَةَ الْحِجَابَ ، وَقَلْبُ رُقَيْقَةَ بِنْتِ نَوْفَلٍ الَّتِي كَانَتْ تَحْلُمُ بِالْفَتَى الْهَاشِمِيِّ فِي يَقَظَتِهَا وَفِي مَنَامِهَا .
Abdul Muthalib, putra-putranya, dan Bani Makhzum, paman Abdullah dari pihak ibu, bersiap berangkat ke Madinah, karena mereka meyakini kebenaran dukun. Kemudian mereka menyiapkan perjalanan menuju dukun wanita Bani Sa'ad dan meninggalkan di belakang mereka hati yang bergetar. Hati yang paling guncang adalah hati ibunya, Fatimah, dan hati Aminah binti Wahb. Sebab Abdullah adalah sahabat masa kecil sebelum ia mencapai usia dewasa dan sebelum ia menikah dengan Aminah, serta hati Ruqaiqah binti Naufal yang memimpikan pemuda Hasyimi itu dalam sadar maupun tidurnya.
وَبَلَغَ الرَّكْبُ الْمَدِينَةَ ، وَسَأَلَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَنْ كَاهِنَةِ بَنِي سَعْدٍ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهَا بِخَيْبَرَ ، فَرَكِبُوا حَتَّى جَاءُوهَا ، فَرَاحَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَقُصُّ عَلَيْهَا نَذَرَهُ وَمَا أَرَادَ بِابْنِهِ فَقَالَتْ لَهُمْ :
Rombongan tiba di Madinah, dan Abdul Muthalib bertanya tentang dukun wanita Bani Sa'ad, maka dikatakan kepadanya bahwa dia berada di Khaibar. Maka mereka berkendara hingga sampai menemuinya, lalu Abdul Muthalib menceritakan kepadanya tentang nazarnya dan apa yang diinginkannya terhadap putranya, maka wanita itu berkata kepada mereka:
— ارْجِعُوا عَنِّي حَتَّى يَأْتِيَنِي تَابِعِي فَأَسْأَلَهُ .
— Pergilah dariku sampai pelayan (jin) ku datang, lalu aku akan bertanya kepadanya.
فَرَجَعُوا مِنْ عِنْدِهَا ، فَلَمَّا خَرَجُوا عَنْهَا لَمْ يَذْهَبْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ إِلَى أَخْوَالِهِ بَنِي النَّجَّارِ ، وَلَمْ يَنْطَلِقْ إِلَى مَرَاتِعِ صِبَاهُ ، وَلَمْ يَذْهَبْ إِلَى أَسْوَاقِ الْمَدِينَةِ كَمَا اعْتَادَ أَنْ يَذْهَبَ أَيَّامَ أَنْ كَانَ فِي حِضْنِ أُمِّهِ سَلْمَى بِنْتِ عَمْرٍو ، فَقَدْ كَانَ مَشْغُولَ الْبَالِ بِمَصِيرِ ابْنِهِ الْحَبِيبِ ، فَقَامَ يَدْعُو اللَّهَ وَيَبْتَهِلُ إِلَيْهِ أَنْ يُوَفِّقَهُ إِلَى مَا يَرْضَاهُ . رَأَى إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي مَنَامِهِ أَنْ يَذْبَحَ ابْنَهُ الْوَحِيدَ فَامْتَثَلَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ ، فَإِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ ، وَقَدْ بَرْهَنَ بِذَلِكَ الِامْتِثَالِ عَلَى أَنَّ حُبَّهُ اللَّهَ أَشَدُّ مِنْ حُبِّهِ لِوَحِيدِهِ وَفَلْذَةِ كَبِدِهِ ، فَفَدَا اللَّهُ الِابْنَ الْحَبِيبَ بِذَبْحٍ عَظِيمٍ . وَنَذَرَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ نَذْرًا أَنْ يَذْبَحَ وَاحِدًا مِنْ وَلَدِهِ إِذَا بَلَغَ بَنُوهُ عَشْرَةً ، وَقَدْ أَرَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ أَنْ يُوفِيَ بِنَذْرِهِ فَمَنَعَهُ أَخْوَالُ عَبْدِ اللَّهِ وَبَنُوهُ ، وَأَشَارُوا عَلَيْهِ أَنْ يَسْتَشِيرَ كَاهِنَةً مِنْ كَوَاهِنِهِمْ . تَرَى لَوْ كَانَ إِيمَانُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ كَإِيمَانِ أَبِيهِ إِبْرَاهِيمَ أَمَا كَانَتِ السَّمَاءُ تَفْدَى ابْنَهُ بِذَبْحٍ عَظِيمٍ ؟ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . وَجَاءَ الصَّبَاحُ فَغَدَا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَأَبْنَاؤُهُ وَأَخْوَالُ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ إِلَى كَاهِنَةِ بَنِي سَعْدٍ فَقَالَتْ لَهُمْ :
Mereka pun kembali dari tempatnya. Ketika mereka pergi, Abdul Muthalib tidak pergi menemui pamannya dari Bani Najjar, tidak pula pergi ke tempat-tempat bermain masa kecilnya, dan tidak pergi ke pasar-pasar Madinah sebagaimana ia biasa pergi di masa-masa ia berada dalam dekapan ibunya, Salma binti Amr. Sebab pikirannya sibuk dengan nasib putranya tercinta, maka ia berdiri berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar diberi petunjuk kepada apa yang diridhai-Nya. Ibrahim 'alaihis salam bermimpi bahwa ia harus menyembelih putra tunggalnya, maka ia patuh pada perintah Allah. Sebab Ibrahim adalah Khalilur Rahman (kekasih Allah), dan ia telah membuktikan dengan kepatuhan tersebut bahwa cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada putra tunggalnya, belahan jiwanya. Maka Allah menebus putra tercinta itu dengan sembelihan yang agung. Abdul Muthalib telah bernazar untuk menyembelih salah satu putranya jika putranya mencapai sepuluh orang. Abdul Muthalib ingin menepati nazarnya, namun paman-paman Abdullah dan putra-putranya mencegahnya, dan mereka menyarankannya untuk berkonsultasi dengan seorang dukun wanita dari golongan mereka. Seandainya iman Abdul Muthalib seperti iman ayahnya, Ibrahim, bukankah langit akan menebus putranya dengan sembelihan yang agung? Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik. Datanglah pagi hari, lalu Abdul Muthalib, putra-putranya, dan paman-paman Abdullah dari Bani Makhzum pergi menemui dukun wanita Bani Sa'ad, maka ia berkata kepada mereka:
— قَدْ جَاءَنِي الْخَبَرُ ؟ كَمِ الدِّيَةُ فِيكُمْ ؟
— Berita telah sampai kepadaku? Berapakah diyat (tebusan) di antara kalian?
قَالُوا :
Mereka menjawab:
— عَشْرٌ مِنَ الْإِبِلِ .
— Sepuluh ekor unta.
قَالَتْ :
Ia berkata:
— فَارْجِعُوا إِلَى بِلَادِكُمْ ثُمَّ قَرِّبُوا صَاحِبَكُمْ وَقَرِّبُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ ، ثُمَّ اضْرِبُوا عَلَيْهَا وَعَلَيْهِ بِالْقِدَاحِ ، فَإِذَا خَرَجَتْ عَلَى صَاحِبِكُمْ فَزِيدُوا مِنَ الْإِبِلِ حَتَّى يَرْضَى رَبُّكُمْ ، وَإِنْ خَرَجَتْ عَلَى الْإِبِلِ فَانْحَرُوهَا عَنْهُ فَقَدْ رَضِيَ رَبُّكُمْ وَنَجَا صَاحِبُكُمْ .
— Kembalilah ke negeri kalian, kemudian dekatkanlah sahabat kalian dan dekatkanlah sepuluh ekor unta, kemudian undilah antara dia dan unta-unta tersebut dengan anak panah undian. Jika undian jatuh pada sahabat kalian, maka tambahkanlah jumlah unta sampai Tuhan kalian ridha. Jika undian jatuh pada unta, maka sembelihlah unta itu sebagai tebusan untuknya, maka Tuhan kalian telah ridha dan sahabat kalian telah selamat.
فَخَرَجُوا حَتَّى جَاءُوا مَكَّةَ ، فَلَمَّا أَجْمَعُوا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الْأَمْرِ قَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ هُبَلَ يَدْعُو اللَّهَ ، ثُمَّ قَرَّبُوا عَبْدَ اللَّهِ وَعَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ عِشْرِينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ أَحَرَّ دُعَاءٍ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ ثَلَاثِينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ أَرْبَعِينَ .
Mereka pergi hingga sampai di Makkah. Ketika mereka telah sepakat akan hal tersebut, Abdul Muthalib berdiri di dekat Hubal berdoa kepada Allah, kemudian mereka mendekatkan Abdullah dan sepuluh ekor unta. Kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, maka jumlah unta menjadi dua puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah dengan doa yang paling khusyuk. Kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, maka jumlah unta menjadi tiga puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, maka jumlah unta menjadi empat puluh.
وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ وَرَاحَ أَبُو طَالِبٍ يَرْنُو إِلَى أَخِيهِ فِي قَلَقٍ وَحُبٍّ ، وَسَادَ الْمَكَانَ سُكُونٌ رَهِيبٌ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ فَسَرَتْ هَمْهَمَةٌ فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ خَمْسِينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ سِتِّينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ ثَمَانِينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، فَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتِ الْإِبِلُ تِسْعِينَ ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ .
Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, dan Abu Thalib memandang saudaranya dengan cemas dan penuh kasih sayang. Suasana menjadi sunyi senyap yang mencekam. Kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah, lalu terdengar gumaman, maka mereka menambahkan sepuluh ekor unta, sehingga jumlahnya menjadi lima puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, sehingga jumlahnya menjadi enam puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, sehingga jumlahnya menjadi delapan puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah. Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, sehingga jumlahnya menjadi sembilan puluh. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada Abdullah.
وَزَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ ، وَلَاحَ الْهَلَعُ فِي وَجْهِ أَبِي طَالِبٍ وَالْتَفَتَ نَاحِيَةَ أَخِيهِ الزُّبَيْرِ فَأَلْفَاهُ شَاحِبًا لَكَأَنَّمَا كَانَ يُعَانِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ ، وَاتَّجَهَتِ الْأَبْصَارُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ فَإِذَا بِهِ صَابِرٌ وَإِنْ غَامَتْ صَفْحَةُ وَجْهِهِ الْجَمِيلِ بِسَحَابَةٍ مِنَ الْحُزْنِ ، فَقَدْ أَغَمَّهُ أَنَّ رَبَّهُ لَمْ يَرْضَ عَنْ فِدَائِهِ .
Pandangan mata menjadi kabur dan jantung seakan berhenti di kerongkongan. Kepanikan tampak di wajah Abu Thalib, dan ia menoleh ke arah saudaranya, Az-Zubair, dan mendapatinya pucat pasi seolah sedang menderita sakaratul maut. Pandangan semua orang tertuju kepada Abdullah, dan ternyata ia bersabar, meskipun wajahnya yang tampan tertutup awan kesedihan, karena ia sedih bahwa Tuhannya belum ridha dengan tebusannya.
وَزَادُوا عَشْرًا مِنَ الْإِبِلِ فَبَلَغَتْ مِائَةً ، وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ ، ثُمَّ ضَرَبُوا فَخَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى الْإِبِلِ فَارْتَجَّتْ جَنْبَاتُ الْكَعْبَةِ بِصِيحَاتِ الْفَرَحِ ، قَالَتْ قُرَيْشٌ وَمَنْ حَضَرَ :
Mereka menambahkan sepuluh ekor unta, sehingga jumlahnya menjadi seratus. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah, kemudian mereka melakukan undian, dan undian jatuh pada unta. Maka sisi-sisi Ka'bah bergetar oleh sorak-sorai kegembiraan. Kaum Quraisy dan yang hadir berkata:
— قَدِ انْتَهَى رِضَا رَبِّكَ يَا عَبْدَ الْمُطَّلِبِ .
— Keridhaan Tuhanmu telah tercapai, wahai Abdul Muthalib.
وَبَلَغَ التَّهَالِيلُ مَسَامِعَ الْوَاقِفِينَ خَارِجَ الْكَعْبَةِ ، وَكَانَتْ بَيْنَهُمْ رُقَيْقَةُ بِنْتُ نَوْفَلٍ قَدْ جَاءَتْ لِتَرَى مَصِيرَ عَبْدِ اللَّهِ الَّذِي شَغَفَهَا حُبًّا ، فَقَالَتْ فِي لَهْفَةٍ لِلْوَاقِفِينَ عِنْدَ بَابِ الْكَعْبَةِ :
Tahlil dan sorak-sorai sampai ke telinga orang-orang yang berdiri di luar Ka'bah. Di antara mereka ada Ruqaiqah binti Naufal yang telah datang untuk melihat nasib Abdullah yang dicintainya sepenuh hati, maka ia berkata dengan penuh rasa penasaran kepada orang-orang yang berdiri di dekat pintu Ka'bah:
— مَاذَا جَرَى ؟
— Apa yang terjadi?
— نَجَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَضِيَ الْإِلَهُ .
— Abdullah selamat dan Tuhan telah ridha.
وَأَحَسَّتْ رَاحَةً وَإِنْ ظَلَّ قَلْبُهَا يَخْفِقُ كَجَنَاحِ حَمَامَةٍ فِي صَدْرِهَا ، وَاشْرَأَبَّتْ بِعُنْقِهَا لِتَرَى فَتَى قُرَيْشٍ الَّذِي أَصْبَحَ حَدِيثَ مَكَّةَ وَقِبْلَةَ الْأَنْظَارِ لِيَسْتَرِيحَ الْفُؤَادُ الْوَاجِفُ الْوَلْهَانُ ، إِلَّا أَنَّ خُرُوجَ عَبْدِ اللَّهِ قَدْ تَأَخَّرَ فَعَادَتْ تَقُولُ فِي قَلَقٍ :
Dia merasa tenang meski jantungnya tetap berdetak seperti sayap merpati di dalam dadanya. Ia menjulurkan lehernya untuk melihat pemuda Quraisy yang menjadi buah bibir penduduk Makkah dan pusat perhatian agar hati yang cemas dan penuh kerinduan itu menjadi tenang. Namun, keluarnya Abdullah terlambat, sehingga ia kembali berkata dengan cemas:
— مَاذَا هُنَاكَ ؟
— Ada apa di sana?
قَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ :
Abdul Muthalib berkata:
— لَا وَاللَّهِ حَتَّى أَضْرِبَ عَلَيْهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ .
— Tidak, demi Allah, sampai aku mengundinya sebanyak tiga kali.
وَعَادَ الْخَوْفُ مَرَّةً أُخْرَى لِيَسْتَبِدَّ بِهَا ، وَلَفَّهَا قَلَقٌ ، وَعَجِبَتْ لِذَلِكَ الشَّيْخِ الَّذِي يُصِرُّ عَلَى أَنْ يَضْرِبَ الْقِدَاحَ عَلَى ابْنِهِ ثَلَاثًا بَعْدَ أَنْ أَعْلَنَ الْإِلَهُ رِضَاهُ ، لَيْتَهُ يَخْرُجُ السَّاعَةَ وَيَذْبَحُ الْإِبِلَ الْمِائَةَ وَيُرِيحُ الْقُلُوبَ الْمُضْطَرِبَةَ وَلَا يَمُدُّ فِي الْعَذَابِ مَدًّا . وَضَرَبَ الْكَاهِنُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ وَالْإِبِلِ وَقَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدْعُو اللَّهَ . وَذَهَبَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى أَخِيهِ وَقَدْ لَفَّ ذِرَاعَهُ حَوْلَهُ كَأَنَّمَا يَمْنَعُ عَنْهُ عَادِيَاتِ الْقَدَرِ ، وَحُبِسَتِ الْأَنْفَاسُ ، وَأَخْرَجَ الْكَاهِنُ السَّهْمَ ، وَمَا إِنْ وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْعُيُونُ حَتَّى انْطَلَقَتْ أَصْوَاتُ الْفَرَحِ مِنَ الْحَنَاجِرِ :
Ketakutan kembali lagi menyelimutinya, dan ia diliputi kecemasan. Ia heran dengan syekh (orang tua) itu yang bersikeras untuk mengundi sebanyak tiga kali setelah Tuhan menyatakan keridhaan-Nya. Seandainya saja ia segera keluar, menyembelih seratus ekor unta, menenangkan hati yang guncang, dan tidak memperpanjang siksaan ini. Sang dukun melakukan undian atas Abdullah dan unta, dan Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah. Abu Thalib mendatangi saudaranya dan merangkulkan lengannya seolah-olah ia bisa menghalangi takdir buruk darinya. Napas tertahan, sang dukun mengeluarkan anak panah, dan begitu mata tertuju padanya, suara-suara kegembiraan meledak dari tenggorokan:
— خَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى الْإِبِلِ .
— Undian jatuh pada unta.
ثُمَّ عَادَ الْكَاهِنُ يَضْرِبُ الثَّانِيَةَ عَلَى الْإِبِلِ وَعَبْدِ اللَّهِ ، وَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ قَائِمٌ يَدْعُو اللَّهَ وَيُنَاشِدُهُ وَقَدْ غَمَرَتِ الدُّمُوعُ رُوحَهُ ، فَالذَّبِيحُ أَحَبُّ أَبْنَائِهِ إِلَيْهِ وَإِنَّهُ لَيَبْتَهِلُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ رِضَاهُ بِالدِّيَةِ حَقًّا ، فَقَدْ كَانَ حُبُّهُ لِإِلَهِهِ كَحُبِّهِ لِأَبْنَائِهِ أَوْ أَشَدَّ . وَخَرَجَتْ يَدُ الْكَاهِنِ بِالْقِدْحِ وَارْتَجَّتْ جَنْبَاتُ الْكَعْبَةِ بِأَصْوَاتِ الْفَرَحِ :
Kemudian dukun itu kembali melakukan undian kedua antara unta dan Abdullah. Abdul Muthalib berdiri berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya, sementara air mata membanjiri jiwanya. Sebab yang hendak disembelih adalah putranya yang paling dicintainya, dan ia memohon kepada Allah agar keridhaan-Nya dengan tebusan itu benar adanya. Sebab cintanya kepada Tuhannya seperti cintanya kepada putra-putranya atau bahkan lebih besar. Tangan dukun mengeluarkan anak panah undian, dan sisi-sisi Ka'bah bergetar oleh suara kegembiraan:
— خَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى الْإِبِلِ .
— Undian jatuh pada unta.
وَطَفَرَتِ الدُّمُوعُ فِي مَآقِي الْقَوْمِ فَقَدْ بَلَغَ الِانْفِعَالُ أَشُدَّهُ ، إِنَّهَا الثَّالِثَةُ فَإِنْ رَضِيَ الْإِلَهُ نَجَا عَبْدُ اللَّهِ ، وَجَرَتِ السُّنَّةُ فِي الدِّيَةِ بِمِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ ، وَتَأَهَّبَ الْكَاهِنُ لِيَضْرِبَ بِالْقِدْحِ فَانْبَهَرَتِ الْأَنْفَاسُ وَزَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ ، وَظَلَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ قَائِمًا يَدْعُو اللَّهَ وَيَبْتَهِلُ إِلَيْهِ فِي حَرَارَةٍ حَتَّى إِنَّ أَفْئِدَةَ النَّاسِ كَادَتْ تَنْفَطِرُ أَسًى عَلَى الشَّيْخِ الْجَلِيلِ الَّذِي يَكَادُ يَذُوبُ فِي حَرَارَةِ دَعَوَاتِهِ .
Air mata mengalir di pelupuk mata kaum itu, karena emosi telah mencapai puncaknya. Ini adalah undian ketiga, jika Tuhan ridha maka Abdullah selamat. Telah menjadi tradisi bahwa tebusan adalah seratus ekor unta. Dukun bersiap untuk mengundi dengan anak panah, napas tertahan, pandangan kabur, dan jantung seakan berhenti di kerongkongan. Abdul Muthalib terus berdiri berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya dengan penuh ketulusan, hingga hati orang-orang hampir hancur karena sedih melihat syekh yang agung itu yang hampir meleleh dalam hangatnya doa-doanya.
وَوَقَفَتْ رُقَيْقَةُ بِنْتُ نَوْفَلٍ وَقَدْ أَسْنَدَتْ قَلْبَهَا بِيَدِهَا لَكَأَنَّمَا تَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَفِرَّ مِنْ جَنْبَاتِهَا ، وَقَدْ خَنَقَتْهَا عَبَرَاتُهَا وَغَامَتْ مُقْلَتَاهَا بِغَمَامِ الْجُفُونِ ، فَرَأَتْ مَشَاهِدَ مَكَّةَ تَتَرَاقَصُ أَمَامَ عَيْنَيْهَا ، وَخُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّ نُورَ الْوُجُودِ يُوشِكُ أَنْ يَنْطَفِئَ .
Ruqaiqah binti Naufal berdiri sambil menyangga dadanya dengan tangannya seolah-olah ia mencegah jantungnya agar tidak melompat keluar, tangisnya tersedak, dan matanya berkabut oleh air mata. Ia melihat pemandangan Makkah menari-nari di depan matanya, dan ia membayangkan bahwa cahaya kehidupan akan segera padam.
وَرَاحَتِ الْعُيُونُ كُلُّهَا تَتْبَعُ يَدَ الْكَاهِنِ وَهُوَ يَمُدُّهَا فِي الْكِيسِ وَيُخْرِجُ السَّهْمَ ، وَإِذَا بِأَصْوَاتِ الْبُشْرَى تَدَوَّى فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ :
Mata semua orang mengikuti tangan sang dukun saat ia memasukkannya ke dalam kantong dan mengeluarkan anak panah, dan tiba-tiba suara gembira bergema di dalam Ka'bah:
— خَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى الْإِبِلِ .. خَرَجَ الْقِدْحُ عَلَى الْإِبِلِ .
— Undian jatuh pada unta.. Undian jatuh pada unta.
وَضَمَّ أَبُو طَالِبٍ أَخَاهُ عَبْدَ اللَّهِ إِلَى صَدْرِهِ وَدُمُوعُهُ تَجْرِي عَلَى خَدَّيْهِ ، وَقَلْبُهُ يَدْوِي بَيْنَ جَنْبَيْهِ ، وَمَشَاعِرُهُ الْفَوَّارَةُ تَنْتَشِرُ بَيْنَ الضُّلُوعِ وَلَا تَجِدُ لَهَا مُتَنَفَّسًا إِلَّا فِي قُبُلَاتِ الْفَرَحِ الَّتِي كَانَتْ تَغْمُرُ وَجْهَ الذَّبِيحِ بِلَا حِسَابٍ . وَأَقْبَلَ الزُّبَيْرُ وَأَبُو لَهَبٍ وَالْحَارِثُ يَضُمُّونَ عَبْدَ اللَّهِ إِلَى قُلُوبِهِمْ ، وَهَرَعَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ إِلَى وَلَدِهِ الْحَبِيبِ وَدُمُوعُهُ تُبَلِّلُ لِحْيَتَهُ وَاحْتَوَاهُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ لَكَأَنَّمَا يَحْتَوِي أَنْفَسَ كَنْزٍ فِي الْوُجُودِ . ثُمَّ قَالَ فِي صَوْتٍ مُتَهَدِّجٍ يَقْطُرُ رِقَّةً وَبِشْرًا وَانْفِعَالًا :
Abu Thalib mendekap saudaranya, Abdullah, ke dadanya sementara air matanya mengalir di pipinya, dan jantungnya berdegup kencang di balik rusuknya. Perasaannya yang meluap-luap menyebar di antara tulang rusuk dan tidak menemukan jalan keluar kecuali dalam ciuman kegembiraan yang membanjiri wajah Abdullah tanpa henti. Az-Zubair, Abu Lahab, dan Al-Harits datang mendekap Abdullah ke dalam hati mereka. Abdul Muthalib bergegas menuju putranya yang tercinta dengan air mata yang membasahi jenggotnya, dan ia memeluknya seolah-olah ia sedang memeluk harta yang paling berharga di dunia ini. Kemudian ia berkata dengan suara bergetar yang meneteskan kelembutan, sukacita, dan emosi:
— الْيَوْمَ وُلِدْتَ لِي .
— Hari ini kamu lahir kembali untukku.
وَرَاحَتْ رُقَيْقَةُ بِنْتُ نَوْفَلٍ تَزَاحَمُ النَّاسَ وَهِيَ ذَاهِلَةٌ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهَا إِلَّا مَشَاعِرَهَا الَّتِي كَانَتْ تَدْفَعُهَا دَفْعًا لِرُؤْيَةِ الْحَبِيبِ الَّذِي أَصْبَحَ أُسْطُورَةَ قُرَيْشٍ ، لَعَلَّ قَلْبَهَا الْمُتَشَوِّفَ لِعَبْدِ اللَّهِ يَهْدَأُ ، وَلَعَلَّ نَفْسَهَا تَسْتَقِرُّ وَتَعْرِفُ السَّلَامَ ، وَلَكِنَّهَا عَجَزَتْ عَنْ أَنْ تَشُقَّ لَهَا طَرِيقًا فِي الْجُمُوعِ الَّتِي كَانَتْ تَتَدَافَعُ بِالْمَنَاكِبِ لِتَصِلَ إِلَى حَيْثُ كَانَ بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو مَخْزُومٍ وَالذَّبِيحُ . وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ وَعَبْدُ اللَّهِ قَائِمٌ بَيْنَ الْجُمُوعِ وَقَدْ صَارَ مُسْتَوْدَعًا لِأَحَاسِيسَ فَوَّارَةِ غَايَةِ الْفَوْرَةِ ، فَرَاحَتْ كُنُوزُ قَلْبِهِ تَمُدُّهُ بِمَشَاعِرِ الْفَرَحِ وَالنَّشْوَةِ وَالنَّصْرِ حَتَّى فَاضَتْ جَوَانِحُهُ بِعَوَاطِفِهِ الرَّقِيقَةِ فَجَرَتْ مِنْ عَيْنَيْهِ الدُّمُوعُ ، ثُمَّ أَحَسَّ النَّاسُ جَمِيعًا أَنَّ الشَّكْرَ قَدْ وَجَبَ لِلَّهِ فَخَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًا .
Ruqaiqah binti Naufal berdesak-desakan di antara orang banyak sementara ia tidak sadar akan segala sesuatu di sekelilingnya kecuali perasaan-perasaannya yang mendorongnya untuk melihat sang kekasih yang telah menjadi legenda Quraisy, agar hatinya yang merindukan Abdullah menjadi tenang, dan agar jiwanya tenang serta merasakan kedamaian. Namun ia tidak mampu menembus jalan di antara kerumunan orang yang saling berdesakan untuk mencapai tempat Bani Hasyim, Bani Makhzum, dan Abdullah berada. Momen-momen berlalu, sementara Abdullah berdiri di antara kerumunan, menjadi tumpuan perasaan yang meluap-luap. Maka harta karun hatinya memberinya perasaan gembira, euforia, dan kemenangan, hingga jiwanya meluap dengan perasaan lembutnya dan air mata mengalir dari matanya. Kemudian semua orang merasa bahwa bersyukur kepada Allah telah menjadi wajib, maka mereka bersujud dan menangis.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi