BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Quraisy - Episode 6

QURAISY
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Antara Langit dan Debu: Pencarian Tuhan di Tengah Hiruk-Pikuk Makkah

Makkah terpecah dalam kebingungan, terjepit di antara tradisi yang sekarat dan upaya mencari perlindungan Ilahi, sementara Malik bin an-Nadhar bergulat mencari cahaya di tengah pekatnya kebodohan.

كَانَتْ مَكَّةُ غَارِقَةً فِي وَثَنِيَّتِهَا أَنْحَرَ أَهْلُهَا عَنْ طَرِيقِ الرَّبِّ الْوَاحِدِ الْحَقِّ الَّذِي آمَنَ بِهِ أَجْدَادُهُمْ وَمَلَئُوا الْفَرَاغَ الرُّوحِيَّ بِالتَّشَدُّدِ فِي الدِّينِ الْوَثَنِيِّ وَالِاجْتِهَادِ فِي عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ الَّتِي جَلَبُوهَا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَكَدَسُوهَا فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ ، بَلْ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَبَنَوْا لَهَا كَعَبَاتٍ فِي الْوَادِي الْمُقَدَّسِ . اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ خَالِقَ الْعَالَمِ وَرَازِقَهُمْ وَمُدَبِّرَ أَمْرِهِمْ وَنَافِعَهُمْ وَضَارَّهُمْ وَمُجِيرَهُمْ وَاحِدٌ لَا رَبَّ وَلَا خَالِقَ وَلَا رَازِقَ وَلَا مُدَبِّرَ وَلَا نَافِعَ وَلَا ضَارَّ وَلَا مُجِيرَ غَيْرُهُ ، اعْتَقَدُوا أَنَّهُمْ يَعْبُدُونَ اللَّهَ بِعِبَادَتِهِمُ الْأَصْنَامَ وَيَتَقَرَّبُونَ بِهَا إِلَيْهِ ، وَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ :
Makkah tenggelam dalam kemusyrikannya, penduduknya menyimpang dari jalan Tuhan Yang Maha Esa yang sebenarnya, yang diimani oleh nenek moyang mereka. Mereka mengisi kekosongan rohani dengan bersikap keras dalam agama pagan dan bersungguh-sungguh menyembah berhala-berhala yang mereka datangkan dari segala tempat dan mereka tumpuk di dalam Ka'bah. Bahkan, mereka melampaui batas terhadap diri mereka sendiri dan membangunkan Ka'bah-Ka'bah di lembah yang suci. Mereka sepakat bahwa Pencipta alam semesta, Pemberi rezeki, Pengatur urusan, Pemberi manfaat, Pemberi bahaya, dan Pemberi perlindungan adalah Esa. Tidak ada Tuhan, Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, Pemberi manfaat, Pemberi bahaya, dan Pemberi perlindungan selain Dia. Mereka meyakini bahwa mereka menyembah Allah dengan menyembah berhala-berhala tersebut dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya melalui berhala itu, lalu seorang dari mereka berkata:
— لَيْسَ لَنَا أَهْلِيَّةٌ لِعِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى بِلَا وَاسِطَةٍ لِعَظَمَتِهِ ، فَعَبَدْنَاهَا لِتُقَرِّبَنَا إِلَيْهِ زُلْفَى .
— Kami tidak memiliki kelayakan untuk menyembah Allah Ta'ala tanpa perantara karena keagungan-Nya, maka kami menyembah berhala-berhala ini agar ia mendekatkan kami kepada-Nya sedekat-dekatnya.
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ تَعَبَّدَتْ لِلْمَلَائِكَةِ :
Dan sekelompok yang mengabdikan diri kepada malaikat berkata:
— الْمَلَائِكَةُ ذَوُو جَاهٍ وَمَنْزِلَةٍ عِنْدَ اللَّهِ ، فَاتَّخَذْنَاهَا أَصْنَامًا عَلَى هَيْئَةِ الْمَلَائِكَةِ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ .
— Malaikat adalah pemilik kedudukan dan martabat di sisi Allah, maka kami menjadikan berhala-berhala dengan rupa malaikat agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى :
Dan kelompok lain berkata:
— جَعَلْنَا الْأَصْنَامَ قِبْلَةً لَنَا فِي عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى كَمَا أَنَّ الْكَعْبَةَ قِبْلَةٌ فِي عِبَادَتِهِ .
— Kami menjadikan berhala sebagai kiblat bagi kami dalam beribadah kepada Allah Ta'ala sebagaimana Ka'bah adalah kiblat dalam beribadah kepada-Nya.
وَاعْتَقَدَتْ طَائِفَةٌ أَنَّ عَلَى كُلِّ صَنَمٍ شَيْطَانًا مُوَكَّلًا بِأَمْرِ اللَّهِ ، فَمَنْ عَبَدَ الصَّنَمَ حَقَّ عِبَادَتِهِ قَضَى الشَّيْطَانُ حَوَائِجَهُ بِأَمْرِ اللَّهِ ، وَإِلَّا أَصَابَهُ الشَّيْطَانُ بِنَكْبَةٍ . وَبَقَى نَذْرٌ يَسِيرُ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ يَعْتَرِفُونَ بِوُجُودِ اللَّهِ وَتَوْحِيدِهِ مُلْتَزِمِينَ مَا كَانُوا عَلَيْهِ مِنْ تَعْظِيمِ الْبَيْتِ وَالطَّوَافِ بِهِ وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْوُقُوفِ عَلَى عَرَفَةَ وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالزَّكَاةِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ بِالْمَنَاسِكِ وَالْمَشَاعِرِ .
Dan sekelompok meyakini bahwa pada setiap berhala terdapat setan yang ditugaskan dengan perintah Allah, maka siapa yang menyembah berhala dengan ibadah yang sebenar-benarnya, niscaya setan memenuhi hajat-hajatnya dengan perintah Allah, dan jika tidak, maka setan menimpakan bencana kepadanya. Dan tersisa segelintir yang berjalan di atas ajaran Ibrahim dan Ismail yang mengakui keberadaan Allah dan keesaan-Nya, tetap berpegang pada apa yang mereka lakukan berupa mengagungkan Baitullah, tawaf di sana, haji, umrah, wukuf di Arafah, shalat, puasa, zakat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan manasik dan syiar-syiar.
وَارْتَدَّتْ طَائِفَةٌ إِلَى أَدْيَانِ الْعَرَبِ قَبْلَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ إِلَى عِبَادَةِ الْكَوَاكِبِ وَالنُّجُومِ ، فَفِرْقَةٌ عَبَدَتِ الشَّمْسَ وَاتَّخَذَتْ لَهَا صَنَمًا بِيَدِهِ جَوْهَرٌ عَلَى لَوْنِ النَّارِ وَلَهُ بَيْتٌ خَاصٌ ، وَزَعَمَتْ أَنَّ الشَّمْسَ مَلِكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ لَهَا نَفْسٌ وَعَقْلٌ وَهِيَ أَصْلُ نُورِ الْقَمَرِ وَالْكَوَاكِبِ وَهِيَ عِنْدَ مَلِكِ الْفَلَكِ فَتَسْتَحِقُّ التَّعْظِيمَ وَالسُّجُودَ وَالدُّعَاءِ . وَفِرْقَةٌ عَبَدَتِ الْقَمَرَ وَزَعَمَتْ أَنَّهُ مُدِيرُ الْعَالَمِ السُّفْلِيِّ وَاتَّخَذَتْ لَهُ صَنَمًا يَعْبُدُونَهُ وَيَسْجِدُونَ لَهُ وَيَصُومُونَ لَهُ أَيَّامًا مَعْلُومَةً مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثُمَّ يَأْتُونَ إِلَيْهِ بِالطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ ، وَفِرْقَةٌ عَبَدَتِ الْكَوَاكِبَ فَصَنَعَتْ لَهَا أَصْنَامًا عَلَى صُورَةِ الْكَوَاكِبِ وَرُوحَانِيَّتِهَا وَبَنَتْ لِكُلِّ كَوْكَبٍ هَيْكَلًا خَاصًا وَصَارَتِ الْأَصْنَامُ رُمُوزًا لِآلِهَةٍ غَائِبَةٍ لِتَكُونَ نُوَّابًا عَنْهَا وَقَائِمَةً مَقَامَهَا . وَآمَنَ أُنَاسٌ بِالدَّهْرِ وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ، وَافْتَرَقَ الدَّهْرِيُّونَ إِلَى فِرْقَتَيْنِ فِرْقَةٌ تَقُولُ :
Dan sekelompok orang murtad kembali kepada agama bangsa Arab sebelum Ibrahim dan Ismail, yaitu menyembah planet-planet dan bintang-bintang. Maka satu golongan menyembah matahari dan membuat baginya berhala yang di tangannya terdapat permata berwarna api dan memiliki rumah khusus. Mereka beranggapan bahwa matahari adalah raja dari para malaikat yang memiliki jiwa dan akal, serta merupakan asal cahaya bulan dan planet-planet, dan ia berada di sisi raja falak, sehingga berhak mendapatkan pengagungan, sujud, dan doa. Golongan lain menyembah bulan dan menganggapnya sebagai pengatur alam bawah, lalu mereka membuatkan berhala untuknya yang mereka sembah, mereka sujud kepadanya, dan mereka berpuasa untuknya pada hari-hari tertentu setiap bulan, kemudian mereka datang kepadanya dengan membawa makanan, minuman, kegembiraan, dan kebahagiaan. Golongan lainnya lagi menyembah planet-planet, maka mereka membuat berhala-berhala dalam rupa planet-planet beserta sifat-sifat ruhaniyahnya, dan membangun bait khusus untuk setiap planet. Berhala-berhala itu menjadi simbol bagi tuhan-tuhan yang gaib agar menjadi wakil bagi mereka dan menggantikan kedudukan mereka. Sebagian manusia mengimani masa (ad-Dahr) dan mereka berkata: "Tidaklah ada kehidupan selain kehidupan kita, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa." Kelompok Dahriyyun terpecah menjadi dua golongan, golongan pertama mengatakan:
— إِنَّ الْخَالِقَ خَلَقَ الْأَفْلَاكَ مُتَحَرِّكَةً أَعْظَمَ حَرَكَةٍ ، دَارَتْ عَلَيْهِ فَأَحْرَقَتْهُ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى ضَبْطِهَا وَإِمْسَاكِ حَرَكَتِهَا .
— Sesungguhnya Sang Pencipta telah menciptakan falak (benda langit) bergerak dengan gerakan yang amat besar, lalu perputaran itu berbalik kepadanya dan membakarnya, dan ia tidak mampu mengendalikan dan menahan gerakannya.
وَفِرْقَةٌ تَقُولُ :
Dan golongan kedua mengatakan:
— إِنَّ الْأَشْيَاءَ لَيْسَ لَهَا أَوَّلٌ أَلْبَتَّةَ وَإِنَّمَا تَخْرُجُ مِنَ الْقُوَّةِ إِلَى الْفِعْلِ ، فَإِذَا خَرَجَ مَا كَانَ بِالْقُوَّةِ إِلَى الْفِعْلِ تَكَوَّنَتِ الْأَشْيَاءُ مُرَكَّبَاتِهَا وَبَسَائِطَهَا مِنْ ذَاتِهَا لَا مِنْ شَيْءٍ آخَرَ .
— Sesungguhnya segala sesuatu tidak memiliki permulaan sama sekali, melainkan ia keluar dari potensi menjadi aktual. Maka apabila apa yang bersifat potensi telah keluar menjadi aktual, maka terbentuklah segala sesuatu baik yang tersusun maupun yang sederhana dari zatnya sendiri, bukan dari sesuatu yang lain.
إِنَّ الْعَالَمَ لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ وَلَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَضْمَحِلُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُبْدِعُ يَفْعَلُ فِعْلًا يَبْطُلُ وَيَضْمَحِلُ إِلَّا وَهُوَ يَبْطُلُ وَيَضْمَحِلُ مَعَ فِعْلِهِ ، وَهَذَا الْعَالَمُ هُوَ الْمُمْسِكُ لِهَذِهِ الْأَجْزَاءِ الَّتِي فِيهِ . أَنْكَرُوا الْخَالِقَ وَالْبَعْثَ وَالْإِعَادَةَ وَقَالُوا : الطَّبْعُ الْمُحْيِي وَالدَّهْرُ الْمُفْنِي ، فَالْجَامِعُ هُوَ الطَّبْعُ وَالْمُهْلِكُ هُوَ الدَّهْرُ . وَكَانَ فِي الْعَرَبِ صَابِئُونَ عَلَى دِينِ إِدْرِيسَ وَإِبْرَاهِيمَ وَيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّا وَقَدِ انْقَسَمُوا كَمَا انْقَسَمَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ إِلَى حُنَفَاءَ وَمُشْرِكِينَ ، وَرَاحَ الْحُنَفَاءُ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَسْتَقْبِلُونَ الْكَعْبَةَ فِي صَلَوَاتِهِمْ وَيُعَظِّمُونَ مَكَّةَ وَيَرَوْنَ الْحَجَّ إِلَيْهَا وَيُحَرِّمُونَ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ ، وَقَالَ الصَّابِئُونَ الْمُشْرِكُونَ :
Sesungguhnya alam semesta itu abadi, tidak akan hilang, tidak berubah, dan tidak musnah. Tidak mungkin sang Pencipta melakukan suatu perbuatan yang batal dan musnah kecuali Dia pun batal dan musnah bersama perbuatan-Nya, dan alam semesta inilah yang memegang bagian-bagian yang ada di dalamnya. Mereka mengingkari Sang Pencipta, kebangkitan, dan hari pembalasan, lalu mereka berkata: "Tabiat adalah yang menghidupkan dan masa adalah yang mematikan", maka yang menyatukan adalah tabiat dan yang membinasakan adalah masa. Dan di kalangan bangsa Arab terdapat kaum Shabi'in yang mengikuti agama Idris, Ibrahim, dan Yahya bin Zakariya. Mereka terbagi sebagaimana orang-orang sebelum mereka terbagi menjadi kaum Hanif dan musyrikin. Kaum Hanif pergi berpuasa, shalat, menghadap Ka'bah dalam shalat mereka, mengagungkan Makkah, meyakini haji ke sana, serta mengharamkan bangkai, darah, dan daging babi. Kaum Shabi'in yang musyrik berkata:
— لَا سَبِيلَ لَنَا إِلَى الْوُصُولِ إِلَى جَلَالِ اللَّهِ إِلَّا بِالْوَسَائِطِ ، فَعَلَيْنَا أَنْ نَتَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِتَوَسُّطَاتِ الرُّوحَانِيَّاتِ الْقَرِيبَةِ مِنْهُ .
— Tidak ada jalan bagi kami untuk sampai kepada keagungan Allah kecuali dengan perantara, maka wajib bagi kami untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan perantaraan ruhaniyah yang dekat dengan-Nya.
فَعَظَّمُوا الْكَوَاكِبَ السَّبْعَةَ وَالْبُرُوجَ الِاثْنَيْ عَشَرَ ، وَبَنَوْا هَيْكَلًا كَبِيرًا لِلشَّمْسِ وَهَيْكَلًا لِلْقَمَرِ وَهَيْكَلًا لِلزُّهْرَةِ وَهَيْكَلًا لِلْمُشْتَرَى وَهَيْكَلًا لِلْمِرِّيخِ وَهَيْكَلًا لِعُطَارِدَ وَهَيْكَلًا لِزُحَلَ وَهَيْكَلًا لِلْمِلَّةِ الْأُولَى ، وَاتَّخَذُوا لِكُلِّ كَوْكَبٍ صَنَمًا وَمَذْبَحًا وَرَاحُوا يَقَرِّبُونَ لَهَا الْقَرَابِينَ وَيُصَلُّونَ لَهَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . وَنَشَأَ أَبْنَاءُ قُرَيْشٍ فِي ظِلِّ هَذِهِ الْوَثَنِيَّةِ الَّتِي تَفَرَّقَ فِيهَا الْمَكِّيُّونَ شِيَعًا وَأَحْزَابًا دِينِيَّةً ، فَقَاسَوْا مِنَ التَّحَلُّلِ الِاجْتِمَاعِيِّ الَّذِي كَانَ النَّاسُ غَارِقِينَ فِيهِ ، وَمَرُّوا بِذَلِكَ الطَّوْرِ الَّذِي مَرَّتْ بِهِ كُلُّ الدُّوَلِ الْمُتَحَلِّلَةِ قَبْلَهُمْ ، طَوْرَ الْمَوْتِ فِي الْحَيَاةِ ، فَانْدَثَرَتْ تِلْكَ الْحَضَارَةُ الَّتِي تَكَوَّنَتْ حَوْلَ الْحَرَمِ أَوْ كَادَتْ ، وَلَوْلَا الْقَوَافِلُ التِّجَارِيَّةُ الْخَارِجَةُ مِنْ مَكَّةَ أَوِ الْعَائِدَةُ إِلَيْهَا لَأَسِنَتِ الْحَيَاةُ فِي الْوَادِي الْمُقَدَّسِ الَّذِي دَنَّسَتْهُ الْأَصْنَامُ الَّتِي تَكَدَّسَتْ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ .
Maka mereka mengagungkan tujuh planet dan dua belas rasi bintang. Mereka membangun bait besar untuk matahari, bait untuk bulan, bait untuk Venus, bait untuk Jupiter, bait untuk Mars, bait untuk Merkurius, bait untuk Saturnus, dan bait untuk ajaran pertama. Mereka menjadikan untuk setiap planet satu berhala dan satu altar, kemudian mereka mulai mempersembahkan kurban untuknya dan shalat untuknya lima kali sehari semalam. Anak-anak Quraisy tumbuh di bawah naungan kemusyrikan ini, di mana orang-orang Makkah terpecah menjadi sekte-sekte dan golongan-golongan agama. Mereka merasakan keruntuhan sosial yang orang-orang saat itu tenggelam di dalamnya, dan mereka melewati fase yang dilewati oleh semua negara yang runtuh sebelum mereka, yaitu fase kematian dalam kehidupan. Peradaban yang terbentuk di sekitar al-Haram pun musnah atau hampir musnah, dan seandainya bukan karena kafilah dagang yang keluar dari Makkah atau kembali kepadanya, niscaya kehidupan akan membusuk di lembah suci yang dinodai oleh berhala-berhala yang menumpuk di dalam Ka'bah.
غَطَّتْ سُفُوحَ الْجِبَالِ الَّتِي تُحِيطُ بِوَادِي مَكَّةَ إِحَاطَةَ السِّوَارِ بِالْمِعْصَمِ بِدُورٍ مِنْ حِجَارَةٍ ، وَخِبَاءٍ مِنْ صُوفٍ ، وَإِجَادٍ مِنْ وَبَرٍ ، وَفِسْطَاطٍ مِنْ شَعْرٍ ، وَسَرَادِقٍ مِنْ قَطَنٍ ، وَقِشْعٍ مِنْ جُلُودٍ ، وَحَظَائِرٍ لِلْإِبِلِ مِنْ شَذْبِ الْأَشْجَارِ ، وَخِيَامٍ مِنْ عِيدَانِ الشَّجَرِ . وَمَا كَادَ الصُّبْحُ يَتَنَفَّسُ حَتَّى خَرَجَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ وَالْعَبِيدُ مِنَ الدُّورِ وَانْحَدَرُوا إِلَى بَطْنِ الْوَادِي لِيَطُوفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ يَلْتَمِسُونَ مِنْ آلِهَتِهِمُ الْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ ، فَقَدْ كَانَ ذَلِكَ الْيَوْمُ يَوْمَ انْطِلَاقِ قَافِلَتِهِمُ التِّجَارِيَّةِ إِلَى بِلَادِ فَارِسَ الَّتِي امْتَدَّ سُلْطَانُهَا حَتَّى كَادَ يُغَطِّى وَجْهَ الْأَرْضِ . وَخَفَّ التُّجَّارُ إِلَى الْمُلْتَزَمِ يَعُدُّونَ الْبَضَائِعَ وَيُحَرِّرُونَ الْعُقُودَ ، فَجَلَسُوا بَيْنَ بَابِ الْكَعْبَةِ وَالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ يَتَحَاسَبُونَ ، فَمَنْ كَانَ لَا يُحْسِنُ الْكِتَابَةَ يَعُدُّ بِالْحَصَى ، حَتَّى إِذَا انْتَهَى مِنْ عَدِّهِ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ لِلْكَاتِبِ :
Lereng-lereng gunung yang mengelilingi lembah Makkah bak gelang yang mengelilingi pergelangan tangan, tertutup oleh rumah-rumah dari batu, kemah dari bulu domba, tenda dari bulu unta, kemah dari rambut hewan, tirai dari katun, gubuk dari kulit, kandang unta dari dahan pohon, dan tenda dari batang pohon. Pagi baru saja merekah ketika pria, wanita, anak-anak, dan budak keluar dari rumah-rumah dan turun ke perut lembah untuk tawaf di Baitul 'Atiq (Ka'bah), mengharapkan kebaikan dan keberkahan dari tuhan-tuhan mereka. Hari itu adalah hari keberangkatan kafilah dagang mereka ke negeri Persia yang kekuasaannya membentang hingga hampir menutupi permukaan bumi. Para pedagang bergegas ke Multazam menghitung barang dagangan dan menulis akad-akad. Mereka duduk di antara pintu Ka'bah dan Hajar Aswad melakukan perhitungan, maka siapa yang tidak pandai menulis, ia menghitung dengan kerikil, hingga ketika ia selesai menghitung, ia mengangkat kepalanya dan berkata kepada penulis:
— أَحْصَيْتُ .
— Aku telah menghitungnya.
ثُمَّ يُمْلِي عَلَى الْكَاتِبِ عَدَدَ مَا أَحْصَاهُ فَيُدَوِّنُهُ فِي الْعَقْدِ وَيَشْهَدُ عَلَيْهِ الشُّهُودُ ، وَكَانَ الْكَاتِبُ يَسْتَخْدِمُ الْأَرْقَامَ حِسَابَ عُقُودِ الْأَصَابِعِ ، فَعِنْدَ الْعَشْرَةِ تَجْعَلُ السَّبَابَةَ حَلْقَةً وَالْعِشْرِينَ تَجْعَلُ الْإِبْهَامَ بَيْنَ السَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى ، وَالثَّلَاثِينَ تَجْعَلُ رَأْسَ السَّبَابَةِ عَلَى رَأْسِ الْإِبْهَامِ ، وَالْأَرْبَعِينَ تَجْعَلُ رَأْسَ الْإِبْهَامِ جَالِسًا ، وَالسِّتِّينَ تَجْعَلُ ظَهْرَ رَأْسِ الْإِبْهَامِ عَلَى الْعَضَلِ الْأَعْلَى مِنَ بَاطِنِ السَّبَابَةِ ، وَالسَّبْعِينَ تَجْعَلُ رَأْسَ الْإِبْهَامِ عَلَى الْعَضَلِ الْأَسْفَلِ مِنْ بَاطِنِ السَّبَابَةِ ، وَالثَّمَانِينَ تَجْعَلُ رَأْسَ السَّبَابَةِ عَلَى ظَهْرِ الْإِبْهَامِ ، وَالتِّسْعِينَ تَجْعَلُ السَّبَابَةَ حَلْقَةً غَيْرَ مَجْوُوفَةٍ ، وَالْمِائَةَ تَجْعَلُ رَأْسَ السَّبَابَةِ الْيُسْرَى كَمَا جَعَلْتَ الْيُمْنَى فِي الْعَشْرَةِ ، وَالْمِائَتَيْنِ تَجْعَلُ الْإِبْهَامَ الْيُسْرَى كَمَا جَعَلْتَ الْيُمْنَى فِي الْعِشْرِينَ .
Kemudian ia mendiktekan kepada penulis jumlah apa yang telah ia hitung, lalu penulis mencatatnya dalam akad dan para saksi menyaksikannya. Penulis menggunakan angka perhitungan akad jari-jemari. Pada angka sepuluh, jari telunjuk dibuat melingkar, untuk dua puluh ibu jari diletakkan di antara telunjuk dan jari tengah, untuk tiga puluh ujung jari telunjuk diletakkan pada ujung ibu jari, untuk empat puluh ujung ibu jari diletakkan duduk, untuk enam puluh punggung ujung ibu jari diletakkan pada otot bagian atas dari bagian dalam jari telunjuk, untuk tujuh puluh ujung ibu jari diletakkan pada otot bagian bawah dari bagian dalam jari telunjuk, untuk delapan puluh ujung jari telunjuk diletakkan di atas punggung ibu jari, untuk sembilan puluh jari telunjuk dibuat melingkar tidak berongga, untuk seratus ujung jari telunjuk kiri dibuat seperti yang engkau buat pada tangan kanan untuk angka sepuluh, dan untuk dua ratus ibu jari kiri dibuat seperti yang engkau buat pada tangan kanan untuk angka dua puluh.
وَهَبَطَ إِلَى الْوَادِي مَالِكُ بْنُ النَّضْرِ وَحَوْلَهُ نَفَرٌ قَلِيلٌ مِنْ قُرَيْشٍ ، إِخْوَتُهُ مِنَ النَّضْرِ وَأَبْنَاؤُهُ وَأَبْنَاءُ إِخْوَتِهِ ، فَمَا كَانَ الْعَهْدُ قَدْ طَالَ عَلَى قُرَيْشٍ فَمَا وَارَى النَّضْرَ التُّرَابُ إِلَّا مِنْ سِنِينَ وَلَا تَزَالُ سِيرَتُهُ تَتَرَدَّدُ فِي جَنْبَاتِ مَكَّةَ وَرَجْعُ صَوْتِهِ لَا يَزَالُ يَرِنُ فِي الْوَادِي الَّذِي رَانَ عَلَيْهِ الْجَهْلُ بَعْدَ أَنْ كَانَ مَنَارَةَ التَّوْحِيدِ . وَطَافَ مَالِكٌ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ قُرَيْشٍ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، وَلَمَّا أَتَمُّوا الطَّوَافَ انْطَلَقَ كُلٌّ مِنْهُمْ إِلَى مَعْبَدِ إِلَهِهِ أَوْ إِلَاهَتِهِ يَطُوفُ بِهِ وَيُقَدِّمُ إِلَيْهِ الْقَرَابِينَ ، فَذَهَبَ فَرِيقٌ إِلَى مَعْبَدِ اللَّاتِ وَفَرِيقٌ إِلَى مَعْبَدِ الْعُزَّى ، وَانْتَظَرَ فَرِيقٌ حَتَّى تَنْطَلِقَ الْقَافِلَةُ إِلَى الْمَشَلَّلِ بَيْنَ يَثْرِبَ وَمَكَّةَ لِيَطُوفَ بِصَنَمِ مَنَاةَ وَكَانَ مَنْصُوبًا عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ الْأَحْمَرِ ، لِيَسْأَلَ الرَّبَّةَ أَنْ تَهَبَهُ الْحَظَّ وَالتَّوْفِيقَ . كَانَ مَالِكٌ زَعِيمَ الْقَافِلَةِ الْمُنْطَلِقَةِ إِلَى فَارِسَ وَكَانَ التُّجَّارُ يَتَفَاءَلُونَ بِهِ ، فَمَا مِنْ مَرَّةٍ خَرَجَ فِيهَا عَلَى رَأْسِ تِجَارَتِهِمْ إِلَّا وَعَادَ إِلَيْهِمْ بِالرِّبْحِ الْوَفِيرِ . وَكَانَ مَالِكٌ مَوْلَعًا بِالتِّجَارَةِ يَتَمَادَحُ بِكَسْبِ الْمَالِ وَقَدْ كَسَبَ مِنْهُ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ حَتَّى إِنَّ إِبِلَهُ كَانَتْ تَغْطَى سُفُوحَ مَكَّةَ ، وَلَكِنَّ فِكْرَهُ كَانَ فِي هَذِهِ الرِّحْلَةِ مَشْغُولًا بِشَيْءٍ أَعْظَمَ مِنَ الْبَيْعِ وَالتِّجَارَةِ ، كَانَ يُفَكِّرُ فِي عَدَاوَةِ سَابُورَ ذِي الْأَكْتَافِ لِلْعَرَبِ وَتَنْكِيلِهِ بِهِمْ .
Turunlah Malik bin an-Nadhar ke lembah, di sekelilingnya terdapat sekelompok kecil orang Quraisy, saudara-saudaranya dari keturunan an-Nadhar, putra-putranya, dan putra-putra saudaranya. Belum lama berlalu masa bagi Quraisy, an-Nadhar baru saja dikebumikan beberapa tahun lalu, kisahnya masih terngiang di penjuru Makkah, dan gema suaranya masih berdentang di lembah yang diselimuti kebodohan setelah sebelumnya menjadi menara tauhid. Malik dan orang-orang Quraisy yang bersamanya tawaf di Baitul 'Atiq (Ka'bah), dan ketika mereka selesai tawaf, mereka masing-masing pergi ke kuil tuhan atau dewi mereka untuk melakukan tawaf di sana dan mempersembahkan kurban. Sebagian kelompok pergi ke kuil al-Lata, sebagian ke kuil al-'Uzza, dan sebagian menunggu hingga kafilah berangkat ke al-Masyallal di antara Yatsrib dan Makkah untuk tawaf di berhala Manat yang ditegakkan di pesisir Laut Merah, untuk meminta kepada sang dewi agar memberikan keberuntungan dan taufik. Malik adalah pemimpin kafilah yang berangkat ke Persia dan para pedagang optimis dengannya, tidak pernah sekali pun ia memimpin perdagangan mereka melainkan ia kembali kepada mereka dengan keuntungan yang melimpah. Malik sangat gemar berdagang, ia bangga dengan perolehan harta dan telah memperoleh banyak harta darinya hingga unta-untanya menutupi lereng-lereng Makkah. Akan tetapi, pikirannya dalam perjalanan kali ini disibukkan dengan sesuatu yang lebih agung daripada jual beli dan perdagangan, ia memikirkan permusuhan Sapur Dzul Aktaf terhadap bangsa Arab dan tindakannya menyiksa mereka.
إِنَّ سَابُورَ ذَا الْأَكْتَافِ سَوْطُ عَذَابٍ يَبْعَثُ الرُّعْبَ فِي قُلُوبِ الْعَرَبِ جَمِيعًا ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ الْعَرَبِ يَدْرِي لِذَلِكَ الِاضْطِهَادِ مِنْ سَبَبٍ ، فَلِمَاذَا لَا يَذْهَبُ مَالِكٌ إِلَى قَصْرِ سَابُورَ وَيَلْتَمِسُ الْمُثُولَ بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَسْأَلُهُ عَنْ مَبْعَثِ كَرَاهِيَتِهِ لِأَقْوَامٍ لَمْ تُبْدِ الْبَغْضَاءَ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَلَا مِنْ أَفْئِدَتِهِمْ . وَاسْتَرَاحَ مَالِكٌ لِذَلِكَ الْخَاطِرِ وَاسْتَوْلَى عَلَى لُبِّهِ ، وَاسْتَحْوَذَتْ عَلَيْهِ فِكْرَةُ أَنْ يُحَرِّرَ الْعَرَبَ مِنْ بَطْشِ سَابُورَ وَمِنْ ذَلِكَ الْهَلَعِ الَّذِي اسْتَبَدَّ بِهِمْ ، فَقَدْ كَانَ الرُّعْبُ يُزَلْزِلُ كِيَانَ الرِّجَالِ إِذَا مَا طَافَ بِأَذْهَانِهِمُ احْتِمَالُ وُقُوعِهِمْ فِي يَدِ ذَلِكَ الطَّاغِيَةِ وَثُقْبِ أَكْتَافِهِمْ . وَخَرَجَتِ الْقَافِلَةُ مِنْ مَكَّةَ تَضُمُّ الْعَدْنَانِيِّينَ وَالْإِيَادِيِّينَ وَالنِّزَارِيِّينَ وَالْمُضَرِّينَ وَالْخُزَاعِيِّينَ وَالْبُطُونَ الَّتِي تَفَرَّعَتْ عَنْ عَدْنَانَ بْنِ أَدَدٍ وَآثَرَتْ أَنْ تَلُوذَ بِالْحَرَمِ تَمْضِي الْحَيَاةَ فِي كَنَفِهِ وَفِي حِمَايَتِهِ . وَكَانَ فِي الْقَافِلَةِ حَفْنَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ ، فَمَا كَانَتْ قُرَيْشٌ قَدْ كَثُرَ عَدَدُهَا ، وَإِنْ كَانَ عَلَى رَأْسِهَا ابْنُ قُرَيْشٍ الْبِكْرِ مَالِكُ ابْنِ النَّضْرِ . وَانْطَلَقَتِ الْقَافِلَةُ فِي مَعْبَدِ اللَّهِ يَتَجَاوَبُ فِي أَرْجَاءِ الصَّحْرَاءِ صَوْتُ الْحَادِي يَشُقُّ السُّكُونَ الَّذِي رَانَ عَلَى الْكَوْنِ ، وَيَحُثُّ الْإِبِلَ عَلَى الْإِسْرَاعِ وَيَذْهَبُ عَنْهَا الْمَلَلَ وَالْكَلَالَ .
Sesungguhnya Sapur Dzul Aktaf adalah cambuk siksaan yang menebarkan kengerian di hati seluruh bangsa Arab. Tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang mengetahui penyebab penindasan itu. Mengapa Malik tidak pergi ke istana Sapur dan memohon untuk menghadap di hadapannya, kemudian menanyakannya tentang sumber kebenciannya terhadap kaum yang tidak pernah menunjukkan kebencian dari mulut maupun hati mereka? Malik merasa tenang dengan pikiran tersebut dan pikiran itu menguasai batinnya. Gagasan untuk membebaskan bangsa Arab dari kekejaman Sapur dan dari rasa panik yang merajalela di antara mereka menguasainya. Kengerian mengguncang eksistensi pria-pria itu jika terlintas dalam pikiran mereka kemungkinan jatuh ke tangan sang tiran tersebut dan bahu mereka ditusuk. Kafilah keluar dari Makkah, terdiri dari kaum 'Adnaniyyin, al-Iyadiyyin, al-Nizariyyin, al-Mudhariyyin, al-Khuza'iyyin, dan klan-klan yang bercabang dari 'Adnan bin Adad yang memilih untuk bernaung di al-Haram, menjalani hidup di bawah perlindungannya. Di dalam kafilah tersebut terdapat segelintir orang Quraisy. Jumlah orang Quraisy belum banyak, meskipun pemimpinnya adalah putra sulung Quraisy, Malik bin an-Nadhar. Kafilah berangkat dalam pengabdian kepada Allah, suara al-Hadi (penuntun unta) saling bersahutan di penjuru gurun, membelah keheningan yang menyelimuti alam semesta, memacu unta-unta untuk berlari cepat dan menghilangkan rasa bosan dan lelah darinya.
وَرَاحَ ذِهْنُ مَالِكٍ يَسْبِقُ الزَّمَنَ فَكَانَ يَرَى نَفْسَهُ بِعَيْنِ خَيَالِهِ فِي قَصْرِ سَابُورَ ذِي الْأَكْتَافِ يَطْلُبُ مُقَابَلَةَ الشَّاهِنْشَاهِ وَيَتَلَمَّسُ الْأَمَانَ ، وَكَانَتِ الصُّوَرُ تَتَابَعُ فِي رَأْسِهِ وَيَنْعَكِسُ أَثَرُهَا عَلَى مُحَيَّاهُ ، فَكَانَ يَعْبُسُ إِذَا احْتَلَّتْ صَفْحَةَ ذِهْنِهِ خَيَالَاتُ سَابُورَ وَهُوَ يَأْمُرُ بِالْقَبْضِ عَلَيْهِ وَخَلْعِ أَكْتَافِهِ وَالتَّنْكِيلِ بِهِ ، وَمَا تَلَبَّثُ أَسَارِيرُهُ أَنْ تَنْبَسِطَ إِذَا ابْتَدَعَ خَيَالُهُ صُوَرَ التَّرْحِيبِ بِهِ وَنَجَاحِ سِفَارَتِهِ . وَرَاحَتِ الْقَافِلَةُ تَطْوِي الْأَرْضَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ تَنْزِلُ فِي مَنَازِلِ الْعَرَبِ عَلَى طُولِ طَرِيقِ الْقَوَافِلِ الَّذِي يَرْبِطُ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْعِرَاقِ ، حَتَّى لَاحَتْ لَهُمْ أَرْبَاضُ الْحِيرَةِ فَأَغَذُّوا السَّيْرَ لِيَدْخُلُوا جَنَّةَ الْعَرَبِ ، لِيَنْعَمُوا بِطِيبِ هَوَائِهَا وَمُرُوجِهَا الْخُضْرِ بَعْدَ لَفْحِ الشَّمْسِ وَجَدَبِ الصَّحْرَاءِ . وَحَطَّتِ الْقَافِلَةُ رِحَالَهَا فِي الْحِيرَةِ وَخَفَّ الرِّجَالُ إِلَى أَسْوَاقِهَا يَبِيعُونَ الطِّيبَ وَالذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَيَشْتَرُونَ الْقَمْحَ وَالْحُبُوبَ وَخَيْرَاتِ الْأَرْضِ الطَّيِّبَةِ .
Pikiran Malik melampaui waktu, ia melihat dirinya dengan mata imajinasinya berada di istana Sapur Dzul Aktaf memohon untuk bertemu Syahansyah dan mencari keamanan. Gambar-gambar terus muncul di kepalanya dan dampaknya terpantul di wajahnya. Ia bermuka masam jika imajinasi tentang Sapur yang memerintahkan penangkapannya, pencopotan bahunya, dan penyiksaannya memenuhi lembar pikirannya. Namun, raut wajahnya segera cerah ketika imajinasinya menciptakan gambaran penyambutan terhadapnya dan keberhasilan misinya. Kafilah terus melintasi bumi siang dan malam, singgah di tempat-tempat persinggahan bangsa Arab sepanjang jalan kafilah yang menghubungkan Makkah dan Irak, hingga pinggiran al-Hirah terlihat oleh mereka. Mereka mempercepat perjalanan untuk memasuki surga bangsa Arab, untuk menikmati kenyamanan udaranya dan padang rumput hijaunya setelah terik matahari dan kegersangan gurun. Kafilah menurunkan barang bawaan mereka di al-Hirah dan para pria bergegas ke pasar-pasarnya menjual wewangian, emas, dan perak, serta membeli gandum, biji-bijian, dan hasil bumi yang baik.
وَانْطَلَقَ مَالِكُ بْنُ النَّضْرِ إِلَى قَصْرِ الْحَاكِمِ الْعَرَبِيِّ الَّذِي خَضَعَ الْفُرْسُ لَهُ لَعَلَّهُ يَجِدُ عِنْدَهُ الشَّفَاعَةَ لَدَى سَابُورَ الَّذِي صَبَّ غَضَبَهُ عَلَى الْعَرَبِ جَمِيعًا . وَسَارَ مَالِكُ بْنُ قُرَيْشٍ يَتَلَفَّتُ ، كَانَتِ الْحِيرَةُ غَاصَّةً بِالْبِيَعِ وَالْكَنَائِسِ فَقَدِ اعْتَنَقَ عَرَبُ الْحِيرَةِ الْمَسِيحِيَّةَ عَلَى مَذْهَبِ الْيَعَاقِبَةِ ، وَكَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ لِلْمَسِيحِ طَبِيعَةً وَاحِدَةً ، وَلَمْ يَكُونُوا عَلَى مَذْهَبِ الْمَسِيحِيِّينَ الْغَرِيبِينَ أَعْدَاءِ سَابُورَ ، فَقَدْ كَانَ مَسِيحِيُّو الْغَرْبِ عَلَى مَذْهَبِ النَّسْطُورِيِّينَ الْقَائِلِ : إِنَّ الْقَتْلَ وَقَعَ عَلَى الْمَسِيحِ مِنْ جِهَةِ نَاسُوتِهِ لَا مِنْ جِهَةِ لَاهُوتِهِ ، « وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ . وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ » .
Malik bin an-Nadhar berangkat ke istana penguasa Arab yang tunduk kepada Persia, siapa tahu ia mendapatkan syafaat di sisi Sapur yang mencurahkan kemarahannya kepada seluruh bangsa Arab. Malik bin Quraisy berjalan sambil menoleh, al-Hirah penuh sesak dengan bait (tempat ibadah Yahudi/biara) dan gereja. Orang-orang Arab di al-Hirah telah memeluk Kristen dengan mazhab Ya'qubiyyah, dan mereka meyakini bahwa al-Masih memiliki satu sifat. Mereka tidak mengikuti mazhab orang-orang Kristen asing musuh Sapur, karena orang-orang Kristen Barat mengikuti mazhab Nestorian yang mengatakan: Sesungguhnya pembunuhan terjadi atas al-Masih dari sisi kemanusiaannya, bukan dari sisi ketuhanannya. "Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 4-5)
وَبَلَغَ مَالِكُ بْنُ النَّضْرِ الْقَصْرَ فَدَخَلَ عَلَى عَمْرِو بْنِ امْرِئِ الْقَيْسِ حَاكِمِ الْحِيرَةِ ، فَرَحَّبَ بِهِ وَأَجْلَسَهُ إِلَى جَوَارِهِ وَدَارَ الْحَدِيثُ حَوْلَ الدِّينِ بَيْنَ عَمْرٍو وَمَنْ عِنْدَهُ مِنْ أَتْبَاعِ مَانِي فَلاَحَتِ الدَّهْشَةُ فِي وَجْهِ مَالِكٍ ، فَقَدْ كَانَ عَمْرٌو رَجُلاً مُحَارِبًا حَتَّى أُطْلِقَ عَلَيْهِ « مُسَعِّرُ الْحَرْبِ » ، وَكَانَ مَالِكٌ يَتَوَقَّعُ أَنْ يَكُونَ الْحَدِيثُ حَوْلَ الطَّعْنِ وَالنِّزَالِ وَمُجَالَدَةِ الأَبْطَالِ وَمَا دَارَ بِخَلَدِهِ أَنْ يَسُودَ الْمَجْلِسَ حَدِيثُ الرُّوحِ .
Malik bin an-Nadhr sampai di istana dan masuk menemui Amru bin Imri'ul Qays, penguasa al-Hirah, maka dia menyambutnya dan mendudukkannya di sampingnya. Percakapan pun berputar seputar agama antara Amru dan para pengikut Mani yang ada di dekatnya, maka tampaklah keterkejutan di wajah Malik, karena Amru adalah seorang lelaki petarung hingga dijuluki "Pemicu Perang", dan Malik menyangka bahwa pembicaraan akan seputar tikaman, pertempuran, dan adu ketangkasan para pahlawan, dan tidak terlintas di benaknya bahwa pembicaraan roh akan menguasai majelis.
كَانَتِ الصِّلَةُ طَيِّبَةً بَيْنَ مَانِي وَأَتْبَاعِهِ وَبَيْنَ مُلُوكِ الْحِيرَةِ ، فَقَدْ زَعَمَ مَانِي أَنَّهُ « الْفَارِقَلِيطُ » الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْمَسِيحُ ، وَكَانَ عَمْرٌو مَسِيحِيًّا يُؤْمِنُ بِالْمَسِيحِ فَدَارَ الْحَدِيثُ حَوْلَ الْبِشَارَاتِ فِي الْإِنْجِيلِ ، كَانَ أَتْبَاعُ مَانِي يُرَدِّدُونَ الآيَاتِ الْمُتَعَلِّقَةَ بِالْفَارِقَلِيطِ : « وَلَكِنَّ الَّذِي يَأْتِي بَعْدِي هُوَ أَقْوَى مِنِّي ، الَّذِي لَسْتُ أَهْلاً أَنْ أَحْمِلَ حِذَاءَهُ ، هُوَ سَيُعَمِّدُ بِالرُّوحِ الْقُدُسِ » . « إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَنِي فَاحْفَظُوا وَصَايَايَ وَأَنَا أَطْلُبُ مِنَ الرَّبِّ فَيُعْطِيكُمْ الْفَارِقَلِيطَ آخَرَ لِيَمْكُثَ مَعَكُمْ إِلَى الأَبَدِ » .
Hubungan terjalin baik antara Mani dan pengikutnya dengan para raja al-Hirah, Mani mengklaim bahwa dirinya adalah "Parakletos" yang dikabarkan oleh al-Masih, dan Amru adalah seorang Kristen yang beriman kepada al-Masih, maka percakapan berputar seputar kabar gembira dalam Injil. Para pengikut Mani melantunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan Parakletos: "Akan tetapi ia yang datang setelahku adalah lebih kuat dariku, yang aku tidak layak untuk menanggung sandalnya, ia akan membaptis dengan Roh Kudus." "Jika kamu mengasihi aku, turutilah perintah-perintahku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Parakletos) yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya."
« وَأَمَّا الْفَارِقَلِيطُ الرُّوحُ الْقُدُسُ الَّذِي سَيُرْسِلُهُ الرَّبُّ بِاسْمِي فَهُوَ يُعَلِّمُكُمْ كُلَّ شَيْءٍ وَيُذَكِّرُكُمْ بِكُلِّ مَا قُلْتُهُ لَكُمْ » . « مَتَى جَاءَ الْفَارِقَلِيطُ الَّذِي سَيُرْسِلُهُ إِلَيْكُمُ الرَّبُّ هُوَ رُوحُ الْحَقِّ الَّذِي مِنْ عِنْدِ الرَّبِّ يَنْبَثِقُ فَهُوَ يَشْهَدُ لِي وَتَشْهَدُونَ أَنْتُمْ أَيْضًا لأَنَّكُمْ مَعِي مِنَ الاِبْتِدَاءِ » . « لَكِنِّي أَقُولُ لَكُمُ الْحَقَّ إِنَّهُ خَيْرٌ لَكُمْ أَنْ أَنْطَلِقَ لأَنَّهُ إِنْ لَمْ أَنْطَلِقْ لاَ يَأْتِيكُمُ الْفَارِقَلِيطُ » ، وَكَانَ الْمَسِيحِيُّونَ يَلْقَوْنَ إِلَيْهِمُ السَّمْعَ فِي طُمَأْنِينَةٍ وَهُدُوءٍ .
"Tetapi Penghibur (Parakletos), Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." "Ketika Penghibur datang, yang akan Kuutus dari Bapa, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." "Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu." Orang-orang Kristen mendengarkan mereka dengan tenang dan damai.
وَظَلَّ مَالِكُ بْنُ النَّضْرِ فِي مَجْلِسِهِ يَتَمَلْمَلُ ، كَانَ يَتَلَهَّفُ عَلَى انْتِهَاءِ ذَلِكَ الْحَدِيثِ لِيُحَدِّثَ عَمْرُو عَنْ سَفَارَتِهِ إِلَى سَابُورَ لِيَضَعَ عَنِ الْعَرَبِ اضْطِهَادَهُمُ الأَلِيمَ . وَلَوْ أَنَّ مَالِكًا اسْتَطَاعَ أَنْ يَخْتَرِقَ بِبَصَرِهِ حُجُبَ الْغَيْبِ لَرَأَى أَنَّ « الْفَارِقَلِيطَ » الَّذِي كَانَ الْقَوْمُ يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ سَيَأْتِي مِنْ صُلْبِهِ لِيَمْلأَ الدُّنْيَا نُورًا وَرَحْمَةً .
Malik bin an-Nadhr tetap di majelisnya dengan gelisah, dia sangat ingin mengakhiri percakapan itu agar bisa bercerita kepada Amru tentang misinya kepada Sabur untuk meringankan penderitaan Arab dari penindasan yang pedih. Seandainya Malik mampu menembus tirai gaib dengan penglihatannya, niscaya ia akan melihat bahwa "Parakletos" yang sedang dibicarakan kaum itu akan datang dari sulbinya untuk memenuhi dunia dengan cahaya dan rahmat.
وَانْفَضَّ الْجَمْعُ وَلَمْ يَبْقَ فِي الْمَجْلِسِ إِلا عَمْرُو بْنُ امْرِئِ الْقَيْسِ الْبَدْءِ مَلِكُ الْحِيرَةِ وَمَالِكُ بْنُ النَّضْرِ زَعِيمُ قَافِلَةِ الْمَكِّيِّينَ وَشَيْخُ قُرَيْشٍ ، فَرَاحَ مَالِكٌ يَبُثُّ عَمْرًا نَجْوَاهُ وَيَسْتَثِيرُهُ فِيمَا عَقَدَ عَلَيْهِ الْعَزْمَ ، فَشَجَّعَهُ عَمْرٌو عَلَى إِنْفَاذِ سَفَارَتِهِ وَرَاحَ يَمُدُّهُ بِنَصَائِحِهِ وَيُبَصِّرُهُ فِيمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ وَيَفْعَلَ وَهُوَ بَيْنَ يَدَيْ سَابُورَ شَاهِنْشَاهِ فَارِسَ وَمَا حَوْلَهَا مِنَ الْبُلْدَانِ .
Majelis bubar dan tidak tersisa di dalamnya kecuali Amru bin Imri'ul Qays al-Bad'u, raja al-Hirah, dan Malik bin an-Nadhr, pemimpin kafilah orang Mekkah dan syekh Quraisy. Malik pun mencurahkan bisikan hatinya kepada Amru dan memintanya pertimbangan atas apa yang telah ia tekadkan. Amru mendorongnya untuk melaksanakan misinya dan mulai memberinya nasihat serta meneranginya tentang apa yang pantas dikatakan dan dilakukan saat berada di hadapan Sabur, Syahansyah Persia dan negeri-negeri sekitarnya.
وَاسْتَأْنَفَتْ قَافِلَةُ الْمَكِّيِّينَ رِحْلَتَهَا ، غَادَرَتِ الْحِيرَةَ وَانْطَلَقَتْ إِلَى مَدِينَةِ طَيْسَفُونَ مَحَلَّةِ سَابُورَ ، فَلَمْ يَعْدُ إِقْلِيمُ فَارِسَ وَعَاصِمَتُهُ إِصْطَخْرَ صَالِحَيْنِ لِإِقَامَةِ الشَّاهِنْشَاهِ بَعْدَ أَنْ صَارَتْ بِلادُ مَا بَيْنَ النَّهْرَيْنِ الْمَرْكَزَ الرَّئِيسِيَّ لِلْإِمْبَرَاطُورِيَّةِ ، وَلَمْ تَكُنْ طَيْسَفُونَ بَعِيدَةً عَنِ الْحِيرَةِ ، فَمَا لَبِثَتِ الْقَافِلَةُ أَنْ وَقَفَتْ أَمَامَ أَسْوَارِ الْمَدِينَةِ الْعَظِيمَةِ تَنْتَظِرُ الْإِذْنَ بِالدُّخُولِ .
Kafilah orang Mekkah melanjutkan perjalanannya, meninggalkan al-Hirah dan meluncur ke kota Ctesiphon, tempat tinggal Sabur. Wilayah Persia dan ibu kotanya, Istakhr, tidak lagi layak untuk tempat tinggal Syahansyah setelah negeri Mesopotamia menjadi pusat utama kekaisaran. Ctesiphon tidak jauh dari al-Hirah, tidak lama kemudian kafilah berhenti di depan tembok kota yang agung menunggu izin untuk masuk.
كَانَتِ الْمَدِينَةُ عَلَى شَاطِئِ دِجْلَةَ الشَّرْقِيِّ تَحُوطُهَا أَسْوَارٌ حَصِينَةٌ عَلَيْهَا أَبْوَابٌ مُحْكَمَةٌ وَأَبْرَاجٌ عَالِيَةٌ ، وَقَدْ وَقَفَتِ الْحُرَّاسُ بِأَسْلِحَتِهِمُ الْمَاضِيَةِ يَحْرُسُونَ الأَبْرَاجَ وَالأَبْوَابَ ، وَوَقَفَ الْمُوَظَّفُونَ يَجْبُونَ الْمُكُوسَ مِنَ الْقَوَافِلِ ثُمَّ يَفْتَحُونَ لَهَا الأَبْوَابَ وَيَسْمَحُونَ لَهَا بِالانْطِلاقِ إِلَى الأَسْوَاقِ الْعَامِرَةِ بِكُلِّ مَا فِي الأَرْضِ مِنْ تُحَفٍ وَخَيْرَاتٍ .
Kota itu berada di tepi timur sungai Tigris, dikelilingi oleh tembok-tembok benteng yang kokoh dengan pintu-pintu yang rapat dan menara-menara yang tinggi. Para penjaga berdiri dengan senjata mereka yang tajam menjaga menara-menara dan pintu-pintu, dan para pegawai berdiri memungut bea dari kafilah-kafilah kemudian membuka pintu untuk mereka dan mengizinkan mereka meluncur ke pasar-pasar yang makmur dengan segala perhiasan dan kebaikan yang ada di muka bumi.
وَانْسَابَتِ الْقَافِلَةُ عَلَى الْجِسْرِ الْجَدِيدِ الَّذِي شَيَّدَهُ سَابُورُ وَاتَّخَذَتْ طَرِيقَهَا إِلَى السُّوقِ ، وَكُلُّ مَنْ فِيهَا مِنَ الْمَكِّيِّينَ يَحْلُمُ بِالرِّبْحِ الْوَفِيرِ إِلا مَالِكَ بْنَ النَّضْرِ فَقَدْ رَاحَ قَلْبُهُ يَخْفِقُ وَأَرْهَفَتْ حَوَاسُّهُ وَانْثَالَتِ الأَفْكَارُ عَلَى رَأْسِهِ تُسَابِقُ الزَّمَنَ وَتَتَخَيَّلُ مَا قَدْ تَتَمَخَّضُ عَنْهُ مُقَابَلَتُهُ لِلشَّاهِنْشَاهِ مِنْ أُمُورٍ .
Kafilah meluncur di atas jembatan baru yang dibangun oleh Sabur dan mengambil jalan menuju pasar, dan setiap orang Mekkah di dalamnya bermimpi tentang keuntungan yang melimpah, kecuali Malik bin an-Nadhr. Jantungnya berdegup kencang, indranya menajam, dan pikiran-pikiran tumpah di kepalanya berlomba dengan waktu, membayangkan apa yang mungkin dihasilkan dari pertemuannya dengan Syahansyah nanti.
وَبَلَغَتِ الْقَافِلَةُ مَكَانَ تَجَمُّعِ الْقَوَافِلِ فَحَطَّتْ رِحَالَهَا ، وَسُرْعَانَ مَا أَلْهَتِ التِّجَارَةُ الرِّجَالَ عَنْ كُلِّ مَا حَوْلَهُمْ وَانْغَمَسُوا فِي الْبَيْعِ وَقَدْ تَهَلَّلَتِ الْوُجُوهُ بِالْفَرَحِ بَعْدَ أَنْ عَرَفَتْ عُمْلَةَ سَابُورَ الذَّهَبِيَّةَ وَالْفِضِّيَّةَ طَرِيقَهَا إِلَى رِحَالِهِمْ . وَظَلَّ مَالِكٌ فِي قَلَقِهِ يَتَلَفَّتُ بِعُيُونٍ زَائِغَةٍ ، وَأَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ عَلَى ذَلِكَ الْخَوْفِ الْمُوارِ بَيْنَ ضُلُوعِهِ فَانْسَلَّ مِنَ السُّوقِ وَاتَّخَذَ طَرِيقَهُ إِلَى قَصْرِ سَابُورَ لِيَمْضِيَ رِسَالَتَهُ وَيُوَاجِهَ مَصِيرَهُ .
Kafilah mencapai tempat berkumpulnya kafilah-kafilah dan berhenti, dan tak lama kemudian perdagangan mengalihkan perhatian orang-orang dari segala sesuatu di sekitar mereka dan mereka tenggelam dalam jual beli. Wajah-wajah berseri-seri karena gembira setelah mata uang emas dan perak Sabur menemukan jalan ke kantong mereka. Malik tetap dalam kegelisahannya, menoleh dengan mata yang bingung, dan ia ingin mengakhiri rasa takut yang bersembunyi di antara tulang rusuknya, maka ia menyelinap dari pasar dan mengambil jalan menuju istana Sabur untuk menyampaikan pesannya dan menghadapi takdirnya.
كَانَتِ الْجُدْرَانُ مُزَيَّنَةً بِنُقُوشِ سَعَفِ النَّخْلِ وَزُهُورٍ وَبَرَاعِمَ وَتِيجَانٍ مِنَ الْوَرْدِ وَنُقُوشِ التَّوْرِيقِ ، وَأَشْكَالِ حَيَوَانَاتٍ وَصُوَرِ دِبَبَةٍ وَخَنَازِيرَ وَحَشِيَّةٍ ، وَكَانَتْ أَنْقَاضُ الْكَاتِدْرَائِيَّةِ الَّتِي ضَرَبَتْ إِبَّانَ وِلايَةِ سَابُورَ تُشَوِّهُ جَمَالَ الْمَكَانِ ، وَلَكِنَّ شَيْخَ قُرَيْشٍ ذَهِلَ عَنْ كُلِّ ذَلِكَ بِصُورَةٍ بَشِعَةٍ مَلأَتْ رَأْسَهُ ، صُورَةِ سَابُورَ وَهُوَ يَنْقُبُ أَكْتَافَهُ وَيُذِيقُهُ الْعَذَابَ الأَلِيمَ . وَاشْتَعَلَ كِيَانُ مَالِكٍ بِالْخَوْفِ وَرَاحَتْ وَسْوَاسٌ مُنْبَعِثَةٌ مِنْ وَجَلِهِ تُحَرِّضُهُ عَلَى أَنْ يَنْكُصَ عَلَى عَقِبِيهِ وَأَنْ يَعُودَ أَدْرَاجَهُ قَبْلَ أَنْ يَضَعَ رَأْسَهُ بَيْنَ بَرَاثِنِ وَحْشٍ مُتَعَطِّشٍ إِلَى دِمَاءِ الْعَرَبِ أَجْمَعِينَ ، إِلا أَنَّهُ رَاحَ يُقَاوِمُ مَخَاوِفَهُ وَيَطْمَئِنُّ نَفْسَهُ بِأَنَّ سَابُورَ لا يَخْلَعُ إِلا أَكْتَافَ الْعَرَبِ الَّذِينَ يَقَعُونَ أَسْرَى بَيْنَ يَدَيْهِ فِي إِبَّانِ الْحُرُوبِ .
Dinding-dinding dihiasi dengan ukiran pelepah kurma, bunga-bunga, kuncup, mahkota mawar, ukiran dedaunan, serta bentuk-bentuk hewan dan gambar beruang, babi, dan binatang buas. Reruntuhan katedral yang dihancurkan pada masa pemerintahan Sabur merusak keindahan tempat itu, namun syekh Quraisy teralihkan dari semua itu oleh gambaran buruk yang memenuhi kepalanya, gambaran Sabur saat mencungkil bahunya dan membuatnya merasakan siksaan yang pedih. Seluruh keberadaan Malik terbakar oleh ketakutan, dan bisikan-bisikan yang muncul dari rasa takutnya mulai mendorongnya untuk mundur dan kembali sebelum ia menempatkan kepalanya di antara cakar binatang buas yang haus akan darah orang Arab semuanya. Akan tetapi, ia mencoba melawan ketakutannya dan meyakinkan dirinya bahwa Sabur tidak mencungkil bahu kecuali orang-orang Arab yang jatuh sebagai tawanan di tangannya selama peperangan.
وَلاحَ لِعَيْنَيْ مَالِكٍ قَصْرُ سَابُورَ كَجَوْهَرَةٍ تَتَأَلَّقُ فِي الشَّمْسِ ، فَرَاحَ يُوسِعُ مِنْ خُطْوَتِهِ فَبَدَتْ حَدَائِقُ الْقَصْرِ الْمَلَكِيِّ وَأَشْجَارُهُ كَلَوْحَةٍ رَائِعَةٍ رَسَمَتْهَا يَدُ فَنَّانٍ عَظِيمٍ ، فَتَقَدَّمَ مَالِكٌ وَهُوَ مَأْخُوذٌ حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَابَ الْقَصْرِ الْتَمَسَ الْمُثُولَ بَيْنَ يَدَيِ الشَّاهِنْشَاهِ مَلِكِ الْمُلُوكِ رَفِيقِ النُّجُومِ .
Istana Sabur tampak di mata Malik seperti permata yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia melangkahkan kakinya lebih lebar, taman istana kerajaan dan pepohonannya tampak seperti lukisan indah yang digambar oleh tangan seorang seniman besar. Malik maju dengan terpesona sampai ketika ia mencapai pintu istana, ia meminta untuk menghadap di hadapan Syahansyah, Raja Diraja, sahabat bintang-bintang.
وَأُذِنَ لِشَيْخِ قُرَيْشٍ بِالدُّخُولِ فَانْطَلَقَ فِي حَدِيقَةٍ تَمْرَحُ فِيهَا الْغِزْلانُ ، ثُمَّ دَلَفَ مِنَ الْبَابِ الدَّاخِلِيِّ إِلَى قَاعَةٍ زُيِّنَتْ بِتَهَاوِيلَ وَنُقُوشٍ وَتَمَاثِيلَ ، وَانْسَابَ إِلَى جَنَاحِ وَزِيرِ الْقَصْرِ لِيَتَلَقَّى مَا يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يَفْعَلَهُ وَأَنْ يَقُولَهُ لِعَابِدِ مَزْدَا الإِلَهِ سَابُورَ . وَسَارَ مَالِكٌ إِلَى قَاعَةِ الْعَرْشِ بَيْنَ صَفَّيْنِ مِنَ الْجُنُودِ وَهُوَ مَسْحُورٌ ، وَفَتَحَ الْبَابَ وَتَقَدَّمَ الْعَرَبِيُّ خُطُوَاتٍ وَمَا لَبِثَ أَنْ خَرَّ سَاجِدًا وَهُوَ يَقُولُ :
Syekh Quraisy diizinkan masuk, ia berjalan di taman tempat kijang bermain, kemudian ia melewati pintu dalam menuju aula yang dihiasi dengan berbagai dekorasi, ukiran, dan patung-patung. Ia mengalir menuju sayap menteri istana untuk menerima instruksi tentang apa yang harus ia lakukan dan katakan kepada Sabur, penyembah Mazda, Tuhan. Malik berjalan menuju ruang takhta di antara dua barisan tentara dalam keadaan terpesona. Ia membuka pintu dan orang Arab itu melangkah maju beberapa langkah lalu segera bersujud sambil berkata:
— مَوْلايَ عَابِدَ أَهُورَا مَزْدَا ، الإِلَهَ سَابُورَ ، شَاهِنْشَاهَ إِيرَانَ وَغَيْرِ إِيرَانَ ، سَلِيلَ الآلِهَةِ ، رَفِيقَ النُّجُومِ أَخَوَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ ، أَلْتَمِسُ مِنْكَ يَا مَوْلايَ الأَمَانَ .
— Tuanku penyembah Ahura Mazda, dewa Sabur, Syahansyah Iran dan bukan Iran, keturunan para dewa, sahabat bintang-bintang saudara matahari dan bulan, aku memohon keamanan darimu, wahai tuanku.
وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُ سَابُورَ وَأَعْطَى مَالِكًا سُؤْلَهُ وَأَجْلَسَهُ إِلَى جِوَارِهِ ، وَدَارَ الْحَدِيثُ بَيْنَ الشَّاهِنْشَاهِ وَشَيْخِ قُرَيْشٍ ، حَتَّى إِذَا اطْمَأَنَّ مَالِكٌ إِلَى سَابُورَ قَالَ لَهُ :
Urat leher Sabur menegang, ia memberikan apa yang diminta Malik dan mendudukkannya di sampingnya. Percakapan berputar antara Syahansyah dan syekh Quraisy, sampai ketika Malik merasa tenang terhadap Sabur, ia berkata kepadanya:
— جِئْتُ يَا مَوْلايَ وَفِي صَدْرِي سُؤَالٌ يَتَرَدَّدُ ، أَيَأْذَنُ لِي رَفِيقُ النُّجُومِ أَنْ أَفْصَحَ عَمَّا بِي ؟
— Aku datang wahai tuanku dan di dadaku ada pertanyaan yang berulang-ulang, bolehkah sahabat bintang-bintang mengizinkanku untuk mengungkapkan apa yang ada di hatiku?
فَقَالَ لَهُ سَابُورُ وَهُوَ يَفْحَصُ عَنْهُ بِعَيْنَيْنِ نَفَّاذَتَيْنِ :
Sabur berkata kepadanya sambil memeriksanya dengan mata yang tajam:
— قُلْ : إِنِّي أُلْقِي إِلَيْكَ سَمْعِي .
— Katakan: Sesungguhnya aku memberikan pendengaranku kepadamu.
فَجَمَعَ مَالِكُ شَتَاتَ نَفْسِهِ وَقَالَ فِي هُدُوءٍ :
Malik mengumpulkan seluruh dirinya dan berkata dengan tenang:
— لِمَاذَا يَا سَلِيلَ الآلِهَةِ وَأَخَا الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ تَضْطَهِدُ الْعَرَبَ ؟
— Mengapa wahai keturunan para dewa dan saudara matahari dan bulan, engkau menindas orang Arab?
فَقَطَبَ سَابُورُ جَبِينَهُ وَلَاحَ فِي وَجْهِهِ الْجَلَدُ ، ثُمَّ قَالَ وَهُوَ شَارِدٌ :
Sabur mengerutkan dahinya dan tampak ketegasan di wajahnya, kemudian ia berkata dengan pikiran menerawang:
— قَالَ الْمُنَجِّمُونَ إِنَّهُ سَيَظْهَرُ فِي الْعَرَبِ رَجُلٌ تَزُولُ عَلَى يَدَيْهِ دَوْلَةُ فَارِسَ وَيُمْحَقُ دِينُهَا .
— Para ahli nujum berkata bahwa akan muncul di kalangan Arab seorang lelaki yang di tangannya negara Persia akan lenyap dan agamanya akan hancur.
فَقَالَ مَالِكٌ :
Malik berkata:
— رُبَّمَا كَذَبَ الْمُنَجِّمُونَ يَا مَوْلايَ .
— Mungkin saja para ahli nujum itu berbohong, wahai tuanku.
فَاعْتَدَلَ سَابُورُ وَقَالَ فِي رَنَّةٍ مَلُؤُهَا الْخَوْفُ :
Sabur duduk tegak dan berkata dengan nada yang penuh ketakutan:
— وَنُبُوءَةُ سَاسَانَ ؟!
— Dan ramalan Sasan?!
— وَبِمَاذَا تَنْبَأَ ؟
— Dan apa yang diramalkannya?
فَقَالَ سَابُورُ كَأَنَّمَا يَقْرَأُ مِنْ كِتَابٍ مَفْتُوحٍ :
Sabur berkata seolah-olah membaca dari buku yang terbuka:
— حِينَمَا يَفْعَلُ الْفُرْسُ أَفَاعِيلَ شِرِّيرَةً يَظْهَرُ رَجُلٌ مِنَ الْعَرَبِ ، فَيَأْخُذُ سَرِيرَ الْمُلْكِ الْمُذَهَّبَ فِي قَبْضَتِهِ ، وَيُصْبِحُ الرُّؤَسَاءُ مَرْءُوسِينَ لَهُ ، وَيَجْعَلُ مَكَانَ تَمَاثِيلِ الآلِهَةِ وَمَوَاقِدِ النِّيرَانِ الْمُقَدَّسَةِ بَيْتًا مَعْمُورًا بِلا صُوَرٍ وَلا تَمَاثِيلَ . سَيَأْخُذُ الْعَرَبُ مَعَابِدَ الْمَجُوسِ وَسَتَقَعُ فِي أَيْدِيهِمْ تُوسُ وَبَلْخُ وَبَقِيَّةُ الْبِقَاعِ الْعَظِيمَةِ . لا لَمْ يَكْذِبِ الْمُنَجِّمُونَ .
— Ketika orang-orang Persia melakukan perbuatan jahat, akan muncul seorang lelaki dari Arab, maka ia akan mengambil takhta raja yang berlapis emas ke dalam genggamannya, para pemimpin akan menjadi bawahannya, dan ia akan menjadikan tempat patung-patung dewa dan perapian api suci sebagai rumah yang makmur tanpa gambar dan tanpa patung. Orang-orang Arab akan mengambil tempat ibadah Majusi dan Tus, Balkh, dan sisa tempat-tempat agung lainnya akan jatuh ke tangan mereka. Tidak, para ahli nujum tidak berbohong.
— إِذَا كَانُوا صَادِقِينَ فَلْيَقُولُوا مِنْ أَيَّةِ قَبِيلَةٍ ذَلِكَ الرَّجُلُ ؟
— Jika mereka jujur, biarkan mereka katakan dari suku mana lelaki itu?
— لَوْ عَرَفُوا مِنْ أَيَّةِ قَبِيلَةٍ ذَلِكَ الرَّجُلُ لأَفْنَيْتَ تِلْكَ الْقَبِيلَةَ وَمَا سَفَكْتَ دِمَاءَ الْعَرَبِ أَجْمَعِينَ .
— Seandainya mereka tahu dari suku mana lelaki itu, niscaya engkau akan memusnahkan suku itu dan tidak perlu menumpahkan darah orang Arab semuanya.
— إِذَا صَدَقَ الْمُنَجِّمُونَ وَكَانَ ذَلِكَ وَاقِعًا ، أَيَمْنَعُ سَفْكُ مَوْلايَ لِدِمَاءِ الْعَرَبِ وُقُوعَهُ ؟
— Jika para ahli nujum itu benar dan hal itu terjadi, apakah penumpahan darah orang Arab oleh tuanku akan mencegah terjadinya hal itu?
وَبُهِتَ سَابُورُ كَأَنَّمَا كَانَ قَوْلُ شَيْخِ قُرَيْشٍ جَدِيدًا عَلَيْهِ ، وَالْحَقُّ أَنَّهُ لَمْ يَخْطُرْ لَهُ عَلَى بَالٍ . أَعْمَاهُ غَضَبُهُ عَنْ تِلْكَ الْحَقِيقَةِ الْبَسِيطَةِ ، إِنْ كَانَتْ نُبُوءَةُ سَاسَانَ وَنُبُوءَةُ الْمُنَجِّمِينَ وَاقِعَةً فَلا جَدْوَى مِنَ الْقَتْلِ وَالتَّنْكِيلِ ، فَلا يَمْنَعُ حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ ، لَقَدْ كَانَ مَأْفُونًا يَوْمَ أَنْ قَرَّرَ أَنْ يَكْتُمَ أَنْفَاسَ أُنَاسٍ يَطْوِي الْغَيْبُ لَهُمْ فِي جَوْفِهِ سُلْطَانًا مُبِينًا ، فَالْتَفَتَ سَابُورُ إِلَى مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ وَقَالَ فِي تَسْلِيمٍ :
Sabur tertegun seolah-olah perkataan syekh Quraisy itu sesuatu yang baru baginya, dan kenyataannya hal itu memang tidak pernah terlintas di benaknya. Kemarahannya membuatnya buta terhadap kebenaran yang sederhana itu. Jika ramalan Sasan dan ramalan ahli nujum itu benar adanya, maka pembunuhan dan penyiksaan tidak ada gunanya, karena kewaspadaan tidak bisa mencegah takdir. Ia sangat bodoh ketika memutuskan untuk membungkam napas orang-orang yang masa depannya menyimpan kekuasaan yang nyata. Sabur kemudian menoleh ke Malik bin an-Nadhr dan berkata dengan pasrah:
— صَدَقْتَ ، لا سُلْطَانَ لِي عَلَى مَا سَيَكُونُ .
— Engkau benar, aku tidak punya kekuasaan atas apa yang akan terjadi.
وَقَرَأَ مَالِكٌ فِي وَجْهِ سَابُورَ الْقَهْرَ فَاطْمَأَنَّتْ نَفْسُهُ وَعَادَتْ إِلَيْهِ شَجَاعَتُهُ ، وَاسْتَشْعَرَ أَنَّهُ أَصْبَحَ سَيِّدَ الْمَوْقِفِ فَقَالَ :
Malik membaca keterpaksaan di wajah Sabur, maka hatinya tenang dan keberaniannya kembali kepadanya. Ia merasa bahwa dirinya telah menjadi penguasa situasi, maka ia berkata:
— يَا أَخَا الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَسَلِيلَ الآلِهَةِ ! تَرَفَّقْ بِالْعَرَبِ حَتَّى يَتَرَفَّقَ بِكُمْ ذَلِكَ الَّذِي سَيَظْهَرُ فِي الْعَرَبِ وَيُظْهِرُهُ الله عَلَيْكُمْ .
— Wahai saudara matahari dan bulan dan keturunan para dewa! Berlaku lembutlah kepada orang Arab sampai orang yang akan muncul di kalangan Arab dan Allah akan menunjukkannya kepada kalian berlaku lembut kepada kalian.
وَنَظَرَ سَابُورُ إِلَى مَالِكٍ فِي إِكْبَارٍ فَإِنَّ قَوْلَهُ بَسِيطًا إِلا أَنَّهُ كَانَ حَكِيمًا ، أَشَارَ عَلَيْهِ بِمَا لَمْ يَشُرْ بِهِ حُكَمَاءُ مَمْلَكَتِهِ ، وَضَايَقَ سَابُورَ ، مَنْ قَالَ عَنْهُ مَانِي إِنَّهُ الْمَسِيحُ الْجَدِيدُ ، أَنَّهُ عَانَدَ الْقَدَرَ فَقَالَ لِمَالِكٍ :
Sabur memandang Malik dengan penuh penghormatan karena ucapannya sederhana namun bijaksana, ia memberinya isyarat yang tidak diberikan oleh para bijak di kerajaannya. Sabur merasa sesak, orang yang dikatakan Mani sebagai Mesias baru itu ternyata menentang takdir, maka ia berkata kepada Malik:
— لَقَدْ وُضِعَتِ الْقَتْلُ وَالتَّعْذِيبُ عَنِ الْعَرَبِ .
— Pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang Arab telah dihentikan.
وَتَهَلَّلَتْ أَسَارِيرُ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ وَقَامَ وَهُوَ يَشْكُرُ عَابِدَ أَهُورَا مَزْدَا الإِلَهَ سَابُورَ سَلِيلَ الآلِهَةِ رَفِيقَ النُّجُومِ أَخَا الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ ، وَغَادَرَ مُحَرِّرُ الْعَرَبِ قَصْرَ الشَّاهِنْشَاهِ وَهُوَ مُفْعَمٌ بِالْفَرَحِ لِنَجَاحِ سَفَارَتِهِ . وَلَوْ اطَّلَعَ سَابُورُ عَلَى الْغَيْبِ لَرَأَى أَنَّ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ الْمَسِيحُ سَيَأْتِي مِنْ صُلْبِ ذَلِكَ الرَّجُلِ ، وَأَنَّ خَلِيفَتَهُ الثَّانِيَ هُوَ الَّذِي سَيَأْخُذُ سَرِيرَ مَلِكِ السَّاسَانِيِّينَ وَيَقْضِي عَلَى دِينِ الْمَجُوسِ وَسَيُطْفِئُ النَّارَ الْمُقَدَّسَةَ وَيُحَطِّمُ تَمَاثِيلَ الآلِهَةِ وَيُوَجِّهُ وُجُوهَ الْإِيرَانِيِّينَ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ ، وَسَتَقَعُ تُوسُ وَبَلْخُ وَبَقِيَّةُ الْبِقَاعِ الْعَظِيمَةِ فِي يَدِهِ ، وَسَيُصْبِحُ الرُّؤَسَاءُ مَرْءُوسِينَ لَهُ يَدِينُونَ بِدِينِهِ وَيَشْهَدُونَ بِرَسُولِهِ .
Wajah Malik bin an-Nadhr berseri-seri, ia berdiri sambil berterima kasih kepada penyembah Ahura Mazda, dewa Sabur, keturunan para dewa, sahabat bintang-bintang, saudara matahari dan bulan. Pembebas orang Arab meninggalkan istana Syahansyah dengan penuh kegembiraan atas keberhasilan misinya. Seandainya Sabur mengetahui yang gaib, ia akan melihat bahwa orang yang dikabarkan oleh al-Masih akan datang dari sulbi lelaki itu, dan bahwa khalifah keduanya lah yang akan mengambil takhta raja Sasan, memusnahkan agama Majusi, memadamkan api suci, menghancurkan patung-patung dewa, dan mengarahkan wajah orang-orang Iran ke Baitul Makmur. Tus, Balkh, dan sisa tempat-tempat agung lainnya akan jatuh ke tangannya, dan para pemimpin akan menjadi bawahannya, memeluk agamanya, dan bersaksi atas kerasulan utusannya.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi