وَيَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلَادَهُۥ ﷺ، وَهُمْ سَبْعَةٌ عَلَى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ، وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ،
Dan seyogianya bagi setiap insan untuk mengetahui putra-putri beliau ﷺ, yang mana jumlah mereka ada tujuh orang menurut pendapat yang sahih; yaitu junjungan kita al-Qasim, dan junjungan kita Zainab,
(وَيَنْبَغِيْ) أَيْ يَطْلُبُ (لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلَادَهُۥ ﷺ) عِدَّةً وَتَرْتِيْبًا فِيْ الْوِلَادَةِ لِأَنَّهُۥ يَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ سَادَاتِ الْأُمَّةِ (وَهُمْ) أَيْ الْأَوْلَادُ (سَبْعَةٌ)، ثَلَاثَةُ ذُكُوْرٍ وَأَرْبَعَةُ إِنَاثٍ (عَلَى الصَّحِيْحِ) وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ النَّسَبِ وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: هُوَ الْأَثْبَتُ (سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ) وَكَانَ ﷺ مُشْتَهِرًا بِأَبِي الْقَاسِمِ، لِأَنَّهُۥ أَوَّلُ أَوْلَادِهِۥ.
(Dan seyogianya) artinya dituntut (bagi setiap insan untuk mengetahui putra-putri beliau ﷺ) baik dari segi jumlah bilangan maupun urutan kelahiran mereka, karena sudah sepantasnya bagi seseorang untuk mengenali para junjungan mulia umat ini. (Dan mereka) yakni putra-putri beliau (ada tujuh orang), tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan (menurut pendapat yang sahih) dan ini merupakan pendapat mayoritas pakar ahli nasab, serta Imam ad-Daraquthni menyatakan: Pendapat inilah yang paling kuat. (Yaitu junjungan kita al-Qasim) dan adalah Nabi ﷺ sangat masyhur dikenal dengan kunyah Abu al-Qasim, dikarenakan al-Qasim merupakan putra pertama beliau.
وَقَدْ نَصَّ الْعُلَمَاءُ عَلَىٰ أَنَّهُۥ يَحْرُمُ عَلَىٰ غَيْرِهِۥ ﷺ التَّكَنِّيْ بِذٰلِكَ سَوَاءٌ مُدَّةَ حَيَاتِهِۦ وَبَعْدَهَا عَلَى الصَّحِيْحِ، وَقَدْ عَاشَ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا (وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ) فَهِيَ بَعْدَ الْقَاسِمِ فِيْ الْوِلَادَةِ، أَدْرَكَتِ الْإِسْلَامَ وَهَاجَرَتْ وَهِيَ أَكْبَرُ بَنَاتِهِۦ.
Dan sungguh para ulama telah menegaskan hukum bahwasanya haram bagi orang selain beliau ﷺ untuk menggunakan nama kunyah tersebut, baik sewaktu beliau masih hidup maupun setelah wafatnya menurut pendapat yang sahih. Dan junjungan kita al-Qasim sempat hidup selama tujuh belas bulan. (Dan junjungan kita Zainab) maka ia dilahirkan setelah al-Qasim, ia menjumpai masa Islam dan turut berhijrah, serta ia merupakan putri beliau yang tertua.
وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ، وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ، وَسَيِّدَتُنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ، وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ، وَسَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ،
Dan junjungan kita Ruqayyah, junjungan kita Fathimah, junjungan kita Ummu Kultsum, junjungan kita Abdullah—yang diberi gelar ath-Thayyib (yang baik) dan ath-Thahir (yang suci)—serta junjungan kita Ibrahim.
عَلَى الْأَصَحِّ (وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ) كَانَتْ ذَاتَ جَمَالٍ، وَمَاتَتْ وَالنَّبِيُّ ﷺ فِيْ بَدْرٍ، وَلَمَّا عُزِّيَ بِهَا قَالَ: «الْحَمْدُ لِلهِ دَفْنُ الْبَنَاتِ مِنَ الْمَكْرُمَاتِ».
Berdasarkan pendapat yang paling sahih. (Dan junjungan kita Ruqayyah) adalah seorang wanita yang memiliki paras sangat elok nan cantik, ia wafat tatkala Nabi ﷺ sedang berada di perang Badar, dan tatkala beliau disampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya, beliau bersabda: *"Segala puji bagi Allah, memakamkan anak-anak perempuan termasuk dari bagian menjaga kehormatan."*
(وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ) وَسُمِّيَتْ فَاطِمَةَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ قَدْ فَطَمَهَا وَذُرِّيَّتَهَا عَنِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَكَانَتْ أَحَبَّ أَهْلِهِۦ إِلَيْهِ ﷺ، وَكَانَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا يَكُوْنُ آخِرُ عَهْدِهِ بِهَا، وَإِذَا قَدِمَ كَانَتْ أَوَّلَ مَا يَدْخُلُ عَلَيْهَا، وَلَمْ يَكُنْ لَهُۥ ﷺ عَقِبٌ إِلَّا مِنْهَا، فَانْتَشَرَ نَسْلُهُۥ مِنْهَا مِنْ جِهَةِ السِّبْطَيْنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ ؓ.
(Dan junjungan kita Fathimah) dinamakan Fathimah (yang disapih/dilepaskan) karena Allah Ta'ala telah melepaskan dirinya serta keturunannya dari siksa api neraka kelak di hari kiamat. Ia merupakan anggota keluarga yang paling dicintai oleh beliau ﷺ. Adalah kebiasaan beliau apabila hendak melakukan perjalanan jauh (safar), maka Fathimah menjadi orang paling terakhir yang beliau temui, dan apabila beliau baru kembali pulang, ia pulalah yang paling pertama beliau datangi. Dan tidak ada bagi Nabi ﷺ garis keturunan yang tersisa melainkan terlahir melaluinya, maka tersebarlah anak cucu keturunan beliau darinya melalui jalur kedua cucu laki-laki beliau, yaitu al-Hasan dan al-Husain Radhiallahu 'Anhuma.
(وَسَيِّدَتُـنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ) إِنَّمَا تُعْرَفُ بِهٰذِهِ الْكُنْيَةِ فَلَا يُعْرَفُ لَهَا اسْمٌ، وَمَاتَتْ سَنَةَ تِسْعٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَرُوِيَ أَنَّهُۥ ﷺ جَلَسَ عَلَى الْقَبْرِ وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ وَقَالَ: «هَلْ فِيْكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ يُجَامِعِ اللَّيْلَةَ»، فَقَالَ أَبُوْ طَلْحَةَ: أَنَا، فَقَالَ: «اِنْزِلْ قَبْرَهَا»، فَنَزَلَ.
(Dan junjungan kita Ummu Kultsum) sesungguhnya ia hanya dikenal dengan nama kunyah ini saja dan tidak diketahui nama aslinya secara pasti. Ia wafat pada tahun ke-9 Hijriah, dan diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ duduk di atas kuburnya dalam keadaan kedua mata beliau meneteskan air mata, lalu beliau bersabda: *"Apakah ada di antara kalian seseorang yang tidak menggauli istrinya semalam?"* Maka Abu Thalhah menjawab: *"Saya."* Beliau bersabda: *"Turunlah ke dalam kuburnya"*, maka ia pun turun memakamkannya.
(وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ) وَقِيْلَ: هُمَا اِسْمَانِ لِشَخْصَيْنِ بِإِسْقَاطِ عَبْدِ اللهِ، فَجُمْلَةُ أَوْلَادِهِۥ ثَمَانِيَةٌ، وَقِيْلَ: كَذٰلِكَ مَعَ زِيَادَةِ عَبْدِ اللهِ فَهُمْ تِسْعَةٌ.
(Dan junjungan kita Abdullah yang diberi gelar ath-Thayyib dan ath-Thahir) dan dikatakan pula: Keduanya (ath-Thayyib dan ath-Thahir) adalah nama bagi dua orang yang berbeda dengan menggugurkan nama Abdullah, sehingga jumlah total putra-putri beliau menjadi delapan orang. Dan dikatakan pula: Demikian halnya disertai tambahan nama Abdullah sehingga jumlah mereka menjadi sembilan orang.
(وَسَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ) رُوِيَ أَنَّهُۥ ﷺ قَالَ لَيْلَةَ وِلَادَتِهِۦ: «وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلَامٌ سَمَّيْتُهُۥ بِاسْمِ أَبِيْ إِبْرَٰهِيْمَ»، وَمِنْ ذٰلِكَ يُؤْخَذُ مَشْرُوْعِيَّةُ التَّسْمِيَةِ مِنْ حِيْنِ الْوِلَادَةِ، وَأَمَّا حَدِيْثُ الْأَمْرِ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُوْدِ يَوْمَ السَّابِعِ فَالْمَقْصُوْدُ مِنْهَا أَنْ لَا تُؤَخَّرَ عَنْهُ، لِأَنْهَا لَا تَكُوْنُ إِلَّا فِيْهِ، بَلْ هِيَ مَشْرُوْعَةٌ مِنْ حِيْنِ الْوِلَادَةِ إِلَيْهِ، وَعَاشَ سَبْعِيْنَ يَوْمًا.
(Dan junjungan kita Ibrahim) diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda pada malam kelahirannya: *"Telah lahir bagiku malam ini seorang anak laki-laki yang aku beri nama dengan nama bapakku, Ibrahim."* Dan dari hadits ini dapat diambil kesimpulan hukum mengenai syariat pemberian nama langsung sejak waktu kelahiran. Adapun hadits mengenai perintah memberi nama bayi pada hari ketujuh, maka maksud darinya adalah agar pemberian nama tidak ditunda melampaui hari tersebut, bukan berarti tidak boleh dilakukan kecuali pada hari ketujuh saja; melainkan pemberian nama disyariatkan kapan saja terhitung sejak waktu kelahiran sampai hari ketujuh tersebut. Dan ia sempat hidup selama tujuh puluh hari.
وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَىٰ، إِلَّا سَيِّدَنَا إِبْرَٰهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ.
Dan seluruh putra-putri beliau berasal dari junjungan kita Khadijah al-Kubra, kecuali junjungan kita Ibrahim, maka ia berasal dari (rahim) Mariyah al-Qibthiyyah.
(وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَىٰ) وَهِيَ أَوَّلُ اِمْرَأَةٍ تَزَوَّجَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ﷺ، وَلَمْ يَتَزَوَّجْ غَيْرَهَا حَتَّىٰ مَاتَتْ، وَهِيَ أَفْضَلُ نِسَائِهِۦ ﷺ، كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:
(Dan seluruh putra-putri beliau berasal dari junjungan kita Khadijah al-Kubra) ia merupakan wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak menduakan cintanya dengan menikahi wanita lain hingga Khadijah wafat. Ia pun merupakan istri beliau yang paling utama ﷺ, sebagaimana digubah oleh sebagian ulama dalam bait ber-bahar Basit: *"Wanita paling utama di jagat raya adalah (Maryam) binti 'Imran, kemudian Fathimah, lalu Khadijah, kemudian sosok wanita yang kesuciannya telah dibersihkan secara langsung oleh Allah (Sayyidah 'Aisyah)."*
(إِلَّا إِبْرَٰهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ) كَانَتْ سُرِّيَّةً لَهُۥ ﷺ أَهْدَاهَا لَهُ الْمُقَوْقِسُ الْقِبْطِيُّ، وَأَهْدَىٰ مَعَهَا أُخْتَهَا سِيْرِيْنَ وَخَصِيًّا، يُقَالُ لَهُۥ: مَابُوْرُ وَأَلْفَ مِثْقَالٍ مِنْ ذَهَبٍ وَعِشْرِيْنَ ثَوْبًا لَيِّنًا وَبَغْلَةً شَهْبَاءَ، وَهِيَ دُلْدُلُ وَحِمَارًا أَشْهَبَ، وَهُوَ عَفِيْرٌ، وَيُقَالُ لَهُۥ: يَعْفُوْرُ.
(Kecuali Ibrahim, maka ia berasal dari Mariyah al-Qibthiyyah) ia dahulu merupakan seorang suriah (hamba sahaya wanita) milik Nabi ﷺ yang dihadiahkan kepada beliau oleh raja Al-Muqauqis dari Mesir (Bangsa Qibthi). Bersamanya dihadiahkan pula saudaranya yang bernama Sirin, seorang kasim (pelayan pengebiri) yang dijuluki Mabur, seribu mitsqal emas, dua puluh helai pakaian berbahan halus, seekor bighal (peranakan kuda dan keledai) putih kelabu bernama Duldul, serta seekor keledai putih abu-abu bernama 'Afir, yang mana dinamakan pula Ya'fur.
وَعَسَلًا مِنْ عَسَلِ بَنْهَا، فَأَعْجَبَ الْعَسَلُ النَّبِيَّ ﷺ وَدَعَا فِيْ عَسَلِ بَنْهَا بِالْبَرَكَةِ، وَكَانَتْ سَرَارِيْهِ ﷺ أَرْبَعَةً، وَقَدْ نَظَمَ بَعْضُهُمْ أَوْلَادَهُۥ ﷺ عَلَىٰ تَرْتِيْبِ الْوِلَادَةِ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيْلِ فَقَالَ:
Serta madu asli dari daerah Banha, yang mana madu tersebut membuat Nabi ﷺ terkagum-kagum (menyukainya) hingga beliau mendoakan keberkahan khusus bagi madu asal daerah Banha tersebut. Dan adapun jumlah hamba sahaya wanita (sarari) milik Nabi ﷺ ada empat orang. Sungguh sebagian ulama telah merangkai nama putra-putri beliau ﷺ ke dalam untaian bait syair berdasarkan kronologi urutan kelahirannya menggunakan bahar Thawil, ia bersenandung:
* Dan permulaan putra Nabi adalah al-Qasim yang diridhai,
dengannya nama kunyah Al-Mukhtar (Nabi) disandarkan, maka pahamilah dan kuasailah*
* Dan Zainab lahir mengiringinya, disusul Ruqayyah setelahnya,
lalu Fathimah az-Zahra datang secara berurutan berikutnya.*
* Demikian pula Ummu Kultsum dihitung setelahnya
kemudian di masa Islam lahirlah Abdullah sebagai penyempurna (putra dari Khadijah).*
* Dan mereka seluruhnya terlahir bagi beliau dari rahim Khadijah,
sedangkan Ibrahim datang menyusul kemudian di Madinah (Thaibah).*
* Lahir dari seorang wanita yang rupawan nan elok, Mariyah al-Qibthiyyah; maka ucapkanlah:
Atas mereka semburat salam keselamatan dari Allah yang sewangi kesturi dan kayu gaharu terbaik.*
وَهٰذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِۦ وَكَرَمِهِۦ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ وَسَلَّمَ.
Dan inilah batas akhir dari apa yang dimudahkan oleh Allah berkat karunia serta kemurahan-Nya. Segala puji sejatinya milik Allah Tuhan semesta alam, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah atas junjungan kita Muhammad, beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.
(وَهٰذَا) أَيْ قَوْلُهُۥ: وَيَنْبَغِيْ أَنْ يَعْرِفَ، أَوْ قَوْلُهُۥ: خَاتِمَةٌ إِلَى الْآخِرِ (آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِۦ وَكَرَمِهِۦ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ) أَتَى بِالْحَمْدَلَةِ اِقْتِدَاءً بِأَهْلِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ آخِرُ دُعَائِهِمْ، (وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ وَسَلَّمَ)، إِنَّمَا عَبَّرَ بِالْمَاضِيْ إِشَارَةً إِلَىٰ تَحَقُّقِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ الْمَطْلُوْبَيْنِ وَلَا بُدَّ.
(Dan ini) merujuk pada perkataan beliau: "Dan seyogianya ia mengetahui", atau perkataan beliau perkataan: "Sebagai penutup (khatimah) hingga akhir teks". (Merupakan batas akhir dari apa yang dimudahkan oleh Allah berkat karunia serta kemurahan-Nya. Segala puji sejatinya milik Allah Tuhan semesta alam) Pengarang mendatangkan kalimat tahmid (al-hamdulillah) karena mengikut perbuatan para penghuni surga, sebab sesungguhnya kalimat tersebut merupakan penutup dari untaian doa-doa mereka. (Dan semoga selawat serta salam tercurah atas junjungan kita Muhammad beserta segenap keluarga dan para sahabatnya) Pengarang sengaja mengekspresikannya dengan kata kerja bentuk lampau (fi'il madhi: *shalla* dan *sallama*) sebagai bentuk isyarat optimisme akan terwujud dan dikabulkannya permohonan selawat serta salam yang dituntut tersebut secara pasti.
وَهٰذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَىٰ عَلَى الرَّسَالَةِ اللَّطِيْفَةِ الَّتِيْ لِقَاصِدِهَا خَفِيْفَةٌ وَلِمُتَعَلِّمِهَا نَافِعَةٌ، وَاللهَ أَسْأَلُ وَبِنَبِيِّهِۦ أَتَوَسَّلُ أَنْ يَجْعَلَ هٰذِهِ الْكِتَابَةَ خَالِصَةً لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا النَّفْعَ الْعَمِيْمَ، وَالْمَرْجُوُّ مِمَّنْ أَطَّلَعَ عَلَيْهَا أَنْ يَدْعُوَ لِيْ بِالْغُفْرَانِ لِلذُّنُوْبِ وَالْعِصْيَانِ مِنَ الْمَوْلَى الرَّؤُوْفِ الرَّحْمٰنِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
Dan inilah batas akhir apa yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala atas penjelasan kitab risalah yang ringkas nan lembut ini, yang mana risalah ini terasa ringan bagi orang yang menujunya serta mendatangkan manfaat besar bagi orang yang mempelajarinya. Dan hanya kepada Allah semata aku memohon, serta dengan perantaraan kedudukan Nabi-Nya aku bertawasul, agar Dia menjadikan goresan karya tulis ini tulus ikhlas semata-mata demi mengharap keridaan Zat-Nya Yang Maha Mulia, serta menjadikannya bermanfaat dengan kemanfaatan yang merata secara luas. Dan hal yang sangat diharapkan dari siapa saja yang menelaah kitab ini adalah sudi kiranya mendoakan bagiku agar beroleh ampunan atas segala dosa dan kemaksiatan dari Allah Sang Pelindung Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan selawat teriring salam semoga terlimpah atas pemimpin keturunan Adnan (Nabi Muhammad) di setiap waktu dan kesempatan, dan segala puji milik Allah Tuhan semesta alam, serta tiada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung.
قَالَ الْمُؤَلِّفُ: وَكَانَ الْفَرَاغُ مِنْ جَمْعِهَا فِيْ الْيَوْمِ السَّابِعِ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ الْمُبَارَكِ مِنْ شُهُوْرِ سَنَةِ ١٢٩٧ مِنَ الْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ عَلَىٰ صَاحِبِهَا أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّحِيَّةِ وَاللهُ أَعْلَمُ.
Mushannif (Syekh Ahmad al-Marzuki) berkata: Dan adalah waktu selesainya proses penghimpunan kitab ini bertumpu pada hari yang ketujuh dari bulan Rabiul Awwal yang penuh keberkahan, di antara jajaran bulan pada tahun 1297 dari peristiwa Hijrah Nabi—semoga tercurah atas baginda rujukan hijrah tersebut selawat paling utama serta salam penghormatan paling sempurna, dan Allah Maha Mengetahui.
💡 Pesan Khusus Abi buat Murid: "Perhatiin ya, ini pelajaran penting tentang nasab mulia Baginda Nabi ﷺ. Beliau ﷺ itu punya tujuh putra-putri yang harus kita kenal sebagai bagian dari adab dan rasa cinta kita kepada Rasulullah. Ingat, silsilah keturunan beliau yang sampai ke kita hari ini cuma lewat jalur Sayyidah Fathimah az-Zahra aja, lewat cucu beliau Sayyiduna Hasan dan Sayyiduna Husain. Jadi, jangan asal percaya sama klaim nasab yang gak jelas jalurnya. Pelajari sejarahnya, ambil berkahnya, dan jaga adab kita kepada keluarga Nabi ﷺ. Biar ilmu yang lu dapet makin berkah dan hati lu makin cinta ama Rasulullah!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar