BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

VERBATIM TIJANID DARORI (LENGKAP)

وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْفَطَانَةُ، وَضِدُّهَا الْبَلَادَةُ، وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ أَنَّهُۥ لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَىٰ الْخَصْمِ، وَهُوَ مُحَالٌ لِأَنَّ الْقُرْاٰنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَىٰ إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَىٰ الْخَصْمِ.

Dan wajib pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat cerdas (fathanah), dan kebalikannya adalah bodoh/bebal (baladah). Dan dalil atas hal tersebut adalah bahwasanya jikalau sifat cerdas itu hilang dari mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menegakkan hujah (argumen) atas musuh/penentang. Dan hal tersebut adalah mustahil, karena Al-Qur'an telah menunjukkan di berbagai tempat yang banyak atas keberhasilan mereka dalam menegakkan hujah atas penentangnya.

SYARAH

(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ جَمِيْعِ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ، (أَنَّهُمْ لَوْ) لَمْ يُبَلِّغُوْا لَكَتَمُوْا، إِذْ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الْكِتْمَانِ وَالتَّبْلِيْغِ، لَكِنَّهُمْ لَمْ يَكْتَمُوْا، إِذْ لَوْ (كَتَمُوْا شَيْئًا) أَيْ بَعْضًا (مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِۦ) لِلْخَلْقِ (لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ) لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ أَمَرَنَا بِالِاقْتِدَاءِ بِهِمْ حَيْثُ قَالَ فِيْ حَقِّ نَبِيِّنَا: ﴿وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾(١).

(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu atas seluruh apa yang mereka diperintahkan untuk menyampaikannya, (bahwasanya jikalau mereka) tidak menyampaikan niscaya mereka menyembunyikan, sebab tidak ada perantara di antara menyembunyikan dan menyampaikan, akan tetapi mereka tidak menyembunyikan. Karena jikalau (menyembunyikan sesuatu) maksudnya sebagian (dari apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menyampaikannya) kepada makhluk, (niscaya kita pun akan diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu) karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk meneladani mereka, yang mana Dia berfirman mengenai hak Nabi kita: *“Dan ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”* (1).

(وَلَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِۦ) أَيْ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ (لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ) قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾(٢).

(Dan tidaklah sah kita diperintahkan untuk menyembunyikannya) yaitu menyembunyikan ilmu, (karena orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat). Allah Ta'ala berfirman: *“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh seluruh makhluk yang mengutuk.”* (2).

(وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْفَطَانَةُ) وَهِيَ التَّيَقُّظُ لِإِلْزَامِ الْخُصُوْمِ وَإِبْطَالِ دَعَاوِيْهِمُ الْبَاطِلَةِ. (وَضِدُّهَا الْبَلَادَةُ) أَيِ الْغَفْلَةُ.

(Dan wajib pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat cerdas) yaitu kepekaan/kecerdasan pikiran untuk membungkam para penentang serta membatalkan klaim-klaim batil mereka. (Dan kebalikannya adalah bodoh/bebal) yaitu kelalaian pikiran.

(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ وُجُوْبِ الْفَطَانَةِ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، (أَنَّهُۥ) أَيِ الشَّأْنُ، (لَوْ اِنْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَىٰ الْخَصْمِ وَهُوَ) أَيْ عَدَمُ الْقُدْرَةِ عَلَىٰ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ (مُحَالٌ، لِأَنَّ الْقُرْاٰنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَىٰ إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَىٰ الْخَصْمِ) كَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ: ﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَا﴾، أَيْ حُجَّةُ إِبْرَٰهِيْمَ

(Dan dalil atas hal tersebut) yaitu wajibnya sifat cerdas bagi mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka, (bahwasanya) yaitu pada kenyataannya, (jikalau sifat cerdas itu hilang dari mereka, niscaya mereka tidak akan mampu menegakkan hujah atas musuh/penentang, dan hal tersebut) yaitu ketidakmampuan menegakkan hujah (adalah mustahil, karena Al-Qur'an telah menunjukkan di berbagai tempat yang banyak atas keberhasilan mereka dalam menegakkan hujah atas penentangnya) seperti firman Allah Ta'ala: *“Dan itulah hujah Kami,”* maksudnya hujah Nabi Ibrahim.


MATAN

وَالْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَنَحْوِهِ.

Dan perkara yang jaiz (boleh) pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—adalah sifat-sifat baru selaku manusia (al-a'radh al-basyariyyah) yang tidak sampai menyebabkan kekurangan pada derajat mereka yang luhur, seperti sakit dan seumpamanya.

SYARAH

عَلَىٰ قَوْمِهِۦ ﴿حُجَّتُنَآٰ ءَاتَيْنَٰهَآٰ إِبْرَٰهِيْمَ﴾(١). وَكَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ نُوْحٍ: ﴿يَٰنُوْحُ قَدْ جَٰدَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَٰلَنَا﴾(٢)، وَكَقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ: ﴿وَجَٰدِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ﴾(٣)، أَيْ بِالطَّرِيْقِ الَّتِيْ تَشْتَمِلُ عَلَىٰ نَوْعِ إِرْفَاقٍ بِهِمْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ فَطِنًا لَا يُمْكِنُهُ إِقَامَةُ الْحُجَّةِ وَلَا الْمُجَادَلَةُ.

Terhadap kaumnya: *“Itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim”* (1). Dan seperti firman Allah Ta'ala seraya menceritakan tentang kaum Nuh: *“Wahai Nuh! Sungguh kamu telah membantah kami, dan kamu telah memperbanyak bantahanmu terhadap kami”* (2), dan seperti firman-Nya Ta'ala: *“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”* (3), maksudnya dengan metode yang mengandung semacam kelembutan terhadap mereka. Dan barang siapa yang tidak memiliki kecerdasan (fathanah), niscaya tidak akan mungkin baginya untuk menegakkan hujah (argumen) maupun melakukan perdebatan.

وَهَٰذِهِ الْآيَاتُ وَإِنْ كَانَتْ وَارِدَةً فِيْ بَعْضِهِمْ إِلَّا أَنَّ مَا ثَبَتَ لِبَعْضِهِمْ مِنَ الْكَمَالِ الَّذِيْ لَا يَتِمُّ الْمَقْصُوْدُ إِلَّا بِهِۦ يَثْبُتُ لِجَمِيْعِهِمْ، فَتَثْبُتُ الْفَطَانَةُ لِلْجَمِيْعِ، وَإِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا رُسُلًا بَلْ أَنْبِيَاءَ فَقَطْ نَعَمِ الْوَاجِبُ لِلْأَنْبِيَاءِ مُطْلَقُ الْفَطَانَةِ، وَأَمَّا الرُّسُلُ فَالْوَاجِبُ لَهُمْ كَمَالُ الْفَطَانَةِ، وَإِذَا ثَبَتَتْ لَهُمْ هَٰذِهِ الصِّفَاتُ الْأَرْبَعَةُ اِسْتَحَالَ عَلَيْهِمْ أَضْدَادُهَا، وَمَعْنَىٰ اِسْتِحَالَتِهَا عَدَمُ قَبُوْلِهَا الثُّبُوْتَ بِالدَّلِيْلِ الشَّرْعِيِّ.

Ayat-ayat ini, meskipun diturunkan berkenaan dengan sebagian dari mereka (para nabi), namun apa saja yang telah tetap bagi sebagian mereka berupa kesempurnaan—yang mana misi kerasulan tidak akan sempurna tanpanya—maka hal itu pun tetap berlaku bagi seluruh nabi. Dengan demikian, sifat cerdas (fathanah) ini tetap bagi semuanya, walau mereka bukan rasul melainkan hanya nabi saja. Benar bahwa yang wajib bagi para nabi adalah sifat cerdas secara mutlak (mendasar), sedangkan bagi para rasul, maka yang wajib bagi mereka adalah kesempurnaan sifat cerdas (tingkat tinggi). Dan apabila keempat sifat ini telah tetap bagi mereka, maka mustahil atas mereka kebalikan-kebalikannya. Arti kemustahilan tersebut adalah ketidakmampuan kebalikan sifat itu untuk diterima pembuktiannya berdasarkan dalil syar'i.

(وَالْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ) غَيْرِ الْمُنَفِّرِ (وَنَحْوُهُ) كَالْجُوْعِ وَالْعَطَشِ وَالنَّوْمِ، وَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْمَشْيِ وَالرُّكُوْبِ وَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالْجِمَاعِ لِلنِّسَاءِ عَلَىٰ وَجْهِ الْحِلِّ بِالنِّكَاحِ أَوْ بِالْمِلْكِ، بِخِلَافِ الْجُنُوْنِ قَلِيْلِهِۦ وَكَثِيْرِهِۦ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ وَالْعَمَىٰ وَغَيْرِ ذَٰلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْمُنَفِّرَةِ، وَبِخِلَافِ الْأُمُوْرِ الْمُخِلَّةِ بِالْمُرُوْءَةِ كَالْأَكْلِ عَلَىٰ الطُّرُقِ، وَالْحِرَفِ الدَّنِيْئَةِ وَنَحْوِ ذَٰلِكَ مِمَّا لَا يَلِيْقُ بِهِمْ، فَلَا يَجُوْزُ ذَٰلِكَ وَلَمْ يَصِحَّ أَنَّ شُعَيْبًا كَانَ ضَرِيْرًا، وَمَا كَانَ بِأَيُّوْبَ مِنَ الْبَلَاءِ فَكَانَ بَيْنَ الْجِلْدِ وَالْعَظْمِ،

(Dan perkara yang jaiz pada hak mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—sifat-sifat baru selaku manusia yang tidak sampai menyebabkan kekurangan pada derajat mereka yang luhur, seperti sakit) yang tidak membuat orang lari menjauh, (dan seumpamanya) seperti rasa lapar, haus, tidur, makan, minum, berjalan, berkendara, jual-beli, dan menjimak istri dengan cara yang halal melalui pernikahan atau kepemilikan hamba sahaya. Hal ini berbeda dengan penyakit gila, baik sedikit maupun banyak, penyakit kusta (judzam), sopak (barash), buta, dan hal-hal lain yang membuat orang menjauh. Berbeda pula dengan perkara-perkara yang merusak muruah (kehormatan diri) seperti makan di jalanan, pekerjaan yang hina, dan seumpamanya dari hal-hal yang tidak pantas bagi mereka, maka hal tersebut tidak boleh terjadi pada mereka. Dan tidak sahih riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Syuaib itu buta. Adapun cobaan penyakit yang menimpa Nabi Ayyub, hal itu hanya terjadi di antara kulit dan tulang,

MATAN

وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Dan dalil atas hal tersebut adalah penyaksian secara nyata terhadap sifat-sifat tersebut pada diri mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka.

SYARAH

فَلَمْ يَكُنْ مُنَفِّرًا، وَمَا كَانَ بِيَعْقُوْبَ فَهُوَ حِجَابٌ عَلَىٰ الْعَيْنِ مِنْ تَوَاصُلِ الدُّمُوْعِ، أَمَّا خُرُوْجُ الْمَنِيِّ مِنِ امْتِلَاءِ الْأَوْعِيَةِ فَجَائِزٌ عَلَيْهِمْ بِخِلَافِ الِاحْتِلَامِ، فَلَا يَجُوْزُ عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُۥ مِنْ تَلَاعُبِ الشَّيْطَانِ، لِأَنَّهُۥ لَا سَبِيْلَ لَهُۥ عَلَيْهِمْ.

Maka hal itu tidaklah membuat orang menjauh. Sedangkan apa yang menimpa Nabi Ya'qub, hal itu hanyalah selaput yang menutupi mata akibat tetesan air mata yang terus-menerus. Adapun keluarnya mani karena penuhnya kantung sperma, maka hal itu boleh terjadi pada mereka, berbeda halnya dengan mimpi basah (ihtilam), maka itu tidak boleh terjadi pada mereka karena hal itu termasuk permainan setan, sedangkan setan tidak memiliki jalan (kemampuan) untuk memengaruhi mereka.

وَأَمَّا السَّهْوُ فَمُمْتَنِعٌ عَلَيْهِمْ فِيْ الْأَخْبَارِ الْبَلَاغِيَّةِ، أَيِ الَّتِيْ طُلِبَ مِنْهُمْ تَبْلِيْغُهَا عَنِ اللهِ تَعَالَىٰ، كَقَوْلِهِمْ: الْجَنَّةُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَعَذَابُ الْقَبْرِ وَاجِبٌ وَهَٰكَذَا وَفِيْ غَيْرِ الْبَلَاغِيَّةِ كَقِيَامِ زَيْدٍ وَقُعُوْدِ بَكْرٍ، وَهَٰكَذَا، وَجَائِزٌ عَلَيْهِم| فِيْ الْأَفْعَالِ الْبَلَاغِيَّةِ لِلتَّشْرِيْعِ كَالسَّهْوِ فِيْ الصَّلَاةِ وَسَهْوُهُمْ إِنَّمَا هُوَ لِاشْتِغَالِهِمْ بِرَبِّهِمْ.

Adapun sifat lupa yang tidak sengaja (sahwu), maka mustahil bagi mereka dalam berita-berita yang bersifat menyampaikan syariat, yaitu berita yang mereka diminta untuk menyampaikannya dari Allah Ta'ala, seperti ucapan mereka: "Surga itu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, dan azab kubur itu pasti terjadi," dan seterusnya. Begitu pula dalam berita yang bukan bersifat menyampaikan syariat seperti ucapan: "Zaid berdiri dan Bakar duduk," dan sebagainya. Namun, sifat sahwu ini boleh terjadi pada mereka dalam perbuatan-perbuatan yang bersifat menyampaikan syariat demi tujuan pensyariatan hukum, seperti lupa dalam shalat. Dan sesungguhnya lupanya mereka itu hanyalah karena hati mereka tersibukkan (tenggelam) kepada Tuhan mereka.

وَأَمَّا النِّسْيَانُ فَمُمْتَنِعٌ عَلَيْهِمْ فِيْ الْبَلَاغِيَّاتِ قَبْلَ تَبْلِيْغِهَا، قَوْلِيَّةً كَانَتْ أَوْ فِعْلِيَّةً، فَالْقَوْلِيَّةُ كَقَوْلِهِمْ الْجَنَّةُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَالْفِعْلِيَّةُ كَصَلَاةِ الضُّحَىٰ إِذْ أَمَرَهُمُ اللهُ بِفِعْلِهَا لِيُقْتَدَىٰ بِهِمْ فِيْهَا، فَلَا يَجُوْزُ نِسْيَانُ كُلِّ مِنْهُمَا قَبْلَ تَبْلِيْغِ الْأَوَّلِ بِالْقَوْلِ وَالثَّانِيَةِ بِالْفِعْلِ.

Adapun sifat lupa total (nisyan), maka mustahil bagi mereka dalam perkara-perkara balaghiyyat (syariat) sebelum sempat menyampaikannya, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Perkara ucapan contohnya seperti sabda mereka: "Surga disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," sedangkan perbuatan contohnya seperti shalat Dhuha ketika Allah memerintahkan mereka untuk melakukannya agar mereka dicontoh dalam hal itu. Maka tidak boleh terjadi kelupaan pada masing-masing dari keduanya sebelum sempat menyampaikan yang pertama dengan ucapan dan yang kedua dengan perbuatan.

أَمَّا بَعْدَ التَّبْلِيْغِ فَيَجُوْزُ عَلَيْهِمْ نِسْيَانُ مَا ذُكِرَ مِنَ اللهِ تَعَالَىٰ لَا مِنَ الشَّيْطَانِ لِأَنَّهُۥ لَا سَبِيْلَ لَهُۥ عَلَيْهِمْ، وَقَدْ قَالَ صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَىٰ كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ»، وَبِالْجُمْلَةِ فَيَجُوْزُ عَلَىٰ ظَوَاهِرِهِمْ مَا يَجُوْزُ عَلَىٰ الْبَشَرِ مِمَّا لَا يُؤَدِّيْ إِلَىٰ نَقْصٍ، وَأَمَّا بَوَاطِنُهُمْ فَهِيَ مُنَزَّهَةٌ عَنْ ذَٰلِكَ لِتَعَلُّقِهَا بِاللهِ تَعَالَىٰ.

Adapun setelah penyampaian syariat selesai, maka boleh bagi mereka lupa terhadap apa yang telah disebutkan tadi yang datangnya dari Allah Ta'ala, bukan dari setan, karena tidak ada jalan bagi setan untuk menguasai mereka. Dan sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: *“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian pun bisa lupa. Maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku.”* Dan kesimpulannya, boleh terjadi pada sisi lahiriah mereka apa saja yang boleh terjadi pada manusia selama tidak membawa kepada kekurangan. Adapun sisi batiniah mereka, maka ia suci bersih dari hal tersebut karena keterikatan batin mereka yang selalu tertuju kepada Allah Ta'ala.

(وَالدَّلِيْلُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ) أَيْ جَوَازِ وُقُوْعِ الْأَعْرَاضِ، أَيِ الصِّفَاتِ الْحَادِثَةِ الْبَشَرِيَّةِ، (مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ) لِمَنْ عَاصَرَهُمْ وَبُلُوْغُ ذَٰلِكَ بِالتَّوَاتُرِ لِغَيْرِهِ، فَوُقُوْعُهَا بِهِمْ أَقْوَىٰ دَلِيْلٍ عَلَىٰ الْجَوَازِ، لِأَنَّ الْوُقُوْعَ فَرْعٌ عَنِ الْجَوَازِ،

(Dan dalil atas hal tersebut) maksudnya atas bolehnya terjadi sifat-sifat baru selaku manusia, (adalah penyaksian secara nyata terhadap sifat-sifat tersebut pada diri mereka—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka) bagi orang yang hidup sezaman dengan mereka, dan sampainya berita tersebut secara mutawatir bagi orang yang hidup setelahnya. Maka terjadinya sifat-sifat tersebut pada diri mereka merupakan dalil paling kuat atas kebolehannya, karena terjadinya sesuatu merupakan cabang dari sifat bolehnya hal itu terjadi.

SYARH

وَأَيْضًا هُمْ يَتَرَقَّوْنَ دَائِمًا فِيْ الْمَرَاتِبِ الْعَلِيَّةِ وَوُقُوْعُ الْأَمْرَاضِ بِهِمْ مَثَلًا سَبَبٌ فِيْ زِيَادَةِ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ، وَلِأَجْلِ أَنْ يَتَسَلَّىٰ بِهِمْ غَيْرُهُمْ وَيَعْرِفَ الْعَاقِلُ أَنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ دَارَ جَزَاءٍ لِأَحْبَابِهِۦ تَعَالَىٰ، إِذْ لَوْ كَانَتْ دَارَ جَزَاءٍ لَهُمْ لَمْ يُصِبْهُمْ شَيْءٌ مِنْ كُدُوْرَاتِهَا، فَهُوَ زِيَادَةٌ فِيْ عُلُوِّ مَرَاتِبِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Dan selain itu pula, mereka (para rasul) senantiasa naik ke tingkat derajat yang lebih luhur. Kejadian penyakit yang menimpa mereka—sebagai contoh—merupakan sebab bagi bertambahnya derajat mereka yang luhur itu, serta bertujuan agar orang lain dapat menghibur diri (mengambil keteguhan hati) dengan meneladani mereka, dan agar orang yang berakal mengetahui bahwa dunia ini bukanlah tempat balasan (darul jaza') bagi para kekasih Allah Ta'ala. Sebab, jikalau dunia ini adalah darul jaza' bagi mereka, niscaya tidak akan ada sedikit pun kekeruhan (ujian/penderitaan) dunia yang menimpa mereka. Maka ujian tersebut justru menjadi tambahan bagi keluhuran derajat mereka—semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah atas mereka.

فَهَٰذِهِ تِسْعُ عَقَائِدَ تَتَعَلَّقُ بِالرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَتَقَدَّمَ إِحْدَىٰ وَأَرْبَعُوْنَ تَتَعَلَّقُ بِالْإِلَٰهِ سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ، فَالْجُمْلَةُ خَمْسُوْنَ عَقِيْدَةً يَجُبُ عَلَىٰ كُلِّ مُكَلَّفٍ مَعْرِفَتُهَا بِأَدِلَّتِهَا عَلَىٰ مَا مَرَّ.

Maka inilah sembilan akidah yang berkaitan dengan para rasul—semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka—dan telah lewat penjelasan mengenai empat puluh satu akidah yang berkaitan dengan Tuhan yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Maka jumlah keseluruhannya adalah lima puluh akidah (Aqaid khamsin) yang wajib bagi setiap mukalaf untuk mengetahuinya beserta dalil-dalilnya berdasarkan apa yang telah lalu.


MATAN

﴿خَاتِمَةٌ﴾

يَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ، وَمِنْ جِهَةِ أُمِّهِۦ. أَمَّا نَسَبُهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ

[PENUTUP]
Wajib bagi setiap individu (mukalaf) untuk mengetahui garis keturunan (nasab) Nabi Muhammad ﷺ, baik dari jalur ayah maupun jalur ibunya. Adapun nasab beliau ﷺ dari jalur ayah adalah: Baginda kita, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah...

SYARAH

(خَاتِمَةٌ) نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَىٰ حُسْنَهَا (يَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ) أَيِ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ (أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ، وَمِنْ جِهَةِ أُمِّهِۦ) إِلَىٰ عَدْنَانَ فَقَطْ، أَمَّا مَا بَعْدَهُۥ فَلَا يَجِبُ مَعْرِفَتُهُۥ بِلَا خِلَافٍ، بَلْ كُرِهَ، مَالِكٌ. (فَأَمَّا نَسَبُهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ)، فَمِنْ كَلَامِهِۦ ﷺ مِنَ الطَّوِيْلِ:

(Penutup) kita memohon kepada Allah Ta'ala agar dianugerahi akhir yang baik (husnul khatimah). (Wajib bagi setiap orang) baik laki-laki maupun perempuan (untuk mengetahui nasab Nabi ﷺ dari jalur ayah dan ibunya) sampai ke datuk beliau yang bernama Adnan saja. Adapun silsilah setelah Adnan, maka tidak wajib diketahui tanpa ada perbedaan ulama, bahkan Imam Malik memakruhkannya. (Adapun nasab beliau ﷺ dari jalur ayah adalah Baginda kita, Muhammad bin Abdullah). Di antara perkataan syi'ir Nabi ﷺ yang menggunakan bahar thawil adalah:

لَقَدْ حَكَمَ الْبَادُوْنَ فِيْ كُلِّ بَلْدَةٍ            بِأَنَّ لَنَا فَضْلًا عَلَىٰ سَادَةِ الْأَرْضِ
وَأَنَّ أَبِيْ ذُوْ الْمَجْدِ وَالسُّؤْدَدِ الَّذِيْ            يَسَارٌ بِهِۦ مَا بَيْنَ نَشْزٍ إِلَىٰ خَفْضِ

Bait Syi'ir: "Sungguh orang-orang pedalaman di setiap negeri telah mengakui, bahwa kami memiliki keutamaan di atas para pemimpin bumi. Dan sesungguhnya ayahku adalah pemilik kemuliaan dan keagungan yang namanya berjalan (terkenal) di antara tanah yang tinggi hingga lembah yang rendah."

(اِبْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ) اِسْمُهُۥ عَامِرٌ أَوْ شَيْبَةُ الْحَمْدِ (اِبْنُ هَاشِمٍ) اِسْمُهُۥ عَمْرٌو أَوْ عُمَرُ (اِبْنُ عَبْدِ مَنَافٍ) اِسْمُهُۥ الْمُغِيْرَةُ (اِبْنُ قُصَيٍّ) بِضَمٍّ فَفَتْحٍ، اِسْمُهُۥ زَيْدٌ أَوْ يَزِيْدُ، (اِبْنُ كِلَابٍ) اِسْمُهُۥ حَكِيْمٌ بِفَتْحٍ فَكَسْرٍ أَوِ الْمُغِيْرَةُ أَوِ الْمُهَذَّبُ، (اِبْنُ مُرَّةَ) بِضَمِّ الْمِيْمِ وَفَتْحِ الرَّاءِ الْمُشَدَّدَةِ. (اِبْنُ كَعْبٍ) بِفَتْحٍ وَسُكُوْنٍ، (اِبْنُ لُؤَيٍّ) بِالْهَمْزِ وَتَرْكِهِۦ لَٰكِنِ الْأَكْثَرُ الْأَوَّلُ (اِبْنُ غَالِبٍ) بِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ وَكَسْرِ اللَّامِ (اِبْنُ فِهْرٍ) بِكَسْرٍ فَسُكُوْنٍ (اِبْنُ مَالِكٍ) وَكُنْيَتُهُۥ أَبُوْ حَارِثٍ (اِبْنُ النَّضْرِ) اِسْمُهُۥ قَيْسٌ (اِبْنُ كِنَانَةَ) كَانَ شَيْخًا حَسَنًا عَظِيْمَ الْقَدْرِ تَقْصِدُهُ الْعَرَبُ إِلَيْهِ لِعِلْمِهِۦ وَفَضْلِهِۦ. (اِبْنُ خُزَيْمَةَ) بِالتَّصْغِيْرِ (اِبْنُ مُدْرِكَةَ) بِضَمٍّ فَسُكُوْنٍ فَكَسْرٍ، وَاسْمُهُۥ عُمَرُ عَلَى الصَّحِيْحِ وَكَانَ...

( bin Abdul Muthalib) namanya adalah 'Amir atau Syaibatul Hamd. ( bin Hasyim) namanya adalah 'Amr atau 'Umar. ( bin Abdu Manaf) namanya al-Mughirah. ( bin Qushay) dibaca dhommah lalu fathah (qu-shay), namanya Zaid atau Yazid. ( bin Kilab) namanya Hakim—dengan fathah lalu kasrah (ha-ki-m)—atau al-Mughirah atau al-Muhadzdzab. ( bin Murrah) dengan dhommah mimi dan fathah ra' bertasydid. ( bin Ka'b) dengan fathah dan sukun. ( bin Lu'ay) boleh dibaca hamzah (lu-`ay) atau tanpa hamzah (lu-way), namun mayoritas menggunakan yang pertama. ( bin Ghalib) dengan huruf ghain bertitik dan kasrah lam. ( bin Fihr) dengan kasrah lalu sukun. ( bin Malik) kunyahnya adalah Abu Harits. ( bin An-Nadhr) namanya Qais. ( bin Kinanah) ia dahulu adalah seorang guru penyayang yang berwibawa tinggi, orang-orang Arab sengaja mendatanginya karena keluasan ilmu dan keutamaannya. ( bin Khuzaimah) dibaca bentuk tashghir. ( bin Mudrikah) dengan dhommah, sukun, lalu kasrah, dan nama aslinya adalah 'Umar menurut pendapat yang shahih. Dan ia dahulu...

HALAMAN 44

MATAN

بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ، وَلَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُۥ إِلَىٰ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.

وَأَمَّا نَسَبُهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِۦ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ، فَتَجْتَمِعُ مَعَهُۥ ﷺ فِيْ جَدِّهِۦ كِلَابٍ.

...bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin Adnan. Dan tidak ada jalan riwayat yang shahih di dalam jalur silsilah yang dinukilkan setelah Adnan sampai ke Nabi Adam 'alaihis salam. Dan adapun nasab beliau ﷺ dari jalur ibunya, beliau adalah Baginda kita Muhammad bin Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Maka nasab ibu beliau bertemu bersama beliau ﷺ pada kakeknya yang bernama Kilab.


SYARAH

...فِيْهِ نُوْرُ النَّبِيِّ ﷺ ظَاهِرًا (ابْنِ إِلْيَاسَ) وَاسْمُهُۥ حُبَيْبٌ، وَكُنْيَتُهُۥ أَبُوْ عَمْرٍو، وَكَانَ يُسْمَعُ فِيْ صُلْبِهِۦ تَلْبِيَةُ النَّبِيِّ ﷺ الْمَعْرُوْفَةُ فِيْ الْحَجِّ (ابْنِ مُضَرَ) بِضَمٍّ فَفَتْحٍ اِسْمُهُۥ عَمْرٌو وَكُنْيَتُهُۥ أَبُوْ إِلْيَاسَ، (ابْنِ نِزَارٍ) وَاسْمُهُۥ خَلْدَانُ، (ابْنِ مَعَدٍّ).

...pada dirinya tampak cahaya Nabi ﷺ secara jelas. ( bin Ilyas) nama aslinya adalah Hubaib, kunyahnya Abu 'Amr. Dahulu dari dalam tulang sulbinya terdengar suara kalimat talbiat Nabi ﷺ yang sudah makruf di dalam ibadah haji. ( bin Mudhar) dibaca dhommah lalu fathah (mu-dhar), nama aslinya adalah 'Amr dan kunyahnya Abu Ilyas. ( bin Nizar) namanya Khaldan. ( bin Ma'add).

وَلَمَّا سَلَّطَ اللهُ بُخْتَ نَصَّرَ عَلَى الْعَرَبِ، أَمَرَ اللهُ أَرْمِيَاءَ أَنْ يَحْمِلَهُۥ عَلَى الْبُرَاقِ كَيْلَا تُصِيْبَهُ النِّقْمَةُ، فَفَعَلَ ذَٰلِكَ أَرْمِيَاءُ وَاحْتَمَلَهُۥ مَعَهُۥ إِلَىٰ أَرْضِ الشَّامِ، فَنَشَأَ فِيْ بَنِيْ إِسْرَائِيلَ، ثُمَّ عَادَ بَعْدَ أَنْ سَكَنَتِ الْفِتْنَةُ بِمَوْتِ بُخْتَ نَصَّرَ ، (ابْنِ عَدْنَانَ) وَكَانَ فِيْ زَمَنِ مُوْسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى الصَّحِيْحِ.

Dan ketika Allah memberikan kuasa kepada Raja Nebukadnezar (Bukhta Nashar) untuk menyerang bangsa Arab, Allah memerintahkan Nabi Armiya (Yeremia) untuk membawa Ma'add menunggangi Burak agar ia tidak terkena dampak malapetaka tersebut. Maka Nabi Armiya pun melaksanakan perintah itu dan membawanya ikut serta menuju tanah Syam. Di sanalah Ma'add tumbuh besar di lingkungan Bani Israil, kemudian ia kembali pulang setelah fitnah huru-hara tersebut mereda seiring matinya Bukhta Nashar. ( bin Adnan), ia hidup di zaman Nabi Musa 'alaihis salam menurut pendapat yang shahih.

وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَىٰ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ إِنَّمَا انْتَسَبَ إِلَىٰ عَدْنَانَ (وَلَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُۥ) أَيْ عَدْنَانَ (إِلَىٰ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ) لِمَا وَقَعَ فِيْهِ مِنَ الْأَقْوَالِ الْمُخْتَلِفَةِ الْمُتَبَاعِدَةِ.

Dan para ulama telah sepakat bahwa silsilah Rasulullah ﷺ itu valid jalurnya hanya sampai ke Adnan. (Dan tidak ada jalur setelahnya) maksudnya setelah Adnan (sampai ke Nabi Adam 'alaihis salam jalur riwayat yang shahih di dalam apa yang dinukilkan), dikarenakan banyaknya perbedaan pendapat yang saling bertolak belakang di dalam silsilah jalur tersebut.

(وَأَمَّا نَسَبُهُۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِۦ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ ابْنِ زُهْرَةَ) بِضَمِّ الزَّايِ وَسُكُوْنِ الْهَاءِ ، وَهُوَ اِسْمُ رَجُلٍ عَلَى الصَّوَابِ، (ابْنِ كِلَابٍ) وَعَبْدُ مَنَافٍ الَّذِيْ فِيْ نَسَبِهِۥ ﷺ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِۦ غَيْرُ عَبْدِ مَنَافٍ جَدِّهِۦ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ، وَكِلَابٌ هَٰذَا أَحَدُ أَجْدَادِهِ ﷺ (فَتَجْتَمِعُ) أَيْ آمِنَةُ (مَعَهُۥ ﷺ فِيْ جَدِّهِۦ كِلَابٍ) وَنَسَبُهُۥ ﷺ مُطَهَّرٌ مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَلَمْ يَلِدْهُۥ إِلَّا نِكَاحٌ كَنِكَاحِ...

(Dan adapun nasab beliau ﷺ dari jalur ibunya, beliau adalah Baginda kita Muhammad bin Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah) dengan dhommah huruf zai dan sukun ha' (Zuh-rah), dan itu adalah nama seorang laki-laki menurut pendapat yang benar. ( bin Kilab). Dan nama Abdu Manaf yang berada pada silsilah Nabi ﷺ dari jalur ibunya ini adalah orang yang berbeda dengan Abdu Manaf kakek Nabi ﷺ dari jalur ayahnya. Sementara Kilab ini merupakan salah satu kakek dari kakek-kakek beliau ﷺ. (Maka bertemulah) yakni Sayyidah Aminah (bersama beliau ﷺ pada kakeknya yang bernama Kilab). Dan garis keturunan beliau ﷺ disucikan total dari perbuatan zina masa Jahiliyah, tidaklah beliau dilahirkan melainkan dari hubungan pernikahan sah seperti halnya pernikahan...

HALAMAN 45

MATAN

وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُۥ حَوْضًا

Dan di antara perkara yang wajib pula untuk diketahui (diyakini) adalah bahwasanya beliau ﷺ memiliki telaga (telaga Al-Kautsar).


SYARAH

...الْإِسْلَامِ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَىٰ أَنْ وَلَدَهُۥ ﷺ أَبُوْهُ وَأُمُّهُۥ، وَاسْتَدَلَّ بَعْضُهُمْ بِقَوْلِهِ ﷺ: «لَمْ أَزَلْ أُنْقَلُ مِنْ أَصْلَابِ الطَّاهِرِيْنَ إِلَىٰ أَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ» أَنَّ جَمِيْعَ آبَائِهِ ﷺ وَجَمِيْعَ أُمَّهَاتِهِۦ إِلَىٰ آدَمَ وَحَوَّاءَ لَيْسَ فِيْهِمْ كَافِرٌ، لِأَنَّهُۥ لَا يُوْصَفُ بِالطَّهَارَةِ إِلَّا الْمُؤْمِنُ.

...pernikahan menurut Islam sejak masa Nabi Adam alaihis salam sampai kedua orang tua beliau melahirkan beliau ﷺ. Sebagian ulama menjadikannya dalil berdasarkan sabda Nabi ﷺ: *“Aku senantiasa dipindahkan dari sulbi laki-laki yang suci menuju rahim wanita-wanita yang suci.”* Bahwa semua garis leluhur ayah Nabi ﷺ dan seluruh garis ibu beliau sampai ke Nabi Adam dan Sayyidah Hawa tidak ada seorang pun yang kafir. Mengapa? Karena seseorang tidak akan disifati dengan kesucian (thaharah) melainkan ia adalah orang yang mukmin.

(وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُۥ) ﷺ (حَوْضًا) أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَىٰ إِيَّاهُ فِيْ الْآخِرَةِ لَٰكِنْ لَا يَكْفُرُ مَنْ أَنْكَرَهُۥ وَإِنَّمَا يُفَسَّقُ، وَأَوْحَى اللهُ تَعَالَىٰ إِلَىٰ عِيسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ لِمُحَمَّدٍ حَوْضًا أَبْعَدُ مِنْ مَكَّةَ إِلَىٰ مَطْلَعِ الشَّمْسِ فِيْهِ آنِيَةٌ مِثْلُ عَدَدِ نُجُوْمِ السَّمَاءِ، وَلَهُۥ لَوْنُ كُلِّ شَرَابِ الْجَنَّةِ وَطَعْمُ كُلِّ ثِمَارِهَا اهـ. أَيْ بَعْضُهُۥ لَوْنُهُۥ أَحْمَرُ وَبَعْضُهُۥ لَوْنُهُۥ أَبْيَضُ، وَهَٰكَذَا وَلَهُۥ طَعْمُ الْخَوْخِ وَالْمَوْزِ وَالْمِشْمِشِ وَغَيْرِهَا، فَمَنْ يَشْرَبْ مِنْهُۥ يَجِدْ طَعْمَ ثِمَارِ الْجَنَّةِ.

(Dan di antara perkara yang wajib pula untuk diketahui bahwasanya beliau memiliki) ﷺ (telaga) yang dikaruniakan Allah Ta'ala kepadanya di akhirat kelak. Namun, tidaklah dianggap kafir orang yang mengingkari adanya telaga ini, melainkan ia dihukumi fasik. Allah Ta'ala pernah mewahyukan kepada Nabi Isa 'alaihis salam: *“Sesungguhnya Muhammad memiliki telaga yang luasnya lebih jauh daripada jarak antara Makkah hingga tempat terbitnya matahari. Di dalamnya terdapat gayung-gayung minuman sebanyak hitungan bintang di langit. Airnya memiliki rona dari segala corak minuman surga, serta memiliki cita rasa dari beraneka buah-buahannya.”* Maksudnya, sebagian air telaga itu ada yang berwarna merah, ada yang putih, dan seterusnya, serta memiliki cita rasa seperti buah persik, pisang, aprikot, dan buah lainnya. Barang siapa meminum airnya, ia akan merasakan lezatnya buah-buahan surga.

وَاخْتُلِفَ فِيْ مَحَلِّهِۦ، فَعِنْدَ الْجُمْهُوْرِ أَنَّهُۥ قَبْلَ الصِّرَاطِ لِأَنَّ النَّاسَ يَخْرُجُوْنَ مِنْ قُبُوْرِهِمْ عِطَاشًا فَيَرِدُوْنَ الْحَوْضَ لِلشُّرْبِ، وَعِنْدَ بَعْضِهِمْ أَنَّهُۥ بَعْدَهُۥ لِأَنَّهُۥ يَنْصَبُّ فِيْهِ الْمَاءُ مِنَ الْكَوْثَرِ وَهُوَ النَّهْرُ الَّذِيْ فِيْ دَاخِلِ الْجَنَّةِ، فَيَكُوْنُ الْحَوْضُ بَعْدَ الصِّرَاطِ بِجَانِبِ الْجَنَّةِ وَلَوْ كَانَ قَبْلَهُۥ لَحَالَتِ النَّارُ بَيْنَهُۥ وَبَيْنَ الْمَاءِ الَّذِيْ يَنْصَبُّ فِيْهِ مِنَ الْكَوْثَرِ، وَهُمْ يُحْبَسُوْنَ هُنَاكَ فِيْ مَوْقِفِ الْقِصَاصِ لِأَجْلِ الْمَظَالِمِ الَّتِيْ بَيْنَهُمْ حَتَّىٰ يَتَحَلَّلُوْا مِنْهَا.

Dan para ulama berbeda pendapat mengenai posisi letak telaga tersebut. Menurut mayoritas ulama (jumhur), telaga itu terletak sebelum jembatan (shirat), dikarenakan manusia keluar dari kubur mereka dalam keadaan sangat haus, lalu mereka mendatangi telaga untuk minum. Sedangkan menurut sebagian ulama lain, letaknya adalah setelah shirat, karena air telaga tersebut mengalir langsung dari telaga Al-Kautsar, yaitu sungai yang berada di dalam surga. Maka otomatis posisi telaga berada setelah shirat di samping surga. Sebab, andaikata letaknya sebelum shirat, niscaya neraka akan menghalangi antara telaga tersebut dengan air Al-Kautsar yang mengalir ke sana. Dan di tempat itulah manusia ditahan di area qishash demi menyelesaikan urusan kezaliman di antara mereka sampai bersih sepenuhnya.

وَصَحَّحَ الْقُرْطُبِيُّ أَنَّ لَهُۥ ﷺ حَوْضَيْنِ، حَوْضًا قَبْلَ الصِّرَاطِ، وَحَوْضًا بَعْدَهُۥ، وَاخْتَارَهُ السَّنُوْسِيُّ فِيْ شَرْحِ الْكُبْرَىٰ، ثُمَّ الَّذِيْ يَجِبُ اعْتِقَادُهُۥ أَنَّ لَهُۥ ﷺ حَوْضًا.

Dan Imam Al-Qurthubi menshahihkan pendapat bahwa Nabi ﷺ sejatinya memiliki dua buah telaga: satu telaga sebelum shirat dan satu telaga lagi setelah shirat. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Imam As-Sanusi dalam kitab Syarah Al-Kubra. Kemudian, perkara pokok yang wajib diyakini (sebagai rukun iman) adalah bahwasanya beliau ﷺ mutlak memiliki telaga.


HALAMAN 46

MATAN

وَأَنَّهُۥ ﷺ يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ،

Dan sesungguhnya beliau ﷺ memberikan syafaat dalam memutuskan perkara (fashlul qadha' di Padang Mahsyar).


SYARAH

(وَ) يَجِبُ أَنْ يُعْلَمَ (أَنَّهُۥ ﷺ يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ) أَيْ فِيْ الْقَضَاءِ الْفَاصِلِ بَيْنَ النَّاسِ. رُوِيَ أَنَّهُۥ إِذَا جَمَعَ اللهُ النَّاسَ فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَقْبَلَتِ النَّارُ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَخَزَنَتُهَا يَكُفُّوْنَهَا عَنِ النَّاسِ وَهِيَ تَقُوْلُ: وَعِزَّةِ رَبِّيْ لَيُخْلِيَنَّ بَيْنِيْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِيْ فَيَقُوْلُوْنَ لَهَا: وَمَنْ أَزْوَاجُكِ فَتَقُوْلُ: كُلُّ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ.

(Dan) wajib untuk diketahui (bahwasanya beliau ﷺ memberikan syafaat dalam fashlul qadha') yaitu dalam keputusan hukum yang memisahkan perkara di antara manusia. Diriwayatkan bahwa apabila Allah mengumpulkan seluruh manusia di satu hamparan tanah yang sama pada hari kiamat, neraka datang dalam keadaan apinya saling bergulung satu sama lain, sementara malaikat penjaganya menahannya agar tidak melalap manusia. Neraka itu berseru: "Demi keagungan Tuhanku, sungguh beri kelonggaran jalan antara aku dan pasangan-pasanganku!" Para malaikat bertanya: "Siapa pasangan-pasanganmu?" Neraka menjawab: "Setiap orang yang sombong lagi keras kepala."

فَلَا يَزَالُ النَّاسُ يَمُوْجُ بَعْضُهُمْ فِيْ بَعْضٍ أَلْفَ عَامٍ، وَاللهُ تَعَالَىٰ لَا يُكَلِّمُهُمْ كَلِمَةً وَاحِدَةً، فَيَشْتَدُّ الْهَوْلُ عَلَىٰ أَهْلِ الْمَوْقِفِ حَتَّىٰ يَتَمَنَّوُا الِانْصِرَافَ مِنْ هَٰذَا الْمَوْقِفِ وَلَوْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ.

Maka manusia senantiasa bergoncang serta bercampur baur satu sama lain selama seribu tahun, sedangkan Allah Ta'ala tidak berfirman kepada mereka satu patah kata pun. Maka kondisi mencekam (al-haul) menjadi kian memuncak atas orang-orang di Padang Mahsyar itu, hingga mereka berandai-andai untuk segera pergi dibubarkan dari tempat pemberhentian tersebut, walaupun harus menuju neraka Jahanam.

فَيَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: اِذْهَبُوْا إِلَىٰ أَبِيْكُمْ آدَمَ، فَيَأْتُوْنَ آدَمَ، فَيَقُوْلُوْنَ يَا أَبَا الْبَشَرِ، الْأَمْرُ عَلَيْنَا شَدِيْدٌ، وَأَنْتَ الَّذِيْ خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِۦ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُۥ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِۦ، اِشْفَعْ لَنَا فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ، اِشْفَعْ لَنَا إِلَىٰ رَبِّكَ لِيَقْضِيَ بَيْنَنَا فَيَقُوْلُ: لَسْتُ هُنَاكَ إِنِّيْ قَدْ أُخْرِجْتُ مِنَ الْجَنَّةِ بِخَطِيْئَتِيْ، وَأَنَّهُۥ لَيْسَ يَهُمُّنِيَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِيْ، وَلَٰكِنْ عَلَيْكُمْ بِنُوْحٍ، فَإِنَّهُۥ أَوَّلُ الْمُرْسَلِيْنَ.

Lalu sebagian manusia berkata kepada sebagian yang lain: "Pergilah kalian kepada ayah kalian, Adam!" Maka mereka mendatangi Nabi Adam lalu berkata: "Wahai bapak seluruh manusia, keadaan yang menimpa kami sungguh teramat berat. Engkau adalah sosok yang Allah ciptakan langsung dengan kekuasaan-Nya, menyuruh malaikat-Nya bersujud kepadamu, dan meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam dirimu. Berikanlah syafaat bagi kami dalam fashlul qadha', mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia segera memutuskan perkara di antara kita!" Namun Nabi Adam menjawab: "Aku tidak berhak untuk urusan itu, sesungguhnya aku dahulu dikeluarkan dari surga karena kesalahanku, dan sungguh tidak ada yang kupikirkan hari ini melainkan keselamatan diriku sendiri. Akan tetapi, hendaklah kalian pergi menemui Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama."

فَيَأْتُوْنَ نُوْحًا وَيَقُوْلُوْنَ لَهُۥ: اِشْفَعْ لَنَا إِلَىٰ رَبِّكَ لِيَقْضِيَ بَيْنَنَا فَيَقُوْلُ: لَسْتُ هُنَاكَ إِنِّيْ دَعَوْتُ دَعْوَةً أَغْرَقْتُ أَهْلَ الْأَرْضِ، وَأَنَّهُۥ لَيْسَ يَهُمُّنِيَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِيْ، وَلَٰكِنِ ائْتُوْا إِبْرَٰهِيْمَ الَّذِيِ اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيْلًا.

Maka mereka mendatangi Nabi Nuh dan berkata kepadanya: "Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia memutuskan perkara di antara kita!" Nabi Nuh menjawab: "Aku tidak berhak untuk urusan itu, sesungguhnya aku dahulu telah memanjatkan doa (keburukan) yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi, dan sungguh tidak ada yang kupikirkan hari ini melainkan keselamatan diriku sendiri. Akan tetapi, datanglah kalian kepada Ibrahim, sosok yang telah Allah jadikan sebagai kekasih-Nya (Khalilullah)."

فَيَأْتُوْنَ إِبْرَٰهِيْمَ، فَيَقُوْلُوْنَ: اِشْفَعْ لَنَا إِلَىٰ رَبِّكَ لِيَقْضِيَ بَيْنَنَا، فَيَقُوْلُ: لَسْتُ هُنَاكَ، إِنِّيْ قَدْ كَذِبْتُ فِيْ الْإِسْلَامِ ثَلَاثَ كَذِبَاتٍ، وَهِيَ قَوْلُهُۥ: ﴿إِنِّيْ سَقِيْمٌ﴾(١)، هَٰذَا

Maka mereka mendatangi Nabi Ibrahim dan berkata: "Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia memutuskan perkara di antara kita!" Nabi Ibrahim menjawab: "Aku tidak berhak untuk urusan itu, sesungguhnya aku dahulu pernah berbohong dalam Islam sebanyak tiga kali kebohongan (demi siasat da'wah)," yaitu perkataannya: *"Sesungguhnya aku sakit"* (1), ini...

HALAMAN 47

SYARAH

وَقَوْلُهُۥ: ﴿بَلْ فَعَلَهُۥ كَبِيْرُهُمْ هَٰذَا﴾(١)، وَقَوْلُهُۥ لِامْرَأَتِهِۦ: إِنَّهَا أُخْتِيْ، وَلَيْسَ يَهُمُّنِيَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِيْ، وَلَٰكِنِ ائْتُوْا مُوْسَى الَّذِيْ كَلَّمَهُ اللهُ تَكْلِيْمًا فَيَأْتُوْنَ مُوْسَىٰ فَيَقُوْلُ: لَسْتُ هُنَاكَ إِنِّيْ قَتَلْتُ نَفْسًا بِغَيْرِ حَقٍّ لَيْسَ يَهُمُّنِيَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِيْ، وَلَٰكِنِ ائْتُوْا عِيسَىٰ رُوْحَ اللهِ وَكَلِمَتَهُۥ.

...dan perkataannya: *"Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya"* (1), serta perkataannya kepada istrinya (Sayyidah Sarah): "Sesungguhnya dia adalah saudara perempuanku." Dan tidak ada yang kupikirkan hari ini melainkan keselamatan diriku sendiri. Akan tetapi, datanglah kalian menemui Musa, sosok yang Allah ajak bicara secara langsung." Maka mereka mendatangi Nabi Musa, lalu ia berkata: "Aku tidak berhak untuk urusan itu, sesungguhnya aku dahulu pernah membunuh satu jiwa tanpa hak, tidak ada yang kupikirkan hari ini melainkan keselamatan diriku sendiri. Akan tetapi, datanglah kalian menemui Isa, ruh ciptaan Allah dan kalimat-Nya."

فَيَأْتُوْنَهُۥ، فَيَقُوْلُ: إِنِّيِ اتּُخِذْتُ وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللهِ، وَإِنِّيْ لَا يَهُمُّنِيَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِيْ، وَلَٰكِنْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ لِأَحَدِكُمْ بِضَاعَةٌ فَجَعَلَهَا فِيْ كِيْسٍ ثُمَّ خَتَمَ عَلَيْهَا أَكَانَ يُصَلُّ إِلَىٰ مَا فِيْ الْكِيْسِ حَتَّىٰ يُفَضَّ الْخَتْمُ فَيَقُوْلُوْنَ: لَا، فَيَقُوْلُ: إِنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ، وَقَدْ وَافَى الْيَوْمَ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُۥ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِۦ وَمَا تَأَخَّرَ، اِئْتُوْهُ.

Maka mereka mendatangi Nabi Isa, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku dan ibuku dahulu pernah dijadikan sebagai dua tuhan selain Allah oleh manusia, dan sungguh tidak ada yang kupikirkan hari ini melainkan keselamatan diriku sendiri. Namun, bagaimana pendapat kalian sekiranya salah seorang dari kalian memiliki barang berharga lalu memasukkannya ke dalam kantong kantung kemudian menyegelnya? Apakah isi di dalam kantong itu bisa tersentuh sebelum segelnya dibuka?" Mereka menjawab: "Tidak." Nabi Isa berkata: "Sesungguhnya Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi, dan ia telah hadir pada hari ini, serta Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, pergilah kalian kepadanya!"

فَيَأْتُوْنَهُۥ، فَيَقُوْلُ: أَنَا لَهَا، أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ، ثُمَّ يَخِرُّ سَاجِدًا تَحْتَ الْعَرْشِ كَسُجُوْدِ الصَّلَاةِ فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ، اِرْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَيَرْفَعُ رَأْسَهُۥ، يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ.

Maka umat manusia pun berbondong-bondong mendatangi beliau ﷺ, lalu Rasulullah bersabda: "Akulah yang berhak memegang urusan syafaat itu! Umatku, umatku!" Kemudian beliau tersungkur bersujud di bawah Arsy sebagaimana gerakan sujud di dalam shalat. Lalu diserukan kepada beliau: "Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah niscaya dikabulkan, dan berikanlah syafaat niscaya syafaatmu diterima!" Maka beliau mengangkat kepalanya, lalu memberikan syafaat dalam memutuskan perkara hukum (fashlul qadha').

ثُمَّ إِنَّ أَهْلَ الْمَوْقِفِ يَنْصَرِفُوْنَ مِنْ هَٰذَا الْمَوْقِفِ إِلَىٰ الْحِسَابِ، وَلَا يَنَالُ شَيْءٌ مِنْ هَٰذَا الْهَوْلِ الْأَنْبِيَاءَ وَالْأَوْلِيَاءَ وَلَا سَائِرَ الْعُلَمَاءِ، لِقَوْلِهِۦ تَعَالَىٰ: ﴿لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ﴾(٢) فَهُمْ آمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ لَٰكِنَّهُمْ يَخَافُوْنَ خَوْفَ إِجْلَالٍ وَإِعْظَامٍ.

Kemudian setelah itu, seluruh orang di Padang Mahsyar dibubarkan dari tempat tersebut untuk menuju tahap perhitungan amal (hisab). Dan kedahsyatan kiamat (al-haul) ini sedikit pun tidak akan menimpa para nabi, para wali, serta seluruh ulama, berdasarkan firman Allah Ta'ala: *"Mereka tidak disedihkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat)"* (2). Maka mereka berada dalam kondisi aman dari azab Allah, melainkan rasa takut yang mereka rasakan hanyalah bentuk rasa takut yang berlandaskan pengagungan dan pemuliaan (khaufu ijlal).

وَقِيْلَ: إِنَّ الَّذِيْ يَذْهَبُ إِلَىٰ الْأَنْبِيَاءِ لِطَلَبِ الشَّفَاعَةِ رُؤَسَاءُ أَهْلِ الْمَوْقِفِ وَمَا بَيْنَ إِتْيَانِهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَىٰ نَبِيٍّ أَلْفُ عَامٍ، وَقِيْلَ: الَّذِيْ يَسْعَىٰ لِلْأَنْبِيَاءِ فِيْ طَلَبِ الشَّفَاعَةِ...

Dan ada pendapat yang menyatakan: Bahwa sesungguhnya yang pergi menemui para nabi untuk meminta bantuan syafaat itu hanyalah para pemimpin perwakilan dari manusia di Mahsyar, dan jarak rentang waktu perpindahan mereka dari satu nabi ke nabi berikutnya adalah seribu tahun. Pendapat lain menyatakan: Yang berjalan menemui para nabi demi menuntut syafaat...

HALAMAN 48

MATAN

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَّةٌ بِهِۦ ﷺ. وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يَعْرِفَ الرُّسُلَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِيْ الْقُرْآنِ تَفْصِيْلًا، وَأَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجُبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَهُمْ إِجْمَالًا، وَقَدْ نَظَمَ بَعْضُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ الَّذِيْنَ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُمْ تَفْصِيْلًا، فَقَالَ:

Dan jenis syafaat (Syafaat Uzhma) ini adalah kekhususan bagi beliau ﷺ. Dan di antara perkara yang wajib pula adalah mengetahui para rasul yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an secara terperinci (tafshili). Adapun nabi selain mereka, maka wajib baginya untuk mengetahuinya secara garis besar (ijmali). Sungguh, sebagian ulama telah merangkai sebuah nazham syair mengenai nama para nabi yang wajib diketahui secara terperinci tersebut, ia berkata:

SYARAH

...الْعُلَمَاءُ الْعَامِلُوْنَ، وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ تَعُمُّ جَمِيْعَ الْخَلْقِ مِنْ إِنْسٍ وَجِنٍّ وَمُؤْمِنٍ وَكَافِرٍ مِنْ هَٰذِهِ الْأُمَّةِ وَمِنْ غَيْرِهَا.

...adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya ('ulama al-'amilun). Dan syafaat (fashlul qadha') ini mencakup seluruh makhluk, baik dari golongan manusia, jin, mukmin, hingga orang kafir, baik yang termasuk dari umat ini (umat nabi Muhammad) maupun umat yang lain.

وَلِذَٰلِكَ تُسَمَّى الشَّفَاعَةَ الْعُظْمَىٰ، وَهِيَ أَوَّلُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ، أَيِ الَّذِيْ يَحْمَدُهُۥ فِيْهِ الْأَوَّلُوْنَ وَالْآخِرُوْنَ، وَآخِرُهُۥ اسْتِقْرَارُ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْ الْجَنَّةِ وَأَهْلِ النَّارِ فِيْ النَّارِ، وَتَجْتَمِعُ الْأَنْبِيَاءُ حِيْنِئِذٍ تَحْتَ لِوَائِهِۦ ﷺ.

Dan oleh karena keluasan cakupannya itulah, ia dinamakan sebagai Syafaat Uzhma (Syafaat Terbesar). Syafaat ini merupakan awal pembuka kedudukan mulia yang terpuji (Al-Maqam al-Mahmud), yaitu suatu kedudukan yang mana seluruh manusia dari generasi awal hingga akhir memuji beliau ﷺ atasnya. Sedangkan puncaknya adalah ditetapkannya penduduk surga menetap di dalam surga dan penduduk neraka berada di neraka, dan seluruh nabi pada saat itu berkumpul bernaung di bawah panji bendera kepemimpinan beliau ﷺ.

(وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَّةٌ بِهِۦ ﷺ) وَلَهُۥ شَفَاعَاتٌ أُخْرَىٰ، بَلْ وَلِغَيْرِهِۦ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، إِلَّا أَنَّهُۥ ﷺ الَّذِيْ يُفْتَحُ لَهُمْ بَابَ الشَّفَاعَةِ لِأَنَّهُمْ لَا يَتَجَاسَرُوْنَ عَلَى الشَّفَاعَةِ قَبْلَهُۥ لِعِظَمِ الْجَلَالِ يَوْمَئِذٍ.

(Dan jenis syafaat ini adalah kekhususan bagi beliau ﷺ). Beliau ﷺ juga mempunyai bentuk-bentuk syafaat lainnya, bahkan nabi-nabi lain, ulama, serta orang-orang shaleh juga memiliki hak syafaat. Hanya saja, beliau ﷺ lah sosok pertama yang dibukakan pintu gerbang syafaat bagi mereka semuanya, dikarenakan tidak ada satu pun yang berani melangkah mengajukan syafaat mendahului beliau lantaran betapa agungnya kewibawaan Allah pada hari kiamat tersebut.

(وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يَعْرِفَ الرُّسُلَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِيْ الْقُرْآنِ تَفْصِيْلًا) وَيَكْفِيْ فِيْ الْإِيمَانِ بِكُلِّ مِنْهُمْ أَنْ يَكُوْنَ بِحَيْثُ لَوْ سُئِلَ عَنْ رِسَالَتِهِۦ لَاعْتَرَفَ بِهَا، فَلَا يَجِبُ أَنْ يَسْرُدَهُمْ عَنْ حِفْظٍ.

(Dan di antara perkara yang wajib pula adalah mengetahui para rasul yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an secara terperinci). Dan sejatinya sudah mencukupi dalam syarat iman kepada masing-masing nabi tersebut, apabila sekiranya ia ditanya mengenai kerasulan nabi itu niscaya ia membenarkannya. Maka tidak ada kewajiban mutlak bagi dirinya untuk mampu menyebutkan runtunan nama-nama mereka di luar kepala (hafalan cangkem).

وَمَنْ أَنْكَرَ وَاحِدًا مِنْهُمْ بَعْدَ أَنْ عَلِمَهُۥ كَفَرَ بِخِلَافِ مَا لَوْ سُئِلَ عَنْهُ اِبْتِدَاءً، فَقَالَ: لَا أَعْرِفُهُۥ، فَلَا يَكْفُرُ.

Dan barang siapa yang mengingkari eksistensi salah seorang dari nabi-nabi tersebut setelah ia mengetahuinya, maka ia dihukumi kafir. Berbeda halnya apabila ia ditanya tentang nama nabi itu sejak awal mula lalu ia menjawab: "Aku tidak mengetahuinya," maka ia tidak dihukumi kafir.

(وَأَمَّا غَيْرُهُمْ) مِنَ الرُّسُلِ وَالْأَنْبِيَاءِ (فَيَجِبُ عَلَيْهِ) أَيْ كُلِّ مُكَلَّفٍ (أَنْ يَعْرِفَهُمْ) أَيْ غَيْرَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِيْ الْقُرْآنِ (إِجْمَالًا) فَيَجِبُ التَّصْدِيْقُ بِأَنَّ لِلَّهِ رُسُلًا وَأَنْبِيَاءَ عَلَى الْإِجْمَالِ لَا يَعْلَمُ عَدَدَهُمْ إِلَّا اللهُ فَهُمْ غَيْرُ مَحْصُوْرِيْنَ لَنَا (وَقَدْ نَظَمَ بَعْضُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ الَّتِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُمْ تَفْصِيْلًا، فَقَالَ:)

(Adapun nabi selain mereka) dari kalangan utusan dan nabi (maka wajib baginya) yaitu setiap mukalaf (untuk mengetahuinya) maksudnya nabi-nabi yang tidak dicantumkan namanya di dalam Al-Qur'an (secara garis besar). Maka ia wajib membenarkan dalam hati bahwa Allah mutlak memiliki para rasul dan nabi secara global yang tidak ada yang mengetahui jumlah pastinya melainkan Allah, jumlah mereka tidak terbatas bagi pengetahuan kita. (Sungguh, sebagian ulama telah merangkai nazham mengenai nama-nama nabi yang wajib diketahui secara terperinci tersebut, ia berkata:)


HALAMAN 49

MATAN
حَتْمٌ عَلَىٰ كُلِّ ذِيْ التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ بِأَنْبِيَاءَ عَلَىٰ التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُوْا

Wajib atas setiap individu mukalaf untuk mengetahui para nabi secara terperinci,
yang mana mereka benar-benar telah diketahui (berdasarkan dalil).

فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ وَهُمُ

Di dalam ayat *"Tilka Hujjatuna"* terdapat delapan,
belas nabi di antara mereka, dan tersisa tujuh nabi lagi, yaitu mereka:

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا ذُوْ الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا

Idris, Hud, Syu'aib, Shalih, dan demikian pula
Dzul Kifli, Adam, dan dengan Al-Mukhtar (Nabi Muhammad ﷺ) para ulama mengakhiri urutannya.

SYARAH

فَقَوْلُ النَّاظِمِ (حَتْمٌ): خَبَرٌ مُقَدَّمٌ وَ(مَعْرِفَةٌ): مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ. وَقَوْلُهُۥ: (قَدْ عُلِمُوْا فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا)، أَيْ قَدْ عُلِمَ الْأَنْبِيَاءُ الْخَمْسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ فِيْ الْقُرْآنِ، لَٰكِنْ فِيْ سُوْرَةِ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مِنْهُمْ.

Perkataan Mushannif (حَتْمٌ) berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata (مَعْرِفَةٌ) sebagai mubtada' mu'akhkhar. Dan perkataan beliau: (قَدْ عُلِمُوْا فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا) bermakna bahwa dua puluh lima nabi telah diketahui di dalam Al-Qur'an, akan tetapi di dalam Surah Al-An'am hanya disebutkan delapan belas nabi saja dari total keseluruhan mereka.

وَذَٰلِكَ قَوْلُهُۥ تَعَالَىٰ: ﴿وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ * وَوَهَبْنَا لَهُۥ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُوْدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴾(١).

Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta'ala: *"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik"* (1).

فَاللهُ تَعَالَىٰ ذَكَرَ هُنَا ثَمَانِيَةَ عَشَرَ نَبِيًّا مِنْ غَيْرِ تَرْتِيْبٍ لَا بِحَسَبِ الزَّمَانِ وَلَا بِحَسَبِ الْفَضْلِ وَلَٰكِنْ لِنُكْتَةٍ لَطِيْفَةٍ أَوْجَبَتِ التَّرْتِيْبَ هُنَا وَهِيَ أَنَّ اللهَ ذَكَرَ أَوَّلًا نُوْحًا وَإِبْرَٰهِيْمَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوْبَ، لِأَنَّهُمْ أُصُوْلُ الْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ الْمُلْكُ وَالْقُدْرَةُ وَالسُّلْطَانُ وَقَدْ أَعْطَى اللهُ دَاوُوْدَ وَسُلَيْمَانَ مِنْ ذَٰلِكَ حَظًّا وَافِرًا،

Maka Allah Ta'ala menyebutkan delapan belas nabi di sini tanpa susunan urutan kronologis waktu maupun tingkatan keutamaan, melainkan karena adanya kandungan hikmah (nuktah) yang halus yang mengharuskan susunan tersebut di tempat ini. Yaitu bahwasanya Allah pertama-tama menyebutkan Nabi Nuh, Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub karena mereka merupakan tonggak asal-usul para nabi. Kemudian di antara tingkatan mulia yang diakui setelah kenabian adalah kepemilikan kerajaan, kekuatan, dan kekuasaan, dan sungguh Allah telah menganugerahkan bagian yang sangat melimpah mengenai hal itu kepada Nabi Dawud dan Sulaiman.

HALAMAN 50

SYARAH

ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الصَّبْرُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْبَلَاءِ وَالْمِحَنِ وَالشَّدَائِدِ وَقَدْ خَصَّ اللهُ بِهَٰذِهِ أَيُّوْبَ ثُمَّ عُطِفَ عَلَىٰ هَاتَيْنِ الْمَرْتَبَتَيْنِ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا وَهُوَ يُوْسُفَ، فَإِنَّهُۥ صَبَرَ عَلَى الْبَلَاءِ وَالشِّدَّةِ حَتَّىٰ أَعْطَاهُ اللهُ مُلْكَ مِصْرَ مَعَ النُّبُوَّةِ، ثُمَّ مِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيْ فَضْلِ الْأَنْبِيَاءِ كَثْرَةُ الْمُعْجِزَاتِ وَكَثْرَةُ الْبَرَاهِيْنِ، وَقَدْ خَصَّ اللهُ مُوسَىٰ وَهَارُوْنَ مِنْ تِلْكَ بِالْحَظِّ الْوَافِرِ.

Kemudian termasuk tingkatan mulia berikutnya adalah ketabahan/kesabaran tatkala turunnya cobaan, ujian, dan kesengsaraan hidup, yang mana Allah mengkhususkan Nabi Ayyub dalam hal ini. Lalu diathafkan (disambungkan) atas kedua tingkatan ini sosok yang mengumpulkan perpaduan keduanya sekaligus, yaitu Nabi Yusuf; karena sesungguhnya ia sangat bersabar atas cobaan dan penderitaan berat hingga akhirnya Allah menganugerahinya kekuasaan atas negeri Mesir di samping kedudukan kenabian. Kemudian di antara tingkatan mulia yang diakui dalam keutamaan para nabi adalah banyaknya mukjizat serta limpahan bukti-bukti nyata, yang mana Allah mengkhususkan Nabi Musa dan Harun dengan bagian yang melimpah dari hal tersebut.

وَمِنَ الْمَرَٰتِبِ الْمُعْتَبَرَةِ الزُّهْدُ فِيْ الدُّنْيَا، وَقَدْ خَصَّ بِذَٰلِكَ زَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ، ثُمَّ ذَكَرَ اللهُ بَعْدَ هَٰؤُلَاءِ مَنْ لَمْ يَبْقَ لَهُۥ أَتْبَاعٌ وَلَا شَرِيْعَةٌ، وَهُمْ إِسْمَاعِيْلُ وَالْيَسَعُ وَيُوْنُسُ وَلُوْطٌ، فَإِذَا اعْتُبِرَتْ هَٰذِهِ اللَّطِيْفَةُ كَانَ هَٰذَا التَّرْتِيْبُ حَسَنًا وَاللهُ أَعْلَمُ. وَقَوْلُ النَّاظِمِ: وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ، أَيْ وَيَبْقَىٰ مِنَ الْخَمْسَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَعْدَ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَبْعَةٌ، مَذْكُوْرَةٌ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَلِذَٰلِكَ ذَكَرَهُمْ.

Dan di antara tingkatan mulia yang diakui adalah kezuhudan terhadap kemewahan dunia, yang mana dikhususkan dalam hal itu Nabi Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Kemudian Allah menyebutkan setelah mereka para nabi yang tidak menyisakan lagi pengikut maupun syariat khusus (yang eksis bertahan), yaitu Nabi Isma'il, Al-Yasa', Yunus, dan Luth. Maka apabila kandungan hikmah yang halus ini diperhatikan, susunan urutan ini menjadi sangat indah, dan Allah Maha Mengetahui. Dan perkataan Mushannif (وَيَبْقَىٰ سَبْعَةٌ) bermakna: tersisa tujuh nabi lagi dari total dua puluh lima nabi setelah dikurangi delapan belas nabi terdahulu, yang mana nama mereka disebutkan di berbagai tempat yang banyak dalam Al-Qur'an al-'Azhim, dan oleh sebab itulah beliau menyebutkan mereka.

وَقَوْلُهُۥ: بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا، الْجَارُّ وَالْمَجْرُوْرُ مُتَعَلِّقٌ بِالْفِعْلِ مَعَ حَذْفِ الْعَاطِفِ، أَيْ وَقَدْ خَتَمَ الْأَنْبِيَاءَ وَالرُّسُلَ بِالنَّبِيِّ الْمُخْتَارِ عَلَىٰ جَمِيْعِ الْخَلْقِ، وَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ ﷺ.

Dan perkataan beliau: (بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا) susunan jar majrurnya berpaut (muta'alliq) kepada kata kerja dengan membuang huruf athaf, maknanya: Dan sungguh para ulama mengakhiri urutan para nabi dan rasul dengan menyertakan Nabi yang terpilih di atas seluruh makhluk, yaitu junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ.

فَأَفْضَلُ الْمَخْلُوْقَاتِ نَبِيُّنَا، ثُمَّ سَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ، فَسَيِّدُنَا مُوْسَىٰ، فَسَيِّدُنَا عِيسَىٰ، فَسَيِّدُنَا نُوْحٌ، وَهَٰؤُلَاءِ الْخَمْسَةُ هُمْ أُوْلُوْ الْعَزْمِ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الرُّسُلِ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الْأَنْبِيَاءِ غَيْرِ الرُّسُلِ مَعَ تَفَاوُتِ مَرَٰتِبِهِمْ عِنْدَ اللهِ تَعَالَىٰ فَالْوَاجِبُ اعْتِقَادُ أَفْضَلِيَّةِ الْأَفْضَلِ عَلَىٰ وَفْقِ مَا وَرَدَ بِهِ الْحُكْمُ تَفْصِيْلًا فِيْ التَّفْصِيْلِيِّ وَإِجْمَالًا فِيْ الْإِجْمَالِيِّ، وَيَمْتَنِعُ الْهُجُوْمُ فِيْمَا لَمْ يَرِدْ فِيْهِ إِذْنٌ مِنَ الشَّرْعِ.

Maka makhluk yang paling utama secara mutlak adalah Nabi kita (Muhammad ﷺ), kemudian junjungan kita Ibrahim, lalu junjungan kita Musa, lalu junjungan kita Isa, lalu junjungan kita Nuh. Dan kelima sosok ini merupakan rasul Ulul 'Azmi. Kemudian disusul golongan rasul sisanya, lalu tingkatan para nabi yang bukan rasul, disertai adanya perbedaan tingkatan kemuliaan mereka di sisi Allah Ta'ala. Maka hal yang wajib adalah meyakini keutamaan dari sosok yang paling utama sesuai dengan ketetapan hukum yang datang; secara terperinci pada bagian nabi yang tafshili dan secara garis besar pada bagian yang ijmali, serta terlarang keras gegabah menghukumi (al-hujum) pada perkara yang tidak ada landasan izinnya dari syariat.

HALAMAN 51

MATAN

وَمِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُۥ أَيْضًا أَنَّ قَرْنَهُۥ أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ، ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُۥ، ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُۥ.

Dan di antara perkara yang wajib diyakini pula bahwasanya zaman generasi beliau (Sahabat) adalah zaman abad yang paling utama, kemudian abad/generasi yang mengiringinya (Tabi'in), kemudian abad/generasi yang mengiringinya setelah itu (Tabi'ut Tabi'in).


HALAMAN 19 - SYARAH

(وَمِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُۥ أَيْضًا أَنَّ قَرْنَهُۥ ﷺ) (أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ، ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُۥ، ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ)، أَيْ يَجِبُ أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ أَصْحَابَهُۥ ﷺ أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ الْمُتَأَخِّرَةِ وَالْمُتَقَدِّمَةِ مَا عَدَا الْأَنْبِيَاءَ وَالرُّسُلَ لِقَوْلِهِۥ ﷺ: «إِنَّ اللهَ اخْتَارَ أَصْحَٰبِيْ عَلَى الْعَٰلَمِيْنَ سِوَى النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ».

(Dan di antara perkara yang wajib diyakini pula bahwasanya zaman generasi beliau ﷺ) adalah (abad yang paling utama, kemudian abad yang mengiringinya, kemudian abad yang mengiringinya setelah itu). Maksudnya, wajib meyakini bahwa para sahabat beliau ﷺ merupakan generasi paling utama baik dari generasi umat terdahulu maupun yang belakangan, selain dari tingkatan para nabi dan rasul, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah telah memilih para sahabatku di atas seluruh alam semesta, selain para nabi dan para rasul."

وَلَا يَخْفَىٰ تَرْجِيْحُ رُتْبَةِ مَنْ لَازَمَهُۥ ﷺ وَقَاتَلَ مَعَهُۥ وَقُتِلَ تَحْتَ رَايَتِهِۦ عَلَىٰ مَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَٰلِكَ، وَإِنْ كَانَ شَرَفُ الصُّحْبَةِ حَاصِلًا لِلْجَمِيْعِ.

Dan tidak samar lagi keunggulan derajat orang yang senantiasa menyertai beliau ﷺ, berjuang bersamanya, dan gugur di bawah panji benderanya, atas orang yang tidak memiliki andil demikian; walaupun kemuliaan predikat sebagai sahabat tetap diperoleh bagi semuanya.

وَالْقَرْنُ: أَهْلُ زَمَانٍ وَاحِدٍ مُتَقَارِبٍ اشْتَرَكُوْا فِيْ أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْرِ الْمَقْصُوْدَةِ، كَالصُّحْبَةِ، فَإِنَّهُمُ اشْتَرَكُوْا فِيْ الصُّحْبَةِ وَهَٰكَذَا مَنْ بَعْدَهُمْ. ثُمَّ إِنَّ رُتْبَةَ التَّابِعِيْنَ عَلَىٰ رُتْبَةِ الصَّحَابَةِ.

Dan al-qarn (abad/generasi) bermakna: Orang-orang yang hidup pada satu masa yang berdekatan/bersamaan, yang mana mereka berserikat dalam suatu urusan fundamental yang dituju, seperti kebersahabatan (shuhbah); karena sesungguhnya mereka bersama-sama mengalaminya, dan begitupun keadaan generasi setelah mereka. Kemudian sesungguhnya tingkatan para Tabi'in berada langsung (di bawah) tingkatan para Sahabat.

وَالتَّابِعِيُّ: مَنِ اجْتَمَعَ بِالصَّحَابِيِّ اجْتِمَاعًا مُتَعَارَفًا، وَلَا يُشْتَرَطُ فِيْهِ طُوْلُ الِاجْتِمَاعِ كَمَا فِيْ الصَّحَابِيِّ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَلَا يُشْتَرَطُ التَّمْيِيْزُ فِيْ التَّابِعِيِّ، كَمَا لَا يُشْتَرَطُ فِيْ الصَّحَابِيِّ.

Dan Tabi'i adalah: Orang yang bertemu dengan Sahabat dalam suatu perjumpaan yang sewajarnya diakui, dan tidak dipersyaratkan lamanya durasi perjumpaan sebagaimana syarat Sahabat saat bersama Nabi ﷺ. Serta tidak pula dipersyaratkan batas tamyiz pada seorang Tabi'i ketika perjumpaan itu terjadi, sebagaimana hal tersebut juga tidak dipersyaratkan dalam definisi Sahabat.

وَأَفْضَلُ التَّابِعِيْنَ أُوَيْسُ الْقَرَنِيُّ، كَمَا أَنَّ أَفْضَلَ التَّابِعَاتِ حَفْصَةُ بِنْتُ سِيرِينَ، عَلَىٰ خِلَافٍ فِيْ الْمَسْأَلَةِ. ثُمَّ إِنَّ رُتْبَةَ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ تَلِيْ رُتْبَةَ التَّابِعِيْنَ مِنْ غَيْرِ تَرَاخٍ كَبِيْرٍ.

Dan Tabi'in yang paling utama adalah Uwais al-Qarani, sebagaimana Tabi'at (Tabi'in wanita) yang paling utama adalah Hafshah binti Sirin, meskipun terdapat perbedaan pendapat ulama di dalam masalah ini. Kemudian sesungguhnya tingkatan Tabi'ut Tabi'in (pengikut Tabi'in) mengiringi langsung tingkatan para Tabi'in tanpa jeda waktu pemisah yang lama.

وَالْأَصْلُ فِيْ ذَٰلِكَ قَوْلُهُۥ ﷺ: «خَيْرُ أُمَّتِيْ الْقَرْنُ الَّذِيْنَ يَلُوْنَنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ»، وَظَاهِرُهُۥ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ سَوَاءٌ فِيْ الْفَضِيْلَةِ كَمَا وَرَدَ

Dan dalil dasar mengenai hal tersebut adalah sabda Nabi ﷺ: *"Sebaik-baik umatku adalah generasi yang hidup bersamaku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka."* Dan makna lahiriah hadits ini menunjukkan bahwa masa setelah tiga generasi utama tersebut dihukumi setara dalam nilai keutamaannya, sebagaimana keterangan yang datang...


HALAMAN 52

SYARAH

فِيْ الْحَدِيْثِ: «مَثَلُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ الْمَطَرِ، لَا يُدْرَىٰ أَوَّلُهُۥ خَيْرٌ أَوْ آخِرُهُۥ». وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرُ الْأُمَمِ أَجْمَعِيْنَ، وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ الْقَرْنِ الَّذِيْنَ شَاهَدُوْهُ وَآمَنُوْا بِهِۦ، وَصَدَّقُوْوهُ وَبَايَعُوْهُ وَتَابَعُوْهُ وَقَاتَلُوْا بَيْنَ يَدَيْهِ وَفَدَوْهُ بِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ.

Di dalam hadits disebutkan: *"Permisalan umatku ini bagaikan air hujan, tidak diketahui apakah yang pertamanya yang lebih baik ataukah yang terakhirnya."* Dan ikhtiar keyakinan Ahlussunnah memantapkan bahwa umat Muhammad ﷺ adalah umat yang terbaik di antara seluruh umat manusia, dan yang paling utama di antara mereka adalah generasi abad yang menyaksikan beliau secara langsung serta beriman kepadanya, membenarkannya, membaiatnya, mengikutinya, berjuang di hadapannya, dan menebus keselamatan beliau dengan jiwa maupun harta benda mereka, serta memuliakan dan menolongnya.

وَأَفْضَلُ هٰذَا الْقَرْنِ أَهْلُ الْحُدَيْبِيَةِ الَّذِيْنَ بَايَعُوْهُ بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ فَهُمْ أَلْفٌ وَأَرْبَعُمِائَةِ رَجُلٍ، وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ أُحُدٍ وَهُمْ سَبْعُمِائَةٍ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ بَدْرٍ، وَهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا، وَأَفْضَلُهُمْ الْأَرْبَعُوْنَ أَهْلُ دَارِ الْخَيْزُرَانِ، وَأَفْضَلُهُمُ الْعَشَرَةُ الَّذِيْنَ شَهِدَ لَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ بِالْجَنَّةِ وَهُمْ: أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدٌ وَسَعِيْدٌ وَأَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ.

Dan yang paling utama dari generasi sahabat ini adalah Ahlu Hudaibiyah yang mengikrarkan baiat kepada beliau dalam peristiwa Baiatur Ridhlwan, yang mana jumlah mereka sebanyak seribu empat ratus orang laki-laki; dan yang paling utama dari mereka adalah Ahlu Uhud yaitu sebanyak tujuh ratus orang dari kalangan mukminin; dan yang paling utama dari mereka adalah Ahlu Badr yaitu sebanyak tiga ratus tiga belas orang laki-laki; dan yang paling utama dari mereka adalah empat puluh orang pertama yang berada di Darul Khaizuran; dan yang paling utama dari sekalian mereka adalah sepuluh orang (al-Asyarah al-Mubasysyaruna bil Jannah) yang dipersaksikan oleh Nabi ﷺ sebagai penghuni surga, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad, Said, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

وَأَفْضَلُ هٰؤُلَاءِ الْعَشَرَةِ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُوْنَ الْأَرْبَعَةُ الْأَخْيَارُ، وَأَفْضَلُهُمْ عَلَىٰ حَسَبِ تَرْتِيْبِهِمْ فِيْ الْخِلَافَةِ وَهِيَ النِّيَابَةُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِيْ عُمُوْمِ مَصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، فَأَفْضَلُهُمْ أَبُوْ بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ، وَلِهٰؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةِ فِيْ مُدَّةِ الْخِلَافَةِ ثَلَاثُوْنَ سَنَةً، كَمَا قَالَ ﷺ: «الْخِلَافَةُ بَعْدِيْ ثَلَاثُوْنَ ثُمَّ تَصِيْرُ مُلْكًا عَضُوْضًا» أَيْ ذَا عَضٍّ وَتَضْيِيْقٍ، لِأَنَّ الْمُلُوْكَ يَضُرُّوْنَ بِالرَّعِيَّةِ، حَتَّىٰ كَأَنَّهُمْ يَعَضُّوْنَ عَضًّا.

Dan yang paling utama di antara sepuluh orang pilihan tersebut adalah Khulafaur Rasyidin yang empat yang merupakan manusia-manusia terbaik, dan keutamaan mereka didasarkan atas urutan masa kekhalifahan mereka—yang mana khilafah itu bermakna perwakilan (deputi) dari Nabi ﷺ dalam mengurusi kemaslahatan umum kaum mukminin. Maka yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, lalu Ali. Dan bagi keempat tokoh ini, masa total kedudukan kekhalifahan mereka berlangsung selama tiga puluh tahun, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: *"Kekhalifahan setelahku masanya tiga puluh tahun, kemudian setelah itu akan berubah menjadi kerajaan yang menggigit (mulkan 'adhudhan)"*, maksudnya kerajaan yang sarat dengan pemaksaan dan kesewenang-wenangan, karena para raja bertindak menindas rakyatnya seolah-olah mereka menggigit dengan gigitan yang keras.

فَالْمُرَادُ أَنَّهُۥ ذُوْ تَضْيِيْقٍ وَمَشَقَّةٍ عَلَى الرَّعِيَّةِ، فَتَوَلَّى الْخِلَافَةَ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ أَبُوْ بَكْرٍ ؓ سَنَتَيْنِ وَثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ وَعَشَرَةَ أَيَّامٍ، وَتَوَلَّاهَا عُمَرُ ؓ عَشْرًا، وَتَوَلَّاهَا عُثْمَانُ ؓ

Maka maksudnya adalah kekuasaan yang mendatangkan kesempitan hidup dan beban berat atas rakyatnya. Adapun yang memangku jabatan khilafah setelah wafatnya Nabi ﷺ adalah Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu selama dua tahun, tiga bulan, sepuluh hari; kemudian kepemimpinan dipegang oleh Umar Radhiallahu 'Anhu selama sepuluh tahun, lalu diemban oleh Utsman Radhiallahu 'Anhu...

HALAMAN 53

MATAN

وَيَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلَادَهُۥ ﷺ، وَهُمْ سَبْعَةٌ عَلَى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ، وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ،

Dan seyogianya bagi setiap insan untuk mengetahui putra-putri beliau ﷺ, yang mana jumlah mereka ada tujuh orang menurut pendapat yang sahih; yaitu junjungan kita al-Qasim, dan junjungan kita Zainab,


SYARAH

ؓ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ، وَتَوَلَّاهَا عَلِيٌّ ؓ سِتًّا، وَقِيْلَ: لَمْ تَكْمُلِ الْمُدَّةُ الَّتِيْ قَدَّرَهَا النَّبِيُّ ﷺ إِلَّا بِخِلَافَةِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ ؓ.

Radhiallahu 'Anhu selama dua belas tahun, dan dipimpin oleh Ali Radhiallahu 'Anhu selama enam tahun. Dan dikatakan pula: Bahwasanya rentang waktu masa khilafah yang telah ditetapkan takarannya oleh Nabi ﷺ tersebut tidak genap (sempurna 30 tahun) melainkan barulah lengkap setelah digabungkan dengan masa kekhalifahan al-Hasan bin Ali Radhiallahu 'Anhuma.

ثُمَّ تَوَلَّاهَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِيْ سُفْيَانَ تِسْعَ عَشْرَةَ سَنَةً وَقَالَ مُعَاوِيَةُ: أَنَا أَوَّلُ الْمُلُوْكِ، وَخِلَافَتُهُۥ صَحِيْحَةٌ بَعْدَ مَوْتِ عَلِيٍّ ؓ، وَبَعْدَ خَلْعِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ نَفْسَهُۥ عَنِ الْخِلَافَةِ وَتَسْلِيْمِهَا إِلَىٰ مُعَاوِيَةَ وَخِلَافَتُهُۥ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُۥ قَالَ: «تَدُوْرُ رَحَى الْإِسْلَامِ خَمْسًا وَثَلَاثِيْنَ سَنَةً أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِيْنَ أَوْ سَبْعًا وَثَلَاثِيْنَ».

Kemudian kepemimpinan dipegang oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan selama sembilan belas tahun, dan Mu'awiyah berkata: *"Aku adalah raja yang pertama"*, dan masa kekuasaannya dinilai sah setelah wafatnya Ali Radhiallahu 'Anhu serta setelah al-Hasan bin Ali melepaskan kedudukan dirinya sendiri dari jabatan khilafah untuk kemudian menyerahkan urusannya kepada Mu'awiyah. Keabsahan kekuasaannya ini diisyaratkan pula dalam sabda Nabi ﷺ, yaitu berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: *"Poros kejayaan Islam akan terus berputar kokoh selama tiga puluh lima tahun, atau tiga puluh enam tahun, atau tiga puluh tujuh tahun."*

وَالْمُرَادُ بِالرَّحَىٰ فِيْ الْحَدِيْثِ الْقُوَّةُ فِيْ الدِّيْنِ وَالْخَمْسُ وَالْخَمْسُوْنَ سِنِيْنَ الْفَاضِلَةَ مِنَ الثَّلَاثِيْنَ، فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ إِلَىٰ تَمَامِ تِسْعَ عَشْرَةَ سَنَةً وَشُهُوْرٍ، لِأَنَّ الثَّلَاثِيْنَ كَمُلَتْ بِعَلِيٍّ ؓ.

Dan yang dimaksud dengan kata ar-raha (poros/gilingan) di dalam hadits tersebut adalah kekuatan kejayaan di dalam urusan agama. Adapun bilangan tahun yang utama tersebut merupakan kelanjutan dari masa tiga puluh tahun, yang mana masa itu masuk ke dalam jajaran kurun kepemimpinan Mu'awiyah hingga genap masa sembilan belas tahun lewat beberapa bulan, hal ini karena masa murni tiga puluh tahun khilafah rasyidah telah disempurnakan oleh masa Sayyidina Ali Radhiallahu 'Anhu.

(وَيَنْبَغِيْ) أَيْ يَطْلُبُ (لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلَادَهُۥ ﷺ) عِدَّةً وَتَرْتِيْبًا فِيْ الْوِلَادَةِ لِأَنَّهُۥ يَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ سَادَاتِ الْأُمَّةِ (وَهُمْ) أَيْ الْأَوْلَادُ (سَبْعَةٌ)، ثَلَاثَةُ ذُكُوْرٍ وَأَرْبَعَةُ إِنَاثٍ (عَلَى الصَّحِيْحِ) وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ النَّسَبِ وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: هُوَ الْأَثْبَتُ (سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ) وَكَانَ ﷺ مُشْتَهِرًا بِأَبِي الْقَاسِمِ، لِأَنَّهُۥ أَوَّلُ أَوْلَادِهِۥ.

(Dan seyogianya) artinya dituntut (bagi setiap insan untuk mengetahui putra-putri beliau ﷺ) baik dari segi jumlah bilangan maupun urutan kelahiran mereka, karena sudah sepantasnya bagi seseorang untuk mengenali para junjungan mulia umat ini. (Dan mereka) yakni putra-putri beliau (ada tujuh orang), tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan (menurut pendapat yang sahih) dan ini merupakan pendapat mayoritas pakar ahli nasab, serta Imam ad-Daraquthni menyatakan: Pendapat inilah yang paling kuat. (Yaitu junjungan kita al-Qasim) dan adalah Nabi ﷺ sangat masyhur dikenal dengan kunyah Abu al-Qasim, dikarenakan al-Qasim merupakan putra pertama beliau.

وَقَدْ نَصَّ الْعُلَمَاءُ عَلَىٰ أَنَّهُۥ يَحْرُمُ عَلَىٰ غَيْرِهِۥ ﷺ التَّكَنِّيْ بِذٰلِكَ سَوَاءٌ مُدَّةَ حَيَاتِهِۦ وَبَعْدَهَا عَلَى الصَّحِيْحِ، وَقَدْ عَاشَ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا (وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ) فَهِيَ بَعْدَ الْقَاسِمِ فِيْ الْوِلَادَةِ، أَدْرَكَتِ الْإِسْلَامَ وَهَاجَرَتْ وَهِيَ أَكْبَرُ بَنَاتِهِۦ.

Dan sungguh para ulama telah menegaskan hukum bahwasanya haram bagi orang selain beliau ﷺ untuk menggunakan nama kunyah tersebut, baik sewaktu beliau masih hidup maupun setelah wafatnya menurut pendapat yang sahih. Dan junjungan kita al-Qasim sempat hidup selama tujuh belas bulan. (Dan junjungan kita Zainab) maka ia dilahirkan setelah al-Qasim, ia menjumpai masa Islam dan turut berhijrah, serta ia merupakan putri beliau yang tertua.

HALAMAN 54

MATAN

وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ، وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ، وَسَيِّدَتُنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ، وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ، وَسَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ،

Dan junjungan kita Ruqayyah, junjungan kita Fathimah, junjungan kita Ummu Kultsum, junjungan kita Abdullah—yang diberi gelar ath-Thayyib (yang baik) dan ath-Thahir (yang suci)—serta junjungan kita Ibrahim.

عَلَى الْأَصَحِّ (وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ) كَانَتْ ذَاتَ جَمَالٍ، وَمَاتَتْ وَالنَّبِيُّ ﷺ فِيْ بَدْرٍ، وَلَمَّا عُزِّيَ بِهَا قَالَ: «الْحَمْدُ لِلهِ دَفْنُ الْبَنَاتِ مِنَ الْمَكْرُمَاتِ».

Berdasarkan pendapat yang paling sahih. (Dan junjungan kita Ruqayyah) adalah seorang wanita yang memiliki paras sangat elok nan cantik, ia wafat tatkala Nabi ﷺ sedang berada di perang Badar, dan tatkala beliau disampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya, beliau bersabda: *"Segala puji bagi Allah, memakamkan anak-anak perempuan termasuk dari bagian menjaga kehormatan."*

(وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ) وَسُمِّيَتْ فَاطِمَةَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ قَدْ فَطَمَهَا وَذُرِّيَّتَهَا عَنِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَكَانَتْ أَحَبَّ أَهْلِهِۦ إِلَيْهِ ﷺ، وَكَانَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا يَكُوْنُ آخِرُ عَهْدِهِ بِهَا، وَإِذَا قَدِمَ كَانَتْ أَوَّلَ مَا يَدْخُلُ عَلَيْهَا، وَلَمْ يَكُنْ لَهُۥ ﷺ عَقِبٌ إِلَّا مِنْهَا، فَانْتَشَرَ نَسْلُهُۥ مِنْهَا مِنْ جِهَةِ السِّبْطَيْنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ ؓ.

(Dan junjungan kita Fathimah) dinamakan Fathimah (yang disapih/dilepaskan) karena Allah Ta'ala telah melepaskan dirinya serta keturunannya dari siksa api neraka kelak di hari kiamat. Ia merupakan anggota keluarga yang paling dicintai oleh beliau ﷺ. Adalah kebiasaan beliau apabila hendak melakukan perjalanan jauh (safar), maka Fathimah menjadi orang paling terakhir yang beliau temui, dan apabila beliau baru kembali pulang, ia pulalah yang paling pertama beliau datangi. Dan tidak ada bagi Nabi ﷺ garis keturunan yang tersisa melainkan terlahir melaluinya, maka tersebarlah anak cucu keturunan beliau darinya melalui jalur kedua cucu laki-laki beliau, yaitu al-Hasan dan al-Husain Radhiallahu 'Anhuma.

(وَسَيِّدَتُـنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ) إِنَّمَا تُعْرَفُ بِهٰذِهِ الْكُنْيَةِ فَلَا يُعْرَفُ لَهَا اسْمٌ، وَمَاتَتْ سَنَةَ تِسْعٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَرُوِيَ أَنَّهُۥ ﷺ جَلَسَ عَلَى الْقَبْرِ وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ وَقَالَ: «هَلْ فِيْكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ يُجَامِعِ اللَّيْلَةَ»، فَقَالَ أَبُوْ طَلْحَةَ: أَنَا، فَقَالَ: «اِنْزِلْ قَبْرَهَا»، فَنَزَلَ.

(Dan junjungan kita Ummu Kultsum) sesungguhnya ia hanya dikenal dengan nama kunyah ini saja dan tidak diketahui nama aslinya secara pasti. Ia wafat pada tahun ke-9 Hijriah, dan diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ duduk di atas kuburnya dalam keadaan kedua mata beliau meneteskan air mata, lalu beliau bersabda: *"Apakah ada di antara kalian seseorang yang tidak menggauli istrinya semalam?"* Maka Abu Thalhah menjawab: *"Saya."* Beliau bersabda: *"Turunlah ke dalam kuburnya"*, maka ia pun turun memakamkannya.

(وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ) وَقِيْلَ: هُمَا اِسْمَانِ لِشَخْصَيْنِ بِإِسْقَاطِ عَبْدِ اللهِ، فَجُمْلَةُ أَوْلَادِهِۥ ثَمَانِيَةٌ، وَقِيْلَ: كَذٰلِكَ مَعَ زِيَادَةِ عَبْدِ اللهِ فَهُمْ تِسْعَةٌ.

(Dan junjungan kita Abdullah yang diberi gelar ath-Thayyib dan ath-Thahir) dan dikatakan pula: Keduanya (ath-Thayyib dan ath-Thahir) adalah nama bagi dua orang yang berbeda dengan menggugurkan nama Abdullah, sehingga jumlah total putra-putri beliau menjadi delapan orang. Dan dikatakan pula: Demikian halnya disertai tambahan nama Abdullah sehingga jumlah mereka menjadi sembilan orang.

(وَسَيِّدُنَا إِبْرَٰهِيْمُ) رُوِيَ أَنَّهُۥ ﷺ قَالَ لَيْلَةَ وِلَادَتِهِۦ: «وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلَامٌ سَمَّيْتُهُۥ بِاسْمِ أَبِيْ إِبْرَٰهِيْمَ»، وَمِنْ ذٰلِكَ يُؤْخَذُ مَشْرُوْعِيَّةُ التَّسْمِيَةِ مِنْ حِيْنِ الْوِلَادَةِ، وَأَمَّا حَدِيْثُ الْأَمْرِ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُوْدِ يَوْمَ السَّابِعِ فَالْمَقْصُوْدُ مِنْهَا أَنْ لَا تُؤَخَّرَ عَنْهُ، لِأَنْهَا لَا تَكُوْنُ إِلَّا فِيْهِ، بَلْ هِيَ مَشْرُوْعَةٌ مِنْ حِيْنِ الْوِلَادَةِ إِلَيْهِ، وَعَاشَ سَبْعِيْنَ يَوْمًا.

(Dan junjungan kita Ibrahim) diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda pada malam kelahirannya: *"Telah lahir bagiku malam ini seorang anak laki-laki yang aku beri nama dengan nama bapakku, Ibrahim."* Dan dari hadits ini dapat diambil kesimpulan hukum mengenai syariat pemberian nama langsung sejak waktu kelahiran. Adapun hadits mengenai perintah memberi nama bayi pada hari ketujuh, maka maksud darinya adalah agar pemberian nama tidak ditunda melampaui hari tersebut, bukan berarti tidak boleh dilakukan kecuali pada hari ketujuh saja; melainkan pemberian nama disyariatkan kapan saja terhitung sejak waktu kelahiran sampai hari ketujuh tersebut. Dan ia sempat hidup selama tujuh puluh hari.


HALAMAN 55

MATAN

وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَىٰ، إِلَّا سَيِّدَنَا إِبْرَٰهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ.

Dan seluruh putra-putri beliau berasal dari junjungan kita Khadijah al-Kubra, kecuali junjungan kita Ibrahim, maka ia berasal dari (rahim) Mariyah al-Qibthiyyah.


SYARAH

(وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَىٰ) وَهِيَ أَوَّلُ اِمْرَأَةٍ تَزَوَّجَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ﷺ، وَلَمْ يَتَزَوَّجْ غَيْرَهَا حَتَّىٰ مَاتَتْ، وَهِيَ أَفْضَلُ نِسَائِهِۦ ﷺ، كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ:

فُضْلَى النِّسَاءِ بِنْتُ عِمْرَانَ فَفَاطِمَةُ خَدِيْجَةٌ ثُمَّ مَنْ قَدْ بَرَّأَ اللهُ

(Dan seluruh putra-putri beliau berasal dari junjungan kita Khadijah al-Kubra) ia merupakan wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak menduakan cintanya dengan menikahi wanita lain hingga Khadijah wafat. Ia pun merupakan istri beliau yang paling utama ﷺ, sebagaimana digubah oleh sebagian ulama dalam bait ber-bahar Basit: *"Wanita paling utama di jagat raya adalah (Maryam) binti 'Imran, kemudian Fathimah, lalu Khadijah, kemudian sosok wanita yang kesuciannya telah dibersihkan secara langsung oleh Allah (Sayyidah 'Aisyah)."*

(إِلَّا إِبْرَٰهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ) كَانَتْ سُرِّيَّةً لَهُۥ ﷺ أَهْدَاهَا لَهُ الْمُقَوْقِسُ الْقِبْطِيُّ، وَأَهْدَىٰ مَعَهَا أُخْتَهَا سِيْرِيْنَ وَخَصِيًّا، يُقَالُ لَهُۥ: مَابُوْرُ وَأَلْفَ مِثْقَالٍ مِنْ ذَهَبٍ وَعِشْرِيْنَ ثَوْبًا لَيِّنًا وَبَغْلَةً شَهْبَاءَ، وَهِيَ دُلْدُلُ وَحِمَارًا أَشْهَبَ، وَهُوَ عَفِيْرٌ، وَيُقَالُ لَهُۥ: يَعْفُوْرُ.

(Kecuali Ibrahim, maka ia berasal dari Mariyah al-Qibthiyyah) ia dahulu merupakan seorang suriah (hamba sahaya wanita) milik Nabi ﷺ yang dihadiahkan kepada beliau oleh raja Al-Muqauqis dari Mesir (Bangsa Qibthi). Bersamanya dihadiahkan pula saudaranya yang bernama Sirin, seorang kasim (pelayan pengebiri) yang dijuluki Mabur, seribu mitsqal emas, dua puluh helai pakaian berbahan halus, seekor bighal (peranakan kuda dan keledai) putih kelabu bernama Duldul, serta seekor keledai putih abu-abu bernama 'Afir, yang mana dinamakan pula Ya'fur.

وَعَسَلًا مِنْ عَسَلِ بَنْهَا، فَأَعْجَبَ الْعَسَلُ النَّبِيَّ ﷺ وَدَعَا فِيْ عَسَلِ بَنْهَا بِالْبَرَكَةِ، وَكَانَتْ سَرَارِيْهِ ﷺ أَرْبَعَةً، وَقَدْ نَظَمَ بَعْضُهُمْ أَوْلَادَهُۥ ﷺ عَلَىٰ تَرْتِيْبِ الْوِلَادَةِ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيْلِ فَقَالَ:

وَأَوَّلُ أَوْلَادِ النَّبِيِّ قَاسِمٌ الرِّضَىٰ بِكُنْيَتِهِ الْمُخْتَارُ فَافْهَمْ وَحَصِّلَا
وَزَيْنَبُ تَتْلُوْهُۥ رُقَيَّةٌ بَعْدَهَا وَفَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ جَاءَتْ عَلَى الْوِلَا
كَذَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ تَعُدُّ بَعْدَهَا فِيْ الْإِسْلَامِ عَبْدُ اللهِ جَاءَ مُكَمِّلَا
وَكُلُّهُمُ كَانُوْا لَهُۥ مِنْ خَدِيْجَةٍ وَقَدْ جَاءَ إِبْرَٰهِيْمُ فِيْ طَيْبَةَ تَلَا
مِنَ الْمَرْأَةِ الْحَسْنَاءِ مَارِيَةَ فَقُلْ عَلَيْهِمْ سَلَامُ اللهِ مِسْكًا وَمَنْدَلَا

Serta madu asli dari daerah Banha, yang mana madu tersebut membuat Nabi ﷺ terkagum-kagum (menyukainya) hingga beliau mendoakan keberkahan khusus bagi madu asal daerah Banha tersebut. Dan adapun jumlah hamba sahaya wanita (sarari) milik Nabi ﷺ ada empat orang. Sungguh sebagian ulama telah merangkai nama putra-putri beliau ﷺ ke dalam untaian bait syair berdasarkan kronologi urutan kelahirannya menggunakan bahar Thawil, ia bersenandung:
* Dan permulaan putra Nabi adalah al-Qasim yang diridhai,
dengannya nama kunyah Al-Mukhtar (Nabi) disandarkan, maka pahamilah dan kuasailah*
* Dan Zainab lahir mengiringinya, disusul Ruqayyah setelahnya,
lalu Fathimah az-Zahra datang secara berurutan berikutnya.*
* Demikian pula Ummu Kultsum dihitung setelahnya
kemudian di masa Islam lahirlah Abdullah sebagai penyempurna (putra dari Khadijah).*
* Dan mereka seluruhnya terlahir bagi beliau dari rahim Khadijah,
sedangkan Ibrahim datang menyusul kemudian di Madinah (Thaibah).*
* Lahir dari seorang wanita yang rupawan nan elok, Mariyah al-Qibthiyyah; maka ucapkanlah:
Atas mereka semburat salam keselamatan dari Allah yang sewangi kesturi dan kayu gaharu terbaik.*

HALAMAN 56

MATAN

وَهٰذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِۦ وَكَرَمِهِۦ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ وَسَلَّمَ.

Dan inilah batas akhir dari apa yang dimudahkan oleh Allah berkat karunia serta kemurahan-Nya. Segala puji sejatinya milik Allah Tuhan semesta alam, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurah atas junjungan kita Muhammad, beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.

SYARAH

(وَهٰذَا) أَيْ قَوْلُهُۥ: وَيَنْبَغِيْ أَنْ يَعْرِفَ، أَوْ قَوْلُهُۥ: خَاتِمَةٌ إِلَى الْآخِرِ (آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِۦ وَكَرَمِهِۦ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ) أَتَى بِالْحَمْدَلَةِ اِقْتِدَاءً بِأَهْلِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ آخِرُ دُعَائِهِمْ، (وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِۦ وَصَحْبِهِۦ وَسَلَّمَ)، إِنَّمَا عَبَّرَ بِالْمَاضِيْ إِشَارَةً إِلَىٰ تَحَقُّقِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ الْمَطْلُوْبَيْنِ وَلَا بُدَّ.

(Dan ini) merujuk pada perkataan beliau: "Dan seyogianya ia mengetahui", atau perkataan beliau perkataan: "Sebagai penutup (khatimah) hingga akhir teks". (Merupakan batas akhir dari apa yang dimudahkan oleh Allah berkat karunia serta kemurahan-Nya. Segala puji sejatinya milik Allah Tuhan semesta alam) Pengarang mendatangkan kalimat tahmid (al-hamdulillah) karena mengikut perbuatan para penghuni surga, sebab sesungguhnya kalimat tersebut merupakan penutup dari untaian doa-doa mereka. (Dan semoga selawat serta salam tercurah atas junjungan kita Muhammad beserta segenap keluarga dan para sahabatnya) Pengarang sengaja mengekspresikannya dengan kata kerja bentuk lampau (fi'il madhi: *shalla* dan *sallama*) sebagai bentuk isyarat optimisme akan terwujud dan dikabulkannya permohonan selawat serta salam yang dituntut tersebut secara pasti.

وَهٰذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَىٰ عَلَى الرَّسَالَةِ اللَّطِيْفَةِ الَّتِيْ لِقَاصِدِهَا خَفِيْفَةٌ وَلِمُتَعَلِّمِهَا نَافِعَةٌ، وَاللهَ أَسْأَلُ وَبِنَبِيِّهِۦ أَتَوَسَّلُ أَنْ يَجْعَلَ هٰذِهِ الْكِتَابَةَ خَالِصَةً لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَأَنْ يَنْفَعَ بِهَا النَّفْعَ الْعَمِيْمَ، وَالْمَرْجُوُّ مِمَّنْ أَطَّلَعَ عَلَيْهَا أَنْ يَدْعُوَ لِيْ بِالْغُفْرَانِ لِلذُّنُوْبِ وَالْعِصْيَانِ مِنَ الْمَوْلَى الرَّؤُوْفِ الرَّحْمٰنِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَٰلَمِيْنَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Dan inilah batas akhir apa yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala atas penjelasan kitab risalah yang ringkas nan lembut ini, yang mana risalah ini terasa ringan bagi orang yang menujunya serta mendatangkan manfaat besar bagi orang yang mempelajarinya. Dan hanya kepada Allah semata aku memohon, serta dengan perantaraan kedudukan Nabi-Nya aku bertawasul, agar Dia menjadikan goresan karya tulis ini tulus ikhlas semata-mata demi mengharap keridaan Zat-Nya Yang Maha Mulia, serta menjadikannya bermanfaat dengan kemanfaatan yang merata secara luas. Dan hal yang sangat diharapkan dari siapa saja yang menelaah kitab ini adalah sudi kiranya mendoakan bagiku agar beroleh ampunan atas segala dosa dan kemaksiatan dari Allah Sang Pelindung Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan selawat teriring salam semoga terlimpah atas pemimpin keturunan Adnan (Nabi Muhammad) di setiap waktu dan kesempatan, dan segala puji milik Allah Tuhan semesta alam, serta tiada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung.

قَالَ الْمُؤَلِّفُ: وَكَانَ الْفَرَاغُ مِنْ جَمْعِهَا فِيْ الْيَوْمِ السَّابِعِ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ الْمُبَارَكِ مِنْ شُهُوْرِ سَنَةِ ١٢٩٧ مِنَ الْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ عَلَىٰ صَاحِبِهَا أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّحِيَّةِ وَاللهُ أَعْلَمُ.

Mushannif (Syekh Ahmad al-Marzuki) berkata: Dan adalah waktu selesainya proses penghimpunan kitab ini bertumpu pada hari yang ketujuh dari bulan Rabiul Awwal yang penuh keberkahan, di antara jajaran bulan pada tahun 1297 dari peristiwa Hijrah Nabi—semoga tercurah atas baginda rujukan hijrah tersebut selawat paling utama serta salam penghormatan paling sempurna, dan Allah Maha Mengetahui.


HALAMAN 57

BUKU YANG TELAH TERBIT

الْكُتُبُ الَّتِيْ صَدَرَتْ مِنَ الْمَكْتَبَةِ الْهَاشِمِيَّةِ أَخِيْرًا

Kitab-kitab yang telah diterbitkan oleh Penerbit Al-Maktabah Al-Hasyimiyyah baru-baru ini:

١. شَرْحُ التَّفْتَازَانِيِّ عَلَىٰ تَصْرِيْفِ الزَّنْجَانِيِّ مَعَ شَرْحِهِ الْمَعْرُوْفِ بِتَدْرِيْجِ الْأَدَانِيْ فِيْ التَّصْرِيْفِ،

1. Penjelasan At-Taftazani atas Kaidah Perubahan Kata Az-Zanjani yang disertai dengan penjelasannya yang masyhur berjuluk Bimbingan Bertahap bagi Pemula dalam Ilmu Sharaf.

٢. الْجَوَاهِرُ النَّفِيْضَةُ عَلَىٰ عِصَامِ الْفَرِيْدَةِ فِيْ الْبَيَانِ لِلْفَاضِلِ صِبْغَةِ اللهِ التَّلْوِيِّ الْمَدْيَادِيِّ،

2. Permata-Permata yang Terhampar Luas di atas Untaian Sendiri yang Kokoh dalam Ilmu Bayan, karya Ulama yang Utama: Sibghatullah at-Talwi al-Madyadi.

٣. مُغْنِي الطُّلَّابِ شَرْحُ إِيْسَاغُوْجِيْ مَعَ تَقْرِيْرَاتِ الْمُحَقِّقِ شَوْكَتْ أَفَنْدِيْ فِيْ الْمَنْطِقِ،

3. Pencukup Kebutuhan Para Penuntut Ilmu: Penjelasan Kitab Pengantar Logika yang disertai catatan-catatan kritis dari Peneliti Utama Syaukat Afandi dalam Ilmu Logika (Manthik).

٤. الظُّرُوْفُ وَالتَّرْكِيْبُ بِاللُّغَةِ الْكُرْدِيَّةِ مَعَ حَاشِيَتِهِمَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فِيْ النَّحْوِ،

4. Wadah Keterangan Tempat-Waktu dan Struktur Susunan Kalimat dalam Bahasa Kurdi beserta catatan pinggir keduanya yang menggunakan Bahasa Arab dalam Ilmu Nahwu.

٥. الْأَرْبَعُوْنَ النَّوَوِيَّةُ لِلْإِمَامِ النَّوَوِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيْ الْأَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ،

5. Empat Puluh Hadits Imam Nawawi karya Imam An-Nawawi—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—mengenai hadits-hadits tuntunan Nabi.

٦. الْعَقَائِدُ النَّسَفِيَّةُ لِلشَّيْخِ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَنَفِيِّ النَّسَفِيِّ فِيْ الْعَقَائِدِ الْإِسْلَامِيَّةِ،

6. Fondasi-Fondasi Keyakinan An-Nasafi karya Syekh Umar bin Muhammad Al-Hanafi An-Nasafi mengenai sendi-sendi Akidah Islamiyah.

٧. الْإِعْرَابُ عَنْ قَوَاعِدِ الْإِعْرَابِ لِابْنِ هِشَامٍ الْأَنْصَارِيِّ فِيْ النَّحْوِ (بِحَجْمٍ مُتَوَسِّطٍ)،

7. Penjelasan Terang Mengenai Kaidah Perubahan Harakat Akhir Kalimat karya Ibnu Hisyam Al-Anshari dalam Ilmu Nahwu (cetakan ukuran sedang).

٨. الْإِعْرَابُ عَنْ قَوَاعِدِ الْإِعْرَابِ لِابْنِ هِشَامٍ الْأَنْصَارِيِّ فِيْ النَّحْوِ (بِحَجْمٍ صَغِيْرٍ)،

8. Penjelasan Terang Mengenai Kaidah Perubahan Harakat Akhir Kalimat karya Ibnu Hisyam Al-Anshari dalam Ilmu Nahwu (cetakan ukuran kecil/saku).

٩. الْمَنْظُوْمَةُ الْبَيْقُوْنِيَّةُ لِلشَّيْخِ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْبَيْقُوْنِيِّ فِيْ عِلْمِ مُصْطَلَحِ الْحَدِيْثِ،

9. Untaian Bait Syair Al-Baiquniyyah karya Syekh Umar bin Muhammad Al-Baiquni dalam Ilmu Istilah Kodefikasi Hadits.

١٠. بَدْءُ الْأَمَالِيْ لِلْإِمَامِ سِرَاجِ الدِّيْنِ عَلِيِّ بْنِ عُثْمَانَ الْأُوْشِيِّ فِيْ الْعَقَائِدِ الْإِسْلَامِيَّةِ،

10. Permulaan Pembatasan Harapan (Bait Akidah Tauhid) karya Imam Sirajuddin Ali bin Utsman Al-Ushi mengenai Akidah Islam.

١١. فَتْحُ وَاهِبِ الْعَطِيَّةِ بِحَلِّ مُشْكِلَاتِ الْبَهْجَةِ الْمَرْضِيَّةِ فِيْ الْعُلُوْمِ الْعَرَبِيَّةِ،

11. Keterbukaan Zat Pemurah Segala Pemberian demi Mengurai Kerumitan Kitab Jiwa yang Diridhai dalam rumpun cabang Ilmu Bahasa Arab.

١٢. الرِّسَالَةُ الشَّمْسِيَّةُ فِيْ الْقَوَاعِدِ الْمَنْطِقِيَّةِ لِلْعَلَّامَةِ عَلِيِّ بْنِ عُمَرَ الْقَزْوِيْنِيِّ،

12. Risalah Matahari Terang Benderang Mengenai Kaidah-Kaidah Logika karya Ulama Besar Ali bin Umar Al-Qazwini.

١٣. تَحْرِيْرُ الْقَوَاعِدِ الْمَنْطِقِيَّةِ بِشَرْحِ الرِّسَالَةِ الشَّمْسِيَّةِ مَعَ حَاشِيَةِ الْجُرْجَانِيِّ فِيْ الْمَنْطِقِ،

13. Penyusunan Autentik Kaidah Logika Penjelasan Risalah Matahari Terang yang disertai dengan catatan kaki Al-Jurjani dalam Ilmu Logika.

١٤. الْوَرَقَاتُ فِيْ أُصُوْلِ الْفِقْهِ لِإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ الْجُوَيْنِيِّ، وَيَلِيْهِ نَظْمُ الْوَرَقَاتِ لِشَرَفِ الدِّيْنِ يَحْيَى الْعِمْرِيْطِيِّ،

14. Lembaran-Lembaran Dasar Fondasi Hukum Fikih karya Imamul Haramain Abdul Malik Al-Juwayni, dan dirangkaikan setelahnya Untaian Bait Kitab Lembaran Dasar Hukum Fikih karya Syarafuddin Yahya Al-Imrithi.

١٥. شَرْحُ الْوَرَقَاتِ فِيْ أُصُوْلِ الْفِقْهِ لِلْعَلَّامَةِ جَلَالِ الدِّيْنِ الْمَحَلِّيِّ،

15. Penjelasan Lembaran Dasar Fondasi Hukum Fikih karya Ulama Besar Jalaluddin Al-Mahalli.

١٦. هَدِيَّةُ الْإِخْوَانِ بِشَرْحِ عَقِيْدَةِ الْإِيْمَانِ فِيْ الْعَقَائِدِ الْإِسْلَامِيَّةِ،

16. Kado Istimewa untuk Saudara Seiman: Penjelasan Simpul Keyakinan Iman dalam kajian Dasar-Dasar Akidah Islam.

١٧. شَرْحُ تِيْجَانِ الدَّرَارِيِّ عَلَىٰ رِسَالَةِ الْعَلَّامَةِ الْبَاجُوْرِيِّ فِيْ التَّوْحِيْدِ لِلْمُحَقِّقِ الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ نَوَوِيِّ الْجَاوِيِّ، (وَهُوَ هٰذَا الْكِتَابُ).

17. Penjelasan Mahkota Permata atas Risalah Singkat Ulama Besar Al-Bajuri dalam Ilmu Ketauhidan, karya Peneliti Ulung Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi (dan inilah buku tersebut yang sedang Anda pegang).

HALAMAN 57

BUKU YANG AKAN SEGERA TERBIT

سَتَصْدُرُ قَرِيْبًا -إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَىٰ- الْكُتُبُ التَّالِيَةُ:

Akan segera diterbitkan dalam waktu dekat—dengan izin Allah Ta'ala—kitab-kitab berikut ini:

١٨. نُخْبَةُ الْفِكَرِ فِيْ مُصْطَلَحِ أَهْلِ الْأَثَرِ لِلْحَافِظِ أَحْمَدَ بْنِ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيِّ، وَيَلِيْهِ قَصَبُ السُّكَّرِ نَظْمُ نُخْبَةِ الْفِكَرِ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ الْأَمِيْرِ الشَّهِيْرِ بِالصَّنْعَانِيِّ،

18. Sari Pati Pemikiran mengenai Istilah Hadits Pemegang Riwayat Masa Lalu karya Al-Hafiz Ahmad bin Hajar Al-Asqalani, dan disambung sesudahnya Kitab Batang Tebu Manis Untaian Bait Sari Pati Pemikiran karya Syekh Muhammad bin Ismail Al-Amir yang masyhur dengan sebutan Al-Shan'ani.

١٩. الْقَلَائِدُ الدُّرَّارِيَّةُ عَلَى الْفَوَائِدِ الْفَنَارِيَّةِ فِيْ الْمَنْطِقِ لِلْفَاضِلِ صِبْغَةِ اللهِ التَّلْوِيِّ الْمَدْيَادِيِّ،

19. Untaian Kalung Mutiara di atas Catatan Berharga Al-Fanari dalam Ilmu Logika, karya Ulama Utama Sibghatullah at-Talwi al-Madyadi.

٢٠. الْفَرَائِدُ السَّنِيَّةُ عَلَى الْحَوَاشِي الْأَحْمَدِيَّةِ فِيْ الْمَنْطِقِ لِلْفَاضِلِ صِبْغَةِ اللهِ التَّلْوِيِّ الْمَدْيَادِيِّ،

20. Permata-Permata Indah yang Unik di atas Catatan Pinggir Ahmad dalam Ilmu Logika, karya Ulama Utama Sibghatullah at-Talwi al-Madyadi.

٢١. إِتْحَافُ الطُّلَّابِ بِحَلِّ أَلْفَاظِ مُغْنِي الطُّلَّابِ فِيْ الْمَنْطِقِ لِلْفَاضِلِ مُصْطَفَى عَرَبِ الْعَرَبِيِّ التَّلْوِيِّ الْمَدْيَادِيِّ،

21. Persembahan Berharga bagi Penuntut Ilmu Mengurai Lafaz Kitab Pencukup Kebutuhan Siswa dalam Ilmu Logika, karya Ulama Utama Musthafa Arab Al-Arabi at-Talwi al-Madyadi.

٢٢. حَدَائِقُ الدَّقَائِقِ فِيْ شَرْحِ رِسَالَةِ عَلَّامَةِ الْحَقَائِقِ لِأَبِي الْفَتْحِ مُحَمَّدٍ الْبَرْدَعِيِّ،

22. Taman-Taman Kerumitan Makna: Penjelasan Risalah Sang Maestro Fakta Kebenaran karya Abul Fath Muhammad Al-Bardai.

٢٣. شَرْحُ الْمُغْنِيْ فِيْ النَّحْوِ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيْمِ الْعُمَرِيِّ الْمِيْلَانِيِّ،

23. Penjelasan Kitab Pencukup Kaya Kemandirian dalam Ilmu Struktur Tata Bahasa Nahwu, karya Syekh Muhammad bin Abdurrahim Al-Umari Al-Milani.

٢٤. الْحَدَائِقُ الْوَرْدِيَّةُ فِيْ أَجِلَّاءِ السَّادَةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ مَعَ حَاشِيَتِهَا لِلْفَاضِلِ مُلَّا صِبْغَةِ اللهِ التَّلْوِيِّ الْمَدْيَادِيِّ،

24. Kebun-Kebun Mawar Ranum Mengenai Keagungan Tokoh-Tokoh Tarekat Naqsyabandiyah beserta catatan pinggirnya, karya Ulama Utama Mulla Sibghatullah at-Talwi al-Madyadi.

٢٥. مَتْنُ غَايَةِ الِاخْتِصَارِ فِيْ الْفِقْهِ الشَّافِعِيِّ،

25. Teks Ringkasan Paling Padat Terujung dalam Mazhab Fikih Syafi'i.

٢٦. غَايَةُ الِاخْتِصَارِ مَعَ شَرْحِهِ لِابْنِ قَاسِمٍ الْغَزِّيِّ فِيْ الْفِقْهِ الشَّافِعِيِّ،

26. Puncak Ringkasan Disertai Penjelasannya oleh Ibnu Qasim Al-Ghazzi dalam ranah studi Fikih Mazhab Syafi'i.

٢٧. نُوْرُ الْإِيْضَاحِ مَعَ مَرَاقِي الْفَلَاحِ فِيْ الْفِقْهِ الْحَنَفِيِّ،

27. Cahaya Penerang Gambaran Hukum Disertai Tangga Menuju Kebahagiaan Beruntung dalam lingkup materi Fikih Mazhab Hanafi.

٢٨. الْمِنَحُ لِلْغَوْثِ الْهَيْزَانِيِّ السَّيِّدِ صِبْغَةِ اللهِ الْأَرْفَاسِيِّ قَدَّسَ اللهُ أَسْرَارَهُ،

28. Anugerah-Anugerah Agung bagi Penolong yang Meruntuhkan Kebatilan karya Tuan Besar Sibghatullah Al-Arfasi—semoga Allah menyucikan rahasia batinnya.

٢٩. الْإِشَارَاتُ لِلْأُسْتَاذِ الْأَعْظَمِ الشَّيْخِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ التَّاغِيْ قَدَّسَ اللهُ أَسْرَارَهُ،

29. Isyarat-Isyarat Petunjuk Guru Terbesar Mulia karya Syekh Abdurrahman At-Taghi—semoga Allah menyucikan rahasia batinnya.

٣٠. الْفَوَائِدُ الضِّيَائِيَّةُ بِحَاشِيَةِ عَبْدِ الْغَفُوْرِ اللَّارِيْ وَتَقَارِيْرِ الْمُحَقِّقِ السِّيَالْكُوْتِيِّ،

30. Faedah-Faedah Terang Cahaya Bersama Catatan Pinggir Abdul Ghafur Al-Lari serta ulasan kritis Peneliti Handal As-Siyalkuti.

٣١. مُخْتَصَرُ الْمَعَانِيْ لِلْعَلَّامَةِ التَّفْتَازَانِيِّ فِيْ الْمَعَانِيْ وَالْبَدِيْعِ وَالْبَيَانِ،

31. Ringkasan Intisari Makna Sastra karya Ulama Besar At-Taftazani dalam cabang Sastra Ma'ani, Badi', dan Bayan (Balaghah).

٣٢. الْبَدْرُ الطَّالِعُ فِيْ حَلِّ جَمْعِ الْجَوَامِعِ لِلشَّيْخِ جَلَالِ الدِّيْنِ الْمَحَلِّيِّ، وَغَيْرِهَا.

32. Rembulan yang Terbit Menyapa: Mengurai Pengumpul Segala Himpunan Dasar Hukum karya Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, dan karya-karya terbitan lainnya.

🖨️ Simpan PDF / Print
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi