BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Da'watu Ibrahim - Tadzyiil

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا : أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ النُّبُوَّةِ حِينَ أَرَادَ اللهُ تَعَالَى كَرَامَتَهُ وَرَحْمَةَ الْعِبَادِ بِهِ : الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ ، لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ كَفَلَقِ الصُّبْحِ .
Dari Aisyah radhiyallahu ta'ala 'anha: Permulaan wahyu yang diterima Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari kenabian saat Allah Ta'ala menghendaki kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya adalah mimpi yang benar. Tidaklah beliau melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang seperti cahaya subuh.
وَإِنَّمَا ابْتُدِئَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالرُّؤْيَا لِئَلَّا يَفْجَأَهُ الْمَلَكُ بِالرِّسَالَةِ فَلَا تَتَحَمَّلُهَا الْقُوَى الْبَشَرِيَّةُ ، فَكَانَتِ الرُّؤْيَا تَأْنِيسًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَوَّلُ مَا يُؤْتَى بِهِ الْأَنْبِيَاءُ فِي الْمَنَامِ حَتَّى تَهْدَأَ قُلُوبُهُمْ ، ثُمَّ يَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْوَحْيُ فِي الْيَقَظَةِ . وَقَدْ نَزَلَ الْقُرْآنُ كُلُّهُ فِي الْيَقَظَةِ تَأْكِيدًا لِمَا يُقَالُ أَوْ يُرَادُ .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diawali dengan mimpi agar malaikat tidak mengejutkannya dengan risalah, sehingga kekuatan manusiawi tidak sanggup menanggungnya. Maka mimpi itu adalah bentuk penenangan bagi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal pertama yang didatangkan kepada para nabi adalah dalam tidur hingga hati mereka tenang, kemudian wahyu turun kepada mereka dalam keadaan terjaga. Al-Qur'an seluruhnya turun dalam keadaan terjaga sebagai penegas atas apa yang dikatakan atau dikehendaki.
وَقَالَ بَعْضُ الرُّوَاةِ إِنَّ بَعْضَ السُّوَرِ نَزَلَتْ وَالرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاعِمٌ .
Sebagian perawi mengatakan bahwa beberapa surat turun saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang tertidur.
وَقَدِ اسْتَنَدُوا فِي ذَلِكَ إِلَى مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ : بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ غَفَا إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُبْتَسِمًا ، فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ فَقَالَ : أُنْزِلَ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ . فَقَرَأَ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .
Mereka menyandarkan hal itu pada apa yang diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahihnya dari Anas ia berkata: Saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di antara kami, tiba-tiba beliau tertidur sejenak lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya, "Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Baru saja turun kepadaku suatu surat." Lalu beliau membaca: "Bismillahir-rahmanir-rahim. Inna a'thainaakal-kautsar. Fashalli lirabbika wanhar. Inna syaani-aka huwal-abtar."
وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ الْحَالَةَ الَّتِي اعْتَرَتْهُ عِنْدَ نُزُولِ الْكَوْثَرِ لَمْ تَكُنْ إِغْفَاءَةَ نَوْمٍ ، بَلِ الْحَالَةُ الَّتِي كَانَتْ تَعْتَرِيهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ نُزُولِ الْوَحْيِ ، فَقَدْ كَانَ يُؤْخَذُ عَنِ الدُّنْيَا .
Kenyataannya, keadaan yang menimpa beliau saat turunnya Al-Kautsar bukanlah tidur, melainkan keadaan yang biasa menimpa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam saat turun wahyu, di mana beliau terlepas dari dunia.
كَانَتِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ قَبْلَ نُزُولِ الْوَحْيِ .
Mimpi yang benar terjadi selama enam bulan sebelum turunnya wahyu.
وَقَدْ أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ حِينَ بُعِثَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ، وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُوحَى إِلَيْهِ ، فَمُدَّةُ الْوَحْيِ إِلَيْهِ فِي الْيَقَظَةِ ثَلَاثٌ وَعِشْرُونَ سَنَةً . وَقَدْ قِيلَ : حَصَلَ ابْتِدَاءُ الرُّؤْيَا فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ وَهُوَ مَوْلِدُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، ثُمَّ أُوحِيَ إِلَيْهِ فِي الْيَقَظَةِ فِي رَمَضَانَ فِي أَثْنَاءِ تَحَنُّثِهِ فِي غَارِ حِرَاءٍ .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menetap di Makkah setelah diutus selama tiga belas tahun, dan di Madinah selama sepuluh tahun menerima wahyu, maka masa wahyu kepadanya dalam keadaan terjaga adalah dua puluh tiga tahun. Dikatakan: Permulaan mimpi terjadi pada bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan kelahirannya 'alaihis salam, kemudian wahyu turun kepadanya dalam keadaan terjaga di bulan Ramadhan saat beliau sedang bertahannuts di Gua Hira.
وَقِيلَ إِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَثَ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً يَسْمَعُ الصَّوْتَ أَحْيَانًا وَلَا يَرَى شَخْصًا ، وَسَبْعَ سِنِينَ يَرَى نُورًا وَلَمْ يَرَ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ ، وَأَنَّ الْمُدَّةَ الَّتِي بُشِّرَ فِيهَا بِالنُّبُوَّةِ كَانَتْ سِتَّةَ أَشْهُرٍ مِنْ تِلْكَ الْمُدَّةِ الَّتِي هِيَ اثْنَتَانِ وَعِشْرُونَ سَنَةً . وَعَلَى الرَّغْمِ مِنْ ذَلِكَ الْإِعْدَادِ الطَّوِيلِ فَإِنَّهُ فَرَّ فِي الْأَرْضِ لَمَّا خَاطَبَهُ الْمَلَكُ ، مَرْعُوبًا ، لِأَنَّ رُؤْيَا مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَسَمَاعَ صَوْتٍ مِنْ غَيْرِ أَصْوَاتِ الْبَشَرِ شَيْءٌ فَوْقَ طَاقَةِ الْإِنْسَانِ . وَقَدْ كَانَ صَادِقًا لَمَّا قَالَ لِخَدِيجَةَ : لَقَدْ أَشْفَقْتُ عَلَى نَفْسِي .
Dikatakan pula bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menetap selama lima belas tahun mendengar suara terkadang tanpa melihat sosok, dan tujuh tahun melihat cahaya namun tidak melihat apa pun selain itu. Masa beliau diberi kabar gembira tentang kenabian adalah enam bulan dari masa dua puluh dua tahun tersebut. Meskipun dengan persiapan panjang, beliau lari di bumi saat malaikat menyapanya karena ketakutan, sebab melihat malaikat dan mendengar suara bukan suara manusia adalah sesuatu di luar kemampuan manusia. Beliau jujur saat berkata kepada Khadijah: "Sungguh aku mengkhawatirkan diriku."
وَقِيلَ : إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِي أَرَادَ اللهُ تَعَالَى بِهِ مَا أَرَادَ مِنْ كَرَامَتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى حِرَاءٍ ، كَمَا كَانَ يَخْرُجُ لِجِوَارِهِ وَمَعَهُ أَهْلُهُ ، وَلَكِنِّي لَمْ آخُذْ بِهَذَا الرَّأْيِ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ قَدْ خَرَجَ وَمَعَهُ خَدِيجَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا الْفَزَعُ إِلَيْهَا لَمَا فَاجَأَهُ الْمَلَكُ ، وَلَمَّا فَرَّ هَارِبًا إِلَى وَسَطِ الْجَبَلِ . وَلَوْ كَانَ مَعَهُ فَاطِمَةُ وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَأُمُّ أَيْمَنَ لَلَاذَ بِهِمْ مِنْ خَوْفِهِ وَلَوَرَدَ ذَلِكَ فِي أَحَادِيثِهِمْ ، وَإِنَّهُ لَشَرَفٌ عَظِيمٌ يُرْوَى أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمْ فِي صُحْبَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ أَنْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ .
Dikatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di bulan Ramadhan yang Allah Ta'ala kehendaki kemuliaan baginya 'alaihis salam ke Hira, sebagaimana kebiasaannya keluar untuk berdekatan dengan Allah, dan bersamanya keluarganya. Namun aku tidak mengambil pendapat ini karena jika beliau keluar bersama Khadijah radhiyallahu ta'ala 'anha, tentu beliau akan mencari perlindungan padanya dan malaikat tidak akan mengejutkannya, serta beliau tidak akan lari ke tengah gunung. Jika bersamanya Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Ummu Aiman, tentu beliau akan berlindung kepada mereka dari rasa takutnya dan hal itu akan tercantum dalam hadits mereka. Sungguh merupakan kemuliaan agung jika diriwayatkan salah seorang dari mereka menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di malam wahyu diturunkan kepadanya.
وَقِيلَ إِنَّ ابْتِدَاءَ الْوَحْيِ كَانَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ : شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَلَكِنَّ بَعْضَ الْمُفَسِّرِينَ قَالَ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِنُزُولِ الْقُرْآنِ فِي رَمَضَانَ نُزُولُهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِلَى بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا .
Dikatakan bahwa permulaan wahyu terjadi di bulan Ramadhan: Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Namun sebagian mufassir mengatakan bahwa maksud turunnya Al-Qur'an di bulan Ramadhan adalah turunnya secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar ke Baitul 'Izzah di langit dunia.
وَقَالَ بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْإِخْبَارِيِّينَ إِنَّ ابْتِدَاءَ الْوَحْيِ كَانَ فِي السَّابِعَ عَشَرَ مِنْ رَمَضَانَ ، مُسْتَشْهِدِينَ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى : إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ . وَكَانَ الْتِقَاءُ الْجَمْعَيْنِ : الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ فِي السَّابِعَ عَشَرَ مِنْ رَمَضَانَ مِنَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ لِلْهِجْرَةِ .
Sebagian mufassir dan ahli sejarah mengatakan bahwa permulaan wahyu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengutip firman Allah Ta'ala: "Jika kalian beriman kepada Allah dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan, hari bertemunya dua golongan." Pertemuan dua golongan tersebut, Muslim dan musyrikin, terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua hijrah.
وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّ ابْتِدَاءَ نُزُولِ الْقُرْآنِ كَانَ فِي سَحَرِ لَيْلَةِ الِاثْنَيْنِ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ ، مُؤَيِّدِينَ قَوْلَهُمْ بِأَنَّ « هِيَ » الَّتِي جَاءَتْ فِي سُورَةِ الْقَدْرِ : إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ . هِيَ الْكَلِمَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ مِنَ السُّورَةِ ، وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ لِتَأْكِيدِ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ كَانَتْ فِي السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ !
Yang lain mengatakan bahwa permulaan turunnya Al-Qur'an adalah saat sahur malam Senin tanggal 27 Ramadhan, dengan menguatkan pendapat mereka bahwa kata "hiya" (dia) yang terdapat dalam surat Al-Qadr: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar." "Hiya" adalah kata ke-27 dari surat tersebut, dan hal itu datang untuk menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah pada tanggal 27 Ramadhan!
وَقَدْ جَزَمَ الْإِمَامُ أَبِي حَنِيفَةَ بِأَنَّ أَوَّلَ نُزُولِ الْقُرْآنِ عَلَى الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ فِي سَحَرِ لَيْلَةِ الِاثْنَيْنِ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ . وَقَدِ اتَّفَقَ الرُّوَاةُ فِي مَعْنَى الْحِوَارِ الَّذِي دَارَ بَيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجِبْرِيلَ الْأَمِينِ وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي اللَّفْظِ . وَقَدْ وَجَدَ الْمُسْتَشْرِقُونَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ وَهِيَ رِوَايَةُ ابْنِ إِسْحَاقَ فِي السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ لِابْنِ هِشَامٍ بِالتَّحْدِيدِ ، مَا يُحَاوِلُونَ أَنْ يُنْكِرُوا بِهِ عَدَمَ مَعْرِفَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ .
Imam Abu Hanifah memastikan bahwa awal turunnya Al-Qur'an kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah saat sahur malam Senin tanggal 27 Ramadhan. Para perawi sepakat mengenai makna dialog yang terjadi antara Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Jibril Al-Amin meskipun mereka berbeda dalam lafal. Para orientalis menemukan dalam beberapa riwayat, tepatnya riwayat Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, apa yang mereka coba gunakan untuk mengingkari ketidaktahuan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dalam membaca dan menulis.
وَلَا أَقُولُ أُمِّيَّةَ الرَّسُولِ ، فَقَدْ سَبَقَ فِي الْأَجْزَاءِ السَّابِقَةِ أَنْ وَضَّحْتُ أَنَّ صِفَةَ الْأُمِّيَّةِ الَّتِي جَاءَتْ فِي الْقُرْآنِ إِنَّمَا يُقْصَدُ بِهَا النِّسْبَةُ إِلَى الْأُمَمِ ، أَيْ مَنْ لَمْ يَكُونُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ : هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا (١) .. أَيْ فِي الْأُمَمِ ، النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ (٢) أَيِ النَّبِيُّ الَّذِي جَاءَ مِنْ غَيْرِ بَنِي إِسْرَائِيلَ ، أَمَّا عَدَمُ مَعْرِفَةِ الرَّسُولِ الْقِرَاءَةَ وَالْكِتَابَةَ فَقَدْ وَضَّحَهَا الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ بِقَوْلِهِ وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ (٣) .
Aku tidak mengatakan "ummiyah" (ketidaktahuan) Rasul, karena telah lewat dalam bagian-bagian sebelumnya aku jelaskan bahwa sifat "ummiyah" yang datang dalam Al-Qur'an maksudnya adalah nisbah kepada umat-umat, yaitu mereka yang bukan dari Bani Israil: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf (ummiyyin) seorang Rasul ..." maksudnya kepada umat-umat. "Nabi yang ummi" artinya nabi yang datang bukan dari Bani Israil. Adapun ketidaktahuan Rasul dalam membaca dan menulis telah dijelaskan Al-Qur'an dengan firman-Nya: "Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu."
جَاءَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ : ( أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ ، وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدَ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : اقْرَأْ . قَالَ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ . قَالَ : فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ . قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ . فَقُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ... . .
Diriwayatkan dalam Bukhari dari Aisyah Ummul Mukminin bahwa ia berkata: "Permulaan wahyu yang diterima Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi melainkan mimpi itu datang seperti cahaya subuh. Kemudian beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, dan beliau biasa menyendiri di Gua Hira lalu bertahannuts di sana, yaitu beribadah di malam-malam tertentu sebelum kembali ke keluarganya dan mengambil perbekalan untuk itu. Kemudian beliau kembali kepada Khadijah dan mengambil bekal serupa hingga datang kepadanya kebenaran saat beliau berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: 'Iqra' (Bacalah).' Beliau menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Ia berkata: 'Lalu ia mengambilku dan menekanku sampai aku mencapai batas kemampuanku, kemudian ia melepaskanku dan berkata: 'Iqra' (Bacalah).' Aku berkata: 'Aku tidak bisa membaca.' Lalu ia mengambilku dan menekanku untuk kedua kalinya sampai aku mencapai batas kemampuanku, kemudian ia melepaskanku dan berkata: 'Iqra' (Bacalah).' Aku berkata: 'Aku tidak bisa membaca.' Lalu ia mengambilku dan menekanku untuk ketiga kalinya, kemudian melepaskanku dan berkata: 'Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min 'alaq. Iqra' wa rabbukal akram.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun pulang dengan membawa wahyu itu dalam keadaan jantung beliau bergetar..."
أَمَّا رِوَايَةُ ابْنِ إِسْحَاقَ فَتَقُولُ : ... حَتَّى إِذَا كَانَ الشَّهْرُ الَّذِي أَرَادَ اللهُ تَعَالَى بِهِ فِيهِ مَا أَرَادَ مِنْ كَرَامَتِهِ فِي السَّنَةِ الَّتِي بَعَثَهُ اللهُ تَعَالَى فِيهَا ، وَذَلِكَ الشَّهْرُ شَهْرُ رَمَضَانَ ، خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حِرَاءٍ كَمَا كَانَ يَخْرُجُ لِجِوَارِهِ وَمَعَهُ أَهْلُهُ ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَكْرَمَهُ اللهُ فِيهَا بِرِسَالَتِهِ وَرَحِمَ الْعِبَادَ مِنْهَا ، جَاءَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِأَمْرِ اللهِ تَعَالَى .
Adapun riwayat Ibnu Ishaq mengatakan: "...hingga ketika tiba bulan yang Allah Ta'ala kehendaki kemuliaan baginya di tahun Allah mengutusnya, yaitu bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke Hira sebagaimana kebiasaannya untuk berdekatan dengan Allah, dan bersamanya keluarganya. Hingga ketika tiba malam yang Allah memuliakannya dengan risalah-Nya dan merahmati hamba-hamba-Nya dengannya, datanglah Jibril 'alaihis salam dengan perintah Allah Ta'ala."
— قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ وَأَنَا نَائِمٌ ، بِنَمَطٍ مِنْ دِيبَاجٍ فِيهِ كِتَابٌ ، فَقَالَ : اقْرَأْ . قَالَ : قُلْتُ : مَا أَقْرَأُ . قَالَ : فَغَتَّنِي بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ . قَالَ : مَا أَقْرَأُ . قَالَ : فَغَتَّنِي بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ . قَالَ : قُلْتُ : مَا أَقْرَأُ . قَالَ : فَغَتَّنِي بِهِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ الْمَوْتُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : اقْرَأْ . قَالَ : قُلْتُ : مَاذَا أَقْرَأُ ؟ مَا أَقُولُ ذَلِكَ إِلَّا افْتِدَاءً مِنْهُ أَنْ يَعُودَ لِي بِمِثْلِ مَا صَنَعَ بِي ، فَقَالَ : اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ . قَالَ : فَقَرَأْتُهَا ثُمَّ انْتَهَى فَانْصَرَفَ عَنِّي وَهِبْتُ مِنْ نَوْمِي فَكَأَنَّمَا كُتِبَتْ فِي قَلْبِي كِتَابًا .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jibril datang kepadaku saat aku tidur, dengan membawa lembaran sutra yang di dalamnya terdapat tulisan, lalu ia berkata: 'Bacalah.' Aku menjawab: 'Apa yang harus aku baca?' Ia menekanku dengannya sampai aku mengira itu adalah maut, kemudian ia melepaskanku dan berkata: 'Bacalah.' Aku berkata: 'Aku tidak bisa membaca.' Ia menekanku dengannya sampai aku mengira itu adalah maut, kemudian ia melepaskanku dan berkata: 'Bacalah.' Aku berkata: 'Aku tidak bisa membaca.' Ia menekanku dengannya sampai aku mengira itu adalah maut, kemudian ia melepaskanku dan berkata: 'Bacalah.' Aku berkata: 'Apa yang harus aku baca?' Aku tidak mengucapkan itu kecuali sebagai tebusan agar ia tidak kembali melakukan hal yang sama kepadaku, lalu ia berkata: 'Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min 'alaq. Iqra' wa rabbukal akram. Alladzi 'allama bil qalam. 'Allamal insana ma lam ya'lam.' Lalu aku membacanya, kemudian ia selesai dan pergi dariku, dan aku terbangun dari tidurku, seakan-akan tulisan itu telah tertulis di dalam hatiku."
جَاءَ فِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجِبْرِيلَ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ . أَمَّا فِي رِوَايَةِ إِسْحَاقَ ، فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى وَالثَّانِيَةِ ( مَا أَقْرَأُ ) . وَفِي الثَّالِثَةِ ( مَاذَا أَقْرَأُ ؟ ) وَلَوْ أَنَّ مَا أَقْرَأُ وَمَا أَنَا بِقَارِئٍ تَعْنِيَانِ مَعْنًى وَاحِدًا ، فَمَا فِي الْجُمْلَةِ الْأُولَى كَمَا فِي الْجُمْلَةِ الثَّانِيَةِ أَدَاةُ نَفْيٍ لَا اسْتِفْهَامٍ ، إِلَّا أَنَّ بَعْضَ الْمُسْتَشْرِقِينَ رَأَوْا أَنَّهَا ( مَا ) اسْتِفْهَامِيَّةٌ ، وَأَنَّ رِوَايَةَ ابْنِ إِسْحَاقَ وَقَدْ جَاءَ فِيهَا أَنَّ فِي الْمَرَّةِ الثَّالِثَةِ قَالَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَاذَا أَقْرَأُ ؟ ، تُؤَكِّدُ مَعْنَى الِاسْتِفْهَامِ ، وَأَغْفَلُوا تَدَارُكَ ابْنِ إِسْحَاقَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَقُولُ ذَلِكَ إِلَّا افْتِدَاءً مِنْهُ لِأَنْ يَعُودَ لِي بِمِثْلِ مَا صَنَعَ بِي .
Diriwayatkan dalam Bukhari bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Jibril: "Aku tidak bisa membaca." Adapun dalam riwayat Ishaq, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berkata pada kali pertama dan kedua "Ma aqra'u" (Apa yang kubaca). Pada kali ketiga "Madza aqra'u?" (Apa yang harus kubaca?). Meskipun "Ma aqra'u" dan "Ma ana bi qaari'" bermakna sama, "Ma" dalam kalimat pertama sebagaimana dalam kalimat kedua adalah alat penafian bukan tanya, hanya saja sebagian orientalis berpendapat bahwa itu adalah "Ma" tanya, dan riwayat Ibnu Ishaq di mana disebutkan pada kali ketiga Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam berkata "Madza aqra'u?" menegaskan makna tanya, namun mereka mengabaikan klarifikasi Ibnu Ishaq dengan ucapannya atas lisan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam: "Aku tidak mengucapkan itu kecuali sebagai tebusan agar ia tidak kembali melakukan hal yang sama kepadaku."
وَقَالَ الْمُسْتَشْرِقُونَ لَوْ أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعْرِفُ الْقِرَاءَةَ لَمَا جَاءَهُ بِنَمَطٍ مِنْ دِيبَاجٍ فِيهِ كِتَابٌ وَلَا قَالَ لَهُ : اقْرَأْ . وَلَمَّا كَانَتْ رِوَايَةُ ابْنِ إِسْحَاقَ تُؤَكِّدُ أَنَّ أَوَّلَ مَا جَاءَ الْوَحْيُ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ وَهُوَ نَائِمٌ . فَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ إِنَّ الْإِنْسَانَ فِي نَوْمِهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَفْعَلَ أَشْيَاءَ لَا يَقُومُ عَلَيْهَا فِي الْيَقَظَةِ ، وَأَنَّ الْقِرَاءَةَ فِي النَّوْمِ مُحْتَمَلَةٌ لِمَنْ لَا يَعْرِفُ الْقِرَاءَةَ ، وَلَكِنِّي لَا آخُذُ بِهَذَا الرَّأْيِ وَسَأُوَضِّحُ أَنَّ الْحِوَارَ الَّذِي كَانَ بَيْنَ جِبْرِيلَ وَبَيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي الْيَقَظَةِ وَأَنَّ رِوَايَةَ ابْنِ إِسْحَاقَ مَحْضُ خَيَالٍ .
Para orientalis berkata, jika Jibril tahu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tahu membaca, tentu ia tidak akan datang dengan lembaran sutra berisi tulisan dan tidak akan berkata kepadanya: "Bacalah." Karena riwayat Ibnu Ishaq menegaskan bahwa permulaan wahyu kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah saat beliau tidur, maka sebagian mufassir berkata bahwa manusia dalam tidurnya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukannya dalam keadaan terjaga, dan membaca dalam tidur adalah mungkin bagi seseorang yang tidak tahu membaca. Namun aku tidak mengambil pendapat ini dan aku akan jelaskan bahwa dialog antara Jibril dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terjadi dalam keadaan terjaga dan riwayat Ibnu Ishaq hanyalah khayalan.
لَمْ يَأْتِ نَمَطُ الدِّيبَاجِ ذِكْرٌ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ ، وَلَمْ تَقُلْ عَائِشَةُ إِنَّ الْوَحْيَ نَزَلَ عَلَى الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ نَائِمٌ . ثُمَّ إِنَّ رِوَايَةَ ابْنِ إِسْحَاقَ لَا يُعَوَّلُ عَلَيْهَا لِأَنَّهُ يَرْوِيهَا عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ وَهُوَ مِنَ التَّابِعِينَ ، وَلَيْسَ فِي الْحَدِيثِ صَحَابِيٌّ وَاحِدٌ مِمَّنْ صَاحَبَ الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعَلَى ذَلِكَ فَالْحَدِيثُ مُرْسَلٌ لَيْسَ فِي مَرْتَبَةِ الصَّحِيحِ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ .
Tentang lembaran sutra tidak disebutkan dalam hadits Aisyah, dan Aisyah tidak mengatakan wahyu turun kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam saat beliau tidur. Kemudian riwayat Ibnu Ishaq tidak bisa diandalkan karena ia meriwayatkannya dari Wahb bin Kaisan dari Ubaid bin Umair yang merupakan seorang tabi'in, dan dalam hadits itu tidak ada satu pun sahabat yang pernah menyertai Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, oleh karena itu hadits tersebut mursal, tidak pada derajat shahih dan tidak dapat dijadikan hujjah.
وَمِمَّا يُؤَكِّدُ أَنَّ حَدِيثَ النَّمَطِ وَالدِّيبَاجِ وَالْكِتَابِ الْمَكْتُوبِ مُجَرَّدُ خَيَالٍ فَإِنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ أَنَّ الْوَحْيَ نَزَلَ يَوْمًا عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُرْآنٍ مَكْتُوبٍ . وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ . وَلَمْ يَفْهَمْ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ جِبْرِيلَ يُرِيدُ مِنْهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنْ صَحِيفَةٍ وَلَكِنَّهُ فَهِمَ أَنَّهُ يُرِيدُ مِنْهُ أَنْ يَتْلُوَ شَيْئًا ، وَمَا كَانَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِقَادِرٍ أَنْ يَتْلُوَ مِنَ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ عَلَى الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ كَانَ يَتَلَقَّى الْحِكْمَةَ مِنْ رَبِّهِ مُبَاشَرَةً بِتَجْلِيَةِ قَلْبِهِ وَتَرَصُّدِ مَا يَهْبِطُ عَلَيْهِ مِنْ خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ . وَعَلَى ذَلِكَ تُرَجَّحُ رِوَايَةُ عَائِشَةَ الَّتِي يَقُولُ فِيهَا الرَّسُولُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ . عَلَى رِوَايَةِ ( مَاذَا أَقْرَأُ ) الَّتِي أَثْبَتَهَا ابْنُ إِسْحَاقَ فِي السِّيرَةِ .
Hal yang menegaskan bahwa hadits tentang lembaran, sutra, dan kitab tertulis hanyalah khayalan adalah tidak terbukti bahwa wahyu turun suatu hari kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bentuk Al-Qur'an tertulis. "Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata'." Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memahami bahwa Jibril menginginkannya membaca dari lembaran, melainkan beliau memahami bahwa Jibril menginginkannya membaca sesuatu. Muhammad 'alaihis salam tidak mampu membaca kitab-kitab sebelum Al-Qur'an, karena beliau menerima hikmah dari Tuhannya secara langsung dengan terbukanya hati beliau dan menanti apa yang turun kepadanya dari khazanah malakut. Oleh karena itu riwayat Aisyah di mana Rasul berkata: "Aku tidak bisa membaca." lebih kuat dibanding riwayat "Apa yang harus kubaca?" yang ditetapkan Ibnu Ishaq dalam Sirah.
وَالْقِرَاءَةُ فِي الْقُرْآنِ وَفِي الْحَدِيثِ اسْتُعْمِلَتْ بِمَعْنَى التِّلَاوَةِ ، وَإِنَّ دَعْوَةَ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ إِذْ يَرْفَعَانِ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَمَا فِي سُورَةِ الْإِسْرَاءِ يُوَضِّحُ هَذَا الْمَعْنَى : رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ .. . وَفِي سُورَةِ الْإِسْرَاءِ : وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ . فَتَارَةً يُسْتَعْمَلُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ التِّلَاوَةَ وَتَارَةً يُسْتَعْمِلُ الْقِرَاءَةَ وَيُقْصَدُ فِي الْحَالَتَيْنِ التِّلَاوَةُ وَلَا شَكَّ .
"Qira'ah" dalam Al-Qur'an dan hadits digunakan dengan makna tilawah (membaca). Doa bapak kita Ibrahim dan Ismail saat meninggikan pondasi Baitullah dan apa yang terdapat dalam surat Al-Isra menjelaskan makna ini: "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan (yatlu) kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka... (2)." Dalam surat Al-Isra: "Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya (li taqra'ahu) kepada manusia perlahan-lahan (3)." Terkadang Al-Qur'an Al-Karim menggunakan kata tilawah, terkadang qira'ah, dan keduanya bermakna tilawah tanpa diragukan.
وَاخْتَلَفَ الْمُفَسِّرُونَ وَالْإِخْبَارِيُّونَ فِيمَا إِذَا كَانَتِ النُّبُوَّةُ وَالرِّسَالَةُ مُقْتَرِنَيْنِ أَمْ أَنَّ النُّبُوَّةَ قَدْ بَدَأَتْ بِنُزُولِ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . ثُمَّ كَانَتْ فَتْرَةُ الْوَحْيِ مُدَّةً تَتَرَاوَحُ بَيْنَ ثَلَاثِ سِنِينَ وَسَنَتَيْنِ وَنُزُولِ وَيَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . فَكَانَتِ الرِّسَالَةُ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الرِّسَالَةَ كَانَتْ بِيَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ .
Mufassir dan ahli sejarah berbeda pendapat apakah kenabian dan kerasulan itu berbarengan, ataukah kenabian dimulai dengan turunnya "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq." Kemudian ada masa fatrah (jeda) wahyu antara tiga tahun dan dua tahun hingga turunnya "Ya ayyuhal muddaththir." Maka kerasulan berdasarkan bahwa kerasulan itu dengan "Ya ayyuhal muddaththir."
صَرَّحَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَبَّأَهُ بِقَوْلِهِ اقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ وَأَرْسَلَهُ بِقَوْلِهِ يَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنْذِرْ . وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ . وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَأَنَّ بَيْنَهُمَا فَتْرَةَ الْوَحْيِ ، وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الرِّوَايَاتِ . وَلَوْ أَنَّ بَعْضَهُمْ أَكَّدَ أَنَّ أَكْثَرَ الرِّوَايَاتِ عَلَى ذَلِكَ فَلَمْ آخُذْ بِهَذَا الرَّأْيِ ، بَلْ أَخَذْتُ بِالرَّأْيِ الْقَائِلِ بِأَنَّ جِبْرِيلَ قَالَ لَهُ صَرَاحَةً : أَنَا جِبْرِيلُ وَأَنْتَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ . وَإِلَّا لَمَا دَعَا خَدِيجَةَ وَبَنَاتِهِ إِلَى الْإِسْلَامِ ، وَلَمَّا دَعَا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَزَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَأَبَا بَكْرٍ وَأَوَائِلَ الصَّحَابَةِ قَبْلَ أَنْ يُؤْمَرَ بِذَلِكَ .
Sebagian mereka menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menjadikannya nabi dengan firman-Nya "Iqra' bismi rabbika" dan mengutusnya dengan firman-Nya "Ya ayyuhal muddaththir. Qum fa andzir. Wa rabbaka fakabbir. Wa tsiyabaka fathahhir." Dan bahwa di antara keduanya adalah masa fatrah wahyu, dan ini adalah pendapat kebanyakan riwayat. Walaupun sebagian mereka menegaskan bahwa kebanyakan riwayat demikian, aku tidak mengambil pendapat ini, melainkan aku mengambil pendapat yang mengatakan bahwa Jibril berkata kepadanya secara jelas: "Aku Jibril dan engkau Muhammad Rasulullah." Jika tidak, tentu beliau tidak akan mengajak Khadijah dan putri-putrinya masuk Islam, dan tidak akan mengajak Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar, dan para sahabat awal sebelum beliau diperintahkan untuk itu.
كَانَتِ الدَّعْوَةُ سِرًّا مُذْ قَالَ لَهُ جِبْرِيلُ إِنَّهُ رَسُولُ اللهِ ، وَقَدْ أَمَرَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْجَهْرِ بِالدَّعْوَةِ لَمَّا نَزَلَتْ : وَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ . وَاخْتَلَفَ الْمُفَسِّرُونَ فِي أَوَّلِ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ ، فَقَدْ رَأَى بَعْضُهُمْ أَنَّ الْبَسْمَلَةَ أَوَّلُ مَا نَزَلَ ، وَيُؤَيِّدُونَ ذَلِكَ بِمَا كَانَ بَيْنَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ خَدِيجَةَ يَوْمَ أَنْ كَانَ فِي الْغَارِ وَسَمِعَ صَوْتًا يُنَادِيهِ فَانْطَلَقَ إِلَيْهَا مَرْعُوبًا يَقُولُ : إِنِّي إِذَا خَلَوْتُ سَمِعْتُ نِدَاءً ! فَقَدْ وَاللهِ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَمْرًا . فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ : مَعَاذَ اللهِ ! مَا كَانَ اللهُ لِيَفْعَلَ بِكَ ، فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتُؤَدِّي الْأَمَانَةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ . فَعَادَ إِلَى الْغَارِ وَثَبَتَ بَعْدَ نَصِيحَةِ وَرَقَةَ لَهُ ، فَلَمَّا نَادَاهُ الْمَلَكُ : يَا مُحَمَّدُ . قُلْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . حَتَّى بَلَغَ وَلَا الضَّالِّينَ .
Dakwah dilakukan secara rahasia sejak Jibril mengatakan kepadanya bahwa ia Rasulullah. Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkannya untuk berdakwah secara terang-terangan saat turun ayat: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)." Para mufassir berbeda pendapat mengenai apa yang pertama kali turun dari Al-Qur'an. Sebagian mereka berpendapat Basmalah adalah yang pertama turun, dan mereka menguatkannya dengan apa yang terjadi antara Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khadijah saat beliau di gua dan mendengar suara memanggilnya, lalu beliau pergi kepadanya dengan ketakutan berkata: "Sungguh jika aku sendiri, aku mendengar panggilan! Demi Allah aku khawatir ini adalah suatu perkara." Khadijah berkata kepadanya: "Aku berlindung kepada Allah! Allah tidak akan melakukan itu kepadamu. Demi Allah, engkau menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, dan jujur dalam bicara." Maka beliau kembali ke gua dan teguh setelah nasehat Waraqah kepadanya. Ketika malaikat memanggilnya: "Wahai Muhammad. Katakanlah: Bismillahir-rahmanir-rahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Sampai Walad dhallin."
قَالَ بِهَذَا الْقَوْلِ الْبَيْهَقِيُّ وَالْوَاحِدِيُّ وَالْحَدِيثُ الَّذِي اعْتَمَدَا عَلَيْهِ مُرْسَلٌ ، بَيْنَا حَدِيثُ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ يُؤَكِّدُ أَنَّ أَوَّلَ مَا نَزَلَ عَلَى الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْقُرْآنِ هُوَ مَطَالِعُ الْعَلَقِ ، وَمَطَالِعُ الْمُدَّثِّرِ . وَمِمَّا يُثْبِتُ تَأَخُّرَ نُزُولِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ أَنَّ بَعْضَ الْمُفَسِّرِينَ قَالُوا إِنَّهَا مَدَنِيَّةٌ ، أَيْ أَنَّهَا تَأَخَّرَتْ إِلَى مَا بَعْدَ الْهِجْرَةِ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهَا مَكِّيَّةٌ ، وَأَرَادَ بَعْضُهُمُ الْآخَرُ أَنْ يُوَفِّقَ بَيْنَ الرَّأْيَيْنِ فَقَالَ إِنَّهَا مَرَّتَيْنِ مَرَّةً فِي مَكَّةَ وَمَرَّةً فِي الْمَدِينَةِ ، وَعِنْدَ الْأَكْثَرِينَ هِيَ مَكِّيَّةٌ مِنْ أَوَائِلِ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ وَلَيْسَتْ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ ، فَهِيَ أَنْسَبُ لِلْعِبَادَةِ وَصِيغَةُ الْمُتَكَلِّمِ الْجَمْعِ فِيهَا تُفِيدُ أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي وَقْتٍ كَانَ الْإِسْلَامُ فِيهِ قَدْ عَرَفَ طَرِيقَهُ إِلَى قُلُوبِ جَمَاعَةٍ تَقُولُ : نَعْبُدُ وَنَسْتَعِينُ وَاهْدِنَا بِصِيغَةِ الْجَمْعِ .
Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Baihaqi dan Al-Wahidi, namun hadits yang mereka sandarkan adalah mursal, sementara hadits Shahih Bukhari menegaskan bahwa yang pertama turun kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dari Al-Qur'an adalah permulaan surat Al-'Alaq dan permulaan surat Al-Muddaththir. Hal yang membuktikan lambatnya turun Fatihatul Kitab adalah sebagian mufassir mengatakan itu Madaniyah, yaitu turun setelah hijrah. Sebagian mengatakan itu Makkiyah, sebagian lain mencoba mendamaikan kedua pendapat dengan mengatakan itu turun dua kali, sekali di Makkah dan sekali di Madinah. Menurut mayoritas itu Makkiyah dari awal-awal yang turun dari Al-Qur'an dan bukan yang pertama, karena lebih cocok untuk ibadah dan bentuk kata ganti orang pertama jamak di dalamnya menunjukkan bahwa ia turun saat Islam telah menemukan jalannya ke hati sekelompok orang yang berkata: "Na'budu (kami menyembah) wa nasta'in (dan kami memohon pertolongan) wa ihdina (dan tunjukilah kami)" dengan bentuk jamak.
وَقِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْمُدَّثِّرِ اسْتِنَادًا إِلَى مَا قَالَهُ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيُّ لَمَّا سَأَلَهُ سَلَمَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ : أَيُّ الْقُرْآنِ أُنْزِلَ قَبْلُ ؟ قَالَ : أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قَالَ سَلَمَةُ : أَو ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ) ؟ قَالَ جَابِرٌ : أُحَدِّثُكُمْ مَا حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي جَاوَرْتُ بِحِرَاءٍ شَهْرًا ، فَلَمَّا قَضَيْتُ جِوَارِي نَزَلْتُ فَاسْتَنْبَطْتُ بَطْنَ الْوَادِي ، فَنُودِيتُ فَنَظَرْتُ أَمَامِي وَخَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي ثُمَّ نَظَرْتُ فِي السَّمَاءِ فَإِذَا هُوَ عَلَى الْفَرَسِ فِي الْهَوَاءِ يَعْنِي جِبْرِيلَ فَأَخَذَتْنِي رَجْفَةٌ فَأَتَيْتُ خَدِيجَةَ فَأَمَرْتُهُمْ فَدَثَّرُونِي ثُمَّ صَبُّوا عَلَيَّ الْمَاءَ ، فَأَنْزَلَ اللهُ عَلَيَّ : يَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنْذِرْ .
Dikatakan bahwa yang pertama turun dari Al-Qur'an adalah surat Al-Muddaththir, bersandar pada apa yang dikatakan Jabir bin Abdullah Al-Anshari saat Salamah bin Abdurrahman bertanya kepadanya: "Apa Al-Qur'an yang diturunkan lebih dulu?" Ia menjawab: "Ya ayyuhal muddaththir." Salamah berkata: "Atau Iqra' bismi rabbik?" Jabir berkata: "Aku ceritakan kepada kalian apa yang diceritakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku menetap di Hira sebulan. Saat selesai, aku turun ke dasar lembah. Tiba-tiba aku dipanggil. Aku melihat ke depan, belakang, kanan, kiri, lalu melihat ke langit, ternyata dia berada di atas singgasana di udara, yakni Jibril. Aku pun gemetar, lalu aku mendatangi Khadijah dan memerintahkan mereka untuk menyelimutiku, lalu mereka menyiramkan air kepadaku, maka Allah menurunkan kepadaku: 'Ya ayyuhal muddaththir. Qum fa andzir'."
وَهَذَا لَيْسَ بِمُخَالِفٍ لِلْقَوْلِ بِأَنَّ اقْرَأْ أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ ، وَذَلِكَ أَنَّ جَابِرًا سَمِعَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِصَّةَ الْأَخِيرَةَ وَلَمْ يَسْمَعْ أَوَّلَهَا ، فَتَوَهَّمَ أَنَّ سُورَةَ الْمُدَّثِّرِ أَوَّلُ مَا نَزَلَ وَلَيْسَ كَذَلِكَ ، وَلَكِنَّهَا أَوَّلُ مَا نَزَلَ عَلَيْهِ بَعْدَ سُورَةِ اقْرَأْ . وَالَّذِي يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ حَدِيثُ الزُّهْرِيِّ عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ : ( فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي فِي حِرَاءٍ جَالِسًا عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَجَثَثْتُ مِنْهُ رُعْبًا ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ : زَمِّلُونِي .. زَمِّلُونِي ، فَدَثَّرُونِي فَأَنْزَلَ اللهُ يَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ .
Ini tidak bertentangan dengan pendapat bahwa "Iqra'" adalah yang pertama turun dari Al-Qur'an, yaitu bahwa Jabir mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kisah terakhir dan tidak mendengar awalnya, maka ia menyangka surat Al-Muddaththir yang pertama turun, padahal tidak demikian, melainkan itu adalah yang pertama turun kepadanya setelah surat "Iqra'". Yang menunjukkan hal itu adalah hadits Az-Zuhri dari Jabir ia berkata: "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bercerita tentang masa fatrah wahyu, beliau bersabda dalam haditsnya: 'Saat aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Aku mengangkat kepalaku, ternyata malaikat yang datang kepadaku di Hira duduk di atas singgasana di antara langit dan bumi. Aku pun gemetar karena takut, lalu aku pulang dan berkata: 'Selimuti aku... selimuti aku.' Lalu mereka menyelimutiku, maka Allah menurunkan Ya ayyuhal muddaththir'."
وَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ يَتَّضِحُ أَنَّ الْوَحْيَ كَانَ قَدْ فَتَرَ بَعْدَ نُزُولِ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ . ثُمَّ نَزَلَ يَأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ، وَالَّذِي يُوَضِّحُ مَا قُلْنَا إِخْبَارُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَلَكَ الَّذِي جَاءَ بِحِرَاءٍ جَالِسٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْقِصَّةَ إِنَّمَا كَانَتْ بَعْدَ نُزُولِ اقْرَأْ .
Dari hadits ini jelas bahwa wahyu sempat terhenti setelah turunnya "Iqra' bismi rabbik", kemudian turun "Ya ayyuhal muddaththir". Yang menjelaskan apa yang kami katakan adalah kabar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa malaikat yang datang di Hira dalam keadaan duduk, menunjukkan bahwa kisah ini terjadi setelah turunnya "Iqra'".
وَعَلَى ذَلِكَ تَكُونُ مَطَالِعُ الْعَلَقِ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ فِي غَارِ حِرَاءٍ ، وَتَكُونُ الْمُدَّثِّرُ أَوَّلَ مَا نَزَلَ فِي دَارِ خَدِيجَةَ بَعْدَ الْآيَاتِ الْخَمْسِ الْأُولَى مِنْ سُورَةِ الْعَلَقِ ، أَمَّا الْفَاتِحَةُ فَقَدْ تَأَخَّرَ نُزُولُهَا حَتَّى ذَاعَ الْإِسْلَامُ بَيْنَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ الْأَوَّلِينَ لِيَسْأَلُوا اللهَ أَنْ يَهْدِيَهُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فِي صَلَوَاتِهِمْ . عَلَى أَيِّ صُورَةٍ كَانَ الْوَحْيُ يَأْتِي الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ جِبْرِيلَ يَأْتِينِي فَيُكَلِّمُنِي كَمَا يَأْتِي أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَيُكَلِّمُهُ وَيُبْصِرُهُ مِنْ غَيْرِ حِجَابٍ . وَفِي رِوَايَةٍ : كُنْتُ أَرَاهُ أَحْيَانًا كَمَا يَرَى الرَّجُلُ صَاحِبَهُ مِنْ وَرَاءِ الْغِرْبَالِ . وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَرِزْقَهَا ، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ .
Oleh karena itu permulaan surat Al-'Alaq adalah yang pertama turun dari Al-Qur'an di Gua Hira, dan surat Al-Muddaththir adalah yang pertama turun di rumah Khadijah setelah lima ayat pertama surat Al-'Alaq. Adapun Al-Fatihah, turunnya terlambat hingga Islam tersebar di antara kelompok Muslim awal untuk memohon kepada Allah agar menunjuki mereka jalan yang lurus dalam shalat mereka. Dalam bentuk apa wahyu datang kepada Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam? Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jibril mendatangiku lalu berbicara kepadaku sebagaimana salah seorang kalian mendatangi temannya lalu berbicara kepadanya dan melihatnya tanpa hijab." Dalam riwayat lain: "Aku terkadang melihatnya sebagaimana seorang pria melihat temannya dari balik ayakan." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan ke dalam hatiku bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga ia menyempurnakan ajal dan rizqinya, maka bertaqwalah kepada Allah dan berlaku baiklah dalam mencari."
وَسَأَلَ الْحَارِثُ بْنُ هِشَامٍ - أَخُو أَبِي جَهْلٍ - الرَّسُولَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ ؟
Harits bin Hisyam—saudara Abu Jahal—bertanya kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam: "Bagaimana wahyu datang kepadamu?"
— أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّ عَلَيَّ فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ مَا قَالَ .
— "Terkadang datang kepadaku seperti dentingan lonceng, dan itu yang paling berat bagiku, lalu ia berhenti dariku dan aku telah memahami apa yang dikatakannya."
وَفِي رِوَايَةٍ : يَأْتِينِي أَحْيَانًا لَهُ صَلْصَلَةٌ كَصَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ . وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِدُ ثِقَلًا عِنْدَ نُزُولِ الْوَحْيِ وَيَتَحَدَّرُ جَبِينُهُ عَرَقًا فِي الْبَرْدِ كَأَنَّهُ الْجُمَانُ ، وَرُبَّمَا غَطَّ كَغَطِيطِ الْبَكْرِ مُحْمَرَّةً عَيْنَاهُ .
Dalam riwayat lain: "Terkadang datang kepadaku wahyu yang memiliki dentingan seperti dentingan lonceng, dan terkadang malaikat menampakkan diri kepadaku sebagai seorang lelaki lalu berbicara kepadaku, maka aku memahami apa yang ia katakan." Rasul shallallahu 'alaihi wasallam merasakan berat saat wahyu turun, dan dahinya bercucuran keringat di cuaca dingin seolah-olah mutiara, dan terkadang beliau mendengkur seperti dengkuran anak unta dengan kedua matanya yang memerah.
وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : كَانَ إِذَا نَزَلَ الْوَحْيُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَقُلَ ذَلِكَ ، وَمَرَّةً وَقَعَ فَخِذُهُ عَلَى فَخِذِي فَوَاللَّهِ مَا وَجَدْتُ شَيْئًا أَثْقَلَ مِنْ فَخِذِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ta'ala 'anhu: Jika wahyu turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hal itu terasa sangat berat. Suatu kali, paha beliau menimpa pahaku, demi Allah, aku tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih berat daripada paha Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
وَرُبَّمَا أُوحِيَ إِلَيْهِ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ فَتَرْعَدُ حَتَّى يُظَنَّ أَنَّ ذِرَاعَهَا يَنْفَصِمُ ، وَرُبَّمَا بَرَكَتْ ، وَجَاءَهُ أَنَّهُ لَمَّا نَزَلَتْ سُورَةُ الْمَائِدَةِ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَلَى نَاقَتِهِ فَلَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَحْمِلَهُ فَنَزَلَ عَنْهَا .
Terkadang wahyu diturunkan saat beliau berada di atas kendaraannya, lalu kendaraan itu gemetar hingga dikira lengannya akan patah, dan terkadang kendaraan itu berlutut. Diceritakan pula bahwa ketika surah Al-Ma'idah turun kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam, beliau sedang di atas untanya, unta itu tidak kuat menahannya sehingga beliau turun darinya.
وَجَاءَ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مَرَّةٍ يُوحَى إِلَيَّ إِلَّا ظَنَنْتُ أَنَّ نَفْسِي تُقْبَضُ مِنِّي . وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ يَكَادُ يُغْشَى عَلَيْهِ . وَذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْخَذُ عَنِ الدُّنْيَا .
Diriwayatkan dari lisan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidaklah sekali pun wahyu diturunkan kepadaku kecuali aku mengira nyawaku akan dicabut." Dari Asma' binti Umais: Jika wahyu turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau hampir pingsan. Beberapa ulama menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seakan-akan terlepas dari dunia.
وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدٌ مِنَّا يَرْفَعُ طَرْفَهُ إِلَيْهِ حَتَّى يَنْقَضِيَ الْوَحْيُ . وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : كَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ السُّوَرُ الشَّدِيدَةُ أَخَذَهُ مِنَ الشِّدَّةِ وَالْكَرْبِ عَلَى قَدْرِ شِدَّةِ السُّورِ ، وَإِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ السُّوَرُ اللَّيِّنَةُ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى قَدْرِ لِينِهَا .
Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah: Jika wahyu turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tak seorang pun dari kami mampu mengangkat pandangan kepadanya sampai wahyu selesai. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ta'ala 'anhu: Jika surah-surah yang berat turun kepada Rasulullah, beliau diliputi kesukaran dan kesedihan sesuai dengan tingkat berat surah tersebut, dan jika surah yang ringan turun, beliau merasakan hal itu sesuai dengan tingkat keringanannya.
وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : كَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَحْيُ يُسْمَعُ عِنْدَ وَجْهِهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ .
Dari Umar radhiyallahu 'anhu: Jika wahyu turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, terdengar di dekat wajahnya suara seperti dengungan lebah.
وَعَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَرَ جِبْرِيلَ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا إِلَّا مَرَّتَيْنِ : حِينَ سَأَلَهُ أَنْ يُرِيَهُ نَفْسَهُ فَقَالَ : وَدِدْتُ أَنِّي رَأَيْتُكَ فِي صُورَتِكَ ، وَالْأُخْرَى لَيْلَةَ الْإِسْرَاءِ .
Dari Aisyah dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu ta'ala 'anhuma: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang diciptakan Allah kecuali dua kali: ketika beliau memintanya untuk memperlihatkan dirinya, lalu beliau berkata: "Aku ingin melihatmu dalam wujud aslimu," dan yang kedua adalah pada malam Isra'.
وَعَلَى ذَلِكَ يَكُونُ الْوَحْيُ بِأَنْ يَرَى النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جِبْرِيلَ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ ، وَقَدْ جَاءَهُ فِي صُورَةِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ وَغَيْرِهِ ، أَوْ بِالنَّفْثِ فِي الرَّوْعِ ، أَوْ يَأْتِيهِ أَحْيَانًا بِصَوْتٍ لَهُ صَلْصَلَةُ الْجَرَسِ ، أَوْ يَرَاهُ عَلَى هَيْئَتِهِ الَّتِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا ، وَمَا كَانَ اللَّهُ يُكَلِّمُ أَنْبِيَاءَهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ : وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا .
Dengan demikian, wahyu bisa terjadi dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat Jibril dalam wujud manusia (ia pernah datang dalam wujud Dihyah Al-Kalbi dan lainnya), atau dengan tiupan ke dalam jiwa, atau terkadang datang dengan suara seperti dentingan lonceng, atau beliau melihatnya dalam wujud aslinya yang diciptakan Allah. Allah tidak berbicara kepada para nabi-Nya kecuali melalui wahyu atau dari balik hijab: "Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali melalui wahyu atau dari balik hijab atau dengan mengutus seorang utusan."
وَقَدْ وُجِدَتِ الرَّغْبَةُ فِي الْعِلْمِ بِالْغَيْبِ وَاسْتِطْلَاعِ الْمَجْهُولِ مُنْذُ أَقْدَمِ الْعُصُورِ ، وَقَدْ شَاعَتِ الْكَهَانَةُ فِي الْعَرَبِ وَهِيَ ادِّعَاءُ عِلْمِ الْغَيْبِ كَالْإِخْبَارِ بِمَا سَيَقَعُ فِي الْأَرْضِ مَعَ الِاسْتِنَادِ إِلَى سَبَبٍ . وَالْأَصْلُ فِيهَا اسْتِرَاقُ الْجِنِّيِّ السَّمْعَ مِنْ كَلَامِ الْمَلَائِكَةِ فَيُلْقِيهِ فِي أُذُنِ الْكَاهِنِ ، وَالْكَاهِنُ لَفْظٌ يُطْلَقُ عَلَى الْعَرَّافِ وَالَّذِي يَضْرِبُ بِالْحَصَى وَالْمُنَجِّمِ . وَالْعَرَبُ تُسَمِّي كُلَّ مَنْ أَذِنَ بِشَيْءٍ قَبْلَ وُقُوعِهِ كَاهِنًا . وَكَانَتِ الْكَهَانَةُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاشِيَةً فِيهِمْ لِانْقِطَاعِ النُّبُوَّةِ فِيهِمْ ، وَعَرَفَ الْعَرَبُ الْعَرَّافَةَ وَصَاحِبَهَا عَرَّافٌ .
Keinginan untuk mengetahui perkara ghaib dan menyelidiki hal yang belum diketahui sudah ada sejak zaman dahulu. Perdukunan (kahanah) menyebar di kalangan bangsa Arab, yaitu klaim mengetahui hal ghaib seperti mengabarkan apa yang akan terjadi di bumi dengan bersandar pada suatu sebab. Asal muasalnya adalah jin mencuri dengar pembicaraan malaikat lalu menyampaikannya ke telinga dukun (kahin). Kahin adalah istilah yang digunakan untuk tukang ramal, orang yang melempar kerikil, dan ahli nujum. Bangsa Arab menyebut siapa saja yang memberitakan sesuatu sebelum terjadi sebagai kahin. Perdukunan di zaman Jahiliyah tersebar luas di kalangan mereka karena terputusnya kenabian di tengah-tengah mereka. Bangsa Arab mengenal 'arrafah (ilmu ramal) dan pelakunya disebut 'arraf.
عَرَّافٌ ، وَهُوَ الَّذِي يَسْتَدِلُّ عَلَى الْأُمُورِ بِأَسْبَابٍ وَمُقَدِّمَاتٍ يَدَّعِي مَعْرِفَتَهَا بِهَا : كَالزَّجْرِ وَالطَّرْقِ بِالْحَصَى ، وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ : ( مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ) . وَقَدْ أَطَالَ ابْنُ خَلْدُونَ فِي مُقَدِّمَتِهِ عِنْدَمَا تَكَلَّمَ عَنِ الْكَهَانَةِ فَقَالَ : وَأَمَّا الْكَهَانَةُ فَهِيَ أَيْضًا مِنْ خَوَاصِّ النَّفْسِ الْإِنْسَانِيَّةِ ، وَذَلِكَ أَنَّ لِلنَّفْسِ الْبَشَرِيَّةِ اسْتِعْدَادًا لِلِانْسِلَاخِ مِنَ الْبَشَرِيَّةِ إِلَى الرُّوحَانِيَّةِ الَّتِي فَوْقَهَا .
'Arraf adalah orang yang mencari petunjuk atas suatu perkara dengan sebab dan mukadimah yang ia klaim mengetahuinya, seperti (praktik) zajar (meramal dengan perilaku burung) dan memukul dengan kerikil. Telah datang dalam hadis syarif: "Barangsiapa mendatangi dukun (kahin) atau peramal ('arraf) lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." Ibnu Khaldun memaparkan panjang lebar dalam mukadimahnya saat membicarakan perdukunan, ia berkata: "Adapun perdukunan, ia termasuk kekhususan jiwa manusia, di mana jiwa manusia memiliki kesiapan untuk keluar (terlepas) dari sifat kemanusiaan menuju sifat kerohanian yang ada di atasnya."
وَأَنَّهُ يَحْصُلُ مِنْ ذَلِكَ لَمْحَةٌ لِلْبَشَرِ فِي صِنْفِ الْأَنْبِيَاءِ بِمَا فُطِرُوا عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ ، وَتَقَرَّرَ أَنَّهُ يَحْصُلُ لَهُمْ مِنْ غَيْرِ اكْتِسَابٍ وَلَا اسْتِعَانَةٍ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَدَارِكِ وَلَا مِنَ التَّصَوُّرَاتِ وَلَا مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ كَلَامًا أَوْ حَرَكَةً ، وَلَا بِأَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ ، إِنَّمَا هُوَ انْسِلَاخٌ مِنَ الْبَشَرِيَّةِ إِلَى الْمَلَكِيَّةِ بِالْفِطْرَةِ فِي لَحْظَةٍ أَقْرَبَ مِنْ لَمْحِ الْبَصَرِ .
"Dan sesungguhnya dari hal itu, muncul pandangan sekilas bagi manusia pada kelompok nabi karena fitrah yang ada pada mereka. Telah ditetapkan bahwa hal itu terjadi pada mereka tanpa usaha, tanpa bantuan dari persepsi, tanpa bayangan-bayangan, dan tanpa aktivitas fisik berupa perkataan atau gerakan, maupun perkara lainnya. Hal itu hanyalah terlepasnya sifat kemanusiaan menuju sifat malaikat berdasarkan fitrah dalam sekejap mata yang lebih cepat dari kedipan mata."
وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَكَانَ ذَلِكَ الِاسْتِعْدَادُ مَوْجُودًا فِي الطَّبِيعَةِ الْبَشَرِيَّةِ فَيُغَطِّي التَّقْسِيمُ الْعَقْلِيُّ أَنَّ هُنَاكَ صِنْفًا آخَرَ مِنَ الْبَشَرِ نَاقِصًا عَنْ رُتْبَةِ الصِّنْفِ الْأَوَّلِ نُقْصَانَ الضِّدِّ عَنْ ضِدِّهِ الْكَامِلِ ، لِأَنَّ عَدَمَ الِاسْتِعَانَةِ فِي ذَلِكَ الْإِدْرَاكِ ضِدُّ الِاسْتِعَانَةِ فِيهِ وَشَتَّانَ مَا بَيْنَهُمَا !
"Jika demikian keadaannya dan kesiapan itu ada dalam fitrah manusia, maka pembagian secara rasional mencakup adanya kelompok manusia lain yang kurang dari tingkatan kelompok pertama, sebagaimana kurangnya lawan dari lawannya yang sempurna, karena tidak adanya bantuan (dalam meraih wahyu) adalah lawan dari adanya bantuan di dalamnya, dan betapa jauh perbedaan di antara keduanya!"
فَإِذَا أَعْطَى تَقْسِيمُ الْوُجُودِ أَنَّ هُنَاكَ صِنْفًا آخَرَ مِنَ الْبَشَرِ مَفْطُورًا عَلَى أَنْ تَتَحَرَّكَ قُوَّتُهُ الْعَقْلِيَّةُ حَرَكَتَهَا الْفِكْرِيَّةَ بِالْإِرَادَةِ عِنْدَمَا يَبْعَثُهَا النُّزُوعُ لِذَلِكَ وَهِيَ نَاقِصَةٌ عَنْهُ بِالْجِبِلَّةِ ، فَيَكُونُ لَهَا بِالْجِبِلَّةِ عِنْدَمَا يَعُوقُهَا الْعَجْزُ عَنْ ذَلِكَ تَشَبُّثٌ بِأُمُورٍ جُزْئِيَّةٍ مَحْسُوسَةٍ أَوْ مُتَخَيَّلَةٍ : كَالْأَجْسَامِ الشَّفَّافَةِ وَعِظَامِ الْحَيَوَانَاتِ وَسَجْعِ الْكَلَامِ وَمَا سَنَحَ مِنْ طَيْرٍ أَوْ حَيَوَانٍ . فَيَسْتَدِيمُ ذَلِكَ الْإِحْسَاسُ أَوِ التَّخَيُّلُ مُسْتَعِينًا بِهِ فِي ذَلِكَ الِانْسِلَاخِ الَّذِي يَقْصِدُهُ وَيَكُونُ كَالْمُشَيِّعِ لَهُ . وَهَذِهِ الْقُوَّةُ الَّتِي فِيهِمْ مَبْدَأٌ لِذَلِكَ الْإِدْرَاكِ هِيَ الْكَهَانَةُ .
"Jika pembagian eksistensi menunjukkan ada kelompok lain dari manusia yang secara alami memiliki kekuatan mental untuk menggerakkan daya pikir melalui kehendak saat muncul hasrat untuk itu—sedangkan mereka secara tabiat kurang dari tingkatan itu—maka secara alami, saat ketidakmampuan menghalangi mereka, mereka akan berpaut pada hal-hal parsial yang konkret atau imajiner: seperti benda transparan, tulang hewan, sajak perkataan, atau apa yang terlintas dari burung atau hewan. Rasa atau imajinasi itu terus berlanjut, membantu proses pelepasan yang mereka tuju, dan menjadi seperti pengiring baginya. Kekuatan dalam diri mereka yang menjadi dasar dari persepsi itu adalah perdukunan."
وَلِكَوْنِ هَذِهِ النُّفُوسِ مَفْطُورَةً عَلَى النَّقْصِ وَالْقُصُورِ عَنِ الْكَمَالِ كَانَ إِدْرَاكُهَا فِي الْجُزْئِيَّاتِ أَكْثَرَ مِنَ الْكُلِّيَّاتِ ، وَلِذَلِكَ تَكُونُ الْمُخَيِّلَةُ فِيهِمْ فِي غَايَةِ الْقُوَّةِ لِأَنَّهَا آلَةُ الْجُزْئِيَّاتِ فَتَنْفُذُ فِيهَا نُفُوذًا تَامًّا فِي نَوْمٍ أَوْ يَقَظَةٍ ، وَتَكُونُ عِنْدَهَا حَاضِرَةً عَتِيدَةً تَحْضُرُهَا بِالْمُخَيِّلَةِ ، وَتَكُونُ لَهَا كَالْمِرْآةِ تَنْظُرُ فِيهَا دَائِمًا ، وَلَا يَقْوَى الْكَاهِنُ عَلَى الْكَمَالِ فِي إِدْرَاكِ الْمَعْقُولَاتِ لِأَنَّ وَحْيَهُ مِنْ وَحْيِ الشَّيْطَانِ ، وَأَرْفَعُ أَحْوَالِ هَذَا الصِّنْفِ أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْكَلَامِ الَّذِي فِيهِ السَّجْعُ وَالْمُوَازَنَةُ لِيَشْتَغِلَ بِهِ عَنِ الْحَوَاسِّ .
"Karena jiwa-jiwa ini secara alami kurang dan tidak sempurna, persepsi mereka dalam hal-hal parsial lebih besar daripada hal-hal umum. Oleh karena itu, daya imajinasi mereka sangat kuat karena ia adalah alat untuk hal-hal parsial, sehingga ia menembus secara sempurna dalam tidur atau terjaga. Ia hadir secara siap sedia, mereka menghadirkan persepsi tersebut melalui imajinasi, dan imajinasi menjadi seperti cermin yang selalu mereka pandang. Dukun tidak mampu meraih kesempurnaan dalam memahami konsep rasional karena wahyunya berasal dari wahyu setan, dan kondisi tertinggi dari kelompok ini adalah menggunakan perkataan yang bersajak dan berirama agar mereka teralihkan dari panca indra."
وَيَقْوَى بَعْضَ الشَّيْءِ عَلَى ذَلِكَ الِاتِّصَالِ النَّاقِصِ فَيَهْجِسُ فِي قَلْبِهِ فِي تِلْكَ الْحَرَكَةِ ، وَالَّذِي يُشَيِّعُهَا مِنْ ذَلِكَ الْأَجْنَبِيِّ مَا يَقْذِفُهُ عَنْ لِسَانِهِ ، فَرُبَّمَا صَدَقَ وَوَافَقَ وَرُبَّمَا كَذَبَ لِأَنَّهُ يُتَمِّمُ نَقْصَهُ بِأَمْرٍ أَجْنَبِيٍّ عَنْ ذَاتِهِ الْمُدْرِكَةِ ، وَمُبَايِنٍ لَهَا غَيْرِ مُلَائِمٍ ؛ فَيَعْرِضُ لَهُ الصِّدْقُ وَالْكَذِبُ جَمِيعًا وَلَا يَكُونُ مَوْثُوقًا بِهِ . وَرُبَّمَا يَفْزَعُ إِلَى الظُّنُونِ وَالتَّخْمِينَاتِ حِرْصًا عَلَى الظَّفَرِ بِالْإِدْرَاكِ بِزَعْمِهِ وَتَمْوِيهًا عَلَى السَّائِلِينَ .
"Mereka sedikit mendapatkan kekuatan dalam hubungan yang tidak sempurna itu, sehingga terlintas di dalam hatinya dalam pergerakan tersebut, dan apa yang mengiringinya dari hal luar tersebut dilontarkan melalui lisannya. Terkadang ia benar dan sesuai, dan terkadang ia bohong karena ia menyempurnakan kekurangannya dengan perkara asing dari jati dirinya yang menangkap (persepsi), berbeda dengannya, dan tidak sesuai; maka kejujuran dan kebohongan bercampur padanya dan ia tidak bisa dipercaya. Terkadang mereka beralih ke prasangka dan spekulasi demi ambisi untuk meraih persepsi (yang mereka klaim) dan untuk menipu orang-orang yang bertanya."
وَأَصْحَابُ هَذَا السَّجْعِ هُمُ الْمُخَصَّصُونَ بِاسْمِ الْكُهَّانِ لِأَنَّهُ أَرْفَعُ سَائِرِ أَصْنَافِهِمْ ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِهِ : هَذَا مِنْ سَجْعِ الْكُهَّانِ ، فَجَعَلَ السَّجْعَ مُخْتَصًّا بِهِمْ بِمُقْتَضَى الْإِضَافَةِ . وَقَدْ قَالَ لِابْنِ صَيَّادٍ (١) حِينَ سَأَلَهُ كَاشِفًا عَنْ حَالِهِ بِالِاخْتِبَارِ : كَيْفَ يَأْتِيكَ هَذَا الْأَمْرُ ؟ قَالَ ابْنُ صَيَّادٍ : يَأْتِينِي صَادِقٌ وَكَاذِبٌ . فَقَالَ : خُلِّطَ عَلَيْكَ الْأَمْرُ . يَعْنِي أَنَّ النُّبُوَّةَ خَاصَّتُهَا الصِّدْقُ فَلَا يَعْتَرِيهَا الْكَذِبُ بِحَالٍ لِأَنَّهَا اتِّصَالٌ مِنْ ذَاتِ النَّبِيِّ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَى مِنْ غَيْرِ مُشَيِّعٍ وَلَا اسْتِعَانَةٍ بِأَجْنَبِيٍّ .
"Para pemilik sajak ini adalah mereka yang dikhususkan dengan sebutan kahin karena sajak adalah (tingkatan) tertinggi dari kelompok mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda mengenai hal serupa: 'Ini termasuk sajak para dukun,' beliau mengaitkan sajak secara khusus dengan mereka berdasarkan idhafah. Beliau pernah berkata kepada Ibnu Shayyad (1) saat menanyainya untuk mengetahui kondisinya melalui ujian: 'Bagaimana perkara ini datang kepadamu?' Ibnu Shayyad menjawab: 'Datang kepadaku yang jujur dan yang bohong.' Beliau bersabda: 'Perkara itu dicampuradukkan kepadamu.' Artinya, kenabian memiliki kekhususan yaitu kejujuran, sehingga tidak mungkin dimasuki kebohongan sama sekali karena kenabian adalah hubungan antara zat Nabi dengan Al-Mala' Al-A'la (tempat tertinggi) tanpa pengiring dan tanpa bantuan pihak asing."
(١) رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ عِنْدَهُ شَيْءٌ مِنَ الْكَهَانَةِ وَالسِّحْرِ .
(1) Seorang lelaki dari Yahudi yang memiliki kemampuan perdukunan dan sihir.[cite: 44]
وَالْكَهَانَةُ لَمَّا احْتَاجَ صَاحِبُهَا بِسَبَبِ عَجْزِهِ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ بِالتَّصَوُّرَاتِ الْأَجْنَبِيَّةِ كَانَتْ دَاخِلَةً فِي إِدْرَاكِهِ وَالْتَبَسَتْ بِالْإِدْرَاكِ الَّذِي تَوَجَّهَ إِلَيْهِ فَصَارَتْ مُخْتَلِطًا بِهَا ، وَطَرَقَهُ الْكَذِبُ مِنْ هَذِهِ الْجِهَةِ فَامْتَنَعَ أَنْ تَكُونَ نُبُوَّةً ، وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ أَرْفَعَ مَرَاتِبِ الْكَهَانَةِ حَالَةُ السَّجْعِ لِأَنَّ مَعْنَى السَّجْعِ أَخَفُّ مِنْ سَائِرِ الْمُغَيَّبَاتِ مِنَ الْمَرْئِيَّاتِ وَالْمَسْمُوعَاتِ ، وَتَدُلُّ خِفَّةُ الْمَعْنَى عَلَى قُرْبِ ذَلِكَ الِاتِّصَالِ وَالْإِدْرَاكِ وَالْبُعْدِ فِيهِ عَنِ الْعَجْزِ بَعْضَ الشَّيْءِ .
"Perdukunan, karena pelakunya membutuhkan bantuan imajinasi asing akibat ketidakmampuannya, maka hal itu masuk dalam persepsinya dan bercampur dengan persepsi yang ditujunya, sehingga menjadi tercampur di dalamnya. Kebohongan mendatangi dari sisi ini sehingga mustahil ia disebut kenabian. Kami katakan bahwa tingkatan tertinggi perdukunan adalah kondisi sajak karena makna sajak lebih ringan dari perkara gaib lainnya berupa penglihatan dan pendengaran, dan ringannya makna menunjukkan kedekatan hubungan dan persepsi itu serta jauhnya dari ketidakmampuan sedikitpun."
وَقَدْ زَعَمَ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ هَذِهِ الْكَهَانَةَ قَدِ انْقَطَعَتْ مُنْذُ زَمَنِ النُّبُوَّةِ بِمَا وَقَعَ مِنْ شَأْنِ رَجْمِ الشَّيَاطِينِ بِالشُّهُبِ بَيْنَ يَدَيِ الْبَعْثَةِ ، وَأَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِمَنْعِهِمْ مِنْ خَبَرِ السَّمَاءِ كَمَا وَقَعَ فِي الْقُرْآنِ ، وَالْكُهَّانُ إِنَّمَا يَتَعَرَّفُونَ أَخْبَارَ السَّمَاءِ مِنَ الشَّيَاطِينِ فَبَطَلَتِ الْكَهَانَةُ مِنْ يَوْمَئِذٍ ، وَلَا يَقُومُ مِنْ ذَلِكَ دَلِيلٌ لِأَنَّ عُلُومَ الْكُهَّانِ كَمَا تَكُونُ مِنَ الشَّيَاطِينِ تَكُونُ مِنْ نُفُوسِهِمْ أَيْضًا كَمَا قَرَّرْنَا ، وَأَيْضًا فَالْآيَةُ إِنَّمَا دَلَّتْ عَلَى مَنْعِ الشَّيَاطِينِ مِنْ نَوْعٍ وَاحِدٍ مِنْ أَخْبَارِ السَّمَاءِ وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِخَبَرِ الْبَعْثَةِ وَلَمْ يُمْنَعُوا مِمَّا سِوَى ذَلِكَ .
"Sebagian orang beranggapan bahwa perdukunan ini telah terputus sejak zaman kenabian dengan peristiwa dirajamnya setan dengan bintang jatuh menjelang masa kebangkitan (Nabi), dan bahwa hal itu bertujuan mencegah mereka dari berita langit sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an. Karena dukun hanya mengetahui berita langit dari setan, maka perdukunan batal sejak hari itu. Namun, tidak ada dalil yang kuat untuk itu, karena ilmu dukun, selain berasal dari setan, juga berasal dari jiwa mereka sendiri sebagaimana yang telah kami jelaskan. Lagipula, ayat tersebut hanya menunjukkan pencegahan terhadap setan dari satu jenis berita langit, yaitu yang berkaitan dengan kabar kebangkitan, dan mereka tidak dilarang dari hal selain itu."
وَأَيْضًا فَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ الِانْقِطَاعُ بَيْنَ يَدَيِ النُّبُوَّةِ فَقَطْ . وَلَعَلَّهَا عَادَتْ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ ، لِأَنَّ هَذِهِ الْمَدَارِكَ كُلَّهَا تَخْمِدُ فِي زَمَنِ النُّبُوَّةِ كَمَا تَخْمِدُ الْكَوَاكِبُ وَالسُّرُجُ عِنْدَ وُجُودِ الشَّمْسِ ، لِأَنَّ النُّبُوَّةَ هِيَ النُّورُ الْأَعْظَمُ الَّذِي يَخْفَى مَعَهُ كُلُّ نُورٍ وَيَذْهَبُ . وَقَدْ زَعَمَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ أَنَّهَا إِنَّمَا تُوجَدُ بَيْنَ يَدَيِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ تَنْقَطِعُ ، وَهَكَذَا مَعَ كُلِّ نُبُوَّةٍ وَقَعَتْ لِأَنَّ وُجُودَ النُّبُوَّةِ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ وَضْعٍ فَلَكِيٍّ يَقْتَضِيهِ .
"Selain itu, pemutusan tersebut hanya terjadi tepat sebelum kenabian saja. Bisa jadi, ia kembali setelah itu seperti sediakala, dan inilah yang tampak jelas (zahir), karena persepsi-persepsi ini semuanya padam di zaman kenabian sebagaimana bintang-bintang dan lampu-lampu padam saat matahari muncul, karena kenabian adalah cahaya terbesar yang membuat semua cahaya lain hilang dan sirna. Sebagian filsuf beranggapan bahwa perdukunan hanya ada sebelum kenabian, kemudian terputus, dan demikian seterusnya pada setiap kenabian yang terjadi, karena keberadaan kenabian pasti memerlukan konfigurasi astronomis yang menuntutnya."
وَفِي تَمَامِ ذَلِكَ الْوَضْعِ تَمَامُ تِلْكَ النُّبُوَّةِ الَّتِي دَلَّ عَلَيْهَا ، وَنَقْصُ ذَلِكَ الْوَضْعِ عَنِ التَّمَامِ يَقْتَضِي وُجُودَ طَبِيعَةٍ مِنْ ذَلِكَ النَّوْعِ الَّذِي يَقْتَضِيهِ نَاقِصَةً ، وَهُوَ مَعْنَى الْكَاهِنِ عَلَى مَا قَرَّرْنَاهُ . فَقَبْلَ أَنْ يَتِمَّ ذَلِكَ الْوَضْعُ الْكَامِلُ يَقَعُ الْوَضْعُ النَّاقِصُ وَيَقْتَضِي وُجُودَ الْكَاهِنِ إِمَّا وَاحِدًا أَوْ مُتَعَدِّدًا ، فَإِذَا تَمَّ ذَلِكَ الْوَضْعُ تَمَّ وُجُودُ النَّبِيِّ بِكَمَالِهِ وَانْقَضَتِ الْأَوْضَاعُ الدَّالَّةُ عَلَى مِثْلِ تِلْكَ الطَّبِيعَةِ فَلَا يُوجَدُ مِنْهَا شَيْءٌ بَعْدُ .
"Dengan sempurnanya konfigurasi tersebut, sempurnalah kenabian yang ditunjukkannya. Berkurangnya konfigurasi itu dari kesempurnaan menuntut adanya tabiat yang kurang dari jenis yang dituntutnya, dan itulah makna kahin menurut penjelasan kami. Sebelum konfigurasi sempurna itu tercapai, terjadi konfigurasi kurang yang menuntut adanya kahin, baik satu atau lebih. Jika konfigurasi itu sempurna, maka lahirlah eksistensi Nabi dengan kesempurnaannya, dan berakhir pulalah konfigurasi yang menunjukkan tabiat tersebut, sehingga tidak ada lagi hal itu sesudahnya."
وَهَذَا بِنَاءً عَلَى أَنَّ بَعْضَ الْوَضْعِ الْفَلَكِيِّ يَقْتَضِي بَعْضَ أَثَرِهِ وَهُوَ غَيْرُ مُسَلَّمٍ . فَلَعَلَّ الْوَضْعَ إِنَّمَا يَقْتَضِي ذَلِكَ الْأَثَرَ بِهَيْئَتِهِ الْخَاصَّةِ ، وَلَوْ نَقَصَ بَعْضُ أَجْزَائِهَا فَلَا يَقْتَضِي شَيْئًا لَا أَنَّهُ يَقْتَضِي ذَلِكَ الْأَثَرَ نَاقِصًا كَمَا قَالُوهُ . ثُمَّ إِنَّ هَؤُلَاءِ الْكُهَّانَ إِذَا عَاصَرُوا زَمَنَ النُّبُوَّةِ فَإِنَّهُمْ عَارِفُونَ بِصِدْقِ النَّبِيِّ وَدَلَالَةِ مُعْجِزَتِهِ لِأَنَّ لَهُمْ بَعْضَ الْوِجْدَانِ مِنْ أَمْرِ النُّبُوَّةِ ، وَلَا يَصُدُّهُمْ عَنْ ذَلِكَ وَيُوقِعُهُمْ فِي التَّكْذِيبِ إِلَّا قُوَّةُ الْمَطَامِعِ فِي أَنَّهَا نُبُوَّةٌ لَهُمْ فَيَقَعُونَ فِي الْعِنَادِ كَمَا وَقَعَ لِأُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ فَإِنَّهُ كَانَ يَطْمَعُ أَنْ يَكُونَ نَبِيًّا .
"Ini didasarkan pada anggapan bahwa sebagian konfigurasi astronomis menuntut sebagian dampaknya, yang mana hal itu tidak dapat diterima secara mutlak. Barangkali konfigurasi itu hanya menuntut dampak tersebut dengan wujudnya yang khusus, dan jika sebagian bagiannya kurang, maka ia tidak menuntut apa pun, bukannya menuntut dampak tersebut dalam bentuk yang kurang seperti yang mereka katakan. Kemudian, jika para dukun ini hidup sezaman dengan masa kenabian, mereka mengetahui kejujuran Nabi dan bukti mukjizatnya karena mereka memiliki sedikit intuisi tentang urusan kenabian. Tidak ada yang menghalangi mereka dari hal itu dan menjerumuskan mereka ke dalam pendustaan kecuali ambisi yang kuat bahwa kenabian itu milik mereka, sehingga mereka terjebak dalam sikap keras kepala, sebagaimana yang terjadi pada Umayyah bin Abi Ash-Shalt, karena ia berambisi menjadi nabi."
وَكَذَا وَقَعَ لِابْنِ الصَّيَّادِ وَالْمُسَيْلِمَةِ وَغَيْرِهِمْ . فَإِذَا غَلَبَ الْإِيمَانُ وَانْقَطَعَتْ تِلْكَ الْأَمَانِيُّ آمَنُوا أَحْسَنَ إِيمَانٍ كَمَا وَجَبَ الطَّلِيحَةَ الْأَسَدِيَّ (١) وَسَوَّادَ بْنَ قَارِبٍ وَكَانَ لَهُمَا مِنَ الْفُتُوحَاتِ الْإِسْلَامِيَّةِ مَا شَهِدَ بِحُسْنِ الْإِيمَانِ . وَقَالَ الْأَصْفَهَانِيُّ فِي كِتَابِ الذَّرِيعَةِ : ( الْكَهَانَةُ مُخْتَصَّةٌ بِالْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ ، وَالْعَرَّافَةُ بِالْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ ) . وَعَرَّفَهَا بَعْضُهُمْ بِقَوْلِهِ : الْعَرَّافَةُ الِاسْتِدْلَالُ بِبَعْضِ الْحَوَادِثِ الْخَالِيَةِ عَلَى الْحَوَادِثِ الْآتِيَةِ بِالْمُنَاسَبَةِ أَوِ الْمُشَابَهَةِ الْخَفِيَّةِ الَّتِي تَكُونُ بَيْنَهُمَا .
"Begitu pula yang terjadi pada Ibnu Shayyad, Musailamah, dan lainnya. Jika iman telah menang dan angan-angan itu terputus, mereka beriman dengan keimanan yang terbaik, sebagaimana yang diwajibkan (ditempuh) oleh Thulaihah Al-Asadi (1) dan Sawwad bin Qarib. Keduanya memiliki andil dalam penaklukan Islam yang menjadi saksi atas kebaikan iman mereka." Al-Ashfahani berkata dalam kitab Adz-Dzari'ah: "Perdukunan dikhususkan untuk perkara masa depan, dan 'arrafah untuk perkara masa lalu." Sebagian mereka mendefinisikannya dengan berkata: "'Arrafah adalah mencari petunjuk melalui sebagian peristiwa masa lalu terhadap peristiwa masa depan berdasarkan hubungan atau keserupaan samar yang ada di antara keduanya."
(١) هُوَ طُلَيْحَةُ بْنُ خُوَيْلِدِ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ فَضْلَةَ الْأَسَدِيُّ ، كَانَ يُعَدُّ بِأَلْفِ فَارِسٍ ثُمَّ تَنَبَّأَ ثُمَّ أَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ .
(1) Ia adalah Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal bin Fadlah Al-Asadi, dulunya ia disetarakan dengan seribu penunggang kuda, kemudian ia mengaku nabi, lalu ia masuk Islam dan keislamannya menjadi baik.[cite: 46]
أَوْ الِاخْتِلَاطُ أَوِ الِارْتِبَاطُ عَلَى أَنْ يَكُونَا مَعْلُولَتَيِ أَمْرٍ وَاحِدٍ بِمَنْزِلَةٍ لَهُ أَوْ لِأَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ الْخَالِي عِلَّةَ الْمَحْوَلِ الِاسْتِقْبَالِ . وَأَمَّا الزَّجْرُ فَهُوَ الِاسْتِدْلَالُ بِأَحْوَالِ الْحَيَوَانَاتِ وَأَحْوَالِ الطَّيْرِ وَالزَّوَاجِرِ لَهَا عَلَى الْحَوَادِثِ . وَأَمَّا الْفَالُ فَهُوَ مَا يَحْدُثُ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ مِنَ التَّفَأُلِ بِالْكَلِمَةِ عِنْدَ سُنُوحِ طَائِرٍ أَوْ حَيَوَانٍ .
"Atau percampuran atau keterikatan, dengan ketentuan bahwa keduanya merupakan akibat dari satu urusan yang kedudukannya setara, atau karena perkara masa lalu menjadi penyebab bagi peristiwa masa depan." Adapun Zajar adalah mencari petunjuk melalui keadaan hewan, keadaan burung, dan tanda-tanda yang ada padanya terhadap peristiwa-peristiwa. Adapun Fal (optimisme/pertanda) adalah apa yang muncul dari sebagian orang berupa sikap optimis terhadap suatu kata saat munculnya burung atau hewan.
وَالْفِكْرُ فِيهِ بَعْدَ مَغِيبِهِ مِمَّا هُوَ مَوْجُودٌ فِي النَّفْسِ يَبْعَثُ عَلَى الْخَيَالِ وَالْفِكْرِ فِيمَا وُجِدَ فِيهِ مِنْ مَقْرُوءٍ أَوْ مَسْمُوعٍ فَهُوَ كَقُوَّتِهَا الْمُتَخَيِّلَةِ قَوِيَّةً لِتُمِيعَهَا فِي الْبَحْثِ مُسْتَعِينًا بِمَا رَآهُ أَوِ اجْتَمَعَ فَيُؤَدِّيهِ ذَلِكَ إِلَى إِدْرَاكٍ مَا تَعْلُوهُ الْقُوَّتُ الْمُتَخَيِّلَةُ فِي النَّوْمِ . وَعِنْدَ كَوْنِ الْحَوَاسِّ وَاسِطَةً بَيْنَ الْمَحْسُوسِ وَالْمَرْئِيِّ فِي النُّقْطَةِ تَجْمَعُهُ مَعَ مَا عَلِمْتُهُ فَيَتَوَالَى شَمْلُ الرِّوَايَاتِ فِيهِ كَمَا قَالَ الْأُسْتَاذُ الْعَبَّاسُ عَبْدُ مَحْمُودٍ الْعَقَّادُ فِي كِتَابِهِ ( مَطْلَعُ النُّورِ أَوْ طَوَالِعُ الْبِعْثَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ ) .
"Dan pemikiran mengenainya setelah hilangnya (peristiwa tersebut) dari apa yang ada di dalam jiwa membangkitkan imajinasi dan pemikiran terhadap apa yang ditemukan dari (hal yang) terbaca atau terdengar. Maka itu seperti kekuatan imajinasinya yang kuat untuk melelehkannya dalam pencarian dengan bantuan apa yang ia lihat atau (yang) terkumpul, maka hal itu membawanya pada persepsi terhadap apa yang dinaungi kekuatan imajinasi saat tidur. Dan saat panca indra menjadi perantara antara yang konkret dan yang terlihat pada titik tersebut, ia mengumpulkannya dengan apa yang telah aku ketahui, maka rangkaian riwayat mengalir padanya, sebagaimana dikatakan oleh Ustaz Abbas Abdul Mahmud Al-Aqqad dalam bukunya (Mathla' An-Nur aw Thawali' Al-Bi'tsah Al-Muhammadiyah)."
( مِنَ الْقَدِيمِ مِنْ زَمَنِ الزَّمَنِ وُجِدَتِ الرَّغْبَةُ فِي الْعِلْمِ بِالْغَيْبِ وَاسْتِطْلَاعِ الْمَجْهُولِ ، وَوُجِدَتْ لِذَلِكَ عَلَامَاتٌ كَثِيرَةٌ يَتَّفِقُ عَلَيْهَا عَامَّةٌ مِنْ قَبِيلِ زَجْرِ الطَّيْرِ وَالتَّفَأُلِ بِالْكَلَامِ الْمَسْمُوعِ وَالْمَنَاظِرِ الَّتِي تُبَشِّرُ بِالْخَيْرِ وَالنَّجَاحِ ، أَوْ تُنْذِرُ بِالشَّرِّ وَالْخِيلَةِ . وَمِنْ هَذِهِ الْعَلَامَاتِ الْعَامَّةِ الْحَائِلَةِ كَمَعْرِفَةِ الشَّائِعَةِ بَيْنَ النَّاسِ لَا يَخْتَصُّ بِهَا هَذِهِ دُولُ غَيْرِهَا ، فَكُلُّ مَا عَرَفَهُ النَّاسُ قَدِيمًا مِنْ عَلَامَاتِ التَّفَاؤُلِ أَوْ عَلَامَاتِ التَّشَاؤُمِ فَهُوَ مِيرَاثُ الْجَمَاعَةِ يَتَنَاقَلُونَهُ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ مِنَ الْآبَاءِ إِلَى الْأَبْنَاءِ ) .
"(Sejak dahulu kala, telah ada hasrat untuk mengetahui hal gaib dan menyelidiki hal yang belum diketahui, dan untuk itu ditemukan banyak tanda yang disepakati secara umum seperti zajar burung, optimisme melalui perkataan yang terdengar, dan pemandangan yang memberikan kabar gembira berupa kebaikan dan kesuksesan, atau memperingatkan keburukan dan tipu daya. Di antara tanda-tanda umum ini, seperti pengetahuan yang tersebar di kalangan masyarakat, tidak hanya dikhususkan bagi negara tertentu saja. Maka, segala apa yang telah diketahui orang-orang zaman dahulu berupa tanda-tanda optimisme atau tanda-tanda pesimisme adalah warisan kelompok yang diturunkan secara turun-temurun dengan cara yang sama dari bapak kepada anak-anaknya)."

لَكِنَّ الرَّغْبَةَ فِي اسْتِطْلَاعِ الْغَيْبِ وَمُوَاجَهَةِ الْمَجْهُولِ لَمْ تَكُنْ كُلُّهَا مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ، وَلَا سِيَّمَا الْمَجْهُولُ الَّذِي يَعْرِفُهُ الْآلِهَةُ وَحْدَهُمْ وَلَا يَكْشِفُونَهُ لِغَيْرِ الْمُقَرَّبِينَ مِنْ عِبَادِهِمْ، وَهُمْ الْخُدَّامُ لِمَعَابِدِهِمْ وَالْأُمَنَاءُ عَلَى مَشِيئَتِهِمْ، وَالْمُتَرَقِّبُونَ لِوَحْيِهِمْ فِي لَيْلِهِمْ وَنَهَارِهِمْ.
Akan tetapi keinginan untuk mencari tahu yang ghaib dan menghadapi yang tak diketahui tidaklah semuanya dari jenis ini, apalagi yang tak diketahui yang hanya diketahui oleh tuhan-tuhan mereka sendiri dan tidak mereka ungkapkan kecuali kepada hamba-hamba mereka yang dekat, yaitu para pelayan kuil mereka, pemegang amanah kehendak mereka, dan mereka yang menantikan wahyu mereka di malam dan siang hari.
فَرُغْمًا عَنْ أَنَّ الْقَبِيلَةَ عَارِفَةٌ بِأَنَّهَا لَا تَعْرِفُ وِجْهَتَهَا فِيهِ وَلَا يَدُلُّهَا عَلَى هَذِهِ الْوِجْهَةِ طَيْرٌ يَرَاهُ فَرْدٌ مِنْ أَفْرَادِهَا عَلَى صُورَةٍ مِنَ الصُّوَرِ أَوْ كَلِمَةٌ يَسْمَعُهَا مِنْ عَابِرِ طَرِيقٍ مُسْتَوْحًى ثَمَنُهَا الْبِشَارَةُ أَوِ الْإِنْذَارُ، فَإِنَّ شُؤُونَ الْفَرْدِ غَيْرُ شُؤُونِ الْقَبِيلَةِ، وَلَيْسَ لِلْفَرْدِ مِنْ عَامَّةِ أَفْرَادِهَا أَنْ يَدَّعِيَ لِنَفْسِهِ الْقُدْرَةَ عَلَى سُؤَالِ أَرْبَابِهَا وَالْفَهْمِ عَنْهُمْ فِي مَعَابِدِهِمْ وَمَحَارِيبِهِمْ مَعَ وُجُودِ الْكَهَانِ الَّذِينَ انْقَطَعُوا لِخِدْمَةِ الْأَرْبَابِ وَوَرِثُوا هَذِهِ الْوَظِيفَةَ عَنْ آبَائِهِمْ وَإِلَى أَحْفَادِهِمْ فِي أَكْثَرِ الْأَحْوَالِ.
Meskipun suku sadar bahwa mereka tidak mengetahui arahnya dan tidak ada burung yang menunjukkannya kepada mereka yang dilihat oleh salah satu individu mereka dalam bentuk tertentu, atau kata yang didengarnya dari orang yang lewat yang diilhamkan padanya kabar gembira atau peringatan, sesungguhnya urusan individu berbeda dengan urusan suku. Tidak bagi individu dari masyarakat umum untuk mengklaim bagi dirinya kemampuan bertanya kepada tuhan-tuhan mereka dan memahami dari mereka di kuil-kuil dan tempat ibadah mereka, dengan adanya para dukun yang mengabdikan diri untuk melayani tuhan-tuhan tersebut dan mewarisi tugas ini dari nenek moyang mereka hingga cucu mereka pada kebanyakan keadaan.
وَالْكَاهِنُ مَحْمُودٌ لِأَنَّهُ يُولَدُ مِنْ رَحِمِهَا فِي مَهْدِ الْعِبَادَةِ، وَيَتَقَرَّبُ مِنَ الْأَرْبَابِ الْمَعْهُودِينَ أَوْ يَتَلَقَّى عَنْهُمْ مِنَ الشَّرَائِعِ، وَيُضِيفُ لَهُمْ مِنَ اللُّحْمَةِ مَا يَخْفَى عَلَى الْعَامَّةِ مِمَّا لَهُ قَدَمُ الزَّمَانِ، أَيْضًا وُجِدَ الْكَاهِنُ الْمُخْتَصُّ وَالرَّائِي فِي الْغَالِبِ هُوَ الْمُلْهَمُ الَّذِي يَخْتَلِي لِلْإِلَهِ، النَّاطِقُ بِلِسَانِهِ وَالْجَهْرُ بِمَا عِنْدَهُ، وَعِنْدَمَا يَتَنَاقَضُ الْكَهَانُ وَيَعْمَلُ الرَّائِي تَنَاقُضًا فِي مَبْدَأِ الْأَمْرِ لِأَنَّ كَلَامَ الرَّائِي كَانَ يَحْتَاجُ لِتَفْسِيرِ الْكَاهِنِ وَأَوَّلُ رُمُوزِهِ، وَنَفَى الْعَامَّةَ مَا لَا يَخْتَلِطُ بِهِ، وَاضْطُرَّ النَّاسُ كَمَا هُوَ الْغَالِبُ عَلَى الرَّائِينَ أَنَّهُمْ قَدْ تَمَلَّكَهُمْ حَالَةٌ مِنَ الْوَجْدِ لَا أَعْلَمُهُ الْجِدِّيَّةُ أَوْ الصِّرَاعُ الْعَقِيدِيُّ فَيَقُومُونَ بِالْيَوْمِ عَلَى الْوَعِيدِ، وَيُنْذِرُونَ النَّاسَ الْوَيْلَ وَالشُّرُورَ، وَيَقُولُونَ فِيهِ كُلَّ مَا لَا يُذْكَرُ، وَأَنَّهُمْ مُفِيقُونَ وَيُجِيبُونَ فِي السِّيرِ يَسْمَعُونَ أَنَّ الْمَجَالَ الْمَحْدُودَ مَجْمُوعَةٌ هَذَا الْكَلَامُ عَلَى أَلْسِنَتِهِمْ لِلْمُؤْمِنِ عَظِيمٌ وَالتَّبْصِرَةُ، وَسُمِّيَ الصَّرْعُ مِنْ أَجْلِ هَذَا بِالْمَرَضِ الْإِلَهِيِّ فِي الطِّبِّ الْقَدِيمِ.
Dukun dipuji karena ia lahir dari rahimnya dalam ayunan ibadah, mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan yang dikenal, atau menerima dari mereka syariat-syariat, dan menambahkan kepada mereka dari daging (kaitan) yang tersembunyi bagi orang awam dari apa yang memiliki masa lampau yang lama. Juga ditemukan dukun khusus, dan peramal biasanya adalah orang yang terilhami yang menyepi untuk tuhan, yang berbicara dengan lidahnya, dan menyatakan apa yang ada padanya. Ketika para dukun bertentangan dan peramal bekerja dengan pertentangan pada permulaan urusan, karena perkataan peramal membutuhkan penafsiran dukun dan simbol-simbol awalnya, dan orang awam menolak apa yang tidak bercampur dengannya. Orang-orang terpaksa, sebagaimana biasanya pada para peramal, bahwa mereka telah dikuasai oleh keadaan ekstase (wajd) yang saya tidak tahu apakah itu keseriusan atau konflik akidah, maka mereka berdiri pada hari itu untuk memberikan peringatan, dan memperingatkan orang-orang tentang celaka dan keburukan, dan mereka mengatakan di dalamnya segala sesuatu yang tidak disebutkan, dan bahwa mereka sadar, dan menjawab dalam perjalanan, mereka mendengar bahwa bidang terbatas kumpulan perkataan ini di atas lidah mereka bagi orang beriman adalah agung dan menjadi pelajaran. Epilepsi dinamakan karena hal ini sebagai penyakit ilahi dalam kedokteran kuno.
وَكَانَ الْيُونَانُ يُسَمُّونَ الرَّائِيَ (Mantotos)، وَيُسَمُّونَ الْمُعَبِّرَ عَنْهُ أَوِ الْمُفَسِّرَ لِكَلَامِهِ (Prophet) أَيِ الْمُتَكَلِّمَ بِالنِّيَابَةِ عَنْ غَيْرِهِ قَبْلَ أَنْ تُطْلَقَ هَذِهِ الْكَلِمَةُ عَلَى النَّبِيِّ بِمَعْنَاهَا الْمَأْثُورِ فِي الْأَدْيَانِ الْكِتَابِيَّةِ، وَلَكِنَّ الْفَرْقَ بَيْنَ الرَّائِي وَالْكَاهِنِ لَمْ يَزَلْ مَلْحُوظًا فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ كَمَا كَانَ مَلْحُوظًا فِي الْأَزْمِنَةِ الْغَابِرَةِ، فَالْكَهَانَةُ وَظِيفَةٌ وَالرُّؤْيَةُ طَبِيعَةٌ، وَالْكَاهِنُ يَقْصِدُ مَا يَقُولُهُ وَالرَّائِي يُسَاقُ إِلَيْهِ، وَقَدْ تَشْتَرِكُ الْكَهَانَةُ وَالرُّؤْيَةُ فِي شَخْصٍ وَاحِدٍ وَيَظَلُّ الْعَمَلَانِ مُخْتَلِفَيْنِ، فَمَا يَقُولُهُ الْكَاهِنُ قَصْدًا غَيْرُ مَا يَقُولُهُ وَهُوَ رَاءٍ يَنْطِقُ لِسَانُهُ بِمَا يَعِيهِ وَمَا لَا يَعِيهِ.
Bangsa Yunani menyebut peramal dengan "Mantotos", dan menyebut orang yang menyampaikan atau menafsirkan perkataannya dengan "Prophet", yaitu orang yang berbicara mewakili orang lain sebelum kata ini disematkan pada Nabi dengan maknanya yang masyhur dalam agama-agama samawi. Akan tetapi, perbedaan antara peramal dan dukun tetap diperhatikan di zaman belakangan sebagaimana diperhatikan di zaman dahulu. Dukun adalah tugas, dan penglihatan adalah sifat. Dukun bermaksud atas apa yang dikatakannya, sedangkan peramal digiring kepadanya. Terkadang dukun dan peramal bersatu dalam satu orang, namun kedua pekerjaan tersebut tetap berbeda. Apa yang dikatakan dukun secara sengaja bukanlah apa yang dikatakannya ketika ia menjadi peramal, yang lidahnya mengucapkan apa yang disadarinya maupun yang tidak disadarinya.
وَيَصْطَدِمُ الْعَمَلَانِ كَثِيرًا بَعْدَ ارْتِقَاءِ الدِّيَانَةِ وَامْتِزَاجِهَا بِالْفَضَائِلِ الْأَخْلَاقِيَّةِ وَالْفَرَائِضِ الْأَدَبِيَّةِ، فَإِنَّ الْكُهَّانَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ يَجْمُدُونَ أَحْيَانًا عَلَى الْمَرَاسِمِ وَالشَّعَائِرِ وَيُحَافِظُونَ عَلَى مَنَاصِبِهِمْ بِالْتِمَاسِ الْحَظْوَةِ عِنْدَ ذَوِي السُّلْطَانِ فِي بِلَادِهِمْ وَيَوْمَئِذٍ يَخْتَلِفُ عَمَلُ الْكَاهِنِ الْمَرْسُومِ وَعَمَلُ الرَّائِي الْمُتَطَوِّعِ، فَيَثُورُ الرَّائِي عَلَى الْكَاهِنِ وَيَتَّهِمُهُ فِي أَمَانَتِهِ وَإِيمَانِهِ وَيَحْدُثُ بَيْنَهُمَا مَا حَدَثَ بَيْنَ (أَمَصْيَا) كَاهِنِ بَيْتِ إِيلَ وَ(عَامُوسَ) الرَّائِي.
Kedua pekerjaan tersebut sering berbenturan setelah agama berkembang dan bercampur dengan keutamaan akhlak dan kewajiban moral. Para dukun dalam keadaan ini terkadang membeku pada upacara dan syiar, dan menjaga jabatan mereka dengan mencari kedudukan di sisi penguasa di negeri mereka. Pada hari itu, pekerjaan dukun resmi dan peramal sukarela menjadi berbeda. Peramal memberontak terhadap dukun dan menuduhnya dalam amanah dan imannya, dan terjadilah di antara mereka apa yang terjadi antara Amazia, dukun Bait-El, dan Amos, sang peramal.
أَيُّهَا الرَّائِي اذْهَبْ.. اهْرُبْ إِلَى أَرْضِ يَهُوذَا وَكُلْ هُنَاكَ خُبْزًا وَكُنْ هُنَاكَ نَبِيًّا، وَأَمَّا بَيْتُ إِيلَ فَلَا تَعُدْ تَتَنَبَّأُ فِيهَا بَعْدُ، لِأَنَّهَا مُقَدَّسُ الْمَلِكِ وَبَيْتُ الْمَلِكِ.
"Wahai peramal, pergilah.. larilah ke tanah Yehuda, makanlah roti di sana, dan jadilah nabi di sana. Adapun Bait-El, jangan lagi bernubuat di sana, karena itu adalah tempat suci raja dan rumah raja."
وَقَدْ وُجِدَتِ الْكَهَانَةُ وَالرُّؤْيَةُ بَيْنَ الْعِبْرَانِيِّينَ مِنْ أَقْدَمِ عُصُورِهِمْ كَمَا وُجِدَتْ فِي سَائِرِ الْأُمَمِ، وَلَمْ يُسَمُّوا الرَّائِيَ عِنْدَهُمْ بِاسْمِ النَّبِيِّ إِلَّا بَعْدَ اتِّصَالِهِمْ بِالْعَرَبِ فِي شَمَالِ الْجَزِيرَةِ.. إِذْ وُجِدَتْ كَلِمَةُ النُّبُوَّةِ فِي اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ غَيْرَ مُسْتَعَارَةٍ مِنْ مَعْنًى آخَرَ، لِأَنَّ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ غَنِيَّةٌ جِدًّا بِكَلِمَاتِ الْعِرَافَةِ وَالْعِيَافَةِ وَالْكَهَانَةِ وَمَا إِلَيْهَا مِنَ الْكَلِمَاتِ الَّتِي لَا تَلْتَبِسُ فِي اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ بِمَعْنَى النُّبُوَّةِ كَمَا تَلْتَبِسُ فِي الْأَلْسِنَةِ الْأُخْرَى.
Dukunan dan peramalan telah ada di antara bangsa Ibrani sejak zaman tertua mereka, sebagaimana ada di bangsa-bangsa lain. Mereka tidak menamai peramal di antara mereka dengan sebutan nabi kecuali setelah mereka berhubungan dengan orang Arab di utara Jazirah.. karena kata "Nubuwwah" (kenabian) dalam bahasa Arab ditemukan tidak dipinjam dari makna lain, karena bahasa Arab sangat kaya dengan kata-kata untuk ramalan, firasat, dukunan, dan sejenisnya yang tidak tercampur dalam bahasa Arab dengan makna kenabian sebagaimana tercampur dalam bahasa-bahasa lain.
وَالْعِبْرِيُّونَ قَدِ اسْتَعَارُوهَا مِنَ الْعَرَبِ فِي شَمَالِ الْجَزِيرَةِ بَعْدَ اتِّصَالِهِمْ بِهَا، لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ الْأَنْبِيَاءَ الْأَقْدَمِينَ بِالْآبَاءِ، وَكَانُوا يُسَمُّونَ الْمُطَّلِعَ عَلَى الْغَيْبِ بَعْدَ ذَلِكَ بِاسْمِ الرَّائِي وَالنَّاظِرِ، وَلَمْ يَفْهَمُوا مِنْ كَلِمَةِ النُّبُوَّةِ فِي مَبْدَأِ الْأَمْرِ إِلَّا مَعْنَى الْإِنْذَارِ.. وَقَدْ أَشَارَتِ التَّوْرَاةُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَنْبِيَاءَ مِنَ الْعَرَبِ غَيْرِ مَلِكِي صَادِقَ الَّذِي لَقِيَهُ الْخَلِيلُ عِنْدَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ.. وَهُمْ: يَثْرُونَ (شُعَيْبٌ) وَبَلْعَامُ وَأَيُّوبُ.. وَيُعَزِّزُ هَذَا الرَّأْيَ مَا جَاءَ فِي مَوْسُوعَةِ (A Theological Word Book of The Bible)، الْمُحَرَّرَةِ مِنَ الْكَلِمَاتِ اللَّاهُوتِيَّةِ (Richardson) فِي التَّوْرَاةِ عَنْ عَالِمَيْنِ مِنْ أَكْبَرِ عُلَمَاءِ التَّارِيخِ الْعِبْرِيِّ وَهُمَا هُولْشَرُ وَشْمِيدْتُ، فَإِنَّهُمَا يُرَجِّحَانِ أَنَّ كَلِمَةَ النُّبُوَّةِ مِمَّا اسْتَفَادَهُ الْعِبْرِيُّونَ مِنْ أَهْلِ كَنْعَانَ بَعْدَ وُفُودِهِمْ عَلَى فِلَسْطِينَ.
Bangsa Ibrani telah meminjamnya dari orang Arab di utara Jazirah setelah mereka berhubungan dengan mereka, karena mereka menyebut nabi-nabi terdahulu dengan sebutan "Bapa-bapa", dan mereka menyebut orang yang mengetahui yang ghaib setelah itu dengan sebutan peramal dan penilik. Mereka tidak memahami dari kata kenabian pada permulaan urusan kecuali makna peringatan. Taurat telah mengisyaratkan tiga nabi dari bangsa Arab selain Melkisedek yang ditemui oleh Khalil (Ibrahim) di dekat Baitul Maqdis.. yaitu Yitro (Syu'aib), Bileam, dan Ayub. Pendapat ini diperkuat oleh apa yang ada dalam ensiklopedia (A Theological Word Book of The Bible), yang disunting oleh Richardson tentang kata-kata teologis dalam Taurat, dari dua ilmuwan sejarah Ibrani terbesar, yaitu Holscher dan Schmidt, karena keduanya menguatkan bahwa kata kenabian adalah apa yang dipelajari bangsa Ibrani dari penduduk Kanaan setelah mereka datang ke Palestina.
وَيَقُولُ الْأُسْتَاذُ الْعَقَّادُ فِي كِتَابِهِ: (عَرَفَ الْأَقْدَمُونَ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعِبْرِيِّينَ كَلِمَةَ النُّبُوَّةِ قَبْلَ مَبْعَثِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَلَكِنَّهَا لَمْ تَرْتَفِعْ بَيْنَهُمْ إِلَى مَكَانَتِهَا الْجَلِيلَةِ الَّتِي تَعْهَدُهَا الْيَوْمَ دُفْعَةً وَاحِدَةً، وَغَبَرَ عَلَيْهِمْ دَهْرٌ طَوِيلٌ وَهُمْ يَخْلِطُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ كُلِّ عَلَاقَةٍ بِالْغَيْبِ وَيَنْتَظِرُونَ مِنْهَا الْكَذِبَ كَمَا يَنْتَظِرُونَ مِنْهَا الصِّدْقَ شَأْنُهَا فِي ذَلِكَ كَشَأْنِ غَيْرِهَا مِنَ الدَّلَالَاتِ عَلَى الْمَجْهُولِ، فَخَلَطُوا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُنُونِ كَمَا خَلَطُوا بَيْنَهَا وَبَيْنَ السِّحْرِ وَالْكَهَانَةِ وَالتَّنْجِيمِ وَالشِّعْرِ. وَأَضْعَفَ مِنْ شَأْنِ النُّبُوَّةِ عِنْدَ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَاصَّةً أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ عَلَيْهِمْ كَثُرُوا وَتَعَدَّدَتْ نُبُوءَاتُهُمْ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، فَتَنَاقَضُوا وَأَشْعَرُوا بِعَطَلِهِمْ بِمَا يَنْهَى عَنْهُ الْآخَرُونَ فَأَصْبَحَ الْأَنْبِيَاءُ عِنْدَهُمْ فَرِيقَيْنِ يَتَشَابَهُونَ فِي الْمَسْلَكِ وَالْمَظْهَرِ وَيَخْتَلِفُونَ بِالصِّدْقِ وَالْكَذِبِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَى مَعْرِفَةِ الصَّادِقِ وَالْكَاذِبِ بِغَيْرِ امْتِحَانِ الْحَوَادِثِ الَّتِي تَأْتِي أَحْيَانًا بَعْدَ نِسْيَانِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ النُّبُوءَاتِ).
Prof. Al-Aqqad berkata dalam bukunya: "Orang-orang terdahulu dari bangsa Arab dan Ibrani mengenal kata kenabian sebelum diutusnya Musa AS, namun ia tidak langsung naik ke kedudukannya yang agung seperti yang dikenal hari ini secara sekaligus. Telah berlalu masa yang panjang bagi mereka di mana mereka mencampuradukkannya dengan setiap hubungan dengan yang ghaib, dan mereka mengharapkan kebohongan darinya sebagaimana mereka mengharapkan kejujuran. Hal ini seperti petunjuk-petunjuk lainnya terhadap hal yang tak diketahui. Mereka mencampuradukkannya dengan kegilaan sebagaimana mereka mencampuradukkannya dengan sihir, dukunan, perbintangan, dan syair. Yang melemahkan kedudukan kenabian pada Bani Israil secara khusus adalah karena nabi-nabi mereka menjadi banyak dan nubuat mereka berbilang dalam satu waktu, sehingga mereka saling bertentangan dan membuat sadar dengan hal-hal yang dilarang oleh yang lain. Maka nabi-nabi di antara mereka menjadi dua kelompok yang serupa dalam perilaku dan penampilan namun berbeda dalam kejujuran dan kebohongan, dan tidak ada cara untuk mengetahui yang jujur dan yang pembohong selain dengan ujian peristiwa-peristiwa yang terkadang datang setelah nubuat-nubuat sebelumnya dilupakan."
وَغَلَبَتْ عَلَيْهِمْ عَقِيدَةٌ شَائِعَةٌ بِذُهُولِ النَّبِيِّ وَغِيَابِهِ عَنِ الْوَعْيِ فِي جَمِيعِ أَيَّامِهِ وَفِي الْأَيَّامِ الَّتِي يَمْلِكُهُ فِيهَا الْوَجْدُ الْإِلَهِيُّ عَلَى الْخُصُوصِ، كَأَنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ الْغَيْبُوبَةَ وَالِاتِّصَالَ بِالْغَيْبِ شَيْءٌ وَاحِدٌ، وَكَأَنَّهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّ الِانْقِطَاعَ عَنْ شَوَاغِلِ الدُّنْيَا آيَةٌ عَلَى صِدْقِ النَّبِيِّ وَإِقْبَالِهِ بِجُمْلَتِهِ عَلَى اللَّهِ.
Telah dominan pada mereka keyakinan umum tentang hilangnya kesadaran nabi dan absennya dari kesadaran dalam seluruh hari-harinya, dan secara khusus pada hari-hari di mana ekstase ilahi menguasainya. Seakan-akan mereka melihat bahwa ketidaksadaran dan hubungan dengan yang ghaib adalah sesuatu yang sama, dan seakan-akan mereka menganggap bahwa keterputusan dari kesibukan dunia adalah tanda atas kejujuran nabi dan kehadirannya secara penuh kepada Allah.
لَعَلَّ الْكُتَّابَ الْغَرْبِيِّينَ الَّذِينَ تَنَاوَلُوا حَيَاةَ نَبِيٍّ كَانُوا مُتَأَثِّرِينَ بِوَصْفِ الْأَنْبِيَاءِ الَّذِي جَاءَ فِي سِفْرِ صَمُوئِيلَ: (فَحِينَ تَصَادِفُ زُمْرَةً مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَازِلِينَ مِنَ الْمُرْتَفَعِ وَأَمَامَهُمْ رَبَابٌ وَدُفٌّ وَنَايٌ وَعُودٌ وَهُمْ يَتَنَبَّأُونَ فَيَحِلُّ عَلَيْكَ رُوحُ الرَّبِّ فَتَتَنَبَّأُ مَعَهُمْ وَتَتَحَوَّلُ إِلَى رَجُلٍ آخَرَ)، فَحَسِبُوا أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاءً عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ نَبِيٌّ مِثْلُ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْمُتَنَبِّئِينَ بِالتَّعْلِيقِ وَالرَّبَابِ وَالْمَجْهُولِ، فَعَمُوهُ بِالْكَذِبِ وَالْخِدَاعِ عَيْلَةً، وَرُبَّمَا مَجَّهُوا يُؤَكِّدُونَ أَنَّهُ مَا وَصَفُوهُ لِأَنَّهُ إِنْ هُوَ إِلَّا مَرَضٌ صَرْعٌ، الْأَمْرُ الَّذِي رُفِعَ مِنْ شَأْنِ الْإِنسَانِ الْحَمْلِيِّ يُصَلَّى فِيهَا، وَفِي كِتَابِهِ (الرَّسُولِ) بِاخْتِصَارٍ لِمُحَمَّدٍ (١).
Mungkin penulis Barat yang membahas kehidupan nabi terpengaruh oleh deskripsi nabi-nabi yang datang dalam Kitab Samuel: "Ketika engkau bertemu dengan sekelompok nabi yang turun dari tempat tinggi, dan di depan mereka ada rebana, gendang, seruling, dan kecapi, dan mereka bernubuat, maka roh Tuhan akan hinggap padamu, lalu engkau bernubuat bersama mereka dan berubah menjadi orang lain." Mereka menganggap bahwa Muhammad SAW, berdasarkan hal itu, adalah nabi seperti nabi-nabi Bani Israil yang bernubuat dengan alat musik dan hal-hal yang tidak jelas. Mereka menuduhnya dengan kebohongan dan penipuan, dan mungkin mereka menekankan bahwa apa yang mereka gambarkan tidak lain adalah penyakit epilepsi, hal yang diangkat martabatnya dalam tulisan-tulisan mereka, dan dalam bukunya (Ar-Rasul) secara singkat untuk Muhammad.
(١) تَرْجَمَةُ مُحَمَّدٍ مُحَمَّدٍ فَرَجٍ وَعَبْدِ الْجَوَّادِ السَّحَّارِ.
(1) Terjemahan Muhammad Muhammad Faraj dan Abdul Jawwad As-Sahhar.
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لِلْحَفْلِ افْتِرَاءَاتِ الْغَرْبِيِّينَ عَلَى رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَقَالَ فِي تَقْدِيمِ الْكِتَابِ عِنْدَ الْحَدِيثِ عَنِ سِيَرِ الرَّسُولِ الَّتِي كَتَبَهَا الْغَرْبِيُّونَ وَالشَّرْقِيُّونَ عَلَى السَّوَاءِ.
Semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian, untuk menangkal tuduhan orang-orang Barat terhadap Rasul Tuhan semesta alam. Ia berkata dalam pendahuluan buku ketika membicarakan sejarah Rasul yang ditulis oleh orang Barat maupun orang Timur.
(كُلُّ هَذِهِ السِّيَرِ يَنْقُصُهَا شَيْءٌ غَيْرُ مُكَمَّلٍ، وَقَدْ أَخْفَقَتْ فِي غَرَضِ مَوْضُوعِهَا مِنْ كُلِّ الزَّوَايَا، فَمُحَمَّدٌ يَظْهَرُ عَادَةً كَصُورَةٍ مُحَدَّدَةٍ عَلَى حَائِطٍ أَبْيَضَ، قَدْ تَكُونُ الصُّورَةُ لَوْحِيَّةً أَوْ مَادِّيَّةً أَوْ خَيْبَةً لِلْآمالِ، وَأَمَّا كَانَتِ الصُّورَةُ فَإِنَّهَا مُنْعَزِلَةٌ، فَمِنَ النَّادِرِ أَنْ نَجِدَ الظِّلَالَ وَالْبِيئَةَ، وَإِنَّ الصُّورَةَ تَبْدُو بِصُورَةٍ عَالَمِيَّةٍ أُلْصِقَتْ عَلَى بُعْدٍ، فَمُحَمَّدٌ بِمَحَلٍّ مُنْبَسِطٍ فَقَدْ كَانَتْ لَهُ أَبْعَادٌ كَثِيرَةٌ، وَرُبَّمَا كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ لَا لَوْنَ لَهُ فِي حَيَاةِ قِيمَةٍ، لِذَا الْقُطْبُ عَالِيَةٌ).
"Semua sejarah ini kekurangan sesuatu yang belum lengkap, dan telah gagal dalam tujuan subjeknya dari segala sudut. Muhammad biasanya muncul sebagai gambar yang dibatasi pada dinding putih, gambar itu mungkin berupa papan, materi, atau kekecewaan harapan. Jika itu gambar, maka ia terisolasi, jarang kita temukan bayangan dan lingkungan. Gambar itu tampak sebagai gambar duniawi yang ditempel pada jarak. Muhammad berada di tempat yang datar, padahal ia memiliki dimensi yang banyak. Mungkin ada sesuatu yang tidak berwarna dalam kehidupan yang berharga, itulah sebabnya kutubnya tinggi."
قَرَأْتُ مَا يَكْتُبُهُ مُؤَلِّفٌ عَنْ مُحَمَّدٍ، فَكَانَ مِنَ الْجَلِيِّ أَنَّهُ لَمْ يُغَادِرْ نِيُوزْ إِنْجْلَانْدَ أَبَدًا، لِخَلِيفٍ كَانَ يَعْمَلُ أَرَاعِيَ الْكَنِيسَةِ، كَانَتْ آسِيَا وَأَفْرِيقِيَا أَبْعَدَ عَنْهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَيَرَاهُ الْفَلَكُ يَسُودُ ثَلَاثَمِائَةِ صَفْحَةٍ اسْتَعْرَضَ خِلَالَهَا حَيَاةَ الرَّسُولِ اسْتِعْرَاضًا وَثِيقًا، كَانَ أُسْلُوبُهُ مُشْرِقًا وَكَانَ يَعْرِفُ الْكُتُبَ الْمُقَدَّسَةَ مَعْرِفَةً رَائِعَةً وَيُلِمُّ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ إِلْمَامًا سَطْحِيًّا، وَلَكِنَّهُ كَشَفَ عَنْ جَهْلٍ فَاضِحٍ، فَمَا كَانَ يَدْرِي كَيْفَ كَانَ مُحَمَّدٌ يَعِيشُ أَوَّلًا، وَمَا كَانَ يَدْعُو مُحَمَّدًا فِي كِتَابِهِ إِلَّا بِأَهَمِّ الدَّجَّالِ، دُونَ أَنْ يُوَضِّحَ لَنَا كَيْفَ أَنَّ الدَّجَّالَ الْمَزْعُومَ قَدْ دَفَعَ أَتْبَاعَهُ الْمُبَاشِرِينَ لِفَتْحِ مِسَاحَةٍ مِنَ الدُّنْيَا تَبْلُغُ وَاقِعَتُهَا ثَلَاثَةَ أَمْثَالِ الْوِلَايَاتِ الْمُتَّحِدَةِ، عَمَّا كَيْفَ أَتَاحَ لِلْبَشَرِيَّةِ حَضَارَةً طَوَالَتْ حَتَّى الْيَوْمِ قَائِدَةً.
Saya membaca apa yang ditulis seorang pengarang tentang Muhammad, maka jelaslah bahwa ia tidak pernah meninggalkan New England. Ia adalah seorang pendeta gereja. Asia dan Afrika lebih jauh baginya daripada surga dan apa yang ada di antara keduanya. Dan ia melihatnya dalam tiga ratus halaman, ia meninjau selama itu kehidupan Rasul dengan tinjauan yang kuat. Gayanya cemerlang, ia mengenal kitab-kitab suci dengan pengetahuan yang luar biasa, dan menguasai bahasa Arab dengan penguasaan yang dangkal, namun ia menyingkap kebodohan yang mencolok. Ia tidak tahu bagaimana Muhammad hidup pertama-tama, dan ia tidak memanggil Muhammad dalam bukunya kecuali dengan sebutan "Dajjal", tanpa menjelaskan kepada kita bagaimana Dajjal yang didakwakan itu mendorong pengikut langsungnya untuk menaklukkan wilayah dunia yang luasnya mencapai tiga kali lipat Amerika Serikat, dan bagaimana ia memberikan kepada umat manusia peradaban yang berlanjut hingga hari ini sebagai pemimpin.
وَإِنَّ جُورْجَ سِيلَ الَّذِي تَرْجَمَ الْقُرْآنَ تَرْجَمَةً طَيِّبَةً فِي أَوَائِلِ الْقَرْنِ الثَّامِنَ عَشَرَ، وَالَّذِي كَانَ مِنَ الْوَاجِبِ أَنْ يَعْرِفَ مُحَمَّدًا مَعْرِفَةً أَفْضَلَ، صَدَّرَ تَرْجَمَتَهُ بِالْآتِي:
Dan George Sale, yang menerjemahkan Al-Qur'an dengan terjemahan yang baik di awal abad ke-18, dan yang seharusnya mengenal Muhammad dengan pengetahuan yang lebih baik, mengawali terjemahannya dengan berikut:
أَخْبَرَنَا الْمُؤَرِّخُونَ أَنَّ الْمُدُنَ الشَّهِيرَةَ الْمُمَيَّزَةَ عَلَى جَمِيعِ الْمُدُنِ الْأُخْرَى فِي التِّجَارَةِ وَالْآدَابِ تَنَازَعَتْ فِيمَا بَيْنَهَا أَيُّهَا كَانَ لَهَا شَرَفُ أَنْ تَكُونَ مَسْقَطَ رَأْسِ هُومِيرُوس.. وَإِنَّ مِثْلَ هَذَا النِّزَاعِ لَيَسْتَحِقُّ الثَّنَاءَ لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى رُقِيِّ فِكْرِ رِجَالِ ذَلِكَ الْعَصْرِ. وَلَكِنْ لَمَّا فَحَصْتُ عَنْ شَخْصِيَّةِ مُحَمَّدٍ فَحْصًا دَقِيقًا أَلْفَيْتُ الصُّورَةَ فَظِيعَةً مَعِيبَةً حَتَّى إِنَّهُ لَمِنَ الْغَرِيبِ أَنَّ مَكَانَ مَنْبِتِهِ لَمْ تُسْدَلْ عَلَيْهِ سُدُولُ النِّسْيَانِ، إِنَّ أَيَّ قُطْرٍ لَيَخْجَلُ مِنْ إِنجَابِ مِثْلِ هَذَا الْمُجْرِمِ، وَمَعَ ذَلِكَ فَقَدْ كَانَ تَوْفِيرُ الْعَرَبِ لِهَذَا الْمُخَاتِلِ الْكَبِيرِ عَمِيقًا حَتَّى إِنَّهُمْ لَمْ يَدَعُوا الْمَكَانَ الَّذِي تَنَفَّسَ فِيهِ أَوَّلَ مَا تَنَفَّسَ يَكْتَنِفُهُ رِيبَةٌ أَوْ غُمُوضٌ.
Para sejarawan mengabarkan kepada kita bahwa kota-kota terkenal yang menonjol di atas semua kota lain dalam perdagangan dan sastra berselisih di antara mereka tentang mana yang mendapat kehormatan sebagai tempat kelahiran Homer. Dan perselisihan seperti ini pantas mendapatkan pujian karena menunjukkan kemajuan pemikiran orang-orang pada masa itu. Akan tetapi, ketika saya memeriksa kepribadian Muhammad dengan pemeriksaan yang teliti, saya mendapati gambaran yang mengerikan dan tercela, sehingga sungguh aneh bahwa tempat kelahirannya tidak ditutupi oleh tirai pelupa. Sungguh, negara mana pun akan malu melahirkan penjahat seperti ini. Meskipun demikian, penghormatan orang Arab terhadap penipu besar ini begitu mendalam, hingga mereka tidak membiarkan tempat ia bernapas pertama kalinya diselimuti oleh keraguan atau ketidakjelasan.
وَاسْتَمَرَّ هَكَذَا، وَإِنَّ التَّعْلِيقَ الْوَحِيدَ عَلَى ذَلِكَ هُوَ أَنْ تَسْتَعِيرَ الْأَلْفَاظَ مِنْ صَفَحَاتِ قِصَّةِ مُحَمَّدٍ الَّتِي كَتَبَهَا رَاعِي كَنِيسَةِ نِيُو إِنْجْلَانْدَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ آنِفًا:
Ia terus seperti itu, dan komentar satu-satunya mengenai hal itu adalah meminjam kata-kata dari halaman kisah Muhammad yang ditulis oleh pendeta gereja New England yang telah kami sebutkan sebelumnya:
كَيْفَ اسْتَطَاعَ مِثْلُ هَذَا الْمُجْرِمِ، مِثْلُ هَذَا الْمُخَاتِلِ الْكَبِيرِ أَنْ تَأْخُذَ دِيَانَتُهُ فِي الزَّوَالِ كَمَا حَدَثَ لِكَثِيرٍ مِنْ دِيَانَاتِ الْعَالَمِ فَإِنَّهَا الْيَوْمَ أَقْوَى مِمَّا كَانَتْ، وَيَزْدَادُ مُعْتَنِقُوهَا يَوْمًا بَعْدَ يَوْمٍ؟!
"Bagaimana mungkin penjahat seperti ini, penipu besar seperti ini, agamanya mulai sirna seperti yang terjadi pada banyak agama dunia, padahal hari ini ia lebih kuat dari sebelumnya, dan pemeluknya bertambah dari hari ke hari?!"
لَمْ يَبْدَأْ سُوءُ فَهْمِ الْمَسِيحِيِّينَ لِلْإِسْلَامِ حَتَّى أَوَاخِرِ أَيَّامِ الرَّسُولِ، بَلْ بَدَأَ فِي صُورَةٍ جِدِّيَّةٍ فِي الْحُرُوبِ الصَّلِيبِيَّةِ الْأُولَى، وَازْدَادَ سُوءُ الْفَهْمِ مُنْذُ ذَلِكَ الْحِينِ حَتَّى إِنَّ لَفْظَةَ ( مُحَمَّد ) أَصْبَحَتْ بِمَعْنَى الْكُفْرِ بِاللهِ. وَتَطَوَّرَتْ لَفْظَةُ ( الْمُحَمَّدِيَّة ) فِي أَذْهَانِ مُعَاصِرِي شَكِسْبِيرَ حَتَّى أَصْبَحَتْ بِمَعْنَى أَيَّةِ دِيَانَةٍ مُزَيَّفَةٍ وَعَلَى الْأَخَصِّ الدِّيَانَةِ الَّتِي تَعْبُدُ الْأَصْنَامَ، وَأَصْبَحَتْ لَفْظَةُ ( مُحَمَّد Mammets ) تُسْتَعْمَلُ بِمَعْنَى أَصْنَامٍ، وَاشْتُقَّتْ كَلِمَةُ Mahomerie ثُمَّ كَلِمَةُ Mummetry بِمَعْنَى مُجَوَّفٍ مِنْ نَفْسِ الْمَصْدَرِ.
Kesalahpahaman orang Kristen terhadap Islam tidak dimulai sampai hari-hari terakhir Rasul, melainkan dimulai dalam bentuk yang serius dalam Perang Salib pertama, dan kesalahpahaman itu meningkat sejak saat itu hingga kata "Muhammad" menjadi berarti kekufuran kepada Allah. Kata "Al-Muhammadiyah" (Mahometanism) berkembang dalam pikiran orang-orang sezaman Shakespeare hingga menjadi berarti agama palsu apa pun, khususnya agama yang menyembah berhala, dan kata "Muhammad" (Mammets) digunakan untuk berarti berhala, dan kata "Mahomerie" diturunkan, kemudian kata "Mummetry" yang berarti kosong dari sumber yang sama.
وَظَهَرَ مُحَمَّدٌ فِي شِعْرِ الْقَرْنِ الثَّانِي عَشَرَ كَأَمِيرٍ مِنْ أُمَرَاءِ الْإِقْطَاعِ يَتَلَقَّى الْأَوَامِرَ الْمَسِيحِيَّةَ الْمُقَدَّسَةَ، وَأَنَّهُ خُلِقَ لِيَكُونَ كَرْدَنَالًا، فَلَمَّا أَخْفَقَ فِي أَنْ يَنْصِبَ نَفْسَهُ بَابَا ثَأَرَ لِنَفْسِهِ بِأَنْ ابْتَدَعَ دِينًا جَدِيدًا.
Muhammad muncul dalam puisi abad ke-12 sebagai seorang pangeran feodal yang menerima perintah Kristen suci, dan bahwa ia diciptakan untuk menjadi kardinal. Ketika ia gagal menobatkan dirinya sebagai Paus, ia membalas dendam dengan menciptakan agama baru.
وَكَانُوا يَعْتَقِدُونَ حَتَّى زَمَنٍ قَرِيبٍ أَنَّ نَعْشَ مُحَمَّدٍ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَقَالَ الْمُؤَرِّخُونَ دُونَ خَجَلٍ إِنَّ قَبْرَ مُحَمَّدٍ فِي مَكَّةَ، وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّهُ مَاتَ مِنَ السُّكْرِ وَإِنَّ الْخَنَازِيرَ أَكَلَتْ جِسْمَهُ، فِي حِينِ أَنَّ مُحَمَّدًا حَرَّمَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَحَرَّمَ الْخَمْرَ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى أَتْبَاعِهِ، قَدْ رَقَدَ رَقْدَتَهُ الْأَخِيرَةَ فِي الْمَدِينَةِ مِنْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَرْنًا مَضَتْ.
Mereka meyakini sampai waktu yang dekat bahwa peti jenazah Muhammad tergantung di antara langit dan bumi. Para sejarawan berkata tanpa rasa malu bahwa makam Muhammad berada di Mekkah, dan yang lain berkata bahwa ia mati karena mabuk dan babi-babi memakan tubuhnya, padahal Muhammad mengharamkan daging babi dan mengharamkan khamr bagi dirinya dan para pengikutnya, ia telah berbaring untuk terakhir kalinya di Madinah tiga belas abad yang lalu.
وَقَدْ يُصَادِفُ الْمَرْءُ أَحْيَانًا كِتَابًا مِنْ طِرَازِ جُون سُلُونَ الَّذِي أَجْهَدَ نَفْسَهُ فِي دِرَاسَةِ دِينِ الْعَرَبِ، فَقَدْ قَالَ ذَلِكَ الْكَاتِبُ الَّذِي عَاشَ فِي الْقَرْنِ السَّابِعَ عَشَرَ: ( إِنَّهُمْ يُطْلِقُونَ عَلَى الْأَوْثَانِ لَفْظَةَ مُحَمَّد Mammets وَعَلَى عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ ( الْمُحَمَّدِيَّةَ Mammetry فَصَارَتْ مُحَمَّدٌ وَالْمُحَمَّدِيَّةُ أَسْمَاءً بَغِيضَةً، فِي حِينِ أَنَّ الْعَالَمَ أَجْمَعَ يَعْرِفُ أَنَّ التُّرْكَ ) يَقْصِدُ الْمُسْلِمِينَ ( يُحَرِّمُونَ الْأَوْثَانَ فِي دِيَانَتِهِمْ ).
Seseorang terkadang menemukan buku gaya John Sleon yang bersusah payah mempelajari agama orang Arab. Penulis yang hidup di abad ke-17 itu berkata: "Mereka menyebut berhala dengan sebutan 'Muhammad' (Mammets) dan penyembahan berhala dengan (Muhammadanisme/Mammetry), maka Muhammad dan Muhammadanisme menjadi nama-nama yang dibenci, sementara seluruh dunia tahu bahwa bangsa Turki (maksudnya umat Islam) mengharamkan berhala dalam agama mereka."
كُنْتُ أَحْسَبُ أَنَّ الْافْتِرَاءَاتِ عَلَى مُحَمَّدٍ قَدْ خَفَّتْ بَعْضَ الشَّيْءِ بَعْدَ أَنْ كَتَبَ بَعْضُ الْكُتَّابِ الْغَرْبِيِّينَ السِّيرَةَ النَّبَوِيَّةَ فِي تَفَهُّمٍ وَإِنْصَافٍ. وَكُنْتُ أَحْسَبُ أَنَّ الْأَلْفَاظَ النَّابِيَةَ وَالْأَوْصَافَ الْجَاهِلِيَّةَ الْمُهِينَةَ لَمْ تَعُدْ تُسْتَعْمَلُ فِي مَجَلَّةِ الْعِلْمِ وَالْفِكْرِ، إِلَّا أَنَّنِي فُوجِئْتُ بِمَا أَقْرَأُ فِي كِتَابِ الصِّرَاعِ لِلدُّكْتُورِ لِينُوكْسَ الْأَمْرِيكِيِّ الْمُتَحَدِّثِ عَنْ صَرْعِ الشُّهَرَاءِ:
Saya mengira bahwa fitnah-fitnah terhadap Muhammad telah agak berkurang setelah beberapa penulis Barat menulis sirah nabawiyah dengan pemahaman dan keadilan. Dan saya mengira bahwa kata-kata kasar dan deskripsi jahiliyah yang menghina tidak lagi digunakan dalam jurnal ilmu pengetahuan dan pemikiran, akan tetapi saya terkejut dengan apa yang saya baca dalam buku "Epilepsy" (Penyakit Ayan) oleh Dr. Lennox, orang Amerika yang berbicara tentang penyakit ayan orang-orang terkenal:
قَلِيلٌ مِنَ الْعِبَارَاتِ النَّابِيَةِ لَمَّا كُنْتُ أَتَوَقَّعُ أَنْ يَصْدُرَ عَنْ طَبِيبٍ الْمَفْرُوضُ فِيهِ أَنْ يَبْحَثَ عَنِ الْحَقِيقَةِ لِلْحَقِيقَةِ فِي الْقَرْنِ الْعِشْرِينَ، لَقَدْ كَانَ الدُّكْتُورُ لِينُوكْسَ أَشَدَّ ضَرَاوَةً فِي عَدَاوَتِهِ لِنَبِيِّ الْإِسْلَامِ مِنْ قَسِّ الْكَنِيسَةِ فِي نِيُو إِنْجْلَانْدَ الَّذِي سَخِرَ بِفِكْرَةِ بُودْلِي، بَلْ وَأَبْعَدَ مِنْهُ عِبَارَةً.
Sedikit ungkapan kasar yang tidak saya sangka akan keluar dari seorang dokter yang seharusnya mencari kebenaran demi kebenaran di abad ke-20. Dr. Lennox lebih ganas dalam permusuhannya terhadap Nabi Islam daripada pendeta gereja di New England yang mengejek gagasan Boodley, bahkan lebih parah ungkapannya.
فِي الْجُزْءِ الثَّانِي مِنْ كِتَابِهِ الْفَصْلُ تَحْتَ عُنْوَانِ ( صَرْعُ ذَوِي الْقُدْرَةِ وَالشُّهْرَةِ ) رَاحَ يَرْبِطُ بَيْنَ الصَّرْعِ وَمَشَاهِيرِ الرِّجَالِ وَيُقَرِّرُ فِي إِعْجَابٍ أَنَّ أَرِسْطُو كَانَ أَوَّلَ مَنِ اهْتَدَى إِلَى الْعَلَاقَةِ بَيْنَ الصَّرْعِ وَالنُّبُوغِ، وَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ قَائِمَةً بِأَسْمَاءِ النَّوَابِغِ الَّذِينَ كَانُوا مُصَابِينَ بِالصَّرْعِ، وَقَالَ الطَّبِيبُ الْمُؤَلِّفُ بِالْحَرْفِ:
Dalam bagian kedua bukunya, bab di bawah judul "Penyakit Ayan pada Orang-orang Berkemampuan dan Terkenal", ia mulai menghubungkan antara penyakit ayan dan pria-pria terkenal, dan memutuskan dengan kekaguman bahwa Aristoteles adalah orang pertama yang menemukan hubungan antara penyakit ayan dan kejeniusan, dan bahwa ia telah menyusun daftar nama-nama jenius yang menderita penyakit ayan. Dokter penulis itu berkata secara harfiah:
وَإِلَى هَذِهِ الْقَائِمَةِ أُضِيفُ قَيْصَرَ وَكَالِيجُولَا لِأَنَّهُ مُحَمَّدٌ الْبَغِيضُ The detestable Mahomets.
"Dan ke dalam daftar ini, saya tambahkan Caesar dan Caligula, karena ia adalah Muhammad yang dibenci (The detestable Mahomets)."
وَكَأَنَّمَا أَرَادَ أَنْ يُؤَكِّدَ الْمُتَوَاتِرَ فِي أَذْهَانِ الشَّانِئِينَ الْمُحَمَّدِيَّةَ مِنِ اتِّصَالِهِ بِالْأَوْثَانِ فَلَمْ يَكْتُبِ اللهُ مُحَمَّدٌ Mohamed كَمَا فَعَلَ فِيمَا بَعْدُ، بَلْ كَتَبَهُ Mahomets لِتَثْبِيتِ فِكْرَةِ عِبَادَتِهِ لِلْأَوْثَانِ فِي الْأَذْهَانِ، فَلَمْ يَكُنْ هَذَا التَّقْدِيمُ لِلْبَحْثِ أَهْدَرَ الدُّكْتُورُ نَزَاهَةَ الْعَالِمِ وَكَرَامَةَ الْعُلَمَاءِ، وَأَظْهَرَ حِقْدًا دَفِينًا عَلَى نَبِيِّ الْإِسْلَامِ يُبْعِدُهُ عَنْ حِيَادِ الْبَاحِثِينَ عَنْ جَوَاهِرِ الْحَقِيقَةِ.
Seakan ia ingin menegaskan apa yang beredar dalam pikiran orang-orang yang membenci Muhammadanisme mengenai keterkaitannya dengan berhala. Ia tidak menulis Muhammad (Mohamed) sebagaimana ia lakukan setelahnya, melainkan ia menulisnya "Mahomets" untuk menetapkan gagasan penyembahannya terhadap berhala di dalam pikiran. Maka, presentasi penelitian ini tidak lain adalah sang dokter menghancurkan integritas seorang sarjana dan martabat para ilmuwan, serta menunjukkan kebencian terpendam terhadap Nabi Islam yang menjauhkannya dari kenetralan para pencari permata kebenaran.
وَمِنْ خَطَلِ الرَّأْيِ أَنْ يَصِفَ طَبِيبٌ رَسُولًا يُؤْمِنُ بِهِ مَلَايِينُ الْبَشَرِ وَيُحِبُّونَهُ بِكُلِّ قُلُوبِهِمْ ذَلِكَ الْوَصْفَ الْبَذِيءَ.
Adalah suatu pendapat yang sesat bahwa seorang dokter menyifati seorang Rasul yang diimani oleh jutaan manusia dan dicintai dengan segenap hati mereka dengan sifat yang keji tersebut.
أَنَّ أَطِبَّاءَنَا الْعَرَبَ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ هَذَا الْكِتَابَ مَرْجِعًا لَهُمْ لَمْ يُحَرِّكُوا سَاكِنًا وَلَمْ يَبْعَثُوا إِلَى الدُّكْتُورِ الَّذِي اسْتَهْوَتْهُ فِكْرَةُ فَيْلَسُوفٍ بِمَا يُصَحِّحُونَ بِهِ وَجْهَ الْحَقِيقَةِ، لَا تَعَصُّبًا لِنَبِيِّ الْإِسْلَامِ بَلْ حُبًّا فِي الْحَقِيقَةِ ذَاتِهَا.
Para dokter Arab kita yang menjadikan buku ini sebagai referensi bagi mereka tidak bergerak sedikit pun dan tidak mengirimkan kepada dokter yang terpikat oleh gagasan seorang filsuf sesuatu yang dengannya mereka memperbaiki wajah kebenaran, bukan karena fanatisme terhadap Nabi Islam, melainkan karena cinta terhadap kebenaran itu sendiri.
الْتَقَطَ الدُّكْتُورُ لِينُوكْسَ فِكْرَةَ أَرِسْطُو الْقَائِلَةَ بِوُجُودِ عَلَاقَةٍ بَيْنَ الصَّرْعِ وَالنُّبُوغِ فَرَاحَ يُسَخِّرُ مَجْهُودَهُ الْعِلْمِيَّ لِتَأْكِيدِ الْفِكْرَةِ، فَلَمْ يَبْدَأْ مُحَايِدًا كَمَا يَحْتِمُ الْعِلْمُ التَّجْرِيدِيُّ بَلْ بَدَأَ مُؤْمِنًا بِهَا فَأَلْقَى كُلَّ أَبْحَاثِهِ لِإِثْبَاتِهَا، فَتَعَلَّقَ بِأَوْهَى الْأَحْدَاثِ وَأَضْعَفِ الرِّوَايَاتِ لِتَدْعِيمِ مَا آمَنَ بِهِ مُسْبَقًا، فَجَاءَ بَحْثُهُ مُعْرِضًا غَيْرَ مُبَرَّأٍ عَنِ الْهَوَى، وَهَذَا أَسْوَأُ مَا يُوَصَمُ بِهِ بَحْثٌ عِلْمِيٌّ، فَمَا بَالُكَ بِرَأْيِ طَبِيبٍ يُشَخِّصُ الْأَمْرَاضَ عَلَى مَجْمُوعَةٍ مِنَ الِافْتِرَاضَاتِ.
Dr. Lennox mengambil gagasan Aristoteles yang menyatakan adanya hubungan antara penyakit ayan dan kejeniusan, maka ia mulai mengerahkan upaya ilmiahnya untuk memastikan gagasan tersebut. Ia tidak memulai sebagai pihak yang netral sebagaimana diwajibkan oleh ilmu abstrak, melainkan ia memulainya dengan meyakininya, lalu ia mencurahkan semua penelitiannya untuk membuktikannya. Maka ia bergantung pada peristiwa-peristiwa yang paling rapuh dan riwayat-riwayat yang paling lemah untuk mendukung apa yang telah ia yakini sebelumnya. Hasilnya, penelitiannya datang dengan bias, tidak terlepas dari hawa nafsu, dan ini adalah hal terburuk yang disematkan pada sebuah penelitian ilmiah, apalagi pendapat seorang dokter yang mendiagnosis penyakit berdasarkan sekumpulan asumsi.
وَرَاحَ الدُّكْتُورُ لِإِثْبَاتِ مَا آمَنَ بِهِ بَعْدَ الْفَلَاسِفَةِ وَالْمُؤَلِّفِينَ وَالْمُعَلِّمِينَ وَالْفَنَّانِينَ وَالْمُوسِيقِيِّينَ وَالشُّعَرَاءِ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ ابْتَدَعُوا خَيْرَ مَا أَنْتَجُوهُ فِي لَحْظَةِ الصَّرْعِ، وَلَمْ يَعْتَمِدْ فِي نِسْبَةِ الصَّرْعِ إِلَى الْعَبَاقِرَةِ الصُّدْقَةِ إِلَى أَبْحَاثِ أَطِبَّاءَ قُدَامَى بَلْ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَفْلَاطُونُ فِي مُحَاوَرَاتِهِ، كَأَنَّمَا كَانَ أَفْلَاطُونُ يَقِيسُ بِالْأَجْهِزَةِ الْحَدِيثَةِ ذَبْذَبَاتِ الْمُخِّ وَيَرْسِمُهُ رَسْمًا كَهْرَبِيًّا، أَوْ كَأَنَّمَا قَدْ حَقَنَ أَفْلَاطُونُ هَؤُلَاءِ الْمَشَاهِيرَ حُقْنَةً قَادِرَةً عَلَى إِحْدَاثِ النَّوْبَةِ، وَأَكَّدَ الْبُرُوفِسُورُ أَنَّ جَمِيعَ الْعَبَاقِرَةِ الَّذِينَ عَرَفَهُمُ التَّارِيخُ مُصَابُونَ بِالصَّرْعِ بِنَاءً عَلَى أَقْوَالِ فَلَاسِفَةٍ كَأَرِسْطُو أَوْ مُؤَرِّخِينَ كَهَيْرُودُوتَ قَالُوا فِي وَصْفِ هَؤُلَاءِ الْمَشَاهِيرِ إِنَّهُمْ أُصِيبُوا ذَاتَ يَوْمٍ بِصُدَاعٍ أَوْ بِإِغْمَاءٍ أَوْ كَانَ لَهُمْ سُلُوكٌ غَيْرُ عَادِيٍّ فِي مَعْرَكَةٍ.
Sang dokter mulai membuktikan apa yang ia yakini bahwa para filsuf, penulis, guru, seniman, musisi, penyair, dan nabi telah menciptakan karya terbaik mereka dalam momen penyakit ayan. Ia tidak bergantung dalam menisbatkan penyakit ayan kepada para jenius tersebut pada penelitian para dokter terdahulu, melainkan pada apa yang dikemukakan oleh Plato dalam dialog-dialognya, seolah-olah Plato mengukur getaran otak dengan peralatan modern dan menggambarnya secara elektrik, atau seolah-olah Plato telah menyuntikkan para pesohor tersebut suntikan yang mampu menyebabkan kejang. Sang profesor menegaskan bahwa semua jenius yang dikenal sejarah menderita penyakit ayan berdasarkan perkataan para filsuf seperti Aristoteles atau sejarawan seperti Herodotus, yang mengatakan dalam deskripsi mereka terhadap pesohor-pesohor tersebut bahwa mereka suatu hari menderita sakit kepala, pingsan, atau memiliki perilaku yang tidak biasa dalam pertempuran.
وَتَتَرَاقَصُ الْآنَ عَلَى قَلَمِي كَلِمَةٌ نَابِيَةٌ أَصِفُ بِهَا فِعْلَ الطَّبِيبِ الْكَبِيرِ وَلَكِنْ يَمْنَعُنِي عَنْ تَسْطِيرِهَا دِينِي الَّذِي جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَغْرِسَ فِي النُّفُوسِ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ، فَقَدْ عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ أَنْ تُجَادِلَ النَّاسَ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا.
Dan sekarang menari-nari di pena saya kata yang kasar untuk menggambarkan tindakan dokter besar tersebut, namun agama saya, yang dibawa oleh Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dari sisi Allah untuk menanamkan akhlak mulia dalam jiwa, melarang saya menuliskannya. Rasulullah telah mengajari kita untuk mendebat manusia dengan cara yang terbaik, dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi memiliki rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena apa yang mereka perbuat, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tidak akan mereka temukan tempat berlindung selain dari-Nya.
(١) الْكَهْفُ ٥٨.
(1) Al-Kahfi: 58.
تَحَدَّثَ الدُّكْتُورُ عَنِ الْقَادَةِ الدِّينِيِّينَ فَأَكَّدَ أَنَّ بُولُصَ الرَّسُولَ كَانَ مُصَابًا بِالصَّرْعِ، ثُمَّ ثَنَّى بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ( أَمَّا عَنْ مُحَمَّدٍ ( ٦٣٢ ) فَيَقُولُ السِّيرُ وَلِيمُ مُور ( فِي حَيَاةِ مُحَمَّدٍ ) إِنَّهُ أُصِيبَ بِإِغْمَاءٍ مَرَّتَيْنِ: الْأُولَى وَهُوَ فِي الثَّانِيَةِ مِنْ عُمْرِهِ مِمَّا دَعَا حَاضِنَتَهُ إِلَى تَرْكِ رِعَايَتِهِ وَالسَّهَرِ عَلَيْهِ ).
Dokter tersebut berbicara tentang para pemimpin agama dan menegaskan bahwa Rasul Paulus menderita penyakit ayan, kemudian ia menyambungnya dengan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata: "Adapun mengenai Muhammad (632), Sir William Muir mengatakan (dalam 'Kehidupan Muhammad') bahwa ia terkena pingsan dua kali: pertama saat ia berusia dua tahun, yang menyebabkan pengasuhnya meninggalkan perawatan dan berjaga untuknya."
وَقَرَّرَ وُودْز ( ١٩١٣ ) أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ يُعَانِي نَوْبَاتِ صَرْعٍ خَفِيفَةٍ، وَقَدْ ظَهَرَتِ الْأَعْرَاضُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الثَّالِثَةِ مِنْ عُمْرِهِ وَاسْتَمَرَّتْ طَوَالَ حَيَاتِهِ، وَتَبَعًا لِمَا قَالَهُ جَابُوسِينِيَاس Gabuscinius فَقَدْ حَوَّلَ مُحَمَّدٌ قَلَقَهُ وَاضْطِرَابَهُ لِمَصْلَحَتِهِ، فَعِنْدَمَا كَانَتْ زَوْجَتُهُ فِي ضِيقٍ مِنْ مَرَضِهِ قَالَ لَهَا:
Woods (1913) memutuskan bahwa Muhammad menderita serangan ayan ringan, dan gejalanya muncul pada dirinya saat ia berusia tiga tahun dan berlanjut sepanjang hidupnya. Dan menurut apa yang dikatakan Gabuscinius, Muhammad telah mengubah kecemasan dan kegelisahannya untuk kepentingannya sendiri. Ketika istrinya merasa cemas akan penyakitnya, ia berkata kepadanya:
عِنْدَمَا آنُوءُ بِوَحْيِ السَّمَاءِ أُحِسُّ صُدَاعًا وَتَرْتَجِفُ بَوَادِرِي وَهَذَا مِنْ شِدَّةِ الْوَحْيِ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ مِنْهُمْ.
"Ketika saya terbebani oleh wahyu langit, saya merasakan sakit kepala dan anggota tubuh saya gemetar. Ini adalah akibat dari kerasnya wahyu atas para nabi, dan saya berharap untuk menjadi salah satu dari mereka."
فَنَظَرَتْ إِلَيْهِ عَلَى أَنَّهُ مَبْعُوثُ السَّمَاءِ وَوَثَقَتْ بِهِ وَأَيَّدَتْهُ بِكُلِّ أَمْوَالِهَا. وَيَقُولُ وُودْز: وَذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَمَا كَانَ يَتَجَوَّلُ بِالْقُرْبِ مِنْ مَكَّةَ وَقَدْ خَطَرَ لَهُ أَنْ يَتَرَدَّى مِنْ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ ) لِانْقِطَاعِ الْوَحْيِ عَنْهُ ( سَمِعَ صَوْتًا وَنَظَرَ فَإِذَا بِجِبْرِيلَ قَدْ مَلَأَ الْفَضَاءَ يَقُولُ لَهُ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ حَقًّا، فَذَهَبَ إِلَى بَيْتِهِ تَرْتَجِفُ بَوَادِرُهُ ثُمَّ انْتَابَتْهُ النَّوْبَةُ، فَصَبُّوا عَلَيْهِ الْمَاءَ وَلَمَّا أَفَاقَ رَتَّلَ: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنْذِرْ . وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ . وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ . وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ . وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ . وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ.
Maka ia melihatnya sebagai utusan langit, mempercayainya, dan mendukungnya dengan seluruh hartanya. Woods berkata: "Dan suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan di dekat Mekkah dan terlintas di pikirannya untuk menjatuhkan diri dari puncak gunung (karena terputusnya wahyu darinya), ia mendengar suara dan melihat, ternyata Jibril telah memenuhi angkasa, mengatakan kepadanya: 'Engkau benar-benar Rasul Allah.' Maka ia pergi ke rumahnya dengan anggota tubuh gemetar, kemudian ia terkena serangan. Mereka menuangkan air kepadanya, dan ketika sadar, ia melantunkan: 'Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah!'"
(١) الْمُدَّثِّرُ ١ : ٧.
(1) Al-Muddaththir: 1-7.
وَكَانَ يَتْبَعُ الْأَعْرَاضَ أَحْيَانًا هُبُوطٌ فِي الرُّوحِ الْمَعْنَوِيَّةِ وَصَفِيرٌ فِي الْآذَانِ وَصَلْصَلَةُ أَجْرَاسٍ أَوْ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَارْتِجَافًا فِي شَفَتَيْهِ وَلَكِنَّ هَذِهِ الْحَرَكَةَ كَانَتْ إِرَادِيَّةً ثُمَّ تَثْبُتُ عَيْنَاهُ وَتُصْبِحُ حَرَكَةُ رَأْسِهِ تِلْقَائِيَّةً، وَبَعْدَ دَقَائِقَ قَلِيلَةٍ تَنْتَهِي الْغَيْبُوبَةُ وَتَرْتَجِفُ الْعَضَلَاتُ وَبِذَلِكَ تَنْتَهِي الْأَزْمَةُ. وَفِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ عِنْدَمَا تَكُونُ النَّوْبَةُ شَدِيدَةً يَسْقُطُ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ وَيَرُوحُ فِي غَيْبُوبَةٍ وَيَحْتَقِنُ وَجْهُهُ وَيَضْطَرِبُ نَفَسُهُ، وَيَسْتَمِرُّ بَعْضَ الْوَقْتِ عَلَى هَذَا الْحَالِ.
Gejala-gejala itu terkadang diikuti oleh penurunan moral, siulan di telinga, gemerincing lonceng, atau dengungan seperti dengungan lebah di dekat kepalanya, dan gemetar di bibirnya, namun gerakan ini adalah sukarela, kemudian matanya terpaku dan gerakan kepalanya menjadi otomatis. Setelah beberapa menit, koma berakhir dan otot-otot gemetar, dan dengan demikian krisis berakhir. Terkadang, ketika serangan itu parah, ia jatuh pingsan dan masuk ke dalam koma, wajahnya memerah dan napasnya terganggu, dan ia berlanjut selama beberapa waktu dalam keadaan ini.
هَذَا مَا أَخَذَهُ الدُّكْتُورُ لِينُوكْسَ مِنْ مُور وَوُودْز لِيُثْبِتَ بِهِ أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ مُصَابًا بِالصَّرْعِ كَكُلِّ الْعَبَاقِرَةِ وَمَشَاهِيرِ الرِّجَالِ، مُحَاوِلًا أَنْ يَنْفِيَ الْإِلْهَامَ أَوِ النَّفْثَ فِي الرَّوْعِ أَوِ الْوَحْيَ، وَقَدْ قَصَدَ بِحَالَةِ الصَّرْعِ الْأُولَى الَّتِي انْتَابَتْهُ وَهُوَ فِي الثَّانِيَةِ مِنْ عُمْرِهِ عَلَى رَأْيِ مُور أَوْ الثَّالِثَةِ مِنْ عُمْرِهِ عَلَى رَأْيِ وُودْز حَادِثَةَ شَقِّ الصَّدْرِ وَعَوْدَةِ حَلِيمَةَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ، وَقَدْ نَاقَشْتُ بِإِسْهَابٍ مَوْضُوعَ شَقِّ الصَّدْرِ فِي الْجُزْءِ السَّادِسِ مِنَ السِّيرَةِ وَخَلَصْتُ مِنْهَا إِلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَادِرٌ عَلَى تَطْهِيرِ قَلْبِ رَسُولِهِ دُونَ حَاجَةٍ إِلَى إِجْرَاءِ عَمَلِيَّةٍ جِرَاحِيَّةٍ، وَقَدْ ضَعُفَتْ كُلُّ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رَوَتْ حَادِثَةَ شَقِّ صَدْرِهِ فِي صِبَاهُ أَوْ فِي شَبَابِهِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ أَوْ قَبْلَ أَنْ يُسْرَى بِهِ.
Inilah yang diambil Dr. Lennox dari Muir dan Woods untuk membuktikan bahwa Muhammad menderita penyakit ayan seperti semua jenius dan pesohor lainnya, mencoba untuk meniadakan ilham, bisikan ke dalam jiwa, atau wahyu. Ia bermaksud dengan kondisi ayan pertama yang menyerangnya saat berusia dua tahun menurut pendapat Muir, atau tiga tahun menurut pendapat Woods, adalah peristiwa pembelahan dada (shaqq as-shadr) dan kembalinya Halimah bersamanya kepada ibunya. Saya telah membahas secara panjang lebar topik pembelahan dada di bagian keenam dari Sirah dan menyimpulkan darinya bahwa Allah subhanahu wa taala mampu mensucikan hati Rasul-Nya tanpa perlu melakukan operasi bedah. Semua hadits yang menceritakan peristiwa pembelahan dadanya di masa kecilnya, atau masa mudanya, atau sebelum ia diwahyukan, atau sebelum ia diisra'kan, adalah lemah.
وَمَا قَصَدَ بِحَالَةِ الصَّرْعِ الثَّانِيَةِ لَمَّا فَتَرَ الْوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ ﷺ، فِيمَا بَلَغَنَا، حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ. فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ نَفْسَهُ مِنْهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّكَ رَسُولُ اللهِ حَقًّا، فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ وَتَقِرُّ نَفْسُهُ فَيَرْجِعُ، فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الْوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ، فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ وَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.
Dan dia tidak bermaksud dengan kondisi epilepsi yang kedua saat wahyu terputus (fatrah) hingga Nabi ﷺ bersedih, sebagaimana sampai kepada kita, sebuah kesedihan yang membuatnya berkali-kali pergi untuk menjatuhkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Setiap kali beliau sampai di puncak gunung untuk menjatuhkan diri, Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah," maka tenanglah jiwanya dan stabil hatinya, lalu beliau kembali. Jika masa terputusnya wahyu itu dirasa lama baginya, beliau pergi lagi untuk hal yang sama, dan jika beliau sampai di puncak gunung, Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata seperti itu.
وَهَذِهِ رِوَايَةُ الطَّبَرِيِّ، اعْتَمَدَ عَلَيْهَا السِّيرُ وَلِيمُ مُور وَتَلَقَّاهَا الدُّكْتُورُ لِينُوكْس لِيُؤَكِّدَ بِهَا أَنَّ مُحَمَّدًا حَاوَلَ الِانْتِحَارَ وَهُوَ فِي نَوْبَةٍ مِنْ نَوْبَاتِ الصَّرْعِ. وَرِوَايَةُ الطَّبَرِيِّ لَا يُعَوَّلُ عَلَيْهَا لِأَنَّ أَحَدَ رُوَاتِهَا وَهُوَ النُّعْمَانُ بْنُ رَاشِدٍ ضَعِيفٌ، ضَعَّفَهُ الْقَطَّانُ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَعِينٍ وَأَدْخَلَهُ الْبُخَارِيُّ فِي كُتُبِ الضُّعَفَاءِ وَقَالَ عَنْهُ: إِنَّهُ مُضْطَرِبُ الْحَدِيثِ يَرْوِي مَنَاكِيرَ.
Ini adalah riwayat Ath-Thabari, yang diandalkan oleh penulis William Muir dan diterima oleh Dr. Lennox untuk menegaskan dengannya bahwa Muhammad mencoba bunuh diri saat berada dalam serangan epilepsi. Riwayat Ath-Thabari tidak dapat diandalkan karena salah satu perawinya, yaitu An-Nu'man bin Rasyid, adalah dhaif (lemah), dilemahkan oleh Al-Qattan, An-Nasa'i, dan Ibnu Ma'in, serta dimasukkan oleh Al-Bukhari dalam kitab-kitab perawi lemah dan berkata tentangnya: "Dia perawi yang haditsnya kacau (mudhtharib) dan meriwayatkan hadits-hadits munkar."
وَلَوْ وَضَعْنَا هَذَا الْحَدِيثَ عَلَى مِقْيَاسِ الْعَقْلِ لَرَفَضْنَاهُ بَدَاهَةً دُونَ حَاجَةٍ إِلَى تَضْعِيفِ أَحَدِ رُوَاتِهِ، فَمَا يُعْقَلُ أَنْ يَهُمَّ مَنْ أُوعِدَ بِرِسَالَةِ السَّمَاءِ، بَلْ مَنْ كَلَّمَهُ الرُّوحُ الْأَمِينُ وَأُمِرَ بِأَنْ يَقْرَأَ قُرْآنَ رَبِّهِ أَنْ يُحَاوِلَ الِانْتِحَارَ إِلَّا لِسَبَبٍ، إِلَّا أَنَّ الْوَحْيَ قَدْ فَتَرَ عَنْهُ مُدَّةً.
Jika kita meletakkan hadits ini pada timbangan akal, niscaya kita akan menolaknya secara naluriah tanpa perlu melemahkan salah satu perawinya. Tidak masuk akal jika orang yang dijanjikan risalah langit, bahkan orang yang diajak bicara oleh Ruh Al-Amin dan diperintahkan untuk membaca Al-Qur'an Rabb-nya, mencoba bunuh diri, kecuali karena suatu sebab, yaitu karena wahyu telah terputus darinya selama beberapa waktu.
وَقَبْلَ أَنْ أُنَاقِشَ الدُّكْتُورَ لِينُوكْس فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ، سَأُورِدُ مُلَخَّصًا عَنْ مَرَضِ الصَّرْعِ كَتَبَهُ كُلٌّ مِنَ الدُّكْتُورَيْنِ: عَبْدُ الْفَتَّاحِ مُحَمَّدُ عَبْدُ الْقَادِرِ أَحْمَدَ وَسَعْدُ الدِّينِ حِشْمَت جَادُو بِنَاءً عَلَى طَلَبِي.
Sebelum saya mendiskusikan Dr. Lennox dalam topik ini, saya akan menyajikan ringkasan tentang penyakit epilepsi yang ditulis oleh dua orang dokter: Abdul Fattah Muhammad Abdul Qadir Ahmad dan Sa'duddin Hishmat Jadu atas permintaan saya.
الصَّرْعُ حَالَةٌ مَرَضِيَّةٌ مُتَكَرِّرَةٌ تُفَسَّرُ فِسْيُولُوجِيًّا بِاضْطِرَابٍ فِي النَّشَاطِ الْكِيمْيَائِيِّ الْكَهْرَبَائِيِّ لِلْمُخِّ، مِمَّا يُؤَدِّي إِلَى إِرْسَالِ شِحْنَاتٍ عَصَبِيَّةٍ غَيْرِ الطَّبِيعِيَّةِ. وَتَظْهَرُ هَذِهِ الشِّحْنَاتُ عَلَى شَكْلِ أَعْرَاضٍ كَاضْمِحْلَالِ الْمَرِيضِ، أَوْ اضْطِرَابَاتٍ فِي الْحَسَّاسِيَّةِ، أَوْ إِتْيَانِهِ بِحَرَكَاتٍ لَا إِرَادِيَّةٍ، وَمُعَانَاتِهِ مِنَ اضْطِرَابَاتٍ عَاطِفِيَّةٍ أَوْ نَفْسِيَّةٍ قَدْ تَصِلُ إِلَى حَالَةِ الْهَيَاجِ.
Epilepsi adalah kondisi medis berulang yang dijelaskan secara fisiologis sebagai gangguan pada aktivitas kimia-listrik otak, yang menyebabkan pengiriman impuls saraf yang tidak wajar. Impuls ini muncul dalam bentuk gejala seperti pingsannya pasien, atau gangguan pada sensitivitas, atau melakukan gerakan di luar kehendak (involunter), serta penderitaan akibat gangguan emosional atau psikologis yang dapat mencapai kondisi agitasi (amukan).
وَتَرْجِعُ أَسْبَابُهُ إِلَى عُيُوبٍ خَلْقِيَّةٍ، أَوْ أَمْرَاضٍ أَصَابَتِ الْجَنِينَ أَثْنَاءَ وُجُودِهِ فِي بَطْنِ أُمِّهِ، أَوْ إِصَابَاتٍ أَثْنَاءَ الْوِلَادَةِ الْمُتَعَسِّرَةِ، أَوْ إِصَابَتِهِ بِأَمْرَاضٍ مُعْدِيَةٍ بَعْدَ وِلَادَتِهِ، أَوْ إِصَابَةِ الْمُخِّ بِأَوْرَامٍ، أَوْ اضْطِرَابَاتٍ فِي الدَّوْرَةِ الدَّمَوِيَّةِ.
Penyebabnya kembali kepada cacat bawaan, atau penyakit yang mengenai janin saat berada di dalam rahim ibunya, atau cedera saat persalinan yang sulit, atau terjangkit penyakit menular setelah lahir, atau cedera otak akibat tumor, atau gangguan sirkulasi darah.
وَتَنْقَسِمُ نَوْبَاتُ الصَّرْعِ إِلَى عِدَّةِ أَنْوَاعٍ: نَوْبَاتٌ مُخِّيَّةٌ مَوْضِعِيَّةٌ، وَيَنْتُجُ عَنْهَا نَوْبَاتٌ حَرَكِيَّةٌ جِسْمَانِيَّةٌ، وَنَوْبَاتٌ حِسِّيَّةٌ، وَنَوْبَاتٌ لَا إِرَادِيَّةٌ، وَنَوْبَاتٌ عَاطِفِيَّةٌ أَوْ نَفْسِيَّةٌ. وَتَنْقَسِمُ أَيْضًا نَوْبَاتٌ مُخِّيَّةٌ نَتِيجَةَ الْإِصَابَةِ بِالْجُزْءِ الْعُلْوِيِّ لِجِذْعِ الْمُخِّ. وَتَظْهَرُ النَّوبَاتُ الْحَرَكِيَّةُ عَلَى هَيْئَةِ حَرَكَاتٍ مُعَيَّنَةٍ فِي اللِّسَانِ أَوْ زَاوِيَةِ الْفَمِ.
Serangan epilepsi dibagi menjadi beberapa jenis: serangan otak fokal yang menghasilkan serangan motorik fisik, serangan sensorik, serangan involunter, serta serangan emosional atau psikologis. Selain itu, terdapat pula serangan otak akibat cedera pada bagian atas batang otak. Serangan motorik muncul dalam bentuk gerakan tertentu pada lidah atau sudut mulut.
وَنَوْبَةُ الصَّرْعِ الشَّدِيدَةُ تَظْهَرُ فُجْأَةً فِي صُورَةِ تَشَنُّجَاتٍ مُتَجَانِسَةٍ. وَفِي نَوْبَاتِ النَّفْسِيَّةِ الْحَرَكِيَّةِ، يَنْقَسِمُ وَعْيُ الْمَرِيضِ وَيَظْهَرُ بِمَظَاهِرَ حَرَكِيَّةٍ غَرِيبَةٍ يَنْسَاهَا تَمَامًا بَعْدَ إِفَاقَتِهِ. وَلَوْ أَنَّ الدُّكْتُورَ لِينُوكْسَ قَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ مُصَابًا بِالصَّرْعِ الْخَفِيفِ، فَإِنَّ دَحْضَ هَذَا الزَّعْمِ مَيْسُورٌ بِتَأْكِيدِ أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ يَتَذَكَّرُ مَا جَاءَ بِهِ الْوَحْيُ.
Serangan epilepsi parah muncul tiba-tiba dalam bentuk kejang-kejang yang homogen. Dalam serangan psikomotor, kesadaran pasien terpecah dan muncul dengan perilaku gerakan aneh yang dilupakannya sepenuhnya setelah sadar. Meskipun Dr. Lennox mengklaim bahwa Muhammad menderita epilepsi ringan, pembantahan klaim ini mudah dilakukan dengan menegaskan bahwa Muhammad mengingat apa yang dibawa oleh wahyu.
— إِذَنْ، كَيْفَ نُفَنِّدُ ادِّعَاءَاتِ لِينُوكْسَ بِشَأْنِ أَعْرَاضِ الصَّرْعِ فِي طُفُولَةِ النَّبِيِّ؟
— "Jadi, bagaimana kita membantah klaim Lennox mengenai gejala epilepsi di masa kecil Nabi?"
— بِمُرَاجَعَةِ السِّيرَةِ؛ فَقَدْ نَشَأَ قَوِيًّا فِي بَنِي سَعْدٍ، وَكَانَ يَنْمو وَيَغْلُظُ أَسْرَعَ مِنْ أَقْرَانِهِ، وَلَمْ يَشْكُ مَرَضًا قَطُّ، بَلْ إِنَّ حَلِيمَةَ السَّعْدِيَّةَ شَهِدَتْ بِكَمَالِ خِلْقَتِهِ وَصِحَّتِهِ.
— "Dengan meninjau Sirah; beliau tumbuh kuat di Bani Sa'd, berkembang dan tumbuh lebih cepat dari teman sebayanya, tidak pernah mengeluh sakit sama sekali, bahkan Halimah As-Sa'diyah bersaksi atas kesempurnaan fisik dan kesehatannya."
وَهَذِهِ هِيَ الْأَعْرَاضُ الَّتِي اسْتَنَدَ إِلَيْهَا لِينُوكْس لِتَأْكِيدِ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ كَانَ مُصَابًا بِالصَّرْعِ، وَلَمْ يَأْتِ بِجَدِيدٍ فِي عَامِ ١٩٦٠، فَكُلُّ شَانِئِي مُحَمَّدٍ ﷺ مِنَ الْغَرْبِيِّينَ قَالُوا بِهَذَا الِافْتِرَاءِ.
Ini adalah gejala-gejala yang dijadikan dasar oleh Lennox untuk menegaskan bahwa Muhammad ﷺ menderita epilepsi, dan dia tidak membawa hal baru pada tahun 1960, karena semua pembenci Muhammad ﷺ dari kalangan Barat telah melontarkan fitnah ini.
أَمَّا أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ فكَّرَ فِي الِانْتِحَارِ لَمَّا فَتَرَ عَنْهُ الْوَحْيُ وَأَنَّهُ كُلَّمَا هَمَّ بِأَنْ يَتَرَدَّى مِنْ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ ظَهَرَ لَهُ جِبْرِيلُ وَقَالَ لَهُ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ حَقًّا، فَالْحَدِيثُ الَّذِي رَوَى ذَلِكَ مُنْكَرٌ.
Adapun tuduhan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berpikir untuk bunuh diri saat wahyu terputus darinya, dan bahwa setiap kali beliau hendak menjatuhkan diri dari puncak gunung yang tinggi Jibril muncul kepadanya dan berkata: "Engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya," maka hadits yang meriwayatkan hal itu adalah mungkar.
وَقَوْلُ لِينُوكْس بِأَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ يَسْمَعُ دَوِيًّا كَدَوِيِّ النَّحْلِ عِنْدَ رَأْسِهِ قَوْلٌ غَيْرُ صَحِيحٍ، فَالَّذِينَ كَانُوا يَسْمَعُونَ دَوِيَّ النَّحْلِ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا عِنْدَ الرَّسُولِ ﷺ عِنْدَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ.
Dan pernyataan Lennox bahwa Muhammad mendengar suara dengung seperti dengung lebah di dekat kepalanya adalah pernyataan yang tidak benar, karena yang mendengar dengungan lebah itu adalah mereka yang berada di dekat Rasul ﷺ saat wahyu turun kepadanya.
— فَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الْوَحْيُ يُسْمَعُ عِنْدَ وَجْهِهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ».
— "Umar radhiyallahu 'anhu berkata: 'Jika wahyu turun kepada Rasulullah ﷺ, terdengar suara di dekat wajahnya seperti dengung lebah.'"
— إِذَنْ، هَلْ مِنْ أَعْرَاضِ الصَّرْعِ أَنْ يَسْمَعَ مَنْ حَوْلَ الْمَرِيضِ أَصْوَاتًا كَدَوِيِّ النَّحْلِ؟!
— "Jadi, apakah termasuk gejala epilepsi jika orang di sekitar pasien mendengar suara seperti dengung lebah?!"
وَقَالَ ﷺ: «إِنَّ الْوَحْيَ يَأْتِيهِ فِي صَوْتٍ كَصَلْصَلَةِ الْجَرَسِ أَحْيَانًا»، فَصَلْصَلَةُ الْجَرَسِ صِفَةٌ لِلصَّوْتِ الَّذِي يُوحَى إِلَيْهِ. فَيَا تُرَى كَيْفَ كَانَ اللهُ يُوحِي إِلَى مُوسَى؟ أَلَمْ يَكُنِ الصَّوْتُ مِنْ صُوَرِ الْوَحْيِ الَّذِي نَزَلَ عَلَى كَلِيمِ اللهِ؟!
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Wahyu terkadang datang kepadanya dengan suara seperti denting lonceng," maka denting lonceng adalah sifat suara wahyu yang diturunkan kepadanya. Bagaimana Allah dulu mewahyukan kepada Musa? Bukankah suara adalah salah satu bentuk wahyu yang turun kepada Kalimullah (Musa)?
وَبِمَاذَا يُرِيدُ الدُّكْتُورُ لِينُوكْس أَنْ يُوحِيَ اللهُ إِلَى أَنْبِيَائِهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِصَوْتٍ مِنَ الْأَصْوَاتِ، أَوْ بِإِلْهَامٍ مِنَ الْإِلْهَامَاتِ، أَوْ بِنَفْثٍ فِي الرَّوْعِ؟ لَوْ أَنَّ الدُّكْتُورَ لِينُوكْسَ قَدْ أَنْكَرَ الْوَحْيَ كُلِّيَّةً لَمَا فَكَّرْنَا فِي عِتَابِهِ، وَلَكِنَّهُ عِنْدَمَا كَانَ يَذْكُرُ الْعُظَمَاءَ الْمُصَابِينَ بِالصَّرْعِ لَمْ يَذْكُرْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ أَنَّ التَّوْرَاةَ تُؤَكِّدُ أَنَّ مُوسَى خَرَّ صَعِقًا لَمَّا سَأَلَ اللهَ أَنْ يَتَجَلَّى عَلَيْهِ.
Dengan cara apa Dr. Lennox ingin Allah mewahyukan kepada para nabi-Nya jika tidak dengan suara, atau ilham, atau tiupan ke dalam jiwa? Seandainya Dr. Lennox menolak wahyu sepenuhnya, kita tidak akan memikirkannya untuk mencelanya. Namun, saat dia menyebutkan tokoh-tokoh besar yang menderita epilepsi, dia tidak menyebutkan Musa 'alaihissalam, padahal Taurat menegaskan bahwa Musa jatuh pingsan saat meminta Allah menampakkan diri kepadanya.
فَإِنْ كَانَ الدُّكْتُورُ قَدْ أَقَرَّ بِنُزُولِ الْوَحْيِ عَلَى مُوسَى فَلِمَاذَا يُنْكِرُ نُزُولَهُ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ؟ لَوْ كَانَ الدُّكْتُورُ عَالِمًا مُجَرَّدًا عَنِ الْهَوَى وَسَلَّمَ بِنُزُولِ الْوَحْيِ عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَوْ أَيٍّ مِنَ الرُّسُلِ الَّذِينَ يُؤْمِنُ بِهِمْ، لَوَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُسَلِّمَ بِنُزُولِ الْوَحْيِ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ.
Jika dokter tersebut mengakui turunnya wahyu kepada Musa, mengapa dia mengingkari turunnya kepada Muhammad ﷺ? Seandainya dokter tersebut adalah ilmuwan yang terbebas dari hawa nafsu dan menerima turunnya wahyu kepada Musa 'alaihissalam, atau rasul mana pun yang dia imani, maka wajib baginya untuk menerima turunnya wahyu kepada Muhammad ﷺ.
فَالْحَقِيقَةُ لَا يُمْكِنُ تَجْزِئَتُهَا وَلَا يُعْقَلُ أَنْ نَعْتَرِفَ بِهَا مَرَّةً وَنُنْكِرَهَا مَرَّةً أُخْرَى. إِنَّنَا أَمَامَ حَالَةٍ مِنْ حَالَتَيْنِ: فَإِمَّا أَنَّ الدُّكْتُورَ لِينُوكْس يُؤْمِنُ بِالْوَحْيِ وَبِنُزُولِهِ عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَفِي هَذِهِ الْحَالَةِ لَا مَفَرَّ مِنْ اعْتِرَافِهِ بِنُزُولِهِ عَلَى نَبِيِّ الْإِسْلَامِ، وَإِمَّا أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ بِالْوَحْيِ وَلَمْ يَذْكُرْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ بَيْنَ الْمُصَابِينَ بِالصَّرْعِ خَشْيَةً مِنْ يَهُودِ أَمْرِيكَا، فَهُوَ فِي كِلْتَا الْحَالَتَيْنِ أَهْدَرَ نَزَاهَةَ الْعِلْمِ وَكَرَامَةَ الْعُلَمَاءِ.
Kebenaran tidak dapat dipecah-pecah, dan tidak masuk akal kita mengakuinya sekali lalu mengingkarinya di lain waktu. Kita dihadapkan pada satu dari dua kondisi: apakah Dr. Lennox beriman kepada wahyu dan turunnya kepada Musa 'alaihissalam, dan dalam kondisi ini tidak ada jalan lain baginya selain mengakui turunnya kepada Nabi Islam, atau dia tidak beriman kepada wahyu dan tidak menyebut Musa 'alaihissalam di antara penderita epilepsi karena takut pada Yahudi Amerika; maka dalam kedua kondisi tersebut, dia telah menyia-nyiakan integritas ilmu dan kemuliaan para ulama.
وَأُحِبُّ أَنْ أَسْأَلَ الدُّكْتُورَ لِينُوكْس: لِمَاذَا لَمْ يَتَعَرَّضْ لِصُوَرِ الْوَحْيِ الْأُخْرَى الَّتِي ذَكَرَهَا مُحَمَّدٌ ﷺ؟ أَلِأَنَّهَا لَا تَخْدِمُ غَرَضَهُ، وَهَلْ مِنَ الْأَمَانَةِ الْعِلْمِيَّةِ سَرْدُ بَعْضِ صُوَرِ الْوَحْيِ دُونَ بَعْضٍ؟ قَالَ ﷺ: «وَإِنَّ جِبْرِيلَ لَيَأْتِينِي فَيُكَلِّمُنِي كَمَا يَأْتِي أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ». إِنَّهُ كَانَ يُكَلِّمُهُ وَيُبْصِرُهُ بِغَيْرِ حِجَابٍ وَلَا غَيْبُوبَةٍ، وَكَانَ يَأْتِيهِ عَلَى صُورَةِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ أَوْ عَلَى صُورَةِ غَيْرِهِ، وَإِنَّ ظُهُورَ جِبْرِيلَ بِصُورَةِ رَجُلٍ كَانَ تَأْنِيسًا لِمَنْ يُخَاطِبُهُ.
Saya ingin bertanya kepada Dr. Lennox: Mengapa dia tidak membahas bentuk-bentuk wahyu lain yang disebutkan oleh Muhammad ﷺ? Apakah karena itu tidak melayani tujuannya, dan apakah amanah ilmiah jika menyajikan sebagian bentuk wahyu tanpa yang lain? Rasul ﷺ bersabda: "Dan Jibril datang kepadaku lalu berbicara kepadaku sebagaimana salah seorang di antara kalian mendatangi temannya." Beliau berbicara kepadanya dan melihatnya tanpa hijab dan tanpa ketidaksadaran (pingsan), dan Jibril datang kepadanya dalam rupa Dihyah Al-Kalbi atau rupa lainnya. Munculnya Jibril dalam rupa seorang laki-laki adalah untuk menenangkan orang yang diajak bicara.
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ... وَقَدْ عُرِفَ بَعْدَ انْصِرَافِ الرَّجُلِ أَنَّهُ جِبْرِيلُ». فَهَلْ كَانَ كُلُّ الْجَالِسِينَ مُصَابِينَ بِالصَّرْعِ؟!
Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Suatu hari ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya... Dan setelah laki-laki itu pergi, diketahui bahwa dia adalah Jibril." Apakah semua yang duduk di sana menderita epilepsi?!
وَيَقُولُ بَوْدَلِي: «وَقَدْ أَمْلَيْتُ كُلَّ كَلِمَةٍ مِنْ كَلِمَاتِ الْقُرْآنِ عَقِبَ صَفَاءِ ذِهْنِهِ مِنْ أَثَرِ الْوَحْيِ»، وَيُؤَكِّدُ الْأَطِبَّاءُ أَنَّ الْمُصَابَ بِالصَّرْعِ لَا يُفِيقُ مِنْهُ وَقَدْ ذَكَرَ عَقْلُهُ بِأَفْكَارٍ رَائِعَةٍ، وَأَنَّهُ لَا يُصَابُ بِالصَّرْعِ مَنْ كَانَ فِي مِثْلِ الصِّحَّةِ الَّتِي يَتَمَتَّعُ بِهَا مُحَمَّدٌ ﷺ.
Bodley berkata: "Saya telah mendiktekan setiap kata dari kata-kata Al-Qur'an setelah jernihnya pikirannya dari pengaruh wahyu," dan para dokter menegaskan bahwa penderita epilepsi tidak sadar darinya dalam keadaan akalnya dipenuhi pemikiran-pemikiran cemerlang, dan bahwa tidak mungkin terkena epilepsi orang yang memiliki kesehatan seperti yang dinikmati oleh Muhammad ﷺ.
إِنَّ مُحَمَّدًا ﷺ فِي جَمِيعِ غَزَوَاتِهِ كَانَ الْقَوِيَّ الَّذِي يَقْرَعُ الْخُطُوبَ، لَا الْمُتَهَافِتَ الَّذِي يَسْقُطُ عَلَى الْأَرْضِ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ، وَإِنَّهُ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَقَدْ تَجَاوَزَ الْخَمْسِينَ وَكَانَتْ فِي الْحَرِّ الشَّدِيدِ تَحَمَّلَ مَتَاعِبَ الطَّرِيقِ وَالْحَرِّ وَالْعَطَشِ وَكَانَ أَكْثَرَ حَيَوِيَّةً مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الشَّبَابِ الَّذِينَ كَانُوا فِي الْجَيْشِ.
Sesungguhnya Muhammad ﷺ dalam semua pertempurannya adalah sosok kuat yang menghadapi kesulitan, bukan orang lemah yang jatuh ke tanah pingsan. Dalam perang Tabuk, saat beliau sudah melewati usia lima puluh tahun dan dalam cuaca yang sangat panas, beliau menanggung beban perjalanan, panas, dan haus, serta jauh lebih energik daripada banyak pemuda yang ada dalam pasukan.
وَيَقُولُ بَوْدَلِي: «وَلَمَا كَانَ الصَّرْعُ لِيَجْعَلَ مِنْ أَحَدٍ نَبِيًّا أَوْ مَشْرُوعًا، وَمَا رَفَعَ الصَّرْعُ أَحَدًا إِلَى مَرَكِزِ التَّقْدِيرِ وَالسُّلْطَانِ يَوْمًا». وَكَانَ مَنْ تَنْتَابُهُ مِثْلُ هَذِهِ الْحَالَاتِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْغَابِرَةِ يُعْتَبَرُ مَجْنُونًا أَوْ بِهِ مَسٌّ مِنَ الْجُنُونِ، وَإِنْ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُوصَفُ بِالْعَقْلِ وَرَجَاحَتِهِ فَهُوَ مُحَمَّدٌ ﷺ.
Bodley berkata: "Epilepsi tidak pernah menjadikan seseorang nabi atau tokoh, dan epilepsi tidak pernah mengangkat seseorang ke posisi penghargaan dan kekuasaan." Seseorang yang diserang kondisi seperti ini di masa lampau dianggap gila atau kerasukan setan, dan jika ada seseorang yang disifati dengan akal dan kecerdasannya, maka dia adalah Muhammad ﷺ.
وَيَقُولُ الْأُسْتَاذُ عَبَّاسُ مَحْمُودُ الْعَقَّادُ فِيهِ: «لَقَدْ مَاتَ عَبْدُ اللهِ وَآمِنَةُ وَلَمَّا يُجَاوِزَا الْخَامِسَةَ وَالْعِشْرِينَ. وَلَا يَكُونُ الْمَوْتُ فِي هَذِهِ السِّنِّ إِلَّا عَلَامَةً عَلَى الضَّعْفِ وَالْهَزَالِ، إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ مَرَضٍ يَسْتَنْفِدُ الْأَجَلَ فِي عُنْفُوَانِ الشَّبَابِ، وَلَكِنَّهُ لَا يَعْدُو أَنْ يَكُونَ شُبْهَةً. فَهَلْ كَانَ مُحَمَّدٌ ﷺ سَلِيلَ أَبَوَيْنِ ضَعِيفَيْنِ هَزِيلَيْنِ؟»
Profesor Abbas Mahmoud Al-Aqqad berkata tentangnya: "Abdullah dan Aminah telah meninggal dunia saat usia mereka belum melewati dua puluh lima tahun. Kematian pada usia ini tidak lain hanyalah tanda kelemahan dan kekurusan, itu bukan karena penyakit yang menghabiskan usia di masa puncak pemuda, tetapi itu tidak lebih dari sekadar syubhat (keraguan). Maka apakah Muhammad ﷺ adalah keturunan dari dua orang tua yang lemah dan kurus?"
إِنَّ ذَلِكَ الْقَوْلَ بِمُحَاوَلَةِ الِالْتِقَاءِ بَيْنَ الْأَبَوَيْنِ عَلَى هَذَا التَّلْفِيقِ لَا كَافِيَةٌ لِوَضْعِ هَذِهِ الطَّرِيقَةِ، فَلَا حَاجَةَ إِلَى الدَّافِعِ لِلْقِلَّةِ غَيْرِ الْحَيَاةِ الْوَالِفَيْنِ بِمَا اسْتَوْفَتْهُ مِنْ قُوَّةِ الرُّوحِ وَقُوَّةِ الْجُثْمَانِ.
Sesungguhnya perkataan tentang upaya pertemuan antara kedua orang tua atas karangan ini tidak cukup untuk menetapkan metode ini, maka tidak ada kebutuhan untuk motivasi bagi sedikitnya selain kehidupan yang terbiasa dengan apa yang telah dipenuhi dari kekuatan ruh dan kekuatan fisik.
نَعَمْ، وَقَدْ هُيِّئَ أُنَاسٌ لِفَهْمِ كُتَّابِ الْعَرَبِ هَذَا السُّؤَالَ، وَخُيِّلَ إِلَيْهِمْ أَنَّهُمْ وَجَدُوا نُجُوعًا فِيهِ فِي قِصَّةِ الصَّرْعِ الْمَزْعُومِ قَبْلَ الْفِطَامِ، أَوْ فِيمَا كَانَ يَعْرُوهُ مِنْ بَوَادِرِ الْوَحْيِ الَّتِي وَصَفَهَا الْأَقْرَبُونَ مِنْهُ، وَأَيْسَرُهَا أَنَّهُ كَانَ: يَرْعَدُ وَيَضْطَرِبُ، وَيَتَقَاطَرُ مِنَ الْجَبِينِ فِي الْيَوْمِ الشَّاتِي.
Ya, dan orang-orang telah disiapkan untuk memahami penulis Arab pertanyaan ini, dan terbayang kepada mereka bahwa mereka telah menemukan jalan keluar di dalamnya dalam kisah epilepsi yang diklaim sebelum penyapihan, atau dalam apa yang biasa menimpanya dari gejala-gejala wahyu yang digambarkan oleh orang-orang terdekatnya, dan yang termudah di antaranya adalah bahwa beliau: menggigil dan gelisah, dan bercucuran (keringat) dari dahi di hari yang dingin.
وَمِنَ الْعَجِيبِ أَنْ يُصَابَ الْإِنْسَانُ بِصُرُوعٍ لَا يَعْرُوهُ غَيْرَ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ فِي عُمُرِ الرَّضَاعِ، ثُمَّ لَا يُعَاوِدُهُ مَرَّةً أُخْرَى إِلَى قُرَابَةِ الْأَرْبَعِينَ.
Dan sungguh aneh jika seseorang terkena epilepsi yang tidak menimpanya selain sekali saja di usia menyusu, kemudian tidak kembali lagi kepadanya sampai mendekati usia empat puluh tahun.
وَأَعْجَبُ مِنْهُ أَنْ يُصَابَ بِهِ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ: حِينَ يَتَلَقَّى الْمُوحَى، ثُمَّ لَا يُصَابُ بِهِ مَرَّةً فِي غَيْرِ الْمُمْكِنِ الْمُحَالِ تَلَقِّيهِ مِنْهُ.
Dan lebih aneh lagi jika terkena penyakit itu setelah empat puluh tahun dalam satu keadaan: saat menerima wahyu, kemudian tidak terkena penyakit itu sama sekali di waktu lain yang tidak mungkin/mustahil menerima wahyu darinya.
وَلَكِنْ لَيْسَ بِالْعَجِيبِ أَنْ تَجِيشَ بِنْيَةُ اللَّحْمِ وَالدَّمِ مِنْ أَعْمَاقِهَا فِي الْغَاشِيَةِ، غَاشِيَةِ الْوَحْيِ، كَأَنَّمَا كَانَ قِوَامُ الْبَدَنِ الْعَلِيِّ الْقَامَةِ أَبَدًا، وَلَا نَعْلَمُ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وُصِفَ كَمَا وُصِفَ مُحَمَّدٌ - عَلَيْهِ السَّلَامُ -.
Tetapi bukanlah hal aneh jika struktur daging dan darah bergejolak dari kedalamannya dalam selubung, selubung wahyu, seolah-olah postur tubuh yang tinggi itu kekal. Dan kami tidak mengetahui bahwa ada seorang pun dari para nabi yang digambarkan seperti Muhammad - 'alaihissalam -.
فِي كُلِّ لَمْحَةٍ مِنْ لَمَحَاتِهِ، وَعَلَى كُلِّ حَرَكَةٍ مِنْ حَرَكَاتِهِ، وَفِي يَقَظَتِهِ وَرُقَادِهِ، وَفِي حَدِيثِهِ وَصَمْتِهِ، وَفِي جُلُوسِهِ وَسَيْرِهِ، وَفِي رُكُوبِهِ وَارْتِحَالِهِ، فَلَمْ تَكُنْ لَهُ صِفَةٌ لَقَطَ إِلَى عَمَلِ أُولَئِكَ غَيْرَ صِفَةِ الْبِنْيَةِ السَّوِيَّةِ وَالْخَلْقِ الْقَوِيمِ.
Dalam setiap pandangannya, dan pada setiap gerakannya, dalam terjaga dan tidurnya, dalam bicara dan diamnya, dalam duduk dan jalannya, dalam menunggang dan bepergiannya, tidak ada sifat baginya yang merujuk pada perbuatan mereka (para penderita penyakit) selain sifat struktur yang seimbang dan postur yang tegak.
بَلْ كَانَ بِاتِّفَاقِ وَاصِفِيهِ فَوْقَ الْمَرْبُوعِ، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، غَزِيرَ الشَّعْرِ، تَلْمِسُ جُمَّتُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ، شَثْنَ الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ، وَضَخْمَ الْكَرَادِيسِ - أَيْ مُلْتَقَى الْعِظَامِ - وَلَمْ يَكُنْ بِالْمُطَهَّمِ وَلَا بِالْمُكَلْثَمِ.
Bahkan beliau menurut kesepakatan para pemberi sifat, tingginya sedikit di atas rata-rata, lebar antara kedua bahunya, rambutnya lebat, rambut kepalanya menyentuh cuping telinganya, telapak tangan dan kakinya tebal/kuat, persendiannya besar - yaitu pertemuan tulang - dan beliau tidak memiliki wajah yang membengkak atau bulat (gemuk).
أَدْعَجُ الْعَيْنَيْنِ، أَهْدَبُ الْأَشْفَارِ، إِذَا مَشَى تَقَلَّعَ كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ صَبَبٍ، ذَرِيعُ الْخُطْوَةِ، سَائِلُ الْأَطْرَافِ.
Hitam pekat matanya, lentik bulu matanya, jika berjalan melangkah seakan-akan turun dari tempat tinggi, langkahnya lebar, anggota badannya proporsional.
وَالنُّطْقُ أَبْيَنُ عَنْ حَالَاتِ الصَّرْعِ مِنْ سَائِرِ الصِّفَاتِ، وَمَا وُصِفَ مَنْطِقُ النَّبِيِّ بِشَيْءٍ يَنِمُّ عَلَى اضْطِرَابٍ فِي عَصَبٍ أَوْ فِي عَضَلٍ أَوْ يُنْبِئُ عَنْ عَرَضٍ مِنَ الْأَعْرَاضِ غَيْرِ سَلِيمٍ أَوْ قَوِيمٍ.
Dan tuturan lebih jelas menunjukkan keadaan epilepsi daripada sifat-sifat lainnya, dan tidak ada deskripsi ucapan Nabi dengan sesuatu yang menunjukkan gangguan pada saraf atau otot, atau mengabarkan tentang gejala dari gejala-gejala yang tidak sehat atau tidak tegak.
كَانَ ضَلِيعَ الْفَمِ، يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ مُفَسَّرٍ، إِذَا أَشَارَ أَشَارَ بِكَفِّهِ كُلِّهَا، وَإِذَا تَعَجَّبَ قَلَبَهَا، وَإِذَا تَحَدَّثَ اتَّصَلَ بِهَا - أَيْ صَحِبَ كَلَامَهُ بِمَا يُوَافِقُهُ مِنْ حَرَكَتِهَا - وَإِذَا غَضِبَ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ، وَإِذَا فَرِحَ غَضَّ طَرْفَهُ. جُلُّ ضَحِكِهِ التَّبَسُّمُ، لَيْسَ بِصَخَّابٍ وَلَا يَرْتَفِعُ لَهُ صَوْتٌ فِي غَيْرِ دُعَاءٍ.
Beliau memiliki mulut yang proporsional, berbicara dengan ucapan yang jelas, tegas, dan mudah dipahami, jika memberi isyarat beliau mengisyaratkan dengan seluruh telapak tangannya, jika merasa heran beliau membalikkannya, jika berbicara beliau menyertainya - yaitu menyertai pembicaraannya dengan apa yang sesuai dari gerakannya -, jika marah beliau berpaling dan memalingkan muka, dan jika senang beliau menundukkan pandangannya. Sebagian besar tawanya adalah senyuman, tidak berisik, dan suaranya tidak meninggi selain untuk berdoa.
وَهَذِهِ صِفَاتُ كَلَامِهِ مِنْ أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَصْدَرًا جَمَعَهَا أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ صَاحِبُ الشَّمَائِلِ الْمُحَمَّدِيَّةِ، وَلَمْ يَأْتِ بَيْنَ ثَنَايَاهَا مَسَائِحُ اشْتِبَاهٍ فِي عَرَضٍ مِنْ أَعْرَاضِ خَلَلِ الصَّرْعِ وَالِاضْطِرَابِ، بَلْ هِيَ كُلُّهَا تَوْكِيدٌ لِلْمَنْطِقِ السَّلِيمِ وَالْخَلْقِ الْقَوِيمِ.
Ini adalah sifat-sifat ucapannya dari lebih dari dua puluh sumber yang dikumpulkan oleh Abu Isa At-Tirmidzi, pemilik kitab Syamail Muhammadiyah, dan tidak ada di sela-selanya indikasi keraguan dalam gejala dari gejala-gejala kerusakan epilepsi dan gangguan, bahkan semuanya merupakan penegasan bagi logika yang sehat dan karakter yang tegak.
وَفَتْرَةُ انْقِطَاعِ الْوَحْيِ عَنْ رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - خَيْرُ دَلِيلٍ عَلَى صِدْقِ الرَّجُلِ، فَلَوْ كَانَ الرَّسُولُ الْكَرِيمُ غَيْرَ صَادِقٍ مَعَ نَفْسِهِ لَأَخْفَى عَنِ النَّاسِ جَمِيعًا هَذِهِ الْحَقِيقَةَ، وَلَوْ كَانَ الْقُرْآنُ مِنْ عِنْدِهِ فَمَا الَّذِي جَعَلَهُ يَفْزَعُ لِغِيَابِ جِبْرِيلَ عَنْهُ! وَلِمَاذَا احْتَمَلَ سُخْرِيَّةَ شَانِئِيهِ! لَوْ كَانَ الْأَمْرُ بِالْبَسَاطَةِ الَّتِي يُصَوِّرُهَا الْكُتَّابُ الْغَرْبِيُّونَ لَعَكَفَ مُحَمَّدٌ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - فِي دَارِهِ لَيْلَةً أَوْ بَعْضَ لَيْلَةٍ وَأَلَّفَ قُرْآنَهُ، وَلَوَفَّرَ عَلَى نَفْسِهِ الْمِحْنَةَ الَّتِي احْتَمَلَهَا لَمَّا غَابَ عَنْهُ الْوَحْيُ.
Masa terputusnya wahyu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bukti terbaik atas kejujuran beliau. Seandainya Rasul yang mulia tidak jujur kepada dirinya sendiri, niscaya beliau akan menyembunyikan kenyataan ini dari semua orang, dan seandainya Al-Qur'an berasal dari dirinya sendiri, apa yang membuatnya ketakutan saat Jibril hilang darinya! Dan mengapa beliau menanggung ejekan para pembencinya! Jika masalahnya sesederhana yang digambarkan oleh penulis Barat, tentu Muhammad - 'alaihissalam - akan berdiam diri di rumahnya selama semalam atau sebagian malam lalu mengarang Al-Qur'an-nya, dan akan menghemat ujian yang beliau tanggung saat wahyu hilang darinya.
وَقِيلَ إِنَّ مُدَّةَ فَتْرَةِ انْقِطَاعِ الْوَحْيِ كَانَتْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَقِيلَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَقِيلَ اثْنَيْ عَشَرَ يَوْمًا، وَجَزَمَ ابْنُ إِسْحَاقَ بِأَنَّهَا ثَلَاثُ سِنِينَ، وَقَالَ السُّهَيْلِيُّ: إِنَّ مُدَّةَ هَذِهِ الْفَتْرَةِ كَانَتْ سَنَتَيْنِ وَنِصْفَ سَنَةٍ.
Dikatakan bahwa durasi masa terputusnya wahyu adalah empat puluh hari, dikatakan lima belas hari, dikatakan dua belas hari, dan Ibnu Ishaq memastikan bahwa itu adalah tiga tahun, dan As-Suhaili berkata: bahwa durasi masa ini adalah dua tahun setengah.
وَقَدْ أَخَذْتُ بِالْقَوْلِ الَّذِي حَدَّدَهَا بِأَرْبَعِينَ يَوْمًا لَا لِأَنَّ ذَلِكَ هُوَ الْمَشْهُورُ وَحَسْبُ، بَلْ لِأَنَّ أَبَا سُفْيَانَ قَدْ خَرَجَ إِلَى الْيَمَنِ فِي تِجَارَةِ قُرَيْشٍ قَبْلَ الْبِعْثَةِ وَعَادَ مِنْهَا بَعْدَ خَمْسَةِ أَشْهُرٍ فَوَجَدَ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - يُعَذَّبُونَ، فَلَوْ كَانَ حَدِيثُ أَبِي سُفْيَانَ صَحِيحًا فَلَا يَجُوزُ أَنْ تَطُولَ مُدَّةُ انْقِطَاعِ الْوَحْيِ عَنِ الْمُدَّةِ الَّتِي اسْتَغْرَقَهَا أَبُو سُفْيَانَ فِي ذَهَابِهِ إِلَى الْيَمَنِ وَعَوْدَتِهِ مِنْهَا.
Dan saya mengambil pendapat yang menetapkannya empat puluh hari, bukan karena itu yang masyhur saja, melainkan karena Abu Sufyan telah pergi ke Yaman untuk berdagang dengan Quraisy sebelum pengutusan (kenabian) dan kembali darinya setelah lima bulan, lalu ia mendapati sahabat-sahabat Muhammad - 'alaihissalam - sedang disiksa, maka jika hadits Abu Sufyan itu benar, maka tidak boleh durasi terputusnya wahyu lebih lama dari durasi yang dihabiskan Abu Sufyan dalam perjalanannya ke Yaman dan kembali darinya.
وَتَعَوَّدَ بَعْضُ الْمُؤَرِّخِينَ الْغَرْبِيِّينَ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ فَلَا يَجِدُونَ فِيهَا ذِكْرًا لِلْجَنَّةِ وَالنَّارِ أَنْ يَسْخَرُوا مِنَ الْجَنَّةِ الَّتِي وَعَدَ اللهُ بِهَا الْمُتَّقِينَ فِي الْإِسْلَامِ وَمِنَ النَّارِ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْمُجْرِمِينَ، وَنَسَوْا أَنَّ التَّوْرَاةَ الَّتِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ قَدْ كَتَبَهَا الْيَهُودُ فِي الْمَنْفَى بَعْدَ أَنْ أَحْرَقَ بُخْتُنَصَّرُ جَمِيعَ نُسَخِ التَّوْرَاةِ الْأَصْلِيَّةِ، وَكَانُوا مُتَأَثِّرِينَ بِالدِّيَانَةِ الْبَابِلِيَّةِ الَّتِي تَقُولُ إِنَّ الَّذِينَ يَمُوتُونَ يَذْهَبُونَ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي لَا رَجْعَةَ مِنْهَا.
Beberapa sejarawan Barat yang membaca Taurat dan tidak menemukan di dalamnya penyebutan surga dan neraka, terbiasa mengejek surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang bertakwa dalam Islam dan neraka yang disiapkan bagi para pendosa. Mereka lupa bahwa Taurat yang ada di tangan mereka telah ditulis oleh orang Yahudi di pengasingan setelah Nebukadnezar membakar semua salinan Taurat asli, dan mereka terpengaruh oleh agama Babilonia yang mengatakan bahwa orang yang mati pergi ke tanah yang tidak ada jalan kembali darinya.
قَالُوا إِنَّ النَّعِيمَ السَّمَاوِيَّ كَمَا وَصَفَهُ الْقُرْآنُ مِنَ النَّقَائِصِ الَّتِي تَقْدَحُ فِي الْعِبَادَةِ النَّزِيهَةِ، مُتَنَاسِينَ أَنَّهُ مَا مِنْ دِينٍ سَمَاوِيٍّ خَلَا مِنْ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ، بَلْ وَمَا مِنْ دِينٍ مِنْ أَدْيَانِ الْوَثَنِيِّينَ إِلَّا وَقَدْ وَعَدَ الْمُؤْمِنِينَ بِرَاحَةٍ بَعْدَ الْمَمَاتِ أَوْ بِحَيَاةٍ انْتِقَالِيَّةٍ سَعِيدَةٍ أَوْ بِعَذَابٍ حَتَّى فِي الْأَرَاضِي الَّتِي لَا رَجْعَةَ مِنْهَا أَوْ بِهَذَا الدَّافِعِ الدُّنْيَوِيِّ الَّذِي لَيْسَ فيه شُبْهَةُ الْعَدْلِ، وَلَا مِنَ الْمُنَزَّهَةِ التَّقْلِيدِيَّةِ بَيْنَ الصَّالِحِينَ وَالطَّالِحِينَ وَالْمُصْلِحِينَ وَالْمُفْسِدِينَ.
Mereka berkata bahwa kenikmatan surgawi sebagaimana digambarkan Al-Qur'an termasuk kekurangan yang mencela ibadah yang tulus, dengan melupakan bahwa tidak ada agama samawi yang luput dari prinsip pahala dan siksa. Bahkan tidak ada agama dari agama-agama pagan/penyembah berhala kecuali telah menjanjikan kepada orang beriman ketenangan setelah kematian, atau kehidupan transisi yang bahagia, atau siksaan bahkan di tanah yang tidak ada jalan kembali darinya, atau dengan motif duniawi yang tidak memiliki keraguan keadilan, bukan dari penyuci tradisional antara orang saleh dan buruk, orang yang memperbaiki dan yang merusak.
إِنَّ الْعِبَادَةَ النَّزِيهَةَ هِيَ عِبَادَةُ اللهِ وَحْدَهُ لَا إِلهَ سِوَاهُ، لَا تَفَاوُتَ عِنْدَهُ بَيْنَ أُمَّةٍ وَأُمَّةٍ، لَيْسَ لِإِلهِ شَعْبٌ دُونَ شَعْبٍ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَسْوَدَ وَأَبْيَضَ أَمَامَ عَدْلِ اللهِ، فَهُوَ رَبُّ النَّاسِ جَمِيعًا، وَهُوَ إِلَهُ النَّاسِ جَمِيعًا، لَا يَنْظُرُ إِلَى أَلْوَانِ عِبَادِهِ وَلَا إِلَى عَصَبِيَّةِ عِبَادِهِ، فَهُوَ اللهُ لِلْبَشَرِ الْجَمِيعِ، عَلَيْهِ أَهَمَّ أَهْلُ الْأَحْقَادِ وَظُلْمٍ، وَهُوَ الْإِلَهُ الَّذِي دَعَا مُحَمَّدٌ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - إِلَى عِبَادَتِهِ، وَهَذَا هُوَ دِينُ الْإِنْسَانِيَّةِ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ جَلَّ شَأْنُهُ عَلَى رَسُولِهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - وَأُسُسُ هَذِهِ هِيَ غَرَامَةُ الْعِبَادَةِ، فَلَا فَضْلَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ إِلَّا بِالتَّقْوَى بِعَمَلِهِ الصَّالِحِ.
Sesungguhnya ibadah yang tulus adalah menyembah Allah semata, tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada perbedaan di sisi-Nya antara satu umat dengan umat lainnya, tidak ada Tuhan yang memilih satu bangsa di atas bangsa lain, dan tidak ada perbedaan antara orang hitam dan putih di hadapan keadilan Allah, maka Dialah Rabb manusia semuanya, dan Dialah Tuhan manusia semuanya, tidak melihat warna kulit hamba-hamba-Nya dan tidak pada kesukuan hamba-hamba-Nya, maka Dialah Allah bagi seluruh umat manusia, yang dibebankan atasnya orang-orang pendendam dan zalim, dan Dialah Tuhan yang Muhammad - 'alaihissalam - ajak untuk menyembah-Nya, dan inilah agama kemanusiaan yang diturunkan Allah jalla sya'nuhu kepada Rasul-Nya - 'alaihissalam -, dan dasar-dasar ini adalah tuntutan ibadah, maka tidak ada keutamaan seseorang atas orang lain kecuali dengan ketakwaan dengan amal salehnya.
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} {وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ} {وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}.
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian." "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya." "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
وَحَاوَلْتُ أَنْ أَهْتَدِيَ فِي تَرْتِيبِ أَحْدَاثِ السِّيرَةِ بَعْدَ الرِّسَالَةِ بِتَرْتِيبِ نُزُولِ الْآيَاتِ، فَلَمَّا عُدْتُ إِلَى الْمُصْحَفِ الشَّرِيفِ الَّذِي بَيْنَ أَيْدِينَا وَرَتَّبْتُ السُّوَرَ حَسَبَ نُزُولِهَا اعْتِمَادًا عَلَى مَا وَرَدَ فِيهِ وَجَدْتُ أَنَّ أَوَّلَ سُورَةٍ: {اقْرَأْ}، ثُمَّ الْمُزَّمِّلُ، ثُمَّ الْمُدَّثِّرُ، ثُمَّ {ن وَالْقَلَمُ}، فَالْفَاتِحَةُ، فَالْمَسَدُ، فَالْتَكْوِيرُ، فَالْأَعْلَى، فَاللَّيْلُ، فَالْفَجْرُ، فَالضُّحَى، فَالشَّرْحُ، فَالْعَصْرُ، فَالْعَادِيَاتُ، فَالْمَاعُونُ، فَالْكَافِرُونَ، فَالْفِيلُ، فَالنَّاسُ، فَالْإِخْلَاصُ، فَالنَّجْمُ، فَعَبَسَ، فَالْقَدْرُ، فَالشَّمْسُ، فَالْبُرُوجُ، فَالْتِّينُ، فَقُرَيْشٌ، فَالْقَارِعَةُ، فَالْقِيَامَةُ، فَالْهُمَزَةُ، فَالْمُرْسَلَاتُ.
Dan saya mencoba untuk mendapatkan petunjuk dalam menyusun peristiwa sirah setelah risalah dengan urutan turunnya ayat-ayat, maka ketika saya kembali ke Al-Qur'anul Karim yang ada di tangan kita dan menyusun surah-surah sesuai turunnya berdasarkan apa yang tercantum di dalamnya, saya menemukan bahwa surah pertama adalah: {Iqra'}, kemudian Al-Muzzammil, kemudian Al-Muddassir, kemudian {Nun wal qalam}, lalu Al-Fatihah, Al-Masad, At-Takwir, Al-A'la, Al-Lail, Al-Fajr, Ad-Duha, Asy-Syarh, Al-'Asr, Al-'Adiyat, Al-Ma'un, Al-Kafirun, Al-Fil, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, 'Abasa, Al-Qadr, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Quraish, Al-Qari'ah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalat.
فَبَعْدَ ذَلِكَ التَّرْتِيبِ وَجَدْتُ أَنَّ {الضُّحَى} تَأَخَّرَتْ كَثِيرًا عَنْ زَمَنِهَا التَّارِيخِيِّ، فَقَدْ قَالَ النَّاسُ بَيْنَ رَبِّهِ وَقَلْبِهِ لَمَّا فَتَرَ لَهُ الْوَحْيُ، عَلَّمَنَا نَزَلَ الْوَحْيُ عَلَيْهِ الْحَالَةَ بَعْدَ فَتْرَةِ الْوَحْيِ قَالَ {الْكُتَّابُ} عِلْمَ السِّيرَةِ أَنَّهُ نَزَلَ عَلَيْهِ بِسُورَةِ {الضُّحَى} بَعْدَ هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ وَ{الْمُدَّثِّرُ} تَأْكِيدٌ لِأَنَّ رَبَّهُ وَدَّعَهُ وَشَانِئَهُ، وَرَأَيْتُ أَنَّ كُتَّابَ السِّيرَةِ عَلَى الْحَقِّ فِي ذَلِكَ الْقَوْلِ.
Maka setelah urutan itu saya menemukan bahwa {Ad-Duha} tertunda jauh dari waktu sejarahnya, orang-orang berkata di antara Rabb-nya dan hatinya saat wahyu terputus untuknya, mengajarkan kita wahyu turun kepadanya setelah masa terputusnya wahyu. Berkata {para penulis} ilmu sirah bahwa itu turun kepadanya dengan surah {Ad-Duha} setelah tahapan ini dan {Al-Muddassir} penegasan karena Rabb-nya meninggalkan dan membencinya, dan saya melihat bahwa para penulis sirah berada dalam kebenaran dalam perkataan itu.
وَالْمَرْجِعُ إِلَى مُصْحَفِ ابْنِ عَبَّاسٍ هُوَ بِحَدِّ ذاتِهِ قَدْ رَتَّبَ السُّوَرَ فِي مُصْحَفِهِ عَلَى النَّحْوِ الْآتِي: {اقْرَأْ}، {ن وَالْقَلَمُ}، {وَالضُّحَى}، {الْمُزَّمِّلُ}، {الْمُدَّثِّرُ}، {الْفَاتِحَةُ}، {مَسَدُّ}، {تَكْوِيرُ}، {وَاللَّيْلُ}، {فَالْفَجْرُ}، {فَالضُّحَى}، {فَالشَّرْحُ}، {فَالْعَصْرُ}، {الْكَوْثَرُ}، {فَالتَّكَاثُرُ}، {فَالْمَاعُونُ}، {فَالْفِيلُ}، {ثُمَّ الْكَافِرُونَ}، {ثُمَّ {مَا {الْإِخْلَاصُ}، {الْفَلَقُ}، {النَّاسُ}، {فَالْأَعْلَى}، {فَالنَّجْمُ}، {فَالطَّارِقُ}، {فَالْعَبَسُ}، {الْحُكَّامَةُ}، إِلَى ثَمَانِيَةٍ إِلَى {الْعَبَسَةِ}، فَلَمَّا الْعُزْلَةُ {آيَةٌ} وَ{الْإِعْذَارُ} {مَلَكٌ}، وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ وَهِيَ {الْتِّينُ} سُورَةٌ.
Dan rujukan kepada Mushaf Ibnu Abbas adalah dengan sendirinya telah menyusun surah-surah dalam mushafnya dengan cara berikut: {Iqra'}, {Nun wal qalam}, {Ad-Duha}, {Al-Muzzammil}, {Al-Muddassir}, {Al-Fatihah}, {Masad}, {Takwir}, {Al-Lail}, {Al-Fajr}, {Ad-Duha}, {Asy-Syarh}, {Al-'Asr}, {Al-Kautsar}, {At-Takasur}, {Al-Ma'un}, {Al-Fil}, {kemudian Al-Kafirun}, {kemudian {apa {Al-Ikhlas}, {Al-Falaq}, {An-Nas}, {Al-A'la}, {An-Najm}, {At-Tariq}, {Al-'Abasa}, {Al-Hukkamah}, sampai delapan sampai {Al-'Abasah}, saat pemisahan {ayat} dan {Al-I'zar} {Malak}, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan itu adalah surah {At-Tin}.
لِذَا {تَقْرَأُ} {الرَّخَاسَةُ} إِلَى {تَوَّتِينِ} {الْبَثِّ} {التَّرْبُ} {الدَّوْلَةُ} {الْمَصَالِحُهَا} بِمَا {فَوْلُ} {حَدِيثُ} {اللهِ} {تَرْتِيبُ} {تَنْزِيلُهَا} مُتَأَخِّرٌ، {فَجَاءَهَا} مِنَ {أَحَدِ} {الْكُتُبِ} {الْمَسِيرَةِ}، فَهِيَ {الْمُعَلَّمَاتُ} مِنَ {أَوِّلِ} {الْبَلَدِ}، {وَالْقَهْرُ}، {مُؤْمِنٌ} {لَهُ} {نَوْمُ} {الْأَطْلَالِ} {الْأَطْلَالِ} {لَوْ} {الْجَزَرُ} {لَهُ} {وَتُووَلَّى} {وَالْفُرِيقُ} {لَهَا} {إِلَى} {وَالْفَاطِمِيَّةُ} {وَمَرْيَمُ}، {وَالنَّظَافَةُ} {وَالْوَاقِعَةُ} {نِيَّةُ} {وَعِدَّةُ} إِلَى {الْمُطَّلِقِ} {حَقٌّ} {أَنَّ} {ابْنَ} {طَبَرِيٍّ} {فَوَاحِدَتْ} بِأَنَّ تَرْتِيبَ.
Oleh karena itu {Iqra'} {Ar-Rakhassah} sampai {At-Tawwin} {Al-Bats} {At-Tarb} {Ad-Daulah} {Al-Mashalihuha} dengan apa yang {perkataan} {hadits} {Allah} {urutan} {turunnya} terlambat, {maka datanglah} dari {salah satu} {buku} {sirah}, maka ia adalah {tanda-tanda} dari {awal} {Al-Balad}, {dan Al-Qahr}, {mukmin} {baginya} {tidur} {peninggalan-peninggalan} {jika} {Al-Jazar} {baginya} {dan berpaling} {dan tim} {baginya} {kepada} {Al-Fatimiyyah} {dan Maryam}, {dan kebersihan} {dan Al-Waqi'ah} {niat} {dan sejumlah} sampai {Al-Muthallaq} {benar} {bahwa} {Ibnu} {Thabari} {maka ditemukan} bahwa urutan.
{الشُّعَرَاءِ} {بَعْدَ} {وَالشَّمْسُ}، {الْبُرُوجُ}، {التِّينُ}، {قُرَيْشٌ}، {الْقَارِعَةُ}، {الْقِيَامَةُ}، {الْهُمَزَةُ}، {وَالْمُرْسَلَاتُ}، {ق}، {الْبَلَدُ}، {الطَّارِقُ}، {الْقَمَرُ}، {ص}، {الْأَعْرَافُ}، {الْجِنُّ}، {يس}، {الْفُرْقَانُ}، {الْمَلَائِكَةُ}، {مَرْيَمُ}، {طه}، {الشُّعَرَاءُ}، {فَأَكَّدْتُ} أَنَّ تَرْتِيبَ السُّوَرِ حَسَبَ النُّزُولِ فِي الْمُصْحَفِ أَوْ فِي مُصْحَفِ ابْنِ عَبَّاسٍ لَنْ يُفِيدَنِي فِي تَرْتِيبِ أَحْدَاثِ السِّيرَةِ.
{Asy-Syu'ara'} {setelah} {Asy-Syams}, {Al-Buruj}, {At-Tin}, {Quraish}, {Al-Qari'ah}, {Al-Qiyamah}, {Al-Humazah}, {Al-Mursalat}, {Qaf}, {Al-Balad}, {At-Tariq}, {Al-Qamar}, {Sad}, {Al-A'raf}, {Al-Jinn}, {Yaasin}, {Al-Furqan}, {Al-Mala'ikah}, {Maryam}, {Taha}, {Asy-Syu'ara'}, {maka saya menegaskan} bahwa urutan surah-surah menurut turunnya di Mushaf atau di Mushaf Ibnu Abbas tidak akan bermanfaat bagiku dalam menyusun peristiwa sirah.
فَإِنْ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ نُزُولُ الْقُرْآنِ مُرْشِدِي فِي سَرْدِ وَقَائِعِ السِّيرَةِ الْعَطِرَةِ، فَعَلَيَّ أَنْ أُرَتِّبَ الْآيَاتِ حَسَبَ نُزُولِهَا وَلَكِنَّ ذَلِكَ شَيْءٌ عَسِيرٌ، فَالْقُرْآنُ نَزَلَ مُنَجَّمًا وَلَمْ يَنْزِلْ جُمْلَةً وَاحِدَةً، يُشَرِّعُ لِلنَّاسِ وَيُتَابِعُ الْأَحْدَاثَ: {وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا} {وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا}.
Jika saya ingin turunnya Al-Qur'an menjadi panduanku dalam menceritakan kejadian-kejadian sirah yang harum, maka saya harus menyusun ayat-ayat menurut turunnya, akan tetapi itu adalah hal yang sulit. Al-Qur'an turun secara bertahap dan tidak turun sekaligus, mensyariatkan untuk manusia dan mengikuti peristiwa-peristiwa: "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." "Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian."
وَقَدِ اسْتَنْكَرَ أَعْدَاءُ الْإِسْلَامِ أَنْ يَنْزِلَ الْقُرْآنُ مُنَجَّمًا وَقَالُوا: {لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً}، وَكَانَ جَوَابُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا} أَيْ جَعَلْنَاهُ بَعْضَهُ فِي إِثْرِ بَعْضٍ.
Musuh-musuh Islam mengingkari bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dan mereka berkata: "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?", dan jawaban Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah: "Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil", yaitu Kami menjadikannya sebagian setelah sebagian yang lain.
وَكَانَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ يَسْتَهْزِئُ الْقُرْآنَ، وَكُلَّمَا جَاءَ فِيهِ ذِكْرُ عَادٍ وَثَمُودَ قَالَ: {أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ}، قَاصِدًا بِذَلِكَ أَنَّ مَا يُرْوَى عَنْ عَادٍ وَثَمُودَ إِنَّمَا هُوَ حَدِيثُ خُرَافَةٍ كَالْأَحَادِيثِ الَّتِي يَرْوِيهَا عَنْ رُسْتُمَ وَأَسْفَنْدِيَارَ الَّتِي جَاءَ بِهَا مِنَ الْحِيرَةِ وَبِلَادِ الْفُرْسِ.
An-Nadr bin Al-Harith mengejek Al-Qur'an, dan setiap kali di dalamnya disebutkan 'Ad dan Tsamud, ia berkata: "Dongeng orang-orang terdahulu", dengan maksud bahwa apa yang diriwayatkan tentang 'Ad dan Tsamud hanyalah cerita khurafat seperti hadits-hadits yang ia riwayatkan tentang Rustum dan Asfandiyar yang ia bawa dari Al-Hirah dan negeri Persia.
وَعَدَمُ تَصْدِيقِ مَا جَاءَ بِهِ الْقُرْآنُ عَنْ عَادٍ وَثَمُودَ قَدْ يَعُودُ إِلَى أَنَّ التَّوْرَاةَ الَّتِي بَيْنَ أَيْدِي النَّاسِ سَكَتَتْ عَنِ الْحَدِيثِ عَنْ هَؤُلَاءِ الْأَقْوَامِ، وَسَبَبُ سُكُوتِهَا قَدْ يَرْجِعُ إِلَى الْمُنَافَسَةِ الشَّدِيدَةِ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَنِي إِسْمَاعِيلَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي أَعَادَ الْيَهُودُ فِيهِ كِتَابَةَ التَّوْرَاةِ فِي الْمَنْفَى، فَالْيَهُودُ كَانُوا مُشَرَّدِينَ بَيْنَمَا كَانَتْ دَوْلَةُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ مُزْدَهِرَةً فِي أَرْضِ النَّبَطِ.
Ketidakpercayaan terhadap apa yang dibawa Al-Qur'an tentang 'Ad dan Tsamud mungkin kembali karena Taurat yang ada di tangan manusia diam dari menceritakan kaum-kaum ini, dan alasan diamnya mungkin merujuk kepada persaingan sengit antara Bani Israil dan Bani Ismail di saat orang Yahudi menulis ulang Taurat di pengasingan, maka Yahudi terasing sementara negara Bani Ismail berkembang di tanah An-Nabat.
وَكَانَتْ عَاصِمَتُهُمُ الْبَتْرَاءُ تُنَافِسُ بَابِلَ وَدِمَشْقَ وَمَنْفَ بَلْ وَرُومَا، فَلَا يُعْقَلُ أَنَّ الْيَهُودَ لَمْ يَعْرِفُوا الْعَرَبَ قَوْمَ عَادٍ وَثَمُودَ. وَقَدْ ذَكَرَ بَطْلِيمُوسُ فِي أَطْلَسِهِ مَوَاقِعَ عَادٍ وَثَمُودَ. إِنَّ الْحَاقِدِينَ عَلَى الْإِسْلَامِ حَاوَلُوا بِكُلِّ مَا وَسَعَهُمُ الْجُهْدُ أَنْ يُنْكِرُوا أَنَّ عَادًا وَثَمُودًا كَانَتَا حَقِيقَةً وَاقِعَةً لِتَجْرِيحِ الْقُرْآنِ وَالتَّشْكِيكِ فِيهِ، وَلَكِنَّ عَادًا وَثَمُودًا قَدْ أَقَرَّ بِوُجُودِهِمَا التَّارِيخُ الْقَدِيمُ وَالتَّارِيخُ الْحَدِيثُ عَلَى السَّوَاءِ وَالْأَطَالِسُ الَّتِي وُضِعَتْ قَبْلَ الْإِسْلَامِ بِمِائَاتِ السِّنِينَ، وَإِنَّ كُلَّ الْمُحَاوَلَاتِ الَّتِي بُذِلَتْ وَالَّتِي سَتُبْذَلُ لَأَهْوَنُ مِنْ أَنْ تَنَالَ مِنَ الْكِتَابِ الْمُبِينِ.
Dan ibu kota mereka Petra bersaing dengan Babilonia, Damaskus, Memphis, bahkan Roma, maka tidak masuk akal jika orang Yahudi tidak mengenal bangsa Arab kaum 'Ad dan Tsamud. Dan Ptolemeus telah menyebutkan dalam atlasnya lokasi 'Ad dan Tsamud. Sesungguhnya orang-orang yang dendam terhadap Islam mencoba dengan segala kemampuan mereka untuk mengingkari bahwa 'Ad dan Tsamud adalah kenyataan yang ada untuk mencela Al-Qur'an dan meragukannya, akan tetapi 'Ad dan Tsamud telah diakui keberadaannya oleh sejarah kuno dan sejarah modern yang sama, serta atlas-atlas yang disusun ratusan tahun sebelum Islam, dan sesungguhnya semua upaya yang telah dilakukan dan akan dilakukan adalah terlalu remeh untuk dapat menggapai Al-Kitab Al-Mubin (Al-Qur'an).
القَاهِرَةُ فِي ٥ / ٣ / ١٩٦٨
Kairo, 5 Maret 1968
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi