بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
🎤 Cocolan Sambel BABA: Navigasi Laut & Nelayan (Bab II)!
Ahoy para pelaut muda! Ketemu lagi nih ame Ane di lapak BABA. Gimana kabar pelayaran idup ente hari ini? Masih sanggup nembus ombak badai tugas sekolah, atau malah udah teler kepayahan di dek kapal? Santai dapet salam nih, mendingan sedeudeh dulu ngopi disambi ngalor-ngidul ngaji hukum Islam bareng Abi.
Makasih Udeh Nyaba di Lapak Abi! Abi Seneng bener ente udeh pada nyempetin buang sauh merapat ke mari. Walaupun kadang ente kesasar gara-gara keblinger nyari sinyal GPS di tengah lautan, disyukurin aja yee! Di lapak BABA ini, ente kaga bakal kena bajak laut, malahan bakal dapet pasokan kompas ampuh soal sumber hukum Islam yang udah disepakati bersama para nakhoda ulama sepuh!
Apaan Sih Tali Jangkar Utama di Bab Ini? Nah, di serial "Navigasi Laut & Nelayan" ini kita bakal bedah tuntas salah satu pilar muttafaq paling krusial, yaitu Ijma'. Gimana para ulama sepakat merajut hukum dikala nabi udah wafat, biar kapal umat kaga gampang hanyut diterjang ombak hoaks akhir zaman!
"Navigasi Laut & Nelayan Bab II: Tali Jangkar Utama Ijma' Kesepakatan Nakhoda, Biar Kapal Kaga Hanyut"
🎤 Kuliah Singkat Tali Jangkar Utama The Nyablak Teacher
Dengerin ni ye, jadi pelaut itu kaga cukup modal nekat doang, Tong! Kalau pas Nabi Muhammad Saw. masih idup, segala persoalan gampang ditanyain langsung ke beliau. Nah, pas Nabi udah wafat trus ujug-ujug dateng ombak masalah baru di tengah lautan luas, kira-kira siapa dong yang narik tali jangkar pengaman? Disitulah para nakhoda hebat alias para mujtahid ngumpul bareng bikin konsensus agung yang namanye Ijma'!
Di ruang kemudi kali ini, kita bakal bedah dalil-dalilnya, syarat ketatnya, ampe macem-macem bentuk Ijma' supaye ente tau persis betapa kuatnya ikatan tali kesepakatan para ulama terdahulu.
🔥 KENAPA KUDU PAHAM TALI JANGKAR UTAMA IJMA'?
- Kunci Persatuan Umat: Biar kapal umat kaga gampang tercerai-berai gara-gara tiap orang nakhodain kapal pake kepala batunya sendiri-sendiri.
- Kepastian Hukum Jelas: Ngerti bahwa keputusan para mujtahid sepuh pasca-nabi wafat punya dasar hukum mutlak yang sah buat dipegang teguh.
- Mental Pelaut Tangguh: Ngebentuk karakter anak muda Betawi yang cerdas bermazhab, santun beretika, kaga gampang ngegampangin hukum agama.
⚓ KORDINAT 2 (Tali Jangkar Utama): "Jangkar & Tali: Ijma' Kesepakatan Nakhoda, Biar Kapal Kaga Hanyut"
3. Ijma’
a. Pengertian Ijma’
Secara bahasa ijma’ (الإجماع) berarti sepakat atau konsensus dari sejumlah orang terhadap sesuatu. Adapun ijma’ dalam pengertian istilah ushul fikih dapat dikemukakan sebagai berikut:
1). Menurut Ali Abdur Razak yang ijma’ adalah:
اتِّفَاقُ المُجْتَهِدِينَ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ عَنْ فِعْلِ شَرْعِيٍّ مَنْ أَمْرِ
Ijma’ ialah kesepakatan para mujtahid umat Islam pada suatu masa atas sesuatu perkara hukum syara’.
2). Sementara itu, Abdul Karim Zaidan, dalam kitab al-Wajiz fi ushul al-Fiqh, menyatakan:
الإِجْمَاعُ وَهُوَ اتِّفَاقُ المُجْتَهِدِينَ مِنَ الأُمَّةِ الإِسْلَامِيَّةِ فِي عَصْرٍ مِنَ العُصُورِ بَعْدَ وَفَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ
Ijma’ ialah kesepakatan dari para mujtahid umat Islam pada satu masa tentang hukum syara’ setelah wafatnya Nabi Saw.
b. Dasar kehujjahan ijma’ dan kedudukannya sebagai sumber hukum Islam
1) Al-Qur’an
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ المُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’ [4]:115)
2) Al-Hadis
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ: أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ
Dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. tidak akan mengumpulkan umatku atau Beliau bersabda: umat Muhammad Saw. di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah, dan barang siapa yang menyempal maka dia menyempal menuju neraka. (HR. Imam At-Tirmidzi)
Dalil al-Qur’an dan al-Hadis di atas menjadi landasan para ulama dalam berpendapat bahwa ijma’ bisa dijadikan landasan hukum dalam menentukan hukum Islam.
c. Rukun dan syarat ijma’
Sebagaimana di jelaskan di atas bahwa ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa sepeninggal Rasulullah Saw. terhadap suatu hukum syar’i mengenai suatu peristiwa. Namun, tidak semua kesepakan para ulama setelah Rasulullah Saw. wafat dikategorikan sebagai ijma, kesepakatan ulama biar bisa dikatagorikan sebagai ijma harus memenuhi rukun dan syarat ijma’. Yang menjadi rukun dalam ijma’ harus satu, yaitu kesepakatan ulama’, apabila tidak ada kesepakatan maka itu bukan ijmak’.
Sementara syarat-syarat ijma’ menurut Wahba Zuhaili ada enam, yaitu:
1). Haruslah orang yang melakukan ijma’ itu dalam jumlah banyak, dan tidak dikatakan ijma’ apabila hanya satu orang mujtahid, tidak dikatakan sebuah kesepakatan apabila dilakukan hanya satu orang ulama. Akan tetapi, pada saat terjadinya peristiwa tersebut tidak ada seorangpun mujtahid sama sekali, atau ada tetapi hanya satu saja. Tidaklah bisa dikatagorikan sebagai ijma’ yang dibenarkan oleh syara’.
2). Seluruh mujtahid menyetujui hukum syara’ yang telah mereka putuskan dengan tidak memandang negara, kebangsaan dan golongan mereka. Akan tetapi, peristiwa yang dimusyawarahkan itu hanya disepakati oleh mujtahid dari satu daerah atau negara saja, misal mujtahid dari Mesir, atau Arab Saudi, atau Indonesia saja. Hasil kesepakatan itu bukanlah sebagai ijma’, ijma harus merupakan kesepakatan seluruh mujtahid muslim ketika peristiwa itu terjadi.
3). Mujtahid yang melakukan kesepakatan mestilah terdiri dari berbagai daerah Islam. Tidak bisa dilakukan ijma’ apabila hanya dilakukan oleh ulama satu daerah tertentu saja seperti ulama Hijaz atau ulama Mesir, atau ulama Iraq.
4). Kesepakatan itu haruslah dilahirkan oleh dari masing-masing mereka secara tegas terhadap peristiwa itu, baik lewat perkataan maupun perbuatan, seperti mempraktikannya dalam peradilan walaupun pada permulaannya baru merupakan pernyataan perseorangan kemudian pernyataan itu disambut oleh orang banyak, maupun merupakan pernyataan bersama melalui suatu muktamar.
5). Kesepakatan hendaklah dilakukan oleh mujtahid yang bersifat dan menjauhi hal-hal yang bid’ah: karena nash-nash tentang ijma’ mensyaratkan hal tersebut.
6). Hendaklah dalam melakukan ijma’ mujtahid bersandar kepada sandaran hukum yang disyari’atkan baik dari nash maupun qiyas.
Apabila rukun dan syarat-syarat ijma’ tersebut telah terpenuhi, hasil dari ijma’ itu merupakan undang-undang syara yang wajib ditaati dan para mujtahid berikutnya tidak boleh menjadikan peristiwa yang telah disepakati itu sebagai obyek ijma’ yang baru. Oleh sebab itu, hukumnya sudah tetap atas dasar bahwa ijma’ itu telah menjadikan hukum syara’ yang qath’i, hingga tidak dapat ditukar atau dihapus dengan ijtihad lain. Hal ini sebagaimana diatur dalam kaidah fikih yang umum:
الاجْتِهَادُ لَا يُنْقَضُ بِالاجْتِهَادِ
Sebuah ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lain.
d. Macam-macam ijma’
Menurut para sarjana hukum Islam, dilihat dari cara memperolehnya ijma’ dibagi menjadi dua, yaitu:
1). Ijma’ sharih adalah kebulatan yang dinyatakan oleh mujtahidin (para mujtahid)
2). Ijma’ sukuti, yaitu kebulatan yang dianggap seorang mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan diketahui oleh mujtahidin lainnya, tetapi mereka tidak menyatakan persetujuan atau bantahannya.
Sementara dilihat dari dalalahnya (penunjuk) juga terbagi dua macam, yaitu:
1). Ijma’ qat’i dalalah terhadap hukumnya; artinya, hukum yang ditunjuk sudah dapat dipastikan kebenarannya, atau bersifat qat’i sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi dan tidak perlu diijtihadkan kembali.
2). Ijma’ zanni dalalah terhadap hukumnya; artinya, hukum yang dihasilkannya kebenarannya bersifat relatif atau masih bersifat dugaan. Karena itu, masih terbuka untuk dibahas lagi dan tertutup kemungkinan ijtihad lainnya, hasil ijtihadnya bukan merupakan pendapat seluruh ulama mujtahid.
⚖️ KOTAK KHUSUS: MUQORONATUL MADZAHIB (PENDAPAT EMPAT MADZHAB)
Biar wawasan koding fikih ente makin luas dan kaga kagalau diterjang beda pendapat soal otoritas Ijma', nih Abi beberin perbandingan pandangan dari empat mazhab muktabar plus mazhab Zahiri terkait kedudukan Ijma' sebagai sumber hukum Islam:
🎯 ALASAN ABI PILIH MAZHAB SYAFI'I (GAYA BABA & TAKHRIJ)
Dengerin nih ye, Tong! Kenapa urusan mazhab soal Ijma' ampun-ampunan mantapnya di Syafi'iyyah? Bukan berarti mazhab Hanafi, Maliki, atau Hambali kaga keren, wah gila aje lu kalau ngomong begitu! Mereka semua guru-guru besar umat yang ilmunya lautan tak bertepi. Tapi buat Anak Betawi Asli Cengkareng yang doyan ngopi pait sambil bedah turats, metodologi Imam Syafi'i dalam kitab Ar-Risalah dan diperkuat ulasan master Syafi'iyyah kayak Imam Al-Amidi itu paling lempeng nalar logikanya. Beliau merinci dalil ijma' dengan sistematis, rapi, gampang dicerna, ampe kaga bikin kepala pusing tujuh keliling pas lagi narik benang merah hukum. Jadi, kalau ade orang nyinyir bilang mazhab Syafi'i kaga kuat dalil ijma'-nya, ceplosin aje: "Kurang piknik lo, Tong! Ngopi lu kurang jauh, ngaji ushul-nya kurang tuntas!" Hehe.
✨ POJOK GEN-Z: REALITA KONSENSUS "GROUP CHAT" ✨
Biar ente kaga gagal paham, mari kita lihat analogi Ijma' lewat gaya anak jaman now:
-
🎯 Voting Bersama (Fix Deal):
"Di grup OSIS, pas ditanya mau diadain pensi atau study tour, semua pengurus sepakat milih study tour."
👉 Nah, keputusan bulat seluruh pengurus inti itu udah jadi undang-undang tetap kelas. Kaga boleh ada anak buah yang tiba-tiba mangkir mau bikin aturan sendiri! -
🎯 Ijma' Sukuti (Read Doang Setuju):
"Ketua kelas nge-share jadwal piket baru di grup, trus semua cuma read doang tanpa ada yang protes."
👉 Dalam istilah ushul, diemnya mereka (asalkan tau isinya) bisa dikategorikan setuju secara diam-diam (Sukuti), Tong!
📱 ANALOGI KAPAL LAYAR & KEPUTUSAN KAPTEN
Ente bayangin lagi berlayar di tengah ombak selat Sunda, tiba-tiba kompas utama rusak:
Trus seluruh nakhoda senior (mujtahid) berkumpul di anjungan utama, rembukan bareng, dan mutusin satu arah jalur pelayaran paling aman.
Nah! Kalau seluruh nakhoda hebat udah sepakat bulat begitu, ente sebagai kelasi magang jangan berani-berani belok lewat jalur lain sendirian, bsa-bisa kapal ente karam dihantam karang! Itulah hebatnya Ijma', Tong!
🏁 Labuh Jangkar Kordinat 2: Kapal Umat Aman Terkendali!
Nah, Alhamdulillah kita udah sukses ngelewatin Kordinat 2 tentang Tali Jangkar Utama (Ijma'). Intinya, kesepakatan para nakhoda ulama mujtahid itu benteng terkuat kita biar kapal kehidupan kaga gampang karam dihempas ombak fitnah modern. Jangan sampe ente jadi pelaut kesasar yang jalan sendiri tanpa peduli kompas para ulama sepuh!
Udah, kaga usah pake lama, abis ini lautan masih panjang dan menantang! Langsung aja klik tombol navigasi pos penjagaan selanjutnya di bawah ni biar pelayaran ente makin tuntas dan paripurna!
🚀 RUTE POS PENJAGAAN BAB II:
Klik pos di bawah buat nuntasin penjelajahan samudera hukum Islam!
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
-------------------
Judul : TEMA: NAVIGASI LAUT & NELAYAN: KORDINAT 2 - TALI JANGKAR UTAMA; Ijma' Kesepakatan Nakhoda, Biar Kapal Kaga Hanyut! | Ustadz Betawi Nyablak Permalink : navigasi-laut-dan-nelayan-tali-jangkar-utama-ijma.html Meta Description: Pusing pala barbie idup di zaman fitnah? Yuk, intip Tali Jangkar Utama Ijma' bareng Ustadz Betawi Nyablak biar iman kaga kendor dan kaga salah jalan! Label: Ahmad Thoufur Abi, The Nyablak Teacher, Classic Gontor '91, Anak Betawi Asli, Guru MAN 1 Jakarta, Ustadz Betawi Nyablak, Ustadz BCA Nyablak, Sumber Hukum Islam, Ushul Fiqh Muttafaq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar