🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kali ini Syaikh Nawawi Al-Bantani mulai ngebahas pondasi paling dasar dalem agama kita dalem pasal "Rukun Islam". Di sini bakalan dikupas definisi Islam secara bahasa and syariat menurut Imam Al-Bajuri, arti tauhid yang sebener-benernya, sampe rahasia keluasan risalah Nabi Muhammad ﷺ. Ternyata beliau kaga cuma diutus buat manusia zaman now doang, tapi meliputi para malaikat, nabi-nabi terdahulu, hewan, bahkan ampe benda mati kaya batu and pasir! Nyok kita pantengin naskahnya biar iman kita makin mantep!
فَصْلٌ فِي بَيَانِ دَعَائِمِ الإِسْلَامِ وَأَسَاسِهَا وَأَجْزَائِهَا ،
"Pasal: Dalam menjelaskan tiang-tiang Islam, pondasinya, dan bagian-bagiannya.
أَرْكَانُ الإِسْلَامِ خَمْسَةٌ ، شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ
Artinya: Rukun Islam itu ada lima, (yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah...)"
أَرْكَانُ الإِسْلَامِ خَمْسَةٌ ، فَلَا يَنْبَنِيْ بِغَيْرِهَا ،
Artinya: Rukun Islam itu ada lima, maka Islam tidak akan tegak tanpa rukun-rukun tersebut.
فَإِضَافَةُ الْأَرْكَانِ مِـنْ إِضَافَةِ الأَجْزَاءِ إِلَى الْكُلِّ ، أَيْ : الدَّعَائِمِ وَالْأَسَاسِ ، وَالْأَجْزَاءُ الَّتِي يَتَرَكَّبُ الإِسْلَامُ مِـنْهَا خَمْسَةٌ ، فَلَا يَكُوْنُ مِـنْ غَيْرِهَا
Artinya: Penyandaran kata "Rukun" (pada Islam) termasuk penyandaran bagian kepada keseluruhan, maksudnya adalah tiang-tiang dan pondasi. Dan bagian-bagian yang membentuk Islam itu ada lima, maka tidaklah sah (Islam) tanpa kelima bagian tersebut.
قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : الإِسْلَامُ لُغَةٌ : مُطْلَقُ الْانْقِيَادِ ، أَيْ : سَوَاءٌ كَانَ لِلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْ لِغَيْرِهَا ، وَشَرْعًا : الانْقِيَادُ لِلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ ؛ وَقِيلَ : الإِسْلَامُ هُوَ الْعَمَلُ . انْتَهَى
Artinya: Al-Bajuri berkata: Islam secara bahasa adalah ketundukan secara mutlak, maksudnya baik terhadap hukum syariat maupun selainnya. Dan secara syariat: Ketundukan terhadap hukum-hukum syariat; Dan dikatakan juga: Islam adalah amal perbuatan. Selesai.
أَوَّلُهَا : شَهَادَةُ ، أَيْ : تَيَقُنُ أَنْ لَا إِلَهَ ، أَيْ : لَا مَعْبُوْدَ بِحَقِّ مَوْجُوْدٍ ، إِلَّا اللهُ ، وَهُوَ مُتَّصِفٌ بِكُلِّ كَـمَالٍ لَا نِهَايَةَ لَهُ ، وَلَا يَعْلَمُهُ إِلَّا هُوَ ، وَمُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ ، وَمُنْفَرِدٌ بِالْمُلْكِ وَالتَّدْبِيرِ ، وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
Artinya: Yang pertama: Syahadat, artinya keyakinan (yakin sedalam-dalamnya) bahwa tidak ada Tuhan (Ilah), artinya tidak ada yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya yang ada (maujud), kecuali Allah. Dan Dia (Allah) bersifat dengan segala kesempurnaan yang tidak ada batasnya, dan tidak ada yang mengetahui-Nya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Suci dari segala kekurangan, dan Maha Esa dalam kepemilikan dan pengaturan, Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
وَأَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْـمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ رَسُوْلُ اللَّهِ
Artinya: Dan (bersaksi) bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf adalah utusan Allah.
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي بِعْثَةِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الْـمَلَائِكَةِ عَلَى قَوْلَيْنِ ، وَجَزَمَ الْحَلِيمِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مَبْعُوْثًا إِلَيْهِمْ ، وَرَجَّحَ السُّيُوطِيُّ وَالشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِيُّ أَنَّهُ كَانَ مَبْعُوْثًا إِلَيْهِمْ ،
Artinya: Para ulama berbeda pendapat mengenai diutusnya Nabi ﷺ kepada para malaikat menjadi dua pendapat. Al-Halimi dan Al-Baihaqi menegaskan bahwa beliau tidak diutus kepada mereka. Sementara As-Suyuthi dan Syeikh Taqiyuddin As-Subki menguatkan pendapat bahwa beliau diutus kepada mereka (pendapat ini diandalkan dalam kitab An-Nihayah 1/29).
وَزَادَ السُّبْكِيُّ أَنَّهُ ﷺ مُرْسَلٌ إِلَى جَمِيعِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأُمَمِ السَّابِقَةِ ، وَأَنَّ قَوْلَهُ ﷺ : « بُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ » [البخاري، رقم : ٤٣٨] شَامِلٌ لَهُمْ مِـنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ ، وَرَجَّحَهُ الْبَارِزِيُّ ،
Artinya: As-Subki menambahkan bahwa beliau ﷺ diutus kepada seluruh para Nabi and umat-umat terdahulu (pendapat ini diandalkan dalam kitab At-Tuhfah 1/25), dan bahwa sabda beliau ﷺ: "Aku diutus kepada seluruh manusia" [HR. Bukhari no. 438] mencakup mereka sejak zaman Adam sampai hari kiamat. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Barizi.
وَزَادَ : أَنَّهُ مُرْسَلٌ إِلَى جَمِيعِ الْحَيْوَانَاتِ وَالْـجَمَادَاتِ مِـنْ رَمْلٍ وَحَجَرٍ وَمَدَرٍ ، وَزِيْدَ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ مُرْسَلٌ إِلَى نَفْسِهِ . ذَكَرَ ذَلِكَ [ جَلَالُ الدِّينِ ] السُّيُوطِيُّ [ فِي « تَزْيِيْنِ الْأَرَائِكِ فِي إِرْسَالِ نَبِيِّنَا إِلَى الْـمَلَائِكِ » ] قَالَ : « وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْـخَلْقِ كَافَّةً » [مسلم، رقم : ٥٢٣ ؛ مسند أحمد، رقم : ٢٧٤٩٦] .
Artinya: Dan (Al-Barizi) menambahkan: Bahwa beliau diutus kepada seluruh hewan, benda mati mulai dari pasir, batu, dan tanah. Dan ditambahkan atas hal itu bahwa beliau diutus kepada dirinya sendiri. Hal tersebut disebutkan oleh Jalaluddin As-Suyuthi di dalam kitab "Tazyinul Ara'ik fi Irsali Nabiyyina ilal Mala'ik". (Nabi) bersabda: "Dan aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan" [HR. Muslim no. 523; Musnad Ahmad no. 27496].
فَائِدَةٌ : قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّ مِـنْ تَـمَامِ الْإِيْمَانِ أَنْ يَعْتَقِدَ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ لَمْ يَجْتَمِعْ فِي أَحَدٍ مِنَ الْـمَحَاسِنِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ مِثْلُ مَا اجْتَمَعَ فِيْهِ ﷺ
Artinya: Faedah: Al-Bajuri berkata: Dan sungguh sebagian ulama telah menyebutkan bahwa termasuk kesempurnaan iman adalah seseorang meyakini bahwa tidak pernah terkumpul pada diri siapapun dari kebaikan-kebaikan lahiriah maupun batiniah seperti apa yang terkumpul pada diri Nabi ﷺ.
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, dengerin baek-baek! Kalau ditanya rukun Islam ada berapa, anak TK juga faham jawabnya ada lima. Tapi dalem kitab Kasyifatus Saja ini, Syaikh Nawawi ngajak kita mikir dalem. Yang namanya rukun itu penyandaran bagian ke keseluruhan. Ibarat ente mau bangun rumah panggung Betawi, tiang pancangnya kaga boleh kurang satu acan. Begitu juga Islam ente, kagak bakalan sah and tegak kalau pondasi yang lima ini kaga beres diurusin!"
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Masuk rukun yang kedua: "Mendirikan Shalat". Di sini Syaikh Nawawi Al-Bantani bakalan buka rahasia kelas berat. Ternyata, kalau urusan ibadah lahiriah badan, shalat emang rajanya. Tapi tunggu dulu, begitu dibandingin ama ibadah batiniah alias amalan hati kaya tafakkur, tawakkal, and sabar, jebulnya amalan hati kedudukannya jauh lebih nampol di sisi Allah, bahkan iman itu rajanya dari segala raja ibadah! Plus, ada bonus info rahasia penulisan rasm mushaf buat kata shalat, zakat, and hayat. Nyok, pantengin ampe tuntas biar hati kagak jadi mati!
وَثَانِيْهَا : إِقَامُ الصَّلَاةِ ، وَهِيَ : أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ الظَّاهِرَةِ ، وَبَعْدَهَا الصَّوْمُ ، ثُمَّ الْحَجُّ ، ثُمَّ الزَّكَاةُ ؛ فَفَرْضُهَا أَفْضَلُ الْفَرَائِضِ ، وَنَفْلُهَا أَفْضَلُ النَّوَافِلِ ؛ وَلَا يُعْذَرُ أَحَدٌ فِي تَرْكِهَا مَا دَامَ عَاقِلًا ،
Artinya: Yang kedua (dari rukun Islam): Mendirikan shalat. Shalat adalah ibadah badaniah lahiriah yang paling utama, setelahnya adalah puasa, kemudian haji, kemudian zakat. Maka shalat fardhu adalah seutama-utama kewajiban, dan shalat sunnah adalah seutama-utama ibadah sunnah. Dan tidak ada udzur bagi siapapun untuk meninggalkannya selama ia masih berakal.
وَأَمَّا الْعِبَادَاتُ الْبَدَنِيَّةُ الْقَلْبِيَّةُ ، كَالْإِيْـمَانِ ، وَالْـمَعْرِفَةِ ، وَالتَّفَكُّرِ ، وَالتَّوَكُّلِ ، وَالصَّبْرِ ، وَالرَّجَاءِ ، وَالرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ ، وَمَـحَبَّةِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالتَّوْبَةِ ، وَالتَّطَهُّرِ مِنَ الرَّذَائِلِ ، كَالطَّمَعِ وَنَـحْوِهِ ؛ فَهِيَ أَفْضَلُ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ الظَّاهِرَةِ ، حَتَّى مِنَ الصَّلَاةِ ؛ فَقَدْ وَرَدَ : « تَفَكُّرُ سَاعَةٍ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً » [كشف الخفا، رقم : ١٠٠٤ ؛ الموضوعات الصغرى، رقم : ٩٤] ، وَأَفْضَلُ الْـجَمِيْعِ الْإِيْمَانُ
Artinya: Adapun ibadah badaniah batiniah (hati), seperti iman, makrifat, tafakkur, tawakkal, sabar, raja' (berharap), ridha terhadap qadha dan qadar, cinta kepada Allah ﷻ, tobat, dan mensucikan diri dari sifat-sifat buruk seperti tamak dan sejenisnya; Maka ia (ibadah hati) lebih utama daripada ibadah badaniah lahiriah, bahkan lebih utama daripada shalat. Sungguh telah ada riwayat: "Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah enam puluh tahun" [Kasyful Khafa no. 1004; Al-Maudhu'at Ash-Shughra no. 94], dan yang paling utama dari semuanya adalah iman.
فَائِدَةٌ : قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ : إِنَّ التَّفَكُّرَ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجُهِ : إِمَّا فِي آيَاتِ اللهِ ، وَيَلْزَمُهُ التَّوَجُّهُ إِلَيْهِ وَالْيَقِينُ بِهِ ، أَوْ فِيْ نِعْمَةِ اللَّهِ ، وَيَتَوَلَّدُ عَنْهُ الْـمَحَبَّةُ ، أَوْ فِي وَعْدِ اللهِ ، وَيَتَوَلَّدُ عَنْهُ الرَّغْبَةُ ؛ أَوْ فِي وَعِيْدِ اللَّهِ ، وَيَتَوَلَّدُ عَنْهُ الرَّهْبَةُ ؛
Artinya: Faedah: Jumhur (mayoritas) ulama berkata: Sesungguhnya tafakkur (berpikir) itu ada lima jalan (macam): Pertama: Berpikir pada tanda-tanda kebesaran Allah (ciptaan-Nya), dan hal itu mengharuskan untuk menghadapkan diri kepada-Nya serta yakin kepada-Nya. Kedua: Berpikir pada nikmat Allah, dan hal itu melahirkan rasa cinta (mahabbah). Ketiga: Berpikir pada janji Allah (pahala/surga), dan hal itu melahirkan keinginan kuat (raghbah/semangat ibadah). Keempat: Berpikir pada ancaman Allah (siksa/neraka), dan hal itu melahirkan rasa takut (rahbah).
أَوْ فِي تَقْصِيرِ النَّفْسِ عَنِ الطَّاعَةِ ، وَيَتَوَلَّدُ عَنْهُ الْـحَيَاءُ ، بِالْفَتْحِ وَالْـمَدِّ ، وَهُوَ الْانْقِبَاضُ وَالانْزِوَاءُ
Artinya: Kelima: Berpikir pada kelalaian diri dalam ketaatan, dan hal itu melahirkan rasa malu (al-haya'). Dengan huruf Ha difathah dan dipanjangkan (Mad), yang artinya adalah menahan diri dan menyendiri.
قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَطَاءِ اللهِ [الحكم العطائية، رقم : ٤٨] : مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْـحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الطَّاعَاتِ ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلَّاتِ وَقَالَ أَيْضًا [الحكم العطائية، رقم : ٧٦] : الْـحُزْنُ عَلَى فُقْدَانِ الطَّاعَاتِ فِي الْـحَالِ مَعَ عَدَمِ النُّـهُوضِ - أَيْ : الارْتِفَاعِ - إِلَيْهَا فِي الْـمُسْتَقْبَلِ مِنْ عَلَامَاتِ الاغْتِرَارِ
Artinya: Ahmad bin Atha'illah RH berkata dalam kitab (Al-Hikam al-Atha'iyyah, no. 48): "Di antara tanda-tanda matinya hati adalah tidak adanya rasa sedih atas ketaatan yang terlewatkan darimu, dan tidak adanya penyesalan atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan." Beliau juga berkata (Al-Hikam al-Atha'iyyah, no. 76): "Sedih atas hilangnya ketaatan pada saat ini, namun tidak ada usaha untuk bangkit melakukan ketaatan tersebut di masa depan, adalah termasuk tanda-tanda tertipu (terpedaya oleh nafsu)."
فَائِدَةٌ : قَالَ بَعْضُهُمْ : مَـحَبَّةُ اللهِ عَلَى عَشَرَةِ مَعَانٍ مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ ، أَحَدُهَا : أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَحْمُودٌ مِنْ كُلِّ وَجْهِ ، وَبِكُلِّ صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ
Artinya: Faedah: Sebagian ulama berkata: Kecintaan (Mahabbah) seorang hamba kepada Allah itu didasari atas sepuluh makna: Pertama: Ia meyakini bahwa Allah ﷻ Maha Terpuji dari segala sisi dan dengan setiap sifat dari sifat-sifat-Nya.
ثَانِيهَا : أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّهُ مُحْسِنٌ إِلَى عِبَادِهِ ، مُنْعِمٌ مُتَفَضَّلٌ عَلَيْهِمْ
Artinya: Kedua: Ia meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya, pemberi nikmat, dan pemberi anugerah kepada mereka.
ثَالِثُهَا : أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ الإِحْسَانَ مِنْهُ إِلَى الْعَبْدِ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ يُقَابَلَ بِقَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ مِنْهُ ، وَإِنْ حَسُنَ وَكَثُرَ ؛
Artinya: Ketiga: Ia meyakini bahwa kebaikan dari Allah kepada hamba-Nya itu lebih besar dan lebih agung daripada jika dibandingkan dengan ucapan atau perbuatan dari hamba tersebut, walaupun perbuatan itu baik dan banyak.
رَابِعُهَا : أَنْ يَعْتَقِدَ قِلَّةَ قَضَايَاهُ عَلَيْهِ ، وَقِلَّةَ تَكَالِيْفِهِ
Artinya: Keempat: Ia meyakini sedikitnya ketentuan hukum-Nya atas dirinya, dan sedikitnya beban tugas (taklif) dari-Nya.
خَامِسُهَا : أَنْ يَكُوْنَ فِي عَامَّةِ أَوْقَاتِهِ خَائِفًا وَجِلًا مِنْ إِعْرَاضِهِ تَعَالَى عَنْهُ وَسَلْبِ مَا أَكْرَمَهُ بِهِ مِنْ مَعْرِفَةٍ وَتَوْحِيْدٍ وَغَيْرِهِمَا ؛
Artinya: Kelima: Hendaknya ia dalam sepanjang waktunya merasa takut dan gemetar dari berpalingnya Allah ﷻ darinya, serta dicabutnya apa yang Allah muliakan padanya berupa makrifat, tauhid, dan selain keduanya.
سَادِسُهَا : أَنْ يَرَى أَنَّهُ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ وَآمَالِهِ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ لَا غِنَى لَهُ عَنْهُ
Artinya: Keenam: Hendaknya ia memandang bahwa dirinya dalam segala keadaan dan harapannya selalu butuh kepada-Nya dan tidak bisa lepas dari-Nya.
سَابِعُهَا : أَنْ يُدِيْمَ ذِكْرَهُ بِأَحْسَنِ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنْهُ ،
Artinya: Ketujuh: Hendaknya ia mendawamkan (mengekalkan) zikir kepada-Nya dengan cara terbaik yang ia mampu.
ثَامِنُهَا : أَنْ يَحْرِصَ عَلَىٰ إِقَامَةِ فَرَائِضِهِ ، وَأَنْ يَتَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِنَوَافِلِهِ بِقَدْرِ طَاقَتِهِ
Artinya: Kedelapan: Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah-ibadah sunnah sebatas kemampuannya.
تَاسِعُهَا : أَنْ يُسَرَّ - أَيْ : يَفْرَحَ - بِمَا سَمِعَ مِنْ غَيْرِهِ مِنْ ثَنَاءِ عَلَيْهِ أَوْ تَقَرُّبٍ إِلَيْهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً ، نَفْسًا وَمَالًا وَوَلَدًا
Artinya: Kesembilan: Hendaknya ia merasa senang—yakni gembira—dengan apa yang ia dengar dari orang lain berupa pujian kepada-Nya, atau pendekatan diri kepada-Nya, dan jihad di jalan-Nya, baik secara rahasia maupun terang-terangan, baik dengan jiwa, harta, maupun anak.
عَاشِرُهَا : أَنَّهُ إِذَا سَمِعَ مِنْ أَحَدٍ ذِكْرًا لَهُ أَعَانَهُ
Artinya: Kesepuluh: Bahwasanya jika ia mendengar zikir (penyebutan nama Allah) dari seseorang, maka ia membantunya (dalam berzikir/mengagungkan-Nya).
تَنْبِيهٌ : الصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالْـحَيَاةُ إِذَا لَمْ تُضَفْ تُكْتَبُ بِالْوَاوِ ، وَعَلَى الْأَشْهَرِ ، اتِّبَاعًا لِلْـمُصْحَفِ ؛ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكْتُبُهَا بِالْأَلِفِ ، أَمَّا إِذَا أُضِيفَتْ لَا يَـجُوزُ كِتَابَتُهَا إِلَّا بِالْأَلِفِ سَوَاءٌ أُضِيفَتْ إِلَى ظَاهِرٍ أَوْ مُضْمَرٍ . كَـمَا قَالَهُ ابْنُ الْـمُلَـقِّنِ
Artinya: Peringatan: Lafadz Ash-Shalah (shalat), Az-Zakah (zakat), dan Al-Hayah (hidup), jika tidak disandarkan (tidak dalam posisi mudhaf), maka ditulis dengan huruf Wawu. Hal itu menurut pendapat yang paling masyhur, karena mengikuti rasm Mushaf. Dan di antara ulama ada yang menulisnya dengan Alif. Adapun jika disandarkan (idhafah), maka tidak boleh menulisnya kecuali dengan Alif, baik disandarkan kepada isim zhahir maupun isim dhamir, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Mulaqqin RH.
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, dengerin wejangan dari Ibnu Atha'illah! Kalau lu kagak berasa sedih acan pas shalat jamaah liwat atau kewajiban jebol, and lu kaga ngerasa nyesel abis bikin dosa, itu tandanya alarm bahaya: hati lu udeh mulai mati alias jantungan imannya! Terus, kalau lu sedih tapi besok-besok tetep males ibadah, kata beliau lu lagi dikibulin ama nafsu lu sendiri. Nyok, rajin-rajin tafakkur and asah hati biar kagak karatan!"
وَثَالِثُهَا : إِيْتَاءُ الزَّكَاةِ ، أَيْ : إِعْطَاؤُهَا لِمَنْ وُجِدَ مِنَ الْمُسْتَحِقَّيْنَ فَوْرًا إِذَا تَمَكَّنَ مِنَ الأَدَاءِ مَعَ وُجُوْبِ التَّعْمِيمِ ، وَهُمْ ثَمَانِيَةُ أَنْوَاعٍ :
Artinya: Dan yang ketiga (dari rukun Islam): Menunaikan zakat, maksudnya memberikannya kepada orang yang ditemukan dari golongan yang berhak menerimanya secara segera (fauri) jika telah memungkinkan untuk menunaikannya, dengan kewajiban meratakan (kepada setiap jenis). Dan mereka (penerima zakat) ada delapan golongan:
الأَوَّلُ : فَقِيرٌ ، وَحَدُّهُ : هوَ الَّذِي لَا مَالَ لَهُ أَصْلًا وَلَا كَسْبَ كَذَلِكَ حَلَالَيْنِ ، وَالْمُرَادُ بِالْكَسْبِ هُنَا طَلَبُ الْمَعِيشَةِ ، أَوْ لَهُ مَالٌ فَقَطْ حَلَالٌ لَا يَسُدُّ جُوْعَتَهُ مَسَدًا مِنْ كِفَايَةِ الْعُمْرِ الْغَالِبِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ عِنْدَ تَوْزِيْعِهِ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَتَّجِرْ فِيْهِ ، بِحَيْثُ لَا يَبْلُغُ النِّصْفَ ، كَأَنْ يَحْتَاجَ إِلَى عَشَرَةِ دَرَاهِمَ ، وَلَوْ وُزِّعَ الْمَالُ الَّذِي عِنْدَهُ عَلَى الْعُمْرِ الْغَالِبِ لَخُصَّ كُلُّ يَوْمٍ أَرْبَعَةٌ أَوْ أَقَلَّ ، بِخِلَافِ مَنْ قَدِرَ عَلَى نِصْفِ كِفَايَةٍ ، فَإِنَّهُ مِسْكِيْنٌ ؛
Artinya: Pertama: Fakir. Batasannya adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali dan tidak memiliki pekerjaan (halal). Maksud pekerjaan di sini adalah mencari penghidupan. Atau ia memiliki harta halal saja namun tidak menutupi rasa laparnya untuk mencukupi sisa umur yang lumrah (menurut pendapat yang mu'tamad) saat dibagikan kepadanya jika ia tidak berdagang, sekiranya tidak mencapai setengah (dari kecukupan). Contohnya seperti jika ia butuh sepuluh dirham, namun jika harta yang dimilikinya dibagikan untuk sisa umur yang lumrah, setiap harinya ia hanya mendapat empat dirham atau kurang. Berbeda dengan orang yang mampu memenuhi setengah kecukupannya, maka ia disebut miskin.
وَأَمَّا إِنِ اتَّجَرَ فَالْعِبْرَةُ بِكُلِّ يَوْمٍ ، أَوْ لَهُ كَسْبٌ فَقَطْ حَلَالٌ لَائِقٌ بِهِ لَا يَسُدُّ مَسَدًّا مِنْ كِفَايَتِهِ كُلَّ يَوْمٍ ، كَمَنْ يَحْتَاجُ إِلَى عَشَرَةٍ وَيَكْتَسِبُ كُلَّ يَوْمٍ أَرْبَعَةٌ فَأَقَلَّ ، أَوْ لَهُ كُلٌّ مِنْهُمَا وَلَا يَسُدُّ مَجْمُوْعُهُمَا مَسَدًّا مِنْ كِفَايَتِهِ
Artinya: Adapun jika ia berdagang, maka yang menjadi patokan adalah setiap harinya, atau dia cuma punya pekerjaan halal yang layak baginya tapi hasilnya nggak mencukupi kebutuhannya sehari-hari, kayak orang yang butuh sepuluh tapi cuma dapat empat atau kurang, atau dia punya harta dan kerjaan tapi gabungan keduanya tetap nggak cukup buat kebutuhannya.
وَالثَّانِي : مِسْكِينٌ ، وَهُوَ : مَنْ قَدِرَ عَلَى مَالٍ أَوْ كَسْبٍ أَوْ عَلَيْهِمَا مَعًا ، يَسُدُّ كُلٌّ مِنْهُمَا أَوْ مَجْمُوْعُهُمَا جُوْعَتَهُ مَسَدًا بِحَيْثُ يَبْلُغُ النِّصْفَ فَأَكْثَرَ وَلَا يَكْفِيْهِ كَمَنْ يَحْتَاجُ إِلَى عَشَرَةٍ وَلَا يَمْلِكُ أَوْ لَا يَكْتَسِبُ إِلَّا خَمْسَةٌ أَوْ تِسْةٌ وَلَا يَكْفِيْهِ إِلَّا عَشَرَةٌ
Artinya: Dan yang kedua: Miskin, yaitu: orang yang mampu (punya) harta atau pekerjaan atau keduanya sekaligus, yang mana masing-masing atau gabungannya bisa menutup kebutuhannya sekadar mencapai setengah atau lebih tapi tetap belum mencukupi. Kayak orang yang butuh satu angka sepuluh tapi dia nggak punya atau nggak bisa kerja kecuali (cuma dapat) lima atau sembilan, padahal nggak cukup buat dia kecuali sepuluh.
وَيَمْنَعُ فَقْرُ الشَّخْصِ وَمَسْكَنَتُهُ كِفَايَتَهُ بِنَفَقَةِ الزَّوْجِ أَوِ الْقَرِيبِ الَّذِي يَجِبُ الْإِنْفَاقُ عَلَيْهِ كَأَبٍ وَجَدٍ ، لَا نَحْوُ عَمٍّ وَكَذَا اشْتِغَالُهُ بِنَوَافِلَ وَلِكَسْبٍ يَمْنَعُهُ مِنْهَا ، فَإِنَّهُ يَكُوْنُ غَنِيًّا ، وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ اشْتِغَالُهُ بِعِلْمٍ شَرْعِيٍّ أَوْ عِلْمِ آلَاتٍ وَالْكَسْبُ يَمْنَعُهُ ، لِأَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِذَا كَانَ زَائِدًا عَنْ عِلْمِ الْحَالَاتِ ، وَإِلَّا فَهُوَ فَرْضُ عَيْنٍ كَمَا بَيَّنَ ذَلِكَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ [ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ] النَّحْرَاوِيُّ ؛
Artinya: Dan status fakir atau miskin seseorang itu terhalang (nggak dianggap fakir/miskin) kalau kebutuhannya sudah tercukupi oleh nafkah suami atau kerabat yang wajib menanggungnya seperti ayah dan kakek, bukan seperti paman. Begitu juga (dianggap kaya) kalau dia sibuk ibadah sunnah padahal dia bisa kerja tapi kesibukannya menghalangi kerjaannya, maka dia dianggap kaya. Tapi hal itu nggak menghalangi (tetap boleh disebut fakir/miskin) kalau kesibukannya itu belajar ilmu syariat atau ilmu alat sedangkan kerjaan menghalangi belajarnya, karena belajar itu fardu kifayah kalau ilmunya melebihi ilmu dasar, kalau nggak gitu (ilmu dasar), maka hukumnya fardu ain sebagaimana dijelaskan oleh guru kami Ahmad [bin Abdurrahman] an-Nahrawi;
وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ أَيْضًا مَسْكَنُهُ وَخَادِمُهُ وَثِيَابٌ وَكُتُبٌ لَهُ يَحْتَاجُهَا وَمَالٌ لَهُ غَائِبٌ بِمَرْحَلَتَيْنِ أَوْ مُؤَجَّلٌ ، فَيُعْطَى مَا يَكْفِيْهِ إِلَى أَنْ يَصِلَ مَالُهُ أَوْ يَحِلَّ الْأَجَلُ ، لِأَنَّهُ الْآنَ فَقِيرٌ أَوْ مِسْكِينٌ
Artinya: Dan nggak menghalangi juga (tetap dianggap fakir/miskin) meskipun dia punya rumah, pembantu, pakaian, dan buku-buku yang dia butuhin, atau dia punya harta tapi jauh (jarak dua marhalah) atau hartanya masih tempo, maka dia tetap dikasih (zakat) yang mencukupinya sampai hartanya sampai atau sampai jatuh tempo, karena saat ini dia statusnya fakir atau miskin.
وَالثَّاِلثُ : عَامِلٌ ، كَسَاعٍ يَعْمَلُ فِي أَخْذِهَا مِنْ أَرْبَابِ الْأَمْوَالِ ، وَكَاتِبٌ يَكْتُبُ مَا أَعْطَاهُ أَرْبَابُهَا ، وَقَاسِمٌ يَقْسِمُهَا عَلَى الْمُسْتَحِقِّيْنَ وَحَاشِرٌ يَجْمَعُ الْمُلَّاكَ أَوْ ذَوِي السَّهْمَانِ ، لَا قَاضٍ وَوَالٍ
Artinya: Dan yang ketiga: Amil, seperti petugas yang narik zakat dari pemilik harta, penulis yang nyatet apa yang dikasih pemilik harta, dan pembagi yang membagikan zakat ke orang-orang yang berhak serta pengumpul yang ngumpulin pemilik harta atau orang-orang yang punya bagian, bukan hakim atau penguasa.
وَالرَّابِعُ : الْمُؤَلَّفَةُ إِنْ قَسَمَ الْإِمَامُ ، وَهُمْ أَرْبَعَةٌ : مَنْ أَسْلَمَ وَلَكِنَّهُ ضَعِيفُ يَقِيْنٍ ، وَهُوَ الْإِيْمَانُ ، أَوْ قَوِيَّتُهُ وَلَكِنْ لَهُ شَرَفٌ فِي قَوْمِهِ يُتَوَقَّعُ بِإِعْطَائِهِ إِسْلَامُ غَيْرِهِ مِنَ الْكُفَّارِ ، أَوْ مَنْ يَكْفِيْنَا شَرَّ مَنْ يَلِيْهِ مِنَ الْكُفَّارِ ؛ وَمَنْ يَكْفِيْنَا شَرَّ مَانِعِيْ الزَّكَاةِ ؛ فَهَذَانِ الْقِسْمَانِ الْأَخِيْرَانِ إِنَّمَا يُعْطَيَانِ إِذَا كَانَ عَطَاؤُهُمَا أَهْوَنَ عَلَيْنَا مِنْ تَجْهِيزِ جَيْشٍ نَبْعَثُهُ لِلْكُفَّارِ أَوْ مَانِعِيْ الزَّكَاةِ ، أَمَّا الْقِسْمَانِ الْأَوَّلَانِ فَلَا يُشْتَرَطُ فِي إِعْطَائِهِمَا ذَلِكَ
Artinya: Dan yang keempat: Muallaf kalau imam yang bagiin, mereka ada empat macam: orang yang masuk Islam tapi keyakinannya (imannya) masih lemah, atau imannya kuat tapi dia punya kedudukan terhormat di kaumnya yang diharapkan (keislaman kaumnya) dengan memberinya (zakat), maka orang kafir lainnya akan masuk Islam, atau ia adalah orang yang bisa menjaga kita dari kejahatan orang kafir yang ada di sekitarnya; Dan orang yang bisa menjaga kita dari kejahatan para pembangkang zakat; maka dua kelompok terakhir ini hanya diberi zakat jika memberi mereka lebih ringan bagi kita daripada menyiapkan pasukan untuk memerangi kaum kafir atau pembangkang zakat tersebut. Adapun dua kelompok pertama, maka tidak disyaratkan hal itu.
وَالْخَامِسُ : الرِّقَابُ ، وَهُمْ : الْمُكَاتَبُوْنَ ، لِأَنَّ غَيْرَهُمْ مِنَ الْأَرِفَّاءِ لَا يَمْلِكُوْنَ ، وَذَلِكَ إِذَا كَانُوْا لِغَيْرِ الْمُزَكِّي وَلَوْ لِنَحْوِ كَافِرٍ وَهَاشِمِيٍّ وَمُطَّلِبِيٍّ فَيُعْطَوْنَ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِتْقِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ مَا يوفون بِنُجُومِهِمْ ، وَلَوْ بِغَيْرِ إِذْنِ سَيِّدِهِمْ ، وَيُشْتَرَطُ كَوْنُ الْكِتَابَةِ صَحِيْحَةً ، بِأَنْ تُسْتَوْفَى شُرُوطُهَا وَأَرْكَانُهَا فَأَرْكَانُهَا أَرْبَعَةٌ : أَحَدُهَا : رَقِيقٌ ، وَشُرِطَ فِيْهِ اخْتِيَارٌ ، وَعَدَمُ صِبًا وَجُنُوْنٍ ، وَأَنْ لَا يَتَعَلَّقَ بِهِ حَقٌّ لَازِمٌ كَالْمَرْهُوْنِ
Artinya: Dan yang kelima adalah Riqab (budak), yaitu: budak Mukatab. Karena selain mereka dari golongan hamba sahaya tidak memiliki hak milik. Hal itu jika mereka milik selain orang yang berzakat, meskipun milik orang kafir, keturunan Hasyim, atau keturunan Muthalib. Maka mereka diberi (zakat) sesuatu yang dapat membantu mereka untuk merdeka jika mereka tidak memiliki harta untuk melunasi cicilannya, meskipun tanpa izin majikannya. Dan disyaratkan status perjanjian kitabahnya harus sah, dengan terpenuhinya syarat dan rukunnya. Rukunnya ada empat: Pertama, budak. Disyaratkan baginya memiliki pilihan (keinginan sendiri), tidak dalam keadaan anak-anak atau gila, dan tidak berkaitan dengan hak yang mengikat seperti barang gadaian.
وَثَانِيهَا : صِيغَةٌ ، وَشُرِطَ فِيْهَا لَفْظٌ يُشْعِرُ بِالْكِتَابَةِ إِيْجَابًا ، كَكَاتَبْتُكَ ، أَوْ أَنْتَ مُكَاتَبٌ عَلَى دِيْنَارَيْنِ تَأْتِي بِهِمَا فِي شَهْرَيْنِ ، فَإِنْ أَدَّيْتَهُمَا إِلَيَّ فَأَنْتَ حُرٌّ ؛ وَقَبُوْلًا ، كَقَبِلْتُ ذَلِكَ وَثَالِثُهَا : عِوَضٌ ، وَشُرِطَ فِيْهِ كَوْنُهُ دَيْنًا أَوْ مَنْفَعَةً مُؤَجَّلًا بِنَجْمَيْنِ فَأَكْثَرَ ، وَلَا يَجُوزُ أَقَلُّ مِنْ نَجْمَيْنِ ، وَلَا بُدَّ مِنْ بَيَانِ قَدْرِ الْعِوَضِ وَصِفَتِهِ وَعَدَدِ النُّجُوْمِ وَقِسْطِ كُلِّ نَجْمٍ وَرَابِعُهَا : سَيِّدٌ ، وَشُرِطَ فِيْهِ كَوْنُهُ مُخْتَارًا أَهْلَ تَبَرُّعٍ وَوَلَاءِ ، فَلَا تَصِحُّ مِنْ مُكْرَهٍ وَمُكَاتَبٍ ، وَإِنْ أَذِنَ لَهُ سَيِّدُهُ ، وَلَا مِنْ صَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ وَمَحْجُوْرِ سَفَهٍ وَأَوْلِيَائِهِمْ ، وَلَا مِنْ مَحْجُوْرِ فَلَسٍ ، وَلَا مِنْ مُرْتَدٍّ ، لِأَنَّ مُلْكَهُ مَوْقُوْفٌ
Artinya: Kedua, Shighat (pernyataan). Disyaratkan adanya lafaz yang menunjukkan perjanjian kitabah secara penawaran (ijab), seperti: "Aku menjanjikan kemerdekaanmu," atau "Engkau dimerdekakan dengan tebusan dua dinar yang kau bayar dalam dua bulan, jika kau lunasi maka kau merdeka"; dan adanya penerimaan (qabul), seperti: "Aku terima hal itu." Ketiga, Iwadl (tebusan). Disyaratkan berupa hutang atau manfaat yang ditunda pembayarannya dalam dua tahap (angsuran) atau lebih. Tidak boleh kurang dari dua angsuran. Serta harus jelas kadar tebusannya, sifatnya, jumlah angsurannya, dan besaran tiap angsuran. Keempat, majikan. Disyaratkan ia orang yang memiliki pilihan sendiri (tanpa paksaan), ahli tabarru' (cakap melakukan tindakan hukum secara sukarela), dan memiliki hak wala'. Maka tidak sah dari orang yang dipaksa dan budak mukatab (meskipun diizinkan tuannya), tidak pula dari anak kecil, orang gila, orang yang dicegah karena bodoh beserta wali-wali mereka, tidak pula dari orang yang dicegah karena bangkrut, dan tidak dari orang murtad karena kepemilikannya ditangguhkan.
وَيَجُوْزُ صَرْفُ الزَّكَاةِ إِلَيْهِمْ قَبْلَ حُلُوْلِ النُّجُوْمِ عَلَى الْأَصَحِّ ، وَلَا يَجُوزُ صَرْفُ ذَلِكَ إِلَى سَيِّدِهِمْ إِلَّا بِإِذْنِ الْمُكَاتَبِيْنَ لَكِنْ إِنْ دُفِعَ إِلَى السَّيِّدِ سَقَطَ عَنِ الْمُكَاتَبِ بِقَدْرِ الْمَصْرُوْفِ إِلَى السَّيِّدِ ، لِأَنَّ مَنْ أَدَّى دَيْنَ غَيْرِهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ بَرِئَتْ ذِمَّتُهُ أَمَّا الْمُكَاتَبُ كِتَابَةً فَاسِدَةً ، وَهُوَ : مَنْ لَمْ يَسْتَوْفِ تِلْكَ الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ ، فَلَا يُعْطَى شَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِ
Artinya: Dan boleh menyalurkan zakat kepada mereka (budak mukatab) sebelum jatuh tempo angsuran menurut pendapat yang paling kuat (ashah), and tidak boleh menyalurkan zakat itu langsung kepada tuannya kecuali dengan izin si budak mukatab. Namun, jika (zakat) itu diberikan kepada tuannya, maka gugurlah kewajiban budak mukatab sebesar jumlah yang dibayarkan kepada tuannya tersebut, karena siapa yang melunasi utang orang lain tanpa izinnya, maka tanggungannya tetap dianggap lepas (lunas). Adapun budak mukatab dengan perjanjian yang rusak (fasid), yaitu yang tidak memenuhi rukun dan syarat tadi, maka tidak diberi zakat sedikit pun.
وَالسَّادِسُ : الْغَارِمُ ، وَهُوَ ثَلَاثَةٌ : مَنْ تَدَايَنَ لِنَفْسِهِ فِي أَمْرٍ مُبَاحٍ طَاعَةٌ كَانَ أَوْ لَا ، وَإِنْ صُرِفَ أَوْ فِي غَيْرِ مُبَاحٍ وَتَابَ وَظُنَّ صِدْقُهُ فِي تَوْبَتِهِ ، أَوْ صَرَفَهُ فِي مُبَاحٍ ، فَيُعْطَى مَعَ الْحَاجَةِ ، بِأَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ وَلَا يَقْدِرُ عَلَى وَفَائِهِ أَوْ تَدَايَنَ لِإِصْلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ بَيْنَ الْقَوْمِ ، كَأَنْ خَافَ فِتْنَةً بَيْنَ قَبِيْلَتَيْنِ تَنَازَعَتَا بِسَبَبِ قَتِيْلٍ وَلَوْ غَيْرِ آدَمِيٍّ ، بَلْ وَلَوْ كَلْبًا ، فَتَحَمَّلَ دَيْنًا تَسْكِينًا لِلْفِتْنَةِ ، فَيُعْطَى وَلَوْ غَنِيًّا أَوْ تَدَايَنَ لِضَمَانٍ، فَيُعْطَى إِنْ أَعْسَرَ مَعَ الْأَصِيْلِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَبَرِّعًا بِالضَّمَانِ ، أَوْ أَعْسَرَ وَحْدَهُ وَكَانَ مُتَبَرِّعًا بِالضَّمَانِ، بِخِلَافِ مَا إِذَا ضَمِنَ بِالْإِذْنِ
Artinya: Dan yang keenam: Gharim (orang yang berutang). Mereka ada tiga macam: (1) Orang yang berutang untuk dirinya sendiri dalam urusan yang mubah (boleh), baik untuk ketaatan atau bukan, dan meskipun sudah digunakan atau untuk urusan tidak mubah namun ia sudah bertaubat dan diduga jujur taubatnya, atau ia mengalihkan utangnya untuk hal mubah; maka ia diberi zakat jika butuh, yaitu utangnya jatuh tempo dan ia tidak mampu melunasinya. (2) Atau orang yang berutang demi mendamaikan perselisihan di antara orang banyak, seperti ia takut terjadi fitnah/perang antara dua kabilah yang bertengkar gara-gara ada yang mati—biarpun bukan manusia, bahkan biarpun gara-gara anjing—lalu ia menanggung utang demi meredam fitnah itu; maka ia diberi zakat meskipun ia orang kaya. (3) Atau orang yang berutang karena jaminan (garansi), maka ia diberi zakat jika ia dan orang yang dijaminnya sama-sama susah (pailit), meskipun ia bukan sukarelawan dalam menjamin. Atau ia sendiri yang pailit sementara ia sukarelawan dalam menjamin, berbeda jika ia menjamin dengan izin.
وَالسَّابِعُ : سَبِيْلُ اللَّهِ ، وَهُمْ : الْغُزَاةُ الْمُتَطَوِّعُوْنَ بِالْجِهَادِ ، أَيْ : الَّذِينَ لَا رِزْقَ لَهُمْ فِي الْفَيْءِ ، فَيُعْطَوْنَ وَلَوْ أَغْنِيَاءَ إِعَانَةً لَهُمْ عَلَى الْغَزْوِ
Artinya: Dan yang ketujuh: Sabilillah, yaitu para pejuang yang sukarela dalam berjihad, maksudnya: (Yaitu) mereka yang nggak punya bagian tetap dari harta fai' (baitul mal), maka mereka dikasih (zakat) walaupun mereka itu orang kaya sebagai bantuan buat mereka ikut berperang.
وَالثَّامِنُ : اِبْنُ السَّبِيْلِ ، وَهُمْ : اِلْـمُسَافِرُونَ وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ : مَجَازِيٌّ ، وَهُوَ : مُنْشِيءُ سَفَرٍ مِنْ بَلَدِ مَالِ الزَّكَاةِ وَحَقِيقِيٌّ ، وَهُوَ : مَارٌّ بِبَلَدِ الزَّكَاةِ فِي سَفَرِهِ وَذَلِكَ إِنِ احْتَاجَ بِأَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ مَا يُوْصِلُهُ مَقْصِدَهُ أَوْ مَالَهُ ، فَيُعْطَى مَنْ لَا مَالَ لَهُ أَصْلًا وَكَذَا مَنْ لَهُ مَالٌ فِي غَيْرِ الْبَلَدِ الْمُنْتَقِلِ إِلَيْهِ بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَعْصِيَةً قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَقِيلَ لِلْمُسَافِرِ اِبْنُ السَّبِيْلِ لِتَلَبُwِهِ بِهِ، أَيْ : بِالسَّبِيلِ وَالطَّرِيقِ قَالُوا : وَالْمُرَادُ بِابْنِ السَّبِيلِ فِي الْآيَةِ : مَنِ انْقَطَعَ عَنْ مَالِهِ . انْتَهَى
Artinya: Dan yang kedelapan: Ibnu Sabil (musafir), dan dia kebagi jadi dua macam: Secara majazi, yaitu: orang yang baru mau mulai perjalanan dari daerah tempat harta zakat itu berada. Dan secara hakiki, yaitu: orang yang lagi lewat di daerah zakat dalam perjalanannya. Hal itu kalau dia butuh, sekira dia nggak punya bekal yang bisa nyampein dia ke tujuannya atau ke tempat hartanya, maka dikasihlah orang yang emang nggak punya harta sama sekali. Begitu juga orang yang punya harta tapi di daerah lain (bukan di daerah tujuannya), dengan syarat perjalanannya bukan buat maksiat. Disebutkan dalam kitab al-Misbah: "Dikatakan buat musafir itu Ibnu Sabil karena dia terus-terusan nempel sama jalanan (sabil/thariq)". Ulama berkata: "Yang dimaksud Ibnu Sabil dalam ayat (zakat) adalah orang yang terputus dari hartanya." Selesai.
خَاتِمَةٌ : وَشَرْطُ آخِذِ الزَّكَاةِ مِنْ هَذِهِ الثَّمَانِيَةِ : حُرِّيَّةٌ ، وَإِسْلَامٌ وَأَنْ لَا يَكُوْنَ هَاشِمِيًّا وَلَا مُطَّلِبِيًّا لِقَوْلِهِ ﷺ : « إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ » [مسلم ، رقم : ۱۰۷۲ ؛ النسائي ، رقم : ٢٦٠٩ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۹۸۵ ؛ مسند أحمد ، رقم : ١٧٠٦٤] وَوَضَعَ الْحَسَنُ فِي فِيْهِ تَمْرَةً ، أَيْ : مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ ، فَنَزَعَهَا رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ بِلُعَابِهِ وَقَالَ : « كِخْ كِخْ ، إِنَّا آلُ مُحَمَّدٍ لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَاتُ » [البخاري ، رقم : ١٤٩١ ، ٣٠٧٢ ؛ مسلم ، رقم : ١٠٦٩ ؛ مسند أحمد ، رقم : ٩٠٥٣ ، ٩٤٣٥ ، ۹۸۱۷ ؛ الدارمي ، رقم : ١٦٤٢]
Artinya: Penutup: Syarat buat orang yang nerima zakat dari delapan golongan ini adalah: harus orang merdeka dan beragama Islam, serta bukan dari keturunan Bani Hasyim dan bukan dari Bani Muthalib. Karena sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya sedekah (zakat) ini adalah kotoran manusia, dan dia nggak halal buat Muhammad juga nggak halal buat keluarga Muhammad" [Muslim, nomor: 1072; an-Nasa'i, nomor: 2609; Abu Dawud, nomor: 2985; Musnad Ahmad, nomor: 17064]. Dan (pernah) Sayyidina Hasan masukin sebutir kurma ke mulutnya, yaitu kurma dari harta sedekah, lalu Rasulullah ﷺ ngeluarin kurma itu dengan ludahnya, sambil beliau bersabda: "Kikh, kikh (buang, buang), sesungguhnya kita ini keluarga Muhammad nggak halal bagi kita sedekah-sedekah itu" [al-Bukhari, nomor: 1491, 3072; Muslim, nomor: 1069; Musnad Ahmad, nomor: 9053, 9435, 9817; ad-Darimi, nomor: 1642].
وَمَعْنَى « أَوْسَاخُ النَّاسِ » : لِأَنَّ بَقَاءَهَا فِي الْأَمْوَالِ يُدَنِّسُهَا كَمَا يُدَنَّسُ الثَّوْبُ الْوَسِخُ وَقَوْلُهُ : كِخْ كِخْ كَمَا قَالَ الصَّبَّانُ نَقْلًا عَنِ ابْنِ قَاسِمٍ : هُوَ بِكَسْرِ الْكَافِ وَتَشْدِيدِ الْخَاءِ سَاكِنَةً وَمَكْسُوْرَةً وَعَنِ « الْقَامُوْسِ » جَوَازُ تَخْفِيفِ الْخَاءِ وَجَوَازُ تَنْوِيْنِهَا وَجَوَازُ فَتْحِ الْكَافِ ، وَهِيَ : اِسْمُ صَوْتٍ وُضِعَ لِزَجْرِ الْطَّفْلِ عَنْ تَنَاوُلِ شَيْءٍ
Artinya: Dan makna dari "kotoran manusia" adalah: karena kalau zakat itu tetap ada di dalam harta (nggak dikeluarin), dia bakal ngotorin harta itu kayak baju kotor yang kena najis. Dan ucapan Nabi "Kikh, kikh" sebagaimana kata ash-Shabban yang nukil dari Ibnu Qasim: itu dibaca dengan kaf kasrah dan kha' bertasydid, baik kha'-nya sukun atau kasrah. Dan diriwayatkan dari kitab "al-Qamus" tentang bolehnya meringankan huruf Kha, boleh menanwinkannya, dan boleh memfathahkan huruf Kaf. Itu adalah isim shaut (kata suara) yang dibuat untuk melarang anak kecil mengambil sesuatu.
وَنُقِلَ عَنِ الْإِصْطَخْرِيِّ الْقَوْلُ بِجَوَازِ صَرْفِ الزَّكَاةِ إِلَى بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي الْمُطَّلِبِ عِنْدَ مَنْعِهِمْ مِنْ خُمُسِ الْخُمْسِ قَالَ الْبَيْجُوْرِيُw : وَلَا بَأْسَ بِتَقْلِيدِ الْإِصْطَخْرِيِّ فِي قَوْلِهِ الْآنَ لِاحْتِيَاجِهِمْ وَكَانَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ [بْنُ الشَّافِعِيِّ] الْفَضَالِيُّ رَحِمَهُ اللهُ يَمِيلُ إِلَى ذَلِكَ مَحَبَّةً فِيْهِمْ . نَفَعَنَا اللَّهُ بِهِمْ
Artinya: Dan dinukil dari Al-Istakhri sebuah pendapat tentang bolehnya menyalurkan zakat kepada Bani Hasyim and Bani Muthalib ketika mereka tidak mendapatkan bagian seperlima dari seperlima (khumusul khumus). Al-Baijuri berkata: Tidak mengapa bertaqlid kepada Al-Istakhri dalam pendapatnya sekarang karena kebutuhan mereka (Ahlul Bait). Adalah Syaikh Muhammad al-Fadhali rahimahullah cenderung kepada pendapat itu karena kecintaan beliau kepada mereka. Semoga Allah memberi kita manfaat melalui mereka.
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, perhatiin baek-baek! Syaikh Nawawi ngasih pelajaran berharga soal adab and fiqih. Kategori Fakir ama Miskin itu udeh ada rumusnya, jangan sembarangan ngaku-ngaku miskin cuman biar dapet bansos atau zakat! Terus liat tuh teladan Rasulullah ﷺ, saking jaganya dari harta zakat yang dibilang 'kotoran manusia', cucu beliau Sayyidina Hasan yang masih bocah aja langsung dilarang keras pas mau makan kurma sedekah. Trus inget ya, belajar ilmu syariat and ilmu alat (kayak nahwu sharaf) itu nilainya fardhu kifayah malah bisa fardhu ain, makanya penuntut ilmu tetep berhak dibantu zakat biar fokus belajar and kagak pusing mikirin kerjaan. Nyok, melek fiqih Shafi'i biar ibadah kita kagak asal-asalan!"
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kali ini Syaikh Nawawi Al-Bantani bakal ngajak kita ngebongkar dua rukun Islam sekaligus: Puasa Ramadhan ama Haji ke Baitullah. Di bab Puasa, kita bakal bedah rahasia kenapa Kanjeng Nabi SAW lebih sering puasa 29 hari ketimbang yang 30 hari, asal-usul nama Ramadhan yang artinya "pembakaran", ampe tiga tingkatan puasa biar puasa kita kagak cuma dapet laper ama aus doang. Gak cuma itu, urusan Nahwu kelas berat juga dikuliti di mari, mulai dari kenapa kata "Ramadhan" kagak boleh ditanwin (ghairu munsharif) ampe bait rajaz kitab *Bintul Lailah*. Terus di bab Haji, ada kisah legendaris Nabi Adam AS jalan kaki dari India, plus debat i'rab tingkat dewa antara Imam al-Asymuni ama Imam as-Shabban tentang lafadz *Manistatha'a*. Nyok, pasang mata ama kuping, pantengin ampe tuntas!
وَرَابِعُهَا : صَوْمُ رَمَضَانَ ، وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ فَصَامَ ﷺ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ ، وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ
Artinya: Dan yang keempat (dari rukun Islam) adalah puasa Ramadhan, dan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Maka Nabi SAW berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan, satu kali yang genap (30 hari) dan delapan kali yang kurang (29 hari).
تَنْبِيْهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذَلِكَ صُرِفَ ، لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ ، وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُّوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ
Artinya: Peringatan: Ketahuilah bahwa kata "Ramadhan" itu ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena statusnya sebagai nama ('alamiyah) kecuali jika yang dimaksud adalah setiap bulan Ramadhan secara umum tanpa ditentukan tahunnya. Dan jika yang dimaksud adalah hal tersebut (umum), maka ia menjadi munsharif (boleh bertanwin) karena statusnya menjadi nakirah (umum), dan keberadaan alif-nun tambahan di akhir kata tidak menghalangi perubahan itu sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi.
قَالَ الْقَاسِمُ الْحَرِيرِيُّ فِي كِتَابِهِ « بِنْتِ اللَّيْلَةِ » مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ : وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلَى فِعْلَانَا عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا تَقُوْلُ مَرْوَانٌ أَتَى كِرْمَانَا وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَا فَهَذِهِ إِنْ عُرِّفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ وَمَا أَتَى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفَ
Artinya: Al-Qasim al-Hariri berkata dalam kitabnya "Bintul Lailah" dengan bahr rajaz: "Dan di antaranya adalah kata yang mengikuti wazan Fi'lana meskipun terkadang berbeda harakat fa-nya. Engkau berkata 'Marwanun' (dengan tanwin) mendatangi 'Kirmana', dan rahmat Allah atas 'Utsmana'. Maka kata-kata ini jika makrifat (spesifik) tidak bertanwin, dan jika nakirah (umum) maka boleh bertanwin."
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْفَاكِهِيُّ : أَيْ : وَمِنْ غَيْرِ الْمُنْصَرِفِ الْعَلَمُ الْمَزِيدُ فِي آخِرِهِ أَلِفٌ وَنُوْنٌ ، الْجَائِي عَلَى وَزْنِ فَعْلَانَ مُثَلَّثُ الْفَاءِ ، كَمَرْوَانَ وَكِرْمَانَ وَعُثْمَانَ فَهَذِهِ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّعْرِيفُ بِالْعَلَمِيَّةِ لَمْ تَنْصَرِفْ
Artinya: Abdullah al-Fakihi berkata: Di antara isim ghairu munsharif adalah nama (alam) yang di akhirnya ada tambahan alif dan nun, yang mengikuti wazan "Fa'lan" dengan tiga variasi harakat pada huruf fa-nya (fathah, kasrah, dammah), seperti Marwan, Kirman, dan 'Utsman. Maka kata-kata ini jika dimaksudkan sebagai nama (makrifat), maka tidak bertanwin karena adanya dua alasan ('illat). Contoh: "Aku berpapasan dengan Marwan" (tanpa tanwin). Namun jika dimaksudkan sebagai isim nakirah (umum), maka boleh bertanwin karena status namanya hilang. Contoh: "Banyak (orang bernama) Marwan yang kutemui." Dengan jar dan tanwin.
قَالَ عُثْمَانُ فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : وَإِنَّمَا سُمِّيَ هَذَا الشَّهْرُ بِهَذَا الِاسْمِ لِأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الرَّمَضِ ، وَهُوَ الْإِحْرَاقُ ، لِرَمَضِ الذُّنُوْبِ فِيْهِ ، أَيْ : إِحْرَاقِهَا قَالَ أَحْمَدُ الْمُقْرِئُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَرَمَضَانُ اسْمُ الشَّهْرِ ، قِيْلَ : سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ وَضْعَهُ وَافَقَ الرَّمَضَ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ وَجَمْعُهُ رَمَضَانَاتٌ وَأَرْمِضَاءُ .
Artinya: 'Utsman (bin Sulaiman) berkata dalam "Tuhfatul Habib": Dinamakan bulan ini (Ramadhan) karena diambil dari kata "Ar-Ramadh" yang artinya pembakaran, karena dosa-dosa terbakar (dihapuskan) di dalamnya. Ahmad al-Muqri berkata dalam "Al-Misbah": Ramadhan adalah nama bulan. Dikatakan, dinamakan demikian karena penetapan namanya bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat (ar-ramadh), dan bentuk jamaknya adalah Ramadhanat dan Armidha'.
تَبْصِرَةٌ : قَالَ أَحْمَدُ الْفَشْنِيُّ : وَقَدْ قِيلَ : الصَّوْمُ عُمُوْمٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ فَالْعُمُوْمُ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَصْدِ الشَّهْوَةِ ، وَالْخُصُوصُ هُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ صَرْفُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya: Penjelasan Tambahan: Ahmad al-Fashni berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan: Umum, Khusus, dan Khususul Khusus. Tingkat Umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Tingkat Khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan Khususul Khusus adalah memalingkan hati dari keinginan rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.
وَخَامِسُهَا : حَجُّ الْبَيْتِ ، أَيْ : قَصْدُهُ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، وَهُوَ مِنَ الشَّرَائِعِ الْقَدِيمَةِ بَلْ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَجَّ ، خِلَافًا لِمَنِ اسْتَثْنَى هُودًا وَصَالِحًا وَرُوِيَ أَنَّ آدَمَ حَجَّ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً مِنَ الْهِنْدِ مَاشِيًا
Artinya: Dan yang kelima (rukun Islam) adalah haji ke Baitullah, maksudnya: menyengaja pergi ke sana untuk haji atau umrah bagi yang mampu menempuh perjalanannya, dan haji itu termasuk syariat kuno (lama). Bahkan tidak ada satu nabi pun kecuali mereka pernah berhaji, berbeda dengan pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Dan diriwayatkan bahwa Nabi Adam berhaji selama 40 tahun dari India dengan berjalan kaki.
وَفِي الْخَبَرِ : مَنْ قَضَى نُسُكَهُ وَسَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَإِنْفَاقُ الدَّرْهَمِ الْوَاحِدِ فِي ذَلِكَ يَعْدِلُ أَلْفَ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ ، رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ
Artinya: Dan dalam hadis: "Barangsiapa menyelesaikan ibadahnya (haji) dan orang lain selamat dari tangan dan lisannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang" [Kitab Al-Jami' Ash-Shaghir, nomor: 8959]. Dan nafkah satu dirham dalam perjalanan haji itu bandingannya sama dengan satu juta dirham di luar haji, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
وَوَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَحُجُّهُ كُلَّ عَامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَشَرِ فَإِذَا نَقَصُوْا عَنْ ذَلِكَ أَتَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِذَا زَادُوا عَلَى ذَلِكَ يَفْعَلُ اللهُ مَا يُرِيدُ وَأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ تَحُجُّهُ الْمَلَائِكَةُ كَمَا تَحُجُّ الْبَشَرُ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ
Artinya: Dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Baitul Haram itu dikunjungi untuk haji setiap tahun oleh 70.000 manusia. Maka jika jumlah manusia itu kurang dari itu, Allah 'Azza wa Jalla akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dan jika jumlah mereka lebih dari itu, maka Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Baitul Ma'mur di langit keempat itu menjadi tempat haji para malaikat, sebagaimana manusia berhaji ke Baitul Haram.
نُكْتَةٌ : حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ حَجَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ حَجَّةً فَلَمَّا كَانَ آخِرُ حَجَّةٍ حَجَّهَا ، قَالَ وَهُوَ بِعَرَفَاتٍ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي وَقَفْتُ فِي مَوْقِفِيْ هَذَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وِقْفَةً فَوَاحِدَةٌ عَنْ فَرْضِيْ ، وَالثَّانِيَةُ عَنْ أَبِي وَالثَّالِثَةُ عَنْ أُمِّي ، وَأُشْهِدُكَ يَا رَبُّ أَنِّي وَهَبْتُ الثَّلَاثِيْنَ لِمَنْ وَقَفَ مَوْقِفِيْ هَذَا وَلَمْ تَتَقَبَّلْ مِنْهُ
Artinya: Nuktah (Poin Menarik): Diceritakan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau telah melaksanakan haji sebanyak 33 kali. Maka ketika sampai pada haji terakhir yang beliau lakukan, beliau berkata saat sedang berada di Padang Arafah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah wukuf di tempat wukufku ini sebanyak 33 kali wukuf. Maka satu haji sebagai penggugur kewajibanku (haji fardhu), dan yang kedua dari ayahku, yang ketiga dari ibuku, dan aku bersaksi kepada-Mu wahai Rabb bahwa aku hibahkan tiga puluh (haji) sisanya untuk orang yang wukuf di tempat wukufku ini namun Engkau tidak menerima darinya."
فَلَمَّا دَفَعَ ، أَيْ : رَحَلَ ، مِنْ عَرَفَاتٍ نُودِيَ يَا ابْنَ الْمُنْكَدِرِ أَتَتَكَرَّمُ ! عَلَى مَنْ خَلَقَ الْكَرَمَ وَالْجُوْدَ ؟! وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ قَدْ غَفَرْتُ لِمَنْ يَقِفُ فِي عَرَفَاتٍ قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَ عَرَفَاتٍ بِأَلْفِ عَامٍ
Artinya: Maka ketika beliau berangkat, artinya: pergi, dari Arafah (dan turun/istirahat di Muzdalifah), beliau diseru (dalam mimpi): "Wahai Ibnu al-Munkadir, apakah engkau hendak berlagak dermawan! Terhadap Dzat yang menciptakan kedermawanan dan kemurahan?! Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku telah mengampuni orang yang wukuf di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah selama seribu tahun".
تَوْضِيحٌ : قَوْلُهُ : حَجٌّ ، بِفَتْحِ الْحَاءِ وَكَسْرِهَا ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ، وَ « مَنْ » فَاعِلُهُ ، وَهُوَ اِسْمٌ مَوْصُوْلٌ مَبْنِيٌ• عَلَى السُ•كُ•نِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ وَالتَّقْدِيرُ : وَأَنْ يَحُجَّ الْبَيْتَ الْمُسْتَطِيعُ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا فِي الْحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِلَى أَنْ قَالَ "وَحِجُ• الْبَيْتِ" » كَمَا قَالَهُ عَلِيُّ الْأَشْمُونِيُّ فِي كِتَابِهِ الْمُلَقَّبِ بِـ « مَنْهَجِ السَّالِكِ »
Artinya: Penjelasan: Perkataan mushannif "Hajju" (boleh dibaca) dengan fathah huruf Ha-nya atau kasrahnya. Ia adalah masdar yang di-idhafat-kan kepada maf'ul-nya, sedangkan kata "Man" berkedudukan sebagai fa'il-nya, yaitu isim maushul yang mabni atas sukun dalam kedudukan rafa'. Dan takdirnya (susunan aslinya) adalah: "Dan hendaknya orang yang mampu melakukan haji ke Baitullah". Dan yang semisal dengan itu adalah apa yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain, yaitu sabda Nabi SAW: "Islam dibangun di atas lima perkara sampai dengan sabda beliau 'dan berhaji ke Baitullah'", sebagaimana yang dikatakan oleh Ali al-Asymuni dalam kitabnya yang berjudul "Manhajus Salik".
وَأَمَّا حَجُّ الْبَيْتِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيْهِ لِلْفَاعِلِيَّةِ، بَلْ يَحْتَمِلُ كَوْنُهُ بَدَلًا مِنَ « النَّاسِ » بَدَلَ بَعْضٍ مِنْ كُلِّ ، حُذِفَ رَابِطُهُ لِفَهْمِهِ ، أَيْ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْهُمْ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبْتَدَأً خَبَرُهُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ ؛ أَوْ شَرْطِيَّةٌ جَوَابُهَا مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَلْيَحُجَّ . كَمَا قَالَهُ الصَّبَّانُ فِي حَاشِيَتِهِ وَقَوْلُهُ : « إِلَيْهِ » عَائِدٌ إِلَى « الْبَيْتِ » مُتَعَلِّقٌ بِـ « اسْتَطَاعَ » وَ « سَبِيلًا » إِمَّا مَفْعُولٌ بِهِ لِاسْتَطَاعَ ، أَوْ تَمْيِيزٌ عَلَى مَا اسْتَحْسَنَهُ شَيْخُنَا عُمَرُ الْبِقَاعِيُّ وَعُمَرُ الْجَبَرْنِيُّ ، أَيْ : مِنْ جِهَةِ السَّبِيلِ
Artinya: Adapun (kata) "Hijju al-bait" dalam firman Allah Ta'ala: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana" [QS. Ali Imran: 97]. Maka kedudukan "Man" di situ tidak tertentu sebagai fa'il, melainkan ada kemungkinan kedudukannya sebagai badal dari "An-Naas" (Badal Ba'du min al-Kulli), yang dibuang dhamir penghubungnya karena sudah dipahami, maksudnya: "Siapa saja yang mampu di antara mereka". Dan (kemungkinan lain) kedudukannya sebagai mubtada' yang khabarnya dibuang, maksudnya: "Maka baginya wajib berhaji"; atau sebagai isim syarat yang jawabnya dibuang, maksudnya: "Maka hendaklah ia berhaji", sebagaimana yang dikatakan oleh as-Shabban dalam hasyiyahnya. Dan perkataan Mushannif: "ilaihi" (kepadanya), kembali kepada "al-Bait" (Baitullah) dan berkaitan dengan kata "istathaa'a". Dan kata "sabiilan" adakalanya berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata "istathaa'a", atau sebagai tamyiz berdasarkan apa yang dianggap baik oleh guru kami, Umar al-Biqa'i dan Umar al-Jabarni, yaitu: (mampu) dari segi jalannya.
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, dengerin wejangan ilmu mahal dari kitab Kasyifatus Saja! Kanjeng Nabi SAW semasa hidupnya cuma ngerasain puasa Ramadhan 9 kali, dan uniknya yang full 30 hari cuma sekali, sisanya 29 hari. Tapi pahala beliau mah jangan ditanya! Nah, buat kita, dapet ilmu tingkatan puasa dari Ahmad al-Fashni ini kudu dipraktekin. Jangan bangga kalau puasa baru level 'Umum'—cuma dapet laper doang tapi jempol masih sibuk ngetik gibah di sosmed! Naik tingkat dong ke level 'Khusus' atau 'Khususul Khusus', biar hati lu bersih kagak karatan pas lebaran tiba. Yok, semangat belajarnya jangan kendor!"
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kali ini materi kita bener-bener padet bin berbobot. Syaikh Nawawi Al-Bantani ngajak kita ngebongkar Rukun Islam yang keempat (Puasa Ramadhan) ama yang kelima (Haji ke Baitullah). Jangan salah, di mari kita kagak cuma belajar fikih praktis doang, tapi bakal dicekokin ilmu Nahwu kelas kakap! Mulai dari alasan kenapa Ramadhan kagak boleh ditanwin, bait rajaz Imam al-Hariri, ampe perdebatan sengit para ulama ahli i'rab tentang kedudukan lafadz *Manistatha'a*. Ditambah lagi ada bocoran tiga tingkatan puasa biar ibadah kita naik kelas. Kagak ada yang ane potong sehuruf pun, nyok pasang mata baik-baik, kita kuliti naskahnya ampe akar-akarnya!
وَرَابِعُهَا : صَوْمُ رَمَضَانَ ، وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ فَصَامَ ﷺ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ ، وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ
Artinya: Dan yang keempat (rukun Islam) adalah puasa Ramadhan, dan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Maka Nabi SAW berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan, satu kali yang genap (30 hari) and delapan kali yang kurang (29 hari).
تَنْبِيْهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذَلِكَ صُرِفَ ، لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ ، وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُ\\\'vوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ
Artinya: Peringatan: Ketahuilah bahwa kata "Ramadhan" itu ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena statusnya sebagai nama ('alamiyah) kecuali jika yang dimaksud adalah setiap bulan Ramadhan secara umum tanpa ditentukan tahunnya. Dan jika yang dimaksud adalah hal tersebut (umum), maka ia menjadi munsharif (boleh bertanwin) karena statusnya menjadi nakirah (umum), dan keberadaan alif-nun tambahan di akhir kata tidak menghalangi perubahan itu sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi.
قَالَ الْقَاسِمُ الْحَرِيرِيُّ فِي كِتَابِهِ « بِنْتِ اللَّيْلَةِ » مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ : وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلَى فِعْلَانَا عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا تَقُوْلُ مَرْوَانٌ أَتَى كِرْمَانَا وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَا فَهَذِهِ إِنْ عُرِّفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ وَمَا أَتَى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفَ
Artinya: Al-Qasim al-Hariri berkata dalam kitabnya "Bintul Lailah" dengan bahr rajaz: "Dan di antaranya adalah kata yang mengikuti wazan Fi'lana meskipun terkadang berbeda harakat fa-nya. Engkau berkata 'Marwanun' (dengan tanwin) mendatangi 'Kirmana', dan rahmat Allah atas 'Utsmana'. Maka kata-kata ini jika makrifat (spesifik) tidak bertanwin, dan jika nakirah (umum) maka boleh bertanwin."
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْفَاكِهِيُّ : أَيْ : وَمِنْ غَيْرِ الْمُنْصَرِفِ الْعَلَمُ الْمَزِيدُ فِي آخِرِهِ أَلِفٌ وَنُوْنٌ ، الْجَائِي عَلَى وَزْنِ فَعْلَانَ مُثَلَّثُ الْفَاءِ ، كَمَرْوَانَ وَكِرْمَانَ وَعُثْمَانَ فَهَذِهِ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّعْرِيفُ بِالْعَلَمِيَّةِ لَمْ تَنْصَرِفْ
Artinya: Abdullah al-Fakihi berkata: Di antara isim ghairu munsharif adalah nama (alam) yang di akhirnya ada tambahan alif dan nun, yang mengikuti wazan "Fa'lan" dengan tiga variasi harakat pada huruf fa-nya (fathah, kasrah, dammah), seperti Marwan, Kirman, dan 'Utsman. Maka kata-kata ini jika dimaksudkan sebagai nama (makrifat), maka tidak bertanwin karena adanya dua alasan ('illat). Contoh: "Aku berpapasan with Marwan" (tanpa tanwin). Namun jika dimaksudkan sebagai isim nakirah (umum), maka boleh bertanwin karena status namanya hilang. Contoh: "Banyak (orang bernama) Marwan yang kutemui." Dengan jar dan tanwin.
قَالَ عُثْمَانُ فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : وَإِنَّمَا سُمِّيَ هَذَا الشَّهْرُ بِهَذَا الِاسْمِ لِأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الرَّمَضِ ، وَهُوَ الْإِحْرَاقُ ، لِرَمَضِ الذُّنُوْبِ فِيْهِ ، أَيْ : إِحْرَاقِهَا قَالَ أَحْمَدُ الْمُقْرِئُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَرَمَضَانُ اسْمُ الشَّهْرِ ، قِيْلَ : سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ وَضْعَهُ وَافَقَ الرَّمَضَ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ وَجَمْعُهُ رَمَضَانَاتٌ وَأَرْمِضَاءُ . تَبْصِرَةٌ : قَالَ أَحْمَدُ الْفَشْنِيُّ : وَقَدْ قِيلَ : الصَّوْمُ عُمُوْمٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ فَالْعُمُوْمُ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَصْدِ الشَّهْوَةِ ، وَالْخُصُوصُ هُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ صَرْفُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya: 'Utsman (bin Sulaiman) berkata dalam "Tuhfatul Habib": Dinamakan bulan ini (Ramadhan) karena diambil dari kata "Ar-Ramadh" yang artinya pembakaran, karena dosa-dosa terbakar (dihapuskan) di dalamnya. Ahmad al-Muqri berkata dalam "Al-Misbah": Ramadhan adalah nama bulan. Dikatakan, dinamakan demikian karena penetapan namanya bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat (ar-ramadh). Penjelasan Tambahan: Ahmad al-Fashni berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan: Umum, Khusus, dan Khususul Khusus. Tingkat Umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Tingkat Khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan Khususul Khusus adalah memalingkan hati dari keinginan rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.
وَخَامِسُهَا : حَجُّ الْبَيْتِ ، أَيْ : قَصْدُهُ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، وَهُوَ مِنَ الشَّرَائِعِ الْقَدِيمَةِ بَلْ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَجَّ ، خِلَافًا لِمَنِ اسْتَثْنَى هُودًا وَصَالِحًا وَرُوِيَ أَنَّ آدَمَ حَجَّ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً مِنَ الْهِنْدِ مَاشِيًا وَفِي الْخَبَرِ : مَنْ قَضَى نُسُكَهُ وَسَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَإِنْفَاقُ الدَّرْهَمِ الْوَاحِدِ فِي ذَلِكَ يَعْدِلُ أَلْفَ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ ، رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ
Artinya: Dan yang kelima (rukun Islam) adalah haji ke Baitullah, maksudnya: menyengaja pergi ke sana untuk haji atau umrah bagi yang mampu menempuh perjalanannya, dan haji itu termasuk syariat kuno (lama). Bahkan tidak ada satu nabi pun kecuali mereka pernah berhaji, berbeda dengan pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Dan diriwayatkan bahwa Nabi Adam berhaji selama 40 tahun dari India dengan berjalan kaki. Dan dalam hadis: "Barangsiapa menyelesaikan ibadahnya (haji) dan orang lain selamat dari tangan dan lisannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang" [Kitab Al-Jami' Ash-Shaghir, nomor: 8959]. Dan nafkah satu dirham dalam perjalanan haji itu bandingannya sama dengan satu juta dirham di luar haji, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
وَوَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَحُجُّهُ كُلَّ عَامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَشَرِ فَإِذَا نَقَصُوْا عَنْ ذَلِكَ أَتَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِذَا زَادُوا عَلَى ذَلِكَ يَفْعَلُ اللهُ مَا يُرِيدُ وَأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ تَحُجُّهُ الْمَلَائِكَةُ كَمَا تَحُجُّ الْبَشَرُ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ
Artinya: Dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Baitul Haram itu dikunjungi untuk haji setiap tahun oleh 70.000 manusia. Maka jika jumlah manusia itu kurang dari itu, Allah 'Azza wa Jalla akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dan jika jumlah mereka lebih dari itu, maka Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Baitul Ma'mur di langit keempat itu menjadi tempat haji para malaikat, sebagaimana manusia berhaji ke Baitul Haram.
نُكْتَةٌ : حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ حَجَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ حَجَّةً فَلَمَّا كَانَ آخِرُ حَجَّةٍ حَجَّهَا ، قَالَ وَهُوَ بِعَرَفَاتٍ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي وَقَفْتُ فِي مَوْقِفِيْ هَذَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وِقْفَةً فَوَاحِدَةٌ عَنْ فَرْضِيْ ، وَالثَّانِيَةُ عَنْ أَبِي وَالثَّالِثَةُ عَنْ أُمِّي ، وَأُشْهِدُكَ يَا رَبُّ أَنِّي وَهَبْتُ الثَّلَاثِيْنَ لِمَنْ وَقَفَ مَوْقِفِيْ هَذَا وَلَمْ تَتَقَبَّلْ مِنْهُ فَلَمَّا دَفَعَ ، أَيْ : رَحَلَ ، مِنْ عَرَفَاتٍ نُودِيَ يَا ابْنَ الْمُنْكَدِرِ أَتَتَكَرَّمُ ! عَلَى مَنْ خَلَقَ الْكَرَمَ وَالْجُوْدَ ؟! وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ قَدْ غَفَرْتُ لِمَنْ يَقِفُ فِي عَرَفَاتٍ قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَ عَرَفَاتٍ بِأَلْفِ عَامٍ
Artinya: Nuktah (Poin Menarik): Diceritakan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau telah melaksanakan haji sebanyak 33 kali. Maka ketika sampai pada haji terakhir yang beliau lakukan, beliau berkata saat sedang berada di Padang Arafah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku [telah] wukuf di tempat wukufku ini sebanyak 33 kali wukuf. Maka satu haji sebagai penggugur kewajibanku (haji fardhu), dan yang kedua dari ayahku, yang ketiga dari ibuku, dan aku bersaksi kepada-Mu wahai Rabb bahwa aku hibahkan tiga puluh (haji) sisanya untuk orang yang wukuf di tempat wukufku ini namun Engkau tidak menerima darinya." Maka ketika beliau berangkat, artinya: pergi, dari Arafah [dan turun/istirahat di Muzdalifah], beliau diseru [dalam mimpi]: "Wahai Ibnu al-Munkadir, apakah engkau hendak berlagak dermawan! Terhadap Dzat yang menciptakan kedermawanan dan kemurahan?!". [Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepadamu]: "Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku telah mengampuni orang yang wukuf di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah selama seribu [dua ribu] tahun".
تَوْضِيحٌ : قَوْلُهُ : حَجٌّ ، بِفَتْحِ الْحَاءِ وَكَسْرِهَا ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ، وَ « مَنْ » فَاعِلُهُ ، وَهُوَ اِسْمٌ مَوْصُوْلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ وَالتَّقْدِيرُ : وَأَنْ يَحُجَّ الْبَيْتَ الْمُسْتَطِيعُ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا فِي الْحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِلَى أَنْ قَالَ "وَحِجُّ الْبَيْتِ" » كَمَا قَالَهُ عَلِيُّ الْأَشْمُونِيُّ فِي كِتَابِهِ الْمُلَقَّبِ بِـ « مَنْهَجِ السَّالِكِ »
Artinya: Penjelasan: Perkataan mushannif "Hajju" (boleh dibaca) dengan fathah huruf Ha-nya atau kasrahnya. Ia adalah masdar yang di-idhafat-kan kepada maf'ul-nya, sedangkan kata "Man" berkedudukan sebagai fa'il-nya, yaitu isim maushul yang mabni atas sukun dalam kedudukan rafa'. Dan takdirnya (susunan aslinya) adalah: "Dan hendaknya orang yang mampu melakukan haji ke Baitullah". Dan yang semisal dengan itu adalah apa yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain, Yaitu sabda Nabi SAW: "Islam dibangun di atas lima perkara sampai dengan sabda beliau 'dan berhaji ke Baitullah'". Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali [bin Muhammad] al-Asymuni dalam kitabnya yang berjudul "Manhajus Salik".
وَأَمَّا حَجُّ الْبَيْتِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيْهِ لِلْفَاعِلِيرَةِ، بَلْ يَحْتَمِلُ كَوْنُهُ بَدَلًا مِنَ « النَّاسِ » بَدَلَ بَعْضٍ مِنْ كُلِّ ، حُذِفَ رَابِطُهُ لِفَهْمِهِ ، أَيْ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْهُمْ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبْتَدَأً خَبَرُهُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ ؛ أَوْ شَرْطِيَّةٌ جَوَابُهَا مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَلْيَحُجَّ . كَمَا قَالَهُ الصَّبَّانُ فِي حَاشِيَتِهِ وَقَوْلُهُ : « إِلَيْهِ » عَائِدٌ إِلَى « الْبَيْتِ » مُتَعَلِّقٌ بِـ « اسْتَطَاعَ » وَ « سَبِيلًا » إِمَّا مَفْعُولٌ بِهِ لِاسْتَطَاعَ ، أَوْ تَمْيِيزٌ عَلَى مَا اسْتَحْسَنَهُ شَيْخُنَا عُمَرُ الْبِقَاعِيُّ وَعُمَرُ الْجَبَرْنِيُّ ، أَيْ : مِنْ جِهَةِ السَّبِيلِ
Artinya: Adapun (kata) "Hijju al-bait" dalam firman Allah Ta'ala: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana" [QS. Ali Imran: 97]. Maka kedudukan "Man" di situ tidak tertentu sebagai fa'il, melainkan ada kemungkinan kedudukannya sebagai badal dari "An-Naas" (Badal Ba'du min al-Kulli), yang dibuang dhamir penghubungnya karena sudah dipahami, maksudnya: "Siapa saja yang mampu di antara mereka". Dan (kemungkinan lain) kedudukannya sebagai mubtada' yang khabarnya dibuang, maksudnya: "Maka baginya wajib berhaji"; atau sebagai isim syarat yang jawabnya dibuang, maksudnya: "Maka hendaklah ia berhaji". Sebagaimana yang dikatakan oleh [Muhammad bin Ali] as-Shabban dalam hasyiyahnya. Dan perkataan Mushannif: "ilaihi" (kepadanya), kembali kepada "al-Bait" (Baitullah) dan berkaitan dengan kata "istathaa'a". Dan kata "sabiilan" adakalanya berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata "istathaa'a", atau sebagai tamyiz. Berdasarkan apa yang dianggap baik oleh guru kami, Umar al-Biqa'i dan Umar al-Jabarni, yaitu: (mampu) dari segi jalannya.
2. Mengenai riwayat Baitul Haram dikunjungi 70.000 manusia tiap tahun, penyunting juga menegaskan bahwa redaksi hadis tersebut belum ditemukan dalam kitab hadis standar.
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, perhatiin matematika sejarahnya! Kanjeng Nabi SAW semasa hidupnya cuma ngerasain puasa Ramadhan 9 kali sejak tahun 2 Hijriyah. Yang full 30 hari cuma sekali, sisanya yang 29 hari ada 8 kali. Tapi liat kualitasnya! Nah, lu yang puasanya full 30 hari jangan belagu dulu kalau isinya cuma tidur seharian ama main game. Kejar tuh tingkatan puasa minimal level 'Khusus' biar panca indera lu ikutan puasa dari dosa. Terus buat urusan haji, jangan alesan males belajar i'rab Nahwunya! Ulama macem Imam as-Shabban ama Imam al-Asymuni aja ampe detail ngebahas satu huruf demi ngejaga kemurnian makna ayat Quran. Nyok, singkap sarung lu, jangan males belajar Nahwu Fikih!"
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kita bedah rukun Islam yang keempat and kelima: "Puasa Ramadhan" ama "Haji ke Baitullah". Di bab ini, Syaikh Nawawi Al-Bantani bakalan ngajak kita nyilem dalem-dalem. Kagak cuman urusan fiqih zahir, tapi juga ngebongkar rahasia nahwu (i'rab) kelas kakap, sejarah para nabi jalan kaki dari India, sampe kisah wali yang ngeshibahin pahala hajinyee buat jamaah yang kagak diterima ibadahnyee. Nyok, siapin kuping ama ati, jangan sampe meleng acan biar dapet berkah ilmu tingkat tinggi ini!
وَرَابِعُهَا : صَوْمُ رَمَضَانَ ، وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ فَصَامَ ﷺ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ ، وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ
Artinya: Dan yang keempat (rukun Islam) adalah puasa Ramadhan, dan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Maka Nabi SAW berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan, satu kali yang genap (30 hari) and delapan kali yang kurang (29 hari).
تَنْبِيْهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذَلِكَ صُرِفَ ، لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ ، وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُّوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ قَالَ الْقَاسِمُ الْحَرِيرِيُّ فِي كِتَابِهِ « بِنْتِ اللَّيْلَةِ » مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ : وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلَى فِعْلَانَا عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا تَقُوْلُ مَرْوَانٌ أَتَى كِرْمَانَا وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَا فَهَذِهِ إِنْ عُرِّفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ وَمَا أَتَى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفَ
Artinya: Peringatan: Ketahuilah bahwa kata "Ramadhan" itu ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena statusnya sebagai nama ('alamiyah) kecuali jika yang dimaksud adalah setiap bulan Ramadhan secara umum tanpa ditentukan tahunnya. Dan jika yang dimaksud adalah hal tersebut (umum), maka ia menjadi munsharif (boleh bertanwin) karena statusnya menjadi nakirah (umum), dan keberadaan alif-nun tambahan di akhir kata tidak menghalangi perubahan itu sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi. Al-Qasim al-Hariri berkata dalam kitabnya "Bintul Lailah" dengan bahr rajaz: "Dan di antaranya adalah kata yang mengikuti wazan Fi'lana meskipun terkadang berbeda harakat fa-nya. Engkau berkata 'Marwanun' (dengan tanwin) mendatangi 'Kirmana', dan rahmat Allah atas 'Utsmana'. Maka kata-kata ini jika makrifat (spesifik) tidak bertanwin, dan jika nakirah (umum) maka boleh bertanwin."
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْفَاكِهِيُّ : أَيْ : وَمِنْ غَيْرِ الْمُنْصَرِفِ الْعَلَمُ الْمَزِيدُ فِي آخِرِهِ أَلِفٌ وَنُوْنٌ ، الْجَائِي عَلَى وَزْنِ فَعْلَانَ مُثَلَّثُ الْفَاءِ ، كَمَرْوَانَ وَكِرْمَانَ وَعُثْمَانَ فَهَذِهِ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّعْرِيفُ بِالْعَلَمِيَّةِ لَمْ تَنْصَرِف
Artinya: Abdullah al-Fakihi berkata: Di antara isim ghairu munsharif adalah nama (alam) yang di akhirnya ada tambahan alif dan nun, yang mengikuti wazan "Fa'lan" dengan tiga variasi harakat pada huruf fa-nya (fathah, kasrah, dammah), seperti Marwan, Kirman, dan 'Utsman. Maka kata-kata ini jika dimaksudkan sebagai nama (makrifat), maka tidak bertanwin karena adanya dua alasan ('illat). Contoh: "Aku berpapasan with Marwan" (tanpa tanwin). Namun jika dimaksudkan sebagai isim nakirah (umum), maka boleh bertanwin karena status namanya hilang. Contoh: "Banyak (orang bernama) Marwan yang kutemui." Dengan jar dan tanwin.
قَالَ عُثْمَانُ [بْنُ سُلَيْمَانَ السُّوَيْفِيُّ] فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : وَإِنَّمَا سُمِّيَ هَذَا الشَّهْرُ بِهَذَا الِاسْمِ لِأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الرَّمَضِ ، وَهُوَ الْإِحْرَاقُ ، لِرَمَضِ الذُّنُوْبِ فِيْهِ ، أَيْ : إِحْرَاقِهَا قَالَ أَحْمَدُ [بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَيُّوْمِيُّ] الْمُقْرِئُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَرَمَضَانُ اسْمُ الشَّهْرِ ، قِيْلَ : سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ وَضْعَهُ وَافَقَ الرَّمَضَ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ وَجَمْعُهُ رَمَضَانَاتٌ وَأَرْمِضَاءُ . تَبْصِرَةٌ : قَالَ أَحْمَدُ [بْنُ حِجَازِي] الْفَشْنِيُّ : وَقَدْ قِيلَ : الصَّوْمُ عُمُوْمٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ فَالْعُمُوْمُ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَصْدِ الشَّهْوَةِ ، وَالْخُصُوصُ هُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ صَرْفُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya: 'Utsman (bin Sulaiman) berkata dalam "Tuhfatul Habib": Dinamakan bulan ini (Ramadhan) because diambil dari kata "Ar-Ramadh" yang artinya pembakaran, karena dosa-dosa terbakar (dihapuskan) di dalamnya. Ahmad al-Muqri berkata dalam "Al-Misbah": Ramadhan adalah nama bulan. Dikatakan, dinamakan demikian karena penetapan namanya bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat (ar-ramadh). Penjelasan Tambahan: Ahmad al-Fashni berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan: Umum, Khusus, dan Khususul Khusus. Tingkat Umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Tingkat Khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan Khususul Khusus adalah memalingkan hati dari keinginan rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.
وَخَامِسُهَا : حَجُّ الْبَيْتِ ، أَيْ : قَصْدُهُ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، وَهُوَ مِنَ الشَّرَائِعِ الْقَدِيمَةِ بَلْ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَجَّ ، خِلَافًا لِمَنِ اسْتَثْنَى هُودًا وَصَالِحًا وَرُوِيَ أَنَّ آدَمَ حَجَّ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً مِنَ الْهِنْدِ مَاشِيًا وَفِي الْخَبَرِ : مَنْ قَضَى نُسُكَهُ وَسَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ [ « الْجَامِعُ الصَّغِيرُ » ، رَقْمُ : ٨٩٥٩ ] وَإِنْفَاقُ الدَّرْهَمِ الْوَاحِدِ فِي ذَلِكَ يَعْدِلُ أَلْفَ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ ، رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ [ لَمْ أَجِدْهُ عِنْدَ التَّرْمِذِي ، وَرَاجِعْ تَذْكِرَةَ الْمَوْضُوْعَاتِ بَابُ فَضَائِلِ الْحَجِّ ]
Artinya: Dan yang kelima (rukun Islam) adalah haji ke Baitullah, maksudnya: menyengaja pergi ke sana untuk haji atau umrah bagi yang mampu menempuh perjalanannya, dan haji itu termasuk syariat kuno (lama). Bahkan tidak ada satu nabi pun kecuali mereka pernah berhaji, berbeda dengan pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Dan diriwayatkan bahwa Nabi Adam berhaji selama 40 tahun dari India dengan berjalan kaki. Dan dalam hadis: "Barangsiapa menyelesaikan ibadahnya (haji) dan orang lain selamat dari tangan dan lisannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang" [Kitab Al-Jami' Ash-Shaghir, nomor: 8959]. Dan nafkah satu dirham dalam perjalanan haji itu bandingannya sama dengan satu juta dirham di luar haji, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [Namun penyunting tidak menemukannya di Tirmidzi, dan silakan rujuk kitab Tadzkiratul Maudhu'at pada bab Keutamaan Haji].
وَوَرَدَ فِي الْخَبَرِ [ لَمْ أَجِدْهُ ] أَنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَحُجُّهُ كُلَّ عَامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَشَرِ فَإِذَا نَقَصُوْا عَنْ ذَلِكَ أَتَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِذَا زَادُوا عَلَى ذَلِكَ يَفْعَلُ اللهُ مَا يُرِيدُ وَأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ تَحُجُّهُ الْمَلَائِكَةُ كَمَا تَحُجُّ الْبَشَرُ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ
Artinya: Dan disebutkan dalam sebuah riwayat [Penyunting tidak menemukannya] bahwa Baitul Haram itu dikunjungi untuk haji setiap tahun oleh 70.000 manusia. Maka jika jumlah manusia itu kurang dari itu, Allah 'Azza wa Jalla akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dan jika jumlah mereka lebih dari itu, maka Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Baitul Ma'mur di langit keempat itu menjadi tempat haji para malaikat, sebagaimana manusia berhaji ke Baitul Haram.
نُكْتَةٌ : حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ حَجَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ حَجَّةً فَلَمَّا كَانَ آخِرُ حَجَّةٍ حَجَّهَا ، قَالَ وَهُوَ بِعَرَفَاتٍ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي [ قَدْ ] وَقَفْتُ فِي مَوْقِفِيْ هَذَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وِقْفَةً فَوَاحِدَةٌ عَنْ فَرْضِيْ ، وَالثَّانِيَةُ عَنْ أَبِي وَالثَّالِثَةُ عَنْ أُمِّي ، وَأُشْهِدُكَ يَا رَبُّ أَنِّي وَهَبْتُ الثَّلَاثِيْنَ لِمَنْ وَقَفَ مَوْقِفِيْ هَذَا وَلَمْ تَتَقَبَّلْ مِنْهُ
Artinya: Nuktah (Poin Menarik): Diceritakan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau telah melaksanakan haji sebanyak 33 kali. Maka ketika sampai pada haji terakhir yang beliau lakukan, beliau berkata saat sedang berada di Padang Arafah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku [telah] wukuf di tempat wukufku ini sebanyak 33 kali wukuf. Maka satu haji sebagai penggugur kewajibanku (haji fardhu), dan yang kedua dari ayahku, yang ketiga dari ibuku, dan aku bersaksi kepada-Mu wahai Rabb bahwa aku hibahkan tiga puluh (haji) sisanya untuk orang yang wukuf di tempat wukufku ini namun Engkau tidak menerima darinya."
فَلَمَّا دَفَعَ ، أَيْ : رَحَلَ ، مِنْ عَرَفَاتٍ [ وَنَزَلَ بِالْمُزْدَلِفَةِ ، ] نُودِيَ [ فِي الْمَنَامِ ] يَا ابْنَ الْمُنْكَدِرِ أَتَتَكَرَّمُ ! عَلَى مَنْ خَلَقَ الْكَرَمَ وَالْجُوْدَ ؟! [ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَكَ : ] وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ قَدْ غَفَرْتُ لِمَنْ يَقِفُ فِي عَرَفَاتٍ قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَ عَرَفَاتٍ بِأَلْفِ [ بِأَلْفَي ] عَامٍ
Artinya: Maka ketika beliau berangkat, artinya: pergi, dari Arafah [dan turun/istirahat di Muzdalifah], beliau diseru [dalam mimpi]: "Wahai Ibnu al-Munkadir, apakah engkau hendak berlagak dermawan! Terhadap Dzat yang menciptakan kedermawanan dan kemurahan?!". [Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepadamu]: "Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku telah mengampuni orang yang wukuf di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah selama seribu [dua ribu] tahun".
تَوْضِيحٌ : قَوْلُهُ : حَجٌّ ، بِفَتْحِ الْحَاءِ وَكَسْرِهَا ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ، وَ « مَنْ » فَاعِلُهُ ، وَهُوَ اِسْمٌ مَوْصُوْلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ وَالتَّقْدِيرُ : وَأَنْ يَحُجَّ الْبَيْتَ الْمُسْتَطِيعُ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا فِي الْحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [البخاري ، رقم : ٨ ؛ مسلم ، رقم : ١٦ ؛ الترمذي ، رقم : ٢٦٠٩ ؛ النسائي ، رقم : ۵۰۰۱ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٤٧٨٣ ، ٥٦٣٩ ، ٥٩٧٩ ، ٦٣٦٥ ؛ عن ابن عُمَرَ ] [ « مسند أحمد » ، رقم : ١٨٧٣٥ ، ١٨٧٤١ ؛ عن جَرِيرِ بنِ عبد الله ] وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِلَى أَنْ قَالَ "وَحِجُّ الْبَيْتِ" » كَمَا قَالَهُ عَلِيُّ [ بْنُ مُحَمَّدٍ ] الْأَشْمُونِيُّ فِي كِتَابِهِ الْمُلَقَّبِ بِـ « مَنْهَجِ السَّالِكِ »
Artinya: Penjelasan: Perkataan mushannif "Hajju" (boleh dibaca) dengan fathah huruf Ha-nya atau kasrahnya. Ia adalah masdar yang di-idhafat-kan kepada maf'ul-nya, sedangkan kata "Man" berkedudukan sebagai fa'il-nya, yaitu isim maushul yang mabni atas sukun dalam kedudukan rafa'. Dan takdirnya (susunan aslinya) adalah: "Dan hendaknya orang yang mampu melakukan haji ke Baitullah". Dan yang semisal dengan itu adalah apa yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain [Bukhari no. 8; Muslim no. 16; Tirmidzi no. 2609; Nasai no. 5001; Musnad Ahmad no. 4783, 5639, 5979, 6365; dari Ibnu Umar]. [Musnad Ahmad no. 18735, 18741; dari Jarir bin Abdullah]. Yaitu sabda Nabi SAW: "Islam dibangun di atas lima perkara sampai dengan sabda beliau 'dan berhaji ke Baitullah'". Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali [bin Muhammad] al-Asymuni dalam kitabnya yang berjudul "Manhajus Salik".
وَأَمَّا حَجُّ الْبَيْتِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ [ ٣ سورة آل عمران / الآية : ٩٧] فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيْهِ لِلْفَاعِلِيَّةِ، بَلْ يَحْتَمِلُ كَوْنُهُ بَدَلًا مِنَ « النَّاسِ » بَدَلَ بَعْضٍ مِنْ كُلِّ ، حُذِفَ رَابِطُهُ لِفَهْمِهِ ، أَيْ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْهُمْ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبْتَدَأً خَبَرُهُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ ؛ أَوْ شَرْطِيَّةٌ جَوَابُهَا مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَلْيَحُجَّ . كَمَا قَالَهُ [ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ ] الصَّبَّانُ فِي حَاشِيَتِهِ وَقَوْلُهُ : « إِلَيْهِ » عَائِدٌ إِلَى « الْبَيْتِ » مُتَعَلِّقٌ بِـ « اسْتَطَاعَ » وَ « سَبِيلًا » إِمَّا مَفْعُولٌ بِهِ لِاسْتَطَاعَ ، أَوْ تَمْيِيزٌ عَلَى مَا اسْتَحْسَنَهُ شَيْخُنَا عُمَرُ الْبِقَاعِيُّ وَعُمَرُ الْجَبَرْنِيُّ ، أَيْ : مِنْ جِهَةِ السَّبِيلِ
Artinya: Adapun (kata) "Hijju al-bait" dalam firman Allah Ta'ala: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana" [QS. Ali Imran: 97]. Maka kedudukan "Man" di situ tidak tertentu sebagai fa'il, melainkan ada kemungkinan kedudukannya sebagai badal dari "An-Naas" (Badal Ba'du min al-Kulli), yang dibuang dhamir penghubungnya karena sudah dipahami, maksudnya: "Siapa saja yang mampu di antara mereka". Dan (kemungkinan lain) kedudukannya sebagai mubtada' yang khabarnya dibuang, maksudnya: "Maka baginya wajib berhaji"; atau sebagai isim syarat yang jawabnya dibuang, maksudnya: "Maka hendaklah ia berhaji". Sebagaimana yang dikatakan oleh [Muhammad bin Ali] as-Shabban dalam hasyiyahnya. Dan perkataan Mushannif: "ilaihi" (kepadanya), kembali kepada "al-Bait" (Baitullah) dan berkaitan dengan kata "istathaa'a". Dan kata "sabiilan" adakalanya berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata "istathaa'a", atau sebagai tamyiz. Berdasarkan apa yang dianggap baik oleh guru kami, Umar al-Biqa'i dan Umar al-Jabarni, yaitu: (mampu) dari segi jalannya.
• Riwayat satu dirham bernilai sejuta dirham disebut oleh Al-Fasyni bersumber dari At-Tirmidzi, namun secara sanad redaksi ini perlu dikroscek kembali di kitab Tadzkiratul Maudhu'at bab Fadhoilil Hajj.
• Hadits "Buniyal Islamu 'ala khamsin" merupakan hadits Muttafaqun 'Alaih (Bukhari no. 8 & Muslim no. 16).
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, perhatiin baek-baek! Nabi kita SAW seumur idup cuman puasa Ramadhan 9 kali, and uniknyee yang genap 30 hari cuman sekali, sisanyee 29 hari. Tapi pahalanyee kagak berkurang acan! Terus dengerin kisah Muhammad bin al-Munkadir yang dibilang kepedean mau ngeshibahin 30 pahala hajinyee buat orang lain di Arafah. Allah langsung negor: Jangan sok dermawan di hadapan Dzat Yang Maha Dermawan! Allah mah udeh ngampunin orang yang wukuf jauh sebelum Arafah diciptain. Makanyee tong, ibadah mah ibadah aje, jangan pake nawar and ngerasa paling ijo!"
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kita bedah rukun Islam yang keempat and kelima: "Puasa Ramadhan" ama "Haji ke Baitullah". Di bab ini, Syaikh Nawawi Al-Bantani bakalan ngajak kita nyilem dalem-dalem. Kagak cuman urusan fiqih zahir, tapi juga ngebongkar rahasia nahwu (i'rab) kelas kakap, sejarah para nabi jalan kaki dari India, sampe kisah wali yang ngeshibahin pahala hajinyee buat jamaah yang kagak diterima ibadahnyee. Nyok, siapin kuping ama ati, jangan sampe meleng acan biar dapet berkah ilmu tingkat tinggi ini!
وَرَابِعُهَا : صَوْمُ رَمَضَانَ ، وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ فَصَامَ ﷺ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ ، وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ
Dan yang keempat adalah puasa Ramadhan, dan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Maka Nabi SAW berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan, satu kali yang genap dan delapan kali yang kurang.
تَنْبِيْهٌ : اِعْلَم *أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذَلِكَ صُرِفَ ، لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ ، وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُّوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ قَالَ الْقَاسِمُ الْحَرِيرِيُّ فِي كِتَابِهِ « بِنْتِ اللَّيْلَةِ » مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ : وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلَى فِعْلَانَا عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا تَقُوْلُ مَرْوَانٌ أَتَى كِرْمَانَا وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَا فَهَذِهِ إِنْ عُرِّفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ وَمَا أَتَى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفَ
Peringatan: Ketahuilah bahwa kata "Ramadhan" itu ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena statusnya sebagai nama ('alamiyah) kecuali jika yang dimaksud adalah setiap bulan Ramadhan secara umum tanpa ditentukan tahunnya. Dan jika yang dimaksud adalah hal tersebut (umum), maka ia menjadi munsharif (boleh bertanwin) karena statusnya menjadi nakirah (umum), dan keberadaan alif-nun tambahan di akhir kata tidak menghalangi perubahan itu sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi. Al-Qasim al-Hariri berkata dalam kitabnya "Bintul Lailah" dengan bahr rajaz: "Dan di antaranya adalah kata yang mengikuti wazan Fi'lana meskipun terkadang berbeda harakat fa-nya. Engkau berkata 'Marwanun' (dengan tanwin) mendatangi 'Kirmana', dan rahmat Allah atas 'Utsmana'. Maka kata-kata ini jika makrifat (spesifik) tidak bertanwin, dan jika nakirah (umum) maka boleh bertanwin."
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْفَاكِهِيُّ : أَيْ : وَمِنْ غَيْرِ الْمُنْصَرِفِ الْعَلَمُ الْمَزِيدُ فِي آخِرِهِ أَلِفٌ وَنُوْنٌ ، الْجَائِي عَلَى وَزْنِ فَعْلَانَ مُثَلَّثُ الْفَاءِ ، كَمَرْوَانَ وَكِرْمَانَ وَعُثْمَانَ فَهَذِهِ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّعْرِيفُ بِالْعَلَمِيَّةِ لَمْ تَنْصَرِف
Abdullah al-Fakihi berkata: Di antara isim ghairu munsharif adalah nama (alam) yang di akhirnya ada tambahan alif dan nun, yang mengikuti wazan "Fa'lan" dengan tiga variasi harakat pada huruf fa-nya (fathah, kasrah, dammah), seperti Marwan, Kirman, dan 'Utsman. Maka kata-kata ini jika dimaksudkan sebagai nama (makrifat), maka tidak bertanwin karena adanya dua alasan ('illat). Namun jika dimaksudkan sebagai isim nakirah (umum), maka boleh bertanwin karena status namanya hilang.
قَالَ عُثْمَانُ فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : وَإِنَّمَا سُمِّيَ هَذَا الشَّهْرُ بِهَذَا الِاسْمِ لِأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الرَّمَضِ ، وَهُوَ الْإِحْرَاقُ ، لِرَمَضِ الذُّنُوْبِ فِيْهِ ، أَيْ : إِحْرَاقِهَا قَالَ أَحْمَدُ الْمُقْرِئُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَرَمَضَانُ اسْمُ الشَّهْرِ ، قِيْلَ : سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ وَضْعَهُ وَافَقَ الرَّمَضَ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ وَجَمْعُهُ رَمَضَانَاتٌ وَأَرْمِضَاءُ . تَبْصِرَةٌ : قَالَ أَحْمَدُ الْفَشْنِيُّ : وَقَدْ قِيلَ : الصَّوْمُ عُمُوْمٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ فَالْعُمُوْمُ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَصْدِ الشَّهْوَةِ ، وَالْخُصُوصُ هُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ صَرْفُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
'Utsman berkata dalam "Tuhfatul Habib": Dinamakan bulan ini (Ramadhan) karena diambil dari kata "Ar-Ramadh" yang artinya pembakaran, karena dosa-dosa terbakar di dalamnya. Ahmad al-Muqri berkata dalam "Al-Misbah": Ramadhan adalah nama bulan. Dikatakan, dinamakan demikian karena penetapan namanya bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat (ar-ramadh). Penjelasan Tambahan: Ahmad al-Fashni berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan: Umum, Khusus, dan Khususul Khusus. Tingkat Umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Tingkat Khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan Khususul Khusus adalah memalingkan hati dari keinginan rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.
وَخَامِسُهَا : حَجُّ الْبَيْتِ ، أَيْ : قَصْدُهُ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، وَهُوَ مِنَ الشَّرَائِعِ الْقَدِيمَةِ بَلْ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَجَّ ، خِلَافًا لِمَنِ اسْتَثْنَى هُودًا وَصَالِحًا وَرُوِيَ أَنَّ آدَمَ حَجَّ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً مِنَ الْهِنْدِ مَاشِيًا وَفِي الْخَبَرِ : مَنْ قَضَى نُسُكَهُ وَسَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَإِنْفَاقُ الدَّرْهَمِ الْوَاحِدِ فِي ذَلِكَ يَعْدِلُ أَلْفَ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ
Dan yang kelima adalah haji ke Baitullah, maksudnya: menyengaja pergi ke sana untuk haji atau umrah bagi yang mampu menempuh perjalanannya, dan haji itu termasuk syariat kuno. Bahkan tidak ada satu nabi pun kecuali mereka pernah berhaji, berbeda dengan pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Dan diriwayatkan bahwa Nabi Adam berhaji selama 40 tahun dari India dengan berjalan kaki. Dan dalam hadis: "Barangsiapa menyelesaikan ibadahnya (haji) dan orang lain selamat dari tangan dan lisannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang". Dan nafkah satu dirham dalam perjalanan haji itu bandingannya sama dengan satu juta dirham di luar haji.
وَوَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَحُجُّهُ كُلَّ عَامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَشَرِ فَإِذَا نَقَصُوْا عَنْ ذَلِكَ أَتَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِذَا زَادُوا عَلَى ذَلِكَ يَفْعَلُ اللهُ مَا يُرِيدُ وَأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ تَحُجُّهُ الْمَلَائِكَةُ كَمَا تَحُجُّ الْبَشَرُ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ
Dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Baitul Haram itu dikunjungi untuk haji setiap tahun oleh 70.000 manusia. Maka jika jumlah manusia itu kurang dari itu, Allah 'Azza wa Jalla akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dan jika jumlah mereka lebih dari itu, maka Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Baitul Ma'mur di langit keempat itu menjadi tempat haji para malaikat, sebagaimana manusia berhaji ke Baitul Haram.
نُكْتَةٌ : حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ حَجَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ حَجَّةً فَلَمَّا كَانَ آخِرُ حَجَّةٍ حَجَّهَا ، قَالَ وَهُوَ بِعَرَفَاتٍ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي وَقَفْتُ فِي مَوْقِفِيْ هَذَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وِقْفَةً فَوَاحِدَةٌ عَنْ فَرْضِيْ ، وَالثَّانِيَةُ عَنْ أَبِي وَالثَّالِثَةُ عَنْ أُمِّي ، وَأُشْهِدُكَ يَا رَبُw أَنِّي وَهَبْتُ الثَّلَاثِيْنَ لِمَنْ وَقَفَ مَوْقِفِيْ هَذَا وَلَم| تَتَقَبَّلْ مِنْهُ
Nuktah (Poin Menarik): Diceritakan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau telah melaksanakan haji sebanyak 33 kali. Maka ketika sampai pada haji terakhir yang beliau lakukan, beliau berkata saat sedang berada di Padang Arafah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah wukuf di tempat wukufku ini sebanyak 33 kali wukuf. Maka satu haji sebagai penggugur kewajibanku (haji fardhu), dan yang kedua dari ayahku, yang ketiga dari ibuku, dan aku bersaksi kepada-Mu wahai Rabb bahwa aku hibahkan tiga puluh (haji) sisanya untuk orang yang wukuf di tempat wukufku ini namun Engkau tidak menerima darinya."
فَلَمَّا دَفَعَ ، أَيْ : رَحَلَ ، مِنْ عَرَفَاتٍ نُودِيَ يَا ابْنَ الْمُنْكَدِرِ أَتَتَكَرَّمُ ! عَلَى مَنْ خَلَقَ الْكَرَمَ وَالْجُوْدَ ؟! وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ قَد| غَفَرْتُ لِمَنْ يَقِفُ فِي عَرَفَاتٍ قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَ عَرَفَاتٍ بِأَلْفَيْ عَامٍ
Maka ketika beliau berangkat, artinya: pergi, dari Arafah, beliau diseru dalam mimpi: "Wahai Ibnu al-Munkadir, apakah engkau hendak berlagak dermawan terhadap Dzat yang menciptakan kedermawanan dan kemurahan?! Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku telah mengampuni orang yang wukuf di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah selama dua ribu tahun".
تَوْضِيحٌ : قَوْلُهُ : حَجٌّ ، بِفَتْحِ الْحَاءِ وَكَسْرِهَا ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ، وَ « مَنْ » فَاعِلُهُ ، وَهُوَ اِسْمٌ مَوْصُوْلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ وَالتَّقْدِيرُ : وَأَنْ يَحُجَّ الْبَيْتَ الْمُسْتَطِيعُ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا فِي الْحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِلَى أَنْ قَالَ "وَحِجُw الْبَيْتِ" » كَمَا قَالَهُ عَلِيُّ الْأَشْمُونِيُّ فِي كِتَابِهِ الْمُلَقَّبِ بِـ « مَنْهَجِ السَّالِكِ »
Penjelasan: Perkataan mushannif "Hajju" (boleh dibaca) dengan fathah huruf Ha-nya atau kasrahnya. Ia adalah masdar yang di-idhafat-kan kepada maf'ul-nya, sedangkan kata "Man" berkedudukan sebagai fa'il-nya, yaitu isim maushul yang mabni atas sukun dalam kedudukan rafa'. Dan takdirnya adalah: "Dan hendaknya orang yang mampu melakukan haji ke Baitullah". Dan yang semisal dengan itu adalah apa yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain, yaitu sabda Nabi SAW: "Islam dibangun di atas lima perkara sampai dengan sabda beliau 'dan berhaji ke Baitullah'". Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali al-Asymuni dalam kitabnya yang berjudul "Manhajus Salik".
وَأَمَّا حَجُّ الْبَيْتِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيْهِ لِلْفَاعِلِيةِ، بَلْ يَحْتَمِلُ كَوْنُهُ بَدَلًا مِنَ « النَّاسِ » بَدَلَ بَعْضٍ مِنْ كُلِّ ، حُذِفَ رَابِطُهُ لِفَهْمِهِ ، أَيْ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْهُمْ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبْتَدَأً خَبَرُهُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ ؛ أَوْ شَرْطِيَّةٌ جَوَابُهَا مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَلْيَحُجَّ . كَمَا قَالَهُ الصَّبَّانُ فِي حَاشِيَتِهِ وَقَوْلُهُ : « إِلَيْهِ » عَائِدٌ إِلَى « الْبَيْتِ » مُتَعَلِّقٌ بِـ « اسْتَطَاعَ » وَ « سَبِيلًا » إِمَّا مَفْعُولٌ بِهِ لِاسْتَطَاعَ ، أَوْ تَمْيِيزٌ عَلَى مَا اسْتَحْسَنَهُ شَيْخُنَا عُمَرُ الْبِقَاعِيُّ وَعُمَرُ الْجَبَرْنِيُّ ، أَيْ : مِنْ جِهَةِ السَّبِيلِ
Adapun (kata) "Hijju al-bait" dalam firman Allah Ta'ala: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana" (QS. Ali Imran: 97). Maka kedudukan "Man" di situ tidak tertentu sebagai fa'il, melainkan ada kemungkinan kedudukannya sebagai badal dari "An-Naas" (Badal Ba'du min al-Kulli), yang dibuang dhamir penghubungnya karena sudah dipahami, maksudnya: "Siapa saja yang mampu di antara mereka". Dan kemungkinan lain kedudukannya sebagai mubtada' yang khabarnya dibuang, atau sebagai isim syarat yang jawabnya dibuang. Sebagaimana yang dikatakan oleh as-Shabban dalam hasyiyahnya. Dan perkataan Mushannif: "ilaihi" kembali kepada "al-Bait" dan berkaitan dengan kata "istathaa'a". Dan kata "sabiilan" adakalanya berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata "istathaa'a", atau sebagai tamyiz berdasarkan apa yang dianggap baik oleh guru kami, Umar al-Biqa'i dan Umar al-Jabarni, yaitu: (mampu) dari segi jalannya.
💬 SYARH NYABLAK ALA ABI THOUFUR (Klik buat Buka/Tutup)
Dengerin nih Jemaah... Ane mau jabarin dikit biar kaga pada salah paham! Nabi kita SAW seumur idup cuman puasa Ramadhan 9 kali, and uniknyee yang genap 30 hari cuman sekali, sisanyee 29 hari. Tapi pahalanyee kagak berkurang acan! Terus dengerin kisah Muhammad bin al-Munkadir yang dibilang kepedean mau ngeshibahin 30 pahala hajinyee buat orang lain di Arafah. Allah langsung negor: Jangan sok dermawan di hadapan Dzat Yang Maha Dermawan! Allah mah udeh ngampunin orang yang wukuf jauh sebelum Arafah diciptain. Makanyee tong, ibadah mah ibadah aje, jangan pake nawar and ngerasa paling ijo!
- Hadits keutamaan haji mabrur diriwayatkan dalam kitab Al-Jami' Ash-Shaghir nomor 8959.
- Riwayat satu dirham bernilai sejuta dirham disebut oleh Al-Fasyni bersumber dari At-Tirmidzi, namun secara sanad redaksi ini perlu dikroscek kembali di kitab Tadzkiratul Maudhu'at pada bab Keutamaan Haji.
- Hadits "Buniwal Islamu 'ala khamsin" merupakan hadits Muttafaqun 'Alaih (Bukhari no. 8 & Muslim no. 16).
Banyak orang jaman sekarang ngerasa ibadah hajinya udah paling mabrur terus dengan gampang meremehkan orang lain yang belom mampu berangkat. Kasus ini mirip ama pelajaran dari Ibnu al-Munkadir, jangan sampe kita ngerasa sok punya simpenan pahala gede lalu bertindak takabur seolah-olah penentu surga itu ada di tangan makhluk.
Hati-hati ama penyakit Tadlis (memanipulasi hukum) and ngerasa ujub ama tingkatan puasa. Jangan sampe rukun zahir dikerjain tapi hati kotor meleng dari Gusti Allah, itu namanya zonk, tong!
📚 Footnote Naskah (Catatan Kaki Dua Susun):
[ ١ ] وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ - رَاجِعْ كَشِيْفَةُ السَّجَا ص ٤٤
[ 1 ] Dan diwajibkan puasa Ramadhan pada bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriyah. Rujuk kitab Kasyifatus Saja hal. 44.
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Lanjut lagi tong! Kita bedah rukun Islam yang keempat and kelima: "Puasa Ramadhan" ama "Haji ke Baitullah". Di bab ini, Syaikh Nawawi Al-Bantani bakalan ngajak kita nyilem dalem-dalem. Kagak cuman urusan fiqih zahir, tapi juga ngebongkar rahasia nahwu (i'rab) kelas kakap, sejarah para nabi jalan kaki dari India, sampe kisah wali yang ngeshibahin pahala hajinyee buat jamaah yang kagak diterima ibadahnyee. Nyok, siapin kuping ama ati, jangan sampe meleng acan biar dapet berkah ilmu tingkat tinggi ini!
وَرَابِعُهَا : صَوْمُ رَمَضَانَ ، وَفُرِضَ فِي شَعْبَانَ السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِن الْهِجْرَةِ فَصَامَ ﷺ تِسْعَ رَمَضَانَاتٍ ، وَاحِدًا كَامِلًا وَثَمَانِيَةً نَوَاقِصَ
Artinya: Dan yang keempat (rukun Islam) adalah puasa Ramadhan, and diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Maka Nabi SAW berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan, satu kali yang genap (30 hari) and delapan kali yang kurang (29 hari).
تَنْبِيْهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ رَمَضَانَ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ لِلْعَلَمِيَّةِ إِلَّا إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ كُلَّ رَمَضَانٍ مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ وَإِذَا أُرِيْدَ بِهِ ذَلِكَ صُرِفَ ، لِأَنَّهُ نَكِرَةٌ ، وَبَقَاءُ الْأَلِفِ وَالنُّوْنِ الزَّائِدَتَيْنِ لَا يَقْتَضِيْ مَنْعَهُ مِنَ الصَّرْفِ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ
📝 NAZHOM BINTUL LAILAH (BAHR RAJAZ)
| قَالَ الْقَاسِمُ الْحَرِيرِيُّ فِي كِتَابِهِ «بِنْتِ اللَّيْلَةِ» : | وَمِنْهُ مَا جَاءَ عَلَى فِعْلَانَا |
| عَلَى اخْتِلَافِ فَائِهِ أَحْيَانَا | تَقُوْلُ مَرْوَانٌ أَتَى كِرْمَانَا |
| وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَا | فَهَذِهِ إِنْ عُرِّفَتْ لَمْ تَنْصَرِفْ |
| وَمَا أَتَى مُنَكَّرًا مِنْهَا صُرِفَ | |
Artinya: Peringatan: Ketahuilah bahwa kata "Ramadhan" itu ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena statusnya sebagai nama ('alamiyah) kecuali jika yang dimaksud adalah setiap bulan Ramadhan secara umum tanpa ditentukan tahunnya. Dan jika yang dimaksud adalah hal tersebut (umum), maka ia menjadi munsharif (boleh bertanwin) karena statusnya menjadi nakirah (umum), dan keberadaan alif-nun tambahan di akhir kata tidak menghalangi perubahan itu sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi. Al-Qasim al-Hariri berkata dalam kitabnya "Bintul Lailah" dengan bahr rajaz: "Dan di antaranya adalah kata yang mengikuti wazan Fi'lana meskipun terkadang berbeda harakat fa-nya. Engkau berkata 'Marwanun' (dengan tanwin) mendatangi 'Kirmana', dan rahmat Allah atas 'Utsmana'. Maka kata-kata ini jika makrifat (spesifik) tidak bertanwin, dan jika nakirah (umum) maka boleh bertanwin."
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْفَاكِهِيُw : أَيْ : وَمِنْ غَيْرِ الْمُنْصَرِفِ الْعَلَمُ الْمَزِيدُ فِي آخِرِهِ أَلِفٌ وَنُوْنٌ ، الْجَائِي عَلَى وَزْنِ فَعْلَانَ مُثَلَّثُ الْفَاءِ ، كَمَرْوَانَ وَكِرْمَانَ وَعُثْمَانَ فَهَذِهِ إِنْ قُصِدَ بِهِ التَّعْرِيفُ بِالْعَلَمِيَّةِ لَمْ تَنْصَرِف
Artinya: Abdullah al-Fakihi berkata: Di antara isim ghairu munsharif adalah nama (alam) yang di akhirnya ada tambahan alif dan nun, yang mengikuti wazan "Fa'lan" dengan tiga variasi harakat pada huruf fa-nya (fathah, kasrah, dammah), seperti Marwan, Kirman, dan 'Utsman. Maka kata-kata ini jika dimaksudkan sebagai nama (makrifat), maka tidak bertanwin karena adanya dua alasan ('illat). Contoh: "Aku berpapasan with Marwan" (tanpa tanwin). Namun jika dimaksudkan sebagai isim nakirah (umum), maka boleh bertanwin karena status namanya hilang. Contoh: "Banyak (orang bernama) Marwan yang kutemui." Dengan jar dan tanwin.
قَالَ عُثْمَانُ [بْنُ سُلَيْمَانَ السُّوَيْفِيُّ] فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : وَإِنَّمَا سُمِّيَ هَذَا الشَّهْرُ بِهَذَا الِاسْمِ لِأَنَّهُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الرَّمَضِ ، وَهُوَ الْإِحْرَاقُ ، لِرَمَضِ الذُّنُوْبِ فِيْهِ ، أَيْ : إِحْرَاقِهَا قَالَ أَحْمَدُ [بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَيُّوْمِيُّ] الْمُقْرِئُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَرَمَضَانُ اسْمُ الشَّهْرِ ، قِيْلَ : سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّ وَضْعَهُ وَافَقَ الرَّمَضَ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ وَجَمْعُهُ رَمَضَانَاتٌ وَأَرْمِضَاءُ . تَبْصِرَةٌ : قَالَ أَحْمَدُ [بْنُ حِجَازِي] الْفَشْنِيُّ : وَقَدْ قِيلَ : الصَّوْمُ عُمُوْمٌ وَخُصُوصٌ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ فَالْعُمُوْمُ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَصْدِ الشَّهْوَةِ ، وَالْخُصُوصُ هُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَخُصُوصُ الْخُصُوصِ صَرْفُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya: 'Utsman (bin Sulaiman) berkata dalam "Tuhfatul Habib": Dinamakan bulan ini (Ramadhan) because diambil dari kata "Ar-Ramadh" yang artinya pembakaran, karena dosa-dosa terbakar (dihapuskan) di dalamnya. Ahmad al-Muqri berkata dalam "Al-Misbah": Ramadhan adalah nama bulan. Dikatakan, dinamakan demikian karena penetapan namanya bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat (ar-ramadh). Penjelasan Tambahan: Ahmad al-Fashni berkata: Puasa itu ada tiga tingkatan: Umum, Khusus, dan Khususul Khusus. Tingkat Umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat. Tingkat Khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan Khususul Khusus adalah memalingkan hati dari keinginan rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.
وَخَامِسُهَا : حَجُ\\ّ الْبَيْتِ ، أَيْ : قَصْدُهُ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، وَهُوَ مِنَ الشَّرَائِعِ الْقَدِيمَةِ بَلْ مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَجَّ ، خِلَافًا لِمَنِ اسْتَثْنَى هُودًا وَصَالِحًا وَرُوِيَ أَنَّ آدَمَ حَجَّ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً مِنَ الْهِنْدِ مَاشِيًا وَفِي الْخَبَرِ : مَنْ قَضَى نُسُكَهُ وَسَلِمَ النَّاسُ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ [ « الْجَامِعُ الصَّغِيرُ » ، رَقْمُ : ٨٩٥٩ ] وَإِنْفَاقُ الدَّرْهَمِ الْوَاحِدِ فِي ذَلِكَ يَعْدِلُ أَلْفَ أَلْفٍ فِيْمَا سِوَاهُ ، رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ [ لَمْ أَجِدْهُ عِنْدَ التَّرْمِذِي ، وَرَاجِعْ تَذْكِرَةَ الْمَوْضُوْعَاتِ بَابُ فَضَائِلِ الْحَجِّ ]
Artinya: Dan yang kelima (rukun Islam) adalah haji ke Baitullah, maksudnya: menyengaja pergi ke sana untuk haji atau umrah bagi yang mampu menempuh perjalanannya, dan haji itu termasuk syariat kuno (lama). Bahkan tidak ada satu nabi pun kecuali mereka pernah berhaji, berbeda dengan pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Dan diriwayatkan bahwa Nabi Adam berhaji selama 40 tahun dari India dengan berjalan kaki. Dan dalam hadis: "Barangsiapa menyelesaikan ibadahnya (haji) dan orang lain selamat dari tangan dan lisannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang" [Kitab Al-Jami' Ash-Shaghir, nomor: 8959]. Dan nafkah satu dirham dalam perjalanan haji itu bandingannya sama dengan satu juta dirham di luar haji, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [Namun penyunting tidak menemukannya di Tirmidzi, dan silakan rujuk kitab Tadzkiratul Maudhu'at pada bab Keutamaan Haji].
وَوَرَدَ فِي الْخَبَرِ [ لَمْ أَجِدْهُ ] أَنَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَحُجُّهُ كُلَّ عَامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَشَرِ فَإِذَا نَقَصُوْا عَنْ ذَلِكَ أَتَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَإِذَا زَادُوا عَلَى ذَلِكَ يَفْعَلُ اللهُ مَا يُرِيدُ وَأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ تَحُجُّهُ الْمَلَائِكَةُ كَمَا تَحُجُّ الْبَشَرُ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ
Artinya: Dan disebutkan dalam sebuah riwayat [Penyunting tidak menemukannya] bahwa Baitul Haram itu dikunjungi untuk haji setiap tahun oleh 70.000 manusia. Maka jika jumlah manusia itu kurang dari itu, Allah 'Azza wa Jalla akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dan jika jumlah mereka lebih dari itu, maka Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Baitul Ma'mur di langit keempat itu menjadi tempat haji para malaikat, sebagaimana manusia berhaji ke Baitul Haram.
نُكْتَةٌ : حُكِيَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ حَجَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ حَجَّةً فَلَمَّا كَانَ آخِرُ حَجَّةٍ حَجَّهَا ، قَالَ وَهُوَ بِعَرَفَاتٍ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي [ قَدْ ] وَقَفْتُ فِي مَوْقِفِيْ هَذَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وِقْفَةً فَوَاحِدَةٌ عَنْ فَرْضِيْ ، وَالثَّانِيَةُ عَنْ أَبِي وَالثَّالِثَةُ عَنْ أُمِّي ، وَأُشْهِدُكَ يَا رَبُّ أَنِّي وَهَبْتُ الثَّلَاثِيْنَ لِمَنْ وَقَفَ مَوْقِفِيْ هَذَا وَلَمْ تَتَقَبَّلْ مِنْهُ
Artinya: Nuktah (Poin Menarik): Diceritakan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau telah melaksanakan haji sebanyak 33 kali. Maka ketika sampai pada haji terakhir yang beliau lakukan, beliau berkata saat sedang berada di Padang Arafah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku [telah] wukuf di tempat wukufku ini sebanyak 33 kali wukuf. Maka satu haji sebagai penggugur kewajibanku (haji fardhu), dan yang kedua dari ayahku, yang ketiga dari ibuku, dan aku bersaksi kepada-Mu wahai Rabb bahwa aku hibahkan tiga puluh (haji) sisanya untuk orang yang wukuf di tempat wukufku ini namun Engkau tidak menerima darinya."
فَلَمَّا دَفَعَ ، أَيْ : رَحَلَ ، مِنْ عَرَفَاتٍ [ وَنَزَلَ بِالْمُزْدَلِفَةِ ، ] نُودِيَ [ فِي الْمَنَامِ ] يَا ابْنَ الْمُنْكَدِرِ أَتَتَكَرَّمُ ! عَلَى مَنْ خَلَقَ الْكَرَمَ وَالْجُوْدَ ؟! [ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَكَ : ] وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِيْ قَدْ غَفَرْتُ لِمَنْ يَقِفُ فِي عَرَفَاتٍ قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَ عَرَفَاتٍ بِأَلْفِ [ بِأَلْفَي ] عَامٍ
Artinya: Maka ketika beliau berangkat, artinya: pergi, dari Arafah [dan turun/istirahat di Muzdalifah], beliau diseru [dalam mimpi]: "Wahai Ibnu al-Munkadir, apakah engkau hendak berlagak dermawan! Terhadap Dzat yang menciptakan kedermawanan dan kemurahan?!". [Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepadamu]: "Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku telah mengampuni orang yang wukuf di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah selama seribu [dua ribu] tahun".
تَوْضِيحٌ : قَوْلُهُ : حَجُّ ، بِفَتْحِ الْحَاءِ وَكَسْرِهَا ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ، وَ « مَنْ » فَاعِلُهُ ، وَهُوَ اِسْمٌ مَوْصُوْلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ وَالتَّقْدِيرُ : وَأَنْ يَحُجَّ الْبَيْتَ الْمُسْتَطِيعُ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا فِي الْحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [البخاري ، رقم : ٨ ؛ مسلم ، رقم : ١٦ ؛ الترمذي ، رقم : ٢٦٠٩ ؛ النسائي ، رقم : ۵۰۰۱ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٤٧٨٣ ، ٥٦٣٩ ، ٥٩٧٩ ، ٦٣٦٥ ؛ عن ابن عُمَرَ ] [ « مسند أحمد » ، رقم : ١٨٧٣٥ ، ١٨٧٤١ ؛ عن جَرِيرِ بنِ عبد الله ] وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : « بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِلَى أَنْ قَالَ "وَحِجُّ الْبَيْتِ" » كَمَا قَالَهُ عَلِيُّ [ بْنُ مُحَمَّدٍ ] الْأَشْمُونِيُّ فِي كِتَابِهِ الْمُلَقَّبِ بِـ « مَنْهَجِ السَّالِكِ »
Artinya: Penjelasan: Perkataan mushannif "Hajju" (boleh dibaca) dengan fathah huruf Ha-nya atau kasrahnya. Ia adalah masdar yang di-idhafat-kan kepada maf'ul-nya, sedangkan kata "Man" berkedudukan sebagai fa'il-nya, yaitu isim maushul yang mabni atas sukun dalam kedudukan rafa'. Dan takdirnya (susunan aslinya) adalah: "Dan hendaknya orang yang mampu melakukan haji ke Baitullah". Dan yang semisal dengan itu adalah apa yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain [Bukhari no. 8; Muslim no. 16; Tirmidzi no. 2609; Nasai no. 5001; Musnad Ahmad no. 4783, 5639, 5979, 6365; dari Ibnu Umar]. [Musnad Ahmad no. 18735, 18741; dari Jarir bin Abdullah]. Yaitu sabda Nabi SAW: "Islam dibangun di atas lima perkara sampai dengan sabda beliau 'dan berhaji ke Baitullah'". Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali [bin Muhammad] al-Asymuni dalam kitabnya yang berjudul "Manhajus Salik".
وَأَمَّا حَجُّ الْبَيْتِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ [ ٣ سورة آل عمران / الآية : ٩٧] فَلَا يَتَعَيَّنُ فِيْهِ لِلْفَاعِلِيَّةِ، بَلْ يَحْتَمِلُ كَوْنُهُ بَدَلًا مِنَ « النَّاسِ » بَدَلَ بَعْضٍ مِنْ كُلِّ ، حُذِفَ رَابِطُهُ لِفَهْمِهِ ، أَيْ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْهُمْ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبْتَدَأً خَبَرُهُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَعَلَيْهِ أَنْ يَحُجَّ ؛ أَوْ شَرْطِيَّةٌ جَوَابُهَا مَحْذُوْفٌ، أَيْ: فَلْيَحُجَّ . كَمَا قَالَهُ [ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ ] الصَّبَّانُ فِي حَاشِيَتِهِ وَقَوْلُهُ : « إِلَيْهِ » عَائِدٌ إِلَى « الْبَيْتِ » مُتَعَلِّقٌ بِـ « اسْتَطَاعَ » وَ « سَبِيلًا » إِمَّا مَفْعُولٌ بِهِ لِاسْتَطَاعَ ، أَوْ تَمْيِيزٌ عَلَى مَا اسْتَحْسَنَهُ شَيْخُنَا عُمَرُ الْبِقَاعِيُّ وَعُمَرُ الْجَبَرْنِيُّ ، أَيْ : مِنْ جِهَةِ السَّبِيلِ
Artinya: Adapun (kata) "Hijju al-bait" dalam firman Allah Ta'ala: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana" [QS. Ali Imran: 97]. Maka kedudukan "Man" di situ tidak tertentu sebagai fa'il, melainkan ada kemungkinan kedudukannya sebagai badal dari "An-Naas" (Badal Ba'du min al-Kulli), yang dibuang dhamir penghubungnya karena sudah dipahami, maksudnya: "Siapa saja yang mampu di antara mereka". Dan (kemungkinan lain) kedudukannya sebagai mubtada' yang khabarnya dibuang, maksudnya: "Maka baginya wajib berhaji"; atau sebagai isim syarat yang jawabnya dibuang, maksudnya: "Maka hendaklah ia berhaji". Sebagaimana yang dikatakan oleh [Muhammad bin Ali] as-Shabban dalam hasyiyahnya. Dan perkataan Mushannif: "ilaihi" (kepadanya), kembali kepada "al-Bait" (Baitullah) dan berkaitan dengan kata "istathaa'a". Dan kata "sabiilan" adakalanya berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata "istathaa'a", atau sebagai tamyiz. Berdasarkan apa yang dianggap baik oleh guru kami, Umar al-Biqa'i dan Umar al-Jabarni, yaitu: (mampu) dari segi jalannya.
• Riwayat satu dirham bernilai sejuta dirham disebut oleh Al-Fasyni bersumber dari At-Tirmidzi, namun secara sanad redaksi ini perlu dikroscek kembali di kitab Tadzkiratul Maudhu'at bab Fadhoilil Hajj.
• Hadits "Buniwal Islamu 'ala khamsin" merupakan hadits Muttafaqun 'Alaih (Bukhari no. 8 & Muslim no. 16).
💡 Catatan Abi buat Murid MAN 1 Jakarta: "Tong, perhatiin baek-baek! Nabi kita SAW seumur idup cuman puasa Ramadhan 9 kali, and uniknyee yang genap 30 hari cuman sekali, sisanyee 29 hari. Tapi pahalanyee kagak berkurang acan! Terus dengerin kisah Muhammad bin al-Munkadir yang dibilang kepedean mau ngeshibahin 30 pahala hajinyee buat orang lain di Arafah. Allah langsung negor: Jangan sok dermawan di hadapan Dzat Yang Maha Dermawan! Allah mah udeh ngampunin orang yang wukuf jauh sebelum Arafah diciptain. Makanyee tong, ibadah mah ibadah aje, jangan pake nawar and ngerasa paling ijo!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar