50-52
52-55
وَخَامِسُهَا : أَنْ تُؤْمِنَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ، بِأَنْ تُصَدِّقَ بِوُجُودِهِ وَبِجَمِيعِ مَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ
Dan yang kelima (dari rukun iman): Engkau beriman kepada Hari Akhir, dengan membenarkan keberadaannya dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya.
كَالْحَشْرِ وَالْحِسَابِ وَالْجَزَاءِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ
Seperti dikumpulkannya manusia (hasyr), hari perhitungan (hisab), hari pembalasan (jaza'), surga, dan neraka.
سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ لَا لَيْلَ بَعْدَهُ وَلَا نَهَارَ
Dinamakan demikian karena sesungguhnya tidak ada malam maupun siang lagi setelahnya.
وَلَا يُقَالُ يَوْمٌ بِلَا تَقْيِيْدٍ إِلَّا لِمَا يَعْقُبُهُ لَيْلٌ
Dan tidaklah dikatakan "hari" secara mutlak (tanpa batasan) kecuali bagi waktu yang diikuti oleh malam.
أَوْ لِأَنَّهُ آخِرُ الْأَوْقَاتِ الْمَحْدُوْدَةِ ، أَيْ : آخِرُ أَيَّامِ الدُّنْيَا
Atau karena ia adalah akhir dari waktu-waktu yang terbatas, yaitu akhir dari hari-hari dunia.
فَلَيْسَ بَعْدَهُ يَوْمٌ آخَرُ ، أَوْ لِتَأَخُرِهِ عَنِ الأَيَّامِ الْمُنْقَضِيَةِ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا
Maka tidak ada hari lain setelahnya, atau karena posisinya yang paling akhir dari hari-hari dunia yang telah berlalu.
وَأَوَّلُهُ مِنَ النَّفْخَةِ الثَّانِيَةِ إِلَى مَا لَا يَتَنَاهَى ، وَهُوَ الْحَقُّ
Dan awalnya dimulai dari tiupan (sangkakala) yang kedua sampai waktu yang tak terhingga, dan inilah pendapat yang benar.
وَقِيلَ : إِلَى اسْتِقْرَارِ الْخَلْقِ فِي الدَّارَيْنِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ
Dan ada yang berpendapat: Sampai tetapnya para makhluk di dua negeri (surga atau neraka).
فَصَدْرُهُ مِنَ الدُّنْيَا وَآخِرُهُ مِنَ الْآخِرَةِ ؛ وَهُوَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
Maka permulaannya adalah bagian dari dunia dan akhirnya adalah bagian dari akhirat; itulah Hari Kiamat.
وَسُمِّيَ بِذَلِكَ لِقِيَامِ الْمَوْتَى فِيْهِ مِنْ قُبُورِهِمْ ، وَالْقَبْرُ مِنَ الدُّنْيَا
Dinamakan demikian karena bangkitnya orang-orang mati dari kubur mereka pada hari itu, sedangkan kubur adalah bagian dari dunia.
وَقِيلَ : فَاصِلٌ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَقِيلَ : أَوَّلُهُ مِنْ مَوْتِ الْمَيْتِ
Ada yang berpendapat (kubur) adalah pemisah antara dunia dan akhirat, dan ada yang bilang kiamat dimulai sejak kematian seseorang.
فَالْقَبْرُ مِنَ الْآخِرَةِ ، وَلِذَا يَقُوْلُوْنَ : مَنْ مَاتَ قَامَتْ قِيَامَتُهُ ، أَيْ : الصُّغْرَى
Maka kubur adalah bagian dari akhirat, oleh karena itu mereka berkata: "Barangsiapa yang mati maka telah tegak kiamatnya", yaitu kiamat sughra (kecil).
وَسُمِّيَ قِيَامَةً عَلَى هَذَا لِقِيَامِ الْمَيْتِ فِيْهِ مِنَ الاضْطِجَاعِ إِلَى الْقُعُوْدِ لِسُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ
Dan dinamakan kiamat berdasarkan hal ini karena bangkitnya si mayit dari berbaring menjadi duduk untuk menjawab pertanyaan dua malaikat.
ثُمَّ ضَمِّ الْقَبْرِ عَلَيْهِ ، فَأَشْبَهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْكُبْرَى
Kemudian (karena) jepitan kubur atasnya, maka hal itu menyerupai hari kiamat kubra (besar).
وَقَالَ الزَّمَخْشَرِيُّ : أَوَّلُهُ مِنْ وَقْتِ الْحَشْرِ إِلَى مَا لَا يَتَنَاهَى
Berkata az-Zamakhsyari: Permulaannya dimulai dari waktu hasyr (pengumpulan) sampai waktu yang tak terhingga.
أَوْ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ
Atau sampai penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka.
وَمِقْدَارُهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْكُفَّارِ خَمْسُوْنَ أَلْفَ سَنَةٍ لِشِدَّةِ أَهْوَالِهِ
Dan durasinya bagi orang kafir adalah 50.000 tahun karena dahsyatnya kengerian hari itu.
وَهُوَ أَخَفْ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فِي الدُّنْيَا
Namun hari itu terasa lebih ringan (singkat) daripada durasi shalat fardhu di dunia (bagi orang beriman).
بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ ، وَيَتَوَسَّطُ عَلَى عُصَاةِ الْمُؤْمِنِينَ
(Waktu kiamat itu terasa ringan) bagi orang mukmin yang shaleh, dan terasa menengah (sedang) bagi orang mukmin yang ahli maksiat.
وَقِيل2 : يَوْمُ الْقِيَامَةِ فِيْهِ خَمْسُونَ مَوْطِئًا ، كُلُّ مَوْطِنٍ أَلْفُ سَنَةٍ
Dan ada pendapat: Hari Kiamat itu memiliki 50 tempat perhentian, yang mana setiap tempat lamanya adalah 1.000 tahun.
نَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُخَفَّفَهُ عَلَيْنَا بِمَنْهِ وَفَضْلِهِ . حَكَاهُ السُّحَيْمِيُw وَالْفَشْنِيُّ
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar meringankan hari itu bagi kita dengan anugerah dan karunia-Nya. Hal ini diceritakan oleh as-Suhaymi dan al-Fasyni.
وَسَادِسُهَا : أَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
Dan yang keenam (dari rukun iman): Engkau beriman kepada takdir, baik yang buruk maupun yang baik, semuanya dari Allah Ta’ala.
قَالَ الْفَشْنِيُّ : وَمَعْنَى الإِيْمَانِ بِهِ أَنْ تَعْتَقِدَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدَّرَ الْخَيْرَ وَالشَّرَ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ
Al-Fasyni berkata: Makna beriman kepada takdir adalah engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menentukan takdir baik dan buruk sebelum menciptakan makhluk.
وَأَنَّ جَمِيعَ الْكَائِنَاتِ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ ، وَهُوَ مُرِيدٌ لَهَا
Dan sesungguhnya seluruh kejadian yang ada adalah dengan ketetapan (qadha) dan ketentuan (qadar) Allah, dan Dialah yang menghendakinya.
وَيَكْفِي اعْتِقَادٌ جَازِمٌ بِذَلِكَ مِنْ غَيْرِ نَصْبِ بُرْهَانٍ
Dan cukuplah keyakinan yang mantap (jazim) mengenai hal tersebut tanpa perlu menyusun dalil logika (burhan).
وَقَالَ السَّيِّدُ عَبْدُ اللَّهِ الْمِرْغَنِيُّ : وَالإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ هُوَ التَّصْدِيقُ بِأَنَّ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ ، بِتَقْدِيرِ مَنْ يَقُوْلُ لِلشَّيْءِ كُنْ فَيَكُوْنُ
Sayyid Abdullah al-Mirghani berkata: Iman kepada takdir adalah membenarkan bahwa apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi adalah dengan ketentuan Dzat yang berkata kepada sesuatu "Jadilah!" maka terjadilah ia.
خَيْرًا أَوْ شَرًّا ، نَفْعًا أَوْ ضُرًا ، حُلْوا أَوْ مُرًا
Baik itu berupa kebaikan atau keburukan, manfaat atau mudarat, manis ataupun pahit.
وَقَالَ ﷺ : « كُلُّ شَيْءٍ بِقَضَاء وَقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ »
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Segala sesuatu itu dengan qadha and qadar, bahkan sampai urusan kelemahan dan kecerdasan seseorang".
[مسلم ، رقم : ٢٦٥٥ ؛ مسند أحمد ، رقم : ٥٨٥٩ ؛ موطأ مالك ، رقم : ١٦٦٣]
[HR. Muslim no. 2655; Musnad Ahmad no. 5859; Muwatta’ Malik no. 1663].
وَقَالَ : « لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ بِاللَّهِ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ [رقم : ٢١٤٤]
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah beriman seorang hamba kepada Allah sampai ia beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk." Diriwayatkan oleh Tirmidzi [no. 2144].
وَأَمَّا حَدِيثُ مُسْلِمٍ [رقم : ۷۷۱] فِي دُعَاءِ الْافْتِتَاحِ : « وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ »
Adapun hadits riwayat Muslim [no. 771] dalam doa iftitah yang berbunyi: "Dan keburukan itu tidak dinisbatkan kepada-Mu".
فَمَعْنَاهُ : وَلَا شَرَّ يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَيْكَ ، أَوْ لَا يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَأَدُّبًا
Maka maknanya adalah: Tidak ada keburukan yang bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada-Mu, atau keburukan itu tidak disandarkan kepada Allah sebagai bentuk adab.
لِأَنَّ اللَّائِقَ نِسْبَةُ الْخَيْرِ لِلَّهِ وَالشَّرِّ لِلنَّفْسِ تَأَدُّبًا
Karena sesungguhnya yang layak adalah menisbatkan kebaikan kepada Allah dan keburukan kepada diri sendiri sebagai bentuk tata krama.
قَالَ تَعَالَى : ﴿ مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ﴾ [ ٤ سورة النساء الآية : ٧٩] ، أَيْ : إِيجَادًا وَخَلْقًا ، ﴿ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ﴾
Allah Ta'ala berfirman: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah" [QS. An-Nisa: 79], maksudnya secara penciptaan, "dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri".
[ ٤ سورة النساء الآية : ٧٩] أَيْ : كَسْبًا لَا خَلْقًا ، كَمَا يُفَسِّرُهُ قَوْلُهُ تَعَالَى : ﴿ وَمَا أَصْبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ ﴾
Yaitu secara usaha (kasb) bukan secara penciptaan, sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah: "Dan musibah apa pun yang menimpamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri".
لِأَنَّ الْقُرْآنَ يُفَسَّرُ بَعْضُهُ مِنْ بَعْضٍ
Karena sesungguhnya Al-Qur'an itu sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain.
وَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى : ﴿ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ ﴾ فَرُجُوْعُ لِلْحَقِيقَةِ
Adapun firman Allah Ta'ala: "Katakanlah (Muhammad), semuanya (datang) dari sisi Allah", maka itu adalah pengembalian kepada hakikat (bahwa Allah pencipta segalanya).
وَانْظُرْ إِلَى أَدَبِ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَيْثُ قَالَ : ﴿ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا ﴾
Dan lihatlah pada adab Nabi Khidir AS ketika ia berkata: "Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya (anak yatim itu) sampai usia dewasa".
وَقَالَ ﴿ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا ﴾
Dan ia berkata (saat melubangi perahu): "Maka aku bermaksud merusaknya".
وَتَأَمَّلْ قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيْلِ عَلَيْهِ السَّلَامُ : ﴿ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ﴾
Dan renungkanlah perkartan Nabi Ibrahim Al-Khalil AS: "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku".
حَيْثُ نَسَبَ الْهِدَايَةَ وَالْإِطْعَامَ وَالشَّفَاءَ اللَّهِ وَالْمَرَضَ لِنَفْسِهِ ، فَلَمْ يَقُلْ : أَمْرَضَنِي
Di mana beliau menyandarkan petunjuk, memberi makan, dan kesembuhan kepada Allah, namun menyandarkan penyakit kepada dirinya sendiri, beliau tidak berkata: "(Allah) membuatku sakit".
تَأَدُّبًا مِنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، وَإِلَّا فَالْكُلُw مِنْ أَفْعَالِ اللهِ تَعَالَى
Hal itu karena bentuk adab dari beliau AS, padahal aslinya segala sesuatu adalah dari perbuatan Allah Ta'ala.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴾ أَيْ : مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ
Allah Ta'ala berfirman: "Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu", maksudnya baik itu berupa kebaikan maupun keburukan.
وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ إِلَّا مُجَرَّدُ الْمَيْلِ حَالَةَ الاخْتِيَارِ
Dan tidaklah bagi hamba kecuali sekadar kecenderungan (keinginan) saat memilih.
وَلِذَلِكَ طُوْلِبَ بِالتَّوْبَةِ وَالإِقْلَاعِ وَالنَّدَمِ وَاسْتَحَقَّ التَّعْزِيرَ وَالْحُدُوْدَ وَالثَّوَابَ وَالْعِقَابَ
Dan karena itulah hamba dituntut untuk bertaubat, berhenti (dari dosa), dan menyesal, serta layak mendapatkan hukuman ta'zir, had, pahala, maupun siksa.
وَهَذَا هُوَ الْكَسْبُ ، وَهُوَ تَعَلُّقُ الْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ
Dan inilah yang disebut "Al-Kasb" (usaha), yaitu keterikatan antara kemampuan yang baru (makhluk) dengan perbuatannya.
فَرْعُ : اخْتَلَفُوْا فِي مَعْنَى الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ ، فَالْقَضَاءُ عِنْدَ الأَشَاعِرَةِ :
Cabang: Para ulama berbeda pendapat tentang makna Qadha dan Qadar. Maka Qadha menurut mazhab Asy'ariyah adalah:
إِرَادَةُ اللهِ الأَشْيَاءَ فِي الأَزَلِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِي غَيْرِ الْأَزَلِ ،
Kehendak Allah atas segala sesuatu sejak zaman Azali sesuai dengan keadaan aslinya di luar zaman Azali.
الْقَدَرُ عِنْدَهُمْ : إِيْجَادُ اللهِ الأَشْيَاءَ عَلَى قَدَرٍ مَخْصُوْصِ عَلَى وِفْقِ الْإِرَادَةِ ،
Dan Qadar menurut mereka (Asy'ariyah) adalah: Penciptaan Allah atas segala sesuatu dengan ukuran/kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya.
فَإِرَادَةُ اللهِ الْمُتَعَلِّقَةُ أَزَلًا بِأَنَّكَ تَصِيرُ عَالِمًا قَضَاءٌ ،
Maka kehendak Allah yang berkaitan sejak zaman azali bahwasanya Ente akan menjadi seorang yang alim (berilmu) disebut Qadha,
وَإِيْجَادُ الْعِلْمِ فِيْكَ بَعْدَ وُجُوْدِكَ عَلَى وِفْقِ الْإِرَادَةِ قَدَرٌ
dan penciptaan ilmu di dalam diri Ente setelah keberadaan Ente yang sesuai dengan kehendak (Azali) tersebut disebut Qadar.
وَأَمَّا عِنْدَ الْمَاتُرِيدِيَّةِ ، فَالْقَضَاءُ : إِيْجَادُ اللَّهِ الْأَشْيَاءَ مَعَ زِيَادَةِ الإتقانِ ،
Adapun menurut mazhab Maturidiyah, maka Qadha adalah: Penciptaan Allah atas segala sesuatu disertai dengan kesempurnaan yang mendalam,
أَيْ : عَلَى وِفْقِ عِلْمِهِ تَعَالَى ؛
yaitu sesuai dengan ilmu-Nya Ta’ala;
وَالْقَدَرُ : تَحْدِيدُ اللَّهِ أَزَلًا كُلَّ مَخْلُوْقٍ بِحَدِّهِ الَّذِي يُوْجَدُ عَلَيْهِ
dan Qadar adalah: Penentuan Allah sejak zaman azali bagi setiap makhluk dengan batasannya yang ia akan ada padanya
مِنْ حُسْنٍ وَقُبْحٍ وَنَفْعِ وَضُرٍّ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ،
mulai dari baik dan buruk, manfaat dan mudarat, hingga selain dari hal tersebut,
أَيْ : عِلْمُهُ تَعَالَى أَزَلًا صِفَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ ،
yaitu ilmu-Nya Ta’ala sejak azali mengenai sifat-sifat para makhluk.
وَقِيلَ : الْقَضَاءُ عِلْمُ اللَّهِ الأَزَلِيِّ مَعَ تَعَلُّقِهِ بِالْمَعْلُوْمِ ،
Dan ada pendapat (lain): Qadha adalah ilmu Allah yang Azali beserta keterkaitannya dengan apa yang diketahui (ma’lum),
وَالْقَدَرُ إِيْجَادُ اللَّهِ الْأَشْآءَ عَلَى وِفْقِ الْعِلْمِ .
dan Qadar adalah penciptaan Allah atas segala sesuatu sesuai dengan ilmu tersebut.
فَعِلْمُ اللَّهِ الْمُتَعَلِّقُ أَزَلًا بِأَنَّ الشَّخْصَ يَصِيرُ عَالِمًا بَعْدَ وُجُوْدِهِ قَضَاءٌ ،
Maka ilmu Allah yang berkaitan sejak azali bahwasanya seseorang akan menjadi alim setelah keberadaannya disebut Qadha,
وَإِيْجَادُ الْعِلْمِ فِيْهِ بَعْدَ وُجُوْدِهِ قَدَرٌ
dan penciptaan ilmu padanya setelah ia ada disebut Qadar.
هَذَا ، وَقَوْلُ الأَشَاعِرَةِ هُوَ الْمَشْهُورُ ،
Demikianlah, dan pendapat mazhab Asy'ariyah adalah yang masyhur (populer),
وَعَلَى كُلٍّ فَالْقَضَاءُ قَدِيمٌ وَالْقَدَرُ حَادِثٌ ،
dan berdasarkan setiap pendapat (yang ada), maka Qadha itu bersifat Qadim (dahulu/tanpa awal) sedangkan Qadar bersifat Hadits (baru/diciptakan),
بِخِلَافِ قَوْلِ الْمَاتِرِيدِيَّةِ ،
berbeda dengan pendapat mazhab Maturidiyah,
وَقِيلَ : كُلٌّ مِنْهُمَا بِمَعْنَى إِرَادَتِهِ تَعَالَى
dan ada pendapat bahwa masing-masing dari keduanya (Qadha & Qadar) bermakna Kehendak-Nya (Iradah) Ta’ala.
تَفْصِيلُ : قَالَ سُلَيْمَانُ الْجَمَلُ كَمَا قَالَ الْفَيَوْمِيُّ فِي « الْمِصْبَاحِ » :
Perincian: Berkata Sulaiman al-Jamal sebagaimana perkataan al-Fayumi dalam kitab al-Misbah:
وَالْقَدَرُ بِالْفَتْحِ لَا غَيْرُ مَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنَ الْقَضَاءِ ،
Dan al-Qadar dengan harakat fathah (pada huruf Dal) tidak lain adalah apa yang telah Allah Ta’ala tentukan dari Qadha,
وَالْقَدْرُ بِسُكُوْنِ الدَّالِ وَفَتْحِهَا هُوَ الْمِقْدَارُ وَالْمِثْلُ ،
sedangkan al-Qadr dengan sukun pada huruf Dal (dan bisa juga fathah) adalah ukuran atau permisalan,
يُقَالُ : هَذَا قَدْرُ هَذَا ، أَيْ : يُمَائِلُهُ
dikatakan: "Ini adalah qadr (ukuran) ini", maksudnya sebanding/serupa dengannya.
وَأَمَّا الْقَدْرُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ إِنَّا أَنزَلْتَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾
Adapun al-Qadr dalam firman Allah Ta’ala: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr"
فَالْمَعْنَى لَيْلَةُ التَّقْدِيرِ ،
maka maknanya adalah Malam Penentuan (At-Taqdir),
سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّه اللَّهَ تَعَالَى يُقَدِّرُ فِيْهَا مَا يَشَاءُ مِنْ أَمْرِهِ
dinamakan demikian karena sesungguhnya Allah Ta’ala menentukan di dalamnya apa yang Dia kehendaki dari urusan-Nya
إِلَى مِثْلِهَا مِنَ السَّنَةِ الْقَابِلَةِ مِنْ أَمْرِ الْمَوْتِ وَالْأَجَلِ وَالرِّزْقِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ،
sampai waktu yang sama di tahun berikutnya, mulai dari urusan kematian, ajal, rezeki, dan lain sebagainya,
وَيُسَلِّمُهُ إِلَى مُدَبَّرَاتِ الْأُمُورِ ، وَهُمْ أَرْبَعَةٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ :
dan Allah menyerahkan (catatan) itu kepada para Malaikat pengatur urusan, mereka adalah empat malaikat:
إِسْرَافِيْلُ ، وَمِيْكَائِيلُ ، وَعِزْرَائِيلُ ، وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
(Keempat malaikat itu adalah): Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril alaihimus salam.
وَقَالَ مُجَاهِدٌ : لَيْلَةُ الْحُكْمِ ، وَقِيلَ : لَيْلَةُ الشَّرَفِ وَالْعِظَمِ
Mujahid berkata: (Lailatul Qadr) adalah malam penetapan hukum. Ada yang berpendapat: Malam kemuliaan dan keagungan.
قِيلَ : أَوْ لَيْلَةُ الضَّيْقِ ، لِضِيْقِ الْفَضَاءِ بِازْدِحَامِ الْمَلَائِكَةِ فِيْهَا
Ada pula yang berpendapat: Malam kesempitan, karena sempitnya ruang (angkasa) akibat berjejalnya para malaikat pada malam itu.
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : إِنَّ اللَّهَ يَقْضِيْ الأَقْضِيَةَ فِي لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ
Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Allah menetapkan segala ketentuan pada malam Nisfu Sya'ban.
وَيُسَلِّمُهَا إِلَى أَرْبَابِهَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Dan Allah menyerahkannya kepada para pemiliknya (malaikat pengatur urusan) pada malam Lailatul Qadr.
هَذَا ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّ تَقْدِيرَ اللهِ لَا يَحْدُثُ إِلَّا فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ
Perlu dipahami, maksudnya bukanlah takdir Allah itu baru terjadi pada malam tersebut saja.
لِأَنَّهُ تَعَالَى قَدَّرَ الْمَقَادِيرَ فِي الأَزَلِ قَبْلَ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Karena Allah Ta'ala telah menentukan segala takdir di zaman Azali sebelum penciptaan langit dan bumi.
بَلْ الْمُرَادُ إِظْهَارُ تِلْكَ الْمَقَادِيرِ لِلْمَلَائِكَةِ
Melainkan maksudnya adalah penampakan (pengumuman) takdir-takdir tersebut kepada para malaikat.
======================== MODEL BARUوَخَامِسُهَا : أَنْ تُؤْمِنَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ، بِأَنْ تُصَدِّقَ بِوُجُودِهِ وَبِجَمِيعِ مَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ كَالْحَشْرِ وَالْحِسَابِ وَالْجَزَاءِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ . سُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ لَا لَيْلَ بَعْدَهُ وَلَا نَهَارَ وَلَا يُقَالُ يَوْمٌ بِلَا تَقْيِيْدٍ إِلَّا لِمَا يَعْقُبُهُ لَيْلٌ أَوْ لِأَنَّهُ آخِرُ الْأَوْقَاتِ الْمَحْدُوْدَةِ ، أَيْ : آخِرُ أَيَّامِ الدُّنْيَا فَلَيْسَ بَعْدَهُ يَوْمٌ آخَرُ ، أَوْ لِتَأَخُرِهِ عَنِ الأَيَّامِ الْمُنْقَضِيَةِ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا .
Dan yang kelima (dari rukun iman): Engkau beriman kepada Hari Akhir, dengan membenarkan keberadaannya dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya seperti dikumpulkannya manusia (hasyr), hari perhitungan (hisab), hari pembalasan (jaza'), surga, dan neraka. Dinamakan demikian karena sesungguhnya tidak ada malam maupun siang lagi setelahnya, dan tidaklah dikatakan "hari" secara mutlak (tanpa batasan) kecuali bagi waktu yang diikuti oleh malam. Atau karena ia adalah akhir dari waktu-waktu yang terbatas, yaitu akhir dari hari-hari dunia sehingga tidak ada hari lain setelahnya, atau karena posisinya yang paling akhir dari hari-hari dunia yang telah berlalu.
وَأَوَّلُهُ مِنَ النَّفْخَةِ الثَّانِيَةِ إِلَى مَا لَا يَتَنَاهَى ، وَهُوَ الْحَقُّ . وَقِيلَ : إِلَى اسْتِقْرَارِ الْخَلْقِ فِي الدَّارَيْنِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ . فَصَدْرُهُ مِنَ الدُّنْيَا وَآخِرُهُ مِنَ الْآخِرَةِ ؛ وَهُوَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ . وَسُمِّيَ بِذَلِكَ لِقِيَامِ الْمَوْتَى فِيْهِ مِنْ قُبُورِهِمْ ، وَالْقَبْرُ مِنَ الدُّنْيَا . وَقِيلَ : فَاصِلٌ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَقِيلَ : أَوَّلُهُ مِنْ مَوْتِ الْمَيْتِ فَالْقَبْرُ مِنَ الْآخِرَةِ ، وَلِذَا يَقُوْلُوْنَ : مَنْ مَاتَ قَامَتْ قِيَامَتُهُ ، أَيْ : الصُّغْرَى .
Dan awalnya dimulai dari tiupan (sangkakala) yang kedua sampai waktu yang tak terhingga, dan inilah pendapat yang benar. Ada yang berpendapat: Sampai tetapnya para makhluk di dua negeri (surga atau neraka). Maka permulaannya adalah bagian dari dunia dan akhirnya adalah bagian dari akhirat; itulah Hari Kiamat. Dinamakan demikian karena bangkitnya orang-orang mati dari kubur mereka pada hari itu, sedangkan kubur adalah bagian dari dunia. Ada yang berpendapat (kubur) adalah pemisah antara dunia dan akhirat, dan ada yang bilang kiamat dimulai sejak kematian seseorang maka kubur adalah bagian dari akhirat, oleh karena itu mereka berkata: "Barangsiapa yang mati maka telah tegak kiamatnya", yaitu kiamat sughra (kecil).
وَسُمِّيَ قِيَامَةً عَلَى هَذَا لِقِيَامِ الْمَيْتِ فِيْهِ مِنَ الاضْطِجَاعِ إِلَى الْقُعُوْدِ لِسُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ ثُمَّ ضَمِّ الْقَبْرِ عَلَيْهِ ، فَأَشْبَهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْكُبْرَى . وَقَالَ الزَّمَخْشَرِيُّ : أَوَّلُهُ مِنْ وَقْتِ الْحَشْرِ إِلَى مَا لَا يَتَنَاهَى أَوْ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ . وَمِقْدَارُهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْكُفَّارِ خَمْسُوْنَ أَلْفَ سَنَةٍ لِشِدَّةِ أَهْوَالِهِ وَهُوَ أَخَفْ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فِي الدُّنْيَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ ، وَيَتَوَسَّطُ عَلَى عُصَاةِ الْمُؤْمِنِينَ .
Dinamakan kiamat berdasarkan hal ini karena bangkitnya si mayit dari berbaring menjadi duduk untuk menjawab pertanyaan dua malaikat kemudian jepitan kubur atasnya, maka hal itu menyerupai hari kiamat kubra (besar). Berkata az-Zamakhsyari: Permulaannya dimulai dari waktu hasyr (pengumpulan) sampai waktu yang tak terhingga atau sampai penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka. Dan durasinya bagi orang kafir adalah 50.000 tahun karena dahsyatnya kengerian hari itu, namun hari itu terasa lebih ringan (singkat) daripada durasi shalat fardhu di dunia bagi orang mukmin yang shaleh, dan terasa menengah (sedang) bagi orang mukmin yang ahli maksiat.
وَسَادِسُهَا : أَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى . قَالَ الْفَشْنِيُّ : وَمَعْنَى الإِيْمَانِ بِهِ أَنْ تَعْتَقِدَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدَّرَ الْخَيْرَ وَالشَّرَ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ وَأَنَّ جَمِيعَ الْكَائِنَاتِ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ ، وَهُوَ مُرِيدٌ لَهَا وَيَكْفِي اعْتِقَادٌ جَازِمٌ بِذَلِكَ مِنْ غَيْرِ نَصْبِ بُرْهَانٍ . وَقَالَ السَّيِّدُ عَبْدُ اللَّهِ الْمِرْغَنِيُّ : وَالإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ هُوَ التَّصْدِيقُ بِأَنَّ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ ، بِتَقْدِيرِ مَنْ يَقُوْلُ لِلشَّيْءِ كُنْ فَيَكُوْنُ خَيْرًا أَوْ شَرًّا ، نَفْعًا أَوْ ضُرًا ، حُلْوا أَوْ مُرًا .
Dan yang keenam (dari rukun iman): Engkau beriman kepada takdir, baik yang buruk maupun yang baik, semuanya dari Allah Ta’ala. Al-Fasyni berkata: Makna beriman kepada takdir adalah engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menentukan takdir baik dan buruk sebelum menciptakan makhluk dan sesungguhnya seluruh kejadian yang ada adalah dengan ketetapan (qadha) dan ketentuan (qadar) Allah, dan Dialah yang menghendakinya, serta cukuplah keyakinan yang mantap (jazim) mengenai hal tersebut tanpa perlu menyusun dalil logika (burhan). Sayyid Abdullah al-Mirghani berkata: Iman kepada takdir adalah membenarkan bahwa apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi adalah dengan ketentuan Dzat yang berkata kepada sesuatu "Jadilah!" maka terjadilah ia, baik itu berupa kebaikan atau keburukan, manfaat atau mudarat, manis ataupun pahit.
وَقَالَ ﷺ : « كُلُّ شَيْءٍ بِقَضَاء وَقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ » . وَقَالَ : « لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ بِاللَّهِ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ . وَأَمَّا حَدِيثُ مُسْلِمٍ فِي دُعَاءِ الْافْتِتَاحِ : « وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ » فَمَعْنَاهُ : وَلَا شَرَّ يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَيْكَ ، أَوْ لَا يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَأَدُّبًا لِأَنَّ اللَّائِقَ نِسْبَةُ الْخَيْرِ لِلَّهِ وَالشَّرِّ لِلنَّفْسِ تَأَدُّبًا . قَالَ تَعَالَى : ﴿ مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ﴾ أَيْ : إِيجَادًا وَخَلْقًا ، ﴿ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ﴾ أَيْ : كَسْبًا لَا خَلْقًا ، كَمَا يُفَسِّرُهُ قَوْلُهُ تَعَالَى : ﴿ وَما أَصْبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ ﴾ لِأَنَّ الْقُرْآنَ يُفَسَّرُ بَعْضُهُ مِنْ بَعْضٍ .
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Segala sesuatu itu dengan qadha and qadar, bahkan sampai urusan kelemahan dan kecerdasan seseorang". Beliau juga bersabda: "Tidaklah beriman seorang hamba kepada Allah sampai ia beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk." Adapun hadits riwayat Muslim dalam doa iftitah yang berbunyi: "Dan keburukan itu tidak dinisbatkan kepada-Mu", maka maknanya adalah: Tidak ada keburukan yang bisa dijadikan sarana mendekatkan diri kepada-Mu, atau keburukan itu tidak disandarkan kepada Allah sebagai bentuk adab karena sesungguhnya yang layak adalah menisbatkan kebaikan kepada Allah dan keburukan kepada diri sendiri sebagai bentuk tata krama. Allah Ta'ala berfirman: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah", maksudnya secara penciptaan, "dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri", yaitu secara usaha (kasb) bukan secara penciptaan, sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah: "Dan musibah apa pun yang menimpamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri", karena sesungguhnya Al-Qur'an itu sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain.
فَالْقَضَاءُ عِنْدَ الأَشَاعِرَةِ : إِرَادَةُ اللهِ الأَشْيَاءَ فِي الأَزَلِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِي غَيْرِ الْأَزَلِ ، الْقَدَرُ عِنْدَهُمْ : إِيْجَادُ اللهِ الأَشْيَاءَ عَلَى قَدَرٍ مَخْصُوْصِ عَلَى وِفْقِ الْإِرَادَةِ . وَأَمَّا عِنْدَ الْمَاتُرِيدِيَّةِ ، فَالْقَضَاءُ : إِيْجَادُ اللَّهِ الْأَشْيَاءَ مَعَ زِيَادَةِ الإتقانِ ، أَيْ : عَلَى وِفْقِ عِلْمِهِ تَعَالَى ؛ وَالْقَدَرُ : تَحْد``` Udah Ane raِيدُ اللَّهِ أَزَلًا كُلَّ مَخْلُوْقٍ بِحَدِّهِ الَّذِي يُوْجَدُ عَلَيْهِ مِنْ حُسْنٍ وَقُبْحٍ وَنَفْعِ وَضُرٍّ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ . هَذpihin ya Abi, teks Arab dan artinya sekarang ngumpul jadi paragraf yang padat biar kelihatannya lebih rapi di postingan Ente dan kagَا ، وَقَوْلُ الأَشَاعِرَةِ هُوَ الْمَشْهُورُ ، وَعَلَى كُلٍّ فَالْقَضَاءُ قَدِيمٌ وَالْقَدَرُ حَادِثٌ .
Maka Qadha menurut mazhab Asy'ariyah adalah: Kehendak Allah atas segala sesuatu sejak zaman Azali sesuai dengan keadaan aslinya di luar zaman Azali. Dan Qadar menurut mereka adalah: Penciptaan Allah atas segala sesuatu dengan ukuran tertentu sesuai dengan kehendak-Nya. Adapun menurut mazhab Maturidiyah, maka Qadha adalah: Penciptaan Allah atas segala sesuatu disertai dengan kesempurnaan yang mendalam, yaitu sesuai dengan ilmu-Nya Ta’ala; dan Qadar adalah: Penentuan Allah sejak zaman azali bagi setiap makhluk dengan batasannya yang ia akan ada padanya mulai dari baik dan buruk, manfaat dan mudarat, hingga selain dari hal tersebut. Demikianlah, dan pendapat mazhab Asy'ariyah adalah yang masyhur, dan berdasarkan setiap pendapat yang ada, maka Qadha itu bersifat Qadim (dahulu) sedangkan Qadar bersifat Hadits (baru).
وَأَمَّا الْقَدْرُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ إِنَّا أَنزَلْتَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾ فَالْمَعْنَى لَيْلَةُ التَّقْدِيرِ ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّه اللَّهَ تَعَالَى يُقَدِّرُ فِيْهَا مَا يَشَاءُ مِنْ أَمْرِهِ إِلَى مِثْلِهَا مِنَ السَّنَةِ الْقَابِلَةِ مِنْ أَمْرِ الْمَوْتِ وَالْأَجَلِ وَالرِّزْقِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ، وَيُسَلِّمُهُ إِلَى مُدَبَّرَاتِ الْأُمُورِ ، وَهُمْ أَرْبَعَةٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ : إِسْرَافِيْلُ ، وَمِيْكَائِيلُ ، وَعِزْرَائِيلُ ، وَجِبْرِيلُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ . بَلْ الْمُرَادُ إِظْهَارُ تِلْكَ الْمَقَادِيرِ لِلْمَلَائِكَةِ ، لِأَنَّهُ تَعَالَى قَدَّرَ الْمَقَادِيرَ فِي الأَزَلِ قَبْلَ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ .
Adapun al-Qadr dalam firman Allah Ta’ala: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr", maka maknanya adalah Malam Penentuan (At-Taqdir), dinamakan demikian karena sesungguhnya Allah Ta’ala menentukan di dalamnya apa yang Dia kehendaki dari urusan-Nya sampai waktu yang sama di tahun berikutnya, mulai dari urusan kematian, ajal, rezeki, dan lain sebagainya, dan Allah menyerahkan catatan itu kepada para Malaikat pengatur urusan, yaitu Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril alaihimus salam. Hal ini merupakan penampakan (pengumuman) takdir-takdir tersebut kepada para malaikat, karena sejatinya Allah Ta'ala telah menentukan segala takdir di zaman Azali sebelum penciptaan langit dan bumi.
=============PERINGATAN & ASAL USUL HADITS JIBRIL
تَنْبِيهُ : إِنَّمَا أَتَى الْمُصَنِّفُ أَوَّلًا بِذِكْرِ أَرْكَانِ الإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ لِأَنَّهُ عَظِيمُ الْمَوْقِعِ ، وَقَدْ اشْتَمَلَ عَلَى جَمِيعِ وَظَائِفِ الْعِبَادَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ قَالَ الْجَفْرِيُّ : وَيَقْبُحُ بِالْعَاقِلِ أَنْ يُسْأَلَ عن أَرْكَانِ الإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ فَلَا يَرُدُّ جَوَابًا وَهُوَ يَزْعُمُ أَنَّهُ مُسْلِمٌ وَمُؤْمِنٌ انْتَهَى وَهُوَ مَأْخُوْذُ مِنْ حَدِيْثِ سَيِّدِنَا جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَمَا فِي « الْأَرْبَعِينَ » لِلنَّوَوِيِّ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ ، شَدِيدُ بَيَاضِ الثَّيَابِ ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ
Peringatan: Sesungguhnya pengarang mendahulukan penyebutan rukun Islam dan rukun Iman karena kedudukannya yang agung, serta mencakup seluruh tugas ibadah lahiriah maupun batiniah. Al-Jufri berkata: "Adalah buruk bagi orang yang berakal jika ditanya tentang rukun Islam dan rukun Iman namun tidak bisa memberikan jawaban, padahal ia mengaku bahwa dirinya adalah seorang muslim dan mukmin." Selesai. Dan hal itu diambil dari hadits junjungan kita Jibril AS sebagaimana terdapat dalam kitab "Al-Arba'in" karya Imam Nawawi. Beliau rahimahullah berkata: Dari Umar RA, ia berkata: "Suatu hari ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki, yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua pahanya."
MATAN HADITS JIBRIL (HALAMAN 063)
[صـ ٠٦٣] فَخِذَيْهِ ، وَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ! أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ ! فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ، قَالَ : صَدَقْتَ ، فَتَعَجَّبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ ، قَالَ لَهُ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ ! قَالَ : « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » قَالَ : صَدَقْتَ ، قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ ! قَالَ : « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ » قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ ! قَالَ : « مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ » قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا ! قَالَ : « أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا ، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ » ثُمَّ انْطَلَقَ ، فَلَبِثَ مَلِيًّا ، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ ؟ » قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : « فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ ، أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ [رقم ۸ ؛ الترمذي ، رقم : ٢٦١٠ ؛ النسائي ، رقم : ٤٩٩٠ ؛ أبو داود ، رقم : ٤٦٩٥ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٦٣ ؛ مسند أحمد ، رقم : ١٨٥ ، ١٩٢ ، ٣٦٩ ، ٣٧٦ ، ٥٨٢٢]
[Hal. 63] (Malaikat Jibril meletakkan kedua tangannya di atas) pahanya, dan berkata: "Wahai Muhammad! Kabarkanlah kepadaku tentang Islam!" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya." Dia berkata: "Engkau benar," maka kami heran kepadanya, dia yang bertanya tapi dia pula yang membenarkannya. Dia bertanya lagi: "Maka kabarkanlah kepadaku tentang Iman!" Nabi menjawab: "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." Dia berkata: "Engkau benar." Dia bertanya lagi: "Maka kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan!" Nabi menjawab: "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Dia bertanya lagi: "Kabarkanlah kepadaku tentang hari kiamat!" Nabi menjawab: "Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya." Dia bertanya lagi: "Maka kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya!" Nabi menjawab: "Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika engkau melihat orang yang tak beralas kaki, telanjang, dan miskin penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung." Kemudian orang itu pergi, lalu aku terdiam beberapa saat, kemudian Nabi bersabda: "Wahai Umar! Tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?" Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi bersabda: "Sesungguhnya dia adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." Diriwayatkan oleh Muslim [No. 8; Tirmidzi No. 2610; An-Nasa'i No. 4990; Abu Dawud No. 4695; Ibnu Majah No. 63; Musnad Ahmad No. 185, 192, 369, 376, 5822].
SHARAH LETAK TANGAN & TAFSIR IHSAN
قَوْلُهُ : وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ ، أَيْ : وَضَعَ الرَّجُلُ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَفَعَلَ ذَلِكَ لِلاسْتِثْنَاسِ بِاعْتِبَارِ مَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْأُنْسِ فِي الْأَصْلِ حِيْنَ يَأْتِيهِ بِالْوَحْيِ وَقَدْ جَاءَ مُصَرَّحًا بِهَذَا فِي رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ [رقم : ٤٩٩١] مِنْ حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي ذَرٍّ حَدِيْثٌ قَالَ : وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْ النَّبِيِّ ﷺ قَوْلُهُ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ ، يَعْنِي بِهِ الإِخْلَاصَ ، وَيَجُوْزُ أَنْ يَعْنِيَ بِهِ إِجَادَةَ الْعَمَلِ ، وَهَذَا التَّفْسِيرُ أَخَصُّ مِنَ الْأَوَّلِ
Perkataan (Umar): "Dan dia meletakkan kedua telapak tangan di atas pahanya," maksudnya lelaki itu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya sendiri. Dan Jibril melakukan itu untuk menciptakan suasana santai/akrab, mengingat keakraban di antara keduanya saat Jibril membawakan wahyu. Dan sungguh telah datang penjelasan secara gamblang mengenai hal ini dalam riwayat An-Nasa'i [No. 4991] dari hadits Abu Hurairah dan Abu Dzar, beliau berkata: "(Jibril) meletakkan kedua tangannya di atas kedua lutut Nabi ﷺ." Perkataan: "Kabarkan padaku tentang Ihsan," maksud darinya adalah ikhlas. Dan boleh juga yang dimaksud darinya adalah membagusun/menyempurnakan amal, dan tafsir ini lebih khusus daripada yang pertama.
TIGA TINGKATAN HAMBA DALAM BERIBADAH (HALAMAN 064)
[صـ ٠٦٤] قَوْلُهُ : « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ » هَذَا مِنْ جَوَامِعِ كَلِمِهِ ، لِأَنَّهُ شَمَلَ مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ وَمَقَامَ الْمُرَاقَبَةِ بَيَانُ ذَلِكَ وَإِيْضَاحُهُ أَنَّ لِلْعَبْدِ فِي عِبَادَتِهِ ثَلَاثَةُ مَقَامَاتٍ : الأَوَّلُ : أَنْ يَفْعَلَهَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يَسْقُطُ مَعَهُ طَلَبُ الشَّرْعِ بِأَنْ تَكُوْنَ مُسْتَوْفِيَةً لِلشُّرُوطِ وَالْأَرْكَانِ الثَّانِي : أَنْ يَفْعَلَهَا كَذَلِكَ وَقَدْ اسْتَغْرَقَ فِي بِحَارِ الْمُكَاشَفَةِ حَتَّى كَأَنَّهُ يَرَى اللَّهَ تَعَالَى وَهَذَا مَقَامُهُ كَمَا قَالَ : « وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ » [النسائي ، رقم : ٣٩٣٩ ، ٣٩٤٠ ؛ مسند أحمد ، رقم : ۱٨٨٤ ، ١٢٦٤٤ ، ١٣٦٢٣] الثَّالِثُ : أَنْ يَفْعَلَهَا كَذَلِكَ وَقَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُشَاهِدُهُ ، وَهَذَا هُوَ مَقَامُ الْمُرَاقَبَةِ فَقَوْلُهُ : « فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ » نُزُوْلٌ عَنْ مَقَامِ الْمُكَاشَفَةِ إِلَى مَقَامِ الْمُرَاقَبَةِ أَيْ : إِنْ لَمْ تَعْبُدْهُ وَأَنْتَ مِنْ أَهْلِ الرُّؤْيَةِ فَاعْبُدْهُ وَأَنْتَ بِحَيْثُ تَعْتَقِدُ أَنَّهُ يَرَاكَ فَكُلٌّ مِنَ الْمَقَامَاتِ الثَّلَاثَةِ إِحْسَانُ ، إِلَّا أَنَّ الإِحْسَانَ الَّذِي هُوَ شَرْطٌ فِي صِحَّةِ الْعِبَادَةِ إِنَّمَا هُوَ الْأَوَّلُ لِأَنَّ الْإِحْسَانَ الَّذِي هُوَ فِي الْأَخِيرَيْنِ مِنْ صِفَةِ الْخَوَاصِ ، وَيَتَعَذَّرُ مِنْ كَثِيرٍ .
[Hal. 64] Perkataan (Nabi): "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Ini termasuk kalimat yang singkat namun padat makna, karena mencakup maqam Musyahadah dan maqam Muraqabah. Penjelasan dan keterangannya adalah bahwasanya bagi seorang hamba dalam ibadahnya terdapat tiga tingkatan: Pertama: Ia melakukan ibadah dengan cara yang menggugurkan tuntutan syariat, yaitu dengan memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Kedua: Ia melakukan ibadah tersebut dan ia telah tenggelam dalam lautan mukasyafah hingga seakan-akan ia melihat Allah Ta’ala. Dan ini adalah kedudukannya Nabi sebagaimana sabdanya: "Dan dijadikan penyejuk hatiku ada di dalam shalat." [An-Nasa'i No. 3939, 3940; Musnad Ahmad No. 1884, 12644, 13623]. Ketiga: Ia melakukan ibadah tersebut dalam keadaan merasa bahwa Allah Ta’ala benar-benar menyaksikannya, dan ini disebut Maqam Muraqabah. Maka sabda Nabi: "Jika engkau tidak melihat-Nya," merupakan perpindahan dari maqam Mukasyafah menuju maqam Muraqabah. Maksudnya: Jika engkau tidak menyembah-Nya dalam keadaan engkau termasuk ahli rukyah, maka sembahlah Dia dalam keadaan engkau meyakini bahwa Dia melihatmu. Maka setiap dari ketiga tingkatan ini adalah Ihsan, hanya saja Ihsan yang menjadi syarat sahnya ibadah hanyalah tingkatan yang pertama, karena Ihsan pada dua tingkatan terakhir adalah sifat orang-orang khusus dan sulit dilakukan oleh kebanyakan orang.
MAKNA KIAMAT & TANDA-TANDANYA
قَوْلُهُ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ ، أَيْ : عَنْ وَقْتِ الْقِيَامَةِ قَوْلُهُ : « مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا » ، أَيْ : عَنْ وَقْتِهَا ، « بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ » ، أَيْ : أَنْتَ لَا تَعْلَمُهَا وَأَنَا لَا أَعْلَمُهَا ، فَالْمُرَادُ التَّسَاوِي فِي نَفْيِ الْعِلْمِ بِوَقْتِهَا ، لَا التَّسَاوِي فِي الْعِلْمِ بِوَقْتِهَا قَوْلُهُ : عَنْ أَمَارَاتِهَا ، بِفَتْحِ الْهَمْزَةِ ، أَيْ : عَلَامَاتِهَا كَمَا قَالَ فِي «الْمِصْبَاحِ» : الأَمَارَةُ الْعَلَامَةُ وَزْنَا وَمَعْنَى ، وَأَمَّا الْإِمَارَةُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ فَهِيَ الْوِلَايَةُ وَالْإِمَامَةُ ؛ وَالْمُرَادُ عَلَامَاتُهَا السَّابِقَةُ عَلَيْهَا وَمُقَدَّمَاتُهَا لَا الْمُقَارِنَةُ
Perkataan: "Kabarkan padaku tentang Kiamat," maksudnya adalah tentang waktu terjadinya hari kiamat. Perkataan: "Tidaklah yang ditanya tentangnya," maksudnya tentang waktunya, "lebih tahu daripada yang bertanya," maksudnya: "Engkau tidak mengetahuinya dan aku pun tidak mengetahuinya." Jadi yang dimaksud adalah kesamaan dalam hal ketiadaan pengetahuan tentang waktunya, bukan kesamaan dalam mengetahui waktunya. Perkataan: "Tentang tanda-tandanya (amārāt)," dengan huruf hamzah yang dibaca fathah, maksudnya adalah ciri-cirinya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Misbah: Al-Amārah adalah Al-Alāmah (tanda), baik secara timbangan kata maupun makna. Adapun Al-Imārah dengan hamzah yang dibaca kasrah, maka maknanya adalah kepemimpinan atau keimaman. Dan yang dimaksud adalah tanda-tanda yang mendahuluinya dan pembukaannya, bukan tanda-tanda yang terjadi bersamaan dengan kiamat itu sendiri.
TAFSIR BUDAK WANITA MELAHIRKAN MAJIKANNYA (HALAMAN 065)
[صـ ٠٦٥] الْمُضَايِقَةُ لَهَا ، كَطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا ، وَخُرُوجِ الدَّابَّةِ ؛ فَلِذَا قَالَ : أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا ، وَفِي رِوَايَةٍ : « رَبَّهَا » وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَاهَا عَلَى أَقْوَالٍ ، أَصَحُّهَا : أَنَّهُ إِخْبَارٌ عَنْ كَثْرَةِ السَّرَارِي وَأَوْلَادِهِنَّ ، وَأَنَّ وَلَدَهَا مِنْ سَيِّدِهَا بِمَنْزِلَةِ سَيِّدِهَا ، لِأَنَّ مَالَ الْإِنْسَانِ صَائِرٌ إِلَى وَلَدِهِ ، وَقَدْ يَتَصَرَّفُ فِيْهِ فِي الْحَالِ تَصَرُّفَ الْمَالِكِينَ ، إِمَّا بِالْإِذْنِ أَوْ بِقَرِيْنَةِ الْحَالِ أَوْ عُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ ، وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ بِأَنْ يَسْتَوْلِيَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى بِلَادِ الْكُفَّارِ فَتَكْثُرَ السَّرَارِي ، فَيَكُوْنُ وَلَدُ الْأَمَةِ مِنْ سَيِّدِهَا بِمَنْزِلَةِ سَيِّدِهَا لِشَرَفِهِ بِأَبِيْهِ . ثَانِيهَا : أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ الْإِمَاءَ تَلِدُ الْمُلُوكَ ، فَتَكُوْنُ أُمُّهُ مِنْ جُمْلَةِ رَعِيَّتِهِ ، إِذْ هُوَ سَيِّدُهَا . ثَالِثُهَا : أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ تَفْسُدَ أَحْوَالُ النَّاسِ فَيَكْثُرَ بَيْعُ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، فَيَكْثُرُ تَرْدَادُهَا فِي أَيْدِي الْمُشْتَرِينَ حَتَّى يَشْتَرِيَهَا ابْنُهَا مِنْ غَيْرِ عِلْمٍ أَنَّهَا أُمُّهُ . وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكْثُرَ الْعُقُوْقُ فِي الْأَوْلَادِ ، فَيُعَامِلُ الْوَلَدُ أُمَّهُ مُعَامَلَةَ السَّيِّدِ أَمَتَهُ مِنَ الْإِهَانَةِ وَ السَّبِّ .
[Hal. 65] (Tanda kiamat) yang menyertainya secara dekat, seperti terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang besar; maka dari itu Nabi bersabda: "Bahwa seorang budak wanita melahirkan majikannya (perempuan)," dan dalam riwayat lain "majikannya (laki-laki)". Dan para ulama berbeda pendapat dalam maknanya menjadi beberapa pendapat: Pendapat yang paling shahih: Bahwa itu adalah kabar tentang banyaknya selir dan anak-anak dari mereka, dan bahwa anak si budak dari tuannya berkedudukan seperti majikannya sendiri, karena harta seseorang akan jatuh kepada anaknya, dan terkadang si anak tersebut sudah bertindak terhadap harta itu layaknya seorang pemilik, baik karena izin, tanda-tanda keadaan, maupun kebiasaan umum. Sebagian ulama mengungkapkan bahwa itu bermakna umat Islam akan menguasai negeri kafir sehingga banyak selir, maka anak si budak dari tuannya berkedudukan seperti tuannya karena kemuliaan ayahnya. Kedua: Bahwasanya maknanya adalah budak-budak wanita melahirkan raja-raja, sehingga ibunya menjadi bagian dari rakyatnya sendiri, karena si anak adalah pemimpinnya. Ketiga: Bahwasanya maknanya adalah rusaknya kondisi manusia sehingga banyak penjualan "Ummul Walad" di akhir zaman, sehingga budak itu sering berpindah tangan di antara para pembeli sampai akhirnya ia dibeli oleh anaknya sendiri tanpa tahu bahwa budak itu adalah ibunya. Dan termasuk dari itu adalah banyaknya kedurhakaan pada anak-anak, di mana seorang anak memperlakukan ibunya seperti perlakuan majikan kepada budaknya, berupa tindakan menghina dan mencaci maki.
PENJELASAN BAHASA TENTANG PENGGEMBALA KAMBING
قَوْلُهُ : « الْعُرَاةَ » ، جَمْعُ عَارٍ ، وَهُوَ : مَنْ لَا شَيْءَ عَلَى جَسَدِهِ . قَوْلُهُ : « الْعَالَةَ » ، بِفَتْحِ اللَّامِ الْمُخَفَّفَةِ ، جَمْعُ عَائِلٍ ، وَالْعَالَةُ هِيَ فِي تَقْدِيرِ فَعَلَةٍ ، مِثْلُ كَافِرٍ وَكَفَرَةٍ ، مَعْنَاهُ : الْفُقَرَاءُ قَوْلُهُ : « رِعَاءَ الشَّاءِ » ، بِكَسْرِ الرَّاءِ وَالْمَدِّ ، جَمْعُ رَاعٍ ، وَأَمَّا بِالضَّمِّ فَلَا بُدَّ مِنَ التَّاءِ الْمَرْبُوْطَةِ ، مِثْلُ قَاضٍ وَقُضَاةِ ، كَمَا فِي « الْمِصْبَاحِ » ؛ وَأَصْلُ الرَّعْيِ الْحِفْظُ ؛ وَالشَّاءُ بِالْهَمْزَةِ : الْغَنَمُ ، جَمْعُ شَاةٍ ، وَهُوَ مِنَ الْجُمُوْعِ الَّتِي يُفَرَّقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ وَاحِدِهَا بِالْهَاءِ ، وَتُجْمَعُ أَيْضًا عَلَى شِيَاءٍ بِالْهَاءِ ، وَخَصَّهُمْ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُمْ أَهْلُ الْبَادِيَةِ .
Perkataan: "Al-'Urātu" adalah jamak dari kata 'Ārin, yaitu orang yang tidak mengenakan sesuatu pun pada tubuhnya. Perkataan: "Al-'Ālata", dengan huruf lam yang dibaca fathah tanpa tasydid, merupakan jamak dari kata 'Ā'il, dan timbangan kata "Al-'Ālah" itu mengikuti pola "Fa'alah", seperti kata "Kāfir" menjadi "Kafarah", yang maknanya adalah orang-orang fakir. Perkataan: "Ri'ā'asy Syā'i", dengan huruf ra yang dibaca kasrah dan dipanjangkan, merupakan jamak dari kata Rā'in (penggembala), adapun jika huruf ra-nya dibaca dhammah, maka harus diakhiri dengan ta' marbuthah, seperti kata "Qādhin" menjadi "Qudhāh", sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Misbah; dan asal kata "Ar-Ra'yu" bermakna menjaga; sedangkan "Asy-Syā'" dengan hamzah di akhir bermakna kambing, merupakan jamak dari kata Syātun, dan kata tersebut termasuk bentuk jamak yang dibedakan dengan bentuk tunggalnya menggunakan huruf ha', dan dijamakkan juga menjadi "syiyā'" dengan ha'. Dan Nabi mengkhususkan penyebutan mereka karena mereka adalah penduduk pedalaman.
BERLOMBA DALAM BANGUNAN (HALAMAN 066)
[صـ ٠٦٦] قَوْلُهُ : « يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ » ، أَيْ : يَتَبَاهَوْنَ فِي ارْتِفَاعِهِ ، وَالْقَصْدُ مِنَ الْحَدِيْثِ الإِخْبَارُ عن تَبَدُّلِ الْحَالِ وَتَغَيْرِهِ ، بِأَنْ يَسْتَوْلِيَ أَهْلُ الْبَادِيَةِ وَالْفَاقَةِ الَّذِيْنَ هَذِهِ صِفَاتُهُمْ عَلَى أَهْلِ الْحَاضِرَةِ ، وَيَتَّمَلَّكُوْنَ بِالْقَهْرِ وَالْغَلَبَةِ ، فَتَكْثُرَ أَمْوَالُهُمْ وَتَتَّسِعَ فِي الْحُطَامِ ، أَيْ : فِي الْقَانِيَةِ ، وَهِيَ : الْمَتَاعُ الْكَثِيرُ الْهِمَّةِ ، فَتُصْرَفُ هِمَمُهُمْ إِلَى تَشْبِيْدِ الْبُنْيَانِ ، أَيْ : تَطْوِيلِهِ وَرَفْعِهِ بِالْجِصِّ ، وَالْهِمَّةُ بِالْكَسْرِ : أَوَّلُ الْعَزْمِ ، وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى الْعَزْمِ الْقَوِيِّ ؛ كَمَا فِي « الْمِصْبَاحِ » .
[Hal. 66] Perkataan: "Berlomba-lomba dalam bangunan," maksudnya mereka saling membanggakan ketinggian bangunannya. Dan maksud dari hadits ini adalah mengabarkan tentang berbaliknya keadaan dan perubahannya, yaitu dengan berkuasanya penduduk pedalaman yang fakir—yang memiliki sifat-sifat tersebut—atas penduduk kota. Dan mereka mengambil kekuasaan dengan paksaan dan penaklukan, sehingga harta mereka melimpah dan mereka bergelimang dalam kemewahan duniawi (al-huthām), maksudnya: dalam harta simpanan (al-qāniyah), yaitu harta benda yang menguras banyak perhatian/ambisi. Maka ambisi mereka dialihkan untuk memperkokoh bangunan, yaitu memanjangkan dan meninggikannya dengan batu bata (atau semen). Dan al-himmah dengan kasrah bermakna awal dari sebuah keinginan, dan terkadang mutlak bermakna keinginan yang kuat; sebagaimana dalam kitab al-Misbah.
DIAGNOSA AKHIR HADITS & DEFINISI AGAMA (HALAMAN 067)
قَوْلُهُ : ثُمَّ انْطَلَقَ ، أَيْ : الرَّجُلُ السَّائِلُ عَمَّا ذُكِرَ . وَقَوْلُهُ : فَلَبِثَ ، أَيْ : النَّبِيُ ﷺ ، أَيْ : أَسْتَمَرَّ سَاكِنَا عَنِ الْكَلَامِ فِي هَذِهِ الْقَضِيَّةِ ، وَجَاءَ فِي رِوَايَةٍ : « فَلَبِثْتُ » بِنَاءِ مَضْمُوْمَةٍ ، فَيَكُوْنُ عُمَرُ هُوَ الْمُخْبِرُ عَنْ ذَلِكَ بِنَفْسِهِ قَوْلُهُ : مَلِيًّا ، بِتَشْدِيدِ الْيَاءِ ، أَيْ : زَمَانًا كَثِيرًا ، وَكَانَ ذَلِكَ الزَّمَانُ ثَلَاثًا كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ وَالتَّرْمِذِي وَغَيْرِهِمَا قَوْلُهُ : ثُمَّ قَالَ : « يَا عُمَرُ ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ ؟ » قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : « فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنِكُمْ » ، أَيْ : قَوَاعِدَ دِيْنِكُمْ ، فَفِيْهِ أَنَّ الدِّيْنَ اسْمُ لِلثَّلَاثَةِ : الإِسْلَامُ ، وَالإِيْمَانُ ، وَالإِحْسَانُ ، وَفُهِمَ مِنْهُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُعَلِّم تَنْبِيْهُ تَلَامِذَتِهِ ، وَلِلرَّئِيسِ تَنْبِيْهُ أَتْبَاعِهِ ، عَلَى قَوَاعِدِ الْعِلْمِ وَغَرَائِبِ الْوَقَائِعِ طَلَبًا لِنَفْعِهِمْ وَفَائِدَتِهِمْ . قَالَهُ الْفَشْنِيُّ [صـ ٠٦٧]
Perkataan: "Kemudian ia pergi," maksudnya lelaki yang bertanya tentang hal-hal yang telah disebutkan tadi. Dan perkataan: "Maka ia terdiam," maksudnya Nabi ﷺ terus terdiam/tidak membicarakan urusan ini beberapa saat. Dan terdapat dalam sebuah riwayat: "Fa labitstu" (maka aku terdiam) dengan huruf ta' yang dibaca dhammah, maka Umar-lah yang mengabarkan hal itu tentang dirinya sendiri. Perkataan: "Maliyan," dengan huruf ya' yang bertasydid, maksudnya adalah waktu yang lama. Dan waktu tersebut adalah tiga hari sebagaimana terdapat dalam riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain keduanya. Perkataan: Kemudian Nabi bersabda: "Wahai Umar! Tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?" Aku (Umar) menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui," Nabi bersabda: "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian," maksudnya adalah kaidah-kaidah agama kalian. Maka di dalam ini terdapat penjelasan bahwa "Ad-Din" (Agama) adalah nama bagi perpaduan tiga perkara: Islam, Iman, dan Ihsan. Dan dapat dipahami darinya bahwa disunnahkan bagi seorang pengajar untuk memberi peringatan kepada murid-muridnya, dan bagi seorang pemimpin kepada pengikutnya, mengenai kaidah-kaidah ilmu dan peristiwa-peristiwa yang ganjil demi mengharapkan manfaat dan faidah bagi mereka. Hal ini dikatakan oleh Al-Fasyani. [Hal. 67]
===============
Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA
Assalamu'alaikum, Jemaah! Dengerin nih, Ane mau cerita dikit. Kitab Kasyifatus Saja kalo udeh masuk bab Kalimat Tauhid emang dalemnye kagak ketulungan. Syekh Nawawi Banten ngajak kite bedah isi jeroan "Laa ilaaha illallaah" biar iman kagak modal sebut doang tapi kosong melompong. Ditambah lagi, di bab ini bakal dikulitin soal penyakit hati pas lagi nyari rezeki ama rukun tobat. Jangan ampe pas ditanya rukun tobat kite malah planga-plongo kaya orang belon ngopi! Yuk, pasang kuping baek-baek, kite ngaji bener-bener urat-per-urat, jangan sampe tadlis!
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مِفْتَاحِ الْجَنَّةِ وَهِيَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ وَكَلِمَةُ الإِخْلَاصِ وَكَلِمَةُ النَّجَاةِ
وَقَدْ ذُكِرَتْ فِي الْقُرْآنِ فِي سَبْعَةِ وَثَلَاثِيْنَ مَوْضِعًا . قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : وَمَعْنَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ كَائِنٌ فِي الْوُجُودِ إِلَّا اللَّهُ أَيْ : لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يَذِلَّ لَهُ كُلُ double شَيْءٍ إِلَّا اللَّهُ قَوْلُهُ : إِلَّا اللَّهُ ، بِالرَّفْعِ ، بَدَلٌ مِنْ مَحَلَّ لَا مَعَ اسْمِهَا ، لِأَنَّ مَحَلَّهُمَا رُفِعَ بِالابْتِدَاءِ عِنْدَ سِيبَوَيْهِ أَوْ بَدَلٌ مِنَ الضَّمِيرِ الْمُسْتَتِرِ فِي خَيْرِ لَا الْمَحْذُوفِ وَالتَّقْدِيرُ : لَا إِلَهَ مَوْجُودٌ أَوْ مُمْكِنُ بِالإِمْكَانِ الْعَامُ إِلَّا اللهُ أَوْ بِالنَّصْبِ عَلَى الاسْتِثْنَاءِ ، وَلَا يَصِحُ جَعْلُهُ بَدَلًا مِنْ مَحَلَّ اسْمٍ لِأَنَّ لَا لَا تَعْمَلُ فِي الْمَعَارِفِ ، كَذَا قَالَ شَيْخُنَا يُوْسُفُ
Pasal dalam menjelaskan kunci surga, yaitu kalimat Tauhid, kalimat Ikhlas, dan kalimat Keselamatan. Dan sungguh kalimat ini telah disebutkan di dalam Al-Qur'an sebanyak tiga puluh tujuh tempat. Mushannif (penulis) rahimahullah berkata: Dan makna "Laa ilaaha illallaah" adalah tidak ada tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya yang ada di dalam wujud ini kecuali Allah. Maksudnya: Tidak ada yang berhak bagi segala sesuatu untuk tunduk/merendahkan diri kepadanya kecuali Allah. Perkataan: "Illallaah", dengan dibaca rofa', berkedudukan sebagai badal dari posisi 'Laa' beserta isimnya, karena posisi keduanya adalah rofa' sebagai mubtada' menurut Imam Sibawaih, atau sebagai badal dari dhamir yang tersimpan pada khabar 'Laa' yang dibuang. Dan takdirannya adalah: Tidak ada tuhan yang ada atau yang mungkin ada dengan kemungkinan yang umum kecuali Allah. Atau dibaca nashab sebagai istitsna' (pengecualian), dan tidak sah menjadikannya badal dari posisi isim (Laa) karena 'Laa' tidak beramal pada isim-isim makrifat, demikian kata guru kami Syekh Yusuf.
قَالَا السَّنُوْسِيُّ وَالْيُوْسِيُّ فِي نَفْيِ الْمَعْبُودِ بِحَقٍّ
قَالَ السَّنُوْسِيُّ وَالْيُوْسِيُ : وَالْمَنْفِيُّ فِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْمَعْبُوْدُ بِحَقٍّ فِي اعْتِقَادِ عَابِدِ نَحْوِ الْأَصْنَامِ وَالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَذَلِكَ أَنَّ الْمَعْبُوْدَ بِبَاطِلِ لَهُ وُجُودٌ فِي نَفْسِهِ فِي الْخَارِجِ وَوُجُودٌ فِي ذِهْنِ الْمُؤْمِنِ بِوَصْفِ كَوْنِهِ باطِلًا ، وَوُجُودٌ فِي ذِهْنِ الْكَافِرِ بِوَصْفِ كَوْنِهِ حَقًّا فَهُوَ مِنْ حَيْثُ وُجُوْدُهُ فِي الْخَارِجِ فِي نَفْسِهِ لَا يُنْفَى ، لِأَنَّ الذَّوَاتِ لَا تُنْفَى وَكَذَا مِنْ حَيْثُ وُجُوْدُهُ فِي ذِهْنِ الْمُؤْمِنِ بِوَصْفِ كَوْنِهِ بَاطِلًا ، إِذْ كَوْنُهُ مَعْبُوْدًا بِبَاطِلٍ أَمْرٌ مُحَقَّقٌ لَا يَصِحُ نَفْيُهُ ، وَإِلَّا كَانَ كَاذِبًا ، وَإِنَّمَا يُنْفَىٰ مِنْ حَيْثُ وُجُوْدُهُ فِي ذِهْنِ الْكَافِرِ بِوَصْفِ كَوْنِهِ مَعْبُوْدًا بِحَقِّ ، فَلَمْ يُنْفَ فِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَّا الْمَعْبُودُ بِحَقِّ غَيْرُ اللهِ ، فَالاسْتِثْنَاءُ مُتَّصِلٌ ؛ وَلَيْسَ الْمُنْفِيُّ أَيْضًا الْمَعْبُوْدُ بِبَاطِلٍ فِي ذِهْنِ الْكَافِرِ ، لِأَنَّهُ اللهُ تَعَالَى ، وَالْقَصْدُ بِهِذِهِ الْجُمْلَةِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ يَعْتَقِدُ الشَّرْكَةَ
Imam Sanusi dan Imam Al-Yusi berkata: Yang dinafikan dalam "Laa ilaaha illallaah" adalah sesembahan yang dianggap benar dalam keyakinan para penyembah seperti berhala, matahari, dan bulan. Hal itu karena sesembahan yang batil tersebut memiliki wujud pada dirinya sendiri di dunia luar (nyata), serta memiliki wujud di dalam benak orang mukmin dengan sifat batil, dan memiliki wujud di dalam benak orang kafir dengan sifat benar. Maka ia dari segi wujudnya secara fisik di dunia luar tidaklah dinafikan, karena kenyataan benda-benda itu tidak bisa diingkari. Dan demikian pula tidak dinafikan dari segi keberadaannya di dalam benak orang mukmin dengan sifat bahwa hal itu adalah batil, karena keberadaannya sebagai sesembahan yang batil adalah perkara yang nyata yang tidak sah untuk diingkari, jika tidak demikian maka ia menjadi bohong. Dan sesungguhnya ia dinafikan dari segi keberadaannya di dalam benak orang kafir dengan sifat bahwa hal itu adalah sesembahan yang benar. Maka tidaklah dinafikan dalam "Laa ilaaha illallaah" kecuali sesembahan yang dianggap benar selain Allah, sehingga bentuk pengecualiannya adalah muttashil. Dan yang dinafikan pun bukanlah sesembahan yang batil di dalam benak orang kafir, karena sesembahan sejati itu adalah Allah Ta'ala, dan maksud dari kalimat ini adalah sebagai bantahan terhadap orang yang meyakini adanya sekutu bagi Allah.
فَضَائِلُ كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ وَأَفْضَلِيَّتُهَا عَنِ الْحَمْدِ
وَفَضَائِلُهَا لَا تُحْصَى ، مِنْهَا : قَوْلُهُ ﷺ : « مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي يَوْمِهِ كَانَتْ لَهُ كَفَّارَةٌ لِكُلِّ ذَنْبٍ أَصَابَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ » وَعَنْ كَعْبِ الأَحْبَارِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى مُوْسَىٰ فِي التَّوْرَاةِ : لَوْلَا مَنْ يَقُوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، لَسَلَّطْتُ جَهَنَّمَ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا . قَالَ السُّحَيْمِيُّ : أَفْضَلُ الْأَشْيَاءِ الإِيْمَانُ ، وَهُوَ قَلْبِي ؛ وَأَفْضَلُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ ، وَأَفْضَلُهُ الْقُرْآنُ ، وَأَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، فَهِيَ أَفْضَلُ مِنَ الْحَمْدِ عَلَى الصَّحِيحِ ، لِأَنَّهَا تَنْفِي الْكُفْرَ
Dan fadhilah-fadhilahnya tidak terhitung, di antaranya: Sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah sebanyak tiga kali dalam sehari, maka hal itu menjadi pelebur dosa bagi setiap dosa yang ia lakukan di hari tersebut." Dan dari Ka'ab al-Ahbar radhiyallahu 'anhu: Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa di dalam kitab Taurat: "Sekiranya bukan karena orang-orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah, niscaya Aku akan timpakan neraka Jahanam kepada seluruh penduduk dunia." Imam As-Suhaimi berkata: Perkara yang paling utama adalah iman, dan itu letaknya di dalam hati; dan perkataan yang paling utama adalah Kalamullah, dan yang paling utamanya adalah Al-Qur'an, dan perkataan yang paling utama setelahnya adalah "Laa ilaaha illallaah", maka kalimat tersebut lebih utama daripada kalimat hamdalah menurut pendapat yang shahih, karena kalimat itu meniadakan kekufuran.
بَيَانُ الِاثْنَتَا عَشْرَةَ فَرِيضَةً الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
وَقَالَ بَعْضُهُمْ : إِنَّ كَلِمَةَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَثْنَا عَشَرَ حَرْفًا ، فَلَا جَرَمَ - أَيْ فَلَا بُدَّ - أَنَّهُ وَجَبَ بِهَا اثْنَتَا عَشْرَةَ فَرِيضَةً ، سِتَّةٌ ظَاهِرَةٌ وَسِتَّةٌ بَاطِنَةٌ ، أَمَّا السِّتَّةُ الظَّاهِرَةُ : فَالطَّهَارَةُ وَالصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالْجِهَادُ ، وَالصَّوْمُ وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ ، وَأَمَّا الْبَاطِنَةُ : فَالتَّوَكَّلُ وَالتَّفْوِيضُ وَالصَّبْرُ وَالرِّضَا وَالزُّهْدُ وَالتَّوْبَةُ قَوْلُهُ : وَالْجِهَادُ ، أَيْ : الْقَتْلُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ لِإِقَامَةِ الدِّيْنِ ، وَهَذَا هُوَ الْجِهَادُ الأَصْغَرُ ؛ وَأَمَّا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ ، فَهُوَ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ
Dan sebagian ulama berkata: Sesungguhnya kalimat "Laa ilaaha illallaah" itu terdiri dari dua belas huruf, maka tidak diragukan lagi —maksudnya pasti— bahwasanya dengannya diwajibkan dua belas kewajiban, enam kewajiban zahir dan enam kewajiban batin. Adapun enam yang zahir adalah: bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Sedangkan yang batin adalah: tawakal, tafwidh (menyerahkan urusan kepada Allah), sabar, ridha, zuhud, dan taubat. Perkataan: "Al-Jihad," maksudnya adalah berperang di jalan Allah untuk menegakkan agama, dan ini disebut Jihad Kecil; adapun Jihad Besar adalah berjuang melawan hawa nafsu.
حَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ وَمَعْنَى حَدِيثِ رِزْقِ الطَّيْرِ
قَوْلُهُ : التَّوَكَّلُ ، هُوَ : ثِقَةُ الْقَلْبِ بِالْوَكِيْلِ الْحَقِّ تَعَالَى بِحَيْثُ يَسْكُنُ عَنِ الْاضْطِرَابِ عِنْدَ تَعَدُّرِ الْأَسْبَابِ ثِقَةٌ بِمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ . وَعَنْ أُوَيْسِ الْقَرَنِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ : لَوْ عَبَدْتَ اللَّهَ عِبَادَةَ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يُقْبَلُ مِنْكَ حَتَّى تَكُوْنَ آمِنًا بِمَا تَكَفَّلَ اللَّهُ مِنْ أَمْرِ رِزْقِكَ ، وَتَرَى جَسَدَكَ فَارِعًا لِعِبَادَتِهِ . قَالَ تَعَالَى : ﴿ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴾ وَقَالَ ﷺ : « لَوْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكَّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا » ، أَيْ : تَذْهَبُ بُكْرَةً وَهِيَ جِيَاعٌ ، « وَتَرُوْحُ بِطَانًا » ، أَيْ : وَتَرْجِعُ عَشِيَّةٌ وَهِيَ مُمْتَلِثَةُ الأَجْوَافِ فذَكَرَ أَنَّهَا تَغْدُوْ وَتَرُوْحُ فِي طَلَبِ الرِّزْقِ ، وَالْمَعْنَى : لَوِ اعْتَمَدْتُمْ عَلَى اللَّهِ فِي ذَهَابِكُمْ وَمَجِيْنِكُمْ وَتَصَرُّفِكُمْ ، وَعَلِمْتُمْ أَنَّ الْخَيْرَ بِيَدِهِ لَمْ تَنْصَرِفُوا إِلَّا غَانِمِيْنَ سَالِمِينَ ، وَلأَغْنَاكُمُ التَّوَكُلُ عَلَى اللَّهِ عَنِ الأَدْخَارِ كَالطَّيْرِ ، لَكِنَّكُمْ أَعْتَمَدْتُمْ عَلَى قُوَّتِكُمْ وَكَسْبِكُمْ ، وَهذَا يُنَافِي التَّوَكَّلَ وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ أَشَدَّ الْخَلْقِ تَوَكَّلًا الطيرُ ، وَطَمَعًا النَّمْلُ .
Perkataan: "At-Tawakkul," yaitu teguhnya kepercayaan hati kepada Al-Wakil Yang Maha Benar, sekira hati menjadi tenang dari kegoncangan saat sebab-sebab tidak ditemukan karena percaya kepada Dzat Pencipta Sebab. Dan dari Uwais Al-Qarni, bahwasanya beliau berkata: "Sekiranya engkau menyembah Allah seperti ibadahnya penduduk langit dan bumi, ibadah itu tidak akan diterima darimu sampai engkau merasa tenang dengan apa yang telah Allah jamin dari urusan rezekimu, dan engkau jadikan tubuhmu fokus sepenuhnya untuk beribadah kepada-Nya." Allah Ta'ala berfirman: "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang beriman." (QS. Al-Maidah: 23). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar (perut kosong), dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang (perut terisi penuh)." Maka Nabi menyebutkan bahwa burung itu pergi dan pulang untuk mencari rezeki, dan maknanya adalah: Jika kalian bersandar kepada Allah dalam keberangkatan, kepulangan, dan segala aktivitas kalian, serta kalian yakin bahwa kebaikan ada di tangan-Nya, niscaya kalian tidak akan pulang melainkan dalam keadaan beruntung dan selamat, dan sungguh tawakal kepada Allah akan mencukupkan kalian sehingga tidak perlu menimbun harta seperti burung, akan tetapi kalian justru bersandar pada kekuatan dan usaha kalian sendiri, dan hal ini menodai hakikat tawakal. Dan diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa makhluk yang paling kuat tawakalnya adalah burung, sedangkan yang paling rakus adalah semut.
رَدُّ الإِمَامِ أَحْمَدَ عَلَى مَنْ تَرَكَ الْكَسْبَ وَمَفْهُومُ التَّفْوِيْضِ
وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِالتَّوَكلِ تَرْكُ الْكَسْبِ بِالْكُلِّيَّةِ ، وَسُئِلَ الإِمَامُ أَحْمَدُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَجُلٍ جَلَسَ فِي بَيْتِهِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ وَقَالَ : لَا أَعْمَلُ شَيْئًا حَتَّى يَأْتِيَنِيْ رِزْقِيْ فَقَالَ : هَذَا رَجُلٌ جَهِلَ الْعِلْمَ ، فَقَدْ قَالَ ﷺ : « إِنَّ اللهَ جَعَلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلَّ رُمْحِيْ » [ مسند أحمد ] أي : الرُّمْحُ سَبَبُ لِتَحْصِيلِ الرِّزْقِ ، وَمُرَادُهُ أَنَّ مُعْظَمَ الرِّزْقِ كَانَ مِنَ الْغَنَائِمِ ، وَإِلَّا فَقَدْ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ جِهَاتٍ أُخَرَ غَيْرِ الرُّمْحِ . ذَكَرَهُ السُّحَيْمِيُّ . قَوْلُهُ : التَّفْوِيْضُ ، هُوَ : التَّسْلِيمُ للَّهِ فِي جَمِيعِ أُمُوْرِهِ ، وَهُوَ أَعْلَى مِنَ التَّوَكُلِ . قَالَ الْغَزَالِيُّ : وَهُوَ إِرَادَةُ أَنْ يَحْفَظَ اللَّهُ عَلَيْكَ مَصَالِحَكَ فِيْمَا لَا تَأْمَنُ فِيْهِ الْخَطَرَ . وَضِدُّ التَّفْوِيْضِ الطَّمَعُ
Dan bukanlah yang dimaksud dengan tawakal itu meninggalkan usaha secara total. Imam Ahmad radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang seseorang yang duduk saja di rumahnya atau di masjid sambil berkata: "Aku tidak akan bekerja sedikitpun sampai rezekiku datang sendiri." Maka beliau menjawab: "Orang ini bodoh masalah ilmu agama, karena Nabi ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku'." [Musnad Ahmad]. Maksudnya: Tombak adalah sebab untuk menghasilkan rezeki. Maksud beliau adalah bahwa sebagian besar rezeki berasal dari ghanimah, kalau tidak maka beliau makan dari sumber lain selain tombak. Hal ini disebutkan oleh Al-Suhaimi. Perkataan Mushannif: "Al-Tafwid", yaitu: Berserah diri kepada Allah dalam segala urusan, dan ini derajatnya lebih tinggi dari tawakal. Imam Al-Ghazali berkata: Tafwid adalah keinginan agar Allah menjaga kemaslahatanmu dalam perkara yang engkau tidak merasa aman dari bahaya di dalamnya. Lawan dari Tafwid adalah tamak.
تَعْرِيفُ الصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا
قَوْلُهُ : الصَّبْرُ ، وَهُوَ : حَبْسُ النَّفَسِ عَلَى الْمَشَاقٌ وَعَنِ الْجَزَعِ . قَالَ الْعَلْقَمِيُّ : الصَّبْرُ حَبْسُ النَّفَسِ عَلَى كَرِيْهِ تَتَحَمَّلُهُ ، وَعَنْ لَذِيْذٍ تُفَارِقُهُ قَوْلُهُ : الرِّضَا ، وَهُوَ : غِنَى الْقَلْبِ بِمَا قُسِمَ . وَقَالَ الْعُلَمَاءُ : الرِّضَا تَرْكُ السَّخَطِ ، وَالسَّخَطُ : ذِكْرُ غَيْرِ مَا قَضَى اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ أَوْلَى بِهِ وَأَصْلَحُ فِيْمَا لَا يُتَيَقَّنُ صَلَاحُهُ وَفَسَادُهُ رُوِيَ أَنَّهُ تَعَالَى قَالَ : « مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي، وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِي ، وَلَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَائِي، فَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ» قَوْلُهُ : الزُّهْدُ ، هُوَ : أَنْ لَا يَكُوْنَ بِمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا عِنْدَ اللهِ ، وَلَيْسَ slot الزُّهْدُ هُوَ تَرْكُ الْحَلَالِ وَإِضَاعَةُ الْمَالِ
Perkataan Mushannif: "Al-Sabru", yaitu: Menahan diri atas kesulitan-kesulitan dan dari sifat berkeluh kesah. Al-Alqami berkata: Sabar adalah menahan diri atas hal yang tidak disukai yang engkau tanggung, dan dari hal yang lezat yang engkau tinggalkan. Perkataan Mushannif: "Al-Rida", yaitu: Merasa cukupnya hati dengan apa yang telah dibagikan. Para ulama berkata: Ridha adalah meninggalkan sifat benci. Sedangkan Sakhat (benci) adalah menyebutkan selain apa yang telah Allah tetapkan dengan menganggap bahwa hal lain itu lebih utama dan lebih baik, dalam perkara yang belum dipastikan baik atau buruknya. Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketetapan-Ku, tidak sabar atas ujian-Ku, dan tidak bersyukur atas nikmat-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku." Perkataan Mushannif: "Al-Zuhdu", yaitu: Seseorang tidak lebih percaya pada apa yang ada di tangan manusia daripada apa yang ada di sisi Allah. Dan bukanlah zuhud itu berarti meninggalkan yang halal dan menyia-nyiakan harta.
فَضْلُ الزُّهْدِ وَأَرْكَانُ التَّوْبَةِ الثَّلَاثَةِ وَالرَّابِعِ
وَفِي الْحَدِيْثِ : « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُوْنَ أَكْرَمَ النَّاسِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُوْنَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُوْنَ أَغْنَى النَّاسِ فَلْيَكُن alignment بِمَا فِي يَدَيِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِهِ » وَفِي مُخْتَصَرِ مِنْهَاجِ الْعَابِدِينَ رُوِيَ : « رَكْعَتَانِ مِنْ رَجُلٍ عَالِمٍ زَاهِدٍ قَلْبُهُ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عِبَادَةِ الْمُتَعَبَّدِينَ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ أَبَدًا وَسَرْمَدًا » قَوْلُهُ : وَالتَّوْبَةُ ، وَلَهَا ثَلَاثَةُ أَرْكَانِ : الأَوَّلُ : الإِفْلَاعُ عَنِ الذَّنْبِ ، فَلَا يَصِحُ تَوْبَةُ الْمَكَّاسِ مَثَلًا إِلَّا إِذَا أَقْلَعَ عَنِ الْمَكْسِ . وَالثَّانِي : النَّدَمُ عَلَى فِعْلِهَا لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالثَّالِثُ : الْعَزْمُ عَلَى أَنْ لَا يَعُوْدَ إِلَىٰ مِثْلِهَا أَبَدًا ، وَهَذَا إِنْ لَمْ تَتَعَلَّقِ الْمَعْصِيَةُ بِالَّا دَمِيِّ، فَإِنْ تَعَلَّقَتْ بِهِ فَلَهَا شَرْطٌ رَابِعٌ ، وَهُوهُ : رَدُّ الظُّلَامَةِ إِلَى صَاحِبِهَا ، أَوْ تَحْصِيْلُ الْبَرَاءَةِ مِنْهُ تَفْصِيلًا لَا إِجْمَالًا
Dan dalam hadis disebutkan: "Barangsiapa yang senang ingin menjadi manusia paling mulia, bertakwalah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dan barangsiapa yang senang ingin menjadi manusia paling kuat, bertawakallah kepada Allah. Dan barangsiapa yang senang ingin menjadi manusia paling kaya, maka hendaknya ia lebih percaya pada apa yang ada di 'tangan' Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri". Dan di dalam kitab Mukhtashar Minhajil 'Abidin diriwayatkan: "Dua rakaat dari seorang laki-laki yang alim, yang zuhud hatinya, itu lebih baik dan lebih dicintai Allah Ta'ala daripada ibadahnya ahli-ahli ibadah sampai akhir masa selama-lamanya". Perkataan Mushannif: "Dan Tobat". Dan tobat itu punya tiga rukun. Pertama: Melepaskan diri dari dosa tersebut. Maka tidak sah tobatnya pemungut cukai (pungli) misalnya, kecuali jika ia berhenti dari punglinya. Kedua: Menyesali perbuatan dosa tersebut karena Allah Ta'ala. Ketiga: Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan serupa selamanya. Dan ini jika maksiatnya tidak berkaitan dengan hak manusia. Jika berkaitan dengan manusia, maka ada syarat keempat, yaitu: Mengembalikan barang kezaliman kepada pemiliknya, atau mendapatkan pembebasan (maaf) darinya secara rinci, bukan secara global saja.
فَائِدَةُ الإِمَامِ الْغَزَالِيِّ فِي دُعَاءِ الشِّدَّةِ وَالتَّضَرُّعِ
فَائِدَةٌ : قَالَ الْغَزَالِيُّ : وَجُمْلَةُ الأَمْرِ أَنَّكَ إِذَا بَرَّأْتَ قَلْبَكَ مِنَ الذُّنُوْبِ كُلِّهَا بِأَنْ تُوَطِّنَهُ عَلَى أَنْ لَا تَعُوْدَ إِلَى ذَنْبٍ أَبَدًا ، وَتَنْدَمَ عَلَى مَا مَضَى ، وَتَقْضِيَ الْفَوَائِتَ بِمَا تَقْدِرُ عَلَيْهِ ، وَتُرْضِيَ الْخُصُوْمَ بِمَا أَمْكَنَكَ بِأَدَاءِ وَاسْتِحْلَالٍ ، وَتَرْجِعَ إِلَى اللهِ تَعَالَى . تَذْهَبُ ، فَتَغْسِلُ ثِيَابَكَ ، وَتُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، وَتَضَعُ جَبْهَتَكَ بِالْأَرْضِ فِي مَوْضِعِ خَالٍ ، ثُمَّ تَجْعَلُ التَّرَابَ عَلَى رَأْسِكَ ، وَتُمَرِّغُ وَجْهَكَ فِي التَّرَابِ بِدَمْعِ جَارٍ وَقَلْبٍ حَزِيْنٍ وَصَوْتٍ عَالٍ ، وَتَذْكُرُ ذُنُوْبَكَ وَاحِدًا وَاحِدًا مَا أَمْكَنَكَ ، وَتَلُوْمُ نَفْسَكَ عَلَيْهَا ، وَتَقُوْلُ : أَمَا تَسْتَحِيْنَ يَا نَفْسُ ؟ أَمَا آنَ لَكِ أَنْ تَتُوْبِي ؟ أَلَكِ طَاقَةٌ بِعَذَابِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ ؟ أَلَكِ حَاجَةٌ ؟ ؛ وَتَذْهَبُ تَبْكِيْ ، ثُمَّ تَرْفَعُ يَدَيْكَ إِلَى الرَّبِّ الرَّحِيمِ سُبْحَانَهُ . وَتَقُوْلَ : إِلَهِي ! عَبْدُكَ آلَابِقُ رَجَعَ إِلَى بَابِكَ ، عَبْدُكَ الْعَاصِيْ رَجَعَ إِلَى الصُّلْحِ ، عَبْدُكَ الْمُذْنِبُ أَتَاكَ بِالْعُذْرِ فَاعْفُ عَنِّي بِجُوْدِكَ ، وَتَقَبَّلْ مِنِّي بِفَضْلِكَ ، وَانْظُرْ إِلَيَّ بِرَحْمَتِكَ ؛ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا سَلَفَ مِنَ الذُّنُوبِ ، وَاعْصِمْنِيْ فِيْمَا بَقِيَ مِنَ الْأَجَلِ ، فَإِنَّ الْخَيْرَ كُلَّهُ بِيَدِكَ ، وَأَنْتَ بِنَا رَؤُوْفٌ رَحِيمٌ ثُمَّ تَدْعُوْ دُعَاءَ الشِّدَّةِ ، وَهُوهُ : يَا مُجَلِّي عَظَائِمَ الأُمُوْرِ ، يَا مُنْتَهَى هِمَّةِ الْمَهْمُوْمِينَ ، يَا مَنْ إِذَا أَرَادَ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُوْلُ لَهُ : كُنْ فَيَكُوْنُ ، أَحَاطَتْ بِنَا ذُنُوبُنَا ، وَأَنْتَ الْمَدْخُوْرُ لَهَا يَا مَدْخُوْرًا لِكُلِّ شِدَّةً ، كُنْتُ أَدَّخِرُكَ لِهَذِهِ السَّاعَةِ ، فَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . ثُمَّ تُكْثِرُ مِنَ الْبُكَاءِ وَالتَّذَلُّلِ ، وَتَقُوْلُ : يَا مَنْ لَا يَشْغَلُهُ سَمْعٌ عَنْ سَمْعِ ، وَلَا تَشْتَبِهُ عَلَيْهِ الْأَصْوَاتُ ، يَا مَنْ لَا تُغَلِّطُهُ الْمَسَائِلُ ، وَلَا تَخْتَلِفُ عَلَيْهِ اللُّغَاتُ ؛ يَا مَنْ لَا يُبْرِمُهُ إِلْحَاحُ الْمُلِحِيْنَ ، أَذِقْنَا بَرْدَ عَفْوِكَ ، وَحَلَاوَةَ مَغْفِرَتِكَ ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . ثُمَّ تُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَتَسْتَغْفِرُ لِجَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَتَرْجِعُ إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ جَلَّ جَلَالُهُ ، فَتَقُولُ : قَدْ تُبْتُ تَوْبَةً نَصُوحًا ، وَصِرْتُ طَاهِرًا مِنَ الذُّنُوْبِ ، وَلَكَ مِنَ الْأَجْرِ وَالرَّحْمَةِ مَا لَا يُحْصَى ؛ وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
Faedah: Imam Al-Ghazali berkata: Kesimpulan urusannya adalah jika engkau telah membersihkan hatimu dari seluruh dosa dengan cara menetapkannya untuk tidak kembali pada dosa selamanya, menyesali masa lalu, mengqadha kewajiban yang terlewat semampumu, serta meridhai (menyelesaikan urusan) dengan lawan-lawanmu sebisa mungkin baik dengan membayar hak atau meminta kehalalan, dan engkau kembali kepada Allah Ta’ala. Engkau pergi, lalu mencuci pakaianmu, shalat empat rakaat, dan meletakkan keningmu di tanah di tempat yang sepi. Kemudian engkau letakkan tanah di atas kepalamu, dan engkau lumurkan wajahmu di tanah dengan air mata yang mengalir, hati yang sedih, serta suara yang keras, dan engkau sebutkan dosa-dosamu satu per satu semampumu, sambil mencela dirimu sendiri atas dosa tersebut, dan engkau berkata: "Tidakkah engkau malu wahai nafsu? Bukankah sudah saatnya bagimu untuk bertobat? Apakah engkau punya kekuatan untuk menahan azab Allah Subhanahu wa Ta'ala? Apakah engkau punya keperluan?" Dan engkau sebutkan yang seperti ini sebanyak-banyaknya sambil menangis, kemudian engkau angkat kedua tanganmu kepada Tuhan Yang Maha Penyayang Subhanahu wa Ta'ala. Dan engkau berkata: "Tuhanku! Hamba-Mu yang kabur telah kembali ke pintu-Mu, hamba-Mu yang bermaksiat telah kembali untuk berdamai, hamba-Mu yang berdosa telah mendatangi-Mu dengan permohonan maaf. Maka maafkanlah aku dengan kedermawanan-Mu, terimalah dariku dengan karunia-Mu, dan lihatlah kepadaku dengan rahmat-Mu. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu, dan jagalah aku di sisa umurku, karena sesungguhnya segala kebaikan ada di tangan-Mu, dan Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kami." Kemudian engkau berdoa dengan "Doa Syiddah" (saat genting), yaitu: "Wahai Dzat yang menyingkap urusan-urusan besar, wahai puncak harapan orang-orang yang berduka, wahai Dzat yang jika menghendaki sesuatu hanya berfirman: Jadilah! Maka jadilah ia. Dosa-dosa kami telah mengepung kami, dan Engkaulah simpanan untuk itu. Wahai Simpanan bagi setiap kesulitan, aku simpan-Mu untuk saat ini, maka terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." Kemudian engkau perbanyak menangis dan menghinakan diri, dan engkau berkata: "Wahai Dzat yang tidak disibukkan oleh satu pendengaran dari pendengaran lainnya, dan tidak bercampur aduk bagi-Nya berbagai macam suara. Wahai Dzat yang tidak dibuat salah oleh berbagai pertanyaan, dan tidak pula dibuat bingung oleh perbedaan bahasa. Wahai Dzat yang tidak merasa terganggu oleh desakan orang-orang yang meminta dengan sangat. Rasakanlah kepada kami sejuknya maaf-Mu dan manisnya ampunan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Kemudian engkau bershalawat kepada Nabi ﷺ dan memohonkan ampun bagi seluruh mukmin laki-laki dan perempuan, lalu engkau kembali kepada ketaatan Allah Jalla Jalaluhu, maka engkau berkata: "Ane benar-benar telah bertobat dengan tobat yang semurni-murninya, dan Ane telah menjadi suci dari dosa-dosa." Dan bagimu pahala serta rahmat yang tidak terhitung. Dan Allah-lah Dzat yang memberi taufik.
فَرْعٌ فِي دُعَاءِ ابْنِ أُبَيَّ لِقُوَّةِ الإِيْمَانِ وَالإِسْتِجَابَةِ
فَرْعٌ : حُكِيَ أَنَّ ابْنَ أُبَيَّ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ ، فَقَالَ : ادْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَقَدِّمُهُ فِي أَوَّلِ دُعَائِكَ ، ثُمَّ تَدْعُوْ بَعْدَهُ بِمَا شِئْتَ يُسْتَجَابُ لَكَ بِهِ ، وَمَنْ دَعَا بِهِ قَوِي إِيْمَانُهُ ، وَهُوهَذَا : اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ، وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ؛ اللَّهُمَّ لَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ ، وَلَا هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ ، وَلَا مُشْقِيَ لِمَنْ أَسْعَدْتَ ، وَلَا مُسْعِدَ لِمَنْ أَشْفَيْتَ ، وَلَا مُعِزَّ لِمَنْ أَذْلَلْتَ ، وَلَا مُذِلَّ لِمَنْ أَعْزَزْتَ ، وَلَا رَافِعَ لِمَنْ خَفَضْتَ ، وَلَا خَافِضَ لِمَنْ رَفَعْتَ ؛ اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِمَا أَمَرْتَنَا ، وَوَفٌ لَنَا بِمَا ضَمِنْتَ لَنَا مِنْ خَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَقَوْ يَقِيْنَنَا فِيمَا رَجَيْتَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى أَعْدَائِنَا فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ ، وَأَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بِمَا سَأَلَكَ بِهِ خَلِيْلُكَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ النُّوْرِ وَالْيَقِيْنِ ، وَمَا سَأَلَكَ بِهِ سَيِّدُنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٌ ﷺ مِنَ النَّصْرِ وَالتَّوْفِيقِ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .
Cabang: Diceritakan bahwa Ibnu Ubay melihat Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: "Berdoalah dengan doa ini dan dahulukanlah di awal doamu, kemudian berdoalah setelahnya dengan apa yang kau mau niscaya akan dikabulkan bagimu. Dan barangsiapa berdoa dengannya maka kuatlah imannya." Yaitu: "Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau beri, tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau halangi, tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau putuskan, dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya dari-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menyesatkan bagi orang yang Engkau beri petunjuk, tidak ada pemberi petunjuk bagi yang Engkau sesatkan. Tidak ada yang bisa menyengsarakan bagi orang yang Engkau beri kebahagiaan, tidak ada yang bisa membahagiakan bagi orang yang Engkau beri kesengsaraan. Tidak ada yang bisa memuliakan bagi orang yang Engkau hinakan, tidak ada yang bisa menghinakan bagi orang yang Engkau muliakan. Tidak ada yang bisa mengangkat bagi orang yang Engkau rendahkan, dan tidak ada yang bisa merendahkan bagi orang yang Engkau mengangkat. Ya Allah, tunjukilah kami kepada apa yang Engkau perintahkan kepada kami, penuhilah bagi kami apa yang Engkau jamin bagi kami dari kebaikan dunia dan akhirat. Kuatkanlah keyakinan kami pada apa yang Engkau janjikan kepada kami. Tolonglah kami atas musuh-musuh kami baik secara lahir maupun batin. Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, dengan apa yang diminta oleh kekasih-Mu Ibrahim 'alaihis salam berupa cahaya dan keyakinan, dan apa yang diminta oleh tuan kami dan pemimpin kami Muhammad ﷺ berupa pertolongan dan taufik. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
فَائِدَةٌ فِي حَدِيثِ نَفْيِ الْهَمِّ وَالْغَمِّ وَالْحُزْنِ وَتَفْسِيرِ أَلْفَاظِهِ
مَاصٍ فِيَّ حُكْمُكَ ، نَافِةٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَنُوْرَ بَصَرِي ، وَجَلَاءَ حُزْنِي ، وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغَمِّي ؛ إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ حُزْنَهُ وَهَمَّهُ وَغَمَّهُ ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا » ، أَيْ : وُسْعًا وَخَلَاصًا [ مسند أحمد ] قَوْلُهُ : « اسْتَأْثَرْتَ بِهِ » ، أَيْ : أَنْفَرَدْتَ بِالاسْمِ مِنْ غَيْرِ مُشَارِكِ لَكَ فِيهِ . قَوْلُهُ : « رَبِيعَ قَلْبِي » ، أَيْ : مَطَرُ قَلْبِي قَوْلُهُ : « جَلَاءَ حُزْنِي بِفَتْحِ الْجِيْمِ وَبِالْمَدِّ ، أَيْ : كَشْفَ حُزْنِي قَوْلُهُ : « هَمِّي » ، أَلْهَمُ : أَوَّلُ الْمَشَقَّةِ ، أَوْ مَا يُصِيبُ الشَّخْصَ مِنْ مَكْرُوْهِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ؛ وَالْغَمُ : الْحَيْرَةُ وَالإِشْكاَلُ ، أَوِ الْكَرْبُ ، وَهُوهُ : مَا شَقَّ عَلَيْهِ حَتَّى مَلاً صَدْرَهُ غَيْظًا ، وَقِيلَ : الْهَمُ مَا تَعَلَّقَ بِالْمَاضِي ، وَالْغَمُ مَا تَعَلَّقَ بِالْمُسْتَقْبَلِ وَقَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : الْهَمُّ مَا يَتَعَلَّقُ بِمَا يَكُوْنُ بِالْمُسْتَقْبَلِ ، وَالْحُزْنُ مَا يَتَعَلَّقُ بِمَا كَانَ فِي الْمَاضِيْ . أَنْتَهَى .
Faedah: Dan di dalam hadis disebutkan: "Tidaklah seorang hamba tertimpa kegelisahan (hamm), kesedihan (ghamm), atau kedukaan (huzn), lalu ia berdoa: 'Ya Allah, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu adil padaku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib di sisi-Mu; agar Engkau menjadikan Al-Qur'an yang agung sebagai penyegar hatiku, cahaya pandanganku, pelipur duka citaku, dan penghilang kegelisahan serta kesedihanku'; melainkan Allah akan menghilangkan kedukaan, kegelisahan, dan kesedihannya, dan Allah gantikan tempatnya dengan kelapangan (faraj)', artinya: keluasan dan kebebasan. [Musnad Ahmad]. Perkatannya: 'Ista'tsarta bihi', artinya: Engkau menyendiri dengan nama tersebut tanpa ada yang menyertai-Mu di dalamnya. Perkatannya: 'Rabi'a qalbi', artinya: Hujan bagi hatiku. Perkatannya: 'Jala-a huzni' (dengan fathah pada huruf jim dan mad), artinya: Penyingkap kedukaanku. Perkatannya: 'Hammi', Al-Hamm adalah: Awal dari kesulitan, atau apa yang menimpa seseorang berupa hal buruk di dunia dan akhirat. Al-Ghamm adalah: Kebingungan dan kerumitan, atau kesesakan hati, yaitu apa yang memberatkannya hingga memenuhi dadanya dengan amarah. Dan dikatakan: Hamm adalah apa yang berkaitan dengan masa lalu, sedangkan Ghamm adalah apa yang berkaitan dengan masa depan. Syekh Asy-Syarqawi berkata: Al-Hamm adalah apa yang berkaitan dengan masa depan, sedangkan Al-Huzn adalah apa yang berkaitan dengan masa lalu. Selesai.
LIHAT SYARH NYABLAK & ANALISIS KASUS KAJIAN
Dengerin nih Jemaah... Jangan ampe keder melintir dengerin omongan orang soal tawakal. Syekh Nawawi Banten udeh negesin lewat riwayat Imam Ahmad, yang namanya tawakal itu bukannye Ente diem bae di masjid kaga mau usaha nyari duit sambil nunggu rezeki jatoh dari langit, itu namanye tulul kaga paham ilmu agama! Burung aja terbang dari sangkar pagi-pagi nyari makan, baru sore pulang kenyang. Jadi kudu ada ikhtiar zahir, baru batinnye pasrah total (tafwidh) ama Allah.
فَصْلٌ فِي بَيَانِ بُلُوْغِ الْمُرَاهِقِ وَالْمُعْصِرِ. عَلَامَاتُ الْبُلُوغِ ثَلَاثُ فِي حَقِّ الْأُنْثَى ، وَاثْنَانِ فِي حَقِّ الذَّكَرِ. أَحَدُهَا : تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةٌ قَمَرِيَّةٌ تَحْدِيدِيَّةٌ بِاتَّفَاقِ فِي الذَّكَرِ وَالْأُنثَى ، وَابْتِدَاؤُهَا مِنِ انْفِصَالِ جَمِيعِ الْبَدَنِ. وَثَانِيهَا : الاحْتِلَامُ ، أَيْ : الإِمْنَاءُ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجُ الْمَنِيُّ مِنَ الذَّكَرِ ، كَأَنْ أَحَسَّ بِخُرُوجِهِ فَأَمْسَكَهُ ، وَسَوَاءٌ خَرَجَ مِنْ طَرِيقِهِ الْمُعْتَادِ أَوْ غَيْرِهِ مَعَ أَنْسِدَادِ الأَصْلِيِّ ، وَسَوَاءٌ كَانَ فِي نَوْمٍ أَوْ يَقَظَةٍ بِجَمَاعٍ أَوْ غَيْرِهِ. فِي الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ قَمَرِيَّةٌ تَحْدِيدِيَّةٌ عِنْدَ الْبَيْجُوْرِي وَالشَّرْبِيْنِي ، وَالَّذِي اعْتَمَدَهُ ابْنُ حَجَرٍ وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ أَنَّهَا تَقْرِينِيَّةٌ ، وَنَقَلَ عَبْدُ الْكَرِيمِ عَنِ الرَّمْلِي أَنَّهَا تَقْرِيبِيَّةٌ فِي الْأُنْثَى ، وَتَحْدِيدِيَّةٌ فِي الذَّكَرِ. وَثَالِثُهَا : الْحَيْضُ فِي حَقِّ الْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ تَقْرِيبِيَّةٌ ، بِأَنْ كَانَ نَقْصُهَا أَقَلَّ مِنْ سِتَّةَ عَشَرَ يَوْمًا وَلَوْ بِلَحْظَةٍ ، وَأَمَّا حَبَلُهَا فَلَيْسَ بُلُوْغًا ، بَلْ عَلَامَةٌ عَلَى بُلُوْعِهَا بِالإِمْنَاءِ قَبْلَهُ. وَأَمَّا الْخُنْثَى فَحُكْمُهُ أَنَّهُ إِنْ أَمْنَى مِنْ ذَكَرِهِ وَحَاضَ مِنْ فَرْجِهِ حُكِم بِبُلُوغِهِ ، فَإِنْ وُجِدَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا مِنْ أَحَدِ فَرْجَيْهِ فَلَا يُحْكَمُ بِبُلُوغِهِ.
Pasal dalam menjelaskan balighnya remaja laki-laki dan remaja perempuan. Tanda-tanda baligh itu ada tiga bagi perempuan, dan dua bagi laki-laki. Pertama: Sempurnanya umur lima belas tahun Qamariyah secara tepat (tahdidiyah) menurut kesepakatan ulama bagi laki-laki dan perempuan, dan (hitungan) permulaannya adalah sejak terpisahnya seluruh anggota badan (saat lahir). Kedua: Ihtilam, yaitu keluarnya mani (imna') meskipun mani tersebut tidak sampai keluar dari kemaluan, seperti jika ia merasa akan keluar lalu ia menahannya. Baik keluarnya dari jalan yang biasa atau jalan lain karena tersumbatnya jalan yang asli, dan baik dalam keadaan tidur atau terjaga karena hubungan intim atau lainnya. (Ihtilam) pada laki-laki dan perempuan itu pada usia sembilan tahun Qamariyah secara tepat (tahdidiyah) menurut Al-Baijuri dan Asy-Syarbiny. Sedangkan yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan Syaikhul Islam adalah secara perkiraan (taqribiyah). Dan Abdul Karim menukil dari Ar-Ramli bahwa itu bersifat perkiraan bagi perempuan dan tepat bagi laki-laki. Dan ketiga: Haid bagi perempuan pada usia sembilan tahun secara perkiraan (taqribiyah), sekiranya kurangnya usia itu dari sembilan tahun adalah kurang dari enam belas hari meskipun hanya sekejap. Adapun hamilnya perempuan bukanlah tanda baligh (itu sendiri), melainkan tanda bahwa ia sudah baligh melalui keluarnya mani (imna') sebelum hamil tersebut. Adapun Khunsa (orang berkelamin ganda), maka hukumnya adalah jika ia mengeluarkan mani dari kemaluan laki-lakinya dan haid dari kemaluannya (perempuan), maka dihukumi baligh. Namun jika salah satu (mani/haid) atau keduanya ditemukan hanya dari salah satu kemaluannya (saja), maka belum dihukumi baligh (secara pasti sebagai laki-laki atau perempuan).
وَإِنَّمَا ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ أَوَّلَ مَسْأَلَةٍ فِي الْفِقْهِ عَلَامَاتُ الْبُلُوغِ لِأَنَّ مَنَاطَ التكليفِ عَلَى الْبَالِغِ دُوْنَ الصَّبِيِّ وَالصَّبِيَّةِ ، لَكِنْ يَجِبُ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ عَلَى أَصْلِهِمَا الذُّكُورِ وَالإِنَاثِ أَنْ يَأْمُرَهُمَا بِالصَّلَاةِ وَمَا تَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ ، كَوُضُوْءٍ وَنَحْوِهِ بَعْدَ اسْتِكْمَالِهِمَا سَبْعَ سِنِيْنَ إِذَا مَيَّزَا. وَحَدُّ التَّمْبِينِ هُو أَنْ يَصِيْرًا بِحَيْثُ يَأْكُلَانِ وَحْدَهُمَا وَيَشْرَبَانِ وَحْدَهُمَا ، وَيَسْتَنْجِيَانِ وَحْدَهُمَا فَلَا يَجِبُ الأَمْرُ إِذَا مَيَّزَ قَبْلَ السَّبْعِ بَلْ يُسَنُّ. وَأَنْ يَأْمُرَهُمَا أَيْضًا بِشَرَائِعِ الدِّيْنِ الظَّاهِرَةِ ، نَحْوَ الصَّوْمِ إِذَا أَطَاقَا ، وَلَا بُدَّ مَعَ صِيْغَةِ الْأَمْرِ مِنَ التَّهْدِيدِ ، كَأَنْ يَقُولَ لَهُمَا : صَلَّيَا وَإِلَّا ضَرَبْتُكُمَا. وَأَنْ يُعَلِّمَهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وُلِدَ بِمَكَّةَ ، وَأُرْسِلَ فِيْهَا ، وَمَاتَ فِي الْمَدِينَةِ ، وَدُفِنَ فِيْهَا. وَيَجِبُ أَيْضًا أَنْ يَضْرِبَهُمَا عَلَى تَرْكِ ذَلِكَ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فِي أَثْنَاءِ الْعَاشِرَةِ بَعْدَ كَمَالِ التَّسْعِ لِاحْتِمَالِ الْبُلُوغِ فِيْهِ. وَلِلْمُعَلِّمِ أَيْضًا الْأَمْرُ لَا الضَّرْبُ إِلَّا بِإِذْنِ الْوَلِيِّ ، وَمِثْلُهُ الزَّوْجُ فِي زَوْجَتِهِ ، فَلَهُ الْأَمْرُ لَا الضَّرْبُ إِلَّا بِإِذْنِ الْوَلِي ، وَالسِّوَاكُ كَالصَّلَاةِ فِي الأَمْرِ وَالضَّرْبِ ، وَحِكْمَةُ ذَلِكَ التَّمْرِينُ عَلَى الْعِبَادَةِ لِيَعْتَادَهَا ، فَلَا يَتْرُكَهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
Mushannif menyebutkan masalah tanda-tanda baligh di awal pembahasan fiqh karena beban syariat (taklif) itu adanya pada orang baligh, bukan anak-anak. Akan tetapi, wajib secara fardu kifayah bagi kedua orang tua (ayah dan ibu) untuk memerintahkan anak-anaknya shalat dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti wudhu, setelah mereka sempurna umur tujuh tahun jika sudah tamyiz. Batasan tamyiz adalah sekiranya anak tersebut sudah bisa makan sendiri, minum sendiri, dan istinja (cebok) sendiri. Maka tidak wajib memerintahkannya (shalat) jika sudah tamyiz sebelum usia tujuh tahun, melainkan hanya sunnah. Orang tua juga wajib memerintahkan anak pada syariat agama yang tampak, seperti puasa jika mereka mampu. Dan dalam kalimat perintah tersebut harus disertai ancaman, seperti: "Shalatlah kalian, kalau tidak nanti ayah pukul". Orang tua wajib mengajarkan anak bahwa Nabi ﷺ lahir di Mekah, diutus di sana, wafat di Madinah, dan dimakamkan di sana. Wajib juga memukul anak karena meninggalkan shalat dengan pukulan yang tidak melukai (tidak membahayakan) saat memasuki usia sepuluh tahun (setelah lewat sembilan tahun), karena ada kemungkinan anak tersebut sudah baligh di usia itu. Guru juga boleh memerintah, tapi tidak boleh memukul kecuali atas izin wali. Begitu juga suami kepada istrinya, boleh memerintah tapi tidak boleh memukul (soal ibadah) kecuali izin wali (istrinya). Bersiwak pun sama hukumnya dengan shalat dalam hal perintah dan pukulan. Hikmahnya adalah untuk latihan ibadah agar terbiasa, sehingga tidak meninggalkannya insya Allah Ta'ala.
وَأَعْلَمْ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْآبَاءِ وَالأُمَّهَاتِ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ تَعْلِيمُ أَوْلَادِهِمْ الطَّهَارَةَ وَالصَّلَاةَ وَسَائِرَ الشَّرَائِعِ ، وَمُؤْنَةُ تَعْلِيمِهِمْ فِي أَمْوَالِهِمْ إِنْ كَانَ لَهُمْ مَالٌ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي مَالِ آبَائِهِمْ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي مَالِ أُمَّهَاتِهِمْ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي بَيْتِ الْمَالِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَى أَغْنِيَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَائِدَةٌ : إِذَا قِيْلَ لَكَ : لِمَ وَجَبَ عَلَى الصَّبِيِّ غَرَامَةُ الْمُتْلَفَاتِ ، وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاءُ بِرَفْعِ الْقَلَمِ عَنْهُ ؟ قُلْتُ : الأَقْلَامُ ثَلَاثَةٌ : قَلَمُ الثَّوَابِ ، وَقَلَمُ الْعِقَابِ ، وَقَلَمُ الْمُتْلَفَاتِ ، فَقَلَمُ الثَّوَابِ مَكْتُوبٌ لَهُ ، وَقَلَمُ الْعِقَابِ مَرْفُوْعُ عَنْهُ ، وَقَلَمُ الْمُتْلَفَاتِ مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ ؛ وَمِنْهَا الدِّيَةُ ، وَكَذَلِكَ الْمَجْنُوْنُ وَالنَّائِمُ ، إِلَّا أَنَّ قَلَمَ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ مَرْفُوْعَانِ عَنْهُمَا ، وَأَمَّا الْقِصَاصُ وَالْحَدُّ فَلَا يَجِبَانِ عَلَيْهِمْ لِعَدَمِ الْتِزَامِهِمْ لِلأَحْكَامِ. قَالَ : « رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةِ : عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ » [أخرجه أبو داود ، رقم : ٤٣٩٩ ؛ الترمذي ، رقم : ١٤٢٣ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٣٠٤٢ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٩٤٣ ، ٩٥٩ ، ١١٨٧ ، ١٣٦٤]. فَالْمُرَادُ بِالْقَلَمِ فَلَمُ التَّكْلِيفِ دُوْنَ قَلَمِ الضَّمَانِ ، لِأَنَّهُ مِنْ خِطَابِ الْوَضْعِ ، فَيَجِبُ ضَمَانُ الْمُتْلَفَاتِ ، وَالدِّيَةُ عَلَيْهِمْ مِنْ مَالِهِمْ ، بِخِلَافِ الْقِصَاصِ وَالْحَدِّ.
Ketahuilah bahwa wajib atas ayah dan ibu secara fardu kifayah untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang thaharah (bersuci), shalat, dan seluruh syariat lainnya. Biaya pendidikan mereka diambil dari harta si anak jika mereka memiliki harta, jika tidak ada maka dari harta ayah mereka, jika tidak ada maka dari harta ibu mereka, jika tidak ada maka dari Baitul Mal, jika tidak ada juga maka atas orang-orang kaya Muslim. Faedah: Jika dikatakan kepadamu: "Mengapa anak kecil wajib mengganti rugi barang-barang yang dirusak, padahal ulama berkata bahwa pena (catatan amal) telah diangkat darinya?" Aku jawab: "Pena" itu ada tiga: Pena pahala, pena siksa, dan pena ganti rugi. Pena pahala tetap dicatat untuknya, pena siksa diangkat darinya, dan pena ganti rugi tetap dicatat atasnya; Dan di antaranya (pena ganti rugi) adalah denda (diat), begitu pula berlaku bagi orang gila dan orang tidur, hanya saja pena pahala dan siksa diangkat dari keduanya. Adapun qishash dan hudud tidak wajib atas mereka karena mereka tidak terikat dengan hukum-hukum tersebut. Beliau (Nabi ﷺ) bersabda: "Diangkat pena dari tiga golongan: dari orang yang tidur hingga ia bangun, dari anak kecil hingga ia bermimpi basah (baligh), dan dari orang gila hingga ia berakal." [HR. Abu Dawud no. 4399; Tirmidzi no. 1423; Ibnu Majah no. 3042; Musnad Ahmad no. 943, 959, 1187, 1364]. Maka yang dimaksud dengan "pena" (dalam hadis) adalah pena beban syariat (taklif) bukan pena ganti rugi (dhamman), karena itu termasuk hukum wadh'i. Maka wajib ganti rugi barang rusak dan denda (diat) dari harta mereka sendiri, berbeda dengan hukum qishash dan hudud.
============================فَصْلٌ فِي بَيَانِ الاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ وَهُوَ الْمُسَمَّى بِالْمُطَهِّرِ الْمُخَفِّفِ ، وَأَمَّا الْمَاءُ فَهُوَ الْمُطَهِّرُ الْمُزِيْلُ
Pasal dalam menjelaskan istinja dengan batu. Ia (batu) disebut sebagai pensuci yang meringankan, sedangkan air adalah pensuci yang menghilangkan (najis secara total).
وَيَجِبُ الاسْتِنْجَاءُ لَا عَلَى الْفَوْرِ ، بَلْ عِنْدَ خَشْيَةِ تَنْجِيْسِ غَيْرِ مَحَلِّهِ ، أَوْ إِرَادَةِ نَحْوِ الصَّلَاةِ مِنْ كُلِّ خَارِجٍ مِنَ الْفَرْجِ نَجِسٍ يُلَوِّثُ الْمَحَلَّ ١) يُغْسَلُ بِالْمَاءِ أَوْ يُمْسَحُ بِالْحَجَرِ
Wajib ber-istinja tidak secara langsung, melainkan ketika khawatir menajiskan tempat selainnya, atau ketika hendak melakukan seperti shalat. Dari setiap yang keluar dari lubang kemaluan yang najis dan mengotori tempat tersebut; 1) dicuci dengan air atau diusap dengan batu.
شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ لِمَنْ يَقْتَصِرُ عَلَيْهِ ثَمَانِيَةٌ : أَحَدُهَا : أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ ثَلَاثَةِ أَطْرَافِ حَجَرٍ ، وَلَوْ حَصَلَ الإِنْقَاءُ بِدُوْنِهَا لِقَوْلِهِ ﷺ : «وَلْيَسْتَنْجِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ» [راجع البخاري، رقم: ١٥٦؛ الترمذي رقم: ۱۷ ؛ النسائي ، رقم : ٤٢ ؛ ابن ماجه رقم: ٣١٤؛ مسند أحمد، رقم: ٣٦٧٧، ٣٩٥٦، ٤٠٤٦، ٤٢٨٤ ، ٤٤٢١] فَلَوْ لَمْ يَحْصُلْ إِلَّا بِأَكْثَرَ مِنَ الثَّلَاثَةِ وَجَبَتِ الزِّيَادَةُ عَلَيْهَا وَيُسَنُ الْإِيْتَارُ إِنْ حَصَلَ الْإِنْقَاءُ بِشَفْعِ
Syarat sahnya (istinja) dengan batu bagi orang yang mencukupkan diri dengannya ada delapan: Salah satunya: Hendaknya dengan tiga batu atau tiga sisi batu, walaupun kebersihan sudah tercapai tanpanya. Karena sabda Nabi ﷺ: "Dan hendaklah ia beristinja dengan tiga batu." [Lihat: Bukhari No: 156; At-Tirmidzi No: 17; An-Nasa'i No: 42; Ibnu Majah No: 314; Musnad Ahmad No: 3677, 3956, 4046, 4284, 4421]. Maka jika belum bersih kecuali dengan lebih dari tiga batu, wajib menambahnya. Dan disunnahkan mengganjilkannya (jumlah batu) jika kebersihan tercapai dengan jumlah genap.
وَالْأَفْضَلُ فِي الْكَيْفِيَّةِ أَنْ يَبْدَأَ بِالْأَوَّلِ مِنْ مُقَدَّمِ الصَّفْحَةِ الْيُمْنَى وَيُدِيرَهُ قَلِيلًا قَلِيْلًا إِلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ ، ثُمَّ بِالثَّانِي مِنْ مُقَدَّمِ الصَّفْحَةِ الْيُسْرَى كَذَلِكَ ، ثُمَّ يُمِرُّ الثَّالِثَ عَلَى الصَّفْحَتَيْنِ وَالْمَسْرَبَةِ جَمِيعًا
Dan yang paling utama dalam tata caranya (istinja) adalah memulai dengan (batu) pertama dari bagian depan sisi (pantat) sebelah kanan, lalu memutarnya sedikit demi sedikit sampai kembali ke tempat awal memulai. Kemudian dengan (batu) kedua dari bagian depan sisi sebelah kiri dengan cara yang sama, lalu mengusapkan (batu) ketiga pada kedua sisi tersebut dan lubang dubur (masrabah) sekaligus.
قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَالْمَسْرَبَةُ بِفَتْحِ الرَّاءِ لَا غَيْرُ : مَجْرَى الْغَائِطِ وَمَخْرَجُهُ ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِإِنْسِرَابِ الْخَارِجِ مِنْهَا ، فَهِيَ اسْمٌ لِلْمَوْضِعِ
Berkata dalam kitab "Al-Misbah": Al-Masrabah dengan harakat fathah pada huruf Ra' (tidak ada bacaan lain) adalah tempat jalannya tinja dan tempat keluarnya. Dinamakan demikian karena mengalirnya kotoran darinya, maka itu adalah nama bagi tempat tersebut.
وَثَانِيهَا : أَنْ يُنَقَّى الْمَحَلُّ ، بِحَيْثُ لَا يَبْقَى إِلَّا أَثَرٌ لَا يُزِيلُهُ إِلَّا الْمَاءُ أَوْ صِغَارُ الْخَزَفِ
Dan yang kedua (dari syarat delapan): Hendaknya tempat (najis) dibersihkan, sekiranya tidak tersisa kecuali bekas yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan air atau pecahan keramik kecil. (1) Di naskah asli tertulis: "mamsakh bil mahall".
وَثَالِثُهَا : أَنْ لَا يَجِفَّ النَّجِسُ ، لِأَنَّ الْحَجَرَ لَا يُزِيلُهُ حِينَئِذٍ ، وَقَوْلُهُ : يَجِفَّ ) بِكَسْرِ الْجِيْمِ ، مِنْ بَابِ ضَرَبَ ، وَفِي لُغَةٍ لِبَنِي أَسَدٍ بِفَتْحِهَا ، مِنْ بَابِ تَعِبَ ، فَإِنَّ جَفَّ كُلُّهُ أَوْ بَعْضُهُ تَعَيَّنَ الْمَاءُ مَا لَمْ يَخْرُجْ بَعْدَهُ خَارِجٌ آخَرُ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ وَيَصِلُ إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ الْأَوَّلُ ، وَإِنْ كَفَى ) الاسْتِنْجَاءُ بِالْحَجَرِ .
Ketiga: Najisnya tidak kering, karena batu tidak bisa menghilangkannya kalau sudah kering. Lafal "yajiffu" dengan kasrah jim (ikut wazan dharaba), menurut dialek Bani Asad dibaca "yajaffu" (ikut wazan ta'iba). Jika sudah kering semua atau sebagian, maka wajib pakai air, selama tidak ada kotoran lain yang keluar setelahnya—meskipun beda jenis—dan mengenai tempat yang kena najis pertama, jika memang itu terjadi maka cukup pakai batu lagi. (1) Begitulah naskah aslinya, mungkin maksudnya: "wa illa kafa" (kalau tidak, maka cukup), dan yang lebih jelas: "wa 'indaha kafa". (Catatan dari 'Isam).
وَرَابِعُهَا : لَا يَنْتَقِلَ ، أَيْ : عَنِ الْمَحَلَّ الَّذِي أَصَابَهُ عِنْدَ الْخُرُوجِ وَاسْتَقَرَّ فِيْهِ ، فَإِنْ كَانَ الْمُنتَقِلُ مُتَّصِلًا تَعَيَّنَ الْمَاءُ فِي الْجَمِيعِ ، أَوْ مُنْفَصِلًا تَعَيَّنَ فِي الْمُنْتَقِلِ فَقَطْ ؛ وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا أَنْ لَا يَتَقَطَّعَ ، فَإِنْ تَقَطَّعَ بِأَنْ خَرَجَ قِطَعًا فِي مَحَالٌ تَعَيَّنَ الْمَاءُ فِي الْمُتَقَطَّعِ وَأَجْزَأَ الْجَامِدُ فِي غَيْرِهِ
Keempat: Tidak berpindah, maksudnya dari tempat yang terkena saat keluar dan menetap di situ. Jika yang pindah masih nyambung, wajib pakai air untuk semuanya. Jika terpisah, maka wajib pakai air untuk bagian yang pindah saja. Disyaratkan juga tidak terputus-putus. Jika terputus-putus keluar di berbagai tempat, wajib pakai air pada yang terputus itu dan boleh pakai benda keras pada sisanya.
وَخَامِسُهَا : لَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ ، أَيْ : نَجِسٌ مُطْلَقًا ، أَوْ طَاهِرُ رَطْبٌ غَيْرُ الْعَرَقِ ، أَمَّا هُوَ وَكَذَا الطَّاهِرُ الْجَافُ ، كَحَصَاةٍ ، فَلَا يَضُرُّ ، فَإِنْ طَرَأَ عَلَيْهِ نَجِسٌ سَوَاءٌ كَانَ رَطْبًا أَوْ جَافًا أَوْ طَاهِرُ رَطْبٌ وَلَوْ مِنْ رَشَاشِ الْخَارِجِ ، تَعَيَّنَ الْمَاءُ، لِأَنَّ مَوْرِدَ النَّصُ الْخَارِجُ ، وَالْأَجْنَبِيُّ لَيْسَ فِي مَعْنَاهُ.
Kelima: Tidak kedatangan benda lain, yaitu najis secara mutlak atau benda suci yang basah selain keringat. Adapun keringat atau benda suci yang kering seperti kerikil, itu tidak apa-apa. Jika kedatangan najis (basah/kering) atau benda suci yang basah meskipun cuma percikan kotoran itu sendiri, maka wajib pakai air. Karena dalil syara' itu buat kotoran yang keluar, benda asing nggak termasuk.
وَسَادِسُهَا : لَا يُجَاوِزَ الْخَارِجُ صَفْحَتَهُ ، أَيْ : جَانِبَ دُبُرِهِ فِي الْغَائِطِ ، وَهِيَ مَا يَنْضَمُ مِنَ الأَلْيَيْنِ عِنْدَ الْقِيَامِ ، وَحَشَفَتَهُ ، أَيْ : رأْسَ ذَكَرِهِ فِي الْبَوْلِ ؛ وَتُسَمَّى أَيْضًا عِنْدَ الْعَوَامُ بِالْبَلَحَةِ ، بِفَتَحَاتٍ ، وَإِنِ انْتَشَرَ الْخَارِجُ حَوْلَ الْمَخْرَجِ فَوْقَ عَادَةِ الإِنْسَانِ مِنْ غَيْرِ انْتِقَالَ وَتَقَطَّعَ وَمُجَاوَزَةٍ ، وَمِثْلُهَا قَدْرُهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا أَوْ فَاقِدِهَا خِلْقَةٌ ، فَلَا يُجْزِئُ فِي حَشَفَةِ الْخُنْثَى
Keenam: Yang keluar tidak melewati shafhah, yaitu pinggiran anus (bagian pantat yang nempel pas kita berdiri), dan tidak melewati hasyafah, yaitu kepala penis buat air kencing. Orang awam nyebutnya "balahah" (kurma muda). Kalau kotorannya melebar di sekitar lubang melebihi biasanya tapi nggak pindah, nggak putus, dan nggak ngelewatin batas, (masih boleh pake batu). Hal yang sama berlaku buat orang yang (maaf) penisnya dipotong atau nggak punya dari lahir. Tapi nggak cukup (pake batu) buat hasyafah-nya orang khuntha (kelamin ganda).
وَلَا فِي فَرْجِهِ لِلشَّكَ فِيهِ ؛ وَيُشْتَرَطُ فِي الشَّيْبِ أَنْ لَا يَصِلَ بَوْلُهَا مَدْخَلَ الذَّكَرِ وَهُوَ تَحْتَ مَخْرَجِ الْبَوْلِ ؛ وَفِي الْبَكْرِ أَنْ لَا يُجَاوِزَ مَا يَظْهَرُ عِنْدَ قُعُوْدِهَا ، وَإِلَّا تَعَيَّنَ الْمَاءُ كَمَا يَتَعَيَّنُ فِي حَقِّ الْأَقْلَفِ إِنْ وَصَلَ بَوْلُهُ لِلْجِلْدَةِ
Dan tidak (cukup pakai batu) pada farji-nya (khuntha) karena adanya keraguan; dan disyaratkan bagi janda agar air kencingnya tidak sampai masuk ke lubang senggama, yang mana letaknya di bawah tempat keluarnya air kencing; Dan bagi gadis, (kencingnya) tidak melewati bagian yang tampak saat dia duduk, jika tidak (begitu) maka wajib pakai air, sebagaimana wajibnya air bagi orang yang belum disunat jika air kencingnya mengenai kulit kulupnya.
وَسَابِعُهَا : لَا يُصِيبَهُ مَاءٌ غَيْرُ مُطَهَّرٍ لَهُ ، وَإِنْ كَانَ طَهُورًا أَوْ مَائِعًا آخَرَ بَعْدَ الاسْتِعْمَارِ أَوْ قَبْلَهُ لِتَنَجُسِهِمَا ، وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَوِ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ مَبْلُوْلٍ لَمْ يَصِحَ اسْتِنْجَاؤُهُ ، لِأَنَّهُ يُعَلِّلُهُ بِتَنَجُسِ بِنَجَاسَةِ الْمَحَلَّ ، ثُمَّ يُنَجِّسُهُ ، فَيَتَعَيَّنُ الْمَاءُ
Ketujuh: (Najisnya) tidak terkena air yang tidak mensucikannya, meskipun itu air suci mensucikan atau cairan lain, baik setelah istinja atau sebelumnya karena keduanya bisa menjadi najis. Dari situ dipahami bahwa jika seseorang istinja dengan batu yang basah, maka tidak sah, karena batu itu menjadi najis sebab terkena tempat najis, lalu malah menajiskan tempat tersebut, sehingga wajib pakai air.
وَثَامِنُهَا : أَنْ تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً فَلَا يُجْزِئُ الاسْتِنْجَاءُ بِحَجَرٍ مُتَنَجِّسٍ .
Kedelapan: Batu-batunya harus suci, maka tidak sah istinja dengan batu yang terkena najis.
وَاعْلَمْ أَنْ كُلَّ مَا هُوَ مَقِيسٌ عَلَى الْحَجَرِ الْحَقِيقِيِّ ، وَهُوَ مَا إِذَا وُجِدَتِ الْقُيُودُ الْأَرْبَعَةُ فَيُسَمَّى : حَجَرًا شَرْعِيًّا ، يَجُوزُ الاسْتِنْجَاءُ بِهِ : الأَوَّلُ : أَنْ يَكُوْنَ طَاهِرًا ، فَخَرَجَ بِهِ النَّجِسُ ، كَالْبَعْرِ ؛ وَالْمُتَنَجِّسُ ، كَالْحَجَرِ الْمُتَنَجِّسِ
Ketahuilah bahwa setiap benda yang diqiyaskan (disamakan) dengan batu asli, yaitu jika memenuhi empat kriteria, maka disebut "Batu Syar'i" yang boleh dipakai buat istinja: Pertama: Harus suci. Maka tidak termasuk benda najis seperti kotoran hewan yang kering, atau benda yang terkena najis seperti batu yang bernajis.
وَالثَّانِي : أَنْ يَكُوْنَ جَامِدًا ، فَلَوِ اسْتَنْجَى بِرَطْبٍ مِنْ حَجَرٍ أَوْ غَيْرِهِ ، كَمَاءِ الْوَرْدِ وَالْخَلِّ ، لَمْ يُجْزِتْهُ
Kedua: Harus benda padat/keras. Kalau istinja pakai benda basah baik batu atau lainnya, seperti air mawar atau cuka, maka tidak sah.
وَالثَّالِثُ : أَنْ يَكُوْنَ قَالِعًا لِلنَّجَاسَةِ مُنَشَّفًا ، فَلَا يُجْزِئُ الزُّجَاجُ وَالْقَصَبُ الأَمْلَسُ ، وَلَا التَّرَابُ الْمُتَنَائِرُ ؛ بِخِلَافِ التَّرَابِ الصُّلْبِ ، قَالَ فِي الْمِصْبَاحِ » : وَالْقَصَبُ بِفَتْحَتَيْنِ : كُلُّ نَبَاتٍ يَكُوْنُ سَاقُهُ أَنَابِيْبَ وَكُعُوْبًا . أَنْتَهَى . فَالْمُرَادُ بِالْأَمْلَسِ هُوَ الَّذِي فَقَدَ كَعْبَهُ
Ketiga: Harus bisa mengangkat/membersihkan najis dan mengeringkan. Maka tidak sah pakai kaca, bambu/pohon yang licin, atau debu yang berhamburan; Berbeda dengan tanah yang keras. Penulis kitab Al-Misbah berkata: "Al-Qashab" adalah setiap tanaman yang batangnya beruas-ruas dan memiliki buku-buku. Selesai. Maka yang dimaksud dengan "amlas" (licin) adalah yang kehilangan ruas/bukunya.
وَالرَّابِعُ : أَنْ يَكُوْنَ غَيْرُ مُحْتَرَمٍ ، خَرَجَ بِهِ الْمُحْتَرَمُ ، كَمَطْعُوْمِ الا دَمِيْنَ ، كَالْخُبْزِ ؛ وَمَطْعُوْمُ الْجِنِّ ، كَالْعَظْمِ ؛ وَكَالْجُزْءِ مِنْهُ ، كَيْدِهِ وَيَدِ غَيْرِهِ ، وَكَذَنَبِ الْبَعِيرِ الْمُنْفَصِلِ ؛ وَأَمَّا الْجِلْدُ فَالْأَظْهَرُ أَنَّهُ إِنْ كَانَ مَدْبُوْعًا جَازَ الاسْتِنْجَاءُ بِهِ ، وَإِلَّا فَلَا ؛ كَمَا قَالَهُ الْحِصْنِيُّ
Keempat: Bendanya bukan benda yang dimuliakan/dihormati (muhtaram). Maka tidak boleh menggunakan benda yang dimuliakan, seperti makanan manusia, contohnya roti. Dan (tidak boleh juga pakai) makanan jin seperti tulang; dan bagian dari tubuh, seperti tangannya sendiri atau tangan orang lain, serta ekor unta yang terputus. Adapun kulit, pendapat yang paling kuat adalah jika sudah disamak maka boleh dipakai istinja, jika belum maka tidak boleh; sebagaimana dikatakan oleh Al-Hishni.
تَتِمَّةٌ : وَإِذَا اسْتَنْجَى بِالْمَاءِ سُنَّ تَقْدِيمُ قُبُلِهِ عَلَى دُبُرِهِ ، وَعَكْسَهُ فِي الْحَجَرِ .
Tambahan: Jika istinja pakai air, disunnahkan mendahulukan bagian depan (kemaluan) daripada bagian belakang (anus), dan sebaliknya jika pakai batu.
=================فَصْلٌ فِي الْوَضُوْءِ
Artinya: Fasal tentang Wudhu.
وَهُوَ الْمُسَمَّى بِالْمُطَهِّرِ الرَّافِعِ ، وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ مَعْقُوْلُ الْمَعْنَى ، لِأَنَّ الصَّلَاةَ مُنَاجَاةُ الرَّبِّ تَعَالَى ، فَطَلِبَ التَّنْظِيفُ لِأَجْلِهَا ؛
Artinya: Wudhu disebut sebagai penyuci yang mengangkat (hadats). Pendapat yang kuat menyatakan bahwa wudhu itu masuk akal maknanya, karena shalat adalah bermunajat kepada Allah Ta'ala, maka dituntut kebersihan karenanya.
وَإِنَّمَا اخْتُصَّ الرَّأْسُ بِالْمَسْحِ لِسَتْرِهِ غَالِبًا ، فَاكْتُفِيَ فِيْهِ بِأَدْنَى طَهَارَةٍ ، وَخُصَّتِ الْأَعْضَاءُ الأَرْبَعَةُ بِذَلِكَ لِأَنَّهَا مَحَلُّ اكْتِسَابِ الْخَطَايَا ، أَوْ لِأَنَّ آدَمَ مَشَى إِلَى الشَّجَرَةِ بِرِجْلَيْهِ ، وَتَنَاوَلَ مِنْهَا بِيَدَيْهِ ، وَأَكَلَ مِنْهَا بِفَمِهِ ، وَمَسَّ رَأْسُهُ وَرَقَهَا
Artinya: Kepala dikhususkan dengan diusap (bukan dicuci) karena biasanya tertutup, maka cukup dengan cara bersuci yang paling ringan. Keempat anggota wudhu itu dikhususkan karena merupakan tempat melakukan dosa, atau karena Nabi Adam berjalan ke pohon (terlarang) dengan kedua kakinya, mengambil buahnya dengan kedua tangannya, memakannya dengan mulutnya, dan kepalanya menyentuh daun pohon tersebut.
وَمُوْجِبُهُ الْحَدَثُ مَعَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا ، وَقِيلَ : الْقِيَامُ فَقَطْ ، وَقِيلَ الْحَدَثُ فَقَطْ ، بِمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا فَعَلَهُ وَقَعَ وَاجِبًا ، سَوَاءٌ أَدَخَلَ فِيْ الصَّلَاةِ أَمْ لَا ، وَالْقِيَامُ إِلَى الصَّلَاةِ شَرْطٌ فِي فَوْرِيَّتِهِ ، وَانْقِطَاعُ الْحَدَثِ شَرْطٌ فِي صِحَّتِهِ
Artinya: Dan sebab wajibnya wudhu adalah adanya hadats beserta keinginan untuk melaksanakan shalat and sejenisnya. Ada pendapat yang mengatakan: karena ingin shalat saja. Ada juga pendapat: karena hadats saja, dalam artian jika seseorang berwudhu maka wudhunya jatuh sebagai kewajiban, baik dia jadi shalat atau tidak. Dan bangun untuk shalat adalah syarat untuk kesegeraan wudhu (fauriyah), sedangkan berhentinya hadats adalah syarat sahnya wudhu.
[ ٠٨٢ ] فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ وَلَوْ كَانَ الْوُضُوْءُ مَنْدُوْبًا ، أَيْ : أَرْكَانُهُ ، سِنَةٌ : وَعَبَّرَ الْمُصَنِّفُ بِالْفَرْضِ هُنَا ، وَفِي الصَّلَاةِ بِالْأَرْكَانِ ؛
Artinya: Fardu-fardu wudhu—meskipun wudhunya sunnah—maksudnya adalah rukun-rukunnya, itu ada enam. Penulis menggunakan istilah "Fardu" di sini, sedangkan dalam bab shalat menggunakan istilah "Rukun";
لِأَنَّهُ لَمَّا امْتَنَعَ تَفْرِيقُ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ كَانَتْ كَحَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ مُرَكَّبَةٍ مِنْ أَجْزَاءِ ، فَنَاسَبَ عَدُّ أَجْزَائِهَا أَرْكَانًا ، بِخِلَافِ الْوُضُوْءِ ، لِأَنَّ كُلَّ فِعْلٍ مِنْهُ كَغَسْلِ الْوَجْهِ مُسْتَقِلُّ بِنَفْسِهِ ، وَيَجُوْزُ تَفْرِيقُ أَفْعَالِهِ ، فَلَا تَرْكِيْبَ فِيْهِ .
Artinya: Karena gerakan shalat itu tidak boleh dipisah-pisah, ia menjadi satu kesatuan yang tersusun dari beberapa bagian, maka lebih cocok disebut rukun. Berbeda dengan wudhu, karena setiap perbuatannya (seperti membasuh muka) itu berdiri sendiri dan boleh dipisah-pisah (dijeda), maka tidak ada unsur penyusunan (kesatuan mutlak) di dalamnya.
الأَوَّلُ : النَّيَّةُ ، لِقَوْلِهِ ﷺ : ( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ أَمْرِي مَا نَوَى ) [البخاري ، رقم : ١ ، ٥٤ ، ٢٥٢٩ ، ۳۸۹۸ ، ٥٠٧٠ ، ٦٦٨٩ ، ٦٩٥٣ ؛ مسلم ، رقم : ۱۹۰۷ ؛ الترمذي ، رقم : ١٦٤٧ ؛ النسائي ، رقم : ٧٥ ، ٣٤٣٧ ، ٣٧٩٤ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۲۰۱؛ ابن ماجه ، رقم : ٤٢٢٧ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ١٦٩ ، ٣٠٢]
Artinya: Pertama: Niat, karena sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan." [HR. Bukhari, nomor: 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953; Muslim, nomor: 1907; At-Tirmidzi, nomor: 1647; An-Nasa'i, nomor: 75, 3437, 3794; Abu Dawud, nomor: 2201; Ibnu Majah, nomor: 4227; Musnad Ahmad, nomor: 169, 302].
قَالَ الْفَشْنِيُّ : أَيْ : إِنَّمَا تُحْسَبُ التَّكَالِيْفُ الشَّرْعِيَّةُ الْبَدَنِيَّةُ أَقْوَالُهَا وَأَفْعَالُهَا الصَّادِرَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا كَانَتْ بِنِيَّةٍ
Artinya: Al-Fasyani berkata: Maksudnya, kewajiban syariat bangsa badan, baik ucapan maupun perbuatan yang lahir dari orang beriman, hanya dianggap sah jika disertai niat.
وَتَكُوْنُ النِّيَّةُ عِنْدَ أَوَّلِ غَسْلِ جُزْء مِنَ الْوَجْهِ ، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الأَوَّلُ مِنْ أَعْلَى الْوَجْهِ أَوْ وَسَطِهِ أَوْ أَسْفَلِهِ ، وَإِنَّمَا وَجَبَ قَرْنُهَا بِذَلِكَ لِيُعْتَدَّ بِالْمَغْسُوْلِ لَا لِيُعْتَدَّ بِهَا ، فَلَوْ غُسِلَ جُزْءٌ مِنْهُ قَبْلَهَا وَجَبَ إِعَادَتُهُ بَعْدَهَا
Artinya: Niat itu dilakukan saat pertama kali membasuh bagian dari wajah, baik itu bagian atas, tengah, atau bawah. Wajib dibarengkan agar basuhan itu dianggap sah secara syariat. Jika ada bagian wajah yang terbasuh sebelum niat, maka bagian itu wajib dibasuh ulang setelah niat.
وَكَيْفِيَّتُهَا كَمَا قَالَهُ الْحِصْنِيُّ إِنْ كَانَ الْمُتَوَضَّىءُ سَلِيْمًا لَا عِلَّةَ بِهِ ، أَنْ يَنْوِيَ أَحَدَ ثَلَاثَةِ أُمُوْرٍ : أَحَدُهَا : أَنْ يَنْوِيَ رَفْعَ الْحَدَثِ ، أَوِ الطَّهَارَةَ عَنِ الْحَدَثِ ، أَوِ الطَّهَارَةَ لِلصَّلَاةِ
Artinya: Cara niatnya—seperti kata Al-Hishni—bagi orang yang sehat (tidak beser/istihadhoh) adalah meniatkan salah satu dari tiga hal: Pertama: Niat mengangkat hadats, atau bersuci dari hadats, atau bersuci untuk shalat.
[ ٠٨٣ ] الثَّانِي : أَنْ يَنْوِيَ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا مِمَّا لَا يُبَاحُ إِلَّا بِالطَّهَارَةِ الثَّالِثُ : أَنْ يَنْوِيَ فَرْضَ الْوُضُوْءِ ، أَوْ أَدَاءَ الْوُضُوْءِ ، أَوِ الْوُضُوءَ ، وَإِنْ كَانَ النَّاوِي صَبِيًّا أَوْ مُجَدِّدًا ، أَمَّا صَاحِبُ الضَّرُورَةِ كَسَلِسِ الْبَوْلِ وَنَحْوِهِ فَلَا تَكْفِيْهِ نِيَّةُ رفْعِ الْحَدَثِ أَوِ الطَّهَارَةِ عَنْهُ ، لِأَنَّ وُضُوءَهُ مُبِيحٌ لَا رَافِعٌ ؛
Artinya: Kedua: Meniatkan agar diperbolehkan (istibahah) shalat atau ibadah lain yang tidak boleh dilakukan tanpa bersuci. Ketiga: Meniatkan fardu wudhu, atau menunaikan wudhu, atau (sekadar) wudhu, meskipun yang niat itu anak kecil atau orang yang memperbarui wudhu (mujaddid). Adapun orang yang dalam keadaan darurat seperti beser (selisul baul) dan sejenisnya, maka tidak cukup niat mengangkat hadats atau bersuci darinya, karena wudhunya hanya bersifat memperbolehkan (shalat), bukan mengangkat hadats.
وَأَمَّا الْمُجَدِّدُ فَيَمْتَنِعُ عَلَيْهِ نِيَّةُ الرَّفْعِ وَالاسْتِبَاحَةِ وَالطَّهَارَةِ عَنِ الْحَدَثِ ، وَكَذَا الطَّهَارَةُ لِلصَّلَاةِ كَمَا قَالَهُ الشَّوْبَرِيُّ
Artinya: Sedangkan bagi orang yang memperbarui wudhu (mujaddid), dilarang baginya niat mengangkat hadats, niat istibahah (biar boleh shalat), niat bersuci dari hadats, begitu juga niat bersuci untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Syaubari.
وَلَا بُدَّ أَنْ يَسْتَحْضِرَ ذَاتَ الْوُضُوْءِ الْمُرَكَّبَةَ مِنَ الْأَرْكَانِ ، وَيَقْصِدَ فِعْلَ ذَلِكَ الْمُسْتَحْضَرِ كَمَا فِي الصَّلَاةِ ؛
Artinya: Dan harus menghadirkan gambaran wudhu yang tersusun dari rukun-rukunnya dalam hati, serta bermaksud melakukan hal yang dihadirkan tersebut sebagaimana dalam shalat.
نَعَمْ لَوْ نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ كَفَىٰ وَإِنْ لَمْ يَسْتَحْضِرْ مَا ذُكِرَ ، لِتَضَمُّنِ رَفْعِ الْحَدَثِ لِذَلِكَ
Artinya: Ya, jika seseorang niat mengangkat hadats maka itu sudah cukup meskipun tidak menghadirkan gambaran rukun-rukun tadi, karena niat mengangkat hadats sudah mencakup semuanya.
تَنْبِيةُ : النِّيَّةُ بِتَشْدِيدِ الْيَاءِ مِنْ نَوَى ، بِمَعْنَى قَصَدَ ... وَتَخْفِيفُهَا لُغَةٌ كَمَا حَكاَهَا الْأَزْهَرِيُّ مِنْ وَلَىٰ يَنِي إِذَا أَبْطَأَ ، لِأَنَّهُ يَحْتَاجُ فِي تَصْحِيحِهَا إِلَى نَوْعِ إِبْطَاءِ ، أَيْ : عَدَمِ مُبَادَرَةٍ
Artinya: Peringatan: Lafal "Niyyah" itu pakai tasydid pada huruf ya', berasal dari "nawa" yang artinya bermaksud (qashada). Meringankan bacaannya (niyah tanpa tasydid) secara bahasa ada menurut Al-Azhari, dari kata "wala yani" yang artinya lambat/pelan, karena untuk mensahihkan niat memang butuh semacam pelambatan atau tidak terburu-buru.
الثَّانِي : غَسْلُ الْوَجْهِ ، وَهُوَ : مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ وَتَحْتَ مُنْتَهَى لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ أُذُنَيْهِ ؛
Artinya: Kedua: Membasuh wajah, yaitu area antara tempat tumbuhnya rambut kepala (normal) sampai ke bawah dagu/rahang bawah, and area antara kedua telinga.
فَمِنْهُ شُعُورُهُ ، كَالْحَاجِبَيْنِ وَالْأَهْدَابِ وَالشَّارِبَيْنِ وَالْعِذَارَيْنِ ، فَيَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِ هَذِهِ الشُّعُوْرِ وَبَاطِنِهَا مَعَ الْبَشَرَةِ الَّتِيْ
Artinya: Termasuk wajah adalah rambut-rambutnya, seperti kedua alis, bulu mata, kumis, dan jambang. Maka wajib membasuh bagian luar dan dalam rambut-rambut ini beserta kulit ....
[ ٠٨٤ ] تَحْتَهَا وَإِنْ كَثُفَتْ ، لِأَنَّهَا مِنَ الْوَجْهِ ، لَا بَاطِنِ الْكَثِيْفِ الْخَارِجِ عَنْهُ ؛
Artinya: (Wajib membasuh kulit) di bawahnya (bulu-bulu muka) meskipun tebal, karena itu termasuk bagian wajah, bukan bagian dalam (bulu) tebal yang keluar dari batas wajah;
وَأَمَّا اللَّحْيَةُ وَالْعَارِضَانِ فَإِنْ خَفَّا وَجَبَ غَسْلُ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا مَعَ الْبَشَرَةِ الَّتِي تَحْتَهُمَا ، وَإِنْ كَثُفَا وَجَبَ غَسْلُ ظَاهِرِهِمَا دُوْنَ بَاطِنِهِمَا لِلْمَشَقَّةِ ، إِلَّا إِذَا كَانَا لِامْرَأَةٍ وَخُنْثَى ، فَيَجِبُ إِبْصَالُ الْمَاءِ لِبَاطِنِهِمَا مَعَ بَشَرَتِهِمَا لِنُدْرَةِ ذَلِكَ مَعَ كَوْنِهِ يُنْدَبُ لِلْمَرْأَةِ إِزَالَتُهُمَا
Artinya: Adapun jenggot dan cambang, jika tipis maka wajib membasuh bagian luar dan dalamnya beserta kulit di bawahnya. Jika tebal, maka wajib membasuh bagian luarnya saja tanpa bagian dalamnya karena alasan kesulitan (masyaqqah), kecuali jika jenggot/cambang itu milik wanita atau khuntha, maka wajib mengalirkan air sampai ke bagian dalam beserta kulitnya karena hal itu jarang terjadi, meskipun bagi wanita disunnahkan untuk menghilangkannya.
قَالَ السَّيِّدُ الْمِرْغَنِيُّ : وَيَجِبُ غَسْلُ جُزٍْء مِنْ مُلَاقِي الْوَجْهِ مِنْ سَائِرِ الْجَوَانِبِ إِذْ مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ ، وَكَذَا يَزِيدُ أَدْنَى زِيَادَةٍ فِي الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ .
Artinya: As-Sayyid al-Mirghani berkata: Wajib membasuh sebagian area yang berbatasan dengan wajah dari segala sisi, karena suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu hukumnya wajib. Begitu juga melebihkan sedikit basuhan pada tangan dan kaki.
أَنْتهَى . أَيْ : لِيَتَحَقَّقَ غَسْلُ جَمِيعِهِمَا .
Artinya: Selesai. Maksudnya: Agar benar-benar yakin telah membasuh semuanya.
فَرْعُ : قَالَ عُثْمَانُ فِي « تُحْفَةِ الْحَبِيْبِ » : حَلْقُ اللَّحْيَةِ مَكْرُوهُ وَلَيْسَ حَرَامًا ، وَأَخْذُ مَا عَلَى الْحُلْقُوْمِ قِيْلَ مَكْرُوهُ وَقِيْلَ مُبَاحٌ ؛
Artinya: Cabang masalah: Utsman berkata dalam Tuhfatul Habib: Mencukur habis jenggot hukumnya makruh dan bukan haram. Menghilangkan rambut yang ada di tenggorokan ada yang bilang makruh, ada yang bilang mubah.
وَلَا بَأْسَ بِإِبْقَاءِ السَّبَالَيْنِ ، وَهُمَا طَرَفَا الشَّارِبِ ، وَأَخْذُ الشَّارِبِ بِالْحَلْقِ أَوِ الْقَصْ مَكْرُوهُ ، فَالسُّنَّةُ أَنْ يَحْلِقَ مِنْهُ شَيْئًا حَتَّى تَظْهَرَ الشُّفَةُ ، وَأَنْ يَقُصُّ مِنْهُ شَيْئًا وَيُبْقِيَ مِنْهُ شَيْئًا
Artinya: Dan tidak mengapa membiarkan "sabalin" (dua ujung kumis). Mencukur habis kumis hukumnya makruh. Sunnahnya adalah mencukur sebagian saja sampai terlihat bibirnya, dipotong sebagian dan disisakan sebagian.
الثَّالِثُ : غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ أَوْ قَدْرِهِمَا عِنْدَ فَقْدِهِمَا ، وَالْعِبْرَةُ بِالْمِرْفَقَيْنِ عِنْدَ وُجُوْدِهِمَا وَلَوْ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِمَا الْمُعْتَادِ ، حَتَّى لَوِ الْتَصَقَا بِالْمَنْكِبَيْنِ اعْتُبِرَا
Artinya: Ketiga: Membasuh kedua tangan beserta kedua siku, atau seukuran siku jika sikunya tidak ada. Patokannya adalah siku jika ada, meskipun letaknya tidak di tempat biasa, bahkan jika sikunya nempel di pundak pun tetap harus dibasuh.
وَالْمِرْفَقَانِ تَثْنِيَةُ مِرْفَقٍ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَفَتْحِ الْفَاءِ أَفْصَحُ مِنَ الْعَكْسِ ،
Artinya: Dan lafal Al-Mirfaqani adalah bentuk tatsniyah (dua/dual) dari kata Mirfaq. Membaca dengan mengkasrahkan mim (Mir) dan memfathahkan fa' (faq) itu lebih fasih daripada sebaliknya (yaitu membaca Marfiq).
[ ٠٨٥ ] وَهُوَ : مَجْمُوْعُ الْعِظَامِ الثَّلَاثِ عَظْمَتَيْ الْعَضُدِ وَإِبْرَةِ الذِّرَاعِ الدَّاخِلَةِ بَيْنَهُمَا ، وَهُوَ الَّذِي يَظْهەرُ عِنْدَ طَيِّ الْيَدِ كَالْإِبْرَةِ
Artinya: Dan ia (siku) adalah kumpulan dari tiga tulang: dua tulang lengan atas dan ujung tulang lengan bawah yang masuk di antara keduanya. Itulah yang tampak seperti jarum saat tangan ditekuk.
وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ شَعْرٍ وَغَيْرِهِ ، فَإِنْ أَبِيْنَ بَعْضُ مَحَلَّ الْفَرْضِ وَجَبَ غَسْلُ مَا بَقِيَ ، أَوْ مِنْ مِرْفَقِهِ وَجَبَ غَسْلُ رَأْسِ عَظْمِ عَضُدِهِ ،
Artinya: Dan wajib membasuh rambut atau apa pun yang ada di atas keduanya (tangan). Jika sebagian anggota yang wajib basuh itu terputus, maka wajib membasuh sisanya. Jika terputus tepat di siku, maka wajib membasuh ujung tulang lengan atasnya.
أَوْ مِنْ فَوْقِهِ سُنَّ غَسْلُ بَاقِي عَضُدِهِ مُحَافَظَةٌ عَلَى التَّحْجِيْلِ وَلِئَلَّا يَخْلُوَ الْعُضْرُ مِنْ طَهَارَةٍ
Artinya: Jika terputus di atas siku, maka disunnahkan membasuh sisa lengan atasnya demi menjaga kesempurnaan cahaya wudhu (tahjil) dan agar anggota tubuh tersebut tidak kosong dari bersuci.
الرَّابِعُ : مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ ، وَلَوْ بَعْضٍ شَعْرَةٍ أَوْ قَدْرِهَا مِنَ الْبَشَرَةِ .
Artinya: Keempat: Mengusap sebagian kepala, meskipun hanya sebagian helai rambut atau seluas itu dari kulit kepala.
وَشَرْطُ الشَّعْرِ الْمَمْسُوْحِ أَنْ لَا يَخْرُجَ عَنْ حَدَّ الرَّأْسِ مِنْ جِهَةِ نُزُوْلِهِ مِنْ أَيِّ جَانِبِ كَانَ لَوْ مَدَّهُ ، بِأَنْ كَانَ مُتَجَعَدًا ، وَلَوْ غَسَلَ رَأْسَهُ بَدَلَ الْمَسْحِ ، أَوْ أَلْقَى عَلَيْهِ قَطْرَةٌ وَلَمْ تَسِلْ ، أَوْ وَضَعَ يَدَهُ الَّتِي عَلَيْهَا الْمَاءُ عَلَى رَأْسِهِ وَلَمْ يُمِرَّهَا أَجْزَاهُ
Artinya: Syarat rambut yang diusap adalah tidak keluar dari batas kepala jika ditarik/dijulurkan ke bawah dari sisi mana pun, meskipun rambutnya keriting. Jika ia membasuh kepala sebagai ganti mengusap, atau meneteskan air tanpa mengalirkannya, atau hanya menaruh tangan yang basah di atas kepala tanpa menjalankannya, maka itu sudah cukup (sah).
الْخَامِسُ : غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ ، وَإِنْ لَمْ يَكُونَا فِي مَحَلَّهِمَا الْمُعْتَادِ
Artinya: Kelima: Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki, meskipun letaknya tidak di tempat yang biasa.
وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبَيْنِ : الْعَظْمَانِ الْبَارِزَانِ بَيْنَ السَّاقِ وَالْقَدَمِ ، فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَانِ ، وَشَدَّتِ الرَّافِضَةُ قَبَّحَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى ، فَقَالَتْ : فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبٌ ، وَهُوَ : الْعَظْمُ الَّذِي فِي ظَهْرِ الْقَدَمِ
Artinya: Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan dua mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di antara betis dan telapak kaki. Di tiap kaki ada dua mata kaki. Sedangkan kaum Rafidhah (semoga Allah memburukkan mereka) berbeda sendiri dengan mengatakan bahwa di tiap kaki hanya ada satu mata kaki, yaitu tulang di punggung kaki.
فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِرِجْلِهِ كَعْبَانِ اعْتُبِرَ قَدْرُهُمَا مِنْ مُعْتَدِلِ الْخِلْقَةِ مِنْ غَالِبِ أَمْثَالِهِ بِالنِّسْبَةِ ،
Artinya: Maka jika seseorang tidak memiliki dua mata kaki pada kakinya, maka ditentukan ukurannya berdasarkan ukuran mata kaki orang yang normal fisiknya dari kalangan orang-orang yang umumnya sepadan dengannya (secara proporsi tubuh).
[ ٠٨٦ ] وَلَوْ قُطِعَ بَعْضُ قَدَمَيْهِ وَجَبَ غَسْلُ الْبَاقِي ، فَإِنْ قُطِعَ مِنْ فَوْقِ الْكَعْبِ فَلَا فَرْضَ عَلَيْهِ ، وَيُسَنُw غَسْلُ الْبَاقِيِّ ، وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ شَعْرٍ وَغَيْرِهِ
Artinya: Jika sebagian telapak kakinya terputus, wajib membasuh sisanya. Jika terputus dari atas mata kaki, maka tidak ada kewajiban basuh baginya, tapi disunnahkan membasuh sisanya. Wajib membasuh apa yang ada pada kaki baik rambut maupun lainnya.
السَّادِسُ : التَّرْتِيْبُ فِي أَفْعَالِهِ السِّتَّةِ الْمَذْكُورَةِ ، أَرْبَعَةٌ مِنْهَا بِنَصِّ الْكِتَابِ ، وَوَاحِدٌ بِالسُّنَّةِ وَهُوَ النِّيَّةُ ، وَوَاحِدٌ بِهِمَا وَهُوَ التَّرْتِيْبُ
Artinya: Keenam: Tertib dalam enam rukun wudhu tersebut. Empat rukun dasarnya dari Al-Qur'an, satu dari Sunnah (yaitu niat), and satu lagi (tertib) dasarnya dari keduanya (Al-Qur'an & Sunnah).
وَوَجْهُ دَلَالَةِ الْكِتَابِ عَلَيْهِ هُوَ كَوْنُهُ تَعَالَى ذَكَرَ مَمْسُوْحًا بَيْنَ مَغْسُوْلَاتِ فِي قَوْلِهِ : ﴿ فَأَغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ ﴾ [٥ سورة المائدة/ الآية : ٦]
Artinya: Alasan Al-Qur'an menunjukkan tertib adalah Allah menyebut hal yang diusap (kepala) di antara hal yang dibasuh dalam firman-Nya: "Basuhlah wajahmu, tanganmu sampai siku, usaplah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai mata kaki." [QS. Al-Maidah: 6].
وَهُوَ مُنَزَّلٌ بِلُغَةِ الْعَرَبِ ، وَالْعَرَبُ لَا تَرْتَكِبُ تَفْرِيْقَ الْمُتَجَانِسِ إِلَّا لِفَائِدَةٍ ، وَهِيَ هُنَا وُجُوْبُ التَّرْتِيبِ لَا نَدْبُهُ ، بِقَرِينَةِ قَوْلِهِ ﷺ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ لَمَّا قَالُوا : أَنَبْدَأُ بِالصَّفَا أَمْ بِالْمَرْوَةِ ؟
Artinya: Al-Qur'an turun dengan bahasa Arab, dan orang Arab tidak memisahkan hal sejenis kecuali ada faedahnya, yaitu wajibnya tertib. Ini dikuatkan sabda Nabi ﷺ saat Haji Wada' ketika ditanya: "Kita mulai dari Safa atau Marwah dulu?"
« ابْدَؤُوا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ » [مسلم ، رقم : ۱۲۱۸ ؛ الترمذي ، رقم : ٨٦٢ ؛ النسائي ، رقم : ۲۱٦١ ، ۲۹۶۲ ، ۳۹۶۹ ، ۳۹۷۰ ، ٢٩۷۴ ؛ أبو داود ، رقم : ۱۹0٥ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ١٤٠٣١ ؛ « موطأ مالك » ، رقم : ٨٣٥ ؛ الدارمي ، رقم : ١٨٥٠]
Artinya: Nabi ﷺ bersabda: "Mulailah dengan apa yang Allah mulai duluan." [HR. Muslim: 1218; Tirmidzi: 862; Nasa'i: 2161, 2962, 3969, 3970, 2974; Abu Dawud: 1905; Ahmad: 14031; Malik: 835; Darimi: 1850].
فَالْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ ، وَهُوَ « مَا » مِنْ قَوْلِهِ : « بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ » ، أَيْ : ابْدَؤُوْا بِكُلِّ شَيْءٍ بَدَأَ اللَّهُ بِهِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ ؛ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ الَّذِي هُوَ السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ .
Artinya: Patokannya adalah keumuman lafal "Maa" (apa saja), maksudnya: "Mulailah setiap jenis ibadah dengan apa yang Allah mulai duluan," bukan terbatas pada sebab khusus yaitu Sa'i antara Safa dan Marwah saja.
[ ٠٨٧ ] وَأَمَّا سُنَنُ الْوُضُوْءِ فَكَثِيرَةٌ ، مِنْهَا : التَّسْمِيَةُ ، وَالسَّوَاكُ ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الإِنَاءَ ، وَالْمَضْمَضَةُ ، وَالاسْتِنْشَاقُ ، وَمَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ ، وَمَسْحُ جَمِيعِ الأُذُنَيْنِ ، وَالتَّيَامُنُ ، وَالْمُوَالَاةُ ، وَالدَّلْك... وَأَنْ يَقُوْلَ بَعْدَهُ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Artinya: Adapun sunnah-sunnah wudu itu banyak, di antaranya: Membaca Basmalah, bersiwak, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah, berkumur, menghirup air ke hidung, mengusap seluruh kepala, mengusap kedua telinga, mendahulukan bagian kanan, terus-menerus (muwalah), menggosok anggota wudu, mengulang tiga kali, dan membaca setelah wudu: "Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh."
=====================فَصْلٌ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ النِّيَّةِ
Artinya: Fasal dalam penjelasan hukum-hukum niat.
وَهِيَ سَبْعَةٌ ، لَكِنْ ذَكَرَ مِنْهَا ثَلَاثَةٌ ، فَقَالَ : النَّيَّةُ ، أَيْ : حَقِيقَتُهَا شَرْعًا : قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنَا بِفِعْلِهِ ، فَإِنْ تَرَاخَى الْفِعْلُ عَنْ ذَلِكَ الْقَصْدِ سُمِّيَ ذَلِكَ الْقَصْدُ عَزْمًا لَا نِيَّةً ؛
Artinya: Dan ia (hukum niat) ada tujuh, akan tetapi ia (penulis) menyebutkan tiga di antaranya, maka ia berkata: Niat, maksudnya hakikatnya secara syara' adalah: Menyengaja sesuatu dibarengi dengan melakukannya. Maka jika perbuatan itu tertunda dari kesengajaan tersebut, maka kesengajaan itu disebut 'Azam (tekad), bukan niat;
وَأَمَّا لُغَةٌ ، فَهِيَ : مُطْلَقُ الْقَصْدِ ، سَوَاءٌ قَارَنَ الْفِعْلَ أَوْ لَا ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَالتَّلَفُّظُ بِهَا سُنَّةٌ ، لِيُعَاوِنَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ
Artinya: Adapun secara bahasa, ia adalah: Kesengajaan secara mutlak, baik dibarengi dengan perbuatan maupun tidak. Dan tempatnya di dalam hati, dan melafazkannya adalah sunnah, agar lidah membantu hati.
وَسُمِّيَ الْقَلْبُ قَلْبًا لِتَقَلُّبِهِ فِي الْأُمُورِ كُلَّهَا ، أَوْ لِأَنَّهُ وُضِعَ فِي الْجَسَدِ مَقْلُوْبًا ، كَقَمْعِ السُّكَّرِ ؛
Artinya: Dan dinamakan 'qalb' (hati) karena sifatnya yang berbolak-balik dalam segala urusan, atau karena ia diletakkan di dalam tubuh secara terbalik, seperti kerucut gula;
وَهُوَ لَحْمٌ صَنَوْبَرِيُّ الشَّكْلِ ، أَيْ : شَكْلُهُ عَلَى شَكْلِ الصَّنَوْبَرِ ، قَاعِدَتُهُ فِي وَسَطِ الصَّدْرِ ، وَرَأْسُهُ إِلَى الْجَانِبِ الْأَيْسَرِ
Artinya: Ia adalah segumpal daging yang berbentuk sanubari (seperti buah pinus), maksudnya: bentuknya seperti bentuk buah pinus, pangkalnya berada di tengah dada, dan ujungnya mengarah ke sisi sebelah kiri.
[ ٠٨٨ ] وَوَقْتُهَا فِي الْوُضُوْءِ عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ ، هَكَذَا عِبَارَةُ بَعْضِهِمْ بِتَقْدِيمِ لَفْظِ ( غَسْلِ ) عَلَى لَفْظِ ( أَوَّلِ ) وَهُوَ مَرْضِيُّ الشَّرْقَاوِيِّ نَظَرًا إِلَى أَنَّ الْوَاجِبَ مُقَارَنَتُهَا لِلْفِعْلِ . وَعِبَارَةُ بَعْضِهِمْ بِالْعَكْسِ ، وَهُوَ مَرْضِيٌّ البِيجُوْرِيِّ ، نَظَرًا إِلَى أَنَّ الْمُعْتَبَرَ قَرْنُهَا بِأَوَّلِ الْغُسْلِ . قَالَ الْبِيْجُوْرِيُّ : وَمِمَّا يُعْتَبَرُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِهِ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ مِنْ شُعُورِهِ وَلَوِ الشَّعْرُ الْمُسْتَرْسِلُ ، لَا مَا يُنْدَبُ غَسْلُهُ كَبَاطِنِ لِحْيَةٍ كَثِيْفَةٍ ، وَلَوْ قَصَّ الشَّعْرَ الَّذِي نَوَى مَعَهُ لَمْ تَجِبِ النِّيَّةُ عِنْدَ الشَّعْرِ الْبَاقِي أَوْ غَيْرِهِ مِنْ بَاقِي أَجْزَاءِ الْوَجْهِ ، وَلَا يُكْتَفَى بِقَرْنِ النِّيَّةِ بِمَا قَبْلَ الْوَجْهِ
Artinya: Dan waktunya dalam wudu adalah ketika membasuh bagian pertama dari wajah. Begitulah redaksi sebagian ulama dengan mendahulukan kata "membasuh" daripada kata "pertama", dan hal itu disetujui oleh Asy-Syarqawi mengingat bahwa yang wajib adalah menyertakan niat dengan perbuatannya. Dan redaksi ulama lainnya adalah sebaliknya (mendahulukan kata "pertama"), and itu disetujui oleh Al-Bajuri mengingat bahwa yang dianggap adalah menyertakan niat pada awal pembasuhan. Al-Bajuri berkata: Dan di antara yang dianggap dalam penyertaan niat padanya adalah apa yang wajib dibasuh berupa rambut-rambutnya meskipun rambut yang menjuntai, bukan apa yang sunnah dibasuh seperti bagian dalam jenggot yang tebal. Dan seandainya ia memotong rambut yang ia berniat bersamanya, maka tidak wajib mengulang niat pada rambut yang tersisa atau lainnya dari bagian wajah yang tersisa. Dan tidaklah cukup dengan menyertakan niat pada apa yang sebelum wajah seperti membasuh kedua telapak tangan, berkumur, atau menghirup air ke hidung jika tidak ikut terbasuh bersamanya bagian dari wajah,
مِنْ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ وَالْمَضْمَضَةِ أَوِ الاسْتِنْشَاقِ إِنْ لَمْ يَنْغَسِلْ مَعَهَا جُزْءٌ مِنَ الْوَجْهِ ، كَحُمْرَةِ الشَّفَتَيْنِ ، وَإِلَّا كَفَتْهُ مُطْلَقًا ، وَفَاتَهُ ثَوَابُ السُّنَّةِ مُطْلَقًا . أَنْتَهَى
Artinya: berupa basuhan kedua telapak tangan, berkumur, atau menghirup air ke hidung jika tidak ikut terbasuh bersamanya bagian dari wajah, seperti merahnya bibir; jika (terbasuh) maka itu mencukupinya secara mutlak, namun ia kehilangan pahala sunnah secara mutlak. Selesai.
وَوَقْتُهَا فِي غَيْرِهِ أَوَّلُ الْعِبَادَاتِ إِلَّا فِي الصَّوْمِ ، فَإِنَّهَا مُتَقَدِّمَةٌ عَلَيْهِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ عَزْمٌ قَامَ مَقَامَ النِّيَّةِ .
Artinya: Dan waktunya pada selainnya (wudu) adalah awal dari ibadah-ibadah, kecuali dalam puasa, maka niat mendahuluinya karena sulitnya mengawasi terbitnya fajar, dan yang sahih adalah bahwa itu merupakan 'Azam (tekad) yang menempati posisi niat.
وَأَمَّا حُكْمُهَا فَهُوَ الْوُجُوْبُ غَالِبًا ، وَمِنْ غَيْرِ الْغَالِبِ قَدْ تُنْدَبُ كَمَا فِي غَسْلِ الْمَيْتِ
Artinya: Adapun hukumnya maka ia adalah wajib secara umum, dan di antara yang tidak umum terkadang ia disunnahkan seperti dalam memandikan mayit.
وَكَيْفِيَّتُهَا تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْمَنْوِيِّ ، كَالصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ ، وَهَكَذَا وَشَرْطُهَا : إِسْلَامُ النَّاوِي ، وَتَمْيِيزُهُ ، وَعِلْمُهُ بِالْمَنْوِيِّ ، وَعَدَمُ إِتْيَانِهِ بِمَا يُنَافِيْهَا بِأَنْ يَسْتَصْحِبَهَا فِي الْقَلْبِ حُكْمًا ، وَأَنْ لَا تَكُوْنَ مُعَلَّقَةً ، فَإِنْ قَالَ : إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ، فَإِنْ قَصَدَ التَّعْلِيقَ أَوْ أَطْلَقَ لَمْ تَصِحَّ ، أَوِ التَّبَرُّكَ صَحَّتْ
Artinya: Dan tata caranya berbeda-beda dengan berbedanya apa yang diniatkan, seperti shalat dan puasa, begitulah seterusnya. Dan syaratnya: Islamnya orang yang berniat, tamyiz-nya, pengetahuannya tentang apa yang diniatkan, dan tidak melakukan apa yang meniadakannya dengan cara ia menyertakannya dalam hati secara hukum (hukman), dan niat tersebut tidak digantungkan (ta'liq). Maka jika ia berkata: "Jika Allah menghendaki", jika ia bermaksud menggantungkan atau mutlak maka tidak sah, atau (bermaksud) tabarruk (mencari berkah) maka sah.
[ ٠٨٩ ] وَالْمَقْصُوْدُ بِهَا تَمْيِيزُ الْعِبَادَةِ عَنِ الْعَادَةِ ، كَتَمْيِيْزِ الْجُلُوسِ لِلاعْتِكَافِ عَنْ جُلُوسِهِ لِلاسْتِرَاحَةِ ؛
Artinya: Dan maksud (tujuan) dari niat adalah membedakan ibadah dari kebiasaan, seperti membedakan duduk untuk iktikaf dari duduk untuk istirahat;
أَوْ تَمْيِيزِ رُتْبَتِهَا ، كَتَمْيِيْنِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ مِنَ الْغُسْلِ الْمَنْدُوْبِ
Artinya: atau membedakan tingkatannya, seperti membedakan mandi wajib dari mandi sunnah.
وَقَدْ نَظَمَ تِلْكَ الأَحْكَامَ السَّبْعَةَ بَعْضُهُمْ ، قِيْلَ : هُوَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ ، وَقِيْلَ : التَّتَائِيُّ ، مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ ، فِي قَوْلِهِ :
Artinya: Dan sungguh sebagian ulama telah menyusun (mensyairkan) tujuh hukum tersebut, dikatakan bahwa ia adalah Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan dikatakan: At-Tatai, dari bahar Rajaz, dalam perkataannya:
سَبْعُ شَرَائِطٍ أَتَتْ فِي نِيَّهُ تَكْفِيْ لِمَنْ حَوَى لَهَا بِلَا وَسَنْ * حَقِيقَةٌ حُكْمٌ مَحَلٌ وَزَمَنْ كَيْفِيَّةٌ شَرْطٌ وَمَقْصُوْدٌ حَسَنْ
Artinya: Tujuh syarat (ketentuan) yang datang dalam niat, cukup bagi orang yang memahaminya tanpa rasa kantuk. Hakikat, Hukum, Tempat, dan Waktu; Tata cara, Syarat, dan Maksud (Tujuan) yang baik.
قَوْلُهُ : ( شَرَائِطُ ) بِالصَّرْفِ لِلضَّرُورَةِ ، وَقَوْلُهُ : « وَسَنْ » بِفَتْحَتَيْنِ ، مَعْنَاهُ : نُعَاسٌ ، وَهُوَ تَمْمِيمٌ لِلْبَيْتِ ، وَكَذَا قَوْلُهُ « حَسَنْ » ، وَفِيْهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَحْسُنُ أَنْ يَقْصُدَ الْإِخْلَاصَ فِي الْعِبَادَةِ
Artinya: Perkataannya: (Syara-ith) dengan tanwin karena darurat syair, dan perkataannya: (Wasan) dengan due harakat fathah maknanya adalah: Kantuk, dan itu sebagai penyempurna bait, begitu pula perkataannya (Hasan), dan di dalamnya terdapat isyarat bahwa baik bagi seseorang untuk bermaksud ikhlas dalam ibadah.
تَنْبِيهٌ : فِي التَّرْتِيبِ . قَالَ : وَالتَّرْتِيبُ أَنْ لَا يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ ، بِضَمِّ الْعَيْنِ أَشْهَرُ مِنْ كَسْرِهَا ، وَهُوَ : كُلُّ عَظْمٍ وَافِرٍ مِنَ الْجَسَدِ ، أَيْ : حَقِيقَةُ التَّرْتِيْبِ وَضْعُ كُلِّ شَيْءٍ فِي مَرْتَبَتِهِ .
Artinya: Peringatan: Mengenai Tertib. Ia berkata: Dan tertib adalah agar tidak mendahulukan satu anggota atas anggota tubuh lainnya, dengan dhommah pada huruf 'ain lebih masyhur daripada kasrahnya, dan ia adalah: Setiap tulang yang utuh dari tubuh, maksudnya: Hakikat tertib adalah menempatkan segala sesuatu pada urutannya.
قَالَ الْحِصْنِيُّ : وَفَرَضِيَّتُهُ مُسْتَفَادَةٌ مِنَ الآيَةِ إِذَا قُلْنَا : أَلْوَاوُ لِلتَّرْتِيْبِ ، وَإِلَّا فَمِنْ فِعْلِهِ وَقَوْلِهِ ﷺ ، إِذْ لَمْ يُنْقَل| عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ تَوَضَّأَ إِلَّا مُرَتَّبًا ، وَلِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَعْدَ أَنْ تَوَضَّأَ مُرَتَّبًا : « هَذَا وُضُوءٌ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ
Artinya: Al-Hishni berkata: Dan kewajibannya (tertib) diambil dari ayat jika kita katakan: Huruf Wawu (pada ayat) berfaedah tertib, jika tidak (begitu), maka dari perbuatan dan sabda Nabi ﷺ, karena tidak dinukil dari beliau bahwa beliau berwudu kecuali secara berurutan, dan karena Nabi ﷺ bersabda setelah berwudu secara tertib: "Inilah wudu yang Allah tidak akan menerimanya (kecuali dengan urutan ini)..."
[ ٠٩٠ ] الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ » ، أَيْ : بِمِثْلِهِ ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ [ بل انفرد به ابن ماجه ، رقم ٤١٩ ] .
Artinya: (Nabi bersabda): "Shalat tidak diterima kecuali dengannya", maksudnya: dengan yang sepertinya (wudu), diriwayatkan oleh Al-Bukhari [tetapi hanya Ibnu Majah sendiri yang meriwayatkannya, no. 419].
========================فَصْلٌ [ فِي أَحْكَامِ الْمِيَاهِ] فِي الْمَاءِ الَّذِي لَا يَدْفَعُ النَّجَاسَةَ وَالَّذِي يَدْفَعُهَا
Artinya: Fasal [Dalam penjelasan hukum-hukum air] di dalam air yang tidak bisa menolak najis dan yang bisa menolaknya.
قَالَ : الْمَاءُ فِيْ قَانُوْنِ الشَّرْعِ قِسْمَانِ : قَلِيْلٌ وَكَثِيرٌ، الْقَلِيلُ : مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ ،
Artinya: Ia (penulis) berkata: Air dalam aturan syara' ada dua bagian: sedikit dan banyak. Air sedikit adalah yang kurang dari dua kullah,
بِأَنْ نَقَصَ مِنْهُمَا أَكْثَرُ مِنْ رِطْلَيْنِ (٢) ، وَالْكَثِيْرُ قُلْتَانِ فَأَكْثَرُ، مِنْ مَحْضِ الْمَاءِ يَقِيْنَا وَلَوْ مُسْتَعْمَلا ،
Artinya: dengan gambaran berkurang dari keduanya lebih dari dua rithl (2), and air banyak adalah dua kullah atau lebih, dari air murni secara yakin walaupun (air) musta'mal.
وَقَدْ نَظَمَ تِلْكَ الأَحْكَامَ السَّبْعَةَ بَعْضُهُمْ ، قِيْلَ : هُوَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ ، وَقِيْلَ : التَّتَائِيُّ ، مِنْ بَحْرِ الرَّجَزِ ، فِي قَوْلِهِ :
Artinya: Dan ukuran keduanya dengan timbangan adalah lima ratus rithl Baghdadi yang mana itu adalah enam puluh empat ribu dua ratus delapan puluh lima dirham dan lima per tujuh dirham,
إِذْ كُلُّ رِطْلٍ بَغْدَادِيٌّ مِئَةٌ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشُوْنَ دِرْهَمًا وَأَرْبَعَةُ أَسْبَاعِ دِرْهَمٍ ،
Artinya: karena setiap rithl Baghdadi adalah seratus dua puluh delapan dirham dan empat per tujuh dirham.
وَبِالْمَكَّيِّ أَرْبَعُ مِئَةِ رِطْلٍ وَأَثْنَا عَشَرَ رِطْلًا وَثَلَاثَةَ عَشَرَ دِرْهَما وَخَمْسَةُ أَسْبَاعِ دِرْهَمٍ ، عَلَى أَنَّ الرِّطْلَ مِئَةٌ وَسِتَّةٌ وَخَمْسُوْنَ دِرْهَمًا ، أَفَادَ ذَلِكَ الْعَلَّامَةُ مُحَمَّدٌ صَالِحُ الرَّئِيسُ ؛
Artinya: Dan dengan timbangan Makkah adalah empat ratus dua belas rithl, tiga belas dirham, dan lima per tujuh dirham, berdasarkan bahwa satu rithl adalah seratus lima puluh enam dirham. Hal itu disampaikan oleh Al-Allamah Muhammad Shalih Ar-Rais.
(١) القُلَّتَانِ هِيَ وِعَاءٌ مُكَعَّبٌ طُولُ ضِلْعِهِ ٥٨,٧٥ سم تَقْرِيبًا ، أَوْ مَا يُعَادِلُ ٠,٢٠٠ مِتْر مُكَعَّبٌ ( خُمُس مِتْر مُكَعَّبٌ ) .
Artinya: (1) Dua kullah adalah wadah kubus yang panjang sisinya kurang lebih 58,75 cm, atau setara dengan 0,200 meter kubik (seperlima meter kubik).
(٢) الرِّطْلُ هُوَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسِ مِئَةِ جُزْءٍ مِنَ الْقُلَّتَيْنِ ، وَيُقَدَّرُ بـ ٤٠٥ مِلِيلِتْرًا ( سنتي لتر ) ، أَوْ مَا يُعَادِلُ وَزْنَ ٤٠٥ جِرَام مَاءٍ .
Artinya: (2) Rithl merupakan satu bagian dari lima ratus bagian dua kullah, dan diperkirakan berukuran 405 mililiter (centi liter), atau setara berat 405 gram air.
[ ٠٩١ ] وَبِالطَّائِفِيِّ ثَلَاثُ مِئَةٍ وَسَبْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ رِطْلًا وَثُلُنَا رِطْلٍ ، إِذْ كُلُw رِطْلٍ طَائِفِي مِئَةٌ وَسِتَّةٌ وَتِسْعُوْنَ دِرْهَمًا ،
Artinya: Dan dengan (ukuran) Thaifi (adalah) tiga ratus dua puluh tujuh rithl dan dua pertiga rithl, karena setiap rithl Thaifi adalah seratus sembilan puluh enam dirham.
نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ الْمِرْغَنِيُّ فِي « مِفْتَاحِ فَلَاحِ الْمُبْتَدِى » ؛
Artinya: Hal itu diingatkan oleh Abdullah Al-Mirghani dalam kitab "Miftahu Falahil Mubtadi";
وَبِالْمِصْرِيِّ أَرْبَعُ مِئَةِ رِطْلٍ وَسِتَّةٌ وَأَرْبَعُوْنَ رِطْلًا وَثَلَاثَةُ أَسْبَاعِ رِطْلٍ ،
Artinya: dan dengan (ukuran) Mesir (adalah) empat ratus forty-six rithl dan tiga per tujuh rithl,
وَبِالدِّمَشْقِيِّ مِئَةٌ وَسَبْعَةُ أَرْطَالٍ وَسُبُعُ رِطْلٍ ،
Artinya: dan dengan (ukuran) Damaskus (adalah) seratus tujuh rithl dan sepertujuh rithl.
وَقَدْرُهُمَا بِالْمَسَاحَةِ فِي الْمُرَبَّعِ ذِرَاعٌ وَرُبُعٌ طُوْلًا وَعَرْضًا وَعُمْقًا بِذِرَاعِ الْآدَمِيِّ ، وَهُوَ شِبَرَانِ تَقْرِيبًا ،
Artinya: Dan ukuran keduanya (dua kullah) dengan luas wadah pada bentuk persegi (kubus) adalah satu hasta seperempat, baik panjang, lebar, maupun kedalamannya dengan hasta manusia, yaitu dua jengkal kira-kira.
وَفِي الْمُدَوَّرِ ذِرَاعَانِ عُمْقًا بِذِرَاعِ الْحَدِيْدِ وَذِرَاعٌ عَرْضًا بِذِرَاعِ الآدَمِيِّ ، فَكَانَ ذَلِكَ بِذِرَاعِ الْيَدِ ذِرَاعًا عَرْضًا وَذِرَاعَيْنِ وَنِصْفًا عُمْقًا ، لِأَنَّ ذِرَاعَ الْحَدِيْدِ بِذِرَاعِ الْآدَمِيِّ ذِرَاعٌ وَرُبُعٌ ،
Artinya: Dan pada wadah bundar (tabung) adalah dua hasta kedalamannya dengan hasta besi dan satu hasta lebarnya dengan hasta manusia, maka hal itu dengan hasta tangan (manusia) adalah satu hasta lebarnya dan dua hasta setengah kedalamannya, karena satu hasta besi dengan hasta manusia adalah satu hasta seperempat.
وَفِي الْمُثَلَّثِ وَهُوَ مَا لَهُ ثَلَاثَةُ أَبْعَادٍ مُتَسَاوِيَةٍ ذِرَاعٌ وَنِصْفٌ طُوْلًا وَعَرْضًا وَذِرَاعَانِ عُمْقًا بِذِرَاعِ الْآدَمِيِّ فَالْعَرْضُ هُوَ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ وَالطُّوْلُ هُوَ الرُّكْنَانِ الْآخَرَانِ .
Artinya: Dan pada wadah segitiga—yaitu yang memiliki tiga dimensi yang sama—adalah satu hasta setengah panjang dan lebarnya, dan dua hasta kedalamannya dengan hasta manusia, maka lebar adalah jarak antara dua sudut dan panjang adalah dua sudut yang lainnya.
الْقَلِيلُ حُكْمُهُ يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ الْمُنَجِّسَةِ يَقِيْنَا فِيْهِ ، وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ ،
Artinya: Air sedikit hukumnya adalah menjadi najis dengan jatuhnya najis yang menajiskan secara yakin di dalamnya, meskipun (airnya) tidak berubah,
لِمَفْهُوْمِ قَوْلِهِ ﷺ : « إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ خَبَثًا ، وَفِي رِوَايَةٍ : ( نَجَسًا ) [ الترمذي ، رقم : ٦٧ ؛ أبو داود ، رقم : ٦٣ ، ٦٥ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٥١٧ ؛ مسند أحمد ، رقم : ٤٥٩١ ، ۱۷y٩ ، ۱۹٤١ ، ۵۸٢١ ؛ الدارمي ، رقم : ٧٣١] إِذْ مَفْهُوْمُهُ أَنَّ مَا دُوْنَهُمَا يَحْمِلُ الْخَبَثَ .
Artinya: karena pemahaman dari sabda Nabi ﷺ: "Apabila air mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran", dan dalam satu riwayat: "najis", [HR. Tirmidzi no. 67; Abu Dawud no. 63, 65; Ibnu Majah no. 517; Musnad Ahmad no. 4591, 1739, 1941, 5821; Ad-Darimi no. 731] karena pemahamaannya adalah bahwa apa yang kurang dari keduanya (dua kullah) mengandung kotoran.
وَخَرَجَ بِالنَّجَاسَةِ الْمُنَجِّسَةِ النَّجَسُ الْمَعْفُوُّ عَنْهُ ، كَمَيْتَةٍ لَا دَمَ لَهَا سَائِلٌ ، وَنَجَسٌ لَا يُدْرِكُهُ طَرْفٌ مُعْتَدِلٌ حَيْثُ لَمْ يَحْصُلْ بِفِعْلِهِ وَلَوْ مِنْ مُغَلَّظٍ ،
Artinya: Dan dikecualikan dari najis yang menajiskan adalah najis yang dimaafkan, seperti bangkai yang tidak memiliki darah yang mengalir, dan najis yang tidak bisa dilihat oleh pandangan mata yang normal sekira hal itu tidak terjadi karena perbuatannya (disengaja). Dan dikecualikan dari najis yang menajiskan adalah najis yang dimaafkan, seperti bangkai yang tidak memiliki darah yang mengalir, dan najis yang tidak bisa dilihat oleh pandangan mata yang normal sekira hal itu tidak terjadi karena perbuatannya, walaupun dari mughalladhah (najis berat).
[ ٠٩٢ ] كَمَا إِذَا عَفَّ الذُّبَابُ عَلَى نَجِسٍ رَطْبٍ ثُمَّ وَقَعَ فِي مَاءٍ قَلِيْلٍ أَوْ مَائِعٍ ، فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ ، مَعَ أَنَّهُ عَلِقَ فِي رِجْلِهِ نَجَاسَةٌ لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ ؛
Artinya: sebagaimana jika lalat hinggap di atas najis yang basah kemudian hinggap/jatuh ke dalam air yang sedikit atau benda cair, maka sesungguhnya air tersebut tidak menjadi najis, padahal ada najis yang menempel di kakinya yang tidak kasat mata;
وَمَا عَلَى مَنْفَذِ حَيْوَانٍ طَاهِرٍ غَيْرِ آدَمِيٍّ ، وَرَوْثُ سَمَكٍ لَمْ يُغَيِّرِ الْمَاءَ وَلَمْ يَضَعْهُ فِيْهِ عَبَثًا ، وَمَا يَمَاسُّهُ الْعَسَلُ مِنَ الْكُوَارَةِ الَّتِي تُجْعَلُ مِنْ رَوْثِ نَحْوِ الْبَقَرِ وَجِرَّةِ الْبَعِيْرِ ، وَأُلْحِقَ بِهِ فَمُ مَا يَجْتَرُّ مِنْ وَلَدِ الْبَقَرِ وَالضَّأْنِ إِذَا الْتَقَمَ أَخْلَافَ أُمِّهِ ، وَفَمُّ صَبِيٍّ تَنَجَّسَ ثُمَّ غَابَ وَاحْتُمِلَ طَهَارَتُهُ كَفَمِ الْهِرَّةِ ، فَإِنَّهُ لَا يُنَجِّسُ الْمَاءَ الْقَلِيْلَ ، وَذَرَقُ الطُّيُوْرِ فِي الْمَاءِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ طُيُورِهِ ، وَبَعْرُ فَأَرَةٍ عَمَّ الِابْتِلَاءُ بِهِ ، وَبَعْرُ شَاةٍ وَقَعَ فِي اللَّبَنِ حَالَ الْحَلْبِ ، وَمَا يَبْقَى فِي نَحْوِ الْكَرِشِ مِمَّا يَشُقُّ تَنْقِيَتُهُ ، وَالْقَلِيلُ مِنْ دُخَانِ النَّجَاسَةِ وَلَوْ
Artinya: Dan apa yang ada pada lubang (keluar kotoran) hewan yang suci selain manusia , dan kotoran ikan selama tidak mengubah air dan tidak sengaja dimasukkan ke dalamnya sebagai gurauan , dan apa yang bersentuhan dengan madu dari tempat sarang lebah yang dibuat dari kotoran sejenis sapi dan kunyahan unta , dan disamakan dengannya mulut hewan yang memamah biak dari anak sapi dan domba ketika menyusu pada puting induknya , dan mulut bocah kecil yang terkena najis kemudian dia pergi menghilang dan ada kemungkinan mulutnya sudah suci seperti halnya mulut kucing, maka sesungguhnya hal itu tidak menajiskan air yang sedikit , dan kotoran burung di dalam air meskipun bukan dari burung air , dan kotoran tikus yang sudah menjadi cobaan umum (sulit dihindari) , dan kotoran kambing yang jatuh ke dalam susu saat diperas , dan apa yang tersisa di dalam sejenis jeroan yang sulit dibersihkan, dan sedikit dari asap najis meskipun
مِنْ مُغَلَّظٍ ، وَهُوَ الْمُتَصَاعِدُ مِنْهَا بِوَاسِطَةِ نَارٍ ، وَالْيَسِيرُ مِنَ الشَّعْرِ الْمُنْفَصِلِ مِنْ غَيْرِ مَأْكُوْلٍ غَيْرِ مُغَلَّظٍ ، وَالْكَثِيْرُ مِنْهُ مِنْ مَرْكُوْبٍ وَقِصَاصٍ ، وَالدَّمُ الْبَاقِي عَلَى اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتَلِطْ بِشَيْءٍ ، كَمَا لَوْ ذُبِحَتْ شَاةٌ وَقُطِعَ لَحْمُهَا وَبَقِيَ عَلَيْهِ أَثَرُ الدَّمِ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ اخْتَلَطَ بِغَيْرِهِ ، كَمَا يُفْعَلُ فِي الْبَقَرِ الَّتِي تُذْبَحُ فِي الْمَحَلِّ الْمُعَدِّ لِذَبْحِهَا الْآنَ مِنْ صَبِّ الْمَاءِ عَلَيْهَا لِإِزَالَةِ الدَّمِ عَنْهَا فَإِنَّ الْبَاقِي مِنَ الدَّمِ عَلَى اللَّحْمِ بَعْدَ صَبِّ الْمَاءِ لَا يُعْفَىٰ عَنْهُ وَإِنْ قَلَّ ، لِاخْتِلَاطِهِ بِأَجْنَبِيِّ ، فَلْيُتَنَبَّهْ لَهُ
Artinya: Dari (najis) mughalladhah, yaitu asap yang naik dari najis dengan perantara api , dan sedikit dari bulu yang terpisah dari hewan yang tidak boleh dimakan selain mughalladhah , dan banyak dari bulu hewan tunggangan dan hewan yang dicukur , and darah yang tersisa pada daging dan tulang yang tidak bercampur dengan sesuatu, sebagaimana jika disembelih seekor kambing dan dipotong dagingnya lalu tersisa padanya bekas darah , berbeda halnya jika bercampur dengan yang lain, sebagaimana yang dilakukan pada sapi yang disembelih di tempat penjagalan sekarang berupa penyiraman air padanya untuk menghilangkan darah darinya , maka sesungguhnya sisa darah pada daging setelah penyiraman air itu tidak dimaafkan meskipun sedikit, karena bercampur dengan benda asing, maka perhatikanlah hal itu.
وَالضَّابِطُ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ أَنَّ الْعَفْوَ مَنُوْطٌ بِمَا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا ، وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ لَا يُعْفَى عَنْ دَمِ الْبَرَاغِيْثِ وَالْقَمْلِ وَنَحْوِهِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَائِعِ وَالْمَاءِ الْقَلِيْلِ وَإِنْ قَلَّ الدَّمُ ، دُوْنَ الْمَاءِ الْكَثِيرِ ، وَلَوْ قَتَلَ قَمْلًا أَوْ بَرَاغِيْثَ
Artinya: Dan kaidah umum dalam semua itu adalah bahwa pemaafan (ma'fu) itu tergantung pada apa yang umumnya sulit untuk dihindari , and pendapat yang kuat (mu'tamad) adalah bahwa tidak dimaafkan darah kutu loncat (baraghits), kutu rambut, dan sejenisnya jika dibandingkan dengan benda cair dan air sedikit meskipun darahnya sedikit, bukan pada air yang banyak, dan jika ia membunuh kutu rambut atau kutu loncat.
[ ٠٩٣ ] بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنْ كَانَ الدَّمُ الْحَاصِلُ كَثِيرًا لَمْ يُعْفَ عَنْهُ ، أَوْ قَلِيْلًا عُفِيَ عَنْهُ عَلَى الْأَصَحِّ
Artinya: ...di antara jari-jarinya. Maka jika darah yang dihasilkan itu banyak, tidak dimaafkan, atau jika sedikit maka dimaafkan menurut pendapat yang paling shahih.
هَذَا ، وَخَرَجَ بِدُخَانِ النَّجَاسَةِ بُخَارُهَا ، وَهُوَ الْمُتَصَاعِدُ مِنْهَا لَا بِوَاسِطَةِ نَارٍ ، فَهُوَ طَاهِرٌ ، وَمِنْهُ الرِّيْحُ الْخَارِجُ مِنَ الْكُتُفِ أَوْ مِنَ الدُّبُرِ ، فَهُوَ طَاهِرٌ ، فَلَوْ مَلأَ مِنْهُ قُرْبَةً وَحَمَلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ وَصَلَّى بِهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ
Artinya: Demikianlah, and dikecualikan dari asap najis adalah uap najis, yaitu yang membumbung darinya bukan dengan perantara api, maka ia adalah suci. Termasuk darinya adalah angin yang keluar dari lambung (sendawa) atau dari dubur (kentut), maka ia adalah suci. Maka seandainya seseorang mengisi kantong kulit dengan angin tersebut dan memikulnya di punggungnya lalu ia shalat, maka shalatnya sah.
وَالْمَاءُ الْكَثِيرُ لَا يَتَنَجَّسُ بِمُلَاقَاتِهِ النَّجَاسَةَ إِلَّا إِذَا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ وَحْدَهُ ، أَوْ لَوْنُهُ وَحْدَهُ ، أَوْ رِيْحُهُ وَحْدَهُ ، أَيْ : عَقِبَ مُلَاقَاتِهِ النَّجَاسَةَ ؛
Artinya: Dan air yang banyak tidak menjadi najis dengan bertemunya najis kecuali jika berubah rasanya saja, atau warnanya saja, atau aromanya saja, yaitu: segera setelah bertemunya najis tersebut;
فَلَوْ تَغَيَّرَ بَعْدَ مُدَّةٍ لَمْ يُحْكَمْ بِنَجَاسَتِهِ مَا لَمْ يُعْلَمْ بِقَوْلِ أَهْلِ الْخِبْرَةِ نِسْبَةُ تَغَيُّرِهِ إِلَيْهَا وَخَرَجَ بِـ « الْمُلَاقَاةِ » مَا لَوْ تَغَيَّرَ بِرِيْحِ النَّجَاسَةِ الَّتِي عَلَى الشَّطِّ لِقُرْبِهَا مِنْهُ ، فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ لِعَدَمِ الِاتِّصَالِ ، بَلْ لِمُجَرَّدِ اسْتِرْوَاحٍ ، وَالْمُرَادُ بِـ « التَّغَيُّرِ » كُلُّ الْمَاءِ ، أَمَّا إِذَا غَيَّرَتِ النَّجَاسَةُ بَعْضَهُ دُوْنَ بَاقِيْهِ وَكَانَ هَذَا الْبَاقِي قُلَّتَيْنِ فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ ، بَلْ النَّجِسُ هُوَ الْمُتَغَيَّرُ فَقَطْ .
Artinya: Maka seandainya air itu berubah setelah jangka waktu yang lama, tidak dihukumi najis selama tidak diketahui berdasarkan pendapat ahli ahli (pakar) bahwa perubahan itu dinisbatkan (disebabkan) kepada najis tersebut. Dan dikecualikan dengan kata "bertemu/sentuhan" adalah apa yang berubah karena aroma najis yang ada di pinggir kolam karena dekatnya jarak, maka sesungguhnya air itu tidak najis karena tidak adanya persentuhan, melainkan hanya karena sekadar menghirup aroma. Dan yang dimaksud dengan "perubahan" adalah seluruh air. Adapun jika najis itu mengubah sebagian air saja dan bagian yang tersisa masih mencapai dua qullah, maka sesungguhnya air tersebut tidak najis, melainkan yang najis hanya bagian yang berubah saja.
وَلَا يَجِبُ التَّبَاعُدُ فِيْهِ عَنِ النَّجَاسَةِ بِقَدْرِ قُلَّتَيْنِ ، بَلْ يَجُوْزُ الِاغْتِرَافُ مِنْ جَانِبِهَا ، وَلَا فَرْقَ فِي التَّغَيُّرِ بِالنَّجِسِ بَيْنَ الْكَثِيْرِ وَالْيَسِيْرِ ، وَلَا بَيْنَ كَوْنِهِ بِالْمُخَالِطِ أَوِ الْمُجَاوِرِ ، وَلَا بَيْنَ الْمُسْتَغْنَى عَنْهُ وَغَيْرِهِ ، وَلَا بَيْنَ الْمَيْتَةِ الَّتِي لَا يَسِيلُ دَمُهَا وَغَيْرِهَا لِغِلَظِ أَمْرِ النَّجَاسَةِ ؛
Artinya: Dan tidak wajib menjauh di dalam air tersebut dari najis sejauh dua qullah, bahkan boleh mengambil air (menciduk) dari sisi najis itu. Dan tidak ada perbedaan dalam perubahan sebab najis antara yang banyak and sedikit, tidak juga antara yang bercampur (mukhalit) atau berdampingan (mujawir), tidak juga antara yang tidak dibutuhkan (mustaghna 'anhu) dan lainnya, dan tidak juga antara bangkai yang darahnya tidak mengalir dan lainnya, karena beratnya perkara najis;
وَلَوْ كَانَ التَّغَيُّرُ تَقْدِيرِيًّا بِأَنْ وَقَعَ فِي الْمَاءِ
Artinya: Dan seandainya perubahan itu bersifat perkiraan (taqdiri) dengan jatuhnya (najis) ke dalam air...
[ ٠٩٤ ] نَجَسٌ يُوَافِقُهُ فِي صِفَاتِهِ ، كَالْبَوْلِ الْمُنْقَطِعِ الرَّائِحَةِ وَاللَّوْنِ وَالطَّعْمِ ، فَيُقَدِّرُ مُخَالِفًا أَشَدَّ الطَّعْمُ طَعْمُ الْخَلِّ ، وَاللَّوْنُ لَوْنُ الْحِبْرِ ، وَالرِّيْحُ رِيْحُ الْمِسْكِ ، فَلَوْ كَانَ الْوَاقِعُ قَدْرَ رِطْلٍ مِنَ الْبَوْلِ الْمَذْكُوْرِ فَنَقُوْلُ : لَوْ كَانَ الْوَاقِعُ قَدْرَ رِطْلٍ مِنَ الْخَلِّ هَلْ يُغَيِّرُ طَعْمَ الْمَاءِ أَوْ لَا ؟
Artinya: ...najis yang menyerupai air dalam sifat-sifatnya, seperti air kencing yang telah hilang bau, warna, dan rasanya. Maka diandaikan dengan sifat yang berbeda secara ekstrem: rasa diandaikan rasa cuka, warna diandaikan warna tinta, and aroma diandaikan aroma minyak misk. Maka seandainya yang jatuh (ke air) seukuran satu rithl dari air kencing tersebut, kami katakan: Seandainya yang jatuh itu seukuran satu rithl cuka, apakah ia mengubah rasa air atau tidak?
فَإِنْ قَالَ أَهْلُ الْخِبْرَةِ : يُغَيِّرُهُ ، حَكَمْنَا بِنَجَاسَتِهِ ، وَإِنْ قَالُوا : لَا يُغَيِّرُهُ ، نَقُوْلُ : لَوْ كَانَ الْوَاقِعُ قَدْرَ رِطْلٍ مِنَ الْحِبْرِ ، هَلْ يُغَيِّرُ لَوْنَ الْمَاءِ أَمْ لَا ؟
Artinya: Maka jika ahli ahli (pakar) berkata: "Ia mengubahnya," kami hukumkan air itu najis. Dan jika mereka berkata: "Tidak mengubahnya," kami katakan: Seandainya yang jatuh seukuran satu rithl tinta, apakah ia mengubah warna air atau tidak?
فَإِنْ قَالُوا : يُغَيِّرُهُ ، حَكَمْنَا بِنَجَاسَتِهِ ؛ وَإِنْ قَالُوا : لَا يُغَيِّرُهُ ، نَقُوْلُ : لَوْ كَانَ الْوَاقِعُ قَدْرَ رِطْلٍ مِنَ الْمِسْكِ ، هَلْ يُغَيِّرُ رِيْحَهُ أَوْ لَا ؟
Artinya: Maka jika mereka berkata: "Ia mengubahnya," kami hukumkan air itu najis. Dan jika mereka berkata: "Tidak mengubahnya," kami katakan: Seandainya yang jatuh seukuran satu rithl minyak misk, apakah ia mengubah aromanya atau tidak?
فَإِنْ قَالُوا : يُغَيِّرُهُ ، حَكَمْنَا بِنَجَاسَتِهِ ، وَإِنْ قَالُوا : لَا يُغَيِّرُهُ ، حَكَمْنَا بِطَهَارَتِهِ .
Artinya: Maka jika mereka berkata: "Ia mengubahnya," kami hukumkan air itu najis. Dan jika mereka berkata: "Tidak mengubahnya," kami hukumkan air itu suci.
هَذَا إِذَا كَانَ الْوَاقِعُ فُقِدَتْ فِيْهِ الْأَوْصَافُ الثَّلَاثَةُ ، فَإِنْ فُقِدَ بَعْضُهَا حَالَ وُقُوْعِهِ وَلَمْ يُغَيِّرْ ، فَيُفْرَضُ الْمَفْقُوْدُ فَقَطْ ، لِأَنَّ الْمَوْجُوْدَ إِذَا لَمْ يُغَيِّرْ فَلَا مَعْنَى لِفَرْضِهِ ، وَأَمَّا الْمُتَغَيَّرُ كَثِيرًا يَقِيْنَا بِشَيْءٍ مُخَالِطٍ ، بِأَنْ لَمْ يُمْكِنْ فَصْلُهُ ، أَوْ لَمْ يَتَمَيَّزْ فِي رَأْيِ الْعَيْنِ ، طَاهِرٍ مُسْتَغْنَى عَنْهُ ، بِأَنْ سَهُلَ صَوْنُهُ عَنْهُ وَلَيْسَ تُرَابًا وَمِلْحَ مَاءٍ طُرِحَا فِيْهِ ، تَغَيُّرًا يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ عَلَيْهِ ، فَهُوَ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَلَوْ كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ مَا لَمْ يَكُنْ الْخَلِيْطُ مَاءً مُسْتَعْمَلًا ؛
Artinya: Hal ini apabila yang jatuh tersebut hilang ketiga sifatnya. Namun jika hanya sebagian sifat saja yang hilang saat jatuh and ia tidak mengubah air, maka yang diandaikan hanyalah sifat yang hilang saja, karena sifat yang ada jika tidak mengubah air maka tidak ada gunanya diandaikan. Adapun air yang berubah banyak secara meyakinkan oleh sesuatu yang mencampuri (mukhalit), sekira ia tidak mungkin dipisahkan atau tidak nampak bedanya secara kasat mata, yang suci dan tidak dibutuhkan oleh air, sekira mudah menjaganya dari hal itu, dan bukan merupakan tanah atau garam air yang dilemparkan ke dalamnya, dengan perubahan yang mencegah penyebutan nama air mutlak atasnya, maka ia (air tersebut) tidak dapat mensucikan walaupun airnya dua qullah, selama bahan pencampurnya bukan air musta’mal;
وَلَوْ كَانَ Тَّغَيُّرُ تَقْدِيرِيًّا ، بِأَنْ اخْتَلَطَ بِالْمَاءِ مَا يُوَافِقُهُ فِي صِفَاتِهِ ، كَمَاءِ الْوَرْدِ الْمُنْقَطِعِ الرَّائِحَةِ وَالطَّعْمِ وَاللَّوْنِ ، فَيُقَدَّرُ مُخَالِفًا وَسَطًا بَيْنَ أَعْلَى الصِّفَاتِ وَأَدْنَاهَا ، الطَّعْمُ طَعْمُ الرُّمَّانِ ، وَاللَّوْنُ لَوْنُ الْعَصِيْرِ ، وَالرِّيْحُ رِيْحُ اللَّاذَنِ بِفَتْحِ الدَّالِ الْمُعْجَمَةِ ، وَهُوَ : اللُّبَانُ الذَّكَرُ كَمَا هُوَ الْمَشْهُورُ ، وَقِيلَ : هُوَ رُطُوبَةٌ تَعْلُوْ شَعْرَ الْمَعْزِ
Artinya: Dan seandainya perubahan itu bersifat perkiraan (taqdiri), yaitu dengan tercampurnya air oleh sesuatu yang sifat-sifatnya menyerupai air, seperti air mawar yang telah hilang aroma, rasa, dan warnanya, maka diandaikan dengan sifat pembanding yang sedang (tengah-tengah) antara sifat tertinggi dan terendah: rasa diandaikan rasa delima, warna diandaikan warna air perasan (buah), and aroma diandaikan aroma ladzan dengan fathah pada huruf dal yang bertitik, yaitu: luban dzakar (kemenyan Arab) sebagaimana yang masyhur, dan dikatakan: ia adalah kelembapan yang menempel pada bulu kambing...
[ ٠٩٥ ] وَقِشْرُهَا ، أَيْ : إِنَّا نَعْرِضُ عَلَيْهِ مُغَيِّرَ اللَّوْنِ مَثَلًا ، فَإِنْ حَكَمَ أَهْلُ الْخِبْرَةِ بِتَغَيُّرِهِ سَلَبْنَا الطَّهُوْرِيَّةَ ، وَإِلَّا عَرَضْنَا مُغَيِّرَ الطَّعْمِ ، ثُمَّ مُغَيِّرَ الرِّيْحِ كَذَلِكَ ،
Artinya: ...dan kulitnya (benda suci tersebut). Maksudnya: Sesungguhnya kami menyodorkan kepadanya (pakar) perubahan warna misalnya, maka jika ahli pengalaman (pakar) memutuskan adanya perubahan, maka kami mencabut sifat mensucikannya (air tersebut). Jika tidak, maka kami sodorkan perubahan rasa, kemudian perubahan aroma juga demikian;
فَلَا يُعْرَضُ عَلَيْهِ الثَّانِي إِلَّا إِذَا لَمْ يُحْكَمْ بِالتَّغَيُّرِ الْأَوَّلِ ، وَلَا الثَّالِثُ إِلَّا إِذَا لَمْ يُحْكَمْ بِالتَّغَيُّرِ بِالثَّانِي
Artinya: Maka (sifat yang kedua) tidak disodorkan,kecuali jika tidak dihukumi adanya perubahan dengan yang pertama dan tidak pula yang ketiga kecuali jika tidak dihukumi adanya perubahan dengan yang kedua.
وَخَرَجَ بِمَا ذُكِرَ التَّغَيُّرُ الْيَسِيرُ وَالشَّكُّ فِي كَثْرَةِ التَّغَيُّرِ .
Artinya: Dan dikecualikan dari apa yang telah disebutkan adalah perubahan yang sedikit and keraguan dalam banyaknya perubahan.
وَالتَّغَيُّرُ بِالْمُجَاوِرِ وَهُوَ مَا يَتَمَيَّزُ فِي رَأْيِ الْعَيْنِ ، أَوْ مَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ كَدُهْنٍ وَعُوْدٍ وَلَوْ مُطَيَّبَيْنِ ، أَوْ بِغَيْرِ مُسْتَغْنَى عَنْهُ ، سَوَاءٌ كَانَ خَلْقِيًّا فِي الْأَرْضِ ، كَطِيْنٍ وَإِنْ مَنَعَ الِاسْمَ ؛
Artinya: Dan perubahan sebab benda yang berdampingan (mujawir), yaitu apa yang nampak berbeda dalam pandangan mata, atau apa yang mungkin dipisahkan seperti minyak dan kayu meskipun keduanya diberi wewangian, atau sebab sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh air, baik itu bersifat alami di tanah seperti lumpur meskipun ia mencegah penyebutan nama air;
أَوْ مَصْنُوْعًا فِيْهَا كَذَلِكَ بِحَيْثُ يُشْبِهُ الْخَلْقِيَّ ، كَالْفَسَاقِي (١) الْمَعْمُوْلَةِ بِالْجِيْرِ ، وَكَالْقُرَبِ الْمَدْبُوْغَةِ بِالْقَطِرَانِ ؛
Artinya: Atau sesuatu yang dibuat di dalamnya (tanah) secara demikian sekira menyerupai yang alami, seperti kolam-kolam kecil (1) yang dibuat dengan kapur, and seperti kantong kulit yang disamak dengan cairan aspal (qathiran);
وَلَوْ مُخَالِطًا ، وَلَوْ كَثِيْرًا ، لِأَنَّهُ وُضِعَ لِإِصْلَاحِهَا ، فَإِنَّ الْمَاءَ فِي هَذِهِ الصُّوَرِ كُلِّهَا مُطَهَّرٌ
Artinya: Walaupun tercampur (mukhalit), and walaupun banyak, karena hal itu diletakkan untuk memperbaiki wadah tersebut, maka sesungguhnya air dalam semua gambaran ini adalah mensucikan.
وَالْقَطِرَانُ بِفَتْحِ الْقَافِ مَعَ كَسْرِ الطَّاءِ وَسُكُوْنِهَا ، وَبِكَسْرِهَا مَعَ سُكُوْنِ الطَّاءِ : دُهْنُ شَجَرٍ يُطْلَى بِهِ الْإِبِلُ لِلْجَرَبِ ، وَيُسْرَجُ بِهِ (٢)
Artinya: Dan kata Al-Qathiran dengan fathah pada Qaf disertai kasrah pada Tha' atau sukun padanya, and dengan kasrah pada Qaf disertai sukun pada Tha': adalah minyak pohon yang dioleskan pada unta untuk mengobati penyakit kudis, dan digunakan sebagai lampu (2) darinya.
بِخِلَافِ مَا لَوْ وُضِعَ لِإِصْلَاحِ الْمَاءِ ، فَإِنَّهُ غَيْرُ مُطَهِّرٍ لِاسْتِغْنَاءِ الْمَاءِ عَنْهُ
Artinya: Berbeda halnya jika ia diletakkan untuk memperbaiki air, maka sesungguhnya air tersebut tidak mensucikan karena ketidakbutuhan air terhadapnya.
(١) الْفَسَاقِي هِيَ : الْحِيَاضُ الصَّغَارُ لَا يَجْرِي فِيهَا الْمَاءُ تَكُونُ مَمْلُوعَةٌ مَاءً لِلتَّوَضُّوءِ مِنْهَا ، وَاحِدُهَا فِسْقِيَّةٌ ، وَتُسَمَّى أَيْضاً أَجْرَاناً ، وَاحِدُهَا الْجُرْنُ
Artinya: (1) Al-Fasaqi adalah: kolam-kolam kecil yang airnya tidak mengalir, yang penuh berisi air untuk berwudhu darinya, bentuk tunggalnya adalah fisqiyyah, dan disebut juga ajran, bentuk tunggalnya adalah al-jurnu.
(٢) القَطِرَانُ وَالزِّفْتُ وَالْقَارُ وَالنَّفْطُ وَزَيْتُ الصَّخْرِ وَزَيْتُ الْحَجَرِ، كُلُّهَا مُسَمَّيَاتٌ مُتَشَابِهَةُ الْمَدْلُولِ .
Artinya: (2) Al-Qathiran, az-zift, al-qar, an-nafth, zaitus shakhr, dan zaitul hajar semuanya adalah nama-nama yang serupa maknanya.
[ ٠٩٦ ] وَمِمَّا لَا يَسْتَغْنِي الْمَاءُ عَنْهُ غَيْرُ الْمَمَرِّيَّةِ وَالْمَقَرِّيَّةِ مَا يَقَعُ مِنَ الْأَوْسَاخِ الْمُنْفَصِلَةِ مِنْ أَرْجُلِ النَّاسِ مِنْ غَسْلِهَا فِي الْفَسَاقِي وَالْمُنْفَصِلَةِ مِنْ بَدَنِ الْمُنْغَمِسِ ، فَإِنَّهَا لَا تَسْلُبُ الطَّهُوْرِيَّةَ ، نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ السُّوَيْفِيُّ
Artinya: Dan di antara sesuatu yang air tidak bisa lepas darinya selain tempat lewat dan tempat diamnya air adalah kotoran yang terlepas dari kaki orang-orang saat membasuhnya di kolam-kolam wudhu (al-fasaqi) dan yang terlepas dari tubuh orang yang menyelam, maka sesungguhnya hal itu tidak menghilangkan sifat mensucikan air, hal ini diingatkan oleh As-Suwaifi.
وَخَرَجَ أَيْضًا التَّغَيُّرُ بِتُرَابٍ وَمِلْحِ مَاءٍ طُرِحَا فِيْهِ ، وَلَوْ كَانَ التَّغَيُّرُ بِهِمَا كَثِيرًا ، وَبِمُكْثِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يُخَالِطْهُ شَيْءٌ ، فَإِنَّ الْمَاءَ فِي هَذَا مُطَهِّرٌ ؛
Artinya: Dan dikecualikan juga perubahan sebab tanah dan garam air yang dilemparkan ke dalamnya, walaupun perubahannya banyak, and sebab diamnya air (lama) karena tidak ada sesuatu yang mencampurinya, maka sesungguhnya air dalam hal ini adalah mensucikan;
وَكَذَا لَوْ تَغَيَّرَ بِأَنْضِمَامِ مَاءٍ مُسْتَعْمَلٍ إِلَيْهِ فَبَلَغَ بِهِ قُلَّتَيْنِ فَيَصِيرُ مُطَهَّرًا ، وَإِنْ أَثَّرَ فِي الْمَاءِ بِفَرْضِهِ مُخَالِفًا وَسَطًا
Artinya: Begitu pula jika ia berubah sebab bergabungnya air musta’mal padanya sehingga mencapai dua qullah, maka ia menjadi mensucikan, walaupun ia memberi pengaruh pada air tersebut dengan pengandaian sifat yang sedang.
وَأَعْلَمْ أَنَّ التَّقْدِيرَ الْمَذْكُورَ مَنْدُوْبٌ لَا وَاجِبٌ ، فَلَوْ هَجَمَ شَخْصٌ وَاسْتَعْمَلَ الْمَاءَ أَجْزَأَ ذَلِكَ ، إِذْ غَايَةُ الْأَمْرِ أَنَّهُ شَاكٌ فِي التَّغَيُّرِ الْمُضِرِّ ، وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ
Artinya: Dan ketahuilah bahwa pengandaian (taqdir) yang disebutkan itu hukumnya mandub (sunnah) bukan wajib, maka seandainya seseorang langsung menggunakan air tersebut (tanpa mengandaikan), hal itu sudah mencukupi, karena puncaknya dia hanyalah ragu dalam perubahan yang membahayakan (najis), sedangkan hukum asalnya adalah tidak adanya perubahan tersebut.
أَعْلَمْ أَنَّ الْمَاءَ الْجَارِي كَالرَّاكِدِ فِيْمَا مَرَّ ، لَكِنَّ الْعِبْرَةَ فِي الْجَارِي بِالْجَرْيَةِ نَفْسِهَا لَا مَجْمُوْعِ الْمَاءِ ، فَإِنَّ الْجَرَيَاتِ مُتَفَاصِلَةٌ حُكْمًا وَإِنْ اتَّصَلَتْ فِي الْحِسِّ ، لِأَنَّ كُلَّ جِرْيَةٍ طَالِبَةٌ لِمَا قَبْلَهَا هَارِبَةٌ عَمَّا بَعْدَهَا ، فَإِنْ كَانَتِ الْجِرْيَةُ ، وَهِيَ الدَّفْعَةُ الَّتِي بَيْنَ حَافَتَيْ النَّهْرِ فِي الْعَرْضِ ، دُوْنَ قُلَّتَيْنِ تَنْجُسُ بِمُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ ، سَوَاءٌ تَغَيَّرَ أَمْ لَا ، وَيَكُوْنُ مَحَلُّ تِلْكَ الْجِرْيَةِ مِنَ النَّهْرِ نَجِسًا ، وَيَطْهُرُ بِالْجِرْيَةِ بَعْدَهَا ، وَيَكُوْنُ فِي حُكْمِ غُسَالَةِ النَّجَاسَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ مُغَلَّظَةٌ ، فَلَا بُدَّ مِنْ سَبْعِ جَرْيَاتٍ عَلَيْهَا وَمِنَ التَّتْرِيْبِ أَيْضًا فِي غَيْرِ الْأَرْضِ التَّرَابِيَّةِ ؛
Artinya: Ketahuilah bahwa air yang mengalir itu seperti air yang diam dalam penjelasan yang telah lalu, akan tetapi patokan pada air mengalir adalah pada tiap aliran itu sendiri, bukan kumpulan air seluruhnya, karena aliran-aliran itu terpisah secara hukum walaupun bersambung secara indra, karena setiap aliran menuntut apa yang sebelumnya dan lari dari apa yang setelahnya. Maka jika aliran tersebut —yaitu luapan air di antara dua tepi sungai secara lebar— kurang dari dua qullah, maka ia menjadi najis dengan bertemunya najis, baik berubah atau tidak, and tempat aliran tersebut di sungai menjadi najis, dan akan suci dengan aliran setelahnya, and ia berstatus seperti air basuhan najis, sehingga jika najisnya mughalladhah, maka harus tujuh kali aliran yang melewatinya dan juga disertai pemberian tanah pada selain tanah yang berunsur tanah.
[ ٠٩٧ ] فَإِنْ كَانَتْ جَامِدَةً وَاقِفَةً فَذَلِكَ الْمَحَلُّ نَجِسٌ ، وَكُلُّ جِرْيَةٍ تَمُرُّ بِهَا نَجِسَةٌ إِلَى أَنْ يَجْتَمِعَ قُلَّتَانِ
Artinya: (Kalau najisnya) menetap, maka tempat itu najis, and setiap aliran air yang ngelewatin najis itu hukumnya najis sampai air itu ngumpul sebanyak dua qullah
مِنْهُ فِي مَوْضِعٍ ؛ كَفِسْقِيَّةٍ مَثَلًا ، فَحِينَئِذٍ فَهُوَ طَهُوْرٌ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ بِهَا
Artinya: Di satu tempat, misalnya kolam kecil (fisqiyyah); nah, pas udah ngumpul gitu maka airnya jadi suci menyucikan selama nggak berubah sifatnya karena najis itu
وَيُلْغَزُ بِهِ ، فَيُقَالُ : لَنَا مَاءٌ أَلْفُ قُلَّةٍ ، غَيْرُ مُتَغَيِّرٍ ، وَهُوَ نَجِسٌ
Artinya: Ini bisa dijadiin teka-teki (mu'ammah), dibilang begini: "Kita punya air seribu qullah, nggak berubah sifatnya, tapi hukumnya najis"
أَيْ : لِأَنَّهُ مَا دَامَ لَمْ يَجْتَمِعْ فَهُوَ نَجِسٌ وَإِنْ طَالَ مَحَلُّ جَرْيِ الْمَاءِ
Artinya: Maksudnya: karena selama air itu belum ngumpul (jadi satu wadah), hukumnya tetap najis walaupun aliran airnya panjang banget
وَالْفَرْضُ أَنَّ كُلَّ جِرْيَةٍ أَقَلُّ مِنْ قُلَّتَيْنِ ، وَأَمَّا الَّذِي لَمْ يَمُرَّ عَلَيْهَا ، وَهُوَ الَّذِي فَوْقَهَا ، فَهُوَ بَاقٍ عَلَى طُهُوْرِيَّتِهِ
Artinya: Dengan asumsi setiap aliran airnya kurang dari dua qullah. Adapun air yang nggak ngelewatin najis itu—yaitu air yang posisinya di atas najis—maka tetap suci menyucikan
مَسْأَلَةٌ : لَنَا جَمَاعَةٌ يَلْزَمُهُمْ تَحْصِيْلُ بَوْلِهِمْ لِطُهْرِهِمْ
Artinya: Masalah: Ada satu kelompok orang yang wajib ngumpulin air kencing mereka supaya bisa bersuci
وَذَلِكَ فِيْمَا لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ مَاءٌ قُلَّتَانِ فَأَكْثَرُ ، وَلَا يَكْفِيْهِمْ لِطُهْرِهِمْ
Artinya: Hal itu kalau mereka punya air dua qullah atau lebih, tapi nggak cukup buat mereka bersuci (semuanya)
وَلَوْ كُمِلَ بِبَوْلٍ وَقُدِّرَ مُخَالِفًا أَشَدَّ لَمْ يُغَيِّرْهُ ، فَيَلْزَمُهُمْ خَلْطُهُ وَاسْتِعْمَالُ جَمِيعِهِ
Artinya: Padahal kalau air itu ditambahin sama air kencing, terus diumpamain pake sifat yang paling beda tapi ternyata nggak ngerubah airnya, maka mereka wajib nyampurin itu kencing ke air dan make semuanya buat bersuci
وَإِنَّمَا احْتِيْجَ لِلتَّقْدِيرِ مَعَ عَدَمِ تَغَيُّرِهِ حِسًّا لِإِمْكَانِ تَغَيُّرِهِ تَقْدِيرًا ، وَهُوَ مُضِرٌّ أَيْضًا
Artinya: Perlunya pake perumpamaan (taqdir) walaupun secara nyata nggak berubah itu karena ada kemungkinan airnya berubah secara perkiraan (taqdiri), and itu juga bisa bikin airnya jadi bermasalah (najis)
===================فَصْلٌ فِي مُوْجِبَاتِ الْغُسْلِ مُوْجِبَاتُ الْغُسْلِ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ سِتَةٌ ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيْهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ ، وَهِيَ : دُخُولُ الْحَشَفَةِ فِي الْفَرْجِ ، وَخُرُوْجُ الْمَنِيِّ ، وَالْمَوْتُ ؛ وَثَلَاثَةٌ تَخْتَصُّ بِهَا النِّسَاءُ ، وَهِيَ : الْحَيْضُ ، وَالنَّفَاسُ ، وَالْوِلَادَةُ
Artinya: Fasal tentang perkara yang mewajibkan mandi. Perkara yang mewajibkan mandi buat laki-laki dan perempuan itu ada enam. Tiga perkara dialami bareng sama laki-laki dan perempuan, yaitu: masuknya ujung kemaluan (hasyafah) ke dalem farji, keluarnya mani, dan kematian. Dan tiga perkara lagi khusus buat perempuan aja, yaitu: haid, nifas, dan melahirkan.
ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ لَفْظَ الْغُسْلِ إِنْ أُضِيْفَ إِلَى السَّبَبِ ، كَغُسْلِ الْجُمُعَةِ وَغُسْلِ الْعِيدَيْنِ فَالأَفْصَحُ فِي الْغَيْنِ الضَّمُّ ، وَكَذَا غُسْلُ الْبَدَنِ ؛ وَإِنْ أُضِيْفَ إِلَى الثَّوْبِ وَنَحْوِهِ كَغَسْلِ الثَّوْبِ فَالْأَصَحُ الْفَتْحُ أَحَدُهَا : إِيلَاجُ الْحَشَفَةِ ، أَيْ : دُخُولُهَا كُلُّهَا وَإِنْ طَالَتْ ، وَلَا اعْتِبَارَ بِغَيْرِهَا مَعَ وُجُوْدِهَا ، أَوْ قَدْرِهَا مِنْ فَاقِدِهَا، وَلَوْ بِلَا قَصْدٍ، وَلَوْ حَالَةَ النَّوْمِ. فِي الْفَرْجِ، أَيْ: فِي أَيِّ فَرْجِ كَانَ، سَوَاءٌ كَانَ قُبُلَ أَمْرَأَةٍ أَوْ بَهِيمَةٍ أَوْ دُبُرَهُمَا ، أَوْ دُبُرَ رَجُلٍ صَغِيْرٍ أَوْ كَبِيرٍ ، حَيَّ أَوْ مَيْتٍ، أَوْ دُبُرَ نَفْسِهِ أَوْ ذَكَرٍ آخر . وَيَجِبُ أَيْضًا الْغُسْلُ عَلَى الْمَرْأَةِ بِأَيِّ ذَكَرٍ دَخَلَ فِي+ فَرْجِهَا ، حَتَّى ذَكَرُ الْبَهِيمَةِ وَالْمَيْتِ وَالصَّبِيِّ ؛ وَعَلَى الذَّكَرِ الْمُوْلَجِ فِي دُبُرِهِ أَوْ ذَكَرِهِ وَلَا يَجِبُ إِعَادَةُ غُسْلِ الْمَيْتِ الْمُوْلَجِ فِيْهِ وَالْمُسْتَدْخَلِ ذَكَرُهُ وَيَصِيرُ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ الْمُوْلَجُ فِيهِمَا جُنُبَيْنِ بِلَا خِلَافٍ ، وَكَذَا الْمُوْلِجَانِ ؛ فَإِنِ اغْتَسَلَ الصَّبِيُّ وَهُوَ مُمَيَّةٌ صَحَّ غُسْلُهُ وَلَا يَجِبُ إِعَادَتُهُ إِذَا بَلَغَ ، وَعَلَى الْوَلِيِّ أَنْ يَأْمُرَ الصَّبِيَّ الْمُمَيَّزَ بِالْغُسْلِ فِي الْحَالِ ، كَمَا يَأْمُرُهُ بِالْوُضُوْءِ ، ثُمَّ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ أَنْ يَنْزِلَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا .
Artinya: Kemudian ketahuilah, bahwa lafadz al-ghuslu (mandi) jika disandarkan pada sebabnya, seperti mandi Jumat dan mandi dua hari raya, maka yang paling fasih pada huruf Ghain adalah dibaca dammah (Ghuslu), demikian juga untuk mandi badan. Dan jika disandarkan pada pakaian dan sejenisnya, seperti mencuci pakaian, maka yang paling shahih adalah dibaca fathah (Ghaslu). Salah satunya: memasukkan hasyafah, maksudnya masuknya seluruh bagiannya meskipun panjang, and tidak dianggap bagian selainnya jika hasyafah itu ada, atau (dianggap) seukuran hasyafah bagi yang tidak memilikinya (terpotong), meskipun tanpa kesengajaan, dan meskipun dalam keadaan tidur. Di dalam farji, maksudnya: di dalam farji mana pun, baik itu kemaluan depan perempuan atau binatang, atau dubur keduanya, atau dubur laki-laki baik anak kecil maupun dewasa, baik masih hidup maupun sudah mati, atau dubur dirinya sendiri atau laki-laki lain. Dan wajib juga mandi bagi perempuan dengan penis apa pun yang masuk ke dalam farjinya, bahkan penis binatang, mayat, maupun anak kecil; Dan (wajib mandi) atas laki-laki yang dimasuki (penis) ke dalam duburnya atau penisnya. Dan tidak wajib mengulangi memandikan mayat yang dimasuki (penis) padanya maupun (mayat) yang penisnya dimasukkan (ke farji/dubur orang lain). Dan anak kecil serta orang gila yang dimasuki (penis) pada keduanya menjadi junub tanpa ada perbedaan pendapat (ulama), demikian pula bagi kedua pelaku yang memasukkannya; Maka jika anak kecil itu mandi sedangkan ia sudah mumayyiz, maka mandinya sah dan tidak wajib mengulanginya ketika ia sudah baligh, dan bagi wali (orang tua) wajib memerintahkan anak kecil yang mumayyiz untuk mandi seketika itu juga, sebagaimana ia memerintahkannya untuk berwudhu, kemudian tidak ada perbedaan dalam hal itu baik keluar sesuatu (mani) darinya atau tidak.
وَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ : « إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ أَوْ مَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ وَجَبَ الْغُسْلُ ، فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا » [ مسلم ، رقم : ٣٥٠ ؛ الترمذي ، رقم : ١٠٩ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٦٠٨ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٢٣٦٨٦ ، ٢٤١٣٤ ، ٢٤٢٩٦ ، ٢٤٣٩٣ ، ٢٤٥١٦ ، ٢٤٧٥٣ ، ٢٥٣٧٤ ، ٢٥٤٩٤ ، ٢٥٧٥٧ ؛ « موطأ مالك » ، رقم : ١٠٤ ، ١٠٥ ، ١٠٦ ]
Artinya: Dan dasar hukum dalam hal itu (wajib mandi karena jima') adalah hadis dari Siti Aisyah RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalau dua kemaluan yang dikhitan itu bertemu, atau khitan yang satu nyentuh khitan lainnya, maka wajiblah mandi. Gue pernah ngelakuin itu bareng Rasulullah ﷺ, terus kita berdua mandi." [Muslim, nomor: 350; Tirmidzi, nomor: 109; Ibnu Majah, nomor: 608; Musnad Ahmad, nomor: 23686, 24134, 24296, 24393, 24516, 24753, 25374, 25494, 25757; Muwatha' Malik, nomor: 104, 105, 106]
وَلَا بُدَّ فِي وُجُوْبِ الْغُسْلِ مِنْ دُخُولِ الْحَشَفَةِ إِلَى مَا لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فِي الاسْتِنْجَاءِ فَإِنْ لَمْ تَصِلْ إِلَى ذَلِكَ بِأَنْ وَصَلَتْ إِلَى مَا يَجِبُ غَسْلُهُ فِيْهِ فَقَطْ لَمْ يَجِبْ وَلَوْ دَخَلَ شَخْصٌ فَرْجَ امْرَأَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ ، لِأَنَّهُ صَدَقَ عَلَيْهِ دُخُولُ حَشَفَةٍ فَرْجًا ، وَلَا اعْتِبَارَ بِكَوْنِهِ دَخَلَ تِبَعًا وَلَا يَجِبُ عَلَى الزَّانِي الْغُسْلُ مِنَ الْجَنَابَةِ فَوْرًا لِانْقِضَاءِ الْمَعْصِيَةِ بِالْفَرَاغِ مِنَ الزِّنَا وَفَارَقَ مَنْ عَصَى بِالنَّجَاسَةِ بِأَنْ تَضَمَّخَ بِهَا لِبَقَاءِ الْعِصْيَانِ بِهَا مَا بَقِيَتْ ، فَوَجَبَ إِزَالَتُهَا فَوْرًا
Artinya: Dan syarat wajibnya mandi itu kudu masuknya ujung kemaluan (hasyafah) sampai ke bagian yang nggak wajib dibasuh pas lagi istinja (cebok). Nah, kalau belum sampe situ—misalnya cuma nyampe ke bagian yang emang wajib dibasuh doang—maka belum wajib mandi. Dan kalau ada orang (seluruh badannya) masuk ke kemaluan perempuan, maka keduanya wajib mandi, karena itu udah termasuk kategori masuknya hasyafah ke dalem kemaluan, dan nggak peduli dia masuknya ngikut badan atau gimana. Dan buat pelaku zina, nggak wajib mandi jinabah langsung saat itu juga (secara instan), karena maksiatnya udah selesai pas kelar zinanya. Bedanya sama orang yang maksiat pake najis (ngelulur badan pake najis), dia wajib langsung ngebersihinnya karena dosanya jalan terus selama itu najis masih nempel di badan.
وَ ثَانِيهَا : خُرُوجُ الْمَنِيِّ ، أَيْ : مَنِي الشَّخْصِ نَفْسِهِ الْخَارِجِ مِنْهُ أُولَ مَرَّةٍ فِي الْيَقَظَةِ أَوْ فِي النَّوْمِ مِنْ طَرِيقِهِ الْمُعْتَادِ مُطْلَقًا أَوْ مِنْ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ مُسْتَحْكِمًا بِكَسْرِ الْكَافِ، أَيْ: بِأَنْ خَرَجَ لِغَيْرِ عِلَّةٍ، لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ صُلْبِ الرَّجُلِ وَتَرَائِبِ الْمَرْأَةِ إِذَا كَانَ الْمُعْتَادُ مُنْسَدًا أَنْسِدَادًا عَارِضًا ، بِخِلَافِ الأَنْسِدَادِ الْأَصْلِيُّ ، فَإِنَّهُ يَجِبُ مَعَهُ الْغُسْلُ بِالْخَارِجِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ أَخَرَجَ مِنَ الصُّلْبِ أَمْ لَا ، مَا عَدَا الْمَنَافِذِ الْأَصْلِيَّةِ . وَلَا بُدَّ مِنْ خُرُوجِهِ ، أَيْ : بُرُوْزِهِ ، وَأَنْفِصَالِهِ مِنْ قَصَبَةِ الذَّكَرِ أَوْ نُزُوْلِهِ بِمَحَلَّ يَجِبُ غَسْلُهُ فِي الاسْتِنْجَاءِ فِي فَرْجِ النَّيْبِ أَوْ مُجَاوَزَتِهِ الْبَكَارَةَ فِي الْبِكْرِ
Artinya: Dan yang kedua (yang mewajibkan mandi): keluarnya mani, maksudnya mani si orang itu sendiri yang keluar darinya buat pertama kali. Baik pas lagi melek atau lagi tidur, lewat jalan yang biasa secara mutlak, atau lewat jalan lain kalau emang salurannya udah kuat (mapan). (Mustahkiman) dibaca dengan kaf kasrah, maksudnya keluar bukan karena sakit, tapi syaratnya kudu berasal dari tulang sulbi laki-laki atau tulang dada perempuan. Itu kalau jalan yang biasa mampet gara-gara faktor baru, beda kalau emang mampetnya dari lahir, maka wajib mandi kalau ada yang keluar secara mutlak. Mau keluarnya dari sulbi atau bukan, selain dari lubang-lubang yang asli. Dan (mani itu) kudu bener-bener keluar, maksudnya nampak jelas dan kepisah dari batang kemaluan laki-laki. Atau turun sampe ke bagian yang wajib dibasuh pas cebok di kemaluan janda, atau ngelewatin selaput dara buat anak perawan.
وَفِيهِ الْمَنِيُّ قَبْلَ بُرُوْزِهِ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَم| يَبْرُزُ مِنَ الْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ شَيْءٌ وَلَا مِنَ الْمُتَّصِلِ ، لِأَنَّ بُرُوْزَ الْمَنِي فِي الْجُزْءِ الْمَقْطُوعِ فِي حُكْمِ بُرُوْزِهِ وَحْدَهُ لِانْفِصَالِهِ عَنِ الْبَدَنِ وَإِنْ كَانَ مُسْتَتِرًا فِي ذَلِكَ الْجُزْءِ ؛ وَلَوْ أَحَسَّ بِنُزُولِ مَنِيهِ فَأَمْسَكَ ذَكَرَهُ فَلَم| يَخْرُجْ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَا غُسْلَ عَلَيْهِ ، لَكِنْ يُحْكَمُ بِالْبُلُوغِ بِنُزُوْلِهِ إِلَى الْقَصَبَةِ وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ مِنْهَا ، حَتَّى لَوْ كَانَ فِي صَلَاةٍ أَتَمَّهَا ، وَأَجْزَأَتْهُ عَنْ فَرْضِهِ ؛ هَذَا فِي الْوَاضِحِ . أَمَّا الْخُنْثَى ، فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْغُسْلُ إِلَّا إِذَا خَرَجَ مِنْ فَرْجَيْهِ مَعًا ، فَإِنْ خَرَجَ مِنْ أَحَدِهِمَا لَمْ يَجِبْ لاحْتِمَالِ زِيَادَتِهِ مَعَ انْفِتَاحِ الْمُعْتَادِ ، وَالْحَيْضُ فِي حَقِّهِ كَالْمَنِيِّ ، وَإِنْ أَمْنَى مِنْ أَحَدِهِمَا وَحَاضَ مِنَ الْآخَرِ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ . وَخَرَجَ بِـ « مَنِي نَفْسِهِ » مَنِيُّ غَيْرِهِ ، كَأَنْ خَرَجَ مِنَ الْمَرْأَةِ مَنِيُّ الرَّجُلِ فَيُفَصَّلُ فِي ذَلِكَ : إِنْ وُطِئَتْ فِي دُبُرِهَا وَخَرَجَ مِنْهُ الْمَنِيُّ بَعْدَ غُسْلِهَا لَمْ يَجِبْ عَلَيْهَا إِعَادَتُهُ ، أَوْ فِي قُبُلِهَا وَخَرَجَ مِنْهُ بَعْدَ مَا ذُكِرَ ، فَإِنْ قَضَتْ شَهْوَتَهَا حَالَ الْوَطْءِ بِأَنْ كَانَتْ بَالِغَةٌ مُخْتَارَةً مُسْتَيْقِظَةً وَجَبَ عَلَيْهَا إِعَادَةُ الْغُسْلِ ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّهُ مَنِيُّهُمَا مَعًا لِاِخْتِلَاطِهِمَا ، وَأُقِيمَ الظَّنُّ هُنَا مَقَامَ الْيَقِينِ ، كَمَا فِي النَّوْمِ ، وَإِنْ لَمْ تَقْضِ شَهْوَتَهَا ، بِأَنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا شَهْوَةٌ أَصْلًا ، كَصَغِيْرَةٍ ، أَوْ لَهَا شَهْوَةٌ وَلَمْ تَقْضِهَا ، كَنَائِمَةٍ وَمُكْرَهَةٍ ، لَمْ يَجِبْ عَلَيْهَا إِعَادَتُهُ ، وَلَيْسَ مِنْ ذَلِكَ الْمَجْنُوْنَة... وَلَوِ اسْتَدْخَلَ مَنِيَّهُ بَعْدَ غُسْلِهِ ، ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ ، لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ الْغُسْلُ بِخُرُوجِهِ ثَانِي مَرَّةٍ .
Artinya: Dan di dalamnya (masalah bagian tubuh yang terpotong), sperma (mani) yang berada di dalamnya sebelum ia keluar secara nyata, maka wajib mandi meskipun tidak ada sedikit pun yang keluar dari bagian yang terpisah maupun bagian yang masih menyambung. Karena munculnya mani di bagian yang terpotong itu dihukumi sama dengan keluarnya mani itu sendiri, karena ia sudah terpisah dari badan, meskipun mani itu masih tertutup di dalam bagian (potongan) tersebut. Dan seandainya seseorang merasakan maninya turun, lalu ia memegang (menahan) kemaluannya sehingga tidak ada sesuatu pun yang keluar, maka tidak ada kewajiban mandi atasnya. Akan tetapi, ia dihukumi sudah baligh dengan turunnya mani tersebut ke saluran (batang kemaluan) meskipun tidak keluar darinya. Sampai-sampai jika ia sedang salat, maka ia (boleh) menyempurnakannya, dan salatnya sah mencukupi kewajibannya. Ini berlaku bagi orang yang jelas jenis kelaminnya. Adapun bagi Khunsa (kelamin ganda), maka tidak wajib mandi baginya kecuali jika keluar dari kedua kemaluannya secara bersamaan. Jika keluar dari salah satunya saja, tidak wajib mandi karena adanya kemungkinan itu adalah bagian tambahan bersamaan dengan terbukanya saluran yang biasa. Hukum haid baginya sama seperti mani. Dan jika ia mengeluarkan mani dari salah satunya dan haid dari yang lainnya, maka wajib baginya mandi. Dan dikecualikan dengan kalimat "maninya sendiri" adalah mani orang lain. Seperti keluarnya mani laki-laki dari seorang wanita, maka dalam hal ini dirinci: Jika wanita itu disetubuhi di duburnya lalu keluar mani darinya setelah ia mandi, maka ia tidak wajib mengulangi mandinya. Atau jika di kemaluan depan (vagina) dan keluar mani setelah mandi tadi; jika si wanita sempat mencapai puncak syahwatnya saat persetubuhan (seperti dia sudah baligh, atas kemauan sendiri, dan sadar/tidak tidur), maka wajib baginya mengulangi mandi. Karena zahirnya (tampaknya) itu adalah mani keduanya yang bercampur, dan dugaan kuat (zhan) di sini menempati posisi keyakinan, sebagaimana dalam masalah tidur. Dan jika ia tidak mencapai syahwatnya (seperti anak kecil yang belum punya syahwat, atau punya syahwat tapi tidak tercapai karena tidur atau dipaksa), maka tidak wajib baginya mengulangi mandi. Dan wanita gila tidak termasuk (dalam pengecualian) itu, karena ada kemungkinan dia mencapai syahwatnya. Dan seandainya seseorang memasukkan kembali maninya sendiri setelah ia mandi, kemudian mani itu keluar lagi darinya, maka tidak wajib mandi karena keluarnya yang kedua kali itu.
وَأَعْلَمْ أَنَّ خُرُوجَ الْمَنِيِّ مُوْجِبُ لِلْغُسْلِ ، سَوَاءٌ كَانَ بِدُخُولِ حَشَفَةٍ أَمْ لَا ، وَدُخُولُ الْحَشَفَةِ مُوْجِبٌ لَهُ ، سَوَاءٌ حَصَلَ مَنِيٌّ أَمْ لَا ؛ فَبَيْنَهُمَا عُمُوْمٌ وَخُصُوصُ مِنْ وَجْهِ وَلَا يَجِبُ الْغُسْلُ بِالاحْتِلَامِ إِلَّا إِنْ أَنْزَلَ ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ لِلْمَنِيِّ ثَلَاثَ خَوَاصٌ يَتَمَيَّزُ بِهَا عَنِ الْمَزْيِّ وَالْوَدْيِ أَحَدُهَا : لَهُ رَائِحَةٌ كَرَائِحَةِ الْعَجِيْنِ أَوِ الطَّلْعِ مَا دَامَ رَطْبًا ، فَإِذَا جَفَّ أَشْبَهَتْ رَائِحَتُهُ رَائِحَةَ الْبَيْضِ الثَّانِي : التَّدَفُقُ ، أَيْ : التَّدَافُعُ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ خُلِقَ ) أَيْ : الإِنْسَانُ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ ﴾ [٨٦ سورة الطارق / الآية : ٦ ] أَيْ : مَدْفُوْقِ ، أَيْ : مَصْبُوْبٍ فِي الرَّحِمِ الثَّالُثُ : التَّلَذُّذُ بِخُرُوجِهِ . وَلَا يُشْتَرَطُ اجْتِمَاعُ الْخَوَاصِ ، بَلْ يَكْفِيْ وَاحِدَةٌ فِي كَوْنِهِ مَنِيًّا بِلَا خِلَافٍ ، وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ فِي ذَلِكَ عَلَى الرَّاجِحِ فِي الرَّوْضَةِ » ، وَقَالَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ ) : لَا يُشْتَرَطُ التَّدَقَّقُ فِي حَقَّهَا . وَتَبِعَ فِيْهِ ابْنَ الصَّلَاحِ وَثَالِثُهَا : الْحَيْضُ ، وَهُوَ : دَمُ طَبِيعَةٍ يَخْرُجُ مِنْ أَقْصَى رَحِمِ الْمَرْأَةِ فِي أَوْقَاتٍ مَخْصُوصَةٍ ؛ وَالرَّحِمُ : جِلْدَةً دَاخِلَ الْفَرْجِ ضَيِّقَةُ الْفَمِ ، وَاسِعَةُ الْجَوْفِ ، كَالْجَرَّةِ ، وَفَمُهَا لِجِهَةِ بَابِ الْفَرْجِ ، يَدْخُلُ فِيْهَا الْمَنِيُّ ثُمَّ
Artinya: Dan ketahuilah bahwa keluarnya mani itu mewajibkan mandi, baik itu disertai dengan masuknya ujung kemaluan (hasyafah) maupun tidak. Dan masuknya ujung kemaluan itu juga mewajibkan mandi, baik terjadi keluar mani maupun tidak; Maka di antara keduanya (keluar mani dan masuknya kemaluan) terdapat hubungan umum dan khusus dari satu sisi. Dan tidak wajib mandi karena mimpi basah (ihtilam) kecuali jika benar-benar mengeluarkan mani. Kemudian ketahuilah bahwa mani memiliki tiga ciri khusus yang membedakannya dari madzi dan wadi. Salah satunya: Memiliki aroma seperti aroma adonan tepung atau mayang kurma selama ia masih basah. Jika sudah kering, aromanya menyerupai aroma telur. Yang kedua: Memancar, yakni terdorong keluar. Allah Ta'ala berfirman: "(Manusia) diciptakan dari air yang terpancar" (QS. At-Thariq: 6), maksudnya yang dipancarkan atau dituangkan ke dalam rahim. Yang ketiga: Merasakan kenikmatan (lezat) saat keluarnya. Dan tidak disyaratkan berkumpulnya semua ciri tersebut, melainkan cukup satu saja untuk menetapkan bahwa itu adalah mani tanpa ada perbedaan pendapat. Dan wanita sama seperti laki-laki dalam hal itu menurut pendapat yang kuat (rajih) dalam kitab Ar-Raudhah. Namun dikatakan dalam Syarah Muslim: Tidak disyaratkan memancar (tadaffuq) bagi wanita. Dan ia mengikuti pendapat Ibnu Shalah dalam hal itu. Dan yang ketiga (penyebab mandi): Haid, yaitu darah pembawaan (tabiat) yang keluar dari pangkal rahim wanita pada waktu-waktu tertentu; Dan rahim adalah: Lapisan kulit di dalam kemaluan yang sempit mulutnya namun luas rongganya, seperti tempayan (gentong). Mulutnya menghadap ke arah pintu kemaluan, yang mana mani masuk ke dalamnya kemudian...
تَنْكَمِسُ ، أَيْ : يَنْسَدُّ فَمُهَا ، فَلَا تَقْبَلُ مَنِيًّا آخَرَ بَعْدَ ذَلِكَ ، وَلِهَذَا جَرَتْ عَادَةُ اللَّهِ أَنْ لَا يَخْلُقَ وَلَدًا مِنْ مَاءِ رَجُلَيْنِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ الاسْتِحَاضَةُ ، وَهِيَ : دَمُ عِلَّةٍ يَخْرُجُ مِنْ عِرْقٍ ، فَمُهُ فِي أَدْنَى الرَّحِمِ ، سَوَاءٌ أَخَرَجَ عَقِبَ حَيْضِ أَمْ لَا ، سَوَاءٌ قَبْلَ الْبُلُوغِ أَمْ بَعْدَهُ عَلَى الأَصَحَ مِنْ أَنَّ دَمَ الصَّغِيرَةِ ، وَكَذَا الَّا بِسَةِ ؛ يقال له الاستحاضة وَقِيلَ : لَا تُطْلَقُ الاسْتِحَاضَة... إِلَّا عَلَى دَمٍ خَرَجَ عَقِبَ حَيْضِ ؛ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ : ( إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَة... فَدَعِيْ الصَّلَاةَ فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ وَصَلَّيْ » رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [ البخاري ، رقم : ۲۲۸ ، ۳۰۹ ، ۳۲۰ ، ۳۲۰ ، ۳۳۱ ، مسلم ، رقم : ۳۳۳ ؛ الترمذي ، رقم : ١٢٥ ؛ النسائي ، رقم : ۲۱۲ ، ۳۵۸ ، ۳۵۹ ، ٣٦٣ ، ٣٦٤ ، ٣٦٥ ، ٣٦٦ ، ٣٦٧ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۸۰ ، ۲۸۲ ، ۲۸۶ ، ٣٠٤ ؛ ابن ماجه رقم : : ٦٢٠ ، ٦٢١ ، ٦٢٤ ؛ « مسند أحمد » رقم : ٢٣٦٢٥ ، ۲۵۰۹٤ ، ۲۵۱۵۳ ، ۲۵۷۲۳ ، ۲۶٨١٤ ، ۲۷٠٨٣ ، ۲۷٠٨٤ ؛ موطأ مالك » ، رقم : ۱۳۷ ؛ الدارمي ، رقم : ٧٧٤ ، ٧٧٩ ] ، وَفِي رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ رقم : ٣٢٠ ، ٣٢٥ ] : ( ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلَّيْ وَرَابِعُهَا : النَّفَاسُ ، وَهُوَ : الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ فَرَاغِ رَحِمِ الْمَرْأَةِ مِنَ الْحَمْلِ ، وَلَوْ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةٌ ، وَقَبْلَ مُضِيَّ أَقَلِّ الظُّهْرِ خَرَجَ بِذَلِكَ الدَّمُ الْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ حَالَةَ الطَّلْقِ ، فَهُوَ دَمُ فَسَادٍ إِنْ لَمْ يَتَّصِلْ بِحَيْضِ قَبْلَهُ ، وَإِذَا فَهُوَ حَيْضُ ، بِنَاءً عَلَى أَنَّ الْحَامِلَ قَدْ تَحِيضُ ،
Artinya: (Rahim itu) mengkerut/menutup, maksudnya mulutnya tertutup, maka rahim tidak akan menerima mani yang lain setelah itu. Oleh karena itu, sudah menjadi ketetapan (adat) Allah bahwa Dia tidak menciptakan seorang anak dari sperma dua orang laki-laki. Dan dikecualikan dari hal itu (haid) adalah istihadhah. Yaitu: darah penyakit yang keluar dari urat, yang mulut uratnya berada di bagian rahim yang paling bawah. Baik keluarnya setelah haid ataupun tidak. Baik sebelum usia baligh ataupun sesudahnya menurut pendapat yang paling shahih. Bahwa darah anak kecil, begitu juga wanita yang sudah menopause; disebut sebagai istihadhah. Dan dikatakan: tidak disebut istihadhah kecuali pada darah yang keluar tepat setelah haid. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jika haid datang, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika waktu haid itu telah berlalu, maka basuhlah (bersihkan) darah itu darimu dan shalatlah.". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani [Al-Bukhari no. 228, 309, 320, 325, 331; Muslim no. 333; At-Tirmidzi no. 125; An-Nasa'i no. 212, 358, 359, 363, 364, 365, 366, 367; Abu Dawud No. 280, 282, 286, 304; Ibnu Majah no. 620, 621, 624; "Musnad Ahmad" no. 23625, 25094, 25153, 25723, 26814, 27083, 27084; "Muwaththa' Malik" no. 137; Ad-Darimi no. 774, 779], dan dalam riwayat Al-Bukhari No. 320, 325]: "Kemudian mandilah dan shalatlah." Dan yang keempat: Nifas, yaitu darah yang keluar setelah kosongnya rahim perempuan dari kehamilan. Walaupun berupa segumpal darah ('alaqah) atau segumpal daging (mudghah), and sebelum berlalunya masa suci yang paling singkat. Dikecualikan dari hal itu adalah darah yang keluar bersama bayi atau saat mulas pembukaan (talq). Maka itu adalah darah rusak (fasad) jika tidak bersambung dengan haid sebelumnya. Jika bersambung, maka itu adalah haid, berdasarkan pendapat bahwa wanita hamil terkadang bisa haid.
وَهُوَ الْأَصَحُ ؛ فَلَوْ لَمْ تَرَ الدَّمَ إِلَّا بَعْدَ مُضِيَّ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا مِنَ الْوِلَادَةِ فَلَا نِفَاسَ لَهَا ، فَإِنْ رَأَتْهُ قَبْلَ ذَلِكَ وَبَعْدَ الْوِلَادَةِ بِأَنْ تَأَخَّرَ خُرُوجُهُ عَنْهَا فَابْتِدَاؤُهُ مِنْ رُؤْيَةِ الدَّمِ ، وَزَمَنُ النَّقَاءِ مِنْهُ لَا نِفَاسَ فِيْهِ ، لَكِنَّهُ مَحْسُوْبٌ مِنَ السَّيِّينَ ، فَيَجِبُ قَضَاءُ الصَّلَاةِ الَّتِي فَاتَتْ فِيْهِ . وَخَامِسُهَا : الْوِلَادَةُ ، أَيْ: وَلَوْ لِأَحَدِ التَّوْأَمَيْنِ ، فَيَجِبُ الْغُسْلُ بِوِلَادَةِ أَحَدِهِمَا ، وَيَصِمُّ قَبْلَ وِلَادَةِ الْآخَرِ ، ثُمَّ إِذَا وَلَدَتْهُ وَجَبَ الْغُسْلُ أَيْضًا. وَمِثْلُ الْوِلَادَةِ إِلْقَاءُ الْعَلَقَةِ وَالْمُضْغَةِ، فَلَا بُدَّ مِنْ إِخْبَارِ الْقَوَابِلِ بِأَنَّ كُلَّا مِنْهُمَا أَصْلُ آدَمِيٌّ ، وَيَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ . فَيَجِبُ الْغُسْلُ بِالْوَلَدِ الْجَافَّ وَإِنْ لَمْ يَنتَقِضِ الْوُضُوْءُ ، وَيَجُوزُ لِزَوْجِهَا وَطْؤُهَا قَبْلَ الْغُسْلِ ، لِأَنَّ الْوِلَادَةَ جَنَابَةٌ وَهِيَ لَا تَمْنَعُ الْوَطْءَ، أَمَّا الْمَصْحُوْبَةُ بِالْبَلَلِ فَلَا يَجُوْزُ وَطُؤُهَا بَعْدَهَا حَتَّى تَغْتَسِلَ ، وَيَبْطُلَ صَوْمُهَا بِالْوَلَدِ الْجَافُ سَوَاءٌ كَانَ لَهَا نِفَاسٌ أَوْ لَا ، لِأَنَّ ذَاتَ الْوِلَادَةِ مبْطِلَةٌ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ مَعَهَا نِفَاسٌ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ أَلْقَتْ بَعْضَ الْوَلَدِ فَإِنَّهُ يَنْتَقِضُ الْوُضُوْءُ وَلَا يَجِبُ الْغُسْلُ ، وَكَذَا لَوْ خَرَجَ بَعْضُهُ ثُمَّ رَجَعَ وَسَادِسُهَا : الْمَوْتُ لِمُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيْدٍ ، أَمَّا الْكَافِرُ فَلَا يَجِبُ غَسْلُهُ بَلْ يَجُوز... وَأَمَّا الشَّهِيدُ فَلَا يَجِبُ غَسْلُهُ بَلْ يَحْرُمُ ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِيْهِمْ : « لَا تُغَسِّلُوهُمْ ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ يَفُوْحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ » [ « مسند أحمد » ، رقم : ۱۳۷۷۷ ] .
Artinya: Dan itu adalah pendapat yang paling shahih; maka jika dia tidak melihat darah kecuali setelah lewat lima belas hari dari kelahiran, maka tidak ada nifas baginya. Jika dia melihatnya sebelum itu dan setelah kelahiran—dengan gambaran keluarnya darah tertunda dari kelahiran—maka mulainya nifas adalah dari melihat darah tersebut. Dan masa suci dari darah tersebut bukanlah nifas, tetapi dihitung sebagai masa suci, maka wajib mengqadha shalat yang terlewat pada masa tersebut. Dan yang kelima: Melahirkan, maksudnya walaupun (melahirkan) salah satu dari anak kembar. Maka wajib mandi dengan sebab lahirnya salah satu dari keduanya, dan dia (ibu) tetap berpuasa sebelum lahirnya yang lain. Kemudian jika dia telah melahirkan anak yang kedua, wajib mandi juga. Dan semisal dengan melahirkan adalah keluarnya segumpal darah ('alaqah) dan segumpal daging (mudghah). Maka harus ada keterangan dari para bidan bahwa masing-masing dari keduanya adalah asal mula manusia, dan cukup satu orang bidan saja. Maka wajib mandi sebab melahirkan anak yang kering meskipun tidak membatalkan wudhu. Dan boleh bagi suaminya untuk menyetubuhinya sebelum mandi, karena melahirkan itu statusnya janabah dan dia tidak menghalangi persetubuhan. Adapun jika disertai basah-basah (darah/lendir), maka tidak boleh menyetubuhinya setelah itu sampai dia mandi. Dan puasanya batal sebab melahirkan anak yang kering, baik dia memiliki nifas atau tidak, karena peristiwa melahirkan itu sendiri membatalkan puasa meskipun tidak ada nifas bersamanya. Berbeda halnya jika dia mengeluarkan sebagian anak, maka hal itu hanya membatalkan wudhu dan tidak wajib mandi. Begitu juga jika keluar sebagiannya kemudian masuk kembali. Dan yang keenam: Mati bagi muslim yang bukan syahid. Adapun kafir maka tidak wajib memandikannya melainkan boleh. Adapun syahid maka tidak wajib memandikannya bahkan haram. Karena sabda Nabi ﷺ mengenai mereka: "Janganlah kalian memandikan mereka, karena sesungguhnya setiap luka akan mengeluarkan aroma misik pada hari kiamat." ["Musnad Ahmad" no. 13777].
فَدَخَلَ فِي قَوْلِهِ : « الْمَوْتُ » السَّقْطُ النَّازِلُ بِلَا حَيَاةٍ بَعْدَ تَمَامِ أَشْهُرِهِ وَلَمْ تَظْهَرْ فِيْهِ أَمَارَاتُهَا وَالْمَوْتُ مُوْجِبٌ لِلْغُسْلِ عَلَى الأَحْيَاءِ لَا عَلَى الْمَيْتِ ، فَالْمُوْجِبُ لِلْغُسْلِ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ قَائِمًا بِالْفَاعِلِ أَوْ بِغَيْرِهِ ، لِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ فِي الْمُحْرِمِ الَّذِي وَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ : « غَسِّلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ » رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [ البخاري ، رقم : ١٢٦٥ ، ١٢٦٦ ، ١٢٦٧ ، ١٢٦٨ ؛ مسلم ، رقم : ۱۲۰٦ ؛ الترمذي ، رقم : ٩٥١ ؛ النسائي ، رقم : ١٩٠٤ ، ٢٨٥٤ ، ٢٨٥٥ ، ٢٨٥٦ ، ۲۸۵٧ ، ۲۸۵۸ ؛ أبو داود ، رقم : ۳۲y۳۸ ، ٣٢٤۱ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٣٠٨٤ ؛ « مسند أحمد، رقم : ١٨٥٣ ، ۱۹۱۷ ، ٢٣٩٠ ، ٢٥٨٦ ، ٣٠٢٢ ، ٣٠٦٦ ، ۳۲۲۰ ؛ الدارمي ، رقم : ۱۸۵۲ ] وَظَاهِرُهُ الْوُجُوْبُ . وَالْوَقْصُ : كَسْرُ الْعُنُقِ
Artinya: Maka termasuk dalam perkataannya: "Mati" yaitu janin yang gugur yang jatuh tanpa ada tanda kehidupan setelah sempurna bulan-bullannya (masa kandungan) dan tidak tampak padanya tanda-tanda kehidupan. Dan mati itu mewajibkan mandi bagi orang-orang yang masih hidup, bukan bagi si mayit (itu sendiri). Maka perkara yang mewajibkan mandi itu adakalanya ada pada si pelaku (yang mandi) atau pada orang lain. Berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai orang yang sedang ihram yang lehernya dipatahkan oleh untanya: "Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara." Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani [Al-Bukhari no. 1265, 1266, 1267, 1268; Muslim no. 1206; At-Tirmidzi no. 951; An-Nasa'i no. 1904, 2854, 2855, 2856, 2857, 2858; Abu Dawud no. 3238, 3241; Ibnu Majah no. 3084; "Musnad Ahmad" no. 1853, 1917, 2390, 2586, 3022, 3066, 3220; Ad-Darimi no. 1852]. Dan secara zahir hadis itu menunjukkan kewajiban. Dan al-waqshu adalah patahnya leher.
===============فَصْلٌ فِي الْغُسْلِ فُرُوْضُ الْغُسْلِ ، أَيْ : أَرْكَانُهُ ؛ وَاجِبًا كَانَ الْغُسْلُ أَوْ مَنْدُوْبًا ؛ أَثْنَانِ : الأَوَّلُ : النِّيَّةُ ، كَأَنْ يَنْوِيَ الْجُنُبُ رَفْعَ الْجَنَابَةِ Kain رَفْعَ الْحَيْضِ أَوِ النَّفَاسِ ، أَوْ يَنْوِيَ كُلُّ أَدَاءَ الْغُسْلِ أَوْ فَرْضِهِ أَوْ وَاجِبِهِ ؛ أَوِ الْغُسْلَ الْوَاجِبَ ، أَوِ الْغُسْلَ لِلصَّلَاةِ ، أَوْ رَفْعَ الْحَدَثِ فَقَطْ ، أَوِ الطَّهَارَةَ .
Artinya: Fasal mengenai mandi. Fardu-fardu mandi, maksudnya rukun-rukunnya; baik mandi itu bersifat wajib ataupun sunnah; Ada dua: Pertama: Niat. Seperti orang junub berniat mengangkat janabah, atau wanita haid dan nifas berniat mengangkat haid atau nifasnya, atau masing-masing berniat menunaikan mandi, atau kefarduannya, atau kewajibannya; atau mandi yang wajib, atau mandi untuk shalat, atau mengangkat hadas saja, atau bersuci.
عَنْهُ ، أَوْ لَهُ ، أَوْ لِأَجْلِهِ ، أَوِ الطَّهَارَةَ الْوَاجِبَةَ ، أَوْ لِلصَّلَاةِ ، لَا الْغُسْلَ وَلَا الطَّهَارَةَ فَقَطْ ؛ إِذْ قَدْ تَكُوْنُ عَادَةً ؛ أَوْ نَوَتِ الْحَائِضُ أَوِ النُّفَسَاءُ حِلَّ الْوَطْءِ مِنْ حَيْثُ تَوَقَّفُهُ عَلَى الْغُسْلِ ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا ، كَالزِّنَا ، لِأَنَّ لَهُ جِهَتَيْنِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مُسْلِمَةٌ وَلَا الْوَاطِيءُ مُسْلِمًا . قَالَ الْحِصْنِيُّ : وَلَوْ نَوَى الْجُنُبُ اسْتِبَاحَةَ مَا يَتَوَقَّفُ عَلَى الْغُسْلِ ، كَالصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ، أَجْزَأَهُ ، وَإِنْ نَوَى مَا يُسْتَحَبُّ لَهُ ، كَغُسْلِ الْجُمُعَةِ وَنَحْوِهِ لَمْ يُجْزِتْهُ ، لِأَنَّهُ لَمْ يَنْوِ أَمْرًا وَاجِبًا . وَلَوْ نَوَى الْغُسْلَ الْمَفْرُوضَ أَوْ فَرِيضَةَ الْغُسْلِ أَجْزاهُ قَطْعًا . قَالَهُ فِي « الرَّوْضَةِ » . أَنْتَهَى وَلَا بُدَّ أَنْ تَكُوْنَ النِّيَّةُ مُقْتَرِنَةٌ بِأَوَّلِ مَغْسُوْلٍ ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ أَسْفَلِ الْبَدَنِ أَوْ أَعْلَاهُ أَوْ وَسَطِهِ ، لِأَنَّ بَدَنَ الْجُنُبِ كُلَّهُ كَعُضْرٍ وَاحِدٍ ، فَلَوْ نَوَى بَعْدَ غَسْلِ جُزْءٍ مِنْهُ وَجَبَتْ إِعَادَتُهُ لِعَدَمِ الاعْتِدَادِ بِهِ قَبْلَ النِّيَّةِ ، فَوُجُوْبُ قَرْنِهَا بِأَوَّلِهِ إِنَّمَا هُوَ لِلاعْتِدَادِ بِهِ لَا لِصِحَّةِ النِّيَّةِ ، لِأَنَّهَا قَدْ صَحَّتْ وَلَوْ لَمْ يَقْرُنْهَا بِأَوَّلِهِ .
Artinya: dari hadas tersebut, atau untuknya, atau karenanya, atau bersuci yang wajib, atau untuk shalat, bukan sekadar niat mandi dan bukan bersuci saja; karena terkadang hal itu hanya merupakan kebiasaan; sebab terkadang hal itu (hanya) menjadi kebiasaan; atau wanita yang haid atau nifas berniat agar halal disetubuhi dari sisi terhentinya hal itu pada mandi, meskipun (setubuh itu) haram seperti zina, karena ia memiliki dua sisi dan meskipun wanita itu bukan muslimah dan laki-laki yang menyetubuhi bukan muslim. Al-Hishni berkata: Dan seandainya orang yang junub berniat agar diperbolehkan melakukan perkara yang terhenti pada mandi, seperti shalat, thawaf, dan membaca Al-Qur'an, maka itu sudah mencukupi. Namun jika ia berniat perkara yang disunnahkan baginya, seperti mandi Jumat dan sejenisnya, maka itu tidak mencukupi, karena ia tidak berniat perkara yang wajib. Dan seandainya ia berniat mandi yang difardukan atau kefarduan mandi, maka hal itu mencukupi secara pasti. Hal itu dikatakan dalam kitab "Ar-Raudhah". Selesai. Dan niat itu harus dibarengkan dengan bagian tubuh pertama yang dibasuh, baik itu dari bagian bawah badan, atasnya, atau tengahnya, karena seluruh badan orang yang junub itu seperti satu anggota tubuh. Maka seandainya ia berniat setelah membasuh sebagian anggota tubuh, wajib mengulanginya (basuhan itu) karena tidak dianggap bagian tersebut sebelum adanya niat. Maka kewajiban membarengkan niat dengan awal basuhan itu hanyalah agar basuhan itu dianggap (sah secara syara'), bukan untuk sahnya niat, karena niat itu sudah sah walaupun tidak dibarengkan dengan awal basuhan.
وَالثَّانِي : تَعْمِيمُ الْبَدَنِ ، أَيْ : ظَاهِرِهِ بِالْمَاءِ ، وَمِنْهُ الْأَنْفُ وَالْأَنْمُلَةُ الْمُتَّخَذَانِ مِنْ نَحْوِ ذَهَبٍ ، فَيَجِبُ غَسْلُهُ بَدَلًا عَمَّا تَحْتَهُ ، لِأَنَّهُ بِالْقَطْعِ صَارَ مِنَ الظَّاهِرِ ؛ وَالظُّفْرُ يُسَمَّى بَشَرَةٌ هُنَا ، بِخِلَافِهِ فِي بَابِ النَّاقِضِ وَلَا يَجِبُ غَسْلُ الشَّعْرِ النَّابِتِ فِي الْعَيْنِ أَوِ الْأَنْفِ ، وَإِنَّمَا وَجَبَ غَسْلُهُ مِنَ النَّجَاسَةِ لِعِلَظِهَا وَيَجِبُ إِبْصَالُ الْمَاءِ إِلَى مَا تَحْتَ الْغُرْلَةِ ، لِأَنَّهُ ظَاهِرُ حُكْمًا وَإِنْ لَمْ
Artinya: Dan yang kedua: Meratakan badan, maksudnya bagian luarnya dengan air, dan termasuk di antaranya adalah hidung and ujung jari buatan yang terbuat dari emas misalnya, maka wajib membasuhnya sebagai pengganti dari bagian di bawahnya, karena dengan dipotongnya (anggota asli) maka ia menjadi bagian luar; dan kuku di sini disebut kulit (basyarah), berbeda halnya dalam bab pembatal (wudhu). Dan tidak wajib membasuh rambut yang tumbuh di dalam mata atau hidung, dan sesungguhnya wajib membasuhnya dari najis karena saking kotornya najis tersebut. Dan wajib menyampaikan air ke bagian di bawah kulit kuncup (bagi yang belum khitan), karena hal itu hukumnya bagian luar meskipun tidak (tampak).
يَظْهَرْ حِسًا ، لِأَنَّهَا مُسْتَحَقَّهُ الإِزَالَةِ ، وَمِنْ ثُمَّ لَوْ أَزَالَهَا شَخْصٌ فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ ، وَلَوْ لَمْ يُمْكِن| غَسْلُ مَا تَحْتَهَا إِلَّا بِإِزَالَتِهَا وَجَبَتْ ، فَإِنْ تَعَذَّرَتْ صَلَّى كَفَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ ؛ وَهَذَا فِي الْحَيِّ ، وَأَمَّا الْمَيْتُ فَحَيْثُ لَمْ يُمْكِن| غَسْلُ مَا تَحْتَهَا لَا تُزَالُ ، لِأَنَّ ذَلِكَ يُعَدُّ إِزْرَاء بِهِ ، وَيُدْفَنُ بِلَا صَلَاةٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ عِنْدَ الرَّمْلِي ، وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ : يُيَمَّمُ عَمَّا تَحْتَهَا وَيُصَلَّى عَلَيْهِ لِلضَّرُورَةِ قَالَ الْبَيْجُوْرِيُّ : وَلَا بَأْسَ بِتَقْلِيدِهِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ سَتْرًا عَلَى الْمَيْتِ وَيَجِبُ أَيْضًا إِلَى بَاطِنِ الشَّعْرِ وَلَوْ كَثِيْفًا ، لَكِنْ يُتَسَامَحُ بِبَاطِنِ الْعُقَدِ الَّتِي لَا يَصِلُ الْمَاءُ إِلَيْهَا إِذَا تَعَقَّدَ الشَّعْرُ بِنَفْسِهِ ، سَوَاءٌ كَانَ قَلِيْلًا أَوْ كَثِيرًا ، فَإِنْ تَعَقَّدَ بِفِعْلِ فَاعِلِ عُفِيَ عَنِ الْقَلِيْلِ عُرْفًا ؛ وَيُعْفَى عَنْ مَحَلِّ طُبُوْعِ عَسُرَ زَوَالُهُ ، أَوْ حَصَلَتْ لَهُ مُثْلَةٌ ، أَيْ : عُقُوْبَةٌ ، بِإِزَالَةِ مَا عَلَيْهِ مِنَ الشَّعْرِ ؛ وَلَا يَحْتَاجُ لِلتَّيَمُّمِ عَنْ مَحَلَّهِ ، وَيَجِبُ نَقْضُ الضَّفَائِرِ إِنْ لَمْ يَصِلِ الْمَاءُ إِلَىٰ بَاطِنِهَا إِلَّا بالنَّقْضِ تَتِمَّةٌ : وَسُنَّتُهُ سَبْعَةَ عَشَرَ : التَّسْمِيَةُ ، وَغَسْلُ الْأَذَى سَوَاءٌ كَانَ طَاهِرًا كَمَنِيٍّ وَمُخَاطٍ ، أَوْ نَجِسًا كَوَدْيِ وَمَذْيٍّ ، وَذَلِكَ إِذَا كَانَتِ النَّجَاسَةُ غَيْرَ مُغَلَّظَةٍ وَكَانَتْ حُكْمِيَّةٌ أَوْ عَيْنِيَّةٌ لَكِنْ تَزُولُ بِغَسْلَةٍ وَاحِدَةٍ ، أَمَّا الْعَيْنِيَّةُ الَّتِي لَا تَزُولُ بِذَلِكَ فَإِزَالَتُهَا قَبْلَ الْغُسْلِ شَرْطٌ ، فَلَا يَصِحُ مَعَ بَقَائِهَا لِحَيْلُوْلَتِهَا بَيْنَ الْعُضْوِ وَالْمَاءِ ، وَأَمَّا الْمُغَلَّظَةُ فَغَسْلُهَا بِغَيْرِ تَتْرِيْبٍ أَوْ مَعَهُ قَبْلَ اسْتِيْفَاءِ السَّبْعِ لَا يَرْفَعُ الْحَدَثِ ؛ وَالْوُضُوْءُ ، وَالتَّثْلِيْتُ ، وَالتَّخْلِيْلُ لِلشَّعْرِ . (١) لَا يُعْفَى عَنْهُ ، كَمَا فِي الشَّرْوَانِي ٧٦/١ ، نَقَلَهُ عَنِ الْبَاجُورِي عَنِ الْبُجَيْرِمِي . عِصَامٌ .
Artinya: (Hidung dan jari emas tersebut) tidak tampak secara indra, karena ia seharusnya dihilangkan (tapi diganti buatan), maka dari itu seandainya seseorang menghilangkannya tidak ada denda (dhamman) baginya. Dan seandainya tidak memungkinkan membasuh bagian bawahnya kecuali dengan menghilangkannya, maka wajib dihilangkan; jika teruzur, maka ia shalat seperti orang yang tidak mendapatkan dua alat bersuci (faqiduth thahurain). Dan ini berlaku bagi orang yang hidup. Adapun bagi mayit, sekiranya tidak mungkin membasuh bagian bawahnya (kulit kuncup), maka tidak boleh dihilangkan (dipotong), karena hal itu dianggap menghina/merendahkan mayit, dan ia dimakamkan tanpa dishalatkan menurut pendapat yang kuat (mu'tamad) menurut Imam Ramli. Dan berkata Ibnu Hajar: Ditayamumkan untuk bagian bawahnya dan dishalatkan karena alasan darurat. Imam Baijuri berkata: "Tidak mengapa bertaklid kepada pendapat beliau (Ibnu Hajar) dalam masalah ini untuk menutupi (aib/cacat) si mayit." Dan wajib juga menyampaikan air ke bagian dalam rambut meskipun lebat, namun dimaafkan untuk bagian dalam gumpalan (rambut kusut) yang air tidak bisa sampai ke sana jika rambut itu menggumpal dengan sendirinya, baik sedikit maupun banyak. Jika menggumpal karena perbuatan seseorang (disengaja), maka dimaafkan yang sedikit menurut urf (kebiasaan). Dan dimaafkan atas tempat yang terkena kotoran (seperti lem/getah) yang sulit dihilangkan, atau jika menghilangkannya akan menimbulkan cacat (mutslah)—maksudnya siksaan—dengan menghilangkan rambut yang ada di atasnya; dan tidak perlu tayamum untuk tempat tersebut. Dan wajib menguraikan kepangan rambut jika air tidak bisa sampai ke bagian dalamnya kecuali dengan diuraikan. Penutup: Dan sunnah-sunnahnya (mandi) ada tujuh belas: Membaca basmalah, dan membasuh kotoran/gangguan baik itu suci seperti mani dan ingus, atau najis seperti wadi dan madzi. Dan hal itu apabila najisnya bukan mughallazah (berat) dan merupakan najis hukmiyyah atau ainiyyah namun hilang dengan sekali basuhan. Adapun najis ainiyyah yang tidak hilang dengan itu (sekali basuhan), maka menghilangkannya sebelum mandi adalah syarat. Maka tidak sah mandi beserta tetap adanya najis tersebut karena ia menghalangi antara anggota tubuh dan air. Adapun najis mughallazah, maka membasuhnya tanpa menyertakan tanah (tatrib) atau bersamanya sebelum menyempurnakan Silicon kali basuhan, tidaklah mengangkat hadas. Dan berwudhu (sebelum mandi), dan mengulang tiga kali, dan menyela-nyela rambut. (1): Tidak dimaafkan baginya, sebagaimana dalam kitab Asy-Syarwani 1/76, ia menukilnya dari Al-Bajuri dari Al-Bujairimi. - Isham.
وَالأَصَابِعِ بِالْمَاءِ قَبْلَ إِفَاضَتِهِ ، وَالْبَدَاءَةِ بِالشَّقِّ الْأَيْمَنِ وَبِأَعْلَى بَدَنِهِ ، وَالدَّلْكُ ، وَتَوَجُهُ لِلْقِبْلَةِ ، وَكَوْنُهُ بِمَحَلَّ لَا يَنَالُهُ رَشَاسُ ، وَالسَّتْرُ فِي الْخَلْوَةِ ، وَجَعْلُ الإِنَاءِ الْوَاسِعِ عَنْ يَمِينِهِ وَالضَّيِّقِ عَنْ يَسَارِهِ ، وَتَرْكُ الاسْتِعَانَةِ إِلَّا لِعُذْرِ ، وَالشَّهَادَتَانِ آخِرَهُ ، وَالْمَضْمَضَة... وَالاسْتِنْشَاقُ ، وَهُمَا سُنَّتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ غَيْرَ اللَّتَيْنِ فِي وُضُوْئِهِ ، وَوَاجِبَتَانِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَكَوْنُ مَاءِ الْغُسْلِ صَاعًا إِنْ كَفَاهُ ، وَتَعَهَّدُ الصَّمَاخَيْنِ وَغُضُوْنَ الْجِلْدِ . تَذْنِيبٌ : وَمَكْرُوْهَاتُ الْغُسْلِ وَالْوُضُوْءِ أَرْبَعَةٌ : الإِسْرَافُ فِي الْمَاءِ ، وَهُوَ : أَخْذُ الْمَاءِ زِيَادَةٌ عَمَّا يَكْفِي الْعُضْوَ وَإِنْ لَمْ يَزِدْ عَلَى الثَّلَاثِ ، وَلَوْ بِشَطْ نَهْرٍ
Artinya: dan jari-jemari dengan air sebelum mengguyurnya, dan memulai dengan bagian kanan serta bagian atas tubuhnya, dan menggosok (delk), dan menghadap kiblat, dan berada di tempat yang tidak terkena percikan air, dan menutup aurat dalam kesunyian (sendirian), dan meletakkan wadah yang lebar di sebelah kanannya dan yang sempit di sebelah kirinya, dan meninggalkan minta bantuan kecuali karena uzur, dan membaca dua kalimat syahadat di akhirnya, dan berkumur-kumur, dan istinsyaq (menghirup air ke hidung), yang mana keduanya adalah dua sunnah yang mandiri selain yang ada dalam wudhunya, dan keduanya wajib menurut Abu Hanifah, dan hendaknya air mandi itu satu sha' jika mencukupinya, dan memperhatikan kedua lubang telinga serta lipatan-lipatan kulit. Tambahan: Dan perkara-perkara yang dimakruhkan dalam mandi dan wudhu ada empat: Berlebihan dalam menggunakan air, yaitu: mengambil air melebihi apa yang mencukupi anggota tubuh meskipun tidak lebih dari tiga kali basuhan, walaupun di tepi sungai yang mengalir;
وَالزَّيَادَة... عَلَى الثَّلَاثِ إِذَا كَانَتْ مُتَيَقَّنَةٌ وَكَانَ الْمَاءُ مَمْلُوْكًا لَهُ أَوْ مُبَاحًا ، فَإِنْ كَانَ مَوْقُوْفًا حَرُمَ وَلَا يُكْرَهُ فِي الْوُضُوْءِ غَسْلُ الرَّأْسِ وَإِنْ كَانَ الأَصْلُ مَسْحَهُ لِأَنَّهُ الْكَثِيرُ فِي أَفْعَالِ الْوُضُوْءِ ، إِذْ تَحْصُلُ بِهِ النَّظَافَةُ وَالنَّقْصُ عَنْهَا وَلَوْ احْتِمَالًا إِلَّا لِحَاجَةٍ كَبَرْدٍ وَفِعْلُ ذَلِكَ لِلْجُنُبِ فِي مَاءِ رَاكِدٍ وَلَوْ كَثِيرًا بِلَا عُذْرٍ ، بِأَنْ يَتَوَضَّأَ أَوْ يَغْتَسِلَ وَهُوَ وَاقِفٌ فِيْهِ إِذَا كَانَ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ ، وَإِلَّا حَرُمَ مِنْ حَيْثُ الْمُكْثُ فِيهِ .
Artinya: dan menambah lebih dari tiga kali basuhan jika hal itu diyakini dan air tersebut adalah milik sendiri atau mubah, namun jika air itu adalah air wakaf maka hukumnya haram. Dan tidak dimakruhkan dalam wudhu membasuh kepala (sebagai ganti mengusap) meskipun asalnya adalah mengusap, karena hal itu banyak dilakukan dalam perbuatan wudhu, sebab dengan membasuh akan tercapai kebersihan; dan kurang dari tiga kali basuhan meskipun baru sekadar kemungkinan kecuali karena ada keperluan seperti cuaca dingin; dan melakukan hal tersebut bagi orang yang junub di air yang diam meskipun banyak tanpa ada uzur, yaitu dengan ia berwudhu atau mandi sambil berdiri di dalamnya jika dilakukan bukan di masjid, jika tidak (di masjid) maka hukumnya haram dari sisi berdiam diri di dalamnya.
===================فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الطَّهَارَةِ شُرُوْشُ الْوُضُوْءِ ، وَكَذَا الْغُسْلِ ، عَشَرَةٌ : الأَوَّلُ : الإِسْلَامُ ، فَلَا يَصِحُ مِنْ كَافِرٍ ، لِأَنَّهُ عِبَادَةٌ بَدَنِيَّةٌ لِغَيْرِ ضَرُوْرَةٍ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا
Artinya: Pasal tentang syarat-syarat bersuci. Syarat-syarat wudu, begitu pula mandi wajib, ada sepuluh: Pertama: Islam, maka tidak sah wudu dari orang kafir karena wudu merupakan ibadah badaniah yang dilakukan bukan karena darurat, sedangkan dia (orang kafir) bukanlah ahli ibadah (pelakunya).
وَالثَّانِي : التَّمْيِيزُ، فَلَا يَصِحُ وُضُوْءُ غَيْرِ الْمُمَيِّرِ كَطِفْلٍ وَمَجْنُوْنٍ لِمَا ذُكِرَ . وَالثَّالُثُ : النَّقَاءُ ، بِفَتْحِ النُّوْنِ وَبِالْمَدِّ ، وَمَاضِيْهِ نَقِيَ بِكَسْرِ الْقَافِ ، وَمُضَارِعُهُ يُنْقَى بِفَتْحِهَا ، أَيْ : النَّظَافَةُ عَنِ الْحَيْضِ وَالنَّفَاسِ
Artinya: Kedua: Tamyiz, maka tidak sah wudu orang yang belum tamyiz seperti anak kecil (yang belum mencapai usia tamyiz) dan orang gila karena alasan yang telah disebutkan sebelumnya (bukan ahli ibadah). Ketiga: An-Naqa', dengan huruf nun yang difathahkan dan dibaca panjang (mad), bentuk lampaunya (madhi) adalah naqiya dengan huruf qaf yang dikasrahkan, and bentuk sedang/akan datangnya (mudhari') adalah yunqa dengan huruf qaf yang difathahkan, yang berarti: bersih dari haid dan nifas.
والرابع : النَّقَاءُ عَمَّا يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ ، كَدُهْنِ جَامِدٍ ، وَشَمْعٍ ، وَعَيْنِ حِبْرٍ وَحِنَّاء . بِخِلَاف أَثَرِهِمَا ، وَشَوْكَةٍ لَوْ أُزِيلَتْ لَمْ يَلْتَئِمْ مَحَلُّهَا ، وَدَمٍ وَغُبَارٍ عَلَى عُضْرٍ لَا عَرَقٍ مُتَجَمَّدٍ عَلَيْهِ ، وَوَسَخِ تَحْتَ الأَظْفَارِ ، وَرَمَصٍ فِي الْعَيْنِ ، وَلَيْسَ مِنْهُ طَبُوْعٌ عَسُرَ زَوَالُهُ فَيُعْفَى عَنْهُ ، وَكَذَا قِشْرَةُ الدُّمَّلِ بَعْدَ خُرُوجِ مَا فِيْهَا وَإِن سَهُلَتْ إِزَالَتُهَا ، بَلْ أَوْلَى مِنَ الْعَرَقِ ، لِأَنَّهَا جُزْءٌ مِنَ الْبدَنِ وَالْخَامِسُ : أَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ : كَزَعْفَرَانِ وَصَنْدَلٍ .
Artinya: Keempat: Bersih dari apa pun yang menghalangi sampainya air ke kulit, seperti minyak yang membeku (padat), lilin, serta zat tinta dan pacar kuku (inai). Berbeda halnya dengan bekas (warna) keduanya (yang tidak menghalangi air). Termasuk yang menghalangi adalah duri yang jika dicabut lukanya tidak akan menutup kembali, darah, dan debu pada anggota tubuh, namun tidak termasuk keringat yang mengeras di atasnya. Termasuk pula kotoran di bawah kuku dan kotoran mata. Tidak termasuk penghalang adalah sisa getah/lem yang sulit dihilangkan, maka hal itu dimaafkan. Begitu pula kulit bisul setelah isinya keluar, meskipun mudah dihilangkan, bahkan itu lebih utama (dimaafkan) daripada keringat karena ia merupakan bagian dari tubuh. Kelima: Hendaknya tidak ada sesuatu pun pada anggota tubuh yang dapat mengubah sifat air: seperti za'faran dan kayu cendana.
وَالسَّادِسُ : الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهِ ، أَيْ : بِكَوْنِ كُلِّ مِنَ الْوُضُوْءِ وَالْغُسْلِ فَرْضًا ، وَهُوَ : مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ ، لِأَنَّ الْجَاهِلَ بِفَرْضِيَّتِهِ غَيْرُ مُتَمَكِّنٍ مِنَ الْجَزْمِ بِالنِّيَّةِ ، فَلَا تَصِحُ مِمَّنْ جَهِلَ فَرْضِيَّتَهُ وَالسَّابِعُ : أَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوْضِهِ ، أَيْ : فُرُوْضِ كُلٌّ مِنْهُمَا سُنَّةٌ ، سَوَاءٌ اعْتَقَدَ أَنَّ أَفْعَالَهُ كُلَّهَا فُرُوضٌ أَوِ اعْتَقَدَ أَنَّ فِيْهِ فَرْضًا وَسُنَّةً وَإِنْ لَمْ يُمَيَّزُ أَحَدَهُمَا عَنِ الْآخَرِ ، وَهَذَا فِي حَقِّ الْعَامِّيِّ ، أَمَّا الْعَالِمُ ، وَهُوَ : مَنِ اشْتَغَلَ بِالْفِقْهِ زَمَنًا ؛ فَلَا بُدَّ فِيْهِ مِنْ تَمْيِيزِ فَرَائِضِهِ مِنْ سُنَنِهِ .
Artinya: Keenam: Mengetahui kefarduannya, maksudnya: mengetahui bahwa masing-masing dari wudu dan mandi itu adalah fardu. Fardu adalah sesuatu yang diberi pahala karena mengerjakannya dan disiksa karena meninggalkannya. Hal ini karena orang yang tidak tahu akan kefarduannya tidak akan mungkin bisa memantapkan niatnya (jazm), maka tidak sah (wudu/mandi) dari orang yang tidak tahu kefarduannya. Ketujuh: Hendaknya tidak meyakini satu fardu pun dari fardu-fardu keduanya (wudu dan mandi) sebagai sunah. Sama saja apakah dia meyakini bahwa semua perbuatannya adalah fardu, atau meyakini bahwa di dalamnya ada yang fardu dan ada yang sunah meskipun dia tidak membedakan mana yang fardu dan mana yang sunah; hal ini berlaku bagi orang awam. Adapun bagi orang alim—yaitu orang yang telah menyibukkan diri mempelajari fikih dalam waktu tertentu—maka ia harus membedakan antara fardu-fardu dan sunah-sunahnya.
وَالثَّامِنُ : الْمَاءُ الطَّهُورُ فِي ظَنَّ كُلَّ مِنَ الْمُتَوَفِّئِ وَالْمُغْتَسِلِ وَاعْتِقَادِهِ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ طَهُوْرًا عِنْدَ غَيْرِهِ ، كَمَا لَوِ اشْتَبَهَ الطَّهُوْرُ بِالْمُتَنَجِّسِ مِنْ إِنَاءَيْنِ وَقَعَ فِي أَحَدِهِمَا لَا بِعَيْنِهِ نَجَاسَةٌ ، فَظَنَّ كُلُّ شَخْصٍ طَهَارَةَ إِنَائِهِ فَتَوَضَّأَ ، فَطَهَارَةُ كُلٌّ مِنْهُمَا صَحِيْحَةٌ ؛ فَلَا يَصِحُ الْوُضُوْءُ وَالْغُسْلُ بِمُسْتَعْمَلٍ وَمُتَغَيَّرٍ تَغَيَّرًا كَثِيرًا وَالنَّاسِعُ : دُخُولُ الْوَقْتِ ، أَيْ : فِي طَهَارَةِ دَائِمِ الْحَدَثِ ، كَمُسْتَحَاضَةٍ ، فَلَوْ تَطَهَّرَ قَبْلَ دُخُولِهِ لَمْ تَصِحَ ، لِأَنَّهَا طَهَارَةُ ضَرُورَةٍ وَلَا ضَرُوْرَةَ قَبْلَ الْوَقْتِ وَالْعَاشِرُ : الْمُوَالَاةُ ، أَيْ : بَيْنَ الأَعْضَاءِ ، وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَ الْغَسْلَاتِ ، وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَ أَجْزَاءِ الْوُضُوْءِ الْوَاحِدِ لِدَائِمِ الْحَدَثِ ؛ وَهَذَا الْقَيْدُ رَاجِعٌ لِهَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ كَمَا عَلِمْتَ .
Artinya: Kedelapan: Air yang suci lagi mensucikan (thahur) menurut persangkaan dan keyakinan setiap orang yang berwudu maupun yang mandi, meskipun menurut orang lain air tersebut tidak suci mensucikan. Contohnya seperti jika air yang suci mensucikan bercampur (samar) dengan air mutanajis di antara dua wadah, di mana salah satunya terkena najis secara tidak tentu (tidak jelas yang mana), lalu masing-masing orang menyangka kesucian wadahnya dan ia berwudu dengannya, maka bersucinya masing-masing orang tersebut adalah sah. Oleh karena itu, tidak sah wudu dan mandi menggunakan air musta'mal (air yang sudah terpakai untuk basuhan wajib) dan air yang berubah dengan perubahan yang banyak. Kesembilan: Masuknya waktu, maksudnya: dalam hal bersucinya orang yang terus-menerus berhadas (da'imul hadats), seperti wanita yang istihadhah. Maka jika ia bersuci sebelum masuk waktu (salat), bersucinya tidak sah, karena hal itu merupakan bersuci dalam keadaan darurat, sedangkan tidak ada keadaan darurat sebelum masuknya waktu. Kesepuluh: Muwalah (berturut-turut), maksudnya: (berturut-turut) di antara anggota-anggota tubuh, dan muwalah di antara basuhan-basuhan. Dan berturut-turut (muwalah) di antara bagian-bagian dalam satu wudu bagi orang yang terus-menerus berhadas; dan ketentuan (qaid) ini kembali kepada dua masalah ini (masuknya waktu dan muwalah) sebagaimana yang telah engkau ketahui.
============فَصْلٌ فِي بَيَانِ الْأَحْدَاثِ نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ ، أَيْ : أَحَدُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ
Artinya: Pasal tentang penjelasan hadas-hadas. Perkara yang membatalkan wudu ada empat hal, maksudnya: salah satu dari hal-hal berikut ini.
الْأَوَّلُ : الْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ ، هَذَا بَيَانٌ لِلسَّبِيلَيْنِ ، أَوْ مِنْ أَيِّ ثُقْبٍ كَانَ إِذَا كَانَ أَحَدُهُمَا مُنْسَدًّا انْسِدَادًا خَلْقِيًّا ، وَكَانَ الْخَارِجُ مِنَ الثَّقْبَةِ مُنَاسِبًا لِلْمُنْسَدِّ ، كَأَنِ انْسَدَّ الْقُبُلُ فَخَرَجَ مِنْهَا بَوْلٌ ، أَوِ الدُّبُرُ فَخَرَجَ مِنْهَا غَائِطٌ ؛ وَكَذَا إِذَا كَانَ غَيْرَ مُنَاسِبٍ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا كَالدَّمِ ، وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُنَاسِبًا لِلْمُنْفَتِحِ فَقَطْ فَلَا نَقْضَ ، وَأَمَّا إِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مُنْسَدًّا انْسِدَادًا عَارِضًا ، فَلَا بُدَّ أَنْ تَكُوْنَ الثَّقْبَةُ قَرِيْبَةً مِنَ الْمَعِدَةِ ، فَإِنْ كَانَتْ فِي رِجْلِهِ أَوْ نَحْوِهَا لَمْ يَنْقُضِ الْخَارِجُ مِنْهَا رِيحٌ ، هَذَا بَدَلٌ مِنْ قَوْلِهِ : « الْخَارِجُ » ، أَيْ : سَوَاءٌ خَرَجَ ذَلِكَ الرِّيْحُ مِنَ الْقُبُلِ أَوْ مِنَ الدُّبُرِ
Artinya: Pertama: Sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan, baik dari qubul maupun dubur—ini adalah penjelasan tentang dua jalan tersebut—atau keluar dari lubang mana saja apabila salah satu dari kedua jalan tersebut tersumbat secara bawaan (sejak lahir), dan sesuatu yang keluar dari lubang tersebut sesuai dengan jalan yang tersumbat, misalnya qubul tersumbat lalu keluar air kencing darinya (lubang tersebut), atau dubur tersumbat lalu keluar tinja darinya. Begitu pula jika sesuatu yang keluar itu tidak menyerupai salah satu dari keduanya seperti darah. Adapun jika sesuatu yang keluar hanya menyerupai apa yang biasanya keluar dari lubang yang terbuka (bukan jalan asli), maka tidak batal. Sedangkan jika salah satu dari kedua jalan tersebut tersumbat karena faktor baru (bukan bawaan), maka lubang tersebut haruslah dekat dengan lambung; jika lubang itu berada di kaki atau seumpamanya, maka sesuatu yang keluar darinya tidaklah membatalkan wudu. Angin; kata ini menjadi badal (pengganti) dari perkataannya: "Sesuatu yang keluar", maksudnya: baik angin tersebut keluar dari qubul maupun dari dubur.
وَسُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ الْحَدَثِ ، فَقَالَ : فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ [ رقم : ١٣٥ ] قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : الْفُسَاءُ : رِيحٌ يَخْرُجُ بِغَيْرِ صَوْتٍ يُسْمَعُ ، وَقَالَ الصَّاوِيُwِّ : فَإِنْ كَانَ الرِّيْحُ الْخَارِجُ مِنَ الدُّبُرِ بِلَا صَوْتٍ شَدِيدٍ سُمِّيَ فَسْوَةً ، وَإِنْ كَانَ خَفِيفًا سُمِّيَ فُسَيَّةٌ ، بِالتَّصْغِيْرِ ، وَإِنْ كَانَ بِصَوْتٍ سُمِّيَ ضُرَاطًا . انْتَهَى
Artinya: Abu Hurairah رضi الله عنه pernah ditanya tentang hadas, lalu beliau menjawab: "Fusa' (kentut tanpa suara) atau dhurat (kentut dengan suara)." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [Nomor: 135]. Disebutkan dalam kitab Al-Misbah: "Al-Fusa' adalah angin yang keluar tanpa suara yang terdengar." Dan Ash-Shawi berkata: "Jika angin yang keluar dari dubur itu tanpa suara yang keras, maka disebut faswah. Jika ringan (kecil), disebut fusayyah (bentuk pengecilan/tashghir). Dan jika dibarengi dengan suara, maka disebut dhurat." Selesai.
أَوْ غَيْرُهُ ، أَيْ : سَوَاءٌ كَانَ الْخَارِجُ عَيْنًا أَوْ رِيحًا ، طَاهِرًا أَوْ نَجِسًا ، جَافًا أَوْ رَطْبًا ، مُعْتَادًا كَبَوْلٍ، أَوْ نَادِرًا كَدَمٍ، أَنْفَصَلَ، أَوْ لَا كَدُوْدَةٍ أَخْرَجَتْ رَأْسَهَا وَإِنْ رَجَعَتْ ، وَإِذَا أَلْقَتْ الْمَرْأَةُ جُزْءَ وَلَدٍ فَإِنَّهُ يَنْتَقِضُ الْوُضُوْءُ ، أَمَّا لَوْ أَلْقَتْ وَلَدًا تَامَّا بِلَا بَلَلٍ فَلَا يَنْتَقِضُ الْوُضُوْءُ وَإِنْ وَجَبَ الْغُسْلُ . إِلَّا الْمَنِيَّ ، أَيْ : الْمُوْجِبَ لِلْغُسْلِ ، فَلَا نَقْضَ بِهِ ؛ كَأَنْ أَمْنَى بِمُجَرَّدِ نَظَرِهِ ، وَهُوَ التَّأَمُّلُ بِرُؤْيَةِ الْعَيْنِ ، لِأَنَّهُ أَوْجَبَ أَعْظَمَ الْأَمْرَيْنِ ، وَهُوَ الْغُسْلُ بِخُصُوصِ كَوْنِهِ مَنِيًّا ، فَلَا يُوْجِبُ أَدْوَنَهُمَا وَهُوَ الْوُضُوْءُ بِعُمُوْمِ كَوْنِهِ خَارِجًا
Artinya: "Atau selainnya", maksudnya: baik yang keluar itu berupa benda padat/cair atau angin, suci atau najis, kering atau basah, yang biasa keluar seperti air kencing, atau yang jarang keluar seperti darah; baik benda itu terpisah (keluar sempurna) atau tidak, seperti cacing yang hanya mengeluarkan kepalanya saja meskipun kemudian masuk lagi. Dan jika seorang wanita mengeluarkan sebagian (anggota tubuh) janin, maka wudunya batal. Adapun jika ia mengeluarkan janin secara sempurna tanpa ada basahan (cairan/darah), maka wudunya tidak batal meskipun ia wajib mandi. "Kecuali mani", maksudnya: mani yang mewajibkan mandi, maka hal itu tidak membatalkan wudu; seperti jika seseorang mengeluarkan mani hanya karena sekadar memandang (dengan syahwat)—yaitu memperhatikan dengan penglihatan mata—karena mani tersebut telah mewajibkan perkara yang lebih besar dari dua perkara (yaitu mandi) disebabkan kekhususannya sebagai mani, maka ia tidak mewajibkan perkara yang lebih rendah dari keduanya (yaitu wudu) atas dasar keumumannya sebagai sesuatu yang keluar.
الثَّانِي : زَوَالُ الْعَقْلِ ، أَيْ : التَّمْيِيزُ النَّاشِيُّ عَنْهُ ، بِنَوْمٍ ، أَيْ : فِي غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ عليهم السلام ، وَهُوَ : رِيحٌ لَطِيفَةٌ تَأْتِي مِنْ قِبَلِ الدَّمَاغِ فَتُغَطَّيْ الْعَيْنَ وَتَصِلُ إِلَى الْقَلْبِ ، فَإِنْ لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ كَانَ نُعَاسًا ، وَاسْتِرْخَاءُ أَعْصَابِ الدِّمَاغِ بِسَبَبِ الأَبْخِرَةِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْمَعِدَةِ . وَدَلِيْلُ النَّقْضِ بِالنَّوْمِ قَوْلُهُ ﷺ : « الْعَيْنَانِ وِكَاءُ السَّهِ ، فَإِذَا نَامَتِ الْعَيْنَانِ اسْتَطْلَقَ الْوِكَاءُ ، فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ » رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ [ رقم : ۲۰۳ ] وَابْنُ مَاجَةً [ رقم : ٤٧٧ مسند أحمد » ، رقم : ٨٨٩ ] .
Artinya: Kedua: Hilangnya akal, maksudnya: hilangnya kemampuan membedakan (tamyiz) yang timbul dari akal tersebut, "karena tidur", maksudnya: pada selain para Nabi عليهم السلام. Tidur adalah: angin halus yang datang dari arah otak lalu menutupi mata dan sampai ke hati. Jika belum sampai ke hati, maka itu disebut kantuk (nu'as), yaitu melemasnya saraf-saraf otak disebabkan uap yang naik dari lambung. Dalil batalnya wudu karena tidur adalah Sabda Nabi ﷺ: "Kedua mata adalah tali pengikat dubur, maka apabila kedua mata telah tidur, lepaslah tali pengikat itu. Barangsiapa yang tidur, maka hendaklah ia berwudu." Diriwayatkan oleh Abu Dawud [Nomor: 203] dan Ibnu Majah [Nomor: 477, Musnad Ahmad nomor: 889].
أَوْ غَيْرِهِ ، كَجُنُوْنٍ ، وَهُوَ : زَوَالُ الإِدْرَاكِ مِنَ الْقَلْبِ مَعَ بَقَاءِ الْقُوَّةِ وَالْحَرَكَةِ فِي الْأَعْضَاءِ ؛ أَوْ صَرَعِ ، وَهُوَ : دَاءٌ يُشْبِهُ الْجُنُوْنَ ، وَصَاحِبُهُ غَالِبًا يَسِيحُ عَلَى وَجْهِهِ فِي الْأَرْضِ ؛ أَوْ خَبَلٍ ، وَهُوَ : ذَهَابُ الْعَقْلِ وَفَسَادُهُ مِنَ الْجُنُوْنِ ؛ أَوْ عَتَةٍ ، وَهُوَ : نَقْصُ الْعَقْلِ مِنْ غَيْرِ جُنُوْنٍ أَوْ ذَهَابُهُ حَيَاءٌ أَوْ خَوْفًا ، أَوْ سُكْرٍ ، وَهُوَ : فَسَادٌ فِي الْعَقْلِ مَعَ اضْطِرَابِ وَاخْتِلَاطِ نُطْقٍ أَوْ مَرَضِ ، وَهِيَ حَالَةٌ خَارِجَةٌ عَنِ الطَّبْعِ ، ضَارَّةٌ بِالْعَقْلِ ؛ أَوْ إِغْمَاءِ ، وَهُوَ : زَوَالُ الإِدْرَاكِ مِنَ الْقَلْبِ مَعَ انْقِطَاعِ الْقُوَّةِ وَالْحَرَكَةِ فِي الْأَعْضَاءِ
Artinya: "Atau selainnya", seperti gila, yaitu: hilangnya daya tangkap dari hati sementara kekuatan dan gerak pada anggota tubuh tetap ada; atau ayan (epilepsi), yaitu: penyakit yang menyerupai gila, and penderitanya biasanya tersungkur di atas tanah; atau khabal (kekacauan akal), yaitu: hilangnya akal dan rusaknya akal karena gila; atau atah (kedunguan), yaitu: kurangnya akal tanpa kegilaan atau hilangnya akal karena rasa malu atau takut; atau mabuk, yaitu: rusaknya akal disertai dengan kegoncangan dan kekacauan dalam berbicara; atau sakit, yaitu suatu kondisi yang keluar dari tabiat normal yang membahayakan akal; atau pingsan, yaitu: hilangnya daya tangkap dari hati disertai dengan terputusnya kekuatan dan gerak pada anggota tubuh.
وَقِيلَ : هُوَ امْتِلَاءُ بُطُوْنِ الدِّمَاغِ مِنْ بَلْغَمٍ بَارِدٍ غَلِيْظٍ ، وَقِيلَ : هُوَ سَهْرٌ يَلْحَقُ الإِنْسَانَ مَعَ فَتُوْرِ الأَعْضَاءِ لِعِلَّةٍ ، وَالإِغْمَاءُ جَائِزٌ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ عليهم الصلاة والسلام ، وَلَا نَقْضَ بِإِغْمَائِهِمْ ، لِأَنَّهُ مَرَضٌ مِنْ غَلَبَةِ الْأَوْجَاعِ لِلْحَوَاسِّ الظَّاهِرَةِ فَقَطْ دُوْنَ الْقَلْبِ ، لِأَنَّهُ إِذَا حُفِظَتْ قُلُوبُهُمْ مِنَ النَّوْمِ الَّذِي هُوَ أَخَفُw مِنَ الإِغْمَاءِ كَمَا وَرَدَ فِي حَدِيْثِ : « تَنَامُ أَعْيُتُنَا وَلَا تَنَامُ قُلُوْبُنَا » [ ( الْجَامِعُ الصَّغِيرُ » ، رقم : ٢٥٢٦ ] فَمِنَ الْإِغْمَاءِ أَوْلَى لِشِدَّةِ مُنَافَاتِهِ لِلتَّعَلُّقِ بِالرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ، وَلَيْسَ كَالْإِغْمَاءِ الَّذِي يَحْصُلُ لِآحَادِ النَّاسِ ، وَمِثْلُهُ الْغَشْيُ فِي حَقِّهِمْ ، وَأَمَّا فِي حَقَّنَا فَهُوَ تَعْطِيلُ الْقُوَى الْمُحَرَّكَةِ وَالْإِرَادَةِ الْحَسَّاسَةِ لِضَعْفِ الْقَلْبِ بِسَبَبِ وَجَعٍ شَدِيدٍ أَوْ بَرْدٍ أَوْ جُوْعِ مُفْرِطٍ، فَيَنْقُضُ أَيْضًا ؛ وَمِمَّا يَنْقُضُ اسْتِغْرَاقُ الْأَوْلِيَاءِ بِالذِّكْرِ أَوْ بِالتَّفَكَّرِ .
Artinya: Dikatakan: Pingsan adalah penuhnya rongga otak oleh lendir (balgham) dingin yang kental. Dikatakan pula: Pingsan adalah rasa kantuk berat yang menimpa manusia disertai dengan melemasnya anggota tubuh karena suatu penyakit. Pingsan mungkin saja terjadi pada para Nabi عليهم الصلاة والسلام, namun pingsan mereka tidak membatalkan wudu, karena hal itu merupakan sakit akibat rasa nyeri yang sangat kuat yang hanya mengalahkan indra-indra lahiriah saja, tidak sampai ke hati. Sebab, jika hati mereka terjaga dari tidur yang derajatnya lebih ringan daripada pingsan—sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Kedua mata kami tidur namun hati kami tidak tidur" [Al-Jami' Ash-Shaghir, nomor: 2526]—maka terjaganya hati dari pingsan tentu lebih utama karena pingsan sangat bertolak belakang dengan keterikatan hati kepada Rabb Subhanahu wa Ta'ala. Pingsan mereka tidaklah sama dengan pingsan yang terjadi pada manusia pada umumnya. Demikian pula keadaan ghasy-yu (pingsan ringan) bagi mereka. Adapun bagi kita, pingsan adalah berhentinya fungsi kekuatan penggerak dan kehendak perasa karena lemahnya hati disebabkan rasa sakit yang hebat atau udara dingin atau rasa lapar yang sangat berlebihan, maka hal itu juga membatalkan (wudu); dan di antara hal yang membatalkan adalah tenggelamnya para wali (kekasih Allah) dalam zikir atau dalam tafakur (sehingga kehilangan kesadaran).
إِلَّا نَوْمَ قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَهُ مِنَ الأَرْضِ ، أَيْ : مِنْ مَقَرِّهِ ، وَهُوَ مُتَعَلِّقٌ بِمُمَكِّنٍ ، أَيْ : وَلَوْ احْتِمَالًا ، حَتَّى لَوْ تَيَقَّنَ النَّوْمَ وَشَكٍّ هَلْ كَانَ مُتَمَكِّنًا أَوْ لَا لَمْ يَنْتَقِضُ وُضُوْءُهُ ، وَلَوْ زَالَتْ إِحْدَى أَلْيَتَيْ نَائِمٍ مُتَمَكِّنٍ عَنْ مَقَرِّهِ قَبْلَ انْتِبَاهِهِ يَقِيْنًا انْتَقَضَ وُضُوْءُهُ أَوْ بَعْدَهُ أَوْ مَعَهُ أَوْ شَكَّ فِي تَقَدُّمِهِ فَلَا نَقْضَ
Artinya: "Kecuali tidurnya orang yang duduk yang memantapkan kedudukan bokongnya pada bumi", maksudnya: dari tempat menetapnya (tempat duduknya). Kata "al-ardh" berkaitan dengan "mumakkin" (yang memantapkan), maksudnya: meskipun baru sekadar kemungkinan; sehingga jika seseorang yakin bahwa ia tertidur namun ragu apakah posisinya mantap (tetap duduk tegak) atau tidak, maka wudunya tidak batal. Dan jika salah satu dari kedua pantat orang yang tidur dalam keadaan mantap itu bergeser dari tempat duduknya sebelum ia bangun secara meyakinkan, maka wudunya batal. Namun jika bergesernya itu setelah ia bangun, atau bersamaan dengan ia bangun, atau ia ragu apakah bergesernya itu mendahului bangunnya, maka tidak batal.
الثَّالِثُ : الْتِقَاءُ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيرَيْنِ أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ ، وَيَنْتَقِضُ وُضُوْءُ كُلَّ مِنْهُمَا مِنْ لَذَّةٍ أَوْ لَا ، عَمْدًا أَوْ سَهْوًا أَوْ كُرْهًا ، بِعُضْوِ سَلِيمٍ أَوْ أَشَلَّ ، وَلَوْ كَانَ الرَّجُلُ هَرِمًا أَوْ مَمْسُوْحًا ، وَلَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا مَيْتًا لَكِنْ لَا يَنْتَقِضُ وُضُوْءُ الْمَيْتِ ، أَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا مِنَ الْجِنِّ وَلَوْ كَانَ عَلَى غَيْرِ صُورَةِ الْآدَمِيَّ كَكَلْبٍ ، حَيْثُ تَحَقَّقَتْ الذُّكُورَةُ أَوِ الْأُنُوثَةُ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ تَوَلَّدَ شَخْصٌ بَيْنَ آدَمِيٌّ وَحَيْوَانٍ آخَرَ غَيْرِ جِنِّي فَلَا نَقْضَ بِلَمْسِهِ ، وَلَوْ عَلَى صُورَةِ الْآدَمِيِّ ؛ حَاصِلُهُ أَنَّ اللَّمْسَ نَاقِضٌ بِشُرُوْطٍ خَمْسَةٍ : أَحَدُهَا : أَنْ يَكُوْنَ بَيْنَ مُخْتَلِفَيْ ذُكُورَةٍ وَأَنُوْثَةٍ
Artinya: Ketiga: Bersentuhnya kulit laki-laki dan perempuan yang keduanya sudah besar (dewasa) serta bukan mahram tanpa ada penghalang. Wudu masing-masing dari keduanya batal, baik disertai rasa nikmat (lezzat) maupun tidak, dilakukan dengan sengaja, lupa, atau terpaksa; baik menggunakan anggota tubuh yang sehat maupun yang lumpuh (luyu). Meskipun laki-lakinya sudah sangat tua atau yang kemaluannya terpotong rata. Meskipun salah satunya sudah mati, namun wudu si mayat tidaklah batal. Atau jika salah satunya dari golongan Jin, meskipun Jin tersebut tidak dalam rupa manusia (seperti rupa anjing), selama jelas sifat laki-laki atau perempuannya. Berbeda halnya jika seseorang lahir dari persilangan antara manusia dengan hewan lain (selain Jin), maka tidak batal dengan menyentuhnya meskipun ia berwujud seperti manusia. Ringkasnya, persentuhan itu membatalkan wudu dengan lima syarat: Salah satunya: Haruslah persentuhan antara dua jenis yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan.
ثَانِيهَا : أَنْ يَكُوْنَ بِالْبَشَرَةِ دُوْنَ الشَّعْرِ وَالسِّنِّ وَالظُّفْرِ ، فَلَا نَقْضَ بِشَيْءٍ مِنْهَا ، بِخِلَافِ الْعَظْمِ إِذَا كُشِطَ ، فَإِنَّهُ يَنْقُضُ ، وَلَوِ اتَّخَذَتِ الْمَرْأَةُ أَوِ الرَّجُلُ أَصْبُعًا مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ لَمْ يَنْقُصْ لَمْسُهَا ، وَلَوْ سُلِخَ جِلْدُ الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ وَحُشِيَ لَمْ يَنْقُضُ لَمْسُهُ ، لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى آدَمِيًّا ، وَكَذَا لَوْ سُلِخَ ذَكَرُ الرَّجُلِ وَحُشِيَ إِذْ لَا يُسَمَّى ذَكَرًا
Artinya: Kedua: Haruslah persentuhan itu pada kulit, bukan pada rambut, gigi, dan kuku; maka tidak batal dengan (menyentuh) satu pun dari hal-hal tersebut. Berbeda dengan tulang jika kulitnya terkelupas, maka hal itu membatalkan. Dan jika seorang wanita atau laki-laki menggunakan jari tiruan dari emas atau perak, maka tidak batal menyentuhnya. Dan jika kulit laki-laki atau perempuan dikuliti lalu diisi (diawetkan/disamak), maka tidak batal menyentuhnya karena ia tidak lagi disebut sebagai manusia. Demikian pula jika kemaluan dikuliti laki-laki lalu diisi (diawetkan), karena ia tidak lagi disebut sebagai zakar (kemaluan laki-laki).
ثَالِثُهَا : أَنْ يَكُوْنَ بِدُوْنِ حَائِلٍ ، فَلَوْ كَانَ بِحَائِلٍ وَلَوْ رَقِيقًا فَلَا نَقْضَ ، وَمِنَ الْحَائِلِ مَا لَوْ كَثُرَ الْوَسَخُ الْمُتَجَمِّدُ عَلَى الْبَشَرَةِ مِنْ غُبَارٍ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ مِنَ الْعَرَقِ ، فَإِنَّ لَمْسَهُ يَنْقُضُ ، لِأَنَّهُ صَارَ كَالْجُزْءِ مِنَ الْبَدَنِ
Artinya: Ketiga: Hendaknya persentuhan itu tanpa penghalang. Jika terdapat penghalang meskipun tipis, maka tidak batal. Termasuk penghalang adalah jika kotoran dari debu yang mengeras di atas kulit sangat banyak; berbeda halnya jika kotoran itu berasal dari keringat, maka menyentuhnya tetap membatalkan wudu karena ia telah menjadi seperti bagian dari tubuh.
رَابِعُهَا : أَنْ يَبْلُغَ كُلٌّ مِنْهُمَا حَدَّ الْكِبَرِ يَقِيْنًا ، وَهِيَ فِي حَقِّ الرَّجُلِ مَنْ بَلَغَ حَدًّا تَشْتَهِيْهِ فِيْهِ عُرْفًا ذَوَاتُ الطَّبَاعِ السَّلِيْمَةِ مِنَ النِّسَاءِ ، كَالسَّيِّدَةِ نَفِيْسَةَ بِنْتِ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ ابْنِ سَيِّدِنَا الْحَسَنِ سِبْطِ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ مِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَضِيَ عَنْهُ ، وَذَلِكَ بِأَنْ يَمِيلَ قَلْبُ تِلْكَ النِّسَاءِ إِلَيْهِ ؛ وَفِي الْمَرْأَةِ مَنْ بَلَغَتْ حَدًّا يَشْتَهِيْهَا فِيْهِ عُرْفًا ذَوُو الطَّبَاعِ السَّلِيْمَةِ مِنَ الرِّجَالِ ، كَالْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ وَذَلِكَ بِأَنْ يَنْتَشِرَ مِنْهُمُ الذَّكَرُ ، فَلَوْ بَلَغَ أَحَدُهُمَا حَدًّا يُشْتَهَى وَلَمْ يَبْلُغْهُ الْآخَرُ فَلَا نَقْضَ
Artinya: Keempat: Hendaknya masing-masing dari keduanya telah mencapai batasan usia besar (dewasa) secara meyakinkan. Batasan tersebut bagi laki-laki adalah seseorang yang telah mencapai usia di mana wanita-wanita yang bertabiat normal secara umum memiliki syahwat kepadanya—seperti Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Sayyidina Al-Hasan cucu Rasulullah ﷺ dari Sayyidina Ali karramallahu wajhahu wa radhiyallahu 'anhu—yaitu dengan condongnya hati wanita-wanita tersebut kepadanya. Sedangkan batasan bagi perempuan adalah seseorang yang telah mencapai usia di mana laki-laki yang bertabiat normal secara umum memiliki syahwat kepadanya—seperti Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu—yaitu dengan terjadinya ereksi kemaluan mereka. Maka jika salah satu dari keduanya telah mencapai batasan syahwat namun yang lainnya belum, maka tidak batal.
خَامِسُهَا : عَدَمُ الْمَحْرَمِيَّةِ وَلَوِ احْتِمَالًا ، وَالْمَحْرَمُ : مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا ، وَيَكُوْنُ تَحْرِيمُهَا عَلَى التَّأْبِيْدِ بِسَبَبٍ مُبَاحٍ لَا لِاحْتِرَامِهَا وَلَا لِعَارِضٍ يَزُولُ ؛ فَاحْتُرِسَ بِقَوْلِهِمْ : « عَلَى التَّأْبِيْدِ » عَنْ أُخْتِ الزَّوْجَةِ وَعَمَّتِهَا وَخَالَتِهَا ، فَإِنَّ تَحْرِيْمَهُنَّ مِنْ جِهَةِ الْجَمْعِ فَقَطْ ؛ وَبِقَوْلِهِمْ: « بِسَبَبٍ مُبَاحٍ » عَنْ بِنْتِ الْمَوْطُوْأَةِ بِشُبْهَةٍ وَأُمِّهَا ، لِأَنَّ وَطْءَ الشَّبْهَةِ لَا يُوْصَفُ بِإِبَاحَةٍ وَلَا تَحْرِيمٍ ؛ وَعَنِ الْمُلَاعِنَةِ لِتَحْرِيمِ سَبَبِ حُرْمَتِهَا، وَهُوَ الزِّنَا؛ وَبِقَوْلِهِمْ : « لَا لِاحْتِرَامِهَا » عَنْ زَوْجَاتِ النَّبِيِّ ﷺ ، فَإِنَّ تَحْرِيْمَهُنَّ لِاحْتِرَامِهِنَّ ، فَإِنَّهُنَّ يَحْرُمْنَ عَلَى الْأُمَمِ وَعَلَى الْأَنْبِيَاءِ أَيْضًا ، لِأَنَّهُمْ مِنْ أُمَّتِهِ ﷺ وَلَوْ لَمْ يَدْخُلْ بِهِنَّ ، بِخِلَافِ إِمَائِهِ ﷺ فَلَا يَحْرُمْنَ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا إِنْ كُنَّ مَوْطُوْآتِ لَهُ ، وَأَمَّا زَوْجَاتُ بَقِيَّةِ الأَنْبِيَاءِ فَيَحْرُمْنَ عَلَى الْأُمَمِ خَاصَّةً لَا عَلَى الأَنْبِيَاءِ وَبِقَوْلِهِمْ ، : « وَلَا لِعَارِضٍ يَزُولُ » عَنِ الْمَوْطُوْأَةِ فِي نَحْوِ حَيْضٍ وَالْمَجُوسِيَّةِ وَالْوَثَنِيَّةِ وَالْمُرْتَدَّةِ ، لِأَنَّ تَحْرِيْمَهُنَّ لِعَارِضٍ يَزُولُ ، فَيُمْكِنُ أَنْ تَحِلَّ لَهُ مَنْ ذُكِرَ فِي وَقْتٍ
Artinya: Kelima: Tidak adanya hubungan mahram meskipun baru sekadar kemungkinan. Mahram adalah: orang yang haram dinikahi, di mana keharamannya bersifat selamanya (tahrim mu'abbad) disebabkan oleh faktor yang mubah, bukan karena penghormatan kepadanya dan bukan pula karena faktor baru yang bisa hilang. Maka dengan perkataan mereka "selamanya", dikecualikanlah saudara perempuan istri (ipar), bibi istri dari jalur ayah maupun ibu, karena keharaman mereka hanya dari segi mengumpulkan dua wanita (yang bersaudara/kerabat) saja. Dengan perkataan mereka "disebabkan faktor yang mubah", dikecualikanlah anak perempuan dari wanita yang disetubuhi secara syubhat dan ibunya, karena persetubuhan syubhat tidak disifati dengan mubah maupun haram; serta dikecualikan pula wanita yang di-li'an karena haramnya sebab keharaman tersebut yaitu zina. Dan dengan perkataan mereka "bukan karena penghormatan", dikecualikanlah istri-istri Nabi ﷺ, karena keharaman mereka adalah demi menghormati mereka; sesungguhnya mereka haram bagi umat-umat ini dan haram pula bagi para Nabi lainnya, karena para Nabi pun termasuk dari umat beliau ﷺ, meskipun belum (Nabi) mencampuri mereka, berbeda dengan budak-budak perempuan beliau ﷺ, maka mereka tidak haram bagi orang lain kecuali jika mereka telah disetubuhi oleh beliau. Adapun istri-istri para Nabi lainnya, maka mereka haram bagi umat-umat saja, tidak bagi para Nabi. Dan dengan perkataan mereka: "dan bukan karena faktor baru yang bisa hilang", dikecualikanlah wanita yang sedang disetubuhi dalam keadaan haid, wanita Majusi, penyembah berhala, dan wanita murtad, karena keharaman mereka disebabkan faktor baru yang bisa hilang, sehingga memungkinkan bagi wanita-wanita yang disebutkan tadi untuk menjadi halal baginya di waktu lain.
تَتِمَّةٌ : أَعْلَمْ أَنَّ وَطْءَ الشَّبْهَةِ الَّذِي لَا يُوْصَفُ بِإِبَاحَةٍ وَلَا تَحْرِيمٍ هُوَ شُبْهَةُ الْفَاعِلِ ، كَأَنْ يَظُنَّ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً زَوْجَتَهُ ، فَيَطَؤُهَا ، وَكَوَطْءِ الْمُكْرَهِ ، بِفَتْحِ الرَّاءِ ؛ وَأَمَّا الْوَطْءُ بِشُبْهَةِ الْمَحَلِّ ، كَوَطْءِ أَمَةِ وَلَدِهِ أَوْ شَرِيكِ الأَمَةِ الْمُشْتَرَكَةَ ، أَوْ سَيِّدٍ مُكَاتِبَتَهُ ، أَوْ بِشُبْهَةِ الطَّرِيقِ ، أَيْ : الْمَذْهَبِ ، وَهُوَ أَنْ يَعْقِدَ عَلَيْهَا ، أَيْ : الْمَرْأَةِ بِجِهَةٍ قَالَهَا عَالِمٌ يُعْتَدُّ بِخِلَافِهِ ، كَالْحَنَفِيِّ وَنَحْوِهِ ، فَإِنَّهُ لَا يُوْصَفُ بِحُرْمَةٍ ، وَسُمِّيَ وَطْءُ أَمَةِ الْوَلَدِ بِشُبْهَةِ الْمَحَلِّ ، لِأَنَّ مَالَ الْوَلَدِ كُلَّهُ مَحَلٌّ لِإِعْفَافِ أَصْلِهِ ، وَمِنْهُ الْجَارِيَةُ ، فَإِعْفَافُ الْوَلَدِ هُوَ أَنْ يُهِيِّئَ لِلأَصْلِ مُسْتَمْتَعًا بِالْحَلِيْلَةِ وَيُمَوِّنُهَا . وَمِثَالُ شُبْهَةِ الطَّرِيْقِ كَالنِّكَاحِ بِلَا شُهُودٍ عِنْدَ الْعَقْدِ عِنْدَ مَالِكٍ ، وَيَجِبُ الإِشْهَادُ عِنْدَهُ قَبْلَ الدُّخُولِ ، وَبِلَا وَلِيٍّ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَبِلَا وَلِيٍّ وَشُهُودٍ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ دَاوُدَ الظَّاهِرِيِّ ؛ كَأَنْ زَوَّجَتْهُ نَفْسَهَا فَلَا حَدَّ عَلَى الْوَاطِئِ فِي ذَلِكَ ، وَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ تَقْلِيْدَهُمْ ، وَإِنْ اعْتَقَدَ التَّحْرِيمَ
Artinya: Pelengkap: Ketahuilah bahwa persetubuhan syubhat yang tidak disifati dengan mubah maupun haram adalah syubhat pada pelaku (syubhatul fa'il), seperti seseorang yang menyangka wanita lain adalah istrinya lalu ia menyetubuhinya, dan seperti persetubuhan orang yang dipaksa (mukrah). Adapun persetubuhan dengan syubhat pada tempatnya (syubhatul mahall), seperti menyetubuhi budak perempuan milik anaknya, atau salah satu pemilik menyetubuhi budak perempuan milik bersama, atau seorang tuan menyetubuhi budak mukatab-nya. Atau dengan syubhat jalan (syubhatut thariq), maksudnya: mazhab, yaitu seseorang melakukan akad nikah dengan seorang wanita melalui cara yang dinyatakan oleh seorang alim yang pendapatnya diakui dalam perbedaan pendapat, seperti mazhab Hanafi dan seumpamanya, maka hal itu tidak disifati dengan haram. Persetubuhan terhadap budak milik anak disebut syubhat pada tempatnya karena seluruh harta anak adalah tempat bagi orang tuanya untuk menjaga kehormatan dirinya (i'faf), termasuk di dalamnya adalah budak perempuan tersebut; adapun cara anak menjaga kehormatan orang tuanya adalah dengan menyediakan sarana bersenang-senang bagi orang tuanya melalui istri (halilah) dan menanggung nafkahnya. Contoh syubhat jalan adalah seperti nikah tanpa saksi saat akad menurut Imam Malik—namun wajib menghadirkan saksi menurut beliau sebelum mencampuri—dan nikah tanpa wali menurut Abu Hanifah, serta nikah tanpa wali dan tanpa saksi sebagaimana mazhab Dawud Azh-Zhahiri; seperti seorang wanita yang menikahkan dirinya sendiri, maka tidak ada hukuman had bagi orang yang menyetubuhinya dalam hal tersebut meskipun ia tidak bermaksud bertaqlid kepada mereka dan meskipun ia meyakini keharamannya.
وَقَدْ نَظَمَ بَعْضُهُمْ الشُّبُهَاتِ الثَّلَاثَةَ فِي قَوْلِهِ :
اللَّذْ أَبَاحَ الْبَعْضُ حِلَّهُ فَلَا حَدَّ بِهِ وَلِلطَّرِيقِ اسْتَعْمَلَا
وشُبْهَةٌ لِفَاعِلٍ كَأَنْ أَتَى لِحُرْمَةٍ يَظُنُّ حِلَّا مُثْبَتَا
ذَاتُ اشْتِرَاكِ أَلْحِقَنْ وَسَمِّيَنْ هَذَا الْأَخِيْرَ بِالْمَحَلَّ فَأَعْلَمَنْ
Artinya: Dan sebagian ulama telah menggubah nazam mengenai tiga macam syubhat tersebut dalam perkataannya: Sesuatu yang sebagian (ulama) membolehkan halalnya, maka tidak ada hukuman had padanya, dan gunakanlah istilah "thariq" (jalan) untuk itu. Dan syubhat bagi pelaku (fa'il), seolah-ofah ia mendatangi keharaman namun ia menyangka halalnya hal tersebut telah ditetapkan. Serta (persetubuhan) pada milik bersama, sertakanlah itu, dan namailah yang terakhir ini dengan "mahall" (tempat), maka ketahuilah.
الرَّابِعُ : مَسُّ قُبْلِ الْآدَمِيٌّ وَلَوْ سَهْوًا ، وَلَوْ مُبَانًا ؛ حَيْثُ سُمِّيَ فَرْجًا ، وَلَوْ أَشَلَّ ، وَلَوْ صَغِيرًا أَوْ مَيْتًا مِنْ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ ، وَهُوَ فِي الرَّجُلِ جَمِيعُ نَفْسِ الْقَضِيْبِ أَوْ مَحَلُّ قَطْعِهِ لَا مَا تَنْبُتُ عَلَيْهِ الْعَانَةُ ، وَالْبَيْضَتَانِ ، وَمَا بَيْنَ الْقُبُلِ وَالدُّبُرِ ؛ وَفِي الْمَرْأَةِ شُفْرَاهَا الْمُلْتَقِيَانِ ، وَهُمَا حَرْفًا الْفَرْجِ الْمُحِيْطَانِ بِهِ كَإِحَاطَةِ الشَّفَتَيْنِ بِالْفَمِ أَوِ الْخَاتَمِ بِالإِصْبَعِ ، لَا مَا فَوْقَهُمَا مِمَّا يَنْبُتُ عَلَيْهِ الشَّعْرُ ؛ وَخَرَجَ بِالشَّفْرَيْنِ الْمُلْتَقِيَيْنِ مَا بَعْدَهُمَا ، فَلَوْ وَضَعَتْ أَصْبُعَهَا دَاخِلَ فَرْجِهَا لَمْ يَنْتَقِضُ وُضُوْءُهَا وَإِنْ نَقَضَ خُرُوجُهُ ، وَمِنْ ذَلِكَ الْبَطْرُ ، بِفَتْحِ الْبَاءِ ، وَهُوَ : لَحْمَةٌ بِأَعْلَى الْفَرْجِ ، وَالْقُلْفَةُ حَالَ اتِّصَالِهِمَا ، فَإِنْ قُطِعَا فَلَا نَقْضَ بِهِمَا وَالتَّقْبِيدُ بِـ « الآدَمِيِّ » يُخْرِجُ الْبَهِيمَةَ ، وَأَمَّا الْجِنِّيُّ فَهُوَ كَالآدَمِيِّ بِنَاءً عَلَى حِلِّ مُنَا كَحَتِنَا لَهُمْ أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ ، وَهِيَ : الْمَنْفَذُ الْمُلْتَقِيْ كَفَمِ الْكِيْسِ ، لَا مَا فَوْقَهُ ، وَلَا مَا تَحْتَهُ
Artinya: Keempat: Menyentuh qubul manusia meskipun karena lupa, dan meskipun anggota tubuh yang sudah terpotong selama masih dinamai kemaluan (farji); meskipun anggota tersebut lumpuh, milik anak kecil, atau mayat, baik milik sendiri maupun orang lain. Pada laki-laki, yang dimaksud adalah seluruh batang penis atau tempat bekas pemotongannya (jika sudah dikhitan/dipotong), bukan tempat tumbuhnya rambut kemaluan, bukan kedua buah zakar (testis), dan bukan pula daerah antara qubul dan dubur. Pada perempuan, yang dimaksud adalah dua bibir kemaluannya yang bertemu, yaitu dua tepi kemaluan yang mengelilinginya sebagaimana bibir mengelilingi mulut atau cincin mengelilingi jari; bukan bagian di atas keduanya yang ditumbuhi rambut. Dikecualikan dengan "dua bibir yang bertemu" adalah bagian setelahnya (bagian dalam), sehingga jika seorang wanita memasukkan jarinya ke dalam kemaluannya, wudunya tidak batal, meskipun keluarnya jari tersebut membatalkan wudu. Termasuk dalam hal tersebut adalah klitoris (al-bathru) dan kulup (al-qulfah) selama keduanya masih tersambung; jika keduanya telah dipotong, maka tidak batal dengan menyentuhnya. Pembatasan dengan kata "manusia" mengecualikan hewan. Adapun Jin, maka ia seperti manusia berdasarkan kehalalan pernikahan kita dengan mereka. Atau lingkaran duburnya, yaitu: lubang pengeluaran yang bertemu (tepinya) seperti mulut kantong; bukan bagian di atasnya dan bukan pula bagian di bawahnya.
بِبَطْنِ الرَّاحَةِ أَوْ بُطُوْنِ الْأَصَابِعِ ، وَهِيَ : مَا يَسْتَتِرُ عِنْدَ وَضْعِ إِحْدَى الرَّاحَتَيْنِ عَلَى الْأُخْرَى مَعَ تَحَامُلٍ يَسِيرٍ فِي غَيْرِ الْإِبْهَامَيْنِ ، أَمَّا هُمَا فَيَضَعُ بَاطِنَ أَحَدِهِمَا عَلَى بَاطِنِ الآخَرِ ؛ فَيَنْتَقِضُ وُضُوْءُ الْمَاسِّ دُوْنَ الْمَمْسُوْسِ ، بِخِلَافِ اللَّمْسِ ، فَإِنَّهُ يَنْتَقِضُ وُضُوْءُ كُلٍّ مِنَ اللَّامِسِ وَالْمَلْمُوْسِ وَالْحَاصِلُ أَنَّ الْمَسَّ يُفَارِقُ اللَّمْسَ فِي ثَمَانِيَةِ صُوَرٍ : أَحَدُهَا : أَنَّ النَّقْضَ فِي الْمَسِّ خَاصٌّ بِصَاحِبِ الْكَفِّ فَقَطْ ثَانِيهَا : أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِي الْمَسِّ اخْتِلَافُ النَّوْعِ ، ذُكُورَةٌ وَأَنُوْثَةٌ ثَالِثُهَا : أَنَّ الْمَسَّ قَدْ يَكُوْنُ فِي الشَّخْصِ الْوَاحِدِ ، فَيَحْصُلُ بِمَسِّ فَرْجِ نَفْسِهِ . رَابِعُهَا : أَنْ لَا يَكُوْنَ إِلَّا بِبَاطِنِ الْكَفِّ خَامِسُهَا : أَنْ يَكُوْنَ فِي الْمَحْرَمِ وَغَيْرِهِ سَادِسُهَا : أَنَّ مَسَّ الْفَرْجِ الْمُبَانِ يَنْقُضُ ، وَأَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْمُبَانِ مِنَ الْمَرْأَةِ لَا يَنْقُضُ سَابِعُهَا : اخْتِصَاصُ الْمَسِّ بِالْفَرْجِ ثَامِنُهَا : لَا يُشْتَرَطُ الْكِبَرُ فِي الْمَسِّ دُوْنَ اللَّمْسِ
Artinya: Dengan telapak tangan atau bagian dalam jari-jari, yaitu bagian yang tertutup saat menempelkan telapak tangan yang satu ke telapak tangan yang lain disertai sedikit tekanan pada bagian selain kedua jempol. Adapun untuk kedua jempol, maka dengan menempelkan bagian dalam salah satunya ke bagian dalam jempol yang lain. Maka wudu orang yang menyentuh (mass) menjadi batal, namun tidak bagi yang disentuh. Berbeda dengan persentuhan kulit (lams), karena wudu keduanya—baik yang menyentuh maupun yang disentuh—sama-sama batal. Kesimpulannya, menyentuh kemaluan (mass) berbeda dengan persentuhan kulit (lams) dalam delapan perkara: Pertama: Bahwa batalnya wudu pada mass hanya khusus bagi pemilik telapak tangan saja. Kedua: Bahwa pada mass tidak disyaratkan adanya perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Ketiga: Bahwa mass bisa terjadi pada satu orang yang sama, yaitu terjadi dengan menyentuh kemaluannya sendiri. Keempat: Bahwa mass tidak terjadi kecuali dengan bagian dalam telapak tangan. Kelima: Bahwa mass membatalkan baik pada mahram maupun bukan mahram. Keenam: Bahwa menyentuh kemaluan yang sudah terpotong membatalkan wudu, sedangkan menyentuh anggota tubuh wanita yang sudah terpisah tidak membatalkan. Ketujuh: Kekhususan mass hanya pada bagian kemaluan. Kedelapan: Tidak disyaratkan harus sudah dewasa pada mass, berbeda dengan lams (yang mensyaratkan dewasa).
==================فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يَحْرُمُ بِالْحَدَثِ الْأَصْغَرِ وَالْمُتَوَسِّطِ وَالْأَكْبَرِ مَنِ انْتَقَضَ وُضُوْؤُهُ حَرُمَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءِ : أَحَدُهَا : الصَّلَاةُ وَلَوْ نَفْلًا ، وَصَلَاةُ جَنَازَةٍ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ : ( لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » ، أَيْ : لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حِيْنَ حَدَثِهِ إِلَى أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيَقْبَلُ صَلَاتَهُ ، إِلَّا عَلَى فَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ، فَيُصَلِّي الْفَرْضَ دُوْنَ النَّفْلِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ ، وَيَقْضِيْ إِذَا قَدِرَ عَلَى أَحَدِهِمَا ، وَفِي مَعْنَى الصَّلَاةِ خُطْبَةُ الْجُمُعَةِ وَسَجْدَةُ التَّلَاوَةِ وَالشَّكْرِ .
Artinya: Fasal ini menjelaskan tentang hal-hal yang diharamkan bagi orang yang memiliki hadas kecil, sedang, dan besar. Barangsiapa yang batal wudunya, maka haram baginya empat perkara: Pertama: Shalat meskipun shalat sunnah dan shalat jenazah, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: "Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian jika dia berhadas hingga dia berwudu." Maksudnya: Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian pada saat dia memiliki hadas sampai dia berwudu, kemudian Allah akan menerima shalatnya. Kecuali bagi orang yang tidak menemukan dua alat penyuci (air dan debu), maka dia tetap melaksanakan shalat fardu (bukan shalat sunnah) untuk menghormati waktu, dan wajib mengqadha (mengulang shalat) apabila dia telah mampu mendapatkan salah satu dari keduanya. Termasuk dalam makna shalat adalah khutbah Jumat, sujud tilawah, dan sujud syukur.
وَثَانِيهَا : الطَّوَافُ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا ، كَطَوَافِ الْقُدُوْمِ ، لِخَبَرِ الْحَاكِمِ : « الطَّوَافُ بِمَنْزِلَةِ الصَّلَاةِ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ فِيْهِ النُّطْقَ ، فَمَنْ نَطَقَ فَلَا يَنْطِقُ إِلَّا بِخَيْرٍ » .
Artinya: Kedua: Tawaf, baik tawaf fardu maupun sunnah seperti tawaf qudum, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim: "Tawaf itu kedudukannya sama dengan shalat, hanya saja Allah menghalalkan berbicara di dalamnya. Maka barangsiapa yang berbicara (saat tawaf), janganlah dia berbicara kecuali kebaikan."
وَثَالِثُهَا : مَسُّ الْمُصْحَفِ ، وَهُوَ كُلُّ مَا كُتِبَ عَلَيْهِ قُرْآنٌ لِدِرَاسَةٍ ، وَلَوْ عَمُوْدًا أَوْ لَوْحًا أَوْ جِلْدًا أَوْ قِرْطَاسًا ، وَخَرَجَ بِذَلِكَ التَّمِيمَةُ ، وَهِيَ مَا يُكْتَبُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ لِلتَّبَرُّكِ وَتُعَلَّقُ عَلَى الرَّأْسِ مَثَلًا ، فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا وَلَا حَمْلُهَا مَا لَم * تُسَمَّ مُصْحَفًا عُرْفًا ، فَإِذَا كُتِبَ الْقُرْآنُ كُلُّهُ لَا يُقَالُ لَهُ تَمِيْمَةٌ وَلَوْ صَغُرَ ، وَإِنْ قَصَدَ ذَلِكَ ، فَلَا عِبْرَةً لِقَصْدِهِ ؛ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ : وَالْعِبْرَةُ فِي قَصْدِ الدَّرَاسَةِ وَالتَّبَرُّكِ بِحَالِ الْكِتَابَةِ دُونَ مَا بَعْدَهَا ، وَبِالْكَاتِبِ لِنَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ تَبَرُّعًا ، أَيْ : بِلَا أُجْرَةٍ وَلَا آمِرٍ وَإِلَّا ، فَآمِرُهُ أَوْ مُسْتَأْجِرُهُ .
Artinya: Ketiga: Menyentuh mushaf, yaitu segala sesuatu yang tertulis di atasnya ayat Al-Qur'an untuk tujuan dipelajari, meskipun... Dan (haram) membawanya. (Maksud mushaf adalah) baik berupa tiang, papan, kulit, atau kertas. Dikecualikan dari hal tersebut adalah tamimah (jimat), yaitu sesuatu yang ditulis di dalamnya sebagian dari Al-Qur'an untuk tujuan tabarruk (mengambil berkah) dan dikalungkan di kepala misalnya, maka tidak haram menyentuh maupun membawanya selama tidak dinamakan mushaf secara urf (kebiasaan umum). Maka apabila Al-Qur'an ditulis secara keseluruhan, tidaklah ia disebut tamimah meskipun ukurannya kecil, dan meskipun ia bermaksud demikian (menjadikannya tamimah), maka maksudnya tidak dianggap. Ibnu Hajar berkata: "Yang dianggap dalam niat belajar atau tabarruk adalah pada saat penulisan, bukan setelahnya; dan (yang dianggap niatnya) adalah si penulis bagi dirinya sendiri atau orang lain secara sukarela—yakni tanpa upah dan tanpa ada yang menyuruh—jika tidak demikian, maka (yang dianggap niatnya) adalah orang yang menyuruhnya atau yang menyewanya."
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي « التَّبْيَانِ » : وَسَوَاءٌ مَسَّ نَفْسَ الْمُصْحَفِ الْمَكْتُوْبِ أَوِ الْحَوَاشِي أَوِ الْجِلْدَ ، وَيَحْرُمُ مَسُّ الْخَرِيْطَةِ وَالْغِلَافِ وَالصُّنْدُوْقِ إِذَا كَانَ فِيْهِنَّ الْمُصْحَفُ : هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ الْمُخْتَارُ ، وَقِيلَ : لَا تَحْرُمُ هَذِهِ الثَّلَاثَةُ ، وَهُوَ ضَعِيفٌ ؛ وَلَوْ كُتِبَ الْقُرْآنُ فِي لَوْحٍ فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمُصْحَفِ ، سَوَاءٌ قَلَّ الْمَكْتُوبُ أَوْ كَثُرَ ، حَتَّىٰ لَوْ كَانَ بَعْضُ آيَةٍ كُتِبَ لِلدَّرَاسَةِ حَرُمَ .
Artinya: Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan: "Sama saja baik ia menyentuh tulisan mushaf itu sendiri, pinggirannya, maupun sampulnya. Dan haram menyentuh kantong tempat menyimpan mushaf, sampul (yang tidak menempel), dan kotak apabila di dalamnya terdapat mushaf. Inilah pendapat mazhab yang terpilih. Ada pendapat yang mengatakan tidak haram ketiga hal ini, namun pendapat tersebut lemah. Dan andaikata Al-Qur'an ditulis di sebuah papan, maka hukumnya adalah hukum mushaf, baik tulisan itu sedikit maupun banyak. Bahkan seandainya hanya sebagian ayat yang ditulis untuk tujuan dipelajari, maka hukumnya haram (disentuh tanpa wudu)."
وَقَالَ أَيْضًا : وَفِي الْمُصْحَفِ ثَلَاثُ لُغَاتِ : ضَمُّ الْمِيمِ وَفَتْحُهَا وَكَسْرُهَا ، فَالضَّمُّ وَالْكَسْرُ مَشْهُورَتَانِ ، وَالْفَتْحُ ذَكَرَهَا أَبُوْ جَعْفَرٍ النَّخَاسُ وَغَيْرُهُ .
Artinya: Beliau (An-Nawawi) berkata juga: "Dalam kata 'Al-Mushaf' ada tiga logat (cara baca): dhommah mim-nya (Mushaf), fathah (Mashaf), dan kasrah (Mishaf). Bacaan dhommah dan kasrah adalah yang masyhur (populer), sedangkan bacaan fathah disebutkan oleh Abu Ja'far An-Nakhas dan lainnya."
قَالَ الشَّبْرَا مَلْسِيُ : وَظَاهِرٌ أَنَّ مَسَّهُ مَعَ الْحَدَثِ لَيْسَ كَبِيرَةٌ ، بِخِلَافِ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا كَالطَّوَافِ وَسَجْدَةِ التَّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ ، فَإِنَّهَا كَبِيرَةٌ .
Artinya: Asy-Syabramallisi berkata: "Dan secara zahir, menyentuh mushaf dalam keadaan berhadas bukanlah termasuk dosa besar, berbeda dengan shalat dan sejenisnya seperti tawaf, sujud tilawah, dan sujud syukur, karena sesungguhnya hal-hal tersebut termasuk dosa besar."
وَرَابِعُهَا : حَمْلُهُ إِلَّا فِي مَتَاعٍ ، فَيَحِلُ * حَمْلُهُ مَعَهُ تَبَعًا لَهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَقْصُوْدًا بِالْحَمْلِ وَحْدَهُ ، بِأَنْ لَمْ يَقْصِدُ شَيْئًا ، أَوْ قَصَدَ الْمَتَاعَ وَحْدَهُ ، وَكَذَا إِذَا قَصَدَهُ مَعَ الْمَتَاعِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، بِخِلَافِ مَا إِذَا قَصَدَهُ وَحْدَهُ أَوْ قَصَدَ وَاحِداً لَا بِعَيْنِهِ ، فَإِنَّهُ يَحْرُمُ ؛ وَلَا يُشْتَرَطُ كَوْنُ الْمَتَاعِ ظَرْفًا لَهُ ، وَمَحَلُّ جَوَازِ الْحَمْلِ فِيْمَا ذُكِرَ حَيْثُ لَم * يَعُدْ مَاسَّا لَهُ بِأَنْ غَرَزَ فِيْهِ شَيْئًا وَحَمَلَهُ ، إِذْ مَسُّهُ حَرَامٌ وَلَوْ بِحَائِلٍ وَلَوْ بِلَا قَصْدٍ .
Artinya: Keempat: Membawanya, kecuali jika berada di dalam barang bawaan (lain), maka boleh membawanya bersama barang tersebut karena ia hanya mengikut padanya, asalkan tidak... (Diperbolehkan membawa mushaf bersama barang lain jika mushaf tersebut tidak) dimaksudkan untuk dibawa sendirian, dengan gambaran ia tidak meniatkan apa pun, atau ia meniatkan (membawa) barangnya saja. Demikian pula (boleh) jika ia meniatkan membawa mushaf bersamaan dengan barang tersebut menurut pendapat yang muktamat. Berbeda halnya jika ia meniatkan membawa mushaf itu sendirian, atau meniatkan salah satu dari keduanya secara tidak spesifik, maka hal itu diharamkan. Dan tidak disyaratkan barang tersebut harus menjadi wadah bagi mushaf. Kebolehan membawa dalam hal-hal yang telah disebutkan tersebut adalah sekira ia tidak dianggap menyentuh mushaf, seperti ia menancapkan sesuatu pada barang tersebut lalu membawanya. Karena sesungguhnya menyentuh mushaf itu haram meskipun dengan penghalang dan meskipun tanpa kesengajaan.
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي « التَّبْيَانِ » : أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى وُجُوْبِ صِيَانَةِ الْمُصْحَفِ وَاحْتِرَامِهِ . قَالَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ : وَلَوْ أَلْقَاهُ مُسْلِمٌ فِي الْقَاذُورَةِ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ تَعَالَى صَارَ الْمُلْقِي كَافِرًا . قَالُوا : وَيَحْرُمُ تَوَسُّدُهُ ، بَلْ تَوَسُّدُ آحَادِ كُتُبِ الْعِلْمِ حَرَامٌ . وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُوْمَ لِلْمُصْحَفِ إِذَا قُدِمَ بِهِ عَلَيْهِ لِأَنَّ الْقِيَامَ مُسْتَحَبُّ لِلْفُضَلَاءِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْأَخْيَارِ ، فَالْمُصْحَفُ أَوْلَى .
Artinya: Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan: "Kaum muslimin telah bersepakat atas kewajiban menjaga dan menghormati mushaf. Para sahabat kami (ulama Syafi'iyah) dan selain mereka berkata: Seandainya seorang muslim melemparkannya ke tempat kotoran—semoga Allah melindungi kita darinya—maka orang yang melemparkannya tersebut menjadi kafir. Mereka berkata: Diharamkan menjadikannya sebagai bantal, bahkan menjadikan kitab-kitab ilmu (agama) sebagai bantal pun haram. Dan disunnahkan untuk berdiri menghormati mushaf apabila mushaf tersebut didatangkan kepadanya, karena berdiri itu disunnahkan bagi para ulama dan orang-orang pilihan yang memiliki keutamaan, maka terhadap mushaf tentu lebih utama lagi".
وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ ، أَيْ : الْمُحْدِثِ حَدَثًا أَوْسَطَ ؛ سِتَّهُ أَشْيَاءَ : أَحَدُهَا : الصَّلَاةُ ، لِلْحَدِيْثِ : « لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طَهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُوْلٍ » وَالْغُلُولُ بِضَمِّ الْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ : الْحَرَامِ .
Artinya: Dan diharamkan bagi orang yang junub—yakni orang yang berhadas sedang—enam perkara: Pertama: Shalat, berdasarkan hadis: "Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci, dan tidak pula menerima sedekah dari hasil ghulul". Al-Ghulul dengan dhommah pada huruf Ghain berarti harta haram.
قَالَ النَّوَوِيُّ : أَمَّا إِذَا لَمْ يَجِدِ الْجُنُبُ مَاءً وَلَا تُرَابًا فَإِنَّهُ يُصَلِّيْ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ خَارِجَ الصَّلَاةِ ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ أَنْ يَقْرَأَ فِي الصَّلَاةِ مَا زَادَ عَلَى فَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، وَهَلْ يَحْرُمُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ ؟ فِيْهِ وَجْهَانِ ، الصَّحِيحُ الْمُخْتَارُ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ ، بَلْ يَجِبُ ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَا تَصِحُّ إِلَّا بِهَا ، وَكَمَا جَازَتِ الصَّلَاةُ لِلضَّرُورَةِ مَعَ الْجَنَابَةِ تَجُوْزُ الْقِرَاءَةُ ، وَالثَّانِي لَا يَجُوزُ ، بَلْ يَأْتِي بِالْأَذْكَارِ الَّتِي يَأْتِي بِهَا الْعَاجِزُ الَّذِي لَا يَحْفَظُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ ، لِأَنَّ هَذَا عَاجِزٌ شَرْعًا ، فَصَارَ كَالْعَاجِزِ حِسَّا ؛ وَالصَّوَابُ الأَوَّلُ . أَنْتَهَى
Artinya: Imam An-Nawawi berkata: "Adapun apabila orang yang junub tidak menemukan air maupun debu, maka sesungguhnya ia tetap shalat untuk menghormati waktu sesuai kondisinya. Namun diharamkan baginya membaca (Al-Qur'an) di luar shalat, dan diharamkan... (Bagi orang junub yang tidak menemukan air dan debu, maka haram) baginya membaca surat tambahan di dalam shalat melebihi Al-Fatihah. Lantas, apakah haram baginya membaca Al-Fatihah? Dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat yang sahih dan terpilih adalah tidak haram, bahkan wajib, karena shalat tidak sah tanpa Al-Fatihah. Sebagaimana shalat diperbolehkan dalam keadaan darurat meski sedang junub, maka diperbolehkan pula membacanya (Al-Fatihah). Pendapat kedua menyatakan tidak boleh, melainkan ia harus menggantinya dengan zikir-zikir sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang tidak mampu (berhalangan) yang tidak hafal satu pun ayat Al-Qur'an. Hal ini dikarenakan ia dianggap tidak mampu secara syariat, maka kedudukannya sama dengan orang yang tidak mampu secara fisik. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. Selesai.
وَثَانِيهَا : الطَّوَافُ ، لِخَبَرِ الْحَاكِمِ : « الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ » ، أَيْ : كَالصَّلَاةِ فِي السَّتْرِ وَالطَّهَارَةِ .
Artinya: Kedua: Tawaf, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Al-Hakim: "Tawaf di Baitullah adalah shalat". Maksudnya: Seperti shalat dalam hal kewajiban menutup aurat dan kesucian (dari hadas).
وَثَالِثُهَا : مَسُّ الْمُصْحَفِ . قَالَ النَّوَوِيُّ : إِذَا كَتَبَ الْجُنُبُ أَوِ الْمُحْدِثُ مُصْحَفًا إِنْ كَانَ يَحْمِلُ الْوَرَقَةَ وَيَمَسُّهَا حَالَ الْكِتَابَةِ فَهُوَ حَرَامٌ ، وَإِنْ لَم * يَحْمِلْهَا وَلَم * يَمَسَّهَا فَفِيْهِ ثَلَاثَهُ أَوْجُهِ ، الصَّحِيحُ جَوَازُهُ ، وَالثَّانِي تَحْرِيمُهُ ، وَالثَّالِثُ يَجُوْزُ لِلْمُحْدِثِ وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ .
Artinya: Ketiga: Menyentuh mushaf. Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan: "Apabila orang yang junub atau yang berhadas menulis mushaf, jika ia memegang atau menyentuh kertasnya saat menulis, maka hukumnya haram. Namun jika ia tidak memegang dan tidak pula menyentuhnya, maka ada tiga pendapat. Pendapat yang sahih adalah boleh, pendapat kedua mengharamkannya, dan pendapat ketiga membolehkan bagi yang berhadas (kecil) namun mengharamkan bagi yang junub."
وَرَابِعُهَا : حَمْلُهُ ، لِأَنَّهُ أَعْظَمُ مِنَ الْمَسِّ ، فَهُوَ حَرَامٌ بِالْقِيَاسِ الأَوْلَوِيِّ . قَالَ النَّوَوِيُّ : سَوَاءٌ حَمَلَهُ بِعَلَّاقَتِهِ أَوْ بِغَيْرِهَا . اِنْتَهَى وَيَجُوْزُ حَمْلُ حَامِلِ الْمُصْحَفِ وَلَا يَجْرِي فِيْهِ تَفْصِيلُ الْمَتَاعِ ، لِأَنَّهُ لَا يُعَدُّ حَامِلًا لِلْمُصْحَفِ ، وَلَوْ قَصَدَهُ ، فَلَا عِبْرَةَ بِقَصْدِهِ . وَلَوْ حَمَلَ مُصْحَفًا مَعَ كِتَابٍ فِي جِلْدٍ وَاحِدٍ فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمُصْحَفِ مَعَ الْمَتَاعِ فِي التَّفْصِيلِ الْمَارُّ بِ بالنِّسْبَةِ لِلْحَمْلِ ، أَمَّا الْمَسُّ فَيَحْرُمُ مَسُّ الْجِلْدِ الْمُسَامِتِ لِلْمُصْحَفِ دُوْنَ مَا عَدَاهُ ، وَإِنَّمَا حَرُمَ مَسُّ جِلْدِ الْمُصْحَفِ مَعَ أَنَّهُ حَائِلٌ ، وَالْمَسُّ مِنْ وَرَائِهِ لَا يُؤَثِّرُ كَمَا فِيْ عَدَمِ نَقْضِ الْوُضُوْءِ بِالْمَسِّ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ ، لِأَنَّ حُرْمَةَ الْمَسِّ هُنَا تَعْظِيمُ لِلْمُصْحَفِ ، فَحَرُمَ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ مُبَالَغَةٌ فِيْهِ ، وَالنَّقْضُ فِي الْوُضُوْءِ بِالْمَسِّ لِمَا فِيْهِ مِنْ إِثَارَةِ الشَّهْوَةِ الْمَفْقُوْدِ ذَلِكَ مَعَ الْحَائِلِ ؛ وَلَا يَجِبُ مَنْعُ صَبِيٌّ مُمَيَّرٍ وَلَوْ جُنُبًا مِنْ حَمْلٍ مُصْحَفِهِ وَمَسِّهِ لِحَاجَةِ تَعَلُّمِهِ وَمَشَقَّةِ اسْتِمْرَارِهِ مُتَطَهَّرًا ، فَمَحَلُّ ذَلِكَ إِنْ كَانَ لِالدِّرَاسَةِ . قَالَ الشَّبْرَا مَلْسِيُّ : بِخِلَافِ تَمْكِينِهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ أَوْ نَحْوِهِمَا مَعَ الْحَدَثِ . اِنْتَهَى
Artinya: Keempat: Membawanya, karena membawa itu lebih dari sekadar menyentuh, maka hukumnya haram berdasarkan qiyas aulawi (analogi prioritas). Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan: "Sama saja baik ia membawanya dengan talinya atau tanpa tali". Selesai. Dan diperbolehkan membawa orang yang sedang membawa mushaf, serta tidak berlaku dalam hal ini perincian mengenai barang bawaan. Hal itu dikarenakan ia (yang menggendong orang pembawa mushaf) tidak dianggap membawa mushaf, meskipun ia meniatkannya, maka niatnya tersebut tidak dianggap. Dan seandainya seseorang membawa... mushaf bersama kitab lain dalam satu jilid (sampul), maka hukumnya sama dengan hukum membawa mushaf beserta barang bawaan lainnya dalam perincian yang telah lewat mengenai hukum membawanya. Adapun mengenai menyentuh, maka haram menyentuh bagian sampul yang sejajar/menempel langsung dengan mushaf, bukan bagian selain itu. Sesungguhnya menyentuh sampul mushaf itu diharamkan meskipun ia merupakan penghalang—padahal menyentuh dari balik penghalang biasanya tidak berpengaruh (tidak membatalkan) sebagaimana tidak batalnya wudu akibat menyentuh (kemaluan) dari balik penghalang—karena keharaman menyentuh di sini tujuannya adalah untuk mengagungkan mushaf. Maka diharamkan menyentuh dari balik penghalang sebagai bentuk kesungguhan dalam mengagungkannya. Sedangkan pembatalan wudu karena menyentuh itu disebabkan adanya dorongan syahwat yang mana hal itu hilang jika ada penghalang. Dan tidak wajib melarang anak kecil yang sudah mumayyiz (meskipun ia sedang junub) untuk membawa mushafnya atau menyentuhnya karena ada kebutuhan untuk belajar dan adanya kesulitan jika ia harus terus-menerus dalam keadaan suci. Maka kebolehan tersebut adalah apabila untuk tujuan belajar. Asy-Syabramallisi berkata: "Berbeda halnya dengan membiarkannya (anak kecil tersebut) melaksanakan shalat, tawaf, atau sejenisnya dalam keadaan berhadas." Selesai.
وَيَحْرُمُ تَمْكِيْنُ غَيْرِ الْمُمَيِّزِ مِنْ نَحْوِ مُصْحَفِ ، وَلَوْ بَعْضٍ آيَةٍ ، لِمَا فِيْهِ مِنَ الْإِهَانَةِ .
Artinya: Dan haram membiarkan anak yang belum mumayyiz memegang sejenis mushaf, meskipun hanya potongan ayat, karena hal tersebut mengandung unsur penghinaan.
فَائِدَةٌ : قَالَ النَّوَوِيُّ فِي ( التَّبْيَانِ ) : لَا يُمْنَعُ الْكَافِرُ مِنْ سَمَاعِ الْقُرْآنِ ، لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ : ﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرُهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللهِ ﴾ وَيُمْنَعُ مِنْ مَسَّ الْمُصْحَفِ ، وَهَلْ يَجُوْزُ تَعْلِيمُهُ الْقُرْآنَ ؟ قَالَ أَصْحَابُنَا : إِنْ كَانَ لَا يُرْجَى إِسْلَامُهُ لَمْ يَجُز| تَعْلِيمُهُ ، وَإِنْ رُجِيَ إِسْلَامُهُ فَفِيْهِ وَجْهَانِ : أَصَحُّهُمَا يَجُوْزُ رَجَاءَ لِإِسْلَامِهِ ، وَالثَّانِي لَا يَجُوْزُ ، كَمَا لَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْمُصْحَفِ مِنْهُ وَإِنْ رُجِيَ . وَأَمَّا إِذَا رَأَيْنَاهُ يَتَعَلَّمُ ، فَهَلْ يُمْنَعُ ؟ فِيْهِ وَجْهَانِ . أَنْتَهَى
Artinya: Faidah: Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan: "Orang kafir tidak dilarang mendengarkan Al-Qur'an, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla: 'Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia agar ia dapat mendengar kalam Allah' (QS. At-Taubah: 6). Namun ia dilarang menyentuh mushaf. Lantas, apakah boleh mengajarkannya Al-Qur'an? Para sahabat kami (ulama Syafi'iyah) berkata: Jika tidak ada harapan baginya untuk masuk Islam, maka tidak boleh mengajarkannya. Namun jika ada harapan masuk Islam, maka ada dua pendapat: yang paling sahih adalah boleh karena berharap keislamannya, dan pendapat kedua menyatakan tidak boleh, sebagaimana tidak diperbolehkan menjual mushaf kepadanya meskipun ada harapan masuk Islam." Adapun jika... kita melihatnya (orang kafir) sedang belajar (Al-Qur'an), maka apakah ia harus dilarang? Dalam hal ini ada dua pendapat. Selesai.
وَخَامِسُهَا : اللَّبْثُ ، بِضَمِّ اللَّامِ وَفَتْحِهَا ، مَصْدَرُ لَبِثَ مِنْ بَابِ سَمِعَ ، أَيْ : لُبْثُ مُسْلِمٍ بَالِغِ غَيْرِ نَبِيٍّ فِي الْمَسْجِدِ ، وَهُوَ : مَا وُقِفَ لِلصَّلَاةِ ، وَلَوْ كَانَ اللُّبْثُ بِقَدْرِ الطَّمَأْنِيْنَةِ ؛ لَا عُبُوْرُهُ ، وَهُوَ : الدُّخُولُ مِنْ بَابِ وَالْخُرُوْجُ مِنْ آخَرَ ، بِخِلَافِ مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ إِلَّا بَابٌ وَاحِدٌ ، فَيَمْتَنِعُ الدُّخُولُ ؛ أَمَّا التَّرَدُّدُ فَإِنَّهُ حَرَامٌ كَالْمُكْثِ ، قَالَ تَعَالَى : ﴿ لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَرَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا ﴾ ، أَيْ : لَا تَقْرَبُوا مَوْضِعَ الصَّلَاةِ فِي حَالِ كَوْنِكُمْ سُكَارَى وَلَا فِي حَالِ كَوْنِكُمْ جُنُبًا ، نَعَمْ يَجُوْزُ لُبْثُهُ فِيْهِ لِضَرُورَةٍ ، كأَنْ نَامَ فِيْهِ فَاحْتَلَمَ وَتَعَذَّرَ خُرُوجُهُ لِخَوْفٍ مِنْ عَسَسٍ وَنَحْوِهِ ، لَكِنْ يَلْزَمُهُ التَّيَمُّمُ إِنْ وَجَدَ غَيْرَ تُرَابِ الْمَسْجِدِ ، أَمَّا تُرَابُهُ وَهُوَ الدَّاخِلُ فِي وَقِفِيَّتِهِ ، كَأَنْ كَانَ الْمَسْجِدُ تُرَابِيًّا ، فَيَحْرُمُ التَّيَمُّمُ بِهِ ، وَيَصِحُّ .
Artinya: Kelima: Berdiam diri (Al-Labtsu), dengan men-dhammah-kan huruf lam (Lubtsun) atau mem-fathah-kannya (Labtsun), merupakan bentuk masdar dari kata labitsa yang mengikuti bab sami'a. Maksudnya adalah berdiam dirinya seorang muslim yang sudah baligh dan bukan seorang Nabi di dalam masjid—yaitu tempat yang diwakafkan untuk shalat—meskipun berdiam dirinya hanya seukuran lamanya thumaninah. Hal ini tidak termasuk sekadar melintas ('ubur), yaitu masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya; berbeda halnya jika masjid tersebut hanya memiliki satu pintu, maka dilarang untuk masuk. Adapun mondar-mandir (di dalam masjid), maka hukumnya haram sebagaimana berdiam diri. Allah Ta'ala berfirman: "Janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan pula mendekati masjid) dalam keadaan junub, kecuali sekadar melintas jalan hingga kamu mandi" (QS. An-Nisa: 43). Maksudnya: janganlah kalian mendekati tempat shalat (masjid) saat kalian dalam keadaan mabuk dan tidak pula dalam keadaan junub. Benar, diperbolehkan berdiam diri di dalamnya karena keadaan darurat, seperti jika seseorang tidur di masjid lalu bermimpi basah dan ia tidak mungkin keluar karena takut terhadap petugas patroli ('asas) atau sejenisnya. Akan tetapi, ia wajib bertayamum jika menemukan debu selain debu masjid. Adapun debu masjid, yaitu debu yang termasuk dalam bagian wakafnya—seperti jika lantai masjid itu berupa tanah/debu—maka haram hukumnya bertayamum menggunakan debu tersebut, namun tayamumnya tetap sah.
وَالْعَسَسُ ، هُوَ : الْحَاكِمُ الَّذِي يَطُوْفُ بِاللَّيْلِ .
Artinya: Dan yang dimaksud Al-'Asas islah petugas atau penguasa yang berkeliling (berpatroli) pada malam hari.
وَلَوْ جَامَعَ زَوْجَتَهُ فِيْهِ وَهُمَا مَارَّانِ لَمْ يَحْرُمْ ، أَمَّا لَوْ مَكَثَا فِيْهِ لِعُذْرٍ ، فَإِنَّهُ يَمْتَنِعُ مُجَامَعَتُهُمَا حِينَئِذٍ .
Artinya: Seandainya seseorang menyetubuhi istrinya di dalam masjid sambil keduanya berjalan melintas, maka hal itu tidak diharamkan. Namun, jika keduanya berdiam diri di dalam masjid karena suatu uzur, maka saat itu keduanya dilarang melakukan persetubuhan.
وَمِنَ الْمَسْجِدِ سَطْحُهُ وَدَرَجَتُهُ وَرَوْشَنُهُ وَجِدَارُهُ وَسِرْدَابٌ تَحْتَ أَرْضِهِ ، وَخَرَجَ بِالْمَسْجِدِ مُصَلَّى الْعِيدِ وَالْمَدَارِسُ ، وَهِيَ : الْمَوَاضِعُ الَّتِي يَدْرُسُ فِيهَا الشَّيْخُ مَعَ الطَّلَبَةِ ؛ وَالرِّبَاطُ ، وَهُوَ : الْبَيْتُ الَّذِي يُبْنَى لِلْفُقَرَاءِ وَلِلطَّلَبَةِ ، أَوْ هُوَ : مَعْبَدُ الصُّوْفِيَّةِ ، أَوْ هُوَ النُّغُوْرُ ، أَيْ : الْمَوَاضِعُ الَّتِي يُخَافُ مِنْهَا هُجُوْمُ الْعَدُوِّ .
Artinya: Termasuk bagian dari masjid adalah atapnya, tangganya, balkon/serambinya, dindingnya, dan ruangan bawah tanah (sirdab) di bawah lantainya. Dikecualikan dari kategori masjid adalah mushalla (lapangan) untuk shalat Id dan madrasah-madrasah, yaitu tempat-tempat yang... (Madrasah yaitu tempat-tempat yang) di dalamnya seorang Syekh belajar bersama para santri/murid; dan ribath, yaitu rumah yang dibangun untuk orang-orang fakir dan para santri, atau ia adalah tempat ibadah kaum sufi, atau ia adalah wilayah perbatasan (al-thughur), yakni tempat-tempat yang dikhawatirkan akan adanya serangan musuh darinya.
أَمَّا الصَّبِيُّ ، فَيَجُوْزُ لِوَلِيِّهِ تَمْكِينُهُ مِنَ الْمُكْثِ كَالْقِرَاءَةِ ، وَأَمَّا النَّبِيُّ ﷺ فَيَحِلُّ مُكْثُهُ بِالْمَسْجِدِ جُنُبًا ، وَهُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ ، لِأَنَّ احْتِيَاجَهُ لِلْمَسْجِدِ أَكْثَرُ لِنَشْرِ السُّنَّةِ ، فَجُوزَ لَهُ ذَلِكَ ، لَكِنَّهُ لَمْ يَقَعْ مِنْهُ ؛ وَلِأَنَّ ذَاتَهُ أَعْظَمُ مِنْ ذَاتِ الْمَسْجِدِ .
Artinya: Adapun anak kecil, maka boleh bagi walinya untuk membiarkannya berdiam diri di masjid (meski sedang junub) sebagaimana (dibolehkan) membaca Al-Qur'an. Sedangkan bagi Nabi ﷺ, maka halal baginya berdiam diri di masjid dalam keadaan junub, dan hal ini termasuk kekhususan beliau; karena kebutuhan beliau terhadap masjid lebih banyak untuk menyebarkan sunnah, maka hal itu diperbolehkan bagi beliau, meskipun hal tersebut tidak pernah terjadi pada beliau; dan karena zat beliau lebih agung daripada zat masjid itu sendiri.
أَمَّا الْكَافِرُ ، فَلَا يُمْنَعُ مِنَ الْمُكْثِ فِي الْمَسْجِدِ جُنُبًا ، لِأَنَّهُ لَا يَعْتَقِدُ حُرْمَتَهُ وَإِنْ حَرُمَ عَلَيْهِ ، لِأَنَّهُ مُخَاطَبٌ بِفُرُوْعِ الشَّرِيعَةِ ، وَلَا يَجُوْزُ لَهُ دُخُولُ الْمَسْجِدِ وَلَوْ غَيْرُ جُنُبٍ إِلَّا بِإِذْنِ مُسْلِمٍ بَالِغِ مَعَ الْحَاجَةِ ، وَمِنْهَا : جُلُوسٌ الْقَاضِي أَوِ الْمُفْتِي فِيْهِ ، أَوْ عِمَارَتِهِ .
Artinya: Adapun orang kafir, maka ia tidak dilarang dari berdiam diri di masjid dalam keadaan junub, karena ia tidak meyakini keharamannya meskipun sebenarnya hal itu haram baginya, sebab ia tetap terkena khitab (seruan) mengenai rincian hukum syariat. Dan tidak boleh baginya masuk ke dalam masjid meskipun tidak dalam keadaan junub kecuali dengan izin seorang muslim yang baligh disertai adanya hajat (kebutuhan), di antaranya: untuk menghadap hakim atau mufti yang sedang duduk di dalamnya, atau untuk pembangunan/perbaikan masjid.
وَسَادِسُهَا : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَشُرِطَ فِي حُرْمَتِهَا سَبْعَةُ شُرُوطٍ : الأَوَّلُ : كَوْنُ الْقِرَاءَةِ بِاللَّفْظِ ، وَمِثْلُهُ إِشَارَةُ الْأَخْرَسِ الْمُفْهِمَةُ ، لِأَنَّ إِشَارَتَهُ مُعْتَدٌ بِهَا إِلَّا فِي ثَلَاثَةِ أَبْوَابٍ : الصَّلَاةُ فَلَا تَبْطُلُ بِهَا ، وَالْحِنْتُ فَإِذَا حَلَفَ وَهُوَ نَاطِقٌ أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ ثُمَّ خَرِسَ وَأَشَارَ بِالْكَلَامِ لَم * يَحْنَتْ ، وَالشَّهَادَةُ فَإِذَا أَشَارَ بِهَا لَا تُقْبَلُ .
Artinya: Keenam: Membaca Al-Qur'an. Disyaratkan dalam keharamannya (bagi orang junub) ada tujuh syarat: Pertama: Keadaan membaca tersebut adalah dengan lafaz (ucapan), dan yang semisal dengannya adalah isyarat orang bisu yang dapat dipahami, karena isyaratnya dianggap sah kecuali dalam tiga bab: shalat, maka shalat tidak batal dengan isyarat tersebut; sumpah (al-hintsu), maka jika ia bersumpah saat masih bisa bicara untuk tidak berbicara lalu ia menjadi bisu dan memberikan isyarat bicara, maka ia tidak melanggar sumpahnya; serta kesaksian, maka jika ia bersaksi dengan isyarat, kesaksiannya tidak diterima.
وَإِشَارَةُ النَّاطِقِ غَيْرُ مُعْتَدٌ بِهَا إِلَّا فِي ثَلَاثَةِ أَبْوَابِ : أَمَانُ الْكَافِرِ ، وَالإِفْتَاءُ ، كَأَنْ قِيْلَ لَهُ : أَنتَوَضَّأُ بِهَذَا الْمَاءِ ؟ فَأَشَارَ أَنْ نَعَمْ أَوْ لَا ، وَرِوَايَةُ الْحَدِيْثِ ، كَأَنْ قِيْلَ لَهُ : أَتَرْوِي عَنْكَ هَذَا الْحَدِيثَ ؟ فَأَشَارَ أَنْ نَعَمْ أَوْ لا . وَخَرَجَ بِـ « اللَّفْظِ » مَا إِذَا أَجْرَى الْقِرَاءَةَ عَلَى قَلْبِهِ .
Artinya: Sedangkan isyarat orang yang bisa bicara tidak dianggap sah kecuali dalam tiga bab: memberikan jaminan keamanan bagi orang kafir; memberikan fatwa, seperti jika ditanyakan kepadanya: "Apakah boleh saya berwudu dengan air ini?" lalu ia memberi isyarat "ya" atau "tidak"; dan periwayatan... (Dan yang ketiga adalah) periwayatan hadis, seperti jika dikatakan kepadanya: "Apakah aku boleh meriwayatkan hadis ini darimu?" lalu ia memberi isyarat "ya" atau "tidak". Dikecualikan dengan kata "lafaz" adalah apabila ia menjalankan bacaan tersebut di dalam hatinya (membaca dalam hati).
الثَّانِي : كَوْنُ الْقَارِئِ مُسْمِعًا بِهَا نَفْسَهُ ، وَخَرَجَ مَا إِذَا تَلَفَّظَ وَلَم * يُسْمِعُ نَفْسَهُ حَيْثُ اعْتَدَلَ سَمْعُهُ ، وَلَا مَانِعَ .
Artinya: Kedua: Keadaan orang yang membaca tersebut memperdengarkan bacaannya kepada dirinya sendiri. Dikecualikan jika ia melafazkan namun tidak sampai memperdengarkan kepada dirinya sendiri, sekira pendengarannya normal dan tidak ada penghalang (suara bising).
الثَّالثُ : كَوْنُهُ مُسْلِمًا ، فَخَرَجَ الْكَافِرُ ، فَلَا يُمْنَعُ مِنَ الْقِرَاءَةِ لِعَدَمِ اعْتِقَادِهِ الْحُرْمَةَ ، وَإِنْ عُوْقِبَ عَلَيْهَا .
Artinya: Ketiga: Keadaan orang tersebut adalah seorang muslim. Maka dikecualikan orang kafir, ia tidak dilarang membaca (Al-Qur'an) karena ia tidak meyakini keharamannya, meskipun ia tetap akan disiksa karenanya.
الرَّابِعُ : كَوْنُهُ مُكَلَّفًا ، فَخَرَجَ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ .
Artinya: Keempat: Keadaan orang tersebut adalah seorang mukalaf (baligh dan berakal). Maka dikecualikan anak kecil dan orang gila.
الْخَامِسُ : كَوْنُ مَا أَتَى بِهِ قُرْآنًا حَيْثُ قَالَ : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ؛ فَخَرَجَ التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيْلُ وَمَنْسُوْخُ التَّلَاوَةِ وَلَوْ بَقِيَ حُكْمُهُ ، كَآيَةِ الرَّجْمِ ، وَهِيَ : ( الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجِمُوْهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ) .
Artinya: Kelima: Keadaan apa yang ia baca itu adalah Al-Qur'an, sebagaimana perkataan (mushannif): "membaca Al-Qur'an". Maka dikecualikan membaca Taurat, Injil, dan ayat yang telah dihapus bacaannya (mansukhut tilawah) meskipun hukumnya tetap berlaku, seperti ayat rajam, yaitu: "Laki-laki tua dan perempuan tua jika keduanya berzina, maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
وَالسَّادِسُ : الْقَصْدُ لِلْقِرَاءَةِ وَحْدَهَا أَوْ مَعَ الذِّكْرِ أَوِ الْقَصْدِ لِوَاحِدٍ لَا بِعَيْنِهِ ، فَإِنْ قَرَأَ آيَةً لِلاحْتِجَاجِ بِهَا حَرُمَ ، وَإِنْ قَصَدَ الذِّكْرَ أَوْ أَطْلَقَ كَأَنْ جَرَى الْقُرْآنُ عَلَى لِسَانِهِ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا فَلَا يَحْرُمُ ، فَإِنَّهُ لَا يُسَمَّى قُرْآنًا عِنْدَ الصَّارِفِ إِلَّا بِالْقَصْدِ ، وَأَمَّا عِنْدَ عَدَمِ الصَّارِفِ فَيُسَمَّى قُرْآنًا ، وَلَوْ بِلَا قَصْدٍ .
Artinya: Keenam: Adanya niat untuk membaca Al-Qur'an saja, atau niat membaca bersamaan dengan niat zikir, atau niat salah satu dari keduanya secara tidak spesifik. Maka jika ia membaca suatu ayat untuk berdalil (ihtijaj) dengannya, hukumnya haram. Namun jika ia berniat untuk zikir atau memutlakkan niat (tidak meniatkan apa-apa) seperti Al-Qur'an mengalir begitu saja di lidahnya tanpa maksud salah satu dari keduanya, maka tidak haram. Karena sesungguhnya hal itu tidak dinamakan "Al-Qur'an" ketika terdapat hal yang memalingkan maksudnya (al-sharif) kecuali dengan adanya kesengajaan. Adapun jika tidak ada hal yang memalingkan maksudnya, maka ia tetap dinamakan Al-Qur'an meskipun tanpa kesengajaan.
السَّابِعُ : أَنْ تَكُوْنَ الْقِرَاءَةُ نَفْلًا ، بِخِلَافِ مَا إِذَا كَانَتْ وَاجِبَةٌ ، سَوَاءٌ دَاخِلَ الصَّلَاةِ كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ، فَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَقْصِدَ الْقِرَاءَةَ وَأَنْ يُطْلِقَ مَثَلًا ، فَتَكُوْنُ قُرْآنًا عِنْدَ الإِطْلَاقِ لِوُجُوْبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ، فَلَا يُعْتَبَرُ الْمَانِعُ ، وَهُوَ الْجَنَابَةُ ، أَوْ خَارِجَهَا ، كَأَنْ نَذَرَ أَنْ يَقْرَأَ سُوْرَةَ يَس مَثَلًا فِي وَقْتِ كَذَا ، فَكَانَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ جُنُبًا فَاقِدًا لِلطَّهُوْرَيْنِ ، فَإِنَّهُ يَقْرَؤُهَا وُجُوْبًا لِلضَّرُورَةِ لَكِنْ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ لَا مُطْلِقا ، وَلَا حُرْمَةَ عَلَيْهِ ، فَلَيْسَ ذَلِكَ كَالْفَاتِحَةِ مِنْ كُلِّ وَجْهِ .
Artinya: Ketujuh: Keadaan bacaan tersebut adalah sunnah (naflan), berbeda halnya jika bacaan tersebut wajib, baik itu... (Baik bacaan wajib tersebut) di dalam shalat seperti orang yang tidak menemukan dua alat penyuci (air dan debu), maka tidak ada perbedaan antara ia meniatkan membaca (Al-Qur'an) atau memutlakkan niat misalnya; maka bacaan tersebut tetap dianggap Al-Qur'an saat niat dimutlakkan karena adanya kewajiban shalat atasnya, sehingga penghalang—yaitu janabah—tidaklah dianggap. Atau (bacaan wajib tersebut) di luar shalat, seperti ia bernazar untuk membaca surat Yasin misalnya pada waktu tertentu, lalu pada waktu tersebut ia dalam keadaan junub dan tidak menemukan dua alat penyuci, maka sesungguhnya ia wajib membacanya karena darurat namun dengan niat membaca (Al-Qur'an), bukan memutlakkan niat, dan tidak ada dosa baginya. Maka hal tersebut tidaklah sama seperti Al-Fatihah dari segala sisi.
=================== ```وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَمِثْلُهُ النَّفَاسُ ، عَشْرَةُ أَشْيَاء : أَحَدُهَا : الصَّلَاةُ ، أَيْ : مِنَ الْعَامِدَةِ الْعَالِمَةِ ، وَلَا تَصِحُ مُطْلَقًا ، أَيْ : وَلَوْ مَعَ الْجَهْلِ أَوِ النِّسْيَانِ ، وَلَا يَلْزَمُهَا قَضَاؤُهَا ، فَلَوْ قَضَتْهَا كُرِهَ وَتَنْعَقِدُ نَفْلًا مُطْلَقًا لَا ثَوَابَ فِيْهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . وَفَارَقَتِ الصَّوْمَ حَيْثُ يَجِبُ قَضَاؤُهَا ، لِأَنَّ الصَّلَاةَ تَتَكَرَّرُ كَثِيرًا فَيَشُقُّ قَضَاؤُهَا ، وَلَا كَذَلِكَ الصَّوْمُ فَلَا يَشُقُ قَضَاؤُهُ ، وَلِذَلِكَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ [ البخاري ، رقم : ٣٢١ ، مسلم ، رقم : : ۳۳۵ ؛ الترمذي ، رقم : ۱۳0 ، ۷۸۷ ؛ النسائي ، رقم : ۳۸۲ ، ۲۳۱۸ ؛ أبو داود ، رقم : ٢٦٢ ؛ ابن ماجه ، رقم : ٦٣١ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٢٣٥١٦ ، ٢٤١١٢ ، ٢٤١٣٩ ، ٢٤٣٦٥ ، ٢٤٥٨٥ ، ٢٥٤٢٠ ؛ الدارمي ، رقم : ۹۷۹ ، ۹۸۰ ، ۹۸۹ ، ۹۸۸] .
Artinya: Dan diharamkan sebab haid, dan yang semisal dengannya adalah nifas, sepuluh perkara: Pertama: Shalat, yakni bagi wanita yang sengaja dan mengetahui (keharamannya), and shalatnya tidak sah secara mutlak, yakni meskipun dilakukan karena tidak tahu atau lupa. Dan ia tidak wajib mengqadhanya; jika ia tetap mengqadhanya maka hukumnya makruh dan shalat tersebut terhitung sebagai shalat sunnah mutlak yang tidak ada pahala di dalamnya menurut pendapat yang muktamat. Perkara shalat ini berbeda dengan puasa yang mana puasa wajib diqadha, karena shalat itu berulang sangat sering sehingga akan memberatkan jika harus diqadha, berbeda dengan puasa yang tidak memberatkan untuk diqadha. Oleh karena itulah Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat" (HR. Bukhari No. 321, Muslim No. 335, At-Tirmidzi No. 130, 787, An-Nasa'i No. 382, 2318, Abu Dawud No. 262, Ibnu Majah No. 631, Musnad Ahmad No. 23516, 24112, 24139, 24365, 24585, 25420, Ad-Darimi No. 979, 980, 989, 988).
وَثَانِيهَا : الطَّوَافُ ، سَوَاءٌ كَانَ فِي ضِمْنِ نُسُكِ أَمْ لَا ، لِأَنَّهُ لَا يَكُوْنُ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ . فَإِنْ قُلْتَ : إِذَا كَانَ دُخُولُ الْمَسْجِدِ حَرَامًا فَالطَّوَافُ أَوْلَى ، فَمَا الْحَاجَةُ إِلَى ذِكْرِهِ ؟ قُلْتُ : لِئَلَّا يُتَوَهَّمَ أَنَّهُ لَمَّا جَازَ لَهَا الْوُقُوْفُ مَعَ أَنَّهُ أَقْوَىٰ أَرْكَانِ الْحَجِّ فَلَأَنْ يَجُوْزَ لَهَا الطَّوَافُ أَوْلَى .
Artinya: Kedua: Tawaf, baik dilakukan dalam rangkaian ibadah haji/umrah maupun tidak, karena tawaf tidaklah dilakukan kecuali di dalam masjid. Jika engkau bertanya: "Apabila masuk masjid saja sudah haram, maka tawaf tentu lebih utama lagi (keharamannya), lantas apa keperluannya menyebutkan tawaf secara khusus?" Aku jawab: Agar tidak timbul persangkaan bahwa karena ia (wanita haid) diperbolehkan melaksanakan wukuf—padahal wukuf adalah rukun haji yang paling kuat—maka diperbolehkannya tawaf baginya tentu lebih utama lagi.
وَثَالِثُهَا : مَسَّ الْمُصْحَفِ حَتَّى حَوَاشِيْهِ وَمَا بَيْنَ سُطُوْرِهِ وَالْوَرَقِ الْبَيَاضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جِلْدِهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ الْمُتَّصِلِ بِهِ ، وَيَحْرُمُ الْمَسُّ وَلَوْ بِحَائِلٍ ، وَلَوْ كَانَ تَخِيْنًا ، حَيْثُ يُعَدُّ مَاسًا لَهُ عُرْفًا ، لِأَنَّهُ يُخِلُّ بِالتَّعْظِيمِ ؛ وَالْمُرَادُ مَسُّهُ بِأَيِّ جُزْءٍ لَا بِبَاطِنِ الْكَفَّ فَقَطْ .
Artinya: Ketiga: Menyentuh mushaf, termasuk pinggirannya, sela-sela antar baris tulisannya, and kertas putih di antara tulisan dan sampulnya baik di awal maupun di akhir yang bersambung dengannya. Dan haram menyentuh (mushaf) meskipun dengan penghalang, walau penghalang itu tebal, sekira ia masih dianggap menyentuhnya secara urf (kebiasaan), karena hal itu menciderai nilai pengagungan. Dan yang dimaksud adalah menyentuhnya dengan bagian tubuh mana pun, bukan hanya dengan telapak tangan saja.
قَالَ النَّوَوِيُّ [ « التبيان » ، رقم : ٤٩٤ - ٤٩٨ ] : إِذَا مَسَّ الْمُحْدِثُ أَوِ الْجُنُبُ أَوِ الْحَائِضُ أَوْ حَمَلَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُوْمِ ، وَفِيْهِ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ، أَوْ ثَوْبًا مُطَرَّزًا بِالْقُرْآنِ ، أَوْ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيْرَ مَنْقُوْشَةً فِيْهِ ، أَوْ مَسَّ الْجِدَارَ أَوِ الْحُلْوَ وَالْخُبْزَ الْمَنْقُوْشَ فِيْهِ ، فَالْمَذْهَبُ الصَّحِيحُ جَوَازُ هَذَا كُلِّهِ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ بِمُصْحَفٍ ، وَفِيْهِ وَجْهُ أَنَّهُ حَرَامٌ .
Artinya: Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan (No. 494-498): "Apabila orang yang berhadas, orang junub, atau wanita haid menyentuh atau membawa kitab fikih atau kitab ilmu lainnya yang di dalamnya terdapat ayat Al-Qur'an, atau menyentuh pakaian yang dibordir dengan ayat Al-Qur'an, atau dirham dan dinar yang terdapat ukiran ayat padanya, atau menyentuh dinding, manisan, maupun roti yang terdapat ukiran ayat padanya, maka pendapat mazhab yang sahih adalah boleh semua ini, karena hal-hal tersebut bukanlah mushaf. Namun dalam masalah ini ada pendapat lain yang menyatakan haram."
وَقَالَ أَقْضَى الْقُضَاةِ أَبُوْ الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ فِي كِتَابِهِ « الْحَاوِي » : يَجُوزُ مَسُّ الثَّيَابِ الْمُطَرَّزَةِ بِالْقُرْآنِ وَلَا يَجُوْزُ لُبْسُهَا بِلَا خِلَافٍ ، لِأَنَّ الْمَقْصُوْدَ بِلُبْسِهَا التَّبَرُّكُ بِالْقُرْآنِ . وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ ضَعِيفٌ ، لَمْ يُوَافِقْهُ أَحَدٌ عَلَيْهِ فَمَا رَأَيْتُهُ ، بَلْ جَزَمَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ وَغَيْرُهُ بِجَوَازِ لُبْسِهَا ، وَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ .
Artinya: Aqdal Qudhah Abul Hasan Al-Mawardi berkata dalam kitabnya Al-Hawi: "Boleh menyentuh pakaian yang dibordir ayat Al-Qur'an, namun tidak boleh memakainya tanpa ada perbedaan pendapat, karena tujuan memakainya adalah tabarruk dengan Al-Qur'an." Akan tetapi, apa yang beliau sampaikan ini adalah pendapat yang lemah, dan sejauh yang aku lihat tidak ada seorang pun yang menyetujuinya. Bahkan Syekh Abu Muhammad Al-Juwaini dan ulama lainnya memastikan kebolehan memakainya, dan inilah yang benar. Wallahu A'lam.
وَأَمَّا كُتُبُ التَّفْسِيرِ وَالْفِقْهِ ، فَإِنْ كَانَ الْقُرْآنُ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ حَرُمَ مَسُّهَا وَحَمْلُهَا ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ ، كَمَا هُوَ الْغَالِبُ ، فَفِيْهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهِ : أَصَحُهَا لَا يَحْرُمُ ، وَالثَّانِي يَحْرُمُ ، وَالثَّالِثُ إِنْ كَانَ الْقُرْآنُ بِخَطْ مُتَمَيِّز بِلَفْظِ ، أَيْ : بِاجْتِمَاعِ أَوْ حُمْرَةٍ وَنَحْوِهَا حَرُمَ ، وَإِنْ لَمْ يَتَمَيَّزُ لَمْ يَحْرُمُ . قَالَ صَاحِبُ « التَّتِمَّةِ » مِنْ أَصْحَابِنَا : إِذَا قُلْنَا لَا يَحْرُمُ فَهُوَ مَكْرُوهُ .
Artinya: Adapun kitab-kitab tafsir dan fikih, maka jika ayat Al-Qur'an di dalamnya lebih banyak daripada tulisan selainnya, maka haram menyentuh dan membawanya. Namun jika tulisan selain Al-Qur'an itu lebih banyak—sebagaimana umumnya—maka ada tiga pendapat: yang paling sahih adalah tidak haram, pendapat kedua menyatakan haram, dan pendapat ketiga menyatakan jika Al-Qur'an itu ditulis dengan khat yang tampak menonjol lafaznya, maksudnya dengan berkumpulnya tulisan tersebut atau dengan tinta merah dan semisalnya, maka hukumnya haram (menyentuhnya); namun jika tidak tampak menonjol, maka tidak haram. Penulis kitab Al-Tatimmah dari kalangan ashab kita (Syafiiyyah) berkata: "Jika kita katakan tidak haram, maka hukumnya makruh."
وَأَمَّا كُتُبُ حَدِيْثِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهَا آيَاتٌ مِنَ الْقُرْآنِ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا ، وَالأَوْلَى أَنْ لَا تُمَسَّ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ ، وَإِنْ كَانَ فِيْهَا آيَاتٌ فَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْمَذْهَبِ بَلْ يُكْرَهُ . وَفِيْهِ وَجْهُ أَنَّهُ يَحْرُمُ ، وَهُوَ الْوَجْهُ الَّذِي فِي كُتُبِ الْفِقْهِ .
Artinya: Adapun kitab-kitab hadis Rasulullah ﷺ, jika di dalamnya tidak terdapat ayat-ayat Al-Qur'an, maka tidak haram menyentuhnya, namun yang lebih utama adalah tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci. Dan jika di dalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur'an, maka menurut pendapat mazhab tidaklah haram melainkan makruh. Meskipun dalam masalah ini ada pendapat lain yang menyatakan haram, yaitu pendapat yang juga berlaku pada kitab-kitab fikih.
وَأَمَّا الْمَنْسُوْخُ تِلَاوَتُهُ ( كَالشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجِمُوْهُمَا ) وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهُ وَلَا حَمْلُهُ . قَالَ أَصْحَابُنَا : وَكَذَلِكَ التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيْلُ . انْتَهَى كَلَامُ النَّوَوِيِّ .
Artinya: Adapun ayat yang telah dihapus bacaannya (mansukhut tilawah)—seperti ayat: "Laki-laki tua dan perempuan tua jika keduanya berzina maka rajamlah keduanya"—dan yang serupa dengan itu, maka tidak haram menyentuh maupun membawanya. Ashab kita berkata: "Demikian pula (hukumnya boleh) bagi kitab Taurat dan Injil." Selesai perkataan Imam An-Nawawi.
وَرَابِعُهَا : حَمْلُهُ ، وَلَوْ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى قُرْآنٍ وَتَفْسِيرٍ فَهُوَ كَالْحَمْلِ فِي التَّفْصِيْلِ بَيْنَ كَوْنِ التَّفْسِيرِ الَّذِي تَحْتَ يَدِهِ أَكْثَرُ أَوْ لَا . قَال_ النَّوَوِيُّ [ « التبيان » ، رقم : ٤٩٢ ] : إِذَا تَصَفَّحَ الْمُحْدِثُ أَوِ الْجُنُبُ أَوِ الْحَائِضُ أَوْرَاقَ الْمُصْحَفِ بِعُوْدٍ وَشِبْهِهِ ، فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا ، أَظْهَرُهُمَا جَوَازُهُ ، وَبِهِ قَطَعَ الْعِرَاقِيُwنَ مِنْ أَصْحَابِنَا ، لِأَنَّهُ غَيْرُ مَاسٌ وَلَا حَامِلٍ ، وَالثَّانِي وَهُوَ اخْتِيَارُ الرَّافِعِيُّ تَحْرِيمُهُ ، لِأَنَّهُ يُعَدُّ حَامِلًا لِلْوَرَقَةِ وَالْوَرَقَةُ كَالْجَمِيعِ . فَأَمَّا إِذَا لَفَّ كُمَّهُ عَلَى يَدِهِ وَقَلَبَ الْوَرَقَةَ فَحَرَامٌ بِلا خِلَافٍ . وَغَلِطَ بَعْضُ أَصْحَابُنَا فَحَكَى فِيْهِ وَجْهَيْنِ ، وَالصَّوَابُ الْقَطْعُ بِالتَّحْرِيمِ ، لِأَنَّ الْقَلْبَ يَقَعُ بِالْيَدِ لَا بِالْكُمْ . انْتَهَى .
Artinya: Keempat: Membawa mushaf. Dan seandainya seseorang meletakkan tangannya di atas mushaf dan kitab tafsir, maka hukumnya sama seperti membawanya, yaitu ada rincian antara apakah tafsir yang berada di bawah tangannya itu lebih banyak tulisannya (daripada Al-Qur'an) atau tidak. Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan (No. 492): "Apabila orang yang berhadas, orang junub, atau wanita haid membalik-balik lembaran mushaf dengan kayu atau semisalnya, maka mengenai kebolehannya ada dua pendapat di kalangan ashab kita. Pendapat yang paling kuat (azhar) adalah boleh, and pendapat ini ditegaskan oleh ulama Irak dari kalangan ashab kita, karena ia tidak dianggap menyentuh maupun membawa mushaf. Pendapat kedua—yang dipilih oleh Imam Ar-Rafi'i—adalah haram, karena ia dianggap sebagai orang yang membawa lembaran tersebut, sedangkan satu lembaran itu hukumnya sama seperti seluruh mushaf." Adapun jika ia melilitkan lengan bajunya ke tangannya lalu membalik lembaran (mushaf), maka hukumnya haram tanpa ada perbedaan pendapat. Sebagian ashab kita melakukan kesalahan dengan menceritakan adanya dua pendapat dalam hal ini; padahal yang benar adalah dipastikan keharamannya, karena tindakan membalik lembaran itu terjadi dengan tangan, bukan dengan lengan baju. Selesai.
قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : فَمَحَلُّ جَوَازِ قَلْبِ الْوَرَقَةِ بِالْعُوْدِ إِذَا لَمْ يَلْزَمْ عَلَيْهِ حَمْلٌ لَهَا بِأَنْ يَتَحَامَلَ عَلَيْهَا بِالْعُوْدِ ، فَتَنْفَصِلَ عَنْ صَاحِبَتِهَا ، أَوْ تَكُوْنُ قَائِمَةٌ فَيَخْفِضُهَا بِهِ ؛ وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّهُ يُدْخِلُ الْعُوْدَ بَيْنَ الْوَرَقِ وَيَفْصِلُ بَعْضَهُ مِنْ بَعْضٍ ، لِأَنَّ ذَلِكَ حَمْلٌ .
Artinya: Syekh Asy-Syarqawi berkata: "Tempat diperbolehkannya membalik lembaran mushaf dengan kayu adalah apabila tidak berakibat terbawanya lembaran tersebut dengan cara kayu itu menekan lembaran sehingga lembaran itu terpisah dari lembaran lainnya, atau jika lembaran tersebut dalam posisi tegak lalu ia menurunkannya dengan kayu itu; dan bukan maksudnya ia memasukkan kayu ke sela-sela lembaran lalu memisahkan sebagian lembaran dari yang lainnya, karena hal itu termasuk kategori membawa.
وَخَامِسُهَا : اللَّبْتُ ، أَيْ : الإِقَامَةُ فِي الْمَسْجِدِ ، وَمِثْلُهُ التَّرَدُّدُ ، لِقَوْلِهِ ﷺ : « لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضِ وَلَا لِجُنُبِ » رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ [رقم : ٢٣٢ ] عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا . وَدَخَلَ فِي الْمَسْجِدِ هَوَاؤُهُ وَمَا اتَّصَلَ بِهِ مِنْ نَحْوِ رَوْشَنٍ وَغُصْنِ شَجَرَةٍ أَصْلُهَا خَارِجٌ لَا عَكْسُهُ ، وَرَحْبَتُهُ لَا حَرِيمُهُ ، فَرَحْبَةُ الْمَسْجِدِ هِيَ السَّاحَةُ الْمُنْبَسِطَةُ ، وَالْحَرِيمُ مَا حَوْلَهُ مِنَ الْمِرْفَقِ ، بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَفَتْحِ الْفَاءِ لَا غَيْرُ ، أَيْ : كَالْمَطْبَخِ وَنَحْوِهِ .
Artinya: Kelima: Berdiam diri, maksudnya menetap di dalam masjid, dan yang semisal dengannya adalah bolak-balik (di dalam masjid). Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan tidak pula bagi orang yang junub" (HR. Abu Dawud No. 232 dari Aisyah radhiyallahu 'anha). Dan termasuk kategori (hukum) masjid adalah ruang udaranya dan apa saja yang bersambung dengannya seperti balkon dan dahan pohon yang akarnya di luar masjid (tapi dahannya masuk ke area masjid), namun tidak berlaku sebaliknya. Begitu juga pelataran masjid (rahbah) termasuk kategori masjid, namun tidak dengan area sekitar masjid (harim). Maka pelataran masjid adalah halaman yang terhampar luas, sedangkan harim adalah area di sekelilingnya yang berfungsi sebagai fasilitas (al-mirfaq), dibaca dengan kasrah pada mim dan fathah pada fa' saja, yakni seperti dapur dan semisalnya.
فَائِدَةٌ : لَا بَأْسَ بِالنَّوْمِ فِي الْمَسْجِدِ لِغَيْرِ الْجُنُبِ ، وَلَوْ لِغَيْرِ أَعْزَبٍ ، وَهُوَ : مَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ أَهْلٌ ، فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَةِ ، وَهُمْ زُهَادٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فُقَرَاءُ عُزَبَاءٌ ، كَانُوا يَنَامُوْنَ فِيْهِ فِي زَمَنِهِ ﷺ ؛ نَعَمْ يَحْرُمُ النَّوْمُ فِيْهِ إِذَا ضَيَّقَ عَلَى الْمُصَلَّيْنَ ، وَيَجِبُ حِينَئِذٍ تَنْبِيْهُهُ ، وَيُنْدَبُ تَنْبِيْهُ مَنْ نَامَ فِي نَحْوِ الصَّفُ الأَوَّلِ أَوْ أَمَامَ الْمُصَلِّيْنَ .
Artinya: Faidah: Tidak mengapa tidur di dalam masjid bagi orang yang tidak junub, meskipun bagi orang yang bukan bujangan (a'zab). A'zab adalah orang yang tidak memiliki istri. Sungguh telah tetap (riwayatnya) bahwa Ashabul Suffah—yaitu para sahabat yang zuhud, fakir, dan bujangan—dahulu mereka tidur di dalam masjid pada masa Nabi ﷺ. Benar, diharamkan tidur di dalam masjid jika mempersempit ruang bagi orang-orang yang shalat, dan pada saat itu wajib untuk membangunkannya. Serta disunnahkan membangunkan orang yang tidur di semisal shaf pertama atau di depan orang-orang yang sedang shalat.
وَلَا يَنْبَغِي الْبَصْقُ فِي الْمَسْجِدِ ، وَيَلْزَمُ مَنْ رَآهُ الإِنْكَارَ عَلَيْهِ وَمَنْعُهُ إِنْ قَدِرَ ، وَيُكْرَهُ السُّؤَالُ فِيْهِ ، بَلْ يَحْرُمُ إِنْ شَوَّشَ عَلَى الْمُصَلَّيْنَ أَوْ مَشَى أَمَامَ الصُّفُوْفِ أَوْ تَخَطَّىٰ رِقَابَهُمْ ؛ وَأَمَّا إِعْطَاءُ السَّائِلِ فِيْهِ فَيُنْدَبُ . وَيَحْرُمُ الرَّقْصُ فِيْهِ وَلَوْ لِغَيْرِ شَابَّةٍ، وَيَحْرُمُ النَّطُّ فِيْهِ وَلَوْ بِالذِّكْرِ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَقْطِيعِ حُصُرِهِ وَإِبْذَاءِ غَيْرِهِ ، وَالنَّطُّ : الْوَثْبُ ، وَهُوَ نَقْلُ الرِّجْلِ مِنْ مَحَلٍّ إِلَى مَحَلٍّ آخَرَ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى ، وَالْحُصُرُ بِضَمِّ الْحَاءِ وَالصَّادِ جَمْعُ حَصِيرٍ ، وَهُوَ : الْبَارِيَّةُ الْخَشِنُ .
Artinya: Dan tidak selayaknya meludah di dalam masjid, serta bagi siapa saja yang melihatnya wajib untuk mengingkarinya dan mencegahnya jika ia mampu. Dimakruhkan meminta-minta di dalam masjid, bahkan hukumnya haram jika mengganggu orang-orang yang sedang shalat, atau berjalan di depan shaf, atau melangkahi pundak-pundak mereka. Adapun memberi kepada peminta-minta di dalam masjid, maka hukumnya disunnahkan. Dan diharamkan menari di dalam masjid meskipun (pelakunya) bukan wanita muda, dan diharamkan melompat-lompat di dalam masjid meskipun dengan tujuan zikir, karena hal itu bisa menyebabkan rusaknya (robeknya) tikar-tikar masjid dan mengganggu orang lain. An-Naththu artinya adalah meloncat (al-watsbu), yaitu memindahkan kaki dari satu tempat ke tempat lain secara berulang-ulang. Kata Al-Hushuru dengan dhommah pada huruf Ha dan Shad adalah bentuk jamak dari Hashiir, yaitu tikar yang kasar.
===================== ```وَسَادِسُهَا : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Artinya: Keenam: Membaca Al-Qur'an (bagi wanita haid).
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي « التَّبْيَانِ » [ رقم : ١٤٥ - ١٤٨ ] : « سَوَاءٌ كَانَ آيَةً أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا ، وَيَجُوْزُ لِلْجُنُبِ وَالْحَائِضِ إِجْرَاءُ الْقُرْآنِ عَلَى قَلْبِهِمَا مِنْ غَيْرِ تَلَفُّظٍ بِهِ ، وَيَجُوْزُ لَهُمَا النَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ وَإِمْرَارُهُ عَلَى الْقَلْبِ ، وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى جَوَازِ التَّهْلِيْلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَذْكَارِ لِلْجُنُبِ وَالْحَائِضِ .
Artinya: Imam An-Nawawi berkata dalam kitab At-Tibyan (No. 145-148): "Sama saja baik yang dibaca itu satu ayat atau kurang dari satu ayat (tetap haram). Namun boleh bagi orang junub dan wanita haid menjalankan (bacaan) Al-Qur'an di dalam hati mereka tanpa melafazkannya, dan boleh bagi keduanya melihat mushaf serta membayangkannya di dalam hati. Kaum muslimin telah bersepakat (ijma') atas bolehnya membaca tahlil, tasbih, tahmid, takbir, shalawat kepada Rasulullah ﷺ, dan zikir-zikir lainnya bagi orang junub dan wanita haid."
قَالَ أَصْحَابُنَا : وَكَذَا إِذَا قَالَا لِإِنْسَانٍ ﴿ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ﴾ [١٩ سورة مريم / الآية : ١٢ ] وَقَصَدَا بِهِ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَهُوَ جَائِزٌ ، وَكَذَا مَا أَشْبَهَهُ ؛ قَالُوا : وَيَجُوْزُ لَهُمَا أَنْ يَقُولَا عِنْدَ الْمُصِيبَةِ : ﴿ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴾ [٢ سورة البقرة الآية : ١٥٦ ] إِذَا لَمْ يَقْصِدَا الْقُرْآنَ [ « الأذكار » ، رقم : ٤٤ وَ ٤٧ ] .
Artinya: Para ashab (ulama Syafiiyyah) berkata: "Begitu pula jika keduanya berkata kepada seseorang: 'Ambillah kitab itu dengan kuat' (QS. Maryam: 12) dan dengan ucapan itu mereka tidak bermaksud membaca Al-Qur'an (tapi sekadar memberi perintah), maka hal itu dibolehkan, begitu juga ucapan yang serupa dengannya." Mereka berkata: "Boleh bagi keduanya mengucapkan saat tertimpa musibah: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (QS. Al-Baqarah: 156) selama tidak bermaksud membaca Al-Qur'an (tapi bermaksud zikir/istirja')." (Kitab Al-Adzkar No. 44 & 47).
وَقَالَ أَصْحَابُنَا الْخُرَاسَانِيُّونَ : وَيَجُوزُ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ رُكُوْبِ الدَّابَّةِ : ﴿ سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ﴾ [ ٤٣ سورة الزخرف / الآية : ١٣ ] ، أَيْ : مُطِيْقِيْنَ ؛ وَعِنْدَ الدُّعَاءِ : ﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾ [٢ سورة البقرة الآية : ٢٠١ ] إِذَا لَمْ يَقْصِدْ بِهِ الْقُرْآنَ .
Artinya: Ulama ashab dari Khurasan berkata: "Boleh pula mengucapkan saat naik kendaraan: Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin (QS. Az-Zukhruf: 13), yang maknanya: kami tidak sanggup menguasainya; serta saat berdoa mengucapkan: Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar (QS. Al-Baqarah: 201), jika ia tidak bermaksud membaca Al-Qur'an dengannya."
قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ : وَإِنْ قَالَ الْجُنُبُ : بِسْمِ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ للهِ ؛ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ عَصَى ، وَإِنْ قَصَدَ الذِّكْرَ أَوْ لَمْ يَقْصِدْ شَيْئًا لَمْ يَأْثَمْ » [ « الأذكار » ، رقم : ٤٥ ] . وَيَجُوزُ لَهُمَا قِرَاءَةُ مَا نُسِخَتْ تِلَاوَتُهُ ، كَـ ( الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجِمُوْهُمَا الْبَتَّةَ ، نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ) [ « الأذكار » ، رقم : ٤٦ ] انْتَهَى قَوْلُ النَّوَوِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ .
Artinya: Imamul Haramain berkata: "Jika orang yang junub mengucapkan: Bismillah atau Alhamdulillah, maka jika ia bermaksud Al-Qur'an maka ia telah bermaksiat (berdosa), namun jika ia bermaksud zikir atau tidak bermaksud apa-apa maka ia tidak berdosa. (Kitab Al-Adzkar No. 45). Dan boleh bagi keduanya (orang junub dan haid) membaca ayat yang telah dihapus bacaannya (mansukhut tilawah), seperti: 'Laki-laki tua dan perempuan tua jika keduanya berzina maka rajamlah keduanya secara pasti, sebagai hukuman dari Allah.'. (Kitab Al-Adzkar No. 46). Selesai perkataan Imam An-Nawawi radhiyallahu 'anhu."
وَسَابِعُهَا : الصَّوْمُ ، فَمَتَى نَوَتِ الصَّوْمَ حَرُمَ عَلَيْهَا ، وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَنْوِ وَمَنَعَتْ نَفْسَهَا مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فَلَا يَحْرُمُ عَلَيْهَا ، لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى صَوْمًا ، وَالأَوْجَهُ أَنَّهُ لَمْ يَجِب| عَلَيْهَا أَصْلًا وَوُجُوْبُ الْقَضَاءِ إِنَّمَا هُوَ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ ، وَقِيلَ : وَجَبَ عَلَيْهَا ثُمَّ سَقَطَ .
Artinya: Ketujuh: Puasa. Maka kapan pun ia (wanita haid) berniat puasa, hukumnya haram baginya. Adapun jika ia tidak berniat puasa namun ia menahan dirinya dari makan dan minum (sekadar tidak makan), maka hal itu tidak haram baginya karena perbuatan itu tidak dinamakan puasa. Dan pendapat yang lebih kuat (al-aujah) adalah bahwa puasa tersebut pada dasarnya memang tidak wajib baginya, dan kewajiban mengqadha itu hanyalah karena adanya perintah baru (dari syariat). Dan dikatakan (dalam pendapat lain): puasa itu tadinya wajib baginya kemudian gugur (karena haid).
وَثَامِنُهَا : الطَّلَاقُ ، وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ إِلَّا فِي سَبْعِ صُوَرٍ ، فَلَا يَحْرُمُ طَلَاقُهَا فِيهَا : الأَوَّلُ : إِذَا قَالَ : أَنْتِ طَالِقٌ ! فِي آخِرِ جُزْءٍ مِنْ حَيْضِكِ أَوْ مَعَ آخِرِهِ ، أَوْ عِنْدَهُ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا لَوْ تَمَّ لَفْظُ الطَّلَاقِ فِي آخِرِ الْحَيْضِ لِاسْتِعْقَابِ ذَلِكَ الطَّلَاقِ الشُّرُوعَ الأَوَّلَ فِي الْعِدَّةِ .
Artinya: Kedelapan: Talak. Dan talak (saat haid) termasuk dosa besar kecuali dalam tujuh gambaran/keadaan, maka tidak haram menceraikannya pada keadaan tersebut. Pertama: Jika suami berkata: "Engkau tertalak!" pada bagian terakhir dari masa haidmu, atau bersamaan dengan akhirnya, atau di sisinya. Dan yang semisal dengan itu adalah apabila lafaz talak tersebut sempurna di akhir masa haid karena talak tersebut langsung diikuti dengan dimulainya masa iddah.
الثَّانِي : أَنْ تَكُوْنَ الْمُطَلَّقَةُ فِي ذَلِكَ غَيْرُ مَدْخُوْلٍ بِهَا لِعَدَمِ الْعِدَّةِ ، بِخِلَافِ الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا قَبْلَ الدُّخُولِ ، فَتَجِبُّ عَلَيْهَا الْعِدَّةُ .
Artinya: Kedua: Keadaan wanita yang ditalak tersebut belum disetubuhi (ghairu madkhul biha), karena ia tidak memiliki masa iddah. Berbeda dengan wanita yang ditinggal mati suaminya sebelum disetubuhi, maka ia tetap wajib menjalankan masa iddah.
الثَّالِثُ : أَنْ تَكُوْنَ حَامِلًا مِنْهُ لِاسْتِعْقَابِ ذَلِكَ الطَّلَاقِ الشُّرُوْعَ فِي الْعِدَّةِ .
Artinya: Ketiga: Keadaan wanita tersebut sedang hamil dari suaminya, karena talak tersebut langsung diikuti dengan dimulainya masa iddah (yaitu sampai melahirkan).
الرَّابِعُ : أَنْ يَكُونَ الطَّلَاقُ بِعِوَضٍ مِنْهَا إِذَا كَانَتْ حَائِلًا ، لِأَنَّ إِعْطَاءَهَا الْمَالَ يُشْعِرُ بِالْحَاجَةِ إِلَى الطَّلَاقِ . وَخَرَجَ بِـ « الْعِوَضِ مِنْهَا » مَا لَوْ طَلَّقَهَا بِسُؤَالِهَا بِلَا عِوَضٍ أَوْ بِعِوَضٍ مِنْ غَيْرِهَا ، فَيَحْرُمُ .
Artinya: Keempat: Keadaan talak tersebut dilakukan dengan adanya pengganti ('iwadh) darinya (khulu') jika ia tidak sedang hamil, karena pemberiannya harta tersebut menunjukkan adanya kebutuhan (yang mendesak) terhadap talak. Dan dikecualikan dengan kalimat "pengganti darinya" adalah apabila suami menceraikannya atas permintaan istri tanpa adanya pengganti, atau dengan pengganti dari orang lain, maka hal itu (tetap) haram.
وَالْخَامِسُ : أَنْ يَكُوْنَ الطَّلَاقُ فِي إِبْلَاءِ بِمُطَالَبَتِهَا الطَّلَاقَ فِي حَالِ الْحَيْضِ بَعْدَ مُطَالَبَتِهَا الْوَطْءَ مِنَ الزَّوْجِ فِي حَالِ الطُّهْرِ ، فَيَمْتَنِعُ مِنْهُ ، لِأَنَّ حَاجَتَهَا شَدِيدَةٌ إِلَى الطَّلَاقِ .
Artinya: Kelima: Keadaan talak tersebut terjadi dalam masa ila' (sumpah suami tidak menyetubuhi istri) dengan sebab istri menuntut talak pada saat haid, setelah sebelumnya ia menuntut untuk disetubuhi oleh suaminya pada saat suci namun suami menolaknya; hal ini diperbolehkan karena kebutuhan istri yang sangat besar terhadap talak.
السَّادِسُ : مَا إِذَا طَلَّقَهَا الْحَكَمُ فِي شِقَاقٍ وَقَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ زَوْجِهَا لِحَاجَتِهَا الشَّدِيدَةِ إِلَيْهِ .
Artinya: Keenam: Keadaan ketika seorang hakim (hakam) menceraikannya dalam kasus perselisihan (syiqaq) yang terjadi antara istri dan suaminya, karena besarnya kebutuhan istri terhadap perceraian tersebut.
السَّابِعُ : مَا لَوْ قَالَ السَّيِّدُ لِأَمَتِهِ : إِنْ طَلَّقَكِ الزَّوْجُ الْيَوْمَ فَأَنْتِ حُرَّةٌ ؛ فَعَلِمَ الزَّوَجُ ذَلِكَ التَّعْلِيقَ وَعَدَمَ رُجُوْعِ السَّيِّدِ فَطَلَّقَهَا ، أَوْ سَأَلَتْهُ ذَلِكَ ، فَلَا يَحْرُمُ طَلَاقُهَا لِلْخَلَاصِ مِنَ الرِّقِّ ، إِذْ دَوَامُهُ أَضَرُّ بِهَا مِنْ تَطْوِيلِ الْعِدَّةِ ، وَقَدْ لَا يَسْمَحُ بِهِ السَّيِّدُ بَعْدَ ذَلِكَ أَوْ يَمُوْتُ فَيَدُوْمُ أَسْرُهَا .
Artinya: Ketujuh: Keadaan seandainya seorang tuan berkata kepada hamba sahayanya: "Jika suamimu menceraikanmu hari ini, maka engkau merdeka"; lalu sang suami mengetahui penggantungan (syarat) tersebut serta mengetahui bahwa tuannya tidak akan menarik ucapannya, kemudian ia menceraikannya, atau si istri yang memintanya; maka tidak haram menceraikannya demi membebaskannya dari perbudakan. Hal ini karena kelangsungan perbudakan lebih membahayakan baginya daripada memperlama masa iddah, apalagi ada kemungkinan tuan tersebut tidak akan mengizinkannya lagi setelah itu atau si tuan meninggal dunia sehingga ia akan terus tertawan (sebagai budak).
وَالْحِكْمَةُ فِي تَحْرِيمِ الطَّلَاقِ بِالْحَيْضِ تَضَرُّرُهَا بِطُولِ مُدَّةِ التَّرَبُّصِ ، لِأَنَّ بَقِيَّةَ الْحَيْضِ لَا تُحْسَبُ مِنَ الْعِدَّةِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ﴾ [٦٥ سورة الطلاق / الآية : ١ ] .
Artinya: Hikmah diharamkannya talak saat haid adalah karena adanya kerugian bagi istri berupa lamanya masa penantian (tarabbush), sebab sisa masa haid (saat ditalak) tidak dihitung sebagai bagian dari masa iddah. Allah Ta'ala berfirman: "Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)" (QS. Ath-Thalaq: 1).
أَيْ : إِذَا أَرَدْتُمْ طَلَاقَ الْأَزْوَاجِ الْمَوْطُوْاتِ اللَّائِي يَعْتَدِدْنَ بِالأَقْرَاءِ فَطَلِّقُوْهُنَّ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ الَّذِي يَشْرَعْنَ فِيْهِ فِي الْعِدَّةِ بِأَنْ يَكُوْنَ الطَّلَاقُ فِي طُهْرٍ لَمْ تُجَامَعْ فِيْهِ ؛ وَالْمُرَادُ بِـ « وَقْتِ شُرُوعِهِنَّ » مَا يَشْمَلُ وَقْتَ تَلَبُّسِهِنَّ بِهَا ، فَلَوْ طُلِّقَتْ فِي عِدَّةِ طَلَاقٍ رَجْعِي فَلَا حُرْمَةَ لِتَلَبُّسِهَا بِالْعِدَّةِ .
Artinya: Maksudnya: Jika kalian ingin menceraikan istri-istri yang sudah disetubuhi yang masa iddahnya dengan hitungan masa suci (al-aqra'), maka ceraikanlah mereka di awal waktu mereka memulai masa iddahnya, yaitu dengan cara talak dilakukan pada masa suci yang belum disetubuhi di dalamnya. Dan yang dimaksud dengan "waktu mereka memulai" mencakup waktu saat mereka sedang berada dalam masa iddah tersebut; sehingga jika ia ditalak dalam masa iddah talak raj'i, maka tidak ada keharaman karena ia memang sedang menjalani masa iddah.
وَتَاسِعُهَا : الْمُرُورُ ، أَيْ : مُجَرَّدُ الْعُبُورِ ، فِي الْمَسْجِدِ ، لِغِلَظِ حَدَثِهَا ، وَبِهَذَا فَارَقَتِ الْجُنُبَ ، حَيْثُ لَمْ يَحْرُمْ فِي حَقِّهِ مُجَرَّدُ الْعُبُورِ ؛ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيْتَهُ ، بِالنَّاءِ الْمُثَلَّثَةِ ، أَيْ : تَلْطِيخَهُ بِالدَّمِ ، صِيَانَةٌ لِلْمَسْجِدِ ، فَإِنْ أَمِنَتْهُ كَانَ لَهَا الْعُبُورُ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ عِنْدَ انْتِفَاءِ حَاجَةِ عُبُوْرِهَا بِخِلَافِ الْجُنُبِ ، فَإِنَّ الْعُبُورَ فِي حَقِّهِ بِلَا حَاجَةٍ خِلَافُ الأَوْلَى ، فَإِنْ كَانَ لَهُمَا غَرَضٌ صَحِيحٌ ، كَقُرْبِ طَرِيقِ ، فَلَا كَرَاهَةَ وَلَا خِلَافَ الْأَوْلَى .
Artinya: Kesembilan: Melintas, maksudnya sekadar lewat di dalam masjid, karena beratnya hadas wanita tersebut. Dalam hal ini, wanita haid berbeda dengan orang junub, yang mana bagi orang junub tidak diharamkan sekadar melintas. (Keharaman ini berlaku) jika ia khawatir akan mengotorinya (talwiitsahu)—dengan huruf tsa'—yakni melumurinya dengan darah, demi menjaga kesucian masjid. Namun jika ia merasa aman dari mengotori masjid, maka ia boleh melintas tetapi hukumnya makruh apabila tidak ada keperluan untuk melintas tersebut. Berbeda dengan orang junub, yang mana melintas baginya tanpa keperluan hukumnya adalah khilaful aula (menyalahi yang utama). Adapun jika keduanya (wanita haid dan orang junub) memiliki tujuan yang benar, seperti mencari jalan pintas, maka tidak ada kemakruhan dan tidak pula khilaful aula.
وَخَرَجَ بِـ « الْمَسْجِدِ » الْمَدْرَسَةُ وَالرُّبُطُ ، بِضَمِّ الرَّاءِ وَالْبَاءِ ، جَمْعُ رِبَاطٍ ، كَكُتُبِ جَمْعُ كِتَابٍ ، وَمُصَلَّى الْعِيدِ ، وَمُلْكُ الْغَيْرِ ، فَلَا يَحْرُمُ عُبُوْرُهَا إِلَّا عِنْدَ تَحَقَّقِ التَّلْوِيْثِ أَوْ ظَنْهِ ، لَا عِنْدَ تَوَهُمِهِ ؛ وَالْفَرْقُ أَنَّ حُرْمَةَ الْمَسْجِدِ ذَاتِيَّةٌ وَحُرْمَةَ هَذِهِ عَرَضِيَّةٌ .
Artinya: Dan dikecualikan dengan kata "Masjid" adalah madrasah dan rubuth—dengan dhommah pada ra' dan ba', bentuk jamak dari ribath seperti kutub jamak dari kitab—serta mushalla Id dan milik orang lain. Maka tidak haram melintas di tempat-tempat tersebut kecuali jika diyakini pasti akan mengotori (tahaqququt talwiits) atau diduga kuat (zhann) akan mengotori, bukan sekadar dugaan lemah (tawahhum). Perbedaannya adalah bahwa kemuliaan (keharaman) masjid itu bersifat zat/asli, sedangkan kemuliaan tempat-tempat tersebut bersifat baru/datang kemudian ('aradhiyyah).
وَكَالْحَائِضِ فِيْمَا ذُكِرَ مَنْ لَهُ حَدَثُ دَائِمٌ ، كَمُسْتَحَاضَةٍ وَسَلِسٍ بَوْلٍ أَوْ مَذْيِ وَمَنْ بِهِ جِرَاحَةٌ نَضَّاحَةٌ بِالدَّمِ ، فَإِذَا خِيْفَ التَّلْوِيْتُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ الْعُبُورُ ، وَإِلَّا كُرِهَ إِلَّا لِحَاجَةٍ ، وَكَذَا سَائِرُ النَّجَاسَاتِ الْمُلَوَّثَةِ ، وَلَوْ فِي نَعْلِ أَوْ ثَوْبٍ ، فَلَا يَجُوْزُ إِدْخَالُ النَّجَاسَةِ عَلَى نَحْوِ النَّعْلِ إِلَّا بِشَرْطَيْنِ : أَنْ يَأْمَنَ التَّلْوِيْتَ ، وَأَنْ يَكُوْنَ لِحَاجَةٍ ، كَخَوْفِ الضَّيَاعِ .
Artinya: Dan sama seperti wanita haid dalam hal yang telah disebutkan adalah orang yang memiliki hadas terus-menerus (daaimul hadas), seperti wanita istihadhah, orang yang beser kencing atau madzi, dan orang yang memiliki luka yang terus mengucurkan darah. Maka jika dikhawatirkan akan mengotori (masjid) dengan sesuatu dari hal tersebut, haram baginya melintas. Jika tidak khawatir mengotori, maka hukumnya makruh kecuali jika ada keperluan. Demikian pula berlaku bagi segala macam najis yang dapat mengotori, meskipun berada pada alas kaki atau pakaian. Maka tidak boleh membawa masuk najis yang ada pada semisal alas kaki kecuali dengan dua syarat: (1) ia merasa aman tidak akan mengotori masjid, dan (2) ada keperluan, seperti khawatir alas kaki tersebut hilang (jika ditaruh di luar).
وَعَاشِرُهَا : الاسْتِمْتَاعُ ، أَيْ : الْمُبَاشَرَةُ ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِشَهْوَةٍ أَمْ لَا بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالcodeرُكْبَةِ بِوَطْءٍ ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِحَائِلٍ أَمْ لَا ، وَبِغَيْرِهِ حَيْثُ لَا حَائِلَ ، وَلَا بُدَّ أَنْ تَكُوْنَ الْمُبَاشَرَةُ بِمَا يَنْقُضُ مَسُّهُ الْوُضُوْءَ لِيَخْرُجَ السِّنُّ وَالشَّعْرُ ، فَلَا تَحْرُمُ الْمُبَاشَرَةُ بِهِ ، وَالْحَاصِلُ أَنَّ بَدَنَ الْمَرْأَةِ حَالَ الْحَيْضِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الاسْتِمْتَاعِ وَالْمُبَاشَرَةِ عَلَى قِسْمَيْنِ :
Artinya: Kesepuluh: Istimta', maksudnya bercumbu, baik dilakukan dengan syahwat maupun tidak, pada bagian antara pusar dan lutut, baik dengan persetubuhan (wath-i)—baik menggunakan penghalang maupun tidak—maupun dengan selainnya sekira tidak ada penghalang. Dan haruslah persentuhan (mubasyarah) tersebut dilakukan dengan anggota tubuh yang membatalkan wudu jika disentuh, sehingga dikecualikan gigi dan rambut; maka tidak haram bersentuhan dengan keduanya. Kesimpulannya, tubuh wanita saat haid dalam kaitannya dengan bersenang-senang (istimta') dan persentuhan terbagi menjadi dua bagian:
أَحَدُهُمَا : مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، فَيَحْرُمُ عَلَى الرَّجُلِ الْمُبَاشَرَةُ فِيهِ مُطْلَقًا ، سَوَاءٌ كَانَتْ بِوَطْءٍ أَوْ بِلَمْسِ إِذَا كَانَتْ تَحْتَ الثَّيَابِ ، بِخِلَافِ الاسْتِمْتَاعِ بِغَيْرِهَا ، كَنَظَرِ بِشَهْوَةٍ فَإِنَّهُ لَا يَحْرُم... ، وَأَمَّا الْمُبَاشَرَةُ فَوْقَهَا إِنْ كَانَتْ بِوَطْءٍ فَيَحْرُمُ أَيْضًا ، وَأَمَّا بِغَيْرِهِ فَلَا .
Artinya: Pertama: Anggota tubuh antara pusar dan lutut. Maka haram bagi laki-laki bersentuhan di area tersebut secara mutlak, baik dengan persetubuhan maupun sekadar meraba jika dilakukan di balik pakaian (tanpa penghalang). Berbeda halnya dengan bersenang-senang selain persentuhan, seperti melihat dengan syahwat, maka hal itu tidak haram. Adapun bersentuhan di atas pakaian (dengan penghalang), jika berupa persetubuhan maka tetap haram, namun jika selain persetubuhan maka tidak haram.
وَثَانِيْهُمَا : مَا عَدَا مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، فَلَا يَحْرُمُ مُطْلَقًا . وَيَحْرُمُ عَلَى الْمَرْأَةِ وَهِيَ حَائِضٌ أَنْ تُبَاشِرَ الرَّجُلَ بِمَا بَيْنَ سُرَّتِهَا وَرُكْبَتِهَا فِي أَيِّ جُزْءٍ مِنْ بَدَنِهِ ، وَلَوْ غَيْرَ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ ، لِأَنَّ مَا مُنِعَ مِنْ مَسِّهِ يَمْنَعُهَا أَنْ تَمَسَّهُ بِهِ .
Artinya: Kedua: Anggota tubuh selain antara pusar dan lutut, maka tidak haram secara mutlak. Dan haram bagi wanita yang sedang haid menyentuh laki-laki dengan bagian tubuhnya yang berada di antara pusar dan lutut pada bagian tubuh laki-laki mana pun, meskipun bukan pada bagian antara pusar dan lutut laki-laki tersebut. Hal ini karena apa yang dilarang untuk disentuh, dilarang pula baginya untuk menyentuh orang lain dengan bagian tersebut.
وَمِمَّا يَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ الطَّهَارَةُ لِلْحَدَثِ بِقَصْدِ التَّعَبْدِ مَعَ عِلْمِهَا بِالْحُرْمَةِ لِتَلَاعُبِهَا ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْصُوْدُ النَّظَافَةَ ، كَاغْتِسَالِ الْحَجِّ ، لَمْ يَمْتَنِعْ .
Artinya: Dan termasuk yang diharamkan bagi wanita haid adalah bersuci dari hadas dengan niat ibadah (ta'abbud) padahal ia tahu itu haram, karena hal itu termasuk mempermainkan agama. Namun jika tujuannya adalah kebersihan, seperti mandi untuk ihram haji, maka tidak dilarang.
وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ حُضُورُ الْمُحْتَضِرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، خِلَافًا لِمَا فِي « الْعُبَابِ » وَ « الرَّوْضِ » ، وَعَلَّلَهُ بِتَضَرُّرِهِ بِأَمْتِنَاعِ مَلَائِكَةِ الرَّحْمَةِ مِنَ الْحُضُوْرِ عِنْدَهُ بِسَبَبِهَا . كَذَا ذَكَرَهُ السُwوَيْفِيُّ نَقْلًا عَنِ الرَّمْلِيِّ .
Artinya: Dan tidak haram bagi wanita haid maupun nifas menghadiri orang yang sedang sakaratul maut menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad), berbeda dengan apa yang disebutkan dalam kitab Al-'Ubab dan Ar-Raudh. Alasan dalam kitab tersebut (yang mengharamkan) adalah karena orang yang sakaratul maut akan merugi sebab malaikat rahmat tidak mau hadir karena keberadaan wanita tersebut. Demikianlah yang disebutkan oleh As-Suwaifi dengan menukil dari Ar-Ramli.
=========================DIGITALISASI KASYIFATUS SAJA
Kajian Kitab Abi Ahmad Thoufur — Sanad Muttasil Mu'allim Syafi'i Hadzami
🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Dengerin nih Jemaah... Ente jangan puyeng dulu liat tulisan panjang begini. Ini fasal penting banget masalah Kagak Bisanye Pake Air alias Tayamum. Jangan sampe ntar pas dapet tugas dinas ke luar kota, begitu kagak ada air, Ente malah kelabakan kaga sholat, nauzubillah! Islam mah kaga kaku, ada rukhsoh, ada jalan keluar nyang cakep. Nah, di tulisan ini, Ane bakalan urai satu-satu secara detail plek-ketiplek biar pemahaman Ente kaga tadlis alias melenceng. Duduk nyang rapi, seduh kopi Ente, perhatiin baek-baek susunan naskah asli ama syarh nyablak dari Ane. Nyok, kita mulai!
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الْعَجْزِ عَنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ
Fasal: Menjelaskan Ketidakmampuan Menggunakan Air.
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ، أَيْ : جَوَازُهُ ، ثَلَاثَةٌ :
Sebab-sebab (diperbolehkannya) tayamum ada tiga:
أَحَدُهَا : فَقْدُ الْمَاءِ فِي السَّفَرِ أَوْ فِي الْحَضَرِ .
Pertama: Tidak adanya air (faqdul maa'), baik dalam perjalanan (safar) maupun saat di rumah (hadhar).
وَلِلْمُسَافِرِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ :
Dan bagi orang yang sedang bepergian (musafir) ada empat keadaan:
الْحَالَةُ الْأُوْلَى : أَنْ يَتَيَقَّنَ عَدَمَ الْمَاءِ حَوْلَهُ ، بِأَنْ يَكُوْنَ فِي بَعْضِ رِمَالِ الْبَوَادِي فَيَتَيَمَّمُ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى طَلَبِ الْمَاءِ ، لِأَنَّهُ وَالْحَالَةُ هَذِهِ عَبَثٌ .
Keadaan Pertama: Ia yakin tidak ada air di sekitarnya, misalnya ia berada di tengah padang pasir; maka ia (langsung) bertayamum tanpa perlu mencari air, karena dalam kondisi ini mencari air adalah perbuatan sia-sia.
الْحَالَةُ الثَّانيَةُ : أَنْ يُجَوِّزَ وُجُوْدَ الْمَاءِ حَوْلَهُ تَجْوِيزًا قَرِيبًا أَوْ بَعِيدًا ، فَهَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ الطَّلَبُ بِلَا خِلَافٍ ، وَيُشْتَرَطُ كَوْنُهُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ ، لِأَنَّ التَّيَمُّمَ طَهَارَةُ ضَرُورَةٍ ، وَلَا ضَرُوْرَةَ مَعَ إِمْكَانِ الطَّهَارَةِ بِالْمَاءِ وَقَبْلَ دُخُولِ الْوَقْتِ ، وَلَا يَكْفِيْهِ طَلَبُ مَنْ لَمْ يَأْذَنْ لَهُ بِلَا خِلَافٍ .
Keadaan Kedua: Ia menduga adanya air di sekitarnya, baik dugaan kuat (qariban) maupun lemah (ba'idan); maka dalam hal ini wajib baginya mencari air tanpa ada perbedaan pendapat (khilaf). Disyaratkan pencarian itu dilakukan setelah masuk waktu salat, karena tayamum adalah bersuci dalam keadaan darurat, dan tidak ada darurat selama masih mungkin bersuci dengan air dan sebelum masuk waktu. Pencarian air oleh orang lain yang tidak diberi izin olehnya hukumnya tidak cukup (tidak sah) tanpa ada perbedaan pendapat.
وَكَيْفِيَّةُ الطَّلَبِ أَنْ يُفَتِّشَ رَحْلَهُ ، أَيْ : مَسْكَنَهُ ، لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ رَحْلِهِ مَاءٌ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ نَظَرَ يَمِينًا وَشِمَالًا وَأَمَامًا وَخَلْفًا إِنِ اسْتَوَى مَوْضِعُهُ ، وَخَصَّ مَوْضِعَ الْخُضْرَةِ وَاجْتِمَاعِ الطَّيْرِ بِمَزِيْدِ احْتِيَاطٍ .
Cara mencarinya adalah dengan memeriksa barang bawaannya (rahlu), yaitu tempat tinggalnya, karena kemungkinan ada air di sana tanpa ia sadari. Jika tidak ketemu, ia menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang jika tanahnya rata; ia harus memberikan perhatian ekstra pada tempat yang terlihat hijau atau tempat berkumpulnya burung.
وَإِنْ لَمْ يَسْتَوِ الْمَوْضِعُ فَفِيْهِ تَفْصِيلُ : إِنْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ وَإِنْ قَلَّ ، أَوِ اخْتِصَاصِهِ كَجِلْدِ مَيْتَةٍ ، أَوِ انْقِطَاعِهِ عَنْ رِفْقَةٍ ، أوْ خُرُوْجِ وَقْتٍ لَوْ تَرَدَّدَ لَمْ يَجِبُ التَّرَدُّدُ ، لِأَنَّ هَذَا الْخَوْفَ يُبِيحُ لَهُ التَّيَمُّمَ عِنْدَ تَيَقُنِ الْمَاءِ فَعِنْدَ التَّوَهُمِ أَوْلَى ، وَإِنْ لَمْ يَخَفْ وَجَبَ عَلَيْهِ التَّرَدُّدُ إِلَى حَدٍّ يَلْحَقُهُ غَوْثُ الرِّفَاقِ مَعَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنَ التَّشَاغُلِ بِشُغْلِهِمْ وَالتَّفَاوُضِ فِي أَقْوَالِهِمْ ، وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاسْتِوَاءِ الْأَرْضِ وَاخْتِلَافِهَا صُعُودًا وَهُبُوْطًا ، فَإِنْ كَانَ مَعَهُ رِفْقَةٌ وَجَبَ سُؤَالُهُمْ إِلَى أَنْ يَسْتَوْعِبَهُمْ أَوْ يَضِيقَ الْوَقْتُ فَلَا يَبْقَى إِلَّا مَا يَسَعُ الصَّلَاةَ عَلَى الرَّاجِحِ ، وَقِيلَ : يَسْتَوْعِبُهُمْ وَلَوْ خَرَجَ الْوَقْتُ . وَلَا يَجِبُ أَنْ يَطْلُبَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الرِّفْقَةِ بِعَيْنِهِ ، بَلْ يَكْفِي أَنْ يُنَادِي فِيهِمْ : مَنْ مَعَهُ مَاءٌ يَجُودُ بِهِ أَوْ بِثَمَنِهِ ؟ وَيَجِبُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا ، وَلَوْ بَعَثَ النَّازِلُوْنَ ثِقَةً يَطْلُبُ لَهُمْ كَفَاهُمْ كُلُّهُمْ .
Jika tanahnya tidak rata, maka ada rinciannya: Jika ia khawatir atas keselamatan nyawa atau hartanya meskipun sedikit, atau barang miliknya (seperti kulit bangkai), atau khawatir tertinggal dari rombongan, atau waktu salat akan habis jika ia berkeliling; maka ia tidak wajib berkeliling mencari air. Karena kekhawatiran semacam ini membolehkannya tayamum meskipun ia yakin ada air, apalagi jika baru sekadar dugaan (jika sudah demikian maka tayamum) lebih utama. Dan jika ia tidak merasa takut, maka wajib baginya berkeliling (mencari air) sampai pada batas di mana teriakan minta tolong (ghauts) masih terdengar oleh rombongannya, disertai kondisi mereka yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan sedang berbincang satu sama lain. Batas ini berbeda-beda tergantung kondisi tanahnya, apakah rata atau bergelombang naik-turun. Jika ia bersama rombongan, maka wajib menanyakan kepada mereka hingga ia menanyai semuanya atau waktu salat menjadi sempit sehingga hanya tersisa waktu yang cukup untuk salat menurut pendapat yang kuat (ar-rajih). Dan dikatakan (pendapat lain): ia harus menanyai semua anggota rombongan meskipun waktu salat keluar. Tidak wajib menanyai setiap orang secara pribadi satu per satu, melainkan cukup dengan berseru kepada mereka: "Siapa yang membawa air yang bisa diberikan atau dijual?". Ia wajib menggabungkan dua cara tersebut (mencari sendiri dan bertanya). Seandainya rombongan yang sedang beristirahat tersebut mengutus satu orang yang terpercaya untuk mencari air bagi mereka semua, maka itu sudah cukup bagi semuanya.
الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ : أَنْ يَتَيَقَّنَ وُجُوْدَ الْمَاءِ حَوَالَيْهِ ، وَهَذَا لَهُ ثَلَاثُ مَرَاتِبَ .
Keadaan Ketiga: Ia yakin adanya air di sekitarnya. Hal ini memiliki tiga tingkatan:
الْمَرْتَبَةُ الأُولَى : أَنْ يَكُوْنَ الْمَاءُ عَلَى مَسَافَةٍ يَنْتَشِرُ إِلَيْهَا النَّازِلُوْنَ لِلْحَطَبِ وَالْحَشِيْشِ وَالرَّعْيِ ، فَيَجِبُ السَّعْيُ إِلَى الْمَاءِ ، وَلَا يَجُوزُ التَّيَمُّمُ إِلَّا إِنْ خَافَ عَلَى مَا مَرَّ غَيْرَ اخْتِصَاصِ ، وَمَا يَجِبُ بَذْلُهُ فِي تَحْصِيلِ الْمَاءِ ثَمَنًا وَأَجْرَةً . قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى : لَعَلَّهُ يَقْرُبُ مِنْ نِصْفِ فَرْسَخٍ . وَهَذِهِ الْمَسَافَةُ فَوْقَ الْمَسَافَةِ عِنْدَ التَّوَهُمِ .
Tingkatan Pertama: Air berada pada jarak di mana orang-orang yang beristirahat biasanya menyebar untuk mencari kayu bakar, rumput, atau menggembalakan ternak (jarak hadul ghauts). Maka wajib berjalan menuju tempat air tersebut dan tidak boleh tayamum, kecuali jika ia merasa takut atas hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya selain soal harta khusus, serta (khawatir akan) apa yang wajib ia bayar untuk mendapatkan air tersebut berupa harga atau biaya angkut. Muhammad bin Yahya berkata: "Mungkin jaraknya sekitar setengah farsakh" (sekitar 2,57 km). Jarak ini berada di atas jarak pencarian ketika dalam kondisi dugaan (tawahhum).
الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ : أَنْ يَكُوْنَ بَعِيدًا ، بِحَيْثُ لَوْ سَعَى إِلَيْهِ خَرَجَ الْوَقْتُ ، فَهَذَا يَتَيَمَّمُ عَلَى الْمَذْهَبِ ، لِأَنَّهُ فَاقِدٌ لِلْمَاءِ فِي الْحَالِ ، وَلَوْ وَجَبَ انْتِظَارُ الْمَاءِ مَعَ خُرُوجِ الْوَقْتِ لَمَا سَاغَ التَّيَمُّمُ أَصْلاً ، بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ الْمَاءُ مَعَهُ وَخَافَ فَوْتَ الْوَقْتِ لَوْ تَوَضَّأَ ، فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ لَهُ التَّيَمُّمُ عَلَى الْمَذْهَبِ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ فَاقِدًا لِلْمَاءِ فِي الْحَالِ .
Tingkatan Kedua: Air berada pada jarak yang jauh, sekira jika ia berjalan ke sana maka waktu salat akan habis. Maka orang ini bertayamum menurut pendapat resmi madzhab (al-madzhab), karena ia dianggap tidak memiliki air pada saat itu. Seandainya wajib menunggu air padahal waktu salat habis, niscaya tayamum tidak akan pernah diperbolehkan sama sekali. Berbeda jika air itu ada bersamanya namun ia khawatir waktu salat habis jika ia berwudu, maka dalam kondisi ini ia tidak boleh tayamum menurut madzhab, karena ia tidak dianggap kehilangan air pada saat itu.
الْمَرْتَبَةُ الثَّالثَةُ : أَنْ يَكُوْنَ الْمَاءُ بَيْنَ الْمَرْتَبَتَيْنِ ، بِأَنْ تَزِيْدَ مَسَافَتُهُ عَلَى مَا يَنْتَشِرُ إِلَيْهِ النَّازِلُوْنَ وَتَقْصُرَ عنْ خُرُوجِ الْوَقْتِ ، وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ مُنتَشِرُ ، وَالْمَذْهَبُ جَوَازُ التَّيَمُّمِ ، لِأَنَّهُ فَاقِدٌ لِلْمَاءِ فِي الْحَالِ ، وَفِي السَّعْيِ زِيَادَةُ مَشَقَّةٍ .
Tingkatan Ketiga: Air berada di antara dua tingkatan sebelumnya, yaitu jaraknya lebih jauh dari tempat pencarian biasa (jarak orang mencari kayu/rumput) namun masih memungkinkan sampai ke air sebelum waktu salat habis. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang luas, namun pendapat resmi madzhab (al-madzhab) adalah boleh tayamum. Alasannya karena orang tersebut dianggap tidak memiliki air pada saat itu dan berjalan ke sana akan menambah beban kesulitan (masyaqqah).
الْحَالَةُ الرَّابِعَةُ : أَنْ يَكُوْنَ الْمَاءُ حَاضِرًا لَكِنْ تَقَعُ عَلَيْهِ زَحْمَةٌ الْمُسَافِرِينَ ، بِأَنْ يَكُوْنَ فِي بِئْرٍ وَلَا يُمْكِنُ الْوُصُوْلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِآلَةٍ ، وَلَيْسَ هُنَاكَ إِلَّا آلَةٌ وَاحِدَةٌ ، أَوْ لِأَنَّ مَوْقِفَ الاسْتِقَاءِ لَا يَسَعُ إِلَّا وَاحِدًا ، وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ ، وَالرَّاجِحُ أَنَّهُ يَتَيَمَّمُ لِلْعَجْزِ الْحِسِّيِّ وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ عَلَى الْمَذْهَبِ .
Keadaan Keempat: Air itu ada di depan mata, namun terjadi kepadatan/antrean orang-orang yang bepergian. Misalnya air ada di sumur tapi cuma bisa diambil pakai alat, sedangkan alatnya cuma satu, atau tempat mengambil airnya sempit cuma cukup buat satu orang. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat, namun yang kuat (ar-rajih) adalah ia bertayamum karena adanya ketidakmampuan secara indrawi ('ajzi al-hissiy) dan tidak wajib mengulang salat menurut madzhab.
وَمِنْ أَسْبَابِ الْإِبَاحَةِ أَيْضًا مَا إِذَا كَانَ بِقُرْبِهِ مَاءٌ وَيَخَافُ لَوْ سَعَى إِلَيْهِ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ سَبْعِ أَوْ عَدُوٍّ عِنْدَ الْمَاءِ ، أَوْ يَخَافُ عَلَى مَالِهِ الَّذِي مَعَهُ أَوِ الْمُخَلَّفِ فِي رَحْلِهِ مِنْ غَاصِبٍ أَوْ سَارِقٍ ، أَوْ كَانَ فِي سَفِينَةٍ لَوِ اسْتَقَى لَاسْتَلْقَى فِي الْبَحْرِ ، فَلَهُ التَّيَمُّمُ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ ؛ وَلَوْ خَافَ الانْقِطَاعَ عَنِ الرِّفْقَةِ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ لَوْ قَصَدَ الْمَاءَ فَلَهُ التَّيَمُّمُ قَطْعًا ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ضَرَرٌ فَخِلافُ ، وَالرَّاجِحُ أَنَّ لَهُ أَنْ يَتَيَمَّمَ لِلْوَحْشَةِ .
Termasuk sebab diperbolehkannya tayamum juga adalah jika ada air di dekatnya namun ia takut kalau berjalan ke sana akan terancam nyawanya oleh binatang buas atau musuh yang ada di dekat air. Atau ia takut kehilangan hartanya yang ia bawa atau yang ditinggal di tempat istirahatnya karena dirampas atau dicuri. Atau ia berada di kapal yang sekiranya kalau mengambil air (di laut) ia bisa terjatuh ke laut. Maka dalam semua kondisi itu ia boleh tayamum. Begitu juga jika ia takut tertinggal dari rombongan dan akan membahayakannya jika ia mencari air, maka ia boleh tayamum secara pasti (qath'an). Jika tidak membahayakan tapi ia takut merasa kesepian/asing, maka pendapat yang kuat ia boleh tayamum karena alasan kesepian tersebut (lil wahsyah).
وَالسَّبَبُ الثَّانِي : الْمَرَضُ ، وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَام : الأَوَّلُ : أَنْ يَخَافَ مَعَهُ بِالْوُضُوْءِ فَوْتَ الرُّوْحِ ، أَوْ فَوْتَ عُضْوٍ ، أَوْ فَوْتَ مَنْفَعَةِ الْعُضْوِ ؛ وَيَلْحَقُ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ بِهِ مَرَضٌ غَيْرُ مُخَوِّفٍ إِلَّا أَنَّهُ يَخَافُ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ أَنْ يَصِيْرَ مَرَضًا مُخَوَّفًا ، فَيُبَاحُ لَهُ التَّيَمُّمُ .
Sebab Kedua: Sakit. Dan sakit ini terbagi menjadi tiga bagian: Pertama: Sakit yang dikhawatirkan jika terkena air wudu akan menyebabkan hilangnya nyawa, atau hilangnya anggota tubuh, atau hilangnya fungsi anggota tubuh. Termasuk dalam hal ini adalah jika ia menderita sakit yang tidak menakutkan (ringan), hanya saja khawatir dari penggunaan air itu sakitnya bakal jadi parah (yang menakutkan), maka ia dibolehkan untuk tayamum.
الثَّانِي : أَنْ يَخافَ زِيَادَةَ الْعِلَّةِ ، وَهِيَ كَثَرَةُ الأَلَمِ وَإِنْ لَمْ تَزِدِ الْمُدَّةُ ، أَوْ يَخَافَ طُوْلَ مُدَّةِ الْبُرْءِ وَإِنْ لَمْ يَزِدِ الأَلَمُ ، أَوْ يَخَافَ شِدَّةَ الضَّنَا ، وَهُوَ : الْمَرَضُ الْمُلَازِمُ الْمُقَرِّبُ إِلَى الْمَوْتِ ، أَوْ يَخَافَ حُصُوْلَ شَيْنٍ فَبِيْحٍ ، كَالْسَّوَادِ عَلَى عُضْوِ ظَاهِرٍ ، كَالْوَجْهِ وَغَيْرِهِ ، مِمَّا يَبْدُوْ غَالِبًا عِنْدَ الْمَهْنَةِ ، وَهِيَ بِفَتْحِ الْمِيْمِ وَكَسْرِهَا مَعَ كَسْرِ الْهَاءِ وَسُكُوْنِهَا ، وَمَعْنَاهَا : الْخِدْمَةُ ؛ وَفِي جَمِيعِ هَذِهِ الصُّوَرِ خِلَافٌ مُنْتَشِرُ ، وَالرَّاجِحُ جَوَازُ التَّيَمُّمِ ، وَعِلَّهُ الشَّيْنِ الْفَاحِشِ أَنَّهُ يُشَوِّهُ الْخِلْقَةَ وَيَدُوْمُ ضَرَرُهُ ، فَأَشْبَهَ تَلَفَ الْعُضْوِ .
Kedua: Khawatir bertambahnya penyakit, yaitu rasa sakit yang sangat meskipun durasi sembuhnya tidak bertambah panjang. Atau khawatir sembuhnya bakal lama meskipun rasa sakitnya tidak bertambah. Atau khawatir terjadi kepayahan yang sangat (adh-dhana), yaitu sakit yang terus-menerus yang mendekatkan pada kematian. Atau khawatir timbulnya cacat yang buruk, seperti noda hitam pada anggota tubuh yang terlihat (zahir), contohnya wajah dan anggota tubuh lainnya yang biasanya terlihat saat bekerja (al-mihnah). Kata al-mihnah bisa dibaca dengan mim yang difathah atau dikasrah, serta ha' yang dikasrah atau disukun, artinya adalah pelayanan/pekerjaan. Dalam semua gambaran kondisi ini terdapat perbedaan pendapat yang luas, namun yang kuat (ar-rajih) adalah boleh tayamum. Alasan diperbolehkannya tayamum karena cacat yang buruk adalah karena hal itu merusak rupa dan kerugiannya menetap, sehingga disamakan dengan hilangnya fungsi anggota tubuh.
الثَّالتُ : أَنْ يَخَافَ شَيْئًا يَسِيرًا كَأَثَرِ الْخُدْرِيِّ ، أَوْ سَوَادًا قَلِيْلًا ، أَوْ يَخَافَ شَيْئًا قَبِيْحًا عَلَى غَيْرِ الأَعْضَاءِ الظَّاهِرَةِ ، أَوْ يَكُوْنَ بِهِ مَرَضٌ لَا يَخَافُ مِنِ اسْتِعْمَالِ أَلْمَاءِ مَعَهُ مَحْذُوْرًا فِي الْعَاقِبَةِ ، وَإِنْ تَأَلَّمَ فِي الْحَالِ لِجِرَاحَةٍ أَوْ بَرْدٍ أَوْ حَرٍّ ، فَلَا يَجُوْزُ التَّيَمُّمُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا بِلَا خِلَافٍ .
Ketiga: Khawatir sesuatu yang ringan seperti bekas cacar, atau sedikit noda hitam, atau khawatir sesuatu yang buruk tapi pada anggota tubuh yang tidak terlihat (tersembunyi). Atau ia punya penyakit yang tidak dikhawatirkan dampak buruknya jika terkena air di kemudian hari, meskipun ia merasakan sakit saat itu juga karena luka, hawa dingin, atau panas. Maka untuk hal-hal semacam ini tidak boleh tayamum tanpa ada perbedaan pendapat (khilaf).
فَرْعُ : لِلْمَرِيضِ أَنْ يَعْتَمِدَ فِي ذَلِكَ قَوْلَ الطَّبِيبِ الْعَدْلِ فِي الرِّوَايَةِ ، وَيَعْمَلَ بِمَعْرِفَةِ نَفْسِهِ حَيْثُ كَانَ عَالِمًا بِالطَّبٌ ، وَلَا يَعْمَلُ بِتَجْرِبَةِ نَفْسِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، لاِخْتِلَافِ الْمِزَاجِ بِاخْتِلَافِ الأَزْمِنَةِ ، وَمَحَلُّ ذَلِكَ فِي الْحَضَرِ ، أَمَّا لَوْ كَانَ بِبَرِّيَّةٍ لَا يَجِدُ بِهَا طَبِيْبًا فَإِنَّهُ يَجُوْزُ لَهُ التَّيَمُّمُ حَيْثُ ظَنَّ حُصُوْلَ مَا ذُكِرَ ، وَلَكِنْ تَجِبُ عَلَيْهِ الإِعَادَةُ ، وَظَنُّهُ ذَلِكَ مَعَ فَقْدِ الطَّبِيبِ مُجَوِّةٌ لِالتَّيَمُّمِ لَا مُسْقِطٌ لِلصَّلَاةِ .
Cabang Masalah: Bagi orang yang sakit, ia boleh berpegang pada perkataan dokter yang adil dalam riwayatnya (terpercaya), dan ia boleh mengamalkan pengetahuan dirinya sendiri jika ia memang ahli dalam ilmu kedokteran. Ia tidak boleh berpegang pada percobaannya sendiri menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad), karena kondisi tubuh (mizaj) itu berbeda-beda seiring perubahan waktu. Hal ini berlaku saat di kota (hadhar). Adapun jika ia berada di daerah terpencil (hutan/padang pasir) dan tidak menemukan dokter, maka ia boleh tayamum jika menduga kuat akan terjadi hal-hal yang telah disebutkan tadi. Akan tetapi, ia wajib mengulangi salatnya (i'adah); dugaannya tersebut saat tidak ada dokter hanyalah pemboleh untuk tayamum saja, bukan penggugur kewajiban mengulang salat.
وَالسَّبَبُ الثَّالتُ : الاحْتِيَاجُ إِلَيْهِ ، أَيْ : إِلَى الْمَاءِ لِعَطَشِ حَيْوَانٍ مُحْتَرَمٍ ، وَهُوَ مَا يَحْرُمُ قَتْلُهُ .
Sebab Ketiga: Membutuhkan air tersebut karena haus bagi hewan yang dimuliakan (hayawan muhtaram).
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي « الإِيضَاحِ » [ صَفْحَة : ٨٤ ] : وَلَوْ وَجَدَهُ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهِ لِعَطَشِهِ أَوْ عَطَشِ رَفِيقِهِ أَوْ دَابَّتِهِ أَوْ حَيْوَانٍ مُحْتَرَمٍ تَيَمَّمَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ ، سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْعَطَشُ فِي يَوْمِهِ أَوْ فِيْمَا بَعْدَهُ قَبْلَ وُصُوْلِهِ إِلَى مَاءٍ آخَرَ .
Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Idhah (hal. 84): "Seandainya seseorang menemukan air, namun ia membutuhkannya karena ia sendiri haus, atau temannya, atau tunggangannya, atau hewan lain yang dimuliakan, maka ia harus bertayamum and tidak boleh berwudu." Hal ini berlaku sama saja, baik rasa haus itu muncul di hari itu juga atau di kemudian hari sebelum ia sampai ke sumber air berikutnya.
قَالَ أَصْحَابُنَا : وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ الْوُضُوْءُ فِي هَذَا الْحَالِ ، لِأَنَّ حُرْمَةَ النَّفْسِ أَكَدُ ، وَلَا بَدَلَ لِلشَّرْبِ وَلِلْوُضُوْءِ بَدَلٌ وَهُوَ التَّيَمُّمُ ، وَالْغُسْلُ عَنِ الْجَنَابَةِ وَعَنِ الْحَيْضِ وَغَيْرِهِمَا كَالْوُضُوْءِ فِيْمَا ذَكَرْنَاهُ . وَسَوَاءٌ كَانَ الْمُحْتَاجُ لِلْعَطَشِ رَفِيقَهُ الْمُخَالِطَ لَهُ أَوِ الرَّكْبَ أَوْ وَاحِدًا مِنَ الْقَافِلَةِ ، وَهُوَ الْمُسَافِرُ .
Ulama-ulama kami (Syafi'iyyah) berkata: "Haram hukumnya berwudu dalam kondisi ini." Karena menjaga nyawa itu lebih kuat (daruratnya), dan minum tidak ada penggantinya, sedangkan wudu ada penggantinya yaitu tayamum. Mandi janabah, mandi haid, dan lainnya hukumnya sama seperti wudu dalam hal yang kami sebutkan tadi. Baik yang butuh air itu adalah teman seperjalanannya, rombongan berkuda (ar-rakbu), atau salah satu anggota kafilah (musafir).
وَالرَّكْبُ - بِفَتْحِ الرَّاءِ وَسُكُوْنِ الْكَافِ ، جَمْعُ رَاكِبٍ كَصَحْبِ جَمْعُ صَاحِبٍ ، وَلَوِ امْتَنَعَ صَاحِبُ الْمَاءِ مِنْ بَذْلِهِ وَهُوَ غَيْرُ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِ لِلْعَطَشِ وَهُنَاكَ مُضْطَرٌّ إِلَيْهِ لِلْعَطَشِ حَالًا وَإِنْ أَحْتَاجَهُ الْمَالِكُ مَالًا كَانَ لِلْمُضْطَرِّ أَخْذُهُ قَهْرًا - أَيْ : وَعَلَيْهِ قَيْمَتُهُ - وَلَهُ أَنْ يُقَاتِلَهُ عَلَيْهِ . فَإِنْ قُتِلَ أَحَدُهُمَا كَانَ صَاحِبُ الْمَاءِ مُهْدَرَ الدَّمِ لَا قِصَاصَ فِيْهِ وَلَا دِيَةَ وَلَا كَفَّارَةَ ، لِكَوْنِهِ ظَالِمًا بِمَنْعِهِ مِنْهُ ، وَكَانَ الْمُضْطَرُّ مَضْمُوْنًا بِالْقَصَاصِ أَوِ الدِّيَةِ وَالْكَفَّارَةِ ، لِكَوْنِهِ مَقْتُوْلًا بِغَيْرِ حَقٍّ ، وَلَوِ احْتَاجَ صَاحِبُ الْمَاءِ إِلَيْهِ لِعَطَشِ نَفْسِهِ كَانَ الْمَالِكُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ ، وَلَوِ احْتَاجَ الْأَجْنَبِيُّ لِلْوُضُوْءِ وَكَانَ الْمَالِكُ مُسْتَغْنِيًا عَنْهُ لَمْ يَلْزَمْهُ بَذْلُهُ لَهُ لِطَهَارَتِهِ ، وَلَا يَجُوْزُ لِلأَجْنَبِيِّ أَخْذُهُ قَهْرًا ، لِأَنَّهُ يُمْكِنُهُ التَّيَمُّمُ .
Kata Ar-Rakbu (dengan ra' difathah dan kaf disukun) adalah bentuk jamak dari raakib (pengendara), seperti kata shahbi jamak dari shaahib. Seandainya pemilik air menolak memberikan airnya padahal ia sendiri tidak membutuhkannya untuk minum, sementara di sana ada orang yang dalam keadaan darurat kehausan saat itu (meskipun pemilik butuh air itu nanti), maka orang yang darurat itu boleh mengambilnya secara paksa—dan ia wajib mengganti harganya—bahkan ia boleh memerangi pemiliknya. Jika salah satu dari keduanya terbunuh (dalam perkelahian itu), maka pemilik air yang terbunuh statusnya hadar (sia-sia darahnya), tidak ada qishash, diat, maupun kafarat baginya, karena ia dianggap zalim sebab menahan air. Namun jika yang terbunuh adalah orang yang darurat, maka pelakunya harus menanggung qishash, diat, atau kafarat, karena ia dibunuh tanpa hak. Seandainya pemilik air butuh air itu untuk dirinya sendiri, maka pemilik lebih didahulukan daripada orang lain. Dan jika orang lain butuh air itu untuk wudu sedangkan pemiliknya tidak butuh, pemilik tidak wajib memberikannya, dan orang lain tersebut tidak boleh mengambilnya secara paksa, karena ia masih bisa bertayamum.
وَاعْلَمْ أَنَّهُ مَهْمَا أَحْتَاجَ إِلَيْهِ لِعَطَشِ نَفْسِهِ حَالًا أَوْ مَالًا أَوْ رَفِيقِهِ أَوْ حَيْوَانٍ مُحْتَرَمٍ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ ، وَلَوْ فِي ثَانِي الْحَالِ قَبْلَ وُصُوْلِهِمْ إِلَى مَاءٍ آخَرَ ، فَلَهُ التَّيَمُّمُ وُجُوْبًا ، وَيُصَلِّي وَلَا يُعِيدُ لِفَقْدِ الْمَاءِ شَرْعًا ، وَلَوْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ ، أَوْ وَجَدَهُ يُبَاعُ بِثَمَنِ مِثْلِهِ ، وَهُوَ وَاجِدٌ الثَّمَنَ ، فَاضِلًا عَمَّا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي سَفَرِهِ ذَاهِبًا وَرَاجِعًا لَزِمَهُ شِرَاؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ يُبَاعُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ الْمِثْلِ لَمْ يَلْزَمْهُ شِرَاؤُهُ ، لِأَنَّ لِلْمَاءِ بَدَلًا ، سَوَاءٌ قَلَّتْ الزَّيَادَةُ أَمْ كَثُرَتْ ، لَكِنْ يُسْتَحَبُّ شِرَاؤُهُ ، وَثَمَنُ الْمِثْلِ هُوَ قِيْمَتُهُ فِي ذَلِكَ الْمَوْضِعِ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ . انْتَهَى قَوْلُ النَّوَوِيِّ مُلَخَّصًا .
Ketahuilah, kapan pun seseorang membutuhkan air untuk rasa haus dirinya sendiri, baik saat ini maupun nanti, atau untuk temannya, atau untuk hewan yang dimuliakan (meskipun hewan itu tidak bersamanya saat itu), walau kebutuhan itu baru muncul di waktu kedua sebelum mereka sampai ke sumber air berikutnya; maka wajib baginya bertayamum. Ia salat dan tidak perlu mengulangi salatnya karena secara syariat ia dianggap tidak ada air (faqdul maa’). Dan jika ia tidak menemukan air, atau menemukan air tapi dijual dengan harga standar (tsamanul mitsli) dan ia punya uangnya setelah dikurangi kebutuhan pokok perjalanan pergi-pulang, maka ia wajib membelinya. Namun jika air itu dijual lebih mahal dari harga standar, ia tidak wajib membelinya karena wudu punya pengganti (tayamum), baik selisih harganya sedikit atau banyak, tapi tetap disunnahkan membelinya. Harga standar (tsamanul mitsli) adalah nilai air di tempat tersebut pada kondisi saat itu. Selesai ringkasan perkataan Imam Nawawi.
وَمِثْلُ احْتِيَاجِهِ لِلْمَاءِ احْتِيَاجُهُ لِثَمَنِهِ فِي مُؤْنَةِ مَمُونِهِ مِنْ نَفْسِهِ وَعِيَالِهِ . قَالَ الْحِصْنِيُw : وَلَوْ مَاتَ رَجُلٌ وَلَهُ مَاءٌ وَرِفْقَتُهُ عِطَاشٌ شَرِبُوهُ وَيَمَّمُوْهُ ، وَوَجَبَ عَلَيْهِمْ ثَمَنُهُ وَجَعْلُهُ فِي مِيْرَاثِهِ ، وَثَمَنُهُ قِيمَتُهُ فِي مَوْضِعِ الإِتْلَافِ فِي وَقْتِهِ . انْتَهَى .
Serupa dengan kebutuhan akan air adalah kebutuhan akan uang untuk biaya hidup orang-orang yang menjadi tanggungannya, baik diri sendiri maupun keluarganya. Imam Al-Hishni berkata: "Seandainya ada seorang laki-laki meninggal dunia dan ia punya air, sedangkan teman-temannya kehausan, maka mereka meminum air itu dan menayamumkan mayat tersebut. Wajib bagi mereka mengganti harganya untuk dimasukkan ke dalam harta warisan si mayat. Harganya adalah nilai air di tempat terjadinya penggunaan air tersebut pada saat itu." Selesai.
قَالَ الْبَيْجُوْرِيُّ : وَالْعَطَسُ الْمُبِيحُ لِلتَّيَمُّمِ يُعْتَبَرُ فِيْهِ قَوْلُ الطَّبِيبِ الْعَدْلِ ، وَلَهُ أَنْ يَعْمَلَ بِمَعْرِفَتِهِ . انْتَهَى .
Imam Al-Bajuri berkata: "Rasa haus yang membolehkan tayamum itu berpatokan pada perkataan dokter yang adil, atau seseorang boleh mengamalkan pengetahuannya sendiri." Selesai.
تَكْمِيلُ : غَيْرِ الْمُحْتَرَمِ وَهُوَ مَا لَا يَحْرُمُ قَتْلُهُ سِتَةٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ : أَحَدُهَا : تَارِكُ الصَّلَاةِ ، أَيْ : بَعْدَ أَمْرِ الإِمَامِ وَالاسْتِتَابَةِ نَدْبًا ، وَقِيلَ : وُجُوْدًا ، وَعَلَى نَدْبِ الاسْتِتَابَةِ لَا يَضْمَنُ مَنْ قَتَلَهُ قَبْلَ التَّوْبَةِ ، لَكِنَّهُ يَأْتَمُ .
Pelengkap: (Hewan/Manusia) yang tidak dimuliakan, yaitu yang tidak haram dibunuh, ada enam jenis: Pertama: Orang yang meninggalkan salat, yaitu setelah diperintahkan oleh penguasa (Imam) dan diminta bertobat (disunnahkan, namun ada pendapat yang mewajibkan). Menurut pendapat yang mensunnahkan perintah tobat, maka siapa pun yang membunuhnya sebelum ia bertobat tidak dikenakan denda (dhoman). Akan tetapi (si pembunuh) tetap berdosa (karena melangkahi wewenang imam).
وَثَانِيهَا : الزَّانِي الْمُحْصَنُ ، بِفَتْحِ الصَّادِ عَلَى غَيْرِ قِيَاسٍ ، وَشَرَائِطُ الإِحْصَانِ أَرْبَعُ : الْبُلُوغُ ، وَالْعَقْل...
Kedua: Pezina Mukhshon. Lafal Mukhshon dibaca dengan fathah pada huruf shod, tidak sesuai dengan kaidah asal bahasa (qiyas). Syarat ihshon (kriteria mukhshon) ada empat: baligh, berakal, merdeka, dan adanya persetubuhan dalam pernikahan yang sah. Imam Syafi'i berkata: "Jika laki-laki merdeka yang baligh menyetubuhi istrinya, atau perempuan merdeka yang baligh disetubuhi dalam pernikahan, maka itu disebut ihshon baik dalam Islam maupun kesyirikan (sebelum masuk Islam)."
فَرْعُ : قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ غَيْرَ الْمُحْتَرَمِ مِنَ الْآدَمِيِّ فِيْهِ تَفْصِيلُ إِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى التَّوْبَةِ ، كَتَارِكِ الصَّلَاةِ وَالْمُرْتَدَّ ، لَمْ يَجُز| لَهُ شُرْبُ الْمَاءِ وَإِنْ أَحْتَاجَهُ فِي إِنْقَاذِ رُوْحِهِ مِنَ الْعَطَشِ ، لِتَعَيْنِهِ لِلظُّهْرِ بِهِ مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى الْخُرُوجِ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهَا ، كَالزَّانِي الْمُحْصَن...
Cabang Masalah: Imam Asy-Syarqawi berkata: "Pendapat yang kuat (al-mu'tamad) mengenai manusia yang tidak dimuliakan (ghairu muhtaram) itu ada rinciannya: Jika ia mampu untuk bertobat, seperti orang yang meninggalkan salat dan orang murtad, maka ia tidak boleh meminum air tersebut meskipun ia membutuhkannya untuk menyelamatkan nyawa dari kehausan. Hal itu karena air tersebut sudah ditentukan untuk bersuci (wudu), sedangkan ia mampu keluar dari kemaksiatannya (dengan bertobat saat itu juga)." "Namun jika ia tidak mampu bertobat (karena status hukumnya tetap dijalankan), seperti pezina mukhshon, maka ia boleh tayamum dan meminum air tersebut untuk rasa haus." Hal ini ditetapkan oleh guru kami, Al-Hifni.
وَثَالِثُهَا : الْمُرْتَدُّ ، وَهُوَ : مَنْ قَطَعَ مِمَّنْ يَصِحُ طَلَاقُهُ الْإِسْلَامَ . قَالَ الْمَدَابِغِيُّ : فَائِدَةٌ : مِنْ دُعَاءِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لَا يَرْتَدُّ ، وَنَعِيْمًا لَا يَنْفَدُ...
Ketiga: Murtad. Yaitu orang yang memutus Islamnya, sedangkan ia adalah orang yang sah talaknya. Imam Al-Madabighi berkata: "Sebuah faidah: Di antara doa Ibnu Mas'ud RA adalah: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang tidak akan murtad, kenikmatan yang tidak akan sirna, penyejuk hati yang tidak akan putus, dan pendampingan Nabi-Mu SAW di surga Khuldi yang paling tinggi." Selesai.
وَرَابِعُهَا : الْكَافِرُ الْحَرْبِيُّ ، وَهُوَ : الَّذِي لَا صُلْحَ لَهُ مَعَ الْمُسْلِمِينَ . قَالَهُ الْفَيُوْمِيُّ . وَخَرَجَ بِـ « الْحَرْبِيِّ » ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ : الذَّمِّيُّ... وَالْمُعَاهِدُ... وَالْمُؤَمَّن...
Keempat: Kafir Harbi. Yaitu orang (kafir) yang tidak memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin. Hal ini dikatakan oleh Al-Fayumi. Dan keluar dari istilah "Harbi" tiga bagian: (Pertama) Dzimmi, yaitu orang yang mengadakan perjanjian upeti (jizyah) dengan Imam atau wakilnya dan tunduk di bawah hukum Islam. Ia termasuk orang yang dimuliakan (muhtaram). Dinamakan Dzimmi karena penisbatan kepada dzimmah (jaminan), yaitu upeti. (Kedua) Mu'ahad, yaitu orang kafir harbi yang mengadakan perdamaian dengan Imam atau wakilnya untuk gencatan senjata selama empat bulan atau sepuluh tahun, baik dengan imbalan yang diberikan kepada kita atau tanpa imbalan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW: (Ingatlah, siapa yang menzalimi seorang mu'ahad, atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan hatinya, maka aku adalah penghujatnya—yakni lawannya—di hari kiamat). HR. Abu Dawud [No: 3052]. (Ketiga) Mu'amman, yaitu orang yang mengadakan jaminan keamanan dengan sebagian kaum muslimin dalam jangka waktu empat bulan saja. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia) [QS. At-Taubah: 6], maksudnya jika ada salah seorang dari mereka meminta perlindungan dari pembunuhan, maka lindungilah ia. Juga berdasarkan sabda Nabi SAW: (Jaminan keamanan kaum muslimin itu satu, yang diusahakan oleh orang yang paling rendah di antara mereka. Maka siapa yang mengkhianati seorang muslim dalam jaminannya, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia). HR. Bukhari & Muslim. Maksudnya: Akad/janji kaum muslimin itu (kekuatannya) seperti akad satu orang saja di antara mereka. Akad ini bisa dilakukan oleh orang yang paling rendah kedudukannya, seperti hamba sahaya atau kaum wanita. Maka siapa yang merusak janji seorang muslim, ia terkena laknat yang telah disebutkan tadi. Guru kami, Ahmad An-Nahrawi berkata: "Maksud kata Mu'ahad dalam hadis tersebut mencakup ketiga golongan ini (Dzimmi, Mu'ahad, dan Mu'amman)."
(٢) يُقَدَّرُ نِصْفُ الْفَرْسَخِ بِـ ٢,٥٧ كم تَقْرِيبًا .
(2) Setengah farsakh diperkirakan sekitar 2,57 km.
📚 Kamus Mufrodat Singkat
- العَجْز (Al-'Ajzu): Kagak mempan / Kagak mampu.
- فَقْدُ المَاءِ (Faqdul Maa'): Airnye bener-bener kaga ade.
- حَدُّ الغَوْثِ (Haddul Ghauts): Jarak denger suara teriakan tolong.
- المَهْنَة (Al-Mihnah): Kerja kasar / Pelayanan sehari-hari.
- حَيَوَانٌ مُحْتَرَمٌ (Hayawan Muhtaram): Makhluk nyang kaga boleh dibunuh.
📝 Catatan Murid (Syarh Mu'allim)
Inget, dhomir Ana/Innanī/Asma’u di sini kudu diartiin "Ane" kalo itu perkataan mushannif atau ulama personal. Kalo Nahnu baru "Kami/Kita". Terus, kata tsamanul mitsli itu arti gampangnyo harga pasaran normal di tempat itu. Kalo dijual kemahalan banget, kita kaga wajib beli, mending tayamum bae!
💬 Buka Syarh Nyablak ala Abi Ahmad Thoufur (Uraian Fasal)
Dengerin nih Jemaah... Ane urai gampangnya ye dari teks panjang di atas. Masalah nyari air pas mau tayamum itu ada hukum rinciannya, kaga maen hantam kromo bae!
Kalo Ente lagi safar, kondisinya kepagi jadi 4 macam:
1. Yakin kaga ada air: (Kek di padang pasir tandus), langsung tayamum, kaga usah puyeng nyari. Munafik namanya kalo nyari juga, buang-buang energi (عبث).
2. Menduga ada air: Wajib nyari dulu di sekitar penginapan, liat kanan kiri depan belakang. Kalo tanah bergelombang, liat nyang ijo-ijo atau tempat burung kumpul. Jarak nyarinya sebatas Haddul Ghauts (141-188 meter). Kalo denger teriakan temen, berarti masih masuk batas.
3. Yakin ada air tapi agak jauh: Ada tiga tingkatan jarak (setengah farsakh +/- 2,57 km). Kalo dikira keburu waktu sholat abis, mending tayamum bae menurut Madzhab.
4. Air didepan mata tapi ngantri parah: Sumur dalem, timbanya cuma satu, musafir bejibun. Nah ini namanya 'Ajzi al-Hissiy (ketidakmampuan indrawi), boleh tayamum dan kaga wajib i'adah sholat.
Hadis Mu'ahad nyang disebutin Imam Nawawi:
"أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا... فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ" (HR. Abu Dawud No. 3052).Artinya Rasulullah bakalan jadi musuh langsung di hari kiamat buat orang Islam nyang sewenang-wenang ama orang kafir nyang punya perjanjian damai. Makanya darah mereka tetep muhtaram (dimuliakan), kaga boleh ditipu atau dilarang minum air!
Ada musafir pelit punya air sebotol. Di sampingnya ada orang nyang kehausan setengah mati hampir mati. Kata fikih Syafi'iyyah, si pemilik air HARAM pake tuh air buat wudu! Dia kudu tayamum, dan airnya wajib dikasih ke orang nyang kehausan. Kalo dia keukeuh nolak, orang nyang kehausan boleh rebut secara paksa (bahkan diperangin). Kalo si pemilik air mati terbunuh gara-gara mempertahankan air dari orang darurat, darahnya hadar (sia-sia), kaga ada qishash! Tuh, segitunya Islam ngejaga nyawa manusia!
Hati-hati Jemaah! Jangan salah paham masalah 6 perkara manusia/hewan nyang "Ghairu Muhtaram" (kaga dimuliakan) kek orang nyang ninggalin sholat atau pezina mukhshon. Imam Asy-Syarqawi ngasih rincian cakep: Kalo si pelaku dosa masih bisa tobat saat itu juga (kek orang murtad atau nyang males sholat), dia kaga boleh dikasih minum air pusaka wudu sebelum dia tobat! Dia kudu tobat dulu baru boleh minum. Kalo pezina mukhshon kan hukumannya emang rajam dari hakim, dia kaga bisa ngilangin status hukumnya sendiri saat itu, maka dia tetep boleh tayamum dan minum air biar kaga mati kehausan sebelum dieksekusi. Jangan sampe Ente maen hakim sendiri nuduh orang kaga sholat terus airnya Ente rampas, kagak boleh! Harus lewat perintah Imam/Penguasa resmi!
[ الْكَافِرُ الْحَرْبِيُّ وَأَقْسَامُهُ ]
وَرَابِعُهَا : الْكَافِرُ الْحَرْبِيُّ ، وَهُوَ : الَّذِي لَا صُلْحَ لَهُ مَعَ الْمُسْلِمِينَ . قَالَهُ الْفَيُوْمِيُّ .
Dan yang keempatnya: Kafir Harbi, yaitu: orang yang tidak memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin. Hal ini dikatakan oleh Al-Fayoumi.
١٤٢
وَخَرَجَ بِـ « الْحَرْبِيِّ » ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ :
Dan dikecualikan dengan kata "Harbi" itu tiga macam golongan:
الذَّمِّيُّ ، وَهُوَ : مَنْ عَقَدَ الْجِزْيَةَ مَعَ الإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ وَدَخَلَ تَحْتَ أَحْكَامِ الإِسْلَامِ، فَإِنَّهُ مُحْتَرَمٌ ، وَسُمِّيَ ذِمَّيًا لِذَلِكَ نِسْبَةٌ إِلَى الذَّمَّةِ ، أَيْ : الْجِزْيَةِ .
(Pertama) Dzimmi, yaitu orang yang mengadakan perjanjian upeti (jizyah) dengan Imam atau wakilnya dan tunduk di bawah hukum Islam. Ia termasuk orang yang dimuliakan (muhtaram). Dinamakan Dzimmi karena penisbatan kepada dzimmah (jaminan), yaitu upeti.
وَالْمُعَاهِدُ ، وَهُوَ : مَنْ عَقَدَ الْمُصَالَحَةَ مَعَ الإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ مِنْ أَهْلِ الْحَرْبِ عَلَى تَرْكِ الْقِتَالِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ أَوْ فِي عَشْرِ سِنِينَ بِعِوَضٍ مِنْهُمْ مُوْصَلٍ إِلَيْنَا أَوْ بِغَيْرِهِ ، لِقَوْلِهِ ﷺ : « أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا ، أَوِ انْتَقَصَهُ ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ ، فَأَنَا حَجِيجُهُ » ، أَيْ : خَصْمُهُ « يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ [ رقم : ٣٠٥٢ ] .
(Kedua) Mu'ahad, yaitu orang kafir harbi yang mengadakan perdamaian dengan Imam atau wakilnya untuk gencatan senjata selama empat bulan atau sepuluh tahun, baik dengan imbalan yang diberikan kepada kita atau tanpa imbalan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW: (Ingatlah, siapa yang menzalimi seorang mu'ahad, atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan hatinya, maka aku adalah penghujatnya—yakni lawannya—di hari kiamat). HR. Abu Dawud [No: 3052].
وَالْمُؤَمَّنُ ، وَهُوَ : مَنْ عَقَدَ الأَمَانَ مَعَ بَعْضِ الْمُسْلِمِينَ فِي أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَقَطْ ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ ﴾ [٩ سورة التوبة / الآية : ٦] ، أَيْ : إِذَا اسْتَأْمَنَكَ أَحَدٌ مِنْهُمْ مِنَ الْقَتْلِ فَأَمَّنْهُ، وَلِقَوْلِهِ ﷺ : « ذِمَّةٌ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ ، فَمَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ » رَوَاهُ الشَّيْخَانِ .
(Ketiga) Mu'amman, yaitu orang yang mengadakan jaminan keamanan dengan sebagian kaum muslimin dalam jangka waktu empat bulan saja. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia) [QS. At-Taubah: 6], maksudnya jika ada salah seorang dari mereka meminta perlindungan dari pembunuhan, maka lindungilah ia. Juga berdasarkan sabda Nabi SAW: (Jaminan keamanan kaum muslimin itu satu, yang diusahakan oleh orang yang paling rendah di antara mereka. Maka siapa yang mengkhianati seorang muslim dalam jaminannya, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia). HR. Bukhari & Muslim.
أَيْ : عُقُوْدُ الْمُسْلِمِينَ كَعَقْدِ شَخْصِ وَاحِدٍ مِنْهُمْ ، يَقُوْمُ بِهَذَا الْعَقْدِ أَدْنَاهُمْ ، أَيْ : كَالْعَبِيدِ وَالنِّسَاءِ ، فَمَنْ نَقَضَ عَهْدَ مُسْلِمٍ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ مَنْ ذُكِرَ . قَالَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ : وَالْمُرَادُ بِالْمُعَاهِدِ فِي الْحَدِيْثِ مَا يَشْمَلُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ .
Maksudnya: Akad/janji kaum muslimin itu (kekuatannya) seperti akad satu orang saja di antara mereka. Akad ini bisa dilakukan oleh orang yang paling rendah kedudukannya, seperti hamba sahaya atau kaum wanita. Maka siapa yang merusak janji seorang muslim, ia terkena laknat yang telah disebutkan tadi. Guru kami, Ahmad An-Nahrawi berkata: "Maksud kata Mu'ahad dalam hadis tersebut mencakup ketiga golongan ini (Dzimmi, Mu'ahad, dan Mu'amman)."
١٤٣
فَائِدَةٌ : قَالَ مُحَمَّدٌ الشَّرْبِيْنِيُّ فِي كِتَابِهِ التَّفْسِيرِ الْمُلَقَّبِ بِـ « السَّرَاجِ الْمُنِيرِ » : وَالْكُفْرُ لُغَةٌ : سَتْرُ النِّعْمَةِ ، وَأَصْلُهُ الْكَفْرُ ، بِالْفَتْحِ ، وَهُوَ السَّتْرُ ، وَفِي الشَّرْعِ : إِنْكَارُ مَا عُلِمَ بِالضَّرُوْرَةِ مَجِيْءَ الرَّسُوْلِ بِهِ . وَيَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ : كُفْرَ إِنْكَارٍ ، وَكُفْرَ جُحُوْدٍ ، وَكُفْرَ عِنَادٍ ، وَكُفْرَ نِفَاقٍ .
Faidah: Muhammad Asy-Syarbini berkata dalam kitab tafsirnya yang berjudul As-Sirajul Munir: Kufur secara bahasa artinya menutupi nikmat. Asal katanya adalah al-kafru (dengan fathah) yang berarti menutupi. Sedangkan menurut syariat, kufur adalah mengingkari perkara agama yang telah diketahui secara pasti (dharuri) dibawa oleh Rasulullah SAW. Kufur terbagi menjadi HTML empat macam: Kufur Inkar, Kufur Juhud, Kufur 'Inad, dan Kufur Nifaq.
فَكُفْرُ الإِنْكَارِ ، هُوَ : أَنْ لَا يَعْرِفَ اللَّهَ أَصْلًا وَلَا يَعْتَرِفَ بِهِ .
Kufur Inkar adalah seseorang yang sama sekali tidak mengenal Allah dan tidak mengakui-Nya.
وَكُفْرُ الْجُحُوْدِ ، هُوَ : أَنْ يَعْرِفَ اللَّهَ بِقَلْبِهِ وَلَا يُقِرُّ بِلِسَانِهِ ، كَكُفْرِ إِبْلِيْسَ وَالْيَهُودِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ﴾ [ سورة البقرة الآية : ٨٩ ] .
Kufur Juhud adalah seseorang yang mengenal Allah di dalam hatinya namun lisannya tidak mau ikrar (mengakui), seperti kufurnya Iblis dan kaum Yahudi. Allah Ta'ala berfirman: (Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya) [QS. Al-Baqarah: 89].
وَكُفْرُ الْعِنَادِ : هُوَ : أَنْ يَعْرِفَ اللَّهَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَرِفَ بِلِسَانِهِ وَلَا يَدِيْنُ بِهِ ، كَكُفْرِ أَبِي طَالِبٍ حَيْثُ يَقُوْلُ :
Kufur 'Inad adalah seseorang yang mengenal Allah di dalam hatinya dan mengakuinya dengan lisan, namun ia tidak mau beragama dengannya (tunduk), seperti kufurnya Abu Thalib sebagaimana ia berkata dalam syairnya:
وَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِيْنَ مُحَمَّدٍ مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ الْبَرِيَّةِ دِينًا لَوْلَا الْمَلَامَةُ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبيِّنًا
Sungguh aku telah tahu bahwa agama Muhammad adalah di antara agama manusia yang terbaik. Kalaulah bukan karena celaan atau takut dimaki, niscaya engkau akan mendapatiku menerimanya dengan jelas.
وَأَمَّا كُفْرُ النِّفَاقِ ، فَهُوَ : أَنْ يُقِرَّ بِاللِّسَانِ وَلَا يَعْتَقِدَ بِالْقَلْبِ . انْتَهَى .
Adapun Kufur Nifaq adalah ikrar dengan lisan namun hatinya tidak meyakini. Selesai.
وَقَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَالْكُفْرُ ، قِيْلَ هُوَ : عَدَمُ الإِيْمَانِ عَمَّا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَكُوْنَ مُتَّصِفًا بِهِ ، وَقِيلَ هُوَ : الْعِنَادُ بِإِنْكَارِ الشَّيْءِ مِمَّا عُلِمَ مَجِيْءُ الرَّسُوْلِ بِهِ ضَرُورَةٌ ؛ فَالتَّقَابُلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الإِيْمَانِ عَلَى الْأَوَّلِ ، وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ تَقَابُلِ...
Imam Al-Bajuri berkata: Ada yang berpendapat bahwa kufur adalah ketiadaan iman bagi orang yang seharusnya memiliki sifat beriman. Ada juga yang berpendapat bahwa kufur adalah pembangkangan dengan mengingkari sesuatu yang diketahui secara pasti dibawa oleh Rasulullah. Perlawanan antara kufur dan iman menurut pendapat pertama—dan inilah yang benar—adalah perlawanan... (bersambung ke halaman berikutnya).
١٤٤
الْعَدَمِ وَالْمَلَكَةِ ؛ وَعَلَى الثَّانِي مِنْ تَقَابُلِ الضَّدَّيْنِ ، وَالْمَلَكَةُ ، هيَ : صِفَةٌ رَاسِخَةٌ فِي النَّفْسِ ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهَا مَلَكَتْ مَحَلَّهَا .
(Lanjutan pembahasan kufur:) ...antara "ada" (al-adam) dan "potensi" (al-malakah); sedangkan menurut pendapat kedua, perlawanannya adalah antara dua hal yang saling bertolak belakang (al-dhiddain). Al-malakah adalah sifat yang menancap kuat di dalam jiwa, dinamakan demikian karena ia telah menguasai tempatnya.
فَرْعُ : قَالَ الْبَرَّاوِيُّ : وَالَّذِي نَقَلَهُ سَيِّدِي عَبْدُ الْوَهَّابِ الشَّعْرَانِيُw عَنِ السُّبْكِي أَنَّ عَمَّهُ ﷺ أَبَا طَالِبٍ بَعْدَ أَنْ تُوُفِّيَ أَحْيَاهُ اللَّهُ تَعَالَى وَآمَنَ بِالنَّبِيِّ ﷺ . قَالَ شَيْخُنَا الْعَلَامَةُ السُّحَيْمِيُّ : وَهَذَا هُوَ اللَّائِقُ بِحُبِّهِ ﷺ وَهُوَ الَّذِي أَعْتَقِدُهُ وَأَلْقَى اللَّهَ بِهِ ؛ وَأَمَّا إِحْيَاءُ اللهِ تَعَالَى أَبَوَيْهِ ﷺ فَلِلدُّخُولِ فِي أُمَّتِهِ فَقَدْ ، وَإِنْ كَانَا مِنَ النَّاجِيْنَ . أَنْتَهَى . لِأَنَّهُمَا مِنْ أَهْلِ الْفَتْرَةِ .
Cabang Masalah: Imam Al-Barrawi berkata: "Apa yang dinukil oleh Sayyidi Abdul Wahhab Asy-Sya'rani dari Imam As-Subki bahwa paman Nabi SAW, Abu Thalib, setelah wafatnya dihidupkan kembali oleh Allah Ta'ala lalu ia beriman kepada Nabi SAW." Guru kami Al-'Allamah As-Suhaymi berkata: "Inilah yang layak bagi kecintaan kepada Nabi SAW, dan inilah yang aku yakini serta yang akan aku bawa saat menghadap Allah." Adapun penghidupan kembali kedua orang tua Nabi SAW oleh Allah Ta'ala adalah agar mereka masuk ke dalam umatnya saja, meskipun mereka termasuk orang-orang yang selamat karena mereka termasuk ahli fatrah (masa kekosongan rasul). [Lihat Catatan Kaki (1)]
وَخَامِسُهَا : الْكَلْبُ الْعَقُوْرُ ، أَيْ : الْجَارِحُ .
Kelima: Anjing 'Aqur, yaitu anjing yang melukai (galak/buas).
وَالْكَلْبُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ :
Anjing terbagi menjadi tiga macam:
عَقُوْرٌ ، وَهَذَا لَا خِلَافَ فِي عَدَمِ احْتِرَامِهِ ، وَنَدْبِ قَتْلِهِ .
1. Anjing 'Aqur (galak): Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat bahwa ia tidak dimuliakan dan disunnahkan untuk dibunuh.
وَمَا فِيْهِ نَفْعٌ مِنْ أَصْطِيَادٍ أَوْ حِرَاسَةٍ ، وَهَذَا لَا خِلَافَ فِي احْتِرَامِهِ وَحُرْمَةِ قَتْلِهِ .
2. Anjing yang bermanfaat: Seperti untuk berburu atau menjaga (properti/hewan ternak). Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat bahwa ia dimuliakan dan haram hukumnya untuk dibunuh.
١٤٥
وَمَا لَا نَفْعَ فِيْهِ وَلَا ضَرَرَ ، وَهُوَ كَلْبُ السُwوْقِ الْمُسَمَّى بِالْجِعَاصِيِّ ، وَمُعْتَمَدُ الرَّمْلِي فِيْهِ أَنَّهُ مُحْتَرَمٌ ، فَيَحْرُمُ قَتْلُهُ ؛ وَعِنْدَ شَيْخِ الإِسْلَامِ يَجُوْزُ قَتْلُهُ ، فَإِنْ كَانَ الْكَلْبُ عَقُوْرًا وَلَكِنْ فِيْهِ نَفْعٌ سُنَّ قَتْلُهُ تَغْلِيْبًا لِجَانِبِ الضَّرَرِ .
(Lanjutan jenis anjing ketiga): Dan anjing yang tidak ada manfaatnya namun tidak pula membahayakan, yaitu anjing pasar yang disebut Al-Ji'ashiyyi. Pendapat yang kuat (mu'tamad) menurut Imam Ramli adalah anjing tersebut dimuliakan, maka haram membunuhnya; sedangkan menurut Syaikhul Islam (Zakariya al-Anshari) boleh membunuhnya. Jika anjing tersebut galak/buas ('aqur) tapi ada manfaatnya, maka disunnahkan membunuhnya karena memenangkan sisi bahayanya.
وَسَادِسُهَا : الْخِنْزِيرُ ، وَهُوَ : حَيْوَانُ خَبِيْثُ ، وَيُقَالُ : إِنَّهُ حَرَامٌ عَلَى لِسَانِ كُلِّ نَبِيٍّ . وَيُسَنُّ قَتْلُهُ ، سَوَاءٌ كَانَ عَقُوْرًا أَمْ لَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، وَقِيلَ : يَجِبُ قَتْلُ الْعَقُوْرِ .
Keenam: Babi. Ia adalah hewan yang buruk (khabits). Dikatakan bahwa babi diharamkan melalui lisan setiap Nabi. Disunnahkan membunuhnya, baik ia galak maupun tidak menurut pendapat yang kuat (mu'tamad). Ada pula yang berpendapat wajib membunuhnya jika ia galak.
فَرْعُ : يُسَنُ قَتْلُ الْمُؤْذِيَاتِ ، أَيْ : الَّتِي تُؤْذِي بِطَبْعِهَا ، كَالْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ ، وَهِيَ الَّتِي كَثُرَ خَبَثُهَا وَإِيْذَاؤُهَا :
Cabang Masalah: Disunnahkan membunuh hewan-hewan yang mengganggu, yaitu yang mengganggu secara tabiatnya, seperti lima hewan pengganggu (fawasiqul khams). Disebut demikian karena saking banyaknya keburukan dan gangguannya, yaitu:
الْغُرَابُ الَّذِي لَا يُؤْكَلُ ، وَهُوَ الَّذِي بَعَثَهُ نَبِيُّ اللهِ نُوْحٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السَّفِينَةِ لِيَأْتِيْهِ بِخَبَرِ الْأَرْضِ ، فَتَرَكَ أَمْرَهُ وَأَقْبَلَ عَلَى جِيْفَةٍ ؛
1. Burung gagak yang tidak boleh dimakan, yaitu yang diutus Nabi Nuh AS dari bahtera untuk membawakan kabar tentang daratan, namun ia meninggalkan perintahnya dan malah mendatangi bangkai.
وَالْحِدَأَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَرْجُلٍ وَعَيْنَاهَا فِي ظَهْرِها ، وَلِذَا يُقَالُ : إِنَّهَا عَمْيَاءُ ، لِكَوْنِهَا لَا تُبْصِرُ مَا أَمَامَهَا ، تَلْدَغُ وَتُؤْلِمُ إِيْلَامًا شَدِيدًا ،
2. Burung elang/rajawali. 3. Kalajengking, ia memiliki delapan kaki dan kedua matanya ada di punggungnya, karena itu dikatakan ia buta sebab tidak melihat apa yang di depannya, ia menyengat dan sangat menyakitkan.
وَالْفَارَةُ ، وَهِيَ الَّتِي عَمَدَتْ إِلَى حِبَالِ سَفِينَةِ سَيِّدِنَا نُوحٍ فَقَطْقطعَتْهَا ، وَأَخَذَتْ الْفَتِيْلَةَ لِتَحْرِيقِ الْبَيْتِ أَيْضًا ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِقَتْلِهَا ، وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ . وَقَضِيَّةُ كَلَامِ النَّوَوِيِّ وَالرَّافِعِيِّ أَنَّ اقْتِنَاءَ هَذِهِ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ حَرَامٌ . وَكَذَلِكَ الْعَنْكَبُوْتُ ، فَهِيَ مِنْ ذَوَاتِ السُّمُوْمِ كَمَا...
4. Tikus, yaitu yang sengaja menggigit tali bahtera Nabi Nuh hingga putus, dan juga mengambil sumbu untuk membakar rumah, maka Nabi SAW memerintahkan untuk membunuhnya. 5. Anjing galak ('aqur). Inti dari perkataan Imam Nawawi dan Ar-Rafi'i adalah mengharamkan memelihara kelima hewan pengganggu ini. Demikian pula laba-laba, karena ia termasuk hewan berbisa, sebagaimana... (bersambung).
١٤٦
قَالَ الأَطِبَّاءُ ، وَإِنْ كَانَ نَسْجُهَا طَاهِرًا ، وَكَثِيرٌ مِنَ الْعَوَامٍ يَمْتَنِعُ مِنْ قَتْلِهَا ! لِأَنَّهَا عَشَّشَتْ فِي فَمِ الْغَارِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ، وَيَلْزَمُ عَلَى هَذَا أَنْ لَا يُذْبَحَ الْحَمَامُ لِأَنَّهُ عَشَّشَ أَيْضًا عَلَى فَمِ الْغَارِ . وَفِي كَلَامِ بَعْضِهِمْ أَنَّ الْعَنْكَبُوْتَ ضَرْبَانِ : ذُو سُمٌ وَغَيْرُهُ .
(Lanjutan laba-laba): ...sebagaimana dikatakan para dokter, meskipun jaringnya itu suci. Banyak orang awam yang tidak mau membunuhnya karena ia membuat sarang di mulut gua (Tsur) untuk melindungi Nabi SAW. Padahal konsekuensi dari alasan ini adalah tidak boleh menyembelih burung merpati, karena ia juga bersarang di mulut gua tersebut. Sebagian ulama menyebutkan bahwa laba-laba itu ada dua macam: yang berbisa dan yang tidak.
وَكَالْأَسَدِ وَالنَّمْرِ ، بِكَسْرِ النُّوْنِ وَإِسْكَانِ الْمِيمِ ، وَهُوَ سَبْعٌ أَخْبَثُ وَأَجْرَأُ مِنَ الأَسَدِ ، يَخْتَلِفُ لَوْنُ جِلْدِهِ ، وَالذَّنْبِ وَالدُwبِّ ، بِضَمِّ الدَّالِ الْمُهْمَلَةِ ، وَهُوَ حَيْوَانٌ خَبِيْتٌ ، وَالنَّسْرِ ، وَهُوَ مِنَ الطَّيْرِ الْجَارِحِ ، وَالْعُقَابِ ، وَهُوَ أُنْثَى الْجَوَارِحِ ، وَالْوَزَعِ .
(Hewan lain yang sunnah dibunuh): Seperti singa, macan (an-namru—dengan kasrah nun dan sukun mim), yaitu binatang buas yang lebih buruk dan lebih berani dari singa, warna kulitnya bervariasi. Serigala, beruang (ad-dubbu—dengan dhommah dal), yaitu hewan yang buruk. Burung nasar, yaitu termasuk burung pemangsa. Burung elang (al-'uqaab), yaitu jenis burung pemangsa betina. Dan cicak/tokek (al-wazagh).
وَرَوَى مُسْلِمٌ : « مَنْ قَتَلَ الْوَزَغَ فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ مِئَةَ حَسَنَةٍ ، وَفِي الثَّانِيَةِ دُوْنَ ذَلِكَ ، وَفِي الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ » ؛ وَفِيْهِ حَقٌّ عَلَى قَتْلِهَا . قِيْلَ : لِأَنَّهَا كَانَتْ تَنْفُخُ النَّارَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَالْبَعُوْضِ وَالْقُرَادِ ، مِثْلُ غُرَابٍ ، وَهُوَ : مَا يَتَعَلَّقُ بِالْبَعِيرِ وَنَحْوِهِ ، وَهُوَ كَالْقَمْلِ لِلإِنْسَانِ ؛ وَالْقِرْدِ ، وَهُوَ حَيْوَانٌ خَبِيْتٌ ،
Muslim meriwayatkan: (Siapa yang membunuh cicak pada pukulan pertama, Allah tuliskan baginya 100 kebaikan, pada pukulan kedua di bawah itu, dan pada pukulan third di bawah itu). HR. Muslim [No: 2240]. Ada perintah untuk membunuhnya karena ia dahulu meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Nyamuk, kutu unta (al-quraad—seperti timbangan ghuraab), yaitu yang menempel pada unta dsb, posisinya seperti kutu bagi manusia. Kera, yaitu hewan yang buruk.
وَالصُّرَدِ وَزَانُ عُمَرَ : نَوْعٌ مِنَ الْغُرْبَانِ . قَالَ أَحْمَدُ السُّجَاعِيُّ : وَهُوَ طَائِرٌ فَوْقَ الْعُصْفُورِ ، أَبْقَعٌ ، نِصْفُهُ أَبْيَضُ وَنِصْفُهُ أَسْوَدٌ ، ضَخْمُ الرَّأْسِ وَالْمِنْقَارِ ، أَصَابِعُهُ عَظِيمَةٌ ، لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ أَحَدٌ ، وَلَهُ صَفِيرٌ مُخْتَلِفٌ ، يُصَفِّرُ لِكُلِّ طَائِرٍ يُرِيدُ أَنْ يَصِيْدَهُ بِلُغَتِهِ ، وَيَدْعُوْهُ إِلَى التَّقَرُّبِ مِنْهُ ، فَإِذَا اجْتَمَعُوْا إِلَيْهِ شَدَّ عَلَى بَعْضِهِمْ ، وَمِنْقَارُهُ شَدِيدٌ ، فَإِذَا نَقَرَ وَاحِدًا قَدَّهُ مِنْ سَاعَتِهِ وَأَكَلَهُ . وَالْبُرْغُوثِ وَالْبَقِّ وَالزُّنْبُوْرِ ، بِضَمِّ الزَّايِ
Burung Shurad (seperti timbangan Umar), yaitu jenis burung gagak. Ahmad As-Suja'i berkata: Ia burung yang lebih besar dari emprit, warnanya belang (putih-hitam), kepalanya besar, paruhnya kuat, jari-jarinya besar, tidak ada yang sanggup menangkapnya. Ia punya siulan yang bermacam-macam; ia bersiul menirukan suara burung yang ingin ia mangsa dengan bahasa burung itu untuk menariknya mendekat. Jika mereka sudah berkumpul, ia langsung menyerang salah satunya, dan jika ia mematuk, ia langsung merobek dan memakannya saat itu juga. Kutu loncat, kutu busuk (al-baqq), dan tawon (az-zunbuur), dengan dhommah pada huruf Zay.
١٤٧
( وَيَحْرُمُ قَتْلُ النَّمْلِ السُّلَيْمَانِيِّ ، وَهُوَ الْكَبِيرُ ، لانْتِفَاءِ أَذَاهُ ،
... Dan haram hukumnya membunuh semut Sulaimani, yaitu semut yang berukuran besar, karena tidak adanya gangguan darinya.
وَالنَّحْلِ وَالْخُطَّافِ ، بِضَمِّ الْخَاءِ وَتَشْدِيدِ الطَّاءِ ، وَيُسَمَّى أَلَانَ عُصْفُوْرَ الْجَنَّةِ ، لِأَنَّهُ زَهِدَ مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ مِنَ الْأَقْوَاتِ وَاكْتَفَى بِتَقَوَّتِهِ بِالْبَعُوضِ ، وَالضَّفْدَعِ وَالْهُدْهُدِ وَالْوَطْوَاطِ ، وَهُوَ الْخَفَّاسُ ، وَهُوَ طَائِرٌ لَا يَكَادُ يُبْصِرُ بِالنَّهَارِ ، وَكَالْقَمْلِ وَالصَّبَانُ وَهُوَ بَيْضُهُ ، أَمَّا غَيْرُ السُّلَيْمَانِي ، وَهُوَ الصَّغِيْرُ الْمُسَمَّى بِالذَّرِّ ، فَيَجُوزُ قَتْلُهُ بِغَيْرِ الإِحْرَاقِ ، لِكَوْنِهِ مُؤْذِيًا ، وَكَذَا بِهِ إِنْ تَعَيَّنَ طَرِيقًا لِدَفْعِهِ .
(Hewan lain yang haram dibunuh): Lebah, burung walet (al-khutthaaf—dengan dhommah kha dan tasyidid pada tha), yang sekarang disebut burung surga karena ia zuhud dari makanan yang ada di tangan manusia dan merasa cukup dengan memakan nyamuk. Katak, burung hud-hud, dan kelelawar (al-wathwaath atau al-khafaasy), yaitu burung yang hampir tidak bisa melihat di siang hari. Begitu juga (haram membunuh) kutu rambut dan shoban (telurnya). Adapun semut selain jenis Sulaimani, yaitu yang kecil yang disebut adz-dzarr, maka boleh membunuhnya tanpa membakar karena ia mengganggu; namun boleh dibakar jika itu satu-satunya cara untuk mengusirnya.
أَمَّا مَا يَنْفَعُ وَيَضُرُّ ، كَصَقْرٍ ، وَهُوَ مِنَ الْجَوَارِحِ ، يُسَمَّى : الْقُطَا بِضَمِّ الْقَافِ وَفَتْحِهَا ، وَبَارٍ ، فَلَا يُسَنُّ قَتْلُهُ وَلَا يُكْرَهُ، بَلْ هُوَ مُبَاحٌ، وَمَا لَا يَظْهَرُ فِيْهِ نَفْعٌ وَلَا ضَرٌّ ، كَخَنَافِسَ وَجُعْلَانِ ، جَمْعُ جُعَلٍ ، وَزْنُ عُمَرَ ، وَهُوَ الْحِرْبَاءُ، وَهِيَ أَكْبَرُ مِنَ الْقَطَا ، تَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَتَدُوْرُ مَعَهَا كَيْفَمَا دَارَتْ ، وَتَتَلَوَّنُ أَلْوَانًا ، وَدُوْدٍ وَذُبَابٍ يُكْرَهُ قَتْلُهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ إِحْسَانِ الْقِتْلَةِ ؛
Adapun hewan yang memberi manfaat sekaligus membahayakan, seperti burung alap-alap (shaqr—termasuk burung pemangsa, disebut juga al-qatha dengan dhommah atau fathah pada qaf) dan burung baari, maka tidak disunnahkan membunuhnya dan tidak pula makruh, melainkan hukumnya mubah. Dan hewan yang tidak nampak manfaat maupun bahayanya, seperti kumbang (khanafis) dan ju'laan (jamak dari ju'al—seperti timbangan Umar). Serta bunglon (al-hirba'), ia lebih besar dari burung qatha, ia menghadap matahari dan berputar mengikuti arahnya, serta bisa berubah-ubah warna. Serta ulat dan lalat, makruh membunuhnya karena bukan termasuk membaguskan cara membunuh.
أَمَّا السَّرَطَانُ ، وَهُوَ : حَيْوَانُ الْبَحْرِ ، وَيُسَمَّى عَقْرَبَ الْمَاءِ ، وَالرَّحْمَةُ ، وَهُوَ طَائِرُ يَأْكُلُ الْعَذِرَةَ ، وَهُوَ مِنَ الْخَبَائِثِ ، فَإِنَّهُ يَحْرُمُ قَتْلُهُمَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ ؛ وَيَجُوزُ رَمْيُ الْقَمْلِ حَيَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَسْجِدٍ . ذَكَرَ ذَلِكَ كُلَّهُ الشَّيْخُ الشَّرْقَاوِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى « تُحْفَةِ الطُّلَّابِ » فِي بَابِ جَزَاءِ الصَّيْدِ .
Adapun kepiting (sarathan—hewan laut, disebut juga kalajengking air) dan burung rahmah (burung yang memakan kotoran dan termasuk hewan buruk), maka haram membunuh keduanya menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad). Dan boleh membuang kutu rambut dalam keadaan hidup selama tidak di dalam masjid. Semua itu disebutkan oleh Syekh Asy-Syarqawi dalam Hasyiyah-nya atas kitab Tuhfatut Thullab pada bab balasan berburu.
``` ```(١) فِي الْأَصْلِ: «الْإِسْلَامِ» بَدَلًا مِنَ : «الْفَتْرَةِ» . وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ، رَدَّ عَلَيْهَا وَنَاقَشَهَا مُلًّا عَلِيّ بْنُ مُحَمَّدِ سُلْطَانِ الْقَارِي الْهَرَوِيُّ فِي كِتَابِهِ : « أَدِلَّهُ مُعْتَقَدِ أَبِي حَنِيفَةَ الْأَعْظَمِ فِي أَبَوَيْ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ » ، وَهُوَ مَطْبُوعٌ بِتَحْقِيقِ مَشْهُورِ بْنِ حَسَنِ بْنِ سَلْمَانَ ، مَكْتَبَةُ الْغُرَبَاءِ الأَثَرِيَّةُ، الْمَدِينَةُ الْمُنَوَّرَةُ ، الطَّبْعَةُ الأُولَى ، ١٩٩٣م .
(1) Dalam naskah asli tertulis: "Al-Islam" sebagai pengganti dari: "Al-Fatrah". Masalah ini telah dibantah dan didiskusikan oleh Mulla 'Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qari Al-Harawi dalam kitabnya: "Adillatu Mu'taqadi Abi Hanifah Al-A'zham fi Abawai Ar-Rasul 'Alaihi Ash-Shalatu wa As-Salam", kitab tersebut dicetak dengan tahqiq Masyhur bin Hasan bin Salman, Maktabah Al-Ghuraba' Al-Atsariyyah, Madinah Al-Munawwarah, cetakan pertama, tahun 1993 M.
(٢) فِي مَا مَرَّ مِنْ وَصْفٍ وَتَعْرِيفِ بِالْحَيْوَانَاتِ وَالطُّيُورِ وَالْحَشَرَاتِ وَغَيْرِهَا تَخَبُّطُ ظَاهِرُ ، فَلْيُدَقَّقْ .
(2) Terdapat kekacauan yang nyata dalam deskripsi dan definisi hewan, burung, serangga, dan lainnya yang telah disebutkan di atas, maka hendaknya diteliti kembali.
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ صِحَّةِ التَّيَمُّمِ . شُرُوطُ التَّيَمُّمِ ، أَيْ : مَا لَا بُدَّ مِنْهُ فِيْهِ ، عَشَرَةٌ :
Fasal: Mengenai syarat-syarat sah tayamum. Syarat-syarat tayamum, maksudnya perkara yang mesti ada di dalamnya, itu ada sepuluh[cite: 2]:
الأَوَّلُ : أَنْ يَكُوْنَ بِتُرَابٍ ، أَيْ : خَالِصٍ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِهِ ، حَتَّى مَا يُدَاوَى بِهِ ، وَهُوَ الطَّيْنُ الأَرْمَنِيُّ ؛ وَالْمُحْرَقُ مِنْهُ وَلَوْ أَسْوَدَ مَا لَمْ يَصِرْ رَمَادًا ، وَالْبَطْحَاءُ وَهُوَ مَا فِي مَسِيْلِ الْمَاءِ ، وَالسَّبَحُ ، بِفَتْحِ الْبَاءِ ، أَيْ : الْمَلِحُ الَّذِي لَا يُنْبِتُ مَا لَمْ يَعْلُهُ ، أَيْ : يَغْلُبْهُ ، مِلْحٌ ؛ فَجَمِيعُ مَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ اسْمُ التَّرَابِ كَافٍ مِنْ أَيِّ مَحَلَّ أُخِذَ ، وَلَوْ مِنْ ظَهْرِ كَلْبٍ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ تَنَجَّسُ التَّرَابِ الْمَأْخُوْذِ مِنْهُ .
Pertama: Harus menggunakan debu/tanah (turab). Yaitu tanah yang murni dengan segala jenisnya, termasuk tanah yang digunakan untuk obat (seperti tanah Armenia). Juga tanah yang terbakar selama belum menjadi abu, tanah dari aliran air (bathha'), dan tanah payau (sabakh—dengan fathah pada huruf ba), yaitu tanah asin yang tidak menumbuhkan tanaman selama kadar garamnya tidak mendominasi. Jadi, semua yang sah disebut tanah itu sudah cukup dari mana pun diambilnya, bahkan jika diambil dari punggung anjing sekalipun, selama tidak diketahui bahwa tanah tersebut terkena najis[cite: 2].
وَ الثَّانِي : أَنْ يَكُوْنَ التَّرَابُ طَاهِرًا ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيبا﴾ [٤ سورة النساء / الآية : ٤٣ ] ، أَيْ : تُرَابًا طَاهِرًا .
Kedua: Debu/tanah tersebut harus suci (thahir). Berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Maka bertayamum-lah dengan tanah yang baik) [QS. An-Nisa: 43], maksudnya tanah yang suci[cite: 2].
وَالثَّالِثُ : أَنْ لَا يَكُوْنَ مُسْتَعْمَلًا ، أَيْ : فِي رَفْعِ الْحَدَثِ ، وَمِثْلُهُ الْمُسْتَعْمَلُ فِي إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ الْمُغَلَّظَةِ ، فَإِنْ كَانَ فِي السَّابِعَةِ كَانَ طَاهِرًا فَقَدْ ، أَوْ فِيْمَا قَبْلَهَا فَمُتَنَجِّسُ ، وَلَا يَصِيرُ مُطَهَّرًا بِغَسْلِهِ ، وَالْمُسْتَعْمَلُ مِنْهُ فِي رَفْعِ الْحَدَثِ مَا بَقِيَ بِعُضْوِ مَمْسُوْحٍ بَعْدَ مَسْحِهِ أَوْ تَنَاثَرَ مِنْهُ حَالَةَ التَّيَمُّمِ بَعْدَ مَسْحِهِ الْعُضْوَ ، أَمَّا مَا تَنَاثَرَ وَلَمْ يَمَسَّ الْعُضْوَ بَلْ لَاقَى مَا لَا صَقَ الْعُضْوَ ، فَلَيْسَ بِمُسْتَعْمَلٍ ، كَالْبَاقِي بِالْأَرْضِ ؛ وَكَذَا لَوْ أَلْقَتِ الرِّيْحُ عَلَى وَجْهِهِ تُرَابًا ، فَأَخَذَهُ بِخِرْقَةٍ ، ثُمَّ أَعَادَهُ عَلَى وَجْهِهِ ، فَإِنَّهُ يَكْفِي . وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ تَيَمَّمَ وَاحِدٌ أَوْ جَمَاعَةٌ مَرَّاتٍ كَثِيرَةً مِنْ تُرَابٍ يَسِيرٍ فِي نَحْوِ خِرْقَةٍ جَازَ حَيْثُ لَمْ يَتَنَاثَرْ إِلَيْهِ شَيْءٌ مِمَّا ذُكِرَ ، كَمَا يَجُوْزُ الْوُضُوْءُ مُتَكَرِّرًا مِنْ إِنَاءِ وَاحِدٍ ،
Ketiga: Tidak boleh debu yang musta’mal (telah digunakan). Yaitu yang sudah dipakai untuk mengangkat hadas, termasuk juga tanah yang dipakai untuk menghilangkan najis mughalladhah (anjing/babi). Jika tanah itu digunakan pada basuhan ketujuh maka statusnya hanya suci (tidak menyucikan), namun jika digunakan pada basuhan sebelumnya maka statusnya najis (mutanajjis) dan tidak bisa suci kembali dengan dicuci. Tanah yang dihukumi musta’mal untuk mengangkat hadas adalah sisa tanah yang masih menempel di anggota tubuh yang diusap setelah selesai mengusapnya, atau debu yang berjatuhan saat tayamum setelah mengusap anggota tubuh tersebut. Adapun debu yang berjatuhan tapi belum menyentuh anggota tubuh, melainkan hanya mengenai bagian yang menempel anggota tubuh, maka itu bukan musta'mal, sama halnya dengan debu yang tersisa di tanah. Begitu juga jika angin meniupkan debu ke wajahnya, lalu ia mengambilnya dengan kain dan mengusapkannya kembali ke wajahnya, maka itu mencukupi. Dari situ diketahui bahwa jika satu orang atau jamaah bertayamum berkali-kali menggunakan debu yang sedikit (misal di kain), hukumnya boleh selama tidak ada debu musta'mal yang rontok ke situ, sebagaimana boleh wudhu berulang kali dari satu wadah[cite: 2].
وَلَوْ رَفَعَ إِحْدَى يَدَيْهِ عَنِ الأُخْرَى قَبْلَ اسْتِيْعَابِهَا ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُعِيدَهَا للاِسْتِيْعَابِ جَازَ فِي الأَصَحُ ، لِأَنَّ الْمُسْتَعْمَلُ هُوَ الْبَاقِي بِالْمَمْسُوْحَةِ ؛ أَمَّا الْبَاقِي بِالْمَاسِحَةِ فَفِي حُكْمِ التُّرَابِ الَّذِي يُضْرَبُ عَلَيْهِ الْيَدُ مَرَّتَيْنِ ، فَلَا يَكُوْنُ مُسْتَعْمَلَا بِالنِّسْبَةِ لِلْمَمْسُوْحَةِ ، أَيْ : فَلَوْ أَغْفَلَ فِيْهَا لَمْعَةٌ كَانَ لَهُ أَنْ يَمْسَحَهَا بِمَا فِي الْمَاسِحَةِ ، أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِغَيْرِ الْمَمْسُوْحَةِ ، كَعُضْوِ مُتَيَمِّمٍ آخَرَ ، أَوِ الْعُضْوِ الْمَاسِحِ ، فَلَا يَجُوْزُ مَسْحُهُ بِمَا فِي الْكَفَّ لِارْتِفَاعِ حَدَثِ ذَلِكَ الْكَفَّ بِهِ ، فَهُوَ مُسْتَعْمَلُ .
Jika seseorang mengangkat salah satu tangannya dari tangan lainnya sebelum rata, lalu ingin mengulanginya lagi agar rata, maka hukumnya boleh menurut pendapat yang paling sahih (al-ashah). Karena yang dianggap must'amal adalah debu yang tersisa di anggota tubuh yang diusap (al-mamsuuhah). Adapun debu yang tersisa di tangan yang mengusap (al-maasihah), maka kedudukannya sama dengan debu yang baru ditepuk, sehingga tidak dianggap musta'mal bagi anggota tubuh yang sedang diusap itu. Artinya, jika ada bagian yang terlewat (lum'ah), boleh diusap menggunakan sisa debu di telapak tangan pengusap tadi. Namun, debu di telapak tangan itu menjadi musta'mal jika digunakan untuk anggota tubuh orang lain atau anggota tubuh pengusap itu sendiri (karena hadas di telapak tangan tersebut sudah terangkat)[cite: 2].
وَالرَّابِعُ : أَنْ لَا يُخَالِطَهُ دَقِيقٌ وَنَحْوُهُ ، كَزَعْفَرَانٍ وَنُوْرَةٍ مِنَ الْمُخَالِطَاتِ ، وَإِنْ قَلَّ ذَلِكَ الْخَلِيْطُ ، لِمَنْعِهِ وُصُوْلَ التُّرَابِ إِلَى الْعُضْوِ لِكَثَافَتِهِ . قَالَ الْحِصْنِيُّ : وَالْكَثِيرُ مَا يُرَى ، وَالْقَلِيْلُ مَا لَا يَظْهَرُ . أَنْتَهَى . وَلَوْ اخْتَلَطَ التُّرَابُ بِمَاءٍ مُسْتَعْمَلٍ وَجَفَّ جَازَ لَهُ التَّيَمُّمُ بِهِ .
Keempat: Tidak boleh tercampur dengan tepung atau sejenisnya, seperti za'faran atau kapur sirih (nuurah), meskipun campurannya sedikit. Hal ini karena campuran tersebut menghalangi sampainya debu ke anggota tubuh karena kepekatannya. Imam Al-Hishni berkata: "Yang dianggap 'banyak' adalah yang terlihat, dan 'sedikit' adalah yang tidak nampak." Jika debu tercampur dengan air musta'mal lalu mengering, maka boleh digunakan untuk bertayamum[cite: 2].
وَالْخَمْسُ : أَنْ يَقْصِدَهُ ، أَيْ : يَقْصِدَ التَّرَابَ لِأَجْلِ التَّحْوِيْلِ إِلَى الْعُضْوِ الْمَمْسُوْحِ فَيَتَيَمَّمَ ، وَلَوْ بِفِعْلِ غَيْرِهِ بِإِذْنِهِ ، أَوْ يُمَرِّغَ وَجْهَهُ أَوْ يَدَيْهِ فِي الْأَرْضِ ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا ﴾ [٤ سورة النساء / الآية : ٤٣] ، أَيْ : أَقْصُدُوهُ ، فَلَوِ انْتَفَى النَّقْلُ كَأَنْ سَفَتْهُ رِيحٌ عَلَى عُضْوٍ مِنْ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ فَرَدَّدَهُ عَلَيْهِ وَنَوَى لَمْ يَكْفِ ، وَإِنْ قَصَدَ بِوُقُوْفِهِ فِي مَهَبِّ الرِّيْحِ التَّيَمُّمَ ، لاِنْتِفَاءِ الْقَصْدِ مِنْ جِهَتِهِ بِانْتِفَاءِ النَّقْلِ الْمُحَقِّقِ لِلْقَصْدِ . وَأَمَّا قَصْدُ الْعُضْوِ فَلَا يُشْتَرَطُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، فَلَوْ أَخَذَ تُرَابًا لِيَمْسَحَ بِهِ وَجْهَهُ فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ مَسَحَهُ صَحَّ أَنْ يَمْسَحَ بِهِ يَدَيْهِ ، وَبِالْعَكْسِ .
Kelima: Harus bermaksud (qashdu), yaitu menyengaja mengambil debu untuk dipindahkan ke anggota tubuh yang diusap. Tayamum tetap sah meski dilakukan oleh orang lain dengan izinnya, atau dengan cara menempelkan wajah/tangannya langsung ke debu di tanah, berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Maka bermaksudlah/bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik) [QS. An-Nisa: 43], maksudnya "bermaksudlah kalian padanya". Maka jika tidak ada unsur "pemindahan" (naql), seperti angin meniupkan debu ke salah satu anggota tayamum lalu ia mengusap-usapnya dengan niat, maka itu tidak mencukupi. Bahkan jika ia sengaja berdiri di tempat berhembusnya angin dengan niat tayamum pun tetap tidak cukup, karena tidak adanya unsur maksud/tujuan dari pihaknya melalui pemindahan yang nyata. Adapun menentukan anggota tubuh saat mengambil debu tidaklah disyaratkan menurut pendapat yang kuat (mu'tamad); jika ia mengambil debu untuk mengusap wajah tapi kemudian teringat wajahnya sudah diusap, maka boleh ia gunakan debu itu untuk mengusap tangan, begitupun sebaliknya[cite: 2].
وَالسَّادِسُ : أَنْ يَمْسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ بِضَرْبَتَيْنِ ، أَيْ : وَلَا بُدَّ مِنَ الضَّرْبَتَيْنِ شَرْعًا ، وَإِنْ أَمْكَنَ التَّيَمُّمُ عَقْلًا بِضَرْبَةٍ بِخِرْقَةٍ أَوْ نَحْوِهَا ، بِأَنْ يَضْرِبَ بِالْخِرْقَةِ عَلَى تُرَابٍ وَيَضَعُهَا عَلَى وَجْهِهِ وَيَدَيْهِ مَعًا ، وَيُرَتِّبُ فِي الْمَسْحِ ، بِأَنْ يَمْسَحَ وَجْهَهُ بِطَرَفِهَا ثُمَّ يَدَيْهِ بِطَرَفِهَا الْآخَرِ ، فَلَا يَكْفِي ذَلِكَ شَرْعًا ، لِأَنَّهُ نَقْلَةٌ وَاحِدَةٌ ، فَلَا بُدَّ مِنْ نَقْلَةٍ ثَانِيَةٍ يَمْسَحُ بِهَا ، وَلَوْ قِطْعَةٌ مِنْ يَدِهِ ؛ وَالْمُرَادُ بِالضَّرْبِ النَّقْلُ ، فَلَوْ أَخَذَ التَّرَابَ مِنَ الْهَوَاءِ كَفَى . لَا يُقَالُ : إِنَّ النَّقْلَ مِنَ الْأَرْكَانِ ، فَكَيْفَ يَجْعَلُهُ مِنَ الشُّرُوطِ ؟ لِأَنَّا نَقُوْلُ : إِنَّ الرُّكْنَ ذَاتَهُ ، وَالشَّرْطُ إِنَّمَا هُوَ تَعَدُّدُهُ لَا ذَاتُهُ .
Keenang: Hendaknya mengusap wajah dan kedua tangan dengan dua kali tepukan. Maksudnya, dua kali tepukan/pemindahan secara syariat itu wajib, meskipun secara logika tayamum bisa saja dilakukan dengan sekali tepukan menggunakan kain misalnya. Contohnya: seseorang menepukkan kain ke debu lalu menaruhnya ke wajah dan tangan sekaligus, lalu mengusap wajah dengan ujung kain dan tangan dengan ujung lainnya; hal ini tidak mencukupi secara syariat karena baru terhitung satu kali pemindahan (naqlah waahidah). Maka harus ada pemindahan kedua untuk mengusap (tangan). Yang dimaksud "menepuk" adalah "memindah", maka jika ia mengambil debu dari udara pun sudah cukup. Jangan dikatakan: "Bukankah pemindahan (naql) itu rukun, kenapa dijadikan syarat?" Karena kami menjawab: Rukunnya adalah hakikat pemindahan itu sendiri, sedangkan syaratnya adalah jumlah pemindahannya yang harus berbilang (lebih dari satu)[cite: 2].
وَالسَّابِعُ : أَنْ يُزِيْلَ ، أَيْ : الْمُتَيَمَّمُ ، النَّجَاسَةَ أَوَّلًا ، أَيْ : فَيُشْتَرَطُ عَلَى الْمُتَيَمَّمِ تَقْدِيمُ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ غَيْرُ الْمَعْفُو عَنْهَا عَنْ بَدَنِهِ ، وَلَوْ عَنْ غَيْرِ أَعْضَاءِ التَّيَمُّم ، مِنْ فَرْجِ أَوْ غَيْرِهِ ، لَا عَنْ ثَوْبِهِ وَمَكَانِهِ ، بِخِلَافِهِ فِي الْوُضُوءِ ، لِأَنَّ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ ، وَهُوَ يَحْصُلُ مَعَ عَدَمٍ تَقَدُّمِ ذَلِكَ ، وَالتَّيَمُّمُ الإِبَاحَةِ الصَّلَاةِ التَّابَعُ لَهَا غَيْرُهَا ، وَلَا إِبَاحَةَ مَعَ ذَلِكَ ؛ فَأَشْبَهَ التَّيَمُّمُ مَعَهَا التَّيَمُّمَ قَبْلَ الْوَقْتِ . قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : فَلَوْ تَيَمَّمَ قَبْلَ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ لَمْ يَصِحَّ تَيَمُّمُهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ فِي الْمَذْهَبِ ، وَجَرَى عَلَيْهِ الرَّمْلِيُwَ ، وَقِيلَ : يَصِحُ ، وَجَرَى عَلَيْهِ ابْنُ حَجَرٍ ؛ وَيَنْبَنِي عَلَى الْخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ الْمَيْتُ أَفْلَفَ وَتَحْتَ قُلْفَتِهِ نَجَاسَةٌ ، فَعِنْدَ الرَّمْلِي يُدْفَنُ بِلَا صَلَاةٍ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَقَدَّمْ إِزَالَهُ النَّجَاسَةِ ؛ وَعِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ يُصَلَّى عَلَيْهِ ، إِذْ لَا يُشْتَرَطُ عِنْدَهُ ذَلِكَ .
Ketujuh: Hendaknya ia (orang yang tayamum) menghilangkan najis terlebih dahulu. Disyaratkan bagi orang yang ingin tayamum untuk mendahulukan pembersihan najis yang tidak dimaafkan dari badannya, meskipun najis itu bukan pada anggota tayamum (seperti di kemaluan dsb), tapi tidak disyaratkan harus bersih dari pakaian dan tempatnya (saat tayamum). Hal ini berbeda dengan wudhu; karena wudhu itu untuk mengangkat hadas, dan hal itu bisa terjadi meskipun najis belum dibersihkan. Sedangkan tayamum fungsinya adalah "pembolehan salat" (ibahah) yang mana ibadah lain mengikutinya, dan tidak ada pembolehan jika najis masih ada; maka tayamum yang dilakukan sebelum najis hilang itu seperti tayamum yang dilakukan sebelum masuk waktu salat[cite: 2]. Syekh Asy-Syarqawi berkata: Jika seseorang bertayamum sebelum menghilangkan najis, maka tayamumnya tidak sah menurut pendapat yang kuat (mu'tamad) dalam mazhab, dan ini yang diikuti oleh Imam Ramli. Ada pendapat lain yang mengatakan sah, dan ini yang diikuti oleh Imam Ibnu Hajar. Dampak perbedaan ini muncul pada masalah jenazah yang belum dikhitan dan di bawah kulit kuncupnya (qulfah) ada najis; menurut Imam Ramli jenazah itu langsung dikubur tanpa disalatkan karena najisnya tidak bisa dihilangkan, sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar tetap disalatkan karena beliau tidak mensyaratkan hal tersebut[cite: 2].
وَالثَّامِنُ : أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْقِبْلَةِ قَبْلَهُ ، أَيْ : قَبْلَ التَّيَمُّمِ . قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ » : فَلَوْ تَيَمَّمَ قَبْلَ الْاجْتِهَادِ فِيْهَا لَمْ يَصِحَ عَلَى الْأَوْجَهِ . قَالَ الشَّرْقَاوِيُwَ : هَذَا ضَعِيفٌ ، فَيَصِحُ التَّيَمُّمُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ وَلَوْ قَبْلَ الاجْتِهَادِ فِي الْقِبْلَةِ ، وَلِهَذَا تَصِحٌ صَلَاةُ مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِأَرْبَعِ جِهَاتٍ بِلَا إِعَادَةٍ .
Kedelapan: Hendaknya berijtihad menentukan arah kiblat sebelum bertayamum. Imam Ibnu Hajar dalam kitab Al-Manhajul Qowim berkata: "Jika ia bertayamum sebelum berijtihad mencari arah kiblat, maka tayamumnya tidak sah menurut pendapat yang lebih kuat (al-aujah)." Namun Syekh Asy-Syarqawi berkata bahwa pendapat ini lemah; tayamum tetap sah asalkan sudah masuk waktu salat meskipun dilakukan sebelum ijtihad kiblat. Karena itulah sah salatnya orang yang salat empat rakaat ke empat arah berbeda (karena bingung) tanpa perlu mengulang[cite: 2].
وَالتَّاسِعُ : أَنْ يَكُوْنَ التَّيَمُّمُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ ، أَيْ : دَ الَّذِي يَصِحُ فِعْلُ الصَّلَاةِ فِيْهِ ، لِأَنَّ التَّيَمُّمَ طَهَارَةُ ضَرُورَةٍ وَلَا ضَرُوْرَةَ قَبْلَ دُخُولِهِ ؛ وَالْوَقْتُ شَامِلٌ لِوَقْتِ الْجَوَازِ وَوَقْتِ الْعُذْرِ وَأَوْقَاتِ الرَّوَاتِبِ وَسَائِرِ الْمُؤَقَّتَاتِ كَصَلَاةِ الْعِيدِ وَالْكُسُوْفِ ، وَيَدْخُلُ وَقْتُ صَلَاةِ الْاسْتِسْقَاءِ بِاجْتِمَاعِ أَكْثَرِ النَّاسِ لَهَا إِنْ أَرَادَ فِعْلَهَا جَمَاعَةٌ ، وَإِلا فَبِإِرَادَةِ فِعْلَهَا ، وَالْكُسُوْفِ بِمُجَرَّدِ التَّغَيْرِ وَإِنْ أَرَادَ فِعْلَهَا جَمَاعَةٌ ؛ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْكُسُوْفَ يَفُوْتُ بِالانْجِلَاءِ وَلَا كَذَلِكَ الاسْتِسْقَاءُ لَا يَفُوْتُ بِالسُّقْيَا ؛ وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ بِدُخُولِهِ وَالْجَنَازَةِ بِتَمَامِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ ، وَهِيَ الْغَسْلَةُ الْأُوْلَى وَالتَّيَمُّمِ لِلْمَيْتِ وَإِنْ لَمْ يُكَفَّنْ ، وَبِهَذَا يُلْغَرُ ، فَيُقَالُ : شَخْصٌ لَا يَصِحُ تَيَمُّمُهُ حَتَّى يَتَيَمَّمَ غَيْرُهُ ، وَهُوَ الْمَيْتُ ، وَالنَّفْلِ الْمُطْلَقِ فِي كُلِّ وَقْتِ أَرَادَهُ إِلَّا وَقْتَ الْكَرَاهَةِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ فِيْهِ ؛ أَمَّا إِذَا تَيَمَّمَ لِيُصَلِّيَ خَارِجَهُ أَوْ أَطْلَقَ فَإِنَّهُ يَصِحُ . وَيَدْخُلُ وَقْتُ التَّيَمُّمِ لِلْخُطْبَةِ بِالزَّوَالِ ، كَالْجُمُعَةِ ، فَلَوْ تَيَمَّمَ قَبْلَهُ لَمْ يَصِحَّ ، وَيَجُوْزُ التَّيَمُّمُ لِلْجُمُعَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ لِدُخُولِ وَقْتِهَا ، وَتَقَدُّمُ الْخُطْبَةِ إِنَّمَا هُوَ شَرْطٌ لِصِحَّةِ فِعْلَهَا ، وَيَجُوْزُ تَيَمُّمُ الْخَطِيْبِ أَوْ غَيْرِهِ قَبْلَ تَمَامِ الْعَدَدِ الَّذِي تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمُعَة...
Kesembilan: Hendaknya tayamum dilakukan setelah masuk waktu salat. Maksudnya waktu yang sah untuk mengerjakan salat, karena tayamum adalah bersuci dalam keadaan darurat, dan tidak ada unsur darurat sebelum waktunya tiba. "Waktu" di sini mencakup waktu mubah (jawaz), waktu uzur, waktu salat rawatib, dan semua salat yang memiliki waktu khusus seperti salat Id dan Kusuf (gerhana). Untuk salat Istisqa, waktunya dimulai saat orang-orang berkumpul jika ingin berjamaah, atau saat memang ingin mengerjakannya, dan salat Kusuf (gerhana) dimulai hanya dengan adanya perubahan (gerhana) meskipun ingin dilakukan berjamaah. Perbedaan antara keduanya (Istisqa dan Kusuf) adalah bahwa Kusuf akan habis waktunya dengan nampaknya kembali matahari/bulan, sedangkan Istisqa tidak habis waktunya meski hujan telah turun. Waktu tayamum untuk Tahiyatul Masjid dimulai saat masuk masjid, dan untuk jenazah saat selesainya mandi yang wajib (basuhan pertama) serta tayamum untuk si mayit meskipun belum dikafani. Dengan ini muncul teka-teki (yulghozu): "Ada seseorang yang tayamumnya tidak sah sampai orang lain bertayamum lebih dulu", orang tersebut adalah mayit[cite: 2]. Adapun nafilah mutlak, waktunya kapan saja ia mau kecuali di waktu makruh. Jika ia bertayamum untuk salat di luar waktu makruh atau tanpa menentukan waktu, maka sah. Waktu tayamum untuk khutbah dimulai saat matahari tergelincir (zawal), seperti waktu Jumat; jika tayamum sebelumnya maka tidak sah. Boleh tayamum untuk salat Jumat sebelum khutbah karena waktunya sudah masuk, adapun mendahulukan khutbah itu hanyalah syarat sah pelaksanaannya. Boleh juga khatib atau jamaah tayamum sebelum genapnya jumlah jamaah minimal Jumat. Dan disyaratkan mengetahui atau menyangka kuat masuknya waktu meskipun dengan ijtihad; jika tayamum dalam keadaan ragu, maka tidak sah meski ternyata bertepatan dengan waktunya[cite: 2].
وَالْعَاشِرُ : أَنْ يَتَيَمَّمَ ، أَيْ : الْمَعْذُورُ وُجُوْبًا ، لِكُلِّ فَرْضِ ، أَيْ : عَيْنِي ، فَلَا يُجْمَعُ بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ وَإِنْ كَانَ الْمُتَيَمَّمُ صَبِيًّا فَرْضَيْنِ ، كَصَلَاتَيْنِ أَوْ طَوَافَيْنِ ، لِأَنَّهُ طَهَارَةُ ضَرُورَةٍ ، فَيُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا ، وَيَمْتَنِعُ الْجَمْعُ بَيْنَ الْجُمُعَةِ وَخُطْبَتِهَا بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ ، لِأَنَّ الْخُطْبَةَ وَإِنْ كَانَتْ فَرْضَ كِفَايَةٍ قَدْ الْحِقَتْ بِفَرَائِضِ الْأَعْيَانِ ، وَإِنَّمَا جُمِعَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَعَ أَنَّهُمَا فَرْضَانِ لِأَنَّهُمَا لِتَلَازُمِهِمَا صَارَا كَالشَّيْءِ الْوَاحِدِ ، فَاكْتُفِيَ لَهُمَا بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ ، بَلِ الظَّاهِرُ امْتِنَاعُ إِفْرَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِتَيَمُّمٍ لِعَدَمٍ وُرُودِهِ ؛ وَيَجْمَعُ بِهِ فَرْضًا وَمَا شَاءَ مِنَ النَّوَافِلِ ، لِأَنَّهَا تَكْثُرُ ، فَيُؤَدِّي إِيْجَابُ التَّيَمُّمِ لِكُلِّ صَلَاةٍ مِنْهَا إِلَى التَّرْكِ أَوْ إِلَى ضِيقٍ عَظِيمٍ ، فَخَفَّفَ فِي أَمْرِهَا كَمَا خَفَّفَ بِتَرْكِ الْقِيَامِ فِيْهَا مَعَ الْقُدْرَةِ ، وَبِتَرْكِ الْقِبْلَةِ فِي السَّفَرِ ،
Kesepuluh: Hendaknya bertayamum (bagi yang memiliki uzur secara wajib) untuk setiap satu kali salat fardu. Maksudnya fardu 'ain, maka tidak boleh menggabung dua salat fardu (seperti dua salat atau dua tawaf fardu) dengan satu kali tayamum meskipun yang bertayamum anak kecil. Hal ini karena tayamum adalah bersuci darurat, maka kadarnya dibatasi sesuai daruratnya. Dilarang juga menggabung antara salat Jumat dan khutbahnya dengan satu tayamum, karena khutbah—meskipun fardu kifayah—sudah disamakan kedudukannya dengan fardu 'ain. Adapun menggabung dua khutbah dengan satu tayamum hukumnya boleh karena keduanya saling berkaitan erat sehingga dianggap seperti satu kesatuan. Bahkan secara zahir, dilarang memisahkan masing-masing khutbah dengan tayamum tersendiri karena tidak adanya tuntunan soal itu[cite: 2]. Dengan satu tayamum, seseorang boleh mengerjakan satu salat fardu dan salat-salat sunnah sesukanya. Hal ini dikarenakan salat sunnah itu jumlahnya banyak; jika diwajibkan tayamum untuk setiap salat sunnah, maka akan menyebabkan orang meninggalkan sunnah atau merasa sangat kesulitan (dhiiq azhiim). Maka, diberikan keringanan dalam urusan sunnah sebagaimana keringanan bolehnya tidak berdiri saat mampu atau tidak menghadap kiblat saat safar[cite: 2].
وَمِثْلُ النَّوَافِلِ تَمْكِيْنُ الْمَرْأَةِ حَلِيْلَهَا ، وَصَلَاةُ الْجَنَازَةِ وَتَعَيُّنُهَا بِأَنْفِرَادِ الْمُكَلَّفِ عَارِضُ ، فَإِذَا تَيَمَّمَتْ لِلْفَرْضِ فَإِنَّهَا تَجْمَعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّمْكِيْنِ ، وَكَذَا صَلَاةُ الْجَنَازَةِ ، أَمَّا لولو تَيَمَّمَتْ لِتَتَمْكِيْنِ فَلَا يُبَاحُ لَهَا إِلَّا مَا فِي مَرْتَبَتِهِ ، كَمَسٌ الْمُصْحَفِ وَالْمُكْثِ فِي الْمَسْجِدِ وَالاعْتِكَافِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ، وَلَوْ فَرْضًا عَيْنِيًّا ، كَتَعَلُّمِ الْفَاتِحَةِ ، وَكَذَا سَجْدَةُ التَّلَاوَةِ وَالشَّكْرِ ، وَلَا يُبَاحُ لَهَا فَرْضٌ وَلَا نَفْلٌ ، أَوْ تَيَمَّمَتْ لِصَلَاةِ الْجَنَازَةِ أَبِيْحَ لَهَا مَا فِي مَرْتَبَتِهِ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ وَمَا دُونَهُ مِمَّا تَقَدَّمَ ، وَلَا يُبَاحُ لَهَا الْفَرْضُ ، فَالْمَرَاتِبُ ثَلَاثَةٌ ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَمَا بَعْدَهُ فِي مَرْتَبَةٍ وَاحِدَةٍ ، حَتَّى لَوْ تَيَمَّمَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا جَازَ لَهُ فِعْلُ الْبَقِيَّةِ ، وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا تَيَمَّمَتْ لِلتَّمْكِيْنِ أَنْ تُمَكِّنَ مِنَ الْوَطْءِ مِرَارًا ، وَلَوْ كَانَ تَيَمُّمُهَا لِفَقْدِ مَاءٍ ثُمَّ رَأَتْهُ فِي أَثْنَاءِ الْجِمَاعِ بَطَلَ تَيَمُّمُهَا وَحَرُمَ عَلَيْهَا تَمْكِيْنُهُ وَوَجَبَ عَلَيْهِ النَّزْعُ ، بِخِلَافِ مَا إِذَا رَآهُ هُوَ وَهُوَ يُجَامِعُهَا ، فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ النَّزْعُ لِعَدَمٍ بُطْلَانِ تَيَمُّمِهَا بِرُؤْيَتِهِ هُوَ ، إِذْ لَوْ تَيَمَّمَ شَخْصٌ لِفَقْدِ الْمَاءِ ثُمَّ رَآهُ غَيْرُهُ لَمْ يَبْطُلْ تَيَكُمُ الْأوَّلِ ، قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ .
Kedudukan yang sama dengan salat sunnah adalah: istri yang memberikan hak nafkah batin kepada suaminya (tamkin), serta salat jenazah. Jika seorang istri bertayamum untuk salat fardu, maka ia boleh melakukan salat fardu tersebut sekaligus melayani suaminya, begitu juga dengan salat jenazah. Namun, jika ia bertayamum hanya untuk melayani suami (lit-tamkin), maka ia hanya boleh melakukan hal-hal yang setingkat dengannya, seperti: memegang mushaf, berdiam di masjid, iktikaf, dan membaca Al-Qur'an (meskipun yang wajib seperti belajar Al-Fatihah), serta sujud tilawah dan sujud syukur. Dalam kondisi ini, ia tidak boleh mengerjakan salat fardu maupun salat sunnah[cite: 2]. Jika ia bertayamum untuk salat jenazah, maka boleh baginya melakukan hal-hal yang setingkat dengannya (seperti salat sunnah) dan yang di bawahnya, tapi tetap tidak boleh mengerjakan salat fardu. Jadi, tingkatan (maratib) itu ada tiga; memegang mushaf dan hal sesudahnya berada dalam satu tingkatan yang sama. Jika seseorang bertayamum untuk salah satu dari hal di tingkatan itu, maka ia boleh melakukan sisanya[cite: 2]. Seorang wanita yang bertayamum untuk tamkin boleh melayani suaminya berkali-kali. Jika tayamumnya karena ketiadaan air, lalu ia melihat air di tengah-tengah hubungan suami istri, maka tayamumnya batal, ia haram melanjutkan, dan suaminya wajib mencabut diri. Berbeda jika yang melihat air adalah si suami (sedangkan istri tidak melihatnya), maka suami tidak wajib mencabut diri karena tayamum istri tidak batal hanya karena penglihatan suaminya. Logikanya, jika seseorang bertayamum karena tidak ada air lalu orang lain melihat air, maka tayamum orang pertama tidak batal. Hal ini dikemukakan oleh Syekh Asy-Syarqawi. Wallahu A'lam[cite: 2].
(٢) اعْتَمَدَهُ فِي « التَّحْفَةِ » أيضا . ٣٦٢/١ . عِصَامٌ .
(٣) هَذَا مُعْتَمَدُ ( النَّهَايَةِ » ١ / ٢٨٦ . عِصَامٌ .
(2) Beliau menguatkan pendapat ini juga di dalam kitab At-Tuhfah 1/362. -Ishom[cite: 2].
(3) Ini adalah pendapat yang kuat (mu'tamad) dalam kitab An-Nihayah 1/286. -Ishom[cite: 2].
🔗 Takhrij Dalil
Dalil sucinye tanah bersandar pada Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 43: ﴿فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾ yang diartikan oleh para ulama mazhab Syafi'i sebagai turaban thahiran (debu yang suci)[cite: 2]. Serta kaidah thaharah darurat yang membatasi satu tayamum cuma berlaku buat satu salat fardu 'ain[cite: 2].
⚠️ Kotak Kasus Nyata
Kasus: Ada istri lagi ena-ena ama suaminyye pake jalur tayamum darurat gara-gara kagak ada air di rumah. Di tengah-tengah "pertempuran", tiba-tiba air pam ngocor atau hujan turun gedhe dan dia liat air itu.
Hukum: Saat itu juga tayamum si istri batal! Hukumnye haram buat nerusin, dan si suami hukumnya wajib langsung inzil alias mencabut diri seketika[cite: 2]! Tapi kalo yang liat air cuma suamnye (istri kagak liat), suaminye kagak wajib nyabut karena tayamum orang kagak batal gara-gara penglihatan orang lain[cite: 2].
⚡ Kotak Bahaya Laten
Hati-hati! Jangan tayamum pas Ente masih ragu-ragu ini udah masuk waktu salat apa belom. Biarpun pas Ente kelar tayamum ternyata pas bener ama adzan, tayamum Ente tetep KAGAK SAH[cite: 2]! Kenapa? Karena syarat sah tayamum itu kudu didasari ama keyakinan atau minimal dugaan kuat (zhann) via ijtihad waktu[cite: 2]. Sifat darurat kagak boleh digantungin ama keraguan!
فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ التَّيَمُّمِ . وَهُوَ الْمُسَمَّى بِالْمُطَهِّرِ الْمُبِيْحِ . فُرُوْضُ التَّيَمُّمِ ، أَيْ : أَرْكَانُهُ ، خَمْسَةٌ ، قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهَا سَبْعَةٌ بِعَدَّ التَّرَابِ وَالْقَصِدِ رُكْنَيْنِ ، وَإِنَّمَا لَمْ يُعَدُّ الْمَاءُ رُكْنًا فِي الْوُضُوْءِ وَالْغُسْلِ لِعَدَمِ اخْتِصَاصِهِ بِهِمَا ، بِخِلَافِ التَّرَابِ ، فَإِنَّهُ مُخْتَصُw بِالتَّيَمُّمِ ، وَلَا يُكْتَفَى بِالنَّقْلِ عَنِ الْقَصْدِ ، وَإِنِ اسْتَلْزَمَهُ . وَالْقَصْدُ هُوَ قَصْدُ التُّرَابِ لِيَنْقُلَهُ ، فَهُوَ غَيْرُ النِّيَّةِ الَّتِي هِيَ نِيَّةُ الاسْتِبَاحَةِ .
Fasal: Mengenai rukun-rukun tayamum. Yaitu yang disebut sebagai alat penyuci yang membolehkan ibadah (al-muthahhir al-mubih)[cite: 1]. Fardu-fardu tayamum, maksudnya rukun-rukunnya, itu ada lima. Syekh Asy-Syarqawi berkata: Pendapat yang kuat (mu'tamad) bahwasanya rukun tayamum itu ada tujuh, dengan menghitung debu (turab) dan maksud (qashdu) sebagai dua rukun tersendiri[cite: 1]. Alasan mengapa air tidak dihitung sebagai rukun dalam wudhu atau mandi karena air tidak khusus hanya untuk keduanya, beda dengan debu yang memang khusus untuk tayamum[cite: 1]. Unsur memindah (naql) tidak bisa menggantikan unsur maksud (qashdu), meskipun naql itu pasti melibatkan qashdu[cite: 1]. Maksud di sini adalah menyengaja debu untuk dipindahkan, maka ia berbeda dengan niat yang merupakan niat pembolehan salat (istibahah)[cite: 1].
الأَوَّلُ : نَقْلُ التَّرَابِ ، أَيْ : تَحْوِيلُ الْمُتَيَمِّمِ لَهُ ، وَلَوْ مِنْ وَجْهِ إِلَى وَجْهِ ، بِأَنْ سَفَتْهُ الرِّيْحُ عَلَيْهِ ثُمَّ نَقَلَهُ مِنْهُ وَرَدَّهُ إِلَيْهِ ، أَوْ مِنْ وَجْهِ إِلَى يَدٍ ، بِأَنْ حَدَثَ عَلَيْهِ تُرَابٌ بَعْدَ مَسْحِهِ مِنْ تُرَابِ التَّيَمُّمِ فَنَقَلَهُ مِنْهُ إِلَيْهَا ، أَوْ مِنْ يَدِ إِلَى وَجْهِ ، أَوْ مِنْ يَدٍ إِلَى يَدٍ ، إِمَّا مِنَ الْيُمْنَى إِلَى الْيُسْرَى أَوْ بِالْعَكْسِ ؛ فَالصُّوَرُ خَمْسٌ .
Pertama: Memindahkan debu (naqlut turab)[cite: 1]. Maksudnya orang yang bertayamum memindahkan debu tersebut, meskipun pemindahan itu terjadi dari satu bagian wajah ke bagian wajah lainnya (misal: ada debu tertiup angin ke wajah, lalu ia pindahkan ke bagian wajah lain dan ia usapkan), atau dari wajah ke tangan (setelah mengusap wajah ada debu baru yang nempel, lalu ia pindah ke tangan), atau dari tangan ke wajah, atau dari satu tangan ke tangan lainnya (dari kanan ke kiri atau sebaliknya)[cite: 1]. Jadi, ada lima bentuk pemindahan[cite: 1].
وَمِثْلُ الْمُتَيَمِّمِ مَأْذُونُهُ ، وَلَوْ كَانَ الْمَأْذُوْنُ كَافِرًا أَوْ صَبِيًّا لَا يُمَيَّزُ أَوْ أُنْثَى حَيْثُ لَا مُمَاسَّةَ نَاقِضَةٌ ، أَوْ مَجْنُوْنَا ، أَوْ دَابَّةٌ كَقِرْدٍ ، فَلَا بُدَّ مِنَ الإِذْنِ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ لِيَخْرُجَ الْفُضُوْلِيُّ ، وَهُوَ : شُغْلُ مَنْ لَا يَقْصِدُهُ ، فَإِنَّهُ لَا يَكْفِي نقله . وَلَوْ أَحْدَثَ أَحَدُهُمَا بَعْدَ النَّقْلِ وَقَبْلَ الْمَسْحِ لَمْ يَضُرَّ ، أَمَّا الَاذِنُ فَلَأَنَّهُ غَيْرُ نَاقِلِ ، وَأَمَّا الْمَأْذُوْنُ فَلَأَنَّهُ غَيْرُ مُتَيَمَّمٍ .
Kedudukan orang yang tayamum itu sama dengan orang yang ia izinkan (untuk membantu memindahkan debu), meskipun yang diizinkan itu orang kafir, anak kecil yang belum tamyiz, perempuan (selama tidak ada persentuhan yang membatalkan), orang gila, bahkan hewan seperti kera[cite: 1]. Maka harus ada izin dalam semua itu agar tidak termasuk perbuatan orang yang lancang (fudhuli), yaitu pekerjaan orang yang tidak memiliki maksud untuk si orang yang bertayamum, karena hal itu tidak mencukupi pemindahannya[cite: 1]. Jika salah satu dari keduanya (pemberi izin atau yang diizinkan) berhadas setelah pemindahan debu namun sebelum pengusapan, maka hal itu tidaklah mengapa[cite: 1]. Bagi pemberi izin, karena ia bukan pemindah debunya; sedangkan bagi yang diizinkan, karena ia bukan orang yang bertayamum[cite: 1].
الثَّانِي : النِّيَّةُ ، كَأَنْ يَنْوِيَ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ ، فَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَتَعَرَّضَ لِلْحَدَثِ ، بِأَنْ يَقُوْلَ : نَوَيْتُ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ مِنَ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ أَوِ الْأَكْبَرِ أَمْ لَا ، أَوْ مَسَّ الْمُصْحَفِ ، أَوْ سَجْدَةَ التَّلَاوَةِ ، لَا رَفْعَ حَدَثٍ ؛ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ لَا يَرْفَعُهُ ، وَلَا الطَّهَارَةَ عَنْهُ ، وَلَا فَرْضَ التَّيَمُّمِ ، لِأَنَّ التَّيَمُّمَ طَهَارَةُ ضَرُوْرَةٍ لَا يَصْلُحُ أَنْ يَكُوْنَ مَقْصُوْدًا .
Kedua: Niat. Contohnya seperti ia berniat membolehkan salat (istibahatus shalah), maka tidak ada perbedaan apakah ia menentukan karena hadas, dengan berucap: "Aku niat membolehkan salat dari hadas kecil atau hadas besar", baik ia menyebutkan jenis hadasnya atau tidak[cite: 1, 2]. Boleh juga berniat untuk membolehkan memegang mushaf atau sujud tilawah[cite: 2]. Namun, tidak boleh berniat untuk "mengangkat hadas" (raf'ul hadats), karena tayamum tidak mengangkat hadas, tidak juga berniat "bersuci dari hadas", dan tidak pula berniat "fardu tayamum", karena tayamum adalah bersuci dalam keadaan darurat yang tidak layak menjadi tujuan utama[cite: 2].
فَإِنْ أَرَادَ صَلَاةَ فَرْضٍ ، فَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةِ اسْتِبَاحَةِ فَرْضِ الصَّلَاةِ ، وَيَجِبُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِالنَّقْلِ ، لِأَنَّهُ أَوَّلُ الْأَرْكَانِ ، وَمَحَلُّ النِّيَّةِ أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ ، وَبِمَسْحِ شَيْءٍ مِنَ الْوَجْهِ ؛ وَلَا يَضُرُّ عُزُوبُهَا ، أَيْ : غَيْبَتُهَا ، بَيْنَهُمَا ، فَلَوْ أَحْدَثَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ كَانَ النَّاقِلُ هُوَ بَطَلَتْ النِّيَّةُ ، أَوْ مَأْذُوْنُهُ فَلَا .
Jika ingin salat fardu, maka wajib niat "membolehkan fardu salat" (istibahatu fardhis shalah)[cite: 2]. Niat tersebut wajib dibarengkan dengan saat memindahkan debu (naql), karena itu adalah rukun pertama, dan tempat niat adalah pada awal kewajiban[cite: 2]. Niat juga harus tetap ada (berlanjut) sampai mengusap sebagian wajah[cite: 2]. Tidak mengapa jika niat tersebut sempat hilang dari ingatan ('uzub) di antara proses naql dan mengusap wajah[cite: 2]. Namun, jika ia berhadas di antara keduanya: apabila ia sendiri yang memindahkan debu maka niatnya batal, tapi jika orang lain yang diizinkan yang memindahkan, maka tidak batal[cite: 2].
الثَّالِثُ : مَسْحُ الْوَجْهِ حَتَّى ظَاهِرِ مُسْتَرْسِلِ لِحْيَتِهِ وَالْمُقْبِلِ مِنْ أَنْفِهِ عَلَى شَفَتِهِ ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ﴾ [٤ سورة النساء / الآية : ٤٣ ] . وَلَا يَجِبُ إِبْصَالُ التَّرَابِ إِلَى مَنَابِتِ الشَّعْرِ الَّذِي يَجِبُ إِبْصَالُ الْمَاءِ إِلَيْهَا ، بَلْ وَلَا يُنْدَبُ وَلَوْ خَفِيْفًا ، لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمَشَقَّةِ .
Ketiga: Mengusap wajah[cite: 2]. Sampai bagian luar janggut yang menjuntai dan bagian hidung yang menghadap ke bibir, berdasarkan firman Allah Ta'ala: (Maka usaplah wajah-wajahmu and tangan-tanganmu) [QS. An-Nisa: 43][cite: 2]. Tidak wajib menyampaikan debu ke pori-pori/tempat tumbuhnya rambut (seperti pada wudhu yang wajib kena air), bahkan tidak disunnahkan meskipun rambutnya tipis, karena hal itu akan sangat memberatkan (masyaqqah)[cite: 2].
الرَّابِعُ : مَسْحُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ . قَالَ السَّيِّدُ يُوْسُفُ الزَّبِيْدِيُّ فِي إِرْشَادِ الْأَنَامِ » : وَكَيْفِيَّةُ التَّيَمُّمِ الْمَنْدُوْبَةُ كَمَا فِي « الرَّوْضَةِ » أَنْ يَضَعَ بُطُوْنَ أَصَابِعِ يَدِهِ الْيُسْرَى غَيْرِ الإِبْهَامِ عَلَى ظُهُورِ أَصَابِعِ الْيَمِيْنِ غَيْرِ الإِبْهَامِ ، بِحَيْثُ لَا تَخْرُجُ أَطْرَافُ أَنَامِلِهَا عَنْ مُسَبِّحَةِ الْيُسْرَى ، وَيُمِرُّهَا عَلَى ظَهْرِ كَفَّ الْيُمْنَى ، فَإِذَا بَلَغَ كُوْعَهَا ضَمَّ أَطْرَافَ أَصَابِعِهِ عَلَى حَرْفِ ذِرَاعِ الْيُمْنَى وَأَمَرَّهَا إِلَى الْمِرْفَقِ ، ثُمَّ أَدَارَ بَطْنَ كَفِّهِ إِلَى بَطْنِ الذِّرَاعِ وَأَمَرَّهَا عَلَيْهِ ، رَافِعًا إِبْهَامَهُ ، فَإِذَا بَلَغَ كُوْعَهَا أَمَرَّ بَاطِنَ إِبْهَامٍ يُسْرَاهُ عَلَى ظَاهِرِ إِبْهَامٍ يُمْنَاهُ ، ثُمَّ يَفْعَلُ بِالْيُسْرَى كَذَلِكَ ، ثُمَّ يَمْسَحُ إِحْدَى الرَّاحَتَيْنِ بِالْأُخْرَى .
Keempat: Mengusap kedua tangan sampai kedua siku[cite: 2]. Sayyid Yusuf Az-Zabidi berkata dalam Irsyadul Anam: Tata cara tayamum yang disunnahkan sebagaimana dalam Ar-Raudhah adalah dengan meletakkan bagian dalam jari-jari tangan kiri selain jempol ke atas punggung jari-jari tangan kanan selain jempol, sekira ujung-ujung jarinya tidak melebihi jari telunjuk kiri, lalu dijalankan di atas punggung telapak tangan kanan[cite: 2]. Jika sudah sampai pergelangan (ku'), maka ia merapatkan jari-jarinya ke sisi lengan kanan dan menjalankannya sampai ke siku[cite: 2]. Kemudian ia memutar telapak tangannya ke bagian dalam lengan dan menjalankannya di atasnya sembari mengangkat jempolnya. Jika sudah sampai pergelangan (ku'), maka ia jalankan bagian dalam jempol kirinya ke atas bagian luar jempol kanannya. Kemudian ia lakukan hal yang sama pada tangan kiri, lalu mengusap salah satu telapak tangan dengan telapak tangan lainnya.
الْخَامِسُ : التَّرْتِيْبُ بَيْنَ الْمَسْحَتَيْنِ ، وَلَوْ عَنْ حَدَثٍ أَكْبَرَ ، وَإِنَّمَا لَمْ يَجِبْ فِي الْغُسْلِ لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ الْوَاجِبُ فِيْهِ التَّعْمِيمُ جَعَلَ الْبَدَنَ فِيْهِ كَالْعُضْوِ الْوَاحِدِ ، أَمَّا بَيْنَ النَّقْلَيْنِ فَلَا يَجِبُ ، إِذِ الْمَسْحُ أَصْلُ ، وَالنَّقْلُ وَسِيْلَةٌ ، فَلَوْ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ عَلَى التَّرَابِ وَمَسَحَ بِإِحْدَاهُمَا وَجْهَهُ وَبِالْأُخْرَى يَدَهُ الأُخْرَى جَازَ ، ثُمَّ يَنْقُلُ مَرَّةً ثَانِيَةً لِيَدِهِ الثَّانِيَةِ .
Kelima: Tertib di antara dua usapan. Hal ini tetap wajib walaupun tayamum dilakukan untuk hadas besar. Alasan mengapa tertib tidak wajib dalam mandi (ghusl) karena kewajiban dalam mandi adalah meratakan air, sehingga seluruh tubuh dianggap seperti satu anggota saja. Adapun tertib di antara dua kali pemindahan debu (naql) tidaklah wajib, karena mengusap adalah inti (ashl) sedangkan memindah debu adalah sarana (wasilah). Maka, jika seseorang menepukkan kedua tangannya ke debu lalu mengusap wajah dengan salah satu tangan dan mengusap tangan lainnya dengan tangan satunya, hukumnya boleh, kemudian ia memindah debu sekali lagi untuk tangannya yang kedua.
تَتِمَّةٌ : وَسُنَتُهُ : التَّسْمِيَةُ أَوَّلُهُ وَلَوْ جُنُبًا وَحَائِضًا كَمَا فِي الْوُضُوْءِ ، وَيَأْتِي بِهَا بِقَصْدِ الذِّكْرِ أَوْ يُطْلِقُ ، وَنَفْضُ الْيَدَيْنِ أَوْ نَفْخُهُمَا بَعْدَ الضَّرْبِ وَقَبْلَ الْمَسْحِ مِنَ الْغُبَارِ إِنْ كَثُرَ ، أَمَّا نَفْضُهُمَا بَعْدَ التَّيَمُّمِ فَمَكْرُوهُ ، إِذُ يُسَنُّ إِبْقَاؤُهُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنَ الصَّلَاةِ ، لِأَنَّهُ أَثَرُ عِبَادَةٍ ، وَالتَّيَامُنُ ، بِأَنْ يَمْسَحَ يَدَهُ الْيُمْنَى قَبْلَ الْيُسْرَى ، وَالتَّوَجُهُ لِلْقِبْلَةِ ، وَابْتِدَاءُ مَسْحِ الْوَجْهِ مِنْ أَعْلَاهُ ، وَالْيَدَيْنِ مِنَ الأَصَابِعِ ، لَكِنْ إِذَا يَمَّمَهُ غَيْرُهُ فَيَبْدَأُ بِالْمِرْفَقِ ، وَالْغُرَّةُ وَالتَّحْجِيلُ وَتَفْرِيقُ أَصَابِعِهِ فِي كُلِّ ضَرْبَةٍ ، وَنَزْعُ الْخَاتَمِ فِي الضَّرْبَةِ الأَوْلَى ، وَتَخْلِيلُ الأَصَابِعِ إِنْ فَرَّقَ فِي الضَّرْبَتَيْنِ ، أَوْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَط ، وَإِلَّا ، أَيْ بِأَنْ لَمْ يُفَرِّقْ أَصْلًا ، أَوْ فَرَّقَ فِي الْأَوْلَى الَّتِي لِلْوَجْهِ وَجَبَ التَّخْلِيلُ فِي الثَّانِيَةِ لِأَنَّهَا الْمَقْصُودُ لِلْيَدَيْنِ بِخِلَافِ الْأَوْلَى ، فَإِنَّهَا مَقْصُوْدَةٌ لِلْوَجْهِ ، فَمَا وَصَلَ لِلْيَدَيْنِ مِنْهَا لَا يُعْتَدُّ بِهِ ، فَاحْتِيْجَ إِلَى التَّخْلِيْلِ لِيَحْصُلَ تَرْتِيْبُ الْمَسْحَتَيْنِ ، وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَ مَسْحِ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ . تَذْيِيلُ : وَمَكْرُوهُهُ : تَكْثِيرُ التُّرَابِ ، وَتَكْرِيرُ الْمَسْحِ لِكُلِّ عُضْوِ .
Penutup (Tetimmah): Sunnah-sunnah tayamum. Sunnah-sunnah tayamum adalah: Membaca basmalah di awal, meskipun bagi orang junub atau haid sebagaimana dalam wudhu. Ia membacanya dengan niat zikir atau mutlak. Menepiskan kedua tangan atau meniupnya setelah menepuk debu dan sebelum mengusap jika debunya terlalu tebal. Adapun menepiskan tangan setelah tayamum hukumnya makruh, karena disunnahkan membiarkan sisa debu sampai selesai salat sebab itu adalah bekas ibadah. Mendahulukan yang kanan (tayamun) sebelum yang kiri. Menghadap kiblat. Memulai usapan wajah dari bagian atas. Memulai usapan tangan dari jari-jari, namun jika orang lain yang menayamumkannya maka dimulai dari siku. Melakukan ghurrah dan tahjil. Merenggangkan jari-jari pada setiap tepukan. Melepas cincin pada tepukan pertama. Menyela-nyela jari jika ia merenggangkan jari pada dua kali tepukan atau pada tepukan kedua saja. Jika ia tidak merenggangkan jari sama sekali, atau hanya merenggangkan pada tepukan pertama (untuk wajah), maka wajib menyela-nyela jari pada tepukan kedua karena tepukan kedua itulah yang memang ditujukan untuk tangan. Berbeda dengan tepukan pertama yang ditujukan untuk wajah; debu yang menempel di tangan pada tepukan pertama tidak dianggap (untuk tangan). Maka perlu disela-sela agar urutan dua usapan tetap terjaga. Disunnahkan juga muwalat (berurutan tanpa jeda lama) antara mengusap wajah dan tangan. Tambahan (Tadzyil): Makruh-makruh tayamum. Di antaranya adalah memperbanyak (menebalkan) debu dan mengulang-ulang usapan untuk setiap anggota tubuh.
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يُبْطِلُ التَّيَمُّمِ . مُبْطِلَاتُ التَّيَمُّمِ بَعْدَ صِحَّتِهِ ثَلَاثَةٌ : أَحَدُهَا : مَا أَبْطَلَ الْوُضُوءَ ، فَـ ( مَا » اسْمٌ مَوْصُوْلٌ ، أَوْ نَكِرَةٌ مَوْصُوْفَةٌ ، أَيْ : الَّذِي أَبْطَلَ الْوُضُوءَ ، أَوْ شَيْءٌ أَبْطَلَ الْوُضُوْءَ . وَثَانِيهَا : الرَّدَّةُ ، وَلَوْ حُكْمًا ، كَمَا لَوْ حَكَى صَبِيٌّ الْكُفْرَ ، فَيَبْطُلُ تَيَمُّمُهُ ، لِأَنَّهُ طَهَارَةٌ ضَعِيفَةٌ ، لِأَنَّهُ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ ، وَهِيَ مُنْتَفِيَةٌ مَعَهَا ، بِخِلَافِ الْوُضُوْءِ وَالْغُسْلِ بِالنِّسْبَةِ لِلسَّلِيمِ ، فَلَا يَبْطُلَانِ بِهَا ، وَلَوْ فِيْ أَثْنَائِهِمَا ، وَلَوْ تَوَضَّأَ أَوِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَرْتَدَّ فِي أَثْنَائِهِ ، ثُمَّ عَادَ لِلإِسْلَامِ ، كَمَّلَهُ ، لَكِنْ يُجَدِّدُ النِّيَّةُ لِمَا بَقِيَ ؛ أَمَّا وُضُوْءُ صَاحِبِ الضَّرُورَةِ وَغُسْلُهُ فَكَالتَّيَمُّمِ ، فَيَبْطُلُ بِالرِّدَّةِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .
Fasal: Hal-hal yang membatalkan tayamum. Hal-hal yang membatalkan tayamum setelah sahnya ada tiga: Pertama: Segala hal yang membatalkan wudhu. Kata "Ma" di sini adalah isim maushul atau nakirah maushufah, artinya: Segala hal yang membatalkan wudhu atau sesuatu yang membatalkan wudhu. Kedua: Murtad (keluar dari Islam). Meskipun secara hukum saja, seperti anak kecil yang menirukan ucapan kekufuran, maka tayamumnya batal. Alasannya karena tayamum adalah bersuci yang lemah, tujuannya hanya untuk membolehkan salat, sedangkan sifat membolehkan itu hilang saat murtad. Berbeda dengan wudhu dan mandi bagi orang yang sehat (tidak darurat), keduanya tidak batal karena murtad meskipun terjadi di tengah-tengah prosesnya. Jika seseorang berwudhu atau mandi lalu murtad di tengah jalan, kemudian masuk Islam lagi, ia tinggal meneruskannya tapi wajib memperbarui niat untuk bagian yang tersisa. Adapun wudhu dan mandi bagi orang dalam kondisi darurat (shohibud dhoruroh), hukumnya sama seperti tayamum, yaitu batal karena murtad menurut pendapat yang kuat (mu'tamad).
وَثَالِثُهَا : تَوَهُمُ الْمَاءِ ، وَإِنْ زَالَ سَرِيعًا ، لِوُجُوْبِ طَلَبِهِ إِنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِهِ ، كَأَنْ رَأَى سَرَابًا ، وَهُوَ : مَا يُرَى وَسْطَ النَّهَارِ كَأَنَّهُ مَاءٌ ، أَوْ جَمَاعَةٌ جُوزَ أَنَّ مَعَهُمْ مَاءً ، بِلَا حَائِلٍ فِي ذَلِكَ التَّوَهُم يَحُوْلُ عَنِ اسْتِعْمَالِهِ ، مِنْ سَبْعِ أَوْ عَطَشِ أَوْ نَحْوِهِمَا ، فَإِنْ كَانَ ثَمَّ حَائِلٌ وَعَلِمَهُ قَبْلَ التَّوَهُمِ أَوْ مَعَهُ لَمْ يَبْطُلْ تَيَمُّمُهُ ، وَمَحَلُّ كَوْنِ تَوَهُمِ الْمَاءِ مُبْطِلًا لِلتَّيَمُّمِ إِذَا تَوَهَّمَهُ فِي حَدٌ الْغَوْثِ فَمَا دُوْنَهُ مَعَ سَعَةِ الْوَقْتِ بِأَنْ يَبْقَى مَعَهُ زَمَنْ لَوْ سَعَى فِيْهِ إِلَى ذَلِكَ لأَمْكَنَهُ التَّطَهَّرُ بِهِ وَالصَّلَاةُ فِيْهِ ، وَالْمُرَادُ بِالتَّوَهُمِ مَا يَشْمَلُ الشَّكَ ؛ وَمَحَلُّ الْبُطْلَانِ بِرُؤْيَةِ السَّرَابِ إِنْ لَمْ يَتَيَقَّنْ عِنْدَ ابْتِدَائِهَا أَنَّهُ سَرَابٌ ، وَمِثْلُهُ مَا لَوْ رَأَى غَمَامَةٌ مُطْبِقَةٌ ، بِخِلَافِ تَوَهُمِ السُّتْرَةِ لِعَدَمٍ وُجُوْبِ طَلَبِهَا .
Ketiga: Menyangka adanya air (tawahhumul ma'), meskipun dugaan itu hilang dengan cepat, karena adanya kewajiban mencari air jika ia bertayamum karena ketiadaan air. Contohnya seperti melihat fatamorgana (sarab)—yaitu sesuatu yang terlihat di tengah hari seolah-olah air—atau melihat sekumpulan orang yang dimungkinkan membawa air. Hal ini berlaku jika tidak ada penghalang (ha-il) yang menghalangi penggunaan air tersebut, seperti adanya binatang buas, rasa haus (yang sangat), atau sejenisnya. Jika ada penghalang dan ia mengetahuinya sebelum atau bersamaan dengan adanya persangkaan tersebut, maka tayamumnya tidak batal. Persangkaan adanya air ini membatalkan tayamum jika air tersebut diduga berada dalam jarak jangkauan meminta bantuan (haddul ghouts) atau kurang dari itu, serta dalam kondisi waktu salat yang masih luas. Maksudnya, masih ada waktu sekira jika ia berusaha menuju air tersebut, ia sempat bersuci dan salat di dalam waktunya. Yang dimaksud dengan "menyangka" (tawahhum) di sini mencakup juga rasa ragu (syakk). Pembatalan karena melihat fatamorgana berlaku jika ia tidak yakin dari awal bahwa itu adalah fatamorgana. Hal yang sama berlaku jika melihat awan mendung yang tebal. Berbeda dengan menyangka adanya penutup aurat (sutrah), hal itu tidak membatalkan (salat/tayamum) karena tidak ada kewajiban mencarinya.
(٢) وَعِبَارَةُ الرَّمْلِيِّ فِي « النِّهَايَةِ » : فَلَا يُجْزِئُ نِيَّةُ رَفْعِ الْحَدَثِ قَطْعًا . عِصَامٌ
(٣) حَدُّ الْغَوْثِ هُوَ الْقَدْرُ الَّذِي يَلْحَقُ فِيهِ الصِّيَاحُ عِنْدَ الِاسْتِغَاثَةِ مَعَ لَفْتِ الِانْتِبَاهِ . عِصَامٌ
(2) Dan redaksi Imam Ramli dalam kitab An-Nihayah: "Maka sama sekali tidak mencukupi niat mengangkat hadas secara pasti." -Ishom[cite: 2].
(3) Haddul Ghouts adalah ukuran jarak di mana teriakan minta tolong masih bisa terdengar sembari menarik perhatian orang. -Ishom.
🔗 Takhrij Dalil
Rukun mengusap wajah dan tangan bersandar penuh pada Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 43: ﴿فَامْسَحُوا بِوجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ﴾[cite: 2]. Tata cara sunnah mengusap tangan yang njelimet muter dari punggung jari ampe sikut dipandu langsung berdasarkan keterangan Imam Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah sebagaimana dinukil Sayyid Yusuf Az-Zabidi[cite: 2].
⚠️ Kotak Kasus Nyata
Kasus: Seseorang lagi tayamum di tengah padang pasir gara-gara kaga ketemu air. Pas kelar naql (tepuk debu) dan mau diusap ke muka, matanye ngeliat fatamorgana (sarab) di siang bolong, atau ngeliat rombongan orang yang dikira bawa air dari jarak deket (haddul ghouts).
Hukum: Tayamumnye langsung BATAL seketika, biar kata itu dugaan ilangnye cepet! Soalnye secara hukum, dia wajib nyari air dulu pas ada tawahhum. Kecuali kalo dia udah tau duluan dari awal ada singa nimbrung atau dia lagi kehausan setengah mati (ada ha-il), baru dah tayamumnye kaga batal.
⚡ Kotak Bahaya Laten
Awas Bahaya Laten! Kalo Ente lagi nungguin waktu sholat terus iseng-iseng ngomongin kalimat kekufuran atau bercanda murtad (biar kata cuma niruin/hikayah), tayamum Ente langsung HANGUS kaga bersisa! Mengapa? Karena tayamum ini طَهَارَةٌ ضَعِيفَةٌ (bersuci yang lemah), begitu Ente murtad, ilang dah itu hak kebolehan sholatnye. Beda ama orang sehat yang wudhu, wudhu kaga batal gara-gara murtad. Jagalah lisan Jemaah!
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الاِسْتِحَالَةِ وَالْمُطَهِّرِ الْمُحِيْلِ
Fasal: Dalam menjelaskan tentang Istihalah (perubahan benda) dan zat penyuci yang mengubahnya.
الَّذِي يَطْهُرُ ، وَهُوَ مِنْ بَابِ قَتَلَ وَقَرُبَ : أَيْ يَنْقَى وَيَبْرَأَ ، مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلَاثَةٌ :
Sesuatu yang menjadi suci—dari kata qatala dan qaruba, yang artinya bersih dan pulih—dari najis-najis ada tiga:
أَحَدُهَا : الْخَمْرُ ، بِغَيْرِ تَاءِ ، وَهِيَ : كُلُّ مُسْكِرٍ ، وَلَوْ مِنْ نَبِيْدِ...
Salah satunya: Khamr. Tanpa huruf ta' (di akhir), yaitu setiap yang memabukkan, meskipun berasal dari perasan biji-bijian (nabidz)... (bersambung).
التَّمْرِ ، أَيْ : مِنَ الْمَتْرُوكِ مِنْهَا حَتَّى يَشْتَدَّ ؛ أَوِ الْقَصَبِ ، أَوِ الْعَسَلِ ، أَوْ غَيْرِهَا ؛ مُحْتَرَمَةٌ كَانَتِ الْخَمْرُ ، وَهِيَ الَّتِي عُصِرَتْ بِقَصْدِ الْخَلَّيَّةِ أَوْ لَا بِقَصْدِ شَيْءٍ ، أَوِ الَّتِي عَصَرَهَا الْكَافِرُ ؛ أَمْ لَا ، وَهِيَ الَّتِي عُصِرَتْ بِقَصْدِ الْخَمْرِيَّةِ وَكَانَ الْعَاصِرُ مُسْلِمًا ، وَيَجِبُ إِرَاقَتُهَا حِينَئِذٍ قَبْلَ التَّخَلُّلِ .
(Lanjutan jenis khamr:) ...baik khamr yang berasal dari perasan kurma, maksudnya sisa perasan yang dibiarkan hingga mengeras; atau dari tebu, madu, maupun bahan lainnya. Baik itu khamr yang muhtaromah (dimuliakan)—yaitu khamr yang diperas dengan tujuan dijadikan cuka atau diperas tanpa tujuan tertentu, atau yang diperas oleh orang kafir—maupun khamr yang tidak muhtaromah—yaitu yang diperas oleh seorang Muslim dengan tujuan dijadikan khamr. Dalam kondisi yang terakhir ini (tidak muhtaromah), khamr tersebut wajib dibuang sebelum berubah menjadi cuka.
إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا ، أَيْ : مِنْ غَيْرِ مُصَاحَبَةِ عَيْنٍ ، فَهِيَ طَاهِرَةٌ ، لِأَنَّ عِلَّةَ النَّجَاسَةِ الإِسْكَارُ، وَقَدْ زَالَ ، وَلِأَنَّ الْعَصِيرَ غَالِبًا لَا يَتَخَلَّلُ إِلَّا بَعْدَ التَّخَمُّرِ، فَلَوْ لَمْ نَقُلْ بِالطَّهَارَةِ لَتَعَذَّرَ اتِّخَاذُ خَلٌّ مِنَ الْخَمْرِ ، وَهُوَ حَلَالٌ إِجْمَاعًا ، وَيَطْهُرُ دَنَّهَا مَعَهَا وَإِنْ غَلَتْ بِنَفْسِهَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ وَتَنَجَّسَ بِهَا مَا تَلَوَّثَ فَوْقَهَا بِغَيْرِ غَلَيَانِهَا مِنْ دَنَّهَا ، أَمَّا إِذَا تَخَلَّلَتْ بِمُصَاحَبَةِ عَيْنٍ وَإِنْ لَمْ تُؤَثَّرْ فِي التَّخْلِيلِ ، كَحَصَاةٍ ، فَلَا تَطْهُرُ لِتَنَجُّسِهَا بَعْدَ تَخَلُّلِهَا بِالْعَيْنِ الَّتِي تَنَجَّسَتْ بِهَا قَبْلَ التَّخَلُّلِ .
Jika khamr tersebut berubah menjadi cuka dengan sendirinya, yaitu tanpa dibarengi masuknya benda asing ('ain), maka hukumnya suci. Hal ini karena alasan kenajisannya adalah sifat memabukkan, and sifat itu telah hilang. Lagipula, air perasan biasanya tidak menjadi cuka kecuali melewati fase menjadi khamr dulu; jika kita tidak menghukuminya suci, maka mustahil membuat cuka dari khamr, padahal hukumnya halal berdasarkan ijmak. Wadahnya pun ikut menjadi suci bersamanya, meskipun khamr itu mendidih sendiri hingga meluap dan menajisi bagian wadah di atasnya. Namun, jika ia menjadi cuka karena dibarengi benda asing—meskipun benda itu tidak berpengaruh pada proses perubahan, seperti kerikil—maka ia tidak suci karena ia menjadi najis setelah menjadi cuka akibat persentuhan dengan benda yang telah terkena najis sebelumnya.
2. MENYAMAK KULIT BANGKAI
وَثَانِيهَا : جِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ ، أَيْ : انْدَبَغَ ، وَلَوْ بِوُقُوْعِهِ بِنَفْسِهِ أَوْ بِالْقَائِهِ عَلَى الدَّابِغِ أَوْ إِلْقَاءِ الدَّابِغِ عَلَيْهِ بِنَحْوِ رِيْحٍ ، وَمَقْصُوْدُ الدَّبْغِ نَزْعُ فَضُوْلِهِ ، وَهِيَ : رُطُوبَتُهُ الَّتِي يُفْسِدُهُ بَقَاؤُهَا وَيُطَيِّبُهُ نَزْعُهَا ، بِحَيْثُ لَوْ نُقِعَ فِي الْمَاءِ لَمْ يَعُدْ إِلَيْهِ النَّتَنُ وَالْفَسَادُ ، وَذَلِكَ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِحِرِّيْفٍ ، أَيْ : مَا يَلْزَعُ اللِّسَانَ بِحَرَافَتِهِ عِنْدَ ذَوْقِهِ ، وَلَوْ كَانَ نَجِسًا ، كَذَرْقِ طَيْرٍ ، أَوْ عَارِيًا عَنِ الْمَاءِ ، لِأَنَّ الدَّبْغَ إِحَالَةٌ لَا إِزَالَةٌ ، فَيَطْهُرُ ذَلِكَ الْجِلْدُ الْمَدْبُوْغُ ظَاهِرًا ، وَهُوَ : مَا ظَهَرَ مِنْ وَجْهَيْهِ ، وَبَاطِنًا ، وَهُوَ : مَا لولو شُقَّ لَظَهَرَ ؛ وَيَبْقَى بَعْدَ انْدِبَاغِهِ مُتَنَجِّسًا ، فَيَجِبُ غَسْلُهُ بِالْمَاءِ لِتَنَبُّسِهِ بِالدَّابِغِ النَّجِسِ أَوِ .
Yang kedua: Kulit bangkai jika disamak (dubigha). Yaitu menjadi tersamak meskipun kulit itu jatuh sendiri (ke alat penyamak), atau dilemparkan ke alat penyamak, atau alat penyamaknya yang mengenai kulit karena tiupan angin. Tujuan menyamak adalah menghilangkan sisa-sisa (fadhul), yaitu kelembapan yang merusaknya jika tetap ada dan menjadikannya baik jika dihilangkan. Ukurannya adalah jika direndam dalam air, ia tidak akan kembali bau busuk atau rusak. Hal itu hanya bisa dicapai dengan sesuatu yang sepat (hirrif)—yaitu yang terasa pedas/menyengat di lidah saat dicicipi—meskipun benda itu najis seperti kotoran burung, atau tanpa menggunakan air. Sebab, menyamak adalah proses perubahan zat (ihalah), bukan sekadar menghilangkan najis. Maka kulit yang disamak itu menjadi suci baik bagian luar maupun bagian dalamnya. Namun setelah disamak, ia tetap berstatus mutanajjis (terkena najis), maka wajib dicuci dengan air karena ia terkena alat penyamak yang najis atau... (bersambung).
الْمُتَنَجِّسِ ، فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلَا فِيْهِ قَبْلَ غَسْلِهِ ؛ وَيَجُوْزُ بَيْعُهُ قَبْلَهُ مَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْ ذَلِكَ مَانِعٌ ، بِأَنْ كَانَ فِيْهِ نَجِسٌ يَسُدُّ الْفُرَجَ ، كَشَعْرِ لَمْ يُلَاقِ الدَّابِغَ . وَلَا يَحِلُّ أَكْلُهُ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ مَأْكُوْلِ اللَّحْمِ أَمْ مِنْ غَيْرِهِ . أَمَّا جِلْدُ الْمُذَكَّى بَعْدَ دَبْغِهِ فَيَجُوْزُ أَكْلُهُ مَا لَمْ يَضُرَّ .
(Lanjutan:) ...atau terkena alat penyamak yang mutanajjis, maka kulit tersebut tidak boleh dipakai salat (sebagai alas atau pakaian) before dicuci dengan air. Namun, boleh menjualnya sebelum dicuci selama tidak ada penghalang, seperti adanya najis yang menutupi pori-pori kulit, contohnya rambut yang tidak terkena alat penyamak. Kulit bangkai yang sudah disamak tetap haram dimakan, baik dari hewan yang dagingnya halal dimakan maupun tidak. Adapun kulit hewan yang disembelih secara syar'i (mudzakka), maka boleh dimakan setelah disamak selama tidak membahayakan.
قَوْلُهُ : جِلْدُ الْمَيْتَةِ ، خَرَجَ بِهِ الشَّعَرُ وَالصُّوْفُ وَالْوَبَرُ وَاللحْمُ لِعَدَمِ تَأَثَرِهَا بِالانْدِبَاغِ ، وَأَمَّا الْجِلْدُ فَيَتَأَثَرُ بِالدَّبْغ ، إِذْ يَنْتَقِلُ مِنْ طَبْعِ اللُّحُوْمِ إِلَى طَبْعِ الثَّيَابِ . وَالْمَيْتَةُ : مَا زَالَتْ حَيَاتُهَا بِغَيْرِ ذَكَاةٍ شَرْعِيَّةٍ ، فَيَدْخُلُ فِي الْمَيْتَةِ مَا لَّا يُؤْكَلُ إِذَا ذُبِحَ ، وَكَذَا مَا يُؤْكَلُ إِذَا اخْتَلَّ فِيْهِ شَرْطٌ مِنْ شُرُوطِ التَّذْكِيَةِ ،
Perkataan mushannif "Kulit Bangkai" mengecualikan rambut, bulu domba (shuf), bulu halus (wabar), and daging; karena semua itu tidak terpengaruh oleh proses penyamakan. Sedangkan kulit bisa terpengaruh karena ia berpindah dari tabiat daging ke tabiat pakaian. Bangkai adalah hewan yang hilang nyawanya tanpa penyembelihan syar'i. Maka termasuk bangkai adalah hewan yang tidak boleh dimakan meskipun disembelih, atau hewan yang halal dimakan tapi ada syarat penyembelihan yang tidak terpenuhi.
كَذَبِيحَةِ الْمَجُوسِيِّ وَالْمُحْرِمِ لِلْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ لِلصَّيْدِ الْوَحْشِيِّ ، لِأَنَّ مَذْبُوْحَ الْمُحْرِمِ مَيْتَةٌ ، وَلَوْ لِلاضْطِرَارِ أَوِ الصِّيَالِ . هَكَذَا قَالَ الرَّحْمَانِيُّ . وَقَرَّرَ الْحِفْنِيُّ أَنَّهُ يَكُوْنُ مَيْتَةٌ فِي صُورَةِ الْاضْطِرَارِ فَقَطْ دُوْنَ الصِّيَالِ وَكَمَا ذُبِحَ بِالْعَظْمِ وَنَحْوِهِ ، وَيَدْخُلُ فِيْهَا أَيْضًا الْمَوْتُ حُكْمًا ، كَجِلْدِ الْحَيْوَانِ الَّذِي سُلِخَ مِنْهُ حَالَ حَيَاتِهِ ، فَإِنَّهُ يَطْهُرُ بِالدَّبْغِ .
Contohnya seperti sembelihan orang Majusi, atau sembelihan orang yang sedang ihram haji/umrah terhadap hewan buruan liar, karena hewan sembelihan orang ihram adalah bangkai, meskipun dilakukan karena darurat atau membela diri (shiyal). Demikian menurut Ar-Rahmani. Namun Al-Hifni menetapkan bahwa ia menjadi bangkai dalam kondisi darurat saja, bukan saat membela diri. Termasuk bangkai juga hewan yang disembelih dengan tulang dan sejenisnya, serta hewan yang mati secara hukum, seperti kulit hewan yang dikuliti saat masih hidup; maka ia bisa suci dengan disamak.
وَيَخْرُجُ بِمَا ذُكِرَ مَا كَانَ طَاهِرًا بَعْدَ الْمَوْتِ ، كَجِلْدِ الْآدَمِيُّ ؛ وَمَا كَانَ نَجِسًا فِي حَالِ الْحَيَاةِ كَجِلْدِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ ، فَلَا يُفِيدُهُ الدَّبْعُ شَيْئًا .
Mengecualikan dari hal di atas adalah sesuatu yang sudah suci setelah mati, seperti kulit manusia; dan sesuatu yang sudah najis saat masih hidup seperti kulit anjing dan babi, maka penyamakan tidak memberikan pengaruh apa pun padanya.
تَنْبِيْهٌ : الْحَيْوَانُ إِنْ كَانَ مَأْكُوْلًا لَا يَجُوْزُ ذَبْحُهُ إِلَّا لِلأَكْلِ فَقَطْ ، فَيَحْرُمُ لِأَخْذِ جِلْدِهِ أَوْ لَحْمِهِ لِلصَّيْدِ بِهِ ؛ وَغَيْرُ الْمَأْكُوْلِ لَا يَجُوْزُ ذَبْحُهُ مُطْلَقًا ، وَلَوْ لِأَجْلِ جِلْدِهِ ، إِلَّا إِذَا نُصَّ عَلَى جَوَازِ قَتْلِهِ أَوْ نَدْبِهِ .
PERINGATAN (TANBIH): Hewan jika termasuk yang halal dimakan, maka tidak boleh disembelih kecuali untuk tujuan dimakan saja. Maka haram menyembelihnya hanya untuk diambil kulitnya atau dagingnya untuk dijadikan umpan berburu. Sedangkan hewan yang tidak halal dimakan, maka tidak boleh disembelih secara mutlak, meskipun untuk diambil kulitnya, kecuali jika ada dalil yang membolehkan atau menyunnahkan untuk membunuhnya.
وَثَالِثُهَا : مَا صَارَ حَيَوَانًا ، كَدُودٍ تَوَلَّدَ مِنْ عَيْنِ النَّجَاسَةِ وَلَوْ مُغَلَّظَةٌ لِأَنَّهُ لَا يُخْلَقُ مِنْ نَفْسِ الْمُغَلَّظَةِ ، بَلْ يَتَوَلَّدُ فِيْهَا ، كَدُوْدِ الْخَلِّ ، فَإِنَّهُ لَا يُخْلَقُ مِنْ نَفْسِ الْخَلِّ بَلْ يَتَوَلَّدُ فِيْهِ .
Ketiga: Sesuatu yang menjadi hewan. Contohnya seperti ulat yang lahir dari zat najis, meskipun najis mughollazhoh (berat). Alasannya karena hewan tersebut tidak diciptakan dari zat najis itu sendiri, melainkan ia lahir/berkembang biak di dalamnya. Hal ini seperti ulat pada cuka, di mana ulat tersebut tidak tercipta dari zat cuka itu sendiri, tetapi berkembang di dalamnya.
فَرْعٌ : قَالَ الشَّرْقَاوِيُw : وَمِنَ الاسْتِحَالَاتِ انْقِلَابُ الدَّمِ لَبَنًا أَوْ مَنِيًّا أَوْ عَلَقَةٌ أَوْ مُضْغَةٌ ، وَأَنْقِلَابُ الْبَيْضَةِ فَرْخًا ، وَدَمِ الظَّبْيَةِ مِسْكًا . وَطُهْرُ الْمَاءِ الْقَلِيْلِ بِالْمُكَاثَرَةِ فَإِنَّهُ اسْتِحَالَةٌ عَلَى الْأَصَحِّ .
CABANG MASALAH (FAR'UN): JENIS-JENIS ISTIHALAH LAINNYA. Syekh Asy-Syarqawi berkata: Termasuk dari istihalah (perubahan zat yang menyucikan) adalah perubahan darah menjadi susu, sperma (mani), segumpal darah ('alaqah), atau segumpal daging (mudhghah). Selain itu, perubahan telur menjadi anak ayam, dan perubahan darah kijang menjadi minyak misik. Begitu juga sucinya air sedikit (yang terkena najis) dengan cara ditambah volumenya hingga mencapai dua kullah (mukasarah), karena hal itu termasuk istihalah menurut pendapat yang paling sahih.
ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ الأَعْيَانَ إِمَّا حَيْوَانٌ ، قَالَ أَحْمَدُ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَهُوَ كُلُّ ذِي رُوْحٍ نَاطِقَا كَانَ أَوْ غَيْرَ نَاطِقٍ ، مَأْخُوْذُ مِنَ الْحَيَاةِ ، يَسْتَوِي فِيْهِ الْوَاحِدُ وَالْجَمْعُ ، لِأَنَّهُ مَصْدَرُ فِي الْأَصْلِ .
KLASIFIKASI BENDA (A'YÂN). Ketahuilah bahwa benda-benda itu ada kalanya berupa: Hewan. Syekh Ahmad berkata dalam Al-Misbah: Hewan adalah setiap yang memiliki ruh, baik yang berbicara (manusia) maupun tidak berbicara. Kata tersebut diambil dari kata al-hayah (hidup), dan berlaku sama untuk bentuk tunggal maupun jamak karena asalnya adalah mashdar.
وَإِمَّا جَمَادٌ ، وَهُوَ : مَا لَيْسَ حَيْوَانًا ، وَلَا أَصْلَ حَيْوَانٍ ، وَلَا جُزْءَ حَيْوَانٍ ، وَلَا مُنْفَصِلًا عَنْ حَيْوَانٍ .
Benda Mati (Jamad). Yaitu segala sesuatu yang bukan hewan, bukan asal dari hewan, bukan bagian dari hewan, dan bukan sesuatu yang terpisah dari hewan.
وَإِمَّا فَضَلَاتٌ .
Kotoran/Sisa-sisa (Fadhalat). (Bersambung di halaman berikutnya).
فَالْحَيْوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا نَحْوِ الْكَلْبِ .
HUKUM DASAR KESUCIAN. Maka hewan itu seluruhnya suci kecuali sejenis anjing (dan babi).
وَالْجَمَادُ كُلُّهُ طَاهِرٌ لِأَنَّهُ خُلِقَ لِمَنَافِعِ الْعِبَادِ ، وَلَوْ مِنْ بَعْضِ الْوُجُوْهِ ، كَالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ وَإِنْ لَمْ يُؤْكَلْ يُنْتَفَعُ بِهِ فِي الإِنَاءِ مَثَلًا ، قَالَ تَعَالَى : ﴿ هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ﴾ [ ٢ سورة البقرة الآية : ٢٩ ] .
Dan benda mati (jamad) itu seluruhnya suci karena ia diciptakan untuk manfaat para hamba, meskipun hanya dari sebagian sisi saja. Contohnya batu, meskipun tidak dimakan, ia bisa dimanfaatkan misalnya untuk bejana. Allah Ta'ala berfirman: (Dialah Allah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu) [QS. Al-Baqarah: 29].
وَالْفَضَلَاتُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ :
Kotoran/Sisa-sisa (fadhalat) terbagi jadi tiga bagian:
مَا اسْتَحَالَ فِي بَاطِنِ الْحَيْوَانِ إِلَى فَسَادٍ ، فَهُوَ نَجِسُ ، كَالدَّمِ ؛
1. Sesuatu yang berubah di dalam perut hewan menjadi rusak, maka hukumnya najis, contohnya seperti darah.
وَمَا لَا يَسْتَحِيْلُ فَطَاهِرُ ، كَالْعَرَقِ مِنْ حَيْوَانٍ طَاهِرٍ ؛
2. Sesuatu yang tidak berubah (menjadi rusak), maka hukumnya suci, contohnya seperti keringat dari hewan yang suci.
وَمَا يَسْتَحِيْلُ إِلَى صَلَاحٍ ، فَطَاهِرٌ أَيْضًا ، كَاللَّبَنِ .
3. Sesuatu yang berubah menjadi baik, maka hukumnya suci juga, contohnya seperti susu.
وَاعْلَمْ أَنَّ الْمُنْفَصِلَ مِنَ الْحَيْوَانِ كَمَيْتَتِهِ ، إِلَّا شَغَرَ مَأْكُوْلٍ وَصُوْفَهُ وَوَبَرَهُ وَرِيْشَهُ فَطَاهِرٌ ، وَإِنْ شُكٍّ فِي نَجَاسَتِهِ ، كَالْمُلْقَى عَلَى الْكِيْمَانِ مَثَلًا ، وَهُوَ مَوْضِعُ الْقُمَامَةِ .
Ketahuilah bahwa apa saja yang terpisah dari hewan hukumnya sama seperti bangkainya, kecuali rambut, bulu domba (shuf), bulu halus (wabar), dan bulu unggas (risy) dari hewan yang halal dimakan, maka hukumnya suci. Hal ini tetap suci meskipun diragukan kenajisannya, seperti yang dibuang di tumpukan sampah (al-kiman), yaitu tempat pembuangan sampah.
(٢) وَبِالْحِرِّيْفِ يَخْرُجُ مَا لَيْسَ كَذَلِكَ كَالشَّمْسِ وَالتُّرَابِ فَلَا يَطْهُرُ بِهِمَا الْجِلْدُ . عِصَامٌ
(٣) قَوْلُهُ : كَالْمُلْقَى عَلَى الْكِيْمَانِ ، جَمْعُ كَوْمَةٍ وَهِيَ التُّرَابُ الْمَجْمُوعُ وَالْمُرَادُ هُنَا مَزَابِلُ الْبَلَدِ . عِصَامٌ
(2) Dan dengan syarat "benda sepat (hirrif)" maka mengecualikan apa yang bukan sejenisnya seperti panas matahari dan debu murni, maka kulit tidak bisa suci dengan keduanya. -Ishom.
(3) Perkataan Mushannif: "seperti yang dibuang di tumpukan sampah", kata Al-Kiman adalah bentuk jamak dari Kaumah yaitu gundukan tanah, dan yang dimaksud di sini adalah tempat pembuangan sampah kota. -Ishom.
🔗 Takhrij Dalil & Konsensus
Kehalalan cuka hasil perubahan mandiri dari khamr didasarkan atas Ijmak (Konsensus Ulama) secara mutlak. Sedangkan kesucian hukum dasar benda mati (jamad) ditarik verbatim dari Nash Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 29: ﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا﴾ sebagai bentuk karunia manfaat bagi para hamba Allah.
⚠️ Kotak Kasus Nyata
Kasus Riil Sembelihan: Seseorang menyembelih sapi (hewan yang dagingnya halal dimakan) murni diniatkan hanya untuk dikuliti demi diambil bahan baku bedug atau tas mewah, sedangkan dagingnya sengaja dibuang ke empang buat umpan pancingan atau dibiarin membusuk.
Hukum Konkrit: Sesuai bab Tanbih Kitab, perbuatan tersebut hukumnya HARAM. Hewan makkulul lahmi (halal dimakan) secara syariat mutlak tidak boleh disembelih kecuali dengan tujuan untuk dimakan (illa lil-akli faqat). Melanggar batasan ini termasuk kategori maksiat pengrusakan harta makhluk.
⚡ Kotak Bahaya Laten
Awas Bahaya Laten Gagal Paham Konsep Samak! Ada anggapan sesat di masyarakat bahwa semua jenis kulit hewan bangkai otomatis suci total setelah masuk pabrik penyamakan modern. Ingat teks asli kitab: "Maa kana najisan fii haali al-hayah ka-jildi al-kalbi wa al-khinziri falaa yufiduhu ad-dabghu syai'an". Kulit anjing, kulit babi, atau peranakan dari keduanya, biar kata disamak berulang-ulang pake zat kimia paling sepat/tajam di bumi, selamanya kagak bakalan pernah bisa suci! Karena najisnya adalah najis zat/orisinil (najis 'ain), bukan najis temporer akibat mati jadi bangkai. Jangan tertipu produk fashion kulit babi yang diklaim suci!
فَصْلٌ [ فِي بَيَانِ الْأَعْيَانِ النَّجِسَةِ ]
Fasal: Dalam menjelaskan benda-benda najis[cite: 2].
تُطْلَقُ النَّجَاسَةُ عَلَى الْعَيْنِ مَجَازًا ، وَأَمَّا حَقِيقَتُهَا فَهُوَ : الْوَصْفُ الْقَائِمُ بِالْمَحَلِّ ، أَيْ : الْبَدَنِ أَوِ الْمَكَانِ أَوِ الثَّوْبِ .
Najis itu disebut sebagai "benda" secara majas, adapun hakikatnya najis adalah: Sifat yang menempel pada suatu tempat, baik itu badan, tempat, atau pakaian[cite: 2].
النَّجَاسَاتُ ثَلَاثُ بِالأَقْسَامِ الْمُتَرَتِّبَةِ عَلَى حُكْمِهَا وَغَسْلِهَا : أَحَدُهَا : مُغَلَّظَةٌ ، أَيْ : مُشَدَّدٌ فِي حُكْمِهَا . وَ ثَانِيهَا : مُخَفَّفَةٌ فِي ذَلِكَ أَيْضًا . وَ ثَالِثُهَا : مُتَوَسِّطَةٌ بَيْنَ الْمُغَلَّظَةِ وَالْمُخَفَّفَةِ فِي ذَلِكَ أَيْضًا .
Najis itu ada tiga jenis berdasarkan pembagian yang diurutkan sesuai hukum dan cara mencucinya: Pertama adalah Mughallazhoh, yaitu yang hukumnya diperberat. Kedua adalah Mukhaffafah, yaitu yang diringankan hukumnya dalam hal tersebut juga. Dan ketiga adalah Mutawassithah, yaitu pertengahan di antara mughallazhoh dan mukhaffafah dalam hal tersebut juga[cite: 2].
الْمُغَلَّظَةُ : نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَلَوْ مُعَلَّمًا ، وَالْخِنْزِيْرِ ، لِأَنَّهُ أَقْبَحُ حَالًا مِنَ الْكَلْبِ ، إِذْ لَا يَحِلُّ افْتِنَاؤُهُ بِحَالٍ مَعَ إِمْكَانِ الانْتِفَاعِ بِهِ بِنَحْوِ الْحَمْلِ عَلَيْهِ ! فَخَرَجَتِ الْحَشَرَاتُ ، وَهِيَ صِغَارُ دَوَابٌ الْأَرْضِ ، فَإِنَّهَا وَإِنْ لَمْ يَحِلَّ اقْتِنَاؤُهَا بِحَالٍ لَكِنْ لَا يُمْكِنُ الانْتِفَاعُ بِهَا .
Najis Mughallazhoh: Adalah najisnya anjing meskipun anjing yang terlatih (mu'allam), dan babi, karena babi lebih buruk kondisinya daripada anjing, karena babi tidak halal dipelihara dalam kondisi apa pun, padahal ia mungkin saja dimanfaatkan seperti untuk mengangkut beban! Maka dikecualikanlah serangga (hasyarat), yaitu binatang-binatang kecil di bumi; karena meskipun mereka tidak halal dipelihara dalam kondisi apa pun, namun mereka memang tidak mungkin diambil manfaatnya[cite: 2].
وَفَرْعُ أَحَدِهِمَا ، أَيْ : مَعَ الْآخَرِ تَبَعًا لَهُمَا ، أَوْ مَعَ غَيْرِهِ مِنْ حَيْوَانٍ طَاهِرٍ تَغْلِيْبًا لِلنَّجِسِ ، لِأَنَّ الْفَرْعَ يَتْبَعُ أَخَسَّ الْأَصْلَيْنِ فِي النَّجَاسَةِ وَتَحْرِيمِ النَّبِيِّحَةِ وَالْمُنَاكَحَةِ وَالأَكْلِ وَعَدَمِ صِحَةِ الْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ ،
Dan anak keturunan salah satu dari keduanya (anjing/babi). Maksudnya, anak hasil persilangan antara anjing dengan babi, atau salah satunya dengan hewan lain yang suci. Hukumnya tetap najis dengan memenangkan sisi najisnya (taghliban lin-najis), karena anak itu mengikuti induk yang paling buruk (akhasul ashlayni) dalam hal kenajisan, keharaman sembelihan, pernikahan (jika terkait manusia), keharaman dimakan, serta tidak sahnya dijadikan kurban maupun akikah[cite: 2].
يَتْبَعُ الْفَرْعُ فِي انْتِسَابِ أَبَاهُ ۞ وَالأُمَّ فِي الرِّقَ وَالْحُرِّيَّة
وَالزَّكَاةِ الأَخَفَّ وَالدِّيْنِ الْأَعْلَى ۞ وَالَّذِي أَشْتَدَّ فِي جَزَاء وَدِيَّة
وَأَخَسَّ الأَصْلَيْنِ رِجْسًا وَذَبْحًا ۞ وَنِكَاحًا وَالْأَكْلَ وَالْأَضْحِيَّة
فَالْوَلَدُ مِنَ الشَّرِيفِ شَرِيْفٌ وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ غَيْرَ شَرِيفَةٍ ، لَا عَكْسُهُ ؛ وَمِنَ الرَّقِيقَةِ رَقِيقٌ وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ حُرًا ، وَمِنَ الْحُرَّةِ حُرِّ وَإِنْ كَانَ أَبُوْهُ رَقِيقًا غَالِبًا ؛
Maka anak dari orang yang mulia (syarif) adalah mulia meskipun ibunya bukan orang mulia. Namun tidak berlaku sebaliknya (jika ibu mulia tapi bapak tidak, anak tidak otomatis jadi syarif). Anak dari budak perempuan adalah budak meskipun bapaknya merdeka. Dan anak dari wanita merdeka adalah merdeka meskipun bapaknya budak—hal ini secara umum[cite: 2].
وَخَرَجَ بِالْغَالِبِ مَا لَوْ أَوْصَى مَالِكُ أَمَةٍ بِمَا تَحْمِلُهُ كُلَّ سَنَةٍ أَوْ مُطْلَقًا فَأَعْتَقَهَا وَارِثُهُ بَعْدَ مَوْتِ الْمُوْصِيْ ، وَلَوْ قَبْلَ قَبُوْلِ الْمُوْصَى لَهُ الْوَصِيَّةَ ، فَوَلَدُهَا مَمْلُوْكٌ لِلْمُوْصَى لَهُ ، وَإِنْ تَزَوَّجَهَا حُرٌّ ؛ وَيُلْغَزُ بِهَا حِينَئِذٍ بِوَلَدِهَا ، فَيُقَالُ : لَنَا حُرَّةٌ لَا تُنْكَحُ إِلَّا بِشَرْطِ نِكَاحِ الْأَمَةِ ، وَلَنَا رَقِيقٌ بَيْنَ حُرَّيْنِ .
Dikecualikan dari keumuman tadi (anak merdeka dari ibu merdeka), yaitu jika pemilik budak perempuan berwasiat tentang janin yang akan dikandung budak tersebut setiap tahun atau secara mutlak. Lalu setelah pemiliknya wafat, ahli waris memerdekakan budak itu sebelum penerima wasiat menerima wasiatnya. Maka anak tersebut tetap berstatus budak milik penerima wasiat, meskipun ibunya sudah merdeka dan dinikahi laki-laki merdeka. Dalam kondisi ini dibuatlah teka-teki (ilghaz): "Kita punya wanita merdeka yang tidak boleh dinikahi kecuali dengan syarat (maharnya) nikah budak, dan kita punya budak di antara dua orang merdeka"[cite: 2].
وَمَا لَوْ ظَنَّ الْوَاطِيُّ الأَمَةَ أَنَّهَا زَوْجَتَهُ الْحُرَّةَ ، كَأَنْ كَانَ مُتَزَوْجًا بِحُرَّةٍ وَأَمَةٍ ، فَعَلِقَتْ مِنْهُ ، فَوَلَدُهَا حُرٌّ وَإِنْ كَانَ الْوَاطِءُ وَالْمَوْطُوْأَةُ رَقِيْقَيْنِ ،
Contoh lain adalah jika seorang laki-laki menyetubuhi budak perempuan karena menyangka itu istrinya yang merdeka—seperti laki-laki yang punya dua istri, satu merdeka dan satu budak. Lalu budak itu hamil dari persetubuhan syubhat tersebut, maka anaknya berstatus merdeka meskipun yang menyetubuhi (wathi') dan yang disetubuhi (mauthu'ah) adalah budak[cite: 2].
وَيُقَالُ فِي هَذَا : حُرِّ بَيْنَ رَقِيْقَيْنِ . وَمَا لَوْ غُرَّ بِحُرِّيَّةِ أَمَةٍ فَانْعَقَدَ الْوَلَدُ مِنْهَا قَبْلَ عِلْمِهِ بِأَنَّهَا أَمَةٌ ، أَوْ مَعَ عِلْمِهِ بِذَلِكَ ، فَالْوَلَدُ مِنْهَا حُرٌّ لِظَنَّهِ حُرِّيَّتَهَا حِيْنَ نُزُوْلِ الْمَنِيِّ إِلَيْهَا حُرًّا كَانَ أَوْ عَبْدًا ، وَمَا لَوْ ظَنَّ أَنَّهَا أَمَتُهُ أَوْ أَمَهُ وَلَدِهِ ، فَالْوَلَدُ مِنْهَا حُرٌّ .
Dan dalam kasus ini dikatakan: "Ada anak merdeka di antara dua orang budak". Contoh lainnya adalah jika seseorang tertipu mengenai kemerdekaan seorang budak perempuan, lalu ia menghamili budak tersebut sebelum ia tahu bahwa ia adalah budak, atau saat ia mengetahuinya. Maka anak tersebut berstatus merdeka karena persangkaannya akan kemerdekaan ibunya saat sperma keluar, baik bapaknya orang merdeka maupun budak. Begitu juga jika ia menyangka budak itu adalah miliknya sendiri atau milik anaknya, maka anaknya berstatus merdeka[cite: 2].
⚖️ MASALAH-MASALAH PERSILANGAN HEWAN (AL-MUTAWALLAD)
وَيَجِبُ فِي الْمُتَوَلَّدِ بَيْنَ إِبِلٍ وَبَقَرٍ مَثَلًا أَخَفُ الزَّكَاتَيْنِ ، فَلَا يُزَكَّىٰ حَتَّى يَبْلُغَ نِصَابَ الْبَقَرِ وَهُوَ ثَلَاثُوْنَ ، فَفِيْهَا تَبِيْعٌ .
[ZAKAT]: Persilangan antara unta dan sapi wajib diambil zakat yang paling ringan (akhaff). Tidak dizakati sampai mencapai nishab sapi (30 ekor), maka zakatnya adalah satu ekor tabi'[cite: 2].
وَالْمُتَوَلَّدُ بَيْنَ ذِمِّيَّ وَمُسْلِمَةٍ أَوْ عَكْسُهُ مُسْلِمٌ .
[AGAMA]: Anak hasil persilangan (pernikahan) antara kafir Dzimmi dan wanita Muslimah (atau sebaliknya) adalah Muslim[cite: 2].
وَالْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ صَيْدٍ بَرِّيٌّ وَحْشِيَّ مَأْكُوْلٍ وَغَيْرِهِ تَجِبُّ فِيْهِ الْفِدْيَةُ عَلَى الْمُحْرِمِ .
[HAJI/IHRAM]: Hasil persilangan antara hewan buruan darat yang halal dimakan dengan yang tidak, maka bagi orang yang ihram wajib membayar fidyah (jika membunuhnya)[cite: 2].
وَالْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ كِتَابِيٌّ وَمَجُوْسِيَّةٍ أَوْ عَكْسُهُ فِيْهِ دِيَةٌ كِتَابِيٍّ .
[DIYAT]: Persilangan antara kafir Kitabi dan Majusi (atau sebaliknya) hukum diyatnya mengikuti diyat Kitabi[cite: 2].
وَالْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ كَلْبِ وَشَاةٍ نَحِسٌ ، وَكَذَا الْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ سَمَكِ وَغَيْرِهِ مِنْ مَأْكُوْلٍ فَتَكُوْنُ مَيْتَتُهُ نَجِسَةٌ .
[NAJIS]: Persilangan antara anjing dan kambing adalah najis. Begitu juga persilangan antara ikan dan hewan halal lainnya, maka bangkainya tetap najis[cite: 2].
وَالْمُتَوَلَّدُ بَيْنَ مَنْ تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ وَمُنَاكَحَتُهُ كَكِتَابِيٍّ ، وَمَنْ لَا تَحِلُّ كَمَجُوسِيَّ ، لَا تَحِلُّ ذَبِيحَتُهُ وَمُنَا كَحَتُهُ .
[SEMBELIHAN & NIKAH]: Persilangan antara yang halal sembelihan/nikahnya (seperti Kitabi) dengan yang tidak (seperti Majusi), maka hasilnya tidak halal disembelih maupun dinikahi[cite: 2].
وَالْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ مَأْكُوْلٍ وَغَيْرِهِ لَا يَحِلُّ أَكْلُهُ ، وَالْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ مَا يُضَحَى بِهِ وَمَا لَا يُضَحَّى لَمْ يَجُزِ التَّضْحِيَةُ بِهِ ، وَكَذَا الْعَقِيْقَةُ ،
[MAKANAN & KURBAN]: Persilangan antara hewan yang boleh dimakan dan tidak, maka tidak boleh dimakan. Hasil persilangan antara hewan yang sah untuk kurban dan tidak, maka tidak sah untuk kurban maupun akikah[cite: 2].
3. MANUSIA HASIL PERSILANGAN HEWAN NAJIS BERAT
فَلَوْ تَوَلَّدَ آدَمِيٌّ بَيْنَ مُغَلَّظٍ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى أَوْ آدَمِيٌّ كَذَلِكَ ، وَكَكانَ عَلَى صُورَةِ الْآدَمِيٌّ ، وَلَوْ فِي النِّصْفِ الأَعْلَى فَقَط| دُوْنَ الأَسْفَلِ ، فَهُوَ مَحْكُوْمٌ بِطَهَارَتِهِ فِي الْعِبَادَاتِ .
Seandainya ada manusia yang lahir dari persilangan dengan hewan najis berat (mughollazhoh), baik itu pejantannya maupun betinanya adalah manusia, dan anak itu berbentuk manusia—meskipun hanya bagian atasnya saja sedangkan bawahnya tidak—maka ia dihukum suci dalam hal ibadah[cite: 2].
أَخْذَا بِإِطْلَاقِهِم| طَهَارَةَ الْآدَمِيٌّ ، وَتَجْرِي عَلَيْهِ الْأَحْكامُ ، لِأَنَّهُ بَالِغُ عَاقِلٌ ، وَالْعَقْلُ مَنَاطُ التَّكْلِيفِ ، فَيُصَلِّي وَيَؤُمُّهُمْ ، لِأَنَّهُ لَا تَلْزَمُهُ إِعَادَةٌ ، وَيَدْخُلُ الْمَسَاجِدَ ، وَيُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يُنَجِّسُهُمْ بِمَسَّهِ مَعَ رُطُوبَةٍ ، وَلَا يَنْجُسُ بِهِ الْمَاءُ الْقَلِيلُ ، وَلَا الْمَائِعُ ،
karena mengikuti kemutlakan para ulama tentang sucinya manusia. Berlaku pula hukum-hukum syariat padanya jika ia baligh dan berakal, karena akal adalah patokan beban syariat (manathut taklif). Maka ia boleh salat, menjadi imam (karena ia tidak wajib mengulang salatnya), boleh masuk masjid, dan bergaul dengan orang-orang. Sentuhannya saat basah tidak menajiskan orang lain, dan ia tidak menajiskan air sedikit maupun benda cair lainnya[cite: 2].
وَيُقْطَعُ عَنِ الْوِلَايَاتِ ، كَوِلَايَةِ نِكَاحٍ وَقَضَاءِ كَالْقِنِّ ، بَلْ أَوْلَى عَلَى الْمُعْتَمَدِ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ ، وَلَا تَحِلُّ مُنَاكَحَتُهُ وَلَا ذَبِيحَتُهُ ، وَلَا تَوَارُثَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ آدَمِيٌّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .
Namun, ia dilarang memegang jabatan kekuasaan seperti wali nikah atau hakim, statusnya disamakan dengan budak murni (al-qinn), bahkan lebih utama untuk dilarang menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad). Tidak halal menikahinya, tidak halal sembelihannya, dan tidak ada hukum waris antara dia dengan manusia biasa menurut pendapat yang kuat[cite: 2].
أَمَّا لَوْ كَانَ عَلَى صُورَةِ الْكَلْبِ مَعَ الْعَقْلِ وَالنُّطْقِ فَهُوَ نَجِسٌ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، وَلَهُ حُكْمُ الْمُغَلَّظِ فِي سَائِرِ أَحْكَامِهِ ، وَكَذَا وَلَدُ الْوَلَدِ ، لِأَنَّهُ فَرْعٌ بِالْوَاسِطَةِ .
Adapun jika ia berwujud anjing namun bisa berakal dan berbicara, hukumnya tetap najis menurut pendapat yang kuat, dan berlaku hukum najis berat (mughollazhoh) padanya. Begitu juga dengan keturunannya (waladul walad), karena ia adalah cabang perantara[cite: 2].
قَالَ ابْنِ قَاسِمٍ : إِنَّهُ لَا يُكَلِّفُ حِينَئِذٍ... قَالَ الْقَلْيُوْبِيُّ : وَإِذَا كَانَ يَنْطِقُ وَيَفْهَمُ فَالْقِيَاسُ التَّكْلِيفُ ، لِأَنَّ مَنَاطَهُ الْعَقْلُ .
Ibnu Qasim berpendapat ia tidak dibebani syariat (taklif) meskipun bisa bicara. Namun Al-Qalyubi berpendapat secara kias ia tetap dibebani syariat karena ia berakal, karena patokannya adalah akal[cite: 2].
وَكَذَا لَوْ كَانَ عَلَى صُورَةِ الْآدَمِيِّ وَتَوَلَّدَ بَيْنَ مُغَلَّظَيْنِ ، لِأَنَّ الصُّوْرَةَ لَا تُفِيدُهُ الطَّهَارَةَ حِينَئِذٍ لِضَعْفِهَا ، فَنَجِسٌ أَتَّفَاقًا .
Jika lahir dari dua orang tua yang sama-sama najis berat (anjing/babi), meskipun wujudnya manusia, hukumnya tetap najis menurut kesepakatan ulama karena faktor wujud tidak bisa mengalahkan faktor asal disebabkan kelemahannya, maka ia najis secara mufakat[cite: 2].
وَلَوْ تَوَلَّدَ بَيْنَ مُغَلَّطٍ وَحَيْوَانٍ آخَرَ غَيْرُ آدَمِيِّ فَهُوَ نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقٍ .
Jika lahir dari persilangan antara hewan najis berat dengan hewan lain (bukan manusia), hukumnya najis yang dimaafkan (ma'fu 'anhu) menurut kesepakatan ulama[cite: 2].
وَأَمَّا الْمُتَوَلَّدُ بَيْنَ آدَمِيَّيْنِ فَهُوَ طَاهِرٌ اتَّفَاقًا ، وَلَوْ كَانَ عَلَى صُورَةِ الْكَلْبِ ؛ فَإِذَا كَانَ يَنْطِقُ وَيَعْقِلُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : يُكَلِّفُ ، لِأَنَّ مَنَاطَ التَّكْلِيفِ الْعَقْلُ ، وَهُوَ مَوْجُودٌ فِيْهِ ؛ وَكَذَا الْمُتَوَلِّدُ بَيْنَ شَاتَيْنِ وَهُوَ عَلَى صُورَةِ الْآدَمِيِّ إِذَا كَانَ يَنْطِقُ وَيَعْقِلُ . وَيَجُوْزُ ذَبْحُهُ وَأَكْلُهُ وَإِنْ صَارَ خَطِيبًا وَإِمَامًا ، وَلِذَا قِيلَ لَنَا : خَطِيبٌ يُذْبَحُ وَيُؤْكَلُ !
Adapun anak yang lahir dari dua manusia (bapak-ibu manusia), maka hukumnya suci secara kesepakatan ulama (ittifaqan), meskipun wujudnya seperti anjing. Jika ia bisa berbicara dan berakal, sebagian ulama berpendapat ia tetap dibebani syariat (mukallaf) karena akal adalah patokan beban syariat, dan akal itu ada padanya. Begitu juga anak yang lahir dari dua kambing (bapak-ibu kambing) namun wujudnya seperti manusia, bisa bicara dan berakal; maka boleh disembelih dan dimakan meskipun ia sudah menjadi khatib atau imam. Karena itulah ada teka-teki: "Ada khatib yang boleh disembelih dan dimakan!"[cite: 2].
مَسْأَلَةٌ : لَوِ ارْتَضَعَ جَدْيٌّ ، وَهُوَ الذَّكَرُ مِنْ أَوْلَادِ الْمَعْزِ ، كَلْبَةً أَوْ خِنْزِيرَةً ، فَنَبَتَ لَحْمُهُ عَلَى لَبَنِهَا ، أَيْ : تَرَبَّى وَسَمِنَ مِنْهُ ؛ لَمْ يَنْجُسْ عَلَى الْأَصَحِّ .
Masalah: Jika seekor anak kambing jantan (jad-yun, yaitu anak kambing jantan dari jenis ma'iz) menyusu pada anjing atau babi betina hingga dagingnya tumbuh dan gemuk dari air susu tersebut, maka ia tidak najis menurut pendapat yang paling sahih (al-ashah)[cite: 2].
فَائِدَةٌ : نَقَلَ بَعْضُهُمْ أَنَّ كُلَّ الْكِلَابِ نَجِسَةٌ إِلَّا كَلْبَ أَهْلِ الْكَهْفِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ ، وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ ، ثُمَّ تُوُقِّفَ فِي مَعْنَى طَهَارَتِهِ ، هَلْ أَوْجَدَهُ اللَّهُ تَعَالَى طَاهِرًا أَوْ سَلَبَهُ أَوْصَافَ النَّجَاسَةِ ؟ فَقَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَالظَّاهِرُ الثَّانِي .
FAIDAH: Sebagian ulama menukil bahwa semua anjing itu najis kecuali anjing Ashabul Kahfi, karena ia suci dan akan masuk surga. Kemudian ulama berbeda pendapat soal makna kesuciannya; apakah Allah menciptakannya dalam keadaan suci, atau Allah mencabut sifat-sifat najis darinya? Syekh Al-Bajuri berkata: "Yang nampak jelas adalah pendapat kedua (Allah mencabut sifat najisnya)"[cite: 2].
(٢) قَوْلُهُ : وَفَرْعُ أَحَدِهِمَا أَيِ الْمُتَوَلِّدُ بَيْنَهُمَا أَوْ بَيْنِ أَحَدِهِمَا وَحَيْوَانٍ طَاهِرٍ . عِصَامٌ
(٣) قَوْلُهُ : خَطِيْبٌ يُذْبَحُ وَيُؤْكَلُ هَذَا مِنْ لَطَائِفِ الْإِلْغَازِ الْفِقْهِيِّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ . عِصَامٌ
(2) Perkataan Mushannif: "anak keturunan salah satu dari keduanya", maksudnya anak hasil persilangan keduanya atau salah satunya dengan hewan suci. -Ishom.
(3) Perkataan Mushannif: "khatib yang boleh disembelih dan dimakan", ini termasuk bagian teka-teki fiqih yang unik di kalangan Syafiiyyah. -Ishom.
🔗 Takhrij Kaidah & Syair
Kaidah pengikut hukum cabang diuraikan secara nazham dalam Kitab Al-Asybah wan-Nazhair oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi memakai bahar Khafif[cite: 2]. Hukum taghlib (memenangkan sisi najis/keharaman) didasarkan atas prinsip kehati-hatian (ihtiyat) dalam menjaga keabsahan ibadah dari unsur mughallazhoh[cite: 2].
⚠️ Kotak Kasus Nyata
Kasus Ternak Nyusu Induk Najis: Di sebuah peternakan, ada seekor anak kambing jantan (jad-yun) ditinggal mati emaknya[cite: 2]. Si peternak iseng nyusuin ini anak kambing ke anjing betina ampe itu kambing tumbuh gede, montok, dan gemuk dari air susu anjing tersebut[cite: 2].
Hukum Konkrit: Sesuai ketetapan matan Syarh, status kambing tersebut TETEP SUCI badannya dan dagingnya halal dimakan menurut pendapat Al-Ashah (paling shahih)[cite: 2]. Alasan ulama karena susu yang diserap udah bermutasi jadi daging-tulang dan struktur asalnya sebagai kambing suci tidak hilang[cite: 2].
⚡ Kotak Bahaya Laten
Awas Bahaya Laten Salah Kaprah Soal "Akal" Jadi Pembersih Zat! Sebagian orang liberal zaman sekarang mengira kalau ada makhluk punya akal dan bisa bicara santun, otomatis badannya suci dan dihormati hak asasi manusianya secara mutlak. Ingat kaidah rigid halaman 165: "Amma lau kana 'ala suratil kalbi ma'al 'aqli wan nuthqi fahuwa najisun 'alal mu'tamad"[cite: 2]. Biar kata ada hewan hasil silang wujudnya anjing tapi pinter matematika, bisa ngomong alus, hukum zatnya TETEP NAJIS MUGHALLAZHOH[cite: 2]! Air liurnya tetep wajib dibasuh 7 kali pake tanah[cite: 2]. Jangan racuni batas hukum fikih murni pake logika perasaan kemanusiaan!
DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA
Syarah Safinatun Najah — Bersama Abi Ahmad Thoufur (Classic '91)
🎤 Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA
Assalamu'alaikum Jemaah! Ketemu lagi ama Ane, Abi Ahmad Thoufur. Kita lanjutin lagi nih bedah perkara najis dan hukum bersuci di Kitab Kasyifatus Saja. Ini urusan fiqih harian kita, jangan sampe ibadah kita kagak sah gara-gara ketledoran urusan sepele kek air cukuran rambut atau cairan farji. Pasang kuping baek-baek, jangan ada tadlis di antara kita, kita kupas tuntas plek-ketiplek biar berkah dunia akherat. Nyok kita mulai!
📋 Grid Mufrodat & Catatan Murid
| مَاءُ الْحَلْقِ | Ma'ul Halqi: Air yang dipake pas nyukur rambut. |
| جِرَّةٌ | Jirrah: Memamah biak (makanan yang dimuntahin unta/sapi buat dikunyah lagi). |
| مَاءُ الْمُتَنَفِّطِ | Ma'ul Mutanaffith: Cairan dari bintil/lepuhan kulit. |
| رُطُوبَةُ الْفَرْجِ | Ruthubatul Farji: Kelembapan/cairan lendir pada kemaluan wanita. |
| الْمَشِيْمَةُ | Al-Masyimah: Ari-ari / plasenta bayi. |
| أَرْبَابِ الْكَشْفِ | Arbabul Kasyf: Orang-orang saleh yang dibukain hijab batinnya oleh Allah (Mukasyafah). |
DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA
Syarah Safinatun Najah — Bersama Abi Ahmad Thoufur (Classic '91)
🎤 Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA
Assalamu'alaikum Jemaah! Ketemu lagi ama Ane, Abi Ahmad Thoufur. Kali ini kita masuk ke bab yang krusial banget, bab cara nyuci najis, wabil khusus Najis Mughalladhah (najis berat). Urusan tanah, urusan aer, hitungan basuhan jangan sampe Ente sepelein gara-gara kagak paham syarat sahnya. Pasang kuping baek-baek, jangan ada tadlis di antara kita, kita kupas tuntas plek-ketiplek biar berkah dunia akherat. Nyok kita mulai!
📋 Grid Mufrodat & Catatan Murid
| عَيْنِيَّةٌ أَوْ حُكْمِيَّةٌ | 'Ainiyah / Hukmiyah: Najis yang keliatan bendanya vs Najis yang kagak keliatan (kek bekas kencing kering). |
| تَعَبدًا | Ta'abbudan: Kepatuhan mutlak dalam ibadah (mesti 7 kali basuh, kagak bisa ditawar akal). |
| جُرْمِ / عَيْنِ | Jurm / 'Ain: Wujud fisik / bodi dari benda najis tersebut. |
| أُشْنَانِ | Ushnan: Tumbuhan hijau/rumput pembersih (kagak sah dipake gantiin tanah). |
| الْوَارِدَ لَهُ قُوَّةٌ | Al-Warid lahu quwwah: Air yang ngedatengin najis punya kekuatan hukum tetep suci. |
DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA
Syarah Safinatun Najah — Bersama Abi Ahmad Thoufur (Classic '91)
🎤 Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA
Assalamu'alaikum Jemaah! Ketemu lagi ama Ane, Abi Ahmad Thoufur. Kali ini kite lanjutin gaspol ke bab najis yang kelihatannya enteng tapi banyak orang awam keliru, yup Najis Mukhaffafah (najis ringan) ama kelanjutan Najis Mutawassithah. Inget, fiqih itu presisi, kagak boleh maen kira-kira apalagi pake tadlis. Nyok kita pasang kuping baek-baek, rapetin barisan biar ilmu nancep di otak!
📋 Grid Mufrodat & Catatan Murid
| الرَّسُ وَالْغَسْلُ | Ar-Rasysyu vs Al-Ghaslu: Percikan (kagak butuh ngalir) vs Membasuh (wajib aernya ngalir/netes). |
| رُخْصَةٌ | Rukhshah: Keringanan hukum (kek mercik doang). Kalo ragu, rukhshah gugur, kudu balik ke hukum asal (ghaslu). |
| الْحَقُّ وَالْقَرْضُ | Al-Haqqu & Al-Qorshu: Mengerik pake batu/kayu ama ngucek kuat-kuat pake ujung jari. |
| الْبِلَاطُ | Al-Bilath: Lantai ubin yang dihamparin batu/sejenisnya di atas tanah asli. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar