BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

KS - 006

```html

كَاشِفَةُ السَّجَا شَرْحُ سَفِيْنَةِ النَّجَا

Kajian Kitab Abi Ahmad Thoufur — Fasal Mufsidatus Shalah

Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Lanjut lagi nih, Jemaah! Jangan bosen-bosen dah kita ngaji. Sekarang kita masuk ke fasal yang rada-rada krusial, perkara yang bisa bikin shalat kita kepret alias batal bin bubar. Ente bayangin udah anteng-anteng takbir, ruku', sujud, eh kagak taunya kecolok hal ginian, kan jadi wassalam tuh ibadah. Makanya, pasang kuping baek-baek, dengerin rinciannya biar shalat kita kaga jadi pajangan doang tapi sah secara hukum fiqih. Nyok, mari kita bedah satu-satu naskahnya!

فَصْلٌ فِي مُفْسِدَاتِ الصَّلَاةِ تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِأَرْبَعَ عَشْرَةَ خِصْلَةٌ ، بَلْ بِأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ ، وَالْخِصْلَةُ بِكَسْرِ الْخَاءِ : النَّوْعُ

Fasal tentang hal-hal yang membatalkan shalat. Shalat menjadi batal dengan sebab empat belas perkara, bahkan lebih dari itu. Al-khishlah dengan meng-kasrah-kan huruf kha artinya adalah macam/jenis.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمُفْسِدِ وَالْمُبْطِلِ أَنَّ الْمُفْسِدَ مَا يَطْرَأُ بَعْدَ الانْعِقَادِ ، وَهُوَ الْمُرَادُ هُنَا ؛ وَالْمُبْطِلَ مَا يَمْنَعُهُ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

Perbedaan antara al-mufsid (yang merusak) dan al-mubthil (yang membatalkan) adalah bahwa al-mufsid merupakan sesuatu yang datang kemudian setelah shalat dimulai (setelah in'iqad), dan itulah yang dimaksud di sini; sedangkan al-mubthil adalah sesuatu yang mencegah keabsahannya sejak awal. Hal ini dikatakan oleh Asy-Syarqawi.

أَحَدُهَا : بِالْحَدَثِ ، وَلَوْ بِلَا قَصْدٍ أَوْ أُكْرِهَ عَلَيْهِ، كَأَنْ عُصِرَ بَطْنُهُ فَخَرَجَ ، وَلَا فَرْقَ فِي الْبُطْلَانِ بَيْنَ الْمُتَطَهِّرِ وَغَيْرِهِ، كَفَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ، لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ : إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَنْصَرِفْ وَلْيَتَوضَّأُ وَلْيُعِدْ صَلَاتَهُ » . [الترمذي، رقم : ١١٦٤ ، ١١٦٦ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۰۵ ، ۱۰۰۵ ؛ الدارمي، رقم : ١١٤١] .

Salah satunya: Dengan sebab hadas, meskipun tanpa sengaja atau dipaksa melakukannya, seperti perutnya ditekan lalu keluar (hadas). Tidak ada perbedaan dalam hal batalnya antara orang yang suci (punya wudu) maupun selainnya, seperti orang yang kehilangan dua alat sesuci (faqidut thahurain), berdasarkan hadis sahih: "Apabila salah seorang di antara kalian mengeluarkan angin dalam shalatnya, maka hendaknya ia berpaling (keluar shalat), berwudu, dan mengulang shalatnya." [At-Tirmidzi, no: 1164, 1166; Abu Dawud, no: 205, 1005; Ad-Darimi, no: 1141].

وَهَذَا الْكَلَامُ فِي السَّلِيمِ ، أَمَّا السَّلِسُ ، فَلَا يُبْطِلُ صَلَاتَهُ إِلَّا حَدَثُهُ الْغَيْرُ الدَّائِمِ ، بِخِلَافِ الدَّائِمِ ، فَإِنَّهُ لَا يُبْطِلُهَا

Penjelasan ini berlaku bagi orang yang sehat. Adapun penderita beser (as-salis), maka shalatnya tidak batal kecuali disebabkan hadas yang tidak terus-menerus, berbeda dengan hadas yang bersifat permanen/terus-menerus, maka sesungguhnya hal itu tidak membatalkan shalatnya.

وَيُسَنُّ لِمَنْ أَحْدَثَ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَأْخُذَ بِأَنْفِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفَ ، مُوْهِما أَنَّهُ رَعَفَ سَتْرًا عَلَى نَفْسِهِ ، لِئَلَّا يَخُوضَ النَّاسُ فِيْهِ فَيَأْتُمُوْا ؛ وَكَذَا إِذَا أَحْدَثَ وَهُوَ مُنْتَظِرُ لِلصَّلَاةِ ، لَا سِيَّمَا إِذَا قَرُبَتْ إِقَامَتُهَا أَوْ أُقِيمَتْ بِالْفِعْلِ .

Disunnahkan bagi orang yang berhadas dalam shalatnya untuk memegang hidungnya kemudian berpaling (keluar shalat), dengan memberikan kesan seolah-olah ia sedang mimisan demi menutupi rasa malu pada dirinya sendiri, agar orang-orang tidak membicarakannya sehingga mereka (orang-orang tersebut) berdosa. Begitu pula jika ia berhadas saat sedang menunggu shalat, terlebih lagi jika waktu iqamah sudah dekat atau sedang dilaksanakan.

وَثَانِيْهَا : بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ الَّتِي لَا يُعْفَى عَنْهَا ، وَسَوَاءٌ وَقَعَتْ عَلَى ثَوْبِهِ [305] وَإِنْ لَمْ يَتَحَرَّكْ بِحَرَكَتِهِ ، كَطَرَفِ عِمَامَتِهِ الطَّوِيلِ ، أَوْ بَدَنِهِ ، أَوْ دَاخِلَ أَنْفِهِ أَوْ فَمِهِ أَوْ عَيْنِهِ أَوْ أُذُنِهِ ، وَإِنَّمَا جُعِلَ دَاخِلُ ذَلِكَ كَظَاهِرِهِ ، بِخِلَافِ غُسْلِ الْجَنَابَةِ وَنَحْوِهَا ، لِغِلَظِ أَمْرِ النَّجَاسَةِ

Kedua: With sebab jatuhnya najis yang tidak dimaafkan, baik najis tersebut jatuh ke pakaiannya... [305] Sekalipun (najis tersebut) tidak bergerak dengan gerakannya, seperti ujung sorbannya yang panjang, atau badannya, atau bagian dalam hidungnya, mulutnya, matanya, atau telinganya. Sesungguhnya bagian dalam hal-hal tersebut dijadikan (hukumnya) seperti bagian luarnya, berbeda dengan mandi jinabat dan sesamanya, karena beratnya perkara najis.

إِنْ لَمْ تُلْقَ حَالًا ، أَيْ : قَبْلَ مُضِيَّ أَقَلَّ الطَّمَأْنِينَةِ

(Syarat tidak batal adalah) jika tidak dibuang seketika, maksudnya: sebelum berlalu kadar minimal thumaninah.

مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ ، كَمَا لَوْ وَضَعَ أَصْبُعَهُ عَلَى حَجَرٍ تَحْتَهُ نَجَاسَةٌ ، وَنَجَّاهَا بِهِ مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ لَهُ ، أَوْ عَلَى مَوْضِعِ طَاهِرٍ مِنْ نَعْلِهِ وَنَجَّاهُ مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ لَهَا ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَضُرُّ ؛ فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَى إِزَالَتِهَا حَمْلٌ ، كَأَنْ نَجَّاهَا بِنَحْوِ عُوْدٍ أَوْ جَرِّ الثَّوْبِ وَلَوْ قَبَضَ مَوْضِعًا طَاهِرًا مِنْهُ ضَرَّ ؛ ثُمَّ النَّجَاسَةُ إِنْ كَانَتْ يَابِسَةٌ فَلَهُ نَفْضُهَا ، وَلَوْ فِي الْمَسْجِدِ ، وَإِنِ اتَّسَعَ الْوَقْتُ

Tanpa membawanya, sebagaimana jika ia meletakkan jarinya di atas batu yang di bawahnya terdapat najis, lalu ia menjauhkannya (najis tersebut) dengan jari itu tanpa membawanya, atau (meletakkan jari) di atas tempat yang suci dari alas kakinya lalu ia menjauhkannya tanpa membawa najis tersebut, maka hal itu tidak membahayakan (tidak batal). Namun, jika dalam proses menghilangkannya berakibat membawanya, seperti ia menjauhkannya dengan sejenis kayu atau menarik baju meskipun ia memegang bagian yang suci darinya, maka itu membahayakan (batal); kemudian najis tersebut jika dalam keadaan kering, maka baginya boleh mengibaskannya, meskipun di dalam masjid, jika waktu shalat masih luas.

ثُمَّ يَجِبُ إِزَالَتُهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَوْرًا وَإِنْ كَانَتْ رَطْبَةٌ ؛ وَيَلْزَمُ عَلَى الْقَائِمَا تَنَجَّسُ الْمَسْجِدِ بِهَا ، فَفِيْهِ تَفْصِيلُ ؛ فَإِنِ اتَّسَعَ الْوَقْتُ رَاعَاهُ ، فَلَا يُلْقِيْهَا فِيهِ ، بَلْ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ وَيَرْمِيْهَا خَارِجَهُ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ الصَّلَاةَ ؛ وَإِلَّا رَاعَاهَا وَأَتَمَّهَا وَأَلْقَاهَا فِيْهِ ، وَوَجَبَتْ إِزَالَتُهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَوْرًا ؛ هَذَا إِنْ قَدِرَ عَلَى الإِزالَةِ فِي الْفَوْرِ ؛ وَإِلَّا بِأَنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً لِيُطَهِّرَ الْمَسْجِدَ بِهِ فَيَقْطَعُ الصَّلَاةَ وَيَرْمِيْهَا خَارِجَهُ . كَمَا أَفَادَهُ شَيْخُنَا مُحَمَّدٌ حَسَبُ اللهِ .

Kemudian wajib menghilangkannya setelah shalat dengan segera. Dan jika najisnya dalam keadaan basah, dan dengan membuangnya akan mengakibatkan masjid menjadi najis karenanya, maka dalam hal ini ada rincian: jika waktu (shalat) masih luas, maka ia harus memperhatikannya, sehingga ia tidak membuangnya di dalam masjid, melainkan ia membatalkan shalat dan membuangnya ke luar masjid, kemudian memulai kembali shalatnya; jika tidak (waktu sempit), maka ia memperhatikan shalatnya dan menyempurnakannya serta membuang najis tersebut di dalam masjid, dan wajib menghilangkannya (dari masjid) setelah shalat dengan segera; ini jika ia mampu menghilangkannya secara langsung; jika tidak, seperti ia tidak menemukan air untuk mensucikan masjid dengannya, maka ia membatalkan shalat dan membuangnya ke luar masjid. Sebagaimana yang dijelaskan oleh guru kami, Muhammad Hasabullah.

وَخَرَجَ بِـ « الْمَسْجِدِ » الرِّبَاطُ وَالْمَدْرَسَةُ وَمُلْكُ الْغَيْرِ وَالَا دَمِيُّ الْمُحْتَرَمُ وَقَبْرُهُ وَمُلْكُ نَفْسِهِ ، وَإِنْ لَزِمَ إِفْسَادُ شَيْءٍ مِنْهُ فَيُرَاعِي فِي ذَلِكَ الصَّلَاةَ مُطْلَقًا ، وَأَمَّا الْمُصْحَفُ وَنَحْوُهُ جَوْفُ الْكَعْبَةِ فَيَنْبَغِي مُرَاعَاتُهُمَا ، وَلَوْ ضَاقَ [306] الْوَقْتُ ، وَلَوْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ جَافَّةً ؛ لِعِظَمِ حُرْمَتِهَا ؛ وَلَوِ افْتَصَدَ مَثَلًا فَخَرَجَ دَمُهُ وَلَمْ يُلَوِّثْ بَشَرَتَهُ ، أَوْ لَوَّثَهَا قَلِيْلًا ، لَمْ يَضُرَّ .

Dikecualikan dengan kata "Masjid" adalah ribath, madrasah, milik orang lain, manusia yang dimuliakan beserta kuburnya, dan milik sendiri, meskipun berakibat rusaknya sesuatu darinya, maka ia lebih memperhatikan shalatnya secara mutlak. Adapun mushaf dan sejenisnya serta bagian dalam Ka'bah, maka seyogyanya memperhatikan keduanya (jangan dinajiskan), meskipun waktu sempit. [306] (Meskipun) waktu sempit, dan walaupun najisnya kering; karena besarnya kehormatan (mushaf/Ka'bah). Dan seandainya seseorang melakukan fashdu (bekam/buang darah) misalnya, lalu darahnya keluar namun tidak mengotori kulitnya, atau mengotorinya sedikit saja, maka hal itu tidak membahayakan (tidak batal).

وَثَالِثُهَا : أَنْكِشَافُ الْعَوْرَةِ ، أَيْ : كُلَّهَا أَوْ بَعْضِهَا مِمَّا يَجِبُ سَتْرُهُ لِأَجْلِ الصَّلَاةِ

Ketiga: Terbukanya aurat, yaitu semuanya atau sebagiannya dari bagian yang wajib ditutup demi kepentingan shalat.

إِنْ لَمْ تُسْتَرْ حَالاً ، وَإِنْ صَلَّى فِي الْخَلْوَةِ ، فَإِنْ كَشَفَهَا رِيْحٌ فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ إِنْ سَتَرَهَا حَالًا ، أَيْ : قَبْلَ مُضِيّ أَقَلَّ الطُّمَأْنِيَّنَةِ ؛ نَعَمْ لَوْ تَكَرَّرَ كَشْفُ الرِّيْحِ وَتَوَالَى ، بِحَيْثُ يَحْتَاجُ فِي السَّتْرِ إِلَى حَرَكَاتٍ كَثِيرَةٍ مُتَوَالِيَةٍ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِذَلِكَ ، لِأَنَّهُ نَادِرٌ ، كَمَا لَوْ دَفَعَ الْمَارَّ بِفِعْلٍ كَثِيْرٍ

Jika tidak ditutup seketika, meskipun ia shalat di tempat yang sepi. Maka jika angin membukanya, tidaklah batal shalatnya jika ia menutupnya seketika, yaitu sebelum berlalu kadar minimal thumaninah. Benar, seandainya angin berulang kali membukanya dan terjadi berturut-turut, sekiranya ia membutuhkan gerakan yang banyak dan berturut-turut untuk menutupnya, maka batal shalatnya dengan hal tersebut, karena hal itu jarang terjadi; sebagaimana jika ia menolak orang yang lewat dengan gerakan yang banyak.

وَخَرَجَ بِـ « الرِّيحِ » غَيْرُهُ ، وَلَوْ بَهِيمَةٌ ، كَقِرْدٍ أَوْ آدَمِيٌّ ، سَوَاءٌ كَانَ مُمَيَّرًا أَمْ مَأْذُوْنَا لَهُ أَمْ لَا ، فَيَضُرُّ كَشْفُهُ وَإِنْ سَتَرَهَا حَالًا ، وَكَذَا لَوْ كَشَفَهَا سَهْوًا إِنْ لَمْ يَسْتُرْهَا حَالًا ، وَإِلَّا لَمْ يَضُرَّ .

Dikecualikan dengan "angin" adalah selainnya, meskipun binatang seperti kera atau manusia, baik ia orang yang sudah tamyiz, orang yang diizinkan (masuk), atau tidak, maka terbukanya aurat oleh mereka berakibat batalnya shalat walaupun ia menutupnya seketika. Begitu pula jika ia membukanya karena lupa jika tidak segera menutupnya seketika, namun jika segera maka tidak membahayakan.

وَإِذَا صَلَّتْ أَمَةٌ وَرَأْسُهَا مَكْشُوْفٌ وَعُتِقَتْ فِي الصَّلَاةِ ، فَإِنْ لَمْ تَسْتُرُ فَوْرًا بِلَا أَفْعَالٍ كَثِيرَةٍ بَطَلَتْ صَلَاتُهَا ، وَإِلَّا فَلَا بُطْلَانَ

Apabila seorang budak perempuan shalat dengan kepala terbuka lalu ia dimerdekakan di tengah shalat, maka jika ia tidak menutupnya (kepala) seketika tanpa melakukan gerakan yang banyak, maka batal shalatnya; jika tidak (segera menutup tanpa banyak gerak), maka tidak batal.

وَيُلْغَزُ بِمَسْأَلَةِ الأَمَةِ فَيُقَالُ لَنَا : شَخْصُ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِكَلَامِ غَيْرِهِ ، وَذَلِكَ فِيْمَا إِذَا كَانَتْ أُمَّ وَلَدٍ وَمَاتَ سَيِّدُهَا بِبَلَدٍ أُخْرَى وَلَمْ تَعْلَمْ بِمَوْتِهِ إِلَّا بَعْدَ مُدَّةٍ وَهِيَ تُصَلِّي مَكْشُوْفَةَ الرَّأْسِ مَثَلًا

Dibuatlah teka-teki dari masalah budak perempuan ini, maka dikatakan kepada kita: Seseorang yang batal shalatnya karena perkataan orang lain, hal itu terjadi dalam keadaan jika ia adalah Ummu Walad (budak yang melahirkan anak majikannya) dan majikannya meninggal di negeri lain, sedangkan ia tidak mengetahui kematiannya kecuali setelah beberapa lama padahal ia sedang shalat dengan kepala terbuka misalnya.

وَرَابِعُهَا : النُّطْقُ بِحَرْفَيْنِ ، أَيْ : مُتَوَالِيَيْنِ ، وَإِنْ لَمْ يُفْهِمَا ، كَعَنْ وَمِنْ ، أَوْ كَانَا مِنْ آيَةٍ نُسْخَتْ تِلَاوَتُهَا ، أَوْ مِنْ مُتَعَلَّقَاتِ الْقُرْآنِ الْمَحْذُوْفَةِ ، [307] وَإِنْ قَصَدَ أَنَّهَا مُتَعَلِّقُ اللَّفْظِ ، أَوْ كَانَا لِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ ، كَقَوْلِهِ لإِمَامِهِ : قُمْ ؛ أَوْ كَانَا فِي تَنَحْنُجِ وَنَحْوِهِ ، كَضَحِكَ ، وَبُكَاءِ وَلَوْ مِنْ خَوْفِ الْآخِرَةِ ، وَأَنِيْنٍ وَلَوْ مِنْ شِدَّةِ مَرَضٌ ، وَنَفْخِ بِأَنْفٍ أَوْ فَمٍ وَسُعَالٍ وَعُطَاسِ ، فَالْبُطْلَانُ فِيهَا مِنْ جِهَةِ الْكَلَامِ ، وَلَوْ غَلَبَةُ الضَّحِكُ لَّمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ إِلَّا إِنْ كَثُرَ ، فَيُغْتَفَرُ الْيَسِيرُ لِلْغَلَبَةِ

Keempat: Mengucapkan dua huruf, yaitu yang berturut-turut, meskipun tidak memberikan pemahaman (arti), seperti kata 'An dan Min, atau kedua huruf itu berasal dari ayat yang telah di-nasakh tilawahnya, atau termasuk dalam kaitan-kaitan Al-Qur'an yang dibuang, [307] Sekalipun ia bermaksud bahwa keduanya (dua huruf tersebut) adalah kaitan lafaz, atau keduanya demi kemaslahatan shalat, seperti ucapannya kepada imamnya: "Berdirilah!" (Qum); atau keduanya terdapat dalam dehaman (tanahnuh) dan sejenisnya, seperti tertawa, menangis—meskipun karena takut akan akhirat—merintih—meskipun karena sakit yang sangat—tiupan dengan hidung atau mulut, batuk, dan bersin. Maka batalnya shalat dalam hal-hal tersebut adalah dari sisi bicara. Sekiranya ia tidak kuasa menahan tawa, maka shalatnya tidak batal kecuali jika tawanya banyak, maka dimaafkan yang sedikit karena faktor tidak kuasa menahan (ghalabah).

وَخَرَجَ بِـ الضَّحِكِ ) التَّبَسُمُ ، فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهِ ؛ نَعَمْ يَجُوزُ التَّنَحْنُحُ لِصَّائِمِ لِإِخْرَاجِ نُخَامَةٍ تُب|طِلُ صَوْمَهُ ، وَلِلْمُفْطِرِ أَيْضًا لِإِخْرَاجِ نُخَامَةٍ تُبْطِلُ صَلَاتَهُ إِذَا لَمْ يُمْكِنْهُ إِخْرَاجُهَا إِلَّا بِهِ ؛ وَلَوْ تَنَحْنَحَ إِمَامُهُ فَبَانَ مِنْهُ حَرْفَانِ لَمْ تَجِبْ مُفَارَقَتُهُ ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ تَحَرُّزُهُ عَنِ الْمُبْطِلِ ، إِلَّا إِنْ دَلَّتْ قَرِينَةُ حَالٍ عَلَى عَدَمٍ عُذْرِهِ ، فَتَجِبُ مُفَارَقَتُهُ

Dikecualikan dari (tertawa) adalah tersenyum, maka shalat tidak batal karenanya. Benar, diperbolehkan berdeham bagi orang yang berpuasa untuk mengeluarkan dahak yang dapat membatalkan puasanya, dan bagi orang yang tidak berpuasa juga (boleh berdeham) untuk mengeluarkan dahak yang dapat membatalkan shalatnya jika ia tidak mungkin mengeluarkannya kecuali dengan cara tersebut. Seandainya imamnya berdeham lalu nampak darinya dua huruf, maka tidak wajib mufaraqah (memisahkan diri dari jemaah), karena secara lahiriah ia (imam) menjaga diri dari hal yang membatalkan, kecuali jika terdapat tanda (qarinah) keadaan yang menunjukkan ketiadaan uzurnya, maka barulah wajib mufaraqah.

وَلَوِ ابْتُلِيَ شَخْصٌ بِنَحْوِ سُعَالٍ دَائِمٍ بِحَيْثُ لَمْ يَخْلُ زَمَنْ مِنَ الْوَقْتِ يَسَعُ الصَّلَاةَ بِلَا سُعَالٍ مُبْطِلٍ ، فَالَّذِي يَظْهەرُ الْعَفْرُ عَنْهُ ، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ لَوْ شُفِيَ .

Dan seandainya seseorang diuji dengan sejenis batuk yang terus-menerus sekiranya tidak ada waktu yang luang untuk melakukan shalat tanpa batuk yang membatalkan, maka yang jelas adalah dimaafkan darinya, dan tidak ada qadha baginya jika ia sembuh.

أَوْ حَرْفٍ مُفْهِم ، كَقِ ، وَعِ ، وَفِ ، وَشِ ؛ فَهَذا كُلُّهُ مُفْهِمْ ، لِأَنَّ قِ فِعْلُ أَمْرٍ مِنَ الْوَقَايَةِ بِكَسْرِ الْوَاوِ وَفَتْحِهَا ، يُقَالُ : قِ نَفْسَكَ مِنَ الْهَلَاكِ ، أي : صُنْهَا وَتَبَاعَدْ مِنْهُ ؛ وَعِ مِنَ الْوَعْيِ ، يُقَالُ : عِ الْحَدِيثَ ، أَيْ : احْفَظْهُ وَتَدَبَّرْهُ ؛ وَفِ مِنَ الْوَفَاءِ ، يُقَالُ : فِي الْوَعْدَ ، وَشِ مِنَ الْوَشْيِ ، كَالْوَعْدِ ؛ يُقَالُ : شِ كِتَابَ الْفِقْهِ ، أَيْ : أَكْتُبُهُ ، أَوْ يُقَالُ : شِ فِي [308] كَلَامِكَ ، أَيْ : أَكْذِبُ فِيْهِ ، أَوْ يُقَالُ : شِ بِهَذَا الْأَمْرِ عِنْدَ السُّلْطَانِ ، أَيْ : أَسْعَ بِهِ ؛ وَمِثْلُ ذَلِكَ حَرْفٌ مَمْدُودٌ وَإِنْ لَمْ يُفْهِمْ ، إِذِ الْمَدَّةُ أَلِفٌ أَوْ وَاوْ أَوْ يَاءٌ ، فَالْمَمْدُوْدُ فِي الْحَقِيقَةِ حَرْفَانِ

Atau satu huruf yang memberikan pemahaman, seperti Qi (jagalah), 'I (sadarilah/hafallah), Fi (tepatilah), dan Syi (ukirlah/tulislah). Maka ini semua memberikan pemahaman, karena Qi adalah fi'il amar dari kata al-wiqayah dengan kasrah pada hukum wawu atau fathahnya, dikatakan: Qi nafsaka minal halak, artinya: jagalah ia dan menjauhlah darinya; 'I berasal dari al-wa'yu, dikatakan: 'Il haditsa, artinya: hafallah ia dan renungkanlah; Fi berasal dari al-wafa', dikatakan: Fil wa'da (tepatilah janji); dan Syi berasal dari al-wasy-yu, seperti janji; dikatakan: Syi kitabalfiqh, artinya: tulislah ia, atau dikatakan: Syi fii... [308] (Atau dikatakan: Sya) dalam bicaramu, artinya: aku berbohong di dalamnya; atau dikatakan: Syi (laporkanlah) perkara ini kepada penguasa, artinya: usahakanlah (pengaduan) dengannya. Contoh yang semisal dengan itu adalah satu huruf yang dibaca panjang (mamdud) meskipun tidak memberikan pemahaman, karena mad (panjang) itu adalah alif, wawu, atau ya, maka huruf yang dibaca panjang pada hakikatnya adalah dua huruf.

ثُمَّ قَيَّدَ الْمُصَنِّفُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ : عَمْدًا ، أَيْ : حَالَ كَوْنِ النَّاطِقِ عَامِدًا ، وَلَوْ كَانَ مُكْرَهًا مَعَ الْعِلْمِ بِالتَّحْرِيمِ وَتَذَكَّرَ كَوْنَهُ فِي الصَّلَاةِ ، أَمَّا مَعَ عَدَمِ الْعَمْدِ بِأَنْ سَبَقَ إِلَيْهِ لِسَانُهُ ، أَوْ مَعَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِالتَّحْرِيمِ ، أَوْ مَعَ النِّسْيَانِ أَنَّهُ فِي الصَّلَاةِ ، فَإِنْ كَانَ مَا أَتَى بِهِ كَلَامًا قَلِيْلًا عُرْفًا وَضُبِطَ بِسِتٌ كَلِمَاتٍ عُرْفِيَّةٍ فَأَقَلَّ لَمْ يَضُرَّ ، فَإِنْ كَانَ فِي صُوْرَةِ عَدَمِ الْعِلْمِ بِالتَّحْرِيمِ ، قَرِيْبَ عَهْدِ بالإسْلامِ ، أَيْ : قَرِيْبَ عِلْمٍ بِهِ ، أَوْ نَشَأَ بَعِيْدًا عَنِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَيَكُوْنُ جَاهِلًا مَعْدُوْرًا ، بِخِلَافِ مَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ بِتَقْصِيْرِهِ بِتَرْكِ التَّعَلُّمِ ، فَيَكُوْنُ غَيْرَ مَعْذُورٍ ، وَإِنْ كَانَ كَثِيْرًا عُرْفًا ، وَضُبِطَ بِأَكْثَرِ مِنْ سِتُّ كَلِمَاتٍ عُرْفِيَّةٍ ؛ ضَرَّ ، لِأَنَّهُ يَقْطَعُ نَظْمَ الصَّلَاةِ ، وَلِأَنَّ سَبْقَ اللِّسَانِ وَالنِّسْيَانَ فِي الْكَثِيرِ نَادِرُ

Kemudian Mushannif membatasi hal tersebut dengan perkataannya: "dengan sengaja", artinya: dalam keadaan orang yang mengucapkannya itu sengaja, meskipun ia dipaksa namun ia tahu akan keharamannya dan ingat bahwa ia sedang dalam shalat. Adapun jika tidak sengaja seperti lisannya terpeleset (keceplosan), atau karena tidak tahu akan keharamannya, atau karena lupa bahwa ia sedang shalat, maka jika yang diucapkannya itu adalah perkataan yang sedikit menurut urf—dan dibatasi dengan MK enam kata urfiyah atau kurang—maka hal itu tidak membahayakan (tidak batal). Jika dalam kondisi tidak tahu keharamannya itu (misalnya) karena baru masuk Islam, atau tumbuh besar jauh dari para ulama, maka ia menjadi orang bodoh yang diberi uzur. Berbeda dengan orang yang tidak demikian karena keteledorannya meninggalkan belajar, maka ia tidak diberi uzur, meskipun perkataannya banyak menurut urf—dan dibatasi lebih dari enam kata urfiyah—maka hal itu membahayakan (batal), karena memutus aturan shalat, dan karena terpeleset lisan serta lupa dalam jumlah yang banyak itu jarang terjadi.

وَالْمُرَادُ بِـ « الْعُلَمَاءِ » هُنَا : الْعَالِمُوْنَ بِهَذَا الْحُكْمِ الْمَجْهُوْلِ

Yang dimaksud dengan "para ulama" di sini adalah orang-orang yang mengetahui hukum yang tidak diketahui ini.

وَالْمُرَادُ بِـ « الْبَعِيدِ » : أَنْ يَكُوْنَ بِحَيْثُ لَوْ سَعَى لِلتَّعَلُّمِ لَشَقَّ عَلَيْهِ ذَلِكَ مَشَقَّةٌ شَدِيدَةٌ ، كَخَوْفٍ ، أَوْ عَدَمِ زَادٍ ، أَوْ ضَيَاعِ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ وَلَوْ دُوْنَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ ؛ وَإِلَّا لَزِمَهُ السَّفَرُ إِلَيْهِمْ لِتَعَلُّمِ الْمَسَائِلِ الظَّاهِرَةِ دُونَ الْخَفِيَّةِ ؛ وَيُعْذَرُ فِي إِجَابَةِ نَبِيِّنَا بِالْقَوْلِ ، فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ [309] بِهَا ، وَمِثْلُهُ الْفِعْلُ ، فَلَا تَبْطُلُ بِإِجَابَتِهِ بِالْفِعْلِ ، وَإِنِ اسْتَدْبَرَ الْقِبْلَةَ ، وَإِذَا أَنْتَهَى غَرَضُ النَّبِيِّ ﷺ أَتَمَّ الصَّلَاةَ فِيْمَا وَصَلَ إِلَيْهِ ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَعُوْدَ إِلَى مَكَانِهِ الأَوَّلِ حَيْثُ لَزِمَ عَلَى ذَلِكَ أَفْعَالُ مُتَوَالِيَةٌ مَا لَمْ يَأْمُرْهُ النَّبِيُّ ﷺ بِالْعَوْدِ فِيْهِ ، وَيَنْبَغِي أنْ تَكُوْنَ إِجَابَتُهُ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ وَإِلَّا بَطَلَت| ؛ أَمَّا غَيْرُهُ مِنْ بَقِيَّةِ الأَنْبِيَاءِ ، كَعِيسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، فَتَجِبُ إِجَابَتُهُ وَتَبْطُلُ بِهَا الصَّلَاةُ ؛ وَمِثْلُ الأَنْبِيَاءِ الْمَلَائِكَةُ ، وَتَحْرُمُ إِجَابَةُ الْوَالِدَيْنِ فِي الْفَرْضِ وَتَجُوْزُ فِي النَّفْلِ ، وَهِيَ أَفْضَلُ مِنْهُ إِنْ شَقَّ عَلَيْهِمَا عَدَمُهَا ، وَتَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهَا مُطْلَقًا

Yang dimaksud dengan "jauh" adalah sekiranya jika ia berusaha untuk belajar maka hal itu akan sangat memberatkannya dengan kesulitan yang sangat, seperti adanya rasa takut, atau ketiadaan bekal, atau terlantarnya orang-orang yang wajib ia nafkahi, atau sejenisnya meskipun jaraknya kurang dari jarak qashar (shalat). Jika tidak demikian, maka wajib baginya melakukan perjalanan menuju para ulama untuk mempelajari masalah-masalah yang jelas (zhahirah) bukan yang samar (khafiyyah). Dan diberikan uzur dalam menjawab (panggilan) Nabi kita dengan ucapan, maka tidak batal shalatnya... [309] Dengan sebab ucapan tersebut, dan semisal dengannya adalah perbuatan, maka shalat tidak batal dengan menjawab (panggilan) Nabi dengan perbuatan meskipun sampai membelakangi kiblat. Apabila tujuan Nabi ﷺ telah selesai, maka ia menyempurnakan shalatnya di tempat ia sampai, dan tidak diperbolehkan baginya kembali ke tempat semula sekiranya hal itu mengharuskan perbuatan yang berturut-turut, selama Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk kembali ke sana. Dan seyogyanya jawaban tersebut sebatas kadar hajat saja, jika tidak (melebihi hajat) maka batal. Adapun selain beliau dari sisa para Nabi, seperti Isa 'alaihish shalatu was salam, maka wajib menjawabnya namun shalat menjadi batal karenanya; dan semisal para Nabi adalah para Malaikat. Dan haram menjawab (panggilan) kedua orang tua dalam shalat fardu, namun boleh dalam shalat sunnah, bahkan hal itu lebih utama darinya (shalat sunnah) jika ketiadaan jawaban tersebut memberatkan keduanya, dan shalat menjadi batal dengan jawaban tersebut secara mutlak.

وَخَرَجَ بِـ « النُّطْقِ الْمُبْطِلِ » الذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ ، فَلَا تَبْطُلُ بِهِمَا الصَّلَاةُ إِلَّا أَنْ يُخَاطِبَ بِهِمَا غَيْرَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ ، كَقَوْلِهِ لِعَاطِسٍ أَوْ لِمَيْت : « يَرْحَمُكَ اللَّهُ » ؛ بِخِلَافِ : ( يَرْحَمُهُ اللَّهُ » فَلَا تَبْطُلُ ، لِانْتِفَاءِ الْخِطَابِ ؛ أَمَّا إِذَا خَاطَبَ اللَّهَ أَوْ نَبِيًّا ، كَقَوْلِهِ : « السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ » فَلَا تَبْطُلُ ، لَكِنْ بِشَرْطِ تَضَمُّنِهِمَا ثَنَاءٌ عَلَيْهِ كَمَا ذُكِرَ ، بِخِلَافِ نَحْوِ : « صَدَقْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ » ؛ وَبِشَرْطِ عَدَمِ التَّعْلِيقِ

Dikecualikan dari "ucapan yang membatalkan" adalah zikir dan doa, maka shalat tidak batal dengan keduanya kecuali jika ia menyapa/mengajak bicara dengannya kepada selain Allah dan Rasul-Nya, seperti ucapannya kepada orang yang bersin atau kepada mayit: "Yarhamukallah" (Semoga Allah merahmatimu); berbeda dengan: "Yarhamuhullah" (Semoga Allah merahmatinya), maka tidak batal karena hilangnya unsur khitab (sapaan langsung). Adapun jika ia menyapa Allah atau seorang Nabi, seperti ucapannya: "Assalamu 'alaika ya Rasulullah", maka tidak batal, namun dengan syarat keduanya mengandung pujian atas-Nya sebagaimana yang telah disebutkan, berbeda dengan sejenis: "Sadaqta ya Rasulullah" (Engkau benar wahai Rasulullah); dan dengan syarat tidak adanya ta'liq (penggantungan/persyaratan).

وَيُسَنُّ لِمَنْ عَطَسَ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ وَيُسْمِعَ نَفْسَهُ

Disunnahkan bagi orang yang bersin untuk memuji Allah (mengucap Alhamdulillah) and memperdengarkannya pada dirinya sendiri.

وَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِسُكُوْتٍ طَوِيْلٍ ، وَلَوْ بِلَا عُذْرٍ .

Shalat tidak batal dengan diam yang lama, meskipun tanpa uzur.

وَسُنَّ لِرَجُلٍ تَسْبِيحٌ ، وَلِغَيْرِهِ تَصْفِيقٌ بِضَرْبِ بَطْنِ كَفَّ أَوْ ظَهْرِهَا عَلَى ظَهْرِ كَفَّ أُخْرَى ، أوْ يَضْرِبَ ظَهْرَ كَفَّ عَلَى بَطْنِ أُخْرَى ، لَا بِضَرْبِ بَطْنٍ [310] عَلَى بَطْنٍ ؛ إِذَا أَصَابَهُمَا شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِمَا ، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الشَّيْءُ مَنْدُوْبًا ، كَتَنْبِيْهِ إِمَامِهِمَا عِنْدَ سَهْوِهِ ، أَوْ مُبَاحًا ، كَإِذْنِهِمَا لِمُسْتَأ|ذِنٍ ، أَوْ وَاجِبًا ، كَإِنْدَارِ أَعْمَىٰ أَوْ غَافِلٍ مُمَيِّرٍ مِنْ وُقُوْعِهِ فِي مَحْذُورٍ .

Disunnahkan bagi laki-laki untuk membaca tasbih, dan bagi selainnya (wanita/khunsa) untuk melakukan tepukan (tashfiq) dengan cara memukulkan bagian dalam telapak tangan atau bagian luarnya ke bagian luar telapak tangan yang lain, atau memukulkan bagian luar telapak tangan ke bagian dalam (telapak tangan) yang lain, bukan dengan memukulkan bagian dalam... [310] (Bukan dengan memukulkan bagian dalam telapak tangan) ke bagian dalam telapak tangan lainnya; apabila terjadi sesuatu pada mereka dalam shalatnya, baik sesuatu itu bersifat sunnah—seperti mengingatkan imam saat ia lupa—atau mubah—seperti memberi izin kepada orang yang meminta izin—atau wajib—seperti memperingatkan orang buta atau orang lalai yang sudah tamyiz agar tidak jatuh ke dalam bahaya.

وَيُعْتَبَرُ فِي التَّسْبِيحِ أَنْ يَقْصُدَ بِهِ الذِّكْرَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الإِعْلَامِ ، فَإِنْ أَطْلَقَ أَوْ قَصَدَ الإِعْلَامَ فَقَطْ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ وَلَا يَضُرُّ فِي التَّصْفِيقِ قَصْدُ الإِعْلَامِ ، فَإِنْ لَمْ يَحْصُلِ الْإِنْذَارُ إِلَّا بِالْكَلَامِ أَوْ بِالْفِعْلِ الْمُبْطِلِ وَجَبَ ، وَتَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهِ

Dalam hal tasbih (bagi laki-laki), disyaratkan harus bermaksud zikir saja atau zikir sekaligus memberi tahu (i'lam). Jika ia memutlakkan (tanpa maksud) atau hanya bermaksud memberi tahu saja, maka shalatnya batal. Adapun dalam hal tepukan tangan (tashfiq), tidaklah membahayakan (tidak membatalkan) jika bermaksud memberi tahu. Apabila peringatan tidak berhasil kecuali dengan ucapan atau perbuatan yang membatalkan, maka hal itu wajib dilakukan dan shalatnya menjadi batal.

وَخَامِسُهَا : بِالْمُفَطَّرِ ، أَيْ : لِلصَّائِمِ ، عَمْدًا ؛ لِتَلَاعُبِهِ ؛ وَالْمُفَطَّرُ ، بِفَتْحِ الْفَاءِ وَكَسْرِ الطَّاءِ مَعَ تَشْدِيدِهِ ، مَعْنَاهُ : الْمُفْسِدُ عَلَى الصَّائِمِ صَوْمَهُ ، كَأَنْ أَدْخَلَ عُوْدًا أَوْ نَحْوَهُ وَإِنْ قَلَّ فِي فَمِهِ أَوْ أُذُنِهِ أَوْ دُبُرِهِ إِنْ وَصَلَ لِجَوْفِهِ ، وَلَوْ بِلَا حَرَكَةِ فَمِهِ ، لِأَنَّ الْحَرَكَةَ وَحْدَهَا فِعْلٌ يُبْطِلُ كَثِيرُهُ

Perkara kelima: Dengan sesuatu yang membatalkan puasa (mufaththir), maksudnya bagi orang yang berpuasa, secara sengaja; karena hal itu menunjukkan sikap bermain-main. Kata mufaththir dengan fathah pada huruf fa' dan kasrah pada tha' yang bertasydid, maknanya adalah: segala hal yang merusak puasa bagi orang yang berpuasa, seperti memasukkan kayu atau sejenisnya meskipun sedikit ke dalam mulut, telinga, atau dubur jika sampai masuk ke rongga dalam (jouf), meskipun tanpa adanya gerakan mulut. Karena gerakan itu sendiri merupakan perbuatan yang jika dilakukan banyak dapat membatalkan.

وَالْحَاصِلُ أَنَّ كُلَّ مَا أَبْطَلَ الصَّوْمَ أَبْطَلَ الصَّلَاةَ إِلَّا الأَكْلَ الْكَثِيرَ سَهْوًا ، فَيُبْطِلُهَا دُوْنَهُ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ لَهَا هَيْئَةٌ مُذَكِّرَةً ، فَكَانَ التَّقْصِيرُ فِيهَا أَشَدُّ بِخِلَافِهَا ، وَأَنَّهَا ذَاتُ أَفْعَالٍ مَنْظُوْمَةٍ ، وَالْفِعْلُ الْكَثِيرُ يَقْطَعُ نَظْمَهَا بِخِلَافِهِ ، فَإِنَّهُ كَفْ عَنْ نَحْوِ الطَّعَامِ .

Kesimpulannya adalah setiap hal yang membatalkan puasa maka membatalkan shalat, kecuali makan yang banyak karena lupa, maka hal itu membatalkan shalat namun tidak (membatalkan) puasa. Perbedaannya adalah shalat memiliki bentuk/postur yang mengingatkan (seseorang bahwa ia sedang ibadah), sehingga keteledoran di dalamnya lebih berat (hukumnya) dibandingkan puasa. Dan shalat terdiri dari perbuatan-perbuatan yang teratur, sedangkan perbuatan yang banyak dapat memutus keteraturan tersebut, berbeda dengan puasa yang merupakan tindakan menahan diri dari hal-hal seperti makanan.

وَسَادِسُهَا بِـ الأُكْلِ الْكَثِيْرِ نَاسِيًا ، أَيْ : لِلصَّلَاةِ ، وَجَاهِلًا مَعْذُوْرًا ، بِأَنْ قَرُبَ عِلْمُهُ بِالإِسْلَامِ ، أَوْ نَشَأَ بَعِيْدًا عَنِ الْعُلَمَاءِ ، أَوْ مُكْرَهَا ، أَمَّا إِذَا أَكَلَ قَلِيلًا ، نَاسِيًا لِلصَّلَاةِ ، أَوْ جَاهِلًا تَحْرِيمَ ذَلِكَ ، فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ ؛ [311] بِخِلَافِ الْمُكْرَهِ ، فَتَبْطُلُ صَلَاتُهُ لِنُدْرَةِ الْإِكْرَاءِ فِيْهَا قَوْلُهُ : « الأَكْلُ » ، قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَالْأُكْلُ بِضَمَّتَيْنِ وَإِسْكَانُ الثَّانِي لِلتَّخْفِيفِ : الْمَأْكُوْلُ

Perkara keenam: Dengan makan yang banyak karena lupa, maksudnya lupa sedang shalat, atau bodoh yang diberi uzur—seperti baru masuk Islam atau tumbuh jauh dari ulama—atau karena dipaksa. Adapun jika ia makan sedikit dalam keadaan lupa sedang shalat atau bodoh akan keharamannya, maka shalatnya tidak batal. [311] Berbeda dengan orang yang dipaksa (untuk makan), maka shalatnya batal karena jarangnya terjadi pemaksaan dalam shalat. Perkataan Mushannif: "Al-Aklu" (makan), berkata dalam kitab Al-Misbah: Al-ukulu dengan dua dammah, atau sukun pada huruf kedua untuk meringankan (takhfif), artinya adalah: makanan yang dimakan.

[١] قَوْلُهُ : «بِالْحَدَثِ» أَيْ خُرُوجِ النَّجَسِ مِنَ السَّبِيلَيْنِ أَوْ غَيْرِهِمَا عَلَى الْوَجْهِ الْمَعْرُوفِ فِي بَابِهِ.
[1] Perkataan Mushannif: "Dengan sebab hadas" artinya keluarnya najis dari dua jalan (qubul/dubur) atau selain keduanya berdasarkan ketentuan yang makruf dalam babnya.

Mufrodat Pilihan

  • الْخِصْلَةُ (Al-Khishlah): Macam / Jenis / Sifat.
  • رَعَفَ (Ra'afa): Mimisan (keluar darah dari hidung).
  • تَنَحْنُجِ (Tanahnuh): Berdeham / Batuk buatan.
  • مُفْهِم (Mufhim): Yang memberi pemahaman / arti.

Catatan Murid Basmol

Garis bawah penting kata Mu'allim Syafi'i Hadzami: Shalat punya hai'ah mudzakkiroh (postur yang ngingetin). Jadi kalo kita latah ngomong atau makan banyak pas shalat, keterlaluan bener namanya, mangkanya hukumnya ketat banget dibandingin puasa yang kaga keliatan bentuk ibadahnya.

Syarh Nyablak ala Abi Ahmad Thoufur (Klik di sini buat buka)

Dengerin nih Jemaah... Ane mau jabarin biar otak kita kaga spaneng. Di kitab ini disebutin kalo bedanya mufsid sama mubthil itu urusan waktu tong. Kalo mufsid itu barang baru dateng pas shalat udah jalan (kayak kentut pas rakaat kedua). Tapi kalo mubthil, dari awal emang bikin kagak sah (kayak shalat belom wudhu).

Trus ada taktik cakep nih dari ulama: Kalo Ente kentut pas lagi shalat berjamaah, sunnah hukumnya megang hidung sambil ngibrit keluar shaf. Pura-pura mimisan, Tong! Biar apa? Biar Ente kaga nanggung malu, dan orang lain kagak ghibahin Ente yang bisa bikin mereka dapet dosa. Tuh, urusan malu aja diatur rapi bener dalam syariat!

Takhrij Hadis Angin (Kentut):
Hadis "Idza fasa ahadukum..." diriwayatin secara valid oleh Imam At-Tirmidzi (No. 1164, 1166), Abu Dawud (No. 205, 1005), dan Ad-Darimi (No. 1141). Ini jadi landasan hukum mutlak kalo hadas membatalkan shalat secara otomatis tanpa mandang sengaja atau kagak.
Studi Kasus: Teka-Teki Budak Ummu Walad
Di naskah ada teka-teki fiqih unik: "Seseorang batal shalatnya gara-gara omongan orang lain." Nah loh, kok bisa? Kejadiannya begini: Ada budak perempuan (Ummu Walad) lagi shalat kagak pake jilbab (karena budak auratnya beda). Pas lagi shalat, ada orang dateng ngasih tau kalo majikannya udah meninggal di kampung sebelah sejak beberapa waktu lalu. Begitu denger kabar itu, otomatis dia langsung berstatus merdeka (karena status Ummu Walad merdeka sejak majikan wafat). Begitu merdeka, detik itu juga kepalanya wajib ditutup karena auratnya berubah jadi aurat wanita merdeka. Kalo dia kagak buru-buru nutup, bubar langsung shalatnya!
⚠️ Bahaya Laten: Keceplosan Berdeham & Ngomong Satu Huruf!
Hati-hati nih Jemaah yang demen batuk-batuk buatan atau berdeham pas shalat (tanahnuh). Kalo dari dehaman Ente keluar bunyi dua huruf yang jelas, atau Ente ngomong satu huruf tapi punya arti jelas kayak "Qi" (artinya: jagalah!), shalat Ente bisa langsung divonis BATAL! Kecuali kalo emang Ente kena penyakit batuk yang kagak bisa ditahan sama sekali (ghalabah), baru dimaafkan. Jangan maen-maen ama ucapan di dalem shalat!
=============== ```html

كاشفة السجا في شرح سفينة النجا

Kasyifatus Saja — Kajian Kitab Abi Ahmad Thoufur

Pembahasan
Perkara 7-10 Pembatal Shalat
Kaidah Nahwu-Shorof
Jamak Alif & Ta' / Sifat Jamak
Nadzom Fiqih
Alfiyah & Nazhom Ibnu 'Imad
Halaman Kitab
312 - 316

Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA

Assalamu'alaikum wr. wb. Dengerin nih, Jemaah! Ketemu lagi ama Ane, Abi Ahmad Thoufur. Kita gaspol lagi ngaji Kitab Kasyifatus Saja, lanjutin urusan perkara-perkara yang bisa bikin shalat kita amburadul alias batal. Kali ini pembahasannya makin detail, mulai dari masalah gerak-gerik badan yang kegatelan, urusan nahwu shorof kalimat jamak yang musti pas harokatnya, sampe urusan becandaan bocah pe’ak yang demen nginjek sarung temennya pas sujud. Jangan sampe dah ibadah cape-cape kagak dapet pahala gara-gara perkara sepele begini. Makanya, pasang kuping baek-baek, pantengin urat-per-urat naskahnya, biar kagak ada tadlis di antara kita. Yuk, mari kita kepet bareng-bareng!

Naskah Matan & Syarah Verbatim (Plek-Ketiplek)

وَسَابِعُهَا : بِـ ثَلَاثِ حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ ، أَيْ : يَقِيْنَا ، وَلَوْ بِأَعْضَاءِ مُتَعَدِّدَةٍ ، كَأَنْ حَرَّكَ رَأْسَهُ وَيَدَيْهِ ، وَذَهَابُ الرِّجْلِ وَعَوْدُهَا يُعَدُّ مَرَّتَيْنِ مُطْلَقاً ، سَوَاءٌ حَصَلَ اتِّصَالُ أَمْ لَا ، بِخِلَافِ ذَهَابِ الْيَدِ وَعَوْدِهَا عَلَى الاتِّصَالِ ، فَإِنَّهُ يُعَدُّ مَرَّةً وَاحِدَةً ، وَكَذَا رَفْعُهَا ثُمَّ وَضْعُهَا وَلَوْ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا ، وَأَمَّا رَفْعُ الرِّجْلِ فَإِنَّهُ يُعَدُّ مَرَّةٌ ، وَوَضْعُهَا وَلَوْ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا مَرَّةً ؛ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْيَدِ وَالرِّجْلِ أَنَّ الرِّجْلَ عَادَتُهَا السُّكُوْنُ بِخِلَافِ الْيَدِ .

Perkara ketujuh: Dengan tiga gerakan yang berturut-turut, maksudnya secara yakin, meskipun dengan anggota tubuh yang berbeda-beda, seperti ia menggerakkan kepala dan kedua tangannya. Gerakan kaki melangkah pergi dan kembali dihitung dua kali secara mutlak, baik dilakukan secara bersambung atau tidak. Berbeda dengan gerakan tangan pergi dan kembali secara bersambung, maka dihitung satu kali; begitu pula mengangkat tangan kemudian meletakkannya meskipun tidak di tempat semula (dihitung satu kali). Adapun mengangkat kaki dihitung satu kali, dan meletakkannya—meskipun tidak di tempat semula—dihitung satu kali lagi. Perbedaan antara tangan dan kaki adalah bahwa kaki kebiasaannya diam, berbeda dengan tangan.

وَلَوْ سَهْوًا ، أَيْ : سَوَاءٌ كَانَ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا ، لِتَلَاعُبِهِ ، مَعَ أَنَّهُ لَا مَشَقَّةَ فِي الاحْتِرَازِ عَنْهُ أَمَّا الْحَرَكَةُ الْقَلِيْلَة... كَحَرَكَتَيْنِ ، فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهَا ، سَوَاءٌ كَانَ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا ، مَا لَمْ يَقْصِدْ بِهَا اللَّعِبَ ، فَإِنْ قَصَدَ بِهَا ذَلِكَ ، كَأَنْ أَقَامَ أُصْبُعَهُ الْوُسْطَى فِي صَلَاتِهِ لِشَخْصِ لَاعِبًا مَعَهُ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ ؛ وَمِنْهُ مَا يَقَعُ لِأَهْلِ الرُّعُوْنَةِ مِنْ مَدَّ رِجْلِهِ لِيَضَعَهَا عَلَى ذَيْلِ صَاحِبِهِ بِقَصْدِ اللَّعِبِ لِيَمْنَعَهُ مِنَ الْقِيَامِ مِنَ السُّجُودِ... فَتَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِمُجَرَّدِ مَدٌ رِجْلِهِ .

Meskipun karena lupa, maksudnya baik dilakukan secara sengaja maupun lupa (tetap batal), karena hal itu dianggap main-main, padahal tidak ada kesulitan untuk menjaganya. Adapun gerakan yang sedikit, seperti dua gerakan, maka tidak membatalkan shalat, baik sengaja maupun lupa, selama tidak bermaksud main-main (la'ib). Jika ia bermaksud main-main, seperti mengangkat jari tengahnya dalam shalat kepada seseorang untuk bercanda dengannya, maka batal shalatnya. Termasuk di antaranya apa yang dilakukan orang-orang bodoh/ceroboh yang menjulurkan kakinya untuk menginjak ujung pakaian temannya dengan maksud bercanda agar temannya tidak bisa bangun dari sujud, maka batal shalatnya seketika saat ia menjulurkan kakinya.

وَكَثِيرُ الْفِعْلِ كَثَلَاثِ حَرَكَاتٍ إِذَا كَانَ لِشِدَّةِ جَرَبٍ ، بِأَنْ لَا يَقْدِرَ مَعَهُ عَلَى عَدَمِ الْحَقِّ ، أَوْ كَانَ خَفِيفًا ، كَتَحْرِيْكِ أَصَابِعِهِ فِي سُبْحَةٍ أَوْ حَلٍّ أَوْ عَقْدٍ مَعَ قَرَارِ كَفِّهِ لَا يُبْطِلُ الصَّلَاة... إِذَا كَانَ بِلَا قَصْدِ لَعِبٍ ، وَكَتَحْرِيكِ أَصَابِعِهِ تَحْرِيْكُ أَجْفَانِهِ أَوْ شَفَتِهِ أَوْ أُذُنِهِ أَوْ ذَكَرِهِ ، أَوْ أَخْرَجَ لِسَانَهُ

Perbuatan yang banyak seperti tiga gerakan (dimaafkan) jika karena gatal yang sangat sekiranya ia tidak mampu menahan diri untuk tidak menggaruk, atau gerakan tersebut adalah gerakan ringan seperti menggerakkan jari-jari pada tasbih atau melepas... (Atau) melepas ikatan/simpul beserta tetapnya telapak tangan (tidak bergerak pindah), maka tidak membatalkan shalat jika dilakukan tanpa maksud main-main. Dan seperti menggerakkan jari-jari adalah menggerakkan kelopak mata, atau bibir, atau telinga, atau kemaluan, atau menjulurkan lidah.

وَلَوْ نَوَى ثَلَاثَةَ أَفْعَالٍ وِلَاءٌ وَفَعَلَ وَاحِدًا مِنْهَا ضَرَّ ، لِأَنَّهُ قَصَدَ الْمُبْطِلَ وَشَرَعَ فِيْهِ ، كَمَا لَوْ شَرَعَ فِي ثَلَاثَةِ أَفْعَالٍ وِلَاءٌ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ

Seandainya ia berniat melakukan tiga perbuatan secara berturut-turut, lalu ia baru melakukan satu darinya, maka hal itu membahayakan (batal), karena ia telah bermaksud melakukan hal yang membatalkan dan telah memulainya; sebagaimana halnya jika ia memulai melakukan tiga perbuatan berturut-turut tanpa adanya niat (terlebih dahulu).

وَلَوْ حَمَلَ شَخْصٌ مُصَلَّيًا وَمَشَى بِهِ ثَلَاثَ خَطَوَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاةُ الْمَحْمُوْلِ ، لِأَنَّ الْخَطَوَاتِ لَا تُنْسَبُ لَهُ ، لَكِنْ إِنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ أَرْكَانِهَا حَالَ حَمْلِهِ لَمْ يُحْسَبُ لَهُ ، حَيْثُ لَمْ يُمْكِنُهُ إِثْمَامُهُ حِينَئِذٍ

Seandainya seseorang menggendong orang yang sedang shalat lalu membawanya berjalan tiga langkah yang berturut-turut, maka shalat orang yang digendong tersebut tidak batal, karena langkah-langkah itu tidak dinisbatkan kepadanya. Namun, jika ia melakukan sesuatu dari rukun-rukun shalat saat digendong, maka hal itu tidak dianggap bagi bagi dirinya, sekiranya ia tidak mungkin menyempurnakannya pada saat itu.

تَنْبِيَّةٌ : قَوْلُهُ : « حَرَكَاتٌ » ، هُوَ بِفَتْحِ عَيْنِ الْفِعْلِ ، وَهُوَ الرَّاءُ ، لَيْسَ غَيْرُهَا ، لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ أَنَّ مَا جُمِعَ بِالأَلِفِ وَالنَّاءِ سَوَاءٌ كَانَ مُخْتَتَمًا بِالنَّاءِ ، كَجَفْنَةٍ وَسِدْرَةٍ وَغُرْفَةٍ ، أَوْ مُجَرَّدًا عَنْهَا ، كَدَعْدٍ وَهِنْدٍ وَجُمَّلٍ تَتْبَعُ عَيْنُهُ فَاءَهُ فِي الْحَرَكَةِ مُطْلَقًا

Peringatan: Perkataan Mushannif: "harakaat" (حَرَكَات), huruf 'ain fi'il-nya yaitu 'Ra' dibaca fathah, tidak boleh yang lain. Karena kaidahnya adalah: setiap kata yang dijamakkan dengan alif dan ta', baik yang diakhiri ta' (marbutah) seperti jafnah, sidrah, dan ghurfah, atau yang sepi darinya (ta') seperti da'dun, hindun, dan jummalun, maka 'ain fi'il-nya mengikuti harakat fa' fi'il-nya secara mutlak.

لَكِنْ بِشُرُوطٍ سِتَّةٍ : الأَوَّلُ : أَنْ لَا يَكُوْنَ مُعْتَلًا وَلَا مُضَعَّفًا ، وَأَنْ يَكُوْنَ ثُلاثِيًّا ، وَأَسْمًا ، وَسَاكِنَ الْعَيْنِ وَمُؤَنَّثًا ؛ فَتَقُوْلُ فِي جَمْعِهَا جَفَنَاتٌ بِفَتْحِ الْجِيْمِ وَالْفَاءِ ، كَسَجَدَاتٍ ، وَسِدِرَاتٍ بِكَسْرِ السِّيْنِ وَالدَّالِ ، وَغُرُفَاتٍ بِضَمِّ الْغَيْنِ وَالرَّاءِ ، وَدَعَدَاتٍ بِفَتْحِ الدَّالِ وَالْعَيْنِ ، وَهِنِدَاتٍ بِكَسْرِ الْهَاءِ وَالنُّوْنِ ، وَجُمُلَاتٍ بِضَمِّ الْجِيْمِ وَالْمِيْمِ

Namun dengan enam syarat: Pertama, bukan huruf mu'tal (berpenyakit/lemah), tidak mudha'af (dobel/tasydid), harus terdiri dari tiga huruf (tsulatsi), berupa isim (bukan sifat), sukun 'ain fi'il-nya, dan muannas. Maka engkau mengucapkan dalam jamaknya: jafanaat dengan fathah pada jim dan fa', seperti sajadaat, dan sidiraat dengan kasrah pada sin dan dal, serta ghurufaat dengan dammah pada ghain dan ra', dan da'adaat dengan fathah pada dal dan 'ain, serta hinidaat dengan kasrah pada ha' dan nun, serta jumulaat dengan dammah pada jim dan mim.

وَيَجُوْزُ فِي عَيْنِ الْفِعْلِ بَعْدَ الضَّمَةِ وَالْكَسْرَةِ التَّسْكِينُ وَالْفَتْحُ كَغُرْفَاتٍ وَهِنْدَاتٍ وَلَا يَجُوزُ ذَلِكَ بَعْدَ الْفَتْحَةِ... بَلْ يَجِبُ الاتِّبَاعُ كَرَكَعَاتٍ ، فَإِنَّهُ يَجِبُ فَتْحُ الْكَافِ لِاِتِّبَاعِهِ فَاءَ الْفِعْلِ وَهُوَ الرَّاءُ

Dan diperbolehkan pada 'ain fi'il setelah harakat dammah dan kasrah untuk dibaca sukun atau fathah, seperti ghurufaat (bisa ghurfaat) dan hinidaat (bisa hindaat). Namun hal itu tidak diperbolehkan setelah harakat fathah, melainkan wajib mengikuti (it-tiba'), seperti rak'aat, maka wajib mem-fathah-kan huruf Kaf karena mengikuti fa' fi'il-nya, yaitu huruf Ra'.

قَالَ ابْنُ مَالِكِ فِي « الْخُلَاصَةِ » [ من الرجز ] :
٧٨٦ - وَالسَّالِمَ الْعَيْنِ الثَّلَاثِيَّ اسْمًا أَنِلْ * إِتْبَاعَ عَيْنٍ فَاءَهُ بِمَا شُكِلْ
۷۸۷ - إِنْ سَاكِنَ الْعَيْنِ مُؤَنَّثًا بَدَا * مُخْتَتَمًا بِالنَّاءِ أَوْ مُجَرَّدَا
۷۸۸ - وَسَكَّنِ ...الثَّالِيَ غَيْرَ الْفَتْحِ أَوْ * خَفِّفَهُ بِالْفَتْحِ فَكُلَّا قَدْ رَوَوْا

Ibnu Malik berkata dalam kitab Al-Khulashah (Alfiyah) [Bahar Rajaz]:
786. Berikanlah pada (isim) yang selamat 'ain-nya, yang tsulatsi (tiga huruf), lagi berupa isim; akan (hukum) mengikuti 'ain fi'il terhadap fa' fi'il-nya pada harakat yang telah dibentuk.
787. Jika ia (isim tersebut) nampak dalam keadaan sukun 'ain fi'il-nya, muannas, baik yang diakhiri dengan Ta' (marbutah) maupun yang sepi darinya.
788. Dan sukunkanlah huruf kedua (setelah fa' fi'il) pada selain harakat fathah, atau ringankanlah ia dengan fathah; maka semuanya itu (para ulama) telah meriwayatkannya.

قَوْلُهُ : ( وَالسَّالِمَ » مَفْعُوْلٌ أَوَّلُ بِـ « أَنِلْ » ، وَ الْعَيْنُ » مُضَافُ إِلَيْهِ ، وَالثَّلَاثِيَّ ) نَعْتٌ لِلسَّالِمِ عِنْدَ الصَّبَّانِ ، وَبَدَلٌ مِنْهُ عِنْدَ الشَّيْخِ خَالِدٍ ، وَ أَسْمَا » حَالٌ مِنَ الثَّلَاثِيّ » ، وَ إِتْبَاعَ ( مَفْعُوْلٍ ثَانٍ لِـ « أَنِلْ » ، وَهُوَ مَصْدَرٌ مُضَافٌ لِمَفْعُوْلِهِ الأَوَّلِ ، وَ فَاءَهُ » مَفْعُولُهُ الثَّانِي وَ شُكِلْ » بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُوْلِ بِمَعْنَى حَرَّكْ ، وَالْبَاءُ فِي « بِمَا » بِمَعْنَى فِي ، وَالْمَعْنَى : أَعْطِ الاسْمَ الثَّلَاثِيَّ السَّالِمَ الْعَيْنِ إِتْبَاعَكَ عَيْنِهِ لِفَائِهِ فِي الْحَرَكَةِ الَّتِي شُكْلَتْ بِهَا الْفَاءُ

Perkataan Ibnu Malik: (Was-saalima) adalah maf'ul bih pertama bagi fi'il anil. (Al-'ain) adalah mudhaf ilaih. (Ats-tsulatsiyya) adalah na'at bagi as-saalim menurut Imam Ash-Shabban, and merupakan badal darinya menurut Syekh Khalid. (Isman) adalah hal (keterangan keadaan) dari ats-tsulatsiyya. (Itbaa'a) adalah maf'ul bih kedua bagi anil, dan ia merupakan masdar yang dimudhafkan kepada maf'ul bih pertamanya. (Fa'ahu) adalah maf'ul bih keduanya. (Syukila) dengan bentuk majhul (pasif) bermakna: diharakatkan. Huruf Ba' pada kata (bimaa) bermakna fii (pada). Maknanya adalah: Berikanlah isim tsulatsi yang selamat 'ain fi'il-nya itu hukum mengikuti 'ain fi'il-nya terhadap fa' fi'il-nya dalam hal harakat yang telah dibentuk pada fa' fi'il tersebut.

قَوْلُهُ : ( إِنَّ ) حَرْفُ شَرْطٍ ، وَ سَاكَنَ الْعَيْنِ مُؤَنَّثًا » حَالَانِ مِنْ فَاعِلِ بَدَا » الْعَائِدِ عَلَى « أَسْمِ » ، وَ مُخْتَتَمًا » حَالٌ ثَالِثَةٌ وَقَوْلُهُ : « وَسَكِّنْ » فِعْلُ أَمْرٍ ، وَ التَّالِيَ » مَفْعُولُهُ ، وَ غَيْرُ الْفَتْحِ بِالنَّصْبِ عَلَى الْمَفْعُوْلِيَّةِ ، أَوِ الْجَرِّ عَلَى الإِضَافَةِ . وَقَوْلُهُ : ( فَكُلًّا » مَفْعُوْلٌ مُقَدَّمُ بِـ ( رَوَوْا )

Perkatannya: (In) adalah huruf syarat. (Saakinall 'aini mu-annatsan) keduanya adalah hal dari fa'il (subjek) kata badaa yang kembali kepada kata ismun. (Mukhtataman) adalah hal ketiga. Dan perkataannya: (Wa sakkin) adalah fi'il amar. (At-taaliya) adalah maf'ul bih-nya. (Ghoiral fat-hi) dibaca nasab karena menjadi maf'ul bih, atau dibaca jar karena idhafah. Dan perkataannya: (fakullan) adalah maf'ul bih yang didahulukan bagi fi'il rawau.

تَنْبِيهُ : قَوْلُهُ : ( مُتَوَالِيَاتٍ » إِنَّمَا جَمَعَهَا الْمُصَنِّفُ لِكَوْنِهَا صِفَةَ الْحَرَكَاتِ ، وَهِيَ جَمْعٌ أَيْضًا ، لِيُطَابِقَ الصَّفَةَ عَلَى الْمَوْصُوْفِ ، وَهُوَ الأَفْصَحُ ، لِأَنَّ « حَرَكَاتِ » جَمْعُ قِلَّةٍ بِنَاءٌ عَلَى مَذْهَبِ سِيبَوَيْهِ أَنَّ جَمْعَيْ السَّلَامَةِ لِلْقِلَّةِ، وَالْأَفْصَحُ فِي جَمْعِ الْقِلَّةِ مِنْ جُمُوْعِ مَا لَا يَعْقِلُ ، وَفِي جَمْعِ الْعَاقِلِ مُطْلَقًا لِمُطَابَقَةِ نَحْوِ : الأَجْذَاعُ انْكَسَرَتْ وَمُنْكَسِرَاتٌ ، وَالْهِنْدَاتُ وَالْهُنُودُ انْطَلَقْنَ وَمُنْطَلِقَاتٌ ، وَالأَفْصَحُ فِي جَمْعِ الْكَثْرَةِ مِمَّا لَا يَعْقِلُ الإِفْرَادُ ، نَحْوُ : الْجُذُوعُ انْكَسَرَتْ وَمُنْكَسِرَةٌ ؛ قَالَ الْأَسْقَاطِيُّ من الرجز :
فِي جَمْعِ قِلَّةٍ لِمَا لَا يَعْقِلُ * تَطَابُقُ الْوَصْفِ لَدَيْهِمْ أَمْثَلُ
وَمُطَابِقُ الْجَمْعِ لِذِي عَقْلٍ كَذَا * وَغَيْرُهُ فِي كَثْرَةٍ بِعَكْسِ ذَا

Peringatan: Perkataan Mushannif: "mutawaliyaatin" (berturut-turut). Mushannif menjadikannya dalam bentuk jamak karena ia merupakan sifat bagi kata al-harakaat yang juga berbentuk jamak, agar terjadi kesesuaian antara sifat dan yang disifati (maushuf), yaitu... (Kesesuaian sifat dan maushuf tersebut) adalah yang paling fasih, karena kata "harakaat" adalah jamak qillah berdasarkan mazhab Sibawayh bahwa dua macam jamak salamat (muannas & mudzakkar) itu untuk menunjukkan jumlah sedikit (qillah). Dan yang paling fasih dalam jamak qillah untuk benda yang tidak berakal (ma la ya'qil), serta dalam jamak bagi yang berakal (al-'aqil) secara mutlak, adalah adanya kesesuaian (antara sifat dan yang disifati). Contohnya: al-ajdza'u inkasarat wa munkasiraat (batang-batang pohon itu patah), dan al-hindatu wal hunudu inthalaqna wa munthaliqaat (Hindun-hindun dan orang-orang India itu telah pergi). Adapun yang paling fasih dalam jamak katsrah (jumlah banyak) bagi benda tidak berakal adalah bentuk mufrad (tunggal), contohnya: al-judzu'u inkasarat wa munkasirah. Al-Asqathi berkata dalam bahar rajaz:
Dalam jamak qillah bagi yang tidak berakal, kesesuaian sifat menurut mereka adalah yang lebih utama.
Begitu juga kesesuaian jamak bagi yang berakal; namun selainnya (tidak berakal) dalam jamak katsrah adalah sebaliknya (mufrad).

وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ : « أَمْثَلُ » ، أَيْ : أَفْضَلُ وَأَتْبَعُ لِلْقَاعِدَةِ ؛ وَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ : « بِعَكْسِ ذَا » ، هُوَ عَدَمُ التَّطَابُقِ ، وَهُوَ الإِفْرَادُ ، وَالْمُرَادُ بِالْوَصْفِ الْوَصْفُ الْمَعْنَوِيُّ ، فَدَخَلَ الْخَبَرُ ، وَالضَّمِيرُ فِي « غَيْرِهِ » عَائِدٌ عَلَى « ذِي عَقْلٍ ) وَ فِي كَثْرَةٍ » ، أَيْ : جَمْعِ كَثْرَةٍ ، أَنْتَهَى

Yang dimaksud dengan perkataannya "amtsal" adalah lebih utama dan lebih mengikuti kaidah. Yang dimaksud dengan perkataannya "bi'aksi dza" (kebalikan dari itu) adalah tidak adanya kesesuaian, yaitu menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Dan yang dimaksud dengan sifat di sini adalah sifat secara maknawi, sehingga mencakup khabar (predikat). Adapun dhamir (kata ganti) pada kata "ghairihi" kembali kepada "dzi 'aqlin" (yang berakal), dan kata "fii katsratin" maksudnya adalah jamak katsrah. Selesai (kutipan).

وَثَامِنُهَا : الْوَثْبَةُ الْفَاحِشَةُ ، أَيْ : بِالنَّطَّةِ الَّتِي تُجَاوِزُ الْحَدَّ ، وَكَذَا تَحْرِيْكُ كُلِّ الْبَدَنِ أَوْ أَكْثَرِهِ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ نَقْلِ قَدَمَيْهِ قَوْلُهُ : « الْوَثْبَةُ » بِفَتْحِ الْوَاوِ ، لِأَنَّهُ لِلْمَرَّةِ ؛ وَإِنَّمَا بَطَلَتِ الصَّلَاةُ بِذَلِكَ ، لِأَنَّهُ يَقْطَعُ نَظْمَهَا كَالْفِعْلِ الْكَثِيْرِ . قَالَهُ السُّوَيْفِيُّ نَقْلًا عَنِ الشَّوْبَرِيِّ .

Perkara kedelapan: Lompatan yang parah (al-wathbah al-fahisyah), maksudnya dengan loncatan yang melampaui batas. Begitu juga menggerakkan seluruh tubuh atau sebagian besarnya, meskipun tanpa memindahkan kedua kakinya. Perkataan Mushannif: "al-wathbah" dengan fathah pada huruf wawu, karena menunjukkan arti satu kali kejadian. Sesungguhnya shalat menjadi batal dengan sebab itu karena hal tersebut memutuskan keteraturan shalat sebagaimana halnya perbuatan yang banyak. Hal ini dikatakan oleh As-Suwaifi dengan mengutip dari Asy-Syaupari.

قَوْلُهُ : « الْفَاحِشَةُ » ، لَا حَاجَةَ إِلَيْهِ ، لِأَنَّ الْوَثْبَةَ لَا تَكُوْنُ إِلَّا فَاحِشَةً ، إِلَّا أَنْ يُقَالَ : إِنَّ الْفَاحِشَةَ كَالصِّفَةِ الْكَاشِفَةِ لِلإِشَارَةِ إِلَى أَنَّ كُلَّ مَا فَحُشَ ، كَتَحْرِيكِ جَمِيعِ بَدَنِهِ ، حُكْمُهُ حُكْمُ الْوَثْبَةِ . وَتَاسِعُهَا : بِـ الضَّرْبَةِ الْمُفْرِطَةِ ، بِسُكُوْنِ الْفَاءِ ، وَهُوَ : اسْمُ فَاعِلٍ مِنْ أَفْرَطَ ، أَيْ : مُجَاوَزَةُ الْحَدِّ . قَوْلُهُ : الضَّرْبَة... بِفَتْحِ الضَّادِ ، لِلْمَرَّةِ

Perkataan Mushannif: "al-fahisyah" (yang parah/buruk), sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena lompatan (wathbah) itu tidaklah terjadi kecuali pasti parah. Kecuali jika dikatakan bahwa kata "al-fahisyah" tersebut berfungsi sebagai sifat kasyifah (penjelas) untuk mengisyaratkan bahwa setiap hal yang dianggap parah/melampaui batas... Seperti menggerakkan seluruh tubuhnya, maka hukumnya adalah hukum lompatan (al-watsbah). Perkara kesembilan: Dengan pukulan yang berlebihan (adh-dharbah al-mufrithah), dengan sukun pada huruf Fa', yaitu isim fa'il dari kata afratha, maknanya: melampaui batas. Perkataan Mushannif: Adh-dharbah dengan fathah pada huruf Dhad, menunjukkan arti satu kali kejadian.

وَعَاشِرُهَا : بِـ زِيَادَةِ رُكْنٍ فِعْلِيٌّ عَمْدًا ، وَإِنْ لَمْ يَطْمَئِنَّ ، لِتَلَاعُبِهِ ، نَعَمُ الْقُعُوْدُ ، وَهُوَ قَدْرُ الطَّمَأْنِيْنَةِ لَا مَا زَادَ عَلَيْهَا ، كَأَنْ جَلَسَ بَعْدَ قِيَامٍ ثُمَّ سَجَدَ ، لَا يُفْسِدُ الصَّلَاةَ ، لِأَنَّهُ مَعْهُودٌ فِي الصَّلَاةِ فِي جَلْسَةِ اسْتِرَاحَةِ ؛ وَكَذَا لَوْ جَلَسَ عَنْ سُجُودِ تِلَاوَةٍ لِلاسْتِرَاحَةِ قَبْلَ قِيَامِهِ ، وَمِثْلُ الْجُلُوسِ الانْحِنَاءُ إِلَى حَدَّ الرَّاكِعِ مِنْ قُعُوْدٍ لِيَتَوَرَّكَ فِي أَثْنَاءِ التَّشَهُدِ الْأَخِيْرِ ، أوْ لِيَفْتَرِشَ فِي الْأَوَّلِ . أَفَادَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

Perkara kesepuluh: Dengan menambah rukun fi'li secara sengaja, meskipun tanpa thuma'ninah, karena hal itu dianggap main-main. Benar, duduk seukuran thuma'ninah—bukan yang melebihi itu—seperti seseorang duduk setelah berdiri kemudian sujud (kembali), hal itu tidak merusak shalat karena hal itu dikenal dalam shalat sebagai duduk istirahat (jalsah istirahah). Begitu juga jika ia duduk setelah sujud tilawah untuk istirahat sebelum ia berdiri. Semisal dengan duduk adalah membungkuk sampai batas ruku' dari posisi duduk untuk melakukan tawarruk di tengah tasyahud akhir, atau untuk melakukan iftirasy pada tasyahud awal. Hal ini disampaikan oleh Syekh Asy-Syarqawi.

قَوْلُهُ : « فِعْلِيٌّ » قَيْدٌ أَوَّلُ ، وَقَوْلُهُ « عَمْدًا » قَيْدٌ ثَانٍ ؛ وَيُزَادُ عَلَى ذَلِكَ قَيْدٌ ثَالِثُ ، وَهُوَ : أَنْ لَا يَكُوْنَ خَفِيفًا عُهِدَ فِي الصَّلَاةِ ؛ وَقَيْدٌ رَابِعٌ ، وَهُوَ : أَنْ يَكُوْنَ عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ ؛ وَقَيْدٌ خَامِسٌ وَسَادِسُ ، وَهُمَا : كَوْنُ الزَّيَادَةِ لِغَيْرِ الْمُتَابَعَةِ وَلِغَيْرِ عُذْرٍ .

Perkataan Mushannif: "Fi'li" adalah syarat pertama. Perkataannya: "secara sengaja" ('amdan) adalah syarat kedua. Ditambahkan atas hal tersebut syarat ketiga: yaitu bukan merupakan gerakan ringan yang sudah dikenal dalam shalat. Syarat keempat: yaitu ia mengetahui akan keharamannya. Syarat kelima dan keenam: yaitu penambahan tersebut bukan karena mengikuti imam (mutaba'ah) dan bukan karena ada uzur.

فَخَرَجَ بِكَوْنِهِ : « لِغَيْرِ الْمُتَابَعَةِ » مَا إِذَا كَانَ لَهَا ، كَأَنْ رَكَعَ أَوْ سَجَدَ قَبْلَ إِمَامِهِ ثُمَّ عَادَ إِلَيْهِ ، أَوْ رَفَعَ مِنْ رُكُوْعِهِ فَأَقْتَدَىٰ بِمَنْ لَمْ يَرْكَعْ ثُمَّ رَكَعَ مَعَهُ ، لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ بِذَلِكَ لِتَأَكُدِ الْمُتَابَعَةِ ؛ وَخَرَجَ بِكَوْنِهِ : « لِغَيْرِ عُذْرٍ » مَا لَوْ رَفَعَ مِنْ سُجُوْدِهِ إِلَى حَدَّ الرَّاكِعِ فَزَعًا مِنْ شَيْءٍ ، وَمَا لَوْ هَوَى مِنْ قِيَامِهِ إِلَى ذَلِكَ الْحَدِّ لِقَتْلِ نَحْوِ حَيَّةٍ ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ

Maka dikecualikan dari "bukan karena mengikuti imam" adalah jika penambahan itu demi mutaba'ah, seperti ia ruku' atau sujud mendahului imamnya lalu ia kembali (ke posisi semula) untuk mengikuti imam, atau ia bangkit dari ruku'nya lalu ia bermakmum kepada orang yang belum ruku' kemudian ia ruku' bersamanya, maka shalatnya tidak batal karena kuatnya perintah mengikuti imam. Dikecualikan dari "bukan karena ada uzur" adalah jika ia bangkit dari sujudnya sampai batas ruku' karena kaget oleh sesuatu, atau ia turun dari berdirinya sampai batas tersebut untuk membunuh sejenis ular, maka sesungguhnya hal itu tidak membahayakan.

وَلَا يَضُرُّ دَفْعُهَا بِفِعْلٍ كَثِيرٍ لَوْ صَالَتْ عَلَيْهِ وَتَوَقَّفَ دَفَعُهَا عَلَى ذَلِكَ ؛ وَمَا لَوْ قَتَلَ نَحْوَ قَمْلَةٍ وَإِنْ أَصَابَهُ قَلِيْلٌ مِنْ دَمِهَا حَيْثُ لَمْ يَحْمِلْ أَوْ يَمَسَّ جِلْدَهَا وَهِيَ مَيْتَةٌ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

Dan tidak membahayakan (tidak membatalkan) menolak hewan tersebut dengan gerakan yang banyak jika ia menyerang, dan penolakannya memang bergantung pada gerakan itu. Begitu juga jika seseorang membunuh sejenis kutu, meskipun ia terkena sedikit darahnya, asalkan ia tidak membawa atau menyentuh kulit kutu tersebut dalam keadaan sudah mati. Hal ini disampaikan oleh Asy-Syarqawi.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ عِمَادِ الدِّيْنِ فِي مَنْظُومَتِهِ ، مِنْ بَحْرِ الْبَسِيْطِ :
۱۷ - وَدَمُ قَمْلٍ كَذَا الْبُرْغُوْثِ مِنْهُ عَفَوْا * عَنِ الْقَلِيْلِ وَلَمْ يُسْمَحْ بِجِلْدَتِهِ
۱۸ - فَإِنَّهَا نَجُسَتْ بِالْمَوْتِ مَا عَذَرُوا * مِنْ حَمْلِهَا نَاسِكًا صَلَّى بِصُحْبَتِهِ
قَوْلُهُ : « الْبُرْغُوثِ » ، بِضَمِّ الْبَاءِ ، وَقَوْلُهُ : « عَفَوْا » ، أَيْ : أَصْحَابُ الْمَذْهَبِ ؛ وَقَوْلُهُ : « عَنِ الْقَلِيْلِ » ، أَيْ : مُطْلَقًا ، وَلَوْ أَصَابَهُ بِفِعْلِهِ ، لِأَنَّهُ مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَشُقُّ الاحْتِرَازُ عَنْهُ ؛ وَقَوْلُهُ : « نَاسِكًا » ، أَيْ : عَابِدًا ، مَفْعُوْلُ ( عَذَرُوا » ؛ وَقَوْلُهُ : « بِصُحْبَتِهِ » ، أَيْ : بِمُصَاحَبَةِ الْجِلْدِ حَالَ صَلَاتِهِ ، فَلَا تَصِمُّ ، لِأَنَّهَا نَجَاسَةٌ غَيْرُ مَعْفُوٌّ عَنْهَا لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي التَّحَرُّزِ عَنْهَا . هَكَذَا قَالَ شِهَابُ الدِّيْنِ الرَّمْلِيُّ فِي الشَّرْحِ عَلَيْهَا

Ahmad bin 'Imaduddin berkata dalam nazhomnya (Bahar Basith):
17. Darah kutu demikian pula kutu loncat (burghuts), mereka (ulama) memaafkan yang jumlahnya sedikit, namun kulitnya tidak ditoleransi.
18. Sebab kulitnya menjadi najis karena mati; mereka tidak memberi uzur bagi ahli ibadah yang membawanya saat sedang shalat.
Perkataan beliau: (al-burghuts) dengan dhommah pada huruf Ba'. Perkataannya: ('afaw) maksudnya adalah para Ashabul Madzhab. Perkataannya: ('anil qaliil) maksudnya secara mutlak, meskipun ia mengenainya karena perbuatannya sendiri; sebab hal itu termasuk perkara yang umum menimpa (ta'ammu bihil balwa) dan sulit untuk menghindarinya. Perkataannya: (naasikan) maksudnya orang yang beribadah, sebagai maf'ul dari ('adzaru). Perkataannya: (bishuhbatihi) maksudnya dibersamai kulit tersebut saat shalat; maka shalatnya tidak sah karena itu adalah najis yang tidak dimaafkan sebab tidak ada kesulitan (masyaqqah) untuk menghindarinya. Demikianlah yang dikatakan oleh Syihabuddin Ar-Ramli dalam syarah atas nazhom tersebut.

Catatan Kaki (Footnote Dua Susun)

[١] قَوْلُهُ: (بِثَلَاثِ حَرَكَاتٍ) خَرَجَ بِهِ الْحَرَكَتَانِ فَلَا تَبْطُلُ بِهِمَا الصَّلَاةُ إِلَّا إِذَا قَصَدَ اللَّعِبَ. [٢] قَوْلُهُ: (الْوَصْفُ لَدَيْهِمْ أَمْثَلُ) أَيْ أَفْضَلُ لِمُطَابَقَةِ اللَّفْظِ فِي جَمْعِ الْقِلَّةِ لِمَا لَا يَعْقِلُ عِنْدَ جُمْهُورِ النُّحَاةِ.

[1] Perkataan Mushannif: "Dengan tiga gerakan" mengecualikan dua gerakan, maka shalat tidak batal dengan keduanya kecuali jika bertujuan main-main. [2] Perkataan Al-Asqathi: "Kesesuaian sifat menurut mereka adalah yang lebih utama" maksudnya lebih afdol demi mencocoki lafadz pada jamak qillah bagi benda tidak berakal menurut mayoritas ulama pakar ilmu Nahwu.

Tabel Kamus Mufrodat Kitab

Lafadz Kitab Arti Harfiah
الْوَثْبَةُ الْفَاحِشَةُ Lompatan yang keterlaluan
أَهْلِ الرُّعُوْنَةِ Orang ceroboh / pe'ak
الضَّرْبَةُ الْمُفْرِطَةُ Pukulan yang melampaui batas
جَمْعُ قِلَّةٍ Jamak penunjuk jumlah sedikit

Catatan Penting Murid Basmol

  • Kaki ama tangan beda hukum hitungan gerakannya. Kaki bawaannya diem, jadi maju-mundur dihitung 2 kali gerakan ganti posisi.
  • Niat doang mau gerak 3 kali berturut-turut terus baru gerak sekali, itu udah bikin shalat batal karena dianggap mutus tekad ibadah.
  • Lafadz حَرَكَاتٌ wajib dibaca fathah huruf Ra-nya (it-tiba' fa' fi'il) sesuai kaidah jamak muannas salim dari isim tsulatsi sahih yang sukun 'ain-nya.
▶ KLIK DI SINI: Syarh Nyablak & Bedah Kasus Kontemporer Abi Ahmad Thoufur

Dengerin nih Jemaah... Ane bedah ini kitab urat-per-urat biar Ente pada kaga salah paham. Perkara gerakan banyak (tiga kali berturut-turut) itu emang mutlak batalin shalat, mau Ente sengaja atau lupa. Kenapa? Karena shalat itu sakral, kaga boleh dibuat main-main (talā'ub). Tapi inget, gerakan jari jemari doang kayak mainin tasbih atau ngucek kemaluan yang gatel tanpa ngegerakin telapak tangan, itu dimaafkan selama Ente kaga niat ngelawak atau becanda di dalem shalat.

[KOTAK TAKHRIJ ULAMA SHAFIIYYAH]
Imam Syafiiyyah sepakat bahwa batasan gerakan banyak yang membatalkan shalat adalah tiga gerakan yang berturut-turut secara yakin, di mana jarak antar gerakan tidak dipisahkan oleh waktu sekadar satu rakaat. Gerakan ringan seperti kelopak mata, bibir, dan jari jemari (dengan pergelangan tangan diam) dikecualikan dari hitungan pembatal shalat ini.
[KOTAK KASUS NYATA KONTEMPORER]
Zaman sekarang banyak bocah—bahkan orang tua pe'ak—yang pas shalat jamaah malah iseng nyengkat kaki temennya atau nginjek ujung sarung/mukena temennya biar pas bangun dari sujud keserimpet. Ini namanya Ahlur Ru'ūnah (orang ceroboh/bodoh). Hukumnya? Shalat orang yang nginjek sarung temennya itu batal seketika begitu dia julurin kakinya buat becanda, kaga usah nunggu sampe gerakan ketiga!
[KOTAK BAHAYA LATEN NYATA]
Hati-hati urusan ngebunuh kutu kupret, bangsat, atau kutu loncat (burghūts) pas lagi shalat. Darahnya emang dimaafkan kalau dikit, tapi kulit bangkai kutu itu najis mukhaffafah/mutawassithah yang kagak ada uzur kalau Ente bawa (kantongin/nempel di baju) pas shalat! Kalau Ente penyet itu kutu sampe mati terus kulitnya nempel di jempol, shalat Ente kaga sah gara-gara bawa najis yang sebenernya gampang dihindari. Jangan sepelein!
====================== ```html

KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA

Abi Ahmad Thoufur
Digitalisasi Naskah Verbatim • Bagian Muqaddimah & Bab Pembatal Shalat (Lanjutan)

Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA

Sikat terus Gem! Kaga pake kendor! Dengerin nih, Ane beberin lagi kelanjutan urusan shalat yang krusial banget. Urusan makmum ngeduluin imam (at-taqaddum) ama ketinggalan (at-takhal-luf) emang sering bikin jamaah pada keder. Kadang kaki ama pala duluan nonggeng dibanding imam, lah pan kaga sah begitu! Belon lagi masalah niat yang mencla-mencle, ati ragu-ragu, ato mindahin niat fardhu ke sunnah pas lagi shalat sendirian gara-gara ada jamaah baru dateng. Semuanya diatur rapi, urat-per-urat, biar shalat Ente kaga zonk. Pasang kuping baek-baek, resapi fadhilah ilmunya, mantepin niatnya, jangan ampe shalat capek-capek malah batal gara-gara kaga tau ilmunya. Nyok, kita bedah naskah kitabnya plek-ketiplek!

وَحَادِي عَشَرِهَا : التَّقَدُّمُ ، أَيْ : السَّبْقُ ، عَلَى إِمَامِهِ بِرُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ ، سَوَاءٌ كَانَا طَوِيْلَيْنِ أَمْ لَا ، وَلَوْ كَانَ التَّقَدُّمُ عَلَى التَّعَاقُبِ ، بِأَنْ رَكَعَ الْمَأْمُوْمُ فَلَمَّا أَرَادَ إِمَامُهُ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ ، وَلَمَّا أَرَادَ الإِمَامُ أَنْ يَرْفَعَ سَجَدَ ؛ فَبِمُجَرَّدِ سُجُودِهِ تَبْطُلُ صَلَاتُهُ . هَكَذَا فِي « الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ » .

Perkara kesebelas: Mendahului (at-taqaddum) imam dengan dua rukun fi'li. Baik keduanya rukun panjang maupun bukan, meskipun mendahuluinya itu secara beruntun (ta'aqub). Contohnya: Makmum ruku', pas Imam mau ruku' si makmum malah bangun, pas Imam mau bangun si makmum malah sujud; maka seketika ia sujud, batal shalatnya. Demikianlah yang disebutkan dalam kitab Al-Manhajul Qawim.

قَالَ النَّوَوِيُّ وَالرَّافِعِيُّ : فَيَجُوْزُ أَنْ يُقَدَّرَ مِثْلُهُ فِي التَّخَلَّفِ ، وَيَجُوْزُ أَنْ يُخَصَّ ذَلِكَ بِالتَّقَدُّمِ ، لِأَنَّ الْمُخَالَفَةَ فِيْهِ أَفْحَشُ . أَنْتَهَى

Imam Nawawi dan Imam Rafi'i berkata: Boleh saja dianalogikan hal yang serupa dalam masalah tertinggal dari imam (at-takhal-luf), namun boleh juga hal ini dikhususkan pada masalah mendahului (at-taqaddum) saja, karena pelanggaran di dalamnya lebih parah (af-hasy). Selesai.

Halaman 317

أَمَّا تَقَدُّمُهُ بِأَقَلَّ مِنْهُمَا فَلَيْسَ مُبْطِلًا ، وَإِنْ حَرُمَ ، وَلَوْ لِبَعْضِ رُكْنٍ ، كَأَنْ رَكَعَ قَبْلَ الإِمَامِ وَلَمْ يَعْتَدِلْ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

Adapun mendahului imam dengan kurang dari dua rukun (fi'li), maka tidak membatalkan shalat meskipun hukumnya haram, walaupun hanya mendahului sebagian rukun. Contohnya seperti makmum ruku' sebelum Imam tapi belum sempat i'tidal. Hal ini dikatakan oleh Syekh Asy-Syarqawi.

لَكِنْ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي « الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ » : التَّقَدُّمُ بِبَعْضٍ رُكْنٍ كَهَذَا الْمِثَالِ مَكْرُوهُ ، أَمَّا التَّقَدُّمُ بِرُكْنٍ فِعْلِيَّ نَامٌ فَحَرَامٌ ، كَأَنْ رَكَعَ وَرَفَعَ وَالْإِمَامُ قَائِمٌ

Akan tetapi Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab Al-Manhajul Qawim: Mendahului dengan sebagian rukun seperti contoh tadi hukumnya makruh. Adapun mendahului dengan satu rukun fi'li yang sempurna maka hukumnya haram, seperti makmum sudah ruku' dan bangun lagi (i'tidal) sementara Imam masih dalam posisi berdiri.

وَالتَّخَلُّفُ بِهِمَا ، أَيْ : بِرُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ تَامَّيْنِ وَلَوْ غَيْرِ طَوِيْلَيْنِ ، كَأَنْ رَكَعَ الإِمَامُ وَاعْتَدَلَ وَهَوَى لِلسُّجُودِ وَإِنْ كَانَ إِلَى الْقِيَامِ أَقْرَبَ وَالْمَأْمُوْمُ قَائِمٌ ، أَوْ سَجَدَ الإِمَامُ السَّجْدَةَ الثَّانِيَةَ وَقَامَ وَقَرَأَ وَهَوَى لِلرُّكُوعِ وَالْمَأْمُوْمُ جَالِسٌ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ . هَكَذَا فِي « الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ » .

Dan tertinggal dengan dua rukun fi'li yang sempurna meskipun bukan rukun yang panjang. Contohnya: Imam sudah ruku', i'tidal, dan sudah turun mau sujud (meskipun posisinya masih lebih dekat ke berdiri) sementara makmum masih saja berdiri. Atau Imam sudah sujud kedua, lalu bangun berdiri dan membaca (Al-Fatihah) lalu turun mau ruku' lagi, sementara makmum masih duduk di antara dua sujud. Demikianlah yang disebutkan dalam Al-Manhajul Qawim.

بِغَيْرِ عُذْرٍ ، أَيْ : فِي ذَلِكَ التَّقَدُّمِ وَالتَّخَلَّفِ فَالْعُذْرُ فِي التَّقَدُّمِ هُوَ النِّسْيَانُ أَوِ الْجَهْلُ فَقَطْ ، فَإِنْ تَقَدَّمَ عَلَى إِمَامِهِ بِهِمَا نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ ، لَكِنْ لَا يُعْتَدُّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةِ مَا لَمْ يَعُدْ بَعْدَ التَّذَكَّرِ أَوِ التَّعَلُّمِ ، فَيَأْتِي بَعْدَ سَلَامِ إِمَامِهِ بِرَكْعَةٍ .

"Tanpa adanya udzur", maksudnya dalam masalah mendahului dan tertinggal tersebut. Udzur dalam hal mendahului imam hanyalah lupa atau tidak tahu (jahil) saja. Jika ia mendahului imam dengan dua rukun karena lupa atau tidak tahu, maka shalatnya tidak batal, akan tetapi rakaat tersebut tidak dianggap sah selama ia tidak kembali (mengulang posisi tersebut) setelah ingat atau tahu. Maka ia harus menambah satu rakaat lagi setelah salamnya imam.

وَالْعُذْرُ فِي التَّخَلُّفِ إِحْدَى عَشْرَةَ صُوْرَةٌ الأُولَى : أَنْ يَكُوْنَ بَطِيْءَ الْقِرَاءَةِ لِعَجْزِ خَلْقِي لَا لِوَسْوَسَةٍ ثَقِيْلَةٍ وَالْإِمَامُ مُعْتَدِلَهَا ، وَالْبُطْءُ الْخَلْقِيُّ هُوَ : الَّذِي لَا يُمْكِنُهُ تَرْكُهُ ، أَمَّا الْوَسْوَسَةُ الثَّقِيلَةُ فَلَيْسَت| بِعُذْرٍ ، فَلَوْ تَخَلَّفَ لِتِلْكَ الْوَسْوَسَةِ فَإِنْ أَتَمَّ الْفَاتِحَةَ قَبْلَ أَنْ يَهْوِيَ الإِمَامُ لِلسُّجُودِ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ ، وَإِلَّا لَزِمَهُ الْمُفَارَقَةُ ، وَإِلَّا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ ؛

Adapun udzur dalam hal tertinggal dari imam itu ada sebelas macam gambaran. Pertama: Karena lambat bacaannya disebabkan pembawaan lahir ('ajzin kholqiy), bukan karena was-was yang berat, sementara Imam bacaannya sedang (normal). Lambat bawaan lahir adalah kondisi yang tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkannya. Adapun was-was yang berat bukanlah udzur; maka jika ia tertinggal karena was-was itu, jika ia bisa menyelesaikan Al-Fatihah sebelum Imam turun untuk sujud, maka ia masih mendapati rakaat tersebut. Jika tidak, maka ia wajib mufaraqah (memisahkan diri dari jamaah), jika tidak dilakukan maka shalatnya batal.

Halaman 318

وَتِلْكَ الْوَسْوَسَةُ هِيَ الَّتِي مَضَى فِيْهَا زَمَنْ يَسَعُ الْقِيَامَ أَوْ مُعْظَمَهُ . وَهَذَا مَا نَقَلَهُ الشَّرْقَاوِيُّ عَنِ الْحَلَبِيِّ ، لَكِنْ نَقَلَ الشَّيْخُ عُثْمَانُ السُّوَيْفِيُّ عَنِ الْقَلْيُوْبِيَّ أَنَّهَا بِقَدَرِ مَا يَسَعُ رُكْنًا قَصِيرًا . ثُمَّ نَقَلَ السُّوَيْفِيُّ وَالشَّرْقَاوِيُّ عَنِ الْحَلَبِيِّ أَنَّهَا بِحَيْثُ يَكُوْنُ زَمَنُهَا يَسَعُ رُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ وَلَوْ طَوِيلًا وَقَصِيرًا مِنَ الْوَسَطِ الْمُعْتَدِلِ ؛ لَكِنْ ضَعَّفَهُ الشَّرْقَاوِيُّ ، وَأَمَّا الْوَسْوَسَةُ الَّتِي مَضَى فِيْهَا زَمَنْ لَا يَسَعُ ذَلِكَ فَهِيَ وَسْوَسَةٌ خَفِيفَةٌ

Dan was-was (yang berat) itu adalah yang memakan waktu seukuran masa berdiri atau sebagian besarnya. Ini adalah apa yang dikutip oleh Asy-Syarqawi dari Al-Halabi, akan tetapi Syekh Utsman As-Suwaifi mengutip dari Al-Qalyubi bahwa ukurannya adalah seukuran satu rukun pendek. Kemudian As-Suwaifi dan Asy-Syarqawi mengutip dari Al-Halabi bahwa ukurannya adalah masa yang memuat dua rukun fi'li meskipun satu panjang dan satu pendek dengan ukuran sedang; namun Asy-Syarqawi mendhaifkan (melemahkan) pendapat ini. Adapun was-was yang memakan waktu kurang dari itu, maka disebut was-was ringan.

الثَّانِيَةُ : أَنْ يَكُوْنَ عَالِمًا أَوْ شَائًا قَبْلَ رُكُوْعِهِ وَبَعْدَ رُكُوْعِ إِمَامِهِ أَنَّهُ تَرَكَ الْفَاتِحَة

Kedua: Bahwa ia yakin atau ragu sebelum ruku' dirinya sendiri—namun setelah ruku' imamnya—bahwa ia telah meninggalkan (belum membaca) Al-Fatihah.

الثَّالِثَةُ : أَنَّهُ نَسِيَ الْفَاتِحَةَ حَتَّىٰ رَكَعَ إِمَامُهُ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ

Ketiga: Bahwa ia lupa membaca Al-Fatihah hingga imamnya ruku', and ia (sadar) sebelum ia sendiri ruku'.

الرَّابِعَةُ : أَنَّهُ مُوَافِقٌ وَاشْتَغَلَ بِسُنَّةٍ ، كَدُعَاءِ افْتِتَاحٍ وَتَعَوُّدٍ ، وَكَذَا إِذَا سكت

Keempat: Bahwa ia adalah makmum muwafiq yang sibuk membaca sunnah, seperti doa iftitah dan ta'awudz, demikian pula jika ia diam saja.

الْخَامِسَةُ : أَنَّهُ انْتَظَرَ سَكْتَةَ الإِمَامِ الْمَسْنُوْنَةَ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ لِقِرَاءَتِهِ السُّوْرَةَ فَرَكَعَ عَقِبَ الْفَاتِحَةِ ، أَوْ قَرَأَ مَا لَا يُمْكِنُ الْمَأْمُوْمُ مَعَهُ الْفَاتِحَةَ

Kelima: Bahwa ia menunggu diamnya imam (saktah) yang disunnahkan setelah Al-Fatihah agar ia bisa membaca surat, namun imam ternyata langsung ruku' setelah Al-Fatihah, atau imam membaca surat yang sangat pendek sehingga makmum tidak sempat menyelesaikan Al-Fatihah bersamanya.

السَّادِسَةُ : أَنَّهُ نَامَ فِي التَّشَهُدِ الأَوَّلِ مُتَمَكِّنًا فَمَا أَنْتَبَهَ مِنْ نَوْمِهِ إِلَّا وَإِمَامُهُ رَاكِعٌ أَوْ فِي آخِرِ الْقِيَامِ

Keenam: Bahwa ia tertidur dalam posisi tasyahud awal dengan mantap duduknya (mutamakkinan), lalu ia tidak bangun dari tidurnya kecuali imamnya sudah ruku' atau di akhir berdiri.

السَّابِعَةُ : أَنَّهُ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ تَكْبِيرُ الإِمَامِ بِأَنْ اسْتَمَعَ تَكْبِيرَةَ الإِمَامِ لِلْقِيَامِ بَعْدَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، فَظَنَّهَا تَكْبِيرَةَ التَّشَهُدِ ، فَجَلَسَ وَتَشَهَّدَ فَإِذَا هِيَ تَكْبِيرَةُ قِيَامٍ ، ثُمَّ قَامَ فَرَأَى الْإِمَامَ رَاكِعًا

Ketujuh: Bahwa ia keliru mendengarkan takbir imam; di mana ia mendengar takbir imam untuk berdiri (setelah rakaat kedua), ia mengiranya takbir untuk tasyahud, lalu ia duduk tasyahud namun ternyata itu takbir berdiri, kemudian ia berdiri dan mendapati imam sudah ruku'.

Halaman 319

الثَّامِنَةُ : أَنَّهُ كَمَّلَ التَّشَهُدَ الأَوَّلَ بَعْدَ قِيَامِ الإِمَامِ عَنْهُ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا ، سَوَاءٌ كَمَّلَ الإِمَامُ ذَلِكَ التَّشَهُدِ أَوْ أَتَى بِبَعْضِهِ .

Kedelapan: Bahwa ia menyelesaikan tasyahud awal setelah Imam berdiri (meninggalkan tasyahud) baik secara sengaja maupun lupa, baik Imam tersebut telah menyempurnakan tasyahud awal itu atau hanya melakukan sebagiannya saja.

التَّاسِعَةُ : أَنَّهُ نَسِيَ كَوْنَهُ مُقْتَدِيًا ، وَهُوَ فِي السُّجُوْدِ مَثَلًا ؛ أَوْ نَسِيَ أَنَّهُ فِي الصَّلَاةِ ؛ فَلَمْ يَقُمْ مِنْ سَجْدَتِهِ إِلَّا وَالْإِمَامُ رَاكِعٌ أَوْ قَارَبَ أَنْ يَرْكَعَ

Kesembilan: Bahwa ia lupa bahwa dirinya adalah makmum (sedang bermakmum), misalnya saat ia sedang sujud; atau ia lupa bahwa ia sedang shalat; maka ia tidak bangun dari sujudnya kecuali Imam sudah ruku' atau sudah dekat dengan posisi ruku'.

الْعَاشِرَةُ : أَنَّهُ شَلَّ هَلْ هُوَ مَسْبُوْقٌ أَوْ مُوَافِقٌ ؟ فَالْمُوَافِقُ هُوَ مَنْ أَدْرَكَ زَمَنًا يَسَعُ الْفَائِحَةَ بِالنِّسْبَةِ لِلْوَسَطِ الْمُعْتَدِلِ بَعْدَ تَحَرُّمِهِ وَقَبْلَ رُكُوْعِ الإِمَامِ ، وَلَا عِبْرَةً بِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ وَلَا بِقِرَاءَةِ إِمَامِهِ ، سَوَاءٌ حَضَرَ تَحَرَّمَ الإِمَامِ أَمْ لَا ؛ وَالْمَسْبُوْقُ هُوَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكْ ذَلِكَ وَإِنْ أَحْرَمَ عَقِبَ تَحَرُّمِ الإِمَامِ .

Kesepuluh: Bahwa ia ragu apakah ia seorang masbuq atau muwafiq? Muwafiq adalah orang yang mendapati waktu yang cukup untuk membaca Al-Fatihah dengan ukuran sedang (normal) setelah takbiratul ihramnya dan sebelum ruku'nya Imam. Tidak menjadi patokan bacaan dirinya sendiri maupun bacaan Imamnya, baik ia menghadiri takbiratul ihramnya Imam maupun tidak. Sedangkan masbuq adalah orang yang tidak mendapati waktu tersebut meskipun ia melakukan ihram tepat setelah takbiratul ihramnya Imam.

الْحَادِي عَشَرَ : أَنَّهُ طَوَّلَ السَّجْدَةَ الثَّانِيَةَ (١) فَمَا رَفَعَ مِنْهَا إِلَّا وَالإِمَامُ رَاكِعٌ أَوْ قَرُبَ إِلَى الرُّكُوعِ

Kesebelas: Bahwa ia memanjangkan sujud kedua [catatan kaki: dalam naskah asli tertulis 'sujud terakhir'], maka ia tidak bangun dari sujudnya kecuali Imam sudah ruku' atau dekat dengan posisi ruku'.

وَإِذَا وُجِدَ وَاحِدٌ (٢) مِنْ هَذِهِ الْأُمُوْرِ وَجَبَ التَّخَلَّفُ لِإِثْمَامِ قِرَاءَتِهِ ثُمَّ يَسْعَى خَلْفَ إِمَامِهِ عَلَى نَظْمِ صَلَاتِهِ ، وَيُغْتَفَرُ لَهُ تَخَلَّفُهُ بِالْأَرْكَانِ الثَّلَاثَةِ الطَّوِيْلَةِ ، وَهِيَ : الرُّكُوعُ وَالسُّجُوْدَانِ ، فَلَا يُحْسَبُ مِنْهَا الاعْتِدَالُ وَلَا الْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ ، لِأَنَّهُمَا رُكْنَانِ قَصِيرَانِ ؛ فَإِنْ فَرَغَ مِنَ الْفَاتِحَةِ قَبْلَ أَنْ يَتَلَبَّسَ الإِمَامُ بِالرُّكْنِ الرَّابِعِ ، وَهُوَ التَّشَهُدِ الْأَخِيرُ أَوِ الْقِيَامُ ، أَوْ مَا هُوَ عَلَى صُورَةِ الرُّكْنِ ، وَهُوَ قُعُوْدُ التَّشَهُدِ الأَوَّلِ (٣) ؛ رَكَعَ وَأَدْرَكَ الرَّكْعَةَ ،

Apabila didapati salah satu dari perkara-perkara ini, maka wajib baginya tertinggal (dari imam) untuk menyempurnakan bacaannya (Al-Fatihah), kemudian ia berusaha mengejar Imamnya sesuai urutan shalatnya. Dan dimaafkan baginya keterlambatan tersebut hingga tiga rukun yang panjang, yaitu: Ruku' dan dua sujud; maka tidak dihitung di dalamnya i'tidal maupun duduk di antara dua sujud karena keduanya adalah rukun pendek. Jika ia selesai dari Al-Fatihah sebelum Imam masuk ke rukun keempat—yaitu tasyahud akhir atau berdiri (ke rakaat berikutnya), atau apa yang serupa dengan bentuk rukun yaitu duduk tasyahud awal—maka ia (segera) ruku' dan ia mendapati rakaat tersebut.

Halaman 320

وَمَشَى عَلَى تَرْتِيْبِ صَلَاةِ نَفْسِهِ ؛ وَإِنْ أَدْرَكَ الإِمَامَ بِالرُّكْنِ الرَّابِعِ بِأَنْ وَصَلَ الإِمَامُ إِلَى مَحَلَّ تُجْزِئُ فِيْهِ الْقِرَاءَةُ فِي الْقِيَامِ ، أَوْ بِأَنْ جَلَسَ لِتَّشَهُدِ قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْمَأْمُوْمُ فَاتِحَتَهُ ، فَالْمَأْمُوْمُ مُخَيَّرُ إِنْ شَاءَ تَابَعَ إِمَامَهُ فِيْمَا هُوَ فِيْهِ مِنَ الْقِيَامِ أَوِ الْقُعُوْدِ وَيَأْتِي بِرَكْعَةٍ بَعْدَ سَلَامٍ إِمَامِهِ كَالْمَسْبُوْقِ ، وَإِنْ شَاءَ فَارَقَهُ بِالنِّيَّةِ وَمَضَى عَلَى تَرْتِيْبِ صَلَاةِ نَفْسِهِ ؛ لَكِنَّ الْمُتَابَعَةَ أَفْضَلُ وَإِنْ شَرَعَ الإِمَامُ فِي الْخَامِسِ ، وَهُوَ الرُّكُوْعُ ، قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْمَأْمُوْمُ قِرَاءَتَهُ وَلَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ

Dan ia (makmum) berjalan sesuai urutan shalat dirinya sendiri. Jika Imam telah mendapati rukun keempat—dengan sekiranya Imam sampai pada posisi yang mencukupi untuk membaca (Al-Fatihah) dalam berdiri, atau sekiranya Imam duduk untuk tasyahud—sebelum makmum menyempurnakan Fatihahnya, maka makmum diberi pilihan: Jika ia mau, ia mengikuti Imamnya pada posisi di mana Imam berada, baik itu berdiri atau duduk, dan ia menambah satu rakaat setelah salam Imamnya seperti makmum masbuq. Dan jika ia mau, ia boleh memisahkan diri dari Imam dengan niat (mufaraqah) dan melanjutkan sesuai urutan shalat dirinya sendiri; akan tetapi mengikuti Imam (mutaba’ah) itu lebih utama. Dan jika Imam mulai masuk ke rukun kelima—yaitu ruku’—sebelum makmum menyelesaikan bacaannya dan ia tidak berniat memisahkan diri, maka batallah shalatnya.

وَثَانِي عَشَرِهَا : بِنِيَّةِ قَطْعِ الصَّلَاةِ ، كَأَنْ يَنْوِيَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى الْخُرُوجَ مِنْهَا فِي الثَّانِيَةِ ، فَيَضُرُّ ذَلِكَ ، كَمَا لَوْ نَوَى أَنْ يَكْفُرَ غَدًا ، إِلَّا لِعُذْرٍ ، كَسَهْرٍ

Dan yang kedua belas dari perkara-perkara tersebut (yang membatalkan shalat): Dengan niat memutus shalat, seperti ia berniat di rakaat pertama untuk keluar dari shalat pada rakaat kedua, maka hal itu membahayakan (membatalkan shalat), sebagaimana seandainya ia berniat untuk kafir di hari esok, kecuali karena ada udzur, seperti rasa kantuk.

وَخَرَجَ بِـ « نِيَّةِ الْقَطْعِ » نِيَّةُ فِعْلِ الْمُبْطِلِ ، فَلَا تَبْطُلُ بِهَا صَلَاتُهُ حَتَّى يَشْرَعَ فِيْهِ ، لِأَنَّهُ قَبْلَ الشُّرُوْعِ جَازِمٌ ، وَالْمُحَرَّمُ عَلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْمُنَافِي بِخِلَافِ نِيَّةِ الْخُرُوجِ فَإِنَّهُ غَيْرُ جَازِمٍ مَعَهَا

Dan dikecualikan dari "niat memutus shalat" adalah niat melakukan perkara yang membatalkan shalat; maka shalatnya tidak batal dengan niat tersebut hingga ia benar-benar mulai melakukannya. Karena sebelum memulai (perbuatan tersebut), ia masih dalam keadaan yakin (teguh dalam shalatnya), dan yang diharamkan baginya hanyalah melakukan perkara yang bertentangan dengan shalat. Berbeda dengan niat keluar (dari shalat), karena sesungguhnya ia menjadi tidak yakin (goyah niatnya) beserta adanya niat tersebut.

وَثَالِثَ عَشَرِهَا : بِـ تَعْلِيْقِ قَطْعِهَا بِشَيْءٍ ، وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ وَلَوْ مُحَالًا عَادِيًّا كَعَدَمِ قَطْعِ السِّكِّينِ لَا عَقْلِيًّا لِأَنَّ التَّعْلِيْقَ بِهِ لَا يُنَافِي الْجَزْمَ بِخِلَافِ الأَوَّلِ وَسَوَاءٌ كَانَ التَّعْلِيْقُ بِقَلْبِهِ أَوْ بِاللَّفْظِ

Dan yang ketiga belas dari perkara-perkara tersebut: Dengan menggantungkan pemutusan shalat pada sesuatu hal, meskipun hal itu tidak terjadi, dan meskipun hal itu mustahil secara adat/biasanya seperti tidak memotongnya pisau, bukan mustahil secara akal. Karena penggantungan dengan sesuatu yang mustahil secara akal tidak meniadakan keyakinan (keteguhan niat), berbeda dengan yang pertama (mustahil secara adat). Dan sama saja apakah penggantungan tersebut di dalam hatinya atau dengan ucapan (lafal).

وَرَابِعَ عَشَرِهَا : التَّرَدُّدِ فِي قَطْعِهَا ، وَمِثْلُهُ التَّرَدُّدُ فِي الاسْتِمْرَارِ فِيْهَا

Dan yang keempat belas dari perkara-perkara tersebut: Ragu-ragu dalam memutus shalat. Dan semisal dengan itu adalah ragu-ragu dalam melanjutkan shalat tersebut.

Halaman 321

فَتَبْطُلُ حَالًا لِمُنَافَاتِهِ الْجَزْمَ الْمَشْرُوْطَ دَوَامُهُ ، كَالْإِيْمَانِ ؛ وَالْمُرَادُ بِالتَّرَدُّدِ أَنْ يَطْرَأَ شَكٌّ مُنَاقِضُ لِلْجَزْمِ ، وَلَا عِبْرَةَ بِمَا يَجْرِي فِي الْفِكْرِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِمَّا يُبْتَلَى بِهِ الْمُوَسْوَسُ ، بَلْ قَدْ يَقَعُ فِي الْإِيْمَانِ بِاللَّهِ تَعَالَى  

Maka (shalatnya) batal seketika karena hal itu meniadakan ketetapan hati (al-jazm) yang disyaratkan keberlangsungannya, sebagaimana dalam hal iman. Dan yang dimaksud dengan ragu-ragu adalah timbulnya keraguan yang bertentangan dengan ketetapan hati; and tidak dianggap (tidak berpengaruh) apa yang sekadar terlintas dalam pikiran, karena hal itu termasuk sesuatu yang sering menimpa orang yang terkena was-was, bahkan terkadang hal itu terjadi dalam keimanan kepada Allah Ta'ala.

فَرْعُ : بَقِيَ مِنْ مُفْسِدَاتِ الصَّلَاةِ أَشْيَاءُ :  

Cabang Masalah: Masih tersisa beberapa perkara dari hal-hal yang membatalkan shalat:

مِنْهَا : فِعْلُ رُكْنٍ مِنْ أَرْكَانِهَا مَعَ الشَّكَ فِي النِّيَّةِ، أَيْ: فِي أَصْلِ الإِثْيَانِ بِهَا ، أَوْ بِكَمَالِهَا ، وَإِنْ لَمْ يَطُلْ شَكُهُ ، وَلَوْ كَانَ مَعَ الْجَهْلِ ؛ وَمِثْلُ الشَّكِّ فِيهَا الشَّكَ فِي الشُّرُوطِ ، كَالطَّهَارَةِ (١) ، وَمَا لَوْ شَكٍّ فِي الْمَنْوِيِّ ، كَمَا لَوْ شَكٍّ : هَلْ نَوَى ظُهْرًا أَوْ عَصْرًا ؟ وَمِثْلُ ذَلِكَ الشَّكُ فِي تَكْبِيرَةِ الإِحْرَامِ .  

Di antaranya: Melakukan satu rukun dari rukun-rukun shalat beserta adanya keraguan dalam niat, yaitu (ragu) dalam hal asal melakukan niat tersebut atau dalam kesempurnaan niatnya, meskipun keraguannya tidak berlangsung lama, dan walaupun hal itu terjadi karena ketidaktahuan. Dan semisal dengan ragu dalam niat adalah ragu dalam syarat-syarat (shalat) seperti bersuci (1), dan apa yang terjadi jika ia ragu pada hal yang diniatkan, seperti jika ia ragu: Apakah ia niat Zhuhur atau Ashar? Dan semisal dengan itu adalah ragu dalam Takbiratul Ihram.

وَمِنْهَا طُوْلُ زَمَنِ مَعَ الشَّكٍّ فِي النِّيَّةِ ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ رُكْنًا ، وَضَابِطُ طُوْلِهِ أَنْ يَكُوْنَ بِقَدْرِ مَا يَسَعُ رُكْنًا وَلَوْ قَصِيرًا ، كَالطَّمَأْنِيَّنَةِ ، وَهِيَ : بِقَدْرِ التَّلَفُّظِ بِسُبْحَانَ اللهِ ، أَمَّا إِذَا لَمْ يَطُلْ ، بِأَنْ مَضَى زَمَنٌ لَا يَسَعُ ذَلِكَ ، كَأَنْ خَطَرَ لَهُ خَاطِرٌ وَزَالَ سَرِيعًا بِأَنْ تَذَكَّرَ قَبْلَ طُولِ الزَّمَنِ وَإِتْيَانِهِ بِرُكْنٍ ، فَإِنَّ صَلَاتَهُ لَا تَبْطُلُ  

Dan di antaranya adalah lamanya waktu beserta adanya keraguan dalam niat, meskipun ia tidak melakukan suatu rukun. Batasan lamanya waktu tersebut adalah sekira waktu yang cukup untuk melakukan satu rukun walaupun rukun pendek, seperti thuma'ninah, yaitu seukuran melafalkan "Subhanallah". Adapun jika tidak lama, sekira waktu yang berlalu tidak cukup untuk itu, seperti jika terlintas suatu pikiran lalu hilang dengan cepat sekira ia ingat kembali sebelum waktu yang lama dan sebelum ia melakukan suatu rukun, maka sesungguhnya shalatnya tidak batal.

وَمِنْهَا صَرْفُ نِيَّةٍ ، وَهُوَ أَرْبَعُ صُوَرٍ : الأَوَّلُ : صَرْفُ نِيَّةِ فَرْضٍ إِلَى فَرْضٍ آخَرَ . وَالثَّانِي : صَرْفُ نِيَّةِ فَرْضٍ إِلَىٰ نَفْلٍ وَالثَّالِثُ : صَرْفُ نِيَّةِ نَفْلٍ إِلَى فَرْضِ  

Dan di antaranya adalah memalingkan niat, yang mana hal itu terdiri dari empat gambaran: Pertama: Memalingkan niat fardhu ke fardhu yang lain. Kedua: Memalingkan niat fardhu ke (shalat) sunnah. Ketiga: Memalingkan niat (shalat) sunnah ke fardhu.

Halaman 322

وَالرَّابِعُ : صَرْفُ نِيَّةِ نَفْلٍ إِلَى نَفْلٍ آخَرَ .  

Dan yang keempat: Memalingkan niat shalat sunnah ke shalat sunnah yang lain.

نَعَمْ إِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا ، أَوْ أَدْرَكَ جَمَاعَةٌ ، سُنَّ صَرْفُ فَرْضِهِ إِلَى نَفْلٍ مُطْلَقٍ دُوْنَ نَفْلٍ مُعَيَّنٍ لِيُدْرِكَ فَضِيْلَتَهَا ، أَمَّا الْمُعَيَّنُ ، كَرَكْعَتَيْ الضُّحَى ، فَلَا يَصِحُ الْقَلْبُ إِلَيْهِ لِافْتِقَارِهِ إِلَى التَّعْبِيْنِ حَالَ النِّيَّةِ  

Ya, jika ia sedang shalat sendirian, lalu ia mendapati adanya jamaah, maka disunnahkan memalingkan niat shalat fardhunya ke shalat sunnah mutlak, bukan sunnah yang ditentukan (mu'ayyan), tujuannya agar ia mendapatkan keutamaan jamaah tersebut. Adapun shalat sunnah mu'ayyan, seperti dua rakaat shalat Dhuha, maka tidak sah memalingkan niat ke sana karena ia membutuhkan penentuan (ta'yin) pada saat niat.

وَمَحَلُّ سُنِّيَّةِ صَرْفُ ذَلِكَ إِذَا وُجِدَتْ سِتَّةُ شُرُوطٍ :  

Dan letak kesunnahan memalingkan niat tersebut adalah apabila terpenuhi enam syarat:

الأَوَّلُ : أَنْ يَكُوْنَ فِي ثُلَاثِيَّةٍ أَوْ رُبَاعِيَّةٍ  

Pertama: Shalat tersebut haruslah shalat yang memiliki tiga rakaat atau empat rakaat.

الثَّانِي : أَنْ لَا يَقُوْمَ لِثَالِثَةٍ ، فَإِنْ كَانَ فِي ثُنَائِيَّةٍ أَوْ قَامَ لِثَالِثَةٍ أَيْ شَرَعَ فِيْهَا لَمْ يُسَنَّ الْقَلْبُ بَلْ يَجُوزُ ، فَيُسَلِّمُ فِي الرَّكْعَةِ الْأَوْلَى لِيُدْرِكَ الْجَمَاعَةَ ، لِأَنَّ النَّفْلَ الْمُطْلَقَ يَجُوْزُ فِيْهِ الاقْتِصَارُ عَلَى رَكْعَةٍ .  

Kedua: Hendaknya ia belum berdiri menuju rakaat ketiga. Jika ia sedang shalat dua rakaat atau sudah berdiri ke rakaat ketiga—yaitu sudah mulai masuk ke dalamnya—maka tidak disunnahkan memalingkan niat, akan tetapi hukumnya boleh; maka ia langsung salam pada rakaat pertama agar bisa mendapati jamaah, karena shalat sunnah mutlak itu boleh diringkas hanya pada satu rakaat saja.

الثَّالِثُ : أَنْ يَتَّسِعَ الْوَقْتُ بِأَنْ يَتَحَقَّقَ تَمَامَهَا فِيْهِ لَوِ اسْتَأْنَفَهَا ، فَإِنْ عَلِمَ وُقُوْعَ بَعْضِهَا خَارِجَهُ أَوْ شَكٍّ فِي ذَلِكَ حَرُمَ الْقَلْبُ  

Ketiga: Waktu shalat masih luas sekiranya ia yakin shalat tersebut selesai pada waktunya seandainya ia mengulanginya dari awal. Maka jika ia tahu sebagian shalatnya jatuh di luar waktu atau ia ragu akan hal itu, maka haram hukumnya memalingkan niat.

الرَّابِعُ : أَنْ لَا يَكُوْنَ الإِمَامُ مِمَّنْ يُكْرَهُ الاقْتِدَاءُ بِهِ لِبِدْعَةٍ أَوْ غَيْرِهَا ، كَمُخَالَفَةٍ فِي الْمَذْهَبِ ، فَإِنْ كَانَ بِدْعِيًّا كَفِسْقِهِ ، أَوْ مُخَالِفًا فِي الْمَذْهَبِ كَحَنَفِيَّ ، فَلَا يُسَنُّ الْقَلْبُ ، بَلْ يُكْرَهُ ، وَكَانَ الانْفِرَادُ أَفْضَلُ مِنَ الاقْتِدَاءِ بِذَلِكَ عِنْدَ شَيْخِ الإِسْلَامِ كَالرُّوْيَانِي ، كَمَا قَالَ أَبُوْ إِسْحَاقَ أَيْضًا : إِنَّ الصَّلَاةَ مُنْفَرِدًا أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ خَلْفَ الْحَنَفِيَّ  

Keempat: Hendaknya Imam tersebut bukan termasuk orang yang makruh untuk diikuti karena perkara bid'ah atau lainnya, seperti adanya perbedaan madzhab. Maka jika ia seorang ahli bid'ah seperti fasiknya, atau berbeda madzhab seperti pengikut madzhab Hanafi, maka tidak disunnahkan memalingkan niat, bahkan hukumnya makruh. Dan shalat sendirian itu lebih utama daripada bermakmum kepada orang tersebut menurut Syaikhul Islam seperti Ar-Ruyani, sebagaimana Abu Ishaq juga berkata: "Sesungguhnya shalat sendirian itu lebih utama daripada shalat di belakang pengikut Hanafi."

الْخَامِسُ : أَنْ لَا يَرْجُوْ جَمَاعَةٌ غَيْرَهَا ، وَإِلَّا جَازَ الْقَلْبُ  

Kelima: Hendaknya ia tidak berharap akan adanya jamaah yang lain selain itu, jika tidak demikian maka boleh memalingkan niat.

السَّادِسُ : أَنْ تَكُوْنَ الْجَمَاعَةُ مَطْلُوبَةٌ ، فَلَوْ كَانَ يُصَلِّي فَائِتَةٌ  

Keenam: Hendaknya jamaah tersebut memang dianjurkan. Maka seandainya ia sedang melaksanakan shalat qadha (fai'tah)...

Halaman 323

وَالْجَمَاعَةُ الْقَائِمَةُ حَاضِرَةً أَوْ فَائِتَةً لَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الَّتِي يُصَلَّيْهَا حَرُمَ الْقَلْبُ ، وَكَذَا لَوْ وَجَبَ قَضَاءُ الْفَائِتَةِ فَوْرًا أَوْ مِنْ جِنْسِهَا ، كَظُهْرٍ خَلْفَ ظُهْرٍ ، جَازَ وَلَمْ يُنْدَبْ ؛ فَإِنْ خَشِيَ فِي الْفَائِتَةِ فَوْتَ الْحَاضِرَةِ وَجَبَ الْقَلْبُ ، وَكَذَا إِذَا كَانَتِ الْجَمَاعَةُ فِي جُمُعَةٍ .  

Dan (jika) jamaah yang sedang tegak berdiri—baik shalat hadir maupun qadha—bukan dari jenis shalat yang sedang ia kerjakan, maka haram hukumnya memalingkan niat. Begitu juga jika wajib mengqadha shalat tersebut segera atau shalatnya sejenis—seperti Zhuhur di belakang (imam) Zhuhur—maka boleh (memalingkan niat) namun tidak disunnahkan. Jika ia khawatir dalam shalat qadha tersebut akan terlewat waktu shalat hadir, maka wajib memalingkan niat (ke sunnah mutlak agar cepat selesai lalu ikut jamaah fardhu). Begitu juga jika jamaah tersebut adalah jamaah shalat Jumat.

وَمِنْهَا رِدَّةٌ ، وَلَوْ صُوْرِيَّةٌ ، كَالْوَاقِعَةِ مِنَ الصَّبِيِّ ، وَهِيَ قَطْعُ اسْتِمْرَارِ الإِسْلَامِ وَدَوَامِهِ بِقَوْلٍ ، كَأَنْ يَقُوْلَ : اللهُ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ؛ أَوْ بِفِعْلٍ ، كَأَنْ يَسْجُدَ لِصَنَمٍ ، أَوْ بِعَزْمٍ ، كَأَنْ يَعْزِمَ عَلَى الْكُفْرِ ؛ أَوْ بِاعْتِقَادٍ ، كَأَنْ فَكَرَ فِيْ الصَّلَاةِ فِي هَذَا الْعَالَمِ ، بِفَتْحِ اللَّامِ ، فَاعْتَقَدَ قُدُوْمَهُ ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ ، فَيَكْفُرُ فِي الْحَالِ قَطْعًا ، وَتَبْطُلُ صَلَاتُهُ ؛ وَكَذَا لَوِ اعْتَقَدَ عَدَمَ وُجُوْبِ الصَّلَاةِ لِاخْتِلَالِ النِّيَّةِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ . كَمَا قَالَهُ الْحِصْنِيُّ  

Dan di antara perkara yang membatalkan shalat adalah murtad, meskipun hanya secara gambaran/zahirnya saja seperti yang terjadi pada anak kecil. Murtad adalah memutus keberlangsungan Islam dan ketetapannya dengan ucapan, seperti ia berkata: "Allah adalah salah satu dari yang tiga (trinitas)"; atau dengan perbuatan, seperti bersujud kepada berhala; atau dengan tekad, seperti ia bertekad untuk kafir (di masa depan); atau dengan keyakinan, seperti ia berpikir di dalam shalatnya tentang alam ini—dengan memfathahkan huruf Lam—lalu ia meyakini kekekalannya (qadim/tanpa awal), dan yang menyerupai hal tersebut. Maka ia kafir seketika itu juga secara pasti, dan batallah shalatnya. Begitu juga seandainya ia meyakini ketidakwajiban shalat karena adanya kerusakan dalam niat dan yang menyerupai hal tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hishni.

وَمِنْهَا تَقْدِيمُ الرُّكْنِ الْفِعْلِيِّ عَمْدًا عَلَى غَيْرِهِ ، كَأَنْ سَجَدَ قَبْلَ رُكُوْعِهِ ، أَوْ رَكَعَ قَبْلَ قِرَاءَتِهِ الْفَاتِحَةَ ، فَإِنَّهَا تَبْطُلُ لِأَنَّهُ يُخِلُّ بِصُورَةِ الصَّلَاةِ ؛ أَمَّا تَقْدِيمُ الْقَوْلِيَّ غَيْرِ السَّلَامِ عَمْدًا عَلَى غَيْرِهِ ، كَأَنْ كَرَّرَ الْفَاتِحَةَ ، أَوْ قَدَّمَ التَّشَهدَ عَلَى الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ، أَوْ كَرَّرَهُ ، أَوْ تَشَهَّدَ قَبْلَ السُّجُودِ ، فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ ، لَكِنْ لَا يُعْتَدُّ بِمَا قَدَّمَهُ ، بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ إِعَادَتُهُ فِي مَحَلِّهِ  

Dan di antaranya adalah mendahulukan rukun fi’li (perbuatan) secara sengaja atas rukun lainnya, seperti ia bersujud sebelum ruku’nya, atau ruku’ sebelum membaca Fatihahnya; maka shalatnya batal karena hal itu merusak rupa/bentuk shalat. Adapun mendahulukan rukun qauliy (ucapan) selain salam secara sengaja atas rukun lainnya, seperti ia mengulang Fatihah, atau mendahulukan tasyahud atas shalawat Nabi, atau mengulangnya, atau tasyahud sebelum sujud, maka shalatnya tidak batal. Akan tetapi apa yang ia dahulukan tersebut tidaklah dianggap, bahkan ia wajib mengulanginya pada tempatnya yang semestinya.

وَمِنْهَا تَرْكُ رُكْنٍ وَلَوْ قَوْلِيًّا عَمْدًا ، بِخِلَافِ تَرْكِهِ سَهْوًا ، لِعُذْرِهِ ، فَيَتَدَارَكَهُ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ مِثْلَهُ مِنْ رَكْعَةٍ أُخْرَى ، وَإِلَّا قَامَ مَقَامَهُ ، وَلَغَا مَا بَيْنَهُمَا ، وَأَتَى بِرَكْعَةٍ

Dan di antaranya adalah meninggalkan rukun meskipun rukun qauliy secara sengaja. Berbeda dengan meninggalkannya karena lupa, maka hal itu dimaafkan karena udzurnya, lalu ia menyusulnya (rukun yang tertinggal) jika ia belum melakukan hal yang serupa pada rakaat lainnya. Jika ia sudah (melakukan yang serupa), maka rukun tersebut menempati posisi yang ditinggalkan, dan apa yang ada di antara keduanya dianggap sia-sia/batal, dan ia wajib menambah satu rakaat.

Halaman 324

وَمِنْهَا اقْتِدَاءٌ بِمَنْ لَا يُقْتَدَىٰ بِهِ لِكُفْرٍ أَوْ حَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِمَا ، بِأَنِ اقْتَدَى بِهِ بَعْدَ تَحَرُّمِ صَحِيْحٍ مِنْهُ .  

Dan di antaranya adalah bermakmum (iktida) kepada orang yang tidak boleh diikuti karena sebab kekafiran, hadas, atau sebab lainnya; yaitu dengan cara ia bermakmum kepadanya setelah ia melakukan takbiratul ihram yang sah (menurut dirinya sendiri).

وَمِنْهَا تَطْوِيلُ رُكْنٍ قَصِيرٍ عَمْدًا ، بِأَنْ يَزِيدَ فِي الاعْتِدَالِ عَلَى الدُّعَاءِ الْوَارِدِ فِيْهِ بِقَدْرِ الْفَاتِحَةِ ، وَفِي الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ عَلَى الدُّعَاءِ الْوَارِدِ فِيْهِ بِقَدْرِ التَّشَهُدِ ، فَإِنْ نَقَصَ عَنْ ذَلِكَ وَلَوْ بِكَلِمَةٍ لَمْ يَضُرَّ ، وَلولا يُعْتَبَرُ مَعَ التَّشَهُدِ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ، نَعَمْ لَا يَضُرُّ تَطْوِيلُ الاعْتِدَالِ فِي الرَّكْعَةِ الأَخِيرَةِ مِنْ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ ، لِأَنَّهُ مَعْهُودٌ فِي الصَّلَاةِ فِي الْجُمْلَةِ ، أَيْ : فِي بَعْضِ الصُwوَرِ ، كَمَا فِي صَلَاةِ النَّازِلَةِ ؛ وَلَا تَطْوِيلُ الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فِي صَلَاةِ التَّسْبِيحِ خَاصَّةً  

Dan di antaranya adalah memanjang rukun pendek secara sengaja; yaitu dengan menambah (durasi) pada I'tidal melebihi doa yang warid (datang dari Nabi) di dalamnya seukuran bacaan Al-Fatihah, dan pada duduk di antara dua sujud melebihi doa yang warid di dalamnya seukuran bacaan Tasyahud. Jika kurang dari itu meskipun hanya satu kalimat, maka tidak membahayakan (tidak batal). Dan tidak dianggap beserta Tasyahud itu bacaan Shalawat atas Nabi ﷺ. Ya, tidaklah membahayakan memanjangkan I'tidal pada rakaat terakhir dari seluruh shalat, karena hal itu sudah biasa dilakukan dalam shalat secara umum, yaitu dalam sebagian keadaan seperti pada shalat (yang ada doa) qunut nazilah; dan tidak (batal pula) memanjangkan duduk di antara dua sujud pada shalat tasbih secara khusus.

وَمِنْهَا وُجُوْدُهُ فِي الصَّلَاةِ ثَوْبًا بَعِيدًا مِنْهُ ، بِأَنْ أَحْتَاجَ فِي الْمُضِيَّ إِلَيْهِ إِلَى أَفْعَالٍ كَثِيرَةٍ ، أَوْ طَالَتْ مُدَّةُ الْكَشْفِ ؛ أَمَّا لَوْ كَانَ قَرِيبًا بِأَنْ اسْتَتَرَ بِهِ حَالًا بِلَا أَفْعَالٍ كَثِيرَةٍ دَامَتْ صَلَاتُهُ عَلَى الصِّحَّةِ ، وَإِلا بَطَلَتْ  

Dan di antaranya adalah (makmum/mushalli) mendapati pakaian (penutup aurat) yang berada jauh darinya saat di dalam shalat; sekiranya ia membutuhkan banyak gerakan untuk berjalan menuju pakaian tersebut, atau durasi terbukanya aurat menjadi lama. Adapun jika pakaian itu dekat, sekira ia bisa langsung tertutup dengannya tanpa banyak gerakan, maka shalatnya tetap dalam keadaan sah, jika tidak maka batal.

وَمِنْهَا ظُهُورُ بَعْضٍ مَا يُسْتَرُ بِالْخُفْ مِنَ الرِّجْلِ أَوِ الْخِرَقِ ، بِكَسْرِ الْخَاءِ وَفَتْحِ الرَّاءِ ، جَمْعُ خِرْقَةٍ بِسُكُوْنِ الرَّاءِ  

Dan di antaranya adalah terlihatnya sebagian anggota tubuh yang wajib ditutup oleh Khuf, berupa kaki atau kain pembebat (khiraq—dengan mengkasrahkan huruf Kha dan memfathahkan huruf Ra—jamak dari khirqah dengan mensukunkan huruf Ra).

وَمِنْهَا خُرُوجُ وَقْتِ مَسْحِ الْخُفْ لِبُطْلَانِ بَعْضٍ طَهَارَتِهِ ، وَهُوَ طَهَارَةُ رِجْلَيْهِ حَتَّى لَوْ غَسَلَهُمَا فِي الْخُفَّ قَبْلَ فَرَاغِ الْمُدَّةِ لَمْ يُؤَكِّرُ ، إِذْ مَسْحُ الْخُفْ يَرْفَعُ الْحَدَثَ ، فَلَا تَأْثِيرَ لِلْغُسْلِ قَبْلَ فَرَاغِ الْمُدَّةِ  

Dan di antaranya adalah habisnya waktu mengusap Khuf, dikarenakan batalnya sebagian thaharahnya (bersuci), yaitu thaharah pada kedua kakinya. Bahkan seandainya ia mencuci kedua kakinya di dalam Khuf sebelum berakhirnya masa (mengusap), hal itu tidak berpengaruh; karena mengusap Khuf itu mengangkat hadas, maka mencuci kaki sebelum berakhirnya masa tidak memiliki pengaruh.

وَمِنْهَا تَرْكُ تَوَجُهِ لِلْقِبْلَةِ ، حَيْثُ يُشْتَرَطُ بِأَنْ كَانَ فِي غَيْرِ شِدَّةِ خَوْفٍ  

Dan di antaranya adalah meninggalkan menghadap Kiblat, sekiranya hal itu disyaratkan; yaitu jika shalat dilakukan bukan dalam keadaan sangat ketakutan (shiddatul khauf).

Halaman 325

وَنَفْلِ السَّفَرِ ، لِانْتِفَاءِ الشُّرُوْطِ .

Dan shalat sunnah perjalanan, karena tidak adanya syarat.

Footnote Dua Susun (Verbatim Naskah)

(١) فِي الأَصْلِ : « الْأَخِيرَةَ » بَدَلًا مِنْ : « الثَّانِيَةَ » .
(٢) فِي الْأَصْلِ : « وَجَدَ وَاحِدًا » بَدَلًا مِنْ : « وُجِدَ وَاحِدٌ » .
(٣) فِي الْأَصْلِ : « وَ » بَدَلًا مِنْ « أَوْ » .
(١) هَذَا ضَعِيفٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ . عِصَامٌ .

(1) Di dalam naskah asli tertulis "Al-Akhirah" sebagai pengganti dari "Ats-Tsaniyah".
(2) Di dalam naskah asli tertulis "Wajada Wahidan" sebagai pengganti dari "Wujida Wahidun".
(3) Di dalam naskah asli tertulis "Wa" sebagai pengganti dari "Aw".
(1) Ini adalah pendapat yang lemah, dan yang menjadi pegangan (mu'tamad) adalah bahwa hal itu tidak membahayakan (not membatalkan). - Isham.

Lihat Syarh Nyablak Bab Makmum & Pembatal Niat

Dengerin nih Jemaah... Ane mau jabarin urusan makmum muwafiq ama rukun panjang-pendek biar Ente kaga keder pas ngejar Imam di shalat jamaah. Kadang banyak yang kagak sadar, kalau rukun pendek kayak i'tidal ama duduk di antara dua sujud tuh kaga dihitung dalam dispensasi keterlambatan tiga rukun panjang! Jadi kalau Ente telat karena udzur yang sah—kayak bacaan Fatihah lambat bawaan lahir—Ente dikasih kelonggaran ampe tiga rukun panjang (ruku' ama dua sujud). Lewat dari itu sebelum Fatihah kelar, shalat Ente bisa wassalam alias batal kalau kaga buru-buru niat mufaraqah!

Takhrij Masalah:

Masalah makmum muwafiq yang tertinggal karena kesibukan membaca doa sunnah (iftitah/ta'awudz) dirinci secara ketat dalam kitab Al-Manhajul Qawim karya Ibnu Hajar Al-Haitami serta catatan kaki Syekh Asy-Syarqawi. Begitu pula perihal pembatal shalat berupa riddah (murtad) baik secara ucapan, perbuatan, iktikad, maupun ragu-ragu dalam niat shalat yang merusak rupa shalat mengacu pada ketetapan Syekh Al-Hishni.

Studi Kasus Nyata:

Ada orang lagi shalat sendirian di masjid, baru dapet satu rakaat, tiba-tiba ada rombongan jamaah dateng bikin barisan baru. Nah, disunnahkan buat dia mindahin niat (shorfun niyah) dari shalat fardhu ke shalat sunnah mutlak, terus langsung salam biar bisa gabung bareng jamaah itu demi ngejar fadhilah berjamaah. Tapi inget syaratnya! Waktu shalatnya musti masih luas, dan dia belon berdiri tegak ke rakaat ketiga (kalau shalatnya tiga/empat rakaat). Kalau dilakuin asal-asalan tanpa tahu syarat ini, shalatnya malah bisa batal!

⚠️ Bahaya Laten:

Ati-ati ama urusan "Ragu-Ragu Memutus Shalat" (At-Taraddud fi Qat'iha). Begitu terdeteksi di hati Ente ada niatan goyah kayak, "Ah, mending gua batalin aja apa ya shalatnya gara-gara ada gojek dateng?", maka seketika itu juga shalat Ente dihukum BATAL secara hukum fikih! Mengapa? Karena shalat itu mutlak butuh al-jazm (keteguhan hati yang mantap tanpa ragu) dari awal takbiratul ihram ampe salam. Jangan samakan ragu memutus shalat dengan lintasan was-was biasa yang sekilas lewat di pikiran, karena was-was ringan kaga membatalkan shalat selama hati kaga menetapkan keputusan memutus shalat.

Grid Mufrodat & Catatan Murid
At-Taqaddum (التَّقَدُّمُ): Mendahului gerakan Imam.
At-Takhal-luf (التَّخَلُّفُ): Tertinggal di belakang gerakan Imam.
Shorfun Niyah (صَرْفُ نِيَّةٍ): Memalingkan atau memindahkan niat shalat.
Al-Jazm (الْجَزْمُ): Ketetapan hati yang teguh dan bulat.
=================== ```html

كَاشِفَةُ السَّجَا فِي شَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَا

Kajian Kitab Abi Ahmad Thoufur

Fasal: Niat Berjamaah yang Wajib Kitab: Shalat Kategori: Fiqih Syafi'i

Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA

Assalamualaikum wr. wb. Dengerin nih Jemaah... Kagak pake tadlis, kagak pake mencla-mencle! Hari ini Ane mau bedah kelanjutan naskah Kitab Kasyifatus Saja yang bener-bener krusial. Kita bakal ngomongin masalah shalat-shalat yang haram hukumnya dimaenin, alias WAJIB kudu ada niat imamah pas barengan sama Takbiratul Ihram. Kalo Ente jadi imam tapi lali kagak niat imamah di shalat-shalat model begini, wassalam... shalatnye kagak sah plek-ketiplek! Jadi, pasang kuping baek-baek, rapetin barisan, kita kepret pemahaman yang keliru biar ibadah kita makin mantep dapet ridho Allah SWT. Yuk, langsung kite pantengin naskah aslinye!

فَصْلٌ فِي بَيَانِ الصَّلَاةِ الَّتِي تَلْزَمُ فِيْهَا نِيَّةُ الْجَمَاعَةِ قَالَ : الَّذِي يَلْزَمُ فِيْهِ نِيَّةُ الإِمَامَةِ ، أَيْ : عَلَى الإِمَامِ مَعَ الإِحْرَامِ ، أَرْبَعُ مِنَ الصَّلَوَاتِ ، وَهِيَ ؛ كُلُّ صَلَاةٍ لَا تَصِحُ فُرَادَى

Fasal pada menjelaskan shalat yang wajib di dalamnya niat berjamaah. Beliau (Mushannif) berkata: Perkara yang wajib di dalamnya niat keimaman—yaitu atas seorang Imam bersamaan dengan takbiratul ihram—ada empat macam shalat, yaitu: setiap shalat yang tidak sah jika dikerjakan sendirian.

أَحَدُهَا : الْجُمُعَةُ ، فَلَوْ تَرَكَ نِيَّةَ الإِمَامَةِ مَعَ الإِحْرَامِ لَمْ تَصِحَّ نِيَّتُهُ ، سَوَاءٌ كَانَ مِنَ الأَرْبَعِينَ أَوْ زَائِدًا عَلَيْهِمْ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ وُجُوْبِهَا ؛ نَعَمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْوُجُوْبِ وَنَوَى غَيْرَ الْجُمُعَةِ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ نِيَّةُ الإِمَامَةِ .

Salah satunya: Shalat Jumat. Maka seandainya (Imam) meninggalkan niat keimaman beserta takbiratul ihram, maka niatnya tidak sah, baik ia termasuk bagian dari empat puluh orang (syarat sah Jumat) atau orang yang melebihi jumlah tersebut, dan meskipun ia bukan termasuk ahli wajib Jumat. Ya, jika ia bukan termasuk ahli wajib dan ia berniat selain Jumat, maka tidak wajib baginya niat keimaman.

وَثَانِيَتُهَا : الْمُعَادَةُ ، وَهِيَ الْمَكْتُوْبَةُ الْمُؤَدَّاةُ ، أَوِ النَّافِلَةُ الَّتِي تُسَنُّ فِيْهَا الْجَمَاعَةُ ، اللَّتَانِ تُفْعَلَانِ فِي وَقْتِ الأَدَاءِ ثَانِيَا جَمَاعَةٌ لِرَجَاءِ الثَّوَابِ ، وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً صَحِيْحَةً وَلَوْ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ أَدْرَكَ فِي الْوَقْتِ مَنْ يُصَلِّيْهَا وَلَوْ مُنْفَرِدًا سُنَّ لَهُ إِعَادَتُهَا مَعَهُ ، وَيَحْرُمُ قَطْعُهَا ، لِأَنَّ لَهَا حُكْمَ الْفَرْضِ ، إِلَّا فِي جَوَازِ تَرْكِهَا قَبْلَ الشُّرُوْعِ وَفِي جَوَازِ جَمْعِهَا مَعَ الْأَصْلِيَّةِ بِتَيَمُّمِ وَاحِدٍ ، وَذَلِكَ لِلأَمْرِ بِتِلْكَ الإِعَادَةِ فِي خَبَرِ أَبِي دَاوُدَ [ رقم : ٥٧٥ ] وَغَيْرِهِ ؛ [ النسائي ، رقم : ٨٥٨ ؛ مسند أحمد ، رقم : ۱۷۰۲۰ ] ، وَصَحَّحَهُ التَّرْمِذِيُّ [ رقم : ۲۱۹ ] ، وَهُوَ قَوْلُهُ ﷺ : ( إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ ، فَصَلِّيَاهَا مَعَهُمْ ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ » قَالَ ﷺ ذَلِكَ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ لِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ ، وَقَالَا : صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا ، أَيْ : بُيُؤْتِنَا

Dan yang keduanya: Shalat Mu'adah (yang diulangi). Yaitu shalat maktubah (fardhu) yang dikerjakan pada waktunya, atau shalat sunnah yang disunnahkan berjamaah di dalamnya; yang mana keduanya dilakukan kembali di dalam waktu adaa' (waktu shalat tersebut) untuk kedua kalinya secara berjamaah karena mengharap pahala. Dan barangsiapa yang telah melakukan shalat yang sah—walaupun secara berjamaah—kemudian ia mendapati di dalam waktu tersebut orang yang sedang melakukan shalat itu—walaupun orang itu sendirian—maka disunnahkan baginya untuk mengulanginya bersama orang tersebut. Dan haram hukumnya memutus shalat tersebut (setelah dimulai), karena ia memiliki hukum fardhu; kecuali dalam hal kebolehan meninggalkannya sebelum dimulai, dan dalam hal bolehnya menggabungkan shalat tersebut dengan shalat aslinya dengan satu kali tayamum. Dan hal itu dikarenakan adanya perintah untuk mengulangi tersebut dalam hadits riwayat Abu Dawud [ nomor: 575 ] dan lainnya; [ An-Nasa'i, nomor: 858; Musnad Ahmad, nomor: 17020 ], dan At-Tirmidzi mensahihkannya [ nomor: 219 ], yaitu sabda Nabi ﷺ: "Apabila kalian berdua telah shalat di tempat tinggal kalian, kemudian kalian mendatangi masjid berjamaah, maka shalatlah kalian berdua bersama mereka, karena sesungguhnya shalat itu bagi kalian berdua menjadi shalat sunnah." Nabi ﷺ bersabda demikian setelah shalat Shubuh kepada dua orang laki-laki yang tidak shalat bersama beliau, dan keduanya berkata: "Kami telah shalat di tempat tinggal kami," maksudnya di rumah-rumah kami.

وَقَوْلُهُ ﷺ : « مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ » لَيْسَ بِقَيْدٍ ، بَلْ هُوَ لِلأَغْلَبِ ؛ وَقَوْلُهُ : صَلَّيْتُمَا ) يَصْدُقُ بِالانْفِرَادِ وَالْجَمَاعَةِ ، سَوَاءٌ أَسْتَوَتِ الْجَمَاعَتَانِ أَمْ زَادَ إِحْدَاهُمَا بِفَضِيْلَةٍ ، كَكَوْنِ الإِمَامِ أَعْلَمَ أَوْ أَوْرَعَ ، أَوِ الْجَمْعِ أَكْثَرَ أَوِ الْمَكَانِ أَشْرَفَ ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ شُرُوْطَ الإِعَادَةِ أَثْنَا عَشَرَ : الأَوَّلُ : أَنْ تَكُوْنَ الأُولَى مَكْتُوبَةٌ مُؤَدَّاةٌ أَوْ نَافِلَةٌ تُسَنُّ فِيهَا الْجَمَاعَةُ ، مَا عَدَا وِتْرَ رَمَضَانَ ، وَلَوْ مَنْذُورَةٌ ، كَعِيْدٍ نَذَرَهُ ؛ أَمَّا الْوِتْرُ فَلَا يُعَادُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، لِحَدِيْثِ : « لَا وِتْرَانَ فِي لَيْلَةٍ ) [ الترمذي ، رقم : ٤٧٠ ؛ النسائي ، رقم : ١٦٧٩ ؛ أبو داود ، رقم : ١٤٣٩ ]

Dan sabda Nabi ﷺ: "Masjid jamaah" bukanlah sebuah batasan (syarat mutlak), melainkan itu penyebutan berdasarkan keadaan yang umum terjadi. Dan sabda beliau: "Kalian berdua telah shalat" (maknanya) mencakup baik shalat sendirian maupun berjamaah, sama saja apakah kedua jamaah tersebut setara atau salah satunya memiliki kelebihan keutamaan, seperti keadaan Imam yang lebih berilmu atau lebih wara', atau jumlah jamaah yang lebih banyak, atau tempat yang lebih mulia. Kemudian ketahuilah bahwa syarat-syarat mengulang shalat (mu'adah) itu ada dua belas: Pertama: Shalat yang pertama tersebut haruslah shalat maktubah (fardhu) yang dikerjakan pada waktunya, atau shalat sunnah yang disunnahkan berjamaah di dalamnya, selain shalat Witir di bulan Ramadhan, meskipun shalat tersebut dinadzarkan seperti shalat Id yang ia nadzarkan. Adapun shalat Witir maka tidak diulang menurut pendapat yang mu'tamad (kuat), karena adanya hadits: "Tidak ada dua witir dalam satu malam." [At-Tirmidzi, nomor: 470; An-Nasa'i, nomor: 1679; Abu Dawud, nomor: 1439].

وَالثَّانِي : أَنْ تَكُوْنَ صَحِيْحَةً وَإِنْ لَمْ تُغْنِ عَنِ الْقَضَاءِ ، كَصَلَاةِ الْمُتَيَمِّمِ لِبَرْدٍ ، أَوْ بِمَحَلَّ يَغْلُبُ فِيْهِ وُجُودُ الْمَاءِ ، نَعَمْ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ صَلَاةُ فَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ ، فَإِنَّهَا وَإِنْ كَانَتْ صَحِيْحَةٌ لَكِنَّهَا لَا تُعَادُ ، لِأَنَّهَا لَا يُتَنَفَّلُ بِهَا ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ صَحِيْحَةً وَجَبَتْ إِعَادَتُهَا وَالثَّالِثُ : إِعَادَتُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً فَقَطْ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . وَقَالَ الْمُزَنِيُّ : تُعَادُ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً ، وَكَانَ يَفْعَلُهَا كَذَلِكَ . وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ الْبَكْرِيُّ : تُعَادُ مِنْ غَيْرِ حَصْرٍ مَا لَمْ يَخْرُجِ الْوَقْتُ

Dan yang kedua: Shalat tersebut haruslah sah meskipun tidak menggugurkan kewajiban qadha, seperti shalatnya orang yang bertayamum karena cuaca dingin, atau di tempat yang biasanya terdapat air. Ya, dikecualikan dari hal itu shalatnya orang yang kehilangan dua alat bersuci (faqiduth thahurain), karena sesungguhnya shalat tersebut meskipun sah namun tidak diulang, dikarenakan ia tidak boleh dijadikan shalat sunnah. Maka jika shalatnya tidak sah, wajib baginya untuk mengulanginya. Dan yang ketiga: Mengulanginya hanya satu kali saja menurut pendapat yang mu'tamad. Imam Al-Muzani berkata: Shalat tersebut diulang sebanyak dua puluh lima kali, dan beliau biasa melakukannya seperti itu. Syaikh Abul Hasan Al-Bakri berkata: Shalat tersebut diulang tanpa batasan selama waktunya belum habis.

وَالرَّابِعُ : نِيَّةُ الْفَرَضِيَّةِ ، وَالْمُرَادُ أَنَّهُ يَنْوِي إِعَادَةَ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوْضَةِ حَتَّى لَا تَكُوْنَ نَفْلًا مُبْتَدَأَ لَا إِعَادَتُهَا فَرْضًا ، أَوْ أَنَّهُ يَنْوِي مَا هُوَ فَرْضٌ عَلَى الْمُكَلَّفِ لَا الْفَرْضُ عَلَيْهِ ، فَلَوْ نَوَى الْفَرْضَ عَلَيْهِ حَقِيقَةٌ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ وَالْخَامِسُ : أَنْ تَقَعَ كُلُّهَا جَمَاعَةٌ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا ، فَالْجَمَاعَةُ فِيْهَا كالطَّهَارَةِ ، لَكِنْ يَكْفِي الاقْتِدَاءُ بِالرَّاكِعِ ، لِأَنَّ ذَلِكَ أَوَّلُ صَلَاتِهِ ، فَالشَّرْطُ مَوْجُودٌ ، فَلَا يَكْفِي وُقُوْعُ بَعْضِهَا فِي جَمَاعَةٍ حَتَّى لَوْ أَخْرَجَ نَفْسَهُ فِيْهَا مِنَ الْقُدْوَةِ بِنِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ ، وَإِنِ اقْتَدَى بِآخَرَ فَوْرًا أَوْ سَبَقَهُ الْإِمَامُ بِبَعْضِ الرَّكَعَاتِ لَمْ تَصِحَّ ،

Dan yang keempat: Niat kefardhuan. Maksudnya adalah ia berniat mengulangi shalat maktubah (fardhu) tersebut agar tidak menjadi shalat sunnah yang baru (mandiri), bukan berarti ia mengulanginya sebagai fardhu (lagi bagi dirinya). Atau ia berniat melakukan apa yang asalnya adalah fardhu bagi orang mukallaf, bukan fardhu atas dirinya sendiri. Maka jika ia berniat fardhu atas dirinya secara hakiki, batallah shalatnya. Dan yang kelima: Hendaknya seluruh shalat tersebut terjadi secara berjamaah dari awal hingga akhirnya. Maka kedudukan jamaah di dalamnya adalah seperti kedudukan thaharah (syarat mutlak). Akan tetapi cukup baginya bermakmum kepada imam yang sedang ruku', karena hal itu adalah awal shalatnya, maka syarat (berjamaah dari awal) telah terpenuhi. Maka tidak cukup jika hanya sebagian shalatnya yang berjamaah, bahkan seandainya ia mengeluarkan dirinya dari jamaah dengan niat mufaraqah (memisahkan diri), atau ia langsung bermakmum kepada imam lain, atau imam mendahuluinya dengan sebagian rakaat (makmum masbuq), maka shalatnya tidak sah.

وَفُهِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَافَقَ الإِمَامُ مِنْ أَوَّلِهَا لَكِنْ تَأَخَّرَ سَلَامُهُ عَنْ سَلَامِهِ بِحَيْثُ عُدَّ مُنْقَطِعًا عَنْهُ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ ، وَأَنَّهُ لَوْ كَانَ الْمُعِيدُ إِمَامًا فَتَبَاطَأَ الْمَأْمُوْمُ عَنْ إِحْرَامِهِ بَطَلَتْ صَلَاةُ الإِمَامِ ، وَأَنَّهُ لَوْ رَأَى جَمَاعَةٌ وَشَكٍّ هَلْ هُمْ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى أَوْ فِيْمَا بَعْدَهَا امْتَنَعَتِ الْإِعَادَةُ مَع THEM ، وَالْسَّادِسُ : أَنْ تَقَعَ فِي الْوَقْتِ وَلَوْ رَكْعَةٌ فِيْهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَالسَّابِعُ : أَنْ يَنْوِيَ الإِمَامُ الإِمَامَةَ كَالْجُمُعَةِ

Dan dipahami dari hal tersebut bahwa seandainya ia bersamaan dengan Imam dari awal shalat, namun ia melambatkan salamnya dari salam Imam sekiranya ia dianggap terputus dari Imam, maka batallah shalatnya. Dan jika orang yang mengulang shalat tersebut bertindak sebagai Imam, lalu makmumnya melambatkan takbiratul ihramnya, maka batallah shalat sang Imam. Dan seandainya ia melihat suatu jamaah lalu ia ragu apakah mereka berada di rakaat pertama atau rakaat setelahnya, maka ia dilarang mengulang shalat (mu'adah) bersama mereka. Dan yang keenam: Hendaknya shalat tersebut terjadi di dalam waktunya, meskipun hanya satu rakaat (yang didapati di dalam waktu) menurut pendapat yang mu'tamad. Dan yang ketujuh: Hendaknya sang Imam berniat keimaman, sebagaimana dalam shalat Jumat.

نَعَمْ لَوْ لَحِقَ الإِمَامَ سَهْوٌ فَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْجُدْ كَانَ لِلْمُعِيدِ أَنْ يَسْجُدَ إِنْ لَمْ يَتَأَخَّرْ كَثِيرًا بِحَيْثُ يُعَدُّ مُنْقَطِعًا عَنْهُ ، وَلَوْ شَلَّ الْمُعِيْدُ فِي تَرْكِ رُكْنٍ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ ، بَلْ حَتَّى يُسَلِّمَ الإِمَامُ ، لِاحْتِمَالِ أَنْ يَتَذَكَّرَ قَبْلَ سَلَامِهِ عَدَمَ تَرْكِ شَيْءٍ فَلَا يَحْتَاجُ لِلإِنْفِرَادِ بِرَكْعَةٍ بَعْدَ سَلَامِ الإِمَامِ ؛ أَمَّا إِذَا عَلِمَ تَرْكَ رُكْنٍ وَعَدَمَ تَرْكِ الإِمَامِ لِمِثْلِهِ فَتَبْطُلُ صَلَاتُهُ حَالاً .

Ya, seandainya Imam mengalami lupa lalu ia salam dan tidak sujud (sahwi), maka bagi orang yang mengulang shalat tersebut boleh baginya sujud jika ia tidak melambatkan diri terlalu lama sekiranya dianggap terputus dari Imam. Dan jika orang yang mengulang shalat ragu dalam hal meninggalkan suatu rukun, shalatnya tidak batal hanya dengan keraguan itu, bahkan ditunggu sampai Imam salam; karena ada kemungkinan ia teringat sebelum salam bahwa ia tidak meninggalkan apapun sehingga tidak perlu menambah rakaat sendiri setelah Imam salam. Adapun jika ia yakin telah meninggalkan suatu rukun sedangkan Imam tidak meninggalkan rukun yang serupa, maka batallah shalatnya seketika.

وَالثَّامِنُ : أَنْ تُعَادَ مَعَ مَنْ يَرَى جَوَازَ الإِعَادَةِ أَوْ نَدْبَهَا فَخَرَجَ مَا لَوْ كَانَ الإِمَامُ الْمُعِيْدُ شَافِعِيًّا وَالْمَأْمُوْمُ حَنَفِيًّا أَوْ مَالِكِيًّا ، لِأَنَّهُ يَرَى بُطْلَانَ الصَّلَاةِ ، فَلَا قُدْوَةَ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ كَانَ الْمُقْتَدِي شَافِعِيًّا خَلْفَ مَنْ ذُكِرَ فَهِيَ صَحِيْحَةٌ وَالتَّاسِعُ : حُصُوْلُ ثَوَابِ الْجَمَاعَةِ حَالَةَ الْإِحْرَامِ بِهَا ، فَلَوِ انْفَرَدَ عَنِ الصَّفْ مَعَ إِمْكَانِ الدُّخُولِ فِيْهِ لَمْ تَصِحَّ إِعَادَتُهُ لِكَرَاهَةِ ذَلِكَ الْمُفَوَّتَةِ لِفَضِيْلَةِ الْجَمَاعَةِ ، وَكَذَا لَا تَصِحُ إِعَادَةُ الْعُرَاةِ إِذَا لَمْ يَكُونُوا عُمْيًا أَوْ فِي ظُلْمَةٍ ، لِعَدَمِ حُصُوْلِ ثَوَابِ الْجَمَاعَةِ حَيْنَئِذٍ

Kedelapan: Hendaknya (shalat tersebut) diulang bersama orang yang berpendapat akan bolehnya mengulang atau kesunnahannya. Maka dikecualikan seandainya Imam yang mengulang tersebut bermadzhab Syafi'i sedangkan makmumnya bermadzhab Hanafi atau Maliki, karena (makmum tersebut) beranggapan batalnya shalat (yang diulang), maka tidak ada iktida (permakmuman). Berbeda halnya jika yang bermakmum adalah orang Syafi'i di belakang orang-orang yang telah disebutkan tadi, maka shalatnya sah. Kesembilan: Memperoleh pahala jamaah pada saat takbiratul ihram dengannya. Maka seandainya ia sendirian (terpisah) dari barisan (shaf) padahal memungkinkan untuk masuk ke dalamnya, maka tidak sah pengulangannya karena makruhnya hal tersebut yang bisa menghilangkan fadhilah jamaah. Begitu juga tidak sah pengulangan shalat bagi orang-orang yang telanjang jika mereka tidak dalam keadaan buta atau di dalam kegelapan, karena tidak diperolehnya pahala jamaah pada saat itu.

وَالْعَاشِرُ : الْقِيَامُ فِيْهَا وَالْحَادِيْ عَشَرَ : أَنْ لَا تَكُوْنَ إِعَادَتُهَا لِلْخُرُوجِ مِنَ الْخِلَافِ ، فَإِنْ كَانَتْ إِعَادَتُهَا لِذَلِكَ ، كَأَنْ صَلَّى وَقَدْ مَسَحَ بَعْضَ رَأْسِهِ فِي الْوُضُوْءِ ، أَوْ صَلَّى فِي الْحَمَّامِ ، أَوْ مَعَ سَيَلَانِ دَم مِنْ بَدَنِهِ ، فَإِنَّ الأُولَى بَاطِلَةٌ عِنْدَ مَالِكِ ، وَالثَّانِيَةَ عِنْدَ أَحْمَدٍ ، وَالثَّالِثَةَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْجَمِيعِ ؛ سُنَّتْ إِعَادَتُهَا فِي هَذِهِ الأَحْوَالِ وَلَوْ مُنْفَرِدًا ، لِأَنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ هِيَ الإِعَادَةُ الْمُرَادَةُ هُنَا ، فَلَا يُشْتَرَطُ لَهَا جَمَاعَةٌ

Kesepuluh: Berdiri di dalam shalat tersebut. Kesebelas: Hendaknya pengulangan tersebut bukan karena alasan untuk keluar dari perbedaan pendapat (al-khuruj minal khilaf). Maka jika pengulangannya karena alasan tersebut—seperti ia shalat dalam keadaan hanya mengusap sebagian kepala saat wudhu, atau shalat di dalam kamar mandi, atau shalat beserta mengalirnya darah dari tubuhnya—maka sesungguhnya yang pertama itu batal menurut Imam Malik, yang kedua menurut Imam Ahmad, dan yang ketiga menurut Imam Abu Hanifah (semoga Allah meridhai mereka semua). Disunnahkan mengulanginya dalam keadaan-keadaan ini meskipun sendirian, karena ini bukanlah pengulangan yang dimaksudkan di sini (mu'adah berjamaah), maka tidak disyaratkan harus berjamaah.

وَالثَّانِي عَشَرَ : أَنْ تَكُوْنَ فِي غَيْرِ صَلَاةِ شِدَّةِ الْخَوْفِ ، فَإِنَّهَا لَا تُعَادُ عَلَى الْأَوْجَهِ ، لِأَنَّ الْمُبْطِلَ احْتُمِلَ فِيْهَا لِلْحَاجَةِ ، فَلَا تُكَرَّرُ وَنَظَمَ الْعَلَامَةُ عَبْدُ الْوَهَّابِ الطَّنْطَاوِيُّ الْمِصْرِيُّ سَبْعَةٌ مِنْ هَذِهِ الشُّرُوطِ ، مِنْ بَحْرِ الْكَامِلِ ، فَقَالَ :

Kedua belas: Hendaknya shalat tersebut bukan shalat dalam keadaan sangat ketakutan (syiddatul khauf). Karena sesungguhnya shalat tersebut tidak diulang menurut pendapat yang paling kuat (al-aujah), karena perkara yang membatalkan dimaafkan di dalamnya karena adanya kebutuhan (darurat), maka tidak perlu diulang-ulang. Al-Allamah Abdul Wahhab At-Thantawi Al-Mishri menyusun nazham (syair) untuk tujuh dari syarat-syarat ini dari bahar kamil, maka beliau berkata:

شَرْطُ الْمُعَادَةِ أَنْ تَكُوْنَ جَمَاعَةٌ فِي وَقْتِهَا وَالشَّخْصُ أَهْلُ تَنَفُلِ
مَعْ صِحَّةِ الأَوْلَى وَقَصْدِ فَرِيْضَةٍ يَنْوِي بِهَا صِفَةَ الْمُعَادِ الأَوَّلِ
فَضْلُ الْجَمَاعَةِ سَادِسُ أَوْ غَيْرُهُ قِيْلَ وَنَفْلٌ مِثْلُ فَرْضٍ وَاجْعَلِ
كَالْعِيدِ لَا نَحْوَ الْكُسُوْفِ فَلَا تَعُدْ وَجَنَازَةٍ لَوْ كُرِّرَت| لَم| تُمْهَلِ
وَمَعَ الْمُعَادَةِ إِن| تَعُدْ بَعْدِيَّةٌ تُقْبَلْ وَلَا وِتْرَانِ صَحَ فَعَوَّلِ
وَمَتَى رَأَيْتَ الْخُلْفَ بَيْنَ أَئِمَّةٍ فِي صِحَّةِ الأُولَى أَعِدْهَا تَجَمَّل
لَوْ كُنْتَ فَرْدًا بَعْدَ وَقْتِ أَدَائِهَا فَأَتْبَعْ فَقِيْهَا فِي صَلَاتِكَ تَعْدِلِ

Syarat shalat mu'adah (yang diulang) adalah harus berjamaah, dilakukan di dalam waktunya, dan orang tersebut adalah ahli (boleh) melakukan shalat sunnah. Disertai sahnya shalat yang pertama, and adanya maksud (niat) kefardhuan yang mana ia meniatkan sifat mu'adah (pengulangan) dari yang pertama. Memperoleh fadhilah jamaah adalah (syarat) keenam atau selainnya, dikatakan juga: Shalat sunnah itu kedudukannya seperti shalat fardhu (dalam hal boleh diulang). Jadikanlah seperti shalat Id, bukan seperti shalat Gerhana (Kusuf) maka janganlah diulang, dan juga shalat Jenazah yang jika dilakukan berulang kali maka tidak boleh ditunda-tunda. Dan bersama shalat mu'adah, jika engkau mengulang shalat Ba'diyah maka itu diterima, dan tidak ada dua witir (dalam satu malam) yang dianggap sah, maka berpegang teguhlah (pada pendapat ini). Dan kapan pun engkau melihat adanya perselisihan di antara para Imam mengenai sahnya shalat yang pertama, maka ulangilah shalat tersebut agar engkau menjadi lebih baik (indah). Walaupun engkau sendirian setelah waktu pelaksanaannya, maka ikutilah pendapat ahli fiqih dalam shalatmu niscaya engkau akan berbuat adil.

قَوْلُهُ : ( وَالشَّخْصُ أَهْلُ تَنقُلِ » ، أَيْ : وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَبْدُ مُسْتَحِقًا لِلزِّيَادَةِ بِتِلْكَ الإِعَادَةِ ، بِخِلَافِ فَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ ، فَإِنَّهُ لَا يَتَنَفَّلُ بِالإِعَادَةِ عَلَى صَلَاتِهِ ، وَكَذَا مَنْ بَانَ فَسَادُ صَلَاتِهِ الْأُوْلَىٰ فَلَا تَقَعُ الثَّانِيَةُ عَنْهَا ، بَل| تَجِبُ إِعَادَتُهَا عَلَى الصَّحِيحِ ؛ وَقِيلَ : لَا تَجِبُ لِتَبَيْنِ أَنَّ الْفَرْضَ حِينَئِذٍ هُوَ الثَّانِيَةُ

Perkataan beliau (dalam syair): "Dan orang tersebut adalah ahli (boleh) melakukan shalat sunnah", maksudnya: syarat ketiga adalah hendaknya seorang hamba tersebut berhak mendapatkan tambahan (pahala) dengan pengulangan tersebut, berbeda dengan orang yang kehilangan dua alat bersuci (faqiduth thahurain), karena ia tidak boleh melakukan shalat sunnah dengan cara mengulang shalatnya. Begitu juga orang yang ternyata jelas (tampak) kerusakan shalat pertamanya, maka shalat yang kedua tidaklah menempati posisi shalat yang pertama itu (bukan mu'adah), bahkan ia wajib mengulanginya menurut pendapat yang shahih. Dan dikatakan: Tidak wajib (mengulang yang kedua kali lagi) karena telah jelas bahwa fardhunya pada saat itu adalah shalat yang kedua.

قَوْلُهُ : « أَوْ غَيْرُهُ » وَ نَفْلٌ مِثْلُ فَرْضِ » ، أَيْ : وَغَيْرُ مَا تَقَدَّمَ مِنَ السِّنَّةِ الْمَذْكُورَةِ أَنْ تَكُوْنَ الصَّلَاةُ الأُولَى فَرْضًا مُؤَدَّى ، أو نَفْلًا تُسَنُّ فِيْهِ الْجَمَاعَةُ غَيْرَ الْكُسُوْفِ ؛ فَالْمُرَادُ بِهِ بَيَانُ الشَّرْطِ السَّابِعِ وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ بَيَانُ الْخِلَافِ فِي الْأَقْوَالِ كَمَا قَدْ يُتَوَهَّمُ قَوْلُهُ : « وَجَنَازَةٌ لَوْ كُرِّرَتْ لَمْ تُمْهَلِ » ، أَيْ : أَنَّ صَلَاةَ الْجَنَازَةِ يُسَنُّ تَكْرِيرُهَا لَكِنْ لَا تُؤَخَّرُ بِالانْتِظَارِ ، أَمَّا إِعَادَتُهَا فَلَا يُسَنُّ ، لِأَنَّهُ لَا يُتَنَفَّلُ بِهَ مَعَ ذَلِكَ تَقَعُ نَفْلًا . هَكَذَا فِي شَرْحِ « الْمَنْهَجِ » عَنِ « الْمَجْمُوْعِ » .

Perkataan beliau: "Atau selainnya" dan "shalat sunnah itu seperti fardhu", maksudnya: selain dari perkara yang telah lewat dari kesunnahannya yang telah disebutkan, hendaknya shalat yang pertama tersebut adalah shalat fardhu yang dikerjakan pada waktunya, atau shalat sunnah yang disunnahkan berjamaah di dalamnya selain shalat gerhana (kusuf). Maka yang dimaksud dengannya adalah penjelasan syarat ketujuh dan bukanlah maksudnya untuk menjelaskan perbedaan di dalam pendapat-pendapat sebagaimana yang mungkin disalahpahami. Perkataan beliau: "Dan shalat jenazah yang jika dilakukan berulang kali maka tidak boleh ditunda-tunda", maksudnya: bahwasanya shalat jenazah itu disunnahkan untuk diulang-ulang (bagi yang belum), akan tetapi tidak boleh diakhirkan dengan cara menunggu (jamaah lain). Adapun mengulang shalat jenazah (bagi yang sudah) maka tidak disunnahkan, karena tidak ada shalat sunnah (dalam jenazah) dan meskipun demikian, statusnya menjadi shalat sunnah. Demikianlah yang disebutkan dalam Syarh "Al-Manhaj" dari kitab "Al-Majmu'".

قَالَ الشَّوْبَرِيُّ : وَيَجُوْزُ تَكْرِيرُهَا ثَانِيَا وَثَالِثًا وَأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ ، وَمَعَ ذَلِكَ تَقَعُ نَفْلًا وَلَا ثَوَابَ فِيْهَا ، وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ مَنْهِي عَنْهُ لَا يَنْعَقِدُ ، بِخِلَافِ هَذِهِ الصُّوْرَةِ فَإِنَّهَا مُسْتَثْنَاةٌ . انْتَهَى قَوْلُهُ : ( وَلَا وِتْرَانِ صَحَّ » ، أَيْ : أَنَّ الْوِتْرَ فِي رَمَضَانَ لَا يَصِحُ إِعَادَتُهُ وَإِنْ كَانَتِ الْجَمَاعَةُ فِيْهِ مَسْئُوْنَةٌ ، لِحَدِيْثِ « لَا وِتْرَانَ فِي لَيْلَةٍ [ الترمذي ، رقم : ٤٧٠ ؛ النسائي ، رقم : ۱۹۷۹ ؛ أبو داود ، رقم : ١٤٣٩ ] . قَوْلُهُ : « فَعَوَّلِ » ، أَيْ : فَاعْتَمِدْ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ

Syabari berkata: Boleh mengulangi shalat tersebut untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, dan lebih dari itu, namun demikian statusnya menjadi shalat sunnah dan tidak ada pahala di dalamnya. Kaidah di kalangan Fuqaha adalah: bahwa segala sesuatu yang dilarang itu tidak sah (tidak terjadi), berbeda dengan bentuk (masalah) ini karena ia termasuk pengecualian. Selesai. Perkataan beliau: "Dan tidak ada dua witir yang sah", maksudnya: bahwa shalat Witir di bulan Ramadhan tidak sah untuk diulang, meskipun berjamaah di dalamnya disunnahkan, karena adanya hadits: "Tidak ada dua witir dalam satu malam." [At-Tirmidzi, nomor: 470; An-Nasa'i, nomor: 1679; Abu Dawud, nomor: 1439]. Perkataan beliau: "Maka berpegang teguhlah", maksudnya: maka bersandarlah (pedomani) pendapat ini.

قَوْلُهُ : « تَجْمَّلِ » فِعْلُ أَمْرٍ مَعْطُوْفٌ عَلَى « أَعِدْ » بِحَذْفِ حَرْفِ الْعَطْفِ ، أَيْ : تَزَيَّنْ وَتَحَسَّنْ بِهَذِهِ الإِعَادَةِ ، لِأَنَّه تُسَنُّ الإِعَادَةُ لِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ الْأَئِمَّةِ وَلَوْ كُنْتَ مُنْفَرِدًا قَوْلُهُ : « تَعْدِلِ » ، أَيْ : تَرْشُدْ وَتُصِبِ الصَّوَابَ وَثَالِثُهَا : الْمَنْذُورَةُ جَمَاعَةٌ ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ الإِمَامَةَ مَعَ الْإِحْرَامِ فِيْهَا انْعَقَدَتْ صَلَاتُهُ فُرَادَى مَعَ الإِثْمِ

Perkataan beliau: "Maka jadilah indah (tajammal)", merupakan fi’il amr yang dimathufkan (disambungkan) kepada kata "Ulangilah" (A'id) dengan membuang huruf athaf-nya, maksudnya: berhiaslah dan perbaguslah diri dengan pengulangan ini, karena disunnahkan mengulang shalat untuk keluar dari perbedaan pendapat para Imam walaupun engkau dalam keadaan sendirian. Perkataan beliau: "Niscaya engkau berbuat adil", maksudnya: engkau akan mendapat petunjuk dan mengenai kebenaran. Dan yang ketiganya: Shalat yang dinadzarkan secara berjamaah. Maka jika sang Imam tidak berniat keimaman bersamaan dengan takbiratul ihram di dalamnya, shalatnya tetap sah sebagai shalat sendirian disertai dengan dosa.

وَرَابِعُهَا : الْمُتَقَدِّمَةُ فِي الْمَطَرِ ، أَيْ : الْمَجْمُوْعَةُ بِالْمَطَرْ جَمْعُ تَقْدِيمِ ، وَمِثْلُ الْمَطَرِ الثَّلْجُ وَالْبَرَدُ ، فَإِنْ تَرَكَ نِيَّةَ الإِمَامَةِ فِيْهَا مَعَ الإِحْرَامِ لَمْ تَنْعَقِدْ صَلَاتُهُ قَطْعًا ؛ وَتَخْتَصُّ رُخْصَةُ الْجَمْعِ بِمَنْ يُصَلِّي جَمَاعَةٌ بِمَكَانٍ بَعِيدٍ يَتَأَنَّى بِالْمَطَرِ فِي طَرِيقِهِ ، بِخِلَافِ مَنْ يُصَلِّي فُرَادَى ، فَلَا يَجْمَعُ ، وَمَنْ يَمْشِي فِي كُنْ فَلَا يَجْمَعُ أَيْضًا لِاِنْتِفَاءِ التَّأَنِّي ، أَوْ مَنْ بَابُهُ عِنْدَ الْمَسْجِدِ ،

Dan yang keempatnya: Shalat yang dimajukan karena hujan, maksudnya: shalat yang dijama' karena hujan secara jama' taqdim, dan yang semisal dengan hujan adalah salju dan butiran es. Maka jika ia meninggalkan niat keimaman di dalamnya bersamaan dengan takbiratul ihram, shalatnya tidak sah secara mutlak; dan rukhshah (keringanan) menjama' shalat ini dikhususkan bagi orang yang shalat berjamaah di suatu tempat yang jauh yang mana ia merasa terganggu oleh hujan di jalannya, berbeda dengan orang yang shalat sendirian, maka ia tidak boleh menjama'. Dan begitu juga orang yang berjalan di bawah naungan (atap), maka ia tidak boleh menjama' juga karena hilangnya rasa terganggu (oleh hujan), atau orang yang pintunya (rumahnya) berada di dekat masjid.

نَعَمْ لِلإِمَامِ الرَّاتِبِ أَنْ يَجْمَعَ تَبَعًا لِلْمُأْمُوْمِيْنَ وَإِنْ لَمْ يَتَأَذَّ بِالْمَطَرِ ، وَلَيْسَ مِثْلَهُ الْمُجَاوِرُوْنَ فِي الْمَسْجِدِ ، وَلَا يُشْتَرَطُ وُجُودُ الْمَطَرِ فِي مَجِينِهِ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ ، بَلْ يَكْفِي مَا لَوِ اتَّفَقَ وُجُوْدُهُ وَهُوَ بِالْمَسْجِدِ وَالْحَاصِلُ أَنَّ الشُّرُوْطَ سَبْعَةٌ : أَحَدُهَا : أَنْ يُوْجَدَ الْمَطَرُ عِنْدَ التَّحَرُّمِ بِالصَّلَاتَيْنِ ، وَعِنْدَ تَحَلُّلِهِ مِنَ الصَّلَاةِ الْأُوْلَى وَبَيْنَهُمَا

Ya, bagi imam rawatib diperbolehkan menjama' karena mengikuti para makmum meskipun ia sendiri tidak merasa terganggu oleh hujan. Dan tidaklah sama dengannya (imam rawatib) bagi orang-orang yang tinggal bertetangga (mukim) di dalam masjid. Dan tidak disyaratkan adanya hujan pada saat keberangkatannya dari rumah menuju masjid, akan tetapi cukup seandainya kebetulan hujan tersebut ada sedangkan ia sudah berada di masjid. Walhasil, sesungguhnya syarat-syaratnya (jama' karena hujan) ada tujuh: Salah satunya: Hendaknya hujan tersebut ada ketika takbiratul ihram pada kedua shalat tersebut, dan ketika selesai (salam) dari shalat yang pertama, serta di antara keduanya.

وَثَانِيْهُمَا : أَنْ يُصَلِّيَ جَمَاعَةً ، وَلَا بُدَّ أَنْ لَا يَتَبَاطَأَ الْمَأْمُوْمُوْنَ عَنِ الإِمَامِ بِالإِحْرَامِ ، فَإِن| تَبَاطَؤُوا ، وَلَكِنْ أَدْرَكُوْا بَعْدَ إِحْرَامِهِمْ مَعَهُ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ قَبْلَ رُكُوعِهِ صَحَّتْ صَلَاتُهُمْ ، وَإِلَّا فَلَا ، كَالْإِمَامِ لِعَدَمِ الْجَمَاعَةِ . وَثَالِثُهَا : أَنْ تَكُوْنَ الصَّلَاةُ بِمُصَلَّى بَعِيدٍ عُرْفًا وَرَابِعُهَا : أَنْ يَتَأَنَّى بِالْمَطَرِ فِي طَرِيقِهِ وَخَامِسُهَا : التَّرْتِيْبُ وَسَادِسُهَا : الْوِلَاءُ وَسَابِعُهَا : نِيَّةُ الْجَمْعِ ؛ فَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيّ [ رقم : ٥٤٣ ، ٥٦٢ ، ١١٧٤ ] وَمُسْلِمٍ [رقم : ٧٠٥ ؛ الترمذي ، رقم : م : ۱۸۷ ؛ أبو داود ، رقم : ۱۲۱۰ ، ۱۲۱۱ ، « مسند أحمد » ، رقم : ٢٥٥٣ ؛ « موطأ مالك » ، رقم : ٣٣٢ ] ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّهُ صَلَّى بِالْمَدِينَةِ سَبْعًا جَمِيعًا وَثَمَانِيَةً جَمِيْعًا : الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ

Kanya: Hendaknya ia shalat berjamaah, dan para makmum tidak boleh melambatkan diri dari Imam dalam hal takbiratul ihram. Maka jika mereka melambatkan diri, namun mereka masih mendapati waktu setelah takbiratul ihram bersama Imam yang sekiranya cukup untuk membaca Al-Fatihah sebelum ruku'-nya Imam, maka sah shalat mereka. Jika tidak, maka tidak sah, sebagaimana halnya bagi Imam (tidak sah jama' taqdim-nya) karena tidak adanya jamaah. Ketiganya: Hendaknya shalat tersebut dilakukan di mushalla (tempat shalat) yang jauh secara urf (kebiasaan). Keempatnya: Hendaknya ia merasa terganggu oleh hujan di jalannya. Kelimanya: Tertib (berurutan). Keenamnya: Muwalat (berkesinambungan). Ketujuhnya: Niat jama'. Maka di dalam Shahih Al-Bukhari [nomor: 543, 562, 1174] dan Muslim [nomor: 705; At-Tirmidzi, nomor: 187; Abu Dawud, nomor: 1210, 1211, Musnad Ahmad No: 2553; Muwatha' Malik No: 332], dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa beliau shalat di Madinah tujuh (rakaat) secara jamak dan delapan (rakaat) secara jamak: Dzuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya.

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ . قَالَ الإِمَامُ مَالِكٌ [رقم : ٣٣٢] ، وَوَافَقَهُ الشَّافِعِيُّ : أَرَى ذَلِكَ بِعُذْرِ الْمَطَرِ . وَلَا يَجُوزُ الْجَمْعُ لَهُ تَأْخِيْرًا ، لِأَنَّ الْمَطَرَ قَدْ يَنْقَطِعُ قَبْلَ أَنْ يَجْمَعَ ، فَيُؤَدِّي إِلَى إِخْرَاجِ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ نِيَّةَ الاقْتِدَاءِ أَوْ الانْتِمَامِ أَوِ الْمَأْمُوْمِيَّةِ أَوِ الْجَمَاعَةِ وَاجِبَةٌ عَلَى الْمَأْمُوْمِ إِنْ أَرَادَ الْمُتَابَعَةَ مُطْلَقًا ، وَلَوْ فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ فِي غَيْرِ تِلْكَ الأَرْبَعِ ؛ أَمَّا فِيْهَا ، فَتَجِبُ هَذِهِ النِّيَّةُ عَلَيْهِ مَعَ الإِحْرَامِ ، كَالْإِمَامِ ،

Dan dalam satu riwayat Muslim: "Tanpa adanya rasa takut dan bukan dalam perjalanan (safar)." Imam Malik berkata [No: 332], dan asy-Syafi'i menyetujuinya: "Aku berpendapat hal itu karena udzur hujan." Dan tidak boleh menjamak karena hujan secara jamak ta'khir, karena hujan terkadang berhenti sebelum ia menjamaknya, sehingga hal itu menyebabkan keluarnya shalat dari waktunya tanpa adanya udzur. Kemudian ketahuilah bahwa niat mengikuti (iqtida'), bermakmum (intimam/ma'mumiyyah), atau berjamaah adalah wajib bagi makmum jika ia ingin mengikuti (imam) secara mutlak, meskipun di tengah-tengah shalatnya selain pada (shalat) yang ampat itu; adapun pada (shalat yang empat itu), maka wajib niat ini baginya bersamaan dengan takbiratul ihram, seperti halnya imam.

فَلَوْ تَابَعَ فِي فِعْلِيٌّ وَلَوْ وَاحِدًا ، أَوْ سَلَامٍ بَعْدَ انْتِظَارٍ كَثِيرٍ عُرْفًا لِلْمُتَابَعَةِ ، وَلَمْ يَنْوِ هَذِهِ النِّيَّةَ ، أَوْ شَكٍّ فِيْهَا ، بَطَلَت| صَلَاتُهُ ، لِأَنَّهُ رَبَطَهَا عَلَى صَلَاةِ غَيْرِهِ بِلَا رَابِطٍ بَيْنَهُمَا مُتَيَقَّنٍ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ تَابَعَ فِي قَوْلِيٌّ غَيْرِ سَلَامٍ ، أَوْ تَابَعَ فِي فِعْلِيَّ اتَّفَاقًا مِنْ غَيْرِ انْتِظَارٍ ، أَوْ بَعْدَ انْتِظَارٍ يَسِيْرٍ أَوْ كَثِيرٍ ، لَا لِلْمُتَابَعَةِ ، لَكِنْ لَوْ نَوَى الْمَأْمُوْمُ الانْتِمَامَ فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ صَحَّ مَعَ الْكَرَاهَةِ ، وَلَا يَحْصُلُ لَهُ فَضِيْلَةُ الْجَمَاعَةِ حَتَّى فِيْمَا أَدْرَكَهُ مَعَ الْإِمَامِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، لِأَنَّهُ صَيَّرَ نَفْسَهُ تَابِعًا بَعْدَ أَنْ كَانَ مُسْتَقِلًا ، فَالْأَوْلَى الاقْتِصَارُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَيُسَلِّمُ ، ثُمَّ يَقْتَدِيْ خَلْفَ ذَلِكَ الإِمَامِ ؛ وَكَمَا أَنَّ إِدْخَالَ نَفْسِهِ مَعَ الإِمَامِ فِيْ أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ مَكْرُوهُ ، كَذَلِكَ قَطْعُهَا بِغَيْرِ عُذْرٍ (١) ، بِخِلَافِ مَا إِذَا كَانَ بِهِ كَتَطْوِيلِ الإِمَامِ فَلَا يُكْرَهُ ، وَلَا يَفُوتُ ثَوَابُهُ ، لِأَنَّ الْمُفَارَقَةَ لِعُذْرٍ لَا تُفَوِّتُ فَضِيلَةَ الْجَمَاعَةِ .

Maka jika ia mengikuti dalam gerakan (fi'li) meskipun hanya satu gerakan, atau (mengikuti) salam setelah menunggu lama secara urf untuk mengikuti, sedangkan ia tidak meniatkan niat ini, atau ia ragu di dalamnya, maka batal shalatnya, karena ia telah mengaitkan shalatnya dengan shalat orang lain tanpa adanya ikatan yang meyakinkan di antara keduanya. Berbeda halnya jika ia mengikuti dalam ucapan (qauli) selain salam, atau mengikuti dalam gerakan secara kebetulan tanpa menunggu, atau setelah menunggu sebentar atau lama namun bukan untuk mengikuti (tapi kebetulan bareng), akan tetapi jika makmum berniat bermakmum di tengah-tengah shalatnya maka hukumnya sah disertai makruh, namun ia tidak mendapatkan fadhilah (keutamaan) berjamaah bahkan pada apa yang ia dapati bersama imam menurut pendapat yang mu'tamad, karena ia telah menjadikan dirinya sebagai pengikut setelah sebelumnya ia mandiri (munfarid), maka yang lebih utama adalah mencukupkan pada dua rakaat lalu ia salam, kemudian ia bermakmum (mengulang dari awal) di belakang imam tersebut; dan sebagaimana memasukkan dirinya bersama imam dalam di tengah-tengah shalatnya adalah makruh, demikian pula memutusnya (permakmuman) tanpa adanya udzur (1), berbeda halnya jika terdapat udzur seperti Imam yang terlalu panjang (bacaannya), maka tidak makruh dan tidak hilang pahalanya, karena mufaraqah (memisahkan diri) karena udzur tidaklah menghilangkan fadhilah jamaah.

وَيَجُوْزُ الانْتِقَالُ لِجَمَاعَةٍ أُخْرَى ، إِلَّا فِي الْجُمُعَةِ ، لِمَا يَلْزَمُ مِنْ إِنْشَاءِ جُمُعَةٍ بَعْدَ أُخْرَى؛ وَلَوْ عَلِمَ الأَجِيْرُ أَنَّ الْمُسْتَأْجِرَ يَمْنَعُهُ مِنَ الْجَمَاعَةِ، وَكَانَ شِعَارُ الْجَمَاعَةِ يَتَوَقَّفُ عَلَى حُضُورِهِ ، حَرُمَ عَلَيْهِ إِيْجَارُ نَفْسِهِ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ ،

Dan diperbolehkan pindah ke jamaah yang lain, kecuali dalam shalat Jumat, karena hal itu akan mengakibatkan munculnya shalat Jumat (baru) setelah shalat Jumat yang lain; dan seandainya seorang pekerja mengetahui bahwa penyewa jasanya akan melarangnya dari shalat berjamaah, sedangkan syiar jamaah bergantung pada kehadirannya, maka haram baginya menyewakan dirinya setelah masuk waktu shalat.

(١) قَوْلُهُ : كَذَلِكَ قَطْعُهَا بِغَيْرِ عُذْرٍ أَيْ نِيَّةُ الْمُفَارَقَةِ بِلَا عُذْرٍ فِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ كَرَاهَتُهُ وَخُرُوجُهُ عَنْ ثَوَابِ الْجَمَاعَةِ فِيمَا بَقِيَ
(1) Perkataan beliau: "Demikian pula memutusnya (permakmuman) tanpa adanya udzur", maksudnya meniatkan mufaraqah tanpa udzur itu ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan yang mu'tamad hukumnya makruh serta menggugurkan pahala berjamaah pada sisa shalatnya.

Grid Mufrodat Penting

الْمُعَادَةُ Shalat yang diulang
فَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ Orang yang kehilangan dua alat bersuci
الْمُتَقَدِّمَةُ فِي الْمَطَرِ Jama' Taqdim karena hujan
الْمُنْذُورَةُ جَمَاعَةٌ Shalat yang dinadzarkan berjamaah

Catatan Murid Basmol

  • Niat keimaman wajib berbarengan ama Takbiratul Ihram khusus di 4 shalat: Jumat, Mu'adah, Nadzar jamaah, dan Jama' Taqdim hujan.
  • Shalat Witir Ramadhan menurut pendapat mu'tamad kagak boleh di-mu'adah (diulang) biar udeh jamaah ato sendirian.
  • Kalo mufaraqah (misah dari imam) tanpa udzur hukumnya makruh dan pahala jamaah yang sisa langsung angus.
Buka Syarh Nyablak ala Ustadz BCA (Klik di Sini)

Dengerin nih Jemaah... Ane mau urai secara gamblang biar otak kita kagak kesengsem faham liberal ato asal-asalan. Imam itu pemimpin, dan di 4 shalat yang disebutin tadi, status imamah itu bener-bener harga mati!

Takhrij Hadits Shalat Mu'adah:
Hadits riwayat Abu Dawud [575], An-Nasa'i [858], Ahmad [17020], dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi [219] secara tegas jadi dalil landasan sunnahnya ngulang shalat maktubah (fardhu) kalo nemu jamaah lain di waktunya, biar kita udeh shalat duluan. Status shalat kedua jadi sunnah nafiah buat kita.
Kotak Kasus Nyata di Lapangan:
Ada orang udeh shalat Dzuhur sendirian di rumah. Pas dia ke masjid, ternyata jamaah di masjid baru mulai. Dia disunnahkan ikut shalat lagi bareng imam masjid. Tapi inget! Di shalat mu'adah ini, dia kudu niat fardhu (maksudnya bentuk shalat fardhu asalnya) tapi kagak boleh nolak hukum jamaah dari awal sampe akhir. Kalo dia mufaraqah di tengah jalan tanpa udzur syar'i, shalat mu'adahnye langsung BATAL! Kagak sah!
KOTAK BAHAYA LATEN (TADLIS & KELIRU FIQIH):
Hati-hati Jemaah! Jangan coba-coba mengulang shalat Witir di satu malam yang sama (misal abis Tarawih udeh Witir, ntar tahajjud Witir lagi) karena Nabiyyuna ﷺ udeh negesin: "Laa witraani fii lailatin" (Kagak ada dua witir dalam satu malam). Siapa yang nekat ngulang Witir Ramadhan dengan anggapan mu'adah, hukumnya kagak sah menurut pendapat yang mu'tamad! Jangan sok rajin tapi nabrak syariat!
============== ```html

DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA

Syarh Safinatun Najah — Karya Syeikh Nawawi Al-Bantani

Pengajar: Abi Ahmad Thoufur (Alumni Gontor '91 / Murid Mu'allim Syafi'i Hadzami)
Khotib Tetap: Kemenag, Kemendagri, DPR-RI

Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA

Kite lanjut lagi, Jemaah! Sikaaat... Jangan kasih kendor! Ini kite masuk bab yang krusial banget urusan jamaah, biar kagak maen seruduk bae pas ikut Imam. Pembahasan syarat bermakmum (Al-Qudwah) ini kudu Ente pahami bener-bener urat-per-urat, biar shalat kite kaga blangsak dan tetep sah dapet fadhilah jamaah. Pasang kuping bae-bae, jangan ampe gagal paham!

وَكَذَا إِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَمْنَعُهُ مِنَ الْجُمُعَةِ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ إِيْجَارُ نَفْسِهِ بَعْدَ الْفَجْرِ، هَذَا إِنْ لَمْ يَضْطَرَّ لِذَلِكَ ، وَإِلَّا جَازَ ؛

Demikian juga jika ia mengetahui bahwa penyewa akan melarangnya dari shalat Jumat, maka haram baginya menyewakan dirinya setelah terbit fajar; hal ini jika ia tidak dalam keadaan darurat untuk itu, namun jika darurat maka diperbolehkan.

وَأَنَّ نِيَّةَ الإِمَامَةِ أَوِ الْجَمَاعَةِ مَنْدُوبَةٌ لِلإِمَامِ فِي غَيْرِ ذَلِكَ لِيَنَالَ فَضْلَ الْجَمَاعَةِ مِنْ حِيْنِ وُجُوْدِهَا، لِأَنَّهُ لَا يَشْصُلُ إِلَّا بِهَا ،

Dan bahwasanya niat menjadi Imam atau niat berjamaah adalah disunnahkan bagi Imam pada selain shalat-shalat tersebut (yang wajib niat imam) agar ia memperoleh fadhilah jamaah sejak adanya jamaah tersebut, karena fadhilah itu tidak didapatkan kecuali dengan niat tersebut.

وَلَا يُكْرَهُ وُجُودُ هَذِهِ النِّيَّةِ عَلَيْهِ فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ ، لِأَنَّهُ لَا يَصِيرُ تَابِعًا ، بِخِلَافِ الْمَأْمُوْمِ ، وَلَا تَنْعَطِفُ نِيَّتُهُ عَلَى مَا قَبْلَهَا

Dan tidak dimakruhkan adanya niat ini baginya di tengah-tengah shalatnya, karena ia tidaklah menjadi pengikut (makmum), berbeda halnya dengan makmum. Dan niatnya tersebut tidaklah berlaku surut pada bagian shalat sebelumnya.

فصل في شروط المعتبرة في القدوة

شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ : شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ بِكَسْرِ الْقَافِ وَضَمَّهَا ، أَحَدَ عَشَرَ :

Fasal mengenai Syarat-syarat Al-Qudwah (bermakmum) dengan dibaca kasrah pada huruf Qaf-nya atau dhammah (Qidwah/Qudwah), ada sebelas:

أَحَدُهَا : أَنْ لَا يَعْلَمَ ، أَيْ : وَأَنْ لَا يَظُنَّ ظَنَّا غَالِبًا ، بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِمَنْ يَظُنُّ بُطْلَانَ صَلَاتِهِ ، كَشَافِعِيٌّ اقْتَدَى بِحَنَفِيَّ مَسَّ فَرْجَهُ دُوْنَ مَا إِذَا افْتَصَدَ ، نَظَرًا لِظَنَّ الْمَأْمُوْمِ نَقْضَ الْمَسِّ دُونَ الإِمَامِ ،

Salah satunya: Hendaknya ia tidak mengetahui, maksudnya: dan hendaknya tidak menyangka dengan sangkana yang kuat (dhann ghalib), akan batalnya shalat Imamnya karena hadats atau selainnya dari Imamnya. Maka tidak sah bermakmum kepada orang yang ia sangka batal shalatnya, seperti orang Syafi'i yang bermakmum kepada orang Hanafi yang menyentuh kemaluannya, berbeda halnya jika (Imam Hanafi tersebut) melakukan bekam (ifthashada), dengan melihat pada sangkaan makmum akan batalnya wudhu karena menyentuh (kemaluan) bukan menurut sangkaan Imamnya.

وَكَمُجْتَهِدَيْنِ اخْتَلَفَا فِي إِنَاءَيْنِ مِنَ الْمَاءِ ، أَحَدُهُمَا طَاهِرُ وَالآخَرُ مُتَنَجِّسُ ، فَتَوَضَّأَ كُلٌّ مِنْ إِنَائِهِ أَوِ اغْتَسَلَ أَوْ طَهَّرَ إِنَاءٌ أَوْ غَسَلَ تَوْبًا بِهِ ، فَلَا يَجُوْزُ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ ، لِأَنَّ كُلَّا يَظُنُّ نَجاسَةَ إِنَاءِ صَاحِبِهِ ،

Dan seperti dua orang mujtahid yang berselisih pendapat mengenai dua wadah air, yang mana salah satunya suci dan yang lainnya terkena najis (mutanajjis), lalu masing-masing berwudhu dari wadahnya, atau mandi, atau mensucikan wadah, atau mencuci pakaian dengannya. Maka tidak boleh salah satu dari keduanya bermakmum kepada yang lain, karena masing-masing menyangka kenajisan wadah milik temannya.

فَإِنْ زَادَ الإِنَاءُ الطَّاهِرُ عَلَى الْوَاحِدِ ، بِأَنْ كَانَ ثَلَاثَةٌ مَعَ الْمُتَنَجِّسِ ، وَكَثُرَ الْمُجْتَهِدُ ، وَتَطَهَّرَ كُلٌّ بِمَا ظَنَّهُ الطَّاهِرَ بِالاجْتِهَادِ ، وَأَمَّ فِي صَلَاةٍ ، صَحَّ اقْتِدَاءُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ ، وَوَجَبَ إِعَادَةُ مَا صَلَّاهُ خَلْفَ مَنْ يَتَعَيَّنُ الْبُطْلَانُ فِي صَلَاتِهِ ، وَهُوَ ثَانِي إِمَامَيْنِ ؛

Maka jika wadah yang suci itu lebih dari satu, misalnya ada tiga wadah beserta satu wadah yang najis, dan jumlah orang yang berijtihad banyak, lalu masing-masing bersuci dengan apa yang ia sangka suci melalui ijtihad, kemudian (masing-masing) mengimami dalam shalat, maka sah bermakmumnya sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Dan wajib mengulangi shalat yang dikerjakannya di belakang orang yang telah dipastikan batal shalatnya, yaitu Imam yang kedua.

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي « فَتْحِ الْجَوَادِ » : وَجْهُ تَعَيُّنِ الثَّانِي الْبُطْلَانُ ، أَنَّ أَحَدَ الإِنَاءَيْنِ نَجِسُ ، فَإِذَا اقْتَدَى بِالأَوَّلِ صَحَّ ، لِاحْتِمَالِ ظُهْرِهِ ، حَتَّ فِي ظَنَّ الْمَأْمُوْمِ ؛ فَلَمَّا اقْتَدَىٰ بِالثَّانِي أَيْضًا تَعَيَّنَ الْبُطْلَانُ فِيْهِ لِأَنَّهُ مَعَ صِحَةِ اقْتِدَائِهِ بِالْأَوَّلِ صَارَ الثَّانِي غَيْرَ مُحْتَمِلِ الظُّهْرِ فِي ظَنِّهِ . أَنْتَهَى

Ibnu Hajar berkata dalam "Fathul Jawad": Sisi kepastian batalnya (Imam) yang kedua adalah bahwasanya salah satu dari dua wadah itu najis. Maka ketika ia bermakmum kepada yang pertama, shalatnya sah karena adanya kemungkinan suci wadah tersebut bahkan dalam sangkaan makmum sekalipun. Namun ketika ia juga bermakmum kepada yang kedua, maka pastilah batal di dalamnya, karena di samping sahnya bermakmum kepada yang pertama, maka wadah yang kedua menjadi tidak mungkin suci dalam sangkaannya. Selesai.

وَيَأْتِي ذَلِكَ فِي أَكْثَرِ مِنِ اثْنَيْنِ ، فَلَوْ كَانُوْا خَمْسَةٌ وَالْأَوَانِي كَذَلِكَ ، وَمِنْهَا وَاحِدٌ نَجِسٌ ، وَأَمَّ كُلٌّ فِي صَلَاةٍ ، وَلَمْ يَظُنَّ شَيْئًا مِنْ أَحْوَالِ غَيْرِهِ ، أَوْ ظَنَّ طَهَارَةَ غَيْرِ الْأَخِيْرِ ، أَعَادَ كُلًٌّ مِنْهُمْ مَا صَلَّاهُ مَأْمُوْمًا فِي الْأَخِيْرِ

Dan hal itu juga berlaku pada jumlah yang lebih dari dua. Seandainya mereka berjumlah lima orang dan wadahnya juga demikian, dan salah satunya ada yang najis, lalu masing-masing mengimami dalam shalat, dan ia tidak menyangka sesuatu pun dari keadaan orang lain, atau ia menyangka sucinya selain orang yang terakhir, maka masing-masing dari mereka mengulangi apa yang ia kerjakan sebagai makmum pada shalat yang terakhir.

قَالَ عُثْمَانُ السُّوَيْفِيُّ فِي ( تُحْفَةِ الْحَبِيبِ » : فَإِذَا ابْتَدَؤُوْا بِالصُّبْحِ أَعَادُوا الْعِشَاءَ إِلَّا إِمَامَهَا فَيُعِيدُ الْمَغْرِبَ ، فَيَحْرُمُ عَلَيْهِمْ الانْتِمَامُ فِي الْعِشَاءِ ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ الانْتِمَامُ فِي الْمَغْرِبِ . انْتَهَى

Utsman As-Suwaifi berkata dalam "Tuhfatul Habib": Maka apabila mereka memulai dengan shalat Shubuh, mereka mengulangi shalat Isya kecuali imamnya (imam shalat Isya tersebut), maka ia mengulangi shalat Maghrib. Maka haram bagi mereka bermakmum pada shalat Isya tersebut, and haram baginya (sang imam tersebut) bermakmum pada shalat Maghrib. Selesai.

وَمِثْلُ اخْتِلَافِ الْمُجْتَهِدَيْنِ فِي الإِنَاءَيْنِ مَا إِذَا سَمِعَ وَاحِدٌ مِنِ اثْنَيْنِ صَوْتًا يَنْقُضُ الْوُضُوْءَ وَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ خُرُوجَهُ مِنْ أَحَدِهِمَا بِعَيْنِهِ ، وَتَنَاكَرَاهُ ، فَلَمَّا اقْتَدَى بِهِمَا وَجَبَ إِعَادَةُ مَا صَلَّاهُ خَلْفَ الثَّانِي مِنْهُمَا ، وَلَوْ عَلِمَ أو ظَنَّ أَنَّ الإِمَامَ الْحَنَفِيَّ مَثَلًا تَرَكَ الْبَسْمَلَةَ ، بِأَنْ لَمْ يَسْكُتْ بَعْدَ الْإِحْرَامِ بِقَدْرِهَا ، فَلَا يَصِحُ اقْتِداؤُهُ بِهِ

Dan yang semisal dengan perselisihan dua orang mujtahid mengenai dua wadah air adalah apabila salah satu dari dua orang mendengar suara yang membatalkan wudhu, namun ia tidak mengetahui secara pasti bahwa suara itu keluar dari salah satu dari keduanya, dan keduanya saling mengingkari. Maka ketika ia bermakmum kepada keduanya, wajib baginya mengulangi apa yang ia kerjakan di belakang orang yang kedua dari keduanya. Dan seandainya ia mengetahui atau menyangka bahwa Imam yang bermadzhab Hanafi, misalnya, meninggalkan basmalah—sekiranya Imam tersebut tidak diam sejenak setelah takbiratul ihram seukuran durasi membaca basmalah—maka tidak sah bermakmum kepadanya.

وَثَانِيهَا : أَنْ لَا يَعْتَقِدَ ، أَيْ : الْمَأْمُوْمُ ؛ وُجُوْبَ قَضَائِهَا ، أَيْ : وُجُوْبَ إِعَادَةِ الصَّلَاةِ ؛ عَلَيْهِ ، أَيْ : عَلَى الإِمَامِ . قَالَ السُّوَيْفِيُّ : الْمُرَادُ بِالاعْتِقَادِ هُنَا الظَّنُّ ظَنَّا غَالِبًا ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ مَا أَصْطَلَحَ عَلَيْهِ الْأُصُولِيُّوْنَ ، وَهُوَ : الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ . أَنْتَهَى

Keduanya: Hendaknya tidak meyakini, maksudnya: makmum tersebut (tidak meyakini); kewajiban qadha shalat tersebut atasnya, maksudnya: kewajiban mengulangi shalat atas Imam tersebut. As-Suwaifi berkata: Yang dimaksud dengan "keyakinan" di sini adalah sangkaan yang kuat (dhann ghalib), dan bukanlah yang dimaksud dengannya adalah apa yang diistilahkan oleh para ahli Ushul Fiqih, yaitu: kemantapan hati yang sesuai dengan kenyataan. Selesai.

أَيْ : فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِمَنْ تَلْزَمُهُ الإِعَادَةُ ، كَمُتَيَمَّمٍ لِبَرْدٍ ، أَوْ مُقِيمٍ تَيَمَّمَ فِي مَحَلَّ يَغْلُبُ فِيْهِ وُجُودُ الْمَاءِ ، أَوْ فَاقِدِ الطَّهُوْرَيْنِ لِعَدَمِ الاعْتِدَادِ بِصَلَاتِهِ ، وَصَحَّ الاقْتِدَاءُ بِغَيْرِهِ ، كَمُسْتَحَاضَةٍ غَيْرِ مُتَحَيَّرَةٍ ، وَمُتَيَمَّمٍ لَا تَلْزَمُهُ إِعَادَةٌ ، وَمَاسِحِ خُفٌ ، وَمُضْطَجِعٍ ، وَمُسْتَلْقٍ وَلَوْ مُؤْمِيًا ، وَصَبِيٌّ وَلَوْ عَبْدًا ، وَسَلِسٍ وَمُسْتَجْمِرٍ ؛ أَمَّا الْمُتَحَيَّرَةُ فَلَا يَصِحُ اقْتِداءُ غَيْرِهَا وَلَوْ مُتَحَيَّرَةٌ بِهَا ، بِنَاءً عَلَى وُجُوْبِ الإِعَادَةِ عَلَيْهَا

Maksudnya: Maka tidak sah bermakmum kepada orang yang wajib baginya mengulangi shalat (qadha), seperti orang yang bertayamum karena dingin, atau orang yang mukim yang bertayamum di tempat yang biasanya terdapat air, atau orang yang kehilangan dua alat bersuci (faqiduth thahurain) karena shalatnya tidaklah dianggap (sebagai shalat yang sempurna). Dan sah bermakmum kepada selain mereka, seperti wanita yang istihadhah yang bukan mutahayyirah (bingung masa haidnya), orang yang bertayamum yang tidak wajib baginya mengulang shalat, orang yang mengusap khuf, orang yang shalat dengan berbaring miring, orang yang shalat dengan terlentang meskipun dengan isyarat, anak kecil meskipun ia seorang hamba sahaya, orang yang beser (salis), dan orang yang bersuci dengan batu (mustajmir). Adapun wanita mutahayyirah, maka tidak sah bermakmum kepadanya bagi orang lain meskipun ia sesama wanita mutahayyirah, berdasarkan pada wajibnya mengulang shalat baginya.

وَثَالِثُهَا : أَنْ لَا يَكُوْنَ مَأْمُوْمًا ، أَيْ : مَا دَامَ مُقْتَدِيًا بِغَيْرِهِ ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِمُقْتَدٍ ، لِأَنَّهُ تَابِعٌ لِغَيْرِهِ يَلْحَقُهُ سَهْوُهُ ، وَمِنْ شَأْنِ الإِمَامِ الاسْتِقْلَالُ وَحَمْلُ سَهْوِ غَيْرِهِ ، فَلَا يَجْتَمِعُ الاقْتِدَاءُ وَالاسْتِقْلَالُ ؛ وَمِثْلُ الْمَأْمُوْمِ الْمَشْكُوكُ فِي مَأْمُوْمِيَّتِهِ ، كَأَنْ وَجَدَ رَجُلَيْنِ يُصَلِّيَانِ وَتَرَدَّدَ أَيُّهُمَا الإِمَامُ ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ غَيْرِ اجْتِهَادٍ ، أَمَّا إِذَا اجْتَهَدَ فَأَذَاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى أَنَّ أَحَدَهُمَا فَقِيْهُ أَوْ مُتَعَمِّمٌ دُوْنَ الآخَرِ ، صَحَ اقْتِداؤُهُ بِهِ ، وَوَجَبَتْ الإِعَادَةُ إِنْ تَبَيَّنَ كَوْنُهُ مَأْمُوْمًا وَإِلَّا فَلَا

Ketiganya: Hendaknya ia bukan sebagai makmum, maksudnya: selama ia masih bermakmum kepada orang lain. Maka tidak sah bermakmum kepada orang yang sedang bermakmum, karena ia adalah pengikut bagi yang lain yang mana ia menanggung kesalahan Imamnya, sedangkan sifat seorang Imam itu haruslah mandiri (istiqlal) dan menanggung kesalahan orang lain, maka tidak bisa berkumpul antara sifat bermakmum (mengikut) dan sifat mandiri. Dan yang semisal dengan makmum (dalam hal ini adalah) orang yang diragukan kemakmumannya, seperti ia mendapati dua orang lelaki yang sedang shalat dan ia ragu mana di antara keduanya yang menjadi Imam. Maka tidak sah bermakmum kepada salah satu dari keduanya tanpa ijtihad. Adapun jika ia berijtihad, lalu ijtihadnya mengarahkan bahwa salah satunya adalah seorang ahli fiqih atau orang yang berserban (ulama) sedangkan yang lain tidak, maka sah bermakmum kepadanya. Namun wajib mengulang shalat jika jelas ternyata ia adalah makmum, jika tidak jelas maka tidak wajib mengulang.

وَرَابِعُهَا : لَا أُمِّيًا ، أَيْ : أَنْ يَكُوْنَ إِمَامُ الْقَارِئِ أُمِّيًا ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِهِ ، أَمْكَنَهُ التَّعَلَّمُ أَوْ لَا ، بِأَنْ مَضَى عَلَيْهِ زَمَنٌ وَقَدْ بَذَلَ فِيْهِ وُسْعَهُ لِلتَّعَلُّمِ فَلَمْ يَفْتَحِ اللَّهُ عَلَيْهِ بِشَيْءٍ ، عَلِمَ الْقَارِئُ حَالَهُ أَمْ لَا ، لِأَنَّ الإِمَامَ بِجَهَةٍ تَحَمُّلِ الْقِرَاءَةَ عَنِ الْمَأْمُوْمِ الْمَسْبُوْقِ ، فَإِذَا لَمْ يُحْسِنُهَا لَمْ يَصْلُح| لِلتَّحَملِ

Keempatnya: (Hendaknya Imam tersebut) bukan orang yang Ummi, maksudnya: Imam bagi seorang Qari (orang yang bagus bacaan Al-Fatihahnya) itu adalah orang yang Ummi, maka tidak sah bermakmum kepadanya, baik ia (si Ummi) mampu belajar atau tidak, seperti telah berlalu waktu baginya dan ia telah mengerahkan kemampuannya untuk belajar namun Allah belum membukakan pintu (pemahaman) baginya, baik si Qari mengetahui keadaannya atau tidak. Karena Imam itu dari sisi menanggung bacaan (Al-Fatihah) dari makmum masbuq, maka jika ia tidak membaguskan bacaannya, ia tidak layak untuk menanggungnya.

قَالَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ الْبُجَيْرِمِيِّ : فَإِنْ أَسَرَّ فِي جَهْرِيَّةٍ تَابَعَهُ الْمَأْمُوْمُ ، وَوَجَبَ عَلَيْهِ الْبَحْثُ عَنْ حَالِهِ بَعْدَ السَّلَامِ ، فَإِنْ تَبَيَّنَ أَنَّهُ غَيْرُ قَارِي أَعَادَ وَإِنْ تَبَيَّنَ أَنَّهُ قَارِئُ وَلَوْ بِقَوْلِهِ : نَسِيْتُ الْجَهْرَ ، أَوْ أَسْرَرْتُ لِكَوْنِهِ جَائِزًا ؛ وَصَدَّقَهُ الْمَأْمُوْمُ لَمْ يُعِدْ ، وَإِنْ لَمْ يَتَبَيَّنْ حَالَهُ ، لَمْ يُعِدْ أَيْضًا . أَنْتَهَى

Syeikh Sulaiman Al-Bujairimi berkata: Jika (Imam) melirihkan bacaan pada shalat jahriyyah (yang seharusnya dikeraskan), maka makmum tetap mengikutinya, and wajib baginya mencari tahu keadaannya setelah salam. Jika jelas ternyata ia bukan seorang Qari, maka ia mengulang shalatnya. Namun jika jelas ternyata ia seorang Qari, meskipun (penjelasan itu) dari ucapannya: "Saya lupa mengeraskan suara," atau "Saya melirihkan karena hal itu diperbolehkan," dan makmum mempercayainya, maka ia tidak perlu mengulang. Dan jika tidak jelas keadaannya, ia juga tidak perlu mengulang. Selesai.

وَكَذَا لَا يَصِحُ اقْتِدَاءُ مَنْ يُحْسِنُ سَبْعَ آيَاتٍ بِمَنْ لَا يُحْسِنُ إِلَّا الذِّكْرَ ، لاخْتِلَافِهِمَا . وَأَمَّا اقْتِدَاءُ الأُمِّيِّ بِأُمِّيَّ مُمَائِلٍ لَهُ فِي الْحَرْفِ الْمَعْجُوْزِ عَنْهُ ، وَفِي مَحَلِّهِ ، فَيَصِحُّ لِمُمَاثَلَتِهِمَا وَإِنْ لَمْ يَتَّفِقَا فِي الْحَرْفِ الْمَأْتِي بِهِ ، كَأَنْ عَجَزَا عَنْ رَاءِ صِرَاطَ أَوْ أَبْدَلَهَا أَحَدُهُمَا غَيْنًا وَالْآخَرُ لَامًا ، أَمَّا لَوْ عَجَزَ أَحَدُهُمَا عَنْ رَاءِ غَيْرِ وَالآخَرُ عَنْ رَاءِ صِرَاطَ أَوْ أَحَدُهُمَا عَنِ الرَّاءِ وَالآخَرُ عَنِ السِّيْنِ مَثَلًا ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ

Demikian pula tidak sah bermakmumnya orang yang hafal tujuh ayat (Al-Fatihah) kepada orang yang tidak hafal kecuali dzikir, karena adanya perbedaan di antara keduanya. Adapun bermakmumnya orang yang Ummi kepada sesama orang Ummi yang setara dengannya dalam hal huruf yang tidak mampu ia ucapkan, dan dalam tempatnya. Maka sah karena kesetaraan keduanya meskipun tidak sama pada huruf yang diucapkan, seperti seandainya keduanya tidak mampu mengucapkan huruf Ra pada lafadz Shirath, atau salah satunya menggantinya dengan huruf Ghain dan yang lainnya dengan huruf Lam. Adapun jika salah satunya tidak mampu mengucapkan Ra pada lafadz Ghairi dan yang lainnya pada lafadz Shirath, atau salah satunya tidak mampu huruf Ra dan yang lainnya huruf Sin misalnya, maka tidak sah bermakmum salah satu dari keduanya kepada yang lain.

وَخَامِسُهَا : أَنْ لَا يَتَقَدَّمَ ، أَيْ : الْمُقْتَدِيُّ ، عَلَيْهِ ، أَيْ : عَلَى الإِمَامِ فِي الْمَوْقِفِ ، أَيْ : فِي الْمَكَانِ الَّذِي وَقَفَ عَلَيْهِ ، أَيْ : أَنْ لَا يَتَقَدَّمَ الْمُقْتَدِي بِجَمِيعِ مَا اعْتَمَدَ عَلَيْهِ عَلَى جُزْءٍ مِمَّا اعْتَمَدَ عَلَيْهِ الإِمَامُ يَقِيْنَا ، فَلَوِ اعْتَمَدَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَدَّمَ أَحَدَهُمَا لَمْ يَضُرَّ ، كَمَا لَوِ اعْتَمَدَ عَلَى الْمُؤَخِّرَةِ دُوْنَ الْمُقَدِّمَةِ،

Kelimanya: Hendaknya tidak mendahului, maksudnya: makmum (tidak mendahului); atasnya, maksudnya: atas Imam; dalam posisi berdiri, maksudnya: di tempat ia berdiri. Maksudnya adalah jangan sampai makmum mendahului dengan seluruh bagian yang ia jadikan tumpuan berdiri atas satu bagian saja dari apa yang dijadikan tumpuan berdiri oleh Imam secara yakin. Maka jika ia bertumpu pada kedua tumitnya namun memajukan salah satunya, maka hal itu tidaklah mengapa, sebagaimana halnya jika ia bertumpu pada bagian belakang (kaki) tanpa bagian depannya.

وَالْعِبْرَةُ فِي الْقَائِمِ بِعَقِبَيْهِ ، وَهُمَا مُؤَخَّرُ قَدَمَيْهِ ، وَإِنْ تَقَدَّمَتْ أَصَابِعُهُ مَا لَمْ يَعْتَمِدْ عَلَيْهَا ، وَفِي الْقَاعِدِ بِأَلْيَيْهِ ، وَفِي الْمُضْطَجِعِ بِجَنْبِهِ ، وَفِي الْمُسْتَلْقِي بِرَأْسِهِ إِنِ اعْتَمَدَ عَلَيْهِ، وَإِلَّا فَمَا اعْتَمَدَ عَلَيْهِ مِنَ الظَّهْرِ وَغَيْرِهِ،

Dan ukuran (posisi) bagi orang yang berdiri adalah pada kedua tumitnya—yaitu bagian belakang kedua telapak kaki—meskipun jari-jari kakinya lebih maju selama ia tidak bertumpu padanya. Bagi orang yang shalat duduk, ukurannya pada bokongnya. Bagi yang shalat miring, ukurannya pada lambungnya. Bagi yang shalat terlentang, ukurannya pada kepalanya jika ia bertumpu padanya, jika tidak maka pada bagian yang ia jadikan tumpuan seperti punggung dan lainnya.

وَفِي الْمَقْطُوْعَةِ رِجْلُهُ بِمَا اعْتَمَدَ عَلَيْهِ كَخَشَبَتَيْنِ اعْتَمَدَ بِهِمَا ، وَفِي الْمَصْلُوْبِ بِالْكَيْفِ ، وَفِي الْمُعَلَّقَ بِحَبْلٍ بِمَنْكِبِهِ ، هَذَا إِذَا كَانَ الْمَصْلُوْبُ أَوِ الْمُعَلَّقُ هُوَ الْمَأْمُوْمُ فَقَط دُوْنَ الإِمَامِ ، أَمَّا إِذَا كَانَا مَصْلُوْبَيْنِ أَوْ مُعَلَّقَيْنِ أَوِ الإِمَامُ فَقَطْ ، فَلَا يَصِحُ الاقْتِدَاءُ ، بِهِ لِأَنَّهُ تَلْزَمُهُ الإِعَادَةُ ،

Bagi orang yang terpotong kakinya, ukurannya pada apa yang ia jadikan tumpuan seperti dua tongkat kayu yang ia jadikan sandaran. Bagi orang yang disalib, (posisinya) disesuaikan dengan keadaannya. Bagi orang yang digantung dengan tali, ukurannya pada pundaknya. Hal ini jika yang disalib atau digantung itu hanya makmum saja, bukan Imam. Adapun jika keduanya disalib atau keduanya digantung, atau hanya Imam saja yang demikian, maka tidak sah bermakmum kepadanya karena ia (Imam tersebut) wajib mengulangi shalatnya.

فَانْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ إِلَّا فِي صَلَاةِ شِدَّةِ الْخَوْفِ ، وَلَوْ شَكَّ هَلْ هُوَ مُتَقَدِّمٌ أَمْ لَا ، كَأَنْ كَانَ فِي ظُلْمَةٍ ، صَحَتْ صَلَاتُهُ مُطْلَقًا سَوَاءٌ جَاءَ مِنْ قُدَّامِ الإِمَامِ أَوْ مِنْ خَلْفِهِ ، لِأَنَّ الأَصْلَ عَدَمُ الْمُفْسِدِ ، خِلَافًا لِمَنْ فَصَّلَ ، فَقَالَ : إِنْ كَانَ قَدْ جَاءَ مِنْ خَلْفِهِ فَصَلَاتُهُ صَحِيْحَةٌ ، وَإِلَّا فَبَاطِلَةٌ ، لِأَنَّ الْأَصْلَ تَقَدُّمُهُ ؛

Maka jika makmum mendahului Imam dalam hal tersebut (posisi berdiri), batallah shalatnya kecuali dalam shalat syiddatul khauf (ketakutan yang amat sangat). Dan seandainya ia ragu apakah ia mendahului atau tidak—seperti ketika berada dalam kegelapan—maka shalatnya sah secara mutlak, baik ia datang dari arah depan Imam maupun dari arah belakangnya, karena hukum asalnya adalah tidak adanya hal yang membatalkan. Berbeda dengan pendapat yang merinci, yang menyatakan: Jika ia datang dari arah belakang Imam maka shalatnya sah, namun jika tidak (dari depan) maka batal, karena hukum asalnya adalah ia dianggap mendahului.

وَلَا يَضُرُّ فِي صِحَّةِ الاقْتِدَاءِ مُسَاوَاتُهُ الإِمَامِهِ ، لَكِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ مُفَوِّتَةٌ لِفَضِيلَةِ الْجَمَاعَةِ ، فَيُنْدَبُ أَنْ يَتَأَخَّرَ عَنْهُ قَدْرَ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ فَأَقَلُّ ، اسْتِعْمَالًا لِلأَدَبِ وَلِلا تِّبَاعِ ؛ فَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ فَاتَتْهُ فَضِيْلَةُ الْجَمَاعَةِ ؛

Dan tidaklah membahayakan (tetap sah) bagi sahnya bermakmum posisi yang sejajar dengan Imamnya, akan tetapi hal itu makruh dan menghilangkan fadhilah (keutamaan) jamaah. Maka disunnahkan untuk mundur dari Imam sekira tiga dziro' atau kurang, sebagai bentuk adab dan mengikuti sunnah (ittiba'). Maka jika lebih dari tiga dziro', hilanglah fadhilah jamaahnya.

وَأَنْ يَقِفَ ذَكَرٌ لَمْ يَحْضُرْ غَيْرُهُ عَنْ يَمِينِهِ ، وَأَنْ يَتَأَخَّرَ عَنْهُ قَلِيْلًا إِظْهَارًا لِرُتْبَةِ الإِمَامِ عَلَى رُتْبَةِ الْمَأْمُوْمِ ، فَإِنْ جَاءَ ذَكَرٌ آخَرُ وَقَفَ عَنْ يَسَارِهِ إِنْ أَمْكَنَ ، وَإِلَّا أَحْرَمَ خَلْفَهُ ، ثُمَّ بَعْدَ إِحْرَامِهِ يَتَقَدَّمُ الإِمَامُ أَوْ يَتَأَخَّرَانِ فِي الْمَسْأَلَةِ الأُولَى ، أَوْ يَتَأَخَّرُ مَنْ هُوَ عَلَى الْيَمِيْنِ فِي الثَّانِيَةِ فِي حَالَةِ الْقِيَامِ لَا فِي غَيْرِهِ ، وَهُوَ أَفْضَلُ ، فَلَوْ وَقَفَ ذَلِكَ الذَّكَرُ عَنْ يَسَارِ الْإِمَامِ أَخَذَ الْإِمَامُ بِرَأْسِهِ وَأَقَامَهُ عَنْ يَمِينِهِ ،

Dan hendaknya seorang laki-laki berdiri—jika tidak ada orang lain yang hadir—di sebelah kanan Imam, dan hendaknya ia mundur sedikit dari Imam untuk menampakkan tingkatan (kedudukan) Imam di atas tingkatan makmum. Jika datang laki-laki lain, maka ia berdiri di sebelah kiri Imam jika memungkinkan, jika tidak maka ia melakukan takbiratul ihram di belakang Imam. Kemudian setelah takbiratul ihram-nya, Imam maju ke depan atau kedua makmum tersebut mundur pada masalah pertama, atau orang yang berada di sebelah kanan mundur pada masalah kedua dalam keadaan berdiri bukan dalam keadaan lainnya, dan hal itu lebih utama. Seandainya laki-laki tersebut berdiri di sebelah kiri Imam, maka Imam memegang kepalanya dan memindahkannya ke sebelah kanannya.

وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا لَوْ فَعَلَ أَحَدٌ مِنَ الْمُقْتَدِيْنَ خِلَافَ السُّنَّةِ اسْتُحِبَّ لِلإِمَامِ إِرْشَادُهُ إِلَيْهَا بِيَدِهِ أَوْ غَيْرِهَا إِنْ وَثِقَ مِنْهُ بِالامْتِثَالِ وَالْمَأْمُوْمُ مِثْلُهُ فِي الإِرْشَادِ الْمَذْكُورِ ، وَيَكُوْنُ هَذَا مُسْتَثْنَى مِنْ كَرَاهَةِ الْفِعْلِ الْقَلِيْلِ ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْجَاهِلِ وَغَيْرِهِ ،

Dan yang semisal dengan itu adalah jika salah satu makmum melakukan hal yang menyalahi sunnah, maka disunnahkan bagi Imam untuk membimbingnya kepada sunnah dengan tangannya atau selainnya jika ia yakin makmum tersebut akan patuh, dan makmum pun sama kedudukannya dengan Imam dalam hal bimbingan tersebut. Hal ini dikecualikan dari makruhnya melakukan gerakan sedikit dalam shalat. Tidak ada perbedaan antara orang yang awam (jahil) maupun selainnya.

وَلَوْ حَضَرَ ذَكَرَانِ ابْتِدَاءً مَعًا ، أَوْ مُرَتَّبَيْنِ ، أَصْطَفَّا خَلْفَهُ ، وَكَذَا إِذَا حَضَرَتِ الْمَرْأَةُ أَوِ النِّسْوَةُ ، وَلَوْ جَاءَ ذَكَرٌ وَامْرَأَةٌ قَامَ الذَّكَرُ عَنْ يَمِينِهِ وَالْمَرْأَةُ خَلْفَ الذَّكَرِ ، أَوْ ذَكَرَانِ وَامْرَأَةٌ أَصْطَفَّا خَلْفَهُ وَالْمَرْأَةُ خَلْفَهُمَا ، أَوْ ذَكَرٌ وَامْرَأَةٌ وَخُنْثَى وَقَفَ الذَّكَرُ عَنْ يَمِينِهِ وَالْخُنْثَى خَلْفَهُمَا وَالْمَرْأَةُ خَلْفَ الْخُنْثَى

Dan seandainya hadir dua orang laki-laki secara bersamaan di awal, atau berurutan, maka keduanya berbaris di belakang Imam. Demikian pula jika hadir seorang wanita atau para wanita. Dan jika hadir seorang laki-laki dan seorang wanita, maka laki-laki berdiri di sebelah kanan Imam dan wanita di belakang laki-laki tersebut. Atau dua orang laki-laki dan seorang wanita, maka kedua laki-laki berbaris di belakang Imam dan wanita di belakang keduanya. Atau seorang laki-laki, seorang wanita, dan seorang khunsa, maka laki-laki berdiri di sebelah kanan Imam, khunsa di belakang keduanya, dan wanita di belakang khunsa tersebut.

وَيُسَنُّ أَنْ يَقِفَ فِيْمَا إِذَا كَثُرَتْ أَصْنَافُ الْمَأْمُوْمِينَ خَلْفَ الإِمَامِ الرِّجَالُ صَفًّا ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ صَفًّا ثَانِيَا بَعْدَ كَمَالِ صَفِّ الرِّجَالِ هَذَا إِنْ لَّمْ يَسْبِقِ الصِّبْيَانُ إِلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ ، فَإِنْ سَبَقُوْا إِلَيْهِ فَهُمْ أَحَقُّ بِهِ مِنَ الرِّجَالِ لِأَنَّهُمْ مِنَ الْجِنْسِ ، بِخِلَافِ الْخُنَاثَى وَالنِّسَاءِ ، ثُمَّ بَعْدَ الصِّبْيَانِ النِّسَاءُ وَإِنْ لَمْ يَكْمُل| صَفُّهُمْ ، وَأَنْ تَقِفَ نَدْبًا إِمَامَتُهُنَّ وَسْطَهُنَّ ، فَلَوْ أَمَّهُنَّ غَيْرُ امْرَأَةٍ قُدِّمَ عَلَيْهِنَّ ،

Dan disunnahkan untuk berdiri—dalam hal ketika jenis makmum menjadi banyak—di belakang Imam: barisan laki-laki dewasa terlebih dahulu, kemudian barisan anak-anak pada shaf kedua setelah sempurnanya shaf laki-laki. Hal ini jika anak-anak tidak mendahului menempati shaf pertama, karena jika mereka mendahuluinya maka mereka lebih berhak daripadanya dibandingkan laki-laki dewasa, karena mereka dari jenisnya (laki-laki), berbeda halnya dengan para khunsa dan para wanita. Kemudian setelah barisan anak-anak adalah barisan para wanita meskipun shaf mereka belum sempurna. Dan disunnahkan bagi Imam wanita untuk berdiri di tengah-tengah mereka. Jika yang mengimami mereka bukan seorang wanita, maka Imam tersebut berada di depan mereka.

وَكَالْمَرْأَةِ عَارٍ أَمَّ عُرَاةٌ بُصَرَاءَ فِي ضَوْءٍ ، فَيَقِفُ إِمَامُهُمْ وَيَقِفُوْنَ صَفًّا وَاحِدًا إِنْ أَمْكَنَ لِئَلَّا يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ عَوْرَةَ بَعْضٍ ، فَإِنْ كَانُوا عُمْيًا أَوْ فِيْ ظُلْمَةٍ تَقَدَّمَ الإِمَامُ عَلَيْهِمْ ،

Dan seperti wanita (posisinya) adalah orang telanjang yang mengimami orang-orang telanjang lainnya yang bisa melihat di tempat yang terang, maka Imam mereka berdiri (di tengah-tengah) dan mereka berdiri dalam satu shaf jika memungkinkan agar satu sama lain tidak melihat aurat temannya. Namun jika mereka buta atau dalam kegelapan, maka Imam maju di depan mereka.

وَيُكْرَهُ لِلْمَأْمُوْمِ وُقُوْفُهُ مُنْفَرِدًا عَنِ الصَّفِّ الَّذِي مِنْ جِنْسِهِ ، بَلْ يَدْخُلُ الصَّفَّ إِنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَوْ بِلَا خَلَلٍ ، بِأَنْ يَكُوْنَ بِحَيْثُ لَوْ دَخَلَ بَيْنَهُمْ لَوَسِعَهُمْ وَإِلَّا أَحْرَمَ ، ثُمَّ بَعْدَ إِحْرَامِهِ جَرَّ فِي الْقِيَامِ شَخْصًا مِنَ الصَّفِّ لِيَصْطَفَّ مَعَهُ ، وَسُنَّ لِلْمَجْرُوْرِ مُعَاوَنَتُهُ بِمُوَافَقَتِهِ ، فَيَقِفُ مَعَهُ صَفًّا لِيَنَالَ فَضْلَ الْمُعَاوَنَةِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ؛ وَيَحْرُمُ الْجَرُّ قَبْلَ الإِحْرَامِ ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ الْمَجْرُورُ مُنْفَرِدًا

Dimakruhkan bagi makmum berdiri sendirian terpisah dari shaf yang sejenis dengannya, bahkan ia hendaknya masuk ke dalam shaf jika mendapati celah meskipun tanpa ada kekosongan, sekira jika ia masuk di antara mereka maka shaf itu cukup menampung mereka. Jika tidak ada celah, maka ia melakukan takbiratul ihram (sendirian), kemudian setelah takbiratul ihram ia menarik seseorang dari shaf dalam keadaan berdiri untuk berbaris bersamanya. Dan disunnahkan bagi orang yang ditarik tersebut untuk menolongnya dengan menyetujuinya, lalu ia berdiri bersamanya dalam satu shaf agar mendapatkan pahala tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan haram hukumnya menarik sebelum takbiratul ihram, karena hal itu akan menyebabkan orang yang ditarik menjadi sendirian (sebelum waktunya).

وَسَادِسُهَا : أَنْ يَعْلَمَ ، أَيْ : أَوْ يَظُنَّ ، انْتِقَالَاتِ إِمَامِهِ ، لِيَتَمَكَّنَ مِنْ مُتَابَعَتِهِ ، كَرُؤْيَتِهِ لَهُ أَوْ لِبَعْضِ الصَّفِّ ، أَوْ سَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ صَوْتِ مُبَلِّغٍ ، سَوَاءٌ كَانَ يُصَلِّي أَوْ لَا ، وَلَوْ صَبِيًّا أَوْ فَاسِقًا وَقَعَ فِي قَلْبِهِ صِدْقُهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ : وَيُشْتَرَطُ كَوْنُ الْمُبَلِّغِ عَدْلُ رِوَايَةٍ ، لِأَنَّ غَيْرَهُ لَا يَجُوْزُ الاعْتِمَادُ عَلَيْهِ . أَنْتَهَى

Keenamnya: Hendaknya mengetahui, maksudnya: atau menyangka; perpindahan gerak Imamnya, agar ia memungkinkan untuk mengikutinya, seperti melihat Imam secara langsung atau melihat sebagian shaf, atau mendengar suaranya atau suara seorang muballigh (penyampai suara), baik orang tersebut sedang shalat atau tidak, meskipun ia anak kecil atau orang fasik selama hatinya membenarkannya menurut pendapat yang mu'tamad. Ibnu Hajar berkata: Dan disyaratkan keadaan muballigh tersebut haruslah orang yang adil dalam periwayatan, karena selainnya tidak boleh dijadikan sandaran. Selesai.

وَمِثْلُ ذَلِكَ هِدَايَةُ غَيْرِهِ لَهُ ، فَلَوْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ حَالًا نَظَرَ ، فَإِنْ أَتَى الْإِمَامُ بِرُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ قَبْلَ الْعِلْمِ بِهِ ، بِأَنْ رَكَعَ وَاعْتَدَلَ وَهَوَىٰ إِلَى السُّجُوْدِ ، بَطَلَتْ صَلَاةُ الْمَأْمُوْمِ ، وَإِلَّا لَمْ تَبْطُلْ

Dan yang semisal dengan itu adalah petunjuk orang lain kepadanya. Maka jika ia tidak mengetahui gerakan Imam seketika itu, maka perlu dilihat: jika Imam telah melakukan dua rukun fi'li sebelum ia mengetahuinya—seperti Imam sudah ruku', i'tidal, dan turun untuk sujud—maka batallah shalat makmum tersebut, jika tidak maka tidak batal.

فَائِدَةٌ : قَالَ الإِسْنَوِيُّ : رَجُلٌ يَجُوْزُ كَوْنُهُ إِمَامًا لَا مَأْمُوْمًا ، وَهُوَ الأَعْمَى الأَصَمُّ ؛ يَصِحُ أَنْ يَكُونَ إِمَامًا لِاسْتِقْلَالِهِ بِأَفْعَالِهِ لَا مَأْمُوْمًا ، إِذْ لَا طَرِيقَ إِلَى الْعِلْمِ بِانْتِقَالَاتِ الإِمَامِ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ بِجَنْبِهِ ثِقَةٌ يُعَرِّفُهُ بِهَا ، بِأَنْ يَمَسَّهُ .

Faidah: Al-Isnawi berkata: Ada seorang lelaki yang boleh menjadi Imam namun tidak boleh menjadi makmum, yaitu orang buta yang tuli. Ia sah menjadi Imam karena kemandiriannya dalam melakukan gerakan-gerakannya sendiri, namun tidak sah menjadi makmum karena tidak ada jalan baginya untuk mengetahui perpindahan gerak Imam, kecuali jika di sampingnya ada orang terpercaya yang memberitahunya dengan cara menyentuhnya.

وَسَابِعُهَا : أَنْ يَجْتَمِعَا فِي مَسْجِدٍ ، فَيُشْتَرَطُ أَنْ يُمْكِنَ الاسْتِطْرَاقُ عَادَةً إِلَى الإِمَامِ ، وَلَوْ بِأَزْوِرَارٍ وَأَنْعِطَافٍ ، أَيْ : انْحِرَافٍ عَنِ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارٍ لَهَا ، فَلَا يَضُرُّ ذَلِكَ فِي الْمَسْجِدِ ، وَإِنْ بَعُدَتِ الْمَسَافَةُ وَحَالَتْ أَبْنِيَةٌ نَافِذَةٌ إِلَيْهِ ، وَلَوْ رُدَّتْ أَبْوَابُهَا وَأُغْلِقَتْ بِأَنْ لَمْ تُسَمَّرْ فِي الابْتِدَاءِ ، وَلَوْ سُمِّرَتْ فِي الأَثْنَاءِ ، فَلَا يَضُرُّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ زَوَالُ سُلَّمِ الدَّكَّةِ الَّتِي يُصَلِّي عَلَيْهَا ، لِأَنَّهُ كُلُّهُ مَبْنِيٌّ لِلصَّلَاةِ ، فَالْمُجْتَمِعُوْنَ فِيْهِ مُجْتَمِعُوْنَ لِإِقَامَةِ الْجَمَاعَةِ مُؤَدُّوْنَ لِشِعَارِهَا ،

Ketujuhnya: Hendaknya keduanya berkumpul di dalam satu masjid. Maka disyaratkan harus memungkinkan adanya akses jalan (istithra') secara adat menuju Imam, meskipun dengan cara berbelok-belok atau berpaling dari kiblat maupun membelakanginya. Hal tersebut tidaklah mengapa di dalam masjid, meskipun jaraknya jauh dan terhalang oleh bangunan yang memiliki akses tembus ke sana. Meskipun pintu-pintunya ditutup atau dikunci, asalkan tidak dipaku sejak awal. Bahkan jika dipaku di tengah-tengah shalat pun, hal itu tidaklah mengapa menurut pendapat yang mu'tamad. Demikian pula halnya dengan hilangnya tangga dakkah (panggung) yang ia gunakan shalat di atasnya, karena semua itu dibangun untuk tujuan shalat. Maka orang-orang yang berkumpul di dalamnya dianggap berkumpul untuk menegakkan jamaah dan menunaikan syiarnya.

فَإِنْ حَالَتْ أَبْنِيَةٌ غَيْرُ نَافِذَةٍ ضَرَّ وَإِنْ لَمْ يَمْنَعْ الرُّؤْيَةَ ، فَيَضُرُّ الشُّبَّاكُ ، وَكَذَلِكَ تَسْمِيرُ الأَبْوَابِ فِي الابْتِدَاءِ ، وَزَوَالُ سُلَّمِ الدَّكَّةِ كَذَلِكَ ، لِأَنَّهُ لَا يُعَدُّ الْجَامِعُ لَهُمَا حِينَئِذٍ مَسْجِدًا وَاحِدًا وَالدَّكَّةُ ، بِفَتْحِ الدَّالِ ، عَلَى وَزْنِ قَصْعَةٍ ، هِيَ : الْمَكَانُ الْمُرْتَفِعُ ، يُجْلَسُ عَلَيْهِ وَالْمَسَاجِدُ الْمُتَلَاصِقَةُ الْمُتَنَافِذَةُ ، بِأَنْ كَانَ يُفْتَحُ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ ، كَالْمَسْجِدِ الْوَاحِدِ ، وَإِنِ انْفَرَدَ كُلٌّ مِنْهَا بِإِمَامٍ وَجَمَاعَةٍ

Namun jika terhalang oleh bangunan yang tidak memiliki akses tembus, maka hal itu membahayakan (tidak sah) meskipun tidak menghalangi pandangan. Maka jendela berteralis (syubbak) itu membahayakan. Demikian pula memaku pintu-pintu sejak awal, dan hilangnya tangga dakkah juga demikian (jika sejak awal), karena tempat yang mengumpulkan keduanya saat itu tidak lagi dianggap sebagai satu masjid. Dakkah, dengan fathah pada huruf dal, mengikuti wazan qash'ah, adalah tempat yang tinggi yang digunakan untuk duduk. Dan masjid-masjid yang saling berdampingan serta saling memiliki akses tembus—sekira sebagiannya terbuka ke sebagian yang lain—maka dihukumi seperti satu masjid, meskipun masing-masing darinya memiliki imam dan jamaah sendiri.

Hasyiyah / Catatan Kaki:
(١) قَطْعُ الْقُدْوَةِ لَا قَطْعُ الصَّلَاةِ ، لِأَنَّهُ حَرَامٌ . عِصَامٌ .
(١) فِي الْأَصْلِ : « وَلَم » بَدَلًا مِنْ : « لَمْ » .
(1) Yang dimaksud memutus di sini adalah memutus keikutsertaan dalam bermakmum (al-qudwah), bukan memutus shalatnya, karena hal tersebut adalah haram. 'Ishom.
(1) Di dalam naskah asli tertulis "wa lam" (dan tidak) sebagai pengganti "lam" (tidak).
Mufrodat Pilihan
  • الْقُدْوَةِ (Al-Qudwah): Bermakmum / Ikut Imam
  • ظَنَّا غَالِبًا (Dhann Ghalib): Sangkaan yang kuat
  • أُمِّيًا (Ummi): Orang yang kaga lancar/bener baca Al-Fatihah
  • الاسْتِطْرَاقُ (Al-Istithraq): Adanya akses jalan tembus
Catatan Murid (Syarh Ringkas)

• Kalo ragu posisi kite lebih maju dari Imam pas gelap, shalat tetep sah (asal hukumnya kaga batal).
• Jarak sunnah mundur dari Imam itu maksimal 3 dziro', lewat dari itu fadhilah jamaah angus!
• Satu masjid tetep dihukumi satu tempat walau disekat, asal pintunya kagak dipaku dari awal.

👉 SYARH NYABLAK (Klik di sini buat buka penjelasan)

Dengerin nih Jemaah... Ane mau jabarin bae-bae!

Urusan makmum ama imam ini kaga boleh maen hantem kromo. Syarat pertama, Ente kagak boleh punya prasangka kuat (dhann ghalib) kalo shalat si Imam batal. Contohnya, Ente orang Syafi'i liat Imam Hanafi abis megang kemaluan kaga wudhu lagi, ya kagak sah Ente bermakmum sama dia, lantaran di madzhab kite itu ngebatalin! Tapi kalo dia abis bekam, tetep sah, karena menurut kite bekam kagak batalin wudhu. Jadi patokannya keyakinan makmum!

Terus masalah posisi berdiri, jangan belagu mau duluanin tumit Ente dari tumit Imam, bisa langsung engklek alias batal shalat Ente! Sunnahnya mundur dikit, maksimal tiga dziro'. Kalo shaf renggang sampe Ente berdiri sendirian, makruh hukumnya, fadhilah jamaah ilang. Caranya? Colek/tarik satu orang di depan Ente buat mundur nemenin, tapi inget: nariknya kudu abis Ente takbiratul ihram, jangan sebelumnya! Kalo ditarik sebelum takbir, itu namanya zalim bikin shalat orang lain jadi makruh sendirian.

Takhrij & Referensi Kitab:

Masalah "Dua Mujtahid berselisih wadah air" ini diambil dari bab thaharah klasik yang diterapkan ke dalam bab Al-Qudwah. Dinukil juga dari fatwa Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Fathul Jawad dan catatan Syeikh Utsman As-Suwaifi dalam Tuhfatul Habib syarh bagi kitab Al-Iqna'.

Studi Kasus Nyata:

Kasus Orang Buta sekalian Tuli (الأعمى الأصم). Dia boleh jadi Imam karena dia shalat mandiri pake rukunnya sendiri. Tapi dia KAGAK SAH jadi makmum, lah gimana cara dia tau Imamnya ruku' atau sujud? Kecuali kalo ada orang di sebelahnya yang dapet dipercaya, terus ngasih tau lewat isyarat sentuhan kulit ke dia tiap ada perpindahan gerakan shalat.

⚠️ Bahaya Laten Bermakmum:

Jangan sekali-kali Ente bermakmum sama orang yang wajib qadha shalat (seperti orang tayamum karena dingin, atau faqiduth thahurain), karena shalat mereka itu cuma li hurmatil waqti (menghormati waktu) dan kagak dianggap sebagai shalat sempurna yang bisa ditumpu keikutsertaannya. Kalo Ente nekad ikut, shalat Ente otomatis ikutan amsyong alias BATAL secara mutlak!

=========== ```

بَابُ شُرُوْطِ الْقُدْوَةِ وَأَحْكَامِ الْمَسَاجِدِ وَالْمَسَافَاتِ


... وَلَا يَضُرُّ كَوْنُ أَحَدِهِمَا أَعْلَى مِنَ الْآخَرِ ، كَأَنْ كَانَ أَحَدُهُمَا فِي سَطْحِ الْمَسْجِدِ أَوْ مَنَارَتِهِ وَالآخَرُ فِي سِرْدَابِهِ أَوْ بِئْرٍ فِيْهِ ، لِأَنَّهُ كُلُّهُ مَبْنِيٌّ لِلصَّلَاةِ ؛ نَعَمْ يُكْرَهُ ارْتِفَاعُهُ عَلَى إِمَامِهِ وَعَكْسُهُ حَيْثُ أَمْكَنَ وُقُوْفُهُمَا عَلَى مُسْتَوِ إِلَّا لِحَاجَةٍ ، كَتَبْلِيغِ ، فَلَا يُكْرَهُ وَالسَّرْدَابُ : الْمَكَانُ الضَّيِّقُ يُدْخَلُ فِيْهِ .

...Dan tidaklah mengapa jika salah satu dari keduanya berada di tempat yang lebih tinggi dari yang lain, seperti salah satunya di atap masjid atau menaranya dan yang lain di ruangan bawah tanah (sirdab) atau sumur yang ada di dalamnya, karena semuanya dibangun untuk shalat. Benar (tetap sah), namun dimakruhkan posisi makmum lebih tinggi dari Imamnya atau sebaliknya sekira keduanya memungkinkan berdiri di tempat yang rata, kecuali jika ada hajat seperti untuk menyampaikan suara (tabligh), maka tidak dimakruhkan. Adapun Sirdab adalah tempat sempit yang bisa dimasuki.

أَوْ يَجْتَمِعَا فِي ثَلَاثِ مِئَةِ ذِرَاعٍ بِذِرَاعِ الْآدَمِيِّ تَقْرِيبًا ، أَخْذَا مِنْ عُرْفِ النَّاسِ ، فَإِنَّهُمْ يَعُدُّوْنَهُمَا فِي ذَلِكَ مُجْتَمِعَيْنِ ، فَلَا تَضُرُّ زِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ ، وَهِيَ أَرْبَعُ صُوَرٍ ، لِأَنَّهُمَا إِمَّا أَنْ يَكُونَا فِي فَضَاءِ ، وَإِمَّا أَنْ يَكُوْنَا فِي بِنَاءٍ ، وَإِمَّا أَنْ يَكُوْنُ الإِمَامُ فِي فَضَاءِ وَالْمَأْمُوْمُ فِيْ بِنَاءٍ ، وَإِمَّا بِالْعَكْسِ ؛ فَاعْتِبَارُ تِلْكَ الْمَسَافَةِ هُوَ بَيْنَ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ ، أَوْ بَيْنَ كُلِّ صَفَّيْنِ ، أَوْ بَيْنَ كُلِّ شَخْصَيْنِ مِمَّنِ انْتَمَّ بِالإِمَامِ خَلْفَهُ أَوْ بِجَانِبِهِ ،

Atau keduanya berkumpul dalam jarak kira-kira tiga ratus dziro' dengan ukuran dziro' manusia, diambil dari kebiasaan ('urf) manusia, karena mereka menganggap jarak tersebut masih dalam satu perkumpulan, maka tidak membahayakan (tetap sah) jika ada tambahan tiga dziro'. Dan masalah ini (jarak 300 dziro') berlaku di selain masjid, yang terdiri dari empat gambaran: karena bisa jadi keduanya di tanah lapang, atau keduanya di dalam bangunan, atau Imam di tanah lapang and makmum di bangunan, atau sebaliknya. Maka perhitungan jarak tersebut adalah antara Imam dan makmum, atau di antara setiap dua shaf, atau di antara setiap dua orang yang bermakmum di belakang Imam atau di sampingnya.

وَلَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا بِمَسْجِدٍ وَالْآخَرُ خارِجَهُ ، فَتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ بَيْنَهُمَا مِنْ طَرَفِ الْمَسْجِدِ الَّذِي يَلِيْ مَنْ بِخَارِجِهِ ، لِأَنَّهُ مَحَلُّ الصَّلَاةِ ، لَا مِنْ آخِرِ صَفٌ ، وَلَا مِنْ مَوْقِفِ الإِمَامِ وَيُشْتَرَطُ هُنَا أَنْ يُمْكِنَ الْوُصُوْلُ إِلَى الإِمَامِ مِنْ غَيْرِ ازْوِرَارٍ وَانْعِطَافٍ ، بِخِلَافِهِ فِيْمَا تَقَدَّمَ فِي مَسْأَلَةِ الْمَسْجِدِ ، وَيَضُرُّ هُنَا الْبَابُ الْمَرْدُوْدُ فِي الابْتِدَاءِ بِخِلَافِهِ فِي الأَثْنَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ ، لِأَنَّهُ يُغْتَفَرُ فِي الدَّوَامِ مَا لَا يُغْتَفَرُ فِي الابْتِدَاءِ ، وَيَضُرُّ هُنَا أَيْضًا الْبَابُ الْمَغْلُوْقُ ابْتِدَاءً وَدَوَامًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ ؛ أَمَّا الْبَابُ الْمَفْتُوْحُ ، فَيَجُوْزُ اقْتِدَاءُ الْوَاقِفِ بِحِذَاءِ الْإِمَامِ وَالصَّفُ الْمُتَّصِلِ بِهِ وَكَذَا مَنْ خَلْفَهُ وَإِنْ حِيْلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الإِمَامِ ،

Dan jika salah satunya berada di dalam masjid dan yang lain di luarnya, maka jaraknya dihitung dari tepi masjid yang berbatasan dengan orang yang di luar tersebut—karena masjid adalah tempat shalat—bukan dari shaf terakhir dan bukan dari posisi berdiri Imam. Dan disyaratkan di sini (di luar masjid) harus memungkinkan untuk sampai ke Imam tanpa harus berbelok atau berpaling (dari kiblat), berbeda dengan masalah di dalam masjid yang telah lewat. Dan di sini (di luar masjid), pintu yang tertutup di awal shalat itu membahayakan (tidak sah), berbeda jika tertutup di tengah-tengah shalat maka tidak membahayakan, karena hal yang dimaafkan dalam keberlangsungan shalat itu tidak dimaafkan di awal (shalat). Dan di sini (di luar masjid) juga membahayakan (tidak sah) pintu yang terkunci baik di awal maupun di tengah-tengah shalat menurut pendapat yang mu'tamad. Adapun pintu yang terbuka, maka boleh bermakmum bagi orang yang berdiri sejajar dengan (pintu akses ke) Imam dan shaf yang bersambung dengannya, begitu juga orang di belakangnya meskipun terhalang antara dia dan Imam.

وَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْوَاقِفُ فِي حِذَائِهِ رَابِطَةٌ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الإِمَامِ ، وَهُوَ فِي حقَّهِمْ كَالْإِمَامِ ، فَلَا يَجُوْزُ تَقَدُّمُهُمْ عَلَيْهِ كَمَا لَا يَجُوْزُ تَقَدُّمُهُمْ عَلَى الْإِمَامِ ، بِخِلَافِ اقْتِدَاءِ مَنْ عَدَلَ عَنْ مُحَاذَاتِهِ ، فَلَا يَجُوْزُ لِلْحَائِلِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْإِمَامِ إِلَّا إِذَا وَقَفَ وَاحِدٌ حِذَاءَ مَنْفَةٍ فِي ذَلِكَ الْحَائِلِ ؛ وَلَا يَضُرُّ فِي جَمِيعِ مَا ذُكِرَ تَخَلُّلُ الشَّارِعِ ، وَلَوْ كَثُرَ طُرُوْقُهُ ، وَالنَّهَرِ الْكَبِيْرِ وَإِنْ أَحْوَجَ إِلَى سِبَاحَةٍ ، وَالنَّارِ وَالْبَحْرِ بَيْنَ سَفِينَتَيْنِ ، لِأَنَّ هَذِهِ لَا تُعَدُّ لِلْحَيْلُوْلَةِ ، فَلَا يُسَمَّى وَاحِدٌ مِنْهَا حَائِلًا

Dan orang yang berdiri sejajar tersebut menjadi penghubung antara mereka dengan Imam, dan ia bagi mereka kedudukannya seperti Imam, maka tidak boleh bagi mereka mendahuluinya sebagaimana tidak boleh mendahului Imam. Berbeda dengan bermakmumnya orang yang menyimpang dari kesejajaran tersebut, maka tidak sah karena adanya penghalang antara dia dan Imam, kecuali jika ada satu orang yang berdiri sejajar dengan celah pada penghalang tersebut. Dan tidaklah membahayakan pada semua yang telah disebutkan adanya pemisah berupa jalan raya meskipun banyak lalu lalang, sungai besar meskipun mengharuskan untuk berenang, api, maupun laut di antara dua perahu, karena semua ini tidak dianggap sebagai penghalang (hail), maka tidak dinamakan sebagai penghalang.

وَثَامِنُهَا : أَنْ يَنْوِيَ الْقُدْوَةَ ، كَأَنْ يَقُوْلَ : مُقْتَدِيًا ؛ أَوِ الْجَمَاعَةَ ، كَأَنْ يَقُوْلَ : جَمَاعَةٌ ، وَإِنْ صَلُحَتْ نِيَّتُهَا لِلإِمَامِ أَيْضًا ، أَوْ الانْتِمَامِ ، كَأَنْ يَقُوْلَ : مُؤْتَمًا ، أَوِ الْمَأْمُوْمِيَّةِ ، كَأَنْ يَقُوْلَ : مَأْمُوْمًا وَتَاسِعُهَا : أَنْ يَتَوَافَقَ نَظْمُ صَلَاتِهِمَا ، أَيْ : نَهْجُهَا الْوَاضِحُ فِي الأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ ، وَإِنِ اخْتَلَفَا عَدَدًا ، فَلَا يَصِحُ الاقْتِدَاءُ مَعَ اخْتِلَافِهِ ، كَمَكْتُوْبَةٍ خَلْفَ كُسُوْفٍ وَبِالْعَكْسِ ، لِتَعَذُّرِ الْمُتَابَعَةِ ؛

Kedelapannya: Hendaknya berniat mengikuti (al-qudwah), seperti ia mengucapkan: muqtadiyan; atau berniat jamaah, seperti ia mengucapkan: jama'atan—meskipun niat ini juga sah untuk Imam; atau berniat mengikuti (al-intimam), seperti ia mengucapkan: mu'tamman; atau status kemakmuman, seperti ia mengucapkan: ma'muman. Kesembilannya: Hendaknya selaras aturan shalat keduanya, maksudnya: metodenya yang jelas dalam perbuatan-perbuatan yang nampak, meskipun keduanya berbeda dalam jumlah rakaat. Maka tidak sah bermakmum dengan adanya perbedaan aturan, seperti shalat fardu di belakang shalat gerhana (kusuf) dan sebaliknya, karena sulitnya melakukan mutaba'ah (pengikutan).

وَلَا يَضُرُّ اخْتِلَافُ نِيَّةِ الإِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ لِعَدَمِ فُحْشِ الْمُخَالَفَةِ فِيهِمَا ، فَيَصِحُ اقْتِدَاءُ الْمُفْتَرِضِ بِالْمُتَنَفِّلِ ، وَالْمُؤَدِّي بِالْقَاضِي ، وَفِي طَوِيْلَةٍ بِقَصِيرَةٍ ، كَظُهْرٍ بِصُبْحِ ، وَبِالْعُكُوْسِ ؛ لَكِنَّهُ مَكْرُوهُ ، وَمَعَ ذَلِكَ تَحْصُلُ فَضِيْلَةُ الْجَمَاعَةِ قَالَ السُّوَيْفِيُّ : وَالْكَرَاهَةُ لَا تَنْفِي الْفَضِيلَةَ وَالثَّوَابَ لِاخْتِلَافِ الْجِهَةِ ، بَلِ الْحُرْمَةُ لَا تَنْفِي الْفَضِيْلَةَ ، كَالصَّلَاةِ فِي أَرْضِ مَغْصُوْبَةٍ ، فَإِنْ كَانَ الإِمَامُ يُصَلِّي الصُّبْحَ أَوِ الْمَغْرِبَ ، وَالْمَأْمُوْمُ يُصَلِّي الظُّهْرَ أَوْ نَحْوهُ ، فَيُتِمُّ الْمَأْمُومُ صَلَاتَهُ بَعْدَ سَلَامِ إِمَامِهِ ،

Dan tidak membahayakan perbedaan niat antara Imam dan makmum karena tidak adanya perbedaan yang fatal pada keduanya. Maka sah bermakmumnya orang yang shalat fardu di belakang orang yang shalat sunnah, orang yang shalat ada' di belakang orang yang shalat qadha', shalat yang panjang rakaatnya di belakang shalat yang pendek—seperti Zhuhur di belakang Subuh—dan begitu juga sebaliknya; namun hal itu makruh, dan meskipun demikian keutamaan jamaah tetap didapatkan. As-Suwaifi berkata: Makruh itu tidak menafikan (menghilangkan) keutamaan dan pahala karena perbedaan sisi penilaiannya. Bahkan keharaman pun tidak menafikan keutamaan, seperti shalat di tanah hasil ghashab. Jika Imam shalat Subuh atau Maghrib sedangkan makmum shalat Zhuhur atau sejenisnya, maka makmum menyempurnakan shalatnya setelah salamnya Imam.

وَالْأَفْضَلُ مُتَابَعَتُهُ فِي قُنُوْتِ الصُّبْحِ وَتَشَهُدِ آخِرٍ فِي الْمَغْرِبِ ، وَإِنْ لَزِمَ عَلَى ذَلِكَ تَطْوِيلُ الاعْتِدَالِ بِالْقُنُوْتِ وَجَلْسَةُ الاسْتِرَاحَةِ بِالتَّشَهُدِ ، لِأَنَّهُ لِأَجْلِ الْمُتَابَعَةِ فَاغْتُفِرَ ، وَلَهُ فِرَاقُهُ بِالنَّيَّةِ إِذَا اشْتَغَلَ الإِمَامُ بِهِمَا مُرَاعَاةً لِنَظْمِ صَلَاتِهِ ، وَالْمُفَارَقَةُ هُنَا لِعُذْرِ فَلَا يَقُوتُ بِهَا فَضِيْلَةُ الْجَمَاعَةِ ،

Dan yang lebih utama adalah mengikuti Imam dalam Qunut Subuh dan Tasyahud akhir pada shalat Maghrib, meskipun hal itu mengharuskan memperlama i'tidal dengan Qunut dan memperlama duduk istirahat dengan Tasyahud; karena hal itu dilakukan demi mutaba'ah (mengikuti Imam) maka dimaafkan. Dan makmum boleh memisahkan diri dengan niat (mufaroqoh) jika Imam sibuk dengan keduanya (Qunut/Tasyahud) demi menjaga aturan shalatnya sendiri. Pemisahan diri di sini dianggap karena udzur, sehingga tidak menghilangkan fadhilah jamaah.

وَإِنْ كَانَ الإِمَامُ يُصَلِّي الظُّهْرَ أَوْ نَحْوَهُ وَالْمَأْمُوْمُ يُصَلِّي الصُّبْحَ أَوِ الْمَغْرِبَ فَإِذَا تَمَّ مَا تَوَافَقَا فِيْهِ فَارَقَهُ بِالنِّيَّةِ جَوَارًا فِي الصُّبْحِ وَوُجُوْبًا فِي الْمَغْرِبِ ، وَالْأَفْضَلُ انْتِظَارُهُ فِي صُبْحِ لِيُسَلَّمَ مَعَهُ ، وَإِنَّمَا لَمْ تَجِبْ نِيَّةُ الْمُفارَقَةِ لِجَوَازِ الْمَدِّ فِي الصَّلَاةِ ؛ وَمَحَلُّ أَفْضَلِيَّةِ الْانْتِظَارِ إِنْ كَانَ الْإِمَامُ تَشَهَدَ فِي الْجُلُوسِ الأَوَّلِ ، وَإِلَّا بِأَنْ قَامَ بِلَا تَشَهُدِ فَارَقَهُ حَتْمًا ، لِأَنَّهُ يُحْدِثُ جُلُوسَ تَشَهُدٍ لَمْ يَفْعَلْهُ الإِمَامُ ، وَكَذَا إِذَا جَلَسَ وَلَمْ يَتَشَهَّدْ ، لِأَنَّ جُلُوسَهُ مِنْ غَيْرِ تَشَهُدٍ كَلَا جُلُوسَ ، فَحِينَئِذٍ يَجِبُ مُفَارَقَتْهُ ،

Jika Imam shalat Zhuhur atau sejenisnya sedangkan makmum shalat Subuh atau Maghrib, maka jika telah selesai rakaat yang selaras, makmum memisahkan diri dengan niat; hukumnya boleh pada shalat Subuh dan wajib pada shalat Maghrib. Dan yang lebih utama adalah menunggunya (menunggu Imam) pada shalat Subuh agar bisa salam bersama Imam. Alasan tidak wajibnya niat mufaroqoh (pada Subuh) adalah karena dibolehkannya memperlama durasi dalam shalat. Dan letak keutamaan menunggu adalah jika Imam melakukan tasyahud pada duduk awal (rakaat kedua), jika tidak—yakni Imam langsung bangun tanpa tasyahud—maka makmum wajib memisahkan diri secara mutlak. Karena (jika makmum tidak misah) ia akan membuat duduk tasyahud yang tidak dilakukan oleh Imam. Begitu juga jika Imam duduk tapi tidak tasyahud, karena duduknya tanpa tasyahud dianggap seperti tidak duduk, maka saat itu wajib memisahkan diri.

وَمَحَلُّ الانْتِظَارِ فِي الصُّبْحِ إِنْ لَمْ يَخْشَ خُرُوجَ الْوَقْتِ قَبْلَ تَحَلُّلِ إِمَامِهِ ، وَإِلَّا فَالْأَوْلَى عَدَمُهُ ، وَإِذَا انْتَظَرَهُ أَطَالَ الدُّعَاءَ نَدْبًا بَعْدَ تَشَهُدِهِ ، وَلَا يُكَرِّرُ التَّشَهُدَ فَلَوْ لَمْ يَحْفَظُ إِلَّا دُعَاءً قَصِيرًا كَرَّرَهُ ، لِأَنَّ الصَّلَاةَ لَا سُكُوْتَ فِيْهَا ، وَإِنَّمَا لَمْ يُكَرِّرِ التَّشَهُدَ خُرُوْجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَبْطَلَ الصَّلَاةَ بِتَكْرِيرِ الرُّكْنِ الْقَوْلِيِّ ، وَأَمَّا فِي الْمَغْرِبِ ، فَلَيْسَ لَهُ انْتِظَارُهُ ، لِأَنَّهُ يُحْدِثُ جُلُوسًا لَمْ يَفْعَلْهُ الإِمَامُ ، وَإِنْ فَعَلَ جُلُوسَ الاسْتِرَاحَةِ فَإِنَّهُ صَدَقَ عَلَيْهِ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْ جُلُوسَ التَّشَهُدِ الأَوَّلَ ، لِأَنَّ جَلْسَةَ الاسْتِرَاحَةِ هُنَا غَيْرُ مَطْلُوبَةٍ ، وَيَجُوزُ لَهُ انْتِظَارُهُ فِي السُّجُودِ الثَّانِي . انْتَهَى قَوْلُ السُّوَيْفِيِّ مُلَخَّصًا

Dan letak anjuran menunggu pada shalat Subuh adalah jika tidak khawatir habisnya waktu sebelum Imam selesai, jika khawatir maka yang lebih utama adalah tidak menunggu. Dan jika menunggunya, maka disunnahkan memperlama doa setelah tasyahudnya dan tidak mengulang-ulang bacaan tasyahud. Jika ia tidak hafal kecuali doa yang pendek, maka ia mengulang-ulang doa tersebut, karena di dalam shalat tidak ada diam. Alasan tidak mengulang tasyahud adalah untuk keluar dari perbedaan pendapat ulama yang membatalkan shalat karena mengulang rukun qauli. Adapun pada shalat Maghrib, maka ia tidak boleh menunggunya (Imam Zhuhur), karena ia akan membuat duduk yang tidak dilakukan Imam. Dan jika ia melakukan duduk istirahat, maka sungguh benar baginya bahwa ia tidak melakukan duduk tasyahud awal, karena duduk istirahat di sini tidak diperintahkan. Dan ia boleh menunggunya (Imam) pada sujud yang kedua. Selesai perkataan As-Suwaifi secara ringkas.

فَلَا فُحْشَ بِتَطْوِيْلِهِ ، لِأَنَّهُ إِنَّمَا طَوَّلَ مَا كَانَ فِيْهِ الْإِمَامُ ، كَمَا لَوْ جَلَسَ الإِمَامُ لِتَّشَهُدِ الْأَوَّلِ وَأَتَى بِبَعْضِهِ ثُمَّ تَرَكَ بَاقِيْهِ ، فَيَجُوْزُ لِلْمَأْمُوْمِ إِكْمَالُهُ ، لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ كَالْقُنُوْتِ ، فَإِنَّ إِثْيَانَهُ جَائِزٌ لِلْمَأْمُوْمِ ، وَإِنْ تَرَكَهُ إِمَامُهُ ، لِأَنَّ إِمَامَهُ قَدْ أَتَى بِالاعْتِدَالِ ، وَإِنَّمَا هُوَ طَوَّلَ مَا كَانَ فِيْهِ الإِمَامُ كَمَا أَفَادَهُ ابْنُ حَجَرٍ فِي « فَتْحِ الْجَوَادِ » وَعَاشِرُهَا : أَنْ لَا يُخَالِفَهُ فِي سُنَّةٍ فَاحِشَةِ الْمُخَالَفَةِ ، أَيْ : قَبُحَتْ فِيْهَا ، كَسَجْدَةِ تِلَاوَةٍ ، فَيَجِبُ الْمُوَافَقَةُ فِيْهَا فِعْلًا وَتَرْكًا ، كَسُجُودِ سَهْوٍ ، فَتَجِبُ فِيْهِ الْمُوَافَقَةُ فِعْلًا لَا تَرْكًا ، بَلْ يُسَنُّ لِلْمَأْمُوْمِ فِعْلُهُ إِذَا تَرَكَهُ إِمَامُهُ ،

Maka tidaklah dianggap buruk dengan memperlamanya, karena ia hanyalah memperlama apa yang sedang dilakukan oleh Imam, sebagaimana jika Imam duduk untuk tasyahud awal dan melakukan sebagiannya kemudian meninggalkan sisanya, maka boleh bagi makmum menyempurnakannya. Karena hal itu saat itu seperti Qunut, yang mana melakukannya diperbolehkan bagi makmum meskipun Imam meninggalkannya, karena Imamnya telah melakukan i'tidal, dan ia hanyalah memperlama apa yang sedang dilakukan oleh Imam sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Jawad. Kesepuluhnya: Hendaknya makmum tidak menyelisihi Imam dalam perkara sunnah yang sangat terlihat perbedaannya (fahisyatul mukhalafah), maksudnya: yang tampak buruk perbedaannya, seperti sujud tilawah; maka wajib hukumnya menyamai Imam baik dalam melakukan maupun meninggalkannya. Seperti juga sujud sahwi, maka wajib menyamainya dalam hal melakukan (jika Imam melakukan) namun tidak dalam hal meninggalkan, bahkan disunnahkan bagi makmum melakukannya jika Imam meninggalkannya.

وَكَالتَشَهُدِ الأَوَّلِ ، فَتَجِبُ فِيْهِ الْمُوَافَقَةُ تَرْكًا لَا فِعْلًا ، بَلْ يَجُوْزُ لِلْمَأْمُوْمِ إِذَا فَعَلَهُ الْإِمَامُ أَنْ يَتْرُكَهُ وَيَقُوْمَ عَامِدًا ، وَلَكِنْ يُسَنُّ لَهُ الْعَوْدُ إِنْ كَانَ قِيَامُهُ عَمْدًا مَا لَمْ يَقُمْ إِمَامُهُ ، فَإِنْ كَانَ قِيَامُهُ نَاسِيًا لَزِمَهُ الْعَوْدُ لِلْمُتَابَعَةِ وَمِثْلُ هَذَا مَا إِذَا ظَنَّ الْمَسْبُوْقُ سَلَامَ الإِمَامِ فَقَامَ ، ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّهُ لَمْ يُسَلِّمْ ، لَزِمَهُ الْعَوْدُ وَلَوْ بَعْدَ سَلَامِ الإِمَامِ ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْوِي الْمُفَارَقَةَ

Dan seperti tasyahud awal, maka wajib menyamai Imam dalam hal meninggalkan (jika Imam tidak duduk) namun tidak dalam hal melakukan, bahkan boleh bagi makmum jika Imam melakukannya untuk ia meninggalkannya dan berdiri dengan sengaja. Akan tetapi disunnahkan baginya untuk kembali duduk jika berdirinya karena sengaja selama Imam belum berdiri. Namun jika berdirinya karena lupa, maka wajib baginya kembali duduk demi mengikuti Imamnya. Dan yang semisal dengan ini adalah ketika seorang makmum masbuq menyangka Imam sudah salam lalu ia berdiri, kemudian ternyata jelas bahwa Imam belum salam, maka ia wajib kembali duduk walaupun setelah Imam salam, dan ia tidak boleh berniat memisahkan diri (mufaroqoh).

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْعَامِدِ وَالنَّاسِي أَنَّ الْعَامِدَ مُفَوَّتٌ عَلَى نَفْسِهِ تِلْكَ الْفَضِيْلَةَ بِتَعَمُّدِهِ ، وَأَنَّ النَّاسِي قِيَامُهُ غَيْرُ مُعْتَدٌ بِهِ ، فَهُوَ كَالْعَدَمِ ، فَفَرْقٌ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ مَا لَوْ رَكَعَ قَبْلَ إِمَامِهِ نَاسِيًا ، فَإِنَّهُ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْعَوْدِ وَالانْتِظَارِ لِفُحْشِ الْمُخَالَفَةِ فِي قِيَامِهِ نَاسِيًا دُوْنَ رُكُوعِهِ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ رَكَعَ قَبْلَ الإِمَامِ عَامِدًا ، فَإِنَّهُ يُسَنُّ لَهُ الْعَوْدُ . وَأَمَّا الْقُنُوْتُ ، فَلَا تَجِبُ الْمُوَافَقَةُ فِيْهِ لَا فِعْلًا وَلَا تَرْكًا ، فَإِذَا فَعَلَهُ الإِمَامُ جَازَ لِلْمَأْمُوْمِ أَنْ يَتْرُكَهُ وَيَسْجُدَ عَامِدًا ، وَإِذَا تَرَكَهُ الإِمَامُ سُنَّ لِلْمَأْمُوْمِ فِعْلُهُ إِذَا أَدْرَكَهُ فِي السُّجُودِ الأَوَّلِ ،

Perbedaan antara orang yang sengaja dan orang yang lupa adalah bahwa orang yang sengaja telah menghilangkan keutamaan (jamaah) bagi dirinya sendiri karena kesengajaannya. Sedangkan orang yang lupa, berdirinya tidak dianggap (tidak dihitung), maka keberadaannya seperti tidak ada. Maka ada perbedaan antara masalah ini dengan masalah seandainya ia ruku' mendahului Imamnya karena lupa; karena ia diberi pilihan antara kembali (ke posisi berdiri) atau menunggu Imam, disebabkan buruknya perbedaan pada berdirinya karena lupa tersebut bukan pada ruku'nya. Berbeda halnya jika ia ruku' mendahului Imam karena sengaja, maka disunnahkan baginya untuk kembali (berdiri). Adapun Qunut, maka tidak wajib menyamai Imam di dalamnya, baik dalam hal melakukan maupun meninggalkan. Maka jika Imam melakukannya, boleh bagi makmum untuk meninggalkannya dan langsung sujud dengan sengaja. Dan jika Imam meninggalkannya, disunnahkan bagi makmum untuk melakukannya jika ia masih bisa mengejar Imam pada sujud yang pertama.

وَجَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ إِنْ أَدْرَكَهُ فِي الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ ؛ فَإِنْ كَانَ لَا يُدْرِكُهُ إِلَّا بَعْدَ هُوِيِّ الإِمَامِ لِالسَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ وَجَبَ تَرْكُهُ إِنْ لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ ، فَإِنْ لَمْ يَتْرُكْهُ مَعَ الْعَمْدِ وَالْعِلْمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِمُجَرَّدِ التَّخَلُّفِ لِقَصْدِهِ الْمُبْطِلَ وَابْتِدَائِهِ قَبْلَ هُوِيِّ الإِمَامِ وَإِذَا تَرَكَهُ فَلَا سُجُوْدَ عَلَيْهِ لِتَحَوُّلِ الإِمَامِ عَنْهُ ، وَإِنْ لَمْ يُطْلَبِ الْقُنُوْتُ مِنْهُ ، وَلَهُ فِرَاقُهُ بِالنِّيَّةِ لِيَقْنَتَ تَحْصِيلًا لِلسُّنَّةِ ، وَهُوَ فِرَاقٌ بِعُذْرٍ فَلَا يُكْرَهُ ، لَكِنَّ عَدَمَ الْمُفَارَقَةِ أَفْضَلُ ،

Dan (melakukan Qunut tersebut) boleh namun makruh jika ia baru mengejar Imam saat Imam duduk di antara dua sujud. Namun jika ia tidak bisa mengejar Imam kecuali setelah Imam turun untuk sujud kedua, maka wajib baginya meninggalkan Qunut jika ia tidak berniat memisahkan diri (mufaroqoh). Jika ia nekat melakukannya dalam keadaan sengaja dan tahu (hukumnya), maka batal shalatnya hanya dengan sebab tertinggal tersebut, karena ia bermaksud melakukan hal yang membatalkan dan memulainya sebelum Imam turun (ke sujud kedua). Dan jika ia meninggalkan Qunut (karena mengikuti Imam), maka tidak ada sujud (sahwi) baginya karena Imam telah menanggungnya, meskipun Qunut tersebut tidak diminta darinya. Dan ia boleh memisahkan diri dengan niat agar bisa melakukan Qunut demi mengejar kesunnahan; dan itu adalah pemisahan diri karena udzur sehingga tidak makruh, namun tidak memisahkan diri itu lebih utama.

وَمِثْلُ هَذَا مَا لَوِ اقْتَدَىٰ بِمَنْ يُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ فَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِهِ ، لِأَنَّهُ لَا خَلَلَ فِي صَلَاتِهِ حَتَّىٰ فِي اعْتِقَادِ الْمَأْمُوْمِ ، لِأَنَّ الإِمَامَ يَحْمِلُهُ عَنْهُ ؛ بِخِلَافِ مَا لَوْ تَرَكَ الْقُنُوْتَ تَبَعًا لِإِمَامِهِ الْحَنَفِيَّ ، فَيَسْجُدُ نَدْبًا لِلسَّهْوِ ، وَكَذَا لَوْ تَرَكَهُ إِمَامُهُ الْمَذْكُوْرُ وَأَتَى هُوَ بِهِ لِأَنَّ سَهْوَ الإِمَامِ يَلْحَقُ الْمَأْمُوْمَ ، لِأَنَّ فِي صَلَاةِ الْإِمَامِ خَلَلًا نَظَرًا لِاعْتِقَادِ الْمَأْمُوْمِ .

Hal yang semisal adalah jika ia bermakmum kepada orang yang shalat sunnah Subuh, maka ia tidak perlu sujud (sahwi) karena ditinggalkannya Qunut tersebut, karena tidak ada kecacatan dalam shalatnya bahkan menurut keyakinan makmum pun, sebab Imam telah menanggungnya. Berbeda halnya jika ia meninggalkan Qunut karena mengikuti Imamnya yang bermadzhab Hanafi, maka ia disunnahkan sujud sahwi. Begitu juga jika Imamnya tersebut meninggalkannya namun makmum tetap melakukan Qunut tersebut; karena kelupaan Imam tetap berimbas pada makmum, sebab dalam shalat Imam terdapat kecacatan jika dilihat dari keyakinan makmum.

وَأَمَّا السُّنَّةُ الَّتِي لَا تَفْحُسُ الْمُخَالَفَةُ فِيهَا كَجَلْسَةِ الاسْتِرَاحَةِ ، فَلَا يَضُرُّ الإِنْيَانُ بِهَا ، بَلْ يُنْدَبُ لِلْمَأْمُوْمِ أَنْ يَأْتِيَ بِهَا ، وَإِنْ تَرَكَهَا الْإِمَامُ ؛ وَإِذَا فَعَلَهَا الإِمَامُ لَا يَلْزَمُ الْمَأْمُوْمَ مُوَافَقَتَهُ فِي الدَّوامِ ، وَأَمَّا فِي الابْتِدَاءِ ، فَيَجِبُ مُوَافَقَتُهُ بِأَنِ اقْتَدَى بِالإِمَامِ وَهُوَ جَالِسٌ لِلاسْتِرَاحَةِ ، فَيَلْزَمُهُ مُوَافَقَتُهُ فِيْهِ ؛ بِخِلَافِ مَا إِذَا اقْتَدَى بِهِ فِي غَيْرِ جُلُوسِ الاسْتِرَاحَةِ ، كَالنُّهُوضِ ، فَلَا يَلْزَمُهُ مُوَافَقَتْهُ فِيْهِ لِعَدَمٍ فُحْشِ الْمُخَالَفَةِ

Adapun sunnah yang perbedaannya tidak dianggap buruk (la tafhusy), seperti duduk istirahat, maka tidaklah mengapa melakukannya. Bahkan disunnahkan bagi makmum untuk melakukannya meskipun Imam meninggalkannya. Dan jika Imam melakukannya, maka makmum tidak wajib mengikutinya secara terus-menerus (fid-dawam). Adapun di awal (shalat), maka wajib mengikutinya; yaitu apabila ia bermakmum kepada Imam saat Imam sedang posisi duduk istirahat, maka ia wajib mengikutinya dalam hal itu. Berbeda halnya jika ia bermakmum saat Imam bukan dalam posisi duduk istirahat, seperti saat (Imam) bangkit berdiri, maka ia tidak wajib menyamainya karena tidak adanya perbedaan yang buruk.

وَحَادِي عَشَرِهَا : أَنْ يُتَابِعَهُ ، بِأَنْ يَتَأَخَّرَ تَحَرُّمُهُ عَنْ جَمِيعِ تَحَرُّمِ إِمَامِهِ ، وَأَنْ لَا يَسْبِقَهُ بِرُكْنَيْنِ فِعْلِيَّيْنِ عَامِدًا عَالِمًا ، وَأَنْ لَا يَتَأَخَّرَ عَنْهُ بِهِمَا بِلَا عُذْرٍ ، فَإِنْ قَارَنَهُ فِي التَّحَرُّمِ وَلَوْ شَكَّا ضَرَّ . فَائِدَةٌ : قَالَ الْمَدَابِغِيُّ : أَعْلَمْ أَنَّ الْمُقَارَنَةَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ : حَرَامٌ مُبْطِلَةٌ ، أَيْ : مَانِعَةٌ مِنَ الانْعِقَادِ ، وَهِيَ الْمُقَارَنَةُ فِي تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ ؛ وَمَنْدُوْبَةٌ ، وَهِيَ الْمُقَارَنَةُ فِي التَّأْمِيْنِ ، وَمَكْرُوهَةٌ مُفَوَّتَةٌ لِفَضِيْلَةِ الْجَمَاعَةِ مَعَ الْعَمْدِ ، وَهِيَ الْمُقَارَنَةُ فِي الأَفْعَالِ وَالسَّلَامِ ؛ وَمُبَاحَةٌ ، وَهِيَ الْمُقَارَنَةُ فِيْمَا عَدَا ذَلِكَ ، وَوَاجِبَةٌ فِيْمَا لولو لَمْ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَعَ الإِمَامِ لَمْ يُدْرِكْهَا

Kesebelasnya: Hendaknya makmum mengikuti Imam, dengan cara mengakhirkan takbiratul ihramnya setelah seluruh takbiratul ihram Imam selesai, tidak mendahului Imam dengan dua rukun fi'li secara sengaja dan tahu (hukumnya), dan tidak tertinggal dari Imam sebanyak dua rukun fi'li tanpa udzur. Jika ia barengan dalam takbiratul ihram meskipun masih ragu, maka hal itu membahayakan (tidak sah). Faidah: Al-Madabighi berkata: Ketahuilah bahwa barengan (muqaranah) itu ada lima bagian: Haram yang membatalkan (mencegah sahnya shalat), yaitu barengan dalam takbiratul ihram; Disunnahkan, yaitu barengan dalam ucapan "Aamiin"; Makruh yang menghilangkan fadhilah jamaah jika dilakukan sengaja, yaitu barengan dalam gerakan-gerakan dan salam; Mubah, yaitu barengan pada selain hal tersebut; dan Wajib, yaitu dalam hal sekiranya jika makmum tidak membaca Al-Fatihah bersamaan dengan Imam, maka ia tidak akan bisa menyelesaikannya.

فَرْعٌ : وَلَوْ نَوَى الْقُدْوَةَ مُنْفَرِدًا فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَتَبِعَهُ وُجُوْبًا فِيْمَا هُوَ فِيْهِ وَلَوْ فِي رُكْنٍ قَصِيْرِ كَالاعْتِدَالِ لِلإِمَامِ، وَلَوْ فِيْ رُكْنٍ طَوِيلٍ كَالْقِيَامِ أَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا قَائِمًا وَالْآخَرُ قَاعِدًا، نَعَمْ لَوِ اقْتَدَىٰ مَنْ فِيْ التَّشَهُدِ الأَخِيْرِ بِمَنْ فِي الْقِيَامِ مَثَلًا لم يَجُزْ لَهُ مُتَابَعَتُهُ بَلْ يَنْتَظِرُهُ وُجُوْبًا لِيُسَلَّمَ مَعَهُ، وَهُوَ أَفْضَل...

Cabang Masalah: Seandainya seseorang yang sedang shalat sendirian berniat menjadi makmum di tengah shalatnya, maka hukumnya boleh namun makruh. Dan ia wajib mengikuti Imam pada posisi Imam saat itu, meskipun Imam sedang berada di rukun yang pendek seperti i'tidal, atau rukun yang panjang seperti berdiri, atau salah satu dari keduanya sedang berdiri dan yang lain duduk. Benar (wajib ikut), namun jika orang yang sedang tasyahud akhir bermakmum kepada orang yang sedang berdiri misalnya, maka ia tidak boleh mengikutinya (bangun berdiri), melainkan ia wajib menunggunya agar bisa salam bersama Imam, dan itu lebih utama...

... فَلَهُ فُرَاقُهُ، وَهُوَ فُرَاقٌ بِعُذْرٍ، وَلَا نَظَرَ إِلَى أَنَّهُ أَحْدَثَ جُلُوسًا لَمْ يُحْدِثُهُ الإِمَامُ ، لِأَنَّ الْمَحْذُورَ إِحْدَاثُهُ بَعْدَ نِيَّةِ الْاقْتِدَاءِ لَا دَوَامُهُ كَمَا هُنَا ؛ أَوْ اقْتَدَى مَنْ فِي السَّجْدَةِ الأَخِيرَةِ بَعْدَ الطَّمَأْنِيْنَةِ بِمَنْ فِي الْقِيَامِ أَيْضًا لَمْ يَجُزْ لَهُ رَفْعُ رَأْسِهِ مِنَ السُّجُودِ بَلْ يَنْتَظِرُهُ فِيْهِ إِنْ لَمْ يَنْوِ الْمُفَارَقَةَ، فَإِنْ كَانَ قَبْلَ الطُّمَأْنِينَةِ قَامَ إِلَيْهِ ، وَكُلُّ مَا فَعَلَهُ الْمَأْمُوْمُ مَعَ الإِمَامِ مِمَّا فَعَلَهُ قَبْلَهُ غَيْرُ مَحْسُوْبٍ لَهُ ، كَأَنْ رَكَعَ مَعَهُ بَعْدَ أَنْ رَكَعَ قَبْلَ الْاقْتِدَاءِ بِهِ وَإِنْ فَعَلَ الثَّانِي لِلْمُتَابَعَةِ

...Ia juga boleh memisahkan diri (mufaroqoh), dan itu dianggap pemisahan karena udzur. Hal ini tidak dianggap ia membuat duduk baru yang tidak dilakukan Imam, karena yang dilarang itu membuat duduk baru setelah niat makmum, bukan meneruskan duduk yang sudah ada seperti dalam kasus ini. Atau jika orang yang sedang sujud terakhir setelah thuma'ninah bermakmum kepada orang yang sedang berdiri juga, maka ia tidak boleh mengangkat kepalanya dari sujud, melainkan ia menunggunya di dalam sujud jika tidak berniat memisahkan diri. Namun jika ia (bermakmum) sebelum thuma'ninah, maka ia bangkit menuju Imam. Dan setiap apa yang dilakukan makmum bersama Imam dari gerakan yang sudah ia lakukan sebelumnya, maka itu tidak dihitung baginya, seperti ia ruku' bersama Imam padahal ia sudah ruku' sebelum bermakmum, meskipun ia melakukan ruku' yang kedua itu demi mutaba'ah (mengikuti Imam).

ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ مَا يَلْزَمُ الْمَأْمُوْمَ الْمُتَابَعَةُ فِيْهِ بِائْتِمَامِهِ مِمَّا أَدْرَكَهُ مَعَ إِمَامِهِ ، وَإِنْ لَمْ يُحْسَبُ لَهُ ؛ تِسْعَةُ أَشْيَاءَ : أَحَدُهَا : الاعْتِدَالُ لَوْ كَانَ الإِمَامُ فِي قُنُوْتٍ وَثَانِيهَا وَثَالِثُهَا : السُّجُوْدَانِ وَرَابِعُهَا : الْجُلُوسُ بَيْنَهُمَا وَخَامِسُهَا : الْجُلُوسُ لِلاسْتِرَاحَةِ . وَسَادِسُهَا وَسَابِعُهَا : الْجُلُوسُ لِلتَّشَهْدَيْنِ وَثَامِنُهَا : سُجُودُ السَّهْوِ . وَتَاسِعُهَا : سُجُوْدُ التَّلَاوَةِ ، أَيْ : إِذَا اقْتَدَىٰ بِهِ فِيْهِ لَزِمَهُ مُتَابَعَتُهُ وَيَجِبُ أَيْضًا عَلَى الْقَاصِرِ الإِثْمَامُ إِذَا اقْتَدَى بِمُتِمَّ ، وَلَوْ لَحْظَةٌ ،

Kemudian ketahuilah bahwa hal-hal yang wajib diikuti makmum sebab bermakmumnya ia pada apa yang ia dapati bersama Imamnya—meskipun hal itu tidak dihitung baginya—ada sembilan hal: 1. I'tidal, jika Imam sedang Qunut. 2 & 3. Dua kali sujud. 4. Duduk di antara dua sujud. 5. Duduk istirahat. 6 & 7. Duduk untuk dua tasyahud. 8. Sujud Sahwi. 9. Sujud Tilawah; maksudnya jika makmum bermakmum kepadanya saat itu, maka wajib mengikutinya. Dan wajib juga bagi orang yang meng-qashar shalatnya untuk menyempurnakan rakaatnya (itmam) jika ia bermakmum kepada Imam yang shalat sempurna (mutimm), meskipun hanya sesaat.

وَلَا يَلْزَمُ الْمَأْمُوْمُ الْمُتَابَعَةَ فِي أَلْفَاظِ التَّشَهُدِ وَالْقُنُوْتِ ، لِأَنَّ الْوَاجِبَ الْمُتَابَعَةُ فِي الأَفْعَالِ لَا الأَقْوَالِ ، لَكِنْ يُسَنُّ لَهُ التَّبَعِيَّةُ فِيْهَا حَتَّى لَوْ كَانَ مَسْبُوْفًا ، فَالسُّنَّةُ أَنْ يَأْتِيَ بِجَمِيعِ أَلْفَاظِ التَّشَهُدِ مِنَ الْوَاجِبِ وَالْمَسْنُوْنِ ، وَكَذَا يُسَنُّ التَّبَعِيَّةُ أَيْضًا فِي التَّسْبِيحَاتِ وَالتَّكْبِيرَاتِ ، نَعَمْ إِذَا كَانَ الْإِمَامُ فِي أَحَدِ التَّشَهُدَيْنِ أَوْ فِي السُّجودِ مَثَلًا ، وَنَوَى الْمَأْمُوْمُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ وَكَبَّرَ لِلإِحْرَامِ ، فَلَا يَحْتَاجُ إِذَا انْتَقَلَ إِلَى إِمَامِهِ فِيْمَا ذُكِرَ أَنْ يُكَبِّرَ ، بَلْ يَنْتَقِلُ ساكِنًا ، لِأَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ لِلْمُتَابَعَةِ وَلَا مِمَّا يُحْسَبُ لِلْمَأْمُوْمِ ؛ بِخِلَافِ مَا بَعْدَ مَا أَدْرَكَهُ فِيْهِ ، فَيُكَبِّرُ لِلانْتِقَالِ إِلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يُحْسَبُ لَهُ الْمُتَابَعَةُ لِلإِمَامِ فِيْهِ ؛ وَبِخِلَافِ الرُّكُوعِ ، فَإِنَّهُ إِنْ أَدْرَكَهُ فِيْهِ يُكَبِّرُ لِلانْتِقَالِ إِلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يُتَابِعُهُ حَالَ الانْتِقَالِ لِأَنَّهُ مَحْسُوْبٌ لَهُ

Makmum tidak wajib mengikuti lafaz-lafaz dua tasyahud dan Qunut, karena yang wajib adalah mengikuti dalam perbuatan (af'al), bukan ucapan (aqwal). Akan tetapi disunnahkan baginya mengikuti lafaz-lafaz tersebut meskipun ia makmum masbuq; maka sunnahnya ia mendatangkan seluruh lafaz tasyahud yang wajib maupun sunnah. Begitu juga disunnahkan mengikuti dalam bacaan tasbih dan takbir. Benar (disunnahkan), namun jika Imam sedang berada di salah satu tasyahud atau sedang sujud misalnya, lalu makmum berniat saat itu dan takbiratul ihram, maka ia tidak perlu takbir lagi saat berpindah posisi menuju Imam, melainkan berpindah dalam keadaan diam (sakinan). Karena perpindahan itu bukan untuk mutaba'ah (mengikuti Imam dalam gerakan yang sedang berjalan) dan bukan hal yang dihitung bagi makmum. Berbeda dengan posisi setelah yang ia dapati tadi, maka ia takbir untuk berpindah kepadanya meskipun mutaba'ah-nya tidak dihitung. Dan berbeda pula dengan ruku'; karena jika ia mendapati Imam sedang ruku', maka ia takbir untuk berpindah ke ruku' meskipun ia tidak mengikuti Imam saat proses turunnya ruku', karena ruku' tersebut dihitung (sebagai satu rakaat) baginya.

وَاعْلَمْ أَنَّ الَّذِي يَسْقُطُ عَنِ الْمَأْمُوْمِ بِالْتِمَامِهِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ : أَحَدُهَا : الْقِيَامُ وَثَانِيهَا : الْقِرَاءَةُ إِذَا أَدْرَكَهُ فِي الرُّكُوعِ وَثَالِثُهَا : السُّوْرَةُ فِي الصَّلَاةِ الَّتِي جَهَرَ الإِمَامُ فِيْهَا وَلَوْ سِرِّيَّةٌ ، فَالْعِبْرَةُ بِالْمَفْعُوْلِ لَا بِالْمَشْرُوْعِ ، وَذَلِكَ إِذَا سَمِعَهَا مِنَ الإِمَامِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهَا لِصَمَمِ أَوْ بُعْدٍ أَوْ سَمَاعِ صَوْتٍ لَمْ يَفْهَمْهُ ، أَوْ إِسْرَارٍ وَلَوْ فِي جَهْرِيَّةٍ ، لَمْ يَسْقُطُ عَنْهُ وَرَابِعُهَا : الْجَهْرُ فِي الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ ، فَلَا يَجْهَرُ ، لِأَنَّهُ رُبَّمَا يُشَوِّسُ عَلَى الإِمَامِ أَوْ غَيْرِهِ

Ketahuilah bahwa hal yang gugur dari makmum sebab bermakmumnya ia (ditanggung Imam) ada tujuh hal: 1. Berdiri. 2. Bacaan (Fatihah), jika ia mendapati Imam sedang ruku'. 3. Membaca surat, pada shalat yang Imam mengeraskan suaranya (jahr) meskipun shalat tersebut asalnya pelan (sirriyah); maka patokannya adalah apa yang dilakukan (oleh Imam) bukan hukum asalnya. Dan hal itu berlaku jika makmum mendengarnya dari Imam. Jika ia tidak mendengarnya karena tuli, atau jauh, atau mendengar suara namun tidak paham, atau karena Imam membacanya pelan (israr) meskipun pada shalat jahriyyah, maka (bacaan surat tersebut) tidak gugur darinya (makmum tetap disunnahkan baca sendiri). 4. Mengeraskan suara (al-jahr) pada shalat jahriyyah, maka makmum tidak perlu mengeraskan suara karena terkadang hal itu bisa mengganggu Imam atau orang lain.

``` ```
Takhrij Qauli & Referensi Kitab:
Masalah "Mufaroqoh karena udzur" dimaafkan dan tetep dapet fadhilah jamaah ini selaras ama fatwa Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Fathul Jawad and Syekh As-Suwaifi. Perbedaan niat (fardu di belakang sunnah) sah berdasarkan hadis Mu'adz bin Jabal nyang shalat Isya bareng Rasulullah, terus balik ke kaumnye buat jadi Imam shalat Isya (status sunnah bagi Mu'adz, fardu bagi kaumnye).
Kotak Kasus Nyata di Lapangan:
Si Rojali dateng masbuq pas shalat Maghrib, eh dia dapet Imam nyang lagi shalat Isya (Zhuhur/Ashar nyang 4 rakaat). Pas rakaat ketiga, si Rojali udeh duduk tasyahud akhir (kan Maghrib cuma 3 rakaat), sedangkan Imam bangkit ke rakaat 4. Gimana nasib Rojali? Dia punya dua opsi nyang sah: 1) Dia diem nungguin Imam di posisi duduk tasyahud akhir itu ampe Imam kelar rakaat ke-4, ntar salamnye barengan ama Imam (Ini nyang paling afdhol). 2) Dia niat mufaroqoh (misahin diri), terus salam sendirian. Dua-duanya sah and dapet pahala jamaah karena ada udzur perbedaan sistem shalat!
KOTAK BAHAYA LATEN: MASBUQ KEGEERAN!
Ini nih penyakit masbuq nyang sering kejadian! Ente masbuq, terus denger Imam gerak nyang disangka udeh salam, ente langsung berdiri tegak. Eh kaga taunye Imam belon salam (misal baru tasyahud awal ato sujud sahwi). Hukumnya: Ente WAJIB BALIK DUDUK LAGI! Kagak boleh ente langsung niat mufaroqoh pas udeh tau Imam belon salam. Kalo ente sengaja kaga mau balik duduk padahal tau hukumnya, shalat ente langsung BATAL seketika! Jangan maen-maen ama rukun mutaba'ah!
===================== ```html Kajian Kitab Kasyifatus Saja - Abi Ahmad Thoufur

DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA

Syarah Kitab Safinatun Najah — Karya Syekh Nawawi Al-Bantani
Mudarris: Abi Ahmad Thoufur (Classic '91)
Halaman Kitab: 350 - 359
Muqoddimah Nyablak ala Ustadz BCA:
Assalamu'alaikum wr. wb. Jemaah sekalian, wabil khusus para penuntut ilmu yang kaga bosen-bosen mantengin khazanah salaf. Malam ini gemeteran dah tangan kite megang naskah, saking padetnya urusan fikih makmum-imam, dari perkara tasyahud yang ketinggalan, urusan khunsa (maaf, transgender alami/hermafrodit) yang bikin njelimet shalat berjamaah, sampe rukhsah jamak-qashar pas lagi safar. Sesuai amanat antum, Ane kaga potong-potong nih naskah, Ane gelar verbatim plek-ketiplek biar berkah ilmunya mu'tamad! Pasang kuping baek-baek, mari kite kepret kebatilan pake ilmu yang lurus!

وَخَامِسُهَا وَسَادِسُهَا : التَّشَهُدُ الأَوَّلُ وَالْجُلُوسُ لَهُ إِذَا تَرَكَهُمَا الإِمَامُ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا ، فَيَتْرُكُهُمَا الْمَأْمُوْمُ تَبَعًا لَهُ وُجُوْبًا ، لِأَنَّهُمَا مِمَّا تَفْحُشُ فِيْهِ الْمُخَالَفَةُ ؛

5 & 6. Tasyahud awal dan duduk tasyahud awal; jika Imam meninggalkan keduanya baik sengaja maupun lupa, maka makmum wajib meninggalkannya demi mengikuti Imam, karena hal itu termasuk perbedaan yang tampak buruk (tafhusyu fihil mukhalafah).

وَيُفَارِقَانِ الْقُنُوْتَ بِأَنَّ الإِمَامُ وَالْمَأْمُوْمُ فِيْهِ أَشْتَرَكَا فِي الاعْتِدَالِ فَلَمْ يَنْفَرِدْ بِهِ الْمَأْمُوْمُ ، وَأَمَّا فِيْهِمَا فَهُوَ مُنْفَرِدٌ بِالْجُلُوْسِ وَالْقَوْلِ ؛ وَلَوْ جَلَسَ الْإِمَامُ لِلاسْتِرَاحَةِ لِأَنَّ جَلْسَةَ الاسْتِرَاحَةِ هُنَا غَيْرُ مَطْلُوْبَةٍ .

Hal ini berbeda dengan masalah Qunut, karena Imam dan makmum dalam Qunut sama-sama berada dalam posisi i'tidal, sehingga makmum tidak sendirian dalam posisi itu. Sedangkan dalam tasyahud awal (jika Imam bangun), makmum akan sendirian dalam posisi duduk dan bacaan tersebut, meskipun Imam melakukan duduk istirahat (tetap tidak boleh tasyahud) karena duduk istirahat di sini tidak diminta.

وَسَابِعُهَا : الْقُنُوْتُ إِذَا سَمِعَهُ ، إِذِ السُّنَّةُ فِيْهِ أَنْ يُؤَمِّنَ فِي الدُّعَاءِ ، وَيَسْكُتَ أَوْ يُوَافِقَ فِي الثَّنَاءِ ، أَوْ يَقُوْلَ : أَشْهَدُ ، أَوْ صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ ؛ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

7. Qunut; jika makmum mendengarnya, karena sunnah baginya adalah mengaminkan pada bagian doa, dan diam atau ikut membaca pada bagian pujian (tsana'), atau mengucapkan: "Asyhadu", atau "Shadaqta wa bararta". Dan shalat tidak batal dengan ucapan tersebut menurut pendapat yang mu'tamad.

وَيُغْتَفَرُ الْخِطَابُ هُنَا لِأَنَّهُ مَطْلُوبُ لِوُجُوْدِ الرَّابِطَةِ بِخِلَافِهِ فِي إِجَابَةِ الْمُصَلِّيْ لِلْمُؤَذِّنِ ، فَإِنَّهُ لَا يُغْتَفَرُ لِعَدَمٍ طَلَبِهِ وَعَدَمِ الرَّابِطَةِ ؛

Dimaafkan adanya khitab (sapaan langsung) di sini karena hal itu diminta demi adanya ikatan (rabithah), berbeda dengan kasus orang shalat menjawab muadzin yang tidak dimaafkan karena tidak diminta dan tidak ada ikatan.

وَمِنَ الدُّعَاءِ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَإِنْ كَانَت| بِلَفْظِ الْخَبَرِ ، كَـ « صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ » ، لِأَنَّ الْمُرَادَ الدُ—عَاءُ ، فَيُؤَمِّنُ فِيْهَا ، وَكَذَا مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى لَفْظِ : « قَضَيْتَ » ، وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ كُلِّهِ ثَنَاءُ ، فَيُوَافِقُ فِيْهِ ، أَوْ يَسْكُتُ ، أَوْ يَقُوْلُ مَا مَرَّ

Termasuk bagian doa adalah shalawat kepada Nabi ﷺ meskipun dalam bentuk kalimat berita seperti "Shallallahu 'ala sayyidina Muhammad", karena maksudnya adalah doa, maka makmum mengaminkannya. Begitu juga dari awal Qunut sampai lafaz "Qadhayta", and apa yang ada di antara itu semua adalah pujian (tsana'), maka makmum menyelaraskannya (ikut baca), atau diam, atau mengucapkan apa yang telah lewat (seperti: Asyhadu).

[فَصْلٌ فِي بَيَانِ الصُّوَرِ الْمُمْكِنَةِ فِي الْقُدْوَةِ]

صُوَرُ الْقُدْوَةِ الْمُمْكِنَةِ مِنْ حَيْثُ هِيَ تِسْعٌ : تَصِحُ فِي خَمْسٍ : أَحَدُهَا قُدْوَةٌ رَجُلٍ بِرَجُلٍ وَثَانِيهَا : قُدْوَةُ أَمْرَأَةٍ بِرَجُلٍ وَثَالِثُهَا : قُدْوَةٌ خُنْثَى بِرَجُلٍ وَرَابِعُهَا : قُدْوَةُ أَمْرَأَةٍ بِخُنْثَى وَخَامِسُهَا : قُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ

Gambaran bermakmum yang mungkin dari segi keberadaannya ada sembilan: Sah dalam lima (gambaran): 1. Bermakmumnya laki-laki kepada laki-laki. 2. Bermakmumnya perempuan kepada laki-laki. 3. Bermakmumnya khunsa kepada laki-laki. 4. Bermakmumnya perempuan kepada khunsa. 5. Bermakmumnya perempuan kepada perempuan.

وَتَبِعُلُ فِي أَرْبَعٍ : الأَوَّلُ : قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةِ ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِهَا ، لِأَنَّ شَرْطَ الاقْتِدَاءِ أَنْ لَا يَكُوْنَ الإِمَامُ أَنْقَصَ مِنَ الْمَأْمُوْمِ بِالْأُنُوثَةِ أَوِ الْخُنُوْثَةِ ، لِخَبَرِ ابْنِ مَاجَةً [ رقم : ۱۰٨١ ] : ( لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا ) .

Batal dalam empat (gambaran): Pertama: Bermakmumnya laki-laki kepada perempuan, maka tidak sah ia bermakmum kepadanya. Karena syarat bermakmum adalah Imam tidak boleh lebih rendah daripada makmum dengan sebab sifat kewanitaan atau ke-khunsa-an, Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majah [nomor 1081]: (Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimami laki-laki).

وَالثَّانِي : قُدْوَةُ رَجُلٍ بِخُنْثَى ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِهِ لِنَقْصِ الْإِمَامِ عَنِ الْمَأْمُوْمِ

Dan yang kedua: bermakmumnya laki-laki kepada khunsa, maka tidak sah ia bermakmum kepadanya karena kurangnya derajat Imam dibandingkan makmum.

وَالثَّالِثُ : قُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ ، فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ بِهَا لِذَلِكَ ، وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا تَصِحُ إِمَامَتُهَا إِلَّا لِمَثْلِهَا يَقِينًا ، لِقَوْلِهِ ﷺ : « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً » [ البخاري ، رقم : ٤٤٢٥ ، ٧٠٩٩ ؛ الترمذي ، رقم : ٢٢٦٢ ؛ النسائي ، رقم : ٥٣٨٨ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ١٩٨٨٩ ، ١٩٩٢٥ ، ١٩٩٤٢ ، ١٩٩٦١ ، ٢٧٥٣٥ ، ٢٧٧٤٥ ]

Dan yang ketiga: bermakmumnya khunsa kepada perempuan, maka tidak sah ia bermakmum kepadanya karena alasan tersebut, dan karena perempuan tidak sah menjadi imam kecuali bagi sesamanya secara yakin, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: «Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan» [Al-Bukhari, nomor: 4425, 7099; At-Tirmidzi, nomor: 2262; An-Nasa'i, nomor: 5388; «Musnad Ahmad», nomor: 19889, 19925, 19942, 19961, 27535, 27745].

وَالرَّابِعُ : قُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى ، فَلَا يَصِحُ اقْتِدَاؤُهُ بِمِثْلِهِ ، بَلْ يَصِحُ بِدُوْنِهِ يَقِيْنَا لِجَوَازِ كَوْنِ الْمَأْمُوْمِ رَجُلًا وَالإِمَامِ أُنْثَى ، وَيَصِحُّ مَعَ الْكَرَاهَةِ اقْتِدَاءُ رَجُلٍ بِخُنْثَى اتَّضَحَتْ ذُكُورَتُهُ ، وَاقْتِدَاءُ خُنْثَى اتَّضَحَتْ أُنُوْثَتُهُ بِأُنْثَى

Dan yang keempat: bermakmumnya khunsa kepada khunsa, maka tidak sah ia bermakmum kepada yang serupa dengannya, melainkan ia sah (bermakmum) kepada yang di bawahnya secara yakin karena adanya kemungkinan makmum adalah laki-laki dan imam adalah perempuan. Dan sah disertai makruh bermakmumnya laki-laki kepada khunsa yang telah jelas kejantanannya, dan bermakmumnya khunsa yang telah jelas kewanitaannya kepada perempuan.

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي « فَتْحِ الْجَوَادِ » : فَالْخُنْثَى الْمُقْتَدِي بِالْمَرْأَةِ يَحْتَمِلُ ذُكُورَتُهُ ، وَالْمُقْتَدَى بِهِ الرَّجُلِ يَحْتَمِلُ أَنُوْثَتُهُ ؛ وَفِي الْخُنْثَى بِالْخُنْثَىٰ يُحْتَمَلُ أَنُوْثَةُ الإِمَامِ وَذُكُورَةُ الْمَأْمُومِ ، أَمَّا اقْتِدَاءُ الْمَرْأَةِ بِالْكُلِّ وَاقْتِدَاءُ الْخُنْثَى وَالرَّجُلِ بِالرَّجُلِ فَصَحِيحٌ ، إِذْ لَا مَحْذُورَ . انْتَهَى

Ibnu Hajar berkata dalam «Fathul Jawad»: Maka khunsa yang bermakmum kepada perempuan ada kemungkinan ia laki-laki, dan (khunsa) yang diimami oleh laki-laki ada kemungkinan ia perempuan; dan pada kasus khunsa bermakmum kepada khunsa ada kemungkinan imamnya perempuan dan makmumnya laki-laki. Adapun bermakmumnya perempuan kepada semuanya, serta bermakmumnya khunsa dan laki-laki kepada laki-laki, maka hukumnya sah karena tidak ada hal yang dilarang. Selesai.

فَائِدَةٌ : قَالَ أَبُو بَكْرٍ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّبْتِيُّ : الْخُنْثَى هُوَ الَّذِي لَهُ ذَكَرُ الرِّجَالِ وَفَرْجُ النِّسَاءِ ، فَلَا يَخْلُوْ مِنْ كَوْنِهِ رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً ، فَيُعْرَفُ حَالُهُ بِأَشْيَاءَ : أَحَدُهَا : الْبَوْلُ ، فَإِنْ كَانَ يَبُوْلُ مِنَ الذَّكَرِ فَهُوَ رَجُلٌ ، وَإِنْ كَانَ يَبُوْلُ مِنَ الْفَرْجِ فَهُوَ أُنْثَى ،

Faidah: Abu Bakar bin Abdurrahman As-Sabti berkata: Khunsa adalah orang yang memiliki kemaluan laki-laki dan kemaluan perempuan, maka ia tidak terlepas dari keadaan sebagai laki-laki atau perempuan. Keadaannya dapat diketahui melalui beberapa hal: Pertama: Air kencing. Jika ia kencing dari kemaluan laki-laki maka ia laki-laki, dan jika kencing dari kemaluan perempuan maka ia perempuan.

وَإِنْ كَانَ يَوْلُ مِنْهُمَا جَمِيعًا عَلَى الدَّوَامِ ، فَقَالَ الإِمَامُ ابْنُ الصَّبَّاغِ وَالْمَحَامِلِيُّ : يُعْتَبَرُ السَّابِقُ مِنْهُمَا ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَيُعْتَبَرُ مَا تَأَخَّرَ انْقِطَاعُهُ ، فَإِنِ اسْتَوَيَا فَهَلْ يُعْتَبَرُ بِالأَكْثَرِ قَدْرًا ؟ فِيْهِ قَوْلَانِ ، الأَصَحُ لَا يُعْتَبَرُ

Jika ia kencing dari keduanya secara terus-menerus, maka Imam Ibnu Shabbaq dan Al-Mahamili berkata: Yang dianggap adalah yang keluar lebih dulu. Jika tidak ada, maka dianggap yang paling akhir berhentinya. Jika keduanya sama, apakah dianggap dari yang paling banyak jumlahnya? Dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang paling sahih adalah tidak dianggap.

الثَّاني : الْمَنِيُّ وَالْحَيْضُ وَالْحَبَلُ ، فَإِنْ أَمْنَى مِنَ الذَّكَرِ فَرَجُلٌ ، وَإِنْ أَمْنَى مِنَ الْفَرْجِ أَوْ حَاضَ فَامْرَأَةٌ ، وَإِنْ أَمْنَى مِنَ الذَّكَرِ وَحَاضَ مِنَ الْفَرْجِ فَمُشْكِلٌ ، أَمَّا لَوْ حَبِلَ وَوَلَدَ فَهُوَ أَمْرَأَةٌ يَقِيْنَا ، وَهِيَ دِلَالَةٌ مُقَدَّمَةٌ عَلَى سَائِرِ الدَّلَائِلِ ، لِأَنَّهَا يَقِينُ

Kedua: Sperma, haid, dan hamil. Jika ia mengeluarkan sperma dari kemaluan laki-laki maka ia laki-laki. Jika mengeluarkan sperma dari kemaluan perempuan atau haid maka ia perempuan. Jika mengeluarkan sperma dari kemaluan laki-laki sekaligus haid dari kemaluan perempuan, maka ini masalah pelik (musykil). Adapun jika ia hamil dan melahirkan, maka ia perempuan secara yakin, dan ini adalah tanda yang didahulukan atas tanda lainnya karena sifatnya yang meyakinkan.

وَلَوْ بَالَ مِنَ الذَّكَرِ وَحَاضَ مِنَ الْفَرْجِ ، فَهَلْ يُعْتَبَرُ بِالْمَبَالِ أَوْ يَتَعَارَضَانِ وَيَسْقُطَانِ وَيَبْقَى الإِشْكَالُ ؟ وَجْهَانِ ، أَظْهَرُهُمَا الثَّانِي ، أَنَّهُ مُشْكِلٌ

Seandainya ia kencing dari kemaluan laki-laki tapi haid dari kemaluan perempuan, apakah dianggap tempat kencingnya atau keduanya saling bertentangan sehingga gugur dan tetap pelik? Ada dua pendapat, yang paling jelas adalah yang kedua (tetap pelik).

الثَّالِثُ : الرُّجُوْعُ إِلَى قَوْلِهِ بَعْدَ الْبُلُوْعِ ، وَيُسْأَلُ عَمَّا يَمِيلُ طَبْعُهُ إِلَيْهِ إِنْ لَمْ يُعْرَفْ حَالُهُ ، فَإِنْ قَالَ : أَمِيْلُ إِلَى النِّسَاءِ ؛ فَهُوَ رَجُلٌ ؛ وَإِنْ قَالَ : أَمِيلُ إِلَى الرِّجَالِ ؛ فَهُوَ امْرَأَةٌ ؛ فَمَتَى أَخْبَرَ بِذَلِكَ حُكِمَ بِهِ ، وَلَا يُقْبَلُ رُجُوْعُهُ عَنْهُ بَعْدَهُ إِلَّا إِذَا أَخْبَرَ أَنَّهُ رَجُلٌ ثُمَّ وَلَدَ وَلَدًا ، فَحِينَئِذٍ يُتَيَقَّنُ أَنَّهُ امْرَأَةٌ ، فَيُنْقَضُ مَا مَضَى مِنَ الْحُكْمِ بِذُكُورَتِهِ

Ketiga: Merujuk pada perkataannya setelah baligh. Ia ditanya mengenai kecenderungan wataknya jika keadaannya belum diketahui. Jika ia berkata: "Aku cenderung kepada perempuan", maka ia laki-laki. Jika berkata: "Aku cenderung kepada laki-laki", maka ia perempuan. Maka kapanpun ia mengabarkan hal itu, ia dihukumi dengannya. Dan tidak diterima pencabutan ucapannya setelah itu, kecuali jika ia mengabarkan bahwa ia laki-laki kemudian ternyata ia melahirkan anak, maka saat itulah diyakini bahwa ia adalah perempuan. Maka dibatalkanlah keputusan yang telah lalu mengenai kejantanannya.

أَمَّا نَبَاتُ اللَّحْيَةِ وَنُهُوْدُ الثَّدْيِ وَعَدَدُ الْأَضْلَاعِ فَلَا اعْتِبَارَ بِهَا عَلَى الأَصَحُ . انْتَهَى

Adapun tumbuhnya jenggot, menonjolnya payudara, dan jumlah tulang rusuk, maka hal-hal tersebut tidak dianggap (sebagai penentu status) menurut pendapat yang paling sahih. Selesai.

وَقَالَ مُحَمَّدٌ سِبْطُ الْمَارْدِينِي : وَالْخُنْثَى الْمُشْكِلُ قِسْمَانِ : قِسْمٌ لَهُ آلَةُ الرِّجَالِ ، أَيْ : مِنَ الذَّكَرِ وَالْبَيْضَتَيْنِ ، وَآلَةُ النِّسَاءِ جَمِيعًا وَقِسْمٌ لَهُ ثُقْبَةٌ يَخْرُجُ مِنْهَا الْبَوْلُ لَا تُشْبِهُ آلَةٌ مِنَ الْالَتَيْنِ ، وَهَذَا الثَّانِي مُشْكِلٌ لَا يَتَّضِحُ مَا دَامَ صَبِيًّا ، فَإِذَا بَلَغَ أَمْكَنَ اتِّضَاحُهُ ، وَالْأَوَّلُ قَدْ يَتَّضِحُ وَإِنْ كَانَ صَبِيًّا ، وَقَدْ لَا يَتَّضِحُ . أَنْتَهَى

Dan Muhammad Sibthul Mardini berkata: Khunsa musykil itu ada dua bagian: Bagian (pertama) adalah yang memiliki alat laki-laki, yaitu berupa zakar dan dua buah pelir, serta alat perempuan secara bersamaan. Dan bagian (kedua) adalah yang memiliki sebuah lubang tempat keluarnya air kencing yang tidak menyerupai salah satu dari kedua alat tersebut; dan bagian yang kedua ini adalah musykil yang tidak akan menjadi jelas selama ia masih kecil, namun jika sudah baligh maka dimungkinkan kejelasannya. Sedangkan bagian yang pertama terkadang menjadi jelas meskipun ia masih kecil, dan terkadang tidak menjadi jelas. Selesai.

فَرْعُ : قَالَ النَّوَوِيُ— : وَيَكُوْنُ فِي الْبَقَرِ ؛ فَقَدْ جَاءَنِي جَمَاعَةٌ قَالُوْا : إِنَّ عِنْدَهُمْ بَقَرَةٌ لَيْسَ لَهَا فَرْجُ أُنْثَى وَلَا ذَكَرُ الثَّوْرِ ، وَإِنَّمَا لَهَا عِنْدَ ضِرْعِهَا ثُقْبٌ يَخْرُجُ مِنْهُ الْبَوْلُ ، وَسَأَلُونِي عَنْ جَوَازِ التَّضْحِيَةِ بِهَا ، فَقُلْتُ : تُجْزِئُ لِأَنَّهَا إِمَّا ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى ، وَكِلَاهُمَا يُجْزِئُ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ مَا يُنْقِصُ اللَّحْمَ ؛ وَأَفْتَيْتُهُمْ بِذَلِكَ

Cabang Masalah: An-Nawawi berkata: (Kejadian khunsa) bisa juga terjadi pada sapi; sungguh telah datang kepadaku sekelompok orang yang berkata: Sesungguhnya mereka memiliki seekor sapi yang tidak memiliki kemaluan betina dan tidak pula kemaluan jantan, melainkan di dekat ambing susunya terdapat lubang tempat㶪arnya air kencing. Dan mereka bertanya kepadaku tentang kebolehan berkurban dengannya, maka aku berkata: Itu mencukupi (sah), karena kemungkinannya adalah jantan atau betina, dan keduanya mencukupi (untuk kurban) karena hal tersebut tidak termasuk sesuatu yang mengurangi daging; dan aku memberikan fatwa kepada mereka dengan hal tersebut.

[فَصْلٌ فِي شُرُوطِ جَوَازِ جَمْعِ التَّقْدِيمِ]

شُرُوْطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ ، سَفَرًا وَمَطَرًا ، أَرْبَعَةٌ : أَحَدُهَا : الْبَدَاءَةُ بِالْأُوْلَى ، لِأَنَّ الْوَقْتَ لَهَا ، وَالثَّانِيَةُ تَبَعٌ ، فَلَوْ صَلَّى الْعَصْرَ قَبْلَ الظُّهْرِ ، أَوِ الْعِشَاءَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ ، لَمْ يَصِحَّ ، لِأَنَّ التَّابِعَ لَا يَتَقَدَّمُ عَلَى مَتْبُوْعِهِ ، وَلَهُ إِعَادَةُ الْأُوْلَىٰ بَعْدَ الثَّانِيَةِ إِنْ أَرَادَ الْجَمْعَ

Syarat-syarat jamak taqdim, baik karena safar (perjalanan) maupun hujan, ada empat: Pertama: Memulai dengan shalat yang pertama, karena waktu tersebut adalah miliknya, sedangkan shalat kedua adalah pengikut (taba'). Seandainya seseorang mengerjakan Ashar sebelum Zhuhur, atau Isya sebelum Maghrib, maka tidak sah, karena pengikut tidak boleh mendahului yang diikuti (matbu'). Dan ia boleh mengulangi shalat pertama setelah shalat kedua jika ia ingin melakukan jamak.

وَثَانِيهَا : نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيْهَا ، أَيْ : فِي الصَّلَاةِ الأُولَى قَبْلَ التَّحَلُّلِ مِنْهَا لِتَمْيِيزِ التَّقْدِيمِ الْمَشْرُوعِ عَنِ التَّقْدِيمِ سَهْوًا أَوْ عَبَثًا ، كَأَنْ يَقُوْلَ : نَوَيْتُ أُصَلِّي فَرْضَ الظَّهْرِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ

Kedua: Niat jamak di dalam shalat tersebut, maksudnya: di dalam shalat yang pertama sebelum selesai darinya (salam), guna membedakan antara pendahuluan shalat yang disyariatkan dengan pendahuluan karena tidak sengaja atau main-main; misalnya dengan berucap: "Aku niat shalat fardhu Zhuhur dijama' dengan Ashar".

وَثَالِثُهَا : الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا ، أَيْ : بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ قَالُ السَّيِّدُ يُوسُفُ [ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَطَّاحُ ] الزَّبِيْدِيُّ فِي « إِرْشَادِ الْأَنَامِ » بِأَنْ لَا يَفْصِلَ بَيْنَهُمَا طَوِيلًا ، وَذَلِكَ بِقَدْرِ رَكْعَتَيْنِ بِأَقَلَّ مُجْزِي، فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ صَلَّى الثَّانِيَةَ فِي وَقْتِهَا ، وَهَذِهِ الشَّرُوْطُ الثَّلَاثَةُ سُنَنٌ فِي جَمْعِ التَّأْخِيرِ . أَنْتَهَى

Ketiga: Berturut-turut (al-muwalah) di antara keduanya, maksudnya: di antara dua shalat tersebut. Sayyid Yusuf [bin Muhammad al-Bathah] Az-Zabidi berkata di dalam «Irsyadul Anam»: Dengan cara tidak memisahkan antara keduanya dalam waktu yang lama, yaitu seukuran dua rakaat dengan standar minimal yang mencukupi. Maka jika rusak salah satu syarat dari tiga syarat ini, ia harus mengerjakan shalat kedua pada waktunya sendiri. Dan tiga syarat ini merupakan sunnah-sunnah dalam jamak ta'khir. Selesai.

وَرَابِعُهَا : دَوَامُ الْعُذْرِ ، أَيْ : بَقَاءُ السَّفَرِ إِلَى الْإِحْرَامِ بِالثَّانِيَةِ ، فَلَا يُشْتَرَطُ دَوَامُهُ إِلَى تَمَامِهَا ، فَلَوْ أَقَامَ قَبْلَ عَقْدِ الثَّانِيَةِ فَلَا جَمْعَ ، وَإِنْ سَافَرَ عَقِبَ الإِقَامَةِ لِزَوَالِ السَّبَبِ وَهُوَ السَّفَرُ ، فَيَتَعَيَّنُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ إِلَى وَقْتِهَا ،

Dan yang keempatnya: Langgengnya udzur, yaitu: tetapnya status safar (perjalanan) hingga takbiratul ihram shalat yang kedua, maka tidak disyaratkan langgengnya safar sampai selesainya shalat kedua. Maka seandainya seseorang mukim (sampai di rumah/tujuan) sebelum melaksanakan shalat kedua, maka tidak ada jamak baginya, meskipun ia melakukan safar kembali segera setelah mukim tersebut karena telah hilangnya sebab yaitu safar, maka wajib mengakhirkan shalat tersebut ke waktunya sendiri.

وَإِنَّمَا يُسْتَرَطُ بَقَاءُ السَّفَرِ لِيُقَارِنَ الْعُذْرُ الْجَمْعَ ، وَإِنْ لَمْ يُقَارِنْ عَقَدَ الأَوْلَى ، كَمَا لَوْ شَرَعَ فِي الظُّهْرِ مَثَلًا بِالْبَلَدِ وَهُوَ فِي سَفِينَةٍ فَسَارَتْ السَّفِينَةُ ، فَنَوَى الْجَمْعَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ الْأُولَى ، فَيَصِحُ ؛ وَكَذَا يُشْتَرَطُ بَقَاءُ وَقْتِ الْأَوْلَى إِلَى عَقْدِ الثَّانِيَةِ ، وَإِنْ خَرَجَ فِي أَثْنَائِهَا

Sesungguhnya disyaratkan tetapnya safar agar udzur tersebut menyertai pelaksanaan jamak, meskipun tidak menyertai saat melaksanakan shalat yang pertama, sebagaimana jika seseorang memulai shalat Zhuhur misalnya di dalam kota sedangkan ia berada di atas kapal, lalu kapal itu berangkat (keluar batas kota), kemudian ia niat jamak di tengah-tengah shalat pertama, maka hal itu sah. Begitu juga disyaratkan tetapnya waktu shalat pertama hingga pelaksanaan shalat kedua, meskipun waktu tersebut habis di tengah-tengah shalat kedua.

وEYُشْتَرَطُ أَيْضًا صِحَةُ الأُولَى يَقِيْنَا أَوْ ظَنَّا ، فَيَجْمَعُ فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ وَالْمُتَيَمَّمُ وَلَوْ بِمَحَلٌ يَغْلُبُ فِيْهِ وُجُودُ الْمَاءِ عَلَى الْمُعْتَمَدٍ ، وَكَذَا الْمُسْتَحَاضَةُ ، وَأَمَّا الْمُتَحَيَّرَةُ فَلَا تَجْمَعُ تَقْدِيمًا لِانْتِفَاءِ صِحَّةِ الأُولَىٰ يَقِيْنَا أَوْ ظَنَّا ، لِاحْتِمَالِ وُقُوْعِهَا فِي الْحَيْضِ

Dan disyaratkan juga sahnya shalat pertama secara yakin atau dugaan kuat (zhann), maka orang yang tidak mendapatkan dua alat bersuci (faqiduth thahurain), orang yang bertayamum meskipun di tempat yang biasanya dominan air—menurut pendapat yang mu'tamad—boleh menjamak shalat, begitu pula wanita yang mustahadhah. Adapun wanita yang mutahayyirah (bingung menentukan masa haid/suci), maka ia tidak boleh jamak taqdim karena tidak adanya keabsahan shalat pertama secara yakin atau dugaan kuat, sebab adanya kemungkinan shalat tersebut jatuh pada masa haid.

وَأَمَّا الْجَمْعُ لِلْمَطَرِ فَيُشْتَرَطُ وُجُوْدُ الْمَطَرِ فِي أَوَّلِ الصَّلَاتَيْنِ وَبَيْنَهُمَا وَعِنْدَ التَّحَلُلِ مِنَ الْأَوْلَى ، وَلَا يَضُرُّ انْقِطَاعُهُ فِي أَثْنَاءِ الْأَوْلَىٰ أَوِ الثَّانِيَةِ أَوْ بَعْدَهُمَا

Adapun jamak karena hujan, maka disyaratkan adanya hujan pada awal masing-masing dua shalat, di antara keduanya, dan saat selesai (tahallul) dari shalat yang pertama. Dan tidaklah mengapa jika hujan berhenti di tengah-tengah shalat pertama atau kedua, atau setelah keduanya selesai.

فَصْلٌ فِي شُرُوطِ جَوَازِ جَمْعِ التَّأْخِيرِ

شُرُوْطُ جَمْعِ التَّأْخِيْرِ أَثْنَانِ : أَحَدُهُمَا : نِيَّةُ التَّأْخِيْرِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ الْأُولَى مَا يَسَعُهَا ، أَيْ : تَامَّةٌ إِنْ أَرَادَ إِثْمَامَهَا ، وَمَقْصُورَةً إِنْ أَرَادَ قَصْرَهَا ، كَأَنْ يَقُوْلَ إِذَا أَرَادَ تَأْخِيرَ الظُّهْرِ إِلَى الْعَصْرِ : نَوَيْتُ تَأْخِيرَ الصَّلَاةِ إِلَى الْعَصْرِ لِأَجْمَعَ بَيْنَهُمَا ، وَإِذَا أَرَادَ تَأْخِيرَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ فَيَقُولُ : نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ

Syarat-syarat jamak ta'khir ada dua: Yang pertama dari keduanya: Niat ta'khir (mengakhirkan) sedangkan dari waktu shalat pertama masih tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakannya, maksudnya: (cukup untuk dikerjakan secara) sempurna jika ia ingin menyempurnakannya, atau (secara) qashar jika ia ingin meng-qashar-nya. Contohnya ketika ia ingin mengakhirkan Zhuhur ke waktu Ashar, ia berucap: "Aku niat mengakhirkan shalat (Zhuhur) ke waktu Ashar untuk menjamak keduanya". Dan jika ia ingin mengakhirkan Maghrib ke waktu Isya, ia berucap: "Aku niat mengakhirkan Maghrib ke waktu Isya".

وَثَانِيهِمَا : دَوَامُ الْعُذْرِ ، وَهُوَ السَّفَرُ ، إِلَى تَمَامِ الصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ ؛ فَلَوْ أَقَامَ قَبْلَ تَمَامِهَا وَقَعَتْ الأَوْلَى قَضَاءً ، سَوَاءٌ قَدَّمَهَا عَلَى الثَّانِيَةِ أَوْ أَخَّرَهَا عَنْهَا ، لِأَنَّهَا تَابِعَةٌ لِلثَّانِيَةِ فِي الأَدَاءِ لِلْعُذْرِ ، وَقَدْ زَالَ قَبْلَ تَمَامِهَا

Dan yang kedua dari keduanya: Langgengnya udzur, yaitu safar, hingga sempurnanya shalat yang kedua; maka seandainya ia mukim (sampai tujuan) sebelum sempurnanya shalat kedua, maka shalat yang pertama statusnya menjadi qadha, baik ia mendahulukan shalat pertama atas shalat kedua atau mengakhirkannya dari shalat kedua, karena shalat pertama itu mengikuti shalat kedua dalam hal pelaksanaan di waktu udzur, sedangkan udzur tersebut telah hilang sebelum shalat kedua sempurna.

تَنْبِيهُ : أَعْلَمْ أَنَّ تَرْكَ الْجَمْعِ أَفْضَلُ لِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ حَيْثُ مَنَعَهُ ، وَلِأَنَّ فِيْهِ إِخْلَاءُ أَحَدِ الْوَقَتَيْنِ عَنْ وَظِيفَةٍ ، وَيُسْتَثْنَى مِنْهُ الْحَاجُّ بِعَرَفَةَ وَمُزْدَلِفَةَ ، وَمَنْ إِذَا جَمَعَ صَلَّى جَمَاعَةٌ ، أَوْ خَلَا عَنْ حَدَثِهِ الدَّائِمِ ، أَوْ كَشْفِ عَوْرَتِهِ ؛ فَالْجَمْعُ أَفْضَلُ ، وَكَذَا مَنْ وَجَدَ مِنْ نَفْسِهِ كَرَاهَتَهُ وَشَكٍّ فِي جَوَازِهِ ، أَوْ كَانَ مِمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ وَنَحْو ذَلِكَ .

Tanbih (Peringatan): Ketahuilah bahwa meninggalkan jamak itu lebih utama (afdal) demi keluar dari perbedaan pendapat dengan Imam Abu Hanifah sekira beliau melarangnya, dan karena di dalam jamak terdapat pengosongan salah satu dari dua waktu shalat dari tugas (ibadah) aslinya. Dan dikecualikan dari hal tersebut bagi orang yang berhaji di Arafah dan Muzdalifah, serta bagi orang yang jika ia menjamak maka ia bisa shalat berjamaah, atau (dengan menjamak) ia bisa terbebas dari hadasnya yang terus-menerus (da'imul hadas), atau terbebas dari terbukanya auratnya; maka dalam kondisi ini menjamak lebih utama. Begitu pula bagi orang yang mendapati dalam dirinya ada rasa benci (terhadap keringanan agama) dan keraguan akan kebolehannya, atau ia termasuk orang yang diikuti (tokoh/teladan) dan yang semisalnya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ فَوْتَ الْوُقُوْفِ أَوْ فَوْتَ اسْتِنْقَاذِ أَسِيرٍ لَوْ تَرَكَ الْجَمْعَ ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ تَرْكُ الْجَمْعِ حِينَئِذٍ كَمَا قَالَهُ الزَّيَّادِيُّ

Adapun orang yang takut luputnya waktu wukuf (di Arafah) atau takut gagal menyelamatkan tawanan seandainya ia meninggalkan jamak, maka saat itu ia wajib melakukan jamak (meninggalkan pilihan tidak menjamak), sebagaimana yang dikatakan oleh Az-Ziyadi.

فَرْعٌ : قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَيَمْتَنِعُ الْجَمْعُ بِمَرَضِ وَوَحْلٍ ، وَهُوَ الطَّيْنُ الرَّقِيقُ ، وَظُلْمَةٍ ، عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَقَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَاخْتِيْرَ جَوَازُهُ بِالْمَرَضِ تَقْدِيمًا وَتَأْخِيْرًا ، وَيُرَاعِيْ الْأَرْفَقَ بِهِ .

Cabang Masalah: Asy-Syarqawi berkata: Dilarang menjamak shalat karena alasan sakit, becek—yaitu tanah yang lembek—dan kegelapan, menurut pendapat yang mu'tamad. Dan Az-Ziyadi berkata: Dipilih pendapat yang memperbolehkan jamak karena sakit, baik secara taqdim maupun ta'khir, dan hendaknya ia mempertimbangkan mana yang paling ringan baginya.

وَضَبَطَ جَمْعُ مُتَأَخِّرُوْنَ الْمَرَضَ هُنَا بِأَنَّهُ : مَا يَشُقُّ مَعَهُ فِعْلُ كُلِّ فَرْضٍ فِي وَقْتِهِ ، كَمَشَقَّةِ الْمَطَرِ ، بِحَيْثُ يَبْلُ ثِيَابَهُ . وَقَالَ آخَرُوْنَ : لَا بُدَّ مِنْ مَشَقَّةٍ ظَاهِرَةٍ زِيَادَةً عَلَى ذَلِكَ ، بِحَيْثُ تُبِيحُ الْجُلُوسَ فِي الْفَرِيضَةِ ، وَهُوَ الْأَوْجَهُ

Segolongan ulama muta'akhirin memberikan batasan sakit di sini yaitu: rasa sakit yang disertai kesulitan untuk mengerjakan setiap shalat fardhu pada waktunya sendiri, seperti sulitnya (terkena) hujan sekira membasahi pakaiannya. Ulama lain berkata: Harus ada kesulitan yang tampak jelas melebihi hal tersebut, sekira kesulitan itu membolehkan shalat fardhu sambil duduk, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat (al-aujah).

خَاتِمَةٌ : ذَكَرَ فِي « فَتْحِ الْمُعِيْنِ » [ صفحة : ٢١٤ ] نَقْلًا عَنْ « تُحْفَةِ الْمُحْتَاجِ » أَنَّ مَنْ أَدَّى عِبَادَةً مُخْتَلَفًا فِي صِحَّتِهَا مِنْ غَيْرِ تَقْلِيدِ لِلْقَائِلِ بِهَا ، لَزِمَهُ إِعَادَتُهَا ، لَأَنَّ إِقْدَامَهُ عَلَيْهَا عَبَثُ

Khatimah (Penutup): Disebutkan dalam «Fathul Mu'in» [halaman: 214] dengan mengutip dari «Tuhfatul Muhtaj» bahwa barangsiapa yang mengerjakan suatu ibadah yang masih diperselisihkan keabsahannya tanpa bertaklid (mengikuti) kepada orang yang berpendapat demikian, maka ia wajib mengulanginya, karena perbuatannya tersebut dianggap main-main ('abats).

فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْقَصْرِ

شُرُوطُ الْقَصْرِ سَبْعَةٌ ، بَلْ أَحَدَ عَشَرَ : أَحَدُهَا : أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَرْحَلَتَيْنِ ، أَيْ : يَقِيْنَا ، وَلَوْ قَطَعَ هَذِهِ الْمَسَافَةَ فِي لَحْظَةٍ لِكَوْنِهِ مِنْ أَهْلِ الْخَطْوَةِ ، سَوَاءٌ قَطَعَهَا فِي بَرِّ أَوْ بَحْرٍ ، وَهُمَا بِسَيْرِ الأَثْقَالِ ، أَيْ : الْحَيْوَانَاتِ الْمُثْقَلَةِ بِالْأَحْمَالِ ، مَسِيْرَةَ يَوْمَيْنِ مُعْتَدِلَيْنِ أَوْ لَيْلَتَيْنِ كَذَلِكَ ، أَوْ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَلَوْ غَيْرُ مُعْتَدِلَيْنِ ، مَعَ اعْتِبَارِ الْحَط ، أَيْ : النُّزُوْلِ ؛ وَالتَّرْحَالِ ، أَيْ : الْيَسِيْرِ ؛ وَالأَكْلِ وَالشَّرْبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عَلَى الْعَادَةِ الْغَالِبَةِ ، وَقَدَّرَهَا عَلِيُّ الشَّبْرَامَلْسِيُّ بِاثنتَيْنِ وَعِشْرِيْنَ سَاعَةٌ وَنِصْفُ

Syarat-syarat qashar ada tujuh, bahkan sebelas: Pertama: Perjalanannya mencapai dua marhalah, yaitu secara yakin, walaupun ia menempuh (Meskipun ia menempuh) jarak tersebut dalam sekejap karena ia termasuk orang yang dikaruniai kemampuan melipat bumi (ahli khotwah), baik ia menempuhnya di darat maupun di laut. Dan dua marhalah itu jika dengan perjalanan beban berat—maksudnya hewan yang diberati muatan—adalah perjalanan dua hari yang sedang atau dua malam yang serupa, atau satu hari satu malam meskipun tidak sedang, dengan tetap mempertimbangkan waktu istirahat (turun), keberangkatan (jalan), makan, minum, dan sebagainya menurut kebiasaan yang berlaku umum. Ali Asy-Syabramallisi memperkirakannya dengan waktu dua puluh dua jam setengah.

وَثَانِيهَا : أَنْ يَكُوْنَ ، أَيْ : سَفَرُهُ ، مُبَاحًا ، أَيْ : فِي ظَنِّهِ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُبَاحًا فِي الْوَاقِعِ ، كَمَا يَقَعُ لِبَعْضِ الأَمَرَاءِ أَنَّهُ يُرْسِلُ مَكْتُوبًا فِيْهِ قَتْلُ إِنْسَانٍ ظُلْمًا أَوْ نَهْبُ بَلْدَةٍ ، وَلَمْ يَعْلَم| مَنْ مَعَهُ الْمَكْتُوْبُ بِذَلِكَ ، فَيَقْصُرُ ، لِأَنَّ سَفَرَهُ مُبَاحٌ فِي ظَنِّهِ ، وَكَذَا لَوْ خَرَجَ لِجِهَةٍ مُعَيَّنَةٍ تَبَعًا لِشَخْصِ ، وَلَا يَعْلَمُ سَبَبَ سَفَرِهِ

Dan yang kedua: Bahwa perjalanannya haruslah mubah, yakni dalam dugaannya, meskipun pada kenyataannya tidak mubah. Sebagaimana yang terjadi pada sebagian penguasa yang mengirimkan surat yang di dalamnya berisi perintah membunuh seseorang secara zhalim atau menjarah suatu daerah, sedangkan orang yang membawa surat itu tidak mengetahuinya, maka ia boleh meng-qashar (shalat), karena perjalannya mubah dalam dugaannya. Begitu juga jika ia pergi ke arah tertentu karena mengikuti seseorang dan ia tidak mengetahui sebab perjalanannya.

وَالْمُرَادُ بِالْمُبَاحِ مَا قَابَلَ الْحَرَامَ ، فَيَشْمَلُ الْوَاجِبَ ، كَسَفَرِ حَجٌ ، وَالْمَنْدُوْبَ كَزِيَارَةِ قَبْرِهِ ، وَالْمَكْرُوهَ كَسَفَرِ التِّجَارَةِ فِي أَكْفَانِ الْمَوْتَىٰ ، أَوْ مُنْفَرِدًا وَكَذَا مَعَ وَاحِدٍ فَقَط| ، لَكِنَّ الْكَرَاهَةَ فِي هَذَا أَخَفْ مِنَ الْكَرَاهَةِ لِلْمُنْفَرِدِ

Dan yang dimaksud dengan mubah adalah apa yang menjadi lawan dari haram, maka ia mencakup hal yang wajib seperti perjalanan haji, hal yang sunnah seperti ziarah ke makam Nabi ﷺ, dan yang makruh seperti perjalanan dagang kain kafan jenazah, atau melakukan perjalanan sendirian. Begitu juga (makruh) jika hanya bersama satu orang saja, namun kemakruhannya dalam hal ini lebih ringan daripada kemakruhan sendirian.

نَعَمْ إِنْ كَانَ أُنْسُهُ بِاللَّهِ تَعَالَى بِحَيْثُ صَارَ أُنْسُهُ مَعَ الْوَحْدَةِ كَأُنْسِ غَيْرِهِ مَعَ الرِّفْقَةِ لَمْ يُكْرَهُ فِي حَقِّهِ مَا ذُكِرَ ، وَكَذَا لَوْ دَعَتْ حَاجَةٌ إِلَى الْبُعْدِ وَالانْفِرَادِ عَنِ الرِّفْقَةِ إِلَى حَدٍ لَا يَلْحَقُهُ غَوْثُهُمْ وَالْمُبَاحُ الْمُسْتَوِي الطَّرَفَيْنِ كَسَفَرِ التِّجَارَةِ فِي غَيْرِ ذَلِكَ

Tentu saja, jika rasa senangnya sudah bersama Allah Ta’ala sekira senangnya dalam kesendirian itu seperti senangnya orang lain bersama teman perjalanan, maka hal yang disebutkan tadi tidaklah makruh baginya. Begitu juga jika ada keperluan untuk menjauh dan menyendiri dari rombongan sampai pada batas di mana bantuan mereka tidak bisa mencapainya. Dan mubah yang setara kedua sisinya (tidak wajib/sunnah/makruh) adalah seperti perjalanan dagang selain yang disebutkan di atas.

فَلَا قَصْرَ لِلْعَاصِيْ بِسَفَرِهِ وَلَوْ صُورَةٌ ، كَمَا لَوْ هَرَبَ الصَّبِيُّ مِنْ وَلِيْهِ ، فَلَا يَقْصُرُ ، لِأَنَّ سَفَرَهُ مِنْ جِنْسِ سَفَرِ الْمَعْصِيَةِ لِلْمَنْعِ مِنْهُ شَرْعًا ، وَمِنْ سَفَرِ الْمَعْصِيَةِ أَنْ يُنْعِبَ نَفْسَهُ أَوْ دَابَّتَهُ بِالرَّكْضِ بِلَا غَرَضِ شَرْعِيٌّ ، وَكَذَا السَّفَرُ لِمُجَرَّدِ رُؤْيَةِ الْبِلَادِ ، لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِغَرَضِ صَحِيحٍ .

Maka tidak ada keringanan qashar bagi orang yang bermaksiat dengan perjalanannya meskipun secara gambaran (shurah), sebagaimana jika seorang anak kecil lari dari walinya. Maka ia tidak boleh qashar karena perjalanannya termasuk jenis perjalanan maksiat karena dilarang secara syariat. Dan termasuk perjalanan maksiat adalah melelahkan diri sendiri atau hewan tunggangannya dengan berlari tanpa tujuan syariat, begitu pula perjalanan yang hanya sekadar untuk melihat-lihat kota (wisata tanpa tujuan jelas), karena itu bukan tujuan yang dibenarkan.

ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ الْمُسَافِرَ الْعَاصِيْ ثَلَاثَةُ أَقْسَامِ : الأَوَّلُ : عَاصِ بِالسَّفَرِ ، وَإِنْ قَصَدَ بِهِ الْمَعْصِيَةَ وَغَيْرَهَا ، كَأَنْ قَصَدَ بِهِ قَطَّعَ الطَّرِيقِ وَزِيَارَةً أَهْلِهِ ، فَهَذَا إِنْ تَابَ ، فَأَوَّلُ سَفَرِهِ مَحَلُّ تَوْبَتِهِ ، فَإِنْ كَانَ الْبَاقِي طَوِيلًا فِي الرُّخْصَةِ الَّتِي يُشْتَرَطُ فِيْهِ طُوْلُ السَّفَرِ كَالْقَصْرِ وَالْجَمْعِ ، أَوْ قَصِيرًا فِي الرُ—خْصَةِ الَّتِي لَا يُشْتَرَطُ فِيْهَا ذَلِكَ ، كَأَكُلِ الْمَيْنَةِ ، تَرَخَّصَ ؛ وَإِنْ كَانَ الْبَاقِي قَصِيرًا فِي الرُّخْصَةِ الَّتِي يُشْتَرَطُ فِيْهَا طُوْلُ السَّفَرِ لَمْ يَتَرَخَّصْ

Kemudian ketahuilah bahwa musafir yang bermaksiat itu ada tiga bagian: Pertama: 'Ashin bis-safar (bermaksiat dengan perjalanan itu sendiri), meskipun ia menggabungkan niat maksiat tersebut dengan tujuan lainnya, seperti bermaksud membegal jalanan sekaligus mengunjungi keluarganya. Maka jika ia bertaubat, awal perjalanannya dihitung dari tempat ia bertaubat. Jika sisa perjalanannya masih jauh dalam kategori rukhshah (keringanan) yang mensyaratkan jarak jauh seperti qashar dan jamak, atau dekat dalam kategori rukhshah yang tidak mensyaratkan jarak jauh seperti memakan bangkai, maka ia boleh mengambil keringanan itu. Namun jika sisa perjalanannya dekat dalam kategori rukhshah yang mensyaratkan jarak jauh, maka ia tidak boleh mengambil keringanan tersebut.

FOOTNOTE / CATATAN KAKI
(١) فِي الأَصْلِ بَعْدَهَا : « فَلَوْ أَقَامَ فِي أَثْنَائِهَا » .
(1) Di dalam naskah asli setelahnya terdapat kalimat: "Maka seandainya ia mukim di tengah-tengah pelaksanaannya".
(١) وَتُقَدَّرُ بِـ٨٢,٥ كم تَقْرِيبًا .
(1) Dan diperkirakan ukurannya sekitar 82,5 km.
Grid Kosakata (Mufrodat)
تَفْحُشُ الْمُخَالَفَةُ Perbedaan yang tampak buruk
الْخُنْثَى الْمُشْكِلُ Khunsa yang pelik statusnya
الْمُوَالَاةُ Berturut-turut / tanpa jeda
أَهْلِ الْخَطْوَةِ Orang yang bisa melipat bumi
Catatan Murid Halakah

* Penting: Makmum dilarang duduk tasyahud awal sendirian kalau imam sengaja/lupa langsung bangun berdiri.
* Hukum Safar: Urusan dua marhalah itu musti meyakinkan, ukuran kontemporer sekitar 82,5 km. Kalau tujuannya maksiat (kayak mau membegal), kaga dapet diskon qashar-jamak!

Lihat Syarh Nyablak ala Abi Ahmad Thoufur

Dengerin nih Jemaah... Kagak pake tadlis-tadlis ya, kite buka-bukaan aja biar paham!

Urusan makmum ama imam itu musti seirama, jangan sok tau sendiri! Kalau imam kaga tasyahud awal—mau dia lupa kek, mau dia sengaja kek—lu pada sebagai makmum wajib ngikut berdiri! Jangan malah selonjoran duduk sendirian di bawah, itu namanya tafhusyu fihil mukhalafah (keliatan bener jomplang rukunnya, jelek dilihatnya!). Beda ama qunut, qunut mah posisinya sama-sama berdiri i'tidal, mangkanya makmum masih rada bebas dikit.

Takhrij Hadits Sahih:
Hadits Ibnu Majah [1081] tegas melarang perempuan jadi imam buat laki-laki: "Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimami laki-laki." Dan dalam Al-Bukhari [4425]: "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan." Ini urusan tatanan syariat berjamaah, bukan diskriminasi jender ala-ala LSM barat, tong!

Terus urusan Khunsa (hermafrodit alami), fikh syafii detail banget nyari tau status kelaminnya lewat cara kencingnya duluan mana yang keluar, atau kecenderungan syahwatnya pas udah baligh. Sampe-sampe Imam An-Nawawi nemu kasus ada sapi khunsa, ditanya boleh kagak buat kurban? Jawabannya sah, karena kaga ngurangin kualitas daging. Lah kalau zaman sekarang ada orang operasi kelamin buatan (transgender), itu mah bukan khunsa namanya, tapi ngacak-ngacak ciptaan Allah! Hukum imamatnya tetep balik ke kelamin asalnya!

Studi Kasus Nyata:
Seseorang musafir naek kapal laut, pas kapal masih sandar di pelabuhan Tanjung Priok (masih wilayah kota), dia udah mulai shalat Zhuhur. Begitu kapal jalan meluncur lewatin batas kota, di tengah-tengah shalat dia niat jamak taqdim ama Ashar. Hukumnya Sah! Karena udzur safarnya udah nemenin dia pas pelaksanaan jamak tersebut.
Bahaya Laten (Peringatan Keras):
Barangsiapa yang nekat ngelakuin ibadah yang keabsahannya masih khilafiyah (diperselisihin ulama) tanpa dia taklid (ngikutin) fatwa ulama yang membolehkan, maka shalat/ibadahnya batal dan wajib diulang! Kenapa? Karena tindakan kayak gitu dihukumi 'Abats (Main-main/Melecehkan Agama)! Agama bukan barang paketan yang bisa lu cocok-cocokin sesuka jidat lu!
============== ```

الْعَاصِي فِي السَّفَرِ وَبِالسَّفَرِ

وَالثَّانِي : عَاصِ فِي السَّفَرِ ، كَمَنْ زَنَى أَوْ شَرِبَ خَمْرًا وَهُوَ قَاصِدٌ الْحَجَّ مَثَلًا ، فَلَا يَمْتَنِعُ عَلَيْهِ التَّرَخُصُ

Kedua: 'Ashin fis-safar (bermaksiat di dalam perjalanan), seperti orang yang berzina atau minum khamar padahal ia bertujuan melakukan haji misalnya, maka tidak terhalang baginya untuk mengambil keringanan (qashar/jamak).

وَالثَّالِثُ : عَاصِ بِالسَّفَرِ فِي السَّفَرِ ، كَأَنْ أَنْشَأَهُ طَاعَةً ، ثُمَّ قَلَبَهُ مَعْصِيَةً ، فَإِنْ تَابَ تَرَخَّصَ مُطْلَقًا وَإِنْ كَانَ الْبَاقِي قَصِيرًا ، وَلَوْ كَانَ الْمُسَافِرُ كَافِرًا ثُمَّ أَسْلَمَ فِي أَثْنَاءِ الطَّرِيقِ تَرَخَّصَ ، وَإِنْ كَانَ الْبَاقِيْ دُوْنَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ ، لِأَنَّ سَفَرَهُ لَيْسَ بِسَبَبٍ مَعْصِيَةٍ وَإِنْ كَانَ عَاصِيًا بِالْكُفْرِ

Ketiga: 'Ashin bis-safar fis-safar (bermaksiat dengan perjalanan di tengah perjalanan), seperti ia memulai perjalanan untuk ketaatan, kemudian ia mengubahnya menjadi maksiat. Jika ia bertaubat, maka ia boleh mengambil keringanan secara mutlak meskipun sisa perjalanannya dekat. Dan seandainya seorang musafir itu kafir kemudian masuk Islam di tengah jalan, maka ia boleh mengambil keringanan meskipun sisa perjalanannya kurang dari jarak qashar, karena perjalanannya bukan disebabkan maksiat meskipun ia orang yang bermaksiat sebab kekufurannya.

الْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ

وَثَالِثُهَا : الْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ ، فَلَا قَصْرَ لِجَاهِلٍ بِهِ مِنْ أَصْلِهِ ، أَوْ فِي الصَّلَاةِ الَّتِي نَوَاهَا لِأَمْرٍ خَاصٍّ عَرَضَ لَهُ ، وَكَالْجَاهِلِ الْمَذْكُورِ مَنْ ظَنَّ الرُّبَاعِيَّةَ رَكْعَتَيْنِ فَنَوَاهَا فِي السَّفَرِ كَذَلِكَ ، فَلَا تَنْعَقِدُ صَلَاتُهُ فِي الصُّوْرَتَيْنِ بِلَا خِلَافٍ فِي الْأُولَى ، وَإِنْ قَرُبَ إِسْلَامُهُ ، لِتَلَاعُبِهِ ؛ وَمِثْلُهَا الثَّانِيَةُ لِتَفْرِيطِهِ ، إِذْ لَا يُعْذَرُ أَحَدٌ بِجَهْلِ مِثْلِ ذَلِكَ

Ketiga (Syarat Qashar): Mengetahui tentang kebolehhan qashar, maka tidak ada qashar bagi orang yang sama sekali tidak mengetahuinya atau (tidak tahu) tentang shalat yang ia niatkan karena alasan khusus yang menimpanya. Dan seperti orang bodoh yang disebutkan tadi adalah orang yang menyangka shalat empat rakaat itu dua rakaat, lalu ia berniat dalam perjalanan seperti itu; maka shalatnya tidak sah dalam dua gambaran tersebut tanpa ada perbedaan pendapat pada masalah pertama, meskipun ia baru masuk Islam, karena ia dianggap main-main. Dan begitu pula masalah kedua karena kecerobohannya, sebab tidak ada alasan udzur bagi siapapun yang bodoh dalam masalah seperti itu.

وَيُعْلَمُ مِنْ عَدَمِ انْعِقَادِهَا أَنَّهُ يُعِيدُهَا مَقْصُورَةً ، وَهُوَ كَذَلِكَ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

Diketahui dari tidak sahnya shalat tersebut bahwa ia harus mengulanginya secara qashar, dan demikianlah yang berlaku menurut pendapat yang mu'tamad.

نِيَّةُ الْقَصْرِ

وَرَابِعُهَا : نِيَّةُ الْقَصْرِ ، مِنْهَا مَا لَوْ نَوَى الظُّهْرَ مَثَلًا رَكْعَتَيْنِ ، سَوَاءٌ نَوَى تَرَخُّصًا أَوْ أَطْلَقَ ، أَمَّا لَوْ نَوَى رَكْعَتَيْنِ مَعَ عَدَمِ التَّرَخُّصِ فَإِنَّ صَلَاتَهُ تَبْطُلُ لِتَلَاعُبِهِ

Keempat: Niat qashar. Di antaranya adalah seandainya ia niat Zhuhur misalnya dua rakaat, baik ia berniat untuk mengambil keringanan (tarakkhushan) atau memutlakkan niatnya. Adapun jika ia niat dua rakaat tanpa bermaksud mengambil keringanan, maka shalatnya batal karena dianggap main-main.

وَمِنْهَا مَا لَوْ قَالَ : أُؤَدِّيْ صَلَاةَ السَّفَرِ ، فَلَوْ نَوَى الْإِثْمَامَ أَوْ أَطْلَقَ أَتَمَّ ، لِأَنَّهُ الْمَنْوِيُّ فِي الْأُولَى وَالْأَصْلُ فِي الثَّانِيَةِ

Dan di antaranya adalah jika ia berkata: "Aku mengerjakan shalat safar". Namun jika ia berniat itmam (menyempurnakan empat rakaat) atau memutlakkan niat, maka ia harus menyempurnakannya (empat rakaat), karena itulah yang diniatkan pada kasus pertama dan merupakan hukum asal pada kasus kedua.

وَمِنْهَا أَنْ يَقُوْلَ : نَوَيْتُ أُصَلِّي الظُّهْرَ مَقْصُورَةً

Dan di antaranya ia mengucapkan: "Aku niat shalat Zhuhur secara qashar".

قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَلَوْ نَوَى الْقَصْرَ خَلْفَ مُسَافِرٍ مُتِمٍّ صَحَّ ، لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْقَصْرِ فِي الْجُمْلَةِ حَيْثُ جَهِلَ حَالَهُ ، أَيْ : وَتَلْغُوْ نِيَّةُ الْقَصْرِ ، فَإِنْ عَلِمَهُ مُتِمًّا لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ لِتَلَاعُبِهِ كَمَا أَفْتَى بِهِ شَيْخُنَا الرَّمْلِيُّ . انْتَهَى

Az-Ziyadi berkata: Seandainya seseorang niat qashar di belakang musafir yang menyempurnakan shalatnya (mutim), maka shalatnya sah; karena secara umum ia termasuk orang yang boleh meng-qashar ketika ia tidak mengetahui keadaan imamnya. Maksudnya: niat qashar-nya menjadi gugur (ia tetap ikut empat rakaat). Namun jika ia tahu imamnya shalat sempurna (mutim), maka shalatnya tidak sah karena dianggap main-main, sebagaimana yang difatwakan oleh Guru kami Ar-Ramli. Selesai.

وَإِنَّمَا تُشْتَرَطُ نِيَّةُ الْقَصْرِ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْأَصْلِ بِخِلَافِ الْإِثْمَامِ ، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ ، لِأَنَّهُ الْأَصْلُ ؛ وَتَكُوْنُ نِيَّةُ الْقَصْرِ عِنْدَ الْإِحْرَامِ ، أَيْ : مَعَهُ ، كَأَصْلِ النِّيَّةِ ، فَلَوْ نَوَاهُ بَعْدَ الْإِحْرَامِ لَمْ يَنْفَعْهُ

Hanyanya disyaratkan niat qashar karena ia menyalahi hukum asal, berbeda dengan itmam (menyempurnakan empat rakaat) yang tidak membutuhkan niat khusus karena itulah hukum asalnya. Dan niat qashar dilakukan saat ihram (takbiratul ihram), maksudnya: berbarengan dengannya sebagaimana asal sebuah niat. Maka seandainya ia berniat qashar setelah takbiratul ihram, niat itu tidak berguna baginya.

كَوْنُ الصَّلَاةِ رُبَاعِيَّةً وَدَوَامُ السَّفَرِ

وَخَامِسُهَا : أَنْ تَكُوْنَ الصَّلَاةُ رُبَاعِيَّةً ، وَهِيَ : الظُّهْرُ وَالْعَصْرُ وَالْعِشَاءُ ، وَهِيَ الْمَكْتُوْبَةُ أَصَالَةً وَإِنْ وَقَعَتْ نَفْلًا ، فَدَخَلَتْ صَلَاةُ الصَّبِيِّ وَالْمُعَادَةُ ، فَلَهُ قَصْرُهَا جَوَازًا إِنْ قَصَرَ أَهْلُهَا ، وَهُوَ الْأَوْلَى ، فَإِنْ أَتَمُّوْهَا أَتَمَّهَا وُجُوْبًا .

Kelima: Shalatnya haruslah shalat empat rakaat (ruba'iyyah), yaitu: Zhuhur, Ashar, dan Isya. Shalat-shalat ini adalah yang diwajibkan secara asal meskipun dilaksanakan secara sunnah, maka termasuk juga shalatnya anak kecil dan shalat mu'adah (shalat yang diulang). Maka baginya boleh meng-qashar jika orang-orang lain juga meng-qashar, dan itu lebih utama. Namun jika mereka menyempurnakannya, maka ia wajib menyempurnakannya juga.

وَسَادِسُهَا : دَوَامُ السَّفَرِ ، أَيْ : يَقِينًا ، إِلَى إِثْمَامِهَا ، أَيْ : الصَّلَاةِ ، فَلَوِ انْتَهَى سَفَرُهُ فِيْهَا كَأَنْ بَلَغَتْ سَفِينَةٌ هُوَ فِيْهَا دَارَ إِقَامَتِهِ ، أَوْ شَكَّ فِي انْتِهَائِهِ ، أَتَمَّ لِزَوَالِ سَبَبِ الرُّخْصَةِ فِي الْأُولَى ، وَلِلشَّكِّ فِيْهِ فِي الثَّانِيَةِ

Keenam: Langgengnya safar, maksudnya secara yakin, hingga selesainya shalat tersebut. Maka seandainya perjalanannya berakhir di tengah shalat, seperti kapal yang ia tumpangi sampai ke tempat mukimnya, atau ia ragu apakah safarnya sudah berakhir, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (empat rakaat). Hal ini karena hilangnya sebab keringanan (rukhshah) pada kasus pertama, dan karena adanya keraguan pada kasus kedua.

عَدَمُ الِاقْتِدَاءِ بِمُتِمٍّ

وَسَابِعُهَا : أَنْ لَا يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ مُقِيمٍ أَوْ مُسَافِرٍ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ ، أَيْ : وَإِنْ قَلَّ ، كَأَنْ أَدْرَكَهُ آخِرَ الصَّلَاةِ ، وَلَوْ أَحْدَثَ هُوَ عَقِبَ اقْتِدَائِهِ بِهِ ، فَلَوِ ائْتَمَّ بِهِ وَلَوْ لَحْظَةً أَوْ فِي جُمُعَةٍ أَوْ صُبْحٍ لَزِمَهُ الْإِثْمَامُ ، لِمَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ لَمَّا سُئِلَ : مَا بَالُ الْمُسَافِرِ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ إِذَا انْفَرَدَ ، أَوْ أَرْبَعًا إِذَا ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ ؟ فَقَالَ فِي جَوَابِهِ : تِلْكَ السُّنَّةُ ، أَيْ : الطَّرِيقَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Ketujuh: Hendaknya ia tidak bermakmum kepada orang yang menyempurnakan shalatnya (mutim), baik imam itu orang mukim maupun musafir, dalam sebagian shalatnya. Maksudnya meskipun hanya sebentar, seperti ia mendapati imam di akhir shalat, atau meskipun ia berhadas segera setelah bermakmum padanya. Maka jika ia bermakmum meskipun sesaat, atau dalam shalat Jumat atau Subuh, ia wajib menyempurnakan shalatnya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas ketika ditanya: "Kenapa musafir shalat dua rakaat jika sendirian, atau empat rakaat jika bermakmum pada orang mukim?" Beliau menjawab: "Itulah sunnahnya," yakni jalan syariatnya.

وَلَوِ اقْتَدَىٰ بِمُسَافِرٍ وَشَكَّ فِي نِيَّةِ الْقَصْرِ ، فَنَوَى هُوَ الْقَصْرَ جَازَ لَهُ الْقَصْرُ إِنْ بَانَ الْإِمَامُ قَاصِرًا ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ حَالِ الْمُسَافِرِ الْقَصْرُ ، فَإِنْ بَانَ أَنَّهُ مُتِمٌّ ، أَوْ لَمْ يَتَبَيَّنْ حَالُهُ ، لَزِمَهُ الْإِثْمَامُ ؛ وَلَوْ عَلَّقَ نِيَّةَ الْقَصْرِ عَلَى نِيَّةِ الْإِمَامِ ، كَأَنْ قَالَ : إِنْ قَصَرَ قَصَرْتُ ، وَإِلَّا أَتْمَمْتُ ؛ جازَ لَهُ الْقَصْرُ إِنْ قَصَرَ الْإِمَامُ ، لِأَنَّ هَذَا تَصْرِيحٌ بِالْوَاقِعِ ، وَلَزِمَهُ الْإِثْمَامُ إِنْ أَتَمَّ الْإِمَامُ ، أَوْ لَمْ يَظْهَرْ مَا نَوَاهُ الْإِمَامُ فَيَلْزَمُهُ الْإِثْمَامُ احْتِيَاطًا

Seandainya ia bermakmum kepada seorang musafir and ragu tentang niat qashar imam tersebut, lalu ia sendiri berniat qashar, maka boleh baginya meng-qashar jika ternyata imam tersebut memang meng-qashar, karena zahirnya keadaan musafir adalah meng-qashar. Namun jika ternyata imamnya menyempurnakan shalat, atau keadaannya tidak jelas, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya. Dan seandainya ia menggantungkan niat qashar-nya pada niat imam, seperti berucap: "Jika imam qashar maka aku qashar, jika tidak maka aku sempurnakan", maka boleh baginya qashar jika imam qashar, karena ini adalah penegasan terhadap kenyataan, dan ia wajib menyempurnakan jika imam menyempurnakan, atau tidak jelas apa yang diniatkan oleh imam, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya (itmam) sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyatan).

تَنْبِيهٌ : شُرُوطٌ أُخْرَى لِلْقَصْرِ

تَنْبِيهٌ : بَقِيَ مِنْ شُرُوطِ الْقَصْرِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ : الْأَوَّلُ : قَصْدُ مَوْضِعٍ مَعْلُومٍ مِنْ حَيْثُ الْمَسَافَةُ ، بِأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ مَسَافَتَهُ مَرْحَلَتَانِ فَأَكْثَرُ ، سَوَاءٌ كَانَ مُعَيَّنًا كَبَيْتِ الْمَقْدِسِ ، أَوْ غَيْرَ مُعَيَّنٍ كَالشَّامِ ؛ وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ مَعْلُومَ الْعَيْنِ ، لِأَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِشَرْطٍ ، بَلِ الْمَدَارُ عَلَى عِلْمِهِ بِطُولِ السَّفَرِ فِي ابْتِدَائِهِ ، بِأَنْ يَقْصِدَ قَطْعَ مَرْحَلَتَيْنِ فَأَكْثَرَ ، كَقَوْلِهِ : أَنَا ذَاهِبٌ إِلَى الشَّامِ

Peringatan: Tersisa dari syarat-syarat qashar itu ada empat hal: Pertama: Bertujuan ke tempat yang diketahui dari sisi jaraknya, dengan ia mengetahui bahwa jaraknya mencapai dua marhalah atau lebih. Baik tempat itu ditentukan secara spesifik seperti Baitul Maqdis, atau tidak ditentukan secara spesifik seperti negeri Syam. Yang dimaksud di sini bukan harus tahu secara persis tempatnya (ma'lumul 'ain), karena hal itu bukan syarat, melainkan intinya adalah pengetahuannya akan jauhnya perjalanan di awal keberangkatannya. Yakni dengan bermaksud menempuh jarak dua marhalah atau lebih, seperti ucapannya: "Aku pergi ke Syam."

وَمِنْ ذَلِكَ طَالِبُ آبِقٍ عَلِمَ أَنَّهُ لَا يَجِدُهُ فِي دُوْنِ مَرْحَلَتَيْنِ ؛ وَإِذَا نَوَتِ الزَّوْجَةُ أَنَّهَا مَتَى تَخَلَّصَتْ مِنْ زَوْجِهَا رَجَعَتْ ، أَوِ الْعَبْدُ أَنَّهُ مَتَى عُتِقَ رَجَعَ ، فَلَا يَقْصُرَانِ قَبْلَ مَرْحَلَتَيْنِ ، وَيَقْصُرَانِ بَعْدَهُمَا

Termasuk dalam hal itu adalah orang yang mencari budak yang kabur, yang ia ketahui bahwa ia tidak akan menemukannya dalam jarak kurang dari dua marhalah. Dan jika seorang istri berniat bahwa kapanpun ia terlepas dari suaminya maka ia akan kembali, atau seorang budak berniat kapanpun ia merdeka maka ia akan kembali, maka keduanya tidak boleh qashar sebelum menempuh dua marhalah, dan boleh qashar setelah menempuhnya.

وَلَوْ تَبِعَتِ الزَّوْجَةُ زَوْجَهَا ، أَوِ الْعَبْدُ سَيِّدَهُ ، أَوِ الْجُنْدِيُّ وَهُوَ الْمُقَاتِلُ لِلْكُفَّارِ أَمِيرَهُ ، وَلَمْ يَعْرِفْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَقْصِدَهُ ، فَلَا قَصْرَ لَهُ قَبْلَ بُلُوْغِهِ مَرْحَلَتَيْنِ ، فَإِنْ بَلَغَهُمَا قَصَرَ ؛ فَلَوْ نَوَى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَسَافَةَ الْقَصْرِ وَحْدَهُ دُوْنَ مَتْبُوْعِهِ لَمْ يَقْصُرْ ، لِأَنَّ نِيَّتَهُ كَالْعَدَمِ

Seandainya seorang istri mengikuti suaminya, atau budak mengikuti tuannya, atau prajurit yang memerangi orang kafir mengikuti panglimanya, sedangkan masing-masing dari mereka tidak tahu tempat tujuannya, maka tidak ada qashar baginya sebelum mencapai jarak dua marhalah. Jika telah mencapai jarak tersebut, maka ia boleh qashar. Namun seandainya masing-masing dari mereka berniat menempuh jarak qashar sendirian tanpa mengikuti orang yang diikuti, ia tetap tidak boleh qashar karena niatnya dianggap tidak ada.

نَعَمْ ، الْجُنْدِيُّ غَيْرُ الْمُثَبَّتِ فِي الدِّيْوَانِ لَهُ الْقَصْرُ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ تَحْتَ يَدِ الْأَمِيرِ وَقَهْرِهِ ، بِخِلَافِ الْمُثَبَّتِ فِي الدِّيْوَانِ ، لِأَنَّهُ مَقْهُورٌ تَحْتَ يَدِ الْأَمِيرِ كَبَقِيَّةِ الْجَيْشِ

Benar, prajurit yang tidak terdaftar dalam catatan resmi (diwan) boleh meng-qashar, karena ia tidak berada di bawah kekuasaan dan paksaan panglima. Berbeda dengan prajurit yang terdaftar dalam catatan resmi, karena ia tunduk di bawah kekuasaan panglima sebagaimana sisa pasukan lainnya.

وَأَمَّا الْهَائِمُ ، وَهُوَ مَنْ لَا يَدْرِي أَيْنَ يَتَوَجَّهُ ، فَلَا قَصْرَ مَا دَامَ هَائِمًا ، وَإِنْ طَالَ تَرَدُّدُهُ ، لِأَنَّ سَفَرَهُ مَعْصِيَةٌ ، إِذْ إِنْعَابُ النَّفْسِ لِغَيْرِ غَرَضٍ حَرَامٌ قَالَهُ الزَّيَّادِيُّ

Adapun orang yang kebingungan (al-ha'im), yaitu orang yang tidak tahu ke mana ia harus menuju, maka tidak ada qashar baginya selama ia masih dalam keadaan bingung, meskipun lama ia mondar-mandir. Hal itu karena perjalanannya adalah maksiat, sebab melelahkan diri tanpa tujuan itu hukumnya haram, sebagaimana dikatakan oleh Az-Ziyadi.

وَالثَّانِي : التَّحَرُّزُ عَمَّا يُنَافِيْ نِيَّةَ الْقَصْرِ فِي دَوَامِ الصَّلَاةِ ، كَنِيَّةِ الْإِثْمَامِ ، وَالتَّرَدُّدِ فِي أَنَّهُ يَقْصُرُ أَوْ يُتِمُّ ؟ وَالشَّكِّ فِي نِيَّةِ الْقَصْرِ وَإِنْ تَذَكَّرَ فِي الْحَالِ أَنَّهُ نَوَاهُ ، فَلَوْ نَوَى الْإِثْمَامَ بَعْدَ نِيَّةِ الْقَصْرِ أَوْ تَرَدَّدَ فِيْ أَنَّهُ يَقْصُرُ أَوْ يُتِمُّ بَعْدَ نِيَّةِ الْقَصْرِ مَعَ الْإِحْرَامِ ، أَوْ شَكَّ فِي نِيَّةِ الْقَصْرِ فَلَا قَصْرَ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ

Kedua: Menghindari hal-hal yang menafikan niat qashar selama shalat berlangsung, seperti niat itmam (menyempurnakan empat rakaat), ragu-ragu apakah akan qashar atau itmam, dan ragu dalam niat qashar meskipun ia langsung ingat setelahnya bahwa ia telah berniat. Maka jika ia niat itmam setelah niat qashar, atau ragu-ragu apakah qashar atau itmam setelah niat qashar saat takbiratul ihram, atau ragu dalam niat qashar, maka tidak ada qashar dalam semua kondisi tersebut.

وَالثَّالِثُ : أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ لِغَرَضٍ صَحِيحٍ ، كَزِيَارَةٍ وَتِجَارَةٍ وَحَجٍّ ، لَا مُجَرَّدَ التَّنَزُّهِ أَوِ التَّبَاعُدِ مِنَ الْبُيُوتِ إِلَى الْبَسَاتِيْنِ مَثَلًا ، وَرُؤْيَةِ الْبِلَادِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ مِنَ الْغَرَضِ الصَّحِيحِ لِأَصْلِ السَّفَرِ ، بِخِلَافِ مَا لولوْ كَانَ لِمَقْصَدِهِ طَرِيقَانِ طَوِيلٌ وَقَصِيرٌ ، وَسَلَكَ الطَّوِيْلَ لِغَرَضِ التَّنَزُّهِ ، فَإِنَّهُ يَكُوْنُ غَرَضًا صَحِيْحًا لِلْعُدُوْلِ عَنِ الْقَصِيْرِ إِلَى الطَّوِيْلِ ، فَيَقْصُرُ حِينَئِذٍ ، وَكَذَا لَوْ سَلَكَ الطَّوِيْلَ لِغَرَضٍ دِينِيٍّ ، كَزِيَارَةٍ وَصِلَةِ رَحِمٍ ، أَوْ دُنْيَوِيٍّ ، كَسُهُولَةِ الطَّرِيقِ وَأَمْنِهِ ، لَا إِنْ سَلَكَهُ لِمُجَرَّدِ الْقَصْرِ ، أَوْ لَمْ يَقْصِدْ شَيْئًا ؛ لِأَنَّهُ طَوَّلَ عَلَى نَفْسِهِ الطَّرِيقَ مِنْ غَيْرِ غَرَضٍ مُعْتَدٍ بِهِ .

Ketiga: Perjalanannya harus untuk tujuan yang benar, seperti ziarah, berdagang, dan haji. Bukan sekadar untuk rekreasi (tannazuh) atau menjauh dari rumah menuju kebun-kebun misalnya, dan bukan pula sekadar melihat-lihat kota, karena hal itu bukanlah tujuan yang benar untuk asal sebuah perjalanan. Berbeda halnya jika menuju tempat tujuannya terdapat dua jalan, jauh dan dekat, lalu ia menempuh jalan yang jauh untuk tujuan rekreasi, maka itu menjadi tujuan yang benar untuk berpaling dari jalan dekat ke jalan jauh, sehingga ia boleh qashar saat itu. Begitu pula jika ia menempuh jalan jauh untuk tujuan agama seperti ziarah dan silaturahmi, atau tujuan duniawi seperti kemudahan jalan dan keamanannya. Tidak boleh qashar jika ia menempuhnya semata-mata agar bisa qashar, atau tidak bermaksud apa-apa; karena ia telah memperlama jalan bagi dirinya sendiri tanpa adanya tujuan yang dipertimbangkan.

وَالرَّابِعُ : مُجَاوَزَةُ الْبَلَدِ مَثَلًا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ سُوْرٌ مُخْتَصٌّ بِهِ ، أَوْ مُجَاوَزَةُ سُوْرِهِ إِنْ كَانَ لَهُ سُوْرٌ كَذَلِكَ ؛ وَالسُّوْرُ هُوَ الْبِنَاءُ الْمُحِيْطُ بِالْبَلَدِ وَالْحَاصِلُ أَنَّ الْمُسَافِرَ مِنَ الْعُمْرَانِ مَبْدَأُ سَفَرِهِ مُجَاوَزَةُ سُوْرٍ مُخْتَصٍّ بِبَلَدِهِ جِهَةَ مَقْصِدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ لَهُ سُوْرٌ كَذَلِكَ فَمُجَاوَزَةُ الْخَنْدَقِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبِ فِي « الْقَامُوسِ » : الْخَنْدَقُ كَجَعْفَرٍ : حَفِيرٌ حَوْلَ أَسْوَارِ الْمُدُنِ

Keempat: Melewati batas kota misalnya jika kota tersebut tidak memiliki pagar khusus, atau melewati pagarnya jika kota tersebut memiliki pagar. Pagar (suur) adalah bangunan yang mengelilingi kota. Kesimpulannya, musafir yang berangkat dari pemukiman, awal safarnya adalah saat melewati pagar khusus kotanya ke arah tujuannya. Jika tidak ditemukan pagar seperti itu, maka dengan melewati parit (khandaq). Muhammad bin Ya'qub berkata dalam "Al-Qamus": Khandaq itu seperti (timbangan kata) Ja'far, yaitu galian di sekitar pagar-pagar kota.

فentryَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ خَنْدَقٌ فَمُجَاوَزَةُ الْقَنْطَرَةِ ، وَهِيَ : الْقَوْصَرَةُ أَمَامَ الْبَلَدِ الَّذِي يَخْرُجُ مِنْهُ ، فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَمُجَاوَزَةُ الْعُمْرَانِ

Jika tidak ditemukan parit, maka dengan melewati jembatan (qonthoroh), yaitu lengkungan di depan negeri yang ia keluar darinya. Jika tidak ditemukan satu pun dari hal tersebut, maka dengan melewati batas pemukiman.

وَالْمُسَافِرُ مِنَ الْخِيَامِ مَبْدَأُ سَفَرِهِ مُجَاوَزَةُ تِلْكَ الْخِيَامِ وَمَرَافِقِهَا ، كَمَطْرَحِ الرَّمَادِ ، وَمَلْعَبِ الصَّبْيَانِ ، مَعَ مُجَاوَزَةِ عَرْضِ وَادٍ إِنْ سَافَرَ فِي عَرْضِهِ ، وَمَهْبِطٍ إِنْ كَانَ فِي رَبْوَةٍ ، بِضَمِّ الرَّاءِ عَلَى الْأَكْثَرِ وَالْفَتْحُ لُغَةُ بَنِي تَمِيمٍ ، وَالْكَسْرُ لُغَةٌ ، وَهِيَ : الْمَكَانُ الْمُرْتَفِعُ ؛ وَمَسْعَدٍ إِنْ كَانَ فِي وَهْدَةٍ ، أَيْ : أَرْضٍ مُنْخَفِضَةٍ ؛ هَذَا إِنِ اعْتَدَلَتِ الثَّلَاثَةُ

Dan musafir yang berangkat dari tenda-tenda, awal safarnya adalah melewati tenda-tenda tersebut beserta fasilitasnya, seperti tempat pembuangan abu dan tempat bermain anak-anak. Disertai dengan melewati lebar lembah jika ia bepergian di lebarnya, dan melewati lereng bawah jika ia berada di dataran tinggi (robwah)—dengan dhammah pada huruf ra menurut pendapat kebanyakan, sedangkan dengan fathah adalah dialek Bani Tamim, dan dengan kasrah juga satu dialek, yaitu tempat yang tinggi—dan melewati tanjakan atas jika ia berada di tanah yang rendah (wahdah). Hal ini berlaku jika ketiga kondisi tersebut (lembah, dataran tinggi, dataran rendah) keadaannya sedang/normal.

وَالْمُسَافِرُ مِنْ مَحَلٍّ لَا عُمْرَانَ بِهِ وَلَا خِيَامَ . مَبْدَأُ سَفَرِهِ مُجَاوَزَةُ رَحْلِهِ ، أَيْ : مَأْوَاهُ ، فِي الْحَضَرِ ، وَمَرَافِقِهِ وَهَذَا كُلُّهُ فِي سَفَرِ الْبَرِّ

Dan musafir yang berangkat dari tempat yang tidak ada pemukiman dan tidak ada tenda, awal perjalanannya adalah melewati tempat tinggalnya—yakni tempat bernaungnya—saat bermukim, beserta fasilitas-fasilitasnya. Dan ini semua berlaku dalam perjalanan darat.

أَمَّا سَفَرُ الْبَحْرِ الْمُتَّصِلُ سَاحِلُهُ بِالْبَلَدِ ، فَالْمُعْتَبَرُ جَرْيُ السَّفِينَةِ أَوِ الزَّوْرَقِ إِلَيْهَا آخِرَ مَرَّةٍ إِنْ كَانَ لَهَا زَوْرَقٌ ، فَيَتَرَخَّصُ مَنْ بِالسَّفِينَةِ وَمَنْ بِالزَّوْرَقِ بِمُجَرَّدِ جَرْيِ الْزَّوْرَقِ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى السَّفِينَةِ ، وَإِنْ لَمْ تَسِرْ بِالْفِعْلِ ، وَأَمَّا مَا دَامَتْ تَذْهَبُ وَتَعُودُ فَلَا يَتَرَخَّصُ

Adapun perjalanan laut yang pantainya bersambung dengan negeri tersebut, maka yang dianggap (sebagai awal safar) adalah jalannya kapal besar atau sampan (zauraq) menuju kapal tersebut untuk terakhir kalinya jika memang ada sampannya. Maka orang yang di kapal besar maupun di sampan boleh mengambil keringanan (rukhshah) dengan sekadar jalannya sampan tersebut meskipun belum sampai ke kapal besar, dan meskipun kapal besar belum bergerak secara nyata. Adapun selama sampan tersebut masih bolak-balik (pergi-pulang), maka ia belum boleh mengambil keringanan.

وَمَحَلُّ هَذَا إِنْ لَمْ تَجْرِ مُحَاذِيَةً لِلْبَلَدِ ، فَإِنْ جَرَتْ مُحَاذِيَةً لَهَا فَلَا بُدَّ مِنْ مُفَارَقَةِ الْعُمْرَانِ وَفَارَقَ مَا مَرَّ فِي الْبَرِّ بِأَنَّ الْعُرْفَ لَا يَعُدُّهُ هُنَا مُسَافِرًا إِلَّا بِذَلِكَ وَيَنْتَهِي سَفَرُهُ بِوُصُوْلِهِ إِلَى مَا شُرِطَتْ مُجَاوَزَتُهُ

Tempat berlakunya hal ini adalah jika kapal tersebut tidak berjalan sejajar dengan negeri tersebut. Jika ia berjalan sejajar dengannya, maka harus berpisah dari area pemukiman. Hal ini berbeda dengan apa yang telah lewat pada pembahasan darat, karena secara urf seseorang tidak dianggap musafir di sini kecuali dengan hal tersebut. Dan perjalanannya berakhir dengan sampainya ia ke batas yang tadinya disyaratkan untuk dilewati (saat berangkat).

خَاتِمَةٌ : الرُّخَصُ فِي السَّفَرِ

خَاتِمَةٌ : ذَكَرَ النَّوَوِيُّ فِي « الرَّوْضَةِ » وَالرَّافِعِيُّ فِي « الشَّرْحِ الصَّغِيرِ » الْمُسَمَّى بِـ « الْعَزِيزِ » : إِنَّ الرُّخَصَ الْمُتَعَلِّقَةَ بِالسَّفَرِ الطَّوِيلِ أَرْبَعُ : الْقَصْرُ ، وَالْفِطْرُ ، وَمَسْحُ الْخُفِّ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ، وَالْجَمْعُ عَلَى الْأَظْهَرِ

Penutup: An-Nawawi menyebutkan dalam kitab "Ar-Raudhah" and Ar-Rafi'i dalam "Asy-Syarhul Shaghir" yang dinamakan "Al-Aziz": Bahwa keringanan-keringanan (rukhshah) yang berkaitan dengan perjalanan jauh ada empat: Qashar, berbuka puasa, mengusap sepatu (khuf) selama tiga hari, dan menjamak shalat menurut pendapat yang paling kuat (al-azhar).

وَالَّذِي يَجُوزُ فِي الْقَصِيرِ أَيْضًا أَرْبَعٌ : تَرْكُ الْجُمُعَةِ ، وَأَكْلُ الْمَيْتَةِ وَلَيْسَ مُخْتَصًّا بِالسَّفَرِ ، وَالتَّيَمُّمُ وَإِسْقَاطُ الْفَرْضِ بِهِ وَلَيْسَ مُخْتَصًّا بِالسَّفَرِ أَيْضًا ، وَالتَّنَفُّلُ عَلَى الدَّابَّةِ ؛ وَزِيدَ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ أُمُورٌ ، مِنْهَا : سَفَرُ الْمُوْدَعِ بِالْوَدِيعَةِ بِعُذْرٍ ، وَسَفَرُ الزَّوْجِ بِإِحْدَى نِسَائِهِ بِقُرْعَةٍ . ذَكَرَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

Dan yang diperbolehkan dalam perjalanan pendek juga ada empat: Meninggalkan shalat Jumat; memakan bangkai—dan ini tidak khusus bagi perjalanan saja; tayamum serta menggugurkan kewajiban shalat dengannya—dan ini juga tidak khusus bagi perjalanan juga; serta shalat sunnah di atas kendaraan. Dan ditambahkan pada empat perkara ini hal-hal lain, di antaranya: perjalanannya orang yang dititipi barang (al-muda') dengan membawa barang titipan tersebut karena adanya uzur, dan perjalanannya suami membawa salah satu istrinya berdasarkan hasil undian. Hal ini disebutkan oleh Asy-Syarqawi.

فُرُوعٌ فِي أَفْضَلِيَّةِ الْقَصْرِ

فُرُوعٌ : الْقَصْرُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ إِنْ بَلَغَ سَفَرُهُ ثَلَاثَ مَرَاحِلَ وَلَيْسَ مُدِيمًا لَهُ ، وَلَا مَلَّاحًا ، أَيْ : سَفَّانًا مَعَهُ عِيَالُهُ فِي السَّفِينَةِ ؛ وَإِلَّا فَالْإِثْمَامُ أَفْضَلُ ، بَلْ يُكْرَهُ لَهُ الْقَصْرُ كَمَا نَقَلَهُ الْمَاوَرْدِيُّ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِيْمَا إِذَا لَمْ يَبْلُغْ ثَلَاثَ مَرَاحِلَ ، إِلَّا فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ ، فَالْقَصْرُ أَفْضَلُ

Cabang-cabang Masalah: Qashar bagi musafir itu lebih utama jika perjalanannya mencapai tiga marhalah dan ia bukanlah orang yang terus-menerus bepergian (mudim), bukan pula nahkoda kapal (mallah)—yakni pelaut yang menyertakan keluarganya di dalam kapal. Jika tidak demikian (kurang dari 3 marhalah atau pelaut bawa keluarga), maka menyempurnakan shalat (itmam) lebih utama; bahkan makruh baginya meng-qashar sebagaimana yang dikutip oleh Al-Mawardi dari Asy-Syafi'i dalam masalah ketika jaraknya tidak mencapai tiga marhalah, kecuali dalam shalat khauf, maka qashar lebih utama.

وَإِنَّمَا كَانَ عَدَمُ الْقَصْرِ أَفْضَلُ فِيْمَا إِذَا لَمْ يَبْلُغْهَا لِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ أَبِي حَنِيفَةَ ، فَإِنَّهُ يُوْجِبُ الْإِثْمَامَ إِنْ لَمْ يَبْلُغْهَا ، وَالْقَصْرَ إِنْ بَلَغَهَا ، وَكَذَا الْإِثْمَامُ عَلَى مَلَّاحٍ يُسَافِرُ فِي الْبَحْرِ وَمَعَهُ عِيَالُهُ فِي سَفِينَتِهِ وَفِيْمَنْ يُدِيمُ السَّفَرَ مُطْلَقًا كَالسَّاعِي ؛ لِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ أَحْمَدَ ، فَإِنَّهُ أَوْجَبَ الْإِثْمَامَ عَلَيْهِمَا رَضِيَ اللهُ عَنِ الْجَمِيعِ .

Hanyanya tidak qashar itu lebih utama jika tidak mencapai tiga marhalah adalah untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan Abu Hanifah; karena beliau mewajibkan itmam jika tidak mencapai tiga marhalah, dan mewajibkan qashar jika telah mencapainya. Begitu juga lebih utama itmam bagi nahkoda yang bepergian di laut dengan membawa keluarganya di kapal, serta bagi orang yang terus-menerus bepergian secara mutlak seperti tukang pos (sa'i); untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan Imam Ahmad, karena beliau mewajibkan itmam atas keduanya, semoga Allah meridhai mereka semua.

وَقَدْ يَجِبُ الْقَصْرُ كَمَا لَوْ أَخَّرَ الصَّلَاةَ إِلَى أَنْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِهَا مَا لَا يَسَعُهَا إِلَّا مَقْصُورَةً ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ حِينَئِذٍ الْقَصْرُ ، وَقَدْ يَجِبُ الْقَصْرُ وَالْجَمْعُ مَعًا فِيْمَا إِذَا أَخَّرَ الظُّهْرَ مَعَ الْعَصْرِ لِيَجْمَعَهُمَا جَمْعَ تَأْخِيرٍ وَضَاقَ وَقْتُ الْعَصْرِ عَنِ الْإِتْيَانِ بِهِمَا تَامَّتَيْنِ ، بِأَنْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُ إِلَّا مَا يَسَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، فَيَجِبُ قَصْرُهُمَا وَجَمْعُهُمَا

Kadang qashar itu menjadi wajib, seperti jika seseorang mengakhirkan shalat hingga waktu yang tersisa tidak cukup kecuali jika dilakukan secara qashar, maka saat itu ia wajib qashar. Dan terkadang qashar serta jamak itu menjadi wajib bersama-sama ketika ia mengakhirkan shalat Zhuhur dengan Ashar untuk menjamak keduanya secara jamak ta'khir, namun waktu Ashar sudah sempit untuk melakukan keduanya secara sempurna, sekiranya tidak tersisa waktu kecuali hanya cukup untuk empat rakaat saja. Maka saat itu wajib hukumnya meng-qashar dan menjamak keduanya.

صَوْمُ الْمُسَافِرِ

وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ ، لِأَنَّ فِيْهِ بَرَاءَةَ الذَّمَّةِ ، فَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ بِأَنْ لَحِقَهُ مِنْهُ نَحْوُ أَلَمٍ يَشُقُّ احْتِمَالُهُ عَادَةً فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ ، أَمَّا إِذَا خَشِيَ مِنْهُ تَلَفَ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ فَيَجِبُ الْفِطْرُ ، فَإِنْ صَامَ عَصَى وَأَجْزَأَ

Puasa bagi musafir itu lebih utama daripada berbuka jika tidak memberatkannya, karena di dalamnya terdapat kebebasan dari tanggungan kewajiban (bara'atud dzimmah). Jika puasa itu memberatkannya, sekiranya ia mengalami rasa sakit yang menurut kebiasaan sulit ditanggung, maka berbuka lebih utama. Adapun jika ia khawatir puasanya dapat merusak fungsi anggota tubuh, maka ia wajib berbuka; jika ia tetap berpuasa maka ia berdosa namun puasanya tetap sah.

وَمَحَلُّ جَوَازِ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا رَجَا إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا ، وَإِلَّا بِأَنْ كَانَ مُدِيْمًا لَهُ وَلَمْ يَرْجُ ذَلِكَ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ لِأَدَائِهِ إِلَى إِسْقَاطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلِّيَّةِ ؛ وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ بِالْجَوَازِ ؛ وَفَائِدَتُهُ فِيْمَا إِذَا أَفْطَرَ فِي الْأَيَّامِ الطَّوِيلَةِ أَنْ يَقْضِيْهُ فِي أَيَّامٍ أَقْصَرَ مِنْهَا . انْتَهَى مِنَ الشَّرْقَاوِيِّ وَالزَّيَّادِيِّ

Kebolehan berbuka bagi musafir adalah jika ia berharap adanya waktu bermukim untuk meng-qadha-nya. Jika tidak demikian, seperti ia terus-menerus bepergian (mudim) dan tidak berharap waktu bermukim, maka ia tidak boleh berbuka menurut pendapat yang mu'tamad karena hal itu akan menggugurkan kewajiban secara total. Ibnu Hajar berpendapat tetap boleh berbuka; dan manfaatnya adalah jika ia berbuka pada hari-hari yang panjang (musim panas), maka ia bisa meng-qadha-nya pada hari-hari yang lebih pendek (musim dingin). Selesai dari Asy-Syarqawi dan Az-Ziyadi.

فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الصِّحَّةِ لِلْجُمُعَةِ

شُرُوطُ الْجُمُعَةِ سِتَّةٌ : أَحَدُهَا : أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ ، وَإِذَا أَدْرَكَ الْمَسْبُوْقُ رَكْعَةً مَعَ الْإِمَامِ ، وَعَلِمَ أَنَّهُ إِنِ اسْتَمَرَّ مَعَهُ حَتَّى يُسَلِّمَ لَمْ يُدْرِكِ الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ فِي الْوَقْتِ ، وَإِنْ فَارَقَهُ أَدْرَكَهَا ، وَجَبَ عَلَيْهِ نِيَّةُ الْمُفَارَقَةِ لِتَقَعَ الْجُمُعَةُ كُلُّهَا فِي الْوَقْتِ

Fasal: Syarat-syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jumat
Syarat-syarat Jumat itu ada enam: Pertama: Seluruh rangkaian shalat Jumat harus berada di dalam waktu Zhuhur. Apabila seorang makmum masbuq mendapati satu rakaat bersama imam, lalu ia tahu bahwa seandainya ia terus bersama imam sampai salam maka ia tidak akan mendapati rakaat kedua di dalam waktunya, sedangkan jika ia memisahkan diri (mufaraqah) ia akan mendapatinya, maka ia wajib berniat mufaraqah agar seluruh shalat Jumat tersebut terjadi di dalam waktu.

فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ يَقِيْنًا أَوْ ظَنًّا بِخَبَرِ عَدْلٍ أَوْ فَاسِقٍ وَقَعَ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ قَبْلَ سَلَامِهِ وَجَبَ عَلَيْهِ الظُّهْرُ بِنَاءً لَا اسْتِئْنَافًا كَغَيْرِهِ مِنَ الْأَرْبَعِينَ ، وَإِنْ كَانَتْ جُمُعَتُهُ تَابِعَةً لِجُمُعَةٍ صَحِيحَةٍ فَحِينَئِذٍ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةِ الْإِثْمَامِ ؛ نَعَمْ يُسَنُّ ذَلِكَ

Maka jika waktu telah habis secara yakin, atau secara zhan (dugaan kuat) melalui kabar orang adil maupun fasik yang kebenarannya diakui di dalam hati sebelum ia salam, maka ia wajib mengerjakan Zhuhur dengan cara bina' (melanjutkan sisa rakaat) bukan isti'naf (mengulang dari awal) sebagaimana empat puluh orang lainnya. Dan jika shalat Jumatnya mengikuti Jumat yang sah, maka saat itu ia merendahkan bacaan (israr) dan tidak butuh niat itmam (menyempurnakan Zhuhur); benar, hal itu disunnahkan.

وَإِثْمَامُهَا ظُهْرًا بِنَاءً مُتَحَتَّمٌ ، لِأَنَّهُمَا صَلَاتَا وَقْتٍ وَاحِدٍ ، فَوَجَبَ بِنَاءُ أَطْوَلِهِمَا عَلَى أَقْصَرِهِمَا ، كَصَلَاةِ الْحَضَرِ مَعَ السَّفَرِ ، وَلَا يَجُوْزُ الِاسْتِئْنَافُ ؛ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى إِخْرَاجِ بَعْضِ الصَّلَاةِ عَنِ الْوَقْتِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إِبْقَاعِهَا فِيْهِ ، أَيْ : وَلَا بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِيًا حَتَّى يُسَلِّمَ الْأَرْبَعُوْنَ فِيْهِ

Dan menyempurnakannya sebagai Zhuhur dengan cara bina' adalah sebuah keharusan, karena keduanya (Jumat dan Zhuhur) adalah shalat dalam satu waktu, maka wajib membangun (melanjutkan) shalat yang lebih panjang di atas shalat yang lebih pendek, seperti shalat hadir (mukim) bersama shalat safar. Tidak boleh isti'naf (mengulang dari awal) karena hal itu akan menyebabkan keluarnya sebagian shalat dari waktunya padahal mampu mengerjakannya di dalam waktu. Maksudnya, waktu harus tetap ada sampai empat puluh orang tersebut melakukan salam di dalamnya.

فَلَوْ سَلَّمَ الْإِمَامُ وَمَنْ مَعَهُ خَارِجَ الْوَقْتِ فَاتَتِ الْجُمُعَةُ وَلَزِمَهُمُ الظُّهْرُ بِنَاءً لَا اسْتِئْنَافًا ؛ وَلَوْ سَلَّمَ الْإِمَامُ التَّسْلِيمَةَ الْأُولَىٰ وَتِسْعَةٌ وَثَلَاثُوْنَ فِيْهِ وَسَلَّمَهَا الْبَاقُوْنَ خَارِجَهُ صَحَّتْ جُمُعَةُ الْإِمَامِ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ التَّسْعَةِ وَالثَّلَاثِينَ ، بِخِلَافِ الْمُسَلِّمِينَ خَارِجَهُ ، فَلَا تَصِحُّ جُمُعَتُهُمْ

Maka jika imam dan orang-orang bersamanya salam di luar waktu, Jumat tersebut luput dan mereka wajib mengerjakan Zhuhur secara bina', bukan isti'naf. Seandainya imam dan tiga puluh sembilan orang melakukan salam pertama di dalam waktu, sedangkan sisanya salam di luar waktu, maka sah Jumatnya imam dan tiga puluh sembilan orang tersebut, berbeda dengan orang-orang yang salam di luar waktu, maka Jumat mereka tidak sah.

``` ```
Studi Kasus Nyata di Lapangan:
Ada orang safar dari Jakarta ke Surabaya, dia mampir di masjid buat shalat Zhuhur. Dia tau dia lagi safar, tapi dia kagak tau kalo qashar itu cuman boleh buat shalat empat rakaat atau dia emang bener-bener buta hukum fiqih rukhshah. Dia maen niat dua rakaat aja asal-asalan tanpa ngerti konsep syariatnya. Nah, shalat orang macem begini kagak sah secara mutlak! Dia wajib ngulangin shalatnya dari awal pake niat qashar nyang bener.
⚠️ BAHAYA LATEN TADLIS FIQIH:
Ati-ati sama bahaya laten tala'ub (maen-maen) dalam ibadah! Misalnya Ente niat shalat Zhuhur dua rakaat tapi di dalem hati kagak ada niatan buat ngambil keringanan safar (rukhshah). Sengaja motong shalat fardhu tanpa illat syar'i nyang bener itu haram dan bikin shalat batal total. Ibadah itu ada pakemnya, jangan dirubah-rubah semau jidat!
============================== ```

وَكَذَا لَوْ نَقَصَ الْمُسَلِّمُوْنَ فِيْهِ عَنْ أَرْبَعِينَ ، كَأَنْ سَلَّمَ الإِمَامُ فِيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَعَهُ وَهُمْ التَّسْعَةُ وَالثَّلَاثُوْنَ خَارِجَهُ ، أَوْ سَلَّمَ بَعْضُهُمْ مَعَهُ وَلَا يَبْلُغُوْنَ أَرْبَعِينَ ، فَلَا تَصِحُ جُمْعَتُهمْ حَتَّى الإِمَامُ ، وَإِنَّمَا صَحَتِ الْجُمُعَةُ لِلإِمَامِ وَحْدِهِ فِيْمَا إِذَا كَانُوْا مُحْدِثِيْنَ دُوْنَهُ ، لِأَنَّ الْمُحْدِثَ تَصِحُ صَلَاتُهُ فِيْمَا إِذَا فَقَدَ الطَّهُوْرَيْنِ بِخِلَافِ الْجُمُعَةِ خَارِجَ الْوَقْتِ

Begitu pula jika orang yang salam di dalam waktu kurang dari empat puluh orang, seperti imam salam di dalam waktu namun tiga puluh sembilan orang lainnya salam di luar waktu, atau sebagian dari mereka salam bersamanya namun jumlahnya tidak mencapai empat puluh orang, maka Jumat mereka tidak sah bahkan termasuk bagi imam. Hanyanya Jumat tersebut sah bagi imam sendirian dalam masalah ketika para makmum berhadas sedangkan imam tidak, karena orang yang berhadas shalatnya sah jika ia kehilangan dua alat bersuci (faqidut thohurain), berbeda dengan masalah shalat Jumat di luar waktu.

وَثَانِيهَا : أَنْ تُقَامَ فِي خِطَّةِ الْبَلَدِ ، وَلَوْ بِفَضَاءِ ، بِأَنْ كَانَ بِمَحَلَّ لَا تُقْصَرُ فِيْهِ الصَّلَاةُ وَإِنْ لَم يَتَّصِلْ بِأَبْنِيَةِ الْبَلَدِ ، بِخِلَافِ غَيْرِ الْمَعْدُوْدِ مِنْهَا ، وَهُوَ مَا يَنْشَأُ مِنْهُ سَفَرُ الْقَصْرِ ، وَسَوَاءٌ كَانَ الْبَلَدُ مِنْ خَشَبٍ أَوْ قَصَبٍ

Kedua: Hendaknya dilaksanakan di area pemukiman kota (khittah al-balad), meskipun di tanah lapang, yakni di tempat yang shalat tidak boleh di-qashar di sana meskipun tidak bersambung dengan bangunan kota. Berbeda dengan tempat yang tidak dianggap sebagai bagian kota, yaitu tempat dimulainya safar qashar. Dan sama saja apakah kota tersebut bangunannya dari kayu atau bambu.

أَوْ غَيْرِهِمَا ، وَسَوَاءٌ أَقِيمَتِ الْجُمُعَةُ فِي الْمَسَاجِدِ أَوْ غَيْرِهَا ، بِخِلَافِ الصَّحْرَاءِ ، فَلَا تَصِحُ فِيهَا اسْتِقْلَالًا وَلَا تَبَعًا ، سَوَاءٌ هِيَ وَخُطْبَتُهَا وَمَنْ يَسْمَعُهَا ، وَمِنْهَا مَسْجِدٌ أَنْفَصَلَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَقْصُرُ الْمُسَافِرُ قَبْلَ مُجَاوَزَتِهِ ، فَلَا تَصِحُ الْجُمُعَةُ فِيْهِ ، لِأَنَّهُمْ حِينَئِذٍ مُسَافِرُوْنَ وَلَا تَنْعَقِدُ الْجُمُعَةُ بِالْمُسَافِرِ

(Atau dari bahan) selain keduanya, dan sama saja apakah Jumat itu dilaksanakan di masjid-masjid atau di tempat lainnya. Berbeda halnya dengan padang pasir (sahara), maka tidak sah shalat Jumat di sana baik secara mandiri maupun mengikut (imam di pemukiman), baik shalatnya, khutbahnya, maupun bagi orang yang mendengarnya. Termasuk di antaranya adalah masjid yang terpisah dari negeri sekira-kira seorang musafir sudah boleh qashar sebelum melewati masjid tersebut, maka tidak sah shalat Jumat di dalamnya karena mereka saat itu dianggap musafir, sedangkan Jumat tidak sah dilaksanakan oleh musafir.

وَلَوِ اتَّصَلَتِ الصُّفُوْفُ وَطَالَتْ حَتَّى خَرَجَتْ عَنِ الْقَرْيَةِ صَحَتْ جُمُعَةُ الْخَارِجِينَ تَبَعًا إِنْ كَانُوْا فِي مَحَلَّ لَا تُقْصَرُ الصَّلَاةُ إِلَّا بَعْدَ مُجَاوَزَتِهِ ، وَإِلَّا فَلَا تَصِلُّ لَهُمُ الْجُمُعَةُ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى الْأَرْبَعِيْنَ

Seandainya barisan shalat (shof) bersambung dan memanjang hingga keluar dari desa, maka sah Jumat bagi orang-orang yang di luar tersebut karena statusnya mengikut (tabe'), asalkan mereka berada di tempat yang shalat tidak boleh di-qashar kecuali setelah melewatinya. Jika tidak demikian, maka shalat Jumat tidak sah bagi mereka meskipun jumlah mereka lebih dari empat puluh orang.

وَلَوْ كَانَتْ الْخِيَامُ بِصَحْرَاءَ ، وَاتَّصَلَ بِهَا مَسْجِدٌ ، فَإِنْ عُدَّتْ الْخِيَامُ مَعَهُ بَلَدًا وَاحِدًا وَلَمْ تُقْصَرُ الصَّلَاةُ قَبْلَهُ صَحَتِ الْجُمُعَةُ بِهِ ، وَإِلَّا فَلَا

Seandainya tenda-tenda berada di padang pasir and ada masjid yang bersambung dengannya, maka jika tenda-tenda tersebut bersama masjid itu dianggap sebagai satu kesatuan negeri dan shalat tidak boleh di-qashar sebelum melewatinya, maka sah Jumat di sana; jika tidak, maka tidak sah.

وَلَوْ لَازَمَ أَهْلُ الْخِيَامِ مَوْضِعًا مِنَ الصَّحْرَاءِ لَمْ تَصِحَ الْجُمُعَةُ فِي تِلْكَ الْخِيَامِ ، وَيَجِبُ عَلَيْهِمْ إِنْ سَمِعُوا النِّدَاءَ مِنْ مَحَلَّهَا ، وَإِلَّا فَلَا ؛ لِأَنَّهُمْ عَلَى هَيْئَةِ الْمُسْتَوْفِزِيْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ أَبْنِيَةُ الْمُسْتَوْطِنِيْنَ

Seandainya penduduk tenda menetap di suatu tempat di padang pasir, maka tidak sah shalat Jumat di tenda-tenda tersebut. Mereka wajib mendatanginya (shalat Jumat) jika mendengar azan dari tempat pelaksanaannya, jika tidak (mendengar) maka tidak wajib; karena keadaan mereka seperti orang yang siap-siap berangkat dan tidak memiliki bangunan sebagaimana penduduk yang menetap (mustauthinin).

فَرْعُ : قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ الرَّئِيسُ فِي فَتْوَاهُ : إِنْ كَانَتِ الْقُرَى مُتَبَاعِدَةٌ وَجَبَ عَلَى كُلِّ قَرْيَةٍ جُمُعَةٌ إِنْ جُمِعَتِ الشَّرُوْطُ ، وَضَابِطُ الْبُعْدِ عَدَمُ اتِّحَادِ الْمَرَافِقِ ، كَمَلْعَبِ الصِّبْيَانِ وَالنَّادِي ، وَهُوَ مَحَلُّ الْقَوْمِ وَمُتَحَدَّثُهُمْ ، وَمَطْرَحِ الرَّمَادِ وَالاسْتِعَارَةِ مِنْ بَعْضِهِمْ بَعْضًا ، فَإِنِ اخْتَلَفَتْ فَقُرَى ، أَوْ فَهِيَ قُرَى كَثِيرَةٌ ؛ وَإِنِ اتَّحَدَتْ فَالْمُتَّجَهُ فِيْمَا ذُكِرَ قَرْيَةٌ وَاحِدَةٌ ، وَالَّتِي لَمْ تَجْمَعِ الشَّرُوطَ مَعَ عَدَمِ الاتِّحَادِ ، فَهِيَ مَعَ غَيْرِهَا كَخَارِجِ الْبَلْدَةِ ، فَإِنْ سَمِعَتِ النِّدَاءَ وَجَبَ عَلَيْهَا الْحُضُورُ ، وَإِلَّا فَلَا . أَنْتَهَى .

Cabang Masalah: Syekh Muhammad Ar-Rais berkata dalam fatwanya: Jika desa-desa saling berjauhan, maka wajib atas setiap desa melaksanakan Jumat jika syarat-syaratnya terpenuhi. Batasan "jauh" adalah tidak bersatunya fasilitas-fasilitas, seperti tempat bermain anak, tempat berkumpul (nadi)—yakni tempat kaum tersebut bercengkrama—tempat pembuangan abu, dan kebiasaan saling pinjam-meminjam barang antara satu sama lain. Jika hal-hal tersebut berbeda, maka itu dianggap desa-desa yang banyak. Jika hal tersebut bersatu, maka menurut pendapat yang kuat ia dianggap sebagai satu desa. Dan desa yang tidak mengumpulkan (syarat-syarat) tersebut disertai tidak adanya penyatuan fasilitas, maka desa tersebut bersama desa lainnya statusnya seperti di luar kota. Jika penduduknya mendengar azan, maka wajib bagi mereka untuk hadir (Jumat), jika tidak (mendengar) maka tidak wajib. Selesai.

قَوْلُهُ : ( فِي خِطَّةِ الْبَلَدِ » ، بِكَسْرِ الْخَاءِ ، أَيْ : عَلَامَاتِ أَبْنِيَةِ الْبَلَدِ ؛ وَمِثْلُ الْبِنَاءِ السَّرَبُ ، وَهُوَ بِفَتْحَتَيْنِ ؛ فِي الْأَرْضِ ؛ وَالْكَهْفُ ، أَيْ : الْغَارُ ، فِي الْبَلَدِ ، فَيَلْزَمُ أَهْلَهُمَا الْجُمُعَةُ وَإِنْ خَلَتَا عَنِ الْأَبْنِيَةِ

Ucapan Mushannif: "Di area pemukiman kota (khittah al-balad)", dengan huruf kha yang dibaca kasrah, maksudnya adalah tanda-tanda bangunan kota. Semisalnya bangunan adalah lubang galian (sarab)—dengan dua huruf yang berharakat fathah—di dalam tanah, serta gua (kahfi) di dalam kota. Maka penduduk di keduanya wajib melaksanakan Jumat meskipun tempat tersebut kosong dari bangunan.

وَيُشْتَرَطُ اجْتِمَاعُ الأَبْنِيَةِ عُرْفًا ، وَأَنْ لَا يَزِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْزِلَيْنِ عَلَى ثَلَاثِ مِئَةِ ذِرَاعٍ دَاخِلَهَا أَوْ خَارِجَهَا فِي مَحَلَّ لَا تُقْصَرُ فِيْهِ الصَّلَاةُ إِلَّا بَعْدَ مُجَاوَزَتِهِ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي الْمُسَافِرِ . نَقَلَهُ الشَّرْقَاوِيُw عَنِ الرَّحْمَانِي

Disyaratkan adanya perkumpulan bangunan secara urf, dan jarak antara dua rumah tidak lebih dari tiga ratus hasta (dzira'), baik di dalam kota maupun di luar kota pada tempat yang shalat tidak boleh di-qashar kecuali setelah melewatinya, sebagaimana penjelasan yang telah lewat mengenai musafir. Hal ini dikutip oleh Asy-Syarqawi dari Ar-Rahmani.

وَأَعْلَمْ أَنَّ إِقَامَةَ الْجُمُعَةِ لَا تَتَوَقَّفُ عَلَى إِذْنِ الإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، خِلَافًا لِأَبِي حَنِيْفَةَ ، وَعَنِ الشَّافِعِيَّ وَالْأَصْحَابِ أَنَّهُ يُنْدَبُ اسْتِنْذَانُهُ فِيْهَا خَشْيَةَ الْفِتْنَةِ وَخُرُوْجًا مِنَ الْخِلَافِ ؛ وَأَمَّا تَعَدُّدُهَا فَلَا بُدَّ فِيْهِ مِنَ الإِذْنِ ، لِأَنَّهُ مَحَلُّ اجْتِهَادٍ .

Dan ketahuilah bahwa pelaksanaan shalat Jumat tidak bergantung pada izin Imam (pemimpin/pemerintah) atau wakilnya menurut pendapat yang mu'tamad, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Syafi'i dan para sahabatnya bahwa disunnahkan meminta izin kepadanya dalam hal itu karena khawatir terjadi fitnah dan untuk keluar dari perbedaan pendapat. Adapun mengenai jumlah (pelaksanaan Jumat yang lebih dari satu di satu kota), maka harus ada izin di dalamnya karena hal tersebut merupakan ranah ijtihad.

وَثَالِثُهَا : أَنْ تُصَلَّى جَمَاعَةٌ . قَالَ الزَّيَّادِيُّ : فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى بِتَمَامِهَا ، بِأَنْ يَسْتَمِرَّ مَعَهُ إِلَى السُّجُودِ الثَّانِي ، فَلَوْ صَلَّى الْإِمَامُ بِالْأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً ، ثُمَّ أَحْدَثَ ، فَأَتَمَّ كُلٌّ مِنْهُمْ وَحْدَهُ ، أَوْ لَمْ يُحْدِثُ وَفَارَقُوْهُ فِي الثَّانِيَةِ وَأَتَمُّوا مُنْفَرِدِيْنَ ، أَجْزَأَتْهُمُ الْجُمُعَةُ ؛ نَعَمْ يُشْتَرَطُ بَقَاءُ الْعَدَدِ إِلَى سَلَامِ الْجَمِيعِ ، وَمَتَى أَحْدَثَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ لَمْ تَصِحَ جُمُعَةُ الْبَاقِيْنَ . أَنْتَهَى

Ketiga: Hendaknya dilaksanakan secara berjamaah. Az-Ziyadi berkata: (Dilakukan berjamaah) pada rakaat pertama secara sempurna, yaitu dengan terus bersamanya sampai sujud kedua. Maka seandainya imam shalat bersama HTML empat puluh orang dalam satu rakaat, kemudian ia berhadas, lalu masing-masing dari mereka menyempurnakannya sendiri-sendiri, atau imam tidak berhadas namun mereka memisahkan diri (mufaraqah) darinya pada rakaat kedua dan mereka menyempurnakannya sendiri-sendiri, maka shalat Jumat mereka tetap sah. Benar, disyaratkan tetapnya jumlah (empat puluh orang) sampai salamnya semua jamaah. Kapanpun salah satu dari mereka berhadas, maka tidak sah Jumat jamaah yang tersisa. Selesai kutipan.

وَإِنْ كَانَ هُوَ الْآخِرُ ، وَإِنْ ذَهَبَ الأَوَّلُونَ إِلَى أَمَاكِنِهِمْ ، وَيَلْزَمُهُمْ إِعَادَتُهَا جُمُعَةٌ إِنْ أَمْكَنَ ، وَإِلا فَظُهْرًا ، وَبِهَذَا يُلْغَزُ فَيُقَالُ لَنَا : شَخْصُ أَحْدَثَ فِي الْمَسْجِدِ فَبَطَلَتْ صَلَاةُ آخَرَ فِي بَيْتِهِ .

(Ketentuan ini berlaku) meskipun orang yang berhadas itu adalah orang yang paling terakhir salamnya, dan meskipun orang-orang yang salam lebih awal sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka wajib mengulanginya sebagai shalat Jumat jika masih memungkinkan, jika tidak maka sebagai shalat Zhuhur. Dalam hal ini terdapat teka-teki (lughaz): "Seseorang berhadas di masjid, lalu batal shalat orang lain yang berada di rumahnya."

وَرَابِعُهَا : أَنْ يَكُوْنُوْا أَرْبَعِينَ . قَالَ الزَّيَّادِيُّ ، أَيْ : وَلَوْ مِنَ الْجِنِّ كَمَا فِي « الْجَوَاهِرِ » ، وَلَوْ كَانُوْا أَرْبَعِينَ فَقَطْ وَفِيْهُمْ أُمِّيٌّ قَصَّرَ فِي التَّعَلُّمِ لَمْ تَصِحَ جُمْعَتُهُمْ لِبُطْلَانِ صَلَاتِهِمْ فَيَقْضُوْنَ ، فَإِنْ لَمْ يُقَصِّرْ وَالْإِمَامُ قَارِئُ صَحَّتْ جُمْعَتُهُمْ ، كَمَا لَوْ كَانُوْا كُلُّهُمْ أُمِّيِّينَ فِي دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ

Keempat: Jumlah mereka harus empat puluh orang. Az-Ziyadi berkata: Yakni meskipun dari golongan Jin sebagaimana dalam kitab "Al-Jawahir". Seandainya mereka berjumlah tepat empat puluh orang saja dan di antara mereka ada seorang ummi (tidak fasih bacaan wajibnya) yang lalai dalam belajar, maka tidak sah Jumat mereka karena batalnya shalat mereka, sehingga mereka harus meng-qadha-nya. Jika ia tidak lalai dalam belajar dan imamnya adalah seorang qari' (fasih), maka sah Jumat mereka, sebagaimana jika mereka semua adalah orang ummi dalam derajat yang sama.

قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : فَشَرْطٌ أَنْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ لِنَفْسِهِ كَمَا فِي شَرْحِ الرَّمْلِيِّ ، وَإِنْ لَمْ يَصِحَ كَوْنُهُ إِمَامًا لِلْقَوْمِ . وَأَفْتَى مُحَمَّدُ صَالِحُ الرَّئِيسُ بِأَنَّهُ لَا تَنْعَقِدُ الْجُمُعَةُ حَيْثُ كَانَ فِيْهِمْ أُمِّيُّ ، وَيَسْقُطُ الْوُجُوْبُ عَنِ الْبَاقِيْنَ ، فَيُصَلُwوْنَ ظُهْرًا

Al-Bajuri berkata: Maka syaratnya adalah shalatnya sah untuk dirinya sendiri sebagaimana dalam Syarah Ar-Ramli, meskipun tidak sah jika ia menjadi imam bagi kaum tersebut. Muhammad Shalih Ar-Rais berfatwa bahwa Jumat tidak terhitung (in'iqad) jika di antara mereka ada seorang ummi, namun kewajiban Jumat gugur bagi yang lainnya, sehingga mereka shalat Zhuhur saja.

وَقَالَ فِيْ « فَتَاوِيْهِ » أَيْضًا : إِذَا دَخَلُوْا فِي الصَّلَاةِ مَعَ ظَنَّ الْأُمِّيَّةِ فِي بَعْضِهِمْ فَلَا تَصِحُ صَلَاتُهُمْ ، فَالإِعَادَةُ وَاجِبَةٌ عَلَيْهِمْ ، إِلَّا إِنْ قَلَّدُوْا الْقَائِلَ بِجَوَازِهَا بِدُوْنِ الْأَرْبَعِينَ ؛ وَأَمَّا إِنْ دَخَلُوْا فِي الصَّلَاةِ مَعَ ظَنَّ اسْتِجْمَاعِ الشُّرُوْطِ فَلَا تَجُوْزُ الإِعَادَةُ لِعَدَمِ الْمُوْجِبِ لِلإِعَادَةِ . أَنْتَهَى

Beliau juga berkata dalam kitab fatwanya: Jika mereka masuk ke dalam shalat dengan dugaan adanya ke-ummi-an pada sebagian jamaah, maka shalat mereka tidak sah dan wajib mengulanginya. Kecuali jika mereka bertaqlid pada pendapat yang membolehkan Jumat tanpa HTML empat puluh orang. Adapun jika mereka masuk shalat dengan dugaan telah terpenuhinya semua syarat, maka tidak boleh mengulangi karena tidak ada sebab yang mewajibkan pengulangan. Selesai kutipan.

وَالْأُمِّيُّ ، هُوَ : مَنْ لَا يُؤَدِّي الْوَاجِبَ فِي الْقِرَاءَةِ ، بِإِبْدَالِ حَرْفٍ بِآخَرَ ، أَوْ نَقْلِ مَعْنَى الْكَلِمَةِ ؛ وَلَوْ كَانَ عَالِمًا جِدًّا

Dan orang ummi adalah: Orang yang tidak memenuhi kewajiban dalam membaca (Al-Fatihah), dengan mengganti suatu huruf dengan huruf lain, atau memindahkan makna kata tersebut (salah baca yang merubah arti); meskipun ia adalah orang yang sangat alim.

وَالْمُقَصِّرُ ، هُوَ : مَنْ لَمْ يَبْذُلْ وُسْعَهُ لِتَعَلُّمِ الْوَاجِبِ أَدَاؤُهُ فِيْهَا مِمَّنْ يُؤَدِّيْهِ .

Dan orang yang lalai (muqoshshir) adalah: Orang yang tidak mengerahkan kemampuannya untuk mempelajari kewajiban yang harus ditunaikan dalam shalat kepada orang yang bisa mengajarkannya.

قَالَ شَيْخُنَا يُوسُفُ السَّنْبَلَاوِيْنِيُّ : أَعْلَمْ أَنَّ مَذْهَبَ إِمَامِنَا الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَدَمُ صِحَةِ الْجُمُعَةِ بِدُوْنِ أَرْبَعِيْنَ مُسْتَجْمِعِينَ لِلشَّرُوطِ ، وَأَهْلُ الْقُرَى الَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوْا الْعَدَدَ الْمَذْكُورَ إِنْ سَمِعُوا النِّدَاءَ مِنْ مَكَانٍ عَالٍ عَادَةً بِحَيْثُ يَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ نِدَاءُ الْجُمُعَةِ ، وَإِنْ لَمْ يُمَيَّزُوْا بَيْنَ الْكَلِمَاتِ ، فِي سُكُوْنِ الْأَصْوَاتِ وَالرِّيَاحِ ، مَعَ مُعْتَدِلِيْ سَمْعِ مِنْ طَرَفِ بَلْدَةٍ أَوْ قَرْيَةٍ أُخْرَى تُقَامُ فِيهَا الْجُمُعَةُ بِشَرْطَهَا ، لَزِمَهُمْ إِنْيَانُهَا وَصَلَاتُهَا مَعَهُمْ ، وَإِلَّا فَلَا تَلْزَمُهُمْ الْجُمُعَةُ

Guru kami Yusuf As-Sanbalawini berkata: Ketahuilah bahwa madzhab Imam kita Asy-Syafi’i ra. adalah tidak sahnya shalat Jumat tanpa empat puluh orang yang memenuhi syarat-syaratnya. Dan penduduk desa yang jumlahnya tidak mencapai jumlah tersebut, jika mereka mendengar azan dari tempat yang tinggi menurut kebiasaan sekira-kira mereka tahu itu adalah azan Jumat—meskipun tidak bisa membedakan tiap katanya—saat suasana suara dan angin tenang, dengan pendengaran yang normal dari pinggir sebuah kota atau desa lain yang dilaksanakan Jumat di sana sesuai syaratnya, maka mereka wajib mendatangi dan shalat bersama mereka. Jika tidak (mendengar), maka Jumat tidak wajib bagi mereka.

فَرْعٌ : يَجُوزُ تَقْلِيدُ الْقَائِلِ بِجَوَازِهَا بِدُوْنِ الْأَرْبَعِينَ كَأَبِي حَنِيفَةَ ، فَإِنَّهُ جَوَّزَهَا بِالْأَرْبَعَةِ أَحَدُهُمْ الْإِمَامُ ؛ وَمَالِكٌ فَإِنَّهُ جَوَّزَهَا بِثَلَاثِينَ أَوْ بِعِشْرِيْنَ ؛ وَلَا يَكْفِي فِي تَقْلِيدِ بَعْضِهِمْ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ تَقْلِيدِهِمْ وَعِلْمِهِمْ بِشُرُوطِ مَا يُقَلِّدُوْنَ فِيْهِ عِنْدَ مَنْ يُقَلِّدُوْنَ ؛ وَيُسَنُّ لَهُمْ فِعْلُ الظُّهْرِ

Cabang Masalah: Boleh bertaqlid (mengikuti) pendapat yang membolehkan Jumat tanpa empat puluh orang, seperti Abu Hanifah, karena beliau membolehkannya dengan empat orang yang salah satunya adalah imam. Juga Imam Malik, karena beliau membolehkannya dengan tiga puluh atau dua puluh orang. Tidak cukup sekadar bertaqlid kepada sebagian mereka, melainkan harus bertaqlid dan mengetahui syarat-syarat dari pendapat yang mereka ikuti menurut imam yang diikuti tersebut; dan disunnahkan bagi mereka untuk tetap melakukan shalat Zhuhur (setelahnya).

قَالَ الْعَلَامَةُ الْكُرْدِيُّ فِي « فَتَاوِيْهِ » : وَهُوَ الْأَحْوَطُ خُرُوْجًا مِنَ الْخِلَافِ . قَالَهُ الْمُفْتِي مُحَمَّدٌ الْحَبَشِيُّ

Al-Allamah Al-Kurdi berkata dalam kitab fatwanya: Hal tersebut (shalat Zhuhur kembali) adalah yang lebih hati-hati (ahwath) agar keluar dari perbedaan pendapat. Hal ini juga disampaikan oleh Al-Mufti Muhammad Al-Habasyi.

أَحْرَارًا ذُكُورًا بَالِغِيْنَ مُسْتَوْطِنِينَ ، أَيْ : بِمَحَلَّ الْجُمُعَةِ ، بِحَيْثُ لَا يُسَافِرُوْنَ شِتَاءً وَلَا صَيْفًا إِلَّا لِحَاجَةٍ ، كَزِيَارَةٍ وَتِجَارَةٍ ، فَلَوِ اسْتَوْطَنَ فِي بَلَدَيْنِ ، بِأَنْ كَانَ لَهُ مَسْكَنَانِ بِهِمَا ، فَالْعِبْرَةُ بِمَا فِيْهِ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي أَحَدِهِمَا أَهْلٌ وَالآخَرِ مَالٌ فَالْعِبْرَةُ بِمَا فِيْهِ أَهْلٌ ، وَإِلَّا فَالْعِبْرَةُ بِمَا إِقَامَتُهُ فِيْهِ أَكْثَرُ ، فَإِنِ اسْتَوَتْ أَنْعَقَدَتْ بِهِ فِي كُلِّ مِنْهُمَا

(Yaitu orang-orang yang) merdeka, laki-laki, baligh, dan menetap (mustauthinin). Maksudnya adalah di tempat pelaksanaan Jumat, sekira-kira mereka tidak bepergian baik di musim dingin maupun musim panas kecuali karena ada hajat, seperti ziarah atau berdagang. Seandainya seseorang menetap di dua negeri karena memiliki dua tempat tinggal, maka yang menjadi patokan adalah tempat yang di sana terdapat keluarga dan hartanya. Jika di salah satunya ada keluarga dan di lainnya ada harta, maka patokannya adalah yang ada keluarganya. Jika tidak demikian, maka patokannya adalah tempat yang ia lebih lama tinggal di sana; jika seimbang, maka Jumatnya sah (in'iqad) di masing-masing tempat tersebut.

قَالَ الزَّيَّادِيُّ نَقْلًا عَنِ الْمُصَنِّفِ : أَمَّا الصَّبِيُّ الْمُمَيَّزُ وَالْعَبْدُ الْمُسَافِرُ فَتَصِحُ مِنْهُمْ وَلَا تَلْزَمُهُمْ وَلَا تَنْعَقِدُ بِهِمْ ، وَأَمَّا الْمُقِيمُ غَيْرُ الْمُسْتَوْطِنِ ، كَمَنْ نَوَى الإِقَامَةَ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ صِحَاحٍ فَتَلْزَمُهُ قَطْعًا ، وَلَا تَنْعَقِدُ بِهِ وَتَصِحُ مِنْهُ ، وَكَذَا الْمُسَافِرُ لِمَعْصِيَةٍ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الرُّخَصِ ، وَمَنْ سَمِعَ نِدَاءَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ لَيْسَ بِمَحَلَّهَا

Az-Ziyadi berkata mengutip dari Mushannif: Adapun anak kecil yang sudah mumayyiz, hamba sahaya, dan musafir, maka shalat Jumat mereka sah namun tidak wajib bagi mereka dan Jumat tidak terhitung (in'iqad) dengan keberadaan mereka. Adapun orang yang mukim tapi tidak menetap (mustauthin), seperti orang yang niat mukim empat hari penuh, maka Jumat wajib baginya secara pasti, namun tidak terhitung dengannya meskipun shalatnya sah. Begitu juga musafir yang bertujuan maksiat, karena ia bukan termasuk orang yang berhak mendapat keringanan (rukhshah), dan orang yang mendengar azan Jumat padahal ia tidak berada di tempat pelaksanaannya.

وَأَمَّا الْمُرْتَدُّ ، فَتَلْزَمُهُ وَلَا تَنْعَقِدُ بِهِ وَلَا تَصِحُ مِنْهُ . وَأَمَّا الْكَافِرُ الأَصْلِيُّ ، وَالْمَجْنُونُ ، وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ ؛ فَلَا تَلْزَمُهُمْ وَلَا تَنْعَقِدُ بِهِمْ وَلَا تَصِحُ مِنْهُمْ .

Adapun orang murtad, maka Jumat wajib baginya (sebagai hukuman), namun tidak terhitung dengannya dan tidak sah shalatnya. Adapun kafir asli, orang gila, dan orang yang pingsan; maka tidak wajib bagi mereka, tidak terhitung dengan mereka, dan tidak sah shalatnya.

وَمَنِ اجْتَمَعَتْ فِيْهِ صِفَاتُ الْكَمَالِ عَكْسُ هَذَا ، وَمَنْ لَا تَلْزَمُهُ وَتَنْعَقِدُ بِهِ وَتَصِحُ مِنْهُ وَهُوَ مَنْ لَهُ عُذْرٌ مِنْ أَعْدَارِهَا غَيْرُ السَّفَرِ . وَعُرِفَ بِهَذَا أَنَّ النَّاسَ فِي الْجُمُعَةِ سِتَّةُ أَقْسَامٍ

Barangsiapa yang terkumpul padanya sifat-sifat kesempurnaan (laki-laki, merdeka, baligh, menetap), maka berlaku kebalikan dari hal di atas (wajib, sah, dan terhitung). Dan ada orang yang tidak wajib Jumat namun Jumat terhitung dengannya dan sah shalatnya, yaitu orang yang memiliki uzur selain perjalanan (safar). Dengan ini diketahui bahwa manusia dalam masalah Jumat terbagi menjadi enaman bagian.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ نَقْلًا عَنِ الْقَلْيُوْبِيِّ : قَوْلُهُ : « سِتَّةُ أَقْسَامٍ » ، أَيْ : لِأَنَّ الأَوْصَافَ ثَلَاثَةٌ : اللُّزُوْمُ ، وَالصَّحَةُ ، وَالانْعِقَادُ ؛ فَتُوجَدُ كُلُّهَا فِي مُسْتَوْفِي الشَّرُوطِ ، وَتَنْتَفِي كُلُّهَا عَنْ نَحْوِ الْمَجْنُوْنِ ، وَيُوْجَدُ الْأَوَّلَانِ فِي الْمُقِيمِ غَيْرِ الْمُسْتَوْطِنِ ، وَالأَخِيْرَانِ فِي الْمَعْذُورِ ، وَالْأَوَّلُ فَقَطْ فِي الْمُرْتَدَّ ، وَالثَّانِي فَقَطْ فِي نَحْوِ الْمُسَافِرِ

Asy-Syarqawi berkata mengutip dari Al-Qalyubi: Ucapan Mushannif "enam bagian", yakni karena sifat itu ada tiga: Kewajiban (luzum), Keabsahan (shihhah), dan Keterhitungan (in'iqad); maka ketiganya terkumpul pada orang yang memenuhi syarat (Jumat). Dan hilang semuanya dari orang gila. Dua sifat pertama (Wajib & Sah) ada pada orang mukim yang tidak menetap (mustauthin). Dua sifat terakhir (Sah & Terhitung/In'iqad) ada pada orang yang memiliki uzur. Sifat pertama saja (Wajib) ada pada orang murtad. Dan sifat kedua saja (Sah) ada pada orang seperti musafir.

وَخَامِسُهَا : أَنْ لَا تَسْبِقَهَا وَلَا تُقَارِنَهَا فِي آخِرِ إِحْرَامِ الإِمَامِ ، وَهُوَ الرَّاءُ مِنْ « أَكْبَرَ » ، جُمُعَةٌ أُخْرَى فِي تِلْكَ الْبَلَدِ ، أَيْ : فِي مَحَلَّ الْجُمُعَةِ ، إِلَّا إِنْ عَسُرَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ بِمَكَانٍ ، وَلَوْ غَيْرِ مَسْجِدٍ ، كَشَارِعٍ ، وَهُوَ مَا يَسْلُكُهُ النَّاسُ ، وَذَلِكَ إِمَّا لِكَثْرَتِهِمْ , أَوْ لِقِتَالٍ بَيْنَهُمْ ، أَوْ لِبُعْدِ أَطْرَافِ الْبَلَدِ ، بِأَنْ يَكُونَ مَنْ بِطَرَفِهَا لَا يَبْلُغُهُمُ الصَّوْتُ بِشُرُوطِهِ

Kelima: Tidak didahului dan tidak dibarengi pada akhir ihram imam—yaitu pada huruf Ra' dari ucapan "Akbar"—oleh Jumat lainnya di negeri tersebut, yakni di tempat pelaksanaan Jumat. Kecuali jika sulit untuk mengumpulkan orang-orang di satu tempat, meskipun bukan masjid, seperti jalanan—yaitu tempat yang biasa dilalui orang. Hal itu dikarenakan banyaknya jumlah jamaah, adanya pertikaian di antara mereka, atau karena jauhnya ujung-ujung wilayah kota sekira-kira suara (azan/khutbah) tidak sampai kepada mereka dengan syarat-syaratnya.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَالْعِبْرَةُ بِمَنْ يَغْلِبُ فِعْلُهُ لَهَا فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ، وَإِنْ لَمْ يَحْضُرْ بِالْفِعْلِ ، وَإِنْ لَمْ تَلْزَمْهُ ، كَالْمَرْأَةِ وَالْعَبْدِ ؛ وَإِنْ لَمْ تَصِحَ مِنْهُ كَالْمَجْنُوْنِ

Asy-Syarqawi berkata: Patokannya adalah pada orang yang umumnya melaksanakan Jumat di tempat tersebut menurut pendapat yang mu'tamad, meskipun ia tidak hadir secara nyata, dan meskipun Jumat tidak wajib baginya seperti wanita dan hamba sahaya; serta meskipun tidak sah darinya seperti orang gila.

قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ الْعِبْرَةَ بِمَنْ يَحْضُرُ وَإِنْ لَمْ تَلْزَمْهُ الْجُمُعَةُ

Az-Ziyadi berkata: Pendapat yang mu'tamad adalah bahwa patokannya adalah pada siapa yang hadir, meskipun Jumat tidak wajib baginya.

وَأَعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا تَعَدَّدَتِ الْجُمُعَةُ لِحَاجَةٍ ، بِأَنْ عَسُرَ الاجْتِمَاعُ بِمَكَانٍ ، جَازَ لَهُ التَّعَدُّدُ بِقَدْرِهَا ، وَصَحَّتْ صَلَاةُ الْجَمِيعِ عَلَى الْأَصَحُ ، سَوَاءٌ وَقَعَ إِحْرَامُ الْأَئِمَّةِ مَعًا أَوْ مُرَتَّبًا . وَسُنَّ الظُّهْرُ مُرَاعَاةٌ لِلْخِلَافِ

Dan ketahuilah bahwa jika Jumat dilaksanakan berbilang (lebih dari satu tempat) karena adanya kebutuhan—yaitu sulitnya berkumpul di satu tempat—maka boleh dilakukan berbilang sesuai kadar kebutuhannya, dan sah shalat semuanya menurut pendapat yang paling sah (al-ashah), baik ihram para imam itu terjadi bersamaan maupun berurutan. Dan disunnahkan (tetap) shalat Zhuhur untuk menjaga keluar dari perbedaan pendapat (mura'atan lil khilaf).

وَأَمَّا إِذَا تَعَدَّدَتْ لِغَيْرِ الْحَاجَةِ الْمَذْكُورَةِ فَلَهُ خَمْسُ حَالَاتِ : الْحَالَةُ الأُولَى : أَنْ يَقَعَا مَعًا فَيَبْطُلَانِ ، فَيَجِبُ أَنْ يَجْتَمِعُوْا فِي مَحَلٍّ وَاحِدٍ وَيُعِيدُوْهَا جُمُعَةً عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ ، وَلَا تَصِحُ الظُّهْرُ بَعْدَهَا . الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ : أَنْ يَقَعَا مُرَتَّبًا ، فَالسَّابِقَةُ هِيَ الصَّحِيْحَةُ وَاللَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ ، فَيَجِبُ عَلَى أَهْلِهَا صَلَاةُ الظُّهْرِ

Adapun jika Jumat dilaksanakan berbilang tanpa adanya kebutuhan tersebut, maka ada lima keadaan: Keadaan Pertama: Jika keduanya (atau lebih) terjadi secara bersamaan, maka semuanya batal, sehingga mereka wajib berkumpul di satu tempat dan mengulangi shalat Jumat jika waktunya masih luas, dan tidak sah shalat Zhuhur setelahnya. Keadaan Kedua: Jika keduanya terjadi secara berurutan, maka yang lebih awal (sabiqah) adalah yang sah, sedangkan yang menyusul (lahiqah) adalah batal, sehingga wajib bagi jamaah tersebut shalat Zhuhur.

الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ : أَنْ يَشُكَّ فِي السَّبْقِ وَالْمَعِيَّةِ ، فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَمِعُوْا فِي مَحَلٍّ ، وَيُعِيدُوْهَا جُمُعَةً عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ ؛ وَتُسَنُّ الظُّهْرُ بَعْدَهَا

Keadaan Ketiga: Jika ragu mana yang lebih awal dan mana yang berbarengan, maka wajib bagi mereka untuk berkumpul di satu tempat dan mengulangi shalat Jumat jika waktunya masih luas; dan disunnahkan shalat Zhuhur setelahnya.

الْحَالَةُ الرَّابِعَةُ : أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَلَمْ تُعْلَمْ عَيْنُ السَّابِقَةِ ، كَأَنْ سَمِعَ مَرِيضَانِ أَوْ مُسَافِرَانِ تَكْبِيرَتَيْنِ مُتَلَاحِقَتَيْنِ فَأَخْبَرَا بِذَلِكَ مَعَ جَهْلِ الْمُتَقَدِّمَةِ مِنْهُمَا ، فَيَجِبُ عَلَيْهِمُ الظُّهْرُ ، لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى إِعَادَةِ الْجُمُعَةِ مَعَ تَيَقُنِ وقُوْعِ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ فِي نَفْسِ الأَمَرِ ، لَكِنْ لَمَّا كَانَتِ الطَّائِفَةُ الَّتِي صَحَّتْ جُمُعَتُهَا غَيْرُ مَعْلُوْمَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمُ الظُّهْرُ . وَخَرَجَ بِالْمَرِيْضَيْنِ أَوِ الْمُسَافِرَيْنِ غَيْرَهُمَا فَلَا تَصِحُ شَهَادَتُهُ لِفِسْقِهِ بِتَرْكِ الْجُمُعَةِ

Keadaan Keempat: Jika diketahui ada yang lebih awal namun tidak diketahui secara pasti mana yang lebih awal itu, seperti dua orang sakit atau dua orang musafir mendengar dua suara takbiratul ihram secara berurutan lalu mengabarkannya namun tidak tahu mana yang terdahulu, maka wajib bagi mereka shalat Zhuhur. Hal ini karena tidak ada jalan untuk mengulangi Jumat padahal sudah yakin terjadi Jumat yang sah pada hakikatnya, namun karena kelompok yang sah Jumatnya tidak diketahui, maka wajib bagi mereka Zhuhur. Dikecualikan "dua orang sakit atau musafir", jika selain mereka (yang tidak shalat Jumat tanpa uzur) maka kesaksiannya tidak sah karena kefasikannya meninggalkan Jumat.

الْحَالَةُ الْخَامِسَةُ : أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَلَمْ تُعْلَمْ عَيْنُ السَّابِقَةِ ، أَوْ عُلِمَتْ لَكِنْ نُسِيَتْ ، وَهِيَ كَالْحَالَةِ الرَّابِعَةِ ، أَيْ : فَيَجِبُ اسْتِثْنَافُ الظُّهْرِ فَقَطْ لالْتِبَاسِ الصَّحِيحَةِ بِالْفَاسِدَةِ

Keadaan Kelima: Jika diketahui ada yang mendahului namun tidak diketahui secara pasti mana yang mendahului, atau tadinya diketahui namun kemudian lupa. Kondisi ini sama seperti keadaan keempat, yaitu wajib memulai shalat Zhuhur saja karena tercampurnya antara yang sah dengan yang rusak.

وَسَادِسُهَا : أَنْ يَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ لِلاتَّبَاعِ ، بِخِلَافِ الْعِيدِ ، فَإِنَّ خُطْبَتَيْهِ مُؤَخَّرَتَانِ لِلاتَّبَاعِ ؛ وَلِأَنَّ خُطْبَةَ الْجُمُعَةِ شَرْطٌ فِي صِحَّتِهَا ، وَالشَّرْطُ مُقَدَّمٌ عَلَى مَشْرُوطِهِ . وَيُسَنُّ فِي الْخُطْبَتَيْنِ كَوْنُهُمَا عَلَى مِنْبَرٍ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَىٰ مُرْتَفِعٍ

Keenam: Hendaknya shalat Jumat didahului oleh dua khutbah karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba'), berbeda dengan shalat Id yang dua khutbahnya diakhirkan karena ittiba' juga; dan karena khutbah Jumat adalah syarat sahnya, sedangkan syarat itu harus didahulukan atas hal yang disyaratkan (masyruth). Disunnahkan dalam dua khutbah tersebut dilakukan di atas mimbar, jika tidak ada maka di tempat yang tinggi.

وَيُسَنُّ لِلْخَطِيْبِ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى مَنْ عِنْدَ الْمِنْبَرِ أَوِ الْمُرْتَفِعِ ، وَأَنْ يَصْعَدَ بِتُؤَدَةٍ وَرِفْقٍ . نَقَلَهُ الزَّيَّادِيُّ عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيِّ

Dan disunnahkan bagi khatib untuk mengucapkan salam kepada orang yang berada di dekat mimbar atau tempat tinggi tersebut, serta hendaknya ia naik dengan tenang dan perlahan. Az-Ziyadi mengutip hal ini dari Abi Muhammad Al-Juwaini.

وَأَنْ يُقْبِلَ عَلَيْهِمْ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ أَوْ نَحْوَهُ ، وَأَنْتَهَى إِلَى الدَّرَجَةِ الَّتِي تُسَمَّى بِالْمُسْتَرَاحِ ، وَأَنْ يُسَلَّمَ عَلَيْهِمْ ، ثُمَّ يَجْلِسَ فَيُؤَذِّنَ وَاحِدٌ لِلاتِّبَاعِ فِي الْجَمِيعِ .

Hendaknya khatib menghadap ke arah jamaah ketika sudah naik ke mimbar atau sejenisnya, dan telah sampai pada tingkatan (anak tangga) yang disebut dengan al-mustarah (tempat istirahat). Kemudian ia mengucapkan salam kepada mereka, lalu duduk, lantas seorang muazin mengumandangkan azan (satu kali) karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba') dalam semua rangkaian tersebut.

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي « تُحْفَةِ الْمُحْتَاجِ » : وَأَمَّا الْأَذَانُ الَّذِي قَبْلَهُ عَلَى الْمَنَارَةِ فَأَحْدَثَهُ عُثْمَانٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، وَقِيلَ : مُعَاوِيَةُ لَمَّا كَثُرَ النَّاسُ ؛ وَمِنْ ثُمَّ كَانَ الاقْتِصَارُ عَلَى الاتِّبَاعِ أَفْضَلُ إِلَّا لِحَاجَةٍ ، كَأَنْ تَوَقَّفَ حُضُوْرُهُمْ عَلَى مَا بِالْمَنَارَةِ

Ibnu Hajar berkata dalam "Tuhfatul Muhtaj": Adapun azan yang dilakukan sebelumnya di atas menara (azan pertama), maka hal itu diada-adakan oleh Utsman ra., dan ada yang mengatakan Muawiyah, ketika jumlah manusia sudah banyak. Oleh karena itu, membatasi diri pada apa yang dilakukan Nabi (ittiba') adalah lebih utama, kecuali jika ada kebutuhan, seperti kehadiran jamaah bergantung pada azan yang dikumandangkan di menara tersebut.

تَنْبِيهٌ : كَلَامُهُمْ هَذَا وَغَيْرُهُ صَرِيحٌ فِي أَنَّ أَنْخَاذَ مُرَقٍ لِلْخَطِيبِ يَقْرَأُ الآيَةَ وَالْخَبَرَ الْمَشْهُورَيْنِ بِدْعَةٌ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، لِأَنَّهُ حَدَثَ بَعْدَ الصَّدْرِ الأَوَلِ ؛ قِيلَ : وَهِيَ حَسَنَةٌ لِحَلِّ آلَآيَةِ عَلَى مَا يُنْدَبُ لِكُلِّ أَحَدٍ مِنْ إِكْثَارِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ لَا سِيَّمَا فِي هَذَا الْيَوْمِ ، وَلِحَبُّ الْخَبَرِ عَلَى تَأَكُدِ نَدْبِ الإِنْصَاتِ الْمُفَوِّتِ تَرْكُهُ لِفَضْلِ الْجَمَاعَةِ ، بَلْ وَالْمُوْقِعِ فِي الإِثْمِ عِنْدَ كَثِيْرِيْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ . أَنْتَهَى

Peringatan: Perkataan mereka ini dan lainnya secara jelas menunjukkan bahwa adanya muraqqi (bilal) bagi khatib yang membaca ayat dan hadits masyhur (sebelum khatib naik) adalah bid'ah. Dan memang demikian kenyataannya karena hal itu baru muncul setelah masa generasi awal (ash-shadrul awwal). Ada yang mengatakan: Bid'ah tersebut adalah baik (hasanah) karena ayat tersebut menganjurkan setiap orang untuk memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, terutama pada hari ini (Jumat), serta karena hadits tersebut menekankan anjuran untuk diam (inshat) yang mana jika ditinggalkan dapat menghilangkan keutamaan jamaah, bahkan menyebabkan dosa menurut banyak ulama. Selesai kutipan.

وَيُسَنُّ لِلْخَطِيْبِ أَنْ يَشْغَلَ يُسْرَاهُ بِنَحْوِ سَيْفٍ ، وَيُمْنَاهُ بِحَرْفِ الْمِنْبَرِ ، لاتَّبَاعِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ ؛ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ جَعَلَ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى أَوْ أَرْسَلَهُمَا ، وَالْغَرَضُ أَنْ يَخْشَعَ ، وَلَا يَعْبَثَ بِهِمَا ، وَيُقِيمُ الْمُؤَذِّنُ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الْخُطْبَةِ ، وَيُبَادِرُ الْخَطِيْبُ بِالنُّزُوْلِ لِيَبْلُغَ الْمِحْرَابَ مَعَ فَرَاغِهِ مِنَ الْإِقَامَةِ

Disunnahkan bagi khatib untuk menyibukkan tangan kirinya dengan memegang sesuatu seperti pedang (tongkat), dan tangan kanannya memegang pinggiran mimbar. Hal ini mengikuti kebiasaan ulama salaf maupun khalaf. Jika tidak mendapati sesuatu untuk dipegang, maka hendaknya ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau melepaskan keduanya. Tujuannya adalah agar ia khusyuk dan tidak memainkan kedua tangannya. Kemudian muazin mengumandangkan iqamah setelah selesai khutbah, dan khatib segera turun agar sampai di mihrab berbarengan dengan selesainya iqamah.

``` ```
📌 Takhrij & Referensi Kitab:
Masalah zonasi kampung (Khittah Al-Balad) dan batasan 300 hasta (sekitar 150 meter) antar bangunan ini dinukil dari Al-Syarqawi dari Ar-Rahmani. Urusan bilangan Jumatan yang barengan atau urutan (ta'addud) dibedah tuntas dalilnya merujuk kitab induk Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar Al-Haitami.
🚨 Studi Kasus Nyata: Lughaz Teka-Teki Fikih
Ada teka-teki: "Seseorang berhadas di masjid, lah kok batal shalat orang lain nyang lagi anteng di rumahnya?"
Jawabannya: Ini kejadian pas jamaah shalat Jumat ngepas 40 orang. Begitu salah satu jamaah nyang di masjid batal wudhunya, maka syarat minimal 40 orang jadi gugur, otomatis bubar tuh keabsahan shalat Jumat jamaah lain nyang shafnya memanjang sampe ke dalem rumah di luar masjid!
⚠️ BAHAYA LATEN: Main Asal Bid'ah-Bid'ahin Bilal (Muraqqi)!
Memang secara historis, adanya bilal nyang teriak baca ayat ama hadits pas khatib mau naik mimbar itu kagak ada di zaman awal (Ash-Shadrul Awwal). Tapi ulama muta'akhirin sepakat ini termasuk Bid'ah Hasanah (bid'ah nyang baek). Soalnya tujuannya mulia: ngingetin jamaah biar buru-buru shalawat dan manggil jamaah biar pada Inshat (diem, kaga ngobrol). Kalo ente main asbun (asal bunyi) bilang itu bid'ah dhalalah ampe ngobrak-ngabrik tradisi kampung, ente bisa bikin umat pecah belah! Hati-hati!
======================== ```
📖 MATAN KITAB KASYIFATUS SAJA (HALAMAN 377 - 385)

وَيُكْرَهُ الالْتِفَاتُ فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ ، وَالإِشَارَةُ بِيَدِهِ أَوْ غَيْرِهَا ، وَدَقُّ دَرَجِ الْمِنْبَرِ فِي صُعُودِهِ بِنَحْوِ سَيْفٍ أَوْ رِجْلِهِ ، وَالدُّعَاءُ إِذَا أَنْتَهَى إِلَى الْمُسْتَرَاحِ قَبْلَ جُلُوْسِهِ عَلَيْهِ ، وَالْوُقُوْفُ فِي كُلِّ مَرْقَاةٍ وِقْفَةٌ خَفِيْفَةٌ يَدْعُوْ فِيْهَا ، وَمُبَالَغَةُ الإِسْرَاعِ فِي الثَّانِيَةِ ، وَخَفْضُ الصَّوْتِ بِهَا . قَالَهُ ابْنُ حَجَرٍ فِي « الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ » .

Dimakruhkan menoleh saat khutbah kedua (pendapat yang mu'tamad adalah pada kedua khutbah). Dimakruhkan pula memberi isyarat dengan tangan atau lainnya, mengetuk anak tangga mimbar saat naik dengan pedang atau kaki, dan berdoa saat sampai di mustarah sebelum duduk di atasnya. Juga dimakruhkan berhenti sejenak di setiap anak tangga untuk berdoa, terlalu mempercepat khutbah kedua, serta merendahkan suara padanya. Hal ini disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam "Al-Manhajul Qawim".

خَاتِمَةٌ : أَفْتَى السَّيِّدُ مُحَمَّدُ صَالِحُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ أَنْ يَخْطُبَ فِي الْجُمُعَةِ غَيْرُ الإمام .

Penutup: Sayyid Muhammad Shalih berfatwa bahwa makruh hukumnya jika yang berkhutbah Jumat bukan imam (pemimpin/orang yang mengimami shalat).

فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ الْخُطْبَتَيْنِ أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ ، أَيْ : إِجْمَالًا وَإِلَّا فَهِيَ ثَمَانِيَةٌ تَفْصِيلًا ، لِتَكَرُرِ الثَّلَاثَةِ الأُولِ فِيْهِمَا :

Fasal Mengenai Rukun Dua Khutbah: Rukun dua khutbah ada lima secara garis besar, namun sebenarnya ada delapan jika dirinci, karena tiga rukun pertama berulang pada keduanya.

أَحَدُهَا : حَمْدُ اللهِ فِيهِمَا ، وَيُشْتَرَطُ كَوْنُهُ بِلَفْظِ اللَّهِ وَلَفْظِ حَمْدٍ ، فَتَتَعَيَّنُ مَادَّةُ الْحَمْدِ بِأَيِّ صِيْغَةٍ كَانَتْ ، كَـ « الْحَمْدُ للهِ ، أَوْ أَحْمَدُ اللهَ » ، وَ أَنَا حَامِدٌ اللَّهِ » ، أَوْ اللَّهِ الْحَمْدُ » ، فَلَا يَكْفِي غَيْرُ مَادَّةِ الْحَمْدِ كَالشُّكْرِ ، وَلَا يَكْفِي الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ وَالْخَالِقِ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ لِلفْظِ الْجَلَالَةِ بِالنِّسْبَةِ لِبَقِيَّةِ أَسْمَائِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ مَزِيَّةٌ تَامَّةٌ ، فَإِنَّ لَهُ الْاخْتِصَاصَ التَّامَّ بِهِ تَعَالَى ، وَيُفْهَمُ مِنْهُ عِنْدَ ذِكْرِهِ سَائِرُ صِفَاتِ الْكَمَالِ بِخِلَافِ بَقِيَّةِ أَسْمَائِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ

Pertama: Memuji Allah pada keduanya. Disyaratkan harus dengan lafadz "Allah" dan lafadz "Hamd". Maka wajib menggunakan kata dasar al-hamdu dalam bentuk apapun, seperti: "Alhamdulillah", atau "Ahmadullah", atau "Ana hamidullah", atau "Lillahi al-hamdu". Maka tidak cukup jika menggunakan selain kata dasar al-hamdu seperti kata syukur. Tidak cukup pula ucapan "Alhamdu lir-Rahman" atau "lil-Khaliq". Perbedaannya adalah bahwa lafadz Jalalah (Allah) memiliki keistimewaan yang sempurna dibandingkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang lain; karena nama tersebut memiliki kekhususan yang sempurna bagi-Nya Ta'ala, dan ketika disebutkan, maka semua sifat kesempurnaan-Nya dapat dipahami darinya, berbeda dengan nama dan sifat lainnya.

وَثَانِيهَا : الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِيهِمَا ، وَتَتَعَيَّنُ الصَّلَاةُ مِنْ مَادَّتِهَا كَـ الصَّلَاةُ عَلَى مُحَمَّدٍ » ، أَوْ « أُصَلَّيْ » ، أَوْ « نُصَلِّي » ، أَوْ « أَنَا مُصَلِّ » ، وَلَا يَتَعَيَّنُ لَفْظُ مُحَمَّدٍ ، بَلْ يَكْفِي أَحْمَدُ أَوِ النَّبِيُّ أَوِ الْمَاحِي أَوِ الْحَاشِرُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ ؛ وَلَا يَكْفِي الضَّمِيرُ وَإِنْ تَقَدَّمَ لَهُ مَرْجِعُ انْتَهَى

Kedua: Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ pada keduanya. Wajib menggunakan kata dasar ash-shalah, seperti: "Ash-shalatu 'ala Muhammad", atau "Ushalli", atau "Nushalli", atau "Ana mushallin". Tidak wajib menggunakan lafadz "Muhammad", bahkan cukup dengan "Ahmad", "An-Nabi", "Al-Mahi", "Al-Hasyir", atau semisalnya. Namun tidak cukup jika hanya menggunakan kata ganti (dhomir) meskipun sebelumnya sudah ada penyebutan yang menjadi rujukan (merujuk ke Nabi). Selesai.

وَثَالِثُهَا : الْوَصِيَّةُ ، أَيْ : الْأَمْرُ بِالتَّقْوَىٰ فِيْهِمَا . قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَالتَّقْوَى ، هِيَ : امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابُ نَاهِيْهِ . وَيَكْفِي أَحَدُهُمَا عِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ ، وَأَمَّا عِنْدَ الرَّمْلِيِّ فَلَا بُدَّ مِنَ الْحَقِّ عَلَى الطَّاعَةِ ، وَلَا يَكْفِي مُجَرَّدُ التَّحْذِيْرِ مِنَ الدُّنْيَا وَغُرُوْرِهَا اتَّفَاقًا ، لِأَنَّ ذَلِكَ مَعْلُومٌ حَتَّى عِنْدَ الْكُفَّارِ ، وَلَا تَتَعَيَّنُ الْوَصِيَّةُ مِنْ مَادَّتِهَا ، بَلْ يَكْفِي مَا يَقُوْمُ مَقَامَهَا ، نَحْوُ : أَطِيعُوا اللَّهَ ؛ وَإِنَّمَا لَمْ يَتَعَيَّنْ لَفْظُهَا لِأَنَّ الْغَرَضَ مِنْهَا الْوَعْظُ وَالْحَثُ عَلَى الطَّاعَةِ ، وَهُوَ حَاصِلٌ بِغَيْرِ لَفْظِهَا

Ketiga: Wasiat, yaitu perintah untuk bertakwa pada keduanya. Az-Ziyadi berkata: Takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Menurut Ibnu Hajar, cukup menyebutkan salah satu dari keduanya (menjalankan perintah atau menjauhi larangan). Adapun menurut Ar-Ramli, maka harus ada anjuran untuk melakukan ketaatan. Tidak cukup jika hanya sekadar peringatan dari dunia dan tipu dayanya secara kesepakatan ulama (ittifaqan), karena hal itu sudah diketahui bahkan oleh orang-orang kafir sekalipun. Wasiat ini tidak wajib menggunakan kata dasar al-washiyyah, bahkan cukup dengan ungkapan yang semakna dengannya, seperti: "Athii'ullah" (taatlah kalian kepada Allah). Tidak diwajibkannya lafadz wasiat secara khusus karena tujuannya adalah memberi nasihat dan anjuran untuk taat, dan hal itu sudah tercapai meski tanpa lafadz asli (al-washiyyah).

وَرَابِعُهَا : قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِي إِحْدَاهُمَا لِلاتَّبَاعِ ، أَيْ : آيَةٍ مُفْهِمَةٍ ، فَلَا يَكْفِي ، ثُمَّ نَظَرُوْا إِنْ كَانَتْ آيَةً ؛ كَمَا قَالَهُ الْحُصْنِيُّ

Keempat: Membaca satu ayat dari Al-Qur'an pada salah satu dari dua khutbah karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba'), yaitu ayat yang memberikan pemahaman (makna yang jelas). Maka tidak cukup (jika hanya potongan huruf), kemudian para ulama melihat jika hal itu adalah sebuah ayat; sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hishni.

قَالَ الزَّيَّادِيُّ : سَوَاءٌ كَانَتْ دَالَّةً عَلَى وَعْدٍ أَوْ وَعِيْدٍ أَوْ حُكْمِ أَوْ قِصَّةٍ ، وَلَا يَبْعُدُ الاكْتِفَاءُ بِشَطْرِ آيَةٍ طَوِيْلَةٍ، لِأَنَّهُ أَوْلَى مِنْ آيَةٍ قَصِيرَةٍ، وَلَا تُجْزِئُ آيَةُ حَمْدٍ أَوْ وَعْظٍ عَنْهُ كَمَا فِي الْقِرَاءَةِ ، كَمَا فِي قَوْلِهِ : ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ﴾ ، إِذِ الشَّيْء الْوَاحِدُ لَا يُؤَدَّى بِهِ فَرْضَانِ ، بَلْ عَنْهُ فَقَطْ ؛ وَلَوْ أَتَى بِآيَاتٍ تَشْتَمِلُ عَلَى الْأَرْكَانِ كُلِّهَا مَا عَدَا الصَّلَاةَ لِعَدَمِ آيَةٍ تَشْتَمِلُ عَلَيْهَا لَمْ تُجْزِئُ لِأَنَّهَا لَا تُسَمَّى خُطْبَةً . أَنْتَهَى

Az-Ziyadi berkata: Baik ayat itu menunjukkan tentang janji (wa'dun), ancaman (wa'idun), hukum, maupun kisah. Tidak jauh (masuk akal) pendapat yang mencukupkan dengan potongan ayat yang panjang, karena hal itu lebih utama daripada satu ayat yang pendek. Namun, satu ayat yang berisi pujian (hamd) atau nasihat (wa'zh) tidak bisa mencukupi rukun lainnya (rukun hamdalah atau wasiat), seperti dalam firman-Nya: "Alhamdulillahilladzi khalaqas samawati wal ardh..." (QS. Al-An'am: 1). Hal ini karena satu hal tidak bisa menunaikan dua kewajiban sekaligus, melainkan hanya untuk rukun itu sendiri (rukun baca ayat) saja. Seandainya seseorang mendatangkan ayat-ayat yang mencakup semua rukun kecuali shalawat—karena tidak adanya ayat yang mencakup semuanya—maka itu tidak mencukupi karena tidak bisa disebut sebagai khutbah. Selesai.

وَيُسَنُّ بَعْدَ فَرَاغِ قِرَاءَةِ آيَةٍ مُفْهِمَةٍ أَنْ يَقْرَأَ سُوْرَةَ ﴿ق﴾ أَوْ بَعْضَهَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ ؛ بَيَّنَ ذَلِكَ فِي « فَتْحِ الْمُعِيْنِ » .

Disunnahkan setelah selesai membaca ayat yang memberikan pemahaman untuk membaca surat "Qaf" atau sebagian darinya pada setiap Jumat; hal ini dijelaskan dalam "Fathul Mu'in" (hal. 200).

وَعِبَارَةُ الْبَاجُوْرِيُّ : وَيُسَنُّ أَنْ يَقْرَأَ سُوْرَةً ﴿ق﴾ كُلَّ جُمُعَةٍ لِخَبَرِ مُسْلِم : كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ سُوْرَةَ ق فِي كُلِّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ . وَيَك|ْفِيْ فِي أَصْلِ السُّنَّةِ قِرَاءَةُ بَعْضِهَا . أَنْتَهَتْ

Redaksi Al-Bajuri: Disunnahkan membaca surat "Qaf" setiap Jumat berdasarkan hadits riwayat Muslim (No. 873): "Bahwasanya Nabi ﷺ membaca surat Qaf pada setiap Jumat di atas mimbar." Dan sudah dianggap mendapatkan kesunnahan dengan membaca sebagian darinya. Selesai.

قَوْلُهُ : « فِي إِحْدَاهُمَا » ، الأَوْلَى أَنْ تَكُوْنَ آلَآيَةُ فِي الْخُطْبَةِ الْأَوْلَى لِتَكُوْنَ فِي مُقَابَلَةِ الدُّعَاءِ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي الثَّانِيَةِ ، فَيَحْصُلُ التَّعَادُلُ بَيْنَهُمَا ، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُوْنُ فِي كُلِّ مِنْهُمَا أَرْبَعَةُ أَرْكَانٍ ، وَلَوْ لَمْ يُحْسِنُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ وَلَمْ يُوْجَد|ْ مَنْ يُحْسِنُهُ غَيْرُهُ أَتَى بِبَدَلِ آلَايَةِ مِنْ ذِكْرٍ أَوْ دُعَاءِ ، فَإِنْ عَجَزَ وَقَفَ بِقَدْرِهَا

Ucapan Mushannif: "Pada salah satu dari dua khutbah," yang paling utama adalah letak ayat tersebut pada khutbah pertama agar ia (membaca ayat) menjadi tandingan bagi rukun doa untuk mukminin dan mukminat pada khutbah kedua, sehingga terjadi keseimbangan antara keduanya. Maka pada saat itu, masing-masing khutbah memiliki html empat rukun. Seandainya khatib tidak mahir sedikit pun dari Al-Qur'an dan tidak ditemukan orang lain yang mahir selain dirinya, maka ia mendatangkan pengganti ayat tersebut berupa dzikir atau doa. Jika ia tidak mampu (lemah), maka ia diam sejenak sesuai kadar lamanya membaca ayat.

وَخَامِسُهَا : الدُّعَاءُ ، أَيْ : بِأُخْرَوِيٌّ ؛ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي الأَخِيرَةِ ، أَيْ : فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ عُمُوْمًا أَوْ خُصُوصًا ، بَلِ الْأَوْلَى التَّعْمِيمُ ، وَلَا بَأْسَ بِتَخْصِيْصِهِ بِالسَّامِعِينَ ، كَقَوْلِهِ : « رَحِمَكُمُ اللَّهُ » ، وَيَكْفِي : « اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ » إِنْ قَصَدَ تَخْصِيْصَ الْحَاضِرِينَ

Kelima: Doa, yaitu doa untuk urusan akhirat; bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan pada khutbah terakhir, yakni pada khutbah kedua baik secara umum maupun khusus. Bahkan yang lebih utama adalah secara umum (mencakup semua mukmin), namun tidak mengapa mengkhususkannya bagi mereka yang hadir mendengarkan khutbah, seperti ucapan: "Rahimakumullah". Dan sudah mencukupi (rukun) dengan ucapan: "Allahumma ajirna minannar" (Ya Allah selamatkanlah kami dari api neraka) jika ia bermaksud mengkhususkannya bagi jamaah yang hadir.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : قَوْلُهُ « وَالْمُؤْمِنَاتِ » ، وَالْإِتْيَانُ بِهِ سُنَّةٌ ، وَلَيْسَ مِنَ الأَرْكَانِ ، فَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَكْفِ ، بِخِلَافِ مَا لَوِ اقْتَصَرَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ . انْتَهَى

Asy-Syarqawi berkata: Ucapan Mushannif "dan mukminat", menyertakannya adalah sunnah dan bukan termasuk rukun. Seandainya ia hanya mencukupkan pada lafadz "mukminat" saja, maka tidak mencukupi, berbeda halnya jika ia hanya mencukupkan pada lafadz "mukminin" saja (maka sah). Selesai.

وَلَا يَجُوزُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ جَمِيعَ ذُنُوبِهِمْ ؛ لِوُجُوْبِ اعْتِقَادِ دُخُولِ طَائِفَةٍ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ النَّارَ ، وَلَوْ وَاحِدًا ، وَمَا ذُكِرَ يُنَافِيْهِ ، بِخِلَافِ : اغْفِرْ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ ذُنُوْبَهُمْ ، أَوِ اغْفِر|ْ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيعَ ذُنُوبِهِمْ ؛ بِحَذْفِ لَفْظِ ( جَمِيعَ » فِي أَحَدِ الطَّرَفِيْنِ ، كَمَا قَالَهُ الشَّبْرَا مَلْسِيُّ

Tidak diperbolehkan mengucapkan: "Allahummaghfir lijami'il muslimina jami'a dzunubihim" (Ya Allah ampunilah bagi semua orang muslim semua dosa-dosa mereka). Karena wajib meyakini adanya sekelompok orang mukmin yang masuk neraka, meskipun hanya satu orang, sedangkan lafadz tersebut menafikan keyakinan tersebut. Berbeda dengan ucapan: "...ampunilah semua orang muslim (pada) dosa-dosa mereka" tanpa kata "semua" di salah satu sisinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syabramallisi.

وَأَمَّا الدُّعَاءُ لِلسُّلْطَانِ بِخُصُوْصِهِ فَلَا بَأْسَ بِهِ ، إِذَا لَم|ْ يَكُنْ فِيْهِ مُبَالَغَةٌ فِي وَصْفِهِ ، وَخُرُوجٌ عَنِ الْحَدِّ ، كَالْعَادِلِ الْمُعْطِي كُلَّ ذِي حَقٌّ حَقَّهُ الَّذِي لَا يَظْلِمُ ؛ فَهَذَا مَكْرُوهُ إِنْ لَمْ يَخْشَ مِنْ تَرْكِهِ ضَرَرًا أَوْ فِتْنَةٌ ، وَإِلَّا وَجَبَ كَمَا فِي قِيَامِ بَعْضِ النَّاسِ لِبَعْضٍ

Adapun mendoakan penguasa/pemimpin (as-sultan) secara khusus, maka tidak mengapa (boleh) selama tidak ada unsur berlebih-lebihan di dalamnya dalam sifatnya, dan keluar dari batas (kebenaran), seperti menyebut pemimpin yang adil dan memberikan hak kepada pemiliknya serta tidak zalim (padahal kenyataannya tidak). Hal ini hukumnya makruh jika tidak khawatir timbul bahaya (dharar) atau fitnah jika ditinggalkan; namun jika khawatir, maka hukumnya wajib sebagaimana hukum berdirinya sebagian orang untuk menghormati orang lain.

وَلَا يُشْتَرَطُ فِي خَوْفِ الْفِتْنَةِ غَلَبَةُ الظَّنَّ ، بَلْ يَكْفِي أَصْلُهُ . وَأَمَّا الدُّعَاءُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَوُلَاةِ أُمُوْرِهِمْ عُمُوْمًا بِالصَّلَاحِ وَالْهِدَايَةِ فَسُنَّةٌ . قَالَ عُثْمَانُ السُّوَيْفِيُّ : وَيُكْرَهُ لِلْخَطِيْبِ رَفْعُ يَدَيْهِ حَالَةَ الْخُطْبَةِ .

Dalam masalah takut fitnah, tidak disyaratkan harus sampai taraf dugaan kuat (ghalabatuz zhann), melainkan cukup ada dasar ketakutan saja. Adapun mendoakan para pemimpin umat Islam dan pemegang urusan mereka secara umum agar mendapatkan kebaikan dan hidayah, maka hukumnya sunnah. Utsman As-Suwaifi berkata: Makruh bagi khatib mengangkat kedua tangannya saat sedang berkhutbah.

فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْخُطْبَتَيْنِ لِلْجُمُعَةِ شُرُوطُ الْخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ بَلْ أَكْثَرُ : أَحَدُهَا : الطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ الْأَصْغَرِ وَالْأَكْبَرِ ، فَلَوْ أَحْدَثَ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ اسْتَأْنَفَهَا وُجُوْبًا ، وَإِنْ سَبَقَهُ الْحَدَثُ وَقَصُرَ الْفَضْلُ ،

Fasal: Syarat-Syarat Dua Khutbah Jumat. Syarat dua khutbah ada sepuluh, bahkan lebih. Pertama: Suci dari dua hadats (kecil dan besar). Jika khatib berhadats di tengah-tengah khutbah, maka ia wajib mengulanginya dari awal, meskipun hadats itu mendahuluinya (tidak sengaja) dan jedanya singkat.

بِخِلَافِ مَا لَوْ اسْتَخْلَفَ هُوَ أَوِ الْقَوْمُ وَاحِدًا مِنَ الْحَاضِرِيْنَ ، فَإِنَّهُ يَيْنِي عَلَى مَا فَعَلَهُ الْأَوَّلُ مِنَ الْخُطْبَةِ ، نَعَمْ ، لَا يَجُوزُ الْبِنَاءُ فِي الإِغْمَاءِ مُطْلَقًا ، فَإِذَا أُغْمِيَ عَلَى الْخَطِيبِ قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْخُطْبَتَيْنِ لَمْ يَجُزِ الْبَنَاءُ مِنْهُ وَلَا مِنَ الْخَلِيْفَةِ لِزَوَالِ الْأَهْلِيَّةِ فِيْهِ دُوْنَ الأَوَّلِ ، أَوْ أَحْدَثَ بَيْنَ الْخُطْبَةِ وَالصَّلَاةِ وَتَطَهَّرَ عَنْ قُرْبٍ لَم|ْ يَضُرَّ

Berbeda halnya jika ia menunjuk pengganti (istakhlafa) atau jamaah menunjuk satu orang dari yang hadir, maka pengganti tersebut meneruskan apa yang telah dilakukan oleh khatib pertama. Namun, tidak boleh meneruskan (bina') jika khatib pingsan secara mutlak. Apabila khatib pingsan sebelum menyempurnakan dua khutbah, maka tidak boleh diteruskan baik oleh dirinya sendiri maupun oleh penggantinya karena hilangnya kelayakan (ahliyah) pada dirinya, berbeda dengan kasus berhadats tadi. Atau jika ia berhadats di antara khutbah dan shalat, lalu ia bersuci dalam waktu dekat, maka hal itu tidaklah membahayakan (tetap sah).

وَثَانِيهَا : الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ ، وَكَذَا مَا يَتَّصِلُ بِهَا ، وَمِنْهُ سَيْفٌ أَوْ عُكَازَةٌ فِي أَسْفَلِهَا نَجَاسَةٌ ، أَوْ مَوْضُوعٌ عَلَيْهَا ، فَلَا يَجُوْزُ قَبْضُ ذَلِكَ ، وَلَا قَبْضُ حَرْفِ مِنْبَرٍ عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ فِي مَحَلَّ آخَرَ ؛ وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ عَظْمُ عَاجِ مِنْ عَظْمِ الْفِيلِ ، فَإِنْ قَبَضَ بِيَدِهِ عَلَى مَحَلَّ النَّجَاسَةِ بَطَلَتْ خُطْبَتُهُ مُطْلَقًا ، وَإِنْ قَبَضَ عَلَى مَحَلَّ طَاهِرٍ مِنْهُ ، فَإِنْ كَانَ يَنْجَرُ بِجَرِّهِ بَطَلَتْ أَيْضًا ، وَإِلَّا فَلَا

Kedua: Suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, begitu juga apa-apa yang bersambung dengannya. Termasuk di antaranya adalah pedang atau tongkat yang di bagian bawahnya ada najis, atau ada najis yang menempel padanya, maka tidak boleh memegangnya. Tidak boleh juga memegang pinggiran mimbar yang ada najisnya di bagian lain. Termasuk juga jika pada mimbar terdapat tulang gading gajah. Jika tangannya memegang tepat pada bagian yang najis, maka khutbahnya batal secara mutlak. Jika memegang bagian yang suci, namun benda (najis) itu ikut tertarik saat ia bergerak, maka batal juga; jika tidak ikut tertarik, maka tidak batal.

فَائِدَةٌ : قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ فِي « الْقَامُوسِ » : وَالْعَاجُ عَظْمُ الْفِيلِ ، وَمِنْ خَوَاصٌهِ أَنَّهُ إِنْ بُخْرَ بِهِ الزَّرْعُ أَوِ الشَّجَرُ لَم|ْ يَقْرَبُهُ دُوْدٌ ، وَشَارِبَتُهُ كُلَّ يَوْمٍ دِرْهَمَانِ بِمَاءٍ وَعَسَلٍ إِنْ جُوْمِعَتْ بَعْدَ سَبْعَةِ أَيَّامٍ حَبِلَتْ . أَنْتَهَى

Faidah: Muhammad bin Ya'qub berkata dalam "Al-Qamus": Al-'Aaj adalah tulang gajah. Di antara khasiatnya: jika asapnya digunakan untuk mengasapi tanaman atau pohon, maka ulat tidak akan mendekat. Barangsiapa meminumnya setiap hari sebanyak dua dirham dicampur air dan madu, lalu melakukan hubungan suami istri setelah tujuh hari, maka akan hamil. Selesai.

وَقَالَ أَحْمَدُ الْفَيُوْمِيُّ فِي « الْمِصْبَاحِ الْمُنِيرِ » : وَالْعَاجُ أَنْيَابُ الْفِيَلَةِ ، قَالَ اللَّيْثُ : وَلَا يُسَمَّى غَيْرُ النَّابِ عَابًا ، وَالْعَاجُ ظَهْرُ السُّلَحْفَاةِ الْبَحْرِيَّةِ ، وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ أَنَّهُ كَانَ لِفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سِوارٌ مِنْ عَاجِ ، وَلَا يَجُوْزُ حَمْلُهُ عَلَى أَنْبَابِ الْفِيَلَةِ ، لِأَنَّ أَنْيَابَهَا مَيْتَةٌ ، بِخِلَافِ السُّلَحْفَاةِ ، وَالْحَدِيْثُ حُجَّةٌ لِمَنْ يَقُوْلُ بِالطَّهَارَةِ . انْتَهَى

Ahmad Al-Fayyumi berkata dalam "Al-Misbahul Munir": Al-'Aaj adalah taring gajah. Al-Laits berkata: Tidak disebut 'Aaj kecuali bagian taringnya saja. Al-'Aaj juga berarti punggung penyu laut; atas dasar inilah dipahami bahwa Sayyidah Fatimah ra. memiliki gelang dari 'Aaj (berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud & Ahmad). Hal itu tidak boleh dimaknai sebagai taring gajah karena taringnya termasuk bangkai (najis), berbeda dengan penyu. Hadits tersebut menjadi hujah bagi yang berpendapat tentang kesuciannya. Selesai.

وَثَالِثُهَا : سَتْرُ الْعَوْرَةِ ، أَيْ : فِي حَقِّ الْخَطِيبِ لَا فِي حَقِّ سَامِعِيْهِ ، فَلَا يُشْتَرَطُ سَتْرُهُمْ ، وَكَذَا طُهْرُهُمْ ، وَلَا كَوْنُهُمْ بِمَحَلَّ الصَّلَاةِ ، وَلَا فَهْمُهُمْ لِمَا سَمِعُوْهُ ؛ كَمَا نَقَلَهُ الزَّيَّادِيُّ ، عَنِ ابْنِ حَجَرٍ . وَلَا يُشْتَرَطُ أَيْضًا نِيَّةُ الْخُطْبَةِ

Ketiga: Menutup aurat, yaitu bagi khatib, bukan bagi para pendengarnya. Maka tidak disyaratkan menutup aurat bagi para pendengar, begitu juga kesucian mereka (dari hadats/najis). Tidak disyaratkan pula mereka berada di tempat shalat, dan tidak disyaratkan mereka paham apa yang mereka dengar; sebagaimana dikutip oleh Az-Ziyadi dari Ibnu Hajar. Tidak disyaratkan juga niat khutbah.

قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَإِنَّمَا اشْتُرِطَ ذَلِكَ فِي حَقِّ الْخَطِيْبِ لِأَنَّ الْخُطْبَتَيْنِ بِمَنْزِلَةِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا قِيْلَ ، وَهُوَ مُتَلَبِّسٌ بِفِعْلِهِمَا ، بِخِلَافِ السَّامِعِيْنَ ؛ وَالظَّاهِرُ صِحَّةُ خُطْبَةِ الْعَاجِزِ عَنْ السُّتْرَةِ دُوْنَ الْعَاجِزِ عَنْ طُهْرِ الْحَدَثِ أَوِ الْخَبَثِ

Al-Bajuri berkata: Syarat tersebut hanya diwajibkan bagi khatib karena kedudukan dua khutbah itu seperti dua rakaat shalat sebagaimana dikatakan, dan khatib sedang melakukan perbuatan tersebut, berbeda dengan para pendengar. Secara lahiriyah, sah khutbah orang yang tidak mampu menutup aurat, namun tidak sah bagi yang tidak mampu bersuci dari hadats atau najis.

وَرَابِعُهَا : الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ ، قَالَ الرَّافِعِيُّ : وَقَدْ عَدُّوا الْقِيَامَ هُنَا شَرْطًا ، وَفِي الصَّلَاةِ رُكْنًا وَقَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ : لَا حَجْرَ فِي عَدِّهِ رُكْنًا فِي مَوْضِعِ ، وَشَرْطًا فِي آخَرَ ؛ وَفَرَّقَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّ الْمَق|ْصُوْدَ بِقِيَامِ الصَّلَاةِ وَقُعُوْدِهَا الْخِدْمَةُ ، فَعُدَّا رُكْنَيْنِ فِيْهَا ، وَالْمَقْصُوْدُ مِنَ الْخُطْبَةِ الْوَعْظُ لَا الْقِيَامُ فِيْهِ ، فَكَانَ بِالشَّرْطِ أَشْبَهَ . ذَكَرَهُ الزَّيَّادِيُّ

Keempat: Berdiri bagi yang mampu. Ar-Rafi'i berkata: Para ulama menganggap berdiri di sini (khutbah) sebagai syarat, sedangkan dalam shalat dianggap sebagai rukun. Imamul Haramain berkata: Tidak ada larangan menyebutnya rukun di satu tempat dan syarat di tempat lain. Sebagian ulama membedakan bahwa tujuan berdiri dan duduk dalam shalat adalah bentuk pengabdian (khidmat), maka keduanya rukun. Sedangkan tujuan khutbah adalah nasihat, bukan berdirinya itu sendiri, maka ia lebih mirip sebagai syarat. Hal ini disebutkan oleh Az-Ziyadi.

وخَامِسُهَا : الْجُلُوسُ بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِينَةِ الصَّلَاةِ ، وَالْمُرَادُ بِالْفَوْقِيَّةِ هُنَا الارْتِقَاءُ وَالْوُصُوْلُ بِأَنْ يَصِلَ الْجُلُوسُ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ إِلَى قَد|ْفِ قَدْرِ الطُّمَأْنِيْنَةِ فِي الصَّلَاةِ ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِذَلِكَ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ ، بِأَنْ يَزِيدَ عَلَيْهِ فِي طُوْلِهِ ، لِأَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ ، بَلِ الَّذِي يُشْتَرَطُ فِيْهِ أَصْلُ الطُّمَأْنِينَةِ فَقَط

Kelima: Duduk di antara dua khutbah sesuai kadar thuma'ninah dalam shalat. Yang dimaksud "fauqa" (di atas/sesuai) di sini adalah sampai pada kadar thuma'ninah shalat. Bukan bermaksud harus lebih lama durasinya dari thuma'ninah shalat, karena tidak disyaratkan lebih lama, melainkan yang disyaratkan hanyalah pokok (asal) thuma'ninah itu sendiri saja.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَأَقَلُّ الْجُلُوسِ أَنْ يَكُوْنَ بِقَد|ْفِ بِقَدْرِ الطَّمَأْنِيَّنَةِ فِي الصَّلَاةِ ، كَمَا فِي الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَيُسَنُّ أَنْ يَكُوْنَ بِقَدْرِ سُوْرَةِ الإِخْلَاصِ ، وَأَنْ يَقْرَأَهَا فِيْهِ ؛ فَلَوْ تَرَكَ الْجُلُوسُ بَيْنَهُمَا حُسِبَنَا وَاحِدَةٌ ، فَيَجْلِسُ وَيأْتِي بِخُطْبَةٍ أُخْرَىٰ ؛ وَمَنْ خَطَبَ قَاعِدًا لِعُذْرِ فَصَلَ بَيْنَهُمَا وُجُوْبًا بِسَكْتَةٍ فَوْقَ سَكْتَةِ التَّنَفُّسِ وَالْعِيِّ ، بِكَسْرِ الْعَيْنِ ، أَيْ : التَّعَبِ ، أَيْ : زَائِدَةٍ عَلَيْهَا

Asy-Syarqawi berkata: Minimal duduk (di antara dua khutbah) adalah seukuran thuma'ninah dalam shalat, sebagaimana duduk di antara dua sujud. Disunnahkan lamanya duduk seukuran membaca surat Al-Ikhlas, dan hendaknya khatib membacanya saat duduk tersebut. Jika khatib meninggalkan duduk di antara keduanya, maka dua khutbah itu hanya dihitung satu, maka ia harus duduk lalu mendatangkan satu khutbah lagi. Barangsiapa yang berkhutbah sambil duduk karena uzur, maka wajib memisahkan keduanya dengan diam (saktah) yang melebihi durasi diam untuk sekadar ambil napas atau karena lelah.

قَالَ السُّوَيْفِيُّ : وَمِثْلُهُ مَنْ خَطَبَ قَائِمًا وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْجُلُوسِ ، أَوْ خَطَبَ مُضْطَجِعًا ، فَيَفْصِلُ كُلٌّ مِنْهُمَا بِسَكْتَةٍ ، وَالْأَوْلَى لِلْعَاجِزِ الاسْتِنَابَةُ ، فَلَوْ تَرَكَ الْجُلُوسَ لَمْ تَصِحَّ خُطْبَتُهُ ، إِذِ الشُّرُوْطُ يَضُرُّ الْإِخْلَالُ بِهَا ، وَلَوْ مَعَ السَّه|ْوِ . انْتَهَى . وَسَادِسُهَا : الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا ، أَيْ : بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ

As-Suwaifi berkata: Begitu juga bagi orang yang berkhutbah sambil berdiri namun tidak mampu duduk, atau berkhutbah sambil berbaring, maka masing-masing memisahkan dengan diam sejenak. Yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menunjuk pengganti (istinabah). Jika ia meninggalkan duduk (tanpa uzur), maka khutbahnya tidak sah, karena pelanggaran terhadap syarat dapat membatalkan meskipun karena lupa. Selesai. Keenam: Berkesinambungan (mualat) di antara keduanya, yakni di antara dua khutbah.

وَسَابِعُهَا : الْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ ، أَيْ : وَبَيْنَ أَرْكَانِ كُلِّ مِنْهَا ، بِأَنْ لَا يَطَوْلَ فَصْلٌ عُرْفًا فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ الثَّلَاثَةِ . وَضُبِطَ طُوْلُهُ بِقَد|ْفِ بِقَدْرِ رَكْعَتَيْنِ بِأَخَفِّ مُمْكِنٍ ، فَإِنْ نَقَصَ عَنْ ذَلِكَ لَم|ْ يَضُرَّ ، وَلَا يَضُرُّ تَخَلُّلُ الْوَعْظِ بَيْنَ أَرْكَانِهِمَا وَإِنْ طَالَ ، وَكَذَا قِرَاءَةٌ وَإِنْ طَالَتْ حَيْثُ تَضَمَّنَتْ وَع|ْظًا ، خِلَافًا لِمَنْ أَطْلَقَ الْقَطْطَعَ بِهَا ، فَإِنَّهُ غَفْلَةٌ عَنْ كَوْنِهِ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي خُطْبَتِهِ ق . أَفَادَهُ الْبَاجُوْرِيُّ

Ketujuh: Berkesinambungan di antara keduanya dan shalat, maksudnya juga di antara rukun-rukun masing-masing khutbah, dengan syarat tidak ada pemisah yang lama menurut urf pada tiga tempat ini. Standar lamanya adalah seukuran dua rakaat shalat yang paling ringan dilakukan. Jika kurang dari itu maka tidak mengapa. Tidak masalah jika di sela-sela rukun terdapat nasihat meskipun lama, begitu juga bacaan (ayat) meskipun lama selama mengandung nasihat. Hal ini berbeda dengan pendapat yang secara mutlak mengatakan hal itu memutus khutbah; pendapat tersebut dianggap lalai dari fakta bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surat Qaf dalam khutbahnya. Demikian penjelasan Al-Bajuri.

قَالَ السُّوَيْفِيُّ : فَلَوْ عَلِمَ تَرْكَ رُكْنٍ وَلَمْ يَد|ْفِ يَدْرِ هَلْ هُوَ مِنَ الْأَوْلَى أَوِ الثَّانِيَةِ، هَلْ يَجِبُ إِعَادَتُهُمَا أَمْ إِعَادَةُ الثَّانِيَةِ فَقَطْ ؟ فِيْهِ نَظَرُ ، وَالْأَقْرَبُ أَنْ يَجْلِسَ ، ثُمَّ يَأْتِي بِالْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُوْنَ الْمَتْرُوكُ مِنَ الْأَوْلَى ، فَيَكُوْنُ جُلُوسُهَا لَغْوًا فَتَكْمُلُ بِالثَّانِيَةِ ، وَيُجْعَلُ مَجْمُوْعُهُمَا خُطْبَةٌ أُوْلَى ، فَيَجْلِسُ بَعْدَهَا وَيأْتِي بِالثَّانِيَةِ وَبِتَقْدِيرِ كَوْنِ الْمَتْرُوكِ مِنَ الثَّانِيَةِ ، فَالْجُلُوسُ بَعْدَهَا لَا يَضُرُّ ، لِأَنَّ غَايَتَهُ أَنَّهُ جُلُوسٌ بَعْدَ الْخُطْبَةِ ، وَهُوَ لَا يَضُرُّ ، وَمَا يَأْتِي بِهِ بَعْدُ تَكْرِيرٌ لِمَا أَتَى بِهِ مِنَ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ وَاسْتَبْدَالٌ لِمَا تَرَكَهُ مِنْهَا ؛ أَمَّا لَوْ شَكَّ فِي تَرْكِ الرُّكْنِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الْخُطْبَةِ لَمْ يُؤَثِّرُ ، كَالالشَّكَ فِي تَرْكِ رُكْنٍ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الصَّلَاةِ

As-Suwaifi berkata: Seandainya diketahui ada rukun yang ditinggalkan namun tidak diketahui apakah itu dari khutbah pertama atau kedua, apakah wajib mengulang keduanya atau cukup yang kedua saja?. Dalam hal ini ada tinjauan (nadzar), dan pendapat yang paling dekat adalah hendaknya ia duduk, lalu mendatangkan khutbah kedua; karena ada kemungkinan yang ditinggalkan berasal dari khutbah pertama, sehingga duduknya tadi dianggap sia-sia dan disempurnakan dengan khutbah kedua. Maka gabungan keduanya dianggap sebagai khutbah pertama, lalu ia duduk setelahnya dan mendatangkan khutbah kedua. Dengan asumsi rukun yang ditinggalkan berasal dari khutbah kedua, maka duduk setelahnya tidaklah membahayakan, karena itu hanyalah duduk setelah khutbah. Adapun apa yang ia datangkan setelahnya dianggap sebagai pengulangan untuk khutbah kedua dan pengganti rukun yang ia tinggalkan. Namun jika keraguan tentang meninggalkan rukun terjadi setelah selesai khutbah, maka hal itu tidak berpengaruh, sebagaimana ragu meninggalkan rukun setelah selesai shalat.

وَثَامِنُهَا : أَنْ تَكُوْنَا بِالْعَرَبِيَّةِ ، أَيْ : أَنْ تَكُوْنَ أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ بِكَلَامِ الْعَرَبِ ، وَإِنْ كَانَ الْقَوْمُ عَجَمًا لَا يَفْهَمُوْنَهَا ، لِأَنَّهُمْ يَعْرِفُوْنَ أَنَّهُ يَعِظُهُمْ فِي الْجُمْلَةِ ، أَيْ : فِي غَيْرِ هَذِهِ الصُّوْرَةِ ؛ فَالْمَدَارُ عَلَى مَعْرِفَتِهِمْ بِقَرِيَّنَةِ أَنَّهُ وَاعِظُ وَإِنْ لَم|ْ يَعْرِفُوْا مَا يَعِظُهُمْ بِهِ ؛ وَيَجِبُ أَنْ يَتَعَلَّمَ وَاحِدٌ مِنْهُمُ الْعَرَبِيَّةَ ، فَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّمْ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَثِمُوْا كُلُّهُمْ ، وَلَا تَصِحُّ خُطْبَتُهُمْ قَبْلَ التَّعَلُّمِ ، فَيُصَلُّوْنَ ظُهْرًا ؛ هَذَا كُلُّهُ مَعَ إِمْكَانِ التَّعَلُّمِ

Kedelapan: Hendaknya kedua khutbah menggunakan bahasa Arab, maksudnya rukun-rukun dua khutbah harus menggunakan ucapan orang Arab, meskipun jamaah yang hadir adalah orang ajam (non-Arab) yang tidak memahaminya. Karena secara garis besar mereka tahu bahwa khatib sedang menasihati mereka. Maka tolak ukurnya adalah pengetahuan mereka melalui tanda-tanda (qarinah) bahwa ia adalah seorang penasihat, meskipun mereka tidak tahu apa yang ia nasihatkan. Wajib bagi salah satu dari mereka untuk belajar bahasa Arab. Jika tidak ada satu pun yang belajar, maka semuanya berdosa, dan khutbah mereka tidak sah sebelum belajar, sehingga mereka harus shalat Zhuhur; ini semua berlaku jika memungkinkan untuk belajar.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : فَإِنْ لَمْ يُمْكِنُ خَطَبَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ بِلِسَانِهِ وَيُشْتَرَطُ فَهْمُ الْحَاضِرِينَ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . وَقَالَ السُّوَيْفِيُّ : فَإِنْ لَمْ يُمْكِنُ ، أَيْ : التَّعَلَّمُ ، خَطَبَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ بِلِسَانِهِ وَإِنْ لَمْ يَفْهَمْهُ الْحَاضِرُوْنَ ، بِأَنِ اخْتَلَفَتْ لُغَاتُهُمْ ، وَظَاهِرُهُ وَإِنْ

Asy-Syarqawi berkata: Jika tidak memungkinkan (belajar), maka salah satu dari mereka berkhutbah dengan bahasa apa pun yang dikehendaki. Syaratnya, jamaah yang hadir harus memahami bahasa tersebut menurut pendapat yang mu'tamad. Berbeda dengan bahasa Arab yang tidak disyaratkan pemahaman jamaah atasnya, karena bahasa Arab adalah asalnya sedangkan bahasa selainnya adalah pengganti (badal). As-Suwaifi berkata: Jika tidak memungkinkan belajar, maka salah satu dari mereka berkhutbah dengan bahasanya meskipun para hadirin tidak memahaminya karena perbedaan bahasa mereka.

أَحْسَنَ مَا أَحْسَنَهُ الْقَوْمُ فَلَا يَتَعَيَّنُ أَنْ يَخْطُبَ بِهِ ، فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْ أَحَدٌ مِنْهُمُ التَّرْجَمَةَ فَلَا جُمُعَةَ لَهُمْ ، لِانْتِفَاءِ شَرْطِهَا . وَقَالَ أَيْضًا نَقْلًا عَنِ الْبِرْمَاوِيِّ : وَمَحَلُّ اشْتِرَاطِ كَوْنِ أَرْكَانِ الْخُطْبَةِ بِالْعَرَبِيَّةِ إِنْ كَانَ فِي الْقَوْمِ عَرَبِيٌّ ، وَإِلَّا كَفَىٰ كَوْنُهُمَا بِالْعَجَمِيَّةِ إِلَّا فِي الْايَةِ ، فَهِيَ كَالْفَاتِحَةِ ، فَلَا بُدَّ فِيْهَا مِنَ الْعَرَبِيَّةِ . وَتَاسِعُهَا : أَنْ يُسْمِعَهَا أَرْبَعِينَ ، أَيْ : أَنْ يُسْمِعَ الْخَطِيْبُ أَرْكَانَ الْخُطْبَتَيْنِ لِلأَرْبَعِيْنَ الَّذِينَ تَنْعَقِدُ بِهِمْ الْجُمُعَةُ ، وَمِنْهُمُ الإِمَامُ ، أَيْ : يَجِبُ الإِسْمَاعُ مِنَ الْخَطِيْبِ بِالْفِعْلِ ، بِأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ حَتَّى يَسْمَعَهُ الْجَالِسُوْنَ ؛ أَمَّا السَّمَاعُ مِنَ الْجَالِسِيْنَ فَيَجِبُ بِالْقُوَّةِ ، بِأَنْ يَكُوْنُوْا بِحَيْثُ لَوْ أَصْغَوْا لَسَمِعُوْا ، فَلَا يَضُرُّ نَحْو لَغَطٍ ، بِخِلَافِ الصَّمَمِ وَالْبُعْدِ وَالنَّوْمِ الثَّقِيْلِ ، وَلَوْ لِبَع|ْفِ لِبَعْضِهِم|ْ ، لَا مُجَرَّدُ النُّعَاسِ ، فَلَا يَضُرُّ ؛ نَعَمْ لَا يَضُرُّ صَمَمُ الإِمَامِ ، لِأَنَّهُ يَعْرِفُ مَا يَقُوْلُ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ ؛ كَمَا قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ

(yang paling baik dari apa yang diketahui oleh kaum tersebut, maka tidak ditentukan harus berkhutbah dengannya. Jika tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menerjemahkannya, maka tidak ada Jumat bagi mereka karena ketiadaan syaratnya.) Beliau (Mushannif) juga berkata dengan mengutip dari Al-Birmawi: Tempat disyaratkannya rukun khutbah dengan bahasa Arab adalah jika di tengah kaum tersebut ada orang Arab. Jika tidak ada, maka cukup keduanya (khutbah) dengan bahasa ajam (selain Arab) kecuali pada ayat Al-Qur'an. Sebab ayat Al-Qur'an itu seperti Al-Fatihah, maka harus (dibaca) dengan bahasa Arab. Kesembilan: Hendaknya memperdengarkannya kepada empat puluh orang. Maksudnya: Khatib memperdengarkan rukun dua khutbah kepada empat puluh orang yang dengannya shalat Jumat menjadi sah, dan imam termasuk di dalamnya. Yaitu wajib bagi khatib memperdengarkan secara aktual (bil fi'li) dengan cara mengangkat suaranya hingga orang-orang yang duduk mendengarnya. Adapun pendengaran dari orang-orang yang duduk, maka wajib secara potensi (bil quwwah), yaitu sekira-kira jika mereka menyimak niscaya mereka akan mendengar. Maka tidaklah berbahaya seperti adanya suara gaduh, berbeda halnya dengan tuli, jarak yang jauh, atau tidur yang lelap meskipun hanya bagi sebagian mereka. Adapun sekadar kantuk, maka tidaklah mengapa. Benar, tidaklah mengapa ketulian imam (khatib), karena ia mengetahui apa yang ia ucapkan meskipun tidak mendengarnya; sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syarqawi.

``` ```

(١) الْمُعْتَمَدُ في الخطبتين . عِصَامٌ . / (١) أَمَّا السَّمَاعُ مِنَ الْجَالِسِيْنَ فَيَجِبُ بِالْقُوَّةِ بِمَعْنَى عَدَمِ الْمَانِعِ طَبِيْعِيًّا.

(1) Pendapat yang mu'tamad (kuat) adalah (makruh menoleh) pada kedua khutbah. Keterangan dari Syekh Isham. / (1) Adapun pendengaran dari jamaah yang duduk wajib secara potensi, maknanya adalah tidak adanya penghalang yang bersifat thabi'i (alami seperti tuli).

``` ```
🔤 Mufrodat Penting
  • الْمُسْتَرَاحِ (Al-Mustarah): Tempat istirahat / anak tangga mimbar teratas tempat duduk khatib.
  • مَادَّةُ الْحَمْدِ (Maddatul Hamd): Kata dasar H-M-D (wajib dipakai dalam rukun).
  • الْعَاجُ (Al-'Aaj): Tulang/taring gajah (atau punggung penyu laut).
  • بِالْقُوَّةِ (Bil Quwwah): Secara potensi (sekira-kira kalau dengerin bakal kedengeran).
📝 Catatan Murid (MAN 1 Jakarta)

"Catetan penting kata Abi Ahmad, rukun khutbah itu ada 5 secara global, tapi aslinya ada 8 karena yang 3 diulang di khutbah pertama sama kedua. Terus masalah dhomir (kata ganti) buat shalawat itu kagak sah walaupun udah disebutin nama nabi sebelumnya. Harus pake lafadz dhohir!"

``` ```
📦 Takhrij & Referensi Ulama:
Ibnu Hajar di kitab Al-Manhajul Qawim negasin makruh hukumnyee metuk-metuk tongkat atau pedang pas naik mimbar. Terus Imam Ar-Ramli ama Ibnu Hajar agak beda dikit di rukun wasiat takwa: Ibnu Hajar bilang sebut perintah atau larangan doang udah cukup, tapi kalau Ar-Ramli kudu ada modal anjuran buat taat (Al-Hatstsu 'ala ath-tha'ah). Jangan cuma nakut-nakutin dunya doang, wong orang kafir ge tau dunya mah nipu!
🚨 Kotak Kasus Nyata:
Khatib lagi khutbah ke-2, tau-tau sound system masjid mati total (bener-bener jepret!). Gimana sahnye? Sesuai keterangan hal. 385, syarat jemaah denger itu Bil Quwwah (secara potensi). Jadi kalau sound mati gara-gara kendala teknis tapi kuping jemaah normal kagak budek, dan khatib suaranya udah diangkat sewajarnya, khutbah tetep SAH karena kagak ada penghalang alami (thabi'i) dari jemaah. Beda ceritanyee kalau khatib sengaja bisik-bisik, nah itu baru kagak sah!
⚠️ Kotak Bahaya Laten (Awas Bid'ah & Rusak Rukun!):
Jangan sok-sokan pinter ngerobah lafadz doa di khutbah kedua jadi: "Allahummaghfir lijami'il muslimina jami'a dzunubihim" (pake dobel kata 'jami' / semua-semuanyee). Syeikh Asy-Syabramallisi ngalarang keras! Kenapa? Karena kita ahli sunnah wajib yakin bakalan ada sekelompok pendosa dari umat Islam yang mampir ke neraka dulu sebelum ke surga. Kalau ente mintain ampunan total plek buat semuanyee tanpa sisa, itu namenye menafikan akidah aslinye! Buang salah satu kata 'jami'-nye biar slamet!
=========================== ```
HALAMAN 386

قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَيُعْتَبَرُ عَلَى الأَصَحٌ عِنْدَ النَّوَوِيِّ وَالرَّافِعِيُّ وَغَيْرِهِمَا إِسْمَاعُهُمْ لَهَا بِالْفِعْلِ لَا بِالْقُوَّةِ (٢) ،

Az-Ziyadi berkata: Dan menurut pendapat yang paling shahih di sisi An-Nawawi, Ar-Rafi'i, dan lainnya, dianggap (syarat) pendengaran mereka terhadap khutbah secara aktual (bil fi'li), bukan sekadar potensi (bil quwwah) (2) .

فَلَا تَجِبُ الْجُمُعَةُ عَلَى أَرْبَعِيْنَ بَعْضُهُمْ صُمٌ، وَلَا تَصِحٌ مَعَ وُجُوْدِ لَغَطٍ يَمْنَعُ سَمَاعَ رُكْنٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ فِيْهَا . أَنْتَهَى .

Maka tidak wajib shalat Jumat atas empat puluh orang yang sebagian mereka ada yang tuli, dan tidak sah dengan adanya kegaduhan yang menghalangi pendengaran terhadap rukun menurut pendapat yang mu'tamad di dalamnya. Selesai.

وَنُقِلَ عَنِ الْأُجْهُوْرِي أَنَّهُ يُشْتَرَطُ سَمَاعُ الْأَرْكَانِ فِي آنٍ وَاحِدٍ ، لِأَنَّ

Dan dinukil dari Al-Ajhuri bahwa disyaratkan pendengaran terhadap rukun-rukun (khutbah) dalam satu waktu secara bersamaan, karena...

HALAMAN 387

الْمَقْصُوْدَ ظُهُورُ الشِّعَارِ ، وَلَا يُوْجَدُ إِلَّا بِأَرْبَعِيْنَ فِي آنٍ وَاحِدٍ ،

...tujuannya adalah menampakkan syiar, dan hal itu tidak terwujud kecuali dengan empat puluh orang dalam satu waktu yang sama.

وَبِذَلِكَ أَفْتَى شَيْخُ الإِسْلَامِ ، فَلَوْ سَمِعَ الأَرْكَانَ عِشْرُوْنَ مَثَلًا ، وَذَهَبُوا ، فَجَاءَ عِشْرُوْنَ ، فَأَعَادَ لَهُمْ الأَرْكَانَ، ثُمَّ حَضَرَ مَنْ سَمِعَ أَوَّلًا فَلَا يَكْفِي ؛

Demikianlah Syaikhul Islam berfatwa. Maka seandainya rukun-rukun (khutbah) didengar oleh dua puluh orang misalnya, lalu mereka pergi, kemudian datang dua puluh orang lainnya, lalu khatib mengulang rukun-rukun itu untuk mereka, kemudian hadir pula orang-orang yang mendengar di awal tadi, maka hal itu tidaklah cukup.

وَسُنَّ لِمَنْ سَمِعَ الْخُطْبَةَ سُكُوْتُ مَعَ إِصْغَاءِ . قَالَ الرَّحْمَانِيُّ : وَيُكْرَهُ الْكَلَامُ مِنَ الْمُسْتَمِعِينَ حَالَ الْخُطْبَةِ خِلَافًا لِلأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ ، حَيْثُ قَالُوا : إِنَّهُ يَحْرُمُ ،

Dan disunnahkan bagi orang yang mendengar khutbah untuk diam sembari menyimak. Ar-Rahmani berkata: Dimakruhkan berbicara bagi para pendengar saat khutbah berlangsung, berbeda dengan tiga imam lainnya (Maliki, Hambali, Hanafi) di mana mereka berpendapat bahwa hal itu haram.

وَحَمَلْنَا الآيَةَ عَلَى النَّدْبِ ، وَهُوه قَوْلُهُ تَعَالَى : ﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا ﴾ [٧ سورة الأعراف / الآية : ٢٠٤ ] فَإِنَّهَا نَزَلَتْ فِي الْخُطْبَةِ ، وَسُمِّيَتْ قُرْآنًا لِاشْتِمَالِهَا عَلَيْهِ ؛

Dan kami membawa (memahami) ayat tersebut sebagai anjuran (mandub), yaitu firman Allah Ta'ala: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah..." [QS. Al-A'raf: 204]. Karena ayat tersebut turun mengenai khutbah, dan khutbah dinamakan Al-Qur'an karena khutbah mencakup Al-Qur'an di dalamnya.

نَعَمْ إِنْ دَعَتْ لَهُ ضَرُوْرَةٌ وَجَبَ أَوْ سُنَّ ، كالتَّعْلِيمِ الْوَاجِبِ وَالنَّهْيِ عَنْ مُحَرَّم ؛ وَلَا يُكْرَهُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ وَبَعْدَهَا وَبَيْنَهُمَا ، وَلَوْ لِغَيْرِ حَاجَةٍ ؛ وَيَجِبُ رَدُّ السَّلَامِ وَإِنْ كُرِهَ ابْتِدَاؤُهُ

Benar, jika ada kebutuhan darurat untuk berbicara, maka hukumnya wajib atau sunnah, seperti pengajaran yang wajib atau mencegah kemungkaran. Dan tidak dimakruhkan (berbicara) sebelum khutbah, setelahnya, maupun di antara keduanya, meskipun tanpa ada hajat. Dan wajib menjawab salam meskipun makruh untuk memulainya (saat khutbah).

وَعَاشِرُهَا : أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ لِلاتَّبَاعِ ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Kesepuluh: Hendaknya seluruhnya (khutbah and shalat) berada di waktu Dzuhur karena mengikuti (Sunnah Nabi), sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

وَبَقِيَ مِنْ شُرُوْطِ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ ، وَهِيَ : الذُّكُورَةُ ، وَوُقُوْعُهُمَا فِي خُطَّةِ أَبْنِيَةٍ ، وَفِعْلُهُمَا قَبْلَ الصَّلَاةِ ، وَالسَّمَاعُ مِنْ تِسْعَةٍ وَثَلَاثِينَ ، وَتَمْيِيزُ فُرُوضِهِمَا مِنْ سُنَتِهِمَا (١) كَمَا فِي الصَّلَاةِ ؛ وَأَمَّا تَرْتِيْبُ أَرْكَانِهِمَا فَلَيْسَ بِشَرْطٍ ، بَلْ سُنَّةٌ فَقَطْ .

Dan tersisa lima lagi dari syarat-syarat dua khutbah, yaitu: Laki-laki, bertempat di lingkungan bangunan, dilakukan sebelum shalat, didengar oleh tiga puluh sembilan orang, dan membedakan rukun keduanya dari sunnah keduanya (1) sebagaimana dalam shalat; adapun mengurutkan rukun-rukun keduanya bukanlah syarat, melainkan sunnah saja.

فَائِدَةٌ : وَرَدَ فِي الْخَبَرِ الترغيب في فضائل الأعمال » لابن شاهين ، [ ٢ / ٣٧٣ / ٤٧٢ ] أَنَّ ( مَنْ قَرَأَ عَقِبَ سَلَامِهِ مِنَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ أَنْ يَثْنِيَ رِجْلَهُ الْفَاتِحَةَ وَإِخْلَاصَ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ سَبْعًا سَبْعًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ، وَأُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ بِعَدَدِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ »

FAIDAH: Telah datang dalam riwayat (Al-Khabar) anjuran dalam "Fadhailul A'mal" karya Ibnu Syahin [2 / 373 / 472] bahwa: "Barang siapa yang membaca setelah salam shalat Jumat, sebelum ia melipat (mengubah posisi) kakinya: Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tujuh kali, maka akan diampuni baginya dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, dan diberikan pahala sebanyak jumlah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."

وَفِي رِوَايَةٍ لِابْنِ السُّنِّيِّ [ رقم : ٣٧٦ ] بِإِسْقَاطِ الْفَاتِحَةِ وَزِيَادَةِ : « وَأَنَّ ذَلِكَ يُعِيدُ مِنَ السُّوْءِ إِلَى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى » وَفِي رِوَايَةٍ بِزِيَادَةِ : « وَقَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ، حُفِظَ لَهُ دِينُهُ وَدُنْيَاهُ وَأَهْلُهُ وَوَلَدُهُ » وَذَكَرَ ذَلِكَ ابْنُ حَجَرٍ .

Dan dalam satu riwayat Ibnu Sinni [No: 376] tanpa menyebut Al-Fatihah dan ada tambahan: "Dan hal itu menjaganya dari keburukan hingga Jumat berikutnya." Dan dalam satu riwayat dengan tambahan: "Dan sebelum ia berbicara, maka akan dijaga baginya agamanya, dunianya, keluarganya, dan anaknya." Ibnu Hajar menyebutkan hal tersebut.

وَنُقِلَ عَنِ الزَّيَّادِيِّ أَنَّ كَيْفِيَّةَ ذَلِكَ أَنْ يَبْدَأَ بِالْفَاتِحَةِ ، ثُمَّ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد [ سورة الإخلاص ] ثُمَّ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [ ١١٣ سورة الفلق ] ثُمَّ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ [١١٤ سورة الناس ]

Dan dinukil dari Az-Ziyadi bahwa tata caranya adalah hendaknya memulai dengan Al-Fatihah, kemudian Qul Huwallahu Ahad [Surah Al-Ikhlas], kemudian Qul A'udzu bi Rabbil Falaq [113 Surah Al-Falaq], kemudian Qul A'udzu bi Rabbin Nas [114 Surah An-Nas].

وَنَقَلَ الْقَلْيُوْبِيُّ ، عَنْ شَيْخِهِ ، أَنَّ مَا وَرَدَ فِيْهِ أَمْرٌ مَخْصُوْصٌ تَفُوْتُ بِمُخَالَفَتِهِ ، فَيَفُوْتُ بِثَنِي رِجْلِهِ ، وَلَوْ بِجَعْلٍ يَمِينِهِ لِلْقَوْمِ وَقَوْلُهُ : « قَبْلَ أَنْ يَثْنِيَ رِجْلَهُ » ، أَيْ : قَبْلَ أَنْ يَصْرِفَ رِجْلَهُ عَنْ حَالَتِهِ الَّتِي هُوَ عَلَيْهَا فِي التَّشَهُدِ

Al-Qalyubi menukil dari gurunya, bahwa apa yang diperintahkan di dalamnya secara khusus maka keutamaannya bisa luput dengan menyelisihinya, maka akan luput dengan ia melipat kakinya, meskipun dengan menjadikan sisi kanannya menghadap kaum (jamaah). Dan perkataannya: "sebelum ia melipat kakinya", maksudnya: sebelum ia mengubah posisi kakinya dari keadaannya yang ia berada di atasnya saat tasyahud.

وَقَوْلُهُ : « مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ » ، أَيْ : مِنَ الصَّغَائِرِ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ . نَقَلَهُ الْمَنَاوِيُّ [ بَلِ السُّيُوطِيُّ فِي الجَامِعِ الصَّغِيرِ » ، رقم : ٨٩٥٥ ] ، عَنْ أَبِي الْأَسْعَدِ الْقُشَيْرِي ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا غَنِيٌّ ! يَا حَمِيدُ ! يَا مُبْدِئُ ! يَا مُعِيْدُ ! يَا رَحِيمُ !

Dan perkataannya: "dosanya yang telah lalu dan yang akan datang", maksudnya: dari dosa-dosa kecil jika dosa-dosa besar dijauhi. Dinukil oleh Al-Munawi [bahkan As-Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shaghir No: 8955] dari Abu Al-As'ad Al-Qusyairi. Kemudian ia membaca: "Ya Ghoniyyu! Ya Hamid! Ya Mubdi'u! Ya Mu'idu! Ya Rohimu!..."

HALAMAN 388

يَا وَدُوْدُ ! أَغْنِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ ، أَرْبَعَ مَرَّاتٍ وَرُوِيَ أَنَّ مَنْ وَاظَبَ عَلَيْهِ أَغْنَاهُ اللَّهُ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Wahai Dzat Yang Maha Mencintai! Cukupkanlah aku dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu, dan dengan ketaatan kepada-Mu dari kemaksiatan kepada-Mu, dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu, (dibaca) empat kali. Dan diriwayatkan bahwa barangsiapa yang mendawamkannya (istiqamah), maka Allah akan memberikan kekayaan kepadanya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

وَنَقَلَ الشَّرْقَاوِيُّ عَنْ شَيْخِهِ الشَّيْخِ الْحِفْنِي أَنَّ الدُّعَاءَ الْمَذْكُورَ وَارِدُ فِي حَدِيثٍ صَحِيحٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ [ راجع الترمذي ، رقم : ٣٥٦٣ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ۱۳۲۱ ؛ وحواشي الشرواني على ( تحفة المحتاج ) ٢ / ٤٦٤ ]

Asy-Syarqawi menukil dari gurunya, Syaikh Al-Hifni, bahwa doa yang disebutkan tersebut warid (ada) dalam hadits shahih dari Nabi ﷺ [Rujuk At-Tirmidzi, nomor: 3563; "Musnad Ahmad", nomor: 1321; dan Hasyiyah Asy-Syarwani atas (Tuhfatul Muhtaj) 2 / 464].

فَائِدَةٌ : عَنِ الْقُطْبِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الشَّعْرَانِي نَفَعَنَا اللَّهُ بِهِ ، أَنَّ مَنْ وَاظَبَ عَلَى قِرَاءَةِ هَذَيْنِ الْبَيْتَيْنِ فِي كُلِّ يَوْمٍ جُمُعَةٍ تَوَفَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى الْإِسْلَامِ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ ، وَهُمَا [ من الرجز ] : إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيمِ فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيمِ

Faidah: Dari Al-Quthb Abdul Wahhab Asy-Sya'rani -semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui beliau-, bahwa barangsiapa yang mendawamkan membaca dua bait (syi'ir) ini pada setiap hari Jumat, maka Allah Ta'ala akan mewafatkannya dalam keadaan Islam tanpa keraguan sedikit pun, dan keduanya adalah [dari bahar Rajaz]: Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Firdaus, namun aku tidak kuat menahan panasnya api neraka Jahim. Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosa-dosaku, karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun dosa yang besar.

وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُمَا يُقْرَآنِ [ خَمْسَ ] مَرَّاتٍ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ [ إعانة الطالبين » ١٠٦/٢ ] .

Dan dikutip dari sebagian ulama bahwa keduanya dibaca [lima] kali setelah shalat Jumat ["I'anatut Thalibin" 2 / 106].

فَصْلٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَيْتِ الَّذِي يَلْزَمُ ، بِفَتْحِ الزَّايِ ، أَيْ : يَجِبُ عَلَى الْكِفَايَةِ عَلَى مَنْ عَلِمَ

Fasal tentang hal-hal yang berkaitan dengan mayit. Perkataan (mushannif): "Perkara yang wajib", dengan fathah pada huruf Zay, maksudnya: wajib secara kifayah bagi orang yang mengetahui.

HALAMAN 389

بِمَوْتِهِ أَوْ ظَنَّهُ ، أَوْ لَمْ يَعْلَمْ بِذَلِكَ وَلَمْ يَظُنَّهُ لَكِنْ قَصَّرَ لِكَوْنِهِ بِقُرْبِهِ ، وَيُنْسَبُ فِي عَدَمِ الْبَحْثِ عَنْهُ إِلَى تَقْصِيرٍ مِنْ أَقَارِبِهِ وَغَيْرِهِمْ

Sebab kematiannya atau persangkaan akan kematiannya, atau ia tidak mengetahui hal tersebut dan tidak menyangkanya namun ia dianggap lalai karena keberadaannya yang dekat (dengan mayit), dan ketiadaan upaya mencari tahu tentangnya dinisbatkan kepada kelalaian dari para kerabatnya dan selain mereka.

لِلْمَيْتِ الْمُسْلِمِ ، وَلَوْ غَرِيْقًا ، غَيْرِ الْمُحْرِمِ بِنُسُكِ وَالشَّهِيدِ فِي مَحَلَّ مُحَارَبَةِ الْكُفَّارِ ، وَلَوْ صَبِيًّا ، أَوْ فَاسِقًا ، أَوْ مُحْدِثًا حَدَثًا أَكْبَرَ ؛ وَغَيْرِ السُّقْطِ فِي بَعْضٍ أَحْوَالِهِ

Bagi mayit muslim, meskipun ia tenggelam, selain orang yang sedang ihram dalam manasik dan orang yang mati syahid di medan peperangan melawan orang kafir, meskipun ia masih anak-anak, atau orang fasik, atau orang yang sedang berhadats besar; dan selain bayi prematur (suqth) dalam sebagian kondisi-kondisinya.

أَرْبَعُ خِصَالٍ ، أَيْ : كَامِلَةٍ ، وَهِيَ : بِكَسْرِ الْخَاءِ ، جَمْعُ خَصْلَةٍ بِفَتْحِهَا ، مِثْلُ خِلَالٍ وَخَلَّةٍ وَزْنًا وَمَعْنَى ؛ وَبَقِيَ خَامِسُ ، وَهُوَ الْحَمْلُ إِلَى مَوْضِعِ الدَّفْنِ .

Empat perkara, maksudnya: secara sempurna, dan ia adalah: dengan kasrah pada huruf Kha' (khishal), jamak dari khashlah dengan fathah; seperti kata khilal dan khallah secara timbangan (wazan) dan makna; dan tersisa perkara kelima, yaitu membawa mayit ke tempat pemakaman.

أَحَدُهَا : غَسْلُهُ ، أَيْ : أَوْ بَدَلُهُ ، وَهُوَ التَّيَمُّمُ ، كَمَا لَوْ أُحْرِقَ بِالنَّارِ ، وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ غُسَلَ تَهَرَّى ، وَكَمَا لَوْ لَمْ يُوْجَدْ إِلَّا أَجْنَبِيٌّ فِي الْمَرْأَةِ ، أَوْ أَجْنَبِيَّةٌ فِي الرَّجُلِ ؛ فَيُيَمَّمُ الْمَيْتُ فِيهِمَا بِحَائِلٍ ؛ نَعَمْ ، الصَّغِيرُ الَّذِي لَمْ يَبْلُغَ حَدَّ الشَّهْوَةِ يُغَسِّلُهُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ ، وَمِثْلُهُ الْخُنْثَى الْكَبِيرُ .

Pertama dari empat perkara tersebut: Memandikannya, maksudnya: atau penggantinya, yaitu tayamum, sebagaimana jika mayit terbakar api, yang sekiranya jika dimandikan maka (kulitnya) akan hancur/terkelupas, dan sebagaimana jika tidak ditemukan (yang memandikan) kecuali orang lain yang berlainan jenis (ajnabi) pada jenazah wanita, atau wanita lain (ajnabiyyah) pada jenazah laki-laki; maka mayit ditayamumkan pada kedua kondisi tersebut dengan penghalang; benar, anak kecil yang belum mencapai batas syahwat maka boleh dimandikan oleh laki-laki maupun perempuan, dan demikian pula bagi khuntsa (orang berkelamin ganda) yang sudah besar.

وَثَانِيهَا : تَكْفِينُهُ ، أَيْ : بَعْدَ غَسْلِهِ أَوْ بَدَلِهِ .

Keduanya: Mengkafaninya, maksudnya: setelah memandikannya or penggantinya (tayamum).

وَثَالِثُهَا : الصَّلَاةُ عَلَيْهِ ، أَيْ : بَعْدَ الْغَسْلِ وُجُوْبًا ، لِأَنَّهُ الْمَنْقُوْلُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ ، فَلَوْ تَعَذَّرَ ، كَأَنْ وَقَعَ فِي حُفْرَةٍ وَتَعَدَّرَ إِخْرَاجُهُ وَطُهْرُهُ ، لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ ، وَبَعْدَ التَّكْفِيْنِ نَدْبًا ، بَلْ تُكْرَهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ قَبْلَ تَكْفِيْنِهِ ، لِأَنَّهُ يُشْعِرُ بِالازْدِرَاءِ بِالْمَيْتِ

Ketiganya: Menshalatinya, maksudnya: wajib dilakukan setelah mandi, karena hal itulah yang dinukil dari Nabi ﷺ, maka jika tidak memungkinkan (mandi), seperti jatuh ke dalam lubang dan tidak mungkin dikeluarkan serta disucikan, maka tidak dishalati; dan (dilakukan) setelah mengkafani secara sunnah, bahkan dimakruhkan menshalati mayit sebelum mengkafaninya karena hal itu memberikan kesan penghinaan terhadap mayit.

HALAMAN 390

وَرَابِعُهَا : دَفْنُهُ ، أَيْ : فِي قَبْرٍ ؛ أَمَّا الْكَافِرُ فَلَا يَجِبُ غَسْلُهُ ، بَلْ هُوَ جَائِزٌ مُطْلَقًا ، سَوَاءٌ كَانَ ذِمَّيًا أَوْ غَيْرَهُ ؛ وَلَا تَجُوْزُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهَا حَرَامٌ مُطْلَقًا ، وَإِنْ كَانَ ذِمَّيًا أَوْ مُرْتَدًّا

Dan keempatnya: Menguburkannya, maksudnya: di dalam kubur; adapun orang kafir maka tidak wajib memandikannya, bahkan hukumnya boleh secara mutlak, baik ia kafir dzimmi maupun lainnya. Dan tidak boleh menshalatinya, karena hal itu haram secara mutlak, meskipun ia seorang dzimmi atau murtad.

وَيَجِبُ تَكْفِينُ الدِّمِّيَّ وَالْمُؤَمَّنِ وَالْمُعَاهَدِ ، وَدَفْنُهُمْ ، وَتَكْفِيْنِ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ فِي بَيْتِ الْمَالِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَيْنَا حَيْثُ لَا مَالَ لَهُمْ وَلَمْ يَكُن| لَهُمْ مَنْ تَلْزَمُهُمْ نَفَقَتُهُمْ وَفَاءً بِذِمَّةِ وَعَهْدِ وَأَمَانِ مَنْ ذُكِرَ ، كَمَا يَجِبُ إِطْعَامُهُمْ وَكِسْوَتُهُمْ

Wajib mengkafani kafir dzimmi, mu'amman, dan mu'ahad, serta menguburkan mereka. Biaya mengkafani ketiga jenis ini diambil dari Baitul Maal. Jika tidak ada (Baitul Maal), maka menjadi kewajiban kita (kaum muslimin) sekiranya mereka tidak punya harta dan tidak punya orang yang wajib menanggung nafkahnya, sebagai bentuk pemenuhan janji (dzimmah), perjanjian ('ahd), dan jaminan keamanan (aman) bagi mereka yang telah disebutkan, sebagaimana wajib memberi mereka makan dan pakaian (saat hidup).

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمُعَاهَدِ وَالْمُؤَمَّنِ أَنَّ الْمُعَاهَدَ هُوَ الَّذِي عَقَدَ مَعَ الإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ خَاصَّةً بِالْمُصَالَحَةِ عَلَى تَرْكِ الْقِتَالِ مُدَّةٌ مَعْلُوْمَةٌ ، أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَأَقَلَّ عِنْدَ قُوَّتِنَا ، وَعَشْرَ سِنِيْنٍ عِنْدَ ضَعْفِنَا . وَيُسَمَّى أَيْضًا مُوَادِعًا وَمُهَادِنَا وَمُسَالِمًا ؛ وَالْمُؤْمَّنُ كَذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ عَقْدُ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ ، وَأَنَّهُ قَدْ يَعْقِدُهُ الَا حَادُ أَيْضًا

Perbedaan antara mu'ahad dan mu'amman adalah bahwa mu'ahad adalah orang yang mengadakan perjanjian damai secara khusus dengan Imam (pemimpin) atau wakilnya untuk menghentikan peperangan dalam jangka waktu yang diketahui, yaitu empat bulan atau kurang saat kita dalam kondisi kuat, dan sepuluh tahun saat kita dalam kondisi lemah. Ia disebut juga muwadi', muhadin, dan musalim. Sedangkan mu'amman itu serupa dengannya, hanya saja tidak boleh mengadakan perjanjian lebih dari empat bulan, dan perjanjiannya bisa dilakukan oleh individu-individu (rakyat biasa) juga.

وَلَا يَجِبُ تَكْفِينُ الْحَرْبِيِّ وَالْمُرْتَدَّ وَالزِّنْدِيْقِ ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَتَمَسَّكُ بِشَرِيعَةٍ ، وَيَقُوْلُ بِدَوَامِ الدَّهْرِ ؛ وَقِيلَ : هُوَ الَّذِي لَا يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ وَلَا بِوَحْدَانِيَّةِ الْخَالِقِ . وَلَا يَجِبُ دَفْتُهُمْ ، بَل| يَجُوْزُ إِغْرَاءُ الْكِلَابِ عَلَيْهِمْ ، لَكِنَّ الْأَوْلَى مُوَارَاتُهُمْ لِئَلَّا يَتَأَذَّى النَّاسُ بِرَائِحَتِهِمْ ، بَلْ تَجِبُ إِذَا تَحَقَّقَ الْأَذَى مِنْهُمْ

Dan tidak wajib mengkafani kafir harbi, orang murtad, dan orang zindiq. Zindiq adalah orang yang tidak berpegang pada suatu syariat dan berpendapat tentang kekekalan alam (dahr); dan dikatakan: ia adalah orang yang tidak beriman kepada akhirat dan tidak pula kepada keesaan Sang Pencipta. Tidak wajib menguburkan mereka, bahkan boleh membiarkan anjing memangsa mereka, namun yang lebih utama (aula) adalah menguburkan mereka agar manusia tidak terganggu dengan baunya, bahkan hukumnya menjadi wajib jika sudah nyata-nyata menimbulkan gangguan bau.

HALAMAN 391

وَأَمَّا الْمُحْرِمُ الذَّكَرُ فَلَا يُلْبَسُ مُحِيطًا وَلَا يُسْتَرُ رَأْسَهُ ، وَالْمَرْأَةُ وَالْخُنْثَى لَا يُسْتَرُ وَجْهُهُمَا وَلَا كَفَّاهُمَا بِقُفَّازَيْنِ ؛ وَيَحْرُمُ أَيْضًا أَنْ يُقَرَّبَ لَهُمْ طِيبٌ ، كَكَافُوْرٍ وَحَنُوْطٍ فِي أَبْدَانِهِمْ وَأَكْفَانِهِمْ وَمَاءِ غَسْلِهِمْ ، إِبْقَاءَ لِأَثَرِ الإِحْرَامِ ، لِأَنَّ النُّسُكَ لَا يَبْطُلُ بِالْمَوْتِ .

Adapun orang yang sedang ihram laki-laki, maka tidak dipakaikan pakaian yang berjahit (muhith) dan tidak ditutup kepalanya. Dan bagi perempuan serta khuntsa, maka tidak ditutup wajah keduanya dan tidak pula kedua telapak tangannya dengan dua sarung tangan. Diharamkan juga untuk mendekatkan wewangian kepada mereka, seperti kapur barus dan ramuan minyak wangi (hanuth) pada tubuh mereka, kain kafan mereka, serta air pemandian mereka, demi menjaga bekas ihramnya, karena ibadah manasik tidaklah batal dengan sebab kematian.

وَأَمَّا الشَّهِيدُ ، فَيَحْرُمُ غَسْلُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ دَفْتُهُ فِي ثِيَابِهِ فَقَدْ ، وَلَوْ مِنْ حَرِيْرٍ بَعْدَ نَزْعِهَا مِنْهُ عَقِبَ مَوْتِهِ وَعَوْدُهَا إِلَيْهِ عِنْدَ التَّكْفِيْنِ .

Adapun orang yang syahid, maka haram memandikannya dan menshalatinya, dan disunnahkan menguburkannya dalam pakaiannya saja, meskipun (pakaian itu) dari sutra setelah pakaian itu dilepaskan darinya sesaat setelah kematiannya dan dikembalikan kepadanya saat pengkafanan.

وَأَمَّا الدَّفْنُ ، فَوَاجِبُ كَالتَّكْفِيْنِ ، سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ ثِيَابُهُ الْمُلَطَّخَةُ بِالدَّمِ وَغَيْرُهَا ، لَكِنَّ الْمُلَطَّخَةَ أَوْلَى ، سَوَاءٌ أقتَلَهُ كَافِرٌ أَمْ أَصَابَهُ سِلَاحُ مُسْلِمٍ خَطَاً ، أَوْ عَادَ إِلَيْهِ سِلَاحُ نَفْسِهِ ، أَوْ سَقَطَ عَنْ دَابَّتِهِ ، أَوْ وَطِئَتْهُ الدَّوَابُ ، أَوْ أَصَابَهُ سَهُمْ لَا يُعْرَفُ هَلْ رَمَى بِهِ مُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ ، وَسَوَاءٌ وُجِدَ بِهِ أَثَرٌ أَمْ لَا ، مَاتَ فِي الْحَالِ أَمْ بَقِيَ زَمَنًا وَمَاتَ بِذَلِكَ السَّبَبِ قَبْلَ أَنْقِضَاءِ الْحَرْبِ أَمْ مَعَهُ أَمْ بَعْدَهُ وَلَيْسَ فِيْهِ إِلَّا حَرَكَةُ مَذْبُوحٍ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ مَاتَ بَعْدَهُ وَفِيْهِ حَيَاةٌ مُسْتَقِرَّةٌ ، فَلَيْسَ بِشَهِيْدٍ

Adapun penguburan, maka hukumnya wajib sebagaimana pengkafanan, sama saja dalam hal itu pakaiannya yang berlumuran darah maupun lainnya, namun yang berlumuran darah lebih utama (aula). Baik ia dibunuh oleh orang kafir, atau terkena senjata orang muslim secara tidak sengaja (khatha'), atau senjatanya sendiri mengenai dirinya, atau jatuh dari kendaraannya, atau diinjak oleh hewan ternak, atau terkena anak panah yang tidak diketahui apakah yang memanahnya orang muslim atau kafir. Dan sama saja apakah ditemukan bekas (luka) padanya atau tidak, mati seketika itu juga atau tetap hidup dalam suatu masa lalu mati karena sebab tersebut sebelum berakhirnya perang, atau saat perang berakhir, atau setelahnya dan tidak ada padanya kecuali gerakan orang yang disembelih (harakatul madzbuh); berbeda halnya jika ia mati setelah perang dan padanya terdapat kehidupan yang stabil (hayatun mustaqirratun), maka ia bukanlah syahid.

وَأَمَّا السُّقْطُ ، وَهُوَ الَّذِي سَقَطَ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ قَبْلَ تَمَامِ أَشْهُرِهِ ، وَهِيَ سِيَّةٌ وَلَحْظَتَانِ ؛ فَفِيْهِ تَفْصِيلُ : فَإِنْ ظَهَرَتْ فِيْهِ أَمَارَةُ الْحَيَاةِ ، كَاخْتِلَاجِ أَوِ اضْطِرَابٍ أَوْ تَنَفْسٍ أَوْ تَحَرُّكِ أَوْ بُكَاءِ ، وَلَوْ قَبْلَ أَنْفِصَالِهِ ، وَجَبَ فِيْهِ مَا فِي الْكَبِيرِ مِنْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا وَإِلَّا فَإِنْ ظَهَرَ خَلْقُهُ ، بِأَنْ تَخَطَّطَ ، سَوَاءٌ بَلَغَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ أَمْ لَا ،

Adapun suqth (bayi prematur), yaitu yang jatuh dari perut ibunya sebelum sempurnanya masa kehamilan, yaitu enam bulan lebih dua kejap mata (lahdzatani); maka di dalamnya ada rincian: Maka jika nampak padanya tanda-tanda kehidupan, seperti gerakan spontan atau meronta, atau bernapas, atau bergerak, atau menangis, meskipun sebelum terpisahnya (dari ibu), maka wajib padanya apa-apa yang diwajibkan bagi orang dewasa berupa shalat dan selainnya. Jika tidak (ada tanda kehidupan), maka jika sudah nampak bentuk penciptaannya, dengan digambarkannya (anggota tubuh), baik ia sudah mencapai empat bulan maupun belum,

HALAMAN 392

وَجَبَ تَجْهِيزُهُ بِلَا صَلَاةٍ . وَإِلَّا فَلَا شَيْءَ فِيْهِ ، بَلْ تَحْرُمُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ ، وَيَجُوزُ رَمْيُهُ وَلَوْ لِلْكِلابِ ، لَكِنْ يُسَنُّ سَتْرُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْتُهُ فَالْحَاصِلُ أَنَّ النُّقْطَ لَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ .

Maka wajib mengurus jenazahnya (memandikan, mengkafani, mengubur) tanpa dishalati. Dan jika tidak (nampak tanda kehidupan atau bentuk penciptaan), maka tidak ada kewajiban apa pun padanya, bahkan haram menshalatinya, dan boleh membuangnya meskipun (diberikan) kepada anjing, namun disunnahkan menutupinya dengan sepotong kain dan menguburkannya. Maka kesimpulannya, bayi prematur (suqth) itu memiliki tiga kondisi.

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ الْحِفْنِيُّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ [ من الرجز ] : وَالسُّقْطُ كَالْكَبِيْرِ فِي الْوَفَاةِ إِنْ ظَهَرَتْ أَمَارَةُ الْحَيَاةِ أَوْ خَفِيَتْ وَخِلَّقَةٌ قَدْ ظَهَرَا فَامْنَعْ صَلَاةٌ وَسِوَاهَا اعْتَبَرَا أَوِ اخْتَفَى أَيْضًا فَفِيْهِ لَمْ يَجِبْ شَيْءٌ وَسَتْرٌ ثُمَّ دَفْنٌ قَدْ نُدِبْ

Syaikh Muhammad Al-Hifni Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata [dari bahar Rajaz]: Bayi prematur itu seperti orang dewasa dalam hal wafatnya, jika nampak tanda-tanda kehidupan. Atau tanda itu samar namun bentuk penciptaannya telah nampak, maka cegahlah shalat (jangan dishalati) dan anggaplah perkara selainnya (mandikan, kafani, kubur). Atau (bentuknya) tersembunyi juga, maka padanya tidak wajib suatu apa pun, dan menutupi kemudian menguburkannya sungguh telah dianjurkan (sunnah).

وَأَمَّا الْوَلَدُ النَّازِلُ قَبْلَ تَمَامِ أَشْهُرِهِ فَحُكْمُهُ كَالْكَبِيْرِ مِنْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا وَإِنْ (١) نَزَلَ مَيْتًا وَلَمْ يُعْلَمْ لَهُ سَبْقُ حَيَاةٍ ، وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ خَلْقُهُ ، وَلَا يُسَمَّى هَذَا سُقْطًا

Adapun anak yang lahir sebelum sempurnanya masa kehamilan (namun sudah 6 bulan ke atas), maka hukumnya seperti orang dewasa dalam hal shalat dan selainnya. Dan jika (1) ia lahir dalam keadaan mati dan tidak diketahui adanya kehidupan sebelumnya, meskipun belum nampak bentuk penciptaannya, dan ini tidaklah dinamakan suqth.

فَرْعٌ : أَعْلَمْ أَنَّ الْمُؤَنَ ، كَأُجْرَةِ التَّغْسِيْلِ ، وَثَمَنِ الْمَاءِ وَالْكَفَنِ ، وَأُجْرَةِ الْحَفْرِ وَالْحَمْلِ فِي تَرِكَةِ الْمَيْتِ ، يُبْدَأُ بِهِ مِنْهَا ، لَكِنْ بَعْدَ الابْتِدَاءِ بِحَقِّ تَعَلَّقَ بِنَفْسٍ تِلْكَ التَّرِكَةِ ، كَالزَّكَاةِ الَّتِي وَجَبَتْ فِيْهَا ، وَالْمَرْهُوْنِ وَالْجَانِي وَالْمُتَعَلَّقِ بِرَقَبَتِهِ مَالٌ وَالْمَبِيْعِ إِذَا مَاتَ الْمُشْتَرِي مُفْلِسًا ،

Cabang masalah: Ketahuilah bahwa biaya-biaya, seperti upah memandikan, harga air dan kain kafan, serta upah menggali kubur dan membawa jenazah, (diambil) dari harta peninggalan (tarikah) mayit. Hal itu dimulai darinya (harta peninggalan), namun setelah memulai dengan hak-hak yang berkaitan dengan dzat harta peninggalan tersebut, seperti zakat yang wajib pada harta itu, barang gadaian, (denda) pelaku jinayah, harta yang berkaitan dengan budak, dan barang dagangan jika pembelinya mati dalam keadaan bangkrut.

وَأَمَّا الزَّوْجَةُ وَخَادِمُهَا ، سَوَاءٌ كَانَ مَمْلُوْكًا لَهَا أَوْ مُسْتَأْجَرًا بِالنَّفَقَةِ ، فَتَجْهِيزُهُمَا عَلَى زَوْجٍ غَنِيٌّ فِي الْفِطْرَةِ ، وَهُوَ مَنْ يَمْلِكُ زِيَادَةً عَلَى كِفَايَةِ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ

Adapun istri dan pelayannya, baik pelayan itu miliknya atau orang yang diupah dengan nafkah, maka biaya pengurusan keduanya menjadi tanggungan suami yang kaya dalam hal zakat fitrah, yaitu orang yang memiliki kelebihan dari kecukupan (kebutuhan) sehari semalamnya.

HALAMAN 393

مَا يَصْرِفُهُ فِي التَّجْهِيزِ ، وَلَوْ بِمَا يَرِثُهُ مِنْهَا ، عَلَيْهِ نَفَقَتُهُمَا ؛ بِخِلَافِ الْمُسْتَأْجِرِ بِالأجْرَةِ ، وَبِخِلَافِ الْفَقِيْرِ فِي الْفِطْرَةِ ، وَمَنْ لَا تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمَا لِنُشُوْرٍ أَوْ صِغَرٍ

Apa yang ia nafkahkan untuk pengurusan jenazah, meskipun dengan harta yang ia warisi darinya (istri), maka kewajiban nafkah keduanya (istri dan pelayan) ada pada suami; berbeda dengan orang yang diupah dengan gaji, dan berbeda dengan orang fakir dalam zakat fitrah, serta orang yang tidak wajib menanggung nafkah keduanya karena kedurhakaan (nusyuz) atau masih kecil.

وَخَرَجَ بِالزَّوْجِ ابْنُهُ ، فَلَا يَلْزَمُهُ تَجْهِيزُ زَوْجَةِ أَبِيْهِ ، وَإِنْ لَزِمَهُ نَفَقَتُهَا فِي الْحَيَاةِ ، وَلَا يَجِبُ للزَّوْجَةِ إِلَّا ثَوْبٌ وَاحِدٌ وَلَا يَجِبُ الثَّانِي وَالثَّالِثُ مِنْ تَرِكَتِهَا ، نَعَمْ إِنْ لَم| يَقْدِرِ الزَّوْجُ إِلَّا عَلَى بَعْضٍ ثَوْبٍ وَجَبَ بَاقِيْهِ مِنْ تَرِكَتِهَا ، وَوَجَبَ ثَانٍ وَثَالِثُ أَيْضًا لِافْتِتَاحِ بَابِ الْأَخْذِ مِنَ التَّرِكَةِ

Dan dikecualikan dari suami adalah anaknya, maka anak tidak wajib membiayai pengurusan jenazah istri ayahnya (ibu tiri), meskipun ia wajib menanggung nafkahnya saat hidup. Dan tidak wajib bagi istri (dari harta suami) kecuali satu helai pakaian saja, dan tidak wajib helai kedua serta ketiga dari harta peninggalannya (istri); benar, jika suami tidak mampu kecuali hanya sebagian pakaian, maka wajib sisanya diambil dari harta peninggalan istri, dan wajib pula pakaian kedua serta ketiga karena telah terbukanya pintu pengambilan dari harta peninggalan.

فَرْعٌ : فَإِذَا مَاتَ شَخْصٌ غُمِّضَ لِئَلَّا يَقْبُحَ مَنْظَرُهُ ، وَشُدَّ لَحْيَاهُ بِعُصَابَةٍ عَرِيضَةٍ ، وَتُرْبَطُ فَوْقَ رَأْسِهِ لِئَلَّا يَبْقَى فَمُهُ مُنْفَتِحًا ، وَلُيَّنَتْ مَفَاصِلُهُ ، فَيُرَدُّ سَاعِدُهُ إِلَى عَضُدِهِ وَسَاقُهُ إِلَى فَخِذِهِ وَفَخِذُهُ إِلَى أَصَابِعِهِ ، ثُمَّ تُمَدُّ وَتُلَيَّنُ أَصَابِعُهُ تَسْهِيلًا لِغَسْلِهِ وَتكْفِيْنِهِ

Cabang Masalah: Maka apabila seseorang meninggal dunia, maka matanya dipejamkan agar tidak buruk pemandangannya, dan kedua rahangnya diikat dengan kain pengikat yang lebar yang diikatkan di atas kepalanya agar mulutnya tidak tetap terbuka. Dan dilemaskan persendiannya; maka lengannya dilipat ke lengan atasnya, betisnya ke pahanya, dan pahanya ke perutnya (arah jari-jari), kemudian diregangkan kembali, dan dilemaskan jari-jarinya untuk memudahkan memandikan dan mengkafaninya.

فَإِنَّ فِي الْبَدَنِ بَعْدَ مُفَارَقَةِ الرُّوْحِ بَقِيَّةَ حَرَارَةٍ ، فَإِذَا لُيَّنَتِ الْمَفَاصِلُ حِينَئِذٍ لَانَتْ ، وَإِلَّا فَلَا يُمْكِنُ تَلْبِينُهَا بَعْدُ ؛ وَنُزِعَتْ ثِيَابُهُ الَّتِي مَاتَ فِيْهَا ، لِأَنَّهُ يُسْرِعُ إِلَيْهِ الْفَسَادُ ، ثُمَّ سُتِرَ كُلُّهُ إِنْ لَمْ يَكُن| مُحْرِمًا بِنُسُكِ بِثَوْبٍ خَفِيْفٍ ، وَيُجْعَلُ طَرَفَاهُ تَحْتَ رَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ لِئَلَّا يَنْكَشِفَ

Karena sesungguhnya di dalam tubuh setelah berpisahnya ruh masih terdapat sisa panas, maka apabila persendian dilemaskan saat itu juga, ia akan lemas; jika tidak, maka tidak mungkin melemaskannya setelah itu. Dan dilepaskan pakaiannya yang ia pakai saat meninggal, karena hal itu mempercepat kerusakan padanya. Kemudian ditutup seluruh tubuhnya jika ia bukan orang yang sedang ihram dengan kain yang tipis, dan dijadikan kedua ujung kainnya di bawah kepala dan kedua kakinya agar tidak tersingkap.

وَثُقَلَ بَطْنُهُ بِغَيْرِ مُصْحَفٍ ، كَمِرْآةٍ وَنَحْوِهَا مِنْ أَنْوَاعِ الْحَدِيدِ ، لِئَلَّا يَنتَفِخَ ؛ وَقُدْرَ ذَلِكَ بِنَحْوِ عِشْرِيْنَ دِرْهَمًا (١) ؛ وَرُفِعَ عَنِ الْأَرْضِ عَلَى سَرِيْرٍ أَوْ نَحْوِهِ لِئَلَّا يَتَغَيَّرَ بِنَدَاوَتِهَا ، وَوُجْهَ إِلَى الْقِبْلَةِ كَمُحْتَضَرٍ

Dan diberatkan perutnya dengan selain mushaf, seperti cermin atau sejenisnya dari jenis-jenis besi, agar tidak membuncit/kembung; dan ukuran (beratnya) dikira-kirakan dengan sekitar 20 dirham (1) . Dan diangkat dari atas tanah ke atas ranjang atau sejenisnya agar tidak berubah (rusak) karena kelembapan tanah, dan dihadapkan ke arah kiblat sebagaimana orang yang sedang sakaratul maut.

HALAMAN 394

وَهُوَ بِإِضْجَاعِ لِجَنْبِ أَيْمَنَ ، فَإِنْ تَعَسَّرَ فَلِجَنْبِ أَيْسَرَ ، فَإِنْ تَعَسَّرَ وُجْهَ بِاسْتِلْقَاءِ ، بِأَنْ يُلْقَى عَلَى قَفَاهُ وَوَجْهُهُ وَأَخْمَصَاهُ لِلْقِبْلَةِ ، بِأَنْ يُرْفَعَ رَأْسُهُ قَلِيلًا

Yaitu dengan membaringkannya pada sisi kanannya (menghadap kiblat), maka jika sulit maka pada sisi kirinya, maka jika (masih) sulit maka wajahnya dihadapkan dengan cara terlentang, yaitu ia diletakkan di atas tengkuknya sedangkan wajah dan kedua telapak kakinya menghadap kiblat, dengan cara kepalanya diangkat sedikit.

وَيُسَنُّ أَنْ يَتَوَلَّى ذَلِكَ كُلَّهُ أَرْفَقُ مَحَارِمِهِ بِهِ ، فَالرَّجُلُ مِنَ الرَّجُلِ ، وَالْمَرْأَةُ مِنَ الْمَرْأَةِ ، بِأَسْهَلِ مَا يُمْكِنُهُ ، فَإِنْ تَوَلَّاهُ الرَّجُلُ مِنَ الْمَرْأَةِ الْمَحْرَمِ أَوْ بِالْعَكْسِ جَازَ

Dan disunnahkan agar yang menangani semua hal tersebut adalah mahramnya yang paling lembut kepadanya; maka laki-laki (diurusi) oleh laki-laki, dan perempuan oleh perempuan, dengan cara yang paling mudah baginya; maka jika laki-laki yang mahram menangani jenazah perempuan atau sebaliknya, maka hal itu boleh.

فَائِدَةٌ : قَالَ حَسَنُ الْعَدَوِيُّ نَقْلًا عَنِ الشَّيْخِ الْأَمِيرِ : فَإِنْ تُرِكَ تَعْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ عَقِبَ الْمَوْتِ جَذَبَ شَخْصٌ عَضُدَيْهِ وَآخِرُ إِبْهَامَيْ رِجْلَيْهِ مَعًا ، فَإِنَّهُ يُغْلِقُ بَصَرُهُ ؛ مُجَرَّبٌ . انْتَهَى

Faidah: Hasan Al-Adawi berkata seraya menukil dari Syaikh Al-Amir: Maka jika memejamkan kedua mata ditinggalkan (tidak segera dilakukan) sesaat setelah kematian (sehingga mata tetap terbuka), maka seseorang menarik kedua lengan atasnya dan orang lain menarik kedua jempol kakinya secara bersamaan, maka sesungguhnya matanya akan tertutup; hal ini telah teruji (mujarrab). Selesai.

``` ```
(١) اعْتَمَدَهُ فِي ( النَّهَايَةِ ) ٣٠٦/٢ . عِصَامٌ .
(1) Pendapat ini di-mu'tamad-kan dalam (An-Nihayah) 2/306. 'Ishom.
(٢) اعْتَمَدَهُ فِي التَّحْفَةِ ٢ / ٤٥٣ . عِصَامٌ .
(2) Pendapat ini di-mu'tamad-kan dalam At-Tuhfah 2/453. 'Ishom.
(١) في الأَصْلِ : « فَرْضِهِمَا مِنْ سُنَّتِهِمَا » بَدَلًا مِنْ : « فُرُوضِهِمَا مِنْ سُنَنِهِمَا » . [ ص ٣٨٧ ]
(1) Hlm 387: Dalam naskah aslinya tertulis: "Fardh-huma min sunnat-huma" sebagai ganti dari: "Furuudh-huma min sunan-huma".
(١) في الأَصْلِ : « وَإِنَّهُ » بَدَلًا مِنْ : ( وَإِنْ » . [ ص ٣٩٢ ]
(1) Hlm 392: Di dalam naskah asli tertulis: « wa innahu » sebagai ganti dari: « wa in ».
(١) حاشية : تُقَدَّرُ العِشْرُونَ دِرْهَمًا بِـ ٦٠ سِتِّيْنَ غَرَامًا فِضَّةٌ . [ ص ٣٩٣ ]
(1) Hlm 393: 20 dirham dikira-kirakan (beratnya) dengan 60 gram perak.
``` ```
Takhrij Faidah Amalan & Doa: Doa "Allahumma aghnini bihalalika..." itu warid dalam hadits shahih riwayat Imam At-Tirmidzi No. 3563 dan Musnad Ahmad. Adapun bait syi'ir "Ilahi lastu lil firdausi ahla..." itu dinukil dari Al-Quthb Abdul Wahhab Asy-Sya'rani, dibaca 5 kali abis shalat Jumat biar wafat bawa iman.
[STUDI KASUS NYATA]
Kasus: Ada orang meninggal di kampung, tapi bininya kaga punya duit pisan buat beli kain kafan ama bayar kuburan, sedangkan si suami yang meninggal ninggalin harta warisan (tarikah) tapi masih sengketa.
Solusi Hukum Kitab: Jangan nunggu sengketa kelar! Hukum asalnya semua biaya pengurusan jenazah (mandiin, kafan, galian kubur) kudu langsung diambil dari harta tarikah si mayit sebelum itu warisan dibagi-bagi, bahkan diduluin daripada bayar utang biasa. Tapi kalo kasusnya dibalik, yang meninggal itu istri, maka yang wajib ngongkosin secara total adalah suami yang kaya, biarpun si suami dapet warisan dari bininya itu! Anak kaga wajib ngongkosin ibu tirinya.
⚠️ BAHAYA LATEN (TADLIS HUKUM):
Hati-hati! Jangan sekali-kali menshalatkan jenazah orang kafir (dzimmi, murtad, harbi, zindiq). Hukumnya HARAM MUTLAK berdasarkan nas kitab ini! Kalo kafir dzimmi meninggal, kita cuma wajib mengkafani dan menguburnya (muwarah) biar kaga bau, kagak boleh dishalatin! Dan buat jenazah bayi prematur (suqth), kalo belom ada tanda kehidupan dan belom nampak bentuk organ tubuhnya, HARAM dishalatkan, cukup dibungkus kain lalu dikubur! Jangan sok tahu dishalatin semua, bisa dosa gede ente melanggar syariat!
========================= ```

فَصْلٌ فِي بَيَانِ غُسْلِهِ . أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ ، أَيْ : مَرَّةً ، لِأَنَّهَا الْفَرْضُ فِي الْحَيِّ ، وَالْمَيْتُ أَوْلَى بِهَا ، فَلَا يُشْتَرَطُ تَقَدُّمُ إِزَالَةِ نَجَسٍ عَنْهُ .

Fasal dalam menjelaskan memandikan jenazah. Standar minimal memandikan adalah meratakan air ke seluruh tubuhnya, maksudnya satu kali, karena hal itu adalah kewajiban pada orang yang hidup, dan mayit lebih utama dengan hal itu, maka tidak disyaratkan mendahulukan penghilangan najis darinya.

وَمَحَلُّ الْاكْتِفَاءِ بِهَا حَيْثُ حَصَلَ الإِنْقَاءُ ، وَإِلَّا وَجَبَ الإِنْقَاءُ

Dan tempat mencukupkan dengan hal itu (sekali basuhan) adalah sekiranya sudah tercapai kebersihan, jika tidak maka wajib dibersihkan.

وَيُسَنُّ الإِبْتَارُ إِنْ لَمْ يَحْصُلِ الإِنْقَاءُ بِوِتْرٍ ، وَلَا بُدَّ مِنْ كَوْنِ غُسْلِهِ بِفِعْلِنَا ، وَلَوْ كَانَ كَافِرًا أَوْ غَيْرَ مُكَلَّفٍ فَلَا يَكْفِي غَرَقُ وَلَا غَسْلُ الْمَلَائِكَةِ ،

Dan disunnahkan mengganjilkan (basuhan) jika kebersihan belum tercapai dengan jumlah yang ganjil, dan memandikannya itu harus dengan perbuatan kita, meskipun (yang memandikan) orang kafir atau yang belum mukallaf, maka tidaklah cukup mayit yang tenggelam (begitu saja) dan tidak pula pemandian para malaikat.

[Halaman 395]

[٣٩٥] وَيَكْفِي فِعْلُ الْجِنِّ ، وَلَوْ غَسَّلَ نَفْسَهُ كَرَامَةٌ كَفَى ، كَمَا وَقَعَ لِسَيِّدِي أَحْمَدَ الْبَدَوِيِّ أَمَدَّنَا اللَّهُ بِمَدَدِهِ . وَمِثْلُهُ مَا لَوْ غَسَّلَهُ مَيْتٌ آخَرُ كَرَامَةٌ ، فَإِنَّهُ يَكْفِيْ

Dan cukup dengan perbuatan jin (yang memandikan), dan jika mayit memandikan dirinya sendiri sebagai suatu karomah maka itu cukup, sebagaimana yang terjadi pada Sayyidi Ahmad Al-Badawi—semoga Allah menolong kita dengan keberkahannya. Dan serupa dengan itu adalah jika mayit lain memandikannya sebagai suatu karomah, maka sesungguhnya hal itu mencukupi.

وَلَا يُكْرَهُ لِنَحْوِ جُنُبٍ غَسْلُهُ ، وَلَا يَجِبُ نِيَّةُ الْغُسْلِ ، لِأَنَّ الْقَصْدَ بِهِ النَّظَافَةُ ، وَهِيَ لَا تَتَوَقَّفُ عَلَى نِيَّةٍ ، لَكِنْ تُسَنُّ خُرُوْجًا مِنَ الْخِلَافِ ، فَيَقُولُ الْغَاسِلُ : نَوَيْتُ الْغُسْلَ أَدَاءً عَنْ هَذَا الْمَيْتِ ، أَوِ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ؛ بِخِلَافِ نِيَّةِ الْوُضُوْءِ ، فَإِنَّهَا وَاجِبَةٌ ؛

Tidak makruh bagi orang yang junub dan sejenisnya untuk memandikan jenazah, dan tidak wajib niat dalam memandikan jenazah, karena tujuannya adalah kebersihan, sedangkan kebersihan tidak bergantung pada niat. Namun niat disunnahkan agar keluar dari perbedaan pendapat (ulama), maka orang yang memandikan mengucap: "Aku niat memandikan sebagai pemenuhan kewajiban atas mayit ini," atau "untuk diperbolehkannya menshalatinya"; berbeda dengan niat wudhu, karena niat wudhu itu wajib.

وَلِذَلِكَ يُلْغَزُ ، وَيُقَالُ لَنَا : شَيْءٌ وَاجِبٌ وَنِيَّتُهُ سُنَّةٌ ، وَشَيْءٌ سُنَّةٌ وَنِيَّتُهُ وَاجِبَةٌ ؛ فَغُسْلُ الْمَيْتِ وَاجِبٌ وَنِيَّتُهُ سُنَّةٌ ، وَوُضُوْءُهُ سُنَّةٌ وَنِيَّتُهُ وَاجِبَةٌ

Oleh karena itu, hal ini dijadikan teka-teki, dan dikatakan kepada kita: "Ada sesuatu yang wajib namun niatnya sunnah, dan ada sesuatu yang sunnah namun niatnya wajib"; maka memandikan mayit itu wajib sedangkan niatnya sunnah, dan mewudhui mayit itu sunnah sedangkan niatnya wajib.

وَمَنْ تَعَدَّرَ غُسْلُهُ لِفَقْدِ مَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ ، كَمَا لَوِ احْتَرَقَ ، وَكَكَوْنِهِ مَسْمُوْمًا مَثَلًا ، وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ غُسَلَ لَتَهَرَّى ، يُمِّمَ .

Dan barangsiapa yang sulit dimandikan karena tidak adanya air atau sebab lainnya, seperti mayit yang terbakar, atau misalnya mayit yang terkena racun yang sekiranya jika dimandikan maka (kulitnya) akan hancur/terkelupas, maka ia ditayamumkan.

وَالْأَوْلَى بِالرَّجُلِ فِي غَسْلِهِ الرَّجُلُ ، وَالْأَوْلَى بِالْمَرْأَةِ فِي غَسْلِهَا الْمَرْأَةُ ، وَلَهُ غَسْلُ حَلِيْلَتِهِ مِنْ زَوْجَةٍ غَيْرِ رَجْعِيَّةٍ وَأَمَةٍ مَا لَمْ تَكُنْ مُزَوَّجَةً أَوْ مُعْتَدَّةً أَوْ مُسْتَبْرَأَةٌ ، وَلِزَوْجَةٍ غَيْرِ رَجْعِيَّةٍ غَسْلُ زَوْجِهَا ، وَلَوْ نَكَحَتْ غَيْرَهُ ، بِأَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا عَقِبَ مَوْتِهِ ثُمَّ تَتَزَوَّجُ ، فَلَهَا أَنْ تَغْسِلَهُ وَتَسْتَعِيْنَ بِزَوْجِهَا لِبَقَاءِ حَقَّ الزَّوْجِيَّةِ بِلَا مَسَّ مِنْهَا لَهُ وَلَا مِنْهُ لَهَا ، لِئَلَّا يَنْتَقِضَ وُضُوْءُ الْمَاسِ فِيهِمَا .

Dan yang paling utama bagi jenazah laki-laki untuk memandikannya adalah laki-laki, dan yang paling utama bagi jenazah perempuan adalah perempuan. Dan diperbolehkan bagi laki-laki memandikan istrinya yang bukan istri yang ditalak raj'i, dan budak perempuannya selama ia tidak dalam ikatan pernikahan (dengan orang lain), atau dalam masa iddah, atau dalam masa istibra'. Dan bagi istri yang bukan ditalak raj'i diperbolehkan memandikan suaminya, meskipun ia telah menikah dengan orang lain—dengan gambaran ia melahirkan sesaat setelah suaminya meninggal kemudian ia menikah lagi—maka ia boleh memandikan suaminya (yang pertama) dan meminta bantuan suami (barunya) karena masih adanya hak pernikahan, tanpa ada persentuhan kulit darinya ke mayit maupun dari mayit kepadanya, agar tidak batal wudhu orang yang menyentuh pada keduanya.

وَالْأَوْلَى بِالرَّجُلِ فِي غَسْلِهِ الْأَوْلَى بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ دَرَجَةً ، وَهُمْ رِجَالُ الْعَصَبَةِ مِنَ النَّسَبِ ثُمَّ الْوَلَاءِ ، ثُمَّ الإِمَامُ ، أَوْ نَائِبُهُ ، ثُمَّ ذَوُو الْأَرْحَامِ فَإِنِ اتَّحَدُوْا فِي الدَّرَجَةِ قُدَّمَ هُنَا بِالْأَفْقَهِيَّةِ فِي الْغَسْلِ بِخِلَافِهِ فِي الصَّلَاةِ عَلَى

Dan yang paling utama bagi laki-laki dalam hal memandikannya adalah orang yang paling utama untuk menshalatinya secara derajat, yaitu para laki-laki ashabah dari jalur nasab kemudian jalur wala' (bekas majikan), kemudian Imam atau wakilnya, kemudian kerabat dari jalur dzawul arham. Maka jika mereka setingkat dalam derajatnya, maka di sini didahulukan berdasarkan yang paling paham fikih (al-afqahiyyah) dalam urusan memandikan; berbeda halnya dalam urusan menshalati jenazah.

[Halaman 396]

[٣٩٦] الْمَيْتِ ، فَيُقَدَّمُ بِالأَسَنِّيَّةِ وَالأَقْرَبِيَّةِ ، فَالأَفْقَهُ فِي بَابِ الْغُسْلِ أَوْلَى هُنَا مِنَ ``` الأَسَنَّ ، وَإِلَّا قُرْبَ عَكْسُ مَا فِي الصَّلَاةِ ؛ وَالْأَوْلَى بِالْمَرْأَةِ فِي غَسْلِهَا قَرِيْبَاتُهَا ، وَأَوْلَاهُنَّ ذَاتُ مَحْرَمِيَّةٍ ، وَبَعْدَ الْقَرِيبَاتِ ذَاتُ وَلَاءِ ، فَأَجْنَبِيَّةٌ ، فَزَوْجُ ، فَرِجَالٌ مَحَارِمٌ ؛ فَإِنْ تَنَازَعَ مُسْتَوِيَانِ أُقْرِعَ بَيْنَهُمْا (Dalam hal menshalati) mayit, maka didahulukan berdasarkan yang paling tua umurnya dan yang paling dekat kekerabatannya; maka orang yang paling paham (al-afqah) dalam bab memandikan lebih utama di sini daripada yang paling tua umurnya. Dan jika tidak, maka kedekatan (nasab) adalah kebalikan dari apa yang ada dalam (urutan) shalat. Dan yang paling utama bagi jenazah perempuan dalam hal memandikannya adalah kerabat-kerabat perempuannya, dan yang paling utama di antara mereka adalah yang memiliki hubungan mahram. Setelah kerabat perempuan, barulah wanita yang memiliki hubungan wala', kemudian wanita lain (ajnabiyyah), kemudian suami, kemudian laki-laki mahramnya. Maka jika dua orang yang setingkat bersengketa, dilakukan undian di antara keduanya. ```

وَالصَّغِيرُ الَّذِي لَمْ يَبْلُغْ حَدَّ الشَّهْوَةِ يُغَسِّلُهُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ ، وَمِثْلُهُ الْخُنْثَى الْكَبِيرُ عِنْدَ فَقْدِ الْمَحْرَمُ

Dan anak kecil yang belum mencapai batas syahwat, boleh dimandikan oleh laki-laki maupun perempuan. Dan serupa dengannya adalah khuntsa (orang berkelamin ganda) yang sudah besar ketika tidak adanya mahram.

وَيَجِبُ إِبْصَالُ الْمَاءِ إِلَى مَا يَظْهەرُ مِنْ فَرْجِ الشَّيْبِ عِنْدَ جُلُوسِهَا عَلَى قَدَمَيْهَا لِقَضَاءِ حَاجَتِهَا ، وَمَا تَحْتَ قُلْفَةِ الأَقْلَفِ ، وَيَحْرُمُ خَتْنُهُ وَإِنْ عَصَى بِتَأْخِيْرِهِ ، أَوْ تَعَدَّرَ غَسْلُ مَا تَحْتَ قُلْفَتِهِ بِأَنْ كَانَ فِيْهَا نَجَاسَةٌ تَتَعَذَّرُ إِزَالَتُهَا ، فَيُدْفَنُ بِلَا صَلَاةٍ عَلَيْهِ كَفَاقِدِ الطَّهُورَيْنِ عَلَى مَا قَالَهُ الرَّمْلِيُّ ، وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يُيَمَّمَ لِأَنَّ شَرْطَ التَّيَمُّمِ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ

Wajib menyampaikan air ke bagian yang nampak dari kemaluan janda (tsayyib) saat ia duduk di atas kedua kakinya untuk membuang hajat, dan juga bagian di bawah kulit kuncup (qulfah) orang yang belum dikhitan. Diharamkan mengkhitan mayit meskipun ia berdosa karena menunda khitannya. Jika sulit memandikan bagian bawah kulit kuncupnya, misalnya terdapat najis yang sulit dihilangkan, maka ia dikubur tanpa dishalati sebagaimana orang yang kehilangan dua alat penyuci (faqiduth thahurain) menurut apa yang dikatakan oleh Imam Ar-Ramli. Dan tidak boleh ditayamumkan karena syarat tayamum adalah hilangnya najis.

وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ : يُمِّمَ لِلضَّرُورَةِ . وَقَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَيَنْبَغِي تَقْلِيدُهُ لِأَنَّ فِي دَفْنِهِ بِلَا صَلَاةٍ عَدَمُ احْتِرَامٍ لِلْمَيْتِ ، كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ الْفَضَالِيُّ

Dan Ibnu Hajar berkata: Ia ditayamumkan karena kondisi darurat. Dan Al-Bajuri berkata: "Seyogyanya pendapat ini (Ibnu Hajar) diikuti karena dalam menguburkannya tanpa dishalati terdapat unsur kurang menghormati mayit," sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Al-Fadhali.

وَيُكْرَهُ فِي غَيْرِ الْمُحْرِمِ بِنُسُكِ أَخْذُ ظُفُرِهِ وَشَغَرِهِ ، لِأَنَّ أَجْزَاءَ الْمَيْتِ مُحْتَرَمَةٌ ، نَعَمْ لَوْ تَعَدَّرَ غَسْلُهُ إِلَّا بِحَلْقِ شَغَرِ رَأْسِهِ لِتَلْبِيْدِهِ بِسَبَبِ صَبْغِ أَوْ نَحْوِهِ ، كَأَنْ كَانَ بِهِ قُرُوْحٌ وَجَمُدَ دَمُهَا بِحَيْثُ لَا يَصِلُ الْمَاءُ إِلَى أُصُوْلِهِ إِلَّا بِإِزَالَتِهِ ، وَجَبَتْ ، وَكَذَا لَوْ تَعَذَّرَ غَسْلُ مَا تَحْتَ ظُفْرِهِ إِلَّا بِقَلْمِهِ ؛

Dimakruhkan bagi mayit yang tidak sedang ihram untuk diambil kuku dan rambutnya, karena bagian-bagian tubuh mayit itu terhormat. Benar, jika sulit memandikannya kecuali dengan mencukur rambut kepalanya karena rambutnya menggumpal sebab pewarna atau sejenisnya, misalnya pada kepala terdapat luka-luka dan darahnya membeku sekiranya air tidak bisa sampai ke dasar rambut kecuali dengan menghilangkannya, maka hal itu wajib dilakukan. Begitu pula jika sulit membasuh bagian bawah kuku kecuali dengan memotongnya.

[Halaman 397]

[٣٩٧] وَلَا فَرْقَ فِي هَذَا بَيْنَ الْمُحْرِمِ وَغَيْرِهِ ، وَفِدْيَتُهُ عَلَى مَنْ فَعَلَ بِهِ ذَلِكَ ، وَيُرَدَّانِ إِلَيْهِ فِي الْكَفَنِ نَدْبًا ، وَفِي الْقَبْرِ وُجُوْبًا ؛ فَيَجِبُ دَفْنُهُمَا مَعَهُ

Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini (larangan mengambil kuku/rambut) antara orang yang sedang ihram dan selainnya. Adapun fidyahnya (jika dilakukan) dibebankan kepada orang yang melakukannya terhadap mayit tersebut. Dan keduanya (kuku/rambut) dikembalikan kepadanya (mayit) di dalam kain kafan secara sunnah, dan di dalam kubur secara wajib; maka wajib mengubur keduanya bersama mayit.

وَأَكْمَلُهُ أَنْ يَغْسِلَ ، أَيْ : الْغَاسِلُ

Dan cara yang paling sempurna adalah ia (orang yang memandikan) membasuh:

سَوْأَتَيْهِ ، أَيْ : دُبُرَ الْمَيْتِ وَقُبُلَهُ بِخِرْقَةٍ مَلْفُوْفَةٍ عَلَى يَسَارِهِ

Kedua kemaluannya, yaitu dubur dan qubul mayit dengan kain yang dililitkan pada tangan kirinya.

وَأَنْ يُزِيْلَ الْقَذَرَ ، أَيْ : الْوَسَخَ ، مِنْ أَنْفِهِ ، وَأَنْ يُوَفِّتَهُ ، قَبْلَ الْغُسْلِ كَالْحَيِّ ثَلَاثًا ثَلَاثًا بِمَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ ، وَيُمِيلُ رَأْسَهُ فِيْهِمَا لِئَلَّا يَصِلُ الْمَاءُ بَاطِنَهُ

Dan hendaknya ia menghilangkan kotoran, maksudnya noda/najis, dari hidungnya. Dan hendaknya ia mewudhuinya, sebelum dimandikan, sebagaimana orang yang hidup sebanyak tiga kali-tiga kali dengan berkumur-kumur (madlmadlah) and menghirup air ke hidung (istinshaq), dan ia memiringkan kepala mayit pada keduanya agar air tidak masuk ke bagian dalamnya (perut).

وَأَنْ يَدْلُكَ ، بِضَمٌ عَيْنِ الْفِعْلِ ، مِنْ بَابِ قَتَلَ

Dan hendaknya ia menggosok (dengan mendhommahkan 'ain fi'il-nya dari bab qatala):

بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ ، أَيْ : وَنَحْوِهِ ، كَصَابُوْنِ ، وَأَشْنَانٍ ، وَنَحْوِهِمَا . قَالَ فِي « الْمِصْبَاح » : وَإِذَا أُطْلِقَ السِّدْرُ فِي الْغَسْلِ فَالْمُرَادُ بِهِ الْوَرَقُ الْمَطْحُوْنُ . قَالَ « الْحُجَّةُ فِي التَّفْسِيرِ ) : السِّدْرُ نَوْعَانِ : أَحَدُهُمَا يَنْبُتُ فِي الْأَرْيَافِ ، وَهِيَ الْبَلَادُ الَّتِي لَهَا أَشْجَارٌ وَزُرُوعُ ، فَيُنْتَفَعُ بِوَرَقِهِ فِي الْغُسْلِ ، وَثَمَرَتُهُ طَيِّبَةٌ ، وَالآخَرُ يَنْبُتُ فِي الصَّحْرَاءِ ، وَلَا يُنْتَفَعُ بِوَرَقِهِ فِي الْغُسْلِ ، وَثَمَرَتُهُ عَفِصَةٌ ، أَنْتَهَى

Tubuhnya dengan daun bidara (sidr), maksudnya dan yang sejenisnya seperti sabun, asy-nan, dan sesamanya. Penulis kitab Al-Misbah berkata: "Apabila kata sidr disebutkan secara mutlak dalam urusan memandikan, maka yang dimaksud adalah daun yang ditumbuk/dihaluskan". Penulis kitab Al-Hujjah fit Tafsir berkata: "Sidr itu ada dua macam: salah satunya tumbuh di daerah pedesaan/subur, yaitu daerah yang memiliki pepohonan dan tanaman, maka daunnya dimanfaatkan untuk memandikan dan buahnya enak. Sedangkan macam lainnya tumbuh di padang pasir, daunnya tidak dimanfaatkan untuk memandikan dan buahnya pahit/sepet." Selesai.

وَأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا ، وَالسُّنَّةُ أَنْ تَكُوْنَ الْأَوْلَى بِنَحْوِ سِدْرٍ ، وَالثَّانِيَةُ مُزِيْلَةٌ ، وَالثَّالِثَةُ بِمَاءٍ قَرَاحٍ ، أَيْ : خَالِص ، فِيْهَا قَلِيْلٌ مِنْ كَافُوْرٍ

Dan hendaknya ia menyiramkan air ke tubuhnya tiga kali, dan sunnahnya adalah basuhan pertama dengan sejenis daun bidara, basuhan kedua untuk menghilangkannya, dan basuhan ketiga dengan air murni (qarah) yang di dalamnya terdapat sedikit kapur barus.

[Halaman 398]

[٣٩٨] بِحَيْثُ لَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ ، لِأَنَّ رَائِحَتَهُ تَطْرُدُ الْهَوَامَ ؛ وَيُكْرَهُ تَرْكُهُ وَخَرَجَ بِـ ( قَلِيْلِهِ » كَثِيرُهُ ، فَقَدْ يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيَّرًا كَثِيْرًا إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ صَلْبًا ، فَلَا يَضُرُّ مُطْلَقًا ، وَلَوْ غَيْرَ الْمَاءَ ، لِأَنَّهُ مُجَاوِرٌ

(Kapur barus tersebut) sekiranya tidak merubah sifat air, karena aromanya bisa mengusir serangga/hama; dan makruh hukumnya meninggalkan penggunaan kapur barus. Dikecualikan dari kata "sedikitnya" adalah "banyaknya", karena terkadang kapur barus yang banyak bisa merubah air dengan perubahan yang banyak, kecuali jika kapur barusnya berbentuk padat (bongkahan), maka tidak masalah secara mutlak meskipun merubah air, karena statusnya hanya berdampingan (mujawir).

فَهَذِهِ الْغَسْلَاتُ الثَّلَاثُ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ ، لِأَنَّ الْعِبْرَةَ إِنَّمَا هِيَ بِالَّتِي بِالْمَاءِ الْقَرَاحِ وَيُسَنُّ ثَانِيَةٌ وَثَالِثَةٌ كَذَلِكَ ، فَالْمَجْمُوْعُ تِسْعٌ قَائِمَةٌ مِنْ ضَرْبٍ ثَلَاثٍ فِي ثَلَاثِ ، لِأَنَّ الْغَسْلَاتِ الثَّلَاثِ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى ثَلَاثِ ، لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالثَّلَاثِ الَّتِي بِالْمَاءِ الْقَرَاحِ

Maka tiga kali basuhan ini (bidara, penghilang bidara, air murni) terhitung satu kali basuhan, karena yang dianggap (sebagai basuhan wajib) hanyalah yang menggunakan air murni. Dan disunnahkan basuhan kedua dan ketiga dengan cara yang sama, maka total keseluruhannya menjadi sembilan basuhan yang berasal dari perkalian tiga kali tiga. Akan tetapi yang dianggap (sebagai hitungan dasar) adalah tiga basuhan yang menggunakan air murni.

وَالْحَاصِلُ أَنَّ أَدْنَى الْكَمَالِ ثَلَاثُ ، وَأَكْمَلُهُ تِسْعٌ ، وَأَوْسَطُهُ خَمْسٌ أَوْ سَبْعٌ ؛ وَحَاصِلُهُ أَنَّ أَكْمَلَهُ أَنْ يُغَسَّلَ بِمَاءٍ مَالِحٍ ، لِأَنَّ الْمَاءَ الْعَذْبَ يُسْرِعُ إِلَيْهِ الْبِلَى ، بَارِدٍ لِأَنَّهُ يَشُدُّ الْبَدَنَ إِلَّا لِحَاجَةٍ كَبَرْدِ الْغَاسِلِ وَوَسَخِ ، فَيُسَخَّنُ قَلِيْلًا ،

Kesimpulannya: batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali, paling sempurnanya sembilan kali, dan pertengahannya adalah lima atau tujuh kali. Intinya, cara yang paling sempurna adalah dimandikan dengan air asin (air laut/payau), karena air tawar mempercepat pembusukan; (menggunakan air) dingin karena bisa menguatkan tubuh kecuali jika ada keperluan seperti cuaca dingin bagi pemandi atau karena kotoran, maka air dipanaskan sedikit.

فِي خَلْوَةٍ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا الْغَاسِلُ وَمَنْ يُعِينُهُ وَوَلِيُّ الْمَيْتِ وَهُوَ أَقْرَبُ الْوَرَثَةِ ، وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُوْنَ الْغَسْلُ تَحْتَ سَقْفٍ ، لِأَنَّهُ أَسْتَرُ ، وَأَنْ يَكُوْنَ فِي قَمِيصِ بِالٍ ، أَيْ : خَلَقٍ بِفَتْحَتَيْنِ ؛ وَسَخِيْفٍ ، أَيْ : رَقِيْقٍ لِقِلَّةِ غَزْلِهِ ، لِأَنَّهُ أَسْتَرُ لَهُ وَأَلْيَقُ ؛ عَلَى مُرْتَفَعٍ ، كَلَوْحٍ لِئَلَّا يُصِيبَهُ الرُّشَاسُ ؛

(Dilakukan) di tempat tertutup yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang memandikan, orang yang membantu, dan wali mayit yaitu ahli waris terdekat. Dan yang lebih utama pemandian dilakukan di bawah atap karena lebih menutupi; dan (mayit) dalam keadaan memakai gamis/baju yang sudah usang dan tipis kainnya, karena hal itu lebih menutupi baginya dan lebih layak; (diletakkan) di atas tempat yang tinggi seperti papan agar tidak terkena percikan air.

وَأَنْ يُجْلِسَهُ الْغَاسِلُ عَلَى الْمُرْتَفَع بِرِفْقٍ مَائِلًا قَلِيْلًا إِلَى وَرَائِهِ ، وَيَضَعُ يَمِينَهُ عَلَى كَتِفِهِ وَإِبْهَامَهُ فِي نُقْرَةِ قَفَاهُ لِئَلَّا تَمِيلَ رَأْسُهُ ، وَيَسْنُدَ ظَهْرَهُ بِرُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَيُمِرُّ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى بَطْنِهِ بِتَحَامُلٍ يَسِيْرِ مَعَ التَّكْرَارِ ، لِيَخْرُجَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَضْلَةِ ؛ ثُمَّ يُضْجِعُهُ عَلَى قَفَاهُ ، وَيَغْسِلُ بِخِرْقَةٍ مَلْفُوْفَةٍ عَلَى يَسَارِهِ

Dan hendaknya orang yang memandikan mendudukkan mayit di atas tempat tinggi tersebut dengan lembut sambil sedikit dimiringkan ke arah belakangnya. Ia meletakkan tangan kanannya di atas pundak mayit dan jempolnya di lekukan tengkuknya agar kepalanya tidak miring, serta menyandarkan punggung mayit dengan lutut kanannya. Lalu ia menjalankan tangan kirinya di atas perut mayit dengan tekanan yang ringan secara berulang-ulang agar keluar apa yang ada di dalamnya (kotoran); kemudian ia membaringkannya secara terlentang, dan membasuh (istinja) dengan kain yang dililitkan pada tangan kirinya.

[Halaman 399]

[٣٩٩] سَوْأَتَيْهِ ، ثُمَّ يُلْقِيْهَا ، وَيَلْتُ خِرْقَةٌ أُخْرَى عَلَى يَدِهِ بَعْدَ غَسْلِهَا بِمَاءٍ وَنَحْوِ أَشْنَانٍ ، وَيُنَفِّفُ أَسْنَانَهُ وَمَنْخِرَيْهِ ، وَهِيَ عَلَى وَزْنِ مَسْجِدٍ : خَرْقُ الأَنْفِ ، ثُمَّ يُوَفِّتُهُ كَالْحَيِّ بِنِيَّةٍ ، ثُمَّ يَغْسِلُ رَأْسَهُ فَلِحْيَتَهُ بِنَحْوِ سِدْرٍ ؛

Kedua kemaluannya, kemudian ia membuang kain tersebut. Lalu ia melilitkan kain lain pada tangannya setelah membasuhnya dengan air dan sejenis asynan (sabun pembersih), lalu ia membersihkan gigi dan kedua lubang hidungnya—kata mankhir mengikuti wazan masjid artinya lubang hidung. Kemudian ia mewudhuinya sebagaimana orang hidup dengan niat, lalu membasuh kepalanya kemudian jenggotnya dengan sejenis bidara (sidr).

وَيُسَبِّحُ شَغَرَهُمَا إِنْ تَلَبَّدَ بِمِشْطِ وَاسِعِ الْأَسْنَانِ بِرِفْقٍ ، وَيَرُدُّ الْمُنْتَتِفَ مِنْ شَعْرِهِمَا إِلَيْهِ نَدْبًا فِي الْكَفَنِ أَوِ الْقَبْرِ

Dan ia menyisir rambut keduanya (kepala dan jenggot) jika menggumpal/gimbal dengan sisir yang renggang giginya secara lembut. Dan ia mengembalikan rambut yang rontok dari keduanya ke dalam kain kafan (secara sunnah) atau ke dalam kubur.

وَأَمَّا دَفْتُهُ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ الْقَبْرِ ، فَوَاجِبٌ كالسَّاقِطِ مِنَ الْحَيِّ إِذَا مَاتَ قَبْلَهُ ، ثُمَّ يَغْسِلُ شِقَّهُ الأَيْمَنَ ثُمَّ الأَيْسَرَ ، ثُمَّ يَحْرِفُهُ إِلَى شِقْهِ الْأَيْمَنِ فَيَغْسِلُ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ مِمَّا يَلِيْ قَفَاهُ ، ثُمَّ يَحْرِفُهُ إِلَى شِقْهِ الْأَيْمَنِ فَيَغْسِلُ الْأَيْسَرَ كَذَلِكَ ،

Adapun menguburnya (rambut yang rontok), meskipun di luar kuburan (mayit), maka hukumnya wajib sebagaimana anggota tubuh yang lepas/putus dari orang yang masih hidup jika ia (anggota tubuh itu) "mati" lebih dulu. Kemudian ia membasuh sisi kanan tubuhnya lalu sisi kiri, kemudian memiringkannya ke sisi kiri untuk membasuh sisi kanan bagian belakang (punggung), lalu memiringkannya ke sisi kanan untuk membasuh sisi kiri bagian belakang dengan cara yang sama.

مُسْتَعِيْنَا فِي ذَلِكَ كُلِّهِ بِنَحْوِ سِدْرٍ ، ثُمَّ يُزِيلُهُ بِمَاءٍ مِنْ فَرْقِهِ ، بِفَتْحِ الْفَاءِ وَسُكُوْنِ الرَّاءِ ، أَيْ : وَسْطِ رَأْسِهِ ، إِلَى قَدَمِهِ ، ثُمَّ يَعُمُّهُ كَذَلِكَ بِمَاءٍ قَرَاحٍ ، لَكِنْ فِيْهِ قَلِيْلُ كَافُوْرٍ . فَهَذِهِ الْغَسْلَاتُ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ .

Ia meminta bantuan (menggunakan) sejenis bidara dalam semua proses itu, kemudian menghilangkannya dengan air dari bagian tengah kepalanya (farqihi) sampai ke kakinya. Kemudian ia meratakannya dengan air murni (qarah) yang di dalamnya terdapat sedikit kapur barus. Maka basuhan-basuhan ini terhitung satu kali basuhan.

وَيُنْدَبُ أَنْ لَا يَنْظُرَ الْغَاسِلُ مِنْ غَيْرِ عَوْرَتِهِ إِلَّا قَدْرَ الْحَاجَةِ ، أَمَّا عَوْرَتُهُ فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا

Dan disunnahkan bagi orang yang memandikan untuk tidak melihat anggota tubuh mayit selain aurat kecuali sebatas keperluan saja; adapun auratnya, maka haram melihat ke arahnya.

وَيُنْدَبُ أَنْ يُغَطِّيَ وَجْهَ الْمَيْتِ بِخِرْقَةٍ مِنْ أَوَّلِ وَضْعِهِ عَلَى الْمُغْتَسَلِ ، وَأَنْ لَا يَمَسَّ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ عَوْرَتِهِ إِلَّا بِخِرْقَةٍ ، وَلَوْ خَرَجَ بَعْدَ الْغَسْلِ نَجَسٌ وَجَبَتْ إِزَالَتْهُ

Dan disunnahkan untuk menutupi wajah mayit dengan kain sejak awal diletakkan di tempat pemandian, dan tidak menyentuh bagian manapun selain aurat kecuali dengan alas kain. Jika keluar najis setelah dimandikan, maka wajib menghilangkannya.

قَالَ الْقَلْيُوْبِيُw: لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ، وَلَا يَجُوْزُ تَيَمُّمُ مَنْ عَلَى بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ تَعَذَّرَ إِزَالَتُهَا ، وَلَا تَجُوْزُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ

Imam Al-Qalyubi berkata: (Kewajiban menghilangkan najis itu) demi sahnya menshalati mayit tersebut. Dan tidak boleh menayamumkan orang yang di tubuhnya terdapat najis yang sulit dihilangkan, dan tidak boleh pula menshalatinya.

[Halaman 400]

تَنْبِيهُ : قَوْلُهُ : « يَصُبُّ الْمَاءَ » إِنْ كَانَ مِنْ بَابِ قَتَلَ فَهُوَ مُتَعَدٌ ، وَهُوَ الْمُرَادُ هُنَا ، وَمَعْنَاهُ : يُرِيقُ ، وَإِنْ كَانَ مِنْ بَابِ ضَرَبَ ، فَهُوَ قَاصِرٌ ، وَمَعْنَاهُ ، يَسْكُبُ

Peringatan: Perkataannya: "Yashubbul ma-a" (ia menyiramkan air), jika (kata kerja tersebut) berasal dari bab qatala maka ia adalah kata kerja transitif (muta'addi), dan itulah yang dimaksud di sini, maknanya adalah: ia menumpahkan air. Dan jika berasal dari bab dlaraba, maka ia adalah kata kerja intransitif (qashir), dan maknanya adalah: (air tersebut) mengalir.

فَصْلٌ فِي الْكَفَنِ . أَقَلُّ الْكَفَنِ ثَوْبٌ يَعُمُّهُ ، أَيْ : يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَيْتِ غَيْرَ رَأْسِ الْمُحْرِمِ وَوَجْهِ الْمُحْرِمَةِ

Fasal tentang Kafan. Standar minimal kafan adalah satu baju (lembar kain) yang meratakannya, maksudnya yang menutupi seluruh tubuh mayit selain kepala orang yang sedang ihram (laki-laki) dan wajah perempuan yang sedang ihram.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَالْمُعْتَمَدُ وُجُوْبُ ثَلَاثِ لَفَائِفَ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى ، إِذَا كُفَّنَ مِنْ مَالِهِ وَلَمْ يُوْصِ بِإِسْقَاطِ الزَّائِدِ عَلَى الْوَاحِدِ وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْهُ غَرِيمٌ مُسْتَغْرِقُ دَيْنُهُ لِلتَّرِكَةِ ، وَإِنْ كَانَ فِي الْوَرَثَةِ مَحْجُورٌ عَلَيْهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ؛ وَإِلَّا اقْتُصِرَ عَلَى الثَّلَاثِ ، لِأَنَّ الزَّائِدَ عَلَيْهَا سُنَّةٌ ، فَالْإِزَارُ وَاللُّفَافَتَانِ لَيْسَتْ وَاجِبَةٌ وَلَا مَنْدُوْبَةٌ ، أَنْتَهَى

Imam Asy-Syarqawi berkata: "Pendapat yang kuat (mu'tamad) adalah wajibnya tiga lapis kain kafan, baik (mayitnya) laki-laki maupun perempuan, apabila ia dikafani dari hartanya sendiri dan tidak berwasiat untuk menggugurkan tambahan di atas satu lapis, serta tidak dilarang oleh penagih hutang yang hutangnya menghabiskan harta warisannya, walaupun di antara ahli waris terdapat orang yang dicegah mengelola harta (mahjur 'alaihi) menurut pendapat yang kuat; jika tidak demikian (syarat tidak terpenuhi), maka dicukupkan pada tiga lapis, karena tambahan di atasnya adalah sunnah, maka sarung dan dua lapis lainnya tidaklah wajib dan tidak pula disunnahkan." Selesai.

قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَإِنْ كُفْنَ مِنْ غَيْرِ مَالِهِ ، بِأَنْ كُفِّنَ مِنْ مَالِ مَنْ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ ، أَوْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ ، أَوْ مِنَ الْمَوْقُوْفِ عَلَى تَجْهِيْزِ الْمَوْتَى ، أَوْ مِنْ أَغْنِيَاءِ الْمُسْلِمِينَ ؛ فَالْوَاجِبُ ثَوْبٌ وَاحِدٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ إِلَّا رَأْسَ الْمُحْرِمِ وَوَجْهَ الْمُحْرِمَةِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

Imam Al-Bajuri berkata: "Jika ia dikafani bukan dari hartanya sendiri, misalnya dikafani dari harta orang yang menanggung nafkahnya, atau dari Baitul Mal, atau dari harta wakaf untuk pengurusan jenazah, atau dari orang-orang muslim yang kaya; maka yang wajib adalah satu baju (lapis kain) yang menutupi seluruh tubuh kecuali kepala laki-laki ihram dan wajah perempuan ihram menurut pendapat yang kuat.

وَالْحَاصِلُ أَنَّ الْكَفَنَ بِالنِّسْبَةِ لِحَقِّ اللَّهِ تَعَالَى فَقَطْ ثَوْبٌ يَسْتُرُ الْعَوْرَةَ ،

Kesimpulannya, bahwa kain kafan jika ditinjau dari sisi hak Allah Ta'ala saja adalah satu baju (kain) yang menutupi aurat saja.

[Halaman 401]

[٤٠١] وَبِالنِّسْبَةِ لِحَقِّ الْمَيْتِ مَشُوْبًا بِحَقِّ اللَّهِ مَا يَسْتُرُ بَقِيَّةَ الْبَدَنِ ، وَبِالنِّسْبَةِ لِحَقِّ الْمَيْتِ فَقَطْ ثَوْبٌ ثَانٍ وَثَالِثُ

Dan jika ditinjau dari hak mayit yang bercampur dengan hak Allah, maka (yang wajib) adalah kain yang menutupi sisa tubuh lainnya. Sedangkan jika ditinjau dari hak mayit saja, maka wajib baju (lapis kain) kedua dan ketiga.

قَالَ الْقَلْيُوْبِيُّ : وَيُسَنُّ فِي الْكَفَنِ الْأَبْيَضُ، وَالْمَلْبُوسُ أَوْلَى مِنَ الْجَدِيدِ ، وَيَجُوْزُ غَيْرُهُ مِمَّا يَجُوزُ لُبْسُهُ حَيًّا ، وَلَوْ مِنْ شَعَرٍ أَوْ وَبَرٍ أَوْ طِيْنٍ ؛ وَيَحْرُمُ الْحَرِيرُ لِلرَّجُلِ إِنْ وُجِدَ غَيْرُهُ ، وَمِثْلُهُ الْمُزَعْفَرُ ؛ وَيُكْرَهُ الْمُعَصْفَرُ ، أَيْ : الْمَصْبُوْغُ بِالْعُصْفُرِ ، وَلَوْ فِي بَعْضِهِ ، وَغَيْرُ الْأَبْيَضِ ، وَلَوْ لِلْمَرْأَةِ . أَنْتَهَى

Imam Al-Qalyubi berkata: Disunnahkan menggunakan kain kafan putih. Kain yang pernah dipakai lebih utama daripada yang baru. Boleh menggunakan kain selain putih dari bahan yang boleh dipakai saat hidup, meskipun dari bulu binatang atau tanah (lempung). Haram menggunakan sutra bagi laki-laki jika ada kain lain, begitu pula kain yang dicelup minyak ja'faran (muza'far). Makruh hukumnya kain yang dicelup kesumba (mu'ashfar), meskipun hanya sebagian, dan makruh menggunakan warna selain putih walaupun bagi jenazah perempuan. Selesai.

قَالَ الشَّوٌبَرِيُّ : وَلَوْ لَمْ يُوْجَدْ إِلَّا الْحَرِيرُ يَنْبَغِي الاقْتِصَارُ عَلَى وَاحِدٍ ، وَمَحَلُّ حُرْمَتِهِ فِي الْمُزَعْفَرِ إِذَا كَانَ كُلُّهُ أَوْ أَكْثَرُهُ مُزَعْفَرًا ، وَإِذَا فَلَا حُرْمَةَ ، وَكُرِهَ مُغَالَاةٌ فِي الْكَفَنِ ، أَيْ : مَعَ حُضُورِ الْوَارِثِ الْبَالِغِ الْعَاقِلِ الرَّشِيدِ ، وَإِلَّا حَرُمَتْ . انْتَهَى قَوْلُ الشَّوْبَرِيِّ

Imam Asy-Syaubari berkata: Jika tidak ditemukan kecuali kain sutra, maka seyogyanya dicukupkan satu lapis saja. Keharaman kain muza'far adalah jika seluruh atau mayoritasnya terkena ja'faran, jika tidak maka tidak haram. Dimakruhkan berlebih-lebihan (mughalah) dalam harga kafan jika ada ahli waris yang sudah baligh, berakal, dan cerdas (rasyid); jika tidak demikian (ahli waris masih kecil/kurang akal), maka hukumnya haram. Selesai perkataan Imam Syaubari.

وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ ، وَلَوْ صَغِيرًا ؛ ثَلَاثُ لَفَائِفَ ، يَعُمُّ كُلٌّ مِنْهَا الْبَدَنَ

Dan cara paling sempurna bagi laki-laki, meskipun masih kecil; adalah tiga lapis kain yang masing-masing menutupi seluruh tubuhnya.

قَالَ الشَّوٌبَرِيُّ : أَيْ : هَذَا مِنْ حَيْثُ الاقْتِصَارُ عَلَيْهَا ، فَلَا يُنَافِيْ كَوْنُهَا وَاجِبَةً فِي نَفْسِهَا ، لِأَنَّهُ مَتَى كُفَّنَ الْمَيْتُ مِنْ مَالِهِ وَلَمْ يُوْصِ بِإِسْقَاطِ الثَّانِي وَالثَّالِثِ ، وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ مُسْتَغْرِقٌ ، وَجَبَ لَهُ ثَلَاثَةُ أَثْوَابِ ، كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا يَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ غَيْرَ رَأْسِ الْمُحْرِمِ وَوَجْهِ الْمُحْرِمَةِ .

Imam Syaubari berkata: Maksudnya hal ini dari sisi mencukupkan padanya, maka tidak menafikan bahwa hal itu (tiga lapis) hukumnya wajib pada asalnya jika mayit dikafani dari hartanya sendiri, tidak berwasiat menggugurkan lapis ke-2 dan ke-3, serta tidak punya hutang yang menghabiskan harta.

قَالَ الْقَلْيُوْبِيُّ : وَيُبْسَطُ أَوَّلًا أَطْوَلُهَا وَأَحْسَنُهَا وَأَوْسَعُهَا ، ثُمَّ فَوْقَهَا الَّتِي تَلِيْهَا ثُمَّ الَّتِي تَلِيْهَا ، ثُمَّ يُثْنَى طَرَفُ الْعُلْيَا الْأَيْسَرِ وَفَوْقَهُ الْأَيْمَنُ وَهَكَذَا الْبَقِيَّةُ كَمَا يَفْعَلُ الْحَيُّ فِي قِبَائِهِ ؛ وَيُجْعَلُ فَوْقَ كُلٌّ مِنْهَا حَنُوْطٌ . أَنْتَهَى

Imam Al-Qalyubi berkata: Digelar pertama kali kain yang paling panjang, paling bagus, dan paling lebar. Kemudian di atasnya kain berikutnya, lalu berikutnya lagi. Kemudian ditekuk/dilipat ujung kiri kain yang paling atas, baru di atasnya ujung yang kanan, begitu seterusnya seperti orang hidup memakai jubah/kabaya (qiba'); dan diberikan wewangian (hanuth) di atas setiap lapisan. Selesai.

[Halaman 402]

وَيَجُوْزُ رَابِعٌ أَوْ خَامِسٌ ، وَهُوَ قَمِيْصٌ وَعِمَامَةٌ إِنْ لَمْ يَكُن_ مُحْرِمًا ، وَرَضِيَ بِالزِّيَادَةِ وَارِثُ أَهْلُ لِلتَّبَرُّعِ ، وَذَلِكَ بِلَا كَرَاهَةٍ ، مَا لَمْ يَكُنْ فِي الْوَرَثَةِ مَحْجُورٌ عَلَيْهِ أَوْ غَائِبٌ ، وَإِلَّا حَرُمَتِ الزِّيَادَةُ ، لَكِنْ الْأَوْلَى الاقْتِصَارُ عَلَى الثَّلَاثَةِ .

Diperbolehkan lapisan keempat atau kelima, yaitu baju kurung dan sorban (imamah) jika mayit bukan orang yang sedang ihram, dan ahli waris yang berhak mendonasikan harta merestui penambahan tersebut; hal itu dilakukan tanpa makruh selama di antara ahli waris tidak ada yang dicegah mengelola harta (mahjur 'alaihi) atau orang yang tidak hadir (ghaib), jika ada maka penambahan itu haram, namun yang lebih utama adalah mencukupkan pada tiga lapis saja.

وَلِلْمَرْأَةِ قَمِيصٌ ، أَيْ : سَائِرٌ لِجَمِيعِ الْبَدَنِ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ وَخِمَارٌ ، قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ ) : وَهُوَ ثَوْبٌ تُغَلِّي بِهِ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا وَالْجَمْعُ خُمُرٌ ، مِثْلُ : كِتَابٌ وَكُتُبُ وَإِزَارٌ ، وَهُوَ : مَا يُشَدُّ عَلَى الْوَسَطِ ، وَيُؤْتَزَرُ بِهِ فِيْمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ .

Dan bagi perempuan adalah baju kurung (qamish), maksudnya yang menutupi seluruh tubuh; demikian dikatakan oleh Imam Asy-Syarqawi. Dan kerudung (khimar), penulis kitab Al-Misbah berkata: yaitu kain yang digunakan perempuan untuk menutup kepalanya, bentuk jamaknya adalah khumur seperti kitab dan kutub. Dan sarung (izar), yaitu apa yang diikatkan pada pinggang dan digunakan untuk menutupi bagian antara pusar dan lutut.

وَلِفَافَتَانِ ، رِعَايَةٌ لِزِيَادَةِ السَّتْرِ ، وَكَمَا فُعِلَ بِابْنَتِهِ وَ أُمِّ كُلْثُومٍ . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ [ رقم : ٣١٥٧ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٢٦٥٩٤ ]

Dan dua lapis kain (lifafatain), demi menjaga tambahan penutupan (aurat), dan sebagaimana yang dilakukan terhadap putri Nabi, Ummu Kultsum; diriwayatkan oleh Abu Dawud [No: 3157] dan Musnad Ahmad [No: 26594].

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : أَيْ : السُّنَّةُ فِي تَكْفِيْنِ الْمَرْأَةِ ذَلِكَ ، وَأَمَّا الْوَاجِبُ فِي حَقِّهَا فَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّهُ ثَلَاثُ لَفَائِفَ ، فَالسُّنَّةُ فِي حَقِّ الرَّجُلِ الاقْتِصَارُ عَلَى الثَّلَاثِ لَفَائِفَ ، وَهِيَ فِي ذَاتِهَا وَاجِبَةٌ ، وَأَمَّا الْمَرْأَة... ، فَالسُّنَّة... فِي حَقَّهَا غَيْرُ الثَّلَاثِ لَفَائِفَ ، وَهِيَ قَمِيْصٌ وَخِمَارٌ وَإِزَارٌ ، فَقَدْ وَافَقَتِ الرَّجُلَ فِي الْوَاجِبِ وَخَالَفَتْهُ فِي الْمَنْدُوْبِ ، وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْخَمْسَةِ مَكْرُوهَةٌ كَرَاهَةَ تَنْزِيْهِ فِي الرَّجُلِ ، وَالْمَرْأَةِ لِالسَّرَفِ . أَنْتَهَى .

Imam Asy-Syarqawi berkata: Maksudnya sunnah dalam mengkafani perempuan adalah hal tersebut (5 lapis), adapun yang wajib baginya telah lewat penjelasannya yaitu tiga lapis kain. Maka sunnah bagi laki-laki adalah mencukupkan pada tiga lapis kain—yang mana tiga lapis itu sendiri statusnya wajib—adapun bagi perempuan, sunnah baginya adalah selain tiga lapis kain (yaitu ditambah qamish, khimar, izar). Maka perempuan sama dengan laki-laki dalam hal yang wajib, namun berbeda dalam hal yang disunnahkan. Dan penambahan di atas lima lapis hukumnya makruh tanzih bagi laki-laki maupun perempuan karena termasuk pemborosan (israf). Selesai.

[Halaman 403]

قَالَ الزَّيَّادِيُّ : نَعَمْ ، يُنْدَبُ شَدُّ سَادِس عَلَى صَدْرِ الْمَرْأَةِ فَوْقَ الْأَكْفَانِ لِتَجَمُّعِهَا عَنِ انْتِشَارِهَا بِاضْطِرَابٍ ثَدْيَيْهَا عِنْدَ الْحَمْلِ

Imam Az-Zayyadi berkata: Benar, disunnahkan mengikatkan kain keenam pada dada perempuan di atas kain-kain kafan (lainnya) agar bagian tubuhnya terkumpul dan tidak berpencar akibat guncangan payudaranya saat dipikul.

``` ```
📦 Takhrij Dalil Hadits

Mengenai tata cara mengkafani perempuan sebanyak 5 lapis, ini bersandar pada hadits Abu Dawud No. 3157 dan Musnad Ahmad No. 26594 terkait pengurusan jenazah Ummu Kultsum, putri Rasulullah ﷺ.

⚠️ Kotak Kasus Nyata

Kasus: Jenazah korban kebakaran parah atau korban racun yang kulitnya gampang lepas kalau kena air gosokan.
Solusi Hukum: Sesuai naskah, jenazah tersebut dialihkan ke proses Tayamum sebagai ganti mandi demi menjaga kehormatan jasadnya agar kaga makin hancur.

🚨 Kotak Bahaya Laten

Haram hukumnya mengkhitan mayit yang belum sempat khitan sewaktu hidupnya, meskipun dia berdosa gara-gara sengaja nunda khitan! Jangan sok tau ngambil tindakan sendiri potong kulit kuncup jenazah, itu pelanggaran syariat serius!

===================== ```
📖 FRAME SCROLL NASKAH VERBATIM

فَصْلٌ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ . أَرْكَانُ صَلَاةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ . قَالَ فِي الْمِصْبَاحِ » : الْجَنَازَةُ ، هِيَ بِالْفَتْحِ وَالْكَسْرِ ، وَالْفَتْحُ أَصَحُ . وَقَالَ الْأَصْمَعِيُّ وَابْنُ الْأَعْرَابِيِّ : بِالْكَسْرِ الْمَيْتُ نَفْسُهُ ، وَبِالْفَتْحِ السَّرِيرُ . وَرَوَى أَبُو عُمَرٍ الزَّاهِدُ ، عَنْ ثَعْلَبَةَ ، عَكْسَ هَذَا ، فَقَالَ : بِالْكَسْرِ السَّرِيرُ ، وَبِالْفَتْحِ الْمَيْتُ نَفْسُهُ ؛ وَهِيَ مِنْ جَنَزْتُ الشَّيْءَ أَجْيَزُهُ مِنْ بَابِ ضَرَبَ : سَتَرْتُهُ . أَنْتَهَى

Fasal tentang Shalat Jenazah. Rukun-rukun shalat jenazah ada tujuh. Penulis kitab Al-Misbah berkata: Kata Al-Janazah bisa dibaca dengan fathah (Janazah) atau kasrah (Jinazah), dan bacaan fathah lebih shahih. Al-Ashma'i dan Ibnul A'rabi berpendapat: dengan kasrah berarti mayit itu sendiri, dan dengan fathah berarti ranjang/kerandanya. Abu Umar Az-Zahid meriwayatkan dari Tsa'labah kebalikannya: dengan kasrah berarti keranda, dan dengan fathah berarti mayitnya. Kata ini berasal dari Janaztus syai-a ajnizuhu (ikut wazan dlaraba), artinya: aku menutupinya. Selesai.

وَإِنَّمَا يُقَالُ : سَرِيرٌ إِذَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ مَيْتٌ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ مَيْتٌ يُقَالُ : نَعْش ؛ وَالسَّرِيرُ يُنَادِي كُلَّ يَوْمٍ بِلِسَانِ حَالِهِ ، وَيَقُوْلُ : انْظُرْ إِلَيَّ بِعَقْلِكَ أَنَا الْمُهَيَّأُ لِنَفْلِكَ . أَنَا سَرِيرُ الْمَنَايَا كَمْ سَارَ مِثْلِي بِمِثْلِكَ

Disebut sarir (ranjang) jika tidak ada mayit di atasnya, namun jika ada mayitnya maka disebut na'sy. Dan keranda senantiasa memanggil setiap hari dengan lisan keadaannya (lisanul hal), seraya berkata: "Lihatlah kepadaku dengan akalmu, aku adalah yang disiapkan untuk membawamu. Aku adalah ranjang kematian, betapa banyak orang sepertiku yang telah membawa orang sepertimu."

الأَوَّلُ : النَّيَّةُ ، وَيَجِبُ فِيهَا الْقَصْدُ وَالتَّعْبِينُ لِصَلَاةِ الْجَنَازَةِ وَنِيَّةُ الْفَرَضِيَّةِ ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَرَّضُ لِلْكِفَايَةِ وَغَيْرِهَا ، وَلَا يُشْتَرَطُ تَعْيِينُ الْمَيْتِ الْحَاضِرِ بِاسْمِهِ أَوْ نَحْوِهِ ، وَلَا مَعْرِفَتُهُ ، بَلْ يَكْفِيْ تَمْيِيرُهُ نَوْعَ تَمْيِيزِ

Pertama: Niat. Wajib di dalamnya mencakup maksud (qashdu), penentuan (ta'yin) untuk shalat jenazah, dan niat kefardhuan (fardliyyah), meskipun tidak menyebutkan kata "kifayah" atau lainnya. Dan tidak disyaratkan menentukan nama mayit yang hadir secara spesifik atau mengenalnya, bahkan cukup dengan membedakannya dengan suatu jenis pembeda.

[٤٠٤] فَيَقُولُ : نَوَيْتُ الصَّلَاةَ عَلَى هَذَا الْمَيْتِ ، أَوْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الإِمَامُ ، أَوْ عَلَى مَنْ حَضَرَ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِينَ ، فَرْضًا ، أَوْ فَرْضَ كِفَايَةٍ ، فَإِنْ عَيَّنَهُ ، كَزَيْدٍ أَوْ رَجُلٍ وَلَمْ يُشِرْ إِلَيْهِ ، وَأَخْطأَ فِي تَعْيِيْنِهِ ، كَأَنْ بَانَ عَمْرًا أَوِ امْرَأَةً لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ ، فَإِنْ أَشَارَ إِلَيْهِ ، كَأَنْ قَالَ : نَوَيْتُ الصَّلَاةَ عَلَى زَيْدٍ هَذَا ، فَبَانَ عَمْرًا ، صَحَتْ صَلَاتُهُ تَغْلِيْبًا لِلإِشَارَةِ ، وَيَلْغُوْ تَعْيِينُهُ

[Hal. 404] Maka ia (orang yang shalat) mengucapkan: "Aku niat shalat atas mayit ini," atau "atas orang yang dishalati oleh imam," atau "atas mayit kaum muslimin yang hadir," secara fardhu atau fardhu kifayah. Maka jika ia menentukannya (menyebut nama), seperti "Zaid" atau "seorang laki-laki" namun tidak memberikan isyarat (menunjuk) kepadanya, lalu ia salah dalam penentuannya—seperti ternyata jenazahnya adalah Amr atau seorang perempuan—maka shalatnya tidak sah. Namun jika ia memberikan isyarat kepadanya, seperti ia berkata: "Aku niat shalat atas Zaid ini," lalu ternyata jenazahnya adalah Amr, maka shalatnya tetap sah karena memenangkan unsur isyarat, dan penyebutan namanya dianggap tidak ada (laghu).

وَخَرَجَ بِـ « الْحَاضِرِ » مَا لَوْ صَلَّى عَلَى غَائِبِ ، فَإِنْ نَوَى عَلَى الْعُمُوْمِ ، كَأَنْ قَالَ : نَوَيْتُ الصَّلَاةَ عَلَى مَنْ تَصِحُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ مِنْ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِينَ ؛ لَمْ يُشْتَرَطِ التَّعْيِينُ ، وَكَذَا لَوْ أَرَادَ الصَّلَاةَ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الإمامُ ، أَوْ عَلَى مَنْ غُسِلَ وَكُفَّنَ فِي هَذَا الْيَوْمِ ؛ وَإِنْ أَرَادَ غَائِبًا بِخُصُوْصِهِ فَلَا بُدَّ مِنْ تَعْيِيْنِهِ ، وَالْمُرَادُ بِالْغَائِبِ الْغَائِبُ عَنِ الْبَلَدِ ، وَلَوْ خارِجَ السُّوْرِ قَرِيبًا مِنْهُ

Dikecualikan dari kata "hadir" adalah jika ia shalat atas jenazah ghaib. Maka jika ia berniat secara umum, seperti berkata: "Aku niat shalat atas orang-orang muslim yang wafat yang sah untuk dishalati," maka tidak disyaratkan penentuan nama. Begitu juga jika ia bermaksud shalat atas orang yang dishalati imam, atau atas orang-orang yang dimandikan dan dikafani pada hari ini. Namun jika ia menginginkan jenazah ghaib secara khusus, maka wajib menentukannya (menyebut identitasnya). Yang dimaksud dengan jenazah ghaib adalah jenazah yang berada di luar wilayah/kota, meskipun hanya sedikit di luar batas pagar kota.

قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ فِي « فَتْحِ الْوَهَّابِ » : وَتَصِحُ عَلَى غَائِبٍ عَنِ الْبَلَدِ وَلَوْ دُوْنَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ ، وَفِي غَيْرِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ وَالْمُصَلِّي مُسْتَقْبِلُهَا ، لِأَنَّهُ أَخْبَرَهُمْ بِمَوْتِ النَّجَاشِيِّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ ، ثُمَّ خَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَلَّى عَلَيْهِ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا ، وَذَلِكَ فِي رَجَبٍ سَنَةَ تِسْعِ . أَمَّا الْحَاضِرُ بِالْبَلَدِ فَلَا يُصَلِّي عَلَيْهِ إِلَّا مَنْ حَضَرَ

Syaikhul Islam berkata dalam kitab Fathul Wahhab: "Sah shalat atas jenazah yang ghaib (berada di luar kota) meskipun jaraknya kurang dari jarak qashar shalat, dan boleh ke arah selain kiblat asalkan mushalli (orang yang shalat) tetap menghadap kiblat; karena Nabi SAW mengabarkan wafatnya Najasyi pada hari kematiannya, kemudian beliau keluar bersama para sahabat menuju tempat shalat lalu menyalatinya dengan empat takbir, dan itu terjadi pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah. Adapun jenazah yang hadir di dalam kota, maka tidak boleh dishalati (secara ghaib) kecuali oleh orang yang hadir (di dekat jenazah tersebut).

وَتَصِحُ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَيْضًا إِلَّا إِذَا كَانَ قَبْرَ نَبِيٍّ ، وَيَسْقُطُ الْفَرْضُ عَنِ الْحَاضِرِيْنَ إِذَا عَلِمُوْا بِصَلَاةِ غَيْرِهِمْ

Dan sah juga shalat di atas kuburan, kecuali jika itu adalah kuburan Nabi. Dan gugur kewajiban (fardhu kifayah) bagi orang-orang yang hadir jika mereka mengetahui bahwa orang lain telah menyalatinya.

[٤٠٥] الثَّانِي : أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ ، أَيْ : لِأَنَّهُ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِعْلُهُ ﷺ فِي صَلَاتِهِ عَلَى النَّجَاشِيِّ ، وَإِلَّا فَكَانَ قَبْلَهَا يُكَبِّرُ عَلَى الْمَيْتِ خَمْسٌ أَوْ سِتُّ أَوْ سَبْعٌ أَوْ ثَمَانٌ ، أَيْ : مِنْهَا تَكْبِيرَةُ الإِحْرَامِ ، فَالْكُلُw رُكْنٌ وَاحِدٌ ، فَلَوْ نَقَصَ عَنْهَا ابْتِدَاءً بِأَنْ أَحْرَمَ بِهَا بِنِيَّةِ النَّقْصِ لَمْ تَنْعَقِدْ ، أَوِ انْتِهَاءَ بَطَلَتْ ، وَلَوْ زَادَ عَلَى الْأَرْبَعَ وَلَوْ عَمْدًا لَمْ تَبْطُلْ ، لِأَنَّهَا ذِكْرٌ وَهِيَ لَا تَبْطُلُ بِهِ

[Hal. 405] Kedua: Empat kali takbir. Maksudnya, karena itulah jumlah yang tetap berdasarkan perbuatan Nabi SAW saat menyalati Raja Najasyi. Padahal sebelum itu, beliau pernah bertakbir atas mayit sebanyak lima, enam, tujuh, atau delapan kali. Seluruh takbir itu (termasuk takbiratul ihram) adalah satu kesatuan rukun; jika kurang dari empat sejak awal (niat mau kurang) maka shalat tidak sah, jika kurang di akhir maka shalat batal. Jika sengaja menambah lebih dari empat takbir, shalat tidak batal karena takbir adalah dzikir, kecuali jika ia terus-menerus mengangkat tangan (secara berlebihan) atau sengaja menambah dengan keyakinan bahwa itu membatalkan shalat.

أَمَّا لَوْ زَادَ إِمَامُهُ عَلَيْهَا فَلَا تُسَنُّ لَهُ مُتَابَعَتُهُ فِي الزَّائِدِ لِعَدَمٍ سَنْهِ لِلإِمَامِ ، بَلْ يُسَلِّمُ أَوْ يَنْتَظِرُهُ لِيُسَلَّمَ مَعَهُ ، وَهُوَ أَفْضَلُ لِتَأْكُدِ الْمُتَابَعَةِ ، فَلَوْ تَابَعَهُ فِيْهِ لَمْ تَبْطُلْ

Jika imam menambah takbir, makmum tidak disunnahkan mengikutinya karena tambahan itu tidak disunnahkan bagi imam. Makmum boleh langsung salam atau menunggunya agar bisa salam bareng imam, dan menunggu itu lebih utama demi memperkuat ikatan mutaba'ah (mengikuti imam). Jika makmum ikut bertakbir lagi bersama imam, shalatnya tidak batal.

وَيَجِبُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِالتَّكْبِيرَةِ الأُولَى الَّتِي هِيَ تَكْبِيرَةُ الإِحْرَامِ ، وَلَا يَجِبُ عَلَى الإِمَام نِيَّةُ الإِمَامَةِ ، فَإِنْ نَوَاهَا حَصَلَ لَهُ الثَّوَابُ وَإِلَّا فَلَا ؛ وَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةِ الاقْتِدَاءِ إِنْ كَانَ مُقْتَدِيًا

Wajib menyertakan niat bersamaan with takbir pertama (takbiratul ihram). Imam tidak wajib niat menjadi imam (untuk keabsahan shalat), namun jika ia meniatkannya maka ia mendapat pahala jamaah. Adapun makmum, wajib berniat mengikuti imam (iqtida').

وَلَوْ نَوَى الإِمَامُ مَيْتًا حَاضِرًا أَوْ غَائِبًا وَنَوَى الْمَأْمُوْمُ مَيْتًا آخَرَ كَذَلِكَ جَازَ ، لِأَنَّ اخْتِلَافَ نِيَّتِهِمَا لَا يَضُرُّ .

Seandainya imam berniat menyalati jenazah A (hadir atau ghaib) dan makmum berniat menyalati jenazah B, maka hukumnya boleh, karena perbedaan niat mereka tidak membahayakan.

وَلَوْ تَخَلَّفَ الْمَأْمُوْمُ عَنْ إِمَامِهِ بِتَكْبِيرَةٍ ، بَلْ بِتَكْبِيرَتَيْنِ ؛ قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ فِي « فَتْحِ الْوَهَّابِ » : فَلَوْ كَبَّرَ إِمَامُهُ أُخْرَىٰ قَبْلَ قِرَاءَتِهِ لِلْفَاتِحَةِ ، سَوَاءٌ شَرَعَ فِيْهَا أَمْ لَا ، تَابَعَهُ فِي تَكْبِيرِهِ ، وَسَقَطَتِ الْقِرَاءَةُ عَنْهُ ، وَتَدَارَكَ الْبَاقِي مِنْ تَكْبِيرٍ وَذِكْرٍ بَعْدَ سَلَامِ إِمَامِهِ ، كَمَا فِي غَيْرِهَا مِنَ الصَّلَواتِ

Jika makmum tertinggal takbir imam (satu atau dua takbir); Syaikhul Islam berkata dalam Fathul Wahhab: "Jika imam sudah takbir lagi sebelum makmum selesai baca Al-Fatihah, maka makmum harus ikut takbir imam dan gugur kewajiban bacaannya (karena ia makmum masbuq). Makmum tersebut menyempurnakan sisa takbir dan dzikirnya setelah imam salam, sebagaimana dalam shalat-shalat lainnya."

[٤٠٦] وَيُسَنُّ رَفْعُ يَدَيْهِ فِي تَكْبِيرَاتِهَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَيَضَعُ يَدَيْهِ بَعْدَ كُلِّ تَكْبِيرَةٍ تَحْتَ صَدْرِهِ كَغَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ

[Hal. 406] Dan disunnahkan mengangkat kedua tangannya pada takbir-takbirnya setinggi pundaknya, dan meletakkan tangannya setelah setiap takbir di bawah dadanya sebagaimana shalat-shalat lainnya.

الثَّالِثُ : الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ ، أَيْ : وَلَوْ صَبِيًّا وَامْرَأَةٌ مَعَ رِجَالٍ ، وَإِنْ وَقَعَتْ لَهُمَا نَافِلَةٌ رِعَايَةٌ لِصُوْرَةِ الْفَرْضِ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ قَعَدَ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ أَضْطَجَعَ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ اسْتَلْقَى ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ أَوْمَاً كَمَا فِي غَيْرِهَا

Ketiga: Berdiri bagi yang mampu, maksudnya: meskipun anak kecil dan perempuan bersama laki-laki, meskipun hal itu bagi keduanya bernilai sunnah demi menjaga bentuk fardhu. Jika ia tidak mampu berdiri maka ia duduk, jika tidak mampu maka ia berbaring miring, jika tidak mampu maka ia berbaring telentang, jika tidak mampu juga maka ia memberi isyarat sebagaimana dalam shalat lainnya.

الرَّابِعُ : قِرَاءةُ الْفَاتِحَةِ ، أَوْ بَدَلِهَا عِنْدَ الْعَجْزِ عَنْهَا ، فَلَا تَتَعَيَّنُ بَعْدَ الأُولَى ، وَلِذَلِكَ لَمْ يُقَيِّدْهَا الْمُصَنِّفُ ، وَيَجُوزُ إِخْلَاءُ الأَوْلَى عَنْهَا وَيَضُمُّهَا لِلصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ بَعْدَ الثَّانِيَةِ ، أَوْ لِالدُّعَاءِ لِلْمَيْتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ ، أَوْ يَأْتِي بِهَا بَعْدَ الرَّابِعَةِ ، لَكِنَّ الأَفْضَلَ بَعْدَ الأَوْلَى ؛ أَمَّا لَوْ شَرَعَ فِي الْفَاتِحَةِ عَقِبَهَا فَلَا يَجُوْزُ لَهُ قَطْعُهَا وَتَأْخِيْرُهَا لِمَا بَعْدَهَا ، وَكَذَا لَا يَجُوْزُ أَنْ يَقْرَأَ بَعْضَهَا فِي رُكْنٍ وَبَعْضَهَا فِي رُكْنٍ آخَرَ ، لِأَنَّ هَذِهِ الْخَصْلَةَ لَمْ تَثْبُتْ ؛ وَيَقْرَؤُهَا سِرًّا وَإِنْ صَلَّى لَيْلًا ، لِأَنَّهَا وَرَدَتْ كَذَلِكَ

Keempat: Membaca Al-Fatihah, atau penggantinya saat tidak mampu membacanya, maka ia tidak tertentu (harus) setelah takbir yang pertama, oleh karena itu Mushannif tidak membatasinya. Dan boleh mengosongkan takbir pertama darinya lalu menggabungkannya pada shalawat atas Nabi ﷺ setelah takbir kedua, atau pada doa untuk mayit setelah takbir ketiga, atau ia membacanya setelah takbir keempat, akan tetapi yang lebih utama adalah setelah takbir pertama; adapun jika ia sudah memulai membaca Fatihah setelah takbir pertama maka tidak boleh baginya memutusnya dan mengakhirkannya ke takbir setelahnya, begitu juga tidak boleh membaca sebagiannya di satu rukun (takbir) dan sebagian lainnya di rukun yang lain, karena cara seperti ini tidak ada dasarnya; dan ia membacanya secara sirr (pelan) meskipun ia shalat di malam hari, karena riwayatnya memang demikian.

وَيُسَنُ التَّعَوُّذُ قَبْلَهَا ، وَالتَّأْمِينُ بَعْدَهَا وَلَا يُسَنُّ دُعَاءُ الافْتِتَاحِ ، وَلَا السُّوْرَةُ ؛ لِأَنَّ صَلَاةَ الْجَنَازَةِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى التَّخْفِيفِ ، وَإِنْ صَلَّى عَلَى قَبْرٍ أَوْ غَائِبٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

Dan disunnahkan membaca ta'awwudz sebelum Fatihah, and membaca amin setelahnya. Dan tidak disunnahkan doa iftitah, tidak juga membaca surah; karena shalat jenazah dibangun di atas prinsip meringkas (at-takhfif), meskipun ia shalat di atas kuburan atau shalat ghaib menurut pendapat yang mu'tamad.

الْخَامِسُ : الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ بَعْدَ الثَّانِيَةِ ، أَيْ : وُجُوبًا ، [٤٠٧] فَلَا تُجْزِئُ بَعْدَ غَيْرِهَا لِلاتَّبَاعِ .

Kelima: Bershalawat kepada Nabi ﷺ setelah takbir kedua, maksudnya: secara wajib. [Hal. 407] Maka tidaklah mencukupi (shalawat tersebut) jika dilakukan setelah selain takbir kedua karena mengikuti dalil (ittiba').

قَالَ فِي شَرْحِ « الْمَنْهَجِ » : لِفِعْلِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ وَتُسَنُ الصَّلَاةُ عَلَى آلَالِ فِيْهَا ، وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ عَقِبَهَا ، وَالْحَمْدُ قَبْلَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ . انْتَهَى

Penulis Syarh Al-Manhaj berkata: "Karena perbuatan ulama Salaf dan Khalaf." Disunnahkan juga bershalawat kepada keluarga Nabi (Aal) di dalamnya, mendoakan mukminin dan mukminat setelahnya, serta membaca hamdalah sebelum shalawat kepada Nabi SAW. Selesai.

قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَقُوْلَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَخَرَجَ بِالصَّلَاةِ عَلَى الالِ السَّلَامُ عَلَيْهِمْ ، فَلَا يُسَنُّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . انْتَهَى

Imam Asy-Syarqawi berkata: "Yang paling utama adalah mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil 'alamin." Dikecualikan dari bershalawat kepada keluarga Nabi adalah memberi salam kepada mereka, maka salam tidak disunnahkan menurut pendapat yang kuat. Selesai.

وَأَقَلُّ الصَّلَاةِ : « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ » ، وَأكْمَلُهَا : مَا بَعْدَ التَّشَهُدِ الْأَخِيرِ ، وَهُوَ : « اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ؛ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ »

Standar minimal shalawat adalah: "Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad." Sedangkan yang paling sempurna adalah seperti shalawat setelah tasyahud akhir, yaitu: "Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aali sayyidina Muhammadin, kama shallaita 'ala sayyidina Ibrahima wa 'ala aali sayyidina Ibrahima... (sampai akhir) ...fil 'alamina innaka hamidun majid."

(السَّادِسُ : الدُّعَاءُ لِلْمَيْتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ) ، أَيْ : وُجُوْبًا ، فَلَا يُجْزِئُ بَعْدَ غَيْرِهَا ، وَلَا بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ بِأُخْرَوِيٌّ ، كَـ « اللَّهُمَّ الْطُفْ بِهِ » ، أَوْ « لَطَفَ اللَّهُ بِهِ » لِأَنَّ ذَلِكَ يَنْفَعُهُ بِفَكٌ رُوْحِهِ فِي الآخِرَةِ ، بِخِلَافِ نَحْوِ : « اللَّهُمَّ احْفَظُ تَرِكَتَهُ » فَإِنَّهُ لَا يَكْفِيْ

(Rukun Keenam: Doa untuk mayit setelah takbir ketiga) Maksudnya hukumnya wajib, maka tidak mencukupi jika dibaca setelah takbir selainnya. Doa tersebut harus berkaitan dengan urusan akhirat, seperti: "Allahummal thuf bihi" (Ya Allah belaskasihilah dia), atau "lathafallahu bihi" (Semoga Allah berbelas kasih padanya); karena hal itu bermanfaat baginya dalam urusan ruhnya di akhirat. Berbeda dengan doa seperti: "Allahummah fadzh tarikatahu" (Ya Allah jagalah harta warisannya), maka doa semacam itu tidaklah mencukupi (sebagai rukun).

وَمِنَ الْمَسْنُوْنِ : « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيَّنَا وَمَيِّتِنَا ، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا ، وَذَكَرِنَا وَأَنْثَانَا ؛ اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى... »

Termasuk yang disunnahkan (dalam doa): "Allahummaghfir lihayyina wa mayyitina, wa syahidina wa gha-ibina, wa shaghirina wa kabirina, wa dakarina wa untsana; Allahumma man ahyaitahu minna fa-ahyihi 'alal..." (Ya Allah ampunilah yang hidup di antara kami dan yang mati... sampai akhir).

[٤٠٨] الإِسْلَامِ ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيْمَانِ ؛ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ » ثُمَّ يَقُولُ : « اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا عَبْدُكَ ، وَابْنُ عَبْدِكَ ، إِلَى آخِرِ الدُّعَاءِ الْمَشْهُورِ ، [ وَهُوَ : أَللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ ، خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا ، وَمَحْبُوبُهُ وَأَحِبَّاؤُهُ فِيهَا ، إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لاقِيهِ ، وَكَانَ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ ؛ اللَّهُمَّ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُولٍ بِهِ ، وَأَصْبَحَ فَقِيْراً إِلَى رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ ، وَقَدْ جِيْنَاكَ رَاغِبِينَ إِلَيْكَ ، شُفَعَاءَ لَهُ ؛ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنَاً فَزِد| فِي إِحْسَانِهِ ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ ، وَلَقَّهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ ، وَأَفْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ ، وَجَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ ، وَلَقَهِ بِرَحْمَتِكَ الأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتَّى تَبْعَثَهُ إِلَى جَنَّتِكَ ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين [ الأذكار » ، رقم : ٨٢٨ ]

[Hal. 408] (Lanjutan doa): "...di atas Islam, dan siapa yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah di atas iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya dan janganlah Engkau fitnah kami setelahnya." Kemudian ia mengucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya ini adalah hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu..." sampai akhir doa yang masyhur. (Lengkapnya): "Ya Allah, ia telah keluar dari dunia dan keluasannya, serta kekasih dan orang-orang yang dicintainya di dunia menuju kegelapan kubur dan apa yang akan ia hadapi. Ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Mu, dan Engkau lebih tahu tentangnya. Ya Allah, ia bertamu kepada-Mu dan Engkau adalah sebaik-baik tempat bertamu. Ia menjadi fakir akan rahmat-Mu dan Engkau Maha Kaya dari menyiksanya. Kami mendatangi-Mu dengan mengharap pada-Mu sebagai pemberi syafaat baginya. Ya Allah, jika ia orang baik maka tambahlah kebaikannya, jika ia orang buruk maka maafkanlah ia. Temukanlah ia dengan rahmat-Mu pada keridhaan-Mu, lindungilah ia dari fitnah dan siksa kubur, lapangkanlah kuburnya, jauhkanlah bumi dari kedua lambungnya, dan temukanlah ia dengan rahmat-Mu pada keamanan dari siksa-Mu sampai Engkau membangkitkannya ke surga-Mu, wahai Yang Maha Penyayang." (Al-Adzkar No: 828).

لَكِنَّ مَحَلَّ الإِثْيَانِ بِهِ فِي الْبَالِغِ ، وَلَوْ مَجْنُوْنًا بَلَغَ وَدَامَ جُنُوْنُهُ إِلَى مَوْتِهِ ، أَمَّا الصَّغِيرُ فَيَقُوْلُ فِيْهِ مَعَ الدُّعَاءِ الأَوَّلِ : « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِأَبَوَيْهِ ، وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيعًا ، وَثَقُلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا ، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوبِهِمَا ، وَلَا تَفتِنْهُمَا بَعْدَهُ ، وَلَا تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ » ، لِأَنَّ ذَلِكَ مُنَاسِبٌ لِلْحَالِ ، وَإِنَّمَا كَفَى هَذَا الدُّعَاءُ لِلطَّفْلِ مَعَ قَوْلِهِمْ : إِنَّهُ لَا بُدَّ فِي الدُّعَاءِ لِلْمَيْتِ أَنْ يُخَصَّ بِهِ لِثُبُوْتِ النَّص| فِي هَذَا بِخُصُوصِهِ ، وَهُوَ قَوْلُهُ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ ، وَمِثْلُهُ قَوْلُ الْبَاجُوْرِي وَيَكْفِي فِي الطِّفْلِ الدُّعَاءُ لِوَالِدَيْهِ ، نَحْوُ : « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ

Namun, tempat membaca doa tersebut adalah untuk jenazah yang sudah baligh, meskipun ia gila yang berlanjut sampai matanya. Adapun untuk anak kecil, maka setelah doa pertama ia mengucapkan: "Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan (pahala) bagi kedua orang tuanya, sebagai pendahulu, tabungan, pelajaran, teladan, dan pemberi syafaat. Beratkahlah timbangan amal keduanya dengannya, tuangkanlah kesabaran di hati keduanya, janganlah Engkau fitnah keduanya setelahnya, dan janganlah Engkau halangi pahalanya dari keduanya." Karena doa tersebut sesuai dengan keadaannya. Doa ini sudah cukup bagi anak kecil meskipun ada pendapat ulama yang menyatakan doa mayit harus dikhususkan untuk si mayit, karena adanya ketetapan nash yang khusus dalam hal ini. Demikian dikatakan oleh Imam Asy-Syarqawi dan senada dengan Imam Al-Bajuri. Dan cukup bagi anak kecil dengan mendoakan kedua orang tuanya, seperti: "Ya Allah jadikanlah ia bagi kedua orang tuanya...

[٤٠٩] فَرَطًا . . . » إِلَى آخِرِهِ ، وَثُبُوْتُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ ﷺ لَكِنْ قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ فِي « فَتْحِ الْمعِيْنِ ) صفحة : ٢٢٢ ] نَقْلًا عَنْ شَيْخِهِ ابْنِ حَجَرٍ حَيْثُ قَالَ : وَلَيْسَ قَوْلُهُ : « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا . . . » إِلَى آخِرِهِ مُغْنِيَا عَنِ الدُّعَاءِ لِلطَّفْلِ بِخُصُوصِهِ ، لِأَنَّهُ دُعَاءُ بِاللَّازِمِ ، وَهُوَ لَا يَكْفِي ، لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَكْفِ الدُّعَاءُ بِالْعُمُوْمِ الشَّامِلِ لِكلِّ فَرْدٍ ، فَأَوْلَى هَذَا . أَنْتَهَى

[Hal. 409] ...sebagai simpanan (pahala)..." sampai akhir, dan ketetapan hal itu berdasarkan sabda Nabi SAW. Namun Syaikh Abdul Aziz berkata dalam kitab Fathul Mu'in [Hal. 222] menukil dari gurunya, Ibnu Hajar: "Ucapan 'Allahummaj'alhu farathan...' dan seterusnya tidaklah mencukupi dari doa khusus untuk anak tersebut, karena doa itu adalah konsekuensi (du'a bil lazim), dan itu tidaklah cukup. Sebab jika doa yang bersifat umum (mencakup setiap individu) saja tidak cukup, maka doa semacam ini lebih tidak cukup lagi." Selesai.

قَوْلُهُ : « لِأَنَّهُ دُعَاءُ بِاللَّازِم » ، أَيْ : لِأَنَّ « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ . . . » إِلَى آخِرِهِ ، دُعَاءُ نَاشِيٌّ عَنِ الدُّعَاءِ الْمُتَعَلِّقِ بِالطِّفْلِ ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا بُدَّ مِنْ مَلْزُوْمِهِ ، وَهُوَ الدُّعَاءُ لَهُ بِخُصُوْصِهِ

Ucapan: "Karena itu doa dengan konsekuensi (bil lazim)", maksudnya doa 'Allahummaj'alhu...' adalah doa yang lahir dari doa yang berkaitan dengan si anak; jika demikian, maka harus ada doa intinya (malzum), yaitu mendoakan si anak secara khusus.

وَمَحَلُّ ذَلِكَ فِي الْوَالِدَيْنِ الْحَيَّيْنِ الْمُسْلِمَيْنِ ، فَإِنْ كَانَا مَيْتَيْنِ أَوْ كَافِرَيْنِ ، أَوْ كَانَ أَحَدُهُمَا كَذَلِكَ ، لَمْ يَدْعُ بِذَلِكَ ، بَل| يَأْتِي بِمَا يَقْتَضِيْهِ الْحَالُ ، لِأَنَّ الْعِظَةَ بِمَعْنَى تَذْكِيْرِ الْعَوَاقِبِ ، وَهَذَا لَا يَظْهَرُ بَعْدَ الْمَوْتِ

Tempat penggunaan doa (untuk kedua orang tua) tersebut adalah jika kedua orang tuanya masih hidup dan muslim. Jika keduanya sudah mati atau kafir, atau salah satunya demikian, maka jangan membaca doa itu, melainkan membaca doa yang sesuai dengan keadaan. Karena al-izh (pelajaran) bermakna mengingatkan akibat (masa depan), dan hal ini tidak tampak setelah kematian.

وَمَعْنَى « الْفَرَطِ » بِفَتْحَتَيْنِ : السَّابِقُ الْمُهَيَّةُ لِصَالِحِهِمَا فِي الْآخِرَةِ . وَمَعْنَى « السَّلَفِ » : السَّابِقُ ، سَوَاءٌ كَانَ مُهَيِّنًا لِلْمَصَالِحِ أَمْ لَا

Makna Al-Farath (dengan fathah pada fa dan ra) adalah orang yang mendahului untuk mempersiapkan kemaslahatan keduanya di akhirat. Makna As-Salaf adalah orang yang mendahului, baik ia mempersiapkan kemaslahatan atau tidak.

وَمَعْنَى ( الدُّخْرِ » بِالضَّمِّ : الْمُعَدُّ وَالْمُهَيَّأُ لِوَقْتِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ ، فَشُبَّهَ بِهِ الصَّغِيرُ لِكَوْنِهِ مُدَّخَرًا أَمَامَهُمَا لِوَقْتِ حَاجَتِهِمَا لَهُ

Makna Ad-Dukhr (dengan dhommah pada dal) adalah sesuatu yang disiapkan untuk waktu saat dibutuhkan. Anak kecil diserupakan dengan istilah ini karena ia menjadi simpanan di hadapan orang tuanya saat mereka membutuhkannya.

وَمَعْنَى ( الاعْتِبَارِ » ، أَيْ : لِيَكُوْنَا يَعْتَبِرَانِ بِمَوْتِهِ وَفَقْدِهِ حَتَّىٰ يَحْمِلَهُمَا ذَلِكَ عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ . وَمَعْنَى « أَفْرِغِ الصَّبْرَ » ، أَيْ : أَنْزِلْهُ وَصُبَّهُ

Makna Al-I'tibar adalah agar keduanya mengambil pelajaran dari kematian dan kehilangannya sehingga hal itu mendorong keduanya untuk melakukan amal shaleh. Makna Afrighish shabr adalah turunkanlah dan tuangkanlah (kesabaran).

[٤١٠] وَمَعْنَى « لَا تَفْتِنُهُمَا » ، أَيْ : لَا تَمْتَحِنْهُمَا فَيَقُوْلُ إِذَا كَانَا مَيْتَيْنِ : « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ ، وَأَرْضَ عَنْهُ وَعَنْهُمَا رِضًا تُحِلُّ بِهِ عَلَيْهِمْ جَوَامِعَ رِضْوَانِكَ » مَثَلًا ، أَوْ : « اللَّهُمَّ أَرْحَمْهُ وَارْحَمْ وَالِدَيْهِ رَحْمَةً تُنِيرُ لَهُمُ الْمَضْجَعَ فِي قُبُورِهِمْ » .

[Hal. 410] Makna "La taftinhuma" adalah janganlah Engkau menguji keduanya. Jika kedua orang tuanya sudah wafat, maka ia mengucapkan: "Ya Allah, ampunilah dia dan kedua orang tuanya, dan ridhailah dia serta keduanya dengan keridhaan yang mencurahkan segala kelengkapan ridha-Mu kepada mereka," misalnya, atau: "Ya Allah, rahmatilah dia dan kedua orang tuanya dengan rahmat yang menyinari tempat pembaringan di kubur-kubur mereka."

وَيَقُوْلُ فِيْمَنْ كَانَا كَافِرَيْنِ وَالصَّغِيرُ فِي يَدِ الْمُسْلِمِ بِأَنْ يَسْبِيَهُ : « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَلِسَابِيْهِ وَمُرَبِّيْهِ » مَثَلًا

Untuk anak kecil yang kedua orang tuanya kafir namun berada di tangan orang muslim (karena ditawan), ia mengucapkan misalnya: "Ya Allah ampunilah dia, orang yang menawannya, dan orang yang mendidiknya."

وَفِيمَنْ كَانَ أَحَدُ أَبَوَيْهِ مُسْلِمًا : « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِأَصْلِهِ الْمُسْلِمِ » . وَفِي وَلَدِ الزِّنَا : « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِأُمِّهِ » .

Bagi anak yang salah satu orang tuanya muslim: "Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan pahala bagi asal-usulnya yang muslim." Dan bagi anak hasil zina: "Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan pahala bagi ibunya."

وَلَوْ تَرَدَّدَ فِي بُلُوغِ الْمُرَاهِقِ فَالْأَحْوَطُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَيَخُصَّهُ بِالدُّعَاءِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ ، وَيَكْفِي أَنْ يَدْعُوَ لَهُ بِالرَّحْمَةِ مَثَلًا . وَالسُّقْطُ إِذَا صُلِّيَ عَلَيْهِ فَيُدْعَى لِوالِدَيْهِ بِالْعَافِيَةِ وَالرَّحْمَةِ ، وَلَوْ دَعَا لَهُ بِخُصُوْصِهِ كَفَى عَمَلًا بِعُمُوْمِ الْحَدِيْثِ

Jika ragu apakah seorang remaja sudah baligh atau belum, maka yang lebih berhati-hati adalah membaca doa (anak kecil) ini dan mengkhususkan doa untuknya setelah takbir ketiga, dan cukup mendoakannya dengan rahmat misalnya. Adapun janin yang gugur (suqth) jika dishalati, maka didoakan keselamatan dan rahmat bagi kedua orang tuanya; dan jika mendoakan khusus untuk janin tersebut maka itu sudah cukup sebagai pengamalan keumuman hadits.

وَهُوَ خَبَرُ أَبِيْ دَاوُدَ [ رقم : ٣١٩٩ ؛ ابن ماجه ، رقم : ١٤٩٧ ] وَابْنُ حِبَّانَ [رقم : ٣٠٧٧ ] : « إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيْتِ فَأَخْلِصُوْا لَهُ الدُّعَاءَ » ، أَيْ : مَحْضُوْا وَخَصِّصُوْا

Yaitu hadits riwayat Abu Dawud [No: 3199], Ibnu Majah [No: 1497], and Ibnu Hibban [No: 3077]: "Jika kalian menyalati mayit, maka ikhlaskanlah doa untuknya," maksudnya murnikan dan khususkanlah.

فَرْعُ : نُقِلَ عَنْ شَرْحِ « الْبَهْجَةِ » الْكَبِيْرِ أَنَّهُ قَالَ : وَفِي مُسْلِمٍ [ رقم : ٩٦٣ ؛ الترمذي ، رقم : ۱۰۲۵ ؛ النسائي ، رقم : ۱۹۸۳ ، ۱۹۸۴ ؛ ابن ماجه ، رقم [٤١١] ١٥٠٠ ؛ ( مسند أحمد » ، رقم : ٢٣٤٥٥ ، ٢٣٤٨٠ ] : عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ : « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، وَارْحَمْهُ ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ ، وَأَكْرِمْ مَنْزِلَهُ ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ، وَنَقَّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ؛ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَارِ النَّارِ ، وَهَذَا أَصَحُ دُعَاءِ الْجَنَازَةِ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ » عَنِ الْحُفَّاظِ . انْتَهَى

Cabang masalah: Dinukil dari kitab Syarah Al-Bahjah Al-Kabir bahwa ia berkata: Dan dalam riwayat Muslim [No: 963], At-Tirmidzi [No: 1025], An-Nasa'i [No: 1983, 1984], Ibnu Majah [No: [Hal. 411] ...1500; Musnad Ahmad No: 23455, 23480]: Dari 'Auf bin Malik, ia berkata: Nabi SAW menyalati jenazah lalu berdoa: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga dengan keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangannya dengan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ia ke surga, dan lindungilah ia dari siksa kubur, fitnahnya, serta dari siksa neraka." Ini adalah doa jenazah yang paling shahih sebagaimana dalam kitab Ar-Raudhah dari para pakar hadits (al-huffazh). Selesai.

خَاتِمَةٌ : قَالَ الْقَلْيُوْبِيُّ : وَيَقُوْلُ بَعْدَ الرَّابِعَةِ : « اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ » ، أَيْ : أَجْرَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ، « وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ » وَهَذَا لَيْسَ فَرْضًا . انْتَهَى

Penutup: Imam Al-Qalyubi berkata: Seseorang mengucapkan setelah takbir keempat: "Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya," maksudnya pahala menyalatinya, "dan janganlah Engkau sesatkan kami setelahnya, serta ampunilah kami dan dia." Ini hukumnya tidak wajib. Selesai.

أَيْ : لِأَنَّهُ لَا يَجِبُ بَعْدَ الرَّابِعَةِ شَيْءٌ ، فَلَوْ سَلَّمَ عَقِبَهَا جَازَ ، وَيُسَنُّ تَطْوِيلُهَا بِقَدْرِ الثَّلَاثَةِ قَبْلَهَا ، وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ يَقْرَأُ فِيْهَا ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ غَافِرٍ ، وَهِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى : ﴿الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ، وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَابِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحْمَتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾

Maksudnya: Karena tidak ada kewajiban apa pun setelah takbir keempat, maka seandainya seseorang langsung salam setelah takbir keempat pun boleh. Namun disunnahkan memanjangkan takbir keempat tersebut sepanjang durasi tiga takbir sebelumnya. Dinukil dari sebagian ulama bahwa ia membaca pada takbir keempat tersebut tiga ayat dari Surah Ghafir, yaitu firman Allah Ta'ala: "(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan orang-orang yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya, dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang yang Engkau pelihara dari (balasan) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.'" (QS. Ghafir: 7-9).

[٤١٢] قَالَ الْبَابُلِيُّ : نَعَمْ ، وَرَدَتْ هَذِهِ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ (السَّابِعُ : السَّلَامُ) ، أَيْ : كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ فِي كَيْفِيَّتِهِ وَتَعَدُّدِهِ ، وَفِي عَدَمِ اسْتِحْبَابِ زِيَادَةِ : وَبَرَكَاتُهُ

[Hal. 412] Imam Al-Babuli berkata: "Benar, hal ini (doa ayat Surah Ghafir) telah warid dalam sebagian hadits." (Rukun Ketujuh: Salam) Maksudnya, seperti shalat-shalat lainnya dalam tata cara dan jumlahnya, serta tidak disunnahkan menambah kalimat "wabarakatuhu."

``` ```

📝 Catatan Penting Murid Betawi

  • Niat kudu barengan pas Takbir Pertama.
  • Kagak ada ruku' ama sujud, pondasi shalat ini emang diringkas (*at-takhfif*).
  • Kalo imam nambah takbir ke-5, makmum mendingan diem nungguin salam bareng, itu lebih afdhal demi *mutaba'ah*.
``` ```
🔶 Takhrij Hadits & Riwayat Tarikh

- **Shalat Ghaib Raja Najasyi:** Terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Nabi SAW dapet khabar gaib langsung keluar bareng sahabat bertakbir 4 kali. Ini jadi dalil sahnya shalat ghaib walau beda wilayah.
- **Doa Paling Shahih:** Hadits riwayat Imam Muslim dari Auf bin Malik (*"Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu..."*). Ini doa paling valid kata para *Huffazh* ahli hadits dalam kitab *Ar-Raudhah*.

🚨 Kotak Kasus Nyata (Masbuq Takbir)

Kasus: Ente dateng masbuq, imam udah takbir kedua, ente baru takbiratul ihram (takbir pertama bagi ente) baru mau baca Fatihah, eh ujug-ujug imam udah takbir ketiga.
Solusi Fiqih: Ente kagak usah nyelesaiin Fatihah! Langsung ikut takbir imam, dan kewajiban bacaan Fatihah ente gugur (di tanggung imam karena status ente masbuq). Ntar kekurangan takbirnya ente tebus dewek pas imam udah salam, persis kayak shalat biasa. Jangan malah diem bae!

⚠️ Kotak Bahaya Laten (Tadlis Doa Anak Kecil & Janin)

Awas Tadlis/Kelewatan! Ibnu Hajar Al-Asqalani (dinukil Ibnu Hajar Al-Haitami) wanti-wanti di kitab *Fathul Mu'in*: Bacaan doa populer buat anak kecil *"Allahummaj'alhu farathan li-abawaihi..."* (Ya Allah jadiin nih anak simpanan pahala buat ortunya) itu **KAGAK CUKUP** kalo kagak dibarengin doa khusus ampunan/rahmat buat si anak kecil itu dewek! Karena doa itu cuma konsekuensi (*du'a bil lazim*). Kalo doa umum bae kagak cukup, apalagi doa nyang cuma nyerempet ortunya doang. Trus inget, kalo ortunya kafir ato udah mati, **DILARANG** baca doa model begitu, kudu diganti doa rahmat nyang sesuai keadaan!

===========================
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi