(السَّابِعُ : السَّلَامُ) ، أَيْ : كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ فِي كَيْفِيَّتِهِ وَتَعَدُّدِهِ ، وَفِي عَدَمِ اسْتِحْبَابِ زِيَادَةِ : وَبَرَكَاتُهُ
(Ketujuh: Salam), maksudnya: sama seperti shalat-shalat lainnya dalam hal tata cara dan jumlahnya, serta tidak disunnahkannya menambah kalimat: wa barakatuhu.
فَصْلٌ فِي الدَّفْنِ وَمَا يُذْكَرُ مَعَهُ أَقَلُّ الدَّفْنِ ، أَيْ : الْقَبْرِ ، حُفْرَةٌ تَكْتُمُ ، مِنْ بَابِ قَتَلَ ؛ رَائِحَتَهُ ، أَيْ : الْمَيْتِ ؛ وَتَحْرُسُهُ ، مِنْ بَابِ قَتَلَ ، أَيْ : تَحْفَظُهُ ؛ مِنَ السَّبَاعِ ، جَمْعُ ، سَبْع ، مِثْلُ : رَجُلٍ وَرِجَالٍ ، وَهُوَ يَقَعُ عَلَى كُلِّ مَا لَهُ نَابٌ يَعْدُو بِهِ وَيَفْتَرِسُ
Fasal: Mengenai Penguburan dan Hal-Hal yang Berkaitan dengannya. Standar minimal penguburan (liang kubur) adalah sebuah lubang yang dapat menutupi (asal kata katama-yaktumu, dari bab qatala) bau si mayit, serta menjaganya (asal kata harasa-yahrusu, dari bab qatala, artinya menjaganya) dari binatang buas (as-siba'). Kata as-siba' adalah bentuk jamak dari sab'un, seperti kata rajulun dan rijalun; istilah ini mencakup setiap hewan yang memiliki taring untuk menyerang dan memangsa.
أَيْ : وَالْوَاجِبُ مِنَ الْقَبْرِ مَا يَمْنَعُ ظُهُورَ رَائِحَةِ الْمَيْتِ فَتُؤْذِي الأَحْيَاءَ ، وَيَمْنَعُ نَبْشَ السَّبْعِ لَهُ فَيَأْكُلُهُ
Maksudnya, kewajiban dalam membuat kubur adalah yang mampu mencegah terciumnya bau mayit sehingga tidak mengganggu orang-orang yang masih hidup, dan mencegah binatang buas membongkarnya lalu memakan jenazah tersebut.
وَخَرَجَ بِـ « الْحُفْرَةِ » مَا لَوْ وُضِعَ الْمَيْتُ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَوْ بُنِيَ عَلَى الْأَرْضِ حَيْثُ لَمْ يَتَعَذَّرِ الْحَفْرُ ، وَإِلَّا كَفَى ؛ فَلَوْ مَاتَ فِي سَفِينَةٍ انْتَظَرُوا وُصُوْلَهَا إِلَى السَّاحِلِ لِيُدْفَنَ فِي الْبَرِّ إِنْ قَرُبَ ، وَإِلَّا فَالْمَشْهُورُ كَمَا نَصَّ
Dikecualikan dari kata "lubang" (liang kubur) adalah jika mayit diletakkan di atas permukaan bumi atau dibangunkan bangunan di atas tanah (tanpa lubang), selama masih memungkinkan untuk menggali. Namun jika tidak memungkinkan digali, maka hal itu (bangunan/peti di atas tanah) sudah cukup. Seandainya seseorang meninggal di atas kapal, maka mereka menunggu sampai sampai ke tepi pantai agar bisa dikubur di daratan jika jaraknya dekat. Jika tidak (jaraknya jauh), maka menurut pendapat yang masyhur sebagaimana telah ditetapkan...
[٤١٣] عَلَيْهِ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ أَنْ يُشَدَّ بَيْنَ لَوْحَيْنِ لِئَلَّا يَنْتَفِخَ ، وَيُلْقَى فِي الْبَحْرِ ، لِيَصِلَ إِلَى السَّاحِلِ ، وَإِنْ كَانَ أَهْلُهُ كُفَّارًا ، فَقَدْ يَجِدُهُ مُسْلِمٌ فَيَدْفِنُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ ، فَإِنْ أَلْقَوْهُ فِيْهِ بِدُوْنِ لَوْحَيْنِ وَثَقَلُوْهُ بِنَحْوِ حَجَرٍ لَمْ يَأْثَمُوْا
[Hal. 413] Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi'i, jenazah tersebut diikat di antara dua papan agar tidak menggelembung (rusak), lalu dilarung ke laut supaya bisa sampai ke pantai. Meskipun penduduk pantai tersebut kafir, bisa jadi ada orang muslim yang menemukannya lalu menguburkannya menghadap kiblat. Jika mereka melarungnya tanpa dua papan dan memberatinya dengan sesuatu seperti batu, maka mereka tidak berdosa.
وَيُسَنُّ أَنْ يُسْتَرَ الْقَبْرُ عِنْدَ الدَّفْنِ بِثَوْبٍ وَنَحْوِهِ ، لِأَنَّهُ رُبَّمَا يَنْكَشِفُ مِنَ الْمَيْتِ شَيْءٌ ، فَيَظْهَرُ مَا يُطْلَبُ إِخْفَاؤُهُ ، رَجُلًا كَانَ الْمَيْتُ أَوِ امْرَأَةٌ ، وَهُوَ فِيهَا أَكَدُ
Disunnahkan menutupi kubur saat pemakaman dengan kain atau sejenisnya, karena terkadang ada bagian tubuh mayit yang tersingkap sehingga tampak apa yang seharusnya disembunyikan. Hal ini berlaku baik jenazahnya laki-laki maupun perempuan, namun bagi perempuan hukumnya lebih ditekankan (akad).
وَالسُّنَّةُ الدَّفْنُ فِي غَيْرِ اللَّيْلِ وَوَقْتِ كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ ، وَجَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ دَفْتُهُ لَيْلًا مُطْلَقًا ؛ أَيْ : سَوَاءٌ قَصَدَهُ وَطَلَبَهُ أَمْ لَا ، وَوَقْتَ كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ إِذَا لَمْ يُقْصَدْ ، وَإِلَّا فَلَا يَجُوْزُ
Sunnah menguburkan jenazah di selain waktu malam dan bukan pada waktu makruh shalat. Namun diperbolehkan tanpa kemakruhan menguburkannya pada malam hari secara mutlak (baik disengaja atau tidak), dan pada waktu makruh shalat jika tidak disengaja; jika disengaja maka tidak boleh.
قَالَ سُلَيْمَانُ الْبُجَيْرِمِيُّ : قَوْلُهُ : « فَلَا يَجُوْزُ » الْمُعْتَمَدُ الْكَرَاهَةُ تنْزِيْهَا ، وَهَذَا فِي غَيْرِ حَرَمِ مَكَّةَ ، أَمَّا فِيْهِ فَلَا حُرْمَةً وَلَا كَرَاهَةً قِيَاسًا عَلَى الصَّلَاةِ فِيهِ .
Sulaiman Al-Bujairimi berkata: Ucapan "tidak boleh" (di atas), pendapat yang kuat (mu'tamad) adalah makruh tanzih. Hal ini berlaku di luar Tanah Haram Makkah, adapun di dalamnya maka tidak ada keharaman maupun kemakruhan, disamakan dengan hukum shalat di sana.
وَأَكْمَلُهُ قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ ، بِأَنْ يَقُوْلَ : رَجُلٌ مُعْتَدِلُ بَاسِطًا يَدَيْهِ مُرْتَفِعَتَيْنِ . قَالَ الْبُجَيْرِمِيُّ : قَوْلُهُ : « بَاسِطًا يَدَيْهِ » ، أَيْ : غَيْرَ قَابِضِ لِأَصَابِعِهِمَا ، وَذَلِكَ مِقْدَارُ أَرْبَعَةِ أَذْرُعٍ وَنِصْفٍ بِذِرَاعِ الْيَدِ .
Ukuran kubur yang paling sempurna adalah seukuran berdiri tegak ditambah satu rentangan tangan ke atas (qamatun wa basthah), yaitu seorang laki-laki berukuran sedang berdiri sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Al-Bujairimi berkata: Ucapan "merentangkan kedua tangannya" maksudnya tanpa mengepalkan jari-jarinya, dan ukuran tersebut adalah sekitar empat setengah dzira' (lengan).
وَيُسَنُ أَنْ يُوْضَعَ الْمَيْتُ فِي الْقَبْرِ عَلَى يَمِينِهِ كَمَا فِي الاضْطِجَاعِ عِنْدَ النَّوْمِ ، فَلَوْ وُضِعَ عَلَى يَسَارِهِ كُرِهَ ، وَلَمْ يُنْبَسُ ، كَمَا قَالَهُ الْمَحَلِّيُّ
Disunnahkan meletakkan mayit di dalam kubur pada sisi kanannya sebagaimana posisi berbaring saat tidur. Jika diletakkan pada sisi kirinya maka hukumnya makruh, namun kuburnya tidak perlu dibongkar kembali, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mahalli.
[٤١٤] وَيُوْضَعُ خَدُّهُ ، أَيْ : الأَيْمَنُ ، بَعْدَ إِزَالَةِ الْكَفَنِ . قَالَهُ الْبُجَيْرِمِيُّ
[Hal. 414] Dan diletakkan pipinya—maksudnya pipi kanan—setelah kain kafan dibuka (disingkap). Demikian dikatakan oleh Al-Bujairimi.
عَلَى التَّرَابِ ، أَيْ : يُسَنُّ أَنْ يُفْضَى بِخَدِّهِ إِلَى الْأَرْضِ ، أَوْ إِلَىٰ نَحْوِ اللَّبِنَةِ ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي إِظْهَارِ الذُّلِّ . قَالَهُ الْبُجَيْرِمِيُّ
Di atas tanah—maksudnya disunnahkan untuk menempelkan pipinya langsung ke bumi, atau ke sejenis bantal dari tanah liat (labinah); karena hal itu lebih dalam menunjukkan kerendahan diri. Demikian dikatakan oleh Al-Bujairimi.
وَيُكْرَهُ أَنْ يُجْعَلَ لَهُ فَرْسٌ وَمِخَدَّةٌ ، بِكَسْرِ الْمِيْمِ ، وَصُنْدُوْقٌ لَمْ يَحْتَجْ إِلَيْهِ ، لِأَنَّ فِي ذَلِكَ إِضَاعَةَ الْمَالِ
Makruh hukumnya memberikan alas, bantal (mikhaddah), atau peti (shunduq) jika tidak dibutuhkan, karena hal itu termasuk membuang-buang harta.
أَمَّا إِذَا احْتِيْجَ إِلَى صُنْدُوْقٍ لِنَدَاوَةِ الأَرْضِ أَوْ نَحْوِهَا ، كَرَخَاوَتِهَا ، فَلَا يُكْرَهُ ، وَلَا تُنَفَّذُ وَصِيَّتُهُ بِهِ إِلَّا حِينَئِذٍ
Adapun jika peti dibutuhkan karena tanah yang lembap atau rapuh, maka tidak makruh, dan wasiat jenazah untuk dipakaikan peti tidak dilaksanakan kecuali dalam kondisi (darurat) tersebut.
وَيُسَنُّ أَنْ يُسْنَدَ وَجْهُ الْمَيْتِ وَرِجْلَاهُ إِلَى جَنْبِ الْقَبْرِ ، وَظَهْرُهُ بِنَحْوِ لَبِنَةِ ، بِكَسْرِ الْبَاءِ ، وَهُوَ : مَا يُعْمَلُ مِنَ الطَّيْنِ ، وَجَمْعُهُ لَبِنٌ بِحَذْفِ التَّاءِ ، أَوْ حَجَرٍ لِئَلَّا يَنْكَبَّ عَلَى وَجْهِهِ أَوْ يَسْتَلْقِيَ عَلَى ظَهْرِهِ .
Disunnahkan menyandarkan wajah dan kedua kaki mayit ke dinding kubur, serta menyangga punggungnya dengan sejenis tanah liat (labinah, dengan kasrah pada huruf ba, yaitu sesuatu yang dibuat dari tanah merah, bentuk jamaknya labin dengan membuang ta') atau batu; agar jenazah tidak telungkup pada wajahnya atau terlentang pada punggungnya.
وَلَوْ كَانَ بِأَرْضِ اللَّحْدِ أَوِ الشَّقِّ نَجَاسَةٌ ، فَقَالَ الشَّوْبَرِيُّ : وَالْوَجْهُ ، أَيْ : الْقَوِيُّ الظَّاهِرُ ؛ يَجُوْزُ وَضْعُ الْمَيْتِ عَلَيْهَا مُطْلَقًا . ثُمَّ قَالَ : وَيَظْهَرُ صِحَّةُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ .
Seandainya di dasar liang lahat (lahad) atau lubang tengah (syaqq) terdapat najis, Imam Asy-Syaubari berkata: "Pendapat yang kuat dan jelas (al-wajhu) adalah boleh meletakkan mayit di atasnya secara mutlak." Beliau kemudian berkata: "Dan tampak sah pula menshalatinya dalam kondisi tersebut."
وَاخْتَارَ الْبَاجُوْرِيُّ التَّفْصِيلَ ، فَقَالَ : إِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ مِنْ صَدِيدِ الْمَوْتَى كَمَا فِي الْمَقْبَرَةِ الْمَنْبُوْشَةِ ، فَيَجُوْزُ وَضْعُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ مِنْ غَيْرِهِ ، كَبَوْلٍ أَوْ غَائِطٍ ، فَلَا يَجوزُ .
Imam Al-Bajuri memilih pendapat yang merinci (tafshil): "Jika najisnya berasal dari cairan mayat (shadid) seperti di pemakaman yang sering dibongkar, maka boleh meletakkannya di atasnya; namun jika najis lain seperti air kencing atau kotoran, maka tidak boleh."
وَيَجِبُ تَوْجِيْهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ ، تَنْزِيلًا لَهُ مَنْزِلَةَ الْمُصَلِّي ، وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ
(Wajib menghadapkannya ke kiblat), sebagai bentuk memposisikannya seperti orang yang sedang shalat. Dan diambil pemahaman dari hal tersebut...
[٤١٥] عَدَمُ وُجُوبِ الاسْتِقْبَالِ فِي الْكَافِرِ ، فَيَجُوزُ اسْتِقْبَالُهُ وَاسْتِدْبَارُهُ ، نَعَمْ الْكَافِرَةُ الَّتِي فِي بَطْنِهَا جَنِيْنٌ مُسْلِمٌ نُفِخَتْ فِيْهِ الرُّوْحُ وَلَمْ تُرْجَ حَيَاتُهُ يَجِبُ اسْتِدْبَارُهَا الْقِبْلَةِ، لِيَكُوْنَ الْجَنِينُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ، لِأَنَّ وَجْهَ الْجَنِيْنِ إِلَى ظَهْرِ أُمِّهِ؛
[Hal. 415] Tidak wajib menghadap kiblat bagi jenazah kafir, maka boleh menghadapkannya ke kiblat atau membelakanginya. Namun, bagi wanita kafir yang di dalam perutnya terdapat janin muslim yang sudah ditiupkan ruh dan tidak diharapkan lagi hidupnya (ibunya wafat), maka wajib membelakangi kiblat (istidbaruha), agar janin tersebut menghadap kiblat; karena wajah janin menghadap ke punggung ibunya.
وَتُدْفَنُ هَذِهِ الْمَرْأَةُ بَيْنَ مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْكُفَّارِ لِئَلَّا يُدْفَنَ الْمُسْلِمُ فِي مَقَابِرِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ ، فَإِنْ لَمْ تُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ لَمْ يَجِبِ الاسْتِدْبَارُ فِي أُمِّهِ ، لِأَنَّهُ لَا يَجِلُّ اسْتِقْبَالُهُ حِينَئِذٍ ، نَعَمْ ، اسْتِقْبَالُهُ أَوْلَى ، فَإِنْ رُجِيَتْ حَيَاتُهُ لَمْ يَجُزْ دَفْتُهُ مَعَهَا ، بَلْ يَجِبُ شَقُّ جَوْفِهَا وَإِخْرَاجُهُ مِنْهُ ، وَلَوْ مُسْلِمَةٌ
Wanita ini dikuburkan di antara pemakaman muslim dan kafir agar muslim tidak dikubur di pemakaman kafir dan sebaliknya. Jika ruh belum ditiupkan pada janin, maka tidak wajib membelakangi kiblat bagi ibunya, karena menghadap kiblat saat itu belum dimuliakan; namun menghadap kiblat tetap lebih utama. Jika kehidupan janin masih diharapkan, maka tidak boleh dikubur bersama ibunya, melainkan wajib membedah perut ibunya untuk mengeluarkan janin tersebut, meskipun ibunya seorang muslimah.
فَصْلٌ فِيْمَا يُوْجِبُ نَبْشَ الْمَيْتِ يُنبَسُ الْمَيْتُ ، أَيْ : يُكْشَفُ الْقَبْرُ الَّذِي فِيْهِ الْمَيْتُ ، لِأَرْبَعِ خِصَالٍ ؛ بَل *أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
Fasal: Mengenai Hal-Hal yang Mewajibkan Pembongkaran Mayit. Mayit boleh dibongkar—maksudnya dibuka kubur yang di dalamnya terdapat mayit—karena empat perkara, bahkan bisa lebih dari itu.
أَحَدُهَا : لِلْغُسْلِ ، أَيْ : أَوْ لِتَّيَمُّمِ ، فَيَجِبُ نَبْشُهُ تَدَارُكًا لِلظَّهْرِ الْوَاجِبِ ؛ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرُ ، أَيْ : مَا لَمْ يُنْتِنُ ، بِخِلَافِ مَا لولو دُفِنَ بِلَا كَفَنٍ أَوْ فِي حَرِيْرٍ ، فَلَا يُنْبَسُ
Pertama: Untuk dimandikan—maksudnya atau ditayamumkan—maksudnya wajib membongkarnya demi menyempurnakan kesucian (al-thuhru) yang wajib; hal ini selama jenazah belum berubah (busuk/berbau). Berbeda jika jenazah dikubur tanpa kain kafan atau dikubur menggunakan kain sutra, maka jenazah tersebut tidak dibongkar.
وَثَانِيهَا : لِتَوْجِيْهِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ ، أَيْ : فَيَجِبُ نَبْشُهُ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ أَيْضًا
Kedua: Untuk menghadapkannya ke arah kiblat—maksudnya wajib membongkarnya selama jenazah juga belum berubah (busuk) pula.
[٤١٦] لِيَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ . قَالَ الشَّوْبَرِيُّ : فَرْعُ : إِذَا دُفِنَ مُسْتَلْقِيًا وَوَجْهُهُ لِلْقِبْلَةِ ، بِأَنْ كَانَتْ رِجْلَاهُ إِلَيْهَا ، حَرُمَ وَنُبِشَ مَا لَمْ يَتَغَيَّرُ ، وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ ، خِلَافًا لِمَا فِي مَتْنِ « الرَّوْضِ » وَشَرْحِهِ . أَنْتَهَى .
[Hal. 416] Agar ia menghadap ke arah kiblat. Imam Asy-Syaubari berkata: Sebuah cabang masalah (far'un): Jika jenazah dikubur dalam posisi terlentang namun wajahnya menghadap kiblat—dengan cara kedua kakinya diarahkan ke kiblat—maka hukumnya haram dan wajib dibongkar selama jenazah belum berubah (busuk). Inilah pendapat yang kuat (mu'tamad), berbeda dengan apa yang ada dalam matan Ar-Raudh dan syarahnya. Selesai.
وَثَالِثُهَا لِلْمَالِ إِذَا دُفِنَ مَعَهُ ، أَيْ : أَوْ وَقَعَ فِيْهِ مَالٌ ، خَاتَمُ أَوْ غَيْرُهُ ، فَيَجِبُ نَبْشُهُ ، وَإِنْ تَغَيَّرَ ؛ لِأَخْذِهِ ، سَوَاءٌ أَطَلَبَهُ مَالِكُهُ أَمْ لَا ؛
Ketiga: Karena adanya harta jika ikut dikuburkan bersamanya—maksudnya atau ada harta yang jatuh ke dalam lubang kubur, baik berupa cincin atau lainnya—maka wajib dibongkar, meskipun jenazah sudah berubah (busuk), guna mengambil harta tersebut; baik pemiliknya meminta ataupun tidak.
وَمِثْلُهُ مَا لَوْ دُفِنَ فِي مَغْصُوبٍ مِنْ أَرْضٍ أَوْ ثَوْبٍ وَوُجِدَ مَا يُدْفَنُ أَوْ يُكَفَّنُ فِيْهِ الْمَيْتُ ، فَيَجِبُ نَبْشُهُ وَإِنْ تَغَيَّرَ ، لِيُرَدَّ كُلٌّ لِصَاحِبِهِ مَا لَمْ يَرْضَ بِبَقَائِهِ ، أَيْ : إِذَا طَلَبَ مَالِكُهُ ، وَإِلَّا فَلَا ؛
Demikian pula jika mayit dikuburkan di tanah hasil ghashab (tanpa izin) atau dikafani dengan kain ghashab, sedangkan masih ditemukan tanah atau kain kafan lain untuk menguburkannya, maka wajib dibongkar meskipun sudah berubah, agar dikembalikan kepada pemiliknya selama pemiliknya tidak ridha harta itu tetap di sana; maksudnya jika pemiliknya meminta, jika tidak maka tidak perlu.
وَلَوْ بَلَعَ مَالًا لِنَفْسِهِ وَمَاتَ لَمْ يُنْبَسُ ، أَوْ مَالَ غَيْرِهِ وَطَلَبَهُ مَالِكُهُ نُبِشَ ، وَشُقَّ جَوْفُهُ ، وَأُخْرِجَ مِنْهُ ، وَرُدَّ لِصَاحِبِهِ ؛ إِلَّا إِذَا ضَمِنَهُ الْوَرَثَةُ فَلَا يُشَقُّ حِينَئِذٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ؛ وَالْفَرْقُ بَيْنَ مَسْأَلَةِ الْابْتِلَاعِ وَالْوُقُوْعِ أَنَّ الْابْتِلَاعَ فِي شَقِّهِ هَتْكُ حُرْمَةِ الْمَيْتِ ، وَلَا كَذَلِكَ الْوُقُوْعُ
Seandainya ia menelan harta miliknya sendiri lalu mati, maka tidak perlu dibongkar. Namun jika ia menelan harta orang lain dan pemiliknya meminta kembali, maka wajib dibongkar dan dibedah perutnya untuk mengeluarkan harta tersebut dan dikembalikan kepada pemiliknya; kecuali jika ahli waris menjamin ganti ruginya, maka dalam hal ini perutnya tidak perlu dibedah menurut pendapat yang kuat (mu'tamad). Perbedaan antara masalah menelan harta (ibtila') dan harta yang jatuh (wuqu') adalah: membedah perut (karena menelan) dianggap merusak kehormatan mayit (hatko hurmatil mayyit), sedangkan mengambil harta yang jatuh tidak demikian.
وَرَابِعُهَا : لِلْمَرْأَةِ إِذَا دُفِنَ جَنِيْنُهَا مَعَهَا وَأَمْكَنَتْ حَيَاتُهُ ، بِأَنْ يَكُوْنَ لَهُ سِتَّةُ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرُ ، فَيَجِبُ النَّبْسُ تَدَارُعًا لِلْوَاجِبِ ، لِأَنَّهُ يَجِبُ شَقُّ جَوْفِهَا
Keempat: Bagi wanita jika janinnya ikut dikuburkan bersamanya dan masih memungkinkan janin tersebut hidup, misalnya usia janin sudah enam bulan atau lebih, maka wajib membongkarnya demi memenuhi kewajiban (menyelamatkan nyawa), karena saat itu wajib membedah perut si wanita.
[٤١٧] قَبْلَ الدَّفْنِ ، فَإِنْ لَمْ يُرْجَ حَيَاتُهُ بِقَوْلِ الْقَوَابِلِ حَرُمَ الشَّقُّ ، لَكِنْ يُخْرَجُ مِنَ الْقَبْرِ وَيُؤْخَخرُ الدَّفْنُ حَتَّى يَمُوْتَ ؛ وَمِنَ الْغَلَطِ أَنْ يُقَالَ : يُوْضَعُ نَحْوُ حَجَرٍ عَلَى بَطْنِهَا لِيَمُوْتَ ، فَإِنَّ فِيْهِ قَتْلًا لِلْجَنِيْنِ .
[Hal. 417] Sebelum penguburan. Jika menurut para bidan (qawabil) janin tersebut tidak diharapkan lagi hidupnya, maka haram membedah perut ibunya. Akan tetapi jenazah ibu dikeluarkan dari kubur dan penguburan ditunda sampai janin itu mati. Adalah sebuah kesalahan jika dikatakan: "Letakkanlah batu di atas perut ibunya agar janinnya mati," karena hal itu termasuk membunuh janin.
وَيُنْبَسُ أَيْضًا إِنْ لَحِقَ الْأَرْضَ بَعْدَ الدَّفْنِ سَيْلٌ أَوْ نَدَاوَةٌ لِيُنْقَلَ ؛ وَيُنْبَسُ أَيْضًا إِذَا احْتِيْجَ لِمُشَاهَدَتِهِ لِلتَّعْلِيقِ عَلَى صِفَةٍ فِيْهِ ، بِأَنْ قَالَ : إِنْ وَلَدْتِ ذَكَرًا فَأَنْتِ طَالِقَةٌ طَلْقَةٌ ، أَوْ أُنْثَى فَطَلْقَتَيْنِ ؛ فَوَلَدَتْ مَيْتًا وَدُفِنَ وَلَمْ يُعْلَمْ
Kubur juga boleh dibongkar jika setelah penguburan tanahnya terkena banjir atau kelembapan (rembesan air) agar jenazah bisa dipindahkan. Pembongkaran juga boleh jika diperlukan untuk melihat ciri fisik jenazah guna memastikan status hukum yang digantungkan padanya. Contoh: Seseorang berkata, "Jika kamu melahirkan anak laki-laki maka kamu tertalak satu, jika perempuan talak dua," lalu ia melahirkan dalam keadaan mati dan langsung dikubur tanpa diketahui jenis kelaminnya.
أَوْ لِكَوْنِ الْقَائِفِ ، وَهُوَ : مَنْ يَتْبَعُ الأَثَرَ ، يُلْحِقُهُ بِأَحَدِ الْمُتَنَازَعَيْنِ فِيْهِ ؛ وَيُنْبَشُ أَيْضًا لِلْكَافِرِ إِذَا دُفِنَ بِالْحَرَمِ .
Atau agar ahli nasab (qaif)—yaitu orang yang mengikuti jejak/tanda fisik—bisa menghubungkan jenazah tersebut kepada salah satu dari dua orang yang memperebutkannya. Kubur juga dibongkar jika ada jenazah kafir yang dikubur di Tanah Haram.
فَصْلٌ فِي أَنْوَاعِ الاسْتِعَانَاتِ وَأَحْكَامِهَا الاسْتِعَانَاتُ أَرْبَعُ خِصَالٍ ، بَلْ أَكْثَرَ ؛ وَالسِّيْنُ وَالتَّاءُ فِي قَوْلِهِ : الاسْتِعَانَاتُ « زَائِدَتَانِ لِلتَّأْكِيْدِ ، أَيْ : الإِعَانَاتُ ، أَوْ لِلصَّيْرُوْرَةِ ، أَيْ : صَيْرُوْرَتُهَا إِعَانَاتٍ
Fasal: Mengenai Jenis-Jenis Isti'anah (Bantuan) dan Hukum-Hukumnya. Isti'anah ada empat macam, bahkan lebih. Huruf Sin dan Ta pada kata "Isti'anah" adalah tambahan untuk penguat (li ta'kid) atau bermakna menjadi (lish shairurah), yaitu menjadikannya sebagai bantuan; dan bukan bermakna meminta (lith thalab).
وَلَيْسَنَا لِلطَّلَبِ ، لِأَنَّهُ يُنْدَبُ تَرْكُهَا مُطْلَقًا ، سَوَاءٌ طَلَبَهَا أَمْ لَا ، حَتَّى لَوْ أَعَانَهُ غَيْرُهُ فِي صَبِّ الْمَاءِ عَلَيْهِ عِنْدَ الْوُضُوْءِ مَثَلًا وَهُوَ سَاكِتٌ مُتَمَكِّنٌ مِنْ مَنْعِهِ ، وَمِنْ فِعْلِهِ بِنَفْسِهِ ، كَانَ خِلَافَ الْأَوْلَى ، وَهُوَ مِنَ الْعَوْنِ بِمَعْنَى الظَّهِيْرِ عَلَى الْأَمْرِ
Sebab, disunnahkan untuk meninggalkannya secara mutlak, baik ia memintanya atau tidak. Sampai-sampai jika orang lain membantunya menuangkan air saat ia berwudhu misalnya, sedang ia diam saja padahal mampu melarangnya dan mampu melakukannya sendiri, maka hal itu hukumnya menyalahi yang utama (khilaf al-aula). Bantuan di sini bermakna menolong atau menyokong (al-zhahir) suatu perkara.
أَحَدُهَا : مُبَاحَةٌ
Pertama: Mubah (Boleh)
[٤١٨] وَثَانِيهَا : خِلَافُ الأَوْلَى وَثَالِثُهَا : مَكْرُوهَةٌ وَرَابِعُهَا : وَاجِبَةٌ
[Hal. 418] Kedua: Khilaf al-Aula (Menyalahi yang utama). Ketiga: Makruh. Keempat: Wajib.
فَالْمُبَاحَةُ هِيَ تَقْرِيبُ الْمَاءِ ، أَيْ : إِحْضَارُهُ ، فَلَا بَأْسَ بِهِ ؛ وَلَا يُقَالُ : إِنَّهَا خِلَافُ الأَوْلَى ، لِثُبُوْتِهَا عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ .
Bantuan yang Mubah (Boleh) adalah mendekatkan air, maksudnya menghadirkan air tersebut (ke dekat orang yang akan berwudhu). Hal ini tidak mengapa dan tidak dikatakan sebagai khilaf al-aula, karena telah tsabit (ada riwayatnya) dari Nabi SAW di banyak tempat.
وَخِلَافُ الْأَوْلَى هِيَ صَبُّ الْمَاءِ عَلَى نَحْوِ الْمُتَوَفِّيِّ ، وَلَوْ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْعِبَادَةِ ، وَبِلَا طَلَبٍ قَالَ الْقَلْيُوْبِيُw : لِأَنَّ الإِعَانَةَ تَرَفُهُ ، أَيْ : تَنَعَمْ وَتَزَيَّنُ ، لَا تَلِيْقُ بِالْمُتَعَبدِ ،
Bantuan yang Khilaf al-Aula adalah menuangkan air kepada orang yang sedang bersuci (seperti orang berwudhu), meskipun bantuan itu datang dari orang yang bukan ahli ibadah dan tanpa diminta. Imam Al-Qalyubi berkata: "Karena bantuan tersebut merupakan bentuk kemewahan (tarafuh) dan berhias diri (tanaium wa tazayyun) yang tidak layak bagi orang yang sedang beribadah."
هَذَا فِي حَقْنَا لَا فِي حَقِّهِ ، لِأَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ لِبَيَانِ الْجَوَازِ ، وَلِذَا لَوْ قَصَدَ بِهَا الشَّخْصُ تَعَلَّمَ الْمُعِيْنِ لَمْ تَكُنْ خِلَافَ الْأَوْلَى
Hal ini berlaku bagi kita, bukan bagi Nabi SAW, karena beliau melakukannya untuk menjelaskan kebolehan (bayan al-jawaz). Oleh karena itu, jika seseorang bermaksud dengan bantuan tersebut agar si penolong bisa belajar (tata cara wudhu), maka hukumnya tidak lagi khilaf al-aula.
وَالْمَكْرُوهَةُ هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ أَعْضَاءَهُ ، أَيْ : وَلَوْ كَانَ الْمُعِيْنُ أَمْرَدَ ، وَهُوَ مَنْ بَطُوَّ نَبَاتُ شَعْرِ وَجْهِهِ ، وَالْحُرْمَةُ مِنْ وَجْهِ آخَرَ .
Bantuan yang Makruh adalah bagi orang (lain) yang membasuhkan anggota wudhu si muzzaki (orang yang berwudhu), meskipun orang yang membantu itu adalah seorang amrad (pemuda yang belum tumbuh jenggot di wajahnya); sedangkan keharaman bisa muncul dari sisi lain (seperti syahwat).
وَالْوَاحِبَةُ هِيَ لِلْمَرِيضِ عِنْدَ الْعَجْزِ ، أَيْ : فَتَجِبُ الإِعَانَةُ عَلَى
Bantuan yang Wajib adalah bagi orang yang sakit saat ia dalam kondisi lemah/tidak mampu. Maka wajib baginya mendapatkan bantuan untuk...
[٤١٩] الْعَاجِزِ ، وَلَوْ بِأُجْرَةِ مِثْلٍ إِنْ فَضَلَتْ عَمَّا يُعْتَبَرُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ ، وَإِلَّا صَلَّى بِالتَّيَمُّمِ وَأَعَادَ ، وَمِثْلُهُ مَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى الْقِيَامِ فِي الصَّلَاةِ إِلَّا بِمُعِينٍ
[Hal. 419] orang yang lemah, meskipun harus dengan upah standar (ujrah mitsil) jika upah tersebut melebihi kebutuhan yang dipertimbangkan dalam zakat fitrah. Jika tidak punya kelebihan harta, maka ia shalat dengan tayamum dan wajib mengulanginya (a'ada). Semisalnya adalah orang yang tidak mampu berdiri dalam shalat kecuali dengan bantuan orang lain.
وَبَقِيَ مِنَ الْإِعَانَةِ شَيْئَانِ : سُنَّةٌ ، وَهِيَ : إِعَانَةُ الْمُنْفَرِدِ عَنِ الصَّفْ بِمُوَافَقَتِهِ فِي مَوْضِعِهِ مَثَلًا ، وَحَرَامٌ ، وَهِيَ : الإِعَانَةُ عَلَى فِعْلِ الْحَرَامِ .
Tersisa dua jenis bantuan lagi: Sunnah, yaitu membantu orang yang sendirian di luar shaf dengan menemaninya di tempatnya berdiri (agar shafnya bersambung). Dan Haram, yaitu membantu dalam melakukan perbuatan haram.
فَصْلٌ فِيْمَا تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْهِ الأَمْوَالُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيهَا الزَّكَاةُ سِتَّةُ أَنْوَاعِ :
Fasal: Mengenai Harta yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya. Harta-harta yang wajib dizakati ada enam jenis.
أَحَدُهَا ، النَّعْمُ ، بِفَتْحِ الْعَيْنِ ، وَقَدْ تُسَكِّنُ ؛ اسْمُ جَمْعِ لَا وَاحِدَ لَهُ مِنْ لَفْظِهِ ، وَيُذَكَّرُ وَيُؤَنَّثُ ، وَهِيَ : إِبِلٌ ، وَبَقَرُ الْعِرَابِ ، وَالْجَوامِيْسُ ، وَغَنَم
Pertama: An-Na'am (Binatang Ternak). Huruf 'Ain-nya dibaca fathah, terkadang disukunkan; merupakan ism jam' yang tidak memiliki bentuk tunggal dari lafadznya sendiri, bisa dihukumi mudzakkar maupun muannats. Jenisnya adalah: Unta (ibil), Sapi (termasuk sapi Arab), Kerbau (jawamis), dan Kambing (ghanam).
تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيْهَا بِشُرُوطٍ أَرْبَعَةٍ : الأَوَّلُ : كَوْنُهَا نَعْمًا ، فَلَا زَكَاةَ فِي غَيْرِهَا مِنَ الْحَيْوَانَاتِ ، كَخَيْلٍ ، وَرَقِيقِ ، وَمُتَوَلِّدٍ بَيْنَ زَكَوِيٌّ وَغَيْرِهِ .
Zakat binatang ternak wajib dengan empat syarat: Pertama, harus berupa an-na'am (unta, sapi, kambing); maka tidak ada zakat pada hewan lain seperti kuda, budak (raqiq), atau hewan hasil persilangan antara hewan yang wajib zakat dengan yang tidak.
وَالثَّانِي : كَوْنُهَا نُصُبًا وَأَوَّلُهُ فِي إِبِلِ خَمْسٌ ، فَفِي كُلِّ خَمْسٍ إِلَى عِشْرِينَ شَاةٌ ، وَلَوْ ذَكَرًا ؛
Kedua, telah mencapai nishab (batas minimal). Batas awal nishab pada unta adalah lima ekor; setiap kelipatan lima sampai dua puluh ekor, zakatnya adalah seekor kambing (syah), meskipun kambing jantan.
[٤٢٠] وَيُجْزِئُ عَنْهَا بَعِيرُ الزَّكَاةِ ؛ وَفِي خَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ بِنْتُ مَخَاضٍ لَهَا سَنَةٌ وَفِي سِتٌ وَثَلَاثِيْنَ بِنْتُ لَبُوْنٍ لَهَا سَنَتَانِ ، وَفِي سِتٌ وَأَرْبَعِيْنَ حِقَّةٌ لَهَا أَرْبَعٌ
[Hal. 420] Dan mencukupi darinya seekor unta zakat (ba'irul zakat). Pada 25 ekor unta, zakatnya adalah bintu makhadh (unta betina umur 1 tahun). Pada 36 ekor unta, zakatnya bintu labun (umur 2 tahun). Pada 46 ekor unta, zakatnya hiqqah (umur 3 tahun, siap dibuahi).
يُجْزِئُ عَنْهَا حِقَّتَانِ ، أَوْ بِنْتَا لَبُوْنٍ لِإِجْزَائِهَا عَمَّا زَادَ ، وَالْجَذَعَةُ آخِرُ أَسْنَانِ الزَّكَاةِ ، وَهُوَ نِهَايَةُ الْحُسْنِ دَارًا وَنَسْلًا وَقُوَّةٌ ؛ وَفِي سِتُّ وَسَبْعِينَ بِنْتَا لَبُوْنٍ ، وَفِي إِحْدَى وَتِسْعِيْنَ حِقَّتَانِ ، وَفِي مِئَةٍ وَإِحْدَى وَعِشْرِينَ ثَلَاثُ بَنَاتِ لَبُوْنٍ وَتَبِيْعٌ ، ثُمَّ كُلُّ عَشْرٍ يَتَغَيَّرُ الْوَاجِبُ ، فَفِي كُلِّ أَرْبَعِيْنَ بِنْتُ لَبُوْنٍ وَفِي كُلِّ خَمْسِيْنَ حِقَّةٌ
Mencukupi darinya dua ekor hiqqah atau dua ekor bintu labun karena itu mencukupi untuk jumlah yang lebih besar. Jadz'ah adalah usia terakhir dalam zakat, dan ia merupakan puncak kebagusan dari segi usia, keturunan, dan kekuatan. Pada 76 ekor unta zakatnya dua bintu labun, pada 91 ekor dua hiqqah, pada 121 ekor tiga bintu labun dan seekor tabi'. Kemudian setiap bertambah 10 ekor, kewajibannya berubah; tiap 40 ekor satu bintu labun dan tiap 50 ekor satu hiqqah.
وَأَوَّلُهَا فِي بَقَرٍ ثَلَاثُوْنَ ، فَفِي كُلِّ ثَلَاثِيْنَ تَبِيْعٌ لَهُ سَنَةٌ ، وَفِي كُلِّ أَرْبَعِيْنَ مُسِنَّةٌ لَهَا سَنَتَانِ
Zakat Sapi: Nishab awalnya adalah 30 ekor. Setiap 30 ekor zakatnya seekor tabi' (sapi jantan umur 1 tahun), dan setiap 40 ekor zakatnya seekor musinnah (sapi betina umur 2 tahun).
وَأَوَّلُهَا فِي غَنَمٍ أَرْبَعُوْنَ ، فَفِيْهَا شَاةٌ ؛ وَفِيْ مِئَةٍ وَإِحْدَى وَعِشْرِينَ شَاتَانِ ، وَفِي مِئَتَيْنِ وَوَاحِدَةٍ ثَلَاتٌ ، وَفِي أَرْبَعٍ مِئَةٍ أَرْبَعٌ ، ثُمَّ فِي كُلِّ مِئَةٍ شَاةٌ ، وَالشَّاةُ جَذَعَةُ ضَأْنٍ لَهَا سَنَةٌ ، أَوْ أَجْدَعَتْ ، أَوْ ثَنِيَّةُ مَعْزٍ لَهَا سَنَتَانِ مِنْ غَنَمِ الْبَلَدِ أَوْ مِثْلُهَا
Zakat Kambing: Nishab awalnya 40 ekor, zakatnya seekor kambing (syah). Pada 121 ekor zakatnya dua ekor kambing, pada 201 ekor tiga ekor, pada 400 ekor empat ekor, kemudian setiap kelipatan 100 bertambah satu ekor kambing. Jenis kambingnya adalah jadz'ah domba (1 tahun/sudah tanggal gigi) atau tsaniyyah kambing kacang (2 tahun) dari jenis kambing daerah tersebut atau yang setara.
؛ فَإِنْ عَدِمَ بِنْتَ مَخَاضٍ حَالَ الإِخْرَاجِ وَإِنْ وَجَدَهَا حَالَ الْوُجُوْبِ أَوْ تَعَيَّبَتْ فَابْنُ لَبُوْنٍ أَوْ حِقٌّ
Jika tidak ada bintu makhadh saat waktu pengeluaran—meskipun ada saat waktu wajib atau ia cacat—maka diganti dengan ibnu labun atau hiqq.
وَالثَّالِثُ : مُضِيُّ الْحَوْلِ فِي مُلْكِهِ ، وَلَكِنْ لِنتَاجِ نِصَابٍ مَلَكَهُ بِسَبَبٍ مُلْكِ النِّصَابِ حَوْلَ النِّصَابِ ، وَإِنْ مَاتَتِ الأُمَّهَاتُ
Ketiga: Berlalu satu tahun (haul) dalam kepemilikannya. Namun untuk anak hewan (nitaj) dari nishab yang dimiliki disebabkan kepemilikan nishab tersebut, haulnya mengikuti haul nishab induknya meskipun induknya mati.
وَالرَّابِعُ : إِسَامَةُ مَالِكِ لَهَا كُلَّ الْحَوْلِ ، لَكِنْ لَوْ عَلَفَهَا قَدْرًا تَعِيْشُ بِدُوْنِهِ بِلَا ضَرَرٍ بَيِّنٍ وَلَمْ يَقْصِدْ بِهِ قَطْعَ سَوْمٍ لَمْ يَضُرَّ .
Keempat: Digembalakan (isamah) oleh pemiliknya sepanjang tahun. Namun jika diberi makan rumput (alafa) dalam kadar yang sebenarnya hewan bisa hidup tanpanya tanpa bahaya yang jelas, dan pemilik tidak bermaksud memutus masa pengembalaan (qath'a saumin), maka hal itu tidak membatalkan syarat saum.
[٤٢١] وَلَا زَكَاةَ فِي عَوَامِلَ فِي حَرْثٍ أَوْ نَحْوِهِ ، لِاِقْتِنَائِهَا لِلاسْتِعْمَالِ ، بِأَنْ يَسْتَعْمِلَهَا الْقَدْرَ الَّذِي لَوْ عَلَفَهَا فِيْهِ سَقَطَتِ الزَّكَاةُ ، لَا لِلنَّمَاءِ ، كَثِيَابِ الْبَدَنِ وَمَتَاعِ الدَّارِ
[Hal. 421] Dan tidak ada zakat pada hewan pekerja (awamil) untuk membajak tanah atau semisalnya, karena hewan tersebut dipelihara untuk digunakan (li iqtina'iha lil isti'mal), yaitu dengan digunakannya dalam kadar yang sekiranya jika ia diberi makan rumput pada waktu tersebut maka gugur kewajiban zakatnya, bukan untuk dikembangkan (la lin-nama'), sebagaimana pakaian badan dan perabot rumah.
وَالنَّوْعُ الثَّانِي : النَّقْدَانِ ، وَهُمَا : الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ ، وَلَوْ غَيْرُ مَضْرُوبَيْنِ ، لَا زَكَاةَ فِي ذَهَبٍ حَتَّى يَبْلُغَ عِشْرِيْنَ دِينَارًا (۱) بِوَزْنِ مَكَّةَ تَحْدِيدًا يَقِينَا ، وَالدِّيْنَارُ هُوَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُوْنَ حَبَّةَ شَعِيْرٍ مُعْتَدِلَةٌ ، لَا قِشْرَ عَلَيْهَا ، وَقُطِعَ مِنْ طَرَفَيْهَا مَا دَقَ وَطَالَ
Jenis Kedua: Dua mata uang (al-naqdani), yaitu emas dan perak, meskipun tidak dicetak. Tidak ada zakat pada emas hingga mencapai 20 dinar (1) dengan timbangan Mekkah secara pasti dan meyakinkan (tahdidon yaqinan). Dan dinar itu adalah 72 butir biji gandum yang berukuran sedang, tidak berkulit, dan dipotong bagian ujungnya yang tipis dan panjang.
، وَلَا فِي فِضَّةٍ حَتَّى تَبْلُغَ مِئَتَيْ دِرْهَم (۲) ، وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُوْنَ رِيَالًا وَنِصْفٌ تَقْرِيبًا ، هَذَا إِنْ كَانَ فِي كُلِّ رِيَالٍ دِرْهَمَانِ مِنَ النُّحَاسِ ، فَإِنْ كَانَ فِيْهِ دِرْهَمْ فَقَطْ كَانَتْ خَمْسَةٌ وَعِشْرِيْنَ رِيَالًا ؛ فَفِي هَذَيْنِ النِّصَابَيْنِ رُبْعُ عُشْرِهِمَا ، [ أَيْ : ٢,٥ بِالْمِئَةِ ] ، فَفِي عِشْرِينَ دِينَارًا نِصْفُ دِينَارٍ
Dan tidak ada zakat pada perak hingga mencapai 200 dirham (2), yaitu sekitar 28,5 riyal. Hal ini jika pada setiap riyal terdapat 2 dirham tembaga; namun jika hanya ada 1 dirham saja, maka nishabnya 25 riyal. Maka pada kedua nishab ini wajib (zakat) seperempat sepersepuluh [yaitu: 2,5%], maka pada 20 dinar wajib zakatnya setengah dinar.
وَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِي حُلِيِّ مُحَرَّمٍ كَحُلِيِّ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ لِلرَّجُلِ ، وَمِنْهُ الدَّرَاهِمُ وَالدَّنَانِيرُ الْمَنْقُوْشَةُ الْمَجْعُوْلَةُ فِي الْقِلَادَةِ الَّتِي تُعَلَّقُ عَلَى عُنُقِ النِّسَاءِ ، وَالذَّهَبُ الْمَخِيْطُ عَلَى الْقُمَاشِ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، وَتَجِبُّ زَكَاتُهَا ؛
Dan wajib zakat pada perhiasan yang diharamkan (huliyyin muharramin) seperti perhiasan emas atau perak bagi laki-laki. Di antaranya adalah dirham dan dinar berukir yang dijadikan kalung yang digantungkan di leher wanita, dan emas yang dijahit pada pakaian; maka itu haram dan wajib zakatnya.
وَكَذَا مَا يُعَلَّقُ عَلَى رُؤُوسِ الصَّبْيَانِ ، نَعَمْ عَصَائِبُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ لَا تَحْرُمُ ، فَلَا زَكَاةَ فِيْهَا ، لِأَنَّهَا لِلزِّيَّنَةِ
Begitu juga apa yang digantungkan di kepala anak-anak. Benar, ikat kepala (asha'ib) emas dan perak tidaklah haram, maka tidak ada zakat padanya karena hal itu untuk perhiasan.
وَأَمَّا الْمُعَرَّاةُ مِنَ الدَّرَاهِمِ
[Baris Terakhir] Adapun yang terlepas (kosong) dari koin dirham...
[٤٢٢] وَالدَّنَانِيرِ ، بِحَيْثُ تَبْطُلُ بِهَا الْمُعَامَلَهُ ، فَإِنَّهَا مُبَاحَةٌ ؛ وَإِيْجَابُ الزَّكَاةِ مَعَ الإِبَاحَةِ مُمْتَنِعُ
[Hal. 422] Dan dinar-dinar, sekiranya menjadi batal (tidak berlaku) transaksi dengannya, maka sesungguhnya hal itu dibolehkan; dan mewajibkan zakat bersamaan dengan kebolehan (penggunaan tersebut) adalah terlarang (mumtani').
وَمِمَّا لَا يَحْرُمُ أَيْضًا سِوَارٌ ، بِكَسْرِ السِّيْنِ ، وَهُوَ : شَيْءٌ يُعْمَلُ فِي الْيَدِ ، وَخَلْخَالٌ ، وَهِيَ : شَيْءٌ يُعْمَلُ فِي الرِّجْلِ . قَالَهُ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ ؛ لِلُبْسِ امْرَأَةٍ وَصَبِيٌّ ، أَوْ لإِعَارَتِهِمَا ، أَوْ إِجَارَتِهِمَا لِمَنْ لَهُ اسْتِعْمَالُهُمَا ، أَوْ لَا بِقَصْدِ شَيْءٍ
Dan di antara yang tidak diharamkan juga adalah gelang tangan (siwar), dengan kasrah pada huruf sin, yaitu: sesuatu yang dikenakan di tangan, dan gelang kaki (khalkhal), yaitu: sesuatu yang dikenakan di kaki. Hal ini dikatakan oleh guru kami Ahmad an-Nahrawi; untuk dipakai wanita dan anak-anak, atau untuk dipinjamkan kepada keduanya, atau disewakan kepada orang yang berhak menggunakannya, atau tanpa maksud tujuan tertentu.
وَمِمَّا يَحْرُمُ أَيْضًا ، وَلَوْ عَلَى امْرَأَةٍ ، أَصْبُعٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ ، فَأَلْيَدُ بِطَرِيْقِ الْأَوْلَى
Dan di antara yang diharamkan juga, meskipun bagi wanita, adalah (menggunakan) jari buatan dari emas atau perak, maka (menggunakan) tangan buatan lebih utama lagi (bi thariqil aula) keharamannya.
Pendapat Imam Syafi'i mengenai jenazah di laut wajib diikat di dua papan merujuk pada qaul masyhur untuk menjaga kehormatan mayit muslim. Mengenai hukum waktu makruh penguburan di luar tanah haram, Al-Bujairimi menegaskan bahwa "la yajuzu" dalam matan diarahkan kepada makruh tanzih, bukan keharaman mutlak, selama tidak ada unsur kesengajaan menunda demi waktu makruh tersebut.
Ada orang meninggal di dalam kapal pesiar di tengah samudra yang jaraknya berhari-hari dari daratan. Sesuai syarah kitab kita halaman 413, jenazah kagak boleh disimpan kelamaan sampai membusuk merusak kapal. Prosedur sahnya: jenazah dimandikan, dikafani, dishalatkan, lalu diikat di antara dua bilah papan kayu biar terapung (dengan harapan kebawa arus ke pantai daratan) kemudian dilarung ke laut. Kalau terpaksa dikasih pemberat batu karena kondisi darurat, hukumnya tetap sah dan tidak berdosa.
Hati-hati Jemaah! Jangan ngikutin omongan sesat yang bilang kalau ada ibu hamil meninggal, perutnya kudu ditaruhin batu biar janinnya mati di dalem. Itu namanya pembunuhan janin (qatlu al-janin)! Kitab tegas menyatakan: kalau janin umurnya udah 6 bulan ke atas dan diprediksi bidan masih bisa hidup, WAJIB dibedah perut ibunya demi nyelametin nyawa si bayi, meskipun ibunya udah jadi mayit. Kelalaian dalam hal ini dosanya gede!
DIGITALISASI KAJIAN KITAB KASYIFATUS SAJA
Disusun oleh: Abi Ahmad Thoufur (Alumni Classic '91 PM Darussalam Gontor & UMJ 1997)
Materi: Bab Zakat Perhiasan, Al-Mu'asysyarat (Pertanian), dan Harta Dagangan (Hal. 423 - 430)
Assalamu'alaikum wr. wb. Jemaah... Jemaah... alhamdulillah! Ketemu lagi nih ama Ane, Abi Ahmad Thoufur. Kita lanjutin lagi ngaji kita yang tuntas, kaga pake dipotong-potong, kaga pake tadlis! Hari ini kita bedah tuntas kelanjutan bab zakat, mulai dari urusan perhiasan makruh yang kudu dizakatin, urusan nanem padi ama kacang ijo di sawah, sampe urusan ente-ente yang pada dagang biar usahanya berkah kaga kecemplung fidyah atau maksiat. Kuping pasang bae-bae, ati bersihin, jangan sambil ngantuk! Sikaaat bro...!!
وَتَجِبُ الزَّكَاةُ أَيْضًا فِي حُلِيِّ مَكْرُوْهٍ ، كَضَبِّةٍ صَغِيْرَةٍ لِلزِّينَةِ ، حُلِيًّا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ ، لَا حُلِيِّ مُبَاحٍ عَلِمَهُ وَلَمْ يَنْوِ كَنْزَهُ ، كَالْحُلِيِّ ، مِنْ ذَلِكَ لِلُبْسِ الْمَرْأَةِ فَلَا زَكَاةَ فِيْهِ إِلَّا إِنْ أَسْرَفَتْ ، كَخَلْخَالٍ وَزْنُهُ مِائَتَا مِثْقَالٍ (١) مَثَلًا ، فَلَا يَحِلُّ لَهَا ، وَتَجِبُ زَكَاتُهُ . وَيَحِلُّ لِلرَّجُلِ الْخَاتَمُ مِنَ الْفِضَّةِ ، بَلْ لُبْسُهُ سُنَّةٌ . فَخَرَجَ بِـ « الْعِلْمِ » مَا لَوْ وَرِثَ حُلِيًّا مُبَاحًا وَلَمْ يَعْلَمْهُ حَتَّى مَضَى عَامٌ ، فَتَجِبُ زَكَاتُهُ لِأَنَّهُ لَمْ يَنْوِ إِمْسَاكَهُ لِاسْتِعْمَالٍ مُبَاحٍ . وَخَرَجَ بِعَدَمِ نِيَّةِ الْكَنْزِ مَا لَوْ نَوَى كَنْزَهُ ، فَتَجِبُ زَكَاتُهُ أَيْضًا ، وَلَوِ انْكَسَرَ الْحُلِيُّ لَمْ تَجِبْ زَكَاتُهُ إِنْ قَصَدَ إِصْلَاحَهُ وَأَمْكَنَ بِلَا صَوْغٍ ، بِأَنْ
Dan wajib zakat juga pada perhiasan yang dimakruhkan, seperti tambalan perak yang kecil untuk perhiasan, baik berupa perhiasan atau lainnya, bukan perhiasan yang mubah yang diketahuinya dan tidak berniat menyimpannya (sebagai simpanan kekayaan/kanz), seperti perhiasan dari hal tersebut untuk dipakai wanita maka tidak ada zakat padanya kecuali jika ia berlebih-lebihan, seperti gelang kaki yang beratnya 200 mitsqal (1) misalnya, maka hal itu tidak halal baginya, dan wajib zakatnya. Dan halal bagi laki-laki menggunakan cincin dari perak, bahkan memakainya adalah sunnah. Maka dikecualikan dengan kata "mengetahui" yaitu jika seseorang mewarisi perhiasan yang mubah namun ia tidak mengetahuinya hingga berlalu satu tahun, maka wajib zakatnya karena ia tidak berniat menahannya untuk penggunaan yang mubah. Dan dikecualikan dengan "ketiadaan niat menyimpan (kanz)" yaitu jika ia berniat menyimpannya sebagai simpanan kekayaan, maka wajib zakatnya juga, dan seandainya perhiasan itu pecah/rusak maka tidak wajib zakatnya jika ia bermaksud memperbaikinya dan memungkinkan diperbaiki tanpa dilebur, sekiranya...
أَمْكَنَ بِإِلْحَامٍ لِبَقَاءِ صُوْرَتِهِ وَقَصَدَ إِصْلَاحَهُ ، فَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ إِصْلَاحَهُ ، بَلْ قَصَدَ جَعْلَهُ سَبِيْكَةً أَوْ دَرَاهِمَ أَوْ كَنَزَهُ ، أَوْ لَمْ يَقْصِدْ شَيْئًا ، أَوْ أَحْوَجَ انْكِسَارُهُ إِلَى صَوْغٍ ؛ وَجَبَتْ زَكَاتُهُ ، وَيَنْعَقِدُ حَوْلُهُ مِنْ حِيْنِ انْكِسَارِهِ ، لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَعْمَلٍ وَلَا مَعَهُ نِيَّةٌ لِلِاسْتِعْمَالِ . قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَلَوْ وَجَبَتْ زَكَاتُهُ فِي حُلِيٍّ فَاخْتَلَفَتْ قِيْمَتُهُ وَزِنَتُهُ ، كَسِوَارٍ قِيْمَتُهُ ثَلَاثُ مِئَةٍ وَزِنَتُهُ مِئَتَانِ ، اعْتُبِرَتِ الْقِيْمَةُ عَلَى الْأَصَحِّ ، فَيَتَخَيَّرُ بَيْنَ إِخْرَاجِ رُبُعِ عُشْرِ الْحُلِيِّ مَشَاعًا يُسَلِّمُهُ لِلْفُقَرَاءِ ، وَبَيْنَ إِخْرَاجِ خَمْسَةِ دَرَاهِمَ مَصُوْغَةً قِيْمَتُهَا سَبْعَةٌ وَنِصْفٌ ، وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَكْسِرَهُ وَيُخْرِجَ مِنْهُ خَمْسَةَ دَرَاهِمَ ، لِأَنَّ فِيْهِ ضَرَرًا عَلَيْهِ وَعَلَى الْمُسْتَحِقِّيْنَ ، هَذَا مَحَلُّهُ إِذَا كَانَ الْحُلِيُّ مُبَاحًا بِأَنْ كَانَ مَكْسُوْرًا وَلَمْ يَنْوِ إِصْلَاحَهُ . أَمَّا لَوْ كَانَ مُحَرَّمًا لِعَيْنِهِ ، كَالْأَوَانِي ، فَلَا أَثَرَ لِزِيَادَةِ الْقِيْمَةِ ، أَيْ : فَالْعِبْرَةُ بِوَزْنِهِ لَا بِقِيْمَتِهِ ، فَيُخْرِجُ خَمْسَةَ دَرَاهِمَ ، إِمَّا مِنْ غَيْرِهِ أَوْ مِنْهُ ، أَوْ يَكْسِرُهُ ، أَوْ يَدْفَعُ رُبُعَ عُشْرِهِ مَشَاعًا . انْتَهَى .
Memungkinkan dengan dipatri karena bentuknya masih tetap ada dan ia bermaksud memperbaikinya. Jika ia tidak bermaksud memperbaikinya, bahkan bermaksud menjadikannya lempengan atau dirham, atau bermaksud menyimpannya, atau tidak bermaksud apa-apa, atau pecahnya tersebut mengharuskan untuk dilebur; maka wajib zakatnya, dan haulnya (hitungan tahun) dimulai sejak saat pecahnya, karena benda tersebut tidak lagi digunakan dan tidak ada niat untuk digunakan. Az-Zayadi berkata: Seandainya wajib zakat pada perhiasan lalu berbeda antara nilai (harga) dan timbangannya, seperti gelang yang nilainya 300 (dirham) sedangkan timbangannya 200 (dirham), maka yang dianggap adalah nilainya menurut pendapat yang paling sahih. Maka ia boleh memilih antara mengeluarkan seperempat sepersepuluh dari perhiasan tersebut secara kolektif yang diserahkan kepada kaum fakir, atau mengeluarkan lima dirham yang sudah dicetak yang nilainya tujuh setengah. Dan tidak boleh baginya memecah perhiasan itu lalu mengeluarkan darinya lima dirham, karena hal itu merugikan dirinya sendiri dan juga merugikan orang-orang yang berhak menerima. Ini berlaku jika perhiasan tersebut hukumnya mubah dengan gambaran kondisinya pecah namun tidak berniat memperbaikinya. Adapun jika perhiasan tersebut haram karena zatnya, seperti bejana-bejana, maka tidak ada pengaruh bagi kelebihan nilainya, artinya: yang dianggap adalah timbangannya bukan nilainya, maka ia mengeluarkan lima dirham, baik dari (harta) lainnya atau dari perhiasan itu sendiri, atau ia memecahnya, atau menyerahkan seperempat sepersepuluhnya secara kolektif. Selesai.
وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ : الْمُعَشَّرَاتُ ، وَهِيَ : النَّوَابِتُ الشَّامِلَةُ لِلشَّجَرِ وَالزَّرْعِ ، وَلَا زَكَاةَ فِي شَيْءٍ إِلَّا فِي رُطَبٍ ، وَعِنَبٍ ، وَمَا صَلَحَ لِلِاقْتِيَاتِ مِنَ الْحُبُوْبِ ، كَقَمْحٍ وَشَعِيْرٍ وَأَرُزٍّ وَعَدَسٍ وَذُرَةٍ وَحِمَّصٍ وَبَاقِلَّاءَ ، وَهُوَ : الْفُوْلُ ، وَدُخْنٍ ، وَهُوَ نَوْعٌ مِنَ الذُّرَةِ إِلَّا أَنَّهُ أَصْغَرُ حَبًّا مِنْهَا ، وَجُلْبَانٍ ، بِضَمِّ الْجِيْمِ ، وَيُقَالُ لَهُ : الْهُرْطُمَانُ ، بِضَمِّ الْهَاءِ وَالطَّاءِ ؛ وَمَاشٍ ، وَهُوَ
Jenis Ketiga: Al-Mu'asysyarat (zakat sepersepuluh), yaitu: tumbuhan yang mencakup pepohonan dan tanaman. Tidak ada zakat pada sesuatu pun kecuali pada kurma basah (ruthab), anggur ('inab), dan biji-bijian yang layak dijadikan makanan pokok, seperti gandum (qamhu), jelai (sya'ir), padi (aruzz), miju-miju ('adas), jagung (dzurah), kacang arab (himmas), dan kacang polong (baqila') yaitu: al-ful, dan milet (dukhn) yaitu sejenis jagung hanya saja bijinya lebih kecil darinya, dan julban dengan mendhommahkan jim, yang disebut juga: al-hurtuman dengan mendhommahkan hai' dan tha'; serta kacang hijau (masy), yaitu...
نَوْعٌ مِنْهُ . وَإِنْ كَانَ مَا يَصْلُحُ لِلِاقْتِيَاتِ يُؤْكَلُ نَادِرًا ، كَثَمَرَةِ الْبَلُّوْطِ الْمُسَمَّاةِ بِثَمَرَةِ الْفُؤَادِ ، وَهِيَ تُشْبِهُ الْبَلَحَ ؛ قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : وَالْبَلُّوْطُ ، مِثْلُ تَنُّوْرٍ : ثَمَرُ شَجَرٍ ، وَقَدْ يُؤْكَلُ ، وَرُبَّمَا دُبِغَ بِقِشْرِهِ . انْتَهَى . وَكَالسُّلْتِ ، وَهُوَ ضَرْبٌ مِنَ الشَّعِيْرِ لَيْسَ فِيْهِ قِشْرٌ . قَالَهُ الْجَوْهَرِيُّ ، وَقَالَ ابْنُ فَارِسٍ : ضَرْبٌ مِنْهُ ، رَقِيْقُ الْقِشْرِ ، صِغَارُ الْحَبِّ . وَقَالَ الْأَزْهَرِيُّ : حَبٌّ بَيْنَ الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيْرِ وَلَا قِشْرَ لَهُ ؛ وَكَالْعَلَسِ ، بِفَتْحَتَيْنِ : نَوْعٌ مِنَ الْحِنْطَةِ تَكُوْنُ فِي الْقِشْرَةِ مِنْهُ حَبَّتَانِ ، وَقَدْ يَكُوْنُ وَاحِدَةٌ ، أَوْ ثَلَاثٌ . قَالَ بَعْضُهُمْ : هُوَ حَبَّةٌ سَوْدَاءُ تُؤْكَلُ فِي الْجَدْبِ . وَقِيْلَ : هُوَ مِثْلُ الْبُرِّ ، إِلَّا أَنَّهُ عَسِرُ الْإِنْقَاءِ : وَقِيْلَ : هُوَ الْعَدَسُ ، فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ إِذَا وُجِدَتْ شُرُوطُهَا ، بِخِلَافِ مَا يُؤْكَلُ تَنَعُّمًا ، كَالسُّكَّرِ وَالتِّيْنِ وَالْمِشْمِشِ وَالتُّفَّاحِ وَالْبُنِّ ؛ وَمَا يُؤْكَلُ تَدَاوِيًا ، كَالْمُصْطَكَى وَالْفُلْفُلِ بِضَمِّ الْفَاءِ ، وَهُوَ مِنَ الْأَبْزَارِ . قَالَهُ فِي « الْمِصْبَاحِ » . وَوَاجِبُهَا الْعُشْرُ إِنْ سُقِيَتْ بِلَا مُؤْنَةٍ كَثِيْرَةٍ ، وَإِلَّا فَنِصْفُهُ . وَتَجِبُ زَكَاةُ النَّابِتِ ، بِمَعْنَى أَنَّهُ يَنْعَقِدُ سَبَبُ وُجُوْبِهَا بِبُدُوْ صَلَاحِ الثَّمَرِ وَاشْتِدَادِ الْحَبِّ عَلَى الْمَالِكِ لَا عَلَى الْمُسْتَحِقِّ ، وَلَا فِي مَالِ الزَّكَاةِ ، لِأَنَّ حَقَّ الْمُسْتَحِقِّ إِنَّمَا هُوَ فِي الْخَالِصِ الْجَافِّ . وَشَرْطُ وُجُوْبِهَا أَنْ تَبْلُغَ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ (١) تَحْدِيْدًا ، وَهِيَ أَلْفٌ وَسِتُّ
Sejenis darinya (kacang hijau). Dan jika ada apa yang layak dijadikan makanan pokok namun jarang dimakan, seperti buah ek (al-ballut) yang dinamakan dengan tsamaratul fu'ad, yang bentuknya menyerupai kurma muda (balah); Penulis kitab al-Misbah berkata: al-Ballut, seperti wazan tannur: adalah buah pohon, terkadang dimakan, dan terkadang kulitnya digunakan untuk menyamak. Selesai. Dan seperti al-sult, yaitu sejenis jelai yang tidak memiliki kulit. Al-Jauhari mengatakannya, dan Ibnu Faris berkata: sejenis darinya, kulitnya tipis, bijinya kecil. Al-Azhari berkata: biji-bijian di antara gandum dan jelai serta tidak memiliki kulit; dan seperti al-'alas, dengan dua fathah: sejenis gandum yang mana dalam satu kulit terdapat dua biji, terkadang satu, atau tiga. Sebagian ulama berkata: ia adalah biji hitam yang dimakan saat musim paceklik. Dikatakan: ia seperti gandum (al-burr), hanya saja sulit dibersihkan: dan dikatakan: ia adalah miju-miju (al-'adas). Maka wajib zakat pada semua itu jika terpenuhi syarat-syaratnya, berbeda dengan apa yang dimakan sebagai camilan/kenikmatan, seperti gula, ara (tin), aprikot (misy-misy), apel, dan kopi; serta apa yang dimakan untuk pengobatan, seperti mustika (al-mustaka) dan lada (al-fulful) dengan dhommah pada huruf fa', dan ia termasuk bumbu dapur. Penulis al-Misbah mengatakannya. Dan kewajiban zakatnya adalah sepersepuluh (al-'usyr) jika diairi tanpa biaya yang besar, jika tidak (pakai biaya) maka setengahnya (seperduapuluh). Dan wajib zakat tanaman, dalam artian bahwa sebab kewajibannya mulai terikat dengan munculnya tanda-tanda kematangan buah dan mengerasnya biji-bijian atas pemiliknya, bukan atas orang yang berhak menerima (mustahik), dan bukan pula pada harta zakatnya, karena hak mustahik hanyalah pada (hasil) yang murni dan kering. Dan syarat kewajibannya adalah mencapai lima ausuq (1) secara pasti, yaitu seribu enam...
مِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيَّةٍ ، إِذِ الْوَسْقُ سِتُّوْنَ صَاعًا ، فَمَجْمُوْعُ الْخَمْسَةِ ثَلَاثُ مِئَةِ صَاعٍ ، وَالصَّاعُ (١) أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ ، فَيَكُوْنُ النِّصَابُ أَلْفَ مُدٍّ وَمِائَتَيْ مُدٍّ . وَتَمَامُ الْمُلْكِ ، وَإِنْ لَمْ يُبَاشِرِ الْمَالِكُ وَلَا نَائِبُهُ زِرَاعَتَهُ ، كَأَنْ وَقَعَ الْحَبُّ بِنَفْسِهِ فِي يَدِ مَالِكِهِ عِنْدَ حَمْلِ الْغَلَّةِ مَثَلًا ، أَوْ بِإِلْقَاءِ نَحْوِ طَيْرٍ ، كَأَنْ وَقَعَتِ الْعَصَافِيْرُ عَلَى السَّنَابِلِ فَتَنَاثَرَ الْحَبُّ وَنَبَتَ ، فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِي ذَلِكَ إِنْ بَلَغَ نِصَابًا . وَخَرَجَ بِذَلِكَ الْمُلْكِ مَا نَبَتَ مِنْ حَبٍّ حَمَلَهُ السَّيْلُ مِنْ دَارِ الْحَرْبِ إِلَى أَرْضِنَا غَيْرِ الْمَمْلُوْكَةِ لِأَحَدٍ ، فَلَا زَكَاةَ فِيْهِ ، لِأَنَّهُ فَيْءٌ ، وَالْمَالِكُ غَيْرُ مُعَيَّنٍ ؛ أَمَّا لَوْ كَانَتْ مَمْلُوْكَةً فَيَمْلِكُهُ مَنْ نَبَتَ بِأَرْضِهِ . وَلَوْ حَمَلَ الْهَوَاءُ أَوِ الْمَاءُ حَبًّا مَمْلُوْكًا فَنَبَتَ بِأَرْضٍ ، فَإِنْ أَعْرَضَ عَنْهُ مَالِكُهُ فَهُوَ لِصَاحِبِ الْأَرْضِ ، وَعَلَيْهِ زَكَاتُهُ ، أَوْ لَمْ يُعْرِضْ عَنْهُ فَهُوَ لَهُ وَعَلَيْهِ زَكَاتُهُ ، وَأُجْرَةُ مِثْلِ الْأَرْضِ لِصَاحِبِهَا . وَيُضَمُّ نَوْعٌ مِنَ النَّابِتِ إِلَى نَوْعٍ آخَرَ ، كَعِنَبٍ مِصْرِيٍّ أَوْ شَامِيٍّ ، بِخِلَافِ اخْتِلَافِ الْجِنْسِ ، كَبُرٍّ بِشَعِيْرٍ . وَتُخْرَجُ الزَّكَاةُ عِنْدَ اخْتِلَافِ النَّوْعِ مِنْ كُلِّ مِنَ الْأَنْوَاعِ بِقِسْطِهِ إِنْ تَيَسَّرَ ، فَإِنْ عَسُرَ لِكَثْرَةِ الْأَنْوَاعِ وَقِلَّةِ مِقْدَارِ كُلِّ مِنْهَا أُخْرِجَ الْوَسَطُ لَا أَعْلَاهَا وَلَا أَدْنَاهَا ، وَزَرْعَا الْعَامِ ، وَهُوَ أَثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، يُضَمَّانِ إِنْ وَقَعَ
ratus rithl Baghdad, karena satu wasaq itu adalah eloquence puluh sha', maka total dari lima wasaq adalah tiga ratus sha'. Dan satu sha' (1) adalah empat mud, maka nishabnya menjadi seribu dua ratus mud. Dan (syarat berikutnya adalah) kepemilikan yang sempurna, meskipun pemilik atau wakilnya tidak secara langsung melakukan penanaman. Seperti seandainya biji-bijian itu jatuh dengan sendirinya ke tangan pemiliknya ketika mengangkut hasil panen misalnya, atau karena dijatuhkan oleh sejenis burung, seperti burung-burung pipit yang hinggap di tangkai padi lalu bijinya berjatuhan dan tumbuh, maka wajib zakat pada hal tersebut jika mencapai nishab. Dikecualikan dari kepemilikan tersebut adalah apa yang tumbuh dari biji-bijian yang terbawa arus air dari darul harbi ke tanah kita yang tidak dimiliki oleh siapapun, maka tidak ada zakat padanya, karena hal itu adalah harta fai', dan pemiliknya tidak ditentukan secara spesifik. Adapun jika tanah tersebut dimiliki (oleh seseorang), maka ia dimiliki oleh orang yang tanahnya ditumbuhi tanaman tersebut. Dan seandainya angin atau air membawa biji-bijian yang dimiliki (seseorang) lalu tumbuh di suatu tanah, maka jika pemiliknya berpaling (melepas haknya) darinya maka tanaman itu milik pemilik tanah dan ia wajib zakatnya, atau jika ia tidak berpaling darinya maka tanaman itu miliknya dan ia wajib zakatnya, serta wajib membayar sewa tanah yang sepadan (ujrah mitsil) kepada pemilik tanah. Dan satu jenis tanaman digabungkan ke jenis yang lainnya, seperti anggur Mesir atau anggur Syam, berbeda dengan perbedaan jenis, seperti gandum (burr) dengan jelai (sya'ir). Zakat dikeluarkan ketika terjadi perbedaan jenis (macam) dari setiap macam-macam tersebut sesuai porsinya jika memungkinkan. Jika sulit karena banyaknya macam dan sedikitnya kadar setiap macamnya, maka dikeluarkan yang kualitas menengah, bukan yang paling tinggi dan bukan pula yang paling rendah. Dan dua hasil panen dalam satu tahun, yaitu dua belas bulan, digabungkan jika terjadi...
حَصَادُهُمَا فِي عَامٍ وَاحِدٍ ، بِأَنْ يَكُوْنَ بَيْنَ حَصَادِ الْأَوَّلِ وَالثَّانِي أَقَلُّ مِنْ اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا عَرَبِيَّةً ، وَإِنْ وَقَعَ زَرْعُهُمَا فِي عَامَيْنِ ، بِأَنْ كَانَ بَيْنَ زَرْعِ الْأَوَّلِ وَزَرْعِ الْأَوَّلِ وَزَرْعِ الثَّانِيْ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، وَبَيْنَ حَصَادِ الثَّانِي وَالْأَوَّلِ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ ؛ وَالْمُرَادُ بِوُقُوْعِ حَصَادِهِمَا فِي عَامٍ أَنْ يَبْلُغَا أَوَانَ الْحَصَادِ ، وَإِنْ لَمْ يَقَعْ بِالْفِعْلِ ؛ وَمِثْلُ الزَّرْعَيْنِ الثَّمَرُ إِنْ وَقَعَ الْإِطْلَاعَانِ فِي عَامٍ ، وَإِنْ لَمْ يَتَّحِدْ قَطْعُهُمَا فِي عَامٍ وَاحِدٍ ، فَالْعِبْرَةُ فِي الْحُبُوْبِ بِالْحَصَادِ بِالْقُوَّةِ ، وَفِي الثَّمَارِ بِالْإِطْلَاعِ ؛ نَعَمْ ، لَوْ أَثْمَرَ نَخْلٌ فِي عَامٍ مَرَّتَيْنِ فَلَا يُضَمُّ ، بَلْ هُمَا كَثَمَرَةِ عَامَيْنِ إِلْحَاقًا لِلنَّادِرِ بِالْأَعَمِّ الْأَغْلَبِ ، وَكَالنَّخْلِ كُلُّ مَا شَأْنُهُ أَنْ لَا يُثْمِرَ فِي الْعَامِ إِلَّا مَرَّةً وَاحِدَةً . فَرْعٌ : قَالَ أَحْمَدُ السُّحَيْمِيُّ : وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْكَسْبِ الزِّرَاعَةُ ، ثُمَّ الصَّنَاعَةُ ، ثُمَّ Тَّجَارَةُ وَكَانَ كُلُّ نَبِيٍّ لَهُ حِرْفَةٌ وَكَسْبٌ ؛ فَكَانَ آدَمُ زَرَّاعًا ، وَأَوَّلُ صَنْعَةٍ عُمِلَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ الْحَرْثُ ، وَأَوَّلُ مَنْ حَرَثَ آدَمُ ، ثُمَّ أَدْرَكَهُ التَّعَبُ فِي آخِرِ النَّهَارِ ، فَقَالَ لِحَوَّاءَ : اِزْرَعِيْ مَا قَدْ بَقِيَ ؛ فَصَارَ زَرْعُهَا شَعِيْرًا ، فَتَعَجَّبَ مِنْ ذَلِكَ ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ : لَمَّا أَطَاعَتِ الْعَدُوَّ وَالْمُشِيْرَ ، وَهُوَ الشَّيْطَانُ ، بَدَّلْتُ لَهَا الْقَمْحَ بِالشَّعِيْرِ . وَقِيْلَ : لَمَّا هَبَطَ آدَمُ فِي الْهِنْدِ اِشْتَدَّ بِهِ الْجُوْعُ ، فَجَاءَهُ جِبْرِيْلُ بِثَوْرَيْنِ أَحْمَرَيْنِ وَثَلَاثِ حَبَّاتٍ مِنَ الْحِنْطَةِ ، وَقَالَ لَهُ : لَكَ حَبَّتَانِ ، وَلِحَوَّاءَ حَبَّةٌ وَاحِدَةٌ ؛ فَصَارَ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ، كُلُّ حَبَّةٍ وَزْنُهَا مِائَةُ أَلْفِ دِرْهَمٍ
panen keduanya dalam satu tahun, dengan gambaran jarak antara panen pertama and kedua kurang dari dua belas bulan Qamariyah. Meskipun penanaman keduanya terjadi dalam dua tahun, dengan gambaran jarak antara tanam pertama dan kedua adalah dua belas bulan, namun jarak antara panen kedua dan pertama kurang dari itu. Yang dimaksud dengan jatuhnya panen keduanya dalam satu tahun adalah keduanya telah mencapai masa panen, meskipun panen secara aktual belum dilakukan. Dan seperti dua tanaman tersebut adalah buah-buahan jika dua kemunculannya terjadi dalam satu tahun, meskipun pemetikannya tidak bersatu dalam satu tahun yang sama. Maka patokan pada biji-bijian adalah pada potensi panennya (bil quwwah), dan pada buah-buahan adalah pada kemunculannya (al-ithla'). Benar, jika pohon kurma berbuah dua kali dalam satu tahun maka tidak digabungkan, melainkan keduanya dianggap seperti buah dari dua tahun yang berbeda sebagai bentuk menyamakan hal yang jarang terjadi dengan hal yang umum terjadi. Dan seperti pohon kurma adalah setiap tanaman yang biasanya tidak berbuah kecuali sekali dalam setahun. Cabang Masalah: Ahmad as-Suhaimi berkata: Jenis mata pencaharian yang paling utama adalah pertanian, kemudian industri, kemudian perdagangan. Dan setiap Nabi itu memiliki profesi dan mata pencaharian; Nabi Adam adalah seorang petani, dan pekerjaan pertama yang dilakukan di muka bumi adalah bercocok tanam. Dan orang pertama yang bercocok tanam adalah Adam, kemudian ia merasa lelah di akhir siang, maka ia berkata kepada Hawa: "Tanamlah apa yang tersisa". Maka tanaman yang ditanam Hawa menjadi jelai (sya'ir), lalu Adam pun heran akan hal itu, maka Allah mewahyukan kepadanya: "Tatkala ia (Hawa) menaati musuh dan pemberi saran (yaitu setan), maka Aku ganti gandumnya dengan jelai". Dan dikatakan: Ketika Adam turun di India, rasa lapar sangat menyiksanya, lalu Jibril mendatanginya dengan membawa dua ekor sapi merah dan tiga biji gandum. Jibril berkata kepadanya: "Untukmu dua biji, dan untuk Hawa satu biji"; maka jadilah bagian laki-laki seperti bagian dua perempuan, yang mana setiap satu biji beratnya seratus ribu dirham.
وَثَمَانِ مِائَةِ دِرْهَمٍ ؛ فَزَرَعَ ، وَحَصَدَ ، وَطَحَنَ ، وَخَبَزَ فِي أَرْبَعِ سَاعَاتٍ وَكَانَ إِدْرِيْسُ خَيَّاطًا ، وَكَانَ نُوْحٌ نَجَّارًا ، أَيْ : صَنَّاعًا ، وَكَذَا زَكَرِيَّا ، وَكَانَ إِبْرَاهِيْمُ بَزَّازًا ، أَيْ : يَبِيْعُ أَنْوَاعَ الْمَلْبُوْسِ ، وَكَانَ مُوْسَى كَاتِبًا يَكْتُبُ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ ، وَكَانَ أَجِيْرَ شُعَيْبٍ ؛ وَكَانَ دَاوُدُ حَدَّادًا ، وَكَانَ سُلَيْمَانُ يَضْفِرُ الْخُوْصَ ، وَهُوَ وَرَقُ النَّخْلِ ، وَكَانَ نَبِيُّنَا يَبِيْعُ وَيَشْتَرِيْ بِنَقْدٍ وَنَسِيْئَةٍ ، وَيَحْمِلُ مَا اشْتَرَاهُ إِلَى بَيْتِهِ ، فَيَقُوْلُ بَائِعُهُ لَهُ : أَعْطِنِيْ أَحْمِلْهُ ! فَيَقُوْلُ : « صَاحِبُ الشَّيْءِ أَوْلَى بِحَمْلِهِ » [ مجمع الزوائد ، رقم : ٨٥١٠ ] لَكِنَّ الشِّرَاءَ بَعْدَ الْبِعْثَةِ أَغْلَبُ ، وَبَعْدَ الْهِجْرَةِ لَمْ يُحْفَظِ الْبَيْعُ ، وَأَمَّا الشِّرَاءُ فَكَثِيْرٌ ؛ وَآجَرَ ، أَيْ : بِأَنْ آجَرَ مُلْكَهُ عَلَى الْغَيْرِ ، وَاسْتَأْجَرَ ، أَيْ : بِأَنِ اسْتَأْجَرَ شَخْصًا لِيَخِيْطَ ثَوْبَهُ ﷺ مَثَلًا ؛ وَالِاسْتِئْجَارُ أَغْلَبُ ، وَأَجَّرَ نَفْسَهُ قَبْلَ النُّبُوَّةِ لِرَعْيِ الْغَنَمِ ، وَلِخَدِيْجَةَ لِلِاتِّجَارِ ، وَشَارَكَ ، وَوَكَّلَ ، وَتَوَكَّلَ ، وَالتَّوْكِيْلُ أَكْثَرُ ؛ وَأُهْدِيَ لَهُ وَقَبِلَ ، وَعَوَّضَ ، وَوُهِبَ لَهُ وَقَبِلَ ، وَاسْتَعَارَ . اِنْتَهَى . فَائِدَةٌ : نَقَلَ الشَّرْقَاوِيُّ عَنِ الْأُجْهُوْرِيِّ أَنَّ الْحَبَّةَ مِنَ الْقَمْحِ حِيْنَ نَزَلَ مِنَ الْجَنَّةِ قَدْرُ بَيْضَةِ النَّعَامَةِ ، وَأَلْيَنُ مِنَ الزُّبْدِ ، بِضَمِّ الزَّايِ وَسُكُوْنِ الْبَاءِ ؛ فَصَارَتِ الْحَبَّةُ قَدْرَ بَيْضَةِ الدَّجَاجَةِ ، ثُم‘ صَغُرَتْ حِيْنَ قُتِلَ يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا فَصَارَتْ قَدْرَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ ، ثُمَّ صَغُرَتْ فَصَارَتْ قَدْرَ الْبُنْدُقَةِ ، ثُمَّ قَدْرَ الْحِمِّصَةِ ، ثُمَّ صَارَتْ إِلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ الْآنَ ؛ فَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ لَا تَصْغُرَ عَنْهُ . اِنْتَهَى . قَالَ الْقَلْيُوْبِيُّ فِي « شَرْحِ الْمِعْرَاجِ » : فَائِدَةٌ نَادِرَةٌ : كَانَ وَزْنُ حَبَّةِ الْحِنْطَةِ فِي الْجَنَّةِ مِائَتَيْ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَثَمَانِ مِائَةِ دِرْهَمٍ . اِنْتَهَى .
dan delapan ratus dirham; lalu ia (Adam) menanam, memanen, menggiling, dan membakar roti dalam waktu empat jam. Nabi Idris adalah seorang penjahit, Nabi Nuh adalah seorang tukang kayu, maksudnya: pengrajin, begitu pula Nabi Zakaria. Nabi Ibrahim adalah seorang pedagang kain, maksudnya: menjual berbagai jenis pakaian. Nabi Musa adalah seorang penulis yang menulis Taurat dengan tangannya sendiri, dan ia adalah pekerja Nabi Syuaib. Nabi Daud adalah seorang pandai besi, Nabi Sulaiman menganyam pelepah kurma, yaitu daun pohon kurma. Nabi kita (Muhammad ﷺ) menjual dan membeli secara tunai maupun kredit, dan beliau membawa sendiri barang yang dibelinya ke rumahnya, lalu penjualnya berkata kepadanya: "Berikan padaku agar aku yang membawanya!". Maka beliau bersabda: "Pemilik sesuatu lebih berhak untuk membawanya" (Majma' az-Zawaid, No: 8510). Namun, aktivitas membeli setelah masa kerasulan lebih dominan, dan setelah hijrah tidak tercatat adanya aktivitas menjual, adapun membeli maka sangat banyak. Beliau juga menyewakan, maksudnya: menyewakan miliknya kepada orang lain, dan menyewa, maksudnya: menyewa jasa seseorang untuk menjahit pakaiannya ﷺ misalnya; dan aktivitas menyewa jasa orang lain lebih dominan. Beliau juga menyewakan dirinya sebelum kenabian untuk menggembala kambing, dan kepada Khadijah untuk berdagang. Beliau juga berserikat (syirkah), mewakilkan, dan menjadi wakil, namun aktivitas mewakilkan lebih sering dilakukan. Beliau juga diberi hadiah dan menerimanya, lalu memberi imbalan, serta diberi hibah dan menerimanya, dan meminjam barang. Selesai. Faidah: Asy-Syarqawi menukil dari Al-Ujhuri bahwa satu biji gandum ketika turun dari surga ukurannya sebesar telur burung unta, dan lebih lembut daripada mentega (az-zubdi), dengan dhommah pada huruf zai dan sukun pada ba'. Lalu biji tersebut (ukurannya) menjadi sebesar telur ayam, kemudian mengecil ketika Nabi Yahya bin Zakaria terbunuh sehingga menjadi sebesar telur merpati. Kemudian mengecil lagi hingga sebesar buah kemiri (al-bunduqah), lalu sebesar kacang arab (al-himmasah), kemudian sampai pada ukuran seperti sekarang ini. Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar ukuran tersebut tidak mengecil lagi darinya. Selesai. Al-Qalyubi berkata dalam kitab Syarh al-Mi'raj: Faidah yang langka: Dahulu berat satu biji gandum di surga adalah dua ratus ribu delapan ratus dirham. Selesai.
وَالنَّوْعُ الرَّابِعُ : أَمْوَالُ التِّجَارَةِ ، وَهِيَ : تَقْلِيْبُ الْمَالِ بِالْمُعَاوَضَةِ لِغَرَضِ الرِّبْحِ بِنِيَّةِ تِجَارَةٍ عِنْدَ كُلِّ تَصَرُّفٍ . وَالْحَاصِلُ ، أَنَّ شَرْطَ وُجُوْبِ زَكَاتِهَا سِتَّةٌ : أَحَدُهَا : كَوْنُ الْمَالِ مَمْلُوْكًا بِمُعَاوَضَةٍ ، كَشِرَاءِ ، سَوَاءٌ كَانَ بِعَرَضٍ أَمْ نَقْدٍ أَمْ دَيْنٍ حَالٍ أَمْ مُؤَجَّلٍ ، وَكَمَا لَوْ صَالَحَ عَلَيْهِ عَنْ دَمٍ أَوْ أَجَرَ بِهِ نَفْسَهُ ، سَوَاءٌ كَانَتِ الْمُعَاوَضَةُ غَيْرَ مَحْضَةٍ ، وَهِيَ الَّتِي لَا تَفْسُدُ بِفَسَادِ مُقَابِلِهَا ، كَالنِّكَاحِ وَالْخُلْعِ ، أَوْ مَحْضَةً ، وَهِيَ الَّتِي تَفْسُدُ بِذَلِكَ ، كَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالْهِبَةِ بِثَوَابٍ . وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا مُلِكَ بِغَيْرِ مُعَاوَضَةٍ ، كَإِرْثٍ ، فَإِذَا تَرَكَ لِوَرَثَتِهِ عُرُوْضَ تِجَارَةٍ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِمْ زَكَاتُهَا ؛ وَهِبَةٍ بِلَا ثَوَابٍ وَاحْتِطَابٍ . ثَانِيْهَا : وُجُوْدُ نِيَّةِ التِّجَارَةِ حَالَ الْمُعَاوَضَةِ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ ، أَوْ فِي مَجْلِسِهِ ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمَمْلُوْكَ بِالْمُعَاوَضَةِ قَدْ يُقْصَدُ بِهِ التِّجَارَةُ ، وَقَدْ يُقْصَدُ بِهِ غَيْرُهَا ، فَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةٍ مُمَيِّزَةٍ ، وَإِنْ لَمْ يُجَدِّدْهَا فِي كُلِّ تَصَرُّفٍ بَعْدَ فَرَاغِ الشِّرَاءِ مَثَلًا بِرَأْسِ الْمَالِ . ثَالِثُهَا : أَنْ لَا يَقْصُدَ بِالْمَالِ الْقِنْيَةَ ، أَيْ : الْإِمْسَاكَ لِلِانْتِفَاعِ ، فَإِنْ قَصَدَهَا بِهِ اِنْقَطَعَ الْحَوْلُ ، فَيَحْتَاجُ إِلَى تَجْدِيْدِ نِيَّةٍ مَقْرُوْنَةٍ بِتَصَرُّفٍ ، وَكَذَا
Jenis Keempat: Harta Dagangan, yaitu: Memutar (mengelola) harta dengan jalan pertukaran (mu'awadhah) untuk tujuan mencari keuntungan disertai niat berdagang pada setiap tindakan tasharruf (transaksi). Walhasil, sesungguhnya syarat wajib zakat perdagangan ada enam: Pertama: Keberadaan harta tersebut dimiliki melalui pertukaran (mu'awadhah), seperti pembelian, baik itu ditukar dengan barang ('aradh), uang tunai (naqd), hutang yang kontan, maupun hutang yang ditangguhkan. Begitu juga seandainya ia melakukan perdamaian (shuluh) atas harta tersebut dari tebusan darah (diyat) atau ia menyewakan dirinya dengan harta tersebut, baik pertukarannya bersifat tidak murni (ghairu mahdhah) yaitu yang tidak rusak sebab rusaknya barang yang sebanding dengannya seperti nikah dan khuluk, atau pertukaran murni (mahdhah) yaitu yang menjadi rusak karena hal tersebut seperti jual beli dan hibah dengan imbalan pahala. Dikecualikan dari hal itu adalah apa yang dimiliki tanpa melalui pertukaran, seperti warisan; maka jika seseorang meninggalkan barang dagangan untuk ahli warisnya, tidak wajib bagi mereka zakatnya; juga hibah tanpa imbalan pahala, dan mencari kayu bakar. Kedua: Adanya niat berdagang saat terjadinya pertukaran dalam inti akad, atau dalam majelis akad. Hal itu karena harta yang dimiliki melalui pertukaran terkadang dimaksudkan untuk berdagang dan terkadang dimaksudkan untuk selainnya, maka harus ada niat yang membedakan, meskipun ia tidak memperbarui niat tersebut dalam setiap tindakan tasharruf setelah selesainya pembelian misalnya dengan modal awal. Ketiga: Hendaknya ia tidak bermaksud menjadikan harta tersebut sebagai barang simpanan (al-qunyah), yaitu menahannya untuk dimanfaatkan sendiri. Jika ia bermaksud demikian terhadap harta itu, maka terputuslah hitungan tahunnya (haul), sehingga ia butuh memperbarui niat yang dibarengi dengan tindakan tasharruf, begitu juga...
إِنْ قَصَدَهَا بِبَعْضِهِ وَإِنْ لَمْ يُعَيِّنْهُ ، وَيُرْجَعُ فِي تَعْيِيْنِهِ إِلَيْهِ . وَرَابِعُهَا : مُضِيُّ حَوْلٍ مِنْ وَقْتِ الْمُلْكِ ، نَعَمْ إِنْ مَلَكَهُ بِعَيْنِ نَقْدِ نِصَابٍ أَوْ دُوْنَهُ وَفِي مُلْكِهِ بَاقِيْهِ ، كَأَنِ اشْتَرَى بِعِشْرِيْنَ مِثْقَالًا أَوْ بِعَيْنِ عَشَرَةٍ وَفِي مُلْكِهِ عَشَرَةٌ أُخْرَى بَنَى عَلَى حَوْلِ النَّقْدِ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ اشْتَرَاهُ بِنِصَابٍ فِي الذِّمَّةِ ثُمَّ نَقَدَهُ فِي الْمَجْلِسِ ، فَإِنَّهُ يَنْقَطِعُ حَوْلُ النَّقْدِ وَيَبْتَدِئُ حَوْلُ التِّجَارَةِ مِنْ حِيْنِ الشِّرَاءِ ؛ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ : أَنَّ النَّقْدَ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ لِلشِّرَاءِ فِي الثَّانِيَةِ ، بِخِلَافِ الْأُوْلَى . خَامِسُهَا : أَنْ لَا يَرُدَّ جَمِيْعَ مَالِ التِّجَارَةِ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ إِلَى نَقْدٍ مِنْ جِنْسِ مَا يُقَوَّمُ بِهِ ، وَهُوَ دُوْنَ نِصَابٍ ، فَإِنْ رُدَّ إِلَى ذَلِكَ ، ثُمَّ اشْتَرَىٰ بِهِ سِلْعَةً ، بِكَسْرِ السِّيْنِ ، أَيْ : بِضَاعَةً لِلِتِّجَارَةِ ، اِبْتَدَأَ حَوْلُهَا مِنْ حِيْنِ شِرَائِهَا لِتَحَقُّقِ نَقْصِ النَّصَابِ بِالتَّنْفِيْضِ ، بِخِلَافِهِ قَبْلَهُ ، فَإِنَّهُ مَظْنُوْنٌ ؛ أَمَّا لَوْ رُدَّ بَعْضُ الْمَالِ إِلَى مَا ذُكِرَ أَوْ بَاعَهُ بِعَرَضٍ أَوْ بِنَقْدٍ لَا يُقَوَّمُ بِهِ آخِرَ الْحَوْلِ ، كَأَنْ بَاعَهُ بِدَرَاهِمَ وَالْحَالُ يَقْتَضِي التَّقْوِيْمَ بِدَنَانِيْرَ أَوْ بِنَقْدٍ يُقَوَّمُ بِهِ ، وَهُوَ نِصَابٌ ، فَحَوْلُهُ بَاقٍ فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ . سَادِسُهَا : أَنْ تَبْلُغَ قِيْمَتُهُ آخِرَ الْحَوْلِ نِصَابًا أَوْ دُوْنَهُ ، وَمَعَهُ مَا يَكْمُلُ بِهِ ، كَمَا لَوْ كَانَ مَعَهُ مِائَةُ دِرْهَمٍ ، فَابْتَاعَ ، أَيْ : فَاشْتَرَى بِخَمْسِيْنَ مِنْهَا عَرَضًا لِلتِّجَارَةِ ، وَبَقِيَ فِي مُلْكِهِ خَمْسُوْنَ ، وَبَلَغَتْ قِيْمَةُ الْعَرَضِ آخِرَ الْحَوْلِ مِائَةً وَخَمْسِيْنَ ، فَيُضَمُّ لِمَا عِنْدَهُ ، وَيَجِبُ زَكَاةُ الْجَمِيْعِ .
Jika ia bermaksud menjadikan sebagiannya sebagai simpanan meskipun tidak menentukannya secara spesifik, dan penentuannya dikembalikan kepadanya. Keempat: Berlalunya satu tahun (haul) sejak waktu kepemilikan. Benar, jika ia memilikinya dengan menukar uang tunai seukuran nishab atau kurang dari itu namun ia memiliki sisa nishabnya, seperti ia membeli dengan 20 mitsqal (emas) atau dengan 10 mitsqal tunai padahal ia punya 10 mitsqal lainnya, maka ia melanjutkan hitungan haul uang tunai tersebut. Berbeda halnya jika ia membelinya dengan nishab yang masih dalam tanggungan (dzimmah) kemudian ia membayarnya di majelis akad, maka terputuslah haul uang tunai tersebut and dimulailah haul dagang sejak waktu pembelian. Perbedaan antara dua masalah ini adalah: bahwa uang tunai tersebut belum ditentukan penggunaannya untuk membeli pada masalah kedua, berbeda dengan masalah pertama. Kelima: Hendaknya ia tidak mengubah seluruh harta dagangan di tengah-tengah tahun menjadi uang tunai dari jenis yang digunakan sebagai standar harga, dalam kondisi uang tersebut kurang dari nishab. Jika ia mengubahnya menjadi uang tersebut, kemudian ia membeli dengannya barang dagangan (sil'ah), dengan kasrah pada huruf sin, yakni barang untuk diperdagangkan, maka dimulailah haul barang tersebut sejak waktu pembeliannya karena telah nyata berkurangnya nishab dengan cara pencairan harta (at-tanfidh), berbeda dengan sebelum dicairkan, maka hal itu hanya dugaan (mazhnun). Adapun jika ia mengubah sebagian harta ke uang tersebut, atau menjualnya dengan barang lain atau dengan uang tunai yang bukan merupakan standar harga di akhir tahun, seperti ia menjualnya dengan dirham padahal kondisinya mengharuskan penilaian harga dengan dinar, atau dengan uang tunai standar harga dan ia mencapai nishab, maka haul-nya tetap berlanjut pada semua itu. Keenam: Hendaknya nilainya di akhir tahun mencapai nishab atau kurang dari itu namun ia memiliki harta lain yang menyempurnakannya. Seperti seandainya ia memiliki 100 dirham, lalu ia membeli dengan 50 dirham darinya barang dagangan, dan tersisa di miliknya 50 dirham, kemudian nilai barang tersebut di akhir tahun mencapai 150 dirham, maka itu digabungkan dengan apa yang ada padanya, dan wajib zakat atas semuanya.
وَوَاجِبُهَا ، أَيْ : أَمْوَالِ التِّجَارَةِ رُبُعُ عُشْرِ قِيْمَةِ عُرُوْضِ التِّجَارَةِ ؛ فَإِنْ مُلِكَتْ بِنَقْدٍ وَلَوْ دُوْنَ نِصَابٍ قُوِّمَتْ بِهِ ؛ وَلَا بُدَّ فِي التَّقْوِيْمِ مِنْ عَدْلَيْنِ ، فَلَوْ لَمْ يَبْلُغْ نِصَابًا لَمْ تَجِبْ الزَّكَاةُ ، وَإِنْ بَلَغَ بِغَيْرِهِ ، وَإِنْ مُلِكَتْ بِغَيْرِهِ ، كَعَرَضٍ وَنِكَاحٍ وَخُلْعٍ فَبِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ ؛ صُورَةُ ذَلِكَ : شَخْصٌ زَوَّجَ أَمَتَهُ ، أَوْ خَالَعَ زَوْجَتَهُ بِعَرَضٍ نَوَى بِهِ التِّجَارَةَ ، وَكَذَا لَوْ تَزَوَّجَتِ الْحُرَّةُ بِعَرَضٍ نَوَتْ بِهِ ذَلِكَ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا لَوْ مَلَكَتْ عُرُوْضَ التِّجَارَةِ بِصُلْحٍ عَنْ دَمٍ ، كَأَنْ جَنَى عَلَيْهِ شَخْصٌ فَوَجَبَ عَلَى ذَلِكَ شَخْصٌ قِصَاصٌ ، فَصَالَحَ الْمَجْنِيُّ عَلَيْهِ وَعَفَا بِالدِّيَةِ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ ، كَأَنْ قَالَ : عَفَوْتُ عَنْكَ بِالدِّيَةِ ؛ فَكَانَتْ الدِّيَةُ بَدَلًا عَنِ الْقِصَاصِ .
Kewajibannya, yaitu: harta perdagangan. Seperempat dari sepersepuluh (2,5%) nilai barang dagangan; maka jika barang itu dimiliki dengan uang tunai meskipun di bawah nishab, maka ia dinilai dengan uang tersebut; dan dalam penilaian harga (taqwim) harus dilakukan oleh dua orang yang adil, maka jika tidak mencapai nishab tidak wajib zakat, walaupun mencapai nishab dengan standar lain. Dan jika barang itu dimiliki dengan selain uang tunai, seperti dengan barang ('aradh), nikah, atau khuluk, maka nilainya diukur dengan mata uang yang dominan di negara tersebut; contohnya: seseorang yang menikahkan budak perempuannya, atau meng-khuluk istrinya dengan barang yang ia niatkan untuk berdagang, begitu juga jika seorang wanita merdeka menikah dengan mahar barang yang ia niatkan untuk itu. Contoh lainnya adalah jika ia memiliki barang dagangan melalui perdamaian (shuluh) atas tebusan darah, seperti seseorang melukai orang lain sehingga wajib qishash atasnya, lalu si korban berdamai dan memaafkan dengan ganti diyat (denda) dengan niat berdagang, seperti ia berkata: "Aku memaafkanmu dengan denda (diyat)"; maka diyat tersebut menjadi pengganti dari qishash.
Buka Syarh Nyablak Ringkasan Hukum Kitab (Abi Ahmad Thoufur)
Dengerin nih Jemaah... Pasang kuping bae-bae! Abi jabarin poin-poin penting dari naskah di atas biar kaga puyeng:
- Zakat Perhiasan: Kalau perhiasan mubah buat mpok-mpok dipakai sewajarnya, kaga ada zakat. Tapi kalau buat disimpan (kanz) atau berlebihan (gelang kaki sampe 852 gram emas!), itu haram atau makruh, wajib dizakatin! Standar harganya pakai nilai jual asli menurut dua orang ahli yang adil, bukan cuma berat timbangannya doang kalau perhiasannya mubah tapi pecah.
- Zakat Pertanian (Mu'asysyarat): Yang wajib dizakatin itu makanan pokok yang tahan disimpan (padi, gandum, jagung, kacang ijo). Kopi, gula, apel, lada kaga ada zakat pertaniannya! Nisabnya 5 ausuq (sekitar 300 sha'). Keluarin 10% kalau tadah hujan, atau 5% kalau modal pompa air atau beli air.
- Zakat Perdagangan: Syaratnya ada 6. Intinya: barang didapat dari tukar-menukar (beli, mahar, diyat), ada niat dagang pas akad, kaga diniatin buat dipake sendiri, genap haul 1 tahun, modal kaga berubah jadi duit cash di bawah nisab di tengah jalan, dan pas akhir tahun nilainya tembus nisab (setara 85 gram emas/595 gram perak). Wajib keluarin 2,5%!
Hadits riwayat dari Majma' az-Zawaid (No: 8510): "Pemilik sesuatu lebih berhak untuk membawanya" statusnya sahih/hasan, menunjukkan ketawaduan Rasulullah ﷺ yang milih bawa barang belanjaannya sendiri. Urutan kasb paling afdhal menurut Imam as-Suhaimi: Tani, Industri, baru Dagang.
Hajah Zainab di Cengkareng punya gelang emas totalnya 900 gram (udah lewatin batas kewajaran/israf). Karena tujuannya buat pamer dan berlebihan, maka Hajah Zainab wajib ngeluarin zakatnya tiap tahun 2,5% dari nilai total perhiasan tersebut, karena hukumnya udah berubah jadi makruh/haram akibat israf.
Hati-hati ama yang namanya Tadlis (Penyembunyian Niat)! Ente punya barang dagangan, pas udah mau deket setahun (haul), ente niatin dalam hati: "Ah ini barang mau ane pake sendiri aja ah biar kaga kena zakat." Perbuatan ngecoh hukum Allah begini namanya Hilah yang diharamkan. Kagak bakal berkah hidup ente, malah ngundang laknat dan bangkrut dunia akhirat!
PART 1: Penilaian Mata Uang, Haul Keuntungan, & Zakat Fitrah Budak Dagang
1. Penentuan Mata Uang Jika Tidak Ada di Negara Tersebut
فَانْ لَمْ يَكُنِ بِالْبَلَدِ نَقْدٌ فَبِغَالِبِ نَقْدِ أَقْرَبِ الْبِلَادِ إِلَيْهِ ، فَإِنْ غَلَبَ نَقْدَانِ عَلَى التَّسَاوِي تَخَيَّرَ بَيْنَهُمَا إِنْ بَلَغَتْ نِصَابًا بِكُلِّ مِنْهُمَا ، وَإِنْ بَلَغَتْ نِصَابًا بِأَحَدِهِمَا دُوْنَ الآخَرِ قُوَّمَتْ لِتَحَقَّقِ تَمَامِ النِّصَابِ بِهِ ، وَإِنْ مُلِكَتْ بِنَقْدِ وَغَيْرِهِ قُوْمَ مَا قَابَلَ النَّقْدَ بِهِ ، وَمَا قَابَلَ غَيْرَهُ بِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ . وَيُعْرَفُ مَا قَابَلَ غَيْرَ نَقْدٍ بِتَقْوِيْمِهِ وَمَعْرِفَةِ نِسْبَتِهِ لِلنَّقْدِ حَالَ الْمُفَاوَضَةِ ، فَإِنِ اخْتَلَفَ الْغَالِبُ وَقْتَ الشَّرَاءِ وَآخِرَ الْحَوْلِ اعْتُبِرَ الثَّانِي ، لِأَنَّهُ الْمُعْتَبَرُ فِي زَكَاةِ التِّجَارَةِ
Terjemahan: Jika di negara tersebut tidak ada mata uang, maka diukur dengan mata uang yang dominan di negara terdekat. Jika ada dua mata uang yang sama-sama dominan secara seimbang, maka ia boleh memilih di antara keduanya jika nilainya mencapai nishab dengan masing-masing mata uang tersebut. Namun jika hanya mencapai nishab dengan salah satunya dan tidak dengan yang lain, maka dinilai dengan yang mencapai nishab agar kesempurnaan nishab terwujud. Dan jika barang dimiliki dengan campuran uang tunai dan selainnya, maka bagian yang setara uang tunai dinilai dengan uang tersebut, dan bagian yang setara selain uang dinilai dengan mata uang yang dominan di negara itu. Bagian yang bukan uang tunai diketahui dengan cara menilainya dan mengetahui perbandingannya dengan uang tunai saat transaksi pertukaran. Jika mata uang yang dominan berbeda antara waktu pembelian dan akhir tahun, maka yang dianggap adalah yang kedua (akhir tahun), karena itulah yang menjadi patokan dalam zakat perdagangan.
2. Patokan Mata Uang Saat Pembelian
وَقَوْلُهُمْ : « الْعِبْرَةُ بِمَا أَشْتُرِيَ بِهِ » وَإِنْ أَبْطَلَهُ السُّلْطَانُ أَوْ كَانَ الْغَالِبُ غَيْرَهُ مَحَلَّهُ فِيْمَا اشْتُرِيَ بِالنَّقْدِ لَا بِعَرَضِ كَمَا هُنَا
Terjemahan: Dan perkataan mereka: "Patokannya adalah dengan apa barang itu dibeli," meskipun mata uang tersebut telah dibatalkan oleh penguasa atau yang dominan... Selainnya (menggantikan) kedudukannya dalam hal apa yang dibeli dengan uang tunai, bukan dengan barang sebagaimana dalam masalah di sini.
3. Penggabungan Keuntungan Dagang di Tengah Tahun (Haul)
وَيُضَمُّ رِبْحٌ حَاصِلٌ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ لِأَصْلٍ فِي الْحَوْلِ إِنْ لَمْ يُنَضَّ بِمَا يُقَوَّمُ بِهِ ، بِأَنْ لَمْ يُنَضَّ أَصْلًا ، أَوْ نُضَ بِغَيْرِ مَا يُقَوَّمُ بِهِ ، فَلَوِ اشْتَرَى عَرَضًا قِيْمَتُهُ مِئَتَا دِرْهَمٍ ، فَصَارَتْ قِيْمَتُهُ آخِرَ الْحَوْلِ ثَلَاثَ مِئَةٍ زَكَّاهَا أَمَّا إِذَا نُضَ بِمَا يُقَوَّمُ بِهِ ، فَلَا يُضَمُّ إِلَى الْأَصْلِ ، بَلْ يُزَكَّى الْأَصْلُ عِنْدَ حَوْلِهِ ، وَالرِّبْحُ عِنْدَ حَوْلِهِ ، فَيُفْرَدُ كُلٌّ بِحَوْلٍ . وَمَعْنَى « نُضَ » : صَارَ نَاضًا دَرَاهِمَ وَدَنَانِيْرَ
Terjemahan: Dan keuntungan yang diperoleh di tengah-tengah tahun digabungkan dengan modal dalam hitungan tahun (haul) jika keuntungan tersebut belum dicairkan (yunadh) dengan mata uang standar penilaiannya. Dengan gambaran ia belum dicairkan sama sekali, atau dicairkan dengan selain mata uang standar penilaiannya. Maka seandainya seseorang membeli barang dagangan yang nilainya 200 dirham, lalu nilainya di akhir tahun menjadi 300 dirham, maka ia menzakati (total) 300 dirham tersebut. Adapun jika keuntungan tersebut telah dicairkan dengan mata uang standar penilaiannya, maka tidak digabungkan dengan modalnya, melainkan modalnya dizakati sesuai masa haul-nya sendiri, dan keuntungannya dizakati sesuai masa haul-nya sendiri, maka masing-masing dipisahkan masa haul-nya. Makna dari "nudhdha" adalah: Menjadi uang tunai (nadhdh) baik berupa dirham maupun dinar.
4. Kewajiban Zakat Fitrah Budak Dagangan
تَجِبُ زَكَاةُ فِطْرِ رَقِيقِ تِجَارَةٍ مَعَ زَكَاتِهَا ، لِاخْتِلَافِ سَبَبِهِمَا ، وَهُمَا : الْبَدَنُ وَالْمَالُ ؛ فَالأَوَّلُ : مُسَبِّبُ زَكَاةِ الْفِطْرِ ؛ وَالثَّاني : مُسَبِّبُ زَكَاةِ التِّجَارَةِ
Terjemahan: Dan wajib zakat fitrah atas budak dagangan bersamaan dengan zakat perdagangannya, karena perbedaan sebab keduanya, yaitu: badan dan harta. Yang pertama (badan) adalah penyebab zakat fitrah, dan yang kedua (harta) adalah penyebab zakat perdagangan.
PART 2: Titik Temu Zakat 'Ain (Hewan/Buah) dengan Zakat Perdagangan
1. Jika Hanya Salah Satu yang Mencapai Nishab
فَلَوْ كَانَ مَالُ التِّجَارَةِ مِمَّا تَجِبُ الزَّكَاةُ فِي عَيْنِهِ ، كَسَائِمَةٍ وَثَمَرٍ ، فَلَا تَجْتَمِعُ الزَّكَاتَانِ فِيْهِ بِلَا خِلَافٍ ، بِلْ إِنْ كَمُلَ نِصَابُ إِحْدَى الزَّكَاتَيْنِ دُوْنَ نِصَابِ الأُخْرَى ، كَأَرْبَعِينَ شَاةٌ قَصَدَ بِهَا التِّجَارَةَ ، لَكِنْ لَمْ تَبْلُغْ قِيْمَتُهَا نِصَابًا آخِرَ الْحَوْلِ ، وَكَتِسْعِ وَثَلَاثِيْنَ فَأَقَلَّ بَلَغَتْ قِيْمَتُهَا نِصَابًا آخِرَ الْحَوْلِ وَجَبَت| زَكَاةُ مَا كَمُلَ نِصَابُهُ .
Terjemahan: Maka seandainya harta perdagangan tersebut termasuk jenis yang wajib zakat pada zat bendanya (zakat 'ain), seperti hewan ternak yang digembalakan (saimah) dan buah-buahan, maka dua zakat tidak dapat berkumpul di dalamnya tanpa ada perbedaan pendapat (khilaf). Bahkan jika sempurna nishab salah satu zakat saja tanpa nishab yang lainnya, seperti 40 ekor kambing yang diniatkan untuk berdagang namun nilainya tidak mencapai nishab (perdagangan) di akhir tahun, atau 39 ekor atau kurang yang nilainya mencapai nishab (perdagangan) di akhir tahun, maka wajib zakat bagi yang sempurna nishabnya.
2. Jika Keduanya Mencapai Nishab (Zakat 'Ain Didahului)
وَإِنْ كَمُلَ نِصَابُ كُلٌّ مِنْهُمَا كَأَرْبَعِينَ شَاةٌ قَصَدَ بِهَا التِّجَارَةَ ، وَبَلَغَتْ قِيمَتُهَا آخِرَ الْحَوْلِ نِصَابًا ؛ قُدِّمَتْ فِي الْوُجُوْبِ زَكَاةُ الْعَيْنِ عَلَى زَكَاةِ التِّجَارَةِ لِقُوَّتِهَا لِلاِتِّفَاقِ عَلَيْهَا ، بِخِلَافِ زَكَاةِ التِّجَارَةِ ؛ فَفِيْهَا قَوْلٌ قَدِيمٌ بِعَدَمِ الْوُجُوْبِ فِيْهَا ، وَلِهَذَا لَا يَكْفُرُ جَاحِدُهَا
Terjemahan: Jika sempurna nishab masing-masing dari keduanya, seperti 40 ekor kambing yang diniatkan untuk berdagang dan nilainya di akhir tahun mencapai nishab (perdagangan), maka didahulukan kewajiban zakat zat bendanya (zakat 'ain) atas zakat perdagangan karena kekuatannya berdasarkan kesepakatan ulama atasnya, berbeda dengan zakat perdagangan; karena di dalamnya terdapat pendapat lama (qaul qadim) yang menyatakan tidak wajibnya zakat pada harta dagangan, dan karena itulah orang yang mengingkarinya tidak dihukumi kafir.
3. Gambaran Kasus Hewan Ternak (Saimah) & Buah-buahan
فَصُوْرُ السَّائِمَةِ أَنْ يَشْتَرِيَ مَثَلًا أَرْبَعِيْنَ شَاةٌ مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ وَيَنْوِيَ فِيْهِ التِّجَارَةَ ، ثُمَّ تُقَوَّمُ آخِرَ الْحَوْلِ ، فَتَبْلُغُ قِيْمَتُهَا نِصَابَ تِجَارَةٍ ؛ فَقَدِ اجْتَمَعَ فِيْهَا زَكَاتَانِ : زَكَاةُ عَيْنٍ ، وَزَكَاةُ تِجَارَةٍ . وَصُوْرَةُ TH_AMARِ أَنْ يَشْتَرِيَ نَخِيْلًا أَوْ عِنَبًا مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ ، وَيَنْوِيَ فِيْهِ وَفِيْمَا يَخْرُجُ مِنْهُ التِّجَارَةَ ، ثُمَّ يَحُولُ عَلَيْهِ الْحَوْلُ ، وَقِيمَتُهُ مَعَ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ تَبْلُغُ نِصَابَ تِجَارَةٍ ، وَكَمُلَتْ زَكَاةُ الْعَيْنِ فِيْهَا ، يُخْرَجُ مِنْهَا أَيْضًا ؛
Terjemahan: Gambaran untuk hewan ternak yang digembalakan (saimah) adalah misalnya seseorang membeli 40 ekor kambing di awal bulan Muharram dan meniatkannya untuk berdagang. Kemudian di akhir tahun hewan tersebut dinilai harganya, dan ternyata mencapai nishab perdagangan. Maka dalam kondisi ini, telah berkumpul dua jenis zakat: zakat zat benda (zakat 'ain) dan zakat perdagangan. Gambaran untuk buah-buahan adalah seseorang membeli pohon kurma atau anggur di awal Muharram, dan ia meniatkan perdagangan pada pohon tersebut beserta apa yang dihasilkannya. Kemudian setelah berlalu satu tahun, nilainya beserta apa yang dihasilkannya mencapai nishab perdagangan, dan zakat 'ain di dalamnya pun telah sempurna (mencapai nishab), maka zakat tersebut dikeluarkan juga;
4. Zakat untuk Turunan Hasil Ternak dan Bagian Pohon
نَعَمْ تَجِبُ زَكَاةُ التِّجَارَةِ أَيْضًا فِي نَحْوِ صُوْفِهَا وَأَلْبَانِهَا مَعَ إِخْرَاجِ زَكَاةِ الْعَيْنِ عَنِ السَّائِمَةِ ، وَكَذَا تَجِبُ زَكَاةُ التِّجَارَةِ عَنِ الشَّجَرِ وَنَحْوِهِ ، كَالْأَرْضِ ، مِنَ اللَّيْفِ وَالْكِرْنَافِ وَغَيْرِهِمَا ، كَالْجِذْعِ وَالتِّبْنِ ، إِنْ بَلَغَتْ قِيْمَتُهَا وَحْدَهَا نِصَابًا عِنْدَ تَمَامِ الْحَوْلِ ، مَعَ إِخْرَاجِ زَكَاةِ الْعَيْنِ عَنِ TH_AMARِ ، إِذْ لَيْسَ فِيْهَا زَكَاةُ عَيْنٍ ، فَلَا تَسْقُطُ عَنْهَا زَكَاةُ التِّجَارَةِ ؛ أَمَّا مَا فِيْهِ زَكَاةُ الْعَيْنِ ، وَهُوَ TH_AMARَةُ وَالْحَبُّ إِنْ بَلَغَا نِصَابًا ، فَلَا يَدْخُلَانِ فِي التَّقْوِيمِ فِي هَذَا الْحَوْلِ ، فَإِنْ لَمْ يَبْلُغَاهُ دَخَلَا فِيْهِ ، فَيُقَوَّمَانِ مَعَ الْمَذْكُورَاتِ ، وَتَجِبُ فِي ذَلِكَ زَكَاةُ التِّجَارَةِ
Terjemahan: Benar, zakat perdagangan tetap wajib juga pada hal-hal seperti bulu dan susunya bersamaan dengan dikeluarkannya zakat 'ain dari hewan ternak tersebut. Begitu pula wajib zakat perdagangan atas pohon dan sejenisnya, seperti tanah, serat pelepah kurma (lif), pangkal pelepah (kirnaf), and lainnya seperti batang pohon dan jerami, jika nilainya sendiri mencapai nishab saat sempurna satu tahun, bersamaan dengan dikeluarkannya zakat 'ain dari buahnya. Hal itu karena pada bagian-bagian tersebut tidak ada zakat 'ain, sehingga zakat perdagangannya tidak gugur. Adapun bagian yang padanya terdapat zakat 'ain, yaitu buah dan biji-bijian, jika keduanya mencapai nishab, maka tidak dimasukkan ke dalam penilaian harga (taqwim) pada tahun ini. Namun jika keduanya tidak mencapai nishab, maka keduanya dimasukkan ke dalam penilaian harga, lalu dinilai bersama hal-hal yang telah disebutkan tadi, dan wajiblah padanya zakat perdagangan.
5. Istilah Bahasa (Al-Kirnaf, Sa'af, Jidz'u, Tibnu)
قَالَ فِي « الْمِصْبَاحِ » : الْكِرْنَافُ ، بِالْكَسْرِ : أَصْلُ السَّعَفِ الَّذِي يَبْقَى بَعْدَ قَطْعِهِ فِي جِذْعِ النَّخْلَةِ ، وَالسَّعَفُ : أَغْصَانُ النَّخْلِ مَا دَامَتْ بِالْخُوْصِ ، فَإِنْ زَالَ الْخُوْصُ عَنْهَا قِيلَ : جَرِيدٌ ، وَالْجِذْعُ ، بِالْكَسْرِ : سَاقُ النَّخْلَةِ ، وَالتَّبْنُ : سَاقُ الزَّرْعِ بَعْدَ دِيَاسَتِهِ . أَنْتَهَى
Terjemahan: Penulis kitab Al-Misbah berkata: Al-Kirnaf dengan kasrah (pada huruf kaf) adalah pangkal pelepah kurma yang tersisa di batang pohon kurma setelah dipotong. Sedangkan As-Sa'af adalah dahan-dahan pohon kurma selama masih ada daunnya, jika daunnya sudah hilang maka disebut Jarid. Dan Al-Jidz'u dengan kasrah (pada huruf jim) adalah... Batang pohon kurma, dan at-tibnu adalah batang tanaman (jerami) setelah proses perontokan/penginjakan. Selesai.
PART 3: Kelanjutan Haul Dagang, Zakat Mudharabah, Rikaz, Ma'din, & Syarat Zakat Fitrah
1. Hitungan Haul Tanah, Pohon, & Jerami
وَصُوْرَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ اشْتَرَى الْأَرْضَ وَالنَّخْلَ بِقَصْدِ التِّجَارَةِ فِيهِمَا وَفِيْمَا يَخْرُجُ مِنْهُمَا ، أَوِ الزَّرْعَ بِقَصْدِ التِّجَارَةِ فِي حَبَّهِ وَتِيْنِهِ مَثَلًا ، فَتَجِبُ زَكَاةُ الْعَيْنِ فِي TH_AMARِ وَالْحَبِّ إِنْ بَلَغَ نِصَابًا ، وَزَكَاةُ التِّجَارَةِ فِيْهِمَا وَفِيْمَا عَدَاهُمَا ، إِذْ لَا زَكَاةَ فِي عَيْنِهِ . وَإِذَا قُطِعَ TH_AMARُ وَالْحَبُّ أُخْرِجَتْ زَكَاةُ عَيْنِهِمَا ، وَلَا تَجِبُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنْ بَقِيَا فِي مُلْكِهِ ، لِأَنَّهَا لَا تَتَعَدَّدُ ؛ ثُمَّ يَبْتَدِئُ حَوْلُهُمَا لِلتَّجَارَةِ بَعْدَ الْقَطْعِ . وَأَمَّا الْجِذْعُ وَالْأَرْضُ وَالتِّبْنُ ، فَلَا يَنْقَطِعُ حَوْلُهَا بِمَا ذُكِرَ ، بَلْ يَكْمُلُ عَلَى مَا مَضَى مِنْهُ ، ثُمَّ عِنْدَ تَمَامِ حَوْلِ التِّجَارَةِ لِلسَّمَرِ وَالْحَبِّ يُضَمَّانِ لِلْجِذْعِ وَالْأَرْضِ وَالتَّيْنِ فِي التَّقْوِيمِ لَا فِي الْحَوْلِ ، لاخْتِلَافِهِمَا فِي ابْتِدَائِهِ
Terjemahan: Gambaran hal tersebut adalah seseorang membeli tanah dan pohon kurma dengan maksud berdagang pada keduanya serta pada apa yang dihasilkan dari keduanya, atau membeli tanaman dengan maksud berdagang pada biji dan jeraminya misalnya. Maka wajib zakat 'ain pada buah dan biji-bijian jika mencapai nishab, dan wajib zakat perdagangan pada keduanya serta pada selain keduanya, karena pada selain keduanya itu tidak ada zakat 'ain. Dan apabila buah dan biji-bijian itu telah dipetik/dipanen, maka dikeluarkan zakat 'ain-nya, dan tidak wajib lagi (zakat 'ain) setelah itu jika keduanya masih tetap dalam miliknya, karena zakat 'ain tidak berulang; kemudian dimulailah hitungan tahun (haul) keduanya untuk perdagangan setelah pemetikan. Adapun batang pohon, tanah, dan jerami, maka hitungan haul-nya tidak terputus karena hal-hal yang disebutkan tadi, melainkan tetap berlanjut menyempurnakan waktu yang telah berlalu. Kemudian saat sempurnanya haul dagang bagi buah dan biji-bijian, keduanya digabungkan dengan batang pohon, tanah, dan jerami dalam penilaian harga (taqwim), bukan dalam hitungan haul, karena adanya perbedaan pada awal mulainya haul masing-masing.
2. Jika Haul Dagang Lebih Dulu daripada Haul Zakat 'Ain
وَلَوْ تَقَدَّمَ حَوْلُ زَكَاةِ التِّجَارَةِ عَلَى حَوْلِ زَكَاةِ الْعَيْنِ ، بِأَنِ اشْتَرَىٰ بِمَالِ التِّجَارَةِ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ حَوْلِهَا نِصَابَ سَائِمَةٍ ، أَوِ اشْتَرَى بِهِ مَعْلُوْفَةٌ لِلتَّجَارَةِ ، ثُمَّ أَسَامَهَا ، وَجَبَتْ زَكَاتُهَا عِنْدَ تَمَامِ حَوْلِهَا ، ثُمَّ يَفْتَتِحُ مِنْ تَمَامِهِ حَوْلًا لِزَكَاةِ الْعَيْنِ أَبَدًا ، أَيْ : فَتَجِبُ فِي بَقِيَّةِ الأَعْوَامِ . صُورَةُ ذَلِكَ أَنْ يَشْتَرِيَ عِشْرِيْنَ مَقْطَعًا قِمَاشًا لِلتَّجَارَةِ مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ ، وَتَمْكُثُ عِنْدَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، ثُمَّ يَبِيْعُهَا وَيَشْتَرِي بِثَمَنِهَا نَاضًا سَائِمَةٌ ، بَعْدَ مُضِيّ سِتَّةِ أَشْهُرٍ أُخْرَى قُوِّمَتْ فَبَلَغَتْ قِيْمَتُهَا نِصَابًا ، فَقَدِ اجْتَمَعَ فِيْهَا زَكَاتَانِ ، وَسَبَقَ حَوْلُ التِّجَارَةِ فَيُزَكِّيْهَا فِي هَذَا الْحَوْلِ زَكَاةَ تِجَارَةٍ ، وَفِي كُلِّ حَوْلٍ بَعْدَهُ زَكَاةَ عَيْنٍ ، فَلَا يَسْتَأْنِفُ الْحَوْلَ بِالْمُبَادَلَةِ الْمَذْكُورَةِ ، بَلْ يَسْتَمِرُّ
Terjemahan: Seandainya haul zakat perdagangan lebih dulu daripada haul zakat 'ain, dengan gambaran seseorang membeli nishab hewan ternak (saimah) menggunakan harta dagangan setelah berlalu onyx bulan dari haul dagangnya, atau ia membeli hewan yang diberi makan (ma'lufah) untuk perdagangan lalu ia menggembalakannya, maka wajib zakat perdagangan saat sempurnanya haul dagang tersebut. Kemudian setelah sempurna haul tersebut, ia memulai pembukaan haul baru untuk zakat 'ain selamanya, maksudnya wajib pada tahun-tahun berikutnya. Gambaran hal tersebut adalah seseorang membeli dua puluh potong kain untuk diperdagangkan mulai awal Muharram, dan kain tersebut menetap di sisinya selama enam bulan. Kemudian ia menjualnya dan membeli dengan harganya berupa uang tunai untuk membeli hewan ternak (saimah); setelah berlalu enam bulan berikutnya (genap satu tahun sejak awal Muharram), hewan tersebut dinilai harganya dan ternyata mencapai nishab, maka... (Maka) terkumpul padanya dua jenis zakat, dan haul dagang telah mendahului, maka ia menzakatinya pada tahun ini dengan zakat perdagangan, dan pada setiap tahun setelahnya dengan zakat 'ain. Maka ia tidak memulai haul baru dengan adanya pertukaran tersebut, melainkan tetap berlanjut.
3. Hukum Zakat Harta Qiradh (Mudharabah/Bagi Hasil)
قَالَ شَيْخُ الإِسْلَامِ فِي شَرْحِ الْمَنْهَجِ ) : وَزَكَاةُ مَالٍ قِرَاضٍ عَلَى مَالِكِهِ وَإِنْ ظَهَرَ فِيْهِ رِبْحٌ ، لِأَنَّهُ مُلْكَهُ ، إِذِ الْعَامِلُ إِنَّمَا يَمْلِكُ حِصَّتَهُ بِالْقِسْمَةِ لَا بِالظُّهُورِ ، كَمَا أَنَّ الْعَامِلُ فِي الْجُعَالَةِ إِنَّمَا يَسْتَحِقُّ الْجُعْلَ بِفَرَاغِهِ مِنَ الْعَمَلِ ، فَإِنْ أَخْرَجَهَا مِنْ غَيْرِهِ فَذَاكَ ، أو مِنْهُ حُسِبَتْ مِنَ الرِّبْحِ كَالْمُؤَنِ الَّتِي تَلْزَمُ الْمَالَ مِنْ أَجْرَةِ الدَّلالِ وَالْكَيَّالِ وَغَيْرِهِمَا ، وَالْجُعْلُ بِالضَّمِّ : الأَجْرُ .
Terjemahan: Syaikhul Islam berkata dalam Syarh al-Manhaj: Zakat harta qiradh (bagi hasil/mudharabah) ditanggung oleh pemilik modal meskipun telah tampak keuntungan di dalamnya, karena harta itu miliknya. Sebab, pengelola ('amil) hanya memiliki bagiannya melalui pembagian (qismah), bukan sekadar munculnya keuntungan. Sebagaimana pengelola dalam ju'alah (sayembara) hanya berhak atas upah (ju'al) setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Jika pemilik mengeluarkan zakat dari harta lain maka itu boleh, namun jika diambil dari harta itu sendiri, maka dihitung dari keuntungan sebagaimana biaya-biaya yang menyertai harta seperti upah calo, penimbang, dan lainnya. Adapun al-ju'lu dengan dhammah artinya adalah upah.
4. Jenis Kelima: Ar-Rikazu (Harta Karun Purbakala)
وَالنَّوْعُ الْخَامِسُ : الرِّكَازُ ، وَهو بِكَسْرِ الرَّاءِ : دَفِيْنُ جَاهِلِيَّةٍ ، وَهُمْ مَنْ قَبْلَ الإِسْلَامِ ، أَيْ : بَعْثَتِهِ ؛ فَيَشْمَلُ مَا لَوْ كَانَ الدَّافِنُ مِنْ قَوْمِ مُوسَى وَعِيسَى أَوْ غَيْرِهِمَا كَيُوْسُفَ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَدْفُوْنَا ، بَلْ كَانَ ظَاهِرًا ، فَإِنْ عُلِمَ أَنَّهُ ظَهَرَ بِنَحْوِ سَيْلٍ فَهُوَ رِكَانٌ أَيْضًا ، لِأَنَّهُ دَفِيْنٌ بِحَسَبِ مَا كَانَ وَإِلَّا فَهُوَ لُقَطَةٌ ، وَكَذَا إِنْ شَكٍّ . إِنْ وَجَدَهُ مَنْ هُوَ أَهْلُ الزَّكَاةِ ؛ وَمِثْلُهُ الْمَوَاتُ ، وَالْقُبُورُ الْجَاهِلِيَّةُ ، وَالْقِلَاعُ ، بِكَسْرِ الْقَافِ ، جَمْعُ قَلْعَةٍ بِفَتْحِهَا كَرَقْبَةٍ وَرِقَابِ ، وَهُوَ : حِصْنٌ مُمْتَنِعُ فِي جَبَلٍ بَعِيدٍ عَنِ الْبَلَدِ
Terjemahan: Jenis Kelima: Ar-Rikazu, yaitu dengan kasrah pada huruf ra: harta pendaman masa Jahiliyah. Yang dimaksud adalah mereka yang ada sebelum Islam, yaitu sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Maka mencakup juga seandainya yang memendam adalah kaum Nabi Musa, Nabi Isa, atau lainnya seperti kaum Nabi Yusuf. Jika harta itu tidak terpendam melainkan tampak di permukaan, apabila diketahui tampak karena sebab seperti aliran air maka itu tetap disebut rikaz karena asalnya terpendam. Jika tidak demikian (tampak bukan karena air atau lainnya), maka itu adalah luqathah (barang temuan), begitu pula jika ragu. (Wajib zakat) jika yang menemukannya adalah orang yang termasuk ahli zakat. Termasuk lokasi penemuannya adalah tanah mati (mawat), kuburan jahiliyah, dan benteng-benteng (al-qila'), dengan kasrah pada qaf jamak dari qal'ah dengan fathah, yaitu benteng pertahanan di gunung yang jauh dari pemukiman.
5. Rikaz yang Ditemukan di Tempat Umum / Temuan Islam
وَإِنْ وُجِدَ بِمَسْجِدٍ ، أَوْ شَارِعٍ ، أَوْ وُجِدَ دَفِيْنٌ إِسْلامِيٌّ ، كَأَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ . أَوِ اسْمُ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الإِسْلَامِ ؛ فَإِنْ عُلِمَ مَالِكُهُ وَجَبَ رَدُّهُ عَلَيْهِ ، لِأَنَّهُ مَالُ مُسْلِمٍ ، وَمَالُ الْمُسْلِمِ لَا يُمْلَكُ بِالاسْتِيْلَاءِ عَلَيْهِ . وَإِنْ لَمْ يُعْلَمْ مَالِكُهُ فَلُقَطَةٌ يُعَرِّفُهُ الْوَاجِدُ سَنَةٌ ، ثُمَّ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَهُ إِنْ لَمْ يَظْهَرْ مَالِكُهُ ، وَكَذَا إِنْ لَمْ يُعْلَمْ هَلْ هُوَ جَاهِلِيٌّ أَوْ إِسْلَامِيٌّ ؛ بِأَنْ كَانَ مِمَّا يُضْرَبُ مِثْلُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالْإِسْلَامِ، أَوْ مِمَّا لَا أَثَرَ عَلَيْهِ ، كَالتَّبْرِ وَالْحُلِيِّ . فَإِنْ عُلِمَ أَنَّ مَالِكَهُ بَلَغَتْهُ الدَّعْوَةُ وَعَانَدَ فَهُوَ فَيْءٌ قَالَ الزَّيَّادِيُw : وَإِنْ وُجِدَ فِي مُلْكِ حَرْبِيٌّ فِي دَارِ الْحَرْبِ فَلَهُ حُكْمُ الْفَيْءِ ، وَإِنْ دَخَلَ دَارَهُمُ بِأَمَانِهِمْ ، فَيُرَدُّ عَلَى مَالِكِهِ وُجُوْبًا ، وَإِنْ أُخِذَ قَهْرًا فَهُوَ غَنِيمَةٌ . انْتَهَى . وَالْوَاجِبُ فِيْهِ إِنْ بَلَغَ نِصَابًا الْخُمُسُ فِي الْحَالِ ، يُصْرَفُ لِأَهْلِ الزَّكَاةِ
Terjemahan: Jika ditemukan di masjid, jalanan, atau ditemukan pendaman Islam—seperti terdapat tanda Al-Qur'an padanya atau nama raja dari raja-raja Islam—maka apabila pemiliknya diketahui... (Maka) wajib mengembalikannya kepada pemiliknya, karena itu adalah harta seorang muslim, dan harta orang muslim tidak bisa dimiliki hanya dengan menguasainya. Jika tidak diketahui pemiliknya, maka statusnya adalah luqathah (barang temuan) yang harus diumumkan oleh penemunya selama satu tahun, kemudian ia boleh memilikinya jika pemiliknya tidak muncul. Begitu juga jika tidak diketahui apakah itu harta Jahiliyah atau Islam; yaitu harta yang dicetak dengan model yang sama baik di masa Jahiliyah maupun Islam, atau harta yang tidak ada tandanya sama sekali seperti emas murni (tibr) dan perhiasan. Jika diketahui bahwa pemiliknya telah sampai dakwah kepadanya namun ia membangkang (kafir harbi), maka statusnya adalah fai'. Az-Zayadi berkata: Jika ditemukan di tanah milik kafir harbi di wilayah perang (darul harb), maka hukumnya adalah fai'. Namun jika ia masuk ke wilayah mereka dengan jaminan keamanan (aman) dari mereka, maka harta itu wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Dan jika diambil dengan cara paksa (perang), maka statusnya adalah ghanimah. Selesai. Kewajiban zakat pada rikaz (harta karun) jika mencapai nishab adalah seperlima (20%) secara langsung, yang disalurkan kepada golongan penerima zakat (asnaf).
6. Jenis Keenam: Al-Ma'din (Barang Tambang Emas & Perak)
وَالنَّوْعُ السَّادِسُ : الْمَعْدِنُ ، وَهُوَ : مَكَانٌ خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْهِ ذَهَبًا أَوْ فِضَّةٌ ، مَوَاتٌ أَوْ مُلْكٌ لَهُ ، فَيَجِبُ عَلَى مَنِ اسْتَخْرَجَ ذَلِكَ رُبْعَ عُشْرِهِ حَالًا إِنْ بَلَغَ نِصَابًا ، فَيُضَمَّ بَعْضُ الْمُخْرَجِ إِلَى بَعْضٍ إِنِ اتَّحَدَ مَعْدِنٌ عُرْفًا ، بِأَنْ يَكُوْنَ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ ، وَإِنْ كَانَتْ حُفَرُهُ مُتَعَدِّدَةٌ ، وَتَتَابَعُ عَمَلٍ ، وَلَا يَضُرُّ قَطْعُ الْعَمَلِ لِعُذْرٍ ، كَإِصْلَاحِ آلَةٍ وَمَرَضِ ، وَإِنْ طَالَ الزَّمَنُ عُرْفًا ؛ فَإِنِ اخْتَلَفَ الْمَعْدِنُ أَوْ قُطِعَ الْعَمَلُ بِلَا عُذْرٍ فَلَا يُضَمُّ أَوَّلٌ لِثَانٍ فِي إِكْمَالِ النِّصَابِ ، وَإِنْ قَصُرَ الزَّمَنُ ؛ وَيُضَمُّ ثَانِيَا لِمَا مَلَكَهُ مِنْ جِنْسِهِ ، أَوْ مِنْ عَرَضِ تِجَارَةٍ يَقُوْمُ بِهِ ، وَلَوْ مِنْ غَيْرِ الْمَعْدِنِ كإِرْثٍ ، فِي إِكْمَالِهِ ؛ فَإِنْ كَمُلَ بِهِ النِّصَابُ زَكَّى الثَّالِثَ لَا إِنْ كَانَ مَا مَلَكَهُ غَائِبًا ، فَلَا يَلْزَمُهُ زَكَاتُهُ حَتَّى يَعْلَمَ سَلَامَتَهُ ، لِتَحَقُّقِ اللُwزُوْمِ ؛ فَلَوِ اسْتُخْرِجَ مِنَ الْمَعْدِنِ تِسْعَةَ عَشَرَ مِثْقَالًا بِالأَوَّلِ ، وَمِثْقَالًا بِالثَّانِي ، فَلَا زَكَاةَ فِي التَّسْعَةَ عَشَرَ ، وَتَجِبُ فِي الْمِثْقَالِ ، كَمَا تَجِبُ فِيْهِ فِيْمَا لَوْ كَانَ مَالِكًا لِتِسْعَةَ عَشَرَ مِنْ غَيْرِ الْمَعْدِنِ
Terjemahan: Jenis Keenam: Al-Ma'din (Barang Tambang), yaitu: Tempat di mana Allah Ta'ala menciptakan emas atau perak di dalamnya, baik itu di tanah mati (mawat) maupun tanah miliknya sendiri. Maka wajib bagi orang yang mengeluarkannya untuk membayar zakat sebesar seperempat dari sepersepuluh (2,5%) secara langsung jika mencapai nishab. Hasil tambang yang dikeluarkan digabungkan satu sama lain jika lokasinya secara adat dianggap satu tempat tambang, meskipun lubang galiannya banyak, dan pengerjaannya dilakukan secara beruntun. Berhentinya pengerjaan karena uzur—seperti memperbaiki alat atau sakit—tidaklah membahayakan (tetap dianggap beruntun) meskipun waktunya secara adat terasa lama. Namun jika lokasi tambangnya berbeda atau pengerjaannya terhenti tanpa uzur, maka hasil pertama tidak digabungkan dengan yang kedua untuk menyempurnakan nishab, meskipun waktunya singkat. Hasil yang kedua digabungkan dengan jenis yang sama yang sudah ia miliki sebelumnya, atau dengan barang dagangan yang ia nilai harganya, meskipun bukan dari barang tambang seperti warisan, dalam rangka menyempurnakan nishab. Jika telah sempurna dengan (harta lain) itu nishab menjadi sempurna, maka ia menzakati yang ketiga tersebut. Hal ini tidak berlaku jika harta yang dimilikinya berada di tempat jauh (ghaiban), maka ia tidak wajib menzakatinya sampai ia mengetahui keselamatan harta tersebut agar kewajibannya menjadi nyata. Contohnya: jika dikeluarkan dari tambang 19 mitsqal pada galian pertama, dan 1 mitsqal pada galian kedua, maka tidak ada zakat pada 19 mitsqal itu, namun wajib zakat pada 1 mitsqal tersebut. Sebagaimana hal itu juga wajib jika ia sudah memiliki 19 mitsqal dari selain hasil tambang.
7. Waktu Wajib & Syarat Kelayakan Penerima Beban Zakat Fitrah
فَرْعٌ : تَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرِ بِإِدْرَاكِ وَقْتِ تَمَامِ الْغُرُوْبِ مِنْ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ مَعَ إِدْرَاكِ جُزْءٍ قَبْلَهُ مِنْ رَمَضَانَ أَيْضًا ، كَمَنْ مَاتَ بَعْدَ الْغُرُوبِ أَوْ مَعَهُ ، دُوْنَ مَنْ وُلِدَ بَعْدَهُ أَوْ مَعَهُ ، عَلَى كُلِّ حُرِّ وَعَبْدٍ صَغِيْرٍ وَكَبِيرٍ ذَكَرٍ وَغَيْرِهِ إِلَّا خَمْسَةٌ : الْأَوْلَى : مَنْ لَا يَفْضُلُ عَنْ مَسْكَنٍ وَخَادِمٍ يَحْتَاجُهُمَا ، وَمَلْبَسٍ يَلِيْقُ بِهِ ، وَعَنْ قُوْتِ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ ، وَلَوْ حَيْوَانًا ، لَيْلَةَ الْعِيْدِ وَيَوْمَهُ مَا يُخْرِجُهُ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ ، وَالْمُرَادُ بِحَاجَةِ الْخَادِمِ أَنْ يَحْتَاجَهُ لِخِدْمَتِهِ لِمَرَضِ ، أَوْ كِبَرٍ ، أَوْ ضَخَامَةٍ مَانِعَةٍ مِنْ خِدْمَةِ نَفْسِهِ ، وَمَنْصِبٍ يَأْبَى أَنْ يَخْدِمَ نَفْسَهُ ، أَوْ لِخِدْمَةِ مُمَوِّنِهِ لَا لِعَمَلِهِ فِي أَرْضِهِ وَمَاشِيَتِهِ . وَالْمَنْصِبُ ، وِزَانُ مَسْجِدٍ ، أَيْ : عُلُوٌّ وَرِفْعَةٌ . وَكَالْقُوْتِ دَسْتُ ثَوْبٍ ، أَوْ بَدَلُهُ الَّذِي يَلِيْقُ بِهِ لِتَرَدُّدِهِ فِي حَوَائِجِهِ ، وَكَذَا مَا أَعْتِيْدَ مِنْ نَحْوِ سَمَكِ وَكَعْكٍ ، وَهُوَ مِنَ الْخُبْزِ الْيَابِسِ ، وَنُقْلِ بِضَمَّ النُّوْنِ ، وَهُوَ مَجْمُوْعُ TH_AMARَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ ، وَخَرَجَ بِذَلِكَ الدَّيْنُ وَلَوْ لَا دَمِيٌّ ، فَلَا يُشْتَرَطُ فَضْلُهَا عَنْهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
Terjemahan: Cabang Bahasan: Zakat fitrah wajib dengan mendapati waktu terbenamnya matahari secara sempurna pada hari terakhir bulan Ramadhan disertai mendapati sebagian waktu sebelumnya dari bulan Ramadhan juga. Contohnya seperti orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari atau bersamaan dengannya, namun tidak wajib bagi yang lahir setelah terbenamnya matahari atau bersamaan dengannya. Zakat ini wajib atas setiap orang merdeka, budak, anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan selainnya (perempuan), kecuali lima golongan: Pertama: Orang yang tidak memiliki kelebihan harta dari tempat tinggal dan pelayan yang dibutuhkannya, pakaian yang layak baginya, serta dari kebutuhan pokok orang yang wajib ia nafkahi (bahkan hewan sekalipun) pada malam hari raya dan siang harinya untuk ia keluarkan sebagai zakat fitrah. Yang dimaksud dengan kebutuhan terhadap pelayan adalah ia butuh untuk melayaninya karena sakit, usia tua, atau tubuh yang sangat besar yang menghalangi dirinya melayani diri sendiri, atau karena kedudukan (manshib) yang membuatnya enggan melayani diri sendiri, atau untuk melayani orang yang nafkahnya ia tanggung, bukan untuk dipekerjakan di tanah atau ternaknya. Kata Al-Manshibu seimbang dengan wazan masjidun, artinya: ketinggian dan kemuliaan derajat. Yang disamakan dengan kebutuhan pokok adalah satu set pakaian, atau penggantinya yang layak baginya untuk melakukan aktivitas kebutuhannya. Begitu juga hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan seperti ikan, kue (ka'ak)—yaitu roti kering—dan nuql dengan dhammah pada huruf nun—yaitu kumpulan buah-buahan dan lainnya. Dikecualikan dari hal itu adalah hutang meskipun bukan kepada manusia, maka tidak disyaratkan (bahwa zakat fitrah) tidak harus lebih dari jumlah hutang menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad).
8. Suami Miskin Istri Kaya (Serta Kasus Beda Mazhab Hanafi-Syafi'i)
وَالثَّانِي : أَمْرَأَةٌ غَنِيَّةٌ لَهَا زَوْجٌ مُعْسِرٌ وَهِيَ فِي طَاعَتِهِ ، فَلَا تَلْزَمُهَا فِطْرَتُهَا ، لَكِنْ يُسَنُّ لَهَا أَنْ تُخْرِجَهَا عَنْ نَفْسِهَا ، وَكَذَا كُلُّ مَنْ سَقَطَتْ فِطْرَتُهُ لِتَحَوُّلِ الْغَيْرِ لَهُ يُسَنُّ لَهُ أَنْ يُخْرِجَ عَنْ نَفْسِهِ إِنْ لَمْ يُخْرِجْهَا الْمُتَحَمِّلُ وَمِنَ الْمُعْسِرِ الرَّقِيقُ ، فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ زَكَاةٌ زَوْجَتِهِ وَلَوْ حُرَّةٌ . وَخَرَجَ بِـ (( فِطْرَتِهَا )) فِطْرَةُ غَيْرِهَا ، كأَمَتِهَا وَأَوْلَادِهَا وَوَالِدَيْهَا ، فَتَلْزَمُهَا . وَلَوْ كَانَ الزَّوْجُ حَنَفِيًّا يَرَى وُجُوْبَ فِطْرَتِهَا عَلَى نَفْسِهَا ، وَهِيَ شَافِعِيَّةٌ تَرَى الْوُجُوْبَ عَلَى الزَّوْجِ ، فَلَا وُجُوْبَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا ، لِعَدَمِ اعْتِقَادِ كُلِّ أَنَّهَا عَلَيْهِ ، بِخِلَافِ عَكْسِهِ ، فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ ، لِأَنَّ كُلَّا مِنْهُمَا حِينَئِذٍ يَرَى الْوُجُوْبَ عَلَى نَفْسِهِ ؛ الزَّوْجُ بِطَرِيقِ التَّحَمَّلِ ، وَهِيَ بِطَرِيقِ الاستقلال . أَمَّا إِذَا لَمْ تَكُنِ الْمَرْأَةُ فِي طَاعَتِهِ ، بِأَنْ كَانَتْ نَاشِزَةٌ ، فَإِنَّهَا عَلَيْهَا حِينَئِذٍ ، وَمِثْلُهَا صَغِيْرَةٌ لَا تُطِيقُ الْوَطْءَ ، فَلَا تَجِبُ فِطْرَتُهَا عَلَى زَوْجِهَا ، وَأَمَّا الأَمَةُ الْمُزَوَّجَةُ الَّتِي زَوْجُهَا مُعْسِرٌ ، فَإِنَّ فِطْرَتَهَا تَلْزَمُهَا ، وَيَتَحَمَّلُهَا عَنْهَا سَيِّدُهَا ، بِخِلَافِ مَا إِذَا كَانَ مُوْسِرًا ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ فِطْرَتُهَا ، وَلَوْ زَوَّجَ أَمَتَهُ بِعَبْدِهِ لَزِمَهُ فِطْرَتُهُمَا قَطْعًا
Terjemahan: Kedua: Wanita kaya yang memiliki suami yang sedang dalam keadaan sulit (fakir/miskin) sementara ia tetap taat kepada suaminya, maka tidak wajib bagi wanita tersebut mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, disunnahkan baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, begitu pula bagi setiap orang yang gugur kewajiban fitrahnya karena tanggung jawabnya beralih kepada orang lain. Disunnahkan baginya mengeluarkan untuk dirinya sendiri jika orang yang menanggungnya tidak mengeluarkannya. Termasuk golongan orang yang kesulitan (mu'sir) adalah budak, maka tidak wajib baginya zakat fitrah istrinya meskipun istrinya adalah wanita merdeka. Dikecualikan dengan kalimat "zakat fitrah dirinya sendiri" adalah zakat fitrah orang lain, seperti budak perempuannya, anak-anaknya, dan kedua orang tuanya, maka ia wajib menanggung zakat fitrah mereka. Seandainya sang suami adalah penganut mazhab Hanafi yang berpendapat bahwa zakat fitrah istri adalah kewajiban istri sendiri, sedangkan istrinya penganut mazhab Syafi'i yang berpendapat bahwa itu kewajiban suami, maka tidak ada kewajiban atas salah satu dari keduanya. Hal ini karena masing-masing tidak meyakini bahwa kewajiban itu ada pada dirinya. Berbeda jika kondisinya sebaliknya, maka zakat fitrah tersebut wajib atas suami, karena saat itu keduanya sama-sama meyakini kewajiban ada pada suami; sang suami meyakini secara jalur menanggung (tahammul), dan sang istri meyakini secara jalur kemandirian (istiqlal). Adapun jika wanita tersebut tidak dalam ketaatan (nusyuz), maka zakat fitrahnya menjadi tanggungannya sendiri saat itu. Begitu juga dengan anak kecil yang belum mampu disetubuhi, maka tidak wajib zakat fitrahnya atas suaminya. Sedangkan budak perempuan yang dinikahkan dan suaminya dalam keadaan sulit, maka zakat fitrahnya menjadi kewajiban dirinya yang ditanggung oleh tuannya. Berbeda jika suaminya mampu, maka suaminya wajib menanggung zakat fitrahnya. Dan seandainya tuan menikahkan budak perempuannya dengan budak laki-lakinya, maka tuan tersebut wajib menanggung zakat fitrah keduanya secara mutlak.
9. Ketiga: Budak Mukatab (Akad Sah vs Akad Rusak)
...وَالثَّالِثُ : مُكَاتَبٌ كِتَابَةٌ صَحِيْحَةٌ ، فَلَا تَجِبُّ عَلَيْهِ وَلَا عَلَى سَيِّدِهِ لاسْتِقْلَالِهِ ، بِخِلَافِ الْمُكَاتَبِ كِتَابَةٌ فَاسِدَةٌ ، حَيْثُ تَجِبُّ فِطْرَتُهُ عَلَى سَيِّدِهِ وَإِنْ لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ
Terjemahan: Ketiga: Budak mukatab dengan akad kitabah yang sah, maka zakat fitrah tidak wajib atas dirinya maupun atas tuannya. Karena kemandiriannya (istiqlal), berbeda dengan budak mukatab dengan akad kitabah yang rusak (fasidah), di mana zakat fitrahnya wajib ditanggung oleh tuannya meskipun tuannya tidak wajib memberi nafkah kepadanya.
=================== ```htmlKeempat: Budak yang dimiliki oleh Baitul Mal. وَالرَّابِعُ : الْعَبْدُ فِي بَيْتِ الْمَالِ
Kelima: Budak yang diwakafkan, meskipun kepada pihak tertentu seperti madrasah, asrama (ribath), atau seseorang, serta budak yang dimiliki oleh masjid. وَالْخَامِسُ : الْعَبْدُ الْمَوْقُوْفُ ، وَلَوْ عَلَى مُعَيَّنٍ ، كَمَدْرَسَةٍ وَرِبَاطٍ وَرَجُلٍ ، وَالْقِيُّ الْمَمْلُوْكُ لِلْمَسْجِدِ
Maka ketiga golongan ini tidak wajib zakat fitrah atas diri mereka sendiri maupun atas orang lain. Hal ini karena lemahnya kepemilikan budak mukatab (tuannya baginya seperti orang asing), sementara dua golongan terakhir tidak memiliki pemilik tertentu yang diwajibkan menanggungnya. فَلَا تَلْزَمُ فِطْرَةُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ ، وَلَا عَلَى غَيْرِهِمْ ، لِضَعْفِ مُلْكِ الْمُكَاتَبِ وَسَيِّدُهُ مِنْهُ كَالأَجْنَبِيِّ ، وَلَيْسَ لِلأَخِيْرَيْنِ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ يَلْزَمُ بِهَا
Kadar wajib zakat fitrah untuk setiap orang adalah satu sha' (1) dari makanan pokok yang umum di daerah orang yang dizakati, meskipun orang yang mengeluarkan zakat berada di daerah lain, dan harus dari satu jenis. Maka tidak boleh membagi satu sha' tersebut (with berbagai jenis makanan) untuk satu orang. Jika orang yang berzakat memberikan jenis yang lebih tinggi dari makanan pokok daerahnya, maka hukumnya boleh karena ia menambah kebaikan. Tidak sah jika kurang dari satu sha' kecuali bagi budak yang sebagian dirinya merdeka (muba'adh), budak serikat antara orang kaya dan orang sulit, serta bagi orang yang tidak mendapati kecuali kurang dari satu sha' dengan syarat sisa tersebut masih bernilai harta. Maka sah bagi mereka membayar kurang dari satu sha' sesuai dengan kadar kepemilikan atau kemampuan yang mewajibkan zakat tersebut. وَوَاجِبُ الْفِطْرَةِ لِكُلِّ وَاحِدٍ صَاعٌ (۱) مِنْ غَالِبِ قُوْتِ بَلَدِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ ، وَإِنْ كَانَ الْمُؤَدِّي بِغَيْرِهَا ، مِنْ جِنْسِ وَاحِدٍ ؛ فَلَا يُبَعضُ الصَّاعُ عَنْ وَاحِدٍ ؛ فَإِنْ أَعْطَى الْمُزَكِّيْ أَعْلَى مِنْ غَالِبِ قُوْتِ الْبَلَدِ جَازَ ، لِأَنَّهُ زَادَ خَيْرًا ، وَلَا يُجْزِئُ أَقَلُّ مِنْ صَاعٍ إِلَّا لِمَنْ بَعْضُهُ مُكَاتَبٌ وَلِرَقِيْقٍ مُشْتَرَكِ بَيْنَ مُوْسِرٍ وَمُعْسِرٍ وَلِمَنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا بَعْضَ صَاعٍ ، بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الْبَعْضُ مُتَمَوَّلًا ، فَيُجْزِئُ كُلَّا مِنْهُمْ أَقَلُّ مِنْ صَاعٍ بِقَدْرِ مَا فِيْهِ مِمَّا يَقْتَضِيْ لُزُوْمَ الزَّكَاةِ
Siapa yang wajib menzakati dirinya sendiri, maka ia wajib menzakati orang-orang yang wajib ia nafkahi baik karena faktor kepemilikan, kekerabatan, maupun pernikahan. Kecuali jika orang yang wajib dinafkahi tersebut adalah orang kafir, atau istri dari ayahnya (ibu tiri), atau... وَمَنْ لَزِمَهُ فِطْرَةُ نَفْسِهِ لَزِمَهُ فِطْرَةُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ بِمُلْكِ أَوْ قَرَابَةٍ أَوْ نِكَاحٍ ، إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ كَافِرًا ، أَوْ يَكُوْنَ زَوْجَةَ أَبِيْهِ ، أَوْ
(1) Satu sha' adalah kubus dengan panjang rusuk 14,6 cm. (۱) الصَّاعُ مُكَعَبٌ ضِلْعُهُ ١٤,٦ سم .
439
(Atau) budak mustauladah (budak nyang melahirkan anak) milik ayahnya, di mana si anak wajib menafkahi keduanya, namun si anak tidak wajib menanggung zakat fitrah keduanya meskipun wajib memberi nafkah. Karena pada asalnya, urusan zakat fitrah dan nafkah itu tanggung jawab ayah, sedangkan si ayah dalam kondisi sulit (mu'sir). Zakat fitrah tidak wajib bagi orang yang sulit, berbeda dengan nafkah (tetap wajib) maka si anak yang menanggungnya. Dan juga karena ketiadaan zakat fitrah tidak memungkinkan bagi istri untuk menuntut cerai (faskh), berbeda dengan ketiadaan nafkah. مُسْتَوْلَدَةَ أَبِيْهِ ، حَيْثُ لَزِمَ الْوَلَدُ نَفَقَتَهُمَا ، فَلَا تَلْزَمُهُ فِطْرَتُهُمَا وَإِنْ لَمْ تَلْزَمْهُ نَفَقَتُهُمَا ، لِأَنَّ الأَصْلَ فِي الْفِطْرَةِ وَالنَّفَقَةِ الأَبُ ، وَهُوَ مُعْسِرٌ ، وَالْفِطْرَةُ لَا تَلْزَمُ الْمُعْسِرَ ، بِخِلَافِ النَّفَقَةِ ، فَيَتَحَمَّلُهَا الْوَلَدُ ؛ وَلِأَنَّ عَدَمَ الْفِطْرَةِ لَا يُمَكِّنُ الزَّوْجَةَ مِنَ الْفَسْخِ ، بِخِلَافِ عَدَمِ النَّفَقَةِ .
Adapun orang yang tidak wajib zakat fitrah atas dirinya sendiri seperti orang kafir, maka ia tidak wajib menanggung zakat fitrah orang yang ia nafkahi. Namun, orang kafir wajib membayar zakat fitrah untuk budaknya, kerabatnya, dan istrinya yang muslim. Hal ini berdasarkan pendapat bahwa kewajiban itu awalnya ada pada orang yang dizakati, kemudian ditanggung oleh orang yang membayar. Dan tetap harus ada niat dari orang kafir tersebut, yaitu niat untuk membedakan (tamyiz), bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). أَمَّا مَنْ لَا تَلْزَمُهُ فِطْرَةُ نَفْسِهِ ، كَالْكَافِرِ ، فَلَا تَلْزَمُهُ فِطْرَةُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ ، نَعَمْ يَلْزَمُ الْكَافِرُ فِطْرَةَ رَقِيقِهِ وَقَرِيْبِهِ وَزَوْجَتِهِ الْمُسْلِمِينَ ، بِنَاءً عَلَى أَنَّهَا تَجِبُ ابْتِدَاءً عَلَى الْمُؤَدَّى عَنْهُ ، ثُمَّ يَتَحَمَّلُهَا عَنْهُ الْمُؤَدِّي ، وَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةِ الْكَافِرِ ، وَهِيَ لِلتَّمْبِيْزِ لَا لِلتَّقَرُّبِ
Penyempurna: Wajib bagi seseorang ketika ia memiliki kelebihan sebagian sha' (namun tidak cukup untuk semua orang yang ditanggungnya) untuk mendahulukan: dirinya sendiri, lalu istrinya, lalu pelayan istrinya (yang nafkahnya wajib baginya), lalu anaknya yang masih kecil, lalu ayahnya, lalu ibunya, lalu anaknya yang sudah besar namun membutuhkan, lalu budaknya. Adapun ayah didahulukan atas ibu di sini—kebalikan dari urutan pemberian nafkah—karena nafkah itu berdasarkan kebutuhan dan ibu lebih butuh, sedangkan zakat fitrah berdasarkan kemuliaan (syaraf) dan ayah lebih mulia karena nasab dinisbatkan kepadanya. Jika beberapa orang berada dalam derajat yang sama seperti para istri atau anak-anak, maka ia boleh memilih siapa saja di antara mereka yang ingin ia mengeluarkan zakatnya. تَتِمَّةٌ : وَيَجِبُ عَلَيْهِ عِنْدَ يَسَارِهِ بِبَعْضِ الصَّيْعَانِ دُوْنَ بَعْضٍ تَقْدِيمُ نَفْسِهِ ، فَزَوْجَتِهِ ، فَخَادِمِهَا بِالنَّفَقَةِ إِنْ كَانَ دُوْنَ الْخَادِمِ بِالْأَجْرَةِ ، فَوَلَدِهَ الصَّغِيْرِ ، فَأَبِيْهِ ، فَأُمِّهِ ، فَوَلَدِهِ الْكَبِيرِ الْمُحْتَاجِ ، فَرَقِيقِهِ ، وَإِنَّمَا قُدِّمَ الْأَبُ عَلَى الْأُمِّ هُنَا عَكْسُ مَا فِي النَّفَقَاتِ لِأَنَّ النَّفَقَاتَ لِلْحَاجَةِ وَالْأُمُّ أَحْوَجُ ، وَالْفِطْرَةُ لِلشَّرَفِ وَالأَبُ أَشْرَفُ ، لِأَنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَيْهِ وَيَشْرُفُ بِشَرَفِهِ ؛ فَإِنِ اسْتَوَى جَمَاعَةٌ فِي دَرَجَةٍ كَزَوْجَاتٍ وَبَنِينَ تَخَيَّرَ ، فَيُخْرِجُ عَمَّنْ شَاءَ مِنْهُمْ
Beberapa Peringatan: Waktu kewajiban zakat itu ada empat: تَنْبِيْهَاتٌ : وَأَوْقَاتُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ أَرْبَعَةٌ :
Pertama: Waktu mengeluarkan objek zakat dan membersihkannya pada urusan Rikaz (harta karun) dan Ma'din (tambang). الأَوَّلُ : وَقْتُ إِخْرَاجِ الْمَقْصُوْدِ وَتَصْفِيَتِهِ فِي الرِّكَانِ وَالْمَعْدِنِ ،
440
Adapun waktu wajib untuk mengeluarkannya adalah segera setelah itu (setelah dibersihkan). وَأَمَّا وَقْتُ وُجُوْبِ إِخْرَاجِهَا فَعَقِبَ ذَلِكَ
Kedua: Tampaknya kelayakan (buduwwus shalah) dan mengerasnya biji-bijian, baik sebagian atau seluruhnya pada tanaman yang dibudidayakan. Adapun waktu wajib untuk mengeluarkannya adalah setelah kering, pembersihan, dan proses lainnya. وَالثَّانِي : بُدُوٌّ الصَّلَاحِ وَاشْتِدَادُ الْحَبِّ كُلَّا أَوْ بَعْضًا فِي الْمُسْتَنْبَتِ ، وَأَمَّا وَقْتُ وُجُوْبِ إِخْرَاجِهَا فَهُوَ بَعْدَ الْجَفَافِ وَالتَّنْقِيَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Ketiga: Genapnya satu tahun (haul) pada uang (emas/perak), hewan ternak, dan harta perdagangan. وَالثَّالِثُ : الْحَوْلُ فِي النَّاضُ وَالنَّعَمِ وَالتِّجَارَةِ
Keempat: Awal malam hari raya pada zakat fitrah. وَالرَّابِعُ : أَوَّلُ لَيْلَةِ الْعِيدِ فِي زَكَاةِ الْفِطْرَةِ
Al-Bajuri berkata: Boleh mengeluarkan zakat fitrah sejak awal Ramadhan. Disunnahkan mengeluarkannya sebelum shalat Id karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba'), jika shalat dilakukan di awal pagi. Jika shalatnya diakhirkan, maka tetap disukai mengeluarkannya di awal pagi. Makruh hukumnya mengakhirkan zakat fitrah sampai akhir hari raya Id, dan haram hukumnya mengakhirkan lebih dari hari raya Id tanpa ada uzur, seperti hartanya sedang tidak ada di tempat atau tidak adanya mustahik. Bukan termasuk uzur jika hanya karena menunggu kerabat, tetangga, atau orang saleh; maka tidak boleh mengakhirkan zakat fitrah darinya karena alasan tersebut. Berbeda dengan zakat harta, di mana boleh mengakhirkannya karena alasan tersebut selama tidak memberatkan orang-orang yang hadir (yang membutuhkan). Selesai. قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : وَيَجُوْزُ إِخْرَاجُهَا فِي أَوَّلِ رَمَضَانَ . وَيُسَنُّ أَنْ تُخْرِجَ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ لِلاتَّبَاعِ إِنْ فُعِلَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ النَّهَارِ ، فَإِنْ أُخْرَتِ اسْتُحِبَّ الأَدَاءُ أَوَّلَ النَّهَارِ ، وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُهَا إِلَى آخِرِ يَوْمِ الْعِيدِ ، وَيَحْرُمُ تَأْخِيرُهَا عَنْهُ بِلَا عُذْرٍ ، كَغَيْبَةِ مَالِهِ أَوِ الْمُسْتَحِقَّيْنَ ، لَا كَانْتِظَارِ نَحْوِ قَرِيْبٍ كَجَارٍ وَصَالِحٍ ، فَلَا يَجُوْزُ تَأْخِيرُهَا عَنْهُ لِذَلِكَ ، بِخِلَافِ زَكَاةِ الْمَالِ ، فَإِنَّهُ يَجُوْزُ تَأْخِيرُهَا لَهُ إِنْ لَمْ يَشْتَدَّ ضَرَرُ الْحاضِرِيْنَ . أَنْتَهَى
Disebutkan dalam al-Manhaj dan Syarahnya: Menunaikan zakat harta wajib dilakukan segera (fauran) jika sudah memungkinkan untuk menunaikannya sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya. Kemampuan itu tercapai dengan hadirnya harta (bukan harta yang sedang tidak di tempat, atau harta di tempat tertentu yang sulit dijangkau, atau harta yang dirampas, diingkari, atau hutang yang belum jatuh tempo, atau hutang yang sudah jatuh tempo namun sulit diambil). Serta dengan hadirnya penerima zakat baik itu imam, petugas zakat, atau mustahik. Juga dengan keringnya buah, bersihnya biji-bijian, emas murni, barang tambang, serta waktu luang pemilik dari urusan agama atau dunia yang mendesak seperti shalat dan makan. Juga dengan kemampuan mengambil harta yang berada di tempat tertentu yang mudah dijangkau, atau kemampuan menagih hutang yang sudah jatuh tempo, serta hilangnya pencegahan tasarruf (hajr) karena pailit jika zakat tersebut terkait dengan tanggung jawab (dzimmah). قَالَ فِي « الْمَنْهَجِ » وَشَرْحِهِ : أَدَاءُ زَكَاةِ الْمَالِ يَجِبُ فَوْرًا إِذَا تَمَكَّنَ مِنَ الأَدَاءِ كَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ ، وَيَحْصُلُ التَّمَكُنُ بِحُضُوْرِ مَالٍ غَائِبِ سَائِرٍ ، أَوْ قَارٌ عَسُرَ الْوُصُوْلُ لَهُ ، أَوْ مَالِ مَغْصُوبٍ ، أَوْ مَجْحُوْدٍ ، أَوْ دَيْنٍ مُؤَجَّلٍ ، أَوْ حَالٌ تَعَدَّرَ أَخْذُهُ ، وَبِحُضُورِ آخِذِ لِلزَّكَاةِ مِنْ إِمَامٍ أَوْ سَاعٍ أَوْ مُسْتَحِقٌ، وَبِجَفَافِ الثَّمَرِ وَتَنْقِيَةِ الْحَبِّ وَتِبْرٍ وَمَعْدِنٍ وَخُلُو مَالِكِ مِنْ مُهِمَّ دِيْنِيَّ أَوْ دُنْيَوِيٌّ ، كَصَلَاةٍ وَأَكْلٍ ، وَبِقُدْرَةٍ عَلَى غَائِبٍ قَارٌ ، بِأَنْ سَهُلَ الْوُصُوْلُ لَهُ ، أَوْ عَلَى اسْتِيْفَاءِ دَيْنٍ حَالٌ ، وَبِزَوَالِ حَجْرٍ فَلِسٍ إِذَا كَانَتِ الزَّكَاةُ مُتَعَلَّقَةٌ بِالذِّمَّةِ
441
Adapun jika zakat tersebut berkaitan dengan harta itu sendiri (muta'alliqah bil 'ain), maka ia harus mengeluarkannya segera dan tidak perlu menunggu hilangnya pencegahan tasarruf (hajr). Zakat juga wajib segera ditunaikan jika upah (ujrah) yang telah ditetapkan sudah diterima, berbeda dengan mahar (shadaq), maka tidak disyaratkan ketetapannya melalui pembagian setengah, kematian, atau persetubuhan. Jika ia mengakhirkan penunaiannya setelah adanya kemampuan lalu harta tersebut rusak seluruhnya atau sebagian, maka ia wajib menanggungnya (dhomman), yaitu dengan membayar apa yang seharusnya ia bayar sebelum kerusakan terjadi karena kelalaiannya dalam menahan hak orang yang berhak menerimanya. Namun jika harta rusak sebelum adanya kemampuan menunaikan, maka tidak ada tanggung jawab baginya karena tidak ada unsur kelalaian, berbeda halnya jika ia sendiri yang merusaknya, maka ia menanggungnya karena kelalaiannya dalam melenyapkan harta tersebut. وَأَمَّا إِذَا كَانَتْ مُتَعَلِّقَةٌ بِالْعَيْنِ ، فَيُخْرِجُهَا حَالًا ، وَلَا يَتَوَقَّفُ عَلَى زَوَالِ الْحَجْرِ ، وَيَجِبُ أَدَاؤُهُ فَوْرًا أَيْضًا إِذَا تَقَرَّرَتْ أُجْرَةٌ قُبِضَت| لَا صَدَاقٌ ، فَلَا يُشْتَرَطُ تَقَرُّرُهُ بِتَشْطِيْرٍ أَوْ مَوْتِ أَوْ وَطْءٍ ، فَإِنْ أَخَّرَ أَدَاءَهَا بَعْدَ التَّمَكُنِ وَتَلِفَ الْمَالُ كُلُّهُ أَوْ بَعْضُهُ ضَمِنَ ، بِأَنْ يُؤَدِّي مَا كَانَ يُؤَدِّيْهِ قَبْلَ التَّلَفِ لِتَقْصِيْرِهِ بِحَبْسِ الْحَقِّ عَنْ مُسْتَحِقِّهِ ، وَإِنْ تَلِفَ قَبْلَ التَّمَكُنِ فَلَا ضَمَانَ ، لانْتِفَاءِ تَقْصِيْرِهِ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ أَتْلَفَهُ ، فَإِنَّهُ يَضْمَنُ لِتَقْصِيْرِهِ بِإِخْلَافِهِ
Ismail Ibnu al-Muqri berkata dalam Raudh ath-Thalib dan Syaikhul Islam dalam Syarahnya yang bernama Asna al-Mathalib: Cabang Bahasan: Jika buah-buahan rusak sebelum adanya kemampuan menunaikan tanpa adanya kelalaian, baik karena bencana alam atau lainnya seperti pencurian, baik sebelum kering maupun sesudahnya, maka ia tidak wajib menanggungnya. Sebagaimana jika hewan ternak mati sebelum adanya kemampuan menunaikan. Maka jika yang tersisa dari harta tersebut kurang dari nishab, ia tetap mengeluarkan bagian zakat dari sisa tersebut, karena kemampuan menunaikan adalah syarat untuk tanggung jawab ganti rugi (dhomman), bukan syarat untuk kewajiban zakatnya. قَالَ إِسْمَاعِيلُ ابْنُ الْمُقْرِي فِي « رَوْضِ الطَّالِبِ » وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ فِي شَرْحِهِ الْمُسَمَّى بِـ « أَسْنَى الْمَطَالِبِ » : فَرْعُ : وَإِنْ تَلِفَتِ الثَّمَرَةُ قَبْلَ التَّمَكُنِ مِنَ الأَدَاءِ مِنْ غَيْرِ تَقْصِيرٍ بِآفَةٍ سَمَاوِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا ، كَسَرِقَةٍ ، قَبْلَ جَفَافِهَا أَوْ بَعْدَهُ ، لَمْ يَضْمَنْ ؛ كَمَا لَوْ تَلِفَتِ الْمَاشِيَةُ قَبْلَ التَّمَكُنِ مِنَ الأَدَاءِ ، فَإِذَا بَقِيَ مِنْهَا دُوْنَ النَّصَابِ أَخْرَجَ حِصَّتَهُ ، أَيْ : قِسْمَهُ ، لِأَنَّ التَّمَكُنَ شَرْطُ لِلضَّمَانِ لَا لِلْوُجُوْبِ .
Dikecualikan dengan kalimat "tanpa adanya kelalaian" adalah jika ia lalai, seperti meletakkan harta di tempat yang tidak aman (ghairu hirzin), maka ia wajib menanggungnya. Selesai. وَخَرَجَ بِـ (( غَيْرِ تَقْصِيرٍ )) مَا لَوْ قَصَّرَ ، كَأَنْ وَضَعَهُ فِي غَيْرِ حِرْزٍ ، فَيَضْمَنُ . انْتَهَى .
Niat hukumnya wajib dalam zakat, seperti ucapan: "Ini adalah zakat", atau "Kewajiban sedekah", atau "Sedekah hartaku yang diwajibkan". Tidak cukup hanya berucap: "Kewajiban hartaku", karena bisa jadi itu adalah kafarat atau nadzar. Tidak cukup pula "Sedekah hartaku", karena bisa jadi itu sedekah sunnah. Tidak wajib menentukan secara spesifik harta yang dizakati saat mengeluarkan zakat, namun jika ia menentukannya, maka harta yang dikeluarkan tersebut tidak sah untuk harta yang lain. Wali wajib melakukan niat untuk orang yang berada di bawah pengampuannya (mahjur). وَتَجِبُ نِيَّةٌ فِي الزَّكَاةِ، كَـ : « هَذَا زَكَاة » ، أَوْ « فَرْضُ صَدَقَةٍ » ، أَوْ « صَدَقَةٌ مَالِي الْمَفْرُوْضَةُ » ؛ وَلَا يَكْفِي : « فَرْضٌ مَالِيٌّ » ، لِأَنَّهُ قَدْ يَكُوْنُ كَفَّارَةٌ وَنَذْرًا ؛ وَلَا صَدَقَهُ مَالِيٍّ» ، لِأَنَّهَا تَكُوْنُ نَافِلَةً ؛ وَلَا يَجِبُ تَعَيُّنُ مَالٍ مُزَكَّى عِنْدَ الإِخْرَاجِ ، فَإِنْ عَيَّنَهُ لَمْ يَقَعِ الْمُخْرَجُ عَنْ غَيْرِهِ؛ وَتَلْزَمُ عَلَى الْوَلِيِّ النِّيَّةُ عَنْ مَحْجُوْرِهِ .
442
Ibnu Hajar berkata dalam Syarh al-Minhaj: Seandainya seseorang memisahkan sejumlah harta zakat dan berniat saat memisahkan harta tersebut, maka hukumnya boleh. Hal itu tidak terpengaruh oleh pendahuluan niat sebelum pembagian (kepada mustahik), sebagaimana dalam ibadah puasa, karena sulitnya membarengkan niat tepat saat memberikan kepada setiap orang yang berhak. Hal ini karena tujuan zakat adalah menutupi kebutuhan orang yang berhak menerimanya. Jika ia berniat setelah memisahkan harta namun sebelum pembagian, maka itu juga sah baginya meskipun niatnya tidak berbarengan saat harta diambil (oleh mustahik) sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Majmu'. Dalam kitab tersebut juga dikutip dari al-'Abbadi bahwa seandainya seseorang menyerahkan harta kepada wakilnya untuk dibagikan sebagai sedekah sunnah, kemudian ia berniat menjadikannya zakat fardu, lalu wakil tersebut membagikannya, maka jatuhnya sebagai zakat fardu jika si penerima adalah mustahik. Adapun mendahulukan niat sebelum memisahkan harta atau sebelum menyerahkan kepada wakil, maka itu tidak sah, sebagaimana membayar zakat setelah lewat satu tahun (haul) tanpa adanya niat. Selesai. قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ : وَلَوْ عَزَلَ مِقْدَارَ الزَّكَاةِ وَنَوَى عِنْدٌ الْعَزْلِ جَازَ وَلَا يَضُرُّ تَقْدِيمُهَا عَلَى التَّفْرِقَةِ ، كَالصَّوْمِ ، لِعُسْرِ الاقْتِرَانِ بِإِعْطَاءِ كُلِّ مُسْتَحِقٌ ، وَلِأَنَّ الْقَصْدَ مِنَ الزَّكَاةِ سَدُّ حَاجَةِ مُسْتَحِقْهَا ، وَلَوْ نَوَى بَعْدَ الْعَزْلِ وَقَبْلَ التَّفْرِقَةِ أَجْزَاهُ أَيْضًا ، وَإِنْ لَمْ تُقَارِنِ النِّيَّةُ أَخْذَهَا كَمَا فِي « الْمَجْمُوع » ، وَفِيْهِ عَنِ الْعَبَّادِي أَنَّهُ لَوْ دَفَعَ مَالًا إِلَىٰ وَكِيْلِهِ لِيُفَرِّقَهُ تَطَوُّعًا ثُمَّ نَوَى بِهِ الْفَرْضَ ، ثُمَّ فَرَّقَهُ الْوَكِيلُ وَقَعَ عَنِ الْفَرْضِ إِنْ كَانَ الْقَابِضُ مُسْتَحِقًا ، أَمَّا تَقْدِيمُهَا عَلَى الْعَزْلِ أَوْ إِعْطَاءِ الْوَكِيْلِ فَلَا يُجْزِئُ ، كأَدَاءِ الزَّكَاةِ بَعْدَ الْحَوْلِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ . أَنْتَهَى ..
Boleh menyegerakan (ta'jil) zakat pada harta yang terkena hitungan tahun (hauli) setelah kepemilikan nishab dan sebelum genapnya satu tahun untuk jangka waktu satu tahun saja, tidak boleh lebih dari itu. وَيَجُوْزُ تَعْجِيْلُ الزَّكَاةِ فِي الْمَالِ الْحَوْلِيِّ بَعْدَ مُلْكِ النِّصَابِ وَقَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلِ لِسَنَةٍ فَقَدْ ، لَا لِأَكْثَرَ مِنْهَا
Syarat jatuhnya harta yang disegerakan tersebut sebagai zakat adalah: tetapnya pemilik harta dalam sifat wajib zakat dan tetapnya penerima dalam sifat berhak menerima (mustahik) sampai genapnya satu tahun. Jika salah satu atau keduanya berubah sebelum genap satu tahun—seperti murtad atau meninggal dunia, atau pemilik harta berubah menjadi fakir atau hilang kepemilikannya atas harta yang dizakati tersebut, atau si penerima menjadi kaya bukan karena zakat yang disegerakan tadi, atau ia mengakui dirinya budak padahal sebelumnya tidak diketahui nasabnya—maka pemilik boleh mengambil kembali harta tersebut dari si penerima jika sejak awal ia sudah menjelaskan bahwa harta itu adalah zakat yang disegerakan, atau si penerima mengetahuinya. Jika pemilik tidak menjelaskan hal itu dan penerima tidak mengetahuinya, maka ia tidak boleh mengambilnya kembali karena kelalaiannya sendiri yang tidak memberitahu saat menyerahkan, sehingga status harta tersebut jatuh sebagai sedekah sunnah. وَشَرْطُ وُقُوْعِ الْمُعَجَّلِ زَكَاةً بَقَاءُ الْمَالِكِ بِصِفَةِ الْوُجُوْبِ وَبَقَاءُ الْقَابِضِ بِصِفَةِ الاسْتِحْقَاقِ إِلَى تَمَامِ الْحَوْلِ ، فَإِنْ تَغَيَّرَ كُلٌّ مِنْهُمَا أَوْ أَحَدُهُمَا قَبْلَ تَمَامِهِ ، بِرِدَّةٍ أَوْ بِمَوْتِ ، أَوْ تَغَيَّرَ الْمَالِكُ بِفَقْرٍ أَوْ زَوَالِ مِلْكٍ عَنْ مَالِهِ الْمُعَجَّلِ عَنْهُ ، أَوْ تَغَيَّرَ الْقَابِضُ بِغِنِّى بِغَيْرِ الزَّكَاةِ الْمُعَجَّلَةِ ، أَوْ إِقْرَارِ بِرِقٌ وَهُوَ مَجْهُولُ النَّسَبِ ؛ اسْتَرَدَّهُ الْمَالِكُ مِنَ الْقَابِضِ إِنْ بَيَّنَ أَنَّهُ زَكَاهُ مُعَجَّلٍ ، أَوْ عَلِمَهُ الْقَابِضُ ، فَإِنْ لَمْ يُبَيِّنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَعْلَمْهُ الْقَابِضُ لَمْ يَسْتَرِدَّهُ ، لِتَفْرِيطِهِ بِتَرْكِ الإِعْلَامِ عِنْدَ الدَّفْعِ ، فَيَقَعُ تَطَوُّعًا
443
Penutup: Syarat-syarat wajib zakat ada empat: خَاتِمَةٌ : وَشُرُوطُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ أَرْبَعَةٌ :
Pertama: Merdeka, meskipun hanya sebagian (muba'adh), yaitu dengan ia memiliki harta melalui bagian dirinya yang merdeka. Maka tidak ada zakat bagi budak, meskipun budak mukatab. أَحَدُهَا : حُرِّيَّةٌ ، وَلَوْ لِلْبَعْضِ ، بِأَنْ مَلَكَ الْأَمْوَالَ بِبَعْضِهِ الْحُرِّ ، فَلَا زَكَاةَ عَلَى رَقِيْقٍ وَلَوْ مُكَاتَبًا
Kedua: Islam, maka tidak ada zakat bagi kafir asli dalam artian ia tidak dipaksa untuk menunaikannya (di dunia) dan tidak wajib meng-qadhanya (jika masuk Islam), sebagaimana shalat dan puasa. Adapun kewajiban mengeluarkan zakat bagi orang murtad yang harta zakatnya wajib saat ia dalam masa murtad, maka hukumnya ditangguhkan (mauquf) sebagaimana status kepemilikan hartanya. Jika ia mati dalam keadaan murtad, maka jelaslah bahwa ia tidak wajib zakat karena terbukti ia tidak memiliki harta, melainkan seluruh hartanya menjadi harta fai'. Namun jika ia masuk Islam kembali, maka ia wajib menzakati masa murtadnya yang lalu selama belum dizakati saat masa murtad tersebut, karena zakat saat murtad itu sah baginya sebagaimana jika ia membayar kafarat saat murtad. Dan niatnya saat itu adalah untuk membedakan (tamyiz), bukan untuk ibadah (lil 'ibadah). وَثَانِيهَا : إِسْلَامٌ ، فَلَا زَكَاةَ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيَّ ، بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يُلْزَمُ بِأَدَائِهَا وَلَا فَضَائِهَا كَالصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ ، وَأَمَّا وُجُوْبُ إِخْرَاجِ زَكَاةِ الْمُرْتَدَّ الَّتِي وَجَبَتْ عَلَيْهِ حَالَ رِدَّتِهِ فَمَوْقُوْفٌ كَمُلْكِهِ ، فَإِنْ مَاتَ مُرْتَدًا ، بَانَ أَنْ لَا زَكَاةَ عَلَيْهِ لِتَبَيَّنِ أَنْ لَا مَالَ لَهُ ، بَلْ جَمِيعُهُ فَيْءٌ ، أَوْ أَسْلَمَ زَكَّىٰ لِلْمَاضِيْ فِي الرَّدَّةِ مَا لَمْ يَكُن| زَكَّاهُ فِي رِدَّتِهِ ، فَإِنَّهُ يُجْزِئُهُ ، كَمَا لَوْ أَطْعَمَ عَنِ الْكَفَّارَةِ فيهَا ، وَتَكُوْنُ نِيَّتُهُ لِلتَّمْيِيزِ لَا لِلْعِبَادَةِ
Adapun kewajiban tetapnya zakat (istiqrar) tidaklah ditangguhkan, karena syaratnya adalah Islam, meskipun di masa yang telah lalu. وَأَمَّا وُجُوْبُ الاسْتِقْرَارِ فَلَيْسَ بِمَوْقُوْفٍ ، لِأَنَّ شَرْطَهُ الإِسْلَامُ ، وَلَوْ فِيْمَا مَضَى
Adapun zakat yang sudah wajib sebelum ia murtad, maka statusnya adalah hutang, maka harus dikeluarkan dari hartanya saat ia murtad secara paksa, baik ia masuk Islam kembali setelah itu maupun mati dalam keadaan murtad. أَمَّا الَّتِي وَجَبَتْ قَبْلَ الرِّدَّةِ فَهِيَ مِنَ الدُّيُونِ ، فَتُخْرِجُ مِنْ مَالِهِ حَالَ رِدَّتِهِ قَهْرًا عَنْهُ ، سَوَاءٌ أَسْلَمَ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْ مَاتَ مُرْتَدَّا
Ketiga: Kejelasan pemilik (ta'ayyun malik), maka tidak ada zakat pada harta Baitul Mal, tidak pula pada harta janin yang diwakafkan untuknya karena belum jelas pemiliknya. Begitu juga hasil (rai') dari wakaf untuk kepentingan umum (jihah 'ammah), berbeda dengan wakaf untuk kepentingan khusus (jihah khashah), maka wajib zakat pada hasilnya, bukan pada zat barangnya. وَثَالِثُهَا : تَعَيُّنُ مَالِكٍ ، فَلَا زَكَاةَ فِي مَالِ بَيْتِ الْمَالِ ، وَلَا مَالِ جَنِيْنٍ مَوْقُوْفٍ لِأَجْلِهِ ، لِعَدَمٍ تَعَيُّنِ الْمَالِكِ ؛ وَمِثْلُهُ رَيْعُ الْمَوْقُوْفِ عَلَى جِهَةٍ عَامَّةٍ دُوْنَ الْمَوْقُوْفِ عَلَى جِهَةٍ خَاصَّةٍ ، فَتَجِبُ فِي رَيْعِهِ لَا فِيْ عَيْنِهِ
Dan termasuk kepentingan umum adalah wakaf atas imam masjid atau muazinnya, karena yang dimaksud bukanlah orang tertentu, melainkan setiap orang yang memiliki sifat (jabatan) tersebut. وَمِنَ الْجِهَةِ الْعَامَّةِ الْمَوْقُوْفُ عَلَى إِمَامِ الْمَسْجِدِ أَوْ مُؤَذِّنِهِ ، لِأَنَّهُ لَمْ يُرَدْ بِهِ شَخْصٌ مُعَيَّنٌ وَإِنَّمَا أُرِيْدَ بِهِ كُلُّ مَنِ اتَّصَفَ بِهَذَا الْوَصْفِ
444
Keempat: Haul (genap satu tahun), kecuali dalam enam perkara: وَرَابِعُهَا : حَوْلٌ ، إِلَّا فِي سِتَّةِ أُمُوْرٍ :
Pertama: Pada tanaman (hasil bumi). الأَوَّلُ : فِي نَابِتٍ
Kedua: Pada barang tambang (ma'din). وَالثَّانِي : فِي مَعْدِنٍ
Ketiga: Pada harta karun (rikaz). وَالثَّالِثُ : فِي رِكَاز
Keempat: Pada zakat fitrah. Maka jika seseorang dianugerahi kelahiran anak sebelum matahari terbenam (di akhir Ramadhan), ia wajib mengeluarkan zakatnya meskipun belum lewat satu tahun. وَالرَّابِعُ : فِي زِكَاةِ فِطْرٍ ، فَإِذَا وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ قَبْلَ الْغُرُوْبِ أَخْرَجَ الزَّكَاةَ عَنْهُ
Kelima: (Anak hewan ternak), maka sesungguhnya ia dizakati mengikuti haul induknya. [ وَالْخَامِسُ : ؟ ] وَإِنْ لَمْ يَحُلْ ، فَإِنَّهُ يُزَكِّيْ بِحَوْلِ أَصْلِهِ
Keenam: Pada keuntungan dagang (ribh), maka sesungguhnya ia dizakati mengikuti haul modalnya juga. Baik keuntungan itu didapat dari pertambahan pada barang dagangannya itu sendiri (seperti hewan ternak yang jadi gemuk, beranak, atau berbuah), maupun karena kenaikan harga pasar. Seandainya ia menjual barang dagangan di bawah harga nilainya, maka ia tetap menzakati sesuai nilainya; atau jika dijual lebih tinggi dari nilainya, maka dalam hal menzakati kelebihannya ada dua pendapat, dan yang paling kuat (arjuh) adalah wajib. وَالسَّادِسُ : فِي رِبْحٍ ، فَإِنَّهُ يُزَكَّى بِحَوْلِ أَصْلِهِ أَيْضًا... سَوَاءٌ حَصَلَ بِزِيَادَةٍ فِي نَفْسِ الْعَرَضِ ، كَسِمَنِ الْحَيْوَانِ وَوَلَدٍ وَثَمَرَةٍ ، أو بِارْتِفَاعِ الْأَسْوَاقِ ؛ وَلَوْ بَاعَ الْعَرَضَ بِدُوْنِ قِيْمَتِهِ زَكَّى الْقِيْمَةَ أَوْ بِأَكْثَرَ مِنْهَا ؛ فَفِي زَكَاةِ الزَّائِدِ مِنْهَا وَجْهَانِ ، أَرْجَحُهُمَا الْوُجُوْبُ
Tempat (berlakunya) zakat keuntungan mengikuti haul modalnya adalah jika keuntungan itu belum berwujud uang tunai (nadh) dari jenis harta yang digunakan untuk menaksir nilai dagang. Misalnya seseorang membeli barang seharga 200 dirham, lalu setelah lewat satu tahun nilainya menjadi 300 dirham dan barangnya belum dijual melainkan masih ia simpan; atau sudah berwujud tunai namun bukan dari jenis harta asalnya di tengah-tengah tahun, misalnya ia membeli barang dengan dirham lalu menjualnya dengan dinar; maka ia menzakati yang 100 (keuntungan) itu mengikuti haul yang 200 (modal). Jika tidak demikian, seperti seluruhnya sudah menjadi tunai dari jenis modalnya di tengah-tengah tahun dan ia simpan sampai akhir tahun, atau ia belikan lagi barang dagangan sebelum tahun berakhir, maka ia menzakati kelebihannya itu mengikuti haul-nya sendiri (mulai hitungan baru), bukan mengikuti haul modalnya. Dianggap juga dalam kewajiban zakat itu adanya nishab dan kemampuan untuk menunaikannya. وَمَحَلُّ زَكَاةِ الرِّبْحِ بِحَوْلِ أَصْلِهِ إِنْ لَمْ يُنَضَّ مِنْ جِنْسِ مَا يُقَوَّمُ بِهِ ، كَأَنِ اشْتَرَى مَتَاعًا بِمِئَتَيْ دِرْهَمٍ ، وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ ، وَقِيمَتُهُ ثَلَاثُ مِئَةِ دِرْهَم ، وَلَمْ يَبِعْهُ ، بَلْ أَمْسَكَهُ عِنْدَهُ ، أَوْ نُضَّ مِنْ غَيْرِ الْجِنْسِ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ ، كأَنِ اشْتَرَى مَتَاعًا بِمِئَتَيْ دِرْهَمٍ ، وَبَاعَهُ بِدَنَانِيْرَ ؛ فَيُزَكِّيْ الْمِئَةَ بِحَوْلِ الْمِئَتَيْنِ ، وَإِلَّا بِأَنْ صَارَ الْكُلُّ نَاضًا مِنَ الْجِنْسِ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ وَأَمْسَكَهُ إِلَى آخِرِ الْحَوْلِ... أَوِ اشْتَرَى بِهِ عَرَضًا قَبْلَ تَمَامِهِ ، زَكَّى الزَّائِدَ بِحَوْلِهِ لَا بِحَوْلِ أَصْلِهِ ، وَيُعْتَبَرُ أَيْضًا فِي وُجُوْبِ الزَّكَاةِ نِصَابٌ ، وَتَمَكُنْ مِنْ أَدَائِهَا ، وَلَكِنَّ
445
Nishab adalah sebab bagi wajibnya zakat, bukan syarat baginya. Sedangkan kemampuan (tamakun) menunaikan adalah syarat bagi tanggung jawab ganti rugi (dhomman) agar kewajiban itu tetap (istiqrar), bukan syarat bagi wajibnya zakat itu sendiri. Maka jika nishab tidak terpenuhi, zakat tidak wajib sama sekali. Berbeda dengan kemampuan menunaikan; ia adalah syarat bagi tanggung jawab ganti rugi, bukan syarat bagi pokok kewajiban. Jika kemampuan itu tidak ada, maka ia tidak menanggung ganti rugi hak para golongan penerima zakat. Atas dasar ini, ada sebuah teka-teki (alghaz): "Ada harta yang sudah wajib zakatnya, namun belum dikeluarkan dan tidak berdosa". النَّصَابَ سَبَبٌ لِوُجُوْبِهَا لَا شَرْطٌ لَهُ ، وَالتَّمَكُنُ شَرْطٌ لِضَمَانِهَا لِاسْتِقْرَارِهِ لَا لِوُجُوْبِهَا ، فَلَوْ لَمْ يُوْجَدِ النَّصَابُ لَمْ تَجِبِ الزَّكَاةُ مِنْ أَصْلِهَا ، بِخِلَافِ التَّمَكُنِ ، فَإِنَّهُ شَرْطٌ لِلضَّمَانِ لَا لِأَصْلِ الْوُجُوْبِ ، فَلَوْ لَمْ يُوْجَدْ لَمْ يَضْمَنْ لِلأَصْنَافِ حَقَّهُمْ ؛ وَعَلَيْهِ يُلْغَزُ فَيُقَالُ لَنَا : مَالٌ وَجَبَتْ زَكَاتُهُ وَلَمْ تُخْرَجْ وَلَا إِثْمَ
Maka kewajiban itu bergantung pada adanya sebab, yaitu kepemilikan nishab, bukan pada syarat, yaitu kemampuan untuk mengeluarkannya. فَالْوُجُوْبُ مُتَوَقِّفُ عَلَى وُجُوْدِ السَّبَبِ ، وَهو مُلْكُ النِّصَابِ لَا عَلَى الشَّرْطِ ، وَهُوَ التَّمَكُنُ مِنْ إِخْرَاجِهَا
Tidak dianggap (tidak disyaratkan) dalam wajibnya zakat itu harus baligh, berakal, maupun cerdas (rusyd). Maka zakat tetap wajib pada harta anak kecil, orang gila, dan orang yang boros (safih). Yang diperintah untuk mengeluarkannya adalah walinya jika sang wali berpendapat demikian (meyakini kewajibannya), seperti wali yang bermazhab Syafi'i; meskipun orang yang di bawah perwaliannya tidak berpendapat demikian, karena yang dianggap adalah keyakinan sang wali. Jika wali tidak mengeluarkannya lalu harta tersebut rusak sebelum sempurnanya (baligh/sembuhnya) orang yang diwakili, maka kewajiban zakat gugur dari orang tersebut karena ia tidak diperintah mengeluarkannya sebelum ia sempurna, namun wali wajib menanggung ganti rugi jika ia lalai. وَلَا يُعْتَبَرُ فِي وُجُوْبِ الزَّكَاةِ بُلُوْغٌ وَلَا عَقْلٌ وَلَا رُشْدٌ ، فَتَجِبُ فِي مَالِ صَبِيٌّ وَمَجْنُوْنٍ وَسَفِيْهِ ، وَالْمُخَاطَبُ بِالإِخْرَاجِ عَنْهُ وَلِيُّهُ إِنْ كَانَ يَرَى ، أَيْ : يَعْتَقِدَ ذَلِكَ ، كَشَافِعِيٌّ ؛ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمُولَىٰ عَلَيْهِ يَرَاهُ ، إِذِ الْعِبْرَةُ بِعَقِيدَةِ الْوَلِيِّ ؛ فَإِذَا لَمْ يُخْرِجْهَا وَتَلِفَ الْمَالُ قَبْلَ كَمَالِ الْمُولَىٰ عَلَيْهِ سَقَطَتْ عَنْهُ... إِذْ لَا يُخَاطَبُ بِالإِخْرَاجِ قَبْلَ كَمَالِهِ ، وَضَمِنَ الْوَلِيُّ إِنْ قَصَّرَ
Benar, jika pengakhiran zakat oleh wali karena takut akan denda dari hakim yang bermazhab Hanafi terhadap orang yang diwakili ketika ia sudah baligh nanti, lalu ia mengikuti (taklid) pendapat Abu Hanifah (yang tidak mewajibkan zakat pada harta anak kecil), maka hal itu dianggap sebagai uzur. Maka yang utama baginya saat itu adalah mengumpulkan zakat-zakat yang wajib atasnya sampai orang tersebut sempurna. Namun jika pengakhirannya bukan karena takut hal tersebut, maka hukumnya haram. Wallahu a'lam. نَعَمْ ، إِنْ كَانَ تَأْخِيرُهُ خَوْفًا مِنْ تَغْرِيمِ الْحَاكِمِ الْحَنَفِيِّ لَهُ إِذَا بَلَغَ الْمُولَى عَلَيْهِ ، وَقَلَّدَ أَبَا حَنِيفَةَ ، كَانَ ذَلِكَ عُدْرًا ، فَالْأَوْلَىٰ لَهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَجْمَعَ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ مِنَ الزَّكَوَاتِ إِلَى الْكَمَالِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَأْخِيْرُهُ لِخَوْفِ ذَلِكَ مَثَلًا حَرُمَ ؛ وَاللَّهُ أَعْلَمُ .
Dan inilah akhir dari apa yang dimudahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala dalam melayani (mensyarah) kitab Muqaddimah ini. وَهَذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى خِدْمَةِ هَذِهِ الْمُقَدَّمَةِ
446
(Kitab asli al-Mardhiyyah) di kalangan penduduk wilayah Timur. Akan tetapi, dikarenakan puasa merupakan salah satu rukun Islam dan pengarang (mushannif) telah meninggalkannya (tidak menuliskannya), maka aku ingin menetapkannya. Yaitu aku menuliskannya sebagai bagian tambahan pengabdian (bi adzyabil khidmah) dengan menggabungkannya ke dalam kitab Muqaddimah ini sebagai bentuk sukarela (tabarru'an biha). Dan aku meninggalkan bahasan Haji, walaupun ia juga rukun Islam, karena bersandar pada kitab-kitab yang panjang lebar bahasannya (al-muthawwalat). Serta karena haji memiliki kitab-kitab khusus yang sudah dikenal mengenai manasik. Selain itu, karena sangat besarnya kebutuhan terhadap bab puasa dikarenakan ia lebih sering terjadi daripada haji, sebab banyaknya jumlah individu yang wajib melaksanakan puasa. الْمَرْضِيَّةِ عِنْدَ أَهْلِ الشَّرْقِيَّةِ ، لَكِنْ لَمَّا كَانَ الصَّوْمُ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الإسْلامِ... وَقَدْ تَرَكَهُ الْمُصَنِّفُ ، أَرَدْتُ أَنْ أُثْبِتَهُ ، أَيْ : أَكْتُبَهُ بِأَذْيَالِ الْخِدْمَةِ ، ضَامَّا لَهُ إِلَى هَذِهِ الْمُقَدَّمَةِ تَبَرُّعًا بِهَا ، وَتَرَكْتُ الْحَجَّ ، وَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ انْكَالًا عَلَى الْمُطَوَّلَاتِ ، وَلِأَنَّ لَهُ كُتُبًا مُسْتَقِلَّةٌ مَعْلُوْمَةٌ بِالنُّسُكِ وَلِشِدَّةِ الاحْتِيَاجِ إِلَى الصَّوْمِ ، لِأَنَّهُ أَكْثَرُ وُقُوْعًا مِنَ الْحَجِّ ، لِكَثْرَةِ أَفْرَادِ مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ
Inilah saat untuk mulai masuk ke dalam maksud inti dengan pertolongan (1) Sang Raja yang Disembah. Maka aku katakan, dan hanya kepada Allah-lah taufik untuk jalan yang terbaik: وَهَذَا أَوَانُ الشُّرُوْعِ فِي الْمَقْصُوْدِ ، بِعَوْنِ (۱) الْمُلْكِ الْمَعْبُودِ ، فَأَقُوْلُ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ ، لِأَحْسَنِ الطَّرِيقِ :
Yaitu (dihitung) dari terlihatnya hilal pada bulan Sya'ban misalnya. Aisyah RA berkata: "Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan bulan Sya'ban tidak sebagaimana perhatian beliau pada bulan lainnya" [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra 4/206]. أَيْ : مِنَ الرُّؤْيَةِ فِي شَعْبَانَ مَثَلًا ، قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يَتَحَفَظُ فِي شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ فِي غَيْرِهِ [السنن الكبرى للبيهقي ٢٠٦/٤]
هَذَا دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ إِكْمَالَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا مِنَ الرُّؤْيَةِ لَا مِنَ الْحِسَابِ Ini adalah dalil bahwa menyempurnakan Sya'ban tiga puluh hari itu dihitung dari ru'yah (melihat hilal), bukan dari hitungan hisab. =================وَثَانِيهَا : بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ ، أَيْ : هِلَالِ رَمَضَانَ
Kedua: Dengan melihat hilal, maksudnya hilal Ramadhan.
فِي حَقٌّ مَنْ رَآهُ وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا ، وَلَا بُدَّ مِنْ رُؤْيَتِهِ لَيْلًا ، وَلَا أَثَرَ لِرُؤْيَتِهِ نَهَارًا ، لِقَوْلِهِ : ( صُوْمُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ؛ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا ) [ البخاري ، رقم : ۱۹۰۹ ؛ مسلم ، رقم : ۱۰٨١ ؛ الترمذي ، رقم : ٦٨٤ ؛ النسائي ، رقم : ۲۱۱٧ ، ۲۱۱٨ ، ۲۱۱۹ ، ۲۱۲۳ ؛ ابن ماجه ، رقم : ١٦٥٥ ؛ (مسند أحمد»، رقم : ٧٤٦٤ ، ٧٥٢٧ ، ٧٧٢١ ، ٧٨٠٠ ، ٩١١٢ ، ٩١٧٦ ، ٩٢٧١ ، ٢٧٢١١ ، ٩٥٤٣ ، ٩٥٧٥ ، ٢٧٢٦٥ ، ٢٧٣١٧ ؛ الدارمي ، رقم : ١٦٨٥ ] ، أَيْ : لِيَصُمْ كُلٌّ مِنْكُمْ وَلْيُفْطِرْ كُلٌّ مِنْكُمْ .
(Berlaku) bagi hak orang yang melihatnya meskipun ia seorang yang fasik. Dan hilal itu harus dilihat pada malam hari, tidak ada pengaruhnya jika dilihat pada siang hari. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: (Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya; jika ia tertutup awan bagi kalian, maka sempurnakanlah hitungan Sya'ban tiga puluh hari) [HR. Al-Bukhari, no: 1909; Muslim, no: 1081; At-Tirmidzi, no: 684; An-Nasa'i, no: 2117, 2118, 2119, 2123; Ibnu Majah, no: 1655; «Musnad Ahmad», no: 7464, 7527, 7721, 7800, 9112, 9176, 9271, 27211, 9543, 9575, 27265, 27317; Ad-Darimi, no: 1685]. Maksudnya: hendaklah masing-masing dari kalian berpuasa dan berbuka.
قَوْلُهُ : « لِرُؤْيَتِهِ » فِيْهِ اسْتِخْدَامٌ ، لِأَنَّ الضَّمِيرَ فِي الْأَوَّلِ عَائِدٌ عَلَى هِلَالِ رَمَضَانَ ، وَالثَّانِي عَلَى هِلَالِ شَوَّالَ . قَالَهُ الْمَدَابِغِيُّ
Perkataan Nabi: "Li ru'yatihi" (karena melihatnya) di dalamnya terdapat gaya bahasa istikhdam. Karena kata ganti (dhomir) pada yang pertama kembali kepada hilal Ramadhan, sedangkan yang kedua kembali kepada hilal Syawal. Demikian menurut Al-Madabighi.
وَاللَّامُ فِيْهِ بِمَعْنَى « بَعْدَ » ، أَيْ : بَعْدَ رُؤْيَتِهِ ؛ كَمَا قَالَهُ ابْنُ هِشَامٍ فِي « الْمُغْنِي »
Huruf Lam di situ bermakna "setelah" (ba'da), maksudnya setelah melihatnya; sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Al-Mughni.
قَوْلُهُ : « وَأَفْطِرُوْا » بِقَطْعِ الْهَمْزَةِ ، أَيْ : ادْخُلُوْا فِي وَقْتِ الْفِطْرِ ، فَالْهَمْزَةُ لِلصَّيْرُورَةِ ، كَمَا فِي « الْمِصْبَاحِ »
Perkataan Nabi: "Wa afthiru" (dan berbukalah) dengan hamzah qatha', maksudnya: masuklah kalian ke dalam waktu berbuka (hari raya). Maka hamzah tersebut berfungsi sebagai shairurah (menunjukkan perubahan keadaan), sebagaimana dalam kitab Al-Misbah.
قَوْلُهُ : ( فَإِنْ غُمَّ » بِضَمِّ الْغَيْنِ ، أَيْ : اسْتَتَرَ بِالْغَمَامِ ، وَالضَّمِيرُ عَائِدٌ عَلَى هِلَالِ رَمَضَانَ ، وَمِثْلُهُ : ( إِذَا غُمَّ هِلَالُ شَوَّالٍ فَيُكَمَّلُ رَمَضَانُ ثَلَاثِينَ ) [ البخاري ، رقم : ۱۹۰۰ ، ۱۹۰٦ ، ۱۹۰٧ ، مسلم ، رقم : ۱۰٨٠ ؛ النسائي ، رقم : ۲۱۲۰ ، ۲۱۲۱ ، ۲۱۲۲ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۳۲۰؛ ابن ماجه ، رقم : ١٦٥٤ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ٤٤٧٤ ، ٤٥٩٧ ، ۵۲۷۲ ، ٦۲٨٧ ؛ « موطأ مالك » ، رقم : ٦٣٣ ، ٦٣٤ ؛ الدارمي ، رقم : ١٦٨٤ ] قَالَهُ السُّوَيْفِيُّ
Perkataan Nabi: "Fa in ghumma" dengan mendhommahkan huruf Ghayn, maksudnya: tertutup oleh mendung/awan. Dan kata gantinya kembali kepada hilal Ramadhan. Contoh serupa: (Jika hilal Syawal tertutup awan, maka sempurnakanlah Ramadhan tiga puluh hari) [HR. Al-Bukhari, no: 1900, 1906, 1907, Muslim, no: 1080; An-Nasa'i, no: ...]. [HR. An-Nasa'i, no: 2120, 2121, 2122; Abu Dawud, no: 2320; Ibnu Majah, no: 1654; «Musnad Ahmad», no: 4474, 4597, 5272, 6287; «Muwatha' Malik», no: 633, 634; Ad-Darimi, no: 1684]. Demikian dikatakan oleh As-Suwaifi.
وَالأَمَارَةُ الدَّالَّهُ عَلَى دُخُولِ رَمَضَانَ ، كَإِيْقَادِ الْقَنَادِيلِ الْمُعَلَّقَةِ بِالْمَنَابِرِ ، وَضَرْبِ الْمَدَافِعِ ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي حُكْمِ الرُّؤْيَةِ
Tanda-tanda (amārah) yang menunjukkan masuknya bulan Ramadhan, seperti menyalakan lampu-lampu yang digantung di menara-menara, dentuman meriam, dan semisalnya dari hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan, maka hukumnya sama dengan hukum ru'yah (melihat hilal).
وَثَالِثُهَا : بِثْبُوْتِهِ ، أَيْ : رُؤْيَةِ الْهِلَالِ
Ketiga: Dengan ketetapannya, maksudnya ketetapan melihat hilal.
فِي حَقٌّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ ، أَيْ : وَاحِدٍ ، وَإِنْ كَانَ الرَّائِي حَدِيدَ الْبَصَرِ . نَقَلَهُ السُّوَيْفِيُّ عَنِ الشَّبْرَا مَلْسِيَّ
Bagi hak orang yang tidak melihatnya dengan kesaksian seorang yang adil ('adlu syahādah), maksudnya satu orang, meskipun orang yang melihat tersebut memiliki penglihatan yang sangat tajam. Hal ini dinukil oleh As-Suwaifi dari Asy-Syabramallisi.
وَلَا بُدَّ مِنْ حُكْمِ الْحَاكِمِ بِهِ ، فَلَا يَكْفِي مُجَرَّدُ شَهَادَةِ الْعَدْلِ
Dan harus ada keputusan dari hakim (pemerintah) dengan kesaksian tersebut, maka tidak cukup hanya sekadar kesaksian orang adil saja (tanpa ketetapan hakim).
وَخَرَجَ بِـ « الْعَدْلِ « الْفَاسِقُ ، وَخَرَجَ بِـ « عَدْلِ الشَّهَادَةِ » عَدْلُ الرِّوَايَةِ ، كَعَبْدٍ وَامْرَأَةٍ ؛ وَتَكْفِي الْعَدَالَةُ الظَّاهِرَةُ ، وَهُوَ الْمُرَادُ بِالْمَسْتُوْرِ
Dikecualikan dengan kata "Adil" adalah orang fasik. Dan dikecualikan dengan "Adil Syahadah" (adil dalam persaksian) adalah "Adil Riwayah" (adil dalam periwayatan), seperti budak dan perempuan; namun cukup dengan keadilan yang nampak (al-'adālah azh-zhāhirah), dan itulah yang dimaksud dengan mastūr.
وَإِذَا صُمْنَا بِرُؤْيَةِ عَدْلٍ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا أَفْطَرْنَا وَإِنْ لَمْ تَرَ الْهِلَالَ وَلَمْ يَكُنْ غَيْمٌ ، وَلَا يَرِدُ لُزُوْمُ الإِفْطَارِ بِوَاحِدٍ لِثُبُوْتِ ذَلِكَ ضِمْنًا ، إِذِ الشَّيْءُ يَثْبُتُ ضِمْنَا بِمَا لَا يَثْبُتُ بِهِ أَصْلًا .
Dan apabila kita berpuasa berdasarkan ru'yah satu orang adil selama tiga puluh hari, maka kita berbuka (lebaran) meskipun hilal (Syawal) belum terlihat dan tidak ada mendung. Hal ini tidak dianggap sebagai keharusan berbuka hanya dengan satu orang saksi (untuk Syawal), karena hal itu ditetapkan secara implisit (dhimnan). Sebab, sesuatu itu bisa tetap secara implisit oleh hal yang tidak bisa menetapkannya secara pokok (ashlan).
وَأَعْلَمْ أَنَّهُ يَثْبُتُ رَمَضَانُ بِشَهَادَةِ الْعَدْلِ وَإِنْ دَلَّ الْحِسَابُ الْقَطْعِيُّ عَلَى عَدَمٍ إِمْكَانِ رُؤْيَتِهِ ، كَمَا نَقَلَهُ ابْنُ قَاسِمٍ عَنِ الرَّمْلِيِّ ؛ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ ، خِلَافًا لِمَا نَقَلَهُ الْقَلْيُوْبِيُّ ؛ فَإِنَّهُ ضَعِيفٌ فَلْيُحْفَظْ . قَالَ ذَلِكَ كُلَّهُ الْمَدَابِغِيُّ
Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan tetap (masuk) dengan kesaksian seorang yang adil, meskipun hitungan hisab yang pasti (al-hisab al-qath'i) menunjukkan ketidakmungkinan melihat hilal. Sebagaimana hal ini dinukil oleh Ibnu Qasim dari Ar-Ramli; dan itulah pendapat yang muktamad (pegangan), berbeda dengan apa yang dinukil oleh Al-Qalyubi karena pendapat tersebut lemah (dhaif), maka hafalkanlah ini. Semua itu dikatakan oleh Al-Madabighi.
قَالَ الْمِرْغَنِيُّ : وَدَلِيْلُ الاكْتِفَاءِ فِي ثُبُوْتِهِ بِالْعَدْلِ الْوَاحِدِ مَا صَحَّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَخْبَرْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ أَنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ . أَنْتَهَى . [ أبو داود ، رقم : ٢٣٤٢ ؛ الدارمي ، رقم : ١٦٩١ ] .
Al-Mirghani berkata: "Dalil atas cukupnya satu orang adil dalam menetapkan (Ramadhan) adalah apa yang sah dari Ibnu Umar RA: 'Aku mengabarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa aku melihat hilal, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa'. Selesai." [HR. Abu Dawud, no: 2342; Ad-Darimi, no: 1691].
قَوْلُهُ : « أَخْبَرْتُ رَسُوْلَ اللهِ » ، أَيْ : بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ
Perkataan Ibnu Umar: "Aku mengabarkan kepada Rasulullah", maksudnya dengan lafaz persaksian (syahādah).
وَيَكْفِي فِي الشَّهَادَةِ : أَشْهَدُ أَنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ ، وَإِنْ لَمْ يَقُلْ ، وَإِنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ
Dan cukup dalam persaksian itu (mengucapkan): "Aku bersaksi bahwa aku melihat hilal", meskipun ia tidak mengucapkan: "Dan sesungguhnya besok adalah bagian dari Ramadhan".
وَالْمَعْنَى فِي ثُبُوْتِهِ بِالْوَاحِدِ الاحْتِيَاطُ لِلصَّوْمِ ، وَمِثْلُهُ سَائِرُ الْعِبَادَاتِ ، كَالْوُقُوْفِ بِالنِّسْبَةِ لِهِلَالِ ذِي الْحَجَّةِ ، وَهِيَ شَهَادَةُ حِسْبَةٍ ، بِكَسْرِ الْحَاءِ ، أَيْ : لَا مَرْجُو بِهَا ثَوَابُ الدُّنْيَا ، فَلَا تَحْتَاجُ إِلَى سَبْقِ دَعْوَى
Makna (hikmah) di balik ketetapan dengan satu orang saksi adalah sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyāth) dalam ibadah puasa. Hal yang sama berlaku pada seluruh ibadah lainnya, seperti wukuf (Arafah) dalam kaitannya dengan hilal Dzulhijjah. Dan ini adalah syahādah hisbah (persaksian karena Allah semata), dengan mengkasrahkan huruf ha. Maksudnya: tidak mengharapkan pahala duniawi dengannya, sehingga tidak memerlukan adanya gugatan (da'wa) sebelumnya.
قَالَ الْمَدَابِغِيُّ : وَلَوْ رَجَعَ عَنْ شَهَادَتِهِ بَعْدَ شُرُوْعِهِمْ فِي الصَّوْمِ أَوْ بَعْدَ حُكْمِ الْحَاكِمِ ، وَلَوْ قَبْلَ شُرُوعِهِمْ ، لَزِمَهُمُ الصَّوْمُ وَيُفْطِرُوْنَ بِإِثْمَامِ الْعِدَّةِ وَإِنْ لَمْ يَرَوْا هِلَالَ شَوَّالٍ
Al-Madabighi berkata: "Seandainya ia (saksi) mencabut kembali persaksiannya setelah orang-orang mulai berpuasa atau setelah keputusan hakim (pemerintah), meskipun sebelum mereka mulai puasa, maka mereka tetap wajib berpuasa dan mereka berbuka (lebaran) dengan menyempurnakan bilangan (30 hari) meskipun mereka tidak melihat hilal Syawal".
وَرَابِعُهَا : بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ ، قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَمَثَلَهُ فِي الْمَجْمُوعِ بِزَوْجَتِهِ وَجَارِيَتِهِ وَصَدِيقِهِ
Keempat: Dengan kabar dari seorang yang adil riwayah yang dipercaya (mawtsūq bihi). Az-Zayadi berkata: "Dan hal itu dicontohkan dalam kitab Al-Majmu' dengan (kabar dari) istrinya, budak perempuannya, atau temannya".
سَوَاءٌ وَقَعَ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ أَمْ لَا . قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : خِلَافًا لِمَا ذَكَرَهُ فِي « شَرْحِ الْمَنْهَجِ » وَإِنْ تَبِعَهُ بَعْضُ الْحَوَاشِي
Baik terdetik dalam hati kebenarannya atau tidak (jika informannya terpercaya). Syarqawi berkata: "Berbeda dengan apa yang disebutkan dalam Syarhul Manhaj, meskipun beberapa kitab Hasyiyah mengikutinya".
أَوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ ، كَفَاسِقٍ ، إِنْ وَقَعَ فِي الْقَلْبِ صِدْقُهُ . وَلِذَا قَالَ الْمَدَابِغِيُّ عِنْدَ قَوْلِ الْخَطِيْبِ : وَيَجِبُ الصَّوْمُ أَيْضًا عَلَى مَنْ أَخْبَرَهُ مَوْثُوْقٌ بِهِ بِالرُّؤْيَةِ إِنِ اعْتَقَدَ صِدْقَهُ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ عِنْدَ الْقَاضِي . قَوْلُهُ : « مَوْثُوْقٌ بِهِ » لَيْسَ بِقَيْدٍ ، بَلِ الْمَدَارُ عَلَى اعْتِقَادِ الصِّدْقِ ، وَلَوْ كَانَ الْمُخْبِرُ كَافِرًا أَوْ فَاسِقًا أَوْ رَقِيقًا أَوْ صَغِيرًا
Atau informan yang tidak terpercaya, seperti orang fasik, jika terdetik dalam hati kebenarannya. Oleh karena itu, Al-Madabighi berkata saat mengomentari perkataan Al-Khatib: "Wajib juga puasa bagi orang yang dikabari oleh orang terpercaya mengenai ru'yah jika ia meyakini kebenarannya, meskipun informan itu tidak menyebutkannya di hadapan hakim". Perkataan Al-Khatib: "Orang terpercaya" (mawtsūqun bihi) bukanlah sebuah batasan (qayid), melainkan intinya adalah pada keyakinan akan kebenaran kabar tersebut, meskipun informannya seorang kafir, fasik, budak, atau anak kecil.
ثُمَّ قَالَ السُّوَيْفِيُّ عِنْدَ قَوْلِ الْخَطِيْبِ ذَلِكَ أَيْضًا : قَوْلُهُ : « إِنِ اعْتَقَدَ صِدْقَهُ » لَيْسَ بِقَيْدٍ ، فَالْمَدَارُ عَلَى أَحَدٍ أَمْرَيْنِ : كَوْنُ الْمُخْبِرِ مَوْثُوْقًا بِهِ ، أَوِ اعْتِقَادُ صِدْقِهِ . أَنْتَهَى
Kemudian As-Suwaifi juga berkata saat mengomentari perkataan Al-Khatib tersebut: "Perkataan beliau: 'Jika ia meyakini kebenarannya' bukanlah sebuah batasan, maka intinya adalah pada salah satu dari dua hal: keberadaan informan sebagai orang terpercaya, atau adanya keyakinan akan kebenarannya." Selesai.
قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ : وَلَوْ رَآهُ فَاسِقٌ جَهِلَ الْحَاكِمُ فِسْقَهُ جَازَ لَهُ الإِقْدَامُ عَلَى الشَّهَادَةِ ، بَلْ وَجَبَ إِنْ تَوَقَّفُ ثُبُوْتُ الصَّوْمِ عَلَيْهَا
Syarqawi berkata: "Seandainya seorang fasik melihat hilal sementara hakim tidak mengetahui kefasikannya, maka boleh bagi si fasik itu mengajukan persaksian, bahkan wajib jika ketetapan puasa bergantung pada persaksiannya tersebut".
وَخَامِسُهَا : بِظَنَّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَنِ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ ، بِأَنْ كَانَ أَسِيرًا أَوْ مَحْبُوسًا أَوْ غَيْرَهُمَا ، قَالَهُ الْمَدَابِغِيُّ
Kelima: Dengan dugaan kuat (zhann) masuknya bulan Ramadhan melalui ijtihad bagi orang yang samar baginya hal tersebut. Misalnya seperti orang yang tertawan, dipenjara, atau selain keduanya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Madabighi.
قَالَ الْبَاجُوْرِيُّ : فَلَوِ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ بِغَيْرِهِ لِنَحْوِ حَبْسٍ اجْتَهَدَ ، فَإِنْ ظَنَّ دُخُوْلَهُ بِالاجْتِهَادِ صَامَ ، فَإِنْ وَقَعَ فَأَدَاءٌ ، وَإِلَّا فَإِنْ كَانَ بَعْدَهُ فَقَضَاءً وَإِنْ كَانَ قَبْلَهُ وَقَعَ لَهُ نَفْلًا وَصَامَهُ فِي وَقْتِهِ إِنْ أَدْرَكَهُ ، وَإِلَّا قَضَاهُ . أَنْتَهَى
Al-Bajuri berkata: Seandainya bulan Ramadhan samar baginya dengan bulan lainnya karena faktor seperti dipenjara, maka ia harus berijtihad. Jika ia menduga kuat masuknya Ramadhan berdasarkan ijtihadnya, maka ia berpuasa. Jika ternyata (puasanya) tepat di bulan Ramadhan, maka statusnya adalah puasa tunai (ada'), jika ternyata setelahnya, maka statusnya qadha. Namun jika ternyata (puasanya) dilakukan sebelum Ramadhan, maka jatuh sebagai puasa sunnah, dan ia wajib berpuasa pada waktu Ramadhan yang asli jika masih menjumpainya, jika tidak maka ia mengqadhanya. Selesai.
فَتَلَخَّصَ أَنَّ سَبَبَ وُجُوْبِ الصِّيَامِ خَمْسَةٌ
Maka kesimpulannya, sebab-sebab kewajiban puasa itu ada lima:
اثْنَانِ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُوْمِ ، أَيْ : عُمُوْمِ النَّاسِ ، وَهُمَا اسْتِكْمَالُ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ، وَثُبُوْتُ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ لَيْلَةَ الثَّلَاثِينَ مِنْ شَعْبَانَ عِنْدَ حَاكِمِ وَثَلَاثَةٌ عَلَى سَبِيلِ الْخُصُوصِ ، أَيْ : خُصُوصِ النَّاسِ ، وَهُوَ الْبَاقِيْ مِنَ الْخَمْسَةِ .
Dua sebab bersifat umum, maksudnya untuk orang banyak, yaitu: menyempurnakan Sya'ban tiga puluh hari, dan ketetapan melihat hilal pada malam ke-30 Sya'ban di hadapan hakim. Dan tiga sebab lainnya bersifat khusus, maksudnya bagi orang-orang tertentu, yaitu sisa dari lima perkara tadi.
تَنْبِيهُ : وَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ وَلَا يَجُوْزُ بِقَوْلِ الْمُنَجِّمِ ، وَهُوَ مَنْ يَعْتَقِدُ أَنَّ أَوَّلَ الشَّهْرِ طُلُوْعُ النَّجْمِ الْفُلَانِيِّ ، لَكِنْ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْمَلَ بِحِسَابِهِ ، وَكَذَلِكَ مَنْ صَدَّقَهُ ، كَالصَّلَاةِ ، فَإِنَّهُ إِذَا اعْتَقَدَ دُخُوْلَ وَقْتِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ بِذَلِكَ ؛
Peringatan: Puasa tidak wajib dan tidak boleh hanya berdasarkan perkataan Munajjim (ahli nujum/astrolog), yaitu orang yang meyakini bahwa awal bulan adalah dengan terbitnya bintang tertentu. Akan tetapi, wajib bagi dirinya sendiri untuk beramal dengan hitungannya, begitu juga bagi orang yang membenarkannya, sebagaimana dalam urusan shalat. Karena jika ia meyakini masuknya waktu shalat, maka ia beramal dengannya.
وَمِثْلُ الْمُنَجِّمِ الْحَاسِبُ ، وَهُوَ مَنْ يَعْتَمِدُ ، أَيْ : يَتَّكِلُ وَيَتَمَسَّكُ ، بِمَنَازِلِ الْقَمَرِ فِي تَقْدِيرِ سَيْرِهِ
Serupa dengan Munajjim adalah Hasib (ahli hisab), yaitu orang yang bersandar, maksudnya bertumpu dan berpegang teguh, pada tempat-tempat beredarnya bulan dalam memperkirakan perjalanannya.
وَلَا عِبْرَةَ بِقَوْلِ مَنْ قَالَ : أَخْبَرَنِي النَّبِيُّ ﷺ فِي النَّوْمِ بِأَنَّ اللَّيْلَةَ أَوَّلُ رَمَضَانَ ؛ لِفَقْدِ ضَبْطِ الرَّائِي لَا لِلشَّكٍّ فِي تَحَقَّقِ الرُّؤْيَةِ إِنْ تَحَقَّقَ الرُّؤْيَةَ
Dan tidak dianggap perkataan orang yang bilang: "Nabi ﷺ mengabari aku di dalam mimpi bahwa malam ini adalah awal Ramadhan". Hal ini dikarenakan kurangnya kedhabithan (akurasi penjagaan) orang yang bermimpi tersebut, bukan karena ragu akan benarnya melihat Nabi ﷺ di mimpi jika memang ia benar-benar melihatnya.
فَرْعٌ : وَإِذَا رُوِيَ الْهِلَالُ بِمَحَلٌ لَزِمَ حُكْمُهُ مَحَلَّا قَرِيبًا مِنْهُ
Cabang Masalah: Apabila hilal terlihat di suatu tempat, maka ketentuannya mengikat untuk tempat yang dekat dengannya.
وَيَحْصُلُ الْقُرْبُ بِاتِّحَادِ الْمَطْلَعِ ، بِأَنْ يَكُوْنَ غُرُوبُ الشَّمْسِ وَالْكَوَاكِبِ وَطُلُوْعُهُمَا فِي الْبَلَدَيْنِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ ، هَذَا عِنْدَ عُلَمَاءِ الْفَلَكِ ، وَالَّذِي عَلَيْهِ الْفُقَهَاءُ أَنْ لَا تَكُوْنَ مَسَافَةُ مَا بَيْنَ الْمَحَلَّيْنِ أَرْبَعَةٌ وَعِشْرِيْنَ فَرْسِخًا مِنْ أَيِّ جِهَةٍ كَانَتْ
(Ketetapan mengikat tempat yang dekat dengannya) dengan adanya kesamaan mathla' (tempat terbit hilal). Hal ini terjadi jika waktu terbenam dan terbitnya matahari serta bintang-bintang di kedua negeri tersebut berada pada waktu yang sama; ini menurut para ahli falak. Sedangkan menurut para ulama fikih, jarak antara kedua tempat tersebut tidak boleh lebih dari dua puluh empat farsakh dari arah mana pun.
وَأَعْلَمْ أَنَّهُ مَتَى حَصَلَتِ الرُّؤْيَةُ فِي الْبَلَدِ الشَّرْقِيِّ لَزِمَ رُؤْيَتُهُ فِي الْبَلَدِ الْغَرْبِيَّ دُوْنَ عَكْسِهِ ، وَلَوْ سَافَرَ مَنْ صَامَ إِلَى مَحَلٌ بَعِيدٍ مِنْ مَحَلَّ رُؤْيَتِهِ وَافَقَ أَهْلَهُ فِي الصَّوْمِ آخِرًا ، فَلَوْ عَيَّدَ قَبْلَ سَفَرِهِ ثُمَّ أَدْرَكَهُمْ بَعْدَهُ صَائِمِيْنَ أَمْسَكَ مَعَهُمْ ، وَإِنْ تَمَّ الْعَدَدُ ثَلَاثِينَ ، لِأَنَّهُ صَارَ مِنْهُمْ
Ketahuilah bahwa kapan pun ru'yah (melihat hilal) terjadi di negeri bagian timur, maka wajib hukumnya mengikuti ru'yah tersebut bagi negeri bagian barat, namun tidak berlaku sebaliknya (barat ke timur). Seandainya seseorang yang sudah berpuasa melakukan perjalanan ke tempat yang jauh dari lokasi ru'yahnya, maka ia harus mengikuti penduduk setempat dalam mengakhiri puasa. Jika ia sudah berlebaran sebelum berangkat, lalu mendapati mereka masih berpuasa sesampainya di sana, maka ia harus ikut menahan diri (imsak) bersama mereka, meskipun hitungan harinya sudah genap tiga puluh hari, karena ia sudah menjadi bagian dari mereka.
أَوْ سَافَرَ مِنَ الْبَعِيدِ إِلَى مَحَلَّ الرُّؤْيَةِ عَيَّدَ مَعَهُمْ ، وَقَضَى يَوْمًا إِنْ صَامَ ثَمَانِيَةٌ وَعِشْرِينَ ، وَإِنْ صَامَ تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ فَلَا قَضَاءَ ؛ وَهَذَا الْحُكْمُ لَا يَخْتَصُّ بِالصَّوْمِ ، بَلْ يُجْزِئُ فِي غَيْرِهِ أَيْضًا ؛ حَتَّى لَوْ صَلَّى الْمَغْرِبَ بِمَحَلِّ وَسَافَرَ إِلَى بَلَدِهِ فَوَجَدَهَا لَمْ تَغْرُبْ وَجَبَتِ الإِعَادَةُ
Atau jika ia melakukan perjalanan dari tempat yang jauh (yang belum melihat hilal) ke tempat yang sudah ru'yah, maka ia berlebaran bersama mereka, dan ia wajib mengqadha satu hari jika (baru) berpuasa dua puluh delapan hari. Namun jika ia sudah berpuasa dua puluh sembilan hari, maka tidak ada qadha baginya. Hukum ini tidak dikhususkan untuk puasa saja, melainkan berlaku juga untuk ibadah lainnya; bahkan seandainya seseorang shalat Maghrib di suatu tempat lalu pergi ke negerinya dan mendapati matahari belum terbenam di sana, maka ia wajib mengulangi shalatnya.
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّوْمِ
Pasal: Tentang Syarat-syarat Sahnya Puasa
شَرْطُ صِحَّتِهِ ، أَيْ : الصَّوْمِ ، سَوَاءٌ كَانَ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا : أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ
Syarat sahnya, maksudnya puasa baik itu yang fardu maupun sunnah, ada empat perkara:
أَحَدُهَا : إِسْلَامُ ، أَيْ : فِي الْحَالِ ، فَلَا يَصِحُ مِنْ كَافِرٍ أَصْلِيَّ وَلَا مُرْتَدَّ
Pertama: Islam, maksudnya dalam keadaan saat itu juga, maka tidak sah puasa dari seorang kafir asli maupun murtad.
وَثَانِيهَا : عَقْلٌ ، أَيْ : تَمْيِيزُ ، فَيَخْرُجُ بِهِ الْجُنُوْنُ وَنَحْوُهُ ، وَالصَّبِيُّ ، إِذْ لَا تَمْيِيزَ عِنْدَهُ ؛ وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ الْعَقْلُ الطَّبِيعِيُّ ، لِأَنَّهُ لَا يَخْرُجُ بِهِ حِينَئِذٍ الصَّبِيُّ
Kedua: Akal, maksudnya adalah tamyīz (kemampuan membedakan baik dan buruk). Maka dikecualikan darinya orang gila dan sejenisnya, serta anak kecil yang belum memiliki kemampuan tamyīz. Yang dimaksud di sini bukanlah akal secara alami (al-'aql ath-thabī'ī), karena jika itu yang dimaksud, maka anak kecil tidak akan dikecualikan (dari syarat sah).
وَثَالِثُهَا : نَقَاءٌ مِنْ نَحْوِ حَيْضٍ ، كَيْفَاسٍ وَوِلَادَةٍ ، وَلَوْ لِعَلَقَةٍ أَوْ مُضْغَةٍ ، وَإِنْ لَمْ تَرَ دَمًا ، وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ الْإِمْسَاكُ بِنِيَّةِ الصَّوْمِ ، وَإِلاَّ فَلَا يَجِبُ تَعَاطِيْ مُفَطَّرٍ ، وَكَذَا نَحوُ الْعِيدِ اكْتِفَاءً بِعَدَمِ النَّيَّةِ
Ketiga: Suci dari sejenis haid, seperti nifas dan melahirkan. Termasuk melahirkan meskipun berupa segumpal darah ('alaqah) atau segumpal daging (mudhghah) walaupun tidak melihat adanya darah nifas. Diharamkan bagi wanita haid dan nifas untuk menahan diri (tidak makan/minum) dengan niat puasa. Namun jika tidak berniat puasa, maka ia tidak wajib sengaja melakukan hal yang membatalkan puasa (boleh saja tidak makan tanpa niat puasa). Begitu juga pada hari raya, cukup dengan tidak berniat puasa saja.
وَأَعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الشُّرُوطَ الثَّلَاثَةَ يُعْتَبَرُ وُجُوْدُهَا فِي جَمِيعِ النَّهَارِ ، فَلَوِ ارْتَدَّ ، أَوْ زَالَ تَمْبِيْرُهُ بِجُنُونٍ ، أَوْ وُجِدَ نَحْوُ الْحَيْضِ فِي جُزْءٍ مِنْهُ بَطَلَ صَوْمُهُ
Ketahuilah bahwa ketiga syarat ini (Islam, Akal, Suci) dianggap keberadaannya di sepanjang siang hari. Maka seandainya seseorang murtad, atau hilang akalnya karena gila, atau menjumpai haid meski hanya di sebagian kecil waktu siang, maka batal puasanya.
وَرَابِعُهَا : عِلْمٌ ، أَوْ ظَلٌّ ، بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلًا لِلصَّوْمِ ، فَلَا يَصِحُ صَوْمُ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ ذَلِكَ ، بِأَنْ ظَنَّ عَدَمَ دُخُولِهِ ، أَوِ اسْتَوَى الْأَمْرَانِ عِنْدَهُ ؛ وَالْوَقْتُ الَّذِي لَا يَقْبَلُ الصَّوْمَ ، هُوَ : الْعِيْدَانِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيْقِ ، وَهِيَ : ثَلَاثَةٌ بَعْدَ عِيْدِ الْأَضْحَى
Keempat: Mengetahui, atau menduga kuat (zhann), bahwa waktu tersebut menerima untuk dilakukan puasa. Maka tidak sah puasa orang yang tidak mengetahui hal itu, seperti ia menyangka belum masuk waktu puasa, atau ia ragu di antara keduanya (apakah boleh puasa atau tidak). Adapun waktu yang tidak menerima puasa adalah: dua hari raya dan hari-hari tasyrik, yaitu tiga hari setelah Idul Adha.
فَصْلٌ فِي شُرُوْطِ وُجُوْبِ الصَّوْمِ
Pasal: Tentang Syarat-syarat Wajib Puasa
شُرُوْطُ وُجُوْبِهِ ، أَيْ : صَوْمِ رَمَضَانَ : خَمْسَةُ أَشْيَاءَ
Syarat-syarat wajibnya, maksudnya puasa Ramadhan, ada lima perkara:
أَحَدُهَا : إِسْلَامٌ ، أَيْ : وَلَوْ فِيْمَا مَضَى ، فَيَسْمَلُ الْمُرْتَدَّ ، لِأَنَّهُ مُخَاطَبُ بِالْأَدَاءِ كَالْمُسْلِمِ لِسَبْقِ إِسْلَامِهِ
Pertama: Islam, maksudnya meskipun di masa lalu. Maka ini mencakup orang murtad, karena ia tetap terkena khitab (perintah) untuk melaksanakan (puasa) sebagaimana orang muslim karena ia pernah masuk Islam sebelumnya.
وَثَانِيهَا : تَكْلِيفٌ ، أَيْ : بُلُوْغٌ وَعَقْلٌ ، فَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ عَلَى صَبِيٌّ وَمَجْنُوْنٍ وَمُغْمِّى عَلَيْهِ وَسَكْرَانٍ
Kedua: Taklif, maksudnya adalah baligh dan berakal. Maka puasa tidak wajib bagi anak kecil, orang gila, orang yang pingsan, dan orang yang mabuk.
أَمَّا الْقَضَاءُ ، فَيَجِبُ عَلَى السَّكْرَانِ سُكْرًا مُسْتَغْرِفًا ، وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ مُطْلَقًا ، أَيْ : سَوَاءٌ تَعَدَّى بِالإِغْمَاءِ أَوْ لَا ، لَكِنْ عَلَى الْفَوْرِ عِنْدَ التَّعَدِّي ، وَعَلَى التَّرَاخِي عِنْدَ عَدَمِهِ ، بِخِلَافِ الصَّلَاةِ ، لَا يَجِبُ عَلَيْهِ قَضَاؤُهَا إِلَّا إِذَا كَانَ مُتَعَدِّيًا بِإِغْمَائِهِ ، وَيَجِبُ عَلَى الْمَجْنُونِ عِنْدَ التَّعَدِّي
Adapun mengenai qadha: maka wajib bagi orang yang mabuk hingga hilang kesadarannya secara total, dan bagi orang yang pingsan secara mutlak, baik ia sengaja melakukan penyebab pingsan itu atau tidak. Namun, wajib segera ('alal fawri) jika ada unsur kesengajaan, dan boleh ditunda ('alat tarakhi) jika tidak ada unsur kesengajaan. Berbeda dengan shalat, tidak wajib qadha baginya kecuali jika ia sengaja melakukan penyebab pingsannya. Dan wajib qadha bagi orang gila jika kegilaannya disebabkan karena kesengajaan.
وَثَالِثُهَا : إِطَاقَةٌ ، أَيْ : قُدْرَةٌ لِلصَّوْمِ ، فَلَا يَجِبُ عَلَى مَنْ لَا يُطِيقُهُ ، لِكِبَرٍ أَوْ مَرَضٌ يُبِيحُ التَّيَمُّمَ
Ketiga: Ithaqah, maksudnya adalah kemampuan untuk berpuasa. Maka tidak wajib bagi orang yang tidak mampu melakukannya, karena faktor usia tua atau sakit yang memperbolehkan tayamum.
وَرَابِعُهَا : صِحَّةٌ ، فَلَا يَجِبُ عَلَى مَرِيْضِ
Keempat: Sehat, maka tidak wajib bagi orang yang sakit.
قَالَ فِي شَرْحِ الْمَنْهَجِ : وَيُبَاحُ تَرْكُهُ بِنِيَّةِ التَّرَخُصِ لِمَرَضِ يَضُرُّ مَعَهُ الصَّوْمُ ضَرَرًا يُبيحُ التَّيَمُّمَ ، وَإِنْ طَرَأَ عَلَى الصَّوْمِ . ثُمَّ الْمَرَضُ إِنْ كَانَ مُطْبَقًا فَلَهُ تَرْكُ النِّيَّةِ ، أَوْ مُتَقَطِّعًا ، فَإِنْ كَانَ يُوْجَدُ وَقَتَ الشُّرُوْعِ فَلَهُ تَرْكُهَا . وَإِلَّا فَإِنْ عَادَ وَاحْتَاجَ إِلَى الإِفْطَارِ أَفْطَرَ
Disebutkan dalam Syarhul Manhaj: "Diperbolehkan meninggalkan puasa dengan niat mengambil keringanan (rukhshah) karena sakit yang jika tetap berpuasa akan menimbulkan bahaya (dharar), yaitu bahaya yang memperbolehkan tayamum, meskipun sakit itu baru datang di tengah-tengah puasa". Kemudian jika sakitnya terus-menerus (muthbaq), maka ia boleh tidak berniat puasa (dari malam hari). Atau jika sakitnya terputus-putus, maka jika sakitnya ada pada saat waktu memulai puasa (fajar), ia boleh tidak berniat. Dan jika tidak demikian (sakitnya hilang), maka jika penyakitnya kambuh kembali dan ia butuh untuk berbuka, maka ia boleh berbuka.
ثُمَّ قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَأَفْتَى الْأَذْرَعِيُّ أَخْذًا مِنْ هُنَا أَنَّهُ يَلْزَمُ الْحَصَّادِيْنَ ، أَي : وَنَحْوَهُمْ ، تَبْبِيْتُ النِّيَّةِ كُلَّ لَيْلَةٍ ، ثُمَّ مَنْ لَحِقَهُ مِنْهُمْ مَشَقَّةٌ شَدِيدَةٌ أَفْطَرَ ، وَإِلَّا فَلَا
Kemudian Az-Zayadi berkata: Al-Adzra'i berfatwa dengan mengambil dalil dari sini bahwa para pekerja panen (al-hashshadin) dan yang sejenisnya, wajib melakukan tabyīt (niat di malam hari) setiap malam. Kemudian barangsiapa di antara mereka yang mengalami kesulitan yang sangat berat (masyaqqah syadīdah), maka ia boleh berbuka, jika tidak mengalami kesulitan maka tidak boleh berbuka.
وَخَامِسُهَا : إِقَامَةٌ ، فَيُبَاحُ تَرْكُ الصَّوْمِ لِسَفَرٍ قَصِيْرِ بِنِيَّةِ التَّرَخُصِ ، فَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ ، وَإِلَّا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ
Kelima: Iqāmah (menetap/tidak sedang safar). Maka diperbolehkan meninggalkan puasa karena perjalanan jauh (safar) dengan niat mengambil keringanan (tabyīt at-tarakhkhush). Jika perjalanan itu membahayakannya, maka berbuka lebih utama, namun jika tidak membahayakan, maka berpuasa lebih utama.
قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَذَلِكَ بِأَنْ يُفَارِقَ مَا شُرِطَ مُجَاوَزَتُهُ فِي صَلَاةِ الْمُسَافِرِ قَبْلَ الْفَجْرِ يَقِيْنَا ، فَلَوْ نَوَى لَيْلًا ثُمَّ سَافَرَ وَشَلَّ ، أَسَافَرَ قَبْلَ الْفَجْرِ أَوْ بَعْدَهُ ، لَمْ يُفْطِرُ ؛ وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ مُدِيمُ السَّفَرِ ، فَلَا يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى إِسْقَاطِ الْوُجُوبِ بِالْكُلِّيَّةِ ؛ وَإِنَّمَا يَظْهَرُ جَوَازُ الْفِطْرِ فِيْمَنْ يَرْجُوْ إِقَامَةٌ يَقْضِيْ فِيْهَا ؛ قَالَهُ السُّبْكِيُّ وَاعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا الرَّمْلِيُّ . أَنْتَهَى
Az-Zayadi berkata: Hal itu (boleh berbuka) adalah dengan cara ia telah melewati batas wilayah yang disyaratkan dalam shalat musafir sebelum fajar secara yakin. Jika ia sudah berniat di malam hari lalu bepergian dan ia ragu apakah berangkat sebelum fajar atau sesudahnya, maka ia tidak boleh berbuka. Dikecualikan dari hal tersebut adalah orang yang terus-menerus dalam perjalanan (mudīmus safar), maka ia tidak diperbolehkan berbuka karena hal itu akan menyebabkan gugurnya kewajiban puasa secara keseluruhan. Sesungguhnya kebolehan berbuka itu nyata bagi orang yang mengharapkan waktu mukim (menetap) untuk mengqadha puasanya; hal ini dikatakan oleh As-Subki dan dipegang teguh oleh Guru kami Ar-Ramli. Selesai.
فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ الصَّوْمِ
Pasal: Tentang Rukun-rukun Puasa
أَرْكَانُهُ ، أَيْ : الصَّوْمِ ، فَرْضًا كَانَ أَوْ نَفْلًا ، ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ
Rukun-rukunnya, maksudnya puasa baik itu yang fardu maupun sunnah, ada tiga perkara:
قَالَ الزَّيَّادِيُّ : هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ ، وَجَعَلَهَا فِي « الْأَنْوَارِ » أَرْبَعَةٌ ؛ وَالرَّابِعُ : قَابِلِيَّةُ الْوَقْتِ لِلصَّوْمِ . أَنْتَهَى
Az-Zayadi berkata: Ini (rukun yang tiga) adalah yang masyhur, namun dalam kitab Al-Anwar menjadikannya empat; yang keempat adalah kelayakan waktu untuk berpuasa. Selesai.
أَحَدُهَا : نِيَّةٌ لَيْلًا لِكُلِّ يَوْمٍ فِي الْفَرْضِ ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا بُدَّ أَنْ يَسْتَحْضِرَ حَقِيقَةَ الصَّوْمِ الَّتِي هِيَ الإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفَطَّرِ جَمِيعَ النَّهَارِ مَعَ مَا يَجِبُ فِيْهِ مِنْ كَوْنِهِ عَنْ رَمَضَانَ مَثَلًا ، ثُمَّ يَقْصِدُ إِبْقَاعَ هَذَا الْمُسْتَحْضَرِ ، وَلَا تَكْفِي النِّيَّةُ بِاللِّسَانِ دُوْنَ الْقَلْبِ ، كَمَا لَا يُشْتَرَطُ التَّلَفْظُ بِهَا قَطْعًا ، لَكِنَّهُ يُنْدَبُ لِيُعَاوِنَ اللَّسَانُ الْقَلْبَ
Pertama: Niat pada malam hari untuk setiap hari dalam puasa fardu. Tempatnya niat adalah di hati, dan wajib menghadirkan hakikat puasa yaitu menahan diri dari hal yang membatalkan sepanjang siang hari, disertai kewajiban menentukan jenis puasanya, misalnya puasa Ramadhan. Kemudian ia bermaksud mewujudkan apa yang dihadirkan dalam hati tersebut. Tidak cukup niat hanya dengan lisan tanpa hati, sebagaimana tidak disyaratkan melafalkannya secara mutlak, namun disunnahkan melafalkannya agar lisan membantu hati.
وَيُعْلَمُ مِنْ كَوْنِ مَحَلَّهَا مَا ذُكِرَ أَنَّهُ لَوْ نَوَى الصَّوْمَ بِقَلْبِهِ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ صَحَّتْ نِيَّتُهُ
Diketahui dari penjelasan bahwa tempat niat adalah hati, maka seandainya seseorang berniat puasa di dalam hatinya saat sedang melakukan shalat, maka niat puasanya sah.
================== ```قَالَ الزَّيَّادِيُّ : فَلَوْ نَوَى لَيْلَةَ أَوَّلِ رَمَضَانَ صَوْمَ جَمِيعِهِ لَمْ يَكْفِ لِغَيْرِ الْيَوْمِ الأَوَّلِ ، لَكِنْ يَنْبَغِي لَهُ ذَلِكَ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُ الْيَوْمِ الَّذِي نَسِيَ النِّيَّةَ فِيْهِ عِنْدَ مَالِكِ
Az-Zayadi berkata: Seandainya ia berniat pada malam pertama Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, maka itu tidak cukup untuk hari-hari selain hari pertama. Namun, seyogianya ia melakukan hal itu (niat sebulan) agar ia tetap mendapatkan pahala puasa pada hari saat ia lupa niat menurut Imam Malik.
كَمَا يُسَنُّ لَهُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ الْيَوْمِ الَّذِي نَسِيَهَا فِيْهِ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَوَاضِحٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إِنْ قَلَّدَ ، وَإِلَّا كَانَ مُتَلَبِّسًا بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي اعْتِقَادِهِ ، وَهُوَ حَرَامٌ
Sebagaimana disunnahkan baginya berniat di awal hari saat ia lupa niat (malamnya), agar ia mendapatkan puasa menurut Imam Abu Hanifah. Jelas bahwa hal ini (mengikuti mazhab lain) berlaku jika ia bertaklid, jika tidak, maka ia dianggap melakukan ibadah yang rusak menurut keyakinannya sendiri, dan itu haram.
وَلَوْ شَلَّ هَلْ وَقَعَتْ نِيَّتُهُ قَبْلَ الْفَجْرِ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ يَصِحَّ ، لِأَنَّ الأَصْلَ عَدَمُ وُقُوْعِهَا لَيْلًا ، إِذِ الْأَصْلُ فِي كُلِّ حَادِثٍ تَقْدِيرُهُ بِأَقْرَبِ زَمَنٍ ، بِخِلَافِ مَا لَوْ نَوَى وَشَلَّ ، هَلْ طَلَعَ الْفَجْرُ أَوْ لَا ؟ ثُمَّ نَوَى ، فَإِنَّهُ يَصِحُ لِلتَّرَدُّدِ فِي النِّيَّةِ
Dan seandainya ia ragu apakah niatnya terjadi sebelum fajar atau sesudahnya, maka tidak sah, karena hukum asalnya adalah niat belum terjadi pada malam hari, sebab asal dari setiap kejadian baru adalah ditetapkan pada waktu yang paling dekat (yaitu siang hari). Berbeda halnya jika ia berniat sambil ragu apakah fajar sudah terbit atau belum, lalu ia berniat, maka itu sah karena adanya keraguan dalam niat (yang masih dianggap dalam waktu malam).
قَوْلُهُ : « فِي الْفَرْضِ » خَرَجَ بِهِ النَّفْلُ ، فَيَكْفِيْ فِيْهِ نِيَّةٌ بِالنَّهَارِ قَبْلَ الزَّوَالِ ، بِشَرْطِ انْتِفَاءِ الْمُنَافِي قَبْلَ النِّيَّةِ ، كَأَكْلٍ وَجِمَاعٍ وَكُفْرٍ وَحَيْضِ وَنِفَاسٍ وَجُنُوْنٍ ، وَإِلَّا فَلَا يَصِحُ الصَّوْمُ
Perkataan Mushannif: "Dalam puasa fardu," mengecualikan puasa sunnah, maka dalam puasa sunnah cukup niat dilakukan pada siang hari sebelum waktu zawal (matahari tergelincir), dengan syarat tidak ada hal yang menafikan (membatalkan) puasa sebelum niat tersebut, seperti makan, jimak, kufur, haid, nifas, dan gila; jika tidak (memenuhi syarat) maka tidak sah puasanya.
قَالَ فِي شَرْحِ الْمَنْهَجِ » : فَقَدْ دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : « هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ » قَالَتْ : لَا ، قَالَ : « فَإِنِّي إِذًا أَصُوْمُ » ؛ قَالَتْ : وَدَخَلَ عَلَيَّ يَوْمًا آخَرَ ، فَقَالَ : ( أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ » قُلْتُ : نَعَمْ ؛ قَالَ : « إِذَا أُفْطِرُ ، وَإِنْ كُنْتُ فَرَضْتُ الصَّوْمَ » رَوَاهُ الدَّارَ قُطْنِيُّ [١٧٥/٢ ، رقم : ۱۸ ] وَالْبَيْهَقِيُّ [رقم : ۸۱۲۷ ، ۸۱۲۷ ، وراجع ابن حبان ، رقم : ٣٥٨٤]
Disebutkan dalam Syarhul Manhaj: "Nabi ﷺ pernah suatu hari menemui Aisyah r.a. lalu bertanya: 'Apakah kalian punya sesuatu (makanan)?' Aisyah menjawab: 'Tidak.' Nabi bersabda: 'Kalau begitu aku berpuasa.'" Aisyah berkata: "Di hari lain beliau menemui aku lagi dan bertanya: 'Apakah kalian punya sesuatu?' Aku menjawab: 'Iya.' Nabi bersabda: 'Kalau begitu aku berbuka, meskipun tadi aku sudah mewajibkan diri untuk berpuasa.'" Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni [2/175, nomor: 18] dan Al-Baihaqi [nomor: 8126, 8127, dan lihat Ibnu Hibban, nomor: 3584].
وَخَرَجَ بِـ « الْمُنَافِيْ لِلصَّوْمِ » مَا لَا يُنَافِيْهِ قَالَ الرَّمْلِيُّ [النهاية » ١٥٦/٣ ] : وَلَوْ أَصْبَحَ وَلَمْ يَنْوِ صَوْمًا ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَلَمْ يُبَالِغ ، فَسَبَقَ مَاءُ الْمَضْمَضَةِ إِلَى جَوْفِهِ ، ثُمَّ نَوَى صَوْمَ تَطَوُّعِ ، صَح .
Dan mengecualikan dari "hal yang menafikan puasa" adalah hal-hal yang tidak menafikannya. Ar-Ramli berkata dalam An-Nihayah [3/156]: "Seandainya seseorang masuk waktu pagi tanpa niat puasa, kemudian ia berkumur tanpa berlebihan (mubalaghah) lalu air kumur itu masuk ke kerongkongannya (tanpa sengaja), kemudian ia berniat puasa sunnah, maka puasanya sah."
وَكَذَا كُلُّ مَا لَا يُبْطِلُ الصَّوْمَ ، كَالْإِكْرَاهِ عَلَى الْأَكْلِ وَالشَّرْبِ قَالَ النَّوَوِيُّ : وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ نَفِيسَةٌ ، وَقَدْ طَلَبْتُهَا سِنِينَ حَتَّى وَجَدْتُهَا ؛ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Begitu pula segala sesuatu yang tidak membatalkan puasa (jika dilakukan tanpa sengaja), seperti dipaksa makan atau minum. Imam Nawawi berkata: "Ini adalah masalah yang sangat berharga (halus), dan aku telah mencarinya bertahun-tahun hingga menemukannya; maka segala puji bagi Allah."
وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا إِذَا بَالَغَ لِإِزَالَةِ نَجَاسَةِ فَمِهِ أَوْ أَنْفِهِ فَسَبَقَهُ الْمَاءُ ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ
Serupa dengan itu adalah jika seseorang berlebih-lebihan berkumur untuk menghilangkan najis di mulut atau hidungnya, lalu air mendahuluinya masuk ke kerongkongan, maka hal itu tidak membahayakan (puasanya tetap sah).
قَوْلُهُ : ( فِي الْفَرْضِ ( وَلَوْ نَدْرًا أَوْ قَضَاءً أَوْ كَفَّارَةٌ ، أو كان الناويْ صبيا
Perkataan Mushannif: "Dalam puasa fardu," termasuk juga puasa nazar, qadha, atau kafarat. Atau jika yang berniat anak kecil.
صَبِيًّا ، أَوْ أَمَرَ بِهِ الإِمَامُ فِي الاسْتِسْقَاءِ ؛ وَلَيْسَ لَنَا صَوْمُ نَفْلٍ يُشْتَرَطُ فِيْهِ التَّبْبِيْتُ إِلَّا صَوْمُ الصَّبِيِّ ؛ فَيُلْغَزُ بِهِ ، وَيُقَالُ لَنَا : صَوْمُ نَفْلٍ يُشْتَرَطُ فِيْهِ تَبْيِيْتُ النَّيَّةِ .
(Lanjutan pembahasan puasa fardu): anak kecil (sabiy), atau puasa yang diperintahkan oleh Imam saat shalat Istisqa. Tidak ada bagi kita puasa sunnah yang disyaratkan tabyīt (niat malam hari) kecuali puasanya anak kecil; maka hal ini bisa dijadikan teka-teki (ilgāz), ditanyakan kepada kita: "Puasa sunnah apa yang disyaratkan niat di malam hari?" (Jawabannya: Puasanya anak kecil).
قَوْلُهُ : « لَيْلًا » ، أَيْ : بَيْنَ الْغُرُوْبِ وَطُلُوعِ الْفَجْرِ .
Perkataan Mushannif: "Pada malam hari," maksudnya adalah di antara waktu maghrib (terbenam matahari) dan terbit fajar.
وَدَلِيْلُ وُجُوْبِ إِيْقَاعِ النِّيَّةِ لَيْلًا ، بِمَعْنَى وُجُوْبِ التَّبْبِيْتُ ؛ قَوْلُهُ ﷺ : « مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ » رَوَاهُ الدَّارَ قُطْنِيُّ [ ۱۷۱/۲ ، رقم : ١؛ سنن البيهقي » ، رقم : ٧٧٠١ ، ٢٠٣/٤ ] أَيْ فَلَا صِيَامٌ لَهُ صَحِيْحٌ
Dalil wajibnya meletakkan niat pada malam hari, dalam artian wajibnya tabyīt, adalah sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni 2/171, nomor: 1; Sunan Al-Baihaqi, nomor: 7701, 4/203]. Maksudnya tidak ada puasa yang sah baginya.
وَالْمُرَادُ تَبْيِيْتُهَا إِيْقَاعًا فِي جُزْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ اللَّيْلِ مِنَ الْغُرُوبِ إِلَى الْفَجْرِ . وَقَوْلُهُ ﷺ : « مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ » [الدارقطني ، ۱۷۳/۲ ، رقم : ٤ ؛ البيهقي ، رقم : ٧٦٩٦ ، ٢٠٢/٤ ]
Yang dimaksud dengan tabyīt adalah meletakkan niat pada salah satu bagian waktu malam, mulai dari terbenam matahari sampai fajar. Dan sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang tidak memantapkan (ajma'a) puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." [Ad-Daraquthni, 2/173, nomor: 4; Al-Baihaqi, nomor: 7696, 4/202].
قَوْلُهُ : « لَمْ يُجْمِعْ » بِضَمِّ اليَاءِ وَسُكُونِ الجِيمِ ، أَوْ بِفَتْحِ الْيَاءِ وَالْمِيْمِ ؛ مَعْنَاهُ : مَنْ لَمْ يَعْزِمْ عَلَى الصِّيَامِ فَيَنْوِيْهِ
Kata "lam yujmi'" (لَمْ يُجْمِعْ) dengan mendommahkan huruf ya dan mensukunkan huruf jim, atau dengan memfathahkan huruf ya dan mim; maknanya adalah: Barangsiapa yang tidak bertekad kuat ('azama) untuk berpuasa lalu ia meniatkannya.
وَأَقَلُّ النِّيَّةِ فِي رَمَضَانَ : « نَوَيْتُ الصَّوْمَ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ » ، فَلَا بُدَّ مِنَ الإِثْيَانِ بِقَوْلِهِ : « مِنْ رَمَضَانَ » ، لِأَنَّ التَّعْبِيْنَ شَرْطُ فِي نِيَّةِ صَوْمِ الْفَرْضِ ، وَلَا يَحْصُلُ إِلَّا بِذَلِكَ لَا بِمُجَرَّدِ ذِكْرِ الْغَدِ ، فَإِنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا كَانَ أَكْمَلَ ؛
Kadar minimal niat di bulan Ramadhan adalah: "Nawaitu ash-shauma ghadan min Ramadhāna" (Aku niat puasa esok hari dari bulan Ramadhan). Maka wajib mendatangkan perkataan "Min Ramadhāna", karena penentuan (ta'yīn) adalah syarat dalam niat puasa fardu, dan itu tidak tercapai kecuali dengan sebutan tersebut, bukan sekadar menyebut hari esok (ghad). Jika ia menggabungkan keduanya (hari esok dan Ramadhan), maka itu lebih sempurna.
فَالْغَدُ مِثَالُ لِلتَّنْبِيْتِ ، وَلَا يَجِبُ التَّعَرُّضُ لَهُ وَلَا يَحْصُلُ بِهِ تَعْيِينٌ ؛ وَرَمَضَانُ مِثَالُ لِلتَّعْبِيْنِ
Kata "Ghadan" (esok hari) adalah contoh untuk syarat tabyīt, namun tidak wajib menyebutkannya dan tidak menghasilkan penentuan (ta'yīn). Sedangkan "Ramadhāna" adalah contoh untuk syarat penentuan (ta'yīn).
وَلَا يُشْتَرَطُ التَّعَرُّضُ لِلْفَرْضِيَّةِ وَلَا الأَدَاءِ وَلَا الْإِضَافَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ، وَلَا تَعْيِينُ السَّنَةِ ؛ فَإِنْ عَيَّنَهَا وَأَخْطَأَ ، فَإِنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا لمْ يَصِحَ لِتَلَاعُبِهِ ، وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا صَحَّ
(Lanjutan pembahasan niat): Tidak disyaratkan menyebutkan kefarduan (al-fardhiyyah), tidak pula menyebutkan ada' (pelaksanaan pada waktunya), tidak pula penyandaran kepada Allah Ta’ala (al-idhafah ilallah), dan tidak pula menentukan tahunnya. Jika ia menentukan tahunnya lalu salah, maka jika ia sengaja dan tahu (akan kesalahannya) maka tidak sah karena ia dianggap bermain-main, namun jika ia lupa atau bodoh (tidak tahu) maka sah.
وَأَكْمَلُهَا أَنْ يَقُوْلَ : ( نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ » ، بِإِضَافَةِ » رَمَضَانَ » إِلَى اسْمِ الإِشَارَةِ ، لِتَكُوْنَ الْإِضَافَةُ مُعَيَّنَةٌ لِكَوْنِهِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ
Dan niat yang paling sempurna adalah ia mengucapkan: "Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi Ramadhāna hādzihis sanati" (Aku niat puasa esok hari untuk menunaikan fardu Ramadhan tahun ini), dengan menyandarkan kata "Ramadhan" kepada kata tunjuk (ism al-isyarah), agar penyandaran tersebut menjadi penentu bahwa itu adalah Ramadhan tahun ini.
وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ بَعْدَ ذَلِكَ : « إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا لِلَّهِ تَعَالَى )
Dan disunnahkan mengucapkan setelah itu: "īmānan wahtisāban lillāhi ta'ālā" (Karena iman dan mengharap pahala karena Allah Ta’ala).
وَلَوْ تَسَخَّرَ لِيَصُوْمَ ، أَوْ شَرِبَ لِدَفْعِ الْعَطَشِ عَنْهُ نَهَارًا ، أَوِ امْتَنَعَ مِنَ الأَكْلِ أَوِ الشَّرْبِ أَوِ الْجِمَاعِ خَوْفَ طُلُوعِ الْفَجْرِ ، كَانَ نِيَّةٌ إِنْ خَطَرَ الصَّوْمُ بِبَالِهِ بِصِفَاتِهِ الشَّرْعِيَّةِ ، لِتَضَمُّنِ كُلٌّ مِنْهَا قَصْدَ الصَّوْمِ .
Seandainya seseorang makan sahur agar bisa berpuasa, atau minum untuk mencegah haus di siang hari, atau menahan diri dari makan, minum, atau jimak karena takut terbit fajar, maka hal itu sudah menjadi niat jika terbetik di pikirannya tentang puasa dengan sifat-sifat syariatnya, karena setiap tindakan tersebut mengandung maksud untuk berpuasa.
وَثَانِيهَا : تَرْكُ مُفَطَّرٍ ، مِنْ وُصُوْلِ عَيْنٍ لِمَنْفَذ مَفْتُوْحٍ مِنْ جَوْفٍ ، كَتَنَاوُلِ طَعَامٍ وَإِنْ قَلَّ ، كَسِمْسِمَةٍ وَنُقْطَةِ مَاءٍ وَإِدْخَالِ الشَّيْء فِي الْفَمِ ، أَوْ فِيْ مَخْرَجِ غَيْرِهِ ، كَإِدْخَالِ عُوْدٍ فِي أُذُنِ أَوْ جِرَاحَةٍ ؛
Kedua: Meninggalkan hal yang membatalkan puasa, yaitu masuknya suatu benda ('ain) ke lubang yang terbuka (manfadz maftūh) sampai ke bagian dalam (jauf), seperti mengonsumsi makanan meskipun sedikit, seperti biji wijen atau setetes air, dan memasukkan sesuatu ke dalam mulut atau ke lubang lainnya, seperti memasukkan korek kuping ke telinga atau ke luka (yang dalam).
وَمَنِ اسْتَقَاءَ لِقَوْلِهِ ﷺ : « مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ » ، أَيْ : غَلَبَهُ ( وَهُوَ صَائِمٌ ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءُ ، وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ [ رقم : ٣٥١٨ ] وَغَيْرُهُ [ الترمذي ، رقم : ۷۲۰ ؛ أبو داود ، رقم : ۲٣٨٠ ؛ ابن ماجه ، رقم : ١٦٧٦ ؛ « مسند أحمد » ، رقم : ١٠٠٨٥ ؛ الدارمي ، رقم : ۱۷۲۹ ]
Dan barangsiapa yang menyengaja muntah (maka batal), berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang didesak oleh muntah (muntah tanpa sengaja) saat ia sedang berpuasa, maka tidak ada kewajiban qadha baginya, namun barangsiapa yang menyengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya)." [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban nomor: 3518, dan lainnya: At-Tirmidzi nomor: 720; Abu Daud nomor: 2380; Ibnu Majah nomor: 1676; Musnad Ahmad nomor: 10085; Ad-Darimi nomor: 1729].
وَمِنْ إِدْخَالِ كُلِّ الْحَشَفَةِ أَوْ قَدْرِهَا مِنْ فَاقِدِهَا ، فَلَا يُفْطِرُ بِإِدْخَالِ بَعْضِهَا بِالنِّسْبَةِ لِلْوَاطِئِ ، وَأَمَّا الْمَوْطُوْءُ فَيُفْطِرُ بِإِدْخَالِ الْبَعْضِ ، لِأَنَّهُ قَدْ وَصَلَتْ عَيْنٌ جَوْفَهُ ، فَهُوَ مِنْ هَذِهِ الْجِهَةِ لَا مِنْ جِهَةِ الْوَطْءِ
Termasuk (hal yang membatalkan) adalah memasukkan seluruh bagian kepala zakar (hasyafah) atau seukuran itu bagi yang tidak memilikinya, maka tidak batal jika memasukkan hanya sebagian (hasyafah) bagi orang yang menjimak (laki-laki). Adapun bagi yang dijimak (perempuan), maka ia batal puasanya hanya dengan masuknya sebagian (hasyafah), karena telah sampai suatu benda ke dalam lubangnya, maka dari sisi inilah ia batal, bukan dari sisi jimaknya semata.
وَمِنْ إِنْزَالِ الْمَنِي بِلَمْسِ بَشَرَةٍ بِشَهْوَةٍ ، كَالْوَطْءِ بِلَا إِنْزَالٍ ، بَلْ أَوْلَى ، لأَنَّ الإِنْزَالَ هُوَ الْمَقْصُوْدُ بِالْوَطْءِ ، وَلَا يُفْطِرُ بِإِنْزَالٍ فِي نَوْمٍ أَوْ بِنَظَرٍ أَوْ فِكْرٍ أَوْ لَمْسٍ بِلَا شَهْوَةٍ ، أَوْ ضَمَّ أَمْرَأَةٍ إِلَىٰ نَفْسِهِ بِحَائِلٍ
Termasuk (hal yang membatalkan) adalah keluarnya mani sebab bersentuhan kulit dengan syahwat, seperti halnya jimak tanpa keluar mani, bahkan ini lebih utama (untuk membatalkan). Karena keluarnya mani adalah tujuan utama dari jimak. Tidak batal puasa sebab keluar mani karena mimpi, atau sebab memandang, atau sebab berpikir, atau bersentuhan tanpa syahwat, atau memeluk wanita dengan adanya penghalang (kain/pakaian).
ذَاكِرًا لِلصَّوْمِ مُخْتَارًا غَيْرَ جَاهِلٍ مَعْدُورٍ ، وَيُفْطِرُ الصَّائِمُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ إِذَا تَعَمَّدَ وَاخْتَارَ وَعَلِمَ بِتَحْرِيمِهِ أَوْ جَاهِلًا غَيْرَ مَعْذُورٌ
(Syarat batalnya) adalah dalam keadaan ingat sedang berpuasa, atas kemauan sendiri (mukhtar), dan bukan orang bodoh yang dimaafkan (jahil ma'dzur). Seseorang yang berpuasa menjadi batal dengan hal-hal tersebut jika ia menyengaja, memilih sendiri (tidak dipaksa), dan tahu keharamannya, atau ia bodoh namun tidak dimaafkan.
وَلَا يُفْطِرُ بِذَلِكَ مَعَ نِسْيَانٍ أَوْ إِكْرَاهِ ، أَوْ كَانَ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ مَعْدُورًا ، بِأَنْ قَرُبَ عَهْدُهُ بِالْإِسْلَامِ ، أَوْ نَشَأَ بَعِيدًا عَنِ الْعُلَمَاءِ ، وَمَعَ غَلَبَةِ الْقَيْءِ ، فَالاسْتِقَاءَةُ مَفْطَرَةٌ ، وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ شَيْءٌ إِلَى جَوْفِهِ بِهَا ، فَهِيَ مُفَطَّرَةٌ لِعَيْنِهَا ، لَا لِعَوْدِ شَيْءٍ مِنَ الْقَيْءِ
Tidak batal sebab hal-hal tersebut jika disertai lupa, atau dipaksa, atau ia bodoh akan keharamannya namun dimaafkan, misalnya baru masuk Islam atau tumbuh besar jauh dari para ulama. Begitu juga tidak batal jika muntah secara tidak sengaja (terdesak muntah). Adapun menyengaja muntah (istisqā'ah) itu membatalkan, meskipun ia tahu bahwa tidak ada sesuatu yang kembali masuk ke dalam perutnya, karena ia batal sebab perbuatan muntahnya itu sendiri, bukan karena adanya sesuatu yang kembali masuk.
فُرُوْعٌ : وَيَنْبَغِي الاحْتِرَازُ حَالَةَ الاسْتِنْجَاءِ ، لِأَنَّهُ مَتَى أَدْخَلَ طَرَفَ أَصْبُعِهِ دُبُرَهُ أَفْطَرَ ، وَلَوْ أَدْنَى شَيْءٍ مِنْ رَأْسِ الْأُنْمُلَةِ ، وَكَذَا لَوْ فَعَلَ بِهِ غَيْرُهُ ذَلِكَ بِإِذْنِهِ ، وَمِثْلُهُ مَا لَوْ أَدْخَلَتِ الأُنْثَى أَصْبُعَهَا فَرْجَهَا حَالَةَ ذَلِكَ أَفْطَرَتْ ، إِذْ لَا يَجِبُ عَلَيْهَا إِلَّا غَسْلُ مَا ظَهَرَ ؛
Cabang Masalah (Furu'): Hendaknya berhati-hati saat sedang beristinja (cebok), karena kapan pun seseorang memasukkan ujung jarinya ke duburnya (lubang belakang) maka ia batal, meskipun hanya sedikit dari ujung ruas jarinya. Begitu juga jika orang lain melakukan hal itu kepadanya dengan izinnya. Serupa dengan itu, jika seorang wanita memasukkan jarinya ke dalam kemaluannya saat istinja, maka ia batal, karena kewajiban baginya hanyalah membasuh bagian yang nampak saja.
وَلَوْ طَعَنَ نَفْسَهُ أَوْ طَعَنَهُ غَيْرُهُ بِإِذْنِهِ ، فَوَصَلَ السِّكِّيْنُ جَوْفَهُ ، أَوْ أَدْخَلَ فِي إِحْلِيْلِهِ أَوْ أُذُنِهِ عُوْدًا ، فَوَصَلَ إِلَى الْبَاطِنِ أَفْطَرَ .
Dan seandainya seseorang menusuk dirinya sendiri atau orang lain menusuknya dengan izinnya, lalu pisau itu sampai ke bagian dalam perutnya, atau ia memasukkan kayu ke dalam saluran kencingnya atau telinganya lalu sampai ke bagian dalam, maka ia batal puasanya.
وَالإِحْلِيْلُ ، بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ : مَخْرَجُ اللَّبَنِ مِنَ الثَّدْيِ ، وَمَخْرَجُ الْبَوْلِ أَيْضًا
Dan al-ihlīl, dengan mengkasrahkan hamzah: tempat keluarnya susu dari payudara, dan tempat keluarnya air kencing juga.
هَذَا إِنْ لَمْ يَتَوَفَّفْ خُرُوْجُ نَحْوِ الْخَارِجِ عَلَى إِدْخَالِ أَصْبُعِهِ فِي دُبُرِهِ ، وَإِلَّا أَدْخَلَهُ وَلَا فِطْرَ .
Hal ini jika keluarnya kotoran tidak bergantung pada pemasukan jarinya ke dalam dubur, jika tidak (bisa keluar kecuali dengan bantuan jari), maka ia memasukkannya dan tidak batal.
قَالَ الأُجْهُورِيُّ عَلَى الْخَطِيبِ : وَمِثْلُ الْأَصْبُعِ غَائِطٌ خَرَجَ مِنْهُ وَلَمْ يَنْفَصِلْ ، ثُمَّ ضَمَّ دُبُرَهُ ، فَدَخَلَ مِنْهُ شَيْءٌ إِلَى دَاخِلِهِ ، فَيُفْطِرُ ؛ حَيْثُ تَحَقَّقَ دُخُوْلُ شَيْءٍ مِنْهُ بَعْدَ بُرُوزِهِ ، لِأَنَّهُ خَرَجَ مِنْ مَعْدِنِهِ مَعَ عَدَمٍ حَاجَتِهِ إِلَى الضَّمِّ ؛ وَبِهِ يُفَارِقُ مَقْعَدَةَ الْمَبْسُوْرِ ، أَفْتَى بِذَلِكَ شَيْخُ شَيْخِنَا الْعَلَامَةُ مَنْصُورُ الطَّبَلَاوِيُّ
Al-Ujhurī berkata atas Al-Khathīb: Dan semisal jari adalah kotoran yang keluar darinya dan belum terpisah sama sekali, kemudian ia merapatkan duburnya, maka masuklah sesuatu darinya ke arah dalam, maka ia batal; sekiranya telah nyata masuknya sesuatu darinya setelah nampaknya kotoran itu, karena kotoran itu keluar dari tempat asalnya serta tidak adanya kebutuhan untuk merapatkan dubur; dan dengan hal itu berbeda dengan kondisi anus penderita wasir (al-mabsūr), demikian difatwakan oleh gurunya guru kami Al-'Allamah Manshūr Ath-Thablāwī.
وَلَوْ كَانَ بِرَأْسِهِ مَأْمُوْمَةٌ ، أَيْ : شَجَّةٌ ، فَوَضَعَ عَلَيْهَا دَوَاءٌ فَوَصَلَ خَرِيْطَةَ الدِّمَاءِ ، أَفْطَرَ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ بَاطِنَ الْخَرِيْطَةِ .
Dan seandainya pada kepalanya terdapat luka ma'mūmah, yaitu: luka kepala yang dalam, lalu ia meletakkan obat di atasnya kemudian sampai ke selaput darah, maka ia batal meskipun tidak sampai ke bagian dalam selaput tersebut.
وَمِثْلُ ذَلِكَ الأَمْعَاءُ ، أَيْ : الْمَصَارِينُ ؛ فَلَوْ وَضَعَ عَلَى جَائِفَةٍ بِبَطْنِهِ دَوَاءٌ ، فَوَصَلَ جَوْفَهُ ، أَفْطَرَ وَإِنْ لَمْ يَصِلْ بَاطِنَ الْأَمْعَاءِ
Dan semisal hal itu adalah amandel (usus), yaitu: usus-usus; maka seandainya ia meletakkan obat di atas luka jā'ifah pada perutnya, lalu sampai ke rongganya, maka ia batal meskipun tidak sampai ke bagian dalam usus-usus tersebut.
قَالَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ : وَالْجَائِفَةُ، هِيَ : الْجُرْحُ الْمُتَّصِلُ بِالْبَاطِنِ .
Guru kami Ahmad An-Nahrāwī berkata: Dan al-jā'ifah adalah: luka yang menyambung sampai ke batin (rongga dalam).
أَعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْعَيْنِ الدُّخَانُ الْحَادِثُ أَلَانَ ، الْمُسَمَّى بِالثُّتُنِ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ أَحْدَثَهُ ، فَإِنَّهُ مِنَ الْبَدَعِ الْقَبِيحَةِ ؛ فَيُفْطِرُ بِهِ . وَقَدْ أَفْتَى الزَّيَّادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ ، لِأَنَّهُ إِذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوْصَةِ الَّتِي يُشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ .
Ketahuilah bahwa termasuk kategori benda ('ain) adalah asap yang baru muncul sekarang, yang dinamakan dengan tutun (rokok), semoga Allah melaknat orang yang mengadakannya, karena sesungguhnya itu termasuk bidah yang buruk; maka ia membatalkan puasa dengannya. Dan sungguh Az-Zayādī pada mulanya memfatwakan bahwasanya rokok tidak membatalkan puasa, karena pada saat itu ia belum mengetahui hakikatnya, maka ketika ia melihat bekasnya pada pipa yang digunakan untuk meminumnya (merokok), ia rujuk dan memfatwakan bahwasanya rokok membatalkan puasa.
وَلَوْ خَرَجَتْ مِقْعَدَةُ الْمَبْسُوْرِ ثُمَّ عَادَتْ لَمْ يُفْطِرْ ، وَكَذَا إِنْ أَعَادَهَا عَلَى الْأَصَحُ لِاضْطِرَارِهِ إِلَيْهِ
Seandainya keluar anus penderita wasir (al-mabsūr) kemudian kembali masuk (dengan sendirinya), maka ia tidak batal. Begitu pula jika ia yang memasukkannya kembali menurut pendapat yang paling sah (al-ashah) karena faktor keterpaksaan (idhtirar).
وَلَوْ أَصْبَحَ وَفِي فَمِهِ خَيْطٌ مُتَّصِلٌ بِجَوْفِهِ تَعَارَضَ عَلَيْهِ الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ ، لِبُطْلَانِهِ بِابْتِلَاعِهِ ، لِأَنَّهُ أَكَلَ عَمْدًا ، وَبِنَزْعِهِ ، لِأَنَّهُ اسْتِقَاءَةٌ ، وَبُطْلَانُهَا بِبَقَائِهِ ، لِاِتَّصَالِهِ بِنَجَاسَةِ الْبَاطِنِ
Seandainya seseorang masuk waktu pagi dan di dalam mulutnya terdapat benang yang bersambung ke bagian dalamnya (jauf), maka terjadilah pertentangan antara kepentingan puasa dan shalat; karena puasanya batal jika ia menelan benang tersebut sebab ia dianggap makan dengan sengaja, dan batal juga jika ia mencabutnya sebab itu dianggap menyengaja muntah (istiqā’ah), sedangkan shalatnya batal jika benang itu tetap dibiarkan karena ia bersambung dengan najis yang ada di bagian dalam (bāthin).
قَالَ الزَّرْكَشِيُّ : وَجَبَ عَلَيْهِ نَزْعُهُ أَوِ ابْتِلَاعُهُ مُحَافَظَةٌ عَلَى الصَّلَاةِ ، لِأَنَّ حُكْمَهَا أَغْلَظُ مِنْ حُكْمِ الصَّوْمِ ، لِقَتْلِ تَارِكِهَا دُوْنَهُ ، وَلِهَذَا لَا تُتْرَكُ بِالْعُذْرِ ، بِخِلَافِهِ بِهِ ؛ هَذَا إِذَا لَمْ يَتَأَنَّ لَهُ قَطْعُ الْخَيْطِ مِنْ حَدَّ الظَّاهِرِ مِنَ الْفَمِ ، فَإِنْ تَأَنَّى وَجَبَ الْقَطْعُ ، وَابْتَلَعَ مَا فِي حَدَّ الْبَاطِنِ وَأَخْرَجَ مَا فِي حَدٌ الظَّاهِرِ ؛ وَإِذَا رَاعَى مَصْلَحَةَ الصَّلَاةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَلِعَ الْخَيْطَ وَلَا يُخْرِجَهُ لِئَلَّا يُؤَدِّي إِلَى تَنْجِيْسِ فَمِهِ .
Az-Zarkasyī berkata: Wajib baginya untuk mencabut benang itu atau menelannya demi menjaga (keabsahan) shalat, karena hukum shalat lebih berat daripada hukum puasa; sebab orang yang meninggalkan shalat dibunuh sedangkan orang yang tidak puasa tidak dibunuh, dan karena itulah shalat tidak boleh ditinggalkan meski ada udzur, berbeda halnya dengan puasa. Hal ini berlaku jika ia tidak memungkinkan untuk memotong benang tersebut dari batas luar mulut. Jika memungkinkan, maka wajib memotongnya, lalu ia menelan bagian yang ada di batas dalam dan mengeluarkan bagian yang ada di batas luar; dan jika ia mempertimbangkan kemaslahatan shalat maka seyogianya ia menelan benang tersebut dan tidak mengeluarkannya agar tidak menyebabkan mulutnya menjadi najis.
قَالَ الزَّيَّادِيُّ : وَالْبَاطِنُ مِنَ الْحَلْقِ : مَخْرَجُ الْهَمْزَةِ وَالْهَاءِ دُوْنَ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ ، وَكَذَا الْمُهْمَلَةِ عِنْدَ النَّوَوِيِّ . انْتَهَى
Az-Zayādī berkata: Bagian dalam dari tenggorokan adalah tempat keluarnya huruf hamzah dan ha', bukan huruf kha' yang bertitik, begitu juga huruf ha' yang tidak bertitik menurut Imam Nawawi. Selesai.
وَلَوْ أَدْخَلَ دُبُرَهُ أَوْ أُذُنَهُ عُوْدًا ، وَأَصْبَحَ صَائِمًا ، ثُمَّ أَخْرَجَهُ بَعْدَ الْفَجْرِ لَمْ يُفْطِرُ ، لِأَنَّهُ لَمْ يُشْبِهِ الاسْتِقَاءَةَ بِخِلَافِ الْخَيْطِ كَمَا مَرَّ ، وَلَوْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَيْلًا وَأَصْبَحَ صَائِمًا لَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ الاسْتِقَاءَةُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ . وَلَيْسَ مِنَ الاسْتِقَاءَةِ قَطْعُ النُّخَامَةِ عَنِ الْبَاطِنِ إِلَى الظَّاهِرِ ، فَلَا يَضُرُّ عَلَى الْأَصَحُ مُطْلَقًا ، سَوَاءٌ قَلَعَهَا مِنْ دِمَاغِهِ أَمْ مِنْ بَاطِنِهِ ، لِتَكْرَارِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ ، فَيُرَخَّصُ فِيْهِ ؛ أَمَّا لَوْ نَزَلَتْ مِنْ دِمَاغِهِ بِنَفْسِهَا وَاسْتَقَرَّتْ فِي حَدِّ الظَّاهِرِ ، أَوْ
Seandainya seseorang memasukkan kayu ke dalam duburnya atau telinganya, lalu ia masuk waktu pagi dalam keadaan puasa, kemudian ia mencabut kayu tersebut setelah fajar, maka ia tidak batal; karena hal itu tidak menyerupai menyengaja muntah (al-istiqā’ah) berbeda halnya dengan kasus benang sebagaimana telah lewat penjelasannya. Dan seandainya seseorang minum khamr di malam hari lalu masuk waktu pagi dalam keadaan puasa, maka tidak wajib baginya menyengaja muntah menurut pendapat yang kuat (al-mu'tamad). Dan tidaklah termasuk kategori menyengaja muntah tindakan memutus dahak (al-nukhāmah) dari bagian dalam ke bagian luar, maka hal itu tidak membahayakan (tidak membatalkan) menurut pendapat yang paling sah secara mutlak, baik ia mencabutnya dari otaknya maupun dari bagian dalamnya, karena seringnya kebutuhan akan hal itu sehingga diberikan keringanan (rukhshah). Adapun jika dahak itu turun dari otak dengan sendirinya dan menetap di batas luar, atau
كَانَ بِقَلْبِهِ سُعَالٌ ، فَيَرْمِيْ ذَلِكَ ، فَلَا بَأْسَ بِهِ جَزْمًا ، أَوْ بَقِيَ فِي مَحَلَّهِ ؛ فَكَذَلِكَ ؛ فَإِنِ ابْتَلَعَهَا بَعْدَ خُرُوْجِهَا وَاسْتِقْرَارِهَا فِي ذَلِكَ الْحَدِّ أَفْطَرَ جَزْمًا ، فَالْمَطْلُوبُ مِنْهُ حِينَئِذٍ أَنْ يَقْطَعَهَا مِنْ مَجْرَاهَا وَيَمُجَّهَا إِنْ أَمْكَنَ حَتَّى لَا يَصِلَ مِنْهَا شَيْءٌ إِلَى الْبَاطِنِ .
...seandainya di dalam hatinya ada keinginan untuk batuk, lalu ia membuang dahak tersebut, maka tidaklah mengapa (tidak batal) secara pasti (jazman), atau jika dahak itu tetap di tempatnya maka demikian juga (tidak batal). Namun jika ia menelannya kembali setelah dahak itu keluar dan menetap di batas luar tersebut, maka ia batal secara pasti (jazman). Maka yang dituntut darinya saat itu adalah memutus dahak dari jalurnya dan meludahkannya jika memungkinkan agar tidak ada sesuatu pun darinya yang sampai ke bagian dalam.
وَمِنَ الاسْتِقَاءَةِ إِخْرَاجُ ذُبَابَةٍ وَصَلَتْ إِلَى مَخْرَجِ الْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ ، فَيُفْطِرُ بِذَلِكَ مُطْلَقًا ، وَيَجُوْزُ إِخْرَاجُهَا مَعَ الْقَضَاءِ إِنْ ضَرَّهُ بَقَاؤُهَا
Termasuk kategori menyengaja muntah (al-istiqā’ah) adalah mengeluarkan lalat yang telah sampai ke tempat keluarnya huruf Ha' (al-makhraj al-hā’ al-muhmalah), maka ia batal dengan sebab hal itu secara mutlak. Dan boleh mengeluarkannya disertai kewajiban qadha jika keberadaan lalat itu membahayakan dirinya.
ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ الْاسْتِمْنَاءَ بِيَدِهِ أَوْ بِيَدِ زَوْجَتِهِ أَوْ جَارِيَتِهِ يُفْطِرُ بِهِ ، وَلَوْ بِحَائِلٍ ، حَيْثُ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا مُخْتَارًا . وَمَحَلُّ الإِفْطَارِ بِلَمْسِ الْبَشْرَةِ إِذَا كَانَ الْمَلْمُوْسُ يَنْقُضُ لَمْسُهُ الْوُضُوْءَ ، وَلَوْ فَرْجًا مُبَانًا ، حَيْثُ بَقِيَ اسْمُهُ ، أَمَّا مَا لَا يَنْقُضُ لَمْسُهُ ذَلِكَ ، كَمَحْرَمِهِ ، فَلَا يُفْطِرُ بِلَمْسِهِ وَإِنْ أَنْزَلَ ، حَيْثُ فَعَلَ ذَلِكَ لِلشَّفَقَةِ وَالْكَرَامَةِ ، بِخِلَافِ مَا إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ بِشَهْوَةٍ ؛ وَمِثْلُ ذَلِكَ : الْعُضْوُ الْمُبَانُ ، فَلَا يُفْطِرُ بِلَمْسِهِ وَلَوْ بِشَهْوَةٍ ، سَوَاءٌ كَانَ بِحَائِلٍ أَمْ لَا
Kemudian ketahuilah, bahwasanya al-istimnā’ (onani/masturbasi) dengan tangannya sendiri, atau dengan tangan istrinya, atau budak perempuannya, dapat membatalkan puasa, meskipun dengan adanya penghalang (hā’il), sekiranya ia melakukannya dengan sengaja, tahu (hukumnya), dan atas kemauan sendiri. Adapun batasan batal sebab menyentuh kulit adalah jika yang disentuh tersebut termasuk yang membatalkan wudhu jika disentuh, meskipun berupa kemaluan yang sudah terpotong (farjan mubānan) sekiranya masih menetap namanya (sebagai kemaluan). Adapun apa yang tidak membatalkan wudhu sebab menyentuhnya, seperti mahramnya, maka tidak batal sebab menyentuhnya meskipun keluar mani, sekiranya ia melakukan hal itu karena rasa kasih sayang dan pemuliaan, berbeda halnya jika ia melakukan itu karena syahwat. Dan semisal itu: anggota tubuh yang sudah terpisah, maka tidak batal sebab menyentuhnya meskipun dengan syahwat, baik dengan penghalang maupun tidak.
وَمِمَّا لَا يَنْقُضُ لَمْسُهُ الْوُضُوْءَ الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ ، فَلَا يَبْطُلُ صَوْمُ مَنْ أَنْزَلَ بِلَمْسِهِ ، وَإِنْ كَانَ بِشَهْوَةٍ وَبِلَا حَائِلٍ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ مَحَلَّا لِلشَّهْوَةِ ، بِخِلَافِ الْمَحْرَمِ ، فَإِنَّهَا مَحَلُّ لَهَا فِي الْجُمْلَةِ
Dan di antara yang tidak membatalkan wudhu sebab menyentuhnya adalah pemuda rupawan yang belum tumbuh jenggotnya (al-amrad al-jamīl), maka tidak batal puasa orang yang keluar mani sebab menyentuhnya, meskipun dengan syahwat dan tanpa penghalang, karena ia bukan tempat syahwat (secara tabiat), berbeda dengan mahram, karena mahram adalah tempat bagi syahwat secara umum.
ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ الْوَاطِئَ إِنْ عَلَتْ عَلَيْهِ الْمَرْأَةُ وَلَمْ يَحْصُلْ مِنْهُ حَرَكَةٌ وَلَمْ يُنْزِلْ لَمْ يُفْطِرُ ، أَمَّا إِذَا أَنْزَلَ فَإِنَّهُ يَفْسُدُ صَوْمُهُ كَالْإِنْزَالِ بِالْمُبَاشَرَةِ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ ، وَيَبْطُلُ بِهِ صَوْمُ كُلٌّ مِنَ الْفَاعِلِ وَالْمَفْعُوْلِ بِهِ ؛ وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ دُخُولٌ لِجَمِيعِ الْحَشَفَةِ ، لِأَنَّهُ يَصْدُقُ عَلَيْهِ وُصُوْلُ عَيْنٍ إِلَى جَوْفِهِ ؛
Kemudian ketahuilah, bahwasanya orang yang menjimak jika si wanita berada di atasnya dan tidak terjadi gerakan darinya (si laki-laki) serta tidak keluar mani, maka ia tidak batal. Adapun jika keluar mani, maka sesungguhnya puasanya rusak (batal) seperti keluarnya mani sebab persentuhan kulit selain kemaluan, dan batal sebab hal itu puasa masing-masing dari pelaku (fā'il) dan yang dipacu (maf'ūl bih); meskipun tidak terjadi masuknya seluruh kepala penis (hasyafah), karena hal itu sudah membenarkan (istilah) sampainya suatu benda ('ain) ke dalam lubang tubuh (jouf);
وَلَا كَفَّارَةَ عَلَى الرَّجُلِ ، لِعَدَمِ الْفِعْلِ ، بَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ فَقَط . وَتُفْطِرُ الْمَرْأَةُ بِإِدْخَالِهَا ذَكَرًا مُبَانًا وَعَكْسَهُ ، وَلَا شَيْءَ عَلَى صَاحِبِ الْفَرْجِ الْمُبَانِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى ، خِلَافًا لِمَا تَوَهَّمَهُ الْأَغْبِيَاءُ مِنَ الظُّلَّابِ
Dan tidak ada kaffarah bagi laki-laki tersebut, karena tidak adanya perbuatan (dia pasif), melainkan (kaffarah) hanya wajib bagi si wanita saja. Dan wanita tersebut batal sebab memasukkan dzakar (penis) yang sudah terpotong/terpisah, dan begitu juga sebaliknya (laki-laki memasukkan farji yang terpisah), dan tidak ada kewajiban apa-apa bagi pemilik kemaluan yang sudah terpisah tersebut baik laki-laki maupun perempuan, berbeda dengan apa yang disangka oleh para pencari ilmu yang bodoh (al-aghbiyā').
وَثَالِثُهَا : صَائِمٌ. قَالَ السُّوَيْفِيُّ : عَدَّ الصَّائِمَ هُنَا رُكْنًا لِعَدَمٍ وُجُوْدِ صُورَةٍ لِلصَّوْمِ فِي الْخَارِجِ ، كَمَا فِي نَحْوِ الْبَيْعِ ، بِخِلَافِ نَحْوِ الصَّلَاةِ . أَنْتَهَى . أَيْ : لِأَنَّ لَهَا صُوْرَةٌ فِي الْخَارِجِ يُمْكِنُ تَعَلَّقُهَا وَتَصَوُّرُهَا بِدُوْنِ تَعَقُلِ مُصَلِّ
Dan yang ketiga (dari rukun puasa) adalah: Orang yang berpuasa. As-Suwaifi berkata: Beliau (pengarang) menghitung orang yang berpuasa di sini sebagai rukun karena tidak adanya wujud rupa puasa di luar (kenyataan fisik), sebagaimana dalam hal jual beli, berbeda dengan halnya shalat. Selesai. Maksudnya: Karena shalat itu memiliki rupa di luar yang memungkinkan untuk dihubungkan dan digambarkan tanpa harus membayangkan adanya orang yang shalat.
``` ```فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يَجِبُ بِهِ الْكَفَّارَةٌ وَمَا يُذْكَرُ مَعَهَا
Fasal pada menjelaskan perkara yang mewajibkan kaffarah dan apa yang disebutkan bersamanya.
وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ لِلصَّوْمِ الْكَفَّارَةُ الْعُظْمَى ، وَالتَّعْزِيْرُ عَلَى مَنْ أَفْسَدَ صَوْمَهُ فِي رَمَضَانَ يَوْمًا كَامِلًا بِجِمَاعٍ تَامَّ آئِمٍ بِهِ لِلصَّوْمِ
Dan wajib beserta meng-qadha puasa yaitu: Kaffarah al-'Udzma (denda besar), dan Ta'zir (hukuman edukatif) atas siapa saja yang merusak puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab jimak yang sempurna lagi berdosa sebab jimak tersebut bagi puasanya.
(١) لَمْ تُخَاطَبِ الْمَرْأَةُ فِي الْكَفَّارَةِ بَلْ الرَّجُلُ . عِصَامٌ .
(1) Wanita tidak diajak bicara (tidak dibebankan) dalam urusan kaffarah, melainkan laki-laki. 'Ishām.
أيْ لِأَجْلِهِ فَقَطْ ، فَلَا كَفَّارَةَ عَلَى مَنْ أَفْسَدَهُ بِغَيْرِ جِمَاعٍ كَأَكْلٍ أَوِ اسْتِمْنَاءِ
maksudnya karena puasa itu sendiri saja, maka tidak ada kaffarah bagi orang yang merusak puasanya dengan selain jimak seperti makan atau onani (istimnā’).
وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا لَوْ أَفْسَدَهُ بِجِمَاعٍ مَعَ غَيْرِهِ ، فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ ، سَوَاءٌ تَقَدَّمَ ذَلِكَ الْغَيْرُ عَلَى الْجِمَاعِ أَوْ قَارَنَهُ ، فَتَسْقُطُ الْكَفَّارَةُ تَقْدِيمًا لِلْمَانِعِ عَلَى الْمُقْتَنِي
Dan semisal itu adalah keadaan seandainya ia merusak puasanya dengan jimak disertai perkara lainnya (seperti makan), maka tidak ada kaffarah baginya, baik perkara lain itu mendahului jimaknya atau bersamaan dengannya, maka gugurlah kaffarahnya karena mendahulukan perkara yang mencegah (mani') atas perkara yang menuntut (muqtadhī).
وَلَا كَفَّارَةَ أَيْضًا عَلَى مَنْ أَفْسَدَهُ بِجِمَاعِ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ ، كَنَذْرٍ وَقَضَاءِ ، وَلَا عَلَى مُسَافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ يُبِيحُ الْفِطْرَ أَفْطَرَ بِالزِّنَا ، لِأَنَّ إِثْمَهُ لَيْسَ لِلصَّوْمِ وَحْدَهُ ، بَلْ لَهُ مَعَ الزِّنَا
Dan tidak ada kaffarah juga bagi orang yang merusak puasanya dengan jimak pada selain bulan Ramadhan, seperti puasa nazar dan qadha; dan tidak juga (wajib kaffarah) atas musafir dengan perjalanan qashar yang membolehkan berbuka lalu ia berbuka dengan sebab zina, karena dosanya bukan karena puasa itu semata, melainkan baginya dosa beserta dosa zinanya seandainya ia tidak berniat mengambil keringanan (tarakhkhuṣ) dengan berbukanya itu.
إِنْ لَمْ يَنْوِ بِفِطْرِهِ التَّرَخُصَ ، أَيْ : ارْتِكَابَ الرُّخَصِ ؛ إِذِ الْفِطْرُ لَا يُبَاحُ إِلَّا بِتِلْكَ النِّيَّةِ ؛ فَإِنْ نَوَى ذَلِكَ كَانَ إِثْمُهُ لِلزِّنَا وَحْدَهُ لَا لِلصَّوْمِ ، لِأَنَّ الْفِطْرَ جَائِلٌ ، وَلَا كَفَّارَةَ عَلَى كِلَا الْحَالَيْنِ ؛ بِخِلَافِ مَنْ أَصْبَحَ مُقِيمًا ثُمَّ سَافَرَ وَوَطِئَ ، فَتَلْزَمُهُ الْكَفَّارَةُ
Maksudnya: Melakukan rukhshah-rukhshah; karena berbuka (bagi musafir) tidaklah diperbolehkan kecuali dengan niat tersebut (niat mengambil rukhshah); maka jika ia berniat demikian maka dosanya hanya untuk zinanya saja bukan karena puasanya, karena berbuka itu boleh (baginya), dan tidak ada kaffarah atas kedua keadaan tersebut; berbeda dengan orang yang di pagi hari berstatus mukim kemudian ia bepergian lalu melakukan hubungan intim (waṭ’i), maka ia wajib membayar kaffarah.
قَوْلُهُ : « تَامٌ » ، وَقَدْ ذَكَرَهُ الْغَزَالِيُّ لِلاحْتِرَازِ عَنِ الْمَرْأَةِ ، فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهَا الْكَفَّارَةُ ، لِأَنَّهَا تُفْطِرُ بِمُجَرَّدِ دُخُوْلِ بَعْضِ الْحَشَفَةِ . قَالَهُ الْحِصْنِيُّ
Perkataan Mushannif: [تَامٌ] (sempurna), sesungguhnya Imam Al-Ghazali menyebutkan hal itu untuk mengecualikan wanita, karena wanita tidak wajib membayar kaffarah sebab ia telah berbuka (batal) hanya dengan sekadar masuknya sebagian kepala penis (hasyafah). Hal ini dikatakan oleh Al-Hisni.
قَالَ السُّوَيْفِيُّ : قَوْلُهُ : « آثِم » بِالْمَدِّ ، بِصِيْغَةِ اسْمِ الْفَاعِلِ . أَنْتَهَى
As-Suwaifi berkata: Perkataan Mushannif: [آثِم] dengan mad (bacaan panjang), dengan bentuk isim fa’il. Selesai.
وَالْحَاصِلُ أَنَّ شُرُوْطَ وُجُوْبِ الْكَفَّارَةِ أَحَدَ عَشَرَ :
Kesimpulannya adalah bahwa syarat-syarat wajibnya kaffarah ada sebelas:
الأَوَّلُ : الْوَاطِيُّ ، فَخَرَجَ بِهِ الْمَوْطُوْءُ ، فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ
Pertama: Orang yang menyetubuhi (al-wāṭī), maka dikecualikan darinya orang yang disetubuhi (al-mauṭū’), maka tidak wajib kaffarah atasnya.
الثَّانِي : وَطْءٌ مُفْسِدٌ ، فَلَا تَجِبُ إِلَّا إِذَا كَانَ الْوَطْءُ مُفْسِدًا ، بِأَنْ يَكُوْنَ مِنْ عَامِدٍ ذَاكِرٍ لِلصَّوْمِ مُخْتَارٍ عَالِمٍ بِتَحْرِيمِهِ ، وَإِنْ جَهِلَ وُجُوْبَ الْكَفَّارَةِ ، أَوْ مِنْ جَاهِلٍ غَيْرِ مَعْدُوْرٍ
Kedua: Persetubuhan yang merusak (puasa), maka tidak wajib kaffarah kecuali jika persetubuhan itu merusak puasa, yaitu jika dilakukan oleh orang yang sengaja, ingat sedang berpuasa, atas kemauan sendiri, serta tahu akan keharamannya, meskipun ia bodoh (tidak tahu) tentang wajibnya kaffarah, atau dilakukan oleh orang bodoh yang tidak dimaklumi (ghoiru ma’dzūr).
الثَّالِثُ : إِفْسَادُ صَوْمٍ ، خَرَجَ بِهِ الصَّلَاةُ وَالاعْتِكَافُ ، فَلَا تَجِبُ الْكَفَّارَةُ بِإِفْسَادِهِمَا
Ketiga: Merusak puasa, maka dikecualikan darinya shalat dan iktikaf (yang dirusak sebab jimak), maka tidak wajib kaffarah puasa dengan sebab merusak keduanya.
الرَّابِعُ : أَنْ يُفْسِدَ صَوْمَ نَفْسِهِ ؛ خَرَجَ بِهِ مَا لَوْ أَفْسَدَ صَوْمَ غَيْرِهِ وَلَوْ فِي رَمَضَانَ ، كَأَنْ وَطِئَ مُسَافِرٌ أَوْ نَحْوُهُ امْرَأَتَهُ فَأَفْسَدَ صَوْمَهَا
Keempat: Ia merusak puasa dirinya sendiri; maka dikecualikan darinya seandainya ia merusak puasa orang lain meskipun di bulan Ramadhan, seperti seorang musafir atau sejenisnya yang menyetubuhi istrinya lalu merusak puasa si istri tersebut.
الْخَامِسُ : فِي رَمَضَانَ ، وَإِنِ انْفَرَدَ بِالرُّؤْيَةِ أَوْ أَخْبَرَهُ مَنْ يَثِقُ بِهِ ، أَوْ مَنِ اعْتَقَدَ صِدْقَهُ
Kelima: Terjadi di bulan Ramadhan, meskipun ia sendirian dalam melihat hilal, atau ia dikabarkan oleh orang yang ia percayai, atau orang yang ia yakini kebenarannya.
السَّادِسُ : بِجَمَاعٍ ، وَلَوْ لِوَاطًا ، أَوْ إِنْيَانَ بَهِيمَةٍ أَوْ مَيْتٍ ، وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ . قَالَهُ الزَّيَّادِيُّ
Keenam: Dengan sebab jimak (persetubuhan), meskipun berupa liwat (sodomi), atau menyetubuhi binatang, atau mayat, walaupun tidak keluar mani. Hal ini dikatakan oleh Az-Zayyadi.
السَّابِعُ : أَنْ يَكُوْنَ آئِمًا بِجَمَاعِهِ . فَخَرَجَ بِهِ مَا لَوْ كَانَ صَبِيًّا ، وَكَذَا لَوْ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ مَرِيضًا وَجَامَعَ بِنِيَّةِ التَّرَخُصِ ، فَإِنَّهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ
Ketujuh: Keadaannya berdosa dengan sebab jimaknya tersebut. Maka dikecualikan darinya seandainya ia adalah seorang anak kecil (shabi), dan begitu juga seandainya ia seorang musafir atau orang sakit lalu ia berjimak dengan niat mengambil keringanan (tarakhkhuṣ), maka sesungguhnya tidak ada dosa atasnya.
الثَّامِنُ : أَنْ يَكُوْنَ إِثْمُهُ لِأَجْلِ الصَّوْمِ فَقَطْ
Kedelapan: Bahwasanya dosanya itu semata-mata karena (merusak) puasa saja.
التَّاسِعُ : أَنْ يُفْسِدَ صَوْمَ يَوْمٍ ، وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِاسْتِمْرَارِهِ أَهْلًا لِلصَّوْمِ بَقِيَّةَ الْيَوْمِ ، فَخَرَجَ مَا لَوْ وَطِئَ بِلَا عُذْرٍ ، ثُمَّ جُنَّ أَوْ مَاتَ فِي الْيَوْمِ ، لِأَنَّهُ بَانَ أَنَّهُ لَمْ يُفْسِدْ صَوْمَ يَوْمٍ
Kesembilan: Ia merusak puasa satu hari (penuh), dan diungkapkan hal itu dengan keberlangsungannya sebagai orang yang ahli (sah) untuk berpuasa di sisa hari tersebut. Maka dikecualikan keadaan seandainya ia berjimak tanpa uzur, kemudian ia menjadi gila atau mati pada hari itu, karena menjadi jelas bahwa ia tidaklah merusak puasa satu hari penuh.
الْعَاشِرُ : عَدَمُ الشَّبْهَةِ . فَخَرَجَ مَا لَوْ ظَنَّ وَقْتَ الْوَطْءِ بَقَاءَ اللَّيْلِ أَوْ دُخُوْلَهُ ، أَوْ شَكٍّ فِي أَحَدِهِمَا ، فَبَانَ نَهَارًا ، أَوْ أَكَلَ نَاسِيًا وَظَنَّ أَنَّهُ أَفْطَرَ بِهِ ثُمَّ وَطِئَ عَامِدًا
Kesepuluh: Tidak adanya syubhat (keraguan). Maka dikecualikan keadaan seandainya ia menyangka saat jimak masih malam atau sudah masuk malam (maghrib), atau ia ragu pada salah satunya, lalu ternyata jelas (masih) siang hari. Atau ia makan karena lupa dan menyangka bahwa ia telah berbuka (batal) sebab makan tersebut, kemudian ia berjimak dengan sengaja.
الْحَادِي عَشَرَ : كَوْنُ الْوَطْءِ يَقِيْنَا فِي رَمَضَانَ . خَرَجَ بِهِ مَا لَوِ اشْتَبَهَ الْحَالُ ، وَصَامَ بِتَحَرٌ ، أَيْ : بِاجْتِهَادٍ ، وَوَطِئَ وَلَمْ يَيْنِ الْحَالُ ، فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ
Kesebelas: Keberadaan jimak tersebut yakin terjadi di bulan Ramadhan. Dikecualikan darinya seandainya keadaannya samar/ragi, lalu ia berpuasa dengan tahrri (berupaya mencari tahu/ijtihad) dan berjimak namun tidak jelas kenyataannya, maka tidak ada kaffarah atasnya.
وَالْكَفَّارَةُ : إِعْتَاقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ بِلَا عِوَضٍ سَلِيْمَةٍ عَنْ عَيْبٍ يُحِلُّ بِالْعَمَلِ لِيَقُوْمَ بِكِفَايَتِهِ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الرَّقَبَةِ وَجَبَ صَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ ، وَيَنْقَطِعُ التَّتَابِعُ بِالإِفْطَارِ ، وَلَوْ بِعُذْرٍ ، إِلَّا نَحْوة حَيْضِ ؛ فَإِنْ عَجَزَ عَنْ صَوْمِهِمَا وَجَبَ إِطْعَامُ سِيِّيْنَ مِسْكِيْنًا ، لِكُلِّ مِنْهُمْ مُدٌ مِنْ غَالِبِ قُوْتِ الْبَلَدِ الْمُجْزِي فِي الْفِطْرَةِ
Adapun kaffarahnya adalah: Memerdekakan budak mukmin tanpa imbalan yang selamat dari cacat yang mengganggu pekerjaan sehingga ia bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Jika ia tidak mampu memerdekakan budak, maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut, dan terputuslah urutan berturut-turutnya itu dengan sebab berbuka, meskipun karena uzur, kecuali seperti uzur haid. Jika ia tidak mampu berpuasa dua bulan, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin, untuk masing-masing mereka satu mud dari makanan pokok daerah setempat yang mencukupi dalam zakat fitrah.
وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ الإِمْسَاكُ لِلصَّوْمِ فِي سِتَّةِ مَوَاضِعَ :
Dan wajib beserta meng-qadha, melakukan imsak demi puasa pada enam tempat:
الأَوَّلُ : فِي رَمَضَانَ لَا فِي غَيْرِهِ ، كَنَذْرٍ وَقَضَاء وَكَفَّارَةٍ عَلَى مُتَعَدِّ بِفِطْرِهِ ، لِتَعَدِّيْهِ بِإِفْسَادِهِ .
Pertama: Di bulan Ramadhan, bukan pada selainnya seperti puasa nazar, qadha, dan kaffarah, bagi orang yang melampaui batas dengan berbukanya, karena ia telah melanggar dengan merusak puasanya.
الثَّانِي : عَلَى تَارِكِ النَّيَّةِ لَيْلًا فِي الْفَرْضِ ، لِتَقْصِيْرِهِ حَقِيقَةً إِنْ تَعَمَّدَ التَّرْكَ ، أَوْ حُكْمًا إِنْ لَمْ يَتَعَمَّدْهُ
Kedua: Bagi orang yang meninggalkan niat pada malam hari dalam puasa fardhu, karena kelalaiannya secara hakiki jika ia menyengajanya, atau secara hukum jika ia tidak menyengajanya.
الثَّالِثُ : عَلَى مَنْ تَسَخَّرَ ظَانًا بَقَاءَ اللَّيْلِ فَبَانَ خِلَافُهُ ، لِتَقْصِيْرِهِ حَقِيقَةٌ . إِنْ كَانَ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ ، وَإِلَّا فَحُكْمًا
Ketiga: Bagi orang yang bersahur dengan menyangka masih malam, lalu ternyata jelas sebaliknya (sudah subuh), karena kelalaiannya secara hakiki jika tanpa ijtihad (upaya mencari tahu), jika tidak demikian maka secara hukum.
الرَّابِعُ : عَلَى مَنْ أَفْطَرَ ظَانَّا الْغُرُوْبَ فَبَانَ خِلَافُهُ أَيْضًا ، كَمَا يَقَعُ أَلَانَ كَثِيرًا بِسَبَبِ جَهْلِ الْمِيْقَاتِيَّةِ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ
Keempat: Bagi orang yang berbuka dengan menyangka sudah terbenam matahari (maghrib), lalu ternyata jelas sebaliknya juga, sebagaimana yang banyak terjadi sekarang karena kebodohan para petugas waktu (miqatiyyah). Hal ini dikatakan oleh Asy-Syarqawi.
الْخَامِسُ : عَلَى مَنْ بَانَ لَهُ يَوْمُ ثَلَاثِيْنَ مِنْ شَعْبَانَ أَنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ ، لِأَنَّهُ كَانَ يَلْزَمُهُ الصَّوْمُ
Kelima: Bagi orang yang jelas baginya pada hari ketiga puluh bulan Sya'ban bahwa hari tersebut ternyata sudah masuk bulan Ramadhan, karena ia sebenarnya wajib berpuasa.
السَّادِسُ : عَلَى مَنْ سَبَقَهُ مَاءُ الْمُبَالَغَةِ مِنْ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ لِتَقْصِيرِهِ بِهَا
Keenam: Bagi orang yang tertelan air sebab mubalaghah (berlebih-lebihan) saat berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung (istinsyaq), karena kelalaiannya dengan sebab hal itu.
يَبْطُلُ الصَّوْمُ بِرِدَّةٍ ، وَهِيَ : رُجُوْعٌ عَنِ الْإِسْلَامِ إِلَى كُفْرٍ وَحَيْضٍ ، وَنِفَاسٍ أَوْ وِلَادَةٍ ، وَجُنُوْنٍ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ لَحْظَةٌ ، وَبِإِغْمَاءِ وَسُكْرٍ تَعَدَّى بِهِ إِنْ عَمَّا ، أَيْ : كُلٌّ مِنْهُمَا ، جَمِيعَ النَّهَارِ
Puasa menjadi batal sebab murtad, yaitu: kembali dari Islam menuju kekafiran. Dan sebab haid, nifas atau melahirkan, dan gila meskipun hal itu hanya sekejap, dan sebab pingsan serta mabuk yang disengaja (ta'addi) jika keduanya (pingsan dan mabuk) menghabiskan seluruh waktu siang hari.
الإِفْطَارُ فِي رَمَضَانَ ، أَيْ : بِسَبَبِهِ بِاعْتِبَارِ الْحُكْمِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعِ : وَاجِبٌ كَمَا فِي الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ ، وَلَوْ مِنْ عَلَقَةٍ أَوْ مُضْغَةٍ أَوْ بِلَا بَلَلٍ وَجَائِزٌ كَمَا فِي الْمُسَافِرِ سَفَرَ قَصْرٍ ، وَالْمَرِيضِ
Berbuka di bulan Ramadhan—maksudnya: disebabkan olehnya dengan mempertimbangkan hukumnya—ada empat macam: Wajib, sebagaimana pada orang yang haid dan nifas. Dan boleh (jaiz), sebagaimana pada musafir dengan perjalanan qashar, dan orang sakit.
فَائِدَةٌ : يُبَاحُ الْفِطْرُ فِي رَمَضَانَ لِسِتَّةِ : لِلْمُسَافِرِ ؛ وَالْمَرِيضِ ؛ وَالشَّيْخِ الْهَرِمِ ، أَيْ : الْكَبِيرِ الضَّعِيْفِ ، وَالْحَامِلِ وَلَوْ مِنْ زِنَا أَوْ شُبْهَةٍ ، وَلَوْ بِغَيْرِ آدَمِيٌّ حَيْثُ كَانَ مَعْصُوْمًا
Faidah: Diperbolehkan berbuka di bulan Ramadhan bagi enam golongan: bagi musafir; orang sakit; orang tua renta (syaikhul harim); wanita hamil meskipun dari hasil zina atau syubhat, bahkan meskipun yang dikandung bukan manusia selama ia termasuk yang dimuliakan (ma'shum).
============================= Mohon maaf atas kekhilafan Ane, Abi Ahmad Thoufur. Ane paham sekarang, Ente mau naskah tersebut dimasukkan ke dalam format baku yang sudah kita sepakati sebelumnya, secara lengkap, verbatim, dan tidak disederhanakan sedikitpun, per paragraf. Berikut adalah digitalisasi naskah tersebut sesuai dengan format baku yang Ente minta: ```وَالْعَطْشَانِ ، أَيْ : حَيْثُ لَحِقَهُ مَشَقَّةٌ شَدِيدَةٌ لَا تُحْتَمَلُ عَادَةً عِنْدَ الزَّيَّادِي أَوْ تُبِيحُ التَّيَمُّمَ عِنْدَ الرَّمْلِيِّ ، وَمِثْلُهُ الْجَائِعُ ؛ وَلِلْمُرْضِعَةِ ، وَلَوْ مُسْتَأْجَرَةٌ ، أَوْ مُتَبَرِّعَةٌ ، وَلَوْ لِغَيْرِ آدَمِيٌّ .
Dan bagi orang yang haus, maksudnya sekira ia mengalami kepayahan yang sangat berat yang tidak tertanggung menurut kebiasaan menurut Az-Zayadi, atau yang membolehkan tayamum menurut Ar-Ramli, dan semisal dengannya adalah orang yang lapar. Serta bagi wanita yang menyusui, meskipun sebagai pekerja upahan, atau sukarela, dan meskipun menyusui selain manusia.
وَنَظَمَهَا بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ ، فَقَالَ : إِذَا مَا صُمْتَ فِي رَمَضَانَ صُمْهُ سِوَى سِتٌ وَفِيهِنَّ الْقَضَاءُ فَسِينٌ ثُمَّ مِيمٌ ثُمَّ شِيْنٌ وَحَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ ثُمَّ رَاءُ فَالسَّيْنُ لِلْمُسَافِرِ ، وَالْمِيْمُ لِلْمَرِيضِ ، وَالشَّيْخِ الْهَرِمِ ، وَالْحَاءُ لِلْحَامِلِ ، وَالْعَيْنُ لِلْعَطْشَانِ ، وَالرَّاءُ لِلْمُرْضِعَةِ
Sebagian ulama menyusunnya dalam nadhom bahr al-wafir, mereka berkata: "Jika engkau berpuasa di bulan Ramadhan, maka berpuasalah kecuali bagi enam golongan, dan pada mereka ada kewajiban qadha." "Maka huruf Sin, kemudian Mim, kemudian Syin, dan Ha', kemudian 'Ain, kemudian Ra'." Maka Sin adalah untuk musafir, Mim untuk orang sakit (maridh), Syin untuk orang tua renta (syaikh harim), Ha' untuk wanita hamil, 'Ain untuk orang yang haus ('athsyan), dan Ra' untuk wanita menyusui (murdhi'ah).
وَلَا وَلَا ، أَيْ : لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَلَا جَائِرٍ وَلَا مُحَرَّمٍ وَلَا مَكْرُوْءٍ كَمَا فِي الْمَجْنُوْنِ ، وَمُحَرَّمٌ كَمَنْ أَخَرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ تَمَكَّنِهِ ، بِأَنْ كَانَ مُقِيمًا صَحِيحًا ؛ حَتَّى ضَاقَ الْوَقْتُ عَنْهُ
Dan "Tidak, tidak", maksudnya: tidak wajib, tidak boleh (jaiz), tidak haram, dan tidak pula makruh. Sebagaimana pada orang gila, dan (berbuka) yang haram seperti orang yang mengakhirkan qadha Ramadhan padahal ia mampu, dengan keadaan ia dalam keadaan mukim dan sehat; sampai waktunya menjadi sempit darinya.
وَأَقْسَامُ الإِفْطَارِ بِاعْتِبَارِ مَا يَلْزَمُ أَرْبَعَةٌ أَيْضًا : مَا يَلْزَمُ فِيهِ الْقَضَاءُ وَالْفِدْيَةُ ، وَهُوَ أَثْنَانِ : الأَوَّلُ : الإِفْطَارُ لِخَوْفٍ عَلَى غَيْرِهِ ، كَالْإِفْطَارِ لِإِنْقَاذِ حَيْوَانٍ مُحْتَرَم آدَمِيٌّ أَوْ غَيْرِهِ مُشْرِفٍ عَلَى هَلاكِ بِغَرَقٍ أَوْ غَيْرِهِ ، وَإِفْطَارِ حَامِلٍ وَمُرْضِعِ خَوْفًا عَلَى الْوَلَدِ وَحْدَهُ ، وَإِنْ كَانَ وَلَدَ غَيْرِ الْمُرْضِعِ ، وَلَوْ غَيْرَ آدَمِيٌّ ، أَوْ مُتَبَرِّعَةٌ ، فَلَا تَتَعَدَّدُ الْفِدْيَةُ وَإِنْ تَعَدَّدَ الْحَمْلُ وَالرَّضِيعُ ، فَإِنْ أَفْطَرَ لِخَوْفٍ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَعَ غَيْرِهِ فَلَا فِدْيَةَ ، كَالْمَرِيضِ
Dan pembagian berbuka dengan mempertimbangkan konsekuensi yang wajib (dilakukan) ada empat macam juga: Perkara yang diwajibkan padanya qadha dan fidyah, dan hal itu ada dua: Pertama: Berbuka karena khawatir atas keselamatan orang lain, seperti berbuka untuk menyelamatkan hewan yang dimuliakan (muhtaram), baik itu manusia atau selainnya, yang hampir binasa karena tenggelam atau selainnya, dan berbukanya wanita hamil serta wanita menyusui karena khawatir atas keselamatan anak saja, meskipun anak tersebut bukan anak dari wanita menyusui itu, bahkan meskipun bukan manusia, atau menyusui secara sukarela. Maka fidyah tidak berlipat ganda meskipun janin dan anak yang disusui berjumlah banyak. Namun, jika ia berbuka karena khawatir atas keselamatan dirinya sendiri atau beserta keselamatan orang lain, maka tidak ada kewajiban fidyah, sebagaimana orang yang sakit.
وَالثَّانِي : الإِفْطَارُ مَعَ تَأْخِيْرِ قَضَاءِ شَيْءٍ مِنْ رَمَضَانَ ، مَعَ إِمْكَانِهِ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ آخَرُ ، لِخَبَرِ : ( مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَأَفْطَرَ لِمَرَضِ ثُمَّ صَحَّ وَلَمْ يَقْضِهِ حَتَّى أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ آخَرُ ، صَامَ الَّذِي أَدْرَكَهُ ثُمَّ يَقْضِيْ مَا عَلَيْهِ ، ثُمَّ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا » رَوَاهُ الدَّارَ قُطْنِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ . فَخَرَجَ بِالإِمْكَانِ مَنِ اسْتَمَرَّ بِهِ السَّفَرُ أَوِ الْمَرَضُ حَتَّى أَتَى رَمَضَانُ آخَرُ ، أَوْ أَخَّرَهُ لِنِسْيَانٍ أَوْ جَهْلٍ بِحُرْمَةِ التَّأْخِيْرِ ، وَإِنْ كَانَ مُخَالِطًا لِلْعُلَمَاءِ لِخَفَاءِ ذَلِكَ لَا بِالْفِدْيَةِ ، فَلَا يُعْذَرُ لِجَهْلِهِ بِهَا ، نَظِيرُ مَنْ عَلِمَ حُرْمَةَ التَّنَحْنُحِ وَجَهِلَ الْبُطْلَانَ بِهِ
Kedua: Berbuka dengan mengakhirkan qadha sesuatu dari bulan Ramadhan padahal ia mampu, sampai datang bulan Ramadhan berikutnya, karena adanya hadis: ("Barangsiapa yang menjumpai Ramadhan lalu ia berbuka karena sakit, kemudian ia sehat namun tidak meng-qadha-nya sampai menjumpai Ramadhan berikutnya, maka ia berpuasa pada bulan yang ia jumpai itu kemudian meng-qadha kewajibannya, lalu memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya"). Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Maka dikecualikan dari kata "mampu" (imkan) adalah orang yang terus-menerus dalam perjalanan atau sakit sampai datang bulan Ramadhan berikutnya, atau ia mengakhirkannya karena lupa atau tidak tahu akan haramnya mengakhirkan (qadha), meskipun ia bergaul dengan para ulama karena samar (tersembunyi)-nya hukum tersebut, bukan (tidak tahu) tentang fidyahnya, maka ia tidak dimaafkan karena kebodohannya akan hal itu. Hal ini serupa dengan orang yang tahu haramnya berdeham (saat shalat) namun tidak tahu bahwa hal itu membatalkan shalat.
وَاعْلَمْ أَنَّ الْفِدْيَةَ تَتَكَرَّرُ بِتَكَرُّرِ السِّنِيْنِ ، وَتَسْتَقِرُّ فِي ذِمَّةِ مَنْ لَزِمَتْهُ . قَالَ فِي شَرْحِ « الْمَنْهَجِ » : فَلَوْ أَخَّرَ الْقَضَاءُ الْمَذْكُورَ ، أَيْ : قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ تَمَكَّنِهِ حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ آخَرُ ، فَمَاتَ ؛ أُخْرِجَ مِنْ تَرِكَتِهِ لِكُلِّ يَوْمُ مُدَّانِ ، مُدٌّ لِلْفَوَاتِ وَمُدُّ لِلتَّأْخِيْرِ إِنْ لَمْ يُصَمْ عَنْهُ ، وَإِلَّا وَجَبَ مُدُّ وَاحِدٌ لِلتَّأْخِيرِ
Dan ketahuilah bahwa fidyah itu berlipat ganda dengan berulangnya tahun, dan tetap menjadi tanggungan (dzimmah) bagi orang yang wajib mengeluarkannya. Penulis kitab Syarah Al-Manhaj berkata: Seandainya seseorang mengakhirkan qadha yang disebutkan tadi, yaitu qadha Ramadhan padahal ia mampu sampai masuk Ramadhan berikutnya, kemudian ia meninggal; maka dikeluarkan dari harta peninggalannya untuk setiap harinya dua mud: satu mud karena luputnya puasa dan satu mud karena mengakhirkan (qadha) jika tidak ada yang memuasakannya, jika ada yang memuasakannya maka wajib satu mud saja karena mengakhirkan tersebut.
وَثَانِيهَا : مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْقَضَاءُ تَدَارُعًا لِمَا فَاتَ دُوْنَ الْفِدْيَةِ ، لِأَنَّهُ لَمْ يَرِدْ نَصُّ بِوُجُوْبِهَا عَلَى مَنْ دَخَلَ تَحْتَ هَذَا الْقِسْمِ . وَهُوَ يَكْثُرُ ، كَمُغْمِّى عَلَيْهِ وَنَاسِ لِلنِّيَّةِ ، وَمُتَعَدَّ بِفِطْرِهِ بِغَيْرِ جِمَاعٍ
Kedua: Perkara yang diwajibkan padanya qadha saja guna mengganti yang luput tanpa wajib fidyah, karena tidak ada dalil (nash) yang mewajibkan fidyah bagi orang yang masuk dalam bagian ini. Hal ini banyak terjadi, seperti orang yang pingsan, orang yang lupa niat, dan orang yang sengaja berbuka dengan selain jima'.
وَثَالِثُهَا : مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْفِدْيَةُ دُوْنَ الْقَضَاءِ ، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ لَمْ يَسْتَطِعِ الصَّوْمَ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ ، فَإِنْ قَدِرَ عَلَيْهِ فِي بَعْضِهَا وَجَبَ عَلَيْهِ التَّأْخِيرُ إِلَى الزَّمَنِ الَّذِي يَقْدِرُ عَلَيْهِ ، وَمِثْلُهُ مَرِيضٌ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ
Ketiga: Perkara yang diwajibkan padanya fidyah saja tanpa qadha, yaitu orang tua renta yang tidak mampu berpuasa di sepanjang waktu. Jika ia mampu berpuasa di sebagian waktu, maka wajib baginya mengakhirkan (puasa) sampai waktu ia mampu melakukannya, dan semisal dengannya adalah orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.
وَرَابِعُهَا : لَا وَلَا ، أَيْ : لَا يَجِبُ شَيْءٌ مِنَ الْقَضَاءِ وَالْفِدْيَةِ وَهُوَ الْمَجْنُوْنُ الَّذِي لَمْ يَتَعَدَّ بِجُنُوْنِهِ ، لِعَدَمِ تَكْلِيْفِهِ ، وَمِثْلُهُ الصَّبِيُّ وَالْكَافِرُ الْأَصْلِيُّ
Keempat: "Tidak dan tidak", maksudnya: tidak wajib sesuatu pun baik qadha maupun fidyah. Yaitu orang gila yang tidak sengaja dengan kegilaannya, karena ia tidak terkena beban taklif, dan semisal dengannya adalah anak kecil serta kafir asli.
ثُمَّ أَعْلَمْ أَنَّ الْقَضَاءَ فِي جَمِيعِ مَا ذُكِرَ عَلَى التَّرَاخِي ، إِلَّا فِيْمَنْ أَثِمَ بِالْفِطْرِ وَالْمُرْتَدَّ وَتَارِكِ النِّيَّةِ لَيْلًا عَمْدًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ . أَفَادَهُ الْقَلْيُوْبِيُّ وَكَذَا إِذَا ضَاقَ الْوَقْتُ قَبْلَ رَمَضَانَ الثَّانِي ، بِأَنْ لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَا يَسَعُ الْقَضَاءَ ، فَيَجِبُ الْقَضَاءُ حِينَئِذٍ فَوْرًا
Kemudian ketahuilah bahwa qadha pada seluruh perkara yang telah disebutkan (sebelumnya) hukumnya boleh ditunda (tarahi), kecuali bagi orang yang berdosa sebab berbukanya, orang murtad, dan orang yang sengaja meninggalkan niat pada malam hari menurut pendapat yang kuat (mu'tamad). Hal ini disampaikan oleh Al-Qalyubi. Begitu juga jika waktu sudah sempit sebelum masuk Ramadhan kedua, sekira tidak tersisa waktu kecuali hanya seukuran yang cukup untuk qadha saja, maka wajib qadha saat itu juga secara segera (fauran).
فَصْلٌ [ فِي بَيَانِ مَا لا يُفَطِّرُ مِمَّا يَصِلُ إِلَى الْجَوْفِ ] : الَّذِي لَا يُفَطَّرُ مِمَّا يَصِلُ إِلَى الْجَوْفِ مِنَ الْأَعْيَانِ مِنْ مَنْفَذ مَفْتُوْحٍ ، سَبْعَةُ أَفْرَادٍ : الأَوَّلُ وَالثَّانِي وَالثَّالِثُ : مَا يَصِلُ إِلَى الْجَوْفِ بِنِسْيَانٍ لِلصَّوْمِ أَوْ جَهْلٍ أَوْ إِكْرَاهِ ، وَمِنَ الْإِكْرَاءِ الإِيْجَارُ بِالصَّبِّ فِي حَلْقِهِ
Fasal [Dalam Menjelaskan Perkara yang Tidak Membatalkan Puasa dari Sesuatu yang Sampai ke Lubang Tubuh]. Perkara yang tidak membatalkan puasa dari benda-benda yang sampai ke lubang tubuh melalui lubang yang terbuka, ada tujuh macam: Pertama, kedua, dan ketiga: Sesuatu yang sampai ke lubang tubuh sebab lupa akan puasanya, atau karena ketidaktahuan (bodoh), atau karena dipaksa. Dan termasuk dari paksaan adalah menuangkan (benda/cairan) secara paksa ke dalam tenggorokannya.
قَالَ : ( مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ ، فَأَكَلَ وَشَرِبَ ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ » رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [ البخاري ، رقم : ١٩٣٣ ، ٦٦٦٩ ؛ مسلم ، رقم : ۱۱٥٥ ؛ الترمذي ، رقم : ۷۲۱ ؛ أبو داود ، رقم : ۲۳۹۸؛ ابن ماجه ، رقم : ١٦٧٣ ؛ ؛ ( مسند أحمد » ، رقم : ۸۸۹۱ ، ۹۲۰۵ ، ۹۹۷۵ ، ۹۹۹۹ ، ۱۰۰۲۰ ، ۱۰۲٨۷ ؛ الدارمي ، رقم : ۱٧٢٦ ، ۱۷۲۷ ] وَصَحَّحَاهُ
Nabi SAW bersabda: ("Barangsiapa yang lupa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum"). Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dan keduanya mensahihkannya.
وَالرَّابِعُ : بِجَرَيَانِ رِيْقٍ بِمَا بَيْنَ أَسْنَانِهِ وَقَدْ عَجَزَ عَنْ مَجَّهِ لِعُذْرِهِ ، بِخِلَافِ مَا إِذَا قَدِرَ عَلَى مَجهِ ، لِتَفْصِيْرِهِ ، وَذَلِكَ كَطَعَامٍ أَوْ نُخَامَةٍ أَوْ قَهْوَةٍ ، فَإِذَا شَرِبَ قَهْوَةٌ قُبَيْلَ الْفَجْرِ ، وَبَقِيَ أَثَرُهَا لِمَا بَعْدَهُ ، فَإِنْ بَلَعَ رِيقَهُ الْمُتَغَيَّرَ بِهَا عَمْدًا مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى مَجْهِ أَفْطَرَ ، وَإِلَّا فَلَا
Keempat: Disebabkan mengalirnya air liur dengan sesuatu yang ada di antara gigi-giginya, sedangkan ia telah lemah (tidak mampu) untuk meludahkannya karena uzurnya. Berbeda halnya jika ia mampu meludahkannya namun ia meremehkannya, hal itu seperti sisa makanan, dahak (nukhamah), atau kopi. Maka jika ia minum kopi sesaat sebelum fajar, dan tersisa bekasnya sampai setelah fajar, jika ia menelan air liurnya yang telah berubah rasa oleh kopi tersebut dengan sengaja padahal ia mampu meludahkannya, maka ia batal puasanya; jika tidak mampu meludahkannya maka tidak batal.
وَالنُّخَامَةُ ، بِالضَّمِّ : مَا يُخْرِجُهُ الإِنْسَانُ مِنْ حَلْقِهِ مِنْ مَخْرَجِ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ . وَزَادَ الْمُطَرِّزِيُّ : وَهُوَ مَا يُخْرِجُهُ مِنَ الْخَيْشُوْمِ
An-Nukhamah (dahak) dengan harakat dhammah (pada huruf Nun): adalah sesuatu yang dikeluarkan oleh manusia dari tenggorokannya melalui makhraj huruf Kha' mu'jamah (berttitik). Al-Mutarrizi menambahkan: "Yaitu sesuatu yang dikeluarkan dari pangkal hidung (khaisyum)".
وَالْخَامِسُ : مَا وَصَلَ إِلَى الْجَوْفِ وَكَانَ غُبَارَ طَرِيقٍ ، سَوَاءٌ كَانَ طَاهِرًا أَوْ نَجِسًا ، وَلَوْ مِنْ مُغَلَّةٍ ؛ فَلَا يُفْطِرُ بِذَلِكَ ، وَأَمَّا غَسْلُهُ ، فَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فَمِهِ وَجَبَ ، وَإِلَّا فَلَا
Kelima: Sesuatu yang sampai ke lubang tubuh dan itu berupa debu jalanan, baik debu itu suci maupun najis, meskipun dari najis mughalladhah; maka ia tidak batal puasanya dengan sebab itu. Adapun membasuhnya (mulut), jika ia sengaja membuka mulutnya maka wajib (qadha), jika tidak sengaja maka tidak (batal).
وَالسَّادِسُ وَالسَّابِعُ : مَا وَصَلَ إِلَى الْجَوْفِ وَكَانَ غَرْبَلَةَ دَقِيْقٍ أَوْ ذُبَابًا طَائِرًا أَوْ نَحْوَهُ ، كَبَعُوْضٍ ، لِمَشَقَّةِ الاحْتِرَازِ عَنْ ذَلِكَ ، فَإِنْ أَضَرَّتِ الذُّبَابَةُ جَوْفَهُ أَخْرَجَهُ وَأَفْطَرَ ، وَوَجَبَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ . نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ ابْنُ حَجَرٍ
Keenam dan Ketujuh: Sesuatu yang sampai ke lubang tubuh dan itu berupa ayakan tepung atau lalat yang terbang atau semacamnya, seperti nyamuk, karena sulitnya menjaga diri dari hal tersebut. Namun jika lalat tersebut menyakiti bagian dalam tubuhnya lalu ia mengeluarkannya, maka ia berbuka (batal) dan wajib baginya meng-qadha. Hal ini telah diperingatkan oleh Ibnu Hajar.
وَلَوْ تَعَمَّدَ فَتْحَ الْفَمِ ، وَلَوْ لِأَجْلِ الْوُصُوْلِ ، ثُمَّ حَصَلَ الْوُصُوْلُ بَعْدَ ذَلِكَ بِغَيْرِ فِعْلِهِ ، لَمْ يُفْطِرُ عَلَى الصَّحِيحِ ، أَمَّا لَوْ صَارَ بَعْدَ فَتْحِ فَمِهِ يَتَلَقَّفُ بِهِ الْغُبَارَ مِنَ الْهَوَاءِ ، فَإِنَّهُ يَضُرُّ . قَالَهُ الشَّرْقَاوِيُّ
Dan seandainya ia menyengaja membuka mulut, meskipun agar (debu/sesuatu) itu masuk, kemudian hal itu masuk setelahnya tanpa perbuatannya (lagi), maka ia tidak berbuka menurut pendapat yang sahih. Adapun jika setelah membuka mulutnya ia sengaja menangkap debu dari udara dengan mulutnya, maka hal itu membatalkan (puasa). Hal ini dikatakan oleh Asy-Syarqawi.
وَالْغَرْبَلَةُ مَصْدَرُ غَرْبَلَ ، وَهِيَ : إِدَارَةُ الْحَبِّ فِي الْغِرْبَالِ ، بِكَسْرِ الْغَيْنِ ، أَوِ الدَّقِيقِ فِي الْمُنْخُلِ ، لِيَخْرُجَ خَبَثُهُ وَيَبْقَى طَيِّبُهُ
Al-Gharbalah adalah bentuk masdar dari "gharbaba", yaitu: memutar biji-bijian di dalam ayakan (al-ghirbal)—dengan kasrah pada huruf Ghain—atau memutar tepung di dalam saringan, agar kotorannya keluar dan tersisa bagian yang baiknya.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْلَمُ ، أَيْ : مِنْ كُلِّ ذِي عِلْمٍ ؛ بِالصَّوَابِ ، أَيْ : بِمَا يُوَافِقُ الْحَقَّ فِي الْوَاقِعِ مِنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ
Dan Allah Subhanahu wa Tabaraka wa Ta'ala Maha Mengetahui, maksudnya: dari setiap pemilik ilmu; tentang kebenaran (bish-shawab), maksudnya: tentang apa yang sesuai dengan al-haq (kebenaran) dalam kenyataan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
نَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ ، أَيْ : الْمُعْطِيَ مِنْ غَيْرِ سُؤَالٍ ، أَوِ الَّذِي عَمَّ عَطَاؤُهُ الطَّائِعَ وَالْعَاصِيَ ، لِكَوْنِهِ الْمُعْطِي لَا لِغَرَضِ وَلَا لِعِوَضٍ . قَالَهُ أَحْمَدُ الصَّاوِيُّ
Kami memohon kepada Allah Al-Karim (Yang Maha Pemurah), maksudnya: Yang memberi tanpa diminta, atau Zat yang pemberian-Nya merata baik kepada yang taat maupun yang maksiat, karena Dia memberi bukan karena suatu tujuan dan bukan pula untuk mendapat imbalan. Hal ini dikatakan oleh Ahmad Ash-Shawi.
بِجَاهِ ، أَيْ : بِمَنْزِلَةِ ، نَبِيِّهِ الْوَسِيمِ ، أَيْ : الْحَسَنِ خَلْقُهُ ، وَكَانَ لَوْنُهُ فِي الدُّنْيَا أَبْيَضَ مُشْرَبًا بِحُمْرَةٍ ، وَفِي الْآخِرَةِ أَصْفَرَ ، فَلَا تُوْجَدُ مَحَاسِنُ فِي أَحَدٍ سِوَاهُ كَمَحَاسِنِهِ ﷺ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ ، لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الآخِرَةِ
Dengan perantara (bijahi), maksudnya: dengan kedudukan; Nabi-Nya al-wasim, maksudnya: yang rupawan fisiknya. Warna kulit beliau di dunia adalah putih kemerah-merahan, dan di akhirat berwarna kuning. Maka tidak ditemukan keindahan pada diri siapa pun selain beliau, seperti keindahan beliau ﷺ baik secara lahir maupun batin, tidak di dunia dan tidak pula di akhirat.
أَنْ يُخْرِجَنِي مِنَ الدُّنْيَا مُسْلِمًا ، أَيْ : مُنْقَادًا لِأَوَامِرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَوَالِدَيَّ وَأَحِبَّائِي وَمَنْ إِلَيَّ انْتَمَى ، أَيْ : أَنْتَسَبَ
Agar Dia (Allah) mengeluarkanku dari dunia dalam keadaan muslim, maksudnya: tunduk patuh terhadap perintah-perintah-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Dan (mengeluarkan) kedua orang tuaku, orang-orang yang kucintai, serta orang-orang yang menisbatkan diri kepadaku, maksudnya: yang memiliki nasab/hubungan denganku.
وَأَنْ يَغْفِرَ لِي مُقْحِمَاتٍ ، أَيْ : ذُنُوبًا كَبَائِرَ ، فَالْمُقْحِمَاتِ ، بِضَمٌ الْمِيمِ ، وَسُكُوْنِ الْقَافِ ، وَكَسْرِ الْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ ؛ مَعْنَاهُ : الْمُهْلِكَاتُ وَالْمُلْقِيَاتُ ، وَسُمِّيَتْ الْكَبَائِرُ بِذَلِكَ ، لِأَنَّهَا تُهْلِكُ صَاحِبَهَا وَتُلْقِيْهِ فِي النَّارِ . وَلَمَمًا ، أَيْ : صَغَائِرَ
Dan agar Dia mengampuniku dari dosa-dosa yang menjerumuskan (muqhimat), maksudnya: dosa-dosa besar. Al-Muqhimat—dengan dhammah pada Mim, sukun pada Qaf, dan kasrah pada Ha' muhmalah—maknanya adalah: perkara yang membinasakan dan menjerumuskan. Dosa besar dinamakan demikian karena ia membinasakan pelakunya dan menjerumuskannya ke dalam neraka. Serta (mengampuni) dosa-dosa kecil (lamaman).
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ ، وَاسْمُهُ : عُمَرُ ، وَسُمِّيَ هَاشِمًا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ هَشَمَ الشَّرِيدَ ، أَيْ : كَسَرَهُ ، لِأَهْلِ الْحَرَمِ ، فَالشَّرِيدُ هُوَ اللَّحْمُ ابْنِ عَبْدِ مَنَافٍ ، وَهَذَا غَيْرُ عَبْدُ مَنَافٍ الَّذِي فِي نَسَبِهِ ﷺ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ
Dan semoga Allah memberikan rahmat ta'dzim kepada junjungan kita Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Nama aslinya (Hasyim) adalah 'Amr, dan dinamakan Hasyim karena dialah orang pertama yang menumbuk (hasyama) roti kering (tsarid) untuk penduduk tanah haram. Tsarid adalah (roti yang dicampur) daging. (Kemudian) bin Abdu Manaf; dan ini berbeda dengan Abdu Manaf yang terdapat pada nasab beliau ﷺ dari jalur ibunya.
رَسُوْلِ اللَّهِ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ ، أَيْ : مِنَ الْجِنِّ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْإِنسِ ، مِنْ لَدُنِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ حَتَّىٰ إِلَى نَفْسِهِ الشَّرِيفِ ﷺ
Utusan Allah kepada seluruh makhluk, maksudnya: dari kalangan jin, malaikat, dan manusia, sejak zaman Adam hingga tegaknya hari kiamat, bahkan diutus kepada dirinya yang mulia sendiri ﷺ.
رَسُوْلِ الْمَلَاحِمِ جَمْعُ مَلْحَمَةٍ ، وَهِيَ : الْحَرْبُ وَالْقِتَالُ . قَالَهُ السَّمْلَاوِيُّ . حَبِيْبِ اللَّهِ ، فَقَدْ قَالَ فِي الْحَدِيْثِ : « وَأَنَا حَبِيبُ اللَّهِ وَلَا فَخْرَ » [ الترمذي ، رقم : ٣٦١٦ ؛ الدارمي ، رقم : ٤٧ ] وَالْمَعْنَى : وَلَا فَخْرَ أَعْظَمَ مِنْ هَذَا ، أَوْ لَا أَقُوْلُ ذَلِكَ فَخْرًا بَلْ تَحَدُّثًا بِالنِّعْمَةِ
Rasul al-malahim, jamak dari malhamah, yang artinya adalah: peperangan dan pertempuran. Hal ini dikatakan oleh As-Samlawi. Kekasih Allah (habibillah), maka sesungguhnya beliau telah bersabda dalam sebuah hadis: "Dan aku adalah kekasih Allah dan aku tidak sombong". Maknanya adalah: Tidak ada kebanggaan yang lebih agung dari ini, atau aku tidak mengucapkan hal itu sebagai kesombongan melainkan sebagai bentuk menceritakan nikmat (tahadduts bin ni'mah).
الْفَاتِحِ لِلأَنْبِيَاءِ ، وَلِكُلِّ خَيْرٍ ، أَوْ لِأَبْوَابِ الْخَيْرِ ، فَإِنَّهُ السَّبَبُ فِي نُزُوْلِ الرَّحَمَاتِ لِلْعِبَادِ ، أَوِ الْفَاتِحُ لِلشَّفَاعَةِ ، فَإِنَّهُ الْمَخْصُوصُ بِالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، أَوْ لِأَنَّ رُوْحَهُ الشَّرِيفَةَ سَبَقَتْ الْأَرْوَاحَ فِي الْخَلْقِ ، وَخُلِقَتْ الأَرْوَاحُ قَبْلَ الْأَجْسَادِ بِأَلْفِي عَامٍ . قَالَهُ شَيْخُنَا يُوسُفُ السُّنْبُلَا وِيْنِيُّ
Al-Fatih (Yang Membuka) bagi para Nabi, dan bagi setiap kebaikan, atau bagi pintu-pintu kebaikan, karena beliau adalah sebab turunnya rahmat bagi para hamba. Atau Sang Pembuka bagi syafaat, karena beliau dikhususkan dengan syafaatul 'uzhma pada hari kiamat. Atau karena ruh beliau yang mulia telah mendahului ruh-ruh (lainnya) dalam penciptaan, dan ruh-ruh diciptakan sebelum jasad-jasad selama dua ribu tahun. Hal ini dikatakan oleh guru kami, Yusuf As-Sunbulawini.
الْخَاتِمِ لِلأَنْبِيَاءِ فَلَا نَبِيَّ تَبْتَدِأُ ، أَيْ : تَظْهَرُ نُبُوَّتُهُ ، بَعْدَهُ فَهُوَ آخِرُهُمْ فِي الْوُجُودِ بِاعْتِبَارِ جِسْمِهِ فِي الْخَارِجِ ، فَلَا تُنْسَخُ شَرِيعَتُهُ إِشَارَةً لِعَظَمَتِهِ ، حَيْثُ لَا يُحْتَاجُ بَعْدَهُ لِغَيْرِهِ
Al-Khatim (Yang Menutup) bagi para Nabi, maka tidak ada Nabi yang memulai, maksudnya nabi yang muncul kenabiannya, setelah beliau. Maka beliau adalah penutup mereka dalam wujud berdasarkan jasad beliau di alam nyata, maka syariat beliau tidak akan dihapus (nasakh) sebagai isyarat atas keagungannya, sekira tidak dibutuhkan lagi kepada selain beliau setelahnya.
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . خَتَمَ بِذَلِكَ كِتَابَهُ لِقَوْلِهِ ﷺ : « مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ تَعَالَى فِيْهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ » رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ رقم: ۳۳۸۰ ؛ أبو داود، رق رقم : ٤٨٥٦ ] وَابْنُ مَاجَهْ . وَالتِّرَةُ، كَوَزْنِ عِدَةٍ : النَّقْصُ . وَفِي رِوَايَةٍ : « إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِنْ دَخَلُوْا الْجَنَّةَ »
Dan (shalawat) bagi keluarganya serta sahabatnya semuanya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Penulis menutup kitabnya dengan hal tersebut karena sabda Nabi ﷺ: ("Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis yang di dalamnya mereka tidak mengingat Allah Ta'ala dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka, kecuali hal itu akan menjadi kekurangan/beban (tirah) bagi mereka. Jika Allah berkehendak maka Dia menyiksa mereka, dan jika berkehendak maka Dia mengampuni mereka"). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah. At-Tirah—seperti wazan 'Idah—artinya adalah kekurangan. Dalam sebuah riwayat: ("Kecuali hal itu akan menjadi penyesalan bagi mereka di hari kiamat, meskipun mereka masuk ke dalam surga").
وَهَذَا آخِرُ مَا أَبْرَزَتْهُ عِنَايَةُ الْقُدْرَةِ ، لَا بِحَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُدْرَةٍ . [ ... ] قَالَ فِي « تَنْوِيرِ الْقُلُوْبِ » : « وَإِنَّمَا قُلْنَا : يَتَأَتَّى بِهَا ، وَلَمْ نَقُلْ : لَهَا ؛ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ التَّأْثِيرَ لِلذَّاتِ »
Dan inilah akhir dari apa yang dimunculkan oleh perhatian kekuasaan (Allah), bukan karena daya dan kekuatan dariku. Beliau (Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi) berkata dalam kitab "Tanwirul Qulub": "Sesungguhnya kami mengatakan: '(Manfaat/pengaruh) itu terjadi dengan perantaranya (bi-ha)', dan kami tidak mengatakan: '(Manfaat/pengaruh) itu milik baginya (la-ha)'; hal ini sebagai isyarat bahwa sesungguhnya pengaruh yang hakiki itu hanyalah milik Dzat (Allah SWT)."
قَالَ السَّيِّدُ عَبْدُ اللَّهِ الْمِرْغَنِيُّ : وَاعْلَمْ يَا أَخِي ! أَنِّي رَأَيْتُ أَنْ لَا يَكْتُبَ الإِنْسَانُ كِتَابًا فِي يَوْمِهِ إِلَّا قَالَ فِي غَدِهِ : لَوْ كَانَ غَيْرَ هَذَا لَكَانَ أَحْسَنَ ، وَلَوْ زِيْدَ هَذَا لَكَانَ يُسْتَحْسَنُ ، وَلَوْ قُدِّمَ هَذَا لَكَانَ أَجْمَلَ ، وَلَوْ تُرِكَ هَذَا لَكَانَ أَفْضَلَ ؛ وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَرِ ، وَدَلِيْلُ اسْتِيْلَاءِ النَّقْصِ عَلَى جُمْلَةِ الْبَشَرِ ؛ وَلَا يَكُوْنُ إِلَّا مَا قَضَاهُ وَأَرَادَهُ مَنْ أَمْرِهِ بَيْنَ كَافٍ وَنُوْنٍ . أَنْتَهَى
As-Sayyid Abdullah Al-Mirghani berkata: "Ketahuilah wahai saudaraku! Sesungguhnya aku berpendapat bahwa tidaklah seseorang menulis sebuah kitab pada satu hari kecuali ia akan berkata di esok harinya: 'Sekiranya selain ini tentu akan lebih baik, sekiranya ini ditambah tentu akan lebih disukai, sekiranya ini didahulukan tentu akan lebih indah, dan sekiranya ini ditinggalkan tentu akan lebih utama.' Hal ini termasuk sebesar-besarnya pelajaran, dan bukti atas dominasi kekurangan pada seluruh umat manusia. Dan tidak akan terjadi kecuali apa yang telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Zat yang urusan-Nya berada di antara huruf Kaf dan Nun (Kun)." Selesai.
وَكُنْ يَا أَخِي لِلْعُيُوْبِ سَاتِرًا ، وَاللَّهَ أَسْأَلُ أَنْ يَكُوْنَ لِلذُّنُوْبِ غَافِرًا ؛ وَالْمَطْلُوبُ مِنَ الإِخْوَانِ الصَّفْحُ عَنِ الزَّلَلِ ، وَالْعَفْوُ عَنِ الْعِلَلِ ، وَالسَّتْرُ لِذَا الْخَلَلِ ؛ فَإِنَّ النَّقْصَ ذَاتِيُّ ، وَالتَّقْصِيرَ صِفَاتِيٌّ ، وَالْبَخْسَ سَمَائِيُّ ؛ وَالْمَرْجُو مِمَّنْ اطَّلَعَ عَلَيْهَا فِي هَذَا الْكِتَابِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا نَظَرَ اغْتِفَارٍ ، وَيُرْخِي عَلَى مَا فِيْهَا أَذْيَالَ الْأَسْتَارِ ؛ فَالسَّتْرُ مِنْ طَبِيعَةِ الْكِرَامِ ، وَإِظْهَارُ الْعُيُوبِ مِنْ عَادَةِ اللُّثَامِ ؛ فَمُنَّ عَلَيَّ بِالاسْتِغْفَارِ وَهُوَ التَّمَامُ ، وَأَنَا عَيْنُ الْمَلَامِ ، وَالْمُلَامُ لَا يُلَامُ ؛ وَاللهَ أَسْأَلُ ، وَبِنَبِيِّهِ أَتَوَسَّلُ ؛ أَنْ أَحِلَّ مَحَلَّ الْقُبُوْلِ ، إِنَّهُ خَيْرُ مَأْمُوْلٍ وَأَكْرَمُ مَسْؤُوْلٍ
Dan jadilah engkau wahai saudaraku, orang yang menutupi aib, dan kepada Allah aku memohon agar Dia menjadi Zat Yang Maha Mengampuni dosa-dosa. Yang diharapkan dari para saudara adalah memaklumi kekeliruan, memaafkan kekurangan, dan menutupi cacat ini. Karena sesungguhnya kekurangan adalah jati diri (manusia), keteledoran adalah sifatku, dan sedikitnya nilai adalah ketentuan langit. Maka diharapkan bagi siapa yang menelaah kitab ini agar memandangnya dengan pandangan ampunan, dan menjuntaikan tirai penutup atas apa yang ada di dalamnya. Sebab, menutupi (aib) adalah tabiat orang-orang mulia, sedangkan menampakkan aib adalah kebiasaan orang-orang hina. Maka anugerahkanlah kepadaku istighfar (permohonan ampun) dan itulah kesempurnaan, sedangkan aku adalah sumber celaan, dan orang yang tercela tidaklah dicela. Kepada Allah aku memohon, dan dengan Nabi-Nya aku bertawasul; agar aku ditempatkan di tempat penerimaan (kabul), sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik tempat berharap dan semulia-mulia Zat yang dimintai.
هَذَا ، وَأَخْتِمُ بِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ قَالَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ الأَوْفَى ، فَلْيَقُلْ آخِرَ مَجْلِسِهِ أَوْ حِيْنَ يَقُوْمُ : سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعِلَمِينَ [كنز العمال »، رقم : ٣٤٨١، ٤٠٧٦ ، ٤٩٦٢]
Demikianlah, dan aku menutup dengan apa yang diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu, bahwasanya beliau berkata: "Barangsiapa yang senang untuk menimbang dengan timbangan yang sempurna, maka hendaklah ia mengucapkan di akhir majelisnya atau ketika ia berdiri: 'Maha Suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan, dan salam sejahtera bagi para Rasul, serta segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam'."
لَا لِلْقُدْرَةِ ، وَمَنْ أَسْنَدَهُ إِلَى الْقُدْرَةِ حَقِيقَةٌ فَقَدْ كَفَرَ . فَقَوْلُ بَعْضُ الْعَامَّةِ : الْقُدْرَةُ فَعَالَةٌ ، وَأَنْظُرْ إِلَى فِعْلِ الْقُدْرَةِ ؛ إِنْ كَانَ نَاشِئًا عَنِ اعْتِقَادٍ وَقَصْدٍ فَهُوَ كُفْرٌ ، لِمَا فِيهِ مِنَ الإِشْرَاكِ ، كَمَا يَكْفُرُ مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ النَّارَ هِيَ الْمُحْرِقَةُ ... إِلَى آخِرِهِ . وَإِلَّا فَلَا يَكْفُرُ . أَنْتَهَى . عِصَامٌ
(Maksudnya adalah) bukan karena kekuasaan (makhluk). Barangsiapa yang menyandarkannya kepada kekuasaan secara hakiki (menganggap kekuatan itu mandiri), maka sungguh ia telah kafir. Maka ucapan sebagian orang awam: "Kekuasaan itu sangat berperan," dan "Lihatlah kepada perbuatan kekuasaan (nasib/takdir)," jika itu muncul dari keyakinan dan maksud (bahwa kekuatan itu berdiri sendiri tanpa Allah), maka itu adalah kekufuran karena terdapat unsur kesyirikan di dalamnya. Sebagaimana kufurnya orang yang meyakini bahwa api itulah yang membakar (secara mandiri)... dan seterusnya. Namun jika tidak (berkeyakinan begitu), maka tidaklah kafir. Selesai. (Dari Syekh) 'Ishom.
قَالَ مُؤَلِّفُهُ : قَدِ ابْتُدِى بِتَأْلِيْفِ هَذَا الْكِتَابِ فِي يَوْمِ الْأَرْبِعَاءَ سَادِسَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ سَنَةَ ١٢٧٧ هـ ، وَوَافَقَ فَرَاغُهُ عَلَى فَصْلِ الزَّكَاةِ يَوْمَ الْخَمِيسِ الأَخِيْرِ مِنْ شَهْرِ صَفَرٍ ؛ وَوَافَقَ فَرَاغُهُ بِالتَّمَامِ عَلَى فَصْلِ الصِّيَامِ لَيْلَةَ الاثْنَيْنِ سَلَخَ ذَلِكَ الشَّهْرِ سَنَةَ ١٢٧٧ هـ ، وَهُوَ أَلْفٌ وَمِئَتَانِ وَسَبْعُوْنَ وَسَبْعٌ مِنْ هِجْرَةِ النَّبِيِّ الْحَشِيمِ ، عَلَى صَاحِبِهَا أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ ، بِعَوْنِ اللَّطِيفِ الْحَلِيمِ ، وَقْتَ الْمُجَاوَرَةِ بِمَكَّةَ الْمُشَرَّفَةِ فِي زِقَاقِ الطَّيْرِيِّ ؛ جَعَلَهُ اللَّهُ نَافِعًا لِلْبَشَرِ ، بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْبَدْرِ
Penulisnya (Syekh Nawawi) berkata: Penulisan kitab ini dimulai pada hari Rabu, 16 Dzulqa'dah tahun 1277 H. Selesainya pembahasan bab Zakat pada hari Kamis terakhir bulan Safar; dan selesainya kitab ini secara sempurna pada bab Puasa adalah pada malam Senin di akhir bulan tersebut (Safar) tahun 1277 H. Yaitu tahun seribu dua ratus tujuh puluh tujuh dari hijrah Nabi yang mulia—semoga baginya curahan shalawat dan salam yang paling utama—dengan pertolongan Zat Yang Maha Lembut lagi Maha Penyantun. Waktu itu penulis sedang bermukim di Makkah Al-Musyarrafah di gang Ath-Thayyi; semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia dengan kedudukan junjungan kita Nabi Muhammad sang rembulan.
يَقُوْلُ رَاجِيْ غُفْرَانَ الْمَسَاوِي مُصَحِّحُهُ مُحَمَّدُ الزَّهْرِيُّ الْغَمْرَاوِيُّ : نَحْمَدُكَ يَا مَنْ فَقَهْتَ فِي دِينِكَ مَنِ ارْتَضَيْتَهُ مِنْ خَلِيْقَتِكَ ، وَنَشْكُرُكَ عَلَى مَا سَطَرْتَهُ فِي صَحَائِفِ الْقُلُوْبِ مِنْ أَسْرَارِ شَرِيعَتِكَ ؛ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تُدِيْمَ أَجْمَلَ صَلَوَاتِكَ ، وَأَجَلَّ تَسْلِيمَاتِكَ ، عَلَىٰ إِمَامٍ أَهْلِ خُصُوْصِيَّتِكَ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ مُتَّبِعِ لِمِلَّتِكَ
Berkata pemeriksanya (Musahhih), Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi, yang mengharapkan ampunan atas segala kesalahan: Kami memuji-Mu wahai Zat yang telah memahamkan agama-Mu kepada siapa yang Engkau ridhai dari makhluk-Mu. Kami bersyukur atas apa yang Engkau gariskan dalam lembaran-lembaran hati berupa rahasia syariat-Mu. Kami memohon agar Engkau mengekalkan shalawat dan salam yang paling agung kepada imam para kekasih-Mu, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap pengikut agama-Mu.
أَمَّا بَعْدُ ، فَقَدْ تَمَّ طَبْعُ شَرْحِ « كَاشِفَةِ السَّجَا » لِلْعَلَّامَةِ الْفَاضِلِ أَبِي عَبْدِ الْمُعْطِي مُحَمَّدٍ نَوَوِيُّ عَلَى ( سَفِينَةِ النَّجَا » فِي أُصُولِ الدِّيْنِ وَالْفِقْهِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، لِلشَّيْخِ الْهُمَامِ سَالِمِ بْنِ سُمَيْرٍ الْحَضَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ ؛ وَهُوَ كِتَابٌ بَدِيعُ الْمِثَالِ فِي بَابِهِ ، عَذْبُ الْمَوَارِدِ لِمَنْ سَرَّحَ الْفِكْرَ فِي شَهِي لُبَابِهِ ؛ وَقَدْ تَحَلَّتْ حَوَاشِيْهِ بِالْكِتَابِ الْجَلِيْلِ الْمُسَمَّى بِـ « الرِّيَاضِ الْبَدِيْعَةِ ، فِي أُصُولِ الدِّيْنِ وَبَعْضٍ فُرُوْعِ الشَّرِيعَةِ » عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ؛ وَذَلِكَ بِالْمَطْبَعَةِ الْمَيْمَنِيَّةِ ، بِمِصْرَ الْمَحْرُوسَةِ الْمَحْمِيَّةِ ، بِجِوَارِ سَيِّدِي أَحْمَدَ الدَّرْدِيرِ ، قَرِيبًا مِنَ الْجَامِعِ الأَزْهَرِ الْمُنِيْرِ
Amma ba'du: Telah selesai pencetakan Syarah "Kasyifatus Saja" karya Al-Allamah Al-Fadhil Abi Abdul Mu'thi Muhammad Nawawi atas kitab "Safinatun Naja" dalam pokok agama (ushuluddin) dan fiqh madzhab Imam Syafi'i ra. karya Syekh Al-Humam Salim bin Sumair Al-Hadhramiy rahmullah. Ini adalah kitab yang sangat indah susunannya di bidangnya, sumber yang segar bagi siapa pun yang mencurahkan pikiran pada intisari yang lezat; dan pinggiran-pinggirannya (catatan samping) telah dihiasi dengan kitab yang mulia ini yang bernama "Ar-Riyadhul Badi'ah fi Ushuliddin wa Ba'dhu Furu'isy Syari'ah" di atas madzhab Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu. Pencetakan tersebut dilakukan di Percetakan Al-Maimaniyyah, di Mesir yang dijaga dan dilindungi, di samping kediaman Sidi Ahmad Ad-Dardir, dekat dengan Masjid Al-Azhar yang bercahaya.
وَذَلِكَ فِي شَهْرِ الْحَجَّةِ سَنَةَ ١٣٢٢ هِجْرِيَّةٌ ، عَلَى صَاحِبِهَا أَفْضَلُ صَلَاةٍ وَأَتَمُّ تَحِيَّةٍ . آمِيْنُ
Hal itu dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah tahun 1322 Hijriyyah, semoga bagi pemilik hijrah tersebut (Nabi Muhammad) tercurah shalawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna. Amin.
(١) وَقَدْ طَبَعْتُ كِتَابَ « الرِّيَاضِ الْبَدِيْعَةِ » وَكَذَلِكَ مَتْنَ : « سَفِينَةِ النَّجَاةِ » لَدَى الْجَفَّانِ وَالْجَابِي لِلطَّبَاعَةِ وَالنَّشْرِ ، لِيْمَاسُوْل ، قُبْرُص.
(1) Dan sungguh aku telah mencetak kitab "Ar-Riyadhul Badi'ah" dan demikian pula matan "Safinatun Najah" pada (penerbit) Al-Jaffan dan Al-Jabi untuk percetakan dan penerbitan, Limassol, Siprus (Cyprus).
فَهْرِسُ كَاشِفَةِ السَّجَا
مُقَدِّمَةُ النَّاشِرِ ....................................................................... ٥
تَرْجَمَةُ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ سُمَيْرِ اَلْحَضْرَمِيِّ اَلشَّافِعِيِّ ........................... ٥
تَرْجَمَةُ اَلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ اَلْجَاوِيِّ اَلْبَنْتَنِيِّ اَلشَّافِعِيِّ ....................................... ٦
مَشَايِخُهُ ................................................................................... ٧
مُؤَلَّفَاتُهُ .................................................................................. ٨
هَذَا اَلْكِتَابُ .............................................................................. ١٥
هَذِهِ اَلطَّبْعَةُ ............................................................................. ١٦
كَاشِفَةُ السَّجَا، شَرْحُ سَفِينَةِ النَّجَا (٢١)
مُقَدِّمَةُ الشَّارِحِ ......................................................................... ٢٣
شَرْحُ الْبَسْمَلَةِ .......................................................................... ٢٥
شَرْحُ الْحَمْدَلَةِ .......................................................................... ٢٨
مَسْأَلَةٌ: إِنْ قِيلَ: الرَّحْمَةُ لِلنَّبِيِّ حَاصِلَةٌ فَطَلَبُهَا تَحْصِيلُ حَاصِلٍ! .................... ٣٠
تَنْبِيهٌ: بَحْثٌ فِي أَصْلِ آلٍ ................................................................ ٣١
تَنْبِيهٌ: «أَجْمَعُ» وَتَوَابِعُهُ مَعَارِفُ ....................................................... ٣٣
تَنْبِيهٌ: الْفَرْقُ بَيْنَ ثَوَابِ الذَّاكِرِ وَثَوَابِ قَارِي الْقُرْآنِ ................................... ٣٥
فَائِدَةٌ: بَحْثٌ حَوْلَ أَلِفِ لَامِ التَّعْرِيفِ فِي أَسْمَائِهِ تَعَالَى ................................. ٣٥
لَفْظُ الْجَلَالَةِ أَعْرَفُ الْمَعَارِفِ بِاتِّفَاقٍ ...................................................... ٣٥
فَصْلٌ فِي بَيَانِ دَعَائِمِ الْإِسْلَامِ وَأَسَاسِهَا وَأَجْزَائِهَا ...................................... ٣٥
١ - الشَّهَادَةُ ............................................................................ ٣٦
فَائِدَةٌ: مِنْ تَمَامِ الْإِيمَانِ اعْتِقَادُ أَنَّ جَمِيعَ الْمَحَاسِنِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ اجْتَمَعَتْ فِي نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ . ٣٧
٢ - الصَّلَاةُ .............................................................................. ٣٧
فَائِدَةٌ: أَوْجُهُ التَّفَكُّرِ، مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ، مِنْ عَلَامَاتِ الْاغْتِرَارِ ............... ٣٨
فَائِدَةٌ: مَعَانِي مَحَبَّةِ اللَّهِ مِنْ جِهَةِ الْعَبْدِ عَشَرَةٌ ......................................... ٣٨
تَنْبِيهٌ: حَوْلَ كِتَابَةِ الْوَاوِ فِي الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالْحَيَاةِ ................................... ٣٩
٣ - الزَّكَاةُ .............................................................................. ٣٩
مَصَارِفُ الزَّكَاةِ الثَّمَانِيَةِ ................................................................ ٣٩
أَرْكَانُ الْمُكَاتَبَةِ ......................................................................... ٤١
خَاتِمَةٌ فِي شُرُوطِ أَخْذِ الزَّكَاةِ .......................................................... ٤٣
٤ - صَوْمُ رَمَضَانَ ...................................................................... ٤٤
تَنْبِيهٌ: مَتَى يَنْصَرِفُ «رَمَضَانُ»، وَمَتَى لَا يَنْصَرِفُ؟ ........................................ ٤٤
تَبْصِرَةٌ: فِي أَنْوَاعِ الصَّوْمِ ................................................................ ٤٥
٥ - الْحَجُّ ............................................................................... ٤٦
نُكْتَةٌ: فِي كَرَمِ اللَّهِ وَجُودِهِ لِلْوَاقِفِينَ عَلَى عَرَفَةَ ......................................... ٤٧
تَوْضِيحٌ: فِي الْكَلَامِ عَلَى لَفْظَةِ «الْحَجُّ» مِنْ حَيْثُ النَّحْوُ .................................. ٤٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ جَمِيعِ مَا وَجَبَ بِهِ الْإِيمَانُ وَالْبَرَاهِينِ الدَّالَّةِ عَلَى حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ ........... ٤٨
مَرَاتِبُ الْإِيمَانِ خَمْسَةٌ: ................................................................. ٤٩
الْإِيمَانُ بِاللَّهِ ............................................................................ ٥٠
فَائِدَةٌ: كَمَالُ الْإِيمَانِ بِتَرْكِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ................................................. ٥٠
الْإِيمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ ........................................................................ ٥٠
الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ ......................................................................... ٥٢
فَرْعٌ: كَيْفِيَّةُ إِثْبَاتِ الْوَحْيِ ............................................................... ٥٣
تَتِمَّةٌ: صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى ............................................................. ٥٤
الْإِيمَانُ بِالرُّسُلِ ......................................................................... ٥٥
إِيضَاحٌ: تَقَدُّمُ الْمَلَائِكَةِ عَلَى الرُّسُلِ ....................................................... ٥٨
الْإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ..................................................................... ٥٨
الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ .......................................................................... ٥٩
فَرْعٌ: مَعْنَى الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ ............................................................... ٦٠
تَفْصِيلٌ: فِي مَعْنَى الْقَدَرِ ................................................................... ٦١
تَنْبِيهٌ: عَنْ حَدِيثِ جِبْرِيلَ عَنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ وَشَرْحِهِ ................................. ٦٢
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مِفْتَاحِ الْجَنَّةِ، وَهِيَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ وَكَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ وَكَلِمَةُ النَّجَاةِ ................ ٦٧
فَائِدَةٌ: فِي التَّوْبَةِ النَّصُوحِ ................................................................ ٧٢
فَرْعٌ: دُعَاءُ مُسْتَجَابٌ .................................................................... ٧٣
فَائِدَةٌ: دُعَاءُ عِنْدَ الْهَمِّ وَالْغَمِّ وَالْحَزَنِ .................................................... ٧٤
فَصْلٌ فِي بَيَانِ بُلُوغِ الْمُرَاهِقِ وَالْمُنْعَصِرِ ................................................. ٧٥
وَاجِبُ تَعْلِيمِ الْأَوْلَادِ ................................................................... ٧٥
فَائِدَةٌ: أَنْوَاعُ الْقَلَمِ ...................................................................... ٧٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ ....................................................... ٧٧
فَصْلٌ فِي فُرُوضِ الْوُضُوءِ ............................................................... ٨١
١ - النِّيَّةُ ............................................................................... ٨٢
تَنْبِيهٌ: ضَبْطُ كَلِمَةِ النِّيَّةِ ................................................................. ٨٣
٢ - غَسْلُ الْوَجْهِ .......................................................................... ٨٣
فَرْعٌ: حُكْمُ حَلْقِ اللِّحْيَةِ وَمَا جَاوَرَهَا ....................................................... ٨٤
٣ - غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ ............................................................. ٨٤
٤ - مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ ................................................................ ٨٥
٥ - غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ ............................................................ ٨٥
٦ - التَّرْتِيبُ ............................................................................. ٨٦
مِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ ....................................................................... ٨٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ النِّيَّةِ ............................................................... ٨٧
تَنْبِيهٌ: فِي التَّرْتِيبِ ....................................................................... ٨٩
فَصْلٌ فِي أَحْكَامِ الْمِيَاهِ ................................................................. ٩٠
الْمَاءُ الْجَارِي وَالرَّاكِدُ .................................................................... ٩٦
مَسْأَلَةٌ: جَمَاعَةٌ يَلْزَمُهُمْ تَحْصِيلُ بَوْلِهِمْ لِطُهْرِهِمْ ............................................... ٩٧
فَصْلٌ فِي مُوجِبَاتِ الْغُسْلِ ............................................................... ٩٧
مَتَى تُضَمُّ غَيْنُ الْغُسْلِ وَمَتَى تُفْتَحُ؟ ...................................................... ٩٨
١ - إِيلَاجُ الْحَشَفَةِ ........................................................................ ٩٨
٢ - خُرُوجُ الْمَنِيِّ ........................................................................ ٩٩
٣ - الْحَيْضُ ............................................................................ ١٠١
٤ - النِّفَاسُ ............................................................................ ١٠٢
٥ - الْوِلَادَةُ ............................................................................ ١٠٣
٦ - الْمَوْتُ ............................................................................. ١٠٣
فَصْلٌ فِي الْغُسْلِ ....................................................................... ١٠٤
تَتِمَّةٌ: سُنَنُ الْغُسْلِ ...................................................................... ١٠٦
تَذْيِيبٌ: مَكْرُوهَاتُ الْغُسْلِ وَالْوُضُوءِ ...................................................... ١٠٧
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الطَّهَارَةِ .............................................................. ١٠٨
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الْأَحْدَاثِ ............................................................... ١١٠
نَوَاقِضُ الْوُضُوءِ ...................................................................... ١١٠
تَتِمَّةٌ: وَطْءُ الشُّبْهَةِ ...................................................................... ١١٥
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يَحْرُمُ بِالْحَدَثِ الْأَصْغَرِ وَالْمُتَوَسِّطِ وَالْأَكْبَرِ ................................... ١١٨
فَائِدَةٌ: الْكَافِرُ وَالْمُصْحَفُ ............................................................... ١٢٢
مَا يَحْرُمُ بِالْحَيْضِ ..................................................................... ١٢٦
فَائِدَةٌ: مِنْ أَحْكَامِ الْمَسْجِدِ .............................................................. ١٢٩
الطَّلَاقُ مِنَ الْكَبَائِرِ إِلَّا فِي سَبْعِ صُوَرٍ ..................................................... ١٣١
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الْعَجْزِ عَنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ .................................................. ١٣٥
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ......................................................................... ١٣٥
فَرْعٌ: مُعْتَمَدُ الْمَرِيضِ قَوْلُ الطَّبِيبِ ....................................................... ١٣٨
تَكْمِيلٌ: مَا لَا يَحْرُمُ قَتْلُهُ ................................................................. ١٤٠
فَرْعٌ: غَيْرُ الْمُحْتَرَمِ مِنَ الْآدَمِيِّ ........................................................... ١٤١
فَائِدَةٌ: أَقْسَامُ الْكُفْرِ .................................................................... ١٤٣
فَرْعٌ: إِيمَانُ أَبِي طَالِبٍ وَأَبَوَيْ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ................................... ١٤٤
فَرْعٌ: يُسَنُّ قَتْلُ الْمُؤْذِيَاتِ ............................................................... ١٤٥
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ صِحَّةِ التَّيَمُّمِ .......................................................... ١٤٨
فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ التَّيَمُّمِ ................................................................. ١٥٣
تَتِمَّةٌ: سُنَنُ التَّيَمُّمِ ....................................................................... ١٥٦
تَذْيِيلٌ: مَكْرُوهَاتُ التَّيَمُّمِ ................................................................ ١٥٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ .......................................................... ١٥٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الِاسْتِحَالَةِ ................................................................ ١٥٨
تَنْبِيهٌ: حُكْمُ ذَبْحِ الْحَيَوَانِ ............................................................... ١٦٠
فَرْعٌ: مِنَ الِاسْتِحَالَاتِ ................................................................... ١٦١
أَقْسَامُ الْفَضَلَاتِ .......................................................................... ١٦٢
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الْأَعْيَانِ النَّجِسَةِ .......................................................... ١٦٢
مَسْأَلَةٌ: حُكْمُ لَحْمِ مَنْ رَضَعَ مِنْ كَلْبَةٍ أَوْ خِنْزِيرَةٍ ........................................... ١٦٦
فَائِدَةٌ: هَلْ كُلُّ الْكِلَابِ نَجِسَةٌ؟ ............................................................ ١٦٦
مَا يَدْخُلُ تَحْتَ لَفْظِ اللَّبَنِ ................................................................. ١٦٧
حِكْمَةٌ: خِصَالٌ مَحْمُودَةٌ فِي الْكَلْبِ ....................................................... ١٦٩
تَتِمَّةٌ: حُكْمُ اخْتِلَاطِ مَاءِ الْحَلْقِ بِالدَّمِ .................................................... ١٧٥
أَحْكَامُ رُطُوبَةِ فَرْجِ الْآدَمِيَّةِ ................................................................ ١٧٦
فَرْعٌ: حُكْمُ الْمَشِيمَةِ الْخَارِجَةِ مَعَ الْوَلَدِ .................................................... ١٧٦
فَائِدَةٌ: حُكْمُ فَضَلَاتِ الْأَنْبِيَاءِ ............................................................. ١٧٦
فَصْلٌ فِي بَيَانِ إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ .............................................................. ١٧٧
فَائِدَةٌ: لَوْ بَالَ كَلْبٌ عَلَى عَظْمِ مَيْتَةٍ غَيْرِ مُغَلَّظَةٍ ............................................. ١٨٠
تَتِمَّةٌ: لَوْ تَنَجَّسَ مَائِعٌ تَعَذَّرَ تَطْهِيرُهُ ........................................................ ١٨٤
فَصْلٌ فِي بَيَانِ قَدْرِ الْحَيْضِ وَمَا يُذْكَرُ مَعَهُ .................................................. ١٨٥
فَرْعٌ: عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .......................................... ١٨٨
سِرُّ الْيَأْسِ ................................................................................. ١٨٨
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا لَا مَلَامَةَ مِنَ الشَّرْعِ عَلَى تَأْخِيرِ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا بِسَبَبِهِ ................. ١٨٩
تَنْبِيهٌ: مِمَّا يُورِثُ الْفَقْرَ ................................................................... ١٩٢
فَائِدَةٌ: مِنْ آدَابِ النَّوْمِ .................................................................... ١٩٣
فَصْلٌ فِي بَيَانِ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلَاةِ ....................................................... ١٩٤
خَاتِمَةٌ: تَعْرِيفُ الْقِبْلَةِ وَالْكَثْرَةِ مِنَ النَّجَاسَةِ .................................................. ١٩٦
مِنْ سُنَنِ اللِّبَاسِ .......................................................................... ١٩٧
تَنْبِيهٌ: الْأَحْدَاثُ اثْنَانِ: أَكْبَرُ وَأَصْغَرُ ........................................................ ٢٠٢
تَنْبِيهٌ: الْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ ...................................................................... ٢٠٣
فَرْعٌ: حُكْمُ نَظَرِ الْمَرْأَةِ إِلَى زَوْجِهَا ......................................................... ٢٠٤
تَنْبِيهٌ: حُكْمُ النَّظَرِ إِلَى فَرْجِ الصَّغِيرَةِ ....................................................... ٢٠٦
فَرْعٌ: مُوجِبَاتُ الصَّلَاةِ ..................................................................... ٢٠٦
فَرْعٌ: تَكْرُهُ الصَّلَاةُ عَلَى مَنِ اتَّصَفَ بِـ ....................................................... ٢٠٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ .............................................................. ٢١٠
فَرْعٌ: لَوْ طَرَأَ الْعَجْزُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ ....................................................... ٢١٤
فَائِدَةٌ: الْأَحْكَامُ النَّحْوِيَّةُ لِلْأَعْدَادِ الْمُرَكَّبَةِ .................................................... ٢٢٤
خَاتِمَةٌ: يَجِبُ أَنْ لَا يَقْصِدَ بِالرُّكْنِ غَيْرَهُ ..................................................... ٢٣٢
فَصْلٌ فِيمَا يُعْتَبَرُ فِي النِّيَّةِ ................................................................. ٢٣٢
فَرْعٌ: أَحْكَامُ الْعَدَدِ وَالْمَعْدُودِ ............................................................. ٢٣٣
تَنْبِيهٌ: الْكَلَامُ عَلَى فَقَطْ ................................................................... ٢٣٨
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ التَّحْرِيمِ .................................................................. ٢٣٩
فَرْعٌ: أَحْكَامُ كَيْفِيَّةِ التَّحْرِيمِ ............................................................... ٢٤٣
فَصْلٌ فِي وَاجِبَاتِ أُمِّ الْقُرْآنِ ............................................................... ٢٤٣
فَائِدَةٌ: فِي حُرُوفِ الْفَاتِحَةِ ................................................................. ٢٤٤
تَنْبِيهٌ: إِسْقَاطُ أَلِفِ «مَالِكِ» ................................................................ ٢٤٥
فَصْلٌ فِي بَيَانِ عِدَّةِ الشَّدَّاتِ فِي الْفَاتِحَةِ وَمَحَلِّهَا ............................................ ٢٤٨
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَوَاضِعِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ .......................................................... ٢٥٠
فَائِدَةٌ: مَعْنَى النَّحْرِ ........................................................................ ٢٥١
فَصْلٌ فِي وَاجِبَاتِ السُّجُودِ ................................................................ ٢٥٢
خَاتِمَةٌ: فِي ذِكْرِ أَعْضَاءِ السُّجُودِ ............................................................ ٢٥٤
فَصْلٌ فِي عِدَّةِ الشَّدَّاتِ فِي التَّشَهُّدِ وَمَوَاضِعِهَا ................................................ ٢٥٦
فَائِدَةٌ: بَحْثٌ حَوْلَ كَلِمَةِ «النَّبِيِّ» ............................................................ ٢٥٧
فَصْلٌ فِي شَدَّاتِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ...................................... ٢٦٠
تَتِمَّةٌ: الدُّعَاءُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ .................................................................. ٢٦١
فَصْلٌ فِي السَّلَامِ ........................................................................... ٢٦٢
فَرْعٌ: الْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ ................................................................. ٢٦٤
فَصْلٌ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ ......................................................... ٢٦٥
تَنْبِيهٌ: الْأَشْفَاقُ الثَّلَاثَةُ .................................................................... ٢٧٠
فَصْلٌ فِي الصَّلَاةِ الْمُحَرَّمَةِ مِنْ حَيْثُ الْوَقْتُ وَالْفِعْلُ ............................................ ٢٧١
فَصْلٌ فِي بَيَانِ السَّكَتَاتِ فِي الصَّلَاةِ .......................................................... ٢٧٥
فَائِدَةٌ: حَوْلَ كَلِمَةِ «بَيْنَ» ................................................................... ٢٨١
فَصْلٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالطُّمَأْنِينَةِ ............................................................... ٢٨٢
فَائِدَةٌ: حَوْلَ الطُّمَأْنِينَةِ ...................................................................... ٢٨٣
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مُقْتَضَى سُجُودِ السَّهْوِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ ............................................ ٢٨٤
فُرُوعٌ: فِي مَسَائِلَ تَتَعَلَّقُ بِمَوْضُوعِ الْفَصْلِ ..................................................... ٢٨٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ عَدَدِ الْأَبْعَاضِ مِنَ الصَّلَاةِ ..................................................... ٢٨٩
فَائِدَةٌ: لَوْ تَرَكَ الْإِمَامُ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ .......................................................... ٢٩٠
فَائِدَةٌ: لَوْ كَانَ الْإِمَامُ يُطِيلُ التَّشَهُّدَ .......................................................... ٢٩٠
الْفَرْقُ بَيْنَ الْأَبْعَاضِ وَالْأَرْكَانِ وَالسُّنَنِ الَّتِي تُجْبَرُ بِالسُّجُودِ ....................................... ٢٩٥
تَذْيِيلٌ: مِنْ هَيْئَاتِ الصَّلَاةِ ................................................................... ٢٩٦
خَاتِمَةٌ: الْمَكْرُوهَاتُ فِي الصَّلَاةِ .............................................................. ٢٩٩
فَصْلٌ فِي مُفْسِدَاتِ الصَّلَاةِ .................................................................. ٣٠٤
تَنْبِيهٌ: أَحْكَامٌ صَرْفِيَّةٌ حَوْلَ الْجَمْعِ بِالْأَلِفِ وَالتَّاءِ ................................................ ٣١٢
تَنْبِيهٌ: تَتِمَّةُ أَحْكَامٍ صَرْفِيَّةٍ حَوْلَ جَمْعِ الْقِلَّةِ وَالْكَثْرَةِ ............................................... ٣١٤
فَرْعٌ: الْبَاقِي مِنْ مُفْسِدَاتِ الصَّلَاةِ .............................................................. ٣٢١
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الصَّلَاةِ الَّتِي تَلْزَمُ فِيهَا نِيَّةُ الْجَمَاعَةِ ............................................... ٣٢٥
فَصْلٌ فِي الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْقُدْوَةِ ........................................................... ٣٣٣
فَائِدَةٌ: مَنْ هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ إِمَامًا لَا مَأْمُومًا ............................................. ٣٤٠
فَائِدَةٌ: فِي أَقْسَامِ مُقَارَنَةِ الْمَأْمُومِ الْإِمَامَ ........................................................... ٣٤٦
فَرْعٌ: فِي مَسَائِلَ تَتَعَلَّقُ بِمُتَابَعَةِ الْمَأْمُومِ الْإِمَامَ .................................................... ٣٤٧
فَصْلٌ فِي بَيَانِ الصُّوَرِ الْمُمْكِنَةِ فِي الْقُدْوَةِ ........................................................... ٣٥٠
فَائِدَةٌ: فِي الْخُنْثَى ............................................................................ ٣٥٢
فَائِدَةٌ: الْخُنْثَى فِي الْبَقَرِ ....................................................................... ٣٥٣
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ جَوَازِ جَمْعِ التَّقْدِيمِ ............................................................ ٣٥٤
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ جَوَازِ جَمْعِ التَّأْخِيرِ ............................................................ ٣٥٥
تَنْبِيهٌ: فِي أَفْضَلِيَّةِ الْجَمْعِ وَتَرْكِهِ ................................................................ ٣٥٦
فَرْعٌ: فِي الْجَمْعِ بِالْمَرَضِ ....................................................................... ٣٥٧
خَاتِمَةٌ: مَنْ أَدَّى عِبَادَةً مُخْتَلَفًا فِي صِحَّتِهَا ........................................................ ٣٥٧
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْقَصْرِ ....................................................................... ٣٥٧
تَنْبِيهٌ: الْبَاقِي مِنْ شُرُوطِ الْقَصْرِ ................................................................. ٣٦٢
خَاتِمَةٌ: الرُّخَصُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِالسَّفَرِ ................................................................ ٣٦٥
فُرُوعٌ: الْقَصْرُ وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ .................................................................. ٣٦٥
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ صِحَّةِ فِعْلِ الْجُمُعَةِ ............................................................ ٣٦٦
فَرْعٌ: الْجُمُعَةُ فِي الْقُرَى الْمُتَبَاعِدَةِ .............................................................. ٣٦٨
الْجُمُعَةُ لَا تَتَوَقَّفُ عَلَى إِذْنِ الْإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ بِخِلَافِ تَعَدُّدِهَا ............................................ ٣٦٩
فَرْعٌ: الْأَحْوَطُ تَقْلِيدُ الْقَائِلِ بِجَوَازِ الْجُمُعَةِ دُونَ الْأَرْبَعِينَ ............................................. ٣٧١
تَنْبِيهٌ: فِي أَحْكَامٍ تَتَعَلَّقُ بِالْخَطِيبِ ................................................................ ٣٧٥
خَاتِمَةٌ: يُكْرَهُ أَنْ يَخْطُبَ غَيْرُ الْإِمَامِ .............................................................. ٣٧٦
فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ الْخُطْبَتَيْنِ ..................................................................... ٣٧٦
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْخُطْبَتَيْنِ لِلْجُمُعَةِ ............................................................. ٣٨٠
فَائِدَةٌ: الْعَاجُ ................................................................................. ٣٨١
فَائِدَةٌ: أَذْكَارُ عَقِبَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ ............................................................... ٣٨٦
فَصْلٌ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَيِّتِ ....................................................................... ٣٨٨
فَرْعٌ: مُؤَنُ تَجْهِيزِ الْمَيِّتِ وَدَفْنِهِ فِي تَرِكَتِهِ .......................................................... ٣٩٢
فَرْعٌ: مَا يُعْمَلُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ وَفَاتِهِ .................................................................. ٣٩٣
فَائِدَةٌ: لِتَغْمِيضِ عَيْنَيِ الْمَيِّتِ ..................................................................... ٣٩٤
فَصْلٌ فِي بَيَانِ غُسْلِهِ .......................................................................... ٣٩٤
تَنْبِيهٌ: ضَبْطُ كَلِمَةِ: «يَصُبُّ» ..................................................................... ٤٠٠
فَصْلٌ فِي الْكَفَنِ ............................................................................... ٤٠٠
فَصْلٌ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ......................................................................... ٤٠٣
فَرْعٌ: دُعَاءُ الْجَنَازَةِ ............................................................................ ٤١١
خَاتِمَةٌ: فِي الدُّعَاءِ عَقِبَ التَّكْبِيرَةِ الرَّابِعَةِ .......................................................... ٤١١
فَصْلٌ فِي الدَّفْنِ وَمَا يُذْكَرُ مَعَهُ .................................................................. ٤١٢
فَصْلٌ فِي مَا يُوجِبُ نَبْشَ الْمَيِّتِ .................................................................. ٤١٥
فَرْعٌ: إِذَا دُفِنَ مُسْتَلْقِيًا وَوَجَّهَهُ لِلْقِبْلَةِ ............................................................. ٤١٦
فَصْلٌ فِي أَنْوَاعِ الِاسْتِعَانَاتِ وَأَحْكَامِهَا ............................................................ ٤١٧
فَصْلٌ فِيمَا تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيهِ ..................................................................... ٤١٩
فَرْعٌ: فِي أَنْوَاعِ الْكَسْبِ وَأَفْضَلِهِ ................................................................. ٤٢٦
فَائِدَةٌ: فِي الْكَلَامِ عَلَى حَبَّةِ الْقَمْحِ ................................................................ ٤٢٧
فَرْعٌ: زَكَاةُ الْفِطْرِ .............................................................................. ٤٣٦
تَتِمَّةٌ: فِي مَنْ يُقَدَّمُ فِي إِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ عِنْدَ الْإِعْسَارِ وَالْيَسَارِ بِبَعْضِ الصِّيعَانِ ............................ ٤٣٩
خَاتِمَةٌ: شُرُوطُ وُجُوبِ الزَّكَاةِ .................................................................... ٤٤٣
فَصْلٌ فِيمَا يَجِبُ بِهِ الصِّيَامُ ..................................................................... ٤٥١
تَنْبِيهٌ: لَا يَجِبُ الصَّوْمُ وَلَا يَجُوزُ بِقَوْلِ الْمُنَجِّمِ ........................................................ ٤٥١
فَرْعٌ: إِذَا رُؤِيَ الْهِلَالُ بِمَحَلٍّ لَزِمَ حُكْمُهُ مَحَلًّا قَرِيبًا مِنْهُ ................................................. ٤٥٢
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ صِحَّةِ الصِّيَامِ .................................................................. ٤٥٤
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ وُجُوبِ الصَّوْمِ ................................................................. ٤٥٥
فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ الصَّوْمِ ........................................................................ ٤٦٠
فُرُوعٌ: أَحْتِرَازَاتٌ أَثْنَاءَ الصَّوْمِ ................................................................... ٤٦٤
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا يَجِبُ بِهِ الْكَفَّارَةُ وَمَا يُذْكَرُ مَعَهَا ................................................... ٤٧٠
فَصْلٌ فِيمَا يَفْسُدُ بِهِ الصَّوْمُ ..................................................................... ٤٧١
فَصْلٌ فِي أَقْسَامِ الْإِفْطَارِ فِي رَمَضَانَ وَأَحْكَامِهِ ..................................................... ٤٧٢
فَائِدَةٌ: يُبَاحُ الْفِطْرُ فِي رَمَضَانَ لِسِنِّهِ ............................................................. ٤٧٥
فَصْلٌ فِي بَيَانِ مَا لَا يُفَطِّرُ مِمَّا يَصِلُ إِلَى الْجَوْفِ ..................................................... ٤٧٧
الْخَاتِمَةُ ....................................................................................... ٤٨٣
فَهَارِسُ «كَاشِفَةِ السَّجَا» ........................................................................ ٤٨٥
فَهْرِسُ الْآيَاتِ الْقُرْآنِيَّةِ ......................................................................... ٤٨٩
فَهْرِسُ الْأَحَادِيثِ .............................................................................. ٥٠٠
فَهْرِسُ الْقَوَافِي ............................................................................... ٥٠٤
فَهْرِسُ الْمَوَادِّ الْفِقْهِيَّةِ وَالْكَلِمَاتِ الْمَشْرُوحَةِ ......................................................... ٥١٩
فَهْرِسُ الْأَعْلَامِ ............................................................................... ٥٥٦
فَهْرِسُ الْكُتُبِ ................................................................................ ٥٦٥
الْفَهْرِسُ الْعَامُ ................................................................................ ٥٧٥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar