BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Naskah Kitab dan Terjemah KS 005 (hal.16-19) - Lanjutan Muqoddimah Syaikh Bassam

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🎤 Muqoddimah ala Ustadz BCA (Betawi Cengkareng Asli)

Alhamdulillaah, jumpa lagi nih Bang, Pok ama Sahabat BABA semunya... Ente udeh nyempetin nyaba di mari, Abi girang banget! Kalo ente ngerasa "nyasar" ke mari, tenang aje, ini nyasar yang bawa barokah. Soalnye hari ini Abi mau mulain dari awal garis START buat mengkaji Kitab Kasyifatus Saja ampe garis FINISH nanti, insya Allah. Di postingan pertama Kajian Kitab Kasyifatus Saja ini, Abi langsung mo ngajak ente pade buat kenalan ama naskah cover luar-dalem dan hak cipta kitab enih, ampe sejarah hidupnye Mushannif (penulis asli matan Safinatun Naja), yaitu Syaikh Salim bin Abdullah bin Sumair Al-Hadhrami. Yang bikin ane demen ama nih ulama, beliau kagak cuman ngedekem di mihrab shalat doang tong, tapi beliau juga hakim, politikus, ampe pakar strategi perang yang ngurusin meriam ama amunisi! Malah wafatnye di mana coba? Di Betawi (Jakarta) sini, tanah Jawa! Lah, emang udeh wayanya kita kudu ngaji ampe paham urat-per-urat. Pasang kuping baek-baek, nyok kita kepret kegalauan ibadah ama kegelapan ati kita pake sinar ilmu turots!

📖 NASKAH KITAB & TARJAMAH Kasyifatus Saja Hal. 1-6
TENTANG KITAB KASYIFATUS SAJA

هَذَا الْكِتَابُ :

Artinya: Tentang kitab ini

شَرَحَ هَذَا الْكِتَابُ مَتْنَ سَفِينَةِ النَّجَاهِ، فِي مَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ لِمَوْلَاهِ عَلَى مَذْهَبِ الإِمَامِ الشَّافِعِيِّ ، لِسَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ سُمَيْرِ الْحَضْرَمِي الشَّافِعِيّ (٠٠٠ - هـ = ٠٠٠ - ١٨٥٥م)؛ وَسَفِينَةُ النَّجَاةِ» كِتَابٌ مُخْتَصَرٌ صَغِيرٌ ، يَخْلُو مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْكَامِ لاخْتِصَارِهِ، وَقَدْ حَاوَلَ الشَّارِحُ اسْتِدْرَاكَ هَذِهِ الْأَحْكَامِ النَّافِصَةِ، لَكِنْ بَقِيَ الشَّرْحُ يَنْقُصُ أَحْكَامًا تُعَدُّ ضَرُورِيَّةٌ لِلْكِتَابِ، مِثْلُ : أَحْكَامِ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، أَنْوَاعِ الصَّلَاةِ الْمُخْتَلِفَةِ مِنْ صَلَاةِ عِيدٍ وَاسْتِسْقَاءِ وَغَيْرِهَا.

Artinya: Kitab ini menjelaskan matan Safinatun Najah fi ma Yajibu 'alal 'Abdi li Maulahu menurut mazhab Imam Syafi'i, karya Salim bin 'Abdullah bin Sumair al-Hadhrami asy-Syafi'i (000 - ... H = 000 - 1855 M); dan Safinatun Najah adalah kitab ringkas yang kecil, tidak memuat banyak hukum karena keringkasannya, dan sungguh telah mengusahakan Penulis (Syarah) menyusul (melengkapi) hukum-hukum yang kurang ini, namun syarah tersebut tetap masih kekurangan beberapa hukum yang dianggap darurat (penting) bagi kitab ini, seperti: hukum adzan dan iqamah, berbagai macam salat seperti salat Id, Istisqa, dan selainnya.

لَكِنَّهُ مَعَ ذَلِكَ جَمَعَ الْكَثِيرَ مِنَ الْفَوَائِدِ اللَّغَوِيَّةِ وَالنَّحْوِيَّةِ وَالصَّرْفِيَّةِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ، هَذِهِ الْفَوَائِدُ الَّتِي يَسْمَعُهَا طُلَّابُ الْعِلْمِ مِنْ أَلْسِنَةِ الْعُلَمَاءِ دُونَ مَعْرِفَةِ مَصَادِرِهَا، وَلَا يَجِدُونَهَا مُدَوَّنَةٌ فِي الْكُتُبِ؛

Artinya: Namun demikian, kitab ini mengumpulkan banyak faidah (manfaat) bahasa, nahwu, sharf, dan lainnya. Faidah-faidah ini sering didengar oleh para penuntut ilmu dari lisan para ulama tanpa mengetahui sumbernya, dan mereka tidak menemukannya tertulis di buku-buku.

وَهِيَ فَوَائِدُ نَفِيسَةٌ، يُعَضُّ عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ.

Artinya: Itu adalah faidah yang sangat berharga, yang harus dipegang erat-erat.

كَمَا حَوَى الْكِتَابُ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ الْفَوَائِدِ الْفِقْهِيَّةِ الَّتِي يَحْتَاجُهَا الإِنْسَانُ فِي حَيَاتِهِ الْيَوْمِيَّةِ، مِثْلِ : أَحْكَامِ سَلْقِ اللَّحْمِ، وَأَحْكَامِ الدَّمِ الَّذِي عَلَى اللَّحْمِ ، وَحُكْمُ مَاءِ حَلْقِ الشَّعْرِ لَوِ اخْتَلَطَ بِالدَّمِ، وَهَكَذَا.

Artinya: Sebagaimana kitab ini juga memuat banyak faidah fikih yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti: hukum merebus daging, hukum darah yang ada pada daging, hukum air bekas mencukur rambut jika bercampur darah, dan lain sebagainya.

وَكَذَلِكَ حَوَى الْكَثِير مِنْ فُرُوعِ وَتَفْصِيلَاتِ الْأَحْكَامِ مُغْنِيًّا عَنِ الرُّجُوعِ إِلَى الْكُتُبِ الْوَاسِعَةِ وَالْكَبِيرَةِ، وَيَنْدُرُ أَنْ يَضُمَّهَا كِتَابٌ وَاحِدٌ.

Artinya: Demikian pula ia memuat banyak cabang dan rincian hukum sehingga tidak perlu lagi merujuk ke kitab-kitab yang luas dan besar, yang mana jarang sekali satu kitab bisa mencakup semuanya.

بَلْ ضَيَّقَ الْمُؤَلِّفُ عَلَى نَفْسِهِ فِي دُخُولِهِ فِي مَضَايِقِ تَفَاصِيلِ الْمَسَائِلِ وَتَخْرِيجِهَا، مِثْلِ : هَلْ بَوْلُ النَّبِيِّ خَيْرٌ مِنْ صَلَاةِ النَّاسِ ؟ !

Artinya: Bahkan penulis menyulitkan dirinya sendiri dengan masuk ke dalam detail masalah yang sangat sempit dan penggalian hukumnya (takhrij), seperti: apakah air seni Nabi lebih baik daripada salatnya manusia?!

TENTANG EDISI CETAKAN INI

هَذِهِ الطَّبْعَةُ :

Artinya: Tentang cetakan ini

اعْتَمَدْتُ كَأَصْلٍ لِهَذِهِ الطَّبَّعَةِ ، نُسْخَةً مَطْبُوعَةً فِي الْمَطْبَعَةِ الْمَيْمَنِيَّةِ بِالْقَاهِرَةِ سَنَةَ ١٣٢٢ هـ = ١٩٠٤ م ، بِتَصْحِيحِ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ الزُّهْرِيِّ الْغُمْرَاوِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ، وَعَلَى هَامِشِهَا كِتَابُ « الرِّيَاضِ الْبَدِيعَةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ وَبَعْضِ فُرُوعِ الشَّرِيعَةِ » لِلشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ حَسَبِ اللَّهِ الْمَكِّيِّ الشَّافِعِيِّ ( ١٢٤٤ - ١٣٣٥ هـ = ١٨٢٨ - ١٩١٧ م ) .(١)

Artinya: Saya bersandar sebagai naskah asli untuk cetakan ini pada naskah yang dicetak di Percetakan al-Maymaniyyah, Kairo tahun 1322 H = 1904 M, dengan koreksi dari Syaikh Muhammad al-Zuhri al-Gumrawi Rahimahullahu Ta'ala, dan di marginnya (terdapat) kitab "al-Riyadh al-Badi'ah fi Ushuliddin wa Ba'di Furu'isy Syari'ah" karya Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki asy-Syafi'i (1244 - 1335 H = 1828 - 1917 M).(1)

لَقَدْ أَرَدْتُ مِنْ طَبْعِ هَذَا الْكِتَابِ :

Artinya: Sungguh saya bermaksud dari mencetak kitab ini:

• ضَبْطَهُ بِشَكْلٍ كَامِلٍ ، إِعَانَةً لِلْقَارِئِ عَلَى الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْكِتَابِ ؛

Artinya: • Men-dhabath (memberi harakat) secara sempurna, untuk membantu pembaca dalam mengambil manfaat dari kitab ini;

لَقَدْ حَاوَلْتُ وَأَرْجُو أَنِّي وُفِّقْتُ ، وَبَذَلْتُ وُسْعِي ، وَرَجَائِي أَنْ يَكُونَ قَارِئِي مُعِينًا لِي فِي ذَلِكَ ، فَيُوَافِينِي بِمَا أَخْطَأْتُ وَبِمُلَاحَظَاتِهِ وَاقْتِرَاحَاتِهِ ، لِتَدَارُكِ الْمُسْتَطَاعِ فِي الطَّبْعَاتِ التَّالِيَةِ .

Artinya: Sungguh saya telah berusaha dan saya berharap diberikan taufiq, dan saya telah mengerahkan kemampuanku, dan harapanku pembaca sudi membantuku dalam hal itu, dengan menyampaikan kesalahan, catatan, dan sarannya kepadaku, agar dapat diperbaiki semampunya pada cetakan-cetakan berikutnya.

وَكُلُ... مَا بَيْنَ مَعْقُوفَيْنِ [ ] فَهُوَ مِنْ إِضَافَتِي إِلَى الْأَصْلِ ، وَهُوَ لَيْسَ مِنْهُ .

Artinya: Dan setiap yang berada di antara dua kurung siku [ ... ] maka itu adalah tambahanku pada naskah asli, dan dia bukan bagian dari naskah asli.

وَكُنْتُ طَبَعْتُ مَتْنَ الْكِتَابِ « سَفِينَةُ النَّجَاةِ ، فِي مَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ ، عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ » لِسَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ سُمَيْرٍ الْحَضْرَمِيِّ الشَّافِعِيِّ ( ... - ١٢٧١ هـ = ... - ١٨٥٥ م ) مُسْتَقِلًّا لَدَى الْجَفَّانِ وَالْجَابِي لِلطَّبَاعَةِ وَالنَّشْرِ ، لِيمَاسُول ، قُبْرُص ، عَامَ ١٤٢٧ هـ = ٢٠٠٦ م .

Artinya: Dan saya telah mencetak matan kitab "Safinatun Najah fi ma Yajibu 'alal 'Abdi li Maulahu" sesuai mazhab Imam Syafi'i karya Salim bin 'Abdullah bin Sumair al-Hadhrami asy-Syafi'i (... - 1271 H = ... - 1855 M) secara berdiri sendiri pada (penerbit) al-Jaffan & al-Jabi untuk percetakan dan penerbitan, Limassol, Siprus, tahun 1427 H = 2006 M.

هَذَا ، وَالْكِتَابُ كِتَابُ فِقْهٍ ، يَتَعَلَّقُ بِصِحَّةِ الْعِبَادَاتِ ؛ لِذَا حِرْصًا عَلَى صِحَّةِ الْمَعْلُومَاتِ وَسَلَامَتِهَا مِمَّا يُمْكِنُ أَنْ يَطْرَأَ عَلَيْهَا بِسَبَبِ الطَّبَاعَةِ مِنْ نَقْصٍ أَوْ تَصْحِيفٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ ، وَخَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ خَطَأٌ فِي النَّصِّ ، وَرَفْعًا لِلْمَسْؤُولِيَّةِ أَمَامَ اللَّهِ تَعَالَى ؛

Artinya: Demikianlah, dan kitab ini adalah kitab Fikih yang berkaitan dengan sahnya ibadah; oleh karena itu, demi menjaga keakuratan informasi dan keselamatannya dari apa yang mungkin terjadi (perubahan/kesalahan) disebabkan oleh kekurangan cetak, atau perubahan kata (tashif), atau selain itu, dan karena takut adanya kesalahan dalam teks, serta sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala;

أَنْصَحُ ، بَلْ أَطْلُبُ رَاجِيًا ، بَلْ هُوَ الْوَاجِبُ وَالْمَطْلُوبُ مِنَ الْمُكَلَّفِ ؛ عَدَمَ الِاكْتِفَاءِ بِهَذِهِ الطَّبْعَةِ أَوْ بِهَذَا الْكِتَابِ ، وَمُرَاجَعَةَ غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ ، وَاسْتِفْتَاءَ مُفْتٍ عَارِفٍ بِالْفَتْوَى وَبِالْمَسْأَلَةِ ؛

Artinya: Saya menasihati, bahkan meminta dengan sangat, bahkan inilah yang wajib dan dituntut bagi setiap mukallaf; agar tidak merasa cukup hanya dengan cetakan ini atau buku ini saja, tetapi harus merujuk ke kitab-kitab lainnya, serta meminta fatwa kepada mufti yang paham tentang fatwa dan masalah tersebut;

كُلُّ ذَلِكَ لِلتَّأَكُّدِ مِنْ صِحَّةِ النَّصِّ وَبِالتَّالِي مِنْ صِحَّةِ الْحُكْمِ وَالْفَتْوَى ، فَمِنْ غَيْرِ الْمَقْبُولِ شَرْعًا رُجُوعُ الْعَامَّةِ مِنَ النَّاسِ إِلَى الْكِتَابِ لِاسْتِنْبَاطِ فَتْوَى أَوْ لِمَعْرِفَةِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ دُونَ الرُّجُوعِ إِلَى مُفْتٍ عَالِمٍ أَهْلٍ لِلْفَتْوَى لِاعْتِمَادِ قَوْلِهِ فِي الْمَسْأَلَةِ ،

Artinya: Semua itu untuk memastikan keshahihan teks and konsekuensinya pada keshahihan hukum serta fatwa. Maka tidak mungkin terjadi secara syariat jika orang awam hanya merujuk pada buku untuk menyimpulkan fatwa atau mengetahui hukum syara' tanpa merujuk kepada mufti alim yang ahli fatwa untuk dijadikan pegangan pendapatnya dalam masalah tersebut.

فَالْكِتَابُ دَلِيلٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ يَحْتَاجُ لِمُعَلِّمٍ لِيُتَلَقَّى عَنْهُ الْكِتَابُ كَمَا تَلَقَّاهُ هَذَا الْعَالِمُ مِنْ أَسَاتِذَتِهِ ، فَهَذَا عِلْمٌ يُتَلَقَّى مِنْ أَفْوَاهِ الْعُلَمَاءِ الثِّقَاتِ ، عُرِفُوا بِالْحِفْظِ وَالضَّبْطِ وَشُهِرُوا بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ ، أَخَذُوا عِلْمَهُمْ عَنْ مِثْلِهِمْ ؛ وَلَيْسَ مِنْ بُطُونِ الْكُتُبِ ، وَقَدْ خُصَّتِ الْعُلُومُ الْإِسْلَامِيَّةُ بِالتَّلَقِّي وَالْإِسْنَادِ ، وَبِخَاصَّةٍ الْقِرَاءَاتِ وَالتَّجْوِيدَ وَالْفِقْهَ وَالْحَدِيثَ وَ... إِلَخْ ، بَلْ يَكَادُ الْمَرْءُ لَا يَسْتَثْنِي عِلْمًا مِنَ التَّلَقِّي .

Artinya: Sebab, buku adalah panduan bagi penuntut ilmu yang membutuhkan guru agar kitab tersebut bisa diterima (talaqqi) darinya, sebagaimana ulama tersebut menerimanya dari guru-gurunya. Sebab, ilmu ini diambil dari lisan para ulama tepercaya, yang dikenal kekuatan hafalannya (hifzh) dan ketelitiannya (dhabth), serta masyhur akan kejujuran dan amanahnya, yang mengambil ilmu dari orang-orang yang serupa dengan mereka; dan bukan (diambil) dari isi buku (semata). Ilmu-ilmu Islam dikhususkan dengan sistem talaqqi dan sanad, terutama Qira'at, Tajwid, Fikih, Hadis, dan lain-lain. Bahkan hampir tidak ada satu ilmu pun yang dikecualikan dari proses talaqqi.

وَإِنِّي أَشْكُرُ مُقَدَّمًا كُلَّ مَنْ يُوَافِينِي إِلَى عُنْوَانِ النَّاشِرِ بِكُلِّ مَا يُسَاهِمُ فِي التَّصْحِيحِ مِنْ طَبْعَةِ الْكِتَابِ ، وَمِنِ اقْتِرَاحَاتٍ وَمَا شَابَهَ ذَلِكَ ، وَأَقُولُ لَهُ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا ؛ فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ ، رَقْم : ٢٠٣٥ ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا ؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ » ، قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ جَيِّدٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ .

Artinya: Dan saya berterima kasih sebelumnya kepada siapa pun yang mengirimkan ke alamat penerbit segala hal yang berkontribusi dalam pengoreksian cetakan kitab ini, baik berupa saran maupun sejenisnya, dan saya katakan kepadanya: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan"; karena Tirmidzi telah meriwayatkan, nomor: 2035, dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada pelakunya: 'Jazaakallaahu khayran' (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan); maka sungguh ia telah sangat mendalam dalam memujinya." Abu Isa (Imam Tirmidzi) berkata: Ini adalah hadis Hasan Jayyid Gharib, kami tidak mengetahuinya dari hadis Usamah bin Zaid kecuali dari jalur ini.

وَأَشْتَرِطُ عَلَى الْقَارِئِ إِنْ وَجَدَ مَا يَسُرُّهُ أَنْ لَا يَنْسَانِي مِنْ دَعْوَةٍ صَالِحَةٍ تُفِيدُنِي فِي آخِرَتِي ، وَتُعِينُنِي عَلَى إِخْرَاجِ الْمَزِيدِ مِنَ النُّصُوصِ بِصُورَةٍ مُشْرِقَةٍ وَمُفِيدَةٍ وَمُشَوَّقَةٍ ؛ وَإِنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ أَنْ لَا يَبْخَلَ عَلَيَّ بِنَصِيحَةٍ مُفِيدَةٍ يُرْسِلُهَا لِي إِلَى عُنْوَانِ النَّاشِرِ .

Artinya: Dan saya mensyaratkan kepada pembaca, jika ia menemukan apa yang menyenangkannya, agar tidak melupakanku dalam doa saleh yang bermanfaat bagiku di akhirat kelak, dan membantuku untuk mengeluarkan lebih banyak teks (kitab) dalam bentuk yang cemerlang, bermanfaat, dan menarik; dan jika ia menemukan selain itu (kesalahan), agar ia tidak bakhil (pelit) memberikan nasihat bermanfaat yang dikirimkan kepadaku ke alamat penerbit.

وَفِي الْخِتَامِ ، آمَلُ أَنْ أَكُونَ وُفِّقْتُ بِالِاخْتِيَارِ وَالْعَمَلِ ، أَسْأَلُهُ تَعَالَى التَّوفِيقَ وَالْإِكْرَامَ ، وَالنَّفْعَ عَلَى الدَّوَامِ ، وَأَنْ يَجْعَلَ عَمَلِي مَقْبُولًا ، خَالِصًا لَهُ تَعَالَى ، وَأَنْ يُيَسِّرَنَا لِلْخَيْرِ ، وَيَسْتَعْمِلَنَا صَالِحًا ، وَيَرْحَمَنَا ، وَيَغْفِرَ لَنَا ، وَلِوَالِدِينَا ، وَلِذُرِّيَتِنَا ، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

Artinya: Dan sebagai penutup, saya berharap telah diberikan taufiq dalam pemilihan dan pengerjaan (kitab ini). Saya memohon kepada-Nya Ta'ala taufiq dan kemuliaan, serta manfaat yang langgeng, dan agar menjadikan amalku diterima, murni karena-Nya Ta'ala, dan memudahkan kita pada kebaikan, memakai kita dalam amal saleh, menyayangi kita, mengampuni kita, orang tua kita, keturunan kita, dan setiap orang yang memiliki hak atas kami. Dan akhir seruan kami adalah: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

دِمَشْقَ فِي ٣٠ / ١٠ / ٢٠٠٨ م . بَسَّام عَبْدُ الْوَهَّابِ الْجَابِي .

Damaskus, 30/10/2008 M. Bassam Abdul Wahhab al-Jabi.

Catatan Kaki:
(١) مِنْ كِتَابِ « اخْتِصَارِ النُّورِ وَالزَّهَرِ » ( ص ١١٣ - ١١٤ )
(1) Dikutip dari kitab "Ikhtishar an-Nur wa az-Zahar" (hal. 113 - 114).
📍 Mufrodat & Catatan Khusus Abi Thoufur
السِّيَاسِيُّ (As-Siyāsī) Artinya Politikus / Ahli Siasah. Menunjukkan kalau Syaikh Salim Sumair itu paham urusan tata kelola negara dan diplomasi, kagak kuper urusan umat.
بِالْعَتَادِ الْحَرْبِيِّ (Bil-'Atādil Harbī) Artinya Perlengkapan / Amunisi Perang. Ulama ahli fiqih zaman dulu uge pakar militer nyang ngerti spek senjata modern (meriam) pada masanya.
مُغَاضِبًا (Mughādhiban) Artinya Dalam Keadaan Marah / Kecewa. Syaikh Salim hijrah gara-gara nasihat politiknya didepak ama Sultan. Ini bukti ulama tegas, ogah jadi tukang stempel penguasa!
بَتَاوَى (Batāwā) Artinya Betawi / Jakarta. Tempat labuhan terakhir Syaikh Salim bin Sumair hingga wafat dan dikubur di tanah Betawi. Berkah buat warga Jakarta!

💡 Catatan Abi buat Murid: "Nih liat tong, Syaikh Salim khatam Qur'an-nya sambil thawaf di Ka'bah! Karomah ama istiqomahnya luar biasa. Biarpun ahli perang, ati tetep nempel ama Allah. Makanya tulisan beliau (Safinah) berkah dipelajarin sejagat raya!"


💬 SYARH NYABLAK
USTADZ BCA (BETAWI CENGKARENG ASLI)
- Klik buat buka penjelasan lengkap "Hukum Najis" dari Abi -
Dengerin nih Jemaah...

Kalimat pembuka syarah (Contoh =>) Kalo kemaren kite udeh belajar tentang ukuran air banyak yang kebal ama najis ama air sedikit yang baperan ama najis, maka sekarang pertanyaannye kapan air jadi najis...?

1. Kapan Air Jadi Najis?

Nah, ini format pake border kiri doang

INI FORMAT YANG PAKE KOTAK IJO

Isi bisa disesuaikan, bahkan bisa dibikin juga kotak lagi kalo emang butuh dua tema penjelasan kayak gini misalnya

  • ● Tema 1: Misal ini adalah penjelasan tema 1
  • ● Tema 1: Misal ini adalah penjelasan tema 1

Ini contoh kalo kagak pake border, tapi ditulis langsung di kotak syarh:

📜 KOTAK PUTIH BORDES GARIS PUTUS:

وَنَجَسٌ لَا يُدْرِكُهُ طَرْفٌ مُعْتَدِلٌ حَيْثُ لَمْ يَحْصُلْ بِفِعْلِهِ وَلَوْ مِنْ مُغَلَّظٍ

"dan najis ..."

Contoh ada syarh tentang perbedaan pendapat dalam naskah kitab yang perlu dibahas detail:

  • 1. وَنَجَسٌ لَا يُدْرِكُهُ طَرْفٌ مُعْتَدِلٌ:
    Artinya...
  • 2. حَيْثُ لَمْ يَحْصُلْ بِفِعْلِهِ (Haitsu lam yahshul bi fi'lihi):
    Artinya...

    ● Penjelasan Pertama (Aspek Sengaja): Najis ...

    ● Penjelasan Kedua (Aspek Usaha): Sekiranya ...

Dua-duanya sinkron, Jemaah! Pemahaman pertama buat Kehati-hatian (Waro'), pemahaman kedua buat Kemudahan (Rukhsoh). Kalo kite liat rujukan kelas berat kayak I'anatut Thalibin, Hasyiyah al-Bajuri, Al-Majmu', ampe Al-Umm, maka yang dimaksud kalimat tadi adalah selama kagak disengaja, ini nyang Abi dapetin, tapi semua intinya satu: Allah SWT kaga mau bikin kite was-was!

Takhrij Pendapat Abi:
Jadi jangan ente sengaja nyari penyakit atau sengaja ngotorin air pake najis halus. Tapi kalo udeh ente pelototin sampe juling kaga keliatan, ya udeh, jangan was-was lagi. Allah Maha Tau ente udeh usaha!
🚨 KASUS NYATA: KOLAM MASJID ASY SYIFA

Nah, ini contoh kalau ada studi kasus, usahakan selalu ada contoh studi kasus di MAN 1 Jakarta buat kite bahas => Nah, ini ada pertanyaan bagus dari jamaah: "Bi, kalo kolam di Masjid Asy Syifa ukurannye gede (5 kullah), terus Mas Adit miara ikan di situ. Airnye nyang tadinya bening jadi butek kaga keliatan dasarnye, terus baunye anyir ikan biarpun kaga bikin muntah, itu gimane hukumnye?" Dengerin ye, Jemaah! Biar kata airnye udeh 5 kullah (jagoan nih air), tetep punya batas sabar. Hukumnye begini:

Dengerin ye, Jemaah! Biar kata airnye udeh 5 kullah (jagoan nih air), tetep punya batas sabar. Hukumnye begini:

  • 1. Kalo Butek & Anyir gara-gara Tahi Ikan: Kalo perubahan warnenye udeh bikin air kaga bening lagi DAN baunye udeh berubah jadi anyir (bau khas benda najis), maka air kolam itu statusnye jadi MUTANAJIS. Kagak boleh dipake wudhu! Biarpun anyirnye dikit, nyang namenye berubah sifat gara-gara najis di air banyak, ya hukumnye tetep najis.
  • 2. Kalo Butek gara-gara Lumut: Lain ceritanye kalo buteknye cuma karena lumut atau karena emang air lama kaga dikuras (bukan karena tahi). Itu hukumnye tetep Suci Menyucikan, cuma ya kaga enak aje dipakenye.

Saran Abi buat Mas Adit:
"Mas Adit, mending ente kuras tuh kolam! Jangan ampe jamaah niatnye mau suci malah kena najis gara-gara tahi ikan ente. Kebersihan itu sebagian dari Iman, kalo kolam masjid anyir mah Iman kite juga ikut anyir, wkwkwk!"

🚨 BAHAYA LATEN: MARUS (Darah nyang Nyamar Jadi Lauk!)

Nah, ini kalau memang ada sesuatu yang urgent banget... ada kesalahan fatal, namun sering kurang dipahamin orang banyak, sehingga mungkin cenderung banyak diacuhkan. Ini hukumnya HARAM & NAJIS TOTAL!

Kenapa Abi bilang haram? Nih dengerin alasannye:

  • 1. Darah Nyucur (Damman Masfuhan): Marus itu dibikin dari darah nyang nyucur pas hewan disembelih, terus ditampung dan dikukus. Di Al-Qur'an (QS. Al-An'am: 145) udeh jelas dilarang makan darah nyang mengalir. Jadi kaga ada tawar-menawar lagi, Jemaah!
  • 2. Kagak Ada "Ma'fu" buat Marus: Kalo darah sisa di urat daging dimaafin karena susah ilangnye, nah kalo Marus ini kan Sengaja ente tampung, ente bumbuin, terus ente makan. Itu udeh masuk kategori "Bi Fi'lihi" (perbuatan sengaja), kaga bakal dapet diskon hukum!
  • 3. Bedain ama Hati & Limpa: Rasulullah bilang hati ama limpa itu halal biarpun bentuknye kayak darah beku. Kenapa? Karena itu emang organ tubuh (daging), bukan darah nyucur nyang dibekuin paksa.

Pesan Abi: "Kalo di warung liat potongan item kayak ati tapi teksturnye kenyal-kenyal licin, mending tanya dulu. Kalo itu Marus, kabur dah! Jangan kasih makan perut ente pake barang najis, ntar doa ente kaga ditembusin ke langit gara-gara urusan perut!"

Gimana Jemaah? Udeh mulai puyeng apa makin melek? Sabar, tinggal dikit lagi kite sampe di bagian penutup nyang paling asik!

KESIMPULAN NYABLAK ABI

Jemaah, syariat Islam itu bukan mau bikin kite ribet atau was-was. Aturan soal Najis Ma'fu ini bukti kalo Allah SWT itu Maha Adil. Nyang penting buat kite:

1. Usaha Maksimal (Ikhtiar): Jaga kebersihan sebisa mungkin.
2. Jangan Sengaja (Ghoiru Bi Fi'lihi): Jangan nantangin najis atau sengaja ngotorin diri.
3. Tawakkal: Kalo udeh usaha tapi tetep kaga keliatan ama mata, ya udeh dimaafin!

Billaah, Lillaah, Fillaah!

(Dengan Allah, Karena Allah, Di Jalan Allah)

Sekian Syarh Nyablak hari ini. Moga manfaat, moga ibadah kite makin mantep kaga pake was-was lagi. Kalo ada nyang kurang paham, tulis di kolom komentar atau samperin Abi di MAN 1 Jakarta Barat sambil bawa kopi ye! wkwkwk.

~ Abi Thoufur (The Nyablak Teacher) ~

📖 BUKA KITAB HALAMAN : 91

Preview Kitab Abi
Digital Archiver : Ahmad Thoufur (Abi Thoufur) Guru MAN 1 Jakarta
BONUS EXCLUSIVE

🎁 KADO ILMU SPESIAL DARI ABI

Eits, jangan bubar dulu! Sebelum ente tutup nih artikel, Abi kasih "Kado Ilmu" tambahan nyang sering banget ditanyain tapi orang sering salah jawab. Simak dalilnye biar ente kaga planga-plongo pas ditanya orang!

1. Darah Nyamuk: Ngalir Ape Kagak? (Laa Dama Lahu Sailun)

وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ كَالذُّبَابِ وَالْبَعُوضِ فَإِنَّهُ لَا يُنَجِّسُ الْمَاءَ إِذَا مَاتَ فِيهِ

"Hewan yang tidak memiliki darah mengalir seperti lalat dan nyamuk, tidak menajiskan air jika mati di dalamnya." (Kitab Al-Muhadzdzab).

Syarh Abi: Nyamuk itu masuk kategori binatang nyang kagak punya darah mengalir. Kalo ente potong sayapnye pas perut kosong, kaga bakal ada darah muncrat. Nyang merah pas digeprek itu sebenernye "Darah Titipan" alias darah orang nyang baru dia sedot. Hukumnye: Ma'fu (Dimaafin) asal jangan sengaja ente kumpulin terus olesin ke sajadah!

2. Tai Cicek (Si Ranjau Shalat)

تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

"Bersihkanlah diri kalian dari kencing (dan kotoran), karena secara umum azab kubur berasal darinya." (HR. Daruquthni).

Syarh Abi: Nah, kalo ini NAJIS, Bi. Titik. Kagak pake Ma'fu. Biarpun bangke cicak kaga najisin air, tapi kotorannya tetep najis. Kalo kena air dikit, airnye jadi Mutanajis. Kalo kena baju pas shalat, wajib dibuang dan dicuci. Tahi cicak itu biarpun secuil, tetep "ranjau" buat keabsahan shalat ente!

3. Nyambung Rambut & Bulu Mata (Al-Washlu)

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ

"Allah melaknat orang yang menyambung rambut (termasuk wig/bulu mata) dan orang yang minta disambungkan rambutnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Syarh Abi: Ini nyang lagi tren di Gen-Z (extension). Hukum asalnya Haram & Dilaknat, apalagi buat nipu. Kalo pake rambut manusia: Haram & Najis. Kalo pake bulu hewan najis: Mutlak Najis. Kalo sintetis: Ada khilaf, tapi kudu ati-ati soal wudhu. Kalo air kaga nyampe pangkal bulu mata gara-gara lemnye, wudhu ente kaga sah, Mpok!

4. Bulu "Guk-Guk" (Anjing)

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

"Sucinya wadah jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, yang pertamanya dengan tanah." (HR. Muslim).

Syarh Abi: Kaga ada diskon! Biarpun cuma selembar halus, statusnye Najis Mughalladhah. Di mazhab Syafi'i, kaga ada toleransi (ma'fu) buat najis anjing di dalem shalat. Kalo nempel di sarung, wassalam... ente kudu batalin shalat, cuci pake tanah 7 kali, baru shalat lagi!

"Dalil udeh jelas, teks Arab udeh jembreng. Jangan ampe ibadah ente rontok cuma gara-gara urusan najis nyang ente remehin!"

~ Abi Thoufur (The Nyablak Teacher) ~

Alhamdulillah...

Sekian rumput-rumputan kajian kite hari ini, Jemaah. Moga-moga nih ilmu kaga cuma numpang lewat di kuping kanan terus kabur lewat kuping kiri, tapi nancep di ati dan jadi wasilah ibadah kite makin mantep kaga pake was-was lagi. Kalo ada kata-kata Abi nyang kurang sreg atau kurang paham, jalurnye gampang: tulis di kolom komentar di bawah, atau samperin Abi langsung di MAN 1 Jakarta Barat sambil bawa kopi item gelas gede ye, wkwkwk!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi