BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

Serial Abul Anbiyaa #24 | Tangisan Hati Sang Kekasih Allah: Menggugat Berhala di Gerbang Keabadian

Thumbnail BABA Blog

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُم ْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abi Ahmad Thoufur

Disajikan oleh : Abi Ahmad Thoufur

(Ustadz Betawi Nyablak Asli Cengkareng)

🏛️ COCOLAN SAMBEL BABA 🏛️

✍️ Muqoddimah ala Ustadz Betawi Nyablak

Gimane kabarnye para sedulur dan murid-murid Abi di seluruh penjuru bumi? Semoga masih tetep istiqomah dalam tholabul ilmi. Kali ini kita bakal ngeliat keteguhan Ibrahim $AS$ yang bener-bener luar biasa, ngadepin kerasnya tradisi penyembahan berhala di Damaskus dengan penuh kesabaran.

Bukan pake kekerasan, tapi pake air mata kasih sayang. Ibrahim $AS$ melangkah masuk ke tengah riuhnya kuil-kuil pemujaan, ngajak kaumnya mikir pake akal sehat. Bagaimana mungkin sesuatu yang nggak bisa ciptain apa-apa malah disembah? Mari kita resapi setiap langkah dakwah Sang Nabi yang mengguncang kesadaran kaumnya di gerbang keabadian.

📖 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Karya : Abdul Hamid Judah As-Sahhar

✦ ✧ ✦

أَبُو الْأَنْبِيَاءِ

Bapak Para Nabi ﴿

✧ ✦ ✧

Tangisan Hati Sang Kekasih Allah:
Menggugat Berhala di Gerbang Keabadian

Yuk, baca naskah aslinye. Nyang baca harus fokus, nyang ngebatin harus khusyuk!
ABUL ANBIYA
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Tangisan Hati Sang Kekasih Allah: Menggugat Berhala di Gerbang Keabadian

Ibrahim berdiri di tengah riuhnya pemujaan yang menyesatkan, bukan dengan amarah, melainkan dengan air mata kasih sayang seorang Nabi yang hendak menarik kaumnya keluar dari jeratan kegelapan menuju cahaya yang abadi.

أَشْرَفَ إِبْرَاهِيمُ وَلُوطٌ وَمَنْ مَعَهُمَا مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْعَبِيدِ عَلَى دِمَشْقَ ، وَكَانَ سُكَّانُ الْمِنْطَقَةِ مِنْ أَجْنَاسٍ مَتَبَايِنَةٍ ، إِلَّا أَنَّ الْآمُورِيِّينَ وَهُمْ مِثْلُهُمْ مِنَ السَّامِيِّينَ كَانُوا هُمُ الْغَالِبِيَّةَ ، وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ الْآرَامِيَّةَ مِثْلَهُمْ فَكَانَ التَّفَاهُمُ بَيْنَهُمْ مَيْسُورًا .
Ibrahim dan Luth serta orang-orang yang bersama mereka dari kalangan laki-laki, wanita, dan hamba sahaya sampai di Damaskus. Penduduk wilayah tersebut berasal dari berbagai suku bangsa yang berbeda, namun kaum Amori—yang juga merupakan kaum Semit seperti mereka—adalah kelompok mayoritas. Mereka berbicara bahasa Aram seperti mereka, sehingga saling memahami dengan mudah.
رَأَى إِبْرَاهِيمُ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ نَهْرَ بَرَدَى يَرْوِي أَرَاضِيَ الْغُوطَةِ وَالْمُرُوجِ الْخَضْرِ إِلَى مَدَى الْبَصَرِ ، وَالثَّمَرَاتِ وَفِيرَةً مِنْ أَعْنَابٍ وَزَيْتُونٍ وَتِينٍ وَقَمْحٍ وَشَعِيرٍ وَبَصَلٍ وَثُومٍ وَحِمَّصٍ وَفُولٍ ، وَلَمْ تُثِرْ هَذِهِ الْخَيْرَاتُ انْتِبَاهَهُمْ ، فَلَوْ كَانَتْ أَطْمَاعُهُمْ تَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْخَيْرَاتِ وَالتَّمَتُّعِ بِهَا مِثْلَ بَدْوِ الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ أَوْ بَدْوِ صَحْرَاءِ الْعِرَاقِ أَوْ بَدْوِ الصَّحْرَاءِ السُّورِيَّةِ لَمَا خَرَجُوا مِنْ أُورَ ، فَقَدْ كَانَتْ أُورُ كَثِيرَةَ الْخَيْرَاتِ كَالْجَنَّةِ الْفَيْحَاءِ .
Ibrahim dan para pengikutnya yang beriman melihat Sungai Barada mengairi tanah Ghuta dan padang rumput hijau sejauh mata memandang, dengan buah-buahan yang melimpah seperti anggur, zaitun, ara, gandum, jelai, bawang, bawang putih, kacang arab, dan kacang fava. Namun, kekayaan ini tidak menarik perhatian mereka. Jika saja ambisi mereka terbatas pada kekayaan dan kenikmatan duniawi seperti halnya badui Jazirah Arab, badui gurun Irak, atau badui gurun Suriah, niscaya mereka tidak akan pergi meninggalkan Ur, padahal Ur saat itu kaya raya bak surga yang luas.
إِنَّهُمْ إِنَّمَا خَرَجُوا لِلَّهِ ، لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُرِيدُونَ أَنْ يَعْلُوَ اسْمُ اللَّهِ ، أَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ كُلُّهُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ ، أَنْ تَسُودَ مَمْلَكَةُ السَّمَاءِ . وَاتَّجَهُوا قَاصِدِينَ الْمَعْبَدَ ، وَكَانَتِ الْأَسْوَاقُ تَغُصُّ بِالسِّلَعِ وَالطُّرُقَاتُ تَمُوجُ بِالنَّاسِ : الرِّجَالُ فِي مَلَابِسَ زَاهِيَةٍ ، وَالنِّسَاءُ يَرْتَدِينَ ثِيَابًا تُغَطِّي إِحْدَى الْكَتِفَيْنِ وَتَتْرُكُ الْأُخْرَى عَارِيَةً وَيَنْتَعِلْنَ أَحْذِيَةً حَمْرَاءَ . وَكَانَ الْجَمَالُ وَالْبَهْجَةُ وَالْإِغْرَاءُ تَنْبَعِثُ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ ، وَلَكِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ مَعَهُ سَارُوا لَا يَلْتَفِتُونَ ، فَقَدِ انْقَطَعَتِ الْأَوَاصِرُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهْوِ وَالتِّجَارَةِ وَاتَّصَلَتِ الْأَسْبَابُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ .
Mereka pergi semata-mata karena Allah. Mereka tidak menginginkan ketinggian di bumi, melainkan ingin meninggikan nama Allah, agar seluruh urusan kembali kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, agar kerajaan langit berkuasa. Mereka menuju ke kuil, sementara pasar-pasar penuh dengan barang dagangan dan jalanan dipadati oleh orang-orang: laki-laki berpakaian cerah, dan wanita mengenakan pakaian yang menutupi salah satu bahu sementara bahu lainnya dibiarkan terbuka, serta memakai alas kaki berwarna merah. Keindahan, keceriaan, dan daya tarik terpancar dari setiap sudut, namun Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya berjalan tanpa menoleh, karena ikatan antara mereka dengan kesia-siaan dan perdagangan telah terputus, dan hubungan antara mereka dengan langit telah tersambung.
وَأَقْبَلَ رَجُلٌ قَوِيٌّ مَفْتُولُ الْعَضَلَاتِ يَحْمِلُ جُعْبَةً مِنَ السِّهَامِ ، أَقْبَلَ عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَتْبَاعِ إِبْرَاهِيمَ وَقَالَ لَهُ :
Lalu datanglah seorang pria kuat berotot membawa kantong panah, ia menghampiri salah satu pengikut Ibrahim dan berkata kepadanya:
— إِنِّي أَتَحَدَّاكُ .
— Aku menantangmu.
وَلَمْ يَفْهَمِ الرَّجُلُ سَبَبًا لِذَلِكَ التَّحَدِّي فَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا عَدَاءٌ وَمَا تَقَابَلَا قَبْلَ الْيَوْمِ ، وَقَالَ الرَّجُلُ الْمَفْتُولُ الْعَضَلَاتِ :
Pria tersebut tidak mengerti alasan tantangan itu karena tidak ada permusuhan di antara mereka dan mereka belum pernah bertemu sebelumnya, dan pria berotot itu berkata:
— نَتَرَاشَقُ بِالسِّهَامِ وَمَنْ يَقْتُلْ صَاحِبَهُ يَسْتَوْلِ عَلَى مَا يَمْلِكُ .
— Kita saling melempar panah, dan siapa yang membunuh lawannya akan menguasai apa yang dimilikinya.
مَنْ قَالَ لَهُ إِنَّ مَنْ هَاجَرَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَبْغِي مَتَاعًا ؟ يَقْتُلُ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ فِي سَبِيلِ غَرَضٍ زَائِلٍ ؟ لَقَدْ أَلْقَى الدُّنْيَا كُلَّهَا وَرَاءَ ظَهْرِهِ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ ، وَهُوَ لَا يَطْمَعُ أَنْ يَفُوزَ بِمَتَاعٍ قَلِيلٍ بَلْ يَطْمَعُ فِي الْفَوْزِ الْعَظِيمِ ، فِي جَنَّاتٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . لَوْ أَنَّهُ دُعِيَ لِيُحَارِبَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَبَّى النِّدَاءَ وَهُوَ مُنْشَرِحُ الصَّدْرِ فَهُوَ يَدْعَى إِلَى إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ : الْفَتْحُ أَوِ الِاسْتِشْهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، أَمَّا أَنْ يُدْعَى إِلَى مَا يُغْضِبُ اللَّهَ وَيُسَارِعَ إِلَى الْمَعْصِيَةِ فَهَذَا هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ . وَقَالَ الرَّجُلُ الْمُؤْمِنُ :
Siapa yang mengatakan kepadanya bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah menginginkan kesenangan dunia? Membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan demi tujuan yang fana? Dia telah membuang dunia seluruhnya ke balik punggungnya demi mencari keridhaan Allah, dan dia tidak berambisi meraih kesenangan kecil, melainkan berambisi meraih kemenangan besar, di surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disiapkan bagi orang-orang bertakwa. Jika dia dipanggil untuk berperang di jalan Allah, dia akan memenuhi panggilan itu dengan dada yang lapang, karena dia dipanggil untuk meraih salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid di jalan Allah. Adapun dipanggil untuk melakukan apa yang membuat Allah murka dan bersegera menuju maksiat, maka itulah kerugian yang nyata. Dan pria mukmin itu berkata:
— أَنَا لَا أَقْبَلُ تَحَدِّيكَ .
— Aku tidak menerima tantanganmu.
فَصَاحَ الَّذِينَ الْتَفَوْا حَوْلَهُمَا مُنْكِرِينَ ، فَالْتَّقَالِيدُ تَقْضِي أَنْ يَقْبَلَ التَّحَدِّيَ وَإِلَّا كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الْعَارِ . وَلَمْ يَحْفِلِ الْمُؤْمِنُ وَلَا مَنْ مَعَهُ بِأَصْوَاتِ الْهَزْءِ وَالسُّخْرِيَّةِ فَهُمْ لَا يُقِيمُونَ وَزْنًا لِلتَّقَالِيدِ بَلْ يَحْمِلُونَ مَعَاوِلَ الْهَدْمِ لِيَجْتُثُّوهَا مِنْ جُذُورِهَا حَتَّى تَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا . وَصَاحَ صَائِحٌ :
Orang-orang yang berkumpul di sekitar mereka berteriak mengingkari, karena adat istiadat mengharuskan ia menerima tantangan tersebut, jika tidak, dia telah mencoreng dirinya dengan aib. Namun, orang beriman itu dan orang-orang yang bersamanya tidak mempedulikan suara-suara ejekan dan cemoohan, karena mereka tidak memberi bobot pada adat istiadat, melainkan membawa kapak penghancur untuk mencabutnya hingga ke akar-akarnya agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Kemudian seseorang berteriak:
— أَنَا أَقْبَلُ نِزَالَكَ .
— Aku menerima duelmu.
وَالْتَفَتَتِ الْعُيُونُ فَإِذَا شَيْخٌ جَاوَزَ الْخَمْسِينَ يَحْمِلُ أَثْوَابًا مِنَ الْقَمَاشِ ، وَكَانَ نَحِيلًا لَا يَبْدُو عَلَيْهِ أَنَّهُ مُقَاتِلٌ شَدِيدٌ . وَوَضَعَ الشَّيْخُ مَا كَانَ يَحْمِلُهُ وَالْتَفَتَ إِلَى الْمَلَأِ وَقَالَ :
Mata menoleh, ternyata seorang syekh yang telah melewati usia lima puluh tahun membawa pakaian dari kain, ia terlihat kurus dan tidak tampak seperti petarung yang tangguh. Syekh itu meletakkan apa yang dibawanya, menoleh ke kerumunan dan berkata:
— ائْتُونِي بِقَوْسٍ وَجَعْبَةِ سِهَامٍ .
— Bawakan aku busur dan kantong panah.
وَقَدَّمَ إِلَيْهِ أَحَدُهُمْ قَوْسَهُ وَجَعْبَةَ سِهَامِهِ فَرَاحَ يَخْتَبِرُ الْقَوْسَ اخْتِبَارَ خَبِيرٍ ، وَسُرْعَانَ مَا تَكَوَّنَتْ حَلْقَةٌ وَاسِعَةٌ مِنَ الْقَوْمِ وَارْتَفَعَتِ الصِّيَحَاتُ . وَوَقَفَ الرَّجُلَانِ دَاخِلَ الْحَلْقَةِ وَبَيْنَهُمَا مَسَافَةٌ ، وَوَضَعَ كُلٌّ مِنْهُمَا السَّهْمَ فِي قَوْسِهِ وَشَدَّهَا وَانْتَظَرَ أَنْ يُعْطَى إِشَارَةُ الْبَدْءِ فِي الْمَعْرَكَةِ ، الْمَعْرَكَةِ الَّتِي لَمْ يَكُنْ لَهَا سَبَبٌ إِلَّا حُبُّ النِّزَالِ وَسَيْطَرَةِ قَانُونِ الْغَابِ عَلَى الْعُقُولِ .
Salah seorang dari mereka memberikan busur dan kantong panahnya, lalu syekh itu mulai menguji busur tersebut layaknya seorang ahli. Tak lama kemudian terbentuk lingkaran besar dari orang-orang dan teriakan-teriakan pun membumbung. Kedua pria itu berdiri di dalam lingkaran dengan jarak di antara mereka, masing-masing menempatkan anak panah di busurnya, menariknya, dan menunggu diberikan isyarat dimulainya pertempuran; pertempuran yang tidak memiliki sebab selain kecintaan pada duel dan dominasi hukum rimba atas akal pikiran.
وَأُعْطِيَتْ إِشَارَةُ الْبَدْءِ فَقِتَالٌ لَا يَنْتَهِي إِلَّا بِمَوْتِ أَحَدِ الْمُقَاتِلَيْنِ ، سَيَلْفِظُ أَحَدُهُمَا رُوحَهُ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ ، فِي سَبِيلِ نَزْوَةٍ طَائِشَةٍ . وَأَطْلَقَ الشَّابُ الْمَفْتُولُ الْعَضَلَاتِ سَهْمَهُ فَاتَّقَاهُ الشَّيْخُ فِي مَهَارَةٍ ، ثُمَّ أَطْلَقَ الشَّيْخُ سَهْمَهُ فَطَاشَ ، وَرَاحَتِ السِّهَامُ تَتَبَادَلُ وَالشَّابُ وَالشَّيْخُ يَرُوغَانِ مِنْهَا فِي خِفَّةٍ وَسُرْعَةٍ وَحِرْصٍ شَدِيدٍ .
Isyarat dimulainya pertempuran diberikan, pertarungan yang tidak berakhir kecuali dengan kematian salah satu petarung. Salah satu dari mereka akan menghembuskan nafas terakhir demi jalan setan, demi nafsu yang gegabah. Pemuda berotot itu melesatkan panahnya dan syekh itu menghindarinya dengan terampil, kemudian syekh itu melepaskan panahnya namun meleset, dan panah-panah terus saling berbalas sementara pemuda dan syekh itu menghindarinya dengan kelincahan, kecepatan, dan kewaspadaan yang tinggi.
وَدَوَّتْ فِي الْمَكَانِ صِيَحَاتٌ مُتَعَطِّشَةٌ إِلَى الدِّمَاءِ وَكَانَتِ الْأَعْيُنُ تَنْظُرُ فِي اهْتِمَامٍ ، وَالصُّدُورُ تَعْلُو وَتَنْخَفِضُ فِي حَمَاسٍ ، وَالْأَصْوَاتُ تَنْطَلِقُ تَحُثُّ الْمُتَقَاتِلَيْنِ أَنْ يَقْضِيَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ . كَانَتِ الْقُلُوبُ كُلُّهَا قَاسِيَةً إِلَّا قُلُوبَ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَدِ امْتَلَأَتْ أَسًى وَإِشْفَاقًا ، وَزَادَ إِصْرَارُهُمْ عَلَى أَنْ يُخْرِجُوا هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ مِنَ الظُّلُمَاتِ الَّتِي يَعِيشُونَ فِيهَا إِلَى النُّورِ .
Di tempat itu bergema teriakan-teriakan yang haus akan darah, mata-mata memandang dengan penuh perhatian, dada-dada naik-turun dengan antusias, dan suara-suara membahana mendesak para petarung agar salah satunya menghabisi yang lain. Semua hati di sana keras, kecuali hati Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan mukmin, karena hati mereka dipenuhi rasa sedih dan kasihan, dan tekad mereka semakin bertambah untuk mengeluarkan kaum itu dari kegelapan yang mereka jalani menuju cahaya.
وَرَاحَ الْمُتَقَاتِلَانِ يَدْنُوَانِ مِنَ الْآخَرِ وَالسِّهَامُ تَتَطَايَرُ ، وَانْتَهَزَ الشَّيْخُ لَفْتَةً طَائِشَةً مِنَ الشَّابِّ الْمَفْتُولِ الْعَضَلَاتِ الْمُدِلِّ بِقُوَّتِهِ فَسَدَّدَ إِلَيْهِ سَهْمًا اسْتَقَرَّ فِي عُنُقِهِ ، فَخَرَّ الشَّابُ صَرِيعًا يَخْبِطُ فِي دَمِهِ بَيْنَ تَهْلِيلِ الْقَوْمِ وَصَخَبِهِمْ .
Kedua petarung terus mendekat satu sama lain sementara anak panah berterbangan, lalu sang syekh memanfaatkan kelengahan pemuda berotot yang sombong dengan kekuatannya itu, ia membidikkan panah kepadanya dan panah itu bersarang di lehernya, pemuda itu pun jatuh tersungkur bermandikan darahnya di tengah sorak-sorai dan kebisingan kaum tersebut.
وَسَارَ إِبْرَاهِيمُ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ، وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ فِي نَفْسِهِ يُؤْمِنُ بِالصِّرَاعِ وَبِأَنَّهُ لَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَهُدِمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ، كَانَ يُؤْمِنُ بِالصِّرَاعِ فِي سَبِيلِ هَدَفٍ جَلِيلٍ ، فِي سَبِيلِ إِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ ، وَلَيْسَ بِالصِّرَاعِ الَّذِي تُهْدَرُ فِيهِ كَرَامَةُ الْإِنْسَانِ وَإِنْ أَقَرَّهُ الْعُرْفُ وَالتَّقَالِيدُ . إِنَّهُ يُؤْمِنُ بِالسَّلَامِ وَالْمَحَبَّةِ . فَلْيَدْعُوَنَّ الْقَوْمَ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ، فَإِنْ قَاوَمُوهُ وَفَرَضُوا عَلَيْهِ الْقِتَالَ فَسَيُقَاتِلُهُمْ وَهُوَ وَاثِقٌ أَنَّ النَّصْرَ سَيَكُونُ حَلِيفَهُ ، فَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ، وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ .
Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan mukmin melanjutkan perjalanan. Dalam hatinya, Ibrahim meyakini tentang perjuangan, bahwa sekiranya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya bumi akan rusak, dan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah, serta masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah akan hancurkan. Dia meyakini perjuangan demi tujuan yang mulia, demi meninggikan kalimat Allah, dan bukan perjuangan yang merendahkan martabat manusia meskipun adat dan tradisi mengesahkannya. Dia meyakini perdamaian dan kasih sayang. Maka hendaknya dia mengajak kaum itu dengan cara yang terbaik, namun jika mereka melawannya dan memaksanya berperang, dia akan memerangi mereka dengan penuh keyakinan bahwa kemenangan akan menjadi sekutunya, karena kemenangan hanyalah dari sisi Allah, dan Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya; sungguh Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
وَلَاحَتْ لَهُمْ مَنَازِلُ دِمَشْقَ عَلَى ضِفَّتَيْ نَهْرِ بَرَدَى ، مُسْتَطِيلَةَ الشَّكْلِ أَسَاسُهَا كَتَلٌ مِنَ الْحِجَارَةِ وَجُدْرَانُهَا مِنَ اللَّبِنِ وَسُقُوفُهَا مِنْ أَعْوَادِ النَّبَاتَاتِ طُلِيَتْ بِالطِّينِ ، كَانَتْ كَمَنَازِلِ أُورَ إِلَّا أَنَّهَا تَرْتَفِعُ عَلَى الرَّوَابِي أَوْ عَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ ، فَيَنْسَابُ نَهْرُ بَرَدَى فِي رِفْقٍ لَا تَخْشَى غَوَائِلَهُ .
Tampaklah oleh mereka rumah-rumah Damaskus di kedua tepian Sungai Barada, berbentuk memanjang dengan fondasi dari tumpukan batu, dindingnya dari batu bata, dan atapnya dari batang-batang tanaman yang dilumuri lumpur. Rumah-rumah itu seperti rumah-rumah di Ur, namun letaknya lebih tinggi di atas bukit-bukit atau di kaki-kaki gunung, sehingga Sungai Barada mengalir dengan lembut tanpa dikhawatirkan bahayanya.
وَوَصَلَ إِبْرَاهِيمُ وَأَتْبَاعُهُ إِلَى مَعْبَدِ الْإِلَهِ بَعْلٍ وَأُخْتِهِ عَنَتٍ ، وَكَانَ مَزِيجًا مِنْ مَعَابِدِ الْبَابِلِيِّينَ وَمَعَابِدِ الْمِصْرِيِّينَ . كَانَتْ بِهِ تَمَاثِيلُ لِشَمَاشٍ وَعَشْتَارَ وَسِينٍ ، وَتَمَاثِيلُ لِأَبِي الْهَوْلِ وَآلِهَةٍ مِصْرِيِّينَ . كَانَ الْقَوْمُ عَلَى الطَّرِيقِ بَيْنَ حَضَارَتَيْنِ كَبِيرَتَيْنِ : حَضَارَةِ بَابِلَ وَحَضَارَةِ الْفَرَاعِنَةِ فَاقْتَبَسُوا مَا وَصَلَ إِلَيْهِمْ مِنَ الْحَضَارَتَيْنِ ، وَفُرِضَتِ الْآلِهَةُ الْمُخْتَلِفَةُ سُلْطَانَهَا عَلَيْهِمْ . وَرَاحَ الْقَوْمُ يُقَدِّمُونَ الْقَرَابِينَ مِنَ الْخَنَازِيرِ الْبَرِّيَّةِ إِلَى بَعْلٍ وَعَنَتٍ وَسِينٍ وَشَمَاشٍ وَعَشْتَارَ وَالْآلِهَةِ الْأُخْرَى ، بَيْنَ صَلَوَاتِ الْكَهَّانِ وَأَنَاشِيدِ الْمُغَنِّينَ وَمُوسِيقَى الْعَازِفِينَ وَالْبُخُورِ الَّذِي عَبَقَ بِهِ الْمَكَانُ .
Ibrahim dan para pengikutnya sampai di kuil dewa Baal dan saudarinya Anat, sebuah perpaduan antara kuil-kuil orang Babilonia dan kuil-kuil orang Mesir. Di dalamnya terdapat patung-patung Shamash, Ishtar, dan Sin, serta patung Sphinx dan dewa-dewa Mesir. Kaum tersebut berada di jalan di antara dua peradaban besar: peradaban Babilonia dan peradaban Firaun, maka mereka menyerap apa yang sampai kepada mereka dari kedua peradaban tersebut, dan berbagai dewa pun memaksakan kekuasaan mereka kepada mereka. Kaum itu pun mulai mempersembahkan kurban babi hutan kepada Baal, Anat, Sin, Shamash, Ishtar, dan dewa-dewa lainnya, di antara doa-doa para pendeta, nyanyian para penyanyi, musik para pemusik, serta kemenyan yang mengharumkan tempat tersebut.
وَكَانَ فِي دِمَشْقَ كَثِيرٌ مِنَ الْمِصْرِيِّينَ يُمَارِسُونَ أَعْمَالًا مُخْتَلِفَةً ، وَكَانَ مِنْهُمْ مُوَظَّفُونَ مِنْ قِبَلِ مَلِكِ مِصْرَ ، إِذْ كَانَتْ سُورِيَة آنَئِذٍ فِي حُكْمِ الْمِصْرِيِّينَ ، وَوَقَفَ الْمِصْرِيُّونَ فِي الْمَعْبَدِ أَمَامَ آلِهَتِهِمْ يَحْرِقُونَ الْبُخُورَ وَيَتْلُونَ الِابْتِهَالَاتِ الَّتِي يَتَرَنَّمُ بِهَا الْمِصْرِيُّونَ عِنْدَ الِاحْتِفَالِ بِحَرْقِ الْبُخُورِ :
Dan di Damaskus terdapat banyak orang Mesir yang melakukan berbagai pekerjaan, dan di antara mereka ada pegawai dari raja Mesir, karena Suriah saat itu berada di bawah kekuasaan Mesir, dan orang-orang Mesir berdiri di kuil di hadapan tuhan-tuhan mereka membakar dupa dan melantunkan doa-doa yang biasa dilantunkan orang Mesir saat perayaan membakar dupa:
— إِنَّ النَّارَ تَهِيَّأُ وَالنَّارَ تَضِيءُ .
— إِنَّ الْبُخُورَ يُوضَعُ عَلَى النَّارِ وَالْبُخُورُ يَضِيءُ .
— وَشُذَاكَ يَأْتِي لِلْمَلِكِ يَأَيُّهَا الْبُخُورُ .
— وَشَذَى الْمَلِكِ يَأْتِي إِلَيْكَ يَأَيُّهَا الْبُخُورُ .
— وَشُذَاكُمْ يَأْتِي لِلْمَلِكِ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— وَشَذَى الْمَلِكِ يَأْتِي إِلَيْكُمْ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— إِنَّ الْمَلِكَ مَعَكُمْ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— وَأَنْتُمْ مَعَ الْمَلِكِ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— وَالْمَلِكُ يَعِيشُ مَعَكُمْ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— وَأَنْتُمْ تَعِيشُونَ مَعَ الْمَلِكِ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— وَالْمَلِكُ يُحِبُّكُمْ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— فَأَحِبُّوهُ يَأَيُّهَا الْآلِهَةُ .
— Sesungguhnya api bersiap dan api menerangi.
— Sesungguhnya dupa diletakkan di atas api dan dupa menerangi.
— Dan wangimu datang kepada raja wahai dupa.
— Dan wangi raja datang kepadamu wahai dupa.
— Dan wangimu datang kepada raja wahai para tuhan.
— Dan wangi raja datang kepada kalian wahai para tuhan.
— Sesungguhnya raja bersama kalian wahai para tuhan.
— Dan kalian bersama raja wahai para tuhan.
— Dan raja hidup bersama kalian wahai para tuhan.
— Dan kalian hidup bersama raja wahai para tuhan.
— Dan raja mencintai kalian wahai para tuhan.
— Maka cintailah dia wahai para tuhan.
وَرَاحَ إِبْرَاهِيمُ وَمَنْ مَعَهُ يَنْظُرُونَ وَيَسْمَعُونَ ؛ إِنَّ الْقَوْمَ اتَّخَذُوا دِينَ بَابِلَ وَدِينَ مِصْرَ وَعَكَفُوا عَلَى أَصْنَامِهِمْ يَعْبُدُونَهَا وَيُقَدِّمُونَ لَهَا الْخَنَازِيرَ قُرْبَانًا وَزُلْفَى .
وَوَقَفَ إِبْرَاهِيمُ فِي الْمَعْبَدِ وَقَالَ :
Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya pergi melihat dan mendengar; sesungguhnya kaum itu telah mengambil agama Babilonia dan agama Mesir, dan mereka tekun beribadah kepada berhala-berhala mereka, mempersembahkan babi sebagai kurban dan persembahan.
Dan Ibrahim berdiri di kuil dan berkata:
— يَا قَوْمِ . يَا قَوْمِ . يَا قَوْمِ .
— Wahai kaumku. Wahai kaumku. Wahai kaumku.
وَتَرَكَ النَّاسُ صَلَوَاتِهِمْ وَهَبُّوا لِيَرَوْا لِمَاذَا يَدْعُوهُمْ ، وَسَارَ الْكُهَّانُ فِي أَثَرِ النَّاسِ يَنْظُرُونَ . قَالَ إِبْرَاهِيمُ :
Orang-orang meninggalkan salat mereka dan bergegas untuk melihat mengapa dia memanggil mereka, dan para pendeta berjalan mengikuti orang-orang untuk melihat. Ibrahim berkata:
— يَا قَوْمِ أَلَا تَتَّقُونَ ؟ أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ ؟ اللهُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ .
— Wahai kaumku, tidakkah kalian bertakwa? Apakah kalian menyembah Baal dan meninggalkan sebaik-baik pencipta? Allah adalah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.
— مَنِ اللهُ الَّذِي تَدْعُونَا إِلَيْهِ ؟
— Siapakah Allah yang engkau serukan kepada kami?
— فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى .. هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ . يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ، إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ . وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ، انَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ . وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ، إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ . وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ ، وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ ، وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ .
— Pencipta langit dan bumi mengajak kalian agar Dia mengampuni dosa-dosa kalian dan menunda (ajal) kalian sampai waktu yang ditentukan.. Dialah yang menurunkan air dari langit untuk kalian, darinya kalian minum dan darinya pula tumbuh-tumbuhan yang dengannya kalian menggembalakan ternak. Dia menumbuhkan untuk kalian tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang berpikir. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, serta bintang-bintang yang tunduk dengan perintah-Nya, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal. Dan apa yang Dia ciptakan untuk kalian di bumi dengan berbagai macam warnanya, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dialah yang menundukkan laut agar kalian dapat memakan darinya daging yang segar dan mengeluarkan darinya perhiasan yang kalian pakai, dan kalian melihat kapal berlayar padanya, agar kalian mencari sebagian dari karunia-Nya, dan semoga kalian bersyukur.
— لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ .
— Jika engkau tidak berhenti, engkau benar-benar akan menjadi golongan yang dirajam.
وَلَمْ يِثِرِ النَّاسَ بَلْ أَلْقَوْا إِلَيْهِ سَمْعَهُمْ . كَانَتِ الْآلِهَةُ الَّتِي يَعْبُدُونَهَا آلِهَةَ أَقْوَامٍ آخَرِينَ وَإِنْ عُكِفَ عَلَى عِبَادَتِهَا آبَاؤُهُمُ الْأَوَّلُونَ ، وَقَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ :
Orang-orang tidak terusik, bahkan mereka mendengarkannya dengan baik. Berhala-berhala yang mereka sembah adalah tuhan-tuhan kaum lain, meskipun nenek moyang mereka terdahulu tekun menyembahnya, dan seorang di antara mereka berkata:
— أَالِهُكَ أَعْظَمُ مِنْ بَعْلٍ وَعَنَتْ وَسِينٍ وَشَمَاشٍ وَعَشْتَارَ وَآلِهَتِنَا الْأُخْرَى ؟
— أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ؟. وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ . وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ . وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ . أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ . إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ ، فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ . لَا جَرَمَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ . إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ .
— Apakah tuhanmu lebih agung dari Baal, Anat, Sin, Shamash, Ishtar, dan tuhan-tuhan kami yang lain?
— Apakah (tuhan) yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kalian mengambil pelajaran? Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan orang-orang yang mereka sembah selain Allah tidak menciptakan apa pun, padahal mereka sendiri diciptakan. (Berhala itu) mati, tidak hidup, dan mereka tidak mengetahui kapan akan dibangkitkan. Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka orang-orang yang tidak beriman pada akhirat, hati mereka mengingkari (kebenaran) dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong.
وَضَاقَ صَدْرُ الْكِهَّانِ بِذَلِكَ الْوَافِدِ عَلَيْهِمُ الَّذِي جَاءَ إِلَى مَعْبَدِهِمْ لِيَدْعُوَ إِلَى رَبِّهِ وَزَادَ فِي ضِيقِهِمْ أَنَّ النَّاسَ اسْتَمَعُوا إِلَيْهِ مُعْجَبِينَ ، فَقَالُوا :
Dada para pendeta terasa sempit karena kedatangan orang asing itu yang datang ke kuil mereka untuk menyerukan Tuhannya, dan bertambah sempit hati mereka karena orang-orang mendengarkannya dengan kagum, maka mereka berkata:
— هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ؟ إِنَّهُ جَسَدٌ لِيَأْكُلَ الطَّعَامَ وَيَمْشِيَ فِي الْأَسْوَاقِ كَمَا تَمْشُونَ . يَا قَوْمِ ضَعُوا أَيْدِيَكُمْ فِي فَمِهِ وَلَا تَدْعُوهُ يَسُبُّ آلِهَتَكُمْ . يَا قَوْمِ إِنْ تَصْغَوْا إِلَيْهِ يَحِقُّ عَلَيْكُمْ غَضَبُ آلِهَتِكُمْ وَيَكْتُبُ عَلَيْكُمُ الْخَرَابَ الْمُهِينَ .
— Bukankah ini hanyalah manusia seperti kalian? Dia memiliki tubuh untuk memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar sebagaimana kalian berjalan. Wahai kaumku, sumbatlah tangan kalian di mulutnya dan jangan biarkan dia mencaci tuhan-tuhan kalian. Wahai kaumku, jika kalian mendengarkannya, niscaya kemurkaan tuhan-tuhan kalian akan menimpa kalian dan Dia akan menuliskan kehancuran yang menghinakan bagi kalian.
— يَا قَوْمِ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ، رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ .
— Wahai kaumku, sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan, dan tidak ada tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Gagah lagi Maha Pengampun.
وَرَاحَ الْكِهَّانُ يَدْفَعُونَ النَّاسَ لِيَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِهِ :
Dan para pendeta mulai mendorong orang-orang untuk membubarkan diri dari sekitarnya:
— أَسْرِعُوا يَا قَوْمِ الْفِرَارَ قَبْلَ أَنْ يَحِيقَ بِكُمْ غَضَبُ الْآلِهَةِ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ ، ضَعُوا أَصَابِعَكُمْ فِي آذَانِكُمْ حَتَّى لَا تَسْمَعُوا مَا يَفْتَرِيهِ عَلَى الْآلِهَةِ السَّادَةِ الْبُعُولِ فُرُّوا مِنْ هَذَا الْبَلَاءِ وَلَا تَصَدُّقُوهُ . مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ ، وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ .
— Bergegaslah wahai kaumku, melarikan diri sebelum kemurkaan tuhan-tuhan menimpa kalian dan azab yang pedih. Letakkan jari-jari kalian di telinga kalian agar kalian tidak mendengar apa yang dia dustakan terhadap tuhan-tuhan tuan-tuan Baal. Larilah dari bala ini dan jangan mempercayainya. Dia tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, memakan apa yang kalian makan dan meminum apa yang kalian minum, dan jika kalian menaati manusia seperti kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi.
— يَا قَوْمِ .. إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ . فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُونِ . وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ .
— Wahai kaumku.. sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang terpercaya bagi kalian. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. Dan aku tidak meminta upah apa pun kepada kalian atas hal itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
وَارْتَفَعَ صِيَاحُ الْكِهَّانِ وَرِجَالِ الدِّينِ وَتَدَاخَلَ بَعْضُهُ فِي بَعْضٍ :
Dan meninggilah teriakan para pendeta dan agamawan, saling bersahutan satu sama lain:
— يَا قَوْمِ لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ ، وَلَا تَذَرُنَّ بَعْلًا وَعَنَتْ وَعَشْتَارَ وَسِينٍ وَشَمَاشٍ .
يَا قَوْمِ فُرُّوا مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . يَا قَوْمِ .. يَا قَوْمِ ..
— Wahai kaumku, jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian, dan jangan sekali-kali meninggalkan Baal, Anat, Ishtar, Sin, dan Shamash.
Wahai kaumku, larilah dari azab yang pedih. Wahai kaumku.. wahai kaumku..
وَجَلْجَلَتِ الْأَصْوَاتُ وَلَمْ يَعُدْ أَحَدٌ يَفْقَهُ مَا يُقَالُ . وَخَرَجَ النَّاسُ مِنَ الْمَعْبَدِ وَعَادَ إِبْرَاهِيمُ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى خِيَامِهِمْ ، وَقَدْ زَادَ إِبْرَاهِيمُ مَا لَقِيَهُ الْيَوْمَ إِصْرَارًا عَلَى تَبْلِيغِ رِسَالَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
Suara-suara menggema dan tidak ada lagi yang memahami apa yang dikatakan. Orang-orang keluar dari kuil dan Ibrahim serta orang-orang beriman yang bersamanya kembali ke kemah-kemah mereka, dan peristiwa yang ditemuinya hari ini justru menambah tekad Ibrahim untuk menyampaikan risalah Tuhan semesta alam.

💬 SYARH NYABLAK USTADZ BCA
(Betawi Cengkareng Asli)
- Klik buat baca syarah gaya Abi Thoufur untuk episode ini -
Assalaamu'alaikum Sahabat BABA...!!

"Jama'ah BABA nyang dimuliain Allah! Gimane kabarnye, Cing, Nyak, Babe? Masih idup kan? Eh maksud ane, masih sehat kan? Alhamdulillah! Hari ini Abi mau ngajak ente pade lanjut 'nyilem' ke episode 24. Kita bakal ngeliat kegigihan Nabi Ibrahim عليه السلام saat menghadapi tantangan besar di Damaskus. Dengerin baek-baek nih!"

[BAGIAN 1: PESONA DAMASKUS YANG MENIPU]

Abi Thoufur: "Jama’ah! Damaskus di zaman itu ibarat 'Paris' di Timur Tengah. Sungai Barada bikin tanah Ghuta jadi subur bener, buah-buahan melimpah ruah. Kalo orang biasa nyampe sini, pasti langsung pengen buka lapak dagang atau nyantai nikmatin dunia. Tapi liat Ibrahim ama pengikutnya... mereka kaga nengok kiri-kanan, Bang!"

Abi Nyablak: "Bener, Bang! Padahal Damaskus itu lebih mentereng dari Ur. Tapi hati mereka udah 'koneksi' ama langit. Mereka kaga nyari kekayaan bumi, tapi pengen meninggikan nama Allah. Biarpun cewek-cewek sana dandan cakep pake sepatu merah nyang nge-jreng, Ibrahim tetep lempeng! Hubungan mereka ama kesia-siaan dunia udah diputus!"

⚔️ [BAGIAN 2: UJIAN NYALI DI TENGAH PASAR]

Abi Thoufur: "Lagi asyik jalan, tiba-tiba ada 'Abang Jago' berotot nantang duel. 'Ayo panah-panahan, nyang mati hartanye buat nyang idup!'. Ini mentalitas 'Hukum Rimba', Bang! Tapi liat jawaban orang mukmin itu: 'Ane nolak!'. Bukan karena takut, tapi karena beliau kaga butuh harta receh dunia. Beliau nyari kemenangan besar di surga!"

Abi Nyablak: "Orang-orang pasar pada ngetawain, dikira penakut. Eh, tiba-tiba ada Syekh (kakek) umur 50-an nyang kurus maju. 'Ane terima duel ente!'. Wah, geger dah itu pasar! Si Kakek minta busur, terus ngetes talinya kayak ahli pro. Ini dia aksi 'Don't judge a book by its cover' versi sejarah nabi!"

[BAGIAN 3: TRAGEDI HUKUM RIMBA]

Abi Thoufur: "Tragis, Bang! Si pemuda nyang sombong ama ototnya malah mati konyol demi nafsu. Ibrahim ngeliat kejadian itu dengan hati nyang sedih & kasihan. Beliau meyakini perjuangan itu harus buat tujuan mulia, bukan buat pamer kekuatan atau ngerendahin martabat manusia."

Abi Nyablak: "Bener, Bang. Ibrahim makin mantap: 'Nih kaum bener-bener butuh hidayah!'. Mereka lebih milih liat darah tumpah daripada pake akal sehat. Hati Ibrahim makin perih liat manusia nyang harusnya mulia malah jadi budak tradisi nyang rusak."

[BAGIAN 4: RITUAL KEMENYAN DI KUIL BAAL]

Abi Thoufur: "Begitu nyampe di Kuil Baal, suasananya makin 'gelap'. Bau kemenyan di mana-mana. Mereka persembahin babi hutan buat patung-patung batu. Bahkan ada pengaruh Mesir nyang bawa doa-doa nyeleneh nyang nyebut-nyebut Raja Mesir (Firaun) bareng tuhan-tuhan mereka. Kacau bener dah akidahnya!"

Abi Nyablak: "Ibrahim kaga tahan lagi. Di tengah riuhnya nyanyian pendeta, beliau berdiri & manggil dengan suara nyang menggetarkan: 'Ya Qaumii! Wahai kaumku! Wahai kaumku!'. Semua orang berenti ritual. Suasana mendadak hening. Ibrahim siap 'ngobrak-abrik' logika mereka!"

[BAGIAN 5: GONCANGAN TAUHID SANG NABI]

Abi Thoufur: "Ibrahim nanya: 'Apa patung nyang kaga bisa ciptain apa-apa ini sebanding ama Allah nyang nurunin ujan & numbuhin zaitun?'. Orang-orang pada diem, mikir. Tapi para pendeta langsung 'kebakaran jenggot'. Mereka teriak: 'Ini cuma manusia biasa! Jangan dengerin, nanti tuhan kita marah!'."

Abi Nyablak: "Para pendeta ampe nyuruh orang-orang lari & tutup kuping pake jari. 'Firrū! Kabur ente semua!'. Tapi Ibrahim kaga gentar. Biarpun diancam mau dirajam (disambit batu), beliau tetep sampaikan risalah dengan jujur. Kejadian hari itu justru bikin tekad Ibrahim makin 'baja' buat nyelametin mereka dari kegelapan!"

[OUTRO]

Abi Nyablak: "Gimane? Berasa banget kan bedanya iman ama nafsu? Ibrahim udah mulai 'perang' logika di Damaskus!"

Abi Thoufur: "Perjalanan masih panjang, tantangan makin berat. Apa nyang bakal terjadi setelah geger di Kuil Baal ini? Tungguin Episode 25! Wassalamu’alaikum!"

— ABI THOUFUR • THE NYABLAK TEACHER • MAN 1 JAKARTA —
BONUS EXCLUSIVE

🎁 Bingkisan Sayang dari Abi: APA HIKMAH DI BALIK EPISODE INI BUAT KITA?

Eits, jangan bubar dulu! Biar ente kagak cuma baca ceritanya doang, Abi kasih "Kado Ilmu" soal apa yang bisa kita petik dari keberanian Nabi Ibrahim عليه السلام saat menantang kebatilan di Damaskus.

🛡️ Catatan Aqidah Abi:

"Tauhid itu kaga mengenal kompromi, apalagi di tengah masyarakat yang nyembah berhala dan hawa nafsu. Ibrahim عليه السلام ngajarin kita kalau iman yang bener itu bakal bikin kita berani jujur di depan orang banyak, meskipun taruhannya nyawa. Allah itu satu-satunya pelindung, bukan patung atau kekuatan otot manusia!"

Catatan Ibadah Abi:

"Ritual yang kaga didasari Tauhid cuma jadi kesia-siaan, kayak nyembah patung Baal atau pake kemenyan. Ibadah kita harus 'koneksi' langsung ke Allah. Jangan ampe ibadah kita jadi ajang pamer atau sekadar ikut-ikutan tradisi yang jauh dari tuntunan Rasulullah ."

⚖️ Catatan Mu'amalah Abi:

"Sikap ksatria itu kaga dilihat dari seberapa kuat ente bisa 'nyambit' orang atau sombong ama otot, tapi dari gimana kita bersikap adil dan menjunjung tinggi martabat manusia. Ibrahim عليه السلام ngingetin kita buat tetep pake akal sehat dan hati yang bersih meski dikelilingi orang yang 'kacamata kuda'."

Alhamdulillah...

Sekian pembahasan episode ke-24 perjalanan Nabi Ibrahim عليه السلام di Damaskus ini. Moga-moga dengan menyelami kisah sang Abul Anbiya, kita makin mantap dan beradab dalam menata akidah. Kalau ada yang mau didiskusikan soal sirah atau sekadar mau tanya-tanya, jangan sungkan tulis di kolom komentar, atau langsung samperin Abi di MAN 1 Jakarta Barat, insya Allah!


~ ABI THOUFUR (THE NYABLAK TEACHER) ~

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ ، وَبِاللهِ الْهِدَايَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi