BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al 'Adnaniyyuun - Episode 31

AL-'ADNANIYYUN
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Sumpah Serapah di Balik Jubah: Saat Risalah Jernih Terkikis Filsafat

Kontras tajam antara dakwah murni para Hawariyyun yang bersumber dari Isa AS, dengan ambisi Paulus yang mencampuradukkan iman dengan filsafat Yunani demi pengakuan duniawi yang fana.

انْتَشَرَ الْحَوَارِيُّونَ فِي إِسْرَائِيلَ وَالْجَلِيلِ وَالْيَهُودِيَّةِ وَالسَّامِرَةِ يَدْعُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ وَنَبْذِ الْأَصْنَامِ وَتَقْدِيسِ الْهَيْكَلِ ، ذَلِكَ التَّقْدِيسُ الَّذِي جَعَلَهُ غَايَةَ الْعِبَادَاتِ لَا مَكَانًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ .
Para hawariyyun (murid-murid Isa) menyebar di Israel, Galilea, Yudea, dan Samaria, menyeru Bani Israel untuk menyembah Allah semata, membuang berhala-berhala, dan mensucikan Haikal (Bait Suci), sebuah penyucian yang menjadikannya sebagai puncak ibadah, bukan sekadar tempat di mana nama Allah disebut.
وَكَانَ الْيَهُودُ يَضِيقُونَ بِدَعْوَتِهِمْ وَيُنْكِرُونَ أَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هُوَ الْمَسِيحُ ، فَقَدْ كَانَتْ عَقِيدَتُهُمْ فِي الْمَسِيحِ أَنَّهُ سَيَأْتِي بِمَمْلَكَةٍ أَرْضِيَّةٍ تُعِيدُ مَجْدَ بَنِي إِسْرَائِيلَ ، وَقَدْ زَادَ تَلَهُّفُهُمْ عَلَى تِلْكَ الْمَمْلَكَةِ بَعْدَ أَنْ دَانُوا لِلرُّومَانِ وَأُرْغِمُوا عَلَى أَنْ يَدْفَعُوا الْجِزْيَةَ لِقَيَاصِرَتِهِمْ ، فَلَمَّا جَاءَ الْمَسِيحُ وَقَالَ إِنَّ مَمْلَكَتَهُ لَيْسَتْ مِنْ هَذَا الْعَالَمِ أَعْرَضَ الْيَهُودُ عَنْ دَعْوَتِهِ وَوَضَعُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَلَمْ يُلْقُوا السَّمْعَ إِلَى حَوَارِيِّيهِ .
Orang-orang Yahudi merasa muak dengan dakwah mereka dan mengingkari bahwa Isa putra Maryam adalah Al-Masih (Mesias), karena keyakinan mereka tentang Al-Masih adalah bahwa ia akan datang membawa kerajaan duniawi yang akan mengembalikan kejayaan Bani Israel. Kerinduan mereka terhadap kerajaan tersebut semakin memuncak setelah mereka tunduk kepada bangsa Romawi dan dipaksa membayar jizyah (pajak) kepada para kaisar mereka. Maka ketika Al-Masih datang dan mengatakan bahwa kerajaannya bukanlah dari dunia ini, orang-orang Yahudi berpaling dari seruannya, menyumbat telinga mereka dengan jari-jari, dan tidak mau mendengarkan para hawariyyun-nya.
وَكَانَ الْحَوَارِيُّونَ يُلْقُونَ الْمَوَاعِظَ فِي مَجَامِعِ الْيَهُودِ ، وَكَانَتِ الْمُنَاظَرَاتُ تَقُومُ بَيْنَ الْمَسِيحِيِّينَ الْأَوَائِلِ وَبَيْنَ طَوَائِفَ صَاخِبَةٍ عَاصِفَةٍ ، بَيْدَ أَنَّ الْيَهُودَ لَمْ يَجِدُوا فِيمَا يَدْعُو إِلَيْهِ الْحَوَارِيُّونَ مَا يَخْدِشُ نَامُوسَهُمْ ، فَقَدْ كَانُوا يَسْتَشْهِدُونَ بِالتَّوْرَاةِ وَيَقْتَبِسُونَ مِنْهَا وَيُقَدِّسُونَ أَنْبِيَاءَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ يَدْعُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ .
Para hawariyyun menyampaikan khotbah-khotbah di sinagoga-sinagoga Yahudi, dan terjadilah perdebatan antara orang-orang Kristen perdana dengan kelompok-kelompok yang ribut dan penuh amarah. Namun, orang-orang Yahudi tidak menemukan dalam dakwah para hawariyyun itu sesuatu yang menodai hukum Taurat (namus) mereka. Sebab, para hawariyyun selalu mengambil dalil dari Taurat, mengutipnya, mensucikan nabi-nabi Bani Israel, dan tidak menyeru kepada tuhan lain selain Allah.
وَذَاتَ يَوْمٍ قَالَ بُطْرُسُ إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الْأُمَمَ كَمَا يَقْبَلُ بَنِي إِسْرَائِيلَ ، وَأَنْ لَا فَضْلَ لِإِسْرَائِيلِيٍّ عَلَى أُمَمِيٍّ إِلَّا بِالتَّقْوَى ، فَأَغْضَبَ ذَلِكَ الْقَوْلُ الْيَهُودَ لِأَنَّهُ سَلَبَ مِنْهُمُ الِامْتِيَازَ الَّذِي كَانُوا يَعِيشُونَ عَلَيْهِ وَاهِمِينَ ، فَقَدْ كَانُوا مُوقِنِينَ أَنَّهُمْ شَعْبُ اللَّهِ الْمُخْتَارُ وَأَنَّهُمْ وَحْدَهُمُ الَّذِينَ سَيَنَامُونَ فِي حِضْنِ إِبْرَاهِيمَ ، وَإِذَا بِشَيْخِ الْحَوَارِيِّينَ يَجْعَلُهُمْ أَمَامَ اللَّهِ كَالْأُمَمِ سَوَاءً بِسَوَاءٍ .
Suatu hari, Petrus berkata bahwa Allah menerima bangsa-bangsa lain sebagaimana Dia menerima Bani Israel, dan bahwa tidak ada keutamaan bagi seorang Israel atas bangsa lain kecuali dengan ketakwaan. Perkataan itu membuat marah orang-orang Yahudi karena telah merampas hak istimewa yang selama ini mereka yakini dalam angan-angan mereka. Mereka sangat yakin bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah dan bahwa hanya mereka sajalah yang akan tidur di pangkuan Ibrahim. Tiba-tiba saja sesepuh para hawariyyun ini menjadikan mereka di hadapan Allah sama rata dengan bangsa-bangsa lainnya.
غَضِبَ الْيَهُودُ مِنْ دَعْوَةِ بُطْرُسَ الْجَدِيدَةِ وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَجِدُوا فِي أَقْوَالِهِ مَا يَجْعَلُهُمْ يُقِيمُونَ عَلَيْهِ الْحَدَّ ، فَلَمْ يُشْرِكْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَقَدْ عَاشُوا مَعَ الْمَسِيحِ وَسَمِعُوا أَقْوَالَهُ وَعَرَفُوا حَقِيقَةَ رِسَالَتِهِ ، إِلَّا بُولُصَ فَلَمْ يَرَ الْمَسِيحَ وَلَمْ يُلْقِ إِلَيْهِ سَمْعَهُ ، وَإِنْ كَانَ يَحْلُمُ بِأَنْ يَكُونَ هُوَ الْمَسِيحَ الَّذِي يَنْتَظِرُهُ بَنُو إِسْرَائِيلَ .
Orang-orang Yahudi marah dengan dakwah baru Petrus ini, tetapi mereka tidak menemukan dalam perkataannya sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkan hukuman mati padanya. Ia tidak menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain, sebab mereka telah hidup bersama Al-Masih, mendengar perkataannya, dan mengetahui hakikat risalahnya. Berbeda dengan Paulus (Saulus), ia tidak pernah melihat Al-Masih dan tidak pernah mendengarkan sabdanya, meskipun ia sendiri bermimpi untuk menjadi Al-Masih yang ditunggu-tunggu oleh Bani Israel.
كَانَ بُولُصُ يَشْعُرُ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ أَنَّهُ دُونَ الْحَوَارِيِّينَ مَنْزِلَةً ، فَرَاحَ يَقُصُّ فِي كُلِّ مُنَاسَبَةٍ قِصَّةَ ظُهُورِ الْمَسِيحِ لَهُ وَهُوَ فِي طَرِيقِهِ إِلَى دِمَشْقَ ، لِيُؤَكِّدَ لِسَامِعِيهِ أَنَّهُ رَسُولُ الْمَسِيحِ إِلَيْهِمْ ، وَكَانَ حَدِيثُ بُولُصَ يَخْتَلِفُ عَنْ حَدِيثِ الْحَوَارِيِّينَ ، فَقَدْ نَهَلَ بُولُصُ مِنَ التَّوْرَاةِ الَّتِي كُتِبَتْ فِي الْمَنْفَى وَمِنْ فَلْسَفَةِ الْيُونَانِ ، بَيْنَا نَهَلَ الْحَوَارِيُّونَ مِنَ النَّبْعِ الصَّافِي نَبْعِ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ .
Paulus merasa dalam lubuk hatinya bahwa kedudukannya berada di bawah para hawariyyun. Maka ia pun mulai menceritakan di setiap kesempatan kisah penampakan Al-Masih kepadanya saat ia dalam perjalanan menuju Damaskus, demi meyakinkan para pendengarnya bahwa ia adalah rasul Al-Masih yang diutus kepada mereka. Namun, perkataan Paulus berbeda dengan perkataan para hawariyyun. Paulus menimba ilmu dari Taurat yang ditulis di pengasingan dan dari filsafat Yunani, sedangkan para hawariyyun menimba dari sumber yang jernih, yaitu sumber Tuan Al-Masih.
وَكَانَ بُولُصُ لَا يَفْهَمُ بَسَاطَةَ الدَّعْوَةِ فَقَدْ تَأَثَّرَ بِفَلْسَفَةِ أَرِسْطُوطَالِيسَ وَتَأَثَّرَ بِكُلِّ كَلِمَةٍ جَاءَتْ فِي التَّوْرَاةِ ، فَكَانَ يَمْزُجُ بَيْنَ الْفَلْسَفَةِ وَالدِّينِ ، وَاسْتَقَرَّتْ فِي وِجْدَانِهِ أَسَاطِيرُ الْأُمِّيِّينَ فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْ قَبْضَتِهَا .
Paulus tidak memahami kesederhanaan dakwah tersebut karena ia telah terpengaruh oleh filsafat Aristoteles dan terpengaruh oleh setiap kata yang ada di dalam Taurat. Ia mencampuradukkan antara filsafat dan agama, dan di dalam sanubarinya telah tertanam kuat mitos-mitos kaum yang tak berkitab (Gentiles/Ummiyyin) sehingga ia tidak mampu melepaskan diri dari cengkeramannya.
سَمِعَ بُولُصُ أَنَّ الْمَسِيحَ أَحْيَا الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ ، فَقَالَ إِنَّهُ أَحْيَا الْمَوْتَى بِقُوَّةِ الْمَسِيحِ ، وَلَمْ يَكْتَفِ بِذَلِكَ بَلْ رَاحَ يَقُولُ إِنَّهُ أَخْرَجَ الشَّيَاطِينَ مِنْ أَجْسَادِ النَّاسِ ، وَيَزْعُمُ أَنَّ الْمَسِيحَ جَاءَ لِيُصْلَبَ لِيَفْدِيَ الْبَشَرَ وَيُطَهِّرَهُمْ مِنْ خَطِيئَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ ، وَرَاحَ يُفَلْسِفُ الصَّلْبَ وَالْفِدَاءَ وَيَتَحَدَّثُ عَنِ ابْنِ اللَّهِ الَّذِي سَيَعُودُ مَرَّةً أُخْرَى إِلَى الْأَرْضِ لِيُعِيدَ إِلَيْهَا الْإِيمَانَ وَالسَّلَامَ .
Paulus mendengar bahwa Al-Masih menghidupkan orang mati dengan izin Allah, lalu ia pun berkata bahwa dia (Al-Masih) menghidupkan orang mati dengan kekuatan Al-Masih sendiri. Ia tidak merasa cukup dengan itu, melainkan mulai berkata bahwa dia mengusir setan-setan dari tubuh manusia. Ia juga mengklaim bahwa Al-Masih datang untuk disalib demi menebus umat manusia dan menyucikan mereka dari dosa ayah mereka, Adam. Ia mulai memfilsafatkan penyaliban dan penebusan dosa, serta berbicara tentang "Anak Allah" yang akan kembali lagi ke bumi untuk mengembalikan keimanan dan kedamaian padanya.
وَرَاحَ بُولُصُ يَطُوفُ بِسُورِيَا وَيَزُورُ مُدُنَهَا وَذَهَبَ إِلَى أَنْطَاكِيَةَ وَإِلَى الْجَلِيلِ وَإِلَى السَّامِرَةِ يَدْعُو إِلَى الدِّينِ الَّذِي ابْتَدَعَهُ خَيَالُهُ . وَقَدْ غَضَّ الْيَهُودُ عَنْهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ وَأَصْغَى إِلَيْهِ الرُّومَانُ . كَانَ الْيَهُودُ يَجِدُونَ فِيمَا يَقُولُ بُولُصُ شِرْكًا بِاللَّهِ بَيْنَمَا لَمْ يَنْدَهِشِ الرُّومَانُ لِمَا يَدْعُو إِلَيْهِ ، فَقَدْ كَانَ الرُّومَانُ يُؤَلِّهُونَ أَبْطَالَهُمْ وَقَيَاصِرَتَهُمْ ، وَقَدْ كَانُوا يَسْجُدُونَ لِتَمَاثِيلِ الْقَيَاصِرَةِ وَإِنَّهُمْ لَيَسْجُدُونَ كُلَّ يَوْمٍ لِتِمْثَالِ كَالِيجُولَا قَيْصَرِهِمُ الْمَجْنُونِ !
Paulus kemudian berkeliling di Suriah dan mengunjungi kota-kotanya. Ia pergi ke Antiokhia, Galilea, dan Samaria untuk mendakwahkan agama yang diciptakan oleh khayalannya sendiri. Pada awalnya, orang-orang Yahudi membiarkannya saja, dan orang-orang Romawi pun mendengarkannya. Orang-orang Yahudi menganggap apa yang dikatakan Paulus sebagai kesyirikan kepada Allah, sedangkan orang-orang Romawi sama sekali tidak terkejut dengan seruannya. Sebab, orang-orang Romawi terbiasa menuhankan pahlawan dan kaisar mereka. Mereka juga bersujud pada patung-patung kaisar, bahkan setiap hari mereka bersujud pada patung Caligula, kaisar mereka yang gila itu!
آمَنَ الرُّومَانُ بِدَعْوَتِهِ وَقَاوَمَهَا الْيَهُودُ ، وَبَدَأَ الْحَدِيثُ عَنِ اللَّاهُوتِ وَالنَّاسُوتِ ، وَرَاحَ بُولُصُ يَتَحَدَّثُ عَنِ الصَّلْبِ حَدِيثَ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ حَتَّى إِنَّهُ كَانَ يَتَأَلَّمُ أَلَمَ مَنْ وُضِعَ عَلَى الصَّلِيبِ .
Orang-orang Romawi beriman pada dakwahnya sementara orang-orang Yahudi menentangnya. Mulailah pembicaraan tentang sifat keilahian (Lahut) dan sifat kemanusiaan (Nasut). Paulus mulai berbicara tentang penyaliban layaknya seseorang yang sangat mengimaninya, sampai-sampai ia sendiri seakan merasakan kesakitan orang yang ditaruh di kayu salib.
وَلَمَّا كَانَتْ دَعْوَةُ بُولُصَ تُخَالِفُ كُلَّ دَعْوَةٍ جَاءَتْ قَبْلَهُ فَقَدْ هَبَّ الْيَهُودُ لِمُقَاوَمَتِهَا فِي ضَرَاوَةٍ وَعُنْفٍ ، فَائْتَمَرُوا بِهِ لِيَقْتُلُوهُ ، فَقَدْ خَرَقَ نَامُوسَهُمْ وَادَّعَى أَنَّ الْمَسِيحَ ابْنُ اللَّهِ ، وَأَنَّهُ قَامَ مِنَ الْأَمْوَاتِ كَمَا قَامَ بَعْلٌ إِلَهُ الْوَثَنِيِّينَ مِنَ الْأَمْوَاتِ مِنْ قَبْلُهُ ، وَأَنَّهُ سَيَعُودُ وَقَدْ أَطَالَ الْحَدِيثَ عَنِ الرَّجْعَةِ ، وَلَكِنَّهُمْ أَخْفَقُوا فِي التَّخَلُّصِ مِنْهُ ، فَجَاءُوا بِهِ إِلَى الْحَاكِمِ الرُّومَانِيِّ وَاتَّهَمُوهُ بِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ الْقَتْلَ حَسَبَ شَرِيعَتِهِمْ ؛ لِأَنَّهُ جَعَلَ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى .
Dan karena dakwah Paulus bertentangan dengan semua dakwah yang datang sebelumnya, orang-orang Yahudi pun bangkit menentangnya dengan ganas dan penuh kekerasan. Mereka bersekongkol untuk membunuhnya karena ia telah melanggar hukum Taurat mereka dan mengklaim bahwa Al-Masih adalah Anak Allah, bahwa ia bangkit dari kematian sebagaimana Baal—dewa kaum pagan—bangkit dari kematian sebelumnya, dan bahwa ia akan kembali; dan Paulus banyak membicarakan tentang kedatangannya kembali. Namun, mereka gagal menyingkirkannya. Maka mereka membawanya ke hadapan gubernur Romawi dan menuduhnya pantas dihukum mati menurut syariat mereka, karena ia telah menjadikan tuhan-tuhan lain bersama Allah.
وَتَحَدَّثَ الْيَهُودُ وَتَحَدَّثَ بُولُصُ فَلَمْ يَجِدِ الْحَاكِمُ الرُّومَانِيُّ فِي قَوْلِهِ مَا يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ الْعِقَابَ ، فَإِنْ قَالَ إِنَّ الْمَسِيحَ هُوَ اللَّهُ أَوْ أَنَّهُ ابْنُ اللَّهِ فَمَا كَانَ ذَلِكَ الْقَوْلُ غَرِيبًا عَلَى مَسْمَعِ الْحَاكِمِ الرُّومَانِيِّ الَّذِي لُقِّنَ مُنْذُ الصِّغَرِ أَنَّ آلِهَةَ الرُّومَانِ يَجْتَمِعُونَ وَيَتَحَاوَرُونَ وَيَتَصَارَعُونَ ، وَمَا أَكْثَرَ مَا رَأَى الْعَاهِرَاتِ الْمُقَدَّسَاتِ جَالِسَاتٍ عَلَى سَلَالِمِ مَعْبَدِ إِلَهِهِ أَبُولُّو لِأَنَّهُنَّ رَأَيْنَ فِي أَحْلَامِهِنَّ أَنَّ الْإِلَهَ يَشْتَهِيهِنَّ !
Orang-orang Yahudi berbicara, begitu pula Paulus. Gubernur Romawi tersebut tidak menemukan dalam perkataannya sesuatu yang pantas untuk dihukum. Jika ia berkata bahwa Al-Masih adalah Tuhan atau Anak Allah, perkataan itu tidaklah aneh di telinga sang gubernur Romawi yang sejak kecil telah dididik bahwa dewa-dewi Romawi berkumpul, berdialog, dan saling bertarung. Betapa seringnya ia melihat pelacur-pelacur suci duduk-duduk di tangga kuil dewa Apollo miliknya karena mereka bermimpi bahwa sang dewa menginginkan mereka!
وَكَانَ الْحَاكِمُ الرُّومَانِيُّ يُؤْمِنُ بِتَعَدُّدِ الْآلِهَةِ وَيُؤْمِنُ بِأَنَّ بَعْضَ آلِهَتِهِ يَشْتَهُونَ نِسَاءَ الْبَشَرِ ، فَلَمْ يَجِدْ فِي أَقْوَالِ بُولُصَ مَا يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ الْقَتْلَ ، وَلَكِنَّهُ رَأَى أَلَّا يَبُتَّ فِي مَسْأَلَةٍ تَخُصُّ شَرِيعَتَهُمْ فَقَالَ لِبُولُصَ :
Gubernur Romawi itu percaya pada banyak dewa (politeisme) dan percaya bahwa sebagian dewanya mendambakan wanita manusia. Jadi, ia tidak menemukan dalam perkataan Paulus sesuatu yang membuatnya pantas dihukum mati. Namun, ia merasa tidak berhak memutuskan perkara yang berkaitan dengan syariat mereka (Yahudi), maka ia berkata kepada Paulus:
— أَتَقْبَلُ حُكْمَهُمْ فِيكَ أَمْ أَبْعَثُ بِكَ إِلَى قَيْصَرَ ؟
— Apakah kamu menerima hukuman mereka atasmu atau aku mengirimmu ke Kaisar?
فَقَالَ بُولُصُ فِي حَمَاسَةٍ :
Lalu Paulus berkata dengan penuh semangat:
— اِبْعَثْنِي إِلَى قَيْصَرَ .
— Kirimlah aku ke Kaisar.
وَبَلَغَ بُولُصُ رُومَا بَعْدَ رِحْلَةٍ مِنَ الْأَهْوَالِ عَلَى سَفِينَةٍ مِنْ سُفُنِ الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ أَظْهَرَ فِيهَا بَعْضَ مُعْجِزَاتِهِ كَمَا قَالَ ، وَوُضِعَ فِي السِّجْنِ إِلَى أَنْ يَحِينَ مَوْعِدُ مُحَاكَمَتِهِ ، وَفِي سِجْنِهِ رَاحَ يَبْعَثُ بِرَسَائِلِهِ إِلَى أَهْلِ كُورِنْثُوسَ وَإِلَى أَهْلِ غَلَاطِيَةَ وَأَهْلِ أَفْسُسَ وَإِلَى أَهْلِ فِيلِبِّي وَإِلَى أَهْلِ تَسَالُونِيكَ وَإِلَى تِيتُسَ الْقَائِدِ الرُّومَانِيِّ فِي فِلَسْطِينَ .
Paulus tiba di Roma setelah melalui perjalanan yang penuh kengerian di atas salah satu kapal dari Aleksandria, di mana ia menunjukkan beberapa mukjizatnya sebagaimana yang ia katakan. Ia dimasukkan ke dalam penjara sampai tiba waktu persidangannya. Dan di dalam penjaranya, ia mulai mengirimkan surat-suratnya kepada penduduk Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Tesalonika, dan kepada Titus, seorang komandan Romawi di Palestina.
كَانَتْ رِسَالَةُ الْمَسِيحِ فِي الصُّدُورِ لَمْ يُكْتَبْ مِنْهَا حَرْفٌ ، وَلَمَّا كَانَ بُولُصُ يَعْرِفُ قُوَّةَ الْكَلِمَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَقَدْ رَاحَ يَسْتَعِينُ بِالتَّوْرَاةِ الَّتِي كُتِبَتْ فِي الْمَنْفَى لِيَخْلُقَ آرَاءً جَدِيدَةً لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الدَّعَوَاتِ السَّمَاوِيَّةِ أَيَّةُ سَبَبٍ .
Risalah Al-Masih hanya ada di dalam dada (hafalan), tidak satu huruf pun darinya yang ditulis. Karena Paulus mengetahui kekuatan kata-kata tertulis, ia pun mulai memanfaatkan Taurat yang ditulis di pengasingan untuk menciptakan gagasan-gagasan baru yang sama sekali tidak memiliki benang merah dengan dakwah-dakwah langit (agama samawi) mana pun.
قَالَ فِي رِسَالَتِهِ إِلَى أَهْلِ غَلَاطِيَةَ : « اطْرُدِ الْجَارِيَةَ وَابْنَهَا لِأَنَّهُ لَا يَرِثُ ابْنُ الْجَارِيَةِ مَعَ ابْنِ الْحُرَّةِ ، إِنَّا أَيُّهَا الْأُخْوَةُ لَسْنَا أَوْلَادَ جَارِيَةٍ بَلْ أَوْلَادُ حُرَّةٍ » فَكَانَ يَهُودِيًّا فِي زَهْوِهِ يَدْعُو إِلَى التَّفْرِقَةِ بَيْنَ الْبَشَرِ ، وَقَدْ نَسِيَ أَوْ تَنَاسَى قَوْلَ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ : « أَحِبُّوا أَعْدَاءَكُمْ ، بَارِكُوا لَاعِنِيكُمْ » .
Ia berkata dalam suratnya kepada jemaat Galatia: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka. Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka." Ia bersikap sebagai seorang Yahudi yang dengan keangkuhannya menyerukan perpecahan antar manusia. Ia telah lupa, atau pura-pura lupa, akan perkataan Tuan Al-Masih: "Kasihilah musuhmu, berkatilah orang yang mengutukmu."
كَانَ هَمُّهُ أَنْ تَسُودَ آرَاؤُهُ وَإِنْ تَعَارَضَتْ مَعَ مَا جَاءَ بِهِ الْمَسِيحُ ، وَقَدْ كَشَفَ عَنْ خَبِيئَةِ نَفْسِهِ لَمَّا كَتَبَ : « فَإِنِّي إِذَا كُنْتُ حُرًّا مِنَ الْجَمِيعِ اسْتَعْبَدْتُ نَفْسِي لِلْجَمِيعِ لِأَرْبَحَ الْأَكْثَرِينَ ، فَصِرْتُ لِلْيَهُودِ كَيَهُودِيٍّ لِأَرْبَحَ الْيَهُودَ ، وَلِلَّذِينَ تَحْتَ النَّامُوسِ كَأَنِّي تَحْتَ النَّامُوسِ ، لِأَرْبَحَ الَّذِينَ تَحْتَ النَّامُوسِ ، وَلِلَّذِينَ بِلَا نَامُوسٍ كَأَنِّي بِلَا نَامُوسٍ مَعَ أَنِّي لَسْتُ بِلَا نَامُوسٍ لِلَّهِ بَلْ تَحْتَ نَامُوسٍ لِلْمَسِيحِ لِأَرْبَحَ الَّذِينَ بِلَا نَامُوسٍ ، صِرْتُ لِلضُّعَفَاءِ كَضَعِيفٍ لِأَرْبَحَ الضُّعَفَاءَ ، صِرْتُ لِلْكُلِّ كُلَّ شَيْءٍ لِأُخَلِّصَ عَلَى كُلِّ حَالٍ قَوْمًا » .
Satu-satunya tujuannya adalah agar pandangan-pandangannya mendominasi, meskipun itu bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Al-Masih. Ia mengungkapkan isi hatinya yang tersembunyi ketika ia menulis: "Sungguh, sekalipun aku bebas dari semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, melainkan di bawah hukum Kristus, supaya aku memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka."
وَرَاحَ بُولُصُ يَتَفَلْسَفُ بِمَا لَمْ يَتَفَلْسَفْ بِهِ الْمَسِيحُ ، فَكَانَ يَتَحَدَّثُ عَنِ الْجَسَدِ وَالنَّفْسِ وَيَقُولُ : وَيْحِي أَنَا الْإِنْسَانُ الشَّقِيُّ ! مَنْ يُنْقِذُنِي مِنْ جَسَدِ هَذَا الْمَوْتِ ؟
Paulus mulai berfilsafat dengan hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh Al-Masih. Ia berbicara tentang tubuh dan jiwa lalu berkata: "Celakalah aku, manusia yang malang ini! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?"
وَاشْتَدَّتِ الْمُنَاقَشَاتُ الدِّينِيَّةُ فِي رُومَا بَيْنَ بُولُصَ وَالْيَهُودِ وَالرُّومَانِ الَّذِينَ آمَنُوا بِمَا جَاءَ بِهِ بُولُصُ وَالرُّومَانِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا يَدْعُو إِلَيْهِ . وَقَدْ رَاحَتِ الْأَفْكَارُ الدِّينِيَّةُ تَتَدَفَّقُ مِنْ أَبْنَاءِ سُورِيَةَ إِلَى أَبْنَاءِ إِيطَالِيَا حَتَّى إِنَّ بَعْضَ الْإِيطَالِيِّينَ الَّذِينَ هَالَهُمْ تَغَلْغُلُ الْحَضَارَةِ السُّورِيَّةِ فِي حَضَارَةِ رُومَا قَالُوا : « إِنَّ نَهْرَ الْعَاصِي أَصْبَحَ يَصُبُّ فِي نَهْرِ التِّيبِرِ ! » .
Perdebatan agama pun memanas di Roma antara Paulus, orang-orang Yahudi, orang-orang Romawi yang beriman pada ajaran Paulus, dan orang-orang Romawi yang menolak (kafir) terhadap apa yang ia serukan. Pemikiran-pemikiran agama mulai mengalir dari penduduk Suriah ke penduduk Italia, sampai-sampai beberapa orang Italia yang terkejut melihat penyusupan peradaban Suriah ke dalam peradaban Roma berkata: "Sungguh, sungai Orontes kini bermuara di sungai Tiber!"
جَاءَ الْمَسِيحُ لِيَقْضِيَ عَلَى الْقَرَابِينِ وَعَلَى تَنَطُّعِ الْفَرِّيسِيِّينَ وَالصَّدُّوقِيِّينَ وَالْكَتَبَةِ ، وَعَلَى تِلْكَ الْمَرَاسِيمِ الَّتِي مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ وَالَّتِي كَانَ الْكَهَنَةُ يَقُومُونَ بِهَا فِي الْهَيْكَلِ ؛ وَلَكِنَّ بُولُصَ جَعَلَ الْمَسِيحَ قُرْبَانًا وَأَكْثَرَ فِي رَسَائِلِهِ مِنَ التَّحَدُثِ عَنِ الْخَرُوفِ الْمَذْبُوحِ وَعَنِ الْقَرَابِينِ الَّتِي تُقَدَّمُ فِي الْمَعَابِدِ ، وَعَنْ كَيْفِيَّةِ تَحَوُّلِ خُبْزِ التَّقْدِمَةِ إِلَى لَحْمِ الْمَسِيحِ وَالنَّبِيذِ إِلَى دَمِهِ ، وَصَارَ الْمُؤْمِنُونَ بِتِلْكَ التَّعَالِيمِ يَعْتَقِدُونَ فِي قَرَارَةِ نُفُوسِهِمْ أَنَّهُمْ لَمَّا يَأْكُلُونَ مِنَ الْقَرَابِينِ وَيَشْرَبُونَ إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ لَحْمَ الْمَسِيحِ وَيَشْرَبُونَ دَمَهُ !
Al-Masih datang untuk menghapuskan pengorbanan hewan (kurban) dan sikap berlebihan orang-orang Farisi, Saduki, dan para ahli Taurat, serta untuk menghapuskan ritual-ritual yang tidak diturunkan keterangannya oleh Allah namun dilakukan oleh para pendeta di Haikal (Bait Suci). Akan tetapi, Paulus justru menjadikan Al-Masih sebagai kurban. Ia banyak berbicara dalam surat-suratnya tentang anak domba yang disembelih dan tentang kurban-kurban yang dipersembahkan di kuil-kuil, serta tentang bagaimana roti persembahan berubah menjadi daging Al-Masih dan anggur menjadi darahnya. Para penganut ajaran ini pun akhirnya percaya dalam hati mereka bahwa ketika mereka memakan dan meminum persembahan itu, pada hakikatnya mereka sedang memakan daging Al-Masih ke dalam perut mereka dan meminum darahnya!
وَمِنْ أَيْنَ جَاءَتْ بُولُصَ مِثْلُ هَذِهِ الْأَفْكَارِ ؟ إِنَّهَا جَاءَتْهُ مِنْ أَرْضِ فَارِسَ فَقَدْ كَانَ الْمَجُوسُ يَقُولُونَ لِلْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ « الْهُومَا » النَّبِيذَ الْمُقَدَّسَ إِنَّهُمْ إِنَّمَا يَشْرَبُونَ دَمَ الْإِلَهِ ؛ وَاسْتَعَارَ بُولُصُ مِنَ الْوَثَنِيِّينَ مُعْتَقَدَاتِهِمْ ، اسْتَعَارَ مِنَ السُّورِيِّينَ الْمُؤْمِنِينَ بِبَعْلٍ لِلصَّلْبِ وَالْقِيَامِ بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَتَحَوَّلَ الْمَسِيحُ إِلَى إِلَهٍ يَدِينُ الْبَشَرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَاسْتَعَارَ مِنَ الْمَجُوسِ تَحَوُّلَ الْقَرَابِينِ إِلَى لَحْمِ الْإِلَهِ وَدَمِهِ ! وَقَاوَمَ الْيَهُودُ تِلْكَ التَّعَالِيمَ مُقَاوَمَةً لَا هَوَادَةَ فِيهَا ، وَلَكِنَّ بُولُصَ وَجَدَ بَيْنَ الرُّومَانِ وَالْوَثَنِيِّينَ مَنْ يُلْقِي إِلَيْهِ سَمْعَهُ .
Dan dari manakah datangnya pemikiran-pemikiran semacam ini kepada Paulus? Pemikiran itu datang kepadanya dari tanah Persia. Kaum Majusi pernah berkata kepada orang-orang beriman yang meminum "Haoma" (anggur suci) bahwa mereka sejatinya sedang meminum darah dewa. Paulus meminjam keyakinan kaum pagan; ia meminjam konsep penyaliban dan kebangkitan dari kematian dari orang-orang Suriah penyembah dewa Baal, sehingga Al-Masih berubah menjadi tuhan yang menghakimi umat manusia dari langit. Ia juga meminjam dari kaum Majusi mengenai perubahan kurban menjadi daging dan darah tuhan! Orang-orang Yahudi melawan ajaran ini tanpa henti, tetapi Paulus menemukan di antara orang-orang Romawi dan kaum pagan orang-orang yang bersedia mendengarkannya.
كَانَ نِيرُونُ هُوَ قَيْصَرَ رُومَا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَقَدْ أَرَادَ مُعَلِّمَاهُ أَنْ يَمْنَعَاهُ مِنَ التَّدَخُّلِ فِي شُئُونِ الدَّوْلَةِ فَتَرَكَاهُ يَنْهَمِكُ فِي مَلَذَّاتِهِ الْجِنْسِيَّةِ كَمَا يَهْوَى ، وَلَمْ يَكُنْ يُنْتَظَرُ مِنَ الْأَبَاطِرَةِ أَنْ يَحْيَوْا حَيَاةَ التَّقَشُّفِ وَكَبْحِ الشَّهَوَاتِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي كَانَتْ فِيهِ الرَّذِيلَةُ تَسْتَهْوِي النَّاسَ جَمِيعًا .
Nero adalah kaisar Roma pada masa itu. Kedua gurunya ingin mencegahnya ikut campur dalam urusan negara, maka mereka membiarkannya tenggelam dalam kesenangan seksualnya sesuka hatinya. Memang tidak diharapkan dari para kaisar untuk menjalani kehidupan yang asketis (sederhana) dan mengekang hawa nafsu di saat kejahatan dan kerusakan moral sedang digandrungi oleh semua orang.
وَشَبَّ نِيرُونُ وَهُوَ يَزْدَرِي جَمِيعَ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ ، وَكَانَ نَهِمًا مُفْرِطًا فِي الطَّعَامِ غَرِيبَ الْأَطْوَارِ وَالشَّهَوَاتِ ، فَكَانَ يَتَخَفَّى وَيَزُورُ الْمَوَاخِيرَ وَيَطُوفُ الشَّوَارِعَ وَيَتَرَدَّدُ عَلَى الْحَانَاتِ بِاللَّيْلِ فِي صُحْبَةِ أَمْثَالِهِ مِنْ رِفَاقِ السُّوءِ ، يَسْطُونَ عَلَى الْحَوَانِيتِ وَيُسِيئُونَ إِلَى النِّسَاءِ وَيَفْسُقُونَ بِالْغِلْمَانِ وَيُجَرِّدُونَ مَنْ يُقَابِلُونَ مِمَّا مَعَهُمْ ، وَمَا كَانُوا يَتَوَرَّعُونَ عَنْ قَتْلِهِمْ .
Nero tumbuh dewasa dengan meremehkan segala jenis ibadah. Ia sangat rakus dalam makan, memiliki perilaku dan hasrat yang aneh. Ia sering menyamar untuk mengunjungi rumah-rumah bordil, berkeliling jalanan, dan sering pergi ke bar-bar di malam hari dengan ditemani oleh teman-teman jahat yang serupa dengannya. Mereka merampok toko-toko, melecehkan wanita, melakukan perbuatan asusila terhadap anak-anak lelaki, dan merampas harta siapapun yang mereka temui, dan mereka bahkan tidak segan-segan untuk membunuhnya.
وَعَشِقَ نِيرُونُ بُوبِيَا وَكَانَ لَهَا نَصِيبٌ مَوْفُورٌ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا الشَّرَفَ فَرَاحَتْ تُغْرِيهِ عَلَى أَنْ يُطَلِّقَ زَوْجَهُ وَيَتَزَوَّجَهَا ، وَلَمَّا وَقَفَتْ أُمُّهُ فِي سَبِيلِ تِلْكَ الرَّغْبَةِ قَتَلَهَا ، وَشَيَّدَ نِيرُونُ بَيْتَهُ الذَّهَبِيَّ وَأَقَامَ أَمَامَهُ تِمْثَالًا ضَخْمًا ارْتِفَاعُهُ مِائَةٌ وَعِشْرُونَ قَدَمًا فِي أَعْلَاهُ رَأْسٌ شَبِيهٌ بِرَأْسِهِ بِهِ هَالَةٌ مِنْ أَشِعَّةٍ شَمْسِيَّةٍ دَلَالَةً عَلَى أَنَّهُ هُوَ أَبُولُّو نَفْسُهُ .
Nero jatuh cinta pada Poppaea, seorang wanita yang memiliki segala-galanya dalam jumlah melimpah kecuali kehormatan. Wanita itu mulai membujuk Nero untuk menceraikan istrinya dan menikahinya. Ketika ibu Nero berdiri menghalangi keinginan itu, Nero membunuhnya. Nero kemudian membangun rumah emasnya dan mendirikan patung raksasa setinggi seratus dua puluh kaki di depannya. Di atas patung itu terdapat kepala yang mirip dengan kepalanya sendiri, dilengkapi dengan lingkaran cahaya matahari yang menandakan bahwa dialah sang dewa Apollo itu sendiri.
كَانَ نِيرُونُ فِي الْخَامِسَةِ وَالْعِشْرِينَ إِنْسَانًا فَاسِدًا مُنْتَفِخَ الْبَطْنِ رَفِيعَ الْأَطْرَافِ ضَعِيفَهَا ، ضَخْمَ الْوَجْهِ مُجَعَّدَ الْجِلْدِ أَصْفَرَ الشَّعْرِ مُلْتَوِيَهُ عَسَلِيَّ الْعَيْنَيْنِ ، وَلَكِنَّ حُكَّامَ الْأَقَالِيمِ كَانُوا يَخِرُّونَ لَهُ سَاجِدِينَ وَيَزْعُمُونَ أَنَّهُ إِلَهٌ يُعْبَدُ ، وَفِي ذَلِكَ الْوَقْتِ اقْتِيدَ إِلَيْهِ بُولُصُ وَقَدِ اتُّهِمَ بِأَنَّهُ يَدْعُو إِلَى إِلَهٍ آخَرَ غَيْرِهِ .
Pada usia dua puluh lima tahun, Nero adalah seorang pria yang bejat, berperut buncit, dengan anggota tubuh yang kurus dan lemah, berwajah besar, berkulit keriput, berambut pirang dan ikal, serta bermata warna madu. Namun, para gubernur wilayah bersujud menyembahnya dan mengklaim bahwa ia adalah tuhan yang disembah. Pada masa itulah Paulus digiring ke hadapannya dengan tuduhan bahwa ia mendakwahkan tuhan lain selain dirinya.
وَأُلْقِيَ بُولُصُ فِي جُبِّ تُلْيَانَ لِيَمُوتَ مِنَ الْجُوعِ وَفَتْكِ الْحَشَرَاتِ الْقَارِصَةِ وَالْقَمْلِ فِي السَّرَادِيبِ الْمُظْلِمَةِ ، وَسَطَ الْأَقْذَارِ الَّتِي تَكَدَّسَتْ أَكْوَامًا .
Paulus dilemparkan ke dalam penjara Tullianum agar ia mati kelaparan dan digerogoti serangga-serangga ganas serta kutu-kutu di dalam rubanah (ruang bawah tanah) yang gelap gulita, di tengah-tengah kotoran yang menumpuk bertumpuk-tumpuk.
وَفِي ذَاتِ يَوْمٍ أُخْرِجَ بُولُصُ مِنْ ذَلِكَ الْجُبِّ لِيُصْلَبَ وَذَاقَ مَرَارَةَ الْكَأْسِ الَّتِي كَانَ يَتَصَوَّرُهَا وَيُحَدِّثُ النَّاسَ عَنْهَا ، وَذَهَبَ بُولُصُ إِلَى حَيْثُ يَعْلَمُ حَقِيقَةَ الْمَسِيحِ ، تِلْكَ الْحَقِيقَةُ الَّتِي قَصُرَ تَصَوُّرُهُ عَنْ أَنْ يُدْرِكَهَا ، وَقَدْ صَدَقَ فِيهِ قَوْلُ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ : « اِحْتَرِزُوا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ الْكَذَبَةِ الَّذِينَ يَأْتُونَكُمْ بِثِيَابِ الْحُمْلَانِ وَلَكِنَّهُمْ فِي الدَّاخِلِ ذِئَابٌ خَاطِفَةٌ ، مِنْ ثِمَارِهِمْ تَعْرِفُونَهُمْ . هَلْ يَجْتَنُونَ مِنَ الشَّوْكِ عِنَبًا أَوْ مِنَ الْحَسَكِ تِينًا ؟ هَكَذَا كُلُّ شَجَرَةٍ جَيِّدَةٍ تَصْنَعُ أَثْمَارًا جَيِّدَةً، وَأَمَّا الشَّجَرَةُ الرَّدِيئَةُ فَتَصْنَعُ أَثْمَارًا رَدِيئَةً ، لَا تَقْدِرُ شَجَرَةٌ جَيِّدَةٌ أَنْ تَصْنَعَ أَثْمَارًا رَدِيئَةً ، وَلَا شَجَرَةٌ رَدِيئَةٌ أَنْ تَصْنَعَ أَثْمَارًا جَيِّدَةً ، كُلُّ شَجَرَةٍ لَا تَصْنَعُ ثَمَرًا جَيِّدًا تُقْطَعُ وَتُلْقَى فِي النَّارِ ، فَإِذًا مِنْ ثِمَارِهِمْ تَعْرِفُونَهُمْ » .
Suatu hari, Paulus dikeluarkan dari penjara bawah tanah itu untuk disalib, dan ia pun merasakan kepahitan cawan yang selama ini ia bayangkan dan ia ceritakan kepada orang-orang. Paulus pergi ke tempat di mana ia akhirnya mengetahui hakikat Al-Masih yang sebenarnya, hakikat yang jauh dari jangkauan pemahamannya. Sungguh benar perkataan Tuan Al-Masih tentang dirinya: "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."
لَيْسَ كُلُّ مَنْ يَقُولُ لِي يَا رَبُّ يَا رَبُّ يَدْخُلُ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ ، بَلِ الَّذِي يَفْعَلُ إِرَادَةَ أَبِي الَّذِي فِي السَّمَاوَاتِ . كَثِيرُونَ سَيَقُولُونَ لِي فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ : « يَا رَبُّ يَا رَبُّ أَلَيْسَ بِاسْمِكَ تَنَبَّأْنَا ، وَبِاسْمِكَ أَخْرَجْنَا شَيَاطِينَ ، وَبِاسْمِكَ صَنَعْنَا قُوَّاتٍ كَثِيرَةً ؟ فَحِينَئِذٍ أُصَرِّحُ لَهُمْ : إِنِّي لَمْ أَعْرِفْكُمْ قَطُّ . اِذْهَبُوا عَنِّي يَا فَاعِلِي الْإِثْمِ » .
"Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namamu, dan mengusir setan demi namamu, dan mengadakan banyak mukjizat demi namamu juga? Pada waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi