BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al-Yatim - Episode 23

AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Bawah Kubah Merah: Syair, Kepalsuan, dan Kabut Jahiliyah

Pasar Ukaz menjadi saksi bisu keindahan syair yang menghanyutkan, namun juga menjadi panggung kepalsuan. Di sini, para penyair memuji kedermawanan demi seteguk khamr, sementara di sudut lain, Makkah menciptakan tradisi Al-Hums yang menjauhkan manusia dari ajaran asli Nabi Ibrahim AS.

اسْتَأْجَرَ خَدَّاشٌ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ ، رَجُلًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ ، فَانْطَلَقَ مَعَهُ فِي إِبِلِهِ ، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ قَدِ انْقَطَعَتْ عُرْوَةُ جُوَالِقِهِ فَقَالَ :
Khadash, seorang pria dari Quraisy, menyewa seorang pria dari Bani Hasyim. Dia pergi bersamanya membawa unta-untanya. Kemudian, seorang pria dari Bani Hasyim yang pegangan karungnya terputus melewati mereka dan berkata:
— أَغِثْنِي بِعِقَالٍ أَشُدُّ بِهِ عُرْوَةَ جُوَالِقِي مَخَافَةَ أَنْ تَنْفِرَ الْإِبِلُ .
— Tolonglah aku dengan tali pengikat unta untuk mengikat pegangan karungku karena takut unta-unta itu lari.
فَأَعْطَاهُ عِقَالًا فَشَدَّ بِهِ عُرْوَةَ جُوَالِقِهِ ، فَلَمَّا نَزَلُوا عَقَلَتِ الْإِبِلُ إِلَّا بَعِيرًا وَاحِدًا ، فَقَالَ خَدَّاشٌ :
Dia memberinya tali pengikat, lalu pria itu mengikat pegangan karungnya. Ketika mereka turun (berhenti), unta-unta itu terikat kecuali satu ekor unta. Khadash berkata:
— مَا شَأْنُ هَذَا الْبَعِيرِ لَمْ يُعْقَلْ مِن بَيْنِ الْإِبِلِ ؟
— Mengapa unta ini tidak diikat di antara unta-unta lainnya?
— لَيْسَ لَهُ عِقَالٌ .
— Ia tidak memiliki tali pengikat.
— فَأَيْنَ عِقَالُهُ ؟
— Lalu di mana tali pengikatnya?
— مَرَّ بِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ قَدِ انْقَطَعَتْ عُرْوَةُ جُوَالِقِهِ ، وَاسْتَغَاثَ بِي فَأَعْطَيْتُهُ .
— Seorang pria dari Bani Hasyim melewatiku dengan pegangan karungnya yang terputus, ia meminta pertolonganku dan aku memberikannya.
فَحَذَفَهُ ( رَمَاهُ ) خَدَّاشٌ بِعَصَا كَانَ فِيهَا أَجَلُهُ ، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ وَهُوَ يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ وَقَالَ لَهُ :
Khadash melemparkan tongkat kepadanya yang menjadi sebab ajalnya. Kemudian seorang pria dari penduduk Yaman melewatinya saat ia sedang sekarat dan berkata kepadanya:
— أَتَشْهَدُ الْمَوْسِمَ ؟
— Apakah kamu menyaksikan musim (haji/perayaan)?
كَانَ مَوْسِمُ الْحَجِّ قَدْ آنَ وَكَانَتْ قَبَائِلُ الْعَرَبِ فِي طَرِيقِهَا إِلَى عُكَاظٍ ، قَالَ الْيَمَنِيُّ :
Musim haji telah tiba dan kabilah-kabilah Arab sedang dalam perjalanan ke Ukaz. Pria Yaman itu berkata:
— مَا أَشْهَدُ وَرُبَّمَا شَهِدْتُهُ .
— هَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي رِسَالَةً مِنَ الدَّهْرِ ؟
— نَعَمْ ذَلِكَ .
— Aku tidak menyaksikannya, dan mungkin aku akan menyaksikannya.
— Apakah kamu mau menyampaikan pesan dariku mengenai masa (kejadian ini)?
— Ya, tentu.
فَكَتَبَ الرَّجُلُ وَهُوَ فِي النَّفَسِ الْأَخِيرِ .
Maka pria itu pun menulis saat ia berada dalam napas terakhirnya.
— إِذَا أَنْتَ شَهِدْتَ الْمَوْسِمَ فَنَادِ : يَا آلَ قُرَيْشٍ ، فَإِذَا أَجَابُوكَ فَنَادِ : يَا آلَ بَنِي هَاشِمٍ ، فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاسْأَلْ عَنْ أَبِي طَالِبٍ فَأَخْبِرْهُ أَنَّ خَدَّاشًا قَتَلَنِي فِي عِقَالٍ .
— Jika kamu menyaksikan musim (haji), berserulah: "Wahai keluarga Quraisy!", jika mereka menjawabmu, berserulah: "Wahai keluarga Bani Hasyim!", jika mereka menjawabmu, bertanyalah tentang Abu Thalib, lalu kabarkan kepadanya bahwa Khadash telah membunuhku karena (masalah) tali pengikat unta.
كَانَ أَبُو طَالِبٍ فِي قَوَافِلِ قُرَيْشٍ الْمُنْطَلِقَةِ إِلَى عُكَاظٍ ، وَكَانَ مُطْرِقًا مَهْمُومًا فَقَدِ اسْتَدَانَ مِنْ أَخِيهِ الْعَبَّاسِ السَّنَتَيْنِ الْفَائِتَتَيْنِ لِيُنْفِقَ عَلَى السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةِ عَلَى أَمَلِ أَنْ تَزْدَهِرَ تِجَارَتُهُ وَتَرْبُوَ أَرْبَاحُهُ فَيَتَمَكَّنَ مِنْ سَدَادِ دَيْنِهِ وَيَبْقَى مِنْ مَالِهِ فَضْلٌ يُنْفِقُهُ عَلَى فُقَرَاءِ الْحُجَّاجِ ، وَقَدْ أَرْسَلَ تِجَارَتَهُ فِي رِحْلَةِ الشِّتَاءِ إِلَى الْيَمَنِ وَفِي رِحْلَةِ الصَّيْفِ إِلَى الشَّامِ ، وَقَدْ رَبِحَتْ تِجَارَتُهُ وَلَكِنَّ عِيَالَهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ وَالضَّيْفَانَ أَتَوْا عَلَى كُلِّ أَرْبَاحِهِ فَلَمْ يَبْقَ مَعَهُ مَا يَكْفِي سَدَادَ دَيْنِ أَخِيهِ .
Abu Thalib berada dalam kafilah Quraisy yang berangkat menuju Ukaz. Ia tertunduk gelisah karena telah berhutang kepada saudaranya, al-Abbas, selama dua tahun terakhir untuk membiayai *Siqayah* (penyediaan air minum) dan *Rifadah* (penyediaan makanan bagi jamaah haji) dengan harapan perdagangannya berkembang dan keuntungannya bertambah, sehingga ia mampu melunasi hutangnya dan masih memiliki sisa uang untuk dibelanjakan kepada jamaah haji yang miskin. Ia telah mengirimkan barang dagangannya dalam perjalanan musim dingin ke Yaman dan perjalanan musim panas ke Syam. Perdagangannya memang untung, namun keluarga, rumah tangganya, dan tamu-tamunya telah menghabiskan seluruh keuntungannya, sehingga tidak tersisa bersamanya harta yang cukup untuk melunasi hutang kepada saudaranya.
إِنَّ الْعَبَّاسَ أَقْرَضَهُ السَّنَةَ الْفَائِتَةَ عَلَى شَرْطِ إِنْ عَجَزَ عَنْ سَدَادِ الدَّيْنِ أَنْ تَكُولَ إِلَيْهِ السِّقَايَةُ وَالرِّفَادَةُ ، وَهُوَ عَاجِزٌ هَذِهِ السَّنَةَ عَنْ أَنْ يُؤَدِّيَ مَا عَلَيْهِ ، وَلَا يَحْسَبُ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَتَشَبَّثَ بِهَذَا الشَّرَفِ فَأَعْبَاؤُهُ الْمَالِيَّةُ تَتَزَايَدُ عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ ، وَقَدْ صَارَ الْعَبَّاسُ فِي ثَلَاثِ سِنِينَ مِنْ أَثْرِيَاءِ مَكَّةَ يَقْرِضُ مَنْ يَشَاءُ بِالرِّبَا ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْهَضَ بِعِبْءِ سِقَايَةِ حَجِيجِ بَيْتِ اللهِ وَإِطْعَامِ فُقَرَائِهِمْ .
Sesungguhnya al-Abbas telah meminjamkan uang tahun lalu dengan syarat jika ia gagal melunasi hutang, maka *Siqayah* dan *Rifadah* akan beralih kepadanya. Dan tahun ini ia tidak mampu menunaikan kewajibannya, serta ia tidak merasa mampu lagi untuk mempertahankan kehormatan ini karena beban keuangannya terus bertambah seiring berjalannya waktu. Al-Abbas pun dalam tiga tahun telah menjadi orang kaya di Makkah yang meminjamkan uang kepada siapa saja yang ia kehendaki dengan riba, dan ia mampu memikul beban penyediaan air bagi jamaah haji Baitullah dan memberi makan fakir miskin mereka.
وَحَطَّتْ قَوَافِلُ قُرَيْشٍ فِي سُوقِ عُكَاظٍ ، وَذَهَبَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى أَخِيهِ الْعَبَّاسِ وَقَالَ لَهُ إِنَّهُ لَنْ يَسُدَّ مَا عَلَيْهِ وَأَنَّهُ قَدْ أَصْبَحَ مِنْ حَقِّ الْعَبَّاسِ أَنْ يَأْخُذَ السِّقَايَةَ وَالرِّفَادَةَ بِمَا عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ ، فَكَادَ الْعَبَّاسُ أَنْ يَطِيرَ فَرَحًا بِهَذَا النَّبَأِ ، فَفِي غَمْضَةِ عَيْنٍ صَارَ سِيدًا مِنْ سَادَاتِ قَوْمِهِ لَهُ مِنَ الشَّرَفِ مَا لِحِزَامِ بْنِ حَكِيمِ الَّذِي دَخَلَ دَارَ النَّدْوَةِ قَبْلَ أَنْ يَطِرَ شَارِبُهُ ، بَلْ أَنَّهُ تَسَاوَى فِي الشَّرَفِ مَعَ حَرْبِ بْنِ أُمَيَّةَ زَعِيمِ بَنِي أُمَيَّةَ وَهُوَ لَا يَزَالُ حَدَثًا ، فَحَرْبُ ابْنُ أُمَيَّةَ حَامِلُ لِوَاءِ قُرَيْشٍ ، وَهُوَ صَاحِبُ السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةِ فِي قُرَيْشٍ !
Kafilah Quraisy mendarat di pasar Ukaz. Abu Thalib pergi menemui saudaranya, al-Abbas, dan berkata kepadanya bahwa ia tidak akan bisa melunasi hutangnya, dan sudah menjadi hak al-Abbas untuk mengambil *Siqayah* dan *Rifadah* sebagai ganti hutangnya. Al-Abbas hampir melompat kegirangan mendengar berita ini. Dalam sekejap mata, ia menjadi salah satu pemimpin kaumnya, memiliki kehormatan yang dimiliki oleh Hizam bin Hakim yang memasuki Darun Nadwah sebelum kumisnya tumbuh. Bahkan, ia setara dalam kehormatan dengan Harb bin Umayyah, pemimpin Bani Umayyah, padahal ia masih muda. Harb bin Umayyah adalah pembawa panji Quraisy, dan ia adalah pemilik *Siqayah* dan *Rifadah* di Quraisy!
وَضُرِبَتْ لِلنَّابِغَةِ الذُّبْيَانِيِّ فِي السُّوقِ قُبَّةٌ حَمْرَاءُ مِنْ أَدَمٍ ، وَجَاءَ إِلَيْهِ الْأَعْشَى وَحَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ وَالْخَنْسَاءُ وَشُعَرَاءُ الْعَرَبِ ، فَرَاحَ الْأَعْشَى يَنْشِدُ شِعْرَهُ وَامْرَأَةٌ عَرَبِيَّةٌ تَرْقُبُهُ مِنْ بَعِيدٍ . إِنَّهَا امْرَأَةُ الْمُحَلَّقِ فَقَدْ قَدِمَ الْأَعْشَى مَكَّةَ قَبْلَ أَنْ يَنْطَلِقَ إِلَى عُكَاظٍ ، وَتَسَامَعَ النَّاسُ بِهِ فَقَالَتِ امْرَأَةُ الْمُحَلَّقِ لَهُ :
Sebuah kubah merah dari kulit dibangun untuk an-Nabighah adz-Dzubyani di pasar tersebut. Al-A'sya, Hassan bin Tsabit, al-Khansa', dan penyair-penyair Arab lainnya datang menemuinya. Al-A'sya mulai melantunkan syairnya sementara seorang wanita Arab mengawasinya dari jauh. Ia adalah istri al-Muhallaq. Al-A'sya telah datang ke Makkah sebelum berangkat ke Ukaz, dan orang-orang mendengar tentangnya, maka istri al-Muhallaq berkata kepadanya:
— إِنَّ الْأَعْشَى قَدِمَ وَهُوَ رَجُلٌ مَفُوهٌ مَجْدُودٌ فِي الشِّعْرِ ، مَا مَدَحَ أَحَدًا إِلَّا رَفَعَهُ وَلَا هَجَا أَحَدًا إِلَّا وَضَعَهُ ، وَأَنْتَ رَجُلٌ كَمَا قَدْ عَلِمْتَ فَقِيرٌ خَامِلُ الذِّكْرِ ذُو بَنَاتٍ ، وَعِنْدَنَا لِقْحَةٌ نَعِيشُ بِهَا ، فَلَوْ سِقْتَ النَّاسَ إِلَيْهِ فَدَعَوْتَهُ إِلَى الضِّيَافَةِ وَنَحَرْتَ لَهُ وَاحْتَلْتَ لَكَ فِيمَا تَشْتَرِي بِهِ شَرَابًا يَتَعَاطَاهُ ، لَرَجَوْتُ لَكَ حُسْنَ الْعَاقِبَةِ .
— Sesungguhnya al-A'sya telah datang, dia adalah pria fasih yang beruntung dalam bersyair. Tidaklah ia memuji seseorang kecuali ia mengangkat derajatnya, dan tidaklah ia mencela seseorang kecuali ia menjatuhkannya. Kamu adalah pria yang seperti kamu tahu, miskin, tidak dikenal, dan memiliki anak-anak perempuan. Kita memiliki unta perah yang kita hidup darinya. Jika kamu menggiring orang (tamu) kepadanya, lalu mengundangnya ke perjamuan, menyembelih (unta) untuknya, dan berupaya mendapatkan minuman (khamr) yang bisa ia nikmati, niscaya aku mengharapkan akhir yang baik bagimu.
فَسَبَقَ إِلَيْهِ الْمُحَلَّقُ فَأَنْزَلَ وَنَحَرَ لَهُ ، فَلَمَّا أَكَلَ الْأَعْشَى وَأَصْحَابُهُ وَكَانَ فِي عَصَابَةٍ قَيْسِيَّةٍ ، قَدِمَ إِلَيْهِ الشَّرَابُ وَاشْتَوَى إِلَيْهِ مِنْ كَبِدِ النَّاقَةِ وَأَطْعَمَهُ مِنْ أَطَايِبِهَا ، فَلَمَّا جَرَى فِيهِ الشَّرَابُ وَأَخَذَتْ مِنْهُ الْكَأْسُ سَأَلَهُ عَنْ حَالِهِ وَعِيَالِهِ ، فَعَرَفَ الْبُؤْسَ فِي كَلَامِهِ وَذَكَرَ الْبَنَاتِ فَقَالَ الْأَعْشَى :
Maka al-Muhallaq mendahuluinya, menyambutnya, dan menyembelih (unta) untuknya. Ketika al-A'sya dan sahabat-sahabatnya makan (dan mereka berada dalam kelompok Qaisiyah), minuman dihidangkan kepadanya, dan ia memanggang hati unta untuknya, lalu memberinya makan dari bagian-bagian terbaiknya. Ketika minuman mulai memengaruhinya dan gelas-gelas telah bekerja, ia bertanya kepadanya tentang keadaan dan keluarganya. Ia mengetahui penderitaan dalam perkataannya dan ia menyebutkan anak-anak perempuannya, maka al-A'sya berkata:
— كُفِيتَ أَمْرَهُنَّ .
— Kebutuhan mereka telah dicukupi.
وَهَا هُوَ ذَا الْأَعْشَى بِعُكَاظَ ، تَرَى أَيَذْكُرُ بَنَاتِ الْمُحَلَّقِ ؟ وَانْتَهَى الْأَعْشَى مِنْ قَصِيدَتِهِ وَرَاحَ حَسَّانُ يَنْشِدُ :
Dan inilah al-A'sya di Ukaz, apakah ia akan menyebutkan anak-anak perempuan al-Muhallaq? Al-A'sya menyelesaikan qasidahnya, dan Hassan mulai bersyair:
لَنَا الْجَفْنَاتُ الْغُرُّ يَلْمَعْنَ بِالضُّحَى
وَأَسْيَافُنَا يَقْطُرْنَ مِنْ نَجْدَةٍ دَمَا
وَلَدْنَا بَنِي الْعَنْقَاءِ وَابْنَ مُحَرِّقٍ
فَأَكْرِمْ بِنَا خَالًا وَأَكْرِمْ بِنَا ابْنَا
فَلَمَّا انْتَهَى مِنْهَا قَالَ النَّابِغَةُ :
Bagi kami wadah-wadah makanan yang putih bersinar di waktu dhuha
Dan pedang-pedang kami meneteskan darah karena keberanian
Kami melahirkan keturunan al-Anqa' dan putra Muharriq
Maka muliakanlah kami sebagai paman dan muliakanlah kami sebagai anak
Ketika ia selesai darinya, an-Nabighah berkata:
— أَنْتَ شَاعِرٌ .
— Kamu (adalah) seorang penyair.
وَلَمْ يُعْجِبِ الْخَنْسَاءَ إِطْرَاءُ النَّابِغَةِ لِحَسَّانَ فَقَالَتْ :
Al-Khansa' tidak terkesan dengan pujian an-Nabighah kepada Hassan, maka ia berkata:
— أَيُّ فَخْرٍ يَكُونُ فِي أَنْ لَهُ وَلِعَشِيرَتِهِ وَلِمَنْ يَنْضَوِي إِلَيْهِمْ مِنَ الْجِفَانِ مَا نِهَايَتُهَا فِي الْعَدَدِ عَشْرَةً وَكَذَا مِنَ السُّيُوفِ ؟ أَلَا اسْتَعْمَلَ جَمْعَ الْكَثْرَةِ : الْجِفَانِ وَالسُّيُوفِ ؟ وَأَيُّ فَخْرٍ فِي أَنْ تَكُونَ جَفْنَةٌ وَقْتَ الضَّحْوَةِ - وَهُوَ وَقْتُ تَنَاوُلِ الطَّعَامِ - غَرَّاءَ لَامِعَةً كَجِفَانِ الْبَائِعِ ؟ أَمَا يُشْبِهُ أَنْ قَدْ جَعَلَ نَفْسَهُ وَعَشِيرَتَهُ بَائِعِي عِدَّةِ جَفَنَاتٍ ؟ ثُمَّ أَلَّى يَصْلُحُ لِلْمُبَالَغَةِ فِي الْمَدْحِ بِالشَّجَاعَةِ وَأَنَّهُ فِي مَقَامِهَا يَقْطُرْنَ ؟ أَمَا كَانَ يَجِبُ أَنْ يَتْرُكَهَا إِلَى يَسِيلْنَ أَوْ مَا شَاكَلَ ذَلِكَ ؟
— Kebanggaan apa yang ada dalam (pernyataan) bahwa ia, kaumnya, dan pengikutnya memiliki wadah-wadah makanan yang jumlahnya hanya sepuluh, dan juga (hanya sepuluh) pedang? Mengapa tidak menggunakan bentuk jamak *katsrah* (banyak): *al-jifan* dan *as-suyuf*? Dan kebanggaan apa dalam hal bahwa sebuah wadah makanan di waktu dhuha - yaitu waktu makan - tampak putih berkilauan seperti wadah pedagang? Bukankah itu mirip dengan ia menjadikan dirinya dan kaumnya sebagai penjual sekumpulan wadah? Kemudian, apakah pantas untuk melebih-lebihkan pujian atas keberanian dengan menyatakan bahwa di tempatnya (darah) "menetes"? Bukankah seharusnya ia menggunakan kata "mengalir" atau yang serupa dengannya?
وَرَاحَتِ الْخَنْسَاءُ تَنْشِدُ شِعْرَهَا وَقَدْ أَلْقَى الشُّعَرَاءُ إِلَيْهَا سَمْعَهُمْ فَاسْتَوْلَتْ عَلَى أَلْبَابِهِمْ ، وَلَا غَرْوَ فَأَبُوهَا شَاعِرٌ وَخَالُهَا شَاعِرٌ وَأُخْتُهَا سَلْمَى شَاعِرَةٌ وَأَخُوهَا زُهَيْرُ بْنُ أَبِي سُلْمَى مِنْ فُحُولِ شُعَرَائِهِمْ ، وَمَا انْتَهَتِ الْخَنْسَاءُ مِنْ قَصِيدَتِهَا حَتَّى رَاحَ أَحَدُ الْحَاضِرِينَ يَتَرَنَّمُ بِقَصِيدَةِ أَخِيهَا زُهَيْرٍ أَحْكَمِ حُكَمَاءِ الْعَرَبِ :
Al-Khansa' mulai melantunkan syairnya, dan para penyair mendengarkannya dengan saksama, sehingga ia memikat hati mereka. Hal ini tidak mengherankan, karena ayahnya adalah penyair, pamannya adalah penyair, saudarinya Salma adalah penyair, dan saudaranya Zuhair bin Abi Sulma termasuk di antara penyair-penyair mereka yang ulung. Belum lagi al-Khansa' selesai dengan qasidahnya, salah seorang yang hadir mulai melantunkan qasidah saudaranya, Zuhair, yang merupakan ahli hikmah paling bijak di antara orang Arab:

وَمَنْ لَمْ يَصَانِعْ فِي أُمُورٍ كَثِيرَةٍ            يُضَرَّسْ بِأَنْيَابٍ وَيُوطَأْ بِمَنْسَمِ

[Shadr] Barangsiapa yang tidak mau berbasa-basi dalam banyak urusan,
[Ajuz] akan digigit oleh taring dan diinjak oleh telapak kaki (unta).

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوفَ مِنْ دُونِ عِرْضِهِ            يَفِرْهُ وَمَنْ لَا يَتَّقِ الشَّتْمَ يُشْتَمِ

[Shadr] Barangsiapa yang menjadikan kebaikan untuk menjaga kehormatannya,
[Ajuz] maka ia akan memeliharanya, dan barangsiapa yang tidak menghindar dari cercaan, maka ia akan dicerca.

وَمَنْ لَمْ يَذُدْ عَنْ حَوْضِهِ بِسِلَاحِهِ            يُهْدَمْ وَمَنْ لَا يَظْلِمِ النَّاسَ يُظْلَمِ

[Shadr] Barangsiapa yang tidak mempertahankan telaganya dengan senjatanya,
[Ajuz] maka akan dihancurkan, dan barangsiapa yang tidak menzalimi manusia, maka ia akan dizalimi.

وَمَنْ يَغْتَرِبْ يَحْسَبْ عَدُوًّا صَدِيقَهُ            وَمَنْ لَا يُكَرِّمْ نَفْسَهُ لَا يُكَرَّمِ

[Shadr] Barangsiapa yang merantau akan menganggap musuh sebagai temannya,
[Ajuz] dan barangsiapa yang tidak memuliakan dirinya, maka ia tidak akan dimuliakan.

وَمَنْ يَكُ ذَا فَضْلٍ فَيَبْخَلْ بِفَضْلِهِ            عَلَى قَوْمِهِ يُسْتَغْنَ عَنْهُ وَيُذْمَمِ

[Shadr] Barangsiapa yang memiliki kelebihan lalu pelit dengan kelebihannya,
[Ajuz] terhadap kaumnya, maka mereka tidak lagi membutuhkannya dan ia akan dicela.

وَمَهْمَا تَكُنْ عِنْدَ امْرِئٍ مِنْ خَلِيقَةٍ            وَإِنْ خَالَهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ تُعْلَمِ

[Shadr] Dan tabiat apa pun yang dimiliki oleh seseorang,
[Ajuz] meskipun ia mengiranya tersembunyi dari manusia, niscaya akan diketahui.

وَقَالَ قَائِلٌ :
Dan seorang pembicara berkata:
— إِنَّ كَعْبَ بْنَ زُهَيْرٍ يَنْشِدُ الشِّعْرَ وَلَمَّا يَشِبْ عَنِ الطَّوْقِ .
— Sesungguhnya Ka'ab bin Zuhair melantunkan syair padahal ia belum dewasa (belum beranjak dari masa kanak-kanak).
وَانْتَهَتْ نَدْوَةُ الشُّعَرَاءِ فِي قُبَّةِ النَّابِغَةِ ، وَقَامَ الْأَعْشَى يَنْشِدُ قَصِيدَتَهُ عَلَى النَّاسِ فَخَفَقَ قَلْبُ امْرَأَةِ الْمُحَلَّقِ وَأَصْبَحَتْ كُلُّ حَوَاسِّهَا آذَانًا ، قَالَ :
Majelis para penyair di kubah an-Nabighah berakhir, dan al-A'sya berdiri melantunkan qasidahnya di depan orang banyak. Jantung istri al-Muhallaq berdegup kencang dan seluruh indranya menjadi telinga. Ia berkata:
أَرَّقْتَ وَمَا هَذَا السُّهَادُ الْمُؤَرِّقُ
وَمَا بِي مِنْ سُقْمٍ وَمَا بِي تَعَشُّقُ
Kamu membuatku tidak bisa tidur, dan apakah ini insomnia yang menyiksa?
Dan tidak ada penyakit padaku, dan tidak ada rasa asmara (padaku).
وَرَأَى الْحِلَقَ اجْتِمَاعَ النَّاسِ فَوَقَفَ يَسْتَمِعُ وَهُوَ لَا يَدْرِي أَيْنَ يُرِيدُ الْأَعْشَى بِقَوْلِهِ ، إِلَى أَنْ سَمِعَ :
Ia melihat lingkaran perkumpulan orang-orang, lalu ia berhenti untuk mendengarkan tanpa mengetahui ke mana arah tujuan al-A'sya dengan ucapannya, sampai ia mendengar:
نَفَى الذَّمَّ عَنْ آلِ الْمُحَلَّقِ جَفْنَةٌ
كَجَابِيَةِ الشَّيْخِ الْعِرَاقِيِّ تَهْفُقُ
تَرَى الْقَوْمَ فِيهَا شَارِعِينَ وَبَيْنَهُمْ
مَعَ الْقَوْمِ وِلْدَانٌ مِنَ النَّسْلِ دَرْدَقُ
Telah menepis cercaan dari keluarga al-Muhallaq sebuah wadah makanan
Seperti bak penampungan air milik syekh Iraq yang meluap
Engkau melihat kaum di dalamnya berkerumun, dan di antara mereka
Bersama kaum itu (ada) anak-anak kecil dari keturunan (yang) masih kanak-kanak.

Catatan kaki: (1) الدَّرْدَقُ : الْأَطْفَالُ وَصِغَارُ الْإِبِلِ (Dardaqu: Anak-anak kecil dan unta-unta muda).

تَشِبُّ لِمَقْرُورِينَ يَصْطَلِيَانِهَا
وَبَاتَ عَلَى النَّارِ النَّدَى وَالْمُحَلَّقُ
رَضِيعَي لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَحَالَفَا
بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضٍ لَا نَتَفَرَّقُ
تَرَى الْجُودَ يَجْرِي ظَاهِرًا فَوْقَ وَجْهِهِ
كَمَا زَانَ مَتْنَ الْهِنْدِوَانِيِّ رَوْنَقُ
Wadah itu menyala untuk orang-orang kedinginan yang menghangatkan diri dengannya
Dan kedermawanan serta al-Muhallaq bermalam di atas api
(Seperti) dua bayi yang menyusu pada satu puting ibu yang bersekutu
Dengan (tali) hitam gelap yang abadi, tidak akan pernah berpisah
Engkau melihat kedermawanan mengalir nampak di atas wajahnya
Sebagaimana kilau yang menghiasi mata pedang India.

Catatan kaki: (1) عَوْض : أَبَدًا (Awad: Selamanya/Abadi).

وَوَقَفَ الْمُحَلَّقُ مَذْهُولًا وَدُمُوعُهُ تَتَرَقْرَقُ فِي عَيْنَيْهِ ، فَهُوَ لَا يَكَادُ يُصَدِّقُ أُذُنَيْهِ ، وَمَا أَتَمَّ الْأَعْشَى قَصِيدَتَهُ إِلَّا وَالنَّاسُ يَنْسِلُونَ إِلَيْهِ جَرْيًا يَخْطُبُونَ بَنَاتَهُ .
Al-Muhallaq berdiri terpaku dengan air mata berlinang di matanya; ia hampir tidak memercayai telinganya sendiri. Al-A'sya belum selesai melantunkan qasidahnya, namun orang-orang sudah bergegas menghampirinya untuk melamar anak-anak perempuannya.
وَدَبَّتِ الْحَيَاةُ فِي عُكَاظَ ، شِعْرٌ يُنْشَدُ هُنَا وَجِدَالٌ يَشِبُّ هُنَاكَ ، وَشَبَابٌ مَاجِنٌ يُطْلِقُ الضَّحِكَاتِ ، وَبَيْعٌ وَشِرَاءٌ ، وَفَخْرٌ وَهِجَاءٌ . وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي نَصْرِ بْنِ مُعَاوِيَةَ مِنْ هَوَازِنَ بِقَرَدٍ ، فَأَوْقَفَهُ فِي السُّوقِ وَقَالَ بِصَوْتٍ عَالٍ :
Kehidupan berdenyut di Ukaz; syair dilantunkan di sini, perdebatan berkobar di sana, pemuda-pemuda yang bebas tertawa terbahak-bahak, jual beli, serta kesombongan dan celaan. Seorang pria dari Bani Nashr bin Mu'awiyah dari Hawazin datang dengan membawa kera, lalu ia menghentikannya di pasar dan berkata dengan suara lantang:
— مَنْ يَبِيعُنِي مِثْلَ هَذَا بِمَالِي عِنْدَ فُلَانٍ ؟
— Siapa yang mau menjual padaku (kera) seperti ini dengan hartaku yang ada pada si Fulan?
وَكَانَ فُلَانٌ هَذَا رَجُلًا مِنْ بَنِي كِنَانَةَ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ لِلنَّصْرِيِّ فَأَعْدَمَ وَصَارَ لَا يَقْدِرُ عَلَى سَدَادِ دَيْنِهِ ، وَاسْتَمَرَّ النَّصْرِيُّ يَصِيحُ تَعْيِيرًا لِلْكِنَانِيِّ وَلِقَوْمِهِ :
Fulan ini adalah seorang pria dari Bani Kinanah yang memiliki hutang kepada si Nashri. Ia jatuh miskin dan tidak mampu melunasi hutangnya. Si Nashri terus berteriak mencemooh si Kinani dan kaumnya:
— مَنْ يَبِيعُنِي مِثْلَ هَذَا بِمَالِي عِنْدَ فُلَانٍ ؟
— Siapa yang mau menjual padaku (kera) seperti ini dengan hartaku yang ada pada si Fulan?
فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي كِنَانَةَ فَضَرَبَ الْقِرْدَ بِسَيْفِهِ فَقَتَلَهُ ، فَهَتَفَ النَّصْرِيُّ :
Kemudian seorang pria dari Bani Kinanah melewatinya, lalu ia memukul kera itu dengan pedangnya hingga mati. Maka si Nashri berseru:
— يَا لَهَوَازِنَ !
— Wahai (kaum) Hawazin!
وَهَتَفَ الْكِنَانِيُّ :
Dan si Kinani berseru:
— يَا لَكِنَانَةَ !
— Wahai (kaum) Kinanah!
فَتَهَاجَ النَّاسُ حَتَّى كَادَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمْ قِتَالٌ ، ثُمَّ رَأَوُا الْخَطْبَ يَسِيرًا فَتَرَاجَعُوا وَلَمْ يَفْهَمِ الشَّرُّ بَيْنَهُمْ ، وَكَانَ ذَلِكَ الْفِجَارُ الثَّالِثَ وَبِهِ انْتَهَتْ أَيَّامُ الْفِجَارِ الْأَوَّلِ .
Orang-orang pun bersitegang hingga hampir terjadi pertempuran di antara mereka. Kemudian mereka melihat masalahnya sepele, maka mereka mundur dan kejahatan tidak meluas di antara mereka. Itu adalah Perang Fijar yang ketiga, dan dengannya berakhirlah hari-hari Perang Fijar yang pertama.
وَانْقَضَى عِشْرُونَ يَوْمًا مِنْ صُبْحِ هِلَالِ ذِي الْقَعْدَةِ ، فَحَمَلَ النَّاسُ تِجَارَتَهُمْ وَأَمْتِعَتَهُمْ عَلَى رَوَاحِلِهِمْ وَانْطَلَقُوا إِلَى سُوقِ ذِي مَجَنَّةَ لِيَسْتَأْنِفُوا تِجَارَتَهُمْ ، وَقَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ كَانَ سَهْلُ عُكَاظَ الْعَرِيضُ الَّذِي كَانَ يَنْبِضُ بِالْحَيَاةِ قَاعًا لَا صَوْتَ وَلَا نَأْمَةَ ، وَلَوْلَا وَسْوَسَةُ نَسِيمِ اللَّيْلِ فِي سَعَفِ النَّخِيلِ وَعُوَاءِ كَلْبٍ آتٍ مِنْ بَعِيدٍ لَسَكَنَتِ السُّوقُ سُكُونَ الرُّمُوسِ .
Dua puluh hari berlalu sejak pagi hilal Dzulqa'dah, orang-orang membawa barang dagangan dan perbekalan mereka di atas unta-unta mereka, lalu berangkat ke pasar Dzi Majannah untuk melanjutkan perdagangan mereka. Sebelum matahari terbenam, lembah Ukaz yang luas, yang tadinya berdenyut dengan kehidupan, menjadi tempat datar tanpa suara dan tanpa bisikan. Seandainya bukan karena bisikan angin malam di pelepah kurma dan gonggongan anjing dari kejauhan, niscaya pasar itu akan hening seperti keheningan kuburan.
وَانْقَضَتْ أَيَّامُ ذِي الْمَجَنَّةِ وَذِي مَجَازٍ وَتَدَفَّقَ النَّاسُ إِلَى مَكَّةَ لِيُؤَدُّوا فَرِيضَةَ الْحَجِّ الَّتِي بَقِيَتْ فِي الْقَبَائِلِ مُذْ أَيَّامِ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ ، وَإِنْ تَسَلَّلَ إِلَيْهَا الشِّرْكُ لَمَّا طَالَ عَلَى النَّاسِ الْعُمُرُ . كَانُوا يَقِفُونَ الْمَوَاقِفَ كُلَّهَا ، وَكَانُوا يَهْدُونَ الْهَدْيَ وَيَرْمُونَ الْجِمَارَ . وَكَانَ الرَّجُلُ مِنْهُمْ إِذَا أَحْرَمَ تَقَلَّدَ قِلَادَةً مِنْ شَعْرٍ فَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُ أَحَدٌ ، فَإِذَا حَجَّ وَقَضَى حَجَّهُ تَقَلَّدَ قِلَادَةً مِنْ إِذْخِرٍ أَوْ مِنْ لِحَاءِ شَجَرِ الْحَرَمِ فَلَا يَخَافُ مِنْ أَحَدٍ وَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُ أَحَدٌ بِسُوءٍ . كَانَ النَّاسُ كُلُّهُمْ فِيهِمْ مُلُوكٌ يَدْفَعُ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ ، وَلَمْ يَكُنْ فِي الْعَرَبِ مُلُوكٌ كَذَلِكَ ، فَجَعَلَ اللهُ تَعَالَى لَهُمُ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا يَدْفَعُ بِهِ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ ، فَلَوْ لَقَى الرَّجُلُ قَاتِلَ أَبِيهِ أَوْ ابْنِهِ عِنْدَهُ مَا قَتَلَهُ .
Hari-hari di Dzi Majannah dan Dzi Majaz berlalu, dan orang-orang berbondong-bondong ke Makkah untuk menunaikan kewajiban haji yang tersisa di kabilah-kabilah sejak zaman Ibrahim, Kekasih Allah, meskipun kesyirikan menyusup ke dalamnya setelah masa yang panjang bagi manusia. Mereka berdiri di semua tempat (wukuf), mempersembahkan *hadyu* (hewan kurban), dan melempar jumrah. Seseorang dari mereka jika berihram akan mengalungkan kalung dari bulu, sehingga tidak ada seorang pun yang mengganggunya. Jika ia telah berhaji dan menyelesaikan hajinya, ia mengalungkan kalung dari rumput *idzkhir* atau kulit pohon di tanah Haram, sehingga ia tidak takut kepada siapa pun dan tidak ada seorang pun yang mengganggunya dengan keburukan. Semua orang di antara mereka adalah raja, sebagian dari mereka melindungi sebagian yang lain, padahal tidak ada raja di antara orang Arab seperti itu. Maka Allah Ta'ala menjadikan Baitul Haram bagi mereka sebagai penopang, yang dengannya sebagian dari mereka melindungi sebagian yang lain. Jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayahnya atau anaknya di dekatnya (Baitul Haram), ia tidak akan membunuhnya.
وَقَدْ كَانَتْ قُرَيْشٌ ابْتَدَعَتْ رَأَى الْحُمُسِ رَأْيًا رَأَوْهُ وَأَدَارُوهُ ، فَقَالُوا :
Dan Quraisy telah menciptakan gagasan al-Hums, sebuah pandangan yang mereka lihat dan mereka putar, maka mereka berkata:
— نَحْنُ بَنُو إِبْرَاهِيمَ وَأَهْلُ الْحُرْمَةِ وَوُلَاةُ الْبَيْتِ وَقُطَّانُ مَكَّةَ وَسُكَّانُهَا . فَلَيْسَ لِأَحَدٍ مِنَ الْعَرَبِ مِثْلُ حَقِّنَا وَلَا مِثْلُ مَنْزِلَتِنَا ، وَلَا تَعْرِفُ لَهُ الْعَرَبُ مِثْلَ مَا تَعْرِفُ لَنَا ، فَلَا تَعْظِمُوا شَيْئًا مِنَ الْحِلِّ كَمَا تَعْظِمُونَ الْحَرَمَ فَإِنَّكُمْ إِنْ فَعَلْتُمْ ذَلِكَ اسْتَخَفَّتِ الْعَرَبُ بِحُرْمَتِكُمْ وَقَالُوا : قَدْ عَظَّمُوا مِنَ الْحِلِّ مِثْلَ مَا عَظَّمُوا مِنَ الْحَرَمِ .
— Kami adalah keturunan Ibrahim, pemilik kehormatan, penguasa Baitullah, serta penghuni dan penduduk Makkah. Tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang memiliki hak seperti hak kami, tidak pula kedudukan seperti kedudukan kami, dan bangsa Arab tidak mengenal mereka sebagaimana mereka mengenal kami. Maka janganlah kalian mengagungkan sesuatu dari wilayah al-Hill sebagaimana kalian mengagungkan al-Haram, karena jika kalian melakukannya, bangsa Arab akan meremehkan kehormatan kalian dan berkata: Mereka telah mengagungkan al-Hill sama seperti mereka mengagungkan al-Haram.
فَتَرَكُوا الْوُقُوفَ عَلَى عَرَفَةَ وَالْإِفَاضَةَ مِنْهَا وَهُمْ يَعْتَرِفُونَ وَيُقِرُّونَ أَنَّهَا مِنْ الْمَشَاعِرِ وَالْحَجِّ وَدِينِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، وَيَرَوْنَ لِسَائِرِ الْعَرَبِ أَنْ يَقِفُوا عَلَيْهَا وَأَنْ يَفِيضُوا مِنْهَا إِلَّا أَنَّهُمْ قَالُوا :
Maka mereka meninggalkan wukuf di Arafah dan ifadhah darinya, padahal mereka mengakui dan menetapkan bahwa itu adalah bagian dari syiar, haji, dan agama Ibrahim 'alaihis salam, dan mereka berpandangan bahwa seluruh bangsa Arab harus wukuf di sana dan ifadhah darinya, hanya saja mereka berkata:
— نَحْنُ أَهْلُ الْحَرَمِ فَلَيْسَ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَخْرُجَ مِنَ الْحُرْمَةِ وَلَا نُعَظِّمَ غَيْرَهَا كَمَا نُعَظِّمُهَا وَنَحْنُ الْحُمُسُ أَهْلُ الْحَرَمِ .
— Kami adalah penduduk tanah haram, maka tidak pantas bagi kami untuk keluar dari kehormatan tanah haram dan tidak mengagungkan yang lain sebagaimana kami mengagungkannya, sedangkan kami adalah al-Hums, penduduk tanah haram.
ثُمَّ جَعَلُوا لِمَنْ وَلَدُوا مِنَ الْعَرَبِ مِنْ سَاكِنِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ مِثْلَ الَّذِي لَهُمْ بِوِلَادَتِهِمْ إِيَّاهُمْ يَحِلُّ لَهُمْ مَا يَحِلُّ لَهُمْ وَيَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مَا يَحْرُمُ عَلَيْهِمْ ، وَكَانَتْ كِنَانَةُ وَخُزَاعَةُ قَدْ دَخَلُوا مَعَهُمْ فِي ذَلِكَ . ثُمَّ ابْتَدَعُوا أُمُوراً لَمْ تَكُنْ لَهُمْ حَتَّى قَالُوا :
Kemudian mereka menetapkan bagi orang-orang yang lahir dari bangsa Arab, baik yang tinggal di al-Hill maupun al-Haram, ketentuan yang sama seperti ketentuan bagi mereka karena kelahiran mereka, sehingga halal bagi mereka apa yang halal bagi mereka, dan haram bagi mereka apa yang haram bagi mereka. Kinanah dan Khuza'ah telah masuk bersama mereka dalam ketentuan tersebut. Kemudian mereka membuat-buat perkara yang sebelumnya tidak ada bagi mereka hingga mereka berkata:
— لَا يَنْبَغِي لِلْحُمُسِ أَنْ يَقْطِطُوا الْأَقِطَ ( يَتَّخِذُ مِنَ اللَّبَنِ الْخِيضِ يُطْبَخُ ثُمَّ يُتْرَكُ حَتَّى يَمْصَلَ ) وَلَا يَسْلَؤُوا السَّمْنَ وَهُمْ حَرَمٌ ، وَلَا يَدْخُلُوا بَيْتًا مِنْ شَعْرٍ وَلَا يَسْتَظِلُّوا إِنِ اسْتَظَلُّوا إِلَّا فِي بُيُوتِ الْأَدَمِ مَا كَانُوا حُرُمًا . ثُمَّ رَفَعُوا ذَلِكَ فَقَالُوا :
— Tidaklah pantas bagi al-Hums untuk membuat keju kering (yaitu terbuat dari susu yang dikocok, dimasak, kemudian dibiarkan hingga keluar air susunya), dan tidak mencairkan minyak samin saat mereka sedang ihram, dan tidak masuk ke dalam rumah yang terbuat dari bulu, dan tidak berteduh jika mereka berteduh kecuali di rumah-rumah yang terbuat dari kulit selama mereka sedang ihram. Kemudian mereka menegaskan hal itu lalu berkata:
— لَا يَنْبَغِي لِأَهْلِ الْحِلِّ أَنْ يَأْكُلُوا مِنْ طَعَامٍ جَاءُوا بِهِ مَعَهُمْ مِنَ الْحِلِّ إِلَى الْحَرَمِ إِذَا جَاءُوا حُجَّاجًا أَوْ عُمَّارًا . وَلَا يَطُوفُوا بِالْبَيْتِ إِذَا قَدِمُوا أَوَّلَ طَوَافِهِمْ إِلَّا فِي ثِيَابِ الْحُمُسِ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدُوا مِنْهَا شَيْئًا طَافُوا بِالْبَيْتِ عُرَاةً ، فَإِنْ تَكَرَّمَ مِنْهُمْ مُتَكَرِّمٌ مِنْ رَجُلٍ أَوْ امْرَأَةٍ وَلَمْ يَجِدْ ثِيَابَ الْحُمُسِ فَطَافَ فِي ثِيَابِهِ الَّتِي جَاءَ بِهَا مِنَ الْحِلِّ أَلْقَاهَا إِذَا فَرَغَ مِنْ طَوَافِهِ ، ثُمَّ لَمْ يَنْتَفِعْ بِهَا وَلَمْ يَمَسَّهَا هُوَ وَلَا أَحَدٌ غَيْرُهُ أَبَدًا .
— Tidak pantas bagi penduduk al-Hill untuk memakan makanan yang mereka bawa dari al-Hill ke al-Haram saat mereka datang untuk berhaji atau berumrah. Dan mereka tidak boleh thawaf di Baitullah saat pertama kali datang kecuali dengan mengenakan pakaian al-Hums. Jika mereka tidak mendapatkan satu pun pakaian tersebut, maka mereka thawaf di Baitullah dengan telanjang. Jika ada seseorang dari mereka, baik laki-laki maupun perempuan, yang merasa tidak enak hati dan tidak menemukan pakaian al-Hums lalu thawaf dengan mengenakan pakaiannya sendiri yang ia bawa dari al-Hill, maka ia harus membuangnya setelah menyelesaikan thawafnya, kemudian ia tidak boleh memanfaatkannya dan tidak boleh menyentuhnya, baik dirinya maupun orang lain selamanya.
وَسَمَّوْا تِلْكَ الثِّيَابَ « اللُّقَى » فَحَمَلُوا عَلَى ذَلِكَ الْعَرَبَ فَدَانَتْ بِهِ ، وَوَقَفُوا عَلَى عَرَفَاتٍ وَأَفَاضُوا مِنْهَا وَطَافُوا بِالْبَيْتِ عُرَاةً .
Mereka menamai pakaian-pakaian tersebut sebagai "al-Luqa", lalu mereka membebankan hal itu kepada bangsa Arab dan mereka pun mematuhinya, serta mereka wukuf di Arafat dan ifadhah darinya, lalu thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang.
كَانَ الْعَرَبُ يَقَاسُونَ تَنَطُّعَ الْحُمُسِ كَمَا قَاسَى بَنُو إِسْرَائِيلَ مِنْ تَنَطُّعِ الصَّدُوقِيِّينَ وَالْفَرِيسِيِّينَ . وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَرَى ذَلِكَ الْعَنَتَ فَيَضِيقُ بِذَلِكَ السَّخَفِ وَيَرْمِي نَفْسَهُ فِي أَحْضَانِ الْكَوْنِ وَيَرْتَفِعُ إِلَى مَا وَرَاءَ الطَّبِيعَةِ وَيَسْمُو لِيَتَّصِلَ بِذَاتِ الذَّوَاتِ . وَسَيُوحَى إِلَيْهِ اللَّهُ لِمَا يَبْعَثُهُ إِلَى النَّاسِ رَسُولًا يَبْطُلَانِ مَا ابْتَدَعُوهُ : « ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ » .
Bangsa Arab mengalami beban dari sikap kaku (tanaththu') kaum al-Hums sebagaimana Bani Israil mengalami beban dari sikap kaku kaum Saduki dan Farisi. Muhammad bin Abdullah melihat kesukaran tersebut, ia merasa sesak dengan kebodohan itu, lalu ia melemparkan dirinya ke dalam dekapan alam semesta, naik ke apa yang ada di balik alam, dan bersimpuh untuk terhubung dengan Dzat Yang Maha Dzat. Dan Allah akan mewahyukan kepadanya saat mengutusnya kepada manusia sebagai Rasul untuk membatalkan apa yang mereka ada-adakan: "Kemudian tumpahlah kamu dari tempat orang banyak bertumpah (tumpah ruah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
وَأَبْطَلَ اللَّهُ مَا ابْتَدَعُوهُ مِن تَحْرِيمِ الطَّعَامِ وَاللُّبُوسِ عِنْدَ الْبَيْتِ حِينَ طَافُوا عُرَاةً وَحَرَّمُوا مَا جَاءُوا بِهِ مِنَ الْحِلِّ مِنَ الطَّعَامِ : « يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ . قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ » .
Dan Allah membatalkan apa yang mereka ada-adakan berupa pengharaman makanan dan pakaian di sisi Baitullah ketika mereka thawaf dalam keadaan telanjang dan mengharamkan makanan yang mereka bawa dari al-Hill: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat'. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui."
وَرَاحَ خِدَاشٌ الَّذِي قَتَلَ الْهَاشِمِيَّ الَّذِي اسْتَأْجَرَهُ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ ، وَوَقَعَتْ عَيْنَا أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ فَأَتَاهُ وَقَالَ لَهُ :
Lalu Khidasy, yang telah membunuh orang Hasyimi yang menyewanya, pergi thawaf di Baitullah. Mata Abu Thalib tertuju padanya, maka ia mendatanginya dan berkata kepadanya:
— مَا فَعَلَ صَاحِبُنَا ؟
— Apa yang terjadi dengan teman kami?
فَقَالَ خِدَاشٌ فِي بَسَاطَةٍ :
Khidasy berkata dengan sederhana:
— مَرِضَ ، فَأَحْسَنْتُ الْقِيَامَ عَلَيْهِ فَوَلِيتُ دَفْنَهُ .
— Dia sakit, maka aku merawatnya dengan baik, lalu aku mengurus pemakamannya.
فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ فِي أَسَى :
Abu Thalib berkata dengan sedih:
— قَدْ كَانَ أَهْلَ ذَاكَ مِنْكَ .
— Dia memang layak mendapatkan perlakuanmu itu.
وَصَدَّقَهُ أَبُو طَالِبٍ وَرَاحَ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي الْحَرَمِ يَسْهَرُ عَلَى رَاحَةِ الْحَجِيجِ ، فَإِنْ كَانَتِ الرِّفَادَةُ وَالسِّقَايَةُ قَدْ خَرَجَتْ مِنْ يَدِهِ إِلَى يَدِ الْعَبَّاسِ فَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى الْحُجَّاجِ بَعْضَ الْخِدْمَاتِ وَأَنْ يَبْذُلَ لَهُمْ مِنْ عَطْفِهِ وَرِعَايَتِهِ . وَرَنَّ صَوْتٌ فِي الْحَرَمِ يُنَادَى :
Abu Thalib membenarkannya, dan ia pun terus pergi-pulang di al-Haram, berjaga demi kenyamanan para jamaah haji. Meskipun jabatan Rifadah dan Siqayah telah keluar dari tangannya ke tangan al-Abbas, ia tetap bisa memberikan sebagian pelayanan kepada para jamaah haji dan memberikan perhatian serta perlindungannya kepada mereka. Dan bergema suara di al-Haram memanggil:
— يَا آلَ قُرَيْشٍ .
— Wahai keluarga Quraisy.
قَالُوا :
Mereka menjawab:
— هَذِهِ قُرَيْشٌ .
— Ini adalah Quraisy.
قَالَ الرَّجُلُ الْيَمَانِيُّ الَّذِي أَوْصَى إِلَيْهِ الْمَقْتُولُ أَنْ يَبْلُغَ عَنْهُ :
Lelaki Yaman yang dipesani oleh si terbunuh untuk menyampaikan pesannya berkata:
— يَا بَنِي هَاشِمٍ .
— Wahai Bani Hasyim.
— هَذِهِ بَنُو هَاشِمٍ .
— Ini adalah Bani Hasyim.
— مَنْ أَبُو طَالِبٍ ؟
— Siapa Abu Thalib?
— هَذَا أَبُو طَالِبٍ .
— Ini Abu Thalib.
فَذَهَبَ الْيَمَانِيُّ إِلَى أَبِي طَالِبٍ وَقَالَ :
Lelaki Yaman itu pergi kepada Abu Thalib dan berkata:
— أَمَرَنِي فُلَانٌ أَنْ أُبَلِّغَكَ رِسَالَةً أَنَّ خِدَاشًا قَتَلَهُ فِي عِقَالٍ .
— Fulan memerintahkanku untuk menyampaikan pesan kepadamu bahwa Khidasy telah membunuhnya di 'Iqal.
فَأَتَى أَبُو طَالِبٍ خِدَاشًا وَقَالَ لَهُ :
Maka Abu Thalib mendatangi Khidasy dan berkata kepadanya:
— اخْتَرْ مِنَّا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِنْ شِئْتَ أَنْ تُؤَدَّى مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ فَإِنَّكَ قَتَلْتَ صَاحِبَنَا ، وَإِنْ شِئْتَ حَلَفَ خَمْسُونَ مِنْ قَوْمِكَ أَنَّكَ لَمْ تَقْتُلْهُ ، فَإِنْ أَبَيْتَ قَتَلْنَاكَ بِهِ .
— Pilihlah salah satu dari tiga hal: Jika kamu mau, bayarkan seratus unta karena kamu telah membunuh teman kami, jika mau, lima puluh orang dari kaummu bersumpah bahwa kamu tidak membunuhnya, jika kamu menolak, kami akan membunuhmu sebagai balasan atas perbuatannya.
فَأَتَى خِدَاشٌ قَوْمَهُ فَقَالُوا :
Khidasy mendatangi kaumnya, maka mereka berkata:
— نَحْلِفُ .
— Kami akan bersumpah.
وَكَانَ حُوَيْطِبُ بْنُ أَبِي قَيْسٍ الْعَامِرِيُّ فِيمَنْ يَحْلِفُ ، وَكَانَتْ أُمُّهُ امْرَأَةً مِنْ بَنِي هَاشِمٍ ، فَلَمَّا عَرَفَتْ أَنَّ ابْنَهَا سَيَحْلِفُ قَسَامَةً عَلَى بَاطِلٍ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ فَزِعَتْ وَخَافَتْ عَلَى ابْنِهَا فَهِيَ تَسْمَعُ مِنْ قَوْمِهَا أَنَّ أَنَاسًا حَلَفُوا عِنْدَ الْبَيْتِ عَلَى بَاطِلٍ ثُمَّ خَرَجُوا فَنَزَلُوا تَحْتَ صَخْرَةٍ فَانْهَدَمَتْ عَلَيْهِمْ ، فَجَاءَتْ أُمُّهُ إِلَى أَبِي طَالِبٍ وَقَالَتْ :
Huwaithib bin Abi Qais al-Amiri termasuk di antara yang akan bersumpah. Ibunya adalah seorang wanita dari Bani Hasyim. Ketika ia mengetahui bahwa putranya akan bersumpah (qasamah) atas perkara batil di antara Rukun dan Maqam, ia cemas dan takut akan keselamatan putranya, karena ia mendengar dari kaumnya bahwa ada orang-orang yang bersumpah di depan Baitullah atas perkara batil, kemudian mereka keluar dan singgah di bawah sebuah batu besar, lalu batu itu runtuh menimpa mereka. Maka ibunya datang kepada Abu Thalib dan berkata:
— أَحِبُّ أَنْ تُجِيزَ ابْنِي هَذَا مِنَ الْخَمْسِينَ ، وَلَا تَصْبِرُ الْأَيْمَانُ ( أَي لَا تَلْزَمُهُ أَنْ يَحْلِفَ بِأَعْظَمِ الْأَيْمَانِ ) .
— Aku ingin engkau mengecualikan putraku ini dari (jumlah) lima puluh orang, karena sumpah itu tidak bertahan lama (maksudnya: tidak membebankannya untuk bersumpah dengan sumpah yang paling agung).
فَفَعَلَ ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَالَ :
Abu Thalib melakukannya, lalu seorang laki-laki dari mereka datang kepadanya dan berkata:
— يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَرَدْتَ خَمْسِينَ رَجُلًا أَنْ يَحْلِفُوا مَكَانَ مِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ يُصِيبُ كُلَّ رَجُلٍ بَعِيرَانِ ، فَاقْبَلْهُمَا عَنِّي وَلَا تَصْبِرُ يَمِينِي حَيْثُ يَصْبِرُ الْأَيْمَانُ .
— Wahai Abu Thalib, engkau menginginkan lima puluh orang bersumpah menggantikan seratus unta, yang berarti setiap orang akan terkena beban dua unta. Terimalah (tawaran) mereka dariku, karena sumpahlah tidak akan bertahan lama di mana sumpah-sumpah (yang batil) bertahan.
فَقَبِلَهُمَا أَبُو طَالِبٍ وَجَاءَ ثَمَانِيَةٌ وَأَرْبَعُونَ فَحَلَفُوا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ أَنَّ خِدَاشًا بَرِيءٌ مِنْ دَمِ الْمَقْتُولِ ، وَبَاتَ النَّاسُ يَنْتَظِرُونَ مَا سَيَحِلُّ بِالَّذِينَ حَلَفُوا عِنْدَ الْبَيْتِ عَلَى بَاطِلٍ ، وَقَالَ قَائِلٌ :
Abu Thalib menerimanya, lalu empat puluh delapan orang datang dan bersumpah di antara Rukun dan Maqam bahwa Khidasy bebas dari darah si terbunuh. Orang-orang bermalam menantikan apa yang akan menimpa mereka yang bersumpah di depan Baitullah atas perkara batil, dan seseorang berkata:
— وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَنْ يَحُولَ الْحَوْلُ وَمِنَ الثَّمَانِيَةِ وَالْأَرْبَعِينَ عَيْنٌ تَطْرِفُ .
— Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, satu tahun tidak akan berlalu dan tidak ada satu pun mata dari empat puluh delapan orang itu yang berkedip (maksudnya: semuanya akan binasa).
كَانَ أَبُو طَالِبٍ رَاضِيًا عَنْ حَيَاتِهِ كُلَّ الرِّضَا ، سَيِّدًا فِي قَوْمِهِ مَسْمُوعَ الْكَلِمَةِ وَإِنْ خَرَجَ مِنْ يَدِهِ شَرَفُ السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةِ ، وَكَانَ الزُّبَيْرُ مَرْهُوبَ الْجَانِبِ تَخْشَى الْقَبَائِلُ قَذَعَهُ وَهَجُوهُ ، وَكَانَ أَبُو لَهَبٍ غَارِقًا فِي اللَّهْوِ وَالْمَيْسِرِ وَمَا كَانَتْ مِثْلُ هَذِهِ الْأَفْعَالِ تَشِينُ الرَّجُلَ فِي مَكَّةَ ، بَلْ كَانَتْ تَرْفَعُ ذِكْرَهُ وَيَتَغَنَّى بِهَا الشُّعَرَاءُ فِي الْمَجْلِسِ ، وَكَانَ حَمْزَةُ يَشِبُّ فَارِسًا وَيَتَحَلَّى بِأَخْلَاقِ الْفُرْسَانِ مِنْ نَجْدَةٍ وَمُرُوءَةٍ وَكَرَمٍ وَإِنْ عُرِفَ الْكَأْسُ وَالشَّرَابُ ، وَكَانَ الْعَبَّاسُ مُتَهَلِّلًا بَعْدَ أَنْ انْقَادَ لَهُ شَرَفُ السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةِ حُلْمُهُ الَّذِي كَانَ يَحْلُمُ بِهِ مُذْ مَاتَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ .
Abu Thalib merasa puas dengan kehidupannya sepenuhnya, ia adalah pemimpin di kaumnya yang disegani perkataannya meskipun kehormatan Siqayah dan Rifadah telah keluar dari tangannya. Az-Zubair adalah sosok yang ditakuti; kabilah-kabilah gentar terhadap hujatan dan ejekannya. Abu Lahab tenggelam dalam kesenangan dan perjudian, dan perbuatan-perbuatan seperti itu tidak mencela seorang pria di Makkah, bahkan justru mengangkat namanya dan para penyair mengagungkannya dalam majelis. Hamzah tumbuh menjadi ksatria yang menghiasi diri dengan akhlak para ksatria, seperti keberanian, muru'ah, dan kedermawanan, meskipun ia dikenal dengan gelas dan minumannya. Al-Abbas tampak berseri-seri setelah kehormatan Siqayah dan Rifadah yang selama ini ia impikan sejak meninggalnya Abdul Muthalib, berhasil ia raih.
وَكَانَتْ قُرَيْشٌ تَزْهُو عَلَى الْقَبَائِلِ بِأَنَّهَا أَهْلُ الْحَرَمِ الَّذِي يَأْمَنُ فِيهِ الطَّيْرُ وَأَنَّهُمْ بَنُو إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ ، وَكَانَتْ رَاضِيَةً بِمَا ابْتَدَعَ لَهُمُ الْحُمُسُ مِنْ فَضَائِلَ وَتَفْضِيلٍ ، وَكَانَ النَّصَارَى وَالْيَهُودُ يُعَظِّمُونَ الْبَيْتَ أَكْبَرَ تَعْظِيمٍ وَيُؤْمِنُونَ بِمَا قَامَ حَوْلَهُ مِنْ أَسَاطِيرَ ، وَلَمْ يُحَاوِلْ مِنْهُمْ أَحَدٌ أَنْ يُعِيدَ قَوْمَهُ إِلَى الْجَادَّةِ وَيُزِيلَ الْخُرَافَاتِ عَنْ جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ ، حَتَّى الْحُنَفَاءِ اكْتَفَوْا بِأَنْ بَحَثُوا عَنْ دِينِ إِبْرَاهِيمَ وَعَبَدَ كُلٌّ مِنْهُمْ رَبَّهُ عَلَى طَرِيقَتِهِ ، وَاكْتَفَى بِهِدَايَةِ ذَاتِهِ وَلَمْ يَدْعُ إِلَى رَبِّهِ وَيَحْتَمِلْ فِي سَبِيلِ دَعْوَتِهِ الِاضْطِهَادَ وَالتَّعْذِيبَ .
Quraisy menyombongkan diri di hadapan kabilah-kabilah lain bahwa mereka adalah penduduk tanah haram yang aman di dalamnya burung-burung, dan bahwa mereka adalah keturunan Ibrahim dan Ismail. Mereka puas dengan apa yang diada-adakan oleh al-Hums untuk mereka berupa keutamaan dan kelebihan. Orang-orang Nasrani dan Yahudi mengagungkan Baitullah dengan pengagungan yang luar biasa dan mengimani mitos-mitos yang ada di sekitarnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berusaha mengembalikan kaumnya ke jalan yang lurus dan menghilangkan khurafat dari esensi kebenaran. Bahkan kaum Hunafa hanya cukup mencari agama Ibrahim, masing-masing menyembah Tuhannya dengan caranya sendiri, merasa cukup dengan hidayah bagi dirinya sendiri, dan tidak menyeru kepada Tuhannya serta menanggung penindasan dan penyiksaan demi dakwahnya.
كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَحْدَهُ يُحَاوِلُ أَنْ يَنْطَلِقَ مِنْ جَسَدِهِ وَيَنْفَصِلَ عَنْ مُجْتَمَعِهِ لِيَهِيمَ فِي الْوُجُودِ وَيَتَّصِلَ بِاللَّهِ ، وَإِنَّ الِاتِّصَالَ لَا يَنْفَصِلُ عَنْ إِرَادَةِ الِاتِّصَالِ ، فَهُوَ فِي صَمِيمِ ذَاتِهِ يَسْتَشْعِرُ أَنَّ الْوِصَالَ غَايَةُ الْغَايَاتِ ، فِي سَبِيلِهِ جِهَادٌ وَصِرَاعٌ وَأَلَمٌ وَتَضْحِيَاتٌ ، وَلَكِنَّهُ شَيْءٌ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ .
Muhammad bin Abdullah sendirian berusaha untuk melepaskan diri dari fisiknya dan terpisah dari masyarakatnya agar bisa mengembara dalam wujud dan terhubung dengan Allah. Dan koneksi itu tidak terpisah dari keinginan untuk terkoneksi. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasakan bahwa penyatuan (dengan Tuhan) adalah puncak dari segala tujuan, yang di jalannya terdapat jihad, perjuangan, rasa sakit, dan pengorbanan, namun itu adalah sesuatu yang harus ada.
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُطْلَقُ الْأَوْحَدُ الَّذِي يُوَجِّهُ إِلَيْهِ نَفْسَهُ وَيُسَلِّمُ لَهُ وَجْهَهُ ، وَإِنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْعَى إِلَيْهِ وَأَنْ يَجْعَلَهُ أَمَلَهُ الَّذِي يَبْذُلُ كُلَّ طَاقَاتِهِ لِيَبْلُغَهُ ، وَإِنَّ كُلَّ جَهْدٍ يَهُونُ وَكُلَّ أَلَمٍ يَسْتَمِرُّ وَكُلَّ تَضْحِيَةٍ تُحْتَمَلُ فِي سَبِيلِ أَنْ تَتَحَقَّقَ الْغَايَةُ الَّتِي مَا بَعْدَهَا غَايَةٌ : الِاتِّصَالَ بِجَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ ، وَالِاقْتِبَاسَ مِنْ نُورِ النُّورِ ، وَخَفْقَ قَلْبِ الْيَقِينِ فِي جَنْبَاتِ صَدْرِهِ .
Sesungguhnya Allah adalah Dzat Mutlak Yang Maha Tunggal yang ke arah-Nya ia mengarahkan jiwanya dan berserah diri sepenuhnya. Adalah kewajibannya untuk berusaha menuju-Nya dan menjadikannya harapan yang untuk mencapainya ia mengerahkan seluruh energinya. Sesungguhnya setiap usaha terasa ringan, setiap rasa sakit yang terus berlanjut dan setiap pengorbanan dapat ditanggung demi tercapainya tujuan yang tiada lagi tujuan setelahnya: Koneksi dengan esensi kebenaran, mengambil cahaya dari Cahaya di atas cahaya, dan detak jantung keyakinan di dalam rongga dadanya.
إِنَّهُ لَا يَأْلُو جَهْدًا فِي سَبِيلِ تَحْرِيرِ ذَاتِهِ مِنْ أَسْرِ جَاهِلِيَّةِ قَوْمِهِ ، وَيُجَاهِدُ جِهَادًا دَائِبًا لِكَيْلَا يَجِدَ ذَاتَهُ أَسِيرَ نِظَامٍ اجْتِمَاعِيٍّ تَحْتَنِقُ فِي نِطَاقِهِ كُلُّ حُرِّيَّةٍ وَكُلُّ شَخْصِيَّةٍ . وَإِنَّ ذَلِكَ أَلِيمٌ شَاقٌ ، فَهُوَ يَهْجُرُ الدَّعَةَ وَالْهُدُوءَ حَيْثُ لَا أَلَمَ وَلَا شَقَاءَ إِلَى صِرَاعِ النَّفْسِ وَمُجَاهَدَةِ الرَّغَبَاتِ وَالشَّهَوَاتِ وَالسُّمُوِّ بِالْغَرَائِزِ لِيَصِلَ إِلَى الِانْتِصَارِ الرُّوحِيِّ الَّذِي جَعَلَهُ هَدَفَهُ وَمُبْتَغَاهُ .
Ia tidak menyia-nyiakan upaya demi membebaskan dirinya dari belenggu jahiliyah kaumnya, dan ia berjihad dengan sungguh-sungguh agar tidak menemukan dirinya sebagai tawanan sistem sosial yang mencekik kebebasan dan kepribadian. Dan hal itu menyakitkan dan sulit, karena ia meninggalkan kenyamanan dan ketenangan di mana tidak ada rasa sakit dan penderitaan, menuju pergulatan jiwa, memerangi keinginan dan syahwat, serta menyucikan naluri-naluri untuk mencapai kemenangan ruhani yang ia jadikan sebagai tujuan dan cita-citanya.
إِنَّهُ يَعْرِضُ عَنْ كُلِّ سَعَادَةٍ أَرْضِيَّةٍ سَهْلَةٍ هَيِّنَةٍ ، وَيَحْتَمِلُ كُلَّ حِرْمَانٍ فِي صَبْرٍ ، وَيَفْطِمُ جَوَارِحَهُ عَنْ شَهَوَاتِ النَّفْسِ ، وَيَنْأَى بِرُوحِهِ عَنْ مَسَرَّاتِ قَوْمِهِ ، وَيَحْيَا الْحَيَاةَ الرُّوحِيَّةَ الصَّحِيحَةَ ، وَيَتَحَرَّرُ مِنَ الْقُيُودِ الَّتِي تَشُدُّهُ إِلَى الْأَرْضِ مَهْمَا قَاسَى فِي سَبِيلِ ذَلِكَ مِنْ أَلَمٍ وَمَشَقَّةٍ لِيَصِلَ إِلَى السَّعَادَةِ الْحَقَّةِ ، سَعَادَةِ الْوِصَالِ الَّتِي تَتَهَلَّلُ لَهَا نَفْسُهُ ، وَالَّتِي يَفِيضُ بِهَا وِجْدَانُهُ بِفَرَحٍ يَفُوقُ كُلَّ أَفْرَاحِ الْأَرْضِ .
Ia berpaling dari segala kebahagiaan duniawi yang mudah dan murah, menanggung setiap kekurangan dengan sabar, menyapih anggota tubuhnya dari syahwat nafsu, menjauhkan ruhnya dari kesenangan kaumnya, menjalani kehidupan ruhani yang benar, dan terbebas dari ikatan-ikatan yang menariknya ke bumi, betapapun besar rasa sakit dan kesulitan yang ia tanggung demi mencapai kebahagiaan sejati; kebahagiaan koneksi (dengan Tuhan) yang membuat jiwanya berseri-seri, dan yang meluapkan batinnya dengan kegembiraan yang melampaui semua kegembiraan di bumi.
إِنَّهُ أَصْبَحَ يَشْعُرُ بِالْحَقِيقَةِ الْمُطْلَقَةِ فِي بَاطِنِ تَأَمُّلِهِ الْعَقْلِيِّ الَّذِي صَارَ طَابِعَهُ ، فَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَيَرَى آيَاتِ اللَّهِ الَّتِي مَلَأَ اللَّهُ بِهَا أَجْوَاءَ الْكَائِنَاتِ ، وَيَسِيرُ فِي الْأَرْضِ فَيَكُونُ لَهُ قَلْبٌ يَعْقِلُ بِهِ وَيُحْفِزُهُ إِلَى التَّطَلُّعِ لِمَا وَرَاءَ الْعُقُولِ وَالْحَوَاسِ وَالطَّبِيعَةِ مِنْ أَسْرَارٍ . وَإِنَّ طُولَ التَّأَمُّلِ وَمَدَاوَمَةَ التَّدَبُّرِ وَالنَّظَرَ فِي الْكَوْنِ هِيَ مِفْتَاحُ الْإِشْرَاقَاتِ الرُّوحِيَّةِ الَّتِي تَزْدَادُ تَأَلُّقًا عَلَى مَرِّ الْأَيَّامِ .
Ia mulai merasakan kebenaran mutlak di balik perenungan intelektualnya yang telah menjadi wataknya. Ia memandang ke langit dan bumi, lalu melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang dengannya Allah memenuhi atmosfer makhluk-makhluk, dan ia berjalan di muka bumi dengan memiliki hati yang dengannya ia berpikir dan yang memotivasinya untuk melihat ke arah apa yang ada di balik akal, panca indera, dan alam berupa rahasia-rahasia. Dan sesungguhnya panjangnya perenungan, terus-menerus bertafakkur, dan memperhatikan alam semesta adalah kunci dari pencerahan-pencerahan ruhani yang kian bersinar seiring berjalannya hari.
إِنَّهُ لَا يُرِيدُ أَنْ يُطْفِئَ مِصْبَاحَ عَقْلِهِ وَيَتَّبِعَ مَا أَلْفَى عَلَيْهِ آبَاءَهُ ، فَهُوَ يَهْتَدِي إِلَى أَنَّ آبَاءَهُ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ ، بَلْ إِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَسْمُوَ عَنْ مُجْتَمَعِهِ بَلْ وَيَسْمُوَ عَلَى ذَاتِهِ وَأَنْ يَسِيرَ فِي طَرِيقِ التَّرَقِّي بِالْكِفَاحِ وَالْجِهَادِ وَالْحِرْمَانِ وَالتَّقَشُّفِ وَالصَّبْرِ الطَّوِيلِ ، حَتَّى يَصِلَ إِلَى الرُّوحِ الْمُطْلَقِ ، رُوحِ الْأَرْوَاحِ وَذَاتِ الذَّوَاتِ .
Ia tidak ingin memadamkan lampu akalnya dan mengikuti apa yang didapati dari nenek moyangnya, karena ia menyadari bahwa nenek moyangnya tidak memahami apa-apa dan tidak mendapat petunjuk. Bahkan ia ingin naik di atas masyarakatnya, bahkan naik di atas dirinya sendiri, dan berjalan di jalan pendakian dengan perjuangan, jihad, pengorbanan, asketisme, dan kesabaran yang panjang, hingga ia mencapai Ruh Mutlak, Ruh dari segala ruh, dan Dzat dari segala Dzat.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi