BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al-Yatim - Episode 4

AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Di Balik Asap Babil: Api yang Mendingin dan Fajar Keyakinan yang Ditolak

Api neraka yang disiapkan penguasa Babil justru menjadi taman keselamatan bagi Ibrahim, namun hati para penduduk kota dan Haran telah membatu, tertutup kabut keangkuhan.

وَقَفَتْ آمِنَةُ فِي الشُّبَّاكِ تَرْنُو إِلَى الْكَعْبَةِ وَتَرْقُبُ الطَّرِيقَ ، فَهِيَ تَنْتَظِرُ أَوْبَةَ ابْنِهَا الْحَبِيبِ لِتُفْضِيَ إِلَيْهِ بِمَا عَقَدَتْ عَلَيْهِ الْعَزْمَ مِنْ أَمْرِ السَّفَرِ إِلَى يَثْرِبَ لِزِيَارَةِ قَبْرِ زَوْجِهَا الرَّاحِلِ ، فَقَدْ آنَ الْأَوَانُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ مَثْوَى أَبِيهِ .
Aminah berdiri di jendela menatap ke arah Ka'bah dan mengawasi jalan, dia sedang menanti kepulangan putra tercintanya untuk menyampaikan kepadanya apa yang telah dia putuskan perihal perjalanan ke Yatsrib untuk berziarah ke makam suaminya yang telah tiada, karena waktunya telah tiba bagi Muhammad untuk mengetahui tempat peristirahatan ayahnya.
إِنَّهَا حَدَّثَتْهُ عَنْ أَبِيهِ أَحَادِيثَ مُقْتَضَبَةً تَتَّفِقُ مَعَ سِنِّهِ ، وَلَكِنَّهَا عَزَمَتْ أَنْ تَقُصَّ عَلَى ابْنِهَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ قِصَّةَ عَبْدِ اللَّهِ وَنَذْرِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْ يَذْبَحَ أَحَدَ بَنِيهِ لِإِلَهِهِ إِذَا مَا بَلَغَ عَدَدُهُمْ عَشَرَةً ، وَالضَّرْبَ بِالْقِدَاحِ عَلَى أَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَخُرُوجَ السَّهْمِ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ ، وَفِدَاءَ فَتَى قُرَيْشٍ بِمِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ ، ثُمَّ خُرُوجَ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْقَافِلَةِ الْمُنْطَلِقَةِ إِلَى الشَّامِ وَمَوْتَهُ فِي دَارِ مَنْ دُورِ بَنِي النَّجَّارِ أَخْوَالِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
Dia telah menceritakan kepadanya tentang ayahnya dengan cerita-cerita singkat yang sesuai dengan usianya, namun dia bertekad untuk menceritakan kepada putranya pada malam ini kisah Abdullah dan nazar Abdul Muthalib untuk menyembelih salah satu putranya bagi sesembahannya jika jumlah mereka mencapai sepuluh, serta undian dengan anak panah terhadap putra-putra Abdul Muthalib dan keluarnya anak panah kepada Abdullah, dan tebusan pemuda Quraisy itu dengan seratus ekor unta, kemudian keberangkatan Abdullah dalam kafilah menuju Syam dan kematiannya di salah satu rumah Bani Najjar, paman-paman dari pihak ibu Abdul Muthalib.
إِنَّ ذَلِكَ الْحَدِيثَ يَنْكَأُ جُرْحَ قَلْبِهَا وَيُجَدِّدُ أَحْزَانَهَا ، وَلَكِنَّ كُلَّ أَلَمٍ يَهُونُ فِي سَبِيلِ أَنْ يَعْرِفَ مُحَمَّدٌ حَقِيقَةَ مَنْبَتِهِ ، وَأَنَّهُ قَدْ جَاءَ مِنْ أَشْرَفِ أَبَوَيْنِ وَأَفْضَلِ حَيَّيْنِ فِي الْعَرَبِ.. زُهْرَةَ وَبَنِي هَاشِمٍ ، وَأَنْ يَعْرِفَ تِلْكَ الصِّلَةَ الَّتِي تَرْبِطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْخَزْرَجِ فِي يَثْرِبَ ، فَجَدُّهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَظَلَّ الْأَسْبَابُ مُتَّصِلَةً بَيْنَ بَنِي هَاشِمٍ وَبَيْنَ بَنِي النَّجَّارِ أَخْوَالِهِ ، وَقَدْ بَانَ فِي وَجْهِهِ الرِّضَا لِمَا اسْتَأْذَنَتْهُ فِي أَنْ تَخْرُجَ بِمُحَمَّدٍ لِزِيَارَةِ قَبْرِ أَبِيهِ ، وَأَوْصَاهَا بِأَنْ تَنْزِلَ فِي دَارِ النَّابِغَةِ فَهُوَ سَيِّدُ أَسْيَادِ بَنِي النَّجَّارِ ، وَسَيُسِرُّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ فِي دَارِهِ .
Sesungguhnya cerita itu melukai luka hatinya dan memperbarui kesedihannya, namun setiap rasa sakit akan terasa ringan demi agar Muhammad mengetahui hakikat asal usulnya, bahwa dia berasal dari dua orang tua yang paling mulia dan dua kabilah terbaik di antara orang Arab... Zuhrah dan Bani Hasyim, serta agar dia mengetahui ikatan yang menghubungkan antara dirinya dan Khazraj di Yatsrib. Kakeknya, Abdul Muthalib, sangat berhasrat agar hubungan tetap terjaga antara Bani Hasyim dan Bani Najjar, paman-pamannya. Dan telah tampak pada wajahnya kerelaan ketika Aminah meminta izin kepadanya untuk pergi membawa Muhammad berziarah ke makam ayahnya, dan dia berpesan kepada Aminah agar turun/menginap di rumah An-Nabighah, karena dia adalah pemimpin dari para pemimpin Bani Najjar, dan dia akan sangat senang untuk menyambut putra Abdullah di rumahnya.
وَدَارَتْ بِعَيْنَيْهَا فِي الْمَكَانِ فَأَحَسَّتْ كَأَنَّ أَنْفَاسَ عَبْدِ اللَّهِ تَتَرَدَّدُ فِيهِ . انْقَضَى سِتُّ سَنَوَاتٍ وَشَهْرَانِ مُنْذُ أَنْ وَدَّعَهَا عَبْدُ اللَّهِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الشَّامِ الْوَدَاعَ الْأَخِيرَ وَلَكِنَّ طَيْفَهُ ظَلَّ فِي الْبَيْتِ يَغْدُو وَيَرُوحُ . إِنَّهُ فِي خَيَالِهَا لَا يَرِيمُ وَلَا يَتَثَنَّى ، وَمَا أَكْثَرَ اللَّحَظَاتِ الَّتِي تُنَاجِيهِ فِيهَا تَحَدَّثُهُ عَنِ ابْنِهِمَا الْحَبِيبِ ، وَمَا أَكْثَرَ مَا زَارَهَا فِي مَنَامِهَا وَمَا أَكْثَرَ مَا ذَرَفَتْ عَلَيْهِ الدُّمُوعَ .
Dia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu, lalu merasakan seolah-olah napas Abdullah masih berhembus di dalamnya. Enam tahun dua bulan telah berlalu sejak Abdullah mengucapkan selamat tinggal kepadanya sebelum dia pergi ke Syam untuk terakhir kalinya, namun bayangannya tetap ada di rumah, pergi dan datang. Dia tidak pernah hilang dari imajinasinya dan tidak pernah berubah, dan betapa seringnya momen di mana dia bermunajat dengannya, menceritakan tentang putra mereka tercinta, dan betapa seringnya dia mengunjunginya dalam mimpinya, dan betapa seringnya dia meneteskan air mata karenanya.
وَشَعَرَتْ بِعَبَرَاتِهَا تَسِيلُ عَلَى خَدَّيْهَا فَمَسَحَتْهَا بِظَهْرِ يَدِهَا ثُمَّ عَادَتْ تَرْصُدُ الطَّرِيقَ ، فَإِذَا بِمُحَمَّدٍ قَدْ أَقْبَلَ يَتَكَفَّأُ فِي مِشْيَتِهِ كَأَنَّمَا يَنْحَدِرُ عَلَى سَفْحِ جَبَلٍ ، قَدْ وَسِعَ مِنْ خُطْوِهِ يَسِيرُ دُونَ أَنْ يَتَلَفَّتَ فَلَمْ يَعْرِفْ مُنْذُ نُعُومَةِ أَظْفَارِهِ التَّسَكُّعَ بَلْ كَانَ يَقْصِدُ هَدَفَهُ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ ، فَأَضَاءَتْ جَوَانِبُ آمِنَةَ بِالنُّورِ وَلَعِبَتِ النَّشْوَةُ بِأَوْتَارِ قَلْبِهَا ، فَإِذَا بِفَرَحٍ دَافِقٍ يَمْلَأُ وِجْدَانَهَا وَيَتَأَلَّقُ فِي عَيْنِهَا وَيَتَوَّجُ شَفَتَيْهَا بِابْتِسَامَةٍ رَقِيقَةٍ عَذْبَةٍ حُلْوَةٍ تَفِيضُ بِأَنْبَلِ مَشَاعِرِ الْوُجُودِ .
Dia merasakan air matanya mengalir di pipinya, lalu dia menghapusnya dengan punggung tangannya, kemudian kembali mengawasi jalan. Tiba-tiba Muhammad datang dengan langkah yang mantap seolah sedang menuruni lereng gunung. Dia melebarkan langkahnya, berjalan tanpa menoleh, karena sejak kecil dia tidak pernah mengenal perilaku berkeluyuran, melainkan selalu menuju tujuannya di jalan yang lurus. Maka sisi-sisi diri Aminah bersinar dengan cahaya dan kegembiraan memainkan dawai-dawai hatinya. Tiba-tiba rasa bahagia yang meluap memenuhi perasaannya, berkilau di matanya, dan memahkotai bibirnya dengan senyuman lembut, indah, dan manis yang memancarkan perasaan paling mulia dari keberadaan.
وَخَفَّتْ آمِنَةُ لِاسْتِقْبَالِ الْوَافِدِ الْكَرِيمِ ، فَفَطَنَتْ بَرَكَةُ إِلَى أَنَّ مُحَمَّداً قَدْ آبَ فَانْشَرَحَ صَدْرُهَا وَهَرَعَتْ خَلْفَ سَيِّدَتِهَا لِتُرَحِّبَ بِالصَّبِيِّ الَّذِي تَفَتَّحَتْ لَهُ نَفْسُهَا مُنْذُ أَنِ احْتَضَنَتْهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا ، وَبَدَا كَأَنَّ الْكَوْنَ قَدْ أَشْرَقَ بِالنُّورِ .
Aminah bergegas menyambut tamu yang mulia itu. Barakah menyadari bahwa Muhammad telah kembali, maka dadanya menjadi lapang dan dia bergegas di belakang majikannya untuk menyambut bocah lelaki yang jiwanya telah terbuka baginya sejak dia mendekapnya pada malam dia dilahirkan, dan tampak seolah-olah alam semesta telah bersinar dengan cahaya.
وَضَمَّتْ آمِنَةُ ابْنَهَا إِلَى صَدْرِهَا فِي حُبٍّ عَمِيقٍ ، وَظَلَّتْ بَرَكَةُ تَرْقُبُهُمَا فِي انْفِعَالٍ شَدِيدٍ حَتَّى بَلَّتِ الدُّمُوعُ عَيْنَيْهَا ، وَفَطِنَ الصَّبِيُّ إِلَى وُجُودِ بَرَكَةَ فَذَهَبَ إِلَيْهَا وَارْتَمَى فِي حِضْنِهَا فَقَبَّلَتْهُ وَرَاحَتْ تَشُمُّهُ فِي نَشْوَةٍ ، فَقَدْ كَانَ يَنْبَعُ مِنْهُ أَرِيجٌ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَأَزْكَى مِنْ كُلِّ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ بُخُورٍ .
Aminah mendekap putranya ke dadanya dengan cinta yang mendalam, dan Barakah tetap mengawasi mereka berdua dengan emosi yang sangat kuat hingga air mata membasahi matanya. Sang bocah menyadari keberadaan Barakah, maka dia pergi kepadanya dan berbaring di pelukannya, lalu dia menciumnya dan mulai menghirup aromanya dengan penuh kebahagiaan, karena darinya memancar semerbak aroma yang lebih wangi daripada kesturi dan lebih harum daripada semua kemenyan yang ada di bumi.
وَوُضِعَ الطَّعَامُ وَجَلَسَتْ حَوْلَهُ آمِنَةُ وَبَرَكَةُ وَمُحَمَّدٌ ، فَكَانَتْ آمِنَةُ تُقَدِّمُ لِحَبِيبِهَا أَفْضَلَهُ وَلَكِنَّ مُحَمَّداً لَمْ يَكُنْ لِيَحْفَلَ بِهِ ، فَهُوَ يَتَنَاوَلُ مِنْهُ مَا يُقِيمُ أَوْدَهُ وَكَثِيراً مَا كَانَ يَكْتَفِي بِبِضْعِ تَمَرَاتٍ ، وَكَانَتْ آمِنَةُ تَعْجَبُ مِنْ أَمْرِهِ فَهُوَ يَنْمُو وَيَغْلُظُ وَيَشُبُّ شَبَاباً لَا يُشْبِهُ مَنْ كَانَ فِي مِثْلِ سِنِّهِ مِنَ الْغِلْمَانِ ، وَإِنْ كَانَ قَلِيلَ الطَّعَامِ .
Makanan dihidangkan dan Aminah, Barakah, serta Muhammad duduk di sekelilingnya. Aminah menyajikan yang terbaik untuk orang tercintanya, namun Muhammad tidak menghiraukannya. Dia hanya memakan apa yang sekiranya menguatkan tubuhnya dan seringkali dia cukup dengan beberapa butir kurma saja. Aminah merasa takjub dengan perihalnya, karena dia tumbuh besar dan berkembang serta beranjak remaja dengan pertumbuhan yang tidak menyerupai anak-anak seusianya, meskipun dia sedikit dalam hal makanan.
وَذَهَبَتْ آمِنَةُ وَمُحَمَّدٌ إِلَى غُرْفَتِهِمَا ، وَرَاحَتِ الْأُمُّ تَقُصُّ عَلَى ابْنِهَا قِصَّةَ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَذَهَابِهِ إِلَى يَثْرِبَ وَزَوَاجِهِ مِنْ سَلْمَى الْخَزْرَجِيَّةِ وَمَوْلِدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ أَخْوَالِهِ بَنِي النَّجَّارِ ، وَمَوْتِ هَاشِمٍ وَذَهَابِ الْمُطَّلِبِ إِلَى يَثْرِبَ وَعَوْدَتِهِ بِابْنِ أَخِيهِ إِلَى مَكَّةَ ، وَتَوْلِيَةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ السِّقَايَةَ وَالرِّفَادَةَ وَحَفْرِ زَمْزَمَ وَوِلَادَةِ أَبِيهِ عَبْدِ اللَّهِ .
Aminah dan Muhammad pergi ke kamar mereka, dan sang ibu mulai menceritakan kepada putranya kisah Hasyim bin Abdi Manaf, kepergiannya ke Yatsrib, pernikahannya dengan Salma Al-Khazrajiyah, kelahiran Abdul Muthalib di rumah paman-paman dari pihak ibunya, Bani Najjar, kematian Hasyim, kepergian Muthalib ke Yatsrib dan kepulangannya membawa keponakannya ke Makkah, serta pengangkatan Abdul Muthalib dalam tugas As-Siqayah (penyediaan air) dan Ar-Rifadah (jamuan tamu) serta penggalian sumur Zamzam dan kelahiran ayahnya, Abdullah.
وَاسْتَمَرَّتْ تَرْوِي قِصَّتَهَا وَقِصَّةَ الذَّبِيحِ عَبْدِ اللَّهِ فِي تَأَثُّرٍ وَمُحَمَّدٌ يَصْغَى إِلَيْهَا فِي انْتِبَاهٍ وَيُلْقِي عَلَيْهَا أَسْئِلَةً ذَكِيَّةً تُنِمُّ عَنْ رَجَاحَةِ عَقْلِهِ . كَانَ فِي السَّادِسَةِ مِنْ عُمْرِهِ وَلَكِنَّهُ بَدَا فِي عَيْنَيْ أُمِّهِ رَجُلًا عَلَى اسْتِعْدَادٍ لِأَنْ يَحْمِلَ عَلَى كَتِفَيْهِ أَضْخَمَ الْمَسْئُولِيَّاتِ ، وَأَنْهَتْ حَدِيثَهَا مَعَهُ بِأَنَّهُمَا ذَاهِبَانِ إِلَى يَثْرِبَ لِزِيَارَةِ قَبْرِ أَبِيهِ ، وَلِتَوْطِيدِ الْأَسْبَابِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخْوَالِ جَدِّهِ مِن بَنِي النَّجَّارِ فَقَدْ يَفْزَعُ إِلَيْهِمْ يَوْمًا لِيَنْصُرُوهُ كَمَا نَصَرُوا جَدَّهُ يَوْمَ أَنْ أَرَادَ عَمُّهُ نَوْفَلٌ أَنْ يَنْتَزِعَ مِنْهُ شَرَفَ السِّقَايَةِ وَالرِّفَادَةَ ، فَجَاءُوا إِلَى مَكَّةَ وَأَيَّدُوا حَقَّ ابْنِ أُخْتِهِمْ وَقَضَوْا عَلَى نَوَازِعِ الطَّمَعِ الَّتِي كَانَتْ تَحَرَّكَتْ لِسَلْبِ حَقِّ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ .
Dia terus menceritakan kisahnya dan kisah sang kurban, Abdullah, dengan penuh haru, sementara Muhammad mendengarkannya dengan perhatian dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan cerdas yang menunjukkan kecemerlangan akalnya. Dia berusia enam tahun, namun tampak di mata ibunya sebagai seorang pria yang siap untuk memikul tanggung jawab terbesar di pundaknya. Dia mengakhiri pembicaraannya dengannya bahwa mereka akan pergi ke Yatsrib untuk berziarah ke makam ayahnya, dan untuk mempererat hubungan antara dirinya dan paman-paman kakeknya dari Bani Najjar, karena suatu saat dia mungkin akan meminta perlindungan kepada mereka agar mereka menolongnya sebagaimana mereka menolong kakeknya pada hari ketika pamannya, Naufal, ingin merenggut kehormatan As-Siqayah dan Ar-Rifadah darinya. Maka mereka datang ke Makkah dan mendukung hak keponakan mereka dan mengakhiri dorongan keserakahan yang telah bergerak untuk merampas hak Abdul Muthalib.
وَجَهَّزَتْ آمِنَةُ رَاحِلَتَيْنِ ، رَاحِلَةً اعْتَنَتْ أَشَدَّ الْعِنَايَةِ بِهَوْدَجِهَا الَّذِي صُنِعَ مِنْ أَغْصَانِ الشَّجَرِ لِتَحْمِيَ مُحَمَّداً الْحَبِيبَ مِنْ لَفْحِ الشَّمْسِ وَعَصْفِ الرِّيَاحِ . إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي رِعَايَتِهَا عَلَى ظَهْرِ تِلْكَ الرَّاحِلَةِ يُؤْنِسُهَا طَوَالَ الطَّرِيقِ وَيَمْلَأُ جَفَافَ حَيَاتِهَا نُوراً وَأَمَلاً ، وَرَاحِلَةً لِبَرَكَةَ وَمَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ مِنْ زَادٍ طَوَالَ الرِّحْلَةِ حَتَّى يَبْلُغُوا يَثْرِبَ .
Aminah menyiapkan dua ekor unta, satu unta yang dia perhatikan dengan sangat teliti pada tandunya yang dibuat dari dahan-dahan pohon untuk melindungi Muhammad tercinta dari sengatan matahari dan kencangnya angin. Dia akan berada dalam perlindungannya di atas punggung unta itu, menemaninya sepanjang jalan dan mengisi kekeringan hidupnya dengan cahaya dan harapan, dan satu unta untuk Barakah serta apa yang mereka butuhkan dari bekal sepanjang perjalanan hingga mereka mencapai Yatsrib.
وَبَاتَتْ آمِنَةُ تَنْتَظِرُ خُرُوجَ الْقَافِلَةِ الْمُنْطَلِقَةِ إِلَى يَثْرِبَ فِي لَهْفَةٍ فَقَدْ كَانَتْ فِي شَوْقٍ لِزِيَارَةِ عَبْدِ اللَّهِ لِتَذْرِفَ دُمُوعاً لَمْ تَرْقَأْ مُذْ جَاءَ إِلَيْهَا النَّاعِي يَحْمِلُ إِلَيْهَا أَسْوَأَ نَبَأٍ قَرَعَ أُذُنَيْهَا طَوَالَ حَيَاتِهَا . إِنَّ أَبَاهَا وَهَبَ قَدْ مَاتَ وَقَدْ أَحَسَّتْ حُزْناً لِفِرَاقِهِ وَلَكِنَّهَا لَمْ تُحِسَّ تِلْكَ النَّارَ الَّتِي تَلَظَّتْ فِي أَحْشَائِهَا بَعْدَ أَنْ نَعَى إِلَيْهَا عَبْدُ اللَّهِ . كَانَتْ بِضْعَةً مِنْ وَهْبٍ بَيْدَ أَنَّ ذَبِيحَ قُرَيْشٍ كَانَ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ قِصَرِ الْعَهْدِ الَّذِي عَاشَاهُ مَعاً الرُّوحَ الَّذِي يَخْفِقُ بَيْنَ ضُلُوعِهَا .
Aminah bermalam menanti keberangkatan kafilah yang akan berangkat ke Yatsrib dengan penuh rasa rindu, karena dia sangat ingin berziarah kepada Abdullah untuk meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti sejak pembawa berita duka datang kepadanya membawa kabar terburuk yang pernah menyentuh telinganya seumur hidupnya. Ayahnya, Wahb, telah meninggal, dan dia merasakan kesedihan atas kepergiannya, namun dia tidak merasakan api yang berkobar di dalam dirinya setelah berita duka tentang Abdullah sampai kepadanya. Dia adalah bagian dari Wahb, namun sang kurban Quraisy itu—meskipun singkatnya masa yang mereka jalani bersama—adalah jiwa yang berdenyut di antara tulang rusuknya.
وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَرْقُبُ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي سَتَخْرُجُ فِيهِ الْقَافِلَةُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَجْهُولِ فِي أَمَلٍ وَرَجَاءٍ . إِنَّهُ حَمَلَ فِي يَوْمِهِ الثَّامِنِ إِلَى أَرْضِ هَوَازِنَ وَتَفَتَّحَتْ عَيْنَاهُ أَوَّلَ مَا تَفَتَّحَتْ عَلَى خِيَامِ بَنِي سَعْدٍ وَعَلَى الصَّحْرَاءِ الْمُتَرَامِيَةِ الَّتِي تَمْرَحُ فِيهَا حُرِّيَّةٌ لَا تُحَدُّ ، وَعَلَى الْجِبَالِ السَّامِقَةِ الْجَرْدَاءِ بِوَجْهِهَا الْعَابِسِ الَّذِي يَنْطِقُ بِقَسْوَةِ الْحَيَاةِ ، فَرَاحَ مُنْذُ أَنْ تَعَلَّمَ الْمَشْىَ يُحَاوِلُ أَنْ يَقْهَرَ تِلْكَ الْجِبَالِ ، وَقَدِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى ذِرْوَتِهَا وَيَرْنُو إِلَى السَّمَاءِ فِي تَطَلُّعٍ وَرَجَاءٍ كَأَنَّمَا تَهْفُو نَفْسُهُ الْقَوِيَّةُ إِلَى أَنْ تَرْبِطَ الْأَسْبَابَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مَا فَوْقَ السَّمَوَاتِ قَبْلَ أَنْ تَعُودَ بِهِ أُمُّهُ حَلِيمَةٌ إِلَى أُمِّهِ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ .
Muhammad mulai mengamati hari di mana kafilah akan berangkat dari Makkah menuju tempat yang tidak diketahui dengan penuh harapan dan asa. Dia dibawa pada hari kedelapannya ke tanah Hawazin, dan matanya terbuka pertama kali pada tenda-tenda Bani Sa'ad dan gurun luas tempat kebebasan tanpa batas merajalela, serta pada gunung-gunung tinggi yang gersang dengan wajah masamnya yang menunjukkan kekerasan hidup. Maka sejak dia belajar berjalan, dia mencoba menaklukkan gunung-gunung itu, dan dia mampu duduk di puncaknya dan memandang ke langit dengan penuh antusias dan harapan, seolah-olah jiwanya yang kuat merindukan untuk menghubungkan ikatan antara dirinya dan apa yang ada di atas langit, sebelum ibunya Halimah mengembalikannya kepada ibunya Aminah binti Wahb.
تَفَتَّحَ قَلْبُهُ فِي بَنِي سَعْدٍ لِأَخِيهِ عَبْدِ اللَّهِ وَلِأُخْتِهِ أُنَيْسَةَ وَأُخْتِهِ الشِّيْمَاءِ وَلِأُمِّهِ حَلِيمَةَ وَلِأَبِيهِ الْحَارِثِ وَغَنَمَاتِ بِنْتِ أَبِي ذُؤَيْبٍ . إِنَّهُ لَا يَنْسَى تِلْكَ الْأَيَّامَ السَّعِيدَةَ الَّتِي عَاشَهَا فِي كَنَفِهِمْ . وَتَفَتَّحَ قَلْبُهُ الْكَبِيرُ بَعْدَ أَنْ عَادَ إِلَى مَكَّةَ لِعَمِّهِ حَمْزَةَ وَعَمِّهِ الْعَبَّاسِ وَلِصِبْيَانِ بَنِي هَاشِمٍ ، وَلَمْ يَنْسَهُ أَهْلُهُ إِخْوَتُهُ الَّذِينَ شَبَّ بَيْنَهُمْ فَقَدْ كَانَ يُحَدِّثُ آمِنَةَ عَنْهُمْ حَدِيثَ وَفَاءٍ وَحُبٍّ ، وَمَا دَارَ بِخَلَدِهِ فِي تِلْكَ الْأَيَّامِ أَنَّهُ قَدْ شَرَّفَهُمْ بِرَضَاعَتِهِ فِيهِمْ .
Hatinya terbuka di tengah Bani Sa'ad untuk saudaranya Abdullah, saudarinya Anisah, saudarinya Asy-Syaima, ibunya Halimah, ayahnya Al-Harits, dan kambing-kambing binti Abu Dzu'aib. Dia tidak melupakan hari-hari bahagia yang dijalaninya dalam perlindungan mereka. Hatinya yang besar pun terbuka setelah dia kembali ke Makkah untuk pamannya Hamzah, pamannya Al-Abbas, dan anak-anak Bani Hasyim. Keluarganya, saudara-saudaranya yang tumbuh bersamanya, tidak melupakannya, karena dia sering bercerita kepada Aminah tentang mereka dengan penuh kesetiaan dan cinta, dan tidak pernah terlintas di benaknya pada hari-hari itu bahwa dia telah memuliakan mereka dengan susuan (penyusuannya) di antara mereka.
وَإِنَّ قَلْبَهُ لَعَلَى أُهْبَةٍ لِأَنْ يَتَفَتَّحَ لِهَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ سَيَشُدُّونَ الرِّحَالَ إِلَيْهِمْ ، هَؤُلَاءِ الَّذِينَ لَمْ تَقَعْ عَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ وَلَا يَعْرِفُ الطَّرِيقَ إِلَيْهِمْ ، يَكْفِي أَنْ أَبَاهُ قَدْ لَفَظَ أَنْفَاسَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَّهُ قَبْرٌ فِي أَرْضِهِمْ لِيُحِبَّهُمْ ، فَقَدْ كَانَ ذَا قَلْبٍ غَنِيٍّ بِمَشَاعِرَ طَيِّبَةٍ رَحِيمَةٍ تَفُوقُ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ كُنُوزٍ . إِنَّهُ يُحِبُّ كُلَّ مَا يَمُدُّ إِلَيْهِ عَيْنَيْهِ ، السَّمَاءَ بِنُجُومِهَا ، وَالْأَرْضَ بِجِبَالِهَا وَوِدْيَانِهَا ، وَالنَّبَاتَاتِ بِأَشْجَارِهَا وَعُشْبِهَا ، وَالطُّيُورَ أَلِيفَهَا وَجَارِحَهَا ، وَالْحَيَوَانَ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ ، وَالْإِنْسَانَ طَيِّبَهُ وَشَرِّيرَهُ ، فَهُوَ يَتَنَاسَقُ مَعَ الْوُجُودِ وَيَتَعَاطَفُ مَعَ الْكَوْنِ وَيَشْتَهِي أَنْ يَضُمَّ الْعَالَمَ كُلَّهُ إِلَى صَدْرِهِ أَوِ يَحْتَوِيَهُ بَيْنَ ضُلُوعِهِ .
Sesungguhnya hatinya siap untuk terbuka bagi kaum yang akan mereka tuju ini, mereka yang belum pernah dilihat oleh matanya dan dia tidak mengetahui jalan menuju mereka. Cukuplah fakta bahwa ayahnya menghembuskan napas terakhir di antara mereka dan bahwa dia adalah makam di tanah mereka untuk menjadikannya mencintai mereka, karena dia memiliki hati yang kaya dengan perasaan yang baik dan penyayang yang melebihi segala harta karun yang ada di bumi. Dia mencintai segala sesuatu yang dipandang matanya; langit dengan bintang-bintangnya, bumi dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya, tanaman-tanaman dengan pepohonan dan rerumputannya, burung-burung baik yang jinak maupun yang buas, hewan baik yang kecil maupun yang besar, dan manusia baik yang baik maupun yang jahat. Dia selaras dengan keberadaan, berempati dengan alam semesta, dan berhasrat untuk merangkul seluruh dunia ke dadanya atau memuatnya di antara tulang rusuknya.
وَحَانَتْ سَاعَةُ الرَّحِيلِ فَقَافِلَةُ قُرَيْشٍ الْمُنْطَلِقَةُ إِلَى يَثْرِبَ قَدْ أَنَاخَتْ خَارِجَ الْحَرَمِ تَنْتَظِرُ إِذْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بِبَدْءِ الرِّحْلَةِ الْمُبَارَكَةِ الْمَيْمُونَةِ ، فَرَاحَتْ آمِنَةُ تَلْقَى عَلَى دَارِهَا نَظْرَةَ وَدَاعٍ وَإِذَا بِأَحْدَاثِ ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي جَاءَتْ فِيهِ إِلَى الدَّارِ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ تَطْفُو عَلَى سَطْحِ ذِهْنِهَا . إِنَّهَا تَرَى عَبْدَ اللَّهِ وَهُوَ يَحْنُو عَلَيْهَا يَسِيرُ بِهَا فِي الْحُجُرَاتِ لِيُرِيَهَا عُشَّ الزَّوْجِيَّةِ الْجَمِيلِ ، كَانَتْ سَعِيدَةً غَايَةَ السَّعَادَةِ . انْطَلَقَتْ فِي الْيَوْمِ أَمَانِيهَا وَأَحْلَامُهَا مِنْ عِقَالِهَا فَرَاحَتْ تَحْلِقُ مُجْنِحَةً فِي أَجْوَاءِ مُسْتَقْبَلِهَا ، فَرَأَتْ عَبْدَ اللَّهِ فِي مِثْلِ سِنِّ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَجْلِسُ عَلَى فِرَاشِهِ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَحَوْلَهُ بَنُوهُ وَقَدْ بَلَغَ عَدَدُهُمْ عَشَرَةً !
Telah tiba saatnya keberangkatan, kafilah Quraisy yang akan berangkat ke Yatsrib telah berhenti di luar tanah haram, menunggu izin Abdul Muthalib untuk memulai perjalanan yang diberkahi dan penuh berkah. Maka Aminah mulai melemparkan pandangan perpisahan ke rumahnya, dan tiba-tiba peristiwa hari itu ketika dia datang pertama kali ke rumah itu bersama Abdullah muncul di permukaan pikirannya. Dia melihat Abdullah sedang bersikap lembut kepadanya, berjalan bersamanya di ruangan-ruangan untuk memperlihatkan sarang pernikahan yang indah. Dia sangat bahagia. Pada hari itu, keinginan dan impiannya terlepas dari kendalinya, ia mulai terbang membumbung tinggi di suasana masa depannya, dan dia melihat Abdullah dalam usia yang setara dengan Abdul Muthalib sedang duduk di atas tempat tidurnya di bawah naungan Ka'bah dengan putra-putranya di sekelilingnya yang jumlahnya telah mencapai sepuluh!
كَانَتْ رُؤًى عَذْبَةً حَبِيبَةً ، وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَغُذُّهَا بِأَعْذَبِ التَّصَوُّراتِ ، وَلَمْ يَخْطُرْ لَهَا عَلَى قَلْبٍ فِي تِلْكَ الْأَيَّامِ أَنَّ الْمَوْتَ يَتَرَبَّصُ لِفَتَى الْأَحْلَامِ لِيَفُوضَ كُلَّ مَا بَنَتْ فِي الْهَوَاءِ ، ذَهَبَ عَبْدُ اللَّهِ دُونَ أَنْ يَثُوبَ وَتَرَكَ فِي أَحْشَائِهَا جَنِينًا كَادَتْ تُتْلِفُهُ الْأَحْزَانُ ، وَلَكِنَّهُ بَقَى لَهَا لِيَكُونَ عَزَاءً عَنْ قَسْوَةِ الْأَيَّامِ .
Itu adalah penglihatan yang manis dan dicintai, dan Abdullah memupuknya dengan bayangan-bayangan yang paling manis. Tidak pernah terlintas di hatinya pada hari-hari itu bahwa maut sedang mengintai sang pemuda impian untuk meluluhlantakkan semua yang telah dia bangun di udara. Abdullah pergi tanpa kembali dan meninggalkan janin di dalam kandungannya yang hampir musnah karena kesedihan, namun dia tetap ada untuknya menjadi penghibur atas kekejaman hari-hari.
كَانَتْ تَحْلُمُ بِأَنْ تُنْجِبَ عَشَرَةً لِعَبْدِ اللَّهِ وَلَكِنَّهَا لَمْ تَلِدْ لَهُ غَيْرَ مُحَمَّدٍ ، وَإِنَّهَا لَتَرْجُو أَنْ يَكُونَ مُحَمَّدٌ خَيْراً مِنْ عَشَرَةٍ ، وَأَنْ تَتَحَقَّقَ تِلْكَ الْهَوَاتِفُ الَّتِي سَمِعَتْهَا لَيْلَةَ أَنْ حَمَلَتْ بِهِ وَلَيْلَةَ أَنْ وَضَعَتْهُ أَنْ يُصْبِحَ سَيِّدَ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَفَاضَ تَأَثُّرُهَا فَضَمَّتْ مُحَمَّداً إِلَيْهَا وَسَالَتْ عَبَرَاتُهَا .
Dia bermimpi untuk melahirkan sepuluh anak untuk Abdullah, namun dia tidak melahirkan baginya selain Muhammad. Dia berharap Muhammad akan menjadi lebih baik daripada sepuluh anak, dan agar suara-suara gaib yang didengarnya pada malam dia mengandungnya dan malam dia melahirkannya menjadi kenyataan bahwa dia akan menjadi pemimpin umat ini. Pengaruh emosinya meluap, maka dia mendekap Muhammad kepadanya dan air matanya mengalir.
وَغَادَرَتْ آمِنَةُ الدَّارَ وَمُحَمَّدٌ فِي يَدِهَا وَبَرَكَةُ مِنْ وَرَائِهَا ، وَمَا أَنْ أَغْلَقَ الْبَابَ خَلْفَهَا حَتَّى انْقَبَضَ صَدْرُ آمِنَةَ وَأَحَسَّتْ كَأَنَّ بَابَ حَيَاتِهَا قَدْ أُغْلِقَ . إِنَّهَا كَانَتْ مُتَلَهِّفَةً إِلَى الْإِنْطِلَاقِ إِلَى قَبْرِ الْحَبِيبِ ، وَلَكِنَّ مَا أَنْ أَوْشَكَتِ الرِّحْلَةُ عَلَى الِابْتِدَاءِ حَتَّى اسْتَشْعَرَتْ قَلَقاً وَرَهْبَةً لَا تَدْرِي لَهُمَا سَبَباً ، تَرَى أَتَذْهَبُ دُونَ عَوْدَةٍ كَمَا ذَهَبَ عَبْدُ اللَّهِ ، أَمْ أَنَّهَا تَخْشَى أَنْ يَلْحَقَ ابْنَهَا الْحَبِيبَ مَكْرُوهٌ فِي الطَّرِيقِ ؟
Aminah meninggalkan rumah dengan Muhammad di tangannya dan Barakah di belakangnya. Begitu dia menutup pintu di belakangnya, dada Aminah terasa sesak dan dia merasakan seolah-olah pintu hidupnya telah tertutup. Dia sangat ingin bergegas menuju makam sang kekasih, namun begitu perjalanan hendak dimulai, dia merasakan kecemasan dan ketakutan yang dia tidak tahu penyebabnya. Apakah dia akan pergi tanpa kembali seperti perginya Abdullah, atau apakah dia takut putra tercintanya akan tertimpa kemalangan di jalan?
وَهَبَطُوا إِلَى الطَّرِيقِ الَّذِي يَقُودُ إِلَى بَابِ إِبْرَاهِيمَ وَلَاحَتْ لِعُيُونِهِمُ الْكَعْبَةُ وَبِئْرُ زَمْزَمَ وَجَبَلُ قُبَيْسٍ ، فَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَنْظُرُ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَقَدْ تَهَلَّلَ وَجْهُهُ بِالْفَرَحِ فَسَيَطُوفُ بِالْحَرَمِ ثُمَّ يَلْحَقُ بِالْقَافِلَةِ الَّتِي سَتَحْمِلُهُ إِلَى قَبْرِ أَبِيهِ وَأَخْوَالِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ وَإِلَى أُنَاسٍ سَيُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ . وَتَحَرَّكَتْ شَفَتَا بَرَكَةَ بِالدَّعَوَاتِ بَيْنَا الْتَفَتَتْ آمِنَةُ خَلْفَهَا وَأَلْقَتْ عَلَى دَارِهَا نَظْرَةَ وَدَاعٍ وَفِي الْحَلْقِ غُصَّةٌ وَفِي الْعَيْنَيْنِ دُمُوعٌ .
Mereka turun ke jalan yang mengarah ke Bab Ibrahim, dan Ka'bah, sumur Zamzam, serta Gunung Qubais tampak di mata mereka. Muhammad mulai memandang ke arah Baitul 'Atiq (Ka'bah) dengan wajah yang berseri-seri penuh kegembiraan, karena dia akan melakukan thawaf di Al-Haram kemudian menyusul kafilah yang akan membawanya ke makam ayahnya dan paman-paman kakeknya, Abdul Muthalib, dari Bani Najjar, serta kepada orang-orang yang akan dia cintai dan mereka akan mencintainya. Bibir Barakah bergerak merapalkan doa, sementara Aminah menoleh ke belakang dan melemparkan pandangan perpisahan ke rumahnya dengan rasa tercekat di tenggorokan dan air mata di matanya.
وَاسْتَلَمَ الثَّلَاثَةُ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ ثُمَّ رَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ ، كَانَتْ آمِنَةُ تَبْتَهِلُ إِلَى رَبِّ الْبَيْتِ أَنْ يَحْفَظَ مُحَمَّداً وَأَنْ يُبَارِكَ لَهُمْ فِي سَفَرِهِمْ وَأَنْ يُعِيدَهُمْ سَالِمِينَ ، وَكَانَ مُحَمَّدٌ يَصْغَى إِلَى دَعَوَاتِ الطَّائِفِينَ بَيْنَا كَانَتْ بَرَكَةُ تَسِيرُ خَلْفَهُمَا وَقَدْ لَاحَ عَلَيْهَا وُجُومٌ فَقَدْ شُغِلَ ذِهْنُهَا بِالرِّحْلَةِ وَمَتَاعِبِهَا عَنِ الدَّعَوَاتِ وَالِابْتِهَالَاتِ وَالْمُنَاجَاةِ ؟
Ketiganya mengusap Hajar Aswad kemudian mereka mulai berthawaf mengelilingi Baitullah. Aminah memanjatkan doa kepada Tuhan pemilik Baitullah agar Dia menjaga Muhammad, memberkahi perjalanan mereka, dan mengembalikan mereka dalam keadaan selamat. Muhammad mendengarkan doa-doa orang yang sedang berthawaf, sementara Barakah berjalan di belakang mereka dengan tampak murung, karena pikirannya disibukkan oleh perjalanan dan kesulitan-kesulitannya, jauh dari doa-doa, permohonan, dan munajat?
وَانْتَهَوْا مِنْ طَوَافِ الْوَدَاعِ فَذَهَبُوا إِلَى حَيْثُ أَنَاخَتِ الْقَافِلَةُ وَاتَّجَهُوا إِلَى رَاحِلَتِهِمَا ، وَقَبْلَ أَنْ يَعْتَلُوا ظَهْرَيْهِمَا جَاءَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَقُودُهُ عَبْدُهُ بَعْدَ أَنْ ذَهَبَ بَصَرُهُ وَحَوْلَهُ بَعْضُ بَنِيهِ لِيُوَدِّعُوا آمِنَةَ وَمُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ .
Mereka selesai dari thawaf wada' (perpisahan), lalu pergi ke tempat kafilah berhenti dan menuju ke unta mereka. Sebelum mereka menaiki punggung unta, Abdul Muthalib datang dituntun oleh budaknya setelah penglihatannya hilang, bersama beberapa putranya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah dan Muhammad bin Abdullah.
— مُدَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدَهُ وَمَرَّرَهَا عَلَى رَأْسِ حَفِيدِهِ فِي رِفْقٍ وَحَنَانٍ ، ثُمَّ احْتَمَلَهُ بَيْنَ ذِرَاعَيْهِ وَضَمَّهُ إِلَى صَدْرِهِ وَقَبَّلَهُ فِي حُبٍّ وَرَاحَ يَشُمُّهُ فِي وَجْدٍ كَأَنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَمْلَأَ رُوحَهُ بِرِيحِهِ مَا دَامَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْلَأَ مِنْهُ عَيْنَيْهِ .
— Abdul Muthalib mengulurkan tangannya dan mengusapkannya ke kepala cucunya dengan lembut dan penuh kasih sayang, kemudian dia menggendongnya di antara kedua tangannya dan mendekapnya ke dadanya, menciumnya dengan penuh cinta, dan mulai menghirup aromanya dengan penuh rasa rindu seolah-olah dia ingin mengisi jiwanya dengan aroma tubuhnya selama dia tidak mampu memuaskan matanya dengan memandangnya.
وَرَاحَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يُحَدِّثُ الْأَرْمَلَةَ الشَّابَّةَ فِي صَوْتٍ مُتَهَدِّجٍ يَفِيضُ رَحْمَةً ، يُوصِيهَا بِمُحَمَّدٍ وَيَحْمِلُهَا سَلَامَهُ إِلَى أَخْوَالِهِ مِن بَنِي النَّجَّارِ ثُمَّ يَتَمَنَّى لَهَا أَطْيَبَ التَّمَنِّيَاتِ . وَحَانَ أَوَانُ الرَّحِيلِ فَتَقَدَّمَ أَعْمَامُ مُحَمَّدٍ لِيُوَدِّعُوهُ فَأَحَسَّتْ آمِنَةُ رِقَّةً تَكْتَنِفُهَا فَسَالَتْ مِنْ مَآقِيهَا الْعَبَرَاتُ .
Abdul Muthalib mulai berbicara kepada janda muda itu dengan suara parau yang penuh dengan belas kasihan, berpesan kepadanya mengenai Muhammad dan menitipkan salamnya kepada paman-paman dari pihak ibunya dari Bani Najjar, lalu mendoakan yang terbaik untuknya. Saat keberangkatan telah tiba, paman-paman Muhammad maju untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, maka Aminah merasakan kelembutan menyelimutinya dan air mata pun mengalir dari kedua matanya.
وَسَارَتِ الْقَافِلَةُ فَالْتَفَتَتْ آمِنَةُ خَلْفَهَا وَأَلْقَتْ نَظْرَةً طَوِيلَةً عَلَى الْكَعْبَةِ فَاسْتَشْعَرَتْ وَحْشَةً وَكَأَنَّ يَداً قَوِيَّةً تَعْصِرُ فُؤَادَهَا ، وَعَجِبَتْ لِذَلِكَ الْحُزْنِ الَّذِي رَانَ عَلَيْهَا وَلِتِلْكَ الْوَسَاوِسِ الَّتِي انْبَعَثَتْ فِي صَدْرِهَا تَفُحُّ فَحِيحَ الْأَفْعَى تَهْمِسُ بِأَنَّ نَظَرَاتِهَا الَّتِي تُلْقِيهَا عَلَى الْوَادِي الْمُقَدَّسِ هِيَ آخِرُ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ ذَلِكَ الْوَادِي الْحَبِيبِ ؛ إِنَّهُ فِرَاقٌ لَا لِقَاءَ بَعْدَهُ .
Kafilah pun berjalan, Aminah menoleh ke belakang dan melemparkan pandangan panjang ke Ka'bah. Dia merasakan kesepian seolah-olah ada tangan yang kuat meremas hatinya. Dia merasa heran dengan kesedihan yang menyelimutinya dan bisikan-bisikan yang muncul di dadanya, mendesis seperti desis ular, berbisik bahwa pandangan-pandangan yang dia lemparkan ke lembah suci itu adalah yang terakhir antara dirinya dan lembah tercinta itu; itu adalah perpisahan yang tidak ada pertemuan lagi setelahnya.
وَحَاوَلَتْ آمِنَةُ أَنْ تَنْتَزِعَ نَفْسَهَا مِنْ تِلْكَ الْمَشَاعِرِ الَّتِي تَهْجِسُ فِي وِجْدَانِهَا فَرَاحَتْ تُدَاعِبُ مُحَمَّدًا الَّذِي كَانَ إِلَى جِوَارِهَا فِي هَوْدَجِهَا وَتَبُشُّ لَهُ وَتُحَادِثُهُ وَتَصْغَى إِلَى حَدِيثِهِ ، إِلَّا أَنَّهَا أَلْفَتْ نَفْسَهَا تَلْتَفِتُ خَلْفَهَا وَتَرْنُو إِلَى جَبَلِ قُبَيْسَ رَنْوَةً طَوِيلَةً كَأَنَّهَا تُقَبِّلُهُ بِعَيْنَيْهَا قُبْلَةً فِيهَا رَحِيقُ الرُّوحِ وَذُوبُ النَّفْسِ وَكُلُّ مَا فِي الْفُؤَادِ مِنْ عَوَاطِفِ الرِّقَّةِ وَالتَّعَاطُفِ وَالْوِدَادِ .
Aminah berusaha melepaskan dirinya dari perasaan-perasaan yang bergejolak di dalam sanubarinya, lalu ia mulai membelai Muhammad yang berada di sampingnya di dalam tandunya, ia tersenyum kepadanya, mengajaknya bicara, dan mendengarkan perkataannya, namun ia mendapati dirinya menoleh ke belakang dan memandang ke arah Jabal Qubais dengan pandangan yang lama seolah-olah ia menciumnya dengan kedua matanya, ciuman yang di dalamnya terdapat sari pati jiwa, lelehan sukma, dan segala isi hati berupa perasaan lembut, kasih sayang, dan kecintaan.
وَفَطِنَتْ بَرَكَةُ لِكَثْرَةِ تَلَفُّتِ سَيِّدَتِهَا فَحَسِبَتْ أَنَّهَا تَكْثُرُ مِنَ التَّلَفُّتِ لِتَعُودَ ، فَقَدْ كَانَ الْقَوْمُ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ كَثْرَةَ التَّلَفُّتِ تُوجِبُ الْعَوْدَةَ ، فَرَفَتْ عَلَى شَفَتَيْ بَرَكَةَ بَسْمَةٌ هَادِئَةٌ وَرَاحَ قَلْبُهَا يَبْتَهِلُ إِلَى الْوُجُودِ أَنْ يَرْحَمَ ضَعْفَ الْأُمِّ وَوَحِيدَهَا .
Barakah menyadari seringnya majikannya menoleh, maka ia mengira bahwa ia sering menoleh karena ingin kembali, karena kaumnya meyakini bahwa sering menoleh meniscayakan untuk kembali, maka tersungginglah di bibir Barakah senyuman yang tenang dan hatinya mulai memohon kepada semesta agar mengasihi kelemahan sang ibu dan anak tunggalnya.
وَسَرَتِ الْقَافِلَةُ فِي الْكَوْنِ الْعَرِيضِ وَمُحَمَّدٌ يَرْعَى نُجُومَ السَّمَاءِ فِي اللَّيْلِ وَيَبْتَهِجُ قَلْبُهُ لِلشُّرُوقِ وَتَتَهَلَّلُ نَفْسُهُ بِالْفَرَحِ وَهُوَ يَرْقُبُ الْغُرُوبَ ، إِنَّهُ يَذُوبُ فِي الْوُجُودِ وَيَتَنَاسَقُ مَعَ كُلِّ مَا حَوْلَهُ وَيَسْتَشْعُرُ بِتَعَاطُفٍ عَجِيبٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ كُلِّ مَا يَمُدُّ إِلَيْهِ عَيْنَيْهِ مِنْ رِمَالٍ وَصُخُورٍ وَنَخِيلٍ وَآبَارٍ وَعُيُونٍ وَسَادَةٍ وَعَبِيدٍ .
Kafilah berjalan di alam semesta yang luas, sementara Muhammad mengamati bintang-bintang di langit pada malam hari, hatinya bersuka cita menyambut matahari terbit, dan jiwanya berseri-seri penuh kegembiraan saat ia mengamati matahari terbenam. Ia melebur dalam keberadaan, selaras dengan segala sesuatu di sekelilingnya, dan merasakan keterikatan yang menakjubkan antara dirinya dan segala hal yang dipandang oleh kedua matanya; berupa pasir, bebatuan, pohon kurma, sumur, mata air, para tuan, dan para budak.
وَاتَّجَهَتِ الْقَافِلَةُ نَاحِيَةَ سَاحِلِ الْبَحْرِ ، وَدَبَّ فِي الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ نَشَاطٌ ، وَارْتَفَعَ صَوْتُ الْحَادِي يَحُثُّ الْإِبِلَ عَلَى الْإِسْرَاعِ ، وَالْتَفَتَ مُحَمَّدٌ بِعَيْنَيْهِ الْجَمِيلَتَيْنِ إِلَى أُمِّهِ وَكَانَ فِيهِمَا تَسَاؤُلٌ كَأَنَّمَا يَقُولُ لَهَا : فِيمَ هَذَا النَّشَاطُ ؟ وَفَطِنَتِ الْأُمُّ إِلَى مَا يُرِيدُ فَقَالَتْ :
Kafilah mengarah ke pesisir laut, dan aktivitas mulai muncul pada para pria dan wanita, suara pengiring unta meninggi mendorong unta-unta untuk bergegas, dan Muhammad menoleh dengan kedua matanya yang indah kepada ibunya, di dalam kedua matanya terdapat pertanyaan seolah-olah ia berkata kepadanya: Mengapa aktivitas ini? Sang ibu memahami apa yang ia inginkan lalu berkata:
— مَنَاةٌ . إِلَهَةُ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ .
— Manah. Dewi kaum Aus dan Khazraj.
وَكَسَتْ سَحَابَةٌ مِنَ الْأَسَى وَجْهَ آمِنَةَ بِنْتِ وَهَبٍ فَذُكْرُ « مَنَاةَ » أَعَادَ إِلَى ذِهْنِهَا فِكْرَةَ الْمَوْتِ ، فَمَنَاةُ إِلَهَةُ الْمَنَايَا وَخُبَّاتُ الْقَدَرِ ، تَرَى فِيمَ هَذَا الْخَوْفُ الَّذِي يَجْتَاحُهَا ؟ وَمَا الَّذِي يُخَبِّئُهُ لَهَا الْقَدَرُ فِي رِحْلَتِهَا ؟ إِنَّهَا مُنْقَبِضَةُ النَّفْسِ مُنْذُ أَنْ غَادَرَتْ دَارَهَا فِي مَكَّةَ وَلَا تَدْرِي لِذَلِكَ الْأَسَى مِنْ سَبَبٍ . أَتُهَا بَهَا إِلَى قَبْرِ الْحَبِيبِ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ عِلَّةُ ذَلِكَ الْحُزْنِ وَالِانْقِبَاضِ ؟ أَتُكَأْتُ جِرَاحَاتُ الْقَلْبِ وَالنَّفْسِ وَالْوِجْدَانِ ؟ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ نُورَ الْعَيْنَيْنِ وَهَوَاءَ الرِّئَتَيْنِ وَرُوحَ الرُّوحِ فَلَا جَرَمَ أَنْ سَحَّتِ الدُّمُوعُ وَاكْتَأَبَتِ النَّفْسُ وَانْقَبَضَ الصَّدْرُ وَغَلَّفَ وُجُودَهَا سَوَادٌ .
Awan kesedihan menyelimuti wajah Aminah binti Wahb, karena penyebutan "Manah" mengembalikan gagasan kematian ke benaknya, karena Manah adalah dewi kematian dan rahasia takdir. Ia merenung, mengapa ketakutan ini menyerangnya? Dan apa yang disembunyikan takdir untuknya dalam perjalanannya ini? Ia merasa jiwanya tertekan sejak ia meninggalkan rumahnya di Makkah, dan ia tidak mengetahui sebab dari kesedihan itu. Apakah kepergiannya ke makam sang kekasih, Abdullah, adalah penyebab kesedihan dan tekanan itu? Apakah luka-luka hati, jiwa, dan sanubari terungkap kembali? Abdullah adalah cahaya kedua mata, udara bagi paru-paru, dan ruh bagi jiwa, maka tidak heran jika air mata mengalir, jiwa dirundung duka, dada terasa sesak, dan kegelapan menyelimuti keberadaannya.
وَبِالْقُرْبِ مِنَ السَّاحِلِ أَنَاخَتِ الْقَافِلَةُ بَيْنَ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ ، وَأَفْصَحَ الْحَدِيثُ الدَّائِرُ بَيْنَ النَّاسِ أَنَّهُمْ بِنَاحِيَةِ الْمُشَلَّلِ بِقَدِيدٍ ، وَمَا كَادَتْ أَقْدَامُ الْقَوْمِ تَسْتَقِرُّ عَلَى الْأَرْضِ حَتَّى انْسَابُوا فِي خُشُوعٍ نَاحِيَةَ صَخْرَةٍ مَنْصُوبَةٍ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ قَدْ وَقَفَ عِنْدَهَا كَهَانٌ يُحْرِقُونَ الْبَخُورَ وَيُتَمْتِمُونَ بِصَلَوَاتٍ .
Di dekat pesisir, kafilah beristirahat di antara Madinah dan Makkah, dan percakapan yang beredar di antara orang-orang memperjelas bahwa mereka berada di wilayah Al-Musyallal di Qadid. Hampir saja kaki orang-orang itu menapak di bumi, hingga mereka mengalir dengan khusyuk ke arah sebuah batu yang ditegakkan di pesisir laut, yang di sisinya berdiri para dukun membakar dupa dan menggumamkan doa-doa.
وَنَظَرَ مُحَمَّدٌ إِلَى آمِنَةَ ، فَمَا رَأَى مِنْ قَبْلُ مِثْلَ هَذِهِ الصَّخْرَةِ الْمُوَقَّرَةِ الَّتِي لَهَا سَدَنَةٌ يُعَظِّمُونَهَا وَأُنَاسٌ يَنْحَرُونَ عِنْدَهَا وَيَطُوفُونَ بِهَا وَيُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا الْهَدَايَا ، فَقَالَتْ لَهُ :
Muhammad memandang kepada Aminah, karena ia belum pernah melihat sebelumnya batu yang sangat dihormati ini, yang memiliki juru kunci yang mengagungkannya, dan orang-orang menyembelih di sisinya, mengelilinginya, dan menggantungkan persembahan di atasnya, maka ia berkata kepadanya:
— إِنَّهَا مَنَاةُ .
— Itu adalah Manah.
كَانَ هَذَا الصَّنَمُ مُعَظَّمًا عِنْدَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ وَالْأَزْدِ وَغَسَّانَ ، فَكَانُوا يَحِجُّونَ إِلَى الْكَعْبَةِ وَيَقِفُونَ مَعَ النَّاسِ الْمَوَاقِفَ كُلَّهَا وَلَا يَحْلِقُونَ رُءُوسَهُمْ ، فَإِذَا نَفَرُوا أَتَوْا صَنَمَ مَنَاةَ وَحَلَقُوا رُءُوسَهُمْ وَأَقَامُوا عِنْدَهُ لَا يَرَوْنَ لِحَجِّهِمْ تَمَامًا إِلَّا بِذَلِكَ .
Berhala ini sangat diagungkan oleh kaum Aus, Khazraj, Azd, dan Ghassan. Mereka dahulu berhaji ke Ka'bah dan berdiri bersama orang-orang di semua tempat manasik haji namun mereka tidak mencukur kepala mereka. Maka apabila mereka telah selesai (nafar), mereka mendatangi berhala Manah, mencukur kepala mereka, dan menetap di sisinya. Mereka tidak menganggap haji mereka sempurna kecuali dengan melakukan itu.
وَكَانَتْ قُرَيْشٌ وَهُذَيْلٌ وَخُزَاعَةُ وَأَزْدُ شَنُوءَةَ وَغَيْرُهُمْ مِنَ الْأَزْدِ تُعَظِّمُ ذَلِكَ الصَّنَمَ ، بَلْ كَانَتْ كُلُّ قَبَائِلِ الْحِجَازِ تُعَظِّمُهُ ، فَرَاحَ رِجَالُ الْقَافِلَةِ يَطُوفُونَ حَوْلَهُ وَيَهْدُونَ إِلَيْهِ الْهَدَايَا وَمُحَمَّدٌ يَنْظُرُ مِنْ بَعِيدٍ إِلَى جُمُوعِ الْخَاشِعِينَ الْمُبْتَهِلِينَ لِصَخْرَةٍ مِنَ الصُّخُورِ .
Kaum Quraisy, Hudzail, Khuza'ah, Azd Syanu'ah, dan selain mereka dari kabilah Azd mengagungkan berhala itu. Bahkan semua kabilah Hijaz mengagungkannya. Maka para pria kafilah mulai bertawaf di sekelilingnya dan menghadiahkan persembahan kepadanya, sementara Muhammad melihat dari kejauhan ke arah kumpulan orang-orang yang khusyuk memohon kepada sebongkah bebatuan.
إِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي مَنَعَهُ أَنْ يَطُوفَ مَعَ الطَّائِفِينَ وَأَنْ يَخِرَّ سَاجِدًا مَعَ السَّاجِدِينَ ، كُلُّ مَا يَدْرِيهِ أَنَّ صَدْرَهُ لَمْ يَنْشَرِحْ لِذَلِكَ الَّذِي يَفْعَلُهُ قَوْمُهُ وَأَنَّهُ لَمْ يُحِسَّ وَهُوَ يَنْظُرُ إِلَى الصَّنَمِ تِلْكَ الْإِحْسَاسَاتِ الْمُشْرِقَةَ بِالْفَرَحِ الَّتِي يَسْتَشْعِرُهَا كُلَّمَا سَارَ فِي الْكَوْنِ وَمَدَّ عَيْنَيْهِ إِلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا . إِنَّهُ كُلَّمَا هَامَ فِي الْوُجُودِ أَحَسَّ أَنَّ رُوحًا تَسْرِي فِيهِ بَيْنَا لَا يَرَى فِي ذَلِكَ الصَّنَمِ إِلَّا حَجَرًا مَيْتًا بِلَا رُوحٍ .
Ia tidak tahu apa yang mencegahnya untuk bertawaf bersama orang-orang yang tawaf dan untuk bersujud bersama orang-orang yang bersujud. Semua yang ia ketahui adalah dadanya tidak merasa lapang terhadap apa yang dilakukan oleh kaumnya, dan ia tidak merasakan—saat ia memandang berhala itu—perasaan-perasaan yang cerah penuh kegembiraan yang ia rasakan setiap kali ia berjalan di alam semesta dan mengarahkan pandangannya ke langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Sesungguhnya setiap kali ia mengembara dalam keberadaan, ia merasakan bahwa ada ruh yang mengalir di dalamnya, sementara ia tidak melihat pada berhala itu melainkan sebuah batu mati tanpa ruh.
وَاسْتَأْنَفَتِ الْقَافِلَةُ رِحْلَتَهَا وَرَاحَتْ آمِنَةُ تُحَدِّثُ مُحَمَّدًا الْحَبِيبَ عَنْ آلِهَةِ قَوْمِهِ ، وَأَنَّ لِلْكَوْنِ إِلَهًا عَظِيمًا خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَأَنْزَلَ الْمَطَرَ مِنَ السَّمَاءِ أَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ، وَأَنَّ الْأَصْنَامَ الَّتِي يَعْبُدُونَهَا بِنَاتُهُ يَشْفَعْنَ لِلنَّاسِ عِنْدَهُ . وَظَلَّ مُحَمَّدٌ يَصْغَى إِلَى أُمِّهِ حَتَّى لَاحَتْ أَرْبَاضُ يَثْرِبَ .
Kafilah melanjutkan perjalanannya, dan Aminah mulai bercerita kepada kekasihnya, Muhammad, tentang tuhan-tuhan kaumnya, dan bahwa alam semesta memiliki Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, serta menurunkan hujan dari langit yang dengannya Ia menghidupkan bumi setelah matinya. Ia juga bercerita bahwa berhala-berhala yang mereka sembah adalah putri-putri-Nya yang memberi syafaat bagi manusia di sisi-Nya. Muhammad terus mendengarkan ibunya hingga tampaklah pinggiran kota Yatsrib.
وَانْسَابَتِ الْقَافِلَةُ بَيْنَ النَّخِيلِ فِي الْوَاحَةِ الْخَضْرَاءِ حَتَّى بَلَغَتْ مَنْزِلَهَا ، فَأَنَاخَ الْقَوْمُ رَوَاحِلَهُمْ بَيْنَا انْطَلَقَتْ آمِنَةُ وَمُحَمَّدٌ وَبَرَكَةُ الْحَبَشِيَّةُ عَلَى بَعِيرِهِمَا إِلَى دَارِ النَّابِغَةِ أَحَدِ سَادَاتِ بَنِي عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ .
Kafilah meluncur di antara pohon-pohon kurma di oasis yang hijau hingga mencapai tempat tujuannya. Kaum itu pun mendaratkan tunggangan mereka, sementara Aminah, Muhammad, dan Barakah Al-Habsyiyah berangkat dengan unta mereka menuju rumah An-Nabighah, salah satu pemuka Bani Adi bin An-Najjar.
وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَتَلَفَّتُ وَهُوَ فِي الطَّرِيقِ يُدِيمُ النَّظَرَ إِلَى الْآطَامِ الْمُنْتَشِرَةِ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، وَكَأَنَّ الْمَدِينَةَ مَيْدَانُ قِتَالٍ ، فَفِي كُلِّ حَيٍّ فِيهَا تَقُومُ حُصُونٌ تَنْسِبُ إِلَى أَصْحَابِهَا مِنَ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ وَقَبَائِلِ الْيَهُودِ ، وَبَيْنَ تِلْكَ الْحُصُونِ بُنِيَتِ الدُّورُ وَالْأَسْوَاقُ ، وَقَدْ مَسَّ أُذُنَيْهِ خَرِيرُ الْمَاءِ كَأَنَّهُ صَوْتُ مَلَائِكَةٍ أَتَى مِنَ السَّمَاءِ .
Muhammad mulai menoleh ke sana kemari selama di jalan, terus memandangi benteng-benteng yang tersebar di setiap tempat, seolah-olah kota itu adalah medan pertempuran. Sebab di setiap perkampungan di sana berdiri benteng-benteng yang dinisbatkan kepada pemiliknya dari kaum Aus, Khazraj, dan kabilah-kabilah Yahudi. Di antara benteng-benteng itu rumah-rumah dan pasar-pasar dibangun, dan gemericik air menyentuh telinganya seolah-olah itu adalah suara malaikat yang datang dari langit.
وَخَفَقَ قَلْبُ آمِنَةَ خَفَقَاتٍ شَدِيدَةً ، إِنَّهَا عَلَى بَعْدِ خُطُوَاتٍ مِنْ قَبْرِ الْحَبِيبِ ، قَبْرِ عَبْدِ اللَّهِ الَّذِي كُتِبَ عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ غَرِيبًا قَبْلَ أَنْ تَكْتَحِلَ عَيْنَاهُ بِرُؤْيَةِ ابْنِهِ الَّذِي هَفَتْ إِلَيْهِ رُوحُهُ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ ، وَالَّذِي طَالَمَا سَبَحَا فِي بُحُورِ الْخَيَالِ يَتَحَدَّثَانِ عَنْ ذَلِكُمُ الْوَافِدِ الْكَرِيمِ الَّذِي بَشَّرَتْ بِهِ آمِنَةُ لَمَّا حَمَلَتْ بِهِ ، وَلَكِنْ لَمْ يَبْلُغْ بِهِمَا الْخَيَالُ أَنْ يَتَصَوَّرَا أَنَّ هَذِهِ الْمَدِينَةَ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَقُبِرَ فِيهَا عَبْدُ اللَّهِ سَتَحْمِلُ يَوْمًا اسْمَ ابْنِهِمَا الْحَبِيبِ ، وَأَنَّ مِنْهَا سَوْفَ يُشْرِقُ نُورُ الرِّسَالَةِ الَّتِي سَيَجِيءُ بِهَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ لِيَغْمُرَ الْعَالَمِينَ .
Jantung Aminah berdebar kencang, ia berada beberapa langkah dari makam sang kekasih, makam Abdullah yang telah ditakdirkan untuk meninggal sebagai orang asing sebelum kedua matanya bisa terobati dengan melihat putranya yang dirindukan ruhnya sebelum ia melihatnya. Ia dan putranya itu dahulu sering menyelami lautan imajinasi, berbincang-bincang tentang sosok yang datang dengan mulia itu, yang telah Aminah kabarkan saat ia mengandungnya. Namun imajinasi mereka tidak sampai membayangkan bahwa kota ini, tempat Abdul Muthalib dilahirkan dan Abdullah dimakamkan, suatu hari akan membawa nama putra mereka yang tercinta, dan bahwa dari kota inilah cahaya risalah yang akan dibawa oleh Muhammad bin Abdullah akan terbit untuk menyinari alam semesta.
وَوَقَفَتِ الرَّاحِلَتَانِ أَمَامَ دَارِ النَّابِغَةِ ، فَخَفَّ بَنُو النَّجَّارِ لِاسْتِقْبَالِ آمِنَةَ وَحَفِيدِ ابْنِ أُخْتِهِمْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَحَّبَ النِّسْوَةُ بِزَوْجَةِ عَبْدِ اللَّهِ ، وَمَا أَنْ دَخَلَتْ آمِنَةُ وَمُحَمَّدٌ وَبَرَكَةُ لِيَسْتَرِيحُوا حَتَّى تَجَدَّدَتْ أَحْدَاثٌ وَأَحْزَانٌ ، أَحْدَاثٌ مَضَتْ عَلَيْهَا سِتُّ سَنَوَاتٍ وَأَحْزَانٌ نَامَتْ تَحْتَ رَمَادِ الزَّمَانِ ، فَقَدْ رَاحَ النِّسْوَةُ يَقْصُصْنَ عَلَى الْقَادِمِينَ كَيْفَ حُمِلَ عَبْدُ اللَّهِ وَهُوَ مَرِيضٌ إِلَى هَذِهِ الدَّارِ ، وَكَيْفَ ظَلَّ أَكْثَرَ مِنْ شَهْرٍ وَهُوَ مُسَجًّى فِي الْفِرَاشِ ، وَمَا دَارَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ الَّذِي جَاءَ مِنْ مَكَّةَ لِيَعُودَ بِهِ مِنْ حِوَارٍ ، وَالْتَفَتَتِ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ إِلَى آمِنَةَ وَقَالَتْ لَهَا إِنَّهُ كَانَ يَذْكُرُ اسْمَهَا عَلَى الدَّوَامِ ، فَطَفَرَتِ الدُّمُوعُ إِلَى مَآقِي الْأَرْمَلَةِ الَّتِي لَمْ يَجِفَّ لَهَا دَمْعٌ مُذْ ذَهَبَ عَبْدُ اللَّهِ .
Dua unta tunggangan berhenti di depan rumah An-Nabighah, maka kaum Bani Najjar segera bergegas untuk menyambut Aminah dan cucu keponakan mereka, Abdul Muthalib. Para wanita menyambut istri Abdullah dengan hangat. Begitu Aminah, Muhammad, dan Barakah masuk untuk beristirahat, peristiwa-peristiwa dan kesedihan-kesedihan lama kembali muncul; peristiwa yang telah berlalu enam tahun dan kesedihan yang tertidur di bawah abu zaman. Para wanita mulai menceritakan kepada para pendatang bagaimana Abdullah dibawa dalam keadaan sakit ke rumah ini, bagaimana ia tinggal selama lebih dari sebulan terbaring di atas tempat tidur, dan dialog yang terjadi antara dia dan saudaranya yang datang dari Makkah untuk membawanya pulang. Seorang wanita dari Bani Adi bin An-Najjar menoleh kepada Aminah dan berkata kepadanya bahwa ia selalu menyebut namanya. Maka air mata mengalir ke pelupuk mata sang janda yang air matanya tidak pernah kering sejak Abdullah pergi.
وَالْتَقَطَ الْقَادِمُونَ مِنَ الصَّحْرَاءِ أَنْفَاسَهُمْ ثُمَّ قَامُوا لِيَزُورُوا قَبْرَ فَتَى قُرَيْشٍ الَّذِي دُفِنَ فِي دَارِ النَّابِغَةِ ، فَانْطَلَقُوا وَقَدْ خَيَّمَ عَلَيْهِمْ وَجُومٌ ، وَامْتَقَعَ وَجْهُ آمِنَةَ وَاشْتَدَّ وَجِيبُ فُؤَادِهَا وَثَارَتْ عَوَاطِفُهَا حَتَّى أَنَّهَا قَبَضَتْ عَلَى مُحَمَّدٍ بِيَدٍ مُتَشَنِّجَةٍ ، وَأَحَسَّتْ بِالْأَرْضِ تَمِيدُ تَحْتَ قَدَمَيْهَا فَاسْتَنَدَتْ بِيَدِهَا الْأُخْرَى عَلَى بَرَكَةَ ، وَرَاحَتْ تَتَقَدَّمُ فِي تُؤَدَةٍ فَقَدْ أَشْفَقَتْ عَلَى نَفْسِهَا مِنْ هَوْلِ ذَلِكَ اللِّقَاءِ .
Para pendatang dari gurun mengambil napas mereka, kemudian mereka pergi untuk mengunjungi makam pemuda Quraisy yang dimakamkan di rumah An-Nabighah. Mereka berangkat dengan perasaan murung menyelimuti mereka. Wajah Aminah pucat, debaran jantungnya mengeras, dan emosinya bergejolak hingga ia mencengkeram Muhammad dengan tangan yang kaku. Ia merasakan bumi berguncang di bawah kedua kakinya, lalu ia menyandarkan tangan lainnya kepada Barakah, dan ia mulai melangkah dengan pelan karena ia merasa khawatir terhadap dirinya sendiri dari kengerian pertemuan itu.
كَانَ خَيَالُ عَبْدِ اللَّهِ يَمْلَأُ أَقْطَارَ الْمَكَانِ ، إِنَّهَا تَكَادُ تَشُمُّ رِيحَهُ ، وَتُحِسُّ أَنْفَاسَهُ ، وَتَشْعُرُ بِمَسِّ أَنَامِلِهِ ، وَتَسْمَعُ نَجْوَاهُ . إِنَّهُ هُنَا فِي خَيَالِهَا .. فِي ضَمِيرِهَا .. فِي سُوَيْدَاءِ فُؤَادِهَا ، إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ ، إِنَّهُ حَيٌّ فِي أَعْمَاقِهَا ، إِنَّهُ نَبَضَاتُ قَلْبِهَا وَخَفْقُ وِجْدَانِهَا .
Bayangan Abdullah memenuhi segenap penjuru tempat itu, ia hampir bisa mencium aromanya, merasakan napasnya, merasakan sentuhan ujung jemarinya, dan mendengar bisikan rahasianya. Ia ada di sini dalam imajinasinya.. dalam nuraninya.. dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia tidak mati, ia hidup di kedalaman dirinya, ia adalah detak jantungnya dan denyut sanubarinya.
وَلَاحَ لِعَيْنَيْهَا قَبْرُ الْحَبِيبِ ، وَتَبَخَّرَتِ الْأَوْهَامُ وَانْجَلَتْ لَهَا الْحَقِيقَةُ الْمُرَّةُ . إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ هُنَا تَحْتَ الثَّرَى ، وَفَارَقَهَا فِرَاقًا لَيْسَ بَعْدَهُ لِقَاءٌ ، فَأَحَسَّتْ بِالْأَسَى يَعْتَصِرُ فُؤَادَهَا وَبِالْحُزْنِ يَجْثُمُ عَلَى صَدْرِهَا وَبِوُقْدَةِ نَارٍ فِي حَلْقِهَا ، وَأَرَادَتْ أَنْ تَكْبَحَ عَوَاطِفَهَا رَأْفَةً بِابْنِهَا الْحَبِيبِ وَلَكِنَّ ذَلِكَ كَانَ فَوْقَ طَاقَةِ الْبَشَرِ فَارْتَمَتْ عَلَى الْقَبْرِ تَبْكِي أَحَرَّ بُكَاءٍ .
Tampaklah oleh kedua matanya makam sang kekasih, angan-angan pun menguap dan tersingkaplah baginya kenyataan yang pahit. Abdullah ada di sini di bawah tanah, dan ia telah berpisah dengannya, perpisahan yang tidak ada pertemuan setelahnya. Maka ia merasakan kesedihan memeras hatinya, duka menindih dadanya, dan bara api di kerongkongannya. Ia ingin membendung emosinya demi kasih sayang kepada putranya yang tercinta, namun hal itu berada di luar kemampuan manusia, maka ia menjatuhkan dirinya di atas makam itu sambil menangis dengan tangisan yang paling pedih.
وَخَنَقَتْ بَرَكَةُ عَبَرَاتِهَا فَانْتَحَبَتْ وَنَشَجَتْ ، وَمَلَأَتِ الرَّحْمَةُ قَلْبَ مُحَمَّدٍ فَبَكَى لِبُكَاءِ أُمِّهِ ، ثُمَّ هَرَعَ إِلَيْهَا وَارْتَمَى مَعَهَا عَلَى قَبْرِ أَبِيهِ يَذْرِفُ الدُّمُوعَ السَّخِينَةَ ، فَضَمَّتْهُ آمِنَةُ إِلَى صَدْرِهَا وَسَالَتْ عَبَرَاتُهَا وَعَبَرَاتُهَا لِتَرْوِيَ رَمْسَ الْفَتَى الْغَرِيبِ الْغَالِي الْمُتَعَطِّشِ لِلْحَنَانِ .
Barakah menahan air matanya, lalu ia merintih dan terisak. Rahmat memenuhi hati Muhammad, maka ia menangis karena tangisan ibunya, kemudian ia bergegas kepadanya dan menjatuhkan diri bersamanya di atas makam ayahnya sambil meneteskan air mata yang panas. Aminah memeluknya ke dadanya dan air mata serta isakannya mengalir untuk membasahi makam sang pemuda asing yang mulia, yang haus akan kasih sayang.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi