BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Al-Yatim - Episode 7

AL-YATIM
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Isyarat di Balik Pintu Ka'bah: Penantian Sang Kakek dan Cahaya di Pelupuk Mata

Saat Muhammad kecil menghilang, Abdul Muthalib mencurahkan munajat paling dalam di depan pintu Ka'bah. Inilah saat di mana keyakinan sang kakek akan kedudukan besar cucunya semakin menguat di tengah badai kehidupan.

انْتَقَلَ مُحَمَّدٌ وَجَارِيَتُهُ بَرَكَةُ الْحَبَشِيَّةُ مِنْ بَيْتِ أَبِيهِ عَبْدِ اللهِ بَعْدَ مَوْتِ أُمِّهِ آمِنَةَ إِلَى الْبَيْتِ الْكَبِيرِ، بَيْتِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَصَارَ يَمْضِي سَاعَاتِ نَهَارِهِ وَلَيْلِهِ مَعَ عَمِّهِ حَمْزَةَ، فَتَوَطَّدَتْ بَيْنَ الْغُلَامَيْنِ أَوَاصِرُ صَدَاقَةٍ وَمَحَبَّةٍ. وَكَانَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَقْرَبَ صَبِيَّانِ بَنِي هَاشِمٍ إِلَى قَلْبِهِمَا، فَقَدْ كَانَ يَقْضِي أَغْلَبَ وَقْتِهِ مَعَهُمَا وَكَثِيرًا مَا كَانَ يَدُورُ مَعَهُمَا عَلَى دُورِ إِخْوَةِ أَبْنَاءِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَبَنَاتِهِ، أَوْ يَنْطَلِقُ مَعَهُمَا إِلَى الْحَرَمِ أَوِ السُّوقِ، فَلَمْ يَكُنْ فَارِقُ السِّنِّ بَيْنَهُمْ كَبِيرًا فَالْعَبَّاسُ أَسَنُّ مِنْهُمَا بِسَنَتَيْنِ.
Muhammad dan budak perempuannya, Barakah al-Habsyiyah, pindah dari rumah ayahnya Abdullah setelah wafatnya ibunya, Aminah, ke rumah besar, rumah kakeknya Abdul Muthalib. Ia menghabiskan jam-jam siang dan malamnya bersama pamannya Hamzah, sehingga terjalinlah ikatan persahabatan dan kasih sayang di antara kedua anak laki-laki itu. Al-Abbas bin Abdul Muthalib adalah anak laki-laki Bani Hasyim yang paling dekat dengan hati mereka, karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama mereka dan seringkali berkeliling bersama mereka ke rumah-rumah saudara laki-laki dan perempuan anak-anak Abdul Muthalib, atau pergi bersama mereka ke al-Haram atau pasar, karena perbedaan usia di antara mereka tidak jauh, al-Abbas lebih tua dua tahun dari mereka.
وَكَانَتْ هَالَةُ بِنْتُ وُهَيْبٍ أُمُّ حَمْزَةَ وَابْنَةُ عَمِّ آمِنَةَ تُحِبُّ الْفَتَى الْيَتِيمَ مِنْ كُلِّ فُؤَادِهَا، فَكَانَتْ تَسْبُغُ عَلَيْهِ أَلْوَانًا مِنَ الْعَطْفِ لِتُعَوِّضَهُ حَنَانَ آمِنَةَ الَّتِي لَحِقَتْ بِزَوْجِهَا وَلَمَّا تَتَجَاوَزْ مِنَ الْعُمْرِ عِشْرِينَ سَنَةً. وَكَانَ مُحَمَّدٌ يَحِسُّ رَاحَةً فِي كَنَفِهَا إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يَسْتَشْعِرُ أَمْنًا وَسَلَامًا كُلَّمَا مَسَحَ جَدُّهُ بِيَدِهِ عَلَى ظَهْرِهِ أَوْ أَجْلَسَهُ عَلَى سَاقِهِ أَوْ ضَمَّهُ إِلَى صَدْرِهِ، فَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ كَانَ رَقِيقًا رَحِيمًا حَتَّى أَنَّ يَتِيمَ قُرَيْشٍ وَجَدَ فِي كَفَالَتِهِ عَزَاءً عَنْ أُمِّهِ الْحَبِيبَةِ الَّتِي ذَهَبَتْ وَتَرَكَتْهُ وَحِيدًا فِي مَهَبِّ عَوَاصِفِ الْحَيَاةِ قَبْلَ أَنْ يَشْتَدَّ عُودُهُ.
Halah binti Wuhaib, ibu Hamzah dan sepupu Aminah, mencintai anak yatim itu dengan segenap hatinya. Ia mencurahkan berbagai bentuk kasih sayang kepadanya untuk menggantikan kehangatan Aminah, yang telah menyusul suaminya sementara usianya belum melewati dua puluh tahun. Muhammad merasakan kenyamanan dalam perlindungannya, namun ia lebih merasakan rasa aman dan damai setiap kali kakeknya mengusapkan tangannya ke punggungnya, atau mendudukkannya di atas pangkuannya, atau mendekapnya ke dadanya. Abdul Muthalib sangat lembut dan penuh kasih sayang, sehingga anak yatim Quraisy itu menemukan penghiburan dalam asuhannya atas ibu tercinta yang telah pergi dan meninggalkannya sendirian di tengah badai kehidupan sebelum ia tumbuh dewasa.
وَكَانَ مُحَمَّدٌ يَلْقَى مِنَ التَّكْرِيمِ فِي دُورِ أَعْمَامِهِ وَعَمَّاتِهِ مَا أَفْعَمَ قَلْبَهُ بِالرِّضَا، فَعَمُّهُ الزُّبَيْرُ يَغْمُرُهُ الْحَنَانَ، وَعَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ وَزَوْجَتُهُ فَاطِمَةُ وَأَبْنَاءُ عَمِّهِ يَتَهَلَّلُونَ بِالْفَرَحِ كُلَّمَا جَاءَ لِزِيَارَتِهِمْ وَمَا كَانَ يَمُرُّ يَوْمٌ دُونَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى دَارِ أَبِي طَالِبٍ، وَكَانَتْ عَمَّتُهُ أُمُّ حَكِيمٍ الْبَيْضَاءُ تَوْأَمُ أَبِيهِ عَبْدِ اللهِ تَضُمُّهُ فِي حَنَانٍ دَافِقٍ وَتُمْطِرُهُ بِقُبُلَاتِهَا، وَكَانَ يَلْمَحُ الدُّمُوعَ الْمُتَرَقْرِقَةَ فِي مَآقِيهَا فَتَتَحَرَّكُ مَشَاعِرُهُ وَتَزْدَادُ كُنُوزُ فُؤَادِهِ رِقَّةً وَحَنَانًا.
Muhammad mendapatkan penghormatan di rumah paman dan bibinya yang membuat hatinya penuh dengan keridhaan. Pamannya, az-Zubair, mencurahkan kasih sayang kepadanya, dan pamannya Abu Thalib beserta istrinya Fatimah dan putra-putranya berseri-seri kegirangan setiap kali ia datang berkunjung. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa ia pergi ke rumah Abu Thalib. Bibinya, Ummu Hakim al-Baidha', saudara kembar ayahnya Abdullah, memeluknya dengan penuh kehangatan dan menghujaninya dengan ciuman. Ia melihat air mata berkaca-kaca di pelupuk matanya, sehingga perasaannya tergugah dan kekayaan hatinya bertambah lembut dan penuh kasih sayang.
وَكَانَ عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ يَشُبُّ لَهُ فِي حُبٍّ كُلَّمَا رَآهُ فَأَبُوهُ عَبْدُ اللهِ كَانَ حَبِيبًا إِلَيْهِ، وَقَدْ سَمِعَ مُحَمَّدٌ أَنَّ عَمَّهُ وَهَبَ جَارِيَتَهُ ثُوَيْبَةَ حُرِّيَّتَهَا لَمَّا بَشَّرَتْهُ بِمَوْلِدِهِ، فَكَانَ يُحِبُّ أَبَا لَهَبٍ وَامْرَأَتَهُ أُمَّ جَمِيلٍ وَكَانَ يَمْضِي وَقْتًا سَعِيدًا فِي دَارِهِمْ.
Pamannya, Abu Lahab, selalu menunjukkan kasih sayang kepadanya setiap kali melihatnya karena ayahnya, Abdullah, adalah orang yang dicintainya. Muhammad pernah mendengar bahwa pamannya telah memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, ketika ia memberikan kabar gembira atas kelahirannya. Maka ia menyukai Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, dan sering menghabiskan waktu dengan bahagia di rumah mereka.
وَكَانَ يَمُرُّ عَلَى دَارِ عَمَّتِهِ صَفِيَّةَ زَوْجَةِ الْعَوَّامِ وَكَانَ يَصْغَى إِلَى الْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُورُ بَيْنَ أَعْمَامِهِ وَعَمَّاتِهِ، وَكَانَتْ تِلْكَ الْأَحَادِيثُ تَنُمُّ عَنِ الصِّلَاتِ الْإِنْسَانِيَّةِ الَّتِي تَرْبُطُ أَفْرَادَ أُسْرَةِ شَيْخِ قُرَيْشٍ، كَانَتْ صَفِيَّةُ مُعْجَبَةً بِأَخِيهَا الزُّبَيْرِ وَكَثِيرًا مَا كَانَتْ تُصَرِّحُ أَنَّهَا نَذَرَتْ إِنْ مُنَّ الْإِلَهُ عَلَيْهَا بِوَلَدٍ أَنْ تُسَمِّيَهُ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ. وَكَانَ يَبْدُو فِي تِلْكَ الِاجْتِمَاعَاتِ حُبُّ الزُّبَيْرِ لِأَخِيهِ أَبِي طَالِبٍ وَحُبُّهُمَا لِمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَلَا غَرْوَ فَقَدْ كَانَ الزُّبَيْرُ وَأَبُو طَالِبٍ وَعَبْدُ اللهِ أَشِقَّاءَ حَمَلَهُمْ بَطْنٌ وَاحِدٌ.
Ia juga sering mampir ke rumah bibinya, Shafiyyah istri al-Awwam, dan ia mendengarkan percakapan yang terjadi di antara paman dan bibinya. Percakapan itu mencerminkan hubungan kemanusiaan yang mengikat anggota keluarga syekh Quraisy. Shafiyyah sangat mengagumi saudaranya, az-Zubair, dan sering kali menyatakan bahwa ia bernazar jika Tuhan menganugerahinya seorang anak laki-laki, ia akan menamainya az-Zubair bin al-Awwam. Dalam pertemuan-pertemuan itu, tampak jelas kasih sayang az-Zubair kepada saudaranya, Abu Thalib, dan kasih sayang keduanya kepada Muhammad bin Abdullah. Tidak mengherankan, karena az-Zubair, Abu Thalib, dan Abdullah adalah saudara kandung dari rahim yang satu.
كَانَ مُحَمَّدٌ يَجِدُ قُلُوبًا مُحِبَّةً رَحِيمَةً فِي كُلِّ دُورِ أَعْمَامِهِ وَعَمَّاتِهِ وَأَخْوَالِهِ وَخَالَاتِهِ، بَلْ فِي كُلِّ دُورِ بَنِي هَاشِمٍ، إِلَّا أَنَّ حُبَّهُ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يَفُوقُ كُلَّ حُبٍّ، وَكَانَ يَرَى مِنْ حَدَبِ فَاطِمَةَ امْرَأَةِ عَمِّهِ عَلَيْهِ مَا شَرَحَ صَدْرَهُ، فَكَانَتْ دَارُ أَبِي طَالِبٍ أَقْرَبَ الدُّورِ إِلَى قَلْبِهِ بَعْدَ دَارِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.
Muhammad menemukan hati yang penuh kasih dan sayang di setiap rumah paman, bibi, dan keluarga dari pihak ibunya, bahkan di setiap rumah Bani Hasyim. Namun, kasih sayangnya kepada pamannya Abu Thalib melebihi kasih sayang lainnya. Ia melihat dari perhatian Fatimah, istri pamannya, kepadanya sesuatu yang menyejukkan hatinya. Maka, rumah Abu Thalib adalah rumah yang paling dekat dengan hatinya setelah rumah kakeknya, Abdul Muthalib.
وَكَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَجْلِسُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ عَلَى فِرَاشِهِ قَدْ ذَهَبَ بَصَرُهُ وَشَابَ شَعْرُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ وَأَجْفَانُ عَيْنَيْهِ، إِنَّهُ يَسْمَعُ ابْتِهَالَاتِ الطَّائِفِينَ بِالْبَيْتِ وَخَفَقَاتِ أَجْنِحَةِ حَمَامِ الْحَرَمِ وَخَرِيرَ مَاءِ زَمْزَمَ الَّذِي يَصُبُّ فِي الْأَحْوَاضِ وَالْأَوَانِي، وَيَرَى بِعَيْنِ خَيَالِهِ الْحَرَمَ وَالْحَطِيمَ وَالْمُلْتَزَمَ وَبَابَ الْكَعْبَةِ وَقَدْ حُلِّيَ بِغَزَالَيْنِ مِنَ الذَّهَبِ.
Abdul Muthalib duduk di bawah naungan Ka'bah di atas tempat tidurnya. Penglihatannya telah hilang, rambut kepala, janggut, dan kelopak matanya telah memutih. Ia mendengar doa-doa orang yang bertawaf mengelilingi Ka'bah, kepakan sayap merpati Haram, dan gemericik air Zamzam yang mengalir ke dalam bak dan bejana. Ia melihat dengan mata batinnya al-Haram, al-Hathim, al-Multazam, dan pintu Ka'bah yang dihiasi dengan dua gazelle (rusa) emas.
وَطَافَ مَعَ الطَّائِفِينَ أَبُو لَهَبٍ وَالْحَارِثُ بْنُ عَامِرِ بْنِ نَوْفَلٍ وَأَبُو إِهَابٍ ابْنُ عُزَيْرِ بْنِ قَيْسِ بْنِ سُوَيْدٍ التَّيْمِيُّ؛ 4 شَبَابِ قُرَيْشٍ الَّذِينَ سَرَقُوا غَزَالَةً مِنْ غَزَالَتَيِ الذَّهَبِ اللَّتَيْنِ كَانَتَا مُعَلَّقَتَيْنِ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ مَعَ قَرْنَيْ كَبْشٍ يُقَالُ إِنَّهُمَا قَرْنَا الذَّبِيحِ الْعَظِيمِ الَّذِي فَدَى اللهُ بِهِ إِسْمَاعِيلَ. إِنَّهُمْ سَرَقُوا الْغَزَالَةَ لِيَشْتَرُوا بِثَمَنِهَا خَمْرًا وَقَدْ وَضَعُوهَا عِنْدَ دُوَيْكٍ مَوْلَى بَنِي مَلِيحٍ، وَقَدْ قَطَعَتْ قُرَيْشٌ يَدَ دُوَيْكٍ، أَمَّا الْأَشْرَافُ فَقَدْ وَجَدُوا فِي أَهْلِهِمْ مَنْ يَحْمُونَهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ وَإِقَامَةِ الْحَدِّ عَلَيْهِمْ.
Abu Lahab dan al-Harits bin Amir bin Naufal dan Abu Ihab bin Uzair bin Qais bin Suwaid at-Taimi bertawaf bersama orang-orang yang bertawaf. Mereka adalah 4 pemuda Quraisy yang mencuri satu dari dua gazelle emas yang tergantung di dalam Ka'bah bersama dua tanduk domba yang dikatakan sebagai tanduk domba besar yang dijadikan tebusan oleh Allah untuk Ismail. Mereka mencuri gazelle tersebut untuk membeli khamar dengan harganya, dan mereka meletakkannya pada Duwaik, budak Bani Malih. Quraisy telah memotong tangan Duwaik, adapun para bangsawan, mereka menemukan orang di antara keluarga mereka yang melindungi mereka dari Quraisy dan dari penegakan hukuman atas mereka.
وَانْتَهَى أَبُو لَهَبٍ مِنَ الطَّوَافِ فَذَهَبَ إِلَى حَيْثُ كَانَ أَبُوهُ وَأَلْقَى عَلَيْهِ التَّحِيَّةَ، فَلَمَّا عَرَفَهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بَعَثَهُ مَعَ بَعْضِ إِخْوَتِهِ فِي طَلَبِ إِبِلٍ لَهُ ضَلَّتْ، ثُمَّ أَطْرَقَ الشَّيْخُ فَرَاحَتِ الذِّكْرَيَاتُ تَنْثَالُ عَلَى رَأْسِهِ، رَأَى ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي خَاصَمَ فِيهِ الثَّقَفِيِّينَ لِأَنَّهُمُ احْتَفَرُوا مَاءً لَهُ بِالطَّائِفِ يُقَالُ لَهُ « ذُو الْهَرَمِ » وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنْ يَنْطَلِقُوا إِلَى الْكَاهِنِ نُفَيْلٍ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ فِيمَا كَانُوا يَخْتَصِمُونَ.
Abu Lahab selesai bertawaf, lalu pergi ke tempat ayahnya dan memberi salam. Ketika Abdul Muthalib mengenalinya, ia mengutusnya bersama beberapa saudaranya untuk mencari untanya yang hilang. Kemudian syekh itu menundukkan kepala, kenangan pun tercurah di benaknya. Ia teringat hari di mana ia berselisih dengan orang-orang Tsaqif karena mereka menggali sumber air miliknya di Thaif yang disebut "Dzu al-Haram", dan mereka sepakat untuk pergi kepada dukun Nufail untuk menghakimi di antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan.
إِنَّهُ يَرَى نَفْسَهُ وَقَدْ خَرَجَ مَعَ ابْنِهِ الْحَارِثِ وَلَيْسَ لَهُ يَوْمَئِذٍ غَيْرُهُ وَيَرَى الثَّقَفِيِّينَ وَقَدْ خَرَجُوا فِي جَمْعٍ كَبِيرٍ، وَيَرَى فِي وُضُوحٍ سَاعَةَ أَنْ نَفِدَ مَاؤُهُ فَطَلَبَ إِلَيْهِمْ أَنْ يَسْقُوهُ فَأَبَوْا؛ إِنَّهُ يَكَادُ يَحِسُّ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ قَسْوَةَ الْعَطَشِ الَّذِي أَحَسَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، لَقَدْ بَلَغَ الْعَطَشُ مِنْهُ وَمِنَ الْحَارِثِ كُلَّ مَبْلَغٍ حَتَّى أَشْرَفَا عَلَى الْهَلَاكِ، وَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يُثِيرُ بَعِيرَهُ لِيَرْكَبَ وَإِذَا بِعَيْنِ مَاءٍ تَتَفَجَّرُ مِنْ تَحْتِ رَقَبَتِهِ. إِنَّهُ شَرِبَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ حَتَّى ارْتَوَى بَعْدَ أَنْ شَرِبَ حَبِيبُهُ الْحَارِثُ وَتَزَوَّدَ مِنَ الْمَاءِ حَاجَتَهُ، وَنَفَدَ مَاءُ الثَّقَفِيِّينَ فَطَلَبُوا إِلَيْهِ أَنْ يَسْقِيَهُمْ فَأَنْعَمَ لَهُمْ، وَإِنَّ صَوْتَ ابْنِهِ الْحَارِثِ يَرِنُّ فِي أُذُنَيْهِ كَمَا رَنَّ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ يَقُولُ: لِأَنْتَحِيَنَّ عَلَى سَيْفِي حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ ظَهْرِي! وَرَفَتْ عَلَى شَفَتَيِ الشَّيْخِ بَسْمَةٌ هَادِئَةٌ لَمَّا سَمِعَ صَوْتَهُ يَأْتِي كَالْهَمْسِ مِنْ أَغْوَارِ الْمَاضِي يَقُولُ: لَأَسْقِيَنَّهُمْ فَلَا تَفْعَلْ ذَلِكَ بِنَفْسِكَ. إِنَّهُ سَقَاهُمْ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ أَنَّهُمْ أَبَوْا أَنْ يَسْقُوهُ، وَانْطَلَقُوا حَتَّى أَتَوُا الْكَاهِنَ وَقَدْ خَبَّأُوا لَهُ رَأْسَ جَرَادَةٍ فِي خَرْزَةِ مَزَادَةٍ وَجَعَلُوهُ فِي قِلَادَةِ كَلْبٍ لَهُمْ يُقَالُ لَهُ « سُوَّار »، وَرَاحَ الْحِوَارُ الَّذِي بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْكَاهِنِ يَنْبَعِثُ حَيًّا فِي نَفْسِهِ:
Ia melihat dirinya telah keluar bersama putranya al-Harits, dan saat itu tidak ada baginya selain dia. Ia melihat orang-orang Tsaqif telah keluar dalam kelompok besar. Ia melihat dengan jelas saat airnya habis, lalu ia meminta kepada mereka untuk memberinya minum, namun mereka menolak. Saat duduk di tempatnya, ia hampir merasakan kepedihan dahaga yang ia rasakan pada hari itu. Dahaga itu telah sampai ke puncak baginya dan al-Harits hingga mereka hampir binasa. Ia melihat dirinya sedang membangkitkan untanya untuk dinaiki, dan tiba-tiba sebuah mata air memancar dari bawah lehernya. Ia minum pada hari itu hingga puas setelah kekasihnya al-Harits minum dan mengambil bekal air sesuai kebutuhannya. Air orang-orang Tsaqif habis, maka mereka meminta kepadanya untuk memberi mereka minum, dan ia pun mengabulkan permintaan mereka. Suara putranya, al-Harits, terngiang di telinganya sebagaimana terdengar saat itu: "Aku akan menghunjamkan pedangku hingga keluar dari punggungku!" Senyum tenang terulas di bibir syekh itu ketika ia mendengar suaranya datang seperti bisikan dari kedalaman masa lalu berkata: "Aku akan memberi mereka minum, maka jangan lakukan itu pada dirimu sendiri." Ia memberi mereka minum meskipun mereka menolak untuk memberinya minum. Mereka pun pergi hingga mendatangi dukun, dan mereka telah menyembunyikan untuknya kepala belalang di dalam manik-manik tas kulit, dan mereka menjadikannya di kalung anjing mereka yang disebut "Suwar". Dialog yang terjadi di antara mereka dan dukun itu muncul hidup kembali di dalam jiwanya:
— مَا حَاجَتُكُمْ ؟
— Apa kebutuhan kalian?
— قَدْ خَبَّأْنَا لَكَ خَبِيئًا فَأَنْبِئْنَا عَنْهُ، ثُمَّ نُخْبِرُكَ بِحَاجَتِنَا .
— Kami telah menyembunyikan sesuatu untukmu, maka beritahulah kami tentang hal itu, kemudian kami akan memberi tahumu kebutuhan kami.
— خَبَّأْتُمْ لِي شَيْئًا طَارَ فَسَطَعَ، فَتَصُوبُ فَوَقَعَ، فِي الْأَرْضِ مِنْهُ بَقَعٌ .
— Kalian menyembunyikan sesuatu untukku yang terbang lalu naik, kemudian turun dan jatuh, di tanah terdapat bekas darinya.
— لَادِهِ ( أَي بِينَه ) .
— Jelaskanlah (maksudnya perjelaslah).
— هُوَ شَيْءٌ طَارَ فَاسْتَطَارَ، ذُو ذَنَبٍ جَرَّارٍ، وَسَاقٌ كَالْمِنْشَارِ، وَرَأْسٌ كَالْمِسْمَارِ .
— Ia adalah sesuatu yang terbang lalu melayang, memiliki ekor yang menjuntai, kaki seperti gergaji, dan kepala seperti paku.
— لَادِه .
— Jelaskanlah.
— إِنْ لَادَه فَلَادَه ( إِلَّا هَذِهِ فَلَا هَذِهِ )، هُوَ رَأْسُ جَرَادَةٍ، فِي خَرْزِ مَزَادَةٍ، فِي عُنُقِ ﴿ سُوَّار ﴾ ذِي الْقِلَادَةِ .
— Jika ingin penjelasan, maka inilah penjelasannya (kecuali ini bukan ini), ia adalah kepala belalang, di dalam manik-manik tas kulit, di leher "Suwar" pemilik kalung.
— صَدَقْتَ، فَأَخْبِرْنَا فِيمَا اخْتَصَمْنَا إِلَيْهِ .
— Kamu benar, maka beritahulah kami mengenai apa yang kami perselisihkan kepadanya.
وَانْفَرَجَتِ ابْتِسَامَةُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، إِنَّهُ لَيَذْكُرُ أَنَّ الْكَاهِنَ قَدْ أَخْبَرَهُمْ فِيمَا اخْتَصَمُوا إِلَيْهِ، وَقَضَى لَهُ بِمَاءِ الْهَرَمِ وَخَذَلَ بَنِي ثَقِيفٍ.
Senyum mengembang di wajah Abdul Muthalib. Ia teringat bahwa dukun itu telah memberi tahu mereka tentang apa yang mereka perselisihkan kepadanya, dan ia memutuskan untuknya mengenai air al-Haram dan mengecewakan Bani Tsaqif.
وَجَاءَ عَبْدُ اللهِ بْنُ جُدْعَانَ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ، وَلَمْ يَأْتِ أُمَيَّةُ بْنُ حَرْبٍ فَقَدْ وَقَعَ الْجَفَاءُ بَيْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَنَدِيمِهِ أُمَيَّةَ حَتَّى تَنَافَرَا إِلَى عُزَّى سَلَمَةَ الْكَاهِنِ، وَقَدْ قَضَى عُزَّى لِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى أُمَيَّةَ بْنِ حَرْبٍ كَمَا قَضَى الْحَكَمُ مِنْ قَبْلُ لِهَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ عَلَى أُمَيَّةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، وَوَقَعَتِ الْبَغْضَاءُ بَيْنَ هَاشِمٍ وَبَنِي أُمَيَّةَ.
Abdullah bin Jud'an datang, memberi salam, lalu duduk. Umayyah bin Harb tidak datang karena telah terjadi kerenggangan antara Abdul Muthalib dan teman duduknya, Umayyah, hingga mereka saling berselisih kepada Uzza bin Salamah sang dukun. Uzza telah memutuskan kemenangan untuk Abdul Muthalib atas Umayyah bin Harb, sebagaimana al-Hakam sebelumnya memutuskan kemenangan untuk Hasyim bin Abdi Manaf atas Umayyah bin Abdi Syams, dan kebencian pun terjadi antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah.
وَجَاءَ سَادَاتُ قُرَيْشٍ وَجَلَسُوا بَعِيدًا عَنْ فِرَاشِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ احْتِرَامًا لَهُ وَإِجْلَالًا لِقَدْرِهِ، وَأَرْهَفَ الشَّيْخُ سَمْعَهُ فَأَبْنَاؤُهُ قَدْ ذَهَبُوا فِي طَلَبِ إِبِلٍ لَهُ ضَلَّتْ وَلَمْ يَعُودُوا، وَمَسَّ أُذُنَيْهِ وَقْعُ أَقْدَامٍ تَمْشِي هَوْنًا، وَمَلَأَتْ خَيَاشِيمَهُ رَائِحَةٌ ذَكِيَّةٌ، إِنَّهَا رَائِحَةُ حَفِيدِهِ، وَجَاءَ مُحَمَّدٌ وَجَلَسَ بِجَنْبِ جَدِّهِ لَا يَمْنَعُهُ أَحَدٌ، وَمَدَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَدَهُ وَرَاحَ يَتَحَسَّسُهُ ثُمَّ لَفَّ ذِرَاعَهُ حَوْلَهُ وَضَمَّهُ إِلَيْهِ فِي حَنَانٍ دَافِقٍ ثُمَّ قَالَ:
Para pemuka Quraisy datang dan duduk jauh dari tempat tidur Abdul Muthalib sebagai penghormatan dan pengagungan atas kedudukannya. Syekh itu menajamkan pendengarannya, karena putra-putranya telah pergi mencari untanya yang hilang dan belum kembali. Telinganya mendengar derap langkah yang berjalan perlahan, dan hidungnya dipenuhi aroma wangi, itu adalah aroma cucunya. Muhammad datang dan duduk di samping kakeknya, tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Abdul Muthalib mengulurkan tangannya dan mulai merabanya, lalu melingkarkan lengannya di sekelilingnya dan mendekapnya dengan penuh kehangatan, kemudian berkata:
— سَيَكُونُ لِابْنِي هَذَا شَأْنٌ .
— Anakku ini akan memiliki kedudukan besar.
وَعَادَ بَنُو عَبْدِ الْمُطَّلِبِ دُونَ أَنْ يَعْثُرُوا عَلَى الْإِبِلِ الضَّالَّةِ، فَقَالَ الشَّيْخُ لِحَفِيدِهِ:
Bani Abdul Muthalib kembali tanpa menemukan unta yang hilang. Maka syekh itu berkata kepada cucunya:
— اذْهَبْ أَنْتَ .
— Pergilah engkau.
فَنَهَضَ مُحَمَّدٌ لِيُنَقِّبَ عَنِ الْإِبِلِ الضَّالَّةِ وَبَقِيَ سَيِّدُ بَنِي هَاشِمٍ فِي مَجْلِسِهِ، وَمَرَّ الْوَقْتُ وَغَابَ مُحَمَّدٌ وَبَدَأَ الْقَلَقُ يَسَارُ جَدَّهُ ثُمَّ اسْتَوْلَى عَلَيْهِ وَاسْتَبَدَّ بِهِ، فَقَامَ يَتَحَسَّسُ طَرِيقَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ حَتَّى إِذَا وَقَفَ أَمَامَ بَابِهَا أَخَذَ بِحَلَقَتَيْهِ وَجَعَلَ يَضْرِبُ بِهِمَا الْبَابَ وَيَقُولُ: يَا رَبِّ رُدَّ رَاكِبِي مُحَمَّدًا، ارْدُدْهُ رَبِّ وَاصْطَنِعْ عِنْدِي يَدًا. كَانَ الْأَسَى يَلُوحُ فِي وَجْهِ الشَّيْخِ وَكَانَ الِابْتِهَالُ يَنْبَعِثُ مِنْ قَلْبٍ مُؤْمِنٍ بِرَبِّهِ؛ إِنَّهُ لَطَالَمَا ابْتَهَلَ إِلَى إِلَهِهِ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَحِسَّ أَنَّهُ يَذُوبُ فِي تَوَسُّلَاتِهِ إِلَّا مَرَّتَيْنِ، مَرَّةً يَوْمَ أَنْ جَاءَ أَبْرَهَةُ يَبْغِي هَدْمَ الْكَعْبَةِ فَوَقَفَ أَمَامَ بَابِهَا يَدْعُو إِلَهَهُ أَنْ يَحْمِيَ بَيْتَهُ، وَهَذِهِ الْمَرَّةَ الَّتِي غَابَ فِيهَا مُحَمَّدٌ الْحَبِيبُ وَدَثَّرَهُ خَوْفُهُ وَقَلَقُهُ وَاضْطِرَابُهُ.
Muhammad bangkit untuk mencari unta yang hilang, sementara pemimpin Bani Hasyim tetap di tempat duduknya. Waktu berlalu dan Muhammad tidak kembali. Kecemasan mulai menyelinap ke hati kakeknya, lalu menguasainya dan memenuhi pikirannya. Ia berdiri meraba jalan menuju Ka'bah hingga ketika berdiri di depan pintunya, ia memegang dua cincin pintunya dan mulai memukulkan keduanya ke pintu sambil berkata: "Wahai Tuhanku, kembalikanlah penunggangku Muhammad, kembalikanlah dia wahai Tuhanku, dan berikanlah pertolongan kepadaku." Kesedihan terpancar di wajah syekh itu, dan doa itu terpancar dari hati yang beriman kepada Tuhannya. Ia sudah sering berdoa kepada Tuhannya, tetapi ia tidak merasa larut dalam permohonannya kecuali dua kali; sekali saat Abrahah datang ingin menghancurkan Ka'bah, maka ia berdiri di depan pintunya berdoa kepada Tuhannya agar melindungi rumah-Nya, dan kali ini saat Muhammad yang tercinta menghilang dan ketakutan, kecemasan, serta kegelisahannya menyelimutinya.
وَمَرَّ رَجُلٌ غَرِيبٌ، وَرَأَى شَيْخًا طَوِيلًا عَظِيمًا أَبْيَضَ مَقْرُونَ الْحَاجِبَيْنِ طَوِيلَ شَعْرِ الْأَجْفَانِ رَقِيقَ الْأَنْفِ قَدِ ابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ، تَسِيلُ عَبَرَاتُهُ عَلَى خَدَّيْهِ وَهُوَ يَتَوَسَّلُ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ:
Seorang pria asing lewat dan melihat seorang syekh yang tinggi, besar, berkulit putih, alisnya menyambung, bulu mata panjang, hidung mancung, matanya telah memutih, air matanya mengalir di pipinya sementara ia memohon kepada Tuhannya, maka ia berkata:
— مَنْ هَذَا ؟
— Siapa ini?
هَذَا سَيِّدُ قُرَيْشٍ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ لَهُ إِبِلٌ كَثِيرَةٌ، فَإِذَا ضَلَّ مِنْهَا شَيْءٌ بَعَثَ فِيهِ بَنِيهِ يَطْلُبُونَهَا، فَإِذَا غَابُوا أَوْ خَابُوا بَعَثَ ابْنَهُ وَلَمْ يَبْعَثْهُ فِي حَاجَةٍ إِلَّا أَنْجَحَ فِيهَا، وَقَدْ بَعَثَهُ فِي حَاجَةٍ عَنْهَا بَنُوهُ وَقَدْ أَبْطَأَ عَلَيْهِ. وَمَا انْتَهَى الرَّجُلُ مِنْ كَلَامِهِ حَتَّى جَاءَ مُحَمَّدٌ بِالْإِبِلِ مَعَهُ فَقَالَ رِجَالٌ لِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ:
Ini adalah pemimpin Quraisy, Abdul Muthalib. Ia memiliki banyak unta. Jika ada sesuatu yang hilang darinya, ia mengutus putra-putranya untuk mencarinya. Jika mereka hilang atau gagal, ia mengutus putranya dan ia tidak pernah mengutusnya untuk suatu keperluan kecuali ia berhasil, dan ia telah mengutusnya untuk keperluan yang putra-putranya telah gagal, dan ia telah terlambat darinya. Pria itu belum selesai bicara hingga Muhammad datang membawa unta bersamanya, maka orang-orang berkata kepada Abdul Muthalib:
— جَاءَ مُحَمَّدٌ .
— Muhammad telah datang.
فَانْبَسَطَتْ أَسَارِيرُ الشَّيْخِ وَلَاحَتْ عَلَى وَجْهِهِ طُمَأْنِينَةُ نَفْسِهِ، وَذَهَبَ إِلَى حَيْثُ كَانَ حَفِيدُهُ الْغَالِي قَادِمًا كَأَنَّمَا كَانَ يَشُمُّ رِيحَهُ، ثُمَّ بَسَطَ لَهُ ذِرَاعَيْهِ وَضَمَّهُ إِلَيْهِ فِي لَهْفَةٍ وَوَجْدٍ وَهُوَ يَقُولُ فِي انْفِعَالٍ:
Wajah syekh itu berseri-seri dan ketenangan diri terpancar di wajahnya. Ia pergi ke tempat cucu tercintanya datang seolah-olah ia mencium aromanya, kemudian ia membentangkan lengannya untuknya dan mendekapnya dengan penuh kerinduan dan haru sambil berkata dengan penuh emosi:
— حَزِنْتُ عَلَيْكَ حُزْنًا لَا يُفَارِقُنِي بَعْدَهُ أَبَدًا .
— Aku bersedih atasmu dengan kesedihan yang tidak akan pernah meninggalkanku setelah ini selamanya.
وَقَفَلَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ عَائِدًا إِلَى الدَّارِ يَقُودُهُ حَفِيدُهُ وَقَدْ سَادَ الصَّمْتُ بَيْنَهُمَا، فَقَدْ كَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يُفَكِّرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي غَفَلَتْ فِيهِ بَرَكَةٌ عَنْ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ذَهَبَ بَعِيدًا عَنِ الدَّارِ، وَتَذَكَّرَ الْحِوَارَ الَّذِي دَارَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ حَاضِنَتِهِ:
Abdul Muthalib kembali pulang ke rumah, dituntun oleh cucunya, dan keheningan menyelimuti di antara mereka. Abdul Muthalib memikirkan hari di mana Barakah lalai terhadap Muhammad hingga ia mendapatinya telah pergi jauh dari rumah, dan ia teringat dialog yang terjadi antara dirinya dan pengasuhnya:
— يَا بَرَكَةُ .
— Wahai Barakah.
— لَبَّيْكِ .
— Ya (siap melayani).
— أَتَدْرِينَ أَيْنَ وَجَدْتُ ابْنِي ؟
— Apakah kamu tahu di mana aku menemukan anakku?
— لَا أَدْرِي .
— Aku tidak tahu.
— وَجَدْتُهُ مَعَ غِلْمَانٍ قَرِيبًا مِنَ السِّدْرَةِ. لَا تَغْفُلِي عَنْ ابْنِي فَإِنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ يَزْعُمُونَ أَنَّهُ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَأَنَا لَا آمَنُ عَلَيْهِ مِنْهُمْ.
— Aku menemukannya bersama anak-anak laki-laki dekat pohon Sidrah. Jangan lalai terhadap anakku, karena Ahli Kitab mengklaim bahwa ia adalah nabi umat ini dan aku tidak merasa aman terhadapnya dari mereka.
وَتَذَكَّرَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ ذَلِكَ الْحَدِيثَ الَّذِي دَارَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَسْقُفِ نَجْرَانَ وَقَدْ جَاءَهُ عِنْدَمَا كَانَ فِي الْحِجْرِ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قَالَ الْأَسْقُفُ: إِنَّا نَجِدُ صِفَةَ نَبِيٍّ بَقِيَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَهَذَا الْبَلَدُ مَوْلِدُهُ. وَنَظَرَ الْأَسْقُفُ طَوِيلًا إِلَى مُحَمَّدٍ وَإِلَى عَيْنَيْهِ وَإِلَى ظَهْرِهِ وَإِلَى قَدَمَيْهِ وَقَالَ:
Abdul Muthalib teringat pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan uskup Najran yang datang kepadanya ketika ia berada di Hijr di bawah naungan Ka'bah. Uskup berkata: Kami menemukan sifat nabi yang tersisa dari keturunan Ismail dan negeri ini adalah tempat kelahirannya. Uskup itu memandang lama ke arah Muhammad, matanya, punggungnya, dan kakinya, lalu berkata:
— مَا هَذَا مِنْكَ ؟
— Apa hubungan anak ini denganmu?
— هَذَا ابْنِي .
— Ini anakku.
— مَا نَجِدُ أَبَاهُ حَيًّا .
— Kami tidak menemukan ayahnya masih hidup.
— هُوَ ابْنِي وَقَدْ مَاتَ أَبُوهُ وَأُمُّهُ حُبْلَى بِهِ .
— Dia anakku dan ayahnya meninggal saat ibunya sedang mengandungnya.
— صَدَقْتَ .
— Kamu benar.
وَأَحَسَّ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ نُورًا يَنِيرُ بَصِيرَتَهُ وَإِنْ ذَهَبَ بَصَرُهُ، فَضَمَّ حَفِيدَهُ إِلَى جَنْبِهِ فَاسْتَشْعَرَ كَأَنَّ كُلَّ جَوَارِحِهِ تَلْثُمُهُ فِي حَنَانٍ وَحُبٍّ وَحُبٍّ مَا بَعْدَهُ حُبٌّ.
Abdul Muthalib merasakan cahaya yang menerangi mata batinnya meskipun penglihatannya telah hilang. Maka ia mendekap cucunya ke sampingnya, dan ia merasakan seolah-olah seluruh anggota tubuhnya menciuminya dengan kelembutan, kasih sayang, dan cinta yang tiada tandingannya.
وَبَلَغَا الدَّارَ فَهَرَعَتْ هَالَةُ لِاسْتِقْبَالِهِمَا وَقَادَتْ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ إِلَى حُجْرَتِهِ، وَذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى مَكَانِهِ مِنَ الْبَيْتِ الْكَبِيرِ، وَوَضَعَ الطَّعَامَ وَقَادَتْ هَالَةُ زَوْجَهَا الشَّيْخَ إِلَى حَيْثُ مُدَّ السِّمَاطُ، وَمَا كَادَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَسْتَقِرُّ حَتَّى قَالَ:
Keduanya sampai di rumah, lalu Halah bergegas menyambut mereka dan menuntun Abdul Muthalib ke kamarnya. Muhammad pergi ke tempatnya di rumah besar itu. Makanan diletakkan, dan Halah menuntun suaminya sang syekh ke tempat hidangan dibentangkan. Abdul Muthalib baru saja duduk, lalu berkata:
— عَلَيَّ بِابْنِي .
— Panggillah anakku ke sini.
فَأَحْضَرُوا مُحَمَّدًا وَأَجْلَسُوهُ إِلَى جَنْبِهِ، وَقَدْ كَانَ يُقْعِدُهُ عَلَى فَخْذِهِ أَيَّامَ أَنْ كَانَ صَغِيرًا. وَكَانَ يَجْلِسُ مَعَهُمَا حَمْزَةُ وَالْعَبَّاسُ وَإِخْوَتُهُمَا وَلَكِنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ كَانَ يُؤْثِرُ مُحَمَّدًا بِأَطْيَبِ طَعَامِهِ.
Mereka membawa Muhammad dan mendudukkannya di sampingnya. Ia biasa mendudukkannya di atas pangkuannya saat ia masih kecil. Hamzah, al-Abbas, dan saudara-saudara mereka duduk bersama mereka, namun Abdul Muthalib selalu mengutamakan Muhammad dengan makanan terbaiknya.
*** وَتَتَابَعَتْ عَلَى بِلَادِ قَيْسٍ وَمُضَرَ أَيَّامُ شِدَّةٍ وَجَدْبٍ ذَهَبَتْ بِالْأَمْوَالِ وَأَشْرَفَتِ الْأَنْفُسُ عَلَى الْهَلَاكِ، فَاجْتَمَعَ عُظَمَاؤُهُمْ وَقَالُوا:
*** Hari-hari kesulitan dan paceklik terus berlanjut di negeri Qais dan Mudhar yang menghabiskan harta benda dan jiwa-jiwa hampir menemui kebinasaan. Maka para pembesar mereka berkumpul dan berkata:
— أَصْبَحْنَا فِي جَهْدٍ وَجَدْبٍ وَقَدْ سَقَى اللهُ النَّاسَ بِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَاقْصِدُوهُ لَعَلَّهُ يَسْأَلُ اللهَ فِيكُمْ .
— Kita berada dalam kesukaran dan paceklik, sementara Allah telah memberi minum orang-orang melalui perantara Abdul Muthalib. Maka pergilah kepadanya, semoga ia memohon kepada Allah untuk kalian.
فَقَدِمُوا مَكَّةَ وَدَخَلُوا عَلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَحَيَّوْهُ بِالسَّلَامِ، فَقَالَ لَهُمْ:
Mereka tiba di Mekah dan masuk menemui Abdul Muthalib lalu menyapanya dengan salam, maka ia berkata kepada mereka:
— أَفْلَحَتِ الْوُجُوهُ .
— Wajah-wajah yang bahagia (sapaan selamat datang).
وَقَامَ خَطِيبُهُمْ فَقَالَ:
Juru bicara mereka berdiri lalu berkata:
— قَدْ أَصَابَتْنَا سُنُونٌ مُجْدِبَاتٌ وَقَدْ بَانَ لَنَا أَثَرُكَ وَصَحَّ عِنْدَنَا خَبَرُكَ، فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ شَفِعِكَ وَأَجْرَى الْغَمَامَ لَكَ .
— Kami telah ditimpa tahun-tahun paceklik, telah nyata bagi kami jejakmu dan benar kabar mengenai dirimu, maka berilah kami syafaat di sisi pemberi syafaatmu agar menurunkan awan untukmu.
فَقَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فِي تَوَاضُعٍ:
Maka Abdul Muthalib berkata dengan rendah hati:
— سَمْعًا وَطَاعَةً، مَوْعِدُكُمُ غَدًا عَرَفَاتٌ .
— Kami dengar dan kami patuhi, janji kalian besok di Arafat.
وَبَاتَتْ مَكَّةُ تُرَدِّدُ قَوْلَ رَقِيقَةَ بِنْتِ صَيْفِيَّ بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ زَوْجَةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فِي سُقْيَا النَّاسِ بِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ، يَوْمَ كَادَ أَهْلُ الْبَطْحَاءِ يَهْلِكُونَ مِنْ قِلَّةِ الْمَاءِ: بِشَيْبَةَ الْحَمْدِ أَسْقَى اللهُ بَلْدَتَنَا وَقَدْ عَدِمْنَا الْحَيَا وَاجْلَوَّذَ الْمَطَرُ
Mekah malam itu mengulangi perkataan Ruqaiqah binti Shaifi bin Hasyim bin Abdi Manaf, istri Abdul Muthalib, mengenai pemberian minum orang-orang melalui Abdul Muthalib, di hari saat penduduk al-Batha hampir binasa karena kekurangan air: Dengan Syaibah al-Hamd, Allah memberi minum negeri kami, sementara kami kehilangan kehidupan dan hujan telah menjauh.

Catatan Kaki:

(1) امْتَدَّ زَمَنُ تَأَخُّرِهِ
(1) Waktu keterlambatannya memanjang.

وَمَا أَشْرَقَتْ شَمْسُ الْيَوْمِ التَّالِي حَتَّى خَرَجَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَحَفِيدُهُ مُحَمَّدٌ مَعَهُ، يَقُودُهُ النَّاسُ وَوَلَدُهُ، وَكَانَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ يَسْتَشْعِرُ رَاحَةً وَاطْمِئْنَانًا كُلَّمَا تَحَسَّسَ رَأْسَ حَفِيدِهِ الَّذِي أَشْرَفَ عَلَى الثَّامِنَةِ مِنْ عُمْرِهِ، وَإِنْ كَانَ يَبْدُو فِي خَيَالِ جَدِّهِ رَجُلًا أَعْظَمَ مِنَ كُلِّ الرِّجَالِ. وَبَلَغُوا عَرَفَاتٍ فَنَصَبَ لِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ كُرْسِيًّا فَجَلَسَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ مُحَمَّدًا فَوَضَعَهُ فِي حِجْرِهِ، ثُمَّ قَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ:
Matahari keesokan harinya belum terbit hingga Abdul Muthalib keluar bersama cucunya, Muhammad, bersamanya. Orang-orang dan putra-putranya menuntunnya. Abdul Muthalib merasakan kenyamanan dan ketenangan setiap kali ia meraba kepala cucunya yang hampir menginjak usia delapan tahun, meskipun dalam imajinasi kakeknya, ia tampak sebagai pria yang lebih agung daripada semua pria. Mereka sampai di Arafat, lalu sebuah kursi disiapkan untuk Abdul Muthalib, ia pun duduk di atasnya dan mengambil Muhammad lalu mendudukkannya di pangkuannya. Kemudian Abdul Muthalib berdiri dan mengangkat kedua tangannya lalu berkata:
— اللَّهُمَّ رَبَّ الْبَرِقِ الْخَاطِفِ، وَالرَّعْدِ الْقَاصِفِ، رَبَّ الْأَرْبَابِ، وَمَلِينَ الصِّعَابِ، هَذِهِ قَيْسٌ وَمُضَرُ، مِن خَيْرِ الشَّرِ، قَدْ شَعِثَتْ رُءُوسُهَا، وَحَدَبَتْ ظُهُورُهَا، تَشْكُو إِلَيْكَ شِدَّةَ الْهَزَالِ، وَذَهَابَ النُّفُوسِ وَالْأَمْوَالِ. اللَّهُمَّ فَأَتِحْ لَهُمْ سَحَابًا خَوَّارًا، وَسَمَاءً خَرَارًا، لِتَضْحَكَ أَرْضُهُمْ، وَيَزُولَ ضُرُّهُمْ .
— Ya Allah, Tuhan kilat yang menyambar, guntur yang menggelegar, Tuhan segala tuhan, yang melunakkan segala kesulitan. Ini adalah Qais dan Mudhar, dari sebaik-baik keburukan, rambut mereka menjadi kusut, punggung mereka menjadi bungkuk, mereka mengadu kepada-Mu atas beratnya kekurusan, dan hilangnya jiwa serta harta benda. Ya Allah, datangkanlah untuk mereka awan yang banyak menurunkan hujan, langit yang mencurahkan air, agar tanah mereka kembali tertawa (subur), dan kesengsaraan mereka hilang.
فَمَا اسْتَتَمَّ كَلَامَهُ حَتَّى نَشَأَتْ سَحَابَةٌ دَكْنَاءُ لَهَا دَوِيٌّ، وَقَصَدَتْ نَحْوَ قَيْسٍ وَمُضَرَ، فَقَالَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ لَمَّا سَمِعَ دَوِيَّ السَّحَابِ:
Ia belum menyelesaikan kata-katanya hingga muncul awan hitam pekat yang menderu, dan menuju ke arah Qais dan Mudhar. Maka Abdul Muthalib berkata ketika mendengar deru awan itu:
— يَا مَعَاشِرَ قَيْسٍ وَمُضَرَ انْصَرِفُوا فَقَدْ سُقِيتُمْ .
— Wahai kaum Qais dan Mudhar, kembalilah karena kalian telah diberi minum (hujan).
فَتَرَقْرَقَتِ الدُّمُوعُ فِي عُيُونِ الرِّجَالِ مِن شِدَّةِ الِانْفِعَالِ، وَارْتَفَعَتْ صَيْحَاتُ الْفَرَحِ وَخَفَّ النَّاسُ إِلَى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَقُولُونَ:
Air mata mengalir di mata para pria karena emosi yang meluap-luap, teriakan kegembiraan membumbung tinggi, dan orang-orang bergegas menuju Abdul Muthalib seraya berkata:
— هَنِيئًا لَكَ يَا أَبَا الْبَطْحَاءِ بِكَ عَاشَ أَهْلُ الْبَطْحَاءِ .
— Selamat untukmu wahai bapak penduduk al-Batha, berkat dirimu penduduk al-Batha hidup.
وَأَطْرَقَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَصَمَّ أُذُنَيْهِ عَنْ هَتَافَاتِ النَّاسِ، فَقَدْ كَانَ فِي قَرَارَةِ نَفْسِهِ عَلَى يَقِينٍ أَنَّ قَيْسًا وَمُضَرَ قَدْ أُمْطِرُوا بِبَرَكَةِ حَفِيدِهِ الْيَتِيمِ .
Abdul Muthalib menundukkan kepala dan menutup telinganya dari sorak-sorai orang-orang. Ia berada dalam keyakinan di lubuk hatinya bahwa Qais dan Mudhar telah diturunkan hujan berkat keberkahan cucunya yang yatim.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi