BANU ISMA'IL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Tongkat yang Terlepas dan Amanah yang Terukir: Detik-Detik Wafatnya Nabit
Saat pemimpin Baitullah itu menghembuskan napas terakhir, Qaidar merasakan kepedihan menjadi "yatim" di usia senja. Namun, di antara duka yang mendalam, sebuah cahaya ilham tentang pena dan aksara menjadi pilar bagi masa depan peradaban iman yang akan terus hidup melampaui usia manusia.
خَرَجَ الرُّعَاةُ فِي عَمَايَةِ الصُّبْحِ مِنْ دُورِ نَابِتٍ وَقَيْدَارَ وَإِذْبِيْلَ وَإِخْوَتِهِمْ أَبْنَاءِ إِسْمَاعِيْلَ ، تِلْكَ الدُّورِ الَّتِي بَدَأَتْ تَنْتَشِرُ عَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ الْمُحِيطَةِ بِالْحَرَمِ ، وَانْحَدَرُوا إِلَى الْوَادِي الْمُقَدَّسِ وَقَدِ امْتَلَأَتْ نُفُوسُهُمْ بِالضِّيَاءِ الْمُتَأَلِّقِ مِنْ وَرَاءِ الْأُفُقِ ، فَإِنَّ تَكُنْ شَمْسُ النَّهَارِ لَمْ تَسْطَعْ بَعْدُ فَقَدْ نَفَذَ شُعَاعُ اللَّهِ الْمُضِيءُ إِلَى نَفْسِ الْمُؤْمِنِينَ .
Para penggembala keluar di awal subuh dari rumah-rumah Nabit, Qaidar, Idzbil, dan saudara-saudara mereka putra Ismail, rumah-rumah yang mulai tersebar di lereng-lereng gunung yang mengelilingi tanah haram, dan mereka turun ke lembah suci sementara jiwa mereka dipenuhi cahaya yang berkilau dari balik cakrawala, jika matahari siang belum bersinar, maka cahaya Allah yang terang telah menembus ke dalam jiwa orang-orang mukmin.
انْحِدَارُ الرُّعَاةِ إِلَى بَطْنِ الْوَادِي الْمُقَدَّسِ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ، قَدِ امْتَلَأَتْ نُفُوسُهُمْ بِنَشْوَةِ الرُّوحِ وَرَأَتْ عُيُونُهُمْ فِي الْكَوْنِ جَمَالًا لَا يَحُسُّهُ إِلَّا مَنْ أَحَسُّوا بِخَفَقَاتِ رُوحِ الْوُجُودِ بَيْنَ جُنُوبِهِمْ ، فَقَالُوا بِأَفْئِدَتِهِمْ وَأَلْسِنَتِهِمْ :
Turunnya para penggembala ke dasar lembah suci dengan tanda-tanda di wajah mereka dari bekas sujud, jiwa mereka dipenuhi ekstasi ruhani dan mata mereka melihat keindahan di alam semesta yang tidak dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakan detak ruh eksistensi di dalam diri mereka, maka mereka berkata dengan hati dan lisan mereka:
— رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
— Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
وَرَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ، وَأَقْبَلَ مِنْ شَمَالِ مَكَّةَ أَهْلُ جُرْهُمٍ ، وَتَدَفَّقَ مِنْ جَنُوبِهَا أَهْلُ قَطُورَاءَ فَامْتَلَأَ الْحَرَمُ بِالطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ، وَأَقْبَلَتْ قَافِلَةٌ مِنَ الْيَمَنِ وَعَادَتْ قَافِلَةٌ مِنَ الشَّامِ فَحَفَّ الرِّجَالُ إِلَى الْكَعْبَةِ لِيَطُوفُوا بِهَا وَيُسَبِّحُوا لِرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . أَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ فَقَوِيَتِ الرَّوَابِطُ الِاجْتِمَاعِيَّةُ بَيْنَ مَنْ أَقَامُوا حَوْلَ الْبِئْرِ وَمَنْ جَاءُوا لِيَطُوفُوا بِالْحَرَمِ ، وَبَدَأَ مِيلَادُ حَضَارَةٍ بِالْوَادِي الْقَفْرِ الَّذِي أَسْكَنَ إِبْرَاهِيمُ بِهِ هَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ وَجُرْهُمٍ وَقَطُورَاءَ ، وَبَيْنَ رِجَالِ الْقَوَافِلِ الرَّائِحِينَ بَيْنَ الشَّمَالِ وَالْجَنُوبِ ، وَقَدِ اعْتَصَمُوا جَمِيعًا بِحَبْلِ اللَّهِ فَاتَّحَدُوا بَعْدَ أَنْ كَانُوا مُتَفَرِّقِينَ .
Mereka pun mulai thawaf di Baitullah tujuh kali. Datang dari arah utara Mekkah kaum Jurhum, dan mengalir dari arah selatannya kaum Qathura, maka penuhlah Tanah Haram oleh orang-orang yang thawaf, yang beri'tikaf, serta orang-orang yang ruku' dan sujud. Datanglah kafilah dari Yaman dan kembali kafilah dari Syam, maka para lelaki berduyun-duyun menuju Ka'bah untuk thawaf mengelilinginya dan bertasbih kepada Tuhan Arsy yang Agung. Allah menyatukan hati orang-orang beriman sehingga ikatan sosial pun menguat di antara mereka yang tinggal di sekitar sumur dan mereka yang datang untuk thawaf di Tanah Haram. Bermulalah kelahiran peradaban di lembah tandus tempat Ibrahim menempatkan Hajar, Ismail, Jurhum, dan Qathura, serta di antara orang-orang kafilah yang pergi-pulang antara utara dan selatan, mereka semua berpegang teguh pada tali Allah, maka mereka bersatu setelah sebelumnya terpecah belah.
وَأَقْبَلَ مِنَ الشَّمَالِ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو وَحَوْلَهُ شُيُوخُ جُرْهُمٍ وَشَبَابُهَا ، وَوَرَدَ مِنَ الْجَنُوبِ السَّمَيْدَعُ وَرِجَالُ قَطُورَاءَ ، وَالْتَقَى أَهْلُ جُرْهُمٍ وَأَهْلُ قَطُورَاءَ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَتَبَادَلُوا التَّحِيَّةَ ، ثُمَّ رَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ وَقَدِ اخْتَلَطَ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ ، وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ بِالِابْتِهَالَاتِ إِلَى اللَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ ، وَقَدْ نَامَتِ الْأَحْقَادُ وَاخْتَفَتِ الْبَغْضَاءُ وَعَمَرَتِ الْقُلُوبُ بِنُورِ الْإِيمَانِ .
Datanglah dari utara Mudhadh bin Amr dengan di sekelilingnya para sesepuh dan pemuda Jurhum, dan datang dari selatan as-Sumaida' bersama para lelaki Qathura. Bertemulah kaum Jurhum dan kaum Qathura di dekat Hajar Aswad, mereka saling bertukar sapa, kemudian mereka mulai thawaf mengelilingi Baitullah, mereka bercampur baur, suara-suara membubung dengan munajat kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Segala dendam tertidur, kebencian lenyap, dan hati-hati dipenuhi cahaya iman.
وَجَلَسَ الرِّجَالُ إِلَى الرِّجَالِ يَنْظُرُونَ فِي أَمْرِ دُنْيَاهُمْ بَعْدَ أَنْ غَسَلَتِ الصَّلَوَاتُ أَفْئِدَتَهُمْ مِنْ أَدْرَانِ الْغِشِّ وَالطَّمَعِ وَالنِّفَاقِ ، فَإِذَا بِالْغَايَاتِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ الطَّيِّبَةِ تَتَحَقَّقُ فِي سَمَاحَةٍ وَيُسْرٍ بَعْدَ أَنْ وَلَجُوا الْحَيَاةَ مِنْ أَطْيَبِ أَبْوَابِهَا .
Para lelaki duduk bersama para lelaki memikirkan urusan dunia mereka setelah shalat membasuh hati mereka dari kotoran tipu daya, keserakahan, dan kemunafikan, maka tujuan-tujuan sosial yang mulia terwujud dalam kelapangan dan kemudahan setelah mereka memasuki kehidupan dari pintu-pintunya yang paling baik.
وَخَرَجَتْ جَحَافِلُ الْغَنَمِ مِنْ دُورِ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَخِيَامِهِمْ فِي طَرِيقِهَا إِلَى شِعَابِ مَكَّةَ لِتَرْعَى وَفِي أَثَرِهَا الرُّعَاةُ وَالْعَبِيدُ وَصِبْيَانُ الْقَبَائِلِ ، فَبَدَا كَأَنَّ سُفُوحَ الْجِبَالِ قَدْ حُجِبَتْ بِصُوفٍ أَبْيَضَ وَأَحْمَرَ وَأَسْوَدَ ، وَثَارَ النَّقْعُ وَارْتَفَعَتْ سُحُبُ التُّرَابِ تُغَطِّي الْوَادِي كَأَنَّمَا أَلْقَى عَلَيْهِ وِشَاحَ مِنْ رَمَادٍ .
Gerombolan kambing keluar dari rumah-rumah dan kemah-kemah Bani Ismail dalam perjalanannya menuju celah-celah gunung Mekkah untuk menggembala, diikuti oleh para penggembala, budak, dan anak-anak suku, tampak seolah lereng-lereng gunung tertutup oleh bulu wol berwarna putih, merah, dan hitam. Debu beterbangan dan awan-awan tanah meninggi menutupi lembah, seolah-olah seseorang melemparkan selendang abu ke atasnya.
كَانَ الرُّعَاةُ بُسَطَاءَ حُفَاةَ الْأَقْدَامِ فُقَرَاءَ ، بَيْدَ أَنَّ الدِّينَ الَّذِي غَرَسَ فِي وِجْدَانِهِمْ بَدَّلَ طَرَائِقَ نَظَرِهِمْ إِلَى الْكَوْنِ وَالْحَيَاةِ ، أَمَدَّهُمْ بِعِلْمٍ جَعَلَهُمْ يَتَطَلَّعُونَ إِلَى أَنْ يَكُونُوا رُعَاةَ شُعُوبٍ لَا رُعَاةَ أَغْنَامٍ .
Para penggembala itu sederhana, bertelanjang kaki, dan miskin, namun agama yang tertanam dalam nurani mereka telah mengubah cara pandang mereka terhadap alam semesta dan kehidupan, ia membekali mereka dengan ilmu yang membuat mereka bercita-cita menjadi penggembala bangsa-bangsa, bukan sekadar penggembala kambing.
وَخَرَجَ قَيْدَارُ مِنْ دَارِهِ بَعْدَ أَنْ صَارَ شَيْخًا يَتَوَكَّأُ عَلَى ذِرَاعِ ابْنِهِ النَّبَتِ وَعَصَاهُ ، كَانَ يَسْتَشْعِرُ الْوَهَنَ يَسْرِي فِي أَعْضَائِهِ إِلَّا أَنَّ ذِهْنَهُ كَانَ نَشِيطًا مَشْغُولًا بِالْخَطِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي وَضَعَهُ أَبُوهُ إِسْمَاعِيلُ مَوْصُولًا ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَفْرِقَ بَيْنَهُ لِيُيَسِّرَهُ عَلَى الْكَنْعَانِيِّينَ وَغَيْرِهِمُ عَلَى السَّوَاءِ . كَانَ يَمْضِي الْهَزِيعَ الْأَوَّلَ مِنَ اللَّيْلِ فِي الصَّلَاةِ وَتِلَاوَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ ، وَكَانَ يَسْتَيْقِظُ قَبْلَ دُلُوكِ الشَّمْسِ يُسَبِّحُ اللَّهَ وَيَدْعُوهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ أَنْ يُلْحِقَهُ بِالصَّالِحِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ الْمُؤْمِنِينَ . إِنَّهُ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ شَيْخُوخَتِهِ لَمْ يَتَنَسَّكْ وَلَمْ يَعْتَزِلْ مُجْتَمَعَهُ وَلَمْ يُقَرِّرْ أَنْ يَمْضِيَ مَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِ فِي صَوْمَعَةٍ يَعْبُدُ رَبَّهُ ، فَقَدْ لَقَّنَ فِيمَا لَقَّنَ أَنَّ الْعَمَلَ عِبَادَةٌ ، وَأَنَّ أَسْمَى مَا يَرْتَقِي بِالرُّوحِ هُوَ مُكَابَدَةُ الْحَيَاةِ ، فَمَلَأَتْ فِكْرَةُ تَيْسِيرِ الْكِتَابَةِ الْعَرَبِيَّةِ كُلَّ جَوَانِحِهِ وَأَصْبَحَتْ شُغْلَهُ الشَّاغِلَ مَعَ عِبَادَةِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافِ النَّهَارِ ، فَقَدْ كَانَ حُبُّ اللَّهِ وَخَيْرُ مُجْتَمَعِهِ يَمْتَزِجَانِ فِي نَفْسِهِ امْتِزَاجًا يَخْدِمُ الْحَيَاةَ وَيَفْتَحُ أَبْوَابَ السَّعَادَةِ .
Qaidar keluar dari rumahnya setelah menjadi seorang tetua yang bersandar pada lengan putranya, an-Nabat, dan tongkatnya. Ia merasakan kelemahan menjalar di anggota tubuhnya, namun pikirannya tetap aktif, disibukkan oleh khat Arab yang diletakkan oleh ayahnya, Ismail, dalam bentuk bersambung, dan ia ingin memisah-misahkannya agar memudahkan orang-orang Kanaan dan lainnya untuk mempelajarinya. Ia menghabiskan sepertiga malam pertama dengan shalat dan membaca apa yang mudah dari lembaran-lembaran Ibrahim, dan ia terbangun sebelum tergelincir matahari untuk bertasbih kepada Allah dan memohon kepada-Nya dengan hati yang bersih agar Dia memasukkannya ke dalam golongan orang-orang saleh, sesungguhnya ia adalah hamba Allah yang beriman. Meskipun telah tua, ia tidak menjadi pertapa, tidak mengasingkan diri dari masyarakatnya, dan tidak memutuskan untuk menghabiskan sisa umurnya di dalam biara untuk beribadah kepada Tuhannya, karena ia telah diajarkan bahwa kerja adalah ibadah, dan bahwa hal tertinggi yang mengangkat derajat ruh adalah pergulatan dalam hidup. Ide untuk mempermudah penulisan Arab memenuhi seluruh relung jiwanya dan menjadi kesibukan utamanya di samping beribadah kepada Allah di saat malam dan tepi siang, kecintaan kepada Allah dan kebaikan masyarakatnya berpadu dalam jiwanya secara harmonis, melayani kehidupan dan membuka pintu-pintu kebahagiaan.
وَفِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحَظَاتِ إِشْرَاقِ رُوحِهِ وَصَفَاءِ نَفْسِهِ أَنَارَتِ الْفِكْرَةُ وَجَدَانَهُ كَأَنَّهَا إِلْهَامٌ أَلْقَى فِي قَلْبِهِ أَوْ نُورٌ أَضِيئَتْ بِهِ ظُلُمَاتُ نَفْسِهِ ، فَتَهَلَّلَ الشَّيْخُ بِالْفَرَحِ وَدَبَّ فِي الْجِسْمِ الْفَانِي نَشَاطٌ عَجِيبٌ .
Dan pada suatu saat dari saat-saat pencerahan jiwanya dan kejernihan nuraninya, ide itu menyinari batinnya seolah-olah itu adalah ilham yang dilemparkan ke dalam hatinya atau cahaya yang dengannya kegelapan jiwanya diterangi, maka sang tetua berseri-seri kegirangan dan menjalarlah dalam tubuh yang fana itu energi yang ajaib.
وَانْطَلَقَ قَيْدَارُ وَابْنُهُ النَّبَتُ إِلَى حَيْثُ كَانَ صِبْيَانُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقِرَاءَةَ وَالْكِتَابَةِ ، كَانُوا يَكْتُبُونَ فِي وَرَقِ الْبَرْدِيِّ الَّذِي جَلَبَتْهُ قَوَافِلُ التِّجَارَةِ مِنْ مِصْرَ ، يَكْتُبُونَ كَمَا عَلَّمَ إِسْمَاعِيلُ أَبْنَاءَهُ الْكِتَابَةَ ، فَرَاحَ قَيْدَارُ يُعَلِّمُهُمْ كَيْفَ يَفْرِقُونَ بَيْنَ الْأَلْفَاظِ كَمَا هَدَاهُ اللَّهُ . وَسُرَّ الصِّبْيَانُ بِذَلِكَ التَّبْسِيطِ وَعَكَفُوا عَلَى كِتَابَةِ صُحُفِ جَدِّهِمْ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ مُتَهَلِّلِينَ مُسْتَبْشِرِينَ .
Qaidar dan putranya, an-Nabat, pergi ke tempat anak-anak Ismail belajar membaca dan menulis, mereka menulis pada kertas papirus yang dibawa oleh kafilah dagang dari Mesir, mereka menulis sebagaimana Ismail mengajarkan anak-anaknya menulis, maka Qaidar mulai mengajarkan mereka bagaimana memisahkan huruf-huruf sebagaimana Allah memberikan petunjuk kepadanya. Anak-anak itu merasa senang dengan penyederhanaan tersebut dan mereka pun tekun menulis lembaran-lembaran kakek mereka, Khalilurrahman, dengan wajah berseri-seri penuh kegembiraan.
وَبَرَعَ يَعْرُبُ بْنُ يَشْجُبَ بْنِ نَابِتٍ فِي الْكِتَابَةِ الْجَدِيدَةِ ، وَمَا كَانَ يَعْرُبُ صَبِيًّا مِنَ الصِّبْيَانِ الَّذِينَ يَجْتَمِعُونَ خَلْفَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَحَسْبُ ، يَقْرَعُونَ صُحُفَ إِبْرَاهِيمَ وَيَكْتُبُونَ فِي وَرَقِ الْبَرْدِيِّ وَعَظْمِ أَكْتَافِ الْبَعِيرِ ، بَلْ كَانَ مَعَ ذَلِكَ شَابًّا مِنْ أَنْبَهِ شَبَابِ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ استَهْوَتْهُ طَرِيقَةُ قَيْدَارَ فِي الْكِتَابَةِ ، فَهَجَرَ نَادِيَ قَوْمِهِ وَأَقْبَلَ عَلَى الشَّيْخِ يَتَعَلَّمُ الْقَلَمَ الْجَدِيدَ ، فَقَدْ كَانَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ ذَلِكَ الْقَلَمَ هُوَ حَجَرُ الزَّاوِيَةِ الَّذِي سَتَقُومُ عَلَيْهِ حَضَارَةُ آلِ إِبْرَاهِيمَ .
Ya'rub bin Yashjub bin Nabit sangat mahir dalam tulisan baru tersebut. Ya'rub bukanlah sekadar anak dari sekumpulan anak-anak yang berkumpul di belakang sumur Zamzam, menelaah lembaran-lembaran Ibrahim dan menulis di atas kertas papirus serta tulang belikat unta, bahkan dia adalah pemuda yang paling cerdas di antara pemuda Bani Ismail yang tertarik dengan metode penulisan Qaidar. Ia meninggalkan tempat berkumpul kaumnya dan mendatangi sang tetua untuk mempelajari penulisan baru tersebut, karena ia yakin bahwa pena itu adalah batu penjuru tempat berdirinya peradaban keluarga Ibrahim.
وَشَرَدَ ذِهْنُ الشَّيْخِ قَيْدَارَ وَهُوَ جَالِسٌ بَيْنَ الصِّبْيَانِ خَلْفَ بِئْرِ زَمْزَمَ ، فَتَقَرْقَرَ الرِّضَا فِي وَجْهِهِ ، وَشَاعَ فِي عَيْنَيْهِ سُرُورٌ عَمِيقٌ ، فَقَدْ تَذَكَّرَ أَيَّامَ أَنْ كَانَ صَبِيًّا يَجْلِسُ فِي هَذَا الْمَكَانِ إِلَى جِوَارِ أَخَوَيْهِ نَابِتٍ وَإِذْبِيْلَ أَمَامَ جَدَّتِهِمْ هَاجَرَ تُعَلِّمُهُمْ كَيْفَ يَكْتُبُونَ وَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ تَارِيخَ مِصْرَ وَالْمِصْرِيِّينَ حِينًا ، كَانَتْ هَاجِرُ خَيْرًا وَبَرَكَةً عَلَى هَذَا الْوَادِي وَكَانَتْ خَيْرًا وَبَرَكَةً عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ .
Pikiran tetua Qaidar melayang saat ia duduk di antara anak-anak di belakang sumur Zamzam, kepuasan terpancar di wajahnya, dan kegembiraan mendalam memenuhi matanya, karena ia teringat hari-hari ketika ia masih kecil, duduk di tempat ini di samping saudara-saudaranya, Nabit dan Idzbil, di hadapan nenek mereka, Hajar, yang mengajari mereka cara menulis dan menceritakan kepada mereka sejarah Mesir dan orang-orang Mesir dari waktu ke waktu, Hajar adalah kebaikan dan keberkahan bagi lembah ini dan kebaikan serta keberkahan bagi keluarga Ibrahim.
وَضَجَّ الْمَكَانُ بِالِابْتِهَالِ وَأَوْبَتْ جِبَالُ مَكَّةَ بِدُعَاءِ الْمُؤْمِنِينَ ، فَالْتَفَتَ قَيْدَارُ إِلَى الْكَعْبَةِ فَإِذَا بِالنَّاسِ يَمُوجُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ يَتَدَافَعُونَ بِالْمَنَاكِبِ وَهُمْ يَطُوفُونَ حَوْلَ الْبَيْتِ ، كَانُوا لِأَوَّلِ مَرَّةٍ فِي تَارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ تُجَّارًا رُهْبَانًا تَحْكُمُهُمْ شَرِيعَةُ اللَّهِ وَقَانُونُ الطَّبِيعَةِ ، فَاللَّهُ يُشْرِقُ فِي نُفُوسِهِمْ وَعَجَلَةُ الْوُجُودِ تَدُورُ ، وَلَمْ تَكُنْ تَدُورُ فِي فَرَاغٍ إِلَى الْأَبَدِ بَلْ كَانَتْ تَدُورُ إِلَى غَايَةٍ ، إِلَى إِرْضَاءِ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا . أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ الْبُسَطَاءُ حَقِيقَةَ نُفُوسِهِمْ ، عَرَفُوا طَرِيقَ السَّعَادَةِ ، سَرَى قَانُونُ اللَّهِ وَقَانُونُ الطَّبِيعَةِ فِي نُفُوسِهِمْ جَنْبًا إِلَى جَنْبٍ ، الْوُجُودُ كُلُّهُ يَدُورُ بِإِرَادَةِ اللَّهِ ، وَهَذِهِ الْإِرَادَةُ لَمْ تَسْلُبِ النَّاسَ حَقَّ التَّصَرُّفِ وَالِاخْتِيَارِ بَلْ تَرَكَتْ لِلنَّاسِ أَنْ يَعْمَلُوا وَأَنْ يَخْتَارُوا ، وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ .
Tempat itu bergemuruh dengan munajat dan gunung-gunung Mekkah menjawab dengan doa orang-orang beriman. Qaidar menoleh ke arah Ka'bah, tiba-tiba orang-orang berkerumun, bahu-membahu berdesakan saat mereka thawaf mengelilingi Baitullah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, mereka menjadi pedagang-pedagang religius yang diatur oleh syariat Allah dan hukum alam. Allah bersinar di dalam jiwa mereka dan roda eksistensi pun berputar, dan ia tidak berputar dalam kehampaan selamanya, melainkan berputar menuju satu tujuan, menuju keridhaan Allah. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya. Orang-orang sederhana ini memahami hakikat jiwa mereka, mereka mengetahui jalan kebahagiaan, hukum Allah dan hukum alam mengalir dalam jiwa mereka secara berdampingan. Seluruh keberadaan berputar dengan kehendak Allah, dan kehendak ini tidak merampas hak manusia untuk bertindak dan memilih, melainkan membiarkan manusia untuk beramal dan memilih, dan bagi masing-masing ada derajat dari apa yang mereka kerjakan agar Dia menyempurnakan balasan amal mereka, dan mereka tidak dizalimi.
***
وَجَاءَ يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ إِلَى عَمِّهِ يَسْعَى يَبْدُو فِي وَجْهِهِ الْأَسَى ، وَقَالَ فِي صَوْتٍ مُتَهَدِّجٍ :
Datanglah Yashjub bin Nabit menemui pamannya dengan tergesa-gesa, tampak kesedihan di wajahnya, dan ia berkata dengan suara bergetar:
— إِنَّ أَبِي يَمُوتُ .
— Ayahku sedang sekarat.
وَقَبْلَ أَنْ يَتِمَّ مَقَالَهُ طَفَرَتِ الدُّمُوعُ مِنْ عَيْنَيْهِ ، وَاسْتَشْعَرَ قَيْدَارُ حُزْنًا يَشْتَعِلُ فِي كَيَانِهِ وَهَمَّا ثَقِيلًا يَنْزِلُ بِهِ وَزَلْزَلَ زَلْزَالًا شَدِيدًا ، لَكَأَنَّمَا قَدْ نَعَى إِلَيْهِ نَفْسَهُ . إِنَّهُ لَمْ يُفَارِقْ أَخَاهُ مُنْذُ تَفَتَّحَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْحَيَاةِ ، فَهَالَمَا لَعِبَ وَرَتَعَ هُوَ وَنَابِتٌ فِي بِطَاحِ مَكَّةَ ، وَطَالَمَا خَرَجَا مَعًا فِي قَوَافِلِ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ إِلَى الشَّامِ وَمِصْرَ وَالْيَمَنِ ، كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا دِرْعًا لِلْآخَرِ ، سِلَاحًا لِأَخِيهِ ، وَإِذَا بِنَابِتٍ يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ وَيَتْرُكُهُ وَحِيدًا وَإِنْ كَانَتْ قَبِيلَتُهُ قَدْ صَارَتْ فِي عَدَدِ النُّجُومِ . صَارَتْ وِلَايَةُ الْبَيْتِ لِنَابِتٍ بَعْدَ مَوْتِ أَبِيهِ إِسْمَاعِيلَ ، فَإِنْ ذَهَبَ نَابِتُ فَمَنِ الَّذِي يَقُومُ بِوِلَايَةِ الْبَيْتِ ؟ إِنَّ نَابِتَ كَانَ رُوحًا يَسْرِي فِي مَكَّةَ ، كَانَ الْمِحْوَرَ الَّذِي تَدُورُ حَوْلَهُ حَيَاتُهَا ، وَهَا هُوَ ذَا نَابِتُ يُوشِكُ أَنْ يُغَادِرَ الدُّنْيَا فَمَنْ مَكَّةُ مِنْ بَعْدِهِ ؟
Dan sebelum ia menyelesaikan perkataannya, air mata bercucuran dari matanya, Qaidar merasakan kesedihan yang membakar jiwanya dan beban berat yang menimpanya serta guncangan hebat, seolah-olah ia telah mengabarkan kematian dirinya sendiri. Ia tidak pernah berpisah dengan saudaranya sejak matanya terbuka melihat kehidupan, betapa sering ia dan Nabit bermain dan bersenang-senang di lembah Mekkah, dan betapa sering mereka keluar bersama dalam kafilah Bani Ismail menuju Syam, Mesir, dan Yaman. Masing-masing dari mereka adalah perisai bagi yang lain, senjata bagi saudaranya, dan kini Nabit sedang meregang nyawa dan meninggalkannya sendirian, meskipun sukunya telah menjadi sebanyak bintang di langit. Kepemimpinan Baitullah berada di tangan Nabit setelah kematian ayahnya, Ismail. Jika Nabit pergi, siapakah yang akan memegang kepemimpinan Baitullah? Nabit adalah ruh yang berjalan di Mekkah, ia adalah poros tempat kehidupan Mekkah berputar, dan sekarang Nabit hampir meninggalkan dunia, maka siapakah Mekkah setelahnya?
وَأَفَاقَ مِنْ ذَلِكَ الضَّعْفِ الَّذِي طَافَ بِهِ ، إِنَّ رُوحَ اللَّهِ تَخْفِقُ فِي صُدُورِ الْمُؤْمِنِينَ وَفَيْضَ النُّورِ الْإِلَهِيِّ الَّذِي سَكَبَهُ الدِّينُ فِي صُدُورِهِمْ لَنْ يَغِيضَ ، فَالْقُلُوبُ كُلُّهَا مُفْعَمَةٌ بِحُبِّ اللَّهِ ، وَإِنَّ ذَلِكَ الْحُبَّ لَمْ يَكُنْ صَلَاةً فِي مَعْبَدِ الْكَوْنِ فَحَسْبُ بَلْ تَحَوَّلَ مَعَ ذَلِكَ إِلَى أَفْعَالٍ اشْتَرَكَ فِيهَا الْجَسَدُ مَعَ الرُّوحِ : دُعَاءٌ إِلَى اللَّهِ وَطَوَافٌ حَوْلَ بَيْتِهِ الْمُعَظَّمِ وَسَعْيٌ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، وَوُقُوفٌ بِعَرَفَةَ ، وَدُعَاءُ اللَّهِ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ . إِنَّهُ الِاتِّصَالُ بِرُوحِ الْوُجُودِ كُلِّهِ . وَانْطَلَقَ قَيْدَارُ إِلَى دَارِ أَخِيهِ وَرَاحَ فِكْرُهُ يَعْمَلُ ، إِنَّهُ كَانَ يُعَاوِنُ أَخَاهُ وَيُرَحِّبُ بِضَيْفِ اللَّهِ ، وَلَكِنَّهُ كَبُرَ وَصَارَ فِي الْغَابِرِينَ فَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْهَضَ بِخِدْمَةِ الْحَجِيجِ بَعْدَ نَابِتٍ ، وَلَا أَنْ يُيَسِّرَ سُبُلَ الرَّاحَةِ لِزُوَّارِ بَيْتِ اللَّهِ ، فَوِلَايَةُ الْبَيْتِ فِي حَاجَةٍ إِلَى رَجُلٍ مَسْمُوعِ الْكَلِمَةِ مَرْهُوبِ الْجَانِبِ قَوِيِّ الشَّكِيمَةِ تَتَدَفَّقُ فِيهِ الْحَيَاةُ .
Ia tersadar dari kelemahan yang menghampirinya. Sesungguhnya ruh Allah berdenyut di dada orang-orang beriman dan limpahan cahaya ilahi yang ditumpahkan agama ke dalam dada mereka tidak akan pernah surut, karena seluruh hati dipenuhi dengan cinta kepada Allah, dan cinta itu bukan sekadar shalat di kuil semesta, melainkan telah berubah menjadi amal perbuatan di mana jasad bersatu dengan ruh: doa kepada Allah, thawaf di sekeliling Baitullah yang diagungkan, sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, dan berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah koneksi dengan ruh seluruh keberadaan. Qaidar bergegas menuju rumah saudaranya dan pikirannya terus bekerja, ia dulu membantu saudaranya dan menyambut tamu-tamu Allah, namun ia telah menua dan berada di penghujung usia, sehingga ia tidak mampu lagi bangkit mengurus jamaah haji setelah Nabit, dan tidak pula mampu memfasilitasi kenyamanan bagi para peziarah Baitullah, karena kepemimpinan Baitullah membutuhkan seorang lelaki yang kata-katanya didengar, disegani, berpendirian kuat, dan kehidupan mengalir di dalam dirinya.
وَرَاحَ قَيْدَارُ يُقَلِّبُ الْفِكْرَ وَيَزِنُ رِجَالَ بَنِي إِسْمَاعِيلَ ، إِنَّ إِخْوَتَهُ : إِذْبِيْلَ وَمِيسَامَ وَمِشْمَاعَ وَدُومَةَ وَمَسَا وَحِيدَارَ وَتِيمَا قَعَدَتْ بِهِمُ السِّنُّ وَأَمْسَوْا شُيُوخًا فَاتِينَ ، وَإِنْ هِيَ إِلَّا سِنُونَ قَلِيلَةٌ ثُمَّ يَلْحَقُونَ بِأَبَوَيْهِمُ الْكَرِيمَيْنِ بِأَبُوهِمُ الْجَدِّ الْخَلِيلِ . وَطَافَ بِذِهْنِهِ رِجَالُ الطَّبَقَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ : يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ وَالنَّبَتُ بْنُ قَيْدَارَ ، وَسُرْعَانَ مَا هَمَسَ فِي جَوْفِهِ هَامِسٌ : أَيَقُومُ بِوِلَايَةِ الْبَيْتِ يَشْجُبُ أَوِ النَّبَتُ وَفِي الْقَوْمِ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو وَالسَّمَيْدَعُ ؟! إِنَّ مُضَاضَ سَيِّدُ جُرْهُمٍ وَخَالُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ ، وَالسَّمَيْدَعُ سَيِّدُ قَطُورَاءَ وَهُمْ مِنَ الْعَمَالِيقِ الَّذِينَ دَانَتْ لَهُمْ مِصْرُ وَسُورِيَةُ وَفِلَسْطِينُ .
Qaidar mulai berpikir dan mempertimbangkan para lelaki Bani Ismail. Saudara-saudaranya: Idzbil, Misam, Misma', Dumah, Masa, Haidar, dan Tima, usia telah menghambat mereka dan mereka telah menjadi tetua yang lemah, dan tidaklah butuh beberapa tahun lagi kemudian mereka akan menyusul kedua orang tua mereka yang mulia dan kakek mereka, Khalilurrahman. Terlintas di benaknya para lelaki generasi kedua dari Bani Ismail: Yashjub bin Nabit dan an-Nabat bin Qaidar, dan segera saja bisikan berbisik di dalam dirinya: Apakah Yashjub atau an-Nabat yang akan memegang kepemimpinan Baitullah sementara di kalangan kaum itu ada Mudhadh bin Amr dan as-Sumaida'? Sesungguhnya Mudhadh adalah pemimpin Jurhum dan paman Bani Ismail, dan as-Sumaida' adalah pemimpin Qathura dan mereka berasal dari kaum Amaliq yang menguasai Mesir, Suriah, dan Palestina.
وَسَارَ قَيْدَارُ يَتَوَكَّأُ عَلَى عَصَاهُ وَيَسْتَنِدُ عَلَى ذِرَاعِ النَّبَتِ بَيْنَ الْحِينِ وَالْحِينِ ، وَسَارَ خَلْفَهُمَا يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ وَيَعْرُبُ بْنُ قَيْدَارَ وَالْوُجُوهُ بَاسِرَةٌ وَالْعُيُونُ دَامِعَةٌ وَنَارُ الْحُزْنِ تَشْوِي الْقُلُوبَ .
Qaidar berjalan bertumpu pada tongkatnya dan sesekali bersandar pada lengan an-Nabat, di belakang mereka berjalan Yashjub bin Nabit dan Ya'rub bin Qaidar dengan wajah yang muram, mata yang berlinang air mata, dan api kesedihan yang membakar hati.
وَدَخَلَ قَيْدَارُ عَلَى أَخِيهِ وَكَانَ مُسَجًّى فِي فِرَاشِهِ وَحَوْلَهُ شُيُوخُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَأَحَسَّ غُصَّةً فِي حَلْقِهِ ، فَقَدِ اسْتَوْلَى عَلَيْهِ إِحْسَاسٌ بِأَنَّهُ يَفْقِدُ بِفَقْدِ نَابِتٍ أُمَّهُ وَأَبَاهُ ، وَأَنَّهُ وَهْوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ يَذُوقُ مَرَارَةَ الْيُتْمِ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ .
Qaidar masuk menemui saudaranya yang terbujur di ranjangnya, dikelilingi oleh para tetua Bani Ismail, lalu ia merasakan sesak di tenggorokannya, karena ia dikuasai perasaan bahwa dengan kepergian Nabit, ia seolah kehilangan ibu dan ayahnya, dan bahwa ia—di usia yang sudah sangat tua—merasakan kepahitan menjadi yatim untuk pertama kalinya.
وَرَاحَ قَيْدَارُ يُقَلِّبُ الْوَالِهَ الْحَزِينَ فِي وُجُوهِ إِخْوَتِهِ ، لَقَدْ وَعَدَ اللَّهُ خَلِيلَهُ أَنْ يَهَبَ إِسْمَاعِيلَ اثْنَيْ عَشَرَ رَئِيسًا وَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ ، فَهَا هُمْ أَوْلَادُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ الِاثْنَيْ عَشَرَ وَقَدْ صَارَ كُلٌّ مِنْهُمْ رَئِيسَ قَبِيلَةٍ ، وَعْدُ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا .
Qaidar memandang dengan tatapan bingung dan sedih ke wajah saudara-saudaranya, Allah telah menjanjikan kepada kekasih-Nya untuk memberikan dua belas pemimpin bagi Ismail dan Allah telah menepati janji-Nya. Maka lihatlah, mereka adalah kedua belas putra Ismail dan masing-masing dari mereka telah menjadi pemimpin kabilah. Janji Allah adalah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah.
كَانَ شَيْخُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ يَمُوتُ وَقَدْ مَاتَ مِنْ قَبْلِهِ إِسْمَاعِيلُ صَادِقُ الْوَعْدِ فَدَمَعَتِ الْعُيُونُ وَلَكِنَّ الْقُلُوبَ كَانَتْ تُسَبِّحُ لِلَّهِ الْعَظِيمِ ، أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ .
Tetua Bani Ismail sedang sekarat, setelah sebelumnya Ismail yang benar janjinya telah wafat, mata berlinang air mata namun hati tetap bertasbih kepada Allah Yang Maha Agung. Maka apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama.
وَأَشَارَ نَابِتٌ لِإِخْوَتِهِ وَأَبْنَائِهِ أَنْ يَدْنُوا مِنْهُ ، فَلَمَّا اقْتَرَبُوا قَالَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ :
Nabit memberi isyarat kepada saudara-saudara dan anak-anaknya untuk mendekat, maka ketika mereka mendekat ia berkata dengan suara lirih:
— مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي ؟
— Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?
— نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ .
— Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim dan Ismail.
فَهَمَسَ فِي جَهْدٍ :
Maka ia berbisik dengan susah payah:
— اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ، وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ .
— Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
وَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَدَعَا بِدَعْوَةِ جَدِّهِ الْعَظِيمِ :
Lalu ia menatap ke langit dan berdoa dengan doa kakeknya yang agung:
— رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ .
— Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.
خَرَجَ الرُّعَاةُ فِي عَمَايَةِ الصُّبْحِ مِنْ دُورِ نَابِتٍ وَقِيدَارَ وَإِذْبِيلَ وَإِخْوَتِهِمْ أَبْنَاءِ إِسْمَاعِيلَ ، تِلْكَ الدُّورِ الَّتِي بَدَأَتْ تَنْتَشِرُ عَلَى سُفُوحِ الْجِبَالِ الْمُحِيطَةِ بِالْحَرَمِ ، وَانْحَدَرُوا إِلَى الْوَادِي الْمُقَدَّسِ وَقَدِ امْتَلَأَتْ نُفُوسُهُمْ بِالضِّيَاءِ الْمُتَأَلِّقِ مِنْ وَرَاءِ الْأُفُقِ ، فَإِنْ تَكُنْ شَمْسُ النَّهَارِ لَمْ تَسْطَعْ بَعْدُ فَقَدْ نَفَذَ شُعَاعُ اللهِ الْمُضِيءُ إِلَى نُفُوسِ الْمُؤْمِنِينَ .
Para penggembala keluar di kegelapan fajar dari rumah-rumah Nabit, Qidar, Idzbil, dan saudara-saudara mereka dari keturunan Ismail. Rumah-rumah itu mulai tersebar di lereng-lereng gunung yang mengelilingi tanah haram. Mereka turun ke lembah suci dengan jiwa yang dipenuhi oleh cahaya yang berkilau dari balik ufuk. Walaupun matahari siang belum memancar, namun pancaran cahaya Allah yang menerangi telah menembus ke dalam jiwa orang-orang yang beriman.
اِنْحَدَارُ الرُّعَاةِ إِلَى بَطْنِ الْوَادِي الْمُقَدَّسِ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ، قَدِ امْتَلَأَتْ نُفُوسُهُمْ بِنَشْوَةِ الرُّوحِ وَرَأَتْ عُيُونُهُمْ فِي الْكَوْنِ جَمَالًا لَا يُحِسُّهُ إِلَّا مَنْ أَحَسُّوا بِخَفَقَاتِ رُوحِ الْوُجُودِ بَيْنَ جُنُوبِهِمْ ، فَقَالُوا بِأَفْئِدَتِهِمْ وَأَلْسِنَتِهِمْ :
Para penggembala itu turun ke dasar lembah suci dengan tanda-tanda di wajah mereka dari bekas sujud. Jiwa mereka telah dipenuhi dengan kegembiraan ruhani, dan mata mereka melihat keindahan di semesta alam yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang yang merasakan getaran ruh kehidupan di dalam dada mereka, lalu mereka berkata dengan hati dan lisan mereka:
— رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
— "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka."
وَرَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ، وَأَقْبَلَ مِنْ شِمَالِ مَكَّةَ أَهْلُ جُرْهُمَ ، وَتَدَفَّقَ مِنْ جُنُوبِهَا أَهْلُ قَطُورَاءَ فَامْتَلَأَ الْحَرَمُ بِالطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ، وَأَقْبَلَتْ قَافِلَةٌ مِنَ الْيَمَنِ وَعَادَتْ قَافِلَةٌ مِنَ الشَّامِ فَخَفَّ الرِّجَالُ إِلَى الْكَعْبَةِ لِيَطُوفُوا بِهَا وَيُسَبِّحُوا لِرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ .
Dan mereka pun mulai mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh putaran. Dari sebelah utara Makkah datanglah penduduk Jurhum, dan dari sebelah selatannya mengalir penduduk Qatura', sehingga terisilah tanah haram oleh orang-orang yang thawaf, iktikaf, serta yang ruku' dan sujud. Sebuah kafilah datang dari Yaman dan kafilah lain kembali dari Syam, lalu orang-orang bergegas menuju Ka'bah untuk mengelilinginya dan bertasbih memuji Tuhan Pemilik Arsy yang Agung.
أَلَّفَ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ فَقَوِيَتِ الرَّوَابِطُ الِاجْتِمَاعِيَّةُ بَيْنَ مَنْ أَقَامُوا حَوْلَ الْبِئْرِ وَمَنْ جَاءُوا لِيَطُوفُوا بِالْحَرَمِ ، وَبَدَأَ مِيلَادُ حَضَارَةٍ بِالْوَادِي الْقَفْرِ الَّذِي أَسْكَنَ إِبْرَاهِيمُ بِهِ هَاجَرَ وَإِسْمَاعِيلَ وَجُرْهُمَ وَقَطُورَاءَ ، وَبَيْنَ رِجَالِ الْقَوَافِلِ الْغَادِينَ الرَّائِحِينَ بَيْنَ الشَّمَالِ وَالْجُنُوبِ ، وَقَدِ اعْتَصَمُوا جَمِيعًا بِحَبْلِ اللهِ فَاتَّحَدُوا بَعْدَ أَنْ كَانُوا مُتَفَرِّقِينَ .
Allah mempersatukan hati orang-orang mukmin sehingga menguatlah ikatan sosial di antara mereka yang tinggal di sekitar sumur (Zamzam) dan mereka yang datang untuk thawaf di tanah haram. Dimulailah kelahiran sebuah peradaban di lembah tandus tempat Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail, bersama suku Jurhum dan Qatura', serta di antara para lelaki kafilah yang datang dan pergi antara utara dan selatan. Mereka semua berpegang teguh pada tali Allah, sehingga mereka bersatu setelah sebelumnya bercerai-berai.
وَأَقْبَلَ مِنَ الشَّمَالِ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو وَحَوْلَهُ شُيُوخُ جُرْهُمَ وَشَبَابُهَا ، وَوَرَدَ مِنَ الْجُنُوبِ السَّمَيْدَعُ وَرِجَالُ قَطُورَاءَ ، وَالْتَقَى أَهْلُ جُرْهُمَ وَأَهْلُ قَطُورَاءَ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَتَبَادَلُوا التَّحِيَّةَ ، ثُمَّ رَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ وَقَدِ اخْتَلَطَ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ ، وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ بِالِابْتِهَالَاتِ إِلَى اللهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ ، وَقَدْ نَامَتِ الْأَحْقَادُ وَاخْتَفَتِ الْبَغْضَاءُ وَعَمَرَتِ الْقُلُوبُ بِنُورِ الْإِيمَانِ .
Dan datanglah dari sebelah utara Mudhadh bin Amr yang dikelilingi oleh para tetua dan pemuda Jurhum, serta datang pula dari sebelah selatan As-Samayda' bersama para lelaki Qatura'. Penduduk Jurhum dan penduduk Qatura' bertemu di dekat Hajar Aswad lalu saling bertukar salam penghormatan, kemudian mereka mulai mengelilingi Baitullah dalam keadaan saling berbaur satu sama lain. Suara-suara pun meninggi dengan doa dan kepasrahan kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, sementara dendam telah padam, kebencian telah sirna, dan hati pun menjadi makmur oleh cahaya keimanan.
وَنَجْلِسُ الرِّجَالُ إِلَى الرِّجَالِ يَنْظُرُونَ فِي أَمْرِ دُنْيَاهُمْ بَعْدَ أَنْ غَسَلَتِ الصَّلَوَاتُ أَفْئِدَتَهُمْ مِنْ أَدْرَانِ الْغِشِّ وَالطَّمَعِ وَالنِّفَاقِ ، فَإِذَا بِالْغَايَاتِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ الطَّيِّبَةِ تَتَحَقَّقُ فِي سَمَاحَةٍ وَيُسْرٍ بَعْدَ أَنْ وَلَجُوا الْحَيَاةَ مِنْ أَطْيَبِ أَبْوَابِهَا .
Orang-orang itu duduk berkumpul bersama yang lain, bermusyawarah mengenai urusan dunia mereka setelah salat membersihkan hati mereka dari kotoran tipu daya, ketamakan, dan kemunafikan. Maka seketika itu pula tujuan-tujuan sosial yang baik tercapai dalam suasana toleransi dan kemudahan, setelah mereka memasuki kehidupan melalui pintu-pintunya yang paling baik.
وَخَرَجَتْ جَحَافِلُ الْغَنَمِ مِنْ دُورِ بَنِي إِسْمَاعِيلَ وَخِيَامِهِمْ فِي طَرِيقِهَا إِلَى شِعَابِ مَكَّةَ لِتَرْعَى وَفِي أَثَرِهَا الرُّعَاةُ وَالْعَبِيدُ وَصِبْيَانُ الْقَبَائِلِ ، فَبَدَا كَأَنَّ سُفُوحَ الْجِبَالِ قَدْ حُجِبَتْ بِصُوفٍ أَبْيَضَ وَأَحْمَرَ وَأَسْوَدَ ، وَثَارَ النَّقْعُ وَارْتَفَعَتْ سُحُبُ التُّرَابِ تُغَطِّي الْوَادِيَ كَأَنَّمَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ وِشَاحٌ مِنْ رَمَادٍ .
Dan kawanan domba yang besar keluar dari rumah-rumah bani Ismail dan kemah-kemah mereka dalam perjalanannya menuju lembah-lembah Makkah untuk merumput, diikuti di belakangnya oleh para penggembala, hamba sahaya, dan anak-anak suku. Maka lereng-lereng gunung itu tampak seolah-olah telah tertutupi oleh bulu domba yang berwarna putih, merah, dan hitam. Debu-debu pun beterbangan dan awan tanah meninggi menutupi lembah, seakan-akan sebuah selendang dari abu telah dilemparkan ke atasnya.
كَانَ الرُّعَاةُ بُسَطَاءَ حُفَاةَ الْأَقْدَامِ فُقَرَاءَ ، بَيْدَ أَنَّ الدِّينَ الَّذِي غُرِسَ فِي وِجْدَانِهِمْ بَدَّلَ طَرَائِقَ نَظْرَتِهِمْ إِلَى الْكَوْنِ وَالْحَيَاةِ ، أَمَدَّهُمْ بِعِلْمٍ جَعَلَهُمْ يَتَطَلَّعُونَ إِلَى أَنْ يَكُونُوا رُعَاةَ شُعُوبٍ لَا رُعَاةَ أَغْنَامٍ .
Para penggembala itu adalah orang-orang yang sederhana, bertelanjang kaki, dan miskin. Namun, agama yang tertanam di dalam jiwa mereka telah mengubah cara pandang mereka terhadap alam semesta dan kehidupan. Agama membekali mereka dengan ilmu yang membuat mereka bercita-cita untuk menjadi pemimpin bangsa-bangsa, bukan sekadar penggembala domba.
وَخَرَجَ قِيدَارُ مِنْ دَارِهِ بَعْدَ أَنْ صَارَ شَيْخًا يَتَوَكَّأُ عَلَى ذِرَاعِ ابْنِهِ النَّبْتِ وَعَصَاهُ ، كَانَ يَسْتَشْعِرُ الْوَهَنَ يَسْرِي فِي أَعْضَائِهِ إِلَّا أَنَّ ذِهْنَهُ كَانَ نَشِيطًا مَشْغُولًا بِالْخَطِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي وَضَعَهُ أَبُوهُ إِسْمَاعِيلُ مَوْصُولًا ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَهُ لِيُيَسِّرَهُ عَلَى الْكَنْعَانِيِّينَ وَغَيْرِهِمْ عَلَى السَّوَاءِ .
Qidar keluar dari rumahnya setelah dia menjadi seorang tua yang bertumpu pada lengan anaknya, Nabit, serta tongkatnya. Dia merasakan kelemahan mulai merayap di anggota tubuhnya, namun pikirannya tetap aktif dan disibukkan oleh urusan khat (tulisan) Arab yang dibuat bersambung oleh ayahnya, Ismail. Dia ingin memisah-misahkan hurufnya agar dapat memudahkannya bagi orang-orang Kanaan dan yang lainnya secara sama rata.
كَانَ يَمْضِي الْهَزِيعَ الْأَوَّلَ مِنَ اللَّيْلِ فِي الصَّلَاةِ وَتِلَاوَةِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ ، وَكَانَ يَسْتَيْقِظُ قَبْلَ دُلُوكِ الشَّمْسِ يُسَبِّحُ اللهَ وَيَدْعُوهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ أَنْ يُلْحِقَهُ بِالصَّالِحِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِ اللهِ الْمُؤْمِنِينَ .
Dia biasa menghabiskan sepertiga malam yang pertama dalam salat dan membaca apa yang mudah baginya dari lembaran-lembaran (shuhuf) Ibrahim. Dia bangun sebelum tergelincir matahari untuk bertasbih kepada Allah dan berdoa kepada-Nya dengan hati yang bersih agar Dia mengumpulkannya bersama orang-orang yang saleh, sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Allah yang beriman.
إِنَّهُ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ شَيْخُوخَتِهِ لَمْ يَتَنَسَّكْ وَلَمْ يَعْتَزِلْ مُجْتَمَعَهُ وَلَمْ يُقَرِّرْ أَنْ يَمْضِيَ
Sesungguhnya dia, meskipun usianya sudah tua, tidak hidup memisahkan diri untuk beribadah saja, tidak mengasingkan diri dari masyarakatnya, dan tidak pula memutuskan untuk menghabiskan...
مَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ فِي صَوْمَعَةٍ يَعْبُدُ رَبَّهُ ، فَقَدْ لُقِّنَ فِيمَا لُقِّنَ أَنَّ الْعَمَلَ عِبَادَةٌ ، وَأَنَّ أَسْمَى مَا يَرْتَقِي بِالرُّوحِ هُوَ مُكَابَدَةُ الْحَيَاةِ ، فَمَلَأَتْ فِكْرَةُ تَيْسِيرِ الْكِتَابَةِ الْعَرَبِيَّةِ كُلَّ جَوَانِحِهِ وَأَضْحَتْ شُغْلَهُ الشَّاغِلَ مَعَ عِبَادَةِ اللهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ ، فَقَدْ كَانَ حُبُّ اللهِ وَخَيْرُ مُجْتَمَعِهِ يَمْتَزِجَانِ فِي نَفْسِهِ امْتِزَاجًا يَخْدُمُ الْحَيَاةَ وَيَفْتَحُ أَبْوَابَ السَّعَادَةِ .
...sisa umurnya di dalam tempat pertapaan untuk menyembah Tuhannya semata. Karena dia telah diajarkan di antara apa yang diajarkan bahwa bekerja adalah ibadah, dan bahwa hal paling tinggi yang dapat mengangkat derajat ruh adalah perjuangan menghadapi kehidupan. Maka ide untuk mempermudah penulisan bahasa Arab memenuhi seluruh rongga dadanya dan menjadi kesibukan utamanya di samping beribadah kepada Allah pada waktu-waktu malam dan siang hari. Rasa cinta kepada Allah dan kebaikan masyarakatnya berpadu di dalam jiwanya dengan perpaduan yang mengabdi pada kehidupan dan membuka pintu-pintu kebahagiaan.
وَفِي لَحْظَةٍ مِنْ لَحْظَاتِ إِشْرَاقِ رُوحِهِ وَصَفَاءِ نَفْسِهِ أَنَارَتِ الْفِكْرَةُ وِجْدَانَهُ كَأَنَّهَا إِلْهَامٌ أُلْقِيَ فِي قَلْبِهِ أَوْ نُورٌ أُضِيئَتْ بِهِ ظُلُمَاتُ نَفْسِهِ ، فَتَهَلَّلَ الشَّيْخُ بِالْفَرَحِ وَدَبَّ فِي الْجِسْمِ الْفَانِي نَشَاطٌ عَجِيبٌ .
Dan pada suatu momen dari momen-momen benderangnya ruh dan jernihnya jiwa, ide tersebut menerangi sanubarinya seolah-olah sebuah ilham yang diletakkan ke dalam hatinya atau cahaya yang menerangi kegelapan jiwanya. Maka wajah orang tua itu pun berseri-seri karena gembira, dan mengalirlah sebuah kekuatan yang menakjubkan ke dalam tubuhnya yang fana itu.
وَانْطَلَقَ قِيدَارُ وَابْنُهُ النَّبْتُ إِلَى حَيْثُ كَانَ صِبْيَانُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقِرَاءَةَ وَالْكِتَابَةَ ، كَانُوا يَكْتُبُونَ فِي وَرَقِ الْبَرْدِيِّ الَّذِي جَلَبَتْهُ قَوَافِلُ التِّجَارَةِ مِنْ مِصْرَ ، يَكْتُبُونَ كَمَا عَلَّمَ إِسْمَاعِيلُ أَبْنَاءَهُ الْكِتَابَةَ ، فَرَاحَ قِيدَارُ يُعَلِّمُهُمْ كَيْفَ يُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَلْفَاظِ كَمَا هَدَاهُ اللهُ . وَسُرَّ الصِّبْيَانُ بِذَٰلِكَ التَّبْسِيطِ وَعَكَفُوا عَلَى كِتَابَةِ صُحُفِ جَدِّهِمْ خَلِيلِ الرَّحْمَٰنِ مُتَهَلِّلِينَ مُسْتَبْشِرِينَ .
Qidar dan anaknya, Nabit, berangkat ke tempat anak-anak keturunan Ismail belajar membaca dan menulis. Mereka menulis di atas kertas papirus yang dibawa oleh kafilah dagang dari Mesir, mereka menulis sebagaimana Ismail mengajarkan tulisan kepada anak-anaknya. Maka Qidar mulai mengajar mereka bagaimana memisahkan kata-kata sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah kepadanya. Anak-anak itu pun merasa gembira dengan kemudahan tersebut, lalu mereka dengan penuh sukacita dan kabar gembira memusatkan perhatian untuk menyalin lembaran-lembaran kakek mereka, sang Kekasih Allah (Ibrahim).
وَبَرَعَ يَعْرُبُ بْنُ يَشْجُبَ بْنِ نَابِتٍ فِي الْكِتَابَةِ الْجَدِيدَةِ ، وَمَا كَانَ يَعْرِبُ صَبِيًّا مِنَ الصِّبْيَانِ الَّذِينَ يَجْتَمِعُونَ خَلْفَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَحَسْبُ ، بَلْ كَانَ مَعَ ذَٰلِكَ شَابًّا مِنْ أَنْبَهِ شَبَابِ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ اسْتَهْوَتْهُ طَرِيقَةُ قِيدَارَ فِي الْكِتَابَةِ ، فَهَجَرَ نَادِيَ قَوْمِهِ وَأَقْبَلَ عَلَى الشَّيْخِ يَتَعَلَّمُ الْقَلَمَ الْجَدِيدَ ، فَقَدْ كَادَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ أَنَّ ذَٰلِكَ الْقَلَمَ هُوَ حَجَرُ الزَّاوِيَةِ الَّذِي سَتَقُومُ عَلَيْهِ حَضَارَةُ آلِ إِبْرَاهِيمَ .
Dan Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit sangat mahir dalam model tulisan baru tersebut. Ya'rub bukan sekadar anak biasa di antara anak-anak yang berkumpul di belakang sumur Zamzam, melainkan dia juga merupakan seorang pemuda yang paling cerdas di antara pemuda keturunan Ismail yang terpikat oleh metode penulisan Qidar. Maka dia meninggalkan tempat berkumpul kaumnya lalu menghadap kepada sang guru tua untuk mempelajari gaya tulisan baru tersebut, karena dia merasa yakin bahwa gaya tulisan itu adalah batu penjuru yang di atasnya akan tegak peradaban keluarga Ibrahim.
وَشَرَدَ ذِهْنُ الشَّيْخِ قِيدَارَ وَهُوَ جَالِسٌ بَيْنَ الصِّبْيَانِ خَلْفَ بِئْرِ زَمْزَمَ ، فَتَرَقْرَقَ الرِّضَا فِي وَجْهِهِ ، وَشَاعَ فِي عَيْنَيْهِ سُرُورٌ عَمِيقٌ ، فَقَدْ تَذَكَّرَ أَيَّامًا أَنْ كَانَ صَبِيًّا يَجْلِسُ فِي هَٰذَا الْمَكَانِ إِلَى جِوَارِ أَخَوَيْهِ نَابِتٍ وَإِذْبِيلَ أَمَامَ جَدَّتِهِمْ هَاجَرَ تُعَلِّمُهُمْ كَيْفَ يَكْتُبُونَ حِينًا وَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ تَارِيخَ مِصْرَ وَالْمِصْرِيِّينَ حِينًا ، كَانَتْ
Pikiran orang tua itu, Qidar, menerawang jauh ketika dia sedang duduk di antara anak-anak di belakang sumur Zamzam, maka rasa ridha tampak jelas di wajahnya, dan kebahagiaan yang mendalam terpancar dari kedua matanya. Dia teringat masa-masa ketika dia masih kecil, duduk di tempat ini di samping kedua saudaranya, Nabit dan Idzbil, di hadapan nenek mereka, Hajar, yang terkadang mengajari mereka cara menulis dan di waktu lain menceritakan kepada mereka sejarah Mesir dan orang-orang Mesir...
هَاجَرُ خَيْرًا وَبَرَكَةً عَلَى هَٰذَا الْوَادِي وَكَانَتْ خَيْرًا وَبَرَكَةً عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ .
وَضَجَّ الْمَكَانُ بِالِابْتِهَالِ وَأَوَتْ جِبَالُ مَكَّةَ بِدُعَاءِ الْمُؤْمِنِينَ ، فَالْتَفَتَ قِيدَارُ إِلَى الْكَعْبَةِ فَإِذَا بِالنَّاسِ يَمُوجُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ يَتَدَافَعُونَ بِالْمَنَاكِبِ وَهُمْ يَطُوفُونَ حَوْلَ الْبَيْتِ ، كَانُوا لِأَوَّلِ مَرَّةٍ فِي تَارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ تُجَّارًا رُهْبَانًا تَحْكُمُهُمْ شَرِيعَةُ اللهِ وَقَانُونُ الطَّبِيعَةِ ، فَاللهُ يُشْرِقُ فِي نُفُوسِهِمْ وَعَجَلَةُ الْوُجُودِ تَدُورُ ، وَلَمْ تَكُنْ تَدُورُ فِي فَرَاغٍ إِلَى الْأَبَدِ بَلْ كَانَتْ تَدُورُ إِلَى غَايَةٍ ، إِلَى إِرْضَاءِ اللهِ ، إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا .
وَضَجَّ الْمَكَانُ بِالِابْتِهَالِ وَأَوَتْ جِبَالُ مَكَّةَ بِدُعَاءِ الْمُؤْمِنِينَ ، فَالْتَفَتَ قِيدَارُ إِلَى الْكَعْبَةِ فَإِذَا بِالنَّاسِ يَمُوجُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ يَتَدَافَعُونَ بِالْمَنَاكِبِ وَهُمْ يَطُوفُونَ حَوْلَ الْبَيْتِ ، كَانُوا لِأَوَّلِ مَرَّةٍ فِي تَارِيخِ الْبَشَرِيَّةِ تُجَّارًا رُهْبَانًا تَحْكُمُهُمْ شَرِيعَةُ اللهِ وَقَانُونُ الطَّبِيعَةِ ، فَاللهُ يُشْرِقُ فِي نُفُوسِهِمْ وَعَجَلَةُ الْوُجُودِ تَدُورُ ، وَلَمْ تَكُنْ تَدُورُ فِي فَرَاغٍ إِلَى الْأَبَدِ بَلْ كَانَتْ تَدُورُ إِلَى غَايَةٍ ، إِلَى إِرْضَاءِ اللهِ ، إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا .
...Hajar adalah kebaikan dan keberkahan bagi lembah ini, dan dia adalah kebaikan serta keberkahan bagi keluarga Ibrahim. Tempat itu pun bergemuruh dengan doa dan gunung-gunung Makkah seolah menyerap doa orang-orang mukmin. Qidar menoleh ke arah Ka'bah, terlihat orang-olah saling bergelombang satu sama lain, saling berdesakan bahu membahu ketika mereka thawaf mengelilingi Baitullah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, mereka menjadi para pedagang sekaligus ahli ibadah yang diatur oleh syariat Allah dan hukum alam. Maka Allah menyinari jiwa mereka dan roda kehidupan berputar. Putaran itu tidak berada dalam kekosongan tanpa tujuan untuk selamanya, melainkan berputar menuju satu tujuan akhir, yaitu menggapai ridha Allah. Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
أَدْرَكَ هَٰؤُلَاءِ الْبُسَطَاءُ حَقِيقَةَ نُفُوسِهِمْ ، عَرَفُوا طَرِيقَ السَّعَادَةِ ، سَرَى قَانُونُ اللهِ وَقَانُونُ الطَّبِيعَةِ فِي نُفُوسِهِمْ جَنْبًا إِلَى جَنْبٍ ، الْوُجُودُ كُلُّهُ يَدُورُ بِإِرَادَةِ اللهِ ، وَهَٰذِهِ الْإِرَادَةُ لَمْ تَسْلُبِ النَّاسَ حَقَّ التَّصَرُّفِ وَالِاخْتِيَارِ بَلْ تَرَكَتْ لِلنَّاسِ أَنْ يَعْمَلُوا وَأَنْ يَخْتَارُوا ، وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ .
Orang-orang sederhana itu telah menyadari hakikat diri mereka sendiri, mereka mengetahui jalan kebahagiaan. Hukum Allah dan hukum alam berjalan beriringan di dalam jiwa mereka secara berdampingan. Seluruh alam semesta berputar dengan kehendak Allah, dan kehendak ini tidak merampas hak manusia untuk bertindak dan memilih, melainkan membiarkan manusia untuk berbuat dan memilih. Dan bagi masing-masing mereka ada tingkatan-tingkatan dari apa yang telah mereka kerjakan agar Allah mencukupkan balasan amal-amal mereka, dan mereka tidak dirugikan.
وExtended جَاءَ يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ إِلَى عَمِّهِ يَسْعَى يَبْدُو فِي وَجْهِهِ الْأَسَى ، وَقَالَ فِي صَوْتٍ مُتَهَدِّجٍ :
Dan Yasyjub bin Nabit datang kepada pamannya dengan bergegas, tampak kesedihan yang mendalam di wajahnya, lalu dia berkata dengan suara yang gemetar:
— إِنَّ أَبِي يَمُوتُ .
— "Sesungguhnya ayahku sedang sekarat mendatangi kematian."
وَقَبْلَ أَنْ يَتِمَّ مَقَالَهُ طَفَرَتِ الدُّمُوعُ مِنْ عَيْنَيْهِ ، وَاسْتَشْعَرَ قِيدَارُ حُزْنًا يَشْتَعِلُ فِي كِيَانِهِ وَهُمَا ثَقِيلًا يَنْزِلُ بِهِ وَزِلْزَالًا شَدِيدًا ، لَكَأَنَّمَا قَدْ نَعَى إِلَيْهِ نَفْسَهُ . إِنَّهُ لَمْ يُفَارِقْ أَخَاهُ مُنْذُ تَفَتَّحَتْ عَيْنَاهُ عَلَى الْحَيَاةِ ، فَطَالَمَا لَعِبَ وَرَتَعَ هُوَ وَنَابِتٌ فِي بِطَاحِ مَكَّةَ ، وَطَالَمَا خَرَجَا مَعًا فِي قَوَافِلِ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ إِلَى الشَّامِ وَمِصْرَ وَالْيَمَنِ ، كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا دِرْعًا لِلْآخَرِ ، سِلَاحًا لِأَخِيهِ ، وَإِذَا بِنَابِتٍ يَجُودُ بِأَنْفَاسِهِ وَيَتْرُكُهُ وَحِيدًا وَإِنْ كَانَتْ قَبِيلَتُهُ قَدْ صَارَتْ فِي عَدَدِ النُّجُومِ .
Dan sebelum dia menyelesaikan ucapannya, air mata meleleh dari kedua matanya. Qidar merasakan kesedihan yang membakar seluruh jiwanya, beban berat yang menimpa dirinya, serta guncangan yang hebat, seolah-olah dia sedang mengumumkan kematian bagi dirinya sendiri. Dia tidak pernah berpisah dari saudaranya sejak kedua matanya terbuka melihat kehidupan. Berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan bersama, dia dan Nabit, bermain dan bersenang-senang di tanah lapang Makkah. Mereka berdua sering keluar bersama dalam kafilah dagang keturunan Ismail menuju Syam, Mesir, dan Yaman. Masing-masing dari mereka adalah perisai bagi yang lain, menjadi senjata bagi saudaranya. Dan kini, Nabit sedang mengembuskan napas terakhirnya dan akan meninggalkannya sendirian, meskipun kabilahnya saat ini telah berkembang sebanyak jumlah bintang di langit.
صَارَتْ وِلَايَةُ الْبَيْتِ لِنَابِتٍ بَعْدَ مَوْتِ أَبِيهِ إِسْمَاعِيلَ ، فَإِنْ ذَهَبَ نَابِتٌ فَمَنِ الَّذِي يَقُومُ بِوِلَايَةِ الْبَيْتِ ؟
Kepengurusan Baitullah beralih kepada Nabit setelah wafatnya sang ayah, Ismail. Jika Nabit kini pergi, lalu siapakah yang akan memegang urusan kepengurusan Baitullah selanjutnya?
إِنَّ نَابِتًا كَانَ رُوحًا يَسْرِي فِي مَكَّةَ ، كَانَ الْمِحْوَرَ الَّذِي تَدُورُ حَوْلَهُ حَيَاتُهَا ، وَهَا هُوَ ذَا نَابِتٌ يُوشِكُ أَنْ يُغَادِرَ الدُّنْيَا فَمَنْ لِمَكَّةَ مِنْ بَعْدِهِ ؟
Sesungguhnya Nabit adalah ruh yang berjalan mengalir di Makkah, dia adalah poros yang menjadi pusat perputaran roda kehidupan di sana. Dan kini, Nabit sudah sangat dekat untuk meninggalkan dunia ini, maka siapakah yang akan menjaga Makkah setelah kepergiannya?
وَأَفَاقَ مِنْ ذَٰلِكَ الضَّعْفِ الَّذِي طَافَ بِهِ ، إِنَّ رُوحَ اللهِ تَخْفِقُ فِي صُدُورِ الْمُؤْمِنِينَ وَفَيْضَ النُّورِ الْإِلَٰهِيِّ الَّذِي سَكَبَهُ الدِّينُ فِي صُدُورِهِمْ لَنْ يَغِيضَ ، فَالْقُلُوبُ كُلُّهَا مُفْعَمَةٌ بِحُبِّ اللهِ ، وَإِنَّ ذَٰلِكَ الْحُبَّ لَمْ يَكُنْ صَلَاةً فِي مَعْبَدِ الْكَوْنِ فَحَسْبُ بَلْ تَحَوَّلَ مَعَ ذَٰلِكَ إِلَى أَفْعَالٍ اشْتَرَكَ فِيهَا الْجَسَدُ مَعَ الرُّوحِ : دُعَاءٌ إِلَى اللهِ وَطَوَافٌ حَوْلَ بَيْتِهِ الْمُعَظَّمِ وَسَعْيٌ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، وَوُقُوفٌ بِعَرَفَةَ ، وَدُعَاءُ اللهِ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ . إِنَّهُ الِاتِّصَالُ بِرُوحِ الْوُجُودِ كُلِّهِ .
Dan dia pun tersadar dari kelemahan yang sempat melanda dirinya itu. Sesungguhnya ruh Allah senantiasa bergetar di dalam dada orang-orang yang beriman, dan limpahan cahaya ilahi yang dialirkan oleh agama ke dalam dada mereka tidak akan pernah kering. Hati mereka semua dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah. Dan rasa cinta itu tidak hanya berupa salat di dalam kuil semesta alam saja, melainkan berubah bersamaan dengan itu menjadi amal nyata yang melibatkan jasad bersama dengan ruh: yaitu berdoa kepada Allah, thawaf mengelilingi rumah-Nya yang agung, sa'i di antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, serta berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Sesungguhnya hal tersebut adalah koneksi hubungan dengan ruh seluruh alam semesta.
وَانْطَلَقَ قِيدَارُ إِلَى دَارِ أَخِيهِ وَرَاحَ فِكْرُهُ يَعْمَلُ ، إِنَّهُ كَانَ يُعَاوِنُ أَخَاهُ وَيُرَحِّبُ بِضَيْفِ اللهِ ، وَلَٰكِنَّهُ كَبِرَ وَصَارَ فِي الْغَابِرِينَ فَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْهَضَ بِخِدْمَةِ الْحَجِيجِ بَعْدَ نَابِتٍ ، وَلَا أَنْ يُيَسِّرَ سُبُلَ الرَّاحَةِ لِزُوَّارِ بَيْتِ اللهِ ، فَوِلَايَةُ الْبَيْتِ فِي حَاجَةٍ إِلَى رَجُلٍ مَسْمُوعِ الْكَلِمَةِ مَرْهُوبِ الْجَانِبِ قَوِيِّ الشَّكِيمَةِ تَتَدَفَّقُ فِيهِ الْحَيَاةُ .
Qidar pun bergegas menuju ke rumah saudaranya sembari pikirannya terus berputar tajam. Dia dahulu selalu membantu saudaranya dan menyambut para tamu Allah, namun kini dia telah menua dan berada di sisa-sisa usianya sehingga tidak akan mampu lagi memikul beban pelayanan jemaah haji sepeninggal Nabit, tidak pula mampu memberikan kemudahan fasilitas kenyamanan bagi para pengunjung rumah Allah. Kepengurusan Baitullah sangat membutuhkan sosok lelaki yang ditaati ucapannya, disegani wibawanya, kuat pendiriannya, serta memiliki vitalitas kehidupan yang mengalir deras di tubuhnya.
وَرَاحَ قِيدَارُ يُقَلِّبُ الْفِكْرَ وَيَزِنُ رِجَالَ بَنِي إِسْمَاعِيلَ ، إِنَّ إِخْوَتَهُ : إِذْبِيلَ وَمِيشَامَ وَمِشْمَاعَ وَدُومَةَ وَمَسًّا وَحَيْدَارَ وَتِيمَا قَعَدَتْ بِهِمُ السِّنُّ وَأَمْسَوْا شُيُوخًا فَانِينَ ، وَإِنْ هِيَ إِلَّا سُنُونَ قَلِيلَةٌ ثُمَّ يَلْحَقُونَ بِأَبَوَيْهِمَا الْكَرِيمَيْنِ وَجَدِّهِمُ الْخَلِيلِ .
Dan Qidar mulai membolak-balikkan pikirannya serta menimbang-nimbang para lelaki dari keturunan Ismail. Sesungguhnya saudara-saudaranya sendiri: Idzbil, Misyam, Misyma', Dumah, Massa, Haidar, dan Tima, semuanya telah terhalang oleh faktor usia dan berubah menjadi orang-orang tua yang ringkih. Tinggal menunggu beberapa tahun saja, mereka pun akan menyusul kedua orang tua mereka yang mulia (Ismail dan Hajar) serta kakek mereka, sang Kekasih Allah (Ibrahim).
وَطَافَ بِذِهْنِهِ رِجَالُ الطَّبَقَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ : يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ وَالنَّبْتُ بْنُ قِيدَارَ ، وَسُرْعَانَ مَا هَمَسَ فِي جَوْفِهِ هَامِسٌ : أَيَقُومُ بِوِلَايَةِ الْبَيْتِ يَشْجُبُ أَوِ النَّبْتُ وَفِي الْقَوْمِ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو وَالسَّمَيْدَعُ ؟! إِنَّ مُضَاضًا سَيِّدُ جُرْهُمَ وَخَالُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ ، وَالسَّمَيْدَعُ سَيِّدُ قَطُورَاءَ وَهُمْ مِنَ الْعَمَالِيقِ الَّذِينَ دَانَتْ لَهُمْ مِصْرُ وَسُورِيَةُ وَفِلَسْطِينُ .
Lalu terlintas dalam benaknya barisan para lelaki dari generasi kedua keturunan Ismail: Yasyjub bin Nabit dan An-Nabt bin Qidar. Namun dengan cepat sebuah bisikan terbersit di dalam hatinya: "Apakah urusan kepengurusan Baitullah akan dipegang oleh Yasyjub atau An-Nabt, sedangkan di tengah kaum tersebut masih ada Mudhadh bin Amr dan As-Samayda'?!" Sesungguhnya Mudhadh adalah pemimpin suku Jurhum sekaligus paman dari jalur ibu anak-anak Ismail, sementara As-Samayda' adalah pemimpin suku Qatura', dan mereka merupakan bagian dari kaum Amaliqah yang pernah menundukkan wilayah Mesir, Suriah, dan Palestina di bawah kekuasaan mereka.
وَسَارَ قِيدَارُ يَتَوَكَّأُ عَلَىٰ عَصَاهُ وَيَسْتَنِدُ عَلَىٰ ذِرَاعِ النَّبْتِ بَيْنَ الْحِينِ وَالْحِينِ ، وَسَارَ خَلْفَهُمَا يَشْجُبُ بْنُ نَابِتٍ وَيَعْرُبُ بْنُ قِيدَارَ وَالْوُجُوهُ بَاسِرَةٌ وَالْعُيُونُ دَامِعَةٌ وَنَارُ الْحُزْنِ تَشْوِي الْقُلُوبَ .
Dan Qidar berjalan sembari bertumpu pada tongkatnya dan sesekali bersandar pada lengan An-Nabt dari waktu ke waktu. Di belakang keduanya, berjalanlah Yasyjub bin Nabit dan Ya'rub bin Qidar dengan wajah-wajah yang muram, mata yang berlinang air mata, serta api kesedihan yang membakar hangus hati mereka.
وَدَخَلَ قِيدَارُ عَلَىٰ أَخِيهِ وَكَانَ مُسَجًّىٰ فِي فِرَاشِهِ وَحَوْلَهُ شُيُوخُ بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَأَحَسَّ غُصَّةً فِي حَلْقِهِ ، فَقَدِ اسْتَوْلَىٰ عَلَيْهِ إِحْسَاسٌ بِأَنَّهُ يَفْقِدُ بِفَقْدِ نَابِتٍ أُمَّهُ وَأَبَاهُ ، وَأَنَّهُ وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ يَذُوقُ مَرَارَةَ الْيُتْمِ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ .
Qidar masuk menemui saudaranya yang telah terbujur kaku di atas tempat tidurnya, dikelilingi oleh para tetua Bani Ismail, lalu dia merasakan tenggorokannya tersumbat sesak. Rasa kehilangan yang amat sangat menguasai dirinya, seolah-olah dengan kehilangan Nabit, dia kehilangan ibu dan ayahnya sekaligus, dan seakan dia, meski sudah menjadi orang tua yang lanjut usia, merasakan pahitnya menjadi anak yatim untuk pertama kalinya.
وَرَاحَ قِيدَارُ يُقَلِّبُ وَجْهَهُ الْوَالِهَ الْحَزِينَ فِي وُجُوهِ إِخْوَتِهِ ، لَقَدْ وَعَدَ اللهُ خَلِيلَهُ أَنْ يَهَبَ لِإِسْمَاعِيلَ اثْنَيْ عَشَرَ رَئِيسًا وَقَدْ صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ ، فَهَا هُمْ أُولَاءِ بَنُو إِسْمَاعِيلَ الِاثْنَا عَشَرَ وَقَدْ صَارَ كُلٌّ مِنْهُمْ رَئِيسَ قَبِيلَةٍ ، وَوَعْدُ اللهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيلًا .
Dan Qidar mulai memalingkan wajahnya yang bingung lagi sedih ke arah wajah saudara-saudaranya. Sungguh, Allah telah berjanji kepada kekasih-Nya (Ibrahim) bahwa Dia akan menganugerahkan kepada Ismail dua belas orang pemimpin, dan Allah telah menepati janji-Nya. Maka lihatlah mereka, dua belas putra Ismail, yang masing-masing telah menjadi pemimpin kabilah. Janji Allah adalah sebuah kebenaran, dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?
كَانَ شَيْخُ الْإِسْمَاعِيلِيِّينَ يَمُوتُ وَقَدْ مَاتَ مِنْ قَبْلِهِ إِسْمَاعِيلُ صَادِقُ الْوَعْدِ فَدَمَعَتِ الْعُيُونُ وَلَٰكِنَّ الْقُلُوبَ كَانَتْ تُسَبِّحُ لِلهِ الْعَظِيمِ ، أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ .
Pemimpin keturunan Ismail itu tengah menghadapi kematian, sementara sebelum dirinya telah wafat pula Ismail yang selalu menepati janji. Maka mata pun berlinang, namun hati sanubari mereka tetap bertasbih memuji Allah Yang Maha Agung. Apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik? Tentu mereka tidak sama.
وَأَشَارَ نَابِتٌ لِإِخْوَتِهِ وَأَبْنَائِهِ أَنْ يَدْنُوا مِنْهُ ، فَلَمَّا اقْتَرَبُوا قَالَ فِي صَوْتٍ خَافِتٍ :
Nabit memberikan isyarat kepada saudara-saudara dan anak-anaknya untuk mendekat kepadanya. Ketika mereka sudah mendekat, dia berkata dengan suara yang lirih:
— مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي ؟
— "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"
— نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ .
— "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim dan Ismail."
فَهَمَسَ فِي جُهْدٍ :
Maka dia (Nabit) berbisik dengan susah payah:
— اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ، وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ .
— "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
وَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَدَعَا بِدَعْوَةِ جَدِّهِ الْعَظِيمِ :
Dan dia mengarahkan pandangan matanya ke langit lalu berdoa dengan doa kakek agungnya (Ibrahim):
— رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ .
— "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar