BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Banu Ismail - Episode 5

BANU ISMA'IL
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Saat Langit Menjadi Dongeng: Runtuhnya Tauhid di Balik Mitos Malaikat

Demi ambisi takhta, kesucian langit pun diseret ke bumi. Ketika para tetua Jurhum mulai mengarang mitos atas nama malaikat untuk melegitimasi kekuasaan, di saat itulah pintu kemusyrikan terbuka, mengajarkan kita bahwa kehormatan sejati hanyalah milik mereka yang teguh memegang tauhid, bukan yang menjual ayat demi gengsi dunia.

وَلِيَ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو الْجُرْهُمِيُّ الْبَيْتَ بَعْدَ نَابِتٍ ، وَكَانَ فِي عِزَّةٍ وَكَثْرَةٍ وَثَرْوَةٍ بَعْدَ أَنْ ضَمَّ بَنِي إِسْمَاعِيلَ إِلَيْهِ فَضَمَّ الشَّرَفَ إِلَى كَثْرَةِ الْجَرَاهِمَةِ الَّذِينَ غَصَّتْ بِهِمُ الْجِبَالُ فِي شَمَالِ مَكَّةَ .
Mudad bin Amru Al-Jurhumi menguasai Baitullah setelah Nabit. Dia berada dalam kemuliaan, jumlah pengikut yang banyak, dan kekayaan setelah dia merangkul bani Ismail ke dalam kelompoknya, sehingga dia menyatukan kehormatan nasab dengan besarnya jumlah kaum Jurhum yang memenuhi pegunungan di utara Makkah.
وَكَانَتْ أَمْوَالُهُ كَثِيرَةً ، عَبِيدٌ وَخَيْلٌ وَإِبِلٌ وَمَاشِيَةٌ تَرْعَى بِمَكَّةَ وَمَا حَوْلَهَا مِنْ وَادِي مَرٍّ إِلَى عَرَفَةَ عَلَى طَرِيقِ الطَّائِفِ ، وَكَانَتْ تِجَارَتُهُ تَجُوبُ الشَّامَ وَالْعِرَاقَ وَمِصْرَ وَالْيَمَنَ .
Dan harta kekayaannya sangat melimpah, berupa budak, kuda, unta, dan hewan ternak yang merumput di Makkah dan sekitarnya, mulai dari Lembah Marr hingga Arafah di jalur Thaif. Perdagangannya pun menjelajahi Syam, Irak, Mesir, dan Yaman.
وَلَمْ تَكُنْ وِلَايَتُهُ لِلْبَيْتِ أَمْرًا سَهْلًا فَقَدْ وَلِيَهُ بَعْدَ إِسْمَاعِيلَ وَنَابِتٍ ، اللَّذَيْنِ أَحَبَّهُمَا النَّاسُ وَدَانُوا لَهُمَا بِالطَّاعَةِ ، فَكَانَ الْمُجْتَمَعُ الْجَدِيدُ الَّذِي تَكَّوَنَ حَوْلَ الْبِئْرِ وَخَفَقَتْ فِي جَنَبَاتِهِ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ .
Dan kepemimpinannya atas Baitullah bukanlah perkara mudah, karena dia memimpin setelah Ismail dan Nabit, dua sosok yang dicintai manusia dan dipatuhi dengan penuh ketaatan. Maka berdirilah masyarakat baru yang terbentuk di sekitar sumur (Zamzam) dan di sekelilingnya bersemi ajaran Ibrahim Al-Khalil.
لَقَدْ كَانَ إِسْمَاعِيلُ أَسْعَدَ حَظًّا مِمَّنْ كُلِّ مَنْ جَاءَ بَعْدَهُ ، كَانَ هُوَ الْمِحْوَرَ الَّذِي جَمَعَ حَوْلَهُ أَهْلَ مَكَّةَ فَكَوَّنَ مِنْهُمْ مُجْتَمَعًا جَدِيدًا يَسْرِي فِيهِ حُبُّ اللهِ وَتُظِلُّهُ رُوحُ
Sungguh, Ismail adalah orang yang paling beruntung di antara semua orang yang datang setelahnya. Dialah poros yang mengumpulkan penduduk Makkah di sekitarnya, lalu membentuk dari mereka sebuah masyarakat baru yang di dalamnya mengalir cinta kepada Allah dan dinaungi oleh ruh
الدِّينِ ، فَكَانَ مُجْتَمَعُ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ وَالصَّفَاءِ ، وَلَمْ يَكُنْ لِذَلِكَ الْمُجْتَمَعِ النَّاشِئِ تَقَالِيدُ مَوْرُوثَةٌ تُثِيرُ الْأَحْقَادَ وَتُنْشِبُ الْمَعَارِكَ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْحَدِيثِ ، وَلَمْ يَحْدُثْ فِي هَذَا الْمُجْتَمَعِ ذَلِكَ الصِّرَاعُ الَّذِي يَكُونُ عَادَةً بَيْنَ أَنْصَارِ الْمَاضِي الْمُتَعَصِّبِينَ لَهُ وَجُنُودِ الْحَاضِرِ الْمُتَطَلِّعِينَ إِلَى السَّيْطَرَةِ وَالِاسْتِبْدَادِ .
agama. Maka jadilah ia masyarakat yang penuh keridhaan, kebahagiaan, dan kemurnian. Masyarakat yang baru tumbuh itu tidak memiliki tradisi warisan yang memicu dendam serta menyulut pertempuran antara nilai lama dan baru. Di dalam masyarakat ini juga tidak terjadi konflik yang biasanya berkobar antara pembela masa lalu yang fanatik dengan tentara masa kini yang ambisius terhadap kekuasaan dan kesewenang-wenangan.
وَكَانَتْ وِلَايَةُ نَابِتٍ لِلْبَيْتِ امْتِدَادًا لِحُكْمِ إِسْمَاعِيلَ ، كَانَتْ عَهْدَ مُصَالَحَةٍ بَيْنَ الْمَادَّةِ وَالرُّوحِ فَلَمْ تَطْغَ الدُّنْيَا عَلَى الدِّينِ وَإِنِ انْتَصَرَتِ الْحَيَاةُ عَلَى الْمَادَّةِ فِي ذَلِكَ الْمُجْتَمَعِ الْجَدِيدِ .
Dan kepemimpinan Nabit atas Baitullah merupakan kelanjutan dari hukum Ismail. Itu adalah zaman perdamaian antara materi dan ruh, sehingga urusan dunia tidak menenggelamkan urusan agama, walaupun kehidupan berhasil menaklukkan materi di dalam masyarakat baru tersebut.
كَانَ الْإِنْسَانُ مُنْذُ أَنْ وُجِدَ عَلَى الْأَرْضِ فِي شَوْقٍ إِلَى أَنْ تَمْتَدَّ أَطْرَافُهُ وَأَنْ يَنْفَسِحَ مَجَالُ بَصَرِهِ وَأَنْ تَتَّسِعَ آفَاقُ صَوْتِهِ وَأَنْ تَشِفَّ رُوحُهُ لِتَتَّصِلَ بِالْوُجُودِ مِنْ حَوْلِهِ ، فَاخْتَرَعَ السَّيْفَ لِيَكُونَ امْتِدَادًا لِذِرَاعِهِ ، وَنَفَخَ فِي النَّفِيرِ لِيُرْسِلَ صَوْتَهُ إِلَى آمَادٍ بَعِيدَةٍ ، وَكَانَ كُلُّ ذَلِكَ أَمْرًا مَحْدُودًا ، مَا الرُّوحُ فَقَدِ اتَّسَعَتْ حَتَّى حَوَتِ الْكَوْنَ وَمَا فَوْقَ الْكَوْنِ .
Manusia sejak diciptakan di bumi selalu rindu agar jangkauan tangannya memanjang, ruang pandangnya meluas, cakrawala suaranya melebar, dan jiwanya menjadi jernih untuk terhubung dengan keberadaan di sekitarnya. Maka ia menciptakan pedang sebagai perpanjangan lengannya, dan meniup terompet untuk mengirimkan suaranya ke jarak yang jauh, namun semua itu terbatas. Adapun ruh, ia meluas hingga merangkul alam semesta dan apa yang ada di atas alam semesta.
وَقَدِ اسْتَطَاعَ إِسْمَاعِيلُ أَنْ يَسْتَغِلَّ رَحَابَةَ الرُّوحِ فِي رَفَاهِيَةِ قَوْمِهِ وَقِيَادَتِهِمْ إِلَى طَرِيقِ السَّعَادَةِ ، وَقَدْ نَجَحَ نَابِتٌ فِي أَنْ يَسْلُك_َ الطَّرِيقَ نَفْسَهُ ، فَهَلْ يَسْتَطِيعُ مُضَاضٌ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى وَحْدَةِ الْمُجْتَمَعِ وَأَنْ يَنْهَضَ بِهِ لِيَصْعَدَ وَيَصْعَدَ مَعَهُ فِي مَعَارِجِ رُقِيِّهِ ؟
Ismail telah mampu memanfaatkan keluasan ruh demi kemakmuran kaumnya dan memimpin mereka menuju jalan kebahagiaan, dan Nabit pun telah berhasil menempuh jalan yang sama. Maka apakah Mudad mampu menjaga persatuan masyarakat serta memajukannya agar terus bangkit dan mendaki bersamanya menuju tangga kemajuannya?
صَارَ النَّاسُ يَحْنُونَ إِلَى الْمَاضِي بَعْدَ مَوْتِ نَابِتٍ وَكَانُوا لَا يَفْتَئُونَ يَتَذَكَّرُونَ أَيَّامَ إِسْمَاعِيلَ وَابْنِهِ نَابِتٍ ، وَكَانَ ذَلِكَ الْحَنِينُ يَشُلُّ الْقَائِدَ الْجَدِيدَ عَنِ الْإِبْدَاعِ وَيَعُوقُ تَجَاوُبَ الْقَوْمِ مَعَ مَنْ أَصْبَحَ زَعِيمَهُمْ .
Orang-orang mulai merindukan masa lalu setelah wafatnya Nabit, mereka tidak henti-hentinya mengingat hari-hari Ismail dan putranya, Nabit. Kerinduan tersebut melumpuhkan pemimpin baru dari berinovasi dan menghambat respons kaum tersebut terhadap sosok yang kini menjadi pemimpin mereka.
وَلَمْ يَكُنِ الْأَمْرُ فِي مَكَّةَ لِمُضَاضٍ وَحْدَهُ فَإِنْ كَانَ قَدْ وَلِيَ الْبَيْتَ فَقَدْ كَانَ السَّمَيْدَعُ يُنَافِسُهُ ، بَقِيَ مُضَاضٌ فِي شَمَالِ الْوَادِي الْمُقَدَّسِ وَمَا جَازَ ، وَبَقِيَ السَّمَيْدَعُ وَقَبِيلَتُهُ قَطُورَاءُ فِي الْجَنُوبِ وَقَدْ رَمَتْ أُنُوفُهُمْ لِخُرُوجِ وِلَايَةِ الْبَيْتِ عَنْ سُلْطَانِهِمْ ، وَسَكَتُوا عَلَى مُضَاضٍ إِلَّا أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَحَيَّنُونَ الْفُرَصَ وَيَتَرَقَّبُونَ صُرُوفَ الزَّمَانِ ، فَوِلَايَةُ الْبَيْتِ شَرَفٌ تَشْرَئِبُّ إِلَيْهِ الْأَعْنَاقُ وَتَتِيهُ بِهِ الْأَقْوَامُ .
Dan urusan di Makkah tidak berada di tangan Mudad seorang diri, karena jika dia yang menguasai Baitullah, maka As-Samayda menentangnya. Mudad menetap di utara lembah suci dan wilayah sekitarnya, sedangkan As-Samayda dan sukunya, Qathura, menetap di selatan dalam keadaan mendongakkan hidung (sombong/tidak terima) karena kepemimpinan Baitullah keluar dari kekuasaan mereka. Mereka menahan diri terhadap Mudad, namun mereka selalu mencari-cari kesempatan dan mengintai perputaran waktu, sebab kepemimpinan Baitullah adalah kehormatan yang membuat leher-leher mendongak (didambakan semua pihak) dan dibanggakan oleh bangsa-bangsa.
وَرَاحَ مُضَاضٌ يَحْصُلُ الْأَعْشَارَ مِنَ التُّجَّارِ الَّذِينَ وَفَدُوا إِلَى مَكَّةَ مِنْ شَمَالِهَا ، لِيُصْرِفَ مِنْهَا عَلَى عِمَارَةِ بَيْتِ اللهِ وَعَلَى ضَيْفِ اللهِ وَعَلَى سِقَايَةِ الْحَجِيجِ وَرِفَادَتِهِمْ ، وَأَخَذَ السَّمَيْدَعُ يَحْصُلُ مِمَّنْ وَفَدُوا إِلَيْهَا مِنْ جَنُوبِهَا ، فَلَئِنْ حَازَ مُضَاضٌ شَرَفَ وِلَايَةِ الْبَيْتِ فَلَنْ يُقِرَّ السَّمَيْدَعُ وَقَوْمُهُ لَهُ بِامْتِلَاكِ مَكَّةَ كُلِّهَا ، فَإِنْ كَانَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الشَّمَالِ فَلِلسَّمَيْدَعِ سُلْطَانٌ عَلَى الْجَنُوبِ يَفْرِضُ عَلَيْهِ مَا يَشَاءُ .
Dan Mudad mulai memungut pajak sepersepuluh dari para pedagang yang datang ke Makkah dari arah utaranya, untuk dibelanjakan bagi kemakmuran Baitullah, menjamu tamu Allah, serta menyediakan air minum dan konsumsi bagi para jamaah haji. Sementara As-Samayda mengambil pungutan dari orang-orang yang datang dari arah selatannya. Jadi, walaupun Mudad meraih kehormatan memimpin Baitullah, As-Samayda dan kaumnya tidak akan membiarkannya memiliki Makkah sepenuhnya; jika Mudad memiliki kekuasaan atas wilayah utara, maka As-Samayda memiliki kekuasaan atas wilayah selatan untuk menetapkan aturan apa pun yang dia kehendaki.
وَبَيْنَا النَّاسُ يَتَسَامَرُونَ حَوْلَ الْكَعْبَةِ قَالَ رَجُلٌ مِنْ قَطُورَاءَ :
Dan ketika orang-orang sedang berbincang-bincang pada malam hari di sekitar Ka'bah, seorang lelaki dari suku Qathura berkata:
— مَنْ ذَا مُضَاضٌ الَّذِي صَارَتْ إِلَيْهِ وِلَايَةُ الْبَيْتِ بَعْدَ إِسْمَاعِيلَ وَنَابِتٍ سِبْطِ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ ؟!
— "Siapakah Mudad ini yang urusan kepemimpinan Baitullah jatuh ke tangannya setelah Ismail dan Nabit, cucu Ibrahim Al-Khalil?!"
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ جُرْهُمٍ :
Maka berkatalah seorang lelaki dari suku Jurhum:
— إِنَّهُ ابْنُ جُرْهُمِ بْنِ قَحْطَانَ ، إِنَّهُ ابْنُ السِّيَادَةِ وَالشَّرَفِ .
— "Dia adalah putra Jurhum bin Qahtan, dia adalah putra pemegang kepemimpinan dan kemuliaan."
— وَمَنْ هُوَ قَحْطَانُ ؟
— "Dan siapakah Qahtan itu?"
— هُوَ ابْنُ عَبْدِ اللهِ أَخِي هُودٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، إِنَّهُ طَاهِرٌ مِنْ طَاهِرٍ .
— "Dia adalah putra Abdullah, saudara kandung Nabi Hud Alaihis Salam. Sesungguhnya dia adalah orang suci keturunan orang suci."
فَقَالَ نَصِيرُ السَّمَيْدَعِ :
Maka berkatalah pendukung As-Samayda:
— وَأَيْنَ الثَّرَّى مِنَ الثُّرَيَّا ، إِنَّ السَّمَيْدَعَ بْنَ عَمْلِيقَ بْنِ لَاوِذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ . أَصْلُهُ فِي السَّمَاءِ .
— "Di manakah posisi tanah jika dibandingkan dengan bintang Kejora? Sesungguhnya As-Samayda adalah putra Amliq bin Lawidz bin Sam bin Nuh Alaihis Salam. Asal-usul garis keturunannya berada di langit (sangat tinggi)."
وَرَأَى جُرْهُمِيٌّ آخَرُ أَنْ يَشْتَرِكَ فِي التَّنَابُذِ بِالْأَلْقَابِ فَاشْتَرَكَ فِي الْحِوَارِ ، قَالَ :
Dan seorang lelaki Jurhum lainnya merasa perlu ikut serta dalam aksi saling melempar julukan ini, maka dia bergabung dalam dialog dan berkata:
— كَانَ فِي سَفِينَةِ نُوحٍ ثَمَانُونَ إِنْسَانًا وَكَانَ فِيهِمْ جُرْهُمُ ، إِنَّهُ مِنْ وَلَدِ نُوحٍ ذُرِّيَّةٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ .
— "Dahulu di dalam kapal Nabi Nuh ada delapan puluh orang manusia dan di antara mereka terdapat nenek moyang Jurhum. Sesungguhnya dia termasuk anak cucu Nuh, keturunan yang sebahagiannya merupakan kelanjutan dari sebahagian yang lain."
وَاشْتَدَّ الْجَدَلُ بَيْنَ الْجَانِبَيْنِ كُلٌّ يُحَاوِلُ أَنْ يُعِيدَ أَصْلَهُ إِلَى الدَّوْحَةِ الزَّكِيَّةِ ، إِلَى نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، بَيْنَا لَاذَ الْإِسْمَاعِيلِيُّونَ بِالصَّمْتِ فَقَدْ عَلَّمَهُمُ الْخَلِيلُ أَنَّ الْبَشَرِيَّةَ جَمِيعًا مِنْ آدَمَ وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ .
Dan perdebatan semakin sengit di antara kedua belah pihak, masing-masing berusaha mengembalikan asal-usulnya kepada pohon silsilah yang suci, yaitu kepada Nuh Alaihis Salam. Sementara itu, anak cucu Ismail memilih diam, karena Al-Khalil (Ibrahim) telah mengajarkan mereka bahwa seluruh umat manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.
وَنَهَضَ الْجَرَاهِمَةُ وَرَاحُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ يَعُودُوا إِلَى دُورِهِمْ ، فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالِابْتِهَالِ إِلَى اللهِ ثُمَّ رَاحُوا يُؤَكِّدُونَ أَنَّهُمْ قِلَادَةُ الْمُؤْمِنِينَ :
Dan kaum Jurhum bangkit lalu mulai mengitari Baitullah (tawaf) sebelum mereka kembali ke rumah mereka, maka suara mereka meninggi dengan penuh ketundukan berdoa kepada Allah, kemudian mereka menegaskan bahwa mereka adalah kalung bagi orang-orang mukmin:
— لَاهُمَّ إِنَّ جُرْهُمَا عِبَادُكَا ... النَّاسُ طَرْفٌ وَهُمُ قِلَادُكَا
— "Ya Allah, sesungguhnya kaum Jurhum adalah hamba-hamba-Mu... Manusia laksana permata, sedangkan mereka adalah kalung-Mu."
وَانْفَضَّ السُّمَّارُ وَاجْتَمَعَ شُيُوخُ جُرْهُمٍ يُفَكِّرُونَ فِي ذَلِكَ الْحِوَارِ الَّذِي اشْتَعَلَ بَيْنَ جُرْهُمٍ وَقَطُورَاءَ ، قَالُوا إِنَّ مُضَاضَ بْنَ عَمْرٍو مِنْ نَسْلِ نُوحٍ فَقَالَتْ قَطُورَاءُ إِنَّ السَّمَيْدَعَ مِنْ نَسْلِ نُوحٍ ، لَقَدْ تَسَاوَى الرَّجُلَانِ وَاسْتَوَيَا عَلَى فَرَسَيْ رِهَانٍ . لَمْ يَعُدْ لِأَحَدِهِمَا فَضْلٌ عَلَى صَاحِبِهِ فَإِنْ أَرَادَتْ جُرْهُمُ أَنْ تُمَكِّنَ لِمُضَاضٍ فِي مَكَّةَ فَلَا بُدَّ أَنْ تَجِدَ مَا يُرَجِّحُ كِفَّتَهُ عَلَى كِفَّةِ مُنَافِسِهِ .
Dan orang-orang yang berbincang pun bubar, lalu para tetua Jurhum berkumpul memikirkan dialog yang sempat membakar suasana antara Jurhum dan Qathura. Mereka berkata bahwa Mudad bin Amru berasal dari keturunan Nuh, sementara suku Qathura mengatakan bahwa As-Samayda juga dari keturunan Nuh; kedua lelaki itu kini setara bagaikan dua kuda pacuan yang seimbang. Tidak ada lagi kelebihan bagi salah satu dari keduanya atas saingannya. Jika Jurhum ingin memperkokoh kedudukan Mudad di Makkah, maka mereka harus menemukan sesuatu yang dapat memberatkan timbangannya di atas timbangan pesaingnya.
وَعَصَرَ شُيُوخُ جُرْهُمٍ أَذْهَانَهُمْ وَقَلَّبُوا الرَّأْيَ فَلَمْ يَجِدُوا أَشْرَفَ مِنْ نُوحٍ يَنْسُبُونَهُ إِلَيْهِ ، وَصَاحَ صَائِحٌ فِي يَأْسٍ :
Dan para tetua Jurhum memeras otak mereka serta membolak-balikkan pendapat, namun mereka tidak menemukan sosok yang lebih mulia daripada Nuh untuk menyandarkan nasabnya. Lalu salah seorang berteriak dalam keputusasaan:
— لَمْ يَبْقَ إِلَّا أَنْ نَنْسُبَهُ إِلَى الْمَلَائِكَةِ .
— "Tidak ada pilihan tersisa bagi kita kecuali menghubungkan nasabnya kepada para malaikat."
وَأَضَاءَ ذَلِكَ الْقَوْلُ رَأْسَ أَحَدِهِمْ فَقَالَ فِي حَمَاسٍ :
Dan ucapan tersebut mencerahkan pikiran salah seorang dari mereka, lalu dia berkata dengan penuh semangat:
— هَذَا هُوَ الرَّأْيُ .
— "Ini dia pendapat yang tepat!"
وَاتَّجَهَتِ الْأَبْصَارُ تَتَفَرَّسُ فِيهِ ، أَهَازِلٌ هُوَ أَمْ جَادٌ ، فَقَالَ الرَّجُلُ :
Dan pandangan mata tertuju menatap tajam ke arahnya, apakah dia sedang bercanda atau bersungguh-sungguh, maka lelaki itu berkata:
— سَأَرْفَعُ نَسَبَ مُضَاضِ بْنِ عَمْرٍو إِلَى الْمَلَائِكَةِ .
— "Aku akan mengangkat nasab Mudad bin Amru sampai kepada malaikat."
وَارْتَفَعَتِ الْأَصْوَاتُ :
Dan suara-suara pun meninggi:
— كَيْفَ ؟
— "Bagaimana caranya?"
— نَقُولُ إِنَّ جُرْهُمَا ابْنُ مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَأَنَّ ذَلِكَ الْمَلَكَ أَذْنَبَ ذَنْبًا عَظِيمًا فَهَوَى مِنْ عَلْيَائِهِ ، وَنُزِعَتْ مِنْهُ رُوحَانِيَّةُ الْمَلَائِكَةِ وَصَارَ كَأَبْنَاءِ آدَمَ ، أُلْقِيَتْ فِيهِ الشَّهْوَةُ فَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الْعَمَالِيقِ فَوَلَدَتْ لَهُ جُرْهُمَا .
— "Kita katakan saja bahwa Jurhum adalah putra dari seorang malaikat, dan bahwa malaikat tersebut telah berbuat dosa besar lalu jatuh dari kedudukan tingginya, ditiadakan sifat kerohanian malaikat darinya sehingga ia menjadi seperti anak cucu Adam, ditiupkan syahwat ke dalam dirinya lalu ia menikahi seorang wanita dari kaum Amaliq, kemudian wanita itu melahirkan Jurhum untuknya."
— وَإِذَا سَأَلُونَا مَا اسْمُ ذَلِكَ الْمَلَكِ ؟
— "Dan jika mereka bertanya kepada kita, siapa nama malaikat itu?"
— فَلْيَكُنْ عُرْعُرَا .
— "Maka biarlah namanya 'Ur'ura."
وَكَانَ شَيْخٌ يَخْشَى أَنْ يَفْتَحَ الْقَوْمُ بَابَ الْأَسَاطِيرِ فَيَفْسُدَ الدِّينُ فَقَالَ :
Dan adalah seorang syekh yang merasa takut jika kaum tersebut membuka pintu takhayul/mitos sehingga akan merusak tatanan agama, maka dia berkata:
— وَمَتَى هَبَطَتِ الْمَلَائِكَةُ إِلَى الْأَرْضِ ؟ هَذَا هُرَاءٌ .
— "Dan kapan para malaikat turun ke bumi? Ini adalah omong kosong."
وَوَضَعُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَأَعْرَضُوا عَنْهُ ، وَانْدَسُّوا بَيْنَ النَّاسِ يُوهِمُونَهُمْ أَنَّهُ إِذَا أَذْنَبَ وَاحِدٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ هَوَى مِنْ عَلْيَائِهِ وَأَنَّ أَبَاهُمُ الْأَعْلَى كَانَ مَلَكًا فَأَذْنَبَ فَهَبَطَ مَكَّةَ وَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الْعَمَالِيقِ فَوَلَدَتْ جُرْهُمًا . وَانْتَشَرَتِ الْأُسْطُورَةُ فِي سُرْعَةِ الرِّيحِ ، وَفَتَحَ شُيُوخُ جُرْهُمٍ أَوَّلَ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْفُسُوقِ بَعْدَ الْإِيمَانِ .
Namun mereka menyumbat telinga dengan jari-jari mereka dan berpaling darinya. Mereka menyusup ke tengah-tengah manusia untuk mengelabui mereka dengan anggapan bahwa jika salah satu malaikat berbuat dosa, ia akan jatuh dari kedudukan tingginya, dan bahwa leluhur tertinggi mereka dahulu adalah malaikat yang berdosa lalu turun ke Makkah dan menikahi wanita Amaliq hingga melahirkan Jurhum. Mitos itu pun menyebar secepat angin, dan para sesepuh Jurhum telah membuka pintu kemusyrikan pertama setelah sebelumnya berada dalam keimanan.
وَحَنِقَ السَّمَيْدَعُ وَاسْتَبَدَّ بِهِ الْغَضَبُ بَعْدَ أَنْ انْتَسَبَتْ جُرْهُمُ إِلَى الْمَلَائِكَةِ ، قَالَتْ جُرْهُمُ إِنَّ مُضَاضَ بْنَ عَمْرٍو مِنْ نَسْلِ نُوحٍ فَقَالَ أَنْصَارُهُ إِنَّ السَّمَيْدَعَ مِنْ نَسْلِ نُوحٍ ، وَالْيَوْمَ يَزْعُمُ الْجَرَاهِمَةُ أَنَّ جَدَّهُمْ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَأَنَّهُمْ مِنْ نَسْلِ السَّمَاءِ فَمَاذَا يَسْتَطِيعُ أَنْصَارُهُ أَنْ يَقُولُوا بَعْدَ هَذَا ؟ إِنِ ادَّعَوْا مَا زَعَمَتْ جُرْهُمُ وَقَالُوا إِنَّهُمْ أَيْضًا مِنْ نَسْلِ الْمَلَائِكَةِ فَسَيَتَّخِذُهُمُ النَّاسُ هُزُوًا .
As-Samayda merasa dongkol dan kemarahan menguasai dirinya setelah kaum Jurhum menisbatkan nasab mereka kepada malaikat. Dahulu Jurhum berkata bahwa Mudad bin Amru keturunan Nuh, lalu pendukung As-Samayda membalas bahwa As-Samayda juga keturunan Nuh. Namun kini, kaum Jurhum mengklaim kakek mereka berasal dari malaikat dan keturunan langit. Apa yang bisa dikatakan pendukungnya setelah ini? Jika mereka ikut mengklaim hal serupa dan berkata mereka juga keturunan malaikat, niscaya orang-orang akan menjadikannya bahan olok-olok.
وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى بَالِهِمْ أَنْ يَدَّعُوا أَنَّهُمْ أَبْنَاءُ اللهِ وَلَوْ فَعَلُوا لَضَرَبَ النَّاسُ رِقَابَهُمْ بِسُيُوفِهِمْ ، فَقَدْ قَامَ دِينُهُمْ عَلَى أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ .
Sama sekali tidak terlintas di benak mereka untuk mengklaim sebagai anak-anak Allah. Jika mereka senekat itu melakukan hal tersebut, niscaya orang-orang akan menebas leher mereka dengan pedang, karena asas agama mereka tegak di atas keyakinan bahwa Allah itu Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
انْتَصَرَ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو فِي حَرْبِ الدِّعَايَةِ ، رَفَعَتْهُ الْأُسْطُورَةُ إِلَى مَرْتَبَةٍ سَامِيَةٍ تُؤَهِّلُهُ لِوِلَايَةِ الْبَيْتِ ، فَإِنْ كَانَ إِسْمَاعِيلُ قَدْ وَلِيَ الْبَيْتَ فَقَدْ كَانَ بِكْرَ إِبْرَاهِيمَ الْخَلِيلِ ، إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا ، وَإِنْ كَانَ نَابِتٌ قَدْ وَلِيَهُ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ كَانَ وَارِثَ النَّفْحَةِ الرُّوحِيَّةِ الَّتِي قَامَتْ عَلَى صَخْرَتِهَا مُجْتَمَعُ مَكَّةَ ، وَهَا هُوَ ذَا مُضَاضٌ يَرْتَفِعُ بِأَصْلِهِ إِلَى السَّمَاءِ . وَضَاقَ السَّمَيْدَعُ بِذَلِكَ الزَّعْمِ وَوَطَّدَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَتَمَرَّدَ عَلَى هَذَا السُّلْطَانِ .
Mudad bin Amru memenangkan perang propaganda. Mitos tersebut telah mengangkatnya ke derajat tinggi yang membuatnya sangat layak memimpin Baitullah. Jika dahulu Ismail memimpin Baitullah karena dia putra sulung Ibrahim Al-Khalil, seorang yang benar janjinya dan seorang rasul lagi nabi, dan jika Nabit memimpin setelahnya karena dia pewaris hembusan spiritual yang menjadi batu fondasi masyarakat Makkah, maka kini Mudad mengangkat asal-usulnya langsung ke langit. As-Samayda merasa sesak dada akibat klaim tersebut dan memantapkan jiwanya untuk memberontak menentang kekuasaan ini.
وَرَاحَ السَّمَيْدَعُ وَقَطُورَاءُ يَدْحَضُونَ دَعْوَةَ جُرْهُمٍ فِي النَّوَادِي وَالْمُجْتَمَعَاتِ وَيُحَاوِلُونَ مَا وَسِعَتْهُمُ الْحُجَّةُ أَنْ يُسَفِّهُوا ذَلِكَ الْقَوْلَ ، إِلَّا أَنَّ النَّاسَ فُتِنُوا بِهِ . وَظَهَرَ لِلسَّمَيْدَعِ أَنْ لَا جَدْوَى مِنَ الْمُحَاجَّةِ ، فَفَزِعَ إِلَى السَّيْفِ . فَخَرَجَ عَلَى
As-Samayda dan suku Qathura mulai membantah klaim Jurhum di balai-balai pertemuan dan perkumpulan. Mereka berusaha sekuat argumen mereka untuk membodoh-bodohkan ucapan tersebut, namun manusia telanjur terpesona dengannya. Akhirnya, tampak jelas bagi As-Samayda bahwa tidak ada gunanya lagi beradu hujah, maka dia pun beralih menggunakan pedang. Lalu dia keluar memimpin
قَوْمِهِ وَصَاحَ صَيْحَةَ الْحَرْبِ فَهَبَّتْ قَطُورَاءُ تَتَأَهَّبُ لِلْقِتَالِ ، فَأَخْرَجُوا الْجِيَادَ وَالرِّمَاحَ ، وَخَرَجَ السَّمَيْدَعُ بِقَطُورَاءَ عَلَى ظُهُورِ الْخَيْلِ الْجِيَادِ فَسُمِّيَ الْمَكَانُ أَجْيَادَ . وَتَأَهَّبَ مُضَاضٌ فِي جِبَالِهِ وَخَرَجَ فِي كَتِيبَةٍ عُدَّتُهَا الرِّمَاحُ وَالْبُدُرُقُ وَالسُّيُوفُ ، وَقَعْقَعَ قَعْقَعَةً تَتَجَاوَبُ فِي أَرْجَاءِ مَكَّةَ فَسُمِّيَتْ تِلْكَ الْجِبَالُ قَعَيْقِعَانَ .
kaumnya dan meneriakkan seruan perang, sehingga suku Qathura bergegas bersiap mematangkan pasukan. Mereka mengeluarkan kuda-kuda pacu (al-jiyad) dan tombak. As-Samayda keluar bersama pasukan Qathura di atas punggung kuda-kuda pilihan, sehingga tempat tersebut dinamakan Ajyad. Di sisi lain, Mudad bersiap di wilayah pegunungannya dan keluar membawa pasukan yang dipersenjatai tombak, perisai, dan pedang. Gemerincing senjata mereka bergemuruh (qa'qa'ah) bersahut-sahutan di segenap penjuru Makkah, sehingga pegunungan tersebut dinamakan Qa'aiqi'an.
وَالْتَقَى الْجَمْعَانِ وَدَارَتْ رَحَى مَعْرَكَةٍ رَهِيبَةٍ سَالَتْ فِيهَا الدِّمَاءُ فِي مَكَّةَ أُمِّ الْقُرَى الَّتِي حَرَّمَ اللهُ فِيهَا الْقِتَالَ ، وَرَأَى مُضَاضٌ أَنْ يَضَعَ حَدًّا لِلْمَجْزَرَةِ فَتَقَدَّمَ الصُّفُوفَ وَنَادَى :
Kedua pasukan pun bertemu, lalu berkobarlah kecamuk peperangan dahsyat hingga darah mengalir di Makkah, Ummu al-Qura, tempat yang sejatinya telah Allah haramkan pertumpahan darah di dalamnya. Mudad melihat perlunya menyudahi pertumpahan darah massal ini, maka dia maju ke depan barisan lalu berseru menantang:
— يَا سَمَيْدَعُ ! أَنَا الْمَلِكُ مُضَاضُ بْنُ عَمْرٍو فَبَارِزْ لِي ، فَمَنْ أَظْفَرَهُ اللهُ كَانَ الْمُلْكُ لَهُ .
— "Wahai As-Samayda! Aku adalah sang penguasa, Mudad bin Amru, maka keluarlah untuk berduel denganku! Siapa saja yang Allah berikan kemenangan kepadanya, maka kekuasaan mutlak menjadi miliknya."
وَخَرَجَ السَّمَيْدَعُ مِنْ صُفُوفِ قَطُورَاءَ وَمَشَى إِلَيْهِ مُضَاضٌ وَكَأَنَّهُ لَيْثٌ كَشَّرَ عَنْ أَنْيَابِهِ ، كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى ظُهْرِ جَوَادِهِ يَدُورُ حَوْلَ غَرِيمِهِ مُرْهَفَ الْحَوَاسِّ كَاتِمَ الْأَنْفَاسِ يَلْتَمِسُ غَفْلَةً مِنْ صَاحِبِهِ لِيَطْعَنَهُ طَعْنَةً قَاضِيَةً تَضَعُ أَوْزَارَ هَذِهِ الْحَرْبِ .
Maka keluarlah As-Samayda dari barisan Qathura, dan Mudad melangkah menghampirinya laksana seekor singa yang menyeringai memperlihatkan taringnya. Masing-masing berada di atas punggung kudanya, berputar mengitari lawannya dengan panca indra yang siaga tajam serta napas tertahan, mencari kelengahan lawan guna melancarkan satu tusukan mematikan yang akan mengakhiri beban peperangan ini.
كَانَا صَقْرَيْنِ يَقْظَيْنِ وَفَهْدَيْنِ خَفِيفَيْنِ ، وَشَدَّ السَّمَيْدَعُ عَلَى مُضَاضٍ شِدَّةً مُنْكَرَةً كَادَتْ تَطِيرُ لَهَا أَفْئِدَةُ جُرْهُمٍ ، وَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُ قَطُورَاءَ بِالتَّهْلِيلِ الزَّاخِرِ بِالْفَرَحِ وَالْأَمَلِ ، بَيْدَ أَنَّ مُضَاضَ بْنَ عَمْرٍو اتَّقَى الضَّرْبَةَ وَفِي مِثْلِ الْبَرْقِ الْخَاطِفِ سَدَّدَ ضَرْبَةً قَاتِلَةً إِلَى قَلْبِ السَّمَيْدَعِ . وَسَقَطَ السَّمَيْدَعُ عَنْ ظَهْرِ جَوَادِهِ ، وَقَبْلَ أَنْ يَمَسَّ الْأَرْضَ عَاجَلَهُ مُضَاضٌ بِضَرْبَةٍ كَالشِّهَابِ ، وَحَمَلَتْ جُرْهُمُ عَلَى قَطُورَاءَ حَمْلَةَ رَجُلٍ وَاحِدٍ وَدَارَ الْقِتَالُ وَسُرْعَانَ مَا انْهَزَمَتْ قَطُورَاءُ . كَانَتْ تُحَارِبُ بِلَا أَمَلٍ فَقَدْ قُتِلَ قَائِدُهَا وَمَنْ أَرَادَتْ أَنْ تَكُونَ لَهُ الزَّعَامَةُ فِي الْبَيْتِ .
Keduanya bagaikan dua elang yang waspada dan dua macan tutul yang lincah. As-Samayda menyerang Mudad dengan serangan hebat yang luar biasa, hingga hampir saja menerbangkan hati kaum Jurhum karena panik. Suara-suara suku Qathura pun membubung tinggi dengan sorakan yang penuh luapan kegembiraan dan harapan besar. Kendati demikian, Mudad bin Amru berhasil menangkis hantaman itu, dan secepat kilat yang menyambar, dia melayangkan satu pukulan maut tepat ke jantung As-Samayda. As-Samayda terjungkal dari punggung kudanya, dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Mudad menyusulnya dengan tebasan secepat meteor. Pasukan Jurhum langsung menyerbu Qathura laksana satu gelombang tubuh yang padu; pertempuran berkecamuk dan dalam sekejap runtuhlah pertahanan Qathura. Mereka bertempur tanpa harapan, sebab panglima mereka telah binasa, sosok yang tadinya mereka harapkan memegang tampuk kepemimpinan Baitullah.
وَوَلَّتْ قَطُورَاءُ الْأَدْبَارَ وَجُرْهُمُ فِي أَثَرِهَا تَضْرِبُ الرِّقَابَ ، وَانْفَضَحَتْ قَطُورَاءُ فَسُمِّيَ الْمَكَانُ فَاضِحًا . وَعَادَ مُضَاضٌ إِلَى جِبَالِ قَعَيْقِعَانَ مَرْفُوعَ الرَّأْسِ يَقُولُ :
Suku Qathura berbalik melarikan diri ke belakang sementara pasukan Jurhum terus mengekor di belakang mereka menebas leher-leher musuh. Kekalahan telak menimpa Qathura (hancur/aib), sehingga tempat tersebut dinamakan Fadhihan. Mudad pun kembali menuju pegunungan Qa'aiqi'an dengan kepala tegak mendendangkan bait syair:
وَنَحْنُ قَتَلْنَا سَيِّدَ الْحَيِّ عَنْوَةً فَأَصْبَحَ فِيهَا وَهُوَ حَيْرَانُ مُوجَعُ
وَمَا كَانَ يَبْغِي أَنْ يَكُونَ سَوَاؤُنَا بِهَا مَلِكًا حَتَّى أَتَانَا السَّمَيْدَعُ
فَذَاقَ وَبَالًا حِينَ حَاوَلَ مُلْكَنَا وَعَالَجَ مِنَّا غُصَّةً تَتَجَرَّعُ
فَنَحْنُ عَمَرْنَا الْبَيْتَ كُنَّا وُلَاتَهُ نُدَافِعُ عَنْهُ مَنْ أَتَانَا وَنَدْفَعُ
وَمَنْ كَانَ يَبْغِي أَنْ يَلِي : ذَاكَ عِزُّنَا وَلَمْ يَكُ حَيٌّ قَبْلَنَا ثَمَّ يَمْنَعُ
وَكُنَّا مُلُوكًا فِي الدُّهُورِ الَّتِي مَضَتْ وَرِثْنَا مُلُوكًا لَا تُرَامُ فَتُوضَعُ
Terjemahan Syair:
* Dan kami telah menumbangkan pemuka kabilah itu secara paksa... hingga ia berakhir di sana dalam kondisi linglung didera rasa sakit.
* Dan tidaklah pantas ada orang selain kami yang menduduki... kursi kekuasaan di sana, hingga datangnya As-Samayda menantang kami.
* Maka ia pun merasakan akibat buruk tatkala merebut kekuasaan kami... dan harus menelan kepahitan yang menyumbat tenggorokan dari tindakan kami.
* Sebab kamilah yang memakmurkan Baitullah dan menjadi para pelindungnya... kami membentenginya dari siapa saja yang datang menyerang dan kami menghalaunya.
* Dan barang siapa yang berniat menguasainya, ketahuilah itu adalah kehormatan kami... tidak pernah ada kabilah sebelum kami di sana yang sanggup merebutnya.
* Dan kami adalah para penguasa di sepanjang zaman yang telah berlalu... kami mewarisi takhta kerajaan kokoh yang tidak dapat digoyang maupun dijatuhkan.
وَرَاحَتْ جُرْهُمُ تَطُوفُ بِالْحَرَمِ وَتَقُولُ :
Dan kaum Jurhum kembali mengitari Baitullah (tawaf) seraya melantunkan:
لَاهُمَّ إِنَّ جُرْهُمَا عِبَادُكَا الْقَوْمُ طَرْفٌ وَهُمْ قِلَادُكَا
Terjemahan Syair:
* Ya Allah, sesungguhnya kaum Jurhum adalah hamba-hamba-Mu... Manusia laksana permata, sedangkan mereka adalah kalung-Mu.
وَانْطَلَقُوا إِلَى خَزَائِنِ الْبَيْتِ — وَكَانَتْ بِئْرًا فِي بَطْنِهِ — وَرَاحُوا يُلْقُونَ فِيهَا الْهَدَايَا ، أَلْقَى مُضَاضٌ الذَّهَبَ وَأَلْقَتْ نِسْوَةُ جُرْهَمٍ الْحُلِيَّ وَالْمَتَاعَ ، وَارْتَفَعَتِ الِابْتِهَالَاتُ حَتَّى رَجَّعَتْ صَدَاهَا جِبَالُ مَكَّةَ .
Dan mereka bergerak menuju tempat penyimpanan harta Baitullah — yang berupa sebuah sumur di bagian dalamnya — lalu mereka melemparkan berbagai macam hadiah persembahan ke dalamnya. Mudad memasukkan emas, sedangkan para wanita Jurhum melemparkan perhiasan serta barang berharga. Doa dan ketundukan pun membubung tinggi hingga gema suaranya dipantulkan kembali oleh pegunungan Makkah.
كَانَ بَنُو إِسْمَاعِيلَ قَدِ اعْتَزَلُوا الْفِتْنَةَ فَلَمَّا انْتَهَتِ الْحَرْبُ مَشَوْا بِالصُّلْحِ بَيْنَ جُرْهُمٍ وَقَطُورَاءَ ، فَسَارَتْ جُرْهُمٌ وَقَطُورَاءُ حَتَّى نَزَلُوا شِعْبًا بِأَعْلَى مَكَّةَ وَاصْطَلَحُوا هُنَاكَ وَأَسْلَمُوا الْأَمْرَ إِلَى مُضَاضٍ ، فَنَحَرَ لِلنَّاسِ وَطَبَخَ لَهُمْ وَأَطْعَمَهُمْ فَسُمِّيَ ذَلِكَ الشِّعْبُ الْمَطَابِخَ . وَانْتَهَى أَوَّلُ بَغْيٍ كَانَ فِي مَكَّةَ .
Adapun anak cucu Ismail memilih menarik diri dari fitnah perselisihan tersebut. Maka tatkala peperangan berakhir, mereka berjalan mengupayakan perdamaian antara Jurhum dan Qathura. Akhirnya, kelompok Jurhum dan Qathura berjalan bersama hingga menempati sebuah celah lembah di wilayah atas Makkah, mereka berdamai di sana serta menyerahkan urusan kepemimpinan sepenuhnya kepada Mudad. Mudad lalu menyembelih hewan ternak untuk para hadirin, memasaknya, dan memberi mereka makan, sehingga celah lembah tersebut dinamakan Al-Mathabikh (Dapur-Dapur). Dan berakhirlah tirani/pemberontakan pertama yang pernah terjadi di kota Makkah.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi