BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 10

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Saat Langit Menyapa Bumi: Pertemuan di Balik Kemurnian Hati

Momen ketika dua jiwa yang terpilih dipertemukan dalam ruang sunyi, di mana Khadijah RAH menyaksikan cahaya kenabian mulai menyingsing melalui ketulusan akhlak Muhammad ﷺ.

شُغِلَتْ خَدِيجَةُ بِحَدِيثِ مَيْسَرَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، وَبِقَوْلِ ابْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ إِنَّ مُحَمَّدًا نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَاحْتَلَّ الْحُلْمُ الَّذِي رَأَتْ فِيهِ الشَّمْسَ تَهْبِطُ مِنْ سَمَاءِ مَكَّةَ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا أَقْطَارَ رَأْسِهَا ، وَرَاحَ صَوْتُ وَرَقَةَ يَرِنُّ فِي أَعْمَاقِهَا :
Khadijah disibukkan oleh ucapan Maisarah tentang Muhammad bin Abdullah, dan oleh perkataan sepupunya, Waraqah, bahwa Muhammad adalah nabi umat ini. Impian yang pernah ia lihat—di mana matahari turun dari langit Makkah lalu menetap di rumahnya—kini memenuhi seluruh benaknya, dan suara Waraqah terus berdengung di lubuk hatinya:
— أَبْشِرِي يَا بِنْتَ الْعَمِّ ، لَوْ صَدَقَ اللهُ رُؤْيَاكِ لَيَدْخُلَنَّ نُورُ النُّبُوَّةِ دَارَكِ ، وَلَيَفِيضَنَّ مِنْهَا نُورُ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ .
— "Bergembiralah wahai putri pamanku! Jika Allah membenarkan mimpimu, niscaya cahaya kenabian akan memasuki rumahmu, dan sungguh cahaya Penutup para Nabi akan memancar darinya."
وَسَرَتْ فِي بَدَنِ خَدِيجَةَ قُشَعْرِيرَةٌ ، وَمَدَّتْ بَصَرَهَا إِلَى مَكَّةَ مِنْ خِلَالِ نَافِذَتِهَا فَإِذَا بِهَا تَرَى بِعَيْنِ بَصِيرَتِهَا أَنَّ النُّورَ قَدْ فَاضَ مِنْ دَارِهَا لِيَغْمُرَ أُمَّ الْقُرَى وَكُلَّ مَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَصَوَّرَهُ عَقْلُهَا مِنْ آفَاقٍ ، فَتَحَرَّكَتْ فِيهَا مَشَاعِرُ امْتَزَجَتْ فِيهَا الرَّهْبَةُ بِالنَّشْوَةِ بِالرَّجَاءِ ، مَشَاعِرُ تَنْفَتِحُ لَهَا النَّفْسُ وَتَلَذُّ الرُّوحُ ،
Rasa merinding menjalar di sekujur tubuh Khadijah. Ia melemparkan pandangannya ke arah Makkah melalui jendelanya, lalu tiba-tiba dengan mata batinnya ia melihat bahwa cahaya benar-benar telah memancar dari rumahnya hingga mengalir menggenapi Ummul Qura (Makkah) dan seluruh ufuk yang dapat dibayangkan oleh akalnya. Maka bergeraklah perasaan di dalam dirinya, berbaur antara rasa segan yang khidmat, kebahagiaan yang mendalam, dan harapan; suatu perasaan yang membuat jiwa terbuka lebar dan ruh merasa lezat.
وَمَلَأَتْ صُورَةُ مُحَمَّدٍ صَفْحَةَ خَيَالِهَا ، وَمَا كَانَتْ صُورَةً مَادِّيَّةً جَمِيلَةً يَتَحَرَّكُ لَهَا الْجَسَدُ ؛ بَلْ كَانَتْ أَقْرَبَ إِلَى هَالَةٍ مِنْ نُورٍ تَشْرَحُ الصَّدْرَ وَتَمْلأُ النَّفْسَ نَقَاءً وَضِيَاءً وَتُوقِظُ فِي الْوِجْدَانِ عَوَامِلَ الْخَيْرِ ، فَهِيَ تُحِسُّ ذَاتَهَا تَسْمُو لِتُحَلِّقَ فِي عَوَالِمَ فَاضِلَةٍ حُرَّةٍ طَلِيقَةٍ .
Bayangan sosok Muhammad memenuhi lembaran imajinasinya. Sosok itu bukanlah sekadar rupa fisik yang rupawan yang menggetarkan raga, melainkan lebih menyerupai sebuah aura cahaya yang melapangkan dada, memenuhi jiwa dengan kesucian serta ketenangan, dan membangkitkan benih-benih kebaikan dalam sanubari. Ia merasa dirinya naik tinggi, terbang melayang di alam-alam yang utama, merdeka, dan lepas bebas.
وَأَرْهَفَتْ حَوَاسَّهَا فَرَاحَتْ تُفَكِّرُ فِي مُحَمَّدٍ نَبِيِّ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، وَتَسْبُرُ أَغْوَارَ نَفْسِهَا : أَأَحَبَّتْ فِيهِ الشَّابَّ الْوَسِيمَ الْقَسِيمَ أَمْ أَحَبَّتْ ذَلِكَ الْمَجْدَ الْمُرْتَقَبَ ؟ إِنَّهَا كُلَّمَا جَلَسَتْ إِلَيْهِ شَعَرَتْ كَأَنَّ نُورًا يَنْسَكِبُ فِي جَوْفِهَا ، وَكُلَّمَا أَلْقَتْ إِلَيْهِ سَمْعَهَا أَحَسَّتِ الْحِكْمَةَ تَمْلأُ فُؤَادَهَا ، فَهِيَ تُحِبُّ فِيهِ رُوحَهُ الْقَوِيَّةَ الَّتِي تَبْهَرُ كُلَّ الْأَرْوَاحِ وَتَجْذِبُهَا إِلَيْهَا طَوْعًا .
Ia menajamkan seluruh inderanya, lalu mulai merenungkan perihal Muhammad, nabi umat ini, seraya menyelami kedalaman lubuk hatinya sendiri: Apakah ia mencintai pemuda yang tampan rupawan dan proporsional itu, ataukah ia mencintai kemuliaan besar yang dinanti-nantikan bersamanya? Sesungguhnya, setiap kali ia duduk bersamanya, ia merasa seolah-olah ada cahaya yang dituangkan ke dalam dadanya. Dan setiap kali ia mendengarkannya, ia merasakan hikmah memenuhi hatinya. Maka sesungguhnya, ia mencintai jiwanya yang kuat, yang memikat setiap jiwa lain dan menariknya dengan penuh kepatuhan yang sukarela.
إِنَّهُ خُلِقَ لِيَكُونَ سَيِّدًا ، رَاعِيًا لِلْبَشَرِ ، مَنْ رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ ، وَمَنْ خَالَطَهُ أَحَبَّهُ ، فَهُوَ لَطِيفُ الْمَحْضَرِ ، يَصِلُ الرَّحِمَ وَيَصْدُقُ الْحَدِيثَ ، فَهُوَ أَصْدَقُ النَّاسِ لَهْجَةً ، وَأَوْفَى النَّاسِ ذِمَّةً ، وَأَلْيَنُهُمْ عَرِيكَةً ، وَأَكْرَمُهُمْ عِشْرَةً ، لَكَأَنَّمَا قَدْ خُلِقَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَهُوَ عَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ .
Sesungguhnya ia diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin, seorang pengayom bagi umat manusia. Siapa pun yang melihatnya sekilas pasti akan segan menaruh rasa hormat, dan siapa pun yang bergaul dekat dengannya pasti akan mencintainya. Beliau adalah sosok yang menyenangkan pembawaannya, menyambung tali silaturahmi, dan jujur ucapannya. Beliau adalah orang yang paling jujur tutur katanya, paling menepati janji, paling lembut tabiatnya, dan paling mulia pergaulannya; seolah-olah beliau diciptakan dari kemuliaan akhlak itu sendiri, maka sesungguhnya beliau berada di atas budi pekerti yang agung.
وَطَافَتْ بِذِهْنِهَا ذِكْرَى يَوْمِ الْعِيدِ الَّذِي خَرَجَتْ فِيهِ نِسَاءُ مَكَّةَ إِلَى الْكَعْبَةِ ، لَقَدْ جَاءَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ يَهُودِيٌّ إِلَى الْحَرَمِ وَقَالَ : يَا مَعْشَرَ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ، إِنَّهُ يُوشِكُ فِيكُنَّ نَبِيٌّ قَرُبَ وُجُودُهُ ، فَأَيَّتُكُنَّ اسْتَطَاعَتْ أَنْ تَكُونَ فِرَاشًا لَهُ فَلْتَفْعَلْ . وَمُنْذُ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَهِيَ تَرْجُو أَنْ تَكُونَ لَهُ فِرَاشًا ، بَلْ لَقَدْ أُلْقِيَ فِي رُوعِهَا أَنَّهَا زَوْجَةُ ذَلِكَ النَّبِيِّ الْمُنْتَظَرِ .
Lalu terlintas dalam benaknya ingatan tentang hari raya di mana para wanita Makkah keluar menuju Ka'bah. Pada hari itu, seorang pria Yahudi datang ke area Haram dan berseru: "Wahai sekalian kaum wanita Quraisy! Sesungguhnya hampir tiba masanya seorang nabi muncul di antara kalian yang masanya telah dekat. Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menjadi pendamping (istri) baginya, lakukanlah!" Sejak hari itu, ia selalu berharap untuk menjadi pendampingnya, bahkan telah tertanam kuat di dalam hatinya bahwa dialah istri dari nabi yang dinanti-nantikan tersebut.
إِنَّهَا رَأَتِ الشَّمْسَ تَهْبِطُ إِلَى سَمَاءِ بَيْتِهَا قَبْلَ أَنْ يَرِنَّ صَوْتُ الْيَهُودِيِّ فِي جَنَبَاتِ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ بِبِشَارَتِهِ ، فَلَمْ يَكُنْ حُلْمُهَا اسْتِجَابَةً لِرَغْبَتِهَا بَلْ كَانَتْ رُؤْيَاهَا صَادِقَةً نَزَلَتْ مِنَ السَّمَاءِ لِتُمَهِّدَ لَهَا الطَّرِيقَ الَّذِي اخْتَارَتْهُ لَهَا ، ثُمَّ جَاءَ ذَلِكَ الْيَهُودِيُّ لِيُؤَكِّدَ فِي نَفْسِهَا حَقِيقَةَ الْحُلْمِ الَّذِي فَسَّرَهُ لَهَا وَرَقَةُ ابْنُ عَمِّهَا .
Sesungguhnya ia telah melihat matahari turun ke langit rumahnya sebelum suara orang Yahudi itu menggema di sudut-sudut Baitul Atiq (Ka'bah) membawa kabar gembiranya. Jadi, mimpinya bukanlah sekadar pemenuhan atas keinginannya, melainkan mimpinya adalah penglihatan jujur yang turun dari langit untuk merintis jalan yang telah dipilihkan untuknya. Kemudian datanglah orang Yahudi itu untuk menegaskan di dalam dirinya kebenaran mimpi yang telah ditafsirkan oleh sepupunya, Waraqah.
كَانَتْ تُطْلِقُ لِخَيَالِهَا الْعِنَانَ لِيُحَلِّقَ كَيْفَ يَشَاءُ وَرَاءَ ذَلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي طَالَمَا حَدَّثَهَا عَنْهُ وَرَقَةُ ، وَمَا كَانَتْ تَتَصَوَّرُ شَخْصًا بِعَيْنِهِ ، وَلَكِنْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَهَا غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ عَمَّا فَعَلَهُ مُحَمَّدٌ فِي أَثْنَاءِ الرِّحْلَةِ وَعَمَّا قَالَهُ عَنْهُ الرَّاهِبُ نَسْطُورَا صَارَتْ تَرَى مُحَمَّدًا فِي يَقَظَتِهَا وَمَنَامِهَا ، وَأَصْبَحَتْ عَلَى يَقِينٍ مِنْ أَنَّ
Ia melepaskan kendali imajinasinya untuk terbang bebas ke mana pun ia suka di balik sosok Nabi yang ummi tersebut, yang sudah sekian lama diceritakan oleh Waraqah kepadanya. Dahulu ia tidak membayangkan seseorang secara spesifik, namun setelah pembantunya, Maisarah, menceritakan apa yang dilakukan Muhammad selama perjalanan dan apa yang dikatakan oleh pendeta Nastura tentangnya, ia mulai melihat Muhammad dalam terjaga maupun tidurnya, dan ia menjadi yakin sepenuhnya bahwa...
اللهَ سَيَجْعَلُ رِسَالَتَهُ فِي ابْنِ عَبْدِ اللهِ ، فَهُوَ خَيْرُ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَفْضَلُ أَهْلِ الْحَرَمِ ، فَإِذَا لَمْ تَكُنِ النُّبُوَّةُ فِيهِ فَفِيمَنْ تَكُونُ ؟ فَهِيَ لَا تَرَى غَيْرَهُ يَصْلُحُ لَهَا ، وَكُلُّ الرُّهْبَانِ وَالْكُهَّانِ قَدْ بَشَّرُوا بِهِ حَتَّى ابْنُ عَمِّهَا الَّذِي أَنْفَقَ عُمْرَهُ فِي النَّظَرِ فِي الْكُتُبِ الْمُقَدَّسَةِ قَالَ لَهَا إِنَّهُ نَبِيُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ .
Allah akan menetapkan risalah-Nya pada putra Abdullah ini, karena dialah orang terbaik di kalangan penduduk Makkah dan yang paling utama di antara penghuni tanah Haram. Jika kenabian bukan pada dirinya, lalu pada siapa lagi akan berada? Ia tidak melihat orang lain yang layak memangkunya selain dia. Terlebih lagi, seluruh pendeta dan peramal telah membawa kabar gembira tentangnya, bahkan sepupunya sendiri yang telah menghabiskan usianya untuk meneliti kitab-kitab suci telah menegaskan kepadanya bahwa dialah nabi umat ini.
وَمَلَأَتْهَا رَغْبَةٌ فِي أَنْ تَكُونَ لَهُ فِرَاشًا لِتَحْقِيقِ رُؤْاهَا وَأَحْلَامِ يَقَظَتِهَا ، وَطَفِقَتْ تُفَكِّرُ فِيمَا تَفْعَلُهُ ، أَتَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا كَمَا عَرَضَتِ ابْنَةُ عَمِّهَا رَقِيقَةُ بِنْتُ نَوْفَلٍ نَفْسَهَا عَلَى أَبِيهِ عَبْدِ اللهِ ؟ رَأَتْ رَقِيقَةُ فِي وَجْهِ عَبْدِ اللهِ شَيْئًا غَامِضًا جَذَّابًا يَسْتَوْلِي عَلَى لُبِّهَا وَيَشُدُّهَا إِلَى ابْنِ عَمِّهَا عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَلَمَّا نَذَرَ أَبُوهُ أَنْ يَذْبَحَهُ ذَهَبَتْ نَفْسُهَا شُعَاعًا وَكَادَتْ كَبِدُهَا أَنْ تَنْفَطِرَ أَسًى ، وَلَكِنْ سُرْعَانَ مَا عَادَتْ إِلَيْهَا بَهْجَتُهَا لَمَا عَلِمَتْ أَنَّ رَبَّهُ قَدْ قَبِلَ أَنْ يَفْدِيَهُ بِمِائَةٍ مِنَ الْإِبِلِ ، وَعَادَ إِلَيْهَا الْأَمَلُ فَذَهَبَتْ إِلَى الْفَتَى الْجَمِيلِ وَعَرَضَتْ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا السَّاعَةَ وَلَهُ مِثْلُ الْإِبِلِ الَّتِي نُحِرَتْ عَنْهُ فِدَاءً .
Keinginan kuat memenuhi dirinya untuk menjadi pendampingnya demi mewujudkan penglihatan mimpi serta angan-angan sadarnya. Ia pun mulai berpikir tentang apa yang harus ia lakukan; apakah ia harus menawarkan dirinya secara langsung kepadanya, sebagaimana sepupunya, Raqiqah binti Naufal, dahulu menawarkan dirinya kepada ayah Muhammad, Abdullah? Dahulu Raqiqah melihat sesuatu yang misterius namun memikat pada wajah Abdullah, yang menawan hatinya dan menariknya kuat-kuat kepada putra pamannya, Abdul Muthalib. Ketika ayah Abdullah bernazar untuk menyembelihnya, jiwa Raqiqah terbang layang diguncang kecemasan dan hatinya nyaris hancur didera kesedihan. Namun kegembiraannya segera kembali setelah ia mengetahui bahwa Tuhannya telah berkenan menebusnya dengan seratus ekor unta. Harapan Raqiqah pun kembali berkobar, lalu ia mendatangi pemuda tampan itu dan menawarkan diri agar beliau menikahinya saat itu juga dengan imbalan unta sebanyak yang disembelih sebagai tebusannya.
وَلَكِنَّ عَبْدَ اللهِ تَزَوَّجَ آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ ، وَمَرَّتْ أَيَّامُ الْخَلْوَةِ ثُمَّ جَاءَ إِلَى رَقِيقَةَ يَعْرِضُ عَلَيْهَا نَفْسَهُ فَلَمْ تَجِدْ مَا كَانَتْ تَجِدُ فِيهِ مِنْ جَاذِبِيَّةٍ وَسِحْرٍ .. فَقَدْ ذَهَبَتْ آمِنَةُ بِمَا كَانَ يَتَلَأْلَأُ فِي وَجْهِهِ ، وَإِنَّ خَدِيجَةَ لَتَفْطَنُ وَهِيَ فِي شُرُودِهَا إِلَى أَنَّ نُورَ النُّبُوَّةِ قَدِ انْتَقَلَ مِنْ عَبْدِ اللهِ فِي لَيَالِي الْخَلْوَةِ إِلَى زَهْرَةِ بَنِي زُهْرَةَ ، آمِنَةَ بِنْتَ وَهْبٍ .
Akan tetapi, Abdullah justru menikahi Aminah binti Wahb pada malam tersebut. Setelah berlalu hari-hari madu pernikahan, Abdullah mendatangi Raqiqah untuk menawarkan dirinya, namun Raqiqah tidak lagi menemukan daya tarik dan pesona magis yang dulu ditemukannya pada diri Abdullah... Sebab, Aminah telah membawa pergi apa yang dulu berkilauan di wajahnya. Dan sesungguhnya Khadijah, dalam lamunannya, menyadari betul bahwa cahaya kenabian telah berpindah dari Abdullah pada malam-malam berduaan itu menuju sekuntum bunga dari Bani Zuhrah, yaitu Aminah binti Wahb.
إِنْ كَانَ ذَلِكَ الشَّرَفُ قَدْ فَاتَ رَقِيقَةَ بِنْتَ نَوْفَلٍ فَهِيَ حَرِيصَةٌ عَلَى أَلَّا يَفُوتَهَا شَرَفُ أَنْ تَكُونَ فِرَاشًا لِرَسُولِ اللهِ ، وَلَا غَرْوَ فَهِيَ مَفْطُورَةٌ عَلَى الدِّينِ غَرَسَ فِيهَا ابْنُ عَمِّهَا وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ شَغَفَهَا بِالْأَدْيَانِ ، فَكَثِيرًا مَا كَانَ يَرْوِي لَهَا مَا يُطَالِعُ فِي كُتُبِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَكَانَ أَقْرَبَ الْحَدِيثِ إِلَى قَلْبِهَا حَدِيثُ الدِّينِ .
Jika kemuliaan tersebut telah luput dari Raqiqah binti Naufal, maka ia (Khadijah) sangat menjaga agar jangan sampai luput darinya kemuliaan menjadi pendamping utusan Allah. Tidaklah mengherankan, karena ia memang memiliki fitrah yang cenderung pada agama; sepupunya, Waraqah bin Naufal, telah menanamkan dalam dirinya kegemaran mendalam terhadap perihal agama. Waraqah sering kali menceritakan kepadanya apa yang ia baca dalam kitab-kitab kaum Yahudi dan Nasrani, dan pembicaraan yang paling dekat ke hatinya adalah pembicaraan seputar agama.
إِنَّهَا تَخَافُ إِنْ عَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَى مُحَمَّدٍ أَنْ يَفْلِتَ مِنْهَا كَمَا أَفْلَتَ أَبُوهُ عَبْدُ اللهِ مِنْ رَقِيقَةَ بِنْتِ عَمِّهَا ، وَإِنَّ خَيْرَ مَا تَفْعَلُهُ أَنْ تَبْعَثَ إِلَيْهِ مَنْ يُشَجِّعُهُ عَلَى
Ia khawatir jika ia menawarkan dirinya secara langsung kepada Muhammad, beliau akan terlepas darinya sebagaimana dulu ayahnya, Abdullah, terlepas dari sepupunya, Raqiqah. Maka langkah terbaik yang dapat ia lakukan adalah mengutus seseorang kepadanya yang dapat mendorongnya untuk...
خِطْبَتِهَا ، وَلَكِنَّهَا لَمْ تَعُدْ تُطِيقُ الصَّبْرَ فَقَدْ عَادَ إِلَى قَلْبِهَا نَبْضُهُ وَحَرَارَتُهُ بَعْدَ أَنْ أَغْلَقَتْهُ دُونَ أَشْرَافِ قَوْمِهَا الَّذِينَ سَعَوْا إِلَيْهَا يَلْتَمِسُونَ مِنْهَا أَنْ تَكُونَ لَهُمْ زَوْجَةً .
...melamarnya. Akan tetapi, ia tidak lagi mampu menahan kesabaran, karena detak dan kehangatan telah kembali ke hatinya setelah sekian lama ia menutup rapat pintu hati itu dari para bangsawan kaumnya, yang berbondong-bondong datang berupaya menjadikannya sebagai istri mereka.
أَصْبَحَتْ تَرَى أَنْ مُحَمَّدًا كُفْءٌ لَهَا ، بَلْ صَارَتْ تُحِسُّ أَنَّهَا أَسِيرَةُ رُوحِهِ الْقَوِيَّةِ الَّتِي تَخْشَعُ لَهَا رُوحُهَا وَتَهَلَّلُ بِالْفَرَحِ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ ؛ إِنَّهَا خَشْيَةُ الْمُنْتَشِي وَخُضُوعُ الْمُحِبِّ وَاسْتِسْلَامُ الرَّاغِبِ فِي الْفَنَاءِ فِيمَنْ يَعْشَقُ .
Ia mulai memandang bahwa Muhammad adalah jodoh yang sepadan baginya, bahkan ia merasa seolah-olah menjadi tawanan dari jiwanya yang kuat—jiwa yang membuat ruh Khadijah tunduk khidmat sekaligus bergelora penuh kegembiraan pada saat yang sama. Itulah rasa segan yang penuh pesona, ketundukan seorang pencinta, dan kepasrahan total seseorang yang ingin melarutkan diri pada sosok yang dipujanya.
وَهَفَتْ رُوحُهَا إِلَيْهِ . وَاسْتَبَدَّتْ بِهَا رَغْبَةٌ عَارِمَةٌ تَعْرِضُهَا عَلَى أَنْ تَبْعَثَ إِلَيْهِ تُنَاجِيهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ بِمَكْنُونِ نَفْسِهَا ، إِنَّهَا لَا تُرِيدُ أَنْ تُطَارِحَهُ الْهَوَى فَهِيَ الطَّاهِرَةُ وَسَيِّدَةُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ، بَلْ تُرِيدُ أَنْ تُحَدِّثَهُ حَدِيثًا فِيهِ تَلْمِيحٌ يُحِضُّهُ عَلَى أَنْ يَطْرَحَ حَيَاءَهُ وَيُقْدِمَ عَلَى خِطْبَتِهَا .
Ruhnya mendamba lekat kepadanya. Keinginan yang meluap-luap menguasai dirinya untuk mengutus seseorang kepadanya guna berbicara dari hati ke hati dan mengungkapkan rahasia jiwanya yang terpendam. Ia sama sekali tidak berniat mengumbar asmara yang remeh, karena ia adalah wanita yang suci (At-Thahirah) dan pemimpin wanita Quraisy; melainkan ia ingin menyampaikan pembicaraan yang mengandung isyarat halus yang dapat mendorongnya menepis rasa sungkan dan maju melamarnya.
وَنَادَتْ إِحْدَى جَوَارِيهَا وَطَلَبَتْ مِنْهَا أَنْ تَنْطَلِقَ إِلَى دَارِ أَبِي طَالِبٍ وَأَنْ تَطْلُبَ مِنْ مُحَمَّدٍ أَنْ يُوَافِيَهَا ، فَذَهَبَتْ جَارِيَتُهَا إِلَى الدَّارِ وَسَأَلَتْ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، فَلَمَّا جَاءَهَا بَلَّغَتْهُ رِسَالَةَ مَوْلَاتِهَا .
Maka ia memanggil salah seorang pelayan wanitanya dan memintanya pergi ke rumah Abu Thalib untuk meminta Muhammad menemuinya. Pelayan itu pun pergi ke rumah tersebut dan menanyakan keberadaan Muhammad bin Abdullah, lalu ketika beliau menemuinya, sang pelayan menyampaikan pesan dari majikannya.
وَذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى عَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَاسْتَأْذَنَهُ فِي أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَى خَدِيجَةَ فَأَذِنَ لَهُ ، وَمَا كَادَ مُحَمَّدٌ يُغَادِرُ الدَّارَ حَتَّى نَادَى أَبُو طَالِبٍ جَارِيَتَهُ تَبْعَةً وَقَالَ لَهَا :
Muhammad menemui pamannya, Abu Thalib, untuk meminta izin pergi menemui Khadijah, dan pamannya pun mengizinkannya. Begitu Muhammad meninggalkan rumah, Abu Thalib segera memanggil pelayan wanitanya yang bernama Tab'ah dan berkata kepadanya:
— انْظُرِي مَا تَقُولُ لَهُ خَدِيجَةُ .
— "Perhatikanlah baik-baik apa yang akan dikatakan Khadijah kepadanya."
وَانْسَلَّتِ الْجَارِيَةُ فِي أَثَرِهِ تَتَرَقَّبُ خَشْيَةَ أَنْ يُكْشَفَ أَمْرُهَا .
Maka pelayan itu menyelinap diam-diam mengikuti jejak beliau dari belakang dengan penuh waswas karena takut rahasianya terbongkar.
وَسَارَ مُحَمَّدٌ إِلَى غُرْفَةِ الِاسْتِقْبَالِ فَهُوَ يَعْرِفُ طَرِيقَهُ ، فَكَثِيرًا مَا كَانَ يَقُولُ لِشَرِيكِهِ الَّذِي كَانَ يَتَّجِرُ مَعَهُ فِي مَالِ خَدِيجَةَ : هَلُمَّ فَلْنَتَحَدَّثْ عِنْدَ خَدِيجَةَ ، وَكَانَتْ تُكْرِمُهُمَا وَتَتَحَفَّظُهُمَا وَكَانَ مُحَمَّدٌ يُعْجَبُ بِغِنَى نَفْسِهَا وَحُسْنِ خُلُقِهَا .
Muhammad melangkah masuk ke ruang tamu karena beliau sudah mengenali jalurnya. Dahulu beliau kerap berkata kepada rekannya yang ikut berdagang bersamanya mengelola harta Khadijah: "Mari kita berbincang di tempat Khadijah." Khadijah selalu memuliakan mereka dan menjaga kehormatan mereka berdua, dan Muhammad senantiasa kagum akan kekayaan jiwa serta keluhuran budi pekertinya.
وَجَاءَتْ خَدِيجَةُ خَافِقَةَ الْقَلْبِ مُضْطَرِبَةَ النَّفْسِ ، ثُمَّ أَخَذَتْ يَدَهُ فَضَمَّتْهَا إِلَى صَدْرِهَا وَنَحْرِهَا ثُمَّ قَالَتْ :
Khadijah datang dengan jantung yang berdegup kencang dan jiwa yang bergetar emosional. Kemudian ia meraih tangan beliau lalu merapatkannya ke dada dan lehernya, kemudian berkata:
— بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي ، وَاللهِ لَا أَفْعَلُ هَذَا لِشَيْءٍ وَلَكِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونَ أَنْتَ النَّبِيَّ الَّذِي سَيُبْعَثُ ، فَإِنْ تَكُنْ هُوَ فَاعْرِفْ حَقِّي وَمَنْزِلَتِي وَادْعُ الْإِلَهَ الَّذِي سَيَبْعَثُكَ لِي .
— "Demi bapak dan ibuku sebagai tebusanmu! Demi Allah, aku tidak melakukan hal ini karena motif yang remeh, melainkan aku sangat berharap agar engkau benar-benar menjadi nabi yang akan diutus itu. Jika engkau memang sosoknya, maka kenalilah hakku serta kedudukanku, dan berdoalah kepada Tuhan yang akan mengutusmu itu untuk kebaikanku."
فَقَالَ مُحَمَّدٌ فِي لَهْجَةٍ صَادِقَةٍ :
Maka Muhammad bersabda dengan nada bicara yang penuh ketulusan jujur:
— وَاللهِ لَئِنْ كُنْتُ أَنَا هُوَ لَقَدِ اصْطَنَعْتِ عِنْدِي مَا لَا أُضِيعُهُ أَبَدًا ، وَإِنْ يَكُنْ غَيْرِي فَإِنَّ الْإِلَهَ الَّذِي تَصْنَعِينَ هَذَا لِأَجْلِهِ لَا يُضِيعُكِ أَبَدًا .
— "Demi Allah, jika aku memang sosok (nabi) itu, sungguh engkau telah menanamkan kebaikan yang besar padaku yang tidak akan pernah aku sia-siakan selama-lamanya. Dan sekiranya nabi itu orang lain, maka sesungguhnya Tuhan yang engkau berbuat kebaikan demi Dia, tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu selama-lamanya."
وَوَقَفَتْ تَبْعَةُ تَنْظُرُ وَهِيَ مَأْخُوذَةٌ ، فَقَدْ خُيِّلَ إِلَيْهَا أَنَّ نُورًا لَطِيفًا يَغْمُرُ الْمَكَانَ وَأَنَّ عَبِيرًا طَيِّبًا قَدْ مَلأَ رُوحَهُ وَظَلَّتْ فِي مَكَانِهَا مَشْدُوهَةً لَا تَرِيمُ ، حَتَّى إِذَا مَا انْصَرَفَ مُحَمَّدٌ وَقَدْ أَطْرَقَ حَيَاءً رَجَعَتْ إِلَى أَبِي طَالِبٍ لِتَقُصَّ عَلَيْهِ ذَلِكَ اللِّقَاءَ الْعَجِيبَ .
Sementara itu, Tab'ah berdiri menyaksikan peristiwa itu dengan perasaan terpesona takjub. Terbayang dalam benaknya seolah-olah ada cahaya lembut mengalir menggenapi tempat tersebut dan aroma wewangian yang harum telah memenuhi jiwanya. Ia terus terpaku di posisinya, termangu tak mampu bergeser sedikit pun, sampai ketika Muhammad pamit undur diri dengan menundukkan kepala karena rasa malu yang agung, pelayan itu pun pulang kembali menemui Abu Thalib untuk menceritakan kisah pertemuan yang menakjubkan tersebut.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi