BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 11

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Pengembara dari Jay: Meniti Jalan Sunyi Menuju Fajar Islam

Dari megahnya perkebunan Persia hingga heningnya gereja di Syam, Salman menempuh jalan panjang demi mencari esensi Tuhan, mengorbankan kenyamanan duniawi demi sujud di atas kebenaran yang hakiki.

جَعَلَ وَالِدُ سَلْمَانَ فِي رِجْلَيْ ابْنِهِ قَيْدًا مَخَافَةَ أَنْ يَفِرَّ إِلَى الْكَنِيسَةِ وَأَنْ يَعْتَنِقَ النَّصْرَانِيَّةَ وَيَهْجُرَ الْمَجُوسِيَّةَ دِينَ الْآبَاءِ وَالْأَجْدَادِ ، وَقَدْ وَقَرَ فِي ذِهْنِ الْأَبِ أَنَّ اضْطِهَادَ ابْنِهِ الْحَبِيبِ سَيَشْفِيهِ مِمَّا أَلَمَّ بِهِ ، وَلَمْ يَدْرِ دِهْقَانُ قَرْيَتِهِ الْعَارِفُ بِالْفِلَاحَةِ وَمَا يُصْلِحُ الْأَرْضَ أَنَّ الْقَهْرَ لَا يُصْلِحُ النُّفُوسَ الْكَبِيرَةَ الَّتِي تَلْتَمِسُ وَجْهَ الْحَقِيقَةِ بَلْ يَزِيدُهَا عَزْمًا وَإِرْهَافًا .
Ayah Salman memasang belenggu di kedua kaki putranya karena takut ia akan melarikan diri ke gereja, memeluk agama Nasrani, dan meninggalkan agama Majusi yang merupakan agama bapak dan nenek moyangnya. Telah tertanam di benak sang ayah bahwa menyiksa putra tercintanya itu akan menyembuhkannya dari apa yang menimpanya. Sang kepala desa yang paham tentang pertanian dan apa yang baik bagi tanah itu tidak menyadari bahwa pemaksaan tidak akan pernah bisa memperbaiki jiwa-jiwa besar yang sedang mencari jalan kebenaran, melainkan justru akan menambah tekad dan ketajaman batinnya.
وَاتَّخَذَ سَلْمَانُ مِنْ أَحَدِ خَدَمِ أَبِيهِ الَّذِينَ كَانُوا فِي غُدُوٍّ وَرَوَاحٍ بَيْنَ الْقَصْرِ الصَّغِيرِ وَالضَّيْعَةِ الْعَظِيمَةِ ، صَدِيقًا كَانَ يَحْمِلُ إِلَيْهِ أَنْبَاءَ الْكَنِيسَةِ الَّتِي يَمُرُّ عَلَيْهَا فِي ذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ ، وَذَاتَ يَوْمٍ بَعَثَ سَلْمَانُ إِلَى النَّصَارَى ، بَعْدَ أَنْ بَرَحَهُ الشَّوْقُ إِلَى الِانْطِلَاقِ إِلَى الشَّامِ أَصْلِ الدِّينِ الَّذِي اسْتَوْلَى عَلَى كُلِّ تَفْكِيرِهِ ، فَقَالَ لَهُمْ :
Salman menjadikan salah seorang pelayan ayahnya—yang bertugas mondar-mandir antara istana kecil dan perkebunan yang luas—sebagai teman yang membawakannya kabar tentang gereja yang dilewatinya saat pergi dan pulang. Suatu hari, Salman mengirim pesan kepada orang-orang Nasrani, setelah rasa rindu yang mendalam menyiksanya untuk pergi ke Syam, pusat agama yang telah menguasai seluruh pikirannya, lalu ia berkata kepada mereka:
— إِذَا قَدِمَ عَلَيْكُمْ رَكْبٌ مِنَ الشَّامِ فَأَخْبِرُونِي بِهِمْ .
— "Jika ada rombongan dagang dari Syam datang kepada kalian, maka kabarkanlah kepadaku tentang mereka."
وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَسَلْمَانُ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا التَّفْكِيرُ فِيمَا سَمِعَ مِنْ رُهْبَانِ الْكَنِيسَةِ وَفِيمَا قَرَأَ فِي أَوِسْتَا زَرَادِشْتَ الَّتِي زَخَرَتْ بِخُرَافَاتِ الْبَابِلِيِّينَ وَالْإِيرَانِيِّينَ لَمَا طَالَ عَلَى النَّاسِ الْأَمَدُ ، فَيَزْدَادُ إِيمَانًا بِأَنَّ دِينَ النَّصْرَانِيَّةِ خَيْرٌ مِنْ دِينِ آبَائِهِ ، وَيَزْدَادُ شَوْقًا إِلَى الْهِجْرَةِ إِلَى الشَّامِ فِي سَبِيلِ أَنْ يُمِيطَ اللِّثَامَ عَنِ الْحَقِيقَةِ .
Hari-hari pun berlalu dan Salman tidak memiliki fokus lain selain memikirkan apa yang ia dengar dari para pendeta gereja dan apa yang ia baca dalam kitab Avesta Zoroaster yang penuh dengan khurafat bangsa Babilonia dan Iran karena berlalunya waktu yang sangat lama bagi manusia. Maka imannya semakin bertambah bahwa agama Nasrani lebih baik daripada agama bapak-bapaknya, dan rindunya semakin membara untuk berhijrah ke Syam demi menyingkap tabir dari kebenaran.
وَجَاءَ إِلَيْهِ صَدِيقُهُ وَقَالَ :
Lalu datanglah temannya kepadanya dan berkata:
— قَدِمَ عَلَيْهِمْ رَكْبٌ مِنَ الشَّامِ تُجَّارٌ مِنَ النَّصَارَى .
— "Telah datang kepada mereka rombongan dagang dari Syam, para pedagang dari kaum Nasrani."
فَبَعَثَ مَعَ صَدِيقِهِ رِسَالَةً إِلَى الْكَنِيسَةِ :
Maka Salman mengirimkan sebuah pesan melalui temannya itu ke gereja:
— إِذَا قَضَوْا حَوَائِجَهُمْ وَأَرَادُوا الرَّجْعَةَ إِلَى بِلَادِهِمْ فَآذِنُونِي بِهِمْ .
— "Jika mereka telah menyelesaikan keperluan dagang mereka dan hendak kembali ke negeri mereka, maka kabarkanlah kepadaku."
وَرَاحَ التُّجَّارُ يَبِيعُونَ مُنْتَجَاتِ الشَّامِ وَيَشْتَرُونَ حَرِيرَ الصِّينِ وَالطَّنَافِسَ الْفَارِسِيَّةَ وَالْبَضَائِعَ الْهِنْدِيَّةَ ، حَتَّى إِذَا مَا تَأَهَّبُوا لِلرَّحِيلِ بَعَثَ رِجَالُ الْكَنِيسَةِ إِلَى سَلْمَانَ قَائِلِينَ :
Para pedagang itu pun sibuk menjual produk-produk Syam dan membeli sutra Cina, permadani Persia, serta barang-barang India, hingga ketika mereka bersiap-siap untuk berangkat pulang, para pengurus gereja mengirim pesan kepada Salman dengan mengatakan:
— إِنَّ تُجَّارَ الشَّامِ يَتَأَهَّبُونَ لِلرَّجْعَةِ إِلَى بِلَادِهِمْ .
— "Sesungguhnya para pedagang Syam sedang bersiap-siap untuk kembali ke negeri mereka."
فَأَلْقَى سَلْمَانُ الْحَدِيدَ مِنْ رِجْلَيْهِ وَفَرَّ مِنْ بَيْتِ أَبِيهِ وَكَانَ أَحَبَّ خَلْقِ اللهِ إِلَيْهِ ، لَمْ يَزَلْ حُبُّهُ إِيَّاهُ حَتَّى حَبَسَهُ فِي بَيْتِهِ كَمَا تُحْبَسُ الْجَارِيَةُ ، وَانْطَلَقَ إِلَى الْكَنِيسَةِ خَافِقَ الْقَلْبِ تَمْلأُ جَوَانِحَهُ نَشْوَةٌ ، يَسْتَشْعِرُ أَنَّهُ يَسْتَنْشِقُ أَوَّلَ نَسَائِمِ الْحُرِّيَّةِ الرُّوحِيَّةِ ، فَقَدْ كَانَ أَسِيرَ نِظَامٍ رُوحِيٍّ وَقَدْ كَسَرَ الْقُيُودَ الَّتِي تَشُدُّهُ إِلَى ذَلِكَ النِّظَامِ لِيَخْتَارَ بِمَحْضِ اخْتِيَارِهِ مَا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهِ نَفْسُهُ مِنْ عَقَائِدَ ، فَالْحُرِّيَّةُ لَا تَنْفَصِلُ عَنْ إِرَادَةِ الْحُرِّيَّةِ .
Maka Salman melepaskan belenggu besi dari kedua kakinya lalu kabur dari rumah ayahnya—yang mana ia adalah makhluk Allah yang paling dicintai oleh ayahnya, kasih sayang sang ayah kepadanya terus mendalam hingga membuatnya mengurungnya di dalam rumah layaknya seorang budak perempuan dipingit. Ia pun berlari menuju gereja dengan hati yang berdebar kencang dipenuhi rasa gembira yang mendalam, merasa seolah-olah ia sedang menghirup embusan pertama dari kebebasan spiritual. Sungguh ia sebelumnya adalah tawanan dari suatu sistem spiritual kuno, dan kini ia telah menghancurkan belenggu-belenggu yang mengikatnya pada sistem tersebut demi memilih dengan murni pilihannya sendiri akidah yang membuat jiwanya tenang; karena kebebasan tidak akan pernah terpisahkan dari kehendak bebas itu sendiri.
إِنَّ الْحُرِّيَّةَ لَا تَتَطَوَّرُ وَلَا تَنْمُو إِلَّا بِالْعَائِقِ وَالِاخْتِبَارِ وَالتَّضْحِيَةِ ، فَهِيَ فِي صَمِيمِهَا جِهَادٌ دَائِبٌ وَصِرَاعٌ مُسْتَمِرٌّ مِنْ أَجْلِ التَّحَرُّرِ ، وَقَدْ تَخَطَّى سَلْمَانُ أَوَّلَ عَائِقٍ قَامَ فِي سَبِيلِ تَحْرِيرِ ذَاتِهِ مِنْ أَسْرِ نِظَامٍ رُوحِيٍّ مَوْرُوثٍ تَخْتَنِقُ فِي نِطَاقِهِ كُلُّ حُرِّيَّةٍ وَكُلُّ شَخْصِيَّةٍ ، فَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُحَقِّقَ ذَاتَهُ وَدُونَ ذَلِكَ آلَامٌ وَجِهَادٌ وَمَشَقَّةٌ ، وَقَدْ وَطَّدَ النَّفْسَ عَلَى أَنْ يَتَحَمَّلَ كُلَّ أَلَمٍ وَكُلَّ عَذَابٍ فِي سَبِيلِ أَنْ يَصِلَ إِلَى جَوْهَرِ الْحَقِيقَةِ .
Sesungguhnya kebebasan tidak akan berkembang dan tidak akan tumbuh melainkan dengan adanya rintangan, ujian, dan pengorbanan. Kebebasan pada hakikatnya adalah perjuangan yang tak kenal lelah dan pergulatan terus-menerus demi meraih kemerdekaan. Salman telah melewati rintangan pertama yang berdiri di jalan pembebasan dirinya dari tatanan spiritual warisan yang di dalam ruang lingkupnya segala kebebasan dan kepribadian menjadi tercekik. Ia ingin mewujudkan eksistensi dirinya, meskipun untuk mencapai hal itu harus melewati kepedihan, perjuangan, dan keletihan, dan ia telah memantapkan jiwanya untuk menanggung setiap rasa sakit dan siksaan demi sampai pada esensi kebenaran.
إِنَّهُ يَرْفُضُ حَيَاتَهُ النَّاعِمَةَ وَيُضَحِّي بِضَيْعَةِ أَبِيهِ الْعَظِيمَةِ وَيَنْتَزِعُ ذَاتَهُ انْتِزَاعًا أَلِيمًا مِنْ أَرْضِ مَنْبِتِهَا الْكَرِيمِ فِي الْوُجُودِ ، مُخَلِّفًا وَرَاءَهُ سَعَادَةً مَادِّيَّةً رَخِيصَةً مَيْسُورَةً فِي سَبِيلِ الْحُصُولِ عَلَى سَعَادَةٍ رُوحِيَّةٍ عَالِيَةٍ تَتَقَاصَرُ أَمَامَهَا كُلُّ سَعَادَةٍ .
Ia menolak hidupnya yang serbanyaman, mengorbankan perkebunan luas milik ayahnya, dan mencabut dirinya dengan pencabutan yang pedih dari tanah tempat tumbuhnya yang mulia dalam kehidupan, meninggalkan di belakangnya kebahagiaan materi yang murah lagi mudah didapat, demi memperoleh kebahagiaan spiritual yang tinggi, yang segala bentuk kebahagiaan lain akan terasa kerdil di hadapannya.
إِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتَحَرَّرَ مِنْ عُبُودِيَّةِ حُبِّهِ لِأَهْلِهِ ، مِنْ عُبُودِيَّةِ حُبِّهِ لِأَرْضِهِ ، مِنْ عُبُودِيَّةِ خُضُوعِهِ لِتَقَالِيدِ مُجْتَمَعِهِ ، مِنْ عُبُودِيَّةِ دِينِ آبَائِهِ وَأَجْدَادِهِ ، لِيَعْلُوَ عَلَى نَفْسِهِ حَتَّى يَصِلَ إِلَى غَايَةِ غَايَاتِهِ ، إِلَى انْتِصَارِهِ الرُّوحِيِّ .
Ia ingin membebaskan diri dari belenggu penghambaan terhadap rasa cinta kepada keluarganya, dari belenggu cinta kepada tanah airnya, dari belenggu ketundukan pada tradisi masyarakatnya, serta dari belenggu agama bapak dan nenek moyangnya, agar ia bisa meninggikan dirinya hingga mencapai puncak dari segala tujuannya, yaitu kemenangan spiritualnya.
وَخَرَجَتْ قَافِلَةُ التُّجَّارِ النَّصَارَى قَاصِدَةً الشَّامَ ، وَخَرَجَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ مَعَهُمْ وَلَمْ يُحِسَّ بِالْقَلَقِ وَلَا بِدُوَارِ الْحُرِّيَّةِ ، ذَلِكَ الشُّعُورُ الْحَادُّ الَّذِي يَغْمُرُ الْإِنْسَانَ حِينَمَا يَتَحَقَّقُ مِنْ أَنَّهُ قَدْ قُذِفَ بِهِ إِلَى سُلُوكِ سَبِيلٍ بِدُونِ إِرَادَتِهِ ، لِأَنَّ سَلْمَانَ قَدِ اخْتَارَ طَرِيقَهُ بِمَحْضِ اخْتِيَارِهِ وَمُطْلَقِ حُرِّيَّتِهِ ؛ بَلْ كَانَ يَسْتَشْعِرُ انْشِرَاحًا تَغْمُرُهُ تِلْكَ النَّشْوَةُ الَّتِي يَسْعَدُ بِهَا الْحَاجُّ الْمُؤْمِنُ الْمُنْطَلِقُ إِلَى قُدْسِ أَقْدَاسِهِ .
Maka berangkatlah kafilah pedagang Nasrani itu menuju Syam, dan Salman Al-Farisi pun pergi bersama mereka. Ia tidak merasakan kecemasan ataupun pusingnya kebebasan—perasaan tajam yang biasanya melanda manusia ketika ia menyadari bahwa dirinya telah terlempar untuk menempuh suatu jalan tanpa kehendaknya sendiri—hal itu karena Salman telah memilih jalannya dengan murni pilihan dan kebebasan mutlaknya; ia justru merasakan kelapangan dada yang diliputi oleh kegembiraan mendalam yang biasa dirasakan oleh seorang jemaah haji yang beriman saat melangkah menuju tempat yang paling suci baginya.
وَانْسَابَتِ الْقَافِلَةُ بَيْنَ السُّهُولِ وَفِي الْبَيْدَاءِ فِي طَرِيقٍ مَعْبَدٍ مَهَّدَتْهُ الدَّوْلَةُ السَّاسَانِيَّةُ لِضَمَانِ مُوَاصَلَاتٍ سَرِيعَةٍ مُرِيحَةٍ بَيْنَ الْحُكُومَةِ الْمَرْكَزِيَّةِ وَإِدَارَةِ الْأَقَالِيمِ ، وَبَيْنَ وَقْتٍ وَآخَرَ كَانَتْ خَيْلُ الْبَرِيدِ تَمُرُّ بِالْقَافِلَةِ مُرُوقَ السَّهْمِ وَكَانَ بَعْضُ الْعَدَّائِينَ يُسَابِقُونَ الرِّيحَ ، إِنَّهُمْ سُعَاةٌ لِلْبَرِيدِ يُسْتَخْدَمُونَ فِي الْأَقَالِيمِ الْإِيرَانِيَّةِ الْخَالِصَةِ حَيْثُ الْمَسَافَاتُ بَيْنَ الْمَحَطَّاتِ أَقْصَرُ كَثِيرًا جِدًّا مِمَّا هِيَ فِي الْبِلَادِ السُّورِيَّةِ أَوِ الْعَرَبِيَّةِ .
Kafilah pun berjalan lancar melintasi dataran rendah dan padang gurun di jalan yang dibangun dan dirintis oleh Dinasti Sasanian demi menjamin jalur komunikasi yang cepat lagi nyaman antara pemerintah pusat dan administrasi wilayah-wilayah kekuasaan. Dari waktu ke waktu, kuda-kuda pos melewati kafilah itu melesat cepat bagai anak panah, dan sebagian pelari cepat tampak berlari laksana menantang angin. Mereka adalah para kurir pos yang dipekerjakan di wilayah internal Persia asli, di mana jarak antarstasiun peristirahatan jauh lebih pendek dibandingkan dengan jarak yang ada di wilayah Suriah atau Arab.
وَكَانَ سَلْمَانُ يَتَلَفَّتُ وَهُوَ مَشْدُوهٌ ، إِنَّهُ يَلْقِي بِنَفْسِهِ فِي أَحْضَانِ الطَّبِيعَةِ الْوَاسِعَةِ لِأَوَّلِ مَرَّةٍ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ كُلُّ دُنْيَاهُ مَنْزِلَ أَبِيهِ الدِّهْقَانِ فِي قَرْيَةِ جَيٍّ وَضَيْعَتِهِ وَالطَّرِيقَ بَيْنَ الدَّارِ وَالضَّيْعَةِ وَالْفِلَّاحِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ فِي أَرْضِ أَبِيهِ كَالرَّقِيقِ ، وَالْعَبِيدِ الَّذِينَ يَبْذُلُونَ الْعَرَقَ وَالنَّفْسَ فِي سَبِيلِ أَنْ يَكْتَنِزَ سَيِّدُهُمُ الدِّهْقَانُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ .
Salman menoleh ke sana kemari dalam keadaan terkesima. Ia melemparkan dirinya ke dalam dekapan alam yang luas untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya seluruh dunianya hanyalah rumah ayahnya sang kepala desa di desa Jay, perkebunannya, jalanan antara rumah dan perkebunan, serta para petani yang bekerja di tanah ayahnya layaknya sahaya, dan para budak yang mengorbankan keringat serta jiwa mereka demi agar tuan mereka, sang kepala desa, dapat menimbun emas dan perak.
وَنَزَلَتِ الْقَافِلَةُ مَنْزِلًا فِي الطَّرِيقِ فَإِذَا بِمُوَظَّفِي الدَّوْلَةِ السَّاسَانِيَّةِ يَحْصُلُونَ الْمُكُوسَ ، فَقَدْ كَانَ ذَلِكَ آخِرَ مَنْزِلٍ بَيْنَ حُدُودِ الدَّوْلَةِ الْفَارِسِيَّةِ وَالدَّوْلَةِ الرُّومَانِيَّةِ ، وَالْتَفَّ التُّجَّارُ النَّصَارَى فِي جُنْحِ اللَّيْلِ فِي حَلْقَةٍ رَاحُوا يَتَحَدَّثُونَ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ وَسَلْمَانُ يُصْغِي إِلَيْهِمْ ، فَقَدْ كَانَتْ دُنْيَا جَدِيدَةً تَنِفَتِحُ أَمَامَ بَصَرِهِ وَبَصِيرَتِهِ بِجَمَالِهَا وَسِحْرِهَا وَحِكْمَتِهَا .
Kafilah tersebut berhenti di sebuah tempat persinggahan di tengah jalan, dan tiba-tiba para pegawai Dinasti Sasanian datang memungut pajak cukai. Tempat itu merupakan pos persinggahan terakhir di perbatasan antara kekaisaran Persia dan kekaisaran Romawi. Para pedagang Nasrani berkumpul membentuk lingkaran di kegelapan malam, mereka mulai berbincang mengenai urusan dunia dan agama sementara Salman mendengarkan mereka dengan saksama. Sungguh, sebuah dunia baru tengah terbuka di hadapan mata dan mata batinnya dengan segala keindahan, pesona, dan hikmahnya.
وَاسْتَأْنَفَتِ الْقَافِلَةُ رِحْلَتَهَا فَرَاحَتْ تَضْرِبُ فِي الصَّحْرَاءِ الْوَاسِعَةِ الْمُتَرَامِيَةِ ،
Dan kafilah itu pun melanjutkan kembali perjalanannya, bergerak menembus padang gurun yang luas membentang,
وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ يَتَعَاقَبَانِ فِي الْقُبَّةِ الزَّرْقَاءِ الَّتِي كَانَتْ تُوشَى بِسُحُبٍ بَيْضَاءَ وَأُفُقٍ أَحْمَرَ وَظِلَالٍ دَاكِنَةٍ لَا تَثْبُتُ عَلَى حَالٍ . فَتَتَابَعَ صُوَرٌ رَائِعَةٌ تَبْهَرُ الْعُقُولَ وَتَسْبِي الْأَلْبَابَ ابْتَدَعَتْهَا يَدُ الْفَنَّانِ الْأَعْظَمِ .
Matahari dan bulan silih berganti di kubah langit biru yang dihiasi awan-awan putih, ufuk yang memerah, dan bayangan-bayangan gelap yang tidak pernah menetap pada satu keadaan. Maka tampitalah pemandangan-pemandangan indah secara berurutan yang memukau akal dan menawan hati, yang diciptakan oleh tangan Sang Seniman Teragung (Allah).
وَفِي الْوَاحَاتِ كَانَتْ تَرْتَفِعُ أَشْجَارُ النَّخِيلِ سَامِقَةً جَلِيلَةً ، وَقَدْ هَزَّتْ رَوْعَةُ تِلْكَ الْأَشْجَارِ قَلْبَ سَلْمَانَ وَكَانَ أَثَرُهَا فِي نَفْسِهِ أَعْمَقَ مِنْ أَثَرِ أَبْرَاجِ الْآلِهَةِ الْعَالِيَةِ الَّتِي رَآهَا فِي أَرْضِ بَابِلَ ، فَقَدْ رَأَى فِي النَّخِيلِ قُدْرَةَ اللهِ بَيْنَمَا لَمْ يَرَ فِي الْأَبْرَاجِ الَّتِي عَرَجَتْ إِلَى السَّمَاءِ فِي ثَمَانِ طَبَقَاتٍ مُتَدَرِّجَةٍ غَيْرَ قُدْرَةِ الْإِنْسَانِ .
Dan di oase-oase, pohon-pohon kurma tumbuh menjulang tinggi dengan anggunnya. Keindahan pohon-pohon tersebut menggetarkan hati Salman, dan pengaruhnya di dalam jiwanya jauh lebih mendalam ketimbang pengaruh menara-menara dewa yang tinggi menjulang yang pernah ia lihat di tanah Babilonia. Karena ia melihat kekuasaan Allah pada pohon kurma itu, sedangkan pada menara-menara yang naik ke langit dalam delapan tingkatan berundak itu ia tidak melihat apa pun selain kemampuan manusia semata.
وَرَاحَ سَلْمَانُ يَقْلِبُ وَجْهَهُ فِي الْكَوْنِ الْعَرِيضِ وَهُوَ مَشْدُوهٌ تَهَزُّ الْخُضْرَةُ وِجْدَانَهُ . وَتَمْلأُ الصَّحْرَاءُ الْجَرْدَاءُ قَلْبَهُ خَشْيَةً مِنْ رَبِّ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ ، وَانْسَابَتِ الْقَافِلَةُ فِي أَرْضِ الشَّامِ فَاسْتَشْعَرَ كَأَنَّمَا قَدْ مُلِئَ بِرُوحِ اللهِ ، فَخَرَّ سَاجِدًا فِي مِحْرَابِ الرَّبِّ وَدُمُوعُهُ تَتَسَاقَطُ عَلَى الْأَرْضِ .
Salman pun mulai memalingkan wajahnya memandang alam semesta yang luas ini dalam keadaan terkesima, di mana hijaunya tanaman menggetarkan sanubarinya, dan padang gurun yang tandus memenuhi hatinya dengan rasa takut kepada Tuhan pemilik bumi dan langit. Ketika kafilah memasuki tanah Syam, ia merasa seolah-olah dirinya telah dipenuhi oleh ruh Allah, maka ia pun tersungkur sujud di tempat ibadah kepada Tuhan dengan air matanya yang bercucuran membasahi tanah.
وَجَاسَ سَلْمَانُ خِلَالُ الدِّيَارِ يَنْظُرُ وَيَتَلَفَّتُ وَيُلْقِي سَمْعَهُ إِلَى أَحَادِيثِ النَّاسِ ، حَتَّى إِذَا بَلَغَ كَنِيسَةً عَظِيمَةً وَقَفَ عِنْدَهَا وَقَالَ :
Dan Salman berjalan menjelajahi negeri itu, melihat, menoleh, dan memasang telinganya mendengarkan obrolan orang-orang, hingga ketika ia sampai di sebuah gereja yang megah, ia berhenti di depannya dan bertanya:
— مَنْ أَفْضَلُ أَهْلِ هَذَا الدِّينِ ؟
— "Siapakah orang yang paling utama dalam pemeluk agama ini?"
قَالُوا :
Mereka menjawab:
— الْأُسْقُفُّ فِي الْكَنِيسَةِ .
— "Uskup yang berada di dalam gereja."
كَانَ مُتَعَطِّشًا إِلَى الْمَعْرِفَةِ فَأَرَادَ أَنْ يَنْهَلَ مِنْ نَبْعِ الْعِلْمِ ، فَلَمَّا أُرْشِدَ إِلَى الْأُسْقُفِّ ذَهَبَ إِلَيْهِ وَهُوَ مَأْخُوذٌ بِالصَّلَوَاتِ الْحَارَّةِ الَّتِي كَانَتْ تَتَرَدَّدُ فِي جَنَبَاتِ الْكَنِيسَةِ فَيُحِسُّهَا شَذًى عِطْرًا فِي رُوحِهِ الْهَفْهَافَةِ الَّتِي تَوَدُّ لَوْ تَنْطَلِقُ لِتُعَانِقَ كُلَّ الْوُجُودِ .
Ia adalah seorang yang sangat haus akan makrifat, maka ia ingin mereguk langsung dari sumber ilmu. Ketika ditunjukkan kepada sang uskup, ia segera menemuinya dalam keadaan terpukau oleh doa-doa syahdu yang menggema di sudut-sudut gereja, ia merasakannya bagai harum wewangian di dalam jiwanya yang lembut, yang mendamba andai saja ia bisa terbang bebas untuk mendekap seluruh alam semesta.
وَجَاءَ الْأُسْقُفُّ وَهُوَ يَضْطَرِبُ مِنَ النَّشْوَةِ فَقَالَ لَهُ :
Lalu datanglah sang uskup dalam keadaan bergetar karena emosi emosionalnya, maka Salman berkata kepadanya:
— إِنِّي قَدْ رَغِبْتُ فِي هَذَا الدِّينِ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَكُونَ مَعَكَ وَأَخْدُمَكَ فِي كَنِيسَتِكَ فَأَتَعَلَّمَ مِنْكَ وَأُصَلِّيَ مَعَكَ .
— "Sesungguhnya aku telah tertarik pada agama ini, maka aku ingin bersamamu, mengabdi kepadamu di gerejamu ini agar aku bisa belajar darimu dan beribadah bersamamu."
فَرَاحَ الْأُسْقُفُّ يُصْغِي إِلَيْهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيهِ ، حَتَّى إِذَا مَا انْتَهَى مِنْ حَدِيثِهِ قَالَ لَهُ :
Maka sang uskup mulai mendengarkannya dan memperhatikan raut wajahnya dengan cermat, hingga ketika Salman selesai dari ucapannya, uskup itu berkata kepadanya:
— ادْخُلْ .
— "Masuklah."
فَدَخَلَ سَلْمَانُ وَهُوَ يَكَادُ يَطِيرُ مِنَ الْفَرَحِ ، كُلُّ أَمَانِيِّهِ قَدْ تَحَقَّقَتْ ، فَمَا كَانَ يُرِيدُ إِلَّا الْعِلْمَ وَوَجْهَ الْحَقِيقَةِ وَقَدْ سَاقَهُ اللهُ إِلَى أَفْضَلِ أَهْلِ النَّصْرَانِيَّةِ عِلْمًا ، وَيَسُرَّ لَهُ أَنْ يَمْكُثَ فِي الْكَنِيسَةِ لَا يَشْغَلُهُ عَنْ عِبَادَتِهِ شَاغِلٌ بَعْدَ أَنْ وَهَبَ لَهُ نَفْسَهُ .
Maka masuklah Salman dalam keadaan hatinya yang serasa terbang karena saking gembiranya, segala cita-citanya kini telah terwujud. Ia tidak menginginkan apa pun selain ilmu dan jalan kebenaran, dan kini Allah telah menuntunnya kepada orang yang paling utama ilmunya di kalangan pemeluk Nasrani. Ia pun merasa bahagia bisa tinggal menetap di dalam gereja tanpa ada satu pun kesibukan yang memalingkannya dari ibadah, setelah ia menyerahkan seluruh dirinya untuk jalan ini.
وَرَاحَ الْأُسْقُفُّ يُلْقِي مَوَاعِظَهُ عَلَى النَّاسِ فَتَقْطُرُ الدُّمُوعُ مِنَ الْعُيُونِ ، وَكَانَ سَلْمَانُ أَكْثَرَهُمْ بُكَاءً ، فَبَيَانُ الرَّجُلِ يَمَسُّ كَوَامِنَ الرَّحْمَةِ فِي النُّفُوسِ ، وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ وَرَغَّبَهُمْ فِيهَا حَتَّى جَادُوا بِأَمْوَالِهِمْ عَنْ رِضًا طَمَعًا فِيمَا وَعَدَهُمْ مِنْ ثَوَابٍ فِي الْآخِرَةِ .
Sang uskup pun mulai menyampaikan khotbah-khotbah nasihatnya kepada orang-orang hingga air mata bercucuran dari mata hadirin, dan Salman adalah orang yang paling banyak menangis di antara mereka. Retorika penjelasan lelaki itu benar-benar menyentuh lubuk kasih sayang di dalam jiwa-jiwa manusia, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan membuat mereka begitu menyukainya hingga mereka menyerahkan harta-harta mereka dengan penuh kerelaan karena mendambakan pahala di akhirat yang dijanjikannya.
وَجَمَعَ الْأُسْقُفُّ الذَّهَبَ وَالْوَرِقَ وَسَلْمَانُ يَتَهَلَّلُ فَرَحًا فَسَيَدْخُلُ ذَلِكَ الْمَالُ السُّرُورَ عَلَى قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ ، وَذَهَبَ الْأُسْقُفُّ بِمَا جَمَعَهُ إِلَى غُرْفَتِهِ فَحَسِبَ سَلْمَانُ أَنَّ الرَّجُلَ أَمِينٌ عَلَى مَالِ اللهِ حَتَّى يُنْفِقَهُ فِي وَجْهِهِ .
Sang uskup lalu mengumpulkan koin emas dan perak itu sementara wajah Salman berseri-seri penuh kegembiraan karena mengira harta tersebut akan membawa kebahagiaan ke dalam hati kaum fakir dan miskin. Uskup itu kemudian membawa apa yang dikumpulkannya ke dalam kamarnya, maka Salman menyangka bahwa lelaki itu adalah orang yang amanah dalam menjaga harta Allah hingga ia menyalurkannya ke jalan yang tepat.
وَجَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى الْكَنِيسَةِ يَلْتَمِسُونَ الْعَوْنَ فَلَمْ يُعْطِهِمُ الْأُسْقُفُّ شَيْئًا ، وَلَمْ يُخَامِرْ سَلْمَانَ الشَّكُّ فِيهِ فَلَعَلَّهُ لِسَبَبٍ لَا يَدْرِيهِ آثَرَ أَنْ يَبْقَى مَا عِنْدَهُ مِنْ أَمْوَالٍ لِيُعْطِيَهَا الْفُقَرَاءَ فِي الْمَوَاسِمِ وَالْأَعْيَادِ .
Namun ketika kaum fakir datang ke gereja untuk meminta bantuan, sang uskup tidak memberikan apa pun kepada mereka. Meskipun demikian, rasa curiga belum merasuki hati Salman terhadapnya; ia mengira barangkali karena suatu alasan yang tidak ia ketahui, sang uskup sengaja memilih untuk menyimpan harta yang ada padanya agar bisa dibagikan kepada kaum fakir pada momen-momen musim tertentu dan hari raya.
وَرَاحَ الْأُسْقُفُّ يُلْقِي الْمَوَاعِظَ وَيَجْمَعُ الذَّهَبَ وَالْوَرِقَ وَلَا يُعْطِي الْفُقَرَاءَ شَيْئًا ، وَفَطِنَ سَلْمَانُ إِلَى أَنَّهُ رَجُلُ سَوْءٍ وَأَنَّهُ يَكْتَنِزُهُ لِنَفْسِهِ ، وَقَدْ تَأَكَّدَ لَهُ جَشَعُهُ لَمَا وَجَدَ أَنَّهُ قَدْ جَمَعَ سَبْعَ قِلَالٍ مِنْ ذَهَبٍ وَوَرِقٍ .
Sang uskup terus saja menyampaikan khotbah nasihat dan mengumpulkan emas serta perak tanpa memberikan apa pun kepada orang-orang miskin. Akhirnya Salman pun menyadari bahwa orang ini adalah lelaki yang buruk kelakuannya dan bahwa ia menimbun harta itu untuk dirinya sendiri, dan ketamakan uskup itu terbukti nyata baginya setelah ia mendapati bahwa sang uskup telah mengumpulkan tujuh tempayan besar penuh berisi emas dan perak.
أَيَكْفُرُ سَلْمَانُ بِذَلِكَ الدِّينِ لِأَنَّ أُسْقُفًّا قَدْ خَانَ الْأَمَانَةَ ؟ إِنَّ الْعَيْبَ فِي
Apakah Salman harus mengingkari agama tersebut hanya karena seorang uskup telah mengkhianati amanah? Sesungguhnya cela dan cacat itu berada pada...
الرَّجُلِ لَا فِي الدِّينِ ، وَبَقِيَ سَلْمَانُ عَلَى دِينِهِ يَجْتَهِدُ فِي عِبَادَتِهِ وَإِنْ أُلْقِيَتْ كَرَاهِيَةُ ذَلِكَ الرَّجُلِ فِي قَلْبِهِ ، وَتَلَقَّى سَلْمَانُ دَرْسًا أَنْ لَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ لَا يُصَدِّقُهُ عَمَلٌ وَأَنَّ عِلْمَ الْعَالِمِ لِلنَّاسِ أَمَّا فَجْرُهُ فَعَلَيْهِ .
...pribadi sang oknum, bukan pada agamanya. Maka Salman tetap teguh memeluk agamanya seraya bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, meskipun rasa benci kepada lelaki itu telah tertanam di dalam hatinya. Dari situ Salman memetik sebuah pelajaran berharga bahwa tidak ada kebaikan sama sekali pada ilmu yang tidak dibenarkan oleh amal perbuatan, dan sesungguhnya ilmu seorang alim adalah untuk kemaslahatan manusia sedangkan dosa kejahatannya akan ditanggung oleh dirinya sendiri.
وَمَاتَ الْأُسْقُفُّ فَاجْتَمَعَ رِجَالُ الدِّينِ لِيَدْفِنُوهُ بِمَا يَلِيقُ بِهِ مِنْ مَرَاسِيمَ ، فَأُضِيئَتِ الشُّمُوعُ وَأُلْقِيَتِ الْعِظَاتُ وَأُقِيمَتِ الصَّلَوَاتُ وَسَلْمَانُ يُعَانِي صِرَاعًا رَهِيبًا فِي نَفْسِهِ . أَيَتَكَلَّمُ أَمْ يَصْمُتُ ؟ أَيَفْضَحُ الرَّجُلَ أَمْ يَسْتُرُهُ ؟ وَإِذَا سَتَرَهُ أَلَا يَكُونُ مُنَافِقًا آثِمًا فِي حَقِّ اللهِ ؟ وَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَطْوِيَ خِدَاعَ الْأُسْقُفِّ وَفُجْرَهُ فَتَقَدَّمَ وَقَالَ :
Lalu sang uskup meninggal dunia, maka berkumpullah para pemuka agama untuk memakamkannya dengan upacara ritual yang dianggap layak baginya; lilin-lilin pun dinyalakan, khotbah-khotbah sanjungan disampaikan, dan doa-doa didirikan, sementara Salman tengah mengalami pergulatan batin yang hebat di dalam dirinya. Apakah ia harus berbicara ataukah diam saja? Apakah ia harus membongkar kedok lelaki itu ataukah menutupinya? Dan jika ia menutupinya, bukankah ia justru menjadi seorang munafik yang berdosa terhadap hak Allah? Ia akhirnya tidak sanggup lagi menyembunyikan penipuan dan kebusukan sang uskup, maka ia maju ke depan dan berseru:
— إِنَّ هَذَا كَانَ رَجُلَ سَوْءٍ .
— "Sesungguhnya orang ini adalah lelaki yang sangat buruk kelakuannya!"
وَصُوِّبَتْ أَنْظَارُ الْإِنْكَارِ إِلَى سَلْمَانَ ، وَلَاحَتْ دَهْشَةٌ مَشُوبَةٌ بِغَضَبٍ فِي الْوُجُوهِ ، وَقَبْلَ أَنْ تَنْبَعِثَ أَصْوَاتُ الزَّجْرِ قَالَ سَلْمَانُ فِي انْفِعَالٍ :
Maka pandangan penuh pengingkaran langsung tertuju tajam kepada Salman, dan tampak raut keterkejutan yang bercampur amarah di wajah-wajah orang yang hadir. Sebelum suara-suara hardikan sempat terlontar, Salman segera berkata dengan tegas:
— يَأْمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَيُرَغِّبُكُمْ فِيهَا . فَإِذَا جِئْتُمُوهُ بِهَا اكْتَنَزَهَا لِنَفْسِهِ ، وَلَمْ يُعْطِ الْمَسَاكِينَ مِنْهَا شَيْئًا .
— "Ia memerintahkan kalian untuk bersedekah dan membuat kalian begitu menyukainya, namun apabila kalian membawakan sedekah itu kepadanya, ia justru menimbunnya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan sedikit pun dari harta itu kepada kaum miskin!"
فَقَالُوا لَهُ :
Maka mereka bertanya kepadanya:
— وَمَا عِلْمُكَ بِذَلِكَ ؟
— "Dari mana kamu tahu tentang hal itu?"
قال :
Salman menjawab:
— أَنَا أَدُلُّكُمْ عَلَى كَنْزِهِ .
— "Aku bisa menunjukkan kepada kalian tempat penyimpangan harta simpanannya."
قالوا :
Mereka berkata:
— فَدُلَّنَا عَلَيْهِ .
— "Maka tunjukkanlah letaknya kepada kami!"
وَسَارَ سَلْمَانُ إِلَى غُرْفَةِ الْأُسْقُفِّ وَهُمْ خَلْفَهُ فَأَرَاهُمْ مَوْضِعَ الْكَنْزِ ، فَاسْتَخْرَجُوا مِنْهُ سَبْعَ قِلَالٍ مَمْلُوءَةً ذَهَبًا وَوَرِقًا ، فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا فِي غَضَبٍ :
Maka Salman berjalan menuju kamar sang uskup sementara mereka mengikutinya dari belakang, lalu ia memperlihatkan kepada mereka tempat penyimpanan harta itu. Mereka pun mengeluarkan tujuh tempayan besar yang penuh berisi emas dan perak darinya. Ketika menyaksikannya secara langsung, mereka berseru dengan penuh kemarahan:
— وَاللهِ لَا نَدْفِنُهُ أَبَدًا .
— "Demi Allah, kami tidak akan pernah menguburkannya selama-lamanya!"
وَصَلَبُوا أَفْضَلَ أَهْلِ النَّصْرَانِيَّةِ عِلْمًا وَرَجَمُوهُ بِالْحِجَارَةِ . وَجَاءَ أُسْقُفٌّ جَدِيدٌ لِيَمْلَأَ مَكَانَ الْأُسْقُفِّ الرَّاحِلِ ، فَرَاحَ سَلْمَانُ يَرْقُبُهُ فِي
Lalu mereka menyalib jenazah orang yang tadinya dianggap paling utama ilmunya di kalangan umat Nasrani itu dan melemparinya dengan batu. Kemudian datanglah seorang uskup baru untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh uskup sebelumnya, maka Salman pun mulai mengamatinya dengan penuh...
حَذَرٍ فَأَلْفَاهُ يَسْتَغْرِقُ فِي صَلَاتِهِ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ ، يَتَهَجَّدُ اللَّيْلَ وَيَجْتَهِدُ فِي الْعِبَادَةِ بِالنَّهَارِ ، فَأَحَبَّهُ حُبًّا لَمْ يُحِبَّ شَيْئًا قَبْلَهُ ، وَأَقْبَلَ عَلَيْهِ مُتَفَتِّحَ النَّفْسِ يَحْسَبُ أَنَّهُ قَدْ بَلَغَ غَايَتَهُ ، وَلَمْ يَدْرِ فِي خَلَدِهِ أَنَّهُ لَمْ يَقْطَعْ إِلَّا خَطْوَةً عَلَى طَرِيقِ الْحَقِيقَةِ الْخَالِدَةِ .
...kewaspadaan, lalu ia mendapatinya sebagai sosok yang benar-benar tenggelam dalam ibadahnya, sangat zuhud terhadap urusan dunia, merindukan kebahagiaan akhirat, selalu mendirikan salat tahajud di keheningan malam, dan bersungguh-sungguh beribadah di siang hari. Maka Salman mencintainya dengan suatu kecintaan mendalam yang belum pernah ia rasakan kepada apa pun sebelum itu. Ia pun mengabdikan diri kepadanya dengan jiwa yang terbuka lebar seraya mengira bahwa dirinya telah mencapai tujuan puncaknya, tanpa pernah terlintas di dalam benaknya bahwa ia sebenarnya baru saja mengayunkan satu langkah awal di atas jalan menuju kebenaran yang abadi.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi