KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar
Ikatan Takdir di Rumah Asad: Saat Tabir Terangkat dan Masa Depan Terbentang
Pertemuan agung di rumah Amr bin Asad menjadi saksi bersatunya dua cahaya yang akan mengubah sejarah dunia, di mana tabir takdir terangkat dan masa depan umat manusia mulai terbentang melalui akad yang suci.
خَرَجَ الْإِخْوَةُ يَاسِرٌ وَالْحَارِثُ وَمَالِكٌ مِنْ مَذْحِجَ بِالْيَمَنِ قَاصِدِينَ مَكَّةَ فِي طَلَبِ أَخٍ رَابِعٍ لَهُمْ ، وَقَدْ أَخَذُوا يَنْقُبُونَ عَنْ أَخِيهِمْ دُونَ جَدْوَى ، فَرَجَعَ الْحَارِثُ وَمَالِكٌ إِلَى الْيَمَنِ وَبَقِيَ يَاسِرٌ فِي أُمِّ الْقُرَى إِلَى جِوَارِ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ ، وَلَمَّا كَانَ غَرِيبًا عَنِ الدِّيَارِ فَكَانَ عَلَيْهِ أَنْ يُحَالِفَ أُسْرَةً مِنَ الْأُسَرِ الْقَوِيَّةِ لِيَكُونَ فِي جِوَارِهَا وَحِمَاهَا ، فَحَالَفَ أَبَا حُذَيْفَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ الْمَخْزُومِيَّ .
Tiga bersaudara, Yasir, Al-Harits, dan Malik berangkat dari Madzhij di Yaman menuju Makkah untuk mencari saudara keempat mereka. Mereka telah mencari ke mana-mana namun tanpa hasil, sehingga Al-Harits dan Malik kembali ke Yaman, sementara Yasir tetap tinggal di Ummul Qura (Makkah) berdampingan dengan Baitul Atiq (Ka'bah). Karena ia seorang asing di negeri tersebut, ia harus menjalin aliansi dengan salah satu keluarga yang kuat agar berada dalam perlindungan dan pembelaannya, maka ia pun bersekutu dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi.
وَأَحَبَّ بَنُو مَخْزُومٍ يَاسِرًا ، وَكَانَ أَبُو حُذَيْفَةَ يُنَادِمُهُ ، وَتَوَطَّدَتْ أَوَاصِرُ الصَّدَاقَةِ بَيْنَهُمَا حَتَّى إِنَّ أَبَا حُذَيْفَةَ زَوَّجَهُ أَمَةً لَهُ يُقَالُ لَهَا سُمَيَّةُ بِنْتُ خَيَّاطٍ فَوَلَدَتْ لَهُ عَمَّارًا ، فَأَعْتَقَهُ أَبُو حُذَيْفَةَ ، وَعُرِفَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ بِمَوْلَى بَنِي مَخْزُومٍ .
Bani Makhzum menyukai Yasir, dan Abu Hudzaifah sering menjadikannya teman berbincang dekat. Hubungan persahabatan antara keduanya semakin kokoh hingga Abu Hudzaifah menikahkannya dengan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khayyat, lalu Sumayyah melahirkan Ammar untuknya. Abu Hudzaifah kemudian memerdekakannya, dan Ammar bin Yasir pun dikenal sebagai maula (bekas budak/sekutu) Bani Makhzum.
وَشَبَّ عَمَّارٌ فِي دُورِ بَنِي مَخْزُومٍ ، وَلَكِنَّهُ لَمْ يُصَادِقْ فِتْيَانَهُمْ فَقَدْ كَانَ أَبُو الْحَكَمِ بْنُ هِشَامٍ ( أَبُو جَهْلٍ ) أَسَنَّ مِنْهُ ، وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَصْغَرَ مِنْهُ ، وَوَجَدَ فِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الصَّدِيقَ الَّذِي تَفَتَّحَ لَهُ قَلْبُهُ .
Ammar tumbuh besar di lingkungan rumah-rumah Bani Makhzum, akan tetapi ia tidak berteman akrab dengan para pemuda mereka; karena Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahl) berusia lebih tua darinya, sedangkan Umar bin Al-Khattab berusia lebih muda darinya. Dan ia menemukan pada diri Muhammad bin Abdullah seorang sahabat sejati yang membuat hatinya terbuka lebar.
كَانَ عَمَّارٌ تِرْبَ مُحَمَّدٍ ، وَكَانَ يُرَافِقُهُ فِي غُدُوِّهِ وَرَوَاحِهِ ، وَفِي ذَاتِ يَوْمٍ بَيْنَا كَانَ مُحَمَّدٌ وَعَمَّارٌ يَسِيرَانِ أَمَامَ دَارِ هَالَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ إِذَا بِهَالَةَ تُنَادِي :
Ammar adalah teman sebaya Muhammad, dan ia selalu menemani beliau dalam setiap langkah pergi maupun pulang. Pada suatu hari, tatkala Muhammad dan Ammar sedang berjalan di depan rumah Halah binti Khuwailid, tiba-tiba Halah memanggil:
— عَمَّارُ .. عَمَّارُ .
— Ammar.. Ammar.
فَانْصَرَفَ عَمَّارٌ إِلَيْهَا وَوَقَفَ لَهُ مُحَمَّدٌ يَنْتَظِرُ أَوْبَتَهُ فَقَالَتْ :
Maka Ammar menghampirinya, sementara Muhammad berdiri menunggu kepulangannya, lalu Halah berkata:
— أَمَا لِصَاحِبِكَ هَذَا مِنْ حَاجَةٍ فِي تَزْوِيجِ خَدِيجَةَ ؟
— Apakah sahabatmu ini tidak memiliki keinginan untuk menikah dengan Khadijah?
فَانْبَسَطَتْ أَسَارِيرُ عَمَّارٍ وَخَفَّ إِلَى مُحَمَّدٍ وَقَالَ :
Maka wajah Ammar langsung berseri-seri gembira, ia segera melangkah cepat menuju Muhammad dan berkata:
— أَمَا لَكَ مِنْ حَاجَةٍ فِي تَزْوِيجِ خَدِيجَةَ ؟
— Apakah engkau tidak memiliki keinginan untuk menikah dengan Khadijah?
فَخَفَقَ قَلْبُ مُحَمَّدٍ ، وَرَفَّتْ بَسْمَةٌ حُلْوَةٌ عَلَى شَفَتَيْهِ فَتَأَلَّقَتْ أَسْنَانُهُ الْمُفَلَّجَةُ الْبَيْضَاءُ وَقَالَ :
Maka jantung Muhammad berdegup, dan senyuman manis merekah di kedua bibirnya hingga memperlihatkan gigi-giginya yang rapi berjarak dan putih berkilau, lalu beliau bersabda:
— بَلَى لَعَمْرِي .
— Tentu saja, demi umurku.
فَعَادَ عَمَّارٌ إِلَى هَالَةَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهَا فَأَسْرَعَتْ إِلَى أُخْتِهَا تَزُفُّ إِلَيْهَا الْبُشْرَى ، فَمَا أَنْ مَسَّ صَوْتُ هَالَةَ أُذُنَيْهَا حَتَّى رَاحَتْ أَهَازِيجُ الْفَرَحِ تَشْدُو فِي جَنَبَاتِهَا ، وَحَلَّقَتْ رُؤَاهَا الْمُجَنَّحَةُ فِي عَوَالِمَ مِنَ الْأَمَلِ وَالنَّشْوَةِ ، فَهَا هِيَ ذِي أَحْلَامُهَا تُوشِكُ أَنْ تَتَحَقَّقَ . إِنَّهَا رَأَتِ الشَّمْسَ تَنْحَدِرُ مِنْ سَمَاءِ مَكَّةَ لِتَسْتَقِرَّ فِي دَارِهَا لِتُشِعَّ مِنْهَا نُورًا عَلَى رُبُوعِ أُمِّ الْقُرَى وَتَغْمُرَ كُلَّ الْآفَاقِ مِنْ حَوْلِهَا ، وَإِنْ هِيَ إِلَّا أَنْ يَغْدُوَ مُحَمَّدٌ عَلَيْهَا إِذَا أَصْبَحَتْ وَيَخْطُبَهَا حَتَّى يَتَبَدَّلَ الْخَيَالُ حَقِيقَةً وَاقِعَةً ، فَقَدْ وَقَرَ فِي عَيْنِ ذَاتِهَا أَنَّ مُحَمَّدًا هُوَ النُّورُ الَّذِي أَشْرَقَ فِي مَنَامِهَا .
Maka Ammar kembali kepada Halah dan menyampaikan hal itu kepadanya. Halah pun bergegas menemui kakaknya membawa kabar gembira tersebut. Begitu suara Halah menyentuh kedua telinganya, senandung kebahagiaan langsung melantun di relung jiwanya, dan angan-angannya yang bersayap terbang tinggi ke alam penuh harapan dan kegembiraan, karena impiannya kini hampir menjadi kenyataan. Ia telah bermimpi melihat matahari turun dari langit Makkah dan menetap di rumahnya, memancarkan cahaya dari sana ke segenap penjuru Ummul Qura serta meliputi seluruh ufuk di sekitarnya. Dan tiada lain yang dinanti melainkan Muhammad datang menemui dirinya di pagi hari untuk meminangnya, agar bayangan itu berubah menjadi kenyataan yang nyata; sebab telah mantap di dalam lubuk hatinya bahwa Muhammad adalah cahaya yang menyinari tidurnya.
وَجَاءَ اللَّيْلُ وَلَمْ يَغْمَضْ لِخَدِيجَةَ عَيْنٌ ، كَانَتْ تُفَكِّرُ فِي مُحَمَّدٍ وَتَسْتَعْجِلُ النَّهَارَ ، وَتَرَاهُ بِعَيْنِ خَيَالِهَا وَهُوَ قَادِمٌ إِلَيْهَا يَخْطُبُهَا فَيَخْفِقُ الْفُؤَادُ وَتُرَفْرِفُ الرُّوحُ فِي أَجْوَاءِ النَّشْوَةِ وَيَمْتَلِئُ الْوِجْدَانُ بِحُبٍّ صُوفِيٍّ يَنْزِعُ إِلَى التَّعَالِي ، حَتَّى إِنَّهَا مِنْ فَرْطِ سَعَادَتِهَا كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهَا أَنَّهَا ارْتَفَعَتْ عَنِ الْوُجُودِ ، وَأَنَّهَا لَا تَسْتَنْشِقُ هَوَاءَ الْأَرْضِ بَلْ إِنَّ شَهِيقَهَا قَدْ بَاتَ عَبِيرَ مَجْدِ الدُّنْيَا .
Malam pun tiba dan mata Khadijah tidak dapat terpejam barang sedikit pun, ia terus memikirkan Muhammad dan mendambakan datangnya siang dengan segera. Ia membayangkan dengan mata imajinasinya sosok beliau yang datang kepadanya untuk meminang, sehingga jantungnya berdebar dan jiwanya mengepak indah di awang-awang kebahagiaan, serta batinnya dipenuhi oleh cinta suci yang membubung tinggi, sampai-sampai karena saking bahagianya, ia merasa seolah-olah terangkat dari alam wujud ini, dan ia tidak lagi menghirup udara bumi melainkan helaan napasnya telah menjelma menjadi keharuman kemuliaan dunia.
وَرَنَّ فِي جَوْفِهَا صَوْتُ غُلَامِهَا مَيْسَرَةَ رَنِينًا عَذْبًا كَأَنَّهُ هَدِيلُ الْحَمَامِ : وَإِنَّهُ يَتَحَدَّثُ عَنْ مُحَمَّدٍ حَدِيثًا يَقْطُرُ رِقَّةً وَإِعْجَابًا وَدَهْشَةً وَإِجْلَالًا ، وَإِنَّهُ لَمِنْ عَجَبٍ أَنْ يُحِبَّ مَيْسَرَةُ مُحَمَّدًا كُلَّ ذَلِكَ الْحُبِّ وَأَنْ يَسْتَوْلِيَ عَلَى فُؤَادِهِ وَهُوَ الَّذِي يُنَافِسُهُ فِي تِجَارَةِ خَدِيجَةَ .
Dan terngiang di dalam benaknya suara pelayannya, Maisarah, sebuah dentingan yang manis laksana dekuran burung merpati; ia berbicara tentang Muhammad dengan ucapan yang meneteskan kelembutan, kekaguman, ketakjuban, dan keagungan. Sungguh merupakan perkara yang ajaib bahwa Maisarah bisa mencintai Muhammad sedalam itu hingga beliau menguasai hatinya, padahal beliau adalah orang yang menjalankan perniagaan Khadijah bersama dirinya.
إِنَّهُ كَانَ سَيِّدَ الْقَافِلَةِ قَبْلَ أَنْ يَعْمَلَ مُحَمَّدٌ لَهَا وَإِذَا بِهَا تَقُولُ لَهُ بَعْدَ أَنْ صَارَ مُحَمَّدٌ مِنْ رِجَالِهَا : لَا تَعْصِ لَهُ أَمْرًا وَلَا تُخَالِفْ لَهُ رَأْيًا . فَلَا يَكْتَفِي بِأَنْ يَمْتَثِلَ لِمَا يُؤْمَرُ بِهِ بَلْ يُطِيعُهُ كَأَنَّهُ عَبْدُهُ ، وَيُحِبُّهُ حُبًّا يَدْفَعُهُ إِلَى أَنْ يَتَهَدَّجَ صَوْتُهُ وَهُوَ يَرْوِي لِسَيِّدَتِهِ حُسْنَ خُلُقِهِ وَبَرَكَاتِهِ وَمَا تَنْبَأَ بِهِ نَسْطُورَا .
Maisarah adalah pemimpin kafilah sebelum Muhammad bekerja di dalamnya, namun tiba-tiba Khadijah berkata kepadanya setelah Muhammad menjadi salah seorang personelnya: "Jangan pernah kau bantah perintahnya dan jangan kau selisihi pendapatnya." Maka Maisarah tidak sekadar mematuhi apa yang diperintahkan, melainkan menaatinya seakan-akan ia adalah hamba sahaya beliau, dan mencintainya dengan cinta yang membuat suaranya bergetar haru tatkala menceritakan kepada nyonyanya tentang keluhuran akhlak beliau, berkah-berkahnya, serta apa yang diramalkan oleh pendeta Nastura.
وَطَفَا مَا قَالَهُ نَسْطُورَا عَلَى سَطْحِ ذِهْنِهَا : « فَوَالَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ إِنِّي لَأَجِدُ فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ أَنَّ النَّازِلَ تَحْتَ هَذِهِ الشَّجَرَةِ هُوَ رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ » . فَسَرَتْ فِي بَدَنِهَا رَعْدَةٌ وَاشْتَدَّ وَجِيبُ قَلْبِهَا وَأَحَسَّتْ أَنَّهَا كُلَّهَا تَخْفِقُ كَجَنَاحِ حَمَامَةٍ .
Dan bermunculanlah apa yang dikatakan Nastura di permukaan benaknya: "Demi Dzat yang meninggikan langit tanpa tiang, sesungguhnya aku mendapati dalam lembaran kitab ini bahwa orang yang berteduh di bawah pohon ini adalah utusan Tuhan semesta alam." Maka menjalarlah rasa bergetar di sekujur tubuhnya, detak jantungnya kian mengencang, dan ia merasa seluruh eksistensi dirinya mengepak hebat layaknya sayap burung merpati.
كَانَتْ تَخْشَى أَنْ يَحْقِدَ مَيْسَرَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَنْ يَحْسُدَهُ ، وَإِذَا بِمُحَمَّدٍ يَسْتَوْلِي عَلَى قَلْبِ غُلَامِهَا بَلْ عَلَى أَفْئِدَةِ كُلِّ رِجَالِ الْقَافِلَةِ ، وَسَيِّدَةُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ الْحَازِمَةُ الْجَلْدَةُ الشَّرِيفَةُ ! إِنَّهُ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ .
Tadinya ia merasa khawatir kalau-kalau Maisarah akan menaruh benci atau dengki kepada Muhammad, namun ternyata Muhammad justru berhasil merebut hati pelayannya itu, bahkan hati seluruh orang di dalam kafilah, juga hati sang pemimpin wanita Quraisy yang teguh, tegar, lagi mulia ini! Sesungguhnya beliau benar-benar memiliki akhlak yang agung.
وَجَاءَ الصَّبَاحُ وَانْتَظَرَتْ خَدِيجَةُ أَنْ يَغْدُوَ مُحَمَّدٌ لِيَخْطُبَهَا وَلَكِنَّ الْوَقْتَ رَاحَ يَمُرُّ دُونَ أَنْ يُقْبِلَ مُحَمَّدٌ ، فَلَمْ يَتَطَرَّقْ إِلَى ذِهْنِهَا أَنَّهُ زَاهِدٌ فِيهَا وَهِيَ الَّتِي يَحْرِصُ كُلُّ أَشْرَافِ قَوْمِهَا عَلَى نِكَاحِهَا لَوْ قَدَرُوا عَلَى ذَلِكَ ، بَلْ عَزَتْ ذَلِكَ إِلَى مَا تَعْرِفُهُ فِي مُحَمَّدٍ مِنْ حَيَاءٍ .
Pagi pun menjelang, dan Khadijah menanti kedatangan Muhammad untuk meminangnya, akan tetapi waktu terus bergulir tanpa kehadiran beliau. Tidak terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa beliau tidak berminat padanya—padahal ia adalah wanita yang sangat didambakan pernikahannya oleh seluruh pemuka kaumnya andai mereka mampu—melainkan ia menyandarkan keterlambatan itu pada sifat pemalu yang ia ketahui ada pada diri Muhammad.
وَجَاءَتْ إِلَيْهَا صَدِيقَتُهَا نَفِيسَةُ بِنْتُ مُنْيَةَ فَرَاحَتْ تَقُصُّ عَلَيْهَا مَا كَانَ بَيْنَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ وَأُخْتِهَا هَالَةَ وَمَا كَانَ مِنِ انْتِظَارِهَا لِمُحَمَّدٍ ، ثُمَّ عَرَضَتْ عَلَيْهَا أَنْ تَذْهَبَ إِلَى مُحَمَّدٍ خُفْيَةً تَسْأَلُهُ عَمَّا يَمْنَعُهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ .
Lalu datanglah sahabat karibnya, Nafisah binti Munyah, dan Khadijah pun mulai menceritakan kepadanya apa yang terjadi antara Ammar bin Yasir dengan saudarinya, Halah, serta perihal penantiannya terhadap Muhammad. Kemudian Nafisah menawarkan diri kepadanya untuk pergi menemui Muhammad secara diam-diam guna menanyakan apa yang menghalangi beliau untuk menikah.
وَخَرَجَتْ نَفِيسَةُ إِلَى دَارِ أَبِي طَالِبٍ وَاسْتَأْذَنَتْ فِي أَنْ تَلْقَى مُحَمَّدًا ، فَجَاءَ إِلَيْهَا فَقَالَتْ لَهُ :
Maka Nafisah pergi menuju rumah Abu Thalib dan meminta izin untuk menemui Muhammad. Ketika beliau datang menemuinya, Nafisah berkata kepada beliau:
— يَا مُحَمَّدُ ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَتَزَوَّجَ ؟
— Wahai Muhammad, apa yang menghalangimu untuk menikah?
فَقَالَ :
Maka beliau bersabda:
— مَا بِيَدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ .
— Aku tidak memiliki harta di tanganku yang bisa aku gunakan untuk menikah.
قَالَتْ :
Nafisah berkata:
— فَإِنْ كُفِيتَ ذَلِكَ وَدُعِيتَ إِلَى الْمَالِ وَالْجَمَالِ وَالشَّرَفِ وَالْكَفَاءَةِ أَلَا تُجِيبُ ؟
— Jika perkara itu telah dicukupi untukmu, dan engkau diajak kepada harta, kecantikan, kemuliaan, serta kesetaraan, apakah engkau tidak mau menyambutnya?
قَالَ :
Beliau bertanya:
— فَمَنْ هِيَ ؟
— Siapakah dia?
قَالَتْ :
Nafisah menjawab:
— خَدِيجَةُ .
— Khadijah.
قَالَ :
Beliau bersabda:
— وَكَيْفَ لِي بِذَلِكَ ؟
— Dan bagaimana caranya hal itu bisa terwujud bagiku?
قَالَتْ :
Nafisah berkata:
— دَعْنِي وَأَنَا أَفْعَلُ .
— Serahkan urusan itu kepadaku, aku yang akan mengaturnya.
وَعَادَتْ نَفِيسَةُ إِلَى خَدِيجَةَ يَتَأَلَّقُ وَجْهُهَا بِالْبِشْرِ وَرَاحَتْ تَقُصُّ عَلَيْهَا مَا كَانَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مُحَمَّدٍ ، وَخَدِيجَةُ تَصْغِي إِلَيْهَا فِي اهْتِمَامٍ ، حَتَّى إِذَا مَا قَالَتْ لَهَا صَدِيقَتُهَا إِنَّهُ حَرِيصٌ عَلَى زَوَاجِهَا لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَتَرَيَّثَ ؛ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ مَوْلَاةً لَهَا تَقُولُ لَهُ : اِئْتِ السَّاعَةَ .
Maka Nafisah kembali kepada Khadijah dengan wajah yang memancarkan kegembiraan dan mulai menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Muhammad, sementara Khadijah menyimaknya dengan penuh perhatian. Hingga tatkala sahabatnya itu mengatakan bahwa beliau sangat mendambakan pernikahan dengannya, ia tidak sanggup lagi menahan diri; maka ia mengutus seorang budak perempuannya menemui beliau untuk menyampaikan: "Datanglah sekarang juga."
كَانَ مُحَمَّدٌ عَائِدًا بَعْدَ طَوَافِهِ بِالْكَعْبَةِ فَالْتَقَى بِكَاهِنَةٍ ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ :
Muhammad baru saja kembali usai melakukan thawaf di Ka'bah lalu bertemu dengan seorang wanita peramal, maka tatkala wanita itu melihat beliau, ia berkata:
— جِئْتَ خَاطِبًا يَا مُحَمَّدُ .
— Engkau datang untuk meminang, wahai Muhammad.
لَمْ يَكُنْ مُحَمَّدٌ قَدْ أَطْلَقَ لِأَمَانِيهِ الْعِنَانَ وَلَمْ يَكُنْ يُفَكِّرُ فِي الذَّهَابِ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ فَحَيَاؤُهُ يَمْنَعُهُ ، وَهُوَ لَا يَدْرِي إِنْ كَانَتْ هَالَةُ قَالَتْ مَا قَالَتْ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهَا أَمْ مِنْ وَحْيِ أُخْتِهَا ، وَمَا كَانَ يَعْرِفُ أَنْ خَدِيجَةَ قَدْ أَرْسَلَتْ نَفِيسَةَ دَسِيسًا إِلَيْهِ فَقَال :
Muhammad belum melepaskan angan-angannya begitu saja dan belum terpikir untuk melangkah menuju rumah Khadijah karena rasa malunya menghalangi beliau, lagipula beliau tidak mengetahui apakah Halah mengatakan apa yang dikatakannya atas kemauan sendiri atau atas isyarat kakaknya, dan beliau pun tidak tahu bahwa Khadijah telah mengutus Nafisah secara rahasia kepada beliau, maka beliau menjawab:
— لَا ..
— Tidak..
فَتَفَرَّسَتْ فِيهِ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَتْ :
Maka wanita peramal itu mengamati wajah beliau dengan saksama dalam waktu lama, lalu berkata:
— وَلِمَ ؟ فَوَاللهِ مَا فِي قُرَيْشٍ اِمْرَأَةٌ تَلِيقُ بِجَلَالِكَ وَبِهَائِكَ غَيْرُ خَدِيجَةَ ، وَإِنَّهَا تَرَاكَ كُفْئًا لَهَا .
— Mengapa? Demi Allah, tidak ada seorang wanita pun di kalangan Quraisy yang layak mendampingi keagungan dan keindahanmu selain Khadijah, dan sesungguhnya ia memandangmu sebagai sekufu (setara) yang tepat untuknya.
وَمَذَهَبَ فِي سَبِيلِهِ فَإِذَا بِمَوْلَاةِ خَدِيجَةَ تَلْقَاهُ وَتَلْتَمِسُ مِنْهُ أَنْ يُوَافِيَ مَوْلَاتَهَا السَّاعَةَ . فَانْطَلَقَ مُحَمَّدٌ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ فَإِذَا بِهَا تَقُولُ لَهُ :
Beliau pun melanjutkan perjalanannya, lalu tiba-tiba utusan wanita Khadijah menemui beliau dan memohon agar beliau sudi menemui nyonyanya saat ini juga. Maka Muhammad segera berangkat ke rumah Khadijah, dan tiba-tiba Khadijah berkata kepada beliau:
— يَا مُحَمَّدُ أَلَا تَتَزَوَّجُ ؟
— Wahai Muhammad, maukah engkau menikah?
قَالَ :
Beliau balik bertanya:
— مَنْ ؟
— Siapa?
قَالَتْ :
Khadijah menjawab:
— أَنَا .
— Aku.
قَالَ :
Beliau bersabda:
— وَمَنْ لِي بِكِ ؟ أَنْتِ أَيِّمُ قُرَيْشٍ وَأَنَا يَتِيمُ قُرَيْشٍ .
— Dan manakah mungkin hal itu terjadi bagiku bersamamu? Engkau adalah wanita janda Quraisy yang paling terpandang sedangkan aku adalah seorang yatim Quraisy.
قَالَتْ :
Khadijah berkata:
— يَا بْنَ عَمِّ ، إِنِّي قَدْ رَغِبْتُ فِيكَ لِقَرَابَتِكَ وَسِيطَتِكَ فِي قَوْمِكَ وَأَمَانَتِكَ وَحُسْنِ خُلُقِكَ وَصِدْقِ حَدِيثِكَ . اِذْهَبْ إِلَى عَمِّكَ فَقُلْ لَهُ تَعَجَّلْ إِلَيْنَا بِالْغَدَاةِ .
— Wahai putra pamanku, sesungguhnya aku telah menaruh minat kepadamu karena kekerabatanmu, kedudukanmu yang tinggi di tengah kaummu, amanahmu, keluhuran akhlakmu, serta kejujuran ucapanmu. Pergilah menemui pamanmu dan katakan kepadanya agar bersegera datang menemui kami esok pagi.
وَجَاءَ أَبُو طَالِبٍ وَمَعَهُ اِبْنُ أَخِيهِ فَقَالَتْ لَهُ :
Maka datanglah Abu Thalib bersama keponakannya, lalu Khadijah berkata kepadanya:
— يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَدْخُلُ عَلَى عَمِّي فَكَلِّمْهُ يُزَوِّجْنِي مِنِ اِبْنِ أَخِيكَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ .
— Wahai Abu Thalib, masuklah menemui pamanku dan bicaralah kepadanya agar ia menikahkan aku dengan keponakanmu, Muhammad bin Abdullah.
فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ :
Maka Abu Thalib berkata:
— يَا خَدِيجَةُ لَا تَسْتَهْزِئِي .
— Wahai Khadijah, janganlah engkau memperolok-olok.
فَقَالَتْ فِي اِنْفِعَالٍ :
Maka Khadijah berkata dengan penuh kesungguhan emosional:
— هَذَا صُنْعُ اللهِ .
— Ini semua adalah ketentuan Allah.
وَجَاءَ مُحَمَّدٌ وَأَعْمَامُهُ أَبُو طَالِبٍ وَحَمْزَةُ وَالْعَبَّاسُ وَالزُّبَيْرُ وَالْغَيْدَاقُ ، وَصَدِيقَاهُ أَبُو بَكْرٍ وَعَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ ، وَدَخَلُوا عَلَى عَمِّهَا عَمْرِو بْنِ أَسَدٍ ، فَإِذَا بِاِبْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ وَاِبْنِ أَخِيهَا حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ جَالِسِينَ مَعَهُ . وَكَانَ اِبْنُ أُخْتِهَا الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ غُلَامًا يَلْهُو مَعَ الْغِلْمَانِ ، وَكَانَتْ أُمُّهُ صَفِيَّةُ وَخَالَتُهُ عَاتِكَةُ عِنْدَ خَدِيجَةَ مَعَ صُوَيْحِبَاتِهَا وَإِمَائِهَا ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ يَقْدُرُ خَطَرَ تِلْكَ اللَّحْظَةِ مِثْلَ خَدِيجَةَ الطَّاهِرَةِ سَيِّدَةِ قُرَيْشٍ ، فَكَأَنَّمَا قَدْ رُفِعَ عَنْ بَصِيرَتِهَا الْحِجَابُ فَرَأَتْ مُسْتَقْبَلَهَا مَعَ الْأَمِينِ الَّذِي تَنْتَظِرُ الْأُمَمُ مَبْعَثَهُ .
Maka datanglah Muhammad beserta paman-paman beliau: Abu Thalib, Hamzah, Al-Abbas, Az-Zubair, dan Al-Ghaidaq, serta dua sahabat beliau: Abu Bakar dan Ammar bin Yasir. Mereka masuk menemui paman Khadijah, Amr bin Asad, yang ternyata sepupunya Warakah bin Naufal dan keponakannya Hakim bin Hizam telah duduk bersamanya. Sementara itu, keponakan Khadijah yaitu Az-Zubair bin Al-Awwam masih kanak-kanak yang sedang bermain bersama anak-anak lainnya, dan ibunya Safiyyah beserta bibinya Atikah berada di sisi Khadijah bersama para sahabat wanita dan budak-budak perempuannya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengukur betapa pentingnya momentum detik-detik itu selain Khadijah yang suci sang pemimpin wanita Quraisy; seolah-olah tabir penghalang telah diangkat dari mata batinnya, sehingga ia bisa melihat masa depannya bersama Al-Amin (Muhammad), sosok yang dinanti-nantikan pengutusannya oleh seluruh umat manusia.
وَقَامَ أَبُو طَالِبٍ يَخْطُبُ فَقَالَ :
Maka Abu Thalib berdiri menyampaikan khutbah pernikahan dan berkata:
— اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَنَا مِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَزَرْعِ إِسْمَاعِيلَ وَضِئْضِئِ مَعَدٍّ وَعُنْصُرِ مُضَرَ ، وَجَعَلَنَا حَضَنَةَ بَيْتِهِ وَسُوَّاسَ حَرَمِهِ ، وَجَعَلَهُ لَنَا بَيْتًا مَحْجُوجًا وَحَرَمًا آمِنًا ، وَجَعَلَنَا الْحُكَّامَ عَلَى النَّاسِ . ثُمَّ إِنَّ اِبْنَ أَخِي هَذَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ لَا يُوزَنُ بِهِ رَجُلٌ إِلَّا رَجَحَ بِهِ شَرَفًا وَنُبْلًا وَفَضْلًا وَعَقْلًا ، وَإِنْ كَانَ فِي الْمَالِ قُلٌّ فَإِنَّ الْمَالِ ظِلٌّ زَائِلٌ وَأَمْرٌ حَائِلٌ وَعَارِيَّةٌ مُسْتَرْجَعَةٌ ، وَقَدْ خَطَبَ إِلَيْكُمْ رَغْبَةً فِي كَرِيمَتِكُمْ خَدِيجَةَ ، وَقَدْ بَذَلَ لَهَا مِنَ الصَّدَاقِ مَا عَاجِلُهُ وَآجِلُهُ اِثْنَتَا عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَنَشًّا .
— Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita termasuk keturunan Ibrahim, keturunan Ismail, anak cucu Ma'ad, dan dari unsur keturunan Mudhar. Dan yang telah menjadikan kita pemelihara Rumah-Nya (Ka'bah) serta pengelola tanah suci-Nya, menjadikannya bagi kita rumah tempat berkumpulnya manusia serta tempat yang aman, dan menjadikan kita para pemimpin atas manusia. Kemudian daripada itu, sesungguhnya keponakanku ini, Muhammad bin Abdullah, tidaklah ia ditimbang dengan lelaki mana pun melainkan ia pasti lebih unggul darinya dalam hal kemuliaan, kehormatan, keutamaan, serta kecerdasan akal. Walaupun ia kekurangan dalam hal harta, sesungguhnya harta itu hanyalah bayangan yang akan sirna, perkara yang akan bergeser, serta titipan yang pasti akan diambil kembali. Dan ia datang melamar kepada kalian karena ketertarikannya kepada wanita mulia di kalangan kalian, Khadijah, dan ia telah menyerahkan mahar untuknya, baik yang tunai maupun yang ditangguhkan, sebesar dua belas uqiyah dan satu nasy.
فَقَامَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ فَقَالَ :
Maka Warakah bin Naufal berdiri dan berkata:
— اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَنَا كَمَا ذَكَرْتَ وَفَضَّلَنَا عَلَى مَا عَدَدْتَ ، فَنَحْنُ سَادَةُ الْعَرَبِ وَقَادَتُهُمْ وَأَنْتُمْ أَهْلُ ذَلِكَ كُلِّهِ ، لَا يُنْكِرُ الْعَرَبُ فَضْلَكُمْ وَلَا يَرُدُّ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ فَخْرَكُمْ وَشَرَفَكُمْ ، وَرَغْبَتُنَا فِي الْاِتِّصَالِ بِحَبْلِكُمْ وَشَرَفِكُمْ ، فَاشْهَدُوا عَلَيَّ مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ أَنِّي قَدْ زَوَّجْتُ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ .
— Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagaimana yang engkau sebutkan, dan melebihkan kita atas apa yang engkau rincikan. Kita semua adalah para pembesar Arab dan pemimpin mereka, dan kalian adalah pemilik dari semua keluhuran itu; bangsa Arab tidak ada yang mengingkari keutamaan kalian, dan tidak ada seorang manusia pun yang menolak kebanggaan serta kemuliaan kalian. Kami pun sangat menginginkan untuk menyambung tali hubungan dengan nasab dan kemuliaan kalian. Maka saksikanlah atas diriku wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya aku telah menikahkan Khadijah binti Khuwailid dengan Muhammad bin Abdullah.
فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ :
Maka Abu Thalib berkata:
— قَدْ أَحْبَبْتُ أَنْ يُشْرِكَكَ عَمُّهَا .
— Aku ingin agar pamannya pun ikut menyatakan persetujuannya bersamamu.
فَقَالَ عَمُّهَا :
Maka pamannya berkata:
— اِشْهَدُوا عَلَيَّ مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ أَنِّي قَدْ أَنْكَحْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ .
— Saksikanlah atas diriku wahai sekalian kaum Quraisy, sesungguhnya aku telah menikahkan Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid.
وَنُحِرَ مُحَمَّدٌ جَزُورَيْنِ وَأَطْعَمَ النَّاسَ ، وَأَمَرَتْ خَدِيجَةُ جَوَارِيَهَا أَنْ يَرْقُصْنَنَ وَيَضْرِبْنَ الدُّفُوفَ . وَفَرِحَ أَبُو طَالِبٍ فَرَحًا شَدِيدًا وَقَالَ :
Maka Muhammad menyembelih dua ekor unta dan memberikan makan kepada orang banyak, dan Khadijah memerintahkan budak-budak perempuannya untuk menari serta menabuh rebana. Abu Thalib merasa sangat gembira sekali, lalu beliau berkata:
— اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي حَبَانَا بِالْخَيْرِ ، وَوَهَبَنَا النِّعْمَةَ ، وَرَزَقَ اِبْنَ أَخِي بِأَحْسَنِ مَا يُرْزَقُ بِهِ عِبَادُهُ الْمُخْلَصُونَ .
— Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kebaikan kepada kita, mengaruniakan nikmat-Nya, dan memberikan rezeki kepada keponakanku dengan karunia terbaik yang biasa diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang disucikan.
ثُمَّ سَكَتَ قَلِيلًا .. وَقَالَ :
Kemudian beliau terdiam sejenak.. lalu berkata:
— لَيَكُونَنَّ لِهَذَيْنِ الزَّوْجَيْنِ شَأْنٌ عَظِيمٌ !!
— Sungguh benar-benar akan ada kedudukan serta urusan yang sangat agung bagi kedua pasangan suami istri ini!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar