BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 20

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Oase di Padang Pasir yang Bejat: Rumah Khadijah dan Cahaya Akhlak yang Tak Padam

Di tengah hiruk-pikuk Mekah yang penuh berhala dan kesombongan, rumah Khadijah menjadi tempat bernaungnya kedamaian. Episode ini memotret keanggunan budi pekerti Muhammad ﷺ yang memperlakukan hamba sahaya dengan cinta setara keluarga.

كَانَ بَيْتُ خَدِيجَةَ غَارِقًا فِي الصَّمْتِ لَا صَوْتَ وَلَا نَأْمَةَ ، فَمُحَمَّدٌ رَبُّ الْبَيْتِ فِي غُرْفَتِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ وَيَدْعُوهُ وَيَحْمَدُهُ ، وَقَدْ جَلَسَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَحْدَهُ شَارِدًا فَرَأَى يَوْمَ أَنْ خَرَجَ مَعَ أُمِّهِ لِيَزُورَا أَهْلَهَا فَأَصَابَتْهُ خَيْلٌ مِنْ بَنِي الْقَيْنِ بْنِ جَسْرٍ فَبَاعُوهُ بَيْعَ الرَّقِيقِ .
Rumah Khadijah tenggelam dalam kesunyian, tidak ada suara dan tidak ada desah. Muhammad, sang tuan rumah, sedang berada di kamarnya bermunajat kepada Tuhannya, berdoa, dan memuji-Nya. Sementara Zaid bin Haritsah duduk sendirian, melamun. Ia teringat hari ketika ia pergi bersama ibunya untuk mengunjungi keluarga ibunya, lalu sekelompok kuda dari Bani al-Qain bin Jasr menangkapnya dan menjualnya sebagai budak.
وَتَرْقْرَقَتِ الدُّمُوعُ فِي عَيْنَيْهِ فَهُوَ يَحِنُّ إِلَى أَهْلِهِ ، فَصُورَةُ أُمِّهِ سُعْدَى تَمْلَأُ أَقْطَارَ رَأْسِهِ وَتَتَخَايَلُ لَهُ فِي نَوْمِهِ وَيَقَظَتِهِ ، وَطَيْفُ أَبِيهِ حَارِثَةَ لَا يَنْثَنِي عَنْ خَيَالِهِ ، وَمَلَاعِبُ صِبَاهُ حَبِيبَةٌ إِلَى نَفْسِهِ حَتَّى إِنَّ فُؤَادَهُ يَهْوَى دَوَامًا إِلَيْهَا ، وَطَالَمَا تَمَنَّى أَنْ يَكُونَ لَهُ جَنَاحَانِ لِيَطِيرَ إِلَى وَطَنِهِ .
Air mata menggenang di matanya, ia merindukan keluarganya. Sosok ibunya, Su'da, memenuhi setiap sudut pikirannya, terbayang dalam tidur dan jaganya. Begitu pula bayang ayahnya, Haritsah, tidak pernah lepas dari ingatannya. Tempat ia bermain di masa kecil sangat dicintainya, hingga hatinya senantiasa mendambakan tempat itu. Sering kali ia berharap memiliki dua sayap untuk terbang menuju kampung halamannya.
وَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يَعِيشُ فِي دَارِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ حَيَاةَ الرَّقِيقِ ، كَانَتْ حَيَاةً قَاسِيَةً لِوَصِيفٍ لَمْ يَتَجَاوَزِ الثَّامِنَةَ مِنْ عُمْرِهِ ، بَعْدَ أَنْ كَانَ يَقْضِي نَهَارَهُ فِي حِجْرِ أُمِّهِ تَغْمُرُهُ بِحَنَانِهَا ، وَإِذَا مَا ارْتَمَى فِي أَحْضَانِ أَبِيهِ يُمْطِرُهُ بِقُبُلَاتٍ رَقِيقَةٍ صَادِرَةٍ مِنْ قَلْبٍ رَحِيمٍ .
Ia teringat dirinya saat hidup di rumah Hakim bin Hizam sebagai seorang budak. Itu adalah kehidupan yang keras bagi seorang pelayan kecil yang belum genap berusia delapan tahun, setelah sebelumnya ia menghabiskan hari-harinya dalam pelukan ibunya yang mencurahkan kasih sayang, dan saat ia berbaring di pangkuan ayahnya, ayahnya akan menghujaninya dengan ciuman lembut yang tulus dari hati yang penuh kasih.
وَرَأَى خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ وَهِيَ تَدْخُلُ عَلَى ابْنِ أَخِيهَا حَكِيمٍ فَيَقُودُهَا إِلَى حَيْثُ كَانَ الرَّقِيقُ ، وَرَنَّ فِي جَوْفِهِ صَوْتُ حَكِيمٍ وَهُوَ يَقُولُ :
Ia melihat Khadijah binti Khuwailid masuk menemui keponakannya, Hakim, yang kemudian menuntunnya ke tempat para budak. Terdengar suara Hakim dari dalam, ia berkata:
— اخْتَارِي يَا عَمَّةُ أَيَّ هَؤُلَاءِ الْغِلْمَانِ شِئْتِ فَهُوَ لَكِ .
— Pilihlah wahai bibi, anak laki-laki mana pun dari mereka ini yang kamu inginkan, maka ia milikmu.
وَرَأَى خَدِيجَةَ وَهِيَ تَجُولُ بِعَيْنَيْهَا فِي وُجُوهِ الرَّقِيقِ ، وَطَافَتْ بِهِ نَسَمَةٌ مِنَ السُّرُورِ لَمَّا تَذَكَّرَ أَنَّ عَيْنَيْ خَدِيجَةَ ثَبَتَتَا عَلَى وَجْهِهِ ، إِنَّهُ قَرَأَ فِي عَيْنَيْهَا بَعْضَ مَا تَزْخَرُ بِهِ كُنُوزُ قَلْبِهَا مِنْ رِقَّةٍ وَرَحْمَةٍ ، وَقَدْ أَلْقَى فِي رَوْعِهِ أَنَّ تِلْكَ اللَّحْظَةَ حَاسِمَةٌ فِي حَيَاتِهِ وَتَمَنَّى بِكُلِّ كِيَانِهِ لَوْ يَقَعُ عَلَيْهِ اخْتِيَارُهَا .
Ia melihat Khadijah mengedarkan pandangannya ke wajah-wajah para budak. Seulas kebahagiaan menyelimutinya saat teringat bahwa tatapan mata Khadijah tertuju pada wajahnya. Ia membaca di balik tatapan itu khazanah hati Khadijah yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia merasa momen itu akan menjadi penentu dalam hidupnya dan berharap dengan segenap jiwa agar dirinyalah yang terpilih.
وَزَخَرَ صَدْرُهُ بِأُمْنِيَةِ أَنْ يَتَعَلَّقَ بِعُنُقِهَا كَمَا كَانَ يَتَعَلَّقُ بِعُنُقِ أُمِّهِ ، بَيْدَ أَنَّهُ كَبَحَ جِمَاحَ نَفْسِهِ وَإِنْ رَفَتْ عَلَى شَفَتَيْهِ بَسْمَةٌ عَبَّرَتْ عَنْ مَكْنُونِ صَدْرِهِ ، وَأَحَسَّتْ خَدِيجَةُ انْجِذَابًا إِلَيْهِ فَاخْتَارَتْ وَمَا اخْتَارَتْ إِذِ اخْتَارَتْ وَلَكِنِ اللَّهُ اخْتَارَهُ .
Dadanya dipenuhi harapan untuk dapat bergantung pada leher Khadijah seperti ia dulu bergantung pada leher ibunya. Namun, ia menahan diri, meskipun senyum yang terpancar di bibirnya mengungkapkan isi hatinya. Khadijah merasakan ketertarikan padanya lalu memilihnya; ia tidak sekadar memilih, sesungguhnya Allah-lah yang memilihnya.
وَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يَنْطَلِقُ إِلَى جِوَارِهَا فِي طُرُقَاتِ مَكَّةَ ، وَهُوَ يَهْبِطُ بِضْعَ دَرَجَاتٍ لِيَصِلَ إِلَى بَابِ الدَّارِ ، وَهُوَ يَسِيرُ فِي مَمَرٍّ طَوِيلٍ عَنْ يَمِينِهِ عِنْدَ مَدْخَلِهِ حَجَرٌ كَبِيرٌ ، وَهُوَ يَصْعَدُ بِضْعَ دَرَجَاتٍ لِيَجِدَ نَفْسَهُ فِي دَارٍ مُؤَثَّثَةٍ بِفَاخِرِ الرِّيَاشِ ، وَلَمْ يَعْجَبْ فَقَدْ عَرَفَ أَنَّهَا دَارُ أَغْنَى امْرَأَةٍ فِي قُرَيْشٍ .
Ia melihat dirinya melangkah di samping Khadijah di jalanan Mekah, menuruni beberapa anak tangga hingga sampai di pintu rumah. Ia berjalan di lorong panjang yang di sebelah kanannya terdapat sebuah batu besar, lalu menaiki beberapa anak tangga hingga mendapati dirinya berada di rumah yang dilengkapi dengan perabotan mewah. Ia tidak heran, karena ia tahu itu adalah rumah wanita terkaya di Quraisy.
وَخَفَقَ قَلْبُهُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ كَجَنَاحِ حَمَامَةٍ وَغَمَرَهُ سُرُورٌ وَانْشِرَاحٌ وَبَهْجَةٌ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ ، فَقَدْ رَأَى بِعَيْنِ خَيَالِهِ أَوَّلَ مُقَابَلَةٍ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ زَوْجِ خَدِيجَةَ الَّتِي اخْتَارَتْهُ .
Jantungnya berdebar kencang di balik dadanya seperti kepakan sayap merpati. Rasa bahagia, lapang, dan gembira menyelimutinya saat berada di tempat duduknya. Ia teringat dalam bayangannya pertemuan pertama kali antara dirinya dan Muhammad bin Abdullah, suami Khadijah yang telah memilihnya.
إِنَّهُ أَوَّلَ مَا رَآهُ أَحَبَّهُ مِنْ كُلِّ قَلْبِهِ وَاسْتَشْعَرَ كَأَنَّ بَرْدًا وَسَلَامًا نَزَلَ عَلَى فُؤَادِهِ ، وَحَدَّثَهُ حَدِيثًا رَقِيقًا فَأَحَسَّ كَأَنَّمَا حَنَانَ الْأَرْضِ يَنْسَكِبُ فِي وِجْدَانِهِ ، وَطَافَتْ بِهِ رَغْبَةُ أَنْ يَسْتَظِلَّ بِظِلِّهِ لِيَنْعَمَ بِرِقَّةِ شَمَائِلِهِ وَحَنَانِهِ الدَّافِقِ وَقَلْبِهِ الْكَبِيرِ .
Pertama kali melihatnya, ia langsung mencintainya dengan sepenuh hati dan merasa seolah kesejukan dan kedamaian turun ke dalam jiwanya. Muhammad berbicara kepadanya dengan tutur kata yang lembut, hingga ia merasa seakan kasih sayang bumi tercurah ke dalam batinnya. Timbul keinginan di hatinya untuk berteduh di bawah naungannya, menikmati kelembutan budi pekertinya, kasih sayang yang melimpah, dan hatinya yang agung.
إِنَّهُ لَيَذْكُرُ أَحْدَاثَ ذَلِكَ الْيَوْمِ بِكُلِّ تَفَاصِيلِهَا فَهُوَ يَوْمٌ فَاصِلٌ فِي حَيَاتِهِ ؛ فَإِنَّ مُحَمَّدًا الْتَفَتَ إِلَى زَوْجِهِ خَدِيجَةَ وَاسْتَوْهَبَهُ مِنْهَا فَوَهَبَتْهُ لَهُ عَنْ طِيبِ خَاطِرٍ ، وَقَدْ لَاحَ أَنَّ السَّعَادَةَ تَرْفُرِفُ عَلَى الْبَيْتِ الَّذِي تَنْبِضُ جَوَانِبُهُ بِمَحَبَّةٍ عَارِمَةٍ .
Ia masih mengingat peristiwa hari itu dengan segala detailnya, karena itu adalah hari yang menentukan dalam hidupnya. Muhammad meminta dirinya kepada sang istri, Khadijah, dan Khadijah pun memberikannya dengan hati yang ikhlas. Tampak kebahagiaan bersemi di rumah itu, yang setiap sudutnya bergetar oleh cinta yang meluap.
وَهَذِهِ فَرَحٌ فَيَّاضٌ لَمَّا تَذَكَّرَ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي أَعْتَقَهُ فِيهِ مُحَمَّدٌ ، فَهُوَ لَمْ يَكْتَفِ بِأَنْ رَدَّ إِلَيْهِ حُرِّيَّتَهُ بَلْ تَبَّنَاهُ فَصَارَ أَمَامَ الْمُجْتَمَعِ الْمَكِّيِّ الْمُتَغَطْرِسِ زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ ، زَيْدَ ابْنَ الْأَمِينِ .
Kebahagiaan yang meluap saat ia teringat hari di mana Muhammad memerdekakannya. Ia tidak hanya mengembalikan kebebasannya, tetapi juga mengangkatnya sebagai anak, sehingga di hadapan masyarakat Mekah yang angkuh, ia menjadi Zaid bin Muhammad, Zaid putra sang Al-Amin (orang yang terpercaya).
وَشَطَحَ خَيَالُ زَيْدٍ فَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يَهْرَعُ إِلَى الْحَرَمِ فِي كُلِّ آنٍ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ الَّذِي كَانَتْ زِيَارَتُهُ تَتَخَايَلُ لِأَفْئِدَةِ قَبَائِلِ الْعَرَبِ كُلِّ الْعَرَبِ ، فَهُوَ الْبَيْتُ الْجَامِعُ الَّذِي انْصَهَرَتْ فِيهِ لُغَةُ الْعَرَبِ الشَّمَالِيِّينَ وَلُغَةُ الْعَرَبِ الْجَنُوبِيِّينَ وَلُغَةُ الْعَرَبِ فِي كُلِّ بِقَاعِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ ، فَمِنِ اخْتِلَاطِ عَرَبِ غَسَّانَ وَعَرَبِ الْحِيرَةِ وَعَرَبِ نَجْرَانَ وَعَرَبِ قُرَيْشٍ تَكَوَّنَتِ اللُّغَةُ الَّتِي سَيَنْزِلُ بِهَا الْقُرْآنُ .
Imajinasi Zaid melayang, ia melihat dirinya bergegas ke tanah haram setiap saat, mengelilingi Baitul Atiq (Ka'bah) yang ziarahnya diimpikan oleh hati setiap kabilah Arab. Itu adalah rumah penyatu tempat meleburnya bahasa Arab utara, selatan, dan bahasa Arab dari seluruh pelosok jazirah. Dari percampuran Arab Ghassan, Hirah, Najran, dan Quraisy, terbentuklah bahasa yang dengannya Al-Qur'an akan diturunkan.
جَاءَتْ لُغَةُ قُرَيْشٍ الرَّقِيقَةُ الْعَذْبَةُ مِنَ الشَّمَالِ ، مِنَ الْبَتْرَاءِ عَاصِمَةِ مَمْلَكَةِ النَّبَطِ أَحْفَادِ إِسْمَاعِيلَ ، لَمَّا فَرَّ النَّبَطِيُّونَ وَلَاذُوا بِالْحَرَمِ عِنْدَمَا قَوَّضَ الرُّومَانُ مَمْلَكَتَهُمُ الْقَوِيَّةَ الَّتِي كَانَتْ تُنَافِسُ الْفُرْسَ وَالرُّومَ ، وَالَّتِي امْتَدَّتْ مِنَ الْعِرَاقِ إِلَى شَمَالِ دَلْتَا النِّيلِ ، وَذَهَبَ سُفَرَاؤُهَا إِلَى رُومَا وَإِلَى عَاصِمَةِ الْفُرْسِ .
Bahasa Quraisy yang lembut dan manis datang dari utara, dari Petra, ibu kota kerajaan Nabath, keturunan Ismail, ketika orang-orang Nabath melarikan diri dan berlindung di tanah haram saat bangsa Romawi meruntuhkan kerajaan kuat mereka yang dulu menyaingi Persia dan Romawi, yang membentang dari Irak hingga utara delta sungai Nil, dan para dutanya pergi ke Roma dan ibu kota Persia.
وَفِي أَوَّلِ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ اجْتَمَعَتْ قَبَائِلُ الْعَرَبِ وَتَفَاهَمَتْ بِلُغَةِ أَهْلِ الْحَرَمِ ، فَتَسَرَّبَتِ اللُّغَةُ الْمَكِّيَّةُ إِلَى كُلِّ اللُّغَاتِ الْعَرَبِيَّةِ الْأُخْرَى حَتَّى صَارَتِ اللُّغَةَ وَاحِدَةً يَفْهَمُهَا كُلُّ الْعَرَبِ ، وَكَانَ لِرِحْلَةِ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ الَّتِي سَنَّتْهَا قُرَيْشٌ أَثَرُهَا فِي وَحْدَةِ اللُّغَةِ وَوَحْدَةِ الْفَخْرِ بِلِسَانٍ مُبِينٍ ، فَحَلَّتِ اللُّغَةُ مَحَلَّ الْعَرْشِ وَالدَّوْلَةِ .
Di rumah pertama yang diletakkan untuk manusia (Ka'bah), kabilah-kabilah Arab berkumpul dan saling memahami dengan bahasa penduduk tanah haram. Bahasa Mekah meresap ke dalam semua bahasa Arab lainnya hingga menjadi satu bahasa yang dipahami oleh semua orang Arab. Perjalanan musim dingin dan musim panas yang ditetapkan oleh Quraisy memiliki pengaruh pada kesatuan bahasa dan kesatuan kebanggaan dengan lisan yang jelas, sehingga bahasa pun menggantikan kedudukan takhta dan negara.
رَبَطَتْ بَيْنَ الْقَبَائِلِ الْمُتَنَافِرَةِ وَيَسَّرَتْ وَحْدَةَ أَحْكَامِ حُكَّامِ الْقَبَائِلِ فِي الدِّيَةِ وَالْخَلْعِ وَالْمَغَارِمِ كُلِّهَا ، وَقَامَتِ الْأَسْوَاقُ الَّتِي كَانَتْ تُقَامُ فِي مَكَّةَ وَتِهَامَةَ وَأَرْضِ الْيَمَنِ وَبُصْرَى بِأَرْضِ الشَّامِ بِدَوْرٍ رَائِعٍ فِي وَحْدَةِ اللُّغَةِ ، الَّتِي كَانَتْ خَيْرَ تَمْهِيدٍ لِمَطْلَعِ النُّورِ الَّذِي أَشْرَقَ مِنَ الْحَرَمِ .
Bahasa itu mengikat kabilah-kabilah yang saling bermusuhan dan memudahkan penyatuan hukum pemimpin kabilah dalam hal diyat (denda darah), khul' (perceraian), dan semua denda. Pasar-pasar yang diadakan di Mekah, Tihamah, tanah Yaman, dan Bashra di tanah Syam memainkan peran luar biasa dalam kesatuan bahasa, yang merupakan persiapan terbaik bagi terbitnya cahaya yang bersinar dari tanah haram.
وَرَأَى زَيْدُ بِعَيْنِ خَيَالِهِ مَوْسِمَ الْحَجِّ وَقَدِ ازْدَحَمَ الْحَرَمُ بِأُنَاسٍ مِنْ غَسَّانَ وَمِنَ الْحِيرَةِ وَمِنْ نَجْرَانَ وَمِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ مِنْ بِلَادِ الْعَرَبِ ، وَلَمْ تَسْتَطِعْ عَيْنُ الصَّبِيِّ أَنْ تُمَيِّزَ بَيْنَ الْعَرَبِ الْمُتَهَوِّدِينَ وَلَا الْعَرَبِ الْمُتَنَصِّرِينَ وَلَا مَنْ دَانَ مِنْهُمْ بِدِيَانَةِ الْمَجُوسِ ، فَقَدْ كَانُوا جَمِيعًا فِي عَيْنَيْهِ عَرَبًا يَقْدِسُونَ الْبَيْتَ غَايَةَ التَّقْدِيسِ .
Zaid melihat dalam bayangannya musim haji, di mana tanah haram dipenuhi manusia dari Ghassan, Hirah, Najran, dan dari setiap pelosok negeri Arab. Mata sang bocah tidak mampu membedakan antara orang Arab yang memeluk Yahudi, Nasrani, atau mereka yang beragama Majusi. Bagi matanya, mereka semua adalah orang Arab yang mengagungkan rumah itu dengan kesucian yang setinggi-tingginya.
لَمْ يُحَاوِلِ الْيَهُودُ لِلْعَرَبِ عَنْ سَخَفِ الْجَاهِلِيَّةِ وَلَمْ يَعْمَلُوا عَلَى نَشْرِ الْهِدَايَةِ وَإِنْ كَانَ دِينُهُمْ قَدْ جَمَدَ عَلَى النُّصُوصِ وَنَخَرَ فِيهِ سُوسُ الْفَسَادِ ، وَلَمْ يَكُونُوا قُدْوَةً حَسَنَةً لِمَنِ اتَّبَعَ دِينَهُمْ أَوْ لِمَنْ عَاشَ فِي جِوَارِهِمْ مِنَ الْعَرَبِ ، فَهُمْ فِي شِقَاقٍ دَائِمٍ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ، يُمَارِسُونَ الدَّسَّ بَيْنَ قَبَائِلِ الْعَرَبِ وَيَضِنُّونَ بِدِينِهِمْ عَلَى الْأُمَمِ ، فَعَضَنَ إِبْرَاهِيمُ لَهُمْ وَحْدَهُمْ ، بَلْ لَقَدِ اخْتَلَفُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ حَوْلَ ذَلِكَ النَّعِيمِ ، كُلُّ شِيعَةٍ تَدَّعِي أَنَّ الرُّقَادَ الْآمِنَ فِي حِضْنِ أَبِي الْأَنْبِيَاءِ نَصِيبُهَا وَحْدَهَا ، فَلَمْ يَكْتَرِثُوا لِأَمْرِ الْمُتَهَوِّدِينَ مِنَ الْعَرَبِ إِلَّا لِيَنْتَفِعُوا بِوَلَائِهِمْ وَحِرَاسَتِهِمْ لِتِجَارَتِهِمْ فِي الطَّرِيقِ فَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْجَاهِلِيِّينَ الْمُتَهَوِّدِينَ وَالْجَاهِلِيِّينَ الْوَثْنِيِّينَ فَرْقٌ فِي الْعَادَاتِ وَالْأَخْلَاقِ وَالتَّقَالِيدِ .
Orang-orang Yahudi tidak berusaha menyelamatkan orang Arab dari kebodohan jahiliyah dan tidak bekerja menyebarkan hidayah, padahal agama mereka telah membeku pada teks-teks dan digerogoti oleh rayap kerusakan. Mereka bukanlah teladan yang baik bagi yang mengikuti agama mereka atau bagi orang Arab yang hidup di sekitar mereka. Mereka selalu dalam perpecahan, engkau mengira mereka bersatu padahal hati mereka tercerai-berai. Mereka mempraktikkan intrik di antara kabilah Arab dan bersikap kikir dengan agama mereka kepada bangsa lain, karena mereka menganggap Ibrahim hanya milik mereka sendiri. Bahkan, mereka berselisih di antara mereka sendiri mengenai kenikmatan itu; setiap kelompok mengklaim bahwa istirahat yang aman di pangkuan bapak para nabi adalah milik mereka sendiri. Mereka tidak peduli pada orang Arab yang memeluk Yahudi kecuali untuk memanfaatkan loyalitas mereka dan perlindungan bagi perdagangan mereka di jalan. Maka tidak ada perbedaan antara orang jahiliyah yang memeluk Yahudi dan yang memeluk paganisme (penyembah berhala) dalam hal adat, akhlak, dan tradisi.
وَلَمْ يَسْتَطِعِ الْعَرَبُ الْمُتَنَصِّرُونَ أَنْ يَفْهَمُوا التَّثْلِيثَ وَفَلْسَفَةَ الْأَقَانِيمِ وَأَنَّ الثَّلَاثَةَ أَصْبَحُوا وَاحِدًا ، وَكَادُوا يَضِيعُونَ بَيْنَ الْأَرْيُوسِيِّينَ وَالنَّسْطُورِيِّينَ وَالْيَعَاقِبَةِ وَمَا شَاعَ مِنَ الْمَذَاهِبِ فِي كَنَائِسِ رُومَا وَالْقُسْطَنْطِينِيَّةِ وَالْإِسْكَنْدَرِيَّةِ وَالرَّهَا ، لَوْلَا أَنَّهُمُ اعْتَنَقُوا النَّصْرَانِيَّةَ عَلَى مَذْهَبِ الْحُنَفَاءِ الْمُوَحِّدِينَ مِنَ الْعَرَبِ وَكَانَ اعْتِنَاقًا مُؤَقَّتًا ، فَكُلُّ الَّذِينَ دَخَلُوا فِي دِينِ النَّصْرَانِيَّةِ مِنَ الْعَرَبِ السَّاكِنِينَ حَوْلَ الْحَرَمِ مَا دَخَلُوا فِيهِ إِلَّا انْتِظَارًا لِذَلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الْعَرَبِيِّ الَّذِي بَشَّرَهُمْ بِهِ رُهْبَانُ الصَّوَامِعِ الَّذِينَ كَانُوا مُنْتَشِرِينَ عَلَى طُولِ طُرُقِ التِّجَارَةِ ، وَمَا اخْتَلَفَ هَؤُلَاءِ الْمُتَنَصِّرُونَ عَنِ الْعَرَبِ الْجَاهِلِيِّينَ الْوَثْنِيِّينَ فِي الْأَخْلَاقِ وَالْعَادَاتِ وَالتَّقَالِيدِ .
Orang Arab yang memeluk Nasrani tidak mampu memahami konsep Trinitas dan filsafat Oknum, bahwa yang tiga menjadi satu. Mereka hampir tersesat di antara aliran Arianisme, Nestorianisme, Yakubisme, dan berbagai mazhab yang tersebar di gereja-gereja Roma, Konstantinopel, Iskandariah, dan Ruha (Edessa). Seandainya bukan karena mereka memeluk Nasrani dengan mazhab Hunafa (pengikut ajaran Ibrahim yang lurus dan mengesakan Allah) di kalangan orang Arab, yang merupakan pemelukan sementara. Semua orang Arab yang tinggal di sekitar tanah haram dan masuk Nasrani tidaklah memeluknya kecuali sebagai penantian akan nabi yang ummi (tidak membaca/menulis) dari bangsa Arab, sebagaimana yang dikabarkan oleh para rahib di biara-biara yang tersebar di sepanjang jalur perdagangan. Orang-orang Nasrani ini tidak berbeda dari orang Arab Jahiliyah yang pagan dalam hal akhlak, adat istiadat, dan tradisi.
وَفَتَحَ بَابَ الْغُرْفَةِ الَّتِي كَانَ يَتَعَبَّدُ فِيهَا مُحَمَّدٌ فَأَفَاقَ زَيْدٌ مِنْ شُرُودِهِ فَأَلْفَى مُحَمَّدًا يَبْتَسِمُ لَهُ فَأَحَسَّ كَأَنَّ نُورًا يُضِيءُ جَوَانِبَهُ وَاسْتَبْشَارًا يَشِيعُ فِي وِجْدَانِهِ وَشَيْئًا يَجْذِبُهُ إِلَيْهِ فَيَتَقَدَّمُ مِنْهُ كَالْمَسْحُورِ .
Pintu kamar tempat Muhammad beribadah terbuka, Zaid tersadar dari lamunannya. Ia mendapati Muhammad tersenyum padanya. Zaid merasa seolah ada cahaya yang menerangi sekelilingnya, kegembiraan yang menyebar dalam batinnya, dan sesuatu yang menariknya hingga ia melangkah mendekat seolah tersihir.
وَمَرَّ مُحَمَّدٌ يَدَهُ عَلَى شَعْرِهِ فِي حَنَانٍ دَافِقٍ ثُمَّ سَارَا مَعًا إِلَى حَيْثُ كَانَتْ خَدِيجَةُ وَابْنُهَا هِنْدٌ وَبَعْضُ الْإِمَاءِ ، وَزَيْدٌ يَعْجَبُ فِي نَفْسِهِ لِأَهْلِ هَذِهِ الدَّارِ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا صَنَمٌ مِنْ أَصْنَامِ الْآلِهَةِ ، وَمَا دَخَلَ بَيْتًا مِنْ بُيُوتِ سَادَاتِ قُرَيْشٍ إِلَّا وَوَجَدَ تَمَاثِيلَ لِهُبَلَ أَوِ اللَّاتِ أَوِ الْعُزَّى أَوْ مَنَاةَ أَوْ غَيْرَهَا مِنَ الْآلِهَةِ وَالْقَوْمُ يَتَمَسَّحُونَ بِهَا الْتِمَاسًا لِلْبَرَكَةِ !
Muhammad mengusap rambutnya dengan kasih sayang yang meluap, kemudian mereka berjalan bersama ke tempat Khadijah, putranya Hind, dan beberapa hamba sahaya. Zaid merasa heran dalam hati terhadap penghuni rumah ini yang tidak memiliki satupun berhala dari tuhan-tuhan mereka. Tidak ada rumah pemuka Quraisy yang ia masuki kecuali ia temukan patung Hubal, al-Lat, al-Uzza, Manat, atau tuhan-tuhan lainnya, di mana kaumnya mengusap patung-patung itu untuk mencari berkah!
وَمُدَّتِ الْمَائِدَةُ وَجَلَسَ مُحَمَّدٌ وَخَدِيجَةُ وَزَيْدٌ وَهِنْدٌ وَبَعْضُ الْإِمَاءِ يَتَنَاوَلُونَ الطَّعَامَ فِي جَفَانٍ وَاحِدَةٍ ، فَاسْتَشْعَرَ زَيْدٌ غِبْطَةً ، فَمُحَمَّدٌ يُطْعِمُهُ مِنْ طَعَامِهِ وَيُلْبِسُهُ مِنْ لِبَاسِهِ ، وَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ تَبَّنَاهُ بَلْ إِنَّ هَذِهِ صِفَتُهُ مَعَ كُلِّ مَنْ فِي الدَّارِ مِنْ عَبِيدٍ وَإِمَاءِ .
Hidangan dibentangkan, Muhammad, Khadijah, Zaid, Hind, dan beberapa hamba sahaya duduk menyantap makanan dalam satu nampan yang sama. Zaid merasakan kegembiraan yang luar biasa. Muhammad memberinya makan dari makanannya dan memberinya pakaian dari pakaiannya. Ia tidak melakukan itu hanya karena mengangkatnya sebagai anak, melainkan itu adalah sifatnya kepada setiap orang di rumah itu, baik budak laki-laki maupun hamba sahaya perempuan.
وَطَافَتْ بِذِهْنِ زَيْدٍ فِكْرَةُ أَقْرَبَ إِلَى الْإِحْسَاسِ ، إِنَّ أَهْلَ هَذَا الْبَيْتِ لَا يَخْتَلِفُونَ عَنْ كُلِّ مَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْعَرَبِ ، إِنَّهُمْ لَا يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ وَلَا يَسْجُدُونَ لِلْأَوْثَانِ وَلَا يُقْسِمُونَ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى وَلَا يَنْطِقُونَ الْفُحْشَ مِنَ الْقَوْلِ ، إِنَّهُمْ وَاحَةٌ لِلْأَخْلَاقِ فِي صَحْرَاءَ مَاجِنَةٍ كَافِرَةٍ ، وَبَدَأَتْ تَتَفَتَّحُ لِعَيْنِ الصَّبِيِّ بَعْضُ حِكْمَةِ وُقُوعِهِ فِي الْأَسْرِ وَبَيْعِهِ بَيْعَ الْعَبِيدِ لِهَذِهِ الْأُسْرَةِ الْكَرِيمَةِ ، فَرَبُّهُ قَدْ أَرَادَ لَهُ أَنْ يَشِبَّ فِي كَنَفِ رَجُلٍ عَظِيمٍ عَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ لِيَأْخُذَ عَنْهُ أَفْضَلَ مَا تَجُودُ بِهِ الْبَشَرِيَّةُ .
Sebuah pemikiran yang lebih mendekati perasaan melintas di benak Zaid, bahwa penghuni rumah ini tidak berbeda dengan orang-orang di sekitar mereka dari kalangan Arab. Mereka tidak menyembah berhala, tidak bersujud pada patung, tidak bersumpah dengan al-Lat dan al-Uzza, dan tidak mengucapkan kata-kata kotor. Mereka adalah oase akhlak di tengah padang pasir yang bejat dan kafir. Mata bocah itu mulai terbuka akan hikmah di balik peristiwa ia ditawan dan dijual sebagai budak kepada keluarga mulia ini. Tuhannya telah menghendaki ia tumbuh dalam asuhan seorang pria agung yang berakhlak mulia agar ia dapat meneladani darinya sebaik-baik nilai kemanusiaan.
وَقَامَ مُحَمَّدٌ وَخَدِيجَةُ إِلَى غُرْفَتِهِمَا ، وَانْسَلَّ زَيْدٌ وَهِنْدٌ إِلَى الْخَارِجِ لِيَلْعَبَا مَعَ صِبْيَانِ قُرَيْشٍ عِنْدَ الصَّفَا ، وَانْبَسَطَتْ أَسَارِيرُ خَدِيجَةَ ثُمَّ أَفْضَتْ إِلَى زَوْجِهَا بِسِرِّهَا . إِنَّهَا حَامِلٌ وَإِنْ هِيَ إِلَّا شُهُورٌ حَتَّى تَضَعَ مَا فِي بَطْنِهَا ، وَكَانَتْ تَهْتَزُّ طَرَبًا أَنَّهَا قَدْ أَنْجَبَتْ مِنْ زَوْجَيْهَا السَّابِقَيْنِ ، إِلَّا أَنَّهَا تُحِسُّ فِي صَمِيمِ وُجُودِهَا أَنَّ إِنْجَابَهَا ذُرِّيَّةً مِنْ مُحَمَّدٍ الْأَمِينِ شَيْءٌ آخَرُ ، رَائِعٌ يُثْلِجُ الصَّدْرَ وَيُشْرِقُ النَّفْسَ بِآمَالٍ عَظِيمَةٍ ، فَمُرُورُ الْأَيَّامِ يُؤَكِّدُ لَهَا أَنَّ سَيَكُونُ لِزَوْجِهَا الْكَرِيمِ شَأْنٌ أَيَّ شَأْنٍ .
Muhammad dan Khadijah pergi ke kamar mereka. Zaid dan Hind menyelinap keluar untuk bermain dengan anak-anak Quraisy di dekat bukit Shafa. Wajah Khadijah berseri-seri, lalu ia menyampaikan rahasianya kepada suaminya bahwa ia sedang hamil, hanya menunggu beberapa bulan hingga ia melahirkan apa yang ada di kandungannya. Ia gemetar karena gembira, teringat ia telah melahirkan anak dari dua suaminya yang terdahulu, namun ia merasa jauh di lubuk hatinya bahwa mengandung keturunan dari Muhammad sang Al-Amin adalah hal yang berbeda, luar biasa, menyejukkan hati, dan menerangi jiwa dengan harapan yang agung. Berlalunya hari semakin meyakinkannya bahwa suaminya yang mulia ini kelak akan memiliki kedudukan yang sangat penting.
وَعَرَفَ الْفَرَحُ طَرِيقَهُ إِلَى قَلْبِهِ ، فَقَدْ شَبَّ وَحِيدًا يَتِيمًا لَمْ يَذُقْ طَعْمَ حَنَانِ الْأُبُوَّةِ وَلَا حَلَاوَةَ الْأُخُوَّةِ وَإِنْ ذَاقَ طَعْمَ الِاسْتِبْشَارِ بِالْأُنْسِ بِرَبِّهِ وَمَدَاوَمَةِ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ . إِنَّهُ بَشَرٌ يَنْفَعِلُ بِمَا يَنْفَعِلُ بِهِ النَّاسُ ، وَهَلْ هُنَاكَ فَرْحَةٌ أَعْظَمُ لِرَجُلٍ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ عُقْبٌ ؟ كَانَتْ فَرْحَتُهُ عَظِيمَةً بِالنَّبَأِ السَّارِّ السَّعِيدِ ، فَذَلِكَ الَّذِي فِي بَطْنِ خَدِيجَةَ الِابْنُ وَالْأَخُ وَالْحَبِيبُ .
Kebahagiaan menemukan jalannya ke hati Muhammad, karena ia tumbuh sendirian sebagai yatim, tidak pernah merasakan kasih sayang kebapakan dan manisnya persaudaraan, meskipun ia telah merasakan nikmatnya beriman dan dekat dengan Tuhannya serta terus-menerus memandang wajah-Nya. Ia adalah manusia yang terpengaruh oleh apa yang dirasakan manusia. Apakah ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang pria daripada memiliki keturunan? Kegembiraannya luar biasa dengan kabar gembira yang membahagiakan itu, bahwa janin dalam kandungan Khadijah adalah putra, saudara, dan kekasih.
وَأَطْلَقَ مُحَمَّدٌ لِخَيَالِهِ الْعِنَانَ فَرَاحَ يُفَكِّرُ فِيمَا يَفْعَلُهُ بِابْنِهِ إِذَا وَضَعَتْ خَدِيجَةُ ذَكَرًا ، إِنَّهُ سَيَبْعَثُ بِهِ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي مِنْ مَوْلِدِهِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِيَشِبَّ فَصِيحًا وَلِيَنْمُوَ حُرًّا طَلِيقًا فِي أَحْضَانِ الطَّبِيعَةِ الْأُمِّ الْحَنُونِ ، وَلِيَسْمُوَ إِلَى الْآفَاقِ الْعُلْيَا كَمَا سَمَا وَلِيَتَّصِلَ بِيَنْبُوعِ السَّعَادَةِ وَرُوحِ الْوُجُودِ .
Muhammad membiarkan imajinasinya melambung, berpikir apa yang akan ia lakukan dengan putranya jika Khadijah melahirkan seorang laki-laki. Ia akan mengirimnya pada hari kedua setelah kelahirannya ke padang pasir agar tumbuh fasih dan berkembang menjadi merdeka dan bebas dalam pelukan alam, sang ibu yang penyayang, agar ia bisa membubung tinggi ke ufuk yang paling tinggi sebagaimana dirinya telah membubung tinggi, dan agar ia bisa terhubung dengan mata air kebahagiaan dan ruh keberadaan.
إِنَّهُ سَيَبْعَثُ بِهِ إِلَى بَنِي سَعْدٍ لِيَكُونَ فِي رِعَايَةِ آبَائِهِ الْحَارِثِ وَحَلِيمَةَ وَالشَّيْمَاءِ ، وَتَذَكَّرَ مُحَمَّدٌ أَيَّامَهُ فِي هَوَازِنَ فَإِذَا بِجِبَالِهَا الشَّاهِقَةِ تَتَمَثَّلُ لِعَيْنَيْهِ ، وَإِذَا بِهِ يَرَى نَفْسَهُ وَهُوَ يُدَاعِبُ غُنَيْمَاتِ حَلِيمَةَ فَتَتَرْقْرَقُ الرِّقَّةُ فِي مَحْيَاهُ وَيَتَدَفَّقُ الْحَنَانُ مِنْ كُنُوزِ فُؤَادِهِ ، وَرَأَى نَفْسَهُ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ نُفَيْسَةَ وَأَخِيهِ عَبْدِ اللَّهِ لُعْبَةَ الْعَظَمَةِ الْبَيْضَاءِ ، وَتَرَادَفَتْ عَلَى خَيَالِهِ صُورَةُ غِلْمَانِ بَنِي سَعْدٍ فَإِذَا بِحَمَاشِرَ لَذِيذَةٍ تَمْلَأُ جَوَانِحَهُ ، فَهُوَ وَفِيٌّ لِلْأُسْرَةِ الَّتِي اسْتَرْضَعَ فِيهَا ، وَهُوَ وَفِيٌّ لِلْغِلْمَانِ الَّذِينَ شَارَكُوهُ طُفُولَتَهُ ، وَهُوَ وَفِيٌّ لِلْأَرْضِ الَّتِي شَبَّ عَلَيْهَا ، وَلَا غَرْوَ فَقَدْ صِيغَ مِنَ الْوَفَاءِ .
Ia akan mengirimnya ke Bani Sa'd untuk berada di bawah asuhan orang tuanya, Al-Harits, Halimah, dan Asy-Syaima'. Muhammad teringat hari-harinya di Hawazin, gunung-gunungnya yang menjulang terbayang di depan matanya. Ia melihat dirinya sedang menggembala kambing-kambing kecil milik Halimah, kelembutan terpancar di wajahnya dan kasih sayang mengalir dari khazanah hatinya. Ia melihat dirinya bermain dengan Nufaisa dan saudaranya Abdullah dalam permainan keagungan yang putih (bersih). Bayangan anak-anak Bani Sa'd beruntun hadir dalam imajinasinya, dan kerinduan yang manis memenuhi hatinya. Ia sangat setia kepada keluarga yang menyusuinya, setia kepada anak-anak yang menemaninya di masa kecil, dan setia kepada tanah tempat ia dibesarkan. Tidak heran, karena ia memang tercipta dari kesetiaan.
وَمَرَّتِ الْأَيَّامُ وَالشُّهُورُ وَهُوَ عَاكِفٌ عَلَى عِبَادَتِهِ ، عَائِفًا عَلَى رِعَايَةِ الطَّاهِرَةِ وَسَيِّدَةِ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ، يَغْمُرُ زَيْدًا وَهِنْدًا وَإِمَاءَ الدَّارِ وَعَبِيدَهَا بِعَطْفِهِ ، وَيُقَابِلُ صَدِيقَهُ أَبَا بَكْرٍ ، وَيَنْطَلِقُ إِلَى دَارِ أَبِي طَالِبٍ لِيُقَابِلَ طَالِبًا وَجَعْفَرًا وَعَقِيلًا وَأَبْنَاءَ عَمِّهِ الْأَعِزَّاءِ ، وَكَانَ أَبُو سُفْيَانَ ابْنُ عَمِّهِ الْحَارِثِ لَا يُفَارِقُهُ فَهُوَ تَرْبُهُ وَشِبْهُهُ وَأَخُوهُ فِي الرَّضَاعَةِ ، وَكَثِيرًا مَا كَانَ يَسْمَعُهُ أَشْعَارَهُ فَقَدْ كَانَ أَبُو سُفْيَانَ شَاعِرًا مُجِيدًا مِنْ شُعَرَاءِ بَنِي هَاشِمٍ ، تَعْمَلُ لَهُ الْقَبَائِلُ أَلْفَ حِسَابٍ .
Hari dan bulan berlalu, ia tetap tekun dalam ibadahnya, tekun merawat wanita suci dan penghulu wanita Quraisy (Khadijah). Ia melimpahkan kasih sayangnya kepada Zaid, Hind, dan hamba-hamba sahaya di rumah tersebut. Ia menemui sahabatnya Abu Bakar, dan pergi ke rumah Abu Thalib untuk menemui Thalib, Ja'far, Aqil, dan putra-putra pamannya yang sangat ia sayangi. Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib tidak pernah meninggalkannya karena ia adalah rekan sebayanya, orang yang mirip dengannya, dan saudara sepersusuannya. Sering kali ia mendengarkan syair-syairnya, karena Abu Sufyan adalah penyair handal di antara penyair Bani Hasyim, yang sangat diperhitungkan oleh kabilah-kabilah Arab.
وَكَانَ يُقَابِلُ أَعْمَامَهُ الْعَبَّاسَ وَحَمْزَةَ وَيَطُوفُ بِبَيْتِ عَمِّهِ أَبِي لَهَبٍ ، وَكَانَتِ امْرَأَةُ عَمِّهِ أُمِّ جَمِيلٍ تَرْحَبُ بِهِ ، وَكَثِيرًا مَا كَانَ يُدَاعِبُ ابْنَيْ عَمِّهِ عُتْبَةَ وَمُعَتِّبَ ابْنَيْ أَبِي لَهَبٍ ، فَقَدْ كَانَ مُحَمَّدٌ مَحْبُوبًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ .
Ia sering menemui paman-pamannya Al-Abbas dan Hamzah, dan berkeliling di rumah pamannya Abu Lahab. Istri pamannya, Ummu Jamil, menyambutnya dengan hangat. Sering kali ia bercanda dengan dua sepupunya, Utbah dan Mu'attib, putra-putra Abu Lahab. Muhammad memang sangat dicintai di Bani Hasyim, ia mudah bergaul dan disenangi.
وَقَابَلَ فِي دَارِ زَوْجِهِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ ، فَقَدْ كَانَ الزُّبَيْرُ ابْنَ عَمَّتِهِ صَفِيَّةَ وَابْنَ أَخِي خَدِيجَةَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ ، وَعَدِيَّ بْنَ نَوْفَلٍ وَوَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلٍ وَكُلَّ بَنِي أَسَدٍ . وَكَانَ الرَّبِيعُ بْنُ عَبْدِ شَمْسٍ زَوْجَ هَالَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ ، وَكَانَا قَدْ أَنْجَبَا مِقْسَمًا ( أَبَا الْعَاصِ ) فَكَانُوا يَزُورُونَ خَدِيجَةَ وَمَا أَعَارُوا مُحَمَّدًا سَمْعَهُمْ .
Di rumah istrinya, ia bertemu Hakim bin Hizam dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Az-Zubair adalah putra bibinya, Shafiyyah, dan juga keponakan Khadijah. Ia juga bertemu Adi bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan seluruh Bani Asad. Ar-Rabi' bin Abdul Syams adalah suami dari Halah binti Khuwailid, dan mereka telah memiliki anak bernama Miqsam (Abu al-Ash). Mereka sering mengunjungi Khadijah, namun mereka tidak mendengarkan Muhammad.
وَجَاءَتْ أُمُّ أَيْمَنَ مِنْ يَثْرِبَ ، وَكَانَتْ قَدْ تَزَوَّجَتْ فِي مَكَّةَ وَانْطَلَقَتْ إِلَى هُنَاكَ مَعَ زَوْجِهَا وَبَقِيَتْ مَعَهُ إِلَى أَنْ جَاءَتْ بِابْنِهَا أَيْمَنَ ، وَلَمْ تَسْتَطِعِ الصَّبْرَ عَلَى مَكَّةَ وَحَنَّتْ إِلَيْهَا فَعَادَتْ إِلَى دَارِ خَدِيجَةَ ، وَقَدْ أَقْبَلَتْ فِي وَقْتٍ كَانَتِ الطَّاهِرَةُ فِي حَاجَةٍ إِلَيْهَا فَهِيَ عَلَى وَشْكِ أَنْ تَضَعَ ، وَإِنَّهُ لَيُرْضِيهَا أَنْ تَكُونَ أُمُّ أَيْمَنَ حَاضِنَةَ الْعَزِيزِ الْمُنْتَظَرِ .
Ummu Aiman datang dari Yatsrib. Ia pernah menikah di Mekah, pergi ke sana bersama suaminya, dan tinggal di sana hingga melahirkan putranya, Aiman. Ia tidak tahan berpisah dengan Mekah, merindukannya, lalu kembali ke rumah Khadijah. Ia datang di saat Khadijah sangat membutuhkannya karena sebentar lagi akan melahirkan. Khadijah merasa senang jika Ummu Aiman menjadi pengasuh bayi tercinta yang dinanti-nantikan itu.
وَوَضَعَتْ خَدِيجَةُ طِفْلَةً جَمِيلَةً فَضَمَّهَا مُحَمَّدٌ إِلَيْهِ فِي عَطْفٍ وَحُبٍّ ، وَشَكَرَ اللَّهَ عَلَى مَا آتَاهُ وَسَمَّاهَا : زَيْنَبَ .
Khadijah melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Muhammad mendekapnya penuh kasih sayang dan cinta, bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan kepadanya, dan memberinya nama: Zainab.
وَجَاءَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفِي يَدِهَا ابْنُهَا مِقْسَمٌ لِتُهَنِّئَ أُخْتَهَا بِزَيْنَبَ فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهَا تَعَانَقَتَا ، وَمَا اسْتَقَرَّتْ فِي مَكَانِهَا حَتَّى وَضَعَتْ خَدِيجَةُ ابْنَتَهَا بَيْنَ يَدَيْ أُخْتِهَا ، فَرَاحَتْ هَالَةُ تَتَفَرَّسُ فِي وَجْهِ ابْنَةِ أُخْتِهَا مَلِيًّا ثُمَّ مَالَتْ عَلَيْهَا وَقَبَّلَتْهَا فِي حَنَانٍ ، وَأَحَسَّتْ بِابْنِهَا يَرْنُو إِلَى ابْنَةِ خَالَتِهِ فِي اسْتِطْلَاعٍ فَأَمَرَتْهُ أَنْ يَجْلِسَ لِتَضَعَهَا فِي حِجْرِهِ .
Halah binti Khuwailid datang bersama putranya, Miqsam, untuk memberi selamat kepada saudarinya atas kelahiran Zainab. Ketika ia masuk, mereka berpelukan. Belum sempat duduk, Khadijah meletakkan putrinya di depan saudarinya. Halah mulai memperhatikan wajah keponakannya dengan saksama, lalu mencondongkan tubuh dan menciumnya penuh kasih. Ia merasakan putranya menatap sepupunya dengan penasaran, maka ia memerintahkannya untuk duduk agar bisa meletakkan bayi itu di pangkuannya.
وَجَلَسَ مِقْسَمٌ وَقَدْ أَشْرَقَ وَجْهُهُ بِالْفَرَحِ ، فَوَضَعَتْ أُمُّهُ ابْنَةَ خَالَتِهِ فِي حِجْرِهِ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَقَدْ هَزَّهُ الطَّرَبُ ، فَقَالَتْ خَدِيجَةُ :
Miqsam duduk dengan wajah berseri-seri penuh kegembiraan. Ibunya meletakkan sepupunya di pangkuannya. Ia terus menatap bayi itu dengan rasa bahagia yang meluap, maka Khadijah berkata:
— أَتُزَوِّجُهَا يَا مِقْسَمُ ؟
— Apakah kamu akan menikahinya wahai Miqsam?
فَهَزَّ الصَّبِيُّ رَأْسَهُ مُوَافِقًا ، وَضَحِكَتِ الْأُخْتَانِ وَمَا طَافَ بِذِهْنِهِمَا أَنَّ زَوَاجَ ( أَبِي الْعَاصِ ) وَزَيْنَبَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ كَانَ مَسْطُورًا فِي سِجِلِّ الْقَدَرِ .
Bocah itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kedua saudari itu tertawa, tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran mereka bahwa pernikahan (Abu al-Ash) dan Zainab binti Muhammad telah tertulis dalam catatan takdir.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi