كَانَتِ السَّعَادَةُ تَخْفِقُ فِي جَنْبَاتِ الْبَيْتِ ، فَزَيْنَبُ تُنَاغِي أُخْتَهَا أُمَّ كُلْثُومٍ ، وَخَدِيجَةُ تَضُمُّ رُقَيَّةَ إِلَى صَدْرِهَا وَقَدِ انْبَسَطَتْ أَسَارِيرُهَا وَرَاحَ مُحَمَّدٌ يَرْنُو إِلَى أُسْرَتِهِ فِي انْشِرَاحٍ لَا يُفَرِّقُ فِي حُبِّهِ بَيْنَ بَنَاتِهِ وَهِنْدَ بْنِ أَبِي هَالَةَ وَزَيْدِ بْنِ شَرَاحِيلَ ، فَقَدْ وَسِعَهُمْ جَمِيعًا قَلْبُهُ الْكَبِيرُ وَفَاضَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُنُوزِ حَنَانِهِ وَرِقَّتِهِ .
Kebahagiaan berdenyut di setiap sudut rumah, Zainab mengajak bercanda adiknya, Ummu Kultsum, dan Khadijah mendekap Ruqayyah ke dadanya dengan wajah yang berseri-seri. Muhammad memandang keluarganya dengan penuh kebahagiaan, tidak membeda-bedakan kasih sayangnya antara putri-putrinya dengan Hindun bin Abi Halah dan Zaid bin Syarahil, karena hati beliau yang besar mampu merangkul mereka semua dan melimpahkan kepada mereka kekayaan kasih sayang serta kelembutannya.
كَانَتِ الْأُسْرَةُ تَعِيشُ حَيَاةً نَاعِمَةً ، وَلَوْلَا الْآمَالُ الْكِبَارُ الَّتِي كَانَتْ تَشْغَلُ قَلْبَ الْأَبَوَيْنِ الْكَرِيمَيْنِ لَمَا عَرَفَ الْقَلَقُ طَرِيقَهُ إِلَى الْعِشِّ الْهَانِئِ ، فَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَبْغِي وَجْهَ اللَّهِ فَرَاحَ يُنْفِقُ عُمْرَهُ فِي جِهَادِ نَفْسِهِ وَحِرْمَانِ ذَاتِهِ مِنْ مَبَاهِجِ الْأَرْضِ طَمَعًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاءِ وَغِبْطَةٍ سَرْمَدِيَّةٍ وَنَشْوَةٍ رُوحِيَّةٍ تَتَلَاشَى أَمَامَهَا كُلُّ لَذَائِذِ الْوُجُودِ .
Keluarga itu menjalani kehidupan yang lembut. Seandainya bukan karena cita-cita besar yang memenuhi hati kedua orang tua yang mulia itu, niscaya kegelisahan tidak akan tahu jalan menuju sarang yang damai tersebut. Muhammad bin Abdullah mencari rida Allah, beliau menghabiskan usianya dalam berjihad melawan diri sendiri dan menahan diri dari kemegahan dunia demi mengharap kerajaan langit, kebahagiaan yang kekal, dan kenikmatan rohani yang di hadapannya semua kelezatan duniawi sirna.
بَيْنَمَا كَانَتْ خَدِيجَةُ تَرْقُبُ زَوْجَهَا فِي فَرَحٍ وَاسْتِبْشَارٍ فَكُلُّ أَحْوَالِهِ تُؤَكِّدُ لَهَا أَنَّهُ الْمَوْعُودُ ، وَلَكِنَّهَا كَانَتْ تَتَعَجَّلُ ذَلِكَ الْيَوْمَ الَّذِي تُشْرِقُ فِيهِ مِنْ دَارِهَا شَمْسُ الْحَقِيقَةِ لِتَغْمُرَ مَكَّةَ وَمَا حَوْلَهَا وَكُلَّ الْكَوْنِ ، وَكَانَ صَبْرُهَا يَنْفَدُ أَحْيَانًا فَتَهْمِسُ الْأَصْوَاتُ فِي أَغْوَارِ نَفْسِهَا : مَتَى يَا خَدِيجَةُ ؟ مَتَى ؟
Sementara itu, Khadijah memperhatikan suaminya dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena semua keadaannya menegaskan kepadanya bahwa beliaulah sosok yang dijanjikan. Namun, ia tidak sabar menunggu hari di mana matahari kebenaran terbit dari rumahnya untuk menyinari Makkah, sekitarnya, dan seluruh alam semesta. Kesabarannya terkadang menipis hingga suara-suara berbisik di kedalaman jiwanya: Kapan wahai Khadijah? Kapan?
إِنَّهَا كَانَتْ مُتَلَهِّفَةً عَلَى ذَلِكَ الْحَدَثِ الْكَبِيرِ ، فَالنُّبُوءَةُ الَّتِي سَمِعَتْهَا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي اجْتَمَعَتْ فِيهِ نِسَاءُ قُرَيْشٍ فِي الْحَرَمِ فِي يَوْمِ الْعِيدِ تَتَرَدَّدُ فِي ضَمِيرِهَا ، وَرُؤْيَاهَا الَّتِي رَأَتْهَا تَشَاغَلُ عَقْلَهَا ، وَحَدِيثُ غُلَامِهَا مَيْسَرَةَ حَفَرَ فِي عَقْلِهَا ، وَنُبُوءَاتُ ابْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ تُضِيءُ جَوَانِبَ نَفْسِهَا ، وَلَوْ أَشَاحَتْ بِوَجْهِهَا عَنْ نُبُوءَةِ الْعِيدِ وَرُؤْيَاهَا وَأَحَادِيثِ غُلَامِهَا وَابْنِ عَمِّهَا الشَّيْخِ الْجَلِيلِ ، فَأَفْعَالُ زَوْجِهَا كُلُّهَا تُشِيرُ إِلَيْهِ بِأَنَّهُ الْمُصْطَفَى وَالْمُنْتَظَرُ .
Ia begitu merindukan peristiwa besar itu. Nubuat yang didengarnya pada hari para wanita Quraisy berkumpul di Al-Haram saat hari raya terus terngiang dalam batinnya. Penglihatannya yang terus mengusik akalnya, perkataan pelayannya, Maisarah, yang terpatri dalam benaknya, serta ramalan sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang menyinari sisi-sisi jiwanya. Meskipun ia mencoba memalingkan wajah dari nubuat hari raya, penglihatan, perkataan pelayan, dan sepupunya yang merupakan syekh agung itu, namun semua tindakan suaminya menunjukkan bahwa beliaulah sosok yang terpilih dan dinantikan.
إِنَّ ثِقَتَهَا لَيْسَتْ مُسْتَمَدَّةً مِنْ أَحْلَامِهَا وَرُؤَاهَا وَجَيَشَانِ شُعُورِهَا وَإِلْحَاحِهِ عَلَى صُورَةٍ وَاحِدَةٍ وَحَسْبُ ، بَلْ إِنَّ مَكَارِمَ أَخْلَاقِ زَوْجِهَا وَانْقِطَاعَهُ لِمُنَاجَاةِ رَبِّهِ وَأُنْسِهِ بِهِ وَهِجْرَانِ الْخَلْقِ فِي حُبِّهِ وَصَبْرِهِ مَعَ اللَّهِ وَإِشْرَاقِ الْمَعَارِفِ فِي قَلْبِهِ وَانْكِشَافِ الْحَقَائِقِ لَهُ ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُونَ إِلَّا بِإِلْهَامٍ إِلَهِيٍّ وَكَشْفٍ رَبَّانِيٍّ .
Keyakinannya tidak hanya bersumber dari mimpi, penglihatan, gejolak perasaannya, dan desakan pada satu gambaran saja, melainkan kemuliaan akhlak suaminya, ketekunannya dalam bermunajat kepada Tuhannya, rasa cintanya kepada Allah, pengasingan diri dari makhluk demi mencintai-Nya, kesabarannya bersama Allah, pancaran pengetahuan di dalam hatinya, serta terbukanya hakikat baginya, tidak mungkin terjadi kecuali karena ilham Ilahi dan penyingkapan Rabbani.
إِنَّ اللَّهَ فِي أَرْضِهِ آنِيَةٌ هِيَ الْقُلُوبُ فَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَرَقُّهَا ، وَإِنَّ قَلْبَ مُحَمَّدٍ لَأَرَقُّ الْقُلُوبِ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى إِخْوَانِهِ ؛ وَأَصْفَاهَا وَقَلْبُ مُحَمَّدٍ أَصْفَى مِنَ الصَّفَاءِ وَأَنْقَى مِنَ النَّقَاءِ وَأَصْلَبُهَا ؛ وَلَيْسَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَنْ يَمْلِكُ قَلْبًا أَصْلَبَ مِنْ قَلْبِ زَوْجِهَا فِي الْحَقِّ : إِنَّهُ التَّقْوَى وَمَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ .
Sesungguhnya Allah di bumi-Nya memiliki wadah, yaitu hati. Hati yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, dan hati Muhammad adalah yang paling lembut terhadap keluarga dan saudara-saudaranya. Hati yang paling jernih, dan hati Muhammad lebih jernih daripada kejernihan, lebih murni daripada kemurnian, dan paling kuat. Tidak ada di muka bumi ini orang yang memiliki hati lebih kuat daripada hati suaminya dalam kebenaran: itulah ketakwaan dan kemuliaan akhlak.
وَكَانَتْ كُلَّمَا طَالَتْ عِشْرَتُهَا مَعَهُ ازْدَادَتْ إِعْجَابًا بِهِ وَثَنَاءً عَلَى اللَّهِ الَّذِي خَلَقَهُ عَلَى خَلْقٍ عَظِيمٍ ، وَكَانَتْ تَعْجَبُ فِي نَفْسِهَا : إِنْ لَمْ يَكُنْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ خَيْرَ الْبَشَرِ فَمَنْ يَكُونُ ؟ إِنَّهُ يَرَى أَنَّ اللَّهَ حَقٌّ وَهَدَى ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ بِهِ مَطْلُوبٌ لِأَنَّهُ حَقٌّ وَهَدَى ، وَأَنَّ هَذَا الْإِيمَانَ أَعْلَى مِنْ كُلِّ إِيمَانٍ وَأَقْدَسُ لِأَنَّهُ إِيمَانُ بِالْحَقِّ وَالْهَدَى ، فَهُوَ بِكُلِّ جَوَارِحِهِ وَوِجْدَانِهِ وَقَلْبِهِ لِلَّهِ ، وَمَنْ كَانَ اللَّهُ كَانَ اللَّهُ لَهُ .
Setiap kali masa kebersamaannya dengan beliau bertambah panjang, kekagumannya semakin meningkat dan ia semakin memuji Allah yang telah menciptakan beliau dengan akhlak yang agung. Ia terkagum dalam hatinya: Jika Muhammad bin Abdullah bukan manusia terbaik, lantas siapa? Beliau melihat bahwa Allah adalah kebenaran dan petunjuk, dan bahwa beriman kepada-Nya adalah sebuah keharusan karena itu adalah kebenaran dan petunjuk, dan bahwa iman ini lebih tinggi dari segala iman dan paling suci karena merupakan iman kepada kebenaran dan petunjuk. Maka beliau dengan seluruh anggota tubuh, kesadaran, dan hatinya adalah milik Allah, dan barangsiapa yang menjadi milik Allah, maka Allah menjadi miliknya.
إِنَّهُ مُعَظِّمٌ لِلَّهِ ، خَائِفٌ أَيَّاهُ ، رَاجٍ لَهُ ، شَغَلَ قَلْبَهُ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ ، قَدْ صَفَتْ لَهُ لَذَّةُ الْمُنَاجَاةِ ؛ وَلَكِنَّهُ صَرَفَ قَلْبَهُ عَنْ سَائِرِ الْأُمُورِ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ ، هَوَاهُ وَوَجْهُهُ وَقُوَادُهُ إِلَى اللَّهِ ، فَهُوَ حِصْنُهُ وَمَلَاذُهُ وَمُنْتَهَاهُ ، فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مَلْحُوظًا وَمَرْقُوبًا بِعَيْنِ اللَّهِ ، فَلَا يَسْتُرُ عَنْ عَيْنِ اللَّهِ سَاتِرٌ وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ مُحِبٌّ قَدْ أَحْضَرَ فِي قَلْبِهِ جَمِيعَ أَنْوَاعِ لُطْفِهِ لِتَنْفَتِحَ لَهُ رَحْمَتُهُ .
Beliau sangat mengagungkan Allah, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan menyibukkan hatinya dengan memandang kepada-Nya. Kenikmatan bermunajat telah murni baginya, namun beliau memalingkan hatinya dari segala urusan lain menuju urusan Allah. Hawa nafsunya, arah pandangannya, dan penuntunnya adalah menuju Allah; Dia adalah benteng, tempat perlindungan, dan tujuan akhirnya. Maka haruslah ia diperhatikan dan diawasi oleh pandangan Allah, karena tidak ada penghalang yang dapat menutupi dari pandangan Allah, dan tidak ada pencinta yang dapat terhijab dari-Nya ketika ia telah menghadirkan di dalam hatinya segala jenis kelembutan-Nya agar terbuka baginya rahmat-Nya.
طَهَّرَ بَاطِنَهُ لِأَنَّهُ مَوْضِعُ نَظَرِ رَبِّهِ ، وَتَقَّى سِرَّهُ وَسَرِيرَتَهُ وَأَقَامَ قَلْبَهُ مَعَ اللَّهِ ، وَجَاهَدَ النَّفْسَ لِكَيْلَا تَتَشَعَّبَ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَوْدِيَةِ الدُّنْيَا ، وَهَجَرَ مَبَاهِجَهَا فِي سَبِيلِ وَجْهِ اللَّهِ ، وَصَبَرَ ثُمَّ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ وَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ ، وَمَا تَيَسَّرَتْ طَاعَتُهُ إِلَّا بِإِعَانَةِ رَبِّهِ الَّذِي يَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُلْقِي الْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ فِي عَيْنِ وُجُودِهِ فَيُشْرِقُ لُبُّهُ بِأَنْوَارِ الْمَعَارِفِ وَالْيَقِينِ .
Beliau menyucikan batinnya karena ia adalah tempat pandangan Tuhannya, menjaga rahasia dan batinnya, serta menegakkan hatinya bersama Allah. Beliau berjuang melawan hawa nafsu agar kekhawatiran tidak mencabik-cabiknya di lembah dunia, meninggalkan kemegahan dunia demi wajah Allah, bersabar, melakukan amal saleh, dan bertawakal kepada Allah. Ketaatannya tidak akan mudah kecuali dengan pertolongan Tuhannya yang menggandeng tangannya dan mencampakkan ilmu serta hikmah ke dalam mata keberadaannya, sehingga jiwanya bersinar dengan cahaya pengetahuan dan keyakinan.
انْكَشَفَتْ لَهُ أَشْيَاءُ بِطَرِيقِ الْإِلْهَامِ وَوَقَعَتْ فِي قَلْبِهِ مِن حَيْثُ لَا يَدْرِي ، قَدْ جَاهَدَ فِي اللَّهِ فَحَقَّ عَلَى اللَّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ سُبُلَهُ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ نُورًا يَفْرُقُ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ ، وَأَنْ يُيَسِّرَهُ لِلنَّظَرِ بِنُورِهِ ، وَأَنْ يَقْذِفَ فِي قَلْبِهِ عِلْمًا مِن لَّدُنْهُ يَتَفَتَّحُ فِي سِرِّ الْقَلْبِ لِصَلَاحِ الْخَلْقِ .
Hal-hal tersingkap baginya melalui jalan ilham dan jatuh ke dalam hatinya dari arah yang tidak ia ketahui. Ia telah berjihad di jalan Allah, maka berhaklah baginya atas Allah untuk menunjuki jalan-jalan-Nya, menjadikan baginya cahaya untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, memudahkannya untuk melihat dengan cahaya-Nya, dan mencampakkan ke dalam hatinya ilmu dari sisi-Nya yang terbuka di rahasia hati demi kemaslahatan makhluk.
كَانَ بَابُ قَلْبِهِ مُتَّصِلًا بِالْمَلَكُوتِ ؛ إِنَّهُ بَابُ إِلْهَامٍ وَنَفْثٍ فِي الرَّوْعِ ، وَإِنَّهُ لَيَنْفَتِحُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَالْوَرَعِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا لِيَتَلَقَّى مِنْهُ وَحْيَ السَّمَاءِ ، فَيَتَوَلَّى اللَّهُ سِيَاسَتَهُ وَيُصْبِحُ جَلِيسَهُ وَمُحَادِثَهُ وَأَنِيسَهُ وَتَضْحَى يَدُ اللَّهِ عَلَى فِيهِ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِمَا هَيَّأَ اللَّهُ لَهُ مِنَ الْحَقِّ .
Pintu hatinya terhubung dengan alam malakut; itu adalah pintu ilham dan tiupan ke dalam jiwa. Ia terbuka dengan mujahadah, sifat wara', dan berpaling dari syahwat dunia untuk menerima wahyu dari langit. Allah mengambil alih pengaturannya, menjadi teman duduknya, teman bicaranya, dan teman penghiburnya. Maka tangan Allah berada di atas mulutnya, ia tidak berbicara kecuali dengan apa yang Allah siapkan baginya dari kebenaran.
أَصْبَحَ يَحُسُّ رُوحَ الْوُجُودِ فِي رُوحِهِ وَعَيْنَ الْوُجُودِ فِي عَيْنِهِ وَأَنَّ اللَّهَ يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الدَّمِ ، وَقَدْ جَعَلَ إِرَادَتَهُ خَيِّرَةً لِأَنَّ الْخَيْرَ الْحَقِيقِيَّ إِنَّمَا يُوجَدُ حَيْثُ تُوجَدُ الْإِرَادَةُ الْخَيِّرَةُ ، وَفَهِمَهُ الضَّرُورَةَ الْكَامِنَةَ فِي الطَّبِيعَةِ وَأَسْرَارَ مَا فَوْقَ الطَّبِيعَةِ ، وَأَعَانَهُ عَلَى أَنْ تَنْدَمِجَ إِرَادَتُهُ فِي الْإِرَادَةِ الْكُلِّيَّةِ لِيَجْعَلَ كَلَامَهُ عَلَى لِسَانِهِ .
Beliau mulai merasakan ruh wujud dalam ruhnya dan mata wujud dalam matanya, dan bahwa Allah mengalir di dalamnya seperti mengalirnya darah. Allah menjadikan kehendaknya kehendak yang baik karena kebaikan sejati hanya ada di mana kehendak yang baik berada. Beliau memahami keharusan yang tersembunyi di alam dan rahasia-rahasia di atas alam, dan Allah membantunya untuk memadukan kehendaknya ke dalam kehendak yang menyeluruh agar Allah menjadikan perkataannya ada di atas lisannya.
أَلْهَمَ قَوَانِينَ الْوُجُودِ فَعَمِلَ عَلَى أَنْ تَتَطَابَقَ إِرَادَتُهُ الْبَاطِنَةُ تِلْكَ الْقَوَانِينَ ، وَنَفَثَ فِي رَوْعِهِ أَنَّ الْفَضِيلَةَ عِلْمٌ وَالرَّذِيلَةَ جَهْلٌ فَكَانَ يَسْأَلُ اللَّهَ فِي مُنَاجَاتِهِ أَنْ يُلْهِمَهُ الْعِلْمَ وَأَلَّا يَجْعَلَهُ مِنَ الْجَاهِلِينَ .
Beliau diilhami tentang hukum-hukum wujud, maka ia berusaha agar kehendak batinnya sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Ditiupkan ke dalam jiwanya bahwa keutamaan adalah ilmu dan kerendahan adalah kebodohan, maka dalam munajatnya beliau selalu memohon kepada Allah agar mengilhaminya ilmu dan tidak menjadikannya termasuk orang-orang yang bodoh.
وَكَانَ مَبْعَثُ سُلُوكِهِ الرَّغْبَةَ فِي الْخَيْرِ رَغْبَةً مُبَاشِرَةً ، فَرَقَّ قَلْبُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَمْ يُوَجِّهْ كَلِمَةً قَاسِيَةً إِلَى رَبِيبِهِ هِنْدَ بْنِ خَدِيجَةَ ، أَوْ يُكَلِّفَ زَيْدَ بْنَ شَرَاحِيلَ بِعَمَلٍ ، أَوْ يَقْطِبَ جَبِينَهُ لِعَبْدٍ أَوْ جَارِيَةٍ ، وَإِنْ كَلَّفَ أَحَدًا مِمَّنْ تَحْتَهُ بِعَمَلٍ كَانَ يُعِينُهُ ، وَكَانَ يُقَابِلُ النَّاسَ حَتَّى وَهُوَ فِي لَحَظَاتِ ضَيْقِهِ هَاشًّا بَاشًّا ، وَإِنْ صَافَحَ أَحَدًا يَتْرُكُ يَدَهُ فِي يَدِهِ لَا يَسْحَبُهَا مِنْهُ حَتَّى يَتْرُكَهَا الْآخَرُ ، فَأَحَبَّهُ كُلُّ مَنْ اتَّصَلَ بِهِ وَتَعَلَّقَتْ بِهِ الْقُلُوبُ .
Sumber perilakunya adalah keinginan akan kebaikan secara langsung. Hatinya begitu lembut hingga ia tidak pernah mengucap kata kasar kepada anak tirinya, Hindun bin Khadijah, atau membebani Zaid bin Syarahil dengan pekerjaan, atau mengernyitkan dahi kepada seorang budak atau pelayan. Jika ia menugaskan seseorang bawahannya dengan suatu pekerjaan, ia pun akan membantunya. Ia selalu menemui orang-orang, bahkan dalam saat-saat sempitnya, dengan wajah yang berseri-seri. Jika ia bersalaman dengan seseorang, ia membiarkan tangannya berada dalam tangan orang itu dan tidak menariknya sampai orang lain yang melepaskannya. Maka setiap orang yang berhubungan dengannya mencintainya dan hati-hati tertambat kepadanya.
إِنَّهُ لَا يَكُفُّ عَنِ الْعُزْلَةِ وَالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ ، فَهُوَ يُحِسُّ أَنَّ عَطَايَا نُورَانِيَّةً تُوهَبُ لَهُ مِنْ جُودِ اللَّهِ وَكَرَمِهِ وَأَنَّ ضِيَاءَهَا يَزْدَادُ إِشْرَاقًا كُلَّمَا طَالَ أُنْسُهُ بِرَبِّهِ ، فَحَرِيَّتُهُ وَعِلْمُهُ وَحِكْمَتُهُ قَدْ مُنِحَتْ لَهُ مِنْ أَصْلِ وُجُودِهِ وَصَمِيمِ ذَاتِهِ : مِنَ اللَّهِ الْمُتَعَالِي ، وَأَنْ لَيْسَ لَهُ مِنْ غَايَةٍ سِوَى أَنْ يَفْنَى فِي الْحَقِيقَةِ الْمُتَعَالِيَةِ : فِي الْخَيْرِ الْأَسْمَى .
Beliau tidak berhenti menyepi dan memandang wajah Allah. Ia merasakan bahwa anugerah-anugerah cahaya diberikan kepadanya dari kemurahan dan karunia Allah, dan bahwa cahayanya semakin bersinar setiap kali ia semakin lama merasa akrab dengan Tuhannya. Maka kebebasan, ilmu, dan hikmahnya telah diberikan kepadanya dari asal keberadaannya dan inti zatnya: dari Allah Yang Maha Tinggi, dan bahwa tidak ada tujuan baginya selain fana dalam kebenaran Yang Maha Tinggi: dalam kebaikan yang paling utama.
وَعَرَفَ سِرَّ الْحُرِّيَّةِ ، الْحُرِّيَّةِ الرَّاشِدَةِ الَّتِي تَخْضَعُ لِلْعَقْلِ وَتَسْتَرْشِدُ بِالنُّورِ الْإِلَهِيِّ الَّذِي يُشْرِقُ فِي الرَّأْسِ فَيَبِيدُ الْأَهْوَاءِ وَالنَّزَوَاتِ ، وَعَرَفَ أَنَّهُ بِالْحَيَاةِ الرُّوحِيَّةِ الصَّحِيحَةِ تَسْمُو الْحُرِّيَّةُ الْكُبْرَى لِتُصْبِحَ حُرِّيَّةً مُتَعَالِيَةً ، حُرِّيَّةً مُسْتَمَدَّةً مِنَ الْعِلَّةِ الْحُرَّةِ لِسَائِرِ الْأَشْيَاءِ .
Ia memahami rahasia kebebasan, kebebasan yang bijak yang tunduk pada akal dan dibimbing oleh cahaya Ilahi yang bersinar di dalam kepala, sehingga menghancurkan hawa nafsu dan gejolak. Ia memahami bahwa dengan kehidupan rohani yang benar, kebebasan yang besar akan menanjak untuk menjadi kebebasan yang luhur, kebebasan yang bersumber dari Penyebab yang bebas bagi segala sesuatu.
آمَنَ بِالْغَيْبِ وَآمَنَ بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ وَخُضُوعِ الْإِنْسَانِ لِلْإِرَادَةِ الْإِلَهِيَّةِ ، فَهُوَ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ إِلَّا بِاللَّهِ ، وَإِذَا اخْتَارَ فَالْخِيَرَةُ لِلَّهِ تَجْرِي الْأُمُورُ بِمَشِيئَتِهِ وَإِرَادَتِهِ ، وَأَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ إِلَّا عَبْدَ اللَّهِ ، فَمَنْ طَلَبَ الرَّشَادَ فَلْيَعْمَلْ عَلَى كَمَالِ الْعُبُودِيَّةِ ، فَمَنْ صَدَّقَتْ لِلَّهِ عُبُودِيَّتُهُ خَلَصَتْ عَنْ رِقِّ الْأَغْيَارِ حُرِّيَّتُهُ .
Ia beriman kepada yang ghaib, beriman kepada qadha dan qadar, serta ketundukan manusia kepada kehendak Ilahi. Maka ia tidak mampu melakukan sesuatu kecuali dengan pertolongan Allah. Jika ia memilih, maka pilihan terbaik adalah bagi Allah, segala urusan berjalan dengan kehendak dan kehendak-Nya. Dan bahwa manusia tidak lain hanyalah hamba Allah. Maka barangsiapa yang mencari petunjuk, hendaklah ia berusaha mencapai kesempurnaan penghambaan. Barangsiapa yang penghambaannya kepada Allah benar, maka kebebasannya akan terlepas dari perbudakan kepada selain-Nya.
إِنَّ الْإِرَادَةَ تَسْتَهْدِفُ الْخَيْرَ الْمُطْلَقَ ، إِنَّ اللَّهَ سَوَّى الْأَنْفُسَ وَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ، وَإِنَّ السَّيْرَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي طَرِيقِ السَّعَادَةِ الْقُصْوَى ، فِي طَرِيقِ مَنْ لَيْسَ دُونَهُ مُنْتَهَى وَلَا وَرَاءَهُ مَرْمَى ، الْبَاطِنُ تَقَدَّسَا لَا عَدَمًا ، وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا .
Kehendak itu menargetkan kebaikan mutlak. Sesungguhnya Allah menyempurnakan jiwa dan mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan merugilah orang yang mengotorinya. Dan perjalanan itu harus berada di jalan kebahagiaan tertinggi, di jalan orang yang tidak ada tujuan akhir selain-Nya dan tidak ada jangkauan di balik-Nya, Yang Batin yang tersucikan, bukan tiada, yang meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَكُفُّ عَنْ أَنْ يَمُدَّنَا بِالْقُوَّةِ وَالنُّورِ ، فَمَنْ رَشَدَ جَعَلَ قُوَّتَهُ مِن قُوَّةِ اللَّهِ وَجَعَلَ نُورَ عَقْلِهِ وَنُورَ بَصِيرَتِهِ وَنُورَ بَصَرِهِ مِن نُّورِ النُّورِ ، فَيَنْطَلِقُ مُسْتَبْشِرًا مُتَهَلِّلًا بِالْفَرَحِ فِي طَرِيقِ النُّورِ شَاعِرًا بِخَصْبِ وُجُودِهِ وَامْتِلَائِهِ بِالْحِكْمَةِ ، وَمَنْ أُوتِيَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا .
Sesungguhnya Allah tidak pernah berhenti mengulurkan kekuatan dan cahaya kepada kita. Barangsiapa yang mendapat petunjuk, ia menjadikan kekuatannya dari kekuatan Allah dan menjadikan cahaya akalnya, cahaya pandangan batinnya, dan cahaya penglihatannya dari cahaya Sang Cahaya. Maka ia berangkat dengan gembira dan berseri-seri dalam jalan cahaya, merasakan kesuburan keberadaannya dan kepenuhannya dengan hikmah. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.
كَانَتِ الْمَشَاعِرُ تَمُوجُ فِي نَفْسِ مُحَمَّدٍ وَكَانَتِ الْحَقَائِقُ تَتَكْشَفُ فِي قَلْبِهِ ، فَكَانَ يُحَدِّثُ خَدِيجَةَ بِمَا يَجُولُ فِي رَأْسِهِ مِن خَوَاطِرَ وَمَا يَجِيشُ فِي صَدْرِهِ مِن أَفْكَارٍ وَمَا أَلْقَى فِي قَلْبِهِ مِن نُورٍ ، فَكَانَتْ خَدِيجَةُ تَسْتَبْشِرُ بِمَا يَقُولُ وَتَنْفَعِلُ بِهِ حَتَّى تُحِسُّ إِشْرَاقَ الْمَعَارِفِ فِي قَلْبِهَا وَتَهِيمُ مَعَهُ فِي رِحَابِ الْمَلَكُوتِ فَتَمْتَلِئُ بِلَذَّةٍ رُوحِيَّةٍ صَافِيَةٍ وَتَسْتَشْعِرُ سَعَادَةَ مَن يَدْنُو مِنَ السَّمَاءِ وَنَشْوَةَ مَن يَسْتَظِلُّ بِظِلِّ اللَّهِ .
Perasaan bergelora dalam jiwa Muhammad dan hakikat-hakikat tersingkap dalam hatinya. Beliau menceritakan kepada Khadijah tentang apa yang terlintas di kepalanya dari lintasan pikiran, apa yang bergejolak di dadanya dari pemikiran, dan apa yang Allah lemparkan ke dalam hatinya dari cahaya. Maka Khadijah merasa gembira dengan apa yang beliau katakan dan terpengaruh dengannya hingga ia merasakan pancaran pengetahuan di dalam hatinya dan ikut melayang bersamanya di cakrawala alam malakut, lalu dipenuhi dengan kenikmatan rohani yang murni dan merasakan kebahagiaan orang yang mendekat ke langit dan kenikmatan orang yang bernaung di bawah naungan Allah.
وَكَانَتْ إِذَا مَا جَلَسَتْ إِلَيْهِ تَذْهَلُ عَنْ نَفْسِهَا وَبَنَاتِهَا وَتِجَارَتِهَا وَآمالِهَا وَكُلِّ مَا طَافَ بِهَا مِن رُؤًى وَأَحْلَامٍ ، وَتَتَّجِهُ بِكُلِّ كِيَانِهَا إِلَى الْحَقِيقَةِ الْمُتَعَالِيَةِ تَرْشُفُ مِن رَحِيقِ الْإِيمَانِ بَرْدًا وَسَلَامًا وَطَمَأْنِينَةً وَأَمْنًا وَاسْتِقْرَارًا ، حَتَّى إِذَا مَا غَابَ عَنْهَا وَبَعُدَتْ عَن مَجَالِ تَأْثِيرِهِ هَاجَمَتْهَا أَفْكَارُهَا الْمُتَلَهِّفَةُ عَلَى تَحْقِيقِ الْحَلَمِ الَّذِي عَاشَ يُرَاوِدُهَا سِنِينَ ؛ حَلَمُ أَن يَكُونَ زَوْجُهَا الْأَمِينَ نَبِيَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ .
Apabila ia duduk di hadapan beliau, ia lupa akan dirinya, anak-anaknya, perdagangannya, cita-citanya, dan segala penglihatan serta mimpi yang mengelilinginya. Ia mengarahkan seluruh eksistensinya kepada kebenaran Yang Maha Tinggi, meneguk dari sari iman kesejukan, kedamaian, ketenangan, keamanan, dan kestabilan. Hingga ketika beliau pergi dan ia menjauh dari jangkauan pengaruhnya, pikiran-pikirannya yang rindu akan terwujudnya mimpi yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun menyerangnya; mimpi agar suaminya yang terpercaya menjadi nabi bagi umat ini.
كَانَتْ خَوَاطِرُهَا تُحَرِّضُهَا عَلَى أَن تَنْطَلِقَ إِلَى ابْنِ عَمِّهَا وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلٍ تَقُصُّ عَلَيْهِ مَا رَأَتْ مِن حَالِ زَوْجِهَا فِي خَلْوَتِهِ وَفِي مُنَاجَاتِهِ لِرَبِّهِ وَفِي أُنْسِهِ بِهِ وَتُحَدِّثُهُ عَنْ عَجَائِبِ الْمُكَاشَفَاتِ الَّتِي أَشْرَقَ بِهَا قَلْبُهُ بِنُورِ رَبِّهِ وَلَكِنَّهَا كَانَتْ تَغْلِقُ قَلْبَهَا دُونَ تِلْكَ الْخَوَاطِرِ ، وَتَلْزَمُ نَفْسَهَا بِالصَّبْرِ انْتِظَارًا لِمَشِيئَةِ اللَّهِ .
Pikiran-pikirannya mendorongnya untuk pergi kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal, untuk menceritakan apa yang dilihatnya mengenai keadaan suaminya dalam kesendiriannya, munajatnya kepada Tuhannya, dan keakrabannya dengan-Nya, serta menceritakan kepadanya tentang keajaiban penyingkapan yang telah menyinari hatinya dengan cahaya Tuhannya. Namun, ia menutup hatinya terhadap pikiran-pikiran itu dan memaksakan dirinya untuk bersabar menanti kehendak Allah.
وَرَاحَتِ الْأَيَّامُ تَمُرُّ وَخَدِيجَةُ تُقَاسِي فِي لَحَظَاتِ مُصَاحَبَتِهَا لِنَفْسِهَا مِن قَلَقِ التَّرَقُّبِ وَالِانْتِظَارِ وَقَدْ عَجَزَتْ عَن أَن تَصْمُدَ أَمَامَ إِلْحَاحِ الْفِكْرَةِ الْمُتَلَهِّفَةِ عَن إِشْرَاقِ النُّورِ مِن دَارِهَا ، وَمُدَاوَمَةِ إِلْحَاحِهَا عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ وَتَسَلُّطِهَا عَلَى كُلِّ كِيَانِهَا وَاحْتِلَالِ كُلِّ تَفْكِيرِهَا ، وَكَانَتْ لَا تَنْثَنِي وَلَا تَرِيمُ وَزَوْجُهَا فِي غَارِ حِرَاءَ يَتَحَنَّثُ لِرَبِّهِ وَيَقْطَعُ كُلَّ عَلَائِقِهِ بِالدُّنْيَا وَشَوَاغِلِهَا مِن أَهْلٍ وَأَوْلَادٍ وَأَصْحَابٍ وَتِجَارَةٍ وَبَيْعٍ فِي سَبِيلِ وَجْهِ اللَّهِ .
Hari-hari berlalu dan Khadijah menanggung dalam saat-saat ia bersama dirinya sendiri rasa cemas akan penantian. Ia tidak mampu lagi bertahan menghadapi desakan gagasan yang merindukan terbitnya cahaya dari rumahnya, desakan yang terus-menerus pada irama yang sama, menguasai seluruh keberadaannya, dan menduduki seluruh pikirannya. Ia tidak berpaling dan tidak berhenti sementara suaminya berada di gua Hira, beribadah kepada Tuhannya dan memutuskan segala ikatannya dengan dunia serta kesibukannya—dari keluarga, anak-anak, sahabat, perdagangan, dan penjualan—demi mengharap wajah Allah.
وَأَلْفَتْ خَدِيجَةُ نَفْسَهَا حَبِيسَةً مَعَ تِلْكَ الْفِكْرَةِ الْمُلِحَّةِ الَّتِي تُرِيدُ أَن تَسْبِقَ الزَّمَنَ أَوْ تَرْفَعَ الْأَسْجَافَ عَنِ الْغَيْبِ لِتَرَى تَحْقِيقَ أَمَانِيهَا وَمَا بَشَّرَتْ بِهِ ، فَلَم تَعُدْ تَحْتَمِلُ مُقَاوَمَةَ ذَلِكَ الْإِلْحَاحِ الْمُتَّصِلِ فَرَأَتْ أَن تَفِرَّ مِنْهُ إِلَى ابْنِ عَمِّهَا الشَّيْخِ الْجَلِيلِ وَرَقَةَ ، لَعَلَّهَا تَجِدُ عِنْدَهُ سَلْوَى تُعِيدُ إِلَى نَفْسِهَا الطُّمَأْنِينَةَ الَّتِي هَجَرَتْهَا وَتُثَبِّتُ دَعَائِمَ الصَّبْرِ فِي الْقَلْبِ الْمُتَشَوِّفِ إِلَى غَيْبِ السَّمَاءِ .
Khadijah mendapati dirinya terkurung bersama gagasan mendesak itu yang ingin mendahului waktu atau menyingkap tabir ghaib untuk melihat terwujudnya harapan-harapannya dan apa yang telah dikabarkan kepadanya. Ia tidak lagi mampu menahan desakan yang terus-menerus itu, maka ia memutuskan untuk lari darinya kepada sepupunya, sang syekh agung Waraqah, berharap ia dapat menemukan penghiburan di sisinya yang akan mengembalikan ketenangan yang telah meninggalkannya dan mengokohkan pilar-pilar kesabaran di dalam hati yang rindu akan ghaib langit.
وَدَخَلَتْ خَدِيجَةُ عَلَى الشَّيْخِ الْجَلِيلِ فَأَلْفَتْهُ عَاكِفًا عَلَى كُتُبِهِ يَجْتَهِدُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَن يَكْشِفَ مَا فِيهَا مِن أَنْوَارٍ لَعَلَّهُ يَهْتَدِي بِنُورِهَا إِلَى طَرِيقِ السَّالِكِينَ إِلَى اللَّهِ ، فَالشَّيْخُ الَّذِي أَفْنَى عُمْرَهُ فِي الرِّحَلَاتِ وَفِي الْكُتُبِ لَا يَزَالُ يَبْحَثُ عَنِ السَّبِيلِ وَقَصَدَ السَّبِيلَ فَقَدْ شُغِلَ بِالْكُتُبِ عَنِ اللَّهِ وَمَن شُغِلَ قَلْبُهُ بِغَيْرِ اللَّهِ لَم يَعْرِفْ كَمَالَ الْكَمَالِ ، وَلَوْ هَدَاهُ اللَّهُ وَتَجَلَّى عَلَيْهِ بِالْبَرَكَاتِ لَسَعِدَتْ رُوحُهُ بِلَذَّةِ الْوِصَالِ وَلَغَمَرَتْهُ لَطَائِفُ الرَّحْمَةِ وَلَنَهِلَ الْعِلْمَ مِن خَزَائِنِ الْمَلَكُوتِ .
Khadijah masuk menemui syekh agung itu dan mendapatinya tekun dengan buku-bukunya, bersungguh-sungguh menekuninya, dan mencoba menyingkap cahaya yang ada di dalamnya, berharap ia mendapat petunjuk dengan cahayanya ke jalan orang-orang yang menuju kepada Allah. Syekh yang telah menghabiskan usianya dalam perjalanan dan buku-buku itu masih saja mencari jalan dan menempuh jalan itu; ia tersibukkan dengan buku-buku dari Allah, dan barangsiapa yang hatinya tersibukkan dengan selain Allah, maka ia tidak akan mengetahui kesempurnaan yang sesungguhnya. Seandainya Allah memberinya petunjuk dan menampakkan kepadanya keberkahan, niscaya ruhnya akan bahagia dengan kenikmatan persambungan, kelembutan rahmat akan membanjirinya, dan ia akan menimba ilmu dari gudang-gudang alam malakut.
وَمَسَّ صَوْتُ خَدِيجَةَ أُذُنَيْهِ فَرَفَعَ الشَّيْخُ رَأْسَهُ وَأَشْرَقَ وَجْهُهُ بِابْتِسَامَةٍ رَقِيقَةٍ فَأَقْبَلَتْ عَلَيْهِ تَحِيُّهُ فِي احْتِرَامٍ ، ثُمَّ جَلَسَتْ إِلَيْهِ تُحَدِّثُهُ عَن زَوْجِهَا الَّذِي أَشْرَقَ الْعِلْمُ فِي قَلْبِهِ دُونَ أَن يَنْظُرَ فِي كِتَابٍ ، وَتَلَقَّى الْحِكْمَةَ مِن فَوْقِ السَّمَوَاتِ بِطُولِ السَّهَرِ مَعَ الْخَبِيرِ الْعَلِيمِ ، وَاسْتَمَرَّتْ تَقُصُّ عَلَى وَرَقَةَ أَفْعَالَ زَوْجِهَا وَهِيَ مُسْتَبْشِرَةٌ قَدْ تَدَسَّسَتْ فِي صَدْرِهَا حَمَاسَةٌ طَاغِيَةٌ ، فَأَرْهَفَتْ حَوَاسُ الشَّيْخِ وَأَلْقَى إِلَيْهَا سَمْعَهُ وَهُوَ مُنْفَعِلٌ بِالْأَحْدَاثِ الَّتِي تَرْوِيهَا عَن حَالِ الْأَمِينِ فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ ، فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ ، وَكَانَتْ كُلُّهَا تَفْصَحُ عَن صُحْبَتِهِ الدَّائِمَةِ لِلَّهِ ، فَهُوَ يَعِيشُ لَهُ وَيَفِرُّ مِنْهُ لَيْسَ لَهُ قَصْدٌ إِلَّا وَجْهُهُ الْكَرِيمُ .
Suara Khadijah menyentuh telinganya, maka Syekh mengangkat kepalanya dan wajahnya bersinar dengan senyum lembut. Ia mendekat untuk menyapanya dengan penuh hormat, kemudian duduk di dekatnya menceritakan tentang suaminya yang ilmu telah bersinar di hatinya tanpa harus melihat kitab, dan menerima hikmah dari atas langit dengan begadang bersama Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mendalam. Ia terus menceritakan kepada Waraqah tindakan-tindakan suaminya dengan perasaan gembira yang telah menyelinap ke dadanya berupa semangat yang meluap. Maka indra Syekh menajam dan ia mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, ia terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa yang ia ceritakan tentang keadaan al-Amin (orang terpercaya) di malam dan siangnya, dalam sadar maupun tidurnya. Semuanya menceritakan tentang kebersamaannya yang abadi dengan Allah; ia hidup untuk-Nya dan lari menuju-Nya, tidak memiliki tujuan kecuali wajah-Nya yang mulia.
أَقْبَلَتْ خَدِيجَةُ عَلَى الشَّيْخِ وَهِيَ تَرْجُو أَن تَجِدَ عِنْدَهُ مَا يُنْزِلُ السَّكِينَةَ عَلَى قَلْبِهَا الْقَلِقِ ، فَإِذَا بِالشَّيْخِ يَنْفَعِلُ وَيُصْبِحُ أَكْثَرَ لَهْفَةً عَلَى قُدُومِ ذَلِكَ الْأَغَرِّ الَّذِي يَظْهَرُ فِيهِ النَّبِيُّ الْمُنْتَظَرُ الَّذِي بُشِّرَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ ، فَإِذَا بِهِ يَسْتَبْطِئُ الْأَمْرَ وَيَقُولُ :
— حَتَّى مَتَى ؟
وَبَلَغَ تَأَثُّرُهُ مُنْتَهَاهُ فَقَدْ كَانَ يَقُولُ لِابْنَةِ عَمِّهِ حِينَا كَانَتْ تَسْأَلُهُ عَن أَمْرِ زَوْجِهَا الْعَزِيزِ :
« مَا أَرَاهُ إِلَّا نَبِيَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ مُوسَى وَعِيسَى » ، وَإِذَا بِالِانْتِظَارِ قَدْ طَالَ ، فَرَاحَ يَنْشِدُ :
Khadijah datang menemui Syekh dengan harapan menemukan sesuatu yang menurunkan ketenangan di hatinya yang cemas. Namun, Syekh justru merasa terpengaruh dan menjadi lebih merindukan kedatangan sosok agung di mana nabi yang dinantikan—yang telah dikabarkan oleh para nabi—akan muncul. Ia merasa urusan itu berjalan lambat dan berkata:
— Hingga kapan?
Keterpengaruhannya mencapai puncaknya, karena ia pernah berkata kepada sepupunya ketika ia bertanya tentang urusan suaminya yang tercinta:
« Aku tidak melihatnya melainkan nabi bagi umat ini yang telah dikabarkan oleh Musa dan Isa ». Dan ternyata penantian itu telah berlangsung lama, maka ia pun mulai melantunkan:
لَجِجْتُ وَكُنْتُ فِي الذِّكْرَى لُجُوجَا لَهُمْ طَالَمَا بَعَثَ النَّشِيجَا
[Shadr] Aku bersikeras dan terus-menerus dalam kenangan,
[Ajuz] bagi mereka yang selalu membangkitkan isak tangis.
وَوَصْفُ مَنْ خَدِيجَةَ بَعْدَ وَصْفٍ فَقَدْ طَالَ انْتِظَارِي يَا خَدِيجَا
[Shadr] Dan deskripsi dari Khadijah demi deskripsi,
[Ajuz] sungguh penantianku telah lama, wahai Khadijah.
يَطِنُّ الْمَكْتِينَ عَلَى رَجَائِي حَدِيثُكِ أَنْ أَرَى مِنْهُ خُرُوجَا
[Shadr] Bergema rasa putus asa atas harapanku,
[Ajuz] perkataanmu bahwa aku akan melihat kemunculannya.
بِمَا خَبَّرْتِنَا مِنْ قَوْلِ قَسٍ مِنَ الرُّهْبَانِ أَكْرَهُ أَنْ يُعُوجَا
[Shadr] Dengan apa yang kau kabarkan dari perkataan Qas,
[Ajuz] dari rahib yang aku tidak suka jika ia menyimpang.
بِأَنَّ مُحَمَّدًا سَيَسُودُ فِينَا وَيَخْصِمُ مَنْ يَكُونُ لَهُ حَجِيجَا
[Shadr] Bahwa Muhammad akan memimpin di antara kita,
[Ajuz] dan akan mengalahkan siapa saja yang mendebatnya.
وَيَظْهَرُ فِي الْبِلَادِ ضِيَاءُ نُورٍ يُسْقِمُ بِهِ الْبَرِيَّةَ أَنْ تَعُوجَا
[Shadr] Dan akan muncul di negeri ini sinar cahaya,
[Ajuz] yang dengan itu ia menyembuhkan makhluk agar tidak menyimpang.
فَيَلْقَى مَنْ يُحَارِبُهُ خَسَارًا وَيَلْقَى مَنْ يُسَالِمُهُ فُلُوجَا
[Shadr] Maka siapa yang memeranginya akan menemui kerugian,
[Ajuz] dan siapa yang berdamai dengannya akan menemui kemenangan.
فَيَالَيْتِي إِذَا مَا كَانَ ذَاكُمْ شَهِدْتُ فَكُنْتُ أَوَّلَهُمْ وُلُوجَا
[Shadr] Maka andaikata saat itu telah tiba,
[Ajuz] aku menyaksikannya dan menjadi orang pertama yang memasukinya.
هامش: (١) الظُّهُورُ عَلَى الْخَصْمِ وَالْعَدُوِّ .
Catatan: (1) Muncul/menang atas lawan dan musuh.
وَقَامَتْ خَدِيجَةُ وَمَا شَفَى الشَّيْخُ لَهَا غَلِيلًا فَمَا كَانَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ يَمْلِكُ مَفَاتِيحَ الْغَيْبِ ، فَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ .
Khadijah pun berdiri, dan sang Syekh tidaklah menghilangkan dahaga hatinya, karena Waraqah bin Naufal tidak memiliki kunci-kunci perkara ghaib. Sesungguhnya hanya milik Allah-lah perkara ghaib langit dan bumi, dan Allah lebih mengetahui di mana Ia meletakkan risalah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar