BLOG ANAK BETAWI ASLI (BABA)

Jiwa Pendidik; Catatan Cinta dan Cerita Goresan Hidup Abi Thoufur

MRWM - Khadijah Bintu Khuwailid - Episode 29

KHADIJAH BINTU KHUWAILID
Abdul Hamid Judah As-Sahhar

Perselisihan di Bawah Bayang Hajar Aswad: Saat Sang Amin Menyatukan Retaknya Quraisy

Ego suku-suku Quraisy hampir memicu pertumpahan darah saat perebutan penempatan Hajar Aswad. Namun, kehadiran Muhammad muda dengan hikmahnya mampu memadamkan api perselisihan, membuktikan bahwa sifat Al-Amin adalah kunci ketenangan hati dan persatuan.

رَاحَتِ امْرَأَةٌ تُبَخِّرُ الْكَعْبَةَ وَهِيَ تَتْلُو الْأَدْعِيَةَ وَتَبْتَهِلُ إِلَى الْآلِهَةِ فَطَارَتْ شَرَارَةٌ فِي ثِيَابِ الْكَعْبَةِ مَا لَبِثَتْ أَنْ سَرَتْ فَتَأَجَّجَتِ النِّيرَانُ فِي الْكِسْوَةِ وَتَرَاقَصَتْ أَلْسِنَتُهَا ، فَهَرَعَ النَّاسُ إِلَى الْحَرَمِ مَفْزُوعِينَ وَاجْتَهَدُوا فِي إِخْمَادِ النَّارِ وَقَدْ نَزَلَتْ فِي قُلُوبِهِمْ رَهْبَةٌ ، خَشْيَةَ أَنْ تَثْأَرَ الْآلِهَةُ مِنْهُمْ لِمَا نَالَ الْبَيْتَ الْمُقَدَّسِ .
Seorang wanita memberi wewangian (buhur) pada Ka'bah sembari melantunkan doa-doa dan memohon kepada tuhan-tuhan, maka melompatlah percikan api ke pakaian (kiswah) Ka'bah yang tak lama kemudian merambat, sehingga berkobar api pada kiswah tersebut dan lidah apinya menari-nari, maka bergegaslah orang-orang ke Al-Haram dalam keadaan ketakutan dan mereka bersungguh-sungguh memadamkan api tersebut, dan telah turun di dalam hati mereka rasa takut, karena khawatir tuhan-tuhan akan membalas mereka atas apa yang menimpa Baitul Muqaddas.
وَأَقْبَلَ سَادَاتُ قُرَيْشٍ يَفْحَصُونَ عَنِ الْبَيْتِ فَوَجَدُوا أَنَّ جُدْرَانَهُ قَدْ أَصَابَهَا الْوَهْنُ مِنَ الْحَرِيقِ ، وَفِي دَارِ النَّدْوَةِ أَدَارُوا الرَّأْيَ بَيْنَهُمْ فَاسْتَقَرَ رَأْيُهُمْ عَلَى أَنْ يَدَعُوا الْبَيْتَ عَلَى حَالِهِ وَأَنْ يَكْتَفُوا بِكُسْوَتِهِ كِسْوَةً جَدِيدَةً ، وَأَنْ يُقَدِّمُوا الْقَرَابِينَ تَسْكِينًا لِغَضَبِ الْآلِهَةِ .
Dan para pemuka Quraisy datang memeriksa Ka'bah, mereka mendapati dinding-dindingnya telah menjadi lemah akibat kebakaran, dan di Darun Nadwah mereka bertukar pendapat hingga ketetapan pendapat mereka adalah membiarkan Ka'bah dalam keadaannya dan mencukupkan diri dengan memakaikan kiswah baru padanya, serta mempersembahkan kurban untuk meredam murka tuhan-tuhan.
وَجَاءَ الشِّتَاءُ وَإِذَا بِأَمْطَارٍ غَزِيرَةٍ تَهْطِلُ عَلَى جِبَالِ مَكَّةَ فَتَجْرِي سُيُولًا إِلَى وِدْيَانِهَا تَقْتَلِعُ الْأَشْجَارَ وَتَجْرُفُ الْحِجَارَةَ وَتَرْتَفِعُ مِنْ فَوْقِ الرَّدْمِ الَّذِي صَنَعُوهُ لِيَصُونَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ مِنَ السَّيْلِ وَيَمْنَعَهُ ، فَتَدَفَّقَتِ الْمِيَاهُ إِلَى الْكَعْبَةِ وَسَالَتْ فِي شَوَارِعِ مَكَّةَ وَطُرُقَاتِهَا .
Dan datanglah musim dingin, tiba-tiba hujan deras mengguyur pegunungan Makkah, mengalir menjadi banjir ke lembah-lembahnya, mencabut pepohonan, menghanyutkan bebatuan, dan naik ke atas bendungan yang telah mereka buat untuk melindungi Baitul Haram dari banjir dan mencegahnya, maka air pun meluap ke Ka'bah dan mengalir ke jalan-jalan serta lorong-lorong Makkah.
وَأَشْرَقَتِ السَّمَاءُ بَعْدَ بُكَائِهَا وَغَاضَ الْمَاءُ وَخَفَّ النَّاسُ إِلَى بَيْتِهِمُ الْمُقَدَّسِ الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَقَدِ انْتَشَرَ بَيْنَ جُنُوبِهِمْ خَوْفٌ وَقَلَقٌ ، فَلَمَّا رَأَوْا مَا حَاقَ بِالْبَيْتِ زَادَ خَوْفُهُمْ وَرَبَا قَلَقُهُمْ فَقَدْ أَلْفَوْا جُدْرَانَ الْكَعْبَةِ قَدْ تَصَدَّعَتْ بَعْدَ تَوْهِينِهَا مِنَ الْحَرِيقِ الَّذِي أَصَابَهَا ، فَقَدْ كَانُوا عَلَى عِلْمٍ بِأَنَّ ذَلِكَ الْبَيْتَ لَوْ ذَهَبَ لَذَهَبَتْ مَكَّةُ بَلْ لَذَهَبَتْ رِيحُ الْعَرَبِ .
Langit pun terang setelah tangisannya, air pun surut, dan orang-orang bergegas menuju rumah suci mereka yang Allah jadikan sebagai tempat berkumpul dan rasa aman, sementara rasa takut dan cemas telah menyebar di antara mereka. Ketika mereka melihat apa yang menimpa rumah tersebut, ketakutan mereka bertambah dan kecemasan mereka meningkat, karena mereka mendapati dinding-dinding Ka'bah telah retak setelah dilemahkan oleh kebakaran yang menimpanya, sebab mereka sadar bahwa jika rumah itu hilang, maka hilanglah Makkah, bahkan lenyaplah kejayaan bangsa Arab.
وَاجْتَمَعَ أَشْرَافُ قُرَيْشٍ يُقَلِّبُونَ الرَّأْيَ حَتَّى انْتَهَى أَمْرُهُمْ إِلَى ضَرُورَةِ هَدْمِهَا وَإِعَادَةِ بِنَائِهَا ، وَأَنْ يَشِيدُوا بُنْيَانَهَا وَيَرْفَعُوا بَابَهَا حَتَّى لَا يَدْخُلَهَا إِلَّا مَنْ شَاءُوا . وَوَافَقُوا عَلَى مَا انْتَهَوْا إِلَيْهِ وَلَكِنْ مِنْ أَيْنَ لَهُمُ الْأَخْشَابُ وَالنَّجَّارُونَ وَالْبَنَّاءُونَ وَالْمُهَنْدِسُونَ الَّذِينَ يَقُومُونَ بِهَذَا الْعَمَلِ وَيُشْرِفُونَ عَلَى تَنْفِيذِهِ ؟
Para pemuka Quraisy berkumpul menimbang pendapat hingga urusan mereka berakhir pada keharusan merobohkannya dan membangunnya kembali, serta mendirikan bangunannya dan meninggikan pintunya agar tidak ada yang bisa masuk kecuali atas kehendak mereka. Mereka menyepakati apa yang telah mereka putuskan itu, tetapi dari mana mereka akan mendapatkan kayu-kayu, tukang kayu, tukang bangunan, dan insinyur yang akan melakukan pekerjaan ini dan mengawasi pelaksanaannya?
كَانَ إِمْبَرَاطُورُ الرُّومِ قَدْ أَرْسَلَ سَفِينَةً مُحَمَّلَةً بِالرُّخَامِ وَالْخَشَبِ وَالْحَدِيدِ سَرَحَهَا مَعَ بَاقُومَ الْمُهَنْدِسِ الرُّومِيِّ إِلَى الْكَنِيسَةِ الَّتِي حَرَقَهَا الْفُرْسُ بِالْحَبَشَةِ لِيُعِيدَ بِنَاءَهَا تَقَرُّبًا لِرَبِّهِ وَكَسْبًا لِوُدِّ الْأَحْبَاشِ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى النَّصْرَانِيَّةِ ، وَكَانُوا عَلَى حُدُودِ مَمْلَكَةِ الْيَمَنِ الَّتِي احْتَلَّهَا الْفُرْسُ وَطَرَدُوا مِنْهَا حُلَفَاءَهُ ، فَقَدْ تَرَاوَدَهُ فِكْرَةُ مُنَاوَئَةِ الْفُرْسِ هُنَاكَ ، وَتَحْرِيضُ الْحَبَشَةِ عَلَى إِعَادَةِ غَزْوِ الْيَمَنِ لِفَتْحِ جَبْهَةٍ ثَانِيَةٍ فِي الْحَرْبِ الْمُشْتَعِلَةِ الْأَوَارِ بَيْنَ الْإِمْبَرَاطُورِيَّتَيْنِ الْمُتَنَافِسَتَيْنِ عَلَى سِيَادَةِ الْعَالَمِ .
Kaisar Romawi telah mengirim sebuah kapal yang bermuatan marmer, kayu, dan besi, ia melepaskannya bersama Baqum, seorang insinyur Romawi, menuju gereja yang dibakar oleh orang-orang Persia di Habasyah agar ia membangunnya kembali sebagai bentuk pendekatan diri kepada tuhannya dan untuk menarik simpati orang-orang Habasyah yang beragama Nasrani. Mereka berada di perbatasan kerajaan Yaman yang telah diduduki oleh orang-orang Persia dan mengusir sekutu-sekutunya dari sana. Maka muncul dalam benaknya gagasan untuk melawan orang-orang Persia di sana dan menghasut Habasyah untuk kembali menyerang Yaman guna membuka front kedua dalam perang yang berkecamuk hebat antara dua kekaisaran yang bersaing memperebutkan dominasi dunia.
كَانَتِ السَّفِينَةُ تَمْخُرُ عُبَابَ الْبَحْرِ الْأَحْمَرِ حَتَّى إِذَا مَا بَلَغَتْ جُدَّةَ - سَاحِلَ مَكَّةَ - بَعَثَ اللهُ عَلَيْهَا رِيحًا فَاضْطَرَبَتِ اضْطِرَابًا شَدِيدًا ، وَأَلْقَى الرُّعْبُ فِي قَلْبِ قُبْطَانِهَا فَأَرَادَ أَنْ يَحْتَمِيَ بِالشَّاطِئِ فَانْدَفَعَ إِلَيْهِ وَالسَّفِينَةُ تَتَمَاوَجُ مَعَ الرِّيحِ وَقَدْ فَقَدَ سَيْطَرَتَهُ عَلَيْهَا ، فَإِذَا بِهَا تَرْتَطِمُ بِالصُّخُورِ وَإِذَا بِأَصْوَاتِ مَنْ عَلَيْهَا مِنْ نَجَّارِينَ وَحَدَّادِينَ وَبَنَّاءِينَ وَبَحَّارَةٍ تَشُقُّ أَجْوَازَ السَّمَاءِ رُعْبًا وَإِذَا بِهِمْ يُلْقُونَ بِأَنْفُسِهِمْ فِي الْبَحْرِ الْتِمَاسًا لِلنَّجَاةِ ، وَجَنَحَتِ السَّفِينَةُ ثُمَّ اسْتَقَرَّتْ عَلَى الصُّخُورِ حُطَامًا ..
Kapal tersebut membelah ombak Laut Merah hingga ketika mencapai Jeddah - pantai Makkah - Allah mengirimkan angin padanya, maka ia berguncang dengan sangat hebat. Ketakutan menyelimuti hati nakhodanya, ia ingin berlindung di pantai, maka ia melaju ke sana sementara kapal terombang-ambing oleh angin dan ia telah kehilangan kendali atasnya. Tiba-tiba kapal menabrak bebatuan, dan suara-suara orang yang ada di dalamnya, yaitu para tukang kayu, tukang besi, tukang bangunan, dan pelaut, memecah angkasa karena ketakutan. Mereka pun melemparkan diri mereka ke laut demi mencari keselamatan, dan kapal itu kandas lalu teronggok di atas bebatuan sebagai puing-puing..
وَجَاءَ الْخَبَرُ إِلَى مَكَّةَ أَنَّ سَفِينَةً رُومِيَّةً مُحَمَّلَةً بِالرُّخَامِ وَالْأَخْشَابِ وَالنَّجَّارِينَ وَالْحَدَّادِينَ وَالْبَنَّاءِينَ قَدْ كَسَرَتْهَا الرِّيَاحُ وَأَنَّهَا رَاقِدَةٌ هُنَاكَ عَلَى السَّاحِلِ ، فَاسْتَبْشَرَ الْمَكِّيُّونَ وَأَحَسُّوا أَنَّ ذَلِكَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللهُ إِلَيْهِمْ وَأَنَّهُ بُرْهَانٌ عَلَى رِضَاهُ عَلَى مَا عَقَدُوا عَلَيْهِ النِّيَّةَ .
Kabar sampai ke Makkah bahwa sebuah kapal Romawi yang bermuatan marmer, kayu-kayu, para tukang kayu, tukang besi, dan tukang bangunan telah dipecahkan oleh angin dan kini tergeletak di sana di tepi pantai. Maka penduduk Makkah pun bergembira dan merasakan bahwa hal itu adalah rezeki yang Allah giring kepada mereka dan bahwa itu adalah bukti atas keridaan-Nya terhadap niat yang telah mereka tetapkan.
وَقَامَ أَبُو وَهْبِ بْنِ عُائِذٍ خَالُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَكَانَ شَرِيفًا فِي قَوْمِهِ ، وَقَالَ :
Abu Wahb bin 'A'idz, paman dari Abdullah bin Abdul Muthalib, yang merupakan seorang yang mulia di kaumnya, berdiri dan berkata:
— لَا تُدْخِلُوا فِي نَفَقَةِ هَذَا الْبَيْتِ مَهْرَ بَغِيٍّ وَلَا بَيْعَ رِبًا ، وَلَا تَجْعَلُوا فِيهِ شَيْئًا أَصَبْتُمُوهُ فِيهِ قَطَعْتُمْ فِيهِ رَحِمًا أَوْ لَا انْتَهَكْتُمْ فِيهِ حُرْمَةً وَبَيْنَكُمْ وَبَيْنَ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ .
— Janganlah kalian masukkan ke dalam nafkah (biaya pembangunan) rumah ini mahar pelacur, hasil jual beli riba, dan janganlah kalian jadikan di dalamnya sesuatu yang kalian peroleh darinya dengan memutuskan tali silaturahmi atau dengan melanggar kehormatan antara kalian dan seseorang dari manusia.
وَاجْتَمَعَتِ الْقَبَائِلُ لِهَدْمِ بَيْتِهِمُ الْمُقَدَّسِ فَهَابُوا هَدْمَهُ وَفَرِقُوا مِنْهُ خَشْيَةَ أَنْ يَنْزِلَ رَبُّ الْبَيْتِ بِهِمْ بَلَاءً ، فَقَامَ الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ وَقَالَ لَهُمْ :
Suku-suku berkumpul untuk merobohkan rumah suci mereka namun mereka takut untuk merobohkannya dan merasa khawatir jika Tuhan pemilik rumah itu menurunkan bencana kepada mereka, maka Walid bin Mughirah berdiri dan berkata kepada mereka:
— أَتُرِيدُونَ بِهَدْمِهَا الْإِصْلَاحَ أَمِ الْإِسَاءَةَ ؟
— Apakah kalian menginginkan dengan merobohkannya sebuah perbaikan atau keburukan?
قَالُوا فِي أَصْوَاتٍ مُضْطَرِبَةٍ :
Mereka menjawab dengan suara-suara yang cemas:
— بَلْ نُرِيدُ الْإِصْلَاحَ .
— Bahkan kami menginginkan perbaikan.
قَالَ فِي ثَبَاتٍ :
Ia berkata dengan tegas:
— فَإِنَّ اللهَ لَا يُهْلِكُ الْمُصْلِحِينَ .
— Maka sesungguhnya Allah tidak membinasakan orang-orang yang berbuat perbaikan.
قَالُوا وَهُمْ يَتَلَفَّتُونَ :
Mereka berkata sambil menoleh (ke kanan-kiri):
— مَنِ الَّذِي يَعْلُوهَا فَيَهْدِمُهَا ؟
— Siapa yang mau naik ke atasnya untuk merobohkannya?
قَالَ فِي شَجَاعَةٍ :
Ia berkata dengan berani:
— أَنَا أَعْلُوهَا وَأَنَا أَبْدَؤُكُمْ فِي هَدْمِهَا .
— Aku yang akan naik ke atasnya dan aku yang akan memulai bagi kalian dalam merobohkannya.
فَأَخَذَ الْمِعْوَلَ ، ثُمَّ قَامَ عَلَيْهَا وَالْقُلُوبُ وَاجِفَةٌ وَالنَّظَرَاتُ زَائِغَةٌ وَقَدْ تَأَهَّبُوا جَمِيعًا لِلْفِرَارِ إِذَا مَا بَدَا أَنَّ اللهَ سَيَنْزِلُ غَضَبَهُ عَلَى مَنْ جَرُؤَ عَلَى هَدْمِ بَيْتِهِ ، وَوَقَفَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ يَنْظُرُ إِلَى أَبِيهِ فِي إِعْجَابٍ وَإِكْبَارٍ فَقَدْ فَذَوَرَثَ عَنْهُ الشَّجَاعَةَ وَثَبَاتَ الْجَنَانِ .
Ia mengambil alat penggali (cangkul/martil besar), kemudian ia naik ke atasnya sementara hati-hati orang sedang berdebar, pandangan mata nanar, dan mereka semua telah bersiap untuk lari jika tampak bahwa Allah akan menurunkan murka-Nya kepada orang yang berani merobohkan rumah-Nya. Khalid bin Walid berdiri memandang ayahnya dengan kagum dan takzim, karena ia telah mewarisi keberanian dan keteguhan hati darinya.
وَرَفَعَ الْمِعْوَلَ ثُمَّ هَدَمَ مِنْ نَاحِيَةِ الرُّكْنَيْنِ وَقَدْ كَتَمَ النَّاسُ أَنْفَاسَهُمْ فِي إِشْفَاقٍ وَحَذَرٍ ، ثُمَّ قَالَ :
Ia mengangkat alat penggali kemudian merobohkan dari arah dua rukun (sudut Ka'bah) sementara orang-orang menahan napas mereka dalam rasa iba dan waspada, kemudian ia berkata:
— اللَّهُمَّ لَا تُرَعْ ، لَا نُرِيدُ إِلَّا الْخَيْرَ .
— Ya Allah janganlah Engkau buat takut, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.
وَرَفَعَ الْمِعْوَلَ ثُمَّ هَدَمَ مِنْ نَاحِيَةِ الرُّكْنَيْنِ ، وَقَدْ كَتَمَ النَّاسُ أَنْفَاسَهُمْ وَأَرْهَفَتْ مَشَاعِرَهُمْ وَرَاحُوا يَتَلَفَّتُونَ وَيَتَرَقَّبُونَ مَا سَيَحِيقُ بِالْوَلِيدِ مِنِ انْتِقَامٍ ، وَانْقَضَى النَّهَارُ وَانْصَرَفَ الْوَلِيدُ إِلَى دَارِهِ وَانْصَرَفَ النَّاسُ إِلَى دُورِهِمْ يَتَرَبَّصُونَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَقَالُوا :
Ia mengangkat alat penggali kemudian merobohkan dari arah dua rukun, sementara orang-orang menahan napas mereka, perasaan mereka menjadi peka, dan mereka mulai menoleh dan menunggu-nunggu apa pembalasan yang akan menimpa Walid. Siang berlalu, Walid pun beranjak ke rumahnya, orang-orang pun beranjak ke rumah mereka masing-masing sambil menunggu-nunggu malam itu dan berkata:
— نَنْظُرُ فَإِنْ أُصِيبَ لَمْ نَهْدِمْ مِنْهَا شَيْئًا وَرَدَدْنَاهَا كَمَا كَانَتْ ، وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ شَيْءٌ هَدَمْنَاهَا ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ مَا صَنَعْنَا .
— Kita lihat, jika ia tertimpa musibah, kita tidak akan merobohkan darinya sedikit pun dan kita kembalikan sebagaimana adanya, namun jika ia tidak tertimpa apa-apa, kita robohkan karena Allah telah meridai apa yang telah kita lakukan.
لَمْ تَعْرِفْ مَكَّةُ النَّوْمَ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ ، كَانَتِ الْأَنْظَارُ مُتَّجِهَةً إِلَى بَيْتِ الْوَلِيدِ وَالْقُلُوبُ تَعَلَّقَتْ بِهِ وَالْآذَانُ مُرْهَفَةٌ تُحْصِي مَا يَدُورُ فِيهِ مِنْ أَصْوَاتٍ فَقَدْ يَرْتَفِعُ مِنْهُ فِي سُكُونِ اللَّيْلِ صَوْتُ النَّاعِي لِيَكُونَ لَهُمْ نَذِيرًا ، فَأَهْلُ مَكَّةَ كَانُوا يَرْتَجِفُونَ خَشْيَةَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمُ الْعَذَابُ .
Makkah tidak mengenal tidur pada malam itu, pandangan mata tertuju pada rumah Walid dan hati-hati tertambat padanya, telinga-telinga pun peka menghitung apa yang beredar di dalamnya berupa suara-suara, karena mungkin akan muncul darinya di kesunyian malam suara pemberi kabar duka sebagai peringatan bagi mereka. Penduduk Makkah gemetar karena takut jika siksa menimpa mereka.
فَأَصْبَحَ الْوَلِيدُ مِنْ لَيْلَتِهِ غَادِيًا إِلَى عَمَلِهِ فَقَامَ عَلَى الْكَعْبَةِ وَرَاحَ يَعْمَلُ الْمِعْوَلَ فِيهَا ، فَاطْمَأَنَّ النَّاسُ إِلَى أَنَّ اللهَ قَدْ رَضِيَ عَنْ عَمَلِهِمْ وَعَادَتِ الثِّقَةُ إِلَى نُفُوسِهِمْ فَرَاحُوا يَهْدِمُونَ مَعَهُ حَتَّى انْتَهَى الْهَدْمُ بِهِمْ إِلَى الْأَسَاسِ : أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ ، فَإِذَا بِحِجَارَةٍ خَضِرَةٍ كَأَسْنِمَةِ الْإِبِلِ أَخَذَ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ ، فَأَدْخَلَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَهْدِمُ عَتَلَتَهُ بَيْنَ حَجَرَيْنِ مِنْهَا لِيَقْلَعَ بِهَا بَعْضَهَا ، فَلَمْ يَتَحَرَّكِ الْحَجَرُ وَبَدَا كَأَنَّ مَكَّةَ قَدْ تَحَرَّكَتْ بِأَسْرِهَا ، فَانْتَهَوْا عَنْ ذَلِكَ الْأَسَاسِ .
Pagi harinya Walid kembali ke pekerjaannya, ia berdiri di Ka'bah dan mulai menggunakan alat penggali padanya. Orang-orang pun menjadi tenang bahwa Allah telah meridai pekerjaan mereka, kepercayaan kembali ke dalam jiwa mereka, maka mereka ikut merobohkan bersamanya hingga perobohan berakhir sampai ke fondasi: fondasi Ibrahim. Tiba-tiba tampak bebatuan hijau seperti punuk unta yang saling mengunci satu sama lain. Seorang pria dari mereka yang sedang merobohkan memasukkan linggis di antara dua batu darinya untuk mencungkil sebagiannya, namun batu itu tidak bergerak dan tampak seakan Makkah seluruhnya ikut bergerak. Maka mereka pun berhenti dari fondasi tersebut.
وَوَجَدَتْ قُرَيْشٌ فِي الرُّكْنِ كِتَابًا بِالسِّرْيَانِيَّةِ فَلَمْ يَدْرِ مَا هُوَ حَتَّى قَرَأَهُ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ يَهُودَ ، فَإِذَا هُوَ : " مَنْ يَزْرَعْ خَيْرًا يَحْصُدْ غِبْطَةً ، وَمَنْ يَزْرَعْ شَرًّا يَحْصُدْ نَدَامَةً ، تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ فَكَيْفَ تُجْزَوْنَ الْحَسَنَاتِ ، أَجَلْ ( نَعَمْ ) لَا يُجْنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ " .
Quraisy menemukan sebuah tulisan di Rukun (sudut Ka'bah) dengan bahasa Suryani, mereka tidak tahu apa itu hingga seorang pria Yahudi membacakannya untuk mereka, ternyata bunyinya: "Barangsiapa menanam kebaikan, ia akan menuai kebahagiaan, dan barangsiapa menanam keburukan, ia akan menuai penyesalan, kalian mengerjakan keburukan-keburukan maka bagaimana kalian akan dibalas dengan kebaikan-kebaikan, tentu (ya) tidaklah dipetik dari duri buah anggur."
وَخَرَجَ الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ فِي نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ إِلَى السَّفِينَةِ الَّتِي تَحَطَّمَتْ عَلَى سَاحِلِ مَكَّةَ فَابْتَاعُوا خَشَبَهَا وَعَادُوا بِبَاقُومَ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ النَّجَّارِينَ وَالْحَدَّادِينَ إِلَى مَكَّةَ ، فَلَمَّا دَخَلُوا الْحَرَمَ رَاحَ بَاقُومُ يُقَلِّبُ بَصَرَهُ فِي أَصْنَامِ الْقَوْمِ الَّتِي أُخْرِجَتْ مِنَ الْكَعْبَةِ فِي حِرْصٍ شَدِيدٍ ، فَلَمْ تَثُرْ دَهْشَتُهُ فَمَا أَكْثَرَ التَّمَاثِيلَ الَّتِي رَآهَا فِي شَوَارِعِ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ وَفِي مَيَادِينِهَا وَفِي كَنَائِسِهَا .
Walid bin Mughirah keluar bersama sekelompok orang Quraisy menuju kapal yang hancur di pantai Makkah, mereka membeli kayu-kayunya dan membawa Baqum beserta tukang kayu dan tukang besi yang bersamanya kembali ke Makkah. Ketika mereka memasuki Al-Haram, Baqum mulai mengalihkan pandangannya ke berhala-berhala kaum itu yang dikeluarkan dari Ka'bah dengan penuh perhatian, namun kekagumannya tidak bangkit, karena betapa banyaknya patung-patung yang ia lihat di jalan-jalan Konstantinopel, di lapangan-lapangannya, dan di gereja-gerejanya.
وَرَأَى أَبُو وَهْبِ بْنِ عائِذٍ أَنْ يُجْزَى الْعَمَلُ فَقَالَ لِقُرَيْشٍ :
Abu Wahb bin 'A'idz memandang bahwa pekerjaan perlu dibagi, maka ia berkata kepada Quraisy:
— إِنِّي أَرَى أَنْ يَقْسِمُوا أَرْبَعَةَ أَرْبَاعٍ .
— Aku berpendapat bahwa mereka membaginya menjadi empat bagian.
فَكَانَ شِقُّ الْبَابِ لِعَبْدِ مَنَافٍ وَزُهْرَةَ ، وَكَانَ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ الْأَسْوَدِ وَالْيَمَانِيِّ لِبَنِي مَخْزُومٍ وَقَبَائِلَ مِنْ قُرَيْشٍ انْضَمُّوا إِلَيْهِمْ ، وَكَانَ ظَهْرُ الْكَعْبَةِ لِبَنِي جُمَحٍ وَبَنِي سَهْمِ بْنِ عَمْرٍو ، وَكَانَ الْجَانِبُ الَّذِي فِيهِ الْحَجَرُ لِبَنِي عَبْدِ الدَّارِ وَلِبَنِي أَسَدٍ وَلِبَنِي عَدِيٍّ .
Maka sisi pintu menjadi bagian Abdul Manaf dan Zuhrah, area antara Rukun Aswad dan Rukun Yamani menjadi bagian Bani Makhzum dan suku-suku Quraisy yang bergabung bersama mereka, sisi belakang Ka'bah menjadi bagian Bani Jumah dan Bani Sahm bin 'Amr, dan sisi yang terdapat Hajar Aswad menjadi bagian Bani 'Abdud Dar, Bani Asad, dan Bani 'Adi.
وَخَفَّ شَبَابُ مَكَّةَ وَرِجَالُهَا وَشُيُوخُهَا لِيُسْهِمُوا فِي بِنَاءِ بَيْتِ اللهِ فَذَهَبَ مُحَمَّدٌ وَالْعَبَّاسُ وَرِجَالُ بَنِي هَاشِمٍ يَنْقُلُونَ الْحِجَارَةَ ، وَاجْتَهَدَ بَنُو مَخْزُومٍ فِي الْعَمَلِ فَسَدَّهُمُ الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ لَهُ الْيَدُ الطُّولَى فِي إِتْمَامِ أَجْرَأِ عَمَلٍ قَامَتْ بِهِ قُرَيْشٌ .
Pemuda, pria, dan tokoh tua Makkah bergegas untuk berkontribusi dalam membangun Baitullah, maka Muhammad, Abbas, dan para pria Bani Hasyim pergi mengangkut bebatuan, dan Bani Makhzum bersungguh-sungguh dalam pekerjaan di bawah kepemimpinan Walid bin Mughirah yang memiliki peran besar dalam menyelesaikan pekerjaan paling berani yang pernah dilakukan Quraisy.
وَارْتَفَعَ الْبِنَاءُ وَكَانَ مِدْمَاكًا مِنْ خَشَبِ السَّاجِ وَمِدْمَاكًا مِنَ الْحِجَارَةِ ، فَلَمَّا بَلَغَ الْبُنْيَانُ مَوْضِعَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ اخْتَصَمُوا ، كُلُّ قَبِيلَةٍ تُرِيدُ أَنْ تَرْفَعَهُ إِلَى مَوْضِعِهِ دُونَ الْأُخْرَى ، وَاشْتَدَّ الْجَدَلُ بَيْنَهُمْ وَلَجَؤُوا فِي الْخِصَامِ حَتَّى كَادَتِ الْحَرْبُ تَنْشَبُ أَظْفَارَهَا فِيهِمْ ، وَمَكَثَ النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ أَرْبَعَ لَيَالٍ ثُمَّ اجْتَمَعُوا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَقَالَ أَبُو أُمَيَّةَ بْنُ الْمُغِيرَةِ وَهُوَ حُذَيْفَةُ وَالدُّ أُمِّ سَلَمَةَ ، وَكَانَ أَسَنَّ قُرَيْشٍ كُلِّهَا وَكَانَ مِنْ أَزْوَادِ الرَّكْبِ :
Bangunan pun meninggi, selang-seling antara kayu jati dan bebatuan. Ketika bangunan mencapai posisi Hajar Aswad, mereka berselisih, setiap suku ingin mengangkatnya ke posisinya tanpa suku lain. Perdebatan di antara mereka mengeras dan mereka terus berseteru hingga perang hampir mencengkeramkan kuku-kukunya pada mereka. Perselisihan di antara mereka berlangsung empat malam, kemudian mereka berkumpul di Masjidil Haram dan Abu Umayyah bin Mughirah, yaitu Hudzaifah ayah Ummu Salamah, berkata. Ia adalah yang tertua dari seluruh Quraisy dan termasuk kelompok "Azwad ar-Rakb":
— يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ ، اجْعَلُوا فِيمَا تَخْتَلِفُونَ فِيهِ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ مِنْ بَابِ الصَّفَا يَقْضِي بَيْنَكُمْ .
— Wahai kaum Quraisy, jadikanlah orang pertama yang masuk dari pintu Shafa sebagai penengah di antara kalian mengenai apa yang kalian perselisihkan.
وَتَعَلَّقَتِ الْعُيُونُ بِبَابِ الصَّفَا ، الْبَابِ الْمُقَابِلِ لِمَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيِّ وَالْأَسْوَدِ ، وَمَرَّتْ لَحَظَاتٌ تَرَقُّبٍ وَانْتِظَارٍ ثُمَّ لَاحَ الْقَادِمُ لِعُيُونِهِمْ فَقَالُوا فِي اسْتِبْشَارٍ :
Mata tertuju ke pintu Shafa, pintu yang berhadapan dengan area antara Rukun Yamani dan Aswad. Momen-momen penantian dan menunggu pun berlalu, kemudian orang yang datang terlihat oleh mata mereka, maka mereka berkata dengan penuh gembira:
— هَذَا الْأَمِينُ ، رَضِينَا ، هَذَا مُحَمَّدٌ .
— Ini Al-Amin, kami rida, ini Muhammad.
كَانُوا يَتَحَاكَمُونَ إِلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ دَائِمُ الْبِشْرِ سَهْلُ الْخُلُقِ لَيِّنُ الْجَانِبِ ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا صَخَّابٍ وَلَا فَحَّاشٍ وَلَا عَيَّابٍ وَلَا مَدَّاحٍ ، يَتَغَافَلُ عَمَّا لَا يَشْتَهِي ، زَكَّى اللهُ فُؤَادَهُ وَلِسَانَهُ وَجَوَارِحَهُ ، فَكَانَ إِذَا قَضَى ارْتَضَوْا حُكْمَهُ فَقَدْ عَرَفَ عَنْهُ الْعَدْلُ وَعَدَمُ الْمَيْلِ مَعَ الْهَوَى ، لَا يَخْشَى فِي الْحَقِّ لَوْمَةَ لَائِمٍ .
Mereka biasa meminta keputusan kepadanya di masa Jahiliah, karena ia senantiasa berseri wajah, berkepribadian mudah, lemah lembut, bukan orang yang kasar, tidak berteriak-teriak, tidak berkata keji, tidak suka mencela, dan tidak suka memuji berlebihan. Ia berpaling dari apa yang tidak disukainya. Allah menyucikan hati, lisan, dan anggota badannya. Maka jika ia memutuskan, mereka rida dengan hukumannya, karena telah diketahui darinya keadilan dan tidak condong kepada hawa nafsu, tidak takut dalam kebenaran cacian orang yang mencela.
وَكَانَ رَاجِحَ الْعَقْلِ سَدِيدَ الرَّأْيِ ، مَا أَنْ قَصَّوا عَلَيْهِ مَا اخْتَلَفُوا فِيهِ حَتَّى نَفَثَ فِي رَوْعِهِ الْفِكْرَةَ الَّتِي تُرْضِي الْقَبَائِلَ كُلَّهَا وَتَحْقِنُ دِمَاءَهُمْ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِمْ وَقَالَ :
Ia berakal tajam dan berpendapat tepat. Begitu mereka menceritakan kepadanya apa yang mereka perselisihkan, ia mendapatkan ilham ide yang memuaskan seluruh suku dan menghentikan pertumpahan darah mereka. Maka ia menoleh kepada mereka dan berkata:
— هَلُمَّ إِلَيَّ ثَوْبًا .
— Bawakan kemari kepadaku sehelai kain.
فَجَاءُوا لَهُ بِثَوْبِ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَبَسَطَهُ فِي الْأَرْضِ وَكَانَ كِسَاءً أَبْيَضَ مِنْ مَتَاعِ الشَّامِ ، فَأَخَذَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ فَوَضَعَهُ فِيهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ :
Mereka membawakannya kain Walid bin Mughirah, lalu ia membentangkannya di tanah. Itu adalah kain putih dari barang dagangan Syam. Ia mengambil Hajar Aswad, meletakkannya di sana dengan tangannya, kemudian berkata:
— لِتَأْخُذْ كُلُّ قَبِيلَةٍ بِنَاحِيَةٍ مِنَ الثَّوْبِ ثُمَّ ارْفَعُوهُ جَمِيعًا .
— Hendaknya setiap suku memegang satu sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama.
فَسُرَّ الْقَوْمُ بِحُكْمِهِ وَانْبَسَطَتِ الْأَسَارِيرُ وَلَاحَ فِي الْوُجُوهِ الرِّضَا ، فَقَدْ حَقَنَ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بِحُكْمِهِ السَّدِيدِ دِمَاءَ قُرَيْشٍ وَأَبْقَى عَلَى وَحْدَتِهَا ، فَكَانَ فِي رَبْعِ مَنَافٍ عُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ ، وَكَانَ فِي الرُّبْعِ الثَّانِي زَمْعَةُ ، وَكَانَ فِي الرُّبْعِ الثَّالِثِ أَبُو حُذَيْفَةَ بْنُ الْمُغِيرَةِ ، وَكَانَ فِي الرَّابِعِ قَيْسُ بْنُ عَدِيٍّ . وَرَفَعَ الثَّوْبَ فِي حِرْصٍ وَرِفْقٍ وَقَدْ تَعَلَّقَتْ أَعْيُنُ النَّاسِ بِالْحَجَرِ الْمُقَدَّسِ ، حَتَّى إِذَا بَلَغُوا بِهِ مَوْضِعَهُ تَنَاوَلَهُ مُحَمَّدٌ مِنَ الثَّوْبِ وَوَضَعَهُ فِي مَوْضِعِهِ ، وَذَهَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ لِيُنَاوِلَ مُحَمَّدًا حَجَرًا يَشُدُّ بِهِ الرُّكْنَ فَقَالَ الْعَبَّاسُ فِي حِدَّةٍ :
Kaum itu pun gembira dengan keputusannya, wajah-wajah berseri dan tampaklah rida di wajah-wajah mereka. Putra Abdullah telah menyelamatkan darah Quraisy dengan keputusan tepatnya dan menjaga persatuan mereka. Maka di bagian manaf ada Utbah bin Rabi'ah, di bagian kedua ada Zam'ah, di bagian ketiga ada Abu Hudzaifah bin Mughirah, dan di bagian keempat ada Qais bin 'Adi. Mereka mengangkat kain dengan hati-hati dan lembut sementara mata orang-orang terpaku pada batu suci. Ketika mereka sampai di posisinya, Muhammad mengambilnya dari kain dan meletakkannya di posisinya. Seorang pria dari Najd pergi untuk memberikan Muhammad batu untuk menguatkan sudut itu, maka Abbas berkata dengan tajam:
— لَا .
— Jangan.
وَأَسْرَعَ الْعَبَّاسُ وَتَنَاوَلَ ابْنَ أَخِيهِ مَا شَدَّ بِهِ الرُّكْنَ فَعَضِبَ النَّجْدِيُّ ، وَقَدْ دَفَعَهُ غَضَبُهُ إِلَى مُحَاوَلَةِ إِيغَارِ صُدُورِ الْقَوْمِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَمِّهِ فَقَالَ :
Abbas bergegas mengambil dari keponakannya apa yang digunakan untuk menguatkan sudut itu, si orang Najd marah, kemarahannya mendorongnya untuk mencoba memprovokasi dada kaum tersebut agar benci kepada Muhammad dan pamannya, lalu ia berkata:
— وَاعَجَبًا لِقَوْمٍ أَهْلِ شَرَفٍ وَعُقُولٍ وَأَمْوَالٍ ، يَعْمِدُونَ إِلَى رَجُلٍ أَصْغَرِهِمْ سِنًّا وَأَقَلِّهِمْ مَالًا ، فَرَأَسُوهُ عَلَيْهِمْ فِي مَكْرُمَتِهِمْ وَحِرْزِهِمْ كَأَنَّهُمْ خَدَمٌ لَهُ .
— Betapa anehnya kaum yang memiliki kehormatan, akal, dan harta, mereka mengandalkan seorang pria yang termuda usianya dan paling sedikit hartanya, lalu mereka menjadikannya pemimpin atas mereka dalam kemuliaan dan benteng mereka, seolah-olah mereka adalah pelayan baginya.
وَلَمْ يَنْفَعِلِ النَّاسُ بِكَلَامِ ذَلِكَ الْحَاقِدِ ، وَارْتَفَعَ الْبُنْيَانُ وَجَعَلُوا لِلْبَيْتِ سَقْفًا ، وَإِنِ اقْتَصَرُوا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ عَجَزَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ فَأَخْرَجُوا حَجَرَ إِسْمَاعِيلَ مِنْهُ .
Orang-orang tidak terpengaruh oleh ucapan si pendengki itu. Bangunan meninggi dan mereka membuatkan atap bagi rumah itu, meskipun mereka membatasi diri dari fondasi Ibrahim as. ketika biaya pembangunan membuat mereka tidak mampu, sehingga mereka mengeluarkan Hijr Ismail darinya.
وَرَاحَ الرَّسَّامُونَ يَرْسُمُونَ عَلَى حِيطَانِ الْكَعْبَةِ مِنَ الدَّاخِلِ صُوَرًا تُمَثِّلُ مُعْتَقَدَاتِهِمْ ، صَوَّرُوا إِبْرَاهِيمَ وَهُوَ يَسْتَقْسِمُ بِالْأَزْلَامِ ، وَإِسْمَاعِيلَ وَفِي يَدِهِ الْأَزْلَامُ ، وَالْمَلَائِكَةَ وَمَرْيَمَ الْعَذْرَاءَ وَهِيَ تَحْمِلُ الْمَسِيحَ ، وَكَانَتْ صُوَرُ الْمَلَائِكَةِ وَمَرْيَمَ مِنْ صُنْعِ الرُّومِ ، فَيَا طَالَمَا زَيَّنَتْ كَنَائِسَهُمْ بِتِلْكَ الصُّوَرِ .
Para pelukis mulai melukis di dinding-dinding bagian dalam Ka'bah gambar-gambar yang melambangkan keyakinan mereka, mereka menggambarkan Ibrahim yang sedang mengundi dengan anak panah (azlam), Ismail yang di tangannya terdapat anak panah, malaikat-malaikat, dan Maryam sang perawan yang sedang menggendong Al-Masih. Gambar malaikat dan Maryam adalah buatan Romawi, karena betapa seringnya mereka menghiasi gereja-gereja mereka dengan gambar-gambar tersebut.
وَكَسَاهَا زُعَمَاؤُهُمْ بِأَرْدِيَتِهِمْ وَكَانَتْ مِنَ الْوَصَائِلِ ، ثُمَّ أَعَادُوا الْآلِهَةَ فِي حِرْصٍ شَدِيدٍ إِلَى حَيْثُ كَانَتْ وَالدَّعَوَاتُ تَنْبَعِثُ حَارَّةً مِنْ صُدُورِهِمْ وَالدُّمُوعُ تَسِيلُ عَلَى خُدُودِهِمْ وَدِمَاءُ الْقَرَابِينِ تَجْرِي بَيْنَ أَسَافَ وَنَائِلَةَ أَنْهَارًا ، شُكْرًا لِلْآلِهَةِ ، وَبَقِيَتِ الْأَصْنَامُ غَارِقَةً فِي الصَّمْتِ تَنْتَظِرُ مَجِيءَ الْحَقِّ لِيُزْهِقَ بَاطِلَهُمْ .
Para pemimpin mereka memakaikan jubah-jubah mereka (sebagai kiswah) yang terbuat dari kain wasail, kemudian mereka mengembalikan berhala-berhala dengan penuh perhatian ke tempat semula. Doa-doa memancar panas dari dada mereka, air mata mengalir di pipi mereka, dan darah kurban mengalir di antara Asaf dan Na'ilah seperti sungai sebagai rasa syukur kepada tuhan-tuhan. Berhala-berhala tetap tenggelam dalam keheningan menunggu kedatangan kebenaran untuk menghancurkan kebatilan mereka.
وَعَادَ النَّاسُ لِلتَّمَسُّحِ بِأَوْثَانِهِمْ ، وَاعْتَزَلَ مُحَمَّدٌ قَوْمَهُ وَاعْتَكَفَ فِي حُجْرَةِ عِبَادَتِهِ يَذْكُرُ اللهَ وَهُوَ يَرْجُو أَنْ يَتَعَرَّضَ لِنَفَحَاتِ رَبِّهِ وَنُزُولِ الرَّحْمَةِ عَلَى قَلْبِهِ وَإِشْرَاقِ أَنْوَارِ الْمَعَارِفِ فِي بَاطِنِهِ ، فَقَدْ أَلْهَمَ أَنَّ الْقَلْبَ مَلَكٌ جُنُودَهُ ، فَإِذَا طَابَ الْمَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ .
Orang-orang kembali mengusap berhala-berhala mereka, sedangkan Muhammad mengasingkan diri dari kaumnya dan berdiam di ruang ibadahnya berzikir kepada Allah, berharap untuk mendapatkan hembusan kasih sayang Tuhannya, turunnya rahmat ke atas hatinya, dan terbitnya cahaya-cahaya makrifat di batinnya. Ia telah mendapat ilham bahwa hati adalah raja bagi prajurit-prajuritnya (anggota tubuh), maka jika rajanya baik, baik pula prajurit-prajuritnya.
« Artikel Baru BABA Artikel Lama » BABA

Silakan Kasih Masukan & Sapa BABA di Sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📸 Momen Berkesan

Kenangan At Puncak

"Keluarga Besar HaMaSah Betawi Cengkareng - Kenangan At Rumah Kayu Kenanga"

📜OFFICIAL WIDGET USTADZ BETAWI NYABLAK

Mengharap Ridho Allah...

BUTIRAN HIKMAH

Merajut Asa...

ANGKATAN CLASSIC GONTOR '91
WA
Abi
YT
Abi
IG
Abi
FB
Abi